<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169</atom:id><lastBuildDate>Thu, 27 Nov 2025 20:48:55 +0000</lastBuildDate><title>duniaku</title><description></description><link>http://manaree.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (manaree)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>24</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-3285736636583477180</guid><pubDate>Fri, 24 Jul 2009 14:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-24T07:27:39.495-07:00</atom:updated><title>Asam Jawa</title><description>ASAM JAWA&lt;br /&gt;Family LEGUMINOSAE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan Buah asam yang matang terdiri atas 40-50% bagian yang dapat dimakan, dan per 100 g berisi: air 17,8-35,8 g, protein 2-3 g, lemak 0,6 g, karbohidrat 41,1-61,4 g, serat 2,9 g, abu 2,6-3,9 g, kalsium 34-94 mg, fosfor 34-78 mg, besi 0,2-0,9 mg, tiamin 0,33 mg, riboflavin 0,1 mg, niasin 1,0 mg, dan vitamin C 44 mg. Biji segarnya mengandung 13% air, 20% protein, 5,5% lemak, 59% karbohidrat, dan 2,4% abu. Rasa asamnya disebabkan oleh asam tartarat, yang pada saat matang tidak menghilang tetapi sedikit banyak diimbangi oleh meningkatnya kadar gula. Oleh karenanya asam, dikatakan orang sebagai buah yang paling asam, sekaligus paling manis. Deskripsi Berperawakan pohon besar yang selalu hijau, tingginya mencapai 30 m, pangkal batangnya mencapai 1-2 m panjangnya dan 2 m diameternya, tajuknya berdaun lebat, memencar melebar, berbentuk bulat; kulit kayunya kasar, retak retak, berwarna coklat keabu-abuan. Daunnya majemuk bersirip ganda, letaknya berselang-seling, berpenumpu, bertangkai; tangkai daunnya mencapai 1,5 cm panjangnya, meninggalkan bekas yang jelas setelah rontok; helaian daunnya berbentuk agak lonjong, ukurannya mencapai 13 cm x 5 cm; anak daunnya berjumlah 8-16 pasang, berbentuk lonjong menyempit, berukuran (1-3,5) cm x (0,5-1) cm, bertepi rata, pangkalnya miring dan membundar, ujungnya membundar sampai sedikit cabik. Perbungaannya bertipe tandan renggang, terletak lateral dan di ujung ranting, panjangnya mencapai 13 cm; bunganya kirakira 3 cm panjangnya, berbau harum; daun kelopaknya berjumlah 4 helai, berbeda bentuknya, panjangnya mencapai 1,5 cm; daun mahkotanya berjumlah 5 helai, yang belakang dan yang samping berukuran besar dan menonjol, berwarna krem dengan peruratannya berwarna merah-coklat, dua helai yang berada di depan berukuran lebih kecil, berbentuk linier, berwarna putih; benang sarinya 3 utas; putiknya 1 buah berbakal biji sampai 18 butir. Buahnya bertipe polong yang agak silindris, lurus atau bengkok, tidak merekah, berujung membulat, ukurannya mencapai 14 cm x 4 cm, berbiji sampai 10 butir, polongnya itu seringkali menyempit tak beraturan di antara dua biji; eksokarpnya mengeras, berwarna keabu-abuan atau lebih sering coklat bersisik, dengan beberapa benang yang kuat di dalamnya; mesokarpnya tebal dan menyerupai sirop, berwarna coklat-kehitaman; endokarpnya tipis, menjangat. Bijinya tak beraturan bentuknya, membelah ketupat memipih, panjangnya mencapai 18 mm, sangat keras dan berwarna coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Manfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah dan bunga yang berwama hijau dapat digunakan untuk memberi rasa asam yang pekat pada hidangan yang terbuat dari ikan dan daging. Buahnya yang matang dari jenis yang manis biasanya dimakan ketika masih segar sedangkan buahnya dari jenis yang asam dibuat menjadi sari buah, selai, sirup, dan permen. Biji asam juga dapat dimakan setelah direndam dalam air dan dididihkan untuk menghilangkan kulit bijinya. Tepung bijinya dapat dibuat menjadi kue atau roti. Biji yang dipanggang dinyatakan unggul sebagai biji kacang dalam hal rasa. Minyak bijinya-yang mirip dengan minyak biji rami-cocok digunakan untuk membuat cat dan vernis. Kulit kayunya sepat rasanya dan sebagai obat kuat, serta abunya dapat digunakan sebagai obat dalam untuk penguat pencernaan. Dicampur dengan salep atau tapal, kulit kayunya dapat digunakan untuk mengobati luka, borok, bisul, dan ruam. Juga dapat dimanfaatkan rebusannya untuk mengobati asma dan gangguan datang bulan, serta obat demam. Daun mudanya dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit karena rematik, ditempelkan pada luka, atau diberikan sebagai tapal untuk radang dan untuk mengurangi bengkak persendian, serta untuk mengurangi bengkak dan menghilangkan rasa sakit. Rebusan daun yang diberi pemanis mujarab untuk mengobati batuk dan panas. Perasan daun muda yang dipanaskan dan disaring, serta tapal bunganya digunakan untuk obat radang selaput mata. Daging buahnya dapat digunakan untuk obat pendingin asam, pencahar yang lembut dan juga untuk memberantas ketombe. Tepung bijinya dapat digunakan untuk mengobati disentri dan diare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat Tumbuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asam tumbuh baik pada variasi kondisi tanah dan iklim yang luas. Tanaman ini tumbuh di tanah berpasir atau tanah liat, mulai dataran rendah sampai dataran menengah (sampai 1000 m dpl., kadang-kadang 1500 m dpl.), yang di situ hujannya tersebar merata atau musim keringnya panjang dan sangat kentara. Sistem perakarannya yang sangat ekstensif berperan positif terhadap tahannya akan kekeringan dan angin kencang. Di daerah tropik basah (curah hujan &gt; 4000 mm) pohon asam tidak mampu berbunga, dan diperlukan kondisi basah pada tahap akhir perkembangan buahnya. Pohon yang masih muda akan mad oleh embun beku yang ringan saja, tetapi pohon dewasanya rupa-rupanya lebih tahan dingin daripada pohon mangga, avokad, dan jeruk nipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asam dapat diperbanyak dengan benih, pencangkokan, penyambungan, dan penempelan. Anakannya yang berumur satu tahun atau kurang sudah cukup besar untuk .ditanam di lapangan, tetapi mungkin sifatnya berbeda dengan induknya. Pohon induk yang baik biasanya diperbanyak secara vegetatif. Penempelan perisai (shield budding) dan penempelan tambalan (patch budding) serta sambung-celah (cleft grafting) merupakan metode yang cepat dan dapat dipercaya, dan kini digunakan dalam perbanyakan skala besar di Filipina, waktunya yang tepat adalah pada bulan sejuk dan kering, yaitu November sampai Januari. Pohon hasil perbanyakan secara penempelan atau penyambungan ditanam di kebun pada awal musim hujan (di Filipina jatuh pada bulan Mei sampai Juni), dengan jarak tanam 8-10 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeliharaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawatan pohon asam pada umumnya minim, tetapi di perkebunan buah asam di wilayah Delta Tengah, Thailand, dilakukan pemeliharaan secara intensif. Perlakuan ini dimungkinkan karena pohon hasil penyambungan sudah dapat berbuah pada umur 3-4 tahun. Kultivar yang manis ditanam, dan tanaman genjah yang berkualitas unggul tidak memerlukan pertumbuhan perpanjangan; diduga tingginya permukaan air tanah yang menghambat akar tumbuh lebih dalam itu menolong mengerdilkan pohon. Langkah-langkah pengaturan ukuran pohon mencakup jarak tanam yang rapat (kira-kira 500 batang per hektar) dan pemangkasan untuk memperbaharui cabang penghasil buah. Pohon asam memperoleh perlakuan yang sama seperti pohon buah-buahan lainnya di wilayah itu, mencakup pengairan, pemupukan, dan perlindungan tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon asam merupakan inang berbagai hama, seperti penggerek (shot-hole borers), serangga (toy beetles), ulat pemakan daun, cacing (bagworms), kutu bubuk, dan kutu perisai. Pada beberapa musim, hama penggerek buah mengakibatkan kerusakan serius pada buah yang sedang dalam proses pematangan, menyebabkan berkurangnya hasil yang dapat dipasarkan. Penyakit-penyakit seperti yang dilaporkan dari India meliputi berbagai penyakit busuk pohon dan bakteri bercak daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panen dan Pasca Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panen Di Filipina, buah dari kultivar asam dipanen dalam dua tahap: polong hijau untuk bumbu penyedap, dan polong matang untuk diproses. Buah kultivar manis dipanen dalam dua tahap pula: setengah matang (tahap “maiasebo”) dan tahap matang penuh. Pada tahap setengah matang, kulitnya mudah dikupas; daging buahnya berwarna hijau kekuningkuningan dan konsistensinya mirip daging buah apel. Pada tahap matang, daging buahnya mengkerut karena hilang kelembapannya, dan berubah warnanya menjadi coklat kemerah-merahan dan menjadi lengket. Apabila seluruh polongnya akan dijual, buahnya harus dipanen dengan cara menjepitnya untuk menghindari kerusakan polong. Akhirnya polong ini akan jatuh secara alami. Hasil Catatan tentang hasil jarang dijumpai. Dari India dan Sri Langka diperoleh laporan mengenai olahan daging buah per pohon (besar) mencapai 170 kg/tahun; hasil rata-ratanya 80-90 kg. Untuk 100 pohon/ha angka di atas berarti 8-9 ton daging buah olahan per hektar per tahun. Di Filipina, angka 200-300 kg polong/pohon dianggap hasil yang bagus. Kurangnya informasi tentang pembuahan dua-tahunan menunjukkan bahwa pembuahannya cukup teratur. Penanganan pasca panen Buah muda yang digunakan sebagai bumbu masak, dan buah setengah matang atau buah matang yang dimakan dalam keadaan segar, dijual kiloan di pasar. Buah matang untuk diproses mula-mula dikupas, serat-seratnya dibuang, kemudian dijual kiloan dalam bungkus plastik. Buah asam kultivar manis harganya lebih mahal daripada yang asam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber http://www.iptek.net.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/07/asam-jawa.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-7317590411368228239</guid><pubDate>Mon, 20 Jul 2009 10:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-20T04:14:35.366-07:00</atom:updated><title>Teknik Pengamatan Hama dan Analisis Kerusakan</title><description>TEKNIK PENGAMATAN HAMA DAN ANALISIS KERUSAKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;1.Mengetahui teknik pengamatan populasi hama dan kerusakanya.&lt;br /&gt;2.Mengetahui metode pelaporan hama dan pengambilan keputusan tindakan pengendalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar Belakang&lt;br /&gt;Organisme penganggu tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas produksi tanaman di Indonesia baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Hama menimbulkan gangguan tanaman secara fisik, dapat disebabkan oleh serangga, tungau, vertebrata, moluska. Sedangkan penyakit menimbulkan gangguan fisiologis pada tanaman, disebabkan oleh cendawan, bakteri, fitoplasma, virus, viroid, nematoda dan tumbuhan tingkat tinggi. Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor iklim. Sehingga tidak heran kalau pada musim hujan dunia pertanian banyak disibukkan oleh masalah penyakit tanaman sperti penyakit kresek dan blas pada padi, antraknosa cabai dan sebagainya. Sementara pada musim kemarau banyak masalah hama penggerek batang padi, hama belalang kembara, serta thrips pada cabai (Wiyono, 2007). &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari praktikum ini adalah untuk melakukan inventarisasi tentang jenis-jenis hama dan tingkat serangan hama terhadap tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan rakyat di suatu daerah/kecamatan, inventarisasi tentang cara-cara pengendalian hama yang dilakukan petani di suatu daerah/kecamatan, dan mengidentifikasi masalah atau kendala utama yang dihadapi petani dalam menanggulangi masalah hama.&lt;br /&gt;Daerah yang digunakan sebagai lokasi pengamatan serta wawancara masalah inventarisasi masalah hama adalah Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Wilayah ini memiliki luas lahan sekitar 5666,40 Ha yang terdiri dari lahan sawah, lahan perkebunan, lahan hortikultura, lahan pekarangan, lahan tegalan, perumahan penduduk, dan lain-lain. Luas lahan sawah adalah 1923,23 ha, lahan teegalan adalah 393,50 ha, dan pekarangan adalah 2221,27 ha. Sedangkan sisanya adalah peruamahan penduduk dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinjauan Pustaka&lt;br /&gt;Hama seperti mahluk hidup lainnya perkembangannya dipengaruhi oleh faktor faktor iklim baik langsung maupun tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara relatif dan foroperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, keperidian, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga. Sebagai contoh hama kutu kebul (Bemisia tabaci) mempunyai suhu optimum 32,5º C untuk pertumbuhan populasinya (Bonaro et. al., 2007). &lt;br /&gt;Adapun pengendalian hama secara umum pada berbagai komoditas tanaman dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya (Heagle et al., 2002) :&lt;br /&gt;A.Cara Sanitasi&lt;br /&gt;Yaitu dengan menjaga kebersihan tanah di sekitar tanaman. Semua sisa tanaman, baik yang berupa seresah atau daun-daunan maupun kotoran lain di sekitar  tempat pertanaman  harus dibersihkan misalnya dengan dipendam dalam lubang.&lt;br /&gt;B.Cara Mekanis&lt;br /&gt; Yaitu mengendalikan hama secara langsung. Misalnya, bila melihat gejala kerusakan langsung dicari hamanya dengan memasang perangkap untuk tupai, bisa juga dengan pengasapan untuk belalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.Cara Kimiawi&lt;br /&gt; Yaitu dengan penggunaan pestisida namun harus dengan hati-hati karena dapat menimbulkan kerugian yang tidak diinginkan misalnya, keracunan bagi si pemakai, terjadi resistensi (kekebalan) pada hama sasaran, terbunuhnya resurgensi yaitu terbunuhnya musuh alami dari hama sasaran.&lt;br /&gt;d.Cara Kultur Teknis&lt;br /&gt; Merupakan salah satu cara pengendalian hama tanaman secara baik dan benar. Misalnya pemupukan, penyiangan, penggunaan bibit unggul, dan pengaturan jarak tanam. Dengan pemiliharaan yang baik tanaman akan tumbuh subur, dan sehat sehingga tidak mudah terserang hama.&lt;br /&gt;e.Cara Biologis / Hayati&lt;br /&gt;  Pengendalian dengan menggunakan agensia hayati / musuh alami dari hama sasaran. Misalnya penggunaan parasit untuk mematikan hama.&lt;br /&gt;f.Cara Genetik&lt;br /&gt; Pengendalian dengan membiakkan dan melepaskan serangga yang mandul atau inkompatibel secara genetik. Pelepasan serangga mandul ini diharapkan populasi hama tersebut akan menurun sampai ketingkat yang tidak merugikan petani.&lt;br /&gt;g.Cara Karantina&lt;br /&gt; Setiap Negara mempunyai dinas karantina yang biasanya ditempatkan di pelabuhan udara atau laut. Dinas ini bertugas menjaga agar tidak ada hama baru yang masuk ke suatu Negara. Bila bahan pangan atau tanaman lain mengandung hama maka harus dihancurkan atau difumigasi dengan pestisida tertentu, jadi harus di sucikan hamanya sebelum bahan tersebut sampai pada masyarakat.&lt;br /&gt; Hama merusak tanaman dengan cara memakan, bertelur, berlindung, ataupun bersarang. Populasi hama merupakan kumpulan individu yang sejenis yang berada di suatu tempat dalam kurun waktu tertentu. Hama akan menjadi masalah jika keberadan populasi hama melebihi amabng ekonomi. (Wagiman, 2003).&lt;br /&gt;Besar kecilnya pengaruh kerusakan tanaman dan kehilangan hasil akibat serangan hama ditentukan beberapa faktor: a) tinggi rendahnya populasi hama yang hadir di pertanaman, b) bagian tanaman yang dirusak, c) tanggap tanaman terhadap serangan hama, dan d) fase pertumbuhan tanaman/umur tanaman (Marwoto, 2007). &lt;br /&gt;Pengamatan populasi hama secara garis besar dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu (1) pengamatan populasi mutlak, (2) pengamatan populasi relatif dan (3) pengamatan indeks populasi. Masing-masing cara tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan sendiri-sendiri sehingga perlu ditentukan cara mana yang dipilih untuk memberikan keefektifanyang paling besar (Harjaka dan Sudjono, 2005).&lt;br /&gt;Sampling atau pencuplikan adalah langkah yang sangat penting untuk menetapkan jumlah serangga. Data yang diperoleh dari sampling dipergunakan untuk menetapkan apakah aras populasi cukup tinggi untuk membenarkan diadakannya pengendalian. Beberapa metode dipergunakan untuk mengadakan sampling spesies serangga yang berbeda yang menyerang padi. Salah satu cara adalah perhitungan visual. Teknik sampling yang umum ini tidak memerlukan keahlian atau peralatan apapun dan telah dipakai secara luas untuk meramalkan populasi wereng. Pemantauan yang konstan adalah esensial dalam pengendalian hama, karena populasi hama akan mengalami fluktuasi dengan perubahan lingkungan (Triharso, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurachman. 2006. PHT Padi di Asia. (www.knowledgebank.irri.org). Diakses tanggal 1 Juni 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonaro, O., A Lurette,, C Vidal, J Fargues. 2007. Modelling temperature-dependent bionomics of Bemisia tabaci (Q-biotype) Physiological Entomology. 32 : 50-55.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harjaka, T., dan S. Sudjono. 2005. Petunjuk Praktikum Dasar-dasar Ilmu Hama Tanaman. Jurusan Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heagle, A.S. J. C. Burns, D. S. Fisher, And J. E. Miller. 2002. Effects of carbon dioxide enrichment on leaf chemistry and reproduction by twospotted spider mites (Acari: Tetranychidae) on white clover. Environ. Entomol. 31: 594-601.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Marwoto. 2007. Dukungan pengendalian hama terpadu dalam program bangkit kedelai. IPTEK Tanaman Pangan. 2 : 79-92.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matnawy, H. 1989. Perlindungan Tanaman. Kanisius. Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suyamto. 2007. Masalah Lapang Padi. Puslitbangtan, Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triharso. 2004. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung K, Harsono Lanya, dan Yadi Rusyadi (penterjemah). 1995. Permasalahan Lapangantentang Padi di Daerah Tropika. International Rice Research Institute, DAPO Box 7777, MetroManila, Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wagiman, F.X. 2003. Hama Tanaman : Cemiri Morfologi, Biologi dan Gejala Serangan. Jurusan Hama Dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogayakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wiyono, Suryo. 2007. Perubahan Iklim dan Ledakan Hama dan Penyakit Tanaman. IPB, Bogor.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/07/teknik-pengamatan-hama-dan-analisis.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-4960234222526681413</guid><pubDate>Mon, 20 Jul 2009 10:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-20T04:14:35.367-07:00</atom:updated><title>Pengamatan Hama dan Analisis Kerusakan</title><description>PENGAMATAN HAMA DAN ANALISIS KERUSAKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN&lt;br /&gt;1.Mengetahui teknik pengamatan populasi hama dan kerusakannya.&lt;br /&gt;2.Mengetahui metode pelaporan hama dan pengambilan keputusan tindakan pengendalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;Pengendalian suatu serangga berstatus hama atau bukan bersifat relatif tergantung kepada manusia itu sendiri yang menilainya. Bahkan dapat terjadi beda status mengenai serangan apabila dihadapkan pada kondisi lapangan. Pada umumnya bila suatu serangan belum menimbulkan kerugian secara ekonomi maka belum dapat digolongkan sebagai hama. Sebagai akibat dari perbedaan bentuk stadium dari stadium di atas maka akan muncul perbedaan habitat dan makanan akan berkurang. Aktivitas serangga hama berhubungan dengan tipe alat mulutnya yang dapat dibagi menjadi bermacam-macam (Kartasapoetra,1987).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masalah hama terletak pada populasinya. Populasi merupakan kumpulan individu sejenis yang berada di suatu tempat dalam kurun waktu tertentu. Hama menjadi masalah ketika populasinya melebihi ambang ekonomi atau ambang toleransi. Peningkatan populasi hama terjadi karena laju angka kelahiran dan laju imigrasi jauh lebih tinggi daripada laju angka mortalitas dan emigrasi. Perubahan ekosistem pertanian yang mengkoordinasikan hama berkembang cepat, bisa jadi karena adanya perubahan iklim atau kesalahan manusia dalam mengelola ekosistem pertanian (Wagiman, 2003).&lt;br /&gt;Hama dapat dikelompokkan menjadi kisaran bahaya yang diakibatkannya yaitu : hama utama merupakan spesies hama yang pada kurun waktu lama selalu menyerang pada suatu daerah dengan intensitas serangan yang berat dalam daerah yang luas sehingga memerlukan usaha pengendalian. Hama kadangkala merupakan jenis hama yang relatif kurang penting karena kerusakan yang diakibatkan masih dapat ditoleransi oleh tanaman. Kadang-kadang populasinya pada suatu saat meningkat melebihi aras toleransi ekomoni tanaman. Hama potensial merupakan sebagian besar jenis serangga herbivora yang saling berkompetisi dalam memperoleh makanan. Hama migran merupakan hama yang tidak berasal dari agroekosistem setempat, tetapi datang dari luar karena sifatnya yang berpindah-pindah (Putra,1994).&lt;br /&gt;Sampling atau pencuplikan adalah langkah yang sangat penting untuk menetapkan jumlah serangga. Data yang diperoleh dari sampling dipergunakan untuk menetapkan apakah aras populasi cukup tinggi untuk membenarkan diadakannya pengendalian. Beberapa metode dipergunakan untuk mengadakan sampling spesies serangga yang berbeda yang menyerang padi. Salah satu cara adalah perhitungan visual. Teknik sampling yang umum ini tidak memerlukan keahlian atau peralatan apapun dan te;ah dipakai secara luas untuk meramalkan populasi wereng. Pemantauan yang konstan adalah esensial dalam pengendalian hama, karena populasi hama akan mengalami fluktuasi dengan perubahan lingkungan (Triharso, 2004).&lt;br /&gt;Pengamatan populasi hama secara garis besar dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu (1) pengamatan populasi mutlak, (2) pengamatan populasi relatif dan (3) pengamatan indeks populasi. Masing-masing cara tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan sendiri-sendiri sehingga perlu ditentukan cara mana yang dipilih untuk memberikan keefektifanyang paling besar (Harjaka dan Sudjono, 2005).&lt;br /&gt;Tujuan perlindungan tanaman yaitu menekan populasi hama di bawah Ambang Ekonomi (AE). Ambang Ekonomi itu sendiri didefinisikan sebagai kepadatan hama yang membutuhkan suatu tindakan pengendalian untuk mencegah peningkatan populasi berikutnya yang dapat mencapai tingkatan kerusakan ekonomi (Rukmana dan Saputra, 1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harjaka, T., dan S. Sudjono. 2005. Petunjuk Praktikum Dasar-dasar Ilmu Hama Tanaman. Jurusan Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartasapoertra,A.E.1987. Hama Tanaman dan Perkebunan. Bina Aksara, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra,N.S. 1994. Serangga di Sekitar Kita. Kanisius, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rismunandar.1981. Hama Tanaman Pangan dan Pembasminya. CV Sinar Baru, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rukmana, R., dan S. Saputra. 1997. Hama Tanaman dan Teknik Pengendalian. Kanisius, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triharso. 2004. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wagiman, F. X. 2003. Hama Tanaman: Cemiri Morfologi, Biologi dan Gejala Serangan. Jurusan Hama Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/07/pengamatan-hama-dan-analisis-kerusakan.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-3496381977106907004</guid><pubDate>Sat, 13 Jun 2009 07:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-13T00:58:10.427-07:00</atom:updated><title>Besar Benih, Pengaruhnya pada Kecepatan Berkecambah, Pemunculan dan Pertumbuhan Bibit</title><description>BESAR BENIH, PENGARUHNYA PADA KECEPATAN BERKECAMBAH, PEMUNCULAN DAN PERTUMBUHAN BIBIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar Belakang&lt;br /&gt;Seorang ahli fisiologi tanaman Inggris, V.H. Blackman (1919), menyatakan bahwa biji-biji yang besar akan menghasilkan tanaman yang lebih besar dibandingkan dengan yang berasal dari biji-biji yang kecil. Disini ditekankan bahwa ukuran besar bibit akan tergantung ukuran besar benih yang ditanam. Namun nampaknya hanya berlaku pada pertumbuhan awal suatu tanaman. Ukuran biji yang dihasilkan suatu varietas tanaman sangat bervariasi. Besar kecilnya biji menunjukkan banyak sedikitnya kandungan substrat yang ada dalam benih tersebut. Biji berukuran besar biasanya mempunyai cadangan makanan yang lebih besar, sehingga energi yang digunakan untuk proses perkecambahan juga semakin besar. Hal ini akan mempengaruhi kekuatan pemunculan ke permukaan tanah, yang lebih besar dibandingkan benih yang lebih kecil. Semakin cepat benih atau bibit muncul ke permukaan tanah, semakin cepat pula bibit terhindar dari pengaruh jelek tempat tumbuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan endosperm merupakan faktor internal biji yang berpengaruh terhadap keberhasilan perkecambahan biji, karena hal ini berhubungan dengan kemampuan biji melakukan imbibisi dan ketersediaan sumber energi kimiawi potensial bagi biji. Terutama pada awal fase perkecambahan dimana biji membutuhkan air untuk perkecambahan, hal ini dicukupi dengan menyerap air secara imbibisi dari lingkungan sekitar biji, setelah biji menyerap air maka kulit biji akan melunak dan terjadilah hidrasi protoplasma, kemudian enzim-enzim mulai aktif, terutama enzim yang berfungsi mengubah lemak menjadi energi melalui proses respirasi.&lt;br /&gt;Penelitian-penelitian tentang pengaruh besar benih terhadap kekuatan tumbuh dan hasil selalu memberikan kesimpulan yang tidak sama, bahkan bertentangan. Beberapa peneliti melaporkan bahwa kekuatan tumbuh benih dan hasil tanaman yang diperoleh akan lebih besar bila benih-benih kecil dibuang pada saat prosesing benih, sehingga hanya benih besar yang besar yang dipakai untuk pertanaman. Peneliti-peneliti yang lain menyatakan bahwa meskipun ada perbedaan kekuatan tumbuh benih, tetapi adalah tidak praktis untuk membuang benih-benih yang kecil. Sekelompok peneliti yang lain melaporkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antara penanaman benih kecil dan besar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam peningkatan produksi pertanian. Oleh sebab itu mutu dan jumlahnya perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak yang terkait terutama pada saat musim tanam (pemakaian). Mutu benih yang sering dijadikan ukuran adalah meliputi bentuk dan ukuran benih, daya tumbuh, vigor, serta kemurnian benih. Mutu dan kualitas benih sangat ditentukan oleh kondisi tanaman pada waktu dilapangan, saat panen serta saat proses setelah panen. Selain itu mutu benih sering juga dinilai berdasarkan mutu genetik dan ciri - ciri fisiologis yang dibawa oleh benih (Salomao, 2002).&lt;br /&gt;Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran biji berpengaruh terhadap daya simpan. Untuk beberapa spesies, biji-biji yang lebih kecil dalam suatu lot benih pada kultivar yang sama mempunyai masa hidup yang lebih pendek. Ukuran biji biasa dikaitkan dengan kandungan cadangan makanan dan ukuran embrio (Arief et al., 2004). &lt;br /&gt;Benih dengan ukuran yang lebih kecil memberi hasil biji yang lebih rendah 10 – 45%. Biji yang lebih besar menghasilkan luas kotiledon dua kali lipat dan potensi fotosintetiknya lebih tinggi dibandingkan dengan biji kecil. Laju pertumbuhan kecambah jagung meningkat dengan semakin besarnya ukuran biji dan benih yang berbentuk bulat lebih tinggi laju pertumbuhannya daripada yang berbentuk pipih. Biji yang berbentuk bulat besar biasanya terdapat di dasar tongkol dan bulat kecil pada ujung tongkol. Sekitar 75% dari biji di antara kedua tipe tersebut di atas berbentuk pipih. Biji yang berbentuk pipih ini berbeda-beda ukurannya dari kecil sampai besar (Gusta et al.,2003). &lt;br /&gt;Di dalam jaringan penyimpanannya benih memiliki karbohidrat, protein, lemak dan mineral. Dimana bahan-bahan ini diperlukan sebagai bahan baku dan energi bagi embrio pada saat perkecambahan. Diduga bahwa benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan lebih banyak dibandingkan dengan benih berukuran kecil, mungkin pula embrionya lebih besar ukuran benih menunjukkan korelasi positif terhadap kandungan protein pada benih sorgum (Sorghum vulgare), makin besar/berat ukuran benih maka kandungan proteinnya makin meningkat pula (Sutopo, 2002). &lt;br /&gt;Kecambah adalah tumbuhan (sporofit) muda yang baru saja berkembang dari tahap embrionik di dalam biji. Tahap perkembangan ini disebut perkecambahan dan merupakan satu tahap kritis dalam kehidupan tumbuhan. Kecambah biasanya dibagi menjadi tiga bagian utama: radikula (akar embrio), hipokotil, dan kotiledon (daun lembaga). Dua kelas dari tumbuhan berbunga dibedakan dari cacah daun lembaganya: monokotil dan dikotil. Tumbuhan berbiji terbuka lebih bervariasi dalam cacah lembaganya. Kecambah pinus misalnya dapat memiliki hingga delapan daun lembaga. Beberapa jenis tumbuhan berbunga tidak memiliki kotiledon, dan disebut akotiledon (Anonim, 2008).&lt;br /&gt;Pemunculan kecambah di atas pemukaan tanah merupakan faktor yang mencerminkan vigor suatu bibit. Untuk mengetahui perlakuan yang dapat meningkatkan vigor dilakukan pengamatan terhadap kecambah yang mampu muncul di atas pemukan tanah dari sejumlah benih yang dikecambahkan (Saleh, 2004).&lt;br /&gt;Perkecambahan merupakan batas antara benih yang bergantung pada sumber makanan dari induknya dengan tanaman yang mampu berdiri sendiri dalam mengambil hara. Oleh karenanya perkecambahan merupakan mata rantai terakhir dalam proses penanganan benih. Banyak benih relatif tahan terhadap pengaruh lingkungan, sementara benih yang berkecambah dan anakan sangat mudah rusak. Segera setelah perkecambahan dimulai, stres karena kurangnya air, suhu dan cahaya dapat menyebabkan kematian (Utomo, 2006)&lt;br /&gt;Benih yang baik akan menghasilkan bibit dan tanaman yang baik, sehingga akan memberikan hasil tanaman yang baik pula. Oleh karena itu, pemilihan biji sebagai benih harus memenuhi kaidah tertentu supaya diperoleh pertanaman yang memberikan hasil baik. Hasil dari suatu varietas unggul sebelum digunakan sebagai benih harus diuji terlebih dahulu sehingga memenuhi kaidah-kaidah perbenihan (Anonim, 2003).&lt;br /&gt;Benih merupakan alat untuk mempertahankan kelangsungan hidup spesies tumbuhan yaitu dengan mempertahankan dan memperpanjang kehidupan embrionic axis. Kehidupan ini kemudian berubah menjadi kehidupan bentuk baru sampai bertahun-tahun sesudah tanaman induknya mati ( Kamil,1979 ).&lt;br /&gt;Benih tanaman dengan ukuran yang lebih besar akan memiliki cadangan makanan yang lebih banyak daripada benih dengan ukuran yang lebih kecil sehingga kemampuan berkecambah juga akan lebih tinggi karena cadangan makanan yang dirubah menjadi energi juga semakin banyak. Walaupun benih berasal dari varietas yang sama, ukuran yang lebih besar akan mampu tumbuh relatif cepat dibandingkan dengan ukuran benih yang lebih kecil (Thomson, 1979).&lt;br /&gt;Kandungan cadangan makanan akan mempengaruhi berat suatu benih. Hal ini tentu akan mempengaruhi besar produksi dan kecepatan tumbuh benih, karena benih yang berat dengan kandungan cadangan makanan yang banyak akan menghasilkan energi yang lebih besar saat mengalami proses perkecambahan. Hal ini akan mempengaruhi besarnya kecambah yang keluar dan berat tanaman saat panen. Kecepatan tumbuh kecambah juga akan meningkat dengan meningkatnya besar benih (Sadjad et. al.,1974). &lt;br /&gt;Di dalam jaringan penyimpanannya benih memiliki karbohidrat, protein, lemak dan mineral. Dimana bahan-bahan ini diperlukan sebagai bahan baku dan energi bagi embrio pada saat perkecambahan. Diduga bahwa benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan lebih banyak dibandingkan dengan benih berukuran kecil, mungkin pula embrionya lebih besar. Ukuran benih menunjukkan korelasi positif terhadap kandungan protein pada benih sorgum (Sorghum vulgare), makin besar/berat ukuran benih maka kandungan proteinnya makin meningkat pula (Sutopo, 2002). &lt;br /&gt;Perkecambahan ditentukan oleh kualitas benih (vigor dan kemampuan berkecambah), perlakuan awal (pematahan dormansi), dan kondisi perkecambahan seperti suhu, air, media, cahaya, dan bebas dari OPT. Cahaya, suhu dan kelembaban merupakan tiga faktor utama yang mempengaruhi perkecambahan selama pertumbuhan anakan kondisi media pertumbuhan seperti pH, salinitas dan drainase menjadi penting. Selama perkecambahan dan tahap awal pertumbuhan benih dan anakan sangat rentan terhadap tekanan fisiologis, infeksi dan kerusakan mekanis, karenanya penyediaan kondisi lingkungan yang optimal adalah untuk mempercepat perkecambahan hingga anakan dapat melalui tahapan ini dengan cepat (Utomo, 2006).  &lt;br /&gt;Pada umumnya tanaman dari benih yang lebih besar mempunyai nilai tinggi tanaman, gaya berkecambah dan panjang akar yang lebih besar daripada tanaman dari benih kecil, karena cadangan makanan awal yang lebih banyak pada benih yang berukuran besar sehingga kemampuan membentuk epikotil dan radicle akan lebih besar dan kuat. Pada kenyataannya benih-benih yang berukuran besar tidak selalu memberi pengaruh yang lebih baik sebagai contoh hasil penelitian. Pada beberapa jenis gandum benih yang berukuran kecil dapat segera berkecambah walaupun ukurannya hanya sepersepuluh dari benih yang berkembang normal, begitu juga pada benih tanaman lobak yang berukuran besar, sedang dan kecil mempunyai persentase perkecambahan yang sama. Dengan kata lain, besar benih hanya berpengaruh pada pertumbuhan awal suatu tanaman, sedangkan pertumbuhan selanjutnya tergantung pada media tanamnya. Makin cepat bibit muncul ke permukaan tanah, makin cepat bibit terhindar dari pengaruh jelek tempat pertumbuhannya (Miller,1938).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Dari hasil analisis, tidak ada beda nyata antara benih besar, sedang, dan kecil baik pada pengukuran gaya berkecambah, indeks vigor, jumlah daun, dan tinggi tanaman pada benih kacang tanah.&lt;br /&gt;2.Perkecambahan yang lebih cepat akan mengurangi peluang bibit terkena pengaruh negatif dari lingkungan. &lt;br /&gt;3.Faktor lingkungan menentukan kualitas tanaman yang dihasilkan dari suatu benih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2003. Reproduksi Tumbuhan Angiospermae (http://www.iel.ipb.ac.id/sac/hibah/2003/sf_tumbuhan/reproduksi.html). Diakses 1 Mei 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim, 2005. (http://public.ut.ac.id/html//suplemen/luht 4344/padi.html). Diakses 1 Mei 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2008. Kecambah. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kecambah). Diakses 20 April 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arief, R., E. Syam’un, dan S. Saenong. 2004. Evaluasi Mutu Fisik dan Fisiologis Benih Jagung cv Lamuru Dari Ukran Biji dan Umur yang Berbeda. Jurnal Sains dan Teknologi 4 (2): 54-64.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crocker, W. and L. V. Barton.1957. Physiology of Seeds. Chronica Botanica Co. Waltham. Mas. USA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gusta, L. V., E. N. Johnson, N. T. Nesbit, K. J. Kirkland. 2003. Effect of seeding date on canola seed vigor. Can. J. Plant Sci. 45 : 32-39.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamil, J.1979. Teknologi Benih. Angkasa. Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miller, E. C. 1938. Plant Physiology. Mc Graw Hill Book Co., Inc. New York&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadjad, S., M. Poernomohadi, Z. Jusup, dan Z. A. Pian. 1974. Penuntun Praktikum Teknologi Benih. Institut Pertanian Bogor. Bogor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saleh, Salim M. 2004. Pematahan dormansi benih aren secara fisik pada berbagai lama ekstraksi buah. Agrosains 6 : 78-83.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salomao, A. N. 2002. Tropical seeds species responces to liquid nitrogen exposure. Braz J. Plant Physiol. 14 : 133-138.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Raja Grafindo Persada. Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomson, J. R. 1979. Seed Quality, Seed Multiplication Systems, Agronomy of Seed Production and Seed Storage. Dalam Seed Technology for Genebank LBPGR. Rome.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utomo, Budi. 2006. Ekologi Benih. USU Repository, Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/06/besar-benih-pengaruhnya-pada-kecepatan.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-3794049970621623781</guid><pubDate>Sat, 06 Jun 2009 04:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-05T21:48:14.164-07:00</atom:updated><title>Hidroponik Rakit Apung</title><description>HIDROPONIK RAKIT APUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidroponik berasal dari bahasa Yunani, Hydroponic, dimana hydro berarti air dan ponous berarti kerja. Sesuai arti tersebut, bertanam secara hidroponik merupakan teknologi bercocok tanam yang menggunakan air, nutrisi, dan oksigen. Tak jarang bertanam hidroponik dijadikan hobi pengisi waktu luang bagi sebagian orang. Bahkan tak sekedar hobi, ada juga kemudian yang melanjutkan hingga menjadi bisnis. Hidroponik biasa digunakan untuk menanam sayur dan buah. Bahkan beberapa tanaman sayur dan buah telah umum ditanam secara hidroponik. Sebut saja paprika, timun mini, tomat, dan sayuran hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa keuntungan yang diyakini bisa didapat dari bertanam secara hidroponik dibandingkan bertanam secara konvensional (bertanam biasa di tanah). Ambil saja salah satu contoh, bertanam paprika secara hidroponik. Pertama, produksi per tanaman lebih besar dan kualitas lebih baik. Selain itu lahan dapat ditanami paprika sepanjang tahun, jika ditanam di tanah harus ada rotasi tanaman. Kehilangan setelah panen lebih kecil dibandingkan bertanam secara konvensional. Sementara harga lebih tinggi dan relatif konstan, tidak mengenal musim. Tanaman yang dibudidayakan dengan hidroponik juga lebih mudah terhindar dari erosi dan kekeringan. Dengan perawatan intensif, satu tanaman pada sistem hidroponik dapat menghasilkan lebih banyak dari pada ditanam konvensional. Panen dengan cara hidroponik juga terbilang lebih cepat dibandingkan dengan cara konvensional, karena para petani tidak perlu waktu terlalu lama untuk menunggu masa tanam atau masa panen.&lt;br /&gt;Hidroponik atau bercocok tanam tanpa tanah ini bermula dari penelitian tentang kebutuhan nutrisi tanaman agar bias tumbuh dengan optimal. Seiring dengan perkembangan waktu ternyata hidroponik bisa dikembangkan pada skala hobi maupun skala komersial. Itu karena hidroponik menawarkan solusi atas masalah yang timbul pada pertanian konvensional, sebagai contoh:&lt;br /&gt;1. Pada pertanian konvensional dibutuhkan tanah yang luas dan subur. Dengan sistem hidroponik cukup pada lahan&lt;br /&gt;2. sempit dan bisa diupayakan dimana saja asal tersedia cukup air, sinar matahari dan udara walaupun di atap gedung pun.&lt;br /&gt;3. Kebutuhan tenaga kerja yang relatif kecil karena semua bisa dimekanisasi dan otomatisasi.&lt;br /&gt;4. Hama dan penyakit bisa dikendalikan karena tanaman berada dalam lingkungan yang kontrolable (bisa dikendalikan manusia/tidak bergantung alam).&lt;br /&gt;5. Produk hidroponik lebih sehat karena semua menggunakan komponen yang bebas kontaminasi mikroorganisme dan pestisida.&lt;br /&gt;6. Usia tanaman sampai masa panen bisa diperpendek dan masa panen bisa diperpanjang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua tanaman bisa dibudidayakan dengan sistem hidroponik, mulai dari bunga, sayuran daun, buah-buahan dan juga umbi-umbian. Jika dilihat dari media tanam ada dua macam hidroponik yaitu hidroponik metode subtrat dan hidroponik metode non subtrat. Salah satu contoh hidroponik metode non subtract adalah hidroponik rakit apung. Disebut rakit apung karena cara penanamannya dengan cara diapungkan diatas larutan nutrisi. Sebagi pengapung digunakan styrofoam. Hidroponik dengan cara ini dapat diterapkan oleh siap saja karena sangat mudah. Tanaman dapat ditempatkan dimana saja, yang penting pada saat hujan tanam tidak kehujanan. Kalau kehujanan larutan nutrisi akan menjadi lebih encer dari yang seharusnya. Sebagaimana sudah diketahui bahwa untuk pertumbuhannya tanaman memerlukan sinar matahari. Dalam satu hari tanaman minimal membutuhkan 5 jam penyinaran tetapi dengan intensitas yang rendah. Sinar matahari yang terik tidak baik untuk tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat penanaman menggunakan bak kayu yang berukuran (p x l x t ) 50 cm x 50 cm x 15 cm. Agar tidak bocor bak kayu dilapisi dengan plastik. Untuk menghindari dari gangguan keong atau bekicot, bak tanam ditempatkan diatas rak. Ketinggian reak disesuaikan dengan kebutuhan. untuk kenyamanan kerja tinggi rak sekitar 80 cm.