<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Konsultasi Psikologi</title><description>Memberi Informasi, Solusi dan Inspirasi Atas Berbagai Masalah Kehidupan Dari Perspektif Psikologi (Psikologi Anak, Psikologi Remaja, Psikologi Pendidikan, Psikologi Penelitian,Terapi Anak Autis dan Konsultasi Psikologi)</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</managingEditor><pubDate>Sat, 1 Mar 2025 03:38:53 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">74</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Adikku Obsesif Kompulsif</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/11/adikku-obsesif-kompulsif.html</link><category>Psikologi Anak</category><category>Psikologi Anak Kebutuhan Khusus</category><category>Psikologi Keluarga</category><category>Psikologi Remaja</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Wed, 25 Nov 2009 17:35:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-3462447571485674496</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixIpky2WrStn84VRZo8390gI9ls6WWTBVlbpLB3DHAmH3HaM1ZSre21cuAUop6_mK2c-IsamN2_pfA-hCwToikG9hm9eduYU7fTmdmEMHq85z0y3R62MDD7GKKF12Ans8aredC_4b3ebI/s1600/smilee784.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 158px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixIpky2WrStn84VRZo8390gI9ls6WWTBVlbpLB3DHAmH3HaM1ZSre21cuAUop6_mK2c-IsamN2_pfA-hCwToikG9hm9eduYU7fTmdmEMHq85z0y3R62MDD7GKKF12Ans8aredC_4b3ebI/s200/smilee784.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405391518804198770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dorongan istri saya, saya menulis surat ini untuk minta saran tentang adik bungsu saya, laki-laki berusia 18 tahun. Ia memiliki segudang kebiasaan aneh yang dilakukannya sejak kecil tetapi akhir-akhir ini semakin parah saja. Adik saya itu sifatnya sangat  pendiam dan pemalu, jarang bicara dan tidak suka bergaul. Ia senangnya berdiam diri di rumah atau mengurung diri di kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang amat aneh, ia terlalu menjaga kerapian dan kebersihan dalam segala hal, terutama yang menyangkut dirinya yaitu pakaian, meja belajar dan tempat tidurnya. Semua harus bersih dan tertata rapi. Ia selalu curiga ada kuman di badannya, sehingga sering mandi berulang-ulang, bisa delapan sampai sepuluh kali sehari. Belum lagi kalau mau makan, cuci tangannya itu, bisa setengah jam sendiri. Sampai-sampai wastafel dan sabunnya pun dicucinya berulang-ulang. Ia selalu menyetrika kembali pakaian yang akan dipakainya, walaupun sudah licin disetrika pembantu. Baju yang habis dipakainya selalu ia lipat kembali dengan hati-hati, berulang-ulang sampai ia yakin sudah rapi betul, hanya untuk diletakkan di keranjang cucian. Sering ketika sudah siap berangkat sekolah, tiba-tiba ia balik lagi masuk ke dalam rumah untuk cuci tangan, juga membuka kembali sepatunya karena mau cuci kaki lagi. Akibatnya ia sering terlambat ke sekolah dan mendapat peringatan dari gurunya. Nilai-nilai raportnya pun semakin menurun, karena ia jarang belajar. Gimana mau belajar, lha wong waktunya seharian habis untuk ritualnya yang aneh-aneh dan tidak berguna itu. Kadang ia baru selesai mandi malam pukul 10 malam, setelah sesorean sibuk mengelap-ngelap meja belajarnya berulang-ulang, menggeser-geser kursi dan menata buku-bukunya. Semuanya harus tersusun rapi. Sudah rapi pun masih disusun-susun terus. Seringkali, karena jengkel dan tak sabar, ayah kami membentak dan memarahinya. Bukannya berhenti,adik saya justru semakin menjadi-jadi kelakuannya. Apakah adik saya menderita gangguan jiwa mbak? apa nama penyakitnya ini, apa penyebabnya dan bagaimana cara menyembuhkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tentu membingungkan dan sulit sekali ya menghadapi keanehan-keanehan adik anda yang berlangsung setiap hari. Bisa dimengerti bahwa seluruh anggota keluarga yang lain terkadang menjadi pusing bahkan jengkel dan bisa-bisa frustrasi melihat berbagai kesibukan dan ritual yang dilakukannya. Namun yang terutama dibutuhkan dalam menghadapi kasus semacam ini justru pengertian dan kesabaran Anda beserta seluruh anggota keluarga yang lain.  Dalam psikologi, perilaku adik Anda tergolong obsesif kompulsif. Adik anda tampaknya menderita gangguan jiwa neurotis yang berbentuk pikiran yang muncul berulang-ulang dan terus-menerus (obsesi), disertai dorongan yang tak dapat dikendalikan untuk melakukan suatu perbuatan secara berulang-ulang dan terus-menerus pula (kompulsif). Orang lain yang normal memang sering tak bisa memahami apa maksud dan tujuan dari perilaku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk dari obsesif kompulsif bisa bermacam-macam. Pada adik Anda, pikiran obsesifnya adalah agar dirinya selalu dalam keadaan bersih dan rapi. Pikiran-pikiran ini terus mendominasi dirinya, dan tampil dalam bentuk aktivitas-aktivitas mencuci tangan, mandi, mengelap dan mengatur-atur barang-barang tak henti-hentinya. Bukan hanya keluarga dan orang-orang di sekitarnya yang terganggu, adik anda pun sebetulnya menyadari bahwa rangkaian kebiasaannya tersebut tidak masuk akal, menghabiskan waktunya dan menghambat dirinya untuk melakukan hal-hal lain yang lebih berguna, namun ia tak mampu menghentikannya karena pikiran-pikiran obsesifnya menguasai dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi, perilaku kompulsifnya itu bisa meredakan ketegangan dan kegelisahan di dalam dirinya, sehingga ia merasa lebih tenang setelah mengerjakannya. Masalahnya, adik Anda jadi kehabisan waktu untuk melakukan aktivitas-aktivitas lain yang lebih produktif. Beberapa merupakan kegiatan sehari-hari yang wajar dan normal untuk merawat diri (mandi, berpakaian, makan, tidur), sebagian lainnya merupakan tuntutan dari lingkungan sosialnya yang harus ia penuhi untuk dapat hidup normal dan beradaptasi (bermain, bersosialisasi, belajar, dan sekolah). Karena terbelenggu dalam pikiran obsesif dan ritual kegiatan kompulsinya, adik anda seakan terjebak dalam lingkaran setan yang kian lama semakin parah. Seperti yang anda ceritakan, ia menjadi tertinggal pelajaran di sekolah, kehabisan waktu untuk belajar, sering terlambat, jarang menyelesaikan PR, mengerjakan soal-soal ujian tidak selesai, akibatnya nilai-nilainya jelek, sehingga ia sering mendapat teguran dari guru dan dimarahi oleh ayah di rumah. Kondisi ini menimbulkan stres dan frustrasi di dalam dirinya, yang selanjutnya justru memperkuat pikiran-pikiran obsesif dan perilaku kompulsifnya. Semakin ia merasa gelisah, stres, sedih dan frustrasi, ia akan semakin sering mengulang-ulang perilaku anehnya untuk meredakan ketegangannya, lalu giliran ayah yang tak sabar menjadi bertambah marah, sehingga adik Anda akan semakin sibuk dengan ritual-ritual anehnya itu dan seterusnya. Bisa Anda bayangkan, keadaan akan semakin buruk jika tak segera diatasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adik Anda membutuhkan bantuan dan dukungan dari seluruh anggota keluarga untuk bisa sembuh dari penyakitnya. Oleh karena itu, tugas Anda sebagai kakak untuk selalu mengingatkan mereka agar bersabar dan mencoba memahami kondisi adik Anda. Terutama kepada ayah yang pemarah, perlu Anda himbau untuk mau berusaha menahan luapan emosinya, karena itu hanya akan memperparah kondisi si sakit. Agar lebih bisa memahami, sebaiknya seluruh anggota keluarga berusaha mencari akar penyebab munculnya gangguan yang dialami oleh adik Anda. Sebab, pasti ada sesuatu yang mendasari munculnya pikiran2 dan perilaku obsesif-kompusif itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Sigmun Freud dari kacamata psikoanalisa, gangguan obsesif-kompulsif disebabkan adanya tahapan perkembangan yang terhenti, yaitu pada suatu tahapan yang dinamakan fase anal. Pada penyakit ini, penderita berusaha amat keras mengontrol dorongan-dorongan primitifnya dengan reaksi yang berlebihan, sehingga pikirannya menjadi terus-menerus terpaku pada kebersihan dan kerapian yang berlebihan. Hal ini sebetulnya untuk menutupi atau mengingkari kebutuhan primitif seperti mengompol, atau untuk menghapus keinginan-keinginan yang terlarang, misalnya rasa ingin memberontak terhadap orangtua yang otoriter, karena takut berdosa dan takut dimarahi lalu ditutup-tutupi dengan sikap diam dan kesibukan kompulsifnya tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ahli lain yaitu Alfred Adler mengemukakan pendapat yang senada, yaitu bahwa gangguan ini muncul jika kebutuhan anak untuk merasa dirinya mampu atau kompeten dihambat oleh sikap orangtua yang terlalu mengecilkan atau terlalu dominan terhadap anak. Akibatnya, anak merasa tidak berdaya, tidak bisa apa-apa, dan merasa inferior. Akhirnya, anak cuma berpegang pada pola tingkah laku sederhana, yang dapat dan aman dilakukan. Pada adik anda, perilaku yang dirasanya aman dan mampu ia kerjakan antara lain: terus-menerus mengelap dan merapikan meja belajarnya serta membereskan tempat tidurnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memang, gangguan obsesif kompulsif cukup sulit disembuhkan. Adik Anda membutuhkan bantuan psikiater atau psikolog klinis yang mampu memberikan terapi yang tepat untuk menghilangkan gangguan tersebut. Anda bisa datang ke psikiater atau ke bagian klinis fakultas psikologi, namun penyembuhan adik Anda membutuhkan proses yang cukup lama, sehingga Anda dan keluarga harus sabar, penuh tekad dan telaten mendampingi adik Anda selama menjalani proses terapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maya Harry, Psi&lt;br /&gt;Sumber : Wanita Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixIpky2WrStn84VRZo8390gI9ls6WWTBVlbpLB3DHAmH3HaM1ZSre21cuAUop6_mK2c-IsamN2_pfA-hCwToikG9hm9eduYU7fTmdmEMHq85z0y3R62MDD7GKKF12Ans8aredC_4b3ebI/s72-c/smilee784.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">11</thr:total></item><item><title>Siapakah Aku ?</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/11/siapakah-aku.html</link><category>Psikologi Anak</category><category>Psikologi Keluarga</category><category>Psikologi Pendidikan</category><category>Psikologi Remaja</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Tue, 24 Nov 2009 11:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-5387164260384960791</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3J24Er4k2xPV1bS9Zf2WNOXN0DUwahFFkujULK_K8hXlRtfC4G36dVecNKaH3cb0G5Sw7XboxyMq2fLliipAU5B93WoGGzYGpg1OJNTiG-p4Z-YO_7uiHidSs_-6lUZPxcLC27M3kgUk/s1600/0126_jessica-alba-gq-sexy-015.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 186px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3J24Er4k2xPV1bS9Zf2WNOXN0DUwahFFkujULK_K8hXlRtfC4G36dVecNKaH3cb0G5Sw7XboxyMq2fLliipAU5B93WoGGzYGpg1OJNTiG-p4Z-YO_7uiHidSs_-6lUZPxcLC27M3kgUk/s200/0126_jessica-alba-gq-sexy-015.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405389934409105458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak ustad, keadaan saya ini membingungkan. Jika melakukan sesuatu senantiasa salah. nafsu yang selalu bicara. Yang saya tahu bahwa efek-efek sehabis kejadian aja, lho kok begini? Saya bingung. Saya seperti bukan diri saya sendiri. Saya ini punya penyakit pingin selalu menjadi yang paling baik, paling sempurna, dan sombong. Saya sulit mengendalikan diri saya pak ustad. gimana pak ustad? Terima kasih…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ananda Nunu, sepertinya Anda mempunyai ketidakstabilan dalam perilaku Anda. Bisa jadi Anda mempunyai sifat perfeksionis. Perfeksionis adalah suatu problem kejiwaan di mana seseorang mempunyai paham kesempurnaan (perfect).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan dari para perfeksionis adalah mereka biasanya selalu bekerja dengan penuh totalitas dengan harapan mereka akan mendapat hasil yang diinginkan. Namun mereka akan mudah sekali kecewa jika ada ketidakberesan atau kekurangan yang boleh jadi dimata orang lain itu wajar-wajar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu biasanya orang yang mempunyai sifat tersebut cenderung individualistik. Ia sulit mempercayai seseorang untuk mendelegasikan tugasnya, karena menganggap orang lain tidak lebih baik tugasnya daripada dirinya. Emosi dan egoisme biasa mengiringi setiap pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, Anda menyadari kekurangan Anda. Mengetahui kekurangan adalah titik awal untuk merubahnya menjadi kelebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata kembali perilaku Anda. Kurangi ketegangan Anda dalam menghadapi sebuah masalah. Selingi lelucon-lelucon ketika Anda bergaul dengan orang lain. Tidak ada salahnya Anda membaca buku atau menyaksikan film-film bertema humor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbukalah terhadap kritik, nasehat dan umpan balik yang tulus, bersedia menerima perspektif baru, mau terus belajar dan mengembangkan diri. Jangan pernah menganggap kritik dan nasehat adalah untuk merendahkan Anda tetapi sebaliknya, kritik dan nasehat merupakan cermin sekaligus "vitamin" bagi kita untuk lebih baik dalam beraktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delegasikan tugas bila merasa tidak mampu. Jangan memaksakan diri untuk melakukan sesuatu bila memang Anda tidak sanggup untuk menyelesaikannya. Percayalah dengan kemampuan teman Anda untuk membantu tugas yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergabunglah dalam sebuah organisasi, perkumpulan, majelis taklim dan sebagainya untuk belajar bagaimana mengelola sesuatu secara kelompok (tim) dengan pembagian tugasnya.&lt;br /&gt;Bila Ada kesempatan, ikutilah pelatihan atau training tentang kepribadian sehingga Anda dapat mengetahui dan meningkatkan kemampuan kepribadian Anda dengan tips-tips yang lebih praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan refreshing secara berkala, misalnya keluar kota, hiking atau mengikuti outbond dapat menjadi salah satu sarana untuk mengurangi ketegangan diri yang ada.&lt;br /&gt;Lakukanlah perubahan secara kontinyu. Berproseslah untuk terus-menerus merubah kekurangan-kekurangan yang Ada pada diri Anda dan menggantinya dengan kepribadian yang lebih baik Jangan lupa buatlah target kapan kiranya Anda berhasil mewujudkan impian Anda ini.&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satria Hadi Lubis&lt;br /&gt;Sumber : EraMuslim&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3J24Er4k2xPV1bS9Zf2WNOXN0DUwahFFkujULK_K8hXlRtfC4G36dVecNKaH3cb0G5Sw7XboxyMq2fLliipAU5B93WoGGzYGpg1OJNTiG-p4Z-YO_7uiHidSs_-6lUZPxcLC27M3kgUk/s72-c/0126_jessica-alba-gq-sexy-015.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total></item><item><title>Antara Jadi Cupid dan Devil</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/11/antara-jadi-cupid-dan-devil.html</link><category>Psikologi Remaja</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Mon, 23 Nov 2009 10:22:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-6384659814665068580</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9Rah93AkQFEChsXKryq_Vv0UGbJEhYitUhBvbZC5CByr1qIIcbBd09CKQGyMlDDNN8jM2KvX0IMsKUxb8YxBAmfcghyphenhyphencCAptCx1N_umLK3F3WrJ2KAME94l5i69jwovlX_lnCSbsPVTk/s1600/3eb67c5e3ddd1d8dd8798d7d8885ea96-getty-tennis-sui-federer.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 136px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9Rah93AkQFEChsXKryq_Vv0UGbJEhYitUhBvbZC5CByr1qIIcbBd09CKQGyMlDDNN8jM2KvX0IMsKUxb8YxBAmfcghyphenhyphencCAptCx1N_umLK3F3WrJ2KAME94l5i69jwovlX_lnCSbsPVTk/s200/3eb67c5e3ddd1d8dd8798d7d8885ea96-getty-tennis-sui-federer.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405388160968166450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mulai curhat, aku mau ngenalin diri dulu nih. Namaku Gladys. Aku salah seorang siswi SMA negeri di kawasan Surabaya Selatan. Sekarang aku lagi dilema.&lt;br /&gt;Ceritanya gini. Aku punya teman, namanya Lika. Kami berkawan sejak SMP. Beberapa bulan lalu, kami berkenalan dengan seorang alumnus dari SMA-ku. Sebut saja Garda. Kami kenalan di sebuah pensi. Sejak itu, kami sering berkumpul bareng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu ketika, aku mengetahui ada yang lain dengan sikap Garda pada Lika. Ternyata benar. Garda mengaku bahwa dia naksir Lika. Bersama pengakuannya itu, Garda memintaku untuk nggak membeberkan perasaannya kepada Lika. Garda itu pendiam dan pemalu. Pantas kalau dia bermasalah dengan pedekate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, aku menawarkan diri untuk menjadi mak comblang. Awalnya, Garda menolak. Tapi, lama kelamaan dia setuju. Namun, tak disangka-sangka, ternyata Lika sedang dekat dengan cowok lain. Percaya atau nggak, cowok yang sedang dekat dengan Lika adalah sahabat dekat Garda yang juga alumnus sekolahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah lagi, saat diam-diam buka inbox di ponsel Lika, aku lihat SMS-SMS dari cowok lain yang ternyata sedang pedekate ke Lika. Parahnya, sepertinya Lika menanggapi SMS-SMS itu. Seketika itu, niatku menjodohkan Garda dan Lika ciut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu Garda cowok yang superbaik. Garda selalu siap menolong orang lain. Ditambah lagi, perhatian Garda benar-benar tulus. Dan, ya, tiba-tiba aja aku mulai suka pada Garda.&lt;br /&gt;Yang bikin sedih, hampir tiap malam Garda telepon dan SMS sambil tanya kabar Lika. Sedih rasanya dengar nama Lika terucap dari bibir Garda. Aku sadar nggak seharusnya marah atau jengkel. Akulah yang menawarkan diri jadi mak comblang. Beberapa kali aku pernah punya niat menjelek-jelekkan Lika. Pokoknya, aku pengin membuat Garda nggak naksir lagi sama Lika. Apa harus gitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apes benar nasibmu. Saat Aime baca email-mu, Aime jadi ingat kisah teman Aime yang bernama C-al (baca: sial). Waku itu, C-al lagi jalan-jalan ke Paris. Di sana, C-al bertemu cowok cakep, namanya Kerent. Setelah mereka berdua dekat, C-al baru tahu bahwa Kerent udah married. Kasihan, sampai stres C-al…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah… itulah cinta. Cinta punya kekuatan lebih dari seribu volt listrik untuk membuat seseorang jadi superbahagia, supersedih, superbaik, bahkan superjahat. Kamu buktinya, masak gara-gara gitu aja kamu mau jadi devil? Jangan dong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syukuri Cintamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saat dianugerahi cinta, seharusnya manusia itu bersyukur. Bagaimanapun bentuknya, manusia harus tetap bersyukur dan bahagia karena cinta mau mampir ke dalam hati.&lt;br /&gt;Cinta itu putih bersih nggak ada nodanya. Maka, waktu perasaanmu untuk Garda datang, kamu jangan merusaknya dengan berbagai niat jahat. Aime yakin, meski rasa sakit terus mengiris-iris hati, kenyataan yang akan kamu terima nanti akan jauh lebih indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Luruskan Jalan Lika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah persahabatanmu dengan Lika. Persahabatan itu salah satu cinta sejati lho! Bicaralah baik-baik kepada dia. Coba bilang padanya untuk lebih menghargai cowok dan tidak memberi terlalu harapan kepada banyak cowok.&lt;br /&gt;Kalau ternyata Lika memang bisa berubah, berarti job-mu untuk jadi mak comblang harus terus berjalan. Secara halus, dekatkan mereka berdua. Kamu yakinkan bahwa Garda dan Lika sama-sama baik! Memang, itu sama saja dengan mem-blender hatimu. Tapi, itu adalah kenyataan yang harus dihadapi.&lt;br /&gt;Namun, jika Lika nggak bisa berubah, langkah lain harus kamu lakukan. Datanglah ke Garda dan ceritakan semuanya. Ingat, jangan diberi garam, merica, atau jahe alias jangan dibumbui! Berceritalah apa adanya. Setelah itu, terus tunjukkan cintamu kepada Garda. Aime yakin, Garda akan menemukan wanita pujaannya sedang bersemayam di tubuhmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pilih Satu Pintu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini kondisi jika ternyata Lika dan Garda akhirnya bersama. Ada dua pintu di hadapanmu. Pintu pertama, kamu terus bertahan dengan cintamu pada Garda. Pintu kedua, kamu harus melupakan Garda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Girls, dunia ini begitu luas. Bukan cuma Garda satu-satunya arjuna yang bisa menghiasi hatimu. Dari ceritamu, Aime bisa kasih usul begini. Coba deh datang ke pensi lagi. Siapa tahu ketemu alumni yang lebih keren lagi. He he he.&lt;br /&gt;Tapi, kalau kamu benar-benar yakin bahwa Garda is the only one, sabarlah! Jangan sampai mengganggu mereka. Aime bukanlah manusia setengah dewa atau setengah jin. Tapi, yakinlah, selalu ada jalan bagi mereka yang berusaha. Don’t give up!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aime&lt;br /&gt;Sumber : Jawa Pos dotcom&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9Rah93AkQFEChsXKryq_Vv0UGbJEhYitUhBvbZC5CByr1qIIcbBd09CKQGyMlDDNN8jM2KvX0IMsKUxb8YxBAmfcghyphenhyphencCAptCx1N_umLK3F3WrJ2KAME94l5i69jwovlX_lnCSbsPVTk/s72-c/3eb67c5e3ddd1d8dd8798d7d8885ea96-getty-tennis-sui-federer.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total></item><item><title>Tak Kunjung Terima Panah Cinta</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/11/tak-kunjung-terima-panah-cinta.html</link><category>Psikologi Remaja</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Sun, 22 Nov 2009 10:16:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-3280900590778770316</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIZAr18NBp2CqqEfbdD1LeTa8TEg3nPB1MJRH8LD9QirBZmA7EsmB_1kRMXXAlJWS1vJDClY0kAhTQZXsz7_SGvk76aiJFZFxheqep1QNLCqkbI0uP4UvV2qktc_O_DOMYLPjOlJIuC8s/s1600/2aish04.