<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;DUAEQHs8fCp7ImA9WhRXGU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321</id><updated>2011-12-27T02:28:21.574+07:00</updated><category term="Toleransi" /><category term="Taubat" /><category term="Palestina" /><category term="Zakat" /><category term="Rezeki" /><category term="Idul Fitri" /><category term="Politik" /><category term="Warna Islam" /><category term="Puasa" /><category term="Poligami" /><category term="Karakter Muslim" /><title>Islam Awam</title><subtitle type="html" /><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>35</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/islamawam" /><feedburner:info uri="islamawam" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;AkEESHc4eSp7ImA9Wx5QF0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-7918038060198867613</id><published>2010-09-06T14:36:00.000+07:00</published><updated>2010-09-06T14:36:49.931+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-09-06T14:36:49.931+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Idul Fitri" /><title>Bila Hari ‘Ied Jatuh pada Hari Jum’at</title><content type="html">Bila hari 'ied jatuh pada hari Jum'at, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat 'ied, ia punya pilihan untuk menghadiri shalat Jum'at atau tidak. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum'at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum'at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak shalat 'ied bisa turut hadir. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Dan pendapat ini terdapat riwayat dari 'Umar, 'Utsman, 'Ali, Ibnu 'Umar, Ibnu 'Abbas dan Ibnu Az Zubair. Dalil dari hal ini adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;: Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, "Aku pernah menemani Mu'awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom, "Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertemu dengan dua 'ied (hari Idul Fithri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum'at) dalam satu hari?" "Iya", jawab Zaid. Kemudian Mu'awiyah bertanya lagi, "Apa yang beliau lakukan ketika itu?" "Beliau melaksanakan shalat 'ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum'at", jawab Zaid lagi. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang mau shalat Jum'at, maka silakan melaksanakannya."[439]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;: Dari 'Atho', ia berkata, "Ibnu Az Zubair ketika hari 'ied yang jatuh pada hari Jum'at pernah shalat 'ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum'at Ibnu Az Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu 'Abbas berada di Thoif. Ketika Ibnu 'Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu 'Abbas. Ibnu 'Abbas pun mengatakan, "Ia adalah orang yang menjalankan sunnah (ajaran Nabi) [ashobas sunnah]."[440] Jika sahabat mengatakan ashobas sunnah(menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu' yaitu menjadi perkataan Nabi.[441]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diceritakan pula bahwa 'Umar bin Al Khottob melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az Zubair. Begitu pula Ibnu 'Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az Zubair. Begitu pula 'Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan shalat 'ied maka ia boleh tidak menunaikan shalat Jum'at. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat mereka-mereka ini.[442]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Catatan&lt;/b&gt;:&lt;br /&gt;
Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum'at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum'at atau yang tidak shalat 'ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah dari An Nu'man bin Basyir, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa membaca dalam shalat 'ied dan shalat Jum'at "sabbihisma robbikal a'la" dan "hal ataka haditsul ghosiyah"." An Nu'man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari 'ied bertepatan dengan hari Jum'at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.[443] Karena imam dianjurkan membaca dua surat tersebut pada shalat Jum'at yang bertepatan dengan hari 'ied, ini menunjukkan bahwa shalat Jum'at dianjurkan untuk dilaksanakan oleh imam masjid. Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum'at dan telah menghadiri shalat 'ied –baik pria maupun wanita- maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur (4 raka'at) sebagai ganti karena tidak menghadiri shalat Jum'at.[444]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan kaki:&lt;br /&gt;
[439] HR. Abu Daud no. 1070, Ibnu Majah no. 1310. Asy Syaukani dalam As Sailul Jaror (1/304) mengatakan bahwa hadits ini memiliki syahid (riwayat penguat). An Nawawi dalam Al Majmu' (4/492) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). 'Abdul Haq Asy Syubaili dalam Al Ahkam Ash Shugro (321) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. 'Ali Al Madini dalam Al Istidzkar (2/373) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). Syaikh Al Albani dalam Al Ajwibah An Nafi'ah (49) mengatakan bahwa hadits ini shahih. Intinya, hadits ini bisa digunakan sebagai hujjah atau dalil.&lt;br /&gt;
[440] HR. Abu Daud no. 1071. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.&lt;br /&gt;
[441] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/596.&lt;br /&gt;
[442] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 1/596, Al Maktabah At Taufiqiyah.&lt;br /&gt;
[443] HR. Muslim no. 878.&lt;br /&gt;
[444] Lihat Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts 'Ilmiyah wal Ifta', 8/182-183, pertanyaan kelima dari Fatwa no. 2358, Mawqi' Al Ifta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber&lt;/b&gt;: Muhammad Abduh Tuasikal. 2010. &lt;i&gt;Panduan Ramadhan; Bekal Meraih Ramadhan Penuh Berkah&lt;/i&gt;. Pustaka Muslim bekerjasama dengan Buletin Dakwah At Tauhid Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari Yogyakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-- &lt;br /&gt;
&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-7918038060198867613?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=J0Twb3vv784:TyXR1Xl6kDc:4cEx4HpKnUU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=J0Twb3vv784:TyXR1Xl6kDc:4cEx4HpKnUU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=J0Twb3vv784:TyXR1Xl6kDc:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=J0Twb3vv784:TyXR1Xl6kDc:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=J0Twb3vv784:TyXR1Xl6kDc:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=J0Twb3vv784:TyXR1Xl6kDc:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=J0Twb3vv784:TyXR1Xl6kDc:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=J0Twb3vv784:TyXR1Xl6kDc:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=J0Twb3vv784:TyXR1Xl6kDc:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=J0Twb3vv784:TyXR1Xl6kDc:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=J0Twb3vv784:TyXR1Xl6kDc:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/J0Twb3vv784" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/7918038060198867613/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2010/09/bila-hari-ied-jatuh-pada-hari-jumat.html#comment-form" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/7918038060198867613?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/7918038060198867613?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/J0Twb3vv784/bila-hari-ied-jatuh-pada-hari-jumat.html" title="Bila Hari ‘Ied Jatuh pada Hari Jum’at" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2010/09/bila-hari-ied-jatuh-pada-hari-jumat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CE4GQHo9eyp7ImA9Wx5QFE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-6114702136707682340</id><published>2010-09-02T11:48:00.000+07:00</published><updated>2010-09-02T11:48:41.463+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-09-02T11:48:41.463+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Zakat" /><title>Zakat adalah Energi</title><content type="html">Zakat adalah Energi. Sebuah kalimat yang sederhana, tapi cukup membuka mata. Saya menemukan kalimat ini dalam selebaran program Al-Azhar Peduli Ummat dari Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar. Isi selebarannya cukup menarik karena berisi kegiatan nyata program tersebut, tapi tulisan ini tidak bermaksud membahas isi selebaran ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali ke kalimat "Zakat adalah Energi". Saya sendiri memperlakukan zakat sebagai kewajiban. Zakat adalah sesuatu yang harus saya tunaikan terkait dengan keyakinan saya sebagai seorang Muslim. Salah satu manfaat nyata yang dapat saya rasakan dari zakat adalah kesucian harta yang saya miliki dan manfaatkan. Kadang manfaat yang saya rasakan hanya sebatas itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang ada kalanya saya sadar bahwa zakat yang saya tunaikan akan sampai ke tangan-tangan para mustahik (orang yang berhak menerima) zakat. Di tangan mereka zakat-zakat saya akan memberikan manfaat. Sayangnya saya tidak secara tegas melihat zakat sebagai energi, yaitu sesuatu yang memungkinkan para mustahik zakat untuk bertahan hidup dan mengembangkan kehidupannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau saja saya melihat zakat sebagai energi, maka saya pasti mampu melihat banyaknya manfaat dari menunaikan zakat. Seandainya zakat dialokasikan untuk membiayai studi orang-orang miskin, tentu manfaatnya akan berlipat ganda. Orang-orang ini akan bertambah ilmu, kemudian mampu mencari penghidupan yang lebih baik. Pada akhirnya orang-orang ini bisa keluar dari jurang kemiskinan. Contoh lain bila zakat dialokasikan untuk membantu usaha orang-orang miskin. Hal ini juga memiliki potensi nyata mengangkat derajat kehidupan orang-orang miskin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan luasnya manfaat zakat ini, setiap Muslim tentu menyadari potensi amal baik yang dapat mereka terima dengan menunaikan zakat. Amal baik seseorang lewat menunaikan zakat mungkin akan terus berlipat ganda tanpa henti seiring dengan banyaknya manfaat yang didapat dari zakatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalkan zakat kita ternyata dimanfaatkan oleh seorang mustahik untuk membuka usaha. Usaha itu ternyata berkembang seiring dengan semangat kerja mustahik itu. Tidak berapa lama mustahik itu mampu keluar dari kemiskinan dan berbalik menjadi muzakki (orang yang wajib membayar zakat). Usahanya pun terus berkembang sehingga mampu membuka lapangan kerja baru. Tentu kita dapat bayangkan betapa banyaknya manfaat yang kita berikan lewat zakat kita, betapa banyaknya amal baik yang kita peroleh, betapa banyaknya tabungan akhirat yang kita miliki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi pada dasarnya potensi amal baik dalam zakat itu tidak terbatas pada kesucian harta atau pada kewajiban semata. Zakat yang kita tunaikan dapat membantu membawa perubahan terhadap kesejahteraan para mustahik zakat. Dengan menunaikan zakat, kita turut andil membantu orang-orang miskin menemukan kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan terkait:&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://islam-awam.blogspot.com/2009/11/memahami-zakat-profesi.html"&gt;Memahami Zakat Profesi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-6114702136707682340?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=CfCMoaQaPJw:rfFFN_3OnWs:4cEx4HpKnUU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=CfCMoaQaPJw:rfFFN_3OnWs:4cEx4HpKnUU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=CfCMoaQaPJw:rfFFN_3OnWs:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=CfCMoaQaPJw:rfFFN_3OnWs:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=CfCMoaQaPJw:rfFFN_3OnWs:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=CfCMoaQaPJw:rfFFN_3OnWs:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=CfCMoaQaPJw:rfFFN_3OnWs:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=CfCMoaQaPJw:rfFFN_3OnWs:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=CfCMoaQaPJw:rfFFN_3OnWs:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=CfCMoaQaPJw:rfFFN_3OnWs:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=CfCMoaQaPJw:rfFFN_3OnWs:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/CfCMoaQaPJw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/6114702136707682340/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2010/09/zakat-adalah-energi.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/6114702136707682340?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/6114702136707682340?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/CfCMoaQaPJw/zakat-adalah-energi.html" title="Zakat adalah Energi" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2010/09/zakat-adalah-energi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkQHQHw9fip7ImA9Wx5QF0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-4492012713750556178</id><published>2010-08-27T14:01:00.001+07:00</published><updated>2010-09-06T14:32:11.266+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-09-06T14:32:11.266+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puasa" /><title>Haruskah Kita Menghormati Orang yang Berpuasa?</title><content type="html">Terkait dengan bulan Ramadhan, haruskah orang-orang yang tidak berpuasa menghormati orang-orang Islam yang berpuasa dengan tidak makan dan minum di tempat terbuka? Bukankah puasa di bulan Ramadhan itu merupakan kewajiban yang tidak dipengaruhi oleh sikap dan perilaku orang-orang di sekitarnya? Jadi mengapa tidak orang-orang yang tidak berpuasa itu makan dan minum seperti biasa di bulan Ramadhan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban dari pertanyaan di atas menurut saya mengacu kepada peribahasa, "Di situ bumi dipijak, di situ langit dijunjung" atau "&lt;i&gt;When in Rome, do what the Romans do.&lt;/i&gt;" Menghormati orang-orang Islam yang berpuasa adalah bagian dari kesadaran untuk "menjunjung langit" karena masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam. Jadi orang-orang yang tidak berpuasa dan hidup di Indonesia seyogyanya menghormati orang-orang Islam yang berpuasa dengan tidak makan dan minum di tempat umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun begitu, semua tetap dikembalikan kepada "bumi yang dipijak". Kalau kita berada di daerah yang orang-orangnya mayoritas tidak berpuasa, makan dan minum di tempat umum sepertinya tidak akan menjadi masalah. &lt;i&gt;Toh&lt;/i&gt; tidak semua daerah di Indonesia ini mayoritas penduduknya beragama Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perumpamaan dengan peribahasa di atas pada dasarnya merupakan bentuk penghormatan terhadap kelompok mayoritas. Kita ambil contoh rumah ibadah. Apakah pantas orang beragama kristen meneriakan "haleluya" di dalam sebuah masjid? Kemudian apakah pantas orang beragama Islam meneriakan "Allahu Akbar" di dalam sebuah gereja? Kita dapat ambil contoh yang lebih umum. Apakah pantas seseorang masuk kerja menggunakan kaus oblong dan celana jeans? Pada umumnya hal ini tidak pantas, kecuali tempat kerjanya memang memberi kebebasan berpakaian secara penuh kepada karyawannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh bentuk penghormatan seperti di atas dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari karena hal ini adalah hal yang berlaku umum dalam masyarakat. Menghormati adat dan kebiasaan golongan mayoritas adalah bagian dari tata krama hidup bermasyarakat. Baik secara sadar maupun tidak sadar, setiap orang akan menjunjung langit tempat kakinya berpijak. Jadi selama bulan Ramadhan ini wajar bila orang-orang yang berpuasa mengharapkan agar orang-orang yang tidak berpuasa tidak makan dan minum di tempat terbuka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau memang "wajar", kenapa masih saja ada yang mempertanyakan keharusan menghormati orang yang berpuasa? Saya rasa pertanyaan ini ada kaitannya dengan kesewenang-wenangan kelompok mayoritas. Bukan tidak mungkin sebagian orang Islam di negara Indonesia ini merasa dibenarkan untuk memaksakan penghormatan kepada orang-orang yang berpuasa. Alhasil kelompok minoritas, yaitu orang-orang yang tidak berpuasa, merasa tertekan. Penghormatan yang tadinya dibentuk dengan kesadaran semakin lama justru dibentuk dengan keterpaksaan. Rasa terpaksa yang menumpuk itu akhirnya membludak dan orang-orang pun mempertanyakan keharusan untuk menghormati orang-orang Islam yang berpuasa di bulan Ramadhan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap orang berhak dihormati terlepas dari mayoritas atau minoritas. Kalau orang-orang yang berpuasa berhak dihormati, maka orang-orang yang tidak berpuasa pun berhak dihormati. Kalau orang-orang yang tidak berpuasa wajib menghormati, makan orang-orang yang berpuasa pun wajib menghormati. Selama kedua belah pihak saling menjaga rasa hormat antara satu sama lain, maka bulan Ramadhan ini tidak perlu diwarnai dengan polemik makan dan minum di tempat terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-4492012713750556178?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=nMCCSrKu3KA:sAHhNEasiS8:4cEx4HpKnUU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=nMCCSrKu3KA:sAHhNEasiS8:4cEx4HpKnUU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=nMCCSrKu3KA:sAHhNEasiS8:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=nMCCSrKu3KA:sAHhNEasiS8:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=nMCCSrKu3KA:sAHhNEasiS8:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=nMCCSrKu3KA:sAHhNEasiS8:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=nMCCSrKu3KA:sAHhNEasiS8:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=nMCCSrKu3KA:sAHhNEasiS8:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=nMCCSrKu3KA:sAHhNEasiS8:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=nMCCSrKu3KA:sAHhNEasiS8:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=nMCCSrKu3KA:sAHhNEasiS8:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/nMCCSrKu3KA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/4492012713750556178/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2010/08/haruskah-kita-menghormati-orang-yang.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/4492012713750556178?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/4492012713750556178?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/nMCCSrKu3KA/haruskah-kita-menghormati-orang-yang.html" title="Haruskah Kita Menghormati Orang yang Berpuasa?" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2010/08/haruskah-kita-menghormati-orang-yang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEQCQX8-cCp7ImA9WxFaFkU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-1665245085556941472</id><published>2010-07-21T11:26:00.002+07:00</published><updated>2010-07-21T11:26:00.158+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-21T11:26:00.158+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Warna Islam" /><title>Bicara Kopi Luwak</title><content type="html">Kutipan percakapan di bawah ini diambil apa adanya dari sebuah akun di facebook. Kutipan di bawah ini sengaja dipublikasikan di blog ini sebagai tambahan informasi untuk menambah wawasan mengenai perbedaan pendapat mengenai Kopi Luwak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Satu&lt;/span&gt;: MUI menegaskan bahwa Kopi Luwak itu Halal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;Dua&lt;/span&gt;: ...emang bener2 perlu fatwa MUI kalo KOPI itu ga haram...?