&lt;br /&gt;Pada sistem hidroponik rakit apung, media yang digunakan adalah air yang mengandung unsur hara. Dalam dunia hidroponik biasa disebut larutan nutrisi. Larutan nutrisi ini mengandung semua unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman yang terdiri dari unsur hara makro dan unsur hara mikro. Larutan nutrisi ini dapat dibuat sendiri, tetapi untuk mendapatkan bahan-bahannnya terkadang tidak selalu tersedia, oleh sebab itu para peminat hidroponik untuk skala hobi sebih suka menggunakan pupuk hidroponik yang sudah jadi.&lt;br /&gt;Pupuk hidroponik selalu terdiri dari dua bagian yaitu bagian A dan bagian B. Pembagian ini harus dilakukan karena pada masing-masing bagian mengadung unsur hara yang tidak boleh tercampur dalam keadaan pekat. Bila tercampur maka akan terjadi endapan. Pencapuran hanya boleh dilakukan dalam kondisi yang sangat encer yang siap diberikan ke tanaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit tanaman yang siap dipindahkan ke bak penanaman. Bibit ini disemai pada media rockwool. Ukuran media semai 1.5 cm x 1.5 cm x 1.5 cm. Untuk caisim, pakcoy dan selada, bibit sudah dapat dipindahkan setelah 5 - 7 hari setelah semai. Pada hari pertama sampai hari ketiga, tempat persemaian ditutup dengan plastik agar udara di dalamnya menjadi hangat sehingga benih akan lebih cepat berkecambah. Setelah benih tumbuh menjadi kecambah yang ditandai dengan munculnya bakal daun, plastik penutup harus dibuang. Agar tidak terjadi etiolasi (bibit tumbuh menjadi panjang tapi kurus) pesemaian harus mendapat sinar matahari yang cukup, namun harus dihindari terkena sinar matahari langsung. Sebelum bibit dipindahkan ke bak penanam, terlebih dahulu harus disiapkan styrofoam yang sudah dilubangi dengan ukuran yang sesuai dengan ukuran media semai (ukuran media semai 1.5 cm x 1.5 cm x 1.5 cm). Bentuk lubang tanam pada styrofoam tidak harus segi empat seperti bentuk media semai, melainkan cukup berbentuk bulatan. Lubang tanam bisa dibuat dengan menggunakan pipa PVC 1/2". Agar hasilnya bagus, pinggiran lubang mulus, pipa ditekan sambil diputar. Jarak antar lubang tanam pada styrofoam 15 cm x 15 cm. Jarak ini tergantung pada lebar tajukan tanam. Sedangkan ukuran styrofoan disesuaikan dengan ukuran bak tanam. Tebal styrofoam sebaiknya 1.5 - 2 cm. Kalau tipis akan mudah patah pada saat diangkat. Bibit caisim umur 7 hari yang siap dipindahkan ke lubang tanam pada Styrofoam.  &lt;br /&gt;Media tanam/semai berupa rockwool yang belum dipotong dan disebut slab rockwool. Slab rockwool berukuran 100 cm x 150 cm x 75 cm. Rockwool ini terbuat dari batuan vulcanic. Batuan ini dipanaskan pada suhu 16000 C sehingga meleleh seperti lava. Dalam bentuk lava ini disentrifugal sehingga keluar serat-serat. Kumpulan serat-serat inilah yang menjadi rockwool. Selintas nampak seperti busa. Slab rockwool yang sudah dipotong untuk dijadikan media semai. Satu bantang slab rockwool dapat menghasilkan 1500 - 2000 biji media semai. Satu biji media semai ditanami dengan satu benih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : http://ferti-mix.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/06/hidroponik-rakit-apung.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-1359398223896670005</guid><pubDate>Sat, 06 Jun 2009 04:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-05T21:45:44.663-07:00</atom:updated><title>Penyakit Hawar Daun Bakteri</title><description>PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI (Xanthomonas oryzae pv. Oryzae) PADA PADI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk dunia setiap tahunnya selalu bertambah. Pertambahan penduduk ini perlu diimbangi dengan peningkatan penyediaan pangan, sandang, dan papan. Pertambahan penduduk yang cepat sebagian besar tinggal di negara-negara yang sedang berkembang atau negara miskin. Beras merupakan makanan pokok bagi mereka, terutama Asia tempat padi banyak ditanam. Beras merupakan pemasok kalori yang sangat tinggi di Asia. Produksi beras hampir 90 % dihasilkan di Asia. Asia Timur menghasilkan beras sekitar 45.4 %, Asia Selatan 23.5 %, Asia Tenggara 22.2 %. Selain Asia, beras juga dihasilkan di daerah lain seperti Amerika Latin sebesar 3.9 % dan Afrika sebesar 2.2 %. Sedangkan sisanya, sekitar 2.8 %, dihasilkan dari benua lain (Sudarmo, 1991). &lt;br /&gt;Dengan pertambahan penduduk yang terus melonjak, manusia mulai menghadapi masalah, yaitu penyediaan pangan. Jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar merasakan pentingnya program ketahanan pangan, terutama beras. Hal ini karena beras merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Di Indonesia, padi merupakan tanaman penghasil beras yang paling banyak dibudidayakan oleh petani. Dalam pembudidayaannya sering ditemui berbagai kendala, diantaranya adalah musim dan serangan hama dan penyakit. Produksi yang diharapkan tinggi, tiba-tiba tidak tercapai hanya karena serangan hama dan penyakit yang mendadak. Penurunan produksi karena hama dan penyakit sebenarnya dapat dikurangi apabila hama dan penyakit yang menyerang telah dikenali.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit hawar daun bakteri menyebabkan penurunan produksi padi yang cukup tinggi dan dalam keadaan tertentu dapat menurunkan produksi sampai 60 %. Penyakit ini mempunyai beberapa ras dari jenis bakteri dan masing-masing mempunyai perbedaan kemampuan untuk menginfeksi tanaman padi (Sudarmo, 1991). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab Penyakit&lt;br /&gt;Dalam budidaya padi di Indonesia, salah satu penyakit yang ditakuti petani adalah penyakit hawar daun bakteri. Penyakit yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv. Oryzae  tersebut dapat terjadi pada tingkat bibit, tanaman muda, dan tanaman tua. Tidak hanya di Indonesia, penyakit ini juga menjadi hal yang menakutkan di negara produsen beras lainnya, seperti Jepang, India, dan Philipina. Penyakit hawar daun bakteri mulai menyebabkan kerusakan pada pertanaman padi di Indonesia pada musim hujan tahun 1948/1949, pada waktu itu penyakit ini disebut sebagai  kresek atau hama lodoh apabila tanaman sampai mati. Di  Jepang, kehilangan hasil yang diakibatkan penyakit ini berkisar 20-30 % bahkan mencapai 50%. Di daerah tropis, misalnya Indonesia kerusakan pertanaman padi lebih besar dibandingkan daerah sub tropis (Khaeruni, 2001).&lt;br /&gt;Penyakit hawar daun bakteri merupakan salah satu penyakit padi terpenting di banyak negara penghasil beras termasuk Indonesia. Di Indonesia, penyakit hawar daun bakteri pertama kali dilaporkan oleh Reitsman dan Schure pada tahun 1950. Selanjutnya Schure berhasil mengidentifikasi organisme penyebab penyakit hawar daun bakteri, yang pada waktu itu dikenal dengan Xanthomonas kresek.  Patogen penyebab hawar daun bakteri di Indonesia sama seperti yang menyerang tanaman padi di Jepang, sehingga namanya diganti menjadi Xanthomonas oryzae (Uyeda et Ishiyama) Dowson. Pada tahun 1976, nama patogen ini menjadi Xanthomonas campestris pv. oryzae dan sejak tahun 1992 oleh Swing et al., (1990) dinamakan Xanthomonas oryzae pv. Oryzae (Goto, 1964).&lt;br /&gt;Penyakit hawar daun bakteri sudah dikenal di Jepang sejak tahun 1884. Penyakit ini tersebar luas di berbagai negara penghasil padi seperti Cina, Taiwan, Korea, Thailand, Vietnam, Filiphina, Sri Lanka, India, Afrika, Australia, dan Amerika Selatan. Penyakit ini belum terdapat di Eropa dan Amerika Utara. Penyakit ini tersebar luas di Indonesia (Semangun, 2004).&lt;br /&gt;Sebagai akibat dari meluasnya penanaman varietas IR64 yang rentan terhadap hawar daun bakteri, timbul kelompok strain baru yang menjadi dominan di suatu wilayah, sehingga sampai tahun 1994 menurut sistem Kozaka telah dikembangkan 11 kelompok strain Xanthomonas oryzae pv. Oryzae dengan tingkat virulensi  yang berbeda. Diantara strain tersebut, kelompok strain IV merupakan kelompok strain yang virulensinya paling tinggi.  Semua varietas dari Indonesia yang pernah diuji bersifat rentan terhadap kelompok strain tersebut, sehingga perakitan varietas padi yang tahan terhadap kelompok strain IV tidak dapat dilakukan (Kardin dan Hifni, 1993). &lt;br /&gt;Patogen penyebab hawar daun bakteri mempunyai beberapa strain. Pada tahun 1994, di Indonesia terdapat 11 kelompok strain penyebab hawar daun bakteri. Pada tahun 1970-an, kelompok strain III paling luas sebarannya sehingga seleksi varietas padi didasarkan atas kepekaannya terhadap kelompok itu. Di samping kelompok III, strain kelompok IV adalah yang paling virulen dan belum ada varietas padi yang tahan terhadap strain ini (Utami et. al., 2007). Berdasarkan sistem Kozaka yang telah dikembangkan saat ini di Indonesia telah dijumpai 11 kelompok strain Xanthomonas oryzae pv. Oryzae dengan tingkat virulensi yang berbeda. Pada tahun 1970-an strain kelompok III merupakan strain yang luas sebarannya, sehingga dalam penyeleksian varietas selalu menggunakan strain III.  Strain kelompok IV merupakan strain yang tingkat virulensinya paling tinggi dan belum ada varietas yang tahan terhadap strain ini. Sejalan dengan adanya pergeseran strain Xanthomonas oryzae pv. Oryzae dari waktu ke waktu di lapang, menyebabkan  penggunaan varietas tahan yang dianggap mampu mengatasi penyakit hawar daun bakteri hanya bersifat sementara dan terbatas dibeberapa daerah saja, karena strain yang tidak menonjol suatu ketika akan menjadi menonjol apabila mendapat inang yang cocok. (Ezuka dan Horino, 1974).&lt;br /&gt;Xanthomonas oryzae pv. Oryzae merupakan bakteri yang bersifat gram negatif. Xanthomonas oryzae pv. Oryzae bervariasi dalam patogenitasnya, dan sampai sekarang dikenal ada 8 kelompok atau patotipe. Bakteri yang termasuk kelompok I dan II terdapat di Indonesia. Kelompok III tersebar di Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Jawa, bali, dan mungkin terdapat di tempat lain. Kelompok IV terdapat pada daerah-daerah seperti kelompok III, tetapi tidak terdapat di kalimantab Selatan. Kelompok V hanya terdapat di Bali. Kelompok VI dan VIII terdapat di daerah Jawa Barat., yang penyebarannya di daerah lain belum diketahui. Parapeneliti jepang menemukan bakteriofage yang dapat menyerang Xanthomonas oryzae pv. Oryzae, antara lain yang disebut dengan bakteriofage OP1 dan OP2. Adanya bakteriofage ini di Indonesia telah dibuktikan oleh Mahmud dan walkman (1975), yang berusaha memakainya untuk peramalan epidemi hawar daun bakteri (Semangun, 2004). &lt;br /&gt;Strain Xanthomonas oryzae pv. Oryzae berbeda dari satu negara ke negara lain dan dari satu daerah ke daerah lain.  Varietas IR64 yang mempunyai gen ketahanan Xa-4 bereaksi tahan terhadap isolat Xanthomonas oryzae pv. Oryzae asal Filipina, tetapi sangat rentan terhadap isolat asal Indonesia dan India. Gen ketahanan Xa-4 berfungsi baik untuk negara-negara di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara lainnya, tetapi kurang baik untuk Asia Selatan oleh karena itu  untuk mengendalikan penyakit hawar daun bakteri dengan menggunakan  varietas tahan, pemantauan pergeseran patotipe Xanthomonas oryzae pv. Oryzae dan seleksi varietas tahan yang baru harus terus dilakukan dalam menunjang program pemuliaan padi yang berkesinambungan (Zhang &amp; Mew, 1989).&lt;br /&gt;Kerusakan yang ditimbulkan terus meningkat dari waktu ke waktu akibat pergeseran patotipe Xanthomonas oryzae pv. Oryzae di lapangan. Pergeseran tersebut menyebabkan upaya penanggulangannya menjadi sulit. Pasalnya strain yang tidak menonjol suatu ketika akan menonjol ketika mendapatkan inang yang cocok. Selain itu, terdapat satu strain Xanthomonas oryzae pv. Oryzae yang tingkat virulensinya paling tinggi dan belum ada varietas yang tahan terhadap strain itu. Saat ini penggunaan varietas tahan hama masih menjadi antisipasi terbaik dalam penanggulangan hawar daun bakteri. Untuk itu harus terus dilakukan pemantauan pergeseran strain di lapangan. Mengetahui strain yang dominan akan mempermudah rekomendasi varietas yang ditanam di suatu daerah (Suwanto, 1994).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala&lt;br /&gt;Penyakit hawar daun bakteri menghasilkan dua gejala khas, yaitu kresek dan hawar. Kresek adalah gejala yang terjadi pada tanaman berumur &lt;30 hari (pesemaian atau yang baru dipindah). Daun-daun berwarna hijau kelabu, melipat, dan menggulung. Dalam keadaan parah, seluruh daun menggulung, layu, dan mati, mirip tanaman yang terserang penggerek batang atau terkena air panas (lodoh). Sementara, hawar merupakan gejala yang paling umum dijumpai pada pertanaman yang telah mencapai fase tumbuh anakan sampai fase pemasakan (Suyamto, 2007).&lt;br /&gt;Penyakit ini akan menimbulkan gejala yang timbul 1-2 minggu setelah padi dipindah dari persemaian. Daun-daun yang sakit akan berwarna hijau kelabu, mengering, helaian daunnya melengkung, diikuti oleh melipatnya helaian daun itu sepanjang ibu tulangnya. Pada umumnya gejala yang pertama tampak pada daun-daun yang dipotong ujungnya. Dekat bekas potongan terjadi bercak hijau kelabu, sering ibu tulang daun menjadi berwarna kuning. Warna daun yang kering tiu akan berubah menjadi kening jerami sampai coklat muda. Gejala dapat juga meluas sampai upih daun (Semangun, 1991).&lt;br /&gt;Gejala busuk daun biasanya serangannya terjadi waktu padi masih dalam persemaian atau setelah tanam, namun terkadang menyerang saat tanaman padi berumur 60 hari keatas. Padi yang masih dalam persemaian, atau setelah tanam serangannya ditandai oleh daun menguning dan selanjutnya daun tampak kering. Sedangkan busuk bakteri yang menyerang tanaman yang agak tua, daunnya berwarna keabu-abuan selanjutnya berwarna putih. Gejala lain adalah kresek, dimana gejala ini terjadi pada tanaman padi berumur 2-6 minggu (Suwanto, 1994). &lt;br /&gt;Gejala penyakit ini mudah dibedakan dari gejala karena serangan penggerek, karena pada serangan penggerek gejala lebih dulu timbul pada daun yang lebih muda, sedang pada hawar daun bakteri serangan akan tampak pada daun yang lebih tua. Mungkin bakteri hanya menyerang beberapa daun, tetapi dapat juga berkembang terus sehingga tanaman mati. Tingkatan terakhir dari penyakit ini adalah membusuknya tanaman, yang dikenal dengan nama hama lodoh. Bakteri terutama terdapat dalam berkas-berkas pembuluh. Kalau daun yang sakit dipotong dan diletakkan pada ruangan yang lembab, dari berkas pembuluhnya akan keluar lendir kekuningan yang mengandung jutaan bakteri (ooze) (Semangun, 2004). &lt;br /&gt;Garis-garis yang kebasah-basahan pada urat daun setelah dipotong dan diletakkan pada tempat yang lembab akan banyak lendir bakteri yang terdapat pada garis-garis tersebut yang disebut ooze, lendir itu kemudian mengering membentuk butiran-butiran kecil pada garis-garis luka (Harahap dan Cahyono, 1998). &lt;br /&gt;Untuk membedakannya cukup dipotong bagian bawah tanaman (batang) selanjutnya ditekan, kalau timbul warna kekuning-kuningan maka terjadi serangan busuk bakteri (Sudarmo, 1991).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daur Penyakit&lt;br /&gt;Bakteri terutama mengadakan infeksi melalui luka-luka pada daun, karena biasanya bibit padi dipotong ujungnya sebelum ditanam. Bakteri juga mengadakan infeksi melalui luka-luka pada akar sebagai akibat pencabutan. Infeksi terjadi saat pertanaman atau beberapa hari sesudahnya. Bahkan sudah diketahui bahwa luka-luka pada akar dapat menarik bakteri. Bakteri juga dapat mengadakan infeksi melalui pori air yang terdapat pada daun, melalui luka-luka karena daun-daun yang bergesekan, dan melalui luka-luka karena serangan. Bakteri tidak dapat bertahan lama pada biji, sehingga umumnya penyakit ini tidak terbawa oleh biji (Semangun, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyakit&lt;br /&gt;Jenis padi mempunyai ketahanan yang berbeda-beda sejak dulu diketahui bahwa padi cere jenis Bengawan, Cina dan Mas rentan terhadap hawar daun bakteri. Padi gundil terbukti paling tahan, sedang jenis-jenis bulu adalah paling tahan dan penyakit tidak pernah menimbulkan kerugian yang berarti padajenis ini (Semangun, 2004).&lt;br /&gt;Dalam keaadaan lembab (terutama di pagi hari), kelompok bakteri, berupa butiran berwarna kuning keemasan, dapat dengan mudah temukan pada daun-daun yang menunjukkan gejala hawar. Dengan bantuan angin, gesekan antar daun, dan percikan air hujan, massa bakteri ini berfungsi sebagai alat penyebar penyakit hawar daun bakteri (Suyamto, 2007).&lt;br /&gt;Penyakit lebih banyak pada padi yang dipindah. Pada umur yang lebih muda. Ada jenis padi tertentu yang tahan pada waktu muda dan adapula yang tahan pada waktu dewasa. Misalnya bakteri kelompok III jenis Krueng Aceh tahan pada waktu muda, sedang Bah Butong, Semeru, Citanduy, dan Cisanggarung menjadi tahah setelah dewasa terhadap bakteri kelompok IV Bah Butong tahan pada waktu masih muda dan juga setelah dewasa (Semangun, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian&lt;br /&gt;Pengendalian penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi di Indonesia  selama ini lebih banyak mengandalkan penggunaan pestisida, namun akibat efek samping yang ditimbulkan maka penggunaannya mulai dikurangi, akibat residu yang ditinggalkan dapat bersifat racun dan karsinogenik. Oleh karena itu pengembangan agens biokontrol (agen hayati) sebagai komponen pengendalian penyakit hawar daun bakteri padi secara terpadu yang ramah lingkungan perlu dikembangkan dan diharapkan menjadi alternatif pengendalian yang penting dalam era pertanian yang berkelanjutan. Keuntungan biokontrol antara lain; lebih aman, tidak terakumulasi dalam rantai makanan, adanya proses reproduksi sehingga dapat mengurangi pemakaian yang berulang-ulang dan dapat digunakan secara bersama-sama dengan pengendalian yang telah ada (Suwanto, 1994).&lt;br /&gt; Pemanfaatan mikroorganisme sebagai agens pengendalian nampaknya masih perlu dikembangkan. Pengembangan penggunaan mikroorganisme tersebut perlu dilandasi pengetahuan jenis-jenis mikroorganisme, jenis-jenis penyakit dan juga mekanisme pengendalian penyakit tanaman dengan menggunakan mikroorganisme. Pemanfaatan ini diharapkan dapat membantu pengendalian penyakit tanpa mengganggu kondisi lingkungan (Kustianto et. al., 1995).&lt;br /&gt;Terdapat sejumlah bakteri filosfer yang diisolasi dari daun padi yang berpotensi sebagai agen biokontrol penyakit hawar daun bakteri pada skala rumah kaca. Terdapat bakteri filosfer Pseudomonas kelompok fluorescens dan Bacillus sp yang juga diisolasi dari daun dan batang tanaman padi yang berpotensi sebagai agen biokontrol penyakit hawar daun pada padi secara in vitro (Machmud dan Farida (1995).  &lt;br /&gt;Penggunaan agen biokontrol dalam skala luas di lapangan memerlukan beberapa kriteria antara lain formulasi agen biokontrol  mudah diaplikasi di lapangan, pembiakan massal dan bahan formulasi yang murah dan mudah didapatkan, serta agen biokontrol mampu bertahan dalam waktu yang relatif lama dalam bahan formulasinya pada suhu ruang.  Hal-hal tersebut sering menjadi kendala utama dalam pemanfaatan biokontrol di lapangan, yang perlu dipikirkan jalan keluarnya (Khaeruni, 2001). &lt;br /&gt;Penyakit hawar daun bakteri secara efektif dikendalikan dengan varietas tahan; pemupukan lengkap; dan pengaturan air. Untuk daerah-daerah yang endemis penyakit hawar daun bakteri, tanam varietas tahan seperti Code dan Angke dan gunakan pupuk NPK dalam dosis yang tepat. Bila memungkinkan, hindari penggenangan yang terus-menerus, mis. 1 hari digenangi dan 3 hari dikeringkan (Suyamto, 2007).&lt;br /&gt;Intensitas serangan hawar daun bakteri tidak hanya dipengaruhi oleh ketahanan varietas dan virulensi patogen, tetapi juga dipengaruhi oleh teknik bercocok tanam yang diterapkan oleh petani. Sama halnya dengan penyakit-penyakit padi lainnya, penyakit hawar daun bakteri mempunyai hubungan yang jelas dengan pemupukan, khususnya pemupukan nitrogen. Pemberian pupuk N dengan dosis anjuran penting untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan produktivitas. Sebaliknya pemupukan N dengan dosis yang tinggi akan meningkatkan kerusakan pada varietas dengan ketahanan moderat, walaupun pada varietas yang resisten dampaknya relatif kecil. Oleh karena itu, pemupukan N yang berlebihan sebaiknya dihindarkan. Selain pemupukan sesuai dosis anjuran, pergiliran varietas dan tanaman, sanitasi dan eradikasi pada tanaman yang terserang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit hawar daun bakteri pada suatu daerah tertentu (Khaeruni, 2001).&lt;br /&gt;Efektivitas pengendalian dengan pengurangan takaran pupuk N sangat terbatas dan sering bersifat lokal, sehingga dihadapkan kepada kesulitan teknis yang relatif tinggi. Pengendalian dengan penanaman varietas tahan cukup efektif. Sejak dilepasnya varietas IR20 yang mengandung gen tahan terhadap hawar daun bakteri, perakitan varietas tahan hawar daun bakteri menjadi salah satu program penting pemuliaan tanaman padi (Mew et. al., 1982).&lt;br /&gt;Varietas tahan tetap merupakan komponen utama pengendalian hawar daun bakteri secara terpadu karena sangat ekonomis, efektif, dan tidak merusak lingkungan. Tetapi keefektifan varietas yang tahan ini dipengaruhi oleh interaksi antara gen pembawa sifat tahan yang dimilikinya dan gen virulensi pada populasi Xanthomonas oryzae pv. Oryzae yang terdapat di suatu wilayah (Ogawa, 1993).&lt;br /&gt;Berbagai varietas dan galur padi dengan berbagai tingkat ketahanan terhadap hawar daun bakteri telah dikembangkan. Namun kemudian diketahui varietas tahan hanya efektif terhadap strain tertentu di lokasi tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa patogen Xanthomonas oryzae pv. Oryzae dapat membentuk strain baru yang mampu mematahkan ketahanan suatu varietas. Beberapa tahun setelah dilepas pada tahun 1970, IR20 dilaporkan rentan terhadap strain Isabela di Filipina. Sementara IR36 yang dilepas pada tahun 1979 dilaporkan rentan terhadap strain IV pada tahun 1982. Hal ini mengisyaratkan bahwa ketahanan varietas padi terhadap hawar daun bakteri tidak hanya disebabkan oleh dominasi dan distribusi strain yang berbeda di berbagai daerah, tetapi juga terkait dengan kurun waktu pengembangan varietas tersebut. Periode ketahanan suatu varietas ditentukan oleh beberapa faktor, seperti kecepatan perubahan strain, komposisi dan dominasi strain, frekuensi penanaman, dan komposisi varietas dengan latar belakang gen berbeda yang ditanam dalam waktu dan hamparan tertentu (Ogawa 1993). &lt;br /&gt;Selain itu, untuk daerah-daerah yang biasa mendapat gangguan dari penyakit ini danjurkan melakukan usaha-usaha (Semangun, 2004) :&lt;br /&gt;1. Menanam jenis yang tahan.&lt;br /&gt;2. Bibit padi yang dipindah tidak dipotong ujung daunnya.&lt;br /&gt;3. Memindah bibit pada umur yang tidak kurang dari 40 hari. Untuk jenis-jenis yang lebih rentan umur lebih baik ditambah.&lt;br /&gt;4. Untuk jenis-jenis yang rentan dianjurkan menanam 4-5 bibit tiap rumpun, dengan harapan kelak tidak ada tempat-tempat yang kosong. &lt;br /&gt;5. Pemupukan yang seimbang.&lt;br /&gt;6. Tidak mengairi persemaian terlalu dalam.&lt;br /&gt;7. Jika diperlukan, penyakit dapat dicegah dengan merendam bibit yang dipotong daunnya ke dalam larutan terusi 0.05% selama 30 menit. Tanaman dapat disemprot bakterisida fenazin-5 oksida (Stablex 10 WP) dengan dosis 0.1 kg/ha bahan aktif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Ezuka, A. and O. Horino. 1974. Classification of rice varieties and Xanthomonas oryzae strains on the basis of differential interactions. Bull. Tokal-Kinki Nat. Agr. Exp. Sta. 27:1-19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goto, M. 1964. Kresek and pele yellow leaf systemic symptoms of bacterial leaf blight of rice caused by Xanthomonas oryzae (Uyeda et Ishiyama) Dawson. PI. Dis. Rep.48 : 858-861.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harahap, I.S. dan Cahyono, B. 1998. Pengendalian Hama Penyakit Padi. Penebar Swadaya.  Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kardin, M.K. dan H. R. Hifni. 1993. Penyakit hawar daun bakteri padi di Indonesia. Risalah Seminar Puslitbangtan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khaeruni, Andi. 2001. Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Padi : Masalah dan Upaya Pemecahannya. IPB. Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kustianto, B., Minantyorini, Hartini R., 1995.  Pencarian sumber ketahanan varietas padi  terhadap penyakit hawar daun bakteri kelompok IV, hal. 188-192. Di dalam Peningkatan Peranan Fitopatologi Dalam Pengamanan Produksi &amp; Pelestarian Lingkungan. Risalah  Kongres Nasional XII &amp; Seminar Ilmiah.  Perhimpunan Fitopatologi Indonesia, 1995. Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Machmud, M. dan Farida, 1995.  Isolasi dan identifikasi bakteri antagonis terhadap bakteri  hawar daun padi (Xanthomonas oryzae pv oryzae). Risalah  Kongres Nasional XII &amp; Seminar Ilmiah.  Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mew, T .W., Vera Cruz, and R.C. Rayes. 1982. Interaction of Xanthomonas campestris oryzae and resistance of rice cultivar.UPhytopathology 72 : 786-789.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ogawa, T. 1993. Methods and strategy for monitoring race distributions and identifications of resistance genes tobacterial leaf blight (Xanthomonas campestris pv. oryzae) in rice . JAEQ 27:71-80.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudarmo, Subiyakto. 1991. Pengendalian Serangan Hama Penyakit dan Gulma Padi. Kanisius. Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangun, H. 1991.  Penyakit-penyakit Tanaman Pangan Penting di Indonesia. Gadjah  Mada University Press. Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangun, H. 2004.  Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan Penting di Indonesia. Gadjah  Mada University Press. Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suwanto, A., 1994.  Mikroorganisme Untuk Biokontrol, Strategi Penelitian &amp; Penerapannya dalam Bioteknologi Pertanian. Agrotek 2:40-46.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suyamto. 2007. Masalah Lapang Padi. Puslitbangtan, Bogor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utami, W., Kadir, Triny., dan Koerniati, Sri. 2007. Galur padi baru tahan hawar daun. Bakteri. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 29 : 5-6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhang,Q. and T.W. Mew. 1989. Types of resistance in rice to bacterial blight. Bacterial Blight of Rice. Proceedings of The Int. Workshop on Bacterial Blight of Rice, 14-18 March 1988. IRRI. Philippines. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/06/penyakit-hawar-daun-bakteri.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-8908861275598924524</guid><pubDate>Fri, 29 May 2009 00:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-05T21:41:34.932-07:00</atom:updated><title>Pembuatan media tanam kultur jaringan</title><description>PEMBUATAN MEDIA TANAM KULTUR JARINGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Keberhasilan budidaya jaringan tanaman sangat dipengaruhi oleh media tanamnya. Selain sebagai tempat tumbuh, media tanam merupakan penyedia unsur hara dan zat-zat lain yang diperlukan eksplan untuk tumbuh. Seperti halnya dengan tanaman utuh, jaringan tanaman juga memerlukan unsure hara makro (N, P, K, Ca, Mg, dan S) dan unsur hara mikro (Fe, Zn, Bo, Cu, Mo, dan Co). Karena yang ditanam adalah sepotong kecil jaringan atau sekelompok sel, media tanam haruslah dapat menyediakan bahan-bahan lain yang dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan jaringan tanaman sehingga tanaman dapat melakukan regenerasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tinjauan Pustaka&lt;br /&gt;Kultur jaringan merupakan suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ , serta menumbuhkannya dalam keadaan aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman utuh kembali (Sany, 2007).&lt;br /&gt;Suatu keuntungan yang diperoleh dalam aplikasi teknologi kultur jaringan dalam memperbanyak tanaman krisan adalah upaya untuk memodifikasi generik tanaman tersebut. Rekayasa genetik tanaman krisan dapat dilakukan dengan menggabungkan teknologi nuklir dengan teknik kultur jaringan. Selain itu, kultur jaringan in vitro terbukti sangat efisien digunakan untuk pemeliharaan sumber genetik, bemilai ekonomi tinggi karena tidak memerlukan tempat yang luas dan dapat mengurangi resiko kerusakan oleh hama dan penyakit serta memudahkan pengawasan dan pengelolaan (Anderson, 2000).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.  Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon.  Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain.  Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan.  Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca.  Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf (Anonim, 2008).&lt;br /&gt;Media kultur jaringan dibedakan menjadi media dasar basal/basic medium dan media tambahan. Komposisi media dasar mengandung hara essensial baik makro maupun mikro, sumber energy dan vitamin yang jumlah dan macamnya tergantung dari penemunya. Komposisi media perlakuan merupakan komposisi media tambahan yang dapat berupa vitamin, senyawa organik komplek atau zat pengatur tumbuh. Zat pengatur tumbuh khususnya auksin dan sitokinin adalah suatu zat organik utama yang mengendalikan proses morfogenesis didalam teknik kultur jaringan. Kepekaan jaringan terhadap zat yang ditambahkan pada media perlakuan khususnya zat pengatur tumbuh ditentukan oleh  konsentrasi zat pengatur tumbuh yang sudah ada didalam jaringan tersebut (Starling et. al., 1986). &lt;br /&gt;Sebelum membuat media, terlebih dahulu dilakukan pembuatan larutan stok. Larutan stok dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pengambilan bahan-¬bahan kimia khususnya yang dibutuhkan dalam jumlah kecil, tak perlu sering menimbang karena hal ini kurang praktis. Larutan stok disimpan di dalam lemari pendingin agar tidak mudah rusak dan mencegah terdegradasinya bahan-bahan kimia oleh mikroba penyebab kontaminasi. Pembuatan larutan stok harus dilakukan dengan cennat, sebab larutan stok yang terlalu pekat akan mengalami pengendapan di lemari es, dan larutan stok yang terkontaminasi tidak boleh digunakan lagi (Hendaryono dan Wijayani, 2002). &lt;br /&gt;Hormon adalah bahan organik yang disintesa pada jaringan tanaman. Hormon diperlukan dalam konsentrasi yang rendah untuk mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Banyak molekul sintetis organik yang telah dikenal memiliki aktivitas serupa hormon. Senyawa sintetis dan hormon yang secara alami ada, dikenal dengan sebutan zat pengatur tumbuh (Heddy, 1991). &lt;br /&gt;Zat pengatur tumbuh (ZPT) yang digunakan pada media disimpan dalam gelap pada refrigerator sebagai larutan stok. Sedikit volume (misalnya 50 mL) larutan stok mengandung 1 mg mL-1 ZPT dapat disimpan untuk beberapa lama. Kestabilan zpt bervariasi: kinetin dan IAA tidak stabil pada kondisi cahaya, sehingga biasanya disimpan pada botol berwarna gelap. Juga, IAA kehilangan aktivitasnya pada larutan aqueous sehingga larutan stok IAA sebaiknya tidak disimpan dalam jangka waktu yang lama (Gunawan ,2001).&lt;br /&gt;Auxin (IAA) dalam budidaya jaringan berperan dalam mempengaruhi perkembangan dan pembesaran sel, sehingga tekanan dinding sel terhadap protoplasma berkurang, hal ini mengakibatkan protoplast dapat mengabsorbsi air di sekitar sel, sehingga sel menjadi panjang terutama sel-sel di bagian maristem. Di sisi lain NAA dapat juga mendorong terbentuknya sejumlah sel yang cukup banyak tetapi tidak membelah, kumpulan dari sel ini yang disebut kalus. Kalus terbentuk karena terjadinya penumpukan sel-sel yang mengembang akibat dari masuknya air, unsur hara dan ZPT ke dalam sel, semua bahan tersebut tidak dapat disebarkan ke seluruh tubuh tanaman seperti akar, batang, dan daun, sehingga berkumpul di satu titik (Mariska dan Purnamaningsih, 2001).&lt;br /&gt;Kinetine berperan dalam mendorong morfogensis sel. Proses perpanjangan sel (fase G1 dalam pertumbuhan sel) berlangsung baik karena terpenuhi kebutuhan nutrisinya. Adanya kinetine yang ditambah pada media tumbuh mengakibatkan fase transkripsi dan translasi RNA berlangsung lebih giat, yang selanjutnya akan bertambah giat memasuki fase pembesaran sel (G2) ke fase pembelahan sel (Wijayani, 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan&lt;br /&gt; Mengenalkan pembuatan media tanam dari stok-stok bahan kimia yang telah dibuat pada acara sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. METODOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah stok unsur hara makro nutrien, stok unsur hara mikro, stok unsur besi, stok vitamin, stok moi inositol, stok zat pengatur tumbuh, sukrosa, aquades, agarose, dan senyawa NaOH/HCl untuk pengukuran pH. Alat-alat yang digunakan adalah gelas piala, hot plate magnetic stirrer, mikro pipet, boto-botol tempat media, pH meter, dan autoklaf untuk sterilisasi.&lt;br /&gt; Cara kerja dari praktikum ini adalah dengan menyiapkan gelas piala yang diisi dengan aquades secukupnya sebagai pelarut (volume akhir tidak melebihi volume yang dikehendaki), setelah itu diletakkan di atas hot plate magnetic stirrer, kemudian stirrer dihidupkan. Disiapkan stok-stok unsur hara makro, mikro, besi, vitamin, mio inositol, dan zat pengatur tumbuh. Masing-masing stok unsur hara diambil sesuai volume yang tertera pada massing-masing botol stok (disesuaikan dengan volume media yang akan dibuat), dimasukkan ke dalam gelas piala sesuai dengan urutannya. Sukrose ditambahkan sesuai dengan media yang akan dibuat. pH diukur hingga mencapai 5,7-5,8, bila terlalu asam dapat ditambahkan NaOH, dan bila terlalu basa ditambahkan HCl. Aquades ditambahkan sampai volume yang dikehendaki, kemudian ditambahkan agar dan pemanas pada hot plate magnetic stirrer dinyalakan, tunggu sampai larutan masak dan homogen. Botol-botol sebagai tempat media disiapkan. Media yang telah masak dituang ke dalam botol-botol media, kemudian tutup dengan menggunakan tutup plasstik atau alumunium foil. Media disterilkan dengan autoklaf dengan suhu 1200 C dan tekanan 1 atm selama 20-25 menit. Media tanam siap digunakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulasi media kultur jaringan pertama kali dibuat berdasarkan komposisi larutan yang digunakan untuk hidroponik, khususnya komposisi unsur-unsur makronya. Unsur-unsur hara diberikan dalam bentuk garam-garam anorganik. Komposisi media dan perkembangan formulasinya didasarkan pada jenis jaringan, organ dan tanaman yang digunakan serta pendekatan dari masing-masing peneliti. Beberapa jenis sensitif terhadap konsentrasi senyawa  makro tinggi atau membutuhkan zat pengatur tertentu untuk pertumbuhannya.  Pada periode tahun 1930an, formulasi media terutama ditujukan untuk menumbuhkan akar, tuber dan kambium. Media untuk penumbuhan akar yang dikembangkan oleh White (1934 dalam Gunawan 1988), pertama White menggunakan media yang berisi garam anorganik, yeast ekstrak dan sucrose, tetapi kemudian yeast ekstrak digantikan dengan 3 macam vitamin B, yaitu pyridoxine, thiamine dan nicotinic acid (Chawla, 2002).   &lt;br /&gt;Kultur kalus biasanya ditumbuhkan pada media dengan konsentrasi garam-garam yang rendah seperti dalam kultur akar. Nobecourt (1937) dalam George &amp;amp; Sherrington, 1984), menggunakan setengah konsentrasi dari larutan Knop yang biasa digunakan untuk hidroponik, digunakan juga untuk menumbuhkan kalus wortel. Pada media Knop sumber karbon berupa glucosa dan dan vitamin berupa cysteine hydrochloride. Media White  juga dikembangkan  oleh Hildebrant dkk (1946 dalam Gunawan 1988), dengan memodifikasi unsur-unsur makro yang lebih tinggi dibandingkan pada media kultur tembakau, media ini media ini digunakan  mengkulturkan jaringan tumor tembakau dan bunga matahari. Konsentrasi untuk NO3-  K+ lebih tinggi dibandingkan pada media White, namun konsentrasi tersebut masih lebih rendah dibandingkan media yang lain yang banyak digunakan pada kultur jaringan sekarang, sedangkan kandungan unsur P, Ca, Mg dan S pada media tumor matahari, sama dengan media untuk jaringan tanaman pada umumnya seperti pada media yang dikembangkan sekarang. Perbaikkan formulasi media yang penting adalah pengembangan unsur makro yang universal, untuk mendukung pertumbuahan jaringan tumbuhan. Dalam media perlu ditambahkan ammonium dengan meningkatkan konsentrasi NO3-  dan K+.&lt;br /&gt;Media Knop dapat juga digunakan untuk menumbuhkan kalus wortel. Kultur kalus,  biasanya ditumbuhkan pada media dengan kosentrasi garam-garam yang rendah seperti dalam kultur akar dengan penambahan suplemen seperti glucosa, gelatine, thiamine, cysteine-HCl dan IAA (Dodds and Roberts, 1983).&lt;br /&gt;Media White dikembangkan oleh Hildebrant untuk keperluan kultur jaringan tumor bunga matahari, ditemukan bahwa unsur makro yang dibutuhkan kultur tersebut, lebih tinggi dari pada yang dibutuhkan oleh kultur tembakau. Unsur F, Ca, Hg dan S pada media untuk tumor bunga matahari ini, sama dengan media untuk jaringan normal yang dikembangkan kemudian. Konsentrasi NO3- dan K+ yang digunakan Hildebrant ini lebih tinggi dari media white, tetapi masih lebih rendah dari pada media-media lain yang umum digunakan sekarang.&lt;br /&gt;Media Knudson dan media Vacin and Went, media ini dikembangkan khusus untuk kultur anggrek. Tanaman yang ditanam di kebun dapat tumbuh dengan baik dengan pemupukan yang hanya mengandung N dari Nitrat.  Knudson pada tahun 1922, menemukan penambahan 7.6 mM NH4+ disamping 8.5 mM NO3-, sangat baik untuk perkencambahan dan pertumbuhan biji anggrek.  Penambahan NH4+ ternyata dibutuhkan untuk perkembangan protocorm.            &lt;br /&gt;Media Nitsch &amp;amp; Nitsch, menggunakan NO3- dan K+ dengan kadar yang cukup tinggi untuk mengkulturkan  jaringan tanaman artichoke Jerussalem. Penambahan ammonium khlorida sebanyak 0.1 mM, menghasilkan pertumbuhan jaringan yang menurun. Mereka mengambil kesimpulan, bahwa NH4+ sangat menunjang pertumbuhan kalus tembakau (Miller et al, (1956 dalam Gunawan 1988).&lt;br /&gt;Pertumbuhan sel dari jaringan suatu organ dibandingkan dengan jaringan tumor tanaman Venca rosea (Catharanthus roseus), menunjukkan bahwa penambahan ammonium ke dalam media White yang sudah dimodifikasi, mempunyai pertumbuhan yang lebih baik. Konsentrasi NO3-, NH4-, K+ dan H2PO4- yang diperoleh, hampir sama dengan yang dikembangkan oleh Miller (Wood &amp;amp; Braun (1961 dalam Gunawan 1988).&lt;br /&gt;Media Murashige &amp;amp; Skoog (media MS) merupakan perbaikan komposisi media Skoog, terutama kebutuhan garam anorganik yang mendukung pertumbuhan optimum pada kultur jaringan tembakau. Media MS mengandung 40 mM N dalam bentuk NO3 dan 29 mM N dalam bentuk NH4+. Kandungan N ini, lima kali lebih tinggi dari N total yang terdapat pada media Miller, 15 kali lebih tinggi dari media tembakau Hildebrant, dan 19 kali lebih tinggi dari media White. Kalium juga ditingkatkan sampai 20 mM, sedangkan P, 1.25 mM. Unsur makro lainnya konsemtrasinya  dinaikkan sedikit. Pertama kali  unsur-unsur makro dalam media MS dibuat untuk kultur kalus tembakau, tetapi komposisi MS ini sudah umum digunakan untuk kultur jaringan jenis tanaman lain. Media MS paling banyak digunakan untuk berbagai tujuan kultur pada tahun-tahun sesudah penemuan media MS, sehingga dikembangkan media-media lain berdasarkan media MS tersebut, antara lain media :&lt;br /&gt;1. Lin &amp;amp; Staba, menggunakan media dengan setengah dari  komposisi unsur makro MS, dan memodifikasi : 9 mM ammonium nitrat yang seharusnya 10mM, sedangkan KH2 PO4 yang dikurangi menjadi 0.5 Mm, tidak 0.625 mM. Larutan senyawa makro dari media Lin &amp;amp; Staba, kemudian digunakan oleh Halperin untuk penelitian embryogenesis kultur jaringan wortel dan juga digunakan oleh Bourgin &amp;amp; Nitsch (1967 dalam Gunawan 1988) serta Nitsch &amp;amp; Nitsch (1969 dalam Gunawan 1988) dalam penelitian kultur anther.