<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" version="2.0">

<channel>
	<title>YGenNet</title>
	
	<link>http://ygennet.or.id</link>
	<description>Melangkah Bersama Menuju Al Islam</description>
	<lastBuildDate>Sat, 23 Mar 2013 02:03:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/ygennetorid" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="ygennetorid" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">ygennetorid</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Tanda Cinta Dari Sang Terkasih</title>
		<link>http://ygennet.or.id/2013/03/tanda-cinta-dari-sang-terkasih.htm</link>
		<comments>http://ygennet.or.id/2013/03/tanda-cinta-dari-sang-terkasih.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Mar 2013 02:01:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[bukti cinta]]></category>
		<category><![CDATA[indahnya cinta]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan cinta]]></category>
		<category><![CDATA[rasa cinta]]></category>
		<category><![CDATA[tanda cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ygennet.or.id/?p=565</guid>
		<description><![CDATA[Setiap pasangan suami istri mendambakan keluarga yang bahagia dan harmonis meskipun masalah dalam rumah tangga tak dipungkiri keberadaannya. Namun adanya komunikasi yang baik antara suami istri dapat memperkecil bahkan meniadakan dampak dari masalah tersebut. Baik pencetus masalahnya dari suami, istri maupun dari luar, insyaallaah masalah akan dapat teratasi dengan adanya keterbukaan satu sama lain. Bukan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-574" alt="perasaan cinta Tanda Cinta Dari Sang Terkasih" src="http://ygennet.or.id/wp-content/uploads/2013/03/perasaan-cinta.jpg" width="400" height="267" title="Tanda Cinta Dari Sang Terkasih" />Setiap pasangan suami istri mendambakan keluarga yang bahagia dan harmonis meskipun masalah dalam rumah tangga tak dipungkiri keberadaannya. Namun adanya komunikasi yang baik antara suami istri dapat memperkecil bahkan meniadakan dampak dari masalah tersebut. Baik pencetus masalahnya dari suami, istri maupun dari luar, <em>insyaallaah</em> masalah akan dapat teratasi dengan adanya keterbukaan satu sama lain.</p>
<p>Bukan bermaksud menjelek-jelekkan pasangan atau menampakkan kekurangan pasangan, namun keterbukaan tersebut bermaksud untuk mencari sebuah solusi. Jika ada yang berpendapat diam lebih baik karenatakutakan menyakiti atau membuat malu pasangan apabila dia bersikap terbuka maka ada baiknya dia melihat pertimbangan lain. Jika memang masalah tersebut bisa teratasi dengan diam, maka tak masalah untuk tidak dikomunikasikan. Namun jika dengan komunikasi akan lebih memberi dampak positif, maka berkomunikasilah karena bersikap terbuka bisa dilakukan dengan cara yang halus tanpa kesan menjelekan atau menyakiti. Cobalah untuk mulai berbicara dengan kata-kata yang lembut. Bisa langsung dengan lisan maupun tulisan. Jika pasangan kita memang ada kekeliruan maka hal itu bisa mengingatkannya dan bahkan bisa membuatnya berubah lebih baik.</p>
<p>Sebagaimana tulisan di bawah ini yang menyajikan sebuah <em>diary</em> seorang suami yang ditujukan kepada istri tercintanya. Tentulah tulisan tersebut dibuat karena rasa cintanya yang diwujudkan dalam bentuk perhatian berupa teguran halus terhadap sang istri. Tujuannya adalahmenginginkan istrinya lebih baik agar tidak merugi di dunia maupun di akhirat.</p>
<p>Telah diketahui bahwa ketika seorang suami mencintai istrinya, ia akan berusaha membuktikannya dengan memberikan sesuatu sebagai tanda cinta. Tanda cinta tersebut tidak hanya akan terwujud dalam bentuk hadiah yang berupa perhiasan atau barang-barang mewah saja, akan tetapi juga terwujud salah satunya dalam bentuk perhatian kepadanya, baik perhatian tentang kesehatannya, keadaannya hingga akhlaknya. Dan tanda cinta berbentuk perhatian inilah yang berpengaruh sangat besar dalam keharmonisan dalam rumah tangga. Mengapa? karena ia begitu special, tidak bisa dibeli ditoko manapun, dan dicari di bursa online manapun, meskipun orang tersebut sangat kaya. Maka berbahagialah wanita yang mendapat perhatian tersebut. Sebagaimana bahagianya sang istri yang telah mendapat tulisan dibawah ini dari sang terkasih.</p>
<p>Semoga dari <em>diary</em> ini bisa direnungi dan diambil hikmahnya, khususnya bagi kaum wanita agar bisa menambah ladang amal dalam mengarungi bahtera rumah tangga.</p>
<p><strong>DIARY SEORANG SUAMI YANG BERISI TEGURAN HALUS KEPADA ISTRINYA</strong></p>
<p>Istriku tercinta, aku menulis catatan ini sebagai bukti cintaku kepadamu dan keridhaanku menerimamu sebagai istri, aku telah menambatkan cintaku untukmu. Dalam hatiku berkata, inilah wanita yang bisa menjadi ibu anak-anakku dan cocok menjadi istriku. Inilah <em>mawaddah</em> dan <em>sakinah</em>, inilah <em>raihanah</em> rumahku. Aku bimbing tanganmu bersama-sama mengarungi samudera dengan bahtera rumahtangga, menuju ke pantai yang penuh kedamaian di sisi Ar Rabb Ar Rahman.</p>
<p>Akan tetapi tiba-tiba datang topan badai menghalangi jalan kita, angin bertiup kencang. Kalau kita berdua tidak segera sadar niscaya kita akan kehilangan kendali bahtera dan kita akan tersesat arah. Aku berkata dalam hati: tidak! Aku tidak akan membiarkan bahtera ini karam. Maka aku pegang penaku dan aku buka lembaran kertasku. Lalu aku tulis teguran halus ini dari seorang kekasih kepada kekasihnya.</p>
<ul>
<li>Istriku tercinta tidakkah engkau ingat pada awal pernikahan kita dahulu engkau adalah lambang kecantikan, kemudian aku tidak mengerti mengapa penampilanmu sampai pada taraf demikian parah, awut-awutan dan tak enak dilihat. Apakah engkau lupa bahwa termasuk salah satu sifat wanita shalihah apabila suaminya memandang kepadanya niscaya akan membuat senang.</li>
<li>Sayangku, tidakkah engkau ingat, berulang kali engkau mengungkit-ungkit jasamu kepadaku, menyebut-nyebut kewajiban-kewajiban rumahtangga yang telah engkau lakukan untukku, pelayanan yang telah engkau berikan kepada tamu-tamuku dan dalam melayani kebutuhanku, apakah engkau lupa firman Allah <em>subhanahu wa ta’alla</em>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى<em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)</em>.” (Qs Al Baqarah: 264)</li>
<li>Tidakkah engkau ingat wahai kekasihku, berapa kali kita telah saling berjanji pada saat-saat pernikahan bahwa kita akan saling bahu membahu dalam ketaatan, mengemban dakwah kepada agama Allah, berikrar bahwa kita akan fokus kepada masalah ummat islam dan mendidik anak-anak kita dengan pendidikan islami, tetapi relitanya kita sibuk mengikuti perkembangan mode, hanyut mengikuti cerita-cerita, kisah-kisah, pernak-pernik dan mengejar harta darimanapun sumbernya.</li>
<li>Sayangku, tidakkah engkau ingat seringnya engkau menggerutu, tidak <em>qana’ah</em> (puas) menerima rejeki yang telah Allah berikan kepada kita. Haruskah aku menjalani usaha yang haram demi mewujudkan keinginanmu? Apakah engkau sudah lupa kisah wanita yang berkata kepada suaminya: <em>“Bertaqwalah engkau kepada Allah dalam memperlakukan kami, sungguh kami bisa menahan lapar namun kami tidak akan sabar menanggung panasnya api neraka.”</em></li>
<li>Ingatkah dirimu betapa sering aku bangun dari tidurku dibagian akhir malam, ternyata aku dapati engkau sedang asyik menonton film dan musik. Bukankah lebih baik engkau berdzikir mengingat Allah dan mengerjakan shalat malam dua rakaat sementara manusia sedang lelap tertidur dikegelapan kubur. Atau minimal engkau segera berangkat tidur agar esok tidak terluput shalat fajar.</li>
<li>Sayangku, ingatkah dirimu ketika engkau keluar dari rumah tanpa seizinku untuk mengunjungi keluargamu dan ketika engkau memasukkan temanmu si fulanah ke dalam rumahku padahal aku telah melarangmu memasukkannya ke dalam rumah! Lupakah dirimu bahwa itu merupakan hakku!</li>
<li>Kekasihku, ingatkah dirimu ketika keluargaku datang mengunjungiku, demikian pula teman-temanku, namun aku lihat engkau menampilkan wajah muram, berat langkah kakimu dan bermuka masam!Memang engkau telah menghidangkan kepada mereka makanan yang lezat dan mengundang selera akan tetapi semua itu tiada artinya karena muka masammu itu! Bukankah engkau mengetahui sebuah pepatah: ‘ Temuilah aku tetapi jangan beri aku makan!’</li>
</ul>
<p>Sayangku, aku senantiasa mengatakan kepadamu dengan sepenuh hatiku bahwa aku mencintaimu.</p>
<p>Aku berharap kita bersama-sama dapat meraih ridha Ar-rahman.</p>
<p>Barangkali aku juga banyak melakukan kesalahan dan mengabaikan hakmu. Dan barangkali aku tidak menyadari kekuranganku dalam melaksanakan kewajiban terhadapmu dan dalam menjaga perasaanmu.</p>
<p>Aku memohon kepadamu agar membalas risalah ini, silakan ungkapkan apa yang terbetik dalam benakmu. Bukankah tujuan kita berdua adalah satu. Kita telah menumpang bahtera yang satu dan tujuan kita juga satu. Tujuan kita adalah selalu bersama-sama di dunia dan di akhirat di jannah ‘And. Jangan engkau biarkan angin badai menghantam kita sehingga membuat kita tersesat jalan.</p>
<p>-selesai-</p>
<p><em>Diary </em>diatas hendaknya dapat menjadi wacanabagi para wanitaagar lebih memperhatikan hak-hak suaminya, yang terkadang terabaikan namun tidak disadari oleh sebagian para wanita. Bersyukurlah jika suami <em>nrimo</em> (tak banyak menuntut) namun hendaknya sang istri pengertian bukan malah sekehendak hati bahkan mengabaikan hak-hak suami. Sajikanlah hak-hak yang terbaik dimeja rumah tanggamu hingga terasa lezat dalam menikmatinya, serta barakah karenanya. <em>Wallahu a’lam</em></p>
<p>***<br />
Diambil dari buku <em>Agar Suami Cemburu Padamu</em> hal 44, Penerbit At-Tibyan (Dengan sedikit penambahan dari tim muslimah.or.id)</p>
<p>Artikel <a title="Muslimah.Or.Id" href="http:// muslimah.or.id" target="_blank">Muslimah.Or.Id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ygennet.or.id/2013/03/tanda-cinta-dari-sang-terkasih.htm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teman, Inilah Cinta</title>
		<link>http://ygennet.or.id/2013/03/teman-inilah-cinta.htm</link>
		<comments>http://ygennet.or.id/2013/03/teman-inilah-cinta.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Mar 2013 01:45:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oase Iman]]></category>
		<category><![CDATA[bukti cinta]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[inilah cinta]]></category>
		<category><![CDATA[oase]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan cinta]]></category>
		<category><![CDATA[rasa cinta]]></category>
		<category><![CDATA[sekuntum bunga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ygennet.or.id/?p=569</guid>
		<description><![CDATA[Selamat pagi teman. Di sini masih pagi. Pagi itu selalu indah teman, ia memberikan janji kehidupan. Pagi ini terlalu kering teman, tiada embun, tapi ia tetap indah teman, karena ia membisikkan keoptimisan Pagi itu selalu indah teman, karena itu aku mencintai pagi, karena ia juga membuka lembaran baru untuk hari ini. Teman, aku sangat menyukai [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-570" alt="rasa cinta Teman, Inilah Cinta" src="http://ygennet.or.id/wp-content/uploads/2013/03/rasa-cinta.jpg" width="400" height="299" title="Teman, Inilah Cinta" />Selamat pagi teman.<br />
Di sini masih pagi.<br />
Pagi itu selalu indah teman, ia memberikan janji kehidupan.<br />
Pagi ini terlalu kering teman, tiada embun, tapi ia tetap indah teman, karena ia membisikkan keoptimisan<br />
Pagi itu selalu indah teman, karena itu aku mencintai pagi, karena ia juga membuka lembaran baru untuk hari ini.</p>
<p>Teman, aku sangat menyukai alam. Alam mengajarkanku banyak hal. Alam itu sangat indah teman, karena ia diciptakan oleh yang Maha indah.</p>
<p>Teman, alam tidak pernah bicara padaku teman, tapi ia memberikanku banyak cinta.<br />
Teman, pernahkah kalian memperhatikan sekuntum bunga? Ia akan bermekaran ketika musim semi tiba.</p>
<p>Teman, kalian mungkin tahu, bahwa aku sering berjalan ke taman. Menghabiskan waktu berlama-lama, menunggu petang, mendengarkan usikan burung, menikmati mekarnya sekuntum bunga.</p>
<p>Teman, pernahkah kalian merasakan ketenangan? Menghilangkan jengah, melupakan segala masalah, hanya dengan bersandar pada rerumputan hijau, dan kemudian memejamkan mata. Menikmati wewangian rumput, mengikuti seruling alam, dan menghayati sentuhan angin petang.</p>
<p>Teman, ketika itulah kadang alam bicara, mengajarkanku tentang sepotong kata cinta.<br />
Teman, sekuntum bunga tidak pernah tahu, kumbang mana yang akan singgah di mahkotanya. Membawakan serbuk sari dari kekasih hatinya. Kekasih yang sama sekali tidak ia kenali rupanya.</p>
<p>Teman, bunga itu tidak pernah mengeluh, tidak pernah berhenti menunggu sang kumbang membawakan titipannya. Bunga itu selalu mempercantik diri, menyediakan sari terbaik agar sang kumbang berkenan singgah di tempatnya. Menunggu titipan dari kekasihnya.</p>
<p>Teman, aku mencintai alam, karena alam tak pernah ingkar, ia akan bergerak, bertindak, dan melakukan seluruh keinginan Tuhan. Karena alam selalu benar teman, karena Tuhan menyuruh kita untuk belajar pada alam.</p>
<p>Teman, itulah cinta yang ku maksud, cinta sekuntum bunga yang sabar menunggu kekasihnya. Ia tak akan pernah ambil pusing untuk mengetahui sejauh mana tentang kekasihnya. Yang ia lakukan hanyalah mempercantik diri, dan memberikan kualitas terbaik jika kekasihnya tiba.</p>
<p>Teman, bagiku cinta sejati itu adalah melepaskan. Siap melepaskan jika ia tidak ke pelukan kita. Bagai bunga yang siap menerima jika kumbang belum singgah ke tempatnya.</p>
<p>Teman, siapa yang tidak pernah merasakan cinta? Kata termasyhur di kalangan muda, tua, bahkan belia. Terlalu egois memang jika kita memaksakan cinta, memaksa agar ia berlabuh di hati kita. Seperti bunga yang memaksa kumbang untuk singgah ke tempatnya, namun ia tak memiliki nektar terbaik untuk menariknya.</p>
<p>Teman, aku juga pernah merasakan hal yang sama, mencintai seorang wanita, dan aku dapat merasakan bagaimana remuknya jiwa, jika ia bukan jodoh kita. Tapi teman, aku merasa itu terlalu egois.</p>
<p>Teman, mari kita sama-sama berusaha dari sekarang, mendidik jiwa kita, dan merasakan pedihnya. Bayangkan ketika ia lepas ke tangan yang lain, kemudian bayangkan bagaimana perasaan kita. Remuk. Dan ketika itulah kita belajar bagaimana harus melepasnya.</p>
<p>Teman, semua orang sudah siap untuk kaya, sukses, dan berhasil. Namun tidak semua orang yang siap untuk miskin, bangkrut, dan gagal. Begitu juga dengan cinta teman. Kita harus persiapkan mental jika gagal dalam meraih cinta yang kita inginkan, itulah kedewasaan teman. Kita tidak akan perlu latihan jika ia akhirnya jadi kekasih kita, tapi kita butuh usaha besar jika ia bukan jodoh kita. Dari sekaranglah teman, kita didik jiwa kita untuk merasakan jika ia bukan jodoh kita.</p>
<p>Teman, itulah yang diajarkan bunga itu teman, ia rela melepas sang kumbang ketika titipannya tak kunjung datang. Teman, itu juga yang dilakukan imam Ali, ketika ia rela melepaskan Fatimah dikhitbah oleh Abu Bakar, Umar, bahkan Utsman. Tapi apa teman? Allah memberikannya pada Ali karena kerelaan untuk melepasnya.</p>
<p>Teman, mari berusaha untuk melepasnya, dalam artian siap jika ia bukan jodoh kita. Kalian tahu teman, Allah juga tidak pernah melalaikan hambaNya.</p>
