<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-1814615763839120791</atom:id><lastBuildDate>Fri, 01 Nov 2024 10:37:10 +0000</lastBuildDate><category>Kisah</category><title>Malimbuku</title><description></description><link>http://malimbukuu.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><copyright>malimbuku.blogspot.com</copyright><itunes:image href="http://4.bp.blogspot.com/_Ip2eHWWe100/TPY7JkeTpsI/AAAAAAAAAO0/g-MSGAaust8/s1600/Malimbuku.jpg"/><itunes:subtitle/><itunes:category text="TV &amp; Film"/><itunes:author>Malimbuku</itunes:author><itunes:owner><itunes:email>Masukkan alamat email untuk mendapatkan setiap posting blog ini</itunes:email><itunes:name>Malimbuku</itunes:name></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1814615763839120791.post-6331067978940592994</guid><pubDate>Wed, 01 Dec 2010 18:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-12-01T10:44:38.830-08:00</atom:updated><title>Agnes Monica</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeHBomsPP-zTK50ixLRSErenMk5I3QFXyriTWtqTrDnNFU9Nrd26mC6bRLiq3vWlJw5mD0Z9qIR5b-Yenp-E50uhjEJl8OXadtrBQcHKipBekiuqmTd6OZkcNw8X1KqhMWMUJGq1M7E8ch/s1600/agnes_monica.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeHBomsPP-zTK50ixLRSErenMk5I3QFXyriTWtqTrDnNFU9Nrd26mC6bRLiq3vWlJw5mD0Z9qIR5b-Yenp-E50uhjEJl8OXadtrBQcHKipBekiuqmTd6OZkcNw8X1KqhMWMUJGq1M7E8ch/s200/agnes_monica.jpg" width="132" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Artis multitalenta ini mengawali karirnya sejak usia enam tahun sebagai penyanyi cilik.&amp;nbsp; Di usia yang masih belia Agnes meluncurkan album kanak-kanak yang melambungkan namanya sebagai penyanyi cilik.&amp;nbsp; Album yang melejitkan namanya yaitu ‘Meong', ‘Yess' dan ‘Bala-bala' membawa penyanyi yang lahir di Jakarta, 1 Juli 1986 berada di jajaran penyanyi anak terpopuler di akhir tahun 1990-an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain bernyanyi, Agnes dikenal sebagai seorang presenter cilik yang sukses. Setelah membawakan acara di VAN Anteve, Agnes makin dikenal setelah membawakan program acara anak di stasiun RCTI, ‘Tralala-Trilili'. Berkat penampilannya di Tralala-Trilili, Agnes memperoleh penghargaan Panasonic Award sebagai presenter cilik terfavorit pada 1999.&amp;nbsp; Agnes juga sempat membawakan acara Diva Romeo di Trans TV.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Memasuki usia remaja, Agnes mulai menapaki dunia seni peran. Setelah debutnya di ‘Lupus Millenia' (1999) dan ‘Mr Hologram', Agnes membuktikan aktingnya saat membintangi sinetron&amp;nbsp; ‘Pernikahan Dini' (2001) bersama Syahrul Gunawan. Agnes juga menyanyikan lagu tema sinetron ‘Pernikahan Dini'. Kesuksesan sinetron yang meraih empat penghargaan di Panasonic Award 2001 dan 2002 ini semakin melambungkan namanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes juga membintangi beberapa judul sinetron seperti ‘Amanda', ‘Cewekku Jutek', ‘Cantik', ‘Ciuman Pertama', ‘Bunga Perawan' dan ‘Kawin Muda'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sinetron Cewekku Jutek di tahun 2003 membuat Agnes mendapat predikat sebagai aktris terfavorit di ajang Panasonic Award serta ‘Bunga Perawan' dan ‘Cantik' di tahun 2004 membuatnya mendapat predikat sebagai Aktris Ngetop di pagelaran SCTV Awards 2004.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sukses dengan menyanyikan lagu tema Pernikahan Dini, yaitu ‘Pernikahan Dini' dan ‘Seputih Hati', Agnes kemudian berkolaborasi dengan penyanyi Yana Julio menyanyikan single ‘Awan' dan ‘Ombak'. Album pertama yang Agnes setelah dewasa dirilis pada 8 Oktober 2003 bertitel And The Story Goes. Tak tanggung-tanggung, para pentolan musisi tenar seperti Ahmad Dhani dan Melly Goeslaw ia gaet untuk memluskan langkahnya bersaing di dunia internasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Album perdananya setelah dewasa mendapat sambutan luar biasa. Di ajang AMI 2004, Agnes meraih predikat Artis Pop Solo Wanita terbaik, Produksi Dance/Techno Terbaik untuk lagu bilang saja serta Duo/Grup terbaik dengan Ahmad Dhani di lagu ‘Cinta Mati'. Di tahun yang sama Agnes menyabet predikat Pendatang baru terbaik di Anugerah Planet Muzik 2005 serta Most Favorite Female pada MTV Indonesia Award 2004. Album perdananya meraih Double Platinum dengan penjualan lebih dari 300.000 ribu kopi.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Album kedua berlabel Whaddup A'? Agnes terus menunjukkan tajinya. Selain menggandeng musisi nasional seperti Dewiq, Melly Goeslaw, Andi Rianto dan lainnya, Agnes juga berduet dengan penyanyi asal Amerika Keith Martin. Martin menciptakan dua lagu dan berduet di lagu ‘I'll Light A Candle'.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Album kedua Agnes kembali melejit dengan bebrapa lagu favorit diantaranya ‘Bukan Milikmu Lagi', ‘Tanpa Kekasihku', ‘Tak Ada Logika', dan ‘Cinta di Ujung Jalan'.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesibukannya membuat Agnes memutuskan cuti kuliah dari Fakultas Hukum dan fokus bermusik. Hasilnya, Agnes sukses menyabet penghargaan bergengsi seperti Most Favorite Female pada ajang MTV 2006 dan Artis Solo Wanita Terbaik serta&amp;nbsp; Penyanyi Rythm dan Blues Terbaik di ajang AMI Award 2006. Lima penghargaan yang ia kantongi sepanjang tahun 2006 membuatnya terpilih sebagai Aktris Terpopuler 2006.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak puas dengan penghargaan yang didapatnya, bintang penuh sensasi ini, berambisi untuk Go Internasional. Agnes mencoba menjajal akting dalam film The Hospital bersama bintang Taiwan yang tengah naik daun Jerry Yan yang juga salah satu personil F4. Dia juga membintangi drama Taiwan lainnya&amp;nbsp; Romance In The White House dan The Romance.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes menjadi penyanyi pembuka konser Boyz II Men di Istora Senayan,pada 15 Mei 2007. Sebelumnya Agnes direncanakan duet bareng Vanya, Maurice dan&amp;nbsp; Shawn, namun batal karena belum ada persiapan matang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SINETRON&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa tahun tak muncul dalam sinetron, Agnes kembali membintangi dua judul sinetron pada 2008, Jelita dan Kawin Massal. Di tahun yang sama, Agnes juga menelurkan sebuah single berjudul Matahariku sebagai lagu tema Jelita.&amp;nbsp; Meski sinetonnya tak begitu sukses, single terbaru Agnes mendapat Platinum dengan angka downloada mencapai 1,5 juta. Agnes kembali ditasbihkan sebagai Most Favorite Female pada MTV Award Indonesia 2008.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
September 2008, Agnes melepas single Godai Aku Lagi ke pasar yang juga masuk dalam album ketiganya, Sacredly Agnezious yang rilis 16 Maret 2009. Sebelumnya single Matahariku dan Godai Aku Lagi dikemas dalam CD Single berjudul NEZ. Berbeda dengan album sebelumnya, di album yang menjagokan single Teruskanlah ini ia meluncurkan dalam dua versi, berisi 10 track dan 13 track. Agnes juga terlibat langsung sebagai produser.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agnes membuktikan ia mampu terus berprestasi. Pada bulan Maret 2009, namanya menjadi salah satu penerima penghargaan Class Music Heroes. Dan ia menjadi termuda yang menerima penghargaan ini. Di tahun yang sama, Agnes menarih predikat penyanyi solo terdahsyat versi ajang Dahsyat Award&amp;nbsp; pada 19 April 2009. Meski jarang terdengar&amp;nbsp; seperti tahun sebelumnya, Akhir November 2009 Agnes kembali merebut tropi sebagai Artist of The Year dan Favorite Artist pada ajang MTV Indonesia Awards 2009.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Profil&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;
Nama: Agnes Monica Tanggal lahir: Selasa, 01 Juli 1986&lt;br /&gt;
Status: Single Zodiak: Gemini&lt;br /&gt;
Lahir di: Jakarta Debut: Si Meong Album (1994)&lt;br /&gt;
Situs web: http://id.wikipedia.org/wiki/Agnes_Monica&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://malimbukuu.blogspot.com/2010/12/agnes-monica.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeHBomsPP-zTK50ixLRSErenMk5I3QFXyriTWtqTrDnNFU9Nrd26mC6bRLiq3vWlJw5mD0Z9qIR5b-Yenp-E50uhjEJl8OXadtrBQcHKipBekiuqmTd6OZkcNw8X1KqhMWMUJGq1M7E8ch/s72-c/agnes_monica.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>Masukkan alamat email untuk mendapatkan setiap posting blog ini (Malimbuku)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1814615763839120791.post-3248557277043913469</guid><pubDate>Tue, 30 Nov 2010 06:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-11-29T22:21:30.847-08:00</atom:updated><title>Hudson - IMB [Dicap Banci]</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyVvegwBverdISiDuX2tl_a3_DFKHW9CYsycd7gD58ncklvE7CU2dJeG5MoYJ_9rqPpOmnUhqpU-3-rXScKzJeUEYce5QLyDQ1nJDXdS-GiCMHCxNiO1SSGmOegHZP3enNGFYG2taTMF9y/s1600/hudson+imb+3.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="112" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyVvegwBverdISiDuX2tl_a3_DFKHW9CYsycd7gD58ncklvE7CU2dJeG5MoYJ_9rqPpOmnUhqpU-3-rXScKzJeUEYce5QLyDQ1nJDXdS-GiCMHCxNiO1SSGmOegHZP3enNGFYG2taTMF9y/s200/hudson+imb+3.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bakat Hudson Prananjaya memang unik. Ia mampu menyanyi dengan karakter perempuan dan pria, yang dibawakannya dalam bentuk two faces. Berkat kemampuannya itu, Hudson kini dikenal masyarakat. “Saya bersyukur dan sama sekali tidak menyangka bisa berada pada posisi saat ini,” ujarnya saat ditemui di sela-sela latihannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bakat Hudson yang unik itu muncul secara tidak sengaja. Waktu itu, ia menjadi even manajer di suatu klub. “Bos memintaku bikin suatu acara yang tidak membosankan. Ya, sudah deh, aku bikin konsep two faces.” Tidak disangka, konsep tersebut disukai para penonton. Sejak itulah Hudson mulai mengembangkan bakatnya.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sayangnya, bakatnya tersebut mendatangkan cibiran. Beberapa orang memandang Hudson seorang banci. “Mereka tanya, aku perempuan atau pria atau bencong. Soalnya kalau laki-laki, aku jadi laki-laki banget. Sementara kalau perempuan, jadi perempuan banget. Ya, mereka jadi ragu,” kata jemaat Gereja Katolik St. Yohanes Pembaptis, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untunglah Hudson tidak ambil pusing dengan cibiran tersebut. “Terserah. Aku sih enggak mau mikirin hal-hal seperti itu, yang penting aku berkarya dan cari nafkah dengan jalan halal. Kan nobody’s perfect,” tandasnya tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: &lt;a href="http://www.ebahana.com/warta-3022-Hudson-IMB-Dicap-Banci.html"&gt;Majalah Bahana&lt;/a&gt;, November 2010</description><link>http://malimbukuu.blogspot.com/2010/11/hudson-imb-dicap-banci.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyVvegwBverdISiDuX2tl_a3_DFKHW9CYsycd7gD58ncklvE7CU2dJeG5MoYJ_9rqPpOmnUhqpU-3-rXScKzJeUEYce5QLyDQ1nJDXdS-GiCMHCxNiO1SSGmOegHZP3enNGFYG2taTMF9y/s72-c/hudson+imb+3.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>Masukkan alamat email untuk mendapatkan setiap posting blog ini (Malimbuku)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1814615763839120791.post-1461101620144455794</guid><pubDate>Tue, 30 Nov 2010 06:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-11-29T22:08:23.335-08:00</atom:updated><title>Putri-Ayu - IMB</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.ebahana.com/admin/foto_berita/16112010415img.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="121" src="http://www.ebahana.com/admin/foto_berita/16112010415img.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Awalnya Putri Ayu tidak menyadari kalau dirinya ternyata memiliki talenta menyanyi seriosa. Bakatnya terlihat ketika ia mengikuti sebuah lomba tingkat nasional. “Di lomba itu harus pakai suara seriosa. Sejak itu, aku belajar seriosa,” ujar pemilik nama lengkap Putri Ayu Rosmei Silaen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada lomba itu, Putri berhasil meraih medali emas. “Medali emas tetapi enggak peringkat atas. Karena beberapa hari sebelum lomba, peraturannya diganti menggunakan jenis musik pop, bukan seriosa.” Mau tidak mau Putri yang sudah berlatih seriosa selama tiga bulan, tetap mengikuti lomba dengan suara seriosa.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Walau tidak menduduki peringkat atas, Putri bersyukur karena ketekunannya berlatih seriosa membawanya menjadi peserta Indonesia Mencari Bakat. Bakatnya yang luar biasa menarik perhatian masyarakat Indonesia. “Aku senang aja, bersyukur punya suara kayak begini,” tandas gadis kelahiran Sibolga, 24 Mei 1997.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.ebahana.com/warta-3031-Putri-Ayu-IMB-Bakat-Terpendam.html"&gt;BAHANA&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://malimbukuu.blogspot.com/2010/11/putri-ayu-imb.html</link><thr:total>0</thr:total><author>Masukkan alamat email untuk mendapatkan setiap posting blog ini (Malimbuku)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1814615763839120791.post-4326751006584919745</guid><pubDate>Mon, 29 Nov 2010 06:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-11-28T23:35:26.502-08:00</atom:updated><title>Interview With Dewi Lestari</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGVHpeac3CXn_M0VuPe_3IKv_8EEaavCXNvoyrLJfke8VoIxfqS8RZDEd461psBmn6MRvBj5XFmxFN0uNLMSTzZcgFcQCrgeeS19FvXrsaluS_5YlPv4hUzWBOD5ziWlSeklPgjmNhmwDQ/s1600/29872_400271104685_120532544685_3960072_1788333_a.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: justify;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGVHpeac3CXn_M0VuPe_3IKv_8EEaavCXNvoyrLJfke8VoIxfqS8RZDEd461psBmn6MRvBj5XFmxFN0uNLMSTzZcgFcQCrgeeS19FvXrsaluS_5YlPv4hUzWBOD5ziWlSeklPgjmNhmwDQ/s1600/29872_400271104685_120532544685_3960072_1788333_a.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dewi Lestari&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jakarta, Indonesia&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A writer, a singer songwriter, a wife and a mother, a curious little mind who loves to read all day, laugh out loud, take a good nap, and have a long, great, tireless conversation with those who share the same curiosity and humour.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Twitter : &lt;i&gt;&lt;a href="http://twitter.com/deelestari?from_source=onebox"&gt;deelestari&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/pages/Dewi-Lestari/6846134641"&gt;Facebook Page&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;DEE INTERVIEW&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;COMPILATION OF DEE'S MEDIA INTERVIEWS TO ASSIST INTERVIEWERS AND MEDIA PARTNERS. FOR MORE EFFECTIVE AND FRESH INTERVIEWS, PLEASE REFER TO THIS BLOG FIRST BEFORE SENDING YOUR LIST OF QUESTIONS . THANK YOU.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;STILL LOVING YOUTH (SLY)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt; - Majalah: Special Interview by El Williams (Vincent Vega)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; border: 1px solid rgb(204, 204, 204); height: 300px; overflow: auto; padding: 5px; width: 600px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;PART I&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;1. What moves you emotionally in what you are doing at the moment (music and writes)?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Heart aches, mind inquiries, and our innate quest to know our true selves.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;2. What excites you intellectually?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Almost everything related to the origins of life. In the past ten years, I’ve grown interest in alternative history of our world and universe, and that includes the mystery of the first human, sacred sites that spread out throughout the globe, extra-terrestrials, pyschedelics, etc. I start to question the collective knowledge and start my own investigation, and study the works of modern explorers who question the same thing (Graham Hancock, Zeccharia Sitchin, Terrence McKenna, Amit Goswami, Gregg Braden, etc).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;3. What inspires you as beautiful?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nature. Almost everything about it IS beautiful. I like watching the sky—clouds, sunset, moon, and the stars. I like watching the trees—leaves, birds, entwined branches. I like watching the rain—reflections on the puddles, raindrops. I just love observing nature. It’s so simple and yet one can find profound revelations just by reflecting upon Nature. Nature is our mirror. Animals are beautiful, too. People, in their utmost acceptance of themselves, are also beautiful – like babies and children, or adults who have deep connections with themselves.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;4. What reminds you of sadness?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The capability and capacity of humans to destroy other beings and also one another.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. What are you able to do now that you have never been able to do before?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Living in Jakarta. Just a year ago, it’s something that occurs to me as an impossibility. Yet, here I am [grin].