&lt;br /&gt;2. Modifikasi media MS yang lain dibuat oleh Durzan et alI (1973 dalam Gunawan 1988) untuk kultur suspensi sel white spruce dengan cara mengurangi konsentrasi K+ dan NO3-, dan menambah  konsentrasi Ca2+ nya. &lt;br /&gt;3. Chaturvedi et al (1978) mengubah media MS dengan menurunkan konsentrasi NO3-, K+, Ca2+, Mg2+ dan SO4-2 untuk keperluan kultur pucuk Bougainvillea glabra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Senyawa-senyawa di dalam media MS dapat terjadi pengendapan persenyawaan, ini terlihat jelas pada media cair. Kebanyakan dari persenyawaan yang mengendap adalah fosfat dan besi, kemudian dalam jumlah yang lebih sedikit adalah Ca, K, N, Zn dan Mn. Senyawa paling sedikit adalah senyawa yang mengandung unsur C, Mg, H, Si, Mo, S, Ca dan Co. Setelah tujuh hari dibiarkan, maka kira-kira 50% dari Fe dan 13% dari PO4+, mengendap (Dalton et al, 1983). Pengendapan unsur-unsur tersebut mungkin tidak penting, karena unsur-unsur tersebut masih tersedia bagi jaringan tanaman dan pengaruh pengendapannya belum diketahui. Untuk mengatasi pengendapan Fe, Dalton dan grupnya menganjurkan supaya konsentrasi Fe dikurangi sampai 1/3 dengan EDTA yang tetap.&lt;br /&gt;            Media Gamborg B5 (media B5)  pertama kali dikembangkan untuk kultur kalus kedelai dengan konsentrasi nitrat dan amonium lebih rendah dibandingkan media MS. Untuk selanjutnya media B5 dikembangkan untuk kultur kalus dan suspensi, serta sangat baik sebagai media dasar untuk meregenerasi seluruh bagian tanaman. Pada masa ini media B5 juga digunakan untuk kultur-kultur lain. Media ini dikembangkan dari komposisi PRL-4, media ini menggunakan konsentrasi NH4+ yang rendah, karena konsentrasi yang lebih tinggi dari 2 mM menghambat pertumbuhan sel kedelai. Fosfat yang diberikan setelah 1 mM, Ca2+ antara 1-4 mM, sedangkan Mg2+ antara 0.5-3 mM (Gamborg et al, 1968).&lt;br /&gt;            Media Schenk &amp;amp; Hildebrant (media SH) merupakan media yang juga cukup terkenal, untuk kultur kalus tanaman monokotil dan dikotil  (Trigiano &amp;amp; Gray, 2000). Konsentrasi ion-ion dalam komposisi media SH sangat mirip dengan komposisi pada media Gamborg dengan perbedaan kecil yaitu level Ca2+, Mg2+, dan PO4-3 yang lebih tinggi. Schenk &amp;amp; Hildebrant mempelajari pertumbuhan jaringan dari 37 jenis tanaman dalam media SH dan mendapatkan bahwa: 32 % dari spesies yang dicobakan, tumbuh dengan sangat baik, 19% baik, 30% sedang, 14% kurang baik, dan 5% buruk pertumbuhannya. Tetapi karena zat tumbuh yang diberikan pada tiap jenis tanaman tersebut berbeda. Media SH ini cukup luas penggunaannya, terutama untuk tanaman legume.&lt;br /&gt;            Media WPM (Woody Plant Medium) yang dikembangkan oleh Lioyd &amp;amp; Mc Coen pada tahun 1981, merupakan media dengan konsentrasi ion yang lebih rendah dari media MS. Media diperuntukkan khusus tanaman berkayu, dan dikembangkan oleh ahli lain, tetapi sulfat yang digunakan lebih tinggi dari sulfat pada media WPM. Saat ini WPM banyak digunakan untuk perbanyakan tanaman hias berperawakan perdu dan pohon-pohon.&lt;br /&gt;Pada umumnya media kultur jaringan dibedakan menjadi media dasar dan media perlakuan. Resep media dasar adalah resep kombinasi zat yang mengandung hara esensial (makro dan mikro), sumber energi dan vitamin. Dalam teknik kultur jaringan dikenal puluhan macam media dasar. Penamaan resep media dasar pada umumnya diambil dari nama penemunya atau peneliti yang menggunakan pertama kali dalam kultur khusus dan memperoleh suatu hasil yang penting artinya. &lt;br /&gt;            Dari sekian banyak media dasar yang paling sering dan banyak digunakan adalah komposisi media dari Murashige dan Skoog. Kadang-kadang untuk kultur tertentu, kombinasi zat kimia dari murashige dan Skoog masih tetap digunakan tetapi konsentrasinya yang diubah. Sebagai contoh media ½ MS, berarti konsentrasi persenyawaan yang digunakan adalah setengah konsentrasi media MS. &lt;br /&gt; Dalam pembuatan media, langkah pertama adalah membuat stok dari media terpilih. Penggunaan larutan stok menghemat pekerjaan menimbang bahan yang berulang–ulang setiap kali membuat media. Selain itu, kadang-kadang timbangan yang dibutuhkan untuk menimbang jumlah kecil tidak tersedia dalam laboratorium. Setiap larutan stok dapat dipergunakan sampai 100 liter media, bahkan larutan stok mikro dapat dipergunakan sampai 100 liter media. Larutan stok dapat disimpan ditempat yang bertemperatur rendah dan gelap. Pembuatan larutan stok berdasarkan pengelompokan dalam : Stok makro, stok mikro, stok Fe, stok vitamin dan stok hormone terutama bila larutan stok tidak disimpan terlalu lama (segera digunakan habis). Stok hormon dapat disimpan antara 2-4 minggu, sedangkan stok hara dapat disimpan 4-8 minggu. Dengan adanya larutan stok, pembuatan media selanjutnya hanya dengan teknik pengenceran dan pencampuran saja.&lt;br /&gt;            Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan larutan stok adalah penyimpanan (daya simpan) larutan. Larutan yang sudah mengalami pengendapan, tidak dapat digunakan lagi. Pengendapan larutan stok umumnya terjadi bila kepekatan dapat dihindari dengan membuat larutan yang tidak terlalu pekat atau tidak menggunakan larutan campuran, yaitu dengan membuat satu larutan stok hanya untuk satu jenis bahan (terutama untuk unsur hara makro). Kondisi simpan juga diperhatikan, karena ada beberapa bahan yang tidak tahan dalam suhu tinggi atau cahaya. Larutan stok kadang-kadang ditumbuhi mikroorganisme. Larutan stok yang terkontaminasi mikroorganisme ini, juga tidak dapat digunakan lagi. Oleh karena itu kondisi simpan harus dijaga kebersihan dan tempat (wadah) larutan harus diusahakan cara-cara pembuatan larutan stok untuk media Murashige dan Skoog.&lt;br /&gt;            Senyawa-senyawa sumber unsur hara makro diperlukan dalam jumlah yang cukup besar. Oleh karena itu sebaiknya dibuat dalam larutan stok tunggal. Selain itu jenis anion senyawa sumber unsur hara makro tidak sama, kemungkinan hal tersebut akan mempercepat pengendapan larutan bila dibuat larutan stok campuran. &lt;br /&gt;Langkah-Iangkah pembuatan media MS 1 liter (I) : &lt;br /&gt;a. Melarutkan sukrosa dalam aquadest 0.251  ml. &lt;br /&gt;b. Memasukkan larutan stok MS dan aquadest hingga 1 L &lt;br /&gt;c. Melakukan pengukuran pH (pH=5,8). Bila pH kurang dari 5,8 ditetesi larutan NaOH dan bila pH lebih dari 5,8 ditetesi lerutan HCl. &lt;br /&gt;d. Melakukan peneraan dengan cara memasukkan campuran ke dalam labu takar dan menambahkan aquadest hingga tepat 1 L. &lt;br /&gt;e. Memindahkan campuran tersebut dalam panci, kemudian dilarutkan agar didalamnya. &lt;br /&gt;• Untuk perlakuan I, kemudian ditambahkan NAA 0.1 ppm&lt;br /&gt;• Untuk perlakuan I, kemudian ditambahkan 2,4 D 0.5 ppm&lt;br /&gt;• Untuk perlakuan I, kemudian ditambahkan NAA 0.1 ppm + Mg 0.05 ppm&lt;br /&gt;• Untuk perlakuan I, kemudian ditambahkan 2,4 D 0.5 ppm + Mg 0.05 ppm.&lt;br /&gt; f.  Memanaskan campuran tersebut sampai mendidih, menuangkannya dalam botol media. Setiap 1 liter komposisi larutan media untuk 40 botol media yang berupa botol selai &lt;br /&gt;g. Menutup botol media dengan Alumunium foil secara rapat. &lt;br /&gt;h. Melakukan sterilisasi media dalam autoklaf yaitu autoklaf dipanaskan hingga mencapai suhu 1210 C, dan tekanan uap 17 kg/cm2 selama 20 menit. &lt;br /&gt;i. Mendinginkan dan menyimpan media dalam ruang inkubasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;IV. KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Media dasar Murhasige dan Skoog (1962) yang dapat digunakan untuk hampir semua jenis kultur, terutama pada tanaman herbaceous.&lt;br /&gt;2. Media dasar B5 untuk kultur sel kedelai, alfafa, dan legume lain.&lt;br /&gt;3. Media dasar White (1934) yang sangat cocok untuk kultur akar tanaman tomat.&lt;br /&gt;4. Media dasar Vacin dan Went yang biasa digunakan untuk kultur jaringan anggrek.&lt;br /&gt;5. Media dasar Nitsch dan Nitsch yang biasa digunakan dalam kultur tepung sari (pollen) dan kultur sel.&lt;br /&gt;6. Media dasar schenk dan Hildebrandt (1972) atau media SH yang cocok untuk kultur jaringan tanaman-tanaman monokotil.&lt;br /&gt;7. Medium khusus tanaman berkayu atau Woody Plant Medium (WPM)&lt;br /&gt;8. Media N6 untuk serealia terutama padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anderson. 2000. Effect of Level and Duration Suplemantary Light on Development of Chrysanthemum. Hort. Abstract. 61(92): 148-155.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2008. Kultur Jaringan : Alternatif Pengadaan Bibit Unggul. http://www.dephut.go.id/INFORMASI/SETJEN/PUSSTAN/info_5_1_0604/isi_11.htm. Diakses tanggal 12 Mei 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunawan, L.W. 2001. Budidaya Anggrek. Jakarta: Penebar Swadaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heddy, S. 1991. Hormon Tumbuhan. Jakarta: CV Rajawali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaryono, D. P. S. dan A Wijayani. 2002. Teknik Kultur Jaringan. Kanisius. Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mariska, I. dan R. Purnamaningsih. 2001. Perbanyakan vegetatif tanaman tahunan melalui kultur in vitro. Jurnal Litbang Pertanian 20 (1) : 1-8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sany. 2007. Tentang Kultur Jaringan. http://www.bndah-lembang.com/kuljar. Diakses tanggal 12 Mei 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Starling, R.J., H.J. Newburry, dan J.A . Callow, 1986. Putative Auxin Receptors in Tobacco Callus. University of Birmingham. UK. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wijayani, A. 2002. Pertumbuhan kentang pada berbagai intensitas cahaya dan konsentrasi benzil amino purin. Agrivet 5 (2): 98-104.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/05/pembuatan-media-tanam-kultur-jaringan.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-7708013382277933438</guid><pubDate>Thu, 21 May 2009 05:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-05T21:51:38.000-07:00</atom:updated><title>Penyadapan tanaman karet</title><description>PENYADAPAN TANAMAN KARET&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui cara-cara melakukan penyadapan tanaman karet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 1.9 juta ton pada tahun 2004. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2.25 milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan devisa non-migas (Anwar, 2001).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karet alam adalah salah satu komoditas utama sub sektor perkebunan di Indonesia.  Data tahun 2006 menunjukkan luas areal tanaman karet di Indonesia adalah seluas 3,31 juta hektar (ha) dan menempati areal perkebunan terluas ketiga setelah kelapa sawit (pertama) dengan luas 6,07 juta ha dan kelapa (kedua) dengan luas 3,82 juta ha.  Setelah karet,  kopi adalah tanaman perkebunan yang menempati posisi keempat dengan areal penanaman seluas 1,26 juta ha dan kakao (kelima) seluas 1,19 juta ha.  Produksi nasional karet pada tahun 2006 adalah sebesar 2,27 juta ton karet kering (KK) dengan produksi terbanyak berasal dari Sumatera (termasuk Bangka-Belitung dan Riau Kepulauan) dengan total produksi sebesar 1,66 juta ton.  Produktivitas karet nasional pada tahun tersebut mencapai 868 kg KK / ha dan telah mengalami peningkatan yang signifikan bila dibandingkan dengan satu dekade yang lalu yang hanya mencapai 575 kg KK / ha (tahun 1996) (Deptan, 2006).&lt;br /&gt;Benih karet merupakan benih rekalsitran yang sangat cepat menurun daya kecambahnya selama dalam penyimpanan, dikarenakan berkurangnya kadar air benih. Benih rekalsitran merupakan benih yang sangat dipengaruhi oleh keadaan kadar airnya, sehingga kadar air suatu benih (khususnya benih rekalsitran) sangat diperhatikan agar benih tidak mengalami kemunduran. Kadar air optimalnya adalah 32-35%, dan benih dapat mati pada kadar air 12-20%, dan suhu simpan yang baik adalah 7-10oC (Anonim, 2005).&lt;br /&gt;Menurut  prakiraan  bahwa  potensi  produksi  karet  dapat  ditingkatkan mencapai 5.000 – 7.000 kg/ha/th. Klon-klon karet unggul yang dihasilkan sampai saat  ini, mampu mencapai potensi produksi dengan rata-rata produksi selama 15 tahun sadap berkisar 1.500 – 1.800 kg/ha/th dalam penanaman skala komersial. Usaha untuk mendapatkan klon-klon yang lebih unggul terus diupayakan melalui program  pemuliaan  dan seleksi,  untuk  menghasilkan  klon-klon unggul  modern  dengan  produktivitas mencapai lebih dari 2.500 kg/ha/th pada tahun 2005 (Aidi-Daslin, 1995).&lt;br /&gt;Kegiatan pemuliaan karet di Indonesia telah banyak menghasilkan klon-klon karet unggul sebagai penghasil lateks dan penghasil kayu. Pada Lokakarya Nasional Pemuliaan Tanaman Karet 2005, telah direkomendasikan klon-klon unggul baru generasi-4 untuk periode tahun 2006 – 2010, yaitu klon: IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 104, IRR 112, dan IRR 118. Klon IRR 42 dan IRR 112 akan diajukan pelepasannya sedangkan klon IRR lainnya sudah dilepas secara resmi. Klon-klon tersebut menunjukkan produktivitas dan kinerja yang baik pada berbagai lokasi, tetapi memiliki variasi karakter agronomi dan sifat-sifat sekunder lainnya. Oleh karena itu pengguna harus memilih dengan cermat klon-klon yang sesuai agroekologi wilayah pengembangan dan jenis-jenis produk karet yang akan dihasilkan (Suhendry, 2002).&lt;br /&gt;Kondisi agribisnis karet saat ini menunjukkan bahwa karet dikelola oleh rakyat, perkebunan negara dan perkebunan swasta. Pertumbuhan karet rakyat masih positif walaupun lambat yaitu 1,58%/tahun, sedangkan areal perkebunan negara dan swasta sama-sama menurun 0,15%/th. Oleh karena itu, tumpuan pengembangan karet akan lebih banyak pada perkebunan rakyat. Namun luas areal kebun rakyat yang tua, rusak dan tidak produktif mencapai sekitar 400 ribu hektar yang memerlukan peremajaan. Persoalannya adalah bahwa belum ada sumber dana yang tersedia untuk peremajaan. Di tingkat hilir, jumlah pabrik pengolahan karet sudah cukup, namun selama lima tahun mendatang diperkirakan akan diperlukan investasi baru dalam industri pengolahan, baik untuk menghasilkan crumb rubber maupun produk-produk karet lainnya karena produksi bahan baku karet akan meningkat. Kayu karet sebenarnya mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan furniture tetapi belum optimal, sehingga diperlukan upaya pemanfaatan lebih lanjut (Maryadi, 2005).&lt;br /&gt;Pemungutan hasil tanaman karet disebut penyadapan karet. Penyadapan merupakan salah satu kegiatan pokok dari pengusahaan tanaman karet. Tujuan dari penyadapan karet ini adalah membuka pembuluh lateks pada kulit pohon agar lateks cepat mengalir. Kecepatan aliran lateks akan berkurang apabila takaran cairan lateks pada kulit berkurang Kulit karet dengan ketinggian 260 cm dari permukaan tanah merupakan bidang sadap petani karet untuk memperoleh pendapatan selama kurun waktu sekitrar 30 tahun. Oleh sebab itu penyadapan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merisak kulit tersebut. Jika terjadi kesalahan dalam penyadapan, maka produksi karet akan berkurang (Santosa, 1986).&lt;br /&gt;Menurut Pendle, lateks mengandung beragam jenis protein katena lateks adalah cairan sitiplasma, protein ini termasuk enzim-enzim yang berperan dalam sintesis molekul karet. Sebagian protein hilang sewaktu pemekatan lateks yaitu karena pengendapan dan karena terbuang dalam lateks skim. Protein yang tersisa dalam lateks pekat kurang lebih adalah 1% terhadap berat lateks dan terdistribusi pada permukaan karet (60%) dan sisanya sebesar 40% terlarut dalam serum lateks pekat tersebut (Pendle, 1992).&lt;br /&gt;Musuh yang paling mengganggu para penyadap karet (Hevea brasiliensis) adalah hujan di pagi hari. Sebab jika kulit batang karet (balam) basah, getah akan luber keluar dari jalur (pelat) yang dibentuk oleh tarikan pahat. Jika hujan pagi, berarti hari libur para penyadap karet (penakok). Sedang musuh yang paling ditakutkan adalah hujan turun saat ngangkit (mengumpulkan getah dari sayak atau mangkuk penampung). Hasil memutari pohon-pohon karet satu kebun bisa jadi tanpa hasil jika air hujan meluberi sayak (tempurung penampung) cairan getah karet. Namun musuh yang paling dibenci para penyadap karet adalah harga getah/lateks “jatuh” sedang harga kebutuhan sehari-hari meninggi (Radjam, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. METODOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah pohon karet dewasa. Peralatan yang digunakan adalah pisau sadap, mangkuk, sigmat, cincin mangkok, pisau mal, talang lateks, dan tali cincin .&lt;br /&gt;Cara kerja daripraktikum ini adalah dipilih pohon karet yang siap sadap atau memiliki kriteria siap sadap. Kemudian dibuat pola sadap: (a) bukaan sadap ditentukan 90-100 cm dari permukaan tanah, dan (b) bidang sadapan digambar dengan bentuk spiral dari kiri atas ke kanan bawah membentuk sudut 20-45˚ terhadap garis horizontal. Dilakukan penyadapan : (a) kulit pohon dibersihkan, (b) kulit pohon diiris dengan tebal irisan 1,5-2,0 mm, (c) kedalaman irisan 1,0-1,5 mm, dan (d) lateks ditampung dengan mangkuk sadap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. HASIL PENGAMATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan sadap menentukan keberhasilan penyadapan. Semakin baik alat yang digunakan, semakin bagus hasilnya. Menurut Siregar (1995), berbagai peralatan sadap yang digunakan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.  Mal sadap&lt;br /&gt;Mal sadap berfungsi membuat gambar sadapan yang menyangkut kemiringan sadapannya, biasanya digunakan sebagai pola rencana penyadapan untuk jangka waktu tertentu (biasanya 6 bulan). Mal sadap dibuat dari sepotong kayu dengan panjang 130cm yang dilengkapi plat seng selebar + 4cm dan panjangnya antara 50-60cm. Plat seng dengan kayu membentuk sudut 120º (Siregar, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Pisau sadap atas&lt;br /&gt;Pisau sadap ada 2 macam, yaitu pisau untuk sadap atas dan pisau untuk sadap bawah. Pisau sadap harus mempunya ketajaman yang tinggi, karena berpengaruh pada kecepatan menyadap dan kerapihan sadapan. Pisau sadap atas bertangkai panjang untuk menyadap kulit karet pada bidang sadap atas dengan ketinggian di atas 130 cm (Nazaruddin, 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pisau sadap bawah&lt;br /&gt;Ketajaman pisau berpengaruh pada kecepatan menyadap dan kerapihan menyadap. Pisau sadap mempunyai tangkai yang panjang untuk mempermudah penyadapan. Pisau sadap bawah digunakan untuk menyadap kulit karet pada bidang sadap bawah, ketinggian mulai 130 cm ke arah bawah (Siregar, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Talang lateks (spout)&lt;br /&gt;Talang lateks berfungsi untuk mengalirkan cairan lateks atau getah karet dari irisan sadap ke dalam mangkok. Talang lateks terbuat dari seng dengan lebar 2,5 cm dan panjangnya antara 8-10 cm. Pemasangan talang lateks pada pohon karet dilakukan dengan cara ditancapkan 5 cm dari titik atau ujung terendah irisan sadapan. Penancapannya hendaknya tidak terlalu dalam agar tidak merusak lapisan kambium atau pembuluh empulur karet (Siregar, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Mangkok atau cawan&lt;br /&gt;Mangkok ini berfungsi sebagai penampung lateks yang mengalir dari bidang irisan melalui talang. Mangkok ini biasanya dibuat dari tanah liat atau plastik atau aluminium. Paling baik adalah dibuat dari aluminium karena tahan lama dan bisa menjamin kualitas lateks. Namun sulit dicari dan harganya yang cukup mahal. Mangkok dipasang 10 cm di bawah talang (Siregar, 1995). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.  Cincin mangkok&lt;br /&gt;Cincin mangkok berfungsi sebagai tempat meletakkan mangkok sadap atau cawan. Bahan yang digunakan untuk pembuatan cincin mangkok ini adalah kawat. Biasanya cincin ini digantungkan atau dicantolkan pada tali cincin. Diameter cincin dibuat sedikit lebih besar dari ukuran mangkok sadap agar mangkok bisa masuk ke dalam cincin (Siregar, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.  Tali cincin&lt;br /&gt;Tali cincin berfungsi sebagai tempat untuk mencantolkan cincin mangkok sehingga mutlak harus disediakan. Biasanya tali cincin dibuat dari kawat atau ijuk. Letaknya pada pohon karet disesuaikan dengan keadaan cincin mangkok, jangan sampai terlalu jauh dari cincin mangkok. Sebagaimana talang lateks, kedudukan tali cincin juga berubah tiap periode tertentu (Siregar, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Meteran gulung (rol meter)&lt;br /&gt;Meteran gulungan berfungsi untuk menentukan tinggi bidang sadap (meteran kayu) dan mengukur lilit batang pohon karet (meteran gulung). Meteran yang digunakan terbuat dari bahan lunak atau kulit. Meteran kulit disebut juga meteran gulung dengan panjang 150-200 cm (Siregar, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.  Meteran kayu&lt;br /&gt;Fungsi meteran kayu ini yaitu untuk mengukur tinggi sadapan.Biasanya terbuat dari kayu (panjang 130 cm) dan berbentuk panjang pipih . Penggaris diletakkan dari permukaan tanah ke arah vertikal pada pohon karet sampai jarak 130 cm (Nazaruddin, 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Pisau mal&lt;br /&gt;Pisau mal berfungsi sebagai alat untuk menoreh kulit batang karet saat akan membuat gambar bidang sadap. Alat ini dibuat dari besi panjang dengan ujung runcing dan pegangannya terbuat dari kayu atau plastik. Bagian runcing inilah yang digunakan untuk menoreh kulit batang pohon karet (Siregar, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Quadri&lt;br /&gt;Alat ini berfungsi untuk mengukur tebalnya kulit batang yang disisakan saat penyadapan. Tujuannya agar penyadapan tidak sampai melukai kambium atau pembuluh empulurnya. Alat ini terbuat dari besi, bagian ujung seperti jarum dengan panjang 1-1,5 mm (Siregar, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Sigmat&lt;br /&gt;Alat ini berfungsi untuk mengukur tinggi sadapan. Ketebalan ± 10 cm. Sigmat ditempatkan pada bagian pohon yang akan diukur tebal kulitnya, ditekan sampai terasa keras atau tidak dapat menembus kulit lebih dalam lagi. Ketebalan kulit pohon diketahui degnan membaca skala (Nazaruddin, 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lateks adalah getah seperti susu dari banyak tumbuhan yang membeku ketika terkena udara. Ini merupakan emulsi kompleks yang mengandung protein, alkaloid, pati, gula, minyak, tanin, resin, dan gom. Pada banyak tumbuhan lateks biasanya berwarna putih, namun ada juga yang berwarna kuning, jingga, atau merah Untuk memperoleh hasil sadap yang baik, penyadapan harus mengikuti aturan tertentu agar diperoleh hasil yang tinggi, menguntungkan, serta berkesinambungan dengan tetap memperhatiakan faktor kesehatan tanaman&lt;br /&gt;Tipe penyadapan&lt;br /&gt;1. Sadapan ke bawah (down ward tapping)&lt;br /&gt;a. Faktor yang perlu diperhatikan :  dalam rangka pemungutan hasil, faktor utama yang harus diperhatikan adalah kebersihan alat-alat (pisau sadap, mangkok, ember lateks, dll). Umur ekonomis tanaman ditentukan oleh cara dan system sadap disamping faktor lain.&lt;br /&gt;b. Kriteria sadap : setelah tanaman berumur 5 tahun diadakan pengurangan lingkaran batang yang pertama. Kriteria untuk matang sadap adalah lingkaran batang harus mencapai 45 cm pada tinggi 1 meter diatas tanah untuk tanaman asal semalam dan 1 meter diatas pertautan untuk tanaman asal okulasi.jumlah tanaman yang memenuhi kriteria tersebut harus mencapai 60-70 % dari jumlah pohon persatuan luas.&lt;br /&gt;2. Sadapan ke atas (up ward tapping) : sadapan keatas bukanlah suatu teknik sadapan yang hanya digunakan untuk sadapan yang hanya digunakan untuk sadapan mati pada tahun-tahun terakhir dari umur yang memberikan keuntungan ekonomis dari pohon karet. Teknik tersebut dapat juga sebagai sistem yang diintegrasikan dalam suatu program eksploitasi jangka panjang dari tanaman karet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intensitas sadap : menurut perjanjian sadap S/2, d/2 adalah 100%.&lt;br /&gt;1. Tinggi pembukaan sadap&lt;br /&gt;a. Sadap bawah&lt;br /&gt;1) Pada tanaman okulasi : bukaan sadapan pertama kali dimulai pada tinggi 130 cm diatas pertautan. Disadap terus hingga 10 cm diatas pertautan. Sebelum   dipindahkan alur sadap diperpendek hingga menjadi 2/3nya.&lt;br /&gt;2) Pada tanaman asal biji : bukaan sadapan pertama kali dimulai pada tinggi 90 cm dari permukaan tanah. Disadap terus hingga 10 cm diatas permukaan tanah.sebelum pindah alur sadap diperpendek hingga menjadi 2/3 nya. Bukaan kedua kali dan seterusnya pada tinggi 130 cm dari permukaan tanah.&lt;br /&gt;b. Sadap tinggi : baik tanaman asal biji maupun okulasi dapat disadap atas mulai pada tinggi 3 meter dari atas tanah, pada sisi yang bersebelahan dengan sadapan bawah. Disadap terus hingga titik rendah dari sadap bawah. Selanjutnya dibuka pada sisi yang bersebelahan&lt;br /&gt;2. Arah dan lereng irisan sadap&lt;br /&gt;a. arah irisan sadap : arah irisan sadap harus searah dengan arah jarum jam, dalam praktekcara menyadap ialah mengiris mulai dari kiri atas bergerak ke kanan bawah.&lt;br /&gt;b. sudut irisan sadap : irisan sadap yang baik membentuk sudut 30-350 dengan bidang horizontal. Di Indonesia lazimnya sudut irisan sadap adalah 300. jika kelak dilakukan penyadapa ke atas (up ward tapping), langsung dipergunakan pembukaan irisan sadap dengan sudut 400.&lt;br /&gt;c. bentuk irisan sadap: bentuk irisan sadapmerupakan spiral yang arahdari kiri atas ke kanan bawah. Bentuk V (tulang ikan) tidak dapat dianjurkan oleh karena bagian kanan dari sayatan lebih rendah produksinya.&lt;br /&gt;d. panjang irisan sadap : pada dasarnya irisan sadap harus sependek mungkin. Panjang irisan sadapjangan melebihi setengah spiral. Penyadapan setengah spiral lebih sampai spiral penuh akan menekan pertumbuhan jika penyadapan sepanjang tahun tertuama pada pohon karet muda.&lt;br /&gt;e. dalam irisan sadap : dalam irisan sadap seharusnya antara 1-1,5 mm dari cambium. Sadap yang lebih dalam (yaitu kurang dari 1mm mendekati kambium) dapat menghasilkan produksi tinggi akan tetapi hal ini akan menambah besarnya risiko terjadinya luka, kekeringan pohon dan penyakit bidang sadapan, sehingga membahayakan eksploitasi selanjutnya pada bidang sadapan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman karet siap sadap bila sudah matang sadap pohon. Matang sadap pohon tercapai apabila sudah mampu diambil lateksnya tanpa menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Kesanggupan tanaman untuk disadap dapat ditentukan berdasarkan “umur dan lilit batang”. Diameter untuk pohon yang layak sadap sedikitnya 45 cm diukur 100 cm dari pertautan sirkulasi dengan tebal kulit minimal 7 mm dan tanaman tersebut harus sehat. Pohon karet biasanya dapat disadap sesudah berumur 5-6 tahun. Semakin bertambah umur tanaman semakin meningkatkan produksi lateksnya. Mulai umur 16 tahun produksi lateksnya dapat dikatakan stabil sedangkan sesudah berumur 26 tahun produksinya akan menurun.&lt;br /&gt;Penyadapan dilakukan dengan memotong kulit pohon karet sampai batas kambium dengan menggunakan pisau sadap. Jika penyadapan terlalu dalam dapat  membahayakan kesehatan tanaman, dan juga untuk mempercepat kesembuhan luka sayatan maka diharapkan sadapan tidak menyentuh kayu (xilem) akan tetapi paling dalam 1,5 mm sebelum kambium.. Sadapan dilakukan dengan memotong kulit kayu dari kiri atas ke kanan bawah dengan sudut kemiringan 30˚ dari horizontal dengan menggunakan pisau sadap yang berbentuk V. Semakin dalam sadapan akan menghasilkan banyak lateks. Pada proses penyadapan perlu dilakukan pengirisan. Bentuk irisan berupa saluran kecil, melingkar batang arah miring ke bawah.. Melalui saluran irisan ini akan mengalir lateks selama 1-2 jam. Sesudah itu lateks akan mengental. Lateks yang yang mengalir tersebut ditampung ke dalam mangkok aluminium yang digantungkan pada bagian bawah bidang sadap. Sesudah dilakukan sadapan, lateks mengalir lewat aluran V tadi dan menetes tegak lurus ke bawah yang ditampung dengan wadah.&lt;br /&gt;Frekuensi sadapan adalah selang waktu penyadapan menurut satuan waktu dalamhari (d), minggu (w), bulan (m), dan tahun (y) tergantung dari sistem penyadapan.pada sadapan terus-menerus, penyadapan yang dilakukan setiap hari ditandai dengan notasi d/1, dua hari sekali d/2, tiga hari sekali d/3, dan seterusnya.&lt;br /&gt;Contoh rumus penyadapan :&lt;br /&gt;1.D/2 (2 x 2 d/4), penyadapan pada dua bidangsadap; masing-masing disadap bergantian; pohon disadap dua hari sekali.&lt;br /&gt;2.D/3 (2 x y/2), penyadapan pada dua bidang sadap; masing-masing disadap bergantian tiap tahun; pohon disadap dua hari sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frekuensi penyadapan :&lt;br /&gt;1.Frekuensi penyadapan: jumlah penyadapan yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu&lt;br /&gt;2.Penentuan frekuensi penyadapan berkaitan dengan panjang irisan dan intensitas penyadapan.&lt;br /&gt;3.Panjang irisan: ½ S (spiral).&lt;br /&gt;4.Frekuensi penyadapan, 2 tahun pertama: d/3 (3 hari sekali) tahun selanjutnya: d/2 (2 hari sekali) panjang irisan dan frekuensi penyadapan bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu penyadapan :&lt;br /&gt;Sebaiknya penyadapan dilakukan jam 5.00-7.30 pagi hari, dengan dasar pemikirannya :&lt;br /&gt;1.Jumlah lateks yang keluar dan kecepatan aliran.&lt;br /&gt;2.Lateks dipengaruhi oleh tekanan turgor sel. Tekanan turgor mencapai maksimum pada saat menjelang fajar, kemudian menurun bila hari semakin siang.&lt;br /&gt;3.Pelaksanaan penyadapan dapat dilakukan dengan baik bila hari sudah cukup terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem eksploitasi tanaman karet adalah sistem pengambilan lateks yang mengikuti aturan-aturan tertentu dengan tujuan memperoleh produksi tinggi, secara ekonomis menguntungkan dan berkesinambungan, sistem eksploitasi yang dikenal adalah:&lt;br /&gt;1.Sistem eksploitasi konvensional : merupakan sistem sadap biasa tanpa menggunakan stimulan. Kelebihannya tergantung pada perangsang dansesuai dengan keadaan tanaman walaupun kurang baik pertumbuhannya. Kelemahannya kulit batang akan cepat habis.&lt;br /&gt;2.Sistem sadap stimulasi : sistem sadap kombinasi dengan menggunakan perangsang. Pemberian perangsang dimakduskan untuk meningkatkan produksi yang dapat dilakukan pada pohon karet yanng telah berumur lebih dari 15 tahun.&lt;br /&gt;3.Sistem eksploitasi tusuk atau mikro : sistem tusukan pada jalur kulit yang diberi perangsang yang dilakukan dengan cara menusuk kulit batang tanaman denagn jarum. Kelebihan sistem ini adalah produksi lateks tinggi, pelaksanaannya mudah, kandungan zat gula lateks tetap tinggi gerakan zat gula dalam kulit tidak terhalangi, kekeringan alur sadap dapat dihindari dan dapat dilakukan pada tanaman yang beruamur 3 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Sadap mantap untuk tanaman karet adalah bila lingkar batang mencapai 45 cm pada tinggi 1 m diatas permukaan tanah untuktanaman asal semai pertautan untuk tanaman asal okulasi.&lt;br /&gt;2.Jumlah tanaman yang memenuhi kriteria tersebut 60-70% darijumlah pohon per satuan luas.&lt;br /&gt;3.Kedalaman penyadapan harus diperhatikan jangan sampai mengenai kambium karena akan mengakibatkan luka pada tanaman, dan juga tanaman akan susah sembuh. &lt;br /&gt;4.Sistem sadap yang dapat dilakukan adalah sistem eksploitasi konvensional, sistem eksploitasi stimulan dan sistem eksploitasi tusuk.     &lt;br /&gt;5.Sistem eksploitasi yang baik adalah sistem eksploitasi tusukkarena dapat dilakukan pada tanaman yang berumur 3 tahun sehingga memperpanjang umur ekonomis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2005. The Opportunity of Plantation Investment In North Sumatera : Rubber. (http://www.bainfokomsumut.go.id/iptek04.php). Diakses tanggal 5 Mei 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar, Chairil. 2001. Manajemen dan Teknologi Budidaya Karet. Pusat Penelitian Karet. Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aidi-Daslin, 1995. Pengelolaan Bahan Tanam Karet. Pusat Penelitian Karet. Balai Penelitian Sembawa. Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deptan. 2006. Basis Data Statistik Pertanian (http://www.database.deptan.go.id/). Diakses tanggal 5 Mei 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maryadi. 2005. Manajemen Agrobisnis Karet. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nazaruddin dan F.B. Paimin. 1998. Karet. Penebar Swadaya. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendle. P.D. 1992. The Production, composition, and chemistry of natural latex concentrates in sensitivity to latex in medical device (FDA Ed.). Program and Proceedings of International Latex Conference, Baltimore, November 5-7,13.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radjam, Syam. 2009. Musuh-musuh penyadap karet. (http://www.prabumulihdusunlaman.blogspot.com). Diakses tanggal 5 Mei 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santosa. 2007. Karet. (http://id.wikipedia.org/wiki/karet). Diakses tanggal 21 Maret 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siregar, T.H.S. 1995. Teknik Penyadapan Karet. Kanisius, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhendry, I. 2002. Kajian finansial penggunaan klon karet unggul generasi IV. Warta Pusat Penelitian Karet. 21 : 1- 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/05/penyadapan-tanaman-karet-i.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-6671117270200588225</guid><pubDate>Thu, 21 May 2009 04:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-05T21:55:20.901-07:00</atom:updated><title>Pembuatan Nutrisisi Hidroponik</title><description>PEMBUATAN NUTRISI HIDROPONIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Kecenderungan konsumen dalam memilih hasil produksi tanaman dan makanan di kota-kota besar Indonesia adalah mencari produk dengan nilai tambah terhadap manfaat kesehatan, berpenampilan menarik, dan dengan harga yang rasional. Produk-produk tersebut sebagian besar dapat terpenuhi oleh produk hidroponik. Hidroponik berasal dari bahasa latin yang terdiri atas kata hydro yang berarti air dan kata ponos yang berarti kerja, sehingga hidroponik dapat diartikan sebagai suatu pengerjaan atau pengelolaan air sebagai media tumbuh tanaman tanpa menggunakan media tanah sebagai media tanam dan mengambil unsur hara mineral yang dibutuhkan dari larutan nutrisi yang dilarutkan dalam air. Sehingga sangat perlu diketahui kebutuhan nutrisi yang sesuai dengan jenis tanaman yang dibudidayakan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tujuan&lt;br /&gt;Dapat membuat dan mengaplikasikan nutrisi hidroponik dalam budidaya hidroponik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercocok tanaman tanpa tanah itulah gambaran hidroponik. Hidroponik berasal dari bahasa Yunani, yaiitu hydro yang berarti air dan Ponos yang berarti kerja, sehingga keseluruhannya dapat diartikan sebagai kerja air. Prinsip dasar dari hidroponk adalah menyediakan atau memberikan nutrisi yang dibutuhkan tanaman dalam bentuk larutan. Pemberiannya dilakukan dengan menyiramkan atau meneteskannya ke tanaman. Yang pasti tidak digunakan tanah senagai media tanam, melainkan bahan-bahan yang bersifat porous (Marsoem, 2002). &lt;br /&gt;Secara umum berhidroponik mempunyai keuntungan, diantaranya sebagai berikut (Lingga, 2002) :&lt;br /&gt; Persediaan nutrisi bagi tanaman cukup tersediadan efisien, tanpa terhalang tempat dan musim.&lt;br /&gt; Tanaman bebas dari hama dan penyakit yang ada di dalam tanah.&lt;br /&gt; Hidroponik dapat meningkatkan pendapatan keluarga, meningkatkan  pemenuhan gizi keluarga dan masyarakat, dan dalam skala besar dapat meningkatkan skala ekspor non-migas.&lt;br /&gt; Tanaman hidroponik mampu menghijaukan dan memperindah pekarangan rumah, memberikan kepuasan batin apabila tanamannya berbuah, serta menciptakan kegiatan di waktu senggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya memproduksi tanaman atau makanan secara hidroponik, diperlukan beberapa peralatan dasar agar tanaman dapat tumbuh dengan baik seperti daerah perakaran harus memperoleh cukup udara, air dan unsur hara/nutrisi, sehingga dapat menghasilkan tanaman dan makanan yang berkualitas. Peralatan dasar yang diperlukan untuk memenuhi kriteria tersebut di atas adalah (Falah, 2006):&lt;br /&gt; Tempat tumbuh tanaman, seperti bak atau kolam penampung, pot, dan bedengan. &lt;br /&gt;Diusahakan agar tempat tumbuh tanaman dijaga kebersihannya secara berkala dengan membersihkan dan menghilangkan tumbuhan atau tanaman lain yang tidak diinginkan (terutama dalam bedengan atau kolam penampung).&lt;br /&gt; Aerator &lt;br /&gt;Alat ini dipakai untuk tercukupinya oksigen untuk pertukaran udara dalam daerah perakaran. Kekurangan oksigen akan mengganggu penyerapan air dan nutrisi oleh akar dan respirasi.&lt;br /&gt; Larutan Nutrisi&lt;br /&gt;Larutan nutrisi sebagai sumber pasokan air dan mineral nutrisi merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman hidroponik, sehingga harus tepat dari segi jumlah, komposisi ion nutrisi dan suhu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nutrisi hidroponik dibuat dengan menggabungkan hara makro dan hara mikro sesuai kebutuhan tanaman. Unsur hara makro adalah unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah yang banyak, terdiri atas C, H, O, N, P, K, Ca, Mg dan S. Apabila tanaman kekurangan unsur hara makro akan berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Unsur hara mikro adalah unsur hara yang diperlukan oleh tanaman tetapi dalam jumlah sedikit. Unsur hara mikro ini mutlak dibutuhkan oleh tanaman. Jika kekurangan unsur hara mikro ini maka tanaman tidak akan tumbuh dengan optimal. Jenis unsur hara mikro ini adalah Mn, Cu, Fe, Mo, Zn, B (Wijayani et. al. 1998).&lt;br /&gt;Larutan nutrisi juga dapat dipertahankan dan dikontrol sesuai dengan kebutuhan tanaman dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Hal ini mendasari adanya sistem kontrol secara sederhana maupun otomatis pada larutan nutrisi. Selain EC dan konsentrasi larutan nutrisi, suhu dan pH merupakan komponen yang sering dikontrol untuk dipertahankan pada tingkat tertentu untuk optimalisasi tanaman. Suhu dan pH larutan nutrisi dikontrol dengan tujuan agar perubahan yang terjadi oleh penyerapan air dan ion nutrisi tanaman (terutama dalam hidroponik dengan sistem yang tertutup) dapat dipertahankan. Suhu yang terlalu rendah dan terlalu tinggi pada larutan nutrisi dapat menyebabkan berkurangnya penyerapan air dan ion nutrisi, untuk tanaman sayuran suhu optimal antara 5-150 C dan tanaman buah antara 15-250 C. Beberapa tanaman sayuran dan buah dipertahankan mempunyai tingkat pH dan EC tertentu yang optimal (Savvas and Manos. 1999). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. METODOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air (sebagai pelarut senyawa kimia) dan senyawa-senyawa kimia berupa unsur makro (5Ca(NO3)2.NH4.NO3.10H2O ; KNO3 ; KH2PO4 ; MgSO4.7H2O) dan berupa unsaur mikro (Fe EDTA ; MnSO4.4H2O ; H2BO3 ; ZnSO4.7H2O ; CuSO4.5H2O ; H2MoO4). Alat-alat yang digunakan adalah gelas beker, timbangan, stirrer, pH meter, dan EC meter.