<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750</id><updated>2024-09-08T22:04:31.525+07:00</updated><category term="Anis Matta"/><category term="Serial Kepahlawanan"/><category term="Determinasi Sosial"/><category term="Di Balik Keharumannya"/><category term="Filosofi"/><category term="Keberanian"/><category term="Kegagalan"/><category term="Kesabaran"/><category term="Kesempurnaan"/><category term="Keunikan"/><category term="Kompetisi"/><category term="Menilai Diri Sendiri"/><category term="Momentum Kepahlawanan"/><category term="Musibah"/><category term="Naluri Kepahlawanan"/><category term="O Pahlawan Negeriku"/><category term="Optimisme"/><category term="Pekerjaan Besar dan Pekerjaan Kecil"/><category term="Pengantar Taufiq Ismail"/><category term="Pengorbanan"/><category term="Pesan Untuk Orang-Orang Biasa"/><category term="Sahabat Sang Pahlawan"/><category term="Vitalitas"/><title type='text'>Serial Kepahlawanan</title><subtitle type='html'>Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu, agar anak yang pengecut jadi pemberani.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-8324858536799740994</id><published>2009-09-13T17:29:00.002+07:00</published><updated>2009-09-13T17:37:01.463+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Musibah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Musibah</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZQT99qc3yyEOY8iST4hEdnvGaaJWRBd5-mqKP6-OdG2KBmrQ0tkoya2qMwaItQOOIYmdBsyXHafrxmQBxt5PshmHi2Yq9wKWUa7Xg-ur22q1KrfEf52GfZhAusB2tXmiTBw4l5I0COpI/s1600-h/Anis+Matta+Musibah.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 115px; height: 86px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZQT99qc3yyEOY8iST4hEdnvGaaJWRBd5-mqKP6-OdG2KBmrQ0tkoya2qMwaItQOOIYmdBsyXHafrxmQBxt5PshmHi2Yq9wKWUa7Xg-ur22q1KrfEf52GfZhAusB2tXmiTBw4l5I0COpI/s320/Anis+Matta+Musibah.jpeg&quot; alt=&quot;Anis Matta - Musibah&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5380898965690383746&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Seperti juga kegagalan, ada bentuk lain dari rintangan yang menghadang seorang pahlawan. Musibah. Yang dimaksud musibah disini adalah semua bencana yang menimpa sesorang yang mempengaruhi seluruh kepribadiannya dan juga jalan hidupnya. Misalnya, kematian orang terdekat seperti yang dialami Rasulullah saw saat meninggalnya Khadijah ra dan Abu Thalib. Yang sangat berat dari musibah-musibah itu adalah menimpa fisik dan mempengaruhi ruang gerak seorang pahlawan. Misalnya, kebutaan, ketulian, atau kelumpuhan. Kenyataan seperti ini tentu saja membatasi ruang gerak  dan menciptakan keterbatasan-keterbatasan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Namun, masalahnya sesungguhnya bukan disitu. Inti persoalannya ada pada goncangan jiwa yang mungkin ditimbulkan oleh musibah tersebut. Goncangan jiwa itulah yang biasanya mengubah arah kehidupan seseorang. Sebab, musibah itu mungkin menghilangkan kepercayaan dirinya, membabat image dirinya ditengah lingkungannya, membabat habis harapah-harapan dan ambisi-ambisinya serta menyemaikan keputusasaan dalam dirinya. Jalan yang dihadapannya seperti menjadi buntu dan langit kehidupan menjadi gelap, maka mimpi kepahlawanannya seperti gugur satu demi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, para pahlawan selalu menemukan celah dibalik kebuntuan, dan memiliki secercah cahaya harapan dibalik gelapnya kehidupan. Yang pertama mereka lakukan saat musibah itu datang adalah mempertahankan ketenangan. Sebab, inilah akar keseimbangan jiwa yang membantu seseorang melihat panorama hidup secara proposional. Keseimbangan jiwa inilah yang membuat seseorang tegar didepan goncangan-goncangan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua adalah mempertahankan harapan. Sebab, harapan, kata Rasulullah saw, adalah rahmat Allah bagi umatku. Jika bukan karena harapan, takkan ada orang yang mau menanam pohon dan takkan ada ibu yang mau menyusui anaknya. Harapan adalah buah dari kepercayaan kepada rahmat Allah SWT dan juga kepada kemampuan Allah SWT melakukan semua yang ia kehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga adalah mempertahankan keberanian. Dan keberanian adalah buah dari kepercaan diri yang kuat dan juga anak yang lahir dari tekad baja. Keberanian dibutuhkan untuk menembus keterbatasan-keterbatasan pada ruang gerak dan hambatan yang tercipta akibat perubahan pada image.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang keempat adalah mempertahankan semangat kerja di tengah keterbatasan-keterbatasan itu. Dalam banyak kasus, keterbatasan-keterbatasan justru membantu memberikan fokus pada arah dan target serta konsentrasi yang kuat. Yang kita lakukan disini adalah memenuhi ruang yang tersedia dengan amal dan karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah para pahlwan mensiasati musibah. Maka, kebutaan tidak dapat menghambat Syeikh Abdul Aziz bin Baz merebut takdirnya sebagai ulama besar abad ini. Ketulian juga gagal mencegat perjalanan Mustafa Shadiq Al-Rafi&#39;i menuju puncak, sebagai salah satu sastrawan muslim terbesar abad ini. Dan kelumpuhan menyerah didepan tekad baja Syeikh Ahmad Yasin yang menjadi mujahid besar abad ini, bukan saja dalam melawan kebiadaban israel, tetapi bahkan menentang dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/8324858536799740994/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/musibah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/8324858536799740994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/8324858536799740994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/musibah.html' title='Musibah'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZQT99qc3yyEOY8iST4hEdnvGaaJWRBd5-mqKP6-OdG2KBmrQ0tkoya2qMwaItQOOIYmdBsyXHafrxmQBxt5PshmHi2Yq9wKWUa7Xg-ur22q1KrfEf52GfZhAusB2tXmiTBw4l5I0COpI/s72-c/Anis+Matta+Musibah.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-8946947894174561898</id><published>2009-09-12T04:46:00.002+07:00</published><updated>2009-09-12T04:53:02.344+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kegagalan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Kegagalan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTGzBXHMNLtv1fDkQsbI5aDt38CgC9ZIsy1cRosDeAHg49E8un-3ODvKLRH5vjwM-3_b9IBoNT_YFVKsu91PS8hi1Xkq9cbTDzfA72qDFvU4BNYhKeytgSzUU-OPZtD7ISfBQzlpD77xk/s1600-h/anis+matta+Kegagalan.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 113px; height: 129px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTGzBXHMNLtv1fDkQsbI5aDt38CgC9ZIsy1cRosDeAHg49E8un-3ODvKLRH5vjwM-3_b9IBoNT_YFVKsu91PS8hi1Xkq9cbTDzfA72qDFvU4BNYhKeytgSzUU-OPZtD7ISfBQzlpD77xk/s320/anis+matta+Kegagalan.jpg&quot; alt=&quot;Anis Matta - Kegagalan&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5380331006994083250&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Jangan pernah menyangka bahwa seseorang pahlawan selalu meraih prestasi-prestasinya dengan mulus, atau bahkan tidak pernah mengenal kegagalan. Kesulitan-kesulitan adalah rintangan yang diciptakan oleh sejarah dalam perjalanan menuju kepahlawanan. Karena itu, peluang kegagalan sama besarnya dengan peluang keberhasilan. “Kalau bukan karena kesulitan, maka semua orang akan menjadi pahlawan,” kata seorang penyair Arab, Al-Mutanabbi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Membebaskan konstantinopel bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang pemuda berusia 23 tahun setangguh Muhammad Al-Fatih Murad. Pembebasan pusat kekuasaan Imperium Romawi itu, kata orientalis Hamilton gibb, adalah mimpi delapan abad dari kaum muslimin. Semua serangan gagal meruntuhkan perlawanan kota itu sepanjang abad-abad itu. Dan serangan-serangan awal Muhammad Al-Fatih Murad juga mengalami kegagalan. Kegagalan itu sama dengan kegagalannya sebagai pemimpin negara, ketika pada usia 16 tahun ayahnya menyerahkan kekuasaan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, bila Muhammad Al-Fatih kemudian berhasil merebut kota itu, kita memang perlu mencatat pelajaran ini: “Bagaimana seorang pahlawan dapat melampaui kegagalan-kegagalannya dan merebut takdirnya sebagai pahlawan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia pertama adalah mimpi yang tidak selesai. Kegagalan adalah perkara teknis bagi sang pahlawan. Kegagalan tidak boleh menyentuh sedikit pun wilayah mimpinya. Mimpi tidak boleh selesai karena kegagalan. “Dan tekad seperti ini akan merubah rintangan dan kesulitan menjadi sarana mencapai tujuan,” kata Said bin Al-Musayyib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, tekad mereka melampaui kegagalan, sampai rintangan yang menghadang jalannya tak sanggup menatap tekadnya, maka ia tunduk, lalu memberinya jalan menuju penghentian terakhir dari mimpinya. “Kalau tekad seseorang benar adanya, maka jalan menuju tujuannya pastilah jelas,” kata pepatah Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia kedua adalah semangat pembelajaran yang konstan. Seorang pahlawan tidak pernah memandang dirinya sebagai Superman atau Malaikat. Ia tetaplah manusia biasa. Dan kegagalan merupakan bagian dari tabiat kehidupan manusia, maka ia “memaafkan” dirinya untuk kegagalan itu. Namun, ia tidak berhenti sampai disitu. Kegagalan adalah objek pengalaman yang harus dipelajari, untuk kemudian dirubah menjadi pintu kemenangan. Demikianlah seharusnya kita mendefenisikan pengalaman: bahwa ia adalah investasi pembelajaran yang membantu proses penyempurnaan seluruh faktor keberhasilan dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia ketiga adalah kepercayaan pada waktu. Setiap peristiwa ada waktunya, maka setiap kemenangan ada jadwalnya. Ada banyak rahasia yang tersimpan dalam rahim sang waktu, dan biasanya tidak tercatat dalam kesadaran kita. Akan tetapi, para pahlawan biasanya mempunyai cara lain untuk mengenalinya, atau setidaknya meraba-rabanya, yaitu firasat. Mereka “memfirasati zaman” walaupun ia mungkin benar mungkin salah, tetapi ia berguna untuk membentuk kecendrungannya. Firasat bagi mereka adalah faktor rasional. Perhitungan-perhitungan rasional harus tetap ada, tetapi keputusan untuk melangkah pada akhirnya bersifat intuitif. Begitulah akhirnya takdir kepahlawanan terjembatani dengan firasat untuk sampai ke kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/8946947894174561898/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/kegagalan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/8946947894174561898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/8946947894174561898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/kegagalan.html' title='Kegagalan'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTGzBXHMNLtv1fDkQsbI5aDt38CgC9ZIsy1cRosDeAHg49E8un-3ODvKLRH5vjwM-3_b9IBoNT_YFVKsu91PS8hi1Xkq9cbTDzfA72qDFvU4BNYhKeytgSzUU-OPZtD7ISfBQzlpD77xk/s72-c/anis+matta+Kegagalan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-8890433193671313327</id><published>2009-09-11T04:20:00.002+07:00</published><updated>2009-09-11T04:26:58.895+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Di Balik Keharumannya"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Di Balik Keharumannya</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2vn9uh8gAryRU0GuQf_xs9Wf8GDhyd1rjMpuVwyqa7GshSmgtL7g8mxux0wtqg4xgGRm0VP6LpDRSvb0cCMui8JbK3pkofpA8k-7uH8hv1GO74qSovCdELDtIwYOfzBOiOyWeGY9ownY/s1600-h/anis+matta+Di+Balik+Keharumannya.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 90px; height: 135px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2vn9uh8gAryRU0GuQf_xs9Wf8GDhyd1rjMpuVwyqa7GshSmgtL7g8mxux0wtqg4xgGRm0VP6LpDRSvb0cCMui8JbK3pkofpA8k-7uH8hv1GO74qSovCdELDtIwYOfzBOiOyWeGY9ownY/s320/anis+matta+Di+Balik+Keharumannya.jpeg&quot; alt=&quot;Anis Matta - Di Balik Keharumannya&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5379953184137686706&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Nama para pahlawan mukmin sejati senantiasa harum sepanjang sejarah. Akan tetapi, hanya sedikit orang yang mengetahui berapa besar pajak yang telah mereka bayar untuk keharuman itu. Masyarakat manusia pada umumnya selalu mempunyai dua sikap terhadap keharuman itu. Pertama, mereka biasanya akan mengagumi para pahlawan itu, bahkan terkadang sampai pada tingkat pendewaan. Kedua, mereka akan merasa kasihan kepada para pahlawan tersebut, karena mereka tidak sempat menikmati hidup secara wajar. Yang kedua ini biasanya datang dari keluarga dekat sang pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dirasakan “orang luar” berbeda dengan apa yang dirasakan oleh sang pahlawan itu sendiri. Kekaguman, mungkin merupakan sesuatu yang indah bagi banyak orang. Namun, para pahlawanlah yang membayar harga keharuman itu. Dan, harga itu yang tidak diketahui orang banyak. Maka, seorang penyair Arab terbesar, Al-Mutanabbi, mengatakan, “orang luar mengagumi kedermawanan sang pahlawan, tetapi tidak merasakan kemiskinan yang mungkin diciptakan oleh kedermaanan. Orang luar mengagumi keberanian sang pahlawan, tetapi mereka tidak merasakan luka yang menghantarnya menuju kematian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, ada juga kenyataan lain yang sama sekali terbalik. Keluarga para pahlawan seringkali tidak merasakan gaung kebesaran atau semerbak harum nama sang pahlawan. Karena, ia hidup ditengah-tengah mereka, setiap hari, bahkan setiap saat. Bagi mereka, sang pahlawan adalah juga manusia biasa, yang mempunyai keinginan-keinginan dan kegemaran-kegemaran tertentu seperti mereka. Mereka harus menikmatinya. Maka, merekalah yang sering menggoda sang pahlawan untuk tidak melulu “mendaki” langit, tetapi juga sekali-kali “turun” ke bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua sikap itu adalah jebakan. Kekaguman dan pendewaan sering menjebak para pahlawan. Sebab, hal itu akan mempercepat munculnya rasa puas dalam dirinya, sehingga karya yang sebenarnya belum sampai puncak, akhirnya terhenti di pertengahan jalan akibat rasa puas. Itulah sebab Imam Ghazali mengatakan, “Siapa yang mengatakan saya sudah berilmu, maka sesungguhnya orang itulah yang paling bodoh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggilan turun ke bumi adalah jebakan lain. Menjadi pahlawan memang akan menyebabkan kita meninggalkan sangat banyak kegemaran dan kenikmatan hidup. Bahkan, privasi kita akan sangat terganggu. Namun, itulah pajaknya. Akan tetapi, banyak orang gagal melanjutkan perjalanan menuju puncak kepahlawanan mereka, karena tergoda “kembali” kehabitat manusia biasa, seperti angin sepoy yang mengirim ngantuk kepada orang yang sedang membaca, seperti itulah panggilan turun kebumi menggoda sang pahlawan untuk berhenti mendaki. Itulah sebabnya Allah menegur para mujahidin yang mencintai keluarga mereka melebihi cinta mereka terhadap Allah, Rasul-Nya, dan jihad dijalan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, para pahlwan mikmin sejati berdiri tegak disana; diantara tipuan pendewaan dan godaan kenikmatan bumi. Mereka terus berjalan dengan mantap menuju puncak kepahlawanan: tidak ada kepuasaan sampai karya jadi tuntas, dan tidak ada kenikmatan melebihi apa yang mungkin diciptakan oleh kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/8890433193671313327/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/di-balik-keharumannya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/8890433193671313327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/8890433193671313327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/di-balik-keharumannya.html' title='Di Balik Keharumannya'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2vn9uh8gAryRU0GuQf_xs9Wf8GDhyd1rjMpuVwyqa7GshSmgtL7g8mxux0wtqg4xgGRm0VP6LpDRSvb0cCMui8JbK3pkofpA8k-7uH8hv1GO74qSovCdELDtIwYOfzBOiOyWeGY9ownY/s72-c/anis+matta+Di+Balik+Keharumannya.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-612039895805110661</id><published>2009-09-10T04:05:00.002+07:00</published><updated>2009-09-10T04:11:07.618+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Determinasi Sosial"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Determinasi Sosial</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFrvC_LrVozpTXzt3eDxIZ3z8M1qa6Df4EYjq0GxZHYFf_7UB3NUtnIEWMRKh46pxTybIt6vV3EvgJ0NuJ7txkKFAf2cdAsRT14P9MIjuAux8nb0IpQ0ZD60Bs84wQB9lIPUPsO6gBKww/s1600-h/anis+matta+Determinasi+Sosial.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 138px; height: 105px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFrvC_LrVozpTXzt3eDxIZ3z8M1qa6Df4EYjq0GxZHYFf_7UB3NUtnIEWMRKh46pxTybIt6vV3EvgJ0NuJ7txkKFAf2cdAsRT14P9MIjuAux8nb0IpQ0ZD60Bs84wQB9lIPUPsO6gBKww/s320/anis+matta+Determinasi+Sosial.jpeg&quot; alt=&quot;Anis Matta - Determinasi Sosial&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5379578006997347298&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Kita memang tidak punya pilihan di depan takdir Allah AWT yang bersifat seperti ini; kita dilahirkan di atas tanah apa, pada zaman apa, dari etnis apa, dan pada situasi seperti apa. Itulah nasib yang tidak mungkin diubah. Kumulasi dari itu semua yang selanjutnya kita sebut lingkungan. Para ahli pendidikan kemudian memberikan porsi yang sangat besar terhadap lingkungan sebagai faktor determinan yang mempengaruhi dan mewarnai pertumbuhan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, sejarah memberikan beberapa kesaksian yang mungkin bisa disebut pengecualian. Dan, para pahlawan memang merupakan pengecualian. Mereka pada mulanya juga lahir dari kumulasi lingkungan yang sama, tetapi pada akhirnya muncul dengan warna yang sama sekali berbeda dengan generasi angkatannya yang lahir dari lingkungan tersebut. Jadi, input lingkungannya sama, tetapi output efeknya berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah cerita seorang penulis tentang Hasan Al-Banna, pemimpin pergerakan islam terbesar abad ini. Ia (Hasan Al-Banna, kata sang penulis, tumbuh sebagaimana kami tumbuh, pada lingkungan yang sama tempat kami belajar, sejak dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, dan tentu juga dengan kurikulum yang sama. Ia juga menyaksikan dan merasakan kemiskinan, keterbelakangan, dan kerusakan sosial di Mesir sebagaimana kami umumnya. Ia juga membaca buku dan media cetak yang kami baca. Tidak ada yang istimewa dalam latar lingkungannya, baik dirumah maupun di sekolah atau di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, hasilnya kemudian berbeda. Ia muncul sebagai pembaharu dan pemimpin. Lantas, dimanakah rahasianya? Tidak mudah memang memberikan jawaban yang sangat definitif untuk masalah ini. Akan tetapi, setidaknya ada dua faktor yang dapat disebut disini. Pertama, semua itu sepenuhnya adalah karunia Allah SWT untuk masyarakat yang hidup dizamannya. Sebab, Rasulullah saw pernah bersabda, “Jika Allah SWT meridhoi suatu kaum, maka Allah akan mengangkat orang-orang terbaik dari mereka sebagai pemimpin. Dan jika Allah memurkai suatu kaum, maka Allah akan mengangkut orang-orang terjahat dari mereka sebagai pemimpin.” (HR.Tirmizi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, para pahlawan itu adalah hadiah langit untuk penduduk bumi. Karena itu, mereka memang mendapat inayah Allah SWT sejak awal pertumbuhan hingga saat mereka mementaskan peran kesejarahan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, para pahlawan biasanya mempersepsi lingkungannya dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang. Pada banyak orang, kesulitan-kesulitan yang tercipta dari komulasi lingkungan dianggap sebagai nasib yang niscaya dan tidak dapat diubah. Jadi, sejak awal mereka kalah didepan nasib itu. Para pahlawan justru melihat lingkungan itu sebagai objek yang harus diubah dan kendali perubahan itu pada manusia. Jadi, sejak awal mereka berpikir sebagai perilaku dan perubah. Mereka mungkin lapar, tetapi mereka lebih banyak memikirkan kemiskinan sebagai fenomena sosial yang diubah. Mereka mungkin dari keluarga tidak terdidik, tetapi mereka kemudian berpikir untuk menjadi otodidak dan bagaimana mengembangkan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah akhirnya mengapa mereka menjadi lebih cerdas dari zamannya. Atau pikiran-pikiran mereka bahkan mendahului zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/612039895805110661/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/determinasi-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/612039895805110661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/612039895805110661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/determinasi-sosial.html' title='Determinasi Sosial'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFrvC_LrVozpTXzt3eDxIZ3z8M1qa6Df4EYjq0GxZHYFf_7UB3NUtnIEWMRKh46pxTybIt6vV3EvgJ0NuJ7txkKFAf2cdAsRT14P9MIjuAux8nb0IpQ0ZD60Bs84wQB9lIPUPsO6gBKww/s72-c/anis+matta+Determinasi+Sosial.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-7781069394192475444</id><published>2009-09-09T04:28:00.003+07:00</published><updated>2009-09-09T04:34:34.786+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sahabat Sang Pahlawan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Sahabat Sang Pahlawan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhc43YBX-W0DXBOkhBixxZnRgJYJSB53N2gDYC8CqdZ7H8ngxVTJ9oRt27ibgpRwb7QrsvG_VChw0ZFaQvDmwLBjytf0LnIGXAjiAgIvbnwmj-CjJSGDZIZjG0P9zWF4kGgtsKZUnWyngI/s1600-h/anis+matta+Sahabat+Sang+Pahlawan.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 94px; height: 124px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhc43YBX-W0DXBOkhBixxZnRgJYJSB53N2gDYC8CqdZ7H8ngxVTJ9oRt27ibgpRwb7QrsvG_VChw0ZFaQvDmwLBjytf0LnIGXAjiAgIvbnwmj-CjJSGDZIZjG0P9zWF4kGgtsKZUnWyngI/s320/anis+matta+Sahabat+Sang+Pahlawan.jpeg&quot; alt=&quot;Anis Matta - Sahabat Sang Pahlawan&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5379212914505478242&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Anda harus waspada dan berhati-hati! Sebab, disini ada jebakan kepahlawanan yang sering menipu banyak orang. Sahabat para pahlawan belum tentu juga pahlawan. Inilah tipuannya. Para pahlawan mungkin tidak tertipu, tetapi orang-orang yang bersahabat dengan para pahlawanlah yang lebih sering tertipu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Dalam lingkungan pergaulan, para pahlawan adalah parfum. Apabila berada ditengah kerumunan, maka semua orang akan kecipratan keharumannya. Apabila ada “orang lain” yang mulai mendekat dan mencium keharuman itu, mungkin ia sulit mengenali dari mana keharuman itu berasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi ini tentu saja menguntungkan orang-orang yang mengerumuni sang pahlawan. Mendapatkan peluang untuk diduga sebagai pahlawan. Itulah awal mula kejadiannya. Orang-orang biasa selalu merasa puas dengan bergaul dan menjadi sahabat para pahlawan. Mereka sudah cukup puas dengan mengatakan, “Oh, pahlawan itu sahabatku,” atau ungkapan “Oh, pahlawan itu seangkatan denganku.” orang-orang itu tidak mau bertanya, mengapa bukan dia yang menjadi pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, ada “orang biasa” yang mempunyai sedikit rasa megaloman, semacam obsesi kepahlawanan yang tidak terlalu kuat, namun ada dan meletup-letup pada waktu tertentu. Orang-orang seperti ini sering merasa telah menjadi pahlawan hanya karena ia bersahabat dengan para pahlawan. Dan karenanya, sering berperilaku seakan-akan dialah sang pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kita saksikan dalam kejadian ini adalah suatu proses identifikasi “orang biasa” dengan sahabatnya yang “pahlawan”. Ini merupakan tipuan jiwa: seseorang tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan para pahlawan, tetapi mau menyandang gelar kepahlawanan, dengan memanfaatkan kamuflase  persahabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan memang sering menipu, bukan karena tabiat persahabatan yang memang menyimpan tipuan, tetapi karena sebuah “kebutuhan jiwa” tertentu, yang memanfaatkan persahabatan untuk memenuhinya. Maka, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, suatu ketika memperingatkan para “murid” yang sedang menuntut ilmu di bawah bimbingan para ulama. Katanya, “Waspadalah, jangan merasa telah menjadi ulama, hanya karena bergaul dan bersahabat dengan para ulama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita harus meninggalkan sahabat-sahabat kita yang para pahlawan itu? Tentu saja tidak! Yang perlu kita lakukan adalah meluruskan perasaan kita sendiri dan meluruskan pandangan terhadap diri kita sendiri. Suatu saat, Buya Hamka membawa istrinya kedalam sebuah majelis, dimana ia akan berceramah. Tiba-tiba, tanpa diduga, sang protokol juga mempersilahkan juga istri beliau untuk berceramah. Mereka tentu berprasangka baik: istri sang ulama juga mempunyai ilmu yang sama. Dan, istri beliau benar-benar naik ke podium. Buya Hamka terhenyak. Hanya satu menit. Setelah memberi salam, istrinya berkata, “Saya bukan penceramah, saya hanya tukang masak untuk sang penceramah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan melakukan identifikasi diri yag salah. Jangan menilai diri sendiri melampaui kadarnya yang objektif. Namun, ada yang jauh lebih penting dari itu. Jangan pernah berpikir untuk menjadi pahlawan, tanpa melakukan pekerjaan-pekerjaan para pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/7781069394192475444/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/sahabat-sang-pahlawan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/7781069394192475444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/7781069394192475444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/sahabat-sang-pahlawan.html' title='Sahabat Sang Pahlawan'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhc43YBX-W0DXBOkhBixxZnRgJYJSB53N2gDYC8CqdZ7H8ngxVTJ9oRt27ibgpRwb7QrsvG_VChw0ZFaQvDmwLBjytf0LnIGXAjiAgIvbnwmj-CjJSGDZIZjG0P9zWF4kGgtsKZUnWyngI/s72-c/anis+matta+Sahabat+Sang+Pahlawan.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-8379084496841182452</id><published>2009-09-08T03:18:00.002+07:00</published><updated>2009-09-08T03:25:14.944+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kesempurnaan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Kesempurnaan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiprVbubLdsV6bGeoXpu1EKIyO3yBun0gL3u6av7hnoUK50W5zNJcHO4s6fDVPDKQlKDrZN6HV0qULyFO4e1Z_MhfaVbmjeFe0AtMO0P6_Cy57SifQnht6-HwBcQTme_Y7QpkZZGEycZg/s1600-h/anis+matta+Kesempurnaan.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 88px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiprVbubLdsV6bGeoXpu1EKIyO3yBun0gL3u6av7hnoUK50W5zNJcHO4s6fDVPDKQlKDrZN6HV0qULyFO4e1Z_MhfaVbmjeFe0AtMO0P6_Cy57SifQnht6-HwBcQTme_Y7QpkZZGEycZg/s320/anis+matta+Kesempurnaan.jpeg&quot; alt=&quot;anis Matta - Kesempurnaan&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5378824055333157442&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Tidak ada manusia yang sempurna. Memang itulah kenyataannya. Akan tetapi, pada waktu yang sama kita juga diperintahkan untuk berusaha menjadi sempurna. Atau, setidaknya mendekati kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Inilah masalahnya. Adakah kesalahan dalam perintah ini? Tidak! Namun, mengapa kita diperintahkan melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi kenyataan? Jawabannya adalah kesempurnaan itu relatif. Ukuran kesempurnaan itu relatif. Ukuran kesempurnaan adalah batas maksimum dari kemampuan setiap individu untuk berkembang. Karena, “Allah membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”(Al-Baqarah: 286).