<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654</atom:id><lastBuildDate>Thu, 22 Oct 2026 19:04:44 +0000</lastBuildDate><category>ADHD</category><category>CPT</category><category>TOVA</category><category>Terapi anak hiperaktif</category><category>Terapi neurofeedback untuk anak ADHD</category><title>psikiater di Jakarta</title><description></description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>38</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-6544760220219169593</guid><pubDate>Thu, 06 Sep 2018 23:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-09-06T16:26:54.243-07:00</atom:updated><title>Terapi Repetitive Transcranial Magnetic Stimulation (rTMS) di Jakarta Indonesia </title><description>rTMS adalah metode terapi non invasif untuk stimulasi otak dengan menggunakan magnet yang ditargetkan pada suatu area tertentu di otak. Pengaplikasian stimulasi berulang dapat memberbaiki komunikasi antar sel melalui potensiasi jangka panjang. Pada pelaksanaannya tidak dibutuhkan anestesi seperti pada terapi ECT, sehingga dapat menurunkan efek samping dari obat-obatan dan memiliki risiko yang jauh lebih rendah.&lt;br /&gt;
Prosedur ini berlangsung selama kurang lebih 30 menit hingga 1 jam per sesinya. Jumlah sesi terapi menyesuaikan dengan tingkat keparahan dan jenis penyakit yang diderita (biasanya 5 hari per minggu, durasi hitungan minggu - bulan). Saat prosedur berlangsung, pasien diposisikan duduk dan kumparan elektromagnetik akan dipasangkan didekat kepala pasien. Kemudian gelombang magnetic tersebut akan bergerak menuju bagian otak yang dituju dan menginduksi saraf-saraf tertentu. Target otak yang dituju berbeda-beda dengan frekeuensi yang bervariasi sesuai dengan penyakitnya.&lt;br /&gt;
Umumnya terapi ini digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit psikiatri seperti depresi atau skizofrenia, namun ternyata manfaatnya juga ditemukan untuk penyakit lain, seperti penyakit neurologis. Bahkan baru-baru ini ditemukan bhwa rTMS dapat membedakan jenis gangguan kognitif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Efek samping yang mungkin timbul dari prosedur ini antara lain adalah :&lt;br /&gt;
- Rasa mengambang&lt;br /&gt;
- Gangguan pendengaran sementara&lt;br /&gt;
- Nyeri kepala ringan&lt;br /&gt;
- Kesemutan di wajah&lt;br /&gt;
- Kejang (sangat jarang)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontra indikasi rTMS adalah :&lt;br /&gt;
- Klip / kumparan aneurisma&lt;br /&gt;
- Pecahan peluru&lt;br /&gt;
- Alat pacu jantung atau ICD (implantable cardioverter defibrillators)&lt;br /&gt;
- Tato wajah dengan tinta magnetic yang sensitive terhadap magnet&lt;br /&gt;
- Stimulator yang diimplantasi&lt;br /&gt;
- Implan metal di telinga atau mata&lt;br /&gt;
- Stent di leher atau kepala&lt;br /&gt;
https://www.healthline.com/health/depression/repetitive-transcranial-magnetic-stimulation#how-it-works&lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3271460/?report=printable &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indikasi penggunaan rTMS :&lt;br /&gt;
Diagnostik :&lt;br /&gt;
- Membedakan antara Alzheimer disease dengan Frontotemporal demensia&lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28747446&lt;br /&gt;
Terapeutik :&lt;br /&gt;
- Depresi &lt;br /&gt;
Beberapa penelitian meneliti tentang penggunaan rTMS dibandingkan dengan ECT dan penggunaan obat-obatan antidepresan. &lt;br /&gt;
rTMS dinilai lebih aman dan efektif dibandingkan ECT.&lt;br /&gt;
Penggunaan rTMS bukanlah sebagai monoterapi, melainkan sebagai terapi adjuvant pada gangguan depresi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20361902 &lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28030740 &lt;br /&gt;
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0006322399002541&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Psikotik&lt;br /&gt;
Penggunaan rTMS dinyatakan efektif untuk mengurangi gejala halusinasi auditorik pada pasien psikotik.&lt;br /&gt;
Hasil beragam ditemukan pada penggunaan rTMS untuk menggurangi gejala negative pada pasien skizofrenia.&lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20361902 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Mania&lt;br /&gt;
Terapi rTMS pada pasien mania memiliki hasil beragam, tetapi dengan pengaplikasian pada target lokasi otak yang tepat ditemukan dapat mengurangi gejala.&lt;br /&gt;
https://ajp.psychiatryonline.org/doi/abs/10.1176/ajp.155.11.1608?url_ver=Z39.88-2003&amp;rfr_id=ori:rid:crossref.org&amp;rfr_dat=cr_pub%3dpubmed &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- ADHD&lt;br /&gt;
Studi menemukan hasil yang menjanjikan untuk terapi tambahan pada pasien ADHD. Perbaikan atensi dan focus ditemukan pada pasien yang mendapatkan terapi rTMS.&lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12740156 &lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20521875&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- OCD&lt;br /&gt;
rTMS pada OCD pada beberapa penelitian memberikan hasil yang beragam, ada yang menunjukkan efektivitas, namun ada pula yang tidak menunjukkan efektivitas.&lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3128260/ &lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28030740 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Dyscalculia&lt;br /&gt;
Salah satu penelitian menunjukkan potensi penggunaan rTMS untuk meningkatkan kemampuan berhitung pada pasien dengan dyscalculia, namun penelitian lanjutan masih diperlukan. &lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3916771/pdf/fnhum-08-00038.pdf &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Stroke&lt;br /&gt;
rTMS digunakan sebagai terapi tambahan untuk menstimulasi koordinasi motorik pada pasien pasca stroke.&lt;br /&gt;
https://onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf/10.1111/j.1600-0404.2009.01195.x &lt;br /&gt;
https://onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf/10.1111/j.1468-1331.2009.02746.x&lt;br /&gt;
http://n.neurology.org/content/65/3/466 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Parkinson’s Disease&lt;br /&gt;
Fungsi motorik pada pasien Parkinson ditemukan meningkat pada beberapa penilitian, dan dapat digunakan sebagai terapi tambahan.&lt;br /&gt;
Selain itu, pasien Parkinson yang mengalami depresi pun juga dapat diterapi dengan rMTS.&lt;br /&gt;
https://onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf/10.1046/j.1468-1331.2003.00649.x &lt;br /&gt;
https://link.springer.com/article/10.1007%2Fs10072-015-2345-4 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Gangguan kognitif (Alzheimer disease)&lt;br /&gt;
rTMS ditemukan dapat meningkatkan fungsi kognitif pada pasien geriatri yang mengalami gangguan kognitif.&lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28493371 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Kejang / epilepsi&lt;br /&gt;
Meski ada kemungkinan efek samping menginduksi kejang, ternyata rTMS pada frekuensi yang tepat justru dapat menurunkan kejang.&lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17493877 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Adiksi (rokok, alcohol, NAPZA)&lt;br /&gt;
Beberapa penelitian menunjukkan penurunan tingkat kecanduan (craving) pada rokok (nikotin), alcohol, dan obat-obatan terlarang. Terapi ini dapat digunakan bersamaan dengan terapi obat, psikoterapi, dan terapi tambahan lainnya.&lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19183128 (rokok)&lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20078462 (alkohol)&lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16971058 (kokain)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Amyotrophic lateral sclerosis (ALS) &lt;br /&gt;
Beberapa penelitian tengah mencari efektivitas rTMS untuk ALS, meskipun hasilnya beragam, terapi ini layak untuk dipertimbangkan sebagai terap adjuvant pada pasien ALS.&lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20406177 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Fibromyalgia&lt;br /&gt;
rTMS menunjukkan hasil positif pada pasien dengan fibromyalgia dengan menurunkan rasa nyeri pada pasien, meskipun gejala depresinya tidak ditemukan perbedaan dibandingkan dengan placebo.&lt;br /&gt;
https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/papr.12276 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tinitus&lt;br /&gt;
Penelitian awal menunjukkan potensi rTMS untuk terapi tinitus.&lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5301432/ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Afasia&lt;br /&gt;
Perbaikan afasia pada pasien post stroke dengan rTMS.&lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3589757/pdf/nihms430782.pdf &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Nyeri kronis&lt;br /&gt;
Hasil penelitian menunjukkan efektivitas rTMS untuk mengurangi rasa nyeri pada penderita nyeri kronis, meski begitu durasi dan frekuensinya masih perlu dikaji lebih lanjut.&lt;br /&gt;
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5594801/ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj99whM9AOUtxHPpsM2Ns4zbIBBdOPH0r13HI_lQHpO5cvyjsk1x6wWGS84IZacK3reSpSxAh7cnNYMC0CoNzOCCs-2lh9zZ2QAUqomnlYOy9qbNtsBIDr326KCFNj8aIZ_HZw_dFqJ5L0/s1600/IMG_8372.PNG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj99whM9AOUtxHPpsM2Ns4zbIBBdOPH0r13HI_lQHpO5cvyjsk1x6wWGS84IZacK3reSpSxAh7cnNYMC0CoNzOCCs-2lh9zZ2QAUqomnlYOy9qbNtsBIDr326KCFNj8aIZ_HZw_dFqJ5L0/s320/IMG_8372.PNG" width="180" height="320" data-original-width="359" data-original-height="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3IqoWEwLCWlU59xV40aNfSxUSEPvzDtP7M8wTHJQrJQFiuMXgFb3AzaFSDfaWlZsa_0f0BAGsOBmtGGG6JTK3VaOJbP4T25ZGB8PpsKUiP65wzk00AdqJAglgruPB2a1yE5W-C-83jKg/s1600/IMG_8373.PNG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3IqoWEwLCWlU59xV40aNfSxUSEPvzDtP7M8wTHJQrJQFiuMXgFb3AzaFSDfaWlZsa_0f0BAGsOBmtGGG6JTK3VaOJbP4T25ZGB8PpsKUiP65wzk00AdqJAglgruPB2a1yE5W-C-83jKg/s320/IMG_8373.PNG" width="320" height="180" data-original-width="640" data-original-height="359" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2018/09/terapi-repetitive-transcranial-magnetic.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj99whM9AOUtxHPpsM2Ns4zbIBBdOPH0r13HI_lQHpO5cvyjsk1x6wWGS84IZacK3reSpSxAh7cnNYMC0CoNzOCCs-2lh9zZ2QAUqomnlYOy9qbNtsBIDr326KCFNj8aIZ_HZw_dFqJ5L0/s72-c/IMG_8372.PNG" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-6929847547229712083</guid><pubDate>Sat, 17 Mar 2018 16:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-03-17T09:30:08.511-07:00</atom:updated><title>Beda Psikiater dan Psikolog</title><description>Pada tulisan saya tentang bagaimana perjuangan menjadi psikiater masih banyak pertanyaan yang belum bisa membedakan psikiater dan psikolog. Untuk itu saya mencoba menuliskan kembali apa beda psikiater dan psikolog.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Psikiater adalah seorang dokter (yang tentunya lulusan Fakultas Kedokteran) yang kemudian mengkhususkan diri dalam spesialisasi untuk mengobati pasien-pasien dengan gangguan jiwa dari yang ringan sampai yang berat dan karena psikiater adalah seorang dokter maka masyarakat memanggilnya "DOK". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Psikolog adalah seorang ahli kejiwaan yang sekolahnya di Fakultas Psikologi dan kemudian dapat melanjutkan studinya untuk menjadi psikolog Industri organisasi atau psikolog pendidikan atau psikolog klinis dan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, jika seseorang mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang dokter ahli kejiwaan (Psikiater) maka ia harus menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran terlebih dahulu dan hal ini tidak bisa ditawar lagi. Demikian pula jika seseorang ingin menjadi ahli kejiwaan (Psikolog) tetapi bukan DOKTER maka ia harus menempuh pendidikannya di Fakultas Psikologi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang psikolog bisa juga dipanggil "DOK" jika ia telah mencapai gelar DOKTOR (S3).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menjadi seorang psikolog rata-rata masa studi adalah 6 tahun sedangkan untuk menjadi seorang psikiater (Dokter spesialis kedokteran jiwa) maka ia harus menempuh rata-rata masa studi selama minimal 10 tahun, bisa lebih lama tetapi tidak bisa lebih cepat dari itu. Belum lagi dulu ada peraturan harus tugas ke daerah dulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang psikolog klinis biasanya bekerja bersama dengan psikiater  di setting klinik maupun di Rumah sakit/ RS Jiwa. Tentunya, walaupun sama-sama bekerja di rumah sakit, seorang psikolog tidak diijinkan untuk menulis resep obat karena latar belakang pendidikannya bukan seorang dokter. Tetapi di lain pihak, seorang psikolog sangat ahli dalam melakukan tes diagnostik, tes IQ, Tes minat bakat, dan tes-tes kejiwaan lainnya yang tidak mampu dilakukan oleh seorang psikiater.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keduanya mampu memberikan psikoterapi dan konseling dan sesuai standar internasional seyogyanya pemahaman  seorang psikolog maupun psikiater tentang neuroscience sama baiknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2018/03/beda-psikiater-dan-psikolog.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-5782680691518237600</guid><pubDate>Wed, 29 Nov 2017 21:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-11-29T13:20:01.038-08:00</atom:updated><title>It’s Not You, It’s Your Brain: How Body Mass Index and Body Fat Percent correlate with Brain Structure.</title><description>Obesity has become a worldwide epidemic. In Canada alone, the prevalence of obesity had doubled between 1981 and 2007/09 with over one in four Canadian adults are obese (Public Health Agency of Canada and Canadian Institute for Health Information, 2011). Obesity has been associated with changes in brain structure, especially neural networks involved in cognition, motivation, impulse control, and salience processing (Raji et al., 2010; Taki et al., 2008). Understanding the association between obesity and specific brain structure will shed some light on obesity-related cognitive and behavioural differences and, consequently, pave the way to treatment and prevention.&lt;br /&gt;
The National Post recently reported the findings of a study that found overweight and obese people having significantly less grey and white matter in key areas of the brain, offering a biologically plausible explanation for why overweight people tend to have reduced cognitive functioning, greater impulsivity, and altered reward processing (Kirkey, 2016). Reporting on changes across the whole brain, people with a higher Body Mass Index (BMI) or Body Fat Percent (BFP) had slightly more grey matter, while no significant difference in white matter was found between lean and overweight people. Specific brain networks, however, showed heavier people having less white matter in the salience network and dorsal striatum, brain regions involved in reward processing and habitual behaviour, respectively. The news article quoted the lead researcher’s comment that, “it stands to reason that these changes could further affect the ability of overweight individuals to exert self-control and maintain healthy lifestyle choices.” He further commented that the study could not answer whether differences in brain structure make certain individuals prone to becoming obese or poor diet, lifestyle, and/or body composition cause these differences. More and larger studies were warranted (Kirkey, 2016).&lt;br /&gt;
The news article published by the National Post corresponded well to the study published in Frontiers in Neuroscience (Figley, Asem, Levenbaum, &amp; Courtney, 2016). The study demonstrated that body composition (i.e. BMI and BFP) was positively correlated with global gray matter volume, while no correlation with global white matter volume was found, after corrected for age, gender, and total intracranial volume. The structural imaging data indicated that individuals with higher BMI and/or BFP exhibited reductions in white matter volume and microstructure surrounding the dorsal striatum and regions of the default mode network, executive control network, and salience network (Figley et al., 2016). It is important to note that the study did not directly answer whether the observed structural and functional brain differences were likely to cause decreases in cognitive performance and self-control in overweight and obese individuals. Interpreting the study findings in the context of previous research might, however, provide some insight (Figley et al., 2016). Given the role of the mesolimbic pathways of the dopaminergic system in reward processing, motivation, and willpower, the reductions of gray and white matter throughout these pathways induce lower than normal reward responses and consequently, maintain addictive behaviours, including overeating or eating high-fat, high-sugar foods, to elicit similar pleasure responses (Blum, Thanos, &amp; Gold, 2014; Kolb, Whishaw, &amp; Teskey, 2016).&lt;br /&gt;
Although the recent study failed to answer whether differences in brain structure made certain individuals prone to becoming obese or vice versa, it contributed to the understanding of obesity as a complex disease. Recognizing obesity as a chronic disease will help reduce the stigma often associated with the condition and stop regarding obesity as a lifestyle/behaviour problem, but a medical condition that requires effective prevention and lifelong treatment strategies (Rich, 2015). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh: Monica Purnama,MSc., Calgary-Alberta, Canada&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
References&lt;br /&gt;
Blum, K., Thanos, P. K., &amp; Gold, M. S. (2014). Dopamine and glucose, obesity, and reward deficiency syndrome. Frontiers in Psychology , 5 (919). Retrieved November 15, 2016, from http://journal.frontiersin.org/article/10.3389/fpsyg.2014.00919/full&lt;br /&gt;
Figley, C. R., Asem, J. S., Levenbaum, E. L., &amp; Courtney, S. M. (2016). Effects of body mass index and body fat percent on default mode, executive control, and salience network structure and function. Frontiers in Neuroscience , 10 (234). Retrieved November 14, 2016, from http://journal.frontiersin.org/article/10.3389/fnins.2016.00234/full&lt;br /&gt;
Kirkey, S. (2016, July 6). Does fat affect your brain? Study finds obese have less grey and white matter in key areas. Retrieved November 15, 2016, from National Post: http://news.nationalpost.com/health/does-fat-affect-your-brain-study-finds-obese-have-less-grey-and-white-matter-in-key-areas?__lsa=ea52-9391&lt;br /&gt;
Kolb, B., Whishaw, I. Q., &amp; Teskey, G. C. (2016). An introduction to brain and behavior (5th ed.). New York, NY: Worth Publishers.&lt;br /&gt;
Public Health Agency of Canada and Canadian Institute for Health Information. (2011). Obesity in Canada: A joint report from the Public Health Agency of Canada and the Canadian Institute for Health Information. Retrieved November 14, 2016, from Public Health Agency of Canada: http://www.phac-aspc.gc.ca/hp-ps/hl-mvs/oic-oac/assets/pdf/oic-oac-eng.pdf&lt;br /&gt;
Raji, C. A., Ho, A. J., Parikshak, N. N., Becker, J. T., Lopez, O. L., Kuller, L. H., et al. (2010). Brain structure and obesity. Human Brain Mapping , 31, 353-364.&lt;br /&gt;
Rich, P. (2015, October 9). CMA recognizes obesity as a disease. Retrieved November 15, 2016, from Canadian Medical Association: https://www.cma.ca/En/Pages/cma-recognizes-obesity-as-a-disease.aspx&lt;br /&gt;
Taki, Y., Kinomura, S., Sato, K., Inoue, K., Goto, R., Okada, K., et al. (2008). Relationship between body mass index and gray matter volume in 1,428 healthy individuals. Obesity , 16, 119-124.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2017/11/its-not-you-its-your-brain-how-body.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-7136219725693368182</guid><pubDate>Wed, 29 Nov 2017 20:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-11-29T12:29:25.303-08:00</atom:updated><title>Selayang pandang tentang Dialectical Behavior Therapy (DBT)</title><description>Dialectical behavior therapy (DBT) dikembangkan oleh Marsha Linehan, adalah sebuah teknik yang luar biasa efektif untuk mengatasi kondisi emosional yang berlebihan. Penelitian menunjukkan bahwa DBT memperkuat kemampuan seseorang untuk mengatasi distres tanpa kehilangan kendali atau bertindak destruktif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak orang berjuang dengan emosi-emosinya yang luar biasa. Hal ini seakan-akan emosinya disetel pada volume maksimum sebanyak yang mereka dapat rasakan. Ketika mereka merasa marah, sedih atau takut, emosinya ini  muncul sebagai sebuah gelombang besar yang sangat kuat menyapu diri mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Anda merasakan emosi besar dalam kehiudpan Anda, Anda tentunya memahami apa yang sedang kita bahas di sini. Ada hari-hari ketika emosi Anda menghantam Anda bagaikan Tsunami. Ketika hal itu terjadi, membuat Anda 'memahami' rasa takut untuk merasakan banyak hal karena Anda tidak ingin terlempar oleh emosi Anda. Masalahnya adalah, semakin Anda menekan emosi Anda, semakin besar emosi tersebut Anda rasakan. Perlu kemampuan untuk meregulasi emosi dalam hal ini. Hal yang penting untuk diketahui saat ini adalah bagaimana berusaha menghentikan perasaan berlebihan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Trauma-trauma sebelumnya yang kita alami dapat mengubah struktur otak kita sehingga kita akan mengalami intensitas yang lebih rentan ketika merasakan emosi negatif. Walaupun ternyata akar dari kecenderungan intensitas emosi itu ternyata berasal dari genetik kita atau dengan kata lain, adanya trauma bukan berarti kita tidak dapat kita mengatasi masalah tersebut. Dengan semacam ketrampilan dalam DBT ini sudah ribuan orang di dunia ini mampu mengendalikan emosi berlebih tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DBT mengajarkan 4 ketrampilan penting yang dapat mengurangi ukuran gelombang emosi dan menolong Anda mempertahankan keseimbangan ketika emosi-emosi tersebut mengganggu Anda. keempat skill tersebut adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Toleransi terhadap distress yang akan membantu Anda beradaptasi lebih baik dengan kejadian-kejadian yang menyakitkan dengan membangun ketahanan diri Anda dan memberikan cara baru bagi Anda untuk melunakkan efek-efek yang membuat Anda marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Mindfulness (Kesadaran mental) akan membantu Anda mengalami momen saat kini ketika Anda secara otomatis terfokus pada pengalaman rasa sakit di masa lalu atau merasa takut akan kemungkinan-kemungkinan di masa depan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Ketrampilan meregulasi emosi akan membantu Anda untuk lebih menyadari secara jernih apa yang Anda rasakan dan kemudian mengamati setiap emosi tanpa merasakannya secara berlebihan. Tujuannya adalah untuk memodulasi perasaan Anda untuk tidak menjadi cara yang reaktif dan destruktif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Efektifitas interpersonal memberikan Anda alat baru untuk mengekspresikan keyakinan-keyakinan dan kebutuhan-kebutuhan Anda, menentukan batas, dan menegosiasikan solusi-solusi masalah Anda - dan semua ini dalam konteks melindungi relasi Anda dan memperlakukan orang lain dengan penuh penghargaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan ini ditulis disela-sela menyelesaikan disertasi di Calgary-Alberta Canada.</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2017/11/selayang-pandang-tentang-dialectical.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-6237162093874630100</guid><pubDate>Fri, 17 Nov 2017 17:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2017-11-17T09:46:46.131-08:00</atom:updated><title>Foto foto kenangan</title><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEieBzn3W61R5pjFQNteXwVSlyVGFWbQ1Wh5HURAdV4ry1wmh71uYJELiP68KFdkgT8VQ_x3izfMzWjOwhtUuAKhTzcnOAlxrZHgLg19qcldJpftv5lPZV1vtTbyiyjGYF4yn7TjOVdJiy8/s1600/IMG_3330.JPG" imageanchor="1" &gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEieBzn3W61R5pjFQNteXwVSlyVGFWbQ1Wh5HURAdV4ry1wmh71uYJELiP68KFdkgT8VQ_x3izfMzWjOwhtUuAKhTzcnOAlxrZHgLg19qcldJpftv5lPZV1vtTbyiyjGYF4yn7TjOVdJiy8/s320/IMG_3330.JPG" width="320" height="240" data-original-width="1600" data-original-height="1200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6wLEkqIIMYWiFnhtsKSwji_3HPR3di51Rk6VXBJKlN4wYl9bh3alfO_ZcUIrw7j7C4bxq2xJcSX5veaVkHQw7Oj1ShScuXCiuuXZa_rUnkIrkH6qycq38-fD9gJ2-J36RLkGmG2NeexM/s1600/IMG_6277.PNG" imageanchor="1" &gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6wLEkqIIMYWiFnhtsKSwji_3HPR3di51Rk6VXBJKlN4wYl9bh3alfO_ZcUIrw7j7C4bxq2xJcSX5veaVkHQw7Oj1ShScuXCiuuXZa_rUnkIrkH6qycq38-fD9gJ2-J36RLkGmG2NeexM/s320/IMG_6277.PNG" width="180" height="320" data-original-width="750" data-original-height="1334" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilMT0P_kefV2OtbAMRaP7YZRnaZF5n0YMiyB1XeKzvYK_jSSg-Gu0B0zW6x9s9rCxnZG-jlI9H-0SaPu0u_gsjLCtFxwmiOa-2vGI2rjm1hfH9m_ko5b8caHh5LMAfKJYDblZdsUA58zA/s1600/IMG_5570.JPG" imageanchor="1" &gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilMT0P_kefV2OtbAMRaP7YZRnaZF5n0YMiyB1XeKzvYK_jSSg-Gu0B0zW6x9s9rCxnZG-jlI9H-0SaPu0u_gsjLCtFxwmiOa-2vGI2rjm1hfH9m_ko5b8caHh5LMAfKJYDblZdsUA58zA/s320/IMG_5570.JPG" width="320" height="180" data-original-width="1334" data-original-height="750" /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2017/11/foto-foto-kenangan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEieBzn3W61R5pjFQNteXwVSlyVGFWbQ1Wh5HURAdV4ry1wmh71uYJELiP68KFdkgT8VQ_x3izfMzWjOwhtUuAKhTzcnOAlxrZHgLg19qcldJpftv5lPZV1vtTbyiyjGYF4yn7TjOVdJiy8/s72-c/IMG_3330.JPG" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-9183647807675100878</guid><pubDate>Fri, 06 May 2016 16:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-05-06T09:17:05.565-07:00</atom:updated><title>Budaya Masyarakat dan Uang</title><description>Dalam sebuah acara malam pemilihan mahasiswa berprestasi tahun 2016 di salah satu universitas swasta di Jakarta, sebagai salah satu juri undangan, saya memperhatikan betapa gegap gempitanya para mahasiwa, dosen, karyawan universitas dan para orang tua mahasiswa  saling berinteaksi di acara tersebut. Menurut pendapat saya, salah satu hal yang mendasari kemeriahan acara tersebut adalah bahwa acara tersebut merupakan sebuah simbolisasi “kesuksesan akademik” yang dinyatakan dalam bentuk penghargaan berupa penyematan sebuah selendang bertuliskan ‘mahasiswa berprestasi 2016’ dan hadiah uang sebesar lima juta rupiah. Melalui acara tersebut, secara spontan dalam benak saya muncul sebuah pertanyaan, apa yang menjadi simbol kesuksesan masa kini? Gaya hidup adalah mungkin jawabannya. Gaya hidup dengan simbol-simbol yang dimaknai sebagai simbol kesuksesan di sini termasuk juga acara-acara malam penganugerahan seperti ini. Mulai yang dinilai kontroversial oleh segelintir golongan di Indonesia  seperti Miss Universe karena memakai bikini, Putri Indonesia, Putri Kampus, Abang dan None Jakarta, dan lain sebagainya adalah simbol-simbol kesuksesan yang telah menjadi bagian dari gaya hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena merupakan bagian dari gaya hidup maka jelas acara –acara seperti ini pun tidak lepas dari dukungan para sponsor yang menawarkan banyak produk-produk yang mensimbolisasikan penggunanya seakan-akan dapat tampil seperti tokoh idola. Kehidupan kota besar seperti Jakarta memacu masyarakatnya untuk mengejar simbol-simbol (termasuk mode fashion) gaya hidup materialistik dengan mengkonsumsi merek-merek produk terkenal yang sering diiklankan (termasuk yang sering mensponsori acara-acara di atas) dan menjadi ikon gaya hidup metropolis. Dorongan untuk mengejar gaya hidup ini tanpa disadari membentuk sikap mental masyarakat dalam menjalani kehidupannya saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rutinitas pekerjaan yang menyibukkan diri kita dan perubahan dalam masyarakat yang cepat seringkali membuat kita menjadi tidak sempat merefleksikan pola-pola kehidupan kita saat ini yang membentuk interaksi antarindividu  semakin anonim. Kehidupan yang dimediasi oleh sains dan teknologi, komoditas dan fenomena-fenomena sosial lainnya muncul sebagai sebuah keterasingan bagi kita. Sosiolog dan filsuf yang tertarik dalam pembahasan tentang budaya kehidupan  dan gaya hidup modern seperti ini adalah Georg Simmel.  &lt;br /&gt;