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 197px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIZAr18NBp2CqqEfbdD1LeTa8TEg3nPB1MJRH8LD9QirBZmA7EsmB_1kRMXXAlJWS1vJDClY0kAhTQZXsz7_SGvk76aiJFZFxheqep1QNLCqkbI0uP4UvV2qktc_O_DOMYLPjOlJIuC8s/s200/2aish04.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405386615667532594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kabar? Mestinya baik-baik aja ya! Beda banget denganku. Secara fisik, aku emang fine-fine aja. Tapi, dalam hatiku, ada perasaan bimbang yang menyelimuti. Bimbang itu disebabkan aku sedang menunggu sesuatu yang sepertinya sia-sia. Gini deh, sebelum cerita panjang lebar, perkenalkan, aku Della. Aku siswi SMP negeri di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah, aku sedang dekat dengan seorang cowok, sebut saja Ryan. Aku dan Ryan kenal sejak kenaikan kelas 2. Dia adalah sosok cowok yang sangat spesial buatku. Semua yang ada di diri Ryan merupakan tipeku. Awalnya, kami hanya teman kelompok belajar. Tapi, lama-kelamaan, ada rasa lain yang singgah di hatiku untuk Ryan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lama mengamati, aku lihat Ryan juga ada rasa padaku. Aku mulai menyadarinya saat Ryan sering SMS dan telepon. Yang bikin senang, Ryan SMS aku bukan untuk hal-hal penting saja. Melainkan, untuk perhatian-perhatian kecil yang sebenarnya nggak penting. Kayak "udah makan belum?", "jangan lupa belajar ya!", dan masih banyak lagi SMS darinya yang bikin aku makin ada feeling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari setelah itu, aku dan Ryan jadi sering jalan. Awalnya sih, masih ramai-ramai sama teman. Tapi, setelah date ketiga, Ryan mulai berani ngajak aku jalan berdua. Jujur, aku senang banget. Ryan mengajakku nonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nonton, date-ku pun berlanjut ke makan malam berdua atau jalan-jalan untuk cari buku dan shopping. Pokoknya, aku dan Ryan sudah kayak orang pacaran.&lt;br /&gt;Nah, yang bikin aku bingung, sebenarnya apa status hubunganku dengan Ryan? Aku memang dekat dengan Ryan, tapi dia belum pernah sekali pun bilang cinta atau sayang sama aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya, aku cuma digantung sama Ryan.&lt;br /&gt;Sering Ryan mau mengungkapkan sesuatu untukku. Namun, saat kata-kata itu mulai meluncur, tiba-tiba Ryan bilang, "Nggak jadi deh." Duh, sebel banget kan?&lt;br /&gt;Aku coba curhat ke sahabat baik Ryan yang juga dekat denganku. Namanya Arie. Menurut Arie, aku hanya butuh sabar. Sabar untuk menunggu Ryan berani mengutarakan semuanya padaku. Tapi, sampai kapan? Aku punya prinsip untuk nggak menyatakan cinta duluan. Aku juga nggak mau merusak prinsip itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***********&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya kamu bersyukur deh. Gimana nggak, habis cuma perasaan kamu aja kan yang digantung! Coba kalau kepalamu ikut digantung di langit-langit, wah nggak kebayang kan? He he he. Just kidding!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Del, Aime tahu banget betapa pentingnya sebuah komitmen bagi seorang cewek. Karena itu, Aime juga sebenarnya sangat tidak mendukung adanya peluncuran model pacaran HTS alias hubungan tanpa status. Kenapa? Hubungan semacam itu bakal menjadi akses mudah untuk suatu hal jahat bernama selingkuh. Setuju?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi (ada tapinya nih), kamu harus tahu dulu sebab musabab dan asal muasal kenapa Ryan nggak kunjung nembak kamu. Bisa saja, Ryan memang pemalu atau punya kelainan yang bernama tutup mulut. Atau, Ryan memang hanya menganggap kamu teman biasa, nggak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Step to The Next Level&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kamu udah tanya ke sahabat Ryan, si Arie. Menurut Arie, kamu harus sabar menunggu sampai Ryan punya nyali. Oke! Sekarang, segera lakukan polling acak di sekolahmu. Nggak perlu pakai kertas. Cukup mouth to mouth alias dari mulut ke mulut.&lt;br /&gt;Tanya teman-teman sekelasmu, menurut mereka, kira-kira Ryan suka nggak ke kamu. Trus, tanya sekalian, Ryan udah punya pacar belum. Setelah itu, lakukan polling yang sama ke elemen lain di sekolahmu. Penjaga sekolah, teman di kelas lain, guru yang paling kamu percaya, atau bahkan ke kepala sekolah. He he he. Yang terakhir nggak wajib kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jangan Berprinsip Kuno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Boleh aja kita punya prinsip hidup. Tapi, kita juga harus realistis. Jangan sampai prinsip hidup kita itu nantinya justru melukai perasaan kita. Maksudnya, selama prinsip itu kurang mendukung hidup kita, kita bisa kok mengubahnya!&lt;br /&gt;Seperti prinsipmu yang nggak bakal ngungkapin perasaan ke cowok. Ubah itu. Eits, jangan bilang nggak mau dulu. Nggak perlu mengungkapkan secara langsung kok! Misalnya, tingkatkan intensitas perhatianmu ke Ryan. Trus, pura-pura salah SMS ke dia. Isinya: kamu curhat ke sahabatmu kalau lagi suka Ryan. Atau, cerita ke Ryan bahwa kamu lagi deket dan suka sama seorang cowok. Mestinya, itu bisa meningkatkan pede Ryan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kasih Limit Waktu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang rasa penasaran dan kekesalan sudah mencapai ubun-ubun, segera tetapkan limit waktu pada Ryan. Misalnya, satu bulan. Kalau dalam waktu itu dia tidak kunjung bilang cinta, lakukan "penyerangan". Udah mengubah prinsip kan?&lt;br /&gt;Tanya baik-baik ke Ryan, apa yang dia rasakan padamu selama ini? Lalu, bilang bahwa kamu suka dia. Jelaskan juga bahwa kamu nggak suka digantung.&lt;br /&gt;Akan tetapi, kalau ternyata kamu bersikukuh nggak mengubah prinsip, nggak masalah! Setelah lewat satu bulan, itu berarti tiba waktunya kamu melupakan Ryan. Kamu kan udah menetapkan batas waktu! Jangan diingkari. Berarti, Ryan memang bukan untukmu. Aime doain sukses ya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aime&lt;br /&gt;Sumber : Jawa Pos dotcom&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIZAr18NBp2CqqEfbdD1LeTa8TEg3nPB1MJRH8LD9QirBZmA7EsmB_1kRMXXAlJWS1vJDClY0kAhTQZXsz7_SGvk76aiJFZFxheqep1QNLCqkbI0uP4UvV2qktc_O_DOMYLPjOlJIuC8s/s72-c/2aish04.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Bagaimana Menyampaikan Perasaan Hati</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/11/bagaimana-menyampaikan-perasaan-hati.html</link><category>Psikologi Keluarga</category><category>Psikologi Remaja</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Sat, 21 Nov 2009 10:11:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-9212462865535589325</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1-ULmAse2FbX73NdlGWJptiOJDcRsT3WCbefYw6IoO1FB1kupGLdHakkPxPq9KbsggsiRxeS2LhyphenhyphenAbcDHtbHT95W_c_k5ud4xb7Y9XJH4ZJDs8T83BcFZNY5jUHxMIOk6xZdQEHHJU5s/s1600/girls75638.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 143px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1-ULmAse2FbX73NdlGWJptiOJDcRsT3WCbefYw6IoO1FB1kupGLdHakkPxPq9KbsggsiRxeS2LhyphenhyphenAbcDHtbHT95W_c_k5ud4xb7Y9XJH4ZJDs8T83BcFZNY5jUHxMIOk6xZdQEHHJU5s/s200/girls75638.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405385066224018258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ass. Kebetulan aku membaca kumpulan hadist yang intinya kalau kita mencintai seseorang sampaikanlah. Jadi bagaimana mengutarakannya Kepada orang yang aku suka tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara KP, Sepertinya kurang jelas hadits yang mana yang Anda maksud. Namun pada umumnya hadits yang bercerita tentang mencintai seseorang adakah bukan menyukai lawan jenis melainkan menyukai sifat dan perilaku serta akhlaqnya dalam kehidupannya sehari-hari. Dan biasanya diungkapkan perasaan itu di depan orang yang disukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun untuk mengutarakan sebuah isi hati kepada seseorang hendaklah kita memperhatikan waktunya, tempatnya dan kondisi fisik &amp;amp; psikologis penerima. Carilah waktu yang tepat, misalnya saat ia mempunyai waktu luang, saat dia sedang rileks dan sebagainya. Biasanya hari libur pada pagi hari atau sore. Tempat harus sesuai dengan pokok bahasan yang disampaikan. Tidak mungkin kalau kita ingin berbicara yang khusus dan serius harus bertemu di terminal bis yang bising dan semrawut, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga perhatikan kondisi fisik dan psikologinya, karena hal ini juga ikut menentukan penerimaan dari yang bersangkutan. Bila ia dalam kondisi lelah sehabis bekerja dan Anda mengatakan yang serius, dapat menjadi angin lalu baginya. Atau bila ia sedang dalam kondisi emosional dan Anda mengungkapkannya, bisa jadi akan disalahpahami maksud Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping hal di atas, perhatikan pula tutur kata yang baik. Susunlah kata yang mudah dimengerti serta tidak berbeli-belit. Jangan terlalu banyak hal-hal yang berhubungan dengan tujuan pokok yang akan disampaikan. Serta dukunglah perkataan tersebut dengan ekpresi yang sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satria Hadi Lubis&lt;br /&gt;Sumber : EraMuslim&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1-ULmAse2FbX73NdlGWJptiOJDcRsT3WCbefYw6IoO1FB1kupGLdHakkPxPq9KbsggsiRxeS2LhyphenhyphenAbcDHtbHT95W_c_k5ud4xb7Y9XJH4ZJDs8T83BcFZNY5jUHxMIOk6xZdQEHHJU5s/s72-c/girls75638.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Sudah Berencana Poligami</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/11/sudah-berencana-poligami.html</link><category>Psikologi Keluarga</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Fri, 20 Nov 2009 11:05:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-1671422258853112946</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgO1Rrg0_aX2f66kWcXEIQ9mkxXt3D_7DSOg1vygN3N0RlTJ3wnH9KJ38cV4eI19XwBAu79LGAIjU_6A1-w46h_r9CA0X0MKA-egaW_ZBPyGMH4mzHgiEhKbYSNZKzQPNuW87NpmswM5X0/s1600/pusssing.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgO1Rrg0_aX2f66kWcXEIQ9mkxXt3D_7DSOg1vygN3N0RlTJ3wnH9KJ38cV4eI19XwBAu79LGAIjU_6A1-w46h_r9CA0X0MKA-egaW_ZBPyGMH4mzHgiEhKbYSNZKzQPNuW87NpmswM5X0/s200/pusssing.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405383701058046258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, ingin menikah dengan pacar saya, tetapi saya selalu punya pikiran untuk berpoligami. Salahkan bila saya katakan pada kekasih saya sebelum menikah, bahwa saya ingin berpoligami kelak? Karena teman-teman di kantor saya banyak yang menikah diam-diam tanpa sepengetahuan isteri tuanya. Sementara saya, saya ingin jika saya berpoligami, isteri pertama saya harus tahu. Bagaimana hukumnya berpoligami itu?&lt;br /&gt;Trimakasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seseorang ketika berencana untuk berumah tangga, sudah sewajarnya untuk mempersiapkan dirinya. Bukan saja mempersiapkan dari segi keuangan semata tetapi segi fisik dan mentalpun harus juga menjadi perhatian bagi kedua belah pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya adalah bahwa sebelum melangsungkan pernikahan, hendaklah para calon mempelai mempunyai pemahaman yang utuh tentang membangun sebuah rumah tangga. Itulah mengapa biasanya KUA mengundang kedua calon mempelai untuk mendengarkan nasehat perkawinan sebelum acara pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan berumah tangga antara lain adalah terbentuknya keluarga yang sakinah, mawaddah warrahmah serta anak-anak yang sholih dan sholehah sebagai pelanjut keturunan orang tuanya dan generasi bagi agama dan bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya saudara RHD, sebelum Anda hendak berpoligami, apakah Anda yakin bahwa hal itu akan mengekalkan tujuan rumah tangga yang akan Anda bangun? Akankah tercipta kebahagiaan, ketenangan, ketentraman dan kasih sayang yang kan menghiasi keluarga Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran saya sebaiknya Anda lebih dahulu memfokuskan orientasi Anda kepada bagaimana membangun keluarga idaman, bahagia dengan anak-anak yang tidak hanya berbakti pada orang tua tetapi juga cerdas dan dapat menjadi 'orang' bagi bangsa dan agamanya.&lt;br /&gt;Itulah wujud dari sebuah tanggung jawab laki-laki yang berperan ganda baik sebagi suami, Bapak dan kepala keluarga. Dan jika seseorang benar-benar memikul tanggung jawab ini, dengan satu orang isteri saja kiranya harus mempunyai 'semangat jihad' yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun secara hukum tidak ada larangan seseorang untuk berpoligami tetapi banyak larangan bagi orang-orang yang menelantarkan anak dan keluarga, berlaku tidak adil (zhalim), sombong dan angkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada yang berpendapat untuk mengikuti cara nabi Muhammad, maka hendaklah ia terlebih dahulu membaca dan menelaah kehidupan beliau secara lengkap dan menyeluruh, saat kapan, bagaimana dan mengapa beliau berpoligami.&lt;br /&gt;Wallahu'alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satria Hadi Lubis&lt;br /&gt;Sumber : EraMuslim&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgO1Rrg0_aX2f66kWcXEIQ9mkxXt3D_7DSOg1vygN3N0RlTJ3wnH9KJ38cV4eI19XwBAu79LGAIjU_6A1-w46h_r9CA0X0MKA-egaW_ZBPyGMH4mzHgiEhKbYSNZKzQPNuW87NpmswM5X0/s72-c/pusssing.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Anakku Hiperaktif</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/11/anakku-hiperaktif.html</link><category>Psikologi Anak</category><category>Psikologi Anak Kebutuhan Khusus</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Wed, 18 Nov 2009 15:54:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-1690780017196344424</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6LgJAeQKfNZnS_WjJKFVYBa0lyT1CO0-c4SIG_ZsDCHT2D3Prt11wkncZXgqti5jvs-Njvx0S_bG1KrVtbvp8TA0j3GlMQIy_qPJrUd6PlxWK5zmQzqCIrmw2VBkVpv7PC4R0J-uViEk/s1600/dorong-1.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6LgJAeQKfNZnS_WjJKFVYBa0lyT1CO0-c4SIG_ZsDCHT2D3Prt11wkncZXgqti5jvs-Njvx0S_bG1KrVtbvp8TA0j3GlMQIy_qPJrUd6PlxWK5zmQzqCIrmw2VBkVpv7PC4R0J-uViEk/s200/dorong-1.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405375535690883522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat saja, anakku sepertinya hiperaktif deh… ini pendapat dari gurunya di sekolah (TK B) yang menganjurkan saya untuk memeriksakan anak saya ke psikiater atau psikolog. Sejak mulai bersekolah, anak saya Ryan tidak mau diam di kelas. Selalu saja ada benda-benda yang direbut, ditumpahkan, dibuang ke lantai. Dia berlari-lari keliling kelas mengganggu teman-temannya yang sedang belajar. Jika dibujuk atau dilarang oleh gurunya, ia akan menangis dan mengamuk. Teman-temannya takut dan enggan bermain dengannya, sehingga ia dijuluki anak nakal. Saya memang kewalahan mengasuhnya di rumah. Saya pikir, ia akan bisa lebih tenang dan belajar untuk bisa lebih berkonsentrasi di sekolah. Tapi nyatanya sampai saat ini belum ada kemajuan yang menggembirakan. Apakah anak saya benar-benar hiperaktif? Apa ciri-ciri anak hiperaktif dan bagaimana cara yang tepat untuk mendidiknya agar bisa mengurangi hiperaktivitasnya? Terima kasih atas jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Tina, hati-hati dengan istilah hiperaktif. Sekarang ini ada kecenderungan orang tua terlalu mudah mencap anaknya hiperaktif, padahal belum tentu benar. Bisa jadi, si anak hanya merupakan anak yang aktif dengan rasa ingin tahu dan minat eksplorasi yang besar, tetapi karena ia banyak bergerak dan ingin menjamah berbagai benda di sekelilingnya lantas dianggap anak hiperaktif. Istilah hiperaktivitas biasanya dikenakan terhadap anak dengan gerak fisik yang eksesif atau berlebihan, dengan pengertian di atas normal atau di atas rata-rata anak seusianya secara umum. Secara obyektif, orang tua dapat mengenali apakah anaknya tergolong hiperaktif atau tidak, yaitu dengan melihat jumlah/banyaknya dan derajat aktivitas anak. Jika aktivitas yang anak lakukan berlangsung terus-menerus namun seakan tidak sepenuhnya disadari oleh anak, serta berbeda dengan anak-anak lain yang sebaya (dalam kelompok umur dan jenis kelamin yang sama), maka orang tua bisa menduga kemungkinan adanya hiperaktivitas pada anaknya. Jika Anda merasa ragu-ragu, lakukan kunjungan ke sekolahnya dan amati ia ketika sedang berada di dalam kelas dan ketika ia sedang bermain bersama teman-temannya. Pendapat dari orang ketiga yang netral juga bisa menambah penilaian yang obyektif, jadi ada baiknya juga meminta pertolongan teman atau sahabat anda untuk meluangkan waktunya ikut bersama Anda mengobservasi anak di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep yang penting dari hiperaktivitas adalah, bahwa kondisi ini ditandai oleh adanya aktivitas yang tidak tepat (inappropriate) dan tidak terarah (undirected). Ini untuk membedakan anak hiperaktif dengan anak yang sangat aktif namun tingkah lakunya bertujuan dan produktif. Biasanya, orang tua dari anak yang hiperaktif sering menerima laporan atau keluhan dari guru bahwa si anak berlarian kemana-mana, tidak bisa diam, serta sering tidak menyelesaikan tugas-tugasnya di kelas. Namun, perlu anda ketahui pula bahwa anak normal yang berusia 2 sampai 3 tahun memang umumnya memiliki tingkat aktivitas fisik yang tinggi, karena usia tersebut adalah usia dimana rasa ingin tahu anak sangat besar, dibarengi dengan telah dicapainya kemampuan fisik dan gerak yang lebih baik sehingga anak bisa berjalan, berlari, menggapai berbagai benda yang menarik minatnya. Demikian juga anak yang sangat eksploratif serta anak-anak yang cerdas, biasanya juga dibarengi dengan gerak yang lebih aktif. Kematangan dan pertambahan usia seringkali dengan sendirinya mengurangi tingkat keaktifan anak, sehingga pada usia belasan tahun anak bisa lebih tenang. Namun, memang ada jenis-jenis hiperaktivitas dan gangguan konsentrasi yang menetap hingga usia dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting, ketahui dulu secara pasti apa penyebab hiperaktivitas anak. Orang tua bisa memeriksakan anak ke dokter anak atau psikolog, dimana anak akan menjalani serangkaian tes psikologis untuk mengetahui kondisinya. Evaluasi terhadap anak sebaiknya didapat melalui pendekatan yang multidisipliner agar lebih akurat, termasuk dengan menggali penyebab yang bersifat neurologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dapat dilakukan oleh orang tua?&lt;br /&gt;§  Berikan pujian terhadap perilaku yang tepat. Pada anak kecil, pujian langsung serta pemberian hadiah biasanya efektif. Jika anak bisa duduk tenang, memperhatikan, dan menyelesaikan tugasnya, katakan: “wah hebat, Ryan ternyata bisa mengerjakan tugas ini dengan hati-hati.” Atau, “aduh, manis sekali kamu bisa duduk tenang dan menyelesaikan tugasmu.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Tentukan tujuan-tujuan harian yang spesifik dan berikan contohnya, misalnya: makan dengan tenang di meja makan. Jika anak berhasil melakukan itu, puji dia segera. Pemberian contoh dan pujian ini harus sering diulang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ciptakan struktur yang jelas di rumah. Anak harus tahu secara jelas apa yang diharapkan oleh orang tua. Tanpa perlu marah, anda bisa mengatakan: “Ryan, jangan meloncat-loncat nanti tugas menggambarnya tidak selesai.” Atau, “ayo Ryan, teruskan menggambarnya sampai selesai.”&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ajarkan anak untuk rileks. Katakan: “Ryan capek ya? Coba tenang dan tarik nafas dalam-dalam. Sambil istirahat begini, kamu boleh melihat ke luar jendela.”&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Persiapkan anak sebelum melakukan sesuatu. Misalnya, sebelum masuk ke mal, katakan: “nanti di sana banyak orang dan berisik. Ryan tetap tenang ya, sama ibu.” Anda juga bisa mengatakan: “nanti di toko tidak boleh memegang barang-barang yang dipajang. Jadi, Ryan pegang mainan Ryan ini ya.”&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adakalanya anak harus duduk menunggu. Ia bisa melakukannya sambil melakukan aktivitas seperti mewarnai gambar, menyambung titik-titik menjadi sebuah gambar, atau membaca buku cerita baru yang menarik. Kuncinya adalah penggunaan strategi yang baik untuk mempersiapkan anak agar fokus kepada satu aktivitas selama waktu tertentu sehingga lama-kelamaan ia terbiasa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di rumah, distraksi dapat dikurangi dengan membantu anak mengatur kamarnya. Bersihkan meja belajarnya dari benda-benda lain yang mengganggu atau yang bisa menarik perhatiannya. Tempatkan mainannya di dalam kotak tertutup agar tidak terus-menerus terlihat oleh mata pada saat ia harus belajar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saudara kandung bisa berperan sebagai model yang dapat ditiru oleh anak. Tapi ingat, jangan membanding-bandingkan anak dengan kakak atau adiknya yang lebih baik. Biarkan anak mengamati sendiri dan meniru dalam suasana yang menyenangkan tanpa perlu dikatakan bahwa “si kakak/adik lebih baik dari kamu.”&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang tua juga dapat memberi contoh melalui kata-kata, misalnya: “mama harus menyelesaikan ini dulu, baru setelah itu mama bisa istirahat…” atau, “wah.. kerjaan yang ini belum benar-benar selesai, jadi mama mau bereskan dulu.”