<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>islah</title>
	<atom:link href="https://islah.blog/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://islah.blog</link>
	<description>ISLAM di atas mazhab</description>
	<lastBuildDate>Thu, 14 May 2026 08:35:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>

<image>
	<url>https://islah.blog/wp-content/uploads/2024/06/logo_icon.png?w=32</url>
	<title>islah</title>
	<link>https://islah.blog</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">8171733</site><cloud domain='islah.blog' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="https://islah.blog/osd.xml" title="islah" />
	<atom:link rel='hub' href='https://islah.blog/?pushpress=hub'/>
	<item>
		<title>Perilaku Rakyat yang Mengundang Laknat</title>
		<link>https://islah.blog/2026/05/12/perilaku-rakyat-yang-mengundang-laknat/</link>
					<comments>https://islah.blog/2026/05/12/perilaku-rakyat-yang-mengundang-laknat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ali Reza]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 May 2026 03:11:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial dan Politik]]></category>
		<category><![CDATA[#WargaJagaWarga]]></category>
		<category><![CDATA[ayat tentang pemimpin zalim]]></category>
		<category><![CDATA[introspeksi rakyat Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam dan kepemimpinan]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi di masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[kritik sosial Islam]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin zalim]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku masyarakat dan pemimpin]]></category>
		<category><![CDATA[refleksi sosial Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://islah.blog/?p=19590</guid>

					<description><![CDATA[Sebuah truk pengangkut bahan makanan mengalami kecelakaan. Sopir terluka. Ada pula yang meninggal dunia. Telur, mi instan, buah, dan minyak berhamburan di jalanan. Adegan selanjutnya yang kita harapkan adalah orang-orang menolong atau menelepon ambulans. Tapi apa yang dilakukan oleh masyarakat kita? Warga sekitar merespon musibah dengan menjarah. Ketika kita membahas apakah rakyat wajib tunduk pada [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Sebuah truk pengangkut bahan makanan mengalami kecelakaan. Sopir terluka. Ada pula yang meninggal dunia. Telur, mi instan, buah, dan minyak berhamburan di jalanan. Adegan selanjutnya yang kita harapkan adalah orang-orang menolong atau menelepon ambulans. Tapi apa yang dilakukan oleh masyarakat kita?</p>



<span id="more-19590"></span>



<p class="wp-block-paragraph">Warga sekitar merespon musibah dengan menjarah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika kita membahas apakah rakyat wajib tunduk pada penguasa zalim atau justru wajib melawan, para ulama memiliki perbedaan sudut pandang. Sedikit yang meyakini bahwa rakyat harus melawan, sepanjang memenuhi kondisi tertentu. Namun sebagian besar mengatakan tetaplah taat meski pemimpin itu bermaksiat kepada Allah dan menyiksa kita.&nbsp;</p>



