<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:creativeCommons="http://backend.userland.com/creativeCommonsRssModule" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>/brahmasta/journal</title>
	
	<link>http://brahmasta.net</link>
	<description>Life journey and inspirations</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Jul 2009 14:34:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<thespringbox:skin xmlns:thespringbox="http://www.thespringbox.com/dtds/thespringbox-1.0.dtd">http://feeds.feedburner.com/brahmasta?format=skin</thespringbox:skin><creativeCommons:license>http://creativecommons.org/licenses/by/2.0/</creativeCommons:license><image><link>http://creativecommons.org/licenses/by/2.0/</link><url>http://creativecommons.org/images/public/somerights20.gif</url><title>Some Rights Reserved</title></image><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/brahmasta" type="application/rss+xml" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item>
		<title>Profesi Scalable dan Non-Scalable</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/brahmasta/~3/E9PG2ApWM_w/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2009/07/13/profesi-scalable-dan-non-scalable/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2009 14:32:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[book]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneur]]></category>
		<category><![CDATA[the black swan]]></category>
		<category><![CDATA[Work]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/2009/07/13/profesi-scalable-dan-non-scalable/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah pernah baca The Black Swan? Ada sebuah sudut pandang menarik dari Nicholas Taleb mengenai segala sesuatu (ia menyebutnya variabel). Segala variabel dapat dipisahkan antara scalable dan non scalable.
Non-scalable mewakili hal-hal yang bisa diukur. Ia memiliki sifat-sifat mendekati kepastian. Sementara scalable mewakili hal-hal yang tidak terukur. Tingkat keacakannya tinggi. Anda tidak bisa memprediksi semua hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah pernah baca <a href="http://www.amazon.com/Black-Swan-Impact-Highly-Improbable/dp/1400063515/complainandresol">The Black Swan</a>? Ada sebuah sudut pandang menarik dari <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Nicholas_Taleb">Nicholas Taleb</a> mengenai segala sesuatu (ia menyebutnya variabel). Segala variabel dapat dipisahkan antara <em>scalable</em> dan <em>non scalable</em>.</p>
<p><em>Non-scalable</em> mewakili hal-hal yang bisa diukur. Ia memiliki sifat-sifat mendekati kepastian. Sementara <em>scalable</em> mewakili hal-hal yang tidak terukur. Tingkat keacakannya tinggi. Anda tidak bisa memprediksi semua hal di sini.</p>
<p>Salah satu contoh yang menarik dari Taleb di bukunya itu adalah pembahasan mengenai profesi. Ada profesi yang sifatnya <em>non-scalable</em>. Kontraktor, akuntan, dokter, dan konsultan misalnya. Penghasilan dalam profesi ini secara kasar akan sejajar dengan sesuatu yang bisa diukur seperti jam kerja, jumlah pasien, keberhasilan kasus-kasus yang diselesaikan, dan jumlah client. Sementara profesi yang <em>scalable</em>, seperti pemusik, penulis buku, dan artis, jumlah penghasilannya dapat jauh berlipat ganda meski jam kerja yang digunakannya sedikit atau sama dengan rekan-rekan seprofesinya. Semua penulis cukup menulis satu kali untuk sebuah buku. Tapi lihat perbedaan penghasilan di antara mereka. Pemusik cukup sama-sama merekam lagu dan mengeluarkan album. Tapi kita semua tahu bedanya penghasilan artis top dengan bukan kan? Mereka tidak dilihat berdasarkan jam kerjanya. Tapi idenya.</p>
<p>Mungkin Anda mengira tulisan ini dibuat untuk merekomendasikan profesi yang <em>scalable</em>. Tapi bahkan Taleb di bukunya sendiri tidak merekomendasikan seperti itu. Profesi <em>scalable</em> bisa memberikan Anda jumlah jam kerja yang lebih sedikit dan penghasilan yang berlimpah. Tapi berapa persen yang sukses? Berapa banyak pengusaha perangkat lunak yang sukses seperti Bill Gates, berapa banyak penulis yang menjual buku sebanyak J.K. Rowling, dan berapa banyak penyanyi yang menginspirasi seperti Michael Jackson?</p>
<p>Berikut kutipannya *</p>
<blockquote><p>A scalable profession is good only if you are successful; they are more competitive, produce monstrous inequalities, and are far more random with huge disparities between efforts and rewards &#8212; a few can take a large share of the pie, leaving others out entirely at no fault of their own.</p></blockquote>
<p>Pembagian kue di dalam profesi yang sifatnya <em>non-scalable</em> terproporsi yang sama rata, dan kita tidak bisa berbuat banyak untuk itu. Sementara kue untuk hal-hal yang <em>scalable</em> dapat menjadi sangat tidak adil. Satu pihak bisa mendapat lebih dari separuhnya untuk diri sendiri, sementara yang lainnya berusaha mengais sisanya.</p>
<p>Ulasan mengenai <em>scalable</em> dan <em>non-scalable</em> ini mengingatkan saya akan perdebatan antara pilihan karir yang saya kira hadir di banyak diri orang. Apakah berkarir dengan bekerja atau berwirausaha? Sepertinya pembahasan plus minusnya sudah banyak dan kita semua tahu. Mungkin yang saya seringkali ingin tahu adalah, Anda cenderung ke mana?</p>
<p>Indonesia butuh banyak pengusaha loh. Penganggurannya <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2009/01/05/brk,20090105-153874,id.html">banyak sekali</a>.</p>
<p>* Dikutip dari <a href="http://ben.casnocha.com/2009/03/scalable-vs-non-scalable-careers.html">Ben Casnocha</a>, yang juga dikutip dari buku <a href="http://www.amazon.com/Black-Swan-Impact-Highly-Improbable/dp/1400063515/complainandresol">The Black Swan: The Impact of Highly Improbable</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2009/07/13/profesi-scalable-dan-non-scalable/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://brahmasta.net/2009/07/13/profesi-scalable-dan-non-scalable/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Belajar dengan Berbagi</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/brahmasta/~3/_2-46kN417g/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2009/07/10/belajar-dengan-berbagi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 15:16:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[share]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[Saya diingatkan atas satu hal hari ini. Salah satu cara belajar yang paling efektif adalah dengan berbagi.