&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. If it seems you are getting paid at last for what you used to have to do alone at night at your own expense, is what you are doing now really what you were doing then? How is it different? Are you being paid, rewarded, supported for being yourself, or for not being yourself in some fairly subtle way?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;You mean writing and daydreaming? :)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yeah, I think I’m very lucky to have my hobbies as my professions. I basically do what I love to do and getting paid for it. The difference now is people’s expectations on me; because once your creativity is out in the open and people know about your work, they start to expect things. They expect you not to stop, they expect you to stay the same. So, staying true to yourself and be willing to accept your own natural flow—even though it means you have to occasionally stop, to change, to evolve against people’s expectation—is the biggest challenge of all artists. It’s an art of itself.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PART II&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7. Will any kind of art continue to be fields of professional specialization in the future in this society if new tools permit easy generation of material without extensive (time-consuming and often expensive) training and physical coordination skills?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;I think we will always need art, no matter how modern and sophisticated the technology will be. Of course, the formats may change, the hardwares may change, but it’s just the outer layer. Deep down inside, we all need art, we’re all artists. Artistry is the main gateway to express our divinity. We can never defy that. We’ll just have to dance with the changes, I guess.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8. How does the awareness of your audience (market) influence the work you are creating? Is it easier to rely on external considerations such as audience, market, or "fashion" to structure your creative output, or to let inner directions and interests structure your work?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;I think there’s always constant pull between the two—the outer direction and inner direction—and the artist stands in the middle of the pull. The first step is just to accept that dynamic. Knowing there’s always a pull and a constant dynamic between ourselves and others. It helps us to be realistic and not so stressful about fashion, trends, idealism, etc. But to be in a total ignorance of what’s going on out there is not only dangerous, but also impossible. So, when I create things, I occasionally put myself in the audience seat as well, try to imagine or empathize with their response, reactions, etc. And because I’ve had the experience of being the producers of my own works, I also have the privilege of viewing things from the business side as well—how the market will respond, how to design the most optimal marketing plan, etc. And sometimes those perspectives collide with one another. We cannot avoid that from happening. It’s just how things are. So, being relaxed about it is a profound gift an artist can give to him/herself.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;One parameter that I always use is: just write books that you like to read, just make records that you like to buy. Don’t worry so much about the rest. For me that parameter serves as the middle path; you’re being true to yourself and yet at the same time it enables you to include others by positioning yourself as a mere consumer. Put it this way: worse come to worst, at least you have yourself to buy your own stuff :)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;9. How is your work different from the work of those who are doing things most similar to what you do? How do you want to be different or want to be the same?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lately I learned something about myself. They say, imitation is the greatest flattery. But I really hate copycats. Nothing gets more into my nerves than having someone ‘copying’ me. As long as I remember, I’ve always struggled to be different. But actually it’s a thin line between imitating and being influenced. I have many influences myself. I even think our minds and our creativities are actually patches of many other people’s works before us. Yet we cannot be identically the same with others, no matter how much we want and try to imitate them. That’s life. Nothing is identical. So, I begin to realize that effortlessly I’m always different. And so are other people. The degree of differences may vary, though. And perhaps this is what we coin as ‘originality’: when someone or something felt very different from the mass. But when we understand that everything IS naturally different, nothing is truly original anyway. And we can be more relaxed about this whole fuss of being different.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;10. How can objectivity and subjectivity be maintained in balance during the creative process, so that neither overshadows the other?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;I don’t believe in objectivity. I don’t think such thing exists. Everything in life is subjective, even science has proven to some degree that our reality IS a subjective reality, which means nothing stands on its own, reality is our subjective creation. So I don’t bother about being objective, especially in my creative process. I think subjectivity is what makes it interesting in the first place. Subjectivity is the ultimate, if not only, distinctive factor that makes our work different from others.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;11. In what ways do you value the final results you complete and for how long? How do you value the process of doing, creating?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;For some, a creative process can be seen like ‘giving birth’. Some may see it as ‘baking’. But it’s all similar feeling deep down. The way I experience it, I feel myself more like a medium for something that wants to reach out, to touch and to speak to the world. That something is larger than my conscious self. Some may call it divinity, some may call it the creative realm. Whatever that is, a creative process always feels sacred. I think to have that experience is the ultimate privilege of being human.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A ‘waiting’ period is also what’s essential in my work. I call the process “fermentation”. When I’m done writing my manuscript or song, I will let them be for a while, let them “ferment”. There’s no fixed time, with a song it can be a few days or a week, with a book it can be a month or two. This waiting period allows me to get back to my work with a fresh perspective. During the making I naturally tend to be microscopic, but after giving it some time, I can look back at my work from a telescopic view. And from that view, it’s easier to spot the flaw or brilliance that had blossomed during the fermentation period. It helps me a lot to finalize my work.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;PART III&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;12. Do we have free will, or is everything destined?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;I’m not really sure myself. I used to be a strong believer of free-will, and I used to believe strongly in destiny too, or the ‘grand plan’ theory. But now I’m not so sure anymore. And I guess, to have this question remains an uncertainty is a healthier and more realistic way to approach life, to live moment by moment. Our perceptions always change from time to time, anyway. At one time, maybe the free-will concept works better, but at another time, destiny may be more suitable. But if you look at it from karmic law, or cause-and-effect principle, I think free-will and destiny should complement each other, rather than contradict. To some extent we can have experience and exercise free-will, but our accumulated karma (which we cannot know or perceive wholesomely) can sometimes preventing us from experiencing free-will. So at some cases, people can feel there’s no such as thing as free-will, simply because their karma do not allow them to experience it yet. But since karma is basically a causality, it’s not a fixed thing too. Its direction can be altered by doing new karma, therefore new reality occurs for us, and so on and so forth. And that implies an organic and a living destiny, instead of a fixed one.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;13. Are we being told the truth about our origins and destiny?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;I think the best mystery is the one that is so simple that our complex minds keep missing it. I’m not 100% sure whether the given history or the scriptures were telling us the truth or not. But I feel the hints and the answers for that mystery are everywhere, right in front of our eyes.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Like I’ve told you before, I have grown interest in that subject, and I’ve adopted it as my personal inquiry. I just find it exciting and stimulating by nature. I’m very open to all kinds of ideas, even some that majority finds as nonsense, wacky, etc. Believing in one single truth and leaving no room for other possibilities is just very boring for me. So if one day we find out that our ancestor is fish rather than ape, I won’t be surprised. Or if we find out that homosapiens were resulted from a genetic experiments by the ET’s, I won’t be surprised either. I’m all here for surprises, heheh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;14. Is "evil" an indispensable part of reality? Would there be crime, racism or hate without it? What would "good" do if there wasn't evil?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Without the opposite, I think “good” will be no good. Heheh. Like any other dualistic reality, good and evil is dependent on each other, that’s why I’m not interested so much in both. I think life is more than just the battle of good and evil. Life is also about transcending both of them.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;15. Do you think science will eventually explain everything we wonder about now?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;What I like about science is, it always makes room for a change. What’s right today may not be right tomorrow. What’s labeled wrong today may be labeled correct by tomorrow. It’s ever changing. And I think it’s a healthy approach if we’d like to explore more about life and ourselves. It helps us not to be fixated in a single truth. So, yes, as spirit, I think it serves us best if we maintain a scientific spirit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;But if science only represents materialistic reality, it will eventually find a dead end. Science needs to explore more about non-matter reality as well—our inner space. We have landed on the moon, yet most of us do not seek into ourselves. We know so little about our inner space (maybe that’s why we’ve only gone to the moon, not yet other galaxy). By embracing and exploring our inner space, I think humanity will leap into a reality that we’ve only dared to dream.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;16. How would you respond to behavior like adopting children who aren't family members, voluntary celibacy, or people deciding to spend their whole life praying?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;We’ve seen the worse and more outrageous sample of human behaviours, like genocide in Rwanda or the Nazi camps. So, by all means, adopting children, celibacy, and lifetime praying are very “normal” and “acceptable”. So I would say: GO CRAZY WITH IT! HAVE THE MOST BLAST CELIBATE LIFE EVER! HAVE A GRRREAAAT PRAY DAY! AND ADOPT AS MANY CHILDREN AS IF YOU’RE BUILDING A NATION! :)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;17. Can you tell me the process of deciding your son’s name? And why you decided that name in the end?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;I’ve always fond of Gaelic name, such as Keenan, Keira, Keane. Keenan has been my long time favorite, though. I’d also like to add a Buddhist element in his name, and the name “Avalokiteshvara” resonates with me somehow. But it’s too long and it’s almost like naming your child “God” – way too heavy socially, poor child. So I asked around, and found out from a Tibetan friend that “Avalokiteshvara” is rooted from an adjective “Avalokita” which means compassionate. “Kirana” means light, and it was his father’s name. So there it goes: Keenan Avalokita Kirana. A cocktail of Gaelic, Tibetan, and Sanskrit :)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;18. If you were able to teach every person, what would you want people to believe?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Try not to believe in anything. Instead, try to question everything. Experience those that ache you the most, that move you the most, that trigger your curiosities the most. And after experiencing, you no longer need to believe. You just KNOW.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Knowing is so different from believing.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;19. Do you believe that being a vegetarian means that you actually helping our Mother Earth?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;To some extent, yes. Only because now we’ve industrialized our food in such way that it’s no longer sensible and sustainable for Earth and humanity at large. I probably won’t question this if we were still a hunting tribe. In those days, we don’t pile up foods, we eat when we have to. Now, we eat for lifestyle, we eat to escape our stress, we eat upon great sufferings from other beings (in this case, the animals that we’ve systematically bred and killed). 90% of big fishes are gone from the ocean now, millions of cattles are living in a literal hell from the time they were born until they die on our plate, for what? 60% of humans still live in hunger anyway. So whom are we feeding? Being a vegetarian is just a moral option that’s sensible for this time. It’s like ‘fasting’ when we’re already overfed and obese. So actually we’re doing ourselves a favor by limiting ourselves and our food to some degree.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Last question…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;20. Who are you?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;I have no idea.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;JEUNE Majalah - Feature(SLY)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt; "The Face"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: cyan;"&gt;Dee's Note:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: cyan;"&gt;Inilah kali pertama saya 'dikeroyok' oleh 16 penanya sekaligus dalam satu wawancara. 16 orang dengan karakter dan latar belakang berbeda-beda hingga otomatis pertanyaannya pun sangat bervariasi dan cenderung tidak tertebak. I hope you enjoy this unique interview as much as I did :)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="color: cyan;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: black; border: 1px solid rgb(204, 204, 204); height: 300px; overflow: auto; padding: 5px; width: 600px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Q&amp;amp;A with CHE - Chief Editor JEUNE:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Setelah melewati proses waktu dan perenungan atau atau pencarian jati diri, tolong uraikan siapakah seorang Dee itu sebenarnya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya juga nggak tahu. Haha! Dan itulah indahnya. Sejauh yang saya temukan, yang namanya “diri” itu berubah-ubah, bahkan pernah juga saya merasa “diri” itu tidak ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Kira-kira apa sesungguhnya peran Dee dan untuk apa Dee di dunia ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya pun tidak tahu persis apa manfaat saya ada di dunia. Yang jelas mengapa saya bisa terlahir pasti ada penyebabnya, ada karmanya, tapi detailnya bagaimana tidak tahu, tujuan pastinya apa juga tidak tahu. Yang saya jalankan sekarang ini ya peran saya sebagaimana yang saya bisa: menulis, menulis lagu, bernyanyi, menjadi ibu, menjadi istri, menjadi Dewi yang terus berubah dan berevolusi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Sudahkan menemukan jati diri pada akhirnya? Seperti apa bentuknya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya itu tadi. Yang sejauh ini saya telusuri, ternyata “diri” itu cuma bentukan konsep dan fenomena yang kita anggap sebagai identitas permanen kita. Penemuan jati diri, sejauh pengalaman saya, berujung bukan pada jawaban, melainkan usainya “keinginan mencari” itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Duka atau bahagia keduanya tidak permanen, lalu apa yang permanen bagi seorang Dee?