<p>Teman, terkadang kita sering salah, kita berusaha untuk mencari seluruh identitasnya. Teman, tanpa kita sadari, kita telah membuat diri kita tidak sekufu dengannya teman, bagaimana kita akan mendapatkannya, jika ia selalu menjaga hati, dan kita selalu merusak hati. <em>Atthayyibat litthayyibiin</em>.</p>
<p>Teman, jika kita mencintainya, jangan rusak ia teman. Jadilah seperti sekuntum bunga teman, yang selalu mempercantik diri, dan sabar menunggu sang kekasih hati.</p>
<p>Teman, bukan dengan mencari seluruh datanya lantas kita akan mendapatkannya, tapi dengan mempercantik dirilah kita akan menjadi berhak dengannya.</p>
<p>Cinta dalam diam, ya aku suka kalimat itu teman, karena aku juga melakukannya. Mencintai seseorang, tapi hanya diungkapkan pada dinding yang bisu, berharap agar Tuhan mendengarkan lirih hatinya. Seperti Umar Bin Abdul Aziz yang mencintai seorang putri raja dalam malam-malam bisu.</p>
<p>Teman, alam mengajarkan kita banyak hal teman, karena itu aku mencintai alam.</p>
<p>Teman, seekor burung harus sabar mengerami telurnya sampai anaknya menetas. Rembulan harus sabar menunggu mentari hingga ia terbenam. Pohon harus bersabar menunggu asupan air dan hama sampai ia berbuah. Petani harus sabar menjaga tanaman sampai waktu panen tiba. Dan sang ibu juga harus sabar menjaga kehamilannya hingga bayinya dilahirkan. Begitu juga dengan cinta teman, kita harus sabar menunggu, hingga waktu yang tepat itu tiba.</p>
<p>Bayangkan, jika seekor burung tak sabar mengeram, haruskah ia mencatok telurnya? Sehingga anaknya akan menetas? Apa yang akan terjadi jika rembulan tidak sabar menunggu mentari terbenam di sore hari? Akankah ia harus bersinar di samping mentari? Bayangkan jika petani tidak sabar menunggu panen, apakah ia harus memberikan pupuk banyak-banyak agar segera panen? Ataukah si ibu harus mengoperasi perutnya agar anaknya segera keluar?</p>
<p>Teman, kita tahu jawaban semua itu. Teman, itulah balasan bagi yang tidak sabar, ia tidak akan mendapatkan impiannya. Seorang anak haram untuk mendapatkan warisan bapaknya jika ia membunuhnya. Itu karena apa? Ia tidak sabar.</p>
<p>Teman,  begitu juga cinta, kita tidak akan mendapatkannya jika kita tidak sabar hingga waktunya tiba. Percantik diri, dan selalulah berharap yang terbaik untuk Ilahi.</p>
<p>Jadilah sekuntum bunga yang memberikan keindahan, sehingga sang kumbang akan tertarik mendatanginya. Namun jangan jadi seorang petani yang memberikan banyak pupuk, sehingga tanamannya mati.</p>
<p>Selamat berjuang teman. <em>Waffaqakumullah</em><em>.</em></p>
<p>Artikel <a title="dakwatuna.com" href="http://dakwatuna.com" target="_blank"><strong>dakwatuna.com</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ygennet.or.id/2013/03/teman-inilah-cinta.htm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cenderung Cinta Padanya</title>
		<link>http://ygennet.or.id/2013/03/cenderung-cinta-padanya.htm</link>
		<comments>http://ygennet.or.id/2013/03/cenderung-cinta-padanya.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Mar 2013 01:33:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[belajar islam]]></category>
		<category><![CDATA[berbuat baik]]></category>
		<category><![CDATA[cenderung cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cinta padanya]]></category>
		<category><![CDATA[mencari perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[mencintai seseorang]]></category>
		<category><![CDATA[rasa cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ygennet.or.id/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[Untuk membuat seseorang akan tertarik pada kita, caranya adalah dengan mencari perhatiannya. Berbuatlah baik padanya, maka ia pun akan merasa diberi hati. Sehingga ia akan semakin lekat dan semakin menempel. Namun maksud tulisan ini bukanlah sebagai tips untuk muda-mudi yang hatinya sedang berbunga-bunga dengan kekasihnya. Tidak sama sekali, karena pacaran adalah jalan menuju zina dan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ygennet.or.id/wp-content/uploads/2013/03/cinta.jpg" alt="cinta Cenderung Cinta Padanya" width="400" height="250" class="alignright size-full wp-image-567" title="Cenderung Cinta Padanya" />Untuk membuat seseorang akan tertarik pada kita, caranya adalah dengan mencari perhatiannya. Berbuatlah baik padanya, maka ia pun akan merasa diberi hati. Sehingga ia akan semakin lekat dan semakin menempel. Namun maksud tulisan ini bukanlah sebagai tips untuk muda-mudi yang hatinya sedang berbunga-bunga dengan kekasihnya. Tidak sama sekali, karena <strong>pacaran adalah jalan menuju zina</strong> dan jelas haramnya. Yang kami jelaskan di sini adalah tabiat hati yang cenderung akan menyukai orang yang berbuat baik padanya. Dan yang lebih terpenting adalah jika kecintaan tersebut dilandaskan cinta karena Allah.</p>
<p><strong>Cenderung Cinta Padanya</strong></p>
<p>Dalam sebuah atsar disebutkan,</p>
<p dir="RTL" align="center">جبلت القلوب على حب من أحسن إليها وبغض من أساء إليها</p>
<p>“<em>Tabiat hati adalah cenderung mencintai orang yang berbuat baik padanya dan membenci orang yang berbuat jelek padanya</em>.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 2985, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 4: 131, Al Jami’ Ash Shogir 3580. As Suyuthi mengatakan hadits ini <em>dho’if</em>). Walaupun hadits ini <em>dho’if</em>, namun maknanya tepat dan benar.</p>
<p><strong>Cintailah Karena Allah</strong></p>
<p>Kecintaan seseorang pada orang yang suka berbuat baik padanya, itu memang boleh. Namun hendaklah kecintaan tersebut dibangun di atas <strong>kecintaan karena Allah</strong>. Artinya, standar kecintaan pada saudaranya seimbang dengan ketaatan saudaranya pada Allah. Jika saudaranya termasuk kalangan orang sholeh dan bertakwa, ia akan semakin cinta. Sebaliknya, cintanya akan semakin berkurang pada yang suka berbuat maksiat dan durhaka. Inilah maksud kecintaan karena Allah. Berarti kecintaan seseorang yang mencintai karena Allah akan berbeda pada <strong>pecandu rokok</strong> dan pada <strong>pemuda yang lisannya tidak pernah lepas dari dzikir</strong>. Kecintaan karena Allah itulah yang menuai kelezatan dan manisnya iman.</p>
<p>Dari Anas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center">ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ</p>
<p>“<em>Tiga perkara yang seseorang akan merasakan manisnya iman : [1] </em><em>ia lebih mencintai </em><em>Allah dan Rasul-Nya </em><em>lebih dari yang lainnya</em><em>, [2] </em><em>ia mencintai seseorang hanya karena Allah</em><em>, [3] </em><em>ia </em><em>benci untuk kembali pada kekufuran sebagaimana </em><em>ia</em><em> benci </em><em>bila </em><em>dilemparkan dalam neraka</em>.”  (HR. Bukhari no. 6941 dan Muslim no. 43)</p>
<p>Begitu juga dalam hadits dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>menerangkan mengenai tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tiada naungan selain dari-Nya. Di antara golongan tersebut adalah,</p>
<p dir="RTL" align="center">وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ</p>
<p>“<em>Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab cinta karena Allah.</em>” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)</p>
<p>Begitu pula dalam hadits Abu Dzar, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p dir="RTL" align="center">إِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ الْحُبُّ فِى اللَّهِ وَالْبُغْضُ فِى اللَّهِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya amalan yang lebih dicintai Allah ‘azza wa jalla adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.</em>” (HR. Ahmad 5: 146 dan Abu Daud no. 4599. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirih, dilihat dari jalur lain)</p>
<p><strong>Akan Dikumpulkan Bersama Orang yang Dicintai</strong></p>
<p>Inilah di antara faedah besar seseorang mencintai saudaranya karena Allah atau termasuk dalam hal ini adalah mencintai Rasul<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam. </em></p>
<p>Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “<em>Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?</em>”Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata, “<em>Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?</em>”Orang tersebut menjawab, “<em>Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. </em><em>Tetapi yang aku persiapkan adalah <strong>cinta Allah dan Rasul-Nya</strong>.</em>”Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata,</p>
<p align="center">أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ</p>
<p>“(<em>Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai</em>.” (HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639)</p>
<p>Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: <em>Anta ma’a man ahbabta</em> (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”Anas pun mengatakan, “<em>Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. </em><em>Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka</em>.” (HR. Bukhari no. 3688)</p>
<p>Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p dir="RTL" align="center">الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ</p>
<p>“<em>Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Dan engkau akan bersama orang yang engkau cintai.</em>” (HR. Tirmidzi no. 2385. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih</em>)</p>
<p>Ibnu Hajar berkata, “Maksud ‘<em>sesungguhnya engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai</em>’ adalah engkau akan didekatkan dengan mereka, begitu pula hal ini termasuk dalam golongan yang ia cintai. Bagaimana jika kedudukan di surga di antara mereka bertingkat-tingkat derajat? Apakah masih tetap dikatakan bersama? Jawabnya, tetap masih disebut bersama. Selama masih ada kesamaan, seperti sama-sama masuk surga, maka itu pun disebut bersama. Jadi tidak mesti bersama dalam segala sisi. Jika semuanya tadi masuk surga, itu sudah disebut bersama walau berbeda-beda derajat.” (Fathul Bari, 10: 555)</p>
<p><strong>Kecintaan yang Mubah</strong></p>
<p>Kecintaan biasa yang sifatnya mubah (baca: boleh-boleh saja) tidak menyebabkan kecintaan tersebut terbawa sampai akhirat. Derajat mereka akan tergantung pada amalnya dan sesuai karunia Allah <em>Ta’ala. </em>Patut direnungkan firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="RTL" align="center">وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا</p>
<p>“<em>Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.</em>” (QS. Thoha: 112)<strong> </strong></p>
<p>Intinya kecintaan yang bermanfaat adalah kecintaan karena Allah sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="RTL" align="center">الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ</p>
<p>“<em>Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”</em> (QS. Az Zukhruf: 67)[1]</p>
<p><em>Ya Allah, tumbuhkanlah rasa cinta kami terhadap sesama yang dilandasi kecintaan karena-Mu. Aamiin Ya Mujibbas Saa-ilin.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA</p>
<p>13 Muharram 1433 H</p>
<p><a href="http://www.rumaysho.com/" target="_blank">www.rumaysho.com</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<hr />
<p><a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/muslimah/3630-cenderung-cinta-padanya.html#_ftnref1" target="_blank">[1]</a> Tulisan di atas dikembangkan dari tulisan pada link:</p>
<p><a href="http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=168325">http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=168325</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ygennet.or.id/2013/03/cenderung-cinta-padanya.htm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asal Tidak Dipoligami..!!</title>
		<link>http://ygennet.or.id/2013/03/asal-tidak-dipoligami.htm</link>
		<comments>http://ygennet.or.id/2013/03/asal-tidak-dipoligami.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2013 09:52:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ustadz Menjawab]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[permintaan calon istri]]></category>
		<category><![CDATA[permintaan sebelum menikah]]></category>
		<category><![CDATA[syarat pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[syarat pra nikah]]></category>
		<category><![CDATA[syarat tidak dipoligami]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz menjawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ygennet.or.id/?p=560</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Assalamu’alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh. Semoga Ustadz beserta seluruh karyawan selalu diberikan keberkahan dan senantiasa di lindungi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amin. Maaf kami ingin bertanya: 1. Apakah setiap wanita yang ingin dinikahi apakah boleh mengajukan syarat kepada calon suaminya apabila kelak mereka menjadi sepasang suami istri ?! 2. Jika boleh, bagaimana dengan syarat [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://static.ygennet.or.id/wp-content/uploads/2013/03/poligami.jpg" alt="poligami Asal Tidak Dipoligami..!!" width="400" height="300" class="alignright size-full wp-image-561" title="Asal Tidak Dipoligami..!!" /><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p><em>Assalamu’alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh.</em></p>
<p>Semoga Ustadz beserta seluruh karyawan selalu diberikan keberkahan dan senantiasa di lindungi Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em>. Amin.</p>
<p>Maaf kami ingin bertanya:</p>
<p>1. Apakah setiap wanita yang ingin dinikahi apakah boleh mengajukan syarat kepada calon suaminya apabila kelak mereka menjadi sepasang suami istri ?!</p>
<p>2. Jika boleh, bagaimana dengan syarat yang diajukan oleh seorang wanita (perawan) yang ia tidak mau untuk di <em>ta’addud</em> (poligami) oleh calon suaminya (perjaka) ?!</p>
<p>3. Apakah keinginan wanita tersebut masuk ke dalam penentangan kepada syariat Allah ?!</p>
<p>4. Atau memang hanya perasaan seorang wanita itu saja yang memang ingin suaminya mencintai dia saja, tidak juga untuk wanita lain !!</p>
<p><em>Syukran</em>, Semoga Allah membalas dengan balasan yang berlipat ganda. Amin<br />
<em><br />
Wassalamu’alaikum wa Rahmatullaahi wa Barakatuh.</em></p>
<p>Hormat Kami,<br />
Harlan Budiarto<br />
<strong><br />
Jawaban:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumussalam wa Rahmatullahi wa Barakatuh.<br />
</em><br />
Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam kepada Rasulullah. <em>Amma ba’du.</em></p>
<p>Syarat yang tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal dan tidak bertentangan dengan maksud akad, syarat seperti ini silakan dikatakan atau ditetapkan dalam akad apa pun, termasuk akad pernikahan.</p>
<p>Istri berhak dan boleh meletakkan syarat atas suami agar tidak dimadu alias suami tidak berpoligami, syarat seperti ini sah, tidak bertentangan dengan dibolehkannya atau disyariatkannya poligami, karena syarat ini hanya membatasi bukan melarang, suami tetap boleh menikah lagi dengan wanita kedua atau ketiga, tetapi karena istri pertama tidak mau, maka dia harus melepasnya, silakan suami menerima atau tidak, kalau suami menerima maka dia harus memegang syarat tersebut, kalau tidak menerima maka seorang laki-laki bisa beralih untuk meminang wanita yang lain.</p>
<p><strong>Penjelasan:</strong></p>