Tadi sore saya mendapat instruksi mendadak untuk mempresentasikan beberapa buah kasus. Sejujurnya sedikit merasa tidak siap plus grogi karena beberapa orang dari regional akan ikut serta dan ada top manajer pula.
Dari beberapa kasus tersebut, ada dua buah kasus yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-medium wp-image-503 alignleft" title="I love to share!" src="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2009/07/share1may2008-300x224.jpg" alt="share1may2008" width="240" height="179" />Saya diingatkan atas satu hal hari ini. Salah satu cara belajar yang paling efektif adalah dengan berbagi.</p>
<p>Tadi sore saya mendapat instruksi mendadak untuk mempresentasikan beberapa buah kasus. Sejujurnya sedikit merasa tidak siap plus grogi karena beberapa orang dari regional akan ikut serta dan ada top manajer pula.</p>
<p>Dari beberapa kasus tersebut, ada dua buah kasus yang saya presentasikan secara benar-benar berbeda. Kasus pertama saya paparkan dengan bahasa yang terbata-bata dan tidak jelas. Sering sekali kehilangan kata. Setiap ditanya, saya selalu bingung. Rasanya ingin cepat selesai saja. Sementara di kasus kedua, saya bisa menjelaskannya dengan sangat lancar, bahkan sempat berargumen segala.</p>
<p>Ketika meetingnya selesai, sejenak terpikir di oleh saya. Kenapa output di keduanya berbeda sekali? Padahal sama-sama dikerjakan, sama-sama menghabiskan waktu, dan sama- sama cukup sulit.</p>
<p>Jawabannya ternyata sederhana. Untuk kasus kedua, saya menjelaskan kepada orang lain jauh lebih banyak daripada kasus pertama.</p>
<p>Kasus kedua saya presentasikan dan paparkan dalam dua meeting, dokumentasi, juga penjelasan informal ke sejumlah orang. Sementara kasus kedua saya kebanyakan saya pegang sendiri dan paling jauh simpan di catatan saja.</p>
<p>Dari sini apa yang bisa dilihat? Berbagi sebenarnya merupakan proses pembelajaran yang baik. Ketika berbagi, saya merasa terpacu untuk berpikir. Ini seperti proses latihan. Semakin sering kita berbagi, kita akan mendapatkan hal-hal baru yang tidak terpikirkan sebelumnya. Kita pun akan bisa melihat korelasi antara satu hal dengan yang lain secara lebih luas sehingga memperkuat pemahaman. Pemahaman akan konsep pun makin teruji karena dengan berbagi kemungkinan besar diskusi juga akan terjadi.</p>
<p>Berbagi itu salah satu bagian dari latihan, dan <em>practice makes perfect</em>. Jadi mungkin saran saya dari apa yang saya alami adalah, jika ada media yang dapat digunakan untuk berbagi, adalah satu hal yang sangat baik untuk menggunakannya. Karena pelajaran yang kita peroleh dari berbagi tidak akan merugikan kita, tapi justru membawa kita ke level pemikiran baru yang tidak kita miliki sebelumnya.</p>
<p>n.b. Gambar diambil dari <a href="http://blogs.guardian.co.uk/digitalcontent/share1may2008.jpg">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2009/07/10/belajar-dengan-berbagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://brahmasta.net/2009/07/10/belajar-dengan-berbagi/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Konsistensi</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/brahmasta/~3/NJBirUrztdQ/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2009/07/09/konsistensi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 16:24:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[
Konsistensi mahal harganya. Sesuatu yang tidak banyak orang punya.
Boleh kita punya visi hebat, perencanaan yang detil dan terarah, tim yang  kuat, dan semangat yang menggebu-gebu. Tapi tanpa kekuatan konsistensi,  segalanya akan percuma. Visi tinggallah impian, rencana hanya tertulis di atas  kertas, tim yang kuat kehilangan arah, dan semangat pun hilang  perlahan-lahan.