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak ada. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Dee kabarnya seorang yang tidak ingin berpuas diri melihat sebuah fenomena, apakah anda sudah cukup puas dengan menjadi seorang Buddha atau atas agama yang kamu anut saat ini? (koreksi kami jika memang Dee bukan seorang beragama Buddha)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metaforanya begini: seseorang berjalan lalu menemukan sepeda, dipakailah sepeda itu untuk meneruskan perjalanan, lalu perjalanan itu membawa dia ke sebuah sungai, jadi sepeda tidak cocok lagi untuk dipakai, toh? Sepeda pun harus ditinggalkan. Di pinggir sungai itu ada perahu, ya jadinya seseorang itu pakai perahu, nanti kalau sungai itu berujung lagi entah di mana, si perahu barangkali tidak akan berguna lagi. Jadi, masalahnya bukan puas atau nggak puas, tapi cocok atau nggak cocok. Sejauh ini, saya merasa cocok dengan ajaran Buddha. Saya jalankan dengan serius tapi santai. Karena ujung perjalanan ini kita nggak akan pernah tahu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Kabar terbaik atas novel terbaru sejauh ini, mungkin penjualan, respon, atau dampak baiknya yang di dapat? Kabar terburuknya apakah juga ada?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(Koreksi: “Rectoverso” adalah kumpulan cerita pendek, bukan novel). Sejauh ini penjualannya cukup bagus, buku sudah memasuki tiras 45.000, CD sekitar 25.000. Tantangannya adalah stamina saya yang cukup terkuras. Soalnya saya bentar lagi mau nulis “Supernova: Partikel”, dan mulai ingin menarik diri alias masuk gua, tapi promosi “Rectoverso” masih harus dijalankan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7. Silahkan kabarkan kepada pembaca Jeune, apa yang harus mereka tunggu dari karya baru Dee setelah ini?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Novel digital saya “Perahu Kertas”, yang diluncurkan lewat XL tahun lalu, tahun ini akan diluncurkan ulang lewat Indosat. Jadi pelanggan Indosat berkesempatan untuk menikmati “Perahu Kertas” lewat ponselnya. Pertengahan tahun versi cetak “Perahu Kertas” akan keluar. Dan tahun ini saya akan menulis “Supernova: Partikel”, kalau lancar ya mudah-mudahan bisa rilis tahun ini juga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8. Terakhir, rutinitas apa yang saat ini sedang di kerjakan dengan penuh gairah dan ambisi? Mengapa mengerjakan itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang sedang dikerjakan dengan penuh gairah dan ambisi adalah: mengurangi waktu kerja dan meningkatkan waktu bermalas-malasan, tapi tetap produktif. Hehe.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya sebetulnya merasa sangat beruntung karena bisa punya profesi yang sekaligus juga hobi saya. Tapi belakangan saya punya pendekatan lain terhadap hidup. Yang utama bagi saya bukan lagi karier, melainkan menjadi manusia seutuhnya. Yang artinya, hidup seimbang, natural, dan apa adanya. Di dalamnya tentu ada keluarga, karier, hubungan dengan teman-teman, lingkungan, dll. Namun untuk menjalankan semua itu nggak kepingin ngoyo, cukup dijalankan dengan kesadaran sebaik-baiknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang sedang rutin saya jalankan sekarang adalah meditasi. Tapi itu pun tidak dengan ambisi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Q&amp;amp;A with MOAMMAR EMKA:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Kaka Dee, pernah patah hati? Gimana rasanya? Please, ekspresikan lewat kata-kata indah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentu pernah dong, Kakak Emka. Siapa sih yang nggak pernah? ☺&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Patah hati adalah terjun bebas ke sebuah jurang tanpa tali pengaman, tanpa parasut, tanpa tahu berapa kedalaman jurang, bahkan tanpa tahu jurang itu ada dasar atau tidak, dan kemudian meluncur cepat mencium tanah, hancur berantakan, berkeping-keping, terburai dan terserak. Dan setelah itu dengan ajaibnya masih punya kekuatan untuk memanjat ke atas dan melakukan terjun bebas lagi jika ada kesempatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Seumpama cuma ada 3 pilihan dalam hidup Kaka Dee, mana yang akan dipilih: (1) menikah lagi, (2) pacaran saja sampai tanpa batas waktu atau, (3) single parent (tanpa ikatan dengan laki-laki mana pun). Alasannya kenapa, yuuk?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hmm. Kalau per saat ini, jawabannya adalah menikah (sudah dilakukan). Kenapa? Sebetulnya, relationship—apa pun itu, mau nikah, single parent, atau pacaran, hanyalah kemasan sosial buat saya. Tinggal saya rasa-rasa saja, kemasan sosial mana kira-kira yang cocok untuk hidup saya saat ini. Di jantungnya, semua relationship kan sama-sama saja. Yang namanya relationship pasti ada dinamika, pasti ada jatuh-bangun, turun-naik, dan masing-masing bentuk relationship punya tantangan tersendiri. Saat saya memilih menikah ya semata-mata karena itulah kemasan sosial yang saya rasa pas untuk mewadahi hubungan saya dan orang yang saya cintai. Tapi saya sendiri tidak melihat kemasan atau bentuk hubungan sebagai sebuah tujuan akhir, melainkan kendaraan. Sama seperti metafora naik sepeda dan perahu tadi. Mana yang cocok untuk perjalanan saat ini, itulah yang saya pakai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Q&amp;amp;A with IZABEL JAHJA:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Mendadak kuingin bertanya apakah kau sudah menemukan apa yang kau cari?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebetulnya saya sendiri lupa, apa ya yang saya cari? Hehe. Kalau sekarang ini, jujur, saya sedang tidak melihat hidup sebagai sebuah pencarian, walaupun unsur menelusuri selalu ada dalam keseharian saya, tapi pendekatannya lebih seperti: hari ini, hidup mau kasih lihat apa lagi sama saya? Ketimbang sebuah pencarian aktif dari pihak saya. Saya lebih senang mengamati ketimbang mencari. Membiarkan apa pun yang sudah menjadi ‘jatah’ saya dalam hidup hadir dan menghadapinya satu demi satu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Malaikat pun tahu kamu juaranya, memang kamu ikut kompetisi apa siiiiy? :)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kompetisi sulap antar RT… wakakak! ☺&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="color: cyan;"&gt;Interview lainnya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="background-color: black; border: 1px solid rgb(204, 204, 204); height: 300px; overflow: auto; padding: 5px; width: 600px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: cyan;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
1. Karya-karya Dee membawa pembaca novel maupun pendengar lagu seperti terhipnotis masuk ke dalam lubang spiritual yang dalam. Sejauh apa pemahaman agama menjamah spiritualitas Dee?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerbang spiritualitas baru terbuka buat saya justru ketika saya melepaskan semua pemahaman saya tentang agama—apa pun itu. Tahun 1999 saya memutuskan untuk menjalankan hidup dengan cita rasa ‘netral’, tanpa kekangan dogma apa pun. Dan sejak itu justru segala hal sederhana pun jadi luar biasa, dan kehidupan ini memunculkan keindahan yang selama ini entah bersembunyi di mana. Dan itulah yang banyak muncul dalam karya saya, yakni kekaguman, ketercengangan, keterpanaan, dan kontemplasi saya tentang hal-hal sederhana dalam hidup dan semesta. Bagi saya, itulah spiritualitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Malaikat Juga Bisa. Brilian. Kenapa bisa buat lagu begitu bagus? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Hihi. “Malaikat Juga Tahu” kaliii…) Jujur, saya juga nggak tahu. Terutama dalam penciptaan lagu, seringnya saya merasa seperti “saluran” yang dimanfaatkan. Sejak lama saya memang sudah merasa bahwa sebetulnya istilah yang lebih tepat daripada “mencari inspirasi” adalah “dicari inspirasi”. Jadi kalau ada lagu yang tercipta lewat saya, rasanya lagu itulah yang kepingin “lahir” lewat saya, dan bukan saya yang menciptakan. Makanya sampai sekarang saya susah terima order bikin lagu, berhubung sistem wangsit begitu. Saya nggak pernah tahu pasti kapan ada lagu yang muncul, bagus atau tidak, dsb. Memang ada proses dinamika antara saya dan sebuah karya; filter pemahaman, pengalaman, dan selera pribadi saya, turut mewarnai lagu atau karya yang saya ciptakan. Tapi pada prakteknya, saya lebih merasa “digiring” oleh lagu, ketimbang menggiringnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Q&amp;amp;A with PAY – BIP:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Menurut lo kita ini menentukan takdir kita sendiri ga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya percaya pada hukum karma, sebab-akibat. Apa yang jadi “takdir” kita sekarang adalah hasil dari perbuatan kita di masa lampau. Dan apa yang jadi “takdir” kita di masa depan adalah hasil dari perbuatan kita hari ini. Jadi kalau sepintas dilihat, kita menentukan karma hidup kita sendiri. Masalahnya, apa yang kita sadari hanyalah 1% dari gudang karma kita, 99% sisanya tersimpan di bawah sadar. Makanya tidak semudah itu membalikkan arah “takdir” kita. Kunci perubahan hidup tidak hanya dengan mengarahkan tindakan-tindakan kita sesuai tujuan yang kita inginkan. Faktor-faktor yang bermain sangatlah banyak dan kompleks, bahkan di luar kemampuan nalar kita. Dan faktornya bukan cuma apa yang kita sadari, banyaknya justru yang kita tidak sadari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Percaya dengan kebetulan ga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak. Seindah dan senyata apa pun sebuah kebetulan atau ketidaksengajaan, di balik itu semua pasti ada penyebab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Q&amp;amp;A with REMY SOETANSYAH:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Waduh, saya kenal Dee, waktu awal-awal kariernya di RSD, abis itu beberapa kali ketemu, dan setelah itu gak ngikutin perjalanan kariernya. Paling yang patut dicatat adalah novel Supernovanya yang meledak, ya. Jadi pertanyaannya: Sekarang dia agak terdengar setelah merilis Malaikat Juga Tahu. Lagunya bagus, tapi kok liriknya sangat personal, ya? Dan kesannya pembelaan diri setelah bercerai dengan Marcell?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah, memang banyak yang tertipu. Hehe. Dari sebelas lagu di Rectoverso, “Malaikat Juga Tahu” adalah salah satu yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kehidupan pribadi saya. Kesannya personal mungkin karena yang bikin liriknya jagoan. Haha!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Apa yang kamu tidak suka dari sistem bisnis di dunia industri musik kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisnis adalah bisnis. So, kalau dari kaca mata bisnis semata, saya nggak menemukan sesuatu yang saya sukai atau tidak sukai secara khusus dari industri musik. Yang mengusik saya justru attitude para penikmatnya, yang masih beli barang bajakan. Karena itu jadi pukulan berat bagi industri, termasuk para artis. Produksi musik nggak mudah dan nggak murah, dan musisi di sini sedikit sekali yang bisa hidup dari royalti. Jadi saya melihat relasi yang kurang sehat antara penikmat musik dan para musisi. Seperti kurang apresiasi. Kurang menghargai. Pembajakan bisa subur karena didukung oleh mental peminatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Apa opini kamu soal boomingnya artis (band/solois/duo) di Indonesia. Apakah musikalitasnya menurut kamu masih tetap terjaga? Terlepas dari selera tentunya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya semua industri sama. Ibarat main selancar, kalau ada satu ombak sedang naik, maka yang dirasa logis tentunya adalah numpang sebanyak dan selama mungkin di ombak tsb. Tapi namanya ombak, pastinya nanti turun lagi, lalu akan ada ombak baru, beserta gelombang pengikut baru yang numpang ikut momentum. Dalam tiap ombak ini, isinya pasti bervariasi. Ada yang bagus, ada yang lumayan, ada yang mengkhawatirkan. Jadi, kalau soal musikalitas terjaga atau tidak, pastinya ada yang iya dan ada yang tidak. Sulit bagi saya untuk menggeneralisasi. Yang jelas, yang paling diuntungkan adalah mereka yang pionir. Yang ngikut, kalau nasib dan timing-nya bagus, tetap bisa terangkat, tapi banyak juga yang jadi “lost in the mass” alias hilang karakter karena jadi pasaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Q&amp;amp;A with TERE:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Kalau pada suatu hari tiba-tiba kamu tidak bisa bersuara karena ada masalah dengan pita suara kamu, apa yang akan kamu lakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin jadi penulis aja. Dan kayaknya juga masih bisa nulis lagu, selama masih bisa pakai notasi tertulis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Apa makna pernikahan buat kamu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada di jawaban buat Kakak Emka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Apa yang akan kamu perbuat jika ternyata dalam 24 jam dari sekarang planet Bumi yang kita tinggali ini harus lenyap karena suatu alasan yang tidak mungkin bisa diatasi oleh umat manusia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghabiskan waktu yang tersisa dengan orang-orang yang paling saya cinta, dan hidup seperti biasa. Mungkin ditambah berpelukan dan tertawa lebih banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Q&amp;amp;A with QIBIL – THE CHANGCUTERS: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Dulu kan basket happening banget, cewek-cewek pasti tergila-gila sama pemain basket, pertanyaannya: Siapa pemain basket favorit Dewi Lestari? Kenapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nggak ada. Haha! Saya dulu lebih tertarik sama anak band daripada anak basket.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Kira-kira siapa penemu retsleting?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Whitcomb L. Judson, tapi namanya waktu itu masih “Clasp Locker”, belum “zipper”. Baru kemudian Gideon Sundback menyempurnakannya menjadi resleting modern seperti sekarang. Yang menamakannya jadi “zipper” adalah perusahaan B. F. Goodrich yang waktu itu memakai resletingnya Gideon Sundback untuk produksi sepatu-sepatunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Q&amp;amp;A with ADIB HIDAYAT – ROLLING STONE INDONESIA:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Jika ada beberapa partai politik akan menjadikan Anda sebagai "Menteri Urusan Peranan Wanita". Apa partai paling ideal yang akan Anda masuki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan partai saya sudah berhenti di usia 15 saat terakhir kali menjabat Ketua P.A.P-DUM (Partai Anti Pacaran Dalam Usia Muda). Hingga saat ini saya tidak tertarik untuk memasuki kehidupan politik atau berpartai. Saya percaya segala sesuatu yang kita lakukan punya dampak politis, dan karena itu saya lebih tertarik untuk bergerak dari kehidupan sehari-hari, yang meski tidak punya wadah politik tetap memiliki kekuatan politis yang tidak bisa diremehkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Apa hal paling 'kurang ajar' yang Anda lakukan terhadap orang yang Anda cintai?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghajarnya habis-habisan dengan bantal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Q&amp;amp;A with KIKAN – COKELAT: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. What's the best "quote" that you've ever read or heard?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“To write is to write is to write is to write is to write is to write is to write is to write” – Gertrude Stein.&lt;br /&gt;