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;Satu&lt;/span&gt;: Kalau cuma kopi kayaknya gak perlu, tapi kalau berkaitan dengan sesuatu yang keluar dari anus binanatang mungkin perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: purple;"&gt;Anton&lt;/span&gt;: I doubt it would be the most expensive coffee in the world if it had poo stains lol. congrats to mui, they've successfully become a laughing stock once again.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;Dua&lt;/span&gt;: jadi, dokter hewan itu pekerjaan halal apa haram?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;Satu&lt;/span&gt;: Maksud pernyataan lo ke arah mana, Dua?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;Dua&lt;/span&gt;: ke arah logika dengan semua yang berhubungan ama 'sesuatu yang keluar dari anus binatang' perlu ditetapkan halal apa nggak... kalo tu biji kopi keluar dari anus anjing ato babi, oke lah, maklum gw...tapi dari luwak?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;Satu&lt;/span&gt;: Kotoran binatang itu najis terlepas dari jenis binatangnya; gak spesifik ke babi dan anjing. Kopi Luwak itu kan keluar dari anus Luwak. Jadi muncul perdebatan akan kehalalannya karena bahan baku utama Kopi Luwak itu keluar bersama kotoran Luwak yang masuk kategori najis itu. Gw justru gak ngerti cara lo menghubungkan dokter hewan dalam konteks ini karena pekerjaan dokter hewan gak ada hubungannya dengan memakan sesuatu yang masuk kategori najis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;Dua&lt;/span&gt;: karena dokter hewan ga memakan kotoran binatang seperti halnya peminum kopi luwak yang bijinya udah dibersihin? ato emang kebanyakan orang su'udzon biji kopi luwak itu akan dan selalu kotor karena keluar dari anus binatang? apa orang banyak yang su'udzon soal daging sapi dibacain basmalah pas dipotong apa nggak? apa orang banyak yang su'udzon soal daging ayam dibacain basmalah pas dipotong apa nggak? apa orang banyak yang su'udzon soal ikan lele yang dipiaranya di septic tank apa nggak (apalagi yang di warung2)? kalo jawaban buat semua di atas itu 'nggak', gw ga ngerti knapa kopi luwak sampe perlu fatwa halal...apa gara2 banyak orang su'udzon biji kopinya ga bersih dicucinya? lagian, semua sayuran yang pupuknya pake kotoran hewan itu apa juga cenderung ga halal karena siapa tau dicucinya ga bersih sebelom dijual?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;Satu&lt;/span&gt;: Yang membuat gw pribadi ragu minum kopi luwak adalah kenyataan bahwa itu adalah kotoran hewan. Apa pun penjelasan yang menegaskan kebersihan prosesnya, gw tetap merasa bahwa minum kopi luwak adalah minum kotoran hewan. Jadi buat gw pribadi itu bukan masalah bersih atau tidak bersihnya. Sementara bagi orang lain, gw gak terlalu tahu. Mungkin logika lo mengenai persangkaan bahwa kotor atau tidak kotor itu mengena. Cuma untuk perbandingannya gw kurang setuju, Dua. Pertama, sembelih dengan basmalah itu bukan sesuatu yang pasti dan kita sebaiknya berbaik sangka. Sementara Kopi Luwak itu PASTI keluar dari anus Luwak. Kedua, yang dimakan dari lele adalah dagingnya (bukan tahinya) sementara daging ikan tidak ada yang diharamkan untuk dimakan. Kondisi ini juga berbeda dengan kopi luwak karena yang dimakan dari kopi luwak adalah bagian dari tahinya. Ketiga, untuk sayuran. Emang sebelum dimasak gak dicuci dulu ya? :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;Dua&lt;/span&gt;: pertama, perbandingan dari lo soal daging sapi yang kurang ngena... gw ngebandingin pemrosesannya sebelom dijual, BUKAN asal muasalnya... kedua, apakah air tempat lele tersebut menjadi bagian dari ikannya? again, masalah pemrosesan... ketiga, lagi2 masalah pemrosesan... untuk ketiga masalah di atas, kita ga perlu fatwa MUI buat nganggep itu halal... kopi luwak itu udah ada sejak lama...knapa baru sekarang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;Satu&lt;/span&gt;: Gw pribadi melihat bahwa pendapat yang mengatakan Kopi Luwak itu haram justru melihat dari asalnya, yaitu dari kotoran hewan. Oleh karena itu gw gak setuju dengan analogi lo. Daging sapi atau ayam itu halal. Dia menjadi haram bila sapinya itu bangkai atau disembelih tanpa basmalah. Kalau masalah sembelih sendiri kita gak bisa pastikan secara langsung. Oleh karena itu kita perlu berbaik sangka. Untuk daging lele, kalau pun daging lele itu ditimbun tahi pun tetap saja halal asalkan dibersihkan dengan baik; tapi kemungkinan besar orang bakal jijik memakannya. :) Itu karena daging lele pada dasarnya halal. Berbeda dengan kopi luwak yang pada hakikatnya adalah kotoran hewan. Hal yang sama berlaku untuk sayuran. Terus terang kalau dikaitkan dengan pernyataan MUI di link yang gw publish memang agak meleset. MUI kelihatannya hanya melihat ini dari prosesnya, bukan dari asalnya. Di titik ini, kalau lo masih melihat dari proses sementara gw melihat dari asal muasal, sebaiknya kita akhiri dengan kalimat "we agree to disagree". Toh ini cuma masalah kopi yang pada dasarnya bukan hal yang prinsip dalam Islam. :) PS: Kalau masalah "baru sekarang", kelihatannya karena MUI seringkali bersifat reaktif, Dua. Setelah ada isu halal-haram baru MUI bertindak. Kayaknya MUI sering banget kayak begini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;Dua&lt;/span&gt;: "Kalau masalah sembelih sendiri kita gak bisa pastikan secara langsung. Oleh karena itu kita perlu berbaik sangka." jadi intinya, orang ga bisa berbaik sangka soal gimana produsen kopi luwak ngebersihin biji kopinya? "Toh ini cuma masalah kopi yang pada dasarnya bukan hal yang prinsip dalam Islam. :)" exactly the reason gw nanya kenapa perlu fatwa MUI segala buat menyatakan kopi luwak itu halal...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: orange;"&gt;Tiga&lt;/span&gt;: errr.. helloo.. kopi luwak berasal dari kotoran? si Luwak bukannya cuma roasting-machine hidup ya? :P Lagian orang yang minum juga mikir kali, mosok bakal mo beli mahal2 kl ada eek-nya :))&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;Dua&lt;/span&gt;: itulah guna fatwa MUI...biar orang masih mo bli mahal meskipun tau asal muasal biji kopi-nya... xb&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;Satu&lt;/span&gt;: @Tiga: Terlepas dari dibersihkan atau tidak, bahan bakunya kopi luwak itu adalah bagian dari kotoran luwak. Ini yang, menurut gw, menjadi alasan munculnya pendapat bahwa kopi luwak itu haram. @Dua: Masalah berbaik sangka. Daging sapi mentah itu kan dari hasil sembelih sapi. Proses sembelihnya dengan basmalah atau tidak itu (yang menjadi pembeda halal atau haramnya) kita tidak tahu. Bahan baku kopi luwak itu kan bagian dari kotoran luwak. Yang ini dah jelas. Bagi orang-orang yang berpendapat seperti ini, kopi luwak dianggap haram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;Satu&lt;/span&gt;: On a side note ... Gw ngerti maksud lo, Tiga. Kabarnya yang keluar dari anus Luwak sebagai bahan baku kopi luwak itu tidak mengalami pengolahan di dalam perut luwak. Itu artinya yang masuk sama dengan yang keluar. Kalau yang masuk halal, maka yang keluar juga halal. Dengan ini, gw koreksi statement gw bahwa bahan baku kopi luwak berasal dari kotoran luwak. Gw rubah menjadi bagian dari kotoran luwak. Gw sendiri masih gak bisa meyakinkan diri gw bahwa kopi luwak itu halal, tapi gw bertekad untuk tidak menyebarkan pendapat ini kepada orang lain karena memiliki resiko mempertajam perbedaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: orange;"&gt;Tiga&lt;/span&gt;: tapi Satu, fatwanya udah keluar, “Kopi luwak hukumnya mutanajis. Artinya, kena najis, dinyatakan halal setelah melalui proses pencucian”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: orange;"&gt;Tiga&lt;/span&gt;: Kl buat gueeee.... Hukum Kopi Luwak itu Haram kl gue beli sendiri, Halal kl dibeliin :))&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: red;"&gt;Satu&lt;/span&gt;: Iya, Tiga. Gw terima kok kalau Kopi Luwak itu halal. Cuma merubah keyakinan kan gak butuh waktu sebentar. :) PS: Lebih haram lagi kalau sampai membelikan kopi luwak buat orang lain. :P&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Silakan memberikan komentar bagi yang berkenan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-1665245085556941472?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=qgkpXyB04Qc:JUlonugQxYc:4cEx4HpKnUU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=qgkpXyB04Qc:JUlonugQxYc:4cEx4HpKnUU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=qgkpXyB04Qc:JUlonugQxYc:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=qgkpXyB04Qc:JUlonugQxYc:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=qgkpXyB04Qc:JUlonugQxYc:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=qgkpXyB04Qc:JUlonugQxYc:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=qgkpXyB04Qc:JUlonugQxYc:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=qgkpXyB04Qc:JUlonugQxYc:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=qgkpXyB04Qc:JUlonugQxYc:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=qgkpXyB04Qc:JUlonugQxYc:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=qgkpXyB04Qc:JUlonugQxYc:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/qgkpXyB04Qc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/1665245085556941472/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2010/07/bicara-kopi-luwak.html#comment-form" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/1665245085556941472?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/1665245085556941472?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/qgkpXyB04Qc/bicara-kopi-luwak.html" title="Bicara Kopi Luwak" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2010/07/bicara-kopi-luwak.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkMBSHgyeCp7ImA9WxFaEkg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-8989998077755949584</id><published>2010-07-16T11:27:00.000+07:00</published><updated>2010-07-16T11:27:39.690+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-16T11:27:39.690+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Warna Islam" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Karakter Muslim" /><title>Menjadi Muslim, Bangga atau Malu?</title><content type="html">Islam adalah agama yang komprehensif. Ajarannya meliputi berbagai seluk kehidupan manusia. Mulai dari yang sederhana seperti cara makan sampai yang rumit seperti cara mengemban tanggung jawab sebagai seorang pemimpin, semuanya diajarkan dalam Islam; baik melalui Al-Quran maupun Sunnah Rasulullah Muhammad SAW.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Islam adalah agama dengan batasan yang fleksibel. Setiap Muslim diwajibkan melaksanakan shalat lima waktu, tapi keringanan diberikan bagi Muslim yang sakit, berhalangan, atau ada dalam perjalanan. Kewajiban untuk shalat tetap berjalan sampai seorang Muslim mati, tapi aturan pelaksanaannya masih manusiawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kebebasan bertanggung jawab. Setiap Muslim diperbolehkan melakukan hubungan sosial dengan manusia lain asalkan tetap menjaga aurat dan pandangan. Setiap Muslim diperbolehkan mengikuti bakat dan minatnya asalkan tidak berbenturan dengan ajaran-ajaran Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Islam seharusnya menjadi agama (atau lebih tepatnya pegangan hidup) yang dapat dibanggakan. Setiap Muslim seharusnya bangga menjadi orang-orang yang menjaga aurat, pandangan, syahwat, dan emosi mereka. Setiap Muslim seharusnya bangga menjadi orang-orang yang jujur dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi kenyataan di dunia ini sepertinya bertolak belakang. Islam bukan lagi agama yang membanggakan. Bahkan di mata orang-orang bukan beragama Islam, Islam justru terlihat sangat menakutkan. Islam di mata masyarakat pada umumnya lebih dekat kepada fundamentalis, ekstremis, dan teroris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sebegitu banyak nilai kebajikan (dan kebijakan) yang diajarkan dalam Islam, namun yang terlihat justru Islam yang buruk dan keras. Seolah-olah sudah terbentuk sebuah persepsi umum bahwa semakin dekat seseorang ke dalam Islam, semakin buruk dan keras sifat orang tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap Muslim yang menolak berjabatan tangan dengan lawan jenis bukan muhrim terlihat aneh. Setiap wanita Muslim yang memakai jilbab panjang terlihat janggal. Setiap pria Muslim dewasa yang tidak merasa nyaman menonton film mesum justru mengundang tawa. Setiap pria Muslim dewasa yang memanjangkan jenggotnya bahkan diolok-olok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada begitu banyak karakter dalam Islam yang akhirnya tidak dapat diterima oleh masyarakat; baik secara eksplisit maupun implisit. Semakin lama semakin sedikit orang yang berani menunjukan identitasnya sebagai seorang Muslim. Kadang karena khawatir tidak mendapatkan pekerjaan, kadang karena khawatir dikucilkan teman dan keluarga, atau berbagai alasan lainnya. Semakin banyak orang yang tidak bangga dengan identitasnya sebagai seorang Muslim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya semakin banyak orang-orang yang mengaku beragama Islam tanpa karakter seorang Muslim. Pergaulan bebas (bahkan seks bebas), mempertontonkan aurat, bergunjing, berjudi, mempercayai ramalan, dan berbagai hal lain dilakukan oleh mereka. Hal ini menjadi lebih ironis karena pada saat yang sama orang-orang ini tetap melaksanakan shalat lima waktu (atau mungkin sudah dikurangi menjadi dua atau tiga waktu saja?).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hilangnya rasa kebanggaan sebagai seorang Muslim tentunya didorong oleh banyak faktor. Masyarakat pada umumnya melihat ke arah barat sebagai suri teladan mereka. Negara-negara barat jelas-jelas dipandang lebih tinggi oleh masyarakat pada umumnya. Cara menghias diri, cara berpakaian, cara bekerja, cara bersenang-senang, dan berbagai pola hidup masyarakat barat diteladani; termasuk produk keluaran negara-negara barat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara meneladani negara barat itu mudah. Setiap orang dapat melihat gaya hidup orang-orang di negara barat itu melalui televisi. Stasiun televisi lokal saat ini tidak hanya menyiarkan acara-acara dari negara-negara lain, tapi juga mengadopsi atau bahkan membuat versi sendiri dari acara-acara itu. Sampai-sampai banyak pihak menganggap stasiun televisi negara ini tidak lagi memiliki kreatifitas yang memadai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Televisi memang memiliki andil yang besar dalam mencitrakan kriteria seorang Muslim yang baik di negara Indonesia ini. Pemberitaan mengenai kekerasan umat Islam ditambah minimnya ekspos terhadap kebaikan dalam Islam membuat orang berpikir berpuluh-puluh kali sebelum mendekat lebih jauh ke arah Islam. Yang lebih ironis lagi adalah kebanyakan orang memilih menjadikan sinetron religi (tapi tidak religius) sebagai tolok ukur karakter seorang Muslim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya semakin banyak orang Muslim yang tidak berbeda dengan orang yang bukan Muslim. Shalat wajib dilakukan kalau sempat (dan kalau ingat), bergaul tanpa melihat batas muhrim atau non-muhrim, makan-minum sambil berdiri (dan menggunakan tangan kiri), seks bebas menjadi masalah privasi (dan bukan masalah dosa), taruhan menjadi masalah sepele, takdir Allah SWT disandingkan dengan ramalan (oleh manusia, binatang, bahkan benda mati), dan daftar ini pun terus berlanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, saya rasa pantas bila timbul pertanyaan apakah menjadi Muslim itu sebuah kebanggaan atau sebaliknya justru memalukan. Memang tidak semua orang sungkan atau bahkan malu menjadi seorang Muslim yang komprehensif, tapi berapa banyak orang-orang yang bangga ini bila dibandingkan dengan orang-orang yang merasa sebaliknya? Semoga kita bisa tetap bangga menjadi Muslim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Versi PDF tulisan ini: &lt;a href="http://www.4shared.com/document/rI7ousaG/MenjadiMuslimBanggaAtauSungkan.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/document/rI7ousaG/MenjadiMuslimBanggaAtauSungkan.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-8989998077755949584?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=051d2iDFexk:5NjZIX-Cp2k:4cEx4HpKnUU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=051d2iDFexk:5NjZIX-Cp2k:4cEx4HpKnUU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=051d2iDFexk:5NjZIX-Cp2k:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=051d2iDFexk:5NjZIX-Cp2k:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=051d2iDFexk:5NjZIX-Cp2k:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=051d2iDFexk:5NjZIX-Cp2k:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=051d2iDFexk:5NjZIX-Cp2k:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=051d2iDFexk:5NjZIX-Cp2k:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=051d2iDFexk:5NjZIX-Cp2k:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=051d2iDFexk:5NjZIX-Cp2k:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=051d2iDFexk:5NjZIX-Cp2k:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/051d2iDFexk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/8989998077755949584/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2010/07/menjadi-muslim-bangga-atau-malu.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/8989998077755949584?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/8989998077755949584?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/051d2iDFexk/menjadi-muslim-bangga-atau-malu.html" title="Menjadi Muslim, Bangga atau Malu?" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2010/07/menjadi-muslim-bangga-atau-malu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEUNR3Y7cSp7ImA9WxFUGUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-3549237035570127015</id><published>2010-06-30T14:40:00.009+07:00</published><updated>2010-07-01T10:51:36.809+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-01T10:51:36.809+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Karakter Muslim" /><title>Perbedaan Kecil</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_xCjZO8ixQZk/TCryEjO-rfI/AAAAAAAADc0/nc2Wqyedop4/s1600/PerbedaanKecil.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://1.bp.blogspot.com/_xCjZO8ixQZk/TCryEjO-rfI/AAAAAAAADc0/nc2Wqyedop4/s400/PerbedaanKecil.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
Menyempatkan diri untuk shalat wajib di awal waktu&lt;br /&gt;
/Shalat wajib di awal waktu kalau sempat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Menyisakan uang untuk bersedekah &lt;br /&gt;
/Bersedekah bila ada uang sisa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Mengharuskan diri untuk hidup jujur &lt;br /&gt;
/Hidup jujur hanya bila diharuskan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Hidup untuk memberikan manfaat &lt;br /&gt;
/Hidup untuk mengeruk manfaat&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