<p>Sebagaimana Islam mengaitkan poligami dengan kemampuan untuk berlaku adil dan membatasinya dengan empat isteri, begitu pula ia menjadikan sebagian dari hak wanita atau walinya untuk memberikan syarat agar tidak di’madu’ [dipoligami].</p>
<p>Maka, bila seorang isteri mensyaratkan di dalam<em> ‘aqad</em> nikahnya agar suami tidak menikah lagi (memadunya), maka syarat ini adalah sah hukumnya dan berlaku.</p>
<p>Implikasinya, sang isteri memiliki hak untuk membatalkan pernikahannya bila sang suami tidak menepatinya dan haknya di dalam pembatalan tersebut tidak gugur kecuali bila dia sendiri yang menggugurkannya dan rela melanggarnya.</p>
<p>Ini merupakan pendapat Imam Ahmad yang diperkuat oleh Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah dan Ibnu al-Qayyim. Demikian pula, ini adalah pendapat ‘Umar bin al-Khaththab, Sa’ad bin Abi Waqqash, Mu’awiyah, ‘Amr bin al-’Ash, Jabir bin Zaid, Thawus, Imam Auza’iy, Ishaq dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.</p>
<p>Alasannya, bahwa syarat-syarat di dalam pernikahan lebih besar dampaknya ketimbang syarat-syarat di dalam jual-beli, sewa, dan seterusnya. Oleh karena itulah, wajib komitmen terhadapnya dan menepatinya.</p>
<p>Pendapat ini didukung oleh beberapa dalil, diantaranya:</p>
<p>1. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim bahwasanya Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “Sesungguhnya syarat yang paling berhak untuk ditepati adalah apa yang dengannya dihalalkan bagi kalian faraj (nikah).”</p>
<p>2. Di dalam hadits yang lain yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Abi Mulaikah bahwasanya al-Miswar bin Makhramah mengatakan kepadanya bahwa dirinya mendengar Rasulullah<em> shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> ketika di atas mimbar bersabda, “Sesungguhnya Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib, lantas aku tidak mengizinkan mereka, kemudian tidak aku izinkan, kemudian tidak aku izinkan kecuali bila Ibnu Abi Thalib (yakni ‘Ali) rela untuk menceraikan anakku dan menikahi anak perempuan mereka (tersebut). Sesungguhnya anakku adalah bagian dariku, apa yang menyangsikannya (akibatnya fatal baginya) adalah juga apa yang aku rasakan, dan apa yang menyakitinya adalah juga menyakitiku.”</p>
<p>3. Di dalam riwayat yang lain disebutkan, “Sesungguhnya Fathimah adalah dariku dan aku khawatir hal itu akan membuatnya terfitnah di dalam agamanya.”</p>
<p>Terkait dengan hadits tersebut, Ibnu al-Qayyim mengomentari,”Hukum tentang hal ini mengandung beberapa hal: bahwa seorang laki-laki bila memberikan syarat kepada isterinya bahwa dirinya tidak menikah dengan selainnya (memadunya), maka dia mesti menepati syarat tersebut dan bilamana dia menikah dengan selainnya (memadunya) maka adalah hak sang isteri untuk membatalkannya (<em>fasakh</em>). Sedangkan sisi cakupan hadits terhadap hal tersebut adalah bahwa dalam hadits tersebut Rasulullah memberitahukan bahwa hal itu menyakiti Fathimah radhiallaahu ‘anha, membuatnya sangsi/takut akan akibatnya yang fatal dan hal ini juga akan dirasakan oleh beliau…”.</p>
<p>Tentunya, ada pendapat ulama yang lain berkaitan dengan pensyaratan ini, yaitu pendapat Imam Abu Hanifah, Imam asy-Syafi’i, dll bahwa persyaratan itu dianggap tidak ada dan tidak mesti dipenuhi oleh suami. Di antara dalil yang mereka gunakan adalah,</p>
<p>Hadits Rasulullah bahwa beliau bersabda, “<em>(Ikatan yang terjadi diantara) kaum Muslimin berdasarkan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal</em>“. Mereka berkata, Syarat yang disyaratkan tersebut (mensyaratkan tidak dimadu) adalah mengharamkan hal yang dihalalkan, yaitu menikah (secara terang-terangan), menikah (secara sembunyi dengan budak) dan bepergian. Semua ini adalah halal, jadi kenapa diharamkan. Dan banyak lagi dalil yang lain, demikian pula dengan pendapat pertama, banyak lagi dalil-dalil mereka.</p>
<p>Ibnu Qudamah menguatkan pendapat pertama, diantara alasannya, bahwa pendapat-pendapat para sahabat yang telah disebutkan (oleh beliau di dalam bukunya<em> al-Mughni</em> yang mendukung pendapat pertama) tidak ada yang menentangnya pada masa mereka di kalangan para shahabat, maka ini dapat dikatakan sebagai <em>ijma’</em>.</p>
<p>Kami cenderung dengan pendapat pertama karena argumentasinya lebih kuat. <em>Wallaahu a’lamu bish shawab</em>.[Redaksi]</p>
<p>Shalawat dan salam kepada Rasulullah.<br />
<em><br />
Wassalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh. </em></p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Izzudin Karimi, Lc.<br />
Artikel <a href="http://www.konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ygennet.or.id/2013/03/asal-tidak-dipoligami.htm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Muslimah Cantik, Bermahkota Rasa Malu</title>
		<link>http://ygennet.or.id/2013/03/muslimah-cantik-bermahkota-rasa-malu.htm</link>
		<comments>http://ygennet.or.id/2013/03/muslimah-cantik-bermahkota-rasa-malu.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2013 06:29:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[cantiknya muslimah pemalu]]></category>
		<category><![CDATA[kecantikan muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[mahkota malu]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[muslimah cantik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ygennet.or.id/?p=555</guid>
		<description><![CDATA[“Muslimah cantik, menjadikan malu sebagai mahkota kemuliaannya…” (SMS dari seorang sahabat) Membaca SMS di atas, mungkin pada sebagian orang menganggap biasa saja, sekedar sebait kalimat puitis. Namun ketika kita mau untuk merenunginya, sungguh terdapat makna yang begitu dalam. Ketika kita menyadari fitrah kita tercipta sebagai wanita, mahkluk terindah di dunia ini, kemudian Allah mengkaruniakan hidayah [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://static.ygennet.or.id/wp-content/uploads/2013/03/bunga.jpg" alt="bunga Muslimah Cantik, Bermahkota Rasa Malu" width="400" height="304" class="alignright size-full wp-image-557" title="Muslimah Cantik, Bermahkota Rasa Malu" />“<em>Muslimah cantik, menjadikan malu sebagai mahkota kemuliaannya…</em>” (SMS dari seorang sahabat)</p>
<p>Membaca SMS di atas, mungkin pada sebagian orang menganggap biasa saja, sekedar sebait kalimat puitis. Namun ketika kita mau untuk merenunginya, sungguh terdapat makna yang begitu dalam. Ketika kita menyadari fitrah kita tercipta sebagai wanita, mahkluk terindah di dunia ini, kemudian Allah mengkaruniakan hidayah pada kita, maka inilah hal yang paling indah dalam hidup <a href="http://muslimah.or.id/tag/wanita">wanita</a>. Namun sayang, banyak sebagian dari kita—kaum wanita—yang tidak menyadari betapa berharganya dirinya. Sehingga banyak dari kaum wanita merendahkan dirinya dengan menanggalkan rasa malu, sementara Allah telah menjadikan rasa malu sebagai mahkota kemuliaannya.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء</p>
<p><em>“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”</em> (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)</p>
<p>Sabda Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang lain,</p>
<p>الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَر</p>
<p><em>“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”</em>(HR. Al Hakim dalam Mustadroknya 1/73. Al Hakim mengatakan sesuai syarat Bukhari Muslim, begitu pula Adz Dzahabi)</p>
<p>Begitu jelas Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wassalam</em> memberikan teladan pada kita, bahwasanya rasa malu adalah identitas akhlaq Islam. Bahkan rasa malu tak terlepas dari iman dan sebaliknya. Terkhusus bagi seorang muslimah, rasa malu adalah mahkota kemuliaan bagi dirinya. Rasa malu yang ada pada dirinya adalah hal yang membuat dirinya terhormat dan dimuliakan.</p>
<p>Namun sayang, di zaman ini rasa malu pada <a href="http://muslimah.or.id/tag/wanita">wanita</a> telah pudar, sehingga hakikat penciptaan wanita—yang seharusnya—menjadi perhiasan dunia dengan keshalihahannya, menjadi tak lagi bermakna. Di zaman ini wanita hanya dijadikan objek kesenangan nafsu. Hal seperti ini karena perilaku wanita itu sendiri yang seringkali berbangga diri dengan mengatasnamakan emansipasi, mereka meninggalkan rasa malu untuk bersaing dengan kaum pria.</p>
<p>Allah telah menetapkan fitrah wanita dan pria dengan perbedaan yang sangat signifikan. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam akal dan tingkah laku. Bahkan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 228 yang artinya; <em>‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang sepatutnya’,</em> Allah telah menetapkan hak bagi wanita sebagaimana mestinya. Tidak sekedar kewajiban yang dibebankan, namun hak wanita pun Allah sangat memperhatikan dengan menyesuaikan fitrah wanita itu sendiri. Sehingga ketika para wanita menyadari fitrahnya, maka dia akan paham bahwasanya rasa malu pun itu menjadi hak baginya. Setiap wanita, terlebih seorang muslimah, berhak menyandang rasa malu sebagai mahkota kemuliaannya.</p>
<p><em>Sayangnya, hanya sedikit wanita yang menyadari hal ini…</em></p>
<p>Di zaman ini justeru banyak wanita yang memilih mendapatkan mahkota ‘kehormatan’ dari ajang kontes-kontes yang mengekspos kecantikan para wanita. Tidak hanya sebatas kecantikan wajah, tapi juga kecantikan tubuh diobral demi sebuah mahkota ‘kehormatan’ yang terbuat dari emas permata. Para wanita berlomba-lomba mengikuti audisi putri-putri kecantikan, dari tingkat lokal sampai tingkat internasional. Hanya demi sebuah mahkota dari emas permata dan gelar ‘Miss Universe’ atau sejenisnya, mereka rela menelanjangi dirinya sekaligus menanggalkan rasa malu sebagai sebaik-baik mahkota di dirinya. Naudzubillah min dzaliik…</p>
<p>Apakah mereka tidak menyadari, kelak di hari tuanya ketika kecantikan fisik sudah memudar, atau bahkan ketika jasad telah menyatu dengan tanah, apakah yang bisa dibanggakan dari kecantikan itu? Ketika telah berada di alam kubur dan bertemu dengan malaikat yang akan bertanya tentang amal ibadah kita selama di dunia dengan penuh rasa malu karena telah menanggalkan mahkota kemuliaan yang hakiki semasa di dunia.</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p>صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا</p>
<p>“<em>Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian</em>.” (HR. Muslim no. 2128) Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang adalah wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/191)</p>
<p>Dalam sebuah kisah, ‘Aisyah <em>radhiyyallahu ‘anha</em> pernah didatangi wanita-wanita dari Bani Tamim dengan pakaian tipis, kemudian beliau berkata,</p>
<p>إن كنتن مؤمنات فليس هذا بلباس المؤمنات وإن كنتن غير مؤمنات فتمتعينه</p>
<p><em>“Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.”</em> (disebutkan dalam <em>Ghoyatul Marom</em> (198). Syaikh Al Albani mengatakan, “Aku belum meneliti ulang sanadnya”)</p>
<p>Betapa pun Allah ketika menetapkan hijab yang sempurna bagi kaum wanita, itu adalah sebuah penjagaan tersendiri dari Allah kepada kita—kaum wanita—terhadap mahkota yang ada pada diri kita. Namun kenapa ketika Allah sendiri telah memberikan perlindungan kepada kita, justeru kita sendiri yang berlepas diri dari penjagaan itu sehingga mahkota kemuliaan kita pun hilang di telan zaman?</p>
<p>فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ</p>
<p>“<em>Nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?</em>” (QS. Ar Rahman: 13)</p>
<p><em>Wahai, muslimah…</em></p>
<p>Peliharalah rasa malu itu pada diri kita, sebagai sebaik-baik perhiasan kita sebagai wanita yang mulia dan dimuliakan. Sungguh, rasa malu itu lebih berharga jika kau bandingkan dengan mahkota yang terbuat dari emas permata, namun untuk mendapatkan (mahkota emas permata itu), kau harus menelanjangi dirimu di depan public.</p>
<p><em>Wahai saudariku muslimah…</em></p>
<p><em>Kembalilah ke jalan Rabb-mu dengan sepenuh kemuliaan, dengan rasa malu dikarenakan keimananmu pada Rabb-mu…</em></p>
<p>Jogja, Jumadil Ula 1431 H<br />
Penulis: Ummu Hasan ‘Abdillah<br />
Muroja’ah: Ust. Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Referensi:<br />
<em>Yaa Binti</em>; Ali Ath-Thanthawi<br />
<em>Al Hijab</em>; I’dad Darul Qasim</p>
<p>***</p>
<p>Artikel <a href="http://muslimah.or.id/" target="_blank">muslimah.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ygennet.or.id/2013/03/muslimah-cantik-bermahkota-rasa-malu.htm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Sah Menikah Beda Agama</title>
		<link>http://ygennet.or.id/2013/03/tidak-sah-menikah-beda-agama.htm</link>
		<comments>http://ygennet.or.id/2013/03/tidak-sah-menikah-beda-agama.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2013 04:50:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[hukm nikah beda agama]]></category>
		<category><![CDATA[kawin beda agama]]></category>
		<category><![CDATA[keputusan mui]]></category>
		<category><![CDATA[nasional]]></category>
		<category><![CDATA[nikah beda agama]]></category>
		<category><![CDATA[pendapat ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ygennet.or.id/?p=552</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Islam, pernikahan merupakan salah satu pelaksanaan dari syariat Islam, menjalankan sunnah nabi dan sebagai tahap awal pembentukan keluarga Islami untuk selanjutnya membentuk masyarakat yang Islami. Dengan demikian, pernikahan tidak semata-mata mempertemukan seorang laki-laki dengan seorang wanita, tapi memiliki tujuan jangka panjang, tidak hanya di dunia ini saja, tapi sampai ke akhirat nanti. “Karena visi [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://static.ygennet.or.id/wp-content/uploads/2013/03/pernikahanku.jpg" alt="pernikahanku Tidak Sah Menikah Beda Agama" width="400" height="289" class="alignright size-full wp-image-553" title="Tidak Sah Menikah Beda Agama" />Dalam Islam, pernikahan merupakan salah satu pelaksanaan dari syariat Islam, menjalankan sunnah nabi dan sebagai tahap awal pembentukan keluarga Islami untuk selanjutnya membentuk masyarakat yang Islami. Dengan demikian, pernikahan tidak semata-mata mempertemukan seorang laki-laki dengan seorang wanita, tapi memiliki tujuan jangka panjang, tidak hanya di dunia ini saja, tapi sampai ke akhirat nanti.</p>
<p>“Karena visi besar pernikahan begitu agung, maka diperlukan lelaki dan wanita yang kelak menjadi suami dan isteri yang satu visi dengannya. Karena itu, ketika seseorang masih memiliki komitmen keislaman, rasanya tidak mungkin ia menikah dengan non muslim, sebab dalam Islam, jangankan memilih non muslim, memilih yang muslim saja harus yang shaleh atau shalehah.” Demikian dikatakan Ketua Lembaga Dakwah Khairu Ummah, Drs. H. Ahmad Yani kepada voa-islam di Jakarta.</p>
<p>Rasulullah saw bersabda: <em>Wanita dinikahi karena empat hal, yaitu karena hartanya, kemuliaannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, pilihlah karena agamanya maka engkau akan beruntung.“ ( HR Bukhari dan Muslim ).</em></p>
<p>Berdasarkan hadits tersebut, faktor yang amat mendasar dalam Islam adalah aqidah atau tauhid (yakni mengakui Allah swt sebagai Tuhan, beriman dan taat kepada-Nya). Bila seseorang menikah dengan orang kafir, musyrik atau non muslim, bagaimana hal ini bisa berjalan menurut syariat Islam. Sebab, tidak mungkin ada titik temu antara akidah tauhid murni dan akidah musyrik, penyembah berhala, atau yang tidak mempercayai adanya Tuhan sama sekali. Karena itu, Allah swt tidak membenarkan adanya pernikahan antara muslim dan non muslim sehingga bila itu tetap dilakukan menjadi tidak sah.</p>
