<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><!-- RSS generated by GuppY v4.0.3 on 11/11/2009 @ 00:56 --><rss xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">
  <channel>
    <title>Pusat Informasi Penyakit Infeksi </title>
    <link>http://www.infeksi.com/</link>
    <description>Pusat Informasi Penyakit Infeksi </description>
    <language>in</language>
    <docs>http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss</docs>
    <generator>GuppY v4.0.3</generator>
    <managingEditor>ilhampatu@yahoo.com (Dr.H.Ilham Patu,SpBS)</managingEditor>
    <webMaster>ilhampatu@yahoo.com (Dr.H.Ilham Patu,SpBS)</webMaster>
    <atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/infeksi" type="application/rss+xml" /><feedburner:feedFlare href="http://www.plusmo.com/add?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Finfeksi" src="http://plusmo.com/res/graphics/fbplusmo.gif">Subscribe with Plusmo</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.thefreedictionary.com/_/hp/AddRSS.aspx?http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Finfeksi" src="http://img.tfd.com/hp/addToTheFreeDictionary.gif">Subscribe with The Free Dictionary</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.bitty.com/manual/?contenttype=rssfeed&amp;contentvalue=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Finfeksi" src="http://www.bitty.com/img/bittychicklet_91x17.gif">Subscribe with Bitty Browser</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.newsalloy.com/?rss=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Finfeksi" src="http://www.newsalloy.com/subrss3.gif">Subscribe with NewsAlloy</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.live.com/?add=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Finfeksi" src="http://tkfiles.storage.msn.com/x1piYkpqHC_35nIp1gLE68-wvzLZO8iXl_JMledmJQXP-XTBOLfmQv4zhj4MhcWEJh_GtoBIiAl1Mjh-ndp9k47If7hTaFno0mxW9_i3p_5qQw">Subscribe with Live.com</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://mix.excite.eu/add?feedurl=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Finfeksi" src="http://image.excite.co.uk/mix/addtomix.gif">Subscribe with Excite MIX</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.yourminis.com/subscribe.aspx?u=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Finfeksi" src="http://www.yourminis.com/images/addtoyourminisbadge.gif">Subscribe with Yourminis.com</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://download.attensa.com/app/get_attensa.html?feedurl=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Finfeksi" src="http://www.attensa.com/blogs/attensa/WindowsLiveWriter/BadgeredintoBadges_10C02/attensa_feed_button5.gif">Subscribe with Attensa for Outlook</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.webwag.com/wwgthis.php?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Finfeksi" src="http://www.webwag.com/images/wwgthis.gif">Subscribe with Webwag</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://hub.netomat.net/account/account.autoSubscribe.jspa?urls=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Finfeksi" src="http://www.netomat.net/blogger/images/icon_netomat_feedbutton.gif">Subscribe with netomat Hub</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.podcastready.com/oneclick_bookmark.php?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Finfeksi" src="http://www.podcastready.com/images/podcastready_button.gif">Subscribe with Podcast Ready</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.flurry.com/pushRssFeed.do?r=fb&amp;url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Finfeksi" src="http://www.flurry.com/images/flurry_rss_logo2.gif">Subscribe with Flurry</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.wikio.com/subscribe?url=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Finfeksi" src="http://www.wikio.com/shared/img/add2wikio.gif">Subscribe with Wikio</feedburner:feedFlare><feedburner:feedFlare href="http://www.dailyrotation.com/index.php?feed=http%3A%2F%2Ffeeds.feedburner.com%2Finfeksi" src="http://www.dailyrotation.com/rss-dr2.gif">Subscribe with Daily Rotation</feedburner:feedFlare><feedburner:browserFriendly>This is an XML content feed. It is intended to be viewed in a newsreader or syndicated to another site, subject to copyright and fair use.</feedburner:browserFriendly><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item>
      <title>Penderita HIV/AIDS di Ponorogo Meningkat - oleh Redaksi   11/11/2009 @ 00:56</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/NB166Mp1GVY/news.php</link>
      <description>Ponorogo  - Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, terus meningkat dari sebelumnya yang terdeteksi hanya delapan orang pada akhir tahun 2008, menjadi 14 orang pada akhir Oktober 2009.&amp;quot;Kenaikannya mencapai 75 persen,&amp;quot; kata Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ponorogo, dr Wiwiek Widiastuti, Selasa.Ironisnya, dari sekian kasus HIV/AIDS yang teridentifikasi oleh Dinkes iktu, sebagian besar sudah dalam kondisi parah/kronis, karena banyaknya angka kematian pada para penderita selama dua tahun terakhir.Pada tahun 2008, misalnya, dari total delapan kasus HIV/AIDS yang dideteksi oleh dinkes, lima penderita di antaranya meninggal dunia, sedang pada tahun 2009, kasus kematian karena HIV/AIDS bahkan telah mencapai angka delapan orang.&amp;quot;Itu termasuk korban terakhir yang meninggal seminggu lalu,&amp;quot; katanya.Ia mengakui, pendataan mengenai berapa sebenarnya jumlah pasti penderita HIV/AIDS di Kabupaten Ponorogo sejauh ini cukup sulit. Penyebabnya tidak lain karena masih banyak warga yang diduga terinfeksi HIV/AIDS tapi enggan berobat ke kantor layanan kesehatan terdekat atau rumah sakit daerah.Sebaliknya, mereka justru berobat ke luar daerah atau bahkan ada yang tidak mau sama sekali berobat maupun memeriksakan diri dengan alasan takut dikucilkan masyarakat sekitar.Namun jika mengacu pada teori penyebaran HIV/AIDS yang diakui oleh badan kesehatan dunia (WHO) dan juga diadopsi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Pusat bahwa setiap satu orang yang dinyatakan positif, dimungkinkan masih ada 99 orang lagi yang diduga menderita penyakit serupa tapi belum diketahui/terdeteksi.Asumsi satu banding seratus itulah yang mendasari asumsi bahwa jumlah penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Ponorogo sebenarnya telah menembus angka hingga 1.400 orang penderita.