Karya Georg Simmel lebih menekankan tingkat kenyataan sosial yang bersifat interpersonal yaitu antara realisme dan nominalisme. Simmel menjembatani posisi Emile Durkheim dan Max Weber.  Simmel melihat masyarakat lebih daripada sekedar suatu kumpulan individu serta pola perilakunya, namun masyarakat juga tidak terlepas dari individu yang membentuknya. Sebaliknya masyarakat membentuk pola-pola interaksi timbal balik antarindividu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Riwayat Hidup Singkat Georg Simmel&lt;br /&gt;
Georg Simmel lahir tanggal 1 Maret tahun 1858 di pusat kota Berlin dari keluarga keturunan Yahudi. Ayahnya yang seorang pengusaha kaya  meninggal ketika ia masih kecil dan ayahnya berpindah dari agama Yahudi ke Katolik. Ibunya adalah seorang Kristen Protestan Lutheran dan semua anaknya dibaptis sebagai Protestan. Pemikiran Simmel menangkap tegangan berbagai aliran dan kecenderungan moral serta intelektual zamannya. Ia merasakan tegangan sebagai orang kota besar karena tinggal di Berlin yang saat itu berkembang pesat sebagai kota metropolitan. Ia berada dipersilangan sosiologi dan filsafat. Pemikirannya patut disejajarkan dengan Max Weber dan Emile Durkheim. Ia adalah seorang pemikir modern yang fokus pada gaya hidup metropolitan.  &lt;br /&gt;
Sebagai seorang Yahudi yang masuk gereja protestan maka ia ditolak oleh kaumnya dan juga dicurigai di kalangan Protestan. Selain itu walaupun ia berasal dari keluarga kaya yang dapat mempertahankan hidup borjuisnya, ia sendiri tidak berhasil mendapatkan uang dari kariernya. Ia mendapatkan gelar doktoralnya dari Universitas Berlin tahun 1881 dan mulai mengajar di sana tahun 1885. Kuliah-kuliahnya begitu berhasil karena ia seorang guru yang cemerlang, peka dan sangat mendalam pengetahuannya mengenai banyak macam hal. Walaupun demikian, pada saat itu sedang marak gerakan antisemintik di Jerman dan karena ia orang Yahudi maka ia didiskriminasi dan hanya diangkat menjadi dosen-privat, yaitu dosen yang tidak dibayar yang gajinya berdasarkan pembayaran mahasiswanya. Kemudian ia menerima gelar kehormatan sebagai “Profesor Luar Biasa” tanpa kompensasi uang. Ia menerima posisi sebagai profesor penuh pada usia 56 tahun dari Universitas Strasbourg namun malang nasibnya karena karier akademiknya terhenti akibat pecah perang. &lt;br /&gt;
Posisi marginal yang dialaminya ini bagaimanapun juga mempengaruhi pandangannya. Ia sendiri memperbesar marginalitasnya dengan menolak menyesuaikan diri dengan suatu spesialisasi yang sudah diakui dalam dunia akademis. Minatnya yang luas tersebar mulai dari epistemologi Kant sampai ke psikologi, filsafat  dan sosiologi mengenai makanan serta mode fashion. Dalam proses mengikuti dorongan hatinya ini, ia mengembangkan sejumlah sketsa yang analitis dan brilian, namun hasil keseluruhannya bersifat fragmen-fragmen saja. (Johnson, 1981)&lt;br /&gt;
Karya-karya Simmel yang terkenal, yang menangkap detail perasaan-perasaan hidup orang kota besar diantaranya: Philosophie des Geldes (Filsafat Uang, 1900), The Metropolis and Mental Life (1903),   Philosophy of Fashion (1905).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat Sebagai Interaksi Timbal-balik&lt;br /&gt;
Sebelum membahas lebih jauh tentang pandangan-pandangan Simmel yang terkenal maka kita perlu memahami pendekatan konsep munculnya masyarakat menurut Simmel. Pendekatan Simmel meliputi pengidentifikasian dan penganalisaan pola-pola sosialisasi yang berulang. Kata “sosialisasi” di sini adalah terjemahan kata Jerman Vergesellschaftung, yang secara harafiah berarti “proses di mana masyarakat itu terjadi”. Sosialisasi meliputi interaksi timbal-balik. Melalui proses ini, individu saling berhubungan dan saling mempengaruhi, dengan demikian muncullah masyarakat. (Johnson, 1981)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses interaksi timbal-balik ini mengusahakan keseimbangan antara pandangan nominalis dan pandangan realis. Menurut Simmel, sebagai suatu disiplin ilmiah, sosiologi harus memiliki identifikasi dan analisa mengenai berbagai pola yang berulang dalam interaksi timbal-balik ini sehingga muncullah masyarakat. Sebagai contoh, sekumpulan individu yang sedang menunggu di stasiun kereta dan saling berdiam diri satu sama lain bukanlah sebuah masyarakat. Ketika misalnya  ada pengumuman bahwa kereta terlambat datang karena ada kecelakaan seperti  ada gerbong yang tergelincir dari rel-nya maka antar individu tersebut mulai terjadi interaksi dengan saling terlibat dalam pembicaraan,  maka di sana muncullah masyarakat.(Johnson, 1981) &lt;br /&gt;
Proses sosialisasi dalam masyarakat ini juga bermacam-macam, mulai dari pertemuan sepintas lalu antara orang-orang yang tidak saling mengenal di tempat umum sampai ke ikatan persahabatan yang lama dan intim atau hubungan keluarga. Tanpa memandang tingkat variasinya, proses sosialisasi ini mengubah suatu kumpulan individu menjadi suatu masyarakat. Kesimpulannya, masyarakat ada apabila sejumlah individu terjalin melalui interaksi dan saling mempengaruhi. (Johnson, 1981) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang dan Hubungan Sosial&lt;br /&gt;
Menurut Georg Simmel, keterasingan dalam kehidupan modern saat  ini disebabkan oleh fenomena uang dan fashion. Apa yang mendasari semua ini? Tentunya adalah manusia. Uang dan fashion dihasilkan oleh manusia. Pada hakikatnya, manusia menurut Simmel adalah makhluk yang dinamis yang  terus berubah sesuai dengan kondisi ruang dan waktu atau boleh disebut sesuai dengan zamannya. Jadi manusia itu tidak memiliki hakikat yang permanen seperti pandangan para filsuf kuno. Manusia yang muncul di zaman modern ini disebut manusia kota atau manusia urban. Manusia urban adalah manusia yang diaktualkan “kodrat”-nya sesuai dengan tegangan hidup dalam kota. (Hardiman, 2016)&lt;br /&gt;
Untuk lebih jelas melihat fenomena kota besar ini maka baiknya kita menelaah tulisannya The Metropolis and Mental Life bahwa di kota besar kita akan secara ajeg dihujani informasi sehingga ada “intensifikasi stimulasi sel syaraf”. Semua hal adalah baru, cepat, dan tidak kekal, warga kota dikelilingi oleh orang-orang asing dan iklan-iklan, tanda jalan dan pesan-pesan lainnya. Semua aspek kehidupan urban yang bervariasi ini mengancam panca indera kita terhadap diri sendiri dan kemampuan kita menjadi subjek yang memiliki otonomi di lingkungan kota metropolitan. Pada akhirnya, untuk menyesuaikan diri dengan situasi ini, kita harus menutup beberapa respon emosi kita dan mengembangkan sikap yang disebut oleh Simmel adalah sikap blasé.  Sikap blasé ini adalah sikap tidak peduli perbedaan individual, anonim dan berjarak. (Smith dan Riley, 2009)&lt;br /&gt;
Fungsi, rasionalitas dan impersonalitas dalam hubungan sosial modern disimbolkan dan dipermudah dengan uang. Simmel mengembangkan pemikirannya ini dalam esainya yang berjudul The Philosophy of Money. Sebagai suatu ukuran nilai yang objektif, uang memungkinkan produk-produk atau jasa-jasa yang benar-benar tidak serupa itu dibandingkan satu sama lain untuk menentukan nilai relatifnya dalam transaksi pertukaran. (Johnson, 1981)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan adanya uang maka bentuk perdagangan barter ditiadakan. Uang menjadi pihak ketiga yang membuat penjual dan pembeli bisa tidak bertemu untuk saling menukarkan barangnya melainkan diperantarai uang tersebut. Jika dulu ada proses sentuhan kepribadian antara individu penjual dan pembeli ketika hendak melakukan barter maka kini tidak ada lagi. &lt;br /&gt;
Dengan kejadian ini, uang membuat segala sesuatu yang dihargai menurut nilainya menjadi sama. Terjadi anonimisasi atau depersonalisasi. Uang menyingkirkan salah satu aspek manusia sebagai makhluk pembeda.  Kalau makhluk pembeda cenderung disamakan sekaligus dibedakan, uang membuatnya hanya disamakan. Semua hal, termasuk orang, adalah sama di hadapan uang, yaitu dapat dijual atau dibeli. (Hardiman, 2016) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena uang adalah suatu ukuran nilai yang objektif maka penggunaannya meningkatkan rasionalitas dalam transaksi antar pribadi. Tidak ada lagi hak dan kewajiban timbal-balik dalam interaksi sosial tradisional, bahkan individu pun sebagai pribadi dinilai dengan uang. Manusia tidak lagi dipandang sebagai individu manusia seutuhnya melainkan sebagai “berapa banyak uangnya”. Di pasar, seorang penjual tidak mengetahui siapa pembelinya kecuali jika pembeli itu memiliki uang yang cukup. Perkembangan moneter dapat menghambat perkembangan hubungan pribadi bahkan pada saat mereka sedang memperluas ruang lingkup hubungan tersebut. Bahkan dalam ekonomi pasar uang, uang itu sendiri diperdagangkan sebagai komoditi yang mempunyai “nilai” tersendiri.&lt;br /&gt;
Uang yang awalnya hanya alat tukar akhirnya dijadikan tujuan akhir dan memiliki otonominya di hadapan pemiliknya. Uang dapat mempertinggi kebebasan individu. Dalam suatu masyarakat yang didominasi oleh perhitungan moneter maka ada kecenderungan bahwa setiap produk, jasa yang dapat diterima, atau pengalaman pribadi ditawarkan untuk dijual. Orang yang banyak uang dapat mengambil keuntungan dari kecenderungan ini dan dapat memperluas jangkauan pengalamannya dengan cara apa saja yang mereka mau. Gaya hidup individu tidak lagi banyak ditentukan oleh kebiasaan dan tradisi melainkan ditentukan oleh sumber-sumber keuangan yang mereka miliki untuk membeli perlengkapan yang diperlukan untuk gaya hidup yang mereka ingini. Dengan demikian, seakan-akan kebahagiaan hidup terkait dengan kepemilikan uang. Uang lalu dijadikan “Allah” zaman modern. Kepemilikan uang menimbulkan “rasa damai dan aman”, seperti “perasaan yang ditemukan orang saleh di dalam Tuhannya”. Dan perasaan seperti itu tidak ditimbulkan oleh jenis-jenis kepemilikan lainnya. (Johnson, 1981; Hardiman, 2016)  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uang dapat mengubah karakter pemiliknya menjadi mirip dengan karakter uang itu sendiri, yaitu memiliki sikap berjarak, anonim, atau tidak peduli perbedaan individual. Karena uang adalah cakupan umum segala nilai dan interseksi umum atas rentetan tujuan-tujuan maka sikap-sikap pemilik uang akan dibentuk oleh uang yang dimilikinya. Menurut Simmel, sikap blasé manusia urban adalah produk uang.(Hardiman, 2016) &lt;br /&gt;
Pemilik uang membentuk sikap blasé pemiliknya dan sebaliknya juga terjadi. Sikap blasé memungkinkan manusia urban bertransaksi dengan uang, dengan cara yang anonim. Fenomena ini pun banyak terlihat dan cenderung meningkat pada pola perilaku masyarakat Jakarta dewasa ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesimpulan dan Kritik&lt;br /&gt;
 Pandangan Simmel tentang uang dan masyarakat kota metropolitan ini menginspirasi pemikiran Max Weber dalam Etika Protestannya. Georg Lukacs pun menggunakan analisis tentang uang ini dalam menginterpretasikan fetisisme komoditasnya Karl Marx. Kecenderungan kehidupan mental masyarakat Jakarta dalam budaya uang  bahkan sampai pada generasi mudanya pun saat ini menjurus pada praktek sikap blasé sampai pola interaksi seperti yang diungkapkan dalam pemikiran Simmel ini.  Analisanya tentang budaya uang dan kehidupan metropolis ini sangat mengena pada masyarakat di kota-kota besar di Indonesia saat ini. Uraiannya yang analitis seperti peran uang saat ini dan fenomena men-“Tuhan”-kan uang memang terjadi baik dalam simbol mode fashion maupun komoditas uang itu sendiri dalam ekonomi moneter dan pasar uang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun demikian, Simmel seakan-akan tidak melihat adanya pengecualian-pengecualian dalam bentuk pola kolektivitas masyarakat yang mencakup banyak variasi individu dan struktur kelas sosial di masyarakat. Oleh karena itu bisa saja kita mengatakan bahwa pemikirannya ini hanya refleksi superfisial atas  kelas menegah Jerman di jamannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rentang minat pemikiran Simmel  yang luas dan terfragmentasi secara metodologis kurang sistematik dibandingkan Marx, Durkheim atau Weber. Hal ini membuat pemikirannya  dianggap kurang fokus oleh banyak kritikus.   Marxisme mengkritik Simmel bahwa ia tidak memperlihatkan jalan keluar terhadap tragedi budaya ini.&lt;br /&gt;
</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2016/05/budaya-masyarakat-dan-uang.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>8</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-8978885871471746293</guid><pubDate>Tue, 29 Dec 2015 16:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-05-06T09:17:40.528-07:00</atom:updated><title>LOGOTERAPI Sebagai Psikoterapi Mencari Makna Hidup dan Kehidupan yang Lebih Bermakna</title><description>&lt;br /&gt;
Sejak dahulu, terutama para filsuf eksistensial mempertanyakan pilihan-pilihan bebas setiap manusia tentang apakah yang menjadi tujuan hidup manusia tersebut. Apakah kebahagiaan? Kebahagiaan yang seperti apa? Apakah aktualisasi diri? Aktualisasi diri yang bagaimana? Banyak penelitian empirik yang menyatakan bahwa banyak juga orang yang peduli akan penemuan makna hidup sebagai tujuan hidupnya. (Sastrapratedja, 2015)&lt;br /&gt;
Banyak orang yang percaya bahwa hidup yang bermakna adalah kualitas kehidupan yang didambakan setiap manusia. Logoterapi yang juga suka disebut sebagai logofilosofi adalah pendekatan terapeutik-filosofis yang bertujuan membantu seseorang untuk menemukan tujuan dan orientasi hidup mereka dengan penuh makna sehingga dapat mengatasi perasaan hampa dalam ketakbermaknaan hidup dan bahkan rasa keputusasaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Latar Belakang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi masyarakat Indonesia saat ini banyak diliputi oleh rasa frustasi, baik  di kalangan eksekutif, profesional, karyawan biasa sampai para pengangguran dan pensiunan.  Hal ini disebut sebagai frustasi eksistensial. Bagi para karyawan, eksekutif dan profesional, mereka mencurahkan hampir seluruh perhatian dan waktunya untuk pekerjaan mereka. Mereka sangat sibuk dengan tekanan tanggung jawab pekerjaan, tuntutan target pekerjaan sekaligus tuntutan memenuhi nafkah hidup bagi diri dan keluarganya tetapi melupakan “kehidupan” dirinya sendiri. Kemakmuran materi seringkali dijadikan tujuan terakhir atau bahkan tujuan utama satu-satunya pada dirinya sendiri. Banyak orang menaruh perhatian semata-mata pada uang dan dengan uang mereka merasa berkuasa. Bagi para pengangguran dan pensiunan, banyak dari mereka mengalami krisis spiritual dan kecemasan (neurosis). Kebanyakan dari mereka tidak tampak depresi tetapi apatis, acuh tak acuh dan kehilangan inisiatif. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik kaum eksekutif yang mengalami frustasi eksistensial maupun kaum pengangguran dan pensiunan yang mengalami kecemasan ini sama-sama mengalami kekosongan batin, kehampaan hidup, merasa hidupnya tidak bermakna.  Kondisi ketidakbermaknaan  ini sebenarnya juga dapat dialami dan bahkan sering dijumpai dalam  krisis perubahan tahapan kehidupan  lainnya selain memasuki masa pensiun, seperti misalnya saat menginjak remaja, saat memasuki masa berkeluarga atau ketika mengalami krisis-krisis kehidupan lainnya. Hal ini dapat menjurus pada perilaku destruktif seperti kecanduan narkoba, gila seks, fobia, gangguan panik dan gangguan psikiatrik lainnya.  &lt;br /&gt;
Salah satu teknik psikoterapi yang didasari oleh pandangan filsafat yang kental dan dapat membantu orang-orang dalam ketidakbermaknaan yang mendalam tersebut   adalah  Logoterapi.  Logoterapi dikembangkan oleh Victor Emile Frankl, seorang psikiater dari Wina, Austria.  Istilah logoterapi ini sendiri berasal dari dua kata yaitu “logos” dan “terapi, yakni suatu terapi yang menembus dimensi spiritual dari eksistensi manusia.   Kata “logos” dalam bahasa Yunani berarti makna, maksudnya makna menjadi manusia. Seseorang diarahkan pada sesuatu dan bukan pada dirinya sendiri. Dalam hal ini logoterapi merupakan suatu terapi yang diarahkan pada makna, yakni makna dalam dan untuk eksistensi manusia. Karena itu manusia harus menerima tanggungjawab dan menemukan nilai-nilai bagi kehidupannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hidup adalah tugas. Orang yang religius dibedakan dengan yang tidak religius hanya dengan pengalaman eksistensinya yang tidak sesederhana sebuah tugas, tetapi sebagai sebuah misi. Hal ini berarti dia juga menyadari siapa pemberi tugas tersebut, sumber dari misi hidupnya. Untuk beribu-ribu tahun sumber tersebut dinamakan Tuhan.” (Frankl. The Doctor and the Soul, 1986. Hal. xxi) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Logoterapi dikenal sebagai aliran psikoterapi  Wina ketiga. Pada masa itu, ada dua aliran psikoterapi yang terkenal yaitu aliran Freud dengan psikoanalisisnya dan aliran Adler dengan psikologi individualnya. Bagi Frankl, pandangan Freud terlalu menekankan naturalisme dengan pengungkapan seksualitas manusia dan di lain pihak, psikologi individual Adler yang sangat menekankan tanggung jawab pribadi terlalu subjektif terhadap nilai-nilai dan melihat individu sebagai fungsi penentu masyarakatnya. Frankl juga menolak pandangan Adler yang hanya menekankan nilai biologis dan sosial terutama kehendak akan kekuasaan sebagai tujuan hidup konkrit manusia. Menurut kritik Frankl dalam bukunya The Doctor and the Soul, baik Freud maupun Adler terlalu menyederhanakan manusia dan akhirnya jatuh pada nihilisme dan mengabaikan dimensi spiritualitas.&lt;br /&gt;
Tahap selanjutnya, Frankl mulai tertarik kepada fenomenologi Edmund Husserl karena Husserl mulai merintis pendekatan “reduksi”-nya yang menekankan pada pengalaman langsung apa adanya tanpa disertai praduga pada teori yang dianut pengamatnya. Walaupun demikian, Frankl lebih tertarik pada fenomenologi Max Scheler karena menyajikan makna dan tingkatan nilai-nilai. Makna dan nilai-nilai ini dijadikan landasan filosofis logoterapinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Frankl juga tertarik pada eksistensialis seperti Karl Jaspers, Martin Heidegger dan Gabriel Marcel. Eksistensialisme menyajikan konsep tentang kebebasan manusia, yakni kebebasan dalam berkehendak dan dalam memilih serta mengambil sikap. Pandangan ini bersumber pada keyakinan bahwa manusia mampu melampaui, mengubah, dan menjadikan dirinya sesuai yang diinginkan oleh manusia itu sendiri.  Di atas semua landasan pemikiran filsuf-filsuf tersebut Frankl membuat logoterapi sebagai “Aliran Psikoterapi Wina Ketiga”. (Semiun, Y. 2006)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Filsafat Manusia Frankl&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada dasarnya setiap manusia dalam kehidupannya selalu ingin mendapatkan makna. Tanpa mengetahui makna kehidupan, manusia tak mengetahui tujuan hidupnya. Celakalah orang yang tidak lagi melihat makna dalam kehidupannya karena ia akan mengalami frustasi dan perasaan hampa. Frankl melihat dorongan terkuat manusia adalah dalam hal “kehendak akan makna”. Oleh karena itu Frankl memasukkan dalam psikoterapinya dimensi spiritual manusia, yang termanifestasi dalam suara hati (Sastrapratedja. 2015). Kebutuhan akan makna ini lebih kuat daripada sekedar kebutuhan akan kenikmatan (Freud) dan kekuasaan (Adler). Menurut Frankl, ketidakbermaknaan dalam kehidupan zaman sekarang merupakan suatu neurosis dan dia menyebutnya “neurosis noogenik” .  Fenomena orang modern banyak yang menderita kebosanan dan tidak peduli terhadap neurosis noogenik ini karena dua alasan. Pertama, ketika manusia berkembang dari binatang yang lebih rendah, manusia kehilangan insting dan dorongan alamiah yang menghubungkan mereka dengan alam. Hal ini menyebabkan tingkah laku kita tidak “dibimbing” oleh alam sehingga kita harus aktif memilih apa yang yang harus kita lakukan. Untuk dapat memilih yang benar seharusnya manusia belajar lebih dahulu sehingga memiliki kemampuan untuk memilih. Kehidupan modern saat ini banyak dimanipulasi oleh kampanye iklan-iklan dan pandangan-pandangan semu yang berwujud dalam ilusi. Manusia hendaknya memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang ilusi dan mana yang realita sesungguhnya sehingga tidak kehilangan makna. Kedua, seperti yang telah diungkapkan pada yang pertama, dalam masyarakat kita kini terdapat banyak adat kebiasaan, tradisi-tradisi dan nilai-nilai yang menentukan tingkah laku kita (kendali dari luar diri kita). Kekuatan agama terancam oleh nilai-nilai dan tradisi baru dalam masyarakat modern ini, oleh karena itu saat ini manusia diharapkan dapat bersandar pada diri sendiri dan membuat keputusan bagi dirinya sendiri disertai tanggung jawab terhadap keputusan-keputusan tersebut. (Semiun, 2006)&lt;br /&gt;
Menurut Frankl, manusia adalah kesatuan fisiko(bio)-psiko-spiritual. Logoterapi atau logofilosofi menekankan pada dimensi spiritual yang diungkapkan secara fenomenologis dalam bentuk kesadaran diri manusia yang segera. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebebasan manusia ditandai oleh kebebasannya terhadap kondisi-kondisinya, ia melampaui kondisi yang diwariskan atau lingkungannya. Manusia dapat menerima atau menolak bahkan membentuk/ memodifikasi kondisi-kondisi yang mencakup faktor biologis, psikologis dan sosiologisnya. Ia secara bertanggunjawab terhadap dirinya bebas mengalahkan atau menyerahkan diri pada kondisi-kondisinya. Kebebasan manusia ini bukan hanya kebebasan “dari” tetapi juga “untuk”. &lt;br /&gt;
Kebebasan “untuk” ini bertanggung jawab untuk diri manusia sendiri, suara hatinya dan Allah.  Karena seperti yang pertama-tama diuraikan bahwa manusia sebenarnya dalam hidup selalu ingin mendapatkan makna maka ia memiliki kebebasan “untuk” mencari dan menemukan makna tersebut. Makna bukan diciptakan melainkan ditemukan. (Sastrapratedja. 2015) Kehidupan setiap manusia adalah unik. Kehidupan setiap manusia khusus dan tertentu untuk setiap keadaan waktu tertentu. Untuk itu perlu menemukan makna hidup yang spesifik dalam keadaan waktu tersebut selain “makna hidup secara umum”. Seperti yang dikatakan Frankl sendiri, setiap orang bukan hanya memiliki “tugas” melainkan memiliki “misi” kehidupan yang didapat dari Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Landasan Filsafat Logoterapi&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Landasan filsafat dari logoterapi adalah kebebasan berkehendak, hasrat untuk hidup bermakna dan makna hidup. (Frankl.&lt;i&gt; Psychotherapy and Existentialism&lt;/i&gt;. 1967)&lt;br /&gt;
Kebebasan Berkehendak, maksudnya bukan kebebasan berkehendak semaunya sendiri tanpa batas. Frankl mengatakan bahwa manusia tidak bebas dari kondisi-kondisi seperti yang secara alamiah seorang manusia sudah ditentukan kondisi biologis atau psikologis atau sosiologisnya. Walaupun demikian, selalu ada yang tersisa yaitu setiap manusia bebas untuk mengambil jarak dengan kondisinya; Dia bebas mempertahankan kebebasannya untuk memilih sikap terhadap kondisi-kondisi tersebut. Manusia bebas melampaui determinasi eksistensi badaniah dan jiwanya. Melalui kebebasan ini, manusia memiliki dimensi spiritual selain dimensi fisik/badaniah dan fenomena kejiwaannya semata. Manusia menjadi mampu mengambil jarak tidak hanya dengan dunianya melainkan juga dengan dirinya sendiri (&lt;i&gt;self detachment&lt;/i&gt;). Mengambil jarak di sini bisa berarti meninggalkan dimensi biologis dan psikologis lalu masuk ke dalam dimensi noologis atau spiritual. Manusia mampu berefleksi terhadap sesuatu, dan bahkan menolak, dalam dirinya sendiri. Manusia bisa menjadi hakim untuk dirinya sendiri. Kemampuan dan kebebasan untuk mengubah kondisi hidupnya ini bertujuan untuk mencapai kehidupan yang lebih berkualitas. Sebagai konsekuensi atas kebebasan ini, manusia juga harus menyadari bahwa terdapat tanggung jawab sebagai akibatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesanggupan manusia untuk mengambil jarak terhadap diri sendiri dan mengambil sikap terhadap situasi yang dihadapi &lt;b&gt;digunakan Frankl untuk tujuan terapeutik sebagai dua teknik dalam logoterapi, yaitu intensi paradoksikal dan derefleksi, serta pendekatan “bimbingan rohani”&lt;/b&gt; (&lt;i&gt;spiritual ministry&lt;/i&gt;). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsep kebebasan berkehendak ini otomatis menentang  pandangan filsuf deterministik yang berpendapat sesungguhnya manusia tidak bebas karena manusia adalah  makhluk yang tidak berdaya akibat terbatas oleh faktor biologis, psikologis dan sosiologis.  &lt;br /&gt;
Hasrat (Kehendak) untuk Hidup Bermakna. Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa setiap manusia dalam kehidupannya selalu ingin mendapatkan makna. Tanpa mengetahui makna kehidupan, manusia tak mengetahui tujuan hidupnya dan tanpa menemukan makna serta tujuan hidupnya maka manusia akan jatuh pada perasaan tidak berharga dan tidak berarti. Setiap manusia ingin “menjadi seseorang” dengan kehidupannya yang sarat dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna. Keinginan untuk hidup bermakna ini betul-betul merupakan motivasi utama setiap manusia.(Bastaman, 2007) Hasrat inilah yang mendorong setiap manusia untuk melakukan berbagai kegiatan atau “berkarya” agar hidupnya dirasakan berharga dan berarti, bukan hanya sekedar mencari nafkah.&lt;br /&gt;
Dengan konsep ini, Frankl mengkritik “prinsip kesenangan” Freud. Menurut Frankl, kesenangan sebenarnya hanya hasil atau efek samping dari pemenuhan dorongan atau pencapaian tujuan kita yang akan merusak apabil dijadikan tujuan akhir. Semakin seseorang mengarahkan dirinya secara langsung pada kesenangan maka ia akan semakin kehilangan sasaran tujuannya. Frankl juga sekaligus mengkritik “prinsip kenyataan” dalam psikoanalisis karena menurutnya “prinsip kenyataan” ini hanyalah perluasan dari “prinsip kesenangan” dan berlaku hanya sebagai pengarah bagi pemenuhan keinginan akan kesenangan. (Semiun, 2006)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kritiknya pada Adler tentang “prinsip keinginan akan kekuasaan” adalah bahwa “kekuasaan” hanya alat untuk mencapai tujuan. Jadi “kekuasaan” tidak bisa dijadikan tujuan akhir. Kesenangan adalah akibat pemenuhan makna sedangkan kekuasaan adalah prasyarat untuk pemenuhan makna.&lt;br /&gt;
Kritiknya pada psikologi Jung adalah tentang motivasi manusia. Menurut Jung, motivasi manusia dilihat selaras dengan pandangan psikoanalisis. Dalam psikoanalisis manusia dilihat sebagai makhluk yang selalu didorong oleh tegangan yang memuncak setiap kali dorongan atau naluri menuntut pemuasan, sedangkan dalam psikologi Jung, manusia dilihat sebagai makhluk yang tidak berdaya karena selalu terjadi tegangan setiap kali arketipe-arketipe menuntut pemuasan. Oleh karena itu, pandangan Jung ini menurut Frankl merendahkan realitas dunia tempat keberadaan dan makna menjadi hanya alat yang dapat digunakan individu untuk membebaskan diri dari stimulus-stimulus yang mengganggu keseimbangan (homeostasis) sebagai akibat dari memuncaknya tegangan. Menurut Frankl apa yang diinginkan manusia bukanlah reduksi tegangan melainkan perjuangan menemukan makna. Itulah sebabnya mengapa Frankl menggunakan istilah hasrat/kehendak menemukan makna dan bukan kebutuhan untuk menemukan makna. Istilah kebutuhan akan makna berarti manusia melakukan pemenuhan makna hanya untuk mereduksi tegangan dalam usaha memulihkan keseimbangan dalam dirinya sehingga ia tidak sepenuhnya berurusan dengan makna, melainkan hanya dengan keseimbangan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kritiknya terhadap Maslow adalah bahwa menurutnya tujuan akhir manusia bukanlah aktualisasi diri. Aktualisasi diri hanya efek samping dan konsep ini tidak jauh berbeda dengan konsep kesenangan dan kekuasaan. Dalam pandangan Frankl, orang mengaktualisasikan diri sejauh ia melakukan pemenuhan makna. Sedangkan menurut Sasrapratedja, maksud Frankl mengenai eksistensi manusia ini secara esensial lebih merupakan transendensi diri daripada aktualisasi diri. Karena aktualisasi diri tidak dapat tercapai kalau dijadikan tujuan akhir pada dirinya sendiri maka aktualisasi diri juga dapat dilihat sebagai efek samping dari transendensi diri.    &lt;br /&gt;