&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk menyalurkan energi yang berlebihan, sediakan karung tinju dan matras di rumah yang dapat dipukul-pukul oleh anak sekaligus sambil berolahraga. Misalnya, selama 15 menit sambil menunggu makan malam, anak bisa berolahraga dengan berguling-guling di matras, atau berlatih tinju bersama ayah. Ini sekaligus berguna untuk melatih otot-otot, daya tahan dan kekuatannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ajak anak melakukan tugas-tugas di rumah yang membutuhkan energi, misalnya menyapu, membersihkan kamar, mencuci mobil, menata buku-buku, dll.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mendengarkan musik selama 15 menit merupakan salah satu metode relaksasi yang dapat dianjurkan kepada anak ketika beristirahat di sela-sela pekerjaannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Diskusikan secara rutin dengan guru di sekolah tentang kemajuan anak, agar orang tua dapat segera mengetahui jika kondisi hiperaktif anak telah berkurang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika semua metode yang dilakukan orang tua masih kurang efektif, cari bantuan profesional yang dapat memberikan terapi relaksasi otot, latihan mengatasi stres, dan terapi melalui obat atau makanan yang dikontrol dengan tepat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maya Harry, Psi&lt;br /&gt;Sumber : Wanita Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6LgJAeQKfNZnS_WjJKFVYBa0lyT1CO0-c4SIG_ZsDCHT2D3Prt11wkncZXgqti5jvs-Njvx0S_bG1KrVtbvp8TA0j3GlMQIy_qPJrUd6PlxWK5zmQzqCIrmw2VBkVpv7PC4R0J-uViEk/s72-c/dorong-1.bmp" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Anakku Menderita Epilepsi</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/10/anakku-menderita-epilepsi.html</link><category>Psikologi Anak</category><category>Psikologi Anak Kebutuhan Khusus</category><category>Psikologi Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Sun, 25 Oct 2009 13:42:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-3102267915241693140</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;img src="http://img36.imageshack.us/img36/5692/babya6c28d.jpg" style="display: inline; float: left; width: 178px; height: 173px;" alt="babya6c28d.jpg" height="500" width="333" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Permasalahan :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya Ibu (41 th) dari anak tunggal perempuan usia 12 tahun kelas 1 SMP. Sejak hampir satu tahun ini putri saya sering mengalami pingsan yang periode hampir setiap 2 minggu sekali. Malah diawal masuk SMP pernah hampir setiap hari. Setelah menjalani beberapa pemeriksaan CT Scan (normal) EEG ada kecenderungan epilepsi (walaupun 3 dokter spesialis syaraf yang saya datangi masih agak ragu akan diagnosenya), darah , jantung, paru-paru semuanya normal, tapi kesimpulan hasil pemeriksaan psikologisnya menunjukkan immaturitas kepribadian yang menyebabkan anak kurang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Subyek sangat rendah toleransinya terhadap situasi yang menekan dan hasil tes bender menunjukkan adanya indikasi kelainan organik. Apa maksudnya? Apa ini ada indikasi bahwa putri kami stres? Bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya dirinyA? Karena pernah kepada saya dia mengeluh/merasa dirinya bodoh, padahal IQ nya 107. Memang putri saya ini agak malas belajar dan kurang disiplin. Kepribadian putri saya sesuai hasil itu menunjukkan cukup terbuka tapi cenderung membatasi diri, sukar ditebak apa maunya dan mengarah mudah tersinggung, immature, emosi labil dan cenderung mudah kacau sedangkan pemahaman, verbal, logika dan abstraksi menunjukkan cukup baik.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Salah satu dokter syarafnya pernah akan merekomendasikan ke psikiater, apa bedanya dengan psikolog ya bu? Atas konsultasi yang Ibu berikan, kami ucapkan terima kasih.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wassalam&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;***************&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Jawaban :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dear Ibu Henny, terima kasih atas kesabarannya menunggu jawaban konsultasi dari saya. Dari cerita Ibu, bisa saya simpulkan bahwa secara fisiologis dan dalam hal kemampuan intelektualnya ia normal (pemeriksaan darah, jantung, paru-paru normal, pemahaman verbal, logika dan abstraksi cukup baik). Namun, putri Ibu memiliki kecenderungan epilepsi yang kekambuhannya dipicu oleh kondisi stres psikis. Hal ini memang bisa terjadi pada anak-anak yang berkepribadian kurang matang (immature), dimana ia menjadi kurang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan sangat rendah toleransinya terhadap situasi yang menekan (sesuai hasil pemeriksaan psikologis terhadap putri Ibu). Pengalaman masuk SMP adalah salah satu pengalaman yang dirasa sangat menekan dan menimbulkan kecemasan besar bagi putri Ibu. Ia membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, untuk dapat merasa aman dan nyaman serta percaya diri. Itu sebabnya, kecenderungan epilepsi yang ada pada dirinya lalu muncul dalam bentuk serangan pingsan mendadak yang cukup sering, terutama di awal-awal masuk SMP.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mengenai tes Bender, itu adalah salah satu tes psikologis untuk mengetahui adanya kelainan organik pada otak atau kelainan fungsi otak. Jadi, hasil tes Bender juga menguatkan diagnosa epilepsi yang diderita putri Ibu, dimana terdapat muatan listrik dan pelepasan yang berlebihan atau tidak terkontrol di sel-sel neuron otaknya, sehingga penerimaan serta pengiriman impuls dari otak ke bagian-bagian lain dalam tubuhnya terganggu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan untuk pertanyaan Ibu tentang psikiater dan psikolog, keduanya sama-sama mendalami masalah 'psikis' atau kejiwaan. Bedanya, psikiater adalah seorang dokter spesialis , dimana dalam penanganan pasien bisa menggunakan obat-obatan medis (misalnya : anti depresan, anti anxiety, obat kejang dsb). Sedangkan psikolog, berasal dari disiplin ilmu yang berbeda dari kedokteran dan metode penanganan client dilakukan dengan konsultasi, konseling, pemberian tes-tes psikologis atau bermacam-macam teknik terapi. Jadi, untuk membantu menegakkan diagnosa, psikologis bisa melakukan serangkaian wawancara, observasi dan tes untuk kemudian memberikan terapi yang sesuai. Namun apabila dalam prosesnya dibutuhkan pengobatan medis atau bahkan tindakan pembedahan misalnya, maka harus bekerja sama dengan psikiater, dokter ahli syaraf (neurolog), dsb. Dari sudut pandang psikologis, epilepsi memang bisa terkait atau menyebabkan perubahan emosi yang kompleks yang dapat mengubah perilaku dan kepribadian serta menghambat hubungan interpersonal. Anak menjadi sulit mengendalikan emosinya, mudah tersinggung, atau bisa menjadi kehilangan motivasi belajar di sekolah, kehilangan kepekaan terhadap lingkungan, menjadi egosentris atau menarik diri dari lingkungan sosialnya. Hal ini bisa menjadi lebih parah dengan adanya sikap-sikap yang keliru dari masyarakat, misalnya mengucilkan menganggap penyakit menular, dsb.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Yang terpenting, penderita epilepsi memang perlu ditangani sedini mungkin, sebab semakin lambat penangannya maka efek negatif yang dapat merusak syaraf otak akan semakin besar. Beberapa saran dari saya :&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;1. Pahami dan terima ketakutan atau kecemasannya. Penderita epilepsi biasanya takut tidak bisa sembuh, takut berenang, takut naik sepeda dan takut kumat di tempat umum lalu menjadi tontonan yang memalukan bagi orang-orang. Dengan sabar dan telaten, tumbuhkan rasa percaya diri putri ibu dengan menceritakan fakta-fakta yang sebenarnya tentang penyakit epilepsi yang dideritanya. Yang jelas, epilepsi tidak menular, bukan penyakit keturunan dan bukan keterbelakangan mental. Bahkan, fakta bahwa banyak orang ternama yang juga menderita epilepsi namun tetap bisa berkarya melebihi orang-orang normal perlu ibu sampaikan agar ia optimis dan lebih percaya diri dalam menjalani hidupnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;2. Gali potensi dan bakat-bakatnya atau cari tahu kegiatan apa yang menjadi hobinya di waktu luang, lalu dorong putri Anda untuk menekuninya sehingga berbuah menjadi prestasi yang dapat dibanggakan. Dengan demikian, ia akan lebih percaya diri dan bahagia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;3. Sebisa mungkin, hindari situasi-situasi yang dapat menambah tekanan bagi anak dan persiapkan dirinya menghadapi berbagai situasi. Misalnya jika akan berkunjung ke suatu tempat yang baru, katakan bahwa nanti ia akan bertemu dengan di A, si B atau akan melakukan ini dan itu. Hindari juga kelelahan, kurang tidur, terlambat makan, kedinginan, atau terlalu memaksanya dalam belajar. Sebaiknya orang tua tidak menerapkan aturan disiplin yang kaku yang mudah menimbulkan kecemasan dan tekanan bagi anak-anak dengan kepribadian yang rentan. Lebih baik, beri semangat dan sesuaikan dengan kapasitas atau kesanggupan anak dalam belajar. Kepekaan dan kesigapan memberikan bantuan dalam belajar ketika anak membutuhkan juga amat diperlukan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wajar jika orangtua merasa cemas dan frustasi memikirkan masa depan anaknya yang mengidap epilepsi. Ibu tentu cemas membayangkan putri Ibu mendadak kejang-kejang dan dikucilkan oleh orang-orang dengan anggapan yang keliru tentang epilepsi. Namun Ibu harus optimis. Dengan bantuan pengobatan yang benar, banyak penderita epilepsi mampu hidup normal. Untuk menambah wawasan dan memenuhi kebutuhan akan informasi, bu Henny bisa bergabung di perhimpunan orang tua penyandang epilepsi yang ada di berbagai daerah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;4. Usahakan tetap tenang dan sigap ketika anak kena serangan mendadak. Tentunya bu Henny sudah mengetahui langkah-langkah yang perlu (dan yang tak boleh) dilakukan ketika putri Ibu menghadapi serangan kejang. Persiapkan diri dengan menyediakan obat-obatan di tempat yang mudah terlihat/terjangkau dan simpan nomer-nomer telepon penting/darurat, seperti rumah sakit atau dokter.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika putri Ibu minum obat-obatan antiepilepsi, konsultasikan selalu dengan dokter yang merawatnya, sebab ada obat-obatan penenang yang memiliki efek samping melambatkan proses berfikir. Karena munculnya pada usia sekolah, maka obat-obatan yang keliru bisa mengganggu kemampuan dan prestasi belajarnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tentunya, apa yang saya sampaikan di sini belum cukup untuk menjawab semua pertanyaan Ibu. Langkah-langkah yang lebih detil dan terencana perlu Ibu konsultasikan langsung dengan psikiater atau psikolog yang berpraktek di kota Ibu. Dengan kesabaran dan kasih sayang Ibu dalam mendampingi dan memberinya semangat untuk melakukan berbagai upaya untuk sembuh, saya percaya putri Ibu dapat tumbuh dan berkembang normal seperti teman-temannya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;Maya Harry, Psi&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sumber : Wanita Indonesia&lt;/p&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Suami Iseng</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/10/suami-iseng.html</link><category>Psikologi Keluarga</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Fri, 9 Oct 2009 16:36:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-2052521488099678812</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg84VxUmdX3oz_lp3HuC2-DlDX2NS1iBQiKaFgpJfJIOd-7eiZhjYd5T3IwbENKPxeN_d7u7v0CsN4bwhjuG7KwkWxAmPQZKcyrWBKtXqIQUanUo7fU4EDEzZGfgpL9CJ29oUo2ojzROGI/s1600-h/1000259p.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 151px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg84VxUmdX3oz_lp3HuC2-DlDX2NS1iBQiKaFgpJfJIOd-7eiZhjYd5T3IwbENKPxeN_d7u7v0CsN4bwhjuG7KwkWxAmPQZKcyrWBKtXqIQUanUo7fU4EDEzZGfgpL9CJ29oUo2ojzROGI/s200/1000259p.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389048575634564914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;Di jalan, di tempat umum, juga di tempat kerja, selalu ada suami iseng.&lt;br /&gt;"Bu Lei, panggil saja saya Cemara. Saya rasa dengan tinggi badan 168 cm dan berat 53 kg, sepintas saya memang mirip pohon cemara. Iya ’kan Bu Lei?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong Bu, saya sudah hampir putus asa menghadapi hal ini. Mengapa Bapak-bapak yang hidung belang sering sekali mendekati saya, padahal selama ini saya selalu berpenampilan sopan. Make up saya tidak menor. Saya tidak pernah memakai baju/kaos ketat dan rok saya tidak mini. Dan saya yakin, saya tidak termasuk perempuan yang ganjen/centil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya begini Bu, di usia saya yang hampir 28 tahun ini, sudah empat kali saya didekati dengan serius oleh laki-laki beristri. Belum lagi yang hanya sekadar iseng mengajak jalan-jalan, makan malam atau nonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dari Bapak A, ketika saya baru lulus kuliah D-III. A adalah om dari sahabat saya. Umur Bapak A dua kali lipat umur saya. Berani-beraninya dia bilang suka pada saya. Padahal anak pertamanya sama umurnya dengan saya. Dia baru berhenti mengejar saya setelah saya minta bantuan teman laki-laki saya untuk mengakui saya sebagai pacarnya dan mengancam si om agar tidak mengganggu saya lagi. Ini mengakibatkan persahabatan saya dengan teman saya jadi retak karena dia malu punya om yang moralnya payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang kedua, B, umurnya empat tahun lebih tua dari saya. Sejak pertama kali saya mengenalnya saya yakin dia sudah berkeluarga, tapi dia tidak pernah mau mengakui. Dia tetap bertahan mengejar saya dan beberapa kali bolos kerja untuk menunggu saya pulang kantor. Saya masih bisa menghindar dan mencari informasi tentang dia. Ternyata benar Bu, dia sudah beristri dan bahkan sudah punya anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga, C, ini yang terberat bagi saya. Sejak awal perkenalan dia tidak pernah mengatakan sudah menikah. Saya cinta dia Bu. Saya juga sudah memperkenalkan dia kepada keluarga saya. Ketika itu pun dia tidak pernah mengatakan sudah berkeluarga. Ketika saya ketahui dia sudah berkeluarga saya hancur, Bu. Menurut pengakuan C, rumah tangganya sudah kacau jauh sebelum dia mengenal saya. Tetapi dia berusaha mempertahankannya sebab ingat anak-anaknya. Menurut dia saya adalah rahmat Tuhan untuknya. Dia selalu memuji saya. Padahal bila melihat foto istrinya, istrinya jauh lebih cantik dari saya. Namun bersama dia saya merasa jadi wanita paling cantik, paling baik, dan paling berarti baginya… Tetapi saya tidak dapat terus-terusan terlena. Meski butuh waktu beberapa bulan, saya bisa bersikap tegas untuk berpisah darinya, walau dia bilang akan bercerai dari istrinya. Saya juga takut dia hanya mempermainkan saya. Kalaupun dia bercerai, saya tidak sanggup hidup dari penderitaan orang lain, terutama anak-anaknya. Biarlah saya yang hancur, asalkan tidak menghancurkan kehidupan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang D sedang mendekati saya. Sama saja Bu, ternyata dia juga sudah berkeluarga. Dan ini berarti adios buat dia. Sampai surat ini saya buat dia belum jera mendekati saya. Saya sudah hampir putus asa menghadapi bapak-bapak hidung belang ini. Coba Ibu lihat potret saya, apa tampang ini memang tampang yang disukai hidung belang? Saya merasa biasa saja dan saya tidak centil. Atau mungkin dengan wajah yang pas-pasan ini, cuma yang sudah berkeluarga yang tertarik pada saya, sedang yang perjaka sibuk dengan gadis yang jauh lebih cantik dari saya. Keadaan ini membuat percaya diri saya ambruk. Rasanya saya tidak berani lagi untuk tersenyum, takut senyum saya diartikan lain oleh cowok. Terakhir saya berharap surat ini membuat bapak-bapak yang kurang kerjaan itu sadar tingkahnya itu benar-benar menjijikkan, ya ’kan Bu? Di saat anak istrinya menunggu di rumah, mereka sibuk dengan rayuan gombalnya pada perempuan lain… "&lt;br /&gt;Terus menunggu - Setia di Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah sering sekali ia janji untuk cepat menyelesaikan surat perceraian dengan istrinya, Bu, tetapi selalu ditunda-tunda. Bahkan akhir-akhir ini ia jarang muncul lagi. Sebenarnya saya malu menceritakan hal ini, tapi saya tidak tahu lagi harus pergi ke mana sebab orangtua dan saudara-saudara saya belum tahu kekasihku sudah berkeluarga. Awalnya Bambanglah (bukan nama sebenarnya) yang lebih dulu mendekati saya. Sebagai pegawai baru yang belum kenal siapa-siapa, saya merasa senang sekali ada yang memperhatikan. Lama-kelamaan dari teman biasa ia jadi teman istimewa dan kami pun sudah melakukan yang terlarang. Saya sungguh menyesal Bu. Ketika saya desak agar ia cepat menemui orangtua saya, baru dia akui dia sudah menikah… Saya sempat shock dan jadi histeris, saya hancur sehancur-hancurnya, haruskah saya terus menunggunya?"&lt;br /&gt;Gombal -  Cemara di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adik Cemara, Setia yang baik,&lt;br /&gt;Sedih betul pengalaman yang menimpa kalian, akibat digombali oleh Om Senang dan Bapak Girang. Hasilnya tidak menggembirakan. Bukan hanya merasa tertipu, juga prospek perkawinan jadi semakin jauh. Lebih menyedihkan lagi yang sudah melewati pagar, hingga sudah tertipu pun tetap "takluk" pada permainannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak dapat disangkal laki-laki maupun perempuan akan merasa senang jika diminati lawan jenisnya. Keadaan ini terlebih dibutuhkan mereka yang sedang mengalami krisis pribadi seperti gagal dalam bisnis, dikucilkan masyarakat, masuk umur tengah baya, demikian Ethel Person, profesor dalam psikiatri klinik. Berbagai cara digunakan untuk tujuan ini tergantung kreativitas, fasilitas dan kemampuan bergaulnya. Cara yang murah meriah adalah mengumbar rayuan gombal, hingga lawan jenis merasa bagai bidadari meski rupanya cukupan saja. Mengaku perjaka bagi yang mudah dibohongi. Atau bilang perkawinannya morat-marit agar dikasihani. Melaporkan pasangannya egois dan frigid agar diimbali kehangatan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kita tidak boleh lupa, ia tidak hanya main sendirian saja. Dari hasil penelitian tampak justru wanitalah yang lebih aktif mengundang cowok untuk memperhatikan dia. Dari parfum yang digunakan, warna dan potongan bajunya sampai memberikan ekstra perhatian dan senyuman, banyak ditujukan untuk menarik laki-laki. Tidak usah berdandan sangat menor, namun tegur sapa yang manis menarik saja dapat dilihat sebagai undangan bagi cowok agar beraksi. Inilah yang sering dilupakan para wanita dan hanya merasa dirinya dikejar-kejar cowok melulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Cemara, jangan putus asa, Anda sudah membuktikan diri bisa menarik buat pria, cobalah lebih banyak bergaul dengan cowok yang belum menikah. Dan bagi "Setia" besar kemungkinannya bapak yang senantiasa menunda-nunda "perceraian" dengan istrinya memang tidak mau  bercerai dengan istrinya. Sayang kan bila Anda terus menunggu dia sampai uzur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Anda berdua memperlihatkan kepada para suami bahwa kegenitannya bukan hanya kurang menarik buat para gadis juga dapat merugikan mereka. Jangan memaksa jika mereka mengambil jarak. Sebaliknya para gadis yang tidak mau kecolongan, janganlah mengundang "pencuri" masuk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leila Ch. Budiman&lt;br /&gt;Sumber : Kompas Cyber Media&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg84VxUmdX3oz_lp3HuC2-DlDX2NS1iBQiKaFgpJfJIOd-7eiZhjYd5T3IwbENKPxeN_d7u7v0CsN4bwhjuG7KwkWxAmPQZKcyrWBKtXqIQUanUo7fU4EDEzZGfgpL9CJ29oUo2ojzROGI/s72-c/1000259p.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Suami Suka Melecehkan</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/10/suami-suka-melecehkan.html</link><category>Psikologi Keluarga</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Wed, 7 Oct 2009 16:16:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-1050675934788932825</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhirWqrnc2oeHk20P-ZQKB0zdr2_r_q_4ciWmmoOVHK5AwLNut27WwHj3VKVlVlV1WEjglsgT-JipSiH2h-y8JK0BkdS_aygXa6tIeFxEbbmQSOHxm5Z9v0eOesyA2I9tRou2jB0r1kzWw/s1600-h/happygirl.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhirWqrnc2oeHk20P-ZQKB0zdr2_r_q_4ciWmmoOVHK5AwLNut27WwHj3VKVlVlV1WEjglsgT-JipSiH2h-y8JK0BkdS_aygXa6tIeFxEbbmQSOHxm5Z9v0eOesyA2I9tRou2jB0r1kzWw/s200/happygirl.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389046404101745202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tidak mudah untuk membuat perkawinan menjadi romantis, terutama apabila berpasangan dengan orang yang suka melecehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu Leila yang baik, maaf ya, saya akan langsung saja pada persoalan saya yang sudah segunung rasanya. Kami sudah sepuluh tahun menikah, dikaruniai seorang putra yang cerdas. Akhir-akhir ini saya merasa sudah tidak sanggup lagi hidup bersama suami saya, ingin minggat saja rasanya. Sebenarnya soalnya tidak besar, tetapi sungguh membuat saya sakit hati dan ini sering terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kebiasaannya yang menurut dia tidak buruk adalah sikapnya yang sinis. Suka menertawakan dan omong jelek tentang istrinya dengan tujuan agar orang lain tertawa. Saya sungguh merasa tidak enak, tetapi dia selalu bilang saya tidak punya sense of humor. Lho, sense of humor kok dengan menghina pasangannya, apakah ini yang disebut humor?