<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Yufidia.com</title>
	<atom:link href="https://yufidia.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://yufidia.com</link>
	<description>Ensiklopedia Islam</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Jun 2026 07:56:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">107707978</site>	<item>
		<title>Mengapa Atheisme Semakin Menyebar</title>
		<link>https://yufidia.com/mengapa-atheisme-semakin-menyebar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fauzi Yufid]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2026 07:56:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yufidia.com/?p=7897</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Abdullah Muhammad Ath-Thiwalah “Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah. Dia akan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda (kekuasaan)-Nya, maka kalian akan mengenalnya. Dan Tuhanmu tidaklah lengah terhadap apa yang kalian kerjakan.” (QS. An-Naml:...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Oleh: </b><b>Syaikh Abdullah Muhammad Ath-Thiwalah</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan katakanlah: Segala puji bagi Allah. Dia akan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda (kekuasaan)-Nya, maka kalian akan mengenalnya. Dan Tuhanmu tidaklah lengah terhadap apa yang kalian kerjakan.”</span><span style="font-weight: 400;"> (QS. An-Naml: 93). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, yang tidak memiliki sekutu. </span><span style="font-weight: 400;">“Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki menuju jalan yang lurus.”</span><span style="font-weight: 400;"> (QS. An-Nur: 46).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Salawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada figur manusia yang Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala utus sebagai pemberi hidayah, kabar gembira, dan peringatan, penyeru kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dengan izin-Nya serta pelita yang terang benderang. Beliau telah menyampaikan risalah, menjalankan amanah, menasihati umat, dan berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dengan sebenar-benarnya jihad. Semoga salawat, salam, dan keberkahan selalu terlimpah kepada beliau, dan kepada keluarga, para sahabat beliau, dan seluruh pengikut mereka dengan sebaik-baiknya hingga hari kiamat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Amma ba’du:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dunia yang laju kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu cepat, pola pikir dan akal banyak berseberangan ke dua kutub yang berbeda, kebenaran bercampur dengan kebatilan dengan begitu samar, serta bukti-bukti dan kenyataan saling bercampur dengan sangat membingungkan, menjadi hal yang tidak mengherankan jika ada beberapa orang yang menganut ideologi pemikiran yang menyimpang dan pandangan-pandangan yang berseberangan. Di antara fenomena ini yang paling menonjol adalah atheisme, yang mungkin ada sebagian orang yang bertanya-tanya, mengapa atheisme bisa menyebar dengan masif seperti ini, terlebih lagi di kalangan anak muda?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawabannya adalah terdapat banyak sebab penyebarannya, dan berikut ini kami akan sebutkan beberapa sebab yang paling menonjol. Semoga ini dapat memberi kontribusi dalam memahami faktor-faktornya, menganalisis sebab-sebabnya, dan menuntun kepada solusi dan penangannya secara benar, sebagaimana yang disebutkan dalam ungkapan, “Mengetahui sebab adalah bagian dari penanganan.”</span></p>
<p><b>Sebab pertama:</b><span style="font-weight: 400;"> Lemahnya proteksi keilmuan dan keimanan. Apabila ini dibarengi dengan sikap gemar memikirkan hal-hal yang tidak perlu dan keberanian untuk membahas hal-hal yang di luar kemampuan akalnya yang tidak terproteksi itu, maka bisa jadi orang tersebut akan terjerumus ke dalam kebingungan dan kesesatan. Kami tidak mengatakan bahwa membahas hal-hal itu terlarang sepenuhnya, tapi sebelum itu harus ada perlindungan dan persiapan keilmuan yang kuat, dan di bawah bimbingan orang yang berpengalaman, seperti orang yang ingin menyelam ke dasar lautan, harus menyiapkan alat-alat khusus, berlatih dengan baik, dan melakukannya secara bertahap dengan bimbingan pelatih yang berpengalaman. Jika tidak, ia akan mudah sekali tenggelam dan binasa.</span></p>
<p><b>Sebab kedua: </b><span style="font-weight: 400;">Kecondongan sebagian orang untuk terlepas dari “belenggu-belenggu” agama dan kesiapan untuk mengorbankan nilai-nilai agamanya agar dapat memuaskan syahwat-syahwatnya secara haram tanpa terikat aturan atau penyesalan diri. Itu berarti ia sedang menyuntik mati nuraninya dan nilai-nilai batinnya, agar tidak tersisa dalam dirinya sesuatu yang menyangkalnya dalam berbuat maksiat. Dengan itu, ia mengira menjadi merdeka. Padahal hakikatnya ia sedang menjadi budak syahwat-syahwatnya dan tersandera hawa nafsunya, sebagaimana kesaksian jujur salah satu dari mereka: “Aku ingin hidup tanpa Tuhan, bukan karena aku menerima doktrin bahwa Tuhan itu tidak ada, tapi karena aku ingin agar tidak ada yang menghakimi diriku lagi.”</span></p>
<p><b>Sebab ketiga: </b><span style="font-weight: 400;">Terbuka terhadap buku-buku filsafat dan atheisme yang penuh dengan syubhat-syubhat memukau dan ungkapan-ungkapan yang dikemas indah, sehingga mudah merasuk pada orang-orang yang lemah imannya dan terbatas wawasan keislamannya. Kami juga berpandangan bahwa membaca buku-buku filsafat tidak terlarang sepenuhnya, tapi jika itu dilakukan tanpa proteksi pemikiran yang kokoh, akan menimbulkan efek-efek negatif yang sulit ditangani dan susah untuk terlepas dari pengaruhnya.</span></p>
<p><b>Sebab keempat: </b><span style="font-weight: 400;">Adanya usaha dari saluran-saluran televisi dan sejenisnya — seperti media-media sosial dan informasi— untuk menyebarkan paham-paham seperti ini, memberi tempat bagi para pengusungnya, memberi kesempatan mereka untuk menebar syubhat-syubhatnya, menimbulkan keraguan kepada masyarakat terhadap keyakinan dan dasar-dasar agama mereka. Mereka bagaikan penyebar penyakit menular yang berlenggang bebas di antara banyak orang yang tidak terlindungi.</span></p>
<p><b>Sebab kelima: </b><span style="font-weight: 400;">Fanatisme buta, merasa inferior, dan terlalu takjub dengan orang yang lebih hebat. Sering kali beberapa pemikiran yang keliru dapat tersebar —terlebih lagi di kalangan generasi muda— bukan karena setuju dengan pemikiran tersebut, tapi hanya karena mengikuti salah seorang pesohor atau terpengaruh tren tertentu.</span></p>
<p><b>Sebab keenam: </b><span style="font-weight: 400;">Keyakinan sebagian orang bahwa sebab utama kemajuan Orang Barat adalah karena mengesampingkan agama mereka, sehingga jika kita ingin mencapai apa yang telah mereka capai, maka kita harus berlepas diri dari agama seperti mereka. Tentu pemahaman seperti ini bertentangan dengan akal sehat dan logika. Orang berakal pasti akan berbuat baik ketika manusia berbuat baik, dan apabila mereka berbuat buruk, ia menjauhi keburukan mereka.</span></p>
<p><b>Sebab ketujuh: </b><span style="font-weight: 400;">Banyaknya peperangan dan musibah, tersebarnya kezaliman, dan ketidakmampuan orang-orang lemah dalam memperoleh hak-hak mereka. Kondisi ini dapat menggoyahkan keyakinan sebagian orang tentang konsep keadilan dan keimanan mereka terhadap qadha dan qadar, sehingga ia bertanya-tanya dalam dirinya: “Mengapa harus saya yang mengalami ini semua?!”, “Mengapa Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menghendaki ini semua?” Apabila ia tidak mendapatkan orang yang memberi jawaban dengan logika yang benar dan metode yang memuaskan, maka pertanyaan-pertanyaan itu akan berubah menjadi pintu keraguan dan atheisme.</span></p>
<p><b>Sebab kedelapan: </b><span style="font-weight: 400;">Penderitaan sebagian orang yang mengalami gangguan psikologis dan saraf yang ditimbulkan karena kondisi-kondisi keluarga dan sosial yang keras dan rumit. Ini menjadikan mereka kehilangan kemampuan untuk berpikir dengan benar, dan membuat mereka mengira bahwa rasa sakit yang mereka alami adalah bukti tidak adanya Tuhan Yang Maha Bijaksana, sehingga mereka terjerumus ke dalam atheisme, bukan karena akal mereka mengakui hal itu, tapi karena ingin kabur dari kesakitan atau ungkapan kemarahan. Sebagaimana yang dikatakan salah seorang dari mereka: “Aku tidak membenci Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, hanya saja saya marah kepada-Nya.”</span></p>
<p><b>Sebab kesembilan: </b><span style="font-weight: 400;">Teman yang buruk. Teman pasti memberi pengaruh, dan seseorang akan mengikuti agama/jalan hidup sahabat dekatnya. Jangan tanya seseorang itu jati dirinya seperti apa, tapi lihat saja temannya siapa, karena setiap orang akan mengikuti langkah orang yang selalu membersamainya.</span></p>
<p><b>Sebab kesepuluh: </b><span style="font-weight: 400;">Tidak ada langkah penanggulangan dari para ulama terhadap fenomena-fenomena baru yang terus terjadi begitu cepat, terlambat memberi bantahan atas syubhat-syubhat dan membiarkan generasi muda menjadi mangsanya. Terlebih lagi disertai dengan banyaknya anak muda yang menolak mendiskusikan pemikiran-pemikiran menyimpang ini, karena khawatir akan dipermalukan, dicap sesat, atau dihukum.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikianlah beberapa sebab terbesar yang banyak  berpengaruh dalam penyebaran atheisme, menggoyahkan keimanan banyak orang, dan mencoreng wajah agama dalam diri mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak diragukan bahwa perkara keberadaan Sang Pencipta dan kebenaran Rasul-Nya Shalallahu Alaihi Wassalam menjadi perkara terpenting yang menjadi dasar nasib manusia dan masa depan mereka di akhirat, antara menuju kebahagiaan abadi atau kesengsaraan kekal. Dan dengan karunia dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, bukti-bukti yang menunjukkan keberadaan Sang Pencipta sangat banyak dan beraneka ragam, seperti bukti dari sisi logika, ilmiah, fitrah, moral, histori, estetika, bahasa, dan lainnya. Dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala juga, kami telah menulis artikel khusus dalam setiap tema tersebut, dan telah kami publikasikan di website ini (alukah.net), Alhamdulillah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala agar melapangkan hati kita semua untuk menerima kebenaran dan memberi kita petunjuk menuju jalan yang lurus.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akhir kata kami ucapkan, Alhamdulillahi Robbil ‘alamin.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:</p>
<p><a href="https://www.alukah.net/sharia/1001/178720/لماذا-ينتشر-الإلحاد؟؟../">https://www.alukah.net/sharia/1001/178720/لماذا-ينتشر-الإلحاد؟؟../</a></p>
<p><a href="https://drive.google.com/file/d/1p3MXBFDeC5eNzl4B1IxAgIkDlMg4IpJ2/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">7897</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Nilai Seorang Mukmin Tersembunyi di Hatinya</title>
		<link>https://yufidia.com/nilai-seorang-mukmin-tersembunyi-di-hatinya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fauzi Yufid]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 May 2026 02:57:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yufidia.com/?p=7893</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Dr. Fatimah Said al-Wadi’i Tidak ada hal yang lebih memenangkan dan menyingkirkan kegelisahan seseorang daripada hidup dengan hati yang bersih, karena nilai seorang mukmin terletak di hatinya dan kesucian yang dibawa oleh...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Oleh:</b></p>