--&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-3549237035570127015?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=riDJIX6G6RM:KSxa46etmF4:4cEx4HpKnUU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=riDJIX6G6RM:KSxa46etmF4:4cEx4HpKnUU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=riDJIX6G6RM:KSxa46etmF4:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=riDJIX6G6RM:KSxa46etmF4:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=riDJIX6G6RM:KSxa46etmF4:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=riDJIX6G6RM:KSxa46etmF4:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=riDJIX6G6RM:KSxa46etmF4:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=riDJIX6G6RM:KSxa46etmF4:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=riDJIX6G6RM:KSxa46etmF4:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=riDJIX6G6RM:KSxa46etmF4:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=riDJIX6G6RM:KSxa46etmF4:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/riDJIX6G6RM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/3549237035570127015/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2010/06/perbedaan-kecil.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/3549237035570127015?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/3549237035570127015?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/riDJIX6G6RM/perbedaan-kecil.html" title="Perbedaan Kecil" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_xCjZO8ixQZk/TCryEjO-rfI/AAAAAAAADc0/nc2Wqyedop4/s72-c/PerbedaanKecil.png" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2010/06/perbedaan-kecil.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkUGSHY8cCp7ImA9WxFWF0Q.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-4823470454543455531</id><published>2010-06-06T09:07:00.001+07:00</published><updated>2010-06-06T09:10:29.878+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-06-06T09:10:29.878+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Palestina" /><title>Akankah Palestina Merdeka?</title><content type="html">Apakah rakyat Palestina layak mendapatkan kemerdekaan? Ya. Kenapa rakyat Palestina layak mendapatkan kemerdekaan? Karena kemerdekaan adalah hak asasi setiap manusia yang hidup di muka bumi ini tanpa memandang ras, agama, atau embel-embel lainnya. Kapan Palestina akan merdeka? Bagaimana Palestina akan merdeka? Dua pertanyaan terakhir tentunya sangat sulit untuk dijawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai tulisan ini saya buat, penjajahan yang dilakukan bangsa Israel terhadap bangsa Palestina masih belum berhenti. Bagi sebagian orang, bentuk penjajahan yang dilakukan Israel mungkin tidak selalu dapat dilihat secara kasat mata. Saat terjadi agresi militer oleh Israel terhadap Palestina, saat terjadi insiden berdarah yang mengorbankan rakyat Palestina, saat itulah penjajahan yang dilakukan Israel dapat dengan mudah dicerna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, bentuk penjajahan yang frontal seperti itu hanya dilakukan sesekali waktu. Kita perlu melihat dengan mata yang lebih jeli untuk menyadari adanya penjajahan yang bersifat berkesinambungan di negara Palestina. Saat ini Palestina memang sudah memiliki presiden, sudah menyelenggarakan pemilihan umum, dan sudah diakui batas-batas negaranya oleh dunia internasional. Namun semua itu bukan berarti bahwa kemerdekaan sudah terwujud di negara Palestina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi merdeka berarti menjadi orang yang memiliki kebebasan untuk hidup dan berkembang. Rakyat Palestina dapat dikatakan tidak memiliki kebebasan seperti ini. Sumber daya yang dibutuhkan untuk hidup dan berkembang sangat sulit didapat. Bantuan kemanusiaan yang datang dari negara lain diblokade oleh Israel. Negara Mesir (negara tetangga yang bersebelahan dengan Jalur Gaza) memiliki kebijakan senada dengan Israel. Apakah dengan kondisi seperti ini Palestina dapat disebut merdeka?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Israel menjaga sedemikian rupa agar Palestina tidak dapat berkembang. Rakyat Palestina dibiarkan hidup apa adanya dan melakukan berbagai upaya untuk mencegah datangnya bantuan dari luar negeri ke dalam Palestina. Rakyat Palestina dapat diibaratkan sebagai budak-budak dari negara Israel yang tidak memiliki kebebasan untuk melakukan apa pun kecuali atas ijin majikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang sulit bagi kita untuk memberikan simpati kepada rakyat Palestina. Apalagi negeri kita sendiri dapat dikatakan masih semrawut. Masih banyak rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan dan diperlakukan secara tidak adil. Bagaimana mau memikirkan kondisi orang lain kalau kondisi kita sendiri masih memprihatinkan, begitu pikir kita. Walaupun begitu, saya yakin masih banyak rakyat Indonesia yang hidup berkecukupan serta mampu membagi pikiran (dan hartanya) untuk Indonesia dan juga Palestina. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada cara mudah untuk membuka hati kepada Palestina. Seandainya negara yang dijanjikan kepada bangsa Israel (yang dipercaya sebagai pemberian dari Tuhan mereka) adalah Indonesia, saya yakin rakyat Indonesia dapat membayangkan pedihnya penjajahan yang akan dilakukan Israel. Bangunan-bangunan hancur, orang-orang terbunuh, anak-anak kehilangan orang tuanya, dan masih banyak lagi kepedihan yang ditimbulkan akibat penjajahan. Mudah untuk dibayangkan bukan? Rakyat Indonesia yang pernah hidup dalam masa pendudukan Belanda dan Jepang akan lebih mudah lagi membayangkan pedihnya penjajahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rakyat Palestina tentunya membutuhkan simpati kita, tapi yang benar-benar dibutuhkan mereka adalah bentuk nyata dari simpati kita. Protes dalam bentuk apa pun terhadap kekejaman Israel, donasi uang atau dalam bentuk lain, atau kesediaan untuk menjadi relawan adalah contoh bentuk nyata simpati kita. Mereka berusaha dengan segenap usaha mereka untuk memperbaiki diri, tumbuh, menjadi kuat, dan pada akhirnya menjadi mandiri. Untuk saat ini, mereka sangat membutuhkan bantuan kita untuk melakukan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Simpati dapat kita wujudkan dalam berbagai bentuk. Kita dapat ikut melakukan boikot terhadap produk-produk dari perusahaan-perusahaan yang mendukung Israel. Kita dapat menyisihkan penghasilan kita untuk disumbangkan ke Palestina lewat lembaga kemanusiaan yang kredibel. Kita dapat menyuarakan protes kita terhadap Israel lewat berbagai media. Ada banyak cara untuk mewujudkan simpati kita kepada rakyat Palestina. Dengan bantuan yang berkesinambungan, mungkin Palestina bisa benar-benar merdeka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Versi PDF tulisan ini: &lt;a href="http://www.4shared.com/document/zAWcUglN/AkankahPalestinaMerdeka.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/document/zAWcUglN/AkankahPalestinaMerdeka.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-4823470454543455531?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=3L60v0tDpus:98mwhFpd5ls:4cEx4HpKnUU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=3L60v0tDpus:98mwhFpd5ls:4cEx4HpKnUU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=3L60v0tDpus:98mwhFpd5ls:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=3L60v0tDpus:98mwhFpd5ls:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=3L60v0tDpus:98mwhFpd5ls:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=3L60v0tDpus:98mwhFpd5ls:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=3L60v0tDpus:98mwhFpd5ls:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=3L60v0tDpus:98mwhFpd5ls:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=3L60v0tDpus:98mwhFpd5ls:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=3L60v0tDpus:98mwhFpd5ls:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=3L60v0tDpus:98mwhFpd5ls:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/3L60v0tDpus" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/4823470454543455531/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2010/06/akankah-palestina-merdeka.html#comment-form" title="3 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/4823470454543455531?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/4823470454543455531?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/3L60v0tDpus/akankah-palestina-merdeka.html" title="Akankah Palestina Merdeka?" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2010/06/akankah-palestina-merdeka.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUcFRnw-fyp7ImA9WxFSF0k.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-3391490158154025140</id><published>2010-04-20T13:56:00.001+07:00</published><updated>2010-04-20T14:03:37.257+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-20T14:03:37.257+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Karakter Muslim" /><title>Hidup Dalam Kerangka Manfaat</title><content type="html">Manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat. Prinsip ini tercantum dalam hadits Rasulullah Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain,” yang diriwayatkan oleh Bukhari. Prinsip hidup ini merupakan prinsip dasar yang perlu kita terapkan dalam hidup kita untuk mencapai kemuliaan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan hidup bermanfaat, kemuliaan akan dengan mudah dicapai. Selain ditegaskan oleh Rasulullah melalui hadits di atas, hal ini pun dapat dilihat secara jelas dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang memberi sudah jelas lebih mulia dibandingkan orang yang menerima. Apalagi kalau yang diberikan itu adalah manfaat, maka derajat kemuliaan yang didapatkan tentu akan lebih tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan memberikan manfaat, hidup pun tidak akan menjadi sia-sia. Seseorang yang mengisi hidupnya dengan memberikan manfaat sama saja dengan memberikan nilai pada diri dan hidupnya. Untuk setiap manfaat yang diberikan kepada orang lain akan mendatangkan sejumlah nilai pada diri dan hidup seseorang. Semakin banyak manfaat yang diberikan, semakin bernilai diri dan hidup seseorang. Nilai pada diri dan hidup seseorang itu akan datang terlepas kepada siapa atau ke mana manfaat yang diberikan. Oleh karena itu, hidup orang yang senantiasa memberikan manfaat itu tidak akan sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan memiliki hidup yang bernilai, mencapai kebahagiaan akan menjadi lebih mudah. Seseorang akan lebih mudah puas dengan hidupnya walau banyak tujuan hidupnya yang tidak tercapai. Walau tujuan hidup tidak tercapai, seseorang akan lebih mudah menerima kegagalannya. Hal ini disebabkan kegagalan itu jauh dari kesia-siaan karena dalam prosesnya, orang itu senantiasa menjadikan hidupnya bernilai dengan memberikan manfaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaminan kebahagiaan di akhirat juga akan lebih mudah tercapai karena dengan memberikan manfaat sama saja dengan mengumpulkan amal kebaikan untuk diri sendiri. Selain memberi nilai bagi kehidupan di dunia, memberikan manfaat kepada orang lain juga menambah berat timbangan kebaikan. Kebaikan yang diberikan kepada orang lain lewat manfaat itu pada akhirnya akan membawa kebaikan bagi diri orang yang memberikan manfaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya banyak orang yang lupa akan hal ini dan memilih hidup mengejar tujuan-tujuan yang fana. Bola kehidupannya digulirkan ke arah tujuan-tujuan tersebut. Kadang tujuan hidupnya tercapai, kadang meleset. Keberhasilan bernilai sebatas pencapaian tujuan tanpa terlalu melihat prosesnya. Kegagalan menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan karena proses yang dilalui untuk menggapai tujuan itu dianggap sia-sia. Kebahagiaan di dunia menjadi lebih sulit dicapai. Jaminan kebahagiaan di akhirat pun bergerak menjauh dari harapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia memang punya kecenderungan untuk memikirkan dirinya sendiri. Semakin besar kecenderungan ini, semakin rendah tingkat kepedulian terhadap lingkungan dan orang lain di sekitarnya. Rendahnya tingkat kepedulian ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap besarnya manfaat yang akan diberikan oleh seseorang. Orang dengan kecenderungan mementingkan diri sendiri yang tinggi tidak akan rela menghabiskan waktunya demi orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal kalau kita kembalikan kepada prinsip memberikan manfaat di atas, semakin banyak manfaat yang kita berikan berarti semakin banyak nilai dan amal kebaikan yang kita kumpulkan. Pada dasarnya menjadi orang yang senantiasa memberikan manfaat sama saja dengan orang yang mengumpulkan banyak nilai dan kebaikan untuk dirinya sendiri. Kalau dilihat dari perspektif ini, orang yang memberikan manfaat pun mementingkan dirinya sendiri. Hanya saja cara mementingkan diri sendirinya berbeda dengan orang yang tidak mau peduli dengan sekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi manfaat sebagai tujuan hidup adalah cara mudah untuk menemukan nilai yang paling jitu karena manfaat sekecil apa pun pasti akan membawa reaksi baik pada hidup kita. Reaksi baik yang dimaksud tentunya tidak berhenti pada kehidupan yang fana ini, tapi juga terus berlanjut hingga mencapai kehidupan yang abadi di akhirat kelak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Versi PDF tulisan ini: &lt;a href="http://www.4shared.com/document/I2wGDnxt/HidupDalamKerangkaManfaat.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/document/I2wGDnxt/HidupDalamKerangkaManfaat.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-3391490158154025140?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=-178gtx1_DA:cVfjhnVn-w8:4cEx4HpKnUU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=-178gtx1_DA:cVfjhnVn-w8:4cEx4HpKnUU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=-178gtx1_DA:cVfjhnVn-w8:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=-178gtx1_DA:cVfjhnVn-w8:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=-178gtx1_DA:cVfjhnVn-w8:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=-178gtx1_DA:cVfjhnVn-w8:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=-178gtx1_DA:cVfjhnVn-w8:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=-178gtx1_DA:cVfjhnVn-w8:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=-178gtx1_DA:cVfjhnVn-w8:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=-178gtx1_DA:cVfjhnVn-w8:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=-178gtx1_DA:cVfjhnVn-w8:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/-178gtx1_DA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/3391490158154025140/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2010/04/hidup-dalam-kerangka-manfaat.html#comment-form" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/3391490158154025140?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/3391490158154025140?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/-178gtx1_DA/hidup-dalam-kerangka-manfaat.html" title="Hidup Dalam Kerangka Manfaat" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2010/04/hidup-dalam-kerangka-manfaat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUQDQHY9fip7ImA9WxFTF0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-1184575108840899464</id><published>2010-02-09T15:13:00.002+07:00</published><updated>2010-04-09T10:22:51.866+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-09T10:22:51.866+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Taubat" /><title>Dosa Kecil yang Menjadi Besar</title><content type="html">Setahu saya dalam Islam dikenal istilah dosa kecil dan dosa besar. Dosa kecil adalah dosa yang kadar hukumannya rendah sementara dosa besar adalah dosa yang kadar hukumannya tinggi. Definisi ini sebenarnya &lt;i&gt;agak&lt;/i&gt; asal-asalan karena saya sendiri lebih memilih untuk tidak membedakan kecil atau besarnya dosa. Besar kecilnya dosa itu sebenarnya tidak terlalu penting karena kadang dosa besar bisa menjadi kecil atau sebaliknya dosa kecil pun menjadi besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa besar bisa menjadi kecil tentu karena sifat Allah yang Maha Pengampun. Sebanyak apa pun dosa yang kita lakukan (misalnya sebanyak air di lautan), semua itu tidak akan ada artinya bila Allah bersedia mengampuni kita. Hal ini berlaku umum kecuali untuk syirik (menyekutukan Allah). Syirik dikatakan sebagai dosa yang tidak akan diampuni Allah. Alhamdulillah Ustadz Sigit Prawono mampu memberikan penerangan yang baik lewat kolom "Ustadz Menjawab" di situs eramuslim: &lt;a href="http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/dosa-syirik-dosa-yang-tidak-diampun.htm"&gt;http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/dosa-syirik-dosa-yang-tidak-diampun.htm&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kolomnya dikatakan bahwa Allah akan senantiasa mengampuni dosa apapun yang dilakukan setiap manusia yang berniat untuk bertobat sepenuh hatinya. Syirik pun termasuk dosa yang dapat diampuni karena rahmat Allah itu luar biasa besarnya. Kalau kita mau memahami besarnya kasih dan sayang Allah kepada hamba-Nya, sulit dibayangkan kalau Allah menolak untuk mengampuni dosa orang yang bertobat sepenuh hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau memang begitu adanya, bagaimana mungkin ada dosa kecil apa yang bisa menjadi besar? Saya akan coba ambil contoh. Misalkan A tertangkap basah mencuri. Dia dipenjara untuk beberapa waktu. Setelah dibebaskan, A mencuri lagi dan tentu saja tertangkap lagi. Dia dipenjara lagi dan pada akhirnya dibebaskan lagi. Siklus itu terus berputar. Setiap kali dibebaskan, A kembali mencuri, tertangkap, dan dipenjara, dibebaskan, dan kembali mencuri lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau saya menjadi polisi yang menangkap A, lama-lama akan tumbuh rasa &lt;i&gt;geregetan&lt;/i&gt; yang tidak tertahankan. Pertama kali A mencuri mungkin dilakukan karena terpaksa, kedua kali mungkin karena masih terpaksa, ketiga kali karena merasa bisa lolos, keempat kali karena kebiasaan, kelima kali dan seterusnya karena sudah tidak lagi acuh dengan aturan dan aparat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa pun bisa berkembang seperti itu. Pertama kali Anda berbohong mungkin karena terpaksa untuk menutupi kesalahan. Kedua kali Anda berbohong lagi-lagi untuk menutupi kesalahan. Ketiga kali Anda berbohong karena sudah biasa. Lama-kelamaan Anda tidak lagi merasa salah karena berbohong. Pada titik ini, Anda sudah melecehkan kekuasaan dari Allah yang Maha Tahu. Kebohongan Anda berkembang dari sebuah keterpaksaan menjadi pembangkangan terhadap Allah. Ini yang saya maksud dengan berkembangnya dosa kecil menjadi dosa besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pribadi pun pernah "membangkang" terhadap perintah atau larangan Allah. Jurus-jurus yang dilancarkan syaithan senantiasa mampu memanipulasi hati dan pikiran saya sehingga saya sering menganggap enteng dosa-dosa yang saya lakukan. Hati dan pikiran saya seringkali dimanipulasi sehingga sering membuat berbagai macam alasan untuk membenarkan perbuatan dosa tersebut. Saya yakin saya tidak sendirian dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa kecil bisa terus berkembang menjadi besar saat kita tidak lagi peduli dengan perbuatan dosa kita. Bersikap &lt;i&gt;cuek&lt;/i&gt; dengan perbuatan dosa sama saja dengan mengelabui Allah SWT. Apalagi Allah itu memiliki sifat Maha Tahu. Merasa mampu mengelabui Allah adalah kebohongan terbesar yang sering dimanfaatkan syaithan untuk memperdaya manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunci untuk mencegah terjadinya dosa besar adalah dengan tidak meremehkan satu pun perbuatan dosa yang kita lakukan. Sekecil apa pun perbuatan dosa yang kita lakukan, sudah selayaknya kita sepenuh hati memohon ampunan kepada Allah SWT. Dengan begitu kita dapat menjaga diri kita dari meremehkan perintah dan larangan Allah SWT. Pada akhirnya kita pun dapat meremehkan keberadaan Allah yang senantiasa mengetahui semua perbuatan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Referensi:&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sigit Pranowo, Lc. &lt;i&gt;Taubat dari Dosa Syirik&lt;/i&gt;. &lt;a href="http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/dosa-syirik-dosa-yang-tidak-diampun.htm"&gt;http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/dosa-syirik-dosa-yang-tidak-diampun.htm&lt;/a&gt;; diakses tanggal 5 Februari 2010.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