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku memang sangat pandai dan teliti melihat kejelekan, tetapi sukar sekali melihat yang baik, apalagi buat mengatakan terima kasih atau maaf. Ah tidak ada di kamusnya. Yang ada adalah ini salah, itu kurang. Misalkan dia undang beberapa orang buat makan di rumah. Saya sudah masak empat atau lima macam makanan, komentarnya, "Kenapa masak banyak? Kenapa enggak satu macam saja?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, dia mengundang orang untuk makan, kalau tamu cuma disediakan tahu goreng atau cuma disuguhi kerupuk, orang akan bilang apa? Tentu istri lagi yang akan ditertawakan, "Silakan menikmati kebolehan istri saya: goreng kerupuk." Yang malu tentu saya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya sudah mencuci setumpuk pakaian dan kebetulan ada kaus kaki yang tertinggal, langsung komentarnya, "Mengapa ini tidak dicuci, matamu di mana?" Bukan tumpukan besar yang sudah dikerjakan yang dikomentari, tetapi justru yang kecil, yang kebetulan tidak terbawa. Oya, kami tidak mempunyai pembantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kebetulan kami sedang berkendaraan pergi ke suatu tempat baru dan kesasar, dia akan menyalahkan saya. Katanya, "Mama sih diam-diam saja." Kalau saya beri arahnya, dia juga akan menyalahkan saya, "Mama sih yang kasih arah jalan, jadi salah." Rasanya jadi serba salah.&lt;br /&gt;Akan tetapi, masih ada kebaikannya. Dia seorang pekerja keras dan cukup bertanggung jawab. Kalau saya sakit, dia akan memerhatikan dan membelikan obat. Tetapi, apakah saya harus sakit dulu buat mendapatkan perhatiannya? Bu Leila, tolonglah kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ny D yang baik,&lt;br /&gt;Tentu saja sukar hidup bersama orang yang hobi melecehkan dan jeli melihat kejelekan kita melulu, sambil mengabaikan yang baik-baik. Rasanya bagai dicekoki makanan pahit terus-menerus, siapa tahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ingin suasana lebih mesra, gantilah menu hubungan dengan yang lebih sedap dan bergizi agar dapat menyuburkan sifat yang baik-baik dari pasangan kita. Cobalah kita lihat reaksi dua suami dari istri mereka yang sudah bekerja keras mengerjakan pekerjaan rumah tangga plus menyelesaikan setumpuk cucian dan menyetrikanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami 1: "Wah, Mama sudah kerja keras nih, mari saya buatkan air jeruk." Istri senang, kelelahannya terobati sebab suaminya memerhatikan dan menghargainya. Tugasnya terasa lebih ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami 2: (sambil memegang kaus kaki kotor), "Kenapa ini tidak dicuci, matamu di mana?" Istri sakit hatinya. Sudah bekerja berat, dihina lagi. Ia merasa lebih tersiksa melakukan pekerjaan itu. Tidak jarang istri kembali memaki suaminya, yang dibalas dengan lebih seru lagi, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau keadaan ini amat sering terjadi, tentu berbahaya buat kesehatan kedua insan dan perkawinan mereka. Tidak mengherankan bila Dr Gottmann, ahli terapi perkawinan dan peneliti yang canggih tentang kebahagiaan dan kegagalan perkawinan, berpendapat kritik dan penghinaan adalah racun yang dapat merusak perkawinan. Tambah sering dilakukan, tambah berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyelamatkan perkawinan ini, tampaknya suami (juga istri) perlu berlatih memupuk rasa suka dan kagum kepada pasangannya. Gottman &amp;amp; Nan Silver (The Seven Principles for Making Marriage Work, New York 1999, yang sudah diterjemahkan dan diterbitkan Penerbit Kaifa, 2001) memberi tiga tahap latihan untuk menumbuhkembangkan rasa suka dan kagum. Intinya sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan I: Melatih sensitivitas untuk melihat segi yang baik dari pasangan kita.&lt;br /&gt;Latihan ini dikerjakan bersama pasangan. Di dalam secarik kertas ada 72 kata sifat yang baik-baik, seperti menyayangi, cerdas, sensitif, bijaksana, jujur, murah hati, tampan, seksi, energetik, kocak, setia, menyenangkan, mesra, dan tampan. Masing-masing memilih tiga kata yang cocok buat pasangannya dan menuliskan apa peristiwanya, sampai dia memilih kata itu. Kemudian mereka menukar kertas masing-masing dan mendiskusikannya.&lt;br /&gt;Sering kali latihan ini dapat mencairkan suasana yang tegang dan renggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan II: Sejarah dan filsafat pernikahan.&lt;br /&gt;Dalam sesi ini, pasangan diminta mendiskusikan bagaimana awal pertemuan mereka. Segi-segi apa saja yang menonjol dari pasangan sampai masing-masing memutuskan menikah dengan pasangan. Apakah kendalanya dan bagaimana mengatasinya. Bicarakanlah bagaimana pernikahan itu, bulan madu, juga transisi menjadi orangtua. Apa masa-masa yang paling membahagiakan dan masa yang sukar, dan bagaimana pasangan dapat mengatasi keadaan sukar itu. Juga melihat kesamaan nilai dan tujuan yang akan dicapai. Bagaimana perkawinan orang lain yang gagal dan bagaimana yang berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengerjakan latihan ini sebagian besar pasangan akan menjadi lunak hatinya dan hubungan menjadi lebih mesra, sebab mengingat awal pengalaman dan perjuangan mereka untuk hidup bersama dan mengenang kembali saat-saat yang membahagiakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan III: Dilaksanakan dalam tujuh minggu.&lt;br /&gt;Latihan ini dirancang untuk membiasakan berpikir positif tentang pasangan Anda. Setiap hari pikirkan tentang satu kebaikan pasangan, baik itu sifat, perbuatan, ataupun pengalaman bersama; ditambah tugas menuliskan peristiwa kebaikan itu atau untuk merencanakan kesenangan bersama. Tambah sering diulang-ulang berbagai pemikiran positif ini tambah baik, sebab pasangan yang bermasalah sering kali dipenuhi berbagai pikiran dan penilaian jelek tentang pasangannya. Tugas tujuh minggu ini untuk mengimbangi dan mengurangi kebiasaan negatif tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti fisik, mental pun bila sering dilatih jadi lebih terampil. Ny D dan suami, selamat menikmati latihan ini dan melestarikannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leila Ch Budiman&lt;br /&gt;Sumber : Kompas Cyber Media&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhirWqrnc2oeHk20P-ZQKB0zdr2_r_q_4ciWmmoOVHK5AwLNut27WwHj3VKVlVlV1WEjglsgT-JipSiH2h-y8JK0BkdS_aygXa6tIeFxEbbmQSOHxm5Z9v0eOesyA2I9tRou2jB0r1kzWw/s72-c/happygirl.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cowok Kaku Lagi ”In Love”</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/10/cowok-kaku-lagi-in-love.html</link><category>Psikologi Remaja</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Mon, 5 Oct 2009 15:19:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-3286532990283687278</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiFxtoNKcNjWJD7eq6JSLW6WWcphh7Asw6lUXLRL_f-T7k80eOyPNh2OHCuCVRiZF1ZrnnjnaDvP52GHItLJoovaOzj99FYzz2u5Iu8f_pHF9yvQTCRMAmuRXR7Y2RWSoqzCsM_5SLrJg/s1600-h/artman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 158px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiFxtoNKcNjWJD7eq6JSLW6WWcphh7Asw6lUXLRL_f-T7k80eOyPNh2OHCuCVRiZF1ZrnnjnaDvP52GHItLJoovaOzj99FYzz2u5Iu8f_pHF9yvQTCRMAmuRXR7Y2RWSoqzCsM_5SLrJg/s200/artman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389030782332098786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, aku minta maaf banget kalau masalah yang aku alami ini terlalu konyol buat dibaca atau bahkan dijawab. Tapi, itu kenyataan dan sedang terjadi padaku. Langsung aja deh. Kenalin, namaku Ray. Saat ini aku tercatat sebagai pelajar salah satu universitas swasta di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O iya, sebelum aku lanjutin, aku punya syarat. Jangan ketawa atau menghina! Oke? Percaya apa nggak, tapi sebaiknya percaya, sampai usia kepala dua ini, aku belum pernah sekali pun jadian. Alias masih jomblo. Hayo, jangan ketawa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-garanya, sejak SMP sampai lulus SMA, aku kecanduan main games. Entah itu main PS atau game online. Nggak tanggung-tanggung, frekuensi mainku bisa berjam-jam, bahkan mungkin seharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hobi itu benar-benar menyita waktuku. Alhasil, aku nggak banyak waktu buat bergaul. Di saat remaja cowok seusiaku udah mengenal cinta, aku masih berakrab ria dengan games, games, dan games. Hal itu yang akhirnya bikin aku jadi cowok kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama sekolah, aku nyaris nggak punya teman dekat cewek. Parahnya, keadaan itu masih berlanjut sampai aku kuliah. Bedanya, sekarang aku mulai membuka diri. Mulai bisa ngobrol sama cewek, meski sekadar nyapa aja atau pas ada perlu. Aku berusaha akrab sama makhluk yang namanya cewek, tapi sampai sekarang belum berhasil seratus persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampus, aku sering diejek teman-teman karena nggak kunjung punya gandengan. Padahal, hampir semua temanku udah punya pacar. Malah banyak juga yang hobi gonta-ganti pacar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya, aku ketemu dengan seorang cewek dan langsung jatuh hati. Sebut aja namanya Leni. Dia beda kampus denganku. Nggak tahu kenapa, aku ngerasa benar-benar tertarik padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai langkah awal, aku udah berhasil dapatin nomor ponselnya dari salah seorang temanku. Tapi, buat kelanjutannya, aku bingung nih. Aku mesti ngapain? Gimana sikapku kalau ketemu sama dia? Gimana supaya aku bisa lebih dekat sama dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Please kasih aku saran secepatnya. Jujur, aku ini cowok kuper, penakut, dan tertutup. Kalau ini berhasil mengubah statusku, aku janji deh, bakal traktir kamu apa aja. He he he…. Thanks before.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dear Priyo,&lt;br /&gt;Ha ha ha… (ups) nggak boleh ketawa, ya! Habis kamu lucu, curhat aja ada aturannya. Ya ya… daripada kamu makin malu (atau malu-maluin), Aime to the point aja, ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Priyo, kamu nggak perlu ngerasa jadi cowok paling apes kok kalau sampai sekarang masih belum punya pacar. Yakinlah, ada sesosok cewek yang disiapkan untukmu. Yang itu tuh, kata orang kan, tiap cowok punya jodoh dari tulang rusuknya. Ya… moga-moga cewek itu Leni, yang lagi kamu taksir saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana cara ngedeketin Leni? Nih, Aime kasih tip-tipnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cek Status&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt; Sebelum rasa sukamu berkembang lebih jauh, pastikan dulu statusnya. Sori nih, kamu kan belum berpengalaman dalam hal cinta. Takutnya, kamu lupa dengan hal penting ini. Kalau Leni masih jomblo, lampu hijau buat kamu. Tapi, kalau dia udah punya pacar, mending kamu mundur teratur deh.&lt;br /&gt;Caranya, kamu bisa tanyain secara nggak langsung. Misalnya, pas ketemu, iseng-iseng nanya," Cowok kamu jemput jam berapa?" Kalau masih jomblo, dia pasti bakal jawab, "Cowok yang mana? Belum punya kok." Kalau itu jawabannya, yes! Go to the next level.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Coba Jadi Ninja&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Gini maksudnya. Sering-seringlah muncul di kampusnya. Jangan bilang-bilang. Tiba-tiba aja kamu nongol di depannya, biar dia surprise. Ajakin makan bareng sambil ngobrol. Usahain serileks mungkin. Kalau obrolan kalian nyambung, artinya kalian bisa cocok. Di akhir obrolan, tawarin buat nganter dia pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hadiah tanpa Nama&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Sesekali, kasih surprise yang lebih mengejutkan. Kasih hadiah "kecil" tanpa nama. Misalnya, selipin novel kesukaannya di dalam tasnya. Di halaman pertama novel itu, kasih kata-kata mutiara dengan inisial namamu. Kalau cerdas, pasti dia langsung bisa nebak hadiah itu dari mana. Tinggal tunggu aja ucapan terima kasih darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sering Baca Tip Aime&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Ini yang paling penting. Rajin-rajinlah baca tip Aime. Siapa tahu, nantinya kamu ngadepin kondisi yang mirip sama yang dibahas Aime. Bisa dicontek kan cara-cara ngatasinya?&lt;br /&gt;Tenang, semua tip Aime dibagiin gratis kok (buat pembaca setia DetEksi Jawa Pos, pastinya). Aime juga nggak pamrih kok. Tapi, kalau kamu pengin ngirim sesuatu buat Aime, ehm… boleh banget tuh. He he he.… Oke, Priyo, sampai ketemu lagi ya di curhatanmu berikutnya. Aime harap, waktu itu statusmu udah berubah jadi "taken".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aime&lt;br /&gt;Sumber : Jawa Pos dotcom&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiFxtoNKcNjWJD7eq6JSLW6WWcphh7Asw6lUXLRL_f-T7k80eOyPNh2OHCuCVRiZF1ZrnnjnaDvP52GHItLJoovaOzj99FYzz2u5Iu8f_pHF9yvQTCRMAmuRXR7Y2RWSoqzCsM_5SLrJg/s72-c/artman.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Dituduh "Menikam" Sahabat</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/09/dituduh-menikam-sahabat.html</link><category>Psikologi Remaja</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Wed, 30 Sep 2009 08:39:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-5654559975864607860</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUxmS3PTc0ocxRo5XDtxQ7Dnl6Ux6OZ2Md9XGmc7iXFd7eBlwjQx8LIBSIO_9ztz3IcSGthG9FYjHB8FRQBm8klw_JSc1oQN_KneJyEpnxPuGLPTgkVgLvNoQLgtM46faiaUrG5Um7E98/s1600-h/zooTiger-412x284.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 138px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUxmS3PTc0ocxRo5XDtxQ7Dnl6Ux6OZ2Md9XGmc7iXFd7eBlwjQx8LIBSIO_9ztz3IcSGthG9FYjHB8FRQBm8klw_JSc1oQN_KneJyEpnxPuGLPTgkVgLvNoQLgtM46faiaUrG5Um7E98/s200/zooTiger-412x284.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382245930771420450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur nih, sebelumnya aku nggak pernah nyangka bakal ikut ngirim curhatan juga. Apalagi, selama ini aku nggak pernah ngerasa punya problem cinta. O iya, kenalkan dulu. Namaku Rudy, pelajar salah satu universitas di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, saat ini yang punya masalah cinta bukanlah aku, melainkan sahabatku. Tapi, akhirnya aku ikut terseret. Bahkan, posisiku jadi lebih susah. Gara-garanya, sahabatku salah sangka. Dia pikir aku tega merebut cewek yang ditaksirnya. Padahal, suer, aku nggak pernah punya niat kayak begitu. Itu semua cuma salah paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabatku tersebut bernama Ivan. Sejak masuk kuliah, dia suka sama seorang cewek, namanya Fida. Tiap hari, dia selalu nyoba pedekate ke Fida. Mulai SMS, ngajak ngobrol berdua, nawarin pulang bareng, dan seribu cara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu saat, Fida nggak kuliah berhari-hari. Ivan berusaha nyari tahu keadaan Fida. Tapi, nggak ada yang tahu. Akhirnya, dia mutusin datang ke rumah Fida. Setelah sampai, ortu Fida bilang bahwa anaknya keluar, nggak tahu ke mana. Karena dilanda kebingungan, Ivan terus melanjutkan pencarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di tempat lain, kebetulan aku nggak sengaja ketemu Fida. Tepatnya, di suatu supermarket. Aku diajaknya makan di kafe. Lalu, Fida cerita sama aku tentang alasannya nggak masuk kuliah akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, dia ngerasa risih karena setiap hari didekati Ivan. Trus, aku ngomong aja ke Fida kalau Ivan itu suka sama dia. Spontan, dia kaget dan tercengang. Sebab, dia nggak ada feeling sama Ivan. Akhir-akhirnya, Fida minta aku untuk ngomongin masalah tersebut ke Ivan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak tahu sumbernya dari mana, Ivan tahu kalau aku dan Fida makan bareng. Benar saja, dia marah besar padaku. Dia menganggap aku sebagai pengkhianat. Ditambah lagi, pas aku bilang kalau Fida nggak comfort dengan segala perhatian itu, Ivan malah menganggap aku menyukai Fida dan berusaha menjauhkan Fida darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh Aime, aku udah berkali-kali ngejelasin sama Ivan. Tapi, dia nggak mau ngerti. Di matanya, aku udah menikam dari belakang dan nggak bisa dimaafkan. Ivan adalah teman baikku sejak SMP. Aku nggak mau hubunganku dengannya retak hanya gara-gara masalah cewek. Tolong kasih aku solusi terbaik, ya. Thanks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aime juga nggak nyangka bakal sudi menjawab curhatanmu. He he he. Tapi, berhubung Aime rendah hati, ramah, dan tidak sombong, Aime nggak perlu mikir dua kali untuk mengulurkan bantuan buatmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah yang kamu hadapi cukup klasik. Persahabatan, cinta, dan salah paham mencuat jadi tuduhan pengkhianatan. Tenang! Tenang! Saat ini, kondisi Ivan, sahabatmu itu, lagi berada dalam zona merah. Kamu jangan sampai ikutan merah, ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Zona Merah&lt;br /&gt;Orang yang lagi berada dalam zona ini mending jangan dideketin dulu. Biarin aja selama beberapa hari. Kalau kamu bersikeras ngasih penjelasan dalam waktu dekat ini, sangat mungkin bakal sia-sia. Apa pun yang kamu jelasin nggak bakal masuk ke telinganya. Yang ada, kamu bisa-bisa malah kena tonjok. Awas!&lt;br /&gt;Saat ini, perasaan Ivan lagi terluka banget. Dia yang udah sekian lama pedekate dan nggak berhasil malah mendapati sahabatnya lagi berduaan sama cewek incarannya. Belum lagi, kamu bilang bahwa Fida sebenarnya nggak suka sama dia. Wajar aja kalau dia langsung negative thinking dan mengira bahwa kamu punya hubungan khusus sama Fida. It’s normal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tenang dan Tunggu Momen&lt;br /&gt;Setelah suasana panas agak mereda, baru kamu bisa mengklarifikasi. Kalau bisa, sekalian ajak Fida, sang sumber masalah. Tapi, jangan datang berdua aja. Takutnya, begitu ngelihat kalian, Ivan malah langsung kabur karena saking sebelnya. Kamu perlu bantuan dari pihak netral. Bisa saudara Ivan atau teman yang juga kenal kalian berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Diskusi dengan Regulasi&lt;br /&gt;Kalau udah ngumpul, omongin masalah tersebut baik-baik. Tapi, bikin perjanjian di awal. Dalam diskusi itu, masing-masing dapat giliran ngasih penjelasan. Yang lain boleh ngajuin pertanyaan, tapi nggak boleh dengan nada emosi. Pihak netral tersebut berfungsi sebagai pengawas. Misal, ketika suasana jadi memanas, dialah sang peredam. Coba deh cara itu. Aime yakin, segala sesuatunya masih bisa diomongin baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Jadi Teman Bertiga&lt;br /&gt;Setelah diskusi berhasil, kalian bisa saling memaafkan. Lalu, merajut lagi persahabatan yang sempat terkoyak (ceilee…). Masalah kayak gitu biasa kok dalam persahabatan. Eh, kamu bisa bujuk Fida untuk mau jadi teman Ivan juga. Nggak bisa jadi pacar bukan berarti nggak mau jadi teman, kan? Siapa tahu, kalian bertiga malah jadi sahabat kompak. Jadi, nggak perlu ada salah paham lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aime&lt;br /&gt;Sumber : Jawa Pos dotcom&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUxmS3PTc0ocxRo5XDtxQ7Dnl6Ux6OZ2Md9XGmc7iXFd7eBlwjQx8LIBSIO_9ztz3IcSGthG9FYjHB8FRQBm8klw_JSc1oQN_KneJyEpnxPuGLPTgkVgLvNoQLgtM46faiaUrG5Um7E98/s72-c/zooTiger-412x284.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total></item><item><title>Rujuk</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/09/rujuk.html</link><category>Psikologi Keluarga</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Wed, 30 Sep 2009 07:58:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-5309558703424480925</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNPnYuxCNpwR8rtFkCUfh9zDEdI8g135NYIeTQxfjZ81-QdEzAcuYZUfupsP_cba0krm_1uSHCv0Sv1Y2qqKmlDrmHE_zCw9Gb8qFtvSqCXpyqFCB9iUDlrZxAt04vk-gJ0LcuZi1T2Ls/s1600-h/artikelmanajemen-laut3.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 184px; height: 137px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNPnYuxCNpwR8rtFkCUfh9zDEdI8g135NYIeTQxfjZ81-QdEzAcuYZUfupsP_cba0krm_1uSHCv0Sv1Y2qqKmlDrmHE_zCw9Gb8qFtvSqCXpyqFCB9iUDlrZxAt04vk-gJ0LcuZi1T2Ls/s200/artikelmanajemen-laut3.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376669321998897458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalammu'alaikum wr. wb.