&amp;quot;Itu mirip fenomena `gunung es` karena tidak menutup kemungkinan masih banyak kasus serupa tapi belum terdeteksi,&amp;quot; katanya.Ia menjelaskan kebanyakan kasus HIV/AIDS di &amp;quot;Kota Reog&amp;quot; menyerang warga usia produktif, yakni warga dengan usia remaja anak hingga 40-an tahun. Penyebabnya cukup bervariasi. Selain karena pola hubungan seks bebas, sebagian lagi karena penularan melalui jarum suntik yang tidak steril yang digunakan secara bergantian pada pengguna narkoba suntik.&amp;quot;Penyebabnya beragam, tapi yang jelas, virus menular melalui kontak cairan tubuh,&amp;quot; katanya.(ANTARA News)&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/NB166Mp1GVY" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=4011</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>Tahun 2030 Prevalensi Diabetes Melitus Di Indonesia Mencapai 21,3 Juta Orang - oleh Redaksi   10/11/2009 @ 22:35</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/n1czjcZ7UYs/news.php</link>
      <description>Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Diabetes Care, 2004). Sedangkan hasil Riset kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7%. Dan daerah pedesaan, DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8%.Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&amp;amp;H saat membuka Seminar dalam rangka memperingati Hari Diabetes Sedunia 2009, 5 November 2009 di Jakarta. Prof. Tjandra Yoga mengatakan berdasarkan hasil Riskesdas 2007 prevalensi nasional DM berdasarkan pemeriksaan gula darah pada penduduk usia &amp;gt;15 tahun diperkotaan 5,7%. Prevalensi nasional Obesitas umum pada penduduk usia &amp;amp;#8805; 15 tahun sebesar 10.3% dan sebanyak 12 provinsi memiliki prevalensi diatas nasional, prevalensi nasional Obesitas sentral pada penduduk Usia &amp;amp;#8805; 15 tahun sebesar 18,8 % dan sebanyak 17 provinsi memiliki prevalensi diatas nasional. Sedangkan prevalensi TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) pada penduduk usia &amp;gt;15 tahun di perkotaan adalah 10.2% dan sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi diatas prevalensi nasional. Prevalensi kurang makan buah dan sayur sebesar 93,6%, dan prevalensi kurang aktifitas fisik pada penduduk &amp;gt;10 tahun sebesar 48,2%. Disebutkan pula bahwa prevalensi merokok setiap hari pada penduduk &amp;gt;10 tahun sebesar 23,7% dan prevalensi minum beralkohol dalam satu bulan terakhir adalah 4,6%. Dalam sambutannya Prof. Tjandra Yoga menjelaskan, Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi hormon insulin atau karena penggunaan yang tidak efektif dari produksi insulin.Hal ini ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. Penyakit ini membutuhkan perhatian dan perawatan medis dalam waktu lama baik untuk mencegah komplikasi maupun perawatan sakit. Diabetes Melitus terdiri dari dua tipe yaitu tipe pertama DM yang disebabkan keturunan dan tipe kedua disebabkan life style atau gaya hidup. Secara umum, hampir 80 % prevalensi diabetes melitus adalah DM tipe 2. Ini berarti gaya hidup/life style yang tidak sehat menjadi pemicu utama meningkatnya prevalensi DM. Bila dicermati, penduduk dengan obes mempunyai risiko terkena DM lebih besar dari penduduk yang tidak obes. WHO merekomendasikan bahwa strategi yang efektif perlu dilakukan secara terintegrasi, berbasis masyarakat melalui kerjasama lintas program dan lintas sektor termasuk swasta. Dengan demikian pengembangan kemitraan dengan berbagai unsur di masyarakat dan lintas sektor yang terkait dengan DM di setiap wilayah merupakan kegiatan yang penting dilakukan. Oleh karena itu, pemahaman faktor risiko DM sangat penting diketahui, dimengerti dan dapat dikendalikan oleh para pemegang program, pendidik, edukator maupun kader kesehatan di masyarakat sekitarnya. Tujuan program pengendalian DM di Indonesia adalah terselenggaranya pengendalian faktor risiko untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian yang disebabkan DM. Pengendalian DM lebih diprioritaskan pada pencegahan dini melalui upaya pencegahan faktor risiko DM yaitu upaya promotif dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif, jelas Prof. Tjandra Yoga. Prof. Tjandra Yoga menambahkan bahwa pada Sidang Umum Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) dalam press release tanggal 20 Desember 2006 telah mengeluarkan Resolusi Nomor 61/225 yang mendeklarasikan bahwa epidemic Diabetes Melitus merupakan ancaman global dan serius sebagai salah satu penyakit tidak menular yang menitik-beratkan pada pencegahan dan pelayanan diabetes di seluruh dunia. Sidang ini juga menetapkan tanggal 14 Nopember sebagai Hari Diabetes Se-Dunia (World Diabetes Day) yang dimulai tahun 2007. . Oleh karena itu, program Pengendalian Diabetes Melitus dilaksanakan dengan prioritas upaya preventif dan promotif, dengan tidak mengabaikan upaya kuratif. Serta dilaksanakan secara terintegrasi dan menyeluruh antara Pemerintah, Masyarakat dan Swasta (LP, LS, Profesi, LSM, Perguruan Tinggi). Sedangkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1575 tahun 2005, telah dibentuk Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular yang mempunyai tugas pokok memandirikan masyarakat untuk hidup sehat melalui pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular, khususnya penyakit DM yang mempunyai faktor risiko bersama. Sesuai dengan tema Hari Diabetes Sedunia tahun 2009, “Pahami Diabetes dan Kendalikan“, maka memahami diabetes harus dilakukan secara menyeluruh, baik faktor risikonya, diagnosanya maupun komplikasinya. Dan Kendalikan Diabetes sangatlah penting dilaksanakan sedini mungkin, untuk menghindari biaya pengobatan yang sangat mahal. Bahkan semenjak anak-anak dan remaja, gaya hidup sehat dengan mengkonsumsi banyak sayur dan buah, membiasakan olah raga dan tidak merokok merupakan kebiasaan yang baik dalam pencegahan Diabetes Melitus. Oleh karena itu, peran para pendidik baik formal maupun informal, edukator DM dan para kader sangat memegang peranan penting untuk menurunkan angka kesakitan DM./Depkes&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/n1czjcZ7UYs" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=4010</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>RSUD Sanglah Habiskan Rp3 Miliar Tangani Rabies  - oleh Redaksi   10/11/2009 @ 01:41</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/30WPBXCKFoQ/news.php</link>