“Men plan. God laughs.” – Anonymous.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. What's your definition for Hapiness?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebahagiaan buat saya adalah keberanian untuk melepaskan, termasuk melepaskan kebahagiaan itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Q&amp;amp;A with EVAN SANDERS:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. What do u want, to choose or to be chosen?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Neither.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. How do you want your egg in the morning?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omelet, pakai keju, tomat, jamur, paprika, dan ditaburi lada hitam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Q&amp;amp;A with DEDY LISAN – THE BACKBONE:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Seberapa mudah menulis lirik lagu setelah sukses buat novel laris?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terus terang, buat saya lebih mudah menulis lirik daripada bikin novel. Bikin lirik paling lama seminggu, bikin novel bisa berbulan-bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Ada niat reuni dengan Rida &amp;amp; Sita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk bikin album sih sepertinya belum ada rencana, karena Rida dan Sita juga lagi mengeksplorasi kemungkinan album solo. Tapi untuk tampil bareng atau konser bareng, kita sih senang banget (selama jadwal pas dan harga pas, hekhek). Bagi saya, justru sekarang ini adalah “golden moment”-nya RSD, karena ketika kami disuruh nyanyi, udah nggak ada beban sama sekali, nggak ada ambisi sama sekali, murni untuk senang-senang aja. Dan ini adalah momen yang sangat mahal bagi semua musisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Q&amp;amp;A with ANJI – DRIVE:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Mana yang lebih dulu ingin kita capai dalam hidup? Kesuksesan, ketenangan, kedamaian atau kebahagiaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua orang prioritasnya pasti beda-beda. Kalau saya sih nggak masalah mana yang duluan, karena toh pada akhirnya kita harus terbebas dari semuanya. Kesuksesan tak tetap, ketenangan tak tetap, kedamaian tak tetap, kebahagiaan pun tak tetap. Yang paling gampang dan realistis adalah membiarkan mana duluan yang sampai, lalu dinikmati saja sebisanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Dee dikenal sebagai penulis lirik lagu agak puitis yang cenderung kurang komersil, Tapi saat ini siapa yang tidak tahu lagunya 'Malaikat Juga Tahu' dengan keanehan bahasa liriknya? Kira-kira kesuksesan lagu itu apakah akan mempengaruhi cara pandang Dee akan konsep penulisan lirik? Karena pada saat kita dihadapkan pada sebuah kesuksesan secara komersial, pandangan dan 'tuntutan' kita akan sesuatu cenderung agak bergeser. Saya minta pendapatnya...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kira-kira tahun 2003 saya mulai tertarik untuk bikin lagu yang punya cerita spesifik. Dan itu bukan karena pertimbangan komersial, melainkan secara alamiah perkembangan selera lirik saya bergerak ke arah sana. Contohnya lagu saya “Satu Bintang Di Langit Kelam” (RSD) dengan “Malaikat Juga Tahu”. Dua-duanya sama-sama puitis, tapi “Satu Bintang…” lebih abstrak, sementara “Malaikat…” lebih langsung dan lugas. Dan kalau soal lirik saya nggak terbebani kesuksesan komersial karena bagi saya setiap lagu itu punya cerita sendiri yang ingin dibagi, lagu itu punya “nyawa”. Dan saya respek sama “nyawa” itu. Kalau memang liriknya nggak komersil ya nggak pa-pa, yang penting sayanya puas dan merasa bahwa lagu itu sudah menuntaskan pesannya. Prinsip saya, tulislah buku yang ingin kita baca, dan buatlah lagu yang ingin kita dengar. Itu saja sudah lebih dari cukup. Kalau ada orang lain yang suka, itu adalah bonus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Q&amp;amp;A with IMEL – TEN TO FIVE:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. What love means to you?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As unromantic as it sounds, for me love is pure energy. Everything in life is love. No matter how ugly or pretty, no matter how good or evil. It’s all energy.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. What does loyalty means to you, regards to your beautiful song “Malaikat Juga Tahu”?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesetiaan adalah niat yang mulia, yang sebaiknya tetap dijadikan niat dan bukan janji dengan harga mati. Bagi saya, kejujuran lebih penting daripada kesetiaan. Karena kita bisa hidup selamanya dalam ingkar dan dusta hanya karena menjunjung tinggi kesetiaan di atas segalanya. Dan kita bisa hidup dalam kebencian dan neraka karena menuntut orang setia pada kita di atas segalanya. Untuk hidup dalam kesengsaraan seperti itu, hanya atas nama kesetiaan, bagi saya rasanya membatalkan semua manfaat dan tujuan kita hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Q&amp;amp;A with JOE – ST. LOCO:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1 .Kapan pertama kali lo ngerasa hidup lo berarti buat orang lain?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya nggak tahu ini jawaban relevan atau bukan. Tapi saat saya jadi juara kelas waktu kelas 1 SD, dan mendengar nama saya dipanggil di hadapan satu sekolah, mendadak saya merasa hidup saya ini kok punya arti ya buat orang lain? Kok bisa-bisanya mereka tepuk tangan? Memangnya saya ngapain aja? Mendadak saya tersadar bahwa manusia punya kepedulian yang aneh. Hehe. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Kalo lo dikasih kesempatan untuk ngulang masa lalu, bagian hidup lo yang mana yang mau lo ulang untuk lo perbaiki?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Detik terakhir sebelum saya memutuskan untuk lompat dari kereta yang sedang berjalan di stasiun Gambir, sembilan tahun yang lalu. Kalau dipikir-pikir sekarang, lebih baik saya terbawa ke Bogor saat itu dan ketinggalan kereta terakhir ke Bandung, daripada akhirnya lompat dan cedera lutut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Q&amp;amp;A with MARCELL:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Apa yang terlintas di kepala kamu kalo mendengar kata 'Kartu Diskon'?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
GRGGHHHH… ARGGHHHH… GRRRMMMM… GROOOOWWWLLLGHH!!! (bebunyian binatang buas yang dikerangkeng dan sedang kelaparan dan sekonyong-konyong dikasih lihat bongkahan daging).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Kalo disuruh milih: belajar renang sama Ian Thorpe (atlet renang Internasional) atau belajar Wing Chun sama Sifu Ip Chun (anaknya Master Ip Man)? Alasannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ip Chun! Ip Chun! Ip Chun! Ip Chun! (sambil tepuk-tepuk tangan).&lt;br /&gt;
Setelah nonton film “Ip Man” (Donny Yen), saya memutuskan untuk jadi perenang di kehidupan selanjutnya dan kalau bisa sekalian jadi ikan paus jadi sudah pasti mengalahkan segala ikan di laut termasuk Ian Thorpe, dan di kehidupan sekarang belajar Wing Chun aja jika ada kesempatan, karena bela diri tersebut (setidaknya dalam film) sangat keren dan bikin ngiler.&lt;br /&gt;
POSTED BY DEWI LESTARI AT 9:04 PM LINKS TO THIS POST&lt;br /&gt;
LABELS: DEE'S FAVOURITE, FUN INTERVIEWS, PROFIL&lt;br /&gt;
WEDNESDAY, MARCH 11, 2009&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
GOOD HOUSEKEEPING Majalah - Cover Story&lt;br /&gt;
1. Apa rasanya jatuh cinta (dengan Reza Gunawan) lagi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reza adalah sahabat terbaik saya, bahkan sebelum kita pacaran dan menikah. I feel so blessed to experience this companionship with him.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Saat Anda memutuskan untuk menikah lagi, apa pertimbangan Anda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya saya nggak tahu pasti. Lebih seperti intuisi. Jadi bukan pertimbangan logis atau matematis bahwa ini poin positifnya berapa, negatifnya berapa, penjelasannya gimana, dsb. Pokoknya, itulah yang saya rasakan sebagai sesuatu yang ‘pas’ bagi saya saat itu, dan juga saat ini, tapi ujungnya apa… kita nggak pernah tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Apa yang Anda pelajari dari kegagalan pernikahan Anda sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahwa segala sesuatu indah pada waktunya, baik itu perjumpaan maupun perpisahan. Bahwa kejujuran, bagi saya, lebih penting daripada sekadar kebersamaan. Bahwa hubungan cinta, bagi saya, adalah sesuatu yang realistis dan ‘hidup’, bukan konsep mati dan pajangan sosial. Bahwa otentik pada diri kita sendiri jauh lebih mendamaikan daripada cuma bikin masyarakat senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Percayakah Anda dengan istilah "soulmate"?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut saya, “soulmate” adalah salah satu istilah yang terlalu diromantisir. Hehe. Bagi saya pribadi, “soulmate” tidaklah tunggal, melainkan jamak. Setiap orang dan setiap hal yang hadir untuk mendewasakan jiwa kita, ya itulah “soulmate”. Jadi jumlahnya tidak satu, dan punya banyak konteks. Saya dengan orang tua dan keluarga saya di kehidupan sekarang ini, misalnya, mereka juga “soulmate[s]” saya. Jadi konteksnya tidak harus dengan pasangan hidup saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Apa Keenan tahu bahwa bapak dan ibunya sudah berpisah? Pengertian seperti apa yang Anda coba sampaikan padanya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keenan sekarang baru berusia 4 tahun. Jangankan konsep perceraian, konsep pernikahan saja tentunya anak sebesar dia belum ngeh. Menurut pengalaman dan pengamatan saya selama ini, di usia anak seperti Keenan penjelasan bukanlah hal utama. Dia lebih melihat kenyataan dan contoh langsung, bukan memahami penjelasan. Sama halnya kalau saya mau mencontohkan makan yang tertib, bukan dengan dijelaskan, tapi dengan saya peragakan langsung. Barulah dia paham. Jadi saya belum pernah menjelaskan verbal ke Keenan mengenai perpisahan orang tuanya ataupun keluarga barunya dengan Reza, saya hanya menunjukkan dari hari ke hari bagaimana ayah dan ibunya tidak bersama lagi, tapi kami berdua masih berhubungan baik dan dia bisa menemui ayahnya kapan saja. Jadi dia masih merasa secure dan tidak kehilangan. Saya juga pelan-pelan memperkenalkan Reza dan membiarkan Keenan dan Reza menemukan “chemistry” mereka secara alamiah. Nggak dipaksakan. Begitu juga ketika memperkenalkan Keenan ke oma-opanya yang baru (orang tua Reza), ya alamiah aja. Sampai akhirnya Keenan malah yang nagih ingin ke rumah oma-opanya bahkan senang bermalam di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Apakah pandangan Anda tentang media massa berubah, setelah kasus perceraian Anda menjadi berita hangat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak lama saya memang menyadari bahwa media massa tidak ada yang objektif, meskipun kredonya demikian. Kebetulan saya kuliah politik jadi secara teoritis saya paham bahwa memang media massa pada dasarnya adalah drama-maker, tapi yang dirangkai adalah potongan kehidupan nyata, fakta, opini, dsb. Jenis drama apa yang ingin ditampilkan, ya disesuaikan dengan kepentingan dan kebutuhan dari medianya. Dan saya mengalami sendiri bagaimana fakta bisa disetir dan dirangkai untuk memenuhi kebutuhan media, terutama media hiburan. Pelajaran utamanya adalah: jangan sepenuhnya percaya apa yang kita baca dan kita dengar, justru kita harus senantiasa mempertanyakan apa yang kita baca dan kita dengar. Dan, bagi saya, dengan pendekatan seperti kita bisa lebih kritis dan jernih dalam memilah informasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Penggemar buku Anda sudah menantikan 'lahirnya' Supernova: Partikel. Sudah sampai di mana prosesnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang lagi mulai proses riset. Untuk Partikel, saya harus melakukan beberapa perjalanan. Salah satunya ke penangkaran orang utan dan ke Amerika Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Bisa dibocorin sedikit, ceritanya seperti apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Partikel akan punya tokoh utama, bernama Zarah. Zarah memiliki ayah yang sangat unik, dan akhirnya masa kecil yang sangat luar biasa. Tapi semua itu tiba-tiba hilang karena ayahnya mendadak hilang. Zarah akhirnya harus mengalami hidup seperti anak “normal” kebanyakan, dan kita akan mengikuti petualangannya untuk menemukan ayahnya kembali dan mencari jawaban dari sekian banyak pertanyaannya tentang hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Apakah benar, kehadiran Keenan sedikit banyak memengaruhi proses menulis Anda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah punya anak, cara kerja saya memang berubah. Saya nggak lagi fanatik dengan menulis subuh atau menulis malam. Sekarang saya belajar menulis kapan saja dan di mana saja, sesuai dengan sempatnya saya. Tadinya saya sempat ragu, bisa atau enggak. Tapi ternyata bisa, dan saya malah lebih merasa sehat dengan cara kerja seperti itu. Baik fisik maupun mental. Karena keseimbangan hidup saya jadi lebih terjaga, fisik saya juga nggak terlalu diforsir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Belakangan Anda sering diajak menjadi pembicara di berbagai acara/seminar tentang meditasi. Sejak kapan Anda mendalami meditasi dan apa yang membuat Anda tertarik untuk menjalaninya? Adakah 'live turning event' yang menguatkan keinginan Anda untuk mempelajari meditasi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketertarikan saya pada spiritualitas (dan di dalamnya termasuk meditasi) dimulai sudah cukup lama sebetulnya, dari tahun 1999 tepatnya. Saya pernah belajar meditasi selewat melalui yoga dan reiki, tapi baru tahun 2006 saya mulai serius belajar. Pertama kali saya ikut Mindfulness Retreat dengan Master Thich Nhat Hanh tahun 2006, waktu itu retreatnya diadakan di Hongkong. Pada tahun yang sama, saya ikut retreat meditasi vipassana (meditasi untuk mengenal diri) di Vihara Mendut. Dan dari sana hingga sekarang saya cukup rutin meditasi, baik melalui praktek harian maupun ikut retreat maupun pelatihan. Sekarang ini saya praktek mingguan juga di Meditasi Rabu yang kebetulan dibimbing Reza.&lt;br /&gt;
Tahun 1999 saya melepaskan konsep “lama” saya tentang Tuhan, agama, dsb, dan mulai mencari sendiri. Kalau dulu kan saya ikut-ikut saja apa yang dibilang orang, lingkungan, dsb. Nah mulai tahun 1999 saya kembali ke diri saya sendiri, dan mulai mencari dari sana. Kalau untuk meditasi sendiri, boleh dibilang setelah sekian tahun membaca literatur tentang spiritualitas dan meditasi, akhirnya saya haus untuk berpraktek dan mengalami sendiri. Dan itulah yang menguatkan keinginan saya untuk bermeditasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Apa manfaat meditasi yang Anda rasakan dalam kehidupan sehari-hari?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih peka dan jujur pada diri sendiri. Lebih memahami jerat-jerat pikiran dan perasaan yang kadang bisa membelenggu dan memabukkan, dan lebih memahami bahwa segala sesuatu yang di luar sana adalah hasil bentukan mental kita sendiri. Jadi, meditasi membantu saya lebih bertanggung jawab atas hidup saya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Saat aktivitas Anda padat, bagaimana Anda mencari waktu untuk bermeditasi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meditasi sebetulnya tidak sebatas pada duduk diam. Segala kegiatan bisa jadi meditasi, yang penting kita menyadari sepenuhnya, baik itu makan, berjalan, bernyanyi, masak, dsb. Saya sih selalu mengupayakan minimal dalam 1 hari itu ada kegiatan meditatifnya, mau itu duduk diam, menyadari napas, atau melakukan relaksasi ringan. 10 menit dicicil 3x sehari, misalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13. Apakah Anda percaya pada kekuatan pikiran?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semesta ini adalah kumpulan energi, dan energi mengikuti gerak pikiran (thought). Jadi, ibarat kuda dan pedati, pikiranlah kuda yang menggiring pedati ke mana2. Masalahnya, pikiran kita seringkali tidak jernih, liar, dan tidak disadari, karena kita terlalu sering mengidentifikasikan diri kita dengan pikiran kita. Padahal pikiran, meski punya kekuatan, hanyalah fenomena. Masih dualitas. Cuma keelingan atau awareness-lah yang bisa membantu kita melihat semua fenomena itu dengan jernih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. Bagi Anda, apakah menulis mempunyai efek yang sama dengan meditasi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menulis dapat menjadi kegiatan meditatif, jika dilakukan dengan meditatif. Jadi bukan sembarang menulis. Saya punya sebuah buku tentang kepenulisan dari seorang pemeditasi Zen (Natalie Goldberg). Di sana dikatakan bahwa: menulis, jika dilakukan dengan meditatif, akan membantu kita untuk menghadapkan diri kita yang sejati. Dan saya setuju itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15. Kegiatan menulis dan meditasi, menimbulkan kesan bahwa Anda orang yang serius. Sementara dari tulisan-tulisan Anda (termasuk di blog), sisi humoris seorang Dewi Lestari justru jelas terlihat. Apakah bisa dibilang bahwa proses menulis merupakan upaya Anda&lt;br /&gt;
untuk menyeimbangkan diri?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hehe, yah itu namanya ‘kesan’ saja. Meditasi tidak identik dengan keseriusan kok. Justru orang yang terlalu serius malah bisa kesulitan dalam praktek meditasinya. Dalam meditasi tertentu, kita bisa tertawa segila-gilanya dan bertingkah sekonyol-konyolnya. Yang penting disadari. Jadi meditasi bukan masalah “serius” atau “nggak serius”, tapi disadari atau tidak. Humor menurut saya adalah bentuk sifat ilahiah yang sangat sakral. Tuhan, kalau di mata saya, adalah Maha Humoris. Saya nggak ada upaya khusus untuk menyeimbangkan diri, tapi ya itulah faset-faset yang ada pada saya. Saya, seperti halnya semua orang, punya banyak sisi atau faset.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
16. Menurut Anda, adakah perbedaan yang Anda rasakan saat menulis blog dengan menulis buku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan awal saya membuat blog adalah membuat wadah bagi tulisan-tulisan saya yang tidak tertampung dalam wadah buku. Jadi bentuk tulisan dalam blog lebih seperti artikel lepas, kontemplasi pendek, dsb. Satu hari nanti, bukannya nggak mungkin tulisan saya di blog akan dibukukan. Jadi perbedaan utamanya hanya dalam bentuk format aja. Kalau rasa menulisnya sama. Tulisan panjang atau pendek, untuk diterbitkan atau enggak, dalam proses mentahnya terasa sama, kok. Dalam metafora saya, seperti memancing di kolam inspirasi. Sama-sama ada tarik menarik antara diri saya dengan Sang Sumber tersebut.&lt;br /&gt;
