<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Cerita Mesum ABG remaja Indonesia</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</managingEditor><pubDate>Thu, 24 Oct 2024 04:25:24 -0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">44</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>The First...</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2010/03/first.html</link><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Fri, 5 Mar 2010 03:32:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-2962900155414294815</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; Sesudah lama dibahas antara kami berdua akhirnya kita sepakat utk testing dulu ... hehehe... cari yg aman2 aja... karena mungkin utk laki2 sgt mudah membuang hasrat disetiap tempat dan setiap saat - tdk lah demikian utk wanita... we use feelings .. kadang kebanyakan feeling sampe bingung sendiri...well thats us&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal nya ke salon niat utk cuci rambut dan facial lah dikit...oya salon nya di daerah cideng deket sate house senayan. pas yg nanganin aku cowok - org nya ya lumayan lah, gak terlalu tinggi but muscular. Sesudah di obrak abrik sekitar sejam... my hubby reminded me gimana kalo ditesting disini aja, mmg disalon itu ada ruang private utk creambath dan aku sedang berada diruangan itu bertiga - aku + my hubby and 'him'. So ya udah, modal nekat deh, apalagi ya mmg libido muda tdk mengenal gender - ya coba deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku minta dia provide extra services misalnya pijat2 lah, aku tiduran di ranjang ukuran satu org yg biasa di gunakan utk luluran, sembari memberi aba2 agar him siap2 memulai pijatan nya.Sambil berdiri di tepi ranjang tsb dia mulai dgn tekun memijat bagian tangan lengan dan kaki, dilanjutakan dgn aku sengaja memberanikan diri membuka kaos yg ku pakai dan celana panjang kuselorotkan ke lantai, aku kembali telungkup di atas ranjang kulit tsb. Kali ini dia mulai agak berani meremas remas paha atas dan pantatku. Di satu kesempatan dia menyuruh aku membalikan badan krn akan melakukan terapi pemijatan pada bagian bahu dan keningku, dgn berat hati aku membalikan badan - ya agak malu jg sih, seumur umur mana pernah ada org asing yg lsg kuberikan pemandangan pribadiku begini - in full view lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari meneruskan permainan tangan nya, suaniku memperhatikan dgn seksama - sekali kali ku lihat jakun nya sampe naik turun...hehehe...kesian dia...rasain sendiri...bukankah ini ide nya sendiri?? sementara aku sendiri sangaaatttt groooogiiiii. Tapi pijatan dan belaian tangan memang sangat membantu merilekskan tubuh dan pkiran. Saat itu aku arahkan langsung tangan nya yg kekar tsb utk mulai memijat payudara ku... sentuhan pertama nya bagaikan tersengat listrik - saat dia menaikan bra ku keatas - persis dibawah dagu. Selanjutnya dia mulai dgn meremas remas bagian cup payudaa ku utk selanjutnya memilin milin putingku, ini dilakuakan nya berulang ulang sampai aku serasa terbang melayang. Selanjutnya aku kembali telungkup sambil meminta dia membuka kaitan bra ku dari belakang dan menginsturksikan dia agar memulai pijatan di pangkal paha ku - dari belakang, dan itu dilakukannya dgn suatu ritme yg sgt relaxing but menggetarkan.&lt;br /&gt;Ditambah situasi dibawah sudah mulai basah, dia menurunkan cd ku sampai ke tumit selanjutnya lepas semua pertahanan terakhir yg ku miliki, semua lekuk tubuhku terpampang dgn jelasnya dihadapan pria asing ini, yg dgn antusias mengerayangiku...yah nasi sdh jd ketupat apa boleh buat tinggal ditelan bulat2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melebarkan posisi kedua pahaku dan sekaligus merekahkan vaginaku dalam posisi masi telungkup, dia mulaimenggosok gosokan tangan dan jari jemari nya di daerah V ku - mulai dari atas sampai ke celah2 diniding vaginaku yg sudah sgt basah, ini di ulang2 nya sampai aku sendri sdh sgt sempoyongan, lututku serasa tdk bertulang. Lalu aku membalikan badan ku utk melihat dia melakukan nya dari depan juga agar lebih leluasa melakukan something else*&lt;br /&gt;Saat dia masi melakukan pijatan nya yg sgt2 aduhai itu aku sendiri memberanikan diri utk menurunkan zipper celana jeans nya - hanya zipper nya loh. ku masukan jemariku utk meraih penis nya, hmm dia juga sdh sedikit tegang rupanya. Kumainkan punya dia sementara dia mulai berani mempermainkan punyaku atas dan bawah sekaligus. Remasan dan pijatan nya diganti2 - tgn kanan meremas vaginaku dan tgn kiri memijit payudara dan putingku, sambil sekali kali ... auuuhh... jari nya di tusuku2 dgn lembut kedalam veggieku. Saat ku buka mataku kembali ternyata posisi penis nya sdh sgt dekat sekali dgn wajahku, sekalian ku tarik sedikit dan kuposisi kan di atas muka dan hidungku, kukocok lebih cepat dan kucium lembut dgn bibirku...saat ini suamiku sdh merubah posisi nya - yg tadi hanya duduk termangu sambil memegang batang kemaluan nya sendiri dari luar - saat ini sdh berdiri walau masi dlm jarak dua meteran.. mungkin dia ingin lihat lebih jelas bagaimana penampilan istri nya saat menservis org lain. i dont know..at this point it doesnt really matter anymore. pelan2 kumasukan penisnya kedalam mulutku agar tidak terluka oleh gigi ku saat ku sedot sedot nanti. kusedot terus seirama dgn gerakan tangan nya diatas tbuhkusambil tgn kananku memgang batang nya yg kukocok juga tgn kiriku memainkan buah zakar nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku benar2 hampir lepas kontrol, kusuruh dia naik keatas ranjang dgn posisi aku tengkurap, dia kusuruh naik dan sambil menduduki pantat ku dia menggoyangkan penis nya maju mundur diatas pantatku - terselip diantara bukit veggieku. Memang itu pengalamn pertamaku dan aku masih belum berani beretubuh dgn pria mana pun - walaupun diizinkan oleh suamiku. Ini dilakukan nya terus sambil menggenjotkan batang nya diatas pantatku dan meremas remas payudaraku dari belakang...sampai dia klimaks dan menumpahkan sperma nya diatas punggungku. Saat itu aku melirik ke suamiku yg tampak nya pun sdh sgt on dgn kondisi permainan teasing tsb.&lt;br /&gt;Sesudah meminta maaf atas kelancangan nya menyemprotkan cairan diatas tubuhku dia melapkan cairannya dgn tissue dan aku sendiri bangkit dan setengah berlari menuju kamar mandi yg mmg juga disediakan lengkap di kamar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami janjian kembali dgn dia utk bertemu di tempat yg lebih comforting and relaxing , sesudah di selesai shift nya. dan malam itu menjadi suatu cerita yg berkelanjutan cukup panjang... kolom ini kayak nya tdk akan muat hehehe</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Eksibisi Pertamaku</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2010/03/eksibisi-pertamaku.html</link><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Wed, 3 Mar 2010 03:30:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-3380153969691083839</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div id="post_message_8958"&gt; Perkenalkan namaku Mevy, umurku 23 tahun. Saat ini aku kuliah di salah satu perguruan tinggi di provinsi Kalimantan Barat, tepatnya di kota Pontianak semester 7. Sebagai gambaran, aku berkulit kuning langsat (masih keturunan tionghoa), tinggiku 164 cm dan berat 63 kg dengan ukuran bra 34B. Aku anak pertama dari 2 bersaudara, adikku cewek masih duduk di bangku kuliah semester 3. Selain itu aku juga punya lesung pipit di kedua belah pipiku, dengan rambutku yang sebahu. Saat ini aku masih sendiri setelah hampir 1 tahun putus dengan pacarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin menceritakan pengalaman "gila"ku, yang sudah lama aku simpan. Sudah lama aku ingin berbagi ceritaku ini, sampai akhirnya aku mengetahui Situs ini. Aku harap ada yang mao share sama aku setelah membaca kisahku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya aku akui kalau aku mempunyai sifat aneh yang mungkin jarang dimiliki wanita yang seusia denganku. Yah boleh dibilang aku "beda" dengan perempuan kebanyakan. Aku mempunyai sifat suka mempertunjukkan bagian-bagian tubuhku kepada orang lain, khususnya laki-laki. Hal ini sudah kualami sejak aku berumur 17 tahun, waktu itu aku masih duduk di bangku SMU kelas 2. Ceritanya aku baru pulang dari sekolah, hari itu aku capek sekali karena tadi pagi habis mengikuti pelajaran olah raga, kemudian siangnya aku mengikuti latihan Paskibra sehingga begitu pulang tanpa membuka pakaian sekolahku, aku langsung tertidur di kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya aku lupa menutup pintu, mungkin karena badan ini sudah begitu lelah sampai-sampai hal sekecil itu tak terpikirkan olehku. Berhubung aku masih memakai pakaian sekolah, otomatis rok sekolahku masih belum kubuka. Sehingga mungkin tanpa sadar aku telah tidur dengan posisi yang sangat menantang buat laki-laki yang melihatku. Saat itu aku lupa kalau dirumah adikku sedang kerja kelompok dengan teman-teman sekolahnya. Sekilas waktu aku datang dari sekolah tadi cukup ramai juga, kebanyakan dari teman-teman adikku yang datang adalah cewek, cowoknya hanya ada 2 orang, dan itupun aku tak mengenalnya. Berhubung kamarku berada di depan ruang tamu tempat adikku dan temannya mengerjakan tugas kelompok, sehingga akan kelihatan tempat tidurku. Entah berapa lama aku tertidur, begitu terbangun dari tidurku tanpa sengaja mataku melihat teman adikku yang cowok sedang melihat ke kamarku, atau tepatnya kearah bawah tubuhku. Barulah aku tersadar kalau rokku telah tersingkap hingga hampir ke pangkal pahaku sehingga dengan jelas teman adikku itu bisa melihat dengan bagian rahasiaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku baru tersadar kalau aku masih mengenakan pakaian seragam sekolahku, mungkin teman adikku itu sedang memperhatikan gundukkan daging yang masih tertutup dengan celana dalam berwarna biru yang kukenakan. Entah mengapa aku tiba-tiba punya ide gila untuk membiarkan kejadian itu terus berlangsung. Bahkan dengan santainya aku membuka kedua pahaku dan berlaku seolah-olah aku masih tidur. Enyah mengapa kurasakan jantung ini berdegup dengan kencang, sensasi yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Bahkan dengan mengintip dari balik bantalku, kulihat teman adikku itu masih melihat kearahku. Kulihat mukanya merah sambil sesekali menelan air ludah. Hal itu kusadari dengan melihat jakunnya yang naik turun dari tadi sejak melihatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku pura-pura mengubah posisiku, jikalau tadi ia bisa melihat dengan jelas bagian depan kemaluanku yang masih tertutup celana dalam itu, kini aku ingin menunjukkan bagian pantatku yang kata teman-teman sekolahku aku memiliki pantat yang lumayan aduhai. Walaupun aku tidak bisa melihat reaksi teman cowok adikku itu tapi dapat kubayangkan bagaimana wajahnya setelah kuperlihatkan bagian pantatku itu. Bahkan dengan pura-pura tertidur pulas sengaja aku naikkan rok ku agar ia bisa melihat dengan jelas seluruh bagian pantatku. Tapi entah mengapa tak lama kemudian aku mendengar tawa keras dari teman-teman adikku itu, seolah menertawakan sesuatu yang sangat lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barulah kusadari kalau mereka itu menertawakan aku setelah adikku masuk ke kamarku dan membangunkan aku yang pura-pura tertidur dan mengatakan bahwa rokku tersingkap. Aku cuek saja pura-pura tidak tahu akan hal itu, lalu setelah adikku keluar dari kamarku, aku tiba-tiba tertawa walaupun dengan perlahan dan mengatakan pada diriku sendiri dalam hatiku kalau "aku sudah gila". Kemudian aku keluar kamar untuk menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil, saat aku keluar kulihat teman adikku yang tadi mengintipku tanpa sengaja mataku dan mata cowok teman adikku itu bertemu pandang, aku tersenyum dan dibalasnya setelah itu ia menunduk dan kulihat sekilas wajahnya memerah. Melihat itu kembali aku tersenyum dan melanjutkan langkahku menuju kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di kamar mandi sebelum aku pipis kuraba vaginaku dan aku terkejut karena ternyata vaginaku telah basah dengan cairan yang saat itu aku masih belum mengerti cairan apa itu. Semula ku beranggapan kalau cairan itu adalah keputihan, namun setelah kuperhatikan celana dalamku cairan itu lumayan banyak dan tidak berbau seperti layaknya keputihan. Akhirnya lama kelamaan baru aku sadari kalau itu adalah orgasme pertama yang kualami dalam hidupku. Mungkin cairan itu keluar saat aku merasakan nikmatnya ketika aku mempertontonkan bagian rahasiaku kepada teman adikku tadi. Pikirku saat itu, ternyata begini rasa nikmat saat orgasme. Tiba-tiba aku punya ide gila yang selama ini tak pernah terlintas di otakku. Aku ingin menunjukkan seluruh bagian tubuhku tanpa sehelai benangpun kepada laki-laki. Namun aku tak tahu bagaimana caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah sekian lama menunggu, hampir setengah tahun, akhirnya saat itu datang juga. Walaupun itu boleh dibilang bukan suatu kesengajaan, tapi aku bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu rumahku kedatangan tamu, dia adalah sepupuku dari keluarga mamaku. Namanya Ivan, ia seumur denganku saat itu dan sama-sama masih duduk dibangku SMA kelas 2. Menurut penilaianku Ivan adalah seorang cowok yang humoris, ia sering membuatku tertawa dengan joke-jokenya yang spontan, menurutku walaupun tampangnya tidak terlalu ganteng namun aku cukup terpesona melihatnya karena ia memiliki sesuatu yang sangat aku sukai dari kaum lelaki yaitu dagunya yang berbelah. Saat itu Ivan sedang berlibur di rumahku, karena kami sedang libur kenaikan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otomatis selama hampir sebulan Ivan akan menginap di rumahku. Saat itu juga aku baru teringat akan "rencanaku" untuk mengulangi kegilaanku dulu. Akhirnya saat yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga, hari itu hari minggu. Dirumah saat itu hanya tinggal aku, adikku, dan ivan. Waktu menunjukkan pukul 09.00 pagi, aku baru bangun tidur saat kulihat Ivan dan adikku sedang nonton TV di ruang tamu. Saat melihatku, Ivan tersenyum dan berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yee.. Anak perawan kok bangun siang?!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum mendengarnya, tak lama kemudian aku kembali ke kamarku mengambil handukku untuk mandi, saat aku melintas kulihat hanya Ivan sendiri yang sedang menonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, Nita mana?? Kok sendiri aja nontonnya??"&lt;br /&gt;"Nita ada temannya datang, tuh didepan" Jawab Ivan.&lt;br /&gt;"Oo.. Ya udah. Eh 'Van, kamu udah mandi belum??"&lt;br /&gt;"Mandi, aku mah udah dari tadi mandinya. Kamu tuh baru bangun, sana mandi.. Bau tau".&lt;br /&gt;"Biarin bau.. Tapi tetep cakep. Kirain kamu belum mandi. Kalo belum sih.." Ucapku menggantung.&lt;br /&gt;"Kenapa?? Mo ngajak mandi bareng??" Tanya Ivan spontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cukup terkejut juga mendengarnya, tapi dengan santai aku menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maunya sih, kalo situ nggak keberatan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ivan hanya terdiam mendengar jawabanku. Lalu dengan santai aku melangkah menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Kurasakan seolah-olah Ivan sedang menatapku dari belakang. Setelah masuk ke kamar mandi, sengaja tidak kututup rapat pintu kamar mandi. Aku berharap Ivan mengetahui kesengajaanku ini, aku ingin merasakan bagaimana nikmatnya mandi sambil diintip laki-laki. Setelah menanggalkan seluruh pakain yang melekat ditubuhku, sambil bernyanyi kecil aku membasahi tubuhku dengan air yang keluar dari shower. Sekitar 10 menit kemudian, kudengar bunyi langkah menuju arah dapur. Lewat sela-sela pintu yang sengaja tidak 'ku tutup tadi, aku lihat Ivan sedang mengambil air minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas kulihat arah matanya sedang menatap pintu kamar mandiku dan aku yakin ia melihat tubuhku walaupun tidak seluruhnya terlihat. Lalu aku pura membungkuk untuk membersihkan kakiku, sengaja kuarahkan pantatku ke sela-sela pintu agar Ivan dapat dengan leluasa melihat bagian yang kuanggap paling seksi dari seluruh tubuhku itu. Sekitar lima menit kemudian aku mengubah posisiku, kali ini aku berdiri menyamping, sekilas kulirik kalau Ivan masih berdiri ditempatnya, kuusap-usap payudaraku yang berukuran 34B itu. Kupastikan agar Ivan bisa melihat gerakanku itu walaupun dari samping. Aku merasakan sensasi yang luar biasa dahsyat saat aku mengelus-elus pentil susuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badanku bregetar hebat menahan gairah yang seakan-akan mau meledak. Ah, aku berkhayal, seandainya Ivan menerobos masuk dan mencumbuku tentu tidak akan kutolak. Kini tanganku turun untuk mengelus vaginaku. Kumain-mainkan clitorisku, ach.. Ingin rasanya aku berteriak "Ivan.. Apa yang kau tunggu lagi!! Cumbu aku, puaskan aku!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seolah tak perduli lagi. Tak lama kemudian aku merasakan ada suatu yang akan keluar dan dapat aku pastikan kalau aku akan orgasme. Kupercepat elusan tanganku di clitorisku, dan tak lama kemudian..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akhh.. Eesstt.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kusadari aku mengerang menahan kenikmatan yang sedang aku rasakan dan aku yakin Ivan pasti mendengarnya. Barulah setelah itu aku membersihkan badanku. Setelah mengeringkan badanku, aku keluar dari kamar mandi dan kulihat Ivan sudah tidak ada lagi di tempatnya semula berdiri. Saat aku melewati ruang tamu. Kulihat ia sedang nonton TV sambil berbaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, lama amat mandinya. Jangan-jangan udah habis tuh airnya, hampir aja aku mo' numpang kencing di rumah tetangga kalo' kamu nggak keluar-keluar. Tidur yah..??" Ledek Ivan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya menjulurkan lidahku mendengar ucapannya, sekilas saat aku akan masuk ke kamarku, kulihat bagian bawah pusar Ivan tampak menonjol. Aku yakin ia pasti horny, karena dari tadi mengintip aku mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masuk ke kamarku, sengaja tidak kututup pintu kamarku, sehingga kamarku hanya ditutupi kain korden. Sehingga apabila tertiup angin, kupastikan kain itu akan tersibak. Setelah membuka lilitan handuk yang menutupi tubuhku, aku mengeringkan sisa-sisa air dari tubuhku sambil sesekali melirik Ivan yang ada tepat di depan kamarku, kuharap ia sadar kalau aku ingin mengulangi kejadian di kamar mandi, kini di kamarku. Sambil bernyanyi-nyanyi aku mengambil BH, CD dan daster dari dalam lemari bajuku. Aku ingin terlihat seksi saat Ivan melihatku memakai daster didepannya, karena aku yakin pasti ia tidak pernah melihat seorang gadis sepertiku memakai daster. Kemudian terlintas di pikiranku seandainya aku tidak memakai bra, pasti akan terlihat dengan jelas lekuk-lekuk payudaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kutaruh kembali BH yang tadi kuambil. Lalu aku mulai memakai celana dalamku saat tiba-tiba angin bertiup kencang hingga menyingkap kain penutup kamarku sehingga terlihat dengan jelas posisiku yang sedang memasukkan kaki kananku ke dalam segitiga pengaman wanita itu. Dan tanpa sengaja mataku bertatapan dengan mata Ivan yang sedang tercengang melihat pemandangan indah itu. Tapi aku cuek saja dan tetap meneruskan kegiatanku memakai celana dalam. Aku tersenyum mengingat raut wajah Ivan saat melihatku bugil tadi. Setelah lengkap berpakaian, aku keluar dan kulihat Ivan tidak ada ditempatnya semula. Lalu kudengar bunyi pintu kamar mandi yang barusan ditutup. Oh, mungkin ia sedang buang air kecil, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Ivan keluar dari WC dan menuju kearahku. Kulihat wajahnya memerah, tapi aku tak tahu karena apa. Sambil nonton TV, aku dan Ivan berbincang-bincang sambil sesekali aku tertawa dibuatnya dengan cerita-cerita lucunya. Saat aku tertawa itu ku rasakan payudaraku yang tanpa BH itu berguncang-guncang. Aku lihat Ivan sesekali melirik ke arah gunung kembarku itu, dan aku yakin ia pasti tahu kalau aku tidak memakai BH. Tanpa kusadari ternyata tonjolan putingku itu nampak jelas tercetak dari balik dasterku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, udahan ah 'Van. Cerita lo' bikin aku sakit perut nahan pipis. Dari tadi ketawa melulu". Ucapku.&lt;br /&gt;"Lha pipis di tahan-tahan, ntar jadi penyakit baru tahu." Jawab Ivan.&lt;br /&gt;"Ya udah aku pipis dulu nih.."   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku beranjak menuju ke kamar mandi untuk pipis. Setelah buang air kecil, saat aku akan keluar kulihat pakaian dalamku sebelum aku mandi tadi masih menggantung di belakang pintu. Lalu aku mengambilnya dengan maksud akan kurendam di ember, tanpa sengaja saat aku memegang celana dalamku kurasakan ada banyak lendir tepat dibagian penutup vaginaku. Saat aku perhatikan, ada banyak lendir berwarna putih kental disitu. Aku bertanya-tanya apakah ini cairanku, tapi setahuku tadi saat aku mo' mandi, aku ingat kalau celana dalamku tadi masih kering karena saat ini aku masih dalam masa subur. Pun aku yakin kalau itu bukan cairan keputihan, karena cairan yang ini banyak sekali seperti lendir. Saat kusentuh cairan itu terasa hangat dan melekat, baunya pun persis dengan bau pemutih pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat di BHku juga ada cairan lendir itu walaupun tidak banyak. Aku berpikir, apakah ini cairan milik Ivan, karena aku pernah membaca suatu artikel kalau cowok itu senang sekali onani bahkan aku juga pernah membaca di *******.com kalau ada sifat cowok yang suka mengoleksi pakaian dalam cewek bekas pake', kalo ngga salah namanya Fetish.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku yakin ini pasti sperma milik Ivan, mungkin ia tidak bisa menahan nafsunya sehingga dilampiaskan melalui pakaian dalamku ini. Aku tidak menyangka ternyata Ivan yang kuanggap "alim" itu bisa melakukan onani, dan pakaian dalamku yang menjadi korbannya. Tapi aku tidak marah, malah aku ingin merasakan bagaimana rasanya air mani Ivan ini. Kemudian aku keluar dari kamar mandi, dan masuk ke kamarku. Saat aku melewati ruang tamu, kulihat tidak ada siapa-siapa. Mungkin Ivan ada dikamarnya di lantai dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sampai ke kamarku, kukunci pintu kamarku dan kembali ku buka lipatan celana dalamku yang terdapat sisa-sisa air mani Ivan tadi. Dengan perlahan, kuhirup aroma sperma milik Ivan itu. Mungkin kalau ada orang yang melihatku pasti akan jijik dan mengatakan aku jorok. Tapi aku tak perduli dan tetap ku hirup aroma nikmat itu. Kurasakan panas yang keluar dari tubuhku walaupun di kamarku telah terpasang AC. Kubuka daster yang kukenakan dan juga celana dalamku hingga aku telanjang bulat. Kemudian aku berbaring di atas tempat tidurku, sambil tetap mencium bau khas lendir milik laki-laki yang bernama Ivan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena penasaran, kumainkan lendir itu dengan jari telunjukku. Timbul rasa penasaran ingin "mencicipi" sperma Ivan ini, tapi aku takut hamil. Tapi karena rasa penasaranku begitu kuat, kubuang jauh-jauh rasa takutku itu dan tanpa rasa jijik sedikitpun kujilat sedikit air mani Ivan itu. Kurasakan rasa asin dan entah rasa apa lagi, tak bisa kujelaskan. Karena penasaran, kujilat lagi sedikit sperma Ivan yang ada di celana dalam ku itu, hingga tanpa sadar akhirnya kujilat dan kutelan seluruh air mani Ivan itu hingga celana dalamku yang tadi belepotan dengan air mani Ivan itu menjadi basah oleh air liurku karena bekas menjilatinya tadi. Entah mengapa aku jadi ketagihan, rasa asin tadi seolah berubah menjadi suatu rasa nikmat yang memabukkanku. Akhirnya karena terangsang hebat, ku mainkan klentitku, aku pun mendesah hebat menahan getaran kenikmatan hingga akhirnya aku orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.. Esstt.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat aku terkulai lemas, dan tanpa sadar aku akhirnya tertidur dengan tubuh telanjang. Saat aku bangun kulihat jam ternyata aku tertidur hampir 1 jam. Cepat-cepat aku memakai bajuku kembali dan keluar untuk mencuci pakaian dalamku tadi. Setelah mencuci, tiba-tiba kurasakan kalau rumahku sepertinya sepi tidak ada orang. Lalu aku membuka kamar adikku, ternyata dia tidak ada. Akhirnya aku baru teringat akan Ivan, aku lupa menyuruhnya makan. Kulangkahkan kakiku menuju lantai dua, menuju kamar Ivan. Kulihat pintunya terbuka sedikit, pikirku apakah Ivan sedang tidur. Saat tanganku akan membuka pintu kamarnya, aku dikejutkan dengan pemandangan yang membuatku surprise. Aku lihat Ivan sedang berbaring telanjang diatas tempat tidurnya, kelihatannya ia sedang horny berat karena kulihat ia sedang mengelus-elus penisnya. Untuk pertama kalinya aku baru melihat bentuk penis laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lumayan besar juga milik Ivan. Yang makin membuatku surprise adalah ternyata Ivan sedang memegang celana dalam berwarna merah. Aku yakin itu pasti milik adikku karena aku tidak mempunyai celana dalam berwarna merah. Kulihat Ivan sedang mencium-cium celana dalam adikku itu tepat di bagian tengah-tengahnya. Lalu ia mulai mengocok penisnya sambil tetap mencium CD adikku itu. Aku yang melihat itu kembali menjadi terangsang. Kuremas-remas payudara sebelah kananku sambil melihat Ivan. Ah, kalau aku tidak dapat mengendalikan diriku mungkin sudah dari tadi aku masuk kekamar Ivan. Aku membayangkan seandainya penis Ivan itu menusuk-nusuk memekku, ah pasti nikmat sekali. Tak lama setelah itu aku lihat wajah Ivan tiba-tiba memerah dan tubuhnya menegang, dan kulihat ia meletakkan celana dalam adikku itu tepat di diujung penisnya dan kudengar ia mendesis pelan menyebut nama adikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Achh.. Fitri.. Enak sekali sayang!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, mungkin ia sedang membayangkan begituan dengan adikku. Sialan, makiku dalam hati kenapa ia malah memilih Fitri untuk menjadi bahan onaninya. Kenapa tidak aku, tiba-tiba saja aku menjadi cemburu. Padahal aku lebih cantik dibandingkan adikku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah itu, kulihat Ivan mengangkat celana dalam yang tadi ditutupkannya di atas penisnya saat onani. Kulihat celana dalam adikku itu basah dibagian tengahnya. Dan kulihat juga di ujung penis Ivan itu ada sedikit cairan putih, sama seperti yang terdapat di celana dalamku tadi. Ternyata dugaanku tidak meleset, lendir yang tadi ada di celana dalamku itu adalah kepunyaan Ivan. Ternyata ia juga ingin membaginya dengan celana dalam adikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku turun dan pura-pura sedang nonton TV, semoga saja Ivan tidak mengetahui kalau aku tadi mengintipnya sedang onani. Itulah sedikit pengalamanku yang bisa kuceritakan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Uppppss.. ga sengaja sama cici ipar.</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2010/03/uppppss-ga-sengaja-sama-cici-ipar.html</link><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Mon, 1 Mar 2010 03:29:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-4028788765820177133</guid><description>&lt;strong&gt;C&lt;/strong&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;erita ini terjadi desember kemarin. cici ipar gw datang dari kota S untuk berlibur akhir taun. karena gw ga libur, maka wife yg jemput di airport.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;cici ipar gw sangat mirip sama wife bagai pinang di belah 2. kalo orang ga tau, bisa2 di kira kembar. gw pun bisa salah kira, karena mereka berdua emang sama percis. suaranya pun sama. tinggi sekitar 170cm, rambut panjang, umur 30. cuman beda 1 taun dengan wife. badannya ramping, karena belom punya anak meski pun telah beberapa taun menikah. dia hanya datang sendiri berlibur di kota kami karena dia sedang ada masalah dengan suaminya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;karena akhir taun ga terlalu sibuk di kantor, gw jam 2 dah pulang kerumah. di rumah sepi, langsung aja gw masuk ke kamar gw. hmm dingin, ternyata ac sudah di nyalakan. enaknya dingin2 di kamar. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;di depan gw ada pemandangan indah. wife sedang tidur tengkurap sambil mengenakan daster biru kesukaannya. karena dasternya ga panjang, dan posisi kakinya agak terbuka, gw bs melihat celana dalam wife yg berwarna pink. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;langsung aja gw horny, gw langsung bugil dan naik ke atas wife. gw ciumin lehernya sambil pegang2 dadanya. hmm ternyata wife tidak pake bh. pentilnya langsung mengeras setelah gw remas2 dadanya. tidak lupa gw menggosokan mr p gw ke daerah bawah wife yg masih tertutup celana dalamnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"bud...bud......." (nama gw budi) sambil berusaha berbalik dari posisi tengkurap&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;gw tidak menyahut. langsung aja gw sambar bibirnya. tapi tangan wife berusaha mendorong gw untuk menjauh dari mukanya. tangan gw dah berhasil mengangkat dasternya keatas. karena wife menolak di cium, gw samber aja teteknya. gw kemut2. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"bud.... bud.... kamu sudah gila ya" sambil mendorong muka gw menjauh dari nenennya. "ini aku ci aling". &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;gw kaget, ternyata ini bukan wife tapi cici ipar gw. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"loh kok cici di kamarku, aku kira km mei mei (istriku)".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"iya tadi aku ngantuk mau tidur siang, ac di kamar sebelah ga dingin. mei mei bilang aku tidur di sini aja dulu"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"mei2 lg kemana? tanyaku"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"tadi sih katanya mau ke carefour sebentar"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;suasana hening beberapa saat. mungkin kita ber 2 lagi memikirkan apa yg telah terjadi. tapi karena dasternya cici ipar masih terangkat, pandangan mata gw jadi terus terarah ke tetek nya. hm...sepertinya pandangan cici ipar jg ke arah mr p gw yg sudah siap tempur.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;gw binggung... gimana ya, dah tanggung lg. hmm coba2 aja deh nekat. wife lg ga di rumah ini, tapi kalo tar di laporin ke wife bisa kacau.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;gw merangkak mendekati ci aling, terus mengecup keningnya. sambil membisiki jangan cerita2 ke mei2 ya. ci aling menganguk. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"cici sexy juga bisikku"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"ngaco kamu....." aku di cubit. kemudian cici membetulkan dasternya yg acak2 an&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;gw sambar lagi bibirnya. kali ini cici tidak menghindar. gw emut2 bibirnya dan setelah beberapa saat kita french kiss. tentu tidak lupa tangan gw grepe2 nenennya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;terus gw pindah dari emut bibir ke emut pentil. kiri dan kanan. abis itu gw gerilya di bawah. celana dalamnya cici gw tarik kebawah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"bud kamu ngapain...."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;gw ga menjawab, langsung aja gw oral bawahnya. dah basah ternyata. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;lagi gw oral, ci aling ga tahan, pinggulnya naik turun. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;langsung aja deh gw arahkan mr p gw ke lobang, sambil gw ciumin bibir ci aling.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;bles....mr p gw masuk sepenuhnya. ci aling kaget.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"bud jgn di masukin" sambil berusaha mendorong gw. tapi gw cuek aja terus berusaha memompa cici iparku ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;setelah beberapa saat, ci aling menghentikan perlawanannya dan beberapa menit kemudian ci aling mendesit...ohhh ohhh, gw tau ci aling dah hampir sampai ke puncak kenikmatan, gw pun mempercepat gerakan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;ci aling jg memaju mundurkan pinggulnya. akhirnya ci aling pun mendapatkan kenikmatan sambil mendesis.... ohhhhhhhhhh.....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"aku jg dah mau ci"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"jgn di dalem yg bud, tar aku hamil"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"ok"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;langsung gw cabut mr p gw dah gw arahkan ke mulut ci aling.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;crott crott. gw akhirnya cum in mouth di mulut cici ipar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;gw dekap tubuh ci aling, dan kita ber 2 french kiss lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"gila kamu bud, nekad !!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"kenapa nekad?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"aku ini cici iparmu lohh !!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"tapi enak kan?.... " sambil gw ciumin lg.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;aku di cubit....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"aduh sakit, kok aku di cubit sih"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"kamu nakal sih. dah sana pake baju, tar mei2 pulang kita bisa gawat"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"ok, tar malam ronde 2 ya ci"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;"Enak aja!" aku di cubit lagi. "dah sana kamu keluar"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>korban perkosaan</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2010/02/korban-perkosaan.html</link><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Fri, 26 Feb 2010 03:29:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-4293981213077426839</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;ini adalah sebuah karangan khayalan saja yang gak ada cerita aslinya.nama korban dan pelaku atau tempat kejadian yang sama, itu hanya kebetulan saja.maaf jika tanda bacanya kacau yach.........................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;story 1&lt;br /&gt;Pelecehan sexual ini terjadi pada seorang gadis mahasiswi sebut saja namanya Rury,ia kuliah di sebuah universitas ternama (********) di kawasan jakarta.ia berasal dari kota tasikmalaya. Saat itu Rury setelah UAS langsung naik angkutan kota menuju terminal bis (******)karena saat itu hari sabtu jadi ia salah perhitungan bis yang akan mengangkutnya selalu penuh dan baru ada lagi sekitar pukul 18.25. akhirnya dengan berebutan Rury pun naik ke bis itu ia duduk dekat pintu belakang dan kebetulan yang kosong cuma itu. ia kebaian kursi yang untuk bertiga.karena ia sering mabuk darat,Rury memilih duduk dekat jendela saja biar lebih segar kena angin.saat itu dua orang lelaki duduk di bangku itu juga,Rury tak curiga ia pikir penumpang biasa juga.&lt;br /&gt;Dua orang itu adalah codet dan tigor,ia baru saja kelur dari Lembaga Pemasyarakatan dan baru hari itu mereka di bebaskan. Tak lama menunggu bis pun melaju membelah gelapnya malam.Rury saat itu lagi asyik terima sms dari temannya,saat itu pula lampu dalam bis pun telah di padamkan. 30 menit kemudian saat memasuki jalan tol dan bis melaju dengan kecepatan tinggi,rury merasakan ada tangan yang merayap di pahanya yang saat itu ia mengenakan rok hitam pendeknya dan baju kemeja putihnya itu. rury yang dari tadi smsan ini menengokmke sebelahnya,dan alangkah kagetnya rury melihat seraut wajah yang dengan cengenges sedang mengendus-ngendus rambutnya yang se bahu itu,belum juga habis ka kagetannya, tiba-tiba si Codet yang duduk sebelah Rury menempelkan sebilah pisau k e lehernya dan ia bilang "Diam sayang,,, ,jangan coba-coba teriak apalagi berontak nanti pisau ini tembus ke leher yang wangi ini !" sewketika tubuh rury gemetar ia takut dan bercampur aduk di pikirannya. sekejap saja tangan codet menarik Hp yang di pegang rury,lalu tasnya di ambil dan di berikan ke si Tigor. rury tak bersuara hanya air matanya yang terus mengalir di pipinya.saat itu codet kembali berbisik " namamu siapa sayng?"sambil nengelus paha rury.Rury dengan gemtar bilang "Ru..ry.." lalu codet bilang "wah nama yang cantik ya...sini merapat sama abang ya..."sambil menarik tubuh rury yang ketakutan lalu codet memposisikan rury berada di antara mereka berdua.&lt;br /&gt;codet dengan sedikit ancaman menyuruh rury diam karena rury coba berontak saat tigor dengan kasar menarik kepalanya dan di paksa melumati bibir mungilnya rury. Rury rasakan lumatan bibir Tigor yang ganas yang baru kali ini ia rasakan ciuman dengan seorang lelaki. codet tak mau ketinggalan ia menarik rok rury ke atas sambil pahanya di telusuri dan berhenti di selangkangan rury. Rury bersuara "emmmph.....emph..." saat buah dadanya di remas tangan kiri si Tigor rury masih dalam lumatan bibir Tigor codet rasakan benda hangat empuk dan mulai berair. lalu tangan codet menarik paha kanan rury hingga naik ke pahanya. dengan leluasa ia telusuri paha mulus itu dan berakhir di pangkalnya yangmembukit itu. Tigor setelah puas melumat bibir rury ia buka resleting celananya dan agak di perosotkan lalu rury yang baru saja terlepas dari lumatan itu di tari kepalanya ke selangkangan tigor dan di suruhnya ia mengoral K*****Lnya, rury sekuat tenaga menolak namun kembali ia di tempelkan pisau ke arah pipinya oleh codet. akhirnya rury dengan perlahan mendekatkan bibirnya ke arah K****L si tigor .tigor dengan jaketnya menutupi kepala rury yang sedang meng-oralnya.codet senyum ia lalu perlahan membuka sleting rok rury dan ia tarik rok itu hingga lepas rury rasakan tangan codet meraba pantatnya dan ada benda dingin menyentuh nya dan sesaat kemudian rury rasakan ada yang putus di bawahnya dan ternyata codet telah melepas celana dalam rury dengan pisaunya. rury kaget dan K******l tigor mulai membesar dan mulai gak muat di mulutnya, tigor pegasng kepala rury dan ia naik turunkan kepala itu dengan ritme yang sesekali kasar. codet lalu minta jatah di oral .rury di tariknya ke selangkangan codet dan rury dengan nafas megap-megap ia terlihat mukanya basah dan kusut rury di paksa lagi memasukan rudal codet ke dalam mulutnya.rury di tekan dan kini posisi rurydi pangku oleh tigor dan tigor arahkan K***Lnya ke belahan pantat rury dan ia gesek-gesekan di situ.Rury merasakan ada benda hangat dan kenyal di belahan pantatnya dan rury sessaat terbelalak dan melotot kesakitan saat benda tumpul itu di jejalkan ke beahan vaginanya rury meronta dan codet dengan sigap mendekapnya dan menekan kepala rury ke selangkangannya rury menjerit tertahan "mmmmphhhh....mph.....hhhhhh"tigor dengan sedikit tekanan akhirnya berhasil menjebol vagina rury yang masih seret ini. rury rasakan pada vaginanya sakit ,perih dan mengganjal.tigor perlahan ia mainkan k***Lnya dalam vagina rury tigor berbisik ke rury "eahhh...nikmatnya tampilmu de..."sambil terus memaju mundurkan pinggulny dengan kasar. rury terlihat terbatuk-batuk sebab k***L codet masuk hingga kerongkongannya. rury di lepasnya oleh codet rury terlihatlemas dan mukanya basah dengan keringat dan air matanya terus mengakir. rury kali ini di pangkutigor rury mulutnya di sumpal oleh codet mengan celana dalamnya rury agar suaranya tidak keras. tigor remas buah dada rury yang masih sekepal tangan orang dewasa ini, ia remas dan sesekali di cubit. rury mengejen dan mulai mengejanmg seperti orang yang kesetanan ia memegang bangku di depannya dan dalam sekejap tubuhnya lemas. Tigor pun mulai percepat sodokannya dan dengansekali tekan "crottttt........cret.......cret...."tumpahlah cairan kental masuk ke dalam rahim rury, rury di dekap dan buah dadanya di remas kuat-kuat oleh tigor.sejenak keduanya terdiam tanpa gerakan.&lt;br /&gt;tak terasa bis memasuki sebuah tempat istirahat saat itu rury yang lemas ini kembali di dudukan di tengah codet dan tigor lampu bis pun menyala dan para penumpang sibuk turun untuk sekedar meluruskan kaki dan beristirahat sejenak di bangku itu mereka bertiga masih tetap duduk dan tangan codet di tutupi jaket kulitnya menutupi bagian bawah rury yang telanjang dan masih menempelkan pisaunya di perut rury agar tidak berbuat macam-macam.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Temennya ponakanku.</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2010/02/temennya-ponakanku.html</link><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Wed, 24 Feb 2010 03:28:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-1234470642124404547</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div id="post_message_1637232478"&gt; Ponakanku, Ana, merayakan hutnya pada umur yg selalu ditunggu para abg, karena pada umur itu seorang prempuan dah dianggap dewasa. Karen aku pernah kerja sebagai EO. Ana minta tolong aku untuk mengatur pesta hutnya. Aku tanya ma Ana, dia maunya pestanya seperti apa dan berapa budgetnya yang disediakan ortunya. Bapaknya Ana adalah adik kandungku, makanya Ana bebas sekali ma aku. Kalo becanda dah kaya ma temennya, padahal umurku dan dia berbeda jauh sekali, 20 tahun lebih. Ya gak apa, jadi aku awet muda kan kalo banyak bergaul dengan bag (termasuk menggauli kale). Setelah aku mendapat info yang dibutuhkan, aku mencari cafe atau bar yang deket dengan rumah adikku, sehingga gak problem dengan trafik yang macet. Aku nego dengan manajer bar itu mengenai arrangement pesta hut nya Ana. Karena ini pesta abg, makan malem mah ala kadarnya saja, yang penting banyak minumannya, non alkoholik tentunya. Aku juga minta disediakan MC dari bar yang bisa memandu beberapa games untuk memeriahkan suasana. Aku minta adikku menyediakan beberapa suvenir dari kantornya sebagai hadiah untuk games itu. "An, temen2 kamu kece2 gak". "So pasti om, ana gitu loh". wah asik juga nih, banyk yg bisa dilihat, "Tapi mreka datengnya bawa pasangan lo om". Wah, kecewa juga aku mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampe pada hari H nya. undangan dibuat jam 8 malem. Adik dan iparku dah standby di bar untuk menyambut temen2 Ana, setelah makan malam, acara potong kue dilakukan, gak ada coreng muka pake krim kue yang sering dilakukan pada acara abg. Setelah itu adikku dan istrinya pulang karena selanjutnya adalah acara buat para abg. Ana minta aku tetap stay, dia tajut kalo ada acara yang meleset dari rencana. "Om kan gak ada siapa2 dirumah, mending juga disini, ntar om turun ja ma temenku yang gak bawa pasangan". Memang tadi aku liat ada beberapa prempuan abg yang dateng bergerombol tanpa kawalan pasangannya. Acara games berlangsung meriah, palagi MC nya pinter banget membuat suasana jadi ceria. Setelah acara games slesai, sampailah pada acara puncak. Musik berdentam keras, ditingkahi dengan celoteh DJ yang mengajak para tetamu untuk mulai goyang. "Om, ini Ayu, om temenin Ayu ya, dia gak punya pasangan", Ana mengenalkan aku pada seorang abg, seumuranlah ma Ana. Cantik, wajahnya dihiasi dengan sepasang mata uang indah, bulu mata yang lentik, hidung mancung dan bibir mungil yang merekah. Yang menarik perhatainku, Ayu punya kumis tipis diatas bibirnya yang mengundang untuk dikecup. Diruang yang temaran aku masi bisa menikmati wajah ayunya Ayu. Nama yang sangat sesuai dengan orangnya lagi. Yang lebi menarik lagi, dadanya dihiasi dengan sepasang tonjolan yang lumayan besar. Palagi Ayu mengenakan t shirt dan jin ketat, sehingga semua yang menonjol ditubuhnya menjadi nampak dengan jelas. Pinggangnya ramping dan pinggu serta pantat yang membulat sehingga badannya yang imut berpotongan seperti biola, sangat menggugah napsu. "Om, tu apanya Ana si", teriak Ayu ditengah bisingnya musik. "Aku kakak bokapnya Ana". "Kok beda ya om". "apa bedanya?" "Om kliatan lebi mudah, badan om atletis sekali, gak kaya bokapnya Ana, dah botak gendut pula". "Lelaki kan juga mesti jaga penampilan, gak prempuan aja kan". "Bener banget om, duduk yuk om". aku mengambil 2 soft drink dan duduk dipojokan berdua Ayu, kringeten juga jingkrakan ngiktui goyangannya Ayu. "Yu, kamu seksi banget deh, kamu yang paling seksi dari semua yang dateng, Ana ja kalah seksi ma kamu". "Om suka kan ngeliatnya". "Suka banget Yu, palagi kalo gak pake apa2", godaku menjurus. "Ih si om, mulai deh genitnya, ntar kalo liat Ayu gak pake apa2, gak bisa nahan diri lagi". "Mangnya kamu suka gak pake apa2 didepan lelaki?" "Depan cowokku om". "Wah bole dong skarang depan aku ya". "Maunya". Musik berganti dengan musik yang lembut. "Om turun lagi yuk, Ayu pengen dipeluk om". Aku turun lagi dan melantai (ngepel kale) dengan Ayu, Ayu kupeluk erat, terasa sekali toket besarnya mengganjal didadaku. "Yu toket kamu besar ya, sering diremes ya", bisikku. "Iya om". Aku mencium telinganya, Ayu menggeliat kegelian, "om, nakal ih". "Tapi suka kan". Ayu gak menjawab, kembali aku mencium lehernya sehingga Ayu menggelinjang. Ayu mempererat pelukannya, aku seneng ja dipeluk abg seksi kaya Ayu. Sampe acara slesai Ayu nempel terus ma aku. "Om tinggal sendiri ya". "Kok tau". "ana yang bilang, napa si om tinggal sendiri". "aku dah cere Yu, anak2 ikut ibunya, napa kamu mo gantiin?" "Mangnya om mau ma Ayu, Ayu kan masi abg, ntar om malu lagi jalan ma Ayu". "Wah malah bangga Yu, biasa jalan ma abg yang cantik dan seksi kaya kamu". Ketika ana melihat Ayu nempel terus ma aku, dia mulai godain,"Wah ada yang nempel terus neh kaya prangko, ayu cantik kan om, pasti om suka deh ma Ayu, aku kan tau selera om kaya apa". Aku hanya senyum saja, Ayu cemberut jadinya, "Udah deh loe sana ma cowok loe aja, gak bole liat orang lagi seneng ja". "Iya deh", Ana meninggalkan kami sambil tertawa berderai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah acara selesai, aku membereskan administrasinya dengan pihak bar. "Om, makasi banyak ya buat bantuannya, kalo gak ada om pasti pestaku gak semeriah ini. Yu kamu puilang ikutan om ku ja, dia searah kok sama rumah kamu. Om anterin ayu dulu ya, jangan diapa2in lo temenku yang seksi ini, dah tengah malem soalnya", ana tersenyum sambil menjabat tanganku. "Mau aku anter pulang Yu", tanyaku menoleh ke ayu. "Bole, kalo gak ngerepotin om". "Buat prempuan secantik dan sesekai kamu apa si yang repot". Ayu aku gandeng menuju ke tempat parkir. "Om, Ayu males pulang deh". "Lo napa". "Dirumah gak ada siapa2 om, mending juga ma om ada yang nemenin Ayu ngobrol". "Mangnya ortu kemana". "Wah ortu mah sibuk ma urusan masing2, Ayu jarang ketemu ortu biar serumah juga. ayu ketemu ortu kalo ada keperluan ja, minta duit". "O gitu, kamu mo ikut aku ke apartmen?' "Bole om". "Gak takut ma aku". "Mangnya om mo makan Ayu". "Mau makan bagian2 tertentu dibadan kamu". Ih si om, bisa aja". Sepanjang perjalanan ke apartmenku ayu curhat mengenai kondisinya, aku menjadi pendengar yang baik saja, sesekali aku kasi komentar. "Om, ayu suka deh lelaki kaya om, mature sekali, lagian om ganteng banget, atletis lagi badannya. Om sering maen ma abg ya". "Sesekali ja Yu, kalo ada yg seksi kaya kamu, kamu mau kan maen ma aku". Ayu diem saja, tapi tangannya mulai mengelus2 pahaku, aku tau itu jawabannya atas pertanyaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di apartmen, aku langsung parkir mobil di basement di lot yang diperuntukkan buat aku. Ayu kugandeng ke lift dan lift melumcur ke lantai 40, dimana aku tinggal. Di lift ayu kupeluk dan kucium pipinya, "Oom", ayu hanya melenguh sambil memperat pelukannya ke aku. Di apartment, Ayu langsung inspeksi, apartmenku kecil, ada 2 kamar tidur, ruang tamu yang menyatu dengan ruang makan dan pantri. Di bagian belakang ada tempat untuk cuci pakean dan balkonnya lumayan luas untuk jemur pakean. Ayu cukup lama berdiri di alok menatap kerlap kerlip lampu kota. Aku memeluknya dari belakang sambil mencium kuduknya. Ayu mengeglinjang tapi dia membiarkan tanganku yang mulai mengelus toketnya dari luar t shirtnya. "Ooom", lenguhnya ketika toket montoknya mulai kuremas2. Ayu menggeser2kan pantatnya yang membulat ke selangkanganku. Kontolku dah mengejang dengan kerasnya. "Ih, om dah ngaceng ya", katanya sambil terus menggeser2kan pantatnya ke kekontolku. aku makin gemes meremes2 toketnya, terasa sekali besar dan kencengnya toket abg montok ini. "Om, ayu dah pengen om, masuk yuk".&lt;br /&gt;Di sofa Ayu langsung melepas pakean luarnya. Wah baru seumur segini dah liar banget ni anak, pikirku. Ya aku seneng ja dapet abg yang liar kaya Ayu gini, pasti nikmat banget dientotinnya. Aku mengeluarkan 2 soft drink dari lemari es. Aku melotot melihat ayu muncul dengan daleman bikini yang minim dan seksi. Toketnya seakan mau tumpah dari branya yang minim sekali. Demikian pula jembutnya berhamburan dari cd bikini yang model g string itu. "Yu, duduk disebelahku, kamu mau gak aku pijitin", tanyanya. aku tinggal memakai celana panjangnya saja. Baju dah kulepas. Ayupun duduk membelakangiku. Aku mulai memijit pelan keningnya dari belakang. Dari kening turun ke kuduk. Ayu hanya terpejam saja menikmati pijitanku, turun lagi ke pundak. "Enak om", katanya. "Memangnya om pernah jadi tukang pijit ya", godanya. Aku diam saja, tapi tanganku meluncur ke toketnya. Jariku kembali menelusuri toketnya, kuelus2 dengan lembut. Ayu terdiam, napasnya mulai memburu terengah. Jari kuselipkan ke branya dan mengkilik2 pentilnya. Pentilnya langsung mengeras, "Ooom", lenguhnya. Aku langsung saja meremes2 toketnya dengan penuh napsu. Ayu bersandar di dadaku yang bidang. Aku kembali menciumi lehernya sementara kedua toketnya terus saja kuremes2, sehingga napsunya makin berkobar. Kemudian aku minta ayu berbalik sehingga kami duduk berhadapan. Ayu tak menunggu lama, aku segera mengecup bibirnya. Dibalas dengan ganas. Bibirnya kukulum, lidahnya menjalar didalam mulutku sementara tangannya segera turun mencari kontolku. Diusap2, terasa sekali kontolku sudah ngaceng berat, keras sekali. Segera ikat pinggangku dibuka, celanaku dibuka. Aku berdiri sehingga celana panjangku meluncur ke lantai. kontolku yang besar panjang itu nongol dari bagian atas CD ku yang mini. Kami segera bergelut. Aku terus meremas-remas toketnya sementara Ayu mengocok kontolku. "om keras banget, gede lagi", katanya sambil jongkok didepanku, melepas cdku dan menciumi kontolku dan menghisap daerah sekelilingnya termasuk biji pelernya. "Aah Yu, kamu pinter banget bikin aku nikmat", erangku. "aaaduuuuuhh. Yu..enak banget emutanmu". kontolku dijilati seluruhnya kemudian dimasukkan ke mulutnya, dikulum dan diisep2. Kepalanya mengangguk2 mengeluar masukkan kontolku di mulutnya. Akhirnya aku gak tahan lagi. Ayu kubopong ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayu kubaringkan diranjang. Sambil terus meremas2 toketnya tanganku satunya nyelip ke balik cd bikininya yang g string itu. Otomatis pahanya mengangkang, sehingga aku dengan mudah mempermainkan jembutnya yang lebat. "Om, geli", erangnya. "geli apa nikmat Yu", tanyanya. "Dua2nya om, Ayu dientot dong om, udah kepengin banget nih", katanya to the point. Tanganku menyusup ke punggungnya sambil mengecup bibirnya. Tali pengikat bra kutarik sehingga toketnya membusung menantang untuk diremas dan dikenyot pentilnya, tanpa penutup lagi. Ikatan CD bikini kutarik dengan mulutku sehingga lepaslah semua penutup tubuhnya yang minim. "Yu kamu napsuin banget deh", kataku. Aku langsung saja menindihnya. ****** kuarahkan ke belahan memeknya yang sudah basah dan sedikit terbuka, lalu aku menekan kontolku sehingga kepala kontolku mulai menerobos masuk memeknya. Ayu mengerang keenakan sambil memeluk punggungku. Aku kembali menciumi bibirnya. Lidahnya menjulur masuk mulutku lagi dan segera kuisep2. sementara itu aku terus menekan pantatku pelan2 sehinggga kepala kontolku masuk memeknya makin dalam dan bless, kontolku sudah masuk setengahnya kedalam memeknya. "Aah, om nikmat banget om", erangnya sambil mencengkeram punggungku. Kedua kakinya dilingkarkan di pinggangku sehingga ****** besarku langsung ambles semuanya di memeknya. "Om, ssh, enak om, terusin", erangnya. Ayu menggeliat2 ketika aku mulai mengeluarmasukkan kontolku di memeknya. Ayu mengejang2kan memeknya meremes2 kontolku yang sedang keluar masuk itu. "Yu, nikmat banget empotan memek kamu, kamu masi muda gini dah pinter ngeladenin napsuku", erangku. aku memeluknya dan kembali menciumi bibirnya, dengan menggebu2 bibirnya kulumat, Ayu mengiringi permainan bibirku dengan membalas mengulum bibirku. Terasa lidahnya menerobos masuk mulutku. Aku mengenjotkan kontolku keluar masuk makin cepat dan keras, Ayu menggeliatkan pinggulnya mengiringi keluar masuknya kontolku di memeknya. Setiap kali aku menancapkan kontolku dalam2 Ayu melenguh keenakan. Terasa banget kontolku menyesaki seluruh memeknya sampe kedalem. Karena lenguhannya aku makin bernapsu mengenjotkan kontolku. Gak bisa cepet2 karena kakinya masih melingkar dipinggangku, tapi cukuplah untuk menimbulkan rangsang nikmat di memeknya. Kenikmatan terus berlangsung selama aku terus mengenjotkan kontolku keluar masuk,&lt;br /&gt;akhirnya Ayu gak tahan lagi. Jepitan kakinya di pinggangku terlepas dan di kangkangkan lebar2. Posisi ini mempermudah gerakan kontolku keluar masuk memeknya dan rasanya masuk lebih dalam lagi. Tidak lama kemudian Ayu memeluk punggungku makin keras "Om, Ayu mau nyampe om". "Kita bareng ya Yu", kataku sambil mempercepat enjotanku. "Om, gak tahan lagi om, Ayu nyampe om,aakh", jeritnya saking nikmatnya. Kakinya kembali melingkar di pinggangku sehingga kontolku nancep dalam sekali di memeknya. memeknya otomatis mengejang2 ketika Ayu nyampe sehingga bendungan pejuku bobol juga. "Akh Yu, aku ngecret Yu, akh", aku mengerang sambil mengecretkan pejuku beberapa kali di memeknya. Dengan nafas yang terengah engah dan badan penuh dengan keringat, Ayu kupeluk sementara kontolku masih tetep nancep di memeknya. Ayu menikmati enaknya nyampe. Setelah gak ngos2an, aku mencabut kontolku dari memeknya.kontolku berlumuran lendir memeknya dan pejuku sendiri. Aku berbaring disebelahnya. "Yu, kamu nikmat banget deh kalo dientot. Kamu yang paling nikmat dari semua abg yang pernah aku entot", kataku sambil mengelus2 pipiku. "Ayu mo kok tinggal sama om, biar om gak usah repot cari abg kalo pengen *******. Udah tersedia di rumah", katanya sambil tersenyum. Aku diam saja. "Om, Ayu ngantuk dan cape". "Ya udah, tidur ja Yu, besok kita tenmpur lagi". Aku mematikan lampu dan tak lama kemudian kami dah terlelap diranjang yang kusut bertlanjang bulet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah mulai terang ketika kami terbangun. Aku merasa lapar, ayu juga, "Om, Ayu laper om", katanya. "Iya Yu, aku juga laper lagi nih, abis kerja keras sih", jawabku. "Mandi dulu yuk" ajakku. Kami bercanda-canda di kamar mandi seperti anak kecil saling menggosok dan berebutan sabun, aku kemudian menarik tubuhnya merapat ke tubuhku. Aku duduk di toilet dan Ayu duduk dipangkuanku dan aku mengusap2 pahanya. "Kamu cantik sekali, Yu", rayuku. Tanganku pindah ke bukit memeknya mempermainkan jembutnya yang lebat. Aku bisa melakukan itu karena ayu mengangkangkan pahanya. Tanganku terus menjalar ke atas ke pinggangnya. "geli om", katanya ketika tanganku menggelitiki pinggangnya. Ayu menggeliat2 jadinya. Segera aku meremes2 toketnya."toket kamu besar ya Yu, kenceng lagi", kataku. "om suka kan", jawabnya. "ya Yu, aku suka sekali setiap inci dari tubuhmu", jawabku sambil terus meremes2 toketnya. Aku kemudian mencium bibirnya. Akhirnya usailah kemesraan di kamar mandi. Kami saling mengeringkan badan, dengan masih bertelanjang bulet, aku menyiapkan sarapan buat kita ber 2. Indomi rasa presiden ja ya Yu". "Ya abis iklannya indomi dipake ma capres kan". "Bisa aja si om, boleh deh, Ayu suka kok apa aja, asal om yang sediain". "Ih manjanya". "Tapi om suka kan Ayu manja2 ma om". "Suka banget Yu". "ayu tinggal ma om ya, boleh ya om". "Nanti om dituduh melarikan anak dibawah umur lagi ma ortu kamu, kan repot kalo dilaporkan polisi sgala. Ayu bole kok kapan aja mo nginep disini". Ayu diem saja, kulihat ada raut kekecewaan diwajahnya. "Jangan kecewa dong sayang, aku buatin dulu ya indomi rasa presidennya". Dia kembali tersenyum. Cantik sekali Ayu, wajahnya yang tanpa riasan sama sekali tampak cantik segar dan muda sekali. aku langung on lagi ngeliatnya. Segera aku menyiapkan sarapan. "Kamu mo minum apaan Yu, ada teh kopi atau susu. Kalo susu mah kamu dah punya ya, besar lagi". "Oom", katanya manja. Aku nyiapin tehm manis ja buat aku dan dia. Setelah indominya mateng, aku tambahin bawang goreng, sedikit kecap asin dan roiko penedap rasa. "Om enak banget indomi bikinan om, kalo dirumah bikinan pembokat gak seenak bikinan om". "Kalo suka ya tambah lagi ya, nanti aku bikinin lagi". "enggak lah om, ni kan ukuran jumbo, semangkok juga ayu dah kenyang". "semalem kan ukuran jumbo yang masuk, dah kenyang juga". "O kalo yang itu masi pengen berkali2 lagi". "Haah, berkali2 lagi". "Iya om, abis nikmat banget si, abis sarapan maen lagi ya om". Luar biasa napsunya ni abg pikirku, ya gak apalah, malah aku bisa nikmati ayu terus2an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar, ayu sudah berbaring diranjang. kontolku yang belum diapa2in sudah ngaceng berat. Aku segera mengecup bibirnya, beralih ke lehernya dan kemudian turun ke toketnya. toketnya kuremes2, ayu terengah, napsunya berkobar lagi. pentilnya ku emut2 sambil meremas toketnya. Tanganku satunya menjalar kebawah, menerobos lebatnya jembutnya dan mengilik2 itilnya. "aakh om, pinter banget ngerangsang Ayu", erangnya. Ayu mengangkangkan pahanya supaya kilikannya di itilnya makin terasa. Kilikan di itilnya membuat ayu makin liar. Tangannya mencari kontolku, diremes dan kepalanya dikocok2. Ayu bangkit. kontolku yang tegak berdiri dengan kerasnya. langsung diraih dan dijilati. Pertama cuma kepalanya yang dimasukkan ke mulutnya dan diemut2. Aku meraih pantatnya dan menarik ayu menelungkup diatasku. Aku mulai menjilati memeknya, ayu menggelinjang setiap kali aku mengecup bibir memeknya. Dengan kedua tangan, aku membuka memeknya pelan2, aku menjilati bagian dalam bibir memeknya. Ayu melepaskan emutannya di kontolku dan mengerang hebat, "om aakh". Pantatnya menggelinjang sehingga mulutku melekat erat di memeknya. "Terus om aakh", erangnya lagi. itilnya yang menjadi sasaran berikutnya, ayu makin mengerang keenakan. memeknya makin kebanjiran lendir yang terus merembes, soalnya ayu udah napsu banget. Cukup lama aku mengemut itilnya dan akhirnya "Om, Ayu nyampe om, aakh", erangnya. "om nikmat banget deh, belum dientot udah nikmat begini om". Ayu memutar badannya kesamping dan berbaring disebelahku. Aku mencium bibirnya. Kemudian ayu kunaiki, kutancapkan kontolku kememeknya dan kudorongnya masuk pelan2, "Om, enak, masukin semuanya om, teken lagi om, akh", erangnya merasakan nikmatnya kontolku nancep lagi di memeknya. Aku mengenjotkan kontolku keluar masuk, ketika sudah nancep kira2 separonya, aku menggentakkan pantatku kebawah sehingga langsung aja kontolku ambles semuanya di memeknya. "Om, aakh", erangnya penuh nikmat. aku mengenjotkan kontolku keluar masuk makin cepet, sambil menciumi bibirnya sampe akhirnya, "Om, Ayu nyampe lagi om, ooh", ayu mengejang2 saking nikmatnya. memeknya otomatis ikut mengejang2. Aku meringis2 keenakan karena kontolku diremes2 memeknya dengan keras, tapi aku masih perkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku mencabut kontolku dan minta ayu nungging. Aku menciumi kedua bongkahan pantatnya, dengan gemas aku menjilati dan mengusapi pantatnya. Mulutku terus merambat ke selangkangannya. Ayu mendesis merasakan sensasi waktu lidahku menyapu naik dari memeknya ke arah pantatnya. Kedua jariku membuka bibir memeknya dan aku menjulurkan lidah menjilati bagian dalem memeknya. Ayu makin mendesah gak karuan, tubuhnya menggelinjang. Ditengah kenikmatan itu, aku dengan cepat mengganti lidah dengan kontolku. Ayu menahan napas sambil menggigit bibir ketika ****** besarku kembali nancep di memeknya. "Om", erangnya ketika akhirnya kontolku ambles semuanya di memeknya. Aku mulai mengenjotkan kontolku keluar masuk, mula2 pelan, makin lama makin cepat dan keras. Ayu kembali mendesah2 saking enaknya. toketnya kuremes2 dari belakang, tapi enjotan kontolku jalan terus. Ditengah kenikmatan, aku mengganti posisi lagi, aku duduk di kursi dan ayu duduk dipangkuanku membelakangiku. kontolku sudah nancep semuanya lagi di memeknya. Ayu menolehkan kepalanya sehingga aku langsung melumat bibirnya. Ayu semakin cepat menaik turunkan badannya sambil terus ciuman dengan liar. Aku gak bosen2nya ngeremes toketnya. Pentilnya yang sudah keras itu kuplintir2. Gerakannya makin liar saja, ayu makin tak terkendali menggerakkan badannya, digerakkannya badannya turun naik sekuat tenaga sehingga kontolku nancep dalem banget. "Om Ayu dah mau nyampe lagi om, aduh om, enak banget", erangnya. Tau ayu udah mau nyampe, aku mengangkat badannya dari pangkuanku sehingga kontolku yang masih perkasa lepas dari memeknya. "Kok brenti om", tanyanya protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayu kutelentangkan lagi diranjang, aku naiki dia dan kembali kutancepkannya kontolku kedalam memeknya. Dengan sekali enjot, kontolku sudah ambles semuanya. Aku mulai mengenjotkan kontolku keluar masuk dengan cepat. memeknya mulai berkontraksi, mengejan, meremes2 kontolku, tandanya ayu dah hampir nyampe. Aku makin gencar mengenjotkan kontolku, dan "Om, Ayu nyampe om, akh", jeritnya. Akupun merasakan remesan memeknya karena nyampe. enjotanku makin cepat saja sehingga akhirnya, "Yu..." aku berteriak menyebut namanya dan pejuku ngecret dengan derasnya di memeknya. "Om, nikmat banget ya, lagi ya om", tanyanya. "istirahat dulu ya Yu, kamu kok gak puas2 si, aku cape juga nih nggelutin kamu", jawabku. Aku mencabut kontolku dan terkapar disebelahnya. Tak lama kemudian aku kembali terlelap karena lemes dan nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbangun, dah ampir tengah hari. kulihat Ayu masi terkapar dengan lelapnya. Toketnya yang membusung bergerak turun naik seiring dengan tarikan napasnya. Kkinya pada posisi mengangkang sehingga memeknya terkuak diantara kerimbunan jembutnya. Memek yang barusan memberikan kenikmatan tak terhingga bagiku karena jepitan pada kontolku. Memandangi tubuhnya pada posisi menantang seperti itu, napsuku naik lagi, kontolku kembali mulai mengeras. Ayu masih terbaring di ranjang. aku mandi membersihkan diriku, selesai mandi kulihat ayu dah terbangun. "enak banget tidurnya Yu". "Ayu cape banget om, om kok mandi gak ajak2 Ayu". "Abis bobonya pules banget, jadi aku gak bangunin kamu. Dah siang ni, mo cari makan gak, aku laper". "Ayu juga laper om, mi presidennya dah abis buat maen tadi pagi, kudu diisi batere baru ni, pasti om masi mau maen ma Ayu lagi kan". "Tau aja kamu, dah mandi sana". "Ayu gak bawa ganti om, masak pake baju yang semalem". "Mo pake bajuku, kegedean gak". Ayu tubuhnya imut, sehingga kalo pake pakeanku pastinya lah kedodoran. "Gini deh, abis mandi ya terpaksa kamu pake lagi baju itu. Aku anter kamu pulang buat tuker baju, baru kita pergi cari makan". "Ayu tapi masi mo disini om". "Boleh, kamu boleh ja disini selama kamu mau, tapi kan kamu gak mo pake baju yang semalem". Ayu segera masuk kamar mandi membersihkan diri, selesai mandi dia mengenakan pakean yang semalem, kulihat dalemannya cuma dimasukkan kantong plastik. "Yu om, buruan, gatel2 ni, pake baju yang esemalem". Rumah Ayu gak jauh dari apartmentku. "Om, brentinya jauhan dari rumah ya, ntar keliahatan ma pembantu lagi Ayu om anter pulang". Aku berhenti dibawah pohon rindang, Ayu segera menenteng kantong plastik yang berisi dalemannya menuju rumahnya. Cukup lama aku menunggunya, dia keluar lagi cuma bercelana pendek dan memakai tanktop. toketnya yang membusung nampak sangat menonjol. Aku dah pengen menggemasi toketnya itu. "Kamu tu seksi sekali deh Yu, pake apa aja tetep aja seksi dan cantik". "Kalo gak pake apa2?" "Wah lebi lagi, merangsang. Kamu mo makan apa?". "Terserah om aja, abis makan Ayu om makan lagi kan". "So pasti lah, kam kata kamu kita mo isis bensin buat ronde berikutnya". aku menuju ke mal yang terdekat dari tempat itu. Kit puter2 saja disana mencari makan. "Yu kamu mo aku beliin pakean?" "Gak ah om, pakean Ayu dah selemari dirumah". Akhirnya aku mengajak Ayu makan pasta di satu resto pasta Itali. Ayu doyan banget makan pasta, dia makan semua yang aku pesan dengan lahapnya. "Wah ngisi bensinnya banyak banget Yu". "Biar siap om kerjain lagi".