      <description>DENPASAR : Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Denpasar, Bali telah menghabiskan hampir Rp3 miliar untuk perawatan pasien penderita penyakit rabies maupun pemberian vaksin anti rabies (VAR).  &amp;quot;Perawatan terhadap pasien penyakit rabies termasuk 12 orang meninggal dan pemberian VAR kepada warga yang digigit anjing diberikan secara cuma-cuma,&amp;quot; kata Direktur Utama RSUP Sanglah, dr I Gusti Lanang M Rudiartha di Denpasar, Selasa (10/11). Ia mengatakan, pemberian VAR seluruhnya mencapai 25.585 dosis dari gigitan anjing terhadap 9.132 orang. &amp;quot;Tidak semua gigitan ajing pada masyarakat harus mendapat VAR, masyarakat hendaknya menyadari hal itu,&amp;quot; ujar Lanang Rudiartha. Rudiartha menjelaskan meskipun pelayanan terhadap pasien rabies dan pemberian VAR dilakukan secara cuma-cuma, namun masyarakat tetap harus menyediakan dana untuk transportasi ke RSUP Sanglah Denpasar. Masyarakat di Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem yang digigit anjing untuk mendapatkan vaksin ke RSUP mengeluarkan biaya sedikitnya Rp500 ribu guna menyewa kendaraan,&amp;quot; ujar Rudiartha. Sebab itu masyarakat hendaknya menghindari terjadinya gigitan anjing, serta mematuhi imbauan pemerintah untuk mengikat dan mengandangkan anjing piaraannya. Selain itu, kata dia, masyarakat juga diminta mengeliminasi anjing-anjing liar yang tidak jelas pemiliknya, serta lebih mengedepankan kebersihan lingkungan guna menghindari berjangkitnya penyakit. Ia menambahkan, jika Provinsi Bali tidak terjangkit penyakit rabies maka dana Rp3 miliar serta pengadaan vaksin yang nilainya juga miliaran rupiah itu dapat diarahkan untuk menangani kasus-kasus penyakit lain yang dialami masyarakat kurang mampu. (Ant)&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/30WPBXCKFoQ" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=4008</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>Flu Binatang Berpotensi Picu Virus Baru - oleh Redaksi   10/11/2009 @ 00:49</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/EZ2gGZ1KOp4/news.php</link>
      <description>Jenewa - Sejumlah babi, kalkun, dan binatang peliharaan telah terinfeksi flu H1N1. Namun, virus pandemi itu tampaknya belum menyebar dengan cepat di antara binatang, demikian pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Jumat lalu. Juru bicara WHO, Gregory Hartl, mengatakan belum mengetahui bagaimana binatang yang terisolasi itu tertular virus flu yang menyebar dengan cepat di antara manusia di belahan bumi utara, terutama di Eropa Timur. Sejenis virus flu baru, yang terlihat seperti gabungan gen manusia dan babi, telah terdeteksi di sejumlah peternakan cerpelai di Denmark. Virus itu tampaknya hanya menginfeksi binatang dan tidak menjangkiti pekerja peternakan yang bersentuhan dengan binatang tersebut. &amp;quot;Tak ada kasus pada manusia yang berasosiasi dengan cerpelai itu, tapi kami tidak tahu pada kasus lainnya,&amp;quot; kata Hartl.Dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan pada situsnya, badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu mengatakan kasus cerpelai tersebut mendemonstrasikan ekologi virus influenza yang terus berubah, potensi untuk perubahan yang mengejutkan, dan perlunya kewaspadaan tak pernah kendur, juga terhadap binatang. &amp;quot;Penemuan terbaru ini menunjukkan bahwa virus influenza A pada binatang dan manusia semakin bertindak seperti pusat pertemuan gen yang bersirkulasi di antara beberapa inang, dan hal itu membuka potensi munculnya virus influenza baru yang berkembang pada binatang lain selain babi,&amp;quot; kata WHO.WHO merekomendasikan agar pejabat berwenang melakukan pemantauan rutin terhadap para pekerja peternakan, terutama bila mereka memperlihatkan tanda-tanda penyakit pernapasan. Mereka mengimbau kerja sama erat antara petugas kesehatan publik dan dokter hewan di negara-negara wabah berjangkit. Data terakhir WHO mencatat lebih dari 5.700 orang di seluruh dunia meninggal akibat infeksi H1N1 sejak penyakit itu pertama kali ditemukan di Amerika Utara tahun lalu. Sebagian besar pasien yang mengalami efek serius flu H1N1 berusia di bawah 65 tahun, berbeda dengan virus flu musiman, yang biasanya menyerang orang berusia lanjut. REUTERS |TEMPO Interaktif&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/EZ2gGZ1KOp4" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=4007</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>Menkes: Infeksi Nosokomial Harus Dikendalikan - oleh Redaksi   09/11/2009 @ 00:49</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/NcEIllBJzNQ/news.php</link>