Dalam kebebasan menemukan makna dan mendapatkan kedewasaan hidup, kematangan serta kesehatan psikologis maka setiap manusia membutuhkan tegangan berupa konfrontasi makna. Pencapaian pada penemuan makna ini bukan dengan pendamaian batin yang hanya akan memperburuk kondisi manusia dalam suatu kestabilan keseimbangan. Dengan konfrontasi makna kita akan membawa manusia mencapai dirinya untuk “menjadi sesuatu” atau dengan kata lain mencapai eksistensinya dalam kehendak bebasnya yang bertanggung jawab. Seperti dikatakan Frankl,”manusia bertanggung jawab untuk memenuhi makna spesifik dalam hidup personalnya.”(Frankl, 1967)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Makna Hidup&lt;/b&gt;. Menurut Frankl, kita harus memberikan respon untuk menemukan makna hidup karena kita bertanggung jawab terhadap hidup. Respon tersebut dinyatakan dalam bentuk perbuatan dan tindakan.&lt;br /&gt;
Makna hidup ini bersifat objektif sekaligus mutlak. Makna yang bersifat objektif ini maksudnya berlawanan dengan subjektif. Sesuatu yang subjektif hanya dilihat semata-mata sebagai ungkapan keberadaan atau merupakan proyeksi dari naluri-naluri. Jika makna bersifat objektif maka makna tersebut menuntut manusia untuk mencapainya. Makna memang bisa bersifat subjektif sejauh sifat subjektif itu diartikan sebagai mengikuti keunikan setiap individu. Demikian juga subjektif terhadap kejadian-kejadian spesifik dalam kehidupan. Tugas-tugas kehidupan setiap individu adalah suatu kenyataan yang berbeda satu sama lain, demikian juga makna kehidupan setiap individu berbeda satu sama lain. Tugas yang kita lakukan bagi diri kita masing-masing menentukan nasib kita dan realita kita per individu dan tidak dapat dibandingkan dengan tugas apalagi nasib individu lain. Kita tidak dapat bertemu dua kali pada situasi yang sama dan dengan cara yang sama karena pengaruh pengalaman-pengalaman baru yang terjadi di setiap situasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makna hidup bersifat mutlak maksudnya bukan sebuah makna yang bersifat abadi melainkan makna yang memiliki konteks pada situasi atau waktu tertentu. Karena masing-masing individu adalah unik maka masing-masing individu harus dapat menemukan makna hidupnya sendiri dengan memberikan respon-respon yang eksklusif bagi pengalaman hidupnya sampai bertemu dengan makna hidup tersebut. Ketika kita berhadapan dengan situasi berbeda maka kita mungkin harus menemukan makna yang berbeda bagi konteks kehidupan kita tersebut dan hal ini dicontohkan Frankl ketika situasi hidupnya berubah dari seorang dokter yang mapan menjadi tawanan di kamp konsentrasi.&lt;br /&gt;
Makna hidup itu melampaui intelektualitas manusia jadi makna tidak akan mungkin dicapai hanya dengan proses akal atau pemikiran belaka. Untuk mencapai penemuan makna itu maka seorang individu harus menunjukkan komitmen yang keluar dari kepribadiannya dalam bentuk menjalani tindakan nyata pada seluruh konteks dunia kehidupannya. Melalui komitmen, tindakannya berkarya dalam konteks kehidupan tersebut maka seseorang menjawab tantangan-tantangan yang datang dalam hidupnya. &lt;br /&gt;
Makna dapat dicapai melalui bermacam-macam nilai kehidupan. Setidaknya ada tiga nilai penting dalam menemukan makna hidup yang diungkapkan Frankl. Ketiga nilai itu adalah nilai kreatif, nilai pengalaman (&lt;i&gt;experiential values&lt;/i&gt;), nilai yang berkaitan dengan sikap (&lt;i&gt;attitudinal values&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Nilai kreatif&lt;/b&gt; diwujudkan dalam aktivitas yang kreatif dan produktif dan biasanya berhubungan dengan pekerjaan. Makna diberikan melalui tindakan yang menciptakan suatu hasil yang kelihatan atau suatu ide yang tidak kelihatan atau dengan melayani orang lain. &lt;br /&gt;
Pekerjaan hanyalah sarana yang memberikan kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan makna hidup, makna hidup tidak terletak pada pekerjaan, tetapi lebih bergantung pada pribadi yang bersangkutan. Dalam hal ini sikap positif dan mencintai pekerjaan serta bagaimana cara bekerja seseorang yang mencerminkan keterlibatan pribadi pada pekerjaannya adalah hal yang penting. Kerja biasanya menggambarkan situasi di mana individu tampil dalam hubungannya dengan masyarakat, dan di sana individu dapat menemukan makna. Makna ini terpisah dari individu. Pekerjaan tertentu tidak pasti memberikan makna pada individu melainkan individu yang harus dapat menemukan makna dalam pekerjaannya karena pekerjaannya tersebut dapat digunakan oleh individu itu sebagai sarana untuk mencapai pemenuhan diri dan penemuan makna. Suatu pekerjaan baru memiliki makna kalau pekerjaan tersebut merupakan usaha untuk memberikan sesuatu (berkontribusi) pada kehidupan (diri sendiri dan sesama) yang didekati secara kreatif dan dijalankan sebagai tindakan komitmen pribadi yang berakar pada seluruh eksistensinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Nilai pengalaman&lt;/b&gt; adalah kebalikan dari nilai kreatif, yakni menyangkut penerimaan kita dari dunia. Nilai pengalaman ini disebut juga nilai penghayatan (Bastaman, 2007) karena menghayati nilai-nilai kebenaran, kebajikan, keindahan, keimanan, serta cinta kasih. Menghayati suatu nilai dapat menjadikan seseorang merasakan hidupnya berarti. Hal seperti ini tampak misalnya pada orang-orang yang membaktikan seluruh hidupnya untuk sebuah karya seni sebagai seniman, Bunda Theresa misalnya yang membaktikan seluruh hidupnya dalam penghayatan membantu sesama yang tersisihkan. Saling mencintai juga menjadikan seseorang menghayati pengalaman berarti dalam hidupnya. Menurut Frankl, menemui sesama (termasuk menemui sesama sebagaimana Bunda Theresa merawat orang sakit dengan penuh cinta kasih) dengan segala keunikan berarti mencintainya. Dalam nilai pengalaman ini Frankl lebih banyak mengutarakan tentang cinta dan estetika sebagai keadaan yang dapat dihayati bermakna. Cinta adalah anugerah dan sekaligus perluasan batin. Dengan menyerahkan diri pada orang yang dicintai, seseorang akan memperkaya batin. Pemerkayaan batin adalah salah satu unsur yang membentuk makna hidup. Jadi proses “menemui” sesama adalah sangat penting dalam penghayatan nilai pengalaman ini pada proses menemukan makna.&lt;br /&gt;
Frankl juga mengungkapkan segi lain dari makna kehidupan yakni makna dapat ada pada saat-saat tertentu saja. Dengan kata lain kita tidak dapat menemukan makna dalam semua situasi kehidupan.  Frankl menulis, sama seperti tingginya deretan pegunungan tidak dilukiskan dengan permukaan lembah-lembahnya, melainkan oleh puncaknya yang tertinggi, demikian juga kita melukiskan kepenuhan makna suatu kehidupan oleh puncaknya bukan lembah-lembahnya. Ia mengungkapkan bahwa suatu momen puncak dari nilai pengalaman dapat mengisi seluruh kehidupan individu dengan penuh makna. Faktor yang menetukan adalah intensitas yang kita alami terhadap hal-hal yang kita miliki. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Nilai bersikap.&lt;/b&gt; Nilai kreatif dan nilai pengalaman membicarakan tentang pengalaman-pengalaman manusia yang positif dalam suatu proses pemenuhan hidup dengan menciptakan dan mengalami sesuatu hingga menemukan makna didalamnya. Masalahnya kehidupan tidak selalu dalam konteks yang positif melainkan juga dalam penderitaan, sakit, kematian, dan hal negatif lainnya. Nilai bersikap maksudnya menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan keberanian segala bentuk penderitaan yang tidak terelakan lagi. Dalam hal ini yang diubah bukanlah keadaannya, melainkan sikap yang diambil dalam menghadapi situasi penderitaan itu.  Ini berarti ketika kita menghadapi situasi yang tidak dapat diubah atau dihindari maka sikap yang tepatlah yang masih dapat dikembangkan. Sikap penerimaan dengan keikhlasan dan ketabahan dapat mengubah pandangan kita dari yang awalnya dihayati sebagai penderitaan semata-mata menjadi pandangan yang mampu melihat makna dan hikmah dari penderitaan itu. Penderitaan dapat memberikan makna dan berguna apabila kita dapat mengubah sikap terhadap penderitaan itu menjadi lebih baik. Ini berarti bahwa dalam keadaan menderita bagaimanapun arti hidup masih dapat ditemukan dengan syarat kita mampu memilih dan mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi penderitaan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tanggapan dan Kritik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pandangan Frankl tentang menemukan makna hidup sebagai tujuan akhir yang membahagiakan ini tentunya sangat bermanfaat apabila dapat diaplikasikan dalam suatu proses pembelajaran pada masyarakat modern saat ini khususnya pada masyarakat Indonesia yang boleh dikatakan telah mengalami kebingungan dan disorientasi dalam menemukan makna hidupnya. Pemikiran tentang kehendak bebas, hasrat akan makna dan makna hidup sebagai hal yang lebih mendasar daripada sekedar “kebutuhan” hidup manusia apalagi jika dibandingkan dengan “kebutuhan” yang sekedar memenuhi kenikmatan dan kekuasaan tentunya membawa kita pada suatu dimensi spiritual yang sangat cocok dengan kerangka berpikir dan wawasan serta nuansa hidup masyarakat Indonesia. Pandangannya tidak atheis walaupun ia katakan sekuler tetapi masih ada “Tuhan” sehingga masih sejalan dengan paham masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;
Pemaknaan dalam filsafat logoterapi ini rupanya agak bernuansa superficial karena tidak sampai pada penemuan makna yang “lebih abadi/ makna besar” melainkan hanya diutamakan pada konteks atau situasi tertentu saja. Metode logoterapi ini tidak begitu retrospektif dan introspektif (bdk Sastrapratedja, 2015). Logoterapi ini lebih berfokus pada pemaknaan saat kini untuk perwujudan tugas dan makna selanjutnya di masa depan. Pemahaman tentang mengenali diri sendiri sehingga mengerti betul mengapa suatu proses psikodinamika atau bahkan suatu proses psikopatologi muncul dalam diri seseorang tidak bisa didapatkan dari metode Frankl ini. Menurut penulis, mungkin kepragmatisan metode Frankl ini nampaknya mencoba menjawab kebutuhan zaman modern yang serba cepat. Ia menghindari suatu proses “perjalanan panjang” yang menghabiskan waktu lama untuk mengenali diri secara mendalam sampai dapat menemukan “makna besar” melainkan cukup “makna-makna” kecil dari setiap situasi konkrit yang dihadapi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DAFTAR RUJUKAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bastaman, H.D. Logoterapi Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna. PT RajaGrafindo Persada, Jakarta. 2007.&lt;br /&gt;
Frankl, V.E. Psychoterapy and Existentialism. Washington Square Press, Inc., New York. 1967&lt;br /&gt;
Frankl, V.E. The Doctor and The Soul From Psychoterapy to Logotherapy.Vintage Books, New York. 1986&lt;br /&gt;
Sastrapratedja, M. Dimensi-Dimensi Pendidikan. Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila.Jakarta, 2015.&lt;br /&gt;
Semiun, Y. Kesehatan mental 3. Kanisius, Yogyakarta. 2006.&lt;br /&gt;
</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2015/12/logoterapi-sebagai-psikoterapi-mencari.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>6</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-4697903899186732713</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2015 01:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2015-10-12T18:49:44.487-07:00</atom:updated><title>Prosedur Terapi Neurobiofeedback untuk ADHD</title><description>Belakangan ini marak pasien yang datang ke saya setelah gagal diterapi neurobiofeedback dari salah satu center yang menamakan dirinya pusat ADHD. Rupanya cara prosedur melatih anak yang ADHD dengan neurobiofeedback dilakukan dalam waktu singkat dan sekaligus sampai dengan 40 sesi. Hal ini hanya memberikan efek sementara karena belum sungguh-sungguh mengubah perilaku anak untuk dapat mengendalikan fokusnya dan mempertahankan fokusnya saat diperlukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip dasar dari terapi neurobiofeedback adalah pengkondisian perilaku jadi semacam terapi perilaku yang menggunakan dasar melatih rasio gelombang otak yang didominasi gelombang lambat menjadi lebih cepat dan dapat fokus. Selain itu juga melatih konsistensi mempertahankan fokus selama 40-50 menit dalam sekali sesi sehingga kelak kemampuan ini perlahan-lahan menjadi ketrampilan yang melekat pada diri anak dan dapat digunakan ketika ia perlu mempertahankan fokus pada saat belajar atau mengerjakan sesuatu bahkan pada hal-hal yang bukan menjadi kesenangannya (karena anak-anak ini nampaknya pada beberapa hal yang menjadi kesenangannya dapat mempertahankan fokus lebih lama daripada biasanya). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena prinsip terapi perilaku tersebut maka prosedur terapi tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat dengan sekaligus banyak sesi melainkan harus diprogram sesuai kondisi anak (yang akan dievaluasi ulang kemampuan fokusnya secara berkala) apakah dimulai dengan seminggu sekali lalu 2 minggu sekali lalu sebulan sekali dan seterusnya sampai 40 atau bahkan 50 sesi (jumlah ini sesusai penelitian meta analisis). Kebanyakan pasien (pasien tanpa penyulit seperti misalnya tanpa keterlambatan mental, tanpa asperger, tanpa autistik ringan, tanpa gangguan mental dan perilaku, tanpa epilepsi/ gangguan organik otak lainnya) cukup dilakukan intensif 20 sesi dan selanjutnya terapi maintenance sebulan sekali. Tentunya hal seperti ini hanya dapat dievaluasi oleh dokter ahli untuk bidang mindscience seperti psikiater atau neurolog.Hati-hati jangan sampai salah memilih dokter yang bukan ahlinya dan mendalami hal-hal demikian tanpa pendidikan di bidang neuropsikiatri yang mendalam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain kemampuan terapis dalam melakukan terapi ini, alat neurobiofeedback yang digunakan juga sangat berpengaruh membantu penilaian terapis untuk merencanakan terapi. Alat yang paling baik adalah yang dapat menilai artefak EMG dan  EOG selain mengukur ratio gelombang otak. Pengukuran langsung dengan meletakkan elektroda di kepala bukanlah alat kuno melainkan lebih tepat mengukur gelombang otak dan artefak EMG serta EOG. Alat terapi ini menjadi standar di Eropa dan bukan alat neurofeedback yang diletakkan di lengan anak selama terapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peran orang tua dalam ikut melatih anaknya di rumah ketika mengerjakan PR atau tugas sekolah juga berperan mempercepat efektifitas terapi. Kemampuan kedua orang tua bersikap tegas, menerapkan prinsip terapi perilaku dan mengajarkan anak agar tekun dalam mengerjakan tugas apa pun sangat penting membantu kemajuan anak. &lt;br /&gt;
</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2015/10/prosedur-terapi-neurobiofeedback-untuk.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-6095372876841112063</guid><pubDate>Thu, 28 May 2015 01:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-05-06T09:19:55.370-07:00</atom:updated><title>Pengalaman berkesan belajar di RSJ Sawa (Sawa Hospital) Osaka</title><description>Osaka, Musim dingin Januari, 2015.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Undangan Dr Yutaka Sawa untuk belajar di Rumah Sakitnya di Toyonaka City dan Osaka City serta di Senri Emergency hospital membuat saya memilih musim dingin di tengah-tengah masa liburan semester program matrikulasi filsafat saya. Tgl 12 Januari 2015 saya tiba di Kansai Airport  dan hari itu adalah hari libur dimana orang Jepang merayakan hari kedewasaan yaitu seorang anak laki (boy) dianggap menjadi laki-laki (Man)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kita sering katakan bahwa orang Indonesia adalah bangsa yang ramah ternyata bangsa Jepang (yang telah menyakitkan hati ayah dan kakek saya karena kekejamannya saat masa pendudukan jepang di Asia) adalah bangsa yang sampai sekarang adalah bangsa yang dapat menghormati orang lain. Mereka bukan hanya menghormati tamu melainkan juga sangat menekankan saling menghormati di antara mereka sendiri (mereka bukan orang-orang yang suka main serobot apalagi serobot hak orang lain seperti di Indonesia). Di jalan-jalan mereka begitu patuh pada peraturan, menjaga kebersihan dan bisa mempersilahkan orang lain untuk jalan lebih dahulu, setidaknya itu yang saya perhatikan. Belakangan saya juga baru tahu bahwa OSaka adalah salah satu kota teraman di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada perbedaan antara karakter orang di daerah Kansai (Osaka termasuk daerah Kansai dan dulu waktu kecil saya tahunya Kansai itu merk cat - Kansai paint). Mereka lebih egaliter dan bersahabat, tidak jaim dalam berteman dan Dr Sawa adalah guru yang sangat-sangat baik bagi saya apalagi sebagai role model. Ia bukan hanya seorang psikiater yang secara genetik memang psikiater (ayahnya dan ke dua anak laki-lakinya adalah psikiater. Ia adalah manager dan juga entrepreneur di bidang kesehatan jiwa. Ia hidup begitu sederhana sampai-sampai ketika diantar pulang sambil menunggu bis di halte bisa yang akan membawa saya ke airport setelah kami makan malam bersama, saya bertanya penasaran kepada beliau tentang apakah mobil beliau sesungguhnya karena saya selalu diajak naik taxi atau mobil dinas operasional rumah sakit selama saya di Osaka. Beliau rupanya hanya mempunyai sebuah VW city car tahun 1990-an! Penampilannya sangat sederhana padahal beliau adalah pemilik 2  RSJ dan banyak apartemen yang disewakan kepada karyawan, umum dan pasien-pasien jompo serta usaha catering service untuk pasien-pasien jompo tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua usahanya itu adalah usaha nir-laba yang dibuat bukan semata-mata untuk kekayaannya sendiri seperti kebanyakan kita di Indonesia membuat semua usaha demi kita bisa pakai barang mewah, mobil mewah dan lainnya. Keuntungan usaha yang tidak besar itu digunakan untuk pengembangan dan dikembalikan untuk kesejahteraan pasien-pasiennya. Hutangnya juga banyak untuk membiayai idealismenya tetapi disupport betul oleh pemerintah yang tidak korupsi! Hal ini yang belum bisa kita dapatkan di Indonesia. Saya ingat pengalaman beberapa tahun lalu ketika salah seorang teman saya mengajukan bahwa panti rehabilitasi mental dapat dibantu dana dari dinas social dengan potongan sekian persen ketika pencairan dana, tentu saja kita semua langsung sepakat untuk menolak dan lebih baik swadaya sendiri dengan dibantu oleh para donatur saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Neuroimaging pada Lansia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Angka harapan hidup yang tinggi di Jepang membuat populasinya banyak berusia tua atau bahkan sangat tua. Banyak gangguan mental yang muncul akibat proses degenerasi otak. Saya banyak belajar tentang bermacam-macam dementia (kepikunan), mulai dari Alzeimer yang paling banyak lalu dementia Parkinson, dementia lobus frontotemporalis (perilaku menjadi terdisinhibisi dan seenaknya melanggar norma-norma dan aturan), dementia vascular (akibat kelainan peredaran darah otak atau pasca stroke, termasuk stroke lobus frontalis), banyak senile psikosis (bukan late on set skizofrenia).  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Jepang tidak banyak aturan seperti di Indonesia yang mengharuskan ijin praktik dll, selama kita didampingi oleh dokter penanggungjawab pasien maka kita boleh ikut periksa pasien (tentunya yang bisa berbahasa Inggris karena saya tidak bisa berbahasa Jepang kecuali sedikit sekali bahasa sehari-hari yang dipelajari dari buku wisata).   Kita mendiskusikan pengobatan apa saja yang menjadi pengalaman di Indonesia dan bagaimana di Jepang, &lt;br /&gt;
Karena banyak pasien lansia maka saya mempelajari pemeriksaan/ asesmen awal pasien-pasien ini termasuk dengan pemeriksaan-pemeriksaan canggihnya yang telah menjadi standar untuk data base awal pasien dirawat sehingga mudah dibandingkan saat follow up dan semua itu diganti oleh system asuransi pemerintah (bandingkan dengan BPJS di Indonesia yang sangat membatasi pemeriksaan dan pengobatan). Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan, EEG, CT scan, MRI, Xenon-CT Scan semua dilakukan untuk melihat fungsi dan struktur otak pasien sejak awal masuk. Asosiasi neuropsikiatri Jepang (istilah psikiater tetap menggunakan istilah neuropsikiater walaupun ada sendiri asosiasi neurologi Jepang) mempunyai data standar kondisi otak orang Jepang yang menjadi dasar pembanding dan golden standar ketika kita melihat hasil MRI pasien orang Jepang. Dari pembacaan itu dan gejala klinis kita bisa lebih tepat mendiagnosis arah dari penyakit pasien misalnya lebih ke dementia lewy body (Parkinson) atau dementia vascular atau hanya kearah senile psikosis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ECT (Electro Convulsive Therapy) dengan anestesi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terapi ECT dengan anestesi tidak dilakukan oleh ahli anestesi jika tidak ada ahli anestesi (karena keterbatasan ahli anestesi) melainkan dilakukan oleh 2 orang psikiater, yang satu operator ECT dan satunya lagi melakukan anestesi dan dibantu beberapa perawat. Dasar dari legalitas ini adalah bahwa sewaktu kita (semua dokter termasuk di Indonesia) sekolah kedokteran umum, kita telah diajarkan dan memiliki kompetensi  anestesi dasar (bandingkan dengan di Indonesia, pake ancaman tuntutan hukumlah tidak seusai kompetensilah dll dll tuduhan negative). Satu seri terapi dilakukan 12x dengan selang waktu sehari dan prosedur selebihnya sama dengan yang dilakukan di Indonesia. Cukup banyak pasien yang di ECT maintenance baik yang seminggu sekali atau sebulan sekali. Kebijakan di RS Sawa, pasien yang diusulkan untuk di ECT harus mendapatkan persetujuan di rapat komite medik yang dilakukan seminggu sekali pada hari Selasa. Sebagai dokter tamu dan tidak bisa berbahasa Jepang, saya tetap ikut rapat tersebut dengan dibantu penerjemahan oleh teman sejawat yang bisa berbahasa Inggris (tidak semua dokter Jepang lancar berbahasa Inggris karena Jepang memiliki semua terjemahan bahasa Inggris ke dalam bahasa Jepang dan bahkan diagnosis penyakit dengan istilah Jepang).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Profil dokter Psikiater di Jepang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr Deguchi dan Dr Saito adalah dua orang dokter psikiater yang dulunya berspesialisasi non psikiatri. Setelah 7 tahun bekerja sebagai ahli gastroentero-hepatology, Dr Deguchi yang seusia dengan saya memutuskan untuk ganti spesialisasi menjadi psikiater, oleh sebab itu ia melamar ke RS Sawa mulai dari nol sampai lulus ujian nasional sebagai psikiater di Jepang. Dr Saito adalah ahli kanker Paru yang pernah bekerja di NIH di Amerika dalam penelitian kanker paru, beliau sudah jauh lebih tua daripada saya dan saat ini masih mempersiapkan ujian nasional sebagai psikiater di Jepang.&lt;br /&gt;
Dr. Nakakita adalah psikolog klinis yang ketika berusia 30 tahun masuk kuliah kedokteran lalu melanjutkan menjadi psikiater, Dr Kobayasi adalah ahli neuroscience yang kemudian masuk kedokteran dan melanjutkan menjadi psikiater (lebih muda dari saya 6 tahun). Dr Tan adalah psikiater dari Xian-China yang karena ikut suami bertugas di Jepang maka ikut ujian persamaan dokter kemudian “adaptasi” belajar istilah-istilah kedokteran Jepang setahun lalu bergabung di RS Sawa sebagai psikiater. &lt;br /&gt;
Sistem pendidikan spesialis di Jepang tidak berbasis universitas/ fakultas kedokteran. Mereka bisa langsung bergabung di RS pendidikan seperti RS Sawa ini, dibimbing oleh senior-senior mereka dan kemudian mengajukan 8 kasus dan jurnal dan kemudian diuji nasional lalu mendapatkan sertifikat sebagai psikiater nasional yang boleh melakukan semua tindakan (sebelum lulus ini tidak boleh melakukan semua tindakan tanpa supervise). Tindakan yang dimaksud diantaranya adalah ECT, rapid neuroleptisasi pasien akut dan membuat laporan visum et repertum psikiatrikum. Kalau di Indonesia kita harus bayar mahal untuk biaya adaptasi dan pendidikan spesialis maka di sana dokter dokter itu digaji sejak internship dan adaptasi pun digaji! Bandingkan dengan Indonesia yang berPancasila!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rehabilitasi psikososial &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rehabilitasi psikososial bagi pasien adalah salah satu keunggulan dari RS Sawa, setidaknya ada 4 tujuan dalam rehabilitasi psikososial ini.&lt;br /&gt;
1. menggangkat kembali harga diri pasien yang sebelumnya dilayani sekarang bisa melayani dan membantu orang lain&lt;br /&gt;
2. mengurangi stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa di masyarakat&lt;br /&gt;
3. membantu sebagai penghubung komunikasi atau membantu mengawasi penduduk usia sangat tua yang dilayani jika perlu pelayanan kesehatan. &lt;br /&gt;
4. mendapatkan penghasilan dari hasil kerjanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sebrang RS ada toko roti yang seluruh karyawannya (kecuali 3 orang supervisor yang adalah staf RS) adalah pasien dengan gangguan kejiwaan. Rotinya enak dan dijual di toko-toko mini market, disalurkan untuk makan pagi karyawan dan pasien RS serta ke rumah-rumah jompo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program layanan makanan catering untuk penduduk usia tua (very senior citizen) adalah program dimana yang mengantarkan makanan adalah pasien dengan menggunakan sepeda, berkeliling mengantarkan makanan ke rumah rumah pelanggan yang berlangganan catering ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program rehabilitasi lainnya adalah pelayanan daycare untuk pasien-pasien yang membutuhkan social skill training, memory training sampai program untuk orang tua dengan dementia (penyakit kepikunan) berat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua program ini didanai bersama antara pemerintah dan swadaya masyarakat/RS. Sistem pensiun dan tunjangan untuk orang tua yang diberikan oleh pemerintah dapat digunakan untuk layanan catering service dan layanan rehabilitasi day care.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sekitar RS (termasuk apartemen saya tinggal yang disediakan oleh RS) adalah apartemen-apartemen yang disediakan untuk "group home" yaitu rumah tinggal bersama beberapa warga very old senior atau pasien-pasien dengan gangguan jiwa yang sudah "ditolak" keluarganya. Mereka tinggal bersama dan membentuk komunitas baru bersama-sama sambil diawasi kesehatan mental dan fisiknya oleh para perawat dan pekerja sosial RS.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Simpulan&lt;br /&gt;
Dari semua hal yang saya pelajari, observasi dan alami di Osaka, terlihat jelas bahwa dasar pemikiran positif dan keinginan membantu sesama sebagai makna hidup mencapai tujuan akhir yaitu kebahagiaan hidup sudah menjadi satu dalam cara hidup Dr Sawa. Tujaun hidupnya bukan menikmati kenyamanan hidup dengan kemewahan melainkan terus mengembangkan program-program untuk melayani masyarakat terutama masyarakat dengan gangguan mental dan psikososial. Dokter-dokter yang bekerja di RS tersebut termasuk karyawan lainnya juga puas atas penghargaan yang mereka terima baik berupa gaji maupun insentif lainnya serta perhatian personal dari pemilik RS. &lt;br /&gt;
Manajemen RS Sawa jauh dari gaya kapitalisme beberapa manajemen jaringan RS swasta di Indonesia.</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2015/05/pengalaman-berkesan-belajar-di-rsj-sawa.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-4995686302552448671</guid><pubDate>Thu, 13 Nov 2014 01:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-11-12T17:19:15.309-08:00</atom:updated><title>Pendidikan Seksualitas untuk Remaja</title><description>Remaja: periode perkembangan yang merupakan peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. &lt;br /&gt;
Seksualitas/ seks meliputi:&lt;br /&gt;
1. segi fisik: biologis dan fisiologis.&lt;br /&gt;
2. segi psikis: emosi.&lt;br /&gt;
Biologis: tanda-tanda perkembangan dan mulai berfungsinya alat-alat kelamin.&lt;br /&gt;
Perkembangan fisik berupa pertumbuhan kelenjar serta organ kelamin (sifat-sifat kelamin primer), seperti: pada wanita ditandai dengan ovulasi yang pertama, tapi dalam hidup sehari-hari, dianggap sebagai menstruasi yang pertama. Pada laki-laki ditandai pollutio pertama, yaitu keluarnya semen dengan sendirinya tanpa ereksi. Ini menandakan testis sudah mulai berfungsi.&lt;br /&gt;