&lt;br /&gt;Ibu Anita, saya pria berumur 30 tahun. Belum lama ini saya mengalami peristiwa yang mengguncang hidup saya. Saya mengalami perceraian setelah menikah selama 3 tahun, dan sudah memiliki putra berumur hampir 2 tahun. Mantan istri saya berumur 30 tahun. Selama pernikahan, rumah tangga saya selalu diwarnai pertikaian. Hal ini disebabkan perbedaan pemikiran yang saling bertolak belakang. Dia sebenarnya banyak tahu hukum agama, tapi lebih banyak mencari keringanan- keringanan yang tidak pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dicap terlalu agamis dan ekstrem dalam menjalankan agama, padahal menurut saya sebenarnya kadar keimanan saya masih sangat jauh dari sempurna. Apabila saya menjalankan ibadah sholat, saya dianggap menelantarkan anak kami yang menurutnya harus selalu diawasi dan dijaga. Padahal kami tinggal bukan seorang diri, melainkan bersama orang tuanya sehingga di rumah tersebut ramai orang. Saya dianggap kurang bertanggung jawab karena lebih mementingkan ibadah dibanding dengan keluarga, walaupun itu ibadah fardlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama masa perkawinan dengannya, saya lebih banyak diam, berusaha sabar dan menuruti kemauannya karena ingin menghindari keributan yang lebih besar. Di samping itu juga karena saya merasa tidak punya kuasa apapun terhadap mantan istri saya, karena saat itu kondisinya adalah kita masih menumpang di rumah orang tuanya di kota X, dan saya di bekerja di kota Y disebabkan mantan istri saya masih takut hidup kekurangan dan takut mandiri bila ikut dengan saya di kota Y, Selain dia juga masih sayang untuk meninggalkan pekerjaannya di sebuah hotel, yang dilingkari dengan kemewahan sehingga membuatnya lebih sering melihat ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa tidak punya power sebagai pemimpin keluarga saat berada di rumah orang tuanya, karena saya tidak mampu membimbing dan membuatnya patuh pada suami selama dia masih bersikukuh tetap tinggal di rumah orang tuanya. Dia masih sering berlindung di balik orang tuanya. Bahkan nama pemberian saya untuk anak kami yang Insya Allah bermakna baik pun tidak dipakai sehari-hari, yang dipakai adalah nama panggilan yang diberikannya yang tidak ada unsur mendoakan, sehingga nama asli anak saya pun tenggelam. Saat itu seringkali saya berpikiran mungkin lebih baik kami bercerai saja, karena saya merasa amat berat tanggung jawab yang harus saya pikul dengan beristrikan dia, saya tidak mampu lagi memikirkan cara apa lagi yang harus saya pakai untuk membinanya dan membuatnya patuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cara halus berupa ajakan dan perkataan lembut sampai kasar dengan marah-marah. Bahkan saya sering melontarkan ancaman ke dia, seperti apabila keadaan seperti terus dan dia tidak mau disuruh menghormati saya sebagai pemimpin keluarga, maka saya tidak sanggup lagi untuk mempertahankan perkawinan ini. Bila saya berkata seperti itu dia pun langsung terdiam. Saya sadar bahwa sebenarnya kita masih saling mencintai, tapi perilakunya sering tidak mencerminkan itu. Apalagi bila mengingat kondisi kami yang sudah mempunyai seorang putra, saya berusaha meredam nafsu untuk menceraikannya. Namun kejadian perceraian itu akhirnya tidak bisa dihindari, saat itu saya sudah pindah bekerja di negara Z, sedangkan dia masih di kota X.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya karena masalah kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan bicara baik-baik dan saling menekan harga diri masing-masing, bom waktu yang saya pendam pun akhirnya meledak juga di saat saya mengunjunginya di rumah orang tuanya. Saya mengembalikan dia ke orang tuanya. Tapi akhirnya kami berdua menyesali keputusan saya tersebut. Apalagi mengingat kami sudah mempunyai anak, saya takut anak kami akan banyak dirugikan, walaupun dia tinggal dengan kakek dan neneknya. Walaupun saya tahu, mereka memang menyayangi cucunya, bahkan menurut saya melampaui batas cara menyayanginya. Saya berusaha introspeksi ke diri sendiri, bahwa mungkin saya kurang sabar dalam mendidik mantan istri saya tersebut. Dan akhirnya kami pun berniat untuk rujuk kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun bersedia untuk ikut dengan saya ke negara Z meninggalkan pekerjaan dan dunianya membawa anak kami. Tapi saat keputusan final untuk rujuk sudah di depan mata, saat persiapan sudah dilakukan untuk meminta dia kembali dari orang tuanya dan menjemput dia beserta anak kami, dia memunculkan satu isu yang sangat mengganggu saya dan membuat saya jengkel. Dia ingin agar saya menanda tangani surat perjanjian rujuk di atas segel, yang menyatakan bahwa saya akan menyayangi dia dan anak kami, dan apabila saat dia sudah pindah bersama saya dan meninggalkan pekerjaan dan dunianya, bila akhirnya pun saya menalak dia lagi, saya diminta rela memberikan nafkah sebesar 1/3 gaji saya, pembagian harta gono gini yang adil, dan anak kami tetap ikut dengannya selama belum bisa memilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua perjanjian tersebut gugur apabila dia yang melakukan kesalahan. Kesalahan yang dimaksud dia secara khusus adalah hanya perselingkuhan, padahal tidak pernah saya mengkhianati pernikahan kami, alasan saya menceraikan dia adalah karena saya merasa tidak mampu lagi menjadi pemimpin  baginya. Saya menghadapi dilema di sini. Satu sisi saya ingin membesarkan anak saya dan mendidik mantan istri saya lagi agar lebih dekat dengan Allah, di lain sisi kalau saya menerima persyaratannya, saya khawatir saya mengadakan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ada, dan mengharamkan yang sudah dihalalkan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat 2 dan 3 bagi saya tidak ada masalah. Tapi syarat yang pertama, bukankah tidak semestinya dia meminta seperti itu? Dan juga saya takut perjanjian ini hanya akan kembali melemahkan posisi saya sebagai suami, sehingga tidak bisa membinanya, dan tidak dapat berbuat apa-apa kalau dia berbuat seenaknya. Mungkin perjanjian itu dijadikan jaminan untuknya agar saya tidak lagi semena-mena menalaknya lagi, tapi keputusan saya ingin rujuk lagi dengannya bukan untuk menalaknya dan menyengsarakan dia dan anak kami. Saya sangat berharap ibu dapat membantu saya mencari jalan keluar permasalahan saya ini. Jazakallah,&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalammu'alaikum wr. wb.&lt;br /&gt;Saudara Abd yang dimuliakan Allah SWT, nampaknya tidak mudah ya kehidupan rumah tangga yang bapak jalani. Baru tiga tahun berjalan sudah demikian banyak konflik yang dialami sampai hampir berujung pada perceraian. Mendidik dan membina pasangan kita memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Begitu banyak energi serta kesabaran yang harus dipersiapkan jika terdapat banyak perbedaan yang harus disesuaikan. Nampaknya memang dibutuhkan waktu lebih untuk dapat membuat rumah tangga terbentuk sesuai harapan bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan pemahaman dalam menyikapi kehidupan religius yang hendak dijalani terkadang juga menjadi kendala untuk membentuk keluarga sakinah. Oleh karenanya dibutuhkan proses yang harus disikapi dengan pengertian serta kesabaran sehingga pasangan kita dapat melangkah seiring dengan langkah kaki kita. Dan kata-kata memang tidak semudah praktek yang harus dijalani, terlebih dalam membimbing wanita dibutuhkan kepekaan dari seorang suami untuk bisa menyelami jiwanya. Sebagaimana Rasulullah pernah bersabda agar berhati-hati dalam mengarahkan wanita karena ibarat ranting mudah bengkok namun jika terlalu keras bisa mematahkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya salah satu kendala bapak dalam membimbing istri adalah masih tinggal satu atap dengan mertua, dengan memisahkan diri dan pergi ke negara Z merupakan langkah yang cukup baik. Karena diharapkan kemandirian akan lebih memudahkan kerjasama yang terjalin antara bapak dan istri. Terlebih istri saat ini mulai lebih mengalah dengan meninggalkan pekerjaannya dan mau ikut pindah tinggal bersama bapak. Namun nampaknya trauma perpisahan yang pernah terjadi masih dirasakan oleh istri. Yaitu ia khawatir jika setelah ia meninggalkan pekerjaannya maka bapak bisa bertindak sewenang-wenang dengan mentalaknya begitu saja di saat ia tak punya tempat bergantung selain bapak. Meskipun saya yakin bapak sama sekali tidak punya niat untuk mentelantarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, kekhawatiran istri bapak merupakan hal yang wajar saja dirasakan oleh seorang wanita yang cemas karena pernah hampir ditalak sebelumnya. Dan itu memang hak wanita dalam Islam yang sah-sah saja digunakan. Menurut saya ini justru menunjukkan keadilan Islam, sebagaimana Islam memberikan hak kepada suami untuk mentalak, maka istripun diberi kesempatan untuk melindungi dirinya dengan mengajukan syarat untuk rujuk. Namun, memang isi dari perjanjian tersebut tidak boleh menyalahi hukum islam yang lain atau terkait dengan kemaksiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya mengenai hak atas 1/3 gaji, jika hak asuh anak jatuh pada ibunya, maka bapak memang wajib untuk tetap memberikan uang kepada mantan istri untuk dapat merawat dengan baik anak bapak. Namun mengenai harta gono-gini mungkin perlu diklarifikasi, karena dalam islam tidak ada pembagian harta sama rata setelah bercerai. Namun yang benar adalah harta suami menjadi hak suami dan harta istri menjadi hak istri setelah mereka bercerai dan bukannya membagi lagi harta itu setelah perceraian dengan jumlah yang sama.Untuk urusan persyaratan ini nampaknya bapak memang perlu berkonsultasi lebih lanjut dengan ustadz yang memahami syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bapak mengkhawatirkan bahwa pengajuan syarat ini akan menyulitkan bapak dalam membina, seharusnya tidak demikian. Artinya disadari atau tidak berarti bapak menggunakan hak talak sebagai senjata untuk mengarahkan istri. Menurut saya proses pembinaan yang demikian kurang tepat karena menggunakan ancaman sebagai cara menjaga kepatuhan, tapi akan jauh lebih baik jika proses itu dilakukan dengan membawa kesadaran pasangan sehingga sukarela untuk berubah. Namun segalanya memang akan kembali kepada bapak yang akan membentuk dan membina keluarga sendiri. Apa yang tertulis hanya sekedar membuka wawasan sehingga dapat melihat sudut pandang yang berbeda. Saya turut mendoakan semoga bapak sekeluarga senantiasa dalam perlindungan Allah S.W.T. Wallahu'alambishawab.&lt;br /&gt;Wassalammu'alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rr. Anita W.&lt;br /&gt;Sumber : Eramuslim.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNPnYuxCNpwR8rtFkCUfh9zDEdI8g135NYIeTQxfjZ81-QdEzAcuYZUfupsP_cba0krm_1uSHCv0Sv1Y2qqKmlDrmHE_zCw9Gb8qFtvSqCXpyqFCB9iUDlrZxAt04vk-gJ0LcuZi1T2Ls/s72-c/artikelmanajemen-laut3.bmp" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total></item><item><title>Belum Menemukan Pendamping Dambaan</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/09/belum-menemukan-pendamping-dambaan.html</link><category>Psikologi Keluarga</category><category>Psikologi Remaja</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Tue, 29 Sep 2009 08:34:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-7450716742418739621</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQFGUnWrCiv_9jhdLmQjbWN5qzm4cmFpqAmS2pUZZVuSp2TlDmdW17pKoI4xxeV_EfzK8n8Xi4Q8OAi6Pt4oElIM-1qBAa8KOryv3Me-JGtb1HbxhFZESX_nL76ClA_0slLSD2FQYpxAE/s1600-h/%23artikelmanajemen-08f193.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 149px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQFGUnWrCiv_9jhdLmQjbWN5qzm4cmFpqAmS2pUZZVuSp2TlDmdW17pKoI4xxeV_EfzK8n8Xi4Q8OAi6Pt4oElIM-1qBAa8KOryv3Me-JGtb1HbxhFZESX_nL76ClA_0slLSD2FQYpxAE/s200/%23artikelmanajemen-08f193.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382244377890744978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seorang pemuda yang berusia 26 tahun, insyaAllah pada bulan April mendatang usia saya genap memasuki 27 tahun. Sebuah angka yang sepatutnya untuk menikah memang. Namun saya memiliki kendala sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya sudah siap untuk menuju ke jenjang pernikahan. Niat saya tulus untuk membina rumah tangga yang penuh barokah Allah. Namun, saya bingung harus menikah dengan siapa. Sampai hari ini saya belum mempunyai calon pendamping yang seperti saya inginkan. Sebenarnya banyak wanita yang menawarkan cinta mereka kepada saya, namun saya tidak bisa menerima mereka karena saya tidak mencintai mereka. Saya hanya menganggap mereka sebagai teman saja. Sebenarnya banyak yang bilang bahwa saya memiliki kesempurnaan fisik dan mungkin semuanya. Alhamdulillah dalam segi agama saya juga bisa diandalkan sekalipun tidak terlalu faqih dalam masalah tersebut, namun dasar-dasar hukum ke-Islaman saya telah memahaminya, materi saya juga sudah punya, dan mungkin bisa dibilang mapan karena saya seorang pengusaha sekalipun belum besar, pendidikan juga alhamdulillah karena saya tamatan S-I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya laki-laki yang sangat pemalu, saya tidak punya keberanian untuk berkenalan dengan wanita yang saya suka apalagi untuk menyatakan kata cinta. saya tak tahu harus bagaimana. Saya mendambakan wanita yang berwajah cantik, semampai, anggun, berakhlaq dan pemalu, serta dapat bersosialisasi dengan siapapun juga. Saya benar-benar mendambakan wanita seperti Fatimatuzzahra. Namun, belum jua saya dapatkan. Sementara keinginan untuk menikah itu selalu mengusik, apalagi bila saya membaca kisah manis antara Rasul dengan bunda Aisyah. Keinginan itu semakin menggebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dambakan wanita yang bisa membuat saya semakin dekat kepada Allah. Namun saya juga selalu memprioritaskan fisik wanita itu, sekalipun agama dan akhlaq jauh lebih utama dari semua itu. Apa yang harus saya lakukan? Saya takut terus begini, karena syaitan selalu saja menggoda untuk menjerumuskan manusia. Tolonglah bantu saya. apa yang sebaiknya saya lakukan? Demikian, terima kasih.&lt;br /&gt;Wassalamualaikum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalammu'alaikum wr. wb.&lt;br /&gt;Saudara Surrahman yang dirahmati Allah, Subhanallah, besar nikmat Allah pada anda karena anda diberinya demikian banyak kelebihan yang membuat anda nampak ideal di mata wanita. Memiliki fisik yang baik,, berpendidikan, beragama dan cukup mapan secara ekonomi. Namun nampaknya anda merasa bingung juga karena meski diri sudah mampu menikah dan keinginan untuk itupun sudah demikian besar tapi belum juga ditemui wanita ideal yang anda harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari pasangan yang memenuhi seluruh kriteria yang diinginkan memang tidak mudah dan hal ini seringkali membuat seseorang pada akhirnya menunda terus pernikahan sampai akhirnya terhambat untuk menikah. Tidak ada yang salah memang untuk menetapkan kriteria pasangan kita, namun jika keadaan nampak mendesak bagi kita (seperti khawatir jatuh dalam zina) rasanya lebih baik jika bisa bersikap agak fleksibel dengan menyesuaikan sedikit antara harapan dengan realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya meski sudah ada kriteria yang anda tetapkan maka coba untuk membuat nilai prioritas dari hal itu, sehingga untuk kriteria yang tidak mendapatkan prioritas utama mungkin anda dapat bersikap lebih lunak. Ibarat kita memilih sesuatu maka biasanya jika tidak ada yang pas banget dengan yang kita inginkan maka kita akan memilih benda yang hampir mirip atau meski tidak semua fungsi yang kita harapkan ada, namuntetap memberi kita kepuasankarena memiliki keunggulan di sisi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentu saja sebaiknya prioritas tersebut agar tidak membuat anda salah memilih sebaiknya disesuaikan dengan tuntunan nabi yang senantiasa menjadikan agama dan akhlaq sebagai prioritas teratas. Dan dalam hal ini mungkin andapun tidak pasif hanya menanti seseorang menawarkan diri namun dapat aktif mencari, misalnya melalui kerabat atau teman yang menurut anda tentunya juga punya kredibilitas yang baik dalam agama dan akhlaqnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi teruslah berusaha dengan jalan yang baik dan diridhoi-Nya dengan selalu diiringi doa kepada Allah. Semoga Allah datangkan jodoh yang paling baik untuk anda menurut-Nya baik dunia maupun akherat. Amin.&lt;br /&gt;Wassalammu'alaikum wr. wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Rr Anita W.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQFGUnWrCiv_9jhdLmQjbWN5qzm4cmFpqAmS2pUZZVuSp2TlDmdW17pKoI4xxeV_EfzK8n8Xi4Q8OAi6Pt4oElIM-1qBAa8KOryv3Me-JGtb1HbxhFZESX_nL76ClA_0slLSD2FQYpxAE/s72-c/%23artikelmanajemen-08f193.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Cum Laude "Bodoh"?</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/09/cum-laude-bodoh.html</link><category>Psikologi Keluarga</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Tue, 29 Sep 2009 07:22:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-253190546620821591</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiSrqIbxN6v6ExvApN_pTiZ1z4uLL00BeLc9_sym45sHeFq7OIi9p8Q4cBPH-SkensF6kuVq9NcJDUmiWIuPky1OSLfbEG5tv5-Zi3SiSv2XsEKBOvUYxi-ScuNSIKumInepIDOPuqu_9g/s1600-h/%23artikelmanajemen-dog.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 162px; height: 134px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiSrqIbxN6v6ExvApN_pTiZ1z4uLL00BeLc9_sym45sHeFq7OIi9p8Q4cBPH-SkensF6kuVq9NcJDUmiWIuPky1OSLfbEG5tv5-Zi3SiSv2XsEKBOvUYxi-ScuNSIKumInepIDOPuqu_9g/s200/%23artikelmanajemen-dog.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382225887247656546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu Leila yang baik, membaca Rubrik Konsultasi tanggal 10 April lalu berjudul "Suami Suka Melecehkan Saya," saya bagai melihat potret diri saya. Suami saya punya gaya seperti itu, suka melecehkan, bahkan lebih hebring lagi, sebab satu paket keluarganya ”hobi” melecehkan, pihak menantu, besan, pihak ”luar” seperti saya. Dari kelas ringan (sayur kurang garam) sampai kelas berat (orangtua begini begitu, mengusir dan mengancam akan menceraikan). Suami juga suka sekali merendahkan saya di depan teman-temannya, saudara dia, dan saudara saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami baru tiga tahun menikah. Yang paling menyedihkan sebab suami seakan membuat stempel bahwa saya tidak dapat membahagiakan dia sebab penghasilan saya belum banyak dan tidak bisa menyetir. Dia pasti tidak mau melakukan yang Ibu sarankan untuk melihat berbagai kebaikan pasangan sebab dia selalu melihat gelas setengah kosong, tidak sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makian seperti goblok, tolol, tidak terdidik, tidak tahu aturan, sudah menjadi menu sehari-hari, yang suka atau tidak suka harus saya telan. Padahal saya tahu saya tidak tolol dan dungu sebab saya lulus dari perguruan tinggi yang baik dengan predikat cum laude dan mempunyai karier bagus di negeri sendiri. Juga orangtua saya terdidik, ayah doktor dan ibu saya insinyur teknik. Mereka mempunyai kedudukan bagus di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia saya mempunyai dua sopir dan 4 pembantu. Namun, semua itu saya tinggalkan sebab menikah dengan suami saya yang sudah hampir dua puluh tahun tinggal di sini dengan keluarganya. Baru sekitar tujuh bulan di sini saya mendapat pekerjaan, tidak banyak gajinya sebab pekerjaan ini bergerak di bidang sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atasan saya percaya pada kemampuan saya dan dia selalu bilang bahwa saya smart, clever, dan hard worker. Bahkan, kemudian saya dipromosikan bekerja di beberapa negara bagian lain dengan gaji lebih bagus, tetapi suami tidak setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua saya mendidik kami tidak boleh menghina orang lain, harus menghargai pembantu. Tidak pernah menyebut orang dengan anjing dan babi. Preman jalanan saja tidak disebut begitu, tetapi itu diucapkan buat istri di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akui banyak kesalahan kami berdua, yang sudah saya usahakan untuk meng-improve. Tetapi, sukar sekali sebab ada rasa marah, kekecewaan, dan saya tidak mau diinjak-injak terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kesalahan saya yang terbesar adalah dulu pacarannya jarak jauh. Saya tidak mengenal dia dari dekat. Kebaikan suami adalah dia pada dasarnya sangat penolong, apalagi buat orang lain. Tolong saya Bu Leila, apa yang dapat saya dan suami lakukan untuk menyelamatkan perkawinan ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun permulaan perkawinan adalah masa paling sukar sebab harus menyesuaikan diri hidup serumah dengan pasangan. Pada Anda terasa berlipat ganda beratnya sebab Anda belum mengenal dia secara riil, ditambah penyesuaian hidup di negara asing. Plus sikap suami dan kerabatnya yang hobi melecehkan pada saat Anda paling membutuhkan dukungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jangan putus asa Y, saya percaya Anda cerdas dan kuat. Cobalah kita lihat soal ini dengan lapang dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Anda lulus dengan cum laude di perguruan tinggi dalam bidang Anda, namun soal dapur, nyopir, dan kebiasaan hidup di negara asing, pengetahuan Anda masih beloon tulen. Seorang profesor lokal pun belum tentu tahu bagaimana caranya membuat scramble egg yang bisa dilakukan anak bule 10-an tahun.&lt;br /&gt;Siaplah belajar dari mereka yang sudah mahir dalam soal dapur, belanja murah, nyopir tanpa terkena denda. Belajarlah dengan kerendahan hati dan kesungguhan. Jangan sakit hati bila ditegur, ikut saja tertawa bila mereka menertawai ketololan diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ajaklah suami bekerja sama dalam usaha Anda meng-up grade diri. Tak usah marah kalau ditegur. Saya lihat seorang dokter spesialis yang terkenal di Indonesia berulang kali gagal mendapat SIM di Cambridge sebab tidak ada sogokan juga karena di sana setir kanan. Beruntung Anda mempunyai suami penolong.