      <description>JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih meminta pengelola rumah sakit mengerahkan semua sumber daya untuk mencegah dan mengendalikan penyakit infeksi yang terjadi di rumah sakit yang biasa disebut infeksi nosokomial.Saat memberi sambutan pada seminar tentang keselamatan pasien global di Jakarta, Minggu kemarin, Endang mengatakan langkah itu penting bagi kesehatan dan keselamatan pasien, pengunjung rumah sakit dan pemberi pelayanan di rumah sakit.Endang menjelaskan, infeksi nosokomial dapat menyebabkan pasien dirawat lebih lama sehingga mengeluarkan uang lebih banyak, pihak rumah sakit pun akan lebih besar mengeluarkan biaya untuk pelayanan dan tidak jarang berakibat kematian.Selama ini, ia melanjutkan, penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit dan pelayanan kesehatan lain masih jauh dari harapan.  &amp;quot;Untuk itu perlu sosialisasi untuk mendapatkan komitmen dari direktur rumah sakit,&amp;quot; katanya.Dia juga meminta direktur rumah sakit meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas pelayanan kesehatan dalam melakukan pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial.&amp;quot;Teknik sesuai pengetahuan dan teknologi terkini perlu digali dan ditingkatkan. Ini bisa diperoleh dengan mengikuti pelatihan, lokakarya dan seminar,&amp;quot; katanya.Pemimpin rumah sakit, katanya, juga harus menyiapkan sistem dan sarana/prasarana penunjang upaya pengendalian infeksi yang dapat terjadi melalui penularan penyakit dari pasien ke petugas, pasien ke pasien, dan pasien ke pengunjung atau sebaliknya.Sementara karyawan dan staf rumah sakit, lanjut dia, mesti melaksanakan pencegahan dan pengendalian infeksi sesuai prosedur yang telah ditetapkan.Pemerintah, kata dia, telah menyusun kebijakan nasional dengan menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) RI nomor 270/2007 tentang pedoman manajerial pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain serta Kepmenkes Nomor 82/2007 tentang pedoman pencegahan infeksi di rumah sakit.Ia menambahkan pemerintah juga memasukkan indikator pencegahan dan pengendalian infeksi ke dalam standar pelayanan minimal rumah sakit dan bagian dari penilaian akreditasi rumah sakit.    Berdampak BesarGuru Besar Kedokteran dan Epidemiologi Rumah Sakit dari Jenewa, Swiss Prof Didier Pitet mengatakan infeksi nosokomial berdampak besar terhadap keselamatan pasien.Menurut Dewan Penasehat Aliansi Dunia untuk Keselamatan Pasien itu, infeksi nosokomial menyebabkan 1,5 juta kematian setiap hari di seluruh dunia. Studi yang dilakukan WHO di 55 rumah sakit di 14 negara di seluruh dunia juga menunjukkan bahwa 8,7 persen pasien rumah sakit menderita infeksi selama menjalani perawatan di rumah sakit.  Sementara di negara berkembang, diperkirakan lebih dari 40 persen pasien di rumah sakit terserang infeksi nosokomial.   Prof Pitet juga bercerita tentang anak laki-laki usia delapan tahun bernama Cal Sheridan yang harus hidup dengan keterbelakangan mental hanya karena pemeriksaan darah sederhana yang dijalani ibunya semasa hamil.Ia menjelaskan manusia cenderung melakukan kesalahan, demikian pula dalam pelaksanaan tindakan medis, apalagi dengan dukungan sistem dan fasilitas yang kurang memadai.  Kesalahan itu tentunya tidak disengaja dan tidak besar, tapi tetap bisa mencelakakan atau merugikan pasien. &amp;quot;Manusia memang cenderung melakukan kesalahan, tapi ini bisa diminimalkan kalau sistemnya dirancang dengan baik,&amp;quot; kata ahli dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) itu.Menurut dia, WHO sudah menyusun panduan pencegahan dan pengendalian infeksi pada rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang lain. Strategi yang terbukti bermanfaat dalam pengendalian infeksi nosokomial adalah peningkatan peran petugas kesehatan dalam pengendalian infeksi melalui penerapan prosedur kewaspadaan.Prosedur kewaspadaan itu, katanya, adalah kewaspadaan standar yang diterapkan kepada semua orang, termasuk pasien, petugas dan pengunjung rumah sakit; serta kewaspadaan berdasarkan penularan bagi pasien yang dicurigai terinfeksi.&amp;quot;Menjaga kebersihan dengan mencuci tangan adalah cara yang mudah dan efektif untuk mencegah infeksi dan perluasan resistensi obat antimikrobial,&amp;quot; katanya.Ia menambahkan WHO menyarankan tenaga kesehatan menggunakan cairan berbasis alkohol untuk membersihkan tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan medis.Sumber : Ant&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/NcEIllBJzNQ" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=4001</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>Pandemic (H1N1) 2009 - update 73 - oleh Redaksi   08/11/2009 @ 22:17</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/iE0dIWDZq3M/news.php</link>
      <description>Pandemic (H1N1) 2009 - update 73Weekly updateAs of 1 November 2009, worldwide more than 199 countries and overseasterritories/communities have reported laboratory confirmed cases ofpandemic influenza H1N1 2009, including over 6000 deaths.Laboratory-confirmed cases of pandemic (H1N1) 2009 as officiallyreported to WHO by States Parties to the IHR (2005) as of 1 November2009Map of affected countries and deaths The countries and overseas territories/communities that have newlyreported their first pandemic (H1N1) 2009 confirmed cases since thelast web update (No.72): Congo. The countries and overseas territories/communities that have newlyreported their first deaths among pandemic (H1N1) 2009 confirmed casessince the last web update (No 72): Afghanistan, Croatia, Mongolia,Tanzania and Ukraine.http://www.who.int/csr/don/2009_11_06/en/index.html&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/iE0dIWDZq3M" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=3999</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>Penduduk Asli Venezuela Diserang Flu Babi  - oleh Redaksi   05/11/2009 @ 21:54</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/J1oNRGt56Cc/news.php</link>
      <description>Sebuah organisasi hak penduduk asli yang bekerja di Venezuela mengatakan virus flu H1N1, yang biasanya disebut flu babi, telah mencul di kalangan suku Yanomani Indian dan ducirigai telah membunuh 7 orang.Organisasi yang berbasis di London itu, Survival International, melaporkan korban jiwa itu hari Rabu, dengan mengatakan 1000 lagi suku Yanomani kabarnya telah terinfeksi jenis flu tersebut.Survival International juga mengatakan bahwa pemerintah telah menutup daerah itu dan mengirim tim-tim medis untuk membantu suku tersebut, yang terletak di sebuah pojok Amazon  yang melintasi Brazil dan Venezuela. Daerah suku Yanomani berpenduduk kira-kira 32 ribu orang.Kantor berita Perancis mengutip Presiden Venezuela Hugo Chavez mengatakan hari Selasa bahwa flu tersebut telah menyerang dengan keras penduduk asli di Venezuela, tetapi keadaannya dapat dikuasai./VOA&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/J1oNRGt56Cc" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=3991</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>WHO Nyatakan H1N1 Sebagai Virus Flu Dominan Dunia  - oleh Redaksi   05/11/2009 @ 21:50</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/h1Eb1aMAjKg/news.php</link>