<div class="wp-block-jetpack-related-posts has-tertiary-background-color has-background" style="margin-top:0;margin-right:var(--wp--preset--spacing--30);margin-bottom:0;margin-left:var(--wp--preset--spacing--30);padding-top:0;padding-right:var(--wp--preset--spacing--30);padding-bottom:0;padding-left:var(--wp--preset--spacing--30)">
<h3 class="wp-block-heading">Baca juga:</h3>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu alasan kenapa rakyat diminta bersabar dalam menghadapi pemimpin yang zalim adalah kemungkinan bahwa <mark style="background-color:#ffee8c" class="has-inline-color">kerusakan masyarakatlah yang turut menciptakan kerusakan pemimpin</mark>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya mulai berpikir: mungkin itulah yang terjadi di sekitar kita. Sebab pemimpin sosial lahir dari masyarakatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Allah ﷻ berfirman bahwa Dia tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri, itu artinya perbaikan bukan cuma soal ganti presiden, menteri, atau pejabat. <mark style="background-color:#ffee8c" class="has-inline-color">Akar masalahnya mungkin mentalitas masyarakat kita sendiri</mark>.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-style-default is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><em>Rakyat adalah akar dan raja adalah pohonnya. Pohon, wahai anakku, hanya akan sekuat akarnya</em>. —Saadi Shirazi</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Kita mengutuk korupsi miliaran rupiah di pusat kekuasaan, tetapi sebagian dari kita masih santai &#8220;mempermainkan&#8221; uang kas recehan. Kita marah pada aparat yang menyalahgunakan jabatan, tetapi di jalan kita melawan arus demi mempersingkat waktu. Kita heran dengan pernyataan pejabat yang tidak peka, tapi warganet kurang empati dalam berkomentar di media sosial. Kita mengecam elite yang rakus, tetapi ketika ada bantuan tumpah di jalan kita justru berlomba merampas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagaimana dosa besar berawal dari dosa kecil, kezaliman besar bisa tumbuh dari kezaliman kecil yang dinormalisasi. Perilaku inilah yang menciptakan laknat. Dalam bahasa Arab, <em>la&#8217;nah</em> atau <em>la&#8217;ana</em> bukan makian, tapi mengusir atau menjauhkan. Maknanya &#8220;dijauhkan dan diusir dari rahmat Allah&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam tradisi <em>sunnī</em> maupun Syiah, terdapat satu prinsip soal bagaimana masyarakat punya tanggung jawab moral kolektif: &#8220;<em>Kamā takūnū yuwallā &#8216;alaikum</em>. Sebagaimana kalian, demikian pula pemimpin kalian.&#8221; Artinya, pemimpin itu cerminan atau bayangan dari rakyatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam bahasa Al-Qur’an, Allah berfirman dalam surah Al-An’ām:</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><span style="font-family:Traditional Arabic"><strong>وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ ٱلظَّٰلِمِينَ بَعْضًۢا بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ</strong></span></p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><em>Demikianlah Kami jadikan sebagian orang yang zalim itu sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka kerjakan.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya, memperbaiki negara tidak cukup dengan teriak dan menuntut ganti pemimpin. Jika budaya curang, egois, dan saling memangsa tetap dipelihara di masyarakat, siapa pun yang naik ke atas kemungkinan hanya menjadi <mark style="background-color:#ffee8c" class="has-inline-color">versi lebih besar dari kebiasaan masyarakatnya</mark>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut penelitian sosiologi, integritas sebuah negara sangat bergantung pada <em>trust</em> dan moralitas mikro di komunitas terkecil. Kalau moralitas mikronya sudah runtuh, sistem makro di pemerintahan otomatis akan terinfeksi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini bukan berarti bahwa rakyat selalu salah dan penguasa boleh lepas tanggung jawab. <mark style="background-color:#ffee8c" class="has-inline-color">Penguasa zalim tetaplah zalim karena mereka memperoleh mandat dan amanat</mark>. Kritik tetap perlu. Kontrol publik tetap penting. Tetapi satu hal yang selalu harus kita ingat: membangun solidaritas horizontal antarwarga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah pemerintah yang sering mengecewakan, masyarakat semakin butuh budaya gotong royong atau dalam istilah kini disebut sebagai Warga Jaga Warga. Kita berharap slogan ini naik kelas menjadi prinsip teologis. Namun pemerintah tidak boleh memanfaatkannya untuk menggugurkan kewajiban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Negara ini mungkin sedang sakit. Tetapi penyakitnya bukan hanya di istana. Sebagiannya juga ada di gang-gang sempit dan komplek perumahan, di lampu merah dan persimpangan, bahkan di dalam diri kita sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saling menjaga warga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari: menolong tetangga, jujur dalam amanah kecil, disiplin di jalan, tidak mengambil hak orang lain, tidak melukai perasaan orang lain di balik akun anonim, dan tidak memanfaatkan musibah untuk keuntungan pribadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Barangkali introspeksi sosial memang harus berjalan beriringan dengan kritik politik. Sebab bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh pemimpin yang baik, tetapi juga oleh rakyat yang masih punya rasa malu. Sehingga kita perlu bercermin: sudah layakkah kita mendapat pemimpin yang jujur?</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://islah.blog/2026/05/12/perilaku-rakyat-yang-mengundang-laknat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">19590</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/a7b7d632327e5651aa81756c1e5c3bd3a6582082d3416dd566bde98225799b1d?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ejajufri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bukan Syiah-Sunnī, Ini Melawan Hegemoni</title>
		<link>https://islah.blog/2026/04/26/bukan-syiah-sunni-ini-melawan-hegemoni/</link>
					<comments>https://islah.blog/2026/04/26/bukan-syiah-sunni-ini-melawan-hegemoni/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ali Reza]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2026 09:39:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial dan Politik]]></category>
		<category><![CDATA[geopolitik Iran vs Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan Hamas dan Iran]]></category>
		<category><![CDATA[IRGC dan kekuatan regional Iran]]></category>
		<category><![CDATA[jaringan milisi Iran di Timur Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok proksi Iran]]></category>
		<category><![CDATA[konflik Timur Tengah terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh Iran di Timur Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[perang asimetris Iran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://islah.blog/?p=19561</guid>