Secara fisiologis, perkembangan tersebut didahului dengan perkembangan organ-organ kelamin sekunder seperti:&lt;br /&gt;
- Pertumbuhan rambut.&lt;br /&gt;
- Perubahan suara.&lt;br /&gt;
- Meluasnya lapang dada.&lt;br /&gt;
- Membesarnya buah dada, pangkal paha, paha, dan panggul.&lt;br /&gt;
- Pertumbuhan badan yang berbeda menurut jenis kelamin:&lt;br /&gt;
- wanita: lebih cepat, mulai 10-16th, berhenti 19-20th.&lt;br /&gt;
- pria: berhenti 23-24th.&lt;br /&gt;
Alat kelamin pria dan wanita, bentuk dan tempatnya tidak sama, sesuai dengan tugas yang berbeda pula.&lt;br /&gt;
Wanita:&lt;br /&gt;
Alat kelamin bagian luar: walaupun terletak di luar, lebih terlindung dan tersembunyi di sela paha dan ditutupi rambut-rambut. Tidak banyak berfungsi, hanya sebagai tempat penyaluran dan pelindung bagian dalam yang penting untuk berkembang biak.&lt;br /&gt;
Alat kelamin bagian dalam: terletak di dalam tubuh, di rongga panggul, terdiri dari:&lt;br /&gt;
1. Ovarium&lt;br /&gt;
2. Uterus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria:&lt;br /&gt;
Alat kelamin luar terletak di bagian luar tubuh dan berfungsi untuk persetubuhan dan pengeluaran air seni. Terdiri dari: Penis dan skrotum.&lt;br /&gt;
Alat kelamin bagian dalam terdiri dari: kelenjar pembuat hormon, air mani, dan saluran-salurannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menstruasi sebagai pengalaman psikis.&lt;br /&gt;
Peristiwa paling penting pada masa pubertas anak gadis ialah gejala menstruasi atau haid, yang menjadi pertanda biologis dari kematangan seksual.&lt;br /&gt;
Secara normal menstruasi berlangsung kurang lebih pada usia 11-16 tahun. Cepat atau lambatnya kematangan seksual ini selain ditentukan oleh kondisi fisik, juga dipengaruhi oleh faktor ras atau suku bangsa, faktor iklim, cara hidup, dan nilai-nilai yang berlaku. Badan yang lemah atau penyakit yang parah, bisa memperlambat datangnya menstruasi.&lt;br /&gt;
Rangsangan-rangsangan yang kuat dari luar, seperti film-film, buku-buku, gambar-gambar yang porno, serta godaan atau rangsangan dari pria, melihat langsung hubungan seks, semuanya itu akan mengakibatkan kematangan seksual yang lebih cepat pada diri anak.&lt;br /&gt;
Pengalaman menstruasi yang pertama kali biasanya sangat dipengaruhi oleh sikap ibu dalam menghadapi situasi tersebut. Misalnya, seorang gadis yang mentruasi pertama kali diperlakukan dengan sangat hati-hati dan dimanja berlebihan, maka setiap kali menstruasi mungkin gadis itu akan terus menerus berbaring di tempat tidur selama masa menstruasinya.&lt;br /&gt;
Ibu yang menganggap menstruasi sebagai suatu hal yang kotor dan menjijikkan, mungkin akan menghasilkan anak gadis yang pada saat haid, sangat memperhatikan kebersihan badannya, teristimewa pada alat kelaminnya. Ia akan terus menerus mencuci badan dan alat kelaminnya, berulang kali mandi dan mengganti baju.&lt;br /&gt;
Jadi jika menstruasi ini tidak disertai informasi yang benar, mungkin bisa timbul bermacam-macam problem psikis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perencanaan keluarga yang bertanggung jawab:&lt;br /&gt;
1. Persiapan diri.&lt;br /&gt;
a. kepribadian&lt;br /&gt;
b. inteligensi&lt;br /&gt;
c. emosionalitas&lt;br /&gt;
2. Memilih teman hidup.&lt;br /&gt;
Jatuh cinta dan cinta&lt;br /&gt;
3. Persiapan hidup perkawinan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segi psikis: emosi&lt;br /&gt;
Wanita&lt;br /&gt;
Sifat dasarnya: keibuan.&lt;br /&gt;
Anak kecil: bermain boneka.&lt;br /&gt;
Usia sekolah: memanjakan adik bayi.&lt;br /&gt;
Remaja putri: tertarik pada sesuatu yang kecil, mungil, tak berdaya, serta yang memerlukan pemeliharaannya.&lt;br /&gt;
Wanita berkeluarga: mengerti jiwanya sedalam-dalamnya karena kelahiran anaknya.&lt;br /&gt;
Wanita yang tidak berkeluarga: membantu orang lain, membaktikan diri pada sesama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada wanita yang kuat, ada dua sifat yang bergerak bolak-balik secara seimbang, yaitu penyerahan diri dan penarikan diri.&lt;br /&gt;
Penyerahan diri: wanita ingin menyerahkan diri tanpa syarat kepada sesuatu yang dicintai, dan ini merupakan kebutuhan jiwanya.&lt;br /&gt;
Penarikan diri, untuk mempertahankan kehormatan dirinya.&lt;br /&gt;
Jadi seorang wanita yang jiwanya seimbang, ia dapat memberi dengan tangan yang penuh kasih kepada orang yang memerlukan dan dapat pula melindungi dirinya dengan tembok yang kokoh kuat dan tidak terlihat oleh orang yang akan merusak harga dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat remaja.&lt;br /&gt;
Mulai menyadari ’aku’nya, mengetahui bahwa ia dapat mengambil keputusan untuk diri sendiri dan mulai memikirkan tentang diri sendiri. Ia merasa memegang rahasia yang besar karena peristiwa-peristiwa yang dialami jiwanya. Ia mengira tidak ada orang yang pernah mengalami hal-hal yang seperti ia alami sekarang. Ia merasa tidak mungkin memberitahukan kepada orang lain tentang apa yang sedang menggelora di dalam jiwanya. Ia merasa hal itu tidak mungkin dimengerti orang lain.&lt;br /&gt;
 Ia menyadari kelakuannya sangat berbeda dengan waktu ia masih kecil, maka ia akan mengasingkan diri dari orang-orang yang telah mengenalnya semenjak kecil. Ia malu memperlihatkan pergolakan jiwanya kepada orang-orang yang telah mengenalnya. Mereka akan mencari orang yang dapat dipercaya dan mengerti tentang masalahnya. Mereka sering menceritakan bahwa hal-hal tersebut tidak mungkin diceritakan kepada orang-tuanya, karena tidak akan dipercaya.&lt;br /&gt;
 Beberapa remaja merasa dirinya ’terbelah’, sehingga gelisah dan tidak dapat tampil spontan. Remaja tersebut merasa ada dua ’aku’ di dalam dirinya, dan ’aku’ yang satu akan terus mengamat-amati ’aku’ yang lain. Contoh: ketika sedang berjalan-jalan di pantai, remaja tersebut merasa ’aku’ yang satu berkata kepada ’aku’ yang lain: ”Berjalanlah biasa, jangan menari-nari seperti anak kecil.” Maka remaja tersebut akan berjalan dengan kaku, seolah-olah diperintah orang lain.&lt;br /&gt;
 Ada juga yang menempatkan dirinya sebagai pusat segala-galanya. Makin lama, makin besar perhatian mereka kepada ’aku’nya sendiri, sehingga kesannya agak jahat dan kejam. Mereka hanya ingat diri sendiri. Contoh: menjelek-jelekkan keadaan fisik orang lain. Tingkah laku yang dibuat-buat dan keinginan untuk menarik perhatian yang berlebih-lebihan, sering menyebabkan peristiwa yang tidak menyenangkan. Hal ini karena rasa ’aku’ yang berkuasa untuk sementara waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persahabatan dan cinta.&lt;br /&gt;
 Kebutuhan remaja akan seorang teman yang mengerti di lambat laun akan berubah dari keinginan mempunyai seorang teman wanita yang emncintai dia, dan cinta kepada teman wanita yag tidak membawa kepuasan itu mengekibatkan keinginan akan cinta seorang laki-laki. Cinta ini hanya dapat ditemukan pada masa adolesen (17-21th).&lt;br /&gt;
 Orang dewasa yang dapat mencintai dalam arti sebenarnya telah menemukan keseimbangan antara hasrat jasmaniah dan rohaniah untuk menyatukan diri dengan orang pilihannya.&lt;br /&gt;
 Pada orang puber, perasaan tertarik kepada jenis kelamin yang lain masih belum dapat dihubung-hubungkan dengan rasa simpati; kedua rasa ini baru terlebur pada masa adolesen, dalam proses cinta jasmaniah dan rohaniah yang telah mencapai keseimbangan.&lt;br /&gt;
 Seksualitas ialah segala pengalaman yang terjadi sebenarnya atau hanya dalam khayalan, dan ditujukan kepada hubungan jasmaniah dengan orang yang disukai. Pada gadis-gadis umur 14 sampai 17 tahun, biasanya yang dinamakan cinta itu adalah bercumbu-cumbuan, romantis, dan ada rasa yang membakar tubuh. Sesudah umur 17 tahun, barulah terjadi cinta pertama yang disertai keinginan menyala-nyala dan penderitaan karena mencintai. Pada seorang gadis, mencintai itu bukan hanya hawa nafsu, tapi jiwanya menghubungkannya dengan orang lain.&lt;br /&gt;
 Pada anak laki-laki, biasanya mereka mengenal dulu wanita-wanita pada umumnya, barulah memilih seorang wanita yang sesuai dengan keinginannya. Sedangkan pada wanita, mereka mengenal dulu seorang laki-laki, barulah laki-laki pada umumnya. Hawa nafsu wanita tidak begitu besar dibandingkan dengan laki-laki. Seorang gadis biasanya menghendaki dulu hubungan batin yang murni, sebelum ia mengadakan hubungan jasmaniah. Ia ingin mengerti dan dimengerti, ia mencari titik-titik pertemuan batin, untuk mempertemukan kedua jiwa mereka. Penyerahan diri tanpa adanya hubungan emosi, jarang terjadi pada kebanyakan gadis.&lt;br /&gt;
 Sering seorang gadis merasa bingung karena pacarnya ingin melakukan hubungan badan, tetapi biarpun gadis ini sangat mencintainya, tetapi merasa tidak dapat menyerahkan kehormatannya. Gadis itu juga merasa takut kalau hubungan mereka akan putus. Sebaliknya laki-laki itu merasa bahwa dirinya sangat mencintai pacarnya, dan merasa tidak mengerti mengapa pacarnya selalu menolak melakukan hubungan badan.&lt;br /&gt;
 Hal ini terjadi karena mereka berdua masih terlalu muda. Pemuda itu tidak mengerti bahwa cinta seorang gadis lebih berdasarkan hubungan jiwa, dan dia seharusanya menghargai dan mengerti pendirian ini, dan biasanya gadis yang baik yang berpendirian demikian.&lt;br /&gt;
 Sebaliknya, gadis itu juga harus mengerti bahwa jiwa pemuda itu berbeda. Ia tidak boleh memandang rendah pada hasrat hubungan jasmaniah pemuda itu yang lebih kuat daripada dirinya. Ia harus mengerti, tetapi juga jangan melepaskan pendiriannya.&lt;br /&gt;
 Cara mencintai seorang pemuda dan gadis juga berbeda. Seorang pemuda dapat sangat mencintai seorang gadis, tetapi ia masih dapat memusatkan perhatian kepada pelajaran, ilmu pengetahuan, kesenian, dan lain-lain. Seorang gadis sering merasa sedih dan merasa kurang dicintai karena ia membandingkan cintanya yang begitu total kepada kekasihnya. Bagi remaja, hal ini penting, supaya mereka dapat lebih mengerti satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tipe-tipe gadis.&lt;br /&gt;
Kepribadian yang terdapat masa dewasa tumbuh dari masa puber, maka seharusnya pada masa puber ini telah mulai terlihat tipe-tipe yang ada pada gadis.&lt;br /&gt;
1. Tipe keibuan.&lt;br /&gt;
Setiap gadis mempunyai tugas untuk menjadi ibu dan untuk memenuhi tugasnya, diperlukan pengorbanan dan kasih sayang yang besar. Ada sebagian gadis yang sifat keibuannya besar sekali dan jelas terlihat dari perilakunya.. Tipe ini sudah terlihat dari masa kecil mereka yang senang bermain ibu-ibuan dengan boneka, yang penuh kasih sayang memelihara adik-adiknya, senang membantu mengasuh dan bermain dengan anak-anak tetangga.&lt;br /&gt;
 Pelajaran di sekolah bagi gadis tipe ini, lebih dilihat sebagai pernyataan rasa tanggung jawab dan ketelitian mereka, daripada perhatian dan ketertarikan akan mata pelajaran tersebut. Gadis-gadis ini akan segera melupakan pengetahuan yang telah dipelajari dengan susah payah waktu menghadapi ujian. &lt;br /&gt;
 Mereka lebih tertarik pada anak-anak daripada teman laki-lakinya. Mereka biasanya bekerja di bidang sosial, seperti menjadi guru, perawat, atau pekerja sosial. &lt;br /&gt;
2. Tipe erotik.&lt;br /&gt;
Gadis tipe erotik selalu bertujuan menarik perhatian. Tingkah laku mereka banyak dipengaruhi oleh hawa nafsu dan susah untuk dikendalikan. Tidak ada keseimbangan antara hasrat ingin menyerahkan diri dan hasrat mempertahankan diri. Mereka selalu bercerita tentang laki-laki dan cinta. Tingkah laku mereka akan dibuat-buat bila di antara kaum laki-laki. Pikiran mereka dipenuhi dengan pertanyaan apakah dirinya cukup menarik, apakah dirinya lebih diperhatikan daripada orang lain. Mereka mencemooh kata ’susila’, baginya itu sesuatu yang kuno. Gadis-gadis tipe erotik ini menghadapi banyak bahaya yang dapat merusak hidupnya sebagai wanita dewasa dan kemudian sebagai ibu.&lt;br /&gt;
 Kita dapat membantu gadis-gadis tipe ini dengan mengenalkan kegiatan-kegiatan lain yang baik, seperti membaca buku yang bermanfaat, ikut sebagai anggota pencinta alam, menonton pertunjukkan kesenian. Apabila mereka sudah dapat lebih mengenal diri sendiri, lebih memperdalam rasa keindahan, barulah kita dapat mengajak mereka ikut dalam kegiatan keagamaan.&lt;br /&gt;
3. Tipe romantis.&lt;br /&gt;
Gadis-gadis ini mempunyai sifat yang cuek, berbuat sesuka hati mereka, mirip dengan tipe erotik, tetapi mereka terutama tenggelam dalam khayalan sendiri. Mereka bisa sangat memuja sesuatu, dan batas-batas khayalan dan kenyataan kadang-kadang tidak jelas. Mereka hidup dalam angan-angan sendiri dan mudah dipengaruhi. Mereka bisa mendewa-dewakan orang, tetapi tanpa faktor-faktor seksual.&lt;br /&gt;
4. Tipe sewajarnya/ biasa.&lt;br /&gt;
Mereka tidak mempunyai angan-angan yang berlebihan, kelakuannya tenang dan terlihat lebih dewasa dibandingkan dengan teman-teman sebaya. Mereka melewati masa pubertas seolah-olah tanpa kesukaran. Mereka mendapat didikan yang keras dan banyak larangan-larangan yang menghalangi mereka keluar batas. Gadis-gadis ini sering memainkan dua peranan, dan peranan yang membahayakan tersebut, mereka sembunyikan dengan baik.&lt;br /&gt;
5. Tipe intelektuil.&lt;br /&gt;
Mereka mempunyai perhatian pada hal-hal yang teoritis, dan hanya sedikit dipengaruhi oleh keadaan dan orang. Mereka biasanya cerdas, sederhana dan terus-terang. Mereka perlu dijaga supaya pembentukan kepribadiannya jangan terlalu intelektual, sehingga sifat-sifat yang lain terdesak.&lt;br /&gt;
</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2014/11/pendidikan-seksualitas-untuk-remaja.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-3764266426483445987</guid><pubDate>Sat, 08 Nov 2014 17:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-11-08T09:00:01.399-08:00</atom:updated><title>Bagaimana Menempuh Pendidikan untuk menjadi Psikiater?</title><description>&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sama seperti anak-anak kecil lainnya, sejak SD kelas 4 saya bercita-cita menjadi dokter, selain karena melihat kehidupan dokter keluarga kami yang nampaknya tenang dan sangat berkecukupan saya juga sering mendengar bahwa seorang tante saya yang menjadi dokter gigi (drg. Wiliana Purnama, pensiunan dosen di FKG Prof Dr Moestopo) dan om saya yang sedang sekolah kedokteran di Jerman (Dr Med. Iksan Purnama, sekarang dokter spesialis mata di Esslingen, Stutgart, Jerman) hidupnya tenang dan makmur. Belakangan saat saya dalam proses bimbingan rohani,  baru saya tahu bahwa dorongan itu berasal dari ketidakberanian saya mengambil risiko dalam kehidupan.  &lt;br /&gt;
Ketika saya SMA, saya mencoba mengkaji apa bedanya psikolog dan psikiater (salah satu dokter keluarga kakek saya adalah dokter umum yang menjadi seorang psikiater yakni dr L.S Chandra, SpKJ mantan direktur Sanatorium Dharmawangsa, sekarang sudah almarhum). Kebetulan saya suka membaca karena memang dikondisikan seperti itu oleh orang tua saya maka saya mencoba membaca buku-buku tentang hal-hal tersebut. Rubrik psikologi kesukaan saya adalah rubrik Bu Leila Ch. Budiman di harian Kompas, menurut saya ulasan beliau sangat tidak tergantikan sampai saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya lebih memilih menjadi psikiater karena harus menjadi dokter umum dulu. Saya memilih menjadi dokter terlebih dahulu karena sesuai dengan cita-cita saya sejak kecil dengan harapan bisa membantu banyak orang, diri sendiri serta keluarga selain mapan secara ekonomi (tapi belum tentu bisa kaya raya). Ayah saya tidak setuju karena kalau menjadi dokter itu kata beliau seperti tukang becak, kalo gak 'narik' maka gak dapat uang lagipula berisiko tertular penyakit menular! Ada hal yang saya pertaruhkan dalam hal ini, yaitu, setelah menempuh pendidikan menjadi dokter umum apakah saya bisa melanjutkan studi ke spesialisasi psikiatri? Saat itu kental sekali rasialisme di kalangan kedokteran, sudah menjadi rahasia umum bahwa hanya etnis tertentu yang mudah masuk ke bagian spesialisasi tertentu (jadi sebenarnya issue ini bukan etnis Tionghoa dan pribumi tapi di kalangan etnis yang katanya pribumi-pun terjadi diskriminasi kesukuan atau praktik nepotisme). Saat itu dr L.S Chandra, SpKJ mengatakan bahwa tidak ada diskriminasi di Psikiatri jadi yang dinilai adalah kemampuan sehingga saat memulai studi di Fakultas Kedokteran saya pede aja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal lain yang menjadi masalah adalah stigma buruk sebagai psikiater! Kelak saya harus mengatasi masalah ini terutama di kalangan keluarga besar. Psikiater itu diidentikkan aneh seperti pasiennya, pasiennya miskin-miskin dan tidak banyak pasiennya kecuali di RS Jiwa! Semua itu ternyata tidak benar walaupun faktanya memang seorang psikiater sulit bisa melayani banyak pasien dibandingkan spesialisasi lain dikarenakan waktu konsultasi yang lebih lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SEKOLAH DOKTER UMUM&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang menjadi keberatan dari ayah saya lainnya mengenai menjadi dokter adalah saat itu saya tidak diterima di FK negeri sehingga harus ke FK Swasta yang sarat dengan ujian negara dan menghabiskan waktu studi yang lebih lama karena harus antri ujian apalagi kalau sampai mengulang, wah bisa tambah lama tuh antri lagi dari awal. Hal lainnya lagi adalah mengenai biaya studi yang lebih mahal di kedokteran swasta membuat saya harus curi-curi waktu bekerja mencari tambahan untuk uang saku seperti memberikan les matematika, menjadi surveyor lepas di perusahaan farmasi maupun penelitian-penelitian kesehatan perkotaan di pusat studi kesehatan perkotaan di Atma Jaya.&lt;br /&gt;
Hiperaktifitas saya membuat saya tidak betah menjadi kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang. Saya aktif berorganisasi di kampus, pernah saya camping 3 tempat dalam sebulan sempat ikut syuting sinetron Suri Teladan di RCTI dengan produser dan sutradara Haji Usman Effendi yang menjadi guru agama Islam buat saya. Sempat kuliah extension course filsafat manusia setiap senin malam di STF Driyarkara (saat ini saya mencoba mengikuti program matrikulasi untuk InshaAllah dapat melanjutkan studi ke program doktoral untuk memperdalam filsafat eksistensial yang diselaraskan dengan psikoterapi eksistensial khususnya logoterapi, search for meaning), dll. Semua hal ini membuat study saya molor 1 semester dan tertunda sedikit antrian menjadi dokter muda (kepaniteraan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenyataan praktik sebagai dokter muda (Co-ass) membuat saya "menyesal" mempunyai cita-cita menjadi dokter, 2 tahun rotasi terus, jaga malam tidak tidur, pagi tetap standby sampai jam 2 siang, buat paper, presentasi kasus, dimarahi konsulen, diusir konsulen, ngepel lantai bekas air ketuban, diomelin perawat dan  bidan. Yah memang pendidikan kedokteran itu spartan dan benar-benar membina mental serta fisik. Di her gara-gara tidur dikelas saat diskusi karena habis jaga malam gak tidur, semua itu konsulen gak mau tahu! Menjadi dokter harus kuat! harus super! Sekali lagi spartan pendidikannya. Hukuman dan kata-kata merendahkan menjadi cambuk untuk maju bukan untuk menjadi sakit hati dan mundur! Gak banyak suka-nya jadi coass yang kalau dibahasa Indonesiakan KOASS singkatan dari Kumpulan OrAng Serba Salah. Pada akhirnya memang ada makna dan arti yang bisa dipetik atas semua itu, memudahkan saya untuk beradaptasi dimanapun saya bekerja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah bersusah payah pendidikan sebagai dokter umum, penderitaan tidak berhenti di situ. Penderitaan selanjutnya adalah bagaimana mengejar setoran untuk bertahan hidup! Seminggu 2x jaga malam menjadi dokter jaga bangsal atau jaga gawat darurat demi sesuap nasi. Saat itu ibu saya sampai mengingatkan bahwa jangan terlalu banyak tugas jaga malam karena kalau sakit maka biaya yang harus dikeluarkan lebih banyak daripada yang didapatkan dari honor jaga tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengalaman sebagai dokter jaga di RS saya jadikan pengalaman untuk lebih mendalami kasus-kasus penyakit dan pengalaman menangani banyak kasus rawat inap, diskusi dengan konsulen (dokter spesialis) yang baik hati mau 'mengajari' kita, bukan saja ilmu tetapi berbagi pengalaman hidup adalah sisi lain yang cukup berharga bagi saya selain honor jaga yang kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penderitaan selanjutnya yang mirip-mirip Coass adalah ketika harus menjalani program spesialisasi selama minimum 4 tahun. Setiap jam 7.30 pagi sudah harus siap seminar topik-topik teori psikiatri maupun diskusi kasus. Lalu pk 9 pagi langsung menangani pasien di bangsal atau poliklinik sampai jam kerja berakhir pk 3 sore. Jaga malam lagi sudah keharusan sebagai peserta didik. Dimarahin dan diusir konsulen juga menjadi tantangan tersendiri, belum lagi harus bisa membuktikan diri tidak bodoh alias minimalisir her kalau hidup mau lebih tenang (repot kalau ngulang ujian terus sebab tugas-tugas lain masih bertumpuk). Untungnya saya termasuk yang jarang dapat her, hanya 2 kali saya diher selama pendidikan spesialis. Pertama adalah ujian statistik dan yang kedua adalah ujian penelitian (statistik lagi nih salah satunya), sampai sekarang saya tetap saja bingung dengan statistik, kecuali membaca hasil statistik karena saya sempat bekerja di perusahaan farmasi selama total 3 tahun. Satu tahun tepat sebelum pendidikan spesialis dan 2 tahun lagi setelah lulus sebagai dokter spesialis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun kedua saya menempuh pendidikan spesialis, saya mulai kesulitan dana untuk operasional sehari-hari jadi saya minta ijin untuk praktik umum sore hari dan baiknya di psikiatri saat itu kami diperbolehkan praktik umum sore hari di luar jam kerja/pendidikan. Pesannya hanya jaga prestasi belajar selama pendidikan walau praktik sore sampai malam hari. Rata-rata praktik selesai pk 20.00 dan saya sampai di rumah pk 21.00 jadi setelah itu bersiap mengerjakan tugas sampai pk.23 atau 24 hampir setiap harinya selama 4 tahun tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu semester pertama saat itu adalah masa pra-kualifikasi jadi yang tidak lulus ujian wawancara pasien dan teorinya akan disarankan pindah jurusan atau keluar. Tugas di tahun pertama adalah menguasai semua kasus penyakit psikotik (gangguan mental organik, skizofrenia dkk, bipolar dan depresi dengan gejala psikotik, dkk). Akhir tahun pertama adalah seleksi ke dua kalinya, jika tidak lulus maka her atau mengulang 6 bulan atau 12 bulan atau pindah jurusan alias keluar! Saat itu saya lulus langsung tanpa her dan saya kirim sms ke ibu saya mengabarkan bahwa saya lulus langsung jadi bisa langsung ke tahap 2. Saya ingat betul jawaban ibu saya adalah "selamat ya tapi jangan hanya pandai waktu sekolah, yang penting bagi mama adalah kamu bisa ramai prakteknya sebagai dokter (supaya bisa hidup mandiri)".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun kedua adalah menguasai semua kasus non-psikotik dan psikoterapi serta psikodinamika pasien. Ini yang berat karena saya dianggap lebih menguasai psikiatri biologi daripada psikoterapi oleh sebagian konsulen-konsulen saya. Tapi jujur saya akui memang saat itu dan kini mainstream psikoterapinya adalah psikoterapi dinamik dan ini memang tidak begitu saya kuasai, kalau yang lainnya seperti CBT, hipnoterapi, Eksistensial dll-nya saya mudeng, kecuali yang dinamik itu saya bingung sampai sekarang dan saya pikir pasien pun banyak bingungnya dengan metode dinamik ekspresif. Kalau suportif sih semua juga ngerti tetapi mencapai 'pencerahan' sampai psikoterapi dinamik ekspresif yang sulit. Kali ini lulus langsung naik ke tahap 3 adalah sangat-sangat beruntung bagi saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun ketiga dan keempat adalah saatnya rotasi ke sub-sub bagian/ sub spesialisasi, 6 bulan di psikiatri anak dan neurologi anak, 3 bulan di psikogeriatri dan penyakit dalam, 3 bulan di neurologi (penyakit syaraf) lalu tahun ke 4, masing-masing sebulan di adiksi, komunitas dan trans-kultural, forensik psikiatri (menentukan seseorang dapat bertanggungjawab atau tidak atas perbuatannya, perebutan hak asuh anak, dll), 3 bulan di jadi chief rawat inap, 3 bulan jadi chief rawat jalan dan 4 bulan penelitian untuk thesis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan spesialisasi bagi saya jauh lebih berat daripada pendidikan S2 pada umumnya tapi anehnya di Indonesia ini kami hanya disetarakan S2! Sudah mirip paket C setara lulusan SMU kalau pakai istilah disetarakan. Hal ini sama saja kekacauan kementrian pendidikan yang mensahkan bahwa gelar dokter adalah memakai 'dr', d huruf kecil dan r huruf kecil. Kenapa kalau gitu doktorandus dan doktoranda tidak disuruh pakai huruf kecil juga ya? Jadi drs dan dra.&lt;br /&gt;
Pendidikan spesialisasi di kedokteran tidak ada paket kelas malam atau dipercepat menjadi kurang dari 4 tahun karena harus memenuhi kuota waktu dan jumlah menangani pasien jadi walau pandai secara kognitif tidak bisa dipercepat. Hal ini tentunya berbeda dengan studi S2 yang bisa dipercepat atau mengambil kelas eksekutif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Total tahun yang saya jalani sampai menjadi seorang dokter spesialis adalah 12 tahun! Itulah mengapa kalau paranormal dan lainnya disebut 'orang pinter' karena mereka tidak perlu sekolah selama itu tetapi boleh mengobati orang sakit sedangkan dokter yang bodoh harus menjalani pendidikan belasan tahun sampai diuji national board dan diakui sertifikasinya baru boleh mengobati orang sakit. Belum lagi kalau saya lanjutkan dengan studi lanjutan di luar negeri untuk melengkapi wawasan dan pengetahuan saya. Ehhh fenomena sekarang lagi banyak pula psikologoid-psikologoid, oid adalah istilah yang menunjukkan arti menyerupai, jadinya yang menyerupai psikolog. Siapakah mereka? Mereka adalah yang pelatihan 20 jam hipnoterapi, yang belajar otodidak psikologi lalu mengaku sebagai terapis, dll. Bagaimana mungkin bisa menterapi sebagai terapis kalau pengetahuan menegakkan diagnosisnya tidak utuh? Kasihan masyarakat yang kurang pandai membedakan hal-hal ini sehingga jatuh ke dalam praktik pembohongan publik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga sekilas tentang bagaimana menempuh pendidikan untuk menjadi psikiater ini bisa menambah informasi dan wawasan bagi khalayak dan anak-anak muda Indonesia yang siap memenuhi panggilan hidupnya di bidang kesehatan jiwa yang 'kering' ini namun sarat makna dan menurut Dr. Victor E Frankl (psikiater penemu logotherapy), barang siapa dapat memaknai pekerjaannya sebagai makna hidupnya adalah orang yang bisa berbahagia.  &lt;br /&gt;
 </description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2014/11/bagaimana-menempuh-pendidikan-untuk.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>160</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-8081735316837179271</guid><pubDate>Sat, 08 Nov 2014 16:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-11-08T08:09:28.524-08:00</atom:updated><title>MANUSIA: SUBJEK YANG MENCARI MAKNA HIDUP MELALUI KARYA</title><description>Pendahuluan&lt;br /&gt;
 Dalam kehidupan sehari-hari, issue yang penting setiap kali saya berhadapan dengan pasien-pasien saya (saya adalah seorang psikiater/ dokter ahli kedokteran jiwa) adalah bagaimana mengembalikan fungsi pasien saya kepada fungsi semula, yaitu fungsinya dalam kondisi sebelum sakit. Kondisi pasien-pasien saya sebelum sakit biasanya dalam kondisi produktif baik sebagai pekerja atau sebagai pelajar. Banyak dari keluarga pasien-pasien saya maupun pasien itu sendiri mengeluhkan kondisinya yang tidak dapat kembali bekerja menjadi karyawan di sebuah perusahaan walaupun mereka dapat bekerja dengan baik sebagai penjaga warung di warung milik keluarga atau bahkan hanya membuat kardus untuk packaging produk. Banyak dari mereka yang bekerja bahkan lebih rapih membuat kardus dan lebih baik melayani pembeli di warung daripada pekerja lain tetapi mereka tetap merasa kurang produktif dan kurang menghasilkan uang dibandingkan bekerja sebagai karyawan dengan upah minimum provinsi.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Issue tentang pekerjaan ini juga saya temui dalam proses mendidik calon-calon dokter dan dokter muda yang baru lulus dan kembali dari tugas internship (kerja di bawah supervisi dokter yang leih senior) di daerah. Kebanyakan dari mereka dilarang oleh orang tuanya jika hendak mengambil bidang spesialisasi kedokteran minor seperti spesialisasi saya dengan alasan umum bahwa bidang spesialisasi kedokteran minor (contoh bidang mayor seperti penyakit dalam, bedah, kebidanan dan kandungan, Ilmu kesehatan anak) tidak dapat menghasilkan banyak uang. &lt;br /&gt;