      <description>Organisasi Kesehatan Sedunia atau WHO mengatakan virus H1N1 &amp;amp;#8211; yang umumnya dikenal sebagai flu babi &amp;amp;#8211; telah menjadi virus flu dominan di dunia.Dalam jumpa pers hari Kamis, penasihat khusus WHO untuk pandemi influenza, Dr. Keiji Fukuda, mengatakan virus H1N1 terutama aktif di Belahan Bumi Utara dalam bulan-bulan belakangan.Ia memperkirakan kecenderungan itu akan terus berlangsung selama musim dingin, dengan kasus-kasus lebih parah dan bahkan kematian.Fukuda mengatakan vaksin yang saat ini digunakan di sekitar 20 negara masih efektif dan aman. Menurutnya, tidak dilaporkan adanya efek samping berbahaya dari vaksin itu.Virus H1N1 berbeda dengan flu musiman biasa karena virus ini tetap aktif selama musim panas dan menginfeksi orang-orang berusia di bawah 65 tahun. WHO mengatakan, kebanyakan penderita bisa sembuh tanpa rawat inap./VOA&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/h1Eb1aMAjKg" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=3990</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>Puluhan PSK di Timika Positif Terinfeksi HIV - oleh Redaksi   04/11/2009 @ 00:00</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/BSA6kCFLGqw/news.php</link>
      <description>Timika  - Puluhan Pekerja Seks Komersial (PSK) di lokalisasi prostitusi Kilometer 10, Timika, Papua dinyatakan positif terinfeksi HIV.Sesuai data yang diterima ANTARA dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Mimika,di Timika, Rabu, sekitar 10 persen dari PSK Kilo 10 yang berjumlah sekitar 294 orang sudah terinfeksi HIV.&amp;quot;Sekitar 20-25 orang PSK Kilo 10 yang positif HIV sampai saat ini masih bekerja aktif. Hal ini dikhawatirkan akan menambah jumlah kasus HIV di Mimika,&amp;quot; kata Sekretaris KPA Mimika, Reynold Ubra.Reynold menyarankan warga Timika agar ekstra waspada saat mengunjungi lokalisasi Kilo 10 dan jika &amp;quot;terpaksa&amp;quot; maka harus menggunakan alat pengaman alias kondom saat melakukan hubungan seks.Sejak beberapa tahun lalu KPA Mimika bersama Department Public Health &amp;amp; Malaria Control (PHMC) PT Freeport Indonesia menyediakan kondom secara gratis di lokalisasi Kilo 10.Bahkan KPA Mimika merekrut dua orang petugas yang selalu stand by setiap saat memonitoring penggunaan kondom pada para PSK.&amp;quot;Bagi PSK yang terkena infeksi menular seksual (IMS) kita berikan saksi tegas dan harus istirahat sampai sembuh baru bisa membuka praktek lagi,&amp;quot; jelas Reynold.Menurut Reynold, para PSK di Kilo 10 setiap dua kali seminggu mendapat layanan kesehatan oleh petugas kesehatan dari PHMC PT Freeport.Namun tidak demikian halnya dengan para PSK liar yang berkedok sebagai tukang pijat, pelayan di bar dan lain-lain karena keberadaan mereka sulit dijangkau petugas.Salah satu PSK Kilo 10 bernama Yanti saat ini terlibat aktif sebagai relawan HIV/AIDS sekaligus pendamping ODHA.Yanti bahkan dikirim mengikuti pertemuan nasional pekerja seks seluruh Indonesia di Jakarta sejak 2-4 November dengan biaya seluruhnya ditanggung KPA Mimika. Kerjasama LPMAKDalam upaya menekan laju kasus HIV/AIDS di Mimika, KPA setempat juga menjalin kerjasama dengan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) untuk penyuluhan masalah HIV/AIDS di empat area prioritas yaitu Kokonao, Ayuka, Banti dan Kwamki Lama.Guna menunjang kegiatan operasional KPA Mimika, Pemkab setempat mengalokasikan anggaran Rp2,5 miliar dalam APBD 2009. Dukungan dana untuk penanggulangan HIV/AIDS di Mimika juga berasal dari Global Fund dan Pemerintah Pusat melalui program &amp;quot;Save Papua&amp;quot;.Hingga akhir Juni 2009, jumlah kasus HIV/AIDS di Mimika telah mencapai 2.005 kasus dan merupakan jumlah kasus yang tertinggi di Provinsi Papua bahkan di seluruh Indonesia.Sejak Januari-Juni 2009, terjadi penambahan 111 kasus HIV baru dan 101 kasus AIDS baru dengan jumlah penderita yang meninggal mencapai lebih dari 30 orang dengan gejala AIDS.Dari 111 kasus HIV baru tersebut, tiga diantaranya menimpa remaja yang baru duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP)./antara&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/BSA6kCFLGqw" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=3988</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>Depkes Berencana Bentuk Komite Proteksi Virus  - oleh Redaksi   02/11/2009 @ 23:09</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/htxaR8ZC5Q4/news.php</link>
      <description>JAKARTA : Departemen Kesehatan akan membentuk sebuah komite yang akan menentukan kebijakan proteksi terhadap semua sampel spesimen dan strain suatu penyakit hasil penelitian di Indonesia, kata Menteri Kesehatan Endang R Sedyaningsih. &amp;quot;Saya akan membentuk suatu komite atau komisi nasional yang terdiri atas pakar spesialis anak, pakar spesialis dalam dan virulogi dan pakar-pakar dari universitas dan dari Depkes,&amp;quot; kata Endang R Sedyaningsih disela kunjungan kerjanya di Rumah Sakit Hasan Sadikin dan RS Paru-paru HA Rotinsulu, di Bandung, Jawa Barat, Senin (2/11). &amp;quot;Komite itu akan menjadi semacam dewan pertimbangan untuk membahas dan memutuskan tawaran penelitian yang besar-besar, bermanfaat atau tidak untuk Indonesia, apa keuntungannya untuk Indonesia, apa saja yang boleh dilakukan oleh pihak asing,&amp;quot; katanya. Depkes juga akan membentuk Komite MTA (Material Transfer Agreement) yang memutuskan spesimen atau strain virus/bakteri hasil suatu penelitian apakah bisa keluar dari Indonesia atau tidak. &amp;quot;Selain itu ada komite MTA Material Transfer Agreement, jadi penelitian yang sudah disetujui oleh komisi nasional tersebut, kita akan lihat perlu spesimen itu keluar, sedapat mungkin spesimen tidak keluar dari Indonesia,&amp;quot; kata Menkes. Dia juga mengatakan penelitian yang bekerjasama dengan pihak asing yang dilakukan di Indonesia disyaratkan dengan transfer teknologi. &amp;quot;Sedapat mungkin