<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Media Salafy Online</title>
	<atom:link href="https://assahab.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://assahab.wordpress.com</link>
	<description>Meniti jalan di atas Al-Qur&#039;an dan sunnah sesuai dengan pemahaman salaf</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Jul 2009 02:12:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">4369697</site><cloud domain='assahab.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>https://secure.gravatar.com/blavatar/8ca3d21ebc34ea53a43e2c72913647e4870c1ad3f37aa904f97610aa99f5ad1f?s=96&#038;d=https%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Media Salafy Online</title>
		<link>https://assahab.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="https://assahab.wordpress.com/osd.xml" title="Media Salafy Online" />
	<atom:link rel='hub' href='https://assahab.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
	<item>
		<title>Hukum Membajak Program Komputer Dan Semisalnya</title>
		<link>https://assahab.wordpress.com/2009/07/08/salafy-salaf-hukum-membajak-program-komputer-dan-semisalnya/</link>
					<comments>https://assahab.wordpress.com/2009/07/08/salafy-salaf-hukum-membajak-program-komputer-dan-semisalnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Abu Ahmad As-Salafy]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 02:12:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fatwa ulama]]></category>
		<category><![CDATA[artikel salafy]]></category>
		<category><![CDATA[hukum membajak software]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[membajak program komputer]]></category>
		<category><![CDATA[membajak software]]></category>
		<category><![CDATA[pembajakan]]></category>
		<category><![CDATA[pembajakan software]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://assahab.wordpress.com/?p=1162</guid>

					<description><![CDATA[FATWA LAJNAH DA&#8217;IMAH Pertanyaan: Saya bekerja pada bagian komputer, semenjak saya memulai pekerjaan di bagian ini, saya bertugas untuk mengcopy berbagai program untuk memudahkan pekerjaan dengannya. Dan hal itu dapat dilakukan tanpa saya membeli dari kepingan asli program ini, dan perlu diketahui bahwa pada berbagai program tersebut terdapat ungkapan peringatan (larangan) mengcopy, yang maksudnya bahwa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>FATWA LAJNAH DA&#8217;IMAH</strong></p>
<p><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Saya bekerja pada bagian komputer, semenjak saya memulai pekerjaan di bagian ini, saya bertugas untuk mengcopy berbagai program untuk memudahkan pekerjaan dengannya. Dan hal itu dapat dilakukan tanpa saya membeli dari kepingan asli program ini, dan perlu diketahui bahwa pada berbagai program tersebut terdapat ungkapan peringatan (larangan) mengcopy, yang maksudnya bahwa hak penyalinan terpelihara, serupa dengan ungkapan &#8220;hak percetakan terpelihara&#8221; yang terdapat pada sebagian kitab. Dan pemilik program tersebut boleh jadi seorang muslim atau kafir.<br />
Pertanyaan saya: apakah boleh menyalin (mengcopy) dengan cara ini?</p>
<p><strong>Jawaban: </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak diperbolehkan menyalin berbagai program yang pemiliknya melarang untuk menyalinnya kecuali dengan izin mereka, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam : &#8220;Kaum muslimin berpegang diatas syarat-syarat mereka&#8221;, dan sabdanya shallallahu alaihi wasallam: &#8220;Tidak halal harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dirinya&#8221;, dan sabdanya shallallahu alaihi wasallam :&#8221;Barangsiapa yang lebih dahulu dalam perkara mubah, maka dia lebih berhak dengannya&#8221;. Sama saja apakah pemilik berbagai program tersebut muslim atau pun kafir yang bukan harbi (yang boleh diperangi), sebab hak orang kafir yang bukan harbi terpelihara seperti hak seorang muslim. Hanya kepada Allah kita memohon taufiq,shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad,pengikutnya,dan para shahabatnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1162"></span><br />
Lajnah da&#8217;imah lil buhuts al-ilmiyyah wal ifta&#8217;<br />
Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz<br />
Wakil ketua: Abdul Aziz Alus syekh<br />
Anggota: -Shaleh Al-Fauzan<br />
&#8211; Bakr Abu Zaid<br />
Pertanyaan nomor dua dari fatwa nomor: 19622.<br />
Diterjemahkan oleh : Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi.</p>
<p>س: أعمل في مجال الحاسب الآلي، ومنذ أن بدأت العمل في هذا المجال أقوم بنسخ البرامج للعمل عليها، ويتم ذلك دون أن أشتري النسخ الأصلية لهذه البرامج، علمًا بأنه توجد على هذه البرامج عبارات تحذيرية من النسخ، مؤداها: أن حقوق النسخ محفوظة، تشبه عبارة (حقوق الطبع محفوظة) الموجودة على بعض الكتب، وقد يكون صاحب البرنامج مسلمًا أو كافرًا. وسؤالي هو: هل يجوز النسخ بهذه الطريقة أم لا؟<br />
ج: لا يجوز نسخ البرامج التي يمنع أصحابها نسخها إلا بإذنهم؛ لقوله صلى الله عليه وسلم: « المسلمون على شروطهم » ، ولقوله صلى الله عليه وسلم: « لا يحل مال امرئ مسلم إلا بطيبة من نفسه » ، وقوله صلى الله عليه وسلم: « من سبق إلى مباح فهو أحق به » سواء كان صاحب هذه البرامج مسلمًا أو كافرًا غير حربي؛ لأن حق الكافر غير الحربي محترم كحق المسلم.<br />
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.<br />
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء<br />
عضو // عضو // نائب الرئيس // الرئيس //<br />
بكر أبو زيد // صالح الفوزان // عبد العزيز آل الشيخ // عبد العزيز بن عبد الله بن باز //<br />
السؤال الثاني من الفتوى رقم (19622</p>
<p>FATWA IBNU UTSAIMIN RAHIMAHULLAH</p>
<p><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apa hukum mengcopy program-program computer yang bermanfaat dari cd-nya yang asli, yang diterbitkan oleh salah satu perusahaan, untuk dimanfaatkan secara pribadi, atau membagikannya kepada teman-teman, atau untuk dijual. Apakah sama hukumnya jika perusahaan ini dimiliki orang-orang kafir atau muslimin, ataukah tidak (sama hukumnya)?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pertama:</p>
<p style="text-align:justify;">kita bertanya, apakah perusahaan tersebut yang menerbitkan berbagai program ini, apakah secara jujur dia yang menjaga haknya atau tidak? Jika tidak benar bahwa dia yang membuatnya sendiri dan memeliharanya, maka boleh bagi setiap orang menyalin darinya, sama saja apakah untuk dirinya, atau untuk dibagikan kepada teman-temannya, atau dia jual. Sebab tidak terjaga (haknya). Adapun jika ia mengatakan: hak penyalinan terpelihara, maka disini wajib bagi kita sekalian kaum muslimin , atau diseluruh dunia untuk menegakkan apa yang wajib. Dan merupakan hal yang telah diketahui bahwa peraturan telah menetapkan bahwa jika dia sendiri yang membuat pemeliharaannya, maka tidak seorang pun diperbolehkan untuk melanggarnya. Sebab jika dibuka pintu ini, maka akan rugilah perusahaan yang menerbitkannya tersebut, dengan kerugian yang besar, boleh jadi computer ini tidak dihasilkan oleh perusahaan tersebut kecuali dengan biaya yang sangat besar. maka jika disalin lalu disebarkan, maka jadilah yang dijual seharga lima ratus (riyal) menjadi berapa? Lima (riyal), dan ini kemudharatan, sedangkan Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda: &#8220;tidak ada kemudharatan yang tanpa disengaja maupun yang disengaja&#8221;. Dan hadits ini umum.</p>
<p style="text-align:justify;">
Oleh karena itu,saya berharap agar kaum muslimin faham bahwa manusia yang paling menyempurnakan janji dan tanggung jawab adalah kaum muslimin,Sampai rasul alaihis shalatu wassalaam memberi peringatan dari mengingkari janji,dan mengabarkan bahwa itu termasuk dari sifat siapa? Kaum munafiqin. Allah Ta&#8217;ala juga berfirman:<br />
&#8220;dan janganlah engkau membatalkan perjanjian setelah engkau menetapkannya&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">
Tidak semua orang kafir hartanya dihalalkan atau darahnya dihalalkan, orang kafir yang harbi (diperangi) seperti yahudi misalnya, ini kafir harbi. Namun apabila ada perjanjian antara kita dan dia,walaupun perjanjian yang bersifat umum, maka dia mejadi kafir mu&#8217;ahad. Dan sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:<br />
&#8220;Barangsiapa yang membunuh kafir mu&#8217;ahad, maka dia tidak mencium bau syurga&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">
Oleh karena itu kami mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;">berbagai produk tersebut, jika perusahaan tersebut tidak membuat pemeliharaan terhadapnya sedikitpun maka , maka apa perkaranya? Diperluas atau dipersempit? Diperluas, silahkan anda menyalin darinya, baik untuk dirimu, atau untuk temanmu, atau engkau bagikan.adapun jika telah terpelihara,maka tidak boleh.<br />
Tinggal yang menjadi masalah bagiku,apabila seseorang hendak menyalinnya untuk dirinya sendiri saja, tanpa mendatangkan kemudharatan terhadap perusahaan tersebut, apakah boleh atau tidak boleh? Yang Nampak bahwa hal ini tidak mengapa, selama engkau tidak menginginkan darinya keuntungan, namun engkau sendiri saja yang mengambil manfaat , maka saya berharap hal ini tidak mengapa, walaupun menurut saya bahwa ini berat bagiku, namun saya berharap tidak mengapa. insya Allah.<br />
Diterjemahkan oleh: Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi</p>
<p>السؤال/<br />
ما حكم نسخ برامج كمبيوتر نافعة من شرائط أصلية أصدرتها إحدى الشركات وذلك إما للاستفادة الشخصية أو للتوزيع منها على الزملاء أو للبيع و هل يستوي في ذلك أن تكون هذه الشركات تخص كفاراً أو مسلمين أم لا ؟</p>
<p>الإجابة/<br />
أولاً نسأل هل هذه الشركات التي أحضرت هذه الأشياء هل احتفظت لنفسها بحق أو لا ؟ إن لم تحتفظ لنفسها بحق ، فلكل إنسان أن ينسخ منها سواءً لنفسه أو وزع على أصحابه أو يبيع . لأنها لم تُحمَ ، و أما إذا قال حقوق النسخ محفوظة ، فهنا يجب أن نكون نحن المسلمين أوفى العالم بما يجب ، و المعروف أن النظام إذا احتفظ لحقه فإنه لا أحد يعتدي عليه<br />
لأنه لو فُتح هذا الباب لخسرت الشركة المنتجة إيش ؟ خسارة بليغة ؛ قد يكون هذا الكمبيوتر لم تحصل عليه الشركة إلا بأموال كثيرة باهظة ، فإذا نُسخ و وُزع صار الذي يباع بخمسمائة يباع كم ؟ خمسة ، و هذا ضرر ، و النبي صلى الله عليه و سلم قال : (( لا ضرر و لا ضرار )) وهذا عام.<br />
ولهذا أرجو أن يفهم المسلمون أن أوفى الناس بالذمة و العهد هم المسلمون ، حتى إن الرسول عليه الصلاة و السلام حذر من الغدر وأخبر أنه من صفات من ؟ المنافقين .<br />
وقال الله تعالى : (( ولا تنقضوا الأيمان بعد توكيدها )) و ليس كل كافر يكون ماله حلالاً أو دمه حلالاً ، الكافر الحربي كاليهود مثلاً هذا حربي ، و أما من بيننا وبينه عهد ولو بالعهد العام فهو معاهد ، و قد قال النبي صلى الله عليه و سلم : (( من قتل مُعاهداً لم يَرَحْ رائحة الجنة )) و المسلمين أوفى الناس بالعهد .<br />
فلذلك نقول : هذه المنتجات إذا كانت الشركات لم تحتفظ لنفسها بشيء فالأمر فيها إيش ؟ واسع و إلا ضيق ؟ واسع ، انسخ منها لنفسك أو لأصحابك أو وزع . إذا كانت قد احتفظت فلا .<br />
يبقى عندي إشكال فيما إذا أراد الإنسان أن ينسخ لنفسه فقط دون أن يصيب هذه الشركة بأذى ، فهل يجوز أو لا يجوز ؟ الظاهر لي إن شاء الله أن هذا لا بأس به ما دُمت لا تريد بذلك الريع و إنما تريد أن تنتفع أنت وحدك فقط فأرجو أن لا يكون في هذا بأس على أن هذا ثقيلة علي ، لكن أرجو أن لا يكون فيها بأس إن شاء الله</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://assahab.wordpress.com/2009/07/08/salafy-salaf-hukum-membajak-program-komputer-dan-semisalnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1162</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/21819a5d7b53fff1cbf69606b873cced381ec7b862ebd957b3c1d862ec565c33?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Ahmad As-Salafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Bayi Tabung</title>
		<link>https://assahab.wordpress.com/2009/07/08/hukum-bayi-tabung/</link>
					<comments>https://assahab.wordpress.com/2009/07/08/hukum-bayi-tabung/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Abu Ahmad As-Salafy]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 02:03:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fatwa ulama]]></category>
		<category><![CDATA[artikel salafy]]></category>
		<category><![CDATA[bayi tabung]]></category>