&lt;br /&gt;Pulang makan, ayu berbaring diranjang dan aku duduk disebelahnya. "Yu, aku dah napsu lagi liat badan kamu", kataku. Langsung Ayu melirik daerah kontolku, kelihatan sekali sudah mulai ngaceng karena kelihatan menggelembung. Aku mengelus2 punggungnya, terus tanganku pindah mengelus pahanya, merayap makin dalam sehingga menggosok memeknya dari luar celana pendeknya. "Gak berasa om, lepasin dong pakean Ayu". Aku membuka kancing celana pendeknya dan kulorotkan, Ayu membantu dengan mengangkat pantatnya keatas. Ayu mengangkangkan pahanya sehingga jariku menggosok2 belahan memeknya dari luar cd. "Ssh om", erangnya. terus saja aku mengelus belahan memeknya dari luar cd nya. Aku mulai menjilati pahanya, jilatanku perlahan menjalar ketengah. Ayu hanya dapat mencengkram sprei ketika merasakan lidahku yang tebal dan kasar itu menyusup ke pinggir cd nya yang kusingkirkan dengan jari, lalu menyentuh bibir memeknya. Bukan hanya bibir memeknya yang kujilati, tapi lidahku juga masuk ke liang memeknya. Aku terus mengelus paha dan pantatnya mempercepat naiknya napsunya. Sesaat kemudian, aku melepas cd nya. Kembali terpampang dengan jelas .memeknya yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Aku mendekap tubuhnya dari belakang dalam posisi berbaring menyamping. Dengan lembut aku membelai permukaannya yang ditumbuhi jembut yang lebat. Sementara tanganku yang satunya mulai naik ke toketnya, menyusup ke dalam tanktopnya, kemudian kebalik branya kemudian meremas toketnya dengan gemas. "Yu, toket kamu besar dan keras. Jembut kamu lebat sekali, gak heran napsu kamu besar ya" kataku dekat telinganya sehingga deru nafasku menggelitik. Ayu hanya terdiam dan meresapi dalam-dalam elusan-elusan pada daerah sensitifnya. Aku makin getol, jari-jariku kini bukan hanya mengelus memeknya tapi juga mulai mengorek-ngoreknya, tanktop dan branya dah kulepas sehingga aku dapat melihat jelas toketnya dengan pentil yang sudah mengeras. Tak lama kemudian cd nya pun menyusul kulepaskan, ayu dah tlanjang bulet siap menampung kontolku lagi didalem memeknya. Ayu merasakan ****** keras di balik celanaku yang kugesek-gesek pada pantatnya. Aku sangat bernafsu melihat toketnya yang montok itu, aku meremas-remas dan terkadang memilin-milin pentilnya. Ketika aku menciumi lehernya, nafasku sudah memburu, bulu kuduknya merinding waktu lidahku menyapu kulit lehernya disertai kecupan. Ayu hanya bisa meresponnya dengan mendesah dan merintih, bahkan menjerit pendek waktu remasanku pada toketnya mengencang atau jariku mengebor memeknya lebih dalam. Kecupanku bergerak naik menuju mulutnya meninggalkan jejak berupa air liur dan bekas gigitan di permukaan kulit yang dilalui. Bibirku akhirnya bertemu dengan bibirnya menyumbat erangannya, aku menciuminya dengan gemas. Aku bergerak lebih cepat dan melumat bibirnya. Mulutnya mulai terbuka membiarkan lidahku masuk, aku menyapu langit-langit mulutnya dan menggelitik lidahnya dengan lidahku sehingga lidahnya pun turut beradu dengan lidahku. Kami larut dalam birahi, aku memainkan lidahku di dalam mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas berciuman, aku melepaskan dekapannya dan melepas pakeanku. Maka menyembullah kontolku yang sudah ngaceng dari tadi. Ayu tetep saja melihat takjub pada kontolku yang begitu besar dan berurat, "Om, Ayubelum pernah melihat ****** sebesar dan sepanjang ****** om". Ayupun pelan-pelan meraih kontolku, tangannya tak muat menggenggamnya. "Ayo Yu, emutin kontolku" kataku. Kubimbing kontolku dalam genggamanku ke mulutnya. ayu terus memasukkan lebih dalam ke mulutnya lalu mulai memaju-mundurkan kepalanya. Selain mengemut Ayu mengocok ataupun memijati biji pelirnya. "Uaahh.. ennakk banget, kamu udah pengalaman yah" ceracauku menikmati emutannya, sementara tanganku yang bercokol di toketnya sedang asyik memelintir dan memencet pentilnya. Tangan kananku tetap saja mempermainkan memek dan itilnya. Ayu menggelinjang gak karuan, tapi kontolku tetap saja diemutnya. Ayu hanya bisa melenguh tidak jelas karena mulutnya penuh dengan kontolku yang besar. "Yu, kita mulai aja ya. Aku udah gak tahan nih pengen menikmati memek kamu lagi", kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menelentangkan Ayu, aku mengambil posisi ditengah kangkangannya, kontolku yang besar dan keras kuarahkan ke memeknya yang sudah makin basah. Ayu menggeliat2 ketika merasakan betapa besarnya ****** yang menerobos masuk memeknya pelan2. memeknya berkontraksi kemasukan ****** gede itu. "Yu, memek kamu peret banget", kataku sambil terus menekan masuk kontolku pelan2. "abis ****** om besar sekali. Memek Ayu baru sekarang kemasukan yang sebesar ****** om, masukin terus om, nikmaat banget deh rasanya", jawabnya sambil terus menggeliat. Setengah kontolku telah masuk. Dan satu sentakan berikutnya, seluruh kontolku telah ada di dalam memeknya. Ayu hanya memejamkan mata dan menengadahkan muka saja karena sedang mengalami kenikmatan tiada tara. Aku mulai mengenjotkan kontolku keluar masuk dengan pelan, makin lama makin cepat karena enjotannya makin lancar. Terasa memeknya mengencang meremas kontolku, nikmat banget deh. Tangankua mulai bergerilya ke arah toketnya. toketnya kuremas perlahan, seirama dengan enjotan kontolku di memeknya. Ayu hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, Pinggulnya mengikuti goyangan pinggulku. kontolku terus saja kukeluar masukkan mengisi seluruh relung memeknya. Sambil mengenjotkan kontolku, aku mengemut pentilnya yang keras dengan lembut.Kumainkan pentil kanan dengan lidahku, namun seluruh permukaan bibirku membentuk huruf O dan melekat di toketnya. Ini semua membuat ayu mendesah lepas, tak tertahan lagi. Aku mulai mempercepat enjotannya. Ayu makin sering menegang, dan merintih, "Ah... ah..." Dalam enjotannya yang begitu cepat dan intens, ayu menjambak rambutku, "Aaahhh om, Ayu nyampee," lenguhan panjang dan dalam keluar dari mulutnya. Ayu udah nyampe. Tangannya yang menjambak rambutku itu pun terkulai lemas. Aku makin intens mengenjotkan kontolku. Bibirnya yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatan itu pun kulumat, dan ayu membalasnya dengan lumatan juga. Kami saling berpagut mesra sambil bergoyang. Tangan kananku tetap berada ditoketnya, meremas-remas, dan sesekali mempermainkan pentilnya. Terasa memeknya mencengkeram ****** gedeku. "Uhhh," aku mengejang. Satu pelukan erat, dan sentakan keras, kontolku menghujam keras ke dalam memeknya, mengiringi muncratnya pejuku. Tepat saat itu juga ayu memelukku erat sekali, mengejang, dan menjerit, "Aahhh". Kemudian pelukannya melemas. Ayu nyampe untuk kedua kalinya, namun kali ini berbarengan dengan ngecretnya pejuku.&lt;br /&gt;Setelah dengusan napas mereda, aku mencabut kontolku dari memeknya dan terkapar disebelahnya. "om, ****** om lemes aja udah gede, gak heran kalo ngaceng jadi gede banget. Bener kata temen Ayu, makin gede ****** yang masuk, makin nikmat rasanya", katanya. "memangnya ****** cowok kamu kecil ya Yu", tanyanya. "Gede sih om, tapi gak segede ****** om, tapi nikmat banget deh", jawabnya sambil menguap. Tak lama kemudian ayu kembali terlelap. Ayu terbangun karena hpnya bunyi, sms dari Ana rupanya, ngingetin kalo mereka akan kumpul malem ini untuk blajar bersama. "Dari sapa Yu". "Ana om, ngingetin buat blajar bersama di tempat Ana malem ini. Udahan deh nikmatnya ya om, kapan Ayu ngerasain nikmat kaya gini lagi om". "Kapan aja kamu mau, aku siap kok Yu, aku juga nikmat banget deh ngentotin kamu. Kamu yang paling nikmat dari semua abg yang pernah aku entotin". Ayu bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Gak lama kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi dan giliranku untuk membersihkan diri. Setelah rapi berpakaian, aku mengantarkan Ayu kembali ke rumahnya, Ayu mengambil buku2 yang diperlukan untuk belajar bersama, aku mengantarkannya ke tempat Ana. "Om, nanti jam 9an jemput Ayu lagi ya, Ayu masi pengen ngerasain nikmat ma om lagi, bole ya om". Wah hebat banget ni akak, gak ada puasnya. "Ya deh, nanti aku tunggu kamu disini ya, aku sms kamu deh kalo dah sampe". "Nanti Ayu sms om juga deh kalo dah mo selesai blajarnya, biar om gak nunggu kelamaan. Kalo dah malem kan jalannya gak macet om ke tempat Ana".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 9, aku dah standbye deket tempatnya ana, ayu dah sms aku beberapa waktu yang lalu ngasi tau bahwa dia dah selesai blajarnya. Aku mengajak ayu ke pantai, menikmati udara laut yang segar. Bosen kalo ditempatku terus. "Kamu dah makan Yu". "Udah om, om dah makan". "Ya udah dong sayang". "Ih om mulai deh nggombalin Ayu, pake sayang2an segala. Kok kita kesini si om, Ayu kan pengen ngerasain nikmat lagi ma om". "Bosen ditempatku terus Yu, kita ke motel aja yuk, deket sini ada kok". Aku langsung mengrahkan mobil menuju ke motel. Mobil masuk garasi dan petugas menutup rolling doornya. Aku menggandeng Ayu naik ke lantai 2. Gak lama kemudian petugas menagih biaya kamar, aku membereskannya. Ayu heran melihay banyaknya kaca sekeliling ruang dan dilangit2. "Buat apa kaca sebanyak ini om". "Kan sensasinya beda Yu, lagi maen sembari melihat kita yang lagi maen". Ayu membuka pakaiannya dan hanya mengenakan daleman yang tipis berbaring diranjang, akupun segera melepas pakaianku meninggalkan cd nya saja dan berbaring disebelahnya. kemudian aku mulai meremas-remas pantatnya dengan gemas. setelah itu tanganku mulai menyusup ke dalam cdnya dan meremas kembali pantatnya dari dalam. Kemudian, aku mengangkat satu kakinya dan menahannya selagi tanganku satunya meraih memeknya. "Ohh.. om," rintihnya. Jariku dengan lincah menggosok-gosok lubang memeknya yang mulai basah. Nafasnya juga mulai cepat dan berat. Aku membuka cdnya dan membuka lebar-lebar pahanya sehingga memeknya terpampang lebar untuk dijelajahi oleh tanganku. dengan sigap tanganku kembali meraih memeknya dan meremasnya. Aku menjilati telinganya ketika tanganku mulai bermain diitilnya. Napsunya sudah tak tertahankan lagi. Ayu mulai mendesah-desah tak keruan. Jilatan maut di telinganya menambah nafsunya. Aku terus menekan-nekan itilnya dari atas ke bawah. ayu meracau tak karuan. "Ahh.. Shh.. om" desahnya bernafsu. Jariku dengan lihai mengggosok-gosok dan menekan itilnya dengan berirama. desahannya berubah menjadi rintihan kenikmatan. Tak sampai 15 menit kemudian, ayu nyampe. "om, nikmat banget, belum dientot saja sudah nikmat," desahnya, tangannya meremas tanganku yang sedang bermain di itilnya dengan bernafsu. Aku merentangkan kedua pahanya. Kujilat bibir memeknya, rasa menggelitik yang luar biasa menyerang tubuh Ayu. Jilatanku menjalar ke itilnya, kugigit lembut itilnya yang kian merangsang napsunya. Ayu melenguh keras disertai jeritan-jeritan kenikmatan yang seakan menyuruh aku untuk terus dan tak berhenti. Melihat reaksinya, aku terus menggesekan jariku di liang memeknya yang sudah membanjir. Tak kuasa menahan nikmat, ayu pun mendesah keras terus-menerus. Ayu meracau tidak beraturan. Kemudian memeknya mengeluarkan cairan deras bening, ayu nyampe untuk kedua kalinya. "om, ooh", lenguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membuka branya dan meremas toketnya dengan sangat keras. Ayu melenguh sakit, kemudian pentilnya yang menjadi sasaran berikutnya, kupilin dan kucubit pelan. Napsunya kembali berkobar, memeknya kembali membasah, "om, entotin Ayu sekarang, Ayu udah napsu banget om", erangnya. Akupun mencopot cdku, ****** besarku sudah ngaceng berat mengangguk2. Aku menggesekkan kepala kontolku ke bibir memeknya yang sudah basah. Ayu merasakan sensasi lebih daripada jilatan lidahku di memeknya sebelumnya hingga Ayu merintih keras saking nikmatnya. "Ahh! om.. Ohh.. Entotin Ayu" racaunya. Dengan perlahan aku memasukkan kepala ****** ke dalam memeknya, segera aku menyodok-nyodok kontolku dengan kuat dan keras di memeknya. Rasanya nikmat sekali. Aku mendesah terus-menerus karena kerapatan dan betapa enaknya memeknya. kontolku yang panjang dan besar terasa menyodok bagian terdalam memeknya hingga membuatnya nyampe lagi. "om, Ayu nyampe om, aakh nikmatnya", erangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku membalikkan badannya yang telah lemas dan menusukkan kontolku ke dalam memeknya dari belakang. Posisi doggie ini lebih nikmat karena terasa lebih menggosok dinding memeknya yang masih sensitif. Akhirnya setelah menggenjotnya selama setengah jam, aku ngecret didalam memeknya. Pejuku terasa dengan kuat menyemprot dinding memeknya. aku menjerit-jerit nikmat dan badanku mengejang-ngejang. Aku dengan kuat meremas toketnya dan menarik-narik pentilnya. Setelah reda, aku berbaring di sebelahnya dan menjilati pentilnya. Pentilnya kusedot-sedot dengan gemas. Aku ingin membuatnya nyampe lagi. Tanganku kembali menjelajahi memeknya, namun kali ini jariku masuk ke dalam memeknya. Aku menekan-nekan dinding memeknya. Ketika sampai pada suatu titik, badannya mengejang nikmat dan aku kembali menggosok-gosok daerah rawan itu dan menekannya terus menerus. itulah G-Spot. Ayu tidak bertahan lama dan akhirnya nyampe lagi untuk kesekian kalinya. Badannya mengejang dan memeknya kembali berlendir. "om nikmat banget deh malem ini", katanya. "Masi mo lagi kan sayang". "Kalo om masi kuat ya mau aja".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencium bibirnya. ayu menyambut ciumankua dengan napsu juga, bukan cuma bibir yang main, lidah dan ludah pun saling belit dan campur baur dengan liarnya. Sebelah kakinya ngelingker di pinggulku supaya lebih mepet lagi. Tanganku mulai main, menjalari pahanya. Tanganku terus menjalar sampai menyentuh celah di pangkal pahanya. memeknya kugelitik-gelitik. Ayu menggelepar merasakan jari-jariku yang nakal. Bibir kulepas dari bibirnya. "Hmmhhh...enak, om." jeritnya. jari-jariku tambah nakal, menusuk lubang memeknya yang sudah berlendir dan mengocoknya. Ayu tambah menjerit-jerit. "om...hhh...masukkin ****** om, Ayu udah nggak tahan..hhhh...hhh..." Aku segera memposisikan diatasmya yang sudah telentang mengangkang. kontolku ditancapkan ke memeknya, ayu melenguh keenakan, "om ****** om nikmat banget deh". ****** kudorong lagi sampai mentok. "Om..oohhh..nikmatnya" jeritnya. ****** kukocok keluar masuk memeknya. ayu mulai mengejang-ngejang lagi dan bibirnya tak henti-henti menyuarakan kenikmatan. Kurang lebih dua puluh menitan akhirnya aku ngecret. Ugh, rasanya enak bener. pejuku berhamburan keluar, bermuncratan dan menembak-nembak didalam memeknya. Ayu sendiri sudah beberapa kali nyampe sampe memeknya mengejang-ngejang keenakan. Lendir dari memeknya membanjir...meleber di paha, betis dan pantatnya. Ayu menggeletak lemas. Aku dan dia sama-sama mandi keringat. Nafasnya terengah-engah tak beraturan. dia merebahkan badannya di sampingku. "Om, dah waktunya pulang, sedih ya, tapi Ayu besok mesti sekolah lagi, pengen nangis deh om". "Jangan nangis sayang, masi banyak waktu laen kok buat kita berdua", aku menenangkan diri. Setelah bebersih, kita meninggalkan motel dan aku mengantarkan Ayu pulang. Luar biasa hari ini, lemes rasanya aku nggelutin Ayu seharian, tapi nikmatnya top markotop. &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Gue istri yang bener bener nakal...</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/09/gue-istri-yang-bener-bener-nakal.html</link><category>Gue istri yang bener bener nakal...</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Sat, 12 Sep 2009 13:09:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-7012067403107063815</guid><description>&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;        &lt;hr style="color: rgb(255, 255, 255); background-color: rgb(255, 255, 255);" size="1"&gt;    &lt;!-- / icon and title --&gt;       &lt;!-- message --&gt;   &lt;div id="post_message_1637093314"&gt; &lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Usia perkawinan kami menjelang 10 tahun, untuk menghindari kejenuhan biasanya kami refreshing dengan menginap di ubud. Anak anak ditinggal di Surabaya karena mereka juga sudah cukup besar. 2-3 hari suami cuti sudah cukup mencharge ulang hubungan percintaan kami. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Kali ini kami berdua kembali menginap di ubud bali. Kamar yang kami dapat sungguh luar biasa karena berada di puncak bukit dengan kaca yang terbuka di sekeliling kamar. Pemandangan yang luar biasa terhampar di depan mata. Bercinta di tempat seperti ini sungguh menggairahkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Belum lagi acara di malam hari yang diadakan oleh pihak hotel, sungguh menarik, dimulai dari pementasan tari bali yang indah, acara makan malam yang romantic dan diakhiri dengan melepaskan kepenatan di diskotik yang mulai dibuka pukul 10 malam sampai pagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;. Sengaja aku memakai pakaian yang mengundang, rok mini sexy yang melekat erat di tubuhku dengan belahan dada yang sangat terbuka menyembulkan buah dadaku yang montok. Suamiku tidak keberatan bahkan menikmati ketika para mata lelaki melihatku dengan pandangan nafsu. “Rin..lihat cowok di ujung itu, matanya tidak lepas dari tubuhmu…heheheh” Suamiku berbisik sambil senyum senyum bangga. “mas nggak cemburu, Rini dilihat sama cowok cowok itu…”bisikku sambil memeluk pinggangnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“hmmmm…rasa bangganya memiliki kamu mengalahkan cemburuku…sayang…eh coba Rin mereka kamu goda…ajak kenalan gitu…aku pengen tahu sejauh mana keberanian mereka.” Suamiku mencoba bermain api.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Eh…jangan mas..!” Bisikku “ Kalo kebablasan gimana hayo…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“hahahaha nggak papa sekali kali ngedate ama cowok lain gak papa asal nggak keterusan…” Suamiku tersenyum senyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Aku sempat berkenalan dengan beberapa pemuda menarik, mereka ganteng ganteng juga. Andi, Budi, …hmmm cowok cowok brondong yang menggairahkan. Suasana yang mulai menghangat membuatku berpikir untuk mencoba sedikit nakal. Dari dulu aku mempunyai fantasi threesome atau gang bang…mungkin tidak ada salahnya dicoba, mumpung suamiku sedikit memberi keleluasaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Dan sepertinya sangat menggairahkan, bercinta dengan orang lain disaat suami ada di dekat kita. Hmmm tapi bagaimana caranya..?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Aku biarkan suasana mengalir , lebih panas, lebih menggairahkan, dan mereka mulai berani memelukku. Bahkan Andi sempat meremas payudaraku. Kucari suamiku ternyata dia mabuk di pojok. Aku lebih berani untuk mengundang mereka dan mengutarakan keinginanku dan ternyata mereka antusias sekali, tentu saja…bercinta gratis dengan istri orang..masih sexy lagi…hm..hmmm.hmm..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Cuma aku harus berpikir bagaimana caranya agar suamiku tidak tahu…timbul ide bagus di benakku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Rin…dimana kamu  ingin making love ? suamimu kan menempel kamu terus tuh..” Bisik Andi. “Tenang…gw bisa kasih obat tidur..kita nanti main di sampingnya…ok ? “ Kataku tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Hoho..kamu nakal sekali Rin…ML disamping suami…? ” Tawa Andi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Seperti yang sudah aku rencanakan, suamiku ketika masuk kamar sudah dalam keadaan mabuk, aku beri sedikit dosis rendah obat tidur di minumannya, membuatnya terlelap dengan cepat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Rencana nakalku berhasil, dengan cepat aku buka pintu kamar hotel dimana Andi sudah menunggu. “ Rin…aku ajak Budi ya…supaya lebih seru..gimana” Tanya Andi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Hmmm aku sungguh tidak keberatan, karena seperti yang sudah aku jelaskan bahwa threesome salah satu fantasi liarku. Aku mempunyai fantasi seks yang cukup liar dimulai dari threesome dan bondage. Memang belum ada salah satupun fantasi yang terealisasi tapi aku sudah memutuskan di bali ini semua harus terlaksana, terutama bondage…entah terkadang aku menikmati kalau suamiku bercinta dengan sedikit kasar, sedikit ganas…sungguh berbeda…entah..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Sebelum menutup pintu Andi sudah memelukku erat dan meremas pantatku. “ hmmmm sekel banget pantatmu Rin…kamu sexy sekali. “ Bisik Andi sambil melumat bibirku. Sementara Budi hanya tersenyum sambil melepas kemejanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Aku memang menyukai sex singkat. Session pertama harus cepat, session kedua baru santai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Rin bener neeeh suamimu gak bangun…hehehe asyik banget dong bercinta di samping suami yang ketiduran…bisa aja idemu…lebih merangsang ya Rin ? “ Tanya Rudi, kini tubuhnya sudah sepenuhnya bugil , terlihat batangnya yang sungguh menarik. Tidak terlalu panjang tapi diameternya mantap, yang penting beda dengan milik suamiku. Ukuran tidak terlalu penting.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Tangan Andi sudah menyelusup ke balik  bra ku dan meremas lembut, sementara Budi sibuk menciumi paha…hmmm geli geli enak…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Andi menghempaskan tubuhku di samping suamiku yang tertidur nyenyak, dengan cepat melumat buah dada kiriku yang kini terbuka lebar. Budi tidak mau kalah dengan merebahkan badannya di samping kanan tepat di sebelah suamiku, juga sibuk melumat buah dada kananku. Wow..wow.wow sungguh menggetarkan, dadaku bergemuruh mendapatkan perlakuan seperti ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“ Rin…jantungmu kok keras banget berdetaknya….gue jadi ngeri “ Bisik Budi sambil sibuk menggigit gigit telingaku. “ hei guys….gue belum pernah tidur sama cowok lain…langsung threesome lagi !…kalian beruntung banget…ngerti nggak…”protesku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Baru pertama kali !? “ Budi terkaget kaget, Andi sampai harus melepas kuluman bibirnya dari putting dadaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Huuussss…ngapain dilepas..”tanganku menarik kepala Andi dan membenamkannya kembali ke payudaraku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Sambil tersenyum nakal, lidah Budi menari nari dari perut ke bawah dan makin ke bawah. “ Tenang Rin…kamu bakal puas dan nggak akan melupakan pengalaman pertamamu…ok ?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Gilaaaa jilatan Budi lebih canggih dari suamiku. Nafasku mulai tersengal sengal. Aku sungguh tidak menduga kalau kenikmatannya melebihi ekspetasiku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Tiba tiba aku merasa benda tumpul menyelusup penuh ke miss V ku…ups enaaakk..tapi...” Bud !!  pake kondom !!  gue gak mau tanpa kondom ! ok ? tarik lagi..! jangan merusak mood ku..”kataku tegas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Sorry…sorry Rin…ok ambil dulu. “Sambil berjingkat Budi mengambil kondom di saku celana jeansnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Kalo gitu gue dulu..hehe” Andi yang memasang kondomnya dengan buru buru segera memposisikan batangnya ke hadapan miss V ku, dan dengan tidak menunggu lama segera menghunjamkan dalam dalam…uuuffff.. sekali lagi nikmat.!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Budi yang tidak jadi mengambil kondomnya segera mengarahkan batangnya ke mulutku. Ahhh threesome memang nikmat….Andi mengocok lebih cepat kali ini, , kulirik suamiku yang meskipun tempat tidur berguncang keras, dia sama sekali tidak terganggu. Memang bercinta di depan suami yang tertidur memberi sensasi yang berbeda. Getaran yang lain dari yang lain, antara takut ketahuan, kenikmatan tiada tara bercampur menjadi satu…hehe gue nakal banget ya…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Gantian dong…”rintihku, aku ingin disetubuhi bergantian kali ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Gimana Rin?…nikmat Rin?… enak Rin?…ahhhh kamu sexy sekali… kamu nakal sekali “ Kata Andy sambil menepuk keras pantatku. Batangnya makin kencang menghajar miss V ku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“ Tepuk lagi dooong…please…yang agak keras…ahhh!” Rintihku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Lebih keras !! Andi..please ….gigit punggungku…please ahhhh…”Teriakku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Plak ! tiba tiba Budi menampar pelan pipiku, tangannya segera menjambak rambutku dan menariknya ke atas. Kepalaku yang mendongak ke atas membuat mulutku terbuka lebar, dengan cepat Budi mengisinya dengan batang mantapnya. Ufffff…gue sampe kesedak tapi nikmat…batang Budi tidak panjang tapi diameternya 1,5 kali milik suamiku. Aku lebih suka yang begini, kalau terlalu panjang malah nggak nyaman karena terlalu mentok. Hmmm…baunya khas…beda dengan milik suamiku. Sengaja aku gigit gigit karena gemas. Gila…ada juga batang yang sexy kaya begini. Nggak bosan aku menjilatinya. Kocokanku dan lumatan bibirku membuat keluar cairan bening di ujung batangnya….hmm mulai terangsang neeehh.. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Sepertinya kamu suka bondage Rin…gimana kali kita coba juga ok ? mau ?” Tanpa menunggu jawabanku Andi sibuk merobek robek gaun tipisku menjadi tali. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Kalo nikmat begini kenapa harus menolak “ Terserah kalian …yang penting gue pengen puas malem ini…! Ayo…Bud..jangan berhenti please…!” Teriakku histeris saking nikmatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Ayo Rin aku ikat tanganmu ya…jangan kuatir nggak terlalu keras kok…pengen posisi nungging atau gimana ?....”Tanya Andi mengikat lembut tanganku ke besi tempat tidur, lidahnya menari nari kadang di leherku, buah dadaku membuatku kegelian.” Nungging please Bud..please…masukkan dalam dalam ya…janji lho….yang keras pokoknya…siksa aku please perkosa aku please….ayoooo..”.Rintihku &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Posisiku benar benar menggairahkan. Menungging dengan kedua kaki dan tangan terikat di tempat tidur, sementara suamiku menggeletak tertidur dengan nyenyak. Bisa kalian bayangkan…sexy bukan ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Andi benar benar tidak membuang waktu, posisi yang menungging membuat batangnya menghunjam penuh dalam dalam. Kedua tangannya dengan keras menarik pinggangku agar batangnya masuk seluruhnya. Deritan tempat tidur besi membuat suasana lebih menggairahkan. Badanku terasa bergetar hebat…menjelang orgasme…uhhhh…kedua pahaku terasa kaku. Aku pejamkan mataku, sementara Andi makin mempercepat hentakannya. “Ahhhh !!! aahhh!! Andi ternyata ejakulasi terlebih dahulu. Batangnya terasa berdenyut denyut. “Gantian cepet…aku belum nyampe…cepet! Teriakku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Sigap sekali Budi mengganti posisi Andi, karena tahu aku menjelang orgasme, Budi tidak mengurangi ritme hentakan yang sudah dibangun oleh Andi. Luar biasa nikmat sekali. Mataku terasa gelap…ohhhhhhh aku …aku orgasmeeee..!!! denyutan vaginaku bertambah cepat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Tiba tiba suami mengerang pelan disebelahku ! kami terdiam terpaku….ups !! mungkin suamiku terganggu gara gara tempat tidur terlalu bergoyang keras. Aku gosok gosok pelan punggungnya agar tertidur lagi…hihihi gue bener bener nakal ya. Budi tersenyum senyum sambil mengocok pelan batangnya di vaginaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Agar aman, Budi menurunkan ritmenya, kali ini dia ingin menikmati persetubuhan ini. Sementara tubuhku lemas sekali, tetapi karena kondisi terikat tubuhku tidak bisa bergerak leluasa. Tiba tiba terasa batang Andi mengganti posisi batang Budi…uhhhh kok lebih enak ya… Mataku masih terpejam menikmati. “Kok kamu lagi sih An…Budi kan belum keluar…kasihan dong” Kataku pelan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Tidak sampai 5 menit, Andi sudah mengerang keras hmmm sudah dua kali dia ejakulasi. Aku masih memjamkan mata menikmati. Budi kembali menghunjamkan batangnya tetapi kali ini tangannya meremas rambutku..uhhhh ..”hmmm batang kalian kok lebih enak sihh…kok lain…? Bisikku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Penasaran aku buka mataku menoleh ke belakang..hah !! Ada beberapa laki laki lain masuk kedalam kamarku ?! Mereka semua sibuk mengocok batangnya masing masing “Andiii! Apa apan ini !!..Teriakku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Tenang …tenang..Rin…kenalkan ini Robert..”Kata Andi sambil menunjuk laki laki yang tengah menyetubuhiku dari belakang. “Dan yang sebelumnya tadi, kenalkan Doni…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Kami ber enam sekarang, kamu nggak keberatan kan dipuaskan oleh 6 laki laki ? Fantasimu bakal terpenuhi Rin”…Kata Andi kalem..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Aaaaah jangan begitu dong…gue ngeri…aduuuhhh gimana sih….”Aku mulai panik. NGeri juga kalo digilir banyak cowok begini meski aku pernah berfantasi gila gilaan digilir puluhan cowok. Tapi apa harus malam ini…rasanya aku belum siap…Dan lagi kalo suamiku tiba tiba bangun terus melihat aku lagi disetubuhi habis habisan gimana hayo….aduhhh tapi batang Robert yang mengaduk aduk vaginaku sungguh enak..Aku kembali meracau “  lebih cepaaaat…lebih cepat….uhhhh…ayooo…” Robert mengayun pinggangnya lebih kuat membuat pantatku berbunyi keras kena hempasan pahanya. Robert cepat mengerang, dan didalam vaginaku terasa ada cairan mengalir…kurang ajar ! rupanya mereka tidak memakai kondom. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Hei ! pakai kondomnya dong..! eh kok kalian tambah banyak ?“ Aku protes berat karena kuatir juga kalo mereka nggak bersih dan mengapa sekarang  ada 15 cowok ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Rin kalo pake kondom dengan 15 cowok begini kamu bakal lecet, mending tanpa kondom deh, aku jamin temen temen bersih kok. Mereka semua masih perjaka loh…bayangin kamu merawanin 13 perjaka…asyik kan ? Andi sibuk promosi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“nggak mau ! Andi please jangan dong…jangan masukin sperma kalian ke tubuhku……pake kondom dong please…pokoknya jangan masukkan sperma kalian…please” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Rin…mereka kan masih perjaka…dijamin gak sampe 5 menit semburatlah…ok ? tapi oklah kita semua pake kondom….ok guys !! setuju !! kata  Andi ke mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Tanpa menunggu jawabanku lagi, mereka langsung menggilirku habis habisan. Aku hanya bisa pasrah nikmat ketika batang batang mereka bergantian menyetubuhiku. Memang benar rata rata Cuma 3 menit…tapi masalahnya mereka tidak berhenti di ronde pertama, istirahat 5 menit sudah recovery lagi, artinya masing masing cowok rata rata 3 kali menyetubuhiku… sama saja, rasanya bibir vaginaku menebal. Tapi terus terang saja aku mengalami multi orgasme. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Aku benar benar kelelahan ketika Andi mencoba memasukkan batangnya ke anusku. “Andi please jangan dong…gue belum pernah…” rengekku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Tapi Andi tidak menghentikan usahanya. Gila anak ini…” Please jangan dong..”rengekku lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Hmmm..Rin kamu bilang tadi pengen coba bondage…nanggung dong kalo Cuma begitu aja, gue masukin ya…pokoknya gue masukin deh..loe nangis gue nggak perduli, pokoknya kita semua menikmati tubuhmu sepuas puasnya…bukankah itu yang kamu minta Rin ? “Kata Andi mulai kasar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Andi mulai menekan batangnya ke anusku…duuuhhh perih banget ! Sementara Robert, Doni, Agung dan cowok cowok lain mengocok batangnya di wajahku sambil sesekali memukulkannya ke wajahku. Agung bahkan memaksa aku melumat batangnya. sementara batang Andi mulai masuk makin dalam…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“jangan keluarkan sperma kalian di wajahku ok ? gue nggak mau…ok ? Pintaku memelas…Aku memang menikmati digilir tapi tidak untuk merasakan sperma mereka, bagiku hanya sperma suamiku yang boleh masuk ke dalam tubuhku. Tadi aku kecolongan si Robert, kurang ajar banget..!! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Ayo Rin ! nikmati ! ini yang kamu minta bukan ?! “ Andi mulai menggoyangkan batangnya perlahan. Aku belum pernah anal, dan memang ternyata cukup menyakitkan. Tetapi karena sudah terlanjur basah aku harus bisa menikmatinya. Ahhh ternyata masuk depan belakang ini memang nikmat…gila nikmat banget.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Rin sekarang teman teman ingin mengisi vaginamu dengan sperma mereka bagaimana ….mau kan…? “ Tanya Andi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Jangan Di…gue udah bilang jangan…udah nikmati aja…kenapa sih harus masukin sperma kalian…becek..nggak enak…” Rengekku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Hmmmm, tapi kamu tidak ada pilihan lain bukan kalau kami paksa….”Senyum culas Andi mengembang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Ayolah Rin….Cuma 15 cowok kok….udah gini aja, mereka nggak usah coitus lagi, tadi kan udah..kali ini cuma onani didepan vaginamu, trus vagina elo gue buka lebar lebar agar sperma mereka masuk semua…ok ? Mereka penasaran neeeh …sperma 15 cowok muat nggak ke dalam satu vagina… ok ya Rin…” Rayu Andi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Duuuhhh Di..please gue nggak bisa nikmatin…dan lagi sprei jadi basah semua dong…kalo suami gue bangun gimana dong lihat sperma berceceran…ayolah plesase bukain ikatan gue ya…udah puas semua kan ? Dan lagi suami gue bentar lagi bangun, gue gak sempat bersih bersih dong “ Gue kuatir juga kalo mereka melaksanakan aksinya. Terus terang gak siap deh kalo vagina gue di isi sprema mereka…gila apa !  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Tapi dasar mereka cowok bandel, tangan tangan mereka sudah sibuk mengocok masing masing batangnya. Arrrghhh !! gue bener bener sebel …hhhh tangan dan kaki gue bener bener terikat, mati kutu sama sekali tidak bisa bergerak. Sementara Jemari Andi sibuk mengobok obok vaginaku…aduh..diapain sih punya gue…!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Budi mulai mendekatkan batangnya ke vaginaku dan….ahhh kurang ajar…! Spermanya disemprotkan keras keras, tentu saja langsung masuk karena bibir vaginaku dibuka lebar oleh jari jari Andi..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Doni mengikuti dari belakang…diikuti Rudi, Robert, Syuman dan aaahhh…sungguh kurang ajar mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Rin…coba lihat…terisi penuh kan…semua bisa masuk lohhh…” Andi tersenyum senyum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Di…coba gue masukin batang gue…luber nggak hahahaha “  Robert segera menghunjamkan batangnya, tentu saja sprema di dalamnya muncrat keluar kena tekanan dari luar…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Ok ..Rin gimana kalo kamu kami biarkan terikat begini…surprise untuk suamimu…ok ? hehehe” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Andi..jangan dong please…lepasin dong ikatan gue…please..” Aku mulai panik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;“Nggak mau…biar suamimu tahu kalo kamu nakal…ok ? kami pergi thanks  honey….” Andi menepuk nepuk pipiku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Arggghhh bang**t..!!  Andi !! lepasin gue dong…gue teriak neeeh !!!” Ancam ku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Ups !!! kalo gitu mulut kamu perlu ditutup sayang…”Tangan andi mengambil sobekan kain bajuku untuk menyumpal mulutku…ahhhh kurang ajar !!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;Mereka menutup pintu dan membiarkan aku terikat, aduhhh bagaimana kalau suamiku bangun nanti…!! Aduhhh gimana alasanku nanti ? …mataku jadi gelap…&lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hilangnya perjaka ku dengan tante indra</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/09/hilangnya-perjaka-ku-dengan-tante-indra.html</link><category>Hilangnya perjaka ku dengan tante indra</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Wed, 9 Sep 2009 13:08:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-3303470381061252824</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;        &lt;hr style="color: rgb(255, 255, 255); background-color: rgb(255, 255, 255);" size="1"&gt;    &lt;!-- / icon and title --&gt;       &lt;!-- message --&gt;    salam sejahterah untuk semua warga ds.. ini posting pertama saya... semoga berkenan dan menghibur para mupenger... bila ada salah kata mohon di maafkan,, berikut ceritanya.. (kisah nyata)...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat aku menginjak kelas 2 di smu ku aku memiliki kehidupan yang normal normal saja.. aku adalah atlet olahraga terkenal didaerahku... badanku atletis.. aku memilikki teman bernama manda.. dia adalah teman sekolahku... saat itu aku dekat dengan manda dan sering sekali bermain dirumahnya... ibu manda / tante indra sangat baik padaku... dan ini ku lalui hingga aku naik kelas 3 smu. kelas 3 smu kebetulan aku sedang main di rumah tante indra ke adaan rumahnya saat itu lagi sepi tidak ada siapapun kecuali tante indra... pada saat itu tiba2 saya demam lalu saya tidur di kamar kakak manda. yaitu mas bayu... setelah beberapa menit aku tidur tante indra datang dan memandangiku.. dan berkata.. apa sudah enakan????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menjawab.. udah kok tante... tiba2 dia mencium keningku... entah aku kerasukan apa lalu aku pegang tangannya dan ku kecup bibirnya.. tak di sangka tante indra tidak marah malah lidahnya dikeluarkan dan menggerakan lidahnya ke bibir atasnya.. aku yang melihatnya langsung berdebar2 karena baru itu aku mencium orang yang lebih tua dariku... lalu tanpa babibu lagi aku langsung menyambar bibirnya... tante indra begitu menikmati hingga kami lumat lumatan lama sekali lalu tangan nya membuka bajuku dan menghisap keras nipple ku.. aku mengerang keenakan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak disangka tante indra membuka bajunya, bh nya dan celana dalamnya... aku terpanah melihatnya.. wanita yang pada saat itu masih bermur 38 tahunan bugil didepanku tetapi badannya masih singset .. maklum dia adalah bekas penari bali... bila boleh ku katakan face nya cantik untuk ukuran wanita sebayanya dadanya besar tetapi tidak molor.. sintal sekali ukuran 38b... melihat mekinya sangat bagus sekali.. tidak lama kemudian aku disuruhnya mengisap punting susunya.. aku yang pada saat itu sudah nafsu menghisapnya dengan semangat 45.. tangan tante mulai membuka celanaku dan memainkan mr.p ku.. lu tante meminta untuk tukar posisi lalu tante memasukan mr.p ku dalam mulutnya... ooouuuucccgggghhhhhh enak sekali rasanya.... lalu aku yang sudah terbiasa lliat bokep jadi tau apa yang harus saya lakukan.. saya turun kevaginanya lalu saya hisap.... klirotis nya.. tante indra mengerang sambil membelai kepalaku dan menekan susunya.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;acchhhh enak sayabng kamu hebat ... terusin sayangg.... begitu rancaunya.... sayang aaaakkkkkkuuuuu mau keluar aaarrrrrccchhhhh/..... orgasme pertama tante indra ... tubuhnya menggelinjang.... ada cairan kental keluar dan rasanya asin2 gurih lalu aku tetap meyapu bersih apa yang ada didalamnya,.... tanpa ampun aku langsung menghajar punting payudaranya aku gigit kecil dan tante indra kembali terangsang... aduhhh km kok hebat sekali apa km sudah pernah beginisebelumnya sayang???? belum tante "jawabku".... lalu kenapa km kok bisa sehebat ini??? saya sering liat bokep tante... lalu tante indra langsung berkata berarti km masih perjaka??? iya tante jawbaku... mendengar kata perjaka tante indar langsung memuncak kembali libidonya... sayangg isap lagi puntingku ya... aku menjalan kan apa ayang diperintahkannya tak lama setelah itu dia meminta sayang ayo masukin punyamu d tegang kan kasian... nanti kalau mau dikeluarin didalam saja ndak apa... tetapi saya masih keenakam menyambar puntingnya yang masih kecoklatan.. tak sabar menunggu tante indra membalik badanku lalu memasukan batnagnk pada kemaluannya.. ahhhh sayang punyamu panjang dan keras banget lalu digoyangnya pinggulnya diatas kemaluanku... setealh 3 menitan kita bertukar posisi berdiri.... tak puas dengan itu tante indar mengajakku masuk kamarmandi dan kita lanjut doggy style didalamnya.... berhubung pada saat itu aku masi perjaka.. jadi pada saat posisis ke 3 aku sudah keluar... tantee... sya samapai.... sayang tante juga samapai.. aaarrrccchhhhh crott... crott.... crott... akhgirnya kita berdua lemas dan lekas membersihkan diri,,,, lalu saling berciuman.. tak lama mas bayu dan suami tante indara datang.... lalu kami mengobrol sebentar dan aku pamitan pulang.. sejak saat itu sampai aku mau keluar kota untuk kuliah sayadiajarkan terus bagaimana cara sex terbaik...</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>kekasihku Vie diperdaya mantannya</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/09/kekasihku-vie-diperdaya-mantannya.html</link><category>kekasihku Vie diperdaya mantannya</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Sun, 6 Sep 2009 13:07:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-3053540580843091343</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;        &lt;hr style="color: rgb(255, 255, 255); background-color: rgb(255, 255, 255);" size="1"&gt;    &lt;!-- / icon and title --&gt;       &lt;!-- message --&gt;   &lt;div id="post_message_1637233696"&gt;        &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;Sore itu Vie dikagetkan oleh sebuah sms dari mantannya sebelum aku yang berisi: "aku kangen, kamu dimana sekarang? boleh ketemu?", karena semenjak putus 4 tahun lalu si mantan memang tidak pernah mengubunginya lagi dan apalagi dia tahu kalo aku tidak suka kalo Vie masih berhubungan dengan mantannya yang pernah menodainya dulu. Vie hanya menjawab singkat bahwa saat ini dia berada di Jakarta, dan si mantan me-reply bahwa saat ini dia sedang di Jakarta untuk bertugas (setahu Vie si mantan bekerja di salah satu kota di Jawa Tengah). Vie tidak langsung megiyakan ajakan itu karena dia tahu aku pasti marah kalau sampai dia tahu aku menemui mantannya itu....namun saat itu Vie memang sedang kesal juga denganku yang sering meninggalkannya tugas baik didalam atau luar negeri....dalam benaknya Vie berpikir mungkin tidak apa2 untuk hanya sekedar bertemu dengan lelaki yang pernah dekat dengannya itu.....saat Vie masih melamun bimbang mengenai jawaban ajakan itu tiba2 hp-nya berdering.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan : "Halo Vie...apa kabar? sudah lama ya kita gak bertemu..mumpung aku lg di Jakarta ketemuan yukk...yah cuma ngobrol2 aja seh..nostalgia hahaha.."&lt;br /&gt;Vie : "Kabarku baik..gimana kabarmu? uhm memang berapa lama kamu di Jakarta? aku gatau kita bisa ketemuan apa enggak....nanti aku kabarin lagi yah..."&lt;br /&gt;Mantan : "Okay...kalo bisa seh sempetin karena aku cuma 2 hari di Jakarta.....nanti aku sms lagi yah..aku lanjut kerja dulu..bye"&lt;br /&gt;Vie    : "Iya...mudah2an aku ada waktu..bye..met kerja"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan hari saat Vie baru saja pulang kerja...tiba2 muncul sms dari mantannya kembali yang berisi: "Vie kalau kamu bisa kita ketemuan di plaza XXXX". Vie tidak langsung menjawab sms tersebut, dia masih bimbang antara bertemu atau tidak karena dia malas sekali untuk pergi keluar...dan lagi saat itu kota Jakarta macet..seperti biasanya....akhirnya Vie menjawab: "kita ketemuan di kosku aja...aku lg males keluar...bawa makanan yah...kosku di jalan XXX nomor XXX", jawab Vie melalui sms. Kos Vie berada di lantai paling atas dan hanya ada beberapa kamar dilantai tersebut....ditengah kamar2 tersebut ada ruang tamu dan TV untuk penghuni kos menerima tamu...Vie biasanya menghabiskan waktu menonton TV di ruang tamu itu sambil ngemil....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat waktu menunjukkan pukul 7.45 pm, Vie menerima sms bahwa si mantan sudah berada di lantai bawah dan Vie menyuruhnya untuk langsung naik keatas karena saat itu memang Vie sedang asyik menonton acara cable TV kesukaannya, Vie mengenakan celana pendek ketat dan kaos tanpa lengan favoritnya....sebenarnya Vie sedang deg2an karena biar bagaimanapun lelaki ini pernah ada dihatinya dan apalagi lelaki ini pernah 'merasakan' tubuhnya dengan paksa. Vie sempat tertegun saat si mantan kini berada dihadapannya, tidak ada yang berubah...tubuhnya tetap sama, agak besar dengan kulit coklat sawo matangnya...dan senyum yg pernah meluluhkan hati Vie....Vie mempersilahkannya duduk dan mereka pun memulai perbincangan ringan seputar keberadaan mereka selama berpisah 4 tahun belakangan ini. Obrolan mereka semakin seru dan diselingi dengan canda tawa yang Vie pernah rasakan 4 tahun lalu saat bersamanya...si mantan memang orang yang menyenangkan untuk diajak ngobrol menurut cerita Vie...namun sifat posesif dan 'pemaksanya'lah yang membuat Vie tidak tahan dan akhirnya jatuh ke pelukanku.&lt;br /&gt;Waktu sudah menunjukkan pukul 9.30 pm dan Vie tak sadar bahwa saat itu suasana kos sangat sepi mengingat beberapa teman kosnya adalah pramugari yang harus bekerja tak kenal waktu....mereka semakin larut dalam obrolan nostalgia saat masih bersama....dan saat suasana hening tiba2 si mantan membuka perbincangan yang cukup 'mengganggu' Vie....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan : "maaf nih Vie..aku cuma tanya....kamu dah ngapain aja sama pacarmu yg sekarang? apa sudah pernah melakukan yg pernah kita lakukan dulu"&lt;br /&gt;Vie    : "kok kamu tanya gitu seh? itu kan 'rahasia perempuan'....", jawab Vie sambil sedikit bercanda....&lt;br /&gt;Mantan    : "yah aku kan cuma tanya...soalnya tiap deket sama kamu...aku selalu deg2an....."&lt;br /&gt;Vie    : "deg2an gimana maksudnya?"&lt;br /&gt;Mantan : "deg2an....pgn cium dan sentuh kamu....uhmm maaf ya Vie...., memang dulu kita tidak sempat sampai bersetubuh tapi perlakuanku ke kamu memang memalukan..."&lt;br /&gt;Vie : "mmmm....memang dulu kamu ngapain aku aja? buatku yg sudah ya sudah....", jawab Vie dengan polos...ya..Vie kadang terlalu polos dan tidak tahu bahwa ada 'macan' yang siap menerkamnya....seperti bos gilanya itu!!!&lt;br /&gt;Mantan : "dulu aku memang suka maksa pgn liat kamu naked...dan selalu minta kamu untuk isep 'itu'ku....tp kan aku gak sampe setubuhin kamu..."&lt;br /&gt;Vie : "iyah...memag tidak..tp kamu inget waktu ngiket aku, telanjangi aku, dan coba nusukin 'itu'mu ke punyaku? aku bener2 takut sama kamu saat itu...."&lt;br /&gt;Mantan : "....mmmm..maaf Vie...saat itu aku benar2 gak bisa tahan lagi...tp kamu kan ngancem teriak..jd 'itu'ku ga sempet masuk....yah cuma 'kepala'nya doank seh kayaknya.....tp akhirnya aku tarik dan sodorin ke mulutmu untuk minta di....mmmm..yah gitu deh"&lt;br /&gt;Vie    : "sudahlah!!!...kita ga usah bahas lagi...aku sudah maafin kamu kok...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vie mulai merasa ga nyaman dengan pembicaraan seputar gaya pacaran mereka waktu dulu, dan berusaha untuk menghentikkan pembicaraan itu....namun....&lt;br /&gt;Mantan : "Vie....setelah ini aku akan tugas diluar untuk waktu yg lama sekali...jujur aku masih sayang sama kamu.....aku boleh minta tolong?"&lt;br /&gt;Vie    : "minta tolong apa?...."&lt;br /&gt;Mantan    : "boleh gak aku menciummu sekali saja....aku janji gak akan kasar...aku bener2 masih sayang sama kamu...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vie agak terenyuh dengan perkataan mantannya itu....sebenarnya saat putus dulu Vie juga masih ada rasa namun....'daya tarik'ku lebih besar sehingga dia memilih meninggalkannya....Dengan mengangguk pelan Vie mengiyakan permintaan mantannya itu dan kini si mantan duduk mendekati Vie....memegang lembut pipinya sambil mendekatkan bibirnya ke bibir mungil Vie....dengan lembut si mantan mencium bibir Vie, mengulumnya pelan2...dan kini bibir mereka saling berpagut sperti saat mereka berpacaran dulu.....ciuman mantannya masih lembut seperti saat dulu mereka berpacaran dan tak terasa Vie terbawa perasaan cinta lama yang pernah bersemi....mereka masih melakukan french kiss di sofa ruang tamu kos itu sambil tangan kanan mantannya mengusap2 lembut perlahan pipi dan leher jenjang Vie. Tak cuma bibir Vie yang dikulum namun kini lidah Vie pun sudah disedotnya perlahan...si mantan nampaknya begitu menikmati apa yang dipendam selama 4 tahun ini! Tangan kiri mantannnya memeluk tubuh langsing Vie sementara tangan kanannya mulai mengusap lembut lengan Vie yang terbuka karena saat itu Vie sedang memakai 'youcansee'....usapannya begitu lembut dan membuat bulu kuduk Vie meremang....dan tiba2...tangan nakal itu menggenggam payudara kanan Vie...YA...menggenggamnya dengan sangat lembut.....tangan kiri Vie reflek mencoba menarik tangan nakal mantannya itu....namun Vie kalah tenaga seperti 4 tahun lalu saat Vie mengenakan seragam kuliah dan ditelanjangi dengan paksa dikamar kos mantannnya itu.....Vie tak dapat berkata2 karena bibir mungilnya masih tersumbat ciuman panas dari si mantan. Tangan kanan mantannya mengusap2 tetek kanan Vie dengan ibu jarinya dan secara perlahan usapan itu turun perlahan ke perut rata Vie.....usapan demi usapan membuat jantung Vie berdegup kencang....dan pelan tapi pasti tangan nakal mantannya itu mencoba masuk kedalam kaos tanpa lengan Vie dan mengusap perut Vie....Vie kaget dan menarik diri dari ciuman si mantan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vie    : "kamu ngapain? aku gak suka kalau kamu mulai begitu lagi......"&lt;br /&gt;Mantan : "maaf Vie....aku terbawa suasana....aku...uhmmm..aku hanya ingin merasakan keindahan saat kita berpacaran dulu..sekali ini saja Vie....aku janji akan bener2 pergi dari kehidupanmu setelah ini....."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai wanita polos yang gampang tersentuh...Vie tak dapat berkata apa2....dia hanya diam menatap pandangan sayu si mantan yang sebenarnya adalah sandiwara agar bisa menikmati kembali tubuh Vie.......&lt;br /&gt;Vie hanya duduk terdiam menatap wajah si mantan saat tangan kanan mantannya masuk kedalam sela2 kaos tanpa lengannya....mengusap lembut perut ratanya.....semakin naik perlahan...dan meraba tetek mungilnya yang masih ditutupi BH hitamnya...si mantan mencoba mencari sela diantara ketatnya BH Vie...dia berusaha menyentuh puting susu Vie yang dulu menjadi favoritnya untuk dikulum dan digigiti dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vie : "aku gamau kamu kasar paksa aku kayak dulu...kalau ini jadi permintaan terakhirmu...biar aku pasrahin semuanya....kamu mau aku buka BH-ku?", tampaknya Vie sudah tanpa tedeng aling2 lagi dengan permintaan 'aneh' mantannya itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si mantan mengangguk pelan....dan menatap Vie membuka BH-nya pelan2....dan kini bagian atas tubuh Vie hanya ditutupi sehelai kaos tanpa lengan dengan puting susu mungilnya yang menonjol....pandangan penuh napsu tertuju pada dua gundukan kecil yang menonjol dipayudara Vie tersebut...dan dengan perlahan si mantan mengarahkan mulutnya ketonjolan kecil pada puting susu Vie...dia menjilatnya dan mengulumnya dengan penuh perasaan...seperti anak bayi yang me-netek diibunya....kaos Vie basah pada bagian tengah teteknya...hanya pada bagian puting susunya saja....si mantan netek bergantian dikedua puting susu Vie, sementara Vie hanya mendesah pelan sambil mengingatkan untuk tidak menggigitnya terlalu kencang....&lt;br /&gt;Puas memainkan puting susu Vie dengan mulutnya, si mantan membuka kaos tanpa lengan Vie....dan menatap napsu tubuh bagian Vie yang sudah telanjang....dia menatap kedua tetek mungil Vie dengan puting susu coklat kemerahannya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan : "aku selalu gemes dengan payudara mungilmu ini Vie....pacarmu pasti sudah puas bgt netek sama kamu....skrg giliranku netek ya Vie sayang..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa basa-basi si mantan menciumi tetek kiri Vie dan menjilatinya....sementara tangan kanannya meremas tetek kanan Vie yang masih kencang itu.....dia begitu menikmati sensasi netek di tetek mungil Vie..dan tidak sejengkal pun bagian dari tetek Vie yang terlewatkan dari sapuan jilatan nakal si mantan....Vie sudah sangat terangsang dengan perlakuan mantannya itu....karena aku akui mantannya lebih lihai memainkan foreplay daripada aku yang sukanya maen 'tusuk' aja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan : "sayang...kocokin tit*tku donk...udah kangen bgt sama kocokanmu....", pinta si mantan sambil terus mengenyot puting susu Vie...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah terbawa suasana atau sekedar ingin 'memuaskan' si mantan utk trakhir kalinya...Vie dengan refleks mengelus kont*l besar mantannya yg sudah ngaceng berat didalam celana jeansnya...dengan perlahan Vie membuka restleting celana jeans mantannya itu...mengusap lembut kont*lnya dari balik CD dan pelan2 mengeluarkan kont*l besar yg sudah keras itu...Vie menggenggamnya dengan lembut dan mulai mengocoknya perlahan-lahan. Vie teringat saat dulu SMA pertama kali diminta mantannya utk mengocok kont*l besar itu untuk pertama kalinya, dia sangat malu namun si mantan terus memaksa dan mengarahkan tangannya dengan kasar untuk menggenggam kont*l untuk pertama kalinya.....saat itu kocokan Vie tidak selihai sekarang....dan si mantan nampaknya mulai menikmati kocokan2 nikmat pada kont*lnya...dia mendesah sambil membuat beberapa tanda merah2 pada kedua tetek Vie...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan : "ahhhhhh...uuuhhhmm...VIe kamu tambah pinter ngocok ya sekarang..pasti dah sering ngocokin tit*t yah kamu...", gumam tak jelas si mantan sambil menciumi leher jenjang Vie....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vie hanya diam menanggapi ocehan tak jelas mantannya itu..Ia hanya mendesah saat leher jenjangnya dijilati si mantan dengan lembut dan rangsangan itu membuat ritme kocokannya menjadi semakin cepat tak teratur.....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Diary Seorang Remaja</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/09/diary-seorang-remaja.html</link><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Thu, 3 Sep 2009 13:06:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-1878160867481308912</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Perkenalkan, namaku Adi setidaknya itu nama panggilanku. Aku seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta yang cukup terkenal. Usiaku 25 tahun. Ceritaku ini bermula pada saat aku berumur 21 tahun, disaat itu aku masih mempunyai seorang pacar bernama Anyssa Pratiwi sebut saja Ani. Di adalah seorang gadis cantik dengan kulit yang cukup putih. Dia terkenal sebagai bocah alim di fakultasnya. Tinggi 151 sentimeter dengan berat badan sekitar 42 kilogram, tidak tinggi tapi cukup lumayanlah.&lt;br /&gt;Singkatnya pada waktu itu aku dan pacarku sedang pergi kesebuah villa di kawasan Jogja, tepatnya di wilayah Kaliurang. Tentu saja bersama dengan teman- temanku yang semua berjumlah 4 orang, dua perempuan dan dua laki- laki. Sebut saja nama mereka Doni, Wati, Yusak dan Wulan. Hubungan kami berlima cukup rumit tapi unik. Wati misalnya, dulu bekas pacarku yang pernah kupacari selama setengah tahun. Selama setengah tahun itu aku pernah bercinta dengannya bahkan berulang kali dan jujur saja akulah yang merengut keperawanannya, tapi pacarnya yang sekarang si Doni tidak tahu kalau pacarnya pernah ku kerjain. Wulan, dulu aku pernah naksir berat padanya, dia gadis berkulit sawo matang dan tingginya sekitar 170an senti dengan berat badan sekitar 50an lebih dikit. Proporsional menurut anggapan teman-temannku termasuk pacarnya si Yusak. Yusak sendiri terkenal sebagai bocah yang agak nakal, mengingat dia sering gonta-ganti cewek dan dalam beberapa kesempatan, dia sering menunjukkan foto-foto cewek yang pernah dia tiduri, kalau tidak salah 4 orang sudah. Dia juga terkenal sebagai bandar obat-obatan terlarang, tapi jangan salah sangka dulu dia bukan pengguna narkotik ataupun pengedarnya tapi yang dia edarkan adalah obat-obat perangsang.