<p><b>Dr. Fatimah Said al-Wadi’i</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak ada hal yang lebih memenangkan dan menyingkirkan kegelisahan seseorang daripada hidup dengan hati yang bersih, karena nilai seorang mukmin terletak di hatinya dan kesucian yang dibawa oleh hati tersebut. Ini merupakan salah satu nikmat terbesar dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala baginya, yaitu ketika dadanya menyimpan hati yang bersih dari kebencian dan permusuhan, jernih dari kedengkian dan hasad, suci dari penipuan dan pengkhianatan, terbebas dari dendam dan kebencian yang dipendam, hatinya hanya diisi dengan belas kasih dan rasa cinta kepada kaum Muslimin. Apabila ada kenikmatan yang mengalir kepada seseorang, ia merasa ridha, memahami karunia Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala di dalamnya, dan mengerti kebergantungan para hamba-Nya terhadap nikmat itu. Apabila ia melihat keburukan menimpa salah satu makhluk-Nya, ia merasa iba dengan keadaannya, dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala agar menyingkap kesulitannya. Hal ini karena pada dasarnya hati harus penuh dengan rasa cinta dan keinginan agar orang lain mendapat kebaikan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mungkin seorang mukmin akan mendapat gangguan dari saudaranya, dan ia menjadi tidak menyukainya karena itu, atau bahkan berbalik menyakitinya untuk membela diri. Namun, kondisi seperti ini tidak boleh berlangsung lama dalam hati dan tidak berubah menjadi kedengkian dan kebencian. Sebaliknya, ia hendaknya menampakkan sikap lapang dada dan pemberian maaf dari jiwanya yang bersih. (Lihat: Kitab <em>Khuluq Al-Muslim</em> karya Muhammad Al-Ghazali hlm. 92, <em>Fi Al-Bina Ad-Da’wi</em> karya Ahmad Ash-Shuyan hlm. 95, <em>Al-Akhlaq Al-Islamiyah Wa Ususuha</em> karya Dr. Abdurrahman Al-Maidani jilid 1 hlm. 787, dan <em>Ath-Thuhr Al-A’iliy</em> karya Dr. Abdurrahman Az-Zunaidi hlm. 120).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah sifat-sifat para penghuni surga – ketika mereka telah memasukinya, hati mereka bersih dari kedengkian dan kebencian, sebagaimana yang telah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala firmakan:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan Kami cabut segala rasa dengki yang ada di dalam dada mereka, mereka menjadi saudara-saudara yang duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” </span><span style="font-weight: 400;">(QS. Al-Hijr: 47).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akhlak yang luhur dan sifat yang agung ini merupakan salah satu akhlak penting yang hendaknya diamalkan dengan sungguh-sungguh oleh pendakwah ketika berinteraksi dengan objek dakwahnya, mendorong mereka untuk mengamalkannya, dan mengingatkan mereka dengan firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan orang-orang yang telah menempati Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka, mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada orang-orang (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri meskipun mereka juga memerlukan. Barang siapa dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan orang-orang yang datang setelah mereka berkata: ‘Wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman dari kami, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’”</span><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Hasyr: 9-10).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam doa di ayat tersebut terdapat permohonan untuk dihilangkannya rasa dengki dari hati, baik itu yang sedikit atau banyak, karena apabila kedengkian itu hilang, maka sifat yang sebaliknya akan bertahan, yaitu kecintaan, kasih sayang, dan ketulusan. (<em>Tafsir As-Sa’di</em> hlm. 790).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan memperhatikan bagaimana interaksi Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, kita mendapati selama berinteraksi dengan orang lain beliau selalu menanamkan sifat mulia ini. Beliau merasakan apa yang mungkin dialami oleh orang yang didakwahi berupa gangguan dan kesempitan dada dari orang-orang di sekitarnya, dan ini bisa menjadi sebab timbulnya kebencian dan sikap kasar, sehingga hatinya menjadi rusak dan lalai dari sifat-sifat yang luhur. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ada seorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullah, saya memiliki kerabat yang selalu saya jaga hubungan dengan mereka, tapi mereka justru memutusnya, saya berbuat baik kepada mereka tapi mereka justru berbuat buruk terhadapku, dan saya tabah menghadapi mereka tapi mereka justru enggan mengerti diriku.” Beliau lalu bersabda: </span><span style="font-weight: 400;">“Apabila engkau seperti yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau sedang menyuapi mereka abu panas, dan akan senantiasa ada penolong dari Allah bersamamu untuk menghadapi mereka selama engkau tetap bersikap seperti itu.”</span><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim no. 2558).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini merupakan sikap yang sangat mulia bagi orang yang mengetahuinya dan merasakan manisnya, yaitu tidak membiarkan hati dan batinnya berbuat buruk atas gangguan yang ia terima, serta tidak mencari cara untuk membalas dendamnya dan memuaskan nafsunya, tapi justru mengosongkan hatinya dari itu semua, memandang keselamatan, kedamaian, dan kebersihan hatinya dari itu semua lebih mendatangkan kebaikan baginya, lebih nikmat, lebih nyaman, dan lebih menguntungkan kemaslahatannya. Hati itu apabila telah sibuk dengan sesuatu, maka akan terlewat darinya sesuatu yang lebih penting dan lebih baik untuknya, sehingga ia menjadi merugi, sedangkan orang yang berakal tidak akan rela dengan hal itu dan memandang itu sebagai tindakan orang kurang akal. Bagaimana mungkin hati menjadi bersih jika diisi dengan kebencian dan bisikan-bisikan setan, serta terus mencari cara untuk membalas dendam?!” (Kitab <em>Madarij as-Salikin</em> karya Ibnu Al-Qayyim jilid 2 hlm. 320).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Betapa tinggi kedudukan seorang insan akan naik dan mulia derajatnya ketika ia sampai pada sifat yang agung ini yang telah dicapai oleh para sahabat Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam. Kalaulah kita mencermati sabda beliau kepada mereka bahwa akan muncul kepada mereka seorang lelaki dari penghuni surga, dan beliau mengucapkan ini tiga kali, lalu Abdullah bin Amr bin Al-Ash pergi menemui lelaki itu dan menginap tiga malam di rumahnya, tapi ia tidak melihat lelaki itu melakukan amalan besar, sehingga Abdullah bin Amr merasa heran dengan keadaannya, dan ia pun bertanya: “Apa yang membuatmu dapat mencapai apa yang disabdakan Rasulullah (bahwa kamu akan masuk surga)?” Lelaki itu menjawab: “Amalanku tidak lain hanyalah seperti yang kamu lihat, hanya saja aku tidak pernah menyimpan dalam diriku sifat curang terhadap seorang pun dari kaum Muslimin, dan aku tidak merasa dengki dengan orang yang diberi kebaikan oleh Allah.” Abdullah lalu menanggapi: “Inilah amalan yang membuatmu mencapainya, dan inilah yang tidak kami mampu.” (HR. Ahmad no. 12720, Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata: “Sanadnya shahih sesuai syarat keshahihan Imam Al-Bukhari dan Muslim”).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kebersihan hati merupakan keutamaan yang membuat orang yang didakwahi tidak mengaitkan antara rezekinya di dunia dengan perasaannya terhadap orang lain, karena bisa jadi ia gagal ketika orang lain sukses, bisa jadi ia justru mengalami kemunduran ketika orang lain maju. Suatu sikap buruk ketika seseorang bersikap egois, sehingga menjadikannya ingin agar semua orang merasa rugi, bukan karena alasan apa pun kecuali karena ia sendiri belum sukses, sehingga sikap ini menimbulkan kedengkian yang diiringi dengan ketamakan, sehingga orang yang dengki ini berharap nikmat orang lain berpindah kepada dirinya. Harapan buruk ini mengandung perasaan benci dan muak terhadap orang lain. Tentu ini menjadi bentuk penyimpangan akhlak berupa egoisme yang merusak hati, membutakan nurani, dan menjadikan pelakunya hilang arah yang melangkah tanpa petunjuk. (Lihat: Kitab <em>Khuluq Al-Muslim</em> karya Muhammad Al-Ghazali hlm. 100, <em>Al-Akhlaq Al-Islamiyah wa Ususuha</em> karya Dr. Abdurrahman Al-Maidani jilid 1 hlm. 796-797).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada zaman ini, sudah sepatutnya bagi dai untuk memperhitungkan tema hasad, kebencian, dan kedengkian sebagai tema-tema dakwahnya yang harus ditekankan, baik itu di khutbah-khutbah, kajian-kajian, atau nasihat-nasihatnya, bahwa hasad bertentangan dengan makna persaudaraan Islam yang terbangun di atas rasa cinta dan harapan agar saudara-saudara seiman mendapat kebaikan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengingatkan mereka tentang keharaman sifat-sifat tersebut, karena ia termasuk amalan-amalan hati yang diharamkan yang tidak disadari oleh sebagian besar orang, menunjukkan kepada mereka sebab-sebab terpenting yang dapat membantu mereka untuk menghiasi diri dengan hati yang bersih, seperti menjaga hubungan baik dengan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, berinteraksi baik dengan orang lain, berbaik sangka terhadap kaum Muslimin, memberi maaf dan pemakluman bagi orang lain, berdoa, selalu menjaga hati, dan menyembuhkan hati dari segala penyakit yang membinasakan. (Lihat: Artikel <em>Salamah Ash-Shadr</em> karya Dr. Sulaiman Al-Habs dalam Majalah <em>Ad-Dirasat Ad-Da’wiyah Ilmiah Muhakkamah</em> terbitan Universitas Imam Muhammad bin Su’ud Al-Islamiyah, edisi pertama hlm. 39-70).</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:</p>
<p><a href="https://www.alukah.net/sharia/0/23318/قيمة-المؤمن-تكمن-في-قلبه/">https://www.alukah.net/sharia/0/23318/قيمة-المؤمن-تكمن-في-قلبه/</a></p>
<p><a href="https://drive.google.com/file/d/1qvKGqiV0kO6pTFRqJgpWl34kRXdyTXg6/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">7893</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Penghujung Usia</title>
		<link>https://yufidia.com/penghujung-usia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fauzi Yufid]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2026 06:28:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yufidia.com/?p=7889</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Amir Al-Khamisi &#160; Di antara bait yang kami hafal dari salah satu guru kami adalah: وَسِتَّةٌ تَلْحَقُنَا عِنْدَ الْكِبَرِ: تَعَثُّرُ الْمَشْيِ كَحَالَةِ الصِّغَرِ Ada enam hal yang akan mengiringi kita di masa...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Oleh:</b></p>
<p><b>Amir Al-Khamisi</b></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara bait yang kami hafal dari salah satu guru kami adalah:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">وَسِتَّةٌ تَلْحَقُنَا عِنْدَ الْكِبَرِ:</span> <span style="font-weight: 400;"> تَعَثُّرُ الْمَشْيِ كَحَالَةِ الصِّغَرِ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada enam hal yang akan mengiringi kita di masa tua: </span><span style="font-weight: 400;">Berjalan dengan tertatih-tatih layaknya bayi belajar melangkah,</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">وَقِلَّةُ السَّمْعِ وَقِلَّةُ الْبَصَرِ</span> <span style="font-weight: 400;"> وَقِلَّةُ الْأَكْلِ إِذَا الزَّادُ حَضَرَ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurunnya pendengaran dan penglihatan. </span><span style="font-weight: 400;">Rendahnya nafsu makan ketika hidangan telah disajikan.</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">وَالنَّوْمُ بَيْنَ النَّاسِ مِنْ دُونِ سَهَرٍ</span> <span style="font-weight: 400;">وَكَثْرَةُ النِّسْيَانِ أَدْهَى وَأَمَرُّ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Tertidur di tengah orang banyak bukan karena begadang. </span><span style="font-weight: 400;">Serta sering lupa, dan ini ujian terberat dan terpahit yang menghadang. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bait-bait ini merangkum dengan begitu mengena keadaan manusia ketika telah berusia senja dan mencapai usia renta. Panca indera mulai melemah, badan kembali ke kondisi seperti di awal hidupnya saat masih bayi, lemah tak berdaya, membutuhkan orang yang dapat melayaninya dan mengurusi urusannya. Al-Qur’an Al-karim telah mengisyaratkan kenyataan ini dalam firman-Nya:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia pada kejadiannya (menjadi lemah kembali).”</span><span style="font-weight: 400;"> (QS. Yasin: 68). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yakni barang siapa yang Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala panjangkan umurnya niscaya akan melalui fase penurunan dan kelemahan setelah fase kuat, fase jompo setelah fase muda, sehingga ia teringat bahwa kondisi yang tetap adalah sesuatu yang mustahil, kesehatan dan masa muda tidak berlangsung selamanya, dan ujung yang pasti adalah menuju kelemahan dan ketergantungan kepada rahmat Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila kita melihat kondisi orang yang telah sepuh, kita akan menemukan bahwa hal pertama yang tampak padanya adalah kelemahan gerakan dan tertatih saat berjalan. Ia tidak mampu lagi berjalan dengan leluasa seperti saat masih muda, bahkan sekarang membutuhkan tongkat atau tuntunan orang lain. Seakan-akan siklus kehidupan kembali ke permulaan saat ia masih bayi, berjalan mengayunkan langkah-langkah pertamanya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian mulai timbul penurunan pendengaran, tidak mampu lagi mendengarkan suara dengan jelas, harus mengeraskan suara atau meminta orang lain mengulangi ucapannya. Ia merasa asing dari orang lain, tapi di saat yang sama ia mulai menemukan pelipur lara dan hiburan dalam menyimak zikir dan bacaan Aal-Qur’an, seolah-olah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala sedang mengarahkannya kepada hal yang lebih penting daripada hingar-bingar dunia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bersamaan dengan penurunan pendengaran, menurun juga kemampuan penglihatan, sehingga ia tidak dapat melihat segala sesuatu seperti halnya dulu ia melihatnya. Sering kali ia membutuhkan kacamata, atau tidak mampu lagi membaca dan menulis. Ia akhirnya menyadari bahwa pandangan nurani lebih penting daripada pandangan mata, dan cahaya hati dari keimanan sudah cukup menggantikan cahaya mata apabila telah sirna.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seiring dengan bertambahnya usia, nafsu makan seseorang akan berkurang, tidak mampu lagi makan dengan lahap dan banyak seperti pada masa mudanya dulu. Hal ini menurunkan keterkaitannya dengan dunia, membuatnya lebih condong kepada sikap zuhud dan puas dengan yang sedikit. Ia menjadi sadar bahwa nutrisi jiwa dengan keimanan dan amal saleh itu jauh lebih penting.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang sudah berusia senja juga lebih mudah tertidur, sehingga ia tidak mampu begadang lama. Ia sering mengantuk di majelis-majelis. Kondisi ini merupakan efek dari kebutuhan tubuhnya untuk beristirahat. Ini mengingatkannya bahwa tidur merupakan gambaran kecil dari kematian yang semakin dekat, sehingga keyakinannya semakin kuat tentang singkatnya dunia dan cepatnya sirna.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian muncul juga masalah sering lupa. Ini adalah masalah paling berat yang dihadapi lansia, ia mulai lupa nama-nama dan peristiwa. Bahkan mungkin ia lupa orang terdekatnya. Lupa ini sangat menyakitkan hati, tapi di sisi lain juga merupakan rahmat, karena dapat meringankan hatinya dari beratnya kenangan-kenangan, membuatnya lebih siap untuk berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan lebih ringan dalam memikirkan keresahan-keresahan dunia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Meskipun manusia kehilangan fungsi panca indera dan kekuatan pada fase ini, ia tetap membawa sisi keindahan tertentu, ia lebih mendekatkannya kepada Tuhannya dengan penuh ketenteraman dan ketenangan, membuatnya lebih memahami nilai waktu, lebih bersemangat untuk beribadah, karena ia sadar bahwa umurnya yang tersisa tidak lagi banyak. Di sinilah tampak makna hadits Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, dan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Masa muda dan sehat tidak akan langgeng seterusnya, tapi amal saleh yang akan kekal hasilnya, terus menjadi saksi bagi orang yang mengamalkannya hingga setelah kepergiannya. Dulu Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam senantiasa berdoa:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا أَبَدًا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ya Allah, berilah kenikmatan kepada kami dengan pendengaran kami, penglihatan kami, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami, dan jadikanlah itu sebagai warisan dari kami (tetap ada pada kami sampai kami wafat).”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Doa ini mencerminkan kesadaran beliau terhadap pentingnya nikmat-nikmat tersebut, permintaan beliau kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala agar itu semua dapat terus terjaga hingga akhir usia, dan menjadikannya tetap ada setelah kepergiannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan demikian, masa tua bukan sekedar kelemahan, tapi juga fase ujian dan kesabaran. Di dalamnya tersingkap makna tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan ridha dengan ketetapan-Nya. Ia juga mengingatkan manusia tentang hakikat dunia yang merupakan tempat singgah, bukan tempat menetap, dan akhir yang sebenarnya adalah saat berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kehilangan panca indera bukan suatu kerugian mutlak, tapi perpindahan dari kebergantungan terhadap dunia menuju keterpautan dengan akhirat. Itu merupakan pengingat setia bahwa manusia sebesar apapun kekuatan dan kesehatannya, ujungnya tetaplah menuju kelemahan, dan yang benar-benar tersisa baginya adalah amal salehnya dan peninggalan-peninggalan baiknya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Fase jompo merupakan pemberhentian terakhir dalam perjalanan hidup manusia. Ketika itu ia akan kehilangan banyak indera dan kekuatannya, tapi juga akan mendatangkan kedekatan kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan ketenangan jiwa. Fase ini adalah seruan untuk menghayati nikmat masa muda dan kondisi sehat, serta pentingnya memanfaatkan nikmat ini sebelum lenyap. Bergembiralah orang yang memahami hakikat ini dan menyiapkan diri menjalani fase tersebut dengan amal saleh, agar masa tuanya menjadi cahaya alih-alih kegelapan, menjadi ketenangan alih-alih ketakutan, dan agar akhir usianya menjadi saksi atas ketulusannya dalam berjalan menuju Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, ketika ia berjumpa dengan Tuhannya dan catatan amalannya telah digulung dengan amal saleh, nama yang terpuji, dan peninggalan yang kekal di dunia setelah kepulangannya.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:</p>
<p><a href="https://www.alukah.net/sharia/1001/181945/آخر-العمر/">https://www.alukah.net/sharia/1001/181945/آخر-العمر/</a></p>
<p><a href="https://drive.google.com/file/d/156Z0yHrdAecbZNpBvRCDrh8e-TQ3mUFg/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">7889</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Kalau Engkau Memaafkan Mereka?</title>
		<link>https://yufidia.com/bagaimana-kalau-engkau-memaafkan-mereka/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fauzi Yufid]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 May 2026 07:40:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yufidia.com/?p=7883</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Abdurrahim bin Adil al-Wadi’i Seorang hamba diuji di dunia ini dengan orang yang merenggut haknya, baik itu pada kehormatannya, hartanya, dirinya, dan lain sebagainya. Namun, di antara hal yang menjadikan musibahnya itu...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Oleh:</b></p>
<p><b>Abdurrahim bin Adil al-Wadi’i</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang hamba diuji di dunia ini dengan orang yang merenggut haknya, baik itu pada kehormatannya, hartanya, dirinya, dan lain sebagainya. Namun, di antara hal yang menjadikan musibahnya itu terasa lebih mudah adalah kedatangannya pada hari kiamat untuk mengambil amal kebaikan orang yang telah berbuat buruk kepadanya sebagai qisas (pembalasan). Hanya saja, ada perkara yang sepatutnya diingat oleh setiap Muslim terhadap musuh dan orang-orang yang telah berbuat buruk terhadapnya – yang itu mengandung pahala lebih besar dan timbal balik yang lebih banyak – yaitu memberi ampun dan maaf bagi mereka, karena perkara ini dapat mendatangkan ampunan dan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala bagi hamba-Nya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah menjelaskan hal ini dengan berkata: “Ketahuilah bahwa engkau memiliki dosa-dosa antara dirimu dengan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, dan engkau takut mendapatkan akibat buruknya, serta berharap agar Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memaafkan, mengampuni, dan memakluminya bagimu. Selain itu, kamu juga berharap tidak hanya berhenti pada pemberian maaf dan ampunan, tetapi juga agar Dia melimpahkan kenikmatan dan karunia kepadamu, mendatangkan kepadamu manfaat dan kebaikan yang melebihi apa yang engkau harapkan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh sebab itu, apabila engkau mengharapkan ini dari Tuhanmu, dan ingin agar Dia membalas keburukanmu dengan segala kebaikan itu, maka sudah sepantasnya engkau memperlakukan makhluk-Nya seperti itu juga, engkau balas keburukan mereka dengan kebaikan darimu, agar Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memperlakukan dirimu seperti itu, karena balasan itu sesuai dengan amalannya, sehingga sebagaimana engkau memperlakukan dengan baik orang yang berbuat buruk terhadapmu, demikianlah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala akan memperlakukanmu terhadap dosa-dosa dan keburukannya, sebagai balasan yang setimpal. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka setelah ini, terserah engkau akan membalas dendam atau justru memberi maaf, membalas dengan kebaikan, atau tidak membalas, karena sebagaimana engkau berbuat, begitu pula engkau dibalas, sebagaimana engkau memperlakukan para hamba-Nya, demikianlah Dia memperlakukanmu. Siapa yang memperhatikan dan mencermati hal ini, niscaya akan mudah baginya untuk berbuat baik kepada orang yang telah berbuat buruk terhadapnya.” (Kitab <em>Badai’ul Fawaid</em> jilid 2 hlm. 774).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lihatlah contoh luar biasa berikut ini: Imam Ahmad Rahimahullah berkata: “Setiap orang yang menyebut diriku dengan keburukan telah aku maafkan, kecuali pelaku bid’ah. Bahkan saya juga telah memaafkan Abu Ishaq Al-Mu’tashim, karena saya mendapati Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah berfirman: </span><i><span style="font-weight: 400;">‘</span></i><span style="font-weight: 400;">Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?</span><i><span style="font-weight: 400;">’ </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. An-Nur: 22). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam memerintahkan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu untuk memberi pemaafan pada kisah Misthah. Kemudian beliau bersabda: </span><span style="font-weight: 400;">‘Dan apa manfaat bagimu ketika Allah mengazab saudara muslimmu karena sebab dirimu? Maka maafkan dan ampunilah, sehingga Allah akan mengampunimu sebagaimana Dia telah menjanjikan itu bagimu.’”</span><span style="font-weight: 400;"> (Kitab <em>Siyar A’lam an-Nubala</em> jilid 11 hlm. 261).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadikanlah ungkapan ini selalu ada di depan matamu: </span><span style="font-weight: 400;">“Dan apa manfaat bagimu ketika Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala mengazab saudara muslimmu karena sebab dirimu?!”</span><span style="font-weight: 400;"> Jangan mengira ketika engkau memaafkan saudaramu, kebaikan-kebaikanmu akan lenyap begitu saja dan balasan atas kezaliman yang engkau terima itu sirna. Sama sekali tidak! Justru balasannya akan berkali-kali lipat, karena Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala yang mengatur balasan bagimu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sungguh indah riwayat yang diriwayatkan kepada kita ini! Apabila di hari kiamat, akan didatangkan kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala salah seorang hamba-Nya yang Dia beri keluasan harta. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala l berfirman kepadanya: </span><i><span style="font-weight: 400;">“</span></i><span style="font-weight: 400;">Apa yang telah engkau kerjakan di dunia?</span><i><span style="font-weight: 400;">”</span></i><span style="font-weight: 400;"> Hamba itu menjawab: “Wahai Tuhanku! Engkau telah mengaruniakan harta kepadaku, kemudian dulu aku berjual beli dengan orang-orang, dan di antara sifatku adalah memaafkan. Dulu aku memberi kemudahan bagi orang yang berkecukupan, dan memberi penundaan pembayaran bagi orang yang kekurangan.” Allah lalu berfirman: </span><span style="font-weight: 400;">“Aku lebih layak dengan sifat ini daripada kamu, ampunilah hamba-Ku ini!”</span><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim no. 1560).