					<description><![CDATA[Ada rangkaian peristiwa penting yang terjadi pada awal tahun 2020. Peristiwa ini terjadi sebelum Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi dunia. Kejadiannya bisa dibilang sederhana namun cukup untuk mengubah wajah dan cara kita melihat Timur Tengah. Sederhana karena seorang tentara berpidato di hadapan sembilan bendera yang bahkan tidak berkibar. Pada 9 Januari 2020, Jenderal Syahid Amir Ali [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Ada rangkaian peristiwa penting yang terjadi pada awal tahun 2020. Peristiwa ini terjadi sebelum Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi dunia. Kejadiannya bisa dibilang sederhana namun cukup untuk mengubah wajah dan cara kita melihat Timur Tengah. Sederhana karena seorang tentara berpidato di hadapan sembilan bendera yang bahkan tidak berkibar.</p>



<span id="more-19561"></span>



<p class="wp-block-paragraph">Pada 9 Januari 2020, Jenderal Syahid Amir Ali Hajizadeh berbicara di depan tiga bendera resmi mewakili Iran dan militernya. Enam bendera lainnya yang membuat dunia terkejut. Mungkin ini pertama kalinya seorang pejabat militer Iran berdiri secara terbuka di hadapan bendera kelompok yang selama ini dianggap proksi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat itu, dunia tahu ini bukan konferensi pers biasa. Pidato itu merupakan respons atas pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani tiga hari sebelumnya—dibunuh di Baghdad oleh drone Amerika Serikat atas perintah Trump.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Soleimani bukan sekadar jenderal. Dia adalah arsitek utama seluruh jaringan perlawanan bersenjata Iran di Timur Tengah selama lebih dari dua dekade. Bendera itu tidak berkibar namun seolah berbicara: kelompok ini tetap eksis dan terorganisir. Mari kita berkenalan singkat dengan keenam kelompok tersebut:</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Hizbullah (Lebanon)</strong> didirikan tahun 1982 di tengah kekacauan perang saudara dan invasi Zionis Israel. Tujuannya satu: melawan pendudukan Israel di selatan Lebanon. Dengan dukungan Iran, kelompok ini berkembang menjadi kekuatan militer dan politik paling dominan di negara tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ansarullah (Yaman)</strong> berdiri sekitar awal 2000-an di Provinsi Sa&#8217;dah. Tujuan awalnya adalah melawan marginalisasi komunitas Syiah Zaidiah dan  korupsi yang dilakukan pemerintah. Konflik yang semula domestik akhirnya menarik Iran masuk dalam pusaran untuk mengimbangi intervensi asing melawan koalisi yang dipimpin Arab Saudi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pasukan Mobilisasi Populer (Irak)</strong> atau <em>Al-Ḥasyd asy-Sya’bī</em> dibentuk secara masif pada 2014 untuk melawan ISIS yang sempat menguasai kota Mosul. Kelompok ini merupakan payung bagi berbagai milisi, sebagian di antaranya memiliki hubungan dekat dengan Iran. Salah satu tokoh pentingnya, Abū Mahdī al-Muhandis, syahid bersama Soleimani dalam serangan yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Hamas (Palestina)</strong> singkatan dari <em>Ḥarakat al-Muqāwamah al-Islāmiah</em> didirikan pada 1987 di Gaza. Gerakan ini lahir dari Ikhwanul Muslimin, sebuah organisasi <em>sunnī</em>. Hamas menjadi anomali menarik dalam jaringan Iran karena bukan Syiah. Namun Iran mendukungnya karena memiliki musuh bersama: Israel dan hegemoni AS.