Bicara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-497" title="Consistency" src="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2009/07/XSmallConsistency-300x256.jpg" alt="XSmallConsistency" width="180" height="154" /></p>
<p>Konsistensi mahal harganya. Sesuatu yang tidak banyak orang punya.</p>
<p>Boleh kita punya visi hebat, perencanaan yang detil dan terarah, tim yang  kuat, dan semangat yang menggebu-gebu. Tapi tanpa kekuatan konsistensi,  segalanya akan percuma. Visi tinggallah impian, rencana hanya tertulis di atas  kertas, tim yang kuat kehilangan arah, dan semangat pun hilang  perlahan-lahan.</p>
<p>Bicara mengenai konsistensi mengingatkan saya akan empat komponen di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_8th_Habit:_From_Effectiveness_to_Greatness">The  8th Habit</a> yang akan mendorong kita menemukan suara kita (to find our voice),  yaitu vision, passion, conscience, and discipline. Konsistensi merupakan bagian  dari disiplin. Tanpa sikap disiplin, semua komponen yang lain akan sia-sia.  Karena usaha kita tidak akan berkelanjutan. Sementara apapun yang kita alami di  hidup ini ada prosesnya.</p>
<p>Tak percaya? Give ‘consistency’ a try. Mencari bukti dari saya? Nggak ada.  Saya masih belajar kok untuk bersikap konsisten.</p>
<p>Salah satunya adalah konsisten mengisi artikel di blog ini <img src='http://brahmasta.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2009/07/09/konsistensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://brahmasta.net/2009/07/09/konsistensi/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Saatnya Mendukung Hasil Pemilu</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/brahmasta/~3/mdYMLbZcLgY/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2009/07/08/saatnya-mendukung-hasil-pemilu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 12:45:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=485</guid>
		<description><![CDATA[Sedikit uneg-uneg dan pemikiran dari hasil pemilu hari ini.
Saya yakin semua orang Indonesia minimal memiliki kepercayaan di dalam hatinya bahwa pasangan capres no. 2, Susilo Bambang Yudhoyono – Budiono memiliki peluang terbesar untuk memenangi perebutan suara di pemilu presiden  hari ini.
Kalau kita menilik hasil quick count dari keempat lembaga survei hari ini, kepercayaan di atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sedikit uneg-uneg dan pemikiran dari hasil pemilu hari ini.</p>
<p>Saya yakin semua orang Indonesia minimal memiliki kepercayaan di dalam hatinya bahwa pasangan capres no. 2, Susilo Bambang Yudhoyono – Budiono memiliki peluang terbesar untuk memenangi perebutan suara di pemilu presiden  hari ini.</p>
<p>Kalau kita menilik hasil quick count dari keempat lembaga survei hari ini, kepercayaan di atas semakin terbukti kebenarannya. SBY-Budiono meraih suara lebih dari 50% di keempat hasil quick count tersebut. Bahkan tiga di antaranya mencapai 60%. Megawati-Prabowo menduduki peringkat kedua dengan suara sebanyak 25%, sementara JK-Wiranto di tempat ketiga dengan kisaran suara 12-15%.</p>
<p>Mengherankan. In my humble opinion, hasil ini tidak mempresentasikan ekspektasi pribadi. Bagi saya. Mega-Prabowo bukan calon favorit. Saya rasa kita semua tahu bagaimana kualitasnya ‘terbanting’ di seluruh debat pilpres. SBY-Budiono memang favorit, tapi saya tidak melihat pasangan ini harus menang telak mengingat beberapa kali kampanyenya tidak mencerminkan kenyataan sebenarnya (dengan memaparkan hasil pemerintahan seolah-olah sukses) dan ulah tim suksesnya yang tidak simpatik. Di tengah situasi seperti itu, saya memandang JK-Win seperti sesuatu yang <em>fresh</em> di tengah carut marut contoh yang lain itu, meski banyak kekurangannya. Kampanyenya menarik, dia bisa menyelesaikan masalah-masalah dengan solusi yang praktis. Bukan konseptual dan mengawang-awang seperti calon lainnya. Dari hal-hal yang saya lihat itu, rasanya kok hasil calon Mega-Prabowo dan SBY-Budiono terasa terlalu tinggi, dan calon JK-Wiranto terlalu kecil.</p>
<p>Hasil yang mengherankan ini bagi saya seolah didukung dengan masalah-masalah yang muncul beberapa hari menjelang pemilu hingga hari ini. Kadang dalam hati ini bertanya-tanya. Apakah ada kecurangan dalam proses pemilihan kali ini? Apakah ada rencana besar yang tersembunyi di balik pemilu yang bersih dan demokratis?</p>
<p>Semua itu bisa membawa kita ke dalam kesimpulan kalau pemilu ini tidak sempurna. Ada pelanggaran terjadi, ada kecurangan terjadi. KPU sebagai penyelenggara juga tidak sempurna karena masih menyisakan masalah DPT hingga detik-detik terakhir.</p>
<p>Tapi di luar itu semua, saya cukup takjub dengan pemilu tahun ini. Sebuah kemajuan yang luar biasa nggak sih? Coba saja bandingkan dengan pemilu tahun 2004 kemarin. Sekarang ada debat capres.  Quick count dilakukan beberapa lembaga survei dan bisa menjadi acuan. Kalau kita melihat ke pemilu legislatif, kini setiap orang punya hak untuk mencalonkan diri dan mengkampanyekan dirinya untuk menjadi wakil rakyat. Selain itu ada fenomena menarik juga di dunia maya dengan hadirnya <a href="http://politikana.com">Politikana</a>, yang kini jadi sarapan saya setiap hari.</p>
<p>Negeri ini seperti sedang belajar, dengan berawal dari sesuatu yang awalnya tidak sempurna, penuh tambal sulam, dihadiri ketidakkompetenan, tapi on track. Pelan-pelan saya merasa proses ini akan bisa membawa Indonesia ke negara yang lebih demokratis. Asal kualitas prosesnya tidak jalan di tempat.</p>
<p>OK, kita boleh optimis melihat demokratisasi. Tapi hal lain saya rasa juga penting adalah dukungan ke presiden terpilih. Seperti apapun presidennya, sehebat apapun visi dan misinya, jika tidak ada dukungan dari seluruh elemen pemerintahan dan rakyat, bakal tidak ada artinya. Itu yang saya rasakan ketika debat capres kemarin. Calon-calon presiden kita itu punya konsep-konsep yang bagus untuk menyelesaikan masalah-masalah bangsa ini. Bahkan jika tidak terlalu bagus, minimal pasti ada perbaikan jika semuanya berjalan dengan baik. Tapi sayangnya, semuanya masih dalam tataran konsep. Siapa yang menjamin bisa berjalan benar saat eksekusinya?</p>