		<category><![CDATA[hukum bayi tabung]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://assahab.wordpress.com/?p=1159</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan: Bagaimana menurut pandangan syariah tentang bayi tabung? Arif Joko Wuryanto Jawaban: Alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Bayi tabung merupakan produk kemajuan teknologi kedokteran yang demikian canggih yang ditemukan oleh pakar kedokteran Barat yang notabene mereka adalah kaum kuffar (orang kafir). Bayi tabung adalah proses pembuahan sperma dengan ovum, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana menurut pandangan syariah tentang bayi tabung?<br />
Arif Joko Wuryanto</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
Bayi tabung merupakan produk kemajuan teknologi kedokteran yang demikian canggih yang ditemukan oleh pakar kedokteran Barat yang notabene mereka adalah kaum kuffar (orang kafir). Bayi tabung adalah proses pembuahan sperma dengan ovum, dipertemukan di luar kandungan pada satu tabung yang dirancang secara khusus. Setelah terjadi pembuahan lalu menjadi zygot, kemudian dimasukkan ke dalam rahim sampai dilahirkan. Jadi prosesnya tanpa melalui jima’ (hubungan suami istri).</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan ini telah ditanyakan kepada salah seorang imam abad ini, yaitu Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu. Maka beliau menjawab:</p>
<p style="text-align:justify;">“Tidak boleh, karena proses pengambilan mani (sel telur wanita) tersebut berkonsekuensi minimalnya sang dokter (laki-laki) akan melihat aurat wanita lain. Dan melihat aurat wanita lain (bukan istri sendiri) hukumnya adalah haram menurut pandangan syariat, sehingga tidak boleh dilakukan kecuali dalam keadaan darurat. Sementara tidak terbayangkan sama sekali keadaan darurat yang mengharuskan seorang lelaki memindahkan maninya ke istrinya dengan cara yang haram ini. Bahkan terkadang berkonsekuensi sang dokter melihat aurat suami wanita tersebut, dan ini pun tidak boleh.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1159"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Lebih dari itu, menempuh cara ini merupakan sikap taklid terhadap peradaban orang-orang Barat (kaum kuffar) dalam perkara yang mereka minati atau (sebaliknya) mereka hindari.<br />
Seseorang yang menempuh cara ini untuk mendapatkan keturunan dikarenakan tidak diberi rizki oleh Allah berupa anak dengan cara alami (yang dianjurkan syariat), berarti dia tidak ridha dengan takdir dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jikalau saja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan dan membimbing kaum muslimin untuk mencari rizki berupa usaha dan harta dengan cara yang halal, maka lebih-lebih lagi tentunya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan dan membimbing mereka untuk menempuh cara yang sesuai dengan syariat (halal) dalam mendapatkan anak.” (Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah hal. 288)</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: darussalaf.or.id</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://assahab.wordpress.com/2009/07/08/hukum-bayi-tabung/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1159</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/21819a5d7b53fff1cbf69606b873cced381ec7b862ebd957b3c1d862ec565c33?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Ahmad As-Salafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Menerima Hadiah dari Penghasilan yang Haram</title>
		<link>https://assahab.wordpress.com/2009/07/08/salafy-salaf-hukum-menerima-hadiah-dari-penghasilan-yang-haram/</link>
					<comments>https://assahab.wordpress.com/2009/07/08/salafy-salaf-hukum-menerima-hadiah-dari-penghasilan-yang-haram/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Abu Ahmad As-Salafy]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 01:58:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fatwa ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel salafy]]></category>
		<category><![CDATA[hadiah]]></category>
		<category><![CDATA[mahaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[menerima hadiah]]></category>
		<category><![CDATA[menerima hadiah dari penghasilan haram]]></category>
		<category><![CDATA[pemberian]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://assahab.wordpress.com/?p=1157</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan: Apakah diterima hadiah dari orang yang bekerja pada perkara yang haram, atau sumbangannya untuk membangun mesjid atau selainnya dari amalan-amalan kebaikan? Jawaban: “Yang lebih hati-hati jangan diterima, kalau tidak maka (asalnya) dosa ditanggung oleh yang mengerjakan (perkara haram itu) secara langsung sebagaimana yang telah berlalu. Dan kami katakan bahwa dosanya ditanggung oleh yang mengerjakannya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Pertanyaan: </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Apakah diterima hadiah dari orang yang bekerja pada perkara yang haram, atau sumbangannya untuk membangun mesjid atau selainnya dari amalan-amalan kebaikan?</p>
<p><strong>Jawaban: </strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Yang lebih hati-hati jangan diterima, kalau tidak maka (asalnya) dosa ditanggung oleh yang mengerjakan (perkara haram itu) secara langsung sebagaimana yang telah berlalu.<br />
Dan kami katakan bahwa dosanya ditanggung oleh yang mengerjakannya secara langsung karena Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bermu’amalah dengan orang Yahudi sedangkan mereka bermu’amalah dengan riba dan terkadang mereka mengundang Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam (untuk makan) lalu beliau memenuhi undangan mereka padahal mereka bermu’amalah dengan riba”.</p>
<p>Sumber : Jurnal Al-Atsariyyah Vol. 02/Th01/2006<br />
<a href="http://almakassari.com/?p=136" rel="nofollow">http://almakassari.com/?p=136</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://assahab.wordpress.com/2009/07/08/salafy-salaf-hukum-menerima-hadiah-dari-penghasilan-yang-haram/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1157</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/21819a5d7b53fff1cbf69606b873cced381ec7b862ebd957b3c1d862ec565c33?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Ahmad As-Salafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>fatwa Ulama Tentang Usamah Bin Laden</title>
		<link>https://assahab.wordpress.com/2009/07/08/salafy-salaf-fatwa-ulama-tentang-usamah-bin-laden/</link>
					<comments>https://assahab.wordpress.com/2009/07/08/salafy-salaf-fatwa-ulama-tentang-usamah-bin-laden/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Abu Ahmad As-Salafy]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 01:53:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fatwa ulama]]></category>
		<category><![CDATA[artikel salafy]]></category>
		<category><![CDATA[khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salafy]]></category>
		<category><![CDATA[osama bin laden]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[syeikh bin baz]]></category>
		<category><![CDATA[usamah bin laden]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://assahab.wordpress.com/?p=1155</guid>

					<description><![CDATA[FATWA AL ALLAMAH AL IMAM ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ, MUFTI AGUNG KERAJAAN SAUDI ARABIA YANG LALU TENTANG USAMAH BIN LADEN FATWA PERTAMA: Beliau berkata: Sementara apa yang dilakukan pada masa kini oleh Muhammad Al Misari dan Sa&#8217;d Al Faqih serta yang serupa dengan keduanya dari aktivitas penyebaran seruan-seruan yang rusak dan sesat, maka [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">FATWA AL ALLAMAH AL IMAM ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ, MUFTI AGUNG KERAJAAN SAUDI ARABIA YANG LALU</p>
<p>TENTANG USAMAH BIN LADEN</p>
<p>FATWA PERTAMA:</p>
<p>Beliau berkata:</p>
<p>Sementara apa yang dilakukan pada masa kini oleh Muhammad Al Misari dan Sa&#8217;d Al Faqih serta yang serupa dengan keduanya dari aktivitas penyebaran seruan-seruan yang rusak dan sesat, maka hal itu tanpa diragukan lagi merupakan suatu bahaya yang besar dan mereka semua itu dalah penyeru-penyeru kejahatan dan pengrusakan yang besar.</p>
<p>Maka wajib (kepada seluruh umat) untuk waspada dari apa apa yang telah mereka sebarkan dan dengan segera memusnahkannya serta tidak bekerja sama dengan mereka dalam kegiatan apapun yang menyeru pada kerusakan,kejelekan,kebatilan dan fitnah. Karena Allah Azza wa jalla memerintahkan untuk berta&#8217;awun (bekerja sama) di atas kebajikan dan ketaqwaan. Bukan diatas kerusakan, kejahatan,dan penyebaran kedustaan, serta penyebaran seruan-seruan kebatilan yang bias menyebabkan perpecahan serta ketidak-stabilan keamanan atau yang lainnya.</p>
<p>Selebaran-selebaran tersebut yang telah disebarkan oleh Al Faqih dan Al Misari atau selain keduanya dari kalangan penyeru kebatilan dan kejahatan serta perpecahan, wajib untuk segera dimusnahkan dan tidak memberikan perhatian kepadanyasedikitpun sebagaimana wajib pula untuk membrikan nasehat dan pengarahan kepada mereka untuk kembali kepada Al-Haq,serta memperingatkan meraka dari kebatilan tersebut dan tidak boleh bagi seorangpun bertaawun dengan mereka dalam perkara kejelekan ini serta hendaknya mereka kembali kepada kebenarandan meninggalkan jauh-jauh kebatilan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1155"></span><br />
Maka untuk itu nasehatku untuk Al Misari,Al Faqih, dan Bin Laden serta semua pihak yang menempuh jalan (pemikiran) mereka ini agar segera meninggalkan cara-cara jelek tersebut.</p>
<p>Dan hendaknya bertaqwa kepada Allah serta waspada dari adzab-Nya dan kemarahan-Nya,sera kembali kepada kebenaran,Bertaubatkepada Allah dari semua apa yang telah lalu. Karena sesungguhnya Allah Azza wa jalla telah berjanji kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat untuk menerima tabat mereka, Sebagaimana Allah katakana dalam ayat-Nya:</p>
<p>&#8220;Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah (karena) Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.<br />
Dan Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)&#8221;. (Az-zumar:53-54)</p>
<p>&#8220;Bertaubatlah kamu sekalian wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.&#8221; (An Nur:31)</p>
<p>FATWA KEDUA:</p>
<p>Al Imam Abdul Aziz bin Baz menyebutkan di dalam surat kabar Al Muslimun dan Asy Syarqul Ausath tanggal 9 jumadil Ula 1417 H, bahwa:</p>
<p>Usamah tergolong kelompok orang-orang perusak di muka bumi yang telah menempuh jalan kejahatan dan kejelekan serta keluar dari sikap ketaatan kepada waliyyul amr.</p>
<p>Disalin oleh Al Akh Eko Budi dari buku Mereka adalah teroris!! (edisi revisi) oleh Al ustadz Luqman bin Muhammad Baabduh.hal 268-269.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber: darussalaf.or.id</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://assahab.wordpress.com/2009/07/08/salafy-salaf-fatwa-ulama-tentang-usamah-bin-laden/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1155</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/21819a5d7b53fff1cbf69606b873cced381ec7b862ebd957b3c1d862ec565c33?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Ahmad As-Salafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Faedah Shalawat Untuk Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan Hukum Menyingkat Tulisan Shalawat (SAW)</title>
		<link>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-faedah-shalawat-untuk-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-dan-hukum-menyingkat-tulisan-shalawat-saw/</link>
					<comments>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-faedah-shalawat-untuk-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-dan-hukum-menyingkat-tulisan-shalawat-saw/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Abu Ahmad As-Salafy]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 10:47:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fatwa ulama]]></category>
		<category><![CDATA[artikel salafy]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menyingkat sholawat nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[sholawat]]></category>