&lt;br /&gt;Praktikum ini dilaksanakan dengan cara menimbang semua senyawa-senyawa sesuai kebutuhan tanaman akan masing-masing unsur hara. Masing-masing senyawa yang telah ditimbang sesuai komposisinya kemudian dilarutkan didalam wadah berukuran 5 liter dan dibuat menjadi 2 larutan stok agar tidak terjadi endapan, sehingga akan terbedapat 5 liter larutan stok A dan 5 liter stok B. Stok larutan A berisi senyawa 5Ca(NO3)2.NH4.NO3.10H2O, 50 % KNO3, dan Fe EDTA. Stok larutan B berisi senyawa 50 % KNO3, KH2PO4, MgSO4.7H2O, MnSO4.4H2O, H2BO3, ZnSO4.7H2O, CuSO4.5H2O, H2MoO4. Larutan tersebut merupakan larutan pekat, apabila akan diaplikasikan pada tanaman masing-masing stok 5 liter larutan tersebut dapat dilarutkan menjadi 1000 liter larutan siap pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hasil Pengamatan&lt;br /&gt;    Tabel kebutuhan unsur hara tanaman selada&lt;br /&gt;Unsur hara Konsentrasi (ppm) Yang dipakai (ppm)&lt;br /&gt;N         70-250           250&lt;br /&gt;P         15-80             62&lt;br /&gt;K         150-400          300&lt;br /&gt;Ca         70-200                 175&lt;br /&gt;Mg         15-80                 62 &lt;br /&gt;S         20-200                 110&lt;br /&gt;Fe         0.8-6             5   &lt;br /&gt;Mn         0.5-2            2&lt;br /&gt;Cu         0.05-0.3         0.1&lt;br /&gt;Zn         0.1-0.5                 0.3&lt;br /&gt;B         0.1-0.6          0.6&lt;br /&gt;Mo         0.05-0.15         0.05&lt;br /&gt;(Sutiyoso, 2003)&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pengamatan berdasarkan hitungan&lt;br /&gt;No Nama senyawa kimia          gr/5 liter  Kemurnian (%) Kandungan unsur&lt;br /&gt;Stok A&lt;br /&gt;1 5Ca(NO3)2. NH4. NO3.10H2O  Hidrokarat 1020     98           Ca = 18,5 %&lt;br /&gt;                                       N-NO3= 1.3 %&lt;br /&gt;                                       N-NH4= 14 %&lt;br /&gt;2 Fe EDTA                    Unsur mikro 40                        Fe EDTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stok B&lt;br /&gt;1 KH2PO4 Kalium      dihidrogen phospat 206     98           K= 28,7%&lt;br /&gt;                                       P-PO4= 22,8 %&lt;br /&gt;2 MgSO4.7H2O               Garam Inggris 652     98            Mg= 9,7%&lt;br /&gt;                                       S-SO4= 13 % &lt;br /&gt;3 KNO3               Potassium nitrat 600     95           K= 39%&lt;br /&gt;                                       N-NO3= 14%&lt;br /&gt;4 K2SO4                  Kalium sulfat 161.7     90           K= 44.8%&lt;br /&gt;                                       S-SO4= 18.4%&lt;br /&gt;5 NH4.H2(PO4)2 Mono amonium phospat / MAP 94                   N-NH4= 12%&lt;br /&gt;                                       P-PO4= 27 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh perhitungan&lt;br /&gt;MgSO4.7H2O  &lt;br /&gt;Mg  =  (Ar Mg)/(Mr MgSO_4.7H_2 O)×100 %= 24/246×100 %=9.7 %&lt;br /&gt;S      = (Ar S)/(Mr MgSO_4.7H_2 O)  ×100 %=  32/246×100 %=13 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mg  = 62 ppm : 9.7 % = 639 gram&lt;br /&gt;S  = 13 % x 639 gram = 83 ppm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan S   = 110-83 = 27 ppm&lt;br /&gt;Kemurnian   = 98%&lt;br /&gt;Kekurangan  = 2/100×639 = 12.78 gram = 13 gram&lt;br /&gt;Total MgSO4.7H2O = 639 + 13 = 652 gram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan&lt;br /&gt;Nutrisi adalah substansi organik yang dibutuhkan organisme untuk fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan. Pemberian nutrisi pada tanaman dapat diberikan melalui akar dan daun tanaman. Aplikasi melalui akar dapat dilakukan dengan merendam atau mengalirkan larutan pada akar tanaman. Larutan nutrisi dibuat dengan cara melarutkan garam-mineral ke dalam air. Ketika dilarutkan dalam air, garam-mineral ini akan memisahkan diri menjadi ion. Penyerapan ion-ion oleh tanaman berlangsung secara kontinue dikarenakan akar-akar tanaman selalu bersentuhan dengan larutan (Suwandi, 2006).&lt;br /&gt;           Terdapat tiga kriteria yang harus dipenuhi sehingga suatu unsur dapat disebut sebagai unsur esensial : &lt;br /&gt; Unsur tersebut diperlukan untuk menyelesaikan satu siklus hidup tanaman secara normal.&lt;br /&gt; Unsur tersebut memegang peran yang penting dalam proses biokhemis tertentu dalam tubuh tanaman dan peranannya tidak dapat digantikan atau disubtitusi secara keseluruhan oleh unsur lain.&lt;br /&gt; Peranan dari unsur tersebut dalam proses biokimia tanaman adalah secara langsung dan bukan secara tidak langsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur hara penting (esensial) yang sangat diperlukan tanaman adalah : Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Belerang (S), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Semg (Zn), Besi (Fe), Tembaga (Cu), Molib Denum (Mo), Boron (B), Mangan (Mn), dan Khlor (Cl),. Dari 16 unsur tersebut dibagi menjadi dua grup yaitu hara makro ( C, H, O, N, P, K, Ca, Mg dan S) dan unsure hara mikro (Fe, Zn, Mn, Cu, Mo, B, dan Cl). Umumnya unsur hara makro dibutuhkan oleh tanaman lebih banyak dibandingkan hara mikro. &lt;br /&gt; Nitrogen (N)&lt;br /&gt;Berfungsi untuk sintesa asam amino dan protein dalam tanaman. Sekitar 75% dari seluruh N yang dibutuhkan tanaman diperoleh dari fixasi N. Tanaman yang kahat N terlihat kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat mati. &lt;br /&gt; Fosfor (P)&lt;br /&gt;Unsur hara P berguna untuk energi transfer dan pengangkutan hasil metabolisme di dalam tanaman, merangsang pembentukan akar dan pembungaan. Tanaman yang kahat P antara lain kerdil, daun sempit, daun berwarna kemerahan atau keunguan dan pembentukan buah/biji berkurang. &lt;br /&gt; Kalium (K)&lt;br /&gt;Fungsi hara K berperan dalam proses fotosintesa, pengangkutan hasil asimilasi, metabolisme air dan aktifitas enzim. Gejala kahat K terlihat pada batang dan daun yang lemah sehingga mudah rebah, daun berwarna hijau tua kebiruan, adanya warna kuning mulai ujung daun mengering, kadang- kadang timbul bercak coklat terutama pada ujungnya. &lt;br /&gt; Belerang (S)&lt;br /&gt;Unsur hara S merupakan salah satu komponen protein dalam tanaman, sehingga jumlah yang diperlukan setara dengan hara P. Gejala kekurangan unsur hara S mirip dengan kekahatan N dan agak susah membedakannya. Warna kunung lebih jelas pada daun muda. &lt;br /&gt; Kalsium (Ca)&lt;br /&gt;Unsur hara Ca berpengaruh pada pembentukan bintil akar, berperan dalam hidrolisa ATP dan fosfolipid, merupakan kofaktor beberapa enzim gejala kekahatan unsur hara Ca, antara lain pucuk daun agak putih, menggulung, keriting atau salah bentuk dan perakaran tidak normal. &lt;br /&gt; Magnesium (Mg)&lt;br /&gt;Magnesium (Mg) merupakan unsur hara yang penting dalam proses pembentukan khlorofil, sehingga ikut berperan dalam proses fotosintesa. Kekahatan unsur Mg terlihat pada daun yang agak bergelombang dan melengkung ke bawah, timbul gejala khlorosis interveinal pada daun tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertanian hidroponik nutrisi sangat menentukan keberhasilan, karena tanaman mendapat unsur hara dari apa yang diberikan. Kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal. Terdapat pupuk hidroponik yang siap pakai di pasaran, ini akan lebih mudah karena pupuk tersebut sebelum diaplikasikan dilarutkan terlebih dahulu setelah itu siap diaplikasikan. Tetapi untuk skala komersil biasanya petani meramu pupuknya sendiri. &lt;br /&gt;Dalam pembuatan nutrisi hidroponik biasanya akan dibagi menjadi dua bagian yaitu stok A dan stok B. Pembagian ini perlu dilakukan agar tidak terjadi reaksi antara ion Ca dengan ion PO atau ion SO.  Reaksi tersebur akan membentuk CaSO4 dan Ca3(PO4)2. Kedua senyawa tersebut akan mengendap sehingga akan menyulitkan tanaman dalam menyerap unsur hara.&lt;br /&gt;Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam meramu nutrisi hidroponik antara lain adalah:&lt;br /&gt; Keseimbangan.&lt;br /&gt;Keseimbangan penting dalam meramu pupuk hidroponik karena kelebihan suatu unsur akan menekan ketersediaan unsur yang lain, seringkali tanaman menunjukan gejala kekurangan suatu unsur karena kelebihan unsur tertentu.&lt;br /&gt; Fase tanaman.&lt;br /&gt;Tanaman pada masa vegetatif akan membutuhkan N dan P yang lebih karena unsur tersebut sangat penting dalam pembentukan kloropil dan akar tanaman. Sebaliknya pada fase generatif atau masa pembuahan tananam membutuhkan lebih banyak kalium dan kalsium karena kedua unsur tersebut berperan penting dalam pembentukan karbohidrat pada buah.&lt;br /&gt; Kebutuhan tanaman akan unsur hara.&lt;br /&gt;Kebutuhan tanaman yang satu dengan yang lainnya terhadap hara berbeda, baik mengenai jumlahnya atau bahkan juga jenisnya.&lt;br /&gt; Bentuk panen.&lt;br /&gt; Kondisi lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;V. KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hidroponk adalah menyediakan atau memberikan nutrisi yang dibutuhkan tanaman dalam bentuk larutan.&lt;br /&gt; Nutrisi adalah substansi organik yang dibutuhkan organisme untuk fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan.&lt;br /&gt; Larutan nutrisi dibagi yaitu stok A dan stok B agar tidak terjadi reaksi antara ion Ca dengan ion PO atau ion SO yang menimbulkan endapan.&lt;br /&gt; Unsur hara essensial dibagi menjadi dua, yaitu unsur makro (C, H, O, N, P, S, K, Ca, dan Mg) yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak dan unsur mikro ( B, Cl, Cu, Fe, Mn, Mo, dan Zn) yang keberadaannya relatif dalam jumlah sedikit diperlukan tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Falah. 2006. Produksi Tanaman dan Makanan dengan Menggunakan Hidroponik. (http://inovasi-online.co.id/products/agli/hiryo.html). Diakses 8 Oktober 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingga, P. 2002. Hidroponik: Bertanam Tanpa Tanah. Penebar Swadaya. Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marsoem, S. 2002. Tantangan dan prospek pengembangan usaha hidroponik. Dalam : Pelatihan aplikasi teknologi hidroponik untuk pengembangan agribisnis perkotaan.Creata-IPB. Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Savvas, D, and Manos, G. 1999. Automated composition control of nutrient solution in closed soilless culture systems. J.Agric.Eng.Res. 73 : 29-33. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutiyoso, Yos. 2003. Meramu Pupuk Hidroponik. Penebar Swadaya. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suwandi, A. 2006. Pengaruh Penggunaan Kompos Kambing sebagai Tambahan Larutan Anorganik dalam Sistem Hidroponik Rakit Apung pada Budidaya Selada (Lactuca sativa L.) Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Djuanda. Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wijayani, A., D. Muljanto dan Soenoeadji, 1998. Pemberian nitrogen pada berbagai macam media tumbuh hidroponik : pengaruhnya terhadap kuantitas dan kualitas buah paprika (Capsicum annuum var. Grossum). Ilmu Pertanian 6 (2) : 8-13&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/05/pembuatan-nutrisi-hidroponik-i_20.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-884157287113981803</guid><pubDate>Tue, 19 May 2009 06:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-23T20:17:34.759-07:00</atom:updated><title>Perkecambahan Biji II</title><description>PERKECAMBAHAN BIJI II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengetahui penyebab terjadinya dormansi biji.&lt;br /&gt;2. Mengetahui pengaruh cairan buah terhadap perkecambahan biji.&lt;br /&gt;3. Mengetahui pengaruh perlakuan mekanis dan khemis terhadap perkecambahan biji berkulit keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkecambahan pada dasarnya adalah pertumbuhan embrio atau bibit tanaman, sebelum berkecambah tanaman relatif kecil dan dorman. Perkecambahan ditandai dengan munculnya radicle dan plumule. Biasanya radicle keluar dari kulit benih, terus ke bawah dan membentuk sistem akar. Plumule muncul ke atas dan membentuk sistem tajuk. Pada tahap ini proses respirasi mulai terjadi. Cadangan makanan yang tidak dapat dilarutkan diubah agar dapat dilarutkan, hormon auxin terbentuk pada endosperm dan kotiledon. Hormon tersebut dipindah ke jaringan meristem dan digunakan untuk pembentukan sel baru dan membebaskan energi kinetik (Edmond et al., 1975).&lt;br /&gt;Kualitas benih ditentukan antara lain oleh tingkat kemasakan biji yang dalam proses perkembangannya dipengaruhi oleh tingkat kemasakan buah. Benih yang berasal dari buah yang masih muda kualitasnya akan jelek, karena benih akan menjadi tipis, ringan, dan berkeriput apabila dikeringkan serta daya hidupnya sangat rendah. Dalam hal ini kemungkinan embrio belum berkembang sempurna dan cadangan makanan pada endosperm belum lengkap (Soetopo et al., 1989).&lt;br /&gt;Perkecambahan (germination) merupakan serangkaian peristiwa-peristiwa penting yang terjadi sejak benih dorman sampai ke bibit yang sedang tumbuh – tergantung pada variabilitas benih, kondisi lingkungan yang cocok dan pada beberapa tanaman tergantung pada usaha pemecahan dormansi. Perkecambahan benih yang mengandung kulit biji yang tidak permeabel dapat dirangsang dengan skarifikasi, yaitu pengubahan kulit biji untuk membuatnya menjadi permeabel terhadap gas-gas dan air. Cara mekanik seperti pengamplasan merupakan cara yang paling umum yang biasa dilakukan (Harjadi, 1986).&lt;br /&gt;Biji akan bekecambah setelah mengalami masa dorman yang disebabkan berbagai faktor internal, seperti embrio masih berbentuk rudiment atau belum masak (dari segi fisiologis), kulit biji yang tahan atau impermeabel, atau adanya penghambat tumbuh (Hidayat, 1995).&lt;br /&gt;Bahan perbanyakan pada tanaman lamtoro yang digunakan adalah bijinya, sebaiknya biji itu diambil dari polong yang telah tua. Daya hidup biji cukup tinggi. Persentase daya kecambahnya dalam 8 hari mencapai 80%, bila biji yang dikecambahkan itu sebelumnya direndam dalam air panas (80o C) selama 2-3 menit. Persentase ini dapat ditingkatkan lagi dengan melakukan pengocokan dengan air panas (Wawo, 1981).&lt;br /&gt;Dormansi digambarkan sebagai peristiwa benih yang berkecambah, tidak akan berkecambah walaupun faktor lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan (Kuswanto,1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METODOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan yang digunakan adalah biji saga (Abrus precatorius), biji padi (Oryza sativa), H2SO4 pekat, aquadest, coumarin 0%, 25%, 50%, dan 100%. Alat-alat yang diperlukan adalah beaker glass, pengaduk kaca, kertas filter, petridish, amplas, dan pinset.&lt;br /&gt;Cara kerja pada perlakuan khemis pada biji berkulit keras adalah 40 biji saga diambil, kemudian direndam dalam H2SO4 selama 1 menit, 3 menit, 6 menit, dan dalam air sebagai kontrol masing-masing 10 biji. Biji yang telah direndam H2SO4 dicuci dengan air sampai bersih, lalu dikecambahkan pada petridish yang telah dialasi kertas filter basah. Setiap hari selama 10 hari diamati, yang berkecambah dihitung lalu dibuang, yang berjamur juga dibuang, jika media berjamur diganti. Perhitungan GB dan IV,  grafik GB dan IV vs hari pengamataan dibuat. Cara kerja pada perlakuan mekanis pada biji berkulit keras adalah 10 biji saga diambil, bagian tepinya diamplas. Biji-biji tersebut dikecambahkan pada petridish yang telah dialasi sehelai kertas filter basah. Biji-biji yang tidak diperlakukan juga dikecambahkan dalam jumlah yang sama sebagai kontrol. Setiap hari selama 10 hari diamati, yang berkecambah dihitung lalu dibuang, yang berjamur dibuang, jika media berjamur diganti. Perhitungan GB dan IV,  grafik GB dan IV vs hari pengamataan dibuat. Cara kerja pada percobaan pengaruh cairan daging buah adalah 100 biji padi disiapkan. Biji-biji tersebut dikecambahkan pada 4 petridish, masing-masing 25 biji dengan alas kertas saring masing-masing dibasahi dengan coumarin 0%, 25%, 50%, dan 100%. Setiap hari selama 1 minggu diamati perkecambahannya, yang berkecambah dihitung lalu dibuang, bila media berjamur diganti dengan  yang baru sesuai dengan perlakuan. Perlakuan kontrol (coumarin 0%) dilihat, bila biji sudah berkecambah lebih dari 50% maka seluruh biji dari perlakuan lain dicuci dan diganti medianya dengan air biasa. Kemudian pengamatan dilanjutkan hingga hari kesepuluh. Perhitungan GB dan IV,  grafik GB dan IV vs hari pengamataan dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edmond, J. B., T. L. Senn dan F. S. Andrews. 1957. Fundamentals of Horticulture. Mc Grown – Hill Book Company. New York. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harjadi, S. S. 1986. Pengantar Agronomi. Gramedia. Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidayat, E.B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. ITB Bandung, Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuswanto, H.1996. Teknologi, Produksi, dan Statifikasi benih. (www.kompas.com). Diakses tanggal 26 November 2007. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siregar, H.M. dan N.W. Utami. 1994. Perkecambahan biji kenari babi (Canarium decumanum Gaertn). Buletin Kebun Raya Indonesia 8 (1): 25-29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soetopo, L., Ainurrasyid, dan Sesanti B. 1989. Pengaruh kualitas benih terhadap pertumbuhan dan produksi lombok besar (Capsicum annum L.). Agrivita 12 (1): 34-37&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawo, A.H. 1981. Lamtoro sebagai pupuk hjau. Buletin Kebun Raya Indonesia 5 (2): 33-36</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/05/perkecambahan-biji-ii-tujuan-1.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-408365042664829282</guid><pubDate>Tue, 19 May 2009 06:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-23T20:17:36.026-07:00</atom:updated><title>Perkecambahan Biji II</title><description>PERKECAMBAHAN BIJI II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.	Mengetahui penyebab terjadinya dormansi biji.&lt;br /&gt;2.	Mengetahui pengaruh cairan buah terhadap perkecambahan biji.&lt;br /&gt;3.	Mengetahui pengaruh perlakuan mekanis dan khemis terhadap perkecambahan biji berkulit keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkecambahan pada dasarnya adalah pertumbuhan embrio atau bibit tanaman, sebelum berkecambah tanaman relatif kecil dan dorman. Perkecambahan ditandai dengan munculnya radicle dan plumule. Biasanya radicle keluar dari kulit benih, terus ke bawah dan membentuk sistem akar. Plumule muncul ke atas dan membentuk sistem tajuk. Pada tahap ini proses respirasi mulai terjadi. Cadangan makanan yang tidak dapat dilarutkan diubah agar dapat dilarutkan, hormon auxin terbentuk pada endosperm dan kotiledon. Hormon tersebut dipindah ke jaringan meristem dan digunakan untuk pembentukan sel baru dan membebaskan energi kinetik (Edmond et al., 1975).&lt;br /&gt;Kualitas benih ditentukan antara lain oleh tingkat kemasakan biji yang dalam proses perkembangannya dipengaruhi oleh tingkat kemasakan buah. Benih yang berasal dari buah yang masih muda kualitasnya akan jelek, karena benih akan menjadi tipis, ringan, dan berkeriput apabila dikeringkan serta daya hidupnya sangat rendah. Dalam hal ini kemungkinan embrio belum berkembang sempurna dan cadangan makanan pada endosperm belum lengkap (Soetopo et al., 1989).&lt;br /&gt;Perkecambahan (germination) merupakan serangkaian peristiwa-peristiwa penting yang terjadi sejak benih dorman sampai ke bibit yang sedang tumbuh – tergantung pada variabilitas benih, kondisi lingkungan yang cocok dan pada beberapa tanaman tergantung pada usaha pemecahan dormansi. Perkecambahan benih yang mengandung kulit biji yang tidak permeabel dapat dirangsang dengan skarifikasi, yaitu pengubahan kulit biji untuk membuatnya menjadi permeabel terhadap gas-gas dan air. Cara mekanik seperti pengamplasan merupakan cara yang paling umum yang biasa dilakukan (Harjadi, 1986).&lt;br /&gt;Biji akan bekecambah setelah mengalami masa dorman yang disebabkan berbagai faktor internal, seperti embrio masih berbentuk rudiment atau belum masak (dari segi fisiologis), kulit biji yang tahan atau impermeabel, atau adanya penghambat tumbuh (Hidayat, 1995).&lt;br /&gt;Bahan perbanyakan pada tanaman lamtoro yang digunakan adalah bijinya, sebaiknya biji itu diambil dari polong yang telah tua. Daya hidup biji cukup tinggi. Persentase daya kecambahnya dalam 8 hari mencapai 80%, bila biji yang dikecambahkan itu sebelumnya direndam dalam air panas (80o C) selama 2-3 menit. Persentase ini dapat ditingkatkan lagi dengan melakukan pengocokan dengan air panas (Wawo, 1981).&lt;br /&gt;Dormansi digambarkan sebagai peristiwa benih yang berkecambah, tidak akan berkecambah walaupun faktor lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan (Kuswanto,1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METODOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan yang digunakan adalah biji saga (Abrus precatorius), biji padi (Oryza sativa), H2SO4 pekat, aquadest, coumarin 0%, 25%, 50%, dan 100%. Alat-alat yang diperlukan adalah beaker glass, pengaduk kaca, kertas filter, petridish, amplas, dan pinset.&lt;br /&gt;Cara kerja pada perlakuan khemis pada biji berkulit keras adalah 40 biji saga diambil, kemudian direndam dalam H2SO4 selama 1 menit, 3 menit, 6 menit, dan dalam air sebagai kontrol masing-masing 10 biji. Biji yang telah direndam H2SO4 dicuci dengan air sampai bersih, lalu dikecambahkan pada petridish yang telah dialasi kertas filter basah. Setiap hari selama 10 hari diamati, yang berkecambah dihitung lalu dibuang, yang berjamur juga dibuang, jika media berjamur diganti. Perhitungan GB dan IV,  grafik GB dan IV vs hari pengamataan dibuat. Cara kerja pada perlakuan mekanis pada biji berkulit keras adalah 10 biji saga diambil, bagian tepinya diamplas. Biji-biji tersebut dikecambahkan pada petridish yang telah dialasi sehelai kertas filter basah. Biji-biji yang tidak diperlakukan juga dikecambahkan dalam jumlah yang sama sebagai kontrol. Setiap hari selama 10 hari diamati, yang berkecambah dihitung lalu dibuang, yang berjamur dibuang, jika media berjamur diganti. Perhitungan GB dan IV,  grafik GB dan IV vs hari pengamataan dibuat. Cara kerja pada percobaan pengaruh cairan daging buah adalah 100 biji padi disiapkan. Biji-biji tersebut dikecambahkan pada 4 petridish, masing-masing 25 biji dengan alas kertas saring masing-masing dibasahi dengan coumarin 0%, 25%, 50%, dan 100%. Setiap hari selama 1 minggu diamati perkecambahannya, yang berkecambah dihitung lalu dibuang, bila media berjamur diganti dengan  yang baru sesuai dengan perlakuan. Perlakuan kontrol (coumarin 0%) dilihat, bila biji sudah berkecambah lebih dari 50% maka seluruh biji dari perlakuan lain dicuci dan diganti medianya dengan air biasa. Kemudian pengamatan dilanjutkan hingga hari kesepuluh. Perhitungan GB dan IV,  grafik GB dan IV vs hari pengamataan dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edmond, J. B., T. L. Senn dan F. S. Andrews. 1957. Fundamentals of Horticulture. Mc Grown – Hill Book Company. New York. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harjadi, S. S. 1986. Pengantar Agronomi. Gramedia. Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidayat, E.B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. ITB Bandung, Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuswanto, H.1996. Teknologi, Produksi, dan Statifikasi benih. (www.kompas.com). Diakses tanggal 26 November 2007. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siregar, H.M. dan N.W. Utami. 1994. Perkecambahan biji kenari babi (Canarium decumanum Gaertn). Buletin Kebun Raya Indonesia 8 (1): 25-29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soetopo, L., Ainurrasyid, dan Sesanti B. 1989. Pengaruh kualitas benih terhadap pertumbuhan dan produksi lombok besar (Capsicum annum L.). Agrivita 12 (1): 34-37&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawo, A.H. 1981. Lamtoro sebagai pupuk hjau. Buletin Kebun Raya Indonesia 5 (2): 33-36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/05/perkecambahan-biji-ii.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-5451251789307017959</guid><pubDate>Tue, 19 May 2009 06:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-23T20:17:34.764-07:00</atom:updated><title>Perkecambahan Biji 1</title><description>PERKECAMBAHAN BIJI I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengetahui gaya berkecambah dan kecepatan berkecambah suatu biji.&lt;br /&gt;2. Mengetahui faktor-faktor luar yang mempengaruhi perkecambahan biji.&lt;br /&gt;3. Mengetahui pengaruh khemikalia terhadap perkecambahan biji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkecambahan benih dapat dipengaruhi oleh faktor dalam yang meliputi: tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi, dan penghambat perkecambahan, serta faktor luar yang meliputi: air, temperatur, oksigen, dan cahaya. (Sutopo, 1993).&lt;br /&gt;1. Tingkat kemasakan benih&lt;br /&gt;Benih yang dipanen sebelum mencapai tingkat kemasakan fisiologis tidak mempunyai viabilitas tinggi. Pada beberapa jenis tanaman, benih yang demikian tidak akan dapat berkecambah.  Hal ini diduga benih belum memiliki cadangan makanan yang cukup dan pembentukan embrio belum sempurna.  &lt;br /&gt;2. Ukuran benih, karbohidrat, protein, lemak, dan  mineral ada dalam jaringan penyimpanan benih. Bahan-bahan tersebut diperlukan sebagai bahan baku dan energi bagi embrio saat perkecambahan. Ukuran benih mempunyai korelasi yang positip terhadap kandungan protein pada benih. semakin besar/berat ukuran benih maka kandungan protein juga makin meningkat.  Dinyatakan juga bahwa berat benih berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan dan produksi, karena berat benih menentukan besarnya kecambah pada pada saat permulaan dan berat tanaman pada saat dipanen. &lt;br /&gt;3. Dormansi&lt;br /&gt;Benih dorman adalah benih yang sebenarnya hidup tetapi tidak mau berkecambah meskipun diletakkan pada lingkungan yang memenuhi syarat untuk berkecambah. Penyebab dormansi antara lain adalah impermeabilitas kulit biji terhadap air atau gas-gas (sangat umum pada famili leguminosae), embrio rudimenter, halangan perkembangan embrio oleh sebab-sebab mekanis, dan adanya bahan-bahan penghambat perkecambahan.  Benih dorman dapat dirangsang untuk berkecambah dengan perlakuan seperti: pemberian suhu rendah pada keadaan lembab (stratifikasi), goncangan (impaction), atau direndam dalam larutan asam sulfat. &lt;br /&gt;4. Penghambat perkecambahan&lt;br /&gt;Banyak zat-zat yang diketahui dapat menghambat perkecambahan benih.  Contoh zat-zat tersebut adalah herbisida, auksin, bahan-bahan yang terkandung dalam buah, larutan mannitol dan NaCl yang mempunyai tingkat osmotik tinggi, serta bahan yang menghambat respirasi (sianida dan fluorida).  Semua persenyawaan tersebut menghambat perkecambahan tetapi tak dapat dipandang sebagai penyebab dormansi.  Istilah induksi dormansi digunakan bila benih dapat dibuat berkecambah lagi oleh beberapa cara yang telah disebutkan. &lt;br /&gt;5. Air&lt;br /&gt;Faktor yang mempengaruhi penyerapan air oleh benih ada dua, yaitu sifat kulit pelindung benih dan jumlah air yang tersedia pada medium sekitarnya.  Jumlah air yang diperlukan untuk berkecambah bervariasi tergantung kepada jenis benih, umumnya tidak melampaui dua atau tiga kali dari berat keringnya. &lt;br /&gt;6. Oksigen&lt;br /&gt;Proses respirasi akan berlangsung selama benih masih hidup.  Pada saat perkecambahan berlangsung, proses respirasi akan meningkat disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan karbondioksida, air dan energi. Pada umumnya, proses perkecambahan dapat terhambat bila penggunaan oksigen terbatas.&lt;br /&gt;7. Cahaya&lt;br /&gt;Kebutuhan benih terhadap cahaya untuk berkecambah berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman.  Benih yang dikecambahkan pada keadaan kurang cahaya atau gelap dapat menghasilkan kecambah yang mengalami etiolasi, yaitu terjadinya pemanjangan yang tidak normal pada hipokotil atau epikotil, kecambah pucat dan lemah. &lt;br /&gt;Temperatur harus dikendalikan dengan teliti beberapa macam benih berkecambah diatas suatu batas yang lebar dari temperatur yang wajar, tetapi yang lain mulai tumbuh dengan segera hanya dibatas yang sempit. Benih berkecambah biasanya pada temperatur dimana benih itu telah menyesuaikan dengan iklim di tempat benih tersebut dihasilkan (Stefferud, 1961).&lt;br /&gt;Pada dasarnya perkecambahan merupakan suatu proses pertumbuhan dari biji setelah mengalami masa dormansi. Bila kondisi-kondisi sekelilingnya memungkinkan (Novijanto, 1996).&lt;br /&gt;Ketersediaan air di lingkungan sekitar benih merupakan faktor penting. Kurang tersedianya air pada lingkungan benih akan menyebabkan jumlah air yang diambil untuk berkecambah menjadi semakin rendah atau tidak terpenuhi. Hal ini dapat berpengaruh besar pada proses perkecambahan. Jika jumlah air yang diserap tidak mencapai kebutuhan minimum maka proses perkecambahan tidak akan pernah terjadi. Ada batas minimum serapan air yang harus dilampaui agar perkecambahan dapat berlangsung (Bewley dan Black, 1982).&lt;br /&gt;Imbibisi pada benih yang dilakukan secara tiba-tiba apalagi terhadap benih dengan kadar air sangat rendah dan benih yang mengalami penyimpanan yang lama dapat menyebabkan kerusakan pada struktur membran sehingga perlu suatu kondisi dimana imbibisi dilaksanakan secara terkontrol. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan invigorasi benih yaitu dengan cara mengkondisikan benih sedemikian rupa sehingga karakter fisiologi dan biokimiawi yang terdapat di dalam benih dapat dimanfaatkan secara optimal (Khan, 1992).&lt;br /&gt;Penggunaan hormon pengatur tumbuh di beberapa jenis bahan kimia dapat meningkatkan perkecambahan dan vigoritas tanaman pada kondisi lingkungan tertentu, diantaranya Giberelin (GA3) yang banyak untuk pemecah dormansi pada beberapa macam benih (Weaver, 1972).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METODOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan – bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah benih padi (Oryza sativa), kertas filter, alkohol 0%, 10%, 25%, 50% dan 80%. Sedangkan alat – alat yang digunakan adalah bak perkecambahan, petridish, kaca pengaduk, penggaris, sendok, pinset, beaker glass, kaca penutup dan gelas ukur.  &lt;br /&gt;Biji direndam ke dalam alkohol 0, 10, 25, 50 dan 70 % masing-masing selama 10, 30 dan 60 menit. Kemudian biji dicuci yang telah direndam tadi dengan air. Setelah itu kertas filter dibasahi dengan air dan diletakkan dalam petridish. Biji padi dihitung sebanyak 25 biji dan diletakkan ke dalam petridish, lalu petridish ditutup dengan penutup.&lt;br /&gt;Selanjutnya diamati dan dihitung jumlah biji yang berkecambah (plumula dan radicle sudah mencapai panjang ±2 mm untuk padi dan ± 5 mm untuk kacangan) setiap hari selama seminggu dimulai sehari setelah percobaan. Biji yang telah berkecambah dan berjamur dibuang untuk mempermudah pengamatan.&lt;br /&gt;Gaya nilai berkecambah dan indeks vigor dihitung dari masing-masing perlakuan. Alkohol 0% gunakan sebagai kontrol untuk mengetahui kecepatan berkecambah biji tanaman, sedang perlakuan lain untuk melihat pengaruh khemikalia terhadap perkecambahan biji. Kemudian grafik gaya berkecambah dan indeks vigor dibuat pada berbagai hari pengamatan untuk semua konsentrasi dalam masing-masing alokasi waktu perendaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bewley, J. D. and M. Black. 1982. Physiology and Biochemistry of Seeds in Relation to Germination. Springer-Verlag.New York.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Khan, A.A., J.D. Maguire, G.S. Abawi and S. Ilyas. 1992. Matriconditioning of vegetable seeds to improve stand establishmeny in early field plantings. Journal American Society Horticulture Science 117(1): 41-47.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novijanto, N. 1996. Pengaruh Suhu Dan Lama Perendaman Terhadap Mutu Kecambah Kacang Hijau. Agri Journal 3(2):30.&lt;br /&gt;Sutopo, S.  1993.  Teknologi Benih.  Rajawali Pers. Jakarta.&lt;br /&gt;Stefferud, A. 1961. Seeds. The United States Government Printing Office. New York. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weaver, R.J. 1972. Plant Growth Substance in Agriculture. (www.biochemistry.com). Diakses tanggal 20 November 2007.</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/05/perkecambahan-biji-i-tujuan-1.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-3028163768876152339</guid><pubDate>Tue, 19 May 2009 06:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-23T20:17:34.767-07:00</atom:updated><title>Kerapatan Sebar Benih</title><description>KERAPATAN SEBAR BENIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengetahui pengaruh kerapatan sebar benih terhadap kualitas benih&lt;br /&gt;2. Mengetahui hubungan antara kualitas bibit dengan berat keringnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman benih secara pemindahan bibit memerlukan adanya peningkatan kesehatan bibit selama di persemaian. Bibit yang kualitasnya lebih baik akan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lapangan lebih baik dan ini dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi muda selanjutnya (Anonim, 2003).&lt;br /&gt;Tanaman kacang-kacangan sangat penting dalam menunjang peningkatan pendapatan masyarakat,tanaman tersebut banyak mengandung protein,vitamin,dan mineral. Untuk memperoleh swasembada kacang hijau dapat dilakukan dengan cara intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasi. Melalui intensifikasi dan diversifikasi yaitu dengan system tanam tumpang sari. Masalah yang ditemui adalah persaingan antara dua tanaman atau lebih yang ditanam secara bersamaan. Pesaingan tersebut mencakup unsur hara, air, dan ruang (Arifin, 1998).&lt;br /&gt;Untuk peningkatan produksi tanaman yang dilakukan dengan cara teknik budidaya,pengguanaan bibit unggul,maupun pengaturan zat pengaturtumbuh. Gabungan antara teknik budidaya dan zat pengatur tumbuh telah banyak dilakukan seperti cara tanam dan system pertanaman yang digabungkan antara penggunaan hormon pertumbuhan (Budi, 2000).&lt;br /&gt;Pengaturan populasi tanaman dalam tiap satuan luas juga dapat digabungkan dengan kerapatan tanaman. Kerapatan tanaman mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan dengan jumlah hasil yang akan diperoleh dari sebidang tanah. Kerapatan tanaman penting diketahui untuk menentukan sasaran agronomi yaitu produksi maksimum (Jumin,1991).&lt;br /&gt;Penyemaian benih tanaman sudah biasa dilakukan oleh para petani dan pengebun, baik nantinya untuk bibit tanaman maupun untuk batang bawah keperluan penyusunan maupun okulasi. Setiap tanaman mempunyai ciri-ciri khusus yang berbeda satu dengan yang lain, yang mengakibatkan cara menyemai dan waktu yang dibutuhkan untuk berkecambah berbeda pula. Benih yang kita pilih adalah yang berkualitas baik artinya mempunyai daya tumbuh dan daya hidup yang tinggi (Wudianto,1989).&lt;br /&gt;Contoh benih yang mengalami deteriorasi selama penyimpanan adalah kedelai. Hal tersebut menyebabkan benih tidak tahan disimpan lama. Untuk memperoleh daya simpan yang tinggi, vigor awal benih tinggi pada saat panen merupakan syarat utama yang harus dipenuhi. Faktor lingkungan dan faktor genetik sangat menentukan tingkat vigor awal benih yang dicapai. Pada kedelai sifat tahan simpannya diturunkan dari tanaman induknya (Harnowo, 1989).&lt;br /&gt;Kegiatan persemaian dapat menimbulkan kerugian yaitu orang terpaksa harus bisa membuat persemaian dan memungut hasil tanaman agak lambat. Misal pada padi, padi yang benihnya disemaikan dulu umurnya menjadi 15-20 hari lebih panjang daripada yang langsung ditanam (Soemartono, 1981).&lt;br /&gt;Penaburan gabah yang rapat pada pesemaian akan berakibat pertumbuhan bibit kurang baik. Tanaman padi biasanya dengan pola tanam tertentu agar mudah disiangi dan tidak terjadi persaingan dalam mendapatkan unsur hara. Pada umumnya varietas unggul dapat menggunakan jarak tanam 20 x 20 cm (musim kemarau), 25 x 25 cm (musim hujan) dengan pola tanam bujur sangkar (Soemartono, 1981).&lt;br /&gt;Jarak tanam yang renggang membutuhkan keseluruhan parameter pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan jarak tanam rapat dan tercermin pada peningkatan jumlah cabang, jumlah polong dan berat kering biji (Lorentz dan Maynard, 1980).&lt;br /&gt;Penentuan jarak tanam tergantung pada daya tumbuh benih, kesuburan tanah, musim, dan varietas yang ditanam. Benih yang daya tumbuhnya rendah perlu ditanam dengan jarak tanamn yang lebih rapat. Pada tanah yang subur, jarak tanam yang agak renggang lebih menguntungkan. Kegunaan jarak tanam rapat yaitu tanaman muda yang mati dapat terkompensasi sehingga tanaman tidak terlalu jarang,permukaan tanah dapat segera tertutup sehingga pertumbuhan gulma dapat segera ditekan, dan akan memberikan hasil yang tinggi. Sebaliknya kerugian jarak tanam yang terlalu rapat antara lain penyiangan sukar dilakukan. Benih yang diperlukan lebih banyak, ruas batang tumbuh panjang sehingga tanaman kurang kokoh dan mudah roboh (Supriono, 2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METODOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam praktikum ini, bahan-bahan yang digunakan antara lain biji crop/biji padi (Oryza sativa). Sedangkan alat-alat yang digunakan adalah polibag, penggaris, dan oven. Pertama-tama polibag disiapkan dengan diameter sama dan diisi dengan tanah yang sama beratnya (kurang lebih 2 cm dari permukaan polibag) dilakukan tiga kali ulangan. Kemudian ditambahkan air ke dalam tanah sehingga dicapai kapasitas lapang. Setelah itu benih padi disebar pada polibag dengan kerapatan sebar masing-masing 100, 75, dan 50 g/m2. Bibit dipelihara agar pertumbuhannya tidak mengalami gangguan.&lt;br /&gt;Setelah 1 minggu, dipilih dan ditandai tanaman yang terbaik pada masing-masing polibag. Kemudian dilakukan pengamatan terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun tiap 3 hari sekali selama 2 minggu. Pada minggu ke 3 dilakukan pemanenan dan ditimbang berat basahnya. Untuk masing-masing perlakuan, setelah itu dioven pada suhu 60-700C, selama 3 hari selanjutnya ditimbang berat keringnya. Lalu dihitung SGRnya dan dibuat grafik tinggi tanaman dan jumlah daun pada berbagai hari pengamatan serta histogram berat basah dan berat keringnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Anonim.1991.Budidaya Tanaman Mangga (www.agro-forestry.com). Diakses tanggal 20 November 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arifin.1998. Pengelolaan naungan dalam pertumbuhan dan produksi tanaman kacang hijau. Agrivita XI (2): 17-21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi,A.S. 2000. Penggunaan triakontanol dan jarak tanam pada tanaman kacang hijau (Phasealus radiatus L). Agrosains II(2): 53-59.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harnowo.D;Basuki dan W,el.Mugnisyah.1989. Sidik lintas fisik benih dan sifat tanaman induk pada vigor benih kedelai. Agrivita.12: 44-47.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumin,H.B. 1991. Dasar-Dasar Agronomi. Rajawali Press. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lorentz.O.A dan D.N.Maynard. 1980. Vegetable Browers. John Wiley and sons, Inc. New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soemartono. 1981. Bercocok Tanam Padi. Yasa Guna. Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supriono. 2000. Pengaruh dosis urea tablet dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai kultivar sindoro. Agrosains II(2): 64-66.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wudianto,R. 1989. Membuat Setek, Cangkok dan Okulasi.Swasembada. Jakarta. </description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/05/kerapatan-sebar-benih-tujuan-1.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-6773689707242910860</guid><pubDate>Tue, 19 May 2009 06:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-23T20:17:34.768-07:00</atom:updated><title>Media Tanam</title><description>MEDIA TANAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui pengaruh komposisi media tanam terhadap pertumbuhan dan kualitas bibit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media tanam merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap perbanyakan tanaman dan pertumbuhan awalnya. Agar pertumbuhan bibit dapat baik, media tanam diharapkan mempunyai sifat-sifat sebagai:&lt;br /&gt;• Media hendaknya gembur agar pertumbuhan akar tidak terganggu dan akar dapat leluas menembus.&lt;br /&gt;• Kelembaban media harus cukup dan ini dapat diatasi dengan penyiraman, karena air sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.&lt;br /&gt;• Media hendaknya bersifat sarang sehingga oksigen dapat masuk untuk memenuhi kebutuhan tanaman.&lt;br /&gt;• Media hendaknya bebas dari gulma, nematoda dan berbagai penyakit.&lt;br /&gt;• Sebaiknya kadar salinitas rendah.&lt;br /&gt;• Media hendaknya mengandung hara yang diperlukan bagi tanaman.&lt;br /&gt;Berdasarkan persyaratan tersebut diatas maka media yang digunakan adalah pasir, tanah, sekam padi, dan pupuk kandang (Sumiarsih, 1999).&lt;br /&gt;Media tanam berfungsi sebagai tempat akar melekat, mempertahankan kelembaban dan sebagai sumber makanan. Media yang baik dapat menyimpan air untuk kemudian dapat dilepaskan sedikit demi sedikit dan dimanfaatkan oleh tanaman (Budiyati,1994). &lt;br /&gt;Meskipun kerusakan tanah dapat dicegah dengan memperbaiki struktur tanah tetapi penggunaan pestisida dan conditioner dalam sekala besar tidak dapat dibenarkan. Hal ini dapat mempengaruhi dalam hal konservasi tanah dan penyerapan nutrisi dalam tanah. Dengan pupuk organik tanah tidak akan miskin hara dan tanaman akan memperoleh keuntungan dengan menyerap nutrisi dari dalam tanah (Buurman,1980).