POSTED BY DEWI LESTARI AT 12:23 PM LINKS TO THIS POST&lt;br /&gt;
LABELS: MEDITASI, PROFIL&lt;br /&gt;
MONDAY, FEBRUARY 23, 2009&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PRESTIGE Majalah - Artikel: "The 'It' People in 2008"&lt;br /&gt;
1. How do you describe yourself?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Multifaceted, crazy, humorous, curious, cool, and (a bit) narcisstic in a humorous manner.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. What do you like most about your job? Tell us about it.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
My hobby is my job. I think I am extremely lucky to be blessed in such way. I know many people who hate their job, but they don’t have a choice because they need to make a living. I love my profession, and couldn’t think of doing anything else beside this. I sing, write, and write songs even when people don’t read or listen to them. So I merely do my job for myself, the rest is up to the universe.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Your favourite persons to work with?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In writing (song or prose), I work mostly alone. But I have a graphic designer that has been working on my book covers since 2002 (Fahmi). He always manages to translate my idea to graphic image in such perfection. In music, I really enjoy my current team for Rectoverso.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Honestly, what was the first thing that went through your mind when Prestige called and said we want to interview you?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The info came to me like this: “Prestige just chose you to be the Author of The Year and wanted to do an interview”. The first thing that came into mind was of course: Say what?? The second thing is: Well, whatever happens, I hope they don’t change their mind. Heheh. I was flattered, seriously. Thank you. It’s an honor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Your breakthrough, Rectoverso, (yes, we do our research) offers new experience for readers. Please tell us about Rectoverso.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rectoverso is a hybrid of music and fiction. It consists 11 songs and 11 short stories. Basically, it’s two of my main hobbies merged into one. The idea was born accidentally. In 2006, I was planning to make a solo album, then I met a friend of mine who was working in the music industry and he gave me an advice that I should attach my writing to my music otherwise I would be just another name in the list of Indonesia’s female solo singers. There wouldn’t be any strong distinction (I thought he was right). That incidence was the embryo of Rectoverso. For me personally, it was a new creative experience. Then I started to do some more, extending my songs into fiction, and the next thing I knew I had “Rectoverso” in hand. It’s simply the most romantic work I’ve ever created. It’s like reading 11 long, love letters. Each word and expression was carefully picked to fit into the ryhthm of a whole. Everything is about love, and the heart’s journey through love.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Is there a single concept, or word, that defines you and your writing?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Enlightening (at least that is my intention, heheh).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. What's the best piece of advice you've ever been given? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sorry, need to clarify: I was given an advice? Or I gave an advice to somone?&lt;br /&gt;
My best advice: Stop trying to change the world and just change yourself.&lt;br /&gt;
The best advice that has ever been given to me: Wake up from this illusion called life. Then live your life, as real as it can be, but keep in mind that you’re only dreaming.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. What country or culture holds an interest for you?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ever since I wrote my second book “Akar”, I’ve been so interested in Southeast Asia region. It’s so rich, diverse, and it has the best food in the world. I’ve been wanting to travel throughout Southeast Asia. Another country that I’d like to visit is Bhutan. It’s said that Bhutan is not like anything else in the world. Their culture is very well preserved, although the food – I heard – is not so good.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. What is your biggest ambition so far? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
To have my works expand internationally.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Who's the coolest person on the planet at the moment?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
At the moment? Aside of myself? Reza Gunawan. Heheh. And also one of our teachers, Mingyur Rinpoche. For their lifetime dedication, I also admire Thich Nhat Hanh and Oprah Winfrey.&lt;br /&gt;
POSTED BY DEWI LESTARI AT 5:58 PM LINKS TO THIS POST&lt;br /&gt;
LABELS: PROFIL, RECTOVERSO&lt;br /&gt;
THURSDAY, FEBRUARY 19, 2009&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
COSMOPOLITAN Majalah - Rubrik: Fun Fearless Female&lt;br /&gt;
1. Kabarnya album Out of Shell sudah rilis? Bagaimana rasanya telah merampungkan satu proyek yang makan waktu lama dalam prosesnya? Semua Anda kerjakan sendiri mulai dari bikin lagu sampai produksi? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya plong! Karena proyek ini tertunda lama banget. Mungkin bisa dicatatkan di MURI sebagai album yang persiapannya paling lama, hehe. Saya memang mengerjakan semuanya hampir sendirian, bahkan kalau lagi rekaman saya kadang-kadang merangkap jadi ‘office girl’ juga, beliin makanan buat kru, musisi, dsb. Demo pertama saya buat sejak tahun 1997, dan master sudah jadi dari tahun 2002. Waktu itu kendalanya karena masih terikat di Sony, tapi ketika keluar dari RSD tahun 2003 pun saya masih belum bisa keluarin karena menikah lalu hamil, 2004 punya anak, 2005 Keenan masih kecil banget, nah… baru 2006 inilah, setelah sudah bener-bener nggak tahu album itu musti diapain, tahu-tahu jalannya terbuka begitu aja. Out of Shell pertama rilis di I-Tunes dulu, dua minggu kemudian baru di toko-toko. Sebagian pembiayaan album ini sempat dibantu juga oleh Triawan Munaf, tapi operasionalnya saya kerjakan sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. RSD dulu sukses. Begitu pun buku-buku Anda, laku keras! Apa resepnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wah, apa, ya? Mungkin karena semua dilakukan dengan cinta. Memang kecintaan saya ada di musik dan menulis. Ukuran laku sih relatif ya, tapi kalau kita melakukan profesi kita atas dasar cinta, passion, pasti hasilnya memuaskan, setidaknya dari ukuran kreatornya. Faktor lain yang nggak kalah penting lagi adalah kerja keras. Mempromosikan buku sebenarnya sangat melelahkan dan menyita waktu, makanya nggak semua penulis mau melakukannya. Tapi sejauh ini saya memilih untuk seoptimal mungkin berpromo karena saya rasa itu yang terbaik bagi buku itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Sepintas melihat Dee, yang terbayang Dee itu tipe pemikir dan orangnya serius. Tapi saat membaca beberapa karya Anda seperti Petir dan cerpen Rico De Coro (Filosofi Kopi), sepertinya sisi humor Anda tinggi juga bahkan cenderung “gila”. Benarkah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bener banget. Untuk banyak hal saya memang serius, sangat-sangat serius, saya senang berpikir, merenung, melamun, kontemplasi, dan bacaan saya juga kebanyakan serius dan berat. Tapi di sisi lain saya ini pencinta humor sejati, sangat senang tertawa, sangat ringan, konyol, bahkan “gila”. Itu terlihat dari sahabat-sahabat saya yang sangat beragam, dari mulai yang ancur-ancuran lucunya sampai ke para pemikir yang sangat serius. Dan memiliki kedua sisi itu, menurut saya, adalah cara terbaik untuk menikmati hidup. Ada yang bilang, ketika orang sudah mencapai pencerahan dia justru akan tertawa. Saya setuju banget. Untuk jadi tercerahkan biasanya kita setengah mati memeras hati dan otak, tapi kalau pada ujungnya nanti kita malah nggak bisa ketawa, maka pencarian itu sia-sia. Tidak ada cara terjitu untuk memaknai hidup selain lewat humor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Imajinasi Anda pasti tinggi. Pernahkah merasa “kewalahan” dengan talenta Anda itu? Bagaimana Anda mengatur untuk dapat menampung seluruhnya dalam wadah yang tepat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kayaknya saya tiap hari kewalahan soal itu, deh. Haha! Dan memang itulah tantangan saya terbesar, mengorganisasi begitu banyak ide dan menyusunnya dalam rancangan kerja yang realistis. Selama ini, yang sering menjadi batu sandungan saya adalah jumlah ide dan keinginan yang tidak sinkron dengan kemampuan riil. Solusinya adalah kompromi dengan diri sendiri. Di kepala saya ada sepuluh proyek, tapi di atas kertas saya cuma bisa mencantumkan dua atau tiga, dan saya tidak boleh terhanyut rasa frustrasi atau gemas karena yang sisanya itu belum bisa direalisasi. Intinya sih, just get real. Dan untuk bisa realistis bagi seorang pemimpi seperti saya itu adalah tantangan besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Apa hal-hal yang bisa bikin Anda tertawa lepas dan gembira?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Almost anything. Saya punya sekelompok sahabat, yang kalau sudah dengan mereka dijamin saya bisa lepas dan gila. Dengan keluarga saya pun begitu juga, kami selalu mampu menemukan hal lucu. Momen terlucu yang baru-baru ini terjadi adalah ketika saya di restoran masakan Sunda di Cirebon, dan saya menemukan hal aneh di buku menunya. Jadi untuk menerjemahkan masakannya ke bahasa Inggris mereka pakai istilah Latin, mungkin karena ingin sekali terkesan serius dan akurat. Misalnya, “Keripik Emping” diterjemahkan jadi “Gnentum Gnenom Cracker”, “Ikan Mas Bakar” jadi “Grilled Cyphrinus Carpio”, “Pete Goreng” jadi “Fried Parkia Speciosa”, dan masih banyak lagi. Sumpah, saya ketawa sampai ternangis-nangis, setengah jam lebih nggak berhenti. I think that’s the best kind of humour. Ketika sesuatu tidak dimaksudkan untuk lucu, ditemukan nggak sengaja, dan absurd.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Apa sisi paling mengasyikkan dari pekerjaan Anda sekarang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertemu begitu banyak orang yang berkualitas. Bertemu dengan para pembaca saya yang bilang ‘buku Anda menginspirasi saya’, ‘buku Anda mengubah hidup saya’. Itu tak terkatakan rasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Anda bahagia menjadi Dee karena... ? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I can do what I love the most, and actually can make a living out of it. Untuk satu hal itu, I consider myself very, very lucky.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Orang-orang dekat Anda mengatakan Dee itu identik dengan apa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata adik saya: Joget Norak dan Suara Dua. Haha! Berhubung di rumah cuma lagi ada dia, jadi saya nggak ada tambahan dari yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Anda pernah diprotes soal cover novel Akar yang menyinggung satu agama tertentu. Bagaimana reaksi dan sikap Anda menghadapi hal itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap agama pasti punya kelompok chauvinist yang memang hobinya mengklaim ini-itu sebagai milik eksklusif kelompoknya, dan ini merupakan ciri umum dari agama di seluruh dunia. Ketika saya membahas masalah universal seperti spiritualitas, yang merupakan jantung tiap agama, pastinya akan beririsan dengan lapisan periferinya juga, yaitu dengan orang-orang yang pandangannya masih eksklusif dan sempit. Fenomena ini wajar sekali. There’s no wrong or right, hanya sudut pandang yang berbeda. Dan saya pikir masyarakat pun bisa bijak melihat esensi dari masalah seperti itu. Toh di berbagai kasus yang serupa pun yang protes juga masih orang-orang yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Menurut Anda, sisi fearless Anda muncul pada saat Anda...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat saya jatuh cinta. Rasanya apa aja bisa dilakukan. And also in those short moments when I feel that life is actually a whole, inseparable, and everything is one. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Apa arti seksi buat Anda? Anda mengatakan seorang wanita tampak seksi bila?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sexy is a state of mind. Sexy is an energy that when transcended becomes nothing but love. Jadi seksi sesungguhnya adalah kemampuan untuk mencinta. Ketika seseorang tampak sangat nyaman dengan dirinya sendiri, menurut saya itu sangat seksi. Penerimaan diri itu bukan hal yang mudah, tidak bisa dicapai dengan kosmetik atau operasi plastik, dan sepertinya orang-orang modern makin keras berjuang untuk bisa diterima. Mereka cari guidance dari majalah, dari iklan, dari macam-macam. Ada yang ketemu, tapi lebih banyak lagi yang malah tersesat. When a woman finally arrives at a point where she can claim: “This is me. And I’m happy and comfortable with myself”, it’s when she reaches the sexiest point of her life. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Anda suka membaca apa? Musik siapa yang Anda dengarkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bacaan saya kebanyakan seputar spiritualitas, sains, filsafat, kesehatan, parenting, ekologi, dan beberapa fiksi. Kalau sekarang lagi suka baca bukunya Graham Hancock yang mendekonstruksi sejarah pra-primitif dan bicara soal The Lost Civilization, dan yang lebih menariknya lagi adalah ternyata penelitian tsb masih berhubungan dengan global warming yang kita hadapi sekarang. Lagi baca bukunya Osho juga. Untuk musik saya kebanyakan suka band atau singer-songwriter, saya suka Tears for Fears, Sarah McLachlan, Paula Cole, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13. Apa pengaruh keluarga/orangtua dalam membentuk karakter Anda hingga seperti sekarang ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat besar. Mereka tidak pernah intervensi kerjaan saya secara langsung, tapi keberadaan mereka sebagai sebuah sistem penyokong memungkinkan saya bisa berkembang seperti ini. Ayah saya sangat demokratis, berpikiran terbuka. Ibu saya cenderung disiplin, intelektual. Kakak-adik saya “gila” semua, mereka memang seniman-seniman sejak kecil, dan sampai sekarang pun bekerja di bidang seni. Jadi kreativitas sudah jadi kegiatan sehari-hari dari kami kanak-kanak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. Apa yang kamu lakukan untuk relaksasi, keluar dari 'rutinitas' sebagai selebriti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Santai di rumah saja, nonton TV kabel, nggak keluar-keluar, bahkan seharian nggak mandi, itu sudah jadi relaksasi. Sesekali ke bioskop, atau nongkrong ketemu teman-teman lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15. Apa impian Anda saat ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pingin travelling. Banyak sekali yang ingin saya lihat tapi sejauh ini waktunya belum ada. Mudah-mudahan setelah Keenan agak besar, setelah proyek-proyek buku selesai, saya ingin off dulu beberapa lama dan hanya travelling.&lt;br /&gt;
POSTED BY DEWI LESTARI AT 1:16 PM LINKS TO THIS POST&lt;br /&gt;
LABELS: DEE'S FAVOURITE, OUT OF SHELL, PROFIL&lt;br /&gt;
FRIDAY, FEBRUARY 13, 2009&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
GREY Majalah - Rubrik: My Father My Hero&lt;br /&gt;