		<category><![CDATA[sholawat nabi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://assahab.wordpress.com/?p=1151</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan: Apa keutamaan bershalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bolehkah kita menyingkat ucapan shalawat tersebut dalam penulisan, misalnya kita tulis Muhammad SAW atau dengan tulisan arab صلعم, singkatan dari صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Jawab: Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu menjawab:“Mengucapkan shalawat untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan perkara yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Pertanyaan:</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Apa keutamaan bershalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bolehkah kita menyingkat ucapan shalawat tersebut dalam penulisan, misalnya kita tulis Muhammad SAW atau dengan tulisan arab صلعم, singkatan dari صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</span></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu menjawab:</span><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">“Mengucapkan shalawat untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan perkara yang disyariatkan. Di dalamnya terdapat faedah yang banyak. Di antaranya menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, menyepakati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para malaikat-Nya yang juga bershalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا<br />
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><span id="more-1151"></span><br />
Faedah lainnya adalah melipatgandakan pahala orang yang bershalawat tersebut, adanya harapan doanya terkabul, dan bershalawat merupakan sebab diperolehnya berkah dan langgengnya kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana bershalawat menjadi sebab seorang hamba beroleh hidayah dan hidup hatinya. Semakin banyak seseorang bershalawat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengingat beliau, akan semakin kental pula kecintaan kepada beliau di dalam hati. Sehingga tidak tersisa di hatinya penentangan terhadap sesuatu pun dari perintahnya dan tidak pula keraguan terhadap apa yang beliau sampaikan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><br />
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memberikan anjuran untuk mengucapkan shalawat atas beliau dalam beberapa hadits. Di antaranya hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><br />
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا<br />
“Siapa yang bershalawat untukku satu kali maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.”<br />
Dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga, disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><br />
لاَ تَجْعَلُوا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِيْ عِيْدًا، وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُمَا كُنْتُمْ<br />
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan2 dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai id3. Bershalawatlah untukku karena shalawat kalian sampai kepadaku di mana pun kalian berada.” 4</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><br />
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula bersabda:<br />
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ علَيَّ<br />
“Terhinalah seorang yang aku (namaku) disebut di sisinya namun ia tidak mau bershalawat untukku.”5</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><br />
Bershalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disyariatkan dalam tasyahhud shalat, dalam khutbah, saat berdoa serta beristighfar. Demikian pula setelah adzan, ketika keluar serta masuk masjid, ketika mendengar nama beliau disebut, dan sebagainya.<br />
Perkaranya lebih ditekankan ketika menulis nama beliau dalam kitab, karya tulis, risalah, makalah, atau yang semisalnya berdasarkan dalil yang telah lewat. Ucapan shalawat ini disyariatkan untuk ditulis secara lengkap/sempurna dalam rangka menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita dan agar pembaca mengingat untuk bershalawat ketika melewati tulisan shalawat tersebut. Tidak sepantasnya lafadz shalawat tersebut ditulis dengan singkatan misalnya ص atau صلعم ataupun singkatan-singkatan yang serupa dengannya, yang terkadang digunakan oleh sebagian penulis dan penyusun. Hal ini jelas menyelisihi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><br />
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا<br />
“…bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.”<br />
Dan juga dengan menyingkat tulisan shalawat tidak akan sempurna maksudnya serta tidak diperoleh keutamaan sebagaimana bila menuliskannya secara sempurna. Terkadang pembaca tidak perhatian dengan singkatan tersebut atau tidak paham maksudnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><br />
Menyingkat lafadz shalawat ini dibenci oleh para ulama dan mereka memberikan peringatan akan hal ini.<br />
Ibnu Shalah rahimahullahu dalam kitabnya ‘Ulumul Hadits yang lebih dikenal dengan Muqaddimah Ibnish Shalah mengatakan, “(Seorang yang belajar hadits ataupun ahlul hadits) hendaknya memerhatikan penulisan shalawat dan salam untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila melewatinya. Janganlah ia bosan menulisnya secara lengkap ketika berulang menyebut Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><br />
Ibnu Shalah juga berkata, “Hendaklah ia menjauhi dua kekurangan dalam penyebutan shalawat tersebut:<br />
Pertama, ia menuliskan lafadz shalawat dengan kurang, hanya meringkasnya dalam dua huruf atau semisalnya.<br />
Kedua, ia menuliskannya dengan makna yang kurang, misalnya ia tidak menuliskan وَسَلَّمَ.”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><br />
Al-’Allamah As-Sakhawi rahimahullahu dalam kitabnya Fathul Mughits Syarhu Alfiyatil Hadits lil ‘Iraqi, menyatakan, “Jauhilah wahai penulis, menuliskan shalawat dengan singkatan, dengan engkau menyingkatnya menjadi dua huruf dan semisalnya, sehingga bentuknya kurang. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang jahil dari kalangan ajam (non Arab) secara umum dan penuntut ilmu yang awam. Mereka singkat lafadz shalawat dengan ص, صم, atau صلعم.6 Karena penulisannya kurang, berarti pahalanya pun kurang, berbeda dengan orang yang menuliskannya secara lengkap.<br />
As-Suyuthi rahimahullahu berkata dalam kitabnya Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi, “Dibenci menyingkat tulisan shalawat di sini dan di setiap tempat yang disyariatkan padanya shalawat, sebagaimana disebutkan dalam Syarah Muslim dan selainnya, berdalil dengan firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">As-Suyuthi juga mengatakan, “Dibenci menyingkat shalawat dan salam dalam penulisan, baik dengan satu atau dua huruf seperti menulisnya dengan صلعم, bahkan semestinya ditulis secara lengkap.”<br />
Inilah wasiat saya kepada setiap muslim dan pembaca juga penulis, agar mereka mencari yang utama/afdhal, mencari yang di dalamnya ada tambahan pahala dan ganjaran, serta menjauhi perkara yang dapat membatalkan atau menguranginya.”<br />
(Diringkas dari fatwa Asy-Syaikh Ibn Baz rahimahullahu yang dimuat dalam Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 2/396-399)</span></p>
<p>2 Dengan tidak dikerjakan shalat sunnah di dalamnya, demikian pula Al-Qur`an tidak dibaca di dalamnya. (–pent.)<br />
3 Tempat kumpul-kumpul. –pent. 4 Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud. (–pent.)<br />
5 HR. At-Tirmidzi, kata Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa fish Shahihain, “Hadits hasan gharib.” (–pent.)<br />
6 Dalam bahasa kita sering disingkat dengan SAW. (–pent.)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-faedah-shalawat-untuk-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-dan-hukum-menyingkat-tulisan-shalawat-saw/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1151</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/21819a5d7b53fff1cbf69606b873cced381ec7b862ebd957b3c1d862ec565c33?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Ahmad As-Salafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa Ulama Islam tentang Penentuan Awal Romadhon dan Ied</title>
		<link>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-fatwa-ulama-islam-tentang-penentuan-awal-romadhon-dan-ied/</link>
					<comments>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-fatwa-ulama-islam-tentang-penentuan-awal-romadhon-dan-ied/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Abu Ahmad As-Salafy]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 10:35:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puasa Romadhon dan ied]]></category>
		<category><![CDATA[artikel salafy]]></category>
		<category><![CDATA[ied]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Romadhon]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://assahab.wordpress.com/?p=1146</guid>

					<description><![CDATA[Sudah menjadi polemik berkepanjangan di negeri kita, adanya khilaf sepanjang tahun tentang penentuan hilal (awal) bulan Romadhon. Karenanya, kita akan menyaksikan keanehan ketika kaum muslimin terkotak, dan terpecah dalam urusan ibadah mereka. Ada yang berpuasa –misalnya- tanggal 12 September karena mengikuti negeri lain; ada yang puasa tanggal 13 karena mengikuti pemerintah; ada yang berpuasa tanggal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Sudah menjadi polemik berkepanjangan di negeri kita, adanya khilaf sepanjang tahun tentang penentuan hilal (awal) bulan Romadhon. Karenanya, kita akan menyaksikan keanehan ketika kaum muslimin terkotak, dan terpecah dalam urusan ibadah mereka. Ada yang berpuasa –misalnya- tanggal 12 September karena mengikuti negeri lain; ada yang puasa tanggal 13 karena mengikuti pemerintah; ada yang berpuasa tanggal 14, karena mengikuti negeri yang lain lagi, sehingga terkadang muncul beberapa versi. Semua ini timbul karena jahilnya kaum muslimin tentang agamanya, dan kurangnya mereka bertanya kepada ahli ilmu.</span></p>
<p>Nah, manakah versi yang benar, dan sikap yang lurus bagi seorang muslim dalam menghadapi khilaf seperti ini? Menjawab masalah ini, tak ada salahnya –dan memang seyogyanya- kita kembali kepada petunjuk ulama’ kita, karena merekalah yang lebih paham agama.</p>
<p>Pada kesempatan ini, kami akan mengangkat fatwa para ulama’ Islam yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’, yang beranggotakan: Syaikh Abdul Aziz bin Baz (Ketua), Abdur Razzaq Afifiy (Wakil Ketua), Abdullah bin Ghudayyan (staf), Abdullah bin Mani’ (Staf), dan Abdullah bin Qu’ud (Staf). Fatwa berikut ini kami nukilkan dari kitab yang berjudul &#8220;Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah&#8221;, (hal. 94-), kecuali fatwa Syaikh Nashir Al-Albaniy.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><span id="more-1146"></span>Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah (no. 10973)<br />
Soal , &#8221; Ada sekelompok orang yang multazim, dan berjenggot di negeri kami; mereka menyelisihi kami dalam sebagian perkara, contohnya puasa Romadhon. Mereka tak puasa, kecuali jika telah melihat hilal (bulan sabit kecil yang muncul di awal bulan) dengan mata kepala. Pada sebagian waktu, kami puasa satu atau dua hari sebelum mereka di bulan Romadhon. Mereka juga berbuka satu atau dua hari setelah (masuknya) hari raya…&#8221;</span></p>
<p>Al-Lajnah Ad-Da’imah men jawab , &#8220;Wajib mereka berpuasa bersama kaum manusia, dan sholat ied bersama kaum muslimin di negeri mereka berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,</p>
<p>صُوْمُوْا لِِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ</p>
<p>&#8220;Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya. Jika ada mendung pada kalian, maka sempurnakanlah jumlah (Sya’ban 30 hari, pen)&#8221;.Muttafaqun alaihi [HR. Al-Bukhoriy (1810), dan Muslim (1081)]</p>
<p>Maksudnya disini adalah perintah puasa dan berbuka (berhari raya), jika nyata adanya ru’yah (melihat hilal) dengan mata telanjang, atau dengan menggunakan alat yang membantu ru’yah (melihat hilal) berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-,</p>
<p>الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ</p>