teknologinya dibawa ke Indonesia, bisa ke Depkes, bisa di fakultas, kita tidak akan mengatakan bahwa penelitian itu harus dilakukan di Depkes,&amp;quot; katanya. Apabila dengan terpaksa spesimen penelitian dibawa ke luar Indonesia, maka harus tunduk pada persyaratan yang tercantum pada persyaratan. Menkes juga mengatakan pemerintah hanya akan bekerjasama melakukan penelitian antarnegara, bukan dengan suatu institusi. &amp;quot;Untuk kebijakan penelitian itu, Badan Litbang Depkes akan lebih difungsikan sebagai koordinator untuk riset-riset yang dilakukan oleh universitas dan dilakukan oleh badan penelitian di Indonesia yang bekerjasama dengan kita dan juga kerjasama dengan luar negeri,&amp;quot; kata Endang. Dia melanjutkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga telah memberi arahan agar kerja sama dilakukan dengan negara manapun, termasuk Amerika Serikat. (Antara)&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/htxaR8ZC5Q4" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=3984</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>Pandemic (H1N1) 2009 - update 72 - oleh Redaksi   02/11/2009 @ 02:32</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/ep1PBXVdNYU/news.php</link>
      <description>Pandemic (H1N1) 2009 - update 72Weekly updateAs of 25 October 2009, worldwide there have been more than 440,000laboratory confirmed cases of pandemic influenza H1N1 2009 and over5700 deaths reported to WHO. As many countries have stoppedcounting individual cases, particularly of milder illness, the casecount is likely to be significantly lower than the actual number ofcases that have occurred. WHO is actively monitoring the progress ofthe pandemic through frequent consultations with the WHO RegionalOffices and member states and through monitoring of multiple sources ofdata.Laboratory-confirmed cases of pandemic (H1N1) 2009 as officiallyreported to WHO by States Parties to the IHR (2005) as of 18 October2009Map of affected countries and deaths The countries and overseas territories/communities that have newlyreported their first pandemic (H1N1) 2009 confirmed cases since thelast web update (No.71): None.The countries and overseas territories/communities that have newlyreported their first deaths among pandemic (H1N1) 2009 confirmed casessince the last web update (No 71): Russia,Jordan, Serbia, the CzechRepublic, Turkey, Finland, Guadeloupe (FOC), and Moldova.http://www.who.int/csr/don/2009_10_30/en/index.html&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/ep1PBXVdNYU" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=3981</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>Tiongkok Vaksinasi Hampir 4 Juta Penduduknya untuk Cegah Wabah Flu Babi - oleh Redaksi   02/11/2009 @ 01:41</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/CSJLY44KrGI/news.php</link>
      <description>Pemerintah Tiongkok telah memvaksinasi hampir empat juta orang untuk melawan epidemi flu babi.Kementerian kesehatan Tiongkok mengatakan, 3,7 juta lebih warga Tiongkok telah diberi vaksin H1N1 sampai hari Sabtu kemarin, dan tidak dilaporkan adanya komplikasi apapun.Kata Xinhua, kawasan yang belum mendapat vaksinasi itu adalah propinsi Anhui, Jiangxi dan Sichuan, serta kota Chongqing.Enam orang dilaporkan tewas karena flu babi, dan lebih dari 46,000 orang lainnya terinfeksi. Kata perdana menteri Tiongkok Wen Jia-bao, pemerintah menghadapi kesulitan besar dalam mengatasi perebakan flu babi itu, dan menyerukan kepada industri farmasi untuk meningkatkan pembuatan vaksin./VOA&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/CSJLY44KrGI" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=3979</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>Gizi Buruk Ditemukan di Lampung Timur - oleh Redaksi   30/10/2009 @ 01:46</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/JHSbT40X_GQ/news.php</link>
      <description>Sukadana, Lampung Timur : Beberapa kasus gizi buruk ditemukan di Kabupaten Lampung Timur sehingga pemerintah daerah setempat perlu menangani masalah tersebut lebih serius, kata Direktur RS Sukadana dr. Febriwansyah, Kamis.Umumnya orang tua membawa anak bergizi buruk ke rumah sakit daerah, namun sudah dalam kondisi parah sehingga harus dirujuk ke rumah sakit lain yang memiliki fasilitias lebih lengkap.Berdasarkan informasi yang dihimpun, salah satu kasus gizi buruk menyerang Sukriya (9), warga Dusun V Umbul Jati, Desa Pempen, Kecamatan Gunung Pelindung.Korban meninggal dunia pada 23 Juni 2009, setelah dirawat di RS Abdul Moeloek (RSAM), Bandarlampung, pada 10 Juni 2009.Kasus terbaru menimpa Ahmad Fatoni (4), warga Dusun I RT I, Desa Sumber Hadi, Kecamatan Melinting.  &amp;quot;Fatoni dirawat di RSUD Sukadana sejak dua hari lalu,&amp;quot; kata Febriwansyah.Penyakit tersebut mendera Fatoni sejak berusia 5 bulan, sehingga pertumbuhan fisiknya tidak sempurna dan kondisi kesehatannya terus menurun. Menginjak usia empat tahun, berat badan anak ketiga pasangan Sukardi (25) dan Soleha (27), ini hanya tujuh kilogram, jauh di bawah rata-rata berat normal anak seusianya.Dengan bantuan berbentuk dana sebesar Rp1 juta, Ahmad Fatoni kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek pada September 2009, selama 7 hari dirawat di rumah sakit sehingga mulai membaik. Namun, setelah 7 hari dirawat, Ahmad Fatoni dibawa pulang ke rumah karena dana yang diberikan telah habis untuk biaya selama satu minggu. Sejak itu, kondisi tubuh Ahmad menurun lagi dan terus berlangsung hingga empat tahun. Sukardi yang ditemani istrinya, Soleha, mengaku tidak mampu berbuat banyak untuk mengobati buah hati mereka, karena penghasilannya sebagai petani sari kelapa tidak mampu membiaya pengobatan anaknya di rumah sakit. &amp;quot;Jangankan untuk berobat, untuk makan saja kami susah,&amp;quot; jelasnya.Gizi buruk juga dialami Ainah Nurhasanan (6 bulan), warga Dusun IV, Desa Mataram Baru, Kecamatan Mataram Baru, yang sampai sat ini dirawat Rumah Sakit Umum Ahmad Yani, Kota Metro sejak 3 Oktober 2009./antara&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/JHSbT40X_GQ" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=3976</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>Pandemic (H1N1) 2009 - update 71 - oleh Redaksi   27/10/2009 @ 00:34</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/bGSqsgmoGYI/news.php</link>