&lt;br /&gt;Produk yang dia tawarkan benar-benar berkualitas super. Berkat obat itu pula aku jadi pernah menggauli seorang cewek tetangga kost ku. Namanya Rani Suwito panggilannya Ying-Ying, seorang WNI keturunan. Dia adik kelasku dengan tinggi 170 senti dan berat proporsional. Terkenal karena berani berdandan sexy saat di kost. Saat dia main ketempatku dengan alasan ingin pinjam komputer untuk mengetik laporan, aku berikan dia sebotol fanta yang sudah aku bubuhi obat perangsang. Hasilnya dalam hitungan menit dia sudah mulai kegerahan dan hilang akal. Sekitar lima menit kemudian, dia mulai melepaskan kancing baju atasnya dua buah.&lt;br /&gt;Aku mulai iseng-iseng mendekatkan tubuhku padanya dengan taktik mengajarkan cara membuat tabel di MS-Word. Alhasil aku dapat melihat buah dadanya yang masih dibalut bra warna pink. Selang beberapa menit dia mulai melepas seluruh bajunya dengan alasan sangat panas, dan akupun sudah cukup tanggap. Aku mendekatinya dan mencium leher jenjangnya, dia tersentak tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Tanganku mulai menjelajahi celana pendeknya dah berhasil melucuti seluruh pakaiannya kecuali bra yang masih tergantung dengan kaitan terlepas.&lt;br /&gt;“Mas…..jangan….” lirihnya kacau, tapi aku tahu kalau dia juga menginginkan lebih, oleh sebab itu aku mulai menjalarkan tanganku lebih dalam lagi dan kuremas buah dadanya yang tak terbalut lagi. Kami bercumbu sekalipun hanya aku yang aktif. “Mas…Adi…ja…..jangan lakuin massss………..Achh !!!.....” suaranya terpatah patah saat aku mencium putingnya dan menelusuri seluruh tubuhnya dengan lidahku. Akhirnya dengan mantap aku mengulum mulutnya dan membuka semua pakaianku.&lt;br /&gt;Dia terbelalak melihat penisku sudah mengacung, segera aku bimbing penis ini kebagian mulutnya. Dia ragu, “Mas….jangan, jangan seperti ini…” selanya. “Tapi kamu juga inginkan Ying? Nich penis gua, ntar gua kasih lebih.” Paksaku sambil menjejalkan penisku kemulutnya yang setengah terbuka.&lt;br /&gt;“Ochhhhh…..hangat Ying…” seruku saat penisku tertelan mulutnya. Selama sepuluh menitan aku mengocok batang kejantananku di mulutnya sebelum akhirnya kucopot dan aku beralih ke liang yang lain. Vagina……ini yang kutunggu. Penisku mencapai mulut luar vaginanya. “Mas jangan, aku masih perawan….aku gak mau mas…”serunya tapi tentu saja semua itu sudah bagai angin lalu saat aku mencumbunya lebih dahsyat, sekarang dia tinggal pasrah.&lt;br /&gt;Perlahan tapi pasti penisku mulai menerobos liang suci tersebut. “Ahhhhhh….sakittt…..please hentiin mass..” Ying Ying merintih kesakitan tapi tetap saja hal tersebut malah membuat aku semakin bernapsu untuk mengerjainya luar dalam. Semakin kumantapkan posisi penisku dengan mengapit kedua paha gadis ini keatas hingga lututnya menyentuh payudaranya sendiri. Dan….blessshhh…..akhirnya masuk semua penisku. Batang kejantanan tersebut aku pompa dengan pelan sebelum akhirnya aku mempercepat gerakanku. Sempat dia meronta tapi percuma karena nafsunyapun tidak lebih kecil dari nafsuku. Dan setelah kurang lebih sepuluh menit aku cabut kemaluanku dari liang vaginanya dan aku balik posisinya menjadi merangkak dan mulai kugunakan tehnik doggy style yang selama itu baru aku lihat saja tanpa praktek.&lt;br /&gt;Sekali lagi roket sakti tersebut memasuki gua dalamnya dan sembari kuciumi punggungnya, aku meremas payudaranya bergantian. Sensasi yang sungguh sangat nikmat. “Ahhhh….achhhhh….ohhhh……ahhhh” rintihannya yang semula pelan semakin lama semakin mengeras, untung tertutup suara bising musik yang kusetel keras dari kamarku. Setelah kurang lebih 10 menit aku mengerjainya dengan posisi ini, aku mulai merasakan adanya dorongan dalam batang kemaluanku. Akhirnya kusemprotkan juga cairan sperma itu kedalam rahimnya. Usai sudah acara siang itu dari yang berawal pinjam komputer berakhir dengan pinjam tubuh. Benar-benar kenikmatan yang tiada tara, apalagi waktu itu aku belum pernah bercinta dengan gadis manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kembali ke keadaanku saat bersama teman-temanku di villa. Malamnya saat kita berkumpul bersama untuk bercengkrama, tiba-tiba muncul Yusak dengan senyum-senyum menawarkan beberapa vcd film. Karena temanku membawa televisi LCD dan VCD player sendiri (kami membawa mobil ke villa jadi dapat mengangkut beberapa barang penting). Kami sepakat untuk memilih film secara random. Saat di putar, tak perlu sampai 1 menit kami melihat kami sudah tahu kalau itu adalah film porno dan aku yakin itu film dengan rating XXX.&lt;br /&gt;“Bagus khan? Itu koleksi gua yang paling bagus tuh…” seloroh Yusak bersemangat. Entah karena apa tiba-tiba timbul pikiran nakal dibenakku. Karena kami menggelar 2 buah karpet kasur dilantai, maka kami bisa leluasa bergerak. Aku mulai bergerak mundur dan aku sergap pacarku si Ani dari belakang. Aku mulai meremas dadanya yang berukuran 34 B itu. Tak terlihat karena aku meremasnya dibalik baju baby doll nya dan dia juga memakai selimut untuk mengatasi hawa dingin.&lt;br /&gt;Sembari menciumi lehernya aku mulai semakin berani karena pas di film itu juga sedang pas foreplay. Ternyata aku tak sendiri, Doni dan Wati pun ikut bermesraan sendiri. Doni mulai mencium bukan hanya pipi tapi mulut Wati dengan ganasnya. Dan lebih gila lagi Wati tanpa tameng langsung membuka baju dasternya dan meninggalkan dirinya hanya menggunakan celana dalam tanpa bra. Doni semakin beringas mencumbu Wati, rasanya seperti lagi nonton live show blue film. Luar biasa pikirku. “Ochhhh….Don, ayo Don……..aku gak tahan nech.”racau Wati kepada Doni pacarnya. Tak perlu menunggu lama, mereka berdua sudah hampir telanjang bulat, hanya Doni yang masih memakai celana dalamnya.&lt;br /&gt;Belum selesai aku terkejut, eh tiba-tiba dari belakang Wulan sudah merangkulku dan menyeretku menjauhi Ani. Dia tak segan untuk menciumku lagi. Singkatnya kami berciuman mulut dengan sangat dasyat. “Gimana Di……asyik khan mulut pacar gue? Nikmatin aja, malam ini kita pesta, lagipula lo khan pernah naksir dia…heheheheh…”tawa Yusak dari belakang. Ternyata saat itu kami semua sudah diracuni dengan obat perangsang, dan yang paling banyak dosisnya diberikan pada Ani yang terkenal alim itu.&lt;br /&gt;Yusak kemudian mendekati dia dan mulai menciumi lehernya yang akhirnya merembet kemulutnya. “Sialan !!!” pikirku tapi saat aku melihat Wulan yang sudah telanjang bulat, aku sudah kehilangan rasio dan langsung menerkamnya sambil melucuti pakaianku sendiri.&lt;br /&gt;Belum juga lima menitan aku bergumul dengan Wulan, saat aku menengok kebelakang ternyata Ani sudah telanjang bulat dan sedang mengoral penis milik Yusak sementara Yusak sendiri memainkan lidahnya di liang vagina milik Wati. Saat aku beranjak akan mendekati Ani, tanganku ditarik oleh Wulan dan saat itu juga peniskupun dilahapnya dengan rakus. “Astaga…dia pasti sudah pernah di kerjain oleh Yusak…”pikirku dan benarlah dugaanku.&lt;br /&gt;Sekarang aku melihat Doni sedang mencopot cd nya dan mencuatlah penisnya yang sepanjang kira-kira 14 senti tersebut. Di elus-eluskan penis itu di bibir vagina milik Wati. Akhirnya …..bleshhh…tenggelam juga. Sementara Yusak pun sudah siap dengan menempelkan penisnya di mulut vagina Ani. “Hoi…jangan…dia pacar gue.”sergahku, tapi apa daya dia langsung main tancap dengan sedikit paksa. “Ahhh……….seret juga memek pacar loe Di., dah pernah loe kerjain yah…tapi kok masih seret?....Enak bener.” Senyuman menghiasi bibirnya sembari menggenjot tubuh kekasihku yang herannya tidak memberikan perlawanan sama sekali malah terlihat seperti keenakan. Memang ini bukan kali pertamanya dia berhubungan intim, karena aku pernah mengerjainya setidaknya 6 kali.&lt;br /&gt;“Achh…achhh…achhhh…ohhhhh…”rintih Ani sembari sesekali menggigit bibir bawahnya. Semakin lama semakin cepat sodokan-sodokan Yusak dan semakin liar pula. Sementara Ani masih dikerjai, aku mengambil inisiatif untuk membalasnya dengan menggenjot pacar Yusak, si Wulan. Kurasakan sensasi tersendiri saat penisku menghunjam liang vagina dara manis itu, nampaknya dia belum siap menerima penis sebesar milikku. Maklum penisku ini memang sedikit diatas rata-rata, dengan panjang 18 sentimeter cukup membuat seorang Wulan menggelinjang menahan rasa nikmat, geli plus rasa nyeri yang membuat ketiganya menjadi sensasional.&lt;br /&gt;Tak selang sepuluh menit, karena obat perangsang yang ku minum secara tak sengaja itu akhirnya aku memuntahkan cairan spermaku ke liang senggama milik Wulan tanpa sisa. “Ohhhh….gue keluar Lan….”seruku sambil mengejang. Diapun tampak lunglai karena aku tahu setidaknya dia telah orgasme dua kali, ini semua gara-gara obat sialan itu sehingga Wulan pun menjadi super cepat puas.&lt;br /&gt;Kemudian sambil berbaring memulihkan rasa lelah aku menengok kesamping. Tak jauh dari tempat Wulan terbaring aku melihat Ani dengan liarnya dikerjai oleh Yusak dengan posisi doggy style, dan kulihat Wati melepaskan vaginanya dari hunjaman batang kemaluan Doni dan mendekatiku. “Masih ingat saat kamu ngentotin aku? Sekarang gantian yah….biar si Doni ngerjain pacarmu.”katanya sambil senyum-senyum kecil dan tanpa kuduga dia mulai menciumiku dan berakhir dengan mengoral penisku yang kembali mengencang.&lt;br /&gt;Doni yang belum terpuaskan menghampiri Ani yang liang kemaluannya sedang di hajar habis oleh batang kejantanan Yusak. Kemudian Yusak mencabut penisnya dari dalam vagina Ani dan menyuruh Ani untuk mengulumnya sementara vaginanya dipindah tangankan kepemilikannya kepada Doni. Penis Doni langsung menyerbu masuk tanpa permisi dan dengan posisi doggy style, vagina Ani dipompa oleh penis Doni sementara penis milik Yusak mengerjai mulutnya.&lt;br /&gt;Suasana yang se horny itu belum pernah aku temui sebelumnya. Benar-benar menbuatku jadi sangat terangsang. Lalu kulentangkan tubuh Wati dan mulai aku senggamai dia dengan cukup keras mengingat Doni juga mengerjai pacarku.&lt;br /&gt;“Oh…..enak juga memek pacar loe Di….adu cepat aja kita…eheheh.”gelak Doni sambil mempercepat genjotan penisnya di vagina pacarku. “Kayaknya gue mau keluar neh……Sak…dikeluarin dimana nech.”serunya setelah kurang lebih 10 menit mengerjai Ani dengan posisi berganti-ganti namun mulut Ani masih disumpal penis Yusak. “Jangan dulu bos, ngapain cepet-cepet? Gantian aja kita.”seru Yusak.&lt;br /&gt;Dan benar saja selang beberapa detik mereka berdua bertukar posisi. Penis Yusak memompa liang senggama Ani sementara batang kemaluan Doni di oral oleh Ani. Kulihat Ani semakin kepayahan dikerjai tanpa henti oleh mereka namun apadaya nafsu telah mengalahkan logika. Peluh bermunculan dari badan Ani, bahkan diapun sudah terlihat lemas. Entah sudah berapa kali dia mengalami kepuasan dengan kedua penis tersebut. Bahkan setelah aku selesai dengan Wati pun, mereka belum berhenti mengerjai Ani. Dengan berbagai gaya mereka menyodokkan penis-penis mereka ke kedua liang kekasihku itu baik mulut maupun vagina.&lt;br /&gt;Akhirnya setelah 20 menit lebih setelah aku memuntahkan air maniku kedalam vagina Wati, mereka selesai juga. Doni mencabut penisnya dari dalam vagina dan menyemprotkan cairan surganya di bibir vagina Ani sementara Yusak memuntahkan air maninya di mulut Ani sekalipun Ani berusaha untuk memuntahkannya. Ini pertama kalinya dia menelan sperma pria. Malam itu benar-benar malam dengan acara pesta,….pesta seks.&lt;br /&gt;Kunjungan Teman Lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar sebulan setelah acara pesta di villa tersebut, aku kedatangan seorang teman lama. Sebut saja namanya Sammy dan biasa kupanggil Sam dan dia membawa pacar barunya yang bernama Riska. Temanku yang satu ini puna tubuh yang cukup tinggi, setinggi aku kira-kira 168 sentimeter dan badan yang gempal, berkulit hitam dan berambut cepak. Soal wajah, jujur saja dia jauh dari tampan tapi entah kenapa setiap kali dapat pacar selalu yang cantik-cantik. Riska ini punya tubuh sensual dengan tinggi dan berat badan yang seimbang. Wajah cukup manis dengan kulit kuning langsat dan lesung pipi nya membuat penampilannya semakin enak dipandang.&lt;br /&gt;“Hehhhh…mangsa baru yah?”godaku kepada Sam. Sam pun menimpali,” Yah lumayan lah buat selingan, heheheheh….Eh gimana pacar lo, si Ani? Dimana dia sekarang? Masih jadian gak nech?”tanyanya penuh selidik. Tak perlu kujawab nampaknya, karena hanya selang 2 detik sebelum Ani keluar dari kamar kost ku dengan menggunakan baby doll kesayangannya.&lt;br /&gt;Melihat pemandangan itu sontak Sammy tertegun dan terpaku kearah Ani, maklum mereka saling kenal sebelum aku berkenalan dengan Ani dan saat itu Ani terkenal sebagai cewek alim yang tidak pernah macam-macam.&lt;br /&gt;“Eh, lo dah apain tuh cewek?”bisiknya kepadaku tapi hanya kujawab dengan senyuman kecil. Kamipun masuk kedalam kamar kost ku yang hanya berukuran 4x4 meter. Kamar yang kecil tapi maklum namanya juga anak kost lagipula dengan lantainya keramik sehingga sekalipun kecil tetapi masih terdapat sedikit kesan bagus.&lt;br /&gt;Di ruangan itu hanya terdapat beberapa barang antaranya kasur tanpa dipan sehingga membuatnya tampak lebih luas, bantal duduk buat lesehan, komputer dan almari pakaian. Dengan barang sesedikit itu membuat ruangan tidak begitu sumpek. Sambil mendengarkan musik dari PC ku kami bercerita panjang lebar mengenai pengalaman kami, maklum sudah satu setengah tahun tak ketemu.&lt;br /&gt;Riska ternyata seorang mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi ternama di kota besar. Dilihat dari caranya bersandar dan gayanya yang mesra di depanku, aku sudah dapat menebak kalau gadis manis ini pasti pernah di pakai oleh temanku.&lt;br /&gt;“Wah, Ani sekarang sudah beda yah. Tambah cantik and seksi….heheh”ucap Sammy sambil sesekali melirik kearah bagian payudaranya karena memang baby doll yang di pakai Ani cukup transparan dan belahan kerahnya cukup lebar.&lt;br /&gt;Saat itu aku mencoba menawarkan minuman kepada mereka, namun Sammy malah mengajakku membeli minuman bareng. Di perjalanan ke arah warung dekat kost ku dia berhenti dan mengajakku bicara beberapa hal. “Eh….bos, dia pernah maen sama kamu yah? Keliatan kalau Ani dah beda.”ungkapnya tanpa ditutupi lagi. Aku senyum saja dan balik berkata,”Lo sendiri dah ngapain si Riska? Gua jamin dia dah ga perawan lagi khan?” Sammy hanya terkekeh, lalu menonjok pelan perutku lalu tanpa kuduga dia menawarkan sesuatu. “Di, lo mau merasakan body cewekku gak? Kalau mau bisa kuatur.”katanya.&lt;br /&gt;Aku kaget dan tidak dapat berkata apa-apa, jujur saja bodynya seksi maklum menurut pengakuannya dia ikut les renang seminggu 3 kali. “Lo serius mau kasih gw? Apa kagak sayang ma cewekmu?”seruku kepada Sammy. Dia hanya menjawab ringan yang intinya dia menganggap santai hubungan mereka toh hubungan kami juga sudah seperti saudara sendiri. “Alasan yang ga masuk akal Sam. By the way, sebagai imbalannya apaan?”tanyaku penuh selidik. Dia terdiam sesaat dan mulai jujur akan keinginannya bahwa dia ingin tidur bareng dengan cewekku. “Apaaa??? Gila lo. Mana dia mau?”seruku tapi sebenarnyapun aku tidak begitu keberatan karena toh Ani juga pernah digarap rame-rame oleh Doni dan Yusak sebelumnya. “Soal itu mah santai aja. Aku punya siasat jitu. Nich Wiskey, Ani pasti mabok toh dia kagak pernah minum khan sebelumnya. Soal Riska gampang, ntar kalo aku dah nggarap Ani toh dia juga bakal gak nolak balas perlakuanku.”katanya. Minuman itu rencananya akan di campur dengan Coca Cola botol besar yang kami beli.&lt;br /&gt;Setelah pulang kami membuat rencana seperti yang telah kami berdua rencanakan yaitu bermain kartu. Siapa yang kalah harus minum. Berkat kerjasama kami akhirnya kedua cewek itu terus yang kalah sekalipun adakalanya kami sesekali mengalah. Setelah minuman habis akhirnya taruhan diganti dengan mencopot baju. Siapa yang kalah harus mencopot bajunya satu lembar. Tak sampai sepuluh menit sekarang Riska dan Ani hanya mengenakan bra dan celana dalam (cd). Sementara aku dan Sammy hanya melepas baju saja. Kemudian sebabak berikutnya si Riska kalah dan mau tak mau harus mencopot bra atau cd nya.&lt;br /&gt;“Ah…ga mau ah. Ini aja dah kebanyakan apalagi harus copot bra. Ntar telanjang lah aku. Gak mau.”serunya tapi berkat dorongan Sammy dan pengaruh alkohol akhirnya dia juga melepas bra nya. Segera terpampang payudaranya yang mulus itu. Hmmm…ukuran 36A batinku. Akhirnya giliran Ani yang harus mencopot pakaiannya di dua babak berikutnya sehingga dia benar-benar telanjang bulat. Dengan perasaan risih dia melanjutkan permainan ini dan saat kedua cewek itu sudah bugil, kami menaikkan taruhan, siapa pemenang dalam babak selanjutnya boleh meng-apa-apain yang kalah.&lt;br /&gt;Akhirnya Sammy menjadi pemenang dan Ani menjadi yang kalah berikutnya. Tanpa panjang lebar Sammy langsung menerkam Ani mencumbunya sembari melepas seluruh pakaiannya. “Jangan, aku nggak mau ginian! Di tolong aku…”pintanya memelas. “Sorry An, tapi taruhan tetap taruhan, mau gak mau yah harus mau.”kata Sammy sambil meremas payudara Ani yang mulai memerah dan putingnyapun menegang.&lt;br /&gt;“An, dah lama lho aku ingin ginian ma kamu, tapi dulu takut kamu tolak sech, jadi ga jadi nembak kamu.”ungkap Sammy. Sementara itu Riska hanya diam saja sekalipun dia juga shock melihat pacarnya mengerjai gadis lain. Tapi aku yakin dia juga terangsang hanya tidak mau menunjukkannya.&lt;br /&gt;Dalam sekejap Sammy dan Ani sudah bergumul, akhirnya Ani juga pasrah karena tak sanggup menahan libidonya. Semakin ganas ciuman Sammy kearah bagian-bagian sensitif Ani, semakin keras pula lenguhan pacarku itu.&lt;br /&gt;“Oh….achhh….jangan Sammm…..achhh…..ahhhhh..!!!”lenguh Ani panjang akhirnya dia mengalami orgasme pertamanya. Dengan liar Sammy menjilati cairan cinta dari liang senggama pacarku itu. “Enak yah An? Ini baru pembukaan, setelah ini aku bakal buat kamu menggelinjang keenakan.” Dan betul saja setelah itu Sammy mengarahkan batang kejantanannya kearah bibir vagina Ani yang sudah basah kuyup karena ludah Sammy dan cairan cinta dari Ani sendiri. Dengan perlahan batang kejantanan yang hitam besar itu menyeruak vagina pacarku dan tak perlu lama-lama sebelum akhirnya semua masuk kedalam.&lt;br /&gt;“Ahhhhhh…..ahhhhh….erghhhhhh….ohhhh….!!!”seru Ani saat Sammy mulai menggenjot vaginanya. Pemandangan luar biasa kontras karena tubuh besar hitam milik Sammy menindih kekasihku yang bertubuh kecil tapi putih bersih. Setiap sodokan penisnya kearah liang kewanitaan Ani menciptakan sensasi tersendiri bagi aku dan Riska dan tentu saja bagi kedua orang yang bersetubuh itu.&lt;br /&gt;Kemudian tak lama setelah itu, Sammy mulai membalik tubuh Ani dan melakukan gaya doggy style. Dia dengan liar menunggangi kuda nya waktu itu yaitu kekasihku sendiri. “Bos, kamu gak mau maen ma Riska?’seruannya menyadarkanku bahwa aku juga dapat obyek pelampiasan.&lt;br /&gt;Langsung kuterkam Riska dan diapun tak banyak perlawanan persis dengan dugaan Sammy. Saat itu kami berempat benar-benar sudah menjadi sangat liar. Melihat Ani kekasihku vaginanya dihajar keras dengan sodokan-sodokan batang kemaluan milik Sammy membuatku semakin beringas dan semakin keras menyodokkan penisku ke liang senggama Riska yang sudah basah itu. Seakan berlomba-lomba adu kecepatan aku dan Sammy benar-benar menggunakan moment itu untuk mengerjai habis-habisan kedua cewek ini.&lt;br /&gt;Entah berapa gaya yang sudah kami praktekan. 30 menit sudah Ani dalam tindihan Sammy, dan melihat spermanya mau keluar, segera Sammy mencabutnya dan langsung menyodorkan kearah payudara Ani dan muncratlah cairan kental putih itu yang takarannya banyak sekali. Mungkin nafsu yang sudah tertahan sekian lama membuat semua stock spermanya keluar.&lt;br /&gt;Sementara itu aku yang juga akan keluar langsung kucabut batang kemaluanku dari vagina Riska dan dengan cepat aku benamkan lagi sedalam-dalamnya. Keluarlah air maniku di liang vaginanya. Kulihat Ani sedang mengoral penis Sammy yang belepotan sperma dan cairan vaginanya. Sejak kejadian di villa memang aku sering menyuruh Ani untuk mengoral penisku dan mengeluarkan spermaku didalam mulutnya hingga dia terbiasa dengan ini.&lt;br /&gt;Tak puas dengan itu, Sammy masih menyodokkan penisnya berulang-ulang kemulut Ani sehingga buah zakarnya yang menggelantung menjadi menabrak-nabrak dagu Ani. Herannya, belum juga lima menit tapi Sammy sudah ejakulasi lagi kali ini di mulut Ani. Mereka berdua akhirnya lemas terkulai di kasur sementara aku masih mengerjai ulang Riska. Kali ini aku menggunakan kondom dengan pelumas untuk menembus lubang duburnya. Ya..aku menyodominya tanpa ampun dan nampaknya itu adalah hal pertama baginya. Tak lama kemudian aku melepas kondom dan menyuruh Riska untuk menyulum penisku dan akhirnya spermaku kloter kedua muncrat dengan deras dan kali ini bukan saja aku masukkan ke mulut Riska tapi juga kemulut Ani. Kami berempatpun terkulai dan tertidur setidaknya 4-5 jam lamanya dengan saling berangkulan, sementara aku merangkul Riska yang masih telanjang, Sammy merangkul Ani yang juga masih bugil. Sambil sesekali mencoba memasuk-masukkan penisnya yang sudah mulai mengecil ke vagina pacarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bangun dari tidur kami, Sammy dan Riska mohon diri dan berjanji bahwa peristiwa ini hanyalah rahasia antara kami berempat. Sebelum pergi, Sammy menyempatkan mencium mulut Ani dengan buas sementara aku balas dengan meremas payudara Riska. Yah hari itu benar-benar hari yang melelahkan.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Teman therapisku tersayang</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/08/teman-therapisku-tersayang.html</link><category>Teman therapisku tersayang</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Sun, 30 Aug 2009 13:04:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-165740220105307955</guid><description>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;        &lt;/div&gt;&lt;hr style="color: rgb(255, 255, 255); background-color: rgb(255, 255, 255); margin-left: 0px; margin-right: auto;" size="1"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;    &lt;!-- / icon and title --&gt;       &lt;!-- message --&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;" id="post_message_1637316999"&gt;        &lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kehidupan seks gw semakin berkembang walaupun saat ini sudah memiliki seorang istri yang notabene bisa memenuhi hasrat birahi karena istripun mau memberikan service seperti blow jobs dan melayani gaya Making love apapun juga. Namun seperti biasa mencari variasi cinta selalu gw lakuin. Sepulang kerja terkadang gw mampir ke panti pijat tradisional maupun ke spa yang lebih lux. Sampai suatu waktu gw lebih suka nongkrong disalah satu spa terkenal di jakarta dan berlangganan dengan salah satu therapis di situ, namanya nia. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Entah kenapa gw sampai kepincut dengan dengan nia ini, mungkin karena keahliannya dalam memijat dan tentunya keahliannya dalam bermain cinta. Jujur saja, nia memiliki karakter yang kalem dalam arti setiap gerakan dalam bercinta benar-benar diresapi olehnya dengan diselingi erangan-erangan yang membuat birahi gw meluap-luap. Walaupun sudah berumur, nia memiliki face yang cukup cantik malah kl gw bilang wajah nia adalah ayu, maklum asalnya dari jawa tengah. Bodinya? huih ... gitar spanyol, pinggulnya ..... pantatnya .... bikin ngeces, terutama teteknya ... mantap! &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hubungan gw dengan nia pun berlanjut sampai pada menjadi hubungan yang lebih pribadi dalam arti bertemu di kostnya di jalan mangga besar 3. Konsekwensinya adalah bayarin kostnyalah ....&lt;img src="http://www.duniasex.com/forum/images/smilies/biggrin.gif" alt="" title="Big Grin" class="inlineimg" border="0" /&gt; Tempat kostnya cukup enak, seluas 4 x 4 dengan kamar mandi di dalam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dulu nia kost bersama temannya, namanya sisca, sesama therapis di tempat kerja dia, katanya sisca itu teman akrab senasib sepenanggungan. Gwpun tahu yang mana sisca ini walupun belum pernah masuk dengan sisca ini, anaknya sangat seksi, kulitnya putih dan memiliki tetek yang cukup mantap, maklum sisca ini berasal dari sulawesi utara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Suatu ketika gw cuti dari kantor (bilang ama istri masuk kerja padahal ke kostnya TTM ...&lt;img src="http://www.duniasex.com/forum/images/smilies/devil.gif" alt="" title="Devil" class="inlineimg" border="0" /&gt; ), hemmm ....mantap nih ... bisa seharian berdua dengan therapisku tersayang. Sesampainya di kostnya, Nia menyambutku dengan senyum manisnya, " kok tumben dateng pagi, ga kerja ya ?" tanya dia " he he ..sengaja cuti sayang ...abis gw kangen nih ama senyuman kamu" speak-speak dewa. "Udah sarapan ko?" tanya nia lagi. Gw jawab seasalnya "Udah sih tapi minum susunya belum ..." "Dasar..!!" sahutnya sambil melempari bantal. "Tuh ...kl mau sarapan lagi ... ada roti .., aku mandi dl ya" katanya sambil melangkah ke kamar mandi " ikut ..ikut .." jawab gw sambil cepat melepas baju dan celana. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seketikapun gw ama nia berada di kamar mandi. "ko .. sabunin dong punggungnya" "oke sayang ..." sambil menyabuni punggungnya kucium lehernya terus turun kepundaknya ... " hemmmm ..." erangannya, kemudian setelah punggung telah kusabuni sambil memeluk tubuh seksinya langsung kusabuni gudang susunya sambil kuremas-remas ... " hemmm ..nakal ya ... kok ada pentungan yang nusuk-nusuk " katanya sambil berbalik badan dan langsung mengenggam batang kemaluaan gw. "sini sabunnya .. mau bersihin pentungan dulu" suruh nia. Batang kemaluan gw langsung berlumur sabun, nia mulai mengocok perlahan-lahan. "hemm ..tambah gede ama panjang ya .." " heeh ..."sahut gw sambil menahan nikmat. tak lama nia me-HJ batang kemaluan gw, dan langsung menbasuh dengan air dan kamipun saling menyiram air ke badan masing-masing. "nia... langsung yuk " pinta gw " ga mau ah .. ga pake kondom" bantahnya. sialan ....... udah diujung kepala masih inget kondom nih anak. "ya udah handukan cepet ...ga tahan nih " kata gw. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Langsung medan pertempuran beralih ke tempat tidur, langsung gw serbu tetek montok nia, mengeluh geluh sambil meremas tempat tidur " hemm ..hemm ... trus ko ... aduh ... udah ko ... " katanya. gw ga perlu apa kata-katanya, terus meremas dan menyedot puting yang berwarna coklat. " ayo ko ... masukin ... hemm ga tahan .." pinta nia. "ntar sayang ... lagi enak nih ..." " hayu !!!" teriaknya. gw ga perduli! malah langsung beralih ke selangkangan area, " ah ... ko ..." lenguhnya ketika gw menjilat kltorisnya. Puas dengan mempermainkan memeknya, gw langsung pasang kondom ke batang kemaluan, blesss...amblas semua batang kemaluan gw ke dalam memeknya. Sambil meresapi kenikmatan memeknya gw tarik masuk batang kemaluan secara perlahan-lahan. " oh ...oh ... enak ko ... hemmm " racau nia sambil mengigit bibir bawahnya, gw pandang wajah ayunya, hemmmmm .... seksi banget ....sekali-sekali gw genjot dengan cepat " oh! ..ko! "teriaknya. "enak sayang ..." tanyaku. "ko ... cepetin ....terus ko ... hemmm .... mateng gw "katanya. 10 menit berlalu, gw mulai merasakan tanda-tanda mau keluar dan kecepatan piston pun semakin tinggi. " oh .... oh ..... mateng gw!" teriak nia, gw ga tahan lagi, gw peluk dan gw cium bibirnya sambil menekan batang kemaluan dalam-dalam.... nia menaikan pinggulnya seakan tidak mau melepaskan batang kemaluan gw dari memeknya (biasanya kl dia melakukan itu tanda dia mau keluar)aaachhh ... muntah lah lahar putih ...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"aduh ko ... enak banget ... lemes aku" sambil tersengal sengal, gw cabut batang kemaluan gw dari memeknya ..tersisa hanya kondom dengan penuh pejuh. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ps : cerita ini berlanjut ...diantaranya pertualangan gw dengan sisca di kostnya dia .... &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Temen kost</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/08/temen-kost.html</link><category>Temen kost</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Wed, 26 Aug 2009 13:03:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-3894447539502711413</guid><description>&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!-- / icon and title --&gt;       &lt;!-- message --&gt;           &lt;span style="font-size:100%;"&gt;     Aku kost didekat jalan raya disebuah kota k, karena tempat kostku dekat rumah sakit jadi banyak perawat yang menjadi tetangga kostku.Tepat di sebelah kamarku ada 2 perawat satu bernama Siti usia 22 th berkulit putih bersih dan rambutnya lurus sebahu, mempunyai teman sekamar bernama Ani usia 21 th kulit kuning langsat.Siti berasal dari kota L sedangkan Ani dari kota S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu aku masih menganggur nggak ada pekerjaan. Pagi2 Siti dan Ani baru datang dari rumah sakit,mereka jaga malam rupanya.Siti sehabis mandi langsung tidur , sedangkan Ani keluar mungkin sedang pergi belanja. Aku yang nggak ada kerjaan iseng2 ingin menggoda Siti, aku datangi kamarnya dan kebetulan nggak di kunci. Ketika aku sudah masuk ke dalam kamarnya kulihat Siti sedang tertidur lelap dengan memakai selimut. Pura2 aku memanggilnya sambil menepuk bahunya untuk memastikan apakah Siti benar tertidur lelap sebab katanya Ani kalo Siti tidur susah sekali dibangunkan walaupun disiram dengan air Siti nggak bakalan bangun. Beberapa kali aku mencoba membangunkan ternyata benar Siti susah sekali untuk di bangunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan2 kutarik selimutnya, wow ternyata Siti kalo tidur hanya memakai bra dan cd apalagi bra dan cdnya model bikini yang hanya ditali dipinggirnya dan sekali tarik udah pasti copot. Siti tidur terlentang,pelan2 kutarik tali bra dan cdnya dengan sekali tarik bra dan cdnya terlepas. Aku memandangi tubuhnya Siti yang telanjang bulat itu begitu mulus dan tanpa ada cacatnya. Payudaranya yg bulat dengan puting berwarna pink serta vaginanya bersih tanpa ada bulunya. Penisku udah nggak tahan ingin mencoba, aku lepas pakainku. Begitu aku udah telanjang, kunaiki tubuhnya Siti secara perlahan dan mulai menindihnya. Kucoba mencium bibirnya yang tipis juga warna pink itu perlahan-lahan. kurasakan aroma nafasnya yang harum dan hangat, payudaranya mulai kuremas2 dan putingnya ku kulum serta penisku kugosok2an di bibir vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan2 mulai kumasukkan penisku ke dalam vaginanya Siti. Centi demi centi kumasukkan secara perlahan- lahan takut jika Siti terbangun. Namun baru setengah penisku yang masuk ternyata Siti terbangun. Aku kaget namun kukulum bibirnya dengan bibirku supaya nggak teriak dan kutekan dalam2 penisku di dalam vaginaya Siti namun bibirku di gigitnya. Kulepas kulumanku bibirku dari bibirnya dan Siti bertanya: " Mas, memperkosa aku ya?". Aku jadi bingung dibuatnya tapi aku tetap terus menggenjot vaginanya dengan penisku. " Siti, maafin aku ya", pintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Siti mau melayaniku dan mengikuti kemauanku. Aku dan Siti terus bersetubuh hingga kami mencapai orgasme hampir bersamaan tapi Siti mencapai orgasme duluan. Di susul aku kemudian sebelum mencapai orgasme kutanya Siti:" Dikeluarin dimana?". dan Siti bilang "di dalam juga nggak apa2 kok mas". Ku semprotkan spermaku didalam vaginanya Siti sampai tuntas dan kupeluk erat tubuhnya sambil kucium bibirnya dan Siti membalas ciumanku. Ketika kukeluarin penisku dari dalam vaginanya ternyata belepotan campur darah, " kamu masih virgin ya?" tanyaku. " nggak kok orang aku sedang lagi haid kok, abis kamu main embat aja orang yang lagi tidur" kata Siti sambil tersenyum."makanya mas jangan main embat aja" Siti tertawa sambil mengejekku. Siti mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi sedangkan berpakaian dan balik kekamarku. &lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kost pacarku Nina</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/08/kost-pacarku-nina.html</link><category>Kost pacarku Nina</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Sun, 23 Aug 2009 13:03:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-926573118518007253</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;        &lt;hr style="color: rgb(255, 255, 255); background-color: rgb(255, 255, 255);" size="1"&gt;    &lt;!-- / icon and title --&gt;       &lt;!-- message --&gt;    Ini adalah pengalamanku beberapa bulan lalu di tempat kost pacarku Nina. Aku sudah terbiasa keluar masuk di tempat kost itu baik itu bersama Nina atau sendirian. Kadang aku juga nginep kalau kemalaman. Kost ini memang nggak ada yang ngawasi, pemiliknya hanya datang sebulan sekali ambil duit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari aku datang ke kost Nina, sialnya pas saat itu Nina sudah keburu pergi ke Bromo bersama teman kuliahnya. Dalam hatiku aku mengumpati si Nina yang nggak lagi pamit kek atau ngasih tahu seperti biasanya. Mentang-mentang dia ada yang naksir lagi trus aku mulai nggak dianggap lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu iseng-iseng aku nyalakan komputer di kamar Nina, ntar biar aku masukin virus makro-nya MS-Word lagi biar ilang semua ketikan dia. Tapi aku main DOOM dulu biar medongkolku agak berkurang. Belum lima belas menit aku main tiba-tiba pintu kamar yang nggak aku kunci terbuka. Eva dengan celana pantai dan kaos dagadunya sudah menerombol masuk ke kamar Nina. Waduh aku kena jadi sembur monster Doom deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai mas,… sedang apa ?" si Eva teman sekost nya Nina datang, wah si Eva nih pasti minta tolong ngetik lagi.&lt;br /&gt;"Minta tolong dong mas,…" pintanya sambil berganyut di daun pintu. Aku pura-pura nggak mau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh,.. aku bener-bener capek sekarang Va,… kalau kamu sendiri mau pake komputer ini pake aja" Eva memonyongkan bibirnya, aku tahu dia nggak lancar ngetik maklum nggak sering make komputer.&lt;br /&gt;"Tolonglah mas,… aku nggak bisa ngetik lancar nih apalagi ini banyak rumusnya, bisa-bisa dua lembar selesai dua hari ". Memang sih kalo MSWord pake rumus mesti klak-klik terusan ngerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu bawa ke rental saja deh, ntar disana ada kok yang mau ketikin".&lt;br /&gt;"Penuh,… besok sudah harus dikumpulin" jawabnya singkat.&lt;br /&gt;"Duh mahasiswa, kebiasaan pake acara dadakan tuh,… Oke aku ketik tapi nanti kamu harus pijitin aku. Bagaimana ?" aku mengajukan penawaran.&lt;br /&gt;"Nanti kalo ketahuan Nina ?" Eva memandang langit-langit dan aku memandangi pahanya.&lt;br /&gt;"Enggak,… kan Nina lagi ke Bromo"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya penawaranku diterima dan aku langsung ketik naskah punya Eva. Baru dua paragraf aku ketik, aku jadi teringat kalau aku juga pernah ketik naskah semacam ini untuk Nina. So jadi tinggal Copy dan Paste lalu Edit sedikit dan selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di print sekalian nggak nih Va ?" tanyaku pada Eva yang malah asik bolak-balik majalah punya Nina.&lt;br /&gt;"Lho kok cepet sekali, nggak ada yang salah ketik apa ?" ia bangkit dan mendekat ke arah monitor memeriksa naskah itu. Eva agak membungkuk membaca hasil ketikanku di monitor. Eh ada kesempatan baik, leher kaosnya jadi turun dan aku bisa melirik tetek milik Eva. Luar biasa, sekilas saja aku bisa pastikan tetek milik Eva masih kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh nakal ya,…" aduh ketahuan deh. Eva segera bangkit dan menutup leher kaosnya. Aku nyengir-nyengir saja. Tapi dia nggak serius tuh marahnya, Eva malah senyum-senyum malu sambil memaksakan diri melotot.&lt;br /&gt;"Ntar aku bilangin Nina lho, mas suka ngintip" ancamnya lagi.&lt;br /&gt;"Ah bukannya kamu yang suka ngintip kalo aku pas tidur sama Nina", aku balikan kata sambil menyalakan printer. Memang Eva pernah ketahuan ngintip pas aku sedang minta jatah biologis sama Nina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nih " empat lembar naskah itu sudah tercetak dan aku serahkan sama Eva.&lt;br /&gt;"Trims ya mas,…. Jadi nggak pijit nya ?"&lt;br /&gt;"Oh ya jadi dong,…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tiduran di ranjang dan Eva memijiti punggungku. Pintu aku tutup tapi nggak aku kunci. Aku melepaskan baju yang aku pakai, aku bilang takut kusut. Pijatan Eva terasa enak sekali malah seperti sudah prof. Dari leher sampai pinggang diurut dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Va,… kamu cerita sama Budi (pacarnya Eva) nggak ?" tanyaku membuka kebisuan.&lt;br /&gt;"Cerita apa ?"&lt;br /&gt;"Tentang yang kamu intip itu"&lt;br /&gt;"Ah ya enggak dong "&lt;br /&gt;"Bener ?"&lt;br /&gt;"Iya,..!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh menit aku dipijitin sama si Eva lalu dia mengeluh capek. Aku menawarakan diri untuk gantian pijit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah enggak ah, geli,…".&lt;br /&gt;"Tapi enak lho Va percaya deh" mulanya dia nolak tapi akhirnya mau juga. Aku bangkit sambil aku geser dia untuk naik ke ranjang. Aku pijit mulai dari lehernya lalu turun ke punggung dan pinggang. Aku perhatikan paha bagian belakang Eva mulusnya bukan main, putih lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Va kamu pernah nggak main sama Budi ?" aku beranikan diri untuk masuk ke dalam topik yang rada ngeres.&lt;br /&gt;"Main apaan ?"&lt;br /&gt;"Main kayak aku sama Nina"&lt;br /&gt;"Ehm,… mulai aneh-aneh ya,…"&lt;br /&gt;"Cuma nanya kok "&lt;br /&gt;"Kalo pernah kenapa dan kalo belum pernah juga kenapa ?"&lt;br /&gt;"Yah nggak apa-apa, cuma pingin tahu aja, kamu tahu aku sama Nina, aku juga kepingin tahu kamu dengan Budi"&lt;br /&gt;"Nggak ah,… nggak aku jawab"&lt;br /&gt;"Ah berarti pernah nih"&lt;br /&gt;"Lho kok bisa ambil kesimpulan?"&lt;br /&gt;"Iya biasanya kalo belum pernah pasti jawabnya tegas belum"&lt;br /&gt;"Terus, kalo aku sudah pernah main sex begitu sama Budi kenapa juga"&lt;br /&gt;"Yah,… barangkali,…." Aku sengaja nggak nerusin kata-kataku.&lt;br /&gt;"Barangkali apa ?!"&lt;br /&gt;"barangkali aku boleh coba"&lt;br /&gt;"Ah nggak mau,…."&lt;br /&gt;"Kenapa,…"&lt;br /&gt;"Aku takut, punya mas besar sekali"&lt;br /&gt;"Justru yang besar itu yang enak tahu "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah masak ?" Eva memutar badannya dari yang tadinya telungkup jadi telentang. Aku nggak buang waktu lagi, aku segera menindihnya. Eva gelagepan ketika aku serang teteknya yang membuat aku penasaran dari tadi. Aku ciumi lehernya sampai dia terengah-engah kehabisan nafas. Ketika aku dapatkan bibirnya tanganku mulai melepasi kaos dan celana pantai sekalian cd-nya. Aku tangkap gundukan daging di selangkangannya dan dengan jari tengahku aku gosok lipatan dagingnya yang sudah becek dengan lendir. Eva jadi Ahhh uhhhh sambil menggelinjang ke kanan dan ke kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba Eva jadi buas, ia mendorong tubuhku dan duduk diatas perutku membelakangi aku. Dengan terburu-buru ia melepaskan ikat pinggang celana yang aku pakai. Aku ngeri takut kalau resleting celanaku makan korban. Dan sebentar saja Eva sukses menurunkan celana yang aku pakai sebatas lutut. Dan bongkahan daging yang sedari tadi sudah membengkak diselangkanganku menyembul keluar. Eva meremasnya kuat-kuat sebelum ia memundukkan pantatnya ke arah mukaku dan "slup" bongkahan dagingku itu sudah masuk dalam mulutnya. Nggak nyangka, Eva yang selama ini aku kira diem eh ternyata,…. Boleh juga permainannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga nggak tinggal diam, memiaw Eva yang hampir tanpa bulu itu sudah terpampang didepan mukaku dan aku hisap serta jilati sepuasnya. Lidahku aku julurkan mencoba menerobos ke dalam lobang memiaw Eva. Sejenak ia melepaskan kulumannya dan menengadah sambil merancu "Ehhh lagi mas ehhh terus terus yah yang itu ehhhh" ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nggak tahan lagi didiemin barangku. Segera aku dorong pantat Eva sehingga ia telungkup lagi dan aku arahkan rudal scottku ke balik pahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Agak diangkat dikit dong Va" pintaku supaya Eva agak nungging. Ia menuruti sambil membuka selangkangannya lebih lebar. Dan aku mulai membenamkan rudalku dalam memiawnya. Ia meringis dan katanya punyaku lebih besar dari pada milik si Budi. Tapi ketika aku mulai membenamkan lebih dalam lagi Eva melotot dan mengaduh kesakitan. Mungkin karena ia baru pertama kali ini mendapatkan the real penis macam punya aku. Aku diamkan sebentar sambil menenangkan Eva. Kalau gara-gara ini akhirnya di cancel wah rugi dong aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai pelan pelan menarik dan membenamkannya lagi sampai Eva terbiasa. Nggak seberapa lama kok, lima enam kali memiaw Eva sudah bisa adaptasi dengan punyaku. Meskipun begitu lobang memiaw Eva masih terasa menggenggam batang dagingku erat sekali. Jadi ingat rasanya seperti pertama aku memperawani si Nina dulu. Nggak sampai sepuluh menit Eva sudah kejang melepaskan orgasmenya yang pertama. Ah dasar pemula sih. Aku berhenti sejenak disaat aku sudah sampai pada tujuh puluh lima persen hampir orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkitkan lagi gairahnya dengan meremas kedua puting tetek Eva dari belakang. Berhasil, Eva mulai menggoyangkan lagi pantatnya dan aku nggak buang waktu lagi, aku segera mengayunkan ke depan dan kebelakang mengimbanginya. Eva orgasme sampai empat kali sebelum yang kelimanya aku dan Eva orgasme bareng-bareng. Aku hamburkan semua spermaku dalam memiaw Eva yang berdenyut kuat dan aku tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangun sekitar pukul setengah sembilan dengan kemaluan masih menancap dalam memiaw Eva. Aku bangunkan dia dan,… asiknya si Eva jadi minta lagi. Malam itu aku ganti ganti style mulai dari frontal, berdiri, doggy style juga dengan duduk diatas kursi. Aku bermalam di tempat kost itu kali ini bukan di kamar Nina tapi di kamar Eva. Aku jadi nggak kesepian lagi meski Nina ke Bromo sampai empat hari dan empat hari itu aku dan Eva menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eva pindah kost setelah dua minggu sejak itu. Tempat kost baru Eva sejenis dengan tempat kost sebelumnya bebas keluar masuk. Aku dapat dua jatah satu dengan Nina satu lagi dengan Eva. Terus terang aku lebih suka main dengan Nina yang lebih prof daripada Eva. Beberapa hal yang aku suka pada tubuh Eva adalah memiawnya yang nggak terlalu banyak bulu dan teteknya yang begitu ranum, sedang yang aku suka pada Nina adalah teknik main sexnya yang luar biasa. Sorry nggak sempat aku ceritakan disini, mungkin lain kali. Buat Budi aku minta maaf telah melanggar kebunmu, habis menurut Eva kamu kurang bersungguh-sungguh dan selalu ketakutan dengan kehamilan. Kan ada tekniknya supaya nggak hamil tanpa harus ketakutan ,….</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>RENDEVOUS WITH GIRL WHO EVER REFUSE ME</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/08/rendevous-with-girl-who-ever-refuse-me.html</link><category>RENDEVOUS WITH GIRL WHO EVER REFUSE ME….</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Wed, 19 Aug 2009 13:01:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-385514362134661210</guid><description>&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Siang ini, suntuk sekali…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Semua pekerjaan sudah selesai..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Semua voucher yang menjadi tanggung jawabku telah kutandatangani..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Duduk termenung..ku coba membuka-buka daftar telepon yang ada di buku agenda lama, yang baru ketemukan. Tiba-tiba mataku tertuju pada satu nama…..Nike, oh..sudah lama aku tidak berkomunikasi dengannya…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Pikiran ku melayang teringat kejadian beberapa minggu yang lalu saat acara reuni sekolah menengah. Saat itu, aku untuk pertama kalinya kembali bertemu dengan Nike. Tak terasa sudah 10 tahun lamanya, kami tidak bertemu. Nike sekarang sudah menjadi seorang ibu dengan 2 anak….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;“Hai Nik, apa kabar nya nih? Kamu masih cantik aja?” ucapku membuka pembicaraan saat reuni… “Eh, Jack, baik…Masa sih?” ucap Nike, “Kamu bisa aja deh…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;“Tinggal dimana loe sekarang?” tanyaku lebih lanjut.  “Aku tinggal diBintaro, Seneng deh..kamu dateng juga…” lanjut Nike.   “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; gue udah janji, emang mau dateng….Gue pengen lihat eloe seperti apa sekarang,….” rayu ku lebih jauh. “Gila ya…loe sekarang gede banget,…Loe dateng sendirian? Tanya Nike. “Iya eui….ngebujang nih…he..he.. ucapku sambil tertawa. “Nah eloe juga dateng sendirian? Laki loe mana? Tanyaku lebih jauh. “Iya, gue dateng sendirian, laki gue jaga rumah lah, Eh…temen-temen udah pada ngumpul tuh didalem, Gabung yuk” ajak Nike. ‘Ayo” ucapku sambil memberi kesempatan pada Nike untuk berjalan sedikit didepan ku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Malam itu, diacara reuni sekolah, kuhabiskan waktu bersama Nike, mengenang masa lalu kami disekolah…Disela-sela perbincangan, sesekali kulontarkan kata-kata pujian tentang kecantikannya dan senyumnya yang menawan. Dua hal itu yang menjadi alasanku untuk berusaha mendekati Nike semasa disekolah. Satu hal yang terbahas secara serius, tentang hubungan kami berdua. “Kenapa sih eloe dulu ngejauhin gue…terus ngediemin gue..ampe lama lagi…” Tanya Nike kepada ku…”yang mana ya nik? He..he..’canda ku seakan-akan lupa akan kejadian itu. Ya, dulu memang aku menjauhi nike, setelah dia memintaku untuk sekedar menjadi teman saat kunyatakan cintaku kepadanya. “itu loh…kamu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; enggak mau ngomong ama aku…sesudah kamu nembak aku? Aku sampai bingung…ada apa ya?,…ucap Nike menegaskan kisahnya. “Oh…ya mungkin saat itu aku kurang dewasa…, emangnya kenapa? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; sekarang kita sudah biasa lagi…” ucapku. “Tapi aku masih sayang loh..sama kamu,…”rayu ku. “masa sih?” tanya nike… “Eh…Nike,…masih cantik aja neng…” ucap Monik yang baru datang….menghentikan pembicaraan kami. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sejak malam itu, aku sering terbayang tentang Nike. Dan aku belum berkomunikasi dengannya kembali. “Ah…telp Nike aja deh..”pikirku. kuhubungi No Hpnya dari kantor….”Hallo, Nike, apa kabarnya?” ucapku memulai pembicaraan. “Siapa neh?” tanya nike…”Udah lupa ama suara ku? Ini lho..kekasih mu” goda ku…’Jack yah?...eh..apa kabar jack, tanya nike melanjutkan pembicaraan…’Aku baik-baik aja nik…lagi suntuk nih..kangen berat ama Nike….’rayu ku lebih lanjut. Ah…dasar gombal….masa kangen telponnya baru sekarang? Dari dua minggu yang lalu gak pernah telp kok…..tegas Nike. ‘Ya,..aku gak berani telp kamu..takut kaloe nanti bunga cinta ini tumbuh lagi dihatiku….’ Goda ku lebih jauh.. “Emang, bunganya masih ada?” tanya Nike…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;‘Ya, masih ada’ tegasku…’dan tetap akan ada dihati ini forever’ rayu ku…”uh..gombal” ujar nike..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Dan kami pun tertawa. Pembicaraan berlanjut, dari tentang reuni hingga masa lalu kami… Dan nike juga bercerita tentang kehidupan keluarganya. Dia merasa lelah, sebagai istri karena harus mencari nafkah untuk keluarganya. Suaminya sekarang tidak bekerja…sehingga otomatis hanya mengandalkan dirinya untuk menghidupi 2 orang anak. Tak terasa hampir 30 menit kami berbicara ditelpon.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;“Eh, nike…Sore ini loe ada acara gak?” tanyaku kepada nike. ‘Gak ada, kenapa? Mau ngajak nonton?” tantangnya. ‘Ayo, udah lama juga nih kagak nonton, mau gak?” jawabku bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div id="post_message_1637403485"&gt;        &lt;span style="font-family:Arial;"&gt;“Boleh…tapi loe jemput gue ya…dan pulangnya loe nganterin gue” pintanya. “Ok, nanti gue jemput eloe jam 4.30 ya…”tegas ku. Jam kerja nike memang sampai jam 4.30 sore. “Ok..gue tunggu ya, see you at 4.30….” ucap nike. “ok, bye” ucapku sambil mematikan telpon ku. Tak sabar aku menunggu jam 4.30, rasanya lama sekali. Kulihat jam ku, baru menunjukan jam 3.15. Akhirnya kuputuskan untuk mengontrol kerja anak buah ku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jam 4.00, kubergerak menuju kantor Nike, dengan menggunakan mobil CRV kesayangan ku. Dalam waktu 1 jam aku sampai dikantor nike, dan nike telah menunggu didepan lobby. “Eh..kok lama amat? Tanya nike begitu masuk ke dalam mobil. “Iya nih…tadi macet banget di pondok indah. Yah..jadi terlambat deh. Jadi mau nonton? Tanyaku. “Mau nonton yang jam berapa? Wah nanti aku kemaleman dong pulangnya, kita makan aja gimana? Tegas nike. “Ok, gak masalah. Aku tahu tempat makan yang enak dan suasananya agak santai. Kamu seneng gak makanan Sunda? Tanyaku. “Boleh…dimana?’tanya nike. “Tapi agak jauh dikit, masalah gak? Kita ke daerah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Lido&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; aja yuk? Disana ada Gurame bakar yang enak, gue lagi pengen makan gurame nih..” pintaku. “Wah..nanti kemaleman gak? Nike agak ragu. “Tenang aja..nanti gue anterin loe pulang…”rayu ku sambil menenangkannya. “ok deh..”jawab nike. Sepanjang perjalanan kuputar lagu-lagu kesayangan Nike, dan Nike tak henti-henti menikmati lagu sambil ikut bernyanyi sesekali. Nike terus bercerita mengenang masa-masa disekolah kami. Dan sesekali kusempatkan untuk memuji dan merayu nike dan membuka kenangan lama ku ketika jatuh cinta padanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sesampai di Lido, suasana relatif sepi, mungkin sudah cukup malam, jam sudah menunjukan jam 7.00. Kupilih saung yang relatif agak jauh dan temarang…agar suasana lebih romantis. Setelah memesan beberapa menu, kami kembali berbincang-bincang. Nike duduk dekat disebelah ku. “aku lelah deh jack” ucap nike sambil agak duduk selonjoran…segera kutangkap badannya nike, kubiarkan dia bersender didadaku…”ya udah..istirahat aja dulu…sebentar lagi makanannya datang kok…”ujarku sambil menikmati wangi tubuh dan rambut Nike. “Jack, kamu beneran masih sayang ama aku?”tanya Nike. “Iya, kenapa Nike?” tanyaku. “Enggak, aku enggak nyangka kaloe ada orang yang sayang sedemikian dalam sama aku, aku sekarang udah punya 2 anak lho jack” tegas Nike. “terus kenapa? Emang gak boleh sayang ama kamu?”tanyaku. “Boleh aja sih…tapi akukan sekarang udah jelek, sudah tua,”ucap nike memelas. Kubelai rambut nike, sambil mencium rambutnya “Kamu itu masih Cantik, senyum mu masih sama spt yang dulu, aku enggak bohong loh..beneran kamu masih cantik” rayu ku. “ah..kamu itu bisa aja” ucap nike sambil menatapku manja dan mencubit mesra perutku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Tidak berselang lama, pelayan datang membawa makan pesanan kami. Kuambil piring dan setangkup nasi kedalam piring, kuberikan kepada Nike. Kupilih daging-daging ikan terbaik, untuk nike. Nike tersenyum manja dan menikmati makan yang kuberikan. Selesai menyantap hidangan, nike kembali menatapku. “Makasih ya Jack, kamu baik sekali sama aku” ucap Nike. Aku tersenyum menatap Nike. Tatapan kami beradu dan rasa mulai terpaut. Jarak diantara kami tidak jauh, dan kuberanikan diri untuk mencium nike. Nike diam, membiarkan diriku mencium bibirnya. Sekecup, kemudian kutatap wajahnya, dia tersenyum. Kupeluk dirinya, dia diam menikmati. Kembali kuberanikan diri untuk mencium bibirnya, dan kali ini dia membalas dan ikut menikmati. Sesaat kami terdiam. Kemudian nike menyandarkan kepalanya didadaku. “Jack, aku merasa damai didekat mu” ucap Nike. “Aku juga Nike” jawabku sambil memeluk Nike. Tangan kulingkarkan didadanya, menekan buah dadanya. Dia tetap diam, matanya terpejam. Keberanikan diri kembali untuk mengecup bibirnya, dia membalas. “Jack, Aku sayang sama kamu” ucap Nike. “Aku juga Nike” ucapku sambil kembali mengecup bibirnya. Perlahan kugerakan tangan ku mengusap lembut buah dadanya. “Aaaah…”nike memelas.. “Jack,..” Nike berucap lembut. Kuteruskan kegiatan mengusap lembut buah dadanya, sambil sesekali memeras. Kucoba untuk membuka kancing bajunya, agar tanganku dapat merasakan buah dadanya secara langsung. Nike terus mencium dan menghisap lidahku. Perlahan tanganku dapat menyentuh buah dadanya, kuelus dengan perlahan, kuremas dengan penuh kasih sayang. “Oh, jack…jangan disini ya, gak enak dilihat ama orang” pintanya, sambil melepaskan tanganku. Kemudian dia membenahi bajunya. ‘Kita, jalan-jalan keatas ya (Puncak)’ ajak ku. Nike hanya mengangguk pelan, mengiyakan permintaan ku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kupacu CRV ku, kearah puncak.  “Jack, kita ke &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;US&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;# hotel aja yuk…biar enak bisa ngobrol dikamar” pinta nike. Aku sedikit kaget, namun cepat ku jawab dengan anggukan. “Kamu gak masalah pulang agak malam? “ tanyaku. “Enggak, aku sudah biasa pulang malam kok.” Ucap Nike.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Sesampai di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;US&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;# hotel, kupesan sebuah kamar dengan tarif untuk 8 jam, sekalian kupesan beberapa makanan kecil dan minuman. Sesampai dalam kamar, Nike langsung merebahkan dirinya ke tempat tidur. Sementara ku menyalakan televisi dan mencari program televisi. Setelah pelayan hotel datang membawa pesanan kami, pintu aku kunci. Kududuk di pinggiran tempat tidur disebelah Nike. Maklum dihotel ini hanya ada kursi, tanpa sofa. Nike bangun dan bergerak menuju kamar mandi. Sekembali dari kamar mandi, dia naik ke tempat tidur dan duduk menyandarkan kepalanya didadaku. Ku peluk dia, ku usap dan belai rambutnya, sambil menikmati acara televisi. Tak ada kata, hanya diam. Kemudian nike menatap dan mencium ku. Aku respon ciumannya, ku lumat bibirnya. Tanganku, bergerak membuka setiap kancing bajunya sambil sesekali meremas dan mengelus buah dadanya. Perlahan bajunya terbuka, branya kutanggalkan. Kini buah dadanya terbuka, dan untuk pertama kalinya kumelihat buah dadanya. Terus ku remas dan ku elus buah dadanya, diantara ciumannya yang terus membara. “Jack, aku sayang kamu” ucap nike sesaat melepas ciumannya. “Aku juga sayang kamu nike” ucapku sambil kembali menciumnya. Kucium bibirnya, dan terus kulanjutkan dengan mencium buah dadanya. Kini nike telah duduk diatas paha, berhadapan denganku. Dibiarkannya aku meremas dan mengelus buah dadanya. Sedikit dia tegak, memintaku untuk mencium dan menghisap buah dadanya…”aaaah……aaaaaaah….jack” lenguh bibir nike sambil memeluk erat kepalaku yang sedang menghisap buah dadanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;“Jack, Aku sayang kamu” racau Nike. Kini tanganku bergerak kearah belakang, mengelus dan meremas pahanya yang jenjang. Tangan ku terus bergerah menuju ke arah yang lebih dalam…”Jack….aaaaah….ooh…jack” Nike terus meracau. “Jack, Make love with me, Jack” pinta Nike. “Show me how U love me Jack” Tanganku terus bergerak, kini kucoba melepas rok mininya. Perlahan kubuka kancing pengait rok dan kuturunkan resleting roknya… Nike berhenti mencium ku dan bergerak turun dari tempat tidur. Perlahan dilepas baju, bra, dan roknya yang telah terbuka. Hanya celana dalam pink yang masih melekat menutupi kemaluannya. Nike bergerak menghampiriku yang masih duduk dipinggir tempat tidur. Satu tanganku menyentuh pinggangnya dan satu lagi bergerak mengelus dan menyentuh seluruh tubuhnya yang putih, sementara itu dia membuka satu demi satu kancing bajuku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kemudian dia memintaku berdiri dan kami kembali berciuman. Tangannya bergerak menuju celanaku, dibukanya ikatan gasper dan kancing celanaku. Tangannya menelusup masuk kedalam celanaku, berusaha meraih kemaluanku dan meremasnya dengan manja. Resleting celanaku bergerak turun dan bersamaan dengan itu, celanaku melorot turun. Dengan perlahan Nike bergerak turun mencium dada, perut, dan terus bergerak turun. Sesampai didaerah kemaluanku, dia diam sejenak kemudian tangannya bergerak mengeluarkan kemaluanku dari balik celana dalam. Digenggamnya, sambil di kocok perlahan. CD ku diturunkan, kemudian dengan perlahan, dia mencium penisku. Dicium ujung kemaluanku, kemudian bergerak mengulumnya. Tangannya terus bergerak mengocok pelan kemaluanku. “Ooooooooooooh, nike sayang……”lenguh ku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Setelah 2 menit, menghisap dan mengulum kemaluanku, nike bergerak naik. Kini tangan nike, memeluk leherku. Kupeluk nike dan kugendong, kurebahkan diatas tempat tidur. Kubergerak menciumnya, sambil meremas dan mengelus buah dadanya. “Jaaaaaaack…..” ucap nike pelan. Kuarahkan ciumanku ke buah dadanya. Kumainkan lidahku diputing buah dadanya. “Ooooooooooh Jack,…” ujar nike. Terus kuhisap buah dadanya, tanganku bergerak menuju kemaluannya. Kubelai lembut kemaluan nike yang masih terbalut celana dalam. Aku berdiri, kemudian melepaskan celana dalam yang masih terpasang mengganggu itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kutatap kemaluannya yang masih indah, dalam hatiku “gila..anaknya udah 2, kemaluannya masih bagus….Luar biasa”. Nike sepertinya sadar,” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; apa Jack?” tanyanya menyadarkanku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div id="post_message_1637403491"&gt;        &lt;span style="font-family:Arial;"&gt;“Enggak,….vaginamu cantik dan wangi” ucapku sambil bergerak memeluknya. “Makasih ya sayang, kamu memang pandai merayuku” ucap Nike. “Fuck me Jack, Make Love With Me, Let Me Share The Love With U, Come Inside Me Jack” ucap nike memelas…. Sambil tersenyum menatap Nike, kucium bibirnya. Buah dadanya kuremas dan ku pijat, kucium dengan bibir, dan kuhisap. Aku terus bergerak menuju kemaluannya. Vaginanya yang merah dan harum, kucium dengan bibirku secara perlahan. Ku kulum bibir kemaluannya, kumainkan lidahku di lubang kenikmatannya. “Oooooooooooh Jack….Terus Jack….Ooooooooh…nikmat sekali Jack” racau Nike. Kuhisap dan terus kumainkan lidahku di lubang kenikmatannya. Cairan dilubang vaginanya terus bertambah, Nike sepertinya sudah sangat terangsang. “Oooooh Jack….aku enggak tahan….Oooooooooooooooooh” lenguhnya. Dan bersamaan dengan itu, kepalaku dijepit oleh pahanya. Kepalaku tertekan, seakan memaksa lidahku untuk masuk lebih dalam dan menghisap lebih keras lubang kemaluannya. “Oooooooooooh Jack…aku keluar” racau Nike. Cairan kenikmatan mengucur membasahi bibir dan hidungku. “Oooh Jack nikmat sekali, kamu benar-benar pandai Jack” puji Nike sambil mengendurkan jepitan pahanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Aku berdiri, menindih Nike, sambil mencium bibirnya. Nike melayani ciuman ku, tangannya bergerak memegang penisku. Digenggam dan dikocok secara perlahan, seakan mempersiapkan kemaluanku. Kuremas dan kumainkan lagi buah dada Nike, “Ooooooh” nike melenguh. Sepertinya nike sudah terangsang lagi. Penisku tegang dan siap untuk memulai eksplorasinya. “Jack, sekarang giliranku untuk memuaskan mu” ucap Nike. Nike melebarkan kakinya, penisku diarahkan ke lubang kenikmatannya. Perlahan kutekan penisku, “oooooooooooh” lenguh nike. Penisku terus bergerak, kutarik kemudian kudorong lagi pelan. Cairan di kemaluan nike semakin bertambah, memudahkan penisku untuk bergerak masuk. “Jack……aku sayang kamu” kudorong perlahan penisku, kini sudah ¾ penisku masuk kedalam lubang kenikmatan Nike. Kutarik kembali penisku, dan dengan satu hentakan, kudorong masuk penis sepenuhnya kedalam lubang kenikmatan Nike, dan “oooooooooooh Jack” tubuh nike melengkung, menahan nikmat sentuhan penisku ke mulut rahimnya. Aku terus bergerak, maju mundur, keluar masuk, penisku. Kukocok penisku didalam lubang kenikmatan nike, Ooooooooh Jack, terus jack…..Oooooooh nikmat sekali jack,…..Jack…aku sayang kamu, puaskan aku jack……racau Nike sambil menggoyangkan dan memutar pinggulnya meladeni kocokanku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Terasa lubang kenikmatan nike terus menjepit penisku, goyangan pinggul nike menimbulkan rasa seakan-akan penisku dipelintir…”ooooooooh nike……Ooooooh sayang…Nikmat sekali..” Semakin cepat kupompa penisku,…”Ooooooooooh Jack…Enak sekali,…….Ooooooh aku udah enggak tahan jack…….” Terus kupompa penis ku……”Ooooooooooooh Jack…aku,…Oooooooooooh” kaki nike menjepit pinggang ku dengan kencang menahan pergerakkan penisku. Aku diam sejenak, kurasakan liang kemaluan Nike, berdenyut, cairan menyembur keluar membasahi penis ku…..Ooooooooooh jack,….posisi missionaris membuat tenagaku banyak terkuras, kenikmatan sudah mulai mendekat. Denyutan vagina nike membuat penisku merasakan sensasi yang luar biasa…..aku tak tahan, tanganku bergerak mengendorkan jepitan kaki nike dipinggangku dan bersamaan kupompa kembali vagina nike…..”Oooooooh jack…Ooooooooooh terus jack…….” Semakin cepat kupompa vagina nike. “Nike, keluarin dimana nih……….”tanyaku sambil terus memompa vagina nike. “Keluarin didalem aja sayang….I wanna feel your love completely” ucap nike. Amunisi di meriamku spt telah berkumpul penuh dikepala penisku….kupercepat gerakanku…..”ooooooooooooh jack……terus jack…aku juga mau nyampe lagi nih……….oooooooooooooh” racau nike. Akhirnya tak tertahan lagi….kutekan penisku dalam-dalam, kumuntahkan amunisiku sedalam mungkin divagina Nike, “Crooot……croooot…..” “Auuuuuuuuuuuuuugh…..Ooooooooooooh…..Eeeeeeeeeeeee gh….Aku…..oooooooooh…” lenguh nike sambil menjepit keras pinggangku, memaksa penisku yang sedang memuntahkan amunisinya masuk lebih dalam lagi. Vagina nike mengenyemprotkan cairan bersamaan dengan semprotan amunisiku. Dinding vaginanya berdenyut, memijit penisku, seakan memeras semua air maniku keluar tuntas………Ooooooooooh..nike..nikmat sekali sayang…” “Iya Jack…aku juga….nikmat sekali”….pinggul nike diam sejenak, menikmati detik-detik kepuasan puncak dalam bercinta. Beberapa saat kemudian nike menggerakan pinggulnya perlahan, memberikan sensasi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div id="post_message_1637403495"&gt;        &lt;span style="font-family:Arial;"&gt;finishing touch kepada penisku. Kutatap wajah nike, kucium kening dan bibirnya, sambil kuucapkan “terima kasih sayang, aku sayang sama kamu nike” “Aku juga jack” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Perlahan, penisku kutarik keluar dari vaginanya, bersamaan dengan itu, cairan putih dan kental yang penuh didalam vaginanya mengalir keluar. Kurebahkan diriku disamping nike, sejenak kami tertidur menikmati kepuasan bercinta kami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Kulihat jam ku sudah menunjukan jam 11.00 malam. Segera kubangun dan bergerak menuju kamar mandi. Nike pun bangun dan menyusulku ke kamar mandi. Kami membersihkan diri kami, kubasuh tubuh nike. Kubantu nike membersihkan dirinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jam 11.30, kami bergerak kembali ke &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;. Sepanjang perjalanan, Nike bersandar di punggung ku. Kuantar Nike hingga mendekati kompleknya. Nike menolak untuk diantar sampai kekomplek, menurutnya tidak enak terlihat orang lain. Kami berjanji untuk tetap menjaga dan memelihara cinta kami.&lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>mengapa harus gangbang ?</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/08/mengapa-harus-gangbang.html</link><category>mengapa harus gangbang ? mengapa ?</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Sun, 16 Aug 2009 12:55:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-2085056447618201038</guid><description>&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;        &lt;hr style="color: rgb(255, 255, 255); background-color: rgb(255, 255, 255);" size="1"&gt;    &lt;!-- / icon and title --&gt;       &lt;!-- message --&gt;   &lt;div id="post_message_1637379287"&gt;        &lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Kesebelasan kami kali ini mencapai top score, pertandingan yang ke 3, dimenangkan telak 4-0. Tentu saja adalah wajib hukumnya untuk merayakannya di karaoke atau pub di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;kota&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; kami. Sebenarnya aku udah bosan dengan acara beginian. Menang, minum, mabuk, pulang pagi…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Rupanya teman teman juga mengalami hal yang sama. Doni yang seperti biasa selalu banyak ide mengusulkan acara yang lain dari yang lain. “apa maning Don kali ini ? “Tanya Budi yang dari Purwokerto.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Betul Don…apa ide loe…bosan karaoke melulu…”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Kataku ngedumel.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“ Begini teman…aku ada ide, Cuma agak gila dikit, gak papa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; ?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; Kata Doni bikin penasaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Wis talah opo se ?, kesuwen arek iki&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; (sudahlah…apa sih ? terlalu lama anak ini)“ Ganti Robby yang arema nyeletuk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“OK OK gimana kalo kita pesta sex ? ups jangan terkejut !!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; “ Doni nyengir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Aaaahhh kau ini…gw kagak mau main cewek sembarangan ! gila kau main PSK, kena penyakit tahu rasa loe.. “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; Aku memang nggak suka ke tempat pelacuran atau main cewek sembarangan, ngapain ? ama istri aja udah puas banget kok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Istriku cantik, cantik sekali…sebenarnya malah sexy, buah dadanya 34C. Nggak terlalu besar tetapi karena badannya mungil, payudara tersebut tampak menyembul indah di balik Bra nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Kehidupan sex kami sangat luar biasa karena tiap 2 hari kami selalu bercinta. Untung gw olahragawan, jadi mau main berapa rondepun gw layani. Dan istripun rupanya penggemar sex. Dia paling senang kalo aku mencoba teknik tenik baru, terutama kalo pake dildo. Dan dia paling antusias kalo aku pake 2 dildo 18” besar getar. Cuma kadang istriku memang kebablasan, masa dia bilang begini “ hiiiii mas, gimana ya rasanya kalo beneran…enak kali yah….hihihihi…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Aduh mama…penasaran banget ya ? nggak boleh dong…pake dildo banyak gak papa asal gak boleh beneran…gw bisa pingsan dong”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; Kataku terkaget kaget.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Seperti mendapat durian runtuh, hampir setiap bercinta, istriku selalu minta 2-3 dildo kesayangannya. aku sih nggak keberatan, malah asyik juga melihat istri menggeliat merintih rintih ketika menikmati dildo tersebut. Istriku juga paling suka doggy style sedangkan aku paling nggak suka, kenapa hayo ? karena penampakan body istriku dari belakang bikin cepet ngecrot, body gitar bo..! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Loh…kenapa jadi belok ke istri ya? ….&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Kembali ke rencana si Doni yang aku nggak tertarik itu. “Terserah kalian lah, aku nonton DVD sambil ngedrink aja.” Kataku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Hanya 8 orang yang tertarik pesta sex, aku bersedia ikut Cuma untuk menemani saja. “ Loe dapet cewek darimana Don ? PSK ya…?” Tanyaku penasaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Nggak lah, gw dapat bini orang, ini cewek nepsong banget. Gw kenal dari milis DS. Cantik bro…mungil, imut…katanya pengen banget bercinta sama pemain bola, lebih nendang katanya hahahahaha”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; Doni ngakak. “ Dia udah stand by di villa yang kita pesan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Cuma 1 cewek ? kalian gilir begitu ? “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; Aku mikir, bisa pingsan neh cewek digilir orang orang gila sex begini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Yah..namanya juga pesta sex alias gang bang teman….gimana sih elo ?....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Sesampai di villa, Doni, bambang, Robby dan 5 rekan yang lain sudah sibuk membuat rencana gangbang yang menurut mereka baal bikin heboh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Sedang aku sibuk sendiri memilih film mana yang akan aku putar dulu….hmmmm transformer ? film bokep ? Valkirye ? dan minuma ana yang aku teguk dulu, Jack D?, Chivas ? atau J Walker ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Hmmmm.. mereka memulai tidak dengan gangbang, rupanya si cewek yang sudah stand by di kamar keberatan digilir rame rame. Jadi Doni giliran pertama sedang rekan rekan lain akhirnya malah nonton bareng aku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“gimana kalian ini…aku maunya nonton sendiri kok malah sekarang rame rame. Udah tuh cepet kalian gilir itu cewek…” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Ternyata Doni Cuma 15 menit didalam. “ Eh gila neh cewek, cantik banget…. Gak mau pake kondom lagi…ayo siapa giliran kedua, yang terakhir bakal dapat beceknya doang hehehehe….”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Robby segera lari kedalam kamar: Aku dhisik rek…!! (aku duluan bro !!)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Bambang rupanya sudah tidak konsentrasi dengan film yang ditontonnya, segera melompat menuju kamar. “Melu rek !!! gak kuat aku !!!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Kelima cowok gila yang ada disekitarku saling berpandangan…kemudian tanpa dikomando langsung berdiri dan berebut masuk kamar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Kurang aja bener, pintu kamar tidak mereka tutup sehingga rintihan dan teriakan terdengar sampai depan TV. “Apa maksudnya anak anak ini ? mengganggu konsentrasi” Gerutuku dalam hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Sesekali terdengar teriakan Budi dan Robby, “ Genjot terus, anal…anal !..anal…anal…! Yessss…!” Diikuti dengan jeritan si cewek. Sialan bikin horny aja. “Dobel dong…dobel dong…Yessss !!! aaaaaa lagiiiii” rintihan si cewek berulang kali terdengar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Arrrrrrghhhh keluar !!!!”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; Terdengar teriakan Robert ejakulasi dini…hahahaha memang satu teman ini masih perjaka,wajar kalau muncrat duluan. “ Payah loe Rob…udah loe keluar aje temanin si Adi dan Doni diluar “Protes Rudi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Di….aaah gila itu cewek sexy banget. Aku nggak kuat, abis dari belakang sexy banget, bisa nyedot lagi, kamu harus coba Di…bener Di bakal ketagihan deh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;” Kata Robert dengan nafas yang masih memburu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Ahhhh males ah,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; “ Aku mulai mabuk karena perutku sudah terisi 1 botol Jack Daniel yang aku habiskan sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Rob, masa loe kagak tahu kalo si Adi homo…iya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; Di ?”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; Tanya Doni kalem. “ Jadi loe jangan duduk disebelahnya, bisa diperkosa tau….”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Ah gila kau Don, gue normal !!! ok Ok mana itu cewek, gue setubuhin !! &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Teriakku mabuk.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Siiiiip gitu dong, ini baru laki laki.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; Doni Nyengir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Aku melangkah ke kamar, penasaran juga kayak apa sih cewek satu ini. tampak Rudi sibuk memasukkan batangnya dari belakang. Dari depan Robby memegang kepala si cewek dan bernafsu sekali mengeluar masukkan batangnya ke mulut si cewek. Si Bambang malah sibuk diposisi bawah asyik melahap payudara si cewek yang keliihatan memang sekel.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Ahhhh kenapa anak anak ini pake lampu10 watt…gelap nggak keliatan. Aku yang sudah mabuk langsung antusias dengan pantat nungging sexy di depanku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Bambang langsung komentar : “ Rob gentenan rob, awakmu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;wis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; suwe, iku Adi mumpung gelem…”(Rob gentian Rob, kamu sudah lama, itu mumpung si adi mau)”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“We-I’ kadungaren koen gelem nyenuk Di, tak kiro homo awakmu.” (Waahh tumben kamu mau, aku kira kamu homo) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Robby menggeser tubuhnya memberi aku kesempatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Wuah sexy banget pantat cewek satu ini, aku langsung menancapkan batangku dalam dalam dan si cewek langsung melenguh. Meski becek penuh sperma, miss V nya masih bisa menyedot. Aku langsung teringat istriku, dia juga ahli menyedot seperti ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Gila enak banget !!, aku menggenjot lebih cepat. Bambang malah sudah menyemburkan spermanya ke dalam mulut cewek ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Sial..belum apa apa aku sudah ingin muncrat. Entahlah mungkin pengaruh mabuk atau memang miss V cewek ini yang hebat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Aaahhh aku mau keluar…ahhhh.. balik balik. Cepat balik, pengen dari depan….!!!”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; Aku memang lebih suka memuncratkan spermaku di perut si cewek atau coitus interuptus alias muncrat diluar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Si cewek segera membalik badannya, sambil memejamkan mata spermaku muncrat ke buah dadanya. “Aaaaarrgghhhh gilaaaaaa…!!!” Teriakku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Ketika membuka mataku…tubuhku serasa tersambar petir !!! blaarr !!! karena cewek di depanku ternyata adalah istriku !!!! What !!!!!! Begitu pula istriku yang sedang melumat batang Doni, matanya tampak terkejut sehingga tidak sengaja giginya mengigit batang Doni.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Keterkejutanku tampaknya terlihat oleh Robby, “ Opo’o Di…koen kenal-a ambek arek iki ? opo gendhakanmu paling hehehehe (kenapa Di, kamu kenal ya ama cewek ini, apa dia simpananmu ? hehehe)”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Tubuhku langsung terkulai lemas, sementara Robby yang akan meggantikanku aku cegah : Sik rob aku sik pengen maneh”(sebentar Rob, aku ingin lagi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Halah, kunammu mungsret ngono kok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;”(Halah batangmu mengecil gitu kok) Protes Robby.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Sik sik aku pengen tak nikmati dhewe…gentenan rek&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; (sebentar sebentar aku ingin mnikmati sendiri, gentian dong…) Kataku menegaskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Yaaahhhh Adi…nggak aci!!!!”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt; Protes mereka mengalah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Cepat cepat istriku aku peluk dan aku tindih, sambil berbisik di telinganya :Kenapa ma…kenapa jadi begini ma ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Istriku mengangkat wajahku dan memandang dalam ke mataku. Kemudian bibir sexynya mendekat ke telingaku dan berbisik :” Maaf pa….maaf banget..selama ini aku kurang puas….maaf pa…dari dulu aku ingin disetubuhi rame rame begini, pengeeeen banget….ini baru pertama kali….maaf pa…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“Tapi kenapa haru begini ma..kenapa ? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;mataku memanas ingin menangis, hatiku benar benar hancur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;“ Ayo Di…gentenan rek…ayo digangbang bareng bareng ae yo…setuju ?!!!( Ayo Di, gentian dong, dangbang aja rame rame ya, setuju ?)” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Robby sudah tidak sabar ingin melanjutkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Aku menarik badanku menjauh, segera cowok cowok geblek ini menyerbu kembali tubuh sexy yang menggelepar di depan mata mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Sambil berkali kali matanya melirik ke diriku, istriku dengan ragu melahap dan mengocok batang perjaka Robert. Doni sudah tidak sabar dan menjilat vagina istriku. Tindakannya membuat istriku merintih. Aku tahu istriku mudah orgasme kalau vaginanya dilumat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Dengan kasar Bambang membalik tubuh istriku dan mencoba anal kembali. Aku tak kuasa melarang….aku sendiri belum pernah anal…tetapi kini istriku di anal bergantian oleh sahabat sahabatku sendiri. Dadaku bergemuruh, berdebar debar….hampir pingsan rasanya, dengan ganas bambang menghunjamkan dalam dalam batangnya. Sementara Doni yang sudah di bawah berusaha memasukkan batangnya. Istriku rupanya akan di dobel. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Rintihan dan jeritan kecil istriku benar benar membuat cowok cowok ini terangsang hebat dan tak henti hentinya menyetubuhinya dengan kasar. “ Ayo Di ikutan lagi, sama bini kita nggak bisa main kasar begini..ayo Di mumpung…! Lihat semakin kasar dia semakin terangsang….kapan lagi loe bisa gangbang begini”...lihat ! enak to..mantep to...sexy to....tancap teruuuusss !! Budi dengan semangat menjambak rambut istriku minta agar batangnya dilumat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Aku sudah tidak kuat dan meninggalkan kamar. Di depan TV aku terduduk lemas. Sambil sesekali terdengar teriakan cowok cowok geblek itu diselingi jeritan jeritan orgasme istriku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Aku buka jack D ke dua dan kuteguk habis…aku buka yang ketiga…mataku terasa berat, aku lirik jam dinding….4 jam berjalan dan suara erangan di kamar masih terdengar jelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Sebelum tertidur, lamat lamat masih kudengar rintihan panjang istriku… &lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Fantasy : Kisah Prita Laura dan Frida Lidwina</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/04/fantasy-kisah-prita-laura-dan-frida.html</link><category>Fantasy : Kisah Prita Laura dan Frida Lidwina</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Thu, 30 Apr 2009 11:02:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-1914907213894315542</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!-- / icon and title --&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Suasana di kantor bupati benar-benar tegang. Beberapa petugas berseragam safari hilir mudik dan berjaga di beberapa tempat. Wajah mereka yang kaku cukup untuk menggambarkan setegang apa situasi di tempat itu. Beberapa tamu yang lewat diarahkan kd tempat lain, seolah mencegah mereka untuk memasuki area tertentu. Meski begitu sayup-sayup masih terdengar suara teriakan-teriakan panas dari sebuah ruangan yang tertutup rapat, yang pintunya dijaga oleh dua sekuriti berwajah keras.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="post_message_1630697275"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Di dalam ruangan, beberapa orang berpakaian safari duduk berhadapan pada sebuah meja besar. Salah satu dari mereka, yang duduk ditempat paling ujung yang biasanya ditempati oleh pemimpin rapat, terlihat terengah-engah dengan wajah merah padam. Orang itu, pria paruh baya agak gemuk dengan rambut tipis beruban, menyeka wajahnya yang berminyak dengan sapu tangan, matanya yang melotot merah menunjukkan kalau dia sedang marah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Instruksi dari Bapak Bupati kan sudah jelas!" pria itu membentak sambil menggebrak meja. Orang yang ada di sebelahnya berjengit menjauh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Maaf Pak ajudan.." salah satu staf yang duduknya paling dekat mencoba menjawab. "Kita kecolongan, saya sendiri heran dari mana mereka bisa tahu."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Pria yang disebut ajudan itu melotot ke arah staf tadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Lalu buat apa kamu dibayar?" dia membentak lagi. Staf itu langsung mengkeret lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Saya tidak mau tahu! Instruksi Pak Bupati sudah jelas. Reporter itu harus dihentikan."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Rapat hari itu bubar tanpa ada keputusan pasti. Si Ajudan terlihat sibuk menerima panggilan lewat ponselnya, dia berjalan mondar-mandir di ruangan itu sambil bergumam tidak jelas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Semua itu berawal dari sebuah berita koran lokal yang menyebutkan bahwa Pak bupati telah melakukan korupsi dengan cara menggelapkan pendapatan asli daerah. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, mencapai triliunan rupiah. Tidak mengherankan. Sebagai bupati di Kalimantan yang kaya akan sumber daya alam, tentu pendapatan daerahnya bisa mencapai puluhan triliun per tahun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Celakanya, berita itu tercium oleh tim dari MetroTV yang memang sangat jeli dalam mendapatkan berita-berita semacam itu. Kalau berita itu tercium sampai ke pusat, maka bisa dipastikan hampir seluruh pejabat daerah tersebut bakal masuk penjara. Hal itulah yang sangat ditakuti oleh sang bupati. Sebagai penguasa daerah yang kaya-raya, bupati di sana ibarat raja, perintahnya sangat dijunjung tinggi. Mengusik bupati sama dengan cari mati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita Laura memandang ke arah jendela untuk melepaskan ketegangan matanya. Perjalanan kali ini terasa sangat membosankan. Sudah berjam-jam lamanya dia duduk di mobil. Sopir penjemputnya bilang perjalanannya memakan waktu delapan jam, masih belum ditambah perjalanan lewat Sungai Kapuas yang juga tidak sebentar. Sebagai reporter, Prita sering melakukan perjalanan jauh, tapi belum pernah Prita mengalami perjalanan yang selama dan semembosankan ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Di sebelahnya, Frida Lidwina tampak sama bosannya dengan dia. Wajah Frida yang putih terlihat seperti tersaput kabut tebal. Earphone putih yang menempel di telinganya beberapa kali dimain-mainkan hanya sekedar untuk menyibukkan tangannya. Musik dari MP3 player yang digenggamnya sudah tidak sepenuhnya dia nikmati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Frida menoleh ke arah Prita, pada saat bersamaan Prita juga menoleh ke arahnya. Keduanya saling berpandangan sambil nyengir.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Kenapa? Bosen?" tanya Prita pendek.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Iya nih. Gue bosen banget." Frida menjawab sambil tersenyum. Giginya yang putih rata tampak kontras dengan bibirnya yang merah seksi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Tenang aja." Prita melihat ke jam tangan Cartiernya. "Elo masih punya waktu tiga jam lagi buat bosen."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Konyol.." Frida tertawa lepas. Stres perjalanannya sedikit berkurang. Prita memang orangnya lucu. Meski pendiam, tapi spontan dan komentar-komentarnya kadang tak terduga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Padahal setelah ini masih harus lewat Sungai Kapuas kan?" tanya Frida.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Yup." jawab Prita pendek.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Berapa lama?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Sekitar empat sampai lima jam katanya.." Prita menjawab ringan. Frida membelalakkan matanya yang indah dengan tatapan kaget.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Perjalanan terus berlanjut tanpa insiden berarti, kecuali jika guncangan keras saat mobil melindas batu, yang membuat Frida terlempar dari kursinya bisa dihitung sebagai insiden. Mereka akhirnya sampai di desa terakhir yang bisa dijangkau lewat darat. Desa itu berada tepat di tepi Sungai Kapuas yang lebar. Daerah yang mereka tuju terletak sekitar lima jam ke arah hilir menggunakan perahu motor.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita berdiri dengan bertolak pinggang, menatap ke arah sungai lebar yang ada di hadapannya. Agak ngeri juga Prita memandangnya, mengingat dirinya tidak pandai berenang. Bagaimana kalau tenggelam, pikirnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Bengong aja." tegur Mas Teguh, salah satu dari dua juru kamera yang mendampingi Prita dan Frida. "Bantuin angkat nih!" Mas Teguh menyodorkan tas besar berisi kaset VCR. Prita memonyongkan bibirnya mencibir lucu. Sementara Frida dan satu juru kamera yang lain terlihat berbicara dengan salah satu penduduk lokal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Pria yang diajak bicara oleh Frida itu tidak terlalu tinggi, bahkan bisa dibilang pendek. Tingginya kurang dari sebahunya Frida. Meski begitu tubuhnya yang legam terlihat kekar, tato bermotif tribal menghiasi lengan kirinya yang berotot. Wajahnya keras, dihiasi kumis yang tumbuh jarang-jarang. Rambutnya agak panjang dan berantakan. Segores bekas luka memanjang di pipi kirinya membuat wajahnya seperti terbelah jadi dua.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita, yang melihat Frida memberi isyarat, segera mendatangi mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ini pemandu kita." kata Frida sambil menunjuk ke arah pria yang tadi diajaknya bicara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Herman." pria itu menjabat tangan Prita yang lembut, cengkeramannya seperti ingin meremukkan jari tangam Prita yang halus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Prita Laura." jawab Prita sambil meringis, kemudian memegangi tangannya sambil mengeluh kesakitan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Oh, maaf." Herman berujar cepat, meski begitu ucapannya terdengar datar dan tidak tulus. Prita hanya mengangguk dan nyengir kecil.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Berapa dia minta?" Prita berbisik pada Frida sambil menarik Frida menjauh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Empat." jawab Frida pendek.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Empat ratus?" Prita mengangkat alis. "Enggak kemahalan?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Siapa bilang empat ratus?" Frida menjawab dengan nada jengkel. "Empat juta."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Empat juta? Gila.!" Prita meninggikan suaranya. "No way! Nggak bisa!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Sayangnya cuma mereka yang ada." kata Frida. Keduanya terdiam selama beberapa lama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Aneh.." Prita berujar datar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Aneh apanya?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Begitu banyak orang di desa ini, apa mungkin cuma dia pemandu di sini?" terang Prita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Gue nggak tahu." Frida hanya mengangkat bahu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Mereka menyusuri Kapuas dengan menggunakan perahu motor. Herman membawa tiga orang temannya sesama pemandu. Masing-masing memperkenalkan diri sebagai Gayong, Sam, dan Eddy. Gayong adalah seorang peranakan suku asli pedalaman. Badannya tegap dengan wajah mirip orang cina, tapi kulitnya hitam terbakar. Sam berbadan gempal dan berwajah seperti orang mengantuk, usianya diatas 40 an, kantong matanya menggelambir besar, pipinya gemuk tapi kendor. Sementara Eddy, tidak sesuai dengan namanya, wajahnya lebih mirip orang bego yang melongo terus menerus. Giginya ompong di beberapa tempat. Hobinya mengisap rokok kemenyan yang asapnya bisa membuat pusing siapapun yang menghirupnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Untungnya, perjalanan lewat sungai tidaklah semembosankan yang dibayangkan oleh Prita dan Frida. Sepanjang perjalanan yang mereka lihat adalah pepohonan hijau rindang di sisi kiri dan kanan sungai. Seringkali mereka melihat beberapa satwa seperti burung atau kawanan kera bergerak di sela-sela pepohonan. Sementara itu di bagian belakang kabin kapal terlihat Gayong, Sam dan Eddy sedang belajar mengoperasikan VCR portabel. Mas Teguh mengajari mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Sebenarnya nggak sulit." kata Mas Teguh. "Ini &lt;i&gt;switch ON OFF&lt;/i&gt;, ini &lt;i&gt;casing&lt;/i&gt; tempat kaset ini &lt;i&gt;zoom&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;adjustment switch&lt;/i&gt;.." Teguh menunjuk beberapa bagian VCR. Ketiga pemandu itu mengangguk paham. Mereka kemudian mencoba mengambil beberapa snapshot, diantaranya menyorot Prita yang sedang bengong di dekat jendela.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Suasana yang sejuk ditambah angin yang bertiup leluasa membuat hawa kantuk menyebar dengan cepat. Herman dan ketiga temannya berkumpul agak terpisah sambil menikmati semacam minuman tradisional yang mereka bawa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Apa itu Pak Herman?" tanya Prita yang tertarik pada minuman berwarna kuning keruh yang dikemas dalam botol air mineral besar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Oh. Ini tuak manis." Herman mengangkat gelas plastik di tangannya. "Dari campuran air nira dan tape. Tapi nggak bikin mabuk kalau sedikit." Herman buru-buru menambahkan saat melihat ekspresi Prita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Non Prita mau?" tanya Herman yang tanpa menunggu jawaban dari Prita langsung menuangkan tuak manis itu ke dalam empat gelas plastik yang tersedia di dekat mereka. Lalu bersama-sama, Herman dan Prita membawa empat gelas tuak itu ke rombongan Prita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Apa ini Prit?" tanya Frida sambil mengamati isi gelas dengan tatapan bertanya-tanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Minuman tradisional daerah sini katanya." Prita menjawab. "Tuak."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Bikin mabuk dong." sela Frida.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Nggak, kalau minumnya cuma segelas dua gelas." Herman mendahului. "kami sering minum ini. Saya jamin nggak bikin mabuk."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita mengangkat bahu melihat ekspresi Frida dan teman-temannya. Di belakang, Gayong, Eddy dan Sam terdengar tertawa-tawa sambil bicara dalam bahasa daerah dengan pengucapan yang cepat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Akhirnya setelah diyakinkan oleh Herman kalau minuman tradisional itu tidak memabukkan, Prita dan teman-temannya mencicipi minuman itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Rasanya seperti air tape.." kata Frida sambil mencecap lidahnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Agak kecut ya.?" Prita menambahkan. Beberapa detik kemudian tubuhnya mulai bereaksi. Minuman itu membuat perutnya menghangat, seolah ada yang menyalakan api di dalam perutnya. Dalam sekejap hawa hangat itu langsung menyebar ke seluruh tubuhnya, membuat Prita seolah merasa ringan sekali, seolah Prita merasa tubuhnya melayang beberapa senti di udara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Selang beberapa menit, setelah menghabiskan satu gelas, reaksi tubuh Prita mulai berbeda. Tubuhnya terasa lemas dan mengantuk. Semula Prita mengira ini disebabkan oleh faktor perjalanan yang terlalu melelahkan, tapi tiba-tiba Prita tersadar kalau rasa kantuknya ini tidak ada hubungannya dengan perjalanan yang melelahkan ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita tersentak bangun dengan gelagapan saat seember air menyiram sekujur tubuhnya dari ujung rambut sampai pinggang. Prita menggelengkan kepalanya, mengibaskan air dari wajah dan rambutnya. Sesaat Prita merasa pengaruh minuman tradisional yang membuatnya tertidur masih menguasainya. Kepalanya masih terasa pusing dan berputar-putar selama beberapa detik. Baru, beberapa detik berikutnya, secara pelan-pelan Prita tersadar dengan keadaan dirinya sekarang. Prita mendapati dirinya terikat pada sebuah kursi kayu yang besar dan kokoh dengan posisi tangan di belakang punggung kursi. Tapi itu bukan bagian terburuknya. Bagian terburuknya adalah, saat itu Prita hanya tinggal mengenakan BH dan celana dalam saja! Posisi pahanyapun dibuat sedemikian rupa sehingga daerah kemaluannya terbuka lebar, membuat daerah kemaluannya membayang dengan jelas. Air yang menyiram tubuhnya membuat BH Dan celana dalamnya yang tipis menjadi semakin transparan sehingga puting payudaranya dan vaginanya membayang dengan samar. Kalau ada yang membuat Prita lebih kaget lagi adalah, saat dia tahu kalau Herman dan ketiga kawannya berdiri di hadapannya. Keempat orang itu tengah asyik menikmati keindahan tubuh putih mulus Prita yang setengah telanjang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Pak Herman..? Kenapa.." Prita dengan penuh kekagetan bertanya. Prita merasa sangat malu dan sekaligus marah diperlakukan seperti ini. Belum pernah sepanjang hidupnya Prita mengalami penghinaan sehina ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Tenang saja di situ Prit." Herman berkata dengan dengusan nafas liar. "Kami sedang melihat pemandangan indah."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Jangan Pak.." Prita mulai menangis ketakutan. "Jangan perkosa saya." Prita mencoba meronta seolah dengan begitu dia bisa membebaskan diri dari tali yang membelit tangan dan kakinya. Tapi ketika tahu usahanya sia-sia, Prita menjadi panik. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Tolong.!" Dalam keadaan panik, Prita berteriak. Anehnya Herman dan kawan-kawannya malah tertawa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Percuma teriak." Herman berkata santai. "Di tengah hutan siapa yang mau menolong?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Ucapan Herman itu seperti merontokkan keberanian Prita. Prita tersadar kalau dia bahkan tidak tahu di mana dia saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Tapi.. kenapa..?" Prita dengan sisa keberaniannya bertanya dan menatap Herman dengan tatapan penuh kebencian, sekaligus ketidakberdayaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Kenapa?" Herman tertawa. "Tidak kenapa kenapa.. kecuali hanya kalian terlalu ikut campur urusan bupati kami."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Kalian..?" Prita terkejut bukan main. Dia tidak menduga hal seperti ini bakal terjadi. Menjadi jelas sekarang kenapa tidak ada pemandu lain yang bisa mengantarkan mereka waktu di desa terakhir. Pasti itu adalah akal mereka juga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Kalian.." Prita tergagap.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Tentu saja." Herman menjawab. "Kalian tidak menyangka? Sayang sekali.. kukira kalian pintar."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita menggelengkan kepala seolah tak percaya, sekaligus menyesali tindakannya yang kurang cermat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Tentu saja mudah bagi kami untuk membelokkan informasi buat kalian, koneksi bupati kami lebih hebat dari yang kalian tahu." kata Herman sambil mendekati Prita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Tapi dari mana kalian mendapat informasi tentang rencana kami?" tanya Prita putus asa. Rasa takut yang mencengkeramnya membuat otaknya seperti buntu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Pintar juga kamu Prit.." Herman tersenyum sinis. "Sayang informasi itu termasuk rahasia." katanya sambil membelai rambut gadis cantik itu. Prita melengos menolak sentuhan Herman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Dimana teman-teman saya?" Prita tiba-tiba teringat pada Frida dan yang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Tenang saja, mereka baik-baik saja untuk sementara ini." Herman menyeringai jahat. "Bahkan khusus untuk Frida, kami ingin dia terus baik-baik saja, karena kami punya rencana tersendiri buatnya."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Tidak..! Jangan.!" Prita merasa, apapun rencana mereka pastilah sesuatu yang buruk. "Jangan lakukan apapun padanya. Bunuh saja saya!" Prita memberontak sekuat yang dia bisa, meskipun hal itu sia-sia karena tali yang mengikatnya terlalu kuat untuknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Diam cerewet!" Herman menampar pipi Prita, tidak keras, tapi cukup untuk membuat bekas kemerahan di pipi Prita yang putih. Tamparan itu cukup efektif untuk menghentikan teriakan Prita. Prita menunduk, hanya suara isakan tangis yang terdengar dari bibir mungilnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Cantik.." Herman mengangkat wajah Prita yang ketakutan. "Kamu tahu.. Pak Bupati memberi kami kebebasan untuk melakukan apapun pada kalian."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Di luar dugaan, Herman menyentakkan wajah Prita sampai menengadah. Lalu dengan ganas, bibir Herman segera melumat bibir Prita, membuat gadis itu menyentak-nyentak jijik. Dia meronta-ronta mencoba melepaskan bibirnya dari lumatan bibir Herman. Tapi kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan pria kekar itu. Akhirnya Prita hanya bisa pasrah dan hanya bisa meneteskan air mata. Selama beberapa menit bibir Prita yang mungil itu terus menerus diciumi dan dilumat-lumat oleh Herman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita langsung terbatuk-batuk saat Herman akhirnya melepaskan bibirnya. Prita meludah ke lantai, segala kejijikannya tumpah pada ludahnya. Dia merasa terhina dan sakit hati dilecehkan seperti itu, tapi Prita juga tak bisa berbuat apa-apa dengan keadaannya seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"He he he.." Herman tertawa melecehkan. "Ternyata bibir reporter enak juga." katanya sambil menyeka bibirnya sendiri. Dibelainya rambut Prita dengan lembut, Prita menarik kepalanya mundur, menolak sentuhan pria itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Tunggu di situ sebentar ya Sayang, saya urus yang ini dulu."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Herman lalu memberi isyarat pada ketiga temannya. Mereka bertiga meninggalkan ruangan, sesaat kemudian mereka kembali lagi, kali ini mereka membawa seseorang bersama mereka. Frida! Kedua tangan Frida terikat ke belakang dengan bibir tertutup lakban hitam. Matanya memerah sembab seperti habis menangis. Kaus ketat yang dikenakannya terlihat berantakan sepertinya kaus itu pernah dibuka paksa sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Frida!" Prita menjerit kaget dan meronta sejadi-jadinya, sementara Frida, yang sama kagetnya melihat kondisi Prita, spontan memberontak. Sam dan Eddy cepat-cepat menarik lengan Frida lalu memaksa Frida berlutut. Frida terus meronta dengan air mata bercucuran, isak tangisnya tertahan oleh lakban yang menempel di bibirnya. Jengkel karena Frida yang terus meronta, Sam menampar wajahnya. Frida mengeluh pendek dan langsung terdiam. Frida hanya berlutut sambil tersedu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Jangan sakiti dia! Lepasin dia!" Prita memberontak dan berteriak kalap. Tangisnya makin menjadi-jadi. Herman menjadi jengkel, dia menjambak rambut Prita dan menyentakkannya kuat-kuat membuat wajah Prita mendongak. Prita meringis ketakutan, tapi dia langsung diam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Kalau kamu nggak mau diam, saya akan bunuh teman-teman kamu." ancam Herman bengis, dia mencabut mandau yang memang sejak tadi dia bawa. Senjata khas Kalimantan itu terlihat berkilau mengerikan. Darah Prita seolah berhenti melihat sisi tajam senjata itu. Seketika wajahnya memucat ketika Herman menempelkan sisi tajam mandau itu ke lehernya. Rasa dingin besi tajam yang membelai leher putihnya membuat nyawa Prita seolah terbang sebagian. Prita gemetar ketakutan, dia menggigit bibirnya, menahan keinginannya untuk berteriak sekuat mungkin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Nah.. Begitu kan bagus.." Herman tersenyum liar. "Sekarang kita lihat yang ini ya.." Herman memberi kode pada temannya. Sam terlihat menenteng VCR portabel berlabel 'MetroTV' yang jelas-jelas diambil dari teman-teman Prita. Sementara itu Gayong dan Eddy melepaskan ikatan dan sumbatan mulut Frida. Frida langsung terbatuk sambil menyeka bibirnya yang merah. Masih dalam keadaan kalut, Gayong dan Eddy memaksa Frida berdiri. Dengan kaki gemetar Frida berdiri sambil terus menangis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Sudah! Diam!" Gayong membentak. "Hapus air mata kamu!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Frida terdiam karena ketakutan. Dia segera menghapus air mata di wajahnya dengan punggung tangan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Sekarang baca ini!" perintah Gayong tegas. Dia menyodorkan selembar kertas pada Frida. "Baca di depan kamera."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Frida langsung pucat pasi membaca tulisan yang ada di kertas yang dipegangnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Nggak.. nggak mungkin.." Frida kembali menangis tersedu. "Saya nggak mau!" Frida menggeleng.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Kalau kamu nggak mau.." Gayong menunjuk ke arah Gayong yang mandaunya masih menempel ketat di leher Prita. "Kamu lihat temanmu kan..?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Gayong lalu membuat gerakan bengis mengiris lehernya sendiri dengan tangannya. Frida merasa keberaniannya yang tinggal seujung kuku langsung terbang saat itu juga. Frida benar-benar panik. Dia sungguh tidak berdaya menolak perintah Gayong. Dengan sangat terpaksa, Frida akhirnya menjawab.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Jangan.. jangan sakiti teman saya..Saya akan lakukan, tapi jangan sakiti teman saya.." Frida berkata gemetar sambil menghapus air matanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita terperanjat mendengar itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Jangan! Jangan Frid!" Prita menjerit dan memberontak di kursinya. Tapi Herman menekan mandaunya lebih dalam ke leher Prita memaksa Prita diam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Jangan ribut!" Herman membentak. "Kamu tunggu giliran."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Jangan! Jangan sakiti dia!" Frida menggeleng ketakutan. "Tolong jangan sakiti dia.. saya akan lakukan."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Nah.. Kalat begitu tunggu apa lagi?" kata Gayong dengan tawa penuh kemenangan. Dia memberi kode pada Sam yang memegang kamera VCR. Sam segera berdiri dan menyalakan kamera VCR nya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Lihat ke sini dong Frida.." kata Sam sembari mengarahkan kameranya pada Frida. Frida berusaha keras untuk tidak menangis. Dia kemudian berdiri menghadap ke kamera. Frida memaksakan diri untuk tersenyum, memaksakan diri seolah-olah ini hanyalah reportase yang biasa dia lakukan. Untuk sesaat Frida hanya berdiri mematung di tempatnya. Baru setelah Sam memberi kode Frida mulai membaca tulisan di tangannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Nama saya Frida Lidwina.." Frida memulai. "Saya menyatakan, apa yang saya lakukan berikut ini adalah keinginan saya sendiri tanpa paksaan dari siapapun."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Frida berusaha membuat intonasi suaranya sewajar mungkin meskipun dirinya tidak rela melakukan hal tersebut. Sementara di seberang, Prita menangis terisak menyaksikan hal itu dan mengetahui bencana besar yang akan menimpa temannya. Prita memalingkan wajahnya dan memejamkan mata, tidak tega menyaksikan Frida mengalami penghinaan seperti itu, tapi Herman memaksa Prita menyaksikan adegan selanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Jangan sampai ketinggalan Prit.. Lihat baik-baik.." Herman menekan mandaunya lebih dalam ke leher Prita, membuat Prita terpaksa melihat bagaimana sahabatnya mengalami penghinaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Nah.. sekarang.." Gayong yang bicara. "Kami mau melihat kamu telanjang. Jadi kamu sekarang harus buka baju."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Frida dan Prita terkesiap mendengar hal itu. Ketakutan terbesar mereka selama ini akhirnya terbukti. Frida menggeleng sambil menggigit bibirnya, tapi melihat keadaan Prita yang berada dibawah ancaman mandau di lehernya, tanpa daya, nyaris telanjang, Frida merasa dirinya tak punya pilihan lain. Akhirnya dengan senyum yang teramat sangat terpaksa, Frida berucap. "Baik Tuan."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Kemudian, dengan keengganan luar biasa, Frida mulai menarik kaus ketat yang dipakainya ke atas, melewati bahunya dan kemudian lepas dari tubuhnya. Seketika Herman dan kawan-kawannya terpana sambil meneguk ludah menyaksikan tubuh putih Frida bagian atas yang hanya tertutup BH putih tipis. Payudara Frida menonjol ketat di balik mangkuk BH berenda itu. Perutnya yang ramping terlihat rata dan mulus sekali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ayo.. terus.." perintah Sam yang sibuk merekam detik demi detik Frida melucuti pakaiannya sendiri. Frida tidak tahan lagi, bendungan air mata yang menahan tangisnya akhirnya jebol. Dengan terisak, Frida membuka kancing celana jinsnya, kemudian melepaskan celana itu dari kakinya. Paha putih mulus dan jenjang seperti kaki belalang yang berakhir pada pinggul bulat terpampang begitu indah. Bagian selangkangan Frida yang terbalut celana dalam putih terlihat membukit, membentuk segitiga yang nyaris sempurna.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Siapa yang menyuruh kamu berhenti?" bentak Gayong yang melihat Frida bergeming beberapa saat sambil mendekap payudaranya yang ketat. Frida menggeleng, air matanya mengalir kian deras.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Jangan Tuan.. jangan telanjangi saya.." kata Frida di sela isakan tangisnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Kalau nggak mau biar aku saja yang buka." kata Gayong, lalu dengan gerakan gesit Gayong menyambar bagian depan BH Frida, lalu dengan sekali sentakan, BH itupun langsung robek dan terlepas dari tubuh Frida, membuat payudara Frida meloncat keluar dengan gerakan lembut. Frida menjerit pendek dan spontan mendekap dadanya yang kini telanjang. Tapi Gayong tidak berhenti sampai di situ. Dia juga merenggut celana dalam Frida dan menariknya sampai robek. Kain terakhir yang menutupi tubuh Frida terlepas sudah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Frida dengan gugup mencoba menutupi daerah daerah rahasia tubuhnya dengan kedua tangannya meski itu tidak banyak berarti, sementara Herman dan ketiga temannya tertawa tawa sembari menatap tubuh Frida yang telanjang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Oi.. Sam, suruh dia singkirkan tangannya.. kalau tidak.." Herman mengancam dengan menekan mandaunya ke leher Prita. Prita memejamkan matanya, karena ketakutan dan tidak tega melihat Frida ditelanjangi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Kamu dengar itu kan Frid?" Sam memberi kode pada Frida untuk menyingkirkan tangannya dari payudara dan vaginanya. Frida terisak pelan, lalu dengan gerakan enggan, Frida melepaskan dekapan tangannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.." Herman dan ketiga kawannya mendengus penuh nafsu sambil memelototi tubuh mulus Frida. Tubuh putih mulus reporter cantik itu sudah sepenuhnya telanjang bulat di hadapan mereka. Payudara Frida yang berukuran sedang namun ketat dan kenyal terlihat membusung indah, putih mulus dengan putingnya yang pink muda mencuat membangkitkan nafsu. Perut yang licin rata membentuk pinggang ramping yang berakhir pada pinggul yang besar dan membulat membentuk daerah selangkangan yang masih bagus. Daerah kemaluan Frida yang masih bagus itu dihiasi oleh rambut halus dan rapi, jelas menunjukkan sebagai tubuh yang terawat cermat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div id="post_message_1630697278"&gt;        &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Sam yang memegang kamera VCR tidak melewatkan sedetikpun kesempatan untuk menyorot keindahan tubuh telanjang Frida, baik secara close up maupun wide shoot. Bagian yang paling sering disorot tentu saja pada seputar daerah payudara dan vagina Frida. Sesekali Sam juga menyorot wajah Frida yang terlihat begitu memelaskan, tanpa daya dan pasrah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Bagaimana Frid?" Gayong tersenyum liar. "Kamu senang kan ditelanjangi?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Frida menunduk, menolak menjawab pertanyaan itu, tapi dia sadar kalau posisinya tidak memberi kesempatan untuk menolak. Akhirnya Frida menjawab.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"I.. iya Tuan.. saya suka.."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Gayong dan teman-temannya tertawa penuh kemenangan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Kalau begitu kamu nggak keberatan kan kalau kami mencicipi kamu?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Frida menggeleng.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Maka tanpa menunggu lebih lama, Gayong dan Eddy yang sudah terangsang melihat tubuh mulus Frida yang telanjang bulat, langsung mendekap tubuh putih mulus itu. Keduanya segera menyerang daerah-daerah sensitif di tubuh Frida. Gayong dengan gemas membenamkan bibirnya yang kasar ke bibir Frida yang mungil. Bagaikan mengulum permen karet, bibir Gayong beraksi melumat-lumat bibir presenter cantik itu dengan kekuatan seperti pagutan ular, membuat Frida megap-megap kehabisan nafas. Frida memejamkan matanya, menolak menatap Gayong, tapi bibirnya tidak mampu menahan serbuan bibir Gayong. Gayong terus mendesak bibir Gayong terus mendesak bibir mungil itu, bahkan pelan-pelan Gayong mulai mendorongkan lidahnya menerobos ke dalam mulut presenter itu. Frida yang pasrah merelakan lidah kotor itu menelusuri bagian dalam mulutnya dan membelit lidahnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Pada saat yang bersamaan, Eddy dengan kebrutalan yang nyaris tak berbeda tengah asyik menciumi dan menelusuri bagian leher dan bahu Frida yang bening dengan bibirnya dari belakang. Kecupan demi kecupan Eddy meninggalkan jejak kemerahan di leher dan pundak mulus Frida. Sementara tangan Eddy tidak membiarkan payudara lembut presenter cantik itu menganggur, tangan kasar Eddy mencengkeram payudara lembut Frida bagian kiri dan meremas payudara itu dengan kekuatan seperti seorang pegulat, membuat Frida menggeliat kesakitan merasakan payudaranya diremasi dengan begitu brutal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.. mhh.. ogh.." Frida mendesah tertahan ketika tangan kasar Eddy membelai-belai dan meremas-remas payudaranya. Desahan Frida tertahan oleh kecupan-kecupan brutal Gayong pada bibirnya. Mat tak mau, perlakuan kasar Gayong dan Eddy pada bagian sensitif tubuhnya membuat sensasi seksual dalam tubuh Frida perlahan-lahan meningkat. Desakan seksual itu, meskipun tak diinginkan oleh Frida, makin menggelegak saat Gayong dan Eddy mengarahkan serangannya pada kedua belah payudara Frida yang menggantung indah. Kecupan dan remasan secara bergantian mendarat di payudara putih kenyal itu. Sesekali sambil meremasi payudara mulus presenter cantik itu, Gayong dan Eddy juga menjilati dan menyentil-nyentil puting payudara Frida dengan lidah mereka yang kotor. Kadangkala keduanya juga melumat payudara Frida dan mengenyotnya kuat-kuat, membuat kedua pria itu terlihat seperti bayi besar yang sibuk menyusu pada ibunya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Gimana Prit? Bagus kan tontonannya?" tanya Herman pada Prita. Herman terlihat sekali sangat menikmati tontonan indah saat tubuh telanjang bulat Frida yang putih mulus itu dihimpit oleh dua pria kasar. Prita, dibawah ancaman, terpaksa menonton adegan mengerikan itu dengan air mata bercucuran. Tapi meski begitu diam-diam adegan panas itu membawa perubahan pada tubuh Prita. Tubuh Prita mulai panas dingin menyaksikan tubuh telanjang Frida digumuli begitu rupa, detak jantungnya mulai meningkat dan nafasnya menjadi tidak teratur. Disuguhi adegan sensual semacam itu mau tak mau membuat gairah seksual Prita bangkit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Gimana Prit..? Kamu suka kan dengan siaran langsung ini?" Herman mendengus tepat di telinga Prita. Meskipun Prita tidak menjawab, tapi Prita harus mengakui kalau dirinya mulai terangsang menyaksikan temannya ditelanjangi dan digeluti seperti itu. Dan Herman yang banyak pengalaman segera tahu saat melihat perubahan pada diri Prita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"He.. he.. he.. pingin ya?" Herman tertawa. "Kalau gitu boleh deh.."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Herman lalu meletakkan mandaunya di lantai, lalu sambil tetap menonton Frida digarap oleh kedua temannya, Herman mulai menyerang leher dan pundak Prita dengan kecupan-kecupannya. Prita langsung bereaksi ganjil menerima kecupan itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.." Prita mendesah saat bibir tebal Herman menyusuri leher dan pundaknya. Prita menggeliat geli saat Herman mulai menjilati daerah leher dan pundaknya dengan lidah. Antara jijik dan terangsang Prita kembali mendesah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Enak kan Prit?" kata Herman yang kian liar. Kali ini Herman tidak hanya menyerang daerah leher dan pundak Prita, tangannya yang kasarpun mulai bergerak menyusup ke balik BH tipis Prita. Prita langsung mendesah saat tangan liar itu meremasi payudaranya. Sentuhan pada payudaranya membuat Prita menyerah. Dia tidak tahan lagi untuk mendesah nikmat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.. oohh.. aahh.. ahh.." desahan penuh kenikmatan di tengah isakan tangis meluncur dari bibir mungil Prita tanpa bisa dicegah saat Herman meremas-remas payudara Prita. Apalagi saat jari-jari pria kasar itu mulai menyentuh dan memainkan puting payudaranya. Tiap sentuhan jari Herman pada daerah peka itu membuat Prita menggeliat menahan rangsangan yang kian menghebat. Gerakan tangan Herman pada sekitar wilayah dada Prita membuat BH yang dikenakan Prita melorot dari tempatnya sehingga payudara Prita yang putih kenyal langsung mencuat telanjang dan bergoyang seirama dengan gerakan remasan tangan Herman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Tidak puas hanya dengan meremasi payudara Prita, Herman meneruskan serangannya pada daerah kemaluan Prita. Semula Herman hanya mengelus-elus bagian paling rahasia presenter cantik itu dari luar celana dalam tipis yang dipakainya. Tapi kemudian Herman mulai menyusupkan tangannya ke balik celana dalam wanita itu. Dielusnya permukaan vagina presenter itu, rambut-rambut halus terasa di ujung jarinya, lalu pelan-pelan jari Herman mulai membelah bibir vagina Prita dan mulai mengaduk-aduk bagian yang paling dijaga oleh wanita tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita menggeliat menahan sensasi seksualnya yang kian meledak. Desakan seksual yang kian menggebu itu membuat tubuh Prita seolah membengkak bagai balon gas yang ditekan ke segala arah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohkh... ohh.. ahh.." sekuat tenaga Prita menahan desakan birahinya yang kian menggila sampai wajahnya merah padam. Di depan mereka, keadaan Frida juga tidak kalah menyedihkan. Tubuh putih mulus Frida yang telanjang bulat dihimpit oleh dua sosok kasar dan berkulit legam. Fridapun mengalami rangsangan seksual yang tidak kalah gilanya, apalagi saat Gayong dan Eddy memaksanya untuk berdiri dengan kaki mengangkang lebar, kemudian secara bergantian kedua pria itu mengelus-elus daerah kemaluannya. Bagian tubuh yang paling rahasia itu diraba-raba dan diremasi secara bergilir, membuat Frida merinding, tubuhnya.menggeliat merasakan sensasi nikmat yang kian menjalari tubuhnya. Sesekali juga jari tangan Gayong dan Eddy menusuk-nusuk dan mengaduk-aduk liang vagina Frida mencari titik-titik paling sensitif pada daerah rahasia itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ahh.. oohh.." Frida mengerang tertahan saat Gayong berhasil menyentuh klitorisnya yang sangat peka rangsangan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"He he he.. Enak kan Frid?" Gayong tertawa mengejek sambil terus mengaduk-aduk kemaluan Frida. Pelan-pelan vagina presenter itu mulai basah oleh cairan kewanitaannya. Hal itu menandakan kalau Frida sudah siap untuk disetubuhi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Uhh.. basah juga akhirnya.. Cewek dimana-mana sama saja.. Sok jual mahal padahal kepingin." Gayong tertawa mengejek. Frida diam saja meskipun sebagai wanita terhormat dia merasa terhina luar biasa oleh ucapan itu. Kenikmatan yang diperolehnya sedikit banyak membuatnya tak melakukan perlawanan meski direndahkan sedemikian rupa. Frida merasakan sensasi yang diperolehnya dari kedua orang itu seolah membuat kesadarannya beku. Kenikmatan itu terasa sangat memabukkan, bahkan suaminya sendiripun tak mampu merangsangnya seperti yang dilakukan oleh Gayong dan Eddy. Hal itu membuat tubuhnya ingin memperoleh kenikmatan lebih banyak lagi meski pikiran sadarnya mengatakan kalau hal itu adalah salah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Gayong dan Eddy, yang mengetahui kalau Frida sudah terangsang berat, menjadi makin ganas dalam merangsang presenter cantik itu. Kocokan demi kocokan melanda vagina Frida sementara payudaranya yang putih kenyalpun terus menerus diremas, dicubiti dan dikenyot-kenyot oleh kedua pria itu. Frida akhirnya tak tahan lagi, sensasi seksual di dalam tubuhnya terlalu kuat untuk dia tahan, maka meski sekuat tenaga Frida menahan sampai wajahnya merah padam, desakan seksual itu bagaikan cabikan cakar singa merobek pertahanan terakhirnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"OHHGH.. AAHHKH.. AHH..!!" Frida melolong keras, melepaskan orgasme yang sedari tadi ditahannya. Tubuh telanjangnya yang putih melengkung dan mengejang selama beberapa detik, dan seketika itu pula cairan vaginanya deras mengucur membasahi daerah selangkangannya. Sesaat tubuh putih mulus itu kaku seperti papan sebelum kemudian melemas dengan sendirinya dan terpuruk ke lantai.