Dari kedua hal yang menurut saya cukup kontras ini, yang satu dari sisi keluarga pasien dan pasiennya sedangkan yang lain dari sisi dokter dan keluarga dokter, rupanya kedua kelompok tersebut memiliki persepsi yang sama tentang bekerja atau berkarya dalam hidup ini seakan-akan hanya satu tujuan yaitu menghasilkan uang dan lebih banyak uang! Hal seperti ini pun pernah saya alami di masa lalu saya dan menjadi pertanyaan reflektif dalam diri saya bahwa apa sebenarnya tujuan dan makna hidup saya sebagai seorang manusia. Melihat kenyataan yang lazim saat ini bahwa pandangan kebanyakan masyarakat dalam ‘memaknai’ kehidupan pada umumnya dan khususnya dalam pekerjaan adalah bertujuan mendapatkan uang, maka baiklah kita meninjau apa sebenarnya hakikat manusia sebagai subjek (persona) yang memaknai hidup dalam karya-karyanya melalui pekerjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia sebagai Subjek (Persona)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Menurut Thomas Aquinas, ketika kita melihat manusia sebagai manusia harus menjadi tujuan dari segala aktivitas dan tidak dapat direduksi menjadi sarana.1 Dalam buku-buku Filsafat Manusia juga dikatakan dengan jelas bahwa manusia adalah subjek (pribadi jasmani-rohani).2 Sebagai subjek maka manusia memiliki keunikan masing-masing dan tidak ada satu pun manusia yang mirip 100 persen dengan manusia lainnya, ia memiliki pendirian, kebebasan, inteligensi dan lain sebagainya yang dapat menarik dirinya keluar dari dirinya sendiri dan bebas menentukan dirinya sendiri. Manusia tidak boleh dijadikan ‘alat’ atau ‘sarana’  untuk mencapai sesuatu apalagi direduksi hanya untuk mencapai uang. Manusia sebagai persona memiliki keterbukaan kepada Allah, maka ia berpartisipasi dalam kehendak Allah.1,2&lt;br /&gt;
 Kierkegaard mengatakan bahwa manusia dengan pilihan bebasnya dapat menentukan sendiri hidupnya, Hal ini juga diungkapkan oleh Gabriel Marcel yang menolak pandangan bahwa manusia bukan pribadi yang unik dan tidak memiliki individualitas. Dunia modern saat ini cenderung memfungsionalitaskan kehidupan.1 &lt;br /&gt;
 Manusia sebagai subjek adalah totalitas, menjadi suatu satu kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagi menjadi misalnya organ-organ tubuhnya.2 Pasien saya dengan gangguan kejiwaan, saat jiwanya terganggu memang tidak bisa dipandang sebagai suatu totalitas dalam dirinya karena fungsi jiwa dan badannya tidak integratif, tidak merupakan kesatuan sehingga tidak  bisa menempatkan sesuatu pada konteksnya namun ketika mereka sudah ‘sembuh’ karena mendapatkan pengobatan maka ia kembali menjadi manusia yang total yang utuh seutuh-utuhnya sehingga memiliki hak kembali untuk dapat berdiri dengan pendirian, dengan sikap  di mana ia mampu mengambil dan mengubah sikap menunjuk adanya kemerdekaan dan pengertian. Totalitas manusia ini membuat ia dapat mengisi hidupnya dengan penuh dinamika dan hanya manusia itu sendiri yang dapat menentukan sendiri dinamika hidupnya sebagai miliknya sendiri karena ia adalah subjek. Hal ini menunjukkan bahwa pada hakikatnya manusia itu sendiri yang menentukan tujuan akhirnya, bukan pihak di luar dirinya yang menentukan tujuan akhir dari hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Historisitas Manusia dan Pekerjaan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
        Dimensi pekerjaan pada manusia tidak terlepas dari historisitas manusia. Manusia adalah makhluk yang bersejarah, hanya manusia yang dapat mencatatkan cerita tentang dirinya sendiri, tidak ada makhluk lain yang melakukan hal ini. Sejarah digerakkan oleh 2 faktor yang tidak terpisahkan yaitu bahasa dan pekerjaan.3&lt;br /&gt;
        Konsep kesejarahan mengimplikasikan tiga hal, yang pertama adalah fakta bahwa setiap manusia melihat dirinya ditempatkan dalam ketegangan masa lampau yang telah terjadi dan kemungkinan baru untuk terjadi. Manusia adalah pemberi masa lampau dan pemberi tugas masa depan. Kedua, kesadaran bahwa ada kemungkinan berintervensi dalam proses sejarah melalui keputusan bebas dan kerja manusia. Ketiga, sejarah adalah tugas manusia dengan penekanan pada tanggung jawab manusia atas sejarah tersebut.4 Dalam penjelasan-penjelasan ini terlihat jelas peran penting ‘kerja’ bagi manusia sebagai makhluk pembuat dan yang akan membuat lagi sejarahnya dalam tanggung jawab menciptakan dunia yang semakin sempurna, semakin baik ditinggali oleh manusia-manusia selanjutnya. Menurut penulis, dalam hal ini, manusia dituntut berkontribusi positif dalam kerjanya sehingga dapat menghasilkan karya yang bertanggungjawab sesuai panggilan Allah, bukan panggilan uang. Hal ini sesuai juga dengan pandangan Leahy tentang arti modern historisitas, yang menurutnya adalah sifat khas sebuah kesadaran yang tahu akan tanggung jawab terhadap masa depan.5&lt;br /&gt;
Lebih jauh lagi menurut Leahy, konsep modern tentang historisitas itu adalah suatu konsep tentang masa lampau yang terintegrasikan. Masa lampau yang terintegrasi tersebut dipahami sebagai sesuatu yang pernah hadir dan bukan sudah tiada lagi melainkan menjadi proses ‘penyimpanan’ dan ‘pengaktifan’ kembali. Hal ini sangat erat kaitannya dengan makna kerja dalam hidup manusia. Marleau-Ponty mengatakan bahwa manusia adalah makhluk pekerja dan kerja yang merupakan tumpuan sejarah bukanlah semata-mata pengadaan harga, melainkan secara umum merupakan kegiatan manusia dalam karyanya memancarkan suatu lingkungan yang manusiawi ke sekitarnya dan dalam mengatasi fakta alami kehidupan.5&lt;br /&gt;
          Melalui konsep ini, manusia wajib merenungkan aspek historisitas untuk menangkap makna manusia pada umumnya serta manusia pada saat kini pada khususnya. Frankl juga mengatakan bahwa manusia dapat menemukan makna hidupnya melalui pekerjaan/ karyanya selain dari penderitaan dan pribadi yang menemukan hidupnya bermakna adalah pribadi yang ideal.6 Maka, orang beriman wajib menunjukkan bahwa imannya akan Allah bukanlah merupakan pelarian ke luar sejarah, melainkan sebaliknya, dengan keyakinan imannya ia menggarisbawahi tanggung jawabnya terhadap sejarah melalui kontribusi karya pelayanannya.5&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimensi Pekerjaan Manusia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
        Kita sudah melihat bahwa pekerjaan adalah bagian penting dari sejarah, sekarang kita akan melihat dimensi pekerjaan itu sendiri yang menjadi pokok permasalahn/ issue dalam uraian pendahuluan. Sebagai makhluk yang bukan hanya rohani melainkan juga jasmani maka pada awalnya hakikat pekerjaan bagi manusia adalah segala aktivitas dalam rangka memenuhi kebutuhan dirinya dan masyarakat dalam segala aspek. Penulis tidak memungkiri bahwa ada kebutuhan-kebutuhan dasar jasmaniah yang perlu dipenuhi dengan mendapatkan materi seperti kebutuhan makan minum, tempat tinggal, transportasi, dan lainnya. &lt;br /&gt;
         Perkembangan teknologi telah memberi kemampuan manusia untuk membangun dunianya lebih baik. Namun hal ini telah mengubah pandangannya menjadi lebih condong pada keadaan mengagungkan pekerjaan produktif dan teknologis. Saat ini manusia lebih didominasi oleh ‘rasio instrumental’, yaitu kemampuan penalaran yang mementingkan sarana mencapai tujuan dan kurang memberi tempat pada ‘rasio substansial’, yaitu kemampuan rasional manusia untuk melihat nilai dan makna.3 Manusia terjebak pada hal-hal yang dibuatnya sendiri yang pada awalnya dibuat dengan tujuan memudahkan hidupnya tetapi sekarang malah menjadi diperbudak oleh buatannya tersebut.&lt;br /&gt;
         Manusia saat ini kurang menyadari mana yang merupakan kebutuhannya dan mana yang merupakan keinginan egoisnya untuk mendapatkan kemajuan teknologi yang tujuan awalnya adalah memudahkan kehidupannya. Salah satu contoh yang sederhana saat ini adalah perkembangan gadget yang pada awalnya untuk memenuhi kebutuhan akan komunikasi tetapi sampai saat ini perkembangannya telah jauh melampaui kebutuhan untuk komunikasi melainkan memasukkan semua keinginan manusia untuk ‘dimanja’ dalam bentuk entertainment dan lainnya ke dalam satu gadget dengan harga mahal yang beberapa bulan kemudian harganya akan turun drastis. Masih banyak hal-hal lain seperti ini jika dikejar oleh manusia maka manusia akan kehilangan ‘rasio substansial’-nya dan mengejar semakin banyak uang untuk memenuhi keinginannya, bukan kebutuhannya. &lt;br /&gt;
         Ketika seorang manusia mengejar keinginannya tersebut untuk mendapatkan lebih banyak uang sebagai tujuan akhir maka seorang manusia seakan-akan bekerja untuk bertahan hidup dan menjadikan hidupnya hanya untuk bekerja. Idealnya, pekerjaan sebagai dimensi esensial eksistensi manusia di dunia dipandang oleh manusia sebagai sesuatu yang bisa membuatnya ‘dianggap’ sebagai manusia. Orang bekerja keras sebenarnya bertujuan agar ia memiliki waktu luang untuk ‘berkontemplasi’ agar dapat menikmati kebersamaan dengan yang lain seperti dengan keluarga dan teman-temannya, untuk dapat belajar, untuk dapat berdoa dan lain hal yang membuat kualitas hidupnya bertambah sebagai manusia. Manusia tidak boleh menjadikan pekerjaan segala-galanya bagi dirinya. Manusia ada bukan untuk bekerja, tetapi manusia bekerja dan harus bekerja agar eksistensinya penuh keluhuran dan bermartabat. Pekerjaan tidak boleh ditiadakan tetapi juga tidak boleh menjadi ekspresi total manusia, karena ada dimensi hakiki lainnya yang harus diekspresikan juga.3 Apalagi kalau hanya dipandang sebagai sarana mendapatkan uang!&lt;br /&gt;
          Dalam hal nilai dan makna dalam bekerja ini maka setiap manusia harus menemukan nilai dan makna pekerjaannya dengan mengingat hakikatnya sebagai subjek, posisinya sebagai makhluk historis dan mengutamakan panggilan Allah atas karya apa yang harus dilakukannya sebagai bagian dari perpanjangan tangan Allah di dunia ini. Tidak ada tugas kecil pun yang tidak bermakna bahkan pekerjaan yang kita anggap paling rendah pun (misalnya petugas kebersihan, buruh kasar,dll) jika tidak ada yang melakukan maka seluruh sistem kehidupan kita akan mengalami ketidakseimbangan.&lt;br /&gt;
          Menurut penulis, pekerjaan bagi manusia juga bisa dianggap sebuah pemainan dengan tanggung jawab dalam dinamika kemanusiaannya. Permainan adalah gejala umum dalam kehidupan manusia. Hal ini nampak dalam olimpiade sejak zaman Yunani sampai saat kini. Sepanjang manusia itu bebas dalam permainan maka manusia dapat menemukan dirinya dengan cara yang sewajarnya. Dalam permainan manusia mengalami dirinya secara utuh , total, terintegrasi.7 Sebagian dari pekerjaan kita adalah ‘permainan’, seperti anak-anak bermain peran di sebuah taman bermain kanak-kanak yang dikenal dengan nama Kidzania. Di Kidzania, seorang anak dapat berperan dalam permainan pekerjaan saat dewasa nanti. Sudah tentu bahwa ‘permainan’ yang dimaksud dalam pekerjaan adalah sebuah pekerjaan yang dapat membuat seorang manusia menemukan dirinya secara utuh sehingga keutuhan dan totalitasnya juga dapat membuatnya bekerja dalam totalitas itu atau istilah yang biasa digunakan adalah bekerja ‘all out’ tanpa dirundung situasi yang membebani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Simpulan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Sebagai makhluk jasmani yang masih perlu pemenuhan kebutuhan materiil untuk keberadaan jasmaniahnya, maka manusia memang memerlukan uang sebagai salah satu alat atau sarana  tetapi uang bukan tujuan bekerja. Di lain pihak, jangan lupa bahwa manusia juga makhluk rohani yang keberadaannya sebagai subjek tidak terbatasi oleh kondisi jasmaniahnya saja. Manusia sebagai subjek adalah pengada dan untuk itu memiliki kebebasan dan tanggung jawab dalam kontribusinya akan masa depan kehidupannya. Manusia menciptakan masa lalunya dan akan menciptakan juga masa kini dan masa depannya, oleh sebab itu manusia perlu berkarya. Manusia yang berinteligensi, bebas, berpendirian dan bertanggung jawab seharusnya dapat menjaga keseimbangan pandangan-pandangan filosofis tentang pekerjaan dan pemenuhan kehidupannya, bukan semata-mata ditentukan pandangan di luar dirinya apalagi kalau pilihan pekerjaannya hanya dibatasi oleh uang. Manusia  seharusnya dapat menentukan pekerjaannya yang menjadi tujuan akhir penuh nilai dan makna dalam hidupnya sehingga dapat menemukan secercah kebahagiaan hidup yang penuh makna.&lt;br /&gt;
 Dalam memilih pekerjaannya manusia harus selalu ingat bahwa ia memiliki tanggung jawab historis yang secara keimanan ia perlu mempertimbangkan ‘panggilan’ Allah atas tugas apa yang harus dikerjakannya dalam perannya ambil bagian di kehidupan ini.&lt;br /&gt;
        Manusia juga harus dapat memilih pekerjaannya seperti sedang bermain sehingga ia selalu berada dalam totalitasnya sebagai subjek dan bebas merdeka dalam berkarya, menciptakan hal-hal dari yang sederhana sampai yang mungkin spektakular untuk kehidupan yang lebih baik di dunia ini.&lt;br /&gt;
        Hal terakhir yang tidak boleh dilupakan adalah melihat kenyataan di dunia ini khususnya di Indonesia, penulis masih melihat adanya ketidakadilan dalam hal penghargaan atas nilai dan pemaknaan hidup pekerjaan-pekerjaan tertentu di Indonesia sehingga seakan-akan membuat manusia Indonesia menjadi tidak bebas untuk menentukan pekerjaan yang sesuai dengan hakikatnya sebagai manusia seperti yang telah diuraikan di atas. Kesenjangan penghasilan yang paling bawah dan yang paling atas begitu jauh dan tidak ada standar yang mendekati ‘adil’ yang diatur oleh penyelenggara negara yang seharusnya dapat menjamin ‘kemerdekaan’ warga negaranya. Walaupun demikian kita tidak dapat menganggap keadaan ini sebagai suatu kondisi yang deterministik melainkan masih ada kesempatan yang bebas untuk diubah. Sesuai pengalaman subjektif penulis hingga saat ini ternyata kebebasan kita memilih mau dihargai seperti apa nilai dan pemaknaan atas pekerjaan kita sangat ditentukan oleh pilihan bebas diri kita sendiri dan bukan oleh standar-standar ketidakadilan yang diciptakan/ ditentukan masyarakat atau negara. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daftar Pustaka&lt;br /&gt;
1. Sastrapratedja, M. Manusia Sebagai Pribadi/Persona dalam Filsafat Manusia I. Pusat kajian Filsafat dan Pancasila. Jakarta. 2010. H. 171-176&lt;br /&gt;
2. Driyarkara ,N. Dinamika dan Persona dalam Filsafat Manusia. Kanisius. Yogyakarta. 1969. H. 55-57&lt;br /&gt;
3. Sastrapratedja, M. Dimensi Antropologis Pekerjaan dalam Filsafat Manusia I. Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila. Jakarta. 2010. H. 159&lt;br /&gt;
4. Sastrapratedja, M. Kesejarahan dalam Filsafat Manusia I. Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila. Jakarta. 2010. H. 141-143&lt;br /&gt;
5. Leahy, L. Historisitas. Siapakah Manusia? Kanisius. Yogyakarta. 2001. H. 225-230&lt;br /&gt;
6. Bastaman, H.D. Logoterapi Sebagai Filsafat Manusia dan Teori Kepribadian dalam Logoterapi.PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2007. H. 85-87 &lt;br /&gt;
7. Driyarkara ,N. Permainan Sebagai Aktivisasi Dinamika dalam Filsafat Manusia. Kanisius. Yogyakarta. 1969. H. 79-83&lt;br /&gt;
</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2014/11/manusia-subjek-yang-mencari-makna-hidup.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-2437129237610016817</guid><pubDate>Mon, 20 Oct 2014 16:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-10-20T09:37:21.475-07:00</atom:updated><title>MENDIDIK SUARA HATI</title><description>Senin pagi 20 Oktober 2014, setiba saya di kantor setelah seminggu tidak masuk kantor karena memberi pelatihan di luar kota, saya dikejutkan dengan pengalihan rawat pasien dari  teman sejawat saya. Pasien adalah seorang pasien wanita 27 tahun yang menderita gangguan bipolar mania (dulu lebih dikenal dengan istilah gangguan manik depresif) dengan kehamilan 5 minggu karena dihamili laki-laki yang tidak dikenal. Kehamilan ini adalah kehamilan tidak diinginkan yang kedua kalinya. Dari kehamilannya yang pertama, ia telah melahirkan seorang anak laki-laki yang saat ini telah berusia 4 tahunan dan karena penyakit mentalnya, ia tidak dapat mengurus puteranya tersebut. Sekilas pandang tentang gangguan bipolar mania ini, seorang penderita gangguan bipolar mania akan mengalami rasa senang yang berlebihan, meningkatnya nafsu seks, boros, mudah sekali menghambur-hamburkan uang tanpa memiliki pengendalian diri atas semua tindakannya tersebut. Kehilangan kontrol atas dorongan kehendak ini seringkali dimanfaatkan orang-orang disekitarnya baik secara ekonomi maupun seksual. Nafsu seks yang meningkat pada pasien ini sangat nyata sekali dan terus menerus merayu laki-laki disekitarnya, rupanya hal ini disalahgunakan oleh laki-laki yang ditemuinya karena pasien ini sempat menghilang dari rumah dan tidak pulang selama lebih dari seminggu. Kejadian seperti ini seringkali kami, para dokter spesialis kedokteran jiwa alias psikiater, temui menimpa pasien-pasien wanita dengan bipolar episode mania. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Sejam kemudian, kedua orang tuanya pasien ini datang menemui saya dengan satu tujuan yaitu meminta saya  mengeluarkan surat rekomendasi agar pasien ini dapat digugurkan kandungannya dan kemudian dipasang alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) supaya tidak terulang kembali kejadian seperti ini. Saya tidak langsung setuju dengan maksud dan tujuan ini sebelum mengevaluasi apakah pengobatan yang selama ini diberikan kepada pasien sudah efektif. Di lain pihak, tindakan menggugurkan kandungan bertentangan dengan suara hati saya. Pada saat ini, salah satu obat yang berfungsi untuk mengendalikan perilaku dorongan kehendak yang tidak terbendung ini mungkin mempunyai risiko efek negatif pada janin yang berusia 5 minggu tersebut. Orang tua pasien berdalih bahwa dalam agamanya menggugurkan kandungan usia 5 minggu tidak berdosa dan pasien tidak mampu mengurus anaknya sehingga akan sangat berisiko juga bagi pertumbuhan dan perkembangan sang anak. Sejauh ini, seakan-akan argumentasi kedua orang tua pasien masuk akal walaupun saya menemukan fakta bahwa ternyata orang tua pasien telah lalai untuk memastikan putrinya mendapatkan pengobatan yang baik dan benar dengan membawanya rutin periksa rawat jalan ke psikiater.&lt;br /&gt;
Apakah suara hati dan perannya dalam tindakan moral &lt;br /&gt;
Terlepas dari semua hal itu, sebenarnya ada ganjalan berupa suara hati saya yang tidak setuju dengan tindakan aborsi apalagi melihat ada fakta bahwa pasien melakukan itu semua karena tidak dibawa berobat secara teratur oleh ‘care giver’-nya dalam hal ini orang tuanya. Menurut pater Sudarminta dalam buku Etika Umum yang disusunnya, suara hati adalah pedoman atau pegangan moral manusia dalam situasi konkret, disaat ia harus mengambil keputusan untuk bertindak. Hal ini mengusik kesadaran saya akan kewajiban moral saya terhadap kasus ini berdasarkan hukum moral. Berdasarkan hukum moral yang saya pahami,  adalah suatu kesalahan besar jika saya merenggut nyawa seorang calon manusia yang tidak bersalah apa-apa dengan mengakhiri kesempatannya untuk hidup di dunia ini.&lt;br /&gt;
 Sebagai suatu kesadaran, suara hati ini adalah salah satu proses akal budi saya dalam bertindak dan bukan hanya sekedar perasaan kasihan spontan saya pada janin tersebut. Kesadaran ini juga merupakan suatu endapan kesadaran akan nilai yang sudah diinternalisasikan pada saya sejak kecil melalui pendidikan sekolah, agama maupun nilai-nilai budaya dalam proses kehidupan saya. Secara spontan, suara hati saya telah berperan mengendalikan keputusan moral saya untuk tidak langsung mengatakan ya pada aborsi. Secara teknis saya memiliki beberapa poin yang bisa saya jadikan alasan pembenaran untuk merekomendasikan aborsi pada kasus seperti ini tetapi suara hati saya berperan dalam mengingatkan saya supaya tidak gegabah.  &lt;br /&gt;
 Kalau saya mengatakan bahwa saya memiliki suara hati yang secara spontan mengendalikan saya dalam mengambil keputusan moral, apakah itu berarti kedua orang tua pasien tidak memiliki suara hati? Jawabnya adalah mereka tetap memiliki suara hati. Semua manusia memiliki suara hati, hanya memang suara hati yang tidak sama dengan suara Tuhan (yang pasti benar), bisa saja keliru. Kekeliruan tentang isi kewajiban moral yang ditegaskan oleh suara hati dapat terjadi baik karena pemahaman dan kesadaran moral yang dimiliki atau diwarisinya dari lingkungan, budaya, dan ajaran nilai-nilainya itu secara objektif memang keliru atau ia yang keliru mengerti nilai-nilai apa yang ia warisi. Hal lain yang mungkin adalah dorongan umum manusia adalah sulit terbebas dari nafsu-nafsunya seperti nafsu mencari jalan pintas dalam menjalani kehidupan sehingga tidak mau repot mendampingi anaknya untuk berobat teratur sehingga ketika sudah terlanjur hamil-pun masih mencari jalan pintas yang menurutnya tidak merepotkan (Mereka tidak sadar bahwa mereka telah merepotkan dokter-dokter yang terlibat dalam kasus ini)!&lt;br /&gt;
Membina suara hati &lt;br /&gt;
 Dari cerita di atas kita sudah melihat bahwa nampaknya suara hati dapat keliru dalam berperan atau bahkan menjadi ‘tumpul’ sehingga tidak dapat berperan dalam diri seseorang. Melalui fakta ini maka perlu sekali membina atau mendidik pembentukan suara hati sejak usia dini dengan harapan terbentuklah ‘kebiasaan’ (habit) tertentu sehingga suara hati yang benar dapat berperan dalam tindakan, khususnya tindakan moral. Pendidikan suara hati ini harus melibatkan dimensi kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan) dan konatif (perilaku atau kehendak) sehingga terbentuk dimensi kebiasaan (habit) berbuat baik.  &lt;br /&gt;
 Dimensi kognitif menuntut seseorang untuk terus belajar, memperbaharui pengetahuannya, memperluas wawasannya sehingga tidak memahami suatu permasalah dengan menggunakan pengetahuan atau wawasan yang sudah tidak sesuai jamannya. Kita harus terus menerus belajar dari hidup yang terus berkembang dan berubah, jika tidak, pengalaman moral kita menjadi statis, dogmatis dan tidak sesuai dengan kenyataan hidup yang ada, dalam bahasa anak gaul sekarang adalah menjadi orang ‘jadul” (jaman dulu). Dalam belajar pun, kita harus selalu rendah hati dengan mau bertanya kepada orang-orang yang kita anggap ahli atau berkompeten  dalam bidang-bidang  lain, sebab walaupun kita sudah menyandang gelar doktor dan bahkan memiliki gelar akademik profesor sekalipun bukan berarti semua ilmu pengetahuan telah kita kuasai. Sangatlah tidak bijaksana mengambil keputusan begitu saja tanpa memperoleh informasi dan penjelasan dari orang-orang yang lebih mengetahui/ ahli.&lt;br /&gt;
 Pada dimensi afektif, pendidikan suara hati bertujuan menumbuhkan kepekaan hati terhadap kebaikan. Pengembangan dimensi ini memerlukan pengalaman mengalami atau menyaksikan sendiri bagaimana nilai-nilai dan sikap moral yang baik itu diteladani dari figur yang berperan sebagai ‘role model’. Menurut pater Sudarminta, orang merasa dididik dan dikembangkan pribadinya, bukan pertama-tama karena diberitahu ini dan itu, tetapi karena ditarik oleh pesona keteladanan pendidiknya. Keutamaan moral tidak lagi menjadi suatu yang abstrak tetapi konkret diejawantahkan dalam pribadi-pribadi yang hidup dan dapat dijumpai. Dalam kehidupan seorang calon dokter, peran pembimbing klinis, dosen-dosen dan guru besar bukan hanya pandai memberitahukan ini dan itu tentang ilmu kedokteran kepada para calon dokter melainkan mampu menularkan sikap dan citarasa moral dalam suasana hubungan antar-pribadi yang dijiwai semangat kasih sehingga figur tokoh-tokoh pendidik ini sebagai pejuang moral dapat berperan positif dalam pendidikan afektif suara hati calon dokter dengan benar.  &lt;br /&gt;
 Dalam dimensi konatif, pendidikan moral bertujuan membangun tekad moral. Pengetahuan dan pemahaman yang cukup dan tidak keliru belum tentu dapat menghasilkan tindakan yang benar dalam hal ini. Dokter mana yang tidak tahu bahwa merokok berbahaya bagi kesehatannya? Kenyataannya  masih banyak dokter yang merokok! Hal ini membuktikan bahwa fungsi kognitif dan afektif seringkali tidak sejalan juga dengan konatifnya. Kelemahan kehendak (akrasia) pada orang-orang ini akan membuat mereka jatuh kedalam godaan untuk tidak melaksanakan apa yang secara kognitif mereka pahami dan yakini kebenarannya. Sangatlah penting bagi setiap orang untuk melatih kehendaknya  sehingga memiliki tekad moral yang kuat sehingga terjadi kepekaan dan ketepatan penilaian suara hatinya apabila suara hatinya diselewengkan oleh nafsu dan doronga perasaannya yang tidak terkendali.&lt;br /&gt;
 Latihan penguasaan diri dengan bermati raga, melatih ‘awareness’ dengan latihan ‘mindfulness’  adalah metode-metode seseorang dapat membentuk tekat moralnya dengan ketrampilan mengendalikan diri (self-control) terhadap dorongan-dorongan spontanitas instingtual ‘kebinatangannya’. Untuk menjadi orang yang baik, tidak cukup memiliki kecerdasan otak melainkan perlu ditunjang dengan kejernihan hati. Untuk dapat jernih hatinya maka diperlukan latihan pemurnian dari macam-macam pamrih dan nafsu-nafsu yang tak terkendali.&lt;br /&gt;
 Dalam dimensi pembentukan kebiasaan berbuat baik, ketiga dimensi di atas dipadukan.  Kepekaan dan ketepatan suara hati menilai suatu tindakan moral akan berkembang dengan baik jika kita dibiasakan melakukan yang kita pahami dan yakini sebagai baik. Menurut Aristoteles, keutamaan moral tumbuh berkat pembiasaan berbuat baik terus menerus. Jadi hal terpenting untuk mencapai kebiasaan berbuat baik adalah adanya dimensi latihan dan pembiasaan. Kadangkala pembiasaan dilatihkan dalam suatu bentuk paksaan. Hal ini boleh-boleh saja sejauh bentuk pemaksaan ini dapat dimengerti sebagai sesuatu yang bertujuan baik sehingga akhirnya dapat diterima dengan kerelaan hati. Apabila tidak ada kerelaan hati dalam menjalani latihan dan pembiasaan ini maka tidak akan efektif menghasilkan kebiasaan berbuat baik yang dapat bertahan lama.   &lt;br /&gt;
</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2014/10/mendidik-suara-hati.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-1154669914279637029</guid><pubDate>Thu, 09 Oct 2014 00:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-10-12T06:57:07.187-07:00</atom:updated><title>Pentingnya Perjanjian harta terpisah (Prenup) Sebelum Menikah </title><description>Prenup pra nikah adalah surat perjanjian pra nikah yang umumnya orang menyebytnya surat perjanjian harta terpisah. Hal ini menjadi kontroversi sampai saat ini karena banyak orang beranggapan kalau sudah menikah maka pasangan ini bukan lagi 2 individu yang terpisah melainkan satu yang tak terpisahkan dan harus menghadapi suka duka kehidupan bersama-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi kenapa harus buat surat pisah harta? Bukankah itu sesuatu yang mengingkari dan mempunyai niat tidak baik dalam mengawali pernikahan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sabar...bukan itu maksudnya. Dulu saya juga setuju dengan pendapat ini dan sampai saat ini pun saya tidak setuju dengan surat perjanjian harta terpisah sebelum nikah kalau niat awalnya agar tidak repot bagi harta gono gini ketika bercerai! Surat perjanjian ini dibuat bukan untuk mengantisipasi perceraian atau dihayati sebagai elu-elu gue-gue kalo sudah soal harta!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di lain pihak masih banyak juga dalam pernikahan saat ini kehilangan nilai siapakah yang harus bertanggungjawab dalam ekonomi rumah tangga? Apakah seluruhnya tanggungjawab suami atau ada peran serta setara dengan istri yang juga memikul tanggung jawab ekonomi sehingga hasil gaji istri juga harus dikontribusikan dalam ruumah tangga? Masih banyak juga istri yang berpendapat bahwa gajinya yah untuk dirinya sendiri bahkan untuk hedonisme dirinya sendiri dan masalah rumah tangga serta anak-anak adalah urusan suami sendirian. Sekiranya pendapat seperti ini apakah sesuai dengan falsafat mereka bukan lagi dua melainkan satu?&lt;br /&gt;