<p>Well.. that’s all. Selamat untuk SBY-Budiono karena memenangi quick count hari ini. Siapapun presiden yang terpilih, mari kita dukung dengan segenap hati. Karena negara kita tidak akan maju kalau kita tidak bahu membahu membangun negeri ini.</p>
<p>Sekian uneg-unegnya. <img src='http://brahmasta.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2009/07/08/saatnya-mendukung-hasil-pemilu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://brahmasta.net/2009/07/08/saatnya-mendukung-hasil-pemilu/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>The Only One</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/brahmasta/~3/39uL0sfiKeU/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2009/06/14/the-only-one/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 14:09:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[life learn]]></category>
		<category><![CDATA[believe]]></category>
		<category><![CDATA[god]]></category>
		<category><![CDATA[learn]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[We know that world is full of uncertainty. Yesterday comes as a history. It has many stories to argue and understand. History is our main source for learning. We, humans, understand this. We keep our histories, learn from it, and try to figure out what inside the mystery of future.
Well, We think we understand the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>We know that world is full of uncertainty. Yesterday comes as a history. It has many stories to argue and understand. History is our main source for learning. We, humans, understand this. We keep our histories, learn from it, and try to figure out what inside the mystery of future.</p>
<p>Well, We think we understand the world. We try to make our own conclusion. We think that we know. We believe we can predict.   Several economic analyses done by economic experts. Policies created by governments. Technology inventions founded by engineers. Sales forecasts made by the enterprises. We are chasing the future. Some people with optimism. Some others with fearfulness.</p>
<p>Some people put their passion hard work on it. Working more than twelve hours a day. They are preparing for their future. They are searching for success, a word that driving most of us now, but not many of us can really define it.   But again, the world is full of uncertainty. All predictions can be wrong. Beside that, there are several occasions that you&#8217;ll never predict. People on Twin Tower didn&#8217;t know that a plane will crush World Trade Center at 9/11. If you are an entrepreneur, there must be a possibilities when even your colleague will try to bring you down. If you are an engineer, you&#8217;ll never know that your knowledge will never used anymore in the future.</p>
<p>In <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Outliers_(book)">Outliers</a></em>, Malcolm Gladwell tell us that all the successful people not only rely on their hard work to gained their success. One example is Bill Gates, who is one of the luckiest person in the world. He is one the first people who have skills and capabilities in microcomputers, after he and his friends have a chance to spend thousands of hours programming in several labs. It&#8217;s true that without passion and hard work he cannot be as successful as now. But instead of that, he was coming just in time. When microcomputers started to rise, and people with capabilities like him were hardly found.</p>
<p>So in the world of uncertainty, to whom we should rely on? We can design our life, but unexpected things keep coming. How can we manage it? How can we face it?</p>
<p>This question keep banging my head. It popped out several times and after that I tried to forget it. After several days, when I was driving, it popped again. But at this time. Something in my mind said to me that the answer is easy.</p>
<p>The answer is God.</p>
<p>The only one, that we can rely on is God.</p>
<p>I have a time when I feel I was very lucky. All the good things keep coming to me. All things that I wanted came to be true. When I tried to compare myself now, before, and at that time, there is only one difference. At that time, I put my everything to God. I kept myself praying for everything whole heartedly.</p>
<p>Now I realize that we are still a human, who can predict, invent, or making conclusion. We can put our hard work for everything. But the thing is, our knowledge is limited, and the future is always a mystery. Our believe could be an answer. God will help us. Sometime it feels too hard for us to understand. But that&#8217;s the beauty of it.</p>
<p>Our world still have many of things that have to learn.  As like mentioned by Camerlengo Patrick McKenna at <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Angels_%26_Demons_(film)">Angels and Demons</a>.</p>
<blockquote><p>Science and religion are not enemies. There are simply some things that science is too young to understand.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2009/06/14/the-only-one/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://brahmasta.net/2009/06/14/the-only-one/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Susahnya Servis iPod</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/brahmasta/~3/3DllQwbs7F8/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2009/05/10/susahnya-servis-ipod/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 02:11:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[ipod]]></category>
		<category><![CDATA[service]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[Saya punya iPod Nano Chromatic yang baru berumur dua bulan. Selama dua bulan ini, sang iPod sudah menemani ke mana-mana. Saya biasanya pasang di mobil untuk menemani sepanjang perjalanan. Menggantikan CD dan radio yang sudah mulai membosankan.