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Pada saat yang hampir bersamaan, Prita juga tengah berjuang menahan desakan birahi di tubuhnya. Tubuh Prita yang sedang terangsang hebat oleh perlakuan Herman itu menyentak-nyentak dan menggeliat-geliat. Herman tahu keadaan Prita, karena itu dia makin bersemangat mengobok-obok wilayah pribadi presenter itu. Prita makin tak bisa mengendalikan diri saat Herman berhasil menemukan daerah klitorisnya. Sentuhan pada daerah paling sensitif itu membuat pertahanan Prita runtuh, tubuh wanita cantik itu gemetar, nafasnya tersengal-sengal, erangan penuh nikmat meluncur tak tertahankan dari bibirnya yang menggemaskan. Desakan orgasmenya bagaikan air bah yang menggelora berusaha menjebol dinding pertahanannya. Tapi sensasi itu terlalu kuat untuk dibendung. Bagaimanapun kuatnya bertahan, pada akhirnya Pritapun menyerah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"OHHGH.. AAHHKH.. AHH..!!" Prita mendesah keras saat orgasmenya meledak. Tubuhnya melengkung ke depan membuat payudaranya kian mencuat ke depan. Tubuh presenter berwajah imut itu menyentak-nyentak tertahan oleh tali yang mengikat tangan dan kakinya. Orgasme Prita meledak dengan hebat, seketika celana dalamnyapun basah oleh cairan vaginanya yang mengalir deras.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita terkulai lemas setelah sensasi seksualnya memudar. Dia menangis sesenggukan, perasaanya campur aduk antara marah, malu dan terhina, tapi sekaligus juga merasakan kenikmatan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Kondisi itu membuat Prita tidak melawan saat Herman mengangkat wajah cantiknya dan melumat bibirnya yang mungil selama beberapa lama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Nah.. Bagaimana Sayang?" Herman membelai rambut Prita. "Enak kan..?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita memalingkan wajahnya dan menunduk. Herman tertawa pelan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Nggak usah pura-pura." Herman mengejek. "Sekarang kita lanjutkan tontonannya ya?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita menggeleng dengan wajah ketakutan. Tapi Herman memberi isyarat untuk diam dengan tatapan matanya yang bengis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Herman lalu memberi kode pada Gayong dan Eddy yang menunggu. Senyum liar mengembang dari wajah kedua pria kasar itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.. yes.." Gayong berseru. "Sekarang siap-siap ya Frid.." kata Gayong datar. Dengan gerakan terburu-buru, Gayong melepas seluruh pakaiannya sampai bugil. Sontak penisnya yang legam dan berurat tegak mencuat seolah mengancam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Sekarang Frid.." Gayong menarik lengan Frida dan memaksa presenter berwajah manis itu berlutut di hadapannya. Posisi wajah Frida tepat berhadapan dengan penis Gayong, seolah penis itu adalah sebuah mikropon yang disodorkan kepadanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Emut nih punya saya..!" kata Gayong datar, seperti menyuruh pembantu mengerjakan pekerjaan sederhana. Frida yang masih shock spontan melengos jijik. Kesadarannya menolak menolak melakukan hal yang baginya sangat menjijikkan itu. Suaminya sendiri sekalipun belum pernah memintanya melakukan hal semacam itu, apalagi yang memintanya sekarang adalah orang yang sama sekali tidak dia kehendaki.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ayo diemut!" perintah Gayong kasar saat melihat Frida diam saja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Jangan Pak.. saya nggak mau.." Frida menggeleng sampai air matanya bertetesan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Gayong dengan jengkel menjambak rambut Frida dan menyentaknya keras, membuat Frida mengernyit dan merintih kesakitan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Mau membantah ya?" Gayong memutar wajah Frida sampai menghadap ke arah Prita. "Kamu lihat tuh temanmu."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Frida menggeleng ketakutan, air matanya kian deras mengalir saat melihat keadaan Prita yang tidak kalah menyedihkannya. Terikat di kursi, setengah telanjang dan direndahkan sedemikian rupa. Masih sempat dilihat oleh Frida bagaimana Herman dengan gaya melecehkan meremasi payudara Prita yang telanjang. Frida merasa hidupnya sudah berakhir saat itu. Dia hanya bisa menggeleng dan menangis tersedu seolah tidak percaya pada apa yang terjadi padanya, seolah sedang berharap kalau kejadian mengerikan ini hanya mimpi buruk yang akan berlalu jika dia bangun. Tapi ketika menyadari ini bukan mimpi, Frida akhirnya hanya bisa pasrah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ayo, jangan malu-malu." kata Gayong sambil menyodorkan penisnya di depan wajah Frida. Frida menatap wajah Gayong dengan tatapan memohon, tapi Gayong terus memaksa Frida untuk mengulum penisnya. Akhirnya, dengan gemetar Frida melingkarkan jemari tangan kanannya yang lembut pada batang penis Gayong yang legam itu. Besarnya pas segenggaman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.. ohh.. ehh.." Gayong mengejang saat jari tangan lembut presenter cantik itu mencengkeram penisnya. Frida diam sesaat, telapak tangannya mulai berkeringat saat memegang penis yang menegang keras itu. Kemudian dengan pelan-pelan Frida mulai menggerakkan tangannya mengocok penis itu. Kocokan lembut itu segera membuat Gayong merintih-rintih dan mengejang merasakan kenikmatan kocokan lembut Frida. Frida memang tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, tapi nalurinya bekerja dengan baik untuk mengetahui apa yang harus dia lakukan. Maka saat Gayong menyuruhnya untuk mengulum penisnya, Frida melakukannya dengan patuh. Mula-mula Frida menjilati penis Gayong dengan lidahnya. Presenter cantik itu menelusuri setiap senti batang penis yang berurat itu dengan ujung lidahnya sambil tangannya terus mengocok penis itu dengan lembut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Gayong mengerang-erang merasakan sensasi permainan lidah Frida. Apalagi saat Frida mulai mulai menjilati dan mengulum kepala penisnya yang hitam itu. Frida memperlakukan penis Gayong bagaikan permen lolipop. Dikulum-kulum dan dijilatinya penis itu dengan bibir dan lidahnya. Kadang Frida memasukkan batang penis Gayong ke dalam mulutnya yang mungil sambil disedot-sedot dan dikenyot dengan lembut sebelum kemudian dikeluarkannya lagi untuk dijilati. Rasa jijik sudah meninggalkan wanita cantik itu, akal sehatnya seolah membeku, saat ini yang bekerja dalam diri Frida hanyalah naluri seksualnya yang kembali menguasai tubuhnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Eddy yang sedari tadi bengong akhirnya mulai melucuti pakaiannya sendiri sampai bugil. Lalu diapun ikut menyodorkan penisnya yang tidak kalah besarnya ke wajah Frida. Frida yang tahu maksudnya segera melingkarkan jemari tangan kirinya pada batang penis Eddy. Maka sekarang Frida makin sibuk mengocok kedua batang penis sekaligus sambil secara bergantian mulutnya mengulum kedua batang penis itu secara bergantian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita hanya bisa menangis menyaksikan adegan yang sangat merendahkan martabat wanita itu. Dia menolak menyaksikan bagaimana sahabatnya dihina dan direndahkan ke tingkat yang paling nista semacam itu, tapi Herman terus memaksanya menyaksikan hal tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Bagaimana Prit? Asyik kan?" Herman bertanya dengan tawa yang menyebalkan. "Kamu mau digituin?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita terperanjat mendengar hal itu. Dia menatap Herman dengan pandangan menolak sambil menggeleng ketakutan. Tapi Herman justru melepaskan celananya sekaligus, sampai penisnya yang memang sedari tadi tegang langsung mencuat keluar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Nih.. emutin punya saya.!" perintahnya pada Prita sambil menyodorkan penisnya ke wajah Prita. Prita menggeleng sambil menangis ketakutan, tapi Herman terus memaksa dengan ancaman akan menyiksa Frida kalau Prita menolak. Tak tahan mendengar ancaman Herman, Prita akhirnya menyerah. Prita mulai membuka mulutnya. Tak tertahan lagi, penis Herman mendesak masuk ke dalam mulut mungil Prita. Herman mengejang sesaat merasakan sensasi kuluman Prita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.. ohh.." Herman mengerang nikmat. "Hati-hati, jangan sampai tergigit."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita yang mulutnya penuh dijejali penis Herman hanya bisa melirik dengan berlinang air mata. Herman lalu menggerakkan pinggulnya maju mundur, membuat penisnya menyodok-nyodok rongga mulut Prita sampai mentok ke tenggorokannya. Sekuat tenaga Prita menahan keinginannya untuk muntah merasakan penis yang menjejali mulutnya. Sementara itu Herman makin gencar menggenjot penisnya, seolah sedang memperkosa mulut mungil presenter cantik itu. Kadang Herman memaksa Prita menggerakkan kepalanya membuat penis yang dikulumnya keluar masuk di dalam mulutnya. Sambil terus melakukan oral seks, Prita juga terus dipaksa untuk menyaksikan bagaimana Gayong dan Eddy mengerjai Frida.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Frida yang mulai terbiasa terlihat sudah mulai terhanyut dalam permainan seks yang dilakukannya. Frida tidak lagi terlihat canggung dalam mengulum maupun mengocok penis Gayong dan Eddy.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Tiba-tiba di tengah usahanya mengocok dua batang penis yang mengacung tegak itu, Gayong mencekal pergelangan tangan Frida membuat Frida menghentikan gerakan kocokannya. Frida kebingungan, dia menatap ke arah Gayong dan Eddy secara bergantian. Di tengah kebingungan Frida itulah Gayong mendekap tubuh telanjang Frida dan membaringkan tubuh putih mulus presenter cantik itu ke lantai papan yang dingin. Tahu akan mengalami hal mengerikan, Frida meronta mencoba membebaskan diri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Jangan Pak.. Jangan perkosa saya." Frida menangis, mencoba membebaskan dirinya dari dekapan Gayong dan berusaha merapatkan kedua pahanya. Tapi Gayong lebih sigap dan mendekap tubuh mulus yang meronta-ronta itu dengan erat, rontaan Frida jelas tidak ada artinya bagi Gayong.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Shh.. Jangan membantah Frid.." Gayong menekan tubuh Frida ke lantai dan menahannya tetap di lantai. "Kamu lihat itu.." Gayong menunjuk ke arah Prita yang sedang sibuk mengulum dan menjilati penis Herman. Frida benar-benar tidak berdaya melihat hal itu. Dia merasa dirinya benar-benar sepenuhnya dikuasai oleh keempat orang biadab itu. Nasibnya benar-benar tergantung pada mereka. Dalam keadaan putus asa Frida akhirnya memutuskan untuk pasrah, meski hati kecilnya menjerit, Frida tidak rela tubuhnya dijamah oleh pria yang tidak dia kehendaki.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Jangan Pak.. Jangan sakiti teman saya.." Frida menangis memohon. "Perkosa saya saja! Perkosa saya!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita yang masih sibuk melayani penis Herman tersentak kaget, nyaris dia menggigit penis yang dikulumnya. Tangisnyapun makin menjadi. Prita menggeleng ke arah Frida ketika pandangan mereka bertemu di tengah usahanya melakukan oral seks. Herman sontak tertawa penuh kemenangan mendengar ucapan Frida.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Kamu dengar.. Temanmu bersedia tuh dijadikan pelacur." Herman tertawa mengejek. Prita menangis dan memejamkan matanya tidak tahan melihat penderitaan sahabatnya. Tapi Herman tidak peduli dengan tangisan Prita. Dia justru makin buas memaksa wanita cantik itu mengulum penisnya. Bahkan kali ini Eddy yang semula mengerjai Frida sekarang bergabung dengan Herman. Eddy menyorongkan penisnya ke wajah Prita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Tuh. Gantian emut punya teman saya.." perintah Herman. Prita yang tidak punya pilihan, dengan keengganan luar biasa mulai menjamah dan mengulum penis Eddy yang tidak kalah ukurannya dibanding dengan penis Herman. Maka sekarang Prita terpaksa mengulum dua penis itu secara bergantian. Dan sambil mengulum kedua batang penis itu, Prita tetap dipaksa untuk melihat bagaimana Gayong yang tengah berusaha memperkosa Frida.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Gayong, yang telah menguasai Frida sepenuhnya, mulai menempatkan posisinya diantara tubuh Frida. Mula-mula Gayong membuka kedua tungkai Frida selebar-lebarnya dan menekuk kaki indah itu sedikit sampai posisinya mengangkang, membuat celah vagina Frida terkuak lebar. Gayong mengagumi keindahan belahan vagina Frida yang mulus sambil menempatkan diri diantara kedua belah paha presenter itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Pelan-pelan Gayong mulai menindih tubuh putih mulus yang telanjang itu. Gayong menggesekkan dadanya yang menekan payudara Frida, merasakan payudara Frida yang kenyal itu melawan dadanya dengan lembut. Gayong berdiam sejenak untuk merasakan kehangatan tubuh mulus Frida yang ada dalam tindihannya, membaui parfum mahal yang dipakai oleh presenter berwajah lembut itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Frida memalingkan wajahnya yang berlinang air mata. Ngeri, takut, malu dan terhina membuatnya tidak berani menatap Gayong, tapi Gayong segera membuat wajah manis Frida kembali berhadapan dengannya. Selama beberapa lama gayong mengagumi kecantikan dan kelembutan wajah itu, lalu pelan-pelan diciumnya bibir mungil Frida dengan lumatan ketat seolah ingin menyerap kenikmatan dari bibir presenter itu sebanyak mungkin. Selama beberapa puluh detik kedua bibir itu saling berpagutan dalam kuluman dan lumatan ketat. Dan sambil melumati bibir mungil Frida, Gayong mulai menggesekkan ujung penisnya pada kemaluan Frida. Lalu sedikit demi sedikit Gayong mendorongkan penisnya. Kepala penis itu pelan tapi pasti menerobos ke dalam liang vagina Frida.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohhkk.." Frida mengerang ketika penis Gayong membenam seluruhnya di dalam liang vaginanya. Erangannya teredam oleh ciuman Gayong.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.. ohh.."Gayong mengejang merasakan jepitan vagina Frida. Meskipun sudah bersuami dan memiliki anak, tapi vagina Frida yang terawat masih terasa sempit dan kesat, apalagi penis Gayong berukuran besar membuat Frida merasa vaginanya terasa penuh sesak dipaksa menerima penis Gayong. Frida merasa vaginanya terbelah, padahal vaginanya sudah basah oleh cairan kewanitaan. Rasa nyeri di vaginanya membuat Frida mengangkangkan kakinya lebih lebar lagi di bawah tindihan Gayong.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Gayong perlahan-lahan menggerakkan pantatnya menarik penisnya yang membenam di dalam liang vagina Frida. Rasanya seret sekali seolah vagina Frida mencengkeram penis Gayong dengan erat dan tidak mau melepaskannya. Lalu dengan sentakan kuat, Gayong mendorong penisnya kembali ke dalam liang vagina Frida. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ahkkh.. Ahh.." Frida mengerang kesakitan saat penis besar itu menyodok vaginanya dengan kasar. Tubuh telanjang Frida yang putih mulus menggeliat di bawah tindihan Gayong. Bagi Gayong hal itu makin menambah kenikmatannya. Gerakan tubuh Frida dan jepitan liang vaginanya adalah sebuah kenikmatan yang tiada taranya bagi Gayong. Setiap gesekan dinding vagina Frida di penisnya adalah sensasi luar biasa yang mampu melontarkan kesadarannya ke angkasa. Gayong sudah sering melakukan hubungan seks dengan berbagai tipe wanita, mulai dari wanita baik-baik sampai pelacur, tapi Gayong belum pernah merasakan seperti yang dirasakannya saat ini. Kenikmatan yang dirasakannya dari tubuh Frida jauh melebihi semua yang pernah dirasakannya dari para wanita yang pernah ditidurinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Gayong terdiam sesaat seolah sedang merasakan getaran yang muncul dari kemaluannya yang menyatu dengan kemaluan wanita cantik yang ada di dalam tindihannya. Gayong lalu menggerakkan pantatnya, menarik dan mendorong penisnya di dalam liang vagina Frida. Semula gerakannya pelan dan lembut, tapi pelan-pelan gerakan Gayong makin cepat dan makin kasar. Gayong merasakan gesekan penisnya pada vagina Frida makin lancar seiring dengan meningkatnya kecepatan genjotan yang dilakukannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Sentakan dan genjotan penis Gayong pada vagina Frida membuat presenter itu tak tahan untuk mengerang kesakitan. Vaginanya seolah tercabik karena dipaksa menerima penis Gayong yang besar dan kokoh. Tapi perlahan, rasa sakit itu mulai berubah menjadi sensasi yang membuat bulu kuduk Frida meremang. Gesekan penis Gayong pada dinding vaginanya membuat Frida merasakan sebuah sensasi luar biasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, bahkan suaminya sendiri tidak pernah memberikan sensasi seperti yang saat ini dia rasakan. Akhirnya, tanpa disadari, desahan dan erangan yang keluar dari bibir Frida mulai berubah menjadi desahan dan rintihan manja dan mendayu, iramanyapun menjadi teratur seirama dengan genjotan penis Gayong yang menghentak vaginanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Menit demi menit berlalu, genjotan Gayong pada vagina Frida makin terasa lancar. Frida sendiri merasakan sensasi persetubuhannya berubah menjadi kenikmatan yang memabukkan. Tidak tampak lagi hal yang menunjukkan kalau presenter cantik itu sedang diperkosa, yang terlihat sekarang adalah sepasang anak manusia yang tengah melakukan hubungan seksual dengan penuh gairah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Kamu lihat itu Prit?" kata Herman mengejek sambil menjejalkan penisnya ke mulut Prita. "Temanmu kayaknya keenakan."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Ucapan Herman membuat Prita makin bercucuran air mata. Dia tidak habis mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi. Yang dilihatnya sekarang tidak ada lagi perlawanan yang dilakukan Frida, malah yang ada justru Frida terlihat sangat menikmati persetubuhannya dengan pria kasar itu. Semangat hidup dan keberanian Prita menguap entah kemana menyaksikan bagaimana Frida bisa dipaksa menikmati perkosaan yang dialaminya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Frida makin tak tahan merasakan kenikmatan persetubuhan yang dialaminya. Tubuhnya menggeliat-geliat di bawah tindihan Gayong, tangannya mencengkeram bahu Gayong yang kokoh. Tanpa bisa dicegah, Frida membenamkan kuku jari tangannya ke kulit bahu dan punggung Gayong sehingga meninggalkan luka goresan memanjang berdarah pada kulit punggung itu. Tapi gayong tidak merasakannya, sensasi seksual yang dirasakannya membuat rasa sakitnya seperti terlupakan. Yang ada justru Gayong merasakan sensasinya menambah semangatnya untuk menggenjot vagina Frida lebih kuat lagi. Tubuh Frida sampai tersentak-sentak liar setiap kali vaginanya disodok dengan keras.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohkk.. ohhk.. ahkh.. ahhggh.." Frida mengerang-erang kesakitan sekaligus nikmat merasakan genjotan penis Gayong. Sensasi seks yang melandanya kian menggebu bagaikan ribuan banteng mengamuk yang berusaha mendobrak pertahanan terakhirnya. Tapi meskipun sekuat tenaga Frida menahannya, pertahanannya akhirnya jebol juga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"AHHKH.. OHGGHH..!!" Frida mendesah keras. Tubuhnya melengkung dan mengejang dan menggelepar-gelepar, dinding vaginanya berkontraksi luar biasa hebat seolah ingin menghancurkan penis yang bergerak di dalamnya. Benteng orgasmenya akhirnya jebol, orgasme Frida meledak luar biasa seolah ada dentuman bom yang meledakkan tubuhnya dari dalam dan menghancurkan setiap ujung syarafnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Gayong merasa penisnya dijepit oleh tangan yang sangat kuat. Penisnya berdenyut keras seiring kontraksi dinding vagina Frida. Tak tahan menahan remasan vagina Frida, Gayong melenguh keras dan mengejang. Dengan kasar dia melesakkan penisnya sedalam vagina Frida mampu menerima dan menahannya kuat-kuat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"OHKK..HH.." Gayong mengejang. "Crt.. crt.. crt.." sperma Gayong menyembur deras mengisi rahim Frida, rahim yang seharusnya terlarang baginya. Gayong mengejang dan mendengus-dengus merasakan ejakulasinya yang begitu hebat. Sperma Gayong menyembur begitu banyak memenuhi vagina Frida, saking banyaknya sampai sebagian spermanya meluber keluar membasahi selangkangan Frida.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Nyaris pada saat yang bersamaan, Herman dan Eddy yang tengah menggarap Prita juga tengah mengejang-ngejang merasakan kenikmatan kuluman dan kocokan Prita. Ketika hendak mencapai klimaksnya, Herman menjambak rambut Prita dan mengocok penisnya sendiri di depan wajah Prita. Eddypun melakukan hal yang sama. Prita yang tahu apa yang akan terjadi mencoba memalingkan wajahnya, tapi jambakan Herman terlalu kuat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.. Ohh.." Herman dan Eddy mengerang keras dan mengarahkan penisnya tepat pada wajah Prita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Crt.. crt.. crt.." sperma Herman dan Eddy menyembur deras menyemprot wajah imut Prita membuat presenter itu gelagapan. Sebagian cairan sperma itu mengalir ke bibir Prita. Prita terpaksa menelan sperma menjijikkan itu. Sementara itu Herman dan Eddy terus menyemprotkan sperma mereka, tidak hanya di wajah, tapi juga di bagian tubuh Prita yang lain, terutama pada payudara Prita yang montok dan kenyal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ahh..." Herman dan Eddy melenguh penuh kepuasan merasakan ejakulasi yang begitu hebat. Keduanya sampai terpuruk lemas di lantai, membiarkan Prita yang sekujur wajah dan payudaranya berlumuran sperma. Cairan putih kental dan menjijikkan itu menetes-netes di dada Prita. Prita yang seumur hidupnya belum pernah mencium bau sperma, merasakan lengketnya cairan sperma, apalagi menelan sperma, langsung muntah-muntah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Di depannya, Gayong yang menggumuli tubuh telanjang Frida masih tampak mengejang-ngejang merasakan kenikmatan ejakulasi yang dialaminya. Gayong mendengus-dengus seperti seekor kerbau terluka, menekan penisnya sedalam mungkin di liang vagina Frida, menuntaskan semburan spermanya mengisi rahim wanita yang sedang diperkosanya. Selama beberapa menit Gayong terus menekan penisnya di dalam vagina Frida, ingin merasakan kehangatan tubuh mulus sang presenter sebanyak yang dia bisa sembari menghujani bibir mungil Frida yang merintih-rintih.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ahh.." Gayong menegakkan badan diiringi lenguhan puas. Selama beberapa saat dipandanginya tubuh telanjang Frida yang terlentang lemas. Dari vagina Frida terlihat ceceran sperma Gayong yang meluber tak tertampung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Ohh.. Tempik cewek kota emang mantap.." kata Gayong yang menggelosor di lantai, kelelahan, tapi sangat puas bisa menikmati kemulusan tubuh Frida. Meski sudah tidak perawan, tapi kenikmatan bersenggama dengan wanita seperti Frida Lidwina tentu sangat jauh bedanya jika dibandingkan dengan semua wanita yang pernah ditidurinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Sementara itu, Frida yang kesadarannya mulai pulih, meledak tangisnya. Dia merasa dirinya telah hancur, kotor dan tercemar. Kehormatannya yang dia jaga telah tercabik secara paksa oleh pria yang tidak dia kehendaki. Frida makin terasa hancur setelah ingat kalau hari ini adalah masa suburnya, yang itu berarti dirinya kemungkinan besar akan hamil akibat perkosaan yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div id="post_message_1630697285"&gt;        &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Sementara itu, Sam yang dari tadi tidak kebagian apa-apa karena bertugas merekam perkosaan yang dilakukan Gayong terhadap Frida, meminta bagiannya. Dia bertukar tugas dengan Eddy. Dia sendiri, karena sudah terangsang berat, segera melucuti pakaiannya dan tanpa malu-malu bertelanjang bulat di depan banyak orang. Kemudian Sam mendekati Frida yang masih terbaring lemas di lantai.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Sekarang sama saya ya Frid.." kata Sam dengan cengar-cengir mesumnya. Frida hanya bisa menggeleng menolak keinginan Sam, tatapan mata Frida meredup dan pasrah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Jangan Pak.. jangan.. saya nggak kuat.." Frida merintih lemah, tapi rintihan Frida jelas tidak akan mungkin menghentikan Sam yang sudah terangsanp berat. Ditelungkupkannya tubuh telanjang Frida yang putih mulus itu kemudian dipaksanya reporter cantik itu untuk menungging dengan bertumpu pada lutut dan sikunya. Posisi itu membuat pantat Frida berada lebih tinggi dari kepala wanita itu. Sam meneguk ludah melihat pantat Frida yang mulus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.. ini baru namanya pantat." Sam mengelus-elus dan meremasi pantat Frida yang padat dan mulus. Pantat presenter itu tentu sangat berbeda dengan pantat pelacur yang sering dipakainya. Sam dengan gemas meremas-remas pantat yang kenyal dan padat itu. Sam bahkan menampar-nampar pantat yang membulat itu dengan keras, membuat Frida menjerit lemah tiap kali pantatnya ditampar. Bilur-bilur kemerahan mulai menjiplak pada pantat putih mulus Frida.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.. memang montok banget nih pantat." kata Sam sambil terus meremasi pantat Frida. Kemudian Sam merenggangkan kedua paha Frida, membuat vagina wanita itu kembali membuka. Sisa-sisa sperma Gayong masih menetes-netes keluar membasahi paha Frida.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;"Saya jadi pingin ngerasain tempik cewek kota nih.." ujar Sam dengan terengah menahan nafsunya yang kian menggebu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Jangan Pak.. jangan.." Frida menoleh ke belakang dan menggeleng saat merasakan benda tumpul menggesek-gesek bibir vaginanya. Tapi Sam tidak tahan lagi, dia segera mendorong pantatnya maju sambil menarik pantat Frida ke arahnya, membuat penisnya yang sudah tegang berkedut-kedut langsung melesak ke dalam liang vagina Frida dengan lancar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohhkk.. hh.." Frida merintih lirih merasakan vaginanya dijejali penis Sam yang berukuran besar. Air mata Frida kembali mengalir membasahi pipinya merasakan pedih pada selangkangannya, meskipun kali ini tidak sepedih seperti saat Gayong memperkosanya karena vaginanya telah licin oleh sperma Gayong dan cairan vaginanya sendiri. Sakit yang dirasakan Frida saat ini adalah sakit secara psikis karena dihina dan direndahkan sedemikian rupa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.." Sam melenguh keras merasakan kenikmatan cengkeraman vagina Frida. Penisnya berkedut-kedut merasakan denyutan dinding vagina Frida yang berkontraksi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Pelan-pelan Sam menggerakkan pantatnya maju mundur membuat penisnya menyodok-nyodok vagina Frida, membuat wanita berambut pendek itu mendesah dan mengerang antara sakit dan nikmat. Bagi Sam, rintihan yang keluar dari bibir mungil Frida merupakan daya rangsang tersendiri bagi birahinya yang kian memuncak. Genjotan penisnya makin lama makin cepat dan makin kuat bahkan cenderung brutal membuat tubuh Frida tersentak maju mundur tiap kali penis Sam menyodok vaginanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Frida sendiri, yang telah mengalami orgasme, tidak lagi melakukan perlawanan birahinya yang ingin dipuaskan. Tubuhnya yang telah dikuasai gejolak seksual saat ini hanya ingin menikmati persetubuhan yang sedang dilakukannya. Meskipun pada awalnya terpaksa, tapi setelah beberapa saat, jelas terlihat kalau Frida sangat menikmati persetubuhan itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.. ohh.. ahh.. ahh.." desahan-desahan manja meluncur dari bibir Frida seirama dengan genjotan penis Sam pada vaginanya. Wajah Frida yang putih tampak memerah merasakan dorongan birahinya yang kian meluap. Vaginanya kian banjir oleh cairan vagina yang membuat genjotan penis Sam jadi makin lancar memompa vagina Frida, membuat presenter itu kian melenguh-lenguh liar. Tubuhnya gemetar hebat merasakan setiap genjotan penis Sam. Frida sudah sepenuhnya dikuasai oleh dorongan birahi yang begitu hebat. Begitu hebatnya dorongan birahi Frida, terbukti tiap kali Sam menghentikan sodokan penisnya, secara tak sadar Frida menggoyangkan pantatnya sendiri, membuat penis Sam tetap memompa vaginanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Herman dan Eddy tertawa menghina melihat bagaimana Frida yang terangsang berat menggoyangkan pantatnya sendiri untuk membuat vaginanya terus disodok oleh penis Sam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Lihat tuh Prit.." Herman memaksa Prita melihat adegan tersebut. "Temanmu semangat banget tuh."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita hanya bisa memejamkan mata sambil menangis. Prita tidak tahan menyaksikan penderitaan sahabatnya yang menggeliat geliat menahan sakit sekaligus merasakan kenikmatan persetubuhan itu. Sementara Frida yang sudah terhanyut oleh permainan Sam, akhirnya berkelojotan, pantatnya yang menungging menghentak-hentak dan bergoyang liar membuat penis Sam menyodok vaginanya dengan keras. Sam mengimbangi keganasan gerakan Frida dengan menggenjotkan penisnya sekuat-kuatnya. Begitu kuatnya sampai suara gesekan organ genital mereka yang bersatu terdengar berdecak-decak diiringi dengan desah dan erangan mereka. Frida akhirnya tidak tahan lagi, wajahnya menegang dan merah padam seolah mau meledak. Sekuat tenaga Frida menahan dorongan klimaks yang menghantam sekujur syarafnya, dia menggigit bibirnya mencoba bertahan tapi dorongan orgasmenya terlalu kuat untuk ditahan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"AHHHKKH.. OHHH..!!" Frida melolong keras bagai srigala lapar. Tubuhnya melengkung ke atas. Wajahnya kian menegang. Tubuh telanjang Frida menggelepar liar sementara dinding vaginanya berkontraksi hebat meremas penis Sam. Sam merasakan penisnya berkedut-kedut tegang akibat kontraksi dinding vagina Frida yang meremas batang penisnya. Sam lalu menekan penisnya di vagina Frida sampai mentok dan menahannya kuat-kuat. Sam merasakan penisnya berdenyut keras.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"AHHKK.. OHH..!" Sam melenguh keras, spermanya menyembur deras di dalam vagina Frida, mengisi rahim wanita cantik itu dengan benih terlarang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Frida yang meski merasakan kenikmatan orgasme, tidak bisa mencegah tangisnya, meratapi nasib buruk yang menimpanya, tidak hanya satu, tapi ada dua pria yang menggagahinya, mengisi rahimnya dengan benih terlarang, yang mungkin akan ada lagi pria yang akan menggagahinya. Frida tidak tahu apa yang harus dilakukannya jika kelak dia benar-benar hamil akibat perkosaan yang dialaminya. Di pihak lain, Sam justru merasa senang bukan main. Di dalam hatinya, Sam bahkan benar-benar berharap agar bisa menghamili Frida. Alangkah bangganya Sam jika dia bisa menghamili Frida, itu berarti dia akan memperoleh keturunan dari seorang wanita yang tidak saja cantik dan terhormat, tapi juga cerdas dan terpelajar. Karena itu dia terus menunggingkan pantat Frida, memaksa rahim wanita cantik itu terisi dengan spermanya sebanyak mungkin sambil berharap benih yang ditanamkan di rahim Frida bisa berkembang. Setelah selesai melampiaskan nafsu bejatnya, Sam meninggalkan Frida tergolek tak berdaya di lantai. Tubuh putih mulus yang telanjang itu gemetar menahan sakit yang menderanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Selama beberapa menit, sebuah kesunyian yang aneh seperti memenuhi ruangan. Nyaris tidak ada suara sedikitpun, kecuali hanya isakan tangis Frida dan Prita. Bahkan anginpun seolah berhenti bertiup. Kesunyian yang ada terasa begitu mencekam, sepertinya alam sedang meratapi nasib tragis kedua reporter cantik itu. Kesunyian itu baru terpecahkan saat Herman memerintahkan Gayong dan Eddy untuk melepaskan tali-tali yang mengikat tangan dan kaki Prita. Keduanya memotong tali-tali itu lalu menarik Prita berdiri kemudian mendorong presenter itu sampai tersungkur ke lantai. Prita mencoba berdiri meski dengan kaki gemetar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Uh.. Kamu jorok banget." kata Herman saat melihat wajah dan tubuh setengah telanjang Prita yang masih berlumuran cairan sperma kental. Herman memberi kode pada Gayong yang langsung mengambil seember air dan menyiramkannya ke tubuh mulus Prita. Guyuran air itu membuat Prita gelagapan, tapi sekaligus juga menyapu sperma yang melumuri wajah dan tubuhnya. Basahnya tubuh Prita juga membuat gadis itu terlihat makin cantik dan segar, apalagi ditambah celana dalamnya yang ikut basah semakin transparan membuat belahan vagina Prita menjiplak sangat jelas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Oohh.. montoknya.." kata Herman. Lalu dengan gemas dia menarik BH dan celana dalam Prita sampai robek kemudian melemparkan pakaian terakhir Prita itu jauh-jauh. Sekarang presenter cantik itu telah sempurna telanjang bulat, tubuh putih mulus itu sekarang sudah siap untuk dinikmati. Eddy yang memegang kamera dengan gesit segera menyorot tubuh telanjang itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Tunggu dulu.." Herman mencegah teman-temannya. "Biar dia baca dulu yang ini." Herman menyodorkan kertas yang tadi diberikan pada Frida. Tangan Prita gemetar menerima kertas itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Sekarang baca yang keras!" perintah Herman pada Prita. Prita menggeleng ketakutan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Jangan membantah." Herman membentak, dia menunjuk ke arah Frida yang terkapar tak berdaya di lantai. Prita melihat sahabatnya dengan sedih, tangisnya makin keras. Keadaannya sekarang bertukar dengan Frida. Sungguh sebuah kengerian luar biasa sedang menunggu di depannya. Tapi Prita tidak punya pilihan lain. Maka dengan terpaksa, Prita mulai membaca tulisan di tangannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Saya Prita Laura dari MetroTV menyatakan, apa yang saya lakukan ini adalah kemauan saya sendiri, tanpa paksaan dari siapapun." Prita membaca dengan lancar, tapi datar tanpa ekspresi. Eddy menyorotnya dengan kamera. Lalu semuanya diam, meninggalkan sebuah keheningan Selama beberapa saat. Dalam keheningan itu mereka menatap dan menikmati kemolekan dan kemulusan tubuh bugil Prita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.. muluss.." mereka berdecak kagum menatap keindahan tubuh Prita. Prita memalingkan wajahnya, tangisnya makin keras.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Tanpa diduga, Herman tiba-tiba memeluk tubuh telanjang Prita dengan dekapan erat, lalu dia menghujani bibir mungil gadis itu dengan ciuman dan lumatan ganas. Prita berusaha meronta melepaskan diri, tapi tentu saja tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan dekapan Herman. Desakan bibir Herman membuat Prita megap-megap, bibirnya yang mungil menggemaskan terus menerus dilumat dan diciumi oleh Herman, kedua bibir yang sangat bertolak belakang itu terus menyatu dalam lumatan ganas selama beberapa menit, sementara tangan Herman yang kasar sibuk menggerayangi dan mengelus-elus punggung telanjang Prita yang mulus. Tidak sesentipun punggung putih presenter itu lepas dari rabaan tangan Herman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Ciuman dan kecupan Herman kemudian berpindah ke leher Prita. Dalam sekejap saja jejak-jejak merah mulai menjiplak pada leher bening itu. Ciuman Herman kian liar dan akhirnya menyerbu payudara Prita yang menggantung indah. Payudara yang mulus dan kenyal itu dilumatnya dan dijilatinya dengan rakus, sementara tangan Herman mencaplok payudara Prita yang masih bebas, dan dengan kekuatan tangan seperti seorang pegulat, Herman meremasi payudara gadis itu dengan penuh nafsu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ahhs.. ehkh.. ehhss.." Prita mendesis-desis merasakan jilatan lidah Herman pada puting payudaranya. Mau tidak mau jilatan pada daerah sensitif itu membuat tubuh Prita bereaksi. Di luar kemauannya, tubuhnya memberi respon pada rangsangan yang diberikan oleh Herman, apalagi tubuh Prita pernah mengalami orgasme sebelumnya, membuat rangsangan Herman cepat membangkitkan gairah seksual Prita. Karena itu, secara naluriah Prita merespon dengan menjambak rambut Herman dengan desahan penuh nafsu, bukan untuk menolak perlakuan Herman, tapi justru untuk meminta lebih. Hal itu membuat cumbuan Herman pada payudara Prita makin ganas. Herman bahkan mencaplok payudara mulus itu dengan rakus dan mengenyotnya kuat-kuat. Saking gemasnya, Herman mencengkeram payudara gadis itu dan meremasnya kuat-kuat, membuat Prita menjengit dan merintih kesakitan tapi sekaligus nikmat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Kenyotan dan remasan Herman pada payudara Prita berlangsung selama beberapa menit sebelum mengalihkan serangannya ke bagian perut Prita yang licin dan rata. Jilatan lidah Herman menyapu hampir seluruh bagian perut yang putih ramping itu, dan kemudian meluncur ke bawah mengarah ke selangkangan presenter cantik itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.. ohh.. ahss.." Prita mendesah saat Herman memaksa dia membuka paha lebar-lebar lalu menelusuri daerah kemaluannya yang ditumbuhi rambut halus dengan lidahnya. Sesekali Herman juga menggunakan jarinya untuk mengaduk-aduk vagina yang masih perawan itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.. aahh.. ahh.." desahan Prita makin tak terkendali saat Herman menyentuh klitorisnya yang sangat peka rangsangan. Setiap sentuhan Herman pada titik sensitif itu membuat tubuh Prita menggeliat menahan kenikmatan yang menggila. Prita akhirnya tidak tahan lagi. Tubuhnya yang putih mulus itu mengejang diiringi sebuah erangan panjang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"OHHKH.. AHHKK.. AAHH..!" Prita mengepalkan tangannya, tubuhnya menegang seolah sedang berusaha mengeluarkan sesuatu yang sangat besar dari tubuhnya. Seketika cairan vaginanya mengucur lagi membasahi selangkangannya. Tanpa jijik sedikitpun Herman menjilati cairan vagina Prita, sebab berdasarkan kepercayaan salah satu suku pedalaman, kalau dia bisa menghisap cairan cinta seorang perawan maka perawan itu akan mematuhi segala perintahnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita terengah-engah merasakan ledakan orgasmenya. Orgasmenya yang kedua jauh lebih hebat dari yang pertama, dan membuat tubuh Prita terasa lemas. Kakinya gemetar tidak kuat lagi berdiri. Prita langsung terpuruk tak berdaya di lantai. Tubuhnya yang telanjang bulat dan basah oleh air dan keringat terlihat sangat menggiurkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Mengetahui kondisi Prita yang masih terpengaruh oleh orgasme, Herman segera melepas sisa pakaiannya sampai bugil. Tubuh Herman terlihat kokoh dan kekar. Tato khas suku pedalaman menghiasi tubuhnya, sebuah bekas luka memanjang membelah dadanya membentuk garis diagonal. Kemudian Herman membaringkan tubuh telanjang Prita sampai terlentang dan membuka kaki gadis itu membuat vaginanya terkuak. Lalu tanpa memberi jeda, Herman segera menindih tubuh putih mulus itu. Prita merasakan himpitan tubuh Herman menekan tubuhnya dengan kasar membuatnya sesak nafas. Tapi Herman tidak memberi peluang sedikitpun pada Prita untuk bergerak. Herman segera memeluk tubuh mulus itu dengan erat dan menggumulinya dengan penuh nafsu sambil bibirnya melumat-lumat bibir Prita dan daerah sekitar leher dan bahu gadis itu. Sementara itu pantat Herman bergerak liar mencari-cari posisi liang vagina Prita, dan ketika penisnya yang kokoh telah menemukan sasarannya, Herman segera mendorongkan pantatnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ahhkkh..!" Prita mengerang kesakitan saat penis Herman melesak masuk ke liang vaginanya yang masih perawan. Prita merasa vaginanya dirobek secara paksa, rasanya pedih dan nyeri luar biasa, Prita sampai mengepalkan tangannya menahan rasa sakit yang mendera daerah selangkangannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.." Herman melenguh nikmat merasakan penisnya membenam di kemaluan Prita. Ditatapnya wajah gadis cantik yang sedang dia perkosa itu selama beberapa saat, seolah sedang menikmati ekspresi Prita yang sangat memelaskan. Herman lalu menggerakkan pantatnya untuk menggenjot vagina gadis itu. Semula sulit sekali, meskipun vagina Prita sudah basah oleh cairan kewanitaan, tapi vagina itu terlalu sempit bagi penisnya yang besar, ditambah cengkeraman vagina gadis itu seolah tidak mau melepaskan penisnya. Prita langsung mengerang kesakitan tiap kali Herman menggerakkan penisnya mengaduk vagina presenter itu. Perlu usaha keras bagi Herman untuk menggenjot vagina Prita, dan itu berarti Prita harus merasakan nyeri luar biasa pada kemaluannya. Tapi setelah beberapa saat, gesekan kemaluan mereka yang menyatu menjadi lancar. Vagina Prita mulai menyesuaikan diri menerima sodokan penis Herman. Herman pelan-pelan makin meningkatkan kecepatan genjotannya, membuat tubuh Prita yang mungil tersentak-sentak. Seiring dengan itu, rintihan Prita makin berkurang dan berganti menjadi desah nikmat. Rupanya sensasi orgasme Prita masih mempengaruhi tubuh gadis itu, apalagi Herman memang pintar membangkitkan libido perempuan. Maka yang terlihat kemudian bukan lagi seorang wanita yang sedang diperkosa, melainkan seorang wanita yang tengah berusaha memuaskan pasangannya dalam sebuah persetubuhan yang panas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Tidak puas dengan posisi yang monoton, Herman lalu mengangkat kedua paha Prita dan memposisikan paha yang mulus itu sampai mengangkang lebar mirip posisi kaki katak, membuat vagina gadis itu membuka lebar. Sambil menahan kaki Prita dengan kedua tangannya, Herman kembali menggagahi gadis itu. Posisi seperti itu membuat penis Herman lebih leluasa menyodok vagina Prita. Prita mendesah-desah merasakan setiap sodokan penis Herman. Prita hanya menuruti keinginan tubuhnya. Disamping tidak punya daya untuk melawan, diam-diam Prita juga menikmati persetubuhan yang baru kali pertama dirasakannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Sambil terus menggenjot vagina Prita, tangan Herman juga bergerilya dengan merabai dan meremas-remas payudara presenter itu. Herman juga mempermainkan puting payudara gadis itu dengan jarinya, kadang puting yang merah segar itu dia pilin dengan lembut, kadang ditarik-tarik bahkan dicubiti. Hal itu membuat Prita mengerang dan mendesah antara sakit dan nikmat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Genjotan penis Herman ditambah remasan pada payudaranya membuat Prita tidak tahan lagi. Desakan orgasmenya mendesak-desak ingin keluar membuat tubuhnya yang mulus menggelepar-gelepar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohkkhh.. aahh.."  Prita melolong keras merasakan gempuran orgasmenya. Teman-teman Herman yang melihatnya tertawa menghina.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Dasar pelacur. Nolak-nolak tapi konak juga." terdengar hinaan dari mereka yang membuat Prita merasa malu. Tapi Prita tidak bisa memungkiri, orgasmenya memang sangat kuat. Cairan vaginanya kembali membludak, kali ini berwarna kemerahan bercampur dengan darah keperawanannya. Tapi meskipun Prita sudah mengalami klimaks, Herman belum juga terpuaskan. Kali ini Herman memiringkan tubuh Prita, lalu Herman mengangkat sebelah kaki Prita dan menyampirkan kaki itu ke pundaknya. Sambil memegangi kaki mulus itu, Herman kembali menggenjot vagina Prita sampai tubuh mulus gadis itu tersentak-sentak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.. ahh.. ohh.. am.. puun.. ahh.. sudahh.. ohh.. sudahh.." Prita merintih-rintih memohon agar Herman menghentikan perkosaan terhadap dirinya. Deraan rasa sakit yang bercampur nikmat itu benar-benar membuat Prita kepayahan. Wajahnya merah padam menahan kenikmatan yang menggebu.Dan terlihat sangat memelaskan. Tapi Herman justru tertawa menghina.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ah, diam! Dasar pelacur!" Herman memaki sambil menggenjot vagina Prita lebih kasar dan lebih brutal dari sebelumnya. Tubuh Prita tersentak-sentak liar seirama dengan genjotan Herman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Berpuluh menit lamanya Herman memperkosa Prita sampai gadis cantik itu tak kuat lagi merintih. Sedikitnya sudah lima kali Prita mengalami orgasme akibat perkosaan itu. Tapi entah jamu apa yang diminum Herman, pria itu mampu bertahan begitu lama. Tubuh mulus Prita lebih mirip boneka kain yang tak mampu bergerak kecuali hanya menggeliat lemah merasakan sakit pada vaginanya. Baru setelah Prita mengalami orgasme keenam kalinya, Herman mulai tak tahan. Tubuh Herman mulai mengejang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohh.. aahh.. ahh.." Herman mengerang. Dia membenamkan penisnya sedalam-dalamnya saat vagina Prita berkontraksi keras meremas penisnya, lalu diiringi lenguhan keras, Herman menyemburkan spermanya mengisi rahim presenter cantik yang sedang dia perkosa itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ahhggh.." Herman mengejang merasakan sensasi ejakulasinya yang amat hebat. Selama beberapa menit Herman mendiamkan penisnya di dalam vagina Prita dengan harapan agar benihnya bisa sepenuhnya terserap di dalam rahim gadis itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Tubuh telanjang Prita langsung terkulai lemas di lantai. Dia hanya bisa menangis tersedu-sedu. Tubuhnya terasa sakit seperti baru saja diinjak-injak rombongan banteng mengamuk. Prita merasa sangat kotor dan hina. Benih terlarang Herman telah mencemari kesucian rahimnya yang dia jaga selama ini, apalagi mengingat kalau dirinya akan hamil akibat diperkosa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Hanya sesaat Prita lepas dari penderitaan. Eddy yang tadi merekam adegan perkosaan Prita berganti tugas dengan Gayong.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Sekarang bagian saya." Eddy mendorong Prita sampai terlentang. Prita terpekik ketakutan dan berusaha menghindar, tapi Eddy segera menarik kedua kaki Prita dan membuka paha mulus itu lebar-lebar. Eddy meneguk ludah memandang kemulusan tubuh Prita yang telanjang bulat, terutama saat melihat vagina Prita yang berlumuran sperma dan darah keperawanan. Lalu dengan buas Eddy menerkam tubuh mulus itu dan menggelutinya dengan kasar. Prita hanya bisa meronta lemah di bawah tindihan Eddy, tubuhnya terlalu payah untuk melawan, karena itulah saat ciuman dan jilatan Eddy mendarat di bibir dan sekitar lehernya, gadis itu hanya bisa pasrah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Selama beberapa menit Eddy memuaskan keinginannya menikmati bibir Prita yang menggemaskan. Kecupan-kecupan ringan disusul oleh lumatan ganas menghujani bibir mungil itu. Pada saat yang bersamaan Eddy juga mengarahkan penisnya ke vagina Prita. Digesekkannya ujung penisnya pada bibir vagina gadis itu sambil didorongnya maju. Pelan tapi pasti penis Eddy mulai menembus liang vagina Prita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ehhkh.." tubuh telanjang Prita mengejang merasakan penis Eddy memenuhi vaginanya, kembali rasa nyeri menyebar dari selangkangan Prita membuat gadis itu menggeliat di bawah tindihan Eddy.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Oghh.. ohh.." Eddy mengerang merasakan kenikmatan yang mengaliri tubuhnya saat dinding vagina Prita menekan penisnya. Eddy merasakan dinding vagina presenter cantik itu berdenyut keras seolah-olah membetot penisnya kuat-kuat. Eddy sampai melenguh-lenguh merasakan sensasi itu. Selama hampir satu menit Eddy mendiamkan penisnya membenam di dalam vagina Prita, seolah ingin memberi kesempatan pada gadis itu untuk ikut menikmatinya juga. Jeda yang cukup lama itu digunakan oleh Gayong untuk merekam ekspresi Prita yang memelas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ohhkk.. ahh.." Prita merintih saat Eddy mulai mendesakkan penisnya maju mundur. Vaginanya seperti diaduk-aduk oleh sebatang besi membara. Prita merasa penis itu melebar menekan dinding vaginanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ehhkkhh.." Prita kembali menjerit lirih saat Eddy menekan penisnya lebih dalam. Seketika rasa pedih menyebar dari selangkangannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Kemudian proses yang sama terulang lagi dan lagi dengan kecepatan sodokan penis Eddy yang kian meningkat. Eddy merasakan gesekan penisnya pada dinding vagina Prita makin lancar, karena itu dia makin bersemangat menggagahi gadis cantik itu. Terus menerus selama beberapa menit Eddy menggenjot vagina Prita. Setiap sodokan penis Eddy membuat Prita merintih lirih, rupanya gadis cantik itu terlalu lemah untuk melakukan perlawanan. Tubuhnya yang putih mulus hanya bisa tersentak-sentak mengikuti gerakan pria yang sedang memperkosanya. Eddy makin gemas melihat wajah cantik yang terlihat memelaskan itu. Kegemasannya dilampiaskan dengan menggenjot vagina Prita sekuat-kuatnya sambil bibirnya sibuk melumati bibir mungil presenter itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Hampir sepuluh menit lamanya Eddy menggeluti tubuh telanjang Prita yang putih mulus sampai akhirnya Eddy memaksa Prita untuk menungging. Dengan doggy style membuat Eddy jadi lebih leluasa menggagahi presenter itu. Sambil memegangi pantat Prita yang mulus, Eddy menyodokkan penisnya kuat-kuat ke vagina Prita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ahh.. aahh. oohh.." Prita merintih, antara sakit dan nikmat. Tubuhnya yang mulus tersentak-sentak maju mundur mengikuti gerakan Eddy. Payudaranya yang menggantung bebas itupun bergoyang-goyang mengundang nafsu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita yang sudah kelelahan makin tidak berdaya diperkosa sedemikian kasar. Tubuh telanjangnya kini hanya bagaikan seonggok daging yang terlempar kesana kemari mengikuti gerakan pria yang memperkosanya. Rintihan-rintihannya telah banyak berkurang. Hanya wajahnya yang memelas bersimbah air mata yang menunjukkan betapa tersiksanya gadis itu. Tapi Eddy jelas tidak memedulikan bagaimana keadaan Prita. Yang diinginkannya hanyalah bagaimana bisa mereguk kenikmatan sebanyak-banyaknya dari tubuh gadis cantik itu. Eddy terus menggagahi presenter itu sekuat tenaga. Prita sampai meringis-ringis menahan penderitaan antara sakit dan nikmat yang melanda tubuhnya. Tapi seolah tahu keadaan Prita, Eddy selalu bisa menahan agar Prita tidak mencapai orgasmenya dengan cepat. Setiap kali Prita hampir mencapai klimaks, Eddy menahan gerakannya, membuat orgasme Prita tertunda. Hal itu terjadi berulang-ulang membuat Prita makin kepayahan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Eghh.. ahh.. Am.. punn.. oghh.. ahh.. Sudahh.. Tuannh.. sudaahh.." Prita mengerang-erang lemah memelaskan. Tapi erangan memelas dari gadis itu makin membuat Eddy kian ganas dalam memperkosa Prita. Tubuh telanjang gadis itu benar-benar tidak ubahnya sebuah boneka seks yang tersentak kesana-kemari tiap kali vaginanya digenjot. Hal itu terus berlanjut selama sepuluh menit sampai akhirnya Eddy yang tidak tahan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ahh.. oohh.." Eddy melenguh keras saat merasakan vagina Prita berkontraksi hebat seolah menyempit mencengkeram penisnya. Eddy merasa seluruh syaraf birahinya menegang membuat tubuhnya seolah menggelembung ke segala arah. Dilihatnyang wajah Prita merah padam menahan desakan orgasme. Tubuh telanjang Prita yang mulus menggeliat dan mengejang selama beberapa detik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ahhkkh.. oohh.. ohh.." Prita mengerang merasakan tubuhnya bereaksi. Syaraf seksualnya bergetar hebat, orgasme yang sedari tadi ingin dilepaskan kali ini meraung hebat seperti seekor hewan buas yang lepas dari kandangnya. Tubuh mulus gadis cantik itu menegang seperti patung perunggu di dalam dekapan Eddy.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"OHHH.. OHHH.." Prita melenguh merasakan orgasmenya yang tak terkendali. Vaginanya berdenyut keras mencengkeram penis yang menggenjotnya. Eddy melenguh-lenguh liar, tak tahan merasakan desakan ejakulasinya. Dihentakkannya penisnya kuat-kuat dan dibenamkannya dalam-dalam di liang vagina Prita. Diiringi lenguhan keras, sperma Eddy menyembur deras memenuhi vagina Prita, mengisi rahim gadis itu dengan benihnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ogghh.. ohh.." Eddy mengerang penuh kepuasan. Tubuh pria itu bergidik saat menuntaskan spermanya, mengisi rahim gadis itu dengan benihnya sebanyak yang dia bisa. Eddy merasa sangat puas, meskipun persetubuhan itu sangat melelahkan, tapi juga sangat memuaskan. Dalam hidupnya, inilah persetubuhan paling hebat yang pernah dialaminya. Setelah puas, Eddy membiarkan tubuh telanjang presenter cantik itu tergeletak tak berdaya di lantai.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita memejamkan matanya dan menangis tersedu-sedu. Tubuhnya terguncang lemah mengikuti tangisannya. Prita merasa terguncang luar biasa. Tubuhnya seperti ditimbuni oleh tumpukan sampah, Prita merasa sangat kotor, tercemar dan tak berharga. Kehormatannya seperti terhempas ke titik yang paling rendah. Harga dirinya sebagai wanita terhormat dan terpelajar tercabik-cabik. Prita bahkan merasa dirinya lebih hina dari pelacur paling hina sekalipun. Tapi apa dayanya. Dirinya amat jauh dari pertolongan. Frida sahabatnya bahkan mengalami hal yang lebih buruk darinya. Dia juga jauh dari mana-mana. Prita bahkan tidak tahu di mana dirinya berada saat ini, seolah-olah dirinya telah terhapus dari muka bumi. Dia ingat salah satu kru Trans 7 yang sampai sekarang tidak ketahuan jejaknya. Prita menggeleng ngeri membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Di tengah segala kegalauannya, didengarnya Herman berkata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Ikat mereka..!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita terkesiap pucat, tapi tidak sempat bereaksi, Sam, Eddy dan Gayong yang sudah berpakaian langsung menyergapnya. Dengan cekatan tali-tali kuat langsung membelenggu pergelangan tangannya di belakang punggung. Kedua wanita cantik itu terikat tak berdaya, masih dalam keadaan telanjang bulat. Bekas-bekas perkosaan masih terdapat pada tubuh mereka. Selembar lakban hitam membekap mulut mereka. Prita memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Herman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Kalian punya tempik yang istimewa ya.." kata Herman sambil mengelusi vagina kedua presenter cantik itu. Prita dan Frida mendesah sesaat merasakan elusan pada kemaluan mereka yang masih basah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;"Kebetulan. Ada yang mau membayar mahal untuk bisa ******* sama perempuan-perempuan cantik seperti kalian.."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Prita dan Frida terperanjat pucat pasi. Mereka menggeleng ketakutan. Air mata mereka mengalir makin deras, membayangkan bencana besar yang menunggu mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Liani 5: Sex in the Mall</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/04/liani-5-sex-in-mall.html</link><category>Liani 5: Sex in the Mall</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Tue, 28 Apr 2009 11:01:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-1637317786135133119</guid><description>&lt;div id="post_message_1636805275"&gt;        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—@@@@@@@—–&lt;br /&gt;  Berikut adalah dua cerita pendek tentang keisengan dan kebadungan Liani di dalam sebuah mal.&lt;img src="http://www.duniasex.com/forum/images/smilies/drooling.gif" alt="" title="Drooling" class="inlineimg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;b&gt;Bagian 1 - Sex in the Toilet&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sore itu Liani sedang duduk ngobrol dengan tiga teman ceweknya di dalam sebuah mal. Mereka sedang asyik-asyiknya ngobrol dan saling bercanda sambil memesan minuman dan makanan ringan. Saat itu mereka semua masih memakai pakaian seragam tapi bukan seragam putih abu-abu biasa, namun seragam dengan corak seperti batik untuk bajunya. Memang sekolahnya ini punya dua jenis seragam, seragam biasa dan seragam ini.Di hari-hari tertentu seragam inilah yang digunakan. Saat mereka sedang seru-serunya bercandaan, ada seorang cowok yang sedang memandangi empat anak cewek yang cakep-cakep itu dengan tampang mupeng. Cowok ini adalah anak smu juga tapi beda sekolah dengan Liani. Cowok ini memang sering datang ke mal itu, kadang sendirian kadang bareng teman-temannya. Mereka adalah cowok-cowok berandalan yang datang ke mal dengan dua tujuan. Kalau nggak cuci mata dan godain cewek-cewek terutama cewek-cewek smu yang putih dan cakep-cakep itu, ya memalak anak-anak sd atau smp yang main game di dekat bioskop. Hari ini kebetulan ia lagi sendirian. Saat itu empat cewek itu tetap asyik ngobrol tanpa sadar ada cowok yang menatap mupeng ke arah mereka. Semuanya cakep-cakep dan putih-putih. Namun diantara keempatnya, cowok itu paling sering memandangi Liani. Karena memang Liani yang paling cakep diantara mereka berempat. Apalagi posisi Liani saat itu sungguh pas menghadap ke arahnya. Namun yang bikin cowok itu makin mupeng dengan Liani, saat itu posisi duduk cewek itu agak serampangan. Kedua kakinya agak terbuka dan roknya sedikit tertarik ke atas sehingga cowok itu bisa melihat paha putih Liani yang terbuka, apalagi posisi cowok itu sungguh strategis.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Liani seperti tak menyadari sedari tadi ada cowok yang memperhatikan pahanya. Ia tetap tidak mengubah posisi duduknya itu. Sehingga cowok itu sungguh beruntung bisa memandangi paha Liani yang sungguh putih mulus itu selama beberapa saat lamanya. Matanya berpindah-pindah antara wajah yang polos tapi cantik itu dan pahanya yang terbuka. Namun itu masih belum apa-apa. Setelah itu, Liani becanda agak kelewatan dengan salah satu temannya. Sampai temannya itu ingin mencubit dirinya. Tentu ia tak ingin dicubit begitu saja dan berusaha menghindar. Saat ia berusaha menghindari cubitan itu, tanpa sadar ia membuka kakinya terlalu lebar sampai celana dalamnya kelihatan dari sudut pandang cowok itu. Apalagi cd yang dipakainya saat itu warna hitam, yang mana sungguh kontras dengan kulitnya yang putih. Tentu cowok itu jadi melongo dibuatnya saat mendapat rejeki nomplok itu. Mimpi apa semalam bisa ngeliat celana dalam cewek smu yang cakep dan putih itu. Dan itu terjadi nggak hanya sekali tapi ada tiga atau empat kali. Akibatnya cowok itu kini jadi mupeng abis dengan Liani! Beberapa saat kemudian, bubarlah mereka berempat dari kumpul-kumpul itu. Namun saat itu Liani tidak langsung pulang. Ia ingin melihat-lihat pakaian dulu. Saat itulah ia berjalan melewati cowok itu yang berdiri di dekatnya. Langsung saja mata cowok itu jelalatan menatap diri Liani dari atas ke bawah. Terutama dada cewek itu yang menonjol di balik baju seragam batiknya. Baju seragam itu tak termasuk tipis jadi tak ada yang kelihatan tembus pandang. Namun tetap menarik untuk dilihat karena kelihatan menonjol, pertanda payudara cewek ini tentu lumayan padat berisi. Saat itu Liani lagi dalam keadaan rasa isengnya muncul, sehingga dilabraknya cowok itu. Memang Liani adalah cewek yang agak aneh. Disaat cewek lain takut, ia malah berani.&lt;br /&gt;“Hey! Ngapain lu liat-liat gua terus? Lagi mupeng ya?”&lt;br /&gt;Namun kini ia kena batunya, karena cowok itu malah menantang balik,&lt;br /&gt;“Kalo memang iya kenapa?”&lt;br /&gt;“Enak aja mupengin orang sembarangan. Terus sekarang maunya apa?”&lt;br /&gt;“Maunya apa? ML yuk!”&lt;br /&gt;Rupanya saat itu Liani lagi kambuh penyakit isengnya, sehingga omongan usil orang itu malah ditanggapi dengan tak kalah badungnya.&lt;br /&gt;“Sekarang berani nggak? Di toilet,” katanya.&lt;br /&gt;“Boleh. Ayo sekarang! Kebetulan gua udah mupeng abis sama elo.”  &lt;br /&gt;“Ayo ikut gua kalo berani. Jangan cuman ngomong doang,” kata Liani meninggalkan cowok itu dan berjalan menuju ke toilet cewek.