Hal lain lagi adalah banyak juga suami-suami yang minder karena penghasilan istrinya lebih besar daripada penghasilannya atau bahkan istri yang merasa minder kalau ketahuan suaminya kurang mampu melebihi dirinya dalam posisi mereka di masyarakat. Kondisi kebalikannya adalah ketika istri menjadi besar kepala, dominan sekali terhadap suami dan merasa karena penghasilannya lebih besar daripada suami maka ia sekarang seakan-akan mengambil alih posisi kepala keluarga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, hal-hal mendasar seperti ini seringkali menjadi tidak jelas, kalau tidak mau disebut sudah hilang pada masyarakat kita saat ini. Nampaknya dengan perubahan nilai dan norma yang cepat saat ini membuat gamang masyarakat kita dalam mengikuti pedoman universal nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk hal ini saya tidak bermaksud setuju atau tidak setuju terhadap kondisi perekonomian keluarga tadi kecuai saya memegang prinsip dasar kesetaraan suami dan istri dalam sebuat perkawinan sebaya (peer marriage), saya bukan penganut perkawinan konvensional dimana semua tanggungjawab didominasi suami atau ayah dan suami atau ayah akan selalu benar dalam pengambilan keputusan dll alasan saya adalah zaman saat ini sudah berubah kondisinya dimana banyak istri yang harus bekerja bersama dan suka atau tidak suka menurut saya membuat kompetisi tersendiri di dunia lapangan kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ok kembali ke topik. Beberapa dekade lalu, penegakan hukum, pemutarbalikan fakta hukum, kelihaian para "spin doctor" di era ini terhadap permasalahan amandemen UUD, perubahan UU dll termasuk klausul-klausul hukum yang seringkali menjebak kita sebagai orang yang awam hukum sangat-sangat merugikan kita dan besar sekali kemungkinan ekonomi rumah tangga dirugikan karena hal ini karena prinsip harta bersama adalah harta suami istri adalah satu kesatuan sehingga jika sebuah perjanjian dibuat oleh salah satu pasangan maka dampaknya akan kepada keseluruhan harta tanpa sekat antara harta yang diatasnamakan istri dengan harta yang diatasnamakan suami!&lt;br /&gt;
Bayangkan kalau suatu saat seorang suami karena keperluan bisnisnya harus meminjam uang di Bank dan kemudian gagal bayar maka yang disita adalah harta keseluruhan milik suami dan istri tersebut dan bank tidak akan peduli keluarga itu semua mau jadi gembel sekalipun. Hal ini akan berbeda jika ada harta terpisah maka yang akan disita adalah hanya harta atas nama suami. Dengan hal ini diharapkan ekonomi rumah tangga dan keluarga masih dapat disokong oleh harta istri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal seperti ini saya lihat contoh-contoh saat konseling pasien-pasien saya, ada sebuah keluarga yang menjadi miskin karena sang ayah yang meninggal di usia 55 tahun akibat kanker sedangkan almarhum adalah seorang pengusaha yang selama hidupnya pandai mengelola aset termasuk 'memutar' hutang-hutangnya dari bank dan ketika meninggal otomatis gagal bayar sehingga semua harta disita oleh bank. Istri dan ketiga anaknya harus kembali ke rumah orang tua mereka yang sudah tua dan ditampung sementara oleh kakek nenek karena ketiga anaknya juga belum benar-benar mandiri. Saya dengar dalam bahasa hukumnya kalau tidak salah dianggap seakan-akan wanprestasi karena meninggalnya sang ayah ckckckc....bagaimana dengan asuransinya? Yah tidak cukuplah karena pada saat itu semua diupayakan pengobatan paling mahal sekalipun di luar negeri untuk mengobati kanker sang ayah. Akhirnya hampir semua harta yang fundamental habis disita bank yang sangat manis ketika menawarkan kredit. Mungkin hal ini akan berbeda jika ada perjanjian pisah harta sehingga paling tidak aset atas nama istri masih dapat digunakan untuk menopang keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada lagi contoh lain adalah ketika tiba-tiba sang suami menderita gangguan jiwa yang disebut judi patologis sehingga kalah judi dimana-mana dan berhutang kemana-mana sehingga hutangnya harus ditanggung oleh istrinya juga, dll kisah-kisah realita pahit kehidupan di masyarakat. Siapa sih yang mau sakit? Tapi siapa juga yang mau jadi miskin karena hal-hal seperti ini? Kalau sudah miskin lalu orang-orang yang melarang dan menasihati untuk tidak membuat perjanjian ini mau bertanggungjawab dan menopang ekonomi keluarga tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Simpulannya saya tidak setuju jika perjanjian ini dibuat dengan niat tidak repot jika kelak bercerai tetapi saya sangat menyarankan hal ini karena kita harus pandai (clever not only smart) dalam mengantisipasi aspek hukum yang dapat mengancam harta kita sehingga kita bisa tetap hidup tenang, manusia memang tidak hidup dari roti tetapi dari setiap firman Tuhan tetapi tanpa roti sama sekali maka realita hidup manusia juga akan susah karena manusia pada hakikatnya adalah makhluk berbadan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Anda dan keluarga Anda memerlukan konseling untuk masalah pra nikah seperti ini termasuk konseling pemeriksaan medis pra nikah, silahkan menghubungi klinik kami untuk membuat perjanjian di Klinik Taman Anggrek Smart Mind Consulting:&lt;br /&gt;
021-5609432, Whatsapp sy di 08129169825 (maaf jarang angkat telepon karena sudah cukup sibuk dengan konseli di depan saya)&lt;br /&gt;
</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2014/10/pentingnya-perjanjian-harta-terpisah.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-8164522864672598436</guid><pubDate>Wed, 08 Oct 2014 17:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-10-08T10:06:03.694-07:00</atom:updated><title>Homoseksualitas dan Konseling Spiritual (jangan ke psikiater untuk konseling spiritual!)</title><description>Sore tadi saya dikejutkan dengan balasan seorang Ibu yang mengirimkan pertanyaan konsultasi secara online kepada saya beberapa hari lalu dan ia mengatakan bahwa ia sangat kecewa melihat profil saya yang mendapat pendidikan theologi (hal ini keliru karena saya tidak pernah belajar theologi) / filsafat (yang ini benar karena saya belajar filsafat) ternyata tidak dapat memberikan konseling spiritual untuk anaknya yang homoseksual untuk bisa disembuhkan menjadi heteroseksual. Konseling spiritual? Nampaknya salah sasaran kalau mencari konseling spiritual pada psikiater/psikolog karena spiritualitas bukan ranah ilmu seorang mindscientist seperti saya dan walau saya mendalami filsafat manusia, filsafat eksistensial, saya bukan seorang filsuf apalagi menyangkut spiritualitas. Masalah spiritualitas adalah ranahnya para Imam (Pendeta, Romo, Ustad).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam jawaban saya sebelumnya menanggapi pertanyaan Ibu tersebut, homoseksualitas tidak dapat "disembuhkan" menjadi heteroseksual karena menurut penelitian-penelitian biologis otak pusat seksual di Medial Pre Optik Area (MPOA) orang dengan homoseksualitas berbeda dengan orang yang heteroseksual. Hal yang dapat saya lakukan dalam konseling/psikoterapi adalah membantu klien/ pasien untuk memilih secara bebas (karena dalam filsafat manusia, hakikat manusia adalah kebebasan walaupun ada determinisme alias hal yang ditentutkan sebelumnya semacam takdir bawaan) apakah ia mau menjadi seorang dengan perilaku seks homoseksual atau heteroseksual atau tidak melakukan perilaku seks seperti misalnya memilih hidup selibat. Tentunya hal seperti ini juga dipengaruhi derajat homoseksualitasnya, seperti misalnya apakah murni homoseksual atau biseksual (hal ini tentunya belum dapat saya nilai karena saya belum memeriksa pasiennya (anak si Ibu yang sudah pernah dibawa ke hipnoterapis dan gagal!) dikarenakan pertanyaan dikirimkan secara online.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari kasus-kasus homoseksualitas yang saya telah tangani, yang sifatnya egodistonik (kondisi mana pasien menolak dirinya menjadi seorang homoseksual) sekitar 50% dapat saya bantu untuk memilih konsekuensi hidup yang lebih "baik" dan pada umumnya yang biseksual masih dapat diarahkan untuk kehidupan perkawinan  dalam beberapa kali sesi konseling dan psikoterapi. Para homoseksual yang egosintonik relatif tidak pernah datang untuk konsultasi karena kondisi egosintonik tersebut ia tidak merasa ada "kelainan" dalam dirinya dan dapat menerima kondisi homoseksualnya tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak orang (termasuk Ibu tersebut) masih meyakini bahwa homoseksualitas dapat "disembuhkan", ini adalah pandangan yang terlalu optimis saat ini dan menggunakan kriteria sembuh dari sudut pandang perilaku heteroseksual padahal ilmu neuroscience sudah membuktikan bahwa ada sturuktur otak yang lain (dalam filsafat manusia boleh dikatakan hal ini adalah determinasi biologis) dan struktur yang berlainan dapat berfungsi secara berlainan pula. Dalam topik tentang kebebasan sebagai sifat hakiki manusia, kita dapat mengajak setiap orang untuk memilih yang baik dan yang lebih baik (bukan  hanya memilih yang lebih mudah antara yang jelek dan baik) walaupun ada determinisme biologis tersebut sehingga perilakunya tidak mengikuti determinasi biologis tersebut. Di lain pihak jangan terlalu jauh menuntut ada seorang dokter pada saat ini yang dapat mengubah MPOA yang lain (lebih besar) tersebut menjadi sama dengan MPOA manusia yang heteroseksual sehingga menjadi "sembuh", kalau ada yang bisa tolong beri tahu saya siapa dan dimana karena saya perlu berguru dan melakukan penelitian bersama dokter atau orang pinter tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini sama saja mustahilnya mengubah secara permanen seorang laki-laki heteroseksual dengan kadar testosteron tinggi yang suka main perempuan menjadi suami atau ayah yang baik dan tidak main perempuan lagi (dalam contoh ini di masyarakat kita malah hukum agama dipermainkan supaya mengesahkan poligami!). Yang bisa kita bantu untuk seseorang yang adiksi seksual-pun adalah pada awalnya menekan libidonya dengan terapi hormonal sambil dikonseling untuk memilih kembali pada perilaku yang "benar" sehingga ketika injeksi hormon (biasanya Cyclopteron acetate) dihentikan, nafsunya bisa meningkat lagi tapi perilakunya sudah berubah karena pilihannya untuk kembali ke jalan yang menurut kita benar. Ingat pula bahwa dalam pengertian benar ini ada yang sifatnya universal dan ada yang sifatnya juga parsial (tidak sungguh-sungguh benar atau tidak ada kebenaran yang sempurna kecuali Allah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Simpulannya, jangan mencari konseling spiritual ke psikiater karena itu ranahnya imam atau rohaniwan dan jangan mau dibohongi oleh teori jaman dulu bahwa homoseksual menular (masih banyak psikiater/psikolog stok lama yang tidak up date ilmunya tentang ini dan salah berpendapat) dan dapat disembuhkan dengan mengubah struktur otaknya, yang dapat di-"sembuh"kan adalah diajak memilih secara bebas ia bereaksi bagaimana dengan kondisi dirinya.</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2014/10/homoseksualitas-dan-konseling-spiritual.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-2426549933678050922</guid><pubDate>Wed, 02 Jul 2014 17:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-07-02T10:03:28.832-07:00</atom:updated><title>Kapan Harus Konsultasi Perkawinan dan Seks?</title><description>&lt;b&gt;&lt;/b&gt;Pada tanggal 20 Juni lalu saya diminta mengisi acara dengan topik tersebut di atas di Kalbe Care Lotte World Kuningan, peserta yang datang cukup banyak untuk ukuran ruangan yagn disediakan dan acara tersebut gratis bagi member KalCare. Belakangan ini juga semakin banyak pasien--pasien/ klien yang menghubungi klinik Smart Mind untuk konsultasi masalah keluarga. Sebagian besar adalah yang sudah diambang perceraian. Mengapa pada umumnya ketika sudah di ambang perceraian orang baru ingat untuk konsultasi perkawinan? OH ya ada juga sih yang konsultasi pra perkawinan tapi sangat jarang banget. Yang saya ingat hanya tiga kasus yang secara formal minta konsultasi pra perkawinan untuk pernikahan pertama, selebihnya pra perkawinan untuk pernikahan kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PENTINGNYA KONSULTASI PRA PERKAWINAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita jatuh cinta dan ketika cinta sudah melekat, tahi kucing pun terasa coklat, gitu kata pepatah guyonan sehingga ketika jatuh cinta semua yang kita lihat adalah yang baik-baiknya saja dan besar sekali kapasitas memaklumi kekurangan pasangan kita. Ketika kita memutuskan untuk menikah sebenarnya kita sudah tidak dalam fase jatuh cinta tetapi dalam fase memilih untuk berkomitmen untuk mencintai. Nah ini yang sulit, apakah kita sudah yakin untuk berkomitmen dengan seseorang untuk melalui hidup bersama sampai kematian menjemput?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang menjadi fokus kita seringkali dalam memilih pasangan adalah pasangan ideal yang kita inginkan, banyak dari kita lupa bahwa sebelum kita memilih pasangan yang kita inginkan, kita harus benar-benar mengenali dulu diri kita sesungguhnya apa dan siapa, bagaimana sifat kita, apa harapan kita, bagaimana kepribadian kita? Kalau kita sudah mengenal itu semua, baru deh kita mendefinisikan apa yang kita kehendaki dari pasangan kita yang paling cocok dengan kondisi diri kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada seorang wanita yang sudah menikah lebih dari 7 tahun akhirnya kecewa karena ternyata setelah menjalani hidup bersama, suami yang pada awalnya dia lihat seperti figur "role model" seorang pria yang seperti ayahnya ternyata jauh berbeda dengan sikap dan sifat ayahnya. Bagaimana dengan suaminya? Ternyata suami-nya pun salah duga, kepribadian dasar suaminya yang kurang dominansi jauh dibawah kepribadian istri yang lebih dominan (walaupun dominansinya tidak berlebihan sampai patologis) membuat dirinya selalu "kalah"  oleh istrinya. Di lain pihak figur istrinya memang figur yang dia cari karena dia menginginkan seorang wanita yang mandiri dan dirinya tinggal tahu beres karena sewaktu kecil peran mamanya begitu dominan. Dalam kasus ini terjadi ketidakcocokan harapan, sang istri minta dilindungi dan dilayani sebagaimana ayahnya dulu melindungi dan melayani keluarga tetapi sang suami juga minta semua dibuat beres oleh istrinya! Hal seperti ini sebenarnya bisa diprediksi sejak awal pacaran tetapi karena orang Indonesia itu memang tidak punya budaya pencegahan sehingga dalam pikirannya mencari konselor perkawinan hanya ketika sudah ada masalah besar dan mengancam perceraian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usaha pencegahan terhadap kejadian hal ini sudah banyak diupayakan terutama di gereja-gereja dengan memberikan kursus persiapan perkawinanm demikian juga kalau di Malaysia, negara menyediakan fasilitas dan mengharuskan setiap warga negaranya yang mau menikah harus sudah bersertifikat kursus persiapan perkawinan selama 3 hari! Mereka sudah menyadari bahwa bangsa yang kuat harus diawali dari perkawinan yang kokoh dengan keluarga yang kuat. Tanpa keluarga yang baik dan kuat, jangan harap sebuah negara bisa menjadi baik dan kuat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan mengenal diri dan pasangan, mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam hubungan maka pasangan akan menjalani bahtera keluarganya dengan lebih realistis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan yang penting adalah:&lt;br /&gt;
1. Apakah calon pasangan saya mengetahui kebutuhan saya? (kadang walau sudah diucapkan, dikatakan tetapi disalahtafsirkan oleh pasangan yang tidak mengerti)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Apakah calon pasangan saya mampu memenuhi kebutuhan saya itu? (Kalau kita berasal dari keluarga orang kaya/ pengusaha kaya tetapi calon pasangannya hanya seorang akademisi maka tentunya cara berpikir seorang akademisi tidak akan bisa memenuhi kebutuhan cara berpikir seorang pengusaha, contoh konkretnya adalah saya, kalau saya punya uang maunya dibuat belajar, course, melanjutkan studi lanjut ke S3 dan bukan untuk diinvestasikan lalu buka usaha baru atau beli mobil BMW terbaru atau Mercedes terbaru, nah kalau pasangan saya maunya yang bergaya usaha buka francise dan pakai mobil mewah yang bisa dinikmati kursinya seperti kursi first class di pesawat gimana bisa nyambung? Tentunya saya tidak akan bisa memenuhi kebutuhan wanita pengusaha).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Apakah calon pasangan saya mau memenuhi kebutuhan saya itu? (pasangan yang egois tidak mau memenuhi kebutuhan pasangannya karena lebih mengutamakan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dahulu).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;ASPEK-ASPEK YANG HARUS DIEVALUASI DALAM PERKAWINAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penting sekali kita mengevaluasi aspek dalam perkawinan yaitu pertama-tama mengenali dulu "akar" keluarga kita masing-masing. Akar keluarga itu adalah dalam filosofi perkawinan Jawa adalah BIBIT, siapa orang tua kita, latar belakang keluarga kita dan pasangan, budaya, cara berpikir, cara hidup, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian 3 hal lain yang perlu di evaluasi adalah:&lt;br /&gt;
1. Spiritualitas perkawinan, hal ini paling banyak dilupakan dan hanya menjadi ritual agama, apalagi dipolitisir oleh UU Perkawinan yang mempersulit orang untuk menikah lain agama. Kita harus membawa hal ini dalam pola pemikiran yang lebih komprehensif dan pada hakikatnya secara upacara adat-pun rupanya perkawinan ini adalah sakral, ada spiritualitasnya, mau mencari MAKNA dari perkawinan ini dalam hubungan kita dengan Allah (Habluminallah) dan hubungan kita dengan sesama (Habluminnannas). Bagaimana nilai spiritualitas kita jika kita memiliki anak-anak, mau kita arahkan bagaimana supaya menjadi anak yang soleh (yang dapat mendoakan orang tuanya sehingga amal ibadah/ pahala kita tidak terputus?)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Komunikasi suami istri, hal ini sudah jelas tetapi di tulisan saya "Psikiater, Seks dan Perkawinan" mengingatkan bahwa penting sekali mendeteksi adanya gangguan mental yang dapat membuat buntu komunikasi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Seksualitas suami istri, perkawinan tidak melulu soal seks tetapi tanpa seks katanya seperti makanan kurang garam. Bagaimanapun juga hubungan seksual (jangan diartikan hubungan ini hanya urusan "penis dan vagina" melainkan soal ekspresi afeksi) suami dan istri harus selaras, saling menyesuaikan pola kebutuhan satu sama lain sehingga tidak ada istilah pemerkosaan terhadap istri/suami yang masuk dalam masalah kekerasan dalam rumah tangga!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;MENDEFINISIKAN KEMBALI VISI MISI PERKAWINAN SESUAI 'LIFE CYCLE'&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap kita memiliki siklus kehidupan sesuai usia, ketika kita menikah di usia 20-an tentunya mempunyai harapan berbeda dibandingkan kita berusia 30-an, ketika berusia 40-an, 50-an juga kita memiliki harapan serta gaya hidup yang berbeda (fisik mulai menurun, ada penyakit dll). Di setiap usia kehidupan kita, penting sekali kita berdua pasangan mendefinisikan kembali komitmen bersama dalam menjalani perkawinan sebagai suatu bentuk 'companionship' suami dan istri untuk menuju tujuan yang sama (juga bersama anak-anak). Bagaimana mendidik anak-anak, mengarahkan anak-anak menjadi anak yang berguna, mandiri, jujur, baik, soleh dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal penting seperti ini seringkali ditutupi suatu seremonial semu dengan 'candle light dinner' serta bunga tangan yang seakan-akan itu arti cinta (seperti dikampanyekan iklan) dan melupakan bahwa ada hal serius yang harus dibicarakan diluar 'candle light dinner' tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;APA PERAN KONSELOR PERKAWINAN DAN KELUARGA?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai mediator yang membantu mediasi kebuntuan komunikasi atau sikap saling curiga dll karena konselor bersikap netral. Sebagai konselor yang dapat membantu mengarahkan opsi-opsi, sebagai psikoterapis yang dapat membantu terapi psikopatologi, kadang sebagai penasihat agar tetap pada semboyan rumah pegadaian "mengatasi masalah tanpa masalah".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebanyakan konselor ini di Indonesia adalah para psikolog. Beberapa psikiater seperti saya juga menangani tetapi pada umumnya bekerjasama dengan para psikolog (di SMART MIND CENTER CONSULTING kami selalu berdampingan psikolog dan psikiater, biro konsultasi lain jarang ada kerjasama yang baik dalam tim antara psikolog dan psikiater) untuk mengatasi gangguan mental yang diderita karena distress yang dialami pasangan dalam carut marut perkawinan dan rumah tangganya. Belum lagi masalah trauma pada anak yang harus juga saya bantu tangani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kasus harus saya yang menangani sendiri karena pengalaman dalam beberapa aspek terutama dalam hal dampak hukum pengadilan perceraian, saya bukan ahli hukum tetapi karena pengalaman maka saya dapat memberikan arahan atau nasihat yang dapat menguntungkan dimata hukum tetapi kalau mau lebih jelasnya bisa konsultasikan dengan pengacara perkawinan. Tapi please jangan minta saya untuk bersaksi di pengadilan sebab urusannya harus minta surat pengadilan untuk membuka rahasia medis pasien (tanpa ini saya tidak akan mau membuka rahasia tersebut karena bisa berdampak hukuman pidana!) dan alasan kedua adalah urusan di pengadilan seringkali menghabiskan banyak waktu tanpa kepastian, semestinya saya bisa mengerjakan hal lain yang lebih bermanfaat seperti membimbing dokter muda, melayani pasien dll tetapi disuruh menunggu jadwal sidang? Nyerah deh walau mau dibayar mahal sekalipun saya berusaha menghindari hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal lain yang menjadi bidang psikiatri adalah saya dokter yang dapat mengobati termasuk jika ada masalah seksual, depresi, kecemasan, insomnia dll. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;MENGENAI BIAYA KONSULTASI PSIKIATER/PSIKOLOG/KONSELOR SEKS DAN PERKAWINAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini selalu ditanyakan dan menjadi hal yang sangat mengganggu, biaya psikiater dan psikolog itu seperti yang pernah saya ungkapkan di artikel tentang psikiater psikolog dan hipnoterapis, sangat 'reasonable' untuk konsultasi pasangan yang bisa membutuhkan waktu sampai 2 jam tidak sampai sejuta rupiah! Bandingkan dengan terapis-terapis lain dan profesi lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang kita minta tes evaluasi awal untuk tes kepribadian masing-masing pasangan di saat awal sesi dan ini cukup meminta tambahan biaya, mau gimana lagi? Itulah profesionalisme. Yang jelas kami tidak semahal Smartphone seperti Iphone, BlackBerry, Samsung galaxi S4 apalagi S5! Smartphone yang hanya digunakan beberapa tahun saya pikir nilainya tidak lebih tinggi daripada nilai perkawinan Anda bukan? Jadi jangan khawatir soal biaya konsultasi untuk mencapai kualitas hidup dan kualitas hidup perkawinan yang lebih baik bagi Anda dan pasangan, Anda dan keluarga.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2014/07/kapan-harus-konsultasi-perkawinan-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-1820810513717225005</guid><pubDate>Tue, 27 May 2014 16:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-07-03T16:37:15.835-07:00</atom:updated><title>Psikiater dan Psikoterapi</title><description>Apaan sih yang dimaksud dengan psikoterapi? ini adalah pertanyaan yang menarik bagi saya ketika SMA saya mulai berkenalan dengan yang namanya Dr Sigmund Freud (seorang neurolog yang adalah bapak ilmu psikiatri saat ini). Ketika SMA itu saya mulai mengalami masalah-masalah psikologis yang berhubungan dengan masalah-masalah di lingkungan sekitar sebagai pencetusnya. Hal lain yang saya observasi juga ketika saya melihat begitu banyak masalah keluarga, perkawinan disekitar saya. Demikian juga kata-kata di gereja yang setiap sebelum menerima komuni adalah: "ya Tuhan saya tidak pantas Tuhan datang kepada saya tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh". Sembuh? memangnya pada sakit? Lalu saya perhatikan lagi lebih seksama ternyata banyak orang yang mencari kesembuhan rohani, batiniah di gereja, demikian juga di pesantren maupun di wihara. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang yang dikira tidak kuat meng"ilmu" sehingga terkena gangguan jiwa padahal sebenarnya dia terkena gangguan jiwa dulu baru kemudian dia mencoba mencari penyelesaian dengan memperdalam ilmu agama! Dan hal ini tanpa saya sengaja juga saya lakukan, untungnya saya bertemu guru agama saya dan pastor-pastor yang tidak sesat sehingga saya mendapatkan "pencerahan" at least yah bisa untuk survive-lah saat itu. Di situlah saya mulai mengenal istilah yang namanya psikoterapi yaitu terapi psikologis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah ini ada psikolog yang penasaran nanyain apa sih yang psikiater pelajari tentang psikoterapi? (Rupanya ada oknum psikolog yang jadi dosen dan anti psikiater sehingga yang diinformasikan ke anak didiknya adalah psikiater bisanya cuma kasih obat alias farmakoterapi jadi apa sih bisanya psikoterapi oleh psikiater?) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
YoPs5 Maret 2014 02.07&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam Dok, saya ingin bertanya :&lt;br /&gt;
- Jenis pelayanan apa sajakah yang diberikan psikiater di luar farmakoterapi?&lt;br /&gt;
- Jenis psikoterapi apa sajakah yang dipelajari di cabang ilmu psikiatri?&lt;br /&gt;
(kalau tidak salah, diatas ada disebutkan ttg psikoanalisa/psikodinamika ya, dok... selain itu?)&lt;br /&gt;
Terimakasih sebelumnya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini jawaban saya (versi ini sudah saya lengkapi para guru-guru saya):&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Dharmawan A. Purnama, SpKJ (Psikiater)4 Mei 2014 04.49&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hehehe kayaknya kalau mau lengkap harus buka transkrip nilai saya nih, macam-macam psikoterapi apa yang dipelajari, saya sebutkan yang saya terbiasa ajalah ya dan dapatnya dari bangku pendidikan: &lt;br /&gt;
-CBT (Cognitive Behavior Therapy) (dr. Heriani Tobing, SpKJ -certified CBT dari Pennsylvania University), &lt;br /&gt;
-Transactional Analysis (dr. Jan Prasetyo, SpKJ), &lt;br /&gt;
-Hipnoterapi (dr. Erwin Kusuma, SpKJ dan tim RSPAD, teori, praktek dan ujian tertulis teori, semua psikiater lulusan FKUI harus lulus ujian hipnoterapi ini dan saya infokan di sini karena banyak masyarakat awam yang tidak tahu kalau psikiater itu semuanya harus bisa basic hipnoterapi! Just info juga dr Erwin ini psikiater senior yang adalah perwira TNI-AD dan jauh sebelum ngetrend yang namanya hipnoterapi di masayarakat kita seperti Adi W Gunawan yang sekarang juga pake titel Dr tapi tidak disebutkan Dr-nya dari mana dan disertasinya tentang apa di buku Mind and Body-nya telah mempraktikkan hipnoterapi di Indonesia, jangan-jangan kalau cuci otak musuh dulu di Timor timur juga ilmu hipnoterapinya dipakai nih? hehehe becanda), &lt;br /&gt;
-Psikoterapi eksistensial (dr. Lukas Mangindaan, SpKJ) , Logoterapi, search for meaning (Drs H D Bastaman Psikolog senior F Psi UI), Gestalt Therapy (dr. Lukas Mangindaan, SpKJ). &lt;br /&gt;
-Psikoterapi psikodinamik (Prof. Dr. dr Didi B. Lubis, SpKJ, Prof dr Sasanto Wibisono, SpKJ, dr Sylvia D Elvira, SpKJ)&lt;br /&gt;