--&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Versi PDF tulisan ini: &lt;a href="http://www.4shared.com/document/yHElrRQW/DosaKecilyangMenjadiBesar.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/document/yHElrRQW/DosaKecilyangMenjadiBesar.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-1184575108840899464?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=QHDtuH6G0kI:EGuYWm8DlN8:4cEx4HpKnUU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=QHDtuH6G0kI:EGuYWm8DlN8:4cEx4HpKnUU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=QHDtuH6G0kI:EGuYWm8DlN8:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=QHDtuH6G0kI:EGuYWm8DlN8:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=QHDtuH6G0kI:EGuYWm8DlN8:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=QHDtuH6G0kI:EGuYWm8DlN8:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=QHDtuH6G0kI:EGuYWm8DlN8:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=QHDtuH6G0kI:EGuYWm8DlN8:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=QHDtuH6G0kI:EGuYWm8DlN8:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=QHDtuH6G0kI:EGuYWm8DlN8:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=QHDtuH6G0kI:EGuYWm8DlN8:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/QHDtuH6G0kI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/1184575108840899464/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2010/02/dosa-kecil-yang-menjadi-besar.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/1184575108840899464?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/1184575108840899464?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/QHDtuH6G0kI/dosa-kecil-yang-menjadi-besar.html" title="Dosa Kecil yang Menjadi Besar" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2010/02/dosa-kecil-yang-menjadi-besar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEIBRXk7fCp7ImA9WxFTF0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-2262653362503555080</id><published>2009-11-15T06:10:00.003+07:00</published><updated>2010-04-09T10:09:14.704+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-04-09T10:09:14.704+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Rezeki" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Zakat" /><title>Memahami Zakat Profesi</title><content type="html">Sampai saat ini masih banyak perbedaan pendapat mengenai zakat profesi. Tidak hanya di kalangan awam, perbedaan pendapat ini juga terjadi di kalangan para ulama. Saya pribadi mengalami kesulitan memahami bagaimana hukum zakat profesi yang benar. Berhubung zakat adalah masalah ibadah, saya senantiasa berhati-hati dalam melangkah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehati-hatian saya dalam melangkah sempat membawa saya pada titik ekstrim. Saya selalu menyisihkan 2.5% dari setiap rupiah yang saya terima untuk dizakatkan. Uang zakat ini saya kumpulkan di tempat terpisah untuk disalurkan bila waktu penyalurannya sudah tiba. Umumnya saya menunggu satu tahun atau pada kondisi-kondisi khusus seperti bantuan untuk korban bencana alam atau korban perang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini saya coba meluruskan kembali pemahaman saya mengenai Zakat Profesi. Hasil berselancar di Internet membawa saya pada kesimpulan bahwa perbedaan pendapat mengenai Zakat Profesi masih ada. Akhirnya saya harus memilih pendapat yang memang sesuai dengan keyakinan saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan saya setelah membaca berbagai referensi di Internet adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kadar (tarif): 2,5% dari penghasilan bersih.&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan penghasilan bersih adalah penghasilan kotor (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;gross&lt;/span&gt;) dikurangi pengeluaran-pengeluaran pokok.&lt;br /&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Nisab (penghasilan bersih tidak kena zakat): kurang dari harga 85 gram emas.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Haul (jatuh tempo): satu tahun Hijriyah sejak pertama kali mendapatkan penghasilan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;Dari tiga hal yang saya tegaskan di atas, perhatian lebih perlu ditempatkan untuk masalah "penghasilan bersih". Dalam konteks zakat, penghasilan bersih adalah penghasilan kotor dikurangi pengeluaran-pengeluaran pokok. Contoh pengeluaran pokok ini antara lain biaya hidup seseorang termasuk tanggungan-tanggungannya, pembayaran cicilan tempat tinggal, atau pembayaran hutang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Elemen-elemen pengeluaran pokok itu tidak terbatas pada contoh-contoh di atas. Penentuan besaran pengeluaran untuk masing-masing elemen pun diserahkan pada orang yang bersangkutan. Yang perlu diperhatikan adalah setiap orang harus hati-hati menentukan elemen dan besaran pengeluaran pokok tersebut. Jangan sampai kebutuhan yang seharusnya tidak pokok pun dijadikan kebutuhan pokok. Bagi mereka yang ingin berhati-hati, saya sarankan zakat Anda dihitung dari penghasilan kotor saja ketimbang dari penghasilan bersih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sendiri memiliki kecenderungan untuk menggunakan penghasilan kotor sebagai dasar penghitungan zakat. Kalaupun ada pengeluaran pokok, biasanya saya hanya mencantumkan hutang atau cicilan. Seandainya tidak ada hutang atau cicilan, jumlah zakat yang saya sisihkan adalah 2.5% dari penghasilan kotor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalkan saya menerima gaji sebesar Rp. 4.000.000 per bulan (bebas pajak). Dalam waktu 12 bulan Masehi saya akan menerima gaji sebesar Rp. 48.000.000. Alhamdulillah pada contoh ini saya tidak memiliki hutang atau cicilan. Kalau harga 85 gram emas adalah Rp. 30.000.000, maka saya wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5% x Rp. 48.000.000. Waktu pembayaran adalah setiap satu tahun Hijriyah. Untuk memudahkan diri saya sendiri, saya memilih bulan Ramadhan sebagai waktu mengeluarkan zakat setiap tahun Hijriyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Referensi:&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dr. Yusuf Qardhawi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hukum-hukum Zakat&lt;/span&gt;. &lt;a href="http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Zakat/index.html"&gt;http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Zakat/index.html&lt;/a&gt;; diakses tanggal 14 November 2009.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;--&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Versi PDF tulisan ini: &lt;a href="http://www.4shared.com/document/Sx4Woc0F/MemahamiZakatProfesi.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/document/Sx4Woc0F/MemahamiZakatProfesi.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-2262653362503555080?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=GmyGewI6RVc:atnZCu-c1gU:4cEx4HpKnUU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=GmyGewI6RVc:atnZCu-c1gU:4cEx4HpKnUU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=GmyGewI6RVc:atnZCu-c1gU:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=GmyGewI6RVc:atnZCu-c1gU:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=GmyGewI6RVc:atnZCu-c1gU:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=GmyGewI6RVc:atnZCu-c1gU:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=GmyGewI6RVc:atnZCu-c1gU:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=GmyGewI6RVc:atnZCu-c1gU:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=GmyGewI6RVc:atnZCu-c1gU:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=GmyGewI6RVc:atnZCu-c1gU:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=GmyGewI6RVc:atnZCu-c1gU:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/GmyGewI6RVc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/2262653362503555080/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2009/11/memahami-zakat-profesi.html#comment-form" title="8 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/2262653362503555080?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/2262653362503555080?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/GmyGewI6RVc/memahami-zakat-profesi.html" title="Memahami Zakat Profesi" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>8</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2009/11/memahami-zakat-profesi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEEBRH08eip7ImA9WxNQF0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-3212855532563573028</id><published>2009-09-17T14:19:00.006+07:00</published><updated>2009-09-24T14:17:35.372+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-09-24T14:17:35.372+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Warna Islam" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Karakter Muslim" /><title>101 Alasan Memilih Islam</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_xCjZO8ixQZk/SrH3ILd430I/AAAAAAAACok/7td-ABK4AdA/s1600-h/Allah01.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 192px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_xCjZO8ixQZk/SrH3ILd430I/AAAAAAAACok/7td-ABK4AdA/s200/Allah01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382354749573619522" /&gt;&lt;/a&gt;Islam adalah pedoman hidup dan bukan sekedar agama. Islam tidak hanya berurusan dengan ibadah ritual, tapi juga terkait erat dengan kehidupan sosial. Ajarannya yang menyeluruh ini yang menegaskan bahwa Islam bukan sekedar agama yang terpisah dari urusan duniawi. Bila seseorang mengikuti ajaran, maka orang itu memiliki kesempatan untuk mempraktekan apa yang ia pelajari di dalam Masjid dan di tengah-tengah masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam mengajarkan banyak hal tentang aturan dan tata cara beribadah kepada Allah SWT. Hal ini menjadi penting karena ibadah pada dasarnya ibadah bersifat haram kecuali memang benar-benar diperintahkan oleh Allah dan menjadi sunnah Rasullullah SAW. Islam juga mengajarkan banyak hal tentang hidup bermasyarakat karena pada dasarnya segala sesuatunya dalam hidup bermasyarakat adalah halal kecuali yang dilarang oleh Allah SWT maupun dilarang oleh Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sangat disayangkan bila pedoman hidup itu diikuti tanpa keyakinan yang kuat akan kebenarannya. Atas alasan ini saya tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa setiap Muslim (orang yang memeluk Islam) perlu menegaskan kembali keyakinan mereka akan kebenaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penegasan kembali itu dapat dimulai dengan pertanyaan "Kenapa saya memilih Islam?" Untuk selanjutnya kita sendiri harus menjawab pertanyaan ini sesuai dengan keyakinan kita apa adanya. Sebagian orang mungkin menjawab pertanyaan itu dengan "Karena kakek, nenek, ayah, ibu, om, tante, abang, kakak, dan semua keluarga yang saya kenal memeluk Islam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian lain mungkin telah mendapatkan kesempatan untuk melihat mukjizat yang membuat mereka yakin bahwa Allah itu ada. Sebagian lain mungkin menegaskan bahwa pilihan mereka pada Islam adalah karena karunia Allah itu sendiri. Sebagian lain mungkin akan memberikan alasan yang jauh berbeda dibanding contoh-contoh tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian lain mungkin lebih memilih alasan-alasan yang bersifat ilmiah, yaitu alasan-alasan yang dapat didukung dengan logika berpikir manusia. Alasan-alasan ini mungkin terkait dengan keajaiban-keajaiban yang ditemukan dalam diri manusia itu sendiri atau lewat fenomena-fenomena yang timbul di alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variasi dari masing-masing alasan itu pun bisa jadi tidak sedikit. Saya yakin justru terlalu banyak bila harus dibeberkan satu per satu dalam tulisan. Yang perlu diperhatikan sebenarnya bukan bentuk lisan (atau tulisan) dari alasan-alasan itu. Yang perlu diperhatikan adalah sekuat apa fondasi keyakinan yang dibentuk oleh masing-masing alasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah itu karena nenek moyang, karena alasan ilmiah, karena mukjizat, karena petunjuk dan karunia Allah, tetap saja yang paling penting adalah kekuatan fondasi keimanan yang dibentuk alasan tersebut. Menganggap alasan yang satu lebih lemah ketimbang alasan yang lain pun sebenarnya tidak layak untuk dilakukan karena kekuatan sebuah alasan terkait erat dengan kondisi orang yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai usaha kita untuk menegaskan keimanan ini malah berbalik membuat kita kehilangan pijakan. Setiap manusia memiliki karakteristik kemampuan berpikir masing-masing. Oleh karena itu jangan sampai kita disibukan dengan memikirkan (atau bahkan membuat-buat) alasan-alasan tanpa memikirkan kekuatan fondasi keimanan kita. Fokus kita dalam mempertanyakan keyakinan kita tidak lain untuk memperkuat keyakinan kita itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan terkait:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://islam-awam.blogspot.com/2009/09/kenapa-anda-memilih-islam.html"&gt;Kenapa Anda Memilih Islam?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi PDF tulisan ini: &lt;a href="http://www.4shared.com/file/135011822/48de80d4/101AlasanMemilihIslam.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/file/135011822/48de80d4/101AlasanMemilihIslam.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-3212855532563573028?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=B9nqCuw-rgs:xfdnt2oatXQ:4cEx4HpKnUU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=B9nqCuw-rgs:xfdnt2oatXQ:4cEx4HpKnUU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=B9nqCuw-rgs:xfdnt2oatXQ:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=B9nqCuw-rgs:xfdnt2oatXQ:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=B9nqCuw-rgs:xfdnt2oatXQ:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=B9nqCuw-rgs:xfdnt2oatXQ:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=B9nqCuw-rgs:xfdnt2oatXQ:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=B9nqCuw-rgs:xfdnt2oatXQ:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=B9nqCuw-rgs:xfdnt2oatXQ:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=B9nqCuw-rgs:xfdnt2oatXQ:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=B9nqCuw-rgs:xfdnt2oatXQ:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/B9nqCuw-rgs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/3212855532563573028/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2009/09/101-alasan-memilih-islam.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/3212855532563573028?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/3212855532563573028?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/B9nqCuw-rgs/101-alasan-memilih-islam.html" title="101 Alasan Memilih Islam" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_xCjZO8ixQZk/SrH3ILd430I/AAAAAAAACok/7td-ABK4AdA/s72-c/Allah01.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2009/09/101-alasan-memilih-islam.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkAHR3g8fip7ImA9WxNQF0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-5366081714137033857</id><published>2009-09-10T13:23:00.007+07:00</published><updated>2009-09-24T13:45:36.676+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-09-24T13:45:36.676+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Warna Islam" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Karakter Muslim" /><title>Kenapa Anda Memilih Islam?</title><content type="html">Yakinkah kamu akan kebenaran Islam? Apakah kamu yakin bahwa Islam itu agama yang paling benar? Kalau Islam itu memang yang PALING benar, apakah itu artinya agama selain Islam bisa jadi benar, cukup benar, agak benar, atau memiliki derajat kebenaran tersendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kita mempertanyakan Islam yang bertahun-tahun kita anut? Pernahkah kita mempertanyakan kebenaran Allah sebagai Sang Pencipta? Pernahkah kita mempertanyakan kebenaran isi Al Quran dan Al Hadits? Pernahkah kita mempertanyakan keberadaan kita di dunia ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa tahun kita sudah hidup di dunia ini, seberapa sering kita mempertanyakan kembali segala sesuatu yang kita yakini? Hidup kita sudah diisi oleh rutinitas, kebiasaan, kebudayaan, dan berbagai embel-embel lainnya. Apakah semua itu memang perlu kita lakukan? Yakinkah kita bahwa hidup kita sudah diisi oleh hal-hal yang MEMANG kita yakini sebagai kebenaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita kembali kepada konteks keimanan. Setiap orang yang beragama tentu mempercayai bahwa agama yang dia peluk adalah agama yang benar -atau paling tidak yang PALING benar. Sayangnya kerap kali fondasi keimanan itu tidak kuat sehingga orang yang beragama itu tidak lagi mengikuti agama yang dia yakini. Kadang orang tersebut dengan mudahnya berpindah agama. Paling tidak tanpa fondasi yang kuat, keimanan seseorang akan mudah goncang akibat pengaruh eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa fondasi keimanan Anda? Apa yang menjadi dasar Anda memilih Islam? Apa yang meyakinkan Anda bahwa Allah adalah Yang Maha Kuasa? Apa yang meyakinkan Anda bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah suri teladan kita? Pernahkah pertanyaan-pertanyaan seperti ini timbul dalam pikiran dan hati Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar memang kalau fondasi keimanan kita tidak jauh dari alasan keturunan dan tradisi. Tidak sedikit orang yang sudah hidup puluhan tahun hanya mengacu pada keturunan atau tradisi semata. Memang sebenarnya masalah ini adalah bagian dari masalah besar pola pendidikan kita, tapi bukan berarti kita harus terus seperti itu sampai kita mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam memang menuntut kita untuk patuh, tapi kepatuhan itu sepantasnya dikuatkan oleh pemahaman terhadap hal yang harus kita patuhi. Kepatuhan tanpa pemahaman yang cukup (umumnya disebut dengan istilah Taklid Buta) akan berujung pada hasil yang buruk. Taklid buta akan membuat seseorang menjadi keras kepala karena sulit membuka pikirannya untuk menerima pendapat orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taklid buta mungkin terlihat sebagai manifestasi dari tingkat kepatuhan yang kuat. Akan tetapi bagian dalam dari kepatuhan yang kuat itu sebenarnya rapuh. Bila dihadapkan dengan kondisi atau argumen yang tepat mengenai bagian rapuh itu, taklid buta menjadi mudah untuk ditumbangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan kita untuk memahami Islam, memahami perintah Allah dalam Al Quran, dan memahami ajaran Rasulullah lewat Hadits akan memperkokoh keimanan kita. Kita memiliki kemampuan untuk mementalkan pertanyaan-pertanyaan yang menggoncang dan pada akhirnya menghancurkan keimanan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila datang lagi pertanyaan tentang alasan Anda memilih Islam, Anda tidak lagi ragu dengan jawaban Anda. Keyakinan itu sudah mantap di hati karena Anda tahu dan Anda PAHAM bahwa apa yang Anda yakini itu adalah yang benar dan bukan sekedar yang PALING benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan terkait:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://islam-awam.blogspot.com/2008/09/apa-itu-islam.html"&gt;Apa itu Islam?