Namun ternyata punya iPod bisa bosan juga. Karena nggak ada lagu baru yang lagi didengerin (baca: download), akhirnya saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya punya iPod Nano Chromatic yang baru berumur dua bulan. Selama dua bulan ini, sang iPod sudah menemani ke mana-mana. Saya biasanya pasang di mobil untuk menemani sepanjang perjalanan. Menggantikan CD dan radio yang sudah mulai membosankan.</p>
<p>Namun ternyata punya iPod bisa bosan juga. Karena nggak ada lagu baru yang lagi didengerin (baca: download), akhirnya saya kembali ke radio atau malah ngobrol via speakerphone sepanjang perjalanan*. Hingga akhirnya sang iPod tergeletak tidak jelas di mobil, sampai suatu saat saya temukan mati. Saya langsung masukkan ke kantong celana, masuk ke dalam rumah, ganti baju, terus tidur.</p>
<p>Saya lupa kalau si iPod berada di celana. Dan sang iPod pun terendam bersama cucian.</p>
<p>Untungnya setelah ditemukan, dia masih bisa nyala. Setelah dikeringkan, saya coba nyalain lagi. Suaranya masih bagus. Fungsi-fungsinya masih jalan. Sayang ada kerusakan. Ada air yang mengendap di dalam dan baterainya cepat drop.</p>
<p>Saya akhirnya bawa si iPod ke servis resmi. Saya udah nggak peduli masalah garansi. Garansi kan berlaku untuk hal-hal yang bukan kesalahan kita. Ini jelas kesalahan saya.</p>
<p>Tapi sayang sekali jawaban dari tempat servis-nya adalah: Mereka tidak bisa bantu.</p>
<p>Saya kaget, dan menanyakan kenapa. Ternyata mereka tidak diperbolehkan untuk membuka isi iPod-nya (juga tidak dilatih untuk memperbaikinya). Jadi satu-satunya jalan adalah menukar itu dengan yang baru, yang mana selisih harganya hanya seratus ribu lebih murah dengan yang baru. Padahal kalau menurut saya (yang sok tahu) perbaikannya sederhana, bersihin kerak-kerak air di kaca dalam kemudian ganti komponen yang berhubungan dengan baterainya. Tapi ternyata nggak semudah itu. Mereka malah menyarankan saya untuk mencari tempat servis tidak resmi. Hal serupa akan terjadi buat iPhone. Mereka nggak bisa perbaiki kerusakan-kerusakan seperti itu karena tidak boleh dibuka.</p>
<p>Buat saya mengejutkan ya, untuk barang sekelas iPod dan iPhone, servis sederhana seperti itu tidak bisa diberikan. Sudah barangnya mahal, aksesorisnya mahal, servisnya menyulitkan. Saya jadi mikir, mungkin service seperti itu-nya belum dibuat di Indonesia ya? Atau dia memang mainnya &#8217;sangat tertutup&#8217; begitu?</p>
<p>Ya sudahlah saya nggak mau berpikir terlalu banyak dulu. Tempat-tempat servis &#8217;swasta&#8217; untuk sang iPod.</p>
<p>Mungkin pesan moralnya sementara adalah. Jangan cuci iPod Anda. <img src='http://brahmasta.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>* Jangan ditiru ya. Berbahaya. Hehe..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2009/05/10/susahnya-servis-ipod/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://brahmasta.net/2009/05/10/susahnya-servis-ipod/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Cacar</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/brahmasta/~3/yuDwOvLmL-0/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2009/05/01/cacar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 02:35:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[sick]]></category>
		<category><![CDATA[varicella]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[Sudah hampir satu minggu saya kena cacar air. Ada-ada saja. Tiba-tiba dapat penyakit yang harusnya saya alami 15 tahun lalu. Kini saya sudah memasuki hari kelima jadi tahanan rumah.
Dari tiga penyakit berat yang pernah saya alami, termasuk sekarang, pelajarannya sama. Jangan pernah anggap sepele gejala-gejala pusing, demam, dan kelelahan. Saya sering takut menjadi orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-thumbnail wp-image-453" title="Cacar" src="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2009/05/simon-measle4-150x150.jpg" alt="Cacar" width="150" height="150" />Sudah hampir satu minggu saya kena cacar air. Ada-ada saja. Tiba-tiba dapat penyakit yang harusnya saya alami 15 tahun lalu. Kini saya sudah memasuki hari kelima jadi tahanan rumah.</p>
<p>Dari tiga penyakit berat yang pernah saya alami, termasuk sekarang, pelajarannya sama. Jangan pernah anggap sepele gejala-gejala pusing, demam, dan kelelahan. Saya sering takut menjadi orang yang terlalu manja. Sedikit-sedikit pusing, sedikit-sedikit sakit. Tapi tubuh kita tidak mungkin bohong. Sakit pasti muncul karena sesuatu.</p>
<p>Adik saya kemarin-kemarin nelpon dan ngomong, &#8220;Bukan salah kamu kok Mas, dulu operasi amandel sih. Jadi daya tahan tubuhnya kurang&#8221;. Wallahualam. Mungkin itu juga yang bikin saya sering sakit.</p>
<p>Meski dua tiga hari pertama rasanya amit-amit. Gatal, demam, pusing bercampur jadi satu, lumayan deh. Setidaknya saya dapet liburan <img src='http://brahmasta.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>n.b. Gambar diambil dari <a href="http://www.thechestnut.com/simon/simon-measle4.jpg">sini</a>. Sebenarnya bukan cacar sih, tapi lucu gambarnya <img src='http://brahmasta.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2009/05/01/cacar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://brahmasta.net/2009/05/01/cacar/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kisah Hidup Supir-Supir Taksi</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/brahmasta/~3/p3xn5ksn6N4/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2009/04/14/kisah-hidup-supir-supir-taksi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 22:04:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[taxi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[Kalau lagi naik taksi sendirian dan menjalani rute yang jauh, biasanya saya akan mengajak sopir taksi tersebut ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari hal-hal yang sepele sampai serius. Biasanya yang keluar itu curhatan, kisah hidupnya, atau pandangan politik. Sampai sekarang, saya masih ingat beberapa yang menarik.