-Psikiatri budaya (seminar pembimbing Prof dr. Sasanto Wibisono, SpKJ), pendalaman dalam tutorial khusus diluar FKUI dengan Dr. dr. Rusdi Maslim, SpKJ, M.Kes tentang budaya-budaya Asia Timur. Diperkaya dengan buku-buku etika dan filsafat budaya Prof Dr. Frans Magnis Suseno, SJ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang saya pelajari di luar bangku sekolah pendidikan spesialis, Mindfulness Therapy (HKU - Hong Kong University) dan Neurobiofeedback Therapy (di Berlin Congress Internasional ADHD dan di Jakarta oleh Tiara Kencana dengan Dr dr Dwidjo Saputro, SpKJ sebagai trainernya), pendalaman hipnoterapi kedokteran di RSPAD Gatot Subroto, Integrated Psychotherapy dan Mind Therapy (Dr. dr. Rusdi Maslim, SpKJ), cultural based psychoterapy hasil berguru dengan beberapa psikiater senior di dalam dan luar negeri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi seorang psikiater atau psikolog atau psikoterapis-psikoterapis dari profesi lain, yang penting bukanlah semua teori dan praktek psikoterapi tersebut. Dari hasil observasi saya, yang terpenting adalah kepribadian terapis (that's why paranormal banyak dicari orang), kepribadian therapist digabung dengan pemahaman mendalam tentang fungsi kerja otak, fisiologi tubuh, psiko-farmakoterapi (dari studi ilmu kedokteran jiwa) dan budaya/value (dari study antropologi dan filsafat) pasien kita-lah yang membuat pasien bisa masuk dalam sesi terapeutik dan mendapatkan manfaat setiap sesi dengan psikiaternya. Totalitas menghadapi pasien, observasi mendalam dan pengertian yang mendalam terhadap individu pasien adalah kunci utamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Meragukan Psikoterapi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Banyak orang meragukan psikoterapi ini dan banyak org yang tidak menyadari telah mendapatkan hasil dari proses psikoterapi ini okelah saya share ya, sebab awalnya saya juga meragukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ajaran-ajaran agama dan filsafat adalah juga psikoterapi bagi saya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mempelajari 3 agama dan filsafat manusia khususnya eksistensialism, bukan karena saya setengah miring otaknya atau mau membuat sinkretisme agama tetapi karena saya mencoba mencari pencerahan kalau dalam bahasa agama. Mungkin yang paling mendalam ajaran agama kristen Katolik karena memang saya sejak kecil dididik di sekolah Katolik (Ricci Toasebio dan Canisius College  Menteng). &lt;br /&gt;
Banyak ajaran dan ayat-ayat serta hadist dll adalah sungguh kebenaran sehingga kita bisa menemukan arti dalam kehidupan kita (ini adalah tujuan terpenting dalam hidup kita, menemukan arti hidup dan bisa berpasrah pada Allah dalam menjalankan kehendak-Nya). Masalahnya kemampuan otak kita yang terbatas ini yang seringkali tidak dapat menangkap makna dari semua itu dan bahkan banyak manusia berperang saling membunuh hanya karena perbedaan penafsiran hal-hal tersebut! Lucu ya hahaha, agama kok malah membawa celaka!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beruntunglah saya karena bisa mendapatkan pencerahan dan wellbeing dari keimanan tersebut, bukan peperangan atau mencelakakan sesama manusia.&lt;br /&gt;
Lanjutannya adalah ketika saya bertemu dr. Satya Joewana, SpKJ (psikiater ahli adiksi) dan kemudian Dr. dr Rusdi Maslim, SpKJ yang adalah dosen dan terapis saya sejak di fakultas kedokteran  sampai ketika saya menjalani pendidikan spesialis. Pertemuan-pertemuan rutin yang nampaknya ngobrol-ngobrol tersebut ternyata membawa banyak perubahan pada distorsi pikiran saya, pada kekakuan cara pandang/persepsi dan cara berpikir saya. Demikian juga pemahaman akan neuro dan mind science semakin bertambah, khususnya yang berhubungan dengan bagaimana saya dan manusia lain yang ada "sakit"-nya bisa berproses dalam pengobatan maupun psikoterapi. &lt;br /&gt;
Saya ungkapkan di sini adalah pertemuan demi pertemuan yang saya lakukan sampai bertahun-tahun, terutama selama saya akan menjalani pendidikan spesialis sampai sedang menjalani pendidikan adalah nampaknya hanya seperti ngobrol-ngobrol (nah inilah yang membuat banyak org tidak menghargai ngobrol yang terapeutik sehingga mendapatkan 'sesuatu' untuk perubahan! Bukan ngobrolin seperti orang ngobrol ngalor ngidul di warung kopi). Ngobrol aja tanpa dilakukan dalam bentuk aksi namanya NATO (Not Action Talk Only)! Nah jadi apa yang didapat itu ya harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari sebab bila tidak dipraktekkan maka tidak akan ada perubahan di sambungan-sambungan (synaps) neuron (sel saraf) di otak kita sehingga tidak menjadi sebuah skema baru yang membentuk habit/ perilaku yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari proses tersebut, saya perlahan berubah, lebih mengenali diri saya terutama perasaan saya yang terdalam (NUCLEAR FEELINGS) sehingga membuat saya terdorong untuk melakukan sesuatu, saya menjadi selalu lebih AWARE bahkan ketika melakukan kesalahan! sayangnya perubahan itu belum sempurna (tak ada gading yang tak retak toh?) karena fungsi kerja otak saya kadang impulsif (inhibisi dari otak depan alias lobus frontalisnya kadang masih kurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PERAN DIDIKAN ORANG TUA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat kekurangan tersebut saya alami sejak kecil, maka proses pendekatan terapi perilaku dan psikoterapi yang diberikan orang tua saya juga gak kalah pentingnya. Walaupun keduanya seringkali menjadi sumber stresor saya tetapi saya berterimakasih atas pengajarannya yang keras karena hal itu membuat saya menjadi lebih tangguh. Hukuman dengan ceramah (penjelasan inti dari ajaran bijaksana dari ayah dan contoh kerja keras dari ibu saya) yang lebih banyak saya terima daripada reward/ hadiah membuat saya benar-benar menjadi orang, bukan anak orang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran para psikolog sekarang yang selalu mengutamakan reward dan menghindari hukuman, saya pribadi lebih memilih kedua hal ini seimbang daripada anak diiming-imingi reward melulu, bukankah karma baik tidak selalu langsung berbuah? mungkin aja reward-nya bukan saat ini-kan? Jadi mengapa semua diajarkan untuk mendapatkan pahala secara instan? Jadi kalau tidak terlihat reward-nya maka tidak termotivasi untuk melakukan suatu kebaikan? Pantesan pada korupsi karena gak pernah mendapatkan hukuman sih! Reward saya dulu hanya boleh beli buku selebihnya tidak boleh karena keuangan keluarga terbatas! Saya punya adik yang tuna rungu dan membutuhkan biaya besar untuk biaya pendidikannya. One for All and All for One, kami harus prihatin bersama jadi ya kalau salah dihukum tapi kalau baik belum tentu dapat hadiah!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karate yang dipaksa sejak SMP, setelah gagal latihan piano sejak SD kelas 1 sampai kelas 6 (orang tua saya belikan piano bekas dengan harapan kalau saya gak bisa sekolah tinggi maka bisa hidup sebagai guru piano) juga banyak mengisi filsafat tentang hidup ini, semangat bushido pantang menyerah, sumpah karate shotokan yang sungguh mengilhami pedoman kehidupan seorang karateka, nilai ketekunan, kesabaran, fokus/konsentrasi, menguasai diri, mempertinggi prestasi, menjaga sopan santun, memelihara kepribadian , patuh kepada kejujuran adalah terapi psikologis buat saya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi inilah sekilas tentang psikoterapi yang saya bagikan dalam bentuk cerita, semoga bisa mendapatkan gambaran bagi pembaca awam tentang sebuah proses psikoterapi&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2014/05/psikiater-dan-psikoterapi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>9</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-5795913131443095549</guid><pubDate>Mon, 19 May 2014 16:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-05-19T09:51:35.907-07:00</atom:updated><title>PSIKIATER, PSIKOLOG dan HIPNOTERAPIS</title><description>Hasil review dari posting di blog ini ternyata yang paling banyak diakses dan dibaca adalah postingan tentang beda psikolog dan psikiater kemana lebih dulu. Rupanya topik ini menjadi topik yang menarik dan bahkan mungkin agak kontroversial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut saya, terlalu banyak orang yang suka bermain dokter-dokteran dan mau dianggap bisa membantu menyembuhkan orang tanpa dasar pengetahuan yang kuat (penegakan diagnosis yang tepat, pemahaman psikopatologi, psikodinamika dan penguasaan beberapa macam teknik psikoterapi), nampak sekali narsisitik para terapis-terapis yang tidak melalui pendidikan formal yang cukup. Perilaku para "dokter-dokteran" ini rupanya membingungkan banyak masyarakat sehingga mencari informasi melalui tulisan saya tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan saya terdahulu tentang kemana lebih dulu psikiater atau psikolog bermaksud mematahkan opini yang mengatakan bahwa kalau masih ringan ke psikolog aja dulu! Dan bahkan banyak yang memfitnah bahwa kalau ke psikiater pasti dikasih obat! Atau ada juga yang mengatakan hanya dikasih obat saja tanpa psikoterapi dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Opini di masyarakat dibentuk seakan-akan kalau orang belum sakit parah jangan datang ke psikiater (jelas--jelas psikiater tuh dokter spesialis ya, apakah dokter hanya menangani sakit yang sudah parah?) melainkan ke psikolog dulu atau bahkan hipnotereapis-hipnoterapis yang hanya pelatihan 40 jam atau entah bahkan 100 jam (bandingkan dengan sekolah menjadi psikiater yang harus ditempuh minimal 10 tahun dan psikolog yang minimal 6 tahun sampai menyandang predikat psikolog klinis) mengkampanyekan kehebatan dirinya dalam menterapi pasien-pasien di masyarakat. Memang benar sebagian pasien tersebut sembuh dengan biaya yang tentunya lebih mahal daripada ke dokter/ psikiater (apalagi sekarang sudah bisa pakai BPJS di RSU dan RSJ) dan sisanya? Tidak sembuh dan akhirnya tetap datang ke dokter!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah lagi sekali waktu ada seorang Profesor psikologi yang cukup terkenal (sehingga tidak usah saya sebutkan namanya di sini) sangat ingin psikolog boleh meresepkan obat-obat psikotropik yang diresepkan psikiater dengan alasan di Australia dan di Amerika ada negara bagian yang membolehkan psikolognya menuliskan resep untuk klien-kliennya (istilahnya aja udah klien, bukan pasien!), bayangkan Profesor loh itu kalau Prof.-nya ditulis Prov. seperti saya yang kepanjangannya Provokator sih maklum ya, seorang guru besar bisa begitu piciknya minta seorang psikolog yang pendidikannya bukan dari kedokteran diperbolehkan menulis resep obat psikotropika? Prof tersebut saya tantangin, "kalau pasiennya depresi dengan diabetes dan hipertensi sehingga juga mengkonsumsi obat golongan beta bloker dan sulfonil urea, apa obat antidepresan yang paling aman dan tidak berinteraksi dengan kedua obat tersebut Prof?" Gak bisa jawab deh beliau sang Profesot tersebut!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang masyarakat kita tuh aneh kalau orang gak sekolah trus bisa "katanya ya" menyembuhkan penyakit disebut 'orang pinter' tapi kalau dokter yang sekolahnya lama (bagusnya disebut orang bodoh) gak lulus-lulus, kurang dipercaya oleh masyarakat kita! Masyarakat kita lebih percaya dengan orang yang tidak sekolah! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambah lagi banyaknya wartawan kita yang berpedoman "bad news is a good news" paling seneng kalau memberitakan ada dokter dengan dugaan malpraktek,ibarat peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga nah mereka ini memblow-up kelalaian bahkan yang baru dugaan kelalaian seorang dokter sehingga seakan-akan buanyak sekali dokter Indonesia yang tidak kompeten. Bandingkan dengan rasio kegagalan terapis dokter-dokteran seperti hipnoterapis atau bahkan psikolog yang tidak etis yang mengkonseling/psikoterapi terus kliennya walaupun sudah tahu bahwa kliennya ini tidak efektif kalau belum diberikan pengobatan? Nah enaknya psikolog itu belum ada undang-undang praktik psikologi loh sehingga walaupun mereka salah ngetes orang dan memberikan interpretasi yang salah terhadap status psikologis seseorang tidak dapat dituntut malpraktek, apalagi hipnoterapis yang sekolahnya tidak sedetail dan sejelas kurikulum fakultas kedokteran maupun fakultas psikologi dengan ujian-ujian yang seabreg-abreg sampe keringatan dan airmata darah habis jaga malam ujian tulisan dan ujian lisan, belum lagi ujian nasional sebagai ujian paling akhir. Yang kayak gini tidak pernah diberitakan oleh para wartawan pelat kuning tersebut.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah jadi ulasan singkat ini semoga dapat menjadi sebuah insight bagi anda yang membaca beda psikiater psikolog dan hipnoterapis ya (yang banyak tulisan sesatnya di blog atau web lain yang menjelaskan tentang bedanya profesi-profesi ini). </description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2014/05/psikiater-psikolog-dan-hipnoterapis.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>10</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-7939088121254366825</guid><pubDate>Fri, 09 May 2014 16:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-05-09T09:28:03.789-07:00</atom:updated><title>Adiksi alias Kecanduan Game</title><description>        Masa kanak-kanak memang masa untuk bermain. Namun waspadalah jika anak Anda berlebihan dalam bermain game hingga cenderung menjadi ketergantungan atau adiksi. Ada beberapa kriteria adiksi, yaitu :&lt;br /&gt;
• Ada keinginan yang kuat atau dorongan yang memaksa (kompulsi) untuk menggunakan atau melakukan sesuatu jika tidak dilakukan maka ada perasaan cemas yang meningkat atau terus menerus merasakan ada sesuatu yang kurang.&lt;br /&gt;
• Kesulitan mengendalikan perilaku tersebut, sejak mulai, ketika  berusaha menghentikan, atau saat menggunakan &lt;br /&gt;
• Keadaan gelisah, tidak tenang, tidak dapat konsentrasi bila tidak melakukan &lt;br /&gt;
• Terjadi peningkatan intensitas kuantitas dan kualitas dalam melakukan &lt;br /&gt;
• Progresif mengabaikan kesenangan atau minat lainnya&lt;br /&gt;
• Tetap melakukan walaupun menyadari hal tersebut tidak baik &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
        Adiksi menimbulkan akibat dari berbagai segi. Dari segi biologis, terjadi pemuasan sirkuit ‘brain reward system’ di otak yang diantaranya terdiri dari struktur Nucleus Accumbens dan Ventral Tegmental Area dan dipengaruhi oleh neurotransmitter dopamin. Dari segi perilaku, seseorang menjadi hanya terpaku pada kegiatan pemuasan kecanduannya. Dari segi sosial terjadi disfungsi dan produktivitas menurun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada dua cara untuk mencegah adiksi :&lt;br /&gt;
• Pencegahan primer :&lt;br /&gt;
Jangan pernah bermain game, ganti aktivitas rekreasi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Anak boleh bermain game namun sebagai aktivitas sosial insidental (bukan rutin).&lt;br /&gt;
• Pencegahan sekunder :&lt;br /&gt;
Batasi waktu bermain dengan membuat jadwal. Ganti permainan yang tidak mengasah kognisi (tidak membuat anak lebih pandai) dengan permainan ‘mental exercise’, seperti catur, monopoli, dan sebaiknya permainan tersebut dimainkan bersama anggota keluarga lain dan teman sebayanya untuk melatih anak bersosialisasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa cara untuk mengatasi adiksi game, yaitu : &lt;br /&gt;
• Penyadaran melalui pikiran dalam hal ini bisa diberikan terapi perilaku kognitif dan mindfulness. Terapi apa yang akan diberikan tergantung keadaan anak, seperti IQ, status mentalis, kepribadian, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
• Latihan mengubah perilaku dengan teknik stop-look-listen (melatih anak untuk mengalihkan perhatian pada hal lain yang lebih baik, misalnya sejak awal kita sudah memotivasi anak untuk mempunyai cita-cita dan kemudian kita memotivasi anak untuk mengarahkan perhatian pada pencapaian cita-citanya).&lt;br /&gt;
• Buat jadwal kegiatan baru yang bermanfaat  dan harus dilaksanakan dengan tujuan melatih anak agar disiplin dan konsisten terhadap rencana jadwal yang sudah dia buat.&lt;br /&gt;
• Pengobatan mungkin diperlukan selama melatih perilaku baru tersebut karena pengobatan yang mempengaruhi neurotransmitter dopamin dan serotonin memegang peranan penting dalam mengintervensi perubahan pada ‘brain reward system’. Biasanya anak merasa lebih terbantu dalam melatih kebiasaan barunya setelah beberapa impuls adiksinya dapat dihambat dengan pengobatan sampai terbentuk jalinan sinaps-sinaps (penghubung antar sel saraf ) baru di neuron-neuronnya (sel-sel sarafnya).  &lt;br /&gt;
Bermain game yang tidak terkendali dapat menyebabkan kecanduan. Bermain game yang bersifat ‘mental exercise’ lebih bermanfaat dan kurang adiktif. Kesadaran untuk mulai mengubah perilaku sangat diperlukan dalam upaya untuk lepas dari kecanduan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Banyak pandangan masyarakat yang mengatakan bahwa melepaskan diri dari kecanduan itu yang penting dari dalam diri sendiri dan pasti bisa dengan kekuatan sendiri.  Padahal kecanduan itu melibatkan banyak perubahan struktur otak, apalagi bagi pecandu yang kita sebut ‘hard-core addict’  alias pecandu yang sudah mendarah daging. Jadi jika sudah kecanduan maka harus mengikuti program rehabilitasi medis dan psikososial agar dapat terlepas dari kecanduan tersebut. Rehabilitasi tersebut tidak selalu harus diartikan masuk dalam program terstruktur di sebuah panti rehabilitasi tetapi dapat dilakukan secara disiplin melalui modifikasi perilaku dengan teknik-teknik seperti yang telah disebutkan di atas asalkan tidak curi-curi melakukan hal yang membuat adiksi tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2014/05/adiksi-alias-kecanduan-game.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-1504696367188925005</guid><pubDate>Wed, 07 May 2014 17:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-05-07T10:21:14.506-07:00</atom:updated><title>Bangga Dipercaya Teman Sejawat</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam dunia kedokteran kami mengangkat sumpah bahwa sesama dokter akan memperlakukan sejawatnya sebagai saudara kandung walaupun untuk urusan saudara kandung ini kami masih boleh menikah sesama 'saudara kandung' ya dan tidak dianggap incest hehehe.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah kalau kita menganggap teman sejawat dokter ini bagaikan saudara maka kita akan memperlakukan mereka bagaikan saudara kita sendiri sehingga otomatis salah satu dampaknya diantara sesama dokter tidak perlu membayar untuk jasa saling konsultasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengalaman saya dioperasi oleh teman sejawat (yang sering kami singkat sebagai TS), sebenarnya membuat saya sangat merasa berhutang budi kepada TS yang ahli bedah tulang (orthopedi) ini. Bayangkan saja, saya dioperasi selama 9 jam dan setelah susah payah dan kelaparan karena dokter yang mengoperasi saya tak sempat makan siang eh malah saya dibebaskan dari biaya operasinya yang gak seberapa bagi orang kaya yang belinya mobil mewah atau gadget ter-anyar! Mungkin memang karena sudah gitu aturannya sehingga yang paling bisa saya lakukan adalah memberikan TS itu kenang-kenangan dari saya. Tentunya harga kenang-kenangan itu tidak sepadan dengan usaha yang telah dilakukan beliau sehingga saya bisa kembali berjalan dengan tidak menggunakan tongkat dan tidak terasa nyeri lagi. Apa yang dapat saya lakukan adalah 'pay it forward' yaitu membayar kebaikan tersebut bukan kepada TS yang telah menyelamatkan kualitas hidup saya melainkan kepada TS lain yang memerlukan keahlian saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah dari pemikiran dan perenungan itulah saya tergerak untuk menulis sedikit malam ini. Semakin lama pasien saya yang berprofesi sebagai dokter alias TS semakin banyak dan memang sejak awal saya berkomitmen untuk tidak menarik jasa konsultasi pada TS saya. Sebagai psikiater yang mana kalau konsultasi bisa menghabiskan waktu sampai 1 jam tiap sesi tentunya capek dan "rugi" waktu bila semakin lama semakin banyak pasien yang berprofesi dokter toh? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Eitsss lupa dijelaskan bahwa kebanyakan TS sy yang konsultasi ini tidak konsultasi karena gangguan jiwa berat tetapi masalah relational dan masalah anak yang kesulian belajar atau gangguan konsentrasi. Ada sih 1 atau 2 TS yang mengalami gangguan jiwa berat seperti skizofrenia tetapi sudah remisi hampir sempurna dan bisa berfungsi kembali walaupun bukan sebagai klinisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah sebelum mengalami pengalaman harus dioperasi dan harus 'pay it forward' kepada TS saya, saya sudah mulai merasakan perasaan bangga daripada merasa dirugikan waktu saya untuk melayani konsultasi bagi TS saya. Kenapa bangga? Ya jelas toh bangga karena artinya saya dipercaya dan dianggap cukup pandai oleh teman sejawat saya dengan profesi dari beragam spesialisasi kedokteran. Bahkan ada yang anaknya Profesor, yang nota bene adalah guru-guru saya sendiri? Bayangkan, guru saya mempercayakan anaknya, cucunya ditangani oleh saya? Apakah tidak membanggakan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah jadi timbul pemikiran juga andaikan saja tidak ada kerahasiaan yang harus dipegang teguh pada dunia kedokteran mungkin sudah saya ajak foto-foto pasien saya yang masih TS tersebut lalu saya pajang di dinding ruang praktek saya dengan diberikan nama, anak profesor anu dan cucu profesor anu, anak konsulen dokter ahli x, kepala bagian Spesialis Y dari Universitas ternama di kota Z dll dll wuahhh  bangganya hehehe apalagi kalau boleh difoto seperti di ruang dokter gigi ahli meratakan gigi, foto sebelum dan sesudah, sebelumnya wajah galau dan sesudah terapi dengan saya wajah penuh senyum bahagia. </description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2014/05/bangga-dipercaya-teman-sejawat.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-6863935697102880445</guid><pubDate>Sun, 04 May 2014 12:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-05-07T10:33:10.537-07:00</atom:updated><title>Website Konsultasi Psikiater Online</title><description>Dear all my members and followers,   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya dan beberapa teman, baik psikiater dan psikolog mencoba membuat website yang lebih profesional untuk melayani konsultasi online dalam beberapa area kehidupan yang umum diungkapkan dalam praktek konseling/ psikoterapi sehari-hari seperti: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah gangguan belajar pada anak, masalah pengasuhan, masalah sex dan perkawinan, masalah di tempat kerja, kecemasan depresi dll.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya konsultasi on line ini tidak dapat menggantikan konsultasi langsung tatap muka (walau saya masih kesulitan membuka konsultasi dengan webcam karena sambungan internet di Jakarta yang masih suka tidak stabil) karena banyak hal yang harus berupa dialog sehingga sulit sekali dilakukan pada media tulis menulis seperti ini.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi baik sekali jika teman-teman sekalian mau membagikan alamat website ini kepada rekan atau kolega atau semua teman-teman yang membutuhkannya. Saya mengharapkan dengan jawaban di media tulisan ini bisa memberikan wawasan dan informasi singkat atas permasalahan yang dihadapi dan apabila masih ada kesulitan bisa bertemu tatap muka dengan kami.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Takut mahal? Bertemu tatap muka dengan kami? Jangan dong kan kita tidak hanya melayani untuk publik yang high class dan membutuhkan kenyamanan akses dan tempat untuk konsultasi melainkan kami juga melayani di RS pemerintah, Silahkan saja memilih mana nyamannya, pokoknya tidak boleh ada orang Indonesia yang tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Jiwa saat ini.  Ok, semoga berguna dan  Alamat website tersebut adalah www.konsultasipsikiater.com    &lt;a href="http://www.konsultasipsikiater.com"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam sehat jiwa, &lt;br /&gt;
Dharmawan</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2014/05/website-konsultasi-psikiater-online.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>8</thr:total><enclosure length="-1" type="application/json;" url="http://www.konsultasipsikiater.com"/><itunes:explicit/><itunes:subtitle>Dear all my members and followers, Saya dan beberapa teman, baik psikiater dan psikolog mencoba membuat website yang lebih profesional untuk melayani konsultasi online dalam beberapa area kehidupan yang umum diungkapkan dalam praktek konseling/ psikoterapi sehari-hari seperti: Masalah gangguan belajar pada anak, masalah pengasuhan, masalah sex dan perkawinan, masalah di tempat kerja, kecemasan depresi dll. Tentunya konsultasi on line ini tidak dapat menggantikan konsultasi langsung tatap muka (walau saya masih kesulitan membuka konsultasi dengan webcam karena sambungan internet di Jakarta yang masih suka tidak stabil) karena banyak hal yang harus berupa dialog sehingga sulit sekali dilakukan pada media tulis menulis seperti ini. Jadi baik sekali jika teman-teman sekalian mau membagikan alamat website ini kepada rekan atau kolega atau semua teman-teman yang membutuhkannya. Saya mengharapkan dengan jawaban di media tulisan ini bisa memberikan wawasan dan informasi singkat atas permasalahan yang dihadapi dan apabila masih ada kesulitan bisa bertemu tatap muka dengan kami. Takut mahal? Bertemu tatap muka dengan kami? Jangan dong kan kita tidak hanya melayani untuk publik yang high class dan membutuhkan kenyamanan akses dan tempat untuk konsultasi melainkan kami juga melayani di RS pemerintah, Silahkan saja memilih mana nyamannya, pokoknya tidak boleh ada orang Indonesia yang tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Jiwa saat ini. Ok, semoga berguna dan Alamat website tersebut adalah www.konsultasipsikiater.com Salam sehat jiwa, Dharmawan</itunes:subtitle><itunes:author>noreply@blogger.com (Anonymous)</itunes:author><itunes:summary>Dear all my members and followers, Saya dan beberapa teman, baik psikiater dan psikolog mencoba membuat website yang lebih profesional untuk melayani konsultasi online dalam beberapa area kehidupan yang umum diungkapkan dalam praktek konseling/ psikoterapi sehari-hari seperti: Masalah gangguan belajar pada anak, masalah pengasuhan, masalah sex dan perkawinan, masalah di tempat kerja, kecemasan depresi dll. Tentunya konsultasi on line ini tidak dapat menggantikan konsultasi langsung tatap muka (walau saya masih kesulitan membuka konsultasi dengan webcam karena sambungan internet di Jakarta yang masih suka tidak stabil) karena banyak hal yang harus berupa dialog sehingga sulit sekali dilakukan pada media tulis menulis seperti ini. Jadi baik sekali jika teman-teman sekalian mau membagikan alamat website ini kepada rekan atau kolega atau semua teman-teman yang membutuhkannya. Saya mengharapkan dengan jawaban di media tulisan ini bisa memberikan wawasan dan informasi singkat atas permasalahan yang dihadapi dan apabila masih ada kesulitan bisa bertemu tatap muka dengan kami. Takut mahal? Bertemu tatap muka dengan kami? Jangan dong kan kita tidak hanya melayani untuk publik yang high class dan membutuhkan kenyamanan akses dan tempat untuk konsultasi melainkan kami juga melayani di RS pemerintah, Silahkan saja memilih mana nyamannya, pokoknya tidak boleh ada orang Indonesia yang tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Jiwa saat ini. Ok, semoga berguna dan Alamat website tersebut adalah www.konsultasipsikiater.com Salam sehat jiwa, Dharmawan</itunes:summary></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-2206276706368514379</guid><pubDate>Thu, 18 Jul 2013 14:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-05-04T06:59:29.691-07:00</atom:updated><title>Resensi Buku: Lebih Jauh Tentang ADHD &amp; Gangguan Belajar pada Anak</title><description>Oleh : dr. Aldo Fransiskus Marsetio, BMedSc
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrui0R-Mh4s943CQMrl44AFObA_zSy2-MFKDeW6nfK6bQEdi8w8aANGydRFGE0kl511A0ZyA5-gE1CmdhJBeJ-h2O-jaw02nAbs5t4bwSKJHryG-HRBe0hkvetUklm9_XsKB4ZsykJJBU/s1600/Lebih+Jauh+Tentang+ADHD+dan+Gangguan+Belajar+pada+Anak.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrui0R-Mh4s943CQMrl44AFObA_zSy2-MFKDeW6nfK6bQEdi8w8aANGydRFGE0kl511A0ZyA5-gE1CmdhJBeJ-h2O-jaw02nAbs5t4bwSKJHryG-HRBe0hkvetUklm9_XsKB4ZsykJJBU/s320/Lebih+Jauh+Tentang+ADHD+dan+Gangguan+Belajar+pada+Anak.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://http://www.tanyadok.com/berita/lebih-jauh-tentang-adhd"&gt;&lt;/a&gt;

Apakah anda pernah mendengar ADHD? ADHD adalah suatu kondisi kejiwaan yang sering ditemukan pada anak-anak, yang mempunyai gejala khas berupa tidak dapat memusatkan perhatian dan hiperaktif. ADHD merupakan salah satu gangguan perkembangan pada anak. Namun dapatkah anda membedakannya dengan gangguan perkembangan lainnya, terutama gangguan belajar pada anak?