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://islam-awam.blogspot.com/2008/09/lebih-dari-sekedar-shalat-puasa-dan.html"&gt;Lebih dari Sekedar Shalat, Puasa, dan Zakat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://islam-awam.blogspot.com/2008/10/islam-keturunan.html"&gt;Islam Keturunan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://islam-awam.blogspot.com/2008/10/tradisi-dalam-islam.html"&gt;Toleransi dalam Islam&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://islam-awam.blogspot.com/2008/10/toleransi-untuk-tradisi.html"&gt;Toleransi untuk Tradisi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://islam-awam.blogspot.com/2008/11/toleransi-bukan-aliansi.html"&gt;Toleransi, Bukan Aliansi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi PDF tulisan ini: &lt;a href="http://www.4shared.com/file/135008625/9c4c5e47/KenapaAndaMemilihIslam.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/file/135008625/9c4c5e47/KenapaAndaMemilihIslam.html&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-5366081714137033857?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=vnUtWmH1vWQ:up6PqHINKb0:4cEx4HpKnUU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=vnUtWmH1vWQ:up6PqHINKb0:4cEx4HpKnUU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=vnUtWmH1vWQ:up6PqHINKb0:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=vnUtWmH1vWQ:up6PqHINKb0:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=vnUtWmH1vWQ:up6PqHINKb0:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=vnUtWmH1vWQ:up6PqHINKb0:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=vnUtWmH1vWQ:up6PqHINKb0:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=vnUtWmH1vWQ:up6PqHINKb0:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=vnUtWmH1vWQ:up6PqHINKb0:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=vnUtWmH1vWQ:up6PqHINKb0:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=vnUtWmH1vWQ:up6PqHINKb0:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/vnUtWmH1vWQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/5366081714137033857/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2009/09/kenapa-anda-memilih-islam.html#comment-form" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/5366081714137033857?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/5366081714137033857?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/vnUtWmH1vWQ/kenapa-anda-memilih-islam.html" title="Kenapa Anda Memilih Islam?" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2009/09/kenapa-anda-memilih-islam.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0IBQ3w_fip7ImA9WxJXGU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-4755469113996660682</id><published>2009-06-12T14:19:00.003+07:00</published><updated>2009-06-13T20:59:12.246+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-06-13T20:59:12.246+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Karakter Muslim" /><title>Penjajahan Terselubung</title><content type="html">Penjajahan terselubung dapat kita lihat dengan jelas dalam kehidupan masyarakat sekitar kita. Kenapa saya mengatakan penjajahan terselubung? Karena tidak sedikit anggota masyarakat, bahkan mungkin saya sendiri, yang tanpa sadar mengiyakan informasi yang kita ketahui tanpa pertimbangan lebih lanjut. Jalan hidup mereka ditentukan oleh pihak lain tanpa mereka sadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita perhatikan. Kita senang sekali mengikuti perkembangan selebriti, baik internasional, nasional, maupun lokal. Menjadi seorang penyanyi dalam acara bakat pun menjadi mimpi banyak orang. Pilihan pakaian harus mengikuti model terbaru. Pergaulan kita pun tidak jauh dengan apa yang sering kita lihat dari para selebriti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media, terutama televisi, menjadi corong utama informasi. Hal ini mungkin baik tapi sayangnya tidak sedikit dari kita yang menerima begitu saja informasi yang diberikan media. Kita bahkan ikut menyebarkan informasi tersebut seolah-olah informasi itu adalah yang paling benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup kita ibarat diatur oleh orang lain. Walaupun kita berhak menentukan pilihan kita, pilihan-pilihan tersebut tetap saja terbatas. Sayangnya batasan-batasan dalam memilih itu ada karena kita sendiri yang tanpa kesadaran berkenan menerimanya. Yang lebih disayangkan lagi adalah mereka yang sadar pun terpaksa mengikuti batasan-batasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin Anda pasti bingung dengan paparan di atas. Saya coba berikan contoh. Di kalangan remaja saat ini sepertinya pergaulan antara pria dan wanita sudah tidak mengenal batas. Kita tidak perlu bicara terlalu jauh sampai seks bebas. Contoh sederhananya mungkin cipika-cipiki-cicibi (Cium Pipi Kanan, Cium Pipi Kiri, Cium-cium Bibir), bergandengan tangan, atau berpelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana para remaja mengenal berbagai kebiasaan itu? Semua pasti ada sumbernya. Entah dari film-film di televisi, informasi gaul dari Internet, bisik-bisik tetangga, atau dari artikel dalam majalah berjudul "11 cara bergaul yang gaul". Maaf kalau saya mulai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngelantur&lt;/span&gt;. Memberi contoh adalah hal yang cukup sulit untuk saya lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke topik. Intinya informasi itu sudah sampai kepada para remaja. Akhirnya mereka pun berpikir betapa tidak gaulnya mereka kalau mereka tidak menerapkan itu dalam pergaulan mereka. Tanpa pertimbangan lebih lanjut banyak remaja yang akhirnya terbiasa berpelukan dengan lawan jenis. Lalu bagaimana nasib mereka yang "tidak gaul"? Mereka akan dicemooh atau bahkan dikucilkan. Yang bertahan untuk tetap tidak gaul akan hilang dari sejarah sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu hanya contoh kecil penjajahan terselubung. Skala yang sedikit lebih besar misalnya kecenderungan kita untuk membeli produk luar negeri. Pola belanja kita tidak berorientasi kepada fungsi, tapi lebih berorientasi kepada merek. Di sini harga diri lebih banyak bermain ketimbang rasa membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk penjajahan yang lebih besar lagi adalah ketidakmampuan kita untuk mempertahankan harga diri bangsa secara tegas seperti menyikapi serangan Israel ke Palestina, menyikapi kebijakan-kebijakan IMF, atau menarik garis tebal perbatasan RI di wilayah Ambalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja-remaja Indonesia juga merupakan bibit-bibit unggul. Mereka Sayangnya kebanyakan mereka justru terbuai dengan kehidupan selebriti dan lagu-lagu cinta. Tenaga kerja Indonesia memiliki nilai jual yang tinggi, tapi mereka justru diperlakukan seperti sampah. Sumber daya alam Indonesia melimpah ruah, tapi justru dimanfaatkan untuk memperkaya individu-individu tak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah merdeka dan kita punya potensi yang besar untuk mencapai kemerdekaan yang hakiki dan menjadi bangsa yang terpandang. Sayangnya banyak sekali ketergantungan yang membuat negara ini senantiasa di bawah kuasa negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi PDF tulisan ini: &lt;a href="http://www.4shared.com/file/111575929/384be341/PenjajahanTerselubung.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/file/111575929/384be341/PenjajahanTerselubung.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-4755469113996660682?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=qyEj2r2sr7c:NFrdN5YuMsk:4cEx4HpKnUU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=qyEj2r2sr7c:NFrdN5YuMsk:4cEx4HpKnUU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=qyEj2r2sr7c:NFrdN5YuMsk:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=qyEj2r2sr7c:NFrdN5YuMsk:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=qyEj2r2sr7c:NFrdN5YuMsk:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=qyEj2r2sr7c:NFrdN5YuMsk:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=qyEj2r2sr7c:NFrdN5YuMsk:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=qyEj2r2sr7c:NFrdN5YuMsk:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=qyEj2r2sr7c:NFrdN5YuMsk:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=qyEj2r2sr7c:NFrdN5YuMsk:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=qyEj2r2sr7c:NFrdN5YuMsk:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/qyEj2r2sr7c" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/4755469113996660682/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2009/06/penjajahan-terselubung.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/4755469113996660682?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/4755469113996660682?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/qyEj2r2sr7c/penjajahan-terselubung.html" title="Penjajahan Terselubung" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2009/06/penjajahan-terselubung.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C04HRXs4fip7ImA9WxJXGU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-4573089208525444016</id><published>2009-05-29T13:16:00.003+07:00</published><updated>2009-06-13T21:05:34.536+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-06-13T21:05:34.536+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Karakter Muslim" /><title>Urusi Kelemahanmu</title><content type="html">Saya tergelitik menulis setelah membaca sebuah tulisan tentang bagaimana seseorang sebaiknya fokus kepada kekuatannya ketimbang mengurus kelemahannya. Walaupun konsep itu baik, saya tidak bisa sepenuhnya setuju. Kekuatan dan kelemahan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari diri seseorang. Jadi saya rasa setiap orang perlu menentukan keseimbangan antara mengasah kekuatan dan memperbaiki kelemahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran saya sebenarnya sederhana. Dalam Islam saya belajar bahwa salah satu pola hidup yang perlu dibiasakan oleh seorang Muslim adalah menuju hari esok yang lebih baik. Kalau konsep ini dibawa ke dalam konteks pengembangan diri, hari esok yang lebih baik berarti kepribadian yang lebih baik di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menuju kepribadian yang lebih baik tidak mungkin hanya dengan mengasah kekuatan atau hanya dengan memperbaiki kelemahan. Kepribadian yang lebih baik didapat dengan mengurus keduanya secara bersamaan dengan porsi yang sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ambil contoh orang cerdas yang malas. Mengasah kecerdasan orang tersebut tanpa memperbaiki perilaku malasnya bisa saja dilakukan. Sebaliknya memperbaiki perilaku malasnya saja pun bisa dilakukan. Tapi saya yakin akan lebih baik kalau dijaga keseimbangan agar orang tersebut menjadi lebih rajin seraya memperluas wawasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain ada pada orang yang baru mengenal Islam. Semangatnya dalam mempelajari Islam perlu dipertahankan dan dikembangkan. Tapi apa jadinya seandainya dia punya kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran Islam? Haruskah kebiasaan itu dibiarkan? Kebiasaan itu perlu dikikis sedikit demi sedikit seiring waktu orang itu memperdalam pengetahuannya tentang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua, saya paham bahwa ajakan untuk fokus kepada kekuatan itu salah satu alasannya adalah agar orang tidak selalu berkutat dengan kelemahannya. Interaksi yang terlalu sering dengan kelemahan yang dimiliki seseorang dapat menimbulkan rasa rendah diri. Hal ini yang perlu dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bukan bermaksud untuk menafikan tujuan tersebut. Tulisan ini dibuat dengan harapan seseorang dapat memiliki keseimbangan yang lebih baik dalam mengembangkan potensi dirinya sehingga tidak berkutat pada salah satu sisi saja antara kekuatan dan kelemahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi PDF tulisan ini: &lt;a href="http://www.4shared.com/file/111576727/c7d84ca2/UrusiKelemahanmu.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/file/111576727/c7d84ca2/UrusiKelemahanmu.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-4573089208525444016?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=2d0g8UNF2o0:QrNjweXLb-8:4cEx4HpKnUU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=2d0g8UNF2o0:QrNjweXLb-8:4cEx4HpKnUU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=2d0g8UNF2o0:QrNjweXLb-8:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=2d0g8UNF2o0:QrNjweXLb-8:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=2d0g8UNF2o0:QrNjweXLb-8:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=2d0g8UNF2o0:QrNjweXLb-8:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=2d0g8UNF2o0:QrNjweXLb-8:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=2d0g8UNF2o0:QrNjweXLb-8:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=2d0g8UNF2o0:QrNjweXLb-8:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=2d0g8UNF2o0:QrNjweXLb-8:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=2d0g8UNF2o0:QrNjweXLb-8:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/2d0g8UNF2o0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/4573089208525444016/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2009/05/urusi-kelemahanmu.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/4573089208525444016?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/4573089208525444016?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/2d0g8UNF2o0/urusi-kelemahanmu.html" title="Urusi Kelemahanmu" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2009/05/urusi-kelemahanmu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0IMRH8yfSp7ImA9WxJSGUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-4633939705871170129</id><published>2009-04-29T22:20:00.005+07:00</published><updated>2009-05-10T06:26:25.195+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-10T06:26:25.195+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Rezeki" /><title>Berani Ikut Undian Berhadiah?</title><content type="html">Sebenarnya saya sudah beberapa kali mendengar pendapat bahwa tidak semua undian berhadiah itu diharamkan dalam Islam. Walaupun begitu, sampai saat ini saya tidak pernah ikut serta dalam undian berhadiah. Saya tidak pernah bisa meyakinkan diri saya sendiri bahwa &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tidak semua undian berhadiah itu haram&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun mencoba meluangkan waktu untuk mencari tahu lebih lanjut perihal hukum Islam tentang undian. Dengan bermodalkan mesin pencari Google, saya menemukan banyak tulisan tentang hal ini. Sayangnya banyak di antara sumber-sumber itu sebatas duplikat dari sumber lain. Salah satu sumber membagi undian menjadi 3 (tiga) bagian sebagaimana saya kutip di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Satu : Undian Tanpa Syarat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bentuk dan contohnya : Di pusat-pusat perbelanjaan, pasar, pameran dan semisalnya sebagai langkah untuk menarik pengunjung, kadang dibagikan kupon undian untuk setiap pengunjung tanpa harus membeli suatu barang. Kemudian setelah itu dilakukan penarikan undian yang dapat disaksikan oleh seluruh pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Hukumnya : Bentuk undian yang seperti ini adalah boleh. Karena asal dalam suatu mu’amalah adalah boleh dan halal. Juga tidak terlihat dalam bentuk undian ini hal-hal yang terlarang berupa kezhaliman, riba, gharar,penipuan dan selainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dua : Undian Dengan Syarat Membeli Barang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bentuknya : Undian yang tidak bisa diikuti kecuali oleh orang membeli barang yang telah ditentukan oleh penyelenggara undian tersebut.&lt;br /&gt;Contohnya : Pada sebagian supermarket telah diletakkan berbagai hadiah seperti kulkas, radio dan lain-lainnya. Siapa yang membeli barang tertentu atau telah mencapai jumlah tertentu dalam pembelian maka ia akan mendapatkan kupon untuk ikut undian.&lt;br /&gt;Contoh lain : sebagian pereusahaan telah menyiapkan hadiah-hadiah yang menarik seperti Mobil, HP, Tiket, Biaya Ibadah Haji dan selainnya bagi siapa yang membeli darinya suatu produk yang terdapat kupon/kartu undian. Kemudian kupon atau kartu undian itu dimasukkan kedalam kotak-kotak yang telah disiapkan oleh perusahaan tersebut di berbagai cabang atau relasinya.&lt;br /&gt;Hukumnya : undian jenis ini tidak lepas dua dari dua keadaan :&lt;br /&gt;- Harga produk bertambah dengan terselenggaranya undian berhadiah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Hukumnya : Haram dan tidak boleh. Karena ada tambahan harga berarti ia telah mengeluarkan biaya untuk masuk kedalam suatu mu’amalat yang mungkin ia untung dan mungkin ia rugi. Dan ini adalah maisir yang diharomkan dalam syariat Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Undian berhadiah tersebut tidak mempengaruhi harga produk. Perusahaan mengadakan undian hanya sekedar melariskan produknya.&lt;br /&gt;Hukumnya : Ada dua pendapat dalam masalah ini :&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;1. Hukumnya harus dirinci. Kalau ia membeli barang dengan maksud untuk ikut undian maka ia tergolong kedalam maisir/qimar yang diharamkan dalam syariat karena pembelian barang tersebut adalah sengaja mengeluarkan biaya untuk bisa ikut dalam undian. Sedang ikut dalam undian tersebut ada dua kemungkinan; mungkin ia beruntung dan mungkin ia rugi. Maka inilah yang disebut Maisir/Qimar.adapun kalau dasar maksudnya adalah butuh kepada barang/produk tersebut setelah itu ia mendapatkan kupon untuk ikut undian maka ini tidak terlarang karena asal dalam muámalat adalah boleh dan halal dan tidak bentuk Maisir maupuun Qimar dalam bentuk ini.&lt;/span&gt; Rincian ini adalah pendapat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (Liqoul Babul Maftuh no.48 soal 1164 dan no.49 soal 1185. Dengan perantara kitab Al-Hawafidz At-Tijaiyah At-Taswiqiyah), Syaikh Sholih bin ‘Abdul ’Aziz Alu Asy-Syaikh (dalam muhadhoroh beliau yang berjudul “Al Qimar wa Shuwarihil Muharromah), Lajnah Baitut Tamwil Al-Kuwaiti(Al Fatawa Asyar’iyyah Fi Masail Al Iqtishodiyah, fatwa no.228. Dengan perantara kitab Al-Hawafidz At-Tijaiyah At-Taswiqiyah), dan Haiah Fatwa di Bank Dubai Al-Islamy(dalam fatwa mereka no.102 Dengan perantara kitab Al-Hawafidz At-Tijaiyah At-Taswiqiyah).&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;2. Hukumnya adalah haram secara mutlak.&lt;/span&gt; Ini adalah pendapat Syaikh Abdul&lt;br /&gt;’Äziz bin Baz(Fatawa Islamiyah 2/367-368. Dengan perantara kitab Al-Hawafidz At-Tijaiyah At-Taswiqiyah),dan Al-Lajnah Ad-Da’imah(Fatawa Islamiyah 2/366-367. Dengan perantara kitab Al-Hawafidz At-Tijaiyah At-Taswiqiyah), &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Alasannya karena hal tersebut tidak lepas dari bentuk Qimar/Maisir dan mengukur maksud pembeli, apakah ia memaksudkan barang atau sekedar ingin ikut undian adalah perkara yang sulit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarjih&lt;br /&gt;Yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat pertama. Karena tidak hanya adanya tambahan harga pada barang dan dasar maksud pembeli adalah membutuhkan barang tersebut maka ini adalah mu’amalat yang bersih dari Maisitr/Qimar dan ukuran yang menggugurkan alasan pendapat kedua. Dan asal dalam mu’amalat adalah boleh dan halal. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tiga: Undian dengan mengeluarkan biaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bentuknya: Undian yang bisa diikut setiap orang yang membayar biaya untuk ikut undian tersebut atau mengeluarkan biaya untuk bisa mengikuti undian tersebut dengan mengeluarkan biaya.&lt;br /&gt;Contohnya: Mengirim kupon/kartu undian ketempat pengundian dengan menggunakan perangko pos. Tentunya mengirim dengan perangko mengeluarkan biaya sesuai dengan harga perangkonya.