      <description>Pandemic (H1N1) 2009 - update 71Weekly updateAs of 17 October 2009, worldwide there have been more than 414,000laboratory confirmed cases of pandemic influenza H1N1 2009 and nearly5000 deaths reported to WHO. As many countries have stopped counting individual cases, particularlyof milder illness, the case count is significantly lower than theactually number of cases that have occurred. WHO is actively monitoringthe progress of the pandemic through frequent consultations with theWHO Regional Offices and member states and through monitoring ofmultiple sources of data.Laboratory-confirmed cases of pandemic(H1N1) 2009 as officially reported to WHO by States Parties to the IHR(2005) as of 18 October 2009Map of affected countries and deaths The countries and overseas territories/communities that have newlyreported their first pandemic (H1N1) 2009 confirmed cases since thelast web update (No.70): Mongolia, Rwanda and Sao Tome and Principe. The countries and overseas territories/communities that have newlyreported their first deaths among pandemic (H1N1) 2009 confirmed casessince the last web update (No 70): Iceland, Sudan and Trinidad andTobago.http://www.who.int/csr/don/2009_10_23/en/index.html&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/bGSqsgmoGYI" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=3968</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>WHO: Korban Tewas H1N1 Melebihi 3.900 - oleh Redaksi   26/10/2009 @ 23:50</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/fsn3shBwJL4/news.php</link>
      <description>Jenewa  - Sekitar 3.917 orang di seluruh dunia tewas karena influensa A/H1N1, yang juga dikenal sebagai flu babi, sejak virus baru flu itu diketahui April, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) setelah memperbarui datanya.Dari seluruh korban yang meninggal itu, 2.948 orang meninggal di Amerika, kemudian 362 di wilayah Pasifik Barat, sebagaimanadikutip dariXinhua-OANA.Empat kantor wilayah lain WHO, yakni di Asia Tenggara, Eropa, Laut Tengah Timur, dan Afrika melaporkan korban tewas di masing-masing wilayah mencapai 340, 154, 72 dan 41 orang.WHO, yang telah mendeklarasikan flu A/H1N1 sebagai wabah pada Juni lalu, mengatakan bahwa jumlah keseluruhan yang dikonfirmasikan laboratorium di seluruh dunia kini mencapai 318.925 kasus.Namun jumlah itu diduga lebih rendah dibandingkan dengan jumlah kasus yang sesungguhnya terjadi, karena makin banyak negara menghentikan pengujian dan laporan kasus, terutama pada orang-orang separuh baya.Di belahan bumi utara, tempat yang kini memasuki musim dingin, aktivitas influensa diperkirakan terus meningkat dan banyak daerah.Namun demikian di belahan bumi selatan, sebagian besar penularan influensa kembali ke garis dasar atau bahkan terus turun, kata WHO./antara&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/fsn3shBwJL4" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=3967</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>Dua Warga Bengkulu Meninggal Karena HIV/Aids - oleh Redaksi   21/10/2009 @ 23:01</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/3rzTFxU3A_Y/news.php</link>
      <description>Bengkulu - Ketua Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi Bengkulu, Arna Mareta, mengatakan bahwa dalam bulan ini, dua penderita HIV di Bengkulu telah meninggal dunia.&amp;quot;Menambah daftar panjang korban jatuh akibat virus ini, bulan ini dua orang meninggal, dua-duanya warga Kota Bengkulu, dan pria dewasa,&amp;quot; katanya di Bengkulu, Kamis.Berdasarkan riwayat penularan, kedua penderita tersebut terjangkit HIV melalui penggunaan narkoba dengan jarum suntik bergantian dan praktik seks bebas.Arna mengatakan diperkirakan ke depan, penularan HIV akan lebih banyak melalui hubungan seks bebas termasuk melalui Penjaja Seks Komersil (PSK).&amp;quot;Karena kalau dari narkoba, kepolisian sudah gencar memberantas dan bisa dilihat secara fisik ciri-ciri pemakai narkoba itu, tapi kalau melalui hubungan seks tidak ada indikasinya,&amp;quot; katanya.Saat ini kata Arna penularan HIV melalui hubungan seks dan narkoba mulai seimbang.&amp;quot;Termasuk yang meninggal bulan ini satu dari narkoba dan satu lagi dari seks bebas,&amp;quot;katanya.Dikatakan, seluruh kabupaten/kota di Bengkulu tidak ada yang terbebas dari penyebaran HIV/Aids.Sementara itu data dari Volunteer Conseling Test (VCT) RSUD M Yunus menyebutkan selama September terdapat 37 kunjungan dimana dua orang diketahui positif HIV melalui test darah.&amp;quot;Ada dua kasus positif, enam yang negatif dan dua orang meninggal dunia selama September,&amp;quot; kata Ketua Tim VCT RSUD M Yunus, dr Daisy.Daisy mengatakan penularan HIV/Aids di Bengkulu tergolong cepat yang dibuktikan dengan tingkat kunjungan per bulan yang terus meningkat.Pada Agustus 2009 terdapat 32 kunjungan dengan rincian 16 orang mengambil obat Anti Retro Viral (ARV) dan 13 orang yang melakukan tes HIV.&amp;quot;Dari 13 orang ini juga dua di antaranya positif, satu warga Kota Bengkulu dan satu lagi dari Manna, Bengkulu Selatan,&amp;quot; tambahnya. (ANTARA News)&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/3rzTFxU3A_Y" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=3940</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>Kasus Babi Terkena Flu H1N1 Ditemukan di AS - oleh Redaksi   20/10/2009 @ 23:05</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/h2r1PZe1P1g/news.php</link>