<p>&#8220;(Waktu)Puasa pada hari mereka berpuasa, dan berbuka (berhari raya) pada hari mereka berbuka (berhari raya), dan berkurban pada hari mereka berkurban&#8221;.[HR. Abu Dawud (2324), At-Tirmidziy (697), dan Ibnu Majah (1660). Lihat Ash-Shohihah (224)]</p>
<p>Hanya kepada Allah kita meminta taufiq dan semoga Allah memberi sholawat kepada Nabi klta -Shollallahu ‘alaihi wasallam-,keluarga serta para sahabatnya&#8221;. E</p>
<p>Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah (no. 313)<br />
Soal , &#8220;Kami mendengar dari siaran radio berita permulaan masuknya puasa di Kerajaan Saudi Arabia, di waktu kami tidak melihat adanya hilal di Negeri Sahil Al-Aaj, Guinea, Mali, dan Senegal; walaupun telah ada perhatian untuk melihat hilal. Oleh sebab itu, terjadi perselisihan diantara kami. Maka diantara kami ada yang berpuasa, karena bersandar kepada berita yang ia dengar dari siaran radio, namun jumlah mereka sedikit.diantara kami; Ada yang menunggu sampai la melihat hilal di negerinya, karena mengamalkan firman Allah-Subhanahu wa Ta’la-,</p>
<p>فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ</p>
<p>&#8220;Barang siapa diantara kalian yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu&#8221;; sabda Nabi–Shollallahu ‘alaihi wasallam-</p>
<p>صُوْمُوْا لِِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ</p>
<p>&#8220;Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya&#8221;.</p>
<p>dan sabda Nabi–Shollallahu ‘alaihi wasallam-,</p>
<p>&#8220;Bagi setiap daerah ada ru’yahnya&#8221;. sungguh telah terjadi perdebatan yang sengit antara dua kelompok ini.maka berilah fatwa kepada kami tentang hal tersebut.</p>
<p>Al-Lajnah Ad-Da’imah men jawab , &#8220;Tatkala orang-orang dahulu dari kalangan para ahli fiqhi berselisih di dalam masalah ini; setiap orang diantara mereka memiliki dalil, maka -jika telah nyata terlihatnya hilal, baik melalui radio, atau yang lainnya di selain tempatmu-, wajib bagi kalian untuk mengembalikan masalah puasa atau tidak kepada penguasa umum (tertinggi) di negara kalian. jika ia (pemerintah) telah memutuskan berpuasa atau tidak, maka wajib atas kalian untuk mentaatinya, karena sesungguhnya keputusan penguasa akan menghilangkan adanya perselisihan didalam masalah seperti ini. Atas dasar ini, pendapat untuk berpuasa atau tidak akan bersatu, karena mengikuti keputusan kepala negara kalian; masalah akhirnya bisa terselesaikan.</p>
<p>Adapun kalimat yang berbunyi, &#8220;bagi setiap tempat memiliki ru’yah&#8221;, ini bukanlah hadits dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Itu hanyalah merupakan ucapan kelompok yang menganggap berbedanya matla’ (waktu &amp; tempat munculnya) hilal dalam memulai puasa Ramadhan dan akhirnya.</p>
<p>Hanya kepada Allah kita meminta taufiq dan semoga Allah memberi sholawat kepada Nabi klta–Shollallahu ‘alaihi wasallam-,keluarga serta para sahabatnya&#8221;. P</p>
<p>Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah (no. 313)<br />
Soal : Diantara perkara yang tak mungkin untuk melihat hilal dengan mata telanjang sebelum umurnya mencapai 30 jam. Setelah itu, tidak mungkin melihatnya, karena kondisi cuaca. Dengan memandang kondisi seperti ini, apakah mungkin bagi penduduk Inggris untuk menggunakan ilmu falak bagi negeri ini dalam menghitung waktu yang memungkinkan untuk melihat bulan baru (hilal), dan waktu masuknya bulan Romadhon, ataukah wajib bagi kami melihat bulan baru (hilal) sebelum kami memulai puasa Ramadhan yang penuh berkah?</p>
<p>Jawab , &#8220;Boleh menggunakan alat-alat pengintai (teropong) untuk melihat hilal; namun tidak boleh bersandar kepadailmu-ilmu falaq untuk menetapkan awal bulan ramadhan yang suci dan idul fitri, karena sesungguhnya Allah -Subhanahu wa Ta’la- tidak men-syari’at-kan bagi kita hal tersebut, baik dalam Kitab-Nya, maupun sunnah Nabi-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Hanyalah disyariatkan bagi kita untuk menetapkan awal bulan Ramadhan dan akhirnya dengan melihat hilal bulan ramadhan pada awal puasa; Demikian pula melihat hilal Syawwal untuk berbuka dan bersatu dalam melaksanakan sholat idul fitri. Allah–Subhanahu wa Ta’la- telah menjadikan bulan sabit (hilal) itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji. Maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk menenntukan waktu ibadah dengan cara apapun, selain dengan melihat hilal dari ibadah-ibadah, seperti puasa Ramadhan, hari ‘ied, ibadah haji, puasa untuk kaffarah (tebusan) membunuh, puasa kaffarah zhihar, dan lain sebagainya.</p>
<p>Allah -Ta’ala-’ berfirman,</p>
<p>فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ</p>
<p>&#8220;Barang siapa diantara kalian yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu&#8221;. [(QS. Al-Baqoroh: 185)]</p>
<p>يَسْأََلُوْنَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ</p>
<p>&#8220;Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit (hilal) itu, maka katakanlah, &#8220;Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia, dan haji&#8221;.[(QS. Al-Baqoroh: 189)]</p>
<p>Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<p>صُوْمُوْا لِِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِيْنَ</p>
<p>&#8220;Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya. Jika ada mendung di atas kalian, maka sempurnakanlah jumlah (Sya’ban) 30 hari”.</p>
<p>Berdasarkan hal itu, orang yang tak melihat hilal di tempatnya, baik ketika kondisi cuaca cerah, atau pun cuaca mendung, maka wajib baginya untuk menyempurnakan bilangan hari menjadi 30 hari, jika orang lain di tempat lain tak melihat hilal. Apabila telah nyata bagi mereka terlihatnya hilal di luar negeri mereka, maka harus bagi mereka mengikuti sesuatu yang telah diputuskan oleh pimpinan umum (penguasa tertinggi) yang muslim di negeri mereka tentang bolehnya puasa, dan berhari raya, karena keputusan penguasa dalam masalah seperti ini, akan menghilangkan khilaf diantara para ahli fiqih dalam memandang perbedaan tempat atau tidak&#8221;. H</p>
<p>Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah (no. 388)<br />
Soal , &#8220;Bagaimana pandangan Islam tentang perbedaan hari raya kaum muslimin: Iedul Fithri, dan Iedul Adhha. Di samping itu, telah diketahui bahwa hal itu bisa mengantarkan kepada pelaksanaan puasa pada hari yang haram puasa padanya, yaitu hari ied; mengantarkan kepada pelaksanaan buka puasa (hari raya) pada hari yang masih wajib berpuasa di dalamnya? Kami mengharapkan jawaban yang memuaskan dalam masalah penting ini agar menjadi hujjah di sisi Allah&#8221;.</p>
<p>Jawab , &#8220;Jika mereka berselisih dalam perkara yang ada diantara mereka, maka mereka (harus) berpegang dengan keputusan penguasa di negara mereka, jika penguasanya adalah muslim, karena keputusan penguasa ini akan menghilangkan khilaf, dan mengharuskan ummat untuk mengamalkannnya. Jika penguasa bukan muslim, maka mereka harus memegang keputusan Mejelis Islamic Centre di negeri mereka, demi menjaga persatuan dalam puasa mereka di bulan Romadhon, dan pelaksanaan sholat ied di negeri mereka&#8221;.</p>
<p>Fatwa Syaikh Nashir Al-Albaniy -rahimahullah-<br />
Syaikh Nashir Al-Albaniy-rahimahullah- berkata dalam Tamam Al-Minnah (hal. 398-399), &#8220;Sampai nanti negeri-negeri Islam bisa bersatu di atas hal itu (puasa &amp; hari raya, ed), maka sesungguhnya sekarang aku memandang wajib bagi rakyat di setiap negara untuk berpuasa bersama negara (pemerintah)nya; tidak berpuasa sendiri-sendiri. Akhirnya, sebagian rakyat berpuasa bersama negara (pemerintah)nya, dan sebagian lagi puasa bersama negara lain&#8221;; negara (pemerintah) lebih dahulu berpuasa ataukah terlambat, karena di dalam hal ini terdapat sesuatu yang bisa memperluas perselisihan di sebuah rakyat sebagaimana yang terjadi di sebagian negeri-negeri Arab sejak beberapa tahun yang silam, Wallahul Musta’an&#8221;. B</p>
<p>Inilah beberapa fatwa ulama kita yang menjelaskan bahwa seorang muslim seharusnya berpuasa dan berhari raya ied bersama pemerintah demi menyatukan langkah. Di lain sisi, ia merupakan jalan Ahlus Sunnah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam dalam Al-Aqidah Al-Wasithiyyah. [AF &amp; MI]</p>
<p>Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 30 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)</p>
<p><a href="http://almakassari.com/?p=170#more-170" rel="nofollow">http://almakassari.com/?p=170#more-170</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-fatwa-ulama-islam-tentang-penentuan-awal-romadhon-dan-ied/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1146</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/21819a5d7b53fff1cbf69606b873cced381ec7b862ebd957b3c1d862ec565c33?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Ahmad As-Salafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Amrozi cs, Mati Syahidkah?</title>
		<link>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-amrozi-cs-mati-syahidkah/</link>
					<comments>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-amrozi-cs-mati-syahidkah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Abu Ahmad As-Salafy]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 10:23:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fatwa ulama]]></category>
		<category><![CDATA[amrozi]]></category>
		<category><![CDATA[artikel salafy]]></category>
		<category><![CDATA[bom bali]]></category>
		<category><![CDATA[imam samudera]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Samudra]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[mati syahid]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Syahid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://assahab.wordpress.com/?p=1143</guid>

					<description><![CDATA[Fatwa Alim Besar Kota Madinah, Syaikh ‘Ubaid bin Abdillah Al-Jabiry –semoga Allah menjaga beliau- Pertanyaan: Syaikh yang mulia, beberapa hari yang lalu telah dijalankan hukuman eksekusi terhadap orang-orang yang melakukan peledakan di kota Bali, Indonesia, enam tahun silam. Telah terjadi fitnah setelahnya terhadap banyak manusia, dimana penguburan jenazah mereka dihadiri oleh sejumlah manusia yang sangat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><strong>Fatwa Alim Besar Kota Madinah, Syaikh ‘Ubaid bin Abdillah Al-Jabiry –semoga Allah menjaga beliau-</p>
<p>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Syaikh yang mulia, beberapa hari yang lalu telah dijalankan hukuman eksekusi terhadap orang-orang yang melakukan peledakan di kota Bali, Indonesia, enam tahun silam. Telah terjadi fitnah setelahnya terhadap banyak manusia, dimana penguburan jenazah mereka dihadiri oleh sejumlah manusia yang sangat banyak. Mereka juga memastikan pelbagai kabar gembira tentang jenazah yang telah dieksekusi tersebut berupa, senyuman di wajah mereka setelah eksekusi, wewangian harum yang tercium dari jenazah mereka, dan selainnya. Mereka mengatakan pula bahwa itu adalah tanda mati syahid, dan perbedaan antara hak dan batil pada hari penguburan jenazah. Apakah ada nasihat bagi kaum muslimin secara umum di negeri kami? wa Jazâkumulâhu Khairan.</p>
<p><strong>Jawaban:<br />
</strong><br />
Bismillahirrahmanirrahim,</p>
<p>الحمد لله رب العالمين ، والعاقبة للمتقين ، ولا عدوان إلا على الظالمين ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، الملك الحق المبين ، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد ولد آدم أجمعين ، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه الطيبين الطاهرين ، وسلم تسليما كثيرا على مر الأيام والليالي والشهور والسنين .</p>
<p>‘Amma Ba’du,</p>
<p>Bukanlah suatu hal yang aneh pada kalangan awam dan mereka yang tidak memiliki pemahaman terhadap As-Sunnah akan terjadi pada mereka seperti yang tersebut dalam pertanyaan, saat mereka mengiringi jenazah (para pelaku pengeboman) yang dieksekusi oleh pemerintah Indonesia. Orang-orang tersebut dieksekusi, lantaran perbuatan mereka menghilangkan harta benda dan nyawa, (dan ini) adalah perbuatan kaum Khawarij yang mengkafirkan kaum muslimin karena dosa, baik dilakukan oleh pemerintah maupun rakyat.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><span id="more-1143"></span>Siapa yang memahami As-Sunnah, maka ia akan mengetahui bahwa eksekusi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap mereka adalah perkara yang sangat tepat dan kebenaran semata.</p>