&lt;br /&gt;Contoh Lain: Ikut undian dengan mengirim SMS kelayanan telekomunikasi tertentu baik dengan harga wajar maupun dengan harga yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;Contoh lain: Pada sebagian tutup minuman tertera nomor yang bisa dikirim ke layanan tertentu dengan menggunakan SMS kemudian diundi untuk mendapatkan hadiah yang telah ditentukan. Apakah biaya SMS-nya dengan harga biasa maupun tertentu (dikenal dengan pulsa premium).&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Hukumnya: Haram dan tidak boleh. Karena mengeluarkan biaya untuk suatu yang mu’amalat yang belum jelas beruntung tidaknya, maka itu termasuk Qimar/Maisir.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; - Beberapa Hukum Berkaitan Dengan Undian&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Hasil pemahaman saya terhadap sumber tulisan di atas adalah bahwasanya kunci halal-haramnya undian berhadiah ada pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;biaya yang dikeluarkan&lt;/span&gt; untuk ikut serta dalam undian itu. Mengeluarkan biaya untuk ikut serta dalam sesuatu yang tidak pasti -bisa untung bisa rugi- seperti undian pada akhirnya diibaratkan seperti gharar, maysir, atau qimar yang diharamkan dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila seseorang dengan sengaja mengeluarkan biaya semata-mata untuk ikut undian maka hukumnya haram mengikuti undian tersebut. Kalau seseorang mengeluarkan biaya yang menyebabkan dia berhak ikut undian, seperti dalam hal membeli barang dengan kupon undian, maka dikembalikan kepada niat orang tersebut. Tetap saja kondisi yang paling aman ada pada undian tanpa syarat (biaya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang Anda berkenan untuk mengikuti undian berhadiah, pembagian jenis undian di atas dapat membantu menentukan halal-haramnya undian yang akan diikuti. Yang perlu diingat adalah akan lebih baik bila kita &lt;span style="font-style: italic;"&gt;meninggalkan hal-hal yang meragukan dan beralih kepada hal yang tidak meragukan&lt;/span&gt;. Kalau kita ragu dengan halal-haramnya undian, maka akan lebih baik kalau kita tidak ikut serta sama sekali dalam undian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Al Ustadz Dzulqornain bin Muhammad Sunusi. 21 Desember 2005. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Beberapa Hukum Berkaitan Dengan Undian&lt;/span&gt;. DarusSalaf.or.id. &lt;a href="http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=12"&gt;http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=12&lt;/a&gt;; diakses tanggal 29 April 2009.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;--&lt;br /&gt;&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi PDF tulisan ini: &lt;a href="http://www.4shared.com/file/104402401/76478297/BeraniIkutUndianBerhadiah.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/file/104402401/76478297/BeraniIkutUndianBerhadiah.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-4633939705871170129?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=X8svyUxgJbM:R3QlECKOa_k:4cEx4HpKnUU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=X8svyUxgJbM:R3QlECKOa_k:4cEx4HpKnUU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=X8svyUxgJbM:R3QlECKOa_k:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=X8svyUxgJbM:R3QlECKOa_k:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=X8svyUxgJbM:R3QlECKOa_k:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=X8svyUxgJbM:R3QlECKOa_k:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=X8svyUxgJbM:R3QlECKOa_k:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=X8svyUxgJbM:R3QlECKOa_k:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=X8svyUxgJbM:R3QlECKOa_k:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=X8svyUxgJbM:R3QlECKOa_k:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=X8svyUxgJbM:R3QlECKOa_k:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/X8svyUxgJbM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/4633939705871170129/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2009/04/berani-ikut-undian-berhadiah.html#comment-form" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/4633939705871170129?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/4633939705871170129?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/X8svyUxgJbM/berani-ikut-undian-berhadiah.html" title="Berani Ikut Undian Berhadiah?" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2009/04/berani-ikut-undian-berhadiah.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkMBRXc_eCp7ImA9WxJSFE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-3088577893890713983</id><published>2009-04-25T09:15:00.005+07:00</published><updated>2009-05-04T14:00:54.940+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-04T14:00:54.940+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Politik" /><title>Haruskah Kita Terlibat Memilih Pemimpin?</title><content type="html">Haruskah kita terlibat memilih para anggota legislatif? Haruskah kita terlibat memilih presiden? Bukankah memilih adalah sebuah hak yang dimiliki oleh setiap manusia merdeka? Bukankah tidak terlibat memilih pemimpin pun merupakan pilihan yang menjadi bagian hak asasi kita sebagai manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melihat dari sudut pandang hak asasi, pertentangan antara pihak yang mendukung golongan putih (memilih untuk tidak terlibat memilih) dengan pihak yang tidak mendukung golongan putih tidak akan pernah selesai. Apalagi dalam sistem pemerintahan demokratis, setiap orang berhak mempertahankan haknya. Lagipula siapa yang bisa memastikan bahwa setiap orang akan ikut memilih kalau metode pemilihannya saja bersifat rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau kita lihat dari sudut pandang dampak pilihan kita? Setiap pilihan tentu membawa dampak sekecil apa pun dampak tersebut. Jadi saat kita memilih orang X untuk memimpin, itu berarti kita memiliki andil terhadap dampak yang akan ditimbulkan dari kepemimpinan orang X tersebut. Kalau X membawa kebaikan berarti kita turut andil membawa kebaikan. Kalau X membawa keburukan berarti kita turut andil membawa keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah dengan tidak memilih itu berarti kita terlepas dari dampak tersebut? Jawabannya adalah TIDAK. Saat kita tidak memilih tetap saja ada yang terpilih menjadi pemimpin. Sama seperti kasus di atas, kalau yang terpilih membawa kebaikan berarti kita turut andil membawa kebaikan dan begitu juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kenapa kita harus memilih kalau pada akhirnya sama saja dengan tidak memilih? Saya sendiri mengalami kesulitan untuk membedakan antara keduanya. Keduanya membawa kemungkinan akan dampak positif maupun negatif yang sama. Perihal andil antara memilih dan tidak memilih pun tidak dapat dibedakan secara tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, ada pembeda yang dapat saya paparkan. Kita semua tentu akan menimbang terlebih dahulu sebelum menetapkan pilihan. Kita akan mencari siapa yang baik, siapa yang jujur, siapa yang adil, siapa yang dapat dipercaya, siapa yang mampu membuktikan janji, siapa yang dapat membawa kesejahteraan, dan berbagai pertimbangan lain. Dengan mempertimbangkan itu kita berharap dapat memilih pemimpin yang benar, cerdas, dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan yang nyata antara memilih dan tidak memilih bukan pada pertimbangan tersebut. Bisa saja setelah mempertimbangkan justru kita memutuskan untuk tidak memilih. Perbedaan yang nyata adalah usaha kita untuk mencegah terpilihnya pemimpin yang dikhawatirkan membawa keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam mengajarkan bahwa setiap Muslim harus senantiasa mengajak kepada kebaikan DAN mencegah keburukan. Menurut pendapat saya, memilih untuk tidak memilih ibarat berhenti pada tahap mengajak kepada kebaikan. Saat tidak ada lagi calon pemimpin yang benar, tidak memilih sama artinya mengajak kepada kebaikan. Kenapa begitu? Karena dengan tidak memilih bukan berarti tidak ada yang terpilih. Bukan tidak mungkin dengan tidak memilih itu malah berakibat calon pemimpin yang paling buruk yang akan terpilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dengan memilih, kita melakukan kedua-duanya, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan. Walaupun tidak ada lagi calon pemimpin yang benar, kita berusaha untuk memilih calon pemimpin yang terbaik. Dengan begitu kita pun turut andil dalam mencegah terpilihnya calon pemimpin yang lebih buruk dari yang kita pilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paparan saya di atas mencoba mengarahkan bahwa usaha kita dalam mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan akan lebih nyata dengan memilih calon pemimpin yang benar, cerdas, dan bertanggung jawab dan mencegah terpilihnya calon pemimpin yang tidak benar. Memilih untuk tidak memilih justru membuka peluang terpilihnya calon pemimpin yang tidak benar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari semua yang saya sampaikan di atas, saya tidak bermaksud menyalahkan mereka yang tidak memilih. Seperti yang saya sebutkan di awal tulisan ini, memilih untuk tidak memilih adalah hak kita sebagai manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi PDF tulisan ini: &lt;a href="http://www.4shared.com/file/101596725/5a4c9371/HaruskahKitaTerlibatMemilihPemimpin.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/file/101596725/5a4c9371/HaruskahKitaTerlibatMemilihPemimpin.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-3088577893890713983?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=aiKg1-v6-68:OSnjHi9_b9w:4cEx4HpKnUU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=aiKg1-v6-68:OSnjHi9_b9w:4cEx4HpKnUU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=aiKg1-v6-68:OSnjHi9_b9w:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=aiKg1-v6-68:OSnjHi9_b9w:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=aiKg1-v6-68:OSnjHi9_b9w:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=aiKg1-v6-68:OSnjHi9_b9w:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=aiKg1-v6-68:OSnjHi9_b9w:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=aiKg1-v6-68:OSnjHi9_b9w:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=aiKg1-v6-68:OSnjHi9_b9w:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?a=aiKg1-v6-68:OSnjHi9_b9w:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/islamawam?i=aiKg1-v6-68:OSnjHi9_b9w:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/aiKg1-v6-68" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/3088577893890713983/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2009/04/haruskah-kita-terlibat-memilih-pemimpin.html#comment-form" title="3 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/3088577893890713983?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/3088577893890713983?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/aiKg1-v6-68/haruskah-kita-terlibat-memilih-pemimpin.html" title="Haruskah Kita Terlibat Memilih Pemimpin?" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2009/04/haruskah-kita-terlibat-memilih-pemimpin.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0EERnw-fip7ImA9WxJSEE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-5574703732970463657</id><published>2009-02-11T11:41:00.002+07:00</published><updated>2009-04-30T00:20:07.256+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-30T00:20:07.256+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Palestina" /><title>Ingin Boikot Produk Pendukung Israel?</title><content type="html">Saat pertama kali saya memutuskan untuk boikot produk-produk pendukung Israel, saya kebingungan. Produk apa yang perlu saya boikot? Apakah produk Amerika dan Israel? Tapi bagaimana saya tahu produk yang tepat untuk diboikot? Saya tidak ingin sembarangan melakukan boikot dan merugikan diri saya sendiri terutama bila produk yang akan saya boikot adalah produk yang memang saya butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lama mencari informasi, akhirnya saya menemukan sebuah situs bernama "Innovative Minds" di &lt;a href="http://www.inminds.co.uk/"&gt;http://www.inminds.co.uk/&lt;/a&gt;. Pintu masuk menuju informasi tentang boikot produk Israel ada di &lt;a href="http://www.inminds.co.uk/boycott-israel.php"&gt;http://www.inminds.co.uk/boycott-israel.php&lt;/a&gt;. Dari sini saya menemukan daftar produk-produk yang diidentifikasi sebagai pendukung Israel. Halaman yang menyediakan daftar tersebut dapat diakses di &lt;a href="http://www.inminds.co.uk/boycott-brands.html"&gt;http://www.inminds.co.uk/boycott-brands.html&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata banyak produk yang biasa saya konsumsi masuk ke dalam daftar itu seperti Coca Cola dan Nokia. Saya perhatikan satu per satu produk yang masuk ke dalam daftar tersebut dan menemukan semakin banyak produk yang biasa saya konsumsi seperti rekan-rekannya Coca Cola (Fanta dan Sprite), McDonald's, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dari daftar produk tersebut adalah setiap gambar produk yang ditampilkan tertaut dengan informasi berisi temuan-temuan yang mengindikasikan bahwa produk tersebut mendukung Israel. Saya coba klik gambar McDonald's dan menemukan temuan-temuan yang mendukung klaim bahwa McDonald's mendukung Israel. Hal ini berlaku sama untuk produk-produk yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya sampai saat penulisan ini saya baru sampai pada tahap mengidentifikasi produk-produk apa saja yang perlu saya hindari namun belum sampai kepada keputusan tegas untuk meninggalkan produk-produk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Boycott Israel Campaign&lt;/span&gt;. Innovative Minds. &lt;a href="http://www.inminds.co.uk/boycott-brands.html"&gt;http://www.inminds.co.uk/boycott-brands.html&lt;/a&gt;; diakses tanggal 11 Februari 2009.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;--&lt;br /&gt;&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-5574703732970463657?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=6vZ5jESD"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?i=6vZ5jESD" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=4NqCLFAw"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/7BeePcCHVPs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/5574703732970463657/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2009/02/ingin-boikot-produk-pendukung-israel.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/5574703732970463657?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/5574703732970463657?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/7BeePcCHVPs/ingin-boikot-produk-pendukung-israel.html" title="Ingin Boikot Produk Pendukung Israel?" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2009/02/ingin-boikot-produk-pendukung-israel.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0EERnw-fip7ImA9WxJSEE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-7714250976023425958</id><published>2009-01-31T09:02:00.008+07:00</published><updated>2009-04-30T00:20:07.256+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-30T00:20:07.256+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Palestina" /><title>Kenapa Perlu Boikot Produk Pendukung Israel?</title><content type="html">Seruan untuk memboikot produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan pendukung Israel sudah lama bergaung. Walau sempat meredup, serangan Israel ke dalam Jalur Gaza telah mengembalikan kelantangan seruan itu melalui beberapa demonstrasi yang dilakukan di berbagai negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apakah langkah-langkah boikot itu perlu dilakukan? Pertanyaan ini kemungkinan akan muncul di benak orang-orang yang baru mengenal proses boikot produk seperti ini. Bahkan sebagian orang mungkin menganggap boikot seperti ini sia-sia atau justru merugikan pihak-pihak lain yang tidak terlibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya kita ingin memboikot produk ABC. Apa yang kita harapkan dari boikot produk ABC? Memboikot produk sering diartikan sebagai cara untuk menghentikan perusahaan produsen produk tersebut. Jadi kemungkinan besar tidak sedikit orang yang akan berpikir bahwa boikot produk ABC bertujuan untuk menjatuhkan perusahaan produsen produk ABC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya perusahaan produsen produk ABC jatuh, dampaknya akan dirasakan oleh para karyawan mereka. Dampaknya akan semakin luas bila perusahaan tersebut memiliki lebih banyak karyawan. Apalagi kalau perusahaan tersebut sudah bergerak di tingkat internasional, dampaknya akan dirasakan oleh lebih banyak pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dampak juga akan dirasakan oleh mereka yang menyuplai barang atau jasa ke perusahaan produsen produk ABC. Seandainya produk ABC ini adalah produk makanan, dampaknya akan dirasakan oleh mereka yang menyuplai bahan mentahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita bicara dampak, saya rasa kita tidak akan berhenti di sini. Tapi kapasitas saya tidak memungkinkan untuk membicarakan dampak ini lebih jauh lagi. Lagipula inti tulisan ini bukan untuk membicarakan dampak dari gerakan boikot karena saya pribadi tidak melihat gerakan boikot sejauh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan boikot jangan dilihat sebagai gerakan ekstrem yang sepenuhnya dipengaruhi agama atau kebencian terhadap Israel. Kalau memang ada yang melihat dengan cara ini, saya tidak bermaksud menyalahkan. Hanya saja pandangan saya terhadap boikot ini memiliki dasar yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boikot produk bagi saya berarti tidak membelanjakan uang untuk membeli produk itu. Dengan begitu saya berharap tidak ada sedikit pun uang saya yang diterima oleh perusahaan produsen produk tersebut. Dalam konteks produk pendukung Israel, hal ini berarti saya berharap tidak ada sedikit pun uang saya yang akan digunakan untuk mendukung Israel. Ini berarti saya berharap tidak ada sedikit pun uang saya yang digunakan oleh Israel untuk meneruskan agresinya di Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dengan memboikot produk pendukung Israel, saya memperkecil kemungkinan bahwa uang yang saya belanjakan akan digunakan untuk memperkuat agresi Israel di Palestina. Dengan memboikot produk tersebut, saya memperkecil keterlibatan saya dalam gerakan Zionisme Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini mungkin timbul pertanyaan, "memang sebesar apa uang yang saya belanjakan?" Jawabannya tentu tidak besar. Saya bukan orang yang banyak harta dan saya bukan termasuk orang yang royal. Tapi inti dari "memperkecil keterlibatan" di atas bukan pada jumlah. Entah 1 milyar Rupiah atau seribu Rupiah, terlibat berarti terlibat. Gerakan boikot produk pendukung Israel bagi saya adalah memperkecil atau bahkan menutup keterlibatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, gerakan boikot cukup dilihat dari pandangan seperti saya paparkan di atas. Gerakan boikot produk pendukung Israel jangan langsung dilihat sebagai usaha untuk merugikan perusahaan pendukung Israel. Gerakan boikot ini bukan untuk merugikan berbagai pihak yang terkait dengan perusahaan tersebut. Gerakan boikot merupakan panggilan moral untuk menghindari keterlibatan seseorang dalam agresi Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks yang lebih luas, gerakan boikot ini justru bermaksud mengingatkan perusahaan pendukung Israel dan pihak-pihak yang terlibat untuk berhenti mendukung Israel. Misalnya terjadi boikot terhadap produk ABC, pihak-pihak terkait diharapkan menyadari keterlibatan mereka dalam agresi Israel. Harapan para pendukung gerakan boikot ini adalah mereka yang sudah terlibat bisa mengurangi atau bahkan menghentikan dukungan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang masalah ini termasuk masalah pelik. Hal ini terkait erat dengan ketergantungan seseorang dengan produk yang akan diboikot. Semakin perlu seseorang dengan sebuah produk, semakin sulit bagi orang itu untuk meninggalkannya. Tapi selama ada niat, insya Allah ada jalan. Kita tidak akan pernah sampai ke ujung jalan bila kita tidak pernah mengambil langkah pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi PDF tulisan ini: &lt;a href="http://www.4shared.com/file/95598170/ca679124/KenapaPerluBoikotProdukPendukungIsrael.