Buku ‘Lebih Jauh Tentang ADHD &amp; Gangguan Belajar pada Anak’ yang disusun oleh dr. Dharmawan A. Purnama, SpKJ dan dr. Maria Irene Hendrata mengupas habis tentang ADHD dan gangguan belajar lainnya yang sering ditemukan pada anak-anak. Buku ini membahas berbagai macam cara untuk mengenali kondisi psikiatri tersebut, sampai cara menghadapi atau menanganinya.


Mungkin anda bingung mengenai perbedaan antara psikiater dengan psikolog. Apakah perbedaan di antara kedua profesi tersebut? Bagaimana kompetensi mereka? Kemanakah saya perlu membawa anak saya berobat? Buku ini dengan baik dan sederhana menjelaskan perbedaan kedua profesi tersebut, sehingga pasti dapat membuat anda lebih mudah dalam memutuskan.


Menggunakan bahasa yang awam, sederhana, dan memberikan definisi pada kata-kata medis membuat buku ini nyaman untuk dibaca, serta mudah dimengerti. Buku ini dikemas seringkas mungkin, namun padat berisi dengan informasi yang disajikan secara sistematis. Kriteria diagnosa, serta check list membantu siapa pun yang membaca buku ini dapat lebih mudah untuk mengerti kondisi kejiwaan sang anak. Dengan lebih mengerti kondisi sang anak, mengetahui cara penanganan yang tepat, tentu saja dapat membantu sang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.


Buku ‘Lebih Jauh Tentang ADHD &amp; Gangguan Belajar pada Anak’ ini bisa Anda peroleh dengan SMS ke 08129169825, tinggalkan nama dan alamat. Harga Rp. 35.000,- gratis ongkos kirim untuk Jakarta.
</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2013/07/resensi-buku-lebih-jauh-tentang-adhd.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrui0R-Mh4s943CQMrl44AFObA_zSy2-MFKDeW6nfK6bQEdi8w8aANGydRFGE0kl511A0ZyA5-gE1CmdhJBeJ-h2O-jaw02nAbs5t4bwSKJHryG-HRBe0hkvetUklm9_XsKB4ZsykJJBU/s72-c/Lebih+Jauh+Tentang+ADHD+dan+Gangguan+Belajar+pada+Anak.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-3833168537425436056</guid><pubDate>Tue, 01 Nov 2011 16:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-01T09:32:53.599-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Terapi anak hiperaktif</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Terapi neurofeedback untuk anak ADHD</category><title>Terapi Neurofeedback untuk ADHD</title><description>Terapi neurofeedback adalah salah satu pilihan terapi yang menjanjikan saat ini untuk penanganan ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder). Tujuan terapi adalah membuat pasien mengubah cara kerja otaknya sehingga fungsinya lebih optimal, tidak seperti seseorang dengan ADHD. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa itu Biofeedback?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Biofeedback adalah penggunaan alat untuk mencerminkan proses psikologi dan fisiologi yang pada umumnya tidak disadari oleh orang tersebut, namun dengan menggunakan alat biofeedback, proses pikir seseorang dapat disadari dan berada di bawah kontrol. Orang akan menerima informasi tentang status biologisnya, dan menggunakan informasi ini, ia belajar untuk meraih kontrol di bawah fungsi biologis yang tidak disadari.&lt;br /&gt;Neurofeedback adalah tipe dari biofeedback yang dapat digunakan untuk melatih pola gelombang otak anak dengan ADHD/ADD (Attention Deficit Disorder) dan mengubahnya agar menjadi lebih seperti anak-anak normal. Menggunakan elektroensefalografi (rekaman listrik otak) untuk memonitor gelombang otak dan positive reinforcement system, anak akan belajar bagaimana membuat otak mereka menjadi lebih atentif/konsentrasi. Hasilnya adalah berkurangnya gejala ADHD dan peningkatan perilaku yang tidak impulsive atau hiperaktif. Peningkatan ini relatif tergantung pada sebaik apa anak dapat mengontrol fungsi otak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana otak kita bekerja?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia mempunyai lima pola gelombang otak. Setiap area otak mempunyai pola predominan yang merefleksikan status mental seseorang saat ini. Pola ini dapat diukur dan direkam dengan alat elektroensefalogram (EEG). EEG dapat digunakan untuk membuat peta dari fungsi mental seseorang. Lima jenis gelombang otak itu adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang beta : Ini adalah gelombang tercepat yang berhubungan dengan status mental, intelektual, dan konsentrasi. Gelombang beta dalam jumlah banyak membuat seseorang mampu berkonsentrasi.&lt;br /&gt;Gelombang SMR : Adalah subkategori dari gelombang beta. Ini adalah gelombang yang muncul pada korteks sensorimotor jika seseorang fokus pada tantangan fisik.&lt;br /&gt;Gelombang alfa : Gelombang ini lebih lambat dari gelombang beta yang bekerja untuk relaksasi.&lt;br /&gt;Gelombang teta : Gelombang ini lebih lambat lagi dari gelombang alfa. Ini adalah gelombang otak saat bermimpi atau tertidur.&lt;br /&gt;Gelombang delta : Ini adalah gelombang otak yang paling lambat yang muncul saat tidur yang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang dengan ADHD/ADD cenderung memiliki gelombang lambat yang berlebihan (biasanya gelombang teta dan alfa). Jika peningkatan gelombang lambat ini terjadi di bagian eksekutif, yaitu bagian frontal otak (otak sebelah depan), maka akan sulit untuk mengontrol konsentrasi, perilaku, dan emosi.&lt;br /&gt;Saat seorang anak normal diberi tugas yang membutuhkan konsentrasi, jumlah gelombang beta di beberapa bagian otaknya meningkat. Hal ini tidak terjadi pada anak dengan ADHD. Yang terjadi bukannya peningkatan gelombang beta, tetapi peningkatan gelombang teta. Sehingga anak dengan ADHD memiliki rasio gelombang teta/beta yang tinggi. Jadi di saat anak normal berkonsentrasi lebih keras saat menyelesaikan tugas, pikiran anak dengan ADHD dapat melayang ke hal-hal lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi neurofeedback dapat melatih anak dengan ADHD untuk menurunkan rasio gelombang teta/betanya. Semakin rendah rasio teta/beta, semakin baik anak dapat berkonsentrasi. Sebuah elektroda diletakkan di puncak kepala dan sepasang elektroda diletakkan di daun telinga atau di tulang mastoid di belakang telinga. Melalui ketiga elektroda ini, aktivitas listrik otak direkam dan ditampilkan di layar komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah terapi neurofeedback ini efektif?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selama terapi, anak diajarkan secara bertahap untuk mengurangi produksi gelombang teta dan meningkatkan produksi gelombang beta. Rasio gelombang teta/beta menjadi normal sehingga gejala dan perilaku ADHD akan banyak berkurang atau bahkan menghilang. Seiring meningkatnya kemampuan konsentrasi, terapi ini juga akan meningkatkan kognitif mereka. Peningkatan ini bersifat permanen. Penelitian lanjutan mengenai hal ini telah dilakukan sejak tahun 1970an. Terdapat beberapa penelitian yang membuktikan efektivitasnya. Tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa neurofeedback sama sekali tidak memberikan manfaat. Penelitian Levesque dan kolega pada tahun 2006 menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan memperlihatkan adanya perubahan positif pada fungsi otak anak dengan ADHD setelah terapi neurofeedback. Terapi neurofeedback untuk ADHD mengurangi gejala impulsivitas dan hiperaktivitas, menstabilkan mood, memperbaiki siklus tidur, meningkatkan konsentrasi, meningkatkan daya ingat dan performa akademik. Yang menarik, juga terjadi peningkatan IQ setelah terapi neurofeedback ini. Rata-rata peningkatan nilai IQ ini bervariasi dari tiap penelitian. Ada yang menyebutkan peningkatan 9 poin hingga 23 poin dari nilai IQ. Hal ini membuat neurofeedback menjadi terapi yang signifikan bagi ADHD. Belum ada penelitian pada terapi lain yang membuat perubahan permanen seperti ini.&lt;br /&gt;Neurofeedback juga terbukti efektif dalam menangani berbagai macam epilepsi, termasuk grand mal, kompleks parsial, dan petit mal. Neurofeedback menurunkan 70% kejadian kejang, bahkan hingga 82% pada pasien yang mengkonsumsi obat teratur. &lt;br /&gt;Pada orang dengan kecanduan alkohol dan narkoba, terjadi penurunan gelombang alfa dan teta serta peningkatan berlebih pada gelombang beta. Hal ini membuat mereka sulit untuk rileks. Latihan neurofeedback mengurangi stres pada pecandu melalui meningkatnya gelombang alfa dan teta, serta menurunnya gelombang beta.&lt;br /&gt;Neurofeedback juga bermanfaat mengurangi gejala pada Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Sebuah penelitian pada korban PTSD di Vietnam membuktikan bahwa neurofeedback mengurangi kekambuhan pada pasien yang mendapatkan terapi neurofeedback dan medikasi dibandingkan pada pasien yang hanya mendapat medikasi saja.&lt;br /&gt;Tidak hanya pada orang dengan gangguan psikiatri, neurofeedback juga bermanfaat bagi orang normal tanpa gejala, misalnya digunakan untuk meningkatkan performa kerja, daya ingat, dan kognitif pada pebisnis, musisi, dan atlet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berapa sesi terapi yang dibutuhkan?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Latihan neurofeedback untuk gangguan cemas atau insomnia membutuhkan 15-20 kali sesi, sedangkan untuk ADHD/ADD atau gangguan belajar membutuhkan 40-50 kali sesi terapi. Tiap sesi umumnya berlangsung selama 40-60 menit. Pada kondisi pasien dengan kondisi yang kompleks, dokter tidak selalu dapat memperkirakan berapa sesi yang dibutuhkan untuk memberikan hasil bagi pasien. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana memilih terapis yang profesional?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa orang tua yang berharap dapat membeli alat ini lalu kemudian mengaplikasikannya sendiri ke anak mereka. Juga ada beberapa pihak yang menyewakan alat neurofeedback ini di rumah mereka. Kenyataannya tidak sesederhana itu.  Dibutuhkan operator yang mengerti fungsi otak, dapat mengenali gejala setiap pasien, dan mengadakan penilaian serta evaluasi terhadap terapi. Terapi pada setiap pasien tidaklah sama. Maka sebelum terapi perlu dilakukan penilaian oleh klinisi mengenai riwayat klinis pasien. Jika perlu maka dilakukan pemeriksaan psikologi atau neuropsikologi terlebih dahulu. Pada beberapa kasus diperlukan pemeriksaan yang lebih komprehensif, yaitu quantitative electroencephalogram (QEEG) brain map yang merupakan alat untuk mengevaluasi pola gelombang otak. QEEG dapat mengevaluasi kondisi seperti cedera otak ringan, ADHD/ADD, gangguan belajar, depresi, gangguan obsesif kompulsif, gangguan cemas, gangguan panik, dan kondisi lain seperti autisme, skizofrenia, stroke, epilepsi, dan demensia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa efek samping terapi neurofeedback?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Efek samping ringan dapat muncul selama terapi neurofeedback, yaitu lelah, cemas, sakit kepala, gelisah, dan anak menjadi rewel. Tidak ada efek samping yang berbahaya. Jika efek samping ini muncul, terapis dapat mengubah jenis latihan sehingga mengeliminasi efek samping tersebut. Maka dari itu dibutuhkan terapis yang dapat mengenali gejala pada setiap pasien.  &lt;br /&gt;Neurofeedback membutuhkan motivasi pasien untuk mengikuti terapi sampai selesai. Terapi ini baru dapat diterapkan pada anak usia 6 tahun ke atas karena anak yang lebih kecil belum bisa mengikuti instruksi terapis. Terapi neurofeedback ini bukanlah cara untuk menyembuhkan anak dengan ADHD, terapi ini hanya salah satu cara untuk mengurangi gejala dan memperbaiki perilaku mereka. Berkonsultasilah dengan psikiater Anda untuk menentukan terapi yang terbaik bagi anak Anda.</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2011/11/terapi-neurofeedback-untuk-adhd.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>16</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-1828225978497676822</guid><pubDate>Wed, 07 Sep 2011 17:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-07T21:11:08.416-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ADHD</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">CPT</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">TOVA</category><title>Test of Variables of Attention (T.O.V.A.) untuk Membantu Diagnosa ADHD</title><description>Apakah anak Anda sulit berkonsentrasi dan mengalami gangguan belajar? Apakah guru anak Anda mulai menduga anak Anda mengalami gangguan pemusatan perhatian dan atau hiperaktif? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deteksi dini orang tua terhadap gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif atau yang biasa dikenal dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah faktor penting dalam penanganan ADHD dan perkembangan anak nantinya. &lt;br /&gt;Ada tiga gejala utama ADHD, yaitu inatensi (sulit memusatkan perhatian/sulit konsentrasi), impulsivitas (sulit menahan keinginan untuk melakukan sesuatu sehingga melakukan sesuatu tanpa berpikir lebih dulu), dan hiperaktivitas. &lt;br /&gt;Tipe ADHD juga ada tiga, yaitu yang cenderung inatensi, hiperaktif–impulsif, dan kombinasi. Pemeriksaan Continuous Performance Test (CPT) yang objektif seperti dengan alat T.O.V.A (Test of Variable of Attention) juga diperlukan untuk diagnosis dan menilai kemajuan terapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu T.O.V.A.?&lt;br /&gt;The Test of Variables of Attention (T.O.V.A.®) adalah bentuk continuous performance test (CPT) berbasis komputer yang dapat membantu mendeteksi, mendiagnosis, dan memonitor efektivitas terapi pada gangguan atensi, contohnya ADHD dan juga pada cedera otak traumatik. Tes ini digunakan oleh psikiater dan psikolog agar dapat mendiagnosa gangguan atensi secara lebih akurat.&lt;br /&gt;T.O.V.A. adalah pengukuran yang objektif terhadap daya atensi seseorang, bukan hanya penilaian yang subjektif dari wawancara atau pengamatan perilaku. Tes ini cukup sederhana untuk dilakukan, bentuknya seperti permainan komputer yang lamanya 21,8 menit. Untuk anak usia 4 sampai 5 tahun, lama tes lebih pendek, yaitu 10,9 menit. Sebelum tes disediakan latihan terlebih dahulu selama 2,5 menit. T.O.V.A. mengukur kemampuan seseorang dalam merespon rangsangan visual atau auditori (pendengaran). Pengukuran ini dibandingkan dengan pengukuran pada sekelompok orang tanpa gangguan atensi yang mengikuti tes ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua jenis T.O.V.A, yaitu T.O.V.A. yang memproses informasi visual dan T.O.V.A.-A yang memproses informasi auditori. T.O.V.A menggunakan dua bentuk geometri yang sederhana untuk mengukur atensi, sedangkan T.O.V.A.-A menggunakan dua nada. Biasanya cukup dilakukan satu jenis T.O.V.A saja.&lt;br /&gt;Target pada T.O.V.A. visual adalah kotak kecil yang berada di atas. Kotak kecil akan muncul bergantian secara acak di atas dan di bawah. Saat kotak kecil muncul di bagian atas, anak harus meng-klik microswitch. T.O.V.A.-A menggunakan dua nada yang mudah dibedakan, yaitu nada tinggi dan nada rendah. Targetnya adalah nada tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variabel yang diukur dalam T.O.V.A. meliputi konsistensi, waktu merespon, impusivitas, inatensi, waktu merespon setelah impulsivitas, respon antisipatif dan multipel, dan skor ADHD, yang dibandingkan dengan kelompok orang dengan ADHD sesuai usia dan jenis kelaminnya. Hasil T.O.V.A. berupa grafik dan interpretasi dapat segera muncul secara tertulis. &lt;br /&gt;T.O.V.A tidak hanya digunakan dalam lingkungan medis namun juga dapat digunakan untuk skrining atau mendeteksi adanya gangguan atensi di sekolah-sekolah, human resource departments (HRD), dan program rehabilitasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apa kelebihan T.O.V.A. ?&lt;br /&gt;• T.O.V.A. membantu diagnosa dengan informasi objektif mengenai atensi dan impulsivitas. Klinisi (psikiater/psikolog) tidak hanya mendiagnosa berdasarkan perilaku dan wawancara pasien saja. T.O.V.A. dapat mengidentifikasi dengan tepat lebih dari 86% kasus ADHD. Akan tetapi, dalam melakukan diagnosa klinis tetap melakukan pengamatan secara klinis, bukan berdasarkan hasil T.O.V.A. saja. &lt;br /&gt;• T.O.V.A. dapat memprediksi efektivitas pengobatan secara akurat dengan membandingkan hasil T.O.V.A. sebelum dan sesudah pengobatan. &lt;br /&gt;• Bentuk T.O.V.A. seperti game komputer dan mudah dilakukan oleh siapa saja. &lt;br /&gt;• Hasil T.O.V.A dapat segera dilihat dan mudah dibaca.&lt;br /&gt;• T.O.V.A dapat dilakukan oleh anak-anak maupun orang dewasa (usia 4 hingga 80 tahun). &lt;br /&gt;• Pengukuran respon waktunya sangat tepat (dalam skala milidetik)&lt;br /&gt;• Tidak dipengaruhi oleh perbedaan bahasa, budaya, gangguan belajar, dan daya ingat.&lt;br /&gt;• Bentuknya yang seperti game membuat anak-anak lebih nyaman, tidak merasa sedang dites.&lt;br /&gt;• Berbeda dengan CPT sebelumnya yang menggunakan keyboard, T.O.V.A menggunakan microswitch yang didesain khusus yang dapat meminimalkan kelelahan otot saat tes.&lt;br /&gt;• Dengan menyediakan pemeriksaan yang objektif, hasil pemeriksaan dengan grafik yang mudah dimengerti pasien, akan memberikan kepuasan pada pasien dan keluarga. Pasien lebih mengerti dan menerima kondisi serta terapi yang harus ia jalani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk ADHD tidak hanya pada anak-anak namun dapat muncul juga pada orang dewasa, seringnya dalam bentuk impulsivitas. Selain itu juga perlu diingat bahwa ADHD sering muncul bersamaan (komorbiditas) dengan penyakit jiwa lainnya, seperti depresi, gangguan cemas, dan penyalahgunaan obat.</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2011/09/test-of-variables-of-attention-tova.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>11</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8120750168765372654.post-6983643313205861174</guid><pubDate>Sun, 20 Feb 2011 02:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-02-19T18:10:01.505-08:00</atom:updated><title>Psikiater, Perkawinan dan Seks</title><description>Perubahan nilai yang begitu cepat dalam kehidupan kita saat ini karena kemajuan teknologi informasi dan media mengakibatkan kita bingung dalam menyikapi nilai-nilai perkawinan saat ini. Di tengah kebingungan ini, sekiranya perlu juga kita merefleksikan kembali arti kasih sayang ini dengan nilai-nilai dan makna perkawinan sebagai komitmen untuk saling mencintai. Refleksi ini menjadi penting ketika saat ini kita melihat di sekitar kita terjadi peningkatan perceraian, perselingkuhan yang diawali dengan teman tapi mesra (TTM) dan maraknya praktek-praktek seks di luar perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua “kekacauan” ini berdampak negatif pada generasi muda, yang katanya penerus bangsa, karena membuat banyak anak-anak hasil produksi ‘broken home’. Hancur sudah dasar-dasar pola asuh dalam masa perkembangan sang anak sebagai pondasi nilai-nilai kehidupannya kelak di masa dewasa.&lt;br /&gt;Tulisan ini adalah hasil pengamatan yang diambil dari pengalaman penulis dalam berpraktek sebagai psikiater keluarga dan perkembangan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masalah Komunikasi dan Gangguan Jiwa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Banyak masalah perkawinan dikaitkan dengan masalah komunikasi yang buruk antara suami dan istri sehingga akhirnya mereka merasa tidak ada lagi kecocokan satu sama lain. Pertanyaannya adalah mengapa komunikasi yang begitu baik pada awal mula pacaran sampai ke pernikahan sekarang menjadi buruk? Memang ketika jatuh cinta (kejadian yang tidak dapat dikendalikan oleh kita) segalanya menjadi indah dan komunikasi macam apa pun akan selalu ‘lancar’ tetapi ketika sama-sama berkomitmen untuk tetap saling mencintai (kejadian ini harusnya dapat dikendalikan secara sadar oleh kita karena mencintai adalah pilihan) seharusnya sudah dapat mendeteksi masalah ‘plus dan minus’ dari komunikasi tersebut! Menikah adalah komitmen untuk memilih saling mencintai ‘partner’ kita untuk mencapai ‘goal’ bersama di hari tua.&lt;br /&gt;Mengapa komunikasi ini menjadi buntu? Bertolak dari definisi Badan Kesehatan Dunia (WHO) tentang kesehatan mental yaitu: Perasaan sehat dan bahagia, mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain apa adanya dan bersikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain maka jika kita tidak dapat menerima pasangan apa adanya bisa jadi dikarenakan faktor-faktor seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Salah satu pasangan atau keduanya mengalami gangguan jiwa, baik yang memang gangguan karena faktor genetik (skizofrenia, bipolar, paranoia) dan lingkungan (depresi dan cemas akibat gangguan penyesuaian lingkungan) maupun gangguan jiwa yang dibuat sendiri seperti memakai narkoba dengan alasan untuk mencari kebahagiaan.&lt;br /&gt;2. Gangguan kepribadian juga berperan penting dalam hubungan suami dan istri. Gangguan kepribadian yang sering menyebabkan “perang dunia” adalah gangguan kepribadian narsisitik yang merasa dirinya paling benar dan spesial sehingga selalu perlu didahulukan karena merasa dirinya lebih penting, gangguan kepribadian histrionik yang tak pernah cukup minta diperhatikan oleh pasangannya, gangguan kepribadian anankastik yang selalu mencari dan menuntut kesempurnaan bagi dirinya sendiri dan pasangannya. Jika salah satu atau kedua individu sudah terserang gangguan kepribadian ini maka tidak ada satu orang pun pasangannya yang akan ‘tahan’ hidup bersama lagi. Sebenarnya gangguan ini sudah tampak bila diperhatikan secara cermat sejak masih masa pacaran dahulu, walaupun dalam satu dua kasus ada pasangan yang pandai menyembunyikan dirinya sebelum perkawinan.&lt;br /&gt;Jika gangguan jiwa dan gangguan kepribadian ini sudah ikutan berperan maka semua orang tahu bahwa kita tidak akan bisa berkomunikasi dengan normal pada orang dengan gangguan kejiwaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perselingkuhan, Nilai Masyarakat, dan Puber Kedua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Biasanya ketika seseorang mengalami kebuntuan komunikasi dengan pasangannya, mereka akan mencari teman dekat untuk ‘curhat’. Nah biasanya teman dekat untuk ‘curhat’ ini tidak terlatih untuk bersikap objektif, sering kali mereka menjadi bersimpati dan bahayanya dengan terlalu simpati adalah nasehat-nasehatnya akan sangat tidak rasional untuk menjaga keutuhan perkawinan. Belum lagi keterbatasan wawasan akibat kurangnya pengalaman dalam menghadapi masalah-masalah perkawinan dan gangguan jiwa akan mengakibatkan penilaian yang salah dan nasehat yang keliru. Risiko yang lebih besar lagi adalah ketika teman ‘curhat’ tersebut adalah lawan jenis! Yang tipe seperti ini biasanya dapat di-‘follow up’ menjadi TTM, lalu urusan perselingkuhan sampai seks!&lt;br /&gt;Sebenarnya istilah puber kedua adalah istilah yang sampai sekarang masih menjadi kontroversi sebab ternyata perselingkuhan dan hubungan seks di luar pernikahan bukan dipengaruhi oleh keadaan hormonal saja melainkan banyak faktor biopsikososial lainnya seperti kebutuhan dasar manusia yang selalu ingin diperhatikan, akibat tuntutan pekerjaan maka waktu bersama istri yang lebih sedikit dibandingkan bersama rekan kerja (apalagi kalau rekan kerjanya perhatian pula) dan tentunya setiap bertemu istri, istri tidak bersolek secantik teman kerja.&lt;br /&gt;Hal lain yang juga mempengaruhi adalah gaya hidup saat ini seperti bermain golf dengan caddy atau pelatih yang ‘moleh-moleh’, spa dengan terapis yang ‘bohai-bohai’, karaoke dan lain-lain yang tentunya didampingi ‘pendamping’ yang memiliki service lebih oke dibandingkan di rumah.&lt;br /&gt;Nilai-nilai masyarakat juga kadang mendorong seseorang untuk memiliki ‘simpanan’ dengan dalih bahwa semakin ‘bonafid’ seorang pengusaha maka maklum dan wajar jika memiliki wanita lain. Belum lagi nilai-nilai korupsi yang merajalela di Indonesia seringkali juga menyuguhkan sogokan berupa seks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cinta dan Kesehatan Mental&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, sekali lagi penulis mengingatkan bahwa masalah perkawinan dan cinta kasih ini sangat berhubungan erat dengan mekanisme kerja sistem mental kita di otak yaitu cara pikir, berperasaan dan bertingkahlaku dalam hubungan dengan lingkungan dan sesama, khususnya ‘partner’ hidup kita.&lt;br /&gt;Insting primitif kita dalam hal seksual seringkali menjebak kita sehingga gagal mencapai “GOAL” (fungsi luhur otak yang paling tinggi adalah mempunyai tujuan) dalam ‘companionship’ cinta kasih perkawinan. Untuk mencegah kegagalan itu, kita harus selalu memiliki kewaspadaan dalam setiap pikiran, perasaan, dan perbuatan kita sebelum terjebak dalam kecanduan-kecanduan haus cinta kasih dan seksual akibat stimulasi berlebihan pada brain reward system di otak kita.&lt;br /&gt;Hati-hati dengan kondisi kesehatan mental dan gangguan kepribadian yang mungkin menghampiri kita atau pasangan kita dan bila perlu hal seperti ini dikonsultasikan pada profesional daripada ke teman, yang mana karena ketidak-profesionalannya bisa berakibat menyelesaikan masalah dengan masalah baru.&lt;br /&gt;Cinta yang sejati membawa ketenangan dan meningkatkan kesehatan mental kita tetapi cinta yang palsu hanya akan membawa kebimbangan dan ketidaktenangan dalam hati kita.</description><link>http://infopsikiater.blogspot.com/2011/02/psikiater-perkawinan-dan-seks.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>1</thr:total></item></channel></rss>