&lt;br /&gt;Mintalah bantuannya mendukung usaha Anda mempelajari banyak hal baru. Ahli perkawinan bilang, kita perlu mengungkapkan keinginan kita dan mengingatkan jika ada yang tidak beres. Namun, lakukanlah dengan bijak dan baik yang tidak membuat orang jengkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tentu sukar mengubah kebiasaan mereka dalam melecehkan orang, tetapi Anda tidak usah ikut begitu. Biasakanlah dengan komentar tentang ”setengah gelas penuh”, melihat yang baik-baik dari berbagai keadaan dan orang. Ini bagus buat kesehatan mental Anda sendiri dan juga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Latihan yang cocok buat kalian adalah saling mengenal lebih dalam dulu. Mengenal masa lalu masing-masing, sekarang, dan hari depan. Lika-liku ketakutan, kesenangan, dan impiannya. Misalnya dengan saling bertanya dan menjawab pertanyaan: siapa sahabat dekatnya ketika di SD? Pengalaman apa yang paling ditakuti ketika kecil? Apa yang paling menyenangkan dulu? Apa saja kegiatannya sehari-hari dan siapa teman-teman dekatnya di tempat kerja? Musik dan film apa yang paling disukai dan yang tidak? Impian dan cita-cita apa yang ingin dicapainya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunjukkanlah kemesraan dan kehangatan dalam sikap bersama pasangan. Bila rajin begitu lama kelamaan dia akan terpengaruh juga, menjadi lebih lunak hatinya, dan perkawinan kalian akan lebih mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leila Ch Budiman&lt;br /&gt;Sumber : Kompas Cybers Media&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiSrqIbxN6v6ExvApN_pTiZ1z4uLL00BeLc9_sym45sHeFq7OIi9p8Q4cBPH-SkensF6kuVq9NcJDUmiWIuPky1OSLfbEG5tv5-Zi3SiSv2XsEKBOvUYxi-ScuNSIKumInepIDOPuqu_9g/s72-c/%23artikelmanajemen-dog.bmp" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Minder Karena Penampilan</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/09/minder-karena-penampilan.html</link><category>Psikologi Remaja</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Mon, 28 Sep 2009 08:21:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-1724816559472758195</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgZAFwJNKAAdJSFZNjOzLJVzDSI4J1EkwmWqVRpk7bxjPX3kWcsuVZxcdJ4tdZmGB8tnPxuu4OLEj0FI4-w93klbWx3f_ANc3oy7eWnL2mTrzja8BuZU7Na5t6EaOvLIaQIrbkavEueXc/s1600-h/0507_jessica-alba-stewart-s89.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 178px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgZAFwJNKAAdJSFZNjOzLJVzDSI4J1EkwmWqVRpk7bxjPX3kWcsuVZxcdJ4tdZmGB8tnPxuu4OLEj0FI4-w93klbWx3f_ANc3oy7eWnL2mTrzja8BuZU7Na5t6EaOvLIaQIrbkavEueXc/s200/0507_jessica-alba-stewart-s89.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382243317046628322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Maya, aku seorang wanita berusia 24 tahun, sebentar lagi lulus kuliah. Sudah bertahun-tahun merasa tak bahagia dengan kondisi tubuh dan penampilan diriku yang tidak menarik. Terus terang, aku merasa diriku jelek, maksudku secara fisik, tidak cantik menarik seperti orang-orang lain. Gaya pakaian, make-up atau gaya rambut apapun yang kucoba-coba, rasanya nggak ada yang cocok, semuanya bikin aku tampil semakin aneh dan menyedihkan, sampai-sampai aku benci pada diri sendiri. Aku merasa tubuhku terlalu kurus dan tak berbentuk, belum lagi warna kulitku yang gelap dan kusam, pakai baju apa saja warnanya jadi mati dan nggak matching. Rambut juga tebal dan kaku sulit ditata. Yang paling menyedihkan, aku merasa wajahku tidak cantik, padahal mama dan papaku boleh dibilang cukup cantik/ganteng. Meski merasa berdosa karena tak mensyukuri pemberian Tuhan, tak bisa kuhindari aku sering iri dengan wanita-wanita lain yang bisa tampil seperti model, berkulit putih dan bersih, pakai apa saja kelihatan luwes sehingga bisa pede dan banyak teman. Sedangkan aku, selalu merasa nggak pede sehingga malas bersosialisasi. Aku pernah mengikuti perawatan kulit di klinik khusus, juga dulunya lumayan rajin ke spa untuk melakukan perawatan yang cukup mahal. Sekarang aku sudah malas dan berhenti di tengah jalan karena duit habis dan tak ada hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya stres banget mbak, aku nggak semangat menghadapi hidup, bahkan aku sebenarnya sangat malas kuliah dan bergaul. Tempat yang paling kusuka adalah kamar tidurku sendiri, dimana aku bisa bercermin dan menangis sepuasnya. Aku ingin keluar dari masalah ini, sebab aku tahu ini tidak sehat. Tapi bagaimana caranya mbak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dear Rosa, masalahmu bersumber pada persepsi dan penilaian subyektif yang negatif terhadap diri sendiri, yang membuatmu merasa berpenampilan fisik tidak menarik dan juga membuatmu berpikiran bahwa orang lain pun menganggapnya demikian. Padahal, itu belum tentu benar loh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari kekurangan diri sendiri sampai batas tertentu adalah baik, sehingga kamu tidak menjadi sombong dan narsis (memuja diri sendiri). Rasa tidak puas akan penampilan diri juga bisa menjadi pemacu untuk rajin merawat diri, berolah raga, memperhatikan diet dan gizi, serta menambah wawasan tentang trend mode dan tata rias agar bisa tampil lebih menarik. Namun, semua itu ada batasnya, jangan sampai menjadi obsesi yang menguasai pikiran, membuatmu merasa sangat tidak nyaman (bahkan benci!) dengan dirimu sendiri, akibatnya kamu stres dan jatuh ke dalam depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, ada istilah khusus untuk perasaan tidak nyaman yang ekstrim terhadap penampilan diri sendiri, yaitu Body Dysmorphic Disorder. Pada kondisi yang sudah tergolong gangguan atau patologis ini, penderitanya merasa sangat terganggu bahkan membenci penampilan fisiknya yang diyakini buruk, tidak menarik, sehingga ia merasa tertekan, stres dan mengalami depresi yang mengganggu kemampuannya berfungsi secara sehat dalam hidupnya (tidak bisa berpikir, bekerja, bersosialisasi atau menjalankan peran-perannya di dalam keluarga dan masyarakat). Tentu saja rasanya sangat menderita dan tak mungkin menikmati hidup dalam kondisi demikian. Padahal, biasanya kenyataan tidaklah seburuk yang si penderita pikirkan/rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Saya ingin mengajakmu berpikir kembali tentang hal-hal yang selama ini kamu yakini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;    Benarkah dirimu tidak menarik?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    Apa buktinya?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    Kerugian-kerugian apa yang timbul dari keyakinan itu? (pikirkan betapa banyaknya hal-hal yang tak kamu lakukan atau berusaha kamu hindari gara-gara berpikiran dirimu jelek)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    Benarkah tak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan? &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal mendasar yang perlu kamu renungkan kembali dan hayati:&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;    Usaha apapun yang kamu lakukan untuk mengubah penampilan tak akan berbuah hasil jika kamu tidak mengubah atau membuang dulu penilaian negatifmu terhadap diri sendiri. Akan sia-sia semua pakaian bagus, make-up tebal dan gaya rambut terkini yang kamu gunakan untuk menutupi ‘kekuranganmu’, jika jauh di dasar hatimu kamu tetap berkeyakinan bahwa ‘semua itu tak ada gunanya, tak akan berhasil membuat diriku lebih menarik’.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    Kecantikan fisik itu bukan segala-galanya dan sifatnya sangat relatif. Kebaikan, ketulusan dan kerendahan hati, budi pekerti dan kepekaan diri adalah hal-hal lain yang akan memberi nilai lebih dirimu di mata orang lain dan sifatnya lebih universal. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, coba lakukan hal-hal berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;    Bangunlah konsep diri yang lebih positif dan cobalah bersikap lebih obyektif dalam menilai diri sendiri. Kenali bakat-bakatmu dan coba terus kembangkan menjadi aktivitas yang positif bahkan berbuah prestasi yang dapat dibanggakan, agar kamu tak terus terpaku mencemaskan penampilan fisik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    Setiap individu adalah unik, begitu pun secara fisik. Daripada focus pada kekurangan dan mencari-cari bagian tubuh yang dirasa sempurna, coba temukan bagian-bagian dari wajah atau fisikmu yang unik, menjadi ciri khas atau menonjolkan karakter dirimu. Apakah mata yang besar atau sipit,  hidung yang mungil, bibir yang lebar namun memiliki garis senyum yang menawan, lesung pipit di pipi, warna kulit sawo matang yang manis, dan lain sebagainya. Kamu adalah unik tanpa perlu cantik sempurna!&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    Kendalikan dirimu untuk tidak terus-menerus bercermin, sebab hal itu hanya akan menambah kecemasanmu dan membuatmu semakin terpaku pada “kekurangan” mu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;    Dekatkan diri kepada keluarga dan orang terdekat (orang tua, saudara kandung, sepupu, pasangan, dsb.) dan berusahalah untuk menjalin persahabatan dengan orang-orang di sekitarmu (bisa teman kuliah, tetangga, sepupu, dsb), sebab mereka adalah sumber dukungan emosional yang amat berharga. Singkirkan rasa takut dicela, dihina, atau dinilai kurang, karena itu hanya akan membuatmu semakin menutup diri dan menghindari pergaulan. Cobalah untuk bersikap lebih terbuka, jadikan mereka tempat curhat untuk membicarakan emosi-emosi negatif yang kamu rasakan dan dengarkan saran-saran yang dapat menumbuhkan rasa percaya dirimu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;   Jika masalahnya dirasakan terlalu berat untuk diatasi sendiri, carilah bantuan profesional dengan berkunjung ke psikolog atau psikiater yang berpraktek di kotamu. Kamu bisa menjalani terapi untuk mengubah penilaian dirimu menjadi lebih positif, namun hati-hati jika memutuskan untuk menggunakan obat-obatan antidepresan untuk mengobati depresi. Pahami benar segala efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh pemakaian yang lama dan terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Memang, untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan konsep diri yang lebih positif dibutuhkan waktu dan proses yang tak mudah. Namun, cobalah bertahan dan bersabar, tanamkan keinginan yang kuat di dalam dirimu untuk bisa lebih mencintai dan hidup nyaman dengan diri sendiri. Percayalah Rosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maya Harry, Psi&lt;br /&gt;Sumber : Wanita Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgZAFwJNKAAdJSFZNjOzLJVzDSI4J1EkwmWqVRpk7bxjPX3kWcsuVZxcdJ4tdZmGB8tnPxuu4OLEj0FI4-w93klbWx3f_ANc3oy7eWnL2mTrzja8BuZU7Na5t6EaOvLIaQIrbkavEueXc/s72-c/0507_jessica-alba-stewart-s89.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">9</thr:total></item><item><title>Kehilangan Motivasi</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/09/kehilangan-motivasi.html</link><category>Psikologi Keluarga</category><category>Psikologi Pendidikan</category><category>Psikologi Remaja</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Mon, 28 Sep 2009 07:54:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-9020976519962305164</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEga7sbOLMezhhcPWqJLJD3qu0H6-HER_r7yfJzN8-Lk2BXQmiZyo3-BJX9FmSkJ3l6UmOAy09WSdCAGu08tl1jGmLUNVqfhcktauQMwWPqSz5mmLhqhuRrkNMxrbKhdiNO_xrVMkcVJymY/s1600-h/solowoman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 194px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEga7sbOLMezhhcPWqJLJD3qu0H6-HER_r7yfJzN8-Lk2BXQmiZyo3-BJX9FmSkJ3l6UmOAy09WSdCAGu08tl1jGmLUNVqfhcktauQMwWPqSz5mmLhqhuRrkNMxrbKhdiNO_xrVMkcVJymY/s200/solowoman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376667955158732210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin konsultasi. Sudah lama saya sering curhat mengenai masalah saya kepada teman, tetapi tidak ada hasilnya. Saya bingung, kenapa seakan-akan hidup ini tidak adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya frustasi karena kegagalan untuk mencapai target lulus kuliah 4 tahun yang menyebabkan orang tua saya kecewa karena harapannya hilang. Padahal saya yakin kalau saya bisa dalam pelajaran, namun saya merasa kenapa saya seakan-akan dihambat sehingga semua apa yang saya usahakan selama ini sia-sia. Saya benar-benar jatuh sekarang. Saya tidak tahu harus minta tolong kepada siapa lagi untuk mengembalikan motivasi saya yang telah hilang. Semoga jawaban ini nanti dapat sedikit mencerahkan diri saya. Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan memang sesuatu yang menyakitkan dan setiap orang pasti pernah merasakan kegagalan walaupun dengan kadar yang berbeda. Bahkan banyak di sekitar kita — tanpa kita sadari — orang-orang yang mengalami kegagalan dengan kadar yang lebih tinggi dari kira&lt;br /&gt;Yang harus kita pahami adalah bagaimana kita menyikapi kegagalan ini. Karena Anda menganggap beratnya masalah tersebut, Anda merasa menjadi orang yang “tak putus dirundung malang”, sehingga akhirnya menjadi apatis dan lemah semangat. Anda juga akhirnya bingung untuk memecahkan masalah tersebut. Sebenarnya, sikap apatis dan kebingungan tersebut tak perlu terjadi jika Anda tetap dapat berpikir jernih. Biasanya masalah menjadi terasa berat dan bingung untuk memecahkannya karena kita tak dapat memisahkan diri dari masalah tersebut dan terlalu terlibat secara emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika Anda mencoba “menjaga jarak” dari masalah dan mengendalikan emosi Anda, masalah akan terlihat lebih mudah untuk dicarikan solusinya. Dengan berpikir jernih, Anda dapat mengurai masalah secara lebih baik lagi. Anda dapat lebih mudah menemukan akar penyebab masalah. Dan dari akar penyebab itulah kemudian Anda mencoba mencari solusinya.&lt;br /&gt;Karena itu, jangan anggap berat masalah yang dihadapi agar Anda tetap dapat optimis dan semangat memecahkannya. Agar Anda tetap mampu berpikir jernih untuk mencari solusinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirkan kegagalan sebagai jalan untuk meraih keberhasilan.&lt;br /&gt;Memang, sesungguhnya semakin sering kita gagal, maka semakin tahu kita bagaimana cara memperoleh sukses. Sebaliknya, orang yang tak pernah gagal juga tak akan pernah tahu cara mencapai sukses. Hal inilah yang harus Anda camkan agar tak kecewa dengan kegagalan. Jika Anda gagal, buang jauh-jauh pikiran untuk tidak berani mencoba lagi. Justru Anda harus termotivasi untuk mencoba lagi karena Anda sebenarnya semakin dekat kepada keberhasilan.&lt;br /&gt;Suatu hal yang aneh jika Anda patah semangat karena gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan itu hanya menyakitkan pada awalnya, tapi setelah itu justru mengandung hikmah yang banyak. Anda akan tahu lebih banyak tentang bagaimana caranya memperoleh keberhasilan. Kegagalan sebagai jalan meraih sukses bukanlah kata-kata yang penuh retorika belaka, tapi sudah dibuktikan kebenarannya oleh sekian banyak orang-orang sukses. Orang tersebut misalnya, Nabi Muhammad saw, Thomas Alva Edison, Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Jack Canfield (penulis serial Chicken’s Soup), Billi PS. Lim (penulis “Dare to Fail”), dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda yakin bahwa kegagalan bukanlah gagal dalam pengertian sebenarnya, tapi “syarat” untuk meraih keberhasilan, maka Anda tidak akan pernah pesimis dengan kegagalan. Justru Anda akan bertambah semangat karena gagal. Bahkan jika kegagalan yang Anda alami semakin banyak, semakin bertambah besar semangat Anda untuk mencoba lagi. Sebab Anda yakin bahwa sebentar lagi Anda akan meraih kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satria Hadi Lubis&lt;br /&gt;Sumber : EraMuslim&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEga7sbOLMezhhcPWqJLJD3qu0H6-HER_r7yfJzN8-Lk2BXQmiZyo3-BJX9FmSkJ3l6UmOAy09WSdCAGu08tl1jGmLUNVqfhcktauQMwWPqSz5mmLhqhuRrkNMxrbKhdiNO_xrVMkcVJymY/s72-c/solowoman.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Bingung, Pilih Yang Intelek Atau Yang Mapan</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/09/bingung-pilih-yang-intelek-atau-yang.html</link><category>Psikologi Keluarga</category><category>Psikologi Remaja</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Sun, 27 Sep 2009 08:09:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-4363516628287393756</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTMP-tdU7fq2Wfi04dc8kls1L7zg1zxmZYjLIsLl3qtoz4rwv0qk-83ynjWYecMVNSan9cNpSYgSH84MI4vg-asTCpFXmK70OxOW2YKaoxulfzOfpCRO59R1Z9ycCn_OAwfwyyIue9pEg/s1600-h/monkeyyyh.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 196px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTMP-tdU7fq2Wfi04dc8kls1L7zg1zxmZYjLIsLl3qtoz4rwv0qk-83ynjWYecMVNSan9cNpSYgSH84MI4vg-asTCpFXmK70OxOW2YKaoxulfzOfpCRO59R1Z9ycCn_OAwfwyyIue9pEg/s200/monkeyyyh.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382239988252507474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seorang gadis (28), bekerja di bidang sales yang membuat saya harus bertemu banyak orang. Banyak bepergian ke luar kota, bahkan ke luar negeri, kalau kantor mengirim saya mengikuti pameran atau seminar yang dapat menambah wawasan. Kantor tempat saya kerja memang amat mendukung pengembangan karier saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, Bu, saya cuma lulusan semacam sekolah kepandaian putri, tetapi karena prestasi dan target selalu tercapai, saya disekolahkan hingga memperoleh gelar S-1. Kalau saya mau, saya juga diizinkan sekolah ke jenjang berikutnya, asalkan target penjualan tetap tercapai. Dibandingkan teman-teman yang masuk bersama saya, apa yang saya peroleh sudah amat lumayan, bahkan teman perempuan sudah drop out semua, karena kawin maupun karena tak bisa mencapai target.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacar serius saya adalah teman seangkatan yang kini sudah keluar dan membuka usaha sendiri di luar pulau Jawa. Memang sih kota besar, tetapi, kan tidak seperti di Jawa. Saya sudah beberapa kali liburan ke sana, tapi setelah 3 hari, saya pusing tujuh keliling, apa yang harus saya kerjakan? Tak bisa saya bayangkan, apa yang terjadi kalau saya juga harus tinggal di sana karena menikah dengan PS ini (pacar serius). Padahal, usahanya sudah mapan dan selama 7 tahun pacaran, sudah 3 tahun kami berpisah, tetapi tetap berhubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sudah mulai bicara tentang perkawinan, Bu, tetapi saya masih asyik dengan pekerjaan dan, yang satu ini, Bu, yaitu pacar iseng-iseng saya (PI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau PS adalah pekerja keras dan tukang jualan seperti saya, maka PI adalah pegawai kantoran (jangan ditulis ya, Bu aktivitas spesifiknya). Bukankah Ibu sepakat dengan saya kalau pekerjaannya tidak seperti saya yang kadang harus menjelajahi pertokoan, maupun pasar tradisional untuk berjualan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan PI, saya sudah dekat sejak 2 tahun terakhir, sehingga jujur hanya setahun saya "setia" sejak berpisah dengan PS. Di tahun kedua ia pindah, saya sudah akrab dengan PI. Dunianya sungguh berbeda dengan dunia saya. Ia serius, terpelajar, hobi membaca, mendengarkan musik klasik dan menonton pameran lukisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya diajak makan malam dengan teman-temannya, tidak di restoran cepat saji seperti yang selalu saya lakukan dengan PS yang serba praktis, sekalian mengunjungi outlet penjualannya. Kami pergi ke hotel bintang lima, makan sambil mendengar musik hidup. Pokoknya romantis dan intelek sekali rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pacaran dengan PI, saya jadi senang berdandan rapi, pandai membeli buku bagus, berdiskusi tentang topik yang sedang in, dan rasanya kebutuhan menambah wawasan juga bertambah. Kenapa saya tidak melepaskan PS? Karena, dalam memenuhi kebutuhan sebagai perempuan, saya merasa PS lebih mampu membuat saya merasa aman, terlindungi dan punya seseorang yang membimbing saya. Kekurangannya adalah ‘kurang keren’ dan tak se-intelek PI. Cemburunya juga membuat saya ge-er, gede rasa bahwa saya ini benar-benar dijaganya dengan baik. Pendeknya, saya tidak deg-degan dan bertanya-tanya dalam hati, apakah ia serius menganggap saya berarti baginya. Mungkin, ini juga yang membuat saya cenderung menggampangkan, PS ya, Bu. Kalau meremehkan, sih, saya rasa tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara PI, karena berjiwa modern, ingin agar saya benar-benar bisa merasa sejajar dengan dirinya. Berusaha demokratis dan tak pernah mencoba mengetahui sisi pribadi saya, kalau saya tidak memulainya. Misalnya, ia tak minta saya perkenalkan pada orang tua, tetapi tidak menolak ketika saya kenalkan. Ia selalu menjaga agar hidup pribadi saya, privasi saya, tidak terganggu olehnya. Juga tak bertanya mengenai masa lalu saya, karena ia juga tidak senang kalau saya mencoba menggali lebih dalam tentang masa lalunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia beranggapan, yang penting adalah masa kini dan yang akan datang. Karena kedua orang tuanya sudah meninggal dan saya tak tahu ia bersaudara berapa, saya praktis belum mengenal saudara PI sama sekali. Beda benar dengan PS yang sudah saya kenal seluruh