      <description>Washington  - Menteri Pertanian AS Tom Vilsack, Senin, mengumumkan National Veterinary Services Laboratories di U.S. Department of Agriculture (USDA) telah mengkonfirmasi keberadaan virus wabah influenza H1N1 pada sampel babi yang dikumpulkan di Minnesota State Fair dan diajukan oleh University of Minnesota.&amp;quot;Kami sepenuhnya melibatkan mitra dagang kami guna mengingatkan mereka bahwa beberapa organisasi internasional, termasuk Organisasi Kesehatan Hewan Dunia, telah menyatakan tak ada dasar ilmiah untuk membatasi perdagangan daging babi dan produk babi,&amp;quot; kata Vilsack dalam satu pernyataan. &amp;quot;Orang tak dapat terinfeksi flu ini karena makan daging babi atau produk daging babi. Daging babi aman dimakan.&amp;quot;Hasil sequens mengenai &amp;quot;hemagglutinin&amp;quot;, &amp;quot;neuraminidase&amp;quot; dan &amp;quot;gen matriks&amp;quot; dari pengucilan virus tersebut cocok dengan wabah yang dilaporkan 2009 sequens virus flu babi H1N1.Sampel yang dikumpulkan di Minnesota State Fair 2009 adalah bagian dari kesepakatan proyek penelitian kerja sama University of Iowa dan University of Minnesota, yang didanai oleh U.S. Centers for Disease Control and Prevention yang mendokumentasikan virus influenza di tempat manusia dan babi berinteraksi seperti pasar.Infeksi babi di pasar tak menunjukkan infeksi ternak komersial karena tayangan memperlihatkan babi berada di bagian terpisah dari industri babi yang tak secara khusus menjadi tempat interaksi manusia atau hewan ternak.USDA terus mengingatkan produsen babi di AS mengenai perlunya kesehatan yang baik, keamanan biologi dan tindakan lain yang akan menegah penularan dan penyebaran virus influenza pada ternak mereka serta mendorong mereka agar ikut dalam program pengawasan virus influenza babi oleh USDA.(ANTARA News)&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/h2r1PZe1P1g" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=3936</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>Penderita TB di Indonesia Peringkat Ketiga Dunia - oleh Redaksi   19/10/2009 @ 00:52</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/5JK8WKgPoEQ/news.php</link>
      <description>Makassar - Jumlah penderita Tuberculosis (TB) di Indonesia masih berada pada urutan tertinggi ketiga di dunia, yang pada umumnya disebabkan kurang diperhatikannya faktor kebersihan.&amp;quot;Indonesia urutan ketiga setelah India dan China yang terbanyak angka penderita TB-nya. Penyebab utama tingginya penderita TB di Indonesia karena kebersihan kurang terjaga,&amp;quot; kata Head of Corporate Research Novartis, Paul Herrling di Makassar, Minggu.Menurut dia, dari hasil penelitian yang dilakukan mitra kerja Novartis di Indonesia diketahui, faktor kebersihan menjadi penyebab utama seseorang terjangkit bakteri penyebab TB. &amp;quot;Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan, sempit, jorok dan kurang pencahayaan akan menjadi pemicu bakteri TB berkembang dan menjangkiti orang yang lemah kekebalan tubuhnya,&amp;quot; katanya.Selain faktor kebersihan yang dapat menyebabkan seseorang menderita TB, lanjutnya, gaya hidup juga dapat menjadi pemicu penyakit menular ini. Sebagai gambaran, penderita TB juga banyak di Rusia, karena mayoritas penduduknya gemar meminum vodka, sehingga mempengaruhi berat badan dan pada akhirnya menjadi pemicu orang menderita TB. Berkaitan dengan hal tersebut, lanjutnya, pihaknya memilih Indonesia sebagai lokasi lembaga penelitian TB yang dilaksanakan Novartis-Eijkman-Hasanuddin Clinical Research Initiative (NEHCRI) di Makassar.&amp;quot;NEHCRI resmi beroperasi di Makassar pada 2007 lalu, karena sebelumnya kami sudah menimbang bahwa lokasi ini sangat representatif,&amp;quot; ujar Herrling. Alasannya, dalam Kawasan Tamalarena Makassar, selain terdapat kampus Universitas Hasanuddin, juga terdapat Rumah Sakit Regional Wahidin, sehingga sangat tepat jika di tengah kawasan itu dibangun lembaga penelitian yang dilengkapi dengan laboratorium yang canggih.(ANTARA News)&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/5JK8WKgPoEQ" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=3933</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>Pandemic (H1N1) 2009 - update 70 - oleh Redaksi   18/10/2009 @ 23:17</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/g_pYba9N_tM/news.php</link>
      <description>Pandemic (H1N1) 2009 - update 70Laboratory-confirmed cases of pandemic (H1N1) 2009 as officiallyreported to WHO by States Parties to the IHR (2005) as of 11 October2009Map of affected countries and deaths No new countries and overseas territories/communities have newlyreported their first pandemic (H1N1) 2009 confirmed case(s) since thelast web update (No. 69).http://www.who.int/csr/don/2009_10_16/en/index.html&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/g_pYba9N_tM" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=3931</feedburner:origLink></item>
    <item>
      <title>Perempuan Hamil Paling Berisiko Terkena Flu Babi - oleh Redaksi   18/10/2009 @ 23:08</title>
      <link>http://feedproxy.google.com/~r/infeksi/~3/YEmIQqi0Jto/news.php</link>
      <description>Jenewa  - Perempuan hamil, anak-anak di bawah dua tahun dan penderita sakit paru-paru kronis adalah tiga kelompok yang paling berisiko terserang infeksi influenza mematikan A/H1N1, demikian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Jumat.Kesimpulan ini disampaikan para dokter, ilmuwan dan profesional kesehatan masyarakat pada akhir pertemuan tiga hari di Washington yang bertujuan berbagi keterangan soal ciri klinis dan penanganan wabah influenza, lanjut WHO.Semua peserta pertemuan bersepakat bahwa gangguan syaraf dapat meningkatkan risiko sakit parah pada anak-anak.Meskipun peran pasti kegemukan tak terlalu dipahami saat ini, namun kegemukan terutama yang tidak wajar, juga paling berisiko terkena infeksi virus flu babi A/H1N1.Para ahli mengkonfirmasi, banyak orang yang terinfeksi virus flu babi A/H1N1 mengalami sakit mirip influenza tanpa komplikasi, dan pulih total dalam waktu satu pekan, tanpa perawatan medis.Namun, kerpihatinan sekarang dipusatkan pada jalur klinik dan penanganan pasien yang dengan cepat terserang radang paru-paru progresif akut.WHO menyatakan pada radang paru-paru, virus pertama umum ditemukan pada kasus parah flu babi.(ANTARA/Xinhua-OANA)&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/infeksi/~4/YEmIQqi0Jto" height="1" width="1"/&gt;</description>
    <feedburner:origLink>http://www.infeksi.com/news.php?lng=in&amp;pg=3930</feedburner:origLink></item>
  </channel>
</rss>