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Fāṭimīyūn </em>(Afghanistan)</strong> atau Liwa Fatemiyoun merupakan divisi yang terdiri dari warga Afghanistan. Dibentuk sekitar 2013–2014 untuk dikirim ke Suriah demi melindungi makam Sayidah Zainab binti ‘Alī dan melawan kelompok teroris takfiri yang didukung Zionis untuk menumbangkan Basyār Al-Assad.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Zainabīyūn </em>(Pakistan)</strong> atau Liwa Zainabiyoun awalnya merupakan bagian brigade Fatemiyoun namun dipisahkan dengan anggota warga Pakistan. Tujuannya sama: menjaga makam suci Syiah dan kepentingan Iran di Suriah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Qasem Soleimani bukan sekadar jenderal atau komandan. Dia adalah <em>founding father</em> beberapa kelompok tersebut. Bahkan koordinator yang menghubungkan kelompok lintas negara dalam satu strategi regional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu kesalahpahaman yang terjadi adalah tuduhan bahwa jaringan ini dibentuk sebagai bagian dari proyek penyebaran Islam Syiah di Timur Tengah. Namun kehadiran Hamas membantah narasi tersebut. Soleimani terlibat langsung untuk memperkuat Hamas melalui strategi terowongan di Gaza. Karena itu, proksi Iran lebih tepat disebut sebagai front perlawanan geopolitik, bukan teologis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut pengamat, strategi Iran berfokus pada <em>asymmetric warfare</em>—mengimbangi kekuatan besar tanpa konfrontasi langsung. Iran hidup dalam kepungan selama bertahun-tahun. Pangkalan militer AS tersebar di Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, hingga Arab Saudi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam logika pertahanan strategis, Iran tidak bisa menandingi AS secara konvensional. Iran tidak punya 800 pangkalan militer di seluruh dunia seperti AS. Kehadiran proksi merupakan alat untuk menciptakan <em>deterrence</em> tanpa harus terlibat perang terbuka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bendera jaringan tersebut akhirnya sengaja ditampilkan untuk menunjukkan: jaringan yang dibangun selama bertahun-tahun tidak runtuh bersama satu sosok Soleimani. Kita, setuju atau tidak dengan strategi tersebut, tidak bisa lagi berpura-pura tidak melihatnya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://islah.blog/2026/04/26/bukan-syiah-sunni-ini-melawan-hegemoni/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">19561</post-id>
		<media:thumbnail url="https://islah.blog/wp-content/uploads/2026/04/amiralihajizadeh_proxy.jpg" />
		<media:content url="https://islah.blog/wp-content/uploads/2026/04/amiralihajizadeh_proxy.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Syahid Amir Ali Hajizadeh</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/a7b7d632327e5651aa81756c1e5c3bd3a6582082d3416dd566bde98225799b1d?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ejajufri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Identitas Syiah di Tengah Prasangka</title>
		<link>https://islah.blog/2026/03/29/identitas-syiah-di-tengah-prasangka/</link>
					<comments>https://islah.blog/2026/03/29/identitas-syiah-di-tengah-prasangka/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ali Reza]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2026 14:37:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sosial dan Politik]]></category>
		<category><![CDATA[ciri-ciri Syiah]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan Iran dan Israel]]></category>
		<category><![CDATA[kesesatan Syiah]]></category>
		<category><![CDATA[perang Iran]]></category>
		<category><![CDATA[Syiah di Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://islah.blog/?p=19471</guid>