&lt;br /&gt;Dan cowok itu, entah karena sama gilanya atau sudah kadung mupeng abis dengan Liani, omongan cewek itu ditanggapi beneran. Ia berjalan mengikutinya. Sesampai di depan toilet cewek, Liani menoleh ke cowok itu dan berkata,” Ayo masuk.” Dan cowok itu nggak mikir panjang, ikutan masuk ke toilet cewek! Kebetulan toilet itu lagi kosong sehingga tak ada orang yang melihat cowok itu masuk ke toilet cewek. Dan saat Liani masuk ke salah satu kamar, cowok itu pun ikut masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Sehingga di dalam kamar toilet yang sempit itu, kini Liani dan cowok itu berduaan didalam! Begitu di dalam, segera cowok itu tak menyia-nyiakan kesempatan langka itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, cowok itu langsung menubruk tubuh Liani dan menciuminya. Kapan lagi ia bisa dapat kesempatan ML sama cewek smu yang cakep kayak gini. Apalagi dari seragam yang dikenakan, cewek ini dari sekolah favorit yang bagus di kota itu. Kapan lagi bisa beginian sama cewek kayak gini. Langsung diciuminya bibir Liani dan bagian lagi wajahnya. Liani bukannya protes malah mendiamkan saja. Mungkin ia tak mengira cowok ini bakal senekat itu, atau mungkin ia juga jadi ikutan pengin apalagi belum pernah ia berbuat segila ini di tempat umum. Cowok itu jadi tambah nafsu melihat Liani membiarkan saja. Kembali ia menciumi bibir Liani. Sementara Liani kini malah menanggapi aksi cowok itu. Bibirnya juga ikutan aktif mencium bibir cowok itu. Akhirnya keduanya saling berpagutan di dalam kamar toilet itu. Kedua lidah mereka saling bertemu dan “bersilat lidah”.&lt;br /&gt;Merasa diberi angin, cowok itu jadi makin liar aksinya. Kini dibukanya kancing baju seragam Liani satu persatu. Sudah sejak tadi ia penasaran ingin “mengecek” dada cewek itu. Sehingga terbukalah baju seragam Liani dan tampaklah kulit tubuhnya yang putih mulus. Dadanya terbungkus oleh bra warna hitam.. Dengan penuh nafsu dilepasnya bra itu. Tangan cowok itu merogoh ke punggung Liani mencari pengait branya untuk dibukanya. Setelah dibukanya, diangkatnya bra itu, sehingga nampaklah payudara yang putih mulus serta padat berisi itu. Seketika cowok itu jadi nafsu melihat dada yang putih menggiurkan itu. Segera dipegangnya kedua dada Liani dengan kedua tangannya. Diraba-rabanya dada yang berada dalam genggamannya itu, digoyang-goyangnya, dan diremas-remasnya. Kedua jari-jarinya memilin-milin puting payudara Liani yang segar kemerahan itu. Sementara toilet yang tadinya sepi tak ada orang sama sekali itu, tiba-tiba jadi banyak orang. Malah telah terjadi antrian sampai 5 orang yang menunggu. Apalagi barusan kedatangan serombongan ibu-ibu ke toilet itu, yang baru saja selesai makan dan ngobrol di food court (entah mereka disana lagi arisan atau sekedar kumpul-kumpul). Saat itu ada seorang ibu yang mengeluh ke temannya,&lt;br /&gt;“Aduuh, lama bener ya. Sudah nggak tahan nih.”&lt;br /&gt;“Iya nih, lama bener. Apalagi yang ini nih,” kata seorang ibu yang berdiri paling depan menunjuk ke kamar yang dipakai Liani,” Dari tadi nggak keluar-&lt;br /&gt;keluar.”&lt;br /&gt;“Iya. Kamar yang lain sudah ganti dua tiga orang, ini orang satu masih belum keluar juga,” kata ibu lainnya.&lt;br /&gt;“Mbak, mbak,” kata seorang ibu yang lain sambil mengetuk-ngetuk kamar Liani,” masih lama nggak ya? Kita semua sudah pada kebelet nih.”&lt;br /&gt;“Iya dari tadi lama bener, ngapain aja sih?”&lt;br /&gt;“Iya, iya, sebentar, sabar kenapa sih,” kata Liani dari dalam sementara saat itu payudaranya lagi diremas-remas cowok itu.&lt;br /&gt;“Soalnya situ di dalam sudah lama bener. Yang mau pake toilet bukan cuman situ doang.”&lt;br /&gt;“Pake kamar yang lain napa sih?” seru Liani sebelum bibirnya dikunci oleh cowok itu yang sambil terus meremas-remas dadanya.&lt;br /&gt;“Yaelah ini orang. Kamar yang lain juga penuh Bu. Pengertian sedikit kenapa sih.”&lt;br /&gt;“Situ lagi ngapain sih di dalam?”&lt;br /&gt;“Lagi beranak kali ya di dalam. Lama bener.”&lt;br /&gt;Namun ibu-ibu itu hanya bisa ngedumel saja sambil ngantri. Tak lama kemudian toilet jadi sepi kembali. Tiga kamar yang lain telah dipake banyak orang, tapi yang satu itu masih terus tertutup.&lt;br /&gt;Sementara di dalam, mereka lagi seru-serunya. Liani tak mau kalah dengan cowok itu, ia juga ikutan aktif. Dibukanya retsleting celana panjang cowok itu dan diturunkannya. Nampak tonjolan besar di celana dalamnya. Langsung dibukanya celana dalam itu dan diturunkannya. Nampak penis hitam yang disunat kepalanya. Ukurannya biasa saja namun telah menegak dengan keras. Segera penis cowok itu dipegang dan dipijit-pijit oleh tangannya yang halus. Sementara cowok itu makin bernafsu. Ia mendekat ke samping Liani, kedua tangannya terus meremas-remas payudara putih itu dan kini mulutnya mulai mengemut-ngemut puting payudara yang kemerahan itu. Dengan rakus diemut-emutnya puting merah yang segar itu. Sementara tangan halus Liani kini mengelus-ngelus kepala penis yang disunat itu. Namun tiba-tiba, Crooot, croott, crooottt, keluarlah sperma cukup banyak dari penis cowok itu. Semprotan yang pertama meloncat cukup jauh sampai mendarat di tempat duduk kloset. Setelah itu makin lama makin berkurang tekanannya. Rupanya ia nggak bisa nahan lagi saat kepala penisnya dielus-elus oleh Liani. Apalagi ia terlalu bernafsu dengan payudara Liani yang putih dan montok apalagi dengan putingnya yang segar kemerahan.&lt;br /&gt;“Yah, cuman kayak gini doang.”&lt;br /&gt;Tangannya kini belepotan penuh dengan sperma cowok itu.&lt;br /&gt;“Badan gede, ngomongnya galak, tapi loyo,” ejek gadis itu sambil mengelap tangannya yang penuh dengan sperma ke baju cowok itu.&lt;br /&gt;Roknya bahkan masih sangat rapi belum tersentuh sama sekali!&lt;br /&gt;Sementara cowok itu kini menghentikan aksinya dan melepas pegangannya dari dada Liani. Mukanya merah padam.&lt;br /&gt;Liani segera mengaitkan bra-nya lagi dan mengancingkan bajunya.&lt;br /&gt;“Udah ah, gua pulang dulu,” katanya sambil membuka pintu kamar toilet itu dan setelah tidak ada orang segera meninggalkan toilet itu.&lt;br /&gt;  Sementara cowok itu segera memakai celana dalam dan celana panjangnya. Setelah itu segera keluar dari toilet itu. Namun,&lt;br /&gt;“AAAHHHHHHHHHHHH! Toloooong. Ada cowok disini!” teriak seorang ibu setengah baya dengan histeris.&lt;br /&gt;Saat itu akan masuk seorang tante gendut dengan temannya.&lt;br /&gt;“Jangan masuk Bu, ada cowok di dalam!” teriak ibu tadi.&lt;br /&gt;“Kurang ajar kamu ya! Ngapain kamu kesini,” maki tante gendut tadi sambil memukul-mukulkankan tasnya ke kepala cowok itu.&lt;br /&gt;“Satpaaam! Mana satpam. Panggil satpam kemari! Satpaaam!!”&lt;br /&gt;Dan akhirnya, dengan baju masih basah dengan spermanya sendiri, digiringlah cowok itu oleh satpam mal yang berkumis sangar.&lt;br /&gt;Sungguh malu dua kali ia hari itu. Pertama karena dicokok satpam dan ditonton orang banyak. Kedua, malu dengan cewek cakep tadi.&lt;br /&gt;Dan oleh satpam, cowok itu dianggap bersalah karena masuk ke toilet cewek dan melakukan onani di dalam.&lt;br /&gt;Sementara Liani melihat itu dari kejauhan dengan tertawa-tawa terpingkal-pingkal.&lt;br /&gt;  —@@@@@@@—–&lt;br /&gt;  &lt;b&gt;Bagian 2 - Sex in the Movie Theatre&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Liani baru saja memarkir mobilnya dan masuk ke dalam mal itu. Saat itu datang sms di handphone-nya. Bunyinya,”Sorry, tadi gua salah ketik. Ketemuannya bukan jam 2 tapi jam 4.” Sms itu datang dari Herlina teman sekolahnya. Mereka janjian untuk ngumpul dan makan bareng dengan beberapa temannya. Ah, sialan, gerutu Liani. Kenapa nggak bilang dari tadi-tadi? Tahu gitu gua pulang dulu ke rumah. Padahal saat itu pun masih kepagian untuk jam 2. Karena ia langsung jalan dari sekolah. Sekarang malah ternyata janjiannya dimundurin ke jam 4. Tapi kalo mau pulang rumah dulu, tanggung. Sedangkan kalo nunggu bengong sendirian 2 jam lebih juga bosan. Malah-malah nanti bisa digangguin cowok iseng kayak waktu itu. Akhirnya diputuskan mending nonton aja.. Meski sendirian tapi masih mendingan daripada bengong aja. Lalu ia naik ke tempat bioskop. Saat itu lagi sepi, karena memang bukan jam umum untuk nonton. Sementara ia melihat-lihat film yang ada dan yang pas jamnya, ada seorang cowok yang ngeliatin dia terus. Cowok ini adalah anak smu juga yang biasanya datang ke mal itu untuk dua tujuan. Kalau nggak cuci mata dan godain cewek-cewek terutama cewek-cewek smu yang cakep-cakep dan putih-putih itu, ya memalak anak-anak sd atau smp yang main game di dekat bioskop. Kebetulan cowok itu habis memalak anak SMP “gemuk” yaitu anak orang kaya yang dikasih duit jajan banyak. Setelah merasa penghasilannya hari itu cukup, kini ia ingin menikmati sisa hari itu dengan nonton. Dan saat itulah ia melihat Liani yang juga datang sendirian.&lt;br /&gt;  Saat melihat cewek cakep apalagi sendirian, ia tak bisa menahan mulut usilnya itu.&lt;br /&gt;“Suitt, suitt,” siulnya dengan usil sambil matanya menggerayangi seluruh tubuh Liani,” Muluss.”&lt;br /&gt;Saat itu Liani memakai baju seragam batiknya. Sehingga ia bisa lolos dari satpam yang kadang tidak memperbolehkan anak-anak SMU berseragam putih abu-abu masuk. Ia jadi mupeng dengan Liani karena selain cakep dan kulitnya putih banget, body-nya pun ok. Pandangannya seketika mengarah ke dada Liani yang nampak menonjol di balik baju seragam batiknya. Baju seragam itu tak termasuk tipis jadi tak ada yang kelihatan tembus pandang. Namun tetap menarik untuk dipelototi karena kelihatan menonjol, pertanda payudara cewek ini tentu lumayan padat berisi.&lt;br /&gt;“Sendirian ya? Mau ditemenin ga?” tanya cowok itu cengengesan.&lt;br /&gt;Liani tidak menghiraukan cowok itu. Ia tidak merasa perlu menanggapi cowok-cowok semacam itu, yang kerjaannya cuman nggodain cewek kayak dirinya. Lagian, ditanggapi pun juga percuma. Kayak waktu itu. Ngomongnya aja kayak jagoan tapi belum apa-apa langsung keok. Setelah itu Liani mendatangi loket dan membeli satu tiket. Setelah cewek itu pergi, cowok itu juga mendatangi loket itu dan berkata ke penjual karcisnya,”Sebelahnya cewek tadi, Mbak.”&lt;br /&gt;Tak lama kemudian masuklah Liani ke dalam gedung bioskop. Ia membeli tiket tempat duduk di baris paling belakang di tengah-tengah. Gedung bioskop saat itu sangat sepi penonton. Tak lama kemudian masuklah cowok tadi dan nomor kursinya memang betul di sebelah Liani.&lt;br /&gt;  “Hi,” sapa cowok itu.&lt;br /&gt;“Hi,” kata Liani.&lt;br /&gt;“Nonton sendirian ya?”&lt;br /&gt;“Iya.”&lt;br /&gt;“Sama dong. Gua juga sendirian. Aneh ya, kok kebetulan duduknya bisa sebelahan?”&lt;br /&gt;“Khan lu yang minta tadi sama Mbak-nya.”&lt;br /&gt;“Hah! Masa sih? Kok gua nggak inget?”&lt;br /&gt;“Udahlah lu ga usah pura-pura. Dikira gua nggak tahu.”&lt;br /&gt;“Hehehe, iya sih,” katanya cengengesan. “Oh ya, nama lu siapa? Nama gua Boy..”&lt;br /&gt;“Rika,” kata Liani asal-asalan.&lt;br /&gt;Dan cowok itu selanjutnya berusaha melakukan pendekatan ke arah kemupengan. Sementara Liani kini jadi timbul semangat badungnya. Sebelum cowok tadi masuk dan duduk di sebelahnya pun, ia telah membayangkan, situasi sepi-sepi gini, kayaknya jadi asyik deh kalo gituan. Gituan di dalam gedung bioskop! Oleh karena itu kini ia bersikap wait and see aja terhadap cowok yang ngaku namanya “Boy” ini. Ia sendiri ragu cowok kayak gini bisa punya nama sebagus itu. Tapi, masa bodolah. Yang penting bukan namanya keren apa nggak nya. Karena Liani tidak menolak, cowok itu jadi makin lama makin berani. Kini dipegangnya tangan Liani. Dan cewek itu diam saja. Lalu diraba-rabanya tangan yang halus itu. Kemudian ia memegang rambut Liani. Cewek itu diam saja. Kini dipeluknya cewek itu dan diciumnya pipi cewek itu. Masih diam saja. Kini cowok itu jadi tambah berani. Diciumnya bibir cewek itu. Liani awalnya mendiamkan saja. Namun kini dirasakan, ciuman cowok itu not bad juga. Jadi ia mulai menanggapinya. Ia mulai ikut mencium cowok itu. Tak lama kemudian mereka berdua berciuman saling berpagutan di dalam bioskop. Lidah mereka saling beradu di dalam mulut yang saling melekat itu. Tak jelas siapa mendominasi siapa. Karena keduanya sama-sama aktif.&lt;br /&gt;Lalu cowok itu mulai menggerayangi tubuh Liani. Diraba-rabanya dada cewek itu. Dirasakannya payudaranya yang lumayan berisi juga. Begitu dapat kesempatan memegang payudara, seketika nafsunya langsung naik. Kemudian cowok itu menciumi leher putih Liani. Dikecup-kecupnya leher yang putih halus itu. Dan dibukanya kancing baju seragam Liani satu satu. Samar-samar nampak kulit tubuhnya yang putih mulus. Hmmm, sungguh indah. Ia sudah lama sering membayangkan cewek yang putih kayak Liani gini. Tapi baru kali ini ia merasakannya. Samar-samar kelihatan gundukan dada bagian atas yang tak tertutup oleh bra cewek ini. Lalu dibukanya bra itu. Diulurkan tangannya ke punggung cewek itu. Namun ternyata kaitannya tak disitu. Sehingga tangannya berpindah ke depan. Dengan sekali tarik, dilepasnya kaitan di bagian depan branya itu. Kemudian dibukanya bra itu. Dan, ia sungguh terpana menyaksikan dada yang putih dan indah milik Liani. Meski samar-samar, namun sungguh menggairahkan! Segera direngkuhnya dada itu. Diraba-rabanya. Dan diusap-usapnya kedua putingnya yang menonjol dan sensitif itu dengan ibu jarinya. “Ooh” keluh Liani saat kedua putingnya diusap-usap cowok itu. Kemudian cowok itu meremas-remas dengan lembut payudara yang padat berisi dan kenyal itu. Oh, sungguh puas rasanya bisa memegang dan meremas-remas payudara telanjang cewek yang cakep dan putih kayak gini! Cewek ini betul-betul sexy sekali. Apalagi dengan dada yang telanjang gini. Apalagi dengan dadanya yang ada dalam genggaman tangannya gini! Cowok itu makin merapatkan dirinya ke cewek itu. Kini kepalanya turun ke dada cewek itu. Mulutnya segera mencium payudara cewek itu. Lalu menjilati. Dan menyedot-nyedot kedua putingnya kiri kanan bergantian. Oooh! Liani mulai “naik” dengan aksi cowok itu. Apalagi ia cukup jago dalam merangsang payudaranya. Termasuk saat menjilati dan menghisap putingnya. Ditambah lagi, tubuhnya yang sejak tadi agak kedinginan karena ac bioskop itu, kini “dihangatkan” oleh kecupan-kecupan cowok itu terutama di payudaranya. Dadanya terasa hangat saat cowok itu menghisap-hisap dan mengenyot-ngenyot putingnya.&lt;br /&gt;Liani juga ikutan beraksi. Tangannya menggerayangi tubuh cowok itu. Memegang dadanya yang bidang. Lalu tangannya turun ke bawah. Ke perut. Dan turun lebih bawah lagi. Tangannya merasakan ada benda keras di dalam celana cowok itu. Kini ia ingin menguji ketahanan cowok itu. Kalo nggak mampu, mending diketahui sekarang daripada tahunya belakangan. Ditaruhnya tangannya di selangkangan cowok itu. Ia memegang-megang bagian pangkal paha cowok itu. Sampai akhirnya disentuhnya batang yang mengeras di dalam celana itu. Sementara cowok itu jadi kaget dengan reaksi Liani ini. Tak disangka-sangkanya cewek yang cakep dan tampangnya sedemikian polos bisa melakukan ini. Tak disangkanya cewek ini rupanya sudah punya cukup pengalaman juga. Ia jadi makin senang. Dibiarkan cewek ini berbuat semaunya. Termasuk setelah itu dilepasnya sabuk celananya. Dibukanya retsleting celana panjangnya. Dan…tangan yang putih mungil itu menyusup masuk ke celana dalamnya. Memegang batangnya yang telah mengeras sejak tadi-tadi. Tak hanya sekedar memegang saja, tapi tangan mungil itu mengocok-ngocok batangnya dan jari-jarinya mengusap-usap kepala dan leher penisnya. Oooh! Hampir meloncat ia rasanya karena nikmatnya tak terbayangkan saat penisnya dikocok-kocok dan diusap-usap oleh cewek cakep di sebelahnya ini. Oleh karena itu, tentu ia tak mau kalah dengan cewek ini. Tindakan cewek itu dibalasnya dengan setimpal. Dibukanya rok seragam cewek itu. Samar-samar terlihat pahanya yang sungguh putih itu. Diraba-rabanya paha mulus itu terutama pangkalnya. Lalu tangannya dimainkan di atas celana dalam cewek itu. Jari-jemarinya menggelitik daerah sekitar vaginanya. Oooh, oohhhh. Cewek itu mulai mendesah-desah. Apalagi saat jarinya kini dimainkan di liang vaginanya. Bahkan jarinya itu ditekan-tekan ke dalam liang itu, sampai akhirnya masuk sedikit. OOHhhhhh! Liani secara spontan mendesah. Lalu tangannya ikut-ikutan dengan yang dilakukan cewek itu tadi, yaitu… disusupkannya di dalam celana dalam cewek itu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ouw! Dirasakannya tangannya mengenai bulu-bulu di daerah tersembunyi itu. Sungguh lebat sekali bulu-bulunya! Lalu tangannya turun ke bawah dikit. Kini tangannya mencapai daerah terlarang dari cewek ini. Namun cewek ini diam saja saat tangannya mencapai daerah terlarangnya. Malah ia menikmatinya! Segera tangannya dimainkan di daerah vagina cewek itu. Cewek itu makin mendesah-desah. Apalagi saat tangannya menemukan dan merangsang klitoris cewek itu. Dilihatnya cewek itu merintih-rintih dan mendesah-desah serta tubuhnya menggelinjang-gelinjang. Hanya suara desahannya saja yang ditahannya. Sehingga ia mendengar desahan-desahan pelan cewek itu. Apalagi setelah mulutnya kini kembali mengenyot-ngenyot dada cewek itu. Dirasakannya vagina cewek itu basah berair. Demikianlah Liani yang tadinya agak memandang rendah cowok ini dan bermaksud “mengetest”nya kini ternyata tidak hanya cowok itu lulus ujian tapi juga mampu membuatnya lupa diri. Ia lupa dengan niatnya ingin mengetestnya karena sekarang malah ia jadi menggelinjang-gelinjang kenikmatan sudah lupa akan segalanya. Namun ternyata cowok itu tidak berhenti sampai disitu saja dalam hal “memanaskan” dirinya. Karena cowok itu kini berjongkok di depan Liani, membuka kedua kakinya lebar-lebar. Dan….mulutnya menjilati vaginanya. Oooohhhh! Liani jadi makin tak tahan lagi untuk tidak menggeliat-geliatkan tubuhnya. Apalagi teknik jilatan cowok itu lumayan juga. Paling tidak cukup untuk membuatnya jadi basah kuyup. Oleh karena di dalam gedung bioskop yang ruang geraknya terbatas, mereka tak mau berlama-lama. Begitu tahu Liani telah siap, segera dilepaskannya celana dalam cewek itu. Ia harus melepas sepatu cewek itu dan meloloskan celana dalam itu dari tubuh cewek itu. Supaya lingkup geraknya lebih bebas. Kemudian ia menurunkan celananya berikut celana dalamnya. Dan, dengan menunggingkan tubuh Liani, bleesss! dimasukkannya penisnya ke dalam vagina cewek itu dalam posisi doggy style. Disodok-sodoknya vagina itu yang dirasakannya amat sempit itu. Kedua tangannya memegang payudara cewek itu. Ditepuk-tepuk dan diremas-remasnya. Akhirnya cewek itu berhasil disetubuhinya juga. Cewek yang di luar tadi mengacuhkan dia dan memandang rendah dirinya. Namun sekarang keadaannya sungguh berbeda. Kini dirinya berada di dalam tubuh cewek itu, dan menikmati cewek itu!&lt;br /&gt;Sementara Liani sungguh menikmati genjotan penis cowok itu di dalam tubuhnya. Ia dengan lirih mendesah-desah saat penis cowok itu menyodok-nyodok di dalam dirinya. Apalagi ditambah ketegangan bahwa kegiatan itu berlangsung di tempat umum, di dalam bioskop! Sementara cowok ini ternyata sungguh perkasa mengocok-ngocok vaginanya. Setelah itu mereka berganti posisi. Kini cowok itu duduk dibangku bioskop itu. Sementara Liani duduk di pangkuannya. Tapi sebelum itu, rupanya Liani ingin menelanjangi bagian bawah cowok itu, sama seperti cowok itu yang sebelumnya melepas celana dalamnya. Dilepasnya celana panjang dan celana dalam cowok itu dari tubuhnya sehingga kini bagian bawah cowok itu telanjang. Sementara, cowok itu menyingkap rok seragamnya yang dikenakannya itu, sehingga kini pantat dan bulu kemaluannya terbuka bebas. Seandainya gedung itu tidak gelap dan ada orang yang menoleh ke belakang, tentu orang itu bisa melihat kedua paha dan bulu kemaluannya dengan jelas! Kini Liani duduk dengan manis di pangkuan cowok itu. Namun tentu bukan sekedar pangkuan biasa. Tapi penis cowok itu masuk menembus ke dalam vaginanya. Setelah itu, giliran Liani yang menggoyang tubuhnya sendiri naik turun. Sementara kedua tangan cowok itu memainkan payudaranya.&lt;br /&gt;“Oooh….ohhhhh……ohhhhhh…….ohhhhhhh”&lt;br /&gt;Ia terus mendesah-desah. Dan ia terus menggoyang tubuhnya naik turun. Beberapa saat lamanya. Sampai akhirnya,&lt;br /&gt;“Uuuuuhhhhhhhhhhhhh…..uuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhh….uuu  uuuuhhhhhhhhhhhhh”&lt;br /&gt;ia melenguh-lenguh panjang, saat ia mengalami orgasme. Orgasme di dalam gedung bioskop karena disetubuhi oleh cowok tak dikenal! Oleh cowok yang awalnya dipandang rendah!&lt;br /&gt;Setelah Liani orgasme, ia melepaskan tubuhnya dari penis cowok yang masih mengeras itu. Kemudian cowok itu menyuruh Liani untuk mengulum penisnya.&lt;br /&gt;“Sekarang giliran lu yang isep dong say.”&lt;br /&gt;“OK, tapi jangan dikeluarin ya. Kalo mau keluar, bilang ya.”&lt;br /&gt;“Beres dah,” kata cowok itu.&lt;br /&gt;Segera Liani dengan patuh mengemut buah zakar cowok itu. Lidahnya menjilat-jilat buah zakar cowok itu. Lalu mulutnya mengulum dan menghisap-hisap batang penis itu.&lt;br /&gt;“Shleeb..shleeeb…shleeeb…”&lt;br /&gt;Seperti mengemut ice lolipop saja Liani saat itu. Cuman bedanya ini lebih besar.&lt;br /&gt;Lalu ujung lidahnya digunakan untuk menjilat batang penis itu dari pangkal dekat buah zakar, terus naik ke atas sampai ke ujung kepala penis yang disunat itu. Lidahnya menjilati leher penis itu, dan mengitarinya, sampai tiga kali. Lalu seluruh bagian kepala penis itu disapunya dengan ujung lidahnya.&lt;br /&gt;Setelah itu, balik lagi disepong-sepongnya batang penis itu. Seperti ice lolipop tadi.&lt;br /&gt;“Shleeb..shleeeb…shleeeb…”&lt;br /&gt;Kemudian Liani mengeluarkannya dari mulutnya. Ia takut kalau-kalau isinya akan segera keluar.&lt;br /&gt;Tapi saat itu tiba-tiba cowok itu mengocok penisnya, saat penis itu tepat berada di depan mukanya. Dan….&lt;br /&gt;tiba-tiba, Crooot, croott, crooottt.&lt;br /&gt;Penis itu memuncratkan seluruh isinya, membasahi muka Liani! Membuat mukanya kini jadi belepotan penuh sperma cowok itu!&lt;br /&gt;Karena cowok itu menahan kepalanya dan tak memberinya kesempatan untuk menghindar. Ia memang sengaja ingin memuntahkan isi penisnya itu ke muka cewek ini!&lt;br /&gt;Yah, sudah dibilang, jangan dikeluarin kayak gini, batin Liani, sekarang jadi belepotan dah muka gua. Di dalam gedung bioskop lagi. Mana abis ini gua mau ketemu sama teman gua lagi.&lt;br /&gt;Sialan betul nih cowok, sudah dikasih enak malah ngerjain orang.&lt;br /&gt;Sementara cowok itu nampak puas menumpahkan isi penisnya ke wajah cakep Liani. Ia tersenyum cengengesan melihat wajah cewek itu sekarang jadi belepotan karena spermanya.&lt;br /&gt;Karena Liani tidak ingin sperma yang membasahi wajahnya itu turun ke bawah ke tubuhnya, segera ia mengambil apa yang ada di dekatnya untuk mengelap mukanya itu. Dan akhirnya digunakannya celana panjang cowok itu untuk mengelap mukanya.&lt;br /&gt;Sialan, dua kali main di dalam mal, momen “crott” nya nggak ada yang bener, gerutunya dalam hati.&lt;br /&gt;Cowok itu sebenarnya tidak ingin Liani menggunakan celana panjangnya untuk mengelap mukanya itu. Namun dalam hal ini ia kalah cepat dengan cewek itu. Karena saat itu ia terlena karena puas menyaksikan wajah cewek itu belepotan. Tak lama kemudian, Liani mengaitkan kembali branya dan mengancingkan baju seragamnya.&lt;br /&gt;“Gua ke toilet dulu ya,” kata Liani, karena ia ingin cuci muka. Saat ia ingin membawa celana dalamnya, cowok itu tidak memberikannya.&lt;br /&gt;“Lu pakenya disini aja. Nanti sehabis lu balik dari toilet,” kata cowok itu.. Karena setelah ini ia masih ingin menggrepe-grepe cewek ini.&lt;br /&gt;“Lu bawa ini aja. Ke toilet sekalian tolong bersihin ini,” kata cowok itu sambil menyodorkan celana panjangnya yang basah kena spermanya sendiri itu,” Tolong lu bilas dengan air supaya nggak bau.”&lt;br /&gt;Sialan cowok ini, pikir Liani. Habis mainin orang, sekarang malah main nyuruh aja. Emang pikirnya gua pembantunya. Enak aja suruh orang nyuci celananya. Namun Liani tidak membantah. Dibawanya celana panjang milik cowok itu ke dalam toilet.&lt;br /&gt;Cowok itu lagi duduk dengan santai menonton film bioskop itu. Baru saat inilah ia menonton film di layar depan itu. Ia agak kecapean juga setelah barusan maen dengan cewek itu. Gila bener hari ini. Mimpi apa gua bisa maen sama cewek kayak dia itu. Cakepnya dan putihnya kayak gitu. Apalagi ternyata dia cukup jago juga maennya. Hatinya benar-benar puas! Tapi lama kelamaan kakinya terasa kedinginan juga. Makin lama ac bioskop itu rasanya makin dingin. Apalagi orang di dalam gedung itu hanya segelintir. Lama bener sih cewek itu nggak balik-balik, pikirnya. Lho! Saat itu ia baru sadar ternyata celana dalamnya nggak ada disitu. Rupanya terbawa waktu cewek itu membawa celana panjangnya. Ingin rasanya ia memburu cewek itu ke toilet memintanya untuk cepat-cepat kembali. Namun itu tidaklah mungkin karena saat ini ia tak bercelana. Biarlah gua tunggu cewek itu datang aja. Namun ternyata cewek itu nggak datang-datang juga. Sampai akhirnya filmnya berakhir dan lampu gedung dinyalakan.&lt;br /&gt;  &lt;b&gt;Sesaat kemudian…&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;“Eh, lu tahu nggak,” kata Herlina kepada Liani,” Barusan ada cowok yang digiring satpam. Gara-garanya ia keluar dari gedung bioskop nggak pake baju. Bajunya digunakan untuk menutupi selangkangannya. Soalnya cowok itu nggak pake celana. Dan, tahu nggak, hihihi, ternyata cowok itu pake celana dalam cewek, warnanya merah muda lagi.”&lt;br /&gt;“Lu baru dateng sih, jadi nggak ngeliat. Orang-orang pada heboh. Cewek-cewek yang di deketnya pada teriak-teriak. Tapi abis itu pada ketawa semua. Kayaknya orang gila deh itu.”&lt;br /&gt;Liani hanya tersenyum geli membayangkan itu. Biar tahu rasa, cowok nggak tahu diri. Sudah dikasih enak malah ngelunjak. Saat cowok itu menyuruhnya membersihkan celana panjangnya, sekaligus diam-diam dicomotnya juga celana dalam cowok itu. Setelah ia membersihkan mukanya, ia langsung keluar kompleks bioskop itu. Tentunya dengan menyembunyikan celana itu di dalam tasnya. Supaya nggak ketahuan orang. Setelah itu ia beli celana dalam yang langsung dipakainya di dalam toilet. Dan celana cowok itu dibuangnya di tempat pembuangan sampah yang sepi dan agak jauh dari mal itu. Setelah itu, baru ia balik lagi ke mal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;End  of Episode 5&lt;img src="http://www.duniasex.com/forum/images/smilies/applause.gif" alt="" title="Applause" class="inlineimg" border="0" /&gt;&lt;span style="font-family:&amp;amp;quot;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ibu Muda</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/04/ibu-muda.html</link><category>Ibu Muda</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Mon, 27 Apr 2009 10:57:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-5121908380023761458</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;        &lt;hr style="color: rgb(255, 255, 255); background-color: rgb(255, 255, 255);" size="1"&gt;    &lt;!-- / icon and title --&gt;       &lt;!-- message --&gt;   &lt;div id="post_message_389731"&gt; Sebut saja namaku Dandy 30 tahun, 170/65 berparas seperti kebanyakan orang pribumi dan kata orang aku orangnya manis, atletis, hidung mancung, bertubuh sexy karena memang aku suka olah raga. Aku bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan besar di kota Surabaya dan statusku married. Perlu pembaca ketahui bahwa sebelum aku bekerja di Surabaya ini, aku adalah tergolong salah satu orang yang minder dan kuper karena memang lingkungan keluarga mendidik aku sangat disiplin dalam segala hal. Dan aku bersyukur sekali karena setelah keluar dari rumah (baca:bekerja), banyak sekali kenyataan hidup yang penuh dengan “warna-warni” serta “pernah-pernik”nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini berawal terjadi sebagai dampak seringnya aku main chatting di kantor di saat kerjaan lagi kosong. Mulai muda aku adalah termasuk seorang penggemar sex education, karena buat aku sex adalah sesuatu yang indah jika kita bisa menerjemahkannya dalam bentuk visualnya. Dan memang mulai SD, SMP sampai SMA hidup aku selalu dikelilingi cewek-cewek yang cakep karena memang aku bisa menjadi “panutan” buat mereka, itu terbukti dengan selalu terpilihnya aku menjadi ketua osis selama aku menempuh pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada ceritaku, dunia chatting adalah ‘accses’ untuk mengenal banyak wanita dengan segala status yang mereka miliki; mulai ABG, mahasiswi, ibu muda sampai wanita sebaya, di luar jam kantor. Dan mulai dari sinilah aku mulai mengenal apa itu “kehidupan sex having fun”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari aku chatting dengan menggunakan nickname yang menantang kaum hawa untuk pv aku, hingga masuklah seorang ibu muda yang berumur 32 tahun sebut saja namanya Via. Via yang bekerja di salah satu perusahaan swasta sebagai sekretaris dengan paras yang cantik dengan bentuk tubuh yang ideal (itu semua aku ketahui setelah Via sering kirim foto Via email aku). Kegiatan kantor aku tidak akan lengkap tanpa online sama dia setiap jam kantor dan dari sini Via sering curhat tentang kehidupan rumah tangganya. Karena kita berdua sudah sering online, Dia tidak segan-segan menceritakan kehidupan sexnya yang cenderung tidak bisa menikmati dan meraih kepuasan. Kami berdua share setiap kesempatan online atau mungkin aku sempatkan untuk call dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu hari, kami putuskan untuk jumpa darat sepulang jam kantor, aku lupa tanggal berapa tapi yang pasti hari pertemuan kami tentukan bersama hari Jum’at. Setelah menentukan dimana aku mau jemput, sepulang kantor aku langsung kendarai mobil butut starletku untuk meluncur di tempat yang janjikan. Dengan perasaan deg-deg an, sepanjang perjalanan aku berfikir secantik apakah Via yang usianya lebih tua dari aku 2 tahun. Dan pikiranku terasa semakin amburadul ketika aku bener-bener ketemu dengan Via. Wow! Aku berdecak kagum dengan kecantikan Via, tubuhnya yang sexy dengan penampilannya yang anggun membuat setiap kaum adam berdesir melihatnya. Tidak terlihat dia seorang ibu muda dengan 3 orang anak, Via adalah sosok cewek favorite aku. Mulai dari wajahnya, dadanya, pinggulnya dan alamak.. pantatnya yang sexy membuat aku menelan ludahku dalam-dalam saat membayangkan bagaimana jika aku bisa bercinta dengan Via.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang dan menutupi kegugupan aku. Aku memancing untuk menawarkan pergi ke salah satu motel di sudut kota (yang aku tahu dari temanku). Sepanjang perjalanan menuju hotel, jantungku berdetak kencang setiap melirik paras Via yang cantik sekali dan aku membayangkan jika aku dapat menikmati bibirnya yang tipis.. Dan sepanjang itu juga “adik kecilku” mulai bangkit dari tidurnya. Tidak lama sampailah kami di salah satu Motel, aku langsung memasukan mobilku ke dalam salah satu kamar 102.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kamar aku sangat grogi sekali bertatapan dengan wajah Via..&lt;br /&gt;“Met kenal Dandy,” Via membuka obrolan.&lt;br /&gt;“hey Via..,” aku jawab dengan gugup.&lt;br /&gt;Aku benar-benar tidak percaya dengan yang aku hadapi, seorang ibu rumah tangga yang cantik sekali, sampai sempat aku berfikir hanya suami yang bego jika tidak bisa menyayangi wanita secantik Via.&lt;br /&gt;Kami berbicara hanya sekedar intermezo saja karena memang kami berdua tampak gugup saat pertemuan pertama tersebut. Sedangkan jantungku berdetak keras dibareng “adik kecilku” yang sudah meronta ingin unjuk gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dandy meskipun kita di sini, tidak apa-apakan jika kita tidak bercinta,” kata Via.&lt;br /&gt;Aku tidak menjawab sepatah katapun, dengan lembut aku gapai lengannya untuk duduk di tepi ranjang. Dengan lembut pula aku rangkul dia untuk rebahan di ranjang dan tanpa terasa jantungku berdetak keras, bagaikan dikomando aku menciumi leher Via yang terlihat sangat bersih dan putih.&lt;br /&gt;“Via kamu sangat cantik sayang..,” aku berbisik.&lt;br /&gt;“Dann.. jangan please..,” desahan Via membuat aku terangsang.&lt;br /&gt;Lidahku semakin nakal menjelajahi leher Via yang jenjang.&lt;br /&gt;“Akhh Dandy..”&lt;br /&gt;Tanpa terasa tanganku mulai nakal untuk menggerayangi susu Via yang aku rasakan mulai mengencang mengikuti jilatan lidahku dibalik telinganya.&lt;br /&gt;“Ooohh.. Danddyy..”&lt;br /&gt;Via mulai mengikuti rangsangan yang aku lakukan di dadanya. Aku semakin berani untuk melakukan yang lebih jauh..&lt;br /&gt;“Via, aku buka jas kamu ya, biar tidak kusut..,” pintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Via hanya mengikuti pergerakan tanganku untuk memreteli jasnya, sampai akhirnya dia hanya mengenakan tanktop warna hitam. Dadaku semakin naik turun, ketika pundaknya yang putih nampak dengan jelas dimukaku. Setelah jas Via terbuka, aku berusaha naik di tubuh dia, aku ciumi bibir Via yang tipis, lidahku menjelajahi bibirnya dan memburu lidah Via yang mulai terangsang dengan aktivitas aku. Tanganku yang nakal mulai menarik tanktop warna hitam dan..&lt;br /&gt;Wow.. tersembul puting yang kencang.. Tanpa pikir panjang aku melepas lumatan di bibir Via untuk kemudian mulai melepas BH dan menjilati puting Via yang berwana kecoklatan. Satu dua kali hisapan membuat puting Via berdiri dengan kencang.. sedangkan tangan kananku memilin puting Via yang lain nya.&lt;br /&gt;“Ooohh Danndyy.. kamu nakal sekali sayang..,” rintih Via.&lt;br /&gt;Dan saat aku mulai menegang..&lt;br /&gt;“Tok.. tok.. tok.. room service.” Ahh.. sialan pikirku, menganggu saja roomboys ini. Aku meraih uang 50.000-an dikantong kemejaku dengan harapan supaya dia cepat pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah roomboy’s pergi, aku tidak memberikan kesempatan untuk Via bangkit dari pinggir. Parfum Via yang harum menambah gairah aku untuk semakin berani menjelajahi seluruh tubuhnya. Dengan bekal pengetahuan sex yang aku ketahui (baik dari majalah, film BF maupun obrolan-obrolan teman kantor), aku semakin berani berbuat lebih jauh dengan Via. Aku beranikan diri untuk mulai membuka CD yang digunakan Via, dan darahku mendesir saat melihat rambut-rambut kemaluan yang sangat lebat di bagian nonok Via. Tanpa berfikir lama, aku langsung menjilati, menghisap dan sesekali memasukkan lidahku ke dalam lubang nonok Via.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oohh.. Dan.. nikmat.. sayang,” Via merintih kenikmatan setiap lidahku menghujam lubang nonoknya dan sesekali menekan kepalaku untuk tidak melepaskan kenikmatan itu. Dan disaat dia sedang menikmati jilatan lidahku, telunjuk jari kiriku aku masukkan dalam lubang nonok dan aku semakin tahu jika dia lebih bisa menikmati jika diperlakukan seperti itu. Terbukti Via menggeliat dan mendesah disetiap gerakan jariku keluar masuk.&lt;br /&gt;“Aakkhh Dann.. kamu memang pintar sayang..,” desah Via.&lt;br /&gt;Disaat kocokkan jariku semakin cepat, Via sudah mulai memperlihatkan ciri-ciri orang yang mau orgasme dan sesat kemudian..&lt;br /&gt;“Dann.. sayang.. aku nggak tahan.. oohh.. Dan.. aku mau..” visa menggelinjang hebat sambil menggapit kedua pahanya sehingga kepalaku terasa sesak dibuatnya.&lt;br /&gt;“Daann.. ookkhh.. aakuu keluaarr.. crut-crut-crut.”&lt;br /&gt;Via merintih panjang saat nonoknya memuntahkan cairan kental dan bersamaan dengan itu, aku membuka mulut aku lebar-lebar, sehingga carian lendir birahi itu tidak ada yang menetes sedikitpun dalam mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku biarkan Via terlentang menikmati orgasmenya yang pertama, sambil membuka semua pakaian yang aku kenakan, aku memperhatikan Via begitu puas dengan foreplay aku tadi, itu terlihat dari raut wajahnya yang begitu berbinar-binar. Tanpa memberi waktu panjang, aku segera menghampiri tubuhnya yang masih lemas dan menarik pinggulnya dipinggir ranjang, dan tanpa pikir panjang ******ku yang berukuran 19 cm dengan bentuk melengkung, langsung menghujam celah kenikmatan Via dan sontak meringis..&lt;br /&gt;“Aaakhh.. Dandy..,” desah Via saat ******ku melesak kedalam lubang nonoknya.&lt;br /&gt;“Dandyy.. ****** kamu besar sekali.. aakkh..”&lt;br /&gt;Aku merasakan setiap gapitan bibir nonoknya yang begitu seret, sampai aku berfikir suami macam apa yang tidak bisa merasakan kenikmatan lubang senggama Via ini?&lt;br /&gt;Aku berpacu dengan nafsu, keringatku bercucuran seperti mandi dan menetes diwajah Via yang mulai aku rasakan sangat menikmati permainan ini.&lt;br /&gt;“Danddyy.. sudah.. sayang.. akhh..” sembari berteriak panjang aku rasakan denyutan bibir nonok mengapit batang ******ku. Dan aku rasakan cairan hangat mulai meleleh dari nonok Via. Aku tidak mempedulikan desahan Via yang semakin menjadi, aku hanya berusaha memberikan kepuasan bercinta, yang kata Via belum pernah merasakan selama berumah tangga. Setiap gerakan maju mundur penisku, selalu membuat tubuh Via menggelinjang hebat karena memang bentuk ******ku agak bengkok ke kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Via mendekap tubuhku erat dan aku tahu itu tanda dia mencapai orgasme yang kedua kalinya. ******ku bergerak keluar masuk dengan cepat dan..&lt;br /&gt;“Dann.. aku.. mau.. keluarr lagi.. aakk.. Kamu hebat sayang, aku.. nggak tahan..,” seiring jertian itu, aku merasakan cairan hangat meleleh di sepanjang batang ******ku dan aku biarkan sejenak ******ku dalam nonoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian aku melepas ******ku dan mengarahkan ke mulut Via yang masih terlentang. Aku biarkan dia oral ******ku.&lt;br /&gt;“Ahh..,” sesekali aku merintih saat giginya mengenai kepala ******ku. Disaat dia asik menikmati batang ******ku, jariku yang nakal, mulai menelusuri dinding nonok Via yang mulai basah lagi.&lt;br /&gt;“Creek.. crekk.. crek..,” bunyi jariku keluar masuk di lubang nonok Via.&lt;br /&gt;“Ohh.. Dandy.. enak sekali sayang..”&lt;br /&gt;1.. 2.. 3.. 4.. 5.. jariku masuk bersamaan ke lubang nonok Via. Aku kocok keluar masuk.., sampai akhirnya aku nggak tahan lagi untuk mulai memasukkan ******ku, untuk menggantikan 5 jariku yang sudah “memperkosa” lubang kewanitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan..&lt;br /&gt;“Ohh.. sayang aku keluar lagi..”&lt;br /&gt;Orgasme yang ketiga diraih oleh Via dalam permainan itu dan aku langsung meneruskan inisiatif menindih tubuh Via, berkali-kali aku masukkan sampai mentok.&lt;br /&gt;“Aaakhh.. sayang.. enak sekali.. ohh..,” rintih Via. Bagaikan orang mandi, keringatku kembali berkucuran, menindih Via..&lt;br /&gt;“Sayang aku boleh keluarin di dalam..,” aku tanya Via.&lt;br /&gt;“Jangan.. aku nggak mau, entar aku hamil,” jelas Via.&lt;br /&gt;“Nggak deh sayang jangan khawatir..,” rengekku.&lt;br /&gt;“Jangan Dandyy.. aku nggak mau..,” rintihan Via membuat aku semakin bernafsu untuk memberikan orgasme yang berikutnya.&lt;br /&gt;“Akhh.. oohh.. Dandy.. sayang keluarin peju kamu sayang.. aakkhh..,” Via memintaku.&lt;br /&gt;“Kamu jangan tunggu aku keluar Dandy.. please,” pinta Via.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat aku mulai mencapai klimaks, Via meminta berganti posisi diatas.&lt;br /&gt;“Dandy aku pengen di atas..”&lt;br /&gt;Aku melepas ******ku dan langsung terlentang. Via bangkit dan langsung menancapkan ******ku dalam-dalam di lubang nonoknya.&lt;br /&gt;“Akhh gila, ****** kamu hebat banget Dandy asyik.. oohh.. enak..,” Via merintih sambil menggoyangkan pinggulnya.&lt;br /&gt;“Aduhh enak Dandy.. “&lt;br /&gt;Goyangan pinggul Via membuat gelitikan halus di ******ku..&lt;br /&gt;“Via.. Via.. akh..,” aku mengerang kenikmatan saat Via menggoyang pinggulnya.&lt;br /&gt;“Dandy.. aku mau keluar sayang..,” sambil merintih panjang, Via menekankan dalam-dalam tubuhnya hingga ******ku “hilang” ditelan nonoknya dan bersamaan dengan itu aku sudah mulai merasakan klimaks sudah diujung kepala.&lt;br /&gt;“Via.. Via.. ahh..”&lt;br /&gt;Aku biarkan pejuku muncrat di dalam nonoknya.&lt;br /&gt;“Croot.. croot..” semburan pejuku langsung muncrat dengan derasnya dalam lubang Via, tetapi tiba-tiba Via berdiri.&lt;br /&gt;“Aakhh Dandy nakal..”&lt;br /&gt;Dan Via berlari berhamburan ke kamar mandi untuk segera mencuci pejuku yang baru keluar dalam nonoknya, karena memang dia tidak menggunakan pernah menggunakan KB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan itu berakhir dengan penuh kenikmatan dalam diri kami berdua, karena baru saat bercinta denganku, dia mengalami multi orgasme yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.&lt;br /&gt;“Dandy, kapan kamu ada waktu lagi untuk lakukan ini semua sayang,” tanya Via.&lt;br /&gt;Aku menjawab lirih, “Terserah Via deh, aku akan selalu sediakan waktu buatmu.”&lt;br /&gt;“Makasih sayang.. kamu telah memberikan apa yang selama ini tidak aku dapatkan dari suami aku,” puji Via.&lt;br /&gt;“Dann.. kamu hebat sekali dalam bercinta.. aku suka style kamu,” sekali lagi puji Via.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan pertama ini kita akhiri dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan dengn kata-kata, dan hanya kami berdua yang bisa rasakan itu. Aku memang termasuk orang yang selalu berusaha membuat pasanganku puas dan aku mempuyai fantasi sex yang tinggi sehingga tidak sedikit abg, mahasiswi dan ibu muda yang hubungi aku untuk sekedar membantu memberikan kepuasan buat mereka. &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pejantan Lugu Tuk Istriku</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/04/pejantan-lugu-tuk-istriku.html</link><category>Pejantan Lugu Tuk Istriku</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Sat, 25 Apr 2009 10:55:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-6108465978654018480</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;        &lt;hr style="color: rgb(255, 255, 255); background-color: rgb(255, 255, 255);" size="1"&gt;    &lt;!-- / icon and title --&gt;       &lt;!-- message --&gt;    Namaku adalah Herman, sebagai seorang pebisnis muda aku sudah bisa dikatakan sukses. Aku bisa berkata begitu karena selain punya usaha yang mapan, rumah yang mewah, aku juga memiliki seorang istri yang cantik bernama Ivana. Tetapi ada satu hal yang membuatku tak bisa dikatakan sebagai laki-laki yang berhasil, bahwa aku sendiri sams sekali tak bisa memberikan nafkah batin bagi istriku. Keadaan ini terjadi pada tahun kedua perkawinanku, dimana saat itu aku mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku. Akibat dari kecelakaan itu dokter bilang bahwa aku tak bisa lagi memberi nafkah batin, apalagi keturunan bagi istriku. Hal ini membuat aku dan Ivana cukup terpukul, namun kami berdua telah berjanji bahwa ini hanya rahasia diantara kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahu keempat perkawinan kami, orang tua kami mulai bertanya kapan kami bisa memberi mereka cucu. Aku dan Ivana hanya bisa menjawab segera mungkin, padahal dalam hati kami menangis karena telah berbohong pada orangtua kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari aku entah darimana mendapat ide gila, dan ketika kusampaikan pada istriku seperti yang sudah kuduga ia menolak mentah-mentah ideku tersebut. Ide yang kumaksud adalah aku akan mencarikannya laki-laki lain untuk menghamilinya. Terus terang hali ini kulakukan karena tidak tega melihat Ivana istriku, terus menerus dipuaskan nafsuny adenagan sex toys, padahal aku tahu ia sendiri tidak puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhirnya dengan segala bujuk rayu akupun berhasil membuat Ivana setuju dengan rencana ini.&lt;br /&gt;  “ Tapi mas bagaimana kalau aku hamil apa kamu, masih akan mencintaiku ?” tanya Ivana padaku.&lt;br /&gt;“ Tentu saja sayang aku juga melakukan ini agar kamu bisa mendapatkan kepuasan serta agar kita berdua bisa punya anak.“ jawabku padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua telah setuju, tinggal mencari laki-laki yang mau melakukannya. Hal ini memang sulit karena Ivana mengajukan persyaratan bahwa ia mau melakukannya tapi harus dengan yang masih perjaka, alasanya agar tidak terkena penyakit kelamin. Akhirnya setelah mencarinya kami menemukannya, ya nama pemuda itu adalah Bima, seorang pemuda berusia tujuhbelasan. Ketika aku bertanya pada Ivana apa ia mau dengan pemuda itu ia tak menolak, karena ia yakin masih perjaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah sulit membuat Bima tinggal dirumah kami, orang tua Bima adalah pesuruh dirumah mertuaku, dengan alasan menjadikannya sebagai pesuruh dan satpam dirumah kami, kami berhasil mengajak Bima untuk tinggal bersama kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa hari tinggal dirumah kami aku dan Ivana mengecek sifat dari Bima, dan kami berdua setuju bahwa rencana kami dapat dilakukan. Malam ini kami berdua akan segera melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku sengaja memanggil Bima ke dalam kamar agar bisa menjalankan rencana kami. Terdengar suara ketukan dipintu lalu kemudian suara.&lt;br /&gt; “ Pak permisi apa saya boleh masuk” kata Bima tanpa sadar apa yang akan dia temui&lt;br /&gt; “ Masuk Bim pintunya tidak dikunci” jawabku padanya.&lt;br /&gt;  Lalu iapun masuk dan terkejut melihat Ivana istriku tidur telanjang dada di kasur sementara bagian bawah tertutup selimut.&lt;br /&gt; “ pak ada apa ini, lagipula kenapa ibu telanjang begitu?” tanya Bima.&lt;br /&gt; Sudah kuduga dia ini cukup polos orangnya, lalu segera saja akupun menjawabnya.&lt;br /&gt;“Bim bapak mau minta tolong, kamu mau kan. Bapak mau kamu puasin ibu malam ini kalau bisa buat ibu hamil, kamu bisa kan.” Kataku padanya.&lt;br /&gt; “tapi pak ,tapi.”&lt;br /&gt;Tanpa kuduga Ivana bangkit dari tempat tidur lalu menuju Bima. Segera saja ia membuka celana milik Bima lalu iapun meraih batang miliknya kemudian mengulumnya.&lt;br /&gt; Bima tak bisa berbuat apa-apa ia kaget ketiak melihat tubuh polos Ivana yang kemudian segera memainkan batang miliknya.&lt;br /&gt; “Anggh bu aku ngak tahan aku seperti mau kencing,” katanya&lt;br /&gt; “ Keluarkan saja  Bim aku ingin meminumnya.” Jawabnya.&lt;br /&gt;Ternyata Ivana mulai menjadi liar selama dua tahun tak mendapat kehangatan seperti itu, telah membuatnya lupa diri dan menjadi liar. Aku yang melihat sangat senang ternyata Ivana bisa mendapatkan kepuasan, agar tak mengganggu aku memutuskan keluar dari kamar.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Bima mulai mengeluarkan air maninya, tanpa pikir panjang Ivana segera menghisap habis semuanya sambil membersihkan batang Bima dengan lidahnya.&lt;br /&gt; Selanjutnya Ivana segera naik ketempat tidur sambil berkata.&lt;br /&gt; “Buang semua pakaianmu lalu bantu aku Bim, malam ini kamu harus bisa untuk memuaskanku” Katanya pada Bima.&lt;br /&gt; Seperti diduga Bima masih sedikit bingung tapi ia segera melakukan apa yang diperintahkan oleh istriku.&lt;br /&gt;Di lain pihak setelah melihat Bima dalam keadaan telanjang bulat, Ivana istriku kagum dalam usia masih muda batang miliknya sudah besar, pasti ia akan puas malam ini pikir istriku.&lt;br /&gt;Bima yang masih binggung harus berbuat apa setelah melihat dari dekat tubuh istriku, mulai melakukan apa yang diperintah oleh Ivana.&lt;br /&gt; “ Bima ayo puaskan ibu, coba kamu remas dan hisap susu ibu, ayo Bim.”&lt;br /&gt; Bima pun mulai meremas dan menghisap susu istriku, sampai istriku berkata.&lt;br /&gt; “Auch Bim jangan kamu gigit ibu sakit.” Katanya&lt;br /&gt; “maafin Bima bu Bima ngak sengaja, maafin bima lagi ya bu.” Kata Bima dalam nada memelas seolah takut dimarahi.&lt;br /&gt; “ya udah ibu maafin sekarang kamu jilat memeq ibu tapi pelan-pelan ya.”&lt;br /&gt; Bima pun segera menjilati memeq istriku sambil tangannya meremas susu milik istriku.&lt;br /&gt; “Bu memeq ibu kok wangi?” tanya Bima&lt;br /&gt; “Kamu suka Bim, coba sekarang kamu masukkan jari kamu ke dalamnya bim.”&lt;br /&gt;Bima pun segera melakukan apa yang disuruh, tak lama kemudian Ivana istriku mulai mendapat orgasme pertamanya saat Bima menghisap memeqnya.&lt;br /&gt; “Apa ini bu kok asin tapi lengket.” Tanya Bima.&lt;br /&gt; Ivana istrku sedikit geli mendengar ucapan Bima, lalu iapun bertanya padanya.&lt;br /&gt; “Bim ibu mau tanya kamu dah pernah beginian ama perempuan apa belum?”tanya istriku pada Bima.&lt;br /&gt; “Belum bu sama ibu justru yang pertama karena saya kaget ketika melihat ibu telanjang lalu mainin punya saya.”jawabnya.&lt;br /&gt; “Jadi kamu masih perjaka, kalau gitu kamu suka ngak ma tubuh ibu?” Tanya istriku.&lt;br /&gt; “Suka bu tubuh ibu bagus apalagi memeq ibu wangi.” Jawabnya&lt;br /&gt; “Jadi kamu mau kan bikin ibu puas malam ini, apa kamu takut Bim sama bapak.”&lt;br /&gt; “Saya takut sama bapak kalau saya dituduh berbuat tidak baik ama ibu.”&lt;br /&gt;“Kamu ngak usah takut Bim tujuan kamu bapak ama ibu sama bawa kesini supaya kamu bisa membuat ibu hamil, jadi kamu mau kan. Kalau kamu mau coba bawa bantal kecil itu kemari Bim.” Pinta istriku.&lt;br /&gt;Bima pun segera bangkit dan mengambil bantal kecil yang ada di kursi, kemudian memberikannya pada Ivana istriku. Ivana pun segera memakai bantal kecil itu dibawah pinggulnya, ia mencoba buat posisi dimana ia bisa cepat hamil.&lt;br /&gt; “Bim gimana apa kamu dah siap?” tanya istriku.&lt;br /&gt; Bima pun segera bersiap ia meletakkan batangnya tepat dimulut vagina istriku.&lt;br /&gt; “Pelan-pelan Bim sudah lama ibu tidak dimasuki batang yang asli apalagi sebesar punyamu itu, angggh pelan Bim ibu sakit.”&lt;br /&gt;Aku tahu istriku pasti sakit sebab setelah aku dinyatakan impoten oleh dokter, walaupun ia mendapat kepuasan dari sex toys, istriku sama sekali tidak mau memakai dildo. Istriku itu hanya mau memakai vibarator getar yang dipasang pada clirotisnya.&lt;br /&gt; “Maaf bu habis punya ibu sempit sekali jadi Bima harus sedikit maksa masuknya.”&lt;br /&gt; “Ya sudah, ibu dah ngak sakit lagi sekarangkamu dorong maju mundur ya.”&lt;br /&gt; Bima pun mulai memainkan miliknya didalam vagina istriku.&lt;br /&gt; “Bu mentok bu.”&lt;br /&gt;Ivana kaget tapi ia melihat masih ada batang milik Bima yang ada diluar. Ivana berpikir anak selain besar ternyata panjang juga.&lt;br /&gt; Setelah limabelas menit memainkan batangnya Bima merasa ia akan keluar lagi.&lt;br /&gt; “Bu rasanya saya mau keluar.”&lt;br /&gt; “Ibu juga bim kita keluar sama-sama didalam. Anggggh Bim ibu keluar.”&lt;br /&gt;Bima merasa batang miliknya diguyur sesuatu kemudian ia dipaksa lebih intim lagi dengan istriku, karena Ivana melingkarkan kakinya sehingga Bima seperti terkunci. Tak lama kemudian Bima mulai mengeluarkan pejunya.&lt;br /&gt; “Bim jangan ditarik dulu ibu mau kamu keluar semua dulu, lalu kalau ibu dah bilang boleh baru kamu tarik keluar.”&lt;br /&gt;Ya selama beberapa menit Bima dan istriku saling tindih. Istriku ingin agar sperma milik Bima bisa segera masuk kerahimnya dan membuat dirinya hamil. Tak lama Bima segera rebahan dikasur, ia sepertinya puas. Dipenisnya tampak sisa cairan darinya dan Ivana.&lt;br /&gt;Ivana yang melihatnya segera membersihkan batang itu dengan mulutnya. Ia seperti masih belum puas dengan hubungan intim yang baru saja terjadi.&lt;br /&gt; “Bim kamu masih kuatkan ibu masih kepengin lagi. Pokoknya kamu malam ini harus bisa muasin ibu.” Kata Ivana.&lt;br /&gt; “Baik bu.”&lt;br /&gt; “Ngak kamu panggil bu coba sekarang kamu panggil saja mbak.” Kata istriku.&lt;br /&gt; “Baik bu eh mbak tapi saya haus ingin minum.”kata Bima.&lt;br /&gt; “Ya kamu minum dulu dimeja ada air.” Kata Ivana yang bangkit dari tempat tidur lalu meminum jamu yang telah disiapkan.&lt;br /&gt; “Mbak itu apa kok kaya jamu sih?” tanya Bima.&lt;br /&gt;“Iya ini emang jamu tapi jamu buat kesuburan kamu juga harus minum ini ya Bim agar mbak bisa cepat hamil.” Kata Ivana pada Bima.&lt;br /&gt; Bima pun meminum jamu itu, lalu ronde kedua dengan Ivana dimulai.&lt;br /&gt; “Bim mbak mau tanya kamu pernah ngak lihat tubuh wanita telanjang sebelumnya?”&lt;br /&gt; Bima pun menjawab.&lt;br /&gt; “Kalo lihat pernah, waktu itu lagi ngintip gadis yang pada mandi di sungai, tapi kalo main ama mbak justru yang pertama.”&lt;br /&gt; “Uh kamu bikin mbak greget ayo masukin punya kamu jangan mainin tangan kamu terus disusu mbak nanti mbak marah lo.”&lt;br /&gt;Ya yang terjadi malam itu Bima dipaksa oleh istriku agar mau melayani nafsunya yang telah dipendam selama dua tahun. Berbagai macam gaya diajarkan pada Bima tapi yang sering dilakukan adalah gaya yang cepat membuat hamil, yaitu gaya dimana pinggul diangkat sehingga air mani cepat masuk ke rahim.&lt;br /&gt; Pagi harinya aku kembali masuk ke kamar kulihat Bima masih saja main dengan istriku, tapi kali ini posisi doggie.&lt;br /&gt; “Ana apa kamu masih belum puas, tadi malam emang berapa kali?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Enam kali sama yang sekarang, heh heh heh….., mas mau kerja ya kalo gitu tunggu bentar ya setelah ini selesai aku mandi lalu siapin makan.” Kata Ivana.&lt;br /&gt; “Ngak usah kamu puasin aja dulu, aku gampang kok bisa sarapan dikantor.”&lt;br /&gt;Begitulah sampai berangkat kekantor aku masih melihat Ivana main dengan Bima, dalam hati aku puas karena bisa melihat senyum Ivana lagi.&lt;br /&gt; Pulang dari kantor akupun bertanya pada dia.&lt;br /&gt; “ Ana sampai jam berapa kamu main sama Bima, kelihatan ampe loyo gitu?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Sampe jam dua siang, emang seling ama makan dan tidur. Tapi aku maen sepuluh ronde ama dia, aku aja sampe ngak kehitung berapa kali orgasme mas.” Jawab Ivana.&lt;br /&gt; “Tapi kamu baik aja kan, dia ngak kasar ama kamu kan.”&lt;br /&gt; ‘Ngak mas, mas malam nanti aku minta ijin mau main lagi ama Bima boleh ngak mas.” Pinta istriku.&lt;br /&gt; “Boleh aja tapi kamu harus inget, kamu jangan sampe dikasari ama dia.” Jawabku.&lt;br /&gt;Ya malam-malam selanjutnya akupun merelakan Ivana istriku tidur dengan lelaki lain yaitu Bima. Kisah ini masih bersambung jadi tunggu kelajutannya.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Selabintana nikmat.</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/04/selabintana-nikmat.html</link><category>Selabintana nikmat.</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Fri, 17 Apr 2009 01:21:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-6872329612220783203</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;        &lt;hr style="color: rgb(255, 255, 255); background-color: rgb(255, 255, 255);" size="1"&gt;    &lt;!-- / icon and title --&gt;       &lt;!