<p>Allah swt berfirman: <em>“Dan, janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu. Dan, janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita Mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang Mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.“ ( QS al-Baqarah [2]: 221) .</em></p>
<p>Namun muncul pertanyaan berikutnya, bagaimana dengan dibolehkannya menikah dengan wanita ahli kitab? Allah swt berfirman: <em>“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Alkitab itu halal bagimu dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Alkitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak ( pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.“ (QS al-Maidah [5]: 5).</em><em></em></p>
<p>Dikatakan Ahmad Yani, pada dasarnya laki-laki muslim memang dibolehkan menikah dengan wanita Ahli Kitab yang memang beriman kepada Allah swt sebagai Tuhan.  Namun, itupun harus memperhatikan syarat-syarat yang mesti dipenuhi agar ia dapat menikahi. Ia harus perempuan baik-baik yang menjaga kehormatannya bukan perempuan yang memerangi dan memusuhi Islam dan tidak ada fitnah.</p>
<p>Dalam konteks sekarang, kata Ahmad Yani, menjadi perdebatan besar apakah orang kristen yang sekarang benar-benar ahli kitab yang tidak kafir kepada Allah swt, ataukah mereka itu memang kafir dari kalangan ahli kitab.  Maka, agar selamat dan demi kehati-hatian, lebih baik seorang Muslim tidak menikahi perempuan ahli kitab karena sulitnya untuk memenuhi syarat-syaratnya dan karena banyaknya mudarat yang akan timbul karena perkawinan beda keyakinan tersebut. Karena itu, Rasulullah saw dalam hadits di atas menekankan menikahi Muslimah saja yang baik agamanya dan shalihah.</p>
<p>“Karena  itu, pernikahan orang yang berbeda agama haram hukumnya dan tidak sah. Hal itu juga sesuai dengan fatwa MUI dalam Musyawarah Nasional II pada 1980 yang mengharamkan pernikahan beda agama karena mafsadah (keburukan) nya lebih besar dari manfaatnya.”</p>
<p>Bila orang kafir mau menikah dengan orang Islam, hendaknya didahului dengan masuk Islam terlebih dahulu, maka nikahnya sah yang memang dilakukan secara Islam, namun bila ternyata ia murtad, pernikahannya itupun menjadi batal demi hukum, sebagaimana anak yang murtad tidak mendapat hak waris dari ayah muslim yang meninggal. Begitu juga suami yang wafat otomatis pernikahannya menjadi cerai dan sang janda boleh menikah dengan lelaki lain sesudah habis masa iddahnya, meskipun suaminya tidak menceraikannya.  <em>Wallahu a’lam bish shawab</em> ■ <strong>[desastian/<a title="VOA-Islam.com" href="http://voa-islam.com" target="_blank">VOA-Islam.com</a>]</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ygennet.or.id/2013/03/tidak-sah-menikah-beda-agama.htm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istriku, Aku Mencintaimu</title>
		<link>http://ygennet.or.id/2013/03/istriku-aku-mencintaimu.htm</link>
		<comments>http://ygennet.or.id/2013/03/istriku-aku-mencintaimu.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2013 04:18:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kisah cinta islam]]></category>
		<category><![CDATA[kisah cinta pasangan]]></category>
		<category><![CDATA[kisah cinta sejati]]></category>
		<category><![CDATA[kisah cinta suami istri]]></category>
		<category><![CDATA[kisah muslim]]></category>
		<category><![CDATA[kisah pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ygennet.or.id/?p=547</guid>
		<description><![CDATA[Kendati dirinya telah keliling dunia, bahkan hampir tidak ada negara baru di dalam peta, dan terlalu sering naik pesawat terbang sehingga seperti naik mobil biasa, namun istrinya belum pernah naik pesawat terbang kecuali pada malam itu. Hal itu terjadi setelah 20 tahun pernikahan mereka. Dari mana? Dan kemana? Dari Dahran ke Riyadh. Dengan siapa? Dengan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://static.ygennet.or.id/wp-content/uploads/2013/03/mencintaimu.jpg" alt="mencintaimu Istriku, Aku Mencintaimu" width="400" height="277" class="alignright size-full wp-image-548" title="Istriku, Aku Mencintaimu" />Kendati dirinya telah keliling dunia, bahkan hampir tidak ada negara baru di dalam peta, dan terlalu sering naik pesawat terbang sehingga seperti naik mobil biasa, namun istrinya belum pernah naik pesawat terbang kecuali pada malam itu. Hal itu terjadi setelah 20 tahun pernikahan mereka. Dari mana? Dan kemana? Dari Dahran ke Riyadh. Dengan siapa? Dengan adiknya yang orang desa dan bersahaja yang merasa dirinya harus menyenangkan hati kakaknya dengan semampunya. Ia membawa wanita itu dengan mobil bututnya dari Riyadh menuju Dammam. Pada waktu pulang, wanita itu berharap kepadanya agar ia naik pesawat terbang. Wanita itu ingin naik pesawat terbang sebelum meninggal. Ia ingin naik pesawat terbang yang selalu dinaiki Khalid, suaminya, dan yang ia lihat di langit dan di televisi.</p>
<p>Sang adik mengabulkan keinginannya dan membeli tiket untuknya. Ia menyertakan putranya sebagai mahramnya. Sementara ia pulang sendirian dengan mobil sambil diguncang oleh perasaan dan mobilnya.</p>
<p>Malam itu Sarah tidak tidur, melainkan bercerita kepada suaminya, Khalid, selama satu jam tentang pesawat terbang. Ia bercerita tentang pintu masuknya, tempat duduknya, penerangannya, kemegahannya, hidangannya, dan bagaimana pesawat itu terbang di udara. Terbang!! Ia bercerita sambil tercengang. Seolah-olah ia baru datang dari planet lain. Tercengang, terkesima, dan berbinar-binar. Sementara suaminya memandanginya dengan perasaan heran. Begitu selesai bercerita tentang pesawat terbang, ia langsung bercerita tentang kota Dammam dan perjalanan ke sana dari awal sampai akhir. Juga tentang laut yang baru pertama kali dilihatnya sepanjang hidupnya. Dan juga tentang jalan yang panjang dan indah antara Riyadh dan Dammam saat ia berangkat. Sedangkan saat pulang ia naik pesawat terbang. Pesawat terbang yang tidak akan pernah ia lupakan unuk selama-lamanya.</p>
<blockquote><p>Ia bercerita sambil tercengang. Seolah-olah ia baru datang dari planet lain. Tercengang, terkesima, dan berbinar-binar. Sementara suaminya memandanginya dengan perasaan heran.</p></blockquote>
<p>Ia berlutut seperti bocah kecil yang melihat kota-kota hiburan terbesar untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ia mulai bercerita kepada suaminya dengan mata yang berbinar penuh ketakjuban dan kebahagiaan. Ia melihat jalan raya, pusat perbelanjaan, manusia, batu, pasir, dan restoran. Juga bagaimana laut berombak dan berbuih bagaikan onta yang berjalan. Dan bagaimana ia meletakkan kedua tangannya di air laut dan ia pun mencicipinya. Ternyata asin… asin. Pun, ia bercerita bagaimana laut tampak hitam di siang hari dan tampak biru di malam hari.</p>
<p>“Aku melihat ikan, Khalid! Aku melihatnya dengan mata kepalaku. Aku mendekat ke pantai. Adikku menangkap seekor ikan untukku, tapi aku kasihan padanya dan kulepaskan lagi ke air.</p>
<p>Ikan itu kecil dan lemah. Aku kasihan pada ibunya dan juga padanya. Seandainya aku tidak malu, Khalid, pasti aku membangun rumah-rumahan di tepi laut itu. Aku melihat anak-anak membangun rumah-rumahan di sana. Oh ya, aku lupa, Khalid!” ia langsung bangkit, lalu mengambil tasnya, dan membukanya. Ia mengeluarkan sebotol parfum dan memberikannya kepada sang suami. Ia merasa seolah-olah sedang memberikan dunia. Ia berkata, “Ini hadiah untukmu dariku. Aku juga membawakanmu sandal untuk kau pakai di kamar mandi.”</p>
<blockquote><p>Ia mengeluarkan sebotol parfum dan memberikannya kepada sang suami. Ia merasa seolah-olah sedang memberikan dunia.</p></blockquote>
<p>Air mata hampir menetes dari mata Khalid untuk pertama kali. Untuk pertama kalinya dalam hubungannya dengan Sarah dan perkawinannya dengan sang istri. Ia sudah berkeliling dunia tapi tidak pernah sekalipun memberikan hadiah kepada sang istri. Ia sudah naik sebagian besar maskapai penerbangan di dunia, tapi tidak pernah sekalipun mengajak sang istri pergi bersamanya. Karena, ia mengira bahwa wanita itu bodoh dan buta huruf. Apa perlunya melihat dunia dan bepergian? Mengapa ia harus mengajaknya pergi bersama?</p>
<p>Ia lupa bahwa wanita itu adalah manusia. Manusia dari awal sampai akhir. Dan kemanusiaannya sekarang tengah bersinar di hadapannya dan bergejolak di dalam hatinya. Ia melihat istrinya membawakan hadiah untuknya dan tidak melupakannya. Betapa besarnya perbedaan antara uang yang ia berikan kepada istrinya saat ia berangkat bepergian atau pulang dengan hadiah yang diberikan sang istri kepadanya dalam perjalanan satu-satunya dan yatim yang dilakukan sang istri. Bagi Khalid, sandal pemberian sang istri itu setara dengan semua uang yang pernah ia berikan kepadanya. Karena uang dari suami adalah kewajiban, sedangkan hadiah adalah sesuatu yang lain. Ia merasakan kesedihan tengah meremas hatinya sambil melihat wanita yang penyabar itu. Wanita yang selalu mencuci bajunya, menyiapkan piringnya, melahirkan anak-anaknya, mendampingi hidupnya dan tidak tidur saat ia sakit. Wanita itu seolah-olah baru pertama kali melihat dunia. Tidak pernah terlintas di benak wanita itu untuk mengatakan kepadanya, “Ajaklah aku pergi bersamamu!” Atau bahkan, “Mengapa ia tidak pernah bepergian?” Karena ia adalah wanita miskin yang melihat suaminya di atas, karena pendidikannya, wawasannya, dan kedermawanannya. Tapi ternyata bagi Khalid, semua itu kini menjadi hampa, tanpa rasa dan tanpa hati. Ia merasa bahwa dirinya telah memenjara seorang wanita yang tidak berdosa selama 20 tahun yang hari-harinya berjalan monoton.</p>
<blockquote><p>Ia merasakan kesedihan tengah meremas hatinya sambil melihat wanita yang penyabar itu. Wanita yang selalu mencuci bajunya, menyiapkan piringnya, melahirkan anak-anaknya, mendampingi hidupnya dan tidak tidur saat ia sakit. Wanita itu seolah-olah baru pertama kali melihat dunia.</p></blockquote>
<p>Kemudian, Khalid mengangkat tangannya ke matanya untuk menutupi air matanya yang nyaris tak tertahan. Dan ia mengucapkan satu kata kepada istrinya. Satu kata yang diucapkannya untuk pertama kalinya dalam hidupnya dan tidak pernah terbayang di dalam benaknya bahwa ia akan mengatakannya sampai kapan pun. Ia berkata kepada istrinya, “Aku mencintaimu.” Ia mengucapkannya dari lubuk hatinya.</p>
<p>Kedua tangan sang istri berhenti membolak-balik tas itu. Mulutnya pun berhenti bercerita. Ia merasa bahwa dirinya telah masuk ke dalam perjalanan lain yang lebih menakjubkan dan lebih nikmat daripada kota Dammam, laut, dan pesawat terbang. Yaitu, perjalanan cinta yang baru dimulai setelah 20 tahun menikah. Perjalanan yang dimulai dengan satu kata. Satu kata yang jujur. Ia pun menangis tersedu-sedu.</p>
<p>Sumber: “<em>Malam Pertama, Setelah Itu Air Mata</em>” karya Ahmad Salim Baduwailan, Penerbit eLBA via shalihah.com<br />
<strong>Artikel <a href="http://www.kisahmuslim.com" target="_blank">www.kisahmuslim.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ygennet.or.id/2013/03/istriku-aku-mencintaimu.htm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Habib Munzir dan Islam Jama’ah</title>
		<link>http://ygennet.or.id/2013/03/antara-habib-munzir-dan-islam-jamaah.htm</link>
		<comments>http://ygennet.or.id/2013/03/antara-habib-munzir-dan-islam-jamaah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2013 01:29:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[ajaran]]></category>
		<category><![CDATA[bantahan]]></category>
		<category><![CDATA[firanda]]></category>
		<category><![CDATA[habib munzir]]></category>
		<category><![CDATA[islam jamaáh]]></category>
		<category><![CDATA[majelis rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[sanad habib munzir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ygennet.or.id/?p=539</guid>
		<description><![CDATA[PENIPUAN TERHADAP UMAT ISLAM INDONESIA Penipuan besar-besaran telah dilakukan oleh Nur Hasan Ubaidah (pendiri sekte Isalam Jama&#8217;ah) kepada umat Islam di Indonesia. Nur Hasan Ubaidah tiba-tiba datang di Indonesia dengan mengaku-ngaku membawa sanad mangkul hingga Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lantas menyatakan bahwa orang yang Islamnya tidak bersanad (tidak mangkul) maka islamnya diragukan. Ternyata… Nur [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-543" alt="mimbar Antara Habib Munzir dan Islam Jamaah" src="http://static.ygennet.or.id/wp-content/uploads/2013/03/mimbar.jpg" width="400" height="300" title="Antara Habib Munzir dan Islam Jamaah" /><strong>PENIPUAN TERHADAP UMAT ISLAM INDONESIA</strong></p>
<p>Penipuan besar-besaran telah dilakukan oleh Nur Hasan Ubaidah (pendiri sekte Isalam Jama&#8217;ah) kepada umat Islam di Indonesia. Nur Hasan Ubaidah tiba-tiba datang di Indonesia dengan mengaku-ngaku membawa sanad mangkul hingga Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lantas menyatakan bahwa orang yang Islamnya tidak bersanad (tidak mangkul) maka islamnya diragukan.</p>
<p>Ternyata… Nur Hasan Ubaidah ini mengaku-ngaku telah mengambil sanad dari kota Mekah negerinya kaum Wahabi. Jadi rupanya Nur Hasan Ubaidah ini mengambil sanad dari kaum wahabi !!???. Akan tetapi anehnya tidak seorangpun ulama di Kerajaan Arab Saudi yang berpemikiran ngawur seperti Nur Hasan Ubaidah ini.</p>
<p>Hingga sekarang Islam Jama&#8217;ah masih berusaha mengirim murid-muridnya ke Ma&#8217;had al-Harom di Mekah untuk berusaha menyambung sanad (karena konon isnad yang dibawa oleh Nur Hasan Ubaidah telah hilang atau kurang lengkap). Lagi-lagi Islam Jama&#8217;ah menguber-nguber sanad dari kaum Wahabi.</p>
<p>Berkembanglah pemikiran sesat sekte Islam Jama&#8217;ah ini di tanah air yang dibangun di atas kedustaaan besar-besaran dan penipuan besar-besaran terhadap kaum muslimin di Indonesia, bahwasanya siapa saja yang Islamnya tidak bersanad maka diragukan keabsahannya.</p>
<p>Anehnya… yang mau menerima doktrin Nur Hasan Ubaidah ini hanyalah sebagian masyarakat muslim Indonesia. Kalau seandainya doktrin dan propaganda Nur Hasan Ubaidah ini dilontarkan di Negara-negara Arab maka tentunya Nur Hasan Ubaidah ini akan dianggap sebagai badut pemain sirkus yang pintar melawak !!!!<br />
<strong><br />
MIRIP TAPI TAK SAMA !!</strong></p>
<p>Habib Munzir Al-Musaawa…. dengan mudahnya mencela para ulama wahabi (seperti syaikh Bin Baaz, Ibnu Al-&#8217;Utsaimiin, dan Syaikh Al-Albani) dengan berhujjah : <strong>ULAMA WAHABI TIDAK BERSANAD !!!!</strong></p>
<p>Sehingga murid-murid sang habib dan para pengagumnya menyerukan sebagaimana seruan sang Habib…: &#8220;Para ulama wahabi tidak bersanad !!!&#8221;, sehingga ilmu mereka diragukan…!!!, ilmu hadits mereka dangkal..!!!, Fatwa mereka batil dan tertolak…!!!</p>
<p>Dan tuduhan-tuduhan dan olok-olokan yang lainnya yang keluar dari mulut sang Habib beserta para pengagumnya.</p>
<p>Kalau dipikir-pikir pemikiran Habib Munzir agak mirip dengan doktrin Nur Hasan &#8216;Ubaidah pendiri sekte Islam Jama&#8217;ah, akan tetapi setelah direnungkan ternyata tidak sama.</p>
<p>Berikut saya sebutkan <strong>dua kesimpulan</strong> dari perkataan-perkataan Sang Habib tentang ulama yang tidak bersanad.</p>