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh sebab itu, berilah maaf, maka Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala lebih pantas untuk memberimu maaf. Ampunilah, maka Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala lebih layak untuk memberi ampunan. Dan kasihilah, karena orang-orang pengasih akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam biografi Mas’ud Al-Hamadani yang ada dalam kitab <em>Tarikh Al-Islam</em> disebutkan bahwa beliau sering kali mengucapkan: “Masa lalu tidak perlu diingat lagi!” Lalu dikisahkan bahwa ada yang melihat beliau dalam mimpi, dan beliau ditanya: “Apa yang Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala lakukan terhadapmu?” Beliau menjawab: “Dia memberhentikanku di hadapan-Nya, lalu Dia berfirman: </span><i><span style="font-weight: 400;">‘</span></i><span style="font-weight: 400;">Wahai Mas’ud! Masa lalu tidak perlu diingat lagi! (Wahai para malaikat) bawalah dia ke surga!’</span><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam berkata – ketika menjelaskan sebab-sebab yang dapat membantu dalam bersabar atas gangguan orang lain –: “Seseorang harus bersaksi bahwa apabila ia memaafkan dan membalas dengan kebaikan, maka itu akan menumbuhkan kebersihan hati terhadap saudara-saudaranya, dan kesucian hati dari sifat khianat, kebencian, berusaha membalas dendam, dan keinginan buruk (terhadap orang yang menyakitinya). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ia juga akan merasakan manisnya memberi maaf yang lebih nikmat dan lebih bermanfaat – dalam jangka pendek maupun panjang – berkali-kali lipat daripada manfaat yang diraih dari membalas dendam. Ia juga akan termasuk dalam cakupan firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala: </span><span style="font-weight: 400;">‘Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.’</span><span style="font-weight: 400;"> (QS. Ali Imran: 134). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga ia menjadi orang yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, dan keadaannya seperti orang yang dirampas darinya satu dirham lalu diberi ganti rugi sebanyak ribuan dinar, sehingga ia sangat berbahagia luar biasa atas karunia yang Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala karuniakan kepadanya.” (Kitab <em>Jami Al-Masa’il</em> jilid 1 hlm. 170).</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">سَامِحْ أَخَاكَ الدَّهْرَ مَهْمَا بَدَتْ</span> <span style="font-weight: 400;">مِنْهُ ذُنُوبٌ وَقْعُهَا يَعْظُمُ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Maafkanlah saudaramu sepanjang waktu, meskipun datang darinya, </span><span style="font-weight: 400;">Dosa-dosa yang terasa sangat besar.</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">وَارْحَمْ لِتَلْقَى رَحْمَةً فِي غَدٍ</span> <span style="font-weight: 400;">فَرَبُّنَا يَرْحَمُ مَنْ يَرْحَمُ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Kasihilah, agar engkau mendapat belas kasih di hari esok, </span><span style="font-weight: 400;">Karena Tuhan kita Maha Pengasih kepada orang yang mengasihi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maafkan dan maklumilah orang yang berbuat buruk terhadapmu! Dan ingatlah bahwa balasannya akan datang dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Apalah arti pahala kebaikan yang engkau ambil dari orang yang menzalimimu jika dibandingkan dengan balasan dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, Dzat Yang Maha Pemurah?!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Betapa indah hari ketika engkau mengucapkan dengan lisanmu – dan ini tidak akan mampu dilakukan kecuali orang yang mendapat taufik dari Allah –: “Ya Allah, sungguh aku telah memaafkan semua orang yang telah berbuat buruk terhadapku, maka maafkan dan ampunilah aku, karena Engkau lebih layak dan lebih pantas memaafkan dan mengampuni!”</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:</p>
<p><a href="https://www.alukah.net/sharia/11874/180130/ماذا-لو-عفوت-عنهم؟/">https://www.alukah.net/sharia/11874/180130/ماذا-لو-عفوت-عنهم؟/</a></p>
<p><a href="https://drive.google.com/file/d/1blJyooCJbucLIKPxWJ4lO_6aqbB5sIY7/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">7883</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Taubat di Bulan Ramadhan: Bagaimana Memulai Lembaran Baru?</title>
		<link>https://yufidia.com/taubat-di-bulan-ramadhan-bagaimana-memulai-lembaran-baru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fauzi Yufid]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2026 15:17:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ramadan dan Ied]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yufidia.com/?p=7878</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Muhammad Abu Athiyah Ramadhan merupakan bulan ampunan dan rahmat, kesempatan berharga untuk memperbarui hubungan dengan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala, bertaubat nasuha dari segala dosa dan kesalahan. Bulan yang mulia ini bagaikan persimpangan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Oleh:</b></p>
<p><b>Muhammad Abu Athiyah</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ramadhan merupakan bulan ampunan dan rahmat, kesempatan berharga untuk memperbarui hubungan dengan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala, bertaubat nasuha dari segala dosa dan kesalahan. Bulan yang mulia ini bagaikan persimpangan penting dalam kehidupan seorang Muslim, karena di dalamnya semakin bertambah kesempatan untuk mendekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala, meraih ampunan atas dosa-dosa, dan memulai kehidupan baru yang lebih jernih. Namun, taubat bukanlah sekedar ucapan yang dilontarkan, tapi proses rohani yang mendalam, membutuhkan keikhlasan, niat yang tulus, dan kemauan kuat. Bagaimana agar seorang Muslim dapat memanfaatkan kesempatan yang agung ini dan memulai lembaran baru dalam hidupnya?</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Pertama: Memahami makna taubat nasuha</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Taubat nasuha bukan hanya perasaan menyesal atas dosa-dosa yang telah diperbuat, tapi perubahan mendasar pada perilaku dan niat, dan mengandung beberapa unsur pokok, yaitu:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penyesalan atas dosa: Ini merupakan rasa sedih dan sakit yang sebenar-benarnya akibat kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang insan, dengan kesadaran akan bahaya dari penyelisihan perintah Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala yang telah ia perbuat. Penyesalan ini bukan sekedar penyesalan sepintas, tapi penyesalan mendalam yang timbul dari hati dan berpengaruh pada sikap seseorang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berhenti dari dosa: Ini terwujud dengan berhenti segera dari melakukan dosa yang ia telah bertaubat darinya dan tidak kembali melakukannya lagi. Penghentian ini harus sungguh-sungguh dan sebenar-benarnya, diiringi dengan pengambilan semua langkah yang menjadi konsekuensinya agar tidak kembali kepada dosa-dosa itu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Memohon ampun dan berdoa: Ini terwujud dengan tunduk kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala meminta ampunan dan taubat, memohon agar taubatnya diterima dan dosa-dosanya diampuni. Permohonan ampun harus dilakukan dengan penuh ketulusan dan kekhusyukan disertai dengan keyakinan atas rahmat dan ampunan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bertekad untuk tidak kembali melakukan dosa itu: Yakni tekad yang sungguh-sungguh dan hakiki untuk tidak mengulangi lagi dosa dan kemaksiatannya, disertai dengan menghindari hal-hal yang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa itu. Tekad ini harus ditopang dengan niat yang tulus dan keinginan yang kuat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Memperbaiki apa yang mungkin diperbaiki: Apabila dosanya berkaitan dengan menzalimi hak orang lain, maka orang yang ingin bertaubat dari dosa itu harus memperbaiki apa yang mungkin masih bisa diperbaiki dan menyerahkan hak-hak orang lain dengan tulus ikhlas. Hal ini mencakup meminta maaf kepada orang lain, menghentikan kezaliman terhadapnya, dan mengembalikan hak-hak kepada pemiliknya.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Kedua: Langkah-langkah praktis untuk memulai lembaran baru pada bulan Ramadhan.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Taubat nasuha bukan perkara gampang, karena ia membutuhkan usaha keras dan tekad yang kuat serta konsistensi dengan perubahan-perubahan positif dalam hidup. Berikut ini adalah beberapa langkah praktis yang mungkin dapat dilakukan untuk memulai lembaran baru pada bulan Ramadhan:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berintrospeksi diri: Sebelum mulai bertaubat, seorang Muslim wajib berintrospeksi diri, dan mengoreksi perbuatan, ucapan, dan niat-niatnya, lalu menentukan dosa-dosa dan kemaksiatan yang telah dilakukan. Introspeksi ini harus dilakukan dengan jujur dan teliti, diiringi dengan pencermatan terhadap sebab-sebab ia dapat terjerumus ke dalam maksiat-maksiat itu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bertaubat dengan tulus kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala: Setelah menentukan dosa-dosa yang telah dilakukan, seorang Muslim harus bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala sepenuhnya dengan tulus ikhlas. Ia harus merasakan penyesalan yang sebenar-benarnya atas kemaksiatan yang telah dilakukan serta bertekad untuk tidak mengulanginya kembali.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Memohon ampun dan berdoa: Seorang Muslim harus banyak beristighfar dan berdoa, serta memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala agar taubatnya diterima, diampuni dosa-dosanya, dan dianjurkan baginya untuk memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala dengan tasbih, tahlil, dan takbir.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Memperbaiki apa yang mungkin diperbaiki: Apabila dosanya berkaitan dengan menzalimi hak orang lain, maka orang yang ingin bertaubat dari dosa itu harus memperbaiki apa yang mungkin masih bisa diperbaiki dan menyerahkan hak-hak orang lain dengan tulus ikhlas. Hal ini mencakup meminta maaf kepada orang lain, menghentikan kezaliman terhadapnya, dan mengembalikan hak-hak kepada pemiliknya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Konsisten menjalankan ibadah-ibadah: Seorang Muslim harus konsisten menjalankan ibadah yang disyariatkan, seperti salat, puasa, zakat, dan haji, serta melaksanakannya dengan penuh keikhlasan dan kekhusyukan. Dianjurkan juga untuk banyak membaca Al-Qur’an Al-Karim dan menghayati makna-maknanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mempelajari ilmu syar’i: Mempelajari ilmu syar’i termasuk perkara penting dalam proses taubat dan keistiqamahan, karena dengan ilmu, seorang Muslim dapat memahami hukum-hukum dalam agama Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala, dan menjauhi kemaksiatan dan dosa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala: Seorang Muslim wajib memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala dalam perjalanannya menuju taubat dan keistiqamahan, berdoa kepada-Nya agar menguatkan dan menolongnya untuk terus menempuh jalan keistiqamahan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menjauhi sebab-sebab yang menjerumuskan ke dalam dosa: Seorang Muslim wajib menjauhi sebab-sebab dosa dan tempat-tempat fitnah, seperti komunitas yang rusak, masyarakat yang buruk, dan teman-teman yang nakal. Ia harus memilih teman dengan bijak, dan menjauhi segala hal yang dapat menyeretnya kembali ke dalam dosa.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Ketiga: Peran bulan Ramadhan dalam mendukung pertaubatan.</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bulan Ramadhan termasuk kesempatan emas untuk mendukung pertaubatan, dan meraih kemajuan berarti dalam perjalanan di atas keistiqamahan. Pada bulan yang mulia ini terdapat banyak kebaikan dan keberkahan, pahala amal saleh dilipatgandakan, dan suasana keimanan yang memenuhi bulan mulia ini sangat membantu dalam bertafakur dan bertaubat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat banyak kesempatan untuk bertaubat dan memohon ampun: Pada bulan Ramadhan, kaum Muslimin memperbanyak doa dan istighfar, dan berusaha sepenuhnya untuk bertaubat dari dosa-dosa. Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala mencintai orang-orang yang bertaubat, dan memberi ampunan bagi orang yang bertaubat kepada-Nya dengan tulus ikhlas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Melakukan tahajud dan membaca Al-Qur’an: Tahajud dan membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadhan memberi peran penting dalam menyucikan jiwa dan membersihkan hati serta menguatkan niat-niat baik. Kedua amalan ini termasuk sarana terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menunaikan zakat dan sedekah: Zakat dan sedekah pada bulan Ramadhan membantu untuk membersihkan harta dari segala kotoran, serta meningkatkan ruh berbagi dan kasih sayang di antara manusia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Puasa dan mendidik jiwa: Puasa Ramadhan dapat mendidik jiwa, meningkatkan rasa tanggung jawab dan takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala. Ia merupakan kesempatan berharga untuk merenungi dosa-dosa dan kesalahan, serta bertaubat darinya.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><b>Penutup:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bertaubat pada bulan Ramadhan merupakan kesempatan agung untuk memulai lembaran baru, terbebas dari beban dosa-dosa, dan membangun kehidupan yang lurus yang terbangun di atas ketakwaan dan kebaikan. Taubat merupakan perjalanan yang menuntut keikhlasan, keinginan kuat, dan pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala. Barang siapa yang bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala dengan tulus dan ikhlas, niscaya Dia akan mengampuni dosanya, dan membukakan baginya pintu-pintu rahmat dan ampunan-Nya. Kita harus memanfaatkan kesempatan berharga ini untuk memperbaiki diri, bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala sebelum datangnya ajal, dan memulai lembaran baru dalam kehidupan kita yang penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Sungguh Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:</p>
<p><a href="https://www.alukah.net/sharia/0/175067/التوبة-في-شهر-رمضان-كيف-تبدأ-صفحة-جديدة؟/">https://www.alukah.net/sharia/0/175067/التوبة-في-شهر-رمضان-كيف-تبدأ-صفحة-جديدة؟/</a></p>
<p><a href="https://drive.google.com/file/d/1e1FpcNUR4IyOhZJ0FuQC8dXbmy6NDN5U/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">7878</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Keharaman Perusakan Lingkungan dalam Islam: Dalil-Dalil dan Pandangan Komprehensif Terhadapnya</title>
		<link>https://yufidia.com/keharaman-perusakan-lingkungan-dalam-islam-dalil-dalil-dan-pandangan-komprehensif-terhadapnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fauzi Yufid]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2026 13:41:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yufidia.com/?p=7874</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Prof. Dr. Mahmud Abdul Aziz Yusuf Hijab Pendahuluan Agama Islam memiliki karakteristik berupa pandangan yang menyeluruh terhadap alam semesta dan kehidupan, karena ia mengaitkan manusia dan lingkungan dalam jalinan yang seimbang dan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>Oleh:</b></p>
<p><b>Prof. Dr. Mahmud Abdul Aziz Yusuf Hijab</b></p>
<h3>Pendahuluan</h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Agama Islam memiliki karakteristik berupa pandangan yang menyeluruh terhadap alam semesta dan kehidupan, karena ia mengaitkan manusia dan lingkungan dalam jalinan yang seimbang dan selaras yang saling melengkapi. Isu lingkungan dalam agama Islam mendapat perhatian yang besar, karena perusakan lingkungan merupakan bentuk perenggutan keseimbangan yang telah Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala tegakkan di alam semesta ini. Syariat Islam melandasi pengharaman perusakan lingkungan dengan dalil-dalil yang beraneka ragam, mulai dari Al-Qur’an Al-Karim, Sunah Nabi, ijma para ulama, dan kaidah-kaidah fikih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Agama Islam menganggap perlindungan dan penjagaan lingkungan termasuk nilai-nilai dasar agama, dan menegaskan bahwa perusakan dan pencemaran lingkungan hukumnya haram, karena menimbulkan kerusakan dan bahaya bagi kemaslahatan makhluk-makhluk.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Agama Islam mengharamkan segala bentuk kerusakan fisik, seperti pencemaran lingkungan dan berlebihan dalam memanfaatkan sumber daya alam, serta mendorong penghentian segala mudharat, dan menjaga setiap keindahan alam dan sumber daya, seperti air dan pohon.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu pun dengan perburuan liar atau perburuan yang hanya untuk tujuan hiburan tanpa pemanfaatan, juga dilarang dan termasuk perbuatan yang makruh atau bahkan haram menurut sebagian ulama. Terlebih lagi jika itu menimbulkan bahaya terhadap keseimbangan ekosistem, atau dilakukan pada musim kawin dan berkembangbiaknya hewan-hewan. Hal ini berdasarkan hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">مَا مِنْ إِنْسَانٍ يَقْتُلُ عُصْفُورًا فَمَا فَوْقَهَا بِغَيْرِ حَقِّهَا، إِلَّا سَأَلَهُ اللَّهُ عَنْهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا حَقُّهَا؟ قَالَ: حَقُّهَا أَنْ يَذْبَحَهَا فَيَأْكُلَهَا، وَلَا يَقْطَعَ رَأْسَهَا فَيَرْمِيَ بِهَا</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah seseorang membunuh seekor burung pipit atau yang lebih besar darinya tanpa haknya, melainkan Allah akan menanyainya tentang perbuatannya itu pada hari kiamat.” Beliau lalu ditanya, “Wahai Rasulullah, apa haknya?” Beliau menjawab, “Hak burung itu adalah disembelih lalu dimakan, dan tidak dipenggal kepalanya kemudian dibuang begitu saja.”</span><span style="font-weight: 400;"> (HR. An-Nasa’i).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan yang berkaitan dengan membakar dan menebang pohon, maka ini tidak boleh menebang pohon yang berbuah maupun yang tidak, dengan tujuan main-main atau perusakan, karena ini termasuk bentuk perusakan bumi dan bertentangan dengan pemakmuran bumi yang menjadi perintah Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ajaran-ajaran Islam sangat tegas dalam mengharamkan penebangan dan pembakaran pohon tanpa kebutuhan yang mendesak, dan hanya membolehkannya ketika ada kebutuhan mendesak tapi tetap dengan rambu-rambu yang harus diperhatikan, seperti menanam pohon penggantinya atau menanggulangi bahaya-bahaya perbuatan itu secara langsung yang dapat menimpa manusia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perusakan lingkungan dengan berbagai macam bentuknya hukumnya haram menurut Syariat, dan harus ada hukuman-hukuman yang menimbulkan efek jera dari negara. Perburuan hewan tanpa dimanfaatkan atau dilakukan di musim kawin juga dilarang. Membakar dan menebang pohon untuk hal yang tidak penting atau bertentangan dengan kemaslahatan umum hukumnya juga haram. Semua hukum ini berasal dari teks-teks Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang bertujuan untuk mewujudkan keseimbangan ekosistem dan menjamin kemaslahatan bumi untuk tempat tinggal manusia, hewan, dan tumbuhan. Ini termasuk tanggung jawab agama dan sosial bagi setiap muslim.</span></p>
<h3>Pertama: Dalil-dalil Al-Qur’an</h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Qur’an Al-Karim menghadirkan banyak ayat yang menjadi dasar perlindungan dan penjagaan lingkungan, di antaranya:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">1. Diharamkannya berbuat kerusakan di muka bumi</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman.”</span><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-A’raf: 56). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan termasuk bentuk perusakan, segala hal yang merusak keseimbangan lingkungan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">2. Larangan berlaku boros dan mubazir</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan makan serta minumlah kalian, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”</span><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-A’raf: 31). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan berlebihan dalam mengonsumsi sumber daya alam termasuk ke dalam cakupan larangan ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">3. Karunia Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala terhadap alam semesta</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala menciptakan alam semesta ini dengan takaran dan keseimbangan. Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala berfirman:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;"> إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (ketetapan).”</span><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Qamar: 49). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan merusak keseimbangan ini termasuk perbuatan yang menyelisihi hikmah Ilahi.</span></p>
<h3>Kedua: Dalil-dalil dari sunah Nabi</h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Sunah Nabi hadir dengan sekumpulan hadis yang mengharamkan perusakan lingkungan, di antaranya:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">1. Larangan mencemari air</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">اِتَّقُوا الْمَلَاعِنَ الثَّلَاثَ: الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ، وَقَارِعَةَ الطَّرِيقِ، وَالظِّلَّ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jauhilah tiga perbuatan yang mendatangkan laknat: buang hajat di sumber-sumber air, di tengah jalan, dan di tempat berteduh.”</span><span style="font-weight: 400;"> (HR. Abu Dawud). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadis ini mencakup larangan mencemari sumber-sumber air.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">2. Anjuran menanam pohon</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman atau menabur benih, lalu hasilnya dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.”</span><span style="font-weight: 400;"> (HR. Al-Bukhari dan Muslim).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">3. Perintah Bersikap lembut terhadap hewan</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ.</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala telah menetapkan sikap ihsan (berbuat baik) atas segala sesuatu. Maka apabila kalian membunuh, lakukanlah dengan cara yang baik, dan apabila kalian menyembelih maka lakukanlah penyembelihan dengan cara yang baik.”</span><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">4. Larangan menebang pohon</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadis disebutkan:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً ـ ظِلًّا يَسْتَظِلُّ بِهَا ابْنُ آدَمَ ـ صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ.</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barang siapa menebang pohon bidara yang menjadi tempat manusia berteduh, maka Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala akan menjerumuskan kepalanya ke dalam neraka.”</span><span style="font-weight: 400;"> (HR. Abu Dawud).</span></p>
<h3>Ketiga: Ijma para ulama dan kaidah-kaidah fikih</h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama telah menyepakati beberapa kaidah yang dapat menjadi pelindung lingkungan, di antaranya:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">1. Kaidah (لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ) “Tidak boleh mendatangkan bahaya bagi diri sendiri ataupun orang lain”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini merupakan kaidah umum dalam syariat yang mencakup larangan segala hal yang menimbulkan bahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">2. Haramnya menyakiti tetangga</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini karena mengandung perusakan bagi lingkungan yang timbul dari pencemaran, polusi suara, dan lain sebagainya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">3. Tanggung jawab dalam menjauhkan marabahaya</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”</span><span style="font-weight: 400;"> (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan ini mencakup tanggung jawab dalam menjaga lingkungan.</span></p>