-- message --&gt;   &lt;div id="post_message_1636893318"&gt; Aku lagi bete nih, ya bete ma kerjaan, bete ma cowokku. Maka kupikir lebih baik aku nenangin diri ke Sukabumi. Disana ada temenku, dia pernah bilang ke aku : "Kalo kamu suntuk, dateng aja ketempatku, kamu slalu welcome kok dirumahku, anytime, dateng aja". Dia memang temen baikku sejak kecil. Kebetulan aku kan kerjanya parttimer, jadi bisa saja Kamis sore berangkatnya, biar bisa di Sukabumi sampe Minggu sore, balik lagi ke jakarta. Hari kemis siang menjelang sore, aku naik kendaraan umum ke terminal bis antar kota. Karena ini tengah minggu dan bukan sekitar hari raya dan liburan, terminal sepi. Bis ke Sukabumi juga kosong. Santai sekali, aku bisa milih tempat duduk di sisi yang tidak akan kena sinar matahari siang yang kalo terik akan menyengat. Hawa didalem bis panas, walaupun jendela sudah aku buka. Aku hanya menyenderkan kepala disenderan bangku dan mataku pelan2 terpejam. Gak tau berapa lama aku terpejam, tiba2 aku terbangun karena ada yang duduk disisiku. Aku membuka mataku, yang tampak pertama kali adalah seraut wajah yang ganteng sedang tersenyum padaku, "Maaf, saya membangunkan kamu ya, saya Tino" sambil mengulurkan tangan. Aku menjabat tangannya, "Ines". "Mo ke Sukabumi ya, basa basi banget deh ni orang, dah tau ini bis ke Sukabumi, pake nanya lagi. "La iya lah mas Tino, ini kan bis ke Sukabumi, ya Ines mo ke Sukabumi lah yao". "Maksud saya, mungkin kamu turun dijalan sebelum sampe di Sukabumi, Cikareteg, Cicurug, Parungkuda, Cibadak atawa Cisaat, gitu neng, neng teh geulis pisan". "Abdi teh teu tiasa nyarios sunda akang". "Itu bisa". "Bisanya cuma sakitu kang, Ines teh mesti manggil mas atawa akang ya". "Terserah neng Ines wae lah". "Tino tu nama Jawa ya, manggilnya mas aja ya". "Ok neng geulis". "Panggil Ines aja deh, gak bisa ngomong Sunda dipanggil neng". Begitulah perkenalanku dengan mas Tino, orangnya lucu, tubuhnya atletis dan yang pasti bukan abg. Aku gak suka bergaul dengan lelaki abg, kurang dewasa rasanya. Bis bergerak perlahan, meninggalka terminal, dalam keadaan setengah isi. Ya sopirnya gak mo rugi, makanya bis dijalankan sangat pelan, menunggu penumpang mengisi bisnya. Akhirnya karena dah sampe mulut tol, terpaksalah sang sopir menjalankan bisnya pada kecepatan minimal yang diperbolehkan di jalan tol. Minimal lo, bukannya maksimal. Mas Tino orangnya lucu, penuh canda sehingga aku bisa terpingkal2 karena gurauannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tempat duduknya pas2an buat 2 orang, sikunya beberapa kali menggesek toketku, maklumlah kalo aku tertawa badanku jadi bergerak2. Ini rupanya yang dimanfaatkan mas Tino untuk menggesek toketku dengan sikunya. Aku ya diem aja. Tiba2 dia berbisik: "Nes, toket kamu besar ya, kenceng lagi". "Ih si mas, genitnya mulai deh". Kondektur lewat mengulurkan tangannya. Aku segera membuka dompetku, tapi mas Tino lebih dulu memberikan sejumlag uang ke kondektur, "Dua", katanya. Obrolan berlanjut setelah kondektur meninggalkan kami. "Bener ya Nes, toket kamu besar dan kenceng ya". "Emangnya kalo besar dan kenceng napa mas".. "Pengen ngeremes Nes", jawabnya sambil tersenyum nakal. "Ntar kalo ngeremes2, mas ngaceng lagi", jawabku to the point. "Udah". "Hah", aku kaget juga mendengar jawabannya. "Kamu mesti tanggung jawab lo Nes, aku dah ngaceng nih", bisiknya. Didepan dan dibelakangku kosong bangkunya, demikian pula bangku yang disamping kosong, jadi gak ada yang menyimak pembicaraan kami. "Mas sendiri yang nyenggol2 Ines, kok terus nyalahin Ines". "Masak aku harus nyalahin diriku sendiri, ya nyalahin kamu aja". "Udah ah, ngomongin yang lain aja", kataku berusaha mengalihkan pembicaraan. "Sering diremes ya Nes", bisiknya lagi, kembali ke topik itu lagi. "Sama siapa Nes, cowok kamu?" Aku ngangguk aja, biar dia diem. Eh ternyata terus nanyanya, "Cuma diremes Nes". "Maksud mas?" aku pura2 gak ngerti tujuan pertanyaannya. Tiba2 hpnya berdering, "Bentar ya Nes, temenku nelpon". Sebentar kemudian terdengar dia berbicara dengan seseorang, bicaranya pendek2, "Iya, aku dah di bis nih". "Nomor berapa". "Ok deh, aku ajak teman ya". "Ok". "Siapa mas, temennya ya". "Iya, dia dah di Sukabumi duluan. kita janjian sebenarnya, tapi dia mesti berangkat duluan". "Pasti prempuan deh". "Ah enggak, kan dah ada kamu". "emangnya Ines mo ikut ters ma mas. Ines kan mo kerumah temen". "temennya rumahnya dimana?" "Deket terminal, naik becak aja nanti". "Ikutan aku aja Nes". "Emangnya ms mo kemana?" "Aku mo ke Selabintana, Sukabumi naik dikit, dikaki gunung, hawanya sejuk". "Wah asik dong, ma temen prempuan yang ditelpon tadi ya". "Kalo yang tadi prempuan, ngapain juga aku ngajak Ines, mau ya Nes, temenin aku". "Cuma nemenin aja ya". "Iya nemenin aja". "Bener cuma nemenin aja". "Bener, masak aku boong sih, mau ya". "Terus temenku gimana, nanti dia nungguin". "emangnya kamu dah bilang mo ke rumahnya". "enggak sih, Ines mo ngasi surprise". "Ya udah nemenin aku dulu, besok baru kamu ke rumah temenmu itu, mau ya". khirnya aku mengangguk. Itulah kelemahanku, gak tahan kalo dirayu ma lelaki ganteng kaya mas Tino ini. Yah paling aku harus ngeladenin napsunya malem ini. Karena aku dah bilang iya, mas Tino gak ngedesek aku terus, kami ngobrol aja ngalor ngidul. Sesampenya di terminal Sukabumi, kami melanjutkan perjalanan naik angkot Ke Selaintana. Angkot berhenti didepan satu resort. "Ini apaan mas", tanyaku. "Ini resort Nes, temenku katanya dah nyediain kamar". "Terus Ines mesti sekamar ma mas". "Napa takut, aku dah jinak kok, kamu gak akan kumakan, cuma ..." "Cuma apa mas". "Cuma kujilat2". "Cuma dijilat doangan" "Abis dijilat disodok2". "Emangnya bola bilyard, pake disodok segala". Aku digandengnya masuk ke reception. Mas Tino minta kunci kamar no 403. "Kok dah tau nomer kamarnya mas". "Kan temenku yang ngasi tau tadi". "Temennya mas kemana". "Dia ntar kesini, lagi ada urusan katanya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masuk kekamarnya, standar2 aja, ada tempat tidur besar, seperangkat sofa, lemari es, tv, meja rias dan kaca yang besar disamping ranjang. "Tu kaca besar kok ditaruhnya disebelah ranjang, buat apa ya mas", tanyanya. "Ya buat ngaca lah yao, emangnya buat apa lagi". Kamar mandinya minimalis, cuma ada shower, saja dan wastafel. Toileteris seadanya saja, anduk juga bukan kualitas yang bagus. "Mas, murahan ya hotelnya". "Namanya juga dibayarin Nes, jadi gak bisa milih lah". Aku duduk di sofa, dia duduk disebelahku. Tiba2 dia mencium bibirku. Aku kaget juga karena serangan mendadaknya, tapi langsung saja kusambut ciumannya. kubuka mulutku dan dia langsung menyapu langit-langitku, kami berpagutan, saling balas. Sambil menciumnya, tanganku melingkari badannya dan kupeluk dia, sementara dia meremas toketku dari luar. Baju ketat yang kupakai membuat toketku tercetak dengan jelas dan menunjukkan kemontokkan toketku, dengan kedua tangannya ia terus meremas kedua toketku dengan penuh nafsu tanpa melepas ciumannya. Aku mendesah tertahan karena merasakan nikmat yang tak terkira. tubuhku dilanda fantasi nikmat yang membuat libido ku naik. Remasannya yang kadang cepat dan melambat itu membuat nafsuku makin naik dan tak terkendali. dia melepas ciumannya tapi tidak menghentikan remasannya. Kini aku merapat ke dia sehingga tubuh kami sangat dekat, hal ini membuat dia makin mudah meremas toketku. dia sangat pintar dalam mempermainkan nafsuku, ia meremas toketku dengan keras tapi kemudian melambat, lalu cepat lagi. Nafsuku pun naik turun dan meledak-ledak tak karuan. Aku sangat menikmati remasannya sehingga membuatku mendesah tak karuan. "Umhh...uhh..uhhh...enak..mas...uhhhhh...terus s..u hh". Desahanku makin membakar nafsunya. Ia melepas semua pakaiannya hingga telanjang. batangnya sudah menegang pada ukuran maksimalnya. Ia menyuruhku untuk menyepong batangnya. Langsung saja kukulum batangnya yang besar itu. Mula-mula kusapu ujungnya dengan lidahku sambil kukocok pelan dengan tangan kiriku. "ahh..ahh...isep Nes," katanya mendesah nikmat. Kumasukkan batangnya kedalam mulutku lalu kuhisap sehingga pemiliknya merem-melek keenakan. Tak seluruhnya batang itu masuk kedalam mulutku. Dengan tangan kananku, kukocok batangnya yang tak masuk kedalam mulutku. kuisap batangnya itu lalu kumaju-mundurkan batangnya itu kedalam mulutku. ''ah..uh..uhh..enak Nes...kamu makin jago nyepong yah..." dia mendesah keenakan. Terus kuisap batang itu dan kumasukkan kedalam mulutku dan terus kukocok batangnya yang tak masuk kedalam mulutku. ''ahh..ahh..enak..'' dia terus mendesah menahan nikmatnya disepong. Tampaknya dia sudah akan orgasme, batangnya berkedut-kedut dalam mulutku, lalu sebuah lenguhan panjang keluar dari mulutnya, tangannya menahan kepalaku sehingga batangnya masuk lebih dalam lagi, bersamaan dengan itu pejunya menyembur memenuhi mulutku,langsung kutelan pejunya dan kubersihkan batangnya dari sisa-sisa pejunya. dia menarik batangnya keluar dari mulutku. Tiba-tiba aku mendengar suara. ''Tino..." Aku sangat kaget tenyata ada yang yang masuk kekamar dan melihatku saat aku mengulum batangnya. "kenalin, ini ari, temenku. Ini Ines". Aku berjabat tangan dengan ari, mulutku masih belepotan pejunya Tino yang melelh keluar mulutku saking banyaknya dia ngecret dimulutku. "Ya udah terusin aja, aku gak ganggu deh", kata ari sembari keluar kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tino langsung meremas toketku lagi. Aku kaget sehingga aku mendesah keras. "ahhhh..ahhhhhh..." dia menarik ku ke kasurnya dan dalam posisi duduk berhadapan dia melumat bibirku sambil meremas toketku. Libidoku makin tak terkendali dan kubalas tiap ciumannya. Tangan dia menelusup kebalik kaos ku dan meremas toketku yang terbungkus bh warna putih. dia melepas ciumannya dan melepas kaos ketatku, tangannya lalu menggapai punggungku dan melepas kaitan bh ku, lalu melempar bh 34C itu,sehingga toket montokku yang putih mulus dengan pentil yang agak merah itu terlihat jelas. Ia langsung membenamkan kepalanya di gunung kembarku. "ohhh...ohhh..yeahh...umhhh..." aku mendesah menahan nikmat. dia mengenyot toket kananku dan meremas toket kiriku sambil terkadang mencubit pentilnya. Kenyotannya yang kasar itu membuatku merasa tak enak, toketku sedikit terasa sakit. "Ohhh...ohhh...ter..usss...emhhh..ohhhh" aku mendesah lagi. dia makin bernafsu untuk mengenyot toketku, sedangkan tangannya tak berhenti meremas toket ku yang tak dikenyotnya. Setelah puas menyusu toket kananku, ia langsung mengenyot toket kiriku, kenyotannya semakin liar dan remasannya pun makin tak karuan. "uh..umhhhhhhh....oh...oo..ohhhh....enak..emhh ..te rus" aku mendesah karena kenyotannya yang membuatku merasakan nikmat yang tak terbayangkan. Sambil mengenyot, ia memilin pentilku yang tak dikenyotnya. Setelah 13 menit mengenyot toketku, ia berhenti mengenyot lalu memilin kedua pentilku sehingga libidoku semakin naik dan makin meledak-ledak. Puas bermain dengan toketku, dia langsung melepas celana dan cd yang kupakai sehingga aku dan dia telanjang. Ia langsung merebahkanku di kasurnya. Aku merasa mekiku sudah sangat basah. Lalu kurasakan ada 2 jari yang bermain disana dan bergerak maju-mundur. "oh...ohh..oh..ohh..umhhh...ahh..a..aaaaahhhh. ..." Aku mendesah karena tak tahan setiap diperlakukan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas menyodokku dengan jarinya, ia langsung mengarahkan batangnya. dia menggosok-gosokkan batangnya pada bibir mekiku sehingga aku kelojotan menahan nikmat. "ahh..ahh...ayo mas..uhhh.." sambil mendesah aku memegang batangnya lalu mengarahkannya kedalam mekiku. dia langsung menyentakkan batangnya sehingga batangnya masuk kedalam mekiku. Kakiku kini melingkari pinggulnya. dia yang sudah penuh nafsu itu langsung menggoyangkan pinggulnya, mula-mula pelan. Gesekkan batangnya didalam mekiku membuatku merasa nikmat. "ahh...ahh... ayo mas..uhh..genjot..yang..cepet..ahhhh" Mendengar desahanku itu, dia langsung meningkatkan kecepatannya sehingga goyangannya sangat cepat. Terdengar bunyi berdecak setiap batangnya menusuk mekiku. Banyaknya cairan pelumas dalam mekiku membuat batangnya leluasa bergerak. "ohhhh...ohhhhhhh....oohhhhhhh....e..enak..uhh hh" Aku benar-benar merasa sangat puas. dia terus menggenjotku dengan posisi itu, bahkan goyangan pinggulnya makin lama makin cepat. Seluruh badanku bergetar seirama genjotannya yang cepat. Toketku bergerak naik turun, melihat itu dia makin bernafsu, ia langsung mencaplok toket kiriku dan meremasnya dengan gemas, goyangan pinggulnya juga semakin cepat. "uhh..uh..uhh..uhh..uhhhh..enak..umhh.." genjotannya yang begitu cepat itu membuatku mendesah keenakan. Nafsunya sepertinya juga makin tak terkendali, genjotannya makin cepat sambil terus meremas toket kiriku dengan kasar. Kurasakan batangnya berkedut-kedut dalam mekiku, lalu menyemprotkan pejunya kedalam mekiku, dan dia meleguh panjang. Setelah mendapatkan orgasme pertamanya dia berhenti menggenjotku sebentar. "ohh...enak mas..." kataku. dia mengatur nafasnya, aku yang belum puas memegang tangannya dan meletakkannya di toket kananku, aku masih ingin dipuaskan oleh remasannya. dia-pun langsung meremas toket kananku, dan tangan satunya meremas toket kiriku. Kini, kedua toketku diremasnya dengan sangat gemas. Dapat kurasakan pentilku sudah mengeras karena terus di kenyot, tambah lagi nafsu ku sudah tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah batangnya mengeras lagi dia menghentikan remasannya dan mengganti gaya. Ia rebah di kasur. Aku langsung mengarahkan mekiku dan dalam satu hentakan, batangnya menancap dalam mekiku. Kugoyangkan pinggulku. Dalam posisi ini dia mudah meremas toketku. Dia menikmati goyangan pinggulku sehingga ia mendesah-desah keenakan. Tangannya mengelus setiap lekuk tubuhku lalu kedua tangannya berhenti di toketku. Ia mengelus kedua toketku sambil menyibakkan rambutku yang menutupi toketku. Rabaannya membuatku geli. Ia meraba-raba toketku lalu memilin kedua pentilnya sehingga membuatku seperti tersengat listrik. Sambil sedikit medesah aku terus menggoyangkan pinggulku, sedangkan dia masih senang bermain-main dengan kedua pentilku yang sudah mengeras itu, ia mencubit dan memilin-milin pentilku. "ahh..ahh..pentil mu ngemesin sih Nes..." katanya. Permainannya pada pentilku membuat nafsuku makin meledak, kugoyangkan terus pinggulku sedangkan dia kini meremasi kedua toketku. Aku merasa aku akan mendapatkan orgasmeku sebentar lagi. Terus kugoyangkan pinggulku dengan cepat, toketku yang terus diremas itu membuatku merasakan nikmat tak terbayangkan, kurasakan pentilku sudah keras dan toketku basah terkena liur dan keringat, tubuhku sudah basah kuyup karena keringat. Kupejamkan mataku sambil terus menggoyangkan pinggulku, terus kugoyangkan lalu "Uhhhhhhhhhhhhh...." Aku mengerang panjang, tubuhku menggelinjang dan cairan kenikmatan membanjiri mekiku, aku mendapatkan orgasme pertamaku, lalu dia menyusul beberapa menit kemudian. Tubuhku sangat lemas sehingga tubuhku ambruk, dia menopangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menarik batangnya dari mekiku, lalu mengatur posisi doggy style, kedua tanganku bertumpu pada kasurnya, ia langsung menusukkan batangnya dari belakang tapi tak langsung menggenjotku untuk memberiku kesempatan mengatur nafas, setelah gelombang orgasme ku reda aku langsung memintanya untuk menggenjotku. dia pun langsung menggoyangkan pinggulnya secara perlahan. Dalam posisi ini kedua toketku menggelantung dan seperti biasa, dia langsung meremas toket montok ku sambil terus menggoyangkan pinggulnya, kini dia menggoyangkan pinggulnya dengan cepat, remasannya pun makin cepat. "ahh...ahhhhh....ahhhhhhh...ahhh." Tiba-tiba kudengar pintu kamar terbuka, ternyata ari. tak tahan mendengar desahanku barusan ari lalu melepas pakeannya. Ia langsung menyodorkan batangnya didepan mulutku. Kini aku harus melayani dua batang sekaligus. dia terus menggenjotku dari belakang dan tangannya tak pernah berhenti meremas toketku, kecepatannya kini meningkat, demikian pula dengan remasannya makin liar. Aku mengulum batang ari sehingga pemiliknya merem melek keenakan. Kumasukkan batang itu dalam mulutku sambil kuisap, ari menggerakan pinggulnya maju mundur agar aku tak repot memaju-mudurkan kepalaku, kuisap batangnya itu sampai pemiliknya mendesah keenakan dia tampaknya akan mendapatkan orgasmenya, dia menggoyangkan pinggulnya dengan cepat sambil terus meremas toketku yang sudah basah sekali itu. Aku masih menikmati mengulum batang ari. Setelah 16 menit dalam gaya doggy style dia akhirnya melenguh panjang, goyangannya terhenti dan ia menusukan batangnya lebih dalam, ia meremas toketku kuat-kuat. pejunya kembali memenuhi mekiku dan meluber ke selangkanganku. Ia langsung mencabut batangnya dan beristirahat, sedangkan aku masih mengulum batang ari. Terus Kumasukkan batangnya dalam-dalam sambil kusiap sambil kukocok batangnya yang tak seluruhnya masuk dalam mulutku. "ah..ah...Nes..bentar lagi keluar nih..isep yah..." aku terus mengulum batangnya sambil mengocoknya pelan, lalu pejunya menyemprot didalam mulutku langsung kuisap dan kutelan pejunya. ari langsung mencabut batangnya dari mulutku, lalu melepas bajunya sehingga Ia telanjang bulat. Rupanya ia ingin mencicipiku lagi, padahal aku sudah lemas karena melayani Tino sangat lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia duduk dilantai dan bersandar pada dinding, aku duduk dipangkuannya membelakanginya. Dengan mudah, batangnya yang basah terkena liurku itu memasuki mekiku. Aku menggoyangkan pinggulku, aku sudah sering melihat gaya ini dalam video bokep yang sering kutonton untuk masturbasi. Kugoyangkan tubuhku naik-turun sehingga batangnya menghujam mekiku. ari meraba toketku dari belakang sambil mendesah-desah keenakan. Aku terus menggoyangkan tubuhku naik turun, ari kini memainkan toketku sambil memilin-milin kedua pentilku yang sudah keras sekali itu. "Ahh...ah...ahh.aahh..ahh..ah..ah.." aku mendesah keenakan sambil terus mengoyangkan tubuhku. Aku sudah sangat lelah sehingga goyanganku berhenti. ari langsung menggoyangkan pinggulnya dengan cepat sedangkan tangannya meremasi toketku. "Ohhh...ohhhh..oohhh..enak..terus..uhhh...oohh h" aku mendesah keenakan. Desahanku itu ternyata membuat nafsu Tino bangkit lagi dia mendatangiku yang masih menggeliat2 dipangkuan ari. "Nes, kocokin dong.." katanya. Ia ingin aku melakukan hand job, dengan tangan kananku, kukocok batangnya yang sudah menegang itu. "ah..ah..enak Nes.." katanya sambil merem melek keenakan. ari terus menggoyangkan pinggulnya dengan cepat sambil menciumi leherku, remasannya pun makin liar. Aku masih mengocok batang dia dengan cepat. Kami terlarut dalam pesta seks yang sangat nikmat itu. "ah..ahh..Nes..mau keluar nih..masukkin kemulut!" kata Tino. Kubuka mulutku dan kuarahkan batangnya kedalam mulutku lalu muncratlah pejunya memenuhi mulutku, langsung kutelan pejunya. ari masih terus menggenjotku sambil menciumku dan meremas-remas toketku dengan gemas. "oooohhhhhhhhh...." aku mendesah panjang tubuhku menggelinjang, rasa nikmat memenuhi tubuhku. Goyangan pinggul ari makin cepat remasannya makin ganas. Ia menggoyangkan pinggulnya sambil meremas toketku dan mencium bibirku kami berpagutan, menumpahkan seluruh nafsu dan hasrat kami. Ciuman itu membuat nafsu ku bangkit lagi dengan cepat, tanpa sadar aku juga menggoyangkan pinggulku. Merasa tenaga dan nafsuku sudah bangkit, ari mengentikan goyangannya. Kini aku menggoyangkan pinggulku dengan cepat. Keringat memabasahi tubuhku. Toketku juga sudah sangat basah karena liur bercampur keringat. ari menghentikan remasannya, tempaknya ia ingin mengistirahatkan tangannya dulu. Tino kembali mendatangiku. "Ayo jepit Nes.." Rupanya ia ingin aku melakukan breast fucking kesukaannya. Agak susah melakukannya karena aku harus menggoyangkan pinggulku. Kujepitkan batangnya dengan toketku lalu ku gerakkan naik-turun. ari mengentikan goyanganku, tangannya menahan pinggulku, tampaknya ia juga tak ingin cepat-cepat keluar. "Nes, kamu enak banget deh! Apalagi toket kamu kenyel 'n montok banget.." kata ari sambil tertawa puas. Aku meneruskan pekerjaanku. Kunaik turunkan jepitanku. batangnya itu terjepit erat oleh toket montok ku. "ah...ahhh...ah...bentar lagi nih Nes...uhhhhh!" batangnya kembali memuntahkan cairan kental berwarna putih itu sehingga mengenai leher dan toketku. Kulepaskan jepitanku, dia duduk di kasur untuk mengatur nafasnya, dengan menggunakan jariku, kuambil pejunya yang mengenai leher dan toketku dan langsung kuisap. ari langsung melanjutkan genjotannya, digoyangkannya pinggulnya dengan sangat cepat. "ahh...ahh..a..aahhh..enak..uh..terus genjot...ohhhh..." aku mendesah menikmati genjotannya. dengan tangan kananku, kuraih tangan kanan ari lalu meletakkannya di toket kanan ku, lalu menyusul tangan kirinya kuletakkan di toket kiriku. Mula-mula ia meraba kedua toketku lalu meremasnya dengan sangat gemas. Sambil meremas dan menciumku dia meningkatkan kecepatannya, goyangan pinggulnya terasa makin cepat, nafasnya juga makin memburu. ari sepertinya akan mendapatkan orgasmenya. Goyangan pinggulnya makin cepat dan remasannya pun tak pernah berhenti bahkan makin kasar nafasnya pun makin memburu. Aku mencoba menaikkan nafsunya dengan mendesah. "Ohhh...o..ooooooooohhhhhh....enak mas..terus...remes...genjot terus mas...umhhhhh..." Desahanku yang barusan benar-benar membuat nafsunya makin tak terkendali. Sambil mencium bibirku dan meremas toketku, dia tak berhenti menngenjotku, bahkan makin lama makin cepat, kurasakan batangnya menusuk dalam dan goyangannya makin cepat, remasannya makin keras dan kasar, lalu sebuah lenguhan panjang keluar dari mulutnya, ia mencubit kedua pentilku dengan keras, bersamaan dengan itu, pejunya membanjiri mekiku. Setelah itu, ia menarik batangnya dan berhenti sebentar untuk mengatur nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tau kalo ari tak akan puas dengan satu gaya saja. Ia masih merebahkan badannya untuk mengatur nafasnya. Kudatangi dia dan langsung kuarahkan batangnya kedalam mekiku. Cairan pelumas mekiku membuat batangnya mudah menerobos mekiku. "wah..masih belum puas juga ya, Nes?" katanya sambil tersenyum puas. Kugoyangkan pinggulku. Kuraih kedua tangannya lagi lalu meletakkannya pada kedua toketku. "o..Belum puas diremes ya?" kata ari lagi. "oh..ohh..i..iya..remesin mas..." kataku dengan nafas memburu. ari pun langsung meremas kedua toketku pelan-pelan. Aku suka dengan posisi ini karena cowok yang kulayani bisa meremas toketku dengan mudah. Aku menggoyangkan pinggulku dengan cepat, sementara ari meremas toketku pelan, tampaknya dia tau aku suka kalo toketku diremas, jadi dia mempermainkan nafsuku dengan meremas toketku pelan-pelan. Nafsuku semakin naik tak terkendali. Kugoyangkan pinggulku dengan kecepatan tinggi sambil terus mendesah keenakan. Perlahan-lahan remasan ari makin cepat, aku yang sudah dikuasai birahi ini makin mempercepat goyangan pinggulku dan mendesah tak karuan, ari seperti terpengaruh dengan goyanganku, remasannya makin kasar. "oh..oh...ohh...ohh..ohh..oh..oh.." aku mendesah keenakan sambil terus kupacu goyanganku. ari sangat menikmati pelayananku ini, terlihat dari desahannya yang menahan nikmat itu, kini ari tampaknya sudah puas meremas toketku dan kali ini ia memilin kedua pentilku sehingga nafsuku naik turun dan badanku seperti tersengat listrik setiap dia memilin pentilku yang sudah keras itu. Aku yang sudah 16 menit dalam posisi itu merasa akan mendapatkan orgasmeku sebentar lagi, terus kupacu goyanganku lebih cepat, ari pun sepertinya sama, kontraksi antara diniding mekiku dengan batangnya membuatnya keenakan, ari juga sesekali menggerakkan pinggulnya agar batangnya bisa lebih menusuk mekiku. Kupacu terus goyanganku sedangkan ari yang sudah dekat orgasme itu juga ikut menggerakkan pinggulnya. "ah...ah..terus Nes..." ari mendesah keenakan. "uhh...uhhhh...mas...aku...udah...ahhhhhhhhhh. ... " Aku mendesah panjang, sensasi nikmat mengalir keseluruh tubuhku, aku sangat kelelahan setelah melayani 2 orang dalam waktu yang lama, tapi tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti tersengat listik, ari mencubit keras-keras kedua pentilku sambil melenguh panjang, dan lagi-lagi cairan peju memenuhi mekiku. ari menopang tubuhku yang sudah lemas itu lalu menarik batangnya dari mekiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir dia sudah puas dan ingin istirahat tapi di malah ingin mencoba gaya lain. "Nes, kita ganti gaya" kata ari. ari mengatur posisi doggy style lagi. Aku sudah sangat lemas masih harus melayaninya dalam posisi doggy sytle yang melelahkan itu. Karena ingin cepat selesai kuturuti saja keinginannya. Tangan dan kakiku bertumpu di kasur. ari langsung menerobos mekiku dari belakang. Tak seperti dia yang memberiku kesempatan bernafas, ari langsung menggenjotku dengan cepat, banyaknya cairan pelumas dan peju dalam mekiku membuat batangnya gampang bergerak. Goyangan pinggulnya yang sangat cepat itu menyebabkan bunyi berdecak setiap batangnya menghujam mekiku. Tampaknya ari sangat menyukai mekiku. Sambil menggoyangkan pinggulnya dengan cepat, tangannya menelusuri setiap lekuk tubuhku. Dari leher, ia mengelus pundakku, dada, pinggang, pinggulku, lalu dia meraba-raba kedua toketku yang menggelantung itu. Dia tidak meremas toketku, tapi hanya merabanya saja. Nafsu Tino tampaknya sudah bangkit lagi, dia mendatangiku dan memintaku untuk mengulum batangnya, kubuka mulutku dan batangnya pun masuk kedalam mulutku, kusiap batangnya kuat-kuat sampai pipiku kempot, dia memaju-mundurkan pinggulnya agar batangnya dapat keluar-masuk mulutku dengan leluasa. "ahhhhhh......." aku mendesah kencang karena tiba-tiba ari mencubit pentilku kuat-kuat. "ah...pelan..pelan dong kalo nyubit..." kataku. "hehehe...sorry Nes..abis ngegemesin sih.." balas ari sambil terus menggenjot dan memilin-milin kedua pentilku. Tino menarik kepalaku dan mengarahkannya pada batangnya, langsung ku lanjutkan kulumanku. ari tampaknya tak ingin cepat-cepat orgasme, dia memelankan goyangannya. dia terus memaju-mundurkan pinggulnya menusuk mekiku. Kuisap batang Tino itu didalam mulutku sehingga ia merem-melek keenakan. Goyangan ari perlahan-lahan makin cepat. "Ah..Nes...dah mau keluar nih..isep..uhhhhhh" Tino mendapat orgasmenya lagi, pejunya langsung kutelan sehingga tak ada yang tercecer keluar dan langsung kubersihkan batangnya dari sisa-sisa pejunya. ari makin meningkatkan kecepatannya, nafasnya makin memburu dan meracau tak jelas, kurasa dia akan segera mendapatkan orgasmenya. Sambil terus menggenjotku, kedua tangannya kini meremas kedua toketku dengan penuh nafsu. Nafsuku seakan-akan meledak lagi, rasa lemas yang kurasakan hilang dan kini kurasakan rasa puas yang seperti akan meledak. ari mempercepat goyangannya lagi hingga tubuhku bergetar kencang, dia juga meremas toketku kuat-kuat lalu sebuah lenguhan panjang terdengar dari mulutnya. Dapat kurasakan cairan hangat mengisi mekiku, belum selesai gelombang orgasme ari, aku menyusulnya tak lama kemudian. "a..aaaaahhhhhhhh...." Aku mendesah panjang dan seluruh tubuhku merasakan gelombang nikmat. Setelah orgasmenya selesai, ari langsung menarik batangnya, dia terlihat sangat puas. Aku juga merasakan kepuasan yang tak terlukiskan. ari beristirahat dan mengatur nafasnya. Tubuhku sudah sangat basah terkena keringat, aroma peju yang menyengat juga tercium dari tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit dan jalan ke kamar mandi yang ada di kamarnya. "Mau kemana?" tanya ari. "Mandi" jawabku singkat. Aku masuk kedalam kamar mandi yang cukup lebar itu dan membasahi tubuhku dengan shower, tapi tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, ternyata Tino dan ari masuk. "Kita juga mau mandi, mendingan bareng aja." katanya. Kami bertiga membasahi diri dengan air dari shower yang mengalir deras. Tino mengambil sabun lalu mematikan showernya. "sini,biar aku sabunin..Kamu kan capek.." kata Tino padaku. Ia menggosokkan sabun sampai berbusa lalu mulai menyabuni tubuhku. ari pun mulai menyabuniku. Tino menyabuni toket kananku, sedangkan ari menyabuni toket kiriku. Dibawah, kurasakan tangan Tino bermain-main pada mekiku. "nghhhhh...jangan lagi mas..." aku mendesah. Desahanku itu malah membangkitkan lagi nafsu mereka. Sambil menyabuni toketku, mereka meremas-remas toketku. Aku hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu oleh mereka berdua. Kurasakan 2 jari maju-mundur menusuk mekiku. "eemmmmmhhhh..mas..udah...oooooooohhhhhhh" Tampaknya mereka berdua berusaha membangkitkan nafsuku dengan memilin pentilku atau meremas toketku. Gerakkan jari makin cepat, dengan cepat jari itu keluar-masuk mekiku. "oh...ohhh...ohhh..ooooohhhh...." Aku mendesah. ari menyalakan shower kembali lalu membersihkan tubuhku dari sisa sabun. Aku berharap mereka akan menyudahi permainannya. Tapi, Tino malah ingin dipuaskan lagi, aku hanya bisa berharap agar tidak pingsan saat dia menyetubuhiku nanti. Tino rupanya ingin mencoba gaya pangkuan seperti yang kulakukan tadi saat bersama ari tadi. mekiku yang masih penuh cairan itu membuat batang nya mudah menerobos mekiku. Dia tau tubuhku sudah lemas. Didalam kamar mandi pun aku harus melayaninya. Dia mulai menggoyangkan pinggulnya sehingga batangnya mulai menghujam mekiku. Tusukkan batangnya membuat aku seakan merasa tersengat listrik. Digoyangkannya pinggulnya dengan cepat. "ahh...ahhhh....ahhh...mas...ahhhhhh.... " aku tak bisa berhenti mendesah ketika batangnya menggesek-gesek dinding mekiku yang rapat itu. Aku merasa pentil kananku seperti dikenyot, ternyata ari sedang mengenyot toket kananku sedangkan tangannya meremas toket kiriku yang tak dikenyotnya. Tino menggoyangkan pinggulnya dengan cepat, kontraksi dinding mekiku membuat batangnya terjepit didalam mekiku sehingga membuatnya merasa nikmat. ari mengenyot toketku bergantian kiri-kanan sambil terkadang ia menggigit pentilku pelan untuk membangkitkan libido ku. "eeennngggghhh...mas...abis..ini..udahan...du..lu. .ya...o..oooohhhhhh" Aku benar-benar merasa lemas bercampur nikmat. ari tampaknya sudah puas mengenyot toketku, dia meraih tangan kananku lalu meletakkannya di batangnya. Langsung kukocok batangnya hingga pemiliknya melenguh keenakan. Sambil menggenjotku, Tino kini meremas kedua toketku dengan gemas. Tanpa kusadari, nafsuku sudah naik lagi, aku menggoyangkan pinggulku juga. Kukocok terus batang ari, dia semakin bersemangat, dia terus menambah kecepatannya. "ah..ah..Nes..masukin ke mulut ya..." ari sudah hampir mendapatkan orgasmenya. Kumasukkan batangnya kedalam mulutku, pejunya menyemprot cukup banyak didalam mulutku. Langsung kutelan pejunya dan kuisap batangnya hingga tak ada pejunya yang tersisa pada batangnya. Setelah puas dengan hand job-ku, ari keluar meninggalkan aku dan Tino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Tino diam dan aku mulai menggerakkan tubuhku naik-turun. batangnya pun dapat keluar-masuk dengan mudah. Aku merasakan aku akan mendapatkan orgasmeku lagi, kupacu gerakkan ku makin cepat. dia sepertinya juga akan mendapat orgasmenya sebentar lagi nafasnya makin memburu dan mulutnya meracau tak jelas. Terus kupacu gerakkanku, dia juga menggoyangkan pinggulnya agar batangnya menusuk lebih dalam. Terus kupacu makin cepat, lalu aku kembali merasakan sensasi nikmat menjalar keseluruh tubuhku. dia juga sudah mendapat orgasmenya, dia melenguh panjang sambil menahan tubuhku dan menancapkan batangnya lebih dalam. dia menarik batangnya. Aku merasa sangat lemas kucoba mengatur nafasku yang tersengal-sengal. "Nes, nikmat banget deh maen ama kamu, meki kamu empotannya hebat banget, makasih ya. Kapan2 kita ngulangi lagi ya, enak kan maen ber3". "Nikmat sih mas, cuma Ines lemes banget, abis mas gak udah2 maennya, pada kuat2 ya mas maennya". Aku benar-benar merasa sangat puas pagi itu. &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>ketemu di jalan</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/04/ketemu-di-jalan.html</link><category>ketemu di jalan</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Thu, 16 Apr 2009 01:20:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-4215351971215233948</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;        &lt;hr style="color: rgb(255, 255, 255); background-color: rgb(255, 255, 255);" size="1"&gt;    &lt;!-- / icon and title --&gt;       &lt;!-- message --&gt;    Halo, na gw alit tuh samarannya. Pengalaman ini terjadi 4 bulan yang lalu di kuta - Bali. Saat itu udah Malam, kesel karena janjian ama temen DS dr jakarta ngak ketemu, gw jalan2 di pantai. Ngak nyangka gw ketemu ama seorang cewe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya rini. kenalan deh; ternyata dia dari jakarta kerja di bali. gw tanya kok sendirian; dia bilang lagi bosan. kita ngobrol2 kesana kemari n bang... kita punya kesamaan suka sex chat... dalam hati setan mulai berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gw trus tawarin jalan n makan malam di sekitar kuta tempatnya asik. ngak nyangka Rini dengan balutan gaun berwarna coklat transparan bermotif batik itu bener bener buat gw konak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu makan kita ngobrol2 n gw beraksi...&lt;br /&gt;"Rin, loe mau es krim" gw tanya.Trus gw pesan satu n kita makan bareng.&lt;br /&gt;dia bilang "ok" sambil raba paha gw (ampun deh nih cewe). es krim datang langsung di santap n gw minta billnya. sambil nikmatin esnya gw juga nikmatin pemandangan indah dihadapan gw. wajah cantik, mulus, putih, tinggi, rambut hitam lurus n payudara yang sempurna. mungkin segenggaman gw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"rin, loe cantik deh" gw&lt;br /&gt;"basi" kata rini&lt;br /&gt;"eh esnya blepotan tuh di bibir" gw ambil tisu mau nyeka, dia senyum aja trus waktu udah deket banget..."cup" gw cium lembut di sisi bibir nya yang kecil.&lt;br /&gt;"nah skrg udah bersih" kata gw. Rini ngak marah cuman senyum, merona kemerahan n nunduk. dalam hati gw ni dia saatnya.&lt;br /&gt;"rin, kita jalan yuk" kata gw; dia mau aja. trus kita berdua ke parkiran. naik ke mobil dia gw rangkul udah kayak pacaran aja. gw bukain pintu n ngak lupa sebelum nutup pintu gw cium lagi. keluar dari parkiran ke jalan sialan MACET total. dalam hati; sit udah konak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"yah kok macet sih ... duuh" kata rini.&lt;br /&gt;"sabarya ntar juga sampe" kata gw.&lt;br /&gt;"sampai ke puncak ya... lit" kata rini.&lt;br /&gt;"maksud loe..."kata gw.&lt;br /&gt;"tuh adikmu udah nganceng gitu" kata rini. sialan ternyata si rini diam diam merhatiin juga. Macet lagi... di dalam mobil lagi. aduh..&lt;br /&gt;" Rin gw..." mendekati dia trus gw cium bibirnya. lembut banget lebih nikmat dari yang tadi. gw lepas eh dia yang mendekat dia cium gw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ahh... maksih ini malam yang indah"kata rini.&lt;br /&gt;"Rini... elo mau coba yang liar ngak" kata gw&lt;br /&gt;"apa sih" kata rini sambil raba paha gw.&lt;br /&gt;"loe mau kan... ahh" kata gw... rini raba celana gw n buka pelan pelan resletingnya. Rini raba ****** gw n masukin tangannya ke CD gw. Tanpa paksaan dia mulai nunduk n posisinya melintang. kepalanya nunduk tepat di ****** gw.... n rini mulai cium lembut. gila lagi nyetir gw gemeteran banget...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"uhh ... ahhh" gw... dia mulai nocokkin kon gw. di cium.... kulum.. sedot ahhh enak banget. gw usah lembut rambutnya pake tangan kiri.gila ampe merem melek nih. susah banget untuk konsentrasi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"sayang aku mau air kamu... plsss" sambil memelas n nongok ke gw + tangannya ngocokin kon gw. gw cium bibirnya trus tangan kiri gw nuntun kepalanya ke selangkangan gw lagi. dia mulai lagi ngocokin n... ahhh.... uh loe jago rin gw.... ahh sit ahhh. gw nyampe n uh enak banget. "ahhhhhhh..... eiit" nyaris gw nabrak mobil di depan gw.&lt;br /&gt;"iih... eeh... gimana sih kamu itu ngak konsen ya" kata rini. gw kaget banget.&lt;br /&gt;"eh rini loe muntahin dimana" kata gw.&lt;br /&gt;"enak aja kamu ya, enak kok di buang" kata rini. jalanan mulai lancar mobil gw tancap.&lt;br /&gt;"alit... kita kemana" kata rini "kita ketempat gw" kata gw. 20 menit di jalan gw sampe di tempat yang dituju. gw bel gerbang di buka; 2 orang ngampirin gw satu bukain gerbang satu lagi ambil alih mobilnya utk di parkir. gw ajak Rini ke dalam; dia kaget banget bangetn nanya... "alit ini tempat sapa" tanya Rini. gw senyum trus ngajak dia ke belakang. Rini senyum ngelihat semuanya. di belakang ada taman penuh bunga n ada lampu taman. tapi ada spot yang paling bagus yaitu kursi panjang yang ada kasurnya n bantal. gw rangkul rini n cium dia. Gw duduk di kursi. posisi kepala gw sekarang sejajar pinggulnya. tangan gw yang kiri mulai bergerilya yang lain remas pantatnya lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"rin... km cantik, aku mau kamu skrg" kata gw. dia diam aja. trus gw raba paha nya. gaunnya mulai terangkat sedikit demi sedikit. pahanya mulai terlihat... putih tanpa cacat. gw cium... rini mulai terangsang. gw angkat lagi sampai CD rini terlihat disana gw cium vaginanya dari luar cd..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ahhh... suttt" rini menikmatinya. gw cium sebentar trus gw naik tapi gaunnya tetap terangkat. gw keatas, gw cium bibirnya lembut. gaunnya turun. tangan kiri gw melingkar di pinggan kami berciuman saling mengulum. sesekali terdengar desahan dari rini. tangan kanan gw meraba2 liar sampai gw temukan lilitan di lehernya yang mengikat gaunnya. gw buka; gaun rini mulai turun. saling memandang kami sedikit berjauhan. rini tersipu malu sambil memegang gaunnya yang terlepas namun masih terikat oleh kain yang berfungsi sebagai ikatan di pinggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku mulai mencium lehernya yang putih bersih n harum banget. rini mendesah hebat. tangan rini terkulai lemas disisinya. pasrah tanpa perlawanan. gw turun ke aran susu kecil seukuran genggaman tangan, gw remas dengan tangan kiri gw; cium susunya dengan lembut di sisi luar satu kecupan sederhana n cium putingnya n gigitan lembut. Tiba-tiba.."ahhh... ahhhhhh" rini mendesah panjang n dia bilang gw keluar" sayanggg.. aku keluar"... aku diam sesaat lalu tangan ku mengangkat gaunnya, menunduk n&lt;br /&gt;gw lihat lingerie nya basah. gw memandang kearahnya n dia tersenyum n tersipu malu. lalu gw melepaskan cd nya n gw duduk di kursi panjang itu. gw angkat kaki kanannya trus gw raba pake jari tapi Rini menghentikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"sayang jangan pake itu, aku ngak berani" kata Rini. gw iya kan. lalu gw cium dengan lembut. lidah gw bermain ... gila harum banget. in pertama kalinya gw nemu yang harum kayak gini. gw kulum.... cium... isep n sedot,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..."ahhhh.uuuhhhhh..ahhhhhhhhhh..." bess cairan keluar dari vaginanya. gw sambut gw isep habis. lalu gw bediri. Rini berdiri dengan gaun masih terpasang namun sudah tak beraturan. Rini menggit bibirnya n menunduk saat gw pandang. lalu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"rin, sini... ikut gw" kata gw. gw terus ajak dia ke gazebo deket taman. disana ada bantat tempat biasa gw duduk tempatnya lebar cukup utk ngapain aja. lalu... "rini, sayang kamu rebahan ya" kata gw. Rini merebahkan dirinya lalu kedua kakinya gw tuntun hingga posisi mengangkang. Gaunnya yang masih terpakai itu tersingkap n gw raba pahanya; gw cium pahanya. turun cium vaginanya trus gw lepasin resleting celana gw. ****** gw udah konak berat. lalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alit, aku takut ... kalo kalo" kata rini. lalu aku menenangkannya dengan mengatakan " sayang ngak apa2 kok aku janji aku ngak akan kasar n aku akan buang diluar" kata gw. aku mulai permainnannya. posisiku berdiri kontolku sejajar dengan vaginanya dalam hati "I love my gazebo".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gw coba masukin ke vagina rini yang sudah basah ntah mengapa. yang jelas basah. gw masukin susah banget; gw pikir nih cewe sempit banget. gw coba terus ngak peduli lagi ama rini yang mendesah desah sampai2 tubuhnya agak terangkat sediri. tangan rini sampae ngremes tangan ku kuat banget.... lalu blesss... masuk n.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rini " ahhhhhhhhhhhh............." gw cium bibirnya lalu berdiri tegak. gw pompa tuh vagina yang luar biasa sempit mungil n indah. pelan.. pelan. lalu gw naikin kecepatannya. gw genjot. " ahhh....uhh.... ennnnak say, terusin ...mmmmmm.... jangan terlaluuuuuuuu.........." tiba tiba ubuh rini menggelinjang hebat susunya menegang hebat. saat itu gw diam tapi gw sodok sekuat2nya. tangan rini remas tangan gw kuat banget. lalu gw pompa dengan posisi yang sama. gw cepetin lamabatin ; jelas tubuh Rini kini bisa menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah beberapa saat ... lalu gw mengangkat kaki kanannya ke bahu gw n gw pompa.... Rini menjerit kesakitan ......&lt;br /&gt;"ahhh...ehhh....ahhh.... ampun...ampun... jang...ngan.... ahhhhh" jerit rini. hampir 3 menit kami dalam posisi itu... tiba2 Rini menjerik kerah dan melenguh kenikmatan yang mendalam. "ahhhhhhhhhhhhh.....akuuuu............uhhhhhhhhhhh hhhahhhhhh" rini. lalu aku "ahhhhhhhhhhhhh......". semuanya tersembur didalam. ****** gw terasa diremas hebat hingga tanpa bisa untuk mencabutnya dari sdalam vagina rini. gw menindih rini. terkulai lemas. lalu gw cium bibir n pipi rini. kami benar2 lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu gw berdiri n gw ngak percaya apa yang gw lihat .... darah yang tercampur di bibir vagina rini."Alit, aku sayang kamu... sebenernya aku belum pernah..."kata rini lalu aku mencium keningnya gw ngak nyangka apa yang gw dapet. cewe cantik 25 tahun 2 tahun lebih muda dari gw. masih perawan n gw yang metik. gila... luar biasa. 1 jam 30 menit malam itu kami lalui tanpa gaya aneh2 hanya mengalir begitu saja di selimuti dinginnya malam.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Khasiat Ramuan Sehat Lelaki</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/04/khasiat-ramuan-sehat-lelaki.html</link><category>Khasiat Ramuan Sehat Lelaki</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Wed, 15 Apr 2009 01:18:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-1115447951838412103</guid><description>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:85%;" &gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Inah bangkit mengambil bakul yang tertinggal di ruang tamu, sekembalinya dia bertanya lagi kepada Anton, "Jadi nggak... jamu Sehat Lelakinya mas?" tanyanya kepada Anton. "Sini dulu dong..." jawab Anton sembari tangannya mempersilahkan Inah untuk duduk di sampingnya lagi. "Kalo aku jadi minum... terus bereaksi... buat membuktikannya gimana kalo jamu buatan mbak itu benar-benar berkhasiat" goda Anton. "Ya sama pacarnya dong... maunya sama sapa?" pancing Inah gantian. "Gimana kalo sama mbak aja... soalnya pacar yang mana juga bingung aku" tembak Anton sekenanya. "Jangan ah... entar kedengeran sama tetangga lho" jawab Inah tanpa nada penolakan. Kemudian Inah mengambil botol dari bakul dan meracik ramuan Sehat Lelaki. Anton bangkit dari tidurnya kemudian mendekati tempat Inah duduk, dibelainya kepala gadis itu dengan lembut. "Jangan mas... genit ah... entar aku teriak lho" ancam Inah jinak-jinak merpati. "Teriak aja... paling gak ada yang keluar... orang ujan-ujan begini... pada males orang keluar" tantang Aton. Kemudian belaian Anton turun ke pipi Inah terus ke leher jenjangnya. "Masss... geli ahh.. entar tumpah nih gelasnya" ancam Inah. "Kamu cantik lho mbak... kok bodoh sekali ya bekas suamimu itu" rayu Anton, "Soalnya janda itu kaya mas... sementara aku kan cuma orang desa yang gak punya apa-apa" jawab Inah sembari memberikan gelas berisi ramuan jamu kepada Anton. "Nih... minum dulu ramuannya... ditanggung ces pleng..." jawab Inah tanpa di sadari. "Hee... berarti mau dong ngebuktiin khasiatnya" tembak Anton setelah meminum habis ramuan jamu tersebut. "Eh... ya nggak gitu... nyobanya gak sama aku" elak Inah merasa di tembak Anton. "Sekarang pijitin bagian depannya dong mbak, khan gak imbang kalo cuma belakangnya aja yang di garap" pinta Anton. "Depannya minta di kerok sekalian mas?" tanya Inah. "Nggak usah di kerok... pijitin aja" kata Anton.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;~::~&lt;/div&gt;Pijitan Inah di dada Anton, kembali membuat pemberontakan adiknya di dalam sarung. Tangan kanan Anton kembali meraba pipi halus Inah, wanita itu terdiam. Kemudian Anton menelusuri rabaan mulai turun ke leher Inah, perlahan tapi pasti dibukanya kancing kebaya Inah, Inah menoleh ke samping, dadanya bergemuruh, dirasakan semua bulu kuduknya berdiri, sensasi ini telah lama ia rindukan, semenjak bercerai dengan suaminya setahun lalu, tidak ada tangan laki-laki lain yang menyentuh tubuh sintalnya. Anton merasakan deru nafas Inah yang mulai tidak teratur, dalam hati Anton bersorak... kena lo sekarang...! Dirabanya bukit kembar satu persatu. Anton tidak mau terburu-buru, diraba dengan bra yang masih terpasang. Rona wajah Inah semakin nyata, "Masss... jaaangaannnn... mass... nanti dilihat orang" erang Inah sembari menahan gejolak dalam dirinya tanpa menepis tangan Anton. Anton tidak menjawab, perlahan di bukanya kebaya Inah mulai dari pundak. Inah mencoba untuk menahan tangan Anton, kemudian Anton bangkit dari tidurannya, Inah memiringkan wajahnya seolah takut berhadapan dengan wajah Anton yang tinggal beberapa senti lagi darinya. Anton meraih dagu wanita itu, perlahan dipalingkan wajah Inah tepat dihadapannya, kemudian Anton mendekatkan bibirnya mengecup bibir Inah, Wanita itu menolak, tetapi hanya sesaat, kedua tangan Anton memegang pundak wanita itu dan dilanjutkannya mengecup bibirnya, bergetar bibir wanita itu dirasa menambah nafsu Anton, perlahan dibukanya bibir itu dan dikulumnya lidah wanita itu, terlihat Inah mulai menikmatinya sambil memejamkan mata. Kedua tangan Anton menurunkan kebaya yang dipakai Inah, tanpa perlawanan lagi. Sembari mereka saling berpagutan, dicarinya pengait bra di punggung wanita itu dan berhasil dibukanya, perlahan diturunkannya tali di atas pundaknya ke samping dan turun ke bawah. Anton terhenyak tanpa melepaskan pagutannya, bukit kembar wanita itu masih kencang, bulat dan mengacung putingnya menantang, kemudian dirabanya kedua bukit itu disertai erangan kecil Inah. "Masss... aku takuuutt..." erang Inah. "Sssstttt... enggak pa pa kok... nikmatin aja ya sayang" ujar Anton menenangkan wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://s2.supload.com/free/kasiat_ramuan-1.jpg/view/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://s2.supload.com/thumbs/default/kasiat_ramuan-1.jpg" alt="" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kemudian Anton mengambil tangan kiri Inah yang kemudian diletakkannya di atas sarung tepat di senjata Anton. "Mass... gak pake celana dalam ya...?" tanya Ginah sembari mengelusnya dari luar sarung. Anton hanya tersenyum, kemudian diapun berusaha untuk melepaskan kain yang masih dikenakan Inah. Setelah kain terlepas... Anton tidak dapat menahan gelinya, "Kamu juga gak pake daleman ya...? tanya Anton dengan geli.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://s2.supload.com/free/kasiat-ramuan-2.jpg/view/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://s2.supload.com/thumbs/default/kasiat-ramuan-2.jpg" alt="" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;"Memang rata-rata tukang jamu itu tidak memakai celana dalam mas" jawab Ginah ketus, giliran Anton yang kaget dan melongo... Gila!!! Perlahan ditatapnya wajah Inah, perlahan tapi pasti tangan Anton merenguh bahu wanita itu dan perlahan-lahan merebahkannya ke lantai. Anton mulai meraba kedua bukit kembar Inah, sementara wanita itu memalingkan wajahnya menghindar tatapan Anton, di pegangnya tangan Anton tetapi tidak bermaksud untuk melarang. Anton memang pandai memanjakan wanita, walau dirasa tubuh wanita itu sedikit berbau ramuan jamu, tidak mengurangi nafsu Anton untuk kemudian menjilatinya. Dimulai dari leher jenjang wanita itu, kemudian perlahan turun pada dua bukit kembar, kembali lidah Anton menyelusuri gundukan bukit itu satu persatu yang diakhiri dengan sedotan diujung putingnya.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://s2.supload.com/free/kasiat-ramuan-3.jpg/view/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://s2.supload.com/thumbs/default/kasiat-ramuan-3.jpg" alt="" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Terdengar erangan wanita seperti kepedesan, kedua tangannya telah beralih ke rambut gondrong Aton dengan sedikit jambakan. Lidah Anton meneruskan gerilyanya, turun ke arah pusar Inah, terlihat Inah demikian menikmatinya, kegiatan yang tidak pernah dilakukan suaminya dahulu, karena suaminya hanya memaksa bila ingin dipenuhi kebutuhan sahwatnya tanpa Inah merasakan nikmatnya berhubungan insan berlainan jenis.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;~::~&lt;/div&gt;Tangan Anton kembali meremas bukit kembar Inah, sementara jilatan Anton telah mendekati sasaran di sarang kenikmatan Inah. Luar biasa... bulu kemaluan Inah demikian lebatnya, menambah sensasi tersendiri buat Anton. "Eh... masss... mau ngapaiiinn...? selidik Inah di atas sana.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://s2.supload.com/free/kasiat-ramuan-4.jpg/view/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://s2.supload.com/thumbs/default/kasiat-ramuan-4.jpg" alt="" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Anton tidak menjawab, tangan kanannya berusaha menyingkap bulu lebat Inah untuk menemukan kenikmatan gadis itu. "Jangan masss... kotooorrr... achhh..." erang Inah menahan gejolak yang untuk pertama kali dirasakan sensasi itu. Anton hanya melirik ke atas, dilihatnya mata wanita itu terpejam kenikmatan. "Masss... ediaaannn... uenakeee... ssshhh... aaahhh... emmmhhh masss..." jerit tertahan Inah sembari menjambak rambut Anton. Lidah Anton menemukan klitoris Indah, dijilat, dipluntir dan sesekali dihisap lembut, sehingga tak lama membuat Inah kelojotan.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://s2.supload.com/free/kasiat-ramuan-5.jpg/view/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://s2.supload.com/thumbs/default/kasiat-ramuan-5.jpg" alt="" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;"Masss... gak kuaaat... mauuu pipp pisss..." teriak Inah sambil berusaha menyingkirkan kepala Anton dari kemaluannya. Anton menolak dan semakin kuat membenamkan wajahnya kedalam kemaluan Inah. Tak lama kemudian Anton merasa kalau kepalanya sedikit sakit akibat jepitan paha Inah, tetapi di tahannya, karena Anton tahu bahwa wanita ini mengalami orgasme yang teramat hebat dan dahsyatnya. "Achhh... emmmhhh... masss...sss...sss acchhh..." jerit tertahan Indah mengiringi orgasme yang baru sekali ini dialaminya, seolah copot semua persendian di tubuhnya. Sensasi apa ini, yang tak mampu dicapai oleh pikirannya, karena tidak pernah di dapat dari mantan suaminya dulu. Inah terkapar kelelahan,&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://s2.supload.com/free/kasiat-ramuan-6.jpg/view/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://s2.supload.com/thumbs/default/kasiat-ramuan-6.jpg" alt="" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Anton memeluknya, dielusnya rambut dan pipi Inah, sementara Inah kehabisan nafas, seakan habis puluhan kilometer dia lari...&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>::Menghangatkan Hujan::</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/04/menghangatkan-hujan.html</link><category>Menghangatkan Hujan</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Tue, 14 Apr 2009 01:17:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-6821245781867869520</guid><description>&lt;div style="color: rgb(0, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Comic Sans MS;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bangun tidur sore itu... tidak membuat Anton menjadi bugar, seperti layaknya orang bangun tidur. Bayangkan... dua malam begadang di puncak Merapi. Sebagai anggota pencinta alam, kampusnya ditugaskan untuk mencari beberapa anak SMK pendaki yang hilang di Merapi. Cuaca buruk begini nekat mendaki gunung, kutuknya dalam hati. Di dekapnya kedua kaki mengusir dingin di atas bangku teras depan kosnya, cuaca hujan rintik-rintik. Memang cuaca bulan Desember membuat segalanya menjadi basah, termasuk beberapa potong celana jeans belelnya yang kemungkinan hanya di bulan Desember ini bertemu dengan yang namanya air, dua potong CD pun ikut basah akibat dicucinya tadi pagi. Benar-benar hari yang menyiksa bagi Anton, sudah dingin cuaca... tanpa CD pula. Sepotong kain sarung yang lumayan kering cukuplah menghangatkan tubuh cekingnya sore itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="color: rgb(0, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;~::~&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Comic Sans MS;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tempat kost Anton cukup strategis, walaupun bangunan peninggalan Belanda, tetapi letaknya terpisah dari perkampungan, karena dikelilingi oleh tembok tinggi. Ibarat memasuki sebuah benteng pada jaman dahulu, letak kamar kos-kosan disekeliling bangunan utama yang di jadikan sekolah negeri. Suasana sekitar kos-kosan memang sedang sepi... penghuninya banyak yang pulang kampung, maklum liburan Desember. Sementara sebagian kamar dijadikan asrama sekolah yang juga kosong ditinggal penghuninya liburan, praktis Anton merasa sebagai penjaga kosan, umpatnya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="color: rgb(0, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;~::~&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Comic Sans MS;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Mas... jamu mas..." sapa tukang jamu gendongan membuyarkan lamunan Anton. "Eh embak... ujan-ujan ngagetin orang lagi ngelamun aja" sewot Anton. "Masnya ini lho... ujan-ujan kok ngelamun... tuh jemuran gak diangkat..." tanya mbak jamu sambil berjalan menghampiri beranda di mana Anton duduk. "Emang sengaja mbak... sekalian kena air" jawab Anton sekenanya. "Lho... kan sayang udah di cuci tapi kehujanan" kata mbak jamu keheranan. "belum kok, belum di cuci" elak Anton. "Lha... kok aneh" protes mbak jamu, "sekalian dicuciin sama ujan" saut Anton. "Dah laku jamunya mbak? tanya Anton di sela-sela gerimis. "Yah belum banyak sih, makanya mbok dibeli mas jamunya" pinta mbak Jamu memelas. "Emang jualan jamu apa aja sih mbak" selidik Anton sambil membenahi sarungnya. "Ya macem-macem, ada galian singset, sari rapet, kunir asem, sehat lelaki, pokoknya banyak deh, dan semuanya hasil meracik sendiri lho mas" bangga mbak jamu sembari membersihkan air di sekitar kaki dan kainnya. "Kalo badan pegel-pegel, jamunya apa mbak?" tanya Anton, "Ada tolak angin" seru mbak jamu. "Ah... kalo aku biasa di kerokin mbak, kalo minum jamu doang kurang marem" kata Anton. "Mbaknya bisa ngerokin saya?" goda Anton, "Emang situ mau saya kerokin" kerling mbak jamu malu-malu. Anton hanya tersenyum saja. "Ngomong-ngomong... namanya siapa sih mbak" tanya Anton. "Saya Inah mas" jawabnya tersipu. Kalo di perhatikan... manis juga nih cewek... mana putih lagi kulitnya, gumam hati Anton. "Kalo mas siapa namanya?" tanya Inah membuyarkan lamunan Anton. "Saya Anton mbak" jawab Anton gugup. Keduanya bersalaman, gila... alus juga nih cewek tangannya, bathin Anton.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="color: rgb(0, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;~::~&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Comic Sans MS;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Gimana mas Anton, mau saya kerokin?" tantang Inah memancing. "Bener bisa ngerokin nih?" tanya Anton antusias. "Boleh" jawab Inah senyum. "Tapi jangan di sini ya, bawa masuk aja sekalian bakulnya mbak" kata Anton sambil bangkit berdiri menyilahkan Inah masuk ke dalam kos-kosan. "Wah kos-kosannya bagus ya mas, ada ruang tamunya segala, ini kamar siapa aja mas kok ada tiga? selidik Inah sembari meletakkan bakulnya di pojok dekat bufet. "Kamar temen, cuman mereka pada pulang kampung, tinggal saya sendiri jaga kos" jawab Aton. "Kamar mas Anton sebelah mana" tanya Inah, "Itu mbak, paling pojok, paling gelap" kata Anton. "Ih ngeri ah... gelap-gelapan" goda Inah genit. "Gak pa pa kok... aku dah jinak" canda Anton sembari mengajak Inah menuju ke dalam kamarnya. "Kok sepi mas?" selidik Inah sembari melihat ke kiri kanan. "Rumah sebelah juga pulang kampung sekeluarga, makanya sepi" jawab Anton. "Kamar mandinya di mana mas, aku mau cuci kaki dulu" tanya Inah. "Itu di depan kamarku jawab Anton sembari membereskan tempat tidurnya yang berantakan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="color: rgb(0, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;~::~&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Comic Sans MS;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Anton merebahkan badannya telungkup di atas kasur tanpa dipan, sementara Inah mengambil minyak gosok serta uang benggol untuk kerokan. "Mbak, jangan pake minyak ah... aku gak tahan bau dan panasnya" cegah Anton. "Trus pake apa dong mas? tanya Inah bingung. Anton berdiri menuju meja rias, diambilnya sebotol Hand Body dan di berikannya kepada Inah. "Pake ini aja mbak.. wangi lagi" senyum Anton. Kemudian Inah mengambil posisi duduk di sebelah Anton, disingkapkannya kain batik yg dikenakannya sehingga tampaklah betis mulus Inah. Wah mulus juga, mana banyak bulu halusnya nih tukang jamu sorak hati Anton. Tangan yang menempel di punggung Anton juga dirasa lembut dan halus oleh Anton. "Umurnya berapa mbak" tanya Anton memecah keheningan mereka berdua. "Dua enam bulan besok mas" jawab Inah. "Beda dua tahun di atas dong dengan saya" kata Anton sembari meringis kesakitan. "udah rumah tangga mbak?" kejar Anton. "Pisahan mas, suami saya kabur gak tanggung jawab" kata Ginah. "Lho kenapa?" sambung Anton penasaran. "Kecantol janda sebelah kampung" ungkap Inah cuek. "Waduh... laki-laki bodoh tuh... sela Anton sembarangan. "Emangnya kenapa mas?" penasaran Inah. "Gimana gak bodoh, punya istri manis, putih dan sintal kayak gini kok di sia-siakan" rayu Anton. "Ah... mas Anton bisa aja" jawab Inah masuk dalam perangkap Anton, sembari mencubit pinggang lelaki itu. "Eh... geli ah mbak..." jerit Anton sedikit mengelinjang. "Laki-laki kok gelian... ceweknya cantik tuh..." goda Inah. "Nggak cuman cantik... tapi banyak juga mbak" sombong Anton. "Huh... dasar... laki-laki..." cemberut Inah. "Mbak... tadi jamunya apa aja?" tanya Anton kemudian setelah adegan kerokan di punggungnya selesai. "Kalo buat kondisi mas Anton sekarang... minum Sehat Lelaki" jawab Inah, "Kasiatnya apa aja mbak?" kejar Anton. "Selain ngilangin masuk angin, supaya badan gak lemes dan mudah loyo" jawab Inah. "Mudah loyo...? maksudnya apa...? tanya Anton kemudian. "Ih masnya ini lho... kayak gak tau aja..." jawab Inah malu-malu. Anton memutar badannya, sekarang dia telentang menghadap Inah yang masih duduk terpaku, "Sungguh... saya gak tau mbak" aku Anton. Inah memalingkan wajahnya, terlihat semu merah di pipi Inah yang menambah manis rona wajahnya. "Itu lho... buat pasangan suami istri kalo mau melakukan hubungan..." jawab Inah tersipu. "Hubungan...? hubungan apa...?" tanya Anton dengan muka bloonnya. "Ahhh... mas Anton ini lho... ya hubungan suami istri" jawab Inah sembari mencubit lengan Anton. "Bagi yang punya pasangan... kalo kayak aku gimana...? siapa pasanganku ya...?" kerling Anton menantang Inah. Inah sendiri membuang mukanya, tetapi Anton menangkap semu merah di wajah Inah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lusi, Aku Mencintaimu</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/04/lusi-aku-mencintaimu.html</link><category>Lusi Aku Mencintaimu</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Mon, 13 Apr 2009 01:16:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-981134726643854968</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;!-- message --&gt;   &lt;div id="post_message_1636532573"&gt;        &lt;br /&gt;Namaku Aldi, dan umurku sekarang sudah 26 tahun. Aku sudah lulus kuliah sejak tahun 2005 lalu dan sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta. Badanku sih biasa-biasa saja, tidak kurus tapi juga tidak gemuk atau berotot. Yah seperti pada umumnya seorang cowoklah. Tinggiku sekitar 175 sentimeter dengan berat proporsional.&lt;br /&gt;Aku mempunyai seorang kekasih yang berusia sama denganku. Kami dulu teman satu kampus. Walaupun bukan satu fakultas tetapi kami satu angkatan dan lulus serta wisudanyapun diwaktu yang sama. Sudah 5 tahun kami berpacaran. Segala kesenangan dan cobaan sudah pernah menimpa kami berdua. Mulai dari pertengkaran karena cemburu atau karena ketidak cocokan tetapi semua dapat diatasi karena pengertian dari kedua belah pihak. Sekarang dia (pacarku) bekerja disebuah agen perjalanan wisata.&lt;br /&gt;Oh iya, aku belum memperkenalkan dirinya. Namanya Lusi, tinggi 165 cm dengan berat badan proporsional dan rambut lurus sebahu (lebih panjang dikit). Kulit kuning langsat dan terawat. Wajahnya lumayan cantik walaupun diluar sana masih banyak gadis yang lebih cantik dari dirinya. Tetapi yang membuat aku jatuh cinta pertama kali padanya adalah alis matanya yang tebal dan bentuknya yang mengesankan bahwa dia adalah seorang gadis yang galak walaupun sebenarnya bukan.&lt;br /&gt;Selama kami berpacaran bisa dibilang sedikit membosankan. Karena daerah tujuan kami kalau bukan kamar kost yah tempat yang enak buat makan atau beli buku di shopping center terdekat. Paling sering sih bertemu di kampus. Membosankan memang tetapi apa mau dikata karena Lusi bukan tipe cewek yang suka pergi ketempat-tempat hang-out baik itu tempat hiburan malam maupun tempat wisata macam pantai dan sebagainya. Aku sendiripun juga mempunyai selera sama dengan Lusi, malas bepergian. Mungkin hal itu jugalah yang membuat hubungan kami bertahan lama, karena banyak kecocokan dalam menjalani hidup kami.&lt;br /&gt;Pasti ada diantara kalian yang membaca bertanya-tanya, apakah kami selama berpacaran pernah melakukan hubungan intim? Well, maaf mengecewakan. Kami belum pernah melakukannya karena dia gadis yang cukup berpegang teguh pada nilai-nilai pernikahan. Adapun hal terjauh yang kami lakukan hanyalah peting. Itupun hanya sebatas dia melakukan oral seks padaku sementara aku mempermainkan payudaranya sampai dia puas. Itupun membutuhkan waktu lebih dari 2 tahun untuk meyakinkannya agar mau melakukan hal tersebut.&lt;br /&gt;Karena saat kami lulus dan bekerja kami berada di kota yang berlainan terang saja hal tersebut membuat kami berdua tersiksa. Maklum biasanya kami kemana-mana selalu berdua dan dengan jarak yang jauh ini kami tidak dapat berduaan terus dan apalagi bermesraan. Aku sendiri terpaksa self-service.&lt;br /&gt;“Sayang?” suara ditelepon genggamku kembali berbunyi. Aku dan kekasihku sedang bertelepon ria. Yah, hanya itu yang dapat kami lakukan karena untuk bertemu cukup susah karena waktu dan lagi bisa menghabiskan biaya khan.&lt;br /&gt;“OK! Nanti sore aku berangkat ya. Paling jam sembilan malam aku sudah sampai ditempatmu.” Sahutku lalu telepon terputus.&lt;br /&gt;Aku dan Lusi berjanjian akan bertemu. Ini adalah malam minggu, jadwal kami berdua untuk bertemu. Kadang Lusi yang main ketempatku tapi seringnya aku yang main ketempat kost dia. Maklumlah, pria khan harus mengalah demi wanita heheheh.&lt;br /&gt;Sekitar jam sembilan malam aku sampai di kost Lusi. Kost dua lantai ini memang dipenuhi oleh para pekerja yang kebetulan mereka bekerja didaerah yang sama dengan Lusi. Karena memang daerah tempat kantor Lusi berada merupakan daerah khusus perkantoran.&lt;br /&gt;“Hei. Kehujanan yah tadi?” tanya Lusi sambil menghambur keluar memelukku. Memang tadi sempat hujan deras, ini merupakan hujan pertama diawal musim.&lt;br /&gt;“He-eh. Sedikit. Tadi pas turun dari bus. Lupa kagak bawa payung sih heheh.” Sahutku lalu masuk kedalam area kost. Begitu aku masuk kekost Lusi aku melihat ada yang aneh. Biasanya Lusi selalu membiarkan kamar kostnya ditata sederhana tanpa banyak perhiasan. Tetapi sekarang kamar ini seolah ada yang baru. Penuh hiasan warna pink dan ungu. Seolah seragam. “Wow! Kamarmu udah dipermak yah Lus?” tanyaku pada Lusi yang sedang sibuk menyiapkanku minuman hangat.&lt;br /&gt;“Iya. Habis aku udah sedikit bosan dengan dekorasi yang lama. Eh nih, diminum biar hangat!” kata Lusi sambil menyodorkan secangkir teh celup hangat. Aku menerimanya sambil melirik kearah tubuhnya yang berbalut pakaian tidur yang manis sekali. Warna pink dengan totol-totol bentuk strawberry warna merah tua dengan renda kecil di lipatan kerahnya. Benar-benar girlie sekali. Sesuatu yang belum pernah kulihat dari diri Lusi sebelumnya. “Hayo liat apaan?”bentak Lusi setelah tahu dirinya kuperhatikan.&lt;br /&gt;Aku hanya nyengir sambil meniup teh supaya cepat dingin. “Tumben kamu pakai pakaian gini. Biasanya khan pakai pakaian tidur biasa.” Sahutku sambil mulai meminum tehku.&lt;br /&gt;“Jelek yah? Padahal aku sengaja pakai ini buat kamu lho.” Balasnya. Ucapan balasan Lusi mengejutkanku. Tapi sebelum aku bertanya lebih lanjut, Lusi sudah mengalihkan pembicaraan. Sekarang dia malah mengajakku menggosipkan teman-teman kantornya dan bertanya tentang kegiatanku selama seminggu ini.&lt;br /&gt;Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku dan Lusi ngobrol sampai lupa waktu. Tapi tak apalah karena memang aku ingin menginap di kamar kostnya itu. Memang kost tempat Lusi tinggal bisa dibilang bebas karena selain kost campur (untuk pria dan wanita) juga karena jika ada tamu bermalam tinggal memberi biaya tambahan 10ribu rupiah pada penjaga kost dan perkara selesai. Simpel bukan?&lt;br /&gt;“Aduh udah malam nih. Hehehe…” kataku sambil melirik kearah Lusi. Lusi sepertinya mengerti kenapa aku melirik kearahnya. Diapun tersenyum dan mengajakku naik ketempat tidur,&lt;br /&gt;              “Al, kamu udah bener-bener ngebet yah?” goda Lusi sambil mempermainkan pita di bagian depan baju tidurnya.