<p>Siapa yang mengetahui sejarah kaum Khawarij semenjak masa shahabat dan sepanjang perguliran masa ke masa, maka akan nampak baginya bahwa apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang dieksekusi itu adalah perbuatan khurûj (pembangkangan, kudeta) terhadap pemerintah muslim dan pelanggaran terhadap pelbagai kehormatan, berupa nyawa yang terjaga dan harta. Bahkan perbuatan kaum Khawarij pada hari ini adalah bentuk dari perbuatan kaum bathiniyah.</p>
<p>Di antara perbuatan kaum bathiniyah adalah, beberapa masa yang lalu mereka menduduki Baitul Haram dan menumpahkan darah-darah yang terjaga serta mengambil Hajar Aswad, sehingga menghilang dari kaum muslimin sekian lama, sebab mereka membawanya ke Baghdad atau tempat lain –sebagaimana yang diberitakan-.</p>
<p>Berikut ini adalah nasihat dariku kepada saudara-saudaraku dan anak-anakku, yaitu kaum muslimin di Indonesia –semoga Allah menjaga negara mereka dan negara kami dari setiap keburukan dan kejelekan- dalam dua hal:</p>
<p>Pertama, tentang keterangan yang ditunjukkan oleh hadits-hadits yang mutawatir dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentang celaan terhadap kaum Khawarij sepanjang masa, abad dan tahun –selama-lamanya-, serta cercaan dan kemurkaan atas mereka.</p>
<p>Beliau menggelari mereka bahwa “Mereka adalah anjing-anjing neraka”, “Mereka adalah orang-orang bodoh yang baru tumbuh” dan “Mereka berbicara dari ucapan manusia terbaik, akan tetapi mereka keluar dari Islam seperti tembusnya anak panah dari buruannya.”</p>
<p>Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam (juga) memerintahkan untuk membunuh dan memerangi mereka. Beliau bersabda,  “Mereka adalah seburuk-buruk makhluk dan yang paling buruk tabiatnya”, “Mayat mereka adalah seburuk-buruk mayat di kolong langit”, “Berbahagialah orang yang membunuh mereka dan dibunuh oleh mereka”, “Kalau aku dapati mereka, niscaya aku akan binasakan mereka seperti binasanya kaum ‘Ad dan Iram”.</p>
<p>Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Saat terjadinya perpecahan di antara kaum muslimin, akan keluarlah di antara mereka mâriqah[1] yang akan diperangi oleh kelompok yang paling dekat dengan kebenaran, kemudian kelompok yang berada di atas kebenaran tersebut dapat membasmi mereka.”</p>
<p>Benarlah sabda beliau ini. Penduduk Nahrawan di Irak melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan ‘Ali radhiyallâhu ‘anhu. Perang terhadap mereka saat itu di bawah pimpinan ‘Ali radhiyallâhu ‘anhu bersama para tokoh Islam dari kalangan shahabat dan tabi’in.</p>
<p>‘Ali dan para shahabatnya radhiyallâhu ‘anhum (berada di atas) kebenaran dalam memerangi kaum Khawarij, sebagaimana faksinya lebih dekat kepada kebenaran dari faksi Mu’awiyah dan para shahabatnya radhiyallâhu ‘anhum.</p>
<p>Kedua, wajib atas setiap muslim untuk membenci kaum Khawarij, dan membantu pihak berwajib untuk membongkar kedok mereka. Sebab, menutupi dan tidak menunjukkan markas dan (kamp) konsentrasi mereka adalah membantu mereka dalam dosa dan permusuhan. Tidak bisa terlepas tanggung jawab seorang muslim yang mengetahui rencana dari perencanaan yang membahayakan ahlul Islam berupa pembunuhan jiwa, baik yang terjaga dengan Islam karena sebagai pemeluknya, atau terjaga dengan Islam karena hubungan perjanjian. Yang kami maksud dengan terjaga dengan Islam karena perjanjian adalah kaum kuffar yang tinggal di tengah-tengah kaum muslimin, baik sebagai pekerja atau penduduk. Mereka mendapatkan perlindungan, perjanjian dan keamanan dari pemerintah yang muslim.</p>
<p>Jangan bersimpati kepada mereka dengan melakukan demonstrasi, keluar ke jalan-jalan (membentuk) konsentrasi massa, atau penghujatan di media massa , baik koran, radio, televisi atau selainnya.</p>
<p>Tidak ada yang menggelari mereka dengan syuhada (orang yang mati syahid), kecuali dua jenis manusia:</p>
<p>Pertama, orang bodoh yang tidak memiliki pemahaman terhadap As-Sunnah yang dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan, antara hak dan batil, dan antara sunnah dan bid’ah.</p>
<p>Kedua, Pengekor hawa nafsu dan orang-orang sesat yang menyimpang dari As-Sunnah. Mereka melakukan demontrasi, penghujatan, konsentrasi massa, dan memuji kaum Khawarij yang menyimpang tersebut.</p>
<p>Di antara upaya mereka untuk memuji mereka adalah menyebutkan karamah –sebagaimana tersebut dalam pertanyaan-. Ini termasuk kedustaan, kebohongan, bahan tertawaan manusia, anjuran terhadap bid’ah, menyebarkan kesesatan, membungkam As-Sunnah dan mengangkat bid’ah serta membantu para pelakunya.</p>
<p>Mereka tidak diterima persaksiannya, sebab mereka adalah musuh Ahlus Sunnah. Di antara prinsip dasar dan pokok orang-orang tersebut adalah bolehnya berdusta dalam membela mereka dan membantu penyebaran kebatilan mereka.</p>
<p>Hati-hati dan berhati-hatilah, wahai kaum muslimin dan muslimah, saudara dan saudari kami serta anak-anak kami di Indonesia, untuk tidak tertipu dengan mereka.</p>
<p>Saya nasihatkan pula kepada ahlul ilmi di negeri kalian untuk segera menyingkap kesesatan ini dan membantahnya dengan ilmu yang dibangun diatas Al-Qur`ân dan As-Sunnah.</p>
<p>Inilah yang dapat aku sampaikan sebagai jawaban dari pertanyaan yang datang kepada kami dalam majalah An-Nashihah yang terbit di Makassar, Sulawesi (Selatan) di Indonesia –semoga Allah menjaga negeri ini dan seluruh negeri kaum muslimin dari setiap keburukan dan kejelekan-. Juga aku memohon kepada-Nya Jalla wa ‘Alâ agar menyatukan para pemimpin dengan rakyatnya di atas apa yang diridhai-Nya terhadap hamba-Nya dari keislaman dan As-Sunnah.</p>
<p>Didikte oleh</p>
<p>‘Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman</p>
<p>Mantan Dosen Universitas Islam Madinah</p>
<p>Pada</p>
<p>Malam Selasa, 20 Dzulqa’dah 1429 H</p>
<p>Bertepatan dengan<br />
Malam 18 November 2008<br />
<a href="http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&#038;cat=Fatwa&#038;article=82&#038;page_order=1&#038;act=print" rel="nofollow">http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&#038;cat=Fatwa&#038;article=82&#038;page_order=1&#038;act=print</a></span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-amrozi-cs-mati-syahidkah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1143</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/21819a5d7b53fff1cbf69606b873cced381ec7b862ebd957b3c1d862ec565c33?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Ahmad As-Salafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita Diciptakan Dari Tulang Rusuk?</title>
		<link>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-wanita-diciptakan-dari-tulang-rusuk/</link>
					<comments>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-wanita-diciptakan-dari-tulang-rusuk/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Abu Ahmad As-Salafy]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 10:16:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[artikel salafy]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<category><![CDATA[tulang rusuk]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://assahab.wordpress.com/?p=1140</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: اسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّ الْمَرْأََةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ &#8230; -وَفِي رِوَايَةٍ- الْمَرْأََةُ كَالضِّلَعِ &#8230; (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ) “Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para istri)1, karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk&#8230;” Dalam satu riwayat: “Wanita itu seperti tulang rusuk&#8230;.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Apakah memang wanita diciptakan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Pertanyaan:</span></strong></p>
<p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><strong>اسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّ الْمَرْأََةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ &#8230; -وَفِي رِوَايَةٍ- الْمَرْأََةُ كَالضِّلَعِ &#8230; (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ</strong>)</span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para istri)1, karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk&#8230;” Dalam satu riwayat: “Wanita itu seperti tulang rusuk&#8230;.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)<br />
Apakah memang wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki ataukah hanya penyerupaan sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang kedua?</span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><strong>Jawaban:</strong></span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta` yang saat itu diketuai Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullahu menjawab, “Zahir hadits menunjukkan bahwa wanita –dan yang dimaukan di sini adalah Hawa w– diciptakan dari tulang rusuk Adam. Pengertian seperti ini tidaklah menyelisihi hadits lain yang menyebutkan penyerupaan wanita dengan tulang rusuk. Bahkan diperoleh faedah dari hadits yang ada bahwa wanita serupa dengan tulang rusuk. Ia bengkok seperti tulang rusuk karena memang ia berasal dari tulang rusuk. Maknanya, wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok maka tidak bisa disangkal kebengkokannya. </span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><span id="more-1140"></span><br />
</span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Apabila seorang suami ingin meluruskannya dengan selurus-lurusnya dan tidak ada kebengkokan padanya niscaya akan mengantarkan pada perselisihan dan perpisahan. Ini berarti memecahkannya2. Namun bila si suami bersabar dengan keadaan si istri yang buruk, kelemahan akalnya dan semisalnya dari kebengkokan yang ada padanya niscaya akan langgenglah kebersamaan dan terus berlanjut pergaulan keduanya. Hal ini diterangkan para pensyarah hadits ini, di antaranya Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Fathul Bari (6/368) semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati mereka semua. Dengan ini diketahuilah bahwa mengingkari penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam tidaklah benar.” (Fatwa no. 20053, kitab Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta`, 17/10)</p>
<p>1 Al-Qadhi rahimahullahu berkata: “Al-Istisha` adalah menerima wasiat, maka makna ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah aku wasiatkan kalian untuk berbuat kebaikan terhadap para istri maka terimalah wasiatku ini.” (Tuhfatul Ahwadzi)<br />
2 Dalam riwayat Al-Imam Muslim rahimahullahu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:<br />
((إِنَّ الْمَرْأَةََ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ, لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ, فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ, وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا))<br />
&#8220;Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya.”<br />
<a href="http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=716" rel="nofollow">http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=716</a><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-wanita-diciptakan-dari-tulang-rusuk/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1140</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/21819a5d7b53fff1cbf69606b873cced381ec7b862ebd957b3c1d862ec565c33?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Ahmad As-Salafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BANTAHAN TERHADAP SITUS DAN BLOG PENENTANG MANHAJ SALAFY AHLUSSUNNAH (Bag.VII) KEDUSTAAN KISAH TABARRUK IMAM ASY-SYAFI’I TERHADAP MAKAM IMAM ABU HANIFAH</title>
		<link>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-bantahan-terhadap-situs-dan-blog-penentang-manhaj-salafy-ahlussunnah-bag-vii-kedustaan-kisah-tabarruk-imam-asy-syafi%e2%80%99i-terhadap-makam-imam-abu-hanifah/</link>
					<comments>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-bantahan-terhadap-situs-dan-blog-penentang-manhaj-salafy-ahlussunnah-bag-vii-kedustaan-kisah-tabarruk-imam-asy-syafi%e2%80%99i-terhadap-makam-imam-abu-hanifah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Abu Ahmad As-Salafy]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 04:21:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Aktual]]></category>