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, bergerak menuju kesempurnaan adalah bergerak menuju batas maksimum itu. Akan tetapi, kemudian muncul pertanyaan baru, “Bagaimana cara mengetahui batas maksimum itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada jawaban ilmiah yang cukup valid untuk pertanyaan ini, jika jawaban yang kita harapkan adalah ukuran kuantitatif. Bahkan, tokoh-tokoh besar dalam sejarah manusia, kata Syeikh Muhammad Al-Ghazali dalam Jaddid Hayataka, ternyata hanya menggunakan lima sampai sepuluh persen dari total potensi mereka. Berapakah, misalnya, jumlah waktu yang dibutuhkan Einstein untuk menemukan teori realitivitas, jika sebanding dengan total umurnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ukurannya tidak bersifat kuantitatif. Namun, bersifat psikologis. Yaitu, semacam kondisi psikologis tertentu yang dirasakan seseorang dari suatu proses maksimalisasi penggunaan potensi diri, dimana seseorang memasuki keadaan yang oleh Al-Qur&#39;an disebut “menjelang putus asa.” (Yusuf: 110).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kesempurnaan itu obsesi. Bila obsesi itu kuat, maka ia akan menjadi mesin yang memproduksi tenaga jiwa, yang membuat seseorang mampu bergerak secara konstan menuju titik kesempunaan. Yang kemudian terjadi dalam kenyataan adalah suatu proses perbaikan berkesinambungan. Karena itu, kadar kepahlawanan seseorang tidak diukur pada awal perjalanan hidupnya. Tidak juga pada pertengahannya. Namun, pada akhirnya; pada perbandingan antara satuan waktunya dengan satuan karyanya dan pada perbandingan antara karyanya dengan karya orang lain. Seseorang dianggap pahlawan karena jumlah satuan karyanya melebihi jumlah satuan waktunya dan karena kualitas karyanya melebihi kualitas rata-rata orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sumber dinamika yang dimiliki para pahlawan mukmin sejati: obsesi kesempurnaan. Akan tetapi, obsesi ini mudah dilumpuhkan oleh sebuah virus yang biasanya menghinggapi para pahlawan. Yaitu, kebiasaan merasa besar karena karya-karya itu, walaupun ia sangat merasakan hal itu. Sebab, perasaan itu akan membuatnya berhenti berkarya. Maka, Imam Ghazali mengatakan, “Siapa yang mengatakan saya sudah tahu, niscaya ia segera menjadi bodoh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, musuh obsesi kesempurnaan adalah sifat megalomania. Inilah hikmah yang kita pahami dari turunnya surah Al-Nasr pada saat Fathu Makkah, “Apabila ia datang pertolongan Allah dan kemenangannya, dan engkau melihat orang-orang berbondong-bondong masuk kedalam agama Allah, maka bertasbihlah kepada Tuhanmu dan mintalah ampunan-Nya, karena sesungguhnya Ia Maha Menerima Taubat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw pun tertunduk sembari menangis tersedu-sedu saat menerima wahyu itu, hingga janggut beliau menyentuh punuk untanya. Membebaskan satu negeri adalah karya besar. Akan tetapi, ketika Uqbah bin Nafi&#39; bergerak untuk membebaskan Afrika, beliau hanya mengucapkan sebuah kalimat yang sangat seerhana, “Ya Allah, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/8379084496841182452/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/kesempurnaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/8379084496841182452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/8379084496841182452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/kesempurnaan.html' title='Kesempurnaan'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiprVbubLdsV6bGeoXpu1EKIyO3yBun0gL3u6av7hnoUK50W5zNJcHO4s6fDVPDKQlKDrZN6HV0qULyFO4e1Z_MhfaVbmjeFe0AtMO0P6_Cy57SifQnht6-HwBcQTme_Y7QpkZZGEycZg/s72-c/anis+matta+Kesempurnaan.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-4868693952144305207</id><published>2009-09-07T04:09:00.002+07:00</published><updated>2009-09-07T04:15:38.955+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Keunikan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Keunikan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2hufs-TB18YBLg98JSJEHckVmBIJPEXd2jEtrKmrWbhB1Q1rMP4QykjYTNnWli5dQiol7sQpGInrxyJHRaR9CGb04i5DShyufYyQwSW-E_t7Ch5upfb6N4610PyS71vCa5Us87YQAjXM/s1600-h/anis+matta+Keunikan.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 130px; height: 112px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2hufs-TB18YBLg98JSJEHckVmBIJPEXd2jEtrKmrWbhB1Q1rMP4QykjYTNnWli5dQiol7sQpGInrxyJHRaR9CGb04i5DShyufYyQwSW-E_t7Ch5upfb6N4610PyS71vCa5Us87YQAjXM/s320/anis+matta+Keunikan.jpeg&quot; alt=&quot;Anis Matta - Keunikan&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5378465968540933842&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Orang-orang menjadi pahlawan karena ia mempunyai bakat kepahlawanan alam dirinya dan karena bakat itu menemukan lingkungan yang memicu pertumbuhannya, kemudian menemukan momentum histiris yang menjadikannya abadi. Setiap orang datang membawa bakat yang berbeda, dan kemudian menemukan momentum historis yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak orang yang berbakat yang tidak menjadi pahlawan, karena tidak menemukan lingkungan dan momentum historis yang mengakomodasi bakatnya. Dan betapa banyak orang yang hidup ditengah lingkungan dan momentum historis yang memungkinkannya menjadi pahlawan, tetapi mereka tidak juga menjadi pahlawan. Karena memang mereka tidak berbakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, keunikan individual para pahlawan itu adalah keniscayaan sejarah. Sebagian keunikan itu bersumber dari bakatnya, sebagian yang lainnya bersumber dari ruang dan waktu serta situasi-situasinya. Keharmonisan dan perpaduan antara bakat, ruang, waktu dan situasi adalah faktor utama yang mengantarkan seseorang kepada dunia kepahlawanan. Inilah yang dimaksud Allah SWT, “Setiap orang dimudahkan melakukan apa yang untuknya ia ciptakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, seseorang kemudian dianggap pahlawan karena ia melahirkan karya yang berbeda dari karya orang lain. Sejarah tidak mencatat pengulangan-pengulangan. Kecuali, untuk karya dalam bidang yang sama dengan kualitas yang berbeda secara hirarkis, tetapi berbeda dalam situasinya. Hal ini menyebabkan letak kepahlawanan setiap orang selalu berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, justru disinilah letak masalahnya. Menjadi unik adalah beban psikologis yang tidak semua orang dapat memikulnya. Ancaman bagi orang-orang yang unik adalah isolasi, keterasingan, dan akhirnya adalah kesepian. Sebab, tidak semua orang dapat memahaminya. Ketika Umar bin Khattab menemukan bahwa ternyata Allah SWT membuka pintu kekayaan dunia pada masa khilafahnya, ia mulai cemas jangan-jangan ini bukan prestasi, tetapi justru karena Allah ingin memisahkannya dari kedua pendahulunya, Rasulullah saw dan Abu Bakar. Sebab, Allah tidak membuka pintu kekayaan dunia pada kedua masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pahlawan mukmin sejati memahami kenyataan ini dengan baik. Dibutuhkan suatu tekad dan keberanian moral untuk menembus tirai kesalahpahaman publik dan lingkungan. Itu pada tahap awalnya. Namun, dibutuhkan tekad dan keberanian yang lebih besar lagi pada tahap selanjutnya. Yaitu, tekad dan keberanian untuk “memaksakan” kehadiran pribadi mereka dalam struktur kesadaran masyarakat. Inilah saat yang paling menegangkan dalam proses “pensejarahan” seseorang, karena sejarah hanyalah refleksi dari struktur kesadaran kolektif masyarakat. Pada saat seperti itulah, seorang pahlawan “memaksa” masyarakat untuk mengakuinya secara natural. Memaksa masyarakat untuk tunduk dihadapan kehebatan-kehebatannya. Memaksa masyarakat menyerah pada rasa kagum mereka terhadapnya, karena kebaikan-kebaikan yang berserakan pada individu-individu masyarakat itu berkumpul dalam diri sang pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika Rasulullah saw wafat, para sahabat terguncang. Ketika Khalid bin Walid meninggal, para wanita Madinah menangis. Guncangan jiwa dan derai air mata dan bentuk-bentuk penyerahan diri masyarakat terhadap rasa kagum mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau bersedia untuk menerima takdir kesepian sebagai pajak bagi keunikan, maka niscaya masyarakat juga akan membayar harga yang sama: kelak mereka akan merasa kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/4868693952144305207/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/keunikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/4868693952144305207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/4868693952144305207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/keunikan.html' title='Keunikan'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2hufs-TB18YBLg98JSJEHckVmBIJPEXd2jEtrKmrWbhB1Q1rMP4QykjYTNnWli5dQiol7sQpGInrxyJHRaR9CGb04i5DShyufYyQwSW-E_t7Ch5upfb6N4610PyS71vCa5Us87YQAjXM/s72-c/anis+matta+Keunikan.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-2698615629085212221</id><published>2009-09-06T04:14:00.003+07:00</published><updated>2009-09-06T04:23:07.920+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Momentum Kepahlawanan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Momentum Kepahlawanan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgcthvGfnrjG4gIYY4UBqJ59nNG_dLvKr3yEJQjEJ2yVWyZH5yZU9y1QTvcLRPx0heF06UGzK3ur1OqY6wBqqakWtu23VKn7wb8NtPayWSn482qyXi_x_z9FHsKCV2P0cMsleYA8d4or5A/s1600-h/anis+matta+Momentum+Kepahlawanan.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 97px; height: 112px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgcthvGfnrjG4gIYY4UBqJ59nNG_dLvKr3yEJQjEJ2yVWyZH5yZU9y1QTvcLRPx0heF06UGzK3ur1OqY6wBqqakWtu23VKn7wb8NtPayWSn482qyXi_x_z9FHsKCV2P0cMsleYA8d4or5A/s320/anis+matta+Momentum+Kepahlawanan.jpg&quot; alt=&quot;Anis Matta - Momentum Kepahlawanan&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5378096610267185058&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Seseorang tidak menjadi pahlawan karena ia melakukan pekerjaan-pekerjaan kepahlawanan sepanjang hidupnya. Kepahlawanan seseorang  biasanya mempunyai momentumnya. Ada potongan waktu tertentu dalam hidup seseorang dimana anasir kepahlawanan menyatu padu. Saat itulah ia tersejarahkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kita tidak mengetahui kapan datangnya momentum itu. Yaitu, kematangan pribadi dan peluang sejarah. Simaklah firman Allah SWT, “Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan....” (Al-Qashash: 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha manusiawi yang dapat kita lakukan adalah mempercepat saat-saat kematangan pribadi kita. Ini jenis kerja kapitalisasi asset kesejarahan personal kita. Yang kita lakukan di sini adalah mengumpulkan sebanyak mungkin potensi dalam diri kita, mengolahnya, dan kemudian mengkristalisasikannya. Dengan cara ini, kita memperluas “ruangan keserbamungkinan” dan sedikitnya membantu kita menciptakan peluang sejarah. Atau, setidaknya mengantar kita untuk berdiri dipintu gerbang sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pahlawan mukmin sejati tidak pernah mempersoalkan secara berlebihan masalah peluang sejarah. Kematangan pribadi seperti modal dalam infestasi. Seperti apapun baiknya peluang anda, hal itu tidak berguna jika pada dasarnya Anda memang tidak punya modal. Peluang sejarah hanyalah ledakan keharmonisan dari kematangan yang terabaikan. Seperti keharmonisan antara pedang dan keberanian dalan medan perang, antara kecerdasan dan pendidikan formal dalam dunia ilmu pengetahuan. Akan tetapi, anda harus memilih salah satunya, maka pilihlah keberanian tanpa pedang dalam perang, atau kecerdasan tanpa pendidikan formal dalam ilmu. Selebihnya, biarlah itu menjadi wilayah takdir dimana anda mengharap datangnya sentuhan keberuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran semacam ini mempunyai dampak karakter yang sangat mendasar. Para pahlawan mukmin sejati bukanlah pemimpi di siang bolong, atau orang-orang yang berdoa dalam kekosongan dan ketidakberdayaan. Mereka adalah para petani yang berdoa ditengah sawah, para pedagang yang berdoa ditengah kecamuk perang. Mereka mempunyai mimpi besar, tetapi pikiran mereka tercurahkan sepenuhnya pada kerja. Sekali-kali mereka menatap langit untuk menyegarkan ingatan pada misi mereka. Namun, setelah itu mereka menyeka keringat dan kembali bekerja kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah kerja adalah lingkungan realitas, sedangkan wilayah peluang adalah ruang keserbamungkinan. Semakin luas pijakan kaki kita dalam lingkaran kenyataan, semakin besar kemungkinan menjadi kepastian, mengubah peluang menjadi pekerjaan, mengubah mimpi menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalanlah dengan mantap menuju rumah sejarah. Jika engkau sudah sampai di depan pintu gerbangnya, ketuklah pintunya dan bacakan pada penjaganya puisi Khairil Anwar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku&lt;br /&gt;kalau sampai waktuku&lt;br /&gt;ku mau tak seorang kan merayu&lt;br /&gt;tidak juga kau ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/2698615629085212221/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/momentum-kepahlawanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/2698615629085212221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/2698615629085212221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/momentum-kepahlawanan.html' title='Momentum Kepahlawanan'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgcthvGfnrjG4gIYY4UBqJ59nNG_dLvKr3yEJQjEJ2yVWyZH5yZU9y1QTvcLRPx0heF06UGzK3ur1OqY6wBqqakWtu23VKn7wb8NtPayWSn482qyXi_x_z9FHsKCV2P0cMsleYA8d4or5A/s72-c/anis+matta+Momentum+Kepahlawanan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-6982904575840387529</id><published>2009-09-05T03:45:00.005+07:00</published><updated>2009-09-05T15:27:50.648+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Menilai Diri Sendiri"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Menilai Diri Sendiri</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjs4YVtxb0zJyP21Z_xDg5E930WFUafqsgjxEjXKpAgxoJkxl6Ws3GgqSmrp1mSa3v07REiiZPKSSPpTEFsJ-HcrCKOm6jJMbbcth1pMNxEgqO-XFEOLFZDl5T3WWRY4c-paNBL5KLKYV0/s1600-h/Anis+Matta+Menilai+Diri+Sendiri.