<p><strong>PERTAMA </strong>: Habib Munzir menuduh ulama wahabi tidak punya sanad. Bahkan dengan berani Habib Munzir menantang dan berkata :</p>
<p>&#8220;Saudaraku, maaf, <strong>tunjukkan satu saja seorang ulama wahabi yg punya sanad kepada Muhadditsin?</strong>, atau sanad guru yg muttashil kepada Rasulullah saw, kami ahlussunnah waljamaah berbicara hadits kami mempunyai sanad kepada kutubussittah dan muhadditsin, kami bukan menukil dan <strong>menggunting gunting ucapan</strong> ulama lalu berfatwa semaunya.<br />
<strong>tiada ilmu tanpa sanad, maka fatwa tanpa sanad adalah batil</strong>.<br />
(lihat : http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=7&amp;id=9654#9654)</p>
<p>Bahkan Habib Munzir menuduh bahwasanya tidak ada satu orang wahabipun yang hafal 10 hadits beserta sanadnya.</p>
<p>&#8220;…<strong>Wahabi dan kelompoknya yg mereka itu tak hafal 10 hadits pun berikut sanad dan hukum matannya</strong>. hafal hadits berikut sanad dan matannya adalah hafal haditsnya, dan nama nama periwayatnya sampai ke Rasul saw berikut riwayat hidup mereka, guru mereka, akhlak mereka, kedudukan mereka yg ditetapkan para Muhadditsin, dan lainnya.</p>
<p><strong>namun wahabi cuma menukil dari buku sisa sisa yg masih ada saat ini, buku buku hadits yg ada saat ini hanya mencapai sekitar 80 ribu hadits</strong>, dan tak ada kitab yg menjelaskan semua periwayat berikut sejarahnya kecuali sebagian kecil hadit saja,.</p>
<p><strong>maka fatwa para penukil ini batil tanpa perlu dijawab</strong>, (lihat : http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=9&amp;id=23856#23856)</p>
<p><strong>KEDUA </strong>: Habib Munzir memvonis bahwa fatwa siapa saja yang tidak memiliki sanad adalah fatwa yang batil. Habib Munzir berkata, &#8220;<strong>tiada ilmu tanpa sanad, maka fatwa tanpa sanad adalah batil</strong>&#8220;, apalagi yang berfatwa adalah para wahabi maka fatwa mereka otomatis batil dan tidak perlu dijawab, sebagaimana dalam perkataan Habib Munzir, &#8220;<strong>maka fatwa para penukil ini batil tanpa perlu dijawab</strong>&#8221;</p>
<p>Karenanya begitu dengan mudahnya Habib Munzir membatilkan fatwa-fatwa Syaikh Utsaimin dengan hanya berdalih bahwa Syaikh Utsaimin tidak bersanad.</p>
<p>Habib Munzir berkata :</p>
<p>&#8220;Mengenai Utsaimin, ia bukan ulama hadits, <strong>ia tak mempunyai sanad dalam ilmu hadits</strong>, tidak mempunyai sanad kepada para muhadditsin, <strong>maka pendapatnya batil</strong> dan tak bisa dijadikan pegangan, mengenai hadits tsb&#8221; (http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=9&amp;id=25398#25398)</p>
<p>Demikian juga Habib Munzir menuduh Syaikh Albani tidak bersanad, dan dituduh hanya menipu umat sehingga umat hancur, dan dituduh sebagai tong kosong.</p>
<p>Habib Munzir berkata :</p>
<p>&#8220;Beliau (*Albani) itu bukan Muhaddits, karena Muhaddits adalah orang yg mengumpulkan hadits dan menerima hadits dari para peiwayat hadits, albani tidak hidup di masa itu, ia hanya menukil nukil dari sisa buku buku hadits yg ada masa kini…&#8221;</p>
<p>Habib Munzir berkata lagi :</p>
<p>&#8220;<strong>Sedangkan Albani tak punya satupun sanad hadits yg muttashil</strong>. berkata para Muhadditsin, <strong>&#8220;Tiada ilmu tanpa sanad&#8221; maksudnya semua ilmu hadits, fiqih, tauhid, alqur;an, mestilah ada jalur gurunya kepada Rasulullah saw, atau kepada sahabat, atau kepada Tabiin, atau kepada para Imam Imam, maka jika ada seorang mengaku pakar hadits dan berfatwa namun ia tak punya sanad guru, maka fatwanya mardud (tertolak), dan ucapannya dhoif, dan tak bisa dijadikan dalil untuk diikuti, karena sanadnya Maqtu&#8217;</strong>.</p>
<p>apa pendapat anda dengan seorang manusia muncul di abad ini lalu menukil nukil sisa sisa hadits yg tidak mencapai 10% dari hadits yg ada dimasa itu, lalu berfatwa ini dhoif, itu dhoif.</p>
<p>Saya sebenarnya tak suka bicara mengenai ini, namun saya memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat karena <strong>tipuan seorang tong kosong</strong>. (lihat :</p>
<p>http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&#038;Itemid=&#038;func=view&#038;catid=9&#038;id=22466#22466)</p>
<p>Inilah senjata Habib Munzir yang dianggap sangat ampuh dan sakti oleh para pengagumnya, sehingga untuk membantah para ulama wahabi tidak perlu adu argumen dalil, akan tetapi cukup dengan berkata &#8220;Para ulama wahabi tidak punya sanad maka fatwa mereka batil dan tertolak&#8221;</p>
<p><strong>PERIHAL SANAD</strong></p>
<p>Sebelum saya menyanggah penipuan Habib Munzir ini saya akan menjelaskan tentang hakekat sanad yang selalu dijadikan senjata oleh Habib Munzir untuk membatilkan perkataan para ulama wahabi.</p>
<p>Sanad/isnad merupakan kekhususan umat Islam. Al-Qur&#8217;an telah diriwayatkan kepada kita oleh para perawi dengan sanad yang mutawatir. Demikian pula telah sampai kepada kita hadits-hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam dengan sanad-sanad yang shahih. Berbeda dengan kitab Injil dan Taurat yang ada pada kaum Nashrani dan Yahudi tanpa sanad yang bersambung dan shahih, sehingga sangat diragukan keabsahan kedua kitab tersebut.</p>
<p><em><strong>Isnad hadits</strong></em> adalah silsilah para perawi yang meriwayatkan matan (sabda) hadits dari Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p>Para ahli hadits telah memberikan kriteria yang ketat agar suatu hadits dinilai sebagai hadits yang shahih, mereka ketat dalam menilai para perawi hadits tersebut. Karenanya mereka (para ahli hadits) mendefinisikan hadits shahih dengan definisi berikut :</p>
<p>مَا اتَّصَلَ سَنَدُهُ بِنَقْلِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ عَنْ مِثْلِهِ إِلَى مُنْتَهَاهُ مِنْ غَيْرِ شُذُوْذٍ وَلاَ عِلَّةٍ</p>
<p>&#8220;Yaitu hadits yang sanadnya bersambung dengan penukilan perawi yang &#8216;adil dan dhoobith (kuat hafalannya) dari yang semisalnya hingga kepuncaknya tanpa adanya syadz dan penyakit (&#8216;illah)&#8221;</p>
<p>Yaitu para perawinya dari bawah hingga ke atas seluruhnya harus tsiqoh dan memiliki kredibilitas hafalan yang sempurna (lihat Nuzhatun Nadzor hal 58), serta sanad tersebut harus bersambung dan tidak ada &#8216;illahnya (penyakit) yang bisa merusak keshahihan suatu hadits.</p>
<p>Oleh karenanya dari sini nampaklah urgensinya pengecekan kevalidan isnad suatu hadits</p>
<p>Ibnu Siiriin berkata :</p>
<p>لَمْ يَكُوْنُوا يَسْأَلُوْنَ عَنِ الإِسْنَادِ فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوْا : سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلاَ يُؤْخَذُ حَدِيْثُهُمْ</p>
<p>&#8220;Mereka dahulu tidak bertanya tentang isnad, akan tetapi tatkala terjadi fitnah maka mereka berkata : &#8220;<strong>Sebutkanlah nama-nama para perawi kalian</strong>&#8220;, maka dilihatlah Ahlus sunnah dan diambilah periwayatan hadits mereka dan dilihatlah ahlul bid&#8217;ah maka tidak diambil periwayatan hadits mereka&#8221;</p>
<p>Perkataan Ibnu Siiriin rahimahullah ini dibawakan oleh Imam Muslim dalam muqoodimah shahihnya hal 15 di bawah sebuah bab yang berjudul :</p>
<p>بَابُ بَيَانِ أَنَّ الإِسْنَادَ مِنَ الدِّيْنِ وَأَنَّ الرِّوَايَةَ لاَ تَكُوْنُ إِلاَّ عَنِ الثِّقَاتِ وَأَنَّ جَرْحَ الرُّوَاةِ بِمَا هُوَ فِيْهِمْ جَائِزٌ بَلْ وَاجِبٌ وَأَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْغِيْبَةِ الْمُحَرَّمَةِ بَلْ مِنَ الذَّبِّ عَنِ الشَّرِيْعَةِ الْمُكَرَّمَةِ</p>
<p>&#8220;Bab penjelasan bahwasanya isnad bagian dari agama, dan bahwasanya riwayat tidak boleh kecuali dari para perawi yang tsiqoh, dan bahwasanya menjarh (*menjelaskan aib) para perawi -yang sesuai ada pada mereka- diperbolehkan, bahkan wajib (hukumnya) dan hal ini bukanlah ghibah yang diharamkan, bahkan merupakan bentuk pembelaan terhadap syari&#8217;at yang mulia&#8221;.</p>
<p><strong>Salah faham</strong></p>
<p>Sebagian orang salah faham dengan perkataan Ibnul Mubaarok rahimahullah :</p>
<p>الإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ</p>
<p>&#8220;Isnad adalah bagian dari agama, kalau bukan karena isnad maka setiap orang yang berkeinginan akan mengucapkan apa yang ia kehendaki&#8221;</p>
<p>Mereka memahami bahwasanya : &#8220;Perkataan Ibnul Mubarok ini menunjukkan bahwasanya orang yang tidak punya isnad bicaranya akan ngawur, dan sebaliknya orang yang punya isnad maka bicaranya pasti lurus&#8221;</p>
<p>Akan tetapi bukan demikian maksud perkataan Ibnul Mubaarok rahimahullah. Maksud perkataan beliau adalah : Tidak sembarang orang bisa menyampaikan hadits dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, akan tetapi menyampaikan hadits Nabi <strong>harus ada sanadnya</strong>. Dan <strong>jika sudah ada sanadnya maka HARUS diperiksa para perawinya</strong> sehingga bisa ketahuan haditsnya shahih ataukah lemah. Yang menunjukkan akan hal ini tiga perkara berikut :</p>
<p><strong>Pertama </strong>: Perkataan Ibnul Mubaarok ini dibawakan oleh Imam Muslim di bawah bab</p>
<p>بَابُ بَيَانِ أَنَّ الإِسْنَادَ مِنَ الدِّيْنِ وَأَنَّ الرِّوَايَةَ لاَ تَكُوْنُ إِلاَّ عَنِ الثِّقَاتِ وَأَنَّ جَرْحَ الرُّوَاةِ بِمَا هُوَ فِيْهِمْ جَائِزٌ بَلْ وَاجِبٌ وَأَنَّهُ لَيْسَ مِنَ الْغِيْبَةِ الْمُحَرَّمَةِ بَلْ مِنَ الذَّبِّ عَنِ الشَّرِيْعَةِ الْمُكَرَّمَةِ</p>
<p>&#8220;Bab penjelasan bahwasanya isnad bagian dari agama, dan bahwasanya riwayat tidak boleh kecuali dari para perawi yang tsiqoh, dan bahwasanya menjarh (*menjelaskan aib) para perawi -yang sesuai ada pada mereka- diperbolehkan, bahkan wajib (hukumnya) dan hal ini bukanlah ghibah yang diharamkan, bahkan merupakan bentuk pembelaan terhadap syari&#8217;at yang mulia&#8221;.</p>
<p><strong>Kedua </strong>: Persis sebelum menyampaikan perkataan ibnul Mubarok ini, Imam Muslim menyampaikan perkataan Sa&#8217;ad bin Ibrahim yang menjelaskan tentang kewajiban hanya meriwayatkan dari para perawi yang tsiqoh.</p>
<p>Imam Muslim berkata :</p>
<p>عن مسعر قال سمعت سعد بن إبراهيم يقول لا يحدث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا الثقات وحدثني محمد بن عبد الله بن قهزاذ من أهل مرو قال سمعت عبدان بن عثمان يقول سمعت عبد الله بن المبارك يقول الإسناد من الدين ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء</p>
<p>&#8220;Dari Mus&#8217;ir berkata : Saya mendengar Sa&#8217;d bin Ibraahim berkata : <strong>Tidaklah meriwayatkan hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kecuali para perawi yang tsiqoh</strong>….dari &#8216;Abdaan bin &#8216;Utsmaan berkata : Aku mendengar Abdullah bin Al-Mubaarok berkata : Isnad merupakan bagian dari agama, jika bukan karena isnad maka orang yang berkeinginan akan mengucapkan apa saja yang ia kehendaki&#8221;</p>
<p>Dan sebelumnya lagi Imum Muslim juga menyebutkan perkatan Ibnu Siiriin di atas &#8220;<strong>Sebutkanlah nama-nama para perawi kalian</strong>&#8221;</p>
<p><strong>Ketiga </strong>: Setelah itu Imam Muslim juga membawakan praktek Ibnul Mubaarok yang mengecek para perawi dalam sebuah sanad.</p>
<p>Imam Muslim berkata :</p>
<p>قلت لعبد الله بن المبارك يا أبا عبد الرحمن الحديث الذي جاء إن من البر بعد البر أن تصلي لأبويك مع صلاتك وتصوم لهما مع صومك قال فقال عبد الله يا أبا إسحاق عمن هذا قال قلت له هذا من حديث شهاب بن خراش فقال ثقة عمن قال قلت عن الحجاج بن دينار قال ثقة عمن قال قلت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قال يا أبا إسحاق إن بين الحجاج بن دينار وبين النبي صلى الله عليه وسلم مفاوز تنقطع فيها أعناق المطي ولكن ليس في الصدقة اختلاف وقال محمد سمعت علي بن شقيق يقول سمعت عبد الله بن المبارك يقول على رؤوس الناس دعوا حديث عمرو بن ثابت فإنه كان يسب السلف</p>
<p>&#8220;Abu Ishaaq bin &#8221;Isa berkata : Aku berkata kepada Abdullah bin Al-Mubaarok, Wahai Abu Abdirrahman, hadits yang datang bahwasanya : ((<em>Diantara berbakti setelah berbakti adalah engkau sholat untuk kedua orangtuamu beserta sholatmu dan engkau berpuasa untuk kedua orangtuamu bersama puasamu</em>)). Beliau berkata : Wahai Abu Ishaaq, dari manakah hadits ini?. Aku berkata, &#8220;Ini dari periwayatan Syihaab bin Khiroosy&#8221;. Ibnul Mubaarok berkata : &#8220;Ia tsiqoh, lalu ia meriwayatkan dari siapa?&#8221;.</p>
<p>Aku berkata, &#8220;Dari Al-Hajjaaj bin Diinaar&#8221;. Beliau berkata : &#8220;Ia tsiqoh, lalu Hajjaj meriwayatkan dari siapa?&#8221;</p>
<p>Aku berkata, &#8220;(langsung) Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda&#8221;. Beliau berkata, &#8220;Wahai Abu Ishaaq antara Hajjaaj bin Diinaar dan Nabi ada padang pasir yang besar, butuh banyak onta untuk bisa menempuhnya. Akan tetapi tidak ada perbedaan pendapat tentang bersedekah (atas nama kedua orang tua)&#8221;…</p>
<p>Ali bin Syaqiiq berkata : &#8220;Aku mendengar Abdullah bin Al-Mubaarok berkata di hadapan khalayak manusia : Tinggalkanlah periwayatan &#8216;Amr bin Tsaabit karena ia mencela para salaf&#8221; (Lihat Muqoddimah Shahih Muslim hal 16)</p>
<p>Dari sini kita faham bahwasanya perkataan Ibnul Mubaarok di atas semakin menguatkan akan urgensinya memeriksa kredibilitas para perawi dalam sebuah sanad. Dan perkataan Ibnul Mubaarok ini sama sekali tidak berkaitan dengan persangkaan Habib Munzir ; &#8220;Orang yang tidak bersanad maka fatwanya batil&#8221;</p>
<p><strong>Praktek al-jarh wa at-ta&#8217;diil</strong></p>
<p>Untuk menerapkan kriteria ini (yaitu pengecekan kedudukan dan kredibilitas para perawi hadits) maka para ulama ahli hadits menulis buku-buku al-jarh wa at-ta&#8217;diil yang menyebutkan tentang biografi para perawi, dengan menjelaskan kedudukan para perawi tersebut apakah tsiqoh ataukah dho&#8217;iif??.</p>
<p>Berbagai macam buku yang ditulis oleh para ulama,</p>
<p>-         Ada kitab-kitab yang khusus berkaitan dengan para perawi yang tsiqoh</p>
<p>-         Ada kitab-kitab yang khusus berkaitan dengan para perawi yang dho&#8217;if dan majruuh</p>
<p>-         Ada kitab-kitab yang menggabungkan antara para perawi yang tsiqoh dan dho&#8217;iif</p>
<p>-         Ada kitab-kitab yang berkaitan dengan para perawi yang menempati kota tertentu, seperti Taariikh Baghdaad, Taariikh Dimasq, Taariikh Waasith, dll</p>
<p>-         Ada kitab-kitab yang menjelaskan tentang para perawi kitab-kitab hadits tertentu, seperti ada kitab yang khusus menjelaskan para perawi dalam kitab Muwaatho&#8217; Imam Malik, ada kitab yang khusus menjelaskan tentang para perawi Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, ada kitab yang khusus menjelaskan tentang kedudukan para perawi al-kutub as-sittah</p>
<p>-         Dan jenis-jenis kitab yang lainnya, sebagaimana dijelaskan dalam buku-buku al-jarh wa at-ta&#8217;diil atau &#8216;ilmu ar-rijaal.</p>
<p>Karenanya dengan meneliti kedudukan para perawi tersebut –berdasarkan kaidah al jarh wa at-ta&#8217;diil yang diletakkan oleh para ahli hadits- maka akan jelas apakan sanad suatu hadits shahih ataukah lemah atau maudhuu&#8217; (palsu).</p>
<p>Alhamdulillah para ulama telah mengumpulkan hadits-hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam banyak kitab-kitab hadits sebagaimana yang masyhuur diantaranya : Muwatthho&#8217; al-Imam Maalik, Musnad Al-Imam Ahmad, Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Shahih Ibnu Hibbaan, Shahih ibnu Khuziamah, Sunan Abi Dawud, Sunan At-Thirmidzi, Sunan An-Nasaai, Sunan Ibni Maajah, Mu&#8217;jam-mu&#8217;jam At-Thobrooni, Sunan Al-Baihaqi, dan kitab-kitab hadits yang laiinya. Yang seluruh penulis kitab-kitab tersebut meriwayatkan hadits dengan menyebutkan sanad mereka dari jalur mereka hingga Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, sehingga dengan penerapan kaidah ilmu mustholah al-hadits dan ilmu al-jarh wa at-t&#8217;adiil terhadap para perawi yang terdapat dalam sanad-sanad hadits maka bisa dinilai apakah suatu hadits dari kitab-kitab tersebut shahih ataukah dhoiif.</p>