<h3>Keempat: Penerapan kontemporer dari pengharaman perusakan lingkungan</h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Pengharaman perusakan lingkungan dalam Islam dapat diterapkan dalam banyak masalah terkini, di antaranya:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">1. Pencemaran udara dan air: termasuk perusakan bumi yang terlarang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">2. Pemanasan global: termasuk perusakan keseimbangan lingkungan yang harus dijaga menurut ajaran Islam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">3. Perburuan liar: menyelisihi larangan membunuh hewan kecuali untuk kemaslahatan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">4. Pemborosan dalam eksploitasi sumber daya alam: menyelisihi larangan al-Qur’an tentang sikap berlebih-lebihan.</span></p>
<h3>Penutup</h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Agama Islam mengajukan visi menyeluruh dalam berinteraksi dengan lingkungan yang berdiri di atas keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan penjagaannya, dan berasaskan dalil-dalil syariat dari Al-Qur’an dan as-Sunah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perusakan lingkungan dengan berbagai macam bentuknya termasuk hal yang diharamkan dalam syariat Islam, karena mengandung perusakan bumi dan bahaya bagi makhluk hidup lain serta penodaan terhadap amanah yang telah Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala berikan kepada manusia untuk menjadi pemakmur bumi. Seorang Muslim dituntut untuk menjadi penjaga lingkungan yang amanah, memakmurkan bumi alih-alih merusaknya, dan memanfaatkan nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala tanpa sikap berlebih-lebihan dan boros.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:</p>
<p><a href="https://www.alukah.net/sharia/1001/179245/تحريم-الاعتداء-على-البيئة-في-الإسلام-أدلة-شرعية-ورؤية-متكاملة/">https://www.alukah.net/sharia/1001/179245/تحريم-الاعتداء-على-البيئة-في-الإسلام-أدلة-شرعية-ورؤية-متكاملة/</a></p>
<p><a href="https://drive.google.com/file/d/1Ipkxz1XLikVJUxYqUGwJixTATn6PCThw/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">7874</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Optimislah untuk Sembuh</title>
		<link>https://yufidia.com/optimislah-untuk-sembuh/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fauzi Yufid]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2025 13:48:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yufidia.com/?p=7871</guid>

					<description><![CDATA[تفاءل لتشفى Oleh: Dr. Shalah Abdul Syakur د. صلاح عبدالشكور &#160; Salah satu cara paling manjur dan terkuat untuk memerangi penyakit dan musibah yang menimpa seseorang dalam hidupnya adalah optimisme. Secara singkat, optimisme...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><b>تفاءل لتشفى</b></div>
<p><b>Oleh:</b></p>
<p><b>Dr. Shalah Abdul Syakur</b></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><b>د. صلاح عبدالشكور</b></div>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu cara paling manjur dan terkuat untuk memerangi penyakit dan musibah yang menimpa seseorang dalam hidupnya adalah </span>optimisme<span style="font-weight: 400;">. Secara singkat, optimisme adalah pandangan penuh harapan terhadap masa depan, yang membuat pelakunya senantiasa memperkirakan yang terbaik, menanti hadirnya hal yang baik dan indah, menatap kepada kesuksesan dan keadaan terbaik, dan mengenyampingkan hal-hal selain itu. Dalam terminologi syariat, optimisme merupakan sangkaan baik kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala dan segala takdir yang terjadi pada seorang hamba. Dulu pemimpin orang-orang optimis, Nabi kita Shallallahu Alaihi Wa Sallam sangat menyukai sikap optimis yang positif. Beliau bersabda:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">لَا طِيَرَةَ، وَخَيْرُهَا الفَأْلُ. قَالُوا: وَمَا الفَأْلُ؟ قَالَ: الكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada tathayyur (meyakini kesialan karena pertanda tertentu), dan yang terbaik adalah fa’l.’ Mereka bertanya: ‘Apakah fa’l itu?’ Beliau menjawab: ‘Yaitu ucapan baik (optimis) yang didengar oleh salah seorang di antara kalian.’”</span><span style="font-weight: 400;"> (HR. Al-Bukhari dan Muslim).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dulu Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyukai pengharapan yang baik. Beliau juga melarang ucapan “Kalaulah” karena itu dapat membuka jalan bisikan setan dan salah satu pintu terbesar pesimisme. Ini tampak jelas dalam arahan Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">اسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mintalah pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala dan jangan lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata: ‘Seandainya aku melakukan ini, tentu akan begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah: ‘Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala telah menakdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.’ Karena kata ‘seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.”</span><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Manhaj Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam optimisme tampak jelas dalam penerapan beliau terhadap firman Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagi kalian. Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”</span><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Baqarah: 216).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara contoh praktis dalam bersikap optimis dan menjauhi pesimisme adalah hadis yang diriwayatkan Imam Aal-Bukhari dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah menjenguk seorang Arab Badui –dan kebiasaan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam apabila menjenguk orang sakit adalah mendoakan: “Laa ba’sa. Thahurun In Sya Allah” (Tidak mengapa, menjadi penyuci dari dosa, Insyaallah)– beliau pun mengucapkan kepadanya: “Laa ba’sa. Thahurun In Sya Allah”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> Orang Arab Badui itu lalu berkata, “Kamu berkata: ‘Thahur’ (penyuci)? Sama sekali tidak! Justru ini demam yang meluap, terhadap pria tua renta, dan membuatnya mendatangi kubur!” Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Benar, kalau begitu!” Yakni bagimu kematian yang kamu sukai dan harapkan. Ibnu Hajar menyebutkan dalam kitab <em>Fath Al-Bari</em>, “Orang Arab Badui itu pun meninggal dunia.”</span></p>
<h3>Optimisme: Kekuatanmu yang terus terbarui</h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Optimisme adalah karakter orang-orang bahagia, tunggangan orang-orang cerdas, bekal orang-orang bijak, dan tempat berlindung orang-orang cerdik, terlebih lagi pada waktu-waktu sulit, berat, dan genting. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebaliknya, pesimisme merupakan kecondongan memperkirakan hal-hal yang buruk, menunggu musibah-musibah, dan mengisi hati dan pikiran dengan hal-hal kalut. Apabila optimisme itu dapat membahagiakan jiwa, meningkatkan hormon kebahagiaan, menambah semangat seseorang, dan mendorongnya untuk mencintai kehidupan, pekerjaan, dan bersabar atas cobaan, maka pesimisme hanya menutup semua pintu yang ada di hadapanmu, dan melenyapkan setiap solusi di depan kedua matamu, sehingga ia dapat melemahkan badan dan menyakitkan hati, bahkan terkadang menjadikan orang yang diuji dengan sakit enggan berobat dan menyerah dengan penyakitnya.</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">قَلِقٌ أَنْتَ فَمَنْ ذَا أَفْزَعَكَ؟</span> <span style="font-weight: 400;">بُحْ بِمَا تَشْكُو وَقُلْ: مَنْ رَوَّعَكَ؟</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Resahkah engkau? Siapa yang membuatmu takut?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ungkapkanlah apa yang engkau keluhkan, dan katakan: siapa yang membuat hatimu gentar?</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">لَيْسَ فِي الدُّنْيَا نَعِيمٌ دَائِمٌ</span> <span style="font-weight: 400;">فَاطْرَحِ الحُزْنَ وَكَفْكِفْ أَدْمُعَكَ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dunia ini tidak ada kenikmatan yang abadi, </span><span style="font-weight: 400;">Maka buanglah kesedihan dan sapulah air matamu.</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">وَابْتَسِمْ جَذْلَانَ، مَا جَدْوَى الأَسَى؟</span> <span style="font-weight: 400;">رُبَّمَا إِنْ زَادَ يَوْمًا صَرَعَكَ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Tersenyumlah dengan riang, apa guna meratapi duka? </span><span style="font-weight: 400;">Barangkali jika ia bertambah suatu hari, ia akan menjatuhkanmu.</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">أَنْتَ إِنْ تَضْحَكْ تُشَاطِرْكَ الدُّنَا</span> <span style="font-weight: 400;">وَإِذَا تَبْكِي فَمَنْ يَبْكِي مَعَكَ؟</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika engkau tertawa, dunia akan ikut tertawa bersamamu. </span><span style="font-weight: 400;">Namun jika engkau menangis, siapa yang akan menangis bersamamu?</span></p>
<h3>Setiap penyakit ada obatnya</h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya <em>Zad Al-Ma’ad</em> sebagai komentar terhadap sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam: </span><span style="font-weight: 400;">“Setiap penyakit itu ada obatnya. Apabila obat telah mengenai penyakit, maka akan sembuh, dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala.”</span><span style="font-weight: 400;"> (HR. Muslim). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Al-Qayyim berkata : “Dalam sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam (Setiap penyakit ada obatnya) terdapat penguatan bagi jiwa orang yang sakit dan dokter, serta dorongan untuk mencari pengobatan dan menelitinya, karena jika orang sakit merasa bahwa penyakitnya ada obat yang dapat menyembuhkan, maka hatinya akan bangkit dengan ruh harapan, mendinginkan panas putus asanya, dan terbuka pintu asanya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila jiwanya telah kuat, akan muncul panas bawaan tubuhnya, dan ini menjadi sebab kekuatan biologis, psikologis, dan metabolismenya. Apabila kekuatan-kekuatan ini telah muncul, maka akan kuat juga jiwa yang menghimpunnya, sehingga ia mampu melawan dan mencegah penyakit. Demikian juga dengan dokter, apabila mengetahui bahwa penyakit itu ada obatnya, ia akan sekuat tenaga untuk mencari dan menelitinya.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, beliau senantiasa menghembuskan optimisme kepada orang sakit, serta menebar dalam dirinya keceriaan, harapan sembuh, dan hadirnya kesehatan. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri dalam hadis marfu:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">إِذَا دَخَلْتُمْ عَلَى المَرِيضِ فَنَفِّسُوا لَهُ فِي أَجَلِهِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ لَا يَرُدُّ مِنَ القَدَرِ شَيْئًا، وَهُوَ يُطَيِّبُ نَفْسَهُ.</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apabila kalian menjenguk orang yang sakit, maka berilah ia harapan dalam hal ajalnya. Karena hal itu tidak akan mengubah sedikit pun dari takdir, tetapi dapat menyenangkan dan menenangkan hatinya.”</span><span style="font-weight: 400;"> (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Makna kalimat </span><span style="font-weight: 400;">“berilah ia harapan dalam hal ajalnya” </span><span style="font-weight: 400;">yakni jadikanlah ia punya harapan hidup dan umur panjang, seperti dengan mengatakan kepadanya, “InsyaAllah, kesehatanmu akan pulih kembali, kamu sembuh dengan selamat, dan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala memberimu umur yang panjang dan amalan yang baik” dan kalimat-kalimat yang semisalnya. Karena hal ini dapat menjadi penyemangat baginya dalam menghadapi ujian dan penenang hatinya. </span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">تَبَسَّمْ تَبَسَّمْ وَخَلِّ الهُمُومَ</span> <span style="font-weight: 400;">وَخَلِّ الغُمُومَ وَخَلِّ الضَّجَرْ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Tersenyumlah, tersenyumlah, dan jangan gelisah, </span><span style="font-weight: 400;">tinggalkanlah kesedihan, dan tinggalkanlah keluh kesah.</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">وَحَلِّقْ بِحُلْمِكَ فَوْقَ النُّجُومِ</span> <span style="font-weight: 400;">وَكُنْ طَامِحًا تَجْنِ طِيبَ الثَّمَرْ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Terbanglah bersama mimpimu di atas bintang-bintang, </span><span style="font-weight: 400;">Kuatkan hasrat, akan kau petik buahnya yang nikmat.</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">وَلَا تَكْتَئِبْ إِنْ بَدَا عَائِقٌ</span> <span style="font-weight: 400;">فَعَقِبَ الغَمَامِ نُزُولُ المَطَرْ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Jangan galau jika muncul rintangan, </span><span style="font-weight: 400;">Karena setelah awan gelap, akan turun hujan.</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">تَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فِي كُلِّ حِينٍ</span> <span style="font-weight: 400;">تَجِدْ عَوْنَهُ ثَابِتًا قَدْ ظَهَرْ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Bertawakallah kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala setiap saat, </span><span style="font-weight: 400;">Niscaya engkau dapati pertolongan-Nya hadir begitu kuat.</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">أَيَا مَنْ تَأْمُلُ طِيبَ الحَيَاةِ</span> <span style="font-weight: 400;">تَفَاءَلْ سَتَلْقَى جَمِيلَ الأَثَرْ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Wahai engkau yang mengharapkan hidup bahagia, </span><span style="font-weight: 400;">Optimislah, niscaya engkau dapatkan hasil yang indah.</span></p>