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 93px; height: 104px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjs4YVtxb0zJyP21Z_xDg5E930WFUafqsgjxEjXKpAgxoJkxl6Ws3GgqSmrp1mSa3v07REiiZPKSSPpTEFsJ-HcrCKOm6jJMbbcth1pMNxEgqO-XFEOLFZDl5T3WWRY4c-paNBL5KLKYV0/s320/Anis+Matta+Menilai+Diri+Sendiri.jpeg&quot; alt=&quot;Anis Matta - Menilai Diri Sendiri&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5377718152568106978&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Para pahlawan mukmin sejati selalu mengetahui kadar kepahlawanan dari setiap perbuatan dan karyanya. Maka tidak bisa membesar-besarkan nilai perbuatan dan karya mereka jika kadar kepahlawanan dalam perbuatan dan karyanya itu secara objektif memang tidak ada atau sedikit. Demikian pula sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga mengetahui letak sisi kepahlawanan mereka. Sebab, tidak ada orang yang bisa menjadi pahlawan dalam segala hal. Maka, mereka menempatkan diri pada sisi dimana mereka bisa menjadi pahlawan. Mereka tidak pernah memaksakan kehendak dan juga tidak pernah melawan kodrat mereka. Mereka yang merasa hanya bisa menjadi pahlawan dalam perang, tidak akan pernah memaksakan diri menjadi pahlawan dalam ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilai diri sendiri adalah seni yang paling rumit dari sekian banyak keterampilan jiwa yang harus dimiliki seorang pahlawan. Sebab, inilah saat-saat yang paling menentukan sejarah kepahlawanan mereka, sekaligus menentukan jalan masuk mereka kepada sejarah sebagai pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni ini dimulai dari pengamatan yang mendalam tentang peta diri sendiri. Setelah itu, berlanjut pada penemuan letak kepahlawanan mereka. Setiap ditahap ini, seni itu belum terlalu rumit. Seni itu akan menjadi rumit menakala memasuki penilaian tentang karya dan perbuatan mereka. Sebab, setiap manusia mempunyai kecenderungan untuk membesarkan dirinya sendiri melampaui kadar yang sebenarnya. Karenanya, letak kerumitan dari seni penilaian ini ada pada pertarungan antara kecenderungan membesarkan diri sendiri dengan keharusan bersikap objektif yang sudah menjadi sifat sejarah yang niscaya dalam menilai para pahlawan. Inilah pertarungan antara megalomania dengan objektivitas. Simaklah firman Allah tentang kecenderungan ini, “Jangan sekali - kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang bergembira dengan apa yang mereka kerjakan; janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dan siksa, dan bagi mereka siksaan yang pedih.” (Ali Imran: 188).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;para ilmuwan mengalami pertarungan ini, ketika menilai manakah dari karya-karya mereka yang paling monumental dan dimanakah letak kedudukan karya-karya ilmiah mereka itu dihadapan para ilmuan lain yang sejenis. Para sastrawan mengalami pertarungan ini, ketika mereka menilai manakah karya-karya sastra mereka yang paling abadi dan dimanakah letak kedudukan karya sastra itu diantara karya-karya para sastrawan lainnya? Para pemimpin perang juga mengalami pertarungan ini, ketika menilai manakah pertarungan yang dimenangkannya yang paling monumental, dan dimanakah letak kehebatannya, jika dibanding kehebatan para pemimpin perang lainnya dalam jenis perang yang mereka menangkan? Para pemimpin politik dan dakwah juga mengalami pertarungan ini ketika mereka menilai jejak-jejak kepemimpinan mereka tentang dimanakah letak kehebatannya dan seperti apa nilai kehebatan itu dibanding jejak-jejak para pemimpin lain dalam bidang politik dan dakwah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertahankan objektifitas di depan godaan megalomania adalah pekerjaan jiwa yang paling rumit yang senantiasa akan dirasakan oleh para pahlawan. Cobalah simak cara seorang khalifah dari Zaman Abbasiyah menilai dirinya, “&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Saya tidak akan pernah bangga pada prestasi yang saya capai, tapi sebenarnya tidak saya rencanakan. Tapi saya juga tidak akan menyesali setiap kegagalan yang saya alami, selama saya sudah merencanakan semuanya dengan baik sebelum melakukannya&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/6982904575840387529/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/menilai-diri-sendiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/6982904575840387529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/6982904575840387529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2009/09/menilai-diri-sendiri.html' title='Menilai Diri Sendiri'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjs4YVtxb0zJyP21Z_xDg5E930WFUafqsgjxEjXKpAgxoJkxl6Ws3GgqSmrp1mSa3v07REiiZPKSSPpTEFsJ-HcrCKOm6jJMbbcth1pMNxEgqO-XFEOLFZDl5T3WWRY4c-paNBL5KLKYV0/s72-c/Anis+Matta+Menilai+Diri+Sendiri.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-8873553812131196517</id><published>2008-12-01T20:38:00.016+07:00</published><updated>2009-09-06T04:28:18.701+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Vitalitas"/><title type='text'>Vitalitas</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgn_3YsrhVe0c5YsJ1fX3aw8TDZxu8E34KVHApG4wCJ5tUbVq9CinawC60CYfSf9bjhNzuCYvZLgHD7hbcVSo_C-W1sTCijhT6FrfKRxS7JuS9Sk1eIqnOZ0riF8o-Z4qE6-_dj7rUPyog/s1600-h/anis+matta+Vitalitas.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 130px; height: 112px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgn_3YsrhVe0c5YsJ1fX3aw8TDZxu8E34KVHApG4wCJ5tUbVq9CinawC60CYfSf9bjhNzuCYvZLgHD7hbcVSo_C-W1sTCijhT6FrfKRxS7JuS9Sk1eIqnOZ0riF8o-Z4qE6-_dj7rUPyog/s320/anis+matta+Vitalitas.jpeg&quot; alt=&quot;Anis Matta - Vitalitas&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5378098134339483698&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Para pahlawan mukmin sejati selalu unggul dalam kekuatan spiritual dan semangat hidup. Senantiasa ada gelombang gairah kehidupan yang bertalu-talu dalam jiwa mereka. Itulah yang membuat sorot mata mereka selalu tajam, di balik kelembutan sikap mereka. Itulah yang membuat mereka selalu penuh harapan, di saat virus keputusasaan mematikan semangat hidup orang lain. Itulah vitalitas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernahkah kesedihan menghinggapi hati mereka? Tidak ada jalan bagi ketakutan menuju jiwa mereka? Pernahkah mereka tergoda oleh keputusasaan untuk mengundurkan diri dari pentas kepahlawanan? Adakah di saat-saat dimana mereka merasa lemah, cemas, dan tidak mungkin memenangkan pertarungan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pahlawan itu tetaplah manusia biasa. Semua gejala jiwa yang dirasakan oleh manusia biasa juga dirasakan para pahlawan. Ada saat dimana mereka sedih. Ada saat dimana mereka takut. Jenak-jenak kelemahan, keputusasaan, kecemasan dan keterpurukan pun pernah menderita jiwa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, yang membedakan para pahlawan adalah bahwa mereka selalu mengetahui bagaimana mempertahankan vitalitas, bagaimana melawan ketakutan-ketakutan dan kesedihan-kesedihan, bagaimana mempertahankan harapan di hadapan keputusasaan, dan bagaimana melampaui dorongan untuk menyerah dan pasrah di saat kelemahan mendera jiwa mereka. Mereka mengetahui bagaimana melawan gejala kelumpuhan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vitalitas hidup biasanya dibentuk dari paduan keberanian, harapan hidup, dan kegembiraan jiwa. Namun, ketiga hal ini dibentuk oleh paduan keyakinan-keyakinan iman dan talenta kepahlawanan dalam diri mereka. Dari sini saya kemudian menemukan bahwa para pahlawan mukmin sejati selalu memiliki tradisi spiritualitas yang khas. Mereka mempunyai kebiasaan-kebiasaan khas yang dibentuk oleh keyakinan yang unik terhadap keghaiban. Dengan cara itu, mereka mempertahankan keyakinan mereka pada pertolongan Allah dan harapan akan kemenangan. Dengan cara itu, mereka mempertahankan stamina perlawanan yang konstan. Kebiasaan-kebiasaan yang khas itu biasanya berbentuk &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;ibadah mahdhoh,&lt;/span&gt; tetapi biasanya disertai juga dengan perilaku-perilaku tertentu yang sangat pribadi. Misalnya dua contoh berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu peperangan. Kaum Muslimin menemukan betapa kekuatan Ibnu Taimiyah melampaui para mujahidin lainnya. Merekapun menanyakan rahasia kekuatan itu pada Ibnu Taimiyah. Beliau menjawab, &quot;Ini adalah buah dari Ma&#39;tsurat yang selalu saya baca di pagi hari setelah shalat subuh sampai terbitnya matahari. Saya selalu menemukan kekuatan yang dahsyat setiap setelah melakukan wirid itu. Tapi, jika suatu saat saya tidak melakukannya, saya akan merasa seperti lumpuh hari itu.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, dalam perang Yarmuk, Khalid Bin Walid menyuruh dengan marah beberapa pasukannya untuk mencari topi perangnya yang hilang dari kepalanya. Beberapa saat kemudian pasukannya muncul dan melaporkan kalau topi Khalid tidak berhasil ditemukan. Khalid pun marah dan menyuruh  mereka mencari kembali. Akhirnya mereka menemukannya. Khalid kemudian merasa perlu menjelaskan sikapnya yang unik itu. &quot;Di balik topi perang saya ini ada beberapa helai rambut Rasulullah saw. Tidak pernah saya memasuki suatu peperangan dan memakai topi ini, melainkan pasti saya merasa yakin bahwa Rasulullah saw mendoakan kemenangan bagi saya.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu hanyalah sebentuk hubungan Khalid yang sangat pribadi dengan Rasulullah saw yang pernah menggelarinya &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;pedang Allah yang senantiasa terhunus&quot;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/8873553812131196517/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/12/vitalitas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/8873553812131196517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/8873553812131196517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/12/vitalitas.html' title='Vitalitas'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgn_3YsrhVe0c5YsJ1fX3aw8TDZxu8E34KVHApG4wCJ5tUbVq9CinawC60CYfSf9bjhNzuCYvZLgHD7hbcVSo_C-W1sTCijhT6FrfKRxS7JuS9Sk1eIqnOZ0riF8o-Z4qE6-_dj7rUPyog/s72-c/anis+matta+Vitalitas.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-6557846148160766</id><published>2008-11-30T13:59:00.009+07:00</published><updated>2009-09-07T04:19:03.274+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pekerjaan Besar dan Pekerjaan Kecil"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Pekerjaan Besar dan Pekerjaan Kecil</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgP_1LLv8yqJWmuw6FJcLQmv8g6ziKm1nJi11MeKPI8Nn6Q6ehiFJen9b23iji7okXQ3mOV4LaRJGo8MAvHahPHcQaHxgKenCEiOsPB1J1LF_FzEXrzjnVfnCpK90HTKlITe5tlRe7MiU4/s1600-h/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 127px; height: 95px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgP_1LLv8yqJWmuw6FJcLQmv8g6ziKm1nJi11MeKPI8Nn6Q6ehiFJen9b23iji7okXQ3mOV4LaRJGo8MAvHahPHcQaHxgKenCEiOsPB1J1LF_FzEXrzjnVfnCpK90HTKlITe5tlRe7MiU4/s320/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot; alt=&quot;Serial Kepahlawanan Anis Matta&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5274348282620152914&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Di antara keajaiban hati para pahlawan mukmin sejati adalah cara mereka mengekspresikan karya-karya mereka. Mereka tidak pernah memandang karya-karya besar mereka secara berlebihan, tetapi mereka juga tidak pernah meremehkan pekerjaan-pekerjaan kecil yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besar kecil suatu karya atau pekerjaan tidaklah ditentukan oleh suatu faktor saja. Misalnya, faktor kemampuan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi cara penilaian terhadap suatu karya dan pekerjaan seorang pahlawan. Misalnya, tingkat kebutuhan saat sebelumnya, atau dengan pekerjaan-pekerjaan sesudahnya, luas wilayah distribusi manfaat, tingkat kemempuan pelaku, tingkat ketertiban orang lain, banyaknya daya dukung, dan seterusnya. Kata kunci yang dapat menyimpul semua faktor tersebut adalah &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;ketepatan&lt;/span&gt;. Yaitu, pekerjaan itu tepat pada waktunya, tepat pada sasarannya, tepat pada tempatnya, tepat pada caranya, dan tapat pada cost-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, bagaimanakah cara kita menilai tingkat ketepatan? jawabannya adalah pada strategi. Strategilah yang menentukan nilai dari sebuah pekerjaan. Individu dan pekerjaannya dalam sebuah strategi adalah unit-unit yang tidak berdiri sendiri. Strategilah yang menentukan jenis pekerjaan dan orang yang tepat untuk pekerjaan itu. Jika dalam strategi itu ditentukan bahwa seseorang harus melakukan suatu pekerjaan yang tidak terlihat dalam waktu lama, maka ia harus melakukannya. Dan letak kepahlawanannya ada pada keihlasannya, pada diamnya, dan pada penyelesaian pekerjaan itu pada waktunya. Demikian juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerangka strategi itu, kita mungkin akan menemukan kenyataan-kenyataan yang boleh jadi paradoks dalam pandangan kasat mata kita. Apa yang kita duga sebagai pekerjaan-pekerjaan besar, ternyata mempunyai nilai yang kecil dalam kerangka strategi tersebut. Demikian juga sebaliknya. Para pahlawan mukmin sejati tidak pernah memandang dirinya lebih besar dari strategi. Sebaliknya, ia menyerahkan dirinya untuk menjadi salah satu instrumen dari strategi tersebut. Demikianlah, Rasulullah saw pernah bersabda,&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt; &quot;Jangan pernah meremehkan suatu kebaikan, walaupun itu kecil!