&lt;br /&gt;“Memangnya kamu nggak Lus? Eh jangan-jangan kamu udah punya yang lain? Hayo ngaku…” godaku ganti. Namun respon Lusi dingin.&lt;br /&gt;“Hari ini tepat 6 tahun sejak kita pertama kali bertemu yach. Kamu ingat pas kita bertemu hujan-hujan didepan perpustakaan kampus gara-gara kamu nggak bawa payung trus nekat nebeng aku?” tanya Lusi.&lt;br /&gt;Aku kaget ternyata Lusi masih ingat hal itu padahal aku sudah sedikit lupa dengan peristiwa tersebut. “Iya sih. Kamu masih ingat betul yah. Berarti dua bulan lagi ulang tahun pacaran kita yang ke-enam dong.” Sahutku sambil membelai rambut Lusi.&lt;br /&gt;“Iya. Dua bulan lagi kurang lebih. Tumben kamu ingat. Biasanya kamu pelupa soal ginian.” Ejek Lusi. Untuk yang satu ini aku benar-benar mati kutu karena aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Karena tahun kemaren aku lupa hari bersejarah buat kami itu dan tahun sebelumnya juga lupa. Hal tersebut sempat membuat Lusi ngambek tidak ngomong denganku selama seminggu.&lt;br /&gt;“Tapi khan sekarang udah nggak lupa lagi sayang.” Rayuku sambil sekarang menurunkan tanganku membelai pundaknya dengan sesekali menyentuh buah dadanya yang masih terbalut baju tidur itu.&lt;br /&gt;Lusi melihatku dalam-dalam. Dia bersandar di pangkuanku lalu dari mulutnya keluar kata-kata yang membuat diriku kaget. “Al, malam ini aku mau menyerahkan diriku kepadamu.” Katanya lirih dan seolah terkesan tersendat.&lt;br /&gt;“Hah? Lus, kamu sadar dengan yang kamu omongkan barusan?” tanyaku mencoba meyakinkan dirinya dan diriku sendiri berharap ini bukan mimpi. Lusi menjawabnya dengan anggukan.&lt;br /&gt;Aku tak habis pikir kenapa Lusi yang dulu mati-matian menjaga kehormatannya malah sekarang berinisiatif untuk menyerahkannya kepadaku. Aneh memang tetapi waktu itu aku tidak berpikir macam-macam dan menanggapi uluran tangannya untuk bercinta.&lt;br /&gt;Akhir kata akhirnya kami berdua berciuman dengan mesranya diatas tempat tidur sementara pakaian kami nyaris tanggal semua. Entah siapa yang memulai pergumulan ini aku sudah tidak ingat lagi dan tidak peduli. Saat itu tubuh Lusi tinggal berbalut celana dalam saja sementara aku sudah telanjang bulat. Sembari aku memainkan buah dadanya yang menggelantung bebas itu kami berciuman dengan posisi Lusi diatas tubuhku.&lt;br /&gt;Dalam hatiku aku bersorak gembira karena aku berhasil mendapatkan apa yang menjadi impianku selama ini. Lusi akhirnya bersedia untuk bercinta denganku. Tangannya yang lembut menggenggam batang kemaluanku dan mulai mengocoknya perlahan sementara dia mengarahkan kedua tanganku untuk menarik lepas celana dalamnya. Jemariku bisa merasakan kehangatan dan basah dibagian selangkangan Lusi. Gadis ini sudah terangsang berat pikirku.&lt;br /&gt;“Ehmm…Al sayang.” Lenguhnya disebelah telingaku. Kata-kata yang singkat namun dapat membuat birahiku naik setinggi gunung. Celana dalam seksi milik Lusi lepas juga akhirnya.&lt;br /&gt;Entah berapa lama sudah kami bergumul yang jelas waktu itu mulut Lusi sudah melakukan oral seks kepada batang penisku sementara aku sendiri menjilati klitorisnya. “Al, jangan! Disana kotor!” sergah Lusi namun tak kupedulikan. Vagina Lusi memang hebat, selain putih dan rapat, juga bersih dan tidak berbau. Aku sendiri cukup heran, apakah dia menggunakan perawatan tertentu.&lt;br /&gt;“Akhhh…sayang…” desah Lusi untuk kesekian kalinya ketika klitorisnya tersentuh sapuan lidahku sementara buah dadanya yang ranum itu aku pilin-pilin putingnya.&lt;br /&gt;Penisku mulai berkedut-kedut karena permainan mulut Lusi. Dengan segera aku membalikkan tubuh Lusi menjadi terlentang. Lalu dengan semangat membara dihiasi gairah seorang perjaka, aku mengarahkan batang kejantananku itu ke bibir kemaluan Lusi.&lt;br /&gt;“Akhh…pelan sayang.” Pinta Lusi ketika ujung penisku membelah dan melesak masuk perlahan kedalam vaginanya. Perlahan aku menyodokkan penisku lebih dalam lagi dari sebelumnya. Memang sulit dan aku sendiri takut kalau Lusi terluka karena hal ini. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya separuh penisku sudah berhasil masuk kedalam vagina Lusi. Lusi hanya meringis menahan sakit sementara aku bisa merasakan kalau dari dalam vaginanya mengalir cairan hangat. Aku bisa memastikan itu adalah darah perawan Lusi.&lt;br /&gt;Aku mencium bibir mungil Lusi dan kembali melakukan penetrasi yang lebih dalam. “Akhhh…sakit. Al pelannn…!” rintih Lusi ketika aku agak keras melakukan sodokan kedalam liang kewanitaannya. Dan akhirnya berhasil juga seluruh batang kejantananku tenggelam di liang kemaluan gadis cantik ini. Aku bisa melihat air mata mengalir dari kedua mata Lusi. Apakah dia menyesal? Aku tidak tahu dan tidak berani bertanya.&lt;br /&gt;Keringat mengalir dari tubuh kami berdua. Lusi sendiri menampakkan wajah pasrah. Wajahnya mengarah kesamping dan tidak berani menatapku, mungkin karena dia malu atau apalah, aku tidak tahu pasti.&lt;br /&gt;Perlahan-lahan aku mulai memaju mundurkan penisku yang sudah seluruhnya bersarang di kemaluan Lusi. Gadis ini sesekali merintih dan terasa otot vaginanya memberikan perlawanan terhadap sodokan penisku. Namun hal ini malah membuatnya tambah enak. Benar-benar nikmat pikirku lagi.&lt;br /&gt;Dibuai oleh kenikmatan, aku tak sadar mempercepat laju pompaan penisku sehingga tanpa sadar membuat Lusi kesakitan. “Al…sakit…” rintihnya. Aku meminta maaf kepadanya karena aku lupa kalau ini adalah kali pertamanya berhubungan badan dengan pria. Lalu aku memelankan irama goyanganku.&lt;br /&gt;Masih dalam posisi yang sama, man on top. Aku berusaha memutar-mutarkan penisku ketika berada didalam liang kewanitaan pacarku itu. Vagina Lusi seolah diaduk-aduk hingga otot-ototnya mengejang seolah memberi perlawanan. Kembali darah segar mengalir dari dalam vagina Lusi. Sekitar 8 menit kami bercinta hingga tanpa sadar aku mencapai klimaks dan menyemburkan seluruh spermaku didalam vaginanya. Aku panik juga karena takut karena kecerobohanku nantinya Lusi hamil walaupun aku tahu ini bukan masa suburnya. Tetapi ketakutan sudah terlanjur menjalar diseluruh tubuhku.&lt;br /&gt;Aku ambruk disamping tubuh Lusi yang bersimbah keringat. Lusi tergolek lemas, sepertinya dia kehabisan tenaga pula. Lusi lalu memelukku erat-erat, “Al, aku cinta kamu.” Itulah kata-kata indah yang diucapkannya yang seharusnya aku dengarkan lebih baik dan kusimpan dalam hatiku sebelum semuanya berubah.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dua bulan kemudian, disaat ulang tahun pertemuan kami yang keenam. Lusi memintaku untuk menemuinya disebuah café didekat travel agent tempat dia bekerja sekarang. Selama dua bulan ini memang kami menjadi lebih dekat dan setiap minggu aku lebih rajin menemuinya, kadang kala malahan aku mencuri kesempatan bolos kantor hanya untuk bertemu dengan Lusi. Memang kalau sudah cinta bisa mengalahkan logika. Apalagi sekarang Lusi sudah bersedia melayani hasrat seksualku kapanpun selama dia tidak sedang datang bulan. Entah berapa kali sudah kami berhubungan intim. Memang bukan sesuatu yang bisa aku banggakan karena aku hanya bertahan selama 5 menitan tiap kali bercinta dengannya. Mungkin karena dia adalah perempuan pertama yang aku ajak bercinta jadi aku kurang pengalaman.&lt;br /&gt;“Sudah lama menunggu?” sapa Lusi dari belakang. Aku menggelengkan kepala dan tersenyum. Aku terkesiap melihat raut wajah Lusi yang serius dan terlihat lain dari biasanya. Terpancar sebersit rasa sedih di wajah cantiknya. Aku bertanya-tanya ada apa ini sebenarnya.&lt;br /&gt;Cukup lama juga kami ngobrol di café itu hingga tak terasa dua gelas kopi cappuccino habis kami tenggak. Pandangan Lusi yang tadi lunak sekarang mendadak berubah menjadi pandangan tajam kearahku. Walaupun Lusi kekasihku tetapi aku juga dibuatnya risih dengan pandangan itu.&lt;br /&gt;“Ada apa Lus?” tanyaku padanya. Aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Apakah aku berbuat salah padanya atau dia sedang dalam masalah, atau apa?&lt;br /&gt;“Al, minggu depan aku akan bertunangan.” Kata Lusi tiba-tiba. Seperti disambar geledek aku menjadi seperti patung yang tak bisa bicara maupun bergerak. “Maaf Al. Ayahku dan ibuku sudah menyiapkan acara pertunangan ini sejak 4 bulan yang lalu. Aku sendiri tidak mencintai calon pasanganku tetapi aku terpaksa karena mereka menjodohkanku.” Kata Lusi melanjutkan kata-katanya yang tadi.&lt;br /&gt;“Hah! Tapi kamu khan bisa menolak Lus. Kenapa dengan kamu ini? Lalu bagaimana dengan hubungan kita?” cecarku padanya. Setitik air mata sempat terlihat keluar dari pilipis matanya namun segera dia hapus mungkin dia ingin terlihat kuat didepanku.&lt;br /&gt;“Orang tua pria itu dulu adalah sahabat papaku. Sekarangpun dia selalu membantu orang tuaku dan ekonomi mereka sehingga perusahaan yang dimiliki papaku nggak hancur waktu krisis moneter tempo hari. Kalau bukan karena mereka mungkin kami sudah jatuh miskin dan lebih parahnya lagi kami tidak mampu membawa mama kerumah sakit saat mama terkena serangan stroke. Aku nggak tahu harus bagaimana lagi karena ternyata biaya kuliahku juga orang tuanya yang membiayai namun ditutupi oleh orang tuaku sehingga aku tidak tahu.” Lusi terdiam sejenak, kali ini air matanya mengalir deras tanpa bisa ditutupi lagi. Aku paham walaupun hatiku sakit tetapi hati Lusi juga tidak kalah sakitnya dengan hatiku.&lt;br /&gt;Akhirnya Lusi mulai menguasai dirinya kembali dan melap air matanya. Dia lalu menatapku penuh rasa cinta dan mencium bibirku lembut penuh kasih sayang. Bibirnya tersenyum manis sebelum dia beranjak meninggalkanku. Meninggalkanku dalam kesendirian di café itu, sendirian dalam hatiku dalam cintaku dan dalam perasaan kalutku. Tanpa sadar aku jadi terbayang wajahnya yang manis, senyuman ramahnya dan juga kelembutan cintanya. Entah kenapa hal tersebut menjadi lebih berarti daripada seks yang kuidamkan. Entah kenapa aku menjadi sangat merindukan hal itu sekarang.&lt;br /&gt;              Lusi….aku mencintaimu, bahkan waktu pertama kita berjumpa. Hanya saja aku tidak menyadarinya.&lt;br /&gt;Aku hanya bisa terdiam dalam kegelapan hati ketika sebulan kemudian tepatnya 3 minggu setelah pertunangan Lusi, aku melihatnya bersama seorang pria yang kebapakan dan terlihat mapan, bergandengan memasuki pintu lift disebuah pusat perbelanjaan. Aku melihat senyum bahagia dari bibir Lusi. Apakah dia bahagia atau hanya menebar senyum palsu?&lt;br /&gt;Ingin aku merangkulnya dan memeluknya, mengatakan kalau aku begitu mencintainya. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Selamat tinggal kekasih hatiku. Lusi…. &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ampun Tante.... ampun....</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/04/ampun-tante-ampun.html</link><category>Ampun Tante.... ampun....</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Sun, 12 Apr 2009 01:15:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-6730382136615867401</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;        &lt;hr style="color: rgb(255, 255, 255); background-color: rgb(255, 255, 255);" size="1"&gt;    &lt;!-- / icon and title --&gt;       &lt;!-- message --&gt;    Usiaku saat ini menginjak 35 tahun, menikah dan telah dikaruniai 2 anak, entah kenapa, sesuatu membuatku teringat akan masa laluku tersebut. Kisahku ini terjadi saat aku berumur 20-an tahun, dan aku ingin menceritakan, tepatnya berbagi cerita mengenai pengalaman hidupku, mungkin bisa menjadi pelajaran bagi pembaca sekalian. yang jelas ini adalah murni ceritaku, bukan cerita orang lain apalagi repost... Haram dah... bener... kalo repost berani samber geledek, (awas jangan deket2, ntar ikut kena samber...!)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Kepada pembaca sekalian, sebelum dan sesudahnya, kami ucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Waktu dan tempat kami persilahkan.....  (lah kaya MC agustusan ...?)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  jadi... begini ceritanya (kok kaya prolog pelem horror ?) :&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  --- BAB I.  JANGAN NGACENG DULU...&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sebut saja namaku Fandi, selepas masa sekolah SMA,aku ingin melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi, namun apa mau dikata, orangtuaku yang hanya bekerja sebagai karyawan sebuah perusahan BUMN yang tergolong kurang bonafid (sorry Be, bukan nyepelein) membuat keinginanku melanjutkan pendidikankupun sirna. "Jangankan buat elu kuliah Tong, buat makan aja kita musti banyak2 ibadah !", puasa senin-kemis maksudnya !, puasanya senin buka-nya kemis !, hiks....&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Akhirnya aku mengambil jalan pintas (bukan jalan tikus, ato gang2 kecil maksudnya) dengan mengikuti kursus komputer yang berada di kotaku, selesai kursus aku mencoba untuk mengadu nasib dengan melamar pekerjaan disebuah perusahaan konsultan keuangan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Setelah melewati proses seleksi penerimaan karyawan (sampe disuruh2 push up dan berlari2 kecil), akhirnya aku diterima diperusahaan tersebut, dengan syarat aku mau ditempatkan dikota yang ditunjuk oleh perusahaan selama beberapa tahun.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Aku menjadi bimbang, antara mencari kerja ditempat lain atau menerima pekerjaan dengan syarat&lt;br /&gt;ditempatkan diluar kota yang mungkin aku belum pernah menginjaknya, Ditengah kebimbanganku itu, aku menceritakan hal tersebut kepada kedua orangtuaku. akhirnya orang tuaku menganjurkan aku untuk mencobanya, "Kamu coba aja dulu, kalo kamu tidak betah, toh kamu bisa keluar dan mencari lagi !" saran bapakku (ya kalo dapet, emang nyari kerja gampah apah ?).&lt;br /&gt;akhirnya dengan tekad yang setengah bulat (kalo telanjang bulat, ntar dibilang orang gila) aku memberanikan diri untuk menerima pekerjaan tersebut. Akhirnya aku ditempatkan di kota B, yang letaknya jauh dari kota asalku. Aku menceritakan hal ini kepada orang tuaku, dengan antusias mereka mengatakan bahwa dikota ini ada saudara sepupu ibuku, dan kedua orangtuaku menyarankan agar aku sementara tinggal dulu dirumah sepupu ibuku tersebut.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aku mulanya ragu, bagaimana aku harus tinggal dirumah orang yang aku belum mengenalnya sama sekali ?, Ibu dan Bapak menasehatiku dan berpesan supaya aku pandai "Menitipkan Diri" di rumah yang aku tinggali nanti. akhirnya, aku pada waktu yang telah ditentukan berangkat menuju kota B dengan segudang tanda tanya yang menggelayutiku.... (bukan toket...gelayutan, ntu mah nanti gw ceritain !)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  ------&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Tertegun aku menatap rumah didepanku, bukan serem atau angker, tapi mewah banget, gede, halaman luas ada pohon cemaranya lagi, (tau pohon cemara gak ?, itu.. yang kaya disinetron2 orang kaya, bukan pohon beringin yang dipilem2 horor !, tempat burung kutilang bernyanyi...)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Setelah memencet bel cukup lama, tampak seorang wanita setengah baya berlari tergopoh-gopoh (pasti ngebayangin toketnya gondal-gandul deh, …gak yee... tipis banget tuh dadanya) mendekati pagar pintu yang cukup tinggi dan runcing ujungnya itu, (kaya senjatamya tentara keraton).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  "Cari siapa ya ?" kata wanita itu dengan mimik gimanaaa gitu...&lt;br /&gt;Set Dah nih ibu, udah tampangnya cakep enggak, jelek enggak, (serem tapi !), memandangku curiga menatap penuh tanya... (kaya lagunya obbie mesakh, yang sekarang susah cari kasetnya).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  "Ibu ada ?" Tanyaku,&lt;br /&gt;  "Ibu Siapa ?" Sahutnya lagi, dengan muka yang sok di tegas2in.&lt;br /&gt;  "eeeeee..... Bu Mala " kataku pelan dan Ragu.&lt;br /&gt;"Ini Den Fandi ?" tanya ibu itu tegas, namun tidak lugas dan dapat dipercaya, kaya guru lagi nanyain PR kita kalo kita lagi males ngerjain. "Iya Bu " jawabku lirih, sambil menunduk dan melihat kuku tanganku, takut diperiksa kalo ada yg item.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Masuk Den, Ibu udah nunggu dari tadi " katanya sambil cepat2 membuka gerendel pintu dan cepat2 merubah mimik mukanya yang tadi keliatan seperti suster ngesot menjadi seperti tamara, padahal jauh banget, malah lebih mirip mpok nori.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Perlu diketahui pembaca, biar jelek2 gini aku juga masih ada darah ningrat, di akte kelahiranku,&lt;br /&gt;namaku aja depannya ada huruf R terus dikasih Titik, (artinya Raden bukan Robin temennya Batman), emang masih musim ? pake raden2 segala ?, bangga campur malu sih kalo pas diabsen dan dipanggil Raden, semua menengok ke arah aku, ngarepin, kalo yang nunjuk tangan pake jubah dan diatasnya ada mahkota, dan dipergelangan tangannya minimal ada gelang emaslah barang beberapa gram, gak taunya, yang ngacung gw, udah jelek, kucel, mana tangannya busikan lagi, rada2 nyesel sih mereka nengok, bikin pegel leher aja !. kalo ada yang mau pengen aku jual aja nih, gelar raden aku. he.. he...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aku mengikuti wanita itu, yang kelak aku tahu bahwa dia adalah satu2nya pembantu dirumah ini, Bi Iyem, begitu ia dipanggil, menginjak usianya yang mendekati 50 tahun, hidup tanpa menikah, menurutnya, ia pernah menikah, tetapi suaminya pergi meninggalkannya karena tidak kunjung dikaruniai anak. Alasan klise, pembenaran terhadap kesalahan, daripada tinggal dikampung bengong dan tanpa ada yang mengurus lebih baik ia kerja di kota sebagai pembantu. lumayanlah, itung2 dapat makan, tidur gratis dan lebaran bisa mudik, desek2an di bis, kali aja nemu jodoh (ngarep !!!), dengan membawa oleh2 buat sanak sodara dikampung.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dengan tampang udik (katro, ndeso), aku menatap ruangan dalam rumah yang serba mewah itu. "Silahkan duduk Den, tunggu sebentar, ibu baru selesai mandi, Nanti Bibi bilang ke Ibu, Aden sudah datang" kata Bi Iyem sambil mempersilahkan aku duduk di ruang tamu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;a href="http://www.imagefap.com/image.php?id=372850112" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://images.imagefap.com/images/thumb/372850112.jpg" alt="" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, seorang wanita datang menghampiriku, "Ini Fandi ?" sahutnya sambil senyum, aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, "Kamu sudah besar, terakhir kali Tante melihatmu, kamu masih SD kali ya ? " sambil memelukku dan mencium pipiku kiri kanan, (mudah2an gak disomasi dan ditegur kaya tukul). Kaget aku dengan perlakuannya yang ramah ini dan berusaha membalas cipika-cipiki beliau.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Wangi beneeer, abis mandi, parfumnya aja asli import, yang kalo disemprotin dibadan, wanginya baru ilang besok, emang elo yang kalo pake parfum seketemunya, kalo pas lagi nebeng mobil temen, liat pewangi mobil maen semprot2 aja ke badan, yang ada wanginya nyebar seruangan kaya abis disemprot foging nyamuk, mendingan wangi kuburan baru, kembang tujuh rupa.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Gimana kabar Bapak dan Ibu kamu disana ? " tanyanya, dan semua pertanyaan2 basa basi pun diajukan olehnya, (gak perlu semuanya kan harus diceritain pembaca ?, bisa pegel nih gw ngetik, ini aja udah ngos2an). Setelah kurang lebih beberapa jam kami berbasa basi ria (lama amat sih ? emang ngobrolin apaan aja sech ? cape dech !).&lt;br /&gt;"Kamu Istirahat aja dulu, mungkin kamu capek sehabis perjalanan" kata Tante Mala kemudian, "Bi Iyem udah menyiapkan kamar untuk kamu, Tante sore ini mau senam dulu, nanti pulang sebelum magrib, kalo kamu mau makan, makan aja dulu, nanti kita sama2 makan malam ya ?", lanjut Tanteku, "Iya Tante, saya tadi sudah makan, mungkin mau tidur2an aja dulu" sahutku menjawab.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sang Tante pun mempersilahkan aku untuk menempati sebuah kamar yang berada paling belakang dilantai atas rumah tersebut, perlu diketahui bahwa kamar dirumah ini semuanya ada 5 dan hampir semuanya berada di lantai atas, hanya satu kamar dibawah untuk pembantu, satu kamar ditempati oleh Tanteku itu dan 2 Kamar lain ditempati oleh anak-anaknya. Aku menempati kamar belakang yang menghadap taman dan kolam renang. Waw, tempat yang strategis. didalam kamar layaknya hotel berbintang, kasur yang empuk dan lebar cukup buat 2 orang, televisi 21", ada Video Tape Playernya lagi. mantaap... (Jaman ntu belom Ada DVDlah, jangankan DVD, VCD aja belom ada!).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Mungkin karena lelah, aku langsung merebahkan badanku dan tertidur lelap....&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Jam 7 lewat aku dibangunkan Bi Iyem, "Den.. Den... Bangun Den..." terdengar suara Bi Iyem memanggilku sambil mengetuk2 halus pintu kamarku (bukan gedor2lah... emangnya lagi digerebek di hotel ?), "Sudah ditunggu sama Ibu dibawah untuk makan malam " sahutnya kemudian, "Iya Bi, sebentar lagi saya kebawah, saya mau mandi dulu !" jawabku, berusaha untuk bangun, berjalan dan membuka pintu. Aku pun langsung mandi dengan menggunakan Kamar mandi yang letaknya didepan kamarku, juga merupakan kamar mandi yang sering dipakai oleh anak2 dikeluarga ini, sedangkan Tante Mala menggunakan kamar mandi yang berada didalam kamar beliau.&lt;br /&gt;Selesai mandi, aku menuju ke ruang keluarga dan ruang makan dan disana telah menunggu 4 orang yang kesemuanya perempuan dan cantik2, salah satunya adalah Tante Mala, dan aku lalu dikenalkan oleh Tante Mala kepada ketiga putrinya. "Fandi, ini anak2 Tante, kmu mungkin belum mengenal mereka semua, karena memang mungkin dulu sekali waktu kalian masih kecil2 tante masih suka mengajak anak2 tante berkunjung ke keluarga, tp karena mereka sudah besar, susah sekali mengajak mereka" tutur Tanteku. "Om Mirza kebetulan sedang diluar kota, mungkin baru minggu ini om kamu kembali, jadi beginilah disini, kalo om kamu tidak ada, ya tidak ada lelaki dirumah ini " sahutnya kemudian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tante Mala, merupakan sepupu ibuku, satu kakek, lain ibu lain ayah (ya namanya juga sepupu, kalo satu ibu satu bapak, sodara sekandung lah), menikah diusia 18 tahun, diumurnya yang mendekati 38 tahun, dikaruniai 3 orang anak, semuanya putri dan cantik2 seperti ibunya, yang tertua Moza 20 thn, yang kedua Mita 18 tahun dan si bontot.... Mumun (lah kok, jauh amat ? mumun, ky nama tukang pecel ?) bukan deng, yg bontot namana Maya, masih SMA 17 Tahun.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Om Mirza, suami Tante Mala, berusia 48 tahun, selisih 10 tahun dengan Tanteku, orangnya ganteng, dengan kumis tebal yang makin membuatnya tampak wibawa, sebagai pengusaha kontraktor pekerjaan sipil yang cukup sukses dengan proyek2 pemerintah. Karena kesibukannya, bisa dibilang ia jarang dirumah, kadang pergi pagi - pulang malam, kadang pergi malam - pulang pagi, kadang pergi lama, bisa 1 sampe 2 bulanan - baru pulang, kadang nganggur dirumah lamaaa - gak pergi2 (kalo lagi gak ada proyek), tapi dia gak pernah sih yang namanya pergi tiga kali puasa, tiga kali lebaran (ntu mah bang Toyib!).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dalam usianya yang menginjak paruh baya, Tante Mala tidak menampilkan sosok sebagai wanita yang keibuan (kaya ibu2 maksudnya), malah ia lebih nampak sebagai wanita feminin, dengan dandanan yang lebih nampak sebagai wanita gedongan kebanyakan, emangnya emak kite, baru umur 40 taon aja udah kaya umur gocap, boro2 buat beli lipstick, buat beli beras aja udah susah, sukur2 ada uang lebih belanja, kembalian mecin, bisa beli pupur buat bedak, Penampilan Tante Mala memang jauh menggambarkan dari umur sebenarnya. Tepat ditengah ruang keluarga dipajang foto keluarga mereka berlima, Sang Ayah duduk dibangku dan berdiri dibelakangnya 4 wanita cantik layaknya dewa yang dikelilingi oleh 4 bidadari, dan yang mengherankan aku, Tante Mala nampak seperti kakak dari putri2nya, cantik beneeer.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Mungkin untuk menjaga kebugaran dan biar keliatan selalu awet muda, tante Mala rajin merawat tubuhnya, ikutan senam seminggu 2-3 kali, ke Spa seminggu sekali, ke salon semau dia, belum lagi berenang yang tinggal nyebur, yang jelas, uang ada semua ada. Emangnya kita, boro2 ke salon, buat nyukur aja (potong rambut) selama masih ada temen yang bisa nyukur, ya kita manfaatin, dengan modal gunting ma kaca spion bekas, trus nyari tempat yang adem, ya jadi lah kita nyukur, duit buat nyukur lumayan kan bisa beli udud setengah bungkus, Ada kembalian duit logam 2 ratus perak, pas bener buat iseng nyabutin jenggot sambil sesekali besiul godain cewek yang lewat !.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Duh cantik2 bener mereka, sambil mengenalkan diri aku memandang mereka satu persatu, sudah ibunya cantik bapaknya cakep dan ganteng, kaya, yaa pantaslah mereka seperti ini, jadi iri, hehehe.... menunduk malu, yaa maklumlah, tampang gw pan pas2an.. masih untung idup, boro2 berani naksir cewek, masih sukur waktu godain cewek, mereka cuma melengos aja, coba kalo diludahin.. ancurrrr dah, maklumlah, aku kan gini2 juga masih keturanan indo, Indo Jerman, Ibu Jereng Bapak Preman.... hehehe...&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Akhirnya suasana pun menjadi akrab, pembicaraan demi pembicaraan mengalir dengan lancar, karena mereka jauh lebih muda dari aku, mereka memanggilku dengan panggilan "Aa" yang artinya kakak. Kaya Aa Gym gituh .. hehehe.. Selama makan malam, banyak pembicaraan yang terjadi, dan aku berusaha untuk mendalami mereka satu persatu (mendalami maksudnya disini artinya memahami karakter dan sifat mereka, bukan mendalami yang itu !!!).&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  (Seriusin ah ceritanya.....)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.imagefap.com/image.php?id=613276197" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://images.imagefap.com/images/thumb/613276197.jpg" alt="" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tante Mala, lama-lama kalo kuperhatikan, wajah mirip seperti wajah artis Vina Panduwinata, dengan alis tebal, hidung yang bangir mancung, bibir tipis sensual, pipi halus, rambut panjang sebahu lebih sedikit, ikal bergelombang, tinggi sekitar 158 cm, dengan payudara yang cukup besar menurutku, mungkin dengan lingkar dada 36 dan bercup C, karena dengan mengenakan baju senam, dengan belahan dada yang cukup rendah, selain mengambarkan lekuk tubuhnya yang membuat setiap mata lelaki melotot dan seakan tak mau lepas memandangnya.&lt;br /&gt;Pabrik susu didadanya, layaknya seperti mau tumpah. putih, ranum, dan tampak masih kencang untuk wanita seusianya, dengan mengenakan Bra yang terlihat kokoh melindungi, namun seakan tidak muat menampung seluruh Isinya, bikin jantung deg.. deg.. serrr..... Dan yang lebih membuat pikiranku merantau keawang-awang adalah bentuk pinggul dan pantat beliau, begitu indah, dengan pinggang kecil dan pantat bulat penuh, songgeng seperti bebek seakan mengajak setiap lelaki untuk mengikuti dari belakang kemanapun dia pergi.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;a href="http://www.imagefap.com/image.php?id=755668765" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://images.imagefap.com/images/thumb/755668765.jpg" alt="" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moza, diusianya yang baru menginjak 20 tahun, kuliah tingkat tiga di sebuah PTS ternama, tampak seperti gadis dewasa dengan tubuh tinggi semampai, sekitar 168cm (kayaknya aku kalah tinggi deh, aku cuma 163 cm, maklum lah.. kurang gizi ma keturunan yang kurang bagus .. hiks), tubuh sintal padat, semok, bohay, kenceng deh... mirip seperti sang ibu dengan bentuk payudara yang indah dan menantang.&lt;br /&gt;Dengan wajah yang melankolis, alis tebal, bentuk mata yang bulat dengan sorot mata jernih, dan dilengkapi dengan bibirnya yang tipis merekah, dengan lisptick tipis membuat wajahnya semakin tampak menarik, dengan rambut panjang sedada, bulu2 halus menjalari seluruh tubuhnya terutama dibagian lengan dan kakinya, tampak eksotis, membuat cowok-cowok ingin mendekatinya dan memacarinya dengan segala cara. yang bikin lengkap adalah bentuk pantatnya yang mengikuti jejak sang ibu, duh.. pusing deh...&lt;br /&gt;apalagi ketika melihat dia dengan celana pendek ketat. bawaannya yang kalem, lembut, penuh kedewasaan, orang tak akan menyangka kalo dia masih berumur 20 tahun, orang pasti akan menyangka dia berumur 24 ato 25 tahun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.imagefap.com/image.php?id=1199199674" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://images.imagefap.com/images/thumb/1199199674.jpg" alt="" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mita, Mahasiswi tingkat pertama sebuah kampus pariwisata terkenal, dengan potongan rambut pendek seleher, muka berbentuk oval, hidungnya yang bangir bulat, bibirnya tipis agak lebar seperti penyanyi rosa memperlihatkan sifatnya yang murah senyum, periang, seperti layaknya anak mahasiswi seusianya. tinggi 160cm, dengan berat yang lumayan menurutku, namun jelas memperlihatkan kemontokan dan kemolekan tubuhnya, ditambah lagi dengan gaya berpakaian yang tampak super cuek, kuliah dengan menggunakan baju seragam yang cukup tipis dengan rok lebih dari 10cm diatas lutut, seperti dianjurkan kampus, dan sering tanpa menggunakan kaos dalam, jelas mengundang mata cowok2 untuk lebih menyelami isi dada dari cewek ini, cekakak-cekikik ditelpon merupakan kegiatan rutin sehari-harinya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;a href="http://www.imagefap.com/image.php?id=1393452549" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://images.imagefap.com/images/thumb/1393452549.jpg" alt="" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maya, si bungsu yang masih kelas 3 SMA, layaknya anak2 ABG, selalu ingin tahu bagaimana rasanya menjadi cewek dewasa, dengan rambut panjang namun sering diikat, mata bening yang selalu kelihatan malu2 apabila bertatapan dengan cowok. Untuk cewek seumuran dia mungkin kelihatan bongsor, dengan tinggi yang hampir menyamai kakaknya, 160 cm kurasa, namun dengan badan yang cukup ramping, kalo dilihat dari belakang mungkin orang akan menyangka dia adalah seorang wanita dewasa, dan herannya dia memiliki payudara yang menurutku besar, lebih dari ukuran normal untuk anak2 seusianya, namun wajahnyalah yang tidak bisa menipu, kepolosannya memperlihatkan bahwa dia masih ingusan diperlihatkan dengan tingkahnya yang tidak bisa diam dan kadang kecentilan....&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;malam itu, mungkin karena keasyikan ngobrol, tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 9 malam, Mita dan Mona, undur diri terlebih dahulu, karena mereka besok harus berangkat kesekolah pagi, berangkat dari rumah jam 6 lewat, sedangkan sang kakak dan Ibu masih menemaniku ngobrol sambil menonton televisi di ruang keluarga, tak lama kemudian Tante Mala meninggalkan kami berdua, Aku dan Moza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fan, tante tinggal dulu ya, mau mandi dulu nih, tadi abis senam keringetan, jadi badan tante lengket, kamu terusin aja ngobrol dengan Moza, tapi jangan terlalu malam, kan besok kamu sudah mulai kerja dan Moza juga harus kuliah " kata beliau kepadaku, "Iya, Tan mungkin saya sebentar lagi, maklum Tan, tadi siang tidur, jadi belum ngantuk nih !" sahutku, "Iya mah, lagian Moza juga besok kuliah siang, nanti kalo dah ngantuk juga Moza tidur" menimpali Moza, "Ya udah kalo gitu, Mamah duluan" berkata Tante Mala.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Akhirnya tinggallah kami berdua, mengobrol sana-sini ngalor ngidul, nyerempet soal kuliah, sampai soal pacar, Moza mengaku padaku bahwa saat ini ada mahasiswa seniornya yang PDKT kepadanya, ia masih mikir-mikir, karena saat ini ia masih terikat oleh pacarnya semasa dari sekolah SMA dulu, dan pacarnya itu sedang melanjutkan kuliahnya di Luar Negeri. Antara kesepian karena merindukan sang kekasih nun jauh disana dan keinginan untuk berpacaran normal seperti teman2nya yang lain, yang diapelin malem minggu. duh enak juga ngobrol ma adik sepupuku ini, (ya ujung2nya mah sepupulah, kan gw ma dia masih sodaraan... Week !)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;"Kalo Aa sendiri gimana ? Kasian dong pacarnya disana sendirian, aa kerja disini" sambil cengar-cengir dia menanyakan soal itu padaku, "Duh ini dia yang gw takutin.. nyampe juga nih pertanyaan ke gw !, nyesel gw pake nanya2 pacar segala ke dia" gerutuku dalam hati, tapi bukan Fandi namanya kalo gak bisa jawab soal ginian, "Ya gitu deh Moz, palingan juga kalo kangen ditahan2 aja, kalo udah kangen banget palingan Aa telp dia, terus kalo udah kangen berat, pas kebetulan punya duit, ya Aa baliklah pulang dulu.. ! hehehehe... " jawabku sekenanya...padahal boro2 gw punya cewek, cewek darimana pula ?, mana ada yang mau ma gw, udah muka gak ada bagus2nya, badan pendek, kecil, jauh deh dari idaman, paling banter cuman dapetin cewek pembantu tetangga gw yang suka gw isengin kalo lagi pas buang sampah, ntu juga sambil pura2 kerja bakti, dan pura2 gak sengaja nyikut toket tuh pembokat... huakakakak....&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Akhirnya moza rupanya juga gak tahan, tak lama kemudian ia pamit padaku untuk masuk ke kamarnya, aku menggangguk kepadanya dan berkata "ya udah kalo kamu dah ngantuk, Aa nanti aja sebentar lagi, belum ngantuk nih, gara2 tadi siang tidur, orang biasanya gak pernah tidur siang". tak sengaja mataku mengikuti langkah Moza menjauhiku, lekuk tubuhnya jelas terbayang dengan T-Shirt putih tipis dan celana pendek hawaiinya, bentuk kakinya yang jenjang seolah terus membayangi mataku. Duh seandainya aku punya cewek seperti dia.. gak akan deh gw sia-siain, kalo perlu gw kacain biar gak kena debu... sayang ah..ntar kalo pas nikah, kalo bisa, tamu-tamu gak gw kasih salaman. takut kotor.... xixixixixi....&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, bete juga aku sendirian nonton televisi di ruang ini, ah mendingan aku terusin aja nonton dikamar, mulanya memang aku sejak semula ingin menonton televisi dikamar, tapi aku kemudian berpikir, jangan2 mereka semua terganggu akibat berisik suara televisi dikamarku, akhirnya kumatikan juga televisi diruang keluarga.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dengan pelan (tapi pasti) aku melangkah menuju ke kamarku, menapaki anak tangga, lampu koridor nampak redup, hanya lampu2 kecil saja yang dinyalakan, lampu kristal ditengah ruangan sudah dimatikan, hingga hanya cahaya temaram saja yang menyinari seluruh ruangan. Selesai Melewati Tangga, beberapa langkah di depan sebelah kanan adalah kamar Tanteku, 'Loh kok kamarnya tidak ditutup ?', aku berjalan pelan melewati kamar tidur Tanteku itu, berat rasanya agar kepalaku tidak menoleh kedalam ruangan itu, berusaha untuk melawan kehendak untuk tidak mengarahkan mataku, namun apa daya, ada sesuatu yang mengarahkan kepala dan mataku, keinginan yang lebih kuat.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ada celah kurang lebih 15 cm yang antara daun pintu dan kusen pintu, namun itu cukup membuatku dapat melihat setengah dari isi kamar, kulihat Tanteku tergolek di tempat tidurnya dengan kepala mengarah ke pintu, dan kaki diujung sana, dengan daster putih, tampak tertidur pulas, ah... mungkin beliau kecapekan, kulihat tv masih menyala dengan suara pelan. uhh.. aku terdiam sesaat dan tertegun menatap tonjolan dadanya dengan belahan yang tampak terlihat jelas menggunung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.imagefap.com/image.php?id=656907479" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://images.imagefap.com/images/thumb/656907479.jpeg" alt="" onload="NcodeImageResizer.createOn(this);" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;duh.. jadi bangun nih si dede, gak tahan aku melihat pemandangan seperti itu, dan mungkin juga agak takut aku, khawatir ada yang melihat aku berdiri di depan kamar Tanteku, ntar disangka mau ngapain lagi ? akhirnya aku kembali berjalan, menuju ke kamarku, kulihat kedua kamar sebelah kanan kiriku lampunya telah padam, mungkin mereka telah tertidur pulas. Segera aku merebahkan diri di ranjangku, entah mengapa bayangan Tanteku terus menempel di otakku, gak mau pergi... dan celakanya si otong gak bisa diajak kompromi, malah berdiri terus, otakku jadi ngeres... duh masa hari pertama gw musti coli (masturbasi/ngeloco) sih ? bisa2 besok pagi gw loyo...bisa kacau nih kerja hari pertama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  berusaha aku melupakan semua bayangan2 kotor tersebut .. sampai akhirnya tertidur pulas....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ---&lt;br /&gt;  Gw juga capek nih... besok lagi ya gw terusin ...?!&lt;br /&gt;  pokoknya mudah2an  gw sambung lagi deh....&lt;br /&gt;  kalo banyak koment bagus... gw sambung.. namanya juga baru belajar nulis...&lt;br /&gt;  Ok Teman, kita sambung lagi minggu depan, pada hari dan jam yang sama...</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sri Maya [i]Nestina .. what a amazing ..</title><link>http://1st-cerita-ngentot-hot.blogspot.com/2009/04/sri-maya-inestina-what-amazing.html</link><category>Sri Maya [i]Nestina .. what a amazing ..</category><author>noreply@blogger.com (Cerita Asik)</author><pubDate>Sat, 11 Apr 2009 01:14:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1473613076149006694.post-4865583993101319696</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;        &lt;hr style="color: rgb(255, 255, 255); background-color: rgb(255, 255, 255);" size="1"&gt;    &lt;!-- / icon and title --&gt;       &lt;!-- message --&gt;           Sudah larut malam, ketika itu pulang dari mengikuti suatu tugas seminar ke kantor pusat, Surabaya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bahwa selain perhatianku tertuju pada materi seminar yang rumit dan membosankan, aku sering memperhatikan wanita berambut sebahu itu yang sering duduk di ujung depan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ntah aku yang mrasa aura sex nya yang memang luar biasa, atau yang lainnya juga. Tapi yang jelas sampai malam ini, aku belum tau dan belum pernah punya kesempatan kenal dia.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Dengan langkah gontai, lelah, bahkan penat di leher ini, kuarahkan tubuhku ke sofa empuk, hotel ini.&lt;br /&gt;Sebenarnya kamar ini untuk 3 orang, tapi berhubung hari ini Sabtu &amp;amp; ² orang teman sekamarku itu punya rumah di Surabaya ini, mereka pulang ke rumahnya.&lt;br /&gt;  Kupandangi kamar sepi ini, sambil membayangkan wajah wanita sexy itu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Hmm.. andai saja dia ada di sini?&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Akupun tak sadar, terlelap. Lampu kamar ini masih terang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Ntah brapa lama aku tertidur di sofa ini, aku dikejutkan oleh ketukan halus di luar pintu.&lt;br /&gt;  “siapa sih malam² gini, gangguin tidur orang?”&lt;br /&gt;Kulirik jam tangan, “ah… jam 1²:30” aku dengan sedikit malas sambil menggeliat.. berdiri dan menghampiri pintu, ternyata tidak dikunci..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “siap….?” Terhenti bibirku berucap, karma sosok wanita cantik yang selama ini kuhayalkan sudah hadir di depanku…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “boleh masuk…?”&lt;br /&gt;  Aku termangu bahkan membiarkan tubuhnya melewatiku,&lt;br /&gt;  Hmm… harumnya… aroma minyak wangi yang lembut..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“hei.. kok bengong.. tutup donk pintunya.. ! di luar hujan loh.. ntar anginnya masuk…; nih liat celanaku basah…!” dia mengibas celananya di dekat sofa.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “eh iya…!” tersadar aku, lalu segera menutup pintu.&lt;br /&gt;  “ada apa ya… mbak?” aku berusaha kembalikan kesadaranku.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “Kusman dari  Medan kan?” tanyanya, sambil duduk di sofa..&lt;br /&gt;  “eh iya mbak..!” kok tau?”…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “hihihi…” “aku tau dari Pak Gani yang duduk di sebelahmu!”&lt;br /&gt;  “katanya, kamu sering memperhatikanku..!”&lt;br /&gt;  Dia melirikku sambil tersenyum, “duh tuh bibir.. kilat merah…”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “hah!!” aku terkejut.&lt;br /&gt;  “ah biasalah mbak.; namanya mbak cantik, paling cantik malah, dari seluruh perserta!”&lt;br /&gt;  Aku menghindar.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“oh ya…? Tapi kata Pak Gani, caramu memandangiku, seakan-akan ingin menelanjangiku…!” sahutnya sambil meraih handphone yang bunyi di tas sandangnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“maaf.. ga maksud gitu kok mbak!” jawabku (“sialan nih Pak Gani, kok diperhatikannya aku memperhatikan wanita molek ini, sampe di sebutin segala!” pa emang keliatan kali mupengnya?)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“halo.. ya.., eeengg.. ga aku ga balik ni malam, aku tidur di rumah teman, .. iya sory, tadi hapeku lobet…! …Iya, besok sore aku pulang dah..!” begitulah percakapan singkat yang sempat kudengar, sebelum ia mengembalikan hape motorolanya ke tas sandang; &amp;amp; sepertinya dia mematikan hapenya.&lt;br /&gt;  “Eh, Man, bener ya.. kata Pak  Gani, itu?” kmudian dia berdiri…&amp;amp; membetulkan lipatan celananya&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “Mmmm… maaf mbak, ga maksud gitu sih!” aku masih berdiri kaku di dekat pintu memandangi wanita itu berbalik membelakangiku..&lt;br /&gt;  “Man, ga pa palah…; aku juga lagi suntuk nih..!” tiba tiba dia membalikkan badannya;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Rupanya tadi dia melepaskan tali pingangnya dan kancing blazernya..&lt;br /&gt;  Sekarang dia menarik tali pinggangnya.&lt;br /&gt;  Ketika Blazer itu menguak, &amp;amp; gerakan menarik tali pinggang itu.&lt;br /&gt;  Terlihat body padat &amp;amp; ketat si wanita ini terbalut jeans.. &amp;amp; baju ketat..&lt;br /&gt;  Aku menelan ludah..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “Man… dari tadi bengong mulu!!” dia menghardikku sambil mencampakkan tali pinggangnya ke sofa.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “ya jadi saya harus buat apa mbak, saya macam mimpi aja nih!” ujarku..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “hahaha… logatmu itu, khas Medan banget!”&lt;br /&gt;  “nyantai aja… oh ya.. sini duduk..!” masih berdiri, dia menunjuk ranjang di depan sofa.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Ntah gimana, aku seperti dicocok hidung aja, sang kerbau pun duduk di tepi ranjang, sambil memandangi wanita molek ini.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “Bentar ya.. !!” lirikan matanya, seperti mengandung/mengundang sesuatu..&lt;br /&gt;  Dia bergerak ke arah pintu, lalu memeriksa pintu, apakah terkunci atau tidak.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“hmm.. mastikan aja, agar kita ga terganggu…! Malam minggu kan? Ga ada room boy sepagi ini… eh dah Minggu pun…!” dia tersenyum senyum sendiri… sambil berjalan ke arahku,&lt;br /&gt;  “tak tok tak tok… “ langkah gemulainya mendekat, tapi lebih cepat detak jantungku daripada suara sepatunya..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “Mbak, siapa namanya?” bibirku sampe bergetar… ketika ia mulai berdiri pas dihadapanku.&lt;br /&gt;  “yaaa… masa’ kamu bisa ga tau namaku sih?”&lt;br /&gt;  Dia membuka blazernya lalu melemparnya ke sofa…&lt;br /&gt;  &amp;amp; tak terikuti mataku lagi, kini ia malah sudah menunduk menggamit daguku, meraih bibirku.&lt;br /&gt;  mmm……hhh…. Mmmh….(bibir lembut yang licin itu mengulum bibirku, tanpa ampun… dengus nafasnya memburu menghangatkan wajahku)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  diserang tiba² dan bertubi² aku terdorong terlentang di tempat tidur..&lt;br /&gt;  dia pun hampir terjatuh menimpaku, tapi dia malah mendorong tubuhku..&lt;br /&gt;  lalu berdiri di pinggir ranjang..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “Maya…!” ujarnya..&lt;br /&gt;  “aaah.. payah kamu Man, ngidolain kok, malah ga mo nyari tau namaku?” dia berbalik badan, membelakangiku.&lt;br /&gt;  “mana toiletnya Man?”  sambil melangkah ke arah toilet (rupanya dia sudah melihat ruang kecil di balik dinding kamar ini.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kupegangi bibirku yang masih basah, masih terasa denyut, kuluman hangat dan penuh nafsu Maya, ya Maya namanya, Sri Maya Nestina, aku memang udah dengar nama itu &amp;amp; sempat melihatnya di buku tamu, hanya saja aku masih belum yakin.&lt;br /&gt;Kenapa aku tiba tiba ingat Ines ya? Avatar wanita sexy dengan lingerie nya serta cerita cerita serunya di forum itu, hmm… aah iya, Maya mirip avatar nya Ines, tapi yang ini jauh lebih montok &amp;amp; putih. Lagian namanya juga mirip, aku panggil Ines aja.&lt;br /&gt;  Sudah sering aku membayangkan bermain cinta dengan pengarang “Karangan sendiri” itu.&lt;br /&gt;  Masih larut dalam hayalan, aku mendengar suara gemericik air.&lt;br /&gt;“Aah.. ngapain si Ines di dalam ya?” Hmm… mungkin mandi…; aah, iya, dia kumur-kumur, “emang bau alkohol, dia barusan minum nih, di mana ya…?” “cuekin aja ah…!” “kapan lagi aku bisa bercinta ma Ines ku…” aku bergumam dalam hati sambil tersenyum senyum sendiri.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Posisiku yang masih terlentang, dengan kaki menjuntai ke lantai. Mataku terpejam, membayangkan semuanya…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “Hei…Man…!!, ngelamunin apa kamu?” dia keluar dari kamar mandi, berbalutkan handuk pink.&lt;br /&gt;  Mataku terbelalak.. termangu..&lt;br /&gt;“astaga, paha, betis itu, putih &amp;amp; mulus…!!!” bahunya dan lengan atasnya juga putih mulus, meski ga seputih panlok. (“G_Big, panlok lu, kalah abiz lah.. ma ini!!”)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Sekian detik aku masih belum sadar, ternyata ia malah sudah di atasku lagi…&lt;br /&gt;  Tak terikut mataku lagi, bahwa kapan ia bisa melepas handuk itu…&lt;br /&gt;  Kini tubuh molek itu sudah tak berhelai benang 1 pun.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Sinar lampu tertutup wajahnya yang memandangiku…&lt;br /&gt;  “Hmm.. Man man…!!” kamu kok bengong aja dari tadi??”&lt;br /&gt;  (kok aku teringat serial komedi ya…”Temon … temon!” keluhan ngenes.. si Abdel atas ke culunan si Temon)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “Hei…, ayo Man.. wake up.. I’m real…Man!” dia menampar pipiku pelan,&lt;br /&gt;  Tangannya dingin dan lembut.. menyadarkanku,&lt;br /&gt;  Bahwa nenen kenyal itu sudah di hadapan wajahku…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “Man.. aku dingin Man…!” diraihnya kepalaku, diangkatnya, ke arah nenenya…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Aku langsung membuka mulutku, mendapatkan putting nenen itu, mulai mengenyotnya..&lt;br /&gt;“hmmm… phh.. hmmm…pphh…!” sambil ku bergumam, nenen kiri, kanannya masih kenyal banget, keras, seperti nenen A Be Geh..; putingnya pun masih nonjol sedikit saja… aku hampir kesulitan tuk mengemut nenen &amp;amp; putingnya, karna nenen ini begitu kenyal..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “Aaah… Man…!” gigit putingnya sayang…!!” dia memerintahku lagi, sambil meremas kepalaku..; kedua kakinya mengapit pinggangku,&lt;br /&gt;  Dalam posisi begini, aku sungguh susah untuk bisa meraih putingnya yang masih nongol sedikit.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Inisiatifku, akupun telah terbakar nafsu,&lt;br /&gt;  Aku membalikkan tubuhnya..&lt;br /&gt;  Kini Ines sudah di bawahku…&lt;br /&gt;  Aku segera membuka baju kemejaku, tanpa membuka kancingnya, putuslah beberapa butir…&lt;br /&gt;  ‘Yaa gitulah Man, aku suka laki laki berinisiatif…!” Maya/Ines memandangku di bawah,&lt;br /&gt;  Nenen itu begitu menantang, meskipun ia sedang rebah, nenen itu sama sekali tidak berubah bentuk.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Kini aku sudah telanjang dada.&lt;br /&gt;  “Hmm.. kamu kurus, tapi kamu putih…!”&lt;br /&gt;  “Biasanya orang putih, cepat K.O, katanya loh… tapi kamu kurus, pentunganmu pasti guedee…!, hihihi…” Ines genit banget…&lt;br /&gt;Jarinya yang berkuku itu meraba badanku, six pack ku belum terbentuk.. bis gimana olahraga cuman futsal doank.. ma masak di dapur..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “Hei… bengong lagi…!!” ayo lanjutin…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aku pun tanpa ragu ragu lagi, turun dan meraih nenen itu, nenen sebelah kiri yang tadi ku emut, kini kuemut lagi, brusaha raih putingnya tuk kugigit.. putingnya sudah semakin keras dan menonjol, akhirnya bisa kugigit gigit kecil, sementara nenen yang kanan kutangkup dengan tangan tangan kiriku, kuremas. Kupelintir putingnya…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;‘hhh…. Eeenggghhh… aaaah.. eeeh…engghh…” sepintas kudengar lenguhan dan desahannya.. kutahu dia terangsang… kali ini dia bersikap pasrah, tangan nya dibiarkan menjuntai di samping…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “enggh.. aaah.. mmmppph…!!” aaah…&lt;br /&gt;Hampir lebih dari beberapa menit, ku explore nenen Ines yang ranum ini, akupun menikmatinya, sampai kami tak ingat, kok tiba tiba aku sudah berada di antara ke dua paha putih mulusnya…&lt;br /&gt;  Aroma khas merebak dari meki Ines.. harum…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Aku menciumi kulit pahanya… kemudian naik ke pangkal pahanya…&lt;br /&gt;  Sebagian bulu jembutnya mengenai pipiku, bulu yang jarang, tapi sedikit panjang…&lt;br /&gt;  Aah.. no problem lah..&lt;br /&gt;  Aku menciumi..bagian atas meki.. jembutnya mengenai bibirku…&lt;br /&gt;  Aku tak perduli, aku terus menjilati, lidahku menjulur sana sini..&lt;br /&gt;  Kembali ke pangkal paha..lalu mendekati labia mayoranya..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Sudah basah, berlendir.. dan berbau khas..&lt;br /&gt;  Ines sudah terangsang..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Lalu aku menciumi bibir mekinya…&lt;br /&gt;  “cupp… clurpp.. mmmh.. cupp.. clurpp….!”&lt;br /&gt;  “aaah.. eeeghh… aaaah.. Maan… sssh…!” &lt;br /&gt;  Suara kecupan dan kulumanku di meki Ines bercampur dengan erangan Ines..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Itil mungil terselip di tengah, kujilati.. kukuas.. dengan lidahku..&lt;br /&gt;  Terkadang, ku sodok liang meki itu dengan lidahku..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ritual ini berlangsung cukup lama, tanpa sadar, aku tak tau aku berlutut di lantai dan kaki Ines terbuka lebar dan mengapit kepalaku..&lt;br /&gt;  Ines meraih kepalaku, mremas dan menjambaki rambutku..&lt;br /&gt;  Tangannya yang satu, meremas nenennya sendiri..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Tiba tiba dia meremas kepalaku sejadi-jadinya..&lt;br /&gt;  “aah Man.. … maan…aaaaah….!”&lt;br /&gt;  Sementara jilatan &amp;amp; emutanku semakin cepat dan ganas di meki Ines..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Sesaat lalu, ia pun menjerit pelan dan tubuhnya berkejat..&lt;br /&gt;Di sorongnya kepalaku menjauh dari mekinya, sementara aku malah makin ngotot tuk dapatkan cairan orgasmenya… Terjadi pergumulan antara malunya Ines dan maunya aku.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Ines menarik tubuhnya ke atas.. menjauhi wajahku..&lt;br /&gt;  “aaah… engh… aaaah…” “hhh.. hhh. Hhh…” dengusan nafasnya ga teratur..&lt;br /&gt;  “sinthing lu Mannnh…, masa’ lu mo telanhh… ?” tanyanya sambil tersengal sengal..&lt;br /&gt;  (kini malah dia nge”lu” gue” ma aku, what ever laa)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Aku tersenyum, sambil membersihkan mulut dan wajahku dengan punggung tanganku..&lt;br /&gt;  Masih terasa agak pegal rahangku, saat harus mendongak tadi..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Now its my time,&lt;br /&gt;Aku membuka retsleting celanaku, kancingnya, setelah tali pinggangku. Dompet hapeku yang berisi N70 terjatuh ke lantai, kubiarkan bersama melorotnya celana katun coklatku.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kini tinggal Celana dalam biru yang berisi pentungan yang sudah keras. Dan kepala pentungan itu malah menyembul melewati batas CD.&lt;br /&gt;“iih Man… kamu ngences ya..?” Ines memperhatikan bagian bawahku, Cdku yang basah, &amp;amp; ya… Pentunganku emang ngences.. sudah tegang sedari tadi..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “ya lah Nes, bis kamu begitu hot sih..!”&lt;br /&gt;  “kok Nes?” “tapi kamu ga tau namaku, aku bilang kan tadi Maya…”&lt;br /&gt;  “aku mo manggil kamu Ines…!”&lt;br /&gt;“Nesss ???” “belum ada yang manggilku Ines aah.., ga mau.. jelek tuh!, kek nama babu” sambil ia meraih handuk pink, menutup tubuhnya..”dingin nih..!, cepatan donk”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “eh salah, Ines itu dari namamu sendiri, Sri Maya Nestina!” sahutku..&lt;br /&gt;  “&amp;amp; nama Ines itu sama sekali tidak jelek, itu bukan nama babu, itu nama idolaku!” aku membela sambil mendekatinya…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “aah what everlah… ternyata kamu dah tau namaku, kok tadi masih nanya?”&lt;br /&gt;  “mastikan aja…sayang!” aku meraih wajahnya dengan tanganku, sementara aku berlutut di hadapannya…&lt;br /&gt;  “hmm….!” Dia segera meraih cd ku, kuku jarinya sempat bergesekan dengan kulit pahaku..&lt;br /&gt;  “kok ga dibuka sekalian aja tadi..!” ujarnya sambil terus memeloroti Cdku…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Pentungan itu terbebas dan mengacung tegas di hadapan wajah sang dara molek.&lt;br /&gt;  Segera diraihnya dengan tangannya pentunganku…&lt;br /&gt;  Di remasnya..&lt;br /&gt;  “hmm.. ternyata benar.. dikatain orang, orang kurus, pentungannya gede..!”&lt;br /&gt;  “ga tau deh, sanggup ga nerima pentunganmu…” ujarnya sambil terus meremas kocok..&lt;br /&gt;  Seakan akan ga yakin untuk mengoral pentunganku, ia terus memandangi pentunganku..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “Man .. kamu sunat ya…” aku tidak menyahut, aku memandangi bidadari sexy ini dengan ritual dan bibirnya yang terus mengoceh..&lt;br /&gt;  “Maaan.. kok dicuekin sih..?” ia memandangku berkernyit.. cemberut..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Aku malah tak perduli, kuraih kepalanya, memegang pas di atas telinganya.. menekan nya seolah memerintahkannya untuk segera melakukan ritual Blow Job nya..&lt;br /&gt;  Ines terdiam, makin terdiam saat pentungan itu mulai masuk kedalam mulutnya..&lt;br /&gt;  “mmmmh… mmppph.. amm.. mmmm.. mmmmhh.. mmh…aah…!”&lt;br /&gt;  Sesekali di tarik nafas..&lt;br /&gt;  Bibir hangat itu menjepit pentunganku.. kepalanya maju mundur…&lt;br /&gt;  Bahkan gerakan memutar.. membuat pentunganku terasa berdenyut denyut..&lt;br /&gt;  Sementara jemari Ines meremas daging pantatku..&lt;br /&gt;  Aku membelai rambutnya, terkadang kusibakkan rambutnya, yang kadang mengganggu ritualnya.&lt;br /&gt;  “clop clop.. clup.. clurrp.. hmm.. aah.. hmm…pph…” suara sedotan empotan mulutnya dan desahan nafasnya yang memburu.. ..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Aku ingin meraih mekinya, aku ingin merangsangnya dengan jariku. Aku menunduk…&lt;br /&gt;  Brusaha menggapai selangkangan Ines..&lt;br /&gt;  Ines tiba² menarik tanganku, tapi masih asyik dengan kulumannya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Aku mbandel dan masih mencoba meraih mekinya.. sudah sampai di perutnya, ditariknya lagi.. ditepisnya..&lt;br /&gt;  “aah Maan.. jangan ah..gue ga suka.. pake jari.. ntar tetanus…!”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “oooh.. iya… deh..!” aku mengalah..&lt;br /&gt;  “mending pake burung gedemu ini..!” katanya sambil menarik keras pentunganku..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “aaah…pelan dong Nes..!” aku merintih, karna sakit.&lt;br /&gt;  “Ines ines… Maya…!!” dia protes manja, sambil menselonjorkan tubuhnya.&lt;br /&gt;  Telentang di kasur empuk ini..&lt;br /&gt;  “Dah ayok laah..!!” Ines menarik handuk pinknya, melemparnya ke lantai.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Aku mengerti, lalu aku menindih tubuhnya..&lt;br /&gt;  Kaki Ines dibuka lebar..&lt;br /&gt;  Aku mengarahkan penisku ke mekinya, meleset, meleset &amp;amp; terus meleset..&lt;br /&gt;  Lalu kucoba megang penisku kuarahkan ke lubang mekinya.. masih meleset,&lt;br /&gt;  (“walah seolah.. ga berlubang nih meki”)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “aah payah kamu Man, masa’ lubang ini aja dah lupa kamu?”…&lt;br /&gt;  Dia meraih penisku mengarahkan ke mekinya sendiri..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Ujung penis mulai merasakan jepitan,kedutan di permukaan liang meki. Disembarikan rintihannya, pelan² dilepaskannya, karma yakin pentungan ini dah mulai merambah liangnya yang hangat dan licin..&lt;br /&gt;  “engghhh.. aaahh … Man… astagaaah.. besar amat Mhaan…..pelan² ya…!”&lt;br /&gt;  Sungguh kasihan juga ku melihatnya meringis begitu..&lt;br /&gt;  Tapi aku juga merasakan kenikmatan di kedutan, denyutan di mekinya, bener² sensasi yang penuh tantangan..&lt;br /&gt;  Kunikmati setiap mili demi mili masuknya penis ini, demikian juga Ines..;&lt;br /&gt;  Dia sampai menahan nafasnya, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, sambil memejamkan mata menahan perih namun nikmat.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Bahkan aku ikut memejamkan mata &amp;amp; meneruskan perjuangan pentungan itu merambah meki rapet ini.&lt;br /&gt;  Ketika ayunan berbuah desah demi desah..&lt;br /&gt;Rintihan dan erangan yang riuh rendahkan ruangan kamar ini, seakan dunia ini hanya dipenuhi oleh nafsu dan gelora yang terjadi pada saat itu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Tangan Ines merambah ke sana kemari. Ke kepala, ke dadaku, pantatku..&lt;br /&gt;Sampai selang beberapa menit, ia meremas tanganku, matanya membelalak, bibirnya menggeram, seperti menahan sesuatu, &amp;amp; terasa denyutan menjepit jepit pentunganku..&lt;br /&gt;  &amp;amp; “aaaah… Maaan….!!” Lalu ia terkulai…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Lalu kami lanjutkan lagi di sofa, kali ini ia di atas, liukan tubuhnya, liar dan penuh nafsu.&lt;br /&gt;  Sepertinya ia baru menemukan lawan sepadan. (&lt;i&gt;masa iya sih…&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Pada posisi yang entah ke berapa kali, pada saat itu ia sudah di hadapanku, membelakangiku, posisi doggy style, kuremas pantatnya yang sekel..&lt;br /&gt;  Sambil terus keayun pentunganku..&lt;br /&gt;  Basah, keringat bercampur, semuanya..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Akhirnya aku merasakan dorongan itu, seperti air bah ia mengalir melalui pipa kecil, mendorong keluar dalam kepitan vagina Ines.. &amp;amp; muncrat muntah sejadi jadinya..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “Aaaah…!!!” aku mengerang, sambil memegang/meremas pantat Ines..&lt;br /&gt;  Kepalaku puyeng, mataku berkunang-kunang.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Clep… ss… ketika pentunganku lepas dari meki Ines, ketika ia menarik tubuhnya untuk merebah…&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “aaah…Man, ga kusangka, kamu tahan begini lama, haaa… setengah jam.. lebih..!”&lt;br /&gt;  “haku puas bangeth… “ ujarnya yang masih mengatur nafasnya..&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Malam berlanjut sampai dini hari.&lt;br /&gt;  Telah beberapa ronde, kami terus bercinta.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  Minggu pagi, Room boy mendapati kami di dalam kamar sambil tersenyum aneh.&lt;br /&gt;Dia membawakan spray pengharum ruangan dan kopi panas, sambil memperhatikan Ines yang masih saja memelukku dalam balutan handuk pink.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>