Sampel pertama adalah seorang supir taksi yang sangat uzur. Ia mengeluh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-439" title="taksi_1" src="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2009/04/taksi_1-300x286.jpg" alt="taksi_1" width="210" height="200" />Kalau lagi naik taksi sendirian dan menjalani rute yang jauh, biasanya saya akan mengajak sopir taksi tersebut ngobrol ngalor ngidul. Mulai dari hal-hal yang sepele sampai serius. Biasanya yang keluar itu curhatan, kisah hidupnya, atau pandangan politik. Sampai sekarang, saya masih ingat beberapa yang menarik.</p>
<p>Sampel pertama adalah seorang supir taksi yang sangat uzur. Ia mengeluh kepada saya atas kesulitan ekonomi yang dia alami. Kemudian dia membandingkan masa-masa sekarang dengan orde baru dan orde lama. Dia tampaknya begitu bangga dengan Soekarno. Secara detil dia jelaskan bagaimana kehidupan masa kecilnya saat Soekarno masih berkuasa. Makan siang dan susu gratis di sekolah, sekolah libur kalau dia datang sepulang dari luar negeri untuk menyambut dia datang. Kemudian dia juga bercerita bahwa Soekarno-lah presiden terbaik, yang benar-benar memperjuangkan namanya rakyat. Terutama rakyat kecil. Soekarno tidak mau membuat rakyatnya menderita.</p>
<p>Sampel kedua, sopir taksi flamboyan. Dia punya tujuh istri dan berencana menambah lagi. Dia punya usaha sampingan penyewaan mobil, dan secara berulang-ulang menjelaskan kepada saya bahwa itu sangat menguntungkan. Kami sempat melakukan perhitungan berapa yang dia dapatkan sebulan dari bisnisnya itu. Satu hal yang cukup aneh adalah profesi sampingannya adalah penyanyi dangdut. Dia sempat menanyakan kepada saya apakah sudah pernah melihat video klipnya, dan sampai saya turun dari taksi pun, dia mengingatkan saya untuk melihat video klipnya.</p>
<p><span id="more-437"></span>Sampel ketiga adalah sopir taksi putus cinta. Ini agak panjang ceritanya, bahkan sampai berbuntut perjalanan saya tambah jauh karena nyasar. Dia cerita kalau dulu sebelumnya sempat bekerja di perusahaan asing dan memperoleh gaji cukup tinggi, sampai bisa beli mobil sendiri. Sayang dia terlibat masalah dengan bosnya hingga dipecat lalu mengalami kesulitan keuangan hingga menjual mobilnya. Dia tidak bercerita kepada orangtuanya mengenai masalah ini, tapi dia cerita ke pacarnya. Repotnya, pacarnya langsung mutusin dia begitu tahu dia sekarang jadi sopir taksi. Untungnya saat dia bercerita ke saya, minggu depannya dia akan menjalani wawancara dengan sebuah perusahaan, dan kata dia sih, kemungkinan besar bakal diterima. Tapi dia bersumpah tidak akan kembali ke pacarnya itu.</p>
<p>Sampel keempat, sopir taksi satu kampung. Pertanyaan standar saat mulai mengajak ngobrol itu adalah daerah asal. Dan ternyata sopir taksi itu besar di Duri! Kampung saya. Si Pak supir ini hidup sekitar tahun 60-an di sana. Berarti dia hidup saat Duri masih benar-benar kota kecil, meski sudah ada Caltex di sana. Dia tinggal di Simpang Padang, dekat sebuah bioskop terkenal di masa itu. Sekarang bioskopnya sudah menjadi ruko. Dia juga bercerita kalau orangtuanya bekerja di Caltex, sama seperti Bapak saya. Tapi sekitar tahun 70-an pensiun. Sudah lama sekali, jauh berbeda dengan Bapak saya yang mulai bekerja tahun 1984.</p>
<p>Sampel terakhir adalah supir taksi yang mengajarkan saya untuk bersyukur. Nah kalau yang ini oke banget. Saya baru malam ini bertemu dengan supir taksi seperti ini dan benar-benar merasa bersyukur bertemu dengannya. Hari ini saya sedang cukup kalut memikirkan hari esok di mana saya mulai bekerja lagi dengan setumpuk pekerjaan yang sudah menanti untuk diselesaikan. Tapi dia datang mengantarkan saya dengan berkali-kali ucapan syukur dan pasrah atas yang dia alami kepada Tuhan. Entah berapa kalimat Alhamdulillah yang keluar, meski yang dia dapat tidak seberapa. Saya mendapat cerita tentang anak-anaknya, berapa penghasilan yang dia dapat dari taksi, dan betapa dia tidak ada masalah dengan itu. Dia percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik. Mengagumkan.</p>
<p>Sampel terakhir ini akhirnya yang mengantarkan saya untuk menulis cerita ini. Benar, kita harus bersyukur. Kita kadang tidak tahu kalau apa yang sudah kita sudah dipenuhi berkah. Kita terus melihat ke atas dan merasa kurang, tanpa mensyukuri segala nikmat yang sudah terlalu terbiasa untuk terasa.</p>
<p>Kenapa saya suka mengajak ngobrol mereka? Soalnya saya sering sekali mendapatkan sudut pandang baru setiap kali berbicara dengan mereka. Kadang kasihan juga, dari pagi sampai malam mengarungi jalan raya mengejar setoran. Ada yang ditarget harus mencapai lima ratus ribu rupiah sehari baru bisa dapat 20% dari itu, ada juga yang mendapat sebagian dari berapapun yang dia terima dari penumpang.  Jadi saya salut sama supir taksi sampel terakhir, yang tetap mensyukuri hidupnya.</p>