<p>Karenanya untuk mengecek keabsahan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab-kitab di atas adalah dengan mengecek para perawi yang termaktub dalam isnad-isnad dari para penulis kitab-kitab tersebut.</p>
<p>Sebagai contoh untuk mengecek shahih tidaknya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Thirimidzi dalam kitab &#8220;sunan&#8221; beliau maka kita mengecek para perawi di atas Imam At-Thirimidzi (dalam hal ini adalah guru imam At-Thirmidzi) hingga keatas sampai Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.</p>
<p><strong>SANAD ZAMAN SEKARANG ??</strong></p>
<p>Di zaman kita sekarang ini masih banyak ahli hadits atau para syaikh atau para penuntut ilmu yang masih melestarikan kebiasaan para ahli hadits dalam meriwayatkan hadits dengan sanad. Sehingga banyak diantara mereka yang meriwayatkan hadits dengan beberapa model sanad hadits, diantaranya:<br />
<img alt="hm sanad Antara Habib Munzir dan Islam Jamaah" src="http://static.ygennet.or.id/wp-content/uploads/2013/03/hm-sanad.jpg" border="0" title="Antara Habib Munzir dan Islam Jamaah" /><br />
<em>Pertama </em>: sanad yang bersambung kepada salah satu dari para penulis hadits. Ada sanad di zaman sekarang ini yang bersambung hingga Al-Imam Al-Bukhari atau kepada At-Thirmidzi, atau kepada Abu Dawud, atau</p>
<p><em>Kedua </em>: Sanad yang bertemu di guru-guru para penulis tersebut, atau bertemu di para perawi yang lebih di atasnya lagi (para guru dari para guru dari para penulis), atau</p>
<p><em>Ketiga </em>: Sanad yang melalui jalur lain hingga kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tanpa melalui jalur para penulis kitab-kitab tersebut.</p>
<p>Dari sini jelas bahwasanya fungsi sanad di zaman ini (jika berkaitan dengan sanad hadits-hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam) maka kurang bermanfaat dari dua sisi:</p>
<p><em>Pertama </em>: Karena para perawi yang dibawah para penulis kitab-kitab hadits tersebut hingga perawi di zaman kita sekarang ini tidak bisa diperiksa kredibilitasnya karena biografi mereka tidak diperhatikan oleh para ulama dan tidak termaktub dalam kitab-kitab al-jarh wa at-ta&#8217;diil</p>
<p><em>Kedua </em>: Kalaupun jika seluruh para perawi tersebut (dari zaman kita hingga ke penulis kitab) kita anggap tsiqoh maka kembali lagi kita harus mengecek para perawi dari zaman gurunya para penulis kitab-kitab hadits tersebut hingga Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Maka seakan-akan kita ngecek langsung para perawi yang terdapat dalam sanad-sanad yang terdapat dalam kitab-kitab hadits tersebut.</p>
<p>Jadi keberadaan isnad dari zaman sekarang hingga nyambung ke para penulis kitab-kitab hadits tersebut kurang bermanfaat, itu kalau tidak mau dikatakan tidak ada faedahnya !!!</p>
<p>Adapun jenis isnad yang ketiga, yaitu periwayatan hadits yang diriwayatakan oleh seseorang di zaman sekarang hingga zaman Rasulullah –tanpa melalui jalur para penulis kitab-kitab hadits diatas- maka tentunya kita akan mendapatkan minimal sekitar 20 orang perawi. Dan 20 orang perawi tersebut tidak mungkin kita cek kredibilitas mereka karena tidak adanya kitab-kitab al-jarh wa at-tadiil yang menjelaskan biografi mereka.</p>
<p>Dari sebab-sebab inilah maka terlalu banyak para penuntut ilmu yang berpaling dari mencari sanad hadits-hadits Nabi di zaman sekarang ini karena tidak ada faedah besar yang bisa diperoleh. Namun meskipun demikian masih saja ada para penuntut ilmu dan para ulama yang masih melestarikan periwayatan hadits dengan sanad-sanad tersebut untuk melestarikan adatnya para ahli hadits. Akan tetapi sama sekali tujuan mereka bukan untuk dijadikan senjata sebagaimana senjata yang digunakan oleh Habib Munzir dan para pengagumnya.</p>
<p><strong>PEMBODOHAN MASYARAKAT MUSLIM INDONESIA</strong></p>
<p>Habib Munzir sering menyebutkan kalau ia memiliki sanad, sehingga mengesankan bahwa ilmu yang dia peroleh nyambung hingga Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Hal inilah yang dikenal dalam sekte Islam Jam&#8217;ah dengan istilah &#8220;<em><strong>MANGKUL</strong></em>&#8220;. Kemudian untuk mendukung aksinya ini maka Habib Munzir menuduh bahwa para ulama wahabi tidak seorangpun memiliki sanad…!!, bahkan tidak seorangpun yang hafal 10 hadits beserta sanadnya !!!. sungguh ini merupakan kedustaan dan pembodohan terhadap masyarakat Indonesia.</p>
<p>Jadilah pembodohan ini menjadikan para pengagum Habib Munzir memahami bahwasanya :</p>
<p>-         Seluruh ilmu tanpa sanad tidak bisa diterima</p>
<p>-       Orang yang memiliki sanad seakan-akan maksum (terjaga dari kesalahan) karena ilmunya mangkul, yaitu sampai kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Meskipun hal ini mungkin saja tidak terucap secara lisan, akan tetapi sikap mereka dan pembelaan mereka terhadap Habib Munzir menunjukan akan hal itu</p>
<p>-       Orang yang memiliki sanad hingga ke Imam As-Syafii seakan-akan paling paham tentang perkataan Imam As-Syafii karena ilmunya mangkul/sampai kepada Imam Asy-Syafi&#8217;i.</p>
<p><strong>SANGGAHAN</strong></p>
<p>Sanggahan terhadap propaganda Habib Munzir ini dari banyak sisi</p>
<p><strong>PERTAMA </strong>: Tuduhan Habib Munzir bahwa para ulama Wahabi tidak memiliki sanad merupakan tuduhan yang sangat dusta. Jangankan para ulama besar Wahabi, teman-teman saya (ustadz-ustadz yang ada di Indonesia) saja banyak yang memiliki sanad. Jadi jangan sampai Habib Munzir ini merasa ia adalah pendekar sanad satu-satunya, karena pendekar-pendekar junior wahabi ternyata sudah banyak yang memiliki sanad.</p>
<p><strong><br />
KEDUA </strong>: Terkhususkan tuduhan Habib Munzir terhadap As-Syaikh Albani bahwa beliau tidak memiliki sanad dan hanya seperti tong kosong yang menipu umat, maka ini merupakan tuduhan dusta dan sangat keji.</p>
<p>Syaikh Albani punya isnad, dan ini merupakan perkara yang ma&#8217;ruuf, beliau  memiliki ijazah hadits dari ‘Allamah Syaikh Muhammad Raghib at-Thobbaakh Al-Halabi yang kepadanyalah beliau mempelajari ilmu hadits, dan mendapatkan hak untuk menyampaikan hadits darinya. (silahkan lihat Hayaat Al-Albaani wa Aaatsaaruhu wa ats-Tsanaa&#8217; al-&#8217;Ulamaa &#8216;alaihi karya Muhammad Ibrahim As-Syaibaani hal 45-46). As-Syaikh Al-Albani pun telah menegaskan hal ini dalam beberapa kitabnya seperti dalam kitab Tahdziir As-Saajid hal 84-85 dan juga kita Mukhtshor Al-&#8217;Uluw hal hal 74</p>
<p>Dan sebagian murid Syaikh Albani –seperti Abu Ishaaq Al-Huwaini- mengambil sanad dari As-Syaikh Al-Albani (silahkan lihat juga http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=18495).</p>
<p>Kemudian kenapa begitu berani Habib Munzir mensifati Syaikh Al-Albani dengan <strong>TONG KOSONG </strong>!!!, bahkan Habib Munzir mengkhawatirkan hancurnya umat karena tipuan Tong Kosong !!!, <strong>Subhaanallah…tipuan apa yang telah dilancarkan oleh Syaikh Al-Albani wahai Habib Munzir…!!! ataukah anda yang sedang melancarkan tipuan kepada umat bahwa yang tidak punya sanad fatwanya batil???</strong></p>
<p><strong>KETIGA </strong>: Kaum muslimin telah faham bahwasanya sumber hukum  mereka adalah Al-Qur&#8217;an dan hadits-hadits Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, demikian juga ijmaa&#8217; para ulama. Dan tatkala terjadi perselisihan maka Allah memerintahkan kita untuk kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا</p>
<p><em>Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. </em>(QS An-Nisaa : 59)</p>
<p>Allah tidak pernah mengatakan &#8220;Kembalilah kalian kepada orang yang bersanad&#8221;</p>
<p>Alhamdulillah Al-Qur&#8217;an dan hadits-hadits yang shahih telah dijaga oleh Allah.</p>
<p><strong>KEEMPAT </strong>: Propaganda Habib Munzir ini sama sekali tidak pernah dilakukan oleh para ulama dari madzhab manapun, baik dari madzhab Imam Abu Hanifah, atau madzhab Imam Malik, atau Madzhab Imam Ahmad, atau  madzhab Dzohiriyah. Bahkan tidak seorangpun dari ulama madzhab Syafi&#8217;iyah yang mengigau dengan propaganda Habib Munzir ini.</p>
<p>Silahkan buka kitab fiqih dari madzhab manapun…, atau kitab aqidah dari madzhab manapun…, atau kitab hadits dari madzhab manapun…, atau kitab ushul al-fiqh dari madzhab manapun….tidak seorangpun dari para ulama pernah berkata : <strong>&#8220;Fatwa anda tertolak karena anda tidak bersanad !!&#8221;</strong></p>
<p>Sering terjadi perdebatan dalam masalah fikih dikalangan para ulama madzhab…namun tidak seorangpun dari mereka tatkala membantah yang lain dengan berdalih <strong>&#8220;Pendapat anda batil karena anda tidak bersanad !!!&#8221;</strong></p>
<p>Bahkan tatkala ulama ahlus sunnah berdebat dengan para ahlul bid&#8217;ah dalam masalah aqidah maka para ulama ahlus sunnah membantah dengan cara menyebutkan dalil-dalil dari Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah. Sama sekali mereka tidak pernah berkata kepada Ahlul Bid&#8217;ah <strong>&#8220;Kalian di atas kebatilan karena tidak bersanad !!!&#8221;</strong></p>
<p>Karenanya propaganda Habib Munzir ini merupakan hal yang sangat lucu dan konyol…tidak seorangpun yang pernah menelaah kitab-kitab para ulama akan terpedaya dengan propaganda ini. Yang terpedaya hanyalah orang awam yang tidak mengerti kitab-kitab para ulama, yang tidak mengerti tentang ilmu hadits dan ilmu sanad, sebagaimana Nur Hasan &#8216;Ubaidah berhasil menipu dan membodohi banyak orang-orang awam yang jahil sehingga terperangkap dalam jaringan sekte Islam Jama&#8217;ah. Wallahul Musta&#8217;aan.</p>
<p><strong>KELIMA </strong>: Kalaupun kita menerima sanad yang dimiliki Habib Munzir maka kita harus mengecek para perawi yang terdapat dalam sanad tersebut, mulai dari Habib Munzir, gurunya, lalu guru dari guru Habib Munzir dst. Tentunya kita tidak akan mendapatkan perkataan para imam al-jarh wa at-ta&#8217;diil (seperti Syu&#8217;bah bin Hajjaaj, Al-Bukhari, Al-Imam Ahmad, Yahya bin Sa&#8217;iid, dll) tentang guru-guru Habib Munzir. Maka para perawi tersebut (guru-guru habib Munzir) dalam ilmu hadits dihukumi sebagai <em><strong>para perawi majhuul.</strong></em></p>
<p>Demikian juga kita harus mengecek kredibiltas hafalan dan ketsiqohan Habib Munzir sebagai perawi dan salah satu mata rantai sanad yang ia miliki. Apakah Habib Munzir Al-Musawa adalah seorang perawi yang tsiqoh yang kredibilitas hafalannya baik dan tinggi, ataukah malah sebaliknya sering pelupa dan tidak memiliki hafalan?. Kemudian dinilai juga dari kejujuran dalam bertutur kata?. Karena jika kita menerapkan kaidah para ahli hadits, maka jika ketahuan seorang perawi pernah berdusta sekali saja –bukan pada hadits Nabi shallalllahu &#8216;alaihi wa sallam- akan tetapi dusta pada perkara yang lain maka perawi ini dihukumi <strong><em>muttaham bil kadzib </em></strong>(tertuduh dusta), dan periwayatannya tertolak atau tidak diterima. Bagaimana lagi jika ketahuan sang perawi telah berdusta berkali-kali !!!, bagaimana lagi jika kedustaannya tersebut dalam rangka untuk menjatuhkan para ulama ??</p>
<p><strong>KEENAM </strong>: Sebagaimana Habib Munzir memiliki sanad ternyata terlalu banyak para penuntut ilmu wahabi yang juga memiliki sanad…!!!, maka fatwa siapakah yang diterima?, apakah fatwa Habib Munzir ataukah fatwa para penuntut ilmu wahabi tersebut??!!</p>
<p>Hanya saja Habib Munzir mengesankan kepada murid-mudirnya bahwa para wahabi tidak bersanad !!!, ini merupakan kedustaan yang sangat nyata seperti terangnya matahari di siang bolong.</p>
<p><strong>KETUJUH </strong>: Ngomong-ngomong manakah yang kita ikuti…Islam Jama&#8217;ah ala Nur Hasan &#8216;Ubaidah yang lebih dahulu punya sanad daripada Habib Munzir puluhan tahun yang lalu? Ataukah kita mengikuti Habib Munzir yang baru-baru saja memiliki sanad??!!.</p>
<p><strong>KEDELAPAN </strong>: Bukankah sering dua orang yang sama-sama memiliki sanad ternyata saling berselisih??. Lihat saja bagaimana para ulama saling berselisih pemahaman dalam banyak permasalahan agama sehingga timbulah madzhab-madzhab yang berbeda-beda. Bukankah para ulama besar pengikut madzhab As-Syafii memiliki sanad akan tetapi sering berselisih dengan para ulama pengikut madzhab Hanafi yang juga memiliki sanad??</p>
<p>Bukankah Imam Ibnu Hazm yang bermadzhab Dzohiriah –yang beliau banyak meriwayatkan hadits dengan sanadnya dalam kitab beliau Al-Muhalla- ternyata banyak menyelisihi para ualama empat madzhab yang juga memiliki sanad?</p>
<p>Bahkan… bukankah Imam As-Syafii yang memiliki sanad yang pernah berguru kepada Imam Malik yang juga memiliki sanad ternyata masing-masing dari mereka berdua memiliki madzhab tersendiri??, demikian juga halnya antara Imam Ahmad yang berguru kepada Imam As-Syafii??</p>
<p>Dari sini jelas bahwa isnad tidak melazimkan satu pemahaman, bahkan orang yang memiliki satu isnad bisa berselisih faham, bahkan bisa jadi murid menyelisihi guru. Lantas bagaimana bisa dianalogikan jika Habib Munzir memiliki sanad lantas secara otomatis lebih faham tentang agama??!!</p>
<p><strong>KESEMBILAN </strong>: Orang yang memiliki sanad yang shahih dalam periwayatan hadits tidak mesti lebih faham tentang agama daripada orang yang sama sekali tidak memiliki sanad, maka bagaimana lagi orang yang memiliki sanad yang dhoif karena banyak perawi yang majhuul??</p>
<p>Al-Imam Al-Bukhari telah membuat sebuah bab dengan judul :</p>
<p>بَابُ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ</p>
<p>&#8220;Bab sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam : Betapa sering orang yang disampaikan lebih faham dari yang mendengarkan&#8221;.</p>
<p>Lalu Al-Imam Al-Bukhari membawakan sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam :</p>
<p>لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ مْنِهُ</p>
<p>&#8220;Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena bisa jadi yang hadir menyampaikan kepada orang yang lebih faham daripada dia&#8221; (HR Al-Bukhari no 67)</p>
<p>Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata :</p>
<p>وَالْمُرَادُ رُبَّ مُبَلَّغٍ عَنِّي أَوْعَى أَيْ أَفْهَمُ لِمَا أَقُوْلُ مِنْ سَامِعٍ مِنِّي</p>
<p>&#8220;Maksudnya yaitu bisa jadi orang yang disampaikan sabdaku lebih menguasai yaitu lebih faham tentang sabdaku dari pada yang mendengarkan (langsung) dariku&#8221; (Fathul Baari 1/158)</p>
<p>Rasulullah juga bersabda :</p>
<p>نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ</p>
<p>&#8220;Semoga Allah menerangi wajah seseorang yang mendengar sebuah hadits dariku lalu ia menghafalkannya hingga menyampaikannya. Bisa jadi seorang membawa fiqih (ilmu) lalu ia sampaikan kepada yang lebih faqih daripadanya, dan bisa jadi seseorang membawa fiqih (ilmu) akan tetapi ia bukanlah seorang yang faqih&#8221; (HR Abu Dawud no 3662, At-Thirmidzi no 2656, Ibnu Maajah no 230)</p>
<p>Hadits ini menjelaskan bahwasanya bisa jadi seseorang memiliki riwayat hadits akan tetapi tidak faham dengan isi dari hadits tersebut, serta tidak bisa mengambil dan mengeluarkan huku-hukum dari hadits tersebut.</p>
<p>Al-Munaawi As-Syafii berkata :<br />