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/file/95598170/ca679124/KenapaPerluBoikotProdukPendukungIsrael.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-7714250976023425958?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=tmWu2Pye"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?i=tmWu2Pye" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=hZAksF4S"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/Zcyt7eNPTPI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/7714250976023425958/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2009/01/kenapa-perlu-boikot-produk-pendukung.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/7714250976023425958?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/7714250976023425958?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/Zcyt7eNPTPI/kenapa-perlu-boikot-produk-pendukung.html" title="Kenapa Perlu Boikot Produk Pendukung Israel?" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2009/01/kenapa-perlu-boikot-produk-pendukung.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0EERnw-fyp7ImA9WxJSEE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-3504497513888225258</id><published>2009-01-21T06:54:00.005+07:00</published><updated>2009-04-30T00:20:07.257+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-30T00:20:07.257+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Palestina" /><title>Hamas Lebih Parah dari Nazi</title><content type="html">Tulisan sebelumnya dalam blog ini mencantumkan sebuah hadits yang saya kutip kembali di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Belum akan tiba kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan orang-orang Yahudi. Kaum muslimin membunuh mereka dan mereka bersembunyi di balik batu dan pohon-pohonan. Lalu batu dan pohon-pohon berkata, "Wahai kaum muslimin, wahai hamba Allah, ini orang Yahudi di belakang saya. Mari bunuhlah dia." Kecuali pohon "Gharqad" yang tumbuh di Baitil Maqdis. Itu adalah pohon orang-orang Yahudi." - &lt;span style="font-style: italic;"&gt;HR. Ahmad&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Ternyata hadits ini diartikan sebagai bentuk kebencian Islam terhadap Yahudi. Hadits ini dianggap membenarkan dan bahkan menganjurkan pembunuhan setiap Yahudi tanpa menyisakan satu orang pun. Dengan cara pandang seperti ini, kita tidak perlu terkejut bila orang mengatakan Hamas lebih parah dari Nazi karena hadits ini menjadi bagian dari dasar perjuangan Hamas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kita semua tahu bahwa pemahaman terhadap Islam tidak boleh dilakukan secara parsial. Sungguh tidak bijaksana bagi seseorang untuk memahami sesuatu dalam Islam dari sebuah hadits. Bahkan memahami ayat-ayat Al Quran pun harus dilakukan secara menyeluruh, apalagi untuk memahami hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya pergerakan Hamas mengacu kepada Islam dan para pemimpin Hamas adalah orang-orang yang memiliki pemahaman yang baik tentang Islam. Oleh karena itu, saya sebagai Muslim turut mendukung perjuangan Hamas dalam melawan penjajahan Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyikapi hadits di atas, kita bisa melihat beberapa ayat dalam Al Quran yang saya kutip di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." - &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al Quran (Al Baqarah:190)&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir." - &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al Quran (Al Baqarah:191)&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." - Al Quran (Al Baqarah:192)&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim." - &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al Quran (Al Baqarah:193)&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Empat ayat yang saya kutip di atas termasuk mudah dicerna oleh orang awam. Inti dari empat ayat tersebut adalah Muslim dilarang melampaui batas dalam berperang. Serang hanya bila diserang. Musuhi hanya bila dimusuhi. Peperangan yang dilakukan harus dalam konteks mempertahankan diri dari kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang diperangi pun bukan sembarang orang. Yang diperangi hanya orang-orang yang memerangi kita. Yang dimusuhi pun hanya orang-orang yang memusuhi kita (umat Islam). Tidak dibenarkan bagi seorang Muslim untuk memerangi dan memusuhi sembarang orang tanpa alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila peperangan itu sudah berlalu maka kita bergegas kembali kepada kebaikan. Kita pun bergegas menyudahi peperangan. Kita pun bergegas menyudahi permusuhan. Berlama-lama dalam peperangan dan permusuhan tentunya bertentangan dengan Islam yang berperan membawa rahmat bagi alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pemahaman hadits di atas sebatas pembantaian &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;seluruh&lt;/span&gt; kamu Yahudi pun terbilang dangkal. Agama di dunia saat ini bukan Islam dan Yahudi saja. Ke mana perginya agama-agama lain? Mungkin yang dimaksud Islam dan Yahudi dalam hadits di atas adalah kelompok pro-Islam dan kelompok pro-Yahudi. Jadi bukan tidak mungkin ada orang Yahudi yang masuk kelompok pro-Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula saya tidak pernah menemukan ayat dalam Al Quran maupun hadits yang secara eksplisit membenarkan pembantaian suatu kaum. Kalau kita meyakini akan ada peperangan antara Islam dan Yahudi sebelum akhir zaman, kita pun harus yakin pasti ada alasan yang membenarkan kita memerangi Yahudi sampai ke akar-akarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan Hamas dan seluruh rakyat Palestina saat ini adalah untuk memperjuangkan hak mereka yang direbut oleh penjajah Israel. Saya mendukung hal ini dan sebisa mungkin mengajak orang lain, terlepas dari agama mereka, untuk mendukung hal ini. Kalau Hamas melakukan kejahatan seperti yang Israel lakukan terhadap Palestina hingga saat ini, maka saya akan menjadi orang pertama yang akan menggugat Hamas dan menghentikan dukungan saya terhadap perjuangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Covenant of the Islamic Resistance Movement (Hamas).&lt;/span&gt; August 18, 1988. &lt;a href="http://www.standwithus.com/pdfs/flyers/Hamas_covenant.pdf"&gt;http://www.standwithus.com/pdfs/flyers/Hamas_covenant.pdf&lt;/a&gt;; accessed on January 21, 2008.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;--&lt;br /&gt;&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi PDF tulisan ini: &lt;a href="http://www.4shared.com/file/95599537/8fda0e3a/HamasLebihParahDariNazi.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/file/95599537/8fda0e3a/HamasLebihParahDariNazi.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-3504497513888225258?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=zV0P9tmz"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?i=zV0P9tmz" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=pJR97tbf"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/tTIIkIDtYKU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/3504497513888225258/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2009/01/hamas-lebih-parah-dari-nazi.html#comment-form" title="4 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/3504497513888225258?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/3504497513888225258?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/tTIIkIDtYKU/hamas-lebih-parah-dari-nazi.html" title="Hamas Lebih Parah dari Nazi" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2009/01/hamas-lebih-parah-dari-nazi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0EERnw-fyp7ImA9WxJSEE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-5077666421288249658</id><published>2009-01-19T11:21:00.007+07:00</published><updated>2009-04-30T00:20:07.257+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-30T00:20:07.257+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Palestina" /><title>Awal Perdamaian di Gaza?</title><content type="html">Mari kita cermati sebuah hadits yang saya kutip di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Belum akan tiba kiamat sehingga kaum muslimin berperang dengan orang-orang Yahudi. Kaum muslimin membunuh mereka dan mereka bersembunyi di balik batu dan pohon-pohonan. Lalu batu dan pohon-pohon berkata, "Wahai kaum muslimin, wahai hamba Allah, ini orang Yahudi di belakang saya. Mari bunuhlah dia." Kecuali pohon "Gharqad" yang tumbuh di Baitil Maqdis. Itu adalah pohon orang-orang Yahudi." - &lt;span style="font-style: italic;"&gt;HR. Ahmad&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Kutipan di atas bukan bermaksud untuk melancarkan provokasi agar orang Islam menjadikan semua orang Yahudi sebagai musuh. Walaupun fakta saat ini para pendukung Zionisme pantas dimusuhi, hal ini bukan berarti bahwa semua Yahudi pantas dimusuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan di atas sengaja saya cantumkan untuk melihat kembali fakta mengenai gencatan senjata yang sedang diberlakukan oleh Hamas dan Israel. Apakah gencatan senjata ini akan menjadi awal sebuah proses perdamaian antara Hamas dan Israel? Atau perang justru akan berlanjut sebagai bagian dari tanda-tanda kiamat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, Israel tidak akan berhenti dalam proses "memerdekakan" dirinya sehingga keberadaan mereka diakui oleh seluruh manusia di muka bumi ini. Dalam proses tersebut, orang-orang yang tertindas oleh Israel pun tidak akan berhenti berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Israel menganggap diri mereka kuat. Buktinya mereka tidak peduli seruan dari berbagai penjuru dunia saat mereka membumihanguskan Gaza demi mempertahankan diri dari serangan roket rakitan pejuang Hamas. Serangan udara, laut, dan darat dilakukan dengan gencar walaupun banyak rakyat sipil yang menjadi korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses gencatan senjata pun diwarnai keangkuhan mereka. Mereka mengaku sudah mencapai tujuan mereka, yaitu mencegah serangan roket dari Gaza, padahal beberapa roket berhasil ditembakan tidak berapa lama dari deklarasi gencatan senjata Israel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau pada akhirnya Hamas dan sekutunya pun mengumumkan gencatan senjata, hal ini tidak akan merubah fakta bahwa kondisi di Gaza masih rentan. Tentara militer Israel pun belum sepenuhnya mundur dari Gaza. Kondisi di Gaza saat ini ibarat sebuah bom yang masih aktif dan menunggu diledakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan bila ada banyak orang yang pesimis dengan gencatan senjata antara Hamas dan Israel saat ini; apalagi untuk mencapai perdamaian. Mungkin akan tiba waktunya saat Hamas dan Israel bisa berdamai. Tapi kemungkinan itu sepertinya kecil atau bahkan tidak ada sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, semoga proses genjatan senjata ini bisa dipertahankan dengan baik dan berbagai bantuan kemanusiaan dapat segera mencapai para korban perang di Gaza. Untuk saat ini, isu kemanusiaan di Gaza harus menjadi prioritas utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Shaky truce holds in Gaza. &lt;/span&gt;19 Januari 2009. Aljazeera.net. &lt;a href="http://english.aljazeera.net/news/middleeast/2009/01/200911915726719317.html"&gt;http://english.aljazeera.net/news/middleeast/2009/01/200911915726719317.html&lt;/a&gt;; diakses tanggal 19 Januari 2009.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;--&lt;br /&gt;&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-5077666421288249658?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=rhPOXdEM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?i=rhPOXdEM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=CsefNwVn"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/38rZUItlqF0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/5077666421288249658/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2009/01/awal-perdamaian-di-gaza.html#comment-form" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/5077666421288249658?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/5077666421288249658?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/38rZUItlqF0/awal-perdamaian-di-gaza.html" title="Awal Perdamaian di Gaza?" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2009/01/awal-perdamaian-di-gaza.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0EERnw-fyp7ImA9WxJSEE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-1798491298286416787</id><published>2009-01-15T08:27:00.003+07:00</published><updated>2009-04-30T00:20:07.257+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-30T00:20:07.257+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Palestina" /><title>Lirik untuk Gaza</title><content type="html">Cahaya putih yang membutakan&lt;br /&gt;Menerangi langit Gaza malam ini&lt;br /&gt;Orang-orang berlari mencari perlindungan&lt;br /&gt;Tanpa tahu apakah mereka hidup atau mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka datang dengan tank dan pesawat mereka&lt;br /&gt;Dengan kobaran api yang merusak&lt;br /&gt;Dan tiada lagi yang tersisa&lt;br /&gt;Hanya teriakan yang menembus asap tebal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak akan kalah&lt;br /&gt;Malam ini, tanpa perlawanan&lt;br /&gt;Kau boleh bakar masjid kami dan rumah kami dan sekolah kami&lt;br /&gt;Tapi semangat kami tak akan pernah mati&lt;br /&gt;Kami tidak akan kalah&lt;br /&gt;Di Gaza malam ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita dan anak-anak&lt;br /&gt;Dibunuh dan dibantai malam demi malam&lt;br /&gt;Sementara para pemimpin dunia di sana&lt;br /&gt;Memperdebatkan siapa yang salah atau benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kata-kata lemah mereka tak punya arti&lt;br /&gt;Sementara bom terus menghujani ibarat hujan asam&lt;br /&gt;Tapi dengan air mata dan darah dan rasa sakit&lt;br /&gt;Kau masih bisa mendengar teriakan di antara asap tebal itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMI TIDAK AKAN KALAH&lt;br /&gt;Malam ini, tanpa perlawanan&lt;br /&gt;Kau boleh bakar masjid kami dan rumah kami dan sekolah kami&lt;br /&gt;Tapi semangat kami tak akan pernah mati&lt;br /&gt;KAMI TIDAK AKAN KALAH&lt;br /&gt;Di Gaza malam ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan oleh &lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir&lt;/a&gt; dari &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;a href="http://www.michaelheart.com/Song_for_Gaza.html"&gt;WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; oleh &lt;a href="http://www.michaelheart.com/"&gt;Michael Heart&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu asli dapat diakses dan diunduh dari &lt;a href="http://www.michaelheart.com/Song_for_Gaza.html"&gt;http://www.michaelheart.com/Song_for_Gaza.html&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-1798491298286416787?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=MUfEHx7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?i=MUfEHx7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=rdMGIdLw"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/iBRGo4r7lLQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/1798491298286416787/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2009/01/lirik-untuk-gaza.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/1798491298286416787?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/1798491298286416787?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/iBRGo4r7lLQ/lirik-untuk-gaza.html" title="Lirik untuk Gaza" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2009/01/lirik-untuk-gaza.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0EERnw-fyp7ImA9WxJSEE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-8266021283400794516</id><published>2009-01-10T06:22:00.005+07:00</published><updated>2009-04-30T00:20:07.257+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-30T00:20:07.257+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Palestina" /><title>Solusi untuk Gaza?</title><content type="html">Kabarnya sampai saat ini korban jiwa di Gaza sudah mencapai angka 800. Sementara korban luka-luka sudah menembus angka 3000. Di pihak Israel sedikitnya 13 orang sudah menjadi korban. Walaupun begitu Israel tidak terlihat punya niat untuk segera menghentikan serangan ke Gaza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyampaian bantuan kemanusiaan, yang sering dipersulit kondisi medan dan sikap Israel, memang dapat membantu korban perang di Gaza. Tapi itu semua pada dasarnya tidak memiliki peran signifikan karena korban terus bertambah. Setiap bantuan yang dikirimkan untuk membantu korban perang di Gaza akan kehilangan nilainya kalau perang di Gaza tidak berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resolusi yang ditawarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dianggap tidak dapat diterapkan untuk menyelesaikan konflik di Jalur Gaza. Roket-roket masih diluncurkan ke wilayah Israel. Bombardir masih diarahkan kewilayah Palestina. Kedua pihak yang berperang kesulitan menemukan titik temu untuk mencapai kesepakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini tidak terlihat tanda-tanda akan ada gerakan dari pasukan perdamaian di bawah komando PBB. Amerika Serikat (AS) masih berpegang teguh pada prinsipnya untuk membela hak negara Israel dalam menjaga keamanan negaranya dari serangan roket pihak Hamas. Sepertinya alasan ini juga yang membuat proses pembuatan resolusi di PBB menjadi lambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya mungkin kita akan berpikir, kalau kesepakatan damai tidak dapat tercapai, pilihan apa yang tersisa untuk menghentikan perang di Gaza? Apakah mungkin konflik di Gaza hanya dapat diselesaikan dengan kekalahan di salah satu pihak yang berseteru? Mungkinkah kontak senjata antara pasukan Hamas dan pasukan Israel hanya dapat dihentikan dengan kekalahan di salah satu pihak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Republika Newsroom. 10 Januari 2009. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Israel Akan Terus Serang Gaza.&lt;/span&gt; Republika Online. &lt;a href="http://www.republika.co.id/berita/25288.html"&gt;http://www.republika.co.id/berita/25288.html&lt;/a&gt;; diakses tanggal 10 Januari 2009.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Korban Tewas di Gaza Sudah 800 Orang.&lt;/span&gt; 10 Januari 2009. Kompas.com. &lt;a href="http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/10/05441173/Korban.Tewas.di.Gaza.Sudah.800.Orang"&gt;http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/10/05441173/Korban.Tewas.di.Gaza.Sudah.800.Orang&lt;/a&gt;; diakses tanggal 10 Januari 2009.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;US congress votes to back Israel.&lt;/span&gt; 9 Januari 2009. Aljazeera.net. &lt;a href="http://english.aljazeera.net/news/americas/2009/01/20091920212870205.html"&gt;http://english.aljazeera.net/news/americas/2009/01/20091920212870205.html&lt;/a&gt;; diakses tanggal 10 Januari 2009.