&lt;br /&gt;Unsur-unsur yang penting dan harus tersedia adalah N,P,K. N berfungsi mempercepat pertumbuhan klorofil ,menambah lebar daun, besarnya benih. Dosis yang digunakan tergantung pada varietas benih dan keadaan tanah. Pupuk P berfungsi untuk pembentukan akar, pertumbuhan tanaman, menstimulasi pembentukan buah dan mempercepat panen. Unsur P berpengaruh untuk kandungan total benih terutama dalam bentuk Fitin. Fitin berfungsi sebagai cadangan fosfor dan untuk pemeliharaan energi yang diperlukan untuk perkecambahan (Anderson dan Bernard, 1952).&lt;br /&gt;Media tanam dapat didefinisikan sebagai kumpulan bahan atau substrat tempat tumbuh benih yang disebarkan atau ditanam. Media tanam banyak macam ragamnya, dapat merupakan campuran dari bermacam-macam bahan atau satu jenis bahan saja asalkan memenuhi beberapa persyaratan, antara lain cukup baik dalam memegang air, bersifat porous sehingga air siraman tidak menggenang (becek), tidak bersifat toksik (racun) bagi tanaman, dan yang paling penting media tanam tersebut cukup mengandung unsur-unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman (Widarto, 1996).&lt;br /&gt;Disamping memberikan dukungan secara fisik pada tanaman, tanah merupakan sumber mineral dan air bagi tanaman. Kondisi tanah dan mineral  dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Lingkungan atmosfer harus tersedia pada kedalaman yang cukup dalam tanah sehingga akar tanaman dapat memperoleh oksigen yang dibutuhkan untuk respirasi secara langsung dari udara (Villareal dan Donald, 1969).&lt;br /&gt;Pemberian pupuk kandang yang berupa pupuk kotoran ayam diharapkan akan dapat membantu menetralkan pH tanah, menetralkan racun akibat adanya logam berat dalam tanah, memperbaiki struktur tanah menjadi lebih gembur, membantu penyerapan hara dari pupuk kimia yang ditambahkan, membantu mempertahankan suhu tanah sehingga fluktuasi tidak tinggi, mendorong kehidupan jasad renik, dan sebagai sumber unsur mikro yang dibutuhkan tanaman, sehingga keseimbangan unsur hara di dalam tanah menjadi lebih baik. Semakin baiknya kondisi fisik tanah dan semakin meningkat kandungan unsur hara di dalam tanah menyebabakan laju pertumbuhan fotosintesis meningkat dan tersedia fotosintat yang cukup untuk meningkatkan jumlah polong isi per tanaman (Nurjen, 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. METODOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan yang dipergunakan pada yang membahas tentang media tanam adalah biji kacang hijau (Vigna radiata), tanah, pasir, dan pupuk kandang. Sedangkan alat yang kita pergunakan adalah ember plastik/pot/polibag, cetok, oven, dan penggaris.&lt;br /&gt;Cara kerja pada praktikum kali ini adalah dipersiapkan media tanam yang akan digunakan yaitu:&lt;br /&gt;• Tanah&lt;br /&gt;• Tanah+pupuk kandang ( pukan )  2:1&lt;br /&gt;• Tanah+pukan + pasir 1:1:1&lt;br /&gt;Ember/polibag/pot diisi dengan media tanam yang telah disiapkan dengan berat yang sama (± 2 cm dari permukaan pot), masing-masing sebanyak dua ulangan. Media tanam dibasahi dengan air sampai kapasitas lapang. 10 biji ditanam pada pot dan dilakukan pemeliharaan perkecambahan diamati tiap hari selama satu minggu. Kemudian penjarangan dilakukan pada awal minggu kedua, disisakan 3 tanaman yang pertumbuhannya relatif sama. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah daun dan tinggi tanaman setiap 2 hari selama dua minggu. Dilakukan pemanenan, berat basah (BB) shoot dan root ditimbang untuk masing-masing perlakuan. Lalu dioven selama 3 hari, berat kering (BK) shoot dan root ditimbang. Kemudian dilakukan perhitungan GB dan IV. Dibuat Grafik GB dan IV, TT dan jumlah daun vs hari pengamatan serta histogram BB dan BK untuk shoot and root.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anderson, B dan Bernard S. 1952. plant physiology. D Van Nostrand Company, Jepang. Second edition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budiyati, H. S., Arifin, N. Anshori. 1994. Pengaruh beberapa media tanam dan jenis waktu pemberian air pada saat penyampaian terhadap bibit anggrek Dendrobium. Buletin Agronomi 15 (3) : 61-75.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buurman, P. 1980. Red Soils in Indonesia. Soil Research Institute. Bogor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurjen, M., Sudiarso, dan Agung N. 2002. Peran  pupuk kotoran ayam dan pupuk nitrogen (urea) terhadap pertumbuhan dan hasil kacang hijau (Phoseolus radiatus L.) varietas sriti. Agrivita 24 (1): 1-8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumiarsih, N., Setyawati, N., Wandyatmoko, J. 1999. Pengaruh media terhadap pertumbuhan setek buluh bambu kuning. Duta Farming 17 (3) : 2 – 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Villareal, R. L. and Donald H. W. 1969. Vegetable Training Manual. The Departments Of Agricultural Communications, Laguna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widarto, L. 1996. Perbanyakan Tanaman Dengan Biji, stek, Cangkok, Sambung, Okulasi dan Kultur Jaringan. Kanisius. Yogyakarta. </description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/05/media-tanam-tujuan-mengetahui-pengaruh.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-8447958067033361554</guid><pubDate>Tue, 19 May 2009 06:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-23T20:17:34.771-07:00</atom:updated><title>Perbanyakan Vegetatif</title><description>&lt;p&gt;PERBANYAKAN VEGETATIF&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperoleh sifat-sifat tanaman yang lebih baik dibandingkan kedua tanaman induknya.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tumbuhan, kuncup atau cabang mungkin membentuk akar. Sebaliknya, sepotong akar mungkin menumbuhkan batang. Dalam kedua hal, sebuah tumbuhan baru akhirnya mungkin terbentuk. Banyak tubuhan berbiak dengan cara demikian tanpa bantuan manusia. Beberapa macam cocor bebek (Bryophyllum) membentuk kuncup-kuncup pada tepi daunnya. Kuncup-kuncup kemudian kemudian mengeluarkan akar, dan tumbuh menjadi tumbuhan baru. Pada beberapa spesies kuncup dibentuk setelah daunnya terpatahkan dari batang, tetapi pada spesies lainnya kuncup dibentuk sewaktu daun masih melekat pada batang (Anonim,1981).&lt;br /&gt;Grafting yaitu proses menyambung atau menempel dua bagian dari tanaman yang berbeda sehingga tumbuh menjadi satu tanaman. Salah satu contohnya ialah whip grafting,metode ini digunakan pada batang bawah (stock) yang tidak terlalu besar,yaitu berdiameter maksimal ¾ inch. Sebaiknya antara stock dan scion (batang atas) sama besar atau stock lebih besar sedikit.Cara penyambungannya adalah belah stock secara vertikal ke bawah sepanjang 1,5cm lalu batang scion dibentuk huruf V agar bisa dimasukkan ke dalam stock yang sudah dibelah tadi.Terakhir kurangi jumlah daun scion sehingga menjadi satu daun dan dipotong setengahnya lalu seluruh scion ditutup plastik transparan dan diikat pada sambungan antara scion dan stock tadi (Anwarudin et al.,1987).&lt;br /&gt;Banyak tanaman yang mengembangkan bermacam-macam proses reproduksi yang tidak melibatkan proses gamet maupun spora. Dalam reproduksi vegetatif ini, tanaman baru biasanya tumbuh dari beberapa bagian multisel induk yang mengandung jaringan meristem. Dalam banyak tanaman, pemotongan kecil dari cabang atau batang dapat mengeluarkan akar yang tidak direncanakan dan berkembang menjadi tanaman baru. Dan dalam beberapa kasus, sehelai daun atau bahkan sebagian dari daun dapat melakukan hal yang sama (Marsland,1964).&lt;br /&gt;Tumbuhan berkembang biak dengan cara yang berbeda. Ada yang berkembang biak dengan cara generatif (pembiakan seksual) dan cara vegetatif (pembiakan aseksual). Pekembangbiakan secara generatif, terjadi pembuahan terlebih dahulu. Sedangkan  perkembangbiakan vegetatif tidak terjadi pembuahan terlebih dahulu. Pada perbanyakan vegetatif, umumnya batang lebih penting daripada bagian tumbuhan yang lain. Pada beberapa tanaman yang berkembang biak secara vegetatif terjadi pertumbuhan yang normal dan perkembangannya. Ketika tanaman membentuk stolon atau rhizoma, bagian yang lebih tua yang telah mati akan meninggalkan cabang terisolasi tersebut  sebagai tanaman yang terpisah (Whaley,1964).&lt;br /&gt;Penyambungan merupakan sistem perbanyakan secara vegetatif yang menggunakan batang bawah dan batang atas dari satu famili. Menurut Wudianto (1988), cara penyambungan dilakukan karena lebih efektif dan efisien dan mempunyai keuntungan lain, diantaranya mengekalkan sifat-sifat klon yang baik yang tidak dilakukan oleh pembiakan vegetatif lain, dapat memperoleh tanaman yang kuat karena batang bawahnya tahan terhadap keadaan tanah yang tidak menguntungkan, tahan terhadap temperatur yang rendah, atau gangguan-gangguan lain yang terdapat di dalam tanah, memperbaiki jenis-jenis tanaman yang telah tumbuh, sehingga jenis yang tidak diinginkan dapat diubah dengan jenis yang dikehendaki dan dapat mempercepat berbuahnya tanaman (Sumberini dan Riyanto, 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METODOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu cutter untuk memotong maupun mengerat bagian tubuh tanaman yang digunakan dalam praktikum, plastik yang digunakan sebagai sungkup, tali untuk menali, dan polybag sebagai tempat dari media tanam. Sedangkan tanaman yang digunakan sebagai bahan praktikum yaitu tanaman puring (Codiatum variegatum) untuk percobaan sambung pucuk dan cangkok serta tanaman lidah mertua (Sansiviera sp) yang digunakan untuk stek daun.&lt;br /&gt;Pada percobaan sambung pucuk mula-mula dipilih dua tanaman dengan batang yang berukuran sama besar dan mempunyai hubungan kekeluargaan yang dekat. Setelah itu kemudian dipotong bagian pucuk untuk scion/entries 10 - 20 cm tergantung pada besarnya batang. Apabila scion berdaun banyak, dikurangi dengan cara memotong daun setengahnya. Bagian pangkal dipotong membentuk huruf V. Tanaman kedua yang telah dipotong ujungnya digunakan stock. Stock dibelah ke bawah (di tengah-tengah) sepanjang 1-2 cm tergantung pada besarnya batang. Kemudian disisipkan scion ke dalam stock lalu diikat dengan tali. Pengikatan harus kuat supaya kambium kedua bagian dapat menyatu, setelah itu penyambungan tadi disungkup dengan plastik dan diikat tali (tidak pelu kuat-kuat) supaya kelembaban terjaga. Selanjutnya mulai hari ke tiga diamati entries layu atau tidak sampai hari ke tujuh. Setelah sambungan berumur kurang lebih 14-21 hari tali dapat dilepas.&lt;br /&gt;Stek batang dilakukan dengan dipilihnya bagian tanaman yang akan digunakan stek dengan panjang kira-kira 5 cm dengan menyisakan satu daun saja. Kemudian bagian pangkalnya dengan sudut kemiringan 450. Lalu ukuran daun dikurangi dengan memotongnya hingga ½ bagian. Setelah itu disiapkan media tanam dan dimasukkan bahan tanam berupa stek tadi ke dalam lubang tanam yang telah dibuat lalu dimasukkan polybag yang telah ditanami tadi ke dalam sungkup plastik. Selanjutnya tanaman dipelihara dengan menjaga agar media tanam selalu berada pada kapasitas lapang. Setelah satu bulan, keberhasilan penyetekan stek diperiksa yang hidup ditandai dengan hidupnya tanaman hasil penyetekan dan munculnya akar.&lt;br /&gt;Pembiakan vegetatif yang terakhir adalah stek daun. Dapat dilakukan dengan  cara dipilihnya daun tanaman yang memenuhi syarat untuk distek dan dipotong melintang menjadi tiga bagian  yaitu bagian ujung, tengah, dan pangkal. Ditancapkan potongan-potongan daun tadi pada media tanam yang telah disiapkan sebelumnya. Selanjutnya tanaman dipelihara dengan menjaga agar media tanam selalu berada pada kapasitas lapang. Setelah satu bulan, keberhasilan penyetekan diperiksa yang ditandai dengan segarnya potongan dan tumbuhnya akar. Masing-masing percobaan dibuat tiga ulangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 1981. Biologi Umum III. Gramedia. Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawal, Anwarudin dan Sunarjono, Hendro. 1987. Pengaruh panjang entris pada perbanyakan sambung pucuk terhadap keberhasilan beberapa varietas durian.Buletin Penelitian Holtikultura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marsland, Douglas.1964. Principles of Biology. Fourth edition. Holt, Rinehart and Wiston. New York&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumberini dan  A. Riyanto , 1999. Pengaruh umur batang bawah sirsak (Annona Muricata L.) dan macam batang atas sirkaya (Annona squamosa L.) terhadap pertumbuhan bibit sambung pucuk. Bullaz. 6 ( 14 ) : 98 – 104.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whaley, W. Gordon.1964. Principles of Biology. Third edition. Harper and Row,Publishers. New York</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/05/perbanyakan-vegetatif-tujuan-untuk.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-8086623959347368012</guid><pubDate>Fri, 08 May 2009 07:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-08T00:11:13.233-07:00</atom:updated><title>Budidaya Jagung</title><description>JAGUNG&lt;br /&gt;( Zea mays L. )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. SEJARAH SINGKAT&lt;br /&gt;Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari&lt;br /&gt;keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrika&lt;br /&gt;melalui kegiatan bisnis orang-orang Eropa ke Amerika. Sekitar abad ke-16 orang&lt;br /&gt;Portugal menyebarluaskannya ke Asia termasuk Indonesia. Orang Belanda&lt;br /&gt;menamakannya mais dan orang Inggris menamakannya corn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. JENIS TANAMAN&lt;br /&gt;Sistimatika tanaman jagung adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)&lt;br /&gt;Divisio : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)&lt;br /&gt;Sub Divisio : Angiospermae (berbiji tertutup)&lt;br /&gt;Classis : Monocotyledone (berkeping satu)&lt;br /&gt;Ordo : Graminae (rumput-rumputan)&lt;br /&gt;Familia : Graminaceae&lt;br /&gt;Genus : Zea&lt;br /&gt;Species : Zea mays L.&lt;br /&gt;Jenis jagung dapat dikelompokkan menurut umur dan bentuk biji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Menurut umur, dibagi menjadi 3 golongan:&lt;br /&gt;1. Berumur pendek (genjah): 75-90 hari, contoh: Genjah Warangan, Genjah&lt;br /&gt;Kertas, Abimanyu dan Arjuna.&lt;br /&gt;2. Berumur sedang (tengahan): 90-120 hari, contoh: Hibrida C 1, Hibrida CP 1&lt;br /&gt;dan CPI 2, Hibrida IPB 4, Hibrida Pioneer 2, Malin,Metro dan Pandu.&lt;br /&gt;3. Berumur panjang: lebih dari 120 hari, contoh: Kania Putih, Bastar, Kuning,&lt;br /&gt;Bima dan Harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Menurut bentuk biji, dibagi menjadi 7 golongan:&lt;br /&gt;1. Dent Corn&lt;br /&gt;2. Flint Corn&lt;br /&gt;3. Sweet Corn&lt;br /&gt;4. Pop Corn&lt;br /&gt;5. Flour Corn&lt;br /&gt;6. Pod Corn&lt;br /&gt;7. Waxy Corn&lt;br /&gt;Varietas unggul mempunyai sifat: berproduksi tinggi, umur pendek, tahan serangan&lt;br /&gt;penyakit utama dan sifat-sifat lain yang menguntungkan. Varietas unggul ini dapat&lt;br /&gt;dibedakan menjadi dua, yaitu: jagung hibrida dan varietas jagung bersari bebas.&lt;br /&gt;Nama beberapa varietas jagung yang dikenal antara lain: Abimanyu, Arjuna, Bromo,&lt;br /&gt;Bastar Kuning, Bima, Genjah Kertas, Harapan, Harapan Baru, Hibrida C 1 (Hibrida&lt;br /&gt;Cargil 1), Hibrida IPB 4, Kalingga, Kania Putih, Malin, Metro, Nakula, Pandu,&lt;br /&gt;Parikesit, Permadi, Sadewa, Wiyasa, Bogor Composite-2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. MANFAAT TANAMAN&lt;br /&gt;Tanaman jagung sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan hewan. Di&lt;br /&gt;Indonesia, jagung merupakan komoditi tanaman pangan kedua terpenting setelah&lt;br /&gt;padi. Berdasarkan urutan bahan makanan pokok di dunia, jagung menduduki urutan&lt;br /&gt;ke 3 setelah gandum dan padi. Di Daerah Madura, jagung banyak dimanfaatkan&lt;br /&gt;sebagai makanan pokok.&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini tanaman jagung semakin meningkat penggunaannya. Tanaman&lt;br /&gt;jagung banyak sekali gunanya, sebab hampir seluruh bagian tanaman dapat&lt;br /&gt;dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan antara lain:&lt;br /&gt;a) Batang dan daun muda: pakan ternak&lt;br /&gt;b) Batang dan daun tua (setelah panen): pupuk hijau atau kompos&lt;br /&gt;c) Batang dan daun kering: kayu bakar&lt;br /&gt;d) Batang jagung: lanjaran (turus)&lt;br /&gt;e) Batang jagung: pulp (bahan kertas)&lt;br /&gt;f) Buah jagung muda (putren, Jw): sayuran, bergedel, bakwan, sambel goreng&lt;br /&gt;g) Biji jagung tua: pengganti nasi, marning, brondong, roti jagung, tepung, bihun,&lt;br /&gt;bahan campuran kopi bubuk, biskuit, kue kering, pakan ternak, bahan baku&lt;br /&gt;industri bir, industri farmasi, dextrin, perekat, industri textil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. SENTRA PENANAMAN&lt;br /&gt;Di Indonesia, daerah-daerah penghasil utama tanaman jagung adalah Jawa Tengah,&lt;br /&gt;Jawa Barat, Jawa Timur, Madura, D.I. Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi&lt;br /&gt;Utara, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Khusus di Daerah Jawa Timur dan Madura,&lt;br /&gt;budidaya tanaman jagung dilakukan secara intensif karena kondisi tanah dan&lt;br /&gt;iklimnya sangat mendukung untuk pertumbuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;Tanaman jagung berasal dari daerah tropis yang dapat menyesuaikan diri dengan&lt;br /&gt;lingkungan di luar daerah tersebut. Jagung tidak menuntut persyaratan lingkungan&lt;br /&gt;yang terlalu ketat, dapat tumbuh pada berbagai macam tanah bahkan pada kondisi&lt;br /&gt;tanah yang agak kering. Tetapi untuk pertumbuhan optimalnya, jagung menghendaki&lt;br /&gt;beberapa persyaratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1. Iklim&lt;br /&gt;a) Iklim yang dikehendaki oleh sebagian besar tanaman jagung adalah daerahdaerah&lt;br /&gt;beriklim sedang hingga daerah beriklim sub-tropis/tropis yang basah.&lt;br /&gt;Jagung dapat tumbuh di daerah yang terletak antara 0-50 derajat LU hingga 0-40&lt;br /&gt;derajat LS.&lt;br /&gt;b) Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman ini memerlukan curah&lt;br /&gt;hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan&lt;br /&gt;dan pengisian biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya&lt;br /&gt;jagung ditanam diawal musim hujan, dan menjelang musim kemarau.&lt;br /&gt;c) Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari. Tanaman&lt;br /&gt;jagung yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat/ merana, dan&lt;br /&gt;memberikan hasil biji yang kurang baik bahkan tidak dapat membentuk buah.&lt;br /&gt;d) Suhu yang dikehendaki tanaman jagung antara 21-34 derajat C, akan tetapi bagi&lt;br /&gt;pertumbuhan tanaman yang ideal memerlukan suhu optimum antara 23-27 derajat&lt;br /&gt;C. Pada proses perkecambahan benih jagung memerlukan suhu yang cocok&lt;br /&gt;sekitar 30 derajat C.&lt;br /&gt;e) Saat panen jagung yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik daripada&lt;br /&gt;musim hujan, karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan&lt;br /&gt;pengeringan hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Media Tanam&lt;br /&gt;a) Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah yang khusus. Agar supaya dapat&lt;br /&gt;tumbuh optimal tanah harus gembur, subur dan kaya humus.&lt;br /&gt;b) Jenis tanah yang dapat ditanami jagung antara lain: andosol (berasal dari gunung&lt;br /&gt;berapi), latosol, grumosol, tanah berpasir. Pada tanah-tanah dengan tekstur berat&lt;br /&gt;(grumosol) masih dapat ditanami jagung dengan hasil yang baik dengan&lt;br /&gt;pengolahan tanah secara baik. Sedangkan untuk tanah dengan tekstur&lt;br /&gt;lempung/liat (latosol) berdebu adalah yang terbaik untuk pertumbuhannya.&lt;br /&gt;b) Keasaman tanah erat hubungannya dengan ketersediaan unsur-unsur hara&lt;br /&gt;tanaman. Keasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah&lt;br /&gt;pH antara 5,6 - 7,5.&lt;br /&gt;c) Tanaman jagung membutuhkan tanah dengan aerasi dan ketersediaan air dalam&lt;br /&gt;kondisi baik.&lt;br /&gt;d) Tanah dengan kemiringan kurang dari 8 % dapat ditanami jagung, karena disana&lt;br /&gt;kemungkinan terjadinya erosi tanah sangat kecil. Sedangkan daerah dengan&lt;br /&gt;tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;Jagung dapat ditanam di Indonesia mulai dari dataran rendah sampai di daerah&lt;br /&gt;pegunungan yang memiliki ketinggian antara 1000-1800 m dpl. Daerah dengan&lt;br /&gt;ketinggian optimum antara 0-600 m dpl merupakan ketinggian yang baik bagi&lt;br /&gt;pertumbuhan tanaman jagung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;6.1. Pembibitan&lt;br /&gt;1) Persyaratan Benih&lt;br /&gt;Benih yang akan digunakan sebaiknya bermutu tinggi, baik mutu genetik, fisik&lt;br /&gt;maupun fisiologinya. Berasal dari varietas unggul (daya tumbuh besar, tidak&lt;br /&gt;tercampur benih/varietas lain, tidak mengandung kotoran, tidak tercemar hama&lt;br /&gt;dan penyakit). Benih yang demikian dapat diperoleh bila menggunakan benih&lt;br /&gt;bersertifikat. Pada umumnya benih yang dibutuhkan sangat bergantung pada&lt;br /&gt;kesehatan benih, kemurnian benih dan daya tumbuh benih.&lt;br /&gt;Penggunaan benih jagung hibrida biasanya akan menghasilkan produksi yang&lt;br /&gt;lebih tinggi. Tetapi jagung hibrida mempunyai beberapa kelemahan dibandingkan&lt;br /&gt;varietas bersari bebas yaitu harga benihnya yang lebih mahal dan hanya dapat&lt;br /&gt;digunakan maksimal 2 kali turunan dan tersedia dalam jumlah terbatas. Beberapa&lt;br /&gt;varietas unggul jagung untuk dipilih sebagai benih adalah: Hibrida C 1, Hibrida C&lt;br /&gt;2, Hibrida Pioneer 1, Pioneer 2, IPB 4, CPI-1, Kaliangga, Wiyasa, Arjuna, Baster&lt;br /&gt;kuning, Kania Putih, Metro, Harapan, Bima, Permadi, Bogor Composite, Parikesit,&lt;br /&gt;Sadewa, Nakula. Selain itu, jenis-jenis unggul yang belum lama dikembangkan&lt;br /&gt;adalah: CPI-2, BISI-1, BISI-2, P-3, P-4, P-5, C-3, Semar 1 dan Semar 2&lt;br /&gt;(semuanya jenis Hibrida).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Penyiapan Benih&lt;br /&gt;Benih dapat diperoleh dari penanaman sendiri yang dipilih dari beberapa tanaman&lt;br /&gt;jagung yang sehat pertumbuhannya. Dari tanaman terpilih, diambil yang&lt;br /&gt;tongkolnya besar, barisan biji lurus dan penuh tertutup rapat oleh klobot,&lt;br /&gt;dan tidak terserang oleh hama penyakit. Tongkol dipetik pada saat lewat fase&lt;br /&gt;matang fisiologi dengan ciri: biji sudah mengeras dan sebagian besar daun&lt;br /&gt;menguning. Tongkol dikupas dan dikeringkan hingga kering betul. Apabila benih&lt;br /&gt;akan disimpan dalam jangka lama, setelah dikeringkan tongkol dibungkus dan&lt;br /&gt;disimpan dan disimpan di tempat kering. Dari tongkol yang sudah kering, diambil&lt;br /&gt;biji bagian tengah sebagai benih. Biji yang terdapat di bagian ujung dan pangkal&lt;br /&gt;tidak digunakan sebagai benih. Daya tumbuh benih harus lebih dari 90%, jika&lt;br /&gt;kurang dari itu sebaiknya benih diganti. Benih yang dibutuhkan adalah&lt;br /&gt;sebanyak 20-30 kg untuk setiap hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pemindahan Benih&lt;br /&gt;Sebelum benih ditanam, sebaiknya dicampur dulu dengan fungisida seperti&lt;br /&gt;Benlate, terutama apabila diduga akan ada serangan jamur. Sedangkan bila&lt;br /&gt;diduga akan ada serangan lalat bibit dan ulat agrotis, sebaiknya benih dimasukkan&lt;br /&gt;ke dalam lubang bersama-sama dengan insektisida butiran dan sistemik seperti&lt;br /&gt;Furadan 3 G.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;Pengolahan tanah bertujuan untuk: memperbaiki kondisi tanah, dan memberikan&lt;br /&gt;kondisi menguntungkan bagi pertumbuhan akar. Melalui pengolahan tanah, drainase&lt;br /&gt;dan aerasi yang kurang baik akan diperbaiki. Tanah diolah pada kondisi lembab&lt;br /&gt;tetapi tidak terlalu basah. Tanah yang sudah gembur hanya diolah secara umum.&lt;br /&gt;1) Persiapan&lt;br /&gt;Dilakukan dengan cara membalik tanah dan memecah bongkah tanah agar&lt;br /&gt;diperoleh tanah yang gembur untuk memperbaiki aerasi. Tanah yang akan&lt;br /&gt;ditanami (calon tempat barisan tanaman) dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian&lt;br /&gt;diratakan. Tanah yang keras memerlukan pengolahan yang lebih banyak.&lt;br /&gt;Pertama-tama tanah dicangkul/dibajak lalu dihaluskan dan diratakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;Pengolahan lahan diawali dengan membersihkan lahan dari sisa sisa tanaman&lt;br /&gt;sebelumnya. Bila perlu sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya&lt;br /&gt;dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dilanjutkan dengan pencangkulan dan&lt;br /&gt;pengolahan tanah dengan bajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;Setelah tanah diolah, setiap 3 meter dibuat saluran drainase sepanjang barisan&lt;br /&gt;tanaman. Lebar saluran 25-30 cm dengan kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat&lt;br /&gt;terutama pada tanah yang drainasenya jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pengapuran&lt;br /&gt;Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah harus dikapur. Jumlah kapur yang&lt;br /&gt;diberikan berkisar antara 1-3 ton yang diberikan tiap 2-3 tahun. Pemberian&lt;br /&gt;dilakukan dengan cara menyebar kapur secara merata atau pada barisan&lt;br /&gt;tanaman, sekitar 1 bulan sebelum tanam. Dapat pula digunakan dosis 300 kg/ha&lt;br /&gt;per musim tanam dengan cara disebar pada barisan tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Pemupukan&lt;br /&gt;Apabila tanah yang akan ditanami tidak menjamin ketersediaan hara yang cukup&lt;br /&gt;maka harus dilakukan pemupukan. Dosis pupuk yang dibutuhkan tanaman sangat&lt;br /&gt;bergantung pada kesuburan tanah dan diberikan secara bertahap. Anjuran dosis&lt;br /&gt;rata-rata adalah: Urea=200-300 kg/ha, TSP=75-100 kg/ha dan KCl=50-100 kg/ha.&lt;br /&gt;Adapun cara dan dosis pemupukan untuk setiap hektar:&lt;br /&gt;a) Pemupukan dasar: 1/3 bagian pupuk Urea dan 1 bagian pupuk TSP diberikan&lt;br /&gt;saat tanam, 7 cm di parit kiri dan kanan lubang tanam sedalam 5 cm lalu ditutup&lt;br /&gt;tanah;&lt;br /&gt;b) Susulan I: 1/3 bagian pupuk Urea ditambah 1/3 bagian pupuk KCl diberikan&lt;br /&gt;setelah tanaman berumur 30 hari, 15 cm di parit kiri dan kanan lubang tanam&lt;br /&gt;sedalam 10 cm lalu di tutup tanah;&lt;br /&gt;c) Susulan II: 1/3 bagian pupuk Urea diberikan saat tanaman berumur 45 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;1) Penentuan Pola Tanaman&lt;br /&gt;Pola tanam memiliki arti penting dalam sistem produksi tanaman. Dengan pola&lt;br /&gt;tanam ini berarti memanfaatkan dan memadukan berbagai komponen yang&lt;br /&gt;tersedia (agroklimat, tanah, tanaman, hama dan penyakit, keteknikan dan sosial&lt;br /&gt;ekonomi). Pola tanam di daerah tropis seperti di Indonesia, biasanya disusun&lt;br /&gt;selama 1 tahun dengan memperhatikan curah hujan (terutama pada daerah/lahan&lt;br /&gt;yang sepenuhnya tergantung dari hujan. Maka pemilihan jenis/varietas yang&lt;br /&gt;ditanampun perlu disesuaikan dengan keadaan air yang tersedia ataupun curah&lt;br /&gt;hujan. Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a) Tumpang sari (Intercropping), melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur&lt;br /&gt;sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai;&lt;br /&gt;tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.&lt;br /&gt;b) Tumpang gilir (Multiple Cropping), dilakukan secara beruntun sepanjang tahun&lt;br /&gt;dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan&lt;br /&gt;maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kacang tanah, ubi kayu.&lt;br /&gt;c) Tanaman Bersisipan (Relay Cropping): pola tanam dengan cara menyisipkan satu&lt;br /&gt;atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang&lt;br /&gt;bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah,&lt;br /&gt;waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.&lt;br /&gt;d) Tanaman Campuran (Mixed Cropping): penanaman terdiri atas beberapa tanaman&lt;br /&gt;dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi&lt;br /&gt;satu Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh:&lt;br /&gt;tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pembuatan Lubang Tanam&lt;br /&gt;Lubang tanam dibuat dengan alat tugal. Kedalaman lubang perlu di perhatikan agar&lt;br /&gt;benih tidak terhambat pertumbuhannya. Kedalaman lubang tanam antara: 3-5 cm,&lt;br /&gt;dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih.&lt;br /&gt;Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang&lt;br /&gt;umurnya, tanaman akan semakin tinggi dan memerlukan tempat yang lebih luas.&lt;br /&gt;Jagung berumur dalam/panjang dengan waktu panen ≥ 100 hari sejak&lt;br /&gt;penanaman, jarak tanamnya dibuat 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung&lt;br /&gt;berumur sedang (panen 80-100 hari), jarak tanamnya 25x75 cm (1&lt;br /&gt;tanaman/lubang). Sedangkan jagung berumur pendek (panen &lt; 80 hari), jarak&lt;br /&gt;tanamnya 20x50 cm (1 tanaman/lubang). Kedalaman lubang tanam yaitu antara 3-&lt;br /&gt;5 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Cara Penanaman&lt;br /&gt;Pada jarak tanam 75 x 25 cm setiap lubang ditanam satu tanaman. Dapat juga&lt;br /&gt;digunakan jarak tanam 75 x 50 cm, setiap lubang ditanam dua tanaman.&lt;br /&gt;Tanaman ini tidak dapat tumbuh dengan baik pada saat air kurang atau saat air&lt;br /&gt;berlebihan. Pada waktu musim penghujan atau waktu musim hujan hampir&lt;br /&gt;berakhir, benih jagung ini dapat ditanam. Tetapi air hendaknya cukup tersedia&lt;br /&gt;selama pertumbuhan tanaman jagung. Pada saat penanaman sebaiknya tanah&lt;br /&gt;dalam keadaan lembab dan tidak tergenang. Apabila tanah kering, perlu diairi&lt;br /&gt;dahulu, kecuali bila diduga 1-2 hari lagi hujan akan turun. Pembuatan lubang&lt;br /&gt;tanaman dan penanaman biasanya memerlukan 4 orang (2 orang membuat&lt;br /&gt;lubang, 1 orang memasukkan benih, 1 orang lagi memasukkan pupuk dasar dan&lt;br /&gt;menutup lubang). Jumlah benih yang dimasukkan per lubang tergantung yang&lt;br /&gt;dikehendaki, bila dikehendaki 2 tanaman per lubang maka benih yang dimasukkan&lt;br /&gt;3 biji per lubang, bila dikehendaki 1 tanaman per lubang, maka benih yang&lt;br /&gt;dimasukkan 2 butir benih per lubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Lain-lain&lt;br /&gt;Di lahan sawah irigasi, jagung biasanya ditanam pada musim kemarau. Di sawah&lt;br /&gt;tadah hujan, ditanam pada akhir musim hujan. Di lahan kering ditanam pada awal&lt;br /&gt;musim hujan dan akhir musim hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.4. Pemeliharaan&lt;br /&gt;1) Penjarangan dan Penyulaman&lt;br /&gt;Dengan penjarangan maka dapat ditentukan jumlah tanaman per lubang sesuai&lt;br /&gt;dengan yang dikehendaki. Apabila dalam 1 lubang tumbuh 3 tanaman, sedangkan&lt;br /&gt;yang dikehendaki hanya 2 atau 1, maka tanaman tersebut harus dikurangi.&lt;br /&gt;Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting&lt;br /&gt;yang tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung&lt;br /&gt;tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan&lt;br /&gt;tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati.&lt;br /&gt;Kegiatan ini dilakukan 7-10 hari sesudah tanam. Jumlah dan jenis benih serta&lt;br /&gt;perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman. Penyulaman&lt;br /&gt;hendaknya menggunakan benih dari jenis yang sama. Waktu penyulaman paling&lt;br /&gt;lambat dua minggu setelah tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Penyiangan&lt;br /&gt;Penyiangan bertujuan untuk membersihkan lahan dari tanaman pengganggu&lt;br /&gt;(gulma). Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman&lt;br /&gt;jagung yang masih muda biasanya dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dan&lt;br /&gt;sebagainya. Yang penting dalam penyiangan ini tidak mengganggu perakaran&lt;br /&gt;tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah.&lt;br /&gt;Hal ini biasanya dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pembumbunan&lt;br /&gt;Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan bertujuan untuk&lt;br /&gt;memperkokoh posisi batang, sehingga tanaman tidak mudah rebah. Selain itu&lt;br /&gt;juga untuk menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena&lt;br /&gt;adanya aerasi. Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 6 minggu,&lt;br /&gt;bersamaan dengan waktu pemupukan. Caranya, tanah di sebelah kanan dan kiri&lt;br /&gt;barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman.&lt;br /&gt;Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang. Untuk efisiensi tenaga&lt;br /&gt;biasanya pembubunan dilakukan bersama dengan penyiangan kedua yaitu&lt;br /&gt;setelah tanaman berumur 1 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pemupukan&lt;br /&gt;Dosis pemupukan jagung untuk setiap hektarnya adalah pupuk Urea sebanyak&lt;br /&gt;200-300 kg, pupuk TSP/SP 36 sebanyak 75-100 kg, dan pupuk KCl sebanyak 50-&lt;br /&gt;100 kg. Pemupukan dapat dilakukan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama&lt;br /&gt;(pupuk dasar), pupuk diberikan bersamaan dengan waktu tanam. Pada tahap&lt;br /&gt;kedua (pupuk susulan I), pupuk diberikan setelah tanaman jagung berumur 3-4&lt;br /&gt;minggu setelah tanam. Pada tahap ketiga (pupuk susulan II), pupuk diberikan&lt;br /&gt;setelah tanaman jagung berumur 8 minggu atau setelah malai keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah&lt;br /&gt;lembab. Pengairan berikutnya diberikan secukupnya dengan tujuan menjaga agar&lt;br /&gt;tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan&lt;br /&gt;lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan&lt;br /&gt;tanaman jagung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;br /&gt;Penggunaan pestisida hanya diperkenankan setelah terlihat adanya hama yang&lt;br /&gt;dapat membahayakan proses produksi jagung. Adapun pestisida yang digunakan&lt;br /&gt;yaitu pestisida yang dipakai untuk mengendalikan ulat. Pelaksanaan&lt;br /&gt;penyemprotan hendaknya memperlihatkan kelestarian musuh alami dan tingkat&lt;br /&gt;populasi hama yang menyerang, sehingga perlakuan ini akan lebih efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;7.1. Hama&lt;br /&gt;a) Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)&lt;br /&gt;Gejala: daun berubah warna menjadi kekuning-kuningan; di sekitar bekas gigitan&lt;br /&gt;atau bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi&lt;br /&gt;layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit&lt;br /&gt;dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan dab&lt;br /&gt;bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang&lt;br /&gt;lalat 3-3,5 mm. Pengendalian: (1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran&lt;br /&gt;tanaman akan sangat membantu memutus siklus hidup lalat bibit, terutama&lt;br /&gt;setelah selesai panen jagung; (2) tanaman yang terserang lalat bibit harus segera&lt;br /&gt;dicabut dan dimusnahkan, agar hama tidak menyebar; (3) kebersihan di sekitar&lt;br /&gt;areal penanaman hendaklah dijaga dan selalu diperhatikan terutama terhadap&lt;br /&gt;tanaman inang yang sekaligus sebagai gulma; (4) pengendalian secara kimiawi&lt;br /&gt;insektisida yang dapat digunakan antara lain: Dursban 20 EC, Hostathion 40 EC,&lt;br /&gt;Larvin 74 WP, Marshal 25 ST, Miral 26 dan Promet 40 SD sedangkan dosis&lt;br /&gt;penggunaan dapat mengikuti aturan pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Ulat pemotong&lt;br /&gt;Gejala: tanaman jagung yang terserang biasanya terpotong beberapa cm diatas&lt;br /&gt;permukaan tanah yang ditandai dengan adanya bekas gigitan pada batangnya,&lt;br /&gt;akibatnya tanaman jagung yang masih muda itu roboh di atas tanah. Penyebab:&lt;br /&gt;beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis sp. (A. ipsilon); Spodoptera litura,&lt;br /&gt;penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung&lt;br /&gt;(Helicoverpa armigera). Pengendalian: (1) bertanam secara serentak pada areal&lt;br /&gt;yang luas, bisa juga dilakukan pergiliran tanaman; (2) dengan mencari dan&lt;br /&gt;membunuh ulat-ulat tersebut yang biasanya terdapat di dalam tanah; (3) sebelum&lt;br /&gt;lahan ditanami jagung, disemprot terlebih dahulu dengan insektisida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2. Penyakit&lt;br /&gt;a) Penyakit bulai (Downy mildew)&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Peronosclero spora maydis dan P. spora javanica serta P.&lt;br /&gt;spora philippinensis. yang akan merajalela pada suhu udara 27 derajat C ke atas&lt;br /&gt;serta keadaan udara lembab. Gejala: (1) pada tanaman berumur 2-3 minggu,&lt;br /&gt;daun runcing dan kecil, kaku dan pertumbuhan batang terhambat, warna&lt;br /&gt;menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2)&lt;br /&gt;pada tanaman berumur 3-5 minggu, tanaman yang terserang mengalami&lt;br /&gt;gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dan perubahan warna ini dimulai&lt;br /&gt;dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanaman&lt;br /&gt;dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian: (1)&lt;br /&gt;penanaman dilakukan menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan&lt;br /&gt;pola pergiliran tanaman, penanaman varietas unggul; (3) dilakukan pencabutan&lt;br /&gt;tanaman yang terserang, kemudian dimusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Penyakit bercak daun (Leaf bligh)&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun tampak&lt;br /&gt;bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat,&lt;br /&gt;bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula&lt;br /&gt;bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuningkuningan,&lt;br /&gt;kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan&lt;br /&gt;daun berwarna coklat. Pengendalian: (1) pergiliran tanaman hendaknya selalu&lt;br /&gt;dilakukan guna menekan meluasnya cendawan; (2) mekanis dengan mengatur&lt;br /&gt;kelembaban lahan agar kondisi lahan tidak lembab; (3) kimiawi dengan pestisida&lt;br /&gt;antara lain: Daconil 75 WP, Difolatan 4 F.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Penyakit karat (Rust)&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan Puccinia polypora Underw.&lt;br /&gt;Gejala: pada tanaman dewasa yaitu pada daun yang sudah tua terdapat titik-titik&lt;br /&gt;noda yang berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk yang&lt;br /&gt;berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini kemudian berkembang dan&lt;br /&gt;memanjang, kemudian akhirnya karat dapat berubah menjadi bermacam-macam&lt;br /&gt;bentuk. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban pada areal tanam; (2)&lt;br /&gt;menanam varietas unggul atau varietas yang tahan terhadap penyakit; (3)&lt;br /&gt;melakukan sanitasi pada areal pertanaman jagung; (4) kimiawi menggunakan&lt;br /&gt;pestisida seperti pada penyakit bulai dan bercak daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung,&lt;br /&gt;Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC. Gejala: pada tongkol ditandai dengan&lt;br /&gt;masuknya cendawan ini ke dalam biji sehingga terjadi pembengkakan dan&lt;br /&gt;mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus&lt;br /&gt;terdesak hingga pembungkus rusak dan kelenjar keluar dari pembungkus dan&lt;br /&gt;spora tersebar. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban areal pertanaman&lt;br /&gt;jagung dengan cara pengeringan dan irigasi; (2) memotong bagian tanaman&lt;br /&gt;kemudian dibakar; (3) benih yang akan ditanam dicampur dengan fungisida&lt;br /&gt;secara merata hingga semua permukaan benih terkena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Penyakit busuk tongkol dan busuk biji&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae&lt;br /&gt;(Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. Gejala: dapat&lt;br /&gt;diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah&lt;br /&gt;jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo&lt;br /&gt;matang. Pengendalian: (1) menanam jagung varietas unggul, dilakukan pergiliran&lt;br /&gt;tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih; (2) penyemprotan dengan&lt;br /&gt;fungisida setelah ditemukan gejala serangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. PANEN&lt;br /&gt;Hasil panen jagung tidak semua berupa jagung tua/matang fisiologis, tergantung dari&lt;br /&gt;tujuan panen. Seperti pada tanaman padi, tingkat kemasakan buah jagung juga&lt;br /&gt;dapat dibedakan dalam 4 tingkat: masak susu, masak lunak, masak tua dan masak&lt;br /&gt;kering/masak mati.