<img alt="hm habmun10 01 Antara Habib Munzir dan Islam Jamaah" src="http://static.ygennet.or.id/wp-content/uploads/2013/03/hm-habmun10_01.jpg" border="0" title="Antara Habib Munzir dan Islam Jamaah" /><br />
&#8220;Betapa banyak pembawa fiqih (ilmu) namun tidak faqiih, yaitu tidak mengambil (menggali) ilmu hukum-hukum dengan cara pendalilan, akan tetapi ia membawa riwayat tanpa memiliki sisi pendalilan dan pengeluaran hukum&#8221; (Faidul Qodiir 4/17)</p>
<p>Karenanya ilmu dan kefaqihan bukanlah dengan banyaknya riwayat dan banyaknya sanad, karena bisa jadi ada seseorang yang memiliki banyak riwayat dan sanad akan tetapi tidak faham atau kurang faham dengan isi dari hadits-hadits yang ia riwayatkan.</p>
<p>Ibnu Bathool rahimahullah berkata :<br />
<img alt="hm habmun10 02 Antara Habib Munzir dan Islam Jamaah" src="http://static.ygennet.or.id/wp-content/uploads/2013/03/hm-habmun10_02.jpg" border="0" title="Antara Habib Munzir dan Islam Jamaah" /><br />
&#8220;Nabi &#8216;alaihis salaam sungguh telah menafikan ilmu dari orang yang tidak memiliki pemahaman, sebagaimana dalam sabda beliau &#8220;Betapa banyak orang yang membawa fiqih/ilmu akan tetapi tidak memiliki kefaqihan&#8221;</p>
<p>Imam Malik berkata : &#8220;Bukanlah ilmu dengan banyaknya periwayatan, akan tetapi ilmu adalah cahaya yang Allah letakan dalam hati&#8221;. Maksud Imam Malik adalah memahami makna-maknanya dan istinbaathnya (pengambilan hukum darinya)&#8221; (Syarh Shahih Al-Bukhaari karya Ibnu Batthool 1/157)</p>
<p>Kesimpulan dari hadits ini :</p>
<p><em>Pertama </em>: Bisa jadi seseorang memiliki riwayat atau sanad akan tetapi tidak faham dengan kandungan dari hadits yang ia riwayatkan.</p>
<p><em>Kedua </em>: Bisa jadi seseorang memiliki riwayat dan sanad akan tetapi orang yang membaca hadits yang ia riwayatkan lebih faham dengan isi hadits daripada yang memiliki sanad.</p>
<p><strong>KESEPULUH </strong>: Sungguh sangat menyedihkan jika kita dapati seseorang memiliki sanad akan tetapi tidak mengerti ilmu hadits….sanadnya itu hanya sebagai topeng yang melindungi kebodohannya dalam ilmu hadits, sehingga tatkala lisannya mulai berbicara tentang ilmu hadits akhirnya ngawur.</p>
<p>Apalagi murid-murid dan para pengagum Habib Munzir yang begitu mudahnya diberikan ijaazah oleh Habib Munzir. Silahkan perhatikan yang dibawah ini :</p>
<p>Pengagum Habib Munzir berkata :</p>
<p>&#8220;Dengan hormat saya hendak belajar kepada Habib walau sementara baru sebatas lewat internet.</p>
<p>1.        Mohon izin belajar kepada Habib yang bersanad keguruan sampai kepada Nabi Muhammad SAW</p>
<p>2.        Mohon ijazah untuk pengamalan amalan ahluh sunah wal jamaah…</p>
<p><strong>Habib Munzir</strong> menjawab :</p>
<p>&#8220;Saudaraku yg kumuliakan, selamat datang di web para pecinta Rasul saw, kita bersaudara dalam kemuliaan</p>
<p>1.      saudaraku tercinta, saya belum pantas menjadi murid yg baik, bagaimana saya menjadi guru, kita bersaudara dan saling menasihati karena Allah, namun sanad keguruan anda telah berpadu dg sanad keguruan saya hingga kepada Rasul saw.</p>
<p>2.      Saya Ijazahkan pada anda sanad keguruan saya kepada anda, yg bersambung sanadnya kepada Guru Mulia kita, hingga Rasulullah saw, ia adalah bagai rantai emas terkuat yg tak bisa diputus dunia dan akhirat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah saw, semoga Allah swt selalu menguatkan kita dalam keluhuran dunia dan akhirat bersama guru guru kita hingga Rasul saw.</p>
<p>Saya ijazahkan seluruh dzikir salafusshalih, semua doa Rijaalussanad dan semua doa dan dzikir dari seluruh para wali dan shalihin, munajat dan dzikir para Ahlusshiddiqiyyatul Kubra, kepada anda, Ijazah sempurna yg saya terima dari Guru Mulia kita Al Allamah Al Musnid Alhabib Umar bin hafidh yg sanadnya muttashil (bersambung) pada segenap para ulama, muhaddits, para wali dan shalihin. Ijazah ini mencakup seluruh surat dalam Alqur’an, wirid, dzikir, amalan sunnah, dan doa Nabi Muhammad saw dan doa para Nabi dan Doa seluruh Ummat Muhammad saw, dan seluruh Hamba Allah yg shalih. semoga anda selalu dalam kemuliaan Dzikir dan Cahya Munajat mereka. Amiin</p>
<p><strong>Saya Ijazahkan kepada anda sanad Alqur&#8217;anulkarim dalam tujuh Qira&#8217;ah, seluruh sanad hadits riwayat Imamussab&#8217;ah, seluruh sanad hadist riwayat Muhadditsin lainnya, seluruh fatwa dan kitab syariah dari empat Madzhab yaitu Syafii, Maliki, Hambali dan Hanafi, dan seluruh cabang ilmu islam, yg semua itu saya terima sanad ijazahnya dari Guru Mulia Al Allamah Al Musnid Alhabib Umar bin Hafidh, yg bersambung sanadnya kepada guru guru dan Imam Imam pada Madzhab Syafii dan lainnya, dan berakhir pada Rasulullah saw…</strong></p>
<p>(lihat: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=9&amp;id=26683#26683),</p>
<p>Gampangnya Habib Munzir memberikan sanad ijazah kepada orang-orang awam tanpa persyaratan dan bahkan hanya sekedar melalui internet sering beliau lakukan.</p>
<p>Silahkan lihat : (http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=9&amp;id=25448#25448), lihat juga (http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=7&amp;id=22111#22111), lihat juga (http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&amp;Itemid=&amp;func=view&amp;catid=9&amp;id=21894#21894), dll</p>
<p>Perhatikanlah wahai para pembaca…dengan begitu mudahnya Habib Munzir memberi ijazah kepada seseorang yang meminta isnadnya hanya melalui internet ?!!</p>
<p><strong>Lantas apakah jika orang tersebut telah diberi ijazah oleh Habib Munzir berarti ia telah menguasai seluruh qiro&#8217;ah sab&#8217;ah al-qur&#8217;aan dan juga menguasai seluruh fatwa dari empat madzhab, seluruh riwayat hadits dari imam saba&#8217;ah??!!!</strong> . Sementara orang yang meminta tersebut siapakah dia?, seorang alimkah dia?!! Belajar di mana?? Tahu nawhu shorof atau tidak?, menguasai ilmu ushul fiqh atau tidak?, menguasai ilmu mustolah hadits atau tidak?, menguasai fikih empat madzhab atau tidak??</p>
<p>Habib Munzir sendiri apakah menguasai seluruh ilmu yang ia ijazahkan?, menguasai tujuh qiroo&#8217;ah?, menguasai seluruh hadits-hadits yang diriwayatkan oleh imam sab&#8217;ah?, menguasai seluruh fatwa dan kitab-kitab syari&#8217;ah empat madzhab??!!! Sunnguh sangat a&#8217;lim Habib Munzir ini?, bahkan ana rasa mungkin tidak ada seorang yang lebih &#8216;alim dari Habib Munzir di zaman ini.</p>
<p>Pantas saja jika beliau digelari dengan al-&#8217;Allaamah al-Fahhaamah (silahkan lihat http://assajjad.wordpress.com/2009/03/05/biografi-habib-munzir-al-musawa/)</p>
<p>Bisa jadi seseorang tidak memiliki sanad akan tetapi ia adalah seorang yang &#8216;alim. Sebaliknya….</p>
<p>-         Percuma punya banyak sanad jika masih saja meriwayatkan hadits-hadits yang lemah, apalagi tidak mengerti tentang ilmu takhriij.</p>
<p>-         Percuma punya isnad sampai Imam As-Syafii tapi berdusta atas nama Imam As-Syafii dan juga berdusta atas nama Ibnu Hajar</p>
<p>-         Percuma punya isnad kalau membolehkan kesyirikan beristighootsah kepada mayat</p>
<p>-         Percuma punya banyak isnad kalau sering keliru dalam membicarakan ilmu hadits</p>
<p>-         Percuma punya banyak isnad kalau tukang mencela para ulama, karena ini bukan akhlaknya orang yang mempunyai sanad.</p>
<p>-         Percuma punya banyak isnad kalau menuduh para ulama sebagai pendusta tukang menggunting perkataan ulama (padahal dia sendiri yang tukang gunting)</p>
<p>-         Percuma punya banyak isnad kalau menuduh para ulama wahabi tidak punya isnad (yang ini merupakan kedustaan yang sangat nyata..!!!!)</p>
<p><strong>KESEBELAS </strong>: Tidak semua orang yang memiliki sanad dan meriwayatkan hadits maka otomatis aqidahnya merupakan aqidah yang lurus. Ini merupakan perkara yang sangat mendasar dan diketahui oleh semua orang yang baru belajar ilmu mustholah al-hadits.</p>
<p>Karenanya para ulama ahli al-jarh wa at-ta&#8217;diil menyebutkan (dalam kitab-kitab Ad-Du&#8217;afaa&#8217; dan kitab-kitab yang secara spesifikasi membicarakan tentang para perawi yang lemah) bahwasanya banyak perawi hadits yang memiliki pemahaman bid&#8217;ah, baik bid&#8217;ah khawarij, bid&#8217;ah syi&#8217;ah, bid&#8217;ah irjaa&#8217;, bid&#8217;ah qodariyah dan lain-lain yang menyebabkan riwayat para perawi tersebut tertolak. Dan masih banyak sebab-sebab lain yang menyebabkan periwayatan seseorang yang memiliki sanad tertolak</p>
<p>Sementara kesan yang dibangun oleh Habib Munzir bahwasanya jika seseorang telah memiliki sanad yang bersambung kepada Nabi maka melazimkan seakan-akan ia adalah orang yang ma&#8217;sum yang tentunya aqidahnya lurus. Tentu hal ini merupakan kelaziman yang tidak lazim.</p>
<p><strong>KEDUA BELAS</strong> : Kelaziman dari hal ini, maka seluruh dai dan ulama yang tidak bersanad tidak diterima perkataan dan fatwa mereka, dan fatwa mereka dihukumi sebagai fatwa yang batil. Saya rasa sebaiknya Habib Munzir memberi masukan kepada Majelis Ulama Indonesia yang selama ini tatkala berfatwa tidak mencantumkan sanad mereka !!! yang menunjukkan bahwa fatwa-fatwa mereka selama ini adalah fatwa yang batil.</p>
<p>Demikian juga masukan kepada ribuan dai yang di Indonesia, bahkan masukan kepada jutaan dai yang ada di dunia agar berhenti berdakwah dan hendaknya mencari sanad dahulu agar perkataan dan fatwa mereka bisa diterima dan tidak bernilai batil !!!</p>
<p>Dari dua belas sisi bantahan di atas maka jelas bahwasanya perkataan Habib Munzir : &#8220;Orang yang tidak bersanad fatwanya batil dan tertolak&#8221; adalah kesalahan yang fatal !!!</p>
<p>Kota Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-, 24-12-1432 H / 20 November2011 M</p>
<p>Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja</p>
<p><a title="Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja" href="http://www.firanda.com" target="_blank">www.firanda.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ygennet.or.id/2013/03/antara-habib-munzir-dan-islam-jamaah.htm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesibukan Para Penghuni Surga</title>
		<link>http://ygennet.or.id/2013/03/kesibukan-para-penghuni-surga.htm</link>
		<comments>http://ygennet.or.id/2013/03/kesibukan-para-penghuni-surga.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2013 00:51:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belajar Islam]]></category>
		<category><![CDATA[belajar islam]]></category>
		<category><![CDATA[kegembiraan di surga]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan surga]]></category>
		<category><![CDATA[kesibukan penghuni surga]]></category>
		<category><![CDATA[penghuni surga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ygennet.or.id/?p=534</guid>
		<description><![CDATA[Sebagaimana penduduk dunia yang fana ini sangatlah sibuk….ternyata para penghuni surga juga dalam kesibukan…. Penduduk dunia begitu sibuk memerahkan peluh dan keringat… membanting tulang mereka…siang dan malam…demi untuk bisa merasakan kenikmatan dunia. Betapa banyak diantara penduduk dunia setelah bersusah payah sibuk bekerja ternyata tidak mampu meraih kenikmatan yang mereka angan-angankan.. Kalaulah mereka berhasil meraih apa [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://static.ygennet.or.id/wp-content/uploads/2013/03/surga.jpg" alt="surga Kesibukan Para Penghuni Surga" width="400" height="300" class="alignright size-full wp-image-535" title="Kesibukan Para Penghuni Surga" />Sebagaimana penduduk dunia yang fana ini sangatlah sibuk….ternyata para penghuni surga juga dalam kesibukan….</p>
<p>Penduduk dunia begitu sibuk memerahkan peluh dan keringat… membanting tulang mereka…siang dan malam…demi untuk bisa merasakan kenikmatan dunia. Betapa banyak diantara penduduk dunia setelah bersusah payah sibuk bekerja ternyata tidak mampu meraih kenikmatan yang mereka angan-angankan..</p>
<p>Kalaulah mereka berhasil meraih apa yang mereka inginkan ternyata kenikmatan tersebut tidak abadi dan akan sirna… dan kenikmatan tersebut ternyatapun pasti terkontaminasi dengan kesedihan, kegelisahan dan gundah gulana, bahkan ketakutan dan kekhawatiran. Karenanya betapapun kaya seorang penduduk dunia…suatu saat pasti dia akan sedih dan takut…</p>
<p>Itulah hasil kesibukan penduduk dunia…semuanya fana dan fatamorgana.</p>
<p>Para penghuni surga juga sibuk…akan tetapi kesibukan mereka berbeda dengan kesibukan penduduk dunia…</p>
<p>Mereka para penghuni surga sibuk dengan menikmati dan berlezat-lezat dengan kenikmatan dan anugerah yang Allah sediakan bagi mereka di surga. Terlalu banyak kenikmatan…</p>
<p>Terlalu banyak kelezatan…beraneka ragam dan bervariasi…<br />
Kelezatan yang tidak mampu untuk dibayangkan dan dikhayalkan oleh penduduk dunia…akal mereka tidak mampu untuk mengkhayalkannya….</p>
<p>Hilanglah kata kesedihan…sirnalah kata kekhawatiran…seluruhnya berganti dengan kegembiraan, riang, dan kesenangan.</p>
<p>Tentunya penghuni surga akan memperoleh apa saja yang mereka angan-angankan, dan apa saja yang mereka impikan.</p>
<p>Itulah kesibukan penghuni surga…sibuk menikmati kenikmatan dan kelezatan surga. Diantara kesibukan mereka adalah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah</p>
<p>إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ (٥٥) هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلالٍ عَلَى الأرَائِكِ مُتَّكِئُونَ (٥٦)</p>
<p><em>“Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan”</em> (QS Yaasiin : 55-56)</p>
<p>Sedang sibuk apakah mereka…?. Ibnu Mas’uud, Ibnu Abbaas radhiallau ‘anhum serta Ibnul Musayyib, Ikrimah, Al-Hasan Al-Bashri, Qotaadah, Al-A’masy, Sulaiman At-Taimiy, dan Al-Auzaa’i rahimahumullah yang menafsirkan kesibukan di sini adalah اِفْتِضَاضُ الأَبْكَارِ (memecahkan keperawanan para bidadari). (Lihat tafsiir At-Thobari 20/534-535, Ad-Dur Al-Mantsuur 7/64, dan tafsiir Ibni Katsiir 6/82)</p>
<p>Al-Qurthubi berkata:</p>
<p>وَقَالَ أَبُوْ قِلاَبَة : بَيْنَمَا الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ مَعَ أَهْلِهِ إِذْ قِيْلَ لَهُ تَحَوَّلْ إِلَى أَهْلِكَ، فَيَقُوْلُ أَنَا مَعَ أَهْلِي مَشْغُوْلٌ ؛ فَيُقَالُ تَحَوَّلْ أَيْضًا إِلَى أَهْلِكَ. وَقِيْلَ : أَصْحَابُ الْجَنَّةِ فِي شُغُلٍ بِمَا هُمْ فَيْهِ مِنَ اللَّذَّاتِ وِالنَّعِيْمِ عَنِ الْاِهْتِمَامِ بِأَهْلِ الْمَعَاصِي وَمَصِيْرِهِمْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا هُمْ فِيْهِ مِنْ أَلِيْمِ الْعَذَابِ ، وَإِنْ كَانَ فِيْهِمْ أَقْرِبَاؤُهُمْ وَأَهْلُوْهُمٍ</p>
<p>“Abu Qilabah berkata, “Tatkala seorang lelaki penghuni surga sedang bersama istrinya (dari bidadari-pen) maka dikatakan kepadanya : Pergilah kepada istrimu (yang ada di neraka-pen) maka iapun berkata, “Saya sedang sibuk dengan bidadariku”, maka dikatakan kembali kepadanya pergilah engkau ke keluargamu !.”</p>
<p>Dan dikatakan bahwasanya para penghuni surga sedang sibuk dalam kenikmatan dan kelezatan yang mereka rasakan sehingga mereka tidak memperdulikan tentang kondisi para pelaku kemaksiatan dan nasib mereka yang masuk kedalam neraka serta adzab dan siksaan yang mereka rasakan, meskipun para penghuni neraka tersebut adalah karib kerabat para penghuni surga dan istri-istri mereka tatkala di dunia” (Tafsiir Al-Qurthubi 15/43)</p>