keluarganya, bahkan juga kakek dan neneknya serta tetangganya di masa kecil, di kota kelahirannya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja PI lebih pandai membuat saya melambung ke langit dengan kiriman bunganya, kunjungan, dan hadiah yang penuh surprise dan kata-kata yang jelas mengekspresikan rasa cintanya pada saya. Yang ini, tak pernah terucapkan oleh PS. Kami lebih banyak bicara tentang bagaimana strategi penjualan yang dapat kami terapkan dalam pekerjaan, agar beroleh komisi tinggi dan cepat punya uang untuk bekal menikah. Tentang menikah, PI memberi ‘tanda’ secara tak langsung bahwa ia belum ingin terikat, karena ia keras sekali menganjurkan agar saya bersekolah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah saya jadi punya tiga pilihan, Bu? Menikah dengan PS, yang juga berarti karier saya selesai sampai di sini. Saya juga tidak suka membayangkan kalau setelah menikah masih harus berjauhan dengan PS. Kalau toh saya bekerja lagi, tampaknya ini berarti saya membantu bisnisnya. Dan saya pun harus tinggal di kota tempat PS sekarang berbisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melanjutkan sekolah, bisa mengandung konsekuensi kehilangan PS, karena ia sudah berkali-kali mengatakan sudah lelah berpacaran dan ingin cepat mapan berkeluarga. Walaupun kalau saya sekolah lagi, saya yakin wawasan saya akan bertambah baik dan bukan tidak mungkin, karier pun akan makin melejit. Di kantor saya belum ada perempuan berpendidikan S-2 di jalur sales ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih tetap berpacaran dengan PI tetap saja membuat saya gamang, karena tidak merasa 100 persen yakin bahwa saya ini bukan teman isengnya, melainkan ia punya niat serius pada saya. Mudah-mudahan, saya bukan tipe perempuan yang takut dikejar usia, Bu, tetapi kalau harus begini-begini terus untuk 3 atau 4 tahun mendatang, sementara ada pria yang mapan dan jelas-jelas mencintai saya dan mengajak kawin, bukankah tolol namanya kalau saya memilih berada dalam ketidakpastian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, makin lama saya makin merasa bahwa beban ini berat, Bu, sehingga akhir-akhir ini di pekerjaan juga mulai tidak fokus. Saat bersama PS pun terkadang ada rasa bersalah, sementara sewaktu bersama PI juga bertanya-tanya, dia ini sebenarnya siapa? Karena upaya saya untuk mengenali lebih jauh dirinya selama ini tak membuahkan hasil apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Rieny bantu saya, ya? Terimakasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang masih punya peluang untuk memilih biasanya adalah orang yang berbahagia, karena ada banyak perempuan yang merasa tak punya pilihan dan kemudian menjalani hidupnya dengan penuh keterpaksaan. Ternyata, punya banyak pilihan juga memberi peluang untuk bingung, ya Linda? Bingung karena tampaknya di semua alternatif pilihan yang tersedia, Linda tetap saja punya unsur ketidakpastian. Namanya juga bicara soal manusia, memang tak mungkin ada yang 100 persen pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, adalah juga sebuah kenyataan bahwa lebih banyak manusia yang memilih dan kemudian tidak menyesali pilihannya, dibanding mereka yang dapat dikatakan ‘salah pilih’. Kenapa? Coba, deh Linda cermati, bukankah Linda akan mendapati bahwa mereka yang tergesa-gesa membuat keputusan, artinya tidak disertai keinginan untuk mencari informasi terkait sebanyak mungkin, sekaligus jujur terhadap diri sendiri, biasanya akan merasa salah pilih. Kenapa? Karena sewaktu menetapkan pilihan itu ia tak menelaah secara baik, kebutuhan apa di dalam dirinya yang akan terpenuhi dengan menjatuhkan pilihan tadi. Kalau memilih atau memutuskan sesuatu lebih karena desakan hal-hal di luar diri, besar pula kemungkinan untuk salah pilih. Dan lebih parah lagi kalau ternyata malah orang lain yang memilihkan untuk kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan dengan pilihan yang menyangkut keputusan penting dalam hidup, yang paling dulu harus Anda pahami dengan benar adalah diri Anda sendiri. Kalau kita menyebut L dan I dan N dan D dan A yang jago jualan itu, sebenarnya kita sedang bicara tentang sosok yang seperti apa? Apa yang ia jadikan tujuan hidupnya, apa yang ia inginkan untuk masa depannya, bagaimana cara ia ingin mencapainya? Lebih penting lagi, apa yang menjadi kelebihan dan apa pula kelemahan dan kekurangannya sebagai manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, untuk yang namanya perkawinan, bagaimana ‘seorang Linda’ menghayati dan memberi makna pada ikatan itu? Makin jelas jawabannya, makin tahulah Linda menempatkan dirinya dalam kancah pilihan-pilihan hidup yang harus diambil. Linda akan dikatakan memilih dengan benar dan bijaksana, kalau ternyata lebih banyak sisi positif yang menyertai keputusan atau pilihan yang akhirnya Linda ambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana agar pilihan itu tidak meleset jauh dari apa yang Linda pikirkan dan harapkan di masa depan? Jawabannya kembali ke diri Linda lagi. Makin tahu apa yang akan Linda peroleh dengan memilih salah satu itu, makin mantap Linda kelak menjalaninya. Titik paling rawan sebenarnya ada di sini, karena manusia (terutama perempuan) banyak sekali membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupnya atas dasar keyakinan dan pemahaman yang tidak realistis tentang kenyataan yang tersaji di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang memilih pasangan, misalnya. Kalau Linda pada dasarnya adalah perempuan romantis yang mengharapkan akan terpenuhi kebutuhan romantismenya melalui perkawinan, salah besar bila memilih PS yang tampaknya (seperti kebanyakan pria) adalah sosok yang praktis-praktis saja dalam memandang hidup dan perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, kalau Linda yakin bahwa dengan sebuah perkawinan akan memperoleh kebutuhan menjalin kebersamaan dengan seseorang, sekaligus memenuhi kebutuhan untuk sandang, pangan, papan dan lebih jauh lagi kepastian bahwa suaminya tak mudah jatuh cinta pada perempuan lain, kurang bijak bila memilih pria yang lancar sekali mulutnya mengeluarkan rayuan-rayuan yang membuai perempuan ke langit. Biasanya, pria begini mudah pula mengulang hal yang sama pada perempuan lain yang sedang digandrunginya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan faktor-faktor di diri pasangan atau calon teman hidup? Perlu jelas kita ketahui bagaimana ia memaknai sebuah perkawinan. Apa arti menikah untuk pacar kita? Kalau kita punya banyak kesamaan di sini, akan lebih mudah untuk memproses rasa saling memahami antara keduanya, ketimbang kalau pemahaman tentang sebuah perkawinan itu berbeda jauh antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, karena ini akan menjadi kontrak berjangka panjang, bahkan seumur hidup (bukankah harapan kita bila menikah adalah sekali untuk sepanjang hidup), ingat-ingat pula bahwa manusia selalu berubah dan berkembang. Akankah kita, suami dan istri, berkembang bersama hingga 10 atau 15 tahun lagi, tidak tercipta kesenjangan akibat tingkat pendidikan, latar belakang, minat maupun keterampilan mencari uang yang berbeda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia Anda, mestinya aspek-aspek yang saling terkait juga sudah makin kompleks. Ada karier di sana, ada pula kebutuhan untuk menambah gelar, sementara dalam pekerjaan sendiri, kalau gelar bertambah, Anda pasti memperoleh peluang yang lebih besar. Bagaimana lalu Anda mengompensasikan peluang-peluang ini, sekiranya ini lalu hilang karena Anda harus ikut suami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tidak bertanya pada saya, bagaimana kalau saya menjadi Linda, apa keputusan yang akan saya ambil? Tetapi, saya ingin berbagi, bagaimana kalau saya menjadi Linda. Yang pertama, saya akan mengatakan pada diri saya, ‘’Kayaknya saya belum punya cukup kadar kesetiaan pada pacar saya. Buktinya, aku pacaran lagi begitu si PS jauh." Lalu, saya juga akan putuskan hubungan dengan PI, karena toh saya juga tidak kunjung merasa mantap berjalan beriringan dengannya. Buktinya, saya tetap saja mempertahankan PS-ku nun jauh di luar pulau. Tidakkah ini berarti bahwa ia juga punya arti yang sebanding dengan PI yang tampak intelek ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya jadi Linda, saya juga akan berpikir keras, jangan-jangan saya bukannya suka dan jatuh cinta, tetapi karena PI bisa menyajikan pengalaman yang sama sekali berbeda dengan apa yang saya jalani selama ini dengan PS, maka saya terkagum-kagum sekaligus tersanjung. Dekat dengannya lalu menimbulkan rasa nyaman, tetapi mungkiiiiin, ini bukan cinta, lho. Cuma sesuatu yang berbeda saja dari apa yang dialami dan dijalani selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bukankah ini lalu akan membawa Linda ke pemikiran tentang apa CINTA itu sebenarnya? Buat deh daftarnya, perasaan yang menyertainya, dan seberapa PI maupun PS bisa memenuhinya. Kalau semuanya ternyata tidak memberi keyakinan yang cukup memadai, tak apa juga, kan kalau tidak memilih dua-duanya dan sekolah lagi? Wah, kalau tentang yang ini, jangan ikut-ikut kata saya, ya Linda, karena kata akhir harus tetap Linda yang menentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, apapun risiko yang kelak ditimbulkan oleh pilihan ini, Linda tak akan menyalahkan siapa-siapa, melainkan diri Linda sendiri. Bagaimana kalau kali ini "ilmu sales"nya dipakai? Satu pertanyaan saja yang dijawab Linda sayang, kenapa orang memutuskan untuk membeli? Bukankah mestinya bukan hanya karena SUKA? Nah, mudah-mudahan Linda juga teliti sebelum membeli, eh salah, sebelum membuat pilihan. Salam sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rieny&lt;br /&gt;Sumber : Nova&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTMP-tdU7fq2Wfi04dc8kls1L7zg1zxmZYjLIsLl3qtoz4rwv0qk-83ynjWYecMVNSan9cNpSYgSH84MI4vg-asTCpFXmK70OxOW2YKaoxulfzOfpCRO59R1Z9ycCn_OAwfwyyIue9pEg/s72-c/monkeyyyh.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Masa Lalu Suami</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/09/masa-lalu-suami.html</link><category>Psikologi Keluarga</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Sun, 27 Sep 2009 07:16:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-334167255600374944</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7zOXnAw1LVnIS5JZ6v0O6GNttRzgUz6My5KYHjKZFt5GkFsF5s5xBKM0IVjs2AEODsbmisrgAARmXang2V04Rj3dxsxnZ-Yh3GUKay1BASQniBuaMllwEr0QuW0acAHo3xlcQwiwX6xQ/s1600-h/funny_animals_pictures_01.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 198px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7zOXnAw1LVnIS5JZ6v0O6GNttRzgUz6My5KYHjKZFt5GkFsF5s5xBKM0IVjs2AEODsbmisrgAARmXang2V04Rj3dxsxnZ-Yh3GUKay1BASQniBuaMllwEr0QuW0acAHo3xlcQwiwX6xQ/s200/funny_animals_pictures_01.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382224805608076402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berusia 30 tahun, istri saya 30 tahun. Kami menikah tiga tahun lalu, kini dikaruniai satu anak. Saya selalu penasaran perihal masa lalunya dengan para mantan pacarnya. Awalnya dari sisi psikologis saja tetapi akhirnya saya ingin tahu juga apa yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadiannya bermula ketika saya melihat foto-fotonya sewaktu kuliah bersama orang-orang yang menjadi pacarnya dan halaman persembahan skripsinya yang membikin saya cemburu dan tidak enak hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia dua kali pacaran. Dengan si A, dia sangat mencintainya dan pacaran berlangsung selama 1.5 tahun. Keduanya putus gara-gara orang tua si A melarang anaknya pacaran (kuliah dulu baru pacaran). Tak lama kemudian ketemu si B saat KKN. Saya adalah pendatang baru dan kenal dengan istri saat dia masih pacaran dengan si B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kenal dengan istri saat kami menjadi karyawan baru di perusahaan dan departemen yang sama. Istri saya masih pacaran dengan si B dan saya menjadi tempat curhat kalau dia sedang bermasalah dengan si B. Dia lalu merasa lebih cocok dengan saya dan memutus B kalau saya mau jadi pacarnya. Si B dinilai tingkat IQ-nya rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua informasi itu telah saya dengar saat pacaran dan saya memakluminya, tidak mempermasalahkan. Tetapi setelah melihat foto-foto yang begitu mesra (yang tidak pernah kulihat selama ini), dan surat persembahan skripsi dari si B yang mengandung makna yang sangat dalam, saya sangat penasaran untuk mengatahui apa saja yang pernah mereka lakukan pada saat pacaran. Saya ingin tahu detil-deteilnya dan semakin detil semakin saya sangat sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar hal itu sebenarnya nggak boleh dilakukan, tetapi saya nggak bisa mengelak rasa ingin tahu saya. Ini sangat menguras energi, dan istri merasa sangat dipojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang memang menyudutkan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara menghilangkan rasa ingin tahu saya tentang masa lalunya. Istri selalu menjawab dengan jujur dan justru membuat saya sangat sakit (misalnya dia pernah dipeluk dan dicium si A di tempat parkir dsb…dsb..). Bagaimana saya bisa menganggap bahwa hal itu adalah sesuatu yang biasa pada saat pacaran, sehingga saya bisa menerima dengan jiwa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara SA yang cemburu,&lt;br /&gt;Sepertinya sikap Anda berkaitan dengan perasaan bersalah yang Anda tidak sadari. Saya simpulkan dari kalimat Anda yang mengatakan, "..saat itu istri masih pacaran dengan si B…..dan akan memutuskan B kalau saya mau jadi pacaranya…." Perasaan negatif seperti cemburu, was-was, ragu-ragu, dan sebagainya memang akan menguras energi Anda karena hanya cinta bebas syarat (unconditional love) yang dapat menambahkan energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto-foto yang Anda lihat dan persembahan dalam skripsi sebenarnya fakta-fakta yang bersifat "netral" tetapi karena kekhawatiran Anda sendiri terhadap kemampuan Anda untuk tetap mempertahankan cinta istri, itulah yang membuat Anda mempunyai persepsi bahwa istri lebih mesra dan nikmat dengan pacar-pacar yang terdahulu. Mungkin juga dalam hubungan suami istri, Anda menangkap , tetapi tidak pernah menanyakan secara langsung, bahwa istri Anda kurang menikmatinya. Hal ini dapat mempengaruhi rasa PD (percaya diri) laki-laki, sehingga curiga bahwa istri pernah lebih enjoy di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya anjurkan, Anda tidak lagi mendedes atau mengincar karena dapat BENAR - BENAR MENGGANGGU KENIKMATAN istri (frustrasi) dan dapat menjauhkan istri dari Anda (meski fisik dekat tetapi secara batin tertekan. (Istri sudah usaha apa adanya…koq masih kurang dipercaya). Apalagi yang Anda permasalahkan adalah masa lalu, Anda tidak meng-inden istri dari lahir…tidak adil mempertanyakan sesuatu yang terjadi sebelum kenal dengan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya, dengan menyadari bahwa bila kita melihat kesalahan pada orang lain (istri), sebenarnya semua itu adalah cerminan dari kekurangan yang tidak disadari, dirasakan ada pada diri kita, jadi jangan-jangan Anda yang kurang puas karena membanding-bandingkan dengan pengalaman pribadi di masa lalu. Silahkan simak dan utarakan secara terbuka keraguan Anda, tentu dengan sikap santun. Jalinlah kedekatan berdasarkan sikap saling percaya, sayang 'kan, anak baru satu koq sudah amblas rumah tangganya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pamugari Widyastuti&lt;br /&gt;Sumber : Kompas Cyber Media&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7zOXnAw1LVnIS5JZ6v0O6GNttRzgUz6My5KYHjKZFt5GkFsF5s5xBKM0IVjs2AEODsbmisrgAARmXang2V04Rj3dxsxnZ-Yh3GUKay1BASQniBuaMllwEr0QuW0acAHo3xlcQwiwX6xQ/s72-c/funny_animals_pictures_01.gif" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tujuan Hidup</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/09/tujuan-hidup.html</link><category>Psikologi Keluarga</category><category>Psikologi Remaja</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Sat, 26 Sep 2009 08:06:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-8787097486732906382</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSOCeFd8wApIfaZcN7PAUWQT60euM4_kwTnQx6iB6ghkx2SX7ZL_TGXZBMZ_DkZE3iGvGbPqK-5uZXcdWdKeih5UOjV_InSYeKC9DI7oSmKtfEUMjuhCTlPCVhfgoB_Tju4vKf6HW8Big/s1600-h/abeeflower5465.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSOCeFd8wApIfaZcN7PAUWQT60euM4_kwTnQx6iB6ghkx2SX7ZL_TGXZBMZ_DkZE3iGvGbPqK-5uZXcdWdKeih5UOjV_InSYeKC9DI7oSmKtfEUMjuhCTlPCVhfgoB_Tju4vKf6HW8Big/s200/abeeflower5465.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382237092212657970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah laki-laki berusia 21 thn. Pada dasarnya saya hidup dari keluarga yang taat beragama, namun dahulu saya adalah orang yang suka melakukan perbuatan dosa dan suka terbuai oleh dunia (pemuja cinta pada selain Allah) dan bahkan dengannya (cinta) saya jadikan sebagai penyemangat hidup saya. HIngga saat ini saya masih mencoba dari waktu ke waktu untuk terus memperbaiki niat, diri dan bertobat kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun semakin saya mendekatkan diri padaNya, seakan dunia tidak lagi menjadi terlalu menarik di mata, hati dan hasrat saya. Sehingga saya hanya ingin mendekatkan diri pada Allah saja, dan bahkan sempat terlintas keinginan untuk menjadi sufi. Namun saya teringat akan Hadits rasul untuk menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saya seakan tidak dapat menentukan arah tujuan dan harapan yang dapat menjadikan saya bersemangat dari waktu ke waktu dan sesuatu hal sbg motivator utk saya kejar dari waktu ke waktu. Sehingga jiwa saya seakan menjadi hampa tanpa ambisi atau tujuan, dan hanya mengikuti arah hidup yang mengalir saja. Pertanyaan saya adalah:&lt;br /&gt;1. Apakah yangsaya rasakan ini? Hingga kini pun saya blum dpt mendefinisikannya?&lt;br /&gt;2. Solusi apa yang terbaik bagi saya?&lt;br /&gt;3. Dan tujuan apakah yang plg terbaik bagi hambaNya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ananda Adha yang saya hormati, sebelumnya salut buat Anda yang dapat memahami serta merubah hidup menuju yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati dan menjalani kehidupan ini diawali dari cara pandang kita tentang kehidupan ini. Bagaimana kita memaknai hidup yang dijalani serta prosesnya. Dan manusia diciptakan oleh Sang Khaliq adalah untuk kemaslahatan. Bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain dan lingkungannya. Allah tidak hanya menyuruh manusia untuk mengerjakan sholat semata dan ibadah-ibadah individual lainnya, tetapi juga diminta untuk mengerjakan amalan-amalan sosial seperti, berzakat, infaq, amal ma'ruf nahi munkar serta memahami penciptaan-penciptaan lainnya. Oleh karenanya Allah menjadikan manusia sebagai Khalifah di muka bumi ini serrta menjadi rahmat bagi alam semesta (QS. 21: 107). Dan Rasulullah pun menegaskan dalam sebuah haditsnya “Yang terbaik di antara kalian adalah orang paling bermanfaat bagi orang lain”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, perbaiki paradigma hidup kita bahwa yang utama dalam hidup ini adalah penekanan pada proses untuk kehidupan yang lebih baik. Walau bukan berarti niat dan tujuan yang disepelekan. Tabungan amal sholeh adalah yang utama, apalagi dapat meninggalkan warisan bermakna bagi generasi penerus kita sebagaimana para pendahulu kita yang mewariskan berbagai ilmu sehingga kita mudah untuk lebih mendekatkan diri pada Allah dengan amal shaleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warisan bermakna yang akan membuat kita bahagia di dunia dan tersenyum senang di akhirat kelak. Seperti yang dikatakan Sayyid Quthb ketika ia akan menghadapi kematian di tiang gantungan, “Kebahagiaan yang sesungguhnya aku rasakan adalah ketika aku merasa yakin bahwa aku telah meninggalkan sesuatu yang berharga bagi generasi penerusku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satria Hadi Lubis&lt;br /&gt;Sumber : EraMuslim&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjSOCeFd8wApIfaZcN7PAUWQT60euM4_kwTnQx6iB6ghkx2SX7ZL_TGXZBMZ_DkZE3iGvGbPqK-5uZXcdWdKeih5UOjV_InSYeKC9DI7oSmKtfEUMjuhCTlPCVhfgoB_Tju4vKf6HW8Big/s72-c/abeeflower5465.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Menyiasati Keinginan Suami</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/09/menyiasati-keinginan-suami.html</link><category>Psikologi Keluarga</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Sat, 26 Sep 2009 07:48:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-6514241819488482555</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPSCuL26DvV3bxQTjJKO3hdL_BtEcyPDIjN5fYu1XBVYT2AfAnYz9WYdH9kXkjnWzzngzO3Z_kUamngnrjjfoX5vtvqT4AgPGTSHPTkjjZ1oNnZqprsymfIh516sspfVnZQ9b5uI4CX8g/s1600-h/artikelmanajemen-love21.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 132px; height: 126px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPSCuL26DvV3bxQTjJKO3hdL_BtEcyPDIjN5fYu1XBVYT2AfAnYz9WYdH9kXkjnWzzngzO3Z_kUamngnrjjfoX5vtvqT4AgPGTSHPTkjjZ1oNnZqprsymfIh516sspfVnZQ9b5uI4CX8g/s200/artikelmanajemen-love21.