1. Bagaimana kehidupan kecil Mbak Dewi dengan Ayah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayah saya seorang perwira militer yang selalu pindah-pindah tempat tugas, jadi semasa kecil seringnya saya bertemu Bapak (panggilan kami pada beliau) satu minggu sekali. Meskipun demikian hubungan kami cukup dekat. Saya selalu menanti-nanti kepulangan Bapak. Karena begitu ada Bapak, suasana rumah jadi lebih semarak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Mana yang lebih dekat dengan Mbak Dewi? Ayah atau Ibu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu (almarhum) adalah seorang ibu rumah tangga, jadi setiap hari saya ketemunya dengan Mama, sementara dengan Bapak seringnya seminggu sekali. Otomatis Mama lebih dekat ke anak-anaknya. Tapi berhubung Bapak orangnya seru banget, jadi kalau di hati sih saya tetap merasa dekat dan akrab dengan Bapak, walaupun ketemunya nggak terlalu sering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bagaimana sifat Ayah Mbak Dewi secara keseluruhan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Humoris, demokratis, ramah, berpikiran terbuka, kreatif, seorang pencerita dan pengingat yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Adakah perlakuan Ayah Mbak Dewi yang selalu terkenang sampai sekarang, atau bahkan semua itu mengubah hidup Mbak Dewi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bapak selalu ngebela-belain segalanya untuk anak-anak. Bapak bahkan pernah rela nggak ganti mobil, yang padahal udah butut banget, biar bisa membelikan anak-anaknya komputer. Dan meskipun dengan gaji pegawai negeri, Bapak tetap menomorsatukan pendidikan dan pengasahan skill buat anak-anaknya. Kami semua dikursuskan piano, dan selalu banyak alat musik di rumah. Bapak juga juaranya dokumentasi. Paling senang berfoto. Jadi foto-foto zaman dulu tuh banyak banget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Pernahkan Ayah Mbak Dewi berperilaku layaknya Super Hero dalam keluarga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nggak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Adakah perilaku lucu dan menyebalkan yang pernah dilakukan oleh Sang Ayah dan masih dikenang sampai sekarang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bapak selalu lucu. Yang menyebalkan saya nggak ingat. Tapi yang paling menyenangkan adalah waktu kelas 2 SD, saya dan adik saya, tahu-tahu dipanggil ke lapangan kompleks perumahan saya dulu (di Medan). Ternyata Bapak kasih surprise yakni kami berdua diajak naik helikopter keliling kota Medan. It was unforgettable.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Ayah Mbak Dewi akan marah-marah jika?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kita terlalu berisik saat Bapak tidur siang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Pernahkah Sang Ayah berbuat kasar pada Mbak?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nggak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Bagaimana perlakuan Ayah Mbak Dewi ketika menghadapi pacar atau cowok Mbak?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhati-hati, sekaligus menyelidiki. Nggak pernah menentang dengan frontal sekalipun mungkin dia kurang sreg. Dia lebih mempercayakan anak-anaknya untuk milih sendiri dan belajar dari pengalaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Lebih kemanakah tipe Ayah Mbak? Demokrat atau diktaktor?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demokrat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Bagaimana Ayah Mbak Dewi dalam menanggapi masalah pendidikan anak-anaknya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti layaknya orang Batak pada umumnya, bagi Bapak pendidikan itu nomor satu. Kami semua diwajibkan lulus perguruan tinggi, jadi sarjana, karena bagi Bapak itu akan menjadi bekal atau semacam parasut cadangan kalau-kalau ada sesuatu dengan karier seni kami. Walaupun sampai sekarang semua anak-anaknya berkarier di jalur yang sama sekali berbeda dengan jurusan kuliahnya dulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Kata-kata atau nasehat apa yang paling diingat oleh Mbak Dewi yang pernah keluar dari mulut sang Ayah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayah saya jarang menasehati. Tapi banyak petuah-petuah ‘tak sengaja’ yang keluar saat dia bercerita. Tapi paling sering sih Bapak selalu mengingatkan untuk ingat keluarga, silaturahmi antar saudara, dsb. Maklum, anak-anaknya sibuk semua. Hehe.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13. Adakah perbedaan sikap Ayah yang dulu dan sekarang? Ceritakan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bapak lebih realistis, lebih nrimo. Tapi kondisi fisiknya agak menurun ketimbang dulu. Bapak sehat sekali, senang olahraga, jagoan ping-pong. Tapi berhubung kakinya sekarang sedikit bermasalah, jadi Bapak selincah dulu lagi. Dan itu kadang-kadang bikin beliau agak murung.&lt;br /&gt;
POSTED BY DEWI LESTARI AT 12:29 PM LINKS TO THIS POST&lt;br /&gt;
LABELS: KELUARGA&lt;br /&gt;
THURSDAY, FEBRUARY 12, 2009&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
NIRMALA Majalah - Artikel: Yang Muda Yang Spiritual&lt;br /&gt;
1. Mengapa Dee belakangan ini tertarik masuk ke gerbang spiritual?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebetulnya proses itu sudah cukup lama, sejak akhir 1999. Dan saya merasa ketertarikan pada spiritualitas itu inheren pada setiap orang, hanya masalah momen naik ke permukaannya saja yang berbeda-beda. Pertanyaan tentang Tuhan, eksistensi, makna hidup, dan sejenisnya, memang selalu mengusik saya sejak kecil dan bolanya bergulir terus hingga sampai puncaknya pada tahun 1999. Sejak itu konsep saya tentang Tuhan dan agama berubah total. Saya memutuskan untuk melepaskan segala ‘jubah’ keagamaan dan ingin mengapresiasi hidup dari titik nol. Sejujurnya, saya sangat nyaman dengan kondisi ‘jalan tak berpeta’ tersebut. Namun setelah berkeluarga, barulah saya mulai mempertimbangkan untuk berada dalam satu koridor khusus. Saya mendapatkan banyak kecocokan dengan ajaran Buddha, walaupun itu tidak berarti saya lantas berhenti mengeksplorasi. Prinsipnya, apapun yang cocok dengan intuisi dan mencerahkan saya secara pribadi, akan saya terima. Misalnya, saya banyak sekali mendapatkan wawasan baru dan jernih dari Kabballah, juga dari sains yang berbasis monisme idealistik (mis. buku-buku Amit Goswami). Pendekatan eklektik semacam ini memang yang paling pas bagi saya. Perjalanan spiritual adalah perjalanan yang individual, meski dalam prosesnya kita dibantu oleh banyak orang dan banyak jiwa lain, hanya kitalah yang bisa merasa apa yang paling pas bagi diri kita sendiri dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Kapan pencerahan itu datang? Apakah melewati kejadian tertentu dalam hidup Dee? Atau ada yang 'ngomporin'?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi saya, momen pencerahan itu tidak tunggal tapi multipel. Bukan satu peristiwa yang sekali jadi lalu selesai, melainkan proses yang berulang-ulang dan semakin dalam. ‘Gong’ pertama memang tahun 1999, tapi prosesnya terus saya jalani hingga sekarang. Pada saat itu saya memang terbentur masalah pribadi yang cukup berat, dan akhirnya itu menggiring saya untuk menggali lebih dalam makna cinta, hidup, dan Tuhan. Dan sekarang saya mengerti bahwa gerbang menuju kesejatian memang bermacam-macam, barangkali itulah gerbang yang jiwa saya pilih. Selain itu, secara umum saya memang sangat terusik dengan fenomena perseteruan agama; orang-orang bisa saling membunuh atas nama Tuhan. Dan pada saat itu tragedi Ambon sedang ramai-ramainya. Di Indonesia, bahkan dunia, sejarah manusia berdarah-darah akibat membela Tuhannya masing-masing. Itu membuat saya semakin tergerak untuk berbuat sesuatu, karena menurut saya masalah dunia ini terletak pada pemahaman dasar manusia akan Tuhan. Apa yang seseorang percaya atau tidak percaya tentang Tuhannya akan membentuk sikap dan cara pandangnya untuk berlaku di Bumi. Makanya kemudian saya menulis Supernova, novel serial yang memang dikhususkan untuk tema spiritualitas. Supernova merupakan cermin perjalanan batin saya. Saya ingin berbagi cara pandang, syukur kalau ada yang merasa cocok, kalau tidak pun tidak apa-apa. Semua makhluk menjalankan proses yang patut kita hargai.&lt;br /&gt;
Perjalanan saya sejauh ini dituntun alamiah oleh hidup melalui peristiwa dan hasil trial &amp;amp; error. Belum pernah punya sosok guru tunggal, mungkin belum ketemu. Sejauh ini saya lebih didukung oleh support system berupa buku-buku, teman-teman, keluarga, dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Apakah ada perubahan dalam diri setelah masuk ke gerbang tersebut? Tolong disebutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wah, banyak sekali ya. Karena itu tadi, saya percaya pemahaman seseorang akan Tuhan (atau non-Tuhan) itu otomatis menentukan segala hal lainnya. Prioritas saya berubah, cara saya memandang sebuah hubungan baik itu percintaan atau persahabatan juga berubah. Dalam keseharian, saya lebih menghargai proses, berusaha tidak menjustifikasi berdasarkan polaritas hitam-putih tapi berusaha mentransendensi polaritas tsb dan melihat segala hal dari esensi yang netral, bukan apa yang kelihatan di permukaan. Secara global, saya jauh merasa lebih tenang, lebih seimbang, dan lebih sehat secara fisik. Saya sangat menikmati dan menghargai hidup ini. Bukan berarti segala masalah lenyap, tapi cara pandang saya pada masalah itu yang jadi beda. Saya nggak terlalu ngoyo lagi soal pekerjaan. Dulu saya orangnya target-minded, sekarang jauh lebih rileks, dan hasilnya malah lebih baik. Intinya, saya lebih bisa menerima diri. Semakin kenal, dan semakin menerima. Proses ini tidak mudah, tapi tidak ada istilah mundur. Gampang dan susah tinggal kita yang mengkontekstualisasi. Perjalanan spiritual itu tidak kenal mundur, sama halnya dengan evolusi. Kita bisa berpencar arah, tapi semua melangkah maju dengan waktu dan kecocokan caranya masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Selama ini Dee termasuk sering mengatur POLA MAKAN, dan menjalani hidup sehat, boleh dijelaskan? Demi kesehatan, makanan/minuman apa saja yang sudah dihapus?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mulai jadi vegetarian lacto-ovo sejak tahun 2006. Sudah lama sih kepingin jadi vegetarian tapi ternyata tekadnya baru bulat setelah membaca hubungan hidup vegetaris dengan lingkungan hidup. Jadi alasan saya bukan semata-mata kesehatan. Saya memang lagi concern sekali dengan masalah lingkungan, dan ingin serius melakukan kontribusi. Ternyata hidup vegetarian punya dampak besar sekali. Banyak dari kita yang belum tahu bahwa industri hewan kontribusinya sangat signifikan bagi pemanasan global. Keenan, anak saya, yang justru pertama kali jadi vegetarian. Sejak umur 1 tahun dia sudah menolak makan daging. Dipaksa dan diakali seperti apapun dia nggak mau, pasti dia keluarkan dari mulutnya. Jadi ketika saya berniat vegetarian saya pikir sekalian saja, toh Keenan bahkan sudah duluan. Dan untungnya kami bisa kompak satu keluarga, masaknya jadi praktis.&lt;br /&gt;
Secara umum, pola makan kami tidak terlalu rigid, bahkan cenderung sederhana. Untuk konsumsi telur kami coba batasi 3x seminggu, sehari-hari lauk kami hanya tahu-tempe-sayur. Gula juga kami batasi, sebisa mungkin menggunakan gula yang lebih natural (bukan yang refined), seperti gula batu atau gula madu. Camilan Keenan juga kami usahakan tidak yang terlalu berbumbu atau berasa tajam supaya lidahnya nggak ‘kecanduan’, dia lebih sering makan rice crackers atau sereal polos. Selain itu, saya berusaha sebisa mungkin mengonsumsi makanan organik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Apa makanan/minuman Andalan Dee agar selalu fit?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air putih, sebisa mungkin yang heksagonal. Dan sayur yang dimasak tidak terlalu layu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Bagaimana cara Dee menekan stres yang selalu timbul dalam aktivitas keseharian? (ini semacam tip dari Dee aja, yang Dee sering lakukan, boleh beberapa poin, kalau memang unik boleh diterangkan cara menerapkannya)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memahami bahwa hidup ini hanya kumpulan aktor yang sedang akting, termasuk diri kita sendiri. Di Buddhisme dikenal istilah anicca, yakni tidak ada yang kekal. Stres itu timbul karena kita ingin meyakini beberapa hal itu nyata dan kekal, padahal tidak ada. Bahagia maupun sedih, senang maupun sakit, semua itu senantiasa berubah dan hidup ini cair. Melawan, kita justru tenggelam. Berenang oke, asal tidak menentang arus, karena akhirnya kelelahan.&lt;br /&gt;
Ketika tengah menjalani hari saya kadang-kadang suka ngomong sendiri: ‘Cut!’, dan itu menyadarkan saya bahwa hidup ini rangkaian adegan belaka. Susah atau senang itu bikinan kita sendiri. Lewat beradegan kita menerima pelajaran, dan apabila pelajaran itu selesai, maka kita beradegan baru, kalau belum maka adegannya akan diulang-ulang terus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
POSTED BY DEWI LESTARI AT 10:52 AM LINKS TO THIS POST&lt;br /&gt;
LABELS: SPIRITUALITAS, VEGETARIAN&lt;br /&gt;
Older Posts Home&lt;br /&gt;
Subscribe to: Posts (Atom)&lt;br /&gt;
LIKED WHAT YOU READ? SHARE OR SAVE!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SEARCH THIS SITE&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DEE'S NOTE&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara mudah untuk mendapatkan informasi dari blog ini adalah dengan melihat topik interview dalam daftar "Labels", atau gunakan fitur "Search" yang sudah disediakan di blog ini dan masukkan kata kunci yang Anda cari (misalnya: "cinta", "Keenan", dll).&lt;br /&gt;
Terima kasih untuk kunjungan dan kerjasamanya!&lt;br /&gt;
ABOUT ME&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DEWI LESTARI&lt;br /&gt;
A writer, a singer songwriter, a wife and a mother, a curious little mind who loves to read all day, laugh out loud, take a good nap, and have a long, great, tireless conversation with those who share the same curiosity and humour.&lt;br /&gt;
VIEW MY COMPLETE PROFILE&lt;br /&gt;
LABEL CLOUD&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bermusik dan Proses Kreatif Dee's Favourite Fun Interviews Keluarga Kesehatan Lingkungan Hidup Meditasi Menulis dan Proses Kreatif Out of Shell Parenting Perempuan dan Gender Politik Profil Rectoverso Spiritualitas Supernova AKAR Vegetarian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Powered By:Blogger Widgets&lt;br /&gt;
BLOG ARCHIVE&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
▼  2009 (25)&lt;br /&gt;
▼  May (1)&lt;br /&gt;
STILL LOVING YOUTH (SLY) - Majalah: Special Interv...&lt;br /&gt;
►  April (1)&lt;br /&gt;
►  March (1)&lt;br /&gt;
►  February (22)&lt;br /&gt;
BLOGS THAT MATTER&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rima's Historia&lt;br /&gt;
A cool version of Takkan Terganti&lt;br /&gt;
2 months ago&lt;br /&gt;
Self Healing - Reza Gunawan&lt;br /&gt;
Resolusi Awal Tahun, Perlukah?&lt;br /&gt;
10 months ago&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dee Idea&lt;br /&gt;
Luna Bukan Kopaja&lt;br /&gt;
11 months ago&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The Tao of Marcell&lt;br /&gt;
Nasionalisme?&lt;br /&gt;
1 year ago&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perahu Kertas&lt;br /&gt;
Meet &amp;amp; Greet Perahu Kertas!&lt;br /&gt;
1 year ago&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dee Event&lt;br /&gt;
Meet &amp;amp; Greet Perahu Kertas!&lt;br /&gt;
1 year ago&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dee Museum of The Unessentials&lt;br /&gt;
Sebuah Kepedulian Mulia&lt;br /&gt;
1 year ago&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berubah Dari Rumah&lt;br /&gt;
Andai Saya Bisa Mengatur Kebijakan Lingkungan Di Indonesia, Saya Akan...&lt;br /&gt;
2 years ago&lt;br /&gt;
LINKS THAT MATTER&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rectoverso Official Website&lt;br /&gt;
FELLOW OBSERVERS&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SUBSCRIBE TO&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Posts&lt;br /&gt;
All Comments&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KARYA PERTAMA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Novel: "Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh". Terbit Tahun 2001, Truedee Books. Bukan gambar sampul sebenarnya.&lt;br /&gt;
KARYA KEDUA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Novel: "Supernova: Akar". Terbit Tahun 2002, Truedee Books. Bukan gambar sampul sebenarnya.&lt;br /&gt;
KARYA KETIGA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Novel: "Supernova: Petir". Terbit tahun 2004, AKOER. Cetak ulang 2005 - sekarang, Truedee Books.&lt;br /&gt;
KARYA KEEMPAT&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Album: "Out of Shell", Rilis Tahun 2006, Truedee Music.&lt;br /&gt;
KARYA KELIMA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Antologi: "Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita &amp;amp; Prosa Satu Dekade", Terbit Tahun 2006, Truedee Books &amp;amp; Gagas Media&lt;br /&gt;
KARYA KEENAM&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Novel Digital: "Perahu Kertas", Rilis Tahun 2008. Bukan gambar sampul sebenarnya.&lt;br /&gt;
KARYA KETUJUH &amp;amp; KEDELAPAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Album &amp;amp; Antologi Cerpen: "Rectoverso" - 11 Kisah &amp;amp; 11 Lagu, Rilis dan Terbit tahun 2008, Goodfaith Production&lt;br /&gt;
KARYA KESEMBILAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Novel: "Perahu Kertas". Rilis tahun 2009, Truedee Books &amp;amp; Bentang Pustaka.&lt;br /&gt;