&lt;br /&gt;8.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;Ciri jagung yang siap dipanen adalah:&lt;br /&gt;a) Umur panen adalah 86-96 hari setelah tanam.&lt;br /&gt;b) Jagung siap dipanen dengan tongkol atau kelobot mulai mengering yang ditandai&lt;br /&gt;dengan adanya lapisan hitam pada biji bagian lembaga.&lt;br /&gt;c) Biji kering, keras, dan mengkilat, apabila ditekan tidak membekas.&lt;br /&gt;Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh.&lt;br /&gt;Saat itu diameter tongkol baru mencapai 1-2 cm. Jagung untuk direbus dan dibakar,&lt;br /&gt;dipanen ketika matang susu. Tanda-tandanya kelobot masih berwarna hijau, dan bila&lt;br /&gt;biji dipijit tidak terlalu keras serta akan mengeluarkan cairan putih. Jagung untuk&lt;br /&gt;makanan pokok (beras jagung), pakan ternak, benih, tepung dan berbagai keperluan&lt;br /&gt;lainnya dipanen jika sudah matang fisiologis. Tanda-tandanya: sebagian besar daun&lt;br /&gt;dan kelobot telah menguning. Apabila bijinya dilepaskan akan ada warna coklat&lt;br /&gt;kehitaman pada tangkainya (tempat menempelnya biji pada tongkol). Bila biji dipijit&lt;br /&gt;dengan kuku, tidak meninggalkan bekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.2. Cara Panen&lt;br /&gt;Cara panen jagung yang matang fisiologis adalah dengan cara memutar tongkol&lt;br /&gt;berikut kelobotnya, atau dapat dilakukan dengan mematahkan tangkai buah jagung.&lt;br /&gt;Pada lahan yang luas dan rata sangat cocok bila menggunakan alat mesin&lt;br /&gt;pemetikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.3. Periode Panen&lt;br /&gt;Pemetikan jagung pada waktu yang kurang tepat, kurang masak dapat&lt;br /&gt;menyebabkan penurunan kualitas, butir jagung menjadi keriput bahkan setelah&lt;br /&gt;pengeringan akan pecah, terutama bila dipipil dengan alat. Jagung untuk keperluan&lt;br /&gt;sayur, dapat dipetik 15 sampai dengan 21 hari setelah tanaman berbunga.&lt;br /&gt;Pemetikan jagung untuk dikonsumsi sebagai jagung rebus, tidak harus menunggu&lt;br /&gt;sampai biji masak, tetapi dapat dilakukan ± 4 minggu setelah tanaman berbunga&lt;br /&gt;atau dapat mengambil waktu panen antara umur panen jagung sayur dan umur&lt;br /&gt;panen jagung masak mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.4. Prakiraan Produksi&lt;br /&gt;Produksi jagung di suatu negara sering mengalami pasang surut. Hal ini dapat terjadi&lt;br /&gt;sebagai akibat perubahan areal penanaman jagung. Namun demikian dengan&lt;br /&gt;ditemukannya varietas-varietas unggul sebagai imbangan berkurangnya lahan, maka&lt;br /&gt;totalitas produksi tidak akan terlalu berubah. Irigasi dan pemupukan sangat penting&lt;br /&gt;untuk mendapatkan produksi yang baik. Walaupun potensi hasil cukup tinggi, cara&lt;br /&gt;untuk mendapatkan produksi pada tingkat optimal yang dilakukan oleh petani, baru&lt;br /&gt;memberikan hasil 17 ton/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. PASCAPANEN&lt;br /&gt;Setelah jagung dipetik biasanya dilakukan proses lanjutan yang merupakan&lt;br /&gt;serangkaian pekerjaan yang berkaitan dan akhirnya produk siap disimpan atau&lt;br /&gt;dipasarkan.&lt;br /&gt;9.1. Pengupasan&lt;br /&gt;Jagung dikupas pada saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan&lt;br /&gt;selesai. Pengupasan ini dilakukan untuk menjaga agar kadar air di dalam tongkol&lt;br /&gt;dapat diturunkan dan kelembaban di sekitar biji tidak menimbulkan kerusakan biji&lt;br /&gt;atau mengakibatkan tumbuhnya cendawan. Pengupasan dapat memudahkan atau&lt;br /&gt;memperingan pengangkutan selama proses pengeringan. Untuk jagung masak mati&lt;br /&gt;sebagai bahan makanan, begitu selesai dipanen, kelobot segera dikupas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.2. Pengeringan&lt;br /&gt;Pengeringan jagung dapat dilakukan secara alami atau buatan. Secara tradisional&lt;br /&gt;jagung dijemur di bawah sinar matahari sehingga kadar air berkisar 9–11 %.&lt;br /&gt;Biasanya penjemuran memakan waktu sekitar 7-8 hari. Penjemuran dapat dilakukan&lt;br /&gt;di lantai, dengan alas anyaman bambu atau dengan cara diikat dan digantung.&lt;br /&gt;Secara buatan dapat dilakukan dengan mesin pengering untuk menghemat tenaga&lt;br /&gt;manusia, terutama pada musim hujan. Terdapat berbagai cara pengeringan buatan,&lt;br /&gt;tetapi prinsipnya sama yaitu untuk mengurangi kadar air di dalam biji dengan panas&lt;br /&gt;pengeringan sekitar 38-43 derajat C, sehingga kadar air turun menjadi 12-13 %.&lt;br /&gt;Mesin pengering dapat digunakan setiap saat dan dapat dilakukan pengaturan suhu&lt;br /&gt;sesuai dengan kadar air biji jagung yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.3. Pemipilan&lt;br /&gt;Setelah dijemur sampai kering jagung dipipil. Pemipilan dapat menggunakan tangan&lt;br /&gt;atau alat pemipil jagung bila jumlah produksi cukup besar. Pada dasarnya “memipil”&lt;br /&gt;jagung hampir sama dengan proses perontokan gabah, yaitu memisahkan biji-biji&lt;br /&gt;dari tempat pelekatan. Jagung melekat pada tongkolnya, maka antara biji dan&lt;br /&gt;tongkol perlu dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.4. Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;Setelah jagung terlepas dari tongkol, biji-biji jagung harus dipisahkan dari kotoran&lt;br /&gt;atau apa saja yang tidak dikehendaki, sehinggga tidak menurunkan kualitas jagung.&lt;br /&gt;Yang perlu dipisahkan dan dibuang antara lain sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah,&lt;br /&gt;biji hampa, kotoran selama petik ataupun pada waktu pengumpilan. Tindakan ini&lt;br /&gt;sangat bermanfaat untuk menghindari atau menekan serangan jamur dan hama&lt;br /&gt;selama dalam penyimpanan. Disamping itu juga dapat memperbaiki peredaran&lt;br /&gt;udara.&lt;br /&gt;Untuk pemisahan biji yang akan digunakan sebagai benih terutama untuk&lt;br /&gt;penanaman dengan mesin penanam, biasanya membutuhkan keseragaman bentuk&lt;br /&gt;dan ukuran buntirnya. Maka pemisahan ini sangat penting untuk menambah efisiensi&lt;br /&gt;penanaman dengan mesin. Ada berbagai cara membersihkan atau memisahan&lt;br /&gt;jagung dari campuran kotoran. Tetapi pemisahan dengan cara ditampi seperti pada&lt;br /&gt;proses pembersihan padi, akan mendapatkan hasil yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN&lt;br /&gt;10.1.Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;Perkiraan analisis budidaya dengan luas lahan penanaman 1 ha, jenis jagung&lt;br /&gt;Hibrida C1 pada tahun 1999 per musim tanam (3 bulan) di daerah Jawa Barat:&lt;br /&gt;a) Biaya produksi&lt;br /&gt;1. Sewa 1 hektar per musim tanam Rp. 375.000,-&lt;br /&gt;2. Bibit: benih jagung 20 kg @ Rp. 15.000,- Rp. 300.000,-&lt;br /&gt;3. Pupuk&lt;br /&gt;- Urea: 300 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 450.000,-&lt;br /&gt;- SP 36: 100 kg @ Rp.1.900,- Rp. 190.000,-&lt;br /&gt;- KCl: 50 kg @ Rp. 1.650,- Rp. 82.500,-&lt;br /&gt;4. Pestisida&lt;br /&gt;- Insektisida: 2 liter @ Rp. 50.000,- Rp. 100.000,-&lt;br /&gt;5. Tenaga kerja&lt;br /&gt;- Pengolahan lahan Rp. 450.000,-&lt;br /&gt;- Penanaman: 20 OH @ Rp. 10.000,- Rp. 200.000,-&lt;br /&gt;- Penyiangan dan pembumbunan (borongan) Rp. 50.000,-&lt;br /&gt;- Pemupukan: 20 OH @ Rp. 10.000,- Rp. 200.000,-&lt;br /&gt;- Pemeliharaan lain Rp. 50.000,-&lt;br /&gt;6. Panen Rp. 150.000,-&lt;br /&gt;7. Biaya lain-lain Rp. 100.000,-&lt;br /&gt;Jumlah biaya produksi Rp. 2.697.500,-&lt;br /&gt;b) Pendapatan: 5.500 kg.@ Rp. 650,- Rp. 3.575.000,-&lt;br /&gt;c) Keuntungan bersih Rp. 877.500,-&lt;br /&gt;d) Parameter kelayakan usaha&lt;br /&gt;1. Rasio B/C = 1,325&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.2.Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;Berdasarkan statistik yang ada permintaan produk jagung nasional belum dapat&lt;br /&gt;memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri. Impor jagung jumlahnya sudah cukup&lt;br /&gt;besar terutama dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan industri pakan ternak yang&lt;br /&gt;sedang berkembang dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;11.1.Ruang Lingkup&lt;br /&gt;Standar produksi tanaman jagung meliputi: standar klasifikasi, syarat mutu, cara&lt;br /&gt;pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan, pengemasan dan rekomondasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.2.Diskripsi&lt;br /&gt;Standar mutu jagung di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia SNI&lt;br /&gt;01-03920-1995.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.3.Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;Berdasarkan warnanya, jagung kering dibedakan menjadi jagung kuning (bila&lt;br /&gt;sekurang-kurangnya 90% bijinya berwarna kuning), jagung putih (bila sekurangkurangnya&lt;br /&gt;bijinya berwarna putih) dan jagung campuran yang tidak memenuhi&lt;br /&gt;syarat-syarat tersebut. Dalam perdagangan internasional, komoditi jagung kering&lt;br /&gt;dibagi dalam 2 nomor HS dan SITC berdasarkan penggunaannya yaitu jagung benih&lt;br /&gt;dan non benih.&lt;br /&gt;a) Syarat Umum&lt;br /&gt;1. Bebas hama dan penyakit.&lt;br /&gt;2. Bebas bau busuk, asam, atau bau asing lainnya.&lt;br /&gt;3. Bebas dari bahan kimia, seperti: insektisida dan fungisida.&lt;br /&gt;4. Memiliki suhu normal.&lt;br /&gt;b) Syarat Khusus&lt;br /&gt;1. Kadar air maksimum (%): mutu I=14; mutu II=14; mutu III=15; mutu IV=17.&lt;br /&gt;2. Butir rusak maksimum (%): mutu I=2; mutu II=4; mutu III=6; mutu IV=8.&lt;br /&gt;3. Butir warna lain maksimum (%): mutu I=1; mutu II=3; mutu III=7; mutu IV=10.&lt;br /&gt;4. Butir pecah maksimum (%): mutu I=1; mutu II=2; mutu III=3; mutu IV=3.&lt;br /&gt;5. Kotoran maksimum (%): mutu I=1; mutu II=1; mutu III=2; mutu IV=2.&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan standar mutu yang disyaratkan maka dilakukan beberapa&lt;br /&gt;pengujian diantaranya:&lt;br /&gt;a) Penentuan adanya hama dan penyakit, baru dilakukan dengan cara organoleptik&lt;br /&gt;kecuali adanya bahan kimia dengan menggunakan indera pengelihatan dan&lt;br /&gt;penciuman serta dibantu dengan peralatan dan cara yang diperbolehkan.&lt;br /&gt;b) Penentuan adanya rusak, butir warna lain, kotoran dan butir pecah dilakukan&lt;br /&gt;dengan cara manual dengan pinset dengan contoh uji 100 gram/sampel.&lt;br /&gt;Persentase butir-butir warna lain, butir rusak, butir pecah, kotoran ditetapkan&lt;br /&gt;berdasarkan berat masing-masing komponen dibandingkan dengan berat contoh&lt;br /&gt;analisa x 100 %&lt;br /&gt;c) Penentuan kadar air biji ditentukan dengan moisturetester electronic atau “Air&lt;br /&gt;Oven Methode” (ISO/r939-1969E atau OACE 930.15). Penentuan kadar aflatoxin&lt;br /&gt;adalah racun hasil metabolisme cendawan Aspergilus flavus, Aflatoxin disini&lt;br /&gt;adalah jumlah semua jenis aflatoxin yang terkandung dalam biji-biji kacang tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.4.Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;Contoh diambil secara acak sebanyak akar pangkat dua dari jumlah karung&lt;br /&gt;maksimum 30 karung dari tiap partai barang, kemudian dari tiap-tiap karung diambil&lt;br /&gt;contoh maksimum 500 gram. Contoh-contoh tersebut diaduk/dicampur sehingga&lt;br /&gt;merata, kemudian dibagi empat dan dua bagian diambil secara diagonal. Cara ini&lt;br /&gt;dilakukan beberapa kali sampai mencapai contoh seberat 500 gram. Contoh ini&lt;br /&gt;disegel dan diberi label untuk dianalisa, berat contoh analisa 100 gram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.5 Pengemasan&lt;br /&gt;Pengemasan dengan karung harus mempunyai persyaratan bersih dan dijahit&lt;br /&gt;mulutnya, berat netto maksimum 75 kg. dan tahan mengalami “handling” baik waktu&lt;br /&gt;pemuatan maupun pembongkaran.&lt;br /&gt;Di bagian luar karung (kecuali dalam bentuk curah) ditulis dengan bahan yang aman&lt;br /&gt;yang tidak luntur dan jelas terbaca antara lain:&lt;br /&gt;a) Produce of Indonesia.&lt;br /&gt;b) Daerah asal produksi.&lt;br /&gt;c) Nama dan mutu barang.&lt;br /&gt;d) Nama perusahaan/pengekspor.&lt;br /&gt;e) Berat bruto.&lt;br /&gt;f) Berat netto.&lt;br /&gt;g) Nomor karung.&lt;br /&gt;h) Tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;a) AAK. (1993). Teknik Bercocok Tanam Jagung. Yogyakarta. Kanisius.&lt;br /&gt;b) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (1998). Budidaya Kedelai dan Jagung.&lt;br /&gt;Palangkaraya. Departemen Pertanian.&lt;br /&gt;c) Capricorn Indo Consult. (1998). Studi Tentang Agroindustri &amp; Pemasaran&lt;br /&gt;JAGUNG &amp; KEDELAI di Indonesia.&lt;br /&gt;d) Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (1988). Jagung Bogor.&lt;br /&gt;Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian&lt;br /&gt;e) Saenong, Sania. (1988). Teknologi Benih Jagung. Pusat Penelitian dan&lt;br /&gt;Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. Badan Penelitian dan Pengembangan&lt;br /&gt;Pertanian.&lt;br /&gt;f) Sutoro; Yogo Sulaeman; Iskandar. (1988). Pusat Penelitian dan Pengembangan&lt;br /&gt;Tanaman Pangan. Bogor. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.&lt;br /&gt;g) Warisno (1998). Budidaya Jagung Hibrida. Yogyakarta. Kanisius.&lt;br /&gt;Jakarta, Februari 2000&lt;br /&gt;Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, Proyek&lt;br /&gt;PEMD, BAPPENAS&lt;br /&gt;Editor : Kemal Prihatman</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/05/budidaya-jagung.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-6837614470168868504</guid><pubDate>Fri, 08 May 2009 06:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-08T00:02:47.492-07:00</atom:updated><title>Budidaya Gladiol</title><description>Budidaya GLADIOL (Gladiolus hybridus)&lt;br /&gt;Gladiol merupakan tanaman bunga hias berupa tanaman semusim berbentuk herba termasuk dalam famili Iridaceae.&lt;br /&gt;Gladiol berasal dari bahasa latin &amp;ldquo;Gladius&amp;rdquo; yang berarti pedang kecil, seperti bentuk daunnya. Berasal dari&lt;br /&gt;Afrika Selatan dan menyebar di Asia sejak 2000 tahun. Tahun 1730 mulai memasuki daratan Eropa dan berkembang di&lt;br /&gt;Belanda.&lt;br /&gt;Tanaman gladiol yang termasuk subklas Monocotyledoneae, berakar serabut, dan tanaman ini membentuk pula akar&lt;br /&gt;kontraktil yang tumbuh pada saat pembentukan subang baru. Kelebihan dari bunga potong gladiol adalah kesegarannya&lt;br /&gt;dapa bertahan lama sekitar 5-10 hari dan dapat berbunga sepanjang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JENIS TANAMAN&lt;br /&gt;Klasifikasi tanaman gladiol adalah sebagai berikut: Divisi : Tracheophyta&lt;br /&gt;Subdivisi : Pteropsida&lt;br /&gt;Klas : Angiospermae&lt;br /&gt;Subklas : Monocotyledoneae&lt;br /&gt;Ordo : Iridales&lt;br /&gt;Famili : Iridaceae&lt;br /&gt;Genus : Gladiolus&lt;br /&gt;Spesies : Gladiolus hybridus&lt;br /&gt;Hasil penelitian tahun 1988, Indonesia mengenal 20 varietas gladiol dari Belanda kemudian diuji multi lokasi di kebun&lt;br /&gt;percobaan Sub Balai Penelitian Hortikultura Cipanas. Tiga varietas diantaranya memiliki penampilan yang paling indah,&lt;br /&gt;(warna dan bentuknya berbeda dengan gladiol lama), yaitu: White godness (putih), Tradehorn (merah jingga), dan&lt;br /&gt;Priscilla (putih). Ragam jenis bunga gladiol adalah : a) Gladiolus gandavensis, berukuran besar, susunan bunga terlihat&lt;br /&gt;bertumpang tindih, panjang 90-150 cm.&lt;br /&gt;b) Gladiolus primulinus. berukuran kecil, sangat menarik. Bertangkai halus tetapi kuat dan panjangnya mencapai 90 cm.&lt;br /&gt;c) Gladiolus ramosus. Panjang tangkai bunga 100-300 cm.&lt;br /&gt;d) Gladiolus nanus. Tangkai bunga melengkung, dan panjang hanya 35 cm.&lt;br /&gt;Beberapa kultivar bunga gladiol lainnya yang telah di uji di Indonesia adalah: Red Majesty, Priscilla, Oscar, Rose&lt;br /&gt;Supreme, Sanclere, Dr. Mansoer, Albino, Salem, Marah Api, Queen Occer, Ceker dan lain sebagainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANFAAT TANAMAN&lt;br /&gt;Gladiol di produksi sebagai bunga potong yang mempunyai nilai ekonomi. Dan memiliki nilai estetika. Bunga potong&lt;br /&gt;juga merupakan sarana peralatan tradisional, agama, upacara kenegaraan dan keperluan ritual lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENTRA PENANAMAN&lt;br /&gt;Sentra produksi bunga gladiol di Indonesia untuk daerah Jawa Barat terdapat di Parongpong (Bandung), Salabintana&lt;br /&gt;(Sukabumi) dan Cipanas (Cianjur). Di Jawa tengah terdapat di daerah Bandungan (Semarang) sedangkan di Jawa Timur&lt;br /&gt;berada di daerah Batu (Malang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYARAT PETUMBUHAN&lt;br /&gt;5.1. Iklim 1) Gladiol membutuhkan curah hujan rata-rata 2.000-2500 mm/tahun. Di Indonesia gladiol dapat ditanam&lt;br /&gt;sepanjang tahun, baik pada musim kemarau maupun musim hujan.&lt;br /&gt;2) Tanaman gladiol membutuhkan sinar matahari penuh untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Keadaan kurang&lt;br /&gt;optimal akan menyebabkan bunga mengering dan floret tidak terbentuk secara normal. Kekurangan cahaya terjadi pada&lt;br /&gt;waktu pembentukan daun ke 5, 6, dan 7, yang menyebabkan kekeringan tampak pada kuncup bunga saja. Kultifat&lt;br /&gt;Eurovision, Peter, Friendship, Jessica, dan Mascagni kurang peka terhadap cahaya matahari.&lt;br /&gt;3) Tanaman gladiol tumbuh baik pada suhu udara 10-25 derajat C. Suhu udara ratarata kurang dari 10 derajat C akan&lt;br /&gt;menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman terhambat, jika berlangsung lama pertumbuhan tanaman&lt;br /&gt;dapat terhenti. Suhu udara maksimum pertumbuhan gladiol adalah 27 derajat C, kadang-kadang dapat menyesuaikan&lt;br /&gt;diri sampai suhu udara 40 derajat C, bila kelembaban tanah dan tanaman relatif tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Media Tanam 1) Jenis tanah yang cocok untuk tanaman gladiol adalah andosol dan latosol yang subur, gembur&lt;br /&gt;dan banyak mengandung bahan organik.&lt;br /&gt;2) Tanaman bunga gladiol dapat tumbuh subur diatas tanah yang memiliki pH 5,5- 5,9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;Tanaman gladiol dapat tumbuh dengan baik di daerah ketinggian 500-1500 m dpl dan beriklim sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;6.1. Pembibitan&lt;br /&gt;Bibit dapat berasal dari pembiakan generatif, vegetatif, dan kultur jaringan. Umumnya, pembibitan yang berasal dari&lt;br /&gt;vegetatif dan kultur jaringan lebih cepat dapat dipetik hasilnya dari pada pembibitan dengan cara generatif.&lt;br /&gt;1) Persyaratan Benih&lt;br /&gt;Bibit dari subang bibit yang baik menghasilkan bunga berdiameter minimum 2,5 cm, kecuali untuk kultivar Golden Boy&lt;br /&gt;yang cukup berdiameter 1 cm. Bibit harus dipilih yang sehat, tidak cacat. Bibit vegetatif yang baik yang mempunyai daya&lt;br /&gt;kecambah lebih dari 90%. Bibit generatif harus berasal dari induk dengan pertumbuhan baik dan cukup umur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Penyiapan Benih&lt;br /&gt;Perbanyakan generatif gladiol dengan biji, digunakan untuk mendapatkan kultivar baru bukan untuk tujuan bibit produksi.&lt;br /&gt;Biji didapat dengan cara penyerbukan buatan dibantu manusia.&lt;br /&gt;Perbanyakan vegetatif gladiol dilakukan dengan menggunakan umbi (anak subang), bibit belah (subang belah), kultur&lt;br /&gt;jaringan maupun suspensi sel. Umbi dan anakan umbi diambil dari tanaman yang sudah dipanen. Teknik kultur jaringan&lt;br /&gt;merupakan salah satu cara alternatif untuk menanggulangi kendala-kendala dalam perbanyakan secara konvensional.&lt;br /&gt;Bibit (subang) yang dibutuhkan untuk 1 hektar lahan adalah sekitar 213.063 buah.&lt;br /&gt;Subang dan anak subang yang akan dijadikan bibit tidak dapat segera tumbuh bila ditanam meskipun pada lingkungan&lt;br /&gt;tumbuh yang cocok dan optimal, karena memerlukan masa dormansi. Selama masa dormansi subang dan anak subang&lt;br /&gt;yang telah kering disimpan ditempat yang beraliran udara baik dan terhindar dari cahaya matahari langsung. Subang&lt;br /&gt;yang telah dipisahkan dari batangnya disimpan selama ± 2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Teknik Penyemaian Benih&lt;br /&gt;Biji gladiol dapat langsung disemai, tanpa mengalami masa dormansi, biji akan berkecambah setelah 7-12 hari. Daun&lt;br /&gt;yang tumbuh dari biji hanya berjumlah 1-2 helai. Tanaman tumbuh sampai kira-kira 5 bulan dan menghasilkan anak&lt;br /&gt;subang yang berdiameter kurang dari 1 cm. Anak subang ini kemudian memasuki masa dormansi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;br /&gt;Penanaman gladiol dengan bibit anak subang yang baru muncul dari stolon yang menghubungkan subang induk dengan&lt;br /&gt;subang baru. Perbanyakan dengan menggunakan anak subang yang berdiameter sekitar 1,0 cm memerlukan 2 kali&lt;br /&gt;penanaman untuk mencapai ukuran subang yang dapat menghasilkan bunga. Penanaman pertama dari anak subang&lt;br /&gt;tersebut memerlukan waktu sekitar 4 bulan hingga panen subang kecil.&lt;br /&gt;Subang kecil hasil panen pertama akan berdiameter sekitar 2 cm. Subang kecil setelah dipanen akan mengalami masa&lt;br /&gt;dormansi minimal 3,5 bulan. Setelah masa dormansi terlewati, subang kecil dapat ditanam kembali. Waktu yang&lt;br /&gt;diperlukan untuk penanaman kedua kira-kira sama dengan waktu penanaman pertama. Subang dari panenan kedua&lt;br /&gt;akan berdiameter 3 cm dan merupakan bibit yang siap berbunga. Untuk rata-rata setiap kultivar gladiol, anak subang&lt;br /&gt;yang berdiameter sekitar 1 cm akan menjadi subang bibit yang siap berbunga dalam waktu 16 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Pemindahan Bibit&lt;br /&gt;Bibit gladiol siap ditanam bila sudah melewati masa dormansinya dengan ciri munculnya akar berupa tonjolan kecil&lt;br /&gt;berwarna putih melingkar dibagian bawah subang. Pecahnya dormansi juga ditandai dengan munculnya mata tunas.&lt;br /&gt;Bila tunas mencapai tinggi 1 cm, maka subang siap ditanam. Penanaman yang terlambat menyebabkan tunas semakin&lt;br /&gt;tinggi dan akar semakin panjang, sehingga akan terjadi kerusakan akar pada waktu penanaman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;1) Persiapan&lt;br /&gt;Lahan yang akan di tanami gladiol perlu di ukur pH tanahnya. Bila sesuai dengan pH tanah yang disyaratkan, lakukan&lt;br /&gt;pengukuran luas lahan yang akan ditanami. Kemudian analisa jenis tanah, apa bila lahan tersebut sebelumnya pernah&lt;br /&gt;ditanami gladiol sebaiknya tanah didiamkan minimal selama satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;Lahan yang telah dianalisa, diukur dan dibersihkan dari gulma, batu-batuan, serta tanaman liar lain, kemudian bajak dan&lt;br /&gt;dicangkul sampai gembur. Pengolahan lahan sebaiknya dilakukan 2 minggu sebelum tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;Bila pemanenan bunga dilakukan setiap saat, maka lahan yang digunakan sebaiknya dibuat beberapa petak.&lt;br /&gt;Pemetakan lahan dimaksudkan agar dapat diatur mana untuk lahan yang akan diolah, ditanami, dan dipanen. Pada&lt;br /&gt;setiap petakan dibuat selokan (saluran air), agar drainase baik dan tanaman dapat tumbuh dengan subur. Lahan&lt;br /&gt;selanjutnya diberi pupuk dasar agar tanah tidak kekurangan unsur haranya. Luas arel petakan dibuat sesuai dengan&lt;br /&gt;kebutuhan, Bila kebutuhan pasar sebanyak 1.000 tangkai setiap dua minggu, maka dibutuhkan lahan seluas 600 m2.&lt;br /&gt;Lahan dibuat menjadi 7 petak dengan luas setiap petak 72 m2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pengapuran&lt;br /&gt;Pengapuran dilakukan pada tanah yang memiliki derajat kemasaman tanah (pH) kurang dari 5,5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Pemupukan&lt;br /&gt;Pemberian pupuk dasar dilakukan pada saat tanam. Pupuk yang diberikan adalah yang mengandung unsur N, K, Ca&lt;br /&gt;dan P, yang diberikan sesuai dosis yang dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;1) Penentuan Pola Tanam&lt;br /&gt;Tanaman gladiol dapat ditanam dengan sistem guludan atau tanpa guludan. Jika pengairan menggunakan cara leb,&lt;br /&gt;maka penanaman sebaiknya dengan guludan agar air irigasi tidak merusak struktur tanah. Beberapa hal yang perlu&lt;br /&gt;diketahui dalam cara penanaman adalah tempat dan waktu penanaman serta jarak dan kedalaman tanaman. Tempat&lt;br /&gt;penanaman gladiol harus terkena cahaya matahari langsung. Atap plastik yang tembus cahaya dan bersih digunakan&lt;br /&gt;untuk menghindari kerusakan akibat hujan. Jadwal penanaman disesuaikan dengan kebutuhan berkisar antara 60-80&lt;br /&gt;hari, karena umur tanaman tergantung pada kultivarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pembuatan Lubang Tanam&lt;br /&gt;Lubang tanam dibuat dengan mencangkul lahan sedalam 10-15 cm, untuk subang&lt;br /&gt;berdiameter = 2,5 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Cara Penanaman&lt;br /&gt;Subang ditanam setelah masa dormansi sekitar 3,5 bulan. Cara penanaman dengan guludan, yang disesuaikan dengan&lt;br /&gt;kedalaman tanam subang gladiol. Bila kedalaman 10-15 cm, maka tinggi guludan dibuat = 15 cm dengan anggapan&lt;br /&gt;bahwa lapisan tanah atas lambat laun akan menurun. Bila dilakukan tanpa guludan maka sering kali tanaman rebah atau&lt;br /&gt;tangkai bunga bengkok yang menyebabkan turunnya kualitas bunga. Kerapatan tanaman perlu diperhatikan karena&lt;br /&gt;menentukan kekekaran tanaman dan kualitas bunga. Jika jumlah tanaman per meter persegi terlalu banyak, maka&lt;br /&gt;tanaman akan menjadi lemah dan panjang. Semakin kecil diameter subang maka kerapatan tanam semakin besar.&lt;br /&gt;Untuk anak subang berdiameter kurang dari 1 cm, biasanya ditanam dalam barisan pada guludan. Jarak tanam untuk&lt;br /&gt;subang berdiameter = 4 cm adalah 20 x 20 cm sedangkan untuk subang yang berdiameter lebih kecil ditanam lebih&lt;br /&gt;rapat.&lt;br /&gt;Dalam menentukan kedalaman tanam yang perlu diperhatikan adalah tekstur tanah dan waktu tanam. Pada tekstur&lt;br /&gt;tanah yang berat, (tanah liat dan berlempung) subang harus ditanam lebih dangkal dari pada tanah yang ringan dan&lt;br /&gt;berpasir. Pada musim kemarau subang ditanami lebih dalam dibanding musim penghujan. Suhu tanah akan lebih&lt;br /&gt;rendah pada tempat yang lebih dalam. Letak bibit yang dangkal, terutama pada tanah berpasir, akan mengakibatkan&lt;br /&gt;tanaman mudah rebah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pemberian Ajir&lt;br /&gt;Pemberian ajir pada tanaman bunga gladiol dilakukan apabila tanaman rebah atau tangkai bunga bengkok yang&lt;br /&gt;menyebabkan turunnya kualitas bunga. Hal ini dapat terjadi bila penanaman bunga dilakukan tanpa menggunakan&lt;br /&gt;guludan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.4. Pemeliharaan Tanaman Penyiangan&lt;br /&gt;Penyiangan gulma pada pertanaman anak subang penting karena gulma dapat menutupi pertumbuhan anak subang&lt;br /&gt;sehingga pertumbuhan terhambat dan menyulitkan dalam pemanenan. Penyiangan biasa dilakukan sebelum pemberian&lt;br /&gt;pupuk N (saat berumur sekitar 25 hari setelah tanam) dan dilakukan tiga kali dalam satu siklus tanaman.&lt;br /&gt;Pembubunan&lt;br /&gt;Pembubunan dilakukan bersamaan waktunya dengan penyiangan, untuk menjaga agar subang baru yang tumbuh tidak&lt;br /&gt;terlihat di atas tanah.&lt;br /&gt;Pemupukan&lt;br /&gt;Tanaman gladiol memerlukan pemupukan agar tanaman tumbuh cepat dan berproduksi dengan baik. Jumlah pupuk&lt;br /&gt;yang diberikan sangat bervariasi tergantung pada tekstur tanah, keadaan lingkungan, curah hujan, pengairan dan&lt;br /&gt;kandungan hara di dalam tanah. Pada tanah berpasir, diperlukan pemupukan lebih sering terutama pada musim&lt;br /&gt;penghujan. Pemupukan dilakukan dua kali (umur 20 hari dan 45 hari setelah penanaman).&lt;br /&gt;Dosis pemupukan gladiol 90-135 kg N (diberikan sebagian dalam bentuk nitrat, sebagian lagi amonium), 90-180 kg P&lt;br /&gt;(sebagai P2O5) dan 110-180 kg K (sebagai K2O) per hektar pada tanah berpasir. Pupuk diberikan tidak sekaligus,&lt;br /&gt;pertama saat tanam, ( pupuk K dan P), setelah tanam membentuk 2-3 helai daun diberikan pupuk N sepertiga dosis.&lt;br /&gt;Pemberian pupuk N kedua dan ketiga masing-masing dilakukan pada saat mulai terbentuknya primordia bunga dan&lt;br /&gt;setelah panen bunga. Pemupukan terakhir sangat penting guna pembesaran subang dan pembentukan anak subang.&lt;br /&gt;Pupuk yang digunakan biasanya TSP dan Urea, masing-masing sebanyak satu sendok teh untuk setiap tanam.&lt;br /&gt;Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;Pengairan harus diperhatikan karena drainase berpengaruh terhadap tanaman. Penyiraman dilakukan hanya apabila&lt;br /&gt;tanah mulai kering (musim kemarau).&lt;br /&gt;Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;br /&gt;Kerusakan tanaman gladiol dapat disebabkan oleh hama atau penyakit, yang dapat diatasi dengan pestisida yang tepat.&lt;br /&gt;Penanggulangan serangan hama digunakan pestisida padat (Aldikarb), dengan dosis 300 gram/100 m2 air. Digunakan&lt;br /&gt;pestisida cair (Permetrin dan deltametrin) dosis 5 cc per 100 m2. Pemberantasan penyakit digunakan pestisida&lt;br /&gt;Procymidon, dosis 5 gram/100 m2, atau Kaptofol, dosis 400 gram/100 liter air. Pemberian pestisida sebaiknya setelah&lt;br /&gt;tanaman berumur 50 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;7.1. Hama 1) Thrips gladiol (Taeniothrips simplex / Mor)&lt;br /&gt;Hama ini sering dijumpai disetiap area pertanaman gladiol di seluruh dunia, yang dapat menimbulkan kerusakan berat&lt;br /&gt;(di lapangan).&lt;br /&gt;Gejala: bercak-bercak berwarna keperak-perakan pada permukaan daun, merusak jaringan daun/bunga dan mengisap&lt;br /&gt;cairan yang keluar dari bagian tanaman dengan menggunakan alat mulutnya. Tanaman yang terserang hama ini akan&lt;br /&gt;timbul bercak-bercak putih dan akhirnya menjadi coklat dan mati. Serangga muda (nimfa) berwarna kuning pucat dan&lt;br /&gt;lebih suka makan pada bagian bunga dan kuncup. Panjang tubuh hama dewasa ± 2,5 mm, berbentuk ramping, pipih,&lt;br /&gt;berwarna coklat tua atau hitam.&lt;br /&gt;Pengendalian: dapat dilakukan dengan penyiangan gulma atau dengan menggunakan insektisida yang mengandung&lt;br /&gt;dimetoat, endusolfan, formothion, karbaril, merkaptodimetur dan metomil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Kutu putih (Pseudococcus sp.)&lt;br /&gt;Gejala: menyerang umbi gladiol saat penyimpanan, dan di lapangan, dengan menusukan alat mulutnya kedalam umbi&lt;br /&gt;untuk menghisap cairan tanaman, sehingga tunas/akar terhambat pertumbuhannya dan gagal panen. Pada serangan&lt;br /&gt;berat umbi jadi keriput, kering dan mati. Ukuran tubuh serangga dewasa betina 4 mm dan mampu bertelur sampai 200&lt;br /&gt;butir (diletakan berkelompok).&lt;br /&gt;Pengendalian: merendam subang dalam larutan insektisida 30-60 menit, yang mengandung bahan aktif asefat, nikotin,&lt;br /&gt;triazofos, kuinalfos dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Ulat pemakan daun (Larva Lepidoptera)&lt;br /&gt;Gejala: hama ini menyerang dengan membuat lubang-lubang pada permukaan daun dan bunga. Bentuk, warna, ukuran&lt;br /&gt;larva-larva sebagai minor pest pada tanaman gladiol sangat bervariasi, tergantung pada spesiesnya. Panjang ulat famili&lt;br /&gt;Lymantriidae mencapai 3,5-4,0 cm.&lt;br /&gt;Penanggulangan: menyemprot insektisida berbahan aktif Bacillus thuringiensis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2. Penyakit 1) Layu fusarium (Penyakit busuk kering fusarium)&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan F. oxysporum var. gladiol atau F. orthoceras var gladiol.&lt;br /&gt;Gejala: daun gladiol yang terserang menguning, agak memilin. Pada serangan yang lebih lanjut, pertumbuhan tanaman&lt;br /&gt;kerdil dan mudah patah. Pada subang yang terserang tampak bercak dan dalam keadaan lembab hifa patogen yang&lt;br /&gt;berwarna putih seperti kapas menutupi permukaan bercak tadi dan menjalar kebagian tanaman lainnya.&lt;br /&gt;Pengendalian: menyimpan subang ditempat tidak lembab serta merendam sebelum ditanam, kedalam larutan suspensi&lt;br /&gt;fungisida benlate selama 30 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Busuk kering&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Botrytis cinerea atau B. gladiolorum.&lt;br /&gt;Gejala: bunga berbintik-bintik, berkembang menjadi bercak-bercak, subang yang terserang busuk daun bintik-bintik agak&lt;br /&gt;kelabu, kemudian berkembang menjadi bercakbercak berwarna hitam keabu-abuan. Pengendalian: menganginkan&lt;br /&gt;(mengeringkan) subang yang dipanen sebelum disimpan pada tempat yang kering atau dengan menyemprotkan&lt;br /&gt;fungisida captan, zineb atau nabam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Busuk keras&lt;br /&gt;Penyebab: Septoria gladioli.&lt;br /&gt;Gejala: sama dengan gejala busuk kering, tetapi berbeda pada tubuh buah patogennya. Bintik-bintik kecil coklat tampak&lt;br /&gt;pada permukaan bagian bawah/bagian atas daun yang terserang patogen. Tanaman/bibit yang terserang patogen&lt;br /&gt;tersebut umumnya berasal dari anak subang, sedang yang berasal dari subang jarang terserang.&lt;br /&gt;Pengendalian: sama seperti untuk busuk kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Busuk kubang (Busuk kapang biru)&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Penicillium gladioli yang termasuk patogen lemah. Patogen masuk dan menginfeksi subang&lt;br /&gt;gladiol bila di bagian subang terdapat luka yang disebabkan oleh serangga, alat-alat pertanian dan sebagainya.&lt;br /&gt;Gejala: pada subang yang terserang patogen tersebut terdapat lesio berwarna merah kecoklatan yang dalam waktu&lt;br /&gt;singkat bagian tersebut akan ditutupi koloni cendawan berwarna biru dan subang membusuk.&lt;br /&gt;Pengendalian: menyimpan subang dengan baik, setelah dikering udarakan dahulu, serta mencegah subang luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Hawar bakteri&lt;br /&gt;Penyebab: Xanthomonas gummisudan. Yang berkembang dengan cepat pada keadaan lingkungan yang basah atau&lt;br /&gt;drainase kurang baik.&lt;br /&gt;Gejala: ada bercakbercak horizontal cekung berair berwarna hijau tua yang berubah menjadi coklat dan berkembang&lt;br /&gt;sampai menutupi hampir seluruh permukaan daun sampai daun kering. Patogen ditularkan melalui subang atau percikan&lt;br /&gt;air hujan.&lt;br /&gt;Pengendalian: memilih subang yang sehat dan merendam subang tanpa kulit selama 2 jam dalam suspensi larutan&lt;br /&gt;bakterisida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P A N E N&lt;br /&gt;Budidaya bunga gladiol dapat diatur sedemikian rupa sehingga panen dapat dilakukan setiap minggu. Biasanya&lt;br /&gt;budidaya tanaman gladiol dilakukan berdasarkan pesanan pasar, sehingga panen dapat terus dilakukan pada waktu&lt;br /&gt;yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;8.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;Tanaman gladiol berbunga pada umur 60 - 80 hari setelah tanam, tergantung pada kultivarnya. Bunga pertama akan&lt;br /&gt;mekar sekitar 10 hari setelah primordia bunga muncul.&lt;br /&gt;Bunga dapat dipetik setelah warna dari 1 atau 2 floret terbawah telah dapat dilihat dengan jelas tetapi belum mekar. Jika&lt;br /&gt;kuncup bunga dibiarkan sampai mekar penuh, kerusakan akan mudah terjadi terutama selama pengemasan dan&lt;br /&gt;pengangkutan. Bila bunga dipanen terlalu awal, (sebelum floret terbawah menampakan warna bunga), maka akan ada&lt;br /&gt;kemungkinan bunga tidak dapat mekar dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.2. Cara Panen&lt;br /&gt;Pemanenan dilakukan secara hati-hati dengan menyertakan 2-3 daun pada tangkai bunga dan menyisakan daun-daun&lt;br /&gt;pada tanaman sebanyak mungkin minimum 4 daun. Pemotongan tangkai bunga dengan pisau tajam dan bersih supaya&lt;br /&gt;terhindar dari kontaminasi jasad renik Jika menggunakan pisau tumpul, terjadi luka lebih lebar pada permukaan dasar&lt;br /&gt;tangkai bunga, memungkinkan terjadi infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.3. Periode Panen&lt;br /&gt;Bunga gladiol tergolong bunga yang mudah kehilangan air. Sebaiknya panen bunga dilakukan pagi hari, karena saat&lt;br /&gt;tersebut bunga gladiol berturgor optimum. Kandungan karbohidrat yang rendah dapat diperbaiki dengan larutan&lt;br /&gt;pengawet yang mengandung gula.&lt;br /&gt;Panen bunga tidak dianjurkan pada saat suhu udara tinggi (siang hari) atau pada turgor rendah, bunga basah oleh&lt;br /&gt;embun, hujan atau sebab lain. Bunga yang basahakan mudah terserang oleh cendawan Botrytis gladiolorum (blight),&lt;br /&gt;walaupun pada kondisi suhu udara yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.4. Prakiraan Produksi&lt;br /&gt;Untuk seluas 1 hektar akan menghasikan panen bunga ± sebanyak 200.000 potong. Budidaya bunga potong gladiol&lt;br /&gt;dapat diatur sedemikian rupa sehingga panen bunga (pemanenan terbanyak) dilakukan setiap minggu. Secara teknis&lt;br /&gt;dapat diatur dengan pemetakan lahan, sehingga dalam satu saat terdapat lahan siap olah, siap tanam,dan siap panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASCA PANEN&lt;br /&gt;9.1. Pengumpulan&lt;br /&gt;Bunga gladiol sangat peka terhadap kekuatan gaya berat dan akan selalu cenderung melengkung pada suhu udara&lt;br /&gt;tinggi, sehingga berakibat terjadinya perubahan bentuk dan penurunan kualitas. Oleh karena itu bunga potong gladiol&lt;br /&gt;yang dipanen dikumpulkan dan diletakan tegak lurus diruangan pada suhu udara rendah (selama&lt;br /&gt;penyimpanan/pengangkutan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.2. Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;Setelah dipanen, dilakukan penyortiran dan penggolongan sesuai dengan ukuran. Bunga dibersihkan dari kotoran yang&lt;br /&gt;menempel, dengan hati-hati,(bila perlu) cukup diperciki atau disemprot air saja. Hal ini menjaga agar mahkota bunga&lt;br /&gt;tidak rusak. Bunga dipilih yang bagus bentuknya, tidak terkena penyakit atau luka, dikelompokan sesuai dengan&lt;br /&gt;kebutuhan, (berdasarkan tingkat kesegaran/ukuran bunga). Penggolongan ini dimaksudkan untuk mempertahankan nilai&lt;br /&gt;jual sehingga bunga yang bagus tidak turun harganya akibat tercampur dengan yang bunga gladiol yang berkualitas&lt;br /&gt;rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.3. Penyimpanan&lt;br /&gt;Penyimpanan bertujuan untuk memperlambat proses kelayuan bunga sebelum sampai kekonsumen, biasanya dilakukan&lt;br /&gt;pada saat bunga: a) Baru saja dipetik, menunggu pemanenan selesai.&lt;br /&gt;b) Setelah dipanen tidak segera dijual/diangkut.&lt;br /&gt;c) Diperjalanan sebelum sampai kekonsumen.&lt;br /&gt;Dalam tahap ini, bunga dikondisikan agar tetap segar, karena bunga potong sangat sensitif terhadap dehidrasi maka air&lt;br /&gt;yang hilang harus diimbangi dengan larutan perendam yang mengandung air dan senyawa lain yang diperlukan.&lt;br /&gt;Penyimpanan berkaitan erat dengan suhu udara. Makin rendah suhu udara, makin lambat terjadi penurunan mutu. Suhu&lt;br /&gt;udara penyimpanan bunga yang berasal dari daerah tropika relatif lebih tinggi, umumnya berkisar antara 0-5 derajat C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.4. Pengemasan dan Pengangkutan&lt;br /&gt;Sistem pengemasan yang baik bertujuan melindungi bunga selama pengangkutan dan sebagai sarana promosi yang&lt;br /&gt;dapat meningkatkan harga jual. Cara pengemasan yang paling sederhana yaitu dengan membungkus tangkai bunga&lt;br /&gt;dengan daun pisang, kemudian memasukan kedalam ember berisi air sehingga tangkai bunga tercelup dan&lt;br /&gt;membungkus bagian atas bunga dengan plastik yang sebelumnya sudah dilubangi. Pengemasan seperti ini umum&lt;br /&gt;dilakukan oleh pedagang pengecer yang langsung berhubungan dengan konsumen. Pengemasan yang lebih baik biasa&lt;br /&gt;untuk bunga yang akan menempuh perjalanan atau untuk promosi, digunakan bahan pengawet adalah sukrosan dan 8-&lt;br /&gt;hydroxyquinoline citrate.