<h3>Pikiran positif adalah obatmu</h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Penelitian terbaru menunjukkan bahwa hati yang bahagia dapat membuat seseorang lebih sehat. Dijelaskan bahwa orang yang merasa optimis punya tingkat kolesterol yang lebih rendah, sedangkan keberadaan hormon ini dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah, perut buncit, dan penurunan fungsi sistem imunitas, serta masalah-masalah lainnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penelitian – yang dipimpin Dr. Andrew Steptoe dari University College London dengan sampel penelitian 3 ribu orang dewasa sehat – ini mengungkapkan bahwa wanita yang punya optimisme lebih tinggi akan memiliki tingkat lebih rendah dalam darah dari dua jenis protein yang dapat menyebabkan penyebaran peradangan di dalam tubuh, dan diyakini bahwa peradangan kronis, seiring berjalannya waktu, berkontribusi pada serangkaian penyakit, termasuk penyakit jantung dan kanker.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa pesimisme dan kecondongan pada pikiran negatif terhadap masalah-masalah hidup dapat mengancam kesehatan jantung, terlebih lagi bagi para pengidap penyakit jantung dan serangan jantung. Para peneliti menjelaskan dalam penelitiannya yang dilakukan terhadap sekelompok pengidap penyakit jantung setelah pemantauan selama 10 tahun, bahwa orang-orang sakit yang pesimis dan ragu terhadap kemungkinan sembuh akan meningkat persentase angka kematiannya hingga dua kali lipat selama masa pemulihan, jika dibandingkan dengan mereka yang punya pikiran positif terkait kondisi kesehatan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> Menanggapi hasil ini, Barefoot menjelaskan bahwa penelitian ini memberi saran bagi dokter tentang pentingnya perhatian terhadap apa yang diyakini oleh pasien terhadap penyakitnya, karena itu berpengaruh pada pemulihannya. Ini juga menjelaskan bagi mereka yang sakit bahwa harapan positif dalam hal ini tidak hanya memperbaiki perasaan mereka saja, tapi mungkin juga dapat membuat mereka hidup lebih lama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beroptimislah apa pun penyakitmu, apa pun yang dikatakan doktermu, dan bagaimanapun hasil pemeriksaanmu, karena kesembuhan ada di tangan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala semata, Dia lebih mengetahui apa yang terbaik bagimu. Bahkan ketika sakitmu terus berlanjut, kamu sebenarnya dalam kebaikan besar karena kesabaran dan pahalamu, urusan orang beriman semua baik baginya, apabila mendapat kebaikan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Apabila mendapat keburukan, ia bersabar, dan itu juga baik baginya, sebagaimana yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:</p>
<p><a href="https://www.alukah.net/sharia/11874/179157/تفاءل-لتشفى/">https://www.alukah.net/sharia/11874/179157/تفاءل-لتشفى/</a></p>
<p><a href="https://drive.google.com/file/d/1U3iv9ATajHuD4psIu_LljYB6_Rr0Rspo/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">7871</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Yufid Kids Ada untuk Anak-Anak Kita, Ayo Dukung Tim Yufid Kids!</title>
		<link>https://yufidia.com/yufid-kids-ada-untuk-anak-anak-kita-ayo-dukung-tim-yufid-kids/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fauzi Yufid]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2025 10:19:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yufidia.com/?p=7864</guid>

					<description><![CDATA[Assalamualaikum, Sahabat Yufid! Di balik setiap video Yufid Kids, ada misi besar: Mengapa kami memproduksinya? Jawabannya sederhana: agar anak-anak Muslim punya konten video yang membawa pesan-pesan Islam. Insya Allah, kami hati-hati memilih topik...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum, Sahabat Yufid! Di balik setiap video Yufid Kids, ada misi besar: Mengapa kami memproduksinya?</p>
<p>Jawabannya sederhana: agar anak-anak Muslim punya konten video yang membawa pesan-pesan Islam.</p>
<p>Insya Allah, kami hati-hati memilih topik &amp; bahasa agar aman dan mendidik, dengan pengawasan dari tim berlatar belakang pendidikan.</p>
<p>Setiap frame visual &amp; kalimat dirancang supaya mudah dicerna, tanpa overstimulasi. Alhamdulillah, semuanya kami sediakan gratis dan mudah diakses di YouTube.</p>
<p>Yuk, bareng-bareng jaga misi ini! Proses produksi Yufid Kids SANGAT butuh dukungan dari Sahabat Yufid.</p>
<p>Baarokallaahu fiikum. Siapa nih yang mau ikut berkontribusi?</p>
<p>BSI: 7086882242<br />
(a.n. YAYASAN YUFID NETWORK)<br />
Catatan transfer: Yufid Kids</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg?ssl=1"><img fetchpriority="high" decoding="async" data-attachment-id="7865" data-permalink="https://yufidia.com/yufid-kids-ada-untuk-anak-anak-kita-ayo-dukung-tim-yufid-kids/photo_2025-12-12_13-35-36/" data-orig-file="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg?fit=1024%2C1280&amp;ssl=1" data-orig-size="1024,1280" data-comments-opened="0" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}" data-image-title="photo_2025-12-12_13-35-36" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg?fit=240%2C300&amp;ssl=1" data-large-file="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg?fit=640%2C800&amp;ssl=1" class="alignnone wp-image-7865" src="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg?resize=624%2C781&#038;ssl=1" alt="" width="624" height="781" srcset="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg?resize=240%2C300&amp;ssl=1 240w, https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg?resize=819%2C1024&amp;ssl=1 819w, https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg?resize=768%2C960&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg?resize=688%2C860&amp;ssl=1 688w, https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-35-36.jpg?w=1024&amp;ssl=1 1024w" sizes="(max-width: 624px) 100vw, 624px" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p><a href="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg?ssl=1"><img decoding="async" data-attachment-id="7866" data-permalink="https://yufidia.com/yufid-kids-ada-untuk-anak-anak-kita-ayo-dukung-tim-yufid-kids/photo_2025-12-12_13-36-03/" data-orig-file="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg?fit=1024%2C1280&amp;ssl=1" data-orig-size="1024,1280" data-comments-opened="0" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}" data-image-title="photo_2025-12-12_13-36-03" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg?fit=240%2C300&amp;ssl=1" data-large-file="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg?fit=640%2C800&amp;ssl=1" class="alignnone wp-image-7866" src="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg?resize=621%2C776&#038;ssl=1" alt="" width="621" height="776" srcset="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg?resize=240%2C300&amp;ssl=1 240w, https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg?resize=819%2C1024&amp;ssl=1 819w, https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg?resize=768%2C960&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg?resize=688%2C860&amp;ssl=1 688w, https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-03.jpg?w=1024&amp;ssl=1 1024w" sizes="(max-width: 621px) 100vw, 621px" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p><a href="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?ssl=1"><img decoding="async" data-attachment-id="7867" data-permalink="https://yufidia.com/yufid-kids-ada-untuk-anak-anak-kita-ayo-dukung-tim-yufid-kids/photo_2025-12-12_13-36-08/" data-orig-file="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?fit=1080%2C1080&amp;ssl=1" data-orig-size="1080,1080" data-comments-opened="0" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}" data-image-title="photo_2025-12-12_13-36-08" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?fit=300%2C300&amp;ssl=1" data-large-file="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?fit=640%2C640&amp;ssl=1" class="alignnone wp-image-7867" src="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?resize=620%2C620&#038;ssl=1" alt="" width="620" height="620" srcset="https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?resize=300%2C300&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?resize=1024%2C1024&amp;ssl=1 1024w, https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?resize=150%2C150&amp;ssl=1 150w, https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?resize=768%2C768&amp;ssl=1 768w, https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?resize=688%2C688&amp;ssl=1 688w, https://i0.wp.com/yufidia.com/wp-content/uploads/2025/12/photo_2025-12-12_13-36-08.jpg?w=1080&amp;ssl=1 1080w" sizes="(max-width: 620px) 100vw, 620px" data-recalc-dims="1" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">7864</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menghina dan Mencela Orang Lain</title>
		<link>https://yufidia.com/menghina-dan-mencela-orang-lain/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fauzi Yufid]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2025 00:43:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yufidia.com/?p=7857</guid>

					<description><![CDATA[السخرية والاستهزاء بالآخرين Oleh: Dr. Abdurrahman bin Said Al-Hazimi د. عبدالرحمن بن سعيد الحازمي يشاع في بعض المجتمعات الإسلامية السخرية ببعض الأفراد أو القبائل أو الجنسيات أو المهن الحرفية، عن طريق إطلاق النكات...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><b>السخرية والاستهزاء بالآخرين</b></div>
<p><b>Oleh:</b></p>
<p><b>Dr. Abdurrahman bin Said Al-Hazimi</b></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><b>د. عبدالرحمن بن سعيد الحازمي</b></div>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">يشاع في بعض المجتمعات الإسلامية السخرية ببعض الأفراد أو القبائل أو الجنسيات أو المهن الحرفية، عن طريق إطلاق النكات الساخرة أو العبارات القبيحة التي تقدح وتقلل من فكرهم ومكانتهم الاجتماعية، والأدهى من ذلك أنه يتم تداولها عبر بعض وسائل الإعلام الحديثة، ولا شك أن هذه السخرية والاستهزاء من وسائل تصدع أركان المجتمع المسلم؛ لما تبثه في نفس المستهزئ به من حقد وكراهية وعداوة على الآخرين، وتنعكس بالتالي على رقي المجتمع وتقدمه.</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Banyak tersebar di sebagian masyarakat Muslim kebiasaan menghina personal, suku, kewarganegaraan, atau pekerjaan tertentu. Baik itu dengan cara melempar sindiran atau ungkapan-ungkapan kotor yang dapat menyakiti dan merendahkan pikiran dan kedudukan sosial mereka. Lebih buruknya lagi, perbuatan tersebut juga disebarkan melalui beberapa </span><span style="font-weight: 400;">platform </span><span style="font-weight: 400;">media sosial. Tidak diragukan bahwa hinaan dan celaan merupakan salah satu faktor yang dapat meruntuhkan pondasi persatuan kaum Muslimin, karena dapat memicu dalam diri orang yang dihina kebencian, kedengkian, dan permusuhan terhadap orang lain yang menghinanya, sehingga menjadi sangat kontraproduktif terhadap kemajuan kehidupan bermasyarakat.</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">ولقد حرمت الشريعة الإسلامية السمحة السخرية بالآخرين في كثير من التوجيهات في القرآن الكريم والسنة المطهرة، فمن ذلك:</span></div>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">أولاً: قول الله تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴾</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Syariat Islam yang penuh rahmat telah mengharamkan perbuatan menghina orang lain dalam banyak tuntunannya, baik itu yang ada dalam Al-Qur’an Al-Karim atau As-Sunnah Al-Muthahharah, di antaranya adalah:</span></p>