		<category><![CDATA[artikel salafy]]></category>
		<category><![CDATA[bantahan terhadap situs dan blog penentang ahlussunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Abu Hanifah]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Asy-Syafi'i]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Syafi'i]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://assahab.wordpress.com/?p=1138</guid>

					<description><![CDATA[Penulis: Abu Utsman Kharisman Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah pada pembimbing yang mulia Rasulullah Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam, keluarga, para Sahabat, dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya dengan baik. Saudaraku kaum muslimin….. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (semoga Allah senantiasa merahmati beliau) tidak diragukan lagi adalah salah seorang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><span>Penulis: Abu Utsman Kharisman </span></span></strong><br />
<span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><br />
Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah pada pembimbing yang mulia Rasulullah Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam, keluarga, para Sahabat, dan orang-orang yang mengikuti Sunnahnya dengan baik.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Saudaraku kaum muslimin…..<br />
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (semoga Allah senantiasa merahmati beliau) tidak diragukan lagi adalah salah seorang ulama’ Ahlussunnah. Beliau adalah salah seorang pewaris Nabi. Para penentang dakwah Ahlussunnah banyak yang menukil ucapan atau perbuatan beliau. Namun sayangnya, nukilan tentang beliau juga tidak sedikit yang berdasarkan riwayat yang lemah bahkan palsu. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Salah satu kisah yang hampir selalu ada bersamaan dengan syubhat tentang tawassul dan tabarruk adalah kisah tabarruknya Imam Asy-Syafi’i di kuburan Abu Hanifah. Di dalam salah satu blog penentang dakwah Ahlussunnah terdapat tulisan berjudul ‘Tawassul / Istighatsah (1); Sebuah Pengantar’ di sana disebutkan kisah tersebut. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Tulisan ini akan membahas secara ilmiah sisi kelemahan riwayat kisah tersebut disertai bukti pertentangannya dengan keyakinan Imam Asy-Syafi’i, maupun Abu Hanifah dan pengikut madzhabnya sendiri terkait hal-hal yang dibenci dilakukan terhadap kuburan, disertai dengan dalil hadits Nabi yang melarang perbuatan pengagungan terhadap kuburan. Semoga Allah senantiasa mengaruniakan hidayahNya kepada kita semua….</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;"><span id="more-1138"></span><br />
(Untuk selanjutnya, kutipan di antara tanda “[[ &#8230;&#8230;&#8230;]]”  adalah isi tulisan dari blog penentang Ahlussunnah)</p>
<p>Syubhat :</p>
<p>[[</p>
<p>Imam Ibn Idris as-Syafi’i sendiri permnah menyatakan: “Sesungguhnya aku telah bertabarruk dari Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi .red) dan mendatangi kuburannya setiap hari. Jika aku memiliki hajat maka aku melakukan shalat dua rakaat dan lantas mendatangi kuburannya dan meminta kepada Allah untuk mengabulkan doaku di sisi (kuburan)-nya. Maka tidak lama kemudian akan dikabulkan” (Lihat: Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 halaman 123 dalam bab mengenai kuburan-kuburan yang berada di Baghdad)</p>
<p>]]</p>
<p>Bantahan :<br />
Mengenai sanad riwayat tersebut Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany menyatakan:  “ Ini adalah riwayat yang lemah bahkan batil. Karena sesungguhnya perawi yang bernama Umar bin Ishaq bin Ibrahim tidaklah dikenal. Tidak ada penyebutan tentangnya sedikitpun dalam kitab-kitab tentang perawi. Bisa jadi yang dimaksud adalah ‘Amr (dengan fathah pada ‘ain) bin Ishaq bin Ibrohim bin Humaid bin as-Sakn Abu Muhammad at-Tuunisi. Al-Khotib (al-Baghdady) menyebutkan biografinya dan menyatakan bahwa ia adalah Bukhary (berasal dari Bukhara) datang ke Baghdad dalam rangka menunaikan haji pada tahun 341 H. Tetapi (al-Khotib) tidaklah menyebutkan jarh(celaan), tidak pula ta’diil (pujian) sehingga dalam kondisi ini ia adalah majhuulul haal (keadaanya tidak dikenal). (Tetapi) kemungkinan (bahwa ia adalah ‘Amr) jauh, karena tahun kematian syaikhnya : Ali bin Maymun pada tahun 247 H menurut kebanyakan pendapat. Sehingga jarak kematian antara keduanya adalah sekitar 100 tahun, sehingga jauhlah kemungkinan bahwa keduanya pernah bertemu” ( Lihat Silsilah al-Ahaadits Adh-Dhaifah juz 1 halaman 99).<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan dalam Iqtidho’ Shirothol Mustaqiim halaman 165:</p>
<p>وهذا كذلك معلوم كذبه بالاضطرار عند من له معرفة بالنقل ، فإن الشافعي لما قدم بغداد لم يكن ببغداد قبر ينتاب للدعاء عنده البتة ، بل ولم يكن هذا على عهد الشافعي معروفا ، وقد رأى الشافعي بالحجاز واليمن والشام والعراق ومصر من قبور الأنبياء والصحابة والتابعين ، من كان أصحابها عنده وعند المسلمين أفضل من أبي حنيفة وأمثاله من العلماء . فما باله لم يتوخ الدعاء إلا عنده . ثم أصحاب أبي حنيفة الذين أدركوه مثل أبي يوسف ومحمد وزفر والحسن بن زياد وطبقتهم ، ولم يكونوا يتحرون الدعاء لا عند أبي حنيفة ولا غيره .<br />
ثم قد تقدم عند الشافعي ما هو ثابت في كتابه من كراهة تعظيم قبور المخلوقين خشية الفتنة بها ، وإنما يضع مثل هذه الحكايات من يقل علمه ودينه .</p>
<p>“ yang demikian ini telah dimaklumi kedustaannya secara idlthirar bagi orang yang memiliki pengetahuan tentang penukilan. Karena sesungguhnya As-Syafi’i ketika datang ke Baghdad tidak ada di Baghdad kuburan yang sering dikunjungi (khusus) untuk berdoa di sisinya sama sekali. Bahkan tidak pernah dikenal yang demikian di masa Asy-Syafi’i. Asy-Syafi’i telah melihat di Hijaz, Yaman, Syam, Iraq, dan Mesir  kuburan-kuburan para Nabi, Sahabat, Tabi’in, dan orang-orang terdekatnya yang sebenarnya menurut beliau dan menurut kaum muslimin lebih mulia dari Abu Hanifah dan semisalnya dari kalangan para Ulama’. Maka mengapa beliau tidak menyengaja datang kecuali ke sana (kubur Abu Hanifah). Kemudian, para Sahabat Abu Hanifah sendiri yang sempat mendapati kehidupan Abu Hanifah semisal Abu Yusuf, Muhammad, Zufar, al-Hasan bin Ziyaad dan yang sepantaran dengan mereka. Mereka tidak ada yang menyengaja berdoa di sisi kuburan, baik kuburan Abu Hanifah ataupun yang lainnya. Kemudian, telah berlalu penjelasan dari Asy-Syafi’i hal yang telah disebutkan dalam kitab beliau  tentang dibencinya pengagungan terhadap kubur para makhluq karena dikhawatirkan bisa menimbulkan fitnah. Sesungguhnya hikayat yang semacam ini diletakkan oleh orang yang sedikit ilmu dan (pemahaman) Diennya”.<br />
Memang benarlah apa yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- bahwa salah satu bukti jelas kedustaan kisah tersebut adalah Imam Asy-Syafi’i menyebutkan dalam kitabnya tentang dibencinya pengagungan terhadap kuburan. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh al-Imam Asy-Syafi’i sendiri :</p>
<p>وأكره ان يعظم مخلوق حتي يجعل قبره مسجدا مخافة الفتنة عليه وعلي من بعده من الناس</p>
<p>“ dan aku benci makhluq diagungkan sampai kuburannya dijadikan sebagai masjid, (karena) dikhawatirkan adanya fitnah untuk dirinya dan untuk orang-orang setelahnya” (lihat al-Majmu’  karya Imam AnNawawi juz 5 halaman 314, al-Umm karya Imam Asy-Syafi’i sendiri juz 1 halaman 317).<br />
Benar pula perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahwa di masa hidup Imam Asy-Syafi’i tidak ada kuburan yang dibangun dan disediakan tempat yang memungkinkan untuk berdoa khusus di sisinya. Hal ini karena memang para pemerintah muslim pada waktu itu memerintahkan untuk menghancurkan bangunan-bangunan pada kuburan, dan sikap pemerintah muslim tersebut tidak dicela oleh para fuqaha’ (ahli fiqh) pada waktu itu, sebagaimana dinyatakan oleh al-Imam Asy-Syafi’i:<br />
وقد رأيت من الولاة من يهدم بمكة ما يبنى فيها فلم أر الفقهاء يعيبون ذلك<br />
“ dan aku telah melihat para waliyyul amri (pemimpin muslim) di Mekkah yang menghancurkan bangunan-bangunan yang dibangun di atas kuburan. Aku tidak melihat para Fuqoha’ (Ulama’ ahli fiqh) mencela hal itu” (Lihat kitab al-Umm karya Imam Asy-Syafi’i juz 1 halaman 316, al-Majmu’ karya Imam AnNawawy juz 5 halaman 298).<br />
Sikap para pemimpin muslim yang menghancurkan bangunan-bangunan yang dibangun di atas kuburan tersebut memang sesuai dengan hadits Nabi:<br />
عَنْ جَابِرٍ قَالَ  نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ<br />
“ dari Jabir beliau berkata : Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam melarang kuburan di’lepa’ (semen/kapur), diduduki di atasnya, dan dibuat bangunan di atasnya”(H.R Muslim)<br />
عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ الْأَسَدِيِّ قَالَ قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ<br />
“ dari Abul Hayyaj al-Asady beliau berkata: Ali (bin Abi Tholib) berkata kepadaku: Maukah kau aku utus sebagaimana Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam mengutusku? Janganlah engkau tinggalkan patung/gambar bernyawa kecuali engkau hapus dan jangan tinggalkan kuburan yang diagungkan kecuali diratakan” (H.R Muslim. Sedikit faidah yang bisa diambil, ketika mensyarah hadits ini Imam AnNawawy menyatakan: ‘di dalamnya terdapat perintah mengganti/merubah gambar-gambar makhluk bernyawa’).<br />
Perhatikan pula kalimat dalam kisah tersebut bahwa Asy-Syafi’i mendatangi kuburan Abu Hanifah setiap hari. Ya, disebutkan dalam kisah itu ‘setiap hari’. Bagi orang yang berakal, dan paham tentang perjalanan hidup Asy-Syafi’i jelas akan melihat sisi lain dari kedustaan kisah tersebut. Al-Imam Asy-Syafi’i banyak melakukan perjalanan menuntut ilmu dari satu negeri ke negeri yang lain.<br />
Beliau dilahirkan di daerah Gaza (Syam) dan tumbuh besar di tanah suci Mekkah (sebagaimana dijelaskan Adz-Dzahaby dan al-Imam AnNawawi dalam Tahdzib Asma’ Wal Lughot (1/49)). Beliau mempelajari fiqh awalnya di Mekkah dari Muslim bin Kholid Az-Zanji dan Imam-imam Mekkah yang lain seperti Sufyan bin Uyainah dan Fudhail bin ‘Iyaadl. Kemudian beliau pindah ke Madinah menuntut ilmu pada Imam Maalik. Selanjutnya beliau pindah ke Yaman untuk berguru pada Muthorrif bin Maazin, Hisyam bin Yusuf al-Qodhy, dan beberapa ulama’ lain. Dari Yaman beliau menuju Iraq (Baghdad) untuk bermulaazamah (fokus menuntut ilmu) pada ahli fiqh Iraq yaitu Muhammad bin al-Hasan. Beliau mengambil ilmu juga pada Isma’il bin ‘Ulyah, Abdul Wahhab ats-Tsaqofy, dan beberapa Ulama’ yang lain. Setelah beberapa lama di Iraq, beliau kemudian pindah ke Mesir, dan di Mesir inilah pendapat-pendapat baru (qoul qodiim) Imam Asy-Syafi’i sering dijadikan rujukan (Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ pada bagian yang mengisahkan biografi Imam Asy-Syafi’i).<br />
Perhatikanlah, demikian sibuk Imam Asy-Syafi’i dengan menuntut ilmu dari satu Syaikh (guru) ke syaikh yang lain. Beliau juga menempuh perjalanan lintas negeri. Bagaimana mungkin setiap hari beliau berdoa di makam Abu Hanifah? Bagaimana mungkin –jika memang berdoa di sisi makam dengan tawassul pada penghuni kuburan tersebut diperbolehkan menurut beliau- dikhususkan pada makam Abu Hanifah, padahal salah satu tempat menuntut ilmu beliau adalah Madinah, tempat dimakamkannya manusia terbaik, Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam. Negeri-negeri lain yang beliau singgahi banyak kuburan para Nabi, para Sahabat Nabi, tabi’in dan orang-orang yang jauh lebih utama dari Abu Hanifah, maka mengapa beliau mengkhususkan pada kuburan Abu Hanifah? Padahal beliau tidaklah pernah mengambil ilmu langsung dari Abu Hanifah. Bagaimana bisa mengambil ilmu, jika tahun kematian Abu Hanifah bertepatan dengan tahun kelahiran beliau?<br />
Selanjutnya, akan disebutkan penjelasan dari Ulama’ lain bahwa kisah tersebut memang dusta. Al-Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah menyatakan : “ hikayat yang dinukilkan dari Asy-Syafi’i bahwa beliau memaksudkan doa di sisi kuburan Abu Hanifah adalah kedustaan yang jelas” (Lihat Ighatsatul Lahafaan (1/246)).<br />