&quot;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Padanan dari ketepatan dalam bahasa agama kita adalah hikmah. Dan inilah hikmah yang dimaksud oleh Allah sebagai sumber dari semua sumber kebaikan. Allah swt berfirman, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;...Dan barangsiapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak...&quot;&lt;/span&gt; (Al Baqarah:269)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, para pahlawan mukmin sejati itu sama-sama menyimpan sebuah impian di kedalaman jiwa mereka. Mereka semua bermimpi untuk dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan unggulan yang menjadi alasan utama bagi Allah untuk memasukkan mereka kedalam surga-Nya. Seseorang sahabat pernah meminta kepada Rasulullah saw agar beliau mendoakan dirinya kepada Allah swt untuk dimasukkan ke dalam surga. Rasulullah saw lalu mengatakan kepada sahabat, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;Bantulah aku (agar doamu terkabul) dengan memperbanyak sujud.&quot;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah amal unggulannya. Dan apakah amalan unggulan Anda, hai calon pahlawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/6557846148160766/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/pekerjaan-besar-dan-pekerjaan-kecil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/6557846148160766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/6557846148160766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/pekerjaan-besar-dan-pekerjaan-kecil.html' title='Pekerjaan Besar dan Pekerjaan Kecil'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgP_1LLv8yqJWmuw6FJcLQmv8g6ziKm1nJi11MeKPI8Nn6Q6ehiFJen9b23iji7okXQ3mOV4LaRJGo8MAvHahPHcQaHxgKenCEiOsPB1J1LF_FzEXrzjnVfnCpK90HTKlITe5tlRe7MiU4/s72-c/Serial+Kepahlawanan.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-1558996276756753446</id><published>2008-11-29T00:40:00.007+07:00</published><updated>2009-09-07T04:18:39.994+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Optimisme"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Optimisme</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTuVMTCnGbIOFhpO0OhpokvM4aflv8fdOzT_uZf3tR_7kGjoLweG76sGecUBPMMVXLm_xvq8cSwpXxOxqIbqi63g29EVsPlJKENBBBXm0khapGvfj7OBx1rYiTCPTolMh5MJ3JsoCAJGo/s1600-h/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 99px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTuVMTCnGbIOFhpO0OhpokvM4aflv8fdOzT_uZf3tR_7kGjoLweG76sGecUBPMMVXLm_xvq8cSwpXxOxqIbqi63g29EVsPlJKENBBBXm0khapGvfj7OBx1rYiTCPTolMh5MJ3JsoCAJGo/s320/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot; alt=&quot;Serial Kepahlawanan Anis Matta&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5273772392143821458&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Titik tengah antara idealisme yang tidak realistis dengan realisme yang terlalu pragmatis adalah optimisme. Para pahlawan mukmin sejati menyadari dengan baik bahwa mereka lahir untuk sebuah misi besar. Akan tetapi, ia juga menyimpan kesadaran lain yang sama; mereka tetap berpijak di permukaan bumi. Itu bukan dua hal yang saling bertentangan. Sebab, di pertengahannya ada sebuah ruang tempat kedua hal itu bisa beririsan: optimisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pahlawan mukmin sejati memandang misinya sebagai sesuatu yang sakral daripada mereka menemukan perasaan terhormat karena lahir untuk memperjuangkan misi itu. Namun, mereka merasa tenang karena berjuang di bawah bendera Allah. Mereka percaya bahwa di bawah bendera itu mereka pasti mendapatkan kemenangan itu sendiri. Mereka percaya bahwa berjuang saja sudah merupakan suatu kemenangan. Yaitu, kemenangan atas rasa takut, kemenangan atas sifat pengecut, kemenangan atas cinta dunia dan kemenangan atas diri sendiri. Apatah lagi bila kemudian dapat mengalahkan musuh, atau menegakkan daulah dan khilafah. Bahwasanya mereka kemudian gugur di perjalanan atau hidup dan menyaksikan kemenangan itu, maka itu semua hanya merupakan cara Allah membagi-bagi keutamaan-Nya kepada para tentara-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keyakinan-keyakinan seperti inilah mereka menemukan kejujuran iman, dan dari kejujuran iman itulah mereka menemukan mata air kekuatan jiwa yang memberi mereka harapan dan optimisme: &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;Di antara orang-orang beriman itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu (sampai saat kemenangan), dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya.&quot;&lt;/span&gt; (Al Ahzab: 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, mereka sepenuhnya percaya pada sebuah hikmah Allah; bahwa Allah hanya mau memenangkan agama-Nya dengan usaha-usaha manusia, bukan dengan mukjizat demi mukjizat. Sebab jika tidak demikian, Allah tidak perlu mengutus nabi dan rasul, mewajibkan jihad, dan memilih syuhada. Tantangan-tantangan itu diciptakan untuk menguji kejujuran iman yang terpatri dalam jiwa para pahlawan mukmin. Mukjizat atau karomah tentu dibutuhkan pada waktu-waktu tertentu, tetapi itu berfungsi penguat, bukan penyelesaian misi. Ketentuan itulah yang membuat mereka harus realistis dalam menata garis perjuangan. Sebab, mereka bergerak dalam ruang yang terbatas, waktu dan tempat yang terbatas, sumberdaya manusia, sarana dan prasarana, dan sumber-sumber finansial yang terbatas serta technical resources yang sama terbatasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam segala hal ada keterbatasan. Itulah sebabnya mereka harus bekerja efektif dan menggunakan tenaga seefisien mungkin. Akan tetapi, keterbatasan bukanlah alasan untuk tidak berjuang. Sebab, Allah berfirman, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu...&quot;&lt;/span&gt; (At Taghabun: 16). Bahkan, nilai kepahlawanan itu sesungguhnya terletak pada capaian-capaian besar di atas keterbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbatasan itu ditata dalam konsep yang mereka sebut sebagai hukum alam, atau yang kita sebut sebagai sunatullah. Kita semua bergerak dalam kerangka sunatullah itu. Dan, para pahlawan itu bukanlah manusia istimewa yang turun dari langit denga hak-hak istimewa untuk tidak mentaati sunatullah. Mereka menjadi istimewa karena mereka menggunakan kaidah yang pernah diucapkan Imam Syahid Hasan Al Banna, &quot;Jangan pernah melawan sunatullah pada alam, sebab ia pasti mengalahkanmu. Tapi, gunakanlah sebagiannya untuk menundukkan sebagian yang lain, niscaya kamu akan sampai ke tujuan&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/1558996276756753446/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/optimisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/1558996276756753446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/1558996276756753446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/optimisme.html' title='Optimisme'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTuVMTCnGbIOFhpO0OhpokvM4aflv8fdOzT_uZf3tR_7kGjoLweG76sGecUBPMMVXLm_xvq8cSwpXxOxqIbqi63g29EVsPlJKENBBBXm0khapGvfj7OBx1rYiTCPTolMh5MJ3JsoCAJGo/s72-c/Serial+Kepahlawanan.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-2740420200403825547</id><published>2008-11-27T23:39:00.007+07:00</published><updated>2009-09-07T04:19:40.666+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filosofi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Filosofi</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlll15tfNIlcl7XVNNy0Ev1b4ZZXo1y5MtjK0SXsEEH1owMfgQRTvotZSrOTq-nwrG2vryCmOrIlE9i7brzO4511QsL63qmfsLtkk8DlO_nHQuR5MuLQMZYodBzRxcyWbwEuG_bCyYDiI/s1600-h/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 98px; height: 102px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlll15tfNIlcl7XVNNy0Ev1b4ZZXo1y5MtjK0SXsEEH1owMfgQRTvotZSrOTq-nwrG2vryCmOrIlE9i7brzO4511QsL63qmfsLtkk8DlO_nHQuR5MuLQMZYodBzRxcyWbwEuG_bCyYDiI/s320/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot; alt=&quot;Serial Kepahlawanan Anis Matta&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5273384522371759250&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Tidak ada pahlawan sejati yang besar yang tidak mempunyai struktur filosofi yang solid dan kuat. Filosofi adalah sebuah ruang kecil dalam kepribadian kita darimana seluruh tindakan diarahkan dan dikontrol. Tindakan-tindakan kepahlawanan. Orang-orang yang tidak mempunyai pikiran-pikiran kepahlawanan. Orang-orang yang tidak mempunyai pikiran-pikiran besar tidak akan terarahkan untuk melakukan tindakan-tindakan kepahlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filosofi adalah kerangka pikiran yang terbentuk sedemikian rupa dalam diri kita dan berfungsi memberi kita ruang bagi semua tindakan yang &quot;mungkin&quot; kita lakukan. Semakin luas &quot;kerangka berfikir&quot; itu, semakin luas &quot;wilayah tindakan&quot; yang mungkin kita lakukan. Saya menyebutnya &quot;wilayah kemungkinan&quot;. Setiap tindkan yang mempunyai wujud dalam pikiran kita akan segera masuk dalam wilayah kemungkinan. Pada saat sebuah tindakan masuk dalam wilayah kemungkinan itu, kita akan segera merasakan sesuatu yang ingin saya sebut sebagai &quot;perasaan berdaya&quot;. Yaitu semacam keyakinan yang menguasai jiwa kita bahwa kita &quot;mampu&quot; melakukannya. Keyakinan itu saja sudah memadai untuk merangsang dorongan dari dalam jiwa kita untuk melakukannya. Begitulah akhirnya &quot;tekad&quot; terbentuk. Dan tekad seperti ini adalah &quot;power&quot; karena ia lahir dari perasaan berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filosofi terbentuk dalam diri kita sebagai kumulasi dari kerja-kerja imajinatif. Adapun imajinasi itu sendiri merupakan bagian dari fungsi pikiran dan emosi sekaligus. Itu merupakan proses yang paling sublim dalam diri kita, tetapi sekaligus merupakan tahapan kreativitas yang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian kita. Seperti ketika kita menyusun kata menjadi kalimat, atau memadaukan warna menjadi gambar, atau menyerap selera ke dalam desain, seperti itulah imajinasi mempertautkan anak-anak pikiran menjadi sebuah filosofi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian dari yang terekam dalam filosofi itu adalah cara memaknai suatu sisi kepahlawanan. Misalnya, cara Khalid bin Walid memaknai Jihad atau peperangan yang menjadi sisi kepahlawanannya. Ia pernah mengatakan, &quot;Berada pada suatu malam yang sangat dingin untuk berjihad di jalan Allah lebih aku senangi daripada mendapatkan hadiah seorang pengantin perempuan cantik di malam pengantin&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau misalnya, cara Amr bin Ash memaknai keterampilan politik seorang pemimpin: &quot;Jika sesorang pemimpin tahu bagaimana memasuki suatu urusan, maka ia harus tahu juga bagaimana keluar dari urusan itu. Sesempit apapun jalan keluar yang tersedia.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau misalnya, cara Umar bin Khathab memaknai akseptabilitas seorang pemimpin di mata Allah dalam sebuah pesannya kepada para pejabat di masa kekhilafahannya, &quot;Ketahuilah kedudukan Anda di mata Allah dengan cara melihat tingkat penerimaan masyarakat kepada anda.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, filosofi juga membicarakan harapan-harapan kita, arti kehormatan, sumber motivasi, apa-apa yang kita suka dan kita benci, proses pemaknaan terhadap sesuatu, fungsi keterampilan kepribadian, dan seterusnya. Pada akhirnya apa digambarkan oleh filosofi itu adalah keseluruhan kepribadian kita. Dan itulah kunci kepribadian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/2740420200403825547/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/filosofi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/2740420200403825547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/2740420200403825547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/filosofi.html' title='Filosofi'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlll15tfNIlcl7XVNNy0Ev1b4ZZXo1y5MtjK0SXsEEH1owMfgQRTvotZSrOTq-nwrG2vryCmOrIlE9i7brzO4511QsL63qmfsLtkk8DlO_nHQuR5MuLQMZYodBzRxcyWbwEuG_bCyYDiI/s72-c/Serial+Kepahlawanan.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-3486199088130063644</id><published>2008-11-21T08:32:00.009+07:00</published><updated>2009-09-07T04:20:23.317+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kompetisi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Kompetisi</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCc6RJUR7mAzz4Ce_gfRzy4CnmBuNdXsDMFm204reWKXCN6LpMrg4PQ01b_VIjkugdCktIrF2PYor7pCSXdGI8O6j48eiJKxzn62zDyHJCh3I1UDz1B6oF8AIxOrMQPf_M7X4qdxnJaXs/s1600-h/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 102px; height: 129px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCc6RJUR7mAzz4Ce_gfRzy4CnmBuNdXsDMFm204reWKXCN6LpMrg4PQ01b_VIjkugdCktIrF2PYor7pCSXdGI8O6j48eiJKxzn62zDyHJCh3I1UDz1B6oF8AIxOrMQPf_M7X4qdxnJaXs/s320/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot; alt=&quot;Serial Kepahlawanan Anis Matta&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5272640279972982674&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Para pahlawan mukmin sejati tidak akan membuang energi mereka untuk memikirkan seperti apa ia akan ditempatkan dalam sejarah manusia. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana mereka meraih posisi paling terhormat di sisi Allah swt. Itulah sejarah yang sebenarnya. Jika suatu ketika sejarah manusia memberi mereka posisi yang terhormat, itu hanyalah - seperti kata Rasulullah saw, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;berita gembira yang dipercepat.&quot;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Ridha Allah dan tempat yang terhormat di sisi-Nya. Itulah cita-cita sejati para pahlawan mukmin. Itulah ambisi yang sebenarnya, ambisi yang disyariatkan, ambisi yang mendorong lahirnya semangat kompetisi itu sangat berbeda dengan kompetisi di medan lain. Yang membedakannya adalah luas wilayah kompetisi yang tak terbatas, kecuali oleh batasan kebaikan itu sendiri. Sebab, hadiah yang disediakan untuk para kompetitor itu juga tak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mata air inilah para pahlawan mukmin sejati itu mereguk surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang bertakwa, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.&quot; &lt;/span&gt;(Ali Imran: 134).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetisi adalah semangat yang melekat dalam diri para pahlawan, karena ini merupakan cara terbaik untuk mengeksploitasi potensi-potensi mereka. Maka, mereka membutuhkan medan kompetisi yang tak terbatas, sebab ketidakterbatasan itu akan mendorong munculnya semua potensi tersembunyi dalam diri mereka. Dan, medan kompetisi ini memang tidak terbatas, sebab medannya adalah &quot;amal sholih&quot;, dan amal sholih itu beragam serta tidak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetisi juga merupakan cara terbaik untuk membedakan &quot;peringkat&quot; para pahlawan sejati itu di mata Allah swt. Itulah sebabnya Allah swt menyebut generasi mukmin angkatan pertama sebagai &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;assabiqunal awwalun&lt;/span&gt; (orang-orang pertama yang mendahului) atau semacam &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&#39;edvvanced competitor&#39;.&lt;/span&gt; Itu pula sebabnya Allah swt memberi ganjaran pahala yang berbeda-beda sesuai dengan capaian masing-masing mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator yang digunakan untuk menilai kompetisi itu adalah paduan-paduan yang harmonis antara waktu (kecepatan), kualitas, kuantitas, dan manfaat sosial dari setiap unit amal yang kita lakukan. Maka, pahala mujahidin Badar berbeda dengan pahala para mujahidin dari peperangan lain selain Badar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah akhirnya para pahlawan mukmin sejati itu memaknai kebahagiaan. &quot;Setiap kali ia menyelesaikan satu unit amal, dalam tempo yang ringkas dan cepat, dengan kualitas maksimum, dan dengan manfaat sosial sebesar-besarnya, barulah mereka dapat menikmati rentang waktu itu. Kebahagiaan mereka terletak pada selesainya unit-unit amal shalih yang mereka kerjakan dengan cara yang sempurna&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/3486199088130063644/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/kompetisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/3486199088130063644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/3486199088130063644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/kompetisi.html' title='Kompetisi'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCc6RJUR7mAzz4Ce_gfRzy4CnmBuNdXsDMFm204reWKXCN6LpMrg4PQ01b_VIjkugdCktIrF2PYor7pCSXdGI8O6j48eiJKxzn62zDyHJCh3I1UDz1B6oF8AIxOrMQPf_M7X4qdxnJaXs/s72-c/Serial+Kepahlawanan.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-8388580167388715596</id><published>2008-11-20T00:54:00.007+07:00</published><updated>2009-09-07T04:21:03.366+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pengorbanan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Pengorbanan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiF96F2F44JhetrxXvrl1jWTbar2VZbm3WnUgECZ73qzHwsetnT4ATF6_glymyiO4GY2MUV8RrGX6C3a2aBN9hl1jsa2PwGg_7NuR4ud1SOc9SsnbiGXOplkxnQsPcVLAsCTkdpRYtUrKI/s1600-h/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 92px; height: 138px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiF96F2F44JhetrxXvrl1jWTbar2VZbm3WnUgECZ73qzHwsetnT4ATF6_glymyiO4GY2MUV8RrGX6C3a2aBN9hl1jsa2PwGg_7NuR4ud1SOc9SsnbiGXOplkxnQsPcVLAsCTkdpRYtUrKI/s320/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot; alt=&quot;Serial Kepahlawanan Anis Matta&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5270436710899756738&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Seseorang disebut pahlawan karena timbangan kebaikannya jauh mengalahkan timbangan keburukannya, karena kekuatannya mengalahkan sisi kelemahannya. Jika engkau mencoba menghitung kesalahan dan kelebihannya, niscaya engkau menemui kesalahan dan kelemahannya itu &quot;tertelan&quot; tertelan oleh kebaikan dan kekuatnnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kebaikan dan kekuatan itu bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan merupakan rangkaian amal yang menjadi jasanya bagi kehidupan masyarakat manusia. Itulah sebabnya tidak semua orang baik dan kuat menjadi pahlawan yang dikenang dalam ingatan kolektif masyarakat atau apa yang kita sebut sejarah. Hanya apabila kebaikan dan kekuatan menjelma jadi matahari yang menerangi kehidupan, atau purnama yang merubah malam jadi indah, atau mata air yang menghilangkan dahaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai sosial setiap kita terletak pada apa yang kita berikan kepada masyarakat, atau pada kadar manfaat yang dirasakan masyarakat dari keseluruhan &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;performance&lt;/span&gt; kepribadian kita. Maka, Rasulullah saw berkata, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;Sebak-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.&quot;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, kita menobatkan seseorang menjadi pahlawan karena ada begitu banyak hal yang telah ia berikan kepada masyarakat. Maka, takdir seorang pahlawan adalah bahwa ia tidak pernah hidup dan berpikir dalam lingkup dirinya sendiri. Ia telah melampaui batas-batas kebutuhan psikologis dan biologisnya. Batas-batas kebutuhan itu bahkan telah hilang dan lebur dalam batas kebutuhan kolektif masyarakatnya dimana segenap pikiran dan jiwanya tercurahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam makna inilah pengorbanan menemukan dirinya sebagai kata kunci kepahlawanan seseorang. Di sini ia betemu dengan pertanggungjawaban, keberanian, dan kesabaran. Tiga hal terakhir ini adalah wadah-wadah kepribadian yang hanya akan menemukan makna dan fungsi kepahlawanannya apabila ada pengorbanan yang mengisi dan menggerakkannya. Pengorbananlah yang memberi arti dan fungsi kepahlawanan bagi sifat-sifat pertanggungjawaban, keberanian dan kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, keempat makna dan sifat ini: rasa tanggungjawab keagamaan, semangat pengorbanan, keberanian jiwa, dan kesabaran, adalah rangkaian dasar yang seluruhnya terkandung dalam ayat-ayat jihad. Dorongannya adalah tanggung jawab keagamaan (semacam semangat penyebaran dan pembelaan). Hakikat dan tabiatnya adalah pengorbanan. Perisainya keberanian jiwa. Namun, nafas panjangnya adalah kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, benarlah apa yang dikatakan Sayyid Qutb, &quot;Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaidah itu tidak saja berlaku bagi kehidupan individu, tetapi juga merupakan kaidah universal yang berlaku bagi komunitas manusia. Syaikh Arselan, pemikir Muslim asal Syiria, yang menulis buku &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Mengapa Kaum Muslimin Mundur dan Orang Barat Maju&lt;/span&gt; menjelaskan jawabannya dalam kalimat yang sederhana, &quot;karena,&quot; kata Syaikh Arselan. &quot;orang-orang barat lebih banyak berkorban daripada kaum Muslimin. Mereka memberi lebih banyak demi agama mereka ketimbang apa yang diberikan kaum Muslimin bagi agamanya&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, mengertilah kita. Dan ketika ada pertanyaan, &quot;Apakah yang dibutuhkan untuk menegakkan agama ini dalam realitas kehidupan?&quot; Maka jawabnya adalah hadirnya para pahlawan sejati yang tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri, tetapi hidup bagi orang lain dan agamanya, serta mau mengorbankan semua yang ia miliki bagi agamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/8388580167388715596/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/pengorbanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/8388580167388715596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/8388580167388715596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/pengorbanan.html' title='Pengorbanan'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiF96F2F44JhetrxXvrl1jWTbar2VZbm3WnUgECZ73qzHwsetnT4ATF6_glymyiO4GY2MUV8RrGX6C3a2aBN9hl1jsa2PwGg_7NuR4ud1SOc9SsnbiGXOplkxnQsPcVLAsCTkdpRYtUrKI/s72-c/Serial+Kepahlawanan.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-4976576744304212255</id><published>2008-11-19T12:16:00.009+07:00</published><updated>2009-09-07T04:21:39.225+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kesabaran"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Kesabaran</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://futuh.com/&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 98px; height: 135px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1A6ChRz6_oLmuEZyOG4IoRnSEZOSUpeoXAWn9046tRAfk5y3gFJUTNuVQaBYjAfaWgZdFRe1eCUraKK9j4APwk9Xzg_Zlyu8qBpeshzN4ePpVnjuvua5uePTHPM5hGya4f4b_nnRiRWk/s320/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot; alt=&quot;Serial Kepahlawanan Anis Matta&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5270241715947220594&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Sebab kesabaran adlah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri seorang pahlawan. Maka, ulama kita dulu mengatakan, &quot;Keberanian itu sesungguhnya hanyalah kesabaran sesaat.&quot;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Resiko adalah pajak keberanian. Dan hanya kesabaran yang dapat menyuplai seorang pemberani dengan kemampuan untuk membayar pajak itu terus menerus. Itulah yang dimaksud Allah swt dalam firman-Nya, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;...Jika ada di antara kamu dua puluh orang penyabar, niscaya mereka akan mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada di antara kamu seratus orang (penyabar), niscaya mereka akan mengalahkan seribu orang kafir.&quot; &lt;/span&gt;(Al-Anfal: 65).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak pemberani yang tidak dapat mengakhiri hidupnya sebagi pemberani. Karena mereka gagal menahan beban resiko. Jadi, keberanian adalah aspek ekspansif dari kepahlawanan. Akan tetapi, kesabaran adalah aspek definitifnya. Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa kita mampu membawa beban idealisme kepahlawanan, dan sekuat apa kita mampu &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;survive&lt;/span&gt; dalam menghadapi tekanan hidup. Mereka yang memiliki sifat ini pastilah berbakat menjadi pemimpin besar. Coba simak firman Allah swt ini, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;Dan Kami jadikan di antara mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka besabar. Dan adalah mereka selalu yakin dengan ayat-ayat Kami. &lt;/span&gt;(As-Sajadah: 24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kemudian ayat-ayat kesabaran turun beruntun dalam Al-Quran dan dijelaskan dengan detail beserta contoh aplikasinya oleh Rasulullah saw, sampai-sampai Allah menempatkan kesabaran dalam posisi yang paling terhormat ketika Ia mengatakan, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;Mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.&quot;&lt;/span&gt;(Al-Baqarah: 45).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasianya adalah karena kesabaran ibarat wanita yang melahirkan banyak sifat lainnya. Dari kesabaranlah lahir sifat santun. Dari kesabaran pula lahir kelembutan. Bukan hanya itu. Kemampuan menjaga rahasia juga lahir dari lahir kesabaran. Demikianlah pula berturut-turut lahir kesungguhan, kesinambungan dalam bekerja, dan yang mungkin sangat penting adalah ketenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kesabaran itu pahit. Semua kita tahu begitulah rasanya kesabaran itu. Dan begitulah suatu saat Rasulullah saw mengatakan kepada seorang wanita yang sedang menangisi kematian anaknya, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;Sesungguhnya kesabaran itu hanya pada benturan pertama&quot;.&lt;/span&gt; (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pahitnya dari kesabaran itu hanya permulaannya. Sebab, kesabaran pada benturan pertama menciptakan kekebalan pada benturan selanjutnya. &quot;Mereka memanahku bertubi-tubi, sampai-sampai panah itu hanya menembus panah,&quot; kata penyair Arab nomor wahid sepanjang sejarah, Al-Mutanabbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang memiliki naluri kepahlawanan dan keberanian harus mengambil saham terbesar dari kesabaran. Mereka harus sabar dalam segala hal; ketaatan, meninggalkan maksiat, atau menghadapi cobaan. Dan dengan kesabaran tertinggi. Sebagaimana perkataan Ibnu Qayyim, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;Sampai akhirnya kesabaran itu sendiri yang gagal mengejar kesabarannya.