<p>Jadi itulah cerita yang saya punya dari naik taksi. Entah cerita apa lagi dari mereka yang saya dapat besok-besok. <img src='http://brahmasta.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2009/04/14/kisah-hidup-supir-supir-taksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://brahmasta.net/2009/04/14/kisah-hidup-supir-supir-taksi/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Golput, Caleg, dan Pemilu Online</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/brahmasta/~3/Qj417PJgUpw/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2009/04/10/golput-caleg-dan-pemilu-online/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 23:58:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiana]]></category>
		<category><![CDATA[caleg]]></category>
		<category><![CDATA[golput]]></category>
		<category><![CDATA[it]]></category>
		<category><![CDATA[online]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Tahun ini, saya tidak ada di dalam daftar pemilih. Golput. Saya seharusnya terdaftar sebagai pemilih di Bekasi, karena KTP saya sekarang dari sana. Tapi katanya sih karena waktu disurvei tidak ada di tempat, saya tidak terdaftar. Sementara proses KTP di Jakarta masih butuh sekitar enam bulan lagi buat selesai. Jadilah kami sekeluarga tidak disurvei. Sekeluarga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-433" title="logo_pemilu2009a" src="http://brahmasta.net/wp-content/uploads/2009/04/logo_pemilu2009a-201x300.jpg" alt="logo_pemilu2009a" width="201" height="300" />Tahun ini, saya tidak ada di dalam daftar pemilih. Golput. Saya seharusnya terdaftar sebagai pemilih di Bekasi, karena KTP saya sekarang dari sana. Tapi katanya sih karena waktu disurvei tidak ada di tempat, saya tidak terdaftar. Sementara proses KTP di Jakarta masih butuh sekitar enam bulan lagi buat selesai. Jadilah kami sekeluarga tidak disurvei. Sekeluarga golput.</p>
<p>Kemarin saya dan Bapak saya sempat mendatangi TPS dekat rumah untuk memastikan nama tidak ada di daftar. Kami nggak rela kalau ternyata kami terdaftar dan nggak ada yang memberitahu. Takut surat suaranya dipakai macem-macem. Tapi ternyata memang tidak ada. Kami lalu melihat foto-foto caleg yang ada di sana, dan mengambil kesimpulan tidak salah juga kalau golput. Satu-satunya calon yang kami kenal Wanda Hamidah! Padahal entah sudah berapa hari kami melalui hari-hari dengan berbagai poster, spanduk, dan baligo caleg di sepanjang jalanan. Saya jadi merasa effort semua caleg itu sia-sia.</p>
<p>Ada dua pihak yang salah mungkin di sini. Pertama saya yang apatis, kedua caleg yang tidak komunikatif. Sebagai warganegara, mungkin mestinya saya proaktif. Berusaha mendaftarkan nama saya jauh-jauh hari sebelumnya, mencari info visi dan misi caleg-caleg Jakarta Selatan, dan kemarin datang untuk mencontreng dengan yakinnya. Caleg juga mestinya nggak cuma pasang poster doang. Seorang caleg idealnya menurut saya pasti punya visi yang jelas. Turun dong ke daerah-daerah. Visinya yang menyebar, bukan fotonya. Tulis di selebaran misalnya, atau kalau mau lebih canggih lagi, bikin blog atau minimal Facebook lah. Dari sekian banyak poster yang ada di jalan, sedikit sekali yang menggunakan media internet untuk berkomunikasi. Padahal sebenarnya murah dan efektif. Meski jumlah yang membaca sangat sedikit.</p>
<p><span id="more-432"></span>Bicara mengenai internet, bagaimana kalau pemilu online ya? Kan penghematannya luar biasa tuh. Kita nggak perlu mencetak kertas sebesar-besar dan sebanyak-banyak umat, kirim surat suara ke luar negeri, bikin TPS di daerah-daerah beserta perlengkapannya. Pemilu menghabiskan 21,93 triliun  rupiah dan kalau dibagi-bagi ke jumlah pemilih yang mencapai 171.068.667 orang, setiap pemilih menghabiskan sekitar 128 ribu rupiah. Sangat mahal. Padahal saya rasa membangun sistem yang bisa diakses 170 juta orang tidak  sampai 1 miliar kali ya. Dan baik  di dalam atau luar negeri, semua bisa mengakses. Perhitungan bisa dilakukan oleh sistem. Malam hari hasilnya sudah bisa keluar.</p>