Sebenarnya bagi orang yang mengerti kadar keilmuan Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah, cukuplah hal itu sebagai penjelas. Kami akan nukilkan ucapan ahlut tafsir Ibnu Katsir tentang guru sekaligus sahabatnya tersebut, Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah agar orang-orang yang meremehkannya menjadi sadar (InsyaAllah suatu saat akan dikaji penjelasan tentang beliau khusus sebagai bantahan bagi orang-orang yang membencinya).<br />
Al-Hafidz Ibnu Katsir menyatakan tentang beliau :</p>
<p>ولد في سنة إحدى وتسعين وستمائة وسمع الحديث واشتغل بالعلم وبرع في علوم متعددة لا سيما علم التفسير والحديث والأصلين ولما عاد الشيخ تقي الدين ابن تيمية من الديار المصرية في سنة ثنتي عشرة وسبعمائة لازمه إلى أن مات الشيخ فأخذ عنه علماً جما مع ما سلف له من الاشتغال فصار فريداً في بابه في فنون كثيرة مع كثرة الطلب ليلاً ونهاراً وكثرة الابتهال وكان حسن القراءة والخلق كثير التودد لا يحسد أحداً ولا يؤذيه ولا يستعيبه ولا يحقد على أحد وكنت من أصحب الناس له وأحب الناس إليه ولا أعرف في هذا العالم في زماننا أكثر عبادة منه وكانت له طريقة في الصلاة يطيلها جداً ويمد ركوعها وسجودها</p>
<p>“beliau dilahirkan pada tahun 691 H. Banyak mendengar hadits, sibuk dengan ilmu, mahir dalam ilmu yang bermacam-macam khususnya ilmu tafsir, hadits, dan ilmu-ilmu Ushul. Dan ketika Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah kembali dari Mesir pada tahun 712 H, beliau bermulazamah (memfokuskan diri untuk belajar pada Ibnu Taimiyyah), sampai meninggalnya Syaikh (Ibnu Taimiyyah), maka beliau mengambil darinya ilmu yang banyak, bersamaan dengan kesibukan beliau sebelumnya, sehingga jadilah beliau orang yang istimewa dalam beberapa bidang yang banyak. Bersamaan dengan banyaknya kesibukan beliau menuntut ilmu siang malam, banyak beribadah, dan beliau baik bacaan (Quran)nya, baik akhlaqnya, memiliki sifat penyayang, tidak pernah dengki pada siapapun, tidak pernah menyakiti siapapun, tidak pernah mencari aib orang lain, tidak pernah dendam pada seorangpun, dan saya termasuk sahabat terdekatnya, dan manusia yang paling dicintainya, dan saya tidak mengetahui di zaman kami ada orang yang lebih banyak ibadahnya dibandingkan beliau. Beliau jika sholat (sunnah) sangat lama, memanjangkan waktu ruku’ dan sujudnya” (Lihat al-Bidaayah wan Nihaayah juz 14 halaman 270).<br />
Simaklah persaksian Ibnu Katsir tentang keilmuan dan akhlaq Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah. Jika Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah menyatakan bahwa hikayat itu dusta, tidaklah penilaian beliau itu bersifat tendensius karena membenci kelompok tertentu sehingga kemudian tidak obyektif. Beliau bukanlah orang yang berakhlak buruk, suka dendam dan mencari aib orang lain. Beliau menilai kedustaan tersebut atas dasar keilmuan beliau.<br />
Hal lain yang menunjukkan sisi kelemahan kisah itu –sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah- adalah tidak adanya Sahabat/ murid dekat Abu Hanifah yang melakukan hal itu. Tidak ada di antara mereka yang sering datang ke kuburan Abu Hanifah untuk berdoa dan bertawassul agar doanya lebih mudah dikabulkan. Bagaimana tidak, jika perbuatan semacam itu dibenci oleh Abu Hanifah. Beliau tidak suka jika makhluk dijadikan perantara dalam doa seorang hamba kepada Allah. Al-Imam Abu Hanifah berkata:</p>
<p>لا ينبغي لاحد أن يدعو الله إلا به ، والدعاء المأذون فيه ، المأمور به ، ما استفيد من قوله تعالى : { ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها وذروا الذين يلحدون في أسمائه سيجزون ما كانوا يعملون{</p>
<p>“ tidak sepantasnya bagi seseorang untuk berdoa kepada Allah kecuali denganNya, dan doa yang diijinkan dan diperintahkan adalah apa yang bisa diambil faidah dari firman Allah: ‘Hanya milik Allah asmaa-ul husna,, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan’ (Lihat Ad-Durrul Mukhtaar min Haasyiyatil Mukhtaar(6/396-397)).</p>
<p>يكره أن يقول الداعي : أسألك بحق فلان أو بحق أنبيائك ورسلك وبحق البيت الحرام والمشعر الحرام</p>
<p>“ adalah suatu hal yang dibenci jika seorang berdoa:’ aku memohon kepadaMu dengan hak Fulaan, atau dengan hak para Nabi dan RasulMu dan hak Baitul Haram, dan Masy-‘aril Haraam “ (Lihat Syarh Fiqhil Akbar lil Qoori halaman 189).<br />
Kalau kita melihat sikap para Ulama’ Salaf, justru mereka mengingkari perbuatan orang yang berdoa di sisi makam untuk bertawassul. Kita ambil satu contoh yang dilakukan oleh ‘Ali bin Husain yang merupakan cucu Sahabat Nabi ‘Ali bin Abi Tholib. Diriwayatkan oleh Abdurrozzaq dalam Mushannafnya dan juga Ibnu Abi Syaibah :<br />
عن علي بن الحسين أنه رأى رجلا يجئ إلى فرجة كانت عند قبر النبي صلى الله عليه وسلم فيدخل فيها فيدعو فقال ألا أحدثك بحديث سمعته من أبي عن جدي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : (لا تتخذوا قبري عيدا ولا بيوتكم قبورا وصلوا علي فإن صلاتكم تبلغني حيثما كنتم(<br />
“ dari ‘Ali bin Husain bahwasanya ia melihat seorang laki-laki mendatangi sebuah celah dekat kuburan Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam kemudian ia masuk ke dalamnya dan berdoa. Maka Ali bin Husain berkata: ‘Maukah anda aku sampaikan hadits yang aku dengar dari ayahku dari kakekku dari Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: ‘Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ‘ied, dan jangan jadikan rumah kalian sebagai kuburan. Dan bersholawatlah kepadaku karena sholawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada’ (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf-nya(2/268), dan Abdurrozzaq dalam mushonnaf-nya juz 3 halaman 577 hadits nomor 6726).<br />
Hadits tersebut dihasankan oleh al-Hafidz As-Sakhowy (murid Ibnu Hajar al-‘Asqolaany). Silakan dilihat pada kitab al-Qoulul Badi’ fis Sholaati ‘ala habiibisy Syafii’ halaman 228.<br />
Demikianlah saudaraku kaum muslimin, sedikit penjelasan tentang kedustaan kisah tabarruk Imam Asy-Syafi’i di makam Imam Abu Hanifah. Perlu dipahami, bahwa jika kita menyatakan secara ilmiah bahwa kisah itu dusta bukan berarti kita menuduh al-Khotib al-Baghdady sebagai pendusta. Beliau sekedar menyebutkan riwayat. Dalam penyebutan riwayat, beliau mendapat khabar tersebut dari orang yang menyampaikan kepadanya, orang yang menyampaikan kepada beliau mengaku mendapat khabar dari orang yang di ‘atas’nya dan seterusnya. Telah dijelaskan di atas bahwa pada rantaian perawi kisah tersebut terdapat orang yang majhul (tidak dikenal di kalangan para Ulama’ Ahlul Hadits yang ahli dalam meneliti periwayatan).<br />
Sebagai penutup, ada baiknya kita menyimak kalimat-kalimat indah yang disampaikan oleh al-Imam Asy-Syafi’i sebagai pelajaran penting bagi kita semua. Beliau menyatakan kalimat-kalimat berikut ini:</p>
<p>إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بها، ودعوا ما قلته</p>
<p>“ jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam maka berbicaralah dengan Sunnah itu dan tinggalkanlah ucapanku” (Lihat Hilyatul Awliyaa’ karya Abu Nu’aim (9/106) dan Siyaar a’laamin Nubalaa’  karya Adz-Dzahaby juz 10 halaman 34).</p>
<p>متى رويت عن رسول الله حديثا صحيحا ولم آخذ به، فأشهدكم أن عقلي قد ذهب</p>
<p>“ Kapan saja aku meriwayatkan dari Rasulullah hadits shahih kemudian aku tidak berpegang (berpendapat) dengannya, maka persaksikanlah bahwa akalku telah pergi” (Lihat Siyar a’laamin Nubalaa’  juz 10 halaman 34).</p>
<p>كل ما قلته فكان من رسول الله صلى الله عليه وسلم خلاف قولي مما صح، فهو أولى، ولا تقلدوني</p>
<p>“ semua yang aku ucapkan, jika ada (khabar) yang shohih dari Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam menyelisihi ucapanku, maka itu lebih utama (untuk diikuti), dan janganlah taklid kepadaku” (Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ juz 10 halaman 34, al-Manaaqib karya Adz-Dzahaby (1/473)). </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;color:#333333;">Sumber: darussalaf.or.id<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-bantahan-terhadap-situs-dan-blog-penentang-manhaj-salafy-ahlussunnah-bag-vii-kedustaan-kisah-tabarruk-imam-asy-syafi%e2%80%99i-terhadap-makam-imam-abu-hanifah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1138</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/21819a5d7b53fff1cbf69606b873cced381ec7b862ebd957b3c1d862ec565c33?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Ahmad As-Salafy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fatwa Ulama Besar Seputar Maulid</title>
		<link>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-fatwa-ulama-besar-seputar-maulid/</link>
					<comments>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-fatwa-ulama-besar-seputar-maulid/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Abu Ahmad As-Salafy]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 04:12:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fatwa ulama]]></category>
		<category><![CDATA[artikel salafy]]></category>
		<category><![CDATA[hukum merayakan maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Salaf]]></category>
		<category><![CDATA[Salafy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://assahab.wordpress.com/?p=1135</guid>

					<description><![CDATA[Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk cinta kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Bahkan tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anak-anaknya, bahkan seluruh manusia. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk cinta kepada Rasulullah <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em>. Bahkan tidak akan sempurna keimanan seseorang hingga ia mencintai Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em>, melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anak-anaknya, bahkan seluruh manusia. Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam- </em>bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:medium;">لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada orang tuanya, anak-anaknya, dan seluruh manusia.&#8221; </em>[HR. Bukhariy (15), dan Muslim (44)]</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu</strong> &#8211;<em>hafizhahullah</em>&#8211; berkata, <em>&#8220;Hadits ini memberikan faedah kepada kita bahwasanya keimanan tidak akan sempurna hingga seseorang mencintai Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.&#8221; </em>[Lihat <strong><em>Minhajul Firqatun Najiyah</em></strong> (hal. 111)]</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1135"></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Setelah kita mengetahui hal ini, lalu <strong>bagaimana cara mencintai Nabi</strong><em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em>? Cinta kepada Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em> adalah <strong>dengan mengikuti syari’at beliau.</strong> Tidaklah dibenarkan bagi seseorang untuk mengada-adakan suatu perkara baru dalam syariat beliau, dengan anggapan hal tersebut bisa mendekatkan diri kepada Allah atau suatu bentuk kecintaan kepada Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em> , atau itu adalah <em>bid’ah hasanah</em>. Padahal semua bid’ah dalam agama adalah sesat dan buruk !!</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Di edisi kali ini, kami akan bawakan fatwa ulama besar berkenaan dengan perkara yang dianggap oleh sebagian orang merupakan bentuk kecintaan kepada Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em>, padahal perkara tersebut tidak ada dasarnya sama sekali dalam syari’at yang mulia ini dan bukan pula bentuk kecintaan kepada Nabi &#8211;<em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>-, yakni <strong>perayaan maulid Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em> .</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong><strong><br />