<p>Bagaimana seorang penghuni surga tidak sibuk memecahkan keperawanan para bidadari?, sementara Allah menyediakan baginya para bidadari yang banyak jumlahnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِى الْجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ مُجَوَّفَةٍ طُولُهَا سِتُّونَ مِيلاً لِلْمُؤْمِنِ فِيهَا أَهْلُونَ يَطُوفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُ فَلاَ يَرَى بَعْضُهُمْ بَعْضًا</p>
<p><em>“Bagi seorang mukmin di surga sebuah kemah dari sebuah mutiara yang berongga, panjangnya 60 mil, dan bagi seorang mukmin dalam kemah mutiara tersebut istri-istrinya, sang mukmin berkeliling mengitari mereka sehingga sebagian mereka tidak melihat sebagian yang lain”</em> (HR Al-Bukhari no 3243 dan Muslim no 7337)</p>
<p>Al-Munaawi berkata, “Bagi sang mukmin istri-istri yang banyak, ia mengelilingi istri-istri tersebut untuk menjimak mereka atau yang semisalnya, sehingga sebagian bidadari tidak melihat bidadari yang lain karena besarnya kemah mutiara tersebut” (At-Taisiir bi syarh al-Jaami’ as-Shogiir, 1/685)</p>
<p>Bagaimana seorang penghuni surga tidak sibuk memecahkan keperawanan para bidadari? Sementara para bidadari sangat cantik dan selalu merindukannya dan selalu merayunya…???</p>
<p>Bagaimana seorang penghuni surga tidak sibuk memecahkan keperawanan para bidadari…?? Sementara ia telah diberi kekuatan sekuat 100 orang dalam jimak…??</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>يُعْطَى الْمُؤْمِنُ فِي الْجَنَّةِ قُوَّةَ كَذَا وَكَذَا مِنَ الْجِمَاعِ، قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَوَ يُطِيْقُ ذَلِكَ؟ قَالَ : يُعْطَى قُوَّةَ مِائَةٍ</p>
<p><em>“Seorang mukmin di surga diberi kekuatan untuk berjmak sekian dan sekian”, maka dikatakan, “Wahai Rasulullah, apakah ia mampu?”. Rasulullah berkata, “Ia diberi kekuatan 100 orang dalam berjimak”</em> (HR At-Thirmidzi no 2536 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)</p>
<p>Bagaimana seorang penghuni surga tidak sibuk memecahkan keperawanan para bidadari??, sementara para bidadari setiap disetubuhi akan kembali lagi keperawanan mereka??.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً (٣٥)فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا (٣٦)<br />
<em><br />
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (Bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan”</em> (QS Al-Waaqi’ah : 35-36)</p>
<p>As-Syaikh As-Sa’di berkata, “Sifat ini –yaitu keperawanan- selalu menyertai mereka dalam berbagai kondisi” (Taisiir Ar-Kariim Ar-Rahmaan hal 833)</p>
<p>Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhumaa berkata:</p>
<p>إِنَّ الرَّجُلَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ لَيُعَانِقُ الْحَوْرَاءَ سَبْعِيْنَ سَنَةً ، لاَ يَمَلُّهَا وَلاَ تَمَلُّهُ ، كُلَّمَا أَتَاهَا وَجَدَهَا بِكْرًا ، وَكُلَّمَا رَجَعَ إِلَيْهَا عَادَتْ إِلَيْهِ شَهْوَتُهُ ؛ فَيُجَامِعُهَا بِقُوَّةِ سَبْعِيْنَ رَجُلاَ ، لاَ يَكُوْنُ بَيْنَهُمَا مَنِيٌّ ؛ يَأْتِي مِنْ غَيِرْ مَنِيٍّ مِنْهُ وَلاَ مِنْهَا</p>
<p>“Sesungguhnya seorang penghuni surga sungguh akan memeluk bidadari selama 70 tahun, ia tidak bosan dengan bidadari tersebut dan sang bidadari juga tidak bosan dengannya, setiap kali ia menjimaknya ia mendapati sang bidadari kembai perawan, dan setiap kali ia kembali kepada sang bidadari maka syahwatnya akan kembali. Maka iapun menjimak bidadari tersebut dengan kekuatan 70 lelaki, tidak ada mani yang keluar dari keduanya, ia menjimak bidadari tanpa keluar mani, dan sang bidadari juga tidak keluar mani” (Tafsiir Al-Qurthubi 15/45)</p>
<p>Tentu saja ini semua membuatnya sibuk memecahkan keperawanan para bidadari.</p>
<p>Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :</p>
<p>&nbsp;<br />
وَإِذَا انْحَدَرْتَ رَأَيْتَ أمراً هَائِلاً&#8230; مَا لِلصِّفَاتِ عَلَيْهِ مِنْ سُلْطَانِ</p>
<p>Jika engkau memandang apa yang ada di bawah pusar sang bidadari maka engkau akan melihat perkara yang menakjubkan (tentang kemaluan sang bidadari-pen), tidak ada kuasa untuk bisa menjelaskan sifat-sifat perkara tersebut.</p>
<p>لاَ الْحَيْضُ يَغْشَاهُ وَلاَ بَوْلٌ وَلاَ &#8230; شَيْءٌ مِنَ الآفَاتِ فِي النِّسْوَانِ</p>
<p>Tidak ada darah haid yang menghalanginya dan tidak juga ada air kencing, serta tidak ada sesuatupun dari hal-hal buruk yang terdapat pada wanita-wanita dunia</p>
<p>فَخِذَانِ قَد حَفَا بِهِ حَرَسًا لَهُ &#8230; فَجَنَابُهُ فِي عِزَّةٍ وِصِيَانِ</p>
<p>Dua paha yang telah meliputi perkara tersebut (kemaluan sang bidadari-pen) dan menjaganya, maka sisi kemaluan bidadari tersebut telah terjaga di bawah penjagaan dan keperkasaan</p>
<p>قَامَا بِخِدْمَتِهِ هُوَ السُّلْطَانُ بَيْـ &#8230; ـنَهُمَا وَحَقٌّ طَاعَةُ السُّلْطَانِ</p>
<p>Kedua paha tersebut melayani kemaluan sang bidadari, dialah sang raja diantara kedua paha tersebut, dan merupakan hak agar raja ditaati</p>
<p>وَجِمَاعُهَا فَهُوَ الشِّفَا لِصَبِّهَا &#8230; فَالصَّبُّ مِنْهُ لَيْسَ بِالضَّجْرَانِ</p>
<p>Dan menyetubuhi bidadari merupakan penawar dan obat kecintaannya kepada sang bidadari, maka kecintaan dari sang lelaki dan bukanlah kegelisahan</p>
<p>وَإِذَا يُجَامِعُهَا تَعُوْدُ كَمَا أَتَتْ &#8230; بِكْرًا بِغَيْرِ دَمٍ وَلاَ نُقْصَانِ</p>
<p>Jika ia menyetubuhi sang bidadari maka sang bidadari akan kembali lagi keperawanannya tanpa ada darah dan tanpa ada kekurangan sama sekali</p>
<p>فَهُوَ الشَّهِيُّ وَعُضْوُهُ لاَ يَنْثَنِي &#8230; جَاءَ الْحَدِيْثُ بِذَا بِلاَ نُكْرَانِ</p>
<p>Dialah sang lelaki yang berhasrat, dan kemaluannya tidak akan bengkok (loyo) sebagaimana ada hadits Nabi yang menjelaskan akan hal ini, tidak perlu diingkari</p>
<p>وَلَقَدْ رَوَيْنَا أَنَّ شُغْلَهُمُ الَّذِي &#8230; قَدْ جَاءَ فِي يَاسِيْنَ دُوْنَ بَيَانِ</p>
<p>Dan sungguh kami telah meriwayatkan bahwasanya kesibukan mereka yang telah disebutkan dalam surat yaasiin tanpa perlu penjelasan lagi</p>
<p>شُغْلُ الْعَرُوْسِ بِعُرْسِهِ مِنْ بَعْدِمَا &#8230; عَبَثَتْ بِهِ الْأَشْوَاقُ طُوْلَ زَمَانِ</p>
<p>Yaitu kesibukan seorang pengantin mempelai lelaki dengan mempelai wanitanya, setelah sekian lama sang mempelai lelaki telah diombang-ambingkan oleh kerinduan</p>
<p>بِاللهِ لاَ تَسْأَلْهُ عَنْ أَشْغَالِهِ &#8230; تِلْكَ اللَّيَالِي شَأْنُهُ ذُوْ شَانِ</p>
<p>Demi Allah janganlah engkau bertanya kepadanya tentang kesibukannya pada malam-malam itu…perkaranya sangat hebat</p>
<p>وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلاً بِصَبٍّ غَابَ عَنْ &#8230; مَحْبُوْبِهِ فِي شَاسِعِ الْبُلْدَانِ</p>
<p>Dan buatlah perumpamaan kepada mereka dengan seorang pria yang memendam kerinduan dan telah terpisah lama dari kekasihnya di negeri yang jauh</p>
<p>وَالشَّوْقُ يُزْعِجُهُ إِلَيْهِ وَمَا لَهُ &#8230; بِلِقَائِهِ سَبَبٌ مِنَ الْإِمْكَانِ</p>
<p>Kerinduan senantiasa menggelisahkannya, namun tidak ada kemungkinan untuk bertemu dengan kekasihnya</p>
<p>وَافَى إِلَيْهِ بَعْدَ طُوْلِ مَغِيْبِهِ &#8230; عَنْهُ وَصَارَ الْوَصْلُ ذَا إِمْكَانِ</p>
<p>Setelah lama berpisah dari kekasihnya tiba-tiba memungkinan baginya untuk bisa bertemu dengan kekasihnya</p>
<p>أَتَلُوْمُهُ إِنْ صَارَ ذَا شُغْلٍ بِهِ &#8230; لاَ وَالَّذِي أَعْطَى بِلاَ حُسْبَانِ</p>
<p>Maka apakah engkau mencelanya jika lantas iapun sibuk (bersetubuh) dengan kekasihnya? Tentu tidak, demi Dzat yang memberikan karunia tanpa batasan</p>
<p>يَا رَبِّ غُفْرًا قَدْ طَغَتْ أَقْلاَمُنَا &#8230; يَا رَبِّ مَعْذِرَةً مِنَ الطُّغْيَانِ</p>
<p>Wahai Robku ampunilah kami, pena-pena kami telah melampaui batas (dalam mensifati para bidadari), waha Robku maafkanlah kami karena sikap melampaui batas ini<br />
Syaikh Muhammad Kholil Harroos rahimahullah tatkala mensyarah (menjelaskan) bait-bait yang ditulis oleh Ibnul Qoyyim di atas, beliau berkata, “Sungguh sang penyair (yaitu Ibnul Qoyyim) telah merasa bahwasanya penanya telah menulis begitu jauh (dan panjang lebar dalam bait-bait di atas-pen) tentang sifat bidadari dengan begitu jelasnya yang semestinya tidak perlu dijelaskan (vulgar) maka iapun beristighfar kepada Allah karena semangatnya penanya menulis dan ia minta agar Allah memberi udzur kepadanya pada isi bait-baitnya yang melampaui batas” (Syarh Al-Qoshiidah An-Nuuniyah 2/397).</p>
<p>Sebagaimana Ibnul Qoyyim beristighfar kepada Allah maka saya –penulis yang penuh kelemahan- juga meminta ampun kepada Allah kalau terlalu detail dalam menjelaskan tentang bidadari. Tidak lain niat penulis agar para pembaca sekalian lebih bersemangat dalam beramal sholeh baik sholat malam, sedekah, dan puasa, agar bisa merasakan kesibukan yang telah menyibukan para penghuni surga…<br />
&nbsp;</p>
<p>Kota Nabi -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-, 19-10-1432 H / 17 September 2011 M</p>
<p>Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja</p>
<p><a title="Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja" href="http://www.firanda.com" target="_blank">www.firanda.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ygennet.or.id/2013/03/kesibukan-para-penghuni-surga.htm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Kabar Zodiakmu Hari Ini ?</title>
		<link>http://ygennet.or.id/2013/03/apa-kabar-zodiakmu-hari-ini.htm</link>
		<comments>http://ygennet.or.id/2013/03/apa-kabar-zodiakmu-hari-ini.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Mar 2013 11:10:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oase Iman]]></category>
		<category><![CDATA[apa kata zodiakmu]]></category>
		<category><![CDATA[iman]]></category>
		<category><![CDATA[oase]]></category>
		<category><![CDATA[ramalan bintang]]></category>
		<category><![CDATA[ramalan jodoh]]></category>
		<category><![CDATA[ramalan karir]]></category>
		<category><![CDATA[ramalan masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[ramalan zodiakmu]]></category>
		<category><![CDATA[zodiakmu hari ini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ygennet.or.id/?p=531</guid>
		<description><![CDATA[Leo (23 Juli-23 Agustus) Kepribadian Mudah marah, terutama jika disiram dengan air panas. Keuangan Terlalu ngirit, sampai-sampai makan cuma 3 sendok sehari. Asmara Setia pada banyak perempuan. Pernah membaca tulisan seperti di atas ? Untuk yang sering baca majalah keluarga ataupun remaja biasanya dengan mudah bisa menemukan tulisan di atas. Tulisan di atas menceritakan tentang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://static.ygennet.or.id/wp-content/uploads/2013/03/zodiak.jpg" alt="zodiak Apa Kabar Zodiakmu Hari Ini ?" width="374" height="300" class="alignright size-full wp-image-532" title="Apa Kabar Zodiakmu Hari Ini ?" /><strong><em>Leo (23 Juli-23 Agustus)</em></strong></p>
<p><em>Kepribadian</em></p>
<p><em>Mudah marah, terutama jika disiram dengan air panas.</em></p>
<p><em>Keuangan</em></p>
<p><em>Terlalu ngirit, sampai-sampai makan cuma 3 sendok sehari.</em></p>
<p><em>Asmara</em></p>
<p><em>Setia pada banyak perempuan.</em></p>
<p>Pernah membaca tulisan seperti di atas ? Untuk yang sering baca majalah keluarga ataupun remaja biasanya dengan mudah bisa menemukan tulisan di atas. Tulisan di atas menceritakan tentang ramalan zodiak seseorang. Dan sekarang ini yang namanya zodiak, ramalan dan shio telah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang, terlebih-lebih di wilayah perkotaan.</p>
<p>Hampir disetiap majalah-majalah dan tabloid terdapat rubrik ramalan, baik itu berbentuk ruang ramalan berkedok &#8220;konsultasi&#8221; hingga ramalan yang berbentuk zodiak(bintang) maupun shio seseorang. Dan lebih parahnya lagi, kini juga telah hadir suatu bentuk modernisasi zodiak, ramalan dan shio dengan memanfaatkan teknologi sms content premium. Begitu disayangkan, berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar pulsa dihabiskan oleh pengguna ponsel hanya untuk bermaksiat kepada Allah.</p>
<p>Kehidupan yang kini semakin modern rupanya tidaklah mampu menghapus kebudayaan &#8220;jahilliyah&#8221;, terutama kepercayaan akan ramalan. Bahkan kini &#8220;dukun-dukun&#8221; peramal juga ikut-ikutan menjadi modern, &#8220;dukun-dukun&#8221; itu kini rajin tampil di majalah, televisi dan internet. Mereka bungkus ramalan-ramalan tersebut semenarik mungkin, sehingga membuat orang-orang tertarik untuk membaca ramalan tersebut.</p>
<p>Sungguh disayangkan, gejala kecanduan akan ramalan itu tidak hanya menyerang kalangan nonmuslim, akan tetapi juga menyerang sebagian besar umat muslim, dengan pangsa pasar terbesar pada remaja dan ibu rumah tangga. Padahal Rasulullah Shallahu &#8216;alaihi wassalam telah bersabda yang diriwayatkan oleh Al Bazzar dari ‘Imron bin Hushoin,</p>
<p><em>“Bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang beranggapan sial atau membenarkan orang yang beranggapan sial, atau siapa saja yang mendatangi tukang ramal atau membenarkan ucapannya, atau siapa saja yang melakukan perbuatan sihir atau membenarkannya.”</em></p>
<p>Selain itu, percaya akan ramalan dan dukun adalah dosa syirik. Seperti yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah :</p>
<p><em>“Para dukun dan yang sejenis dengan mereka sebenarnya mempunyai pembantu atau pendamping (qarin) dari kalangan syaithan yang mengabarkan perkara-perkara ghaib yang dicuri dari langit. Kemudian para dukun itu menyampaikan berita tersebut dengan tambahan kedustaan. Di antara mereka ada yang mendatangi syaithan dengan membawa makanan, buah-buahan, dan lain-lain (untuk dipersembahkan) … . Dengan bantuan jin, mereka ada yang dapat terbang ke Makkah atau Baitul Maqdis atau tempat lainnya.” (Kitabut Tauhid, Syaikh Fauzan halaman 25)</em></p>
<p>Pendapat Ibnu Taimiyyah tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah SAW seperti yang diceritakan dalam hadits:</p>
<p><em><br />
&#8220;Tatkala Allah memutuskan perkara di langit, para Malaikat mengepakkan sayap, mereka merasa tunduk dengan firman-Nya, seolah-olah kepakan sayap itu bunyi gemerincing rantai di atas batu besar. Ketika telah hilang rasa takut, mereka saling bertanya : “Apakah yang dikatakan Rabbmu? Dia berkata tentang kebenaran dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Lalu firman Allah itu didengar oleh pencuri berita langit. Para pencuri berita itu saling memanggul (untuk sampai di langit), lalu melemparkan hasil curiannya itu kepada teman di bawahnya. (HR. Bukhari dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu)&#8221;</em></p>
<p>Sehingga perbuatan percaya akan ramalan adalah perbuatan syirik dan dosa besar. Dan Allah Subhanahu Wata&#8217;ala telah mengancam tidak akan mengampuni dosa pelaku syirik.</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa saja yang Ia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah (syirik), maka sungguh ia telah melakukan dosa yang sangat besar&#8221; (An-Nisa&#8217; 48)</em></p>
<p>Sungguh berat ancaman yang diberikan Allah Subhanahu Wata&#8217;ala dan Rasulullah Shallahu &#8216;alaihi wassalam terhadap orang-orang yang percaya akan ramalan. Akan tetapi apa yang sekarang kita lihat?, begitu banyak umat Islam yang percaya akan ramalan, apakah mereka tidak tahu akan ancaman dan Allah Subhanahu Wata&#8217;alaRasulullah Shallahu &#8216;alaihi wassalam? ataukah tahu tapi pura-pura tidak tahu? Semoga mereka tidaklah termasuk orang tahu tapi berpura-pura tidak tahu.</p>
<p><em>Jadi masihkah anda ingin bertanya tentang zodiak anda?<br />
Masihkah anda bertanya akan peruntungan anda?</em></p>
<p><a title="Abdul Al Hafizh" href="https://plus.google.com/117680128093609333358/" target="_blank">Abdul Al Hafizh</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ygennet.or.id/2013/03/apa-kabar-zodiakmu-hari-ini.htm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