&lt;br /&gt;Mengingat sifat bunga yang selalu dikonsumsi dalam keadaan segar dan bagus berpenampilan maka dituntut sistem&lt;br /&gt;pengangkutan yang bisa bergerak cepat. Faktor yang perlu diperhatikan yaitu suhu udara selama pengangkutan dan&lt;br /&gt;susunan kemasan agar tidak terlalu tinggi serta tahan goncangan. Sarana pengangkutan biasa menggunakan mobil box&lt;br /&gt;yang dilengkapi alat pengatur suhu udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN&lt;br /&gt;10.1. Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;Perkiraan analisis budidaya gladiol luas lahan 1 ha dalam 1 musim tanam yang dilakukan pada tahun 1999 di daerah&lt;br /&gt;Bogor. 1) Biaya produksi:&lt;br /&gt;1. Bibit: umbi bibit (subang) 190.000 bh @ Rp. 50,- Rp. 9.500.000,-&lt;br /&gt;2. Pupuk&lt;br /&gt;- Pupuk buatan NPK: 100 kg @ Rp. 2000,- Rp. 200.000,-&lt;br /&gt;- (Urea, TSP, KCL): 834 kg @ Rp. 4.500,- Rp. 3.753.000,-&lt;br /&gt;3. Tenaga kerja&lt;br /&gt;- Tenaga kerja sewa 120 OH @ Rp. 10.000,- Rp. 1.200.000,-&lt;br /&gt;- Tenaga kerja keluarga 120 OH @ Rp. 15.000,- Rp. 1.800.000,-&lt;br /&gt;4. Pestisida: 15 kg @ Rp. 75.000,- Rp. 1.125.000,-&lt;br /&gt;5. Sewa lahan/ha Rp. 1.500.000,-&lt;br /&gt;Jumlah biaya produksi Rp. 19.078.000,-&lt;br /&gt;2) Pendapatan: bunga potong (tangkai) 214.000 @ Rp. 100,- Rp. 21.400.000,-&lt;br /&gt;3) Keuntungan Rp. 2.322.000,-&lt;br /&gt;4) Parameter kelayakan usaha&lt;br /&gt;1. Rasio output/input = 1,122&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.2. Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;Usaha tani gladiol merupakan usaha komersial karena sebagian besar produksinya ditujukan untuk memenuhi&lt;br /&gt;kebutuhan pasar atau konsumen. Berdasarkan hal tersebut, pengkajian aspek Agro Ekonomi usaha tani gladiol&lt;br /&gt;mencakup kegiatan produksi, konsumsi dan pemasaran.&lt;br /&gt;Kebanyakan usaha tani gladiol dilakukan di daerah dataran tinggi sesudah tanaman sayuran, tanaman padi dan&lt;br /&gt;tanaman hias lainnya (Warsito dan Sutater, 1889). Produksi per hektar bunga potong gladiol di tingkat petani baru&lt;br /&gt;mencapai 169.189 tangkai dan produksi bibit (subang) mencapai 136.406 umbi (Ameriana, dkk., 1991).&lt;br /&gt;Volume permintaan dalam negeri 127.200 tangkai per minggu (BCI dan Nehem, 1987), terdapat kecenderungan bahwa&lt;br /&gt;permintaan terus meningkat. Untuk mengimbangi permintaan konsumen, rumpang hasil produksi bunga harus&lt;br /&gt;ditingkatkan demikian juga mutu bunga potongnya. Sampai saat ini DKI Jakarta masih merupakan pasar bunga potong&lt;br /&gt;terbesar dengan volume penjualan perminggu mencapai 54.700 tangkai dibandingkan dengan kota lainnya. Hal ini&lt;br /&gt;sejalan dengan peningkatan pendapatan masyarakat, pembangunan, komplek perumahan, perkotaan, dan&lt;br /&gt;perkembangan pariwisata (Sutater dan Asandhi, 1991).&lt;br /&gt;Pasar bunga potong asal Indonesia akhir-akhir ini cukup menggembirakan. Tim Direktorat Bina Produksi Hortikultura&lt;br /&gt;(1988) mencatat bahwa peringkat ekspor bunga ke Eropa adalah bunga potong (43,38%), tanaman hias (38,65%), dan&lt;br /&gt;umbi bunga (12,26%). Dalam artikel &amp;ldquo;Indonesia Belum Tanggapi Dunia akan Permintaan Bunga Potong&lt;br /&gt;Tropis&amp;rdquo; (1992) dicatat bahwa konsumsi bunga potong untuk kota-kota besar hingga kini masih didominasi oleh&lt;br /&gt;Jakarta, menyerap 60% dari total produksi bunga nasional. Bisnis bunga mencapai Rp. 2,15 milyar per bulan atau 25,8&lt;br /&gt;milyar per tahun di Jakarta terdapat 327 florist dan 227 kios penjual bunga. Dalam artikel &amp;ldquo;Dari Bisnis Asalan&lt;br /&gt;Menuju Industri Bunga &amp;ldquo; (1993) dilaporkan bahwa konsumsi bungapotong 1992 di kota-kota besar seperti Jakarta,&lt;br /&gt;Bandung, Surabaya, Malang, Denpasar, Semarang, dan Ujung Pandang 1.928.000 tangkai, 1.283.250 tangkai untuk&lt;br /&gt;Jakarta, karena hotel-hotel di Jakarta sebulan menghabiskan biaya sebesar Rp. 75.000 - Rp. 85 juta untuk pembelian&lt;br /&gt;bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;11.1. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;Standar produksi meliputi: klasifikasi dan standar mutu, cara pengambilan contoh dan pengemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.2. Diskripsi&lt;br /&gt;Standar mutu bunga gladiol potong di Indonesia tercantum dalam standar Nasional Indonesia SNI&lt;br /&gt;01&amp;ndash;4479&amp;ndash;1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.3. Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;Berdasarkan panjang tangkainya, bunga gladiol dikelompokan dalam lima kelas yaitu Super, Panjang, Medium, Pendek&lt;br /&gt;dan Mini. a) Kelas super: panjang tangkai &gt; 95 cm&lt;br /&gt;b) Kelas panjang: panjang tangkai 76&amp;ndash;94 cm&lt;br /&gt;c) Kelas medium: panjang tangkai 61&amp;ndash;75 cm&lt;br /&gt;d) Kelas pendek: panjang tangkai 51&amp;ndash;60 cm&lt;br /&gt;e) Kelas mini: panjang tangkai 30&amp;ndash;50 cm&lt;br /&gt;Selain berdasarkan panjang tangkai, bunga gladiol dikelompokan berdasarkan penampilan dan kondisi fisik lainnya&lt;br /&gt;sehingga terdapat bunga gladiol potong dengan mutu kelas AA, A, B dan C. a) Panjang tangkai (cm): kelas AA&gt;95; kelas&lt;br /&gt;A=76&amp;ndash;94; kelas B=61-75; kelas C=51- 60.&lt;br /&gt;b) Jumlah minimum floret pertangkai: kelas AA=16; kelas A=14; kelas B=12; kelas C=10.&lt;br /&gt;c) Keseragaman (%): kelas AA=100; kelas A=95: kelas B=95; kelas C&lt;95.&lt;br /&gt;d) Warna spesifik (%): kelas AA=100; kelas A=95; kelas B=95; kelas C&lt;95.&lt;br /&gt;e) Bebas hama/penyakit (proses): kelas AA=100; kelas A=95; kelas B=95; kelas C&lt;95.&lt;br /&gt;f) Kelurusan tangkai: kelas AA lurus; kelas A lurus; kelas B sedang; kelas C kurang.&lt;br /&gt;g) Jumlah floret mulai mekar: kelas AA=1-2; kelas A=1&amp;ndash;2; kelas B=2-3; kelas C=2&amp;ndash;3.&lt;br /&gt;h) Kerusakan mekanis (%): kelas AA=0; kelas A=5; kelas B=10; kelas C&gt;10.&lt;br /&gt;i) Benda asing/kotoran (%): kelas AA=0; kelas A=1; kelas B=2; kelas C=3.&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan jenis dan mutu yang sesuai dengan standar maka harus dilakukan pengujian yang meliputi: a)&lt;br /&gt;Penetapan panjang tangkai bunga&lt;br /&gt;Hitung jumlah seluruh bunga contoh, ukur satu persatu bunga contoh, kemudian pisahkan bunga yang panjangnya tidak&lt;br /&gt;memenuhi syarat kelas yang disebutkan dalam kemasan. Hitung jumlah seluruh bunga contoh yang panjangnya&lt;br /&gt;memenuhi syarat. Hitung presentase bunga yang panjangnya memenuhi syarat terhadap seluruh bunga contoh.&lt;br /&gt;b) Penetapan jumlah floret per tangkai, jumlah floret mulai mekar, kerusakan mekanik&lt;br /&gt;Hitung jumlah seluruh bunga contoh, hitung satu persatu jumlah floret per tangkai dari seluruh bunga contoh kemudian&lt;br /&gt;pisahkan tangkai bunga yang jumlah floretnya tidak memenuhi syarat kelas yang disebutkan dalam kemasan. Hitung&lt;br /&gt;jumlah seluruh bunga contoh yang jumlah floret per tangkainya memenuhi syarat. Hitung prosentase bunga yang&lt;br /&gt;memenuhi syarat terhadap jumlah seluruh bunga contoh.&lt;br /&gt;c) Penetapan keseragaman, warna spesifik dan bebas hama&lt;br /&gt;Hitung jumlah seluruh bunga contoh, amati satu per satu bunga contoh, lalu pisahkan bunga yang tampak tidak&lt;br /&gt;seragam. Hitung jumlah bunga seragam dan hitung prosentase bunga yang seragam terhadap jumlah seluruh bunga&lt;br /&gt;contoh.&lt;br /&gt;d) Penetapan kelurusan tangkai&lt;br /&gt;Letakan bunga gladiol yang diuji diatas meja kerja yang telah diberi garis lurus sepanjang 1 meter atau lebih. Bagian&lt;br /&gt;pangkal tangkai yang lurus diletakan pada garis lurus tersebut, sementara itu bagian ujung tangkai yang melengkung&lt;br /&gt;akan menjauhi garis lurus tadi. Ukur jarak ujung tangkai bunga terhadap garis lurus diatas meja menggunakan mistar&lt;br /&gt;yang tersedia. Deviasi atau kurvaktur maksimal 7,5 cm tergantung kelas.&lt;br /&gt;e) Penetapan benda asing&lt;br /&gt;Pisahkan dan kumpulkan benda asing yang dijumpai pada bunga atau dalam kemasan bunga contoh. Selanjurtya&lt;br /&gt;timbang benda asing tersebut dan juga seluruh bunga contoh. Hitung presentase berat benda asing terhadap berat&lt;br /&gt;seluruh bunga contoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.4. Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;Dari satu partai atau lot bunga gladiol yang terdiri atas maksimum 1.000 kemasan, contoh diambil secara acak sejumlah&lt;br /&gt;seperti tersebut berikut ini: a) Contoh yang diambil semua, jumlah kemasan bunga dalam partai 1&amp;ndash;5.&lt;br /&gt;b) Contoh yang diambil sekurang-kurangnya 5, jumlah kemasan bunga dalam partai 6&amp;ndash;100.&lt;br /&gt;c) Contoh yang diambil sekurang-kurangnya 7, jumlah kemasan bunga dalam partai 101&amp;ndash;300.&lt;br /&gt;d) Contoh yang diambil sekurang-kurangnya 9, jumlah kemasan bunga dalam partai 301&amp;ndash;500.&lt;br /&gt;e) Contoh yang diambil sekurang-kurangnya 10, jumlah kemasan bunga dalam partai 501&amp;ndash;1001.&lt;br /&gt;Dari setiap kemasan contoh yang dipilih secara acak diambil sekurang-kurangnya tiga tangkai bunga. Untuk kemasan&lt;br /&gt;contoh dengan isi kurang dari tiga tangkai, diambil satu tangkai. Dari sejumlah tangkai yang terkumpul kemudian diambil&lt;br /&gt;secara acak contoh yang berjumlah sekurang-kurang lima tangkai diuji. Petugas pengambil contoh harus memenuhi&lt;br /&gt;syarat, yaitu orang yang telah dilatih terlebih dahulu dan diberi wewenang untuk melakukan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.5 Pengemasan&lt;br /&gt;Untuk pasar lokal, bunga gladiol boleh tidak dikemas, bunga diletakkan berdiri dalam ember plastik yang diberi air&lt;br /&gt;perendam tangkai. Kedalam air perendam seyogyanya ditambahkan bahan pengawet bunga. Untuk pasar jarak jauh,&lt;br /&gt;bunga gladiol sebaiknya dikemas dengan keranjang bambu yang diberi lapisan daun pisang, lembaran plastik atau&lt;br /&gt;kertas. Untuk eksport bunga gladiol harus dikemas dengan kotak karton yang sesuai dengan diberi lapisan plastik tipis&lt;br /&gt;atau kertas dibagian dalamnya. Ujung tangkai bunga diberi kapas yang dibasahi dengan larutan pengawet kemudian&lt;br /&gt;ditutup plastik. Jumlah bunga dalam tiap kemasan disesuaikan dengan permintaan pasar.&lt;br /&gt;Label atau gantungan (tag) yang menyertai setiap kemasan harus mudah dilihat/diambil dan berisi informasi. a)&lt;br /&gt;Produksi Indonesia.&lt;br /&gt;b) Nama perusahaan/eksportir.&lt;br /&gt;c) Nama kultivar.&lt;br /&gt;d) Kelas mutu.&lt;br /&gt;e) Jumlah bunga dalam kemasan.&lt;br /&gt;f) Berat kotor.&lt;br /&gt;g) Berat bersih.&lt;br /&gt;h) Identitas pembelian ditempat tujuan.&lt;br /&gt;i) Tanggal panen dan perkiraan daya tanah.&lt;br /&gt;j) Petunjuk penanganan (suhu udara, kelembaban) yang dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;1) Rosa Widyawan, Bunga Potong (Tinjauan Literatur), Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (LIPI), Jakarta, 1994.&lt;br /&gt;2) Rahardi, F., dan Sriwahyuni, Agribisnis Tanaman Hias, Penebar Swadaya, 1993&lt;br /&gt;3) Agus Muharan dkk., Gladiol, Balai Penelitian Tanaman Hias (Badan Penelitian dan Pengembangan), Jakarta, 1995&lt;br /&gt;Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS&lt;br /&gt;rawabelong.com ; komunitas bunga, tanaman hias dan ikan hias rawabelong&lt;br /&gt;http://rawabelong.com Powered by: Joomla! Generated: 3 November, 2008, 02:40</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/05/budidaya-gladiol.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-4586351006976819280</guid><pubDate>Fri, 08 May 2009 06:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-07T23:54:05.017-07:00</atom:updated><title>Budidaya cabai</title><description>Budidaya Tanaman Cabe&lt;br /&gt;Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN) LPTP Koya Barat, Irian Jaya No. 02/99&lt;br /&gt;Diterbitkan oleh: Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Koya Barat&lt;br /&gt;Jl. Yahim – Sentani – Jayapura&lt;br /&gt;No : 02/Jul.'99 Seri : Hort / PAATP / Martina.SL Agdex 68/ 20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Cabai (Capsicum Annum var longum) merupakan salah satu komoditas hortikultura&lt;br /&gt;yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia, Karena buahnya selain dijadikan&lt;br /&gt;sayuran atau bumbu masak juga mempunyai kapasitas menaikkan pendapatan petani,&lt;br /&gt;sebagai bahan baku industri, memiliki peluang eksport, membuka kesempatan kerja&lt;br /&gt;serta sebagai sumber vitamin C. Luas tanaman dan produksi cabe di Irian Jaya pada&lt;br /&gt;tahun 1998 adalah 4.104 ha dengan produksi 8.565 ton/ ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYARAT TUMBUH&lt;br /&gt;1. Tanah&lt;br /&gt;- Tanah berstruktur remah/ gembur dan kaya akan bahan organik.&lt;br /&gt;- Derajat keasaman (PH) tanah antara 5,5 - 7,0&lt;br /&gt;- Tanah tidak becek/ ada genangan air&lt;br /&gt;- Lahan pertanaman terbuka atau tidak ada naungan.&lt;br /&gt;2. Iklim&lt;br /&gt;- Curah hujan 1500-2500 mm pertahun dengan distribusi merata.&lt;br /&gt;- Suhu udara 16° - 32 ° C&lt;br /&gt;- Saat pembungaan sampai dengan saat pemasakan buah, keadaan sinar&lt;br /&gt;matahari cukup (10 - 12 jam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEKNIK BUDIDAYA&lt;br /&gt;1. Persemaian&lt;br /&gt;- Kebutuhan benih setiap hektar pertanaman adalah 150 - 300 gram dengan daya&lt;br /&gt;tumbuh lebih dari 90 %.&lt;br /&gt;- Siapkan media semai dari tanah, pasir dan pupuk kandang dengan&lt;br /&gt;perbandingan 1:1 yang dibuat bedengan setinggi ± 20 cm, lebar ± 1 m dan&lt;br /&gt;panjang 3-5 m serta diberi naungan dari jerami atau alang-alang/ daun kelapa.&lt;br /&gt;- Sebar benih secara merata atau ditebar dalam garikan dengan jarak antar&lt;br /&gt;garitan 5 cm dan ditutup tanah tipis-tipis lalu disiram. Pertahankan kelembaban&lt;br /&gt;tanah tetap baik agar biji cepat tumbuh&lt;br /&gt;- Setelah bibit berumur 10 hari, maka dilakukan pengkokeran untuk memudahkan&lt;br /&gt;penanaman dan mencegah kematian pada waktu tanaman dipindahkan. Sebagai&lt;br /&gt;koker dapat digunakan daun pisang , daun kelapa atau kantong plastik. Bibit&lt;br /&gt;yang telah dikoker ditempatkan dibawah naungan persemaian.&lt;br /&gt;- Sekitar lima hari sebelum bibit dipindahkan naungan pada persemaian dibuka&lt;br /&gt;atau dikurangi supaya bibit terbiasa kena sinar matahari.&lt;br /&gt;2. Pengolahan Tanah&lt;br /&gt;- Satu minggu sebelum tanam lahan sudah siap, meliputi mencangkul/ bajak dan&lt;br /&gt;pembuatan bedengan.&lt;br /&gt;- Ukuran bedengan tinggi ± 30 cm, lebar 1-1,5 m dan panjang sesuai kebutuhan&lt;br /&gt;petakan dengan j arak antar bedengan + 30 cm.&lt;br /&gt;- Berikan pupuk kandang dengan dosis 20-30 ton/ ha.&lt;br /&gt;- Bila dipergunakan mulsa dari plastik dapat dipasang setelah dilakukan&lt;br /&gt;pemupukan pupuk kandang den bile dipergunakan mulsa dari limbah tanaman&lt;br /&gt;seperti dang-slang den sisa-sisa tanaman dapat diberikan setelah penanaman&lt;br /&gt;bibit.&lt;br /&gt;3. Penanaman&lt;br /&gt;- Bibit dapat dipindahkan pada umur 28-35 hari setelah semai dengan daun 5 - 7&lt;br /&gt;helai.&lt;br /&gt;- Pilih bibit yang tinggi den besarnya seragam. Tanam bibit dengan posisi tegak&lt;br /&gt;dan tekan sedikit tanah disekeliling batang tanaman.&lt;br /&gt;- Siram tanaman secukupnya setelah tanam den penyiraman berikutnya dilakukan&lt;br /&gt;2 hari sekali bila tidak ada hujan.&lt;br /&gt;4. Pemupukan&lt;br /&gt;- Diberikan dengan dosis den aplikasi sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Pupuk kandang 20 ton / ha.&lt;br /&gt;- Aplikasi seminggu sebelum tanam.&lt;br /&gt;- Urea 150 kg/ ha, umur 3,6,9 minggu setelah tanam dengan dosis 1/3 setiap&lt;br /&gt;aplikasi.&lt;br /&gt;- ZA 400 kg/ ha. Umur 3,6,9 minggu setelah tanam dengan dosis 1/3 setiap&lt;br /&gt;aplikasi.&lt;br /&gt;- TSP - 36 : 150 kg/ ha, aplikasi seminggu sebelum tanam.&lt;br /&gt;- KCL :100 kg/ ha, umur 3,6,9 minggu setelah tanam dengan dosis 1/3 setiap&lt;br /&gt;aplikasi.&lt;br /&gt;- Untuk lebih meningkatkan hasil dapat diberikan pupuk pelengkap cair Tress&lt;br /&gt;dengan dosis 500 1/ ha, pada umur 20 hari setelah tanam. Umur 30 hari setelah&lt;br /&gt;tanam 500 liter /ha. Umur 40 hari setelah tanam 500 liter /ha dan 50 hari setelah&lt;br /&gt;tanam 500 liter /ha.&lt;br /&gt;5. Pemeliharaan&lt;br /&gt;- Lakukan penyulaman bile ads tanaman yang mati pads pagi/ sore hari.&lt;br /&gt;- Pemasangan ajir dapat dilakukan pada saat penanaman atau setelah tanaman&lt;br /&gt;setinggi 30 s/d 50 cm dan langsung diikat, panjang ajir + 1,5 m.&lt;br /&gt;- Siangi pertanaman sebelum dilakukan pemupukan bila terdapat gulma.&lt;br /&gt;6. Pengendalian Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;- Hama dan penyakit yang wereng menyerang tanaman cabe adalah hama kutu,&lt;br /&gt;daun persik, ulat, grayak, hama trips, penyakit busuk buah, bercak daun dan&lt;br /&gt;busuk batang.&lt;br /&gt;- Untuk Hama Kutu Daun Persik dapat dipakai Curacron , Tohuthion.&lt;br /&gt;- Hama ulat Grayak digunakan Methrin, Dimilin dan Atabron&lt;br /&gt;- Hama Trips digunakan Nogos, Nuracran, Malathion.&lt;br /&gt;- Penyakit Bercak Daun, Busuk Batang dan Busuk Buah digunakan Antracol,&lt;br /&gt;Dithane, M-45, Cupapit, Dipolatan AF.&lt;br /&gt;7. Panen&lt;br /&gt;- Panenlah cabe, bila cabe warna buahnya lebih dari 60 % (Warna buah masih&lt;br /&gt;belang hitam).&lt;br /&gt;- Pemanenan dapat dilakukan setiap 3-5 hari sekali secara terus menerus sampai&lt;br /&gt;tanaman tidak menghasilkan.&lt;br /&gt;- Sewaktu panen sertakan tangkai buahnya, lakukan secara selektif dan hati - hati&lt;br /&gt;agar bunga, buah agar batang tidak rontok/ rusak.&lt;br /&gt;Sumber: Bulletin Penelitian Hortikultura Balai Penelitian Hortikultura Lembang.</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/05/budidaya-cabai.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-5330382931577359207</guid><pubDate>Sun, 03 May 2009 03:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-02T20:20:29.617-07:00</atom:updated><title>Budidaya Tanaman Karet</title><description>BUDIDAYA TANAMAN KARET&lt;p&gt;Tanaman karet merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menduduki posisi cukup penting sebagai sumber devisa non migas bagi Indonesia, sehingga memiliki prospek yang cerah. Oleh sebab itu upaya peningkatan produktifitas usahatani karet terus dilakukan terutama dalam bidang teknologi budidayanya .&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;SYARAT TUMBUH&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Tanaman karet dapat tumbuh baik dan berproduksi yang tinggi pada kondisi&lt;br /&gt;tanah dan iklim sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Di dataran rendah sampai dengan ketinggian 200 m diatas permukaan&lt;br /&gt;laut, suhu optimal 280 c.&lt;br /&gt;- Jenis tanah mulai dari vulkanis muda, tua dan aluvial sampai tanah&lt;br /&gt;gambut dengan drainase dan aerase yang baik, tidak tergenang air. pH&lt;br /&gt;tanah bervariasi dari 3,0-8,0&lt;br /&gt;- Curah hujan 2000 - 4000 mm/tahun dengan jumlah hari hujan 100 -150&lt;br /&gt;hari.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;P E M B I B I T A N&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Perbanyakan tanaman karet dapat dilakukan secara generatif maupun vegetatif.&lt;br /&gt;Namun demikian, cara perbanyakan yang lebih menguntungkan adalah secara&lt;br /&gt;vegetatif yaitu dengan okulasi tanaman.&lt;br /&gt;Okulasi sebaiknya dilaksanakan pada awal atau akhir musim hujan dengan&lt;br /&gt;tahapan sbb :&lt;br /&gt;- Buatlah jendela pada batang bawah dengan ukuran panjang 5 cm dan&lt;br /&gt;lebar 1/2 - 3/4 cm.&lt;br /&gt;- Buatlah perisai pada entres dengan ukuran lebih kecil dari jendela dan&lt;br /&gt;mata diambil dari ketiak daun.&lt;br /&gt;- Bukalah jendela pada batang bawah kemudian selipkan perisai diantara&lt;br /&gt;kulit jendela dan kambium&lt;br /&gt;- Tutuplah kulit jendela kemudian dibalut dengan rafia atau pita plastik yang&lt;br /&gt;tebalnya 0,04 mm.&lt;br /&gt;- 2 minggu setelah penempelan, penbalut dibuka dan periksalah perisai.&lt;br /&gt;- Potonglah batang bawah pada ketinggian 10 cm diatas tempelan dengan&lt;br /&gt;arah pemotongan miring.&lt;br /&gt;Klon-klon yang dianjurkan sebagai bibit batang bawah adalah: GTI, LCB 1320&lt;br /&gt;dan PR 228.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;PENANAMAN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;- Lahan/kebun diolah sebaik mungkin sebelumnya .&lt;br /&gt;- Lakukan pengairan untuk mengatur letak tanaman dalam barisan.&lt;br /&gt;- Luka potong akar tunggal dan akar lateral diolesi dengan pasta Rootone F&lt;br /&gt;dosis 125 mg ditambah dengan air 0,5 ml untuk satu stump.&lt;br /&gt;- Pembungkus okulasi dilepas agar tidak mengganggu pertumbuhan dan&lt;br /&gt;bibit siap ditanam.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;PEMELIHARAAN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;- Lakukan penyiangan untuk menghindari persaingan tanaman didalam&lt;br /&gt;pengambilan unsur hara.&lt;br /&gt;- Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang telah mati sampai&lt;br /&gt;dengan tanaman telah berumur 2 tahun pada saat musim penghujan.&lt;br /&gt;- Tunas palsu harus dibuang selama 2 bulan pertama dengan rotasi 2&lt;br /&gt;minggu sekali, sedangkan tunas lain dibuang sampai tanaman mencapai&lt;br /&gt;ketinggian 1,80 m.&lt;br /&gt;- Setelah tanaman berumur 2-3 tahun, dengan ketinggian 3,5 m dan bila&lt;br /&gt;belum bercabang, perlu diadakan perangsangan dengan cara pengeratan&lt;br /&gt;batang, pembungkusan pucuk daun dan pemenggalan&lt;br /&gt;- Lakukan pemupukan secara intensif pada tanaman baik pada kebun&lt;br /&gt;persemaian, kebun okulasi maupun kebun produksi, dengan&lt;br /&gt;menggunakan pupuk urea, TSP, dan KCL. Dosis pupuk disesuaikan&lt;br /&gt;dengan keadaan/jenis tanah. Untuk jenis tanah Latosol dan Podsolik&lt;br /&gt;Merah Kuning, anjuran dosis pupuk seperti pada tabel 1.&lt;br /&gt;- Hama-hama penting yang sering menyerang karet adalah:&lt;br /&gt;a . Pseudococcus citri&lt;br /&gt;Pengendaliannnya dengan menggunakan insektisida jenis&lt;br /&gt;Metamidofos, dilarutkan dalam air dengan konsentrasi 0,05 -0,1%.&lt;br /&gt;b. Kutu Lak (Laeciper greeni)&lt;br /&gt;Dapat diberantas dengan insektisida Albolinium (Konsentrasi 2%)&lt;br /&gt;ditambah Surfactan citrowett 0,025%.&lt;br /&gt;- Penyakit-penyakit yang ditemui pada tanaman karet adalah: penyakit&lt;br /&gt;embun tepung, penyakit daun, penyakit jamur upas, penyakit cendawan&lt;br /&gt;akar putih-dan penyakit gugur dawn: Pencegahannya dengan menanam&lt;br /&gt;Klon yang sesuai dengan lingkungan dan lakukan pengelolaan , tanaman&lt;br /&gt;secara tepat dan teratur:&lt;br /&gt;&lt;p&gt;PENYADAPAN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Penyadapan pertama dilakukan setelah tanaman berumur 5-6 tahun. Tinggi&lt;br /&gt;bukaan sadap pertama 130 cm dan bukaan sadap kedua 280 cm diatas&lt;br /&gt;pertautan okulasi.&lt;br /&gt;Hal yang perlu diperhatikan dalam penyadapan antara lain:&lt;br /&gt;- Pembukaan bidang sadap dimulai dari kiri atas kekanan bawah,&lt;br /&gt;membentuk sudut 300.&lt;br /&gt;- Tebal irisan sadap dianjurkan 1,5 - 2 mm.&lt;br /&gt;- Dalamnya irisan sadap 1-1,5 mm.&lt;br /&gt;- Waktu penyadapan yang baik adalah jam 5.00 - 7.30 pagi.&lt;br /&gt;JR/004/92&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;- Budidaya dan Pengolahan Karat, D. Setyamidjaya, M. Ed. 1983&lt;br /&gt;- Budidaya Tanaman Karat, BIP Sumatra Selatan. 1987&lt;br /&gt;Lembar Informasi Pertanian (LIPTAN) BIP Irian Jaya No. 109/92&lt;br /&gt;Diterbitkan oleh: Balai Informasi Pertanian Irian Jaya&lt;br /&gt;Jl. Yahim – Sentani - Jayapura&lt;br /&gt;Juli 1992 Agdex: 191/20</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/05/budi-daya-tanaman-karet-tanaman-karet.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-4817060535865871791</guid><pubDate>Sun, 03 May 2009 03:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-02T20:20:29.617-07:00</atom:updated><title>Budidaya Kunyit</title><description>&lt;p&gt;BUDIDAYA TANAMAN KUNYIT&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mono Rahardjo dan Otih Rostiana&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian&lt;br /&gt;Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika&lt;br /&gt;Jl. Tentara Pelajar No. 3&lt;br /&gt;Telp. (0251) 321879, Fax. (0251) 327010&lt;br /&gt;E-mail : balittro@telkom.net.&lt;br /&gt;Homepage : http://www.balittro.go.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Kunyit (Curcuma domestica Val.) merupakan salah satu tanaman&lt;br /&gt;obat potensial, selain sebagai bahan baku obat juga dipakai sebagai&lt;br /&gt;bumbu dapur dan zat pewarna alami. Berdasarkan hasil survei tahun&lt;br /&gt;2003, kebutuhan rimpang kunyit berdasarkan jumlahnya yang diserap&lt;br /&gt;oleh industri obat tradisional di Jawa Timur menduduki peringkat&lt;br /&gt;pertama dan di Jawa Tengah termasuk lima besar bersama-sama&lt;br /&gt;dengan bahan baku obat lainnya. Rimpangnya sangat bermanfaat&lt;br /&gt;sebagai antikoagulan, menurunkan tekanan darah, obat cacing, obat&lt;br /&gt;asma, penambah darah, mengobati sakit perut, penyakit hati,&lt;br /&gt;karminatif, stimulan, gatal-gatal, gigitan serangga, diare, rematik.&lt;br /&gt;Kandungan utama di dalam rimpangnya terdiri dari minyak&lt;br /&gt;atsiri, kurkumin, resin, oleoresin, desmetoksikurkumin, dan&lt;br /&gt;bidesmetoksikurkumin, damar, gom, lemak, protein, kalsium, fosfor&lt;br /&gt;dan besi. Zat warna kuning (kurkumin) dimanfaatkan sebagai pewarna&lt;br /&gt;untuk makanan manusia dan ternak. Kandungan kimia minyak atsiri&lt;br /&gt;kunyit terdiri dari ar-tumeron, α dan β-tumeron, tumerol, α-atlanton,&lt;br /&gt;β-kariofilen, linalol, 1,8 sineol. Teknologi budidaya yang mengikuti&lt;br /&gt;anjuran, dengan mengacu kepada penerapan SPO yang tepat, produksi&lt;br /&gt;rimpang kunyit segar mencapai 11 ton/ha, dengan kadar kurkumin 8 – 11%.&lt;p&gt;PERSYARATAN TUMBUH&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Tumbuh baik pada tanah jenis latosol, aluvial dan regosol,&lt;br /&gt;ketinggian tempat 240 – 1200 m di atas permukaan laut (dpl), dengan&lt;br /&gt;curah hujan 2000 – 4000 ml/tahun. Kunyit juga dapat tumbuh di&lt;br /&gt;bawah tegakan tanaman keras seperti sengon, jati yang masih muda&lt;br /&gt;sekitar umur 3 – 4 tahun, dengan tingkat naungan tidak lebih dari 30%.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;BAHAN TANAMAN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Bahan tanaman harus tepat dan jelas nama jenis, varietas dan&lt;br /&gt;asal usulnya. Kunyit (Curcuma domestica Val.; turmeric) termasuk&lt;br /&gt;tumbuhan berbatang semu, basah yang dibentuk dari pelepah daun.&lt;br /&gt;Tinggi tanaman dapat mencapai 1,5 m, berbunga majemuk berwarna&lt;br /&gt;putih sampai kuning muda. Berdaun tunggal, berbentuk lanset lebar,&lt;br /&gt;ujung dan pangkalnya runcing, tangkainya panjang, tepinya rata,&lt;br /&gt;bertulang menyirip, panjangnya 20 – 40 cm, lebar 8 – 12,5 cm, warna&lt;br /&gt;hijau pucat. Tanaman menghasilkan rimpang berwarna kuning jingga,&lt;br /&gt;kuning jingga kemerahan sampai kuning jingga kecoklatan. Rimpang&lt;br /&gt;terdiri dari rimpang induk dan anak rimpang, rimpang induk berbentuk&lt;br /&gt;bulat telur, disebut empu atau kunir lelaki. Anak rimpang letaknya&lt;br /&gt;lateral dan bentuknya seperti jari, panjang rimpang 2 – 10 cm, diameter&lt;br /&gt;1 – 2 cm. Selain jenis dan varietas yang jelas, bahan tanaman berasal&lt;br /&gt;dari rimpang yang sehat dari tanaman yang sehat berumur 11 - 12&lt;br /&gt;bulan, untuk benih daunnya harus sudah mengering (masuk periode&lt;br /&gt;senescens).&lt;br /&gt;Hasil seleksi dan uji daya adaptasi diberbagai lingkungan tumbuh&lt;br /&gt;telah diperoleh 10 nomor harapan kunyit dengan potensi produksi masingmasing&lt;br /&gt;Cudo 21 (18 – 25 ton/ha), Cudo 38 (18 – 25 ton/ha) dan kadar&lt;br /&gt;kurkumin Cudo 21 (8,70 %), Cudo 38 (11 %) dan siap dilepas sebagai varietas unggul.&lt;p&gt;PEMBENIHAN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Untuk benih bisa menggunakan rimpang induk dan anak&lt;br /&gt;rimpang. Rimpang induk digunakan seperempat bagian (satu rimpang&lt;br /&gt;induk dibelah menjadi empat bagian membujur), sedangkan anak&lt;br /&gt;rimpang, dengan ukuran 15 – 20 g/potong. Sebelum ditanam benih&lt;br /&gt;ditumbuhkan dahulu sampai mata tunasnya tumbuh dengan tinggi&lt;br /&gt;tunas 0,5 - 1 cm, sehingga diperoleh tanaman yang seragam.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;BUDIDAYA&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Penerapan teknologi budidaya yang mengacu kepada SPO yang&lt;br /&gt;dimulai dari pemilihan jenis, varietas unggul/harapan, lingkungan&lt;br /&gt;tumbuh, pembenihan, pengolahan lahan, cara tanam, pemeliharaan,&lt;br /&gt;pengendalian hama penyakit, cara panen dan pengolahan pasca panen&lt;br /&gt;akan menghasilkan bahan baku yang bermutu tinggi dan terstandar.&lt;br /&gt;Penanaman dilakukan pada awal musim hujan.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Persiapan lahan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Tanah diolah agar menjadi gembur, diupayakan agar drainase&lt;br /&gt;sebaik mungkin, sehingga tidak terjadi penggenangan air pada lahan,&lt;br /&gt;oleh karena itu perlu dibuat parit-parit pemisah petak. Ukuran petak,&lt;br /&gt;lebar 2 – 3 m dengan panjang petak disesuaikan dengan kondisi di&lt;br /&gt;lapangan.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Jarak tanam&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Jarak tanam kunyit bervariasi antara 50 cm x 40 cm, 50 cm x 50&lt;br /&gt;cm, 40 cm x 40 cm atau 50 cm x 60 cm, pada sistem budidaya&lt;br /&gt;monokultur. Apabila tanaman akan ditanam secara pola tumpang sari&lt;br /&gt;dengan tanaman sisipan kacang tanah atau cabe rawit, maka jarak&lt;br /&gt;tanamnya menggunakan 75 cm x 50 cm.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pola tanam&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Tanaman kunyit bisa juga ditanam dengan sistem pola&lt;br /&gt;tumpangsari dengan kacang tanah, dengan menggunakan jarak tanam&lt;br /&gt;antar barisan lebih lebar yaitu 75 cm dan jarak dalam barisan 50 cm.&lt;br /&gt;Tanaman kacang tanah atau cabe rawit ditanam bersamaan dengan&lt;br /&gt;menanam kunyit, pada umur 3 BST kacang tanah sudah dapat dipanen&lt;br /&gt;dan umur 2 bulan cabe rawit sudah mulai menghasilkan. Tumpang&lt;br /&gt;sari dengan kacang tanah dapat menambah kesuburan tanah khususnya&lt;br /&gt;dapat menambah unsur N tanah.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Pupuk kandang 10 – 20 ton/ha sebagai pupuk dasar diberikan&lt;br /&gt;pada saat tanam. Pupuk Urea, SP-36 dan KCl, dengan dosis masingmasing&lt;br /&gt;100 kg, 200 kg dan 200 kg/ha untuk pola monokultur, serta&lt;br /&gt;200 kg/ha, untuk pola tumpangsari. Pupuk SP-36 dan KCl diberikan&lt;br /&gt;pada saat tanam dan Urea diberikan menjadi 2 agihan yaitu pada umur&lt;br /&gt;1 dan 3 bulan setelah tanaman tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pemeliharaan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Pemeliharaan tanaman meliputi penyiangan dan&lt;br /&gt;pembumbunan, untuk menghindari adanya kompetisi perolehan zat&lt;br /&gt;hara dengan gulma dan menjaga kelembaban, suhu dan kegemburan&lt;br /&gt;tanah. Pembumbunan dilakukan juga untuk memperbaharui saluran&lt;br /&gt;drainase pemisah petak, tanah dinaikkan ke petak-petak tanam,&lt;br /&gt;biasanya dilakukan setelah selesai penyiangan.&lt;br /&gt;Pengendalian organisme pengganggu tanaman&lt;br /&gt;Jarang terjadi serangan hama dan penyakit. Namun untuk&lt;br /&gt;menghindari munculnya serangan perlu diantisipasi dengan cara&lt;br /&gt;pencegahan. Tindakan-tindakan untuk mencegah masuknya benih&lt;br /&gt;penyakit busuk rimpang yang disebabkan oleh Ralstonia&lt;br /&gt;solanacearum, dilakukan dengan cara penggunaan benih sehat,&lt;br /&gt;perlakuan benih sehat (antibiotik), menghindari pelukaan (rimpang&lt;br /&gt;diberi abu sekam), pergiliran tanaman, pembersihan sisa tanaman dan&lt;br /&gt;gulma, pembuatan saluran irigasi supaya tidak ada air menggenang&lt;br /&gt;dan aliran air tidak melalui petak sehat, inspeksi kebun secara rutin.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;PANEN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Umur panen&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Panen yang tepat berdasarkan umur tanaman perlu dilakukan&lt;br /&gt;untuk mendapatkan produktivitas yang tinggi, yaitu pada tanaman&lt;br /&gt;umur 10 – 12 bulan setelah tanam, biasanya daun mulai luruh atau&lt;br /&gt;mengering. Dapat pula dipanen pada umur 20 – 24 bulan setelah&lt;br /&gt;tanam.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Cara panen&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Panen dilakukan dengan cara menggali dan mengangkat&lt;br /&gt;rimpang secara seluruhan.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;PASCA PANEN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pembersihan/pencucian&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Rimpang hasil panen dicuci dari tanah dan kotoran, kemudian&lt;br /&gt;dikering anginkan sampai kulit tidak basah lagi.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Perajangan rimpang&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Setelah itu, rimpang diiris dengan irisan membujur dengan&lt;br /&gt;ketebalan setipis mungkin lebih kurang 2 mm.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pengeringan simplisa&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Rajangan rimpang dijemur dengan menggunakan enerji&lt;br /&gt;matahari diberi alas yang bersih, atau bisa dengan pengering oven&lt;br /&gt;dengan suhu 40 – 60o C, hingga mencapai kadar air 9 - 10%.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;PENGANEKARAGAMAN PRODUK&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Sebagai bahan baku obat, zat pewarna dan rempah, selain&lt;br /&gt;berupa simplisia irisan kering juga bisa diolah berupa tepung, minyak&lt;br /&gt;atsiri, oleoresin dan zat pewarna kurkuminoid.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;USAHATANI&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Untuk memperoleh hasil yang optimum dengan usahatani yang&lt;br /&gt;menguntungkan, faktor-faktor yang mempengaruhi di dalam teknologi&lt;br /&gt;budidaya perlu diperhitungkan. Berikut analisis usahatani kunyit&lt;br /&gt;dengan teknologi budidaya anjuran Balittro.&lt;br /&gt;Hasil Usahatani Budidaya Kunyit pada Luasan 1 Hektar&lt;br /&gt;No. Uraian Volume&lt;br /&gt;fisisk&lt;br /&gt;Harga&lt;br /&gt;satuan&lt;br /&gt;(Rp.)&lt;br /&gt;Total&lt;br /&gt;(Rp.)&lt;br /&gt;&lt;p&gt;I. PENGELUARAN UPAH&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;1. Pengolahan tanah I 90 HOK 15.000,- 1.350.000,-&lt;br /&gt;2. Pengolahan tanah II 90 HOK 15.000,- 1.350.000,-&lt;br /&gt;3. Pemupukan dasar 30 HOK 15.000,- 450.000,-&lt;br /&gt;4. Tanam 60 HOK 15.000,- 900.000,-&lt;br /&gt;5. Pemeliharaan 100 HOK 15.000,- 1.500.000,-&lt;br /&gt;6. Panen 90 HOK 15.000,- 1.350.000,-&lt;br /&gt;7. Prosesing hasil panen 60 HOK 15.000,- 900.000,-&lt;br /&gt;TOTAL UPAH 7.800.000,-&lt;br /&gt;&lt;p&gt;II. PENGELUARAN BAHAN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;1. Benih 1000 kg 3.000,- 3.000.000,-&lt;br /&gt;2. Pupuk kandang 20 ton 80.000,- 1.600.000,-&lt;br /&gt;3. Urea 100 kg 1.750,- 1.750.000,-&lt;br /&gt;4. SP36 200 kg 1.750,- 3.500.000,-&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;No. Uraian Volume&lt;br /&gt;fisisk&lt;br /&gt;Harga&lt;br /&gt;satuan&lt;br /&gt;(Rp.)&lt;br /&gt;Total&lt;br /&gt;(Rp.)&lt;br /&gt;5. KCl 200 kg 3.000,- 6.000.000,-&lt;br /&gt;6. Karung plastik 750 lbr 2.000,- 1.500.000,-&lt;br /&gt;TOTAL BAHAN 17.350.000,-&lt;br /&gt;TOTAL PENGELUARAN (I+II) 25.150.000,-&lt;br /&gt;&lt;p&gt;III. PENDAPATAN BRUTO&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Produksi rimpang segar 18.000 kg 2.000,- 36.000.000,-&lt;br /&gt;&lt;p&gt;IV. KEUNTUNGAN 10.850.000,-&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Ratio biaya dengan pendapatan atau benefit cost ratio (B/C)&lt;br /&gt;B/C merupakan salah satu cara untuk mengukur kelayakan&lt;br /&gt;usaha kunyit. B/C merupkan pembanding antara hasil penjualan&lt;br /&gt;dengan total pengeluaran biaya produksi, B/C usahatani kunyit = 1,43.&lt;br /&gt;Titik balik modal atau break even point (BEP)&lt;br /&gt;Titik balik modal adalah suatu kondisi saat investasi tidak&lt;br /&gt;mengalami kerugian dan tidak mendapatkan keuntungan atau disebuit&lt;br /&gt;juga titik inpas. Titik inpas ada dua yaitu titik inpas produksi dan titik&lt;br /&gt;inpas harga. Titik inpas (BEP) produksi diperoleh dari total&lt;br /&gt;pengeluaran dibagi harga per-1 kg kunyit saat itu, berarti pada jumlah&lt;br /&gt;produksi tertentu usahatani kunyit berada pada titik inpas. Sedangkan&lt;br /&gt;BEP harga diperoleh dari total pengeluaran dibagi total produksi&lt;br /&gt;rimpang kunyit, berarti pada harga yang diperoleh usaha tidak merugi&lt;br /&gt;dan tidak beruntung. BEP produksi usahatani kunyit = 12.575 kg&lt;br /&gt;rimpang segar. BEP harga usahatani kunyit = Rp. 1.397,25/kg&lt;br /&gt;rimpang segar.&lt;br /&gt;Efisiensi penggunaan modal atau return of investment (ROI)&lt;br /&gt;Perhitungan nilai keuntungan usahatani kunyit yang dikaitkan&lt;br /&gt;dengan modal yang telah dikeluarkan. ROI diperoleh dari hasil bagi&lt;br /&gt;antara penjualan dengan biaya produksi dikalikan 100%, ROI&lt;br /&gt;usahatani kunyit adalah 143,14%.</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/05/sirkuler-no.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-6792931480420851887</guid><pubDate>Sun, 03 May 2009 03:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-02T20:20:29.617-07:00</atom:updated><title>Budidaya Tanaman Sambiloto</title><description>BUDIDAYA TANAMAN SAMBILOTO&lt;br /&gt;&lt;p&gt;M. Yusron, M. Januwati dan E. Rini Pribadi&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian&lt;br /&gt;Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika&lt;br /&gt;Jl. Tentara Pelajar No. 3&lt;br /&gt;Telp. (0251) 321879, Fax. (0251) 327010&lt;br /&gt;E-mail : balittro@telkom.net.&lt;br /&gt;Homepage : http://www.balittro.go.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.f.) ex Nees banyak&lt;br /&gt;dijumpai hampir di seluruh kepulauan nusantara. Secara taksonomi&lt;br /&gt;sambiloto diklasifikasikan kedalam divisi Spermathophyta, subdivisi&lt;br /&gt;Angiospermae, kelas Dycotyledonae, subkelas Gamopetalae, Ordo&lt;br /&gt;Personales, famili Acanthaceae, subfamili Acanthoidae dan genus&lt;br /&gt;Andrographis. Sambiloto dikenal dengan beberapa nama daerah,&lt;br /&gt;seperti ki oray atau ki peurat (Jawa Barat), bidara, takilo, sambiloto&lt;br /&gt;(Jawa Tengah dan Jawa Timur), atau pepaitan atau ampadu&lt;br /&gt;(Sumatera).&lt;br /&gt;Sambiloto tergolong tanaman terna (perdu) yang tumbuh di&lt;br /&gt;berbagai habitat, seperti pinggiran sawah, kebun, atau hutan.&lt;br /&gt;Sambiloto memiliki batang berkayu berbentuk bulat dan segi empat&lt;br /&gt;serta memiliki banyak cabang (monopodial). Daun tunggal saling&lt;br /&gt;berhadapan, berbentuk pedang (lanset) dengan tepi rata (integer) dan&lt;br /&gt;permukaannya halus, berwarna hijau. Bunganya berwarna putih&lt;br /&gt;keunguan, bunga berbentuk jorong (bulan panjang) dengan pangkal&lt;br /&gt;dan ujung lancip. Di India bunga dan buah bisa dijumpai pada bulan&lt;br /&gt;Oktober atau antara Maret sampai Juli. Di Australia bunga dan buah&lt;br /&gt;antara bulan Nopember sampai Juni, sedang di Indonesia bunga dan&lt;br /&gt;buah dan ditemukan sepanjang tahun.&lt;br /&gt;Komponen utama sambiloto adalah andrographolide yang&lt;br /&gt;berguna sebagai bahan obat. Disamping itu, daun sambiloto&lt;br /&gt;mengandung saponin, falvonoid, alkaloid dan tanin. Kandungan kimia&lt;br /&gt;lain yang terdapat pada daun dan batang adalah laktone, panikulin,&lt;br /&gt;kalmegin dan hablur kuning yang memiliki rasa pahit. Secara&lt;br /&gt;tradisional sambiloto telah dipergunakan untuk pengobatan akibat&lt;br /&gt;gigitan ular atau serangga, demam, dan disentri, rematik, tuberculosis,&lt;br /&gt;infeksi pencernaan, dan lain-lain. Sambiloto juga dimanfaatkan untuk&lt;br /&gt;antimikroba/antibakteri, antihyper-glikemik, anti sesak napas dan&lt;br /&gt;untuk memperbaiki fungsi hati.