<h3>Pertama:</h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Firman Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.”</span><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Hujurat: 11).</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">ثانياً: عَنْ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: لَقِيتُ أَبَا ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ وَعَلَى غُلَامِهِ حُلَّةٌ، فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ: إِنِّي سَابَبْتُ رَجُلًا فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ، فَقَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: &#8221; يَا أَبَا ذَرٍّ أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ؟! إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ، إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ، فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ، وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَـا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُـمْ فَأَعِينُوهُمْ &#8220;[البخاري، صحيح البخاري، كتاب: العتق، باب: المعاصي من أمر الجاهلية ولا يكفر صاحبها بارتكابها إلا بالشرك لقول النبي صلى الله عليه وسلم: إنك امرؤ فيك جاهلية، حديث رقم: 29.].</span></div>
<h3>Kedua:</h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari Al-Ma’rur bin Suwaid Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan, “Aku pernah berjumpa dengan Abu Dzar di Rabadzah (nama tempat yang terletak di antara Makkah dan Madinah). Ketika itu Abu Dzar memakai pakaian indah, begitu juga dengan budaknya. Akupun bertanya tentang hal itu, dan dia berkata, ‘Dulu aku pernah mencela seorang lelaki dan menghina ibunya, sehingga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda kepadaku:</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">يا أَبَا ذَرٍّ </span><span style="font-weight: 400;">أَعَيَّرْتَهُ</span><span style="font-weight: 400;"> بِأُمِّهِ؟! إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ، إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ، فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ، وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَـا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُـمْ فَأَعِينُوهُمْ</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai Abu Dzar, apakah kamu menghina ibunya? Sungguh kamu adalah orang yang dalam dirinya masih ada sifat jahiliyah! Mereka para pembantu kalian adalah saudara-saudara kalian, Allah menjadikan mereka berada di bawah kuasa kalian. Maka barang siapa yang ada saudaranya berada di bawah kuasanya, hendaklah ia memberinya makan dengan makanan yang ia makan, memberinya pakaian dengan pakaian yang ia makan, dan janganlah membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak mereka mampu, serta jika kalian membebani mereka pekerjaan, bantulah mereka.”</span><span style="font-weight: 400;"> (HR. Al-Bukhari No. 29).</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">ثالثاً: عَن جَابِر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَال: غَزَوْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَدْ ثَابَ مَعَهُ نَاسٌ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ حَتَّى كَثُرُوا، وَكَانَ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ رَجُلٌ لَعَّابٌ فَكَسَعَ[4] أَنْصَارِيًّا فَغَضِبَ الْأَنْصَارِيُّ غَضَبًا شَدِيـدًا حَـتَّى تَدَاعَـوْا، وَقَـالَ الْأَنْصَارِيُّ: يَـا لَلْأَنْصَارِ، وَقَالَ الْمُهَاجِرِيُّ: يَا لَلْمُهَاجِرِينَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ، ثُمَّ قَالَ: مَا شَأْنُهُمْ، فَأُخْبِرَ بِكَسْعَةِ الْمُهَاجِرِيِّ الْأَنْصَارِيَّ، قَالَ: فَقَالَ النَّبِيُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم -: دَعُوهَا فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ[البخاري، صحيح البخاري،كتاب: المناقب، باب: ما ينهى من دعوة الجاهلية، حديث رقم: 3257.].</span></div>
<h3>Ketiga:</h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan, “Kami pernah berperang bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Banyak kaum Muhajirin yang berada di sekeliling beliau. Dulu di antara kaum Muhajirin itu ada seorang lelaki yang suka bercanda, lalu dia memukul pantat salah seorang dari kaum Anshar, sehingga orang itu marah besar, sampai-sampai mereka saling memanggil kaumnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang dari kaum Anshar itu berseru, ‘Wahai kaum Anshar!’ Dan orang dari Muhajirin itu juga berseru, ‘Wahai kaum Muhajirin!’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai keluar dan bersabda, </span><span style="font-weight: 400;">‘Seruan kaum Jahiliyah macam apa ini?!’ </span><span style="font-weight: 400;">Kemudian beliau bertanya, </span><span style="font-weight: 400;">‘</span><span style="font-weight: 400;">Apa yang terjadi pada mereka?</span><span style="font-weight: 400;">’</span><span style="font-weight: 400;"> Lalu diceritakan kepada beliau bahwa ada lelaki dari Muhajirin yang memukul pantat seorang lelaki dari Anshar. Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam lalu bersabda, </span><span style="font-weight: 400;">‘Tinggalkanlah perbuatan itu, karena itu amat jelek!’”</span><span style="font-weight: 400;"> (HR. Al-Bukhari No. 3257).</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">إن التوجيهات في هذا الباب كثيرة جداً، والمؤمن الذي يرجو الله واليوم الآخر يجب عليه أن يبتعد عن هذه المثبطات التي اعتبرها النبي صلى الله عليه وسلم من بقايا الجاهلية، حتى يعيش المجتمع المسلم مجتمعاً متراحماً متعاوناً، يضع الجميع يدهم في يد بعض، فتذوب الفوارق المزيفة والدعاوى المنحرفة، ويبقى شعار المجتمع المسلم، قول الله تعالى: ﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴾</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Tuntunan dalam perkara ini sangat banyak. Oleh sebab itu, seorang mukmin yang mengharap keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala dan balasan pahala pada Hari Kiamat harus menjauhi perkara yang disebut Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam sebagai sisa-sisa perbuatan jahiliyah ini, agar masyarakat Muslim dapat hidup bersatu, saling menyayangi, dan tolong menolong. Setiap orang harus saling bersatu berpegangan tangan, agar perbedaan-perbedaan semu dan fanatisme-fanatisme menyimpang dapat luntur, dan yang tersisa hanyalah slogan persatuan kaum Muslimin – yaitu firman Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.”</span><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al-Hujurat: 11).</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:</p>
<p><a href="https://www.alukah.net/sharia/0/120248/السخرية-والاستهزاء-بالآخرين/">https://www.alukah.net/sharia/0/120248/السخرية-والاستهزاء-بالآخرين/</a></p>
<p><a href="https://drive.google.com/file/d/1-T_2UNb2M5mHxcqGuUDpiLQvGlXV72bC/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">7857</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ketika Hati Ini Berserah Diri</title>
		<link>https://yufidia.com/ketika-hati-ini-berserah-diri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Fauzi Yufid]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2025 12:53:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yufidia.com/?p=7853</guid>

					<description><![CDATA[حين تسلم القلوب Oleh: Fatimah Abdul Maqshud فاطمة عبدالمقصود حين يزداد طغيانُ النفوس، وتتحكم فينا الشهواتُ الآسرة، ينبغي لنا أن نلتفت للقلب الذي هو منبع كل خير أو مرتع كل شر وإثم.. علينا...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><b>حين تسلم القلوب</b></div>
<p><b>Oleh:</b></p>
<p><b>Fatimah Abdul Maqshud</b></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><b>فاطمة عبدالمقصود</b></div>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">حين يزداد طغيانُ النفوس، وتتحكم فينا الشهواتُ الآسرة، ينبغي لنا أن نلتفت للقلب الذي هو منبع كل خير أو مرتع كل شر وإثم.. علينا -كي ننال حياة السكينة والرضا- أن نزرع في تربة ذلك القلب أشجارَ الانقياد والتسليم لرب هذا الكون، ولا يكفي أن تنطق ألسنتنا ونعلنها صباح مساء أنْ لا ربَّ لهذا الكون سواه، بل لا بد أن يشهد بذلك القلبُ ويسعد بأنه قد هدي إليه.</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika keculasan hati meningkat dan syahwat-syahwat yang menjerat menguasai diri kita, kita harus segera mengalihkan pandangan menuju hati yang merupakan sumber segala kebaikan atau justru pangkal keburukan dan dosa. Agar kita dapat meraih kehidupan yang damai dan bahagia, kita harus menanam di tanah hati tersebut pohon-pohon ketaatan dan penyerahan diri kepada Tuhan semesta alam. Tidak cukup hanya dengan diucapkan oleh lisan kita dan diikrarkan setiap pagi dan petang bahwa tidak ada Tuhan bagi alam semesta ini selain Dia. Namun, hati kita juga harus bersaksi atas hal itu dan berbahagia karena telah mendapat petunjuk pada hal itu.</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">وعلامة ذلك التسليم؛ أن يرضى ذلك القلب بما يقضيه الخالق، وبما يدبره لكونه، فلن يحمل حينها ذرة حقد لأخ قريب أو مسلم بعيد، مهما اختلف ذلك معه أو عاداه، ولن يكوي جدرانه المطمئنة بنيران حسد مستعر لمن أكرمه الله ببعض النعم والآلاء، إنه قلب أسلم وجهه لله ورضي به ربًّا.</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Tanda dari penyerahan diri itu adalah keridhaan hati atas apa yang telah ditakdirkan oleh Sang Khaliq dan apa yang telah diatur oleh-Nya di alam semesta ini. Ketika sudah demikian, hati tidak akan lagi membawa secercah kedengkian terhadap saudara dekatnya atau seorang muslim yang jauh. Sebesar apapun perselisihan yang terjadi dengannya atau permusuhannya. Tidak akan menyulut tembok kedamaiannya, api kedengkian yang membara akibat melihat orang yang dikaruniai beberapa kenikmatan oleh Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala. Itulah hati yang telah berserah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala, dan telah rela Dia menjadi Tuhannya. </span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">ثم لن يكون القلب مسلمًا راضيًا حتى يتقبل إساءات الآخرين له كحسنات تزيد رصيده الأخروي، ولن يراها صفعات لا بد من ردها بعد حين، سيصفح وينسى؛ لأن قلبه المسلم يأبى أن تلوثه مياه البغض الآسنة التي تذهب بهاءه.</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Hati ini tidak akan menjadi hati yang berserah diri dan penuh keridhaan, hingga dapat menerima sikap buruk dari orang lain sebagai hal yang menambah pundi-pundi kebaikannya di akhirat. Ia juga tidak akan melihat keburukan itu sebagai tamparan yang harus dibalas, meski tidak sekarang, tapi ia justru akan memaafkan dan melupakannya, karena hatinya yang berserah diri itu enggan dicemari oleh air bah kebencian yang merana yang dapat melenyapkan keindahannya.</span></p>
<div dir="rtl" style="text-align: right; font-size: 38px; line-height: 1.4;"><span style="font-weight: 400;">لن يعود الخير لأمة الإسلام وللبشرية الحائرة إلا حين تدرك القلوبُ ما هي عليه من خطر فتعود طائعة مختارة إلى حظيرة الرضا والتسليم، راضية بأقدار الخالق، سعيدة بما تؤدي من عمل؛ لأنه من تقدير الإله، فتنطق الشفاه ذكرًا حسنًا، ويضيء الوجه ببسمة الرضا ومعاني القبول، وتتورع الجوارح عن كل إيذاء وشر، فنرى بشرًا تنطق ملامحُهم بالإسلام؛ لأن لهم قلوبًا أسلمت لله وجهتها ورضيت به ربًّا.</span></div>
<p><span style="font-weight: 400;">Kebaikan bagi umat Islam dan kemanusiaan yang sedang terombang-ambing ini tidak akan kembali diraih kecuali ketika hati telah menyadari segala bahaya yang mengintainya, sehingga hati itu kembali kepada ketaatan dengan penuh kesadaran menuju lembah keridhaan dan penyerahan diri, ridha dengan takdir-takdir Sang Khaliq dan bahagia dengan amalan yang dilaksanakan, karena itu menjadi takdir Tuhan, sehingga lisannya hanya mengucapkan hal yang baik, dan wajahnya berseri-seri menampakkan senyum kepuasan dan makna penerimaan, dan anggota tubuh menghindari segala bentuk kezaliman dan keburukan. Ketika itu, kita dapat melihat manusia yang gerak-geriknya menampakkan keislaman, karena mereka memiliki hati yang menyerahkan arah hidupnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala dan meridhai-Nya sebagai Tuhan.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:</p>
<p><a href="https://www.alukah.net/social/0/3658/حين-تسلم-القلوب/">https://www.alukah.net/social/0/3658/حين-تسلم-القلوب/</a></p>
<p><a href="https://drive.google.com/file/d/1W4fm4cQ40Uawlcr_wwwYZx7Pm7al3EKV/view?usp=drive_link">Sumber artikel PDF</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">7853</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