FEEDJIT LIVE TRAFFIC FEED&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://malimbukuu.blogspot.com/2010/11/still-loving-youth-sly-majalah-special.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGVHpeac3CXn_M0VuPe_3IKv_8EEaavCXNvoyrLJfke8VoIxfqS8RZDEd461psBmn6MRvBj5XFmxFN0uNLMSTzZcgFcQCrgeeS19FvXrsaluS_5YlPv4hUzWBOD5ziWlSeklPgjmNhmwDQ/s72-c/29872_400271104685_120532544685_3960072_1788333_a.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>Masukkan alamat email untuk mendapatkan setiap posting blog ini (Malimbuku)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1814615763839120791.post-7041088917616354422</guid><pubDate>Mon, 29 Nov 2010 05:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-11-29T21:53:58.609-08:00</atom:updated><title>Nasionalisme?</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-CTh2dPhANC0GRiOzLwXzEjnI4s9M99p4jUs6vQVthXN5qj9cK5ZbwCzljhQJZZxXYiswz5ejSdoyuLA7hnB3GEz6bJx9uUE2jMTlR02yM701CSCuK2m_gQfwLvrwYFzmNxmmECHj1moV/s1600/marcellHIDUP2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-CTh2dPhANC0GRiOzLwXzEjnI4s9M99p4jUs6vQVthXN5qj9cK5ZbwCzljhQJZZxXYiswz5ejSdoyuLA7hnB3GEz6bJx9uUE2jMTlR02yM701CSCuK2m_gQfwLvrwYFzmNxmmECHj1moV/s200/marcellHIDUP2.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Saya bahagia sekali. Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 7 September 2009, saya telah menyelesaikan rekaman duet pertama saya dengan penyanyi solo wanita berbakat asal Malaysia, Dayang Nurfaizah di Kuala Lumpur, Malaysia. Proyek rekaman duet ini adalah proyek yang tertunda selama hampir 4 tahun dikarenakan masalah (basi) ‘birokrasi’ label. Kami menyanyikan sebuah lagu berjudul ‘Sayang’ yang diciptakan oleh seorang gitaris dan produser muda berbakat asal Malaysia, Omar Khan serta lirik yang ditulis oleh adiknya sendiri, Nuur Iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditemani road manager saya dari Millionaires Club Management, Iraz Siregar serta dua sahabat saya Shaliza ‘Liza’ Kader Sultan (manajer Dayang Nurfaizah) dan Sharina Ahmad, dan dibantu Zain Almohdsar sang operator studio, kami berhasil menyelesaikan proses rekaman lagu itu dengan baik sekali.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Terima kasih sekali lagi dari hati yang paling dalam untuk Dayang, Liza, Sharina, Omar dan Zain atas kerendahan hati, keramah-tamahan, profesionalisme serta persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Selamat Hari Raya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ironis memang. Disaat dimana segelintir masyarakat (saya beranikan diri untuk mengatakan segelintir karena memang tidak semuanya) di negara saya tengah 'kebakaran jenggot' karena 'merasa' banyak ‘budaya’-nya dicuri, saya justru berkolaborasi. Banyak juga yang berkomentar atas keputusan saya karena merasa takut kerjasama kami suatu saat akan menjadi kontroversi. Saya tidak takut. Saya tidak terpengaruh. Peduli setan. Saya hanya melakukan suatu pekerjaan yang saya cintai dengan orang-orang yang juga saya cintai. Dan ini bukan sebuah bentuk tindakan yang kontra-nasionalis hanya karena saya melakukannya dengan orang Malaysia. Karena sekali lagi, tidak semua orang Malaysia berpikiran sempit. Dan tidak semua orang Indonesia kebakaran jenggot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ngomong-ngomong, apa sih sebenarnya nasionalisme?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah dengan sok-sokan melakukan aksi 'sweeping' warga negara Malaysia yang dilakukan di daerah Menteng, Jakarta Pusat yang (memalukannya) ternyata hasilnya nihil karena tidak ada satupun orang Malaysia yang lewat? Apakah dengan berorasi sambil menyebarkan spanduk dan pamflet bertuliskan 'Malaysia=Malingsia'? Apakah dengan sok-sokan bakar-bakar bendera Malaysia (sedangkan di Malaysia tidak ada satupun yang melakukan hal yang sama) tanpa pernah memikirkan efeknya pada hubungan bilateral yang sudah terjalin baik sejak dulu? Apakah preman-preman (ya, PREMAN, karena mereka bukan aparat berwenang serta tidak punya dasar hukum yang kuat dan valid untuk melakukan sweeping sehingga lebih mirip tukang palak di terminal bis) kampungan yang melakukan sweeping ini memikirkan bahwa ada jutaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia dan tentunya ini akan berakibat buruk pada para pekerja Indonesia ini jika mereka dipulangkan? Karena saya yakin, preman-preman kampungan dan pahlawan-pahlawan pembela 'kebetulan' ini tentunya tidak akan pernah sanggup memberi makan (apalagi memberikan lapangan pekerjaan) kepada para TKI ini jika mereka dipulangkan. Ya, merekalah justru 'teroris-teroris' yang merusak citra bangsanya sendiri, yang membuat orang luar malas dan takut untuk datang ke Indonesia, yang membuat konser-konser musik mancanegara batal karena Travel Warning, yang membuat rupiah kita melemah, yang menyengsarakan rakyatnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih sedihnya lagi, banyak aksi seperti ini dilakukan dan dimotori oleh 'mahasiswa' yang 'katanya' merupakan generasi intelek, generasi terdidik. Teman-teman mahasiswa, saya mohon dengan sangat: tolong jangan sampai kebablasan. Jangan keblinger. Jangan hanya berbekal pengalaman karena banyaknya revolusi fisik didalam sejarah negara kita yang terjadi karena dimotori mahasiswa, lalu kemudian menganggap bahwa segala-galanya harus diselesaikan dengan demonstrasi, dengan protes-protes fisik sampai konflik dengan aparat keamanan dan berakhir dengan tindakan-tindakan vandalis. Apapun itu, tindakan demonstrasi, protes-protes fisik dan (apalagi) tindakan-tindakan vandalis tetaplah menganggu stabilitas. Setiap manusia punya hak untuk hidup aman, tenteram dan tenang, teman-teman. Pikirkan mereka-mereka yang juga punya kepentingan yang lain diluar kalian, karena demonstrasi-demonstrasi ini juga seringkali menimbulkan kemacetan lalu lintas dan keresahan sehingga mengganggu banyak sekali kepentingan. Lakukanlah dengan sadar dan bijak, prosedural dan tertata. Semua ada jalurnya, aturannya. Jangan hanya rusuh dan emosional saja. Jangan sampai kata 'intelek' yang menjadi label mahasiswa kehilangan 'in' menjadi tinggal 'telek'-nya. Ingat, tindakan-tindakan seperti ini TIDAK SELAMANYA efektif. Kalau kemarin-kemarin mungkin dirasa efektif, belum tentu hari ini. Jadi please, hati-hatilah, teman-teman mahasiswa. Karena reformasi yang keblinger, sesuci apapun tujuannya, akan tetap menyengsarakan banyak orang. Jangan perburuk lagi keadaan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kasihan rakyat kita. Saya mohon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap orang punya cara pandang. Berbeda-beda memang. Tapi bukanlah cara pandang sempit dan terbelakang yang hanya berujung pada penderitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan reaktif. Pikir baik-baik sebelum bertindak. Jangan seperti anak kecil yang merengek dan langsung marah-marah, banting-banting barang ketika mainannya diambil. Padahal kalau mainannya tidak disentuh, anak itu juga lupa kalau dia pernah punya mainan. Jangankan diurus, diingatpun tidak. Saya merasa banyak dari kita yang bersikap seperti itu saat ini. Berlebihan dalam menanggapi apapun termasuk problematika budaya ini. Santai saja, tapi tetap waspada, aware. Sikap emosional malah seringkali membuat kita kehilangan kewaspadaan kita, keajegan kita. Tetap terima kenyataan bahwa kita ini masih serumpun dan sama akar budayanya, suka atau nggak suka, enak nggak enak. Apresiatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemarin saya mendapat kesempatan berbicara dengan seorang musisi dan pencipta lagu senior yang juga seorang pakar Hak Cipta (Intelectual Property Right) yang bernama James F. Sundah. Beliaulah pencipta lagu legendaris 'Lilin-lilin Kecil' yang pernah dinyanyikan oleh almarhum Chrisye dulu. Beliau berkata pada saya bahwa sekarang ini tengah terjadi perdebatan apakah Folklore atau Budaya Asli akan tetap dimasukkan kedalam kriteria Hak Cipta atau tidak. Selama ini Folklore sudah termasuk dalam perlindungan Hak Cipta dan kenyataan ini sebenarnya menyulitkan dalam pembuktian. Mengapa? Karena cukup sulit ternyata untuk menentukan originalitas budaya asli disebabkan banyaknya percampuran budaya. Banyak sekali kemiripan budaya kita bukan hanya dengan budaya bangsa serumpun saja tapi juga dengan bangsa-bangsa lain. Pulau-pulau yang tadinya bersatu, namun karena peristiwa alam, terpecah-pecah menjadi 13.000 lebih pulau. Ditambah lagi dengan proses fusi ataupun asimilasi budaya sebagai konsekuensi perdagangan dan persinggahan antar bangsa. Indonesia, karena memang sejak dulu sudah menjadi tempat persinggahan dan perdagangan antar bangsa, akhirnya memiliki 'budaya asli' yang kaya akan percampuran dengan berbagai macam budaya luar. Ada percampuran dengan budaya Cina, Arab, Portugis, dan banyak lagi. Dan percampuran itu bisa terlihat jelas dalam berbagai produk seni musik, tari, beladiri, bahasa dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makin sulit akhirnya menemukan dan mengklaim mana budaya asli kita dan mana yang bukan. Perbedaannya semakin tipis. Dan, arsip sejarah yang kita milikipun ternyata masih kalah lengkap dibandingkan arsip sejarah Indonesia yang tersimpan di Negeri Belanda, mantan 'penjajah' kita. Kita hanya punya data sekitar 40 persen dari data asli yang kesemuanya justru dimiliki dan tersimpan di negara lain. Sedih. Ternyata kita masih banyak belum tahu tentang diri kita. Lebih banyak tahu orang lain dibanding kita sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliaupun mengingatkan bahwa negara kita adalah negara hukum. Oleh karena itu kasus Tari Pendet (yang orang Indonesia sendiri kebanyakan tahunya Tari Bali, bukan Tari Pendet), kasus Batik, kasus Reog, semuanya adalah masalah hukum Hak Cipta karena kesemuanya termasuk Folklore. Jadi, kasih kesempatan hukum yang menyelesaikannya. Kasih kesempatan untuk dilakukannya perundingan antar negara dengan jalan damai. Jangan kebanyakan protes dan bilang bahwa kondisi hukum kita sudah lemah dan rusak kalau pada kenyataannya saja kita sendiri masih meremehkan bahkan melanggar hukum, tidak menghormati. Masalah hukum adalah masalah kita bersama, bukan melulu masalah pemerintah. Beri kesempatan bagi hukum untuk bisa efektif ditegakkan. Bantu negara ini memperbaiki citra sebagai negara hukum yang bermartabat. Kalau memang pemerintah dinilai lamban dalam menyelesaikan masalah ini, tolong, pakailah cara-cara yang terhormat. Tunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang berbudaya dan intelek. Jangan hanya sekedar bangga bahwa kita punya banyak sekali budaya tanpa pernah mengerti dan mengakar. Sayapun setuju dan mengakui, walaupun nasionalisme hanyalah sebuah konsep, kita tetap memerlukannya. Penting untuk jati diri kita, supaya kita tidak dianggap remeh dan diinjak-injak. Tapi bukanlah jenis nasionalisme yang terbelakang, nasionalisme kosong yang kerap terjadi seperti sekarang ini. Bukan dengan melakukan tindakan-tindakan yang justru mempermalukan diri kita, bangsa kita sendiri. Kalau kita tidak ingin diremehkan dan diinjak-injak, jangan melakukan tindakan-tindakan yang justru meremehkan dan merendahkan kita, merusak jati diri kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu lagi: JANGAN MUDAH terpengaruh begitu saja pada media jurnalisme. Saya mampu katakan bahwa tidak semua media jurnalisme mampu dengan bijak dan seimbang dalam pemberitaan. Kitalah yang harus sadar dan cermat. Mana yang benar-benar berita, mana yang sekedar provokasi, ngompor-ngomporin, manas-manasin. Banyak media jurnalisme yang seharusnya memberikan informasi yang edukatif, &amp;nbsp;yang seharusnya melaksanakan sistem check and balance, malah menjadi menurun kualitas pemberitaannya karena terpengaruh oleh 'mental' media jurnalisme hiburan (baca: infotainmen) yang kini lebih sarat unsur-unsur komersil dan hiburan ketimbang edukasinya. Hati-hati, banyak menonton infotainmen bukan berarti mengubah mental kita menjadi berlebihan, dramatis dan 'lebay', kaan? Tetap gunakan nalar dan hati. Kesadaran tetap nomor satu agar kita tidak mudah terprovokasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buat para pengguna laman facebook, bijaksanalah! Please, nggak usah buat grup-grup provokator di facebook atau nyebar-nyebarin thread yang isinya provokasi untuk melakukan 'ganyang-ganyangan'. Nggak usah nyebar-nyebarin kebencian. Kalo lo benci itu masalah lo sendiri, nggak usah ngajak-ngajak. Nggak semua orang harus ikut-ikutan benci. Gua nggak tertarik, prén. Sumpah. Jijay.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh ya, satu lagi bahan introspeksi: selain pembajakan yang memang menjadi tren di negeri ini, banyak iklan produk di TV yang menggunakan lagu-lagu tema yang mirip bahkan cenderung 'mencuri' dari lagu-lagu yang beredar diluar negeri. Bahkan ada satu produk makanan instan yang terang-terangan mengambil lagu dari sebuah grup musik dalam negeri kita (hiks!) tanpa pernah meminta ijin (apalagi membayar royalti) kepada grup musik penciptanya. Ya, saya tahu kalau mendapatkan proper licensing dari sebuah lagu tentunya akan membuat biaya produksi membengkak karena harus bayar royalti. Tapi tolong dipikirkan: royalti adalah HAK, boss. Hak atas jerih payah dan kerja keras kita, para musisi. Sama-sama cari makan kita, boss. Masih pada kurang puas juga? Ingat, menjiplak, ya tetap menjiplak. Mencuri ya tetap mencuri. Tidak hanya dihitung berdasarkan berapa not yang kita ambil, berapa nada yang kita jiplak, tapi juga substansi lagunya. Dengan adanya unsur kemiripan yang menimbulkan kesan atau mengingatkan seseorang akan lagu tertentu, sebenarnya sudah mampu dijadikan dasar untuk menggugat pelanggaran hukum ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Well, sebenernya nggak perlu marah-marah berlebihan ketika budaya kita, karya kita dicuri orang lain karena kitapun ternyata masih belum mampu menghargai hak intelektual orang lain bahkan hak intelektual bangsa sendiri. Kita masih menjiplak, membajak, mencuri karya bangsa sendiri, mengeruk keuntungan finansial daripadanya. Kita menikmati hasil jiplakan, bajakan dan curian beserta turunan-turunannya. Jangan berbicara nasionalisme secara berlebihan dulu, deh. Nggak perlu menjadi manusia-manusia yang ultra-nasionalis kalo ternyata yang kita bela mati-matian adalah bangsa yang kebanyakan orang-orangnya masih berprofesi sebagai pembajak-pembajak profesional.&lt;br /&gt;
PERBAIKI DIRI LEBIH DULU, nggak usah 'lebay' :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Introspeksilah, mungkin ini buah dari karma yang kita semua lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga semua mahluk berbahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terima kasih semesta atas perjalanan hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terima kasih, oom James! :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Nasionalisme untuk negara ini adalah pertanyaan." - koil -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The Tao of Marcell&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
http://the-tao-of-marcell.blogspot.com/&lt;/div&gt;</description><link>http://malimbukuu.blogspot.com/2010/11/nasionalisme-saya-bahagia-sekali.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-CTh2dPhANC0GRiOzLwXzEjnI4s9M99p4jUs6vQVthXN5qj9cK5ZbwCzljhQJZZxXYiswz5ejSdoyuLA7hnB3GEz6bJx9uUE2jMTlR02yM701CSCuK2m_gQfwLvrwYFzmNxmmECHj1moV/s72-c/marcellHIDUP2.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>Masukkan alamat email untuk mendapatkan setiap posting blog ini (Malimbuku)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1814615763839120791.post-7703286160568518950</guid><pubDate>Sun, 28 Nov 2010 16:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-11-28T21:19:24.075-08:00</atom:updated><title>Ku Mencintainya Terlalu Dalam</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini harusnya tidak ku ceritakan, kenyataan yang pahit kuterima saat aku mencintai seseorang setulus hatiku. Aku benar – benar bingung harus menceritakan ini kepada siapa. Bukannya aku malu tapi aku merasa tidak pantas untuk menceritakan sisi kelam di balik retaknya hati yang tertahan karena perasaan ku padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang benar ini bodoh, aku serasa di kontrol oleh perasaan yang tidak ku ketahui. Aku bisa berubah saat melihat senyumnya,aku bisa berubah saat mendengar desis suaranya dan aku bisa berubah saat melihat matanya.&lt;br /&gt;