					<description><![CDATA[Pertanyaan itu muncul tiba-tiba tanpa bisa saya antisipasi. “Mas, kamu Syiah bukan?” Pemicunya sederhana: sebuah nama yang beredar di media massa, yaitu Ayatullah Alireza Arafi, terpilih sebagai Ketua Dewan Syura Kepemimpinan Interim di Iran. Saya paham, penanya mengaitkan hanya karena kesamaan nama. Tapi menjawab pertanyaan itu tidak pernah semudah melontarkannya. Di tengah mayoritas ahlusunah, identitas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Pertanyaan itu muncul tiba-tiba tanpa bisa saya antisipasi. “Mas, kamu Syiah bukan?” Pemicunya sederhana: sebuah nama yang beredar di media massa, yaitu Ayatullah Alireza Arafi, terpilih sebagai Ketua Dewan Syura Kepemimpinan Interim di Iran. Saya paham, penanya mengaitkan hanya karena kesamaan nama.</p>



<span id="more-19471"></span>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi menjawab pertanyaan itu tidak pernah semudah melontarkannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah mayoritas ahlusunah, identitas keislaman yang berbeda bukan hal mudah. Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir, narasi yang mengkampanyekan kesesatan Syiah sangat masif. Cukup banyak orang yang terpapar oleh keyakinan bahwa Syiah sesat bahkan kafir. Bahkan dalam beberapa kasus, dampaknya sudah menyentuh wilayah sosial, bahkan keamanan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi sebagian orang, jawaban atas pertanyaan tadi sangat mudah: “Saya <em>sunnī</em>. Saya ahlusunah.” Tegas dan selesai. Bagi yang lebih moderat, atau yang memilih aman, jawabannya, “Saya muslim.” Tapi bagi yang benar-benar berada di posisi itu, ada pergulatan batin yang tidak terlihat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, dinamika mulai sedikit berubah ketika Israel dan Amerika Serikat melakukan agresi terhadap Iran akhir Februari 2026. Sudah bertahun-tahun pejabat Iran menyerukan persatuan Islam, namun terlalu banyak telinga yang tersumbat kebencian pada Syiah. Sampai diperlukan tumpahnya darah Ayatullah Ali Khamenei untuk membuka lebih banyak mata kaum muslimin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ironisnya, di saat yang sama, beberapa negara Arab yang mendanai kampanye Syiah sesat—dan suka tidak suka mereka mayoritas <em>sunnī</em>—justru menyediakan lahan parkir bagi mesin perang AS yang digunakan untuk mengepung sesama anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Iran dengan keyakinannya justru berdiri tegak menghadapi serangan Zionis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu saja ini bukan perang mazhab. Banyak analis menegaskan bahwa akar konflik ini jauh lebih kompleks—politik, ekonomi, energi, dan pengaruh kawasan serta global. Tapi situasi ini jelas memunculkan refleksi di tubuh umat Islam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak sedikit dari kalangan ahlusunah mulai mempertanyakan kembali narasi yang mereka terima selama ini. Bahkan, muncul rasa “tidak nyaman” dan “malu” melihat realitas yang terjadi saat ini. Pemimpin negara Arab bahu membahu dengan AS-Israel untuk menyerang Iran, sedangkan ulama Wahabi atau yang mengaku salafi meningkatkan kampanye anti-Syiah. Mereka takut karena semakin banyak orang sadar oleh fitnah yang selama ini dibangun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, momen ini juga sebagai situasi yang membanggakan bagi muslim Syiah. Sebagaimana keberanian sebagian muslim ahlusunah yang tidak takut menyuarakan pembelaannya kepada Iran. Bukan cuma karena keyakinan mereka sebagai sesama muslim, tetapi karena prinsip keadilan yang diyakini. Mereka berdiri di barisan kelompok <em>muqawamah</em>—perlawanan terhadap ketidakadilan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu muncul pertanyaan klasik: mengapa harus membicarakan <em>sunnī </em>dan Syiah? Bukankah Islam itu satu? Secara ideal, benar. Tapi realitas tidak selalu sesederhana retorika. Bukankah pemimpin Arab yang bekerja sama dengan Zionis juga muslim? Jika identitas tidak penting, mengapa ISIS—yang juga mengaku muslim—tetap perlu dibedakan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang ulama pernah bertemu dengan Ayatullah ‘Alī As-Sīstānī dan membicarakan soal identitas ini. Jawaban Ayatullah Sīstānī mengejutkan: <em>“Katakanlah kepada dunia bahwa kamu seorang muslim Syiah.”</em> Eksklamasi ini tentu bukan ditujukan untuk memecah karena kita semua muslim. Tapi penegasan identitas yang membedakan dengan muslim lain. Semua mengaku meneladani nabi tapi Syiah memasukinya melalui pintu rumahnya: ahlulbait.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengakuan seperti itu tentu tidak pernah mudah dan membawa konsekuensi. Tidak hanya karena faktor lingkungan yang sudah terpengaruh oleh kampanye, tapi soal beban tanggung jawab yang muncul.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kitab <em>Ṣifāt asy-Syī&#8217;ah</em> karya Syekh Shadūq, diriwayatkan bagaimana ‘Alī bin Ḥusain menegur orang yang mengaku sebagai Syiahnya. “Kalian berdusta! Di mana tanda-tanda pada wajah kalian? Di mana tanda-tanda ibadahnya? Di mana bekas sujud kalian?” katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Imam Zain al-‘Abidīn tidak mau sekadar klaim. Tapi amal ibadah, kesederhanaan, dan keikhlasan. “Ciri khas mereka adalah kezuhudan,” katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali pada pertanyaan awal, jawabannya mungkin bisa sederhana. Namun hal tersebut hanya berhenti sampai di label. Karena yang jauh lebih penting adalah: apakah kita layak dengan jawaban itu? Apakah kita berani berpihak pada kelompok yang terzalimi? Karena identitas bukan hanya soal apa yang kita klaim—tetapi apa yang benar-benar kita jalani.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://islah.blog/2026/03/29/identitas-syiah-di-tengah-prasangka/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">19471</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/a7b7d632327e5651aa81756c1e5c3bd3a6582082d3416dd566bde98225799b1d?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ejajufri</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