<p>Tapi untuk bermimpi seperti di atas sih saya nggak berani, karena membayangkan kesulitan luar biasa yang akan ditimbulkan. Berapa sih pengguna internet Indonesia? Tahun 2008 pengguna internet sekitar 25 juta, dan  tahun 2010 saja diperkirakan ada 57 juta, berapa 2014? Saya yakin tidak mencapai 200 juta. Belum lagi sebagian besar pengguna internet adalah generasi muda, yang belum memilih. Mensosialisasikan penggunaan komputer dan internet sudah jadi masalah sendiri. Belum infrastrukturnya. Bagaimana memungkinkan pengadaan komputer ke seluruh daerah di negeri yang luas ini? Nggak semua daerah semaju Jakarta, ada komputer di mana-mana. Belum lagi masalah sekuritas. Untuk pemilu tradisional saja saya salut dengan kreativitas kecurangan yang diberitakan hingga hari ini. Ada serangan fajar berupa duit atau beras, surat suara yang sudah dicontreng dengan sendiri, panitia TPS yang mengintimidasi pemilihnya, pemilih yang berusaha mempengaruhi pemilih-pemilih lain. Kalau pemilu dibuat online, tidak perlu ada serangan fajar, tinggal sistemnya yang diserang. Terdengar lebih murah. Dan karena sistem berada di dunia maya, pelanggaran dapat dilakukan seanonim mungkin.</p>
<p>Pusing kan? Jadi tetap harus kembali ke manusianya. Asal ada itikad baik dari kita semua, pemilu pasti berjalan lancar dan bersih. Apalagi kalau calon pemimpin kita punya itikad baik semua. Pasti Indonesia akan jadi negara yang lebih baik dari sekarang.</p>
<p>Kalau dilihat-lihat lagi, semua proses pemilu kita dari pendaftaran hingga penghitungan tidak ada yang sempurna. Semua bermasalah. Saya yakin memang nggak mudah ya. Penduduk sebanyak ini, partai dan calon juga segambreng-gambreng. Kita semua juga belum jadi orang yang sejahtera, jadi peluang untuk berbuat kecurangan semakin tinggi.</p>
<p>Sekarang saya pribadi akhirnya berharap saja. Semoga jajaran tuan-tuan wakil rakyat yang terpilih bisa memegang amanahnya dengan baik. Jadi wakil-wakil rakyat yang memikirkan rakyatnya lah. Do some  improvements bung! Anda dibayar mahal sama rakyat. Setidaknya buatlah kami nggak merasa rugi membayar pajak dan membuat laporan SPT akhir bulan kemarin. <img src='http://brahmasta.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2009/04/10/golput-caleg-dan-pemilu-online/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://brahmasta.net/2009/04/10/golput-caleg-dan-pemilu-online/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Weekly Links (8 Maret 2009)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/brahmasta/~3/mYKWM8bnyao/</link>
		<comments>http://brahmasta.net/2009/03/08/weekly-links/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Mar 2009 00:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Brahmasta</dc:creator>
				<category><![CDATA[links]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://brahmasta.net/2009/03/07/weekly-links/</guid>
		<description><![CDATA[I think it’s good to start sharing interesting links every week. Have a nice long weekend!

Apa kata Caleg Luar Negeri? Blog yang menarik dari Adhitya Mulya. Kalau caleg-caleg pengen dipilih oleh para TKI, tentunya kita pengen tahu dong apa visi mereka untuk para TKI. Sebarkan untuk teman-teman yang bekerja di luar negeri.
Uang Panas Dunia Kampanye. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>I think it’s good to start sharing interesting links every week. Have a nice long weekend!</p>
<ul>
<li><a href="http://apakatacalegln.wordpress.com/">Apa kata Caleg Luar Negeri?</a> Blog yang menarik dari Adhitya Mulya. Kalau caleg-caleg pengen dipilih oleh para TKI, tentunya kita pengen tahu dong apa visi mereka untuk para TKI. Sebarkan untuk teman-teman yang bekerja di luar negeri.</li>
<li><a href="http://blog.imanbrotoseno.com/?p=469">Uang Panas Dunia Kampanye</a>. Menyedihkan memang kalau melihat partai-partai atau para caleg kita menggelontorkan dana besar-besaran untuk kampanye. Tapi dana yang sebesar itu sebenarnya lari ke mana?</li>
<li><a href="http://online.wsj.com/article/SB123119236117055127.html">Best and Worst Job in the US</a>. Kalau di Indonesia best job-nya apa ya? Worst job-nya?</li>
<li><a href="http://lifehacker.com/5161054/diy-laptop-rack-hack-turns-your-monitor-into-an-imac">DIY Laptop Rack Hack Turns Your Monitor into an iMac</a>. Meski ga punya macbook, kayaknya bisa dicoba. Jadi pengen beli monitor gede. Ga nyaman juga lama-lama pakai laptop. Tapi bingungnya, gimana nyalain laptopnya ya? Harus dibuka dulu laptopnya?</li>
<li><a href="http://tokyodownstairs.blogspot.com/2008/10/deskhedron.html">Virtual Desktop dengan Deskheron</a>. Aplikasi freeware yang bisa menampilkan 3D cube untuk Windows. Bisa sampai 9 desktop. Nice to try.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://brahmasta.net/2009/03/08/weekly-links/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://brahmasta.net/2009/03/08/weekly-links/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