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376666521029382098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu'alaikum Wr Wb,&lt;br /&gt;Saya seorang ibu rumah tangga yang telah empat tahun menikah. Akhir-akhir ini suami rajin mengikuti pengajian. Ia pun mulai berubah. Ia pun menjadi selalu tegas dalam masalah Islam, seperti mengharuskan wanita memakai kaos kaki dan jilbab yang lebar, yang intinya harus menutup semua aurat. Saya jadi agak tertekan dengan keharusan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya sudah terbiasa dengan jilbab. Tapi memakai kaos kaki dan jilbab besar, membuat keluarga saya kurang menerima. Alasannya, mereka takut masyarakat memandang saya orang ekstrem. Namun demi menaati perintah suami, sedikit demi sedikit saya coba memakainya hingga akhirnya terbiasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya agak risih dengan cemoohan dari luar dan dari keluarga saya. Menurut Aa, apakah saya harus menuruti suami atau menuruti keinginan orangtua? Bagaimana baiknya?&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa'alaikumussalam Wr Wb,&lt;br /&gt;Salah satu kunci menjalani hidup dengan enak adalah memiliki ilmu. Idealnya, Ibu jangan beramal karena suami, namun beramal karena landasan ilmu. Ilmu tersebut kita dapatkan dengan banyak belajar, bisa lewat buku, radio, pengajian, televisi, dsb. Bila tahu ilmunya, maka amal yang kita lakukan akan lebih menenteramkan hati. Keputusan yang diambil pun akan lebih tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taat kepada suami hukumnya wajib, selama tidak melenceng dari aturan agama. Apa yang diperintahkan suami agar Ibu menutup aurat, insya Allah baik dan sesuai aturan agama. Masalahnya, mungkin cara penyampaiannya kurang bijak dan Ibu pun belum memahami aturan tersebut. Saran Aa, perbanyak menjalin komunikasi dengan suami. Setelah itu bantu orangtua agar paham. Di sinilah pentingnya berdakwah dan menjalin silaturahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan tengahnya adalah bagaimana Ibu bisa menutup aurat dengan baik tanpa orang lain curiga. Yang terpenting penuhi dulu syarat berjilbab, seperti tidak ketat, tidak transparan, dan menutup seluruh bagian tubuh, kecuali muka dan telapak tangan. Modelnya bisa disesuaikan dengan kondisi masyarakat sekitar. Wallaahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH Abdullah Gymnastiar&lt;br /&gt;Sumber : Republika Online&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPSCuL26DvV3bxQTjJKO3hdL_BtEcyPDIjN5fYu1XBVYT2AfAnYz9WYdH9kXkjnWzzngzO3Z_kUamngnrjjfoX5vtvqT4AgPGTSHPTkjjZ1oNnZqprsymfIh516sspfVnZQ9b5uI4CX8g/s72-c/artikelmanajemen-love21.bmp" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sudah Berencana Poligami</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/09/sudah-berencana-poligami.html</link><category>Psikologi Keluarga</category><category>Psikologi Remaja</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Fri, 25 Sep 2009 07:49:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-1490697999888417631</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqI8ZKz9fds3tOD1e8AikNUL-gEEu51ZTnBBjfYHN-v6hX3bumi499rinYjHSoZ8jyR-zEfbxwbOBi14CiqJK1ZR8PAIHOWKni1aOGDyBPDw_rjDRv2Zr3p3smC7bGMEa4DWEYwIb1JYo/s1600-h/1000259p.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 167px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqI8ZKz9fds3tOD1e8AikNUL-gEEu51ZTnBBjfYHN-v6hX3bumi499rinYjHSoZ8jyR-zEfbxwbOBi14CiqJK1ZR8PAIHOWKni1aOGDyBPDw_rjDRv2Zr3p3smC7bGMEa4DWEYwIb1JYo/s200/1000259p.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382232885325610274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu'alaikum&lt;br /&gt;Saya, ingin menikah dengan pacar saya, tetapi saya selalu punya pikiran untuk berpoligami. Salahkan bila saya katakan pada kekasih saya sebelum menikah, bahwa saya ingin berpoligami kelak? Karena teman-teman di kantor saya banyakyangmenikah diam-diam tanpa sepengetahuan isteri tuanya. Sementara saya, saya ingin jika saya berpoligami, isteri pertama saya harus tahu. Bagaimana hukumnya berpoligami itu?&lt;br /&gt;Trimakasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang ketika berencana untuk berumah tangga, sudah sewajarnya untuk mempersiapkan dirinya. Bukan saja mempersiapkan dari segi keuangan semata tetapi segi fisik dan mentalpun harus juga menjadi perhatian bagi kedua belah pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya adalah bahwa sebelum melangsungkan pernikahan, hendaklah para calon mempelai mempunyai pemahaman yang utuh tentang membangun sebuah rumah tangga. Itulah mengapa biasanya KUA mengundang kedua calon mempelai untuk mendengarkan nasehat perkawinan sebelum acara pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan berumah tangga antara lain adalah terbentuknya keluarga yang sakinah, mawaddah warrahmah serta anak-anak yang sholih dan sholehah sebagai pelanjut keturunan orang tuanya dan generasi bagi agama dan bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya saudara RHD, sebelum Anda hendak berpoligami, apakah Anda yakin bahwa hal itu akan mengekalkan tujuan rumah tangga yang akan Anda bangun? Akankah tercipta kebahagiaan, ketenangan, ketentraman dan kasih sayang yang kan menghiasi keluarga Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran saya sebaiknya Anda lebih dahulu memfokuskan orientasi Anda kepada bagaimana membangun keluarga idaman, bahagia dengan anak-anak yang tidak hanya berbakti pada orang tua tetapi juga cerdas dan dapat menjadi 'orang' bagi bangsa dan agamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah wujud dari sebuah tanggung jawab laki-laki yang berperan ganda baik sebagi suami, Bapak dan kepala keluarga. Dan jika seseorang benar-benar memikul tanggung jawab ini, dengan satu orang isteri saja kiranya harus mempunyai 'semangat jihad' yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun secara hukum tidak ada larangan seseorang untuk berpoligami tetapi banyak larangan bagi orang-orang yang menelantarkan anak dan keluarga, berlaku tidak adil (zhalim), sombong dan angkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada yang berpendapat untuk mengikuti cara nabi Muhammad, maka hendaklah ia terlebih dahulu membaca dan menelaah kehidupan beliau secara lengkap dan menyeluruh, saat kapan, bagaimana dan mengapa beliau berpoligami.&lt;br /&gt;Wallahu'alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satria Hadi Lubis&lt;br /&gt;Sumber : EraMuslim&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqI8ZKz9fds3tOD1e8AikNUL-gEEu51ZTnBBjfYHN-v6hX3bumi499rinYjHSoZ8jyR-zEfbxwbOBi14CiqJK1ZR8PAIHOWKni1aOGDyBPDw_rjDRv2Zr3p3smC7bGMEa4DWEYwIb1JYo/s72-c/1000259p.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Bingung dengan Calon Suami</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/09/bingung-dengan-calon-suami.html</link><category>Psikologi Keluarga</category><category>Psikologi Remaja</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Fri, 25 Sep 2009 07:11:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-1551867710309682363</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsBtjNCg2_604-fxdrXoazo6pvmNmKghRHHxzN4nKyvynokeH-SZFNtru1lY1a3DU7-l2H1tjBQEV-F7Nh8G6OHZCfqr2I8NUsSQwkB-bfsDVakMR6sw5bcdRw7KBYeykXtLsLZgWuAn4/s1600-h/beauty6571212197p.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 151px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsBtjNCg2_604-fxdrXoazo6pvmNmKghRHHxzN4nKyvynokeH-SZFNtru1lY1a3DU7-l2H1tjBQEV-F7Nh8G6OHZCfqr2I8NUsSQwkB-bfsDVakMR6sw5bcdRw7KBYeykXtLsLZgWuAn4/s200/beauty6571212197p.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382223283244137634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aa, saya seorang wanita berusia 31 tahun. Sekarang saya bekerja sebagai seorang dosen dan tengah menempuh program S2. Sebelum melanjutkan S2, saya telah diperkenalkan dengan seorang pria berusia 34 tahun lewat telepon. Ia berpendidikan SLTA dan sekarang bekerja di salah satu hotel bagian marketing.&lt;br /&gt;Sampai saat ini saya masih menganggap dia sebagai teman, dan saya pun masih sering dihubungi via telepon. Sebelum bertemu, saya juga sudah mencari info tentang dia dan keluarganya. Ketika dikenalkan sudah ada arahannya bahwa dia sedang mencari seorang istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri tidak mau salah dalam memilih jodoh, karena itu saya cari info tentang dia. Sejauh ini setiap orang yang saya tanya mengatakan bahwa ia cukup baik dan mensuport supaya kami berlanjut untuk menikah. Keluarga kami bahkan sudah saling kenal. Sampai saat ini kami hanya dua kali bertemu. Ada beberapa hal yang selalu menjadi pertanyaan saya, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum tahu penuh tentang kualitas agamanya karena saya hanya dua kali bertemu dia. Apakah tidak masalah bila seorang kepala rumah tangga pendidikannya lebih rendah dari istrinya? Apakah tidak masalah dalam agama kalau orang bekerja di hotel?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mohon bimbingan dan bagaimana baiknya. Saya tidak tega untuk berkata secara langsung karena saya tidak ingin dia dan keluarga kecewa, selain saya tidak tahu apakah dia jodoh saya. Selama ini setiap yang dikenalkan kepada saya ada saja kendalanya (kadang saya tidak cocok dianya mau dan sebaliknya saya cocok dianya tidak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya juga tidak mau menanggung keraguan dan salah dalam memilih jodoh. Dan kalau saya harus putus saya juga tidak tahu bagaimana mengemukakannya pada dia. Terimakasih atas bimbingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memutuskan masalah ini, alangkah baiknya bila kita mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang dia. Bisa dari orangtuanya, saudaranya, teman-temannya, atau bisa pula langsung kepada dirinya–tentu dalam kondisi yang tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari orang-orang terdekatnya kita bisa mengetahui sejauh mana kualitas keimanan dan prilakunya sehari-hari, walau mungkin tingkat subjektifitasnya cukup tinggi. Semakin banyak informasi dan data-data akurat yang kita miliki, maka insya Allah kita akan semakin arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah penting, berdoalah kepada Allah. Mohonlah petunjuk dan bimbingan-Nya agar kita tidak salah dalam memilih. Kalau seandainya dia memang jodoh kita yang akan membawa kebaikan dunia akhirat, maka mintalah agar dimudahkan. Tapi bila dia bukan jodoh kita, minta pula kepada Allah agar diberi yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya kita berketetapan untuk menolak lamarannya, maka tolaklah dengan cara terbaik. Kita jangan ragu untuk mengatakannya, karena kepastian dan kejelasan akan membawa ketenangan. Tapi kalau kita menerima, maka segeralah menikah karena itulah jalan terbaik untuk menjaga diri dari maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, idealnya kita menikah dengan seseorang yang sekufu atau sebanding, baik dari segi penghasilan ataupun pendidikan. Meskipun demikian, bukan sesuatu yang buruk bila calon suami kita pendidikan atau penghasilannya lebih rendah dari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asalkan ia mampu menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami. Mungkin kelebihan kita tersebut bisa menjadi kebaikan karena bisa melengkapi kekurangan suami. Betapa banyak pasangan yang sukses menjalani kehidupan rumah tangga padahal sang istri pendidikan dan penghasilannya lebih tinggi dari suaminya. Jadi yang berperan dalam maslaah ini adalah faktor mental dan tingkat keimanan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, setiap terjadi peningkatan penghasilan, status, atau gelar, akan melahirkan nuansa penilaian diri yang meningkat. Kalau semua ini tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas iman, maka kesombongan diri yang akan muncul. Ciri kesombongan itu ada dua, yaitu: mendustakan kebenaran dan merendahkan orang lain. Ia merasa punya nilai sendiri yang lebih tinggi dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pangkat naik, penghasilan naik, status meningkat, dan kita makin alergi terhadap nasihat dan kebenaran, maka percayalah, kita telah jatuh pada kesombongan tersebut. Harusnya, makin naik kedudukan, makin rendah hati, makin kuat mental. Kita harus seperti padi, makin berisi makin merunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula seorang istri yang penghasilannya lebih besar dan pendidikannya lebih tinggi dari suaminya. Jelas itu cobaan dari Allah, apakah dalam keadaan itu ia bisa tetap hormat dan mengabdi kepada suaminya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita diperbolehkan kerja di mana pun juga, selama pekerjaan itu tidak berbau maksiat atau membawa pada hal-hal yang dilarang oleh agama. Jadi bekerja di hotel tidak dilarang, bahkan bisa menjadi kebaikan kalau niat dan caranya benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Republika Online&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsBtjNCg2_604-fxdrXoazo6pvmNmKghRHHxzN4nKyvynokeH-SZFNtru1lY1a3DU7-l2H1tjBQEV-F7Nh8G6OHZCfqr2I8NUsSQwkB-bfsDVakMR6sw5bcdRw7KBYeykXtLsLZgWuAn4/s72-c/beauty6571212197p.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Depresi Kehilangan</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/09/depresi-kehilangan.html</link><category>Psikologi Keluarga</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Thu, 24 Sep 2009 08:01:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-5049836924951803016</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiW0iGD_vgN96syzWrfbiHtt-1qpuEgI9L3ZAJPSMIF-nuFqBcWEsiwz2y0Jxo-ZNMzl6BCr4pZHBemr_1wqKndUQV2izkGGOqbWxlcVwDZiJCIDsKuXgYsuw3Y8v0sXgClRcMCWblGq9I/s1600-h/IMG_0804.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 151px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiW0iGD_vgN96syzWrfbiHtt-1qpuEgI9L3ZAJPSMIF-nuFqBcWEsiwz2y0Jxo-ZNMzl6BCr4pZHBemr_1wqKndUQV2izkGGOqbWxlcVwDZiJCIDsKuXgYsuw3Y8v0sXgClRcMCWblGq9I/s200/IMG_0804.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382236061269252706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya ibu angkat umur nya sekitar 60 tahun sekarang ibu mengalami depresi karena kehilangan cucu nya sekarang ibu seperti kehilangan semangat hidup tidak ingin mengerjakan sesuatu kerjanya hanya duduk, melamun dan sekarang menjadi pendiam.&lt;br /&gt;Ibu sudah dibawa ke ulama tetapi tidak ada perubahan. Saya ingin bertanya bagaimana cara saya membantu agar ibu bisa kembali seperti dulu dan bisa menerima kematian cucu nya??apa yang harus saya lakukan dan dorongan serta nasehat seperti apa yang harus saya berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya email Anda sangat singkat sehingga kami tidak bisa lebih banyak memberikan respons kami. Oleh karena itulah kami hanya berhipotesa di sini.&lt;br /&gt;Banyak faktor yang menyebabkan seorang ibu Anda mengalami depresi. Kita harus kritis, benarkah kehilangan semangat hidupnya karena kehilangan cucu? Jangan-jangan itu hanya pencetus saja. Sebelumnya, ibu Anda mungkin telah mengalami kehidupan yang kurang diliputi semangat akibat berbagai sebab. Lalu, ibu Anda menemukan semangat hidupnya kembali setelah mencurahkan perhatian pada cucu. Ibu Anda menggantungkan semangat hidupnya pada kehadiran cucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu kurang lebih sama dengan kisah Ibu Rini (bukan nama sebenarnya). Sebagai orangtua tunggal, beliau berusaha sangat keras mengumpulkan uang karena agar anaknya bisa kuliah. Namun nasib berkata lain. Sang anak yang menjadi semangatnya bekerja keras ternyata meninggal dalam suatu kecelakaan. Komentar ibu Rini, “Untuk apa lagi saya kerja keras? Lha wong anak saya yang saya carikan uang sudah tidak ada lagi.” Bisa ditebak apa yang kemudian terjadi. Ibu Rini memutuskan tidak lagi bekerja dan hanya mengandalkan uang pensiunan dari almarahum suaminya, hanya sekedar untuk melanjutkan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Anda mungkin mengalami hal yang sama dengan ibu Rini. Pada saat senja, banyak orangtua yang merasa kesepian karena berbagai sebab; misalnya tidak ada pasangan yang memberi perhatian, anak-anak yang kurang perhatian, cekcok keluarga, tidak ada aktivitas berguna yang dilakukan, dan lainnya (coba identifikasi apa yang kira-kira menjadi penyebabnya kehilangan semangat hidup). Dalam hal ini, cucu adalah penawar dahaga. Ketika cucu sudah tidak ada lagi, maka Ibu Anda pun kehilangan semangat hidupnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin akan membantu jika Ibu Anda melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak hanya menyenangkan namun juga bermanfaat, dan memiliki tanggung jawab. Sebagai contoh, Ibu Ria (66 tahun, bukan nama sebenarnya) melakukan aktivitas berkebun. Seluruh taman keluarga menjadi tanggung jawabnya. Ibu Ria menanam berbagai tanaman hias, dan tidak jarang ikut pameran tanaman hias. Melalui kegiatannya itu, ibu Ria berkenalan dengan banyak orang dan sekaligus menghasilkan uang. Ibu Ria mengakui bahwa hidupnya sangat menyenangkan, dan termasuk orangtua yang sangat sehat untuk seusianya. Sekitar 12 tahun sebelumnya, Ibu Ria kehilangan sekaligus 3 orang anaknya dalam suatu kecelakaan mobil. Kini ibu Ria tinggal dengan satu-satunya anaknya yang masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, apa yang Anda pikirkan? Anda lebih tahu apa yang bisa dilakukan Ibu Anda.&lt;br /&gt;Mohon maaf, kami hanya bisa menjawab email Anda seperti  di atas karena terbatasnya data yang Anda kirimkan kepada kami.&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : psikologi-online.com&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiW0iGD_vgN96syzWrfbiHtt-1qpuEgI9L3ZAJPSMIF-nuFqBcWEsiwz2y0Jxo-ZNMzl6BCr4pZHBemr_1wqKndUQV2izkGGOqbWxlcVwDZiJCIDsKuXgYsuw3Y8v0sXgClRcMCWblGq9I/s72-c/IMG_0804.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Putus Asa</title><link>http://konsultasipsiko.blogspot.com/2009/09/putus-asa.html</link><category>Psikologi Keluarga</category><category>Psikologi Remaja</category><author>noreply@blogger.com (Konsultasi Psikologi)</author><pubDate>Thu, 24 Sep 2009 07:41:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5030643982033462696.post-1927586036758345953</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdV_6lhC4LmOao6_Z-QoLA5E2fI2ycvomMsp67sABpkSmINhSmiHiJBGM0uX5fGBX6BPAf1q7L-6ZPB0nugmTQ320FipgevUi4zNKXBpB55riX9ksHNu2cqsrRvbKbuZMoGwBIASjDSo0/s1600-h/funny-picture-1341508943.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 197px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdV_6lhC4LmOao6_Z-QoLA5E2fI2ycvomMsp67sABpkSmINhSmiHiJBGM0uX5fGBX6BPAf1q7L-6ZPB0nugmTQ320FipgevUi4zNKXBpB55riX9ksHNu2cqsrRvbKbuZMoGwBIASjDSo0/s200/funny-picture-1341508943.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376665175856884258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Permasalahan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah lulusan fakultas teknik universitas negeri terkemuka di yogyakarta. Saya lulus dengan nilai ipk sangat memuaskan (di atas 3, 00). Setelah saya lulus dari universitas 6 bulan lalu, kemudian seperti biasanya melamar pekerjaan yang sesuai dengan bidang ilmu saya. Banyak sekali panggilan yang saya terima dan syukur alhamdulillah saya selalu lolos hingga tahap interview dengan user. Tetapi saya selalu gagal dalam tahap ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya bertanya pada pihak perusahaan mengapa saya gagal pada tahap ini. Mereka pun menjawab dengan jujur bahwa kegagalan saya karena kondisi fisik saya yang cacat (bibir sumbing). Jawaban ini sangat menyedihkan sekali bagi saya dan membuat saya putus asa. Saya sangat berharap mendapat saran dan masukan bagi masa depan saya. Terima Kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawaban :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri ini memang masih banyak pada sebagian kalangan menjadikan kondisi fisik seseorang sebagai barometer untuk menentukan kelayakan dibandingkan dengan kemampuan dan keahlian yang dimilikinya. Berbeda sekali di di dunia barat yang sudah dapat menerima kesetaraan dan tidak membandingkan seseorang berdasarkan fisik semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang bijak kiranya melihat fenomena seperti ini, kita malah berputus asa, tapi marilah dilihat sebagai sebuah tantangan bagi kita untuk dapat merubah mainstrem yang salah ini.&lt;br /&gt;Saya yakin bahwa masih banyak orang atau perusahaan yang lebih mementingkan keahlian dan keterampilan yang dimiliki seseorang dibandingkan dengan keadaan fisiknya. Mungkin saat ini Anda belum 'berjodoh' saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya janganlah cepat berputus asa, teruslah untuk mengirimkan surat lamaran Anda dan optimislah bahwa suatu saat Anda akan diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada salahnya pula bila Anda memperbaiki 'kekurangan' Anda. Saat ini sudah banyak dilakukan berbagai operasi bibir sumbing dari yang biasa hingga yang massal. Sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja dengan wirausaha juga dapat menjadikan bahan pemikiran Anda sebagai langkah antisipatif bila Anda belum mendapatkan perusahaan yang Anda inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satria Hadi Lubis&lt;br /&gt;Sumber : EraMuslim&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdV_6lhC4LmOao6_Z-QoLA5E2fI2ycvomMsp67sABpkSmINhSmiHiJBGM0uX5fGBX6BPAf1q7L-6ZPB0nugmTQ320FipgevUi4zNKXBpB55riX9ksHNu2cqsrRvbKbuZMoGwBIASjDSo0/s72-c/funny-picture-1341508943.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>