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Israeli strike kills at least 1 aid worker, U.N. says.&lt;/span&gt; 8 Januari 2009. CNN.com. &lt;a href="http://edition.cnn.com/2009/WORLD/meast/01/08/israel.gaza/index.html"&gt;http://edition.cnn.com/2009/WORLD/meast/01/08/israel.gaza/index.html&lt;/a&gt;; diakses tanggal 10 Januari 2009.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Security Council calls for cease-fire in Gaza.&lt;/span&gt; 8 Januari 2009. CNN.com. &lt;a href="http://edition.cnn.com/2009/WORLD/meast/01/08/gaza.security.council/index.html"&gt;http://edition.cnn.com/2009/WORLD/meast/01/08/gaza.security.council/index.html&lt;/a&gt;; diakses tanggal 10 Januari 2009.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;--&lt;br /&gt;&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-8266021283400794516?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=00rAi9Is"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?i=00rAi9Is" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=h7oPw14H"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/lLLrlkPBdNY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/8266021283400794516/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2009/01/solusi-untuk-gaza.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/8266021283400794516?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/8266021283400794516?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/lLLrlkPBdNY/solusi-untuk-gaza.html" title="Solusi untuk Gaza?" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2009/01/solusi-untuk-gaza.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0EERnw-cCp7ImA9WxJSEE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-7011795525920684241</id><published>2009-01-03T09:45:00.001+07:00</published><updated>2009-04-30T00:20:07.258+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-30T00:20:07.258+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Palestina" /><title>Dunia untuk Palestina</title><content type="html">Konflik Palestina-Israel harus dibawa ke konteks yang lebih luas dan tidak berhenti pada konteks agama. Konflik ini bukan sekedar masalah perseteruan antara Islam dan Yahudi. Konflik ini menyentuh isu kemanusiaan yang memperlihatkan adanya pelanggaran hak-hak rakyat sipil Palestina oleh pasukan militer Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu menjadi seorang Muslim untuk menyadari bahwa orang-orang Palestina membutuhkan bantuan. Tidak perlu menjadi seorang Muslim untuk menyadari bahwa Israel sedang melakukan sebuah kesalahan. Dengan moral dan hati yang bersih, kita bisa melihat bahwa rakyat sipil Palestina telah menjadi korban kebrutalan pasukan militer Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah artikel di Republika Online memberitakan beberapa &lt;a href="http://www.republika.co.id/berita/23961.html" target="_blank"&gt;selebriti Inggris seru Israel hentikan pembunuhan&lt;/a&gt;. Tiga selebriti yang disebutkan dalam artikel tersebut menyatakan sikap tidak setuju terhadap agresi militer Israel tanpa membawa embel-embel Islam atau Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kita bayangkan kalau apa yang terjadi di Palestina juga terjadi di tempat tinggal kita. Apakah kita akan tinggal diam bila tempat tinggal kita dijajah? Apakah kita akan tinggal diam bila tempat tinggal kita dihujani bom? Apakah kita akan tersenyum saat melihat keluarga kita tewas akibat ledakan bom? Apakah kita akan tertawa saat kita terluka akibat ledakan bom?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak pertanyaan yang dapat kita tanyakan kepada diri kita sendiri untuk menimbulkan rasa empati kepada nasib rakyat sipil Palestina. Jangan sampai mata kita dibutakan oleh konteks Islam-Yahudi sehingga kita gagal melihat masalah yang sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita membantu rakyat sipil Palestina. Mereka butuh bantuan untuk merawat luka-luka, mengurus kematian, dan bertahan hidup. Mereka butuh makanan, minuman, obat-obatan, dan tempat tinggal. Mereka adalah korban perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak lembaga yang dapat membantu menyampaikan bantuan kita ke rakyat sipil Palestina. &lt;a href="http://www.knrp.or.id/" target="_blank"&gt;Komite Nasional untuk Rakyat Palestina&lt;/a&gt; menerima donasi untuk Palestina. &lt;a href="http://www.mer-c.org/index.php" target="_blank"&gt;MER-C&lt;/a&gt; memiliki rekening khusus untuk donasi ke Palestina. Blog &lt;a href="http://save-palestine.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Save Palestine&lt;/a&gt; membeberkan beberapa lembaga yang siap menerima bantuan uang untuk disalurkan ke Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak cara lain untuk membantu rakyat sipil Palestina. Turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi damai menyuarakan kecaman terhadap agresi militer Israel. Memberikan komentar logis dan tidak emosional dalam bentuk apa pun mengenai kejahatan perang yang dilakukan Israel. Mengajak pihak lain untuk membantu rakyat sipil Palestina. Kalau memang tidak ada yang bisa kita lakukan, mari kita berdoa agar segera terbentuk perdamaian di wilayah Palestina dan Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Republika Newsroom. 03 Januari 2009. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Selebriti Inggris Seru Israel Hentikan Pembunuhan&lt;/span&gt;. Republika Online. &lt;a href="http://www.republika.co.id/berita/23961.html"&gt;http://www.republika.co.id/berita/23961.html&lt;/a&gt;; diakses tanggal 3 Januari 2009.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;--&lt;br /&gt;&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi PDF tulisan ini: T/A (Tidak Ada)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-7011795525920684241?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=aMLHDDPH"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?i=aMLHDDPH" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=haJewLTV"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/Ae-l_QFUuR4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/7011795525920684241/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2009/01/dunia-untuk-palestina.html#comment-form" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/7011795525920684241?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/7011795525920684241?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/Ae-l_QFUuR4/dunia-untuk-palestina.html" title="Dunia untuk Palestina" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2009/01/dunia-untuk-palestina.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEcEQ3k5fCp7ImA9WxJSEE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-8370511073958498800</id><published>2008-12-16T07:07:00.004+07:00</published><updated>2009-04-30T00:26:42.724+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-30T00:26:42.724+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Poligami" /><title>Poligami yang Tersesat</title><content type="html">Poligami sering menjadi masalah karena istri baru sering membawa ketidakadilan bagi istri lama. Poligami ibarat membuang istri lama karena sudah dianggap tidak berfungsi lagi. Kalaupun masih berfungsi, istri lama justru disimpan ibarat barang usang. Kalaupun tidak disimpan, fungsinya menjadi tidak signifikan. Ketidakadilan ini membuat banyak orang menolak poligami; terutama kaum wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan terhadap poligami menimbulkan keraguan terhadap Islam. Kenapa Islam memperbolehkan poligami? Saya sendiri tidak berani menjawab pertanyaan besar ini. Tapi saya menemukan sebuah artikel yang dapat membantu saya menjelaskan asal-usul poligami. Berikut kutipan dari artikel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Poligami adalah ikatan perkawinan dalam hal mana suami mengawini lebih dari satu istri dalam waktu yang sama. Jika dirunut ke belakang sejarah, maka jelas terlihat bahwa poligami bukanlah merupakan warisan Islam, tetapi merupakan kebiasaan yang telah berkembang berabad-abad sebelum Islam diwahyukan. Sejumlah riwayat menyebutkan bahwa rata-rata para pemimpin suku pada zaman dahulu memiliki puluhan istri bahkan tidak sedikit kepala suku mempunyai istri sampai ratusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika Islam datang kebiasaan poligami tidak serta-merta dihapuskan. Namun, setelah ayat yang menyinggung soal poligami diwahyukan, Nabi lalu melakukan perubahan yang radikal sesuai dengan petunjuk kandungan ayat. Perubahan mendasar yang dilakukan Nabi berkaitan dengan dua hal yakni pertama, membatasi jumlah bilangan istri hanya sampai empat. Contoh amat jelas terlihat dalam riwayat dari Naufal ibn Muawiyah. Ia berkata: “Ketika aku masuk Islam, aku memiliki lima orang istri” Rasulullah berkata: “Ceraikanlah yang satu dan pertahankan yang empat”. Kedua, menetapkan syarat yang ketat bagi poligami, yaitu harus mampu berlaku adil. Persyaratan yang ditetapkan bagi kebolehan poligami itu sangat berat, dan hampir-hampir dapat dipastikan tidak ada yang memenuhinya. Artinya, Islam memperketat syarat poligami sedemikian rupa sehingga kaum laki-laki tidak boleh lagi semena-mena terhadap istri mereka seperti sedia kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian terlihat bahwa praktik poligami di masa Islam sangat berbeda dengan praktek poligami sebelumnya. Perbedaan itu menonjol pada dua hal. Pertama, pada bilangan istri, dari tidak terbatas jumlah hanya dibatasi empat. Kedua, pada syarat poligami yaitu harus mampu berlaku adil. - &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Benarkah Islam Membolehkan Poligami?&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kutipan di atas, Islam justru mengarahkan poligami agar tidak lepas kendali. Jadi pada dasarnya Islam tidak menganjurkan, menjadikan sunnah Rasulullah, apalagi mewajibkan poligami. Islam hanya memperbolehkan poligami dengan koridor yang tegas, yaitu harus berlaku adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara poligami yang ditolak masyarakat sekarang ini bukan poligami yang diperbolehkan dalam Islam. Kenapa? Karena para pelaku poligami tidak bisa berlaku adil di antara para istri-istrinya. Definisi adil ini pun mencakup banyak aspek dan tidak berhenti pada berlaku adil dalam hal sandang, pangan, dan papan saja. Berlaku adil dalam konteks psikologi juga diperlukan. Para pelaku poligami tidak boleh condong kepada istri-istri tertentu. Ini yang, menurut saya, membuat poligami menjadi berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poligami memang diperbolehkan dalam Islam. Tapi dasar pembolehannya tidak bisa dipandang sebelah mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.&lt;/span&gt; Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. - &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al Quran Surat An-Nisaa' Ayat 3&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Penegasan saya lakukan pada kondisi tidak sanggup berlaku adil dalam poligami. Dalam kondisi ini maka monogami lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Perlu kita sadari bahwa berlaku adil kepada istri tidak akan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. - &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al Quran Surat An-Nisaa' Ayat 129&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT sudah menegaskan bahwa berlaku adil dalam poligami itu sulit. Oleh karena itu para suami sepantasnya menjadikan poligami sebagai &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;pilihan terakhir dalam keadaan terpaksa&lt;/span&gt; sebelum memutuskan melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT memperbolehkan poligami dengan syarat harus pelaku poligami mampu berlaku adil. Di lain pihak Allah SWT juga menegaskan bahwa berbuat adil kepada lebih dari satu istri itu sulit. Kalau kita tidak mampu berbuat adil, Allah SWT malah menganjurkan kita untuk tidak melakukan poligami. Tapi Allah SWT masih membuka pintu poligami bagi mereka yang benar-benar butuh selama mereka senantiasa konsisten untuk menjaga diri dari ketidakadilan terhadap istri-istri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kris Bedha. 30 Juli 2007. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Benarkah Islam Membolehkan Poligami?&lt;/span&gt; WikiMu. &lt;a href="http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=3186&amp;amp;post=1"&gt;http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=3186&amp;amp;post=1&lt;/a&gt;; diakses tanggal 16 Desember 2008.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;--&lt;br /&gt;&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi PDF tulisan ini: &lt;a href="http://www.4shared.com/file/95604555/4e600092/PoligamiYangTersesat.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/file/95604555/4e600092/PoligamiYangTersesat.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-8370511073958498800?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=qPxN3LCT"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?i=qPxN3LCT" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=ck0g3tkE"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/GoBiT-0xcJk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/8370511073958498800/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2008/12/poligami-yang-tersesat.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/8370511073958498800?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/8370511073958498800?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/GoBiT-0xcJk/poligami-yang-tersesat.html" title="Poligami yang Tersesat" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2008/12/poligami-yang-tersesat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEYMRn0yeCp7ImA9WxJSEE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6196585270912652321.post-6338573647924062225</id><published>2008-11-27T12:43:00.002+07:00</published><updated>2009-04-30T00:29:47.390+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-30T00:29:47.390+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Poligami" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Toleransi" /><title>Muslim dalam Masyarakat</title><content type="html">Islam tidak pernah mengajarkan Muslim untuk mengucilkan dirinya dari anggota masyarakat lain. Islam tidak pernah mengajarkan untuk membentuk kelompok-kelompok Muslim yang eksklusif. Islam mengajarkan agar setiap Muslim berbaur ke dalam berbagai bentuk kelompok sosial seraya mempertahankan jati dirinya sebagai seorang Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toleransi merupakan bagian penting untuk berbaur ke dalam masyarakat. Toleransi yang dimaksud bukan sebatas menghormati perbedaan kepercayaan dan keyakinan, tapi juga menghormati keberadaan hukum, aturan, dan nilai-nilai dalam masyarakat. Untuk melakukan itu, setiap Muslim perlu menemukan keseimbangan antara mempertahankan ajaran Islam dan mengikuti aturan yang ada di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut adalah hal yang penting untuk dilakukan oleh setiap Muslim agar Islam dapat diterima dalam masyarakat. Hal ini disebabkan karena dakwah Islam tidak mungkin berjalan dengan baik bila Islam tidak dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Kita tidak mungkin mengajak orang untuk masuk ke dalam sesuatu yang mereka benci atau takuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang saya sebutkan di atas, setiap Muslim perlu menemukan kombinasi yang tepat antara hukum Islam dan hukum positif yang berlaku dalam masyarakat. Hal ini berarti menegaskan batas antara hal-hal yang memang menjadi prinsip dalam Islam dan hal-hal yang tidak perlu dipaksakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh yang bisa saya berikan adalah pernikahan di bawah umur. Definisi "di bawah umur" ini, setahu saya, mengacu kepada pasal 7 dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1974 yang menyebutkan bahwa yang diperbolehkan menikah adalah pria dengan umur paling rendah 19 tahun dan wanita dengan umur paling rendah 16 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi kalau ada seorang pria Muslim menikah dengan gadis berumur di bawah 16 tahun? Tentu akan ada penolakan. Kalau seorang pria Muslim itu menegaskan bahwa pernikahan itu sah dalam Islam, maka penolakan itu bisa jadi membengkak dari penolakan terhadap individu menjadi penolakan terhadap Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain adalah poligami. Bentuk pernikahan yang diperbolehkan (bukan dianjurkan) dalam Islam dengan batas atas 4 (empat) orang istri ini adalah sesuatu yang ditentang oleh masyarakat Islam secara umum; terutama kaum wanita. Sepertinya banyak pernikahan poligami yang berujung pada ketidakadilan dalam perlakuan suami terhadap istri yang lebih cenderung kepada istri yang lebih baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi kalau ada seorang pria Muslim melakukan poligami? Tentu akan ada penolakan. Kalau alasan utama poligami itu semata-mata karena Islam memperbolehkannya, penolakan itu juga akan berubah dari penolakan terhadap individu menjadi penolakan terhadap Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masih banyak contoh-contoh lain yang bisa saya berikan. Tapi tujuan saya memberikan contoh itu terkait dengan batas antara yang bersifat prinsip dan yang tidak perlu dipaksakan. Apakah kedua contoh di atas termasuk hal yang bersifat prinsip atau hal yang tidak perlu dipaksakan? Saya pribadi memasukan kedua contoh di atas ke dalam golongan kedua; hal yang tidak perlu dipaksakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat menyayangkan sikap yang memaksakan hal-hal yang tidak bersifat prinsip namun pada akhirnya mencoreng nama baik Islam. Padahal setiap Muslim, secara implisit, memiliki tugas untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Islam adalah ajaran yang membawa kebaikan. Kalau memang tidak mampu membawa kebaikan, paling tidak Islam mengajarkan setiap Muslim untuk tidak membawa keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;&lt;a href="http://asyafrudin.blogspot.com/"&gt;Amir Syafrudin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi PDF tulisan ini: &lt;a href="http://www.4shared.com/file/95605193/b4032512/MuslimDalamMasyarakat.html" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/file/95605193/b4032512/MuslimDalamMasyarakat.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6196585270912652321-6338573647924062225?l=islam-awam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=ebTftAXY"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?i=ebTftAXY" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?a=1GWoYASF"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/islamawam?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/islamawam/~4/e-r8kRTeyKY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://islam-awam.blogspot.com/feeds/6338573647924062225/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://islam-awam.blogspot.com/2008/11/muslim-dalam-masyarakat.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/6338573647924062225?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6196585270912652321/posts/default/6338573647924062225?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/islamawam/~3/e-r8kRTeyKY/muslim-dalam-masyarakat.html" title="Muslim dalam Masyarakat" /><author><name>Amir Syafrudin</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="//lh6.googleusercontent.com/-SWJD0FYghvQ/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAEjI/Ng5y2P9zkWk/s512-c/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://islam-awam.blogspot.com/2008/11/muslim-dalam-masyarakat.html</feedburner:origLink></entry></feed>