&lt;br /&gt;Mengingat kandungan dan fungsi tanaman tersebut, saat ini&lt;br /&gt;sambiloto banyak diteliti untuk dikembangkan sebagai bahan baku&lt;br /&gt;obat modern, diantaranya pemanfaatan sambiloto sebagai obat HIV&lt;br /&gt;dan kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSYARATAN TUMBUH&lt;br /&gt;Pertumbuhan dan produksi tanaman dalam suatu ekosistem&lt;br /&gt;pertanian tergantung pada interaksi antara sistem biologis dan&lt;br /&gt;lingkungan fisik dimana tanaman itu tumbuh. Faktor-faktor&lt;br /&gt;lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi&lt;br /&gt;tanaman antara lain iklim meliputi cahaya, curah hujan, suhu udara,&lt;br /&gt;lingkungan atmosfer (CO2, O2, kelembaban) dan lingkungan perakaran&lt;br /&gt;(fisik, kimia, air). Oleh karena itu apabila kondisi lingkungan tersebut&lt;br /&gt;kurang sesuai bagi pertumbuhan tanaman perlu dilakukan modifikasi&lt;br /&gt;sehingga dicapai suatu tingkat toleransi yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Iklim&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Secara umum lingkungan tumbuh dengan tipe iklim A, B dan C&lt;br /&gt;menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson dengan curah hujan 2000-&lt;br /&gt;3000 mm/tahun adalah sesuai untuk pembudidayaan tanaman&lt;br /&gt;sambiloto.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ketinggian tempat&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Ketinggian tempat yang optimum bagi pertumbuhan dan&lt;br /&gt;produksi sambiloto adalah dari daerah pantai sampai ketinggian 600 m&lt;br /&gt;dpl. Tinggi tempat ini erat hubungannya dengan suhu yang juga&lt;br /&gt;sangat berpengaruh terhadap berbagai proses fisiologik tanaman dan&lt;br /&gt;akan mempengaruhi produksi sambiloto.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Intensitas cahaya&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Selama pertumbuhan tanaman sambiloto menghendaki banyak&lt;br /&gt;sinar matahari. Namun demikian tanaman ini masih tumbuh dan&lt;br /&gt;berproduksi dengan baik pada kondisi ternaungi sampai 30%. Tetapi&lt;br /&gt;jika budidaya dilakukan dengan kondisi naungan diatas 30%, mutu&lt;br /&gt;simplisia sambiloto cenderung menurun.&lt;br /&gt;Jenis tanah&lt;br /&gt;Sambiloto mampu tumbuh hampir pada semua jenis tanah.&lt;br /&gt;Pada habitat alamnya, sambiloto ditemui hutan-hutan pada kondisi&lt;br /&gt;solum tanah yang dangkal. Namun demikian, untuk menghasilkan&lt;br /&gt;produksi yang maksimal, diperlukan kondisi tanah yang subur, seperti Andosol dan Latosol.&lt;p&gt;BAHAN TANAMAN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Tanaman sambiloto umumnya diperbanyak secara generatif,&lt;br /&gt;dengan menggunakan biji, meskipun dapat pula diperbanyak melalui&lt;br /&gt;setek. Perbanyakan tanaman melalui biji harus memperhatikan&lt;br /&gt;beberapa hal antara lain tingkat kemasakan biji.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;PEMBENIHAN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Pembenihan dari biji, dilakukan dengan cara merendam biji&lt;br /&gt;terlebih dahulu selama 24 jam dan kemudian dikeringkan sebelum&lt;br /&gt;disemaikan. Perkecambahan akan terjadi 7 hari kemudian, yakni&lt;br /&gt;setelah mempunyai 5 helai daun. Benih siap dipindahkan ke polibag&lt;br /&gt;kecil dengan media tanam campuran dari tanah, pasir dan pupuk&lt;br /&gt;kandang. Benih siap dipindah ke lapang setelah 21 hari.&lt;br /&gt;Benih dapat pula diperoleh dari setek, yang diambil dari 3 ruas&lt;br /&gt;pucuk tanaman yang sudah berumur 1 tahun. Benih setek siap ditanam&lt;br /&gt;di lapangan setelah berumur 15 hari. Benih dari setek umumnya akan&lt;br /&gt;lebih cepat berbunga dibandingkan benih dari biji.&lt;br /&gt;Pada saat di persemaian, benih sebaiknya disiram 2 kali sehari,&lt;br /&gt;yakni pagi dan sore hari dan tempat penyemaian harus cukup&lt;br /&gt;naungannya.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;BUDIDAYA&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Pengolahan tanah&lt;br /&gt;Pengolahan tanah dilakukan agar diperoleh tanah yang gembur&lt;br /&gt;dengan cara menggarpu dan mencangkul tanah sedalam ± 30 cm.&lt;br /&gt;Tanah hendaknya dibersihkan dari ranting-ranting dan sisa-sisa&lt;br /&gt;tanaman yang sukar lapuk.&lt;br /&gt;Saluran drainase harus diperhatikan, terutama pada lahan yang&lt;br /&gt;datar jangan sampai terjadi genangan (drainase kurang baik).&lt;br /&gt;Pembuatan dan pemeliharaan drainase dimaksudkan untuk&lt;br /&gt;menghindari berkembangnya penyakit tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman&lt;br /&gt;Untuk menghasilkan pertumbuhan tanaman yang maksimal,&lt;br /&gt;jarak tanam yang dianjurkan adalah 40 x 50 cm, atau 30 x 40 cm,&lt;br /&gt;disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah. Penanaman dapat&lt;br /&gt;dilakukan pada bedengan maupun guludan, yang disesuaikan dengan&lt;br /&gt;kondisi lahan.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Pemupukan yang dianjurkan meliputi pupuk kandang, Urea,&lt;br /&gt;SP-36 dan KCl. Pupuk kandang diberikan seminggu sebelum tanam.&lt;br /&gt;Dosis pupuk kandang anjuran berkisar antara 10-20 ton/ha,&lt;br /&gt;disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah. Pada tanah yang miskin&lt;br /&gt;dan kurang gembur, dianjurkan untuk memberikan pupuk kandang&lt;br /&gt;lebih banyak.&lt;br /&gt;Dosis pupuk buatan yang dianjurkan adalah 100-200 kg Urea,&lt;br /&gt;150 kg SP-36, 100-200 kg KCl per hektar. Pupuk SP-36 dan KCl&lt;br /&gt;diberikan pada saat tanam, sedang Urea diberikan dua kali, yakni pada&lt;br /&gt;umur 1 dan 2 bulan setelah tanam, masing-masing setengah dosis.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pemeliharaan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Pemeliharaan perlu dilakukan agar tanaman dapat tumbuh&lt;br /&gt;dengan baik. Penyiangan dilakukan seperlunya disesuaikan dengan&lt;br /&gt;kondisi perkembangan gulma. Disamping itu, drainase perlu juga&lt;br /&gt;dipelihara untuk menghindari terjadinya genangan air.&lt;br /&gt;Pengendalian organisme pengganggu tanaman&lt;br /&gt;Hama dan penyakit yang ditemukan menyerang pertanaman&lt;br /&gt;sambiloto adalah Aphis spp dan Sclerotium sp. Sclerotium sp seringkali&lt;br /&gt;menyerang sambiloto khususnya pada musim hujan, dan&lt;br /&gt;menyebabkan tanaman layu. Penggunaan bubuk cengkeh atau eugenol&lt;br /&gt;dapat mencegah penyebaran Sclerotium sp.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;PANEN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Panen sebaiknya segera dilakukan sebelum tanaman berbunga,&lt;br /&gt;yakni sekitar 2 - 3 bulan setelah tanam. Panen dilakukan dengan cara&lt;br /&gt;memangpangkas batang utama sekitar 10 cm diatas permukaan tanah.&lt;br /&gt;Panen berikutnya dapat dilakukan 2 bulan setelah panen pertama.&lt;br /&gt;Produksi sambiloto dapat mencapai 35 ton biomas segar per ha, atau&lt;br /&gt;sekitar 3 - 3,5 ton simplisia per ha Biomas hasil panen dibersihkan,&lt;br /&gt;daun dan batang kemudian dijemur pada suhu 40 - 50°C sampai kadar&lt;br /&gt;air 10 %.&lt;br /&gt;Penyimpanan ditempatkan dalam wadah tertutup sehingga&lt;br /&gt;tingkat kekeringannya tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;MUTU SIMPLISIA&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Berdasar Materia Media Indonesia (MMI), standar mutu&lt;br /&gt;simplisia sambiloto adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Kadar abu : kurang dari 12%&lt;br /&gt;2. Kadar abu tidak larut dalam asam : 2,2%&lt;br /&gt;3. Kadar sari larut dalam air : lebih dari 6%&lt;br /&gt;4. Kadar sari larut dalam alkoho : lebih dari 9,7%&lt;br /&gt;5. Bahan organik asing : kurang dari 2%</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/05/budidaya-tanaman-sambiloto-m.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-3665010675211161403</guid><pubDate>Sun, 03 May 2009 03:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-02T20:20:29.617-07:00</atom:updated><title>Budidaya Tembakau Virginia</title><description>&lt;p&gt;TEMBAKAU VIRGINIA&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. PENGOLAHAN TANAH&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Pengolahan tanah dilaksanakan dengan menggunakan alat pertanian berupa&lt;br /&gt;hand Tractor minimal 2 x pembajakan untuk mempersiapkan media terbaik&lt;br /&gt;bagi proses penanaman tembakau dengan menjaga kesuburan tanah.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;2. PENANAMAN DAN PEMUPUKAN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Empat puluh lima hari s/d lima puluh hari (45 s/d 50) setelah benih ditabur,&lt;br /&gt;bibit ditanam pada tanah guludan di lahan yang telah dipilih dengan luasan&lt;br /&gt;yang sesuai dan perlu diketahui sebelum penanaman bibit perlu diadakan&lt;br /&gt;pemangkasan, agar tidak terjadi stagnasi.&lt;br /&gt;Pada tahapan penanaman ini dilakukan pemupukan I dengan memperhatikan&lt;br /&gt;jenis dan dosis serta cara pemupukan. Adapun pupuk yang digunakan NPK&lt;br /&gt;(Fertila) dengan dosis 10 gr/batang.&lt;br /&gt;Pemupukan ke II dengan umur tanaman 21 hari dilakukan Pemupukan&lt;br /&gt;dengan NPK (KNO 3) dengan dosis 5 gr/batang.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;3. PEMBUBUNAN DAN PENGAIRAN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Pembumbunan adalah proses yang dilakukan untuk tanah tetap gembur,&lt;br /&gt;sebagai persiapan media tumbuh yang baik bagi tanaman tembakau dan&lt;br /&gt;sekaligus untuk membersihkan tanaman pengganggu ( Gulma ).&lt;br /&gt;Adapun sistim irigasi (Pengairan) yang tepat sangat penting dalam menjamin&lt;br /&gt;kualitas clan tingkat produktifitas tembakau virginia.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;4. PUNGGEL DAN WIWIL/SULI&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Punggel dan wiwil/suli memastikan penggunaan bahan gizi tanaman dalam&lt;br /&gt;proses pengembangan daun tembakau untuk mendapatkan jumlah daun,&lt;br /&gt;berat daun dan kualitas tinggi yang akan memberikan basil maksimal bagi&lt;br /&gt;petani. Penggunaan sukirisida alami dilakukan dengan alasan biaya produksi,&lt;br /&gt;penerapan teknologi ramah lingkungan yang semua ini dilakukan pada waktu&lt;br /&gt;yang tepat.&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaan wiwilan sangat penting sekali karena akan berpengaruh&lt;br /&gt;terhadap ketebalan daun/berat daun.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;5. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TERPADU (PHT)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Pengendalian Hama Terpadu dilaksanakan sesuai kondisi tanaman yang ada&lt;br /&gt;dengan memprioritaskan penggunaan Bio Pestisida dengan pengawasan&lt;br /&gt;secara berkala, terhadap residu pestisida baik pada tanaman tembakau&lt;br /&gt;virginia. Adapaun penggunaan pestisida dan bahan kimia bisa digunakan&lt;br /&gt;(Dancis, Furadan) tergantung serangan hama yang ada.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;6. PANEN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Pemanenan adalah suatu tahapan yang sangat penting diperhatikan dalam&lt;br /&gt;mendapatkan kualitas panenan yang tinggi. Adapun yang hams diperhatikan&lt;br /&gt;sebagai berikut :&lt;br /&gt;- Kematangan daun&lt;br /&gt;- Keseragaman daun dalam proses penanaman&lt;br /&gt;- Penanganan daun hasil panenan&lt;br /&gt;Sebagian besar dari varietas tembakau dipanen berdasarkan tingkat&lt;br /&gt;kematangan daunnya dilakukan mulai dari daun bawah sampai daun atas&lt;br /&gt;dengan pemetikan 2 sampai 3 daun pada setiap tanaman dengan interval&lt;br /&gt;satu minggu hingga daun tanaman habis.&lt;p&gt;7. PASCA PANEN&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Tembakau Virginia dijual dalam wujud kering oven atau pengomprongan&lt;br /&gt;(Curing).&lt;br /&gt;Curing merupakan proses biologis yaitu melepaskan kadar air dari daun&lt;br /&gt;tembakau basah yang dipanen dalam keadaan hidup. Selama ini di beberapa&lt;br /&gt;petani ada yang berpendapat bahwa curing adalah proses pengeringan&lt;br /&gt;tembakau saja. Tidak menyadari bahwa sel-sel di dalam daun tersebut masih&lt;br /&gt;tetap hidup setelah dipanen.&lt;br /&gt;Tujuan Curing :&lt;br /&gt;Sebenarnya tujuan curing adalah :&lt;br /&gt;• Melepaskan air daun tembakau hidup dari kadar air 80 -90 % menjadi 10 -&lt;br /&gt;15 %.&lt;br /&gt;• Perubahan warna dari Zat hijau daun menjadi WarDa orange dengan&lt;br /&gt;aroma sesuai dengan standar tembakau yang diproses.&lt;br /&gt;Ciri-ciri daun masak :&lt;br /&gt;Oleh sebab itu untuk mendapatkan hasil curing/omprongan tembakau yang&lt;br /&gt;baik, maka daun tembakau itu harus sudah masak dan seragam.&lt;br /&gt;Ciri-ciri daun yang sudah masak adalah :&lt;br /&gt;• Wama daun sudah mulai hijau kekuningan dengan sebagian ujung dan&lt;br /&gt;tepi daun&lt;br /&gt;• berwama coklat.&lt;br /&gt;• Wama tangkai daun hijau kuning, keputih-putihan.&lt;br /&gt;• Posisi daun/tulang daun mendatar&lt;br /&gt;• Kadang-kadang pada lembaran daun ada bintik-bintik coklat, sebagai&lt;br /&gt;lambang ketuaan.&lt;br /&gt;Hal-hal yang perlu diperhatikan :&lt;br /&gt;Pada saat curing, yang perlu diperhatikan juga adalah kapasitas daun di&lt;br /&gt;dalam oven. Sebagai contoh untuk oven ukuran 4 x 4 x 7 rak sebanding&lt;br /&gt;dengan 1,8 ha, sedangkan 5 x 5 x 7 rak maksimum 2,8 ha. Juga cuaca waktu&lt;br /&gt;proses, kalau musim hujan harus lebih longgar daripada waktu musim kering.&lt;br /&gt;Saat Panen&lt;br /&gt;Pada saat panen tembakau harus dipastikan berapa lembar yang harus&lt;br /&gt;dipetik sesuai kapasitas oven. Daun tembakau yang dipetik haruslah seumur&lt;br /&gt;dan posisi daun yang sama, karena apabila umur daun dan posisi daun&lt;br /&gt;berbeda, akan sangat sulit menentukan kapan harus menaikkan suhu oven,&lt;br /&gt;kapan harus masuk ke tahapan berikutnya, kapan barus buka ventilasi dan&lt;br /&gt;sebagainya. Oleh sebab itu pengetahuan petani clan pemetik daun harus&lt;br /&gt;benar-benar baik tentang saat panen ini. Sebaiknya saat menjelang panen,&lt;br /&gt;petani yang bersangkutan mengumpulkan seluruh tenaga petiknya clan&lt;br /&gt;diberitahu mana yang sudah boleh dipanen clan mana yang belum.&lt;br /&gt;Tahapan Curing&lt;br /&gt;Sebelum memulai curing harus dipastikan bahwa seluruh gelantang sudah&lt;br /&gt;tersedia dan bebas palstik, kompor sudah dicek kondisinya dengan&lt;br /&gt;melakukan test nyala api sebelurnnya, seluruh dinding oven tidak ada yang&lt;br /&gt;berlubang, pintu bisa menutup rapat, pipa-pipa tidak ada yang rusak clan&lt;br /&gt;berlubang.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ada 4 tahapan curing, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;a. Penguningan&lt;br /&gt;Proses biologis daun ini merupakan proses perubahan warna dari hijau ke&lt;br /&gt;warna kuning, karena hilangnya zat hijau daun / klorophyil ke zat kuning&lt;br /&gt;daun dan terjadi penguraian zat tepung menjadi gula. Perubahan ini bisa&lt;br /&gt;terjadi pada suhu 32 s/d 42 derajat celcius. Proses ini harus dilakukan&lt;br /&gt;secara perlahan-lahan waktu yang diperlukan tergantung posisi daun.&lt;br /&gt;Umumnya berlangsung selama 55 s/d 58 jam. Pada saat ini awalnya&lt;br /&gt;semua ventilasi ditutup, baik atas maupun bawah. Tetapi apabila seluruh&lt;br /&gt;daun sudah berwama kuning orange ventilasi atas dibuka 1/4 , proses ini&lt;br /&gt;sangat menentukan terhadap hasil curing.&lt;br /&gt;b. Pengikatan Wama&lt;br /&gt;Apabila seluruh daun sudah berwama kuning orange baik lembar daun&lt;br /&gt;maupun tulang daun, maka secara pertiahan-lahan suhu dinaikkan. Pada&lt;br /&gt;saat proses ini terjadi, maka apabila daun masih berwama hijau, maka&lt;br /&gt;daun tetap akan berwama hijau, sebaliknya apabila sudah berwama&lt;br /&gt;kuning orange maka hasil curing akan kuning orange. Karena pada suhu&lt;br /&gt;43-52 °C ini terjadi pengikatan warna. Sehingga apabila warna daun pada&lt;br /&gt;proses PENGUNINGAN belum sempuna, maka jangan terburu-buru&lt;br /&gt;menaikkan temperatur lebih dari 42 °C. Pada tahapan ini ventilasi dibuka&lt;br /&gt;secara bertahap, sedikit demi sedikit sampai akhirnya dibuka seluruhnya.&lt;br /&gt;Waktu yang diperlukan kalau berjalan sempuma umumnya sekitar 18-19&lt;br /&gt;jam.&lt;br /&gt;c. Pengeringan Lembar Daun&lt;br /&gt;Proses ini bertujuan untuk mengurangi kadar air didalam lembar daun&lt;br /&gt;dengan cara menaikkan suhu 53-62 °C. Pada saat ini seluruh ventilasi&lt;br /&gt;dibuka, karena air yang keluar dari sel-sel daun akan menjadi uap air,&lt;br /&gt;yang harus dibuang keluar oven agar tidak kembali ke daun. Ciri-ciri&lt;br /&gt;proses ini, daun sudah terasa kering apabila dipegang, tapi tulang daun&lt;br /&gt;masih terasa basah daun terlihat keriput atau keriting waktu yang&lt;br /&gt;dibutuhkan lebih kurang 30-32 jam.&lt;br /&gt;d. Pengeringan Gagang&lt;br /&gt;Pengeringan gagang dilakukan pada suhu 63-72 °C. Pada saat ini air&lt;br /&gt;yang bisa dilapas didalam batang daun akan dikeluarkan proses awal&lt;br /&gt;tahap ini ventilasi mulai ditutup secara perlahan dan bertahap, untuk&lt;br /&gt;menjaga kelembaban udara tetap berkisar pada 32 %. Ciri-ciri tahapan ini&lt;br /&gt;bisa selesai apabila seluruh tulang daun sudah kering, dan bila ditekuk&lt;br /&gt;batangnya akan patah dan berbunyi krek. Ini menandakan bahwa tahap&lt;br /&gt;ini berjalan baik 5-8 jam sebelum proses berakhir, seluruh ventilasi harus&lt;br /&gt;ditutup agar kelembaban udara tetap terjaga. Proses ini memerlukan&lt;br /&gt;waktu normalnya 30-32 jam jangan pernah menaikkan suhu oven diatas&lt;br /&gt;72 C, karena tembakau akan terbakar.&lt;br /&gt;Demikian tahapan curing yang terjadi pada tembakau virginia Flue Cure.&lt;br /&gt;Proses ini harus dilakukan dengan hati-hati clan penuh pengawasan karena&lt;br /&gt;tembakau yang sudah sangat baik pertumbuhannya dilapangan, akan sia-sia&lt;br /&gt;hasilnya apabila proses curing ini tidak berjalan lancar. Oleh karena itu untuk&lt;br /&gt;semua oven yang aktif harus memiliki termometer untuk memastikan apakah&lt;br /&gt;setiap tahapan tersebut sudah berjalan baik atau belum. Dan juga setiap&lt;br /&gt;oven harus memiliki table pedoman prosedur curing tembakau virginia serta&lt;br /&gt;menggunakan alat Hygrocurometer untuk mengukur suhu dan kelembaban&lt;br /&gt;udaranya.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;8. ANALISA USAHA TANI PER HEKTAR&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;No. Jenis Kegiatan Satuan Jumlah (Rp.)&lt;br /&gt;1 Komponen pembiayaan&lt;br /&gt;a. Sarana produksi&lt;br /&gt;b. Pekerjaan lapangan&lt;br /&gt;c Sewa tanah &amp;amp; administrasi&lt;br /&gt;d Bunga pinjaman&lt;br /&gt;e. Depresiasi alat produksi&lt;br /&gt;Total&lt;br /&gt;Rp,-/ha&lt;br /&gt;4.241.645&lt;br /&gt;5.753.585&lt;br /&gt;2.242.000&lt;br /&gt;734.234&lt;br /&gt;269.120&lt;br /&gt;13.240.584&lt;br /&gt;2 Produktifitas Kg./ha 1,915&lt;br /&gt;3 Biaya Produksi Rp./kg 6.914,1&lt;br /&gt;4 Harga rata-rata Rp./kg 8.738,8&lt;br /&gt;5 Total Pendapatan Rp./kg 16.734.859,5&lt;br /&gt;6 Keuntungan Bersih Rp./kg 3.494.275,5&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul&lt;br /&gt;Jalan KH. Wahid Hasyim 210 Palbapang Bantul 55713&lt;br /&gt;Telp. 0274-367541</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/05/tembakau-virginia-1.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-6529234520331472862</guid><pubDate>Fri, 01 May 2009 04:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-02T20:20:29.618-07:00</atom:updated><title>Budidaya Anthurium</title><description>BUDIDAYA TANAMAN ANTHURIUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Anthurium adalah tanaman hias tropis, memiliki daya tarik tinggi sebagai penghias&lt;br /&gt;ruangan, karena bentuk daun dan bunganya yang indah, Anthurium yang berdaun&lt;br /&gt;indah adalah asli Indonesia, sedangkan yang untuk bunga potong berasal dari Eropa.&lt;br /&gt;Di Indonesia tidak kurang terdapat 7 jenis anthurium, yaitu Anthurium cyrstalinum&lt;br /&gt;(kuping gajah), Anthurium pedatoradiatum (wali songo), Anthurium andreanum,&lt;br /&gt;Anthurium rafidooa, Anthurium hibridum (lidah gajah), Anthurium makrolobum dan&lt;br /&gt;Anthurium scherzerianum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERBANYAKAN&lt;br /&gt;Anthurium dapat diperbanyak dengan 2 cara, yaitu generatif (biji) dan vegetatif (stek).&lt;br /&gt;1. Perbanyakan dengan cara generatif (biji)&lt;br /&gt;Tanaman anthurium memiliki 2 macam bunga yaitu bunga jantan&lt;br /&gt;dan bunga betina. Bunga jantan ditandai oleh adanya benang sari, sedangkan&lt;br /&gt;bunga betina ditandai oleh adanya lendir. Biji diperoleh dengan menyilangkan&lt;br /&gt;bunga jantan dan bunga betina.&lt;br /&gt;Dengan menggunakan jentik, bunga sari diambil dan dioleskan sampai rata di&lt;br /&gt;bagian lendir pada bunga betina. Sekitar 2 bulan kemudian, bunga yang&lt;br /&gt;dihasilkan sudah masak, di dalamnya terdapat banyak biji anthurium. Biji-biji&lt;br /&gt;tersebut di kupas, dicuci sampai bersih dan diangin-anginkan, kemudian ditabur&lt;br /&gt;pada medium tanah halus. Persemaian ditempatkan pada kondisi lembab dan&lt;br /&gt;selalu disiram.&lt;br /&gt;2. Perbanyakan dengan cara vegetatif (stek)&lt;br /&gt;Ada 2 cara perbanyakan secara vegetatif, yaitu stek batang dan stek mata tunas.&lt;br /&gt;Cara perbanyakan dengan stek batang adalah memotong bagian atas tanaman&lt;br /&gt;(batang) dengan menyertakan 1 - 3 akar, bagian atas tanaman 'yang telah&lt;br /&gt;dipotong kemudian ditanam, pada medium tumbuh yang telah disiapkan.&lt;br /&gt;Sebaliknya perbanyakan dengan mata tunas adalah mengambil&lt;br /&gt;satu mata pada cabang, kemudian menanam mata tunas pada medium tumbuh&lt;br /&gt;yang telah disiapkan. Cara tabur biji dan stek disajikan pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYIAPAN MEDIUM TUMBUH&lt;br /&gt;Berdasarkan kegunaannya, medium tumbuh dibagi menjadi 2 macam, yaitu&lt;br /&gt;medium tumbuh untuk persemaian dan untuk tanaman dewasa. Medium&lt;br /&gt;tumbuh terdiri dari campuran humus, pupuk kandang dan pasir kali. Humus&lt;br /&gt;atau tanah hutan dan pupuk kandang yang sudah jadi di ayak dengan ukuran&lt;br /&gt;ayakan 1 cm, sedangkan pasir kali di ayak dengan ukuran ayakan 3 mm.&lt;br /&gt;Humus, pupuk kandang dan pasir kali yang telah di ayak, dicampur dengan&lt;br /&gt;perbandingan 5 : 5 : 2. Untuk persemaian, medium tumbuh perlu disterilkan&lt;br /&gt;dengan cara mengukus selama satu jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYIAPAN POT&lt;br /&gt;Untuk menanam bunga anthurium, dapat digunakan pot tanah, pot plastik&lt;br /&gt;atau pot straso. Pot yang paling baik adalah pot tanah karena memiliki&lt;br /&gt;banyak pori-pori yang dapat meresap udara dari luar pot. Apabila digunakan&lt;br /&gt;pot yang masih baru, pot perlu direndam dalam air selama 10 menit. Bagian&lt;br /&gt;bawah pot diberi pecahan genting/pot yang melengkung, kemudian di atasnya&lt;br /&gt;diberi pecahan batu merah setebal 1/4 tinggi pot. Medium tumbuh berupa&lt;br /&gt;campuran humus, pupuk kandang dan pasir kali dimasukkan dalam pot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMELIHARAAN&lt;br /&gt;Setelah tanam, tanaman dipelihara dengan menyiram 1 - 2 kali sehari. Daun&lt;br /&gt;yang sudah tua atau rusak karena hama dan penyakit, dipotong agar&lt;br /&gt;tanaman tampak bersih dan menarik. Sebaiknya tanaman ini dipelihara di&lt;br /&gt;tempat teduh karena tanaman tidak tahan sinar matahari langsung.&lt;br /&gt;Oleh : - Sariati, asisten Teknisi Litkayasa BPTP Karangploso&lt;br /&gt;Diproduksi : IPPTP Wonocolo&lt;br /&gt;Sumber Dana : APBD Tk. I Jatim Tahun Anggaran 1997/1998</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/04/budidaya-anthurium.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5579435181167545169.post-7787469128594046399</guid><pubDate>Fri, 01 May 2009 04:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-02T20:20:29.618-07:00</atom:updated><title>Budidaya Alpukat</title><description>ALPUKAT / AVOKAD&lt;br /&gt;( Persea americana Mill / Persea gratissima Gaerth )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. SEJARAH SINGKAT&lt;br /&gt;Tanaman alpukat merupakan tanaman buah berupa pohon dengan nama alpuket&lt;br /&gt;(Jawa Barat), alpokat (Jawa Timur/Jawa Tengah), boah pokat, jamboo pokat (Batak),&lt;br /&gt;advokat, jamboo mentega, jamboo pooan, pookat (Lampung) dan lain-lain.&lt;br /&gt;Tanaman alpukat berasal dari dataran rendah/tinggi Amerika Tengah dan&lt;br /&gt;diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke-18. Secara resmi antara tahun 1920-&lt;br /&gt;1930 Indonesia telah mengintroduksi 20 varietas alpukat dari Amerika Tengah dan&lt;br /&gt;Amerika Serikat untuk memperoleh varietas-varietas unggul guna meningkatkan&lt;br /&gt;kesehatan dan gizi masyarakat, khususnya di daerah dataran tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. JENIS TANAMAN&lt;br /&gt;Klasifikasi lengkap tanaman alpukat adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Divisi : Spermatophyta&lt;br /&gt;Anak divisi : Angiospermae&lt;br /&gt;Kelas : Dicotyledoneae&lt;br /&gt;Bangsa : Ranales&lt;br /&gt;Keluarga : Lauraceae&lt;br /&gt;Marga : Persea&lt;br /&gt;Varietas : Persea americana Mill&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sifat ekologis, tanaman alpukat terdiri dari 3 tipe keturunan/ras, yaitu:&lt;br /&gt;1) Ras Meksiko&lt;br /&gt;Berasal dari dataran tinggi Meksiko dan Equador beriklim semi tropis dengan&lt;br /&gt;ketinggian antara 2.400-2.800 m dpl. Ras ini mempunyai daun dan buahnya yang&lt;br /&gt;berbau adas. Masa berbunga sampai buah bisa dipanen lebih kurang 6 bulan.&lt;br /&gt;Buah kecil dengan berat 100-225 gram, bentuk jorong (oval), bertangkai pendek,&lt;br /&gt;kulitnya tipis dan licin. Biji besar memenuhi rongga buah. Daging buah mempunyai&lt;br /&gt;kandungan minyak/lemak yang paling tinggi. Ras ini tahan terhadap suhu dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Ras Guatemala&lt;br /&gt;Berasal dari dataran tinggi Amerika Tengah beriklim sub tropis dengan ketinggian&lt;br /&gt;sekitar 800-2.400 m dpl. Ras ini kurang tahan terhadap suhu dingin (toleransi&lt;br /&gt;sampai -4,5 derajat C). Daunnya tidak berbau adas. Buah mempunyai ukuran&lt;br /&gt;yang cukup besar, berat berkisar antara 200-2.300 gram, kulit buah tebal, keras,&lt;br /&gt;mudah rusak dan kasar (berbintil-bintil). Masak buah antara 9-12 bulan sesudah&lt;br /&gt;berbunga. Bijinya relatif berukuran kecil dan menempel erat dalam rongga,&lt;br /&gt;dengan kulit biji yang melekat. Daging buah mempunyai kandungan minyak yang&lt;br /&gt;sedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Ras Hindia Barat&lt;br /&gt;Berasal dari dataran rendah Amerika Tengah dan Amerika Selatan yang beriklim&lt;br /&gt;tropis, dengan ketinggian di bawah 800 m dpl. Varietas ini sangat peka terhadap&lt;br /&gt;suhu rendah, dengan toleransi sampai minus 2 derajat C. Daunnya tidak berbau&lt;br /&gt;adas, warna daunnya lebih terang dibandingkan dengan kedua ras yang lain.&lt;br /&gt;Buahnya berukuran besar dengan berat antara 400-2.300 gram, tangkai pendek,&lt;br /&gt;kulit buah licin agak liat dan tebal. Buah masak 6-9 bulan sesudah berbunga. Biji&lt;br /&gt;besar dan sering lepas di dalam rongga, keping biji kasar. Kandungan minyak dari&lt;br /&gt;daging buahnya paling rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Varietas-varietas alpukat di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:&lt;br /&gt;1) Varietas unggul&lt;br /&gt;Sifat-sifat unggul tersebut antara lain produksinya tinggi, toleran terhadap hama&lt;br /&gt;dan penyakit, buah seragam berbentuk oval dan berukuran sedang, daging buah&lt;br /&gt;berkualitas baik dan tidak berserat, berbiji kecil melekat pada rongga biji, serta&lt;br /&gt;kulit buahnya licin. Sampai dengan tanggal 14 Januari 1987, Menteri Pertanian&lt;br /&gt;telah menetapkan 2 varietas alpukat unggul, yaitu alpukat ijo panjang dan ijo&lt;br /&gt;bundar. Sifat-sifat kedua varietas tersebut antara lain:&lt;br /&gt;a. Tinggi pohon: alpukat ijo panjang 5-8 m, alpukat ijo bundar 6-8 m.&lt;br /&gt;b. Bentuk daun: alpukat ijo panjang bulat panjang dengan tepi rata, alpukat ijo&lt;br /&gt;bundar bulat panjang dengan tepi berombak.&lt;br /&gt;c. Berbuah: alpukat ijo panjang terus-menerus, tergantung pada lokasi dan&lt;br /&gt;kesuburan lahan, alpukat ijo bundar terus-menerus, tergantung pada lokasi dan&lt;br /&gt;kesuburan lahan.&lt;br /&gt;d. Berat buah: alpukat ijo panjang 0,3-0,5 kg, alpukat ijo bundar 0,3-0,4 kg&lt;br /&gt;e. Bentuk buah: alpukat ijo panjang bentuk pear (pyriform), alpukat ijo bundar&lt;br /&gt;lonjong (oblong).&lt;br /&gt;f. Rasa buah: alpukat ijo panjang enak, gurih, agak lunak, alpukat ijo bundar&lt;br /&gt;enak, gurih, agak kering.&lt;br /&gt;g. Diameter buah: alpukat ijo panjang 6,5-10 cm (rata-rata 8 cm), alpukat ijo&lt;br /&gt;bundar 7,5 cm.&lt;br /&gt;h. Panjang buah: alpukat ijo panjang 11,5-18 cm (rata-rata 14 cm), alpukat ijo&lt;br /&gt;bundar 9 cm.&lt;br /&gt;i. Hasil: alpukat ijo panjang 40-80 kg /pohon/tahun (rata-rata 50 kg), alpukat ijo&lt;br /&gt;bundar 20-60 kg/pohon/tahun (rata-rata 30 kg).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Varietas lain&lt;br /&gt;Varietas alpukat kelompok ini merupakan plasma nutfah Instalasi Penelitian dan&lt;br /&gt;Pengkajian Teknologi, Tlekung, Malang. Beberapa varietas alpukat yang terdapat&lt;br /&gt;di kebun percobaan Tlekung, Malang adalah alpukat merah panjang, merah&lt;br /&gt;bundar, dickson, butler, winslowson, benik, puebla, furete, collinson, waldin,&lt;br /&gt;ganter, mexcola, duke, ryan, leucadia, queen dan edranol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. MANFAAT TANAMAN&lt;br /&gt;Bagian tanaman alpukat yang banyak dimanfaatkan adalah buahnya sebagai&lt;br /&gt;makanan buah segar. Selain itu pemanfaatan daging buah alpukat yang biasa&lt;br /&gt;dilakukan masyarakat Eropa adalah digunakan sebagai bahan pangan yang diolah&lt;br /&gt;dalam berbagai masakan. Manfaat lain dari daging buah alpukat adalah untuk bahan&lt;br /&gt;dasar kosmetik.&lt;br /&gt;Bagian lain yang dapat dimanfaatkan adalah daunnya yang muda sebagai obat&lt;br /&gt;tradisional (obat batu ginjal, rematik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. SENTRA PENANAMAN&lt;br /&gt;Negara-negara penghasil alpukat dalam skala besar adalah Amerika (Florida,&lt;br /&gt;California, Hawaii), Australia, Cuba, Argentina, dan Afrika Selatan. Dari tahun ke&lt;br /&gt;tahun Amerika mempunyai kebun alpukat yang senantiasa meningkat.&lt;br /&gt;Di Indonesia, tanaman alpukat masih merupakan tanaman pekarangan, belum&lt;br /&gt;dibudidayakan dalam skala usahatani. Daerah penghasil alpukat adalah Jawa Barat,&lt;br /&gt;Jawa Timur, sebagian Sumatera, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;5.1. Iklim&lt;br /&gt;1) Angin diperlukan oleh tanaman alpukat, terutama untuk proses penyerbukan.&lt;br /&gt;Namun demikian angin dengan kecepatan 62,4-73,6 km/jam dapat dapat&lt;br /&gt;mematahkan ranting dan percabangan tanaman alpukat yang tergolong lunak,&lt;br /&gt;rapuh dan mudah patah.&lt;br /&gt;2) Curah hujan minimum untuk pertumbuhan adalah 750-1000 mm/tahun. Ras&lt;br /&gt;Hindia Barat dan persilangannya tumbuh dengan subur pada dataran rendah&lt;br /&gt;beriklim tropis dengan curah hujan 2500 mm/tahun. Untuk daerah dengan curah&lt;br /&gt;hujan kurang dari kebutuhan minimal (2-6 bulan kering), tanaman alpukat masih&lt;br /&gt;dapat tumbuh asal kedalaman air tanah maksimal 2 m.&lt;br /&gt;3) Kebutuhan cahaya matahari untuk pertumbuhan alpukat berkisar 40-80 %.&lt;br /&gt;Untuk ras Meksiko dan Guatemala lebih tahan terhadap cuaca dingin dan iklim&lt;br /&gt;kering, bila dibandingkan dengan ras Hindia Barat.&lt;br /&gt;4) Suhu optimal untuk pertumbuhan alpukat berkisar antara 12,8-28,3 derajat C.&lt;br /&gt;Mengingat tanaman alpukat dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran&lt;br /&gt;tinggi, tanaman alpukat dapat mentolerir suhu udara antara 15-30 derajat C atau&lt;br /&gt;lebih. Besarnya suhu kardinal tanaman alpukat tergantung ras masing-masing,&lt;br /&gt;antara lain ras Meksiko memiliki daya toleransi sampai –7 derajat C, Guatemala&lt;br /&gt;sampai -4,5 derajat C, dan Hindia Barat sampai 2 derajat C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Media Tanam&lt;br /&gt;1) Tanaman alpukat agar tumbuh optimal memerlukan tanah gembur, tidak mudah&lt;br /&gt;tergenang air, (sistem drainase/pembuangan air yang baik), subur dan banyak&lt;br /&gt;mengandung bahan organik.&lt;br /&gt;2) Jenis tanah yang baik untuk pertumbuhan alpukat adalah jenis tanah lempung&lt;br /&gt;berpasir (sandy loam), lempung liat (clay loam) dan lempung endapan&lt;br /&gt;(aluvial loam).&lt;br /&gt;3) Keasaman tanah yang baik untuk pertumbuhan alpukat berkisar antara pH&lt;br /&gt;sedikit asam sampai netral, (5,6-6,4). Bila pH di bawah 5,5 tanaman akan&lt;br /&gt;menderita keracunan karena unsur Al, Mg, dan Fe larut dalam jumlah yang cukup&lt;br /&gt;banyak. Sebaliknya pada pH di atas 6,5 beberapa unsur fungsional seperti Fe,&lt;br /&gt;Mg, dan Zn akan berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;Pada umumnya tanaman alpukat dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran&lt;br /&gt;tinggi, yaitu 5-1500 m dpl. Namun tanaman ini akan tumbuh subur dengan hasil yang&lt;br /&gt;memuaskan pada ketinggian 200-1000 m dpl. Untuk tanaman alpukat ras Meksiko&lt;br /&gt;dan Guatemala lebih cocok ditanam di daerah dengan ketinggian 1000-2000 m dpl.,&lt;br /&gt;sedangkan ras Hindia Barat pada ketinggian 5-1000 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;6.1. Pembibitan&lt;br /&gt;1) Persyaratan Bibit&lt;br /&gt;Bibit yang baik antara lain yang berasal dari&lt;br /&gt;a) Buah yang sudah cukup tua.&lt;br /&gt;b) Buahnya tidak jatuh hingga pecah.&lt;br /&gt;c) Pengadaan bibit lebih dari satu jenis untuk menjamin kemungkinan adanya&lt;br /&gt;persarian bersilang.&lt;br /&gt;2) Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;Sampai saat ini bibit alpukat hanya dapat diperoleh secara generatif (melalui biji)&lt;br /&gt;dan vegetatif (penyambungan pucuk/enten dan penyambungan mata/okulasi).&lt;br /&gt;Dari ketiga cara itu, bibit yang diperoleh dari biji kurang menguntungkan karena&lt;br /&gt;tanaman lama berbuah (6-8 tahun) dan ada kemungkinan buah yang dihasilkan&lt;br /&gt;berbeda dengan induknya. Sedangkan bibit hasil okulasi maupun enten lebih&lt;br /&gt;cepat berbuah (1-4 tahun) dan buah yang didapatkannya mempunyai sifat yang&lt;br /&gt;sama dengan induknya.&lt;br /&gt;3) Teknik Penyemaian Bibit&lt;br /&gt;a) Penyambungan pucuk (enten)&lt;br /&gt;Pohon pokok yang digunakan untuk enten adalah tanaman yang sudah&lt;br /&gt;berumur 6-7 bulan/dapat juga yang sudah berumur 1 tahun, tanaman berasal&lt;br /&gt;dari biji yang berasal dari buah yang telah tua dan masak, tinggi 30 cm/kurang,&lt;br /&gt;dan yang penting jaringan pada pangkal batang belum berkayu. Sebagai&lt;br /&gt;cabang sambungannya digunakan ujung dahan yang masih muda dan&lt;br /&gt;berdiameter lebih kurang 0,7 cm. Dahan tersebut dipotong miring sesuai&lt;br /&gt;dengan celah yang ada pada pohon pokok sepanjang lebih kurang 10 cm,&lt;br /&gt;kemudian disisipkan ke dalam belahan di samping pohon pokok yang&lt;br /&gt;diikat/dibalut. Bahan yang baik untuk mengikat adalah pita karet, plastik,&lt;br /&gt;rafia/kain berlilin. Sebaiknya penyambungan pada pohon pokok dilakukan&lt;br /&gt;serendah mungkin supaya tidak dapat kuncup pada tanaman pokok.&lt;br /&gt;Enten-enten yang telah disambung diletakkan di tempat teduh, tidak berangin,&lt;br /&gt;dan lembab. Setiap hari tanaman disiram, dan untuk mencegah serangan&lt;br /&gt;penyakit sebaiknya tanaman disemprot fungisida. Pada musim kering hama&lt;br /&gt;tungau putih sering menyerang, untuk itu sebaiknya dicegah dengan semprotan&lt;br /&gt;kelthane.&lt;br /&gt;Bibit biasanya sudah dapat dipindahkan ke kebun setelah berumur 9-16 bulan,&lt;br /&gt;dan pemindahannya dilakukan pada saat permulaan musim hujan&lt;br /&gt;b) Penyambungan mata (okulasi)&lt;br /&gt;Pembuatan bibit secara okulasi dilakukan pada pohon pangkal berumur 8-10&lt;br /&gt;bulan. Sebagai mata yang akan diokulasikan diambil dari dahan yang sehat,&lt;br /&gt;dengan umur 1 tahun, serta matanya tampak jelas. Waktu yang paling baik&lt;br /&gt;untuk menempel yaitu pada saat kulit batang semai mudah dilepaskan dari&lt;br /&gt;kayunya. Caranya adalah kulit pohon pokok disayat sepanjang 10 cm dan&lt;br /&gt;lebarnya 8 mm. Kulit tersebut dilepaskan dari kayunya dan ditarik ke bawah lalu&lt;br /&gt;dipotong 6 cm. Selanjutnya disayat sebuah mata dengan sedikit kayu dari&lt;br /&gt;cabang mata (enthout), kayu dilepaskan pelan-pelan tanpa merusak mata. Kulit&lt;br /&gt;yang bermata dimasukkan di antara kulit dan kayu yang telah disayat pada&lt;br /&gt;pohon pokok dan ditutup lagi, dengan catatan mata jangan sampai tertutup.&lt;br /&gt;Akhirnya balut seluruhnya dengan pita plastik. Bila dalam 3-5 hari matanya&lt;br /&gt;masih hijau, berarti penempelan berhasil.&lt;br /&gt;Selanjutnya 10-15 hari setelah penempelan, tali plastik dibuka. Batang pohon&lt;br /&gt;pokok dikerat melintang sedalam setengah diameternya, kira-kira 5-7,5 cm di&lt;br /&gt;atas okulasi, lalu dilengkungkan sehingga pertumbuhan mata dapat lebih cepat.&lt;br /&gt;Setelah batang yang keluar dari mata mencapai tinggi 1 m, maka bagian pohon&lt;br /&gt;pokok yang dilengkungkan dipotong tepat di atas okulasi dan lukanya diratakan,&lt;br /&gt;kemudian ditutup dengan parafin yang telah dicairkan. Pohon okulasi ini dapat&lt;br /&gt;dipindahkan ke kebun setelah berumur 8-12 bulan dan pemindahan yang paling&lt;br /&gt;baik adalah pada saat permulaan musim hujan.&lt;br /&gt;Dalam perbanyakan vegetatif yang perlu diperhatikan adalah menjaga&lt;br /&gt;kelembaban udara agar tetap tinggi (+ 80%) dan suhu udara di tempat&lt;br /&gt;penyambungan jangan terlalu tinggi (antara 15-25 derajat C). Selain itu juga&lt;br /&gt;jangan dilakukan pada musim hujan lebat serta terlalu banyak terkena sinar&lt;br /&gt;matahari langsung. Bibit yang berupa sambungan perlu disiram secara rutin&lt;br /&gt;dan dipupuk 2 minggu sekali. Pemupukan bisa bersamaan dengan penyiraman,&lt;br /&gt;yaitu dengan melarutkan 1-1,5 gram urea/NPK ke dalam 1 liter air. Pupuk daun&lt;br /&gt;bisa juga diberikan dengan dosis sesuai anjuran dalam kemasan. Sedangkan&lt;br /&gt;pengendalian hama dan penyakit dilakukan bila perlu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;Lahan untuk tanaman alpukat harus dikerjakan dengan baik; harus bersih dari&lt;br /&gt;pepohonan, semak belukar, tunggul-tunggul bekas tanaman, serta batu-batu yang&lt;br /&gt;mengganggu. Selanjutnya lahan dicangkul dalam atau ditraktor, lalu dicangkul halus&lt;br /&gt;2-3 kali. Pengerjaan lahan sebaiknya dilakukan saat musim kering sehingga&lt;br /&gt;penanaman nantinya dapat dilakukan pada awal atau saat musim hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;1) Pola Penanaman&lt;br /&gt;Pola penanaman alpukat sebaiknya dilakukan secara kombinasi antara varietasvarietasnya.&lt;br /&gt;Hal ini mengingat bahwa kebanyakan varietas tanaman alpukat tidak&lt;br /&gt;dapat melakukan penyerbukan sendiri, kecuali varietas ijo panjang yang memiliki&lt;br /&gt;tipe bunga A. Ada 2 tipe bunga dari beberapa varietas alpukat di Indonesia, yaitu&lt;br /&gt;tipe A dan tipe B. Varietas yang tergolong tipe bunga A adalah ijo panjang, ijo&lt;br /&gt;bundar, merah panjang, merah bundar, waldin, butler, benuk, dickinson, puebla,&lt;br /&gt;taft, dan hass. Sedangkan yang tergolong tipe B adalah collinson, itszamma,&lt;br /&gt;winslowsaon, fuerte, lyon, nabal, ganter, dan queen. Penyerbukan silang hanya&lt;br /&gt;terjadi antara kedua tipe bunga. Oleh karena itu, penanaman alpukat dalam suatu&lt;br /&gt;lahan harus dikombinasi antara varietas yang memiliki tipe bunga A dan tipe&lt;br /&gt;bunga B sehingga bunga-bunganya saling menyerbuki satu sama lain.&lt;br /&gt;2) Pembuatan Lubang Tanam&lt;br /&gt;a) Tanah digali dengan ukuran panjang, lebar, dan tinggi masing-masing 75 cm.&lt;br /&gt;Lubang tersebut dibiarkan terbuka selama lebih kurang 2 minggu.&lt;br /&gt;b) Tanah bagian atas dan bawah dipisahkan.&lt;br /&gt;c) Lubang tanam ditutup kembali