&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;Aku mengenalnya sudah cukup lama. Awal pertemuan perasaanku sudah mengatakan ini beda,beda dari yang selama ini aku rasakan dari cinta sebelumnya, Aku bukannya’ lebay’ istilah orang sekarang tapi memang ini yang kurasakan, mungkin bukan aku saja, semua orang pasti pernah merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Awal kenalan dan pertama kali bicara dengannya itu momen yang sangat indah bagiku. Kebersamaan yang aku rasakan terasa damai dan hangat, aku serasa di temani melaikat kecil yang cantik yang selalu mendampingiku untuk menuju masa depanku yang cerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sempat terang cintaku sirna saat aku mengetahui kalau malaikat cantikku telah dimiliki orang lain. Tapi aku tidak tahu apa yang membuat akar hati yang tumbuh oleh cinta ini semakin kuat yang terus membangun perasaan ini agar terus mencintai dan menyayangi dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya,, aku bertahan, aku bertahan karena dekapan perasaan yang aku rasakan lebih kuat dari logika ku sendiri. Hari ke hari, bulan ke bulan bahkan tahun ke tahun perasaan ini tidak mau hilang bahkan akarnya terus berubah menjadi setangkai daun kecil di hatiku yang memberikan ku kesejukan atas cinta yang ku rasakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kesabaran cinta ini akhirnya waktu itu datang, malaikat cantikku akhirnya meninggalkan pangeran yang dulu mengisi hatinya. Mungkin aku terlihat seperti pembunuh yang tertawa di balik tangis kecilnya yang manis, tapi itu bukan aku melainkan perasaanku yang merasa ada pengharapan untuk mengisi kekosangan akan cintanya yang hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini satu kesempatan kata hati kecilku. Perasaanku mengontrol diriku untuk mendekatinya lagi, aku kembali merasakan hangatnya cinta yang dulu pernah aku rasakan saat bersamanya.Kekosongan – kekosongan yang kami rasakan mulai terisi dengan kegembiraan dan kebahagiaan layaknya dua cinta yang telah menyatu padahal tidak, ada cinta lain yang mengintainya, cinta yang bisa membunuhku saat dia meninggalkanku lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkat cerita, cinta itu benar – benar mengambil malaikat cantikku kembali. Aku menangis sakit, sakit dan terus terasa sakit. Aku terasa terombang- ambing oleh perasaan yang ku bangun sendiri untuknya. Memang menyakitkan, aku tidak tahu salahku dimana, apakah aku tidak pantas untuknya atau aku memang ditakdirkan untuk tidak bersamanya?.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali bertahan dan terus bertahan sampai hari ini, aku hanya bisa menikmati senyumnya saat dia bercanda ria dengan pangeran barunya. Jujur hatiku tidak layu dan masih berharap banyak padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga nanti aku akan besamanya lagi, bersama menikmati dunia yang indah ini karena aku mencintainya terlalu dalam.&lt;/div&gt;</description><link>http://malimbukuu.blogspot.com/2010/11/ku-mencintainya-terlalu-dalam_28.html</link><thr:total>0</thr:total><author>Masukkan alamat email untuk mendapatkan setiap posting blog ini (Malimbuku)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1814615763839120791.post-1762682370174856614</guid><pubDate>Thu, 19 Aug 2010 21:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-11-28T21:19:01.441-08:00</atom:updated><title>Menabur dan menuai</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada suatu hari seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ia melihat seorang pemuda sebaya dengan dia sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang. Semakin bergerak malah semakin dalam ia terperosok. Pemuda yang pertama tadi hendak sekuat tenaga memberikan pertolongannya. Dengan susah payah pemuda yang terperosok itu dapat diselamatkan. Pemuda yang pertama tadi memapah pemuda yang terperosok itu pulang ke rumahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Ternyata si pemuda kedua ini anak orang kaya. Rumahnya sangat bagus, besar dan mewah luar biasa. Ayah pemuda ini sangat berterimakasih atas pertolongan yang diberikan kepada anaknya dan hendak memberikan uang, tetapi pemuda pertama tadi menolak pemberian tersebut. Ia berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain yang sedang dalam kesusahan. Sejak kejadian ini mereka menjalin persahabatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Si pemuda pertama adalah seorang miskin sedangkan pemuda kedua adalah anak seorang bangsawan kaya raya. Si pemuda miskin mempunyai cita-cita menjadi seorang dokter, namun ia tidak memiliki biaya untuk kuliah. Kemudian ada seorang yang murah hati yang mau memberikan beasiswa untuknya sampai akhirnya meraih gelar dokter. Orang ini tak lain adalah ayah pemuda yang ditolongnya tadi.Tahukah anda nama pemuda miskin yang akhirnya menjadi dokter ini? Namanya Alexander Flemming, yang kemudian menemukan obat penisilin. Si pemuda bangsawan masuk dinas militer dan dalam suatu tugas ke medan perang ia terluka parah sehingga menyebabkan demam yang sangat tinggi karena infeksi. Pada waktu itu belum ada obat untuk infeksi semacam itu. Para dokter mendengar tentang penisilin penemuan Dr.Flemming dan mereka menyuntik dengan penisilin yang merupakan penemuan baru itu. Apa yang terjadi kemudian? Berangsur-angsur demam akibat infeksi itu reda dan si pemuda itu akhirnya sembuh!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahukan anda siapa nama pemuda pemuda itu? Namanya adalah Winston Churcill, Perdana Menteri Inggris yang termasyhur itu. Dalam kisah ini kita dapat melihat hukum menabur dan menuai. Flemming menabur kebaikan dan ia menuai kebaikan pula. Cita-citanya terkabul untuk menjadi dokter. Flemming menemukan penisilin yang akhirnya menolong jiwa Churcill. Tidak sia-sia bukan beasiswa yang diberikan ayah Churcill?   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://malimbukuu.blogspot.com/2010/08/menabur-dan-menuai_19.html</link><thr:total>0</thr:total><author>Masukkan alamat email untuk mendapatkan setiap posting blog ini (Malimbuku)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1814615763839120791.post-2620690424586732770</guid><pubDate>Sat, 14 Aug 2010 03:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-11-28T21:18:18.315-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah</category><title>Dua Pilihan</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku?"&lt;br /&gt;
&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Ayah tersebut melanjutkan: "Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku,"Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, "kami telah kalah 6 putaran dan sekaran sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti'&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset; Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah kedepan, dan melempar bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun kearah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali kearah pitcher.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak "Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!". Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua orang berteriak, "Lari ke base dua, lari ke base dua!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua yang hadir berteriak, "Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai berteriak, "Shay, larilah ke home, lari ke home!". Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan kedalam dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen dimana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung diantara mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://malimbukuu.blogspot.com/2010/08/dua-pilihan_13.html</link><thr:total>0</thr:total><author>Masukkan alamat email untuk mendapatkan setiap posting blog ini (Malimbuku)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1814615763839120791.post-7226365826323225177</guid><pubDate>Sat, 14 Aug 2010 03:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-11-28T21:17:47.626-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah</category><title>Kotak Surat Malaikat</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekali lagi, aku mendapat kesempatan untuk menangani satu kelas di sekolah musim liburan anak-anak jalanan di Kota Kembang, Bandung. Seorang teman memintaku untuk bergabung dan menangani satu kelas karena dua alasan, ia tahu aku memiliki tidak sedikit pengalaman mengelola kelas di berbagai pelatihan, dan satu lagi, salah seorang tenaga pengajar di sekolah tersebut absen untuk musim lIburan kali ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengelola kelas anak jalanan, dari mulai pengemis, pedagang asongan, tukang semir, pengamen, dan bahkan anak-anak yang tidak mengerti bahwa mereka dieksploitasi untuk melakukan tindak kejahatan, meski bukan hal biasa, tapi juga bukan yang pertama bagiku.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Ya, satu setengah tahun yang lalu, di kota yang berbeda, pernah bahkan setiap akhir pekan bersama dengan beberapa rekan LSM menangani sekolah gratis anak jalanan, selama hampir tiga bulan. Namun yang membuatku terkejut begitu memasuki kelas, adalah usia rata-rata yang masuk dalam daftar kelas itu memaksaku sedikit membelalakkan mata. Untuk beberapa menit, tak satu katapun keluar dari mulutku setelah sekilas menangkap mata-mata jernih dan penuh tanya yang menatap kehadiranku. Usia rata-rata mereka tak lebih dari tujuh tahun, terdiri dari hanya belasan anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan kaget masuk kelas istimewa itu” temanku mengingatkan sebelum kami memasuki kelas masing-masing. Jadi, inikah yang dimaksud kelas istimewa? Belasan anak bernasib kurang beruntung yang semestinya di usia seperti mereka, masih bermanja-manja dengan kedua orang tua mereka. Tetapi hidup yang mereka jalani menghadirkan mereka di bising kota, deru kendaraan dan lalu lalang pejalan kaki. Merah, hijau dan kuning traffic light seolah menjadi lampu start mereka berhamburan menyerbu bis kota, atau mobil-mobil pribadi untuk mengayunkan krecek dan menyanyikan lagu-lagu yang tak semuanya terhapal dengan baik. Sebagian lain menjajakan rokok, permen serta tissue dari satu bis ke bis kota yang lain, tak peduli beberapa teman mereka yang lain pernah terpelanting dari atas bis ketika hendak turun dari sebuah bis bertepatan dengan nyala lampu hijau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak mengherankan, kerasnya kota dan bising jalanan membentuk pribadi-pribadi lembut itu menjadi sosok yang keras, tak teratur, dan terkesan liar. Padahal anak-anak sebayanya, pasti nampak menyenangkan untuk dilihat, didekati, dan diajak bercengkerama, karena lebih sopan dan lembut, bisa diatur, dan aroma yang jelas lebih bersahabat. Tapi nyatanya, di hari pertama, aku berdiri di depan mereka seperti orang yang salah kostum. Kemeja putih bersih dengan aroma Bvlgari for men yang menyegarkan. Akibatnya, satu persatu bergantian mereka mendekat hanya untuk menghirup aromaku dan kembali, beberapa menit kemudian hal itu mereka lakukan. Senang? Tentu tidak. Aku merasa mereka menerimaku hanya karena aroma itu, bukan diriku yang seutuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari kedua dan berikutnya, aku sedikit membenahi penampilanku agar tidak ada perbedaan yang mencolok. Aku pernah membaca sebuah buku, untuk bisa diterima di sebuah komunitas, jika perlu seseorang mesti meminimalisir perbedaan dengan komunitas tersebut sehingga dirasakannya seseorang yang baru hadir itu juga bagian dari komunitas. Kemudian hal itu kuartikan, setidaknya, untuk menyeragamkan penampilanku agar tidak terlihat perbedaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak hal yang tak terduga dalam menangani kelas ini, bisa dibayangkan, aku baru bertemu mereka sejak hari pertama, tak satupun yang kutahu karakter dan tingkah laku masing-masing. Begitu juga Sissy, asisten pengajar yang bersamanya aku bahu membahu menangani kelas tersebut. Sehingga dua pekan pertama kami habiskan untuk mengenal karakter, sikap dan tingkah laku masing-masing. Ini sejalan dengan materi yang diamanahkan kepada kami, Budi Pekerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua pekan yang mengagumkan, bisa langsung berinteraksi dengan segala kebandelan (sengaja tak menggunakan kata ‘nakal’ untuk menggambarkan perilaku mereka), tata tertib yang dIbuat hanya diingat di hari pertama karena hingga hari terakhir pekan ketiga, tak satupun ketertiban dipatuhi. Memberikan sanksi kepada anak-anak itu, tentu bukan hal tepat. Materi ‘Budi Pekerti’ yang tergetnya agar anak-anak itu bisa bersikap lebih manis setelah selesai program kelas yang hanya satu bulan ini, nampaknya harus kami kubur dalam-dalam. Hampir saja kami putus asa sebelum, Dani, tukang koran berusia enam setengah tahun bertanya polos, “Kak, pernah nggak liat malaikat? Katanya di dalam dada kita ada malaikat…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan yang tak bisa kujawab dengan sempurna. Namun melahirkan satu ide yang ‘menyelamatkan’ kami dari kegagalan merubah –meski sedikit- perilaku mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari pertama di pekan terakhir, aku bercerita tentang malaikat yang selalu mengirimkan surat untuk anak-anak yang berperilaku baik di setiap hari. Sebelumnya, aku merayu Sissy untuk mau berdandan seperti malaikat, dan jadilah Sissy, malaikat cantik sepanjang pekan terakhir itu, berjubah putih panjang, lengkap dengan tongkat berujung bintang di lengan kanan, serta sebuah kotak surat di kiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pulang, setelah makan siang dan sholat dzuhur, di depan kelas, aku membagikan kertas-kertas ukuran setengah kwarto yang sudah dipotong-potong kepada anak-anak itu. Mereka diminta untuk menulis tentang kebaikan apapun yang dilakukan oleh teman mereka sepanjang hari itu. Jika menurut mereka terdapat lebih dari satu teman yang melakukan hal baik, ia boleh menambah kertas lain untuk ditujukan buat teman yang lain itu. Setelah semua selesai menuliskan, mereka lalu memasukkannya ke kotak surat milik malaikat cantik. Ketentuannya, mereka hanya boleh menuliskan nama teman yang dituju tanpa perlu mencatatkan nama mereka sebagai pengirim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sore, setelah semua anak-anak itu kembali ke dunianya masing-masing, aku dan Sissy masih punya tugas lain, membicarakan perkembangan anak-anak, efektifitas metode pembelajaran, dan satu tugas baru, membaca satu persatu surat mereka. Terdapat puluhan surat di hari pertama, diantaranya, untuk Yanti, gadis kecil yang hari itu rambutnya lebih rapih dari hari-hari sebelumnya. Surat lain, untuk Dodo, karena tak membuang ludah sembarangan di dalam kelas. Ada surat untuk Dini, yang hari itu tak menangis. Dini adalah anak paling cengeng dan tak melewatkan satupun harinya di program ini dengan menangis. Ada beberapa anak yang tak mendapat surat, seperti Kholik yang masih terus senang memukul teman-temannya, atau juga zaenudin yang tak henti membuat kebisingan dengan ukulele-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu seterusnya, di hari selanjutnya di pekan terakhir itu, surat demi surat masuk ke dalam kotak untuk dibagikan keesokan harinya. Kami bisa menyaksikan kebanggaan anak-anak yang mendapatkan surat dari malaikat. Kami tanamkan satu keyakinan, semakin banyak mendapatkan surat berarti ia semakin baik di mata malaikat dan Tuhan. Sehingga hari demi hari, semakin sering kami dapati perkembangan mengagumkan dari perilaku mereka. Meski berbeda rasa bangga yang diperlihatkan, di hari terakhir semua anak di kelas itu memegang surat-surat catatan kebaikan dari malaikat. Khalik, meski cuma satu surat yang didapatnya, seulas senyum mampir di mata kami yang mulai tergenangi sebulir air. Kupeluk satu persatu mereka di hari perpisahan yang mengharukan itu.&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://malimbukuu.blogspot.com/2010/08/kotak-surat-malaikat_13.html</link><thr:total>0</thr:total><author>Masukkan alamat email untuk mendapatkan setiap posting blog ini (Malimbuku)</author></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1814615763839120791.post-8441331796333824329</guid><pubDate>Sat, 14 Aug 2010 03:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-11-30T12:30:53.354-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah</category><title>Arti Sebuah Pengorbanan</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1814615763839120791&amp;amp;postID=8441331796333824329" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan pak suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak....... ..bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya "sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pak suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anak mereka. "Anak-anakku ......... Jikalau perkimpoian &amp;amp; hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah..... .tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat,... kalian yang selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit." Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak suyatno merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa..disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkimpoiannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit.."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTWuSGXBHzXKLgpZBj4KVs49dYnGxWs8XmJLKKx8HwxmCEIaG7Yy1_VWdBl_4cmbWS3JgXpO9hXY5O7t8JXKPVL6kW2sBAUSGcZiMQ1zLySvLp0lvfRwxXvOeATaJV4CKWcSIBrXwK0gn3/s1600/jarotong.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="96" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTWuSGXBHzXKLgpZBj4KVs49dYnGxWs8XmJLKKx8HwxmCEIaG7Yy1_VWdBl_4cmbWS3JgXpO9hXY5O7t8JXKPVL6kW2sBAUSGcZiMQ1zLySvLp0lvfRwxXvOeATaJV4CKWcSIBrXwK0gn3/s320/jarotong.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCyLFFQ2VwihBl9PAUYVbFlbDlNK-XtCIuCWLOUjyLMgRJNzweoc7r3MV97gKUQHW3smIyBjYKgYwgck72HKnkO5HK66FKrdE59kkZDqKN8FrzEeOLqnKpdf4idvYGdQeP7kp0wYc5w-rb/s1600/cooltext483984840.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCyLFFQ2VwihBl9PAUYVbFlbDlNK-XtCIuCWLOUjyLMgRJNzweoc7r3MV97gKUQHW3smIyBjYKgYwgck72HKnkO5HK66FKrdE59kkZDqKN8FrzEeOLqnKpdf4idvYGdQeP7kp0wYc5w-rb/s1600/cooltext483984840.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJNFkh6f5-_GU-XaBWO0DMFC5a65IIw-XrVffZ7LDXFVjny7KMkVARFmVZEr_BVkIfjgZ8VhEzuzgyfAdAHP7kJU3LhdPWR4-yCJgQv3G6rqdyQ2umLDFohgzgdm5OykKXKyHvQaXhpQ02/s1600/Flash+SMALL+Icon.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJNFkh6f5-_GU-XaBWO0DMFC5a65IIw-XrVffZ7LDXFVjny7KMkVARFmVZEr_BVkIfjgZ8VhEzuzgyfAdAHP7kJU3LhdPWR4-yCJgQv3G6rqdyQ2umLDFohgzgdm5OykKXKyHvQaXhpQ02/s1600/Flash+SMALL+Icon.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;</description><link>http://malimbukuu.blogspot.com/2010/08/arti-sebuah-pengorbanan_13.html</link><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTWuSGXBHzXKLgpZBj4KVs49dYnGxWs8XmJLKKx8HwxmCEIaG7Yy1_VWdBl_4cmbWS3JgXpO9hXY5O7t8JXKPVL6kW2sBAUSGcZiMQ1zLySvLp0lvfRwxXvOeATaJV4CKWcSIBrXwK0gn3/s72-c/jarotong.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><author>Masukkan alamat email untuk mendapatkan setiap posting blog ini (Malimbuku)</author></item></channel></rss>