</strong><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baaz</strong> (mantan mufti di sebuah negeri Timur Tengah), ditanya tentang hukum perayaan maulid Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em> .</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syaikh bin Baaz</strong><em>-rahimahullah-</em> menjawab, <em>&#8220;Tidaklah dibenarkan seorang merayakan hari lahir (maulid) Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dan hari kelahiran lainnya, karena hal tersebut termasuk bid’ah yang baru diada-adakan dalam agama. Padahal sesungguhnya Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , para Khalifah Ar-Rasyidin dan selainnya dari kalangan sahabat tidak pernah melakukan perayaan tersebut dan tidak pula para tabi’in yang mengikuti mereka dalam kebaikan di zaman yang utama lagi terbaik. Mereka adalah manusia yang paling tahu tentang Sunnah, paling sempurna cintanya kepada Nabi dan ittiba’-nya (keteladanannya) terhadap syariat beliau dibandingkan orang-orang setelah mereka. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah shahih (sebuah hadits) dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:medium;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:medium;">مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak&#8221;. </em>[HR. Al-Bukhariy dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (2697) dan Muslim(1718)]</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Beliau juga bersabda, &#8220;Wajib atas kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah para khalifah ar rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Peganglah ia kuat-kuat dan gigit dengan gigi geraham. Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena semua perkara baru itu adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.&#8221; </em>[Abu Dawud (4617), At-Tirmidziy (2676), dan Ibnu Majah (42). Di-<em>shohih</em>-kan Al-Albaniy dalam <strong><em>Shahih Al-Jami’</em></strong> (2546)]</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Jadi, dalam dua hadits yang mulia ini terdapat peringatan yang keras dari berbuat bid’ah dan mengamalkannya. Allah -Ta’ala- berfirman, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Apa saja yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya</em> .&#8221; (QS. <strong>Al-Hasyr</strong> :7).</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Allah -Ta’ala- berfirman, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.&#8221; </em>(QS.<strong>An-Nur</strong> :63).</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Allah -Ta’ala- berfirman, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.&#8221; </em>(QS.<strong>Al-Ahzab</strong> :21).</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Allah -Ta’ala- berfirman, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Pada hari Ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.&#8221; </em>(QS.<strong>Al-Maidah</strong> :3).</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
Membuat perkara baru -semacam maulid- ini akan memberikan sangkaan bahwa Allah -Ta’ala- belum menyempurnakan agama untuk umat ini, dan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- belum menyampaikan kepada umatnya apa yang pantas untuk mereka amalkan, sehingga datanglah orang-orang belakangan ini membuat-buat perkara baru dalam syariat Allah apa yang tidak diridhoi Allah, dengan sangkaan hal tersebut bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah. Padahal perkara ini –tanpa ada keraguan- adalah bahaya yang sangat besar, termasuk penentangan kepada Allah dan Rasul-Nya. Padahal sungguh Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-Nya; Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya atas mereka dan Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sungguh telah menyampaikan syariat ini dengan terang dan jelas. Beliau tidaklah meninggalkan suatu jalan yang bisa mengantarkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali beliau telah sampaikan kepada umatnya, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari sahabat Abdullah bin Amer -radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,</p>
<p></em><strong><span style="font-size:medium;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:medium;">إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِيْ إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ, وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, kecuali wajib atasnya untuk menunjukkan kebaikan atas umatnya apa yang ia telah ketahui bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang ia ketahui bagi mereka.&#8221; </em>[HR.Muslim dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (1844)]</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Suatu hal yang dimaklumi bersama, Nabi kita -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah Nabi yang paling utama, penutup para nabi dan yang paling sempurna penyampaiannya dan nasihatnya. Andaikata perayaan maulid ini termasuk agama yang diridhoi Allah, niscaya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- akan jelaskan kepada umatnya atau pernah melaksanakannya atau setidaknya para sahabat pernah melakukannya. Akan tetapi, tatkala hal tersebut tidak pernah sama sekali mereka lakukan, maka diketahuilah hal tersebut bukanlah dari Islam sedikit pun juga, bahkan dia termasuk dari perkara-perkara baru yang telah diperingatkan bahayanya oleh Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebagaimana dalam dua hadits yang tersebut di atas. Hadits-hadits lain yang semakna dengannya telah datang (dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-), seperti sabda beliau dalam khutbah jum’at: </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:medium;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:medium;">أََمَّا بَعْدُ, فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-sebaik petunjuk adalah petunjuk Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, sejelek-jeleknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat.&#8221; </em>[HR.Muslim <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (867)]</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Demikian fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Baaz <em>-rahimahullah-</em>, Anda bisa lihat dalam kitab <strong><em>Majmu’ Fatawa As-Syaikhbin Baz</em></strong> (1/183), dan <strong><em>Al-Bida’ wal Muhdatsat</em></strong> (hal 619-621).</p>
<p style="text-align:justify;">
<p><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syaikh Abdul Aziz bin Baaz</strong> juga ditanya, <em>&#8220;Apa hukum menyampaikan nasihat atau ceramah pada hari maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-? </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Syaikh bin Baaz</strong> menjawab,<em> &#8220;Amar ma’ruf nahi mungkar, memberikan bimbingan dan arahan kepada manusia, menjelaskan kepada mereka tentang agama mereka, dan memberikan nasihat kepada mereka dengan sesuatu yang bisa melembutkan hati mereka adalah perkara yang disyariatkan pada setiap waktu, karena adanya perintah untuk perkara tersebut datang secara mutlak, tanpa ada pengkhususan waktu tertentu. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Allah -Ta’ala-berfirman, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.&#8221; </em>(QS.<strong>Al-Maidah</strong> : 104).</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Allah -Ta’ala- berfirman, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.&#8221; </em>(QS.<strong>An-Nahl</strong> :125).</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Allah juga menjelaskan keadaan orang-orang munafik dan sikap para da’i (penyeru) di antara mereka, </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Apabila dikatakan kepada mereka: &#8220;Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul&#8221;, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri. Kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: &#8220;Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna&#8221;. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka dengan perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.&#8221; </em>(QS. <strong>An-Nisa’</strong>: 61-63);<em> dan ayat-ayat lain. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
Jadi, Allah memerintahkan untuk berdakwah dan memberikan nasihat secara mutlak, tidak mengkhususkannya pada waktu tertentu. Sekalipun nasihat dan bimbingan ini semakin dianjurkan ketika ada tuntutan kepadanya, seperti khutbah Jum’at dan hari Ied, karena warid (datang)-nya hal tersebut dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .Demikian pula ketika melihat suatu kemungkaran, ini berdasarkan sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-,</p>
<p></em><strong><span style="font-size:medium;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:medium;">مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ, فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ, وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ, وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.&#8221; </em>[HR.Muslim (49)]</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
Adapun pada hari maulid, maka di dalamnya tidak boleh ada suatu pengkhususan dengan suatu ibadah tertentu yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya, adanya nasihat, bimbingan, pembacaan kisah maulid, karena Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidak pernah mengkhususkan hal tersebut dengan perkara-perkara tersebut. Andaikan hal tersebut baik, niscaya Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah orang yang paling pantas untuk (melakukan) hal tersebut. Akan tetapi nyatanya beliau tidak pernah melakukannya. Menunjukkan bahwa adanya pengkhususan-pengkhususan tersebut dengan ceramah, pembacaan kisah maulid atau selainnya termasuk perkara-perkara bid’ah. Telah shahih dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda,</p>
<p></em><strong><span style="font-size:medium;"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:medium;">مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak&#8221;. </em>[HR. Al-Bukhariy dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (2697) dan Muslim(1718)]</p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Demikian pula halnya para sahabat, mereka tidak pernah melakukan hal tersebut, padahal mereka adalah manusia yang paling tahu tentang Sunnah dan paling bersemangat untuk mengamalkannya&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah</em></strong> (5591), dan <strong><em>Al-Bida’ wa Al-Muhdatsat wa ma laa Ashla lahu</em></strong> (628-630)]</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jadi, maulid bukanlah sarana syar’i dalam beribadah dan mencintai Nabi &#8211;<em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>-. Tapi ia adalah ajaran baru yang disusupkan oleh para pelaku bid’ah dan kebatilan . Bid’ah perayaan hari lahir (ulang tahun) secara umum serta <strong>perayaan hari lahir Nabi</strong><em>-Shallallahu ‘alaihi wasallam-</em> (maulid) secara khusus, tidak muncul, kecuali pada zaman <strong>Al-Ubaidiyyun</strong> pada <strong>tahun 362 H</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ulama’ bermadzhab Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy</strong><em> -rahimahullah- </em>dalam <strong><em>Al-Bidayah wa An-Nihayah</em></strong> (11/127) berkata, <em>&#8220;Sesungguhnya pemerintahan Al-Fathimiyyun Al-Ubaidiyyun yang bernisbah kepada Ubaidillah bin Maimun Al-Qoddah, seorang <strong>Yahudi</strong> yang memerintah di Mesir dari tahun 357 – 567 H, mereka memunculkan banyak hari-hari raya. Di antaranya perayaan maulid Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-&#8220;.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sumber : </strong><em>Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 79 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;font-size:x-small;"><br />
<a href="http://almakassari.com/?p=321" rel="nofollow">http://almakassari.com/?p=321</a></p>
<p></span></p>
<div style="text-align:justify;"><a title="printer-friendly page" href="http://darussalaf.or.id/myprint.php?id=1407" target="_blank"><img src="https://i0.wp.com/darussalaf.or.id/images/print.gif" alt="" /></a></div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://assahab.wordpress.com/2009/07/07/salafy-salaf-fatwa-ulama-besar-seputar-maulid/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1135</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/21819a5d7b53fff1cbf69606b873cced381ec7b862ebd957b3c1d862ec565c33?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Ahmad As-Salafy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://darussalaf.or.id/images/print.gif" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