&quot;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/4976576744304212255/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/kesabaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/4976576744304212255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/4976576744304212255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/kesabaran.html' title='Kesabaran'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1A6ChRz6_oLmuEZyOG4IoRnSEZOSUpeoXAWn9046tRAfk5y3gFJUTNuVQaBYjAfaWgZdFRe1eCUraKK9j4APwk9Xzg_Zlyu8qBpeshzN4ePpVnjuvua5uePTHPM5hGya4f4b_nnRiRWk/s72-c/Serial+Kepahlawanan.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-4570524303446344452</id><published>2008-11-18T06:26:00.007+07:00</published><updated>2009-09-07T04:22:15.097+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Keberanian"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Keberanian</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnHtbvxRueGU8yP6ypk8VLWUqs3g4dmbY5G_DcHtDsITULul6kpr84MulKD4B96PeAE4U97rKjUcSvNgPpx9QW8i0Q8M_1HKgGFXhjolkNqrg5oWLvWA9TPTDdPWUr7Fv7MnKhyycPjI0/s1600-h/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 105px; height: 131px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnHtbvxRueGU8yP6ypk8VLWUqs3g4dmbY5G_DcHtDsITULul6kpr84MulKD4B96PeAE4U97rKjUcSvNgPpx9QW8i0Q8M_1HKgGFXhjolkNqrg5oWLvWA9TPTDdPWUr7Fv7MnKhyycPjI0/s320/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot; alt=&quot;Serial Kepahlawanan Anis Matta&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5269772189042631634&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Saudara yang paling dekat dari naluri kepahlawanan adalah keberanian. Pahlawan sejati selalu merupakan seorang pemberani sejati. Tidak akan pernah seseorang disebut pahlawan, jika ia tidak pernah membuktikan keberaniannya. Pekerjaan-pekerjaan besar atau tantangan-tantangan besar dalam sejarah selalu membutuhkan kadar keberanian yang sama besarnya dengan pekerjaan dan tantangan itu. Sebab, pekerjaan dan tantangan besar itu selalu menyimpan resiko. Dan, tak ada keberanian tanpa resiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naluri kepahlawanan adalah akar dari pohon kepahlawanan. Akan tetapi, keberanian adalah kekuatan yang tersimpan dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang untuk maju menunaikan tugas, baik tindakan maupun perkataan, demi kebenaran dan kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan dan dengan menyadari sepenuhnya semua kemungkinan resiko yang akan diterimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah perhatikan ayat-ayat jihad dalam Al-Quran. Perintah ini hanya dapat terlaksana di tangan para pemberani. Cobalah perhatikan betapa Al-Quran memuji ketegaran dalam perang, dan sebaliknya membenci para pengecut dan orang-orang yang takut pada resiko kematian. Apakah yang dapat kita pahami dari hadis riwayat muslim ini, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;Sesungguhnya pintu-pintu surga itu berada dibawah naungan pedang?&quot;&lt;/span&gt; Adakah makna lain, selain dari kuatnya keberanian akan mendekatkan kita ke surga? Maka, dengarkanlah pesan Abu Bakar kepada tentara-tentara Islam yang berperang, &quot;Carilah kematian, niscaya kalian akan mendapatkan kehidupan.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian dari keberanian itu adalah fitrah yang tertanam dalam diri seseorang. Sebagian yang lain biasanya diperoleh melalui latihan. Keberanian, baik yang bersumber dari fitrah maupun melalui latihan, selalu mendapatkan pijakan yang kokoh pada kekuatan kebenaran dan kebajikan, keyakinan dan cinta yang kuat terhadap dan jalan hidup, kepercayaan pada akhirat, dan kerinduan yang menderu-deru kepada Allah. Semua itu adalah mata air yang mengalirkan keberanian dalam jiwa seorang mukmin. Bahkan, meskipun kondisi fisiknya tak terlalu mendukungnya, seperti jenis keberanian Ibnu Masud dan Abu Bakar. Sebaliknya, ia bisa menjadi lebih berani dengan dukungan fisik, seperti keberanian Umar, Ali, dan Khalid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, Islam hendak memadukan antara keberanian fitrah dan keberanian iman. Maka, beruntunlah ajaran-ajarannya menyuruh umatnya melatih anak-anak untuk berenang, berkuda, dan memanah. Dengarlah sabda Rasulullah saw, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;Ajarilah anakmu berenang sebelum menulis. Karena ia bisa diganti orang lan jika ia tak pandai menulis, tapi ia tidak dapat diganti orang lain jika ia tak mampu berenang.&quot;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar lagi sabdanya, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;Kekuatan itu pada memanah, kekuatan itu pada memenah, kekuatan itu pada memanah.&quot;&lt;/span&gt; Itu semua sekelompok keterampilan fisik yang mendukung munculnya keberanian fitrah. Tinggal lagi keberanian iman. Maka, dengarlah nasihat Umar, &quot;Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kepada orang-orang Romawi yang berlindung di balik benteng di Kinasrin, Khalid berkata, &quot;Andaikata kalian bersembunyi di langit, niscaya kuda-kuda kami akan memanjat langit untuk membunuh kalian. Andaikata kalian berada di perut bumi, niscaya kami akan menyelami bumi untuk membunuh kalian. &quot; Roh kebereranian itu pun memadai untuk mematikan semangat perlawanan orang-orang Romawi. Mereka takluk. Mungkinkah kita mendengar ungkapan itu lagi hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/4570524303446344452/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/keberanian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/4570524303446344452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/4570524303446344452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/keberanian.html' title='Keberanian'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnHtbvxRueGU8yP6ypk8VLWUqs3g4dmbY5G_DcHtDsITULul6kpr84MulKD4B96PeAE4U97rKjUcSvNgPpx9QW8i0Q8M_1HKgGFXhjolkNqrg5oWLvWA9TPTDdPWUr7Fv7MnKhyycPjI0/s72-c/Serial+Kepahlawanan.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-8743641902730884046</id><published>2008-11-17T10:17:00.009+07:00</published><updated>2009-09-07T04:22:44.960+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Naluri Kepahlawanan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Naluri Kepahlawanan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOyuhkd68OOLZFE_ippHsmbnwAGRvRgqTY0y-eGpRzajOiG5a7guL7wgUES7ChTwFExMyEIFwQUSPE8e5reEHjcMzjXnKL35zOE9rYS_aZh8VxrLuopEdqYznhljQz0XbCdUHyTuuH_j0/s1600-h/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 80px; height: 111px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOyuhkd68OOLZFE_ippHsmbnwAGRvRgqTY0y-eGpRzajOiG5a7guL7wgUES7ChTwFExMyEIFwQUSPE8e5reEHjcMzjXnKL35zOE9rYS_aZh8VxrLuopEdqYznhljQz0XbCdUHyTuuH_j0/s320/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot; alt=&quot;Serial Kepahlawanan Anis Matta&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5269467553757399234&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Tantangan-tantangan besar dalam sejarah hanya dapat dijawab oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Itulah sebabnya kita menyebut para pahlawan itu orang-orang besar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Itu pula sebabnya mengapa kita dengan sukarela menyimpan dan memelihara rasa kagum kepada para pahlawan. Manusia berhutang budi kepada para pahlawan mereka. Dan kekaguman adalah sebagian dari cara meeka membalas utang budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, karena itu pula para pahlawan selalu muncul di saat-saat yang sulit, atau sengja dilahirkan di tengah situasai yang sulit. Mereka datang untuk membawa beban yang tak dipikul oleh manusia-manusia di zamannya. Mereka bukanlah kiriman gratis dari langit. Akan tetapi, sejarah kepahlawanan mulai dicatat ketika naluri kepahlawanan mereka merespon tantangan-tantangan kehidupan yang berat. Ada tantangan dan ada jawaban. Dan hasil dari respon itu adalah lahirnya pekerjaan-pekerjaan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan adalah stimulan kehidupan yang disediakan Allah untuk merangsang munculnya naluri kepahlawanan dalam diri manusia. Orang-orang yang tidak mempunyai naluri ini akan melihat tantangan sebagai beban berat, maka mereka menghindarinya dan dengan sukarela menerima posisi kehidupan yang tidak terhormat. Namun, orang-orang yang mempunyai naluri kepahlawanan akan mengatakan tantangan-tantangan kehidupan itu: Ini untukku. Atau seperti ungkapan orang-orang&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt; shadiq&lt;/span&gt; dalam perang Khandaq yang diceritakan Al-Quran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Dan tatkala orang-orang beriman melihat golongan-golongan yang saling bersekutu itu, (dalam menghadapi orang-orang beriman), mereka berkata, &quot;Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita&quot;. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka, kecuali iman dan ketundukkan. &lt;/span&gt;(Al-Ahzab: 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naluri kepahlawanan lahir dari rasa kagum yang dalam kepada kepahlawanan itu sendiri. Hal itu akan menggoda sang pengagum untuk melihat dirinya sembari bertanya, Apa engkau dapat melakukan hal yang sama? Dan jika ia merasa memiliki kesiapan-kesiapan dasar, maka ia akan menemukan dorongan yang kuat untuk mengeksplorasi segenap ptensinya untuk tumbuh dan berkembang. Jadi, naluri kepahlawanan adalah kekuatan yang mendorong munculnya potensi-potensi tersembunyi dalam diri seseorang, kekuatan yang berada di balik pertumbuhan ajaib kepribadian seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam serial &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Jenius-jenius Islam&lt;/span&gt;, Abbas Mahmud Al-Aqqad menemukan kunci kepribadian Abu Bakar As-Shidiq dalam kata kekaguman kepahlawanan. Kunci kepribadian, kata Al-Aqqad, adalah perangkat lunak yang dapat menyingkap semua tabir kepribadian seseorang. Ia berfungsi seperti kunci yang dapat membuka pintu dan mengantar kita memasuki semua ruang dalam rumah itu. Dan kita hanya dapat memahami pekerjaan-pekerjaan besar yang telah diselesaikan Abu Bakar dalam kunci rahasia ini. Apakah anda juga memiliki kunci rahasia itu? Saya tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/8743641902730884046/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/naluri-kepahlawanan_17.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/8743641902730884046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/8743641902730884046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/naluri-kepahlawanan_17.html' title='Naluri Kepahlawanan'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOyuhkd68OOLZFE_ippHsmbnwAGRvRgqTY0y-eGpRzajOiG5a7guL7wgUES7ChTwFExMyEIFwQUSPE8e5reEHjcMzjXnKL35zOE9rYS_aZh8VxrLuopEdqYznhljQz0XbCdUHyTuuH_j0/s72-c/Serial+Kepahlawanan.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-885080023603623537</id><published>2008-11-16T05:25:00.006+07:00</published><updated>2009-09-07T04:23:12.232+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="O Pahlawan Negeriku"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>O, Pahlawan Negeriku</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2PYhKVrIZXcC1HSUStoGaP2kJYzacSjsBL-_Cc0q7ppqpYSFOxO6bkKB2mviZkogaPIZFFbtZskMTiOVUX9oIn56FnhFFlb3_NtZyqWYwmV4lRh0ImkC_krXfTY0KTQm-kBjVWP4TWZU/s1600-h/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 85px; height: 118px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2PYhKVrIZXcC1HSUStoGaP2kJYzacSjsBL-_Cc0q7ppqpYSFOxO6bkKB2mviZkogaPIZFFbtZskMTiOVUX9oIn56FnhFFlb3_NtZyqWYwmV4lRh0ImkC_krXfTY0KTQm-kBjVWP4TWZU/s320/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot; alt=&quot;Serial Kepahlawanan Anis Matta&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5269014285395211170&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&quot;Di masa pembangunan ini&quot;, kata Chairil Anwar mengenang Diponegoro, &quot;Tuan hidup kembali. Dan bara kagum menjadi api&quot;.&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Kita selalu berkata jujur kepada nurani kita ketika kita melewati persimpangan jalan sejarah yang curam. Saat itu kita merindukan pahlawan. Seperti Chairil Anwar tahun itu, 1943, yang merindukan Diponegoro. Seperti juga kita saat ini. Saat ini benar kita merindukan pahlawan itu. Karena krisis demi krisis telah merobohkan satu per satu sendi bangunan negeri kita. Negeri ini hampir seperti kapal pecah yang tak jemu-jemu dihantam gunungan ombak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah badai ini kita merindukan pahlawan itu. Pahlawan yang, kata Sapardi, &quot;Telah berjanji kepada sejarah untuk pantang menerah&quot;. Pahlawan yang, kata Chairil Anwar, &quot;berselempang semangat yang tak bisa mati&quot;. Pahlawan yang akan membacakan &quot;Pernyataan&quot; Mansur Samin:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Demi amanat dan beban rakyat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;                     Kami nyatakan keseluruh dunia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;                     Telah bangkit ditanah air&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;                     Sebuah aksi kepahlawanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;                     Terhadap kepalsuan dan kebohongan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;                     Yang bersarang dalam kekuasaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;                     Orang-orang pemimpin gadungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Maka datang jugalah aku kesana, akhirnya. untuk kali pertama. Ke Taman Makam Pahlawan, di Kalibata. Seperti dulu aku pernah datang kemakam para sahabat Rosululloh saw di Baqi&#39; dan Uhud, di Madinah. Karena kerinduan itu. Dan kudengar Chairil Anwar seperti mewakili mereka :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt; Kami sudah coba apa yang kami bisa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;                     Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;                     Kami sudah beri kami punya jiwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;                     Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;                     Kami cuma tulang-tulang berserakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;                     Tapi adalah kepunyaanmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;                     Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tulang-tulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan? Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid? Ataukah tak lagi ada ibu yang mau, seperti kata Taufik Ismail di tahun 1966, &quot;Merelakan kalian pergi berdemonstrasi... karena kalian pergi menyempurnakan... kemerekaan ini&quot;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tulang belulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukah, seperti kata Sayyid Quthub, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tinggalkan senjata dari bahumu?&quot;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak! Kaulah pahlawan yang kurindu itu. Dan beratus jiwa di negeri sarat nestapa ini. Atau jika tidak, biarlah kepada diriku saja aku berkata : &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;&quot;Jadilah pahlawan itu&quot;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/885080023603623537/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/o-pahlawan-negeriku_16.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/885080023603623537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/885080023603623537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/o-pahlawan-negeriku_16.html' title='O, Pahlawan Negeriku'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2PYhKVrIZXcC1HSUStoGaP2kJYzacSjsBL-_Cc0q7ppqpYSFOxO6bkKB2mviZkogaPIZFFbtZskMTiOVUX9oIn56FnhFFlb3_NtZyqWYwmV4lRh0ImkC_krXfTY0KTQm-kBjVWP4TWZU/s72-c/Serial+Kepahlawanan.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-7171520612457543953</id><published>2008-11-15T13:59:00.006+07:00</published><updated>2009-09-07T04:23:47.366+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pesan Untuk Orang-Orang Biasa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Pesan Untuk Orang-Orang Biasa</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://futuh.com/product_info.php?manufacturers_id=25&amp;amp;products_id=424&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 94px; height: 128px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEieANJ08WPgwb_DbBKemAhsbufkU-ryGsoR2F25jk6v4nXyylUWKMtJ18-WhL9gCLFofKEn7w3bjDrBcXvaZTGjAQTMofIFwUa4_XcU6nl-veM0wEvxkPDH6XmvLuQix4yegzSfM9vePHs/s320/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot; alt=&quot;Serial Kepahlawanan Anis Matta&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5268775628838206834&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Kumpulan tulisan ini adalah anak-anak zamannya. Lahir saat badai menerpa seluruh sisi kehidupan bangsa kita. Kumpulan tulisan ini adalah kerja kecil untuk tetap mempertahankan harapan dan optimisme kita ditengah badai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis adalah takdir semua bangsa. Ia tidak perlu disesali. Apalagi dikutuk. Kita hanya perlu meyakini sebuah kaidah, bahwa masalah kita bukan pada krisis itu terjadi. Itu tanda kelangsungan hidup atau kehancuran sebuah bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan kebumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali kelangit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak harus dicatat dalam buku sejarah. Atau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka bukan malaikat. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah gunung: karya kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang biasa yang melakukan kerja-kerja besar itulah yang kita butuhkan di saat krisis. Bukan orang-orang yang tampak besar tapi hanya melakukan kerja-kerja kecil lalu menulisnya dalam autobiografinya. Semangat untuk melakukan kerja-kerja besar dalam sunyi yang panjang itulah yang dihidupkan kumpulan tulisan ini. Maka tulisan-tulisan ini mencoba menghadirkan makna-makna yang melatari sebuah tindakan kepahlawanan. Bukan sekedar cerita heroisme yang melahirkan kekaguman tapi tidak mendorong kita meneladaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pahlawan bukan untuk dikagumi. Tapi untuk diteladani. Maka makna-makna yang melatari tindakan mereka yang perlu dihadirkan ke dalam kesadaran kita. Jadi tulisan-tulisan ini adalah pesan untuk orang-orang biasa, seperti saya sendiri, atau juga anda para pembaca, yang mencoba dengan tulus memahami makna-makna itu, lalu secara diam-diam merakit kerja-kerja kecil menjadi sebuah gunung karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses blog ini tidak perlu diukur dengan tiras besar. Tapi jika ada satu-dua hati yang mulai tergerak, dan mulai bekerja, saya akan cukup yakin berdoa kepada Allah: &quot;Ya Allah, Jadikanlah kerja kecil ini sebagai kendaraan yang akan mengantarku menuju ridha dan surga-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/7171520612457543953/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/pesan-untuk-orang-orang-biasa_15.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/7171520612457543953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/7171520612457543953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/pesan-untuk-orang-orang-biasa_15.html' title='Pesan Untuk Orang-Orang Biasa'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEieANJ08WPgwb_DbBKemAhsbufkU-ryGsoR2F25jk6v4nXyylUWKMtJ18-WhL9gCLFofKEn7w3bjDrBcXvaZTGjAQTMofIFwUa4_XcU6nl-veM0wEvxkPDH6XmvLuQix4yegzSfM9vePHs/s72-c/Serial+Kepahlawanan.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2835867764977882750.post-6980981699327081212</id><published>2008-11-14T06:05:00.018+07:00</published><updated>2009-09-07T04:28:12.127+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Anis Matta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pengantar Taufiq Ismail"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serial Kepahlawanan"/><title type='text'>Pengantar Taufiq Ismail</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqitymGFRvFsxx8qNtgh2Cfzj-dcOK4qtTTVDjxYZdWvy6_oUMVGfGtH57s8FbDOsWmlo88LlVOXM74uhnCN-EVajlA6qKn7qVPx1IL__Eoeyu27-eZshq868z3jr5Q9On1hRo65Uh_YM/s1600-h/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 90px; height: 126px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqitymGFRvFsxx8qNtgh2Cfzj-dcOK4qtTTVDjxYZdWvy6_oUMVGfGtH57s8FbDOsWmlo88LlVOXM74uhnCN-EVajlA6qKn7qVPx1IL__Eoeyu27-eZshq868z3jr5Q9On1hRo65Uh_YM/s320/Serial+Kepahlawanan.jpeg&quot; alt=&quot;Serial Kepahlawanan Anis Matta&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5268450498771179794&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&quot;Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu, agar anak yang pengecut jadi pemberani&quot;&lt;br /&gt;(Nasihat Umar Bin Khathab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerisauan pengarang artikel ini, ialah bahwa ketika akhir-akhir ini krisis besar melanda negeri, &quot;kita justru mengalami kelangkaan pahlawan&quot;. Memang itu sama kita rasakan. Lebih risau lagi Anis Matta selanjutnya memperkirakan bahwa dengan demikian telah tampak &quot;isyarat kematian sebuah bangsa&quot;. Tapi jangan, janganlah kiranya malapetaka sakaratulmaut itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahlawan yang didambakan Anis bukan saja pahlawan yang membebaskan bangsa dari krisis besar atau pahlawan di medan peperangan gawat, tapi jauh lebih luas lagi bentangannya - pahlawan dunia pemikiran, pendidikan, keilmuan, pebisnis, kesenian dan kebudayaan. Demikianlah esensi renungan yang dapat kita tangkap dari himpunan 76 kolom Serial Kepahlawanan majalah tarbawi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacaanya yang luas dalam sejarah kepahlawanan dunia islam memungkinkan pengarang membentangkan panorama tarikh sejak zaman Rasulullah sampai masa kini secara informatif dalam kemasan kolom ringkas dan padat, sependek 400-500 kata. Tidak mudah menulis ringkas bernas, seperti juga tidak gampang bicara pendek padat makna. Menulis panjang bertele-tele dan berbual berlama-lama, mudah. Kolom-kolom alit Anis ini sedap dibaca, bahasanya terpelihara, puitis disana-sini, pilihan judul mengena, metaforanya cerdas, pesannya jelas, dan disampaikan dengan rendah hati.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;li&gt;Menurut Anis, sejarah sesungguhnya &quot;merupakan industri para pahlawan.&quot; Dalam &quot;skala peradaban&quot; setiap bangsa bergiliran &quot;merebut piala kepahlawanan.&quot; Mereka selalu muncul disaat-saat sulit, atau sengaja (Allah) lahir (kan mereka) ditengah situasi yang sulit. Pahlawan sejati senantiasa pemberani sejati. Keberanian itu fitrah tertanam pada diri seseorang, atau diperoleh melalui latihan. Keduanya ini berpijak kuat pada keyakinan dan cinta yang kuat terhadap prinsip dan jalan hidup, kepercayaan pada hari kiamat, dan kerinduan yang menderu-deru untuk bertemu Allah. Dengarlah nasihat Umar bin Khathab: &quot;Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.&quot;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pahlawan dari generasi sahabat punya daya cipta sarana materi di tiga wilayah: di medan perang, dalam percaturan politik dan di dunia bisnis. Abu Bakar dan Utsman bin Affan biasa menginfakkan&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt; total&lt;/span&gt; hartanya, bukan sekedar &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;marginnya&lt;/span&gt;, untuk memulai usaha dari nol kembali, karena mereka yakin pada kemampuan daya cipta sarana materi mereka. Umar bin Khathab dan Abdurrahman bin Auf selalu menyedekahkan 50% hartanya untuk ummat. Umar bin Khathab dan Khalid bin Walid : keduanya adalah petarung sejati, pemimpin sejati dan juga pebisnis sejati. Berkata Umar: &quot;Tak ada pekerjaan yang paling aku senangi setelah perang dijalan Allah, selain dari bisnis.&quot; Ini menjelaskan mengapa generasi sahabat bukan hanya mampu memenangkan seluruh pertempuran, tapi juga mampu menciptakan kemakmuran setelah mereka berkuasa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pahlawan mukmin sejati tidak membuang energi mereka untuk memikirkan apakah ia akan ditempatkan dalam sejarah manusia, apakah ia akan ditempatkan dalam liang lahat Taman Pahlawan. Yang mereka pikirkan ialah bagaimana meraih posisi paling terhormat di sisi Allah swt. Kata kunci mencapai ini adalah &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;keikhlasan&lt;/span&gt;. Inilah yang membedakan mereka dengan pahlawan sekuler. Sama memderita masuk penjara, sama terbuai di tiang gantungan, tapi yang satu karena dunia fana, dan yang satu lagi karena Allah semata.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Tiga butir pikiran Anis Matta di tiga paragraf di atas, saya kutipkan untuk cicipan awal para pembaca sebelum menikmati sendiri hidangan kumpulan kolom yang &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;ladzidz jiddan&lt;/span&gt; ini. Tapi Anis tidak selalu serius, dia sesekali bisa juga melucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kolom &quot;Sahabat Sang Pahlawan&quot; dikisahkannya pahlawan ilmu dan sastra kita, Buya Hamka, yang datang bersama istri beliau ke sebuah majelis, memenuhi undangan ceramah. Tiba-tiba, tanpa diduga, protokol juga mempersilahkan istri beliau untuk berceramah. Ini dilakukan dengan sangkaan baiksaja: istri sang ulama mungkin juga memiliki ilmu yang sama. Dan, istri beliau benar-benar naik kepodium. Buya Hamka terhenyak. Tapi itu cuma satu menit. Setelah memberi salam, istri beliau berkata: &quot;Saya bukan penceramah. Saya hanya tukang masak untuk sang penceramah.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga menikmati blog Mencari Pahlawan Indonesia ini. Semoga, seperti yang disebutkannya dalam kolom paling akhir, yang dicari itu &quot;bahkan sudah ada disini. Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu berjanji merebut takdir kepahlawanan mereka.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahanlah begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anis Matta&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/feeds/6980981699327081212/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/naluri-kepahlawanan_13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/6980981699327081212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2835867764977882750/posts/default/6980981699327081212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://serialkepahlawanan.blogspot.com/2008/11/naluri-kepahlawanan_13.html' title='Pengantar Taufiq Ismail'/><author><name>Nawaites</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14249355050265731886</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_pHSWoG0_6Yc/SSWTzZLPCRI/AAAAAAAAAE8/lZGthy0B4y4/S220/Yusuf+Al-Qordowi+1.jpeg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqitymGFRvFsxx8qNtgh2Cfzj-dcOK4qtTTVDjxYZdWvy6_oUMVGfGtH57s8FbDOsWmlo88LlVOXM74uhnCN-EVajlA6qKn7qVPx1IL__Eoeyu27-eZshq868z3jr5Q9On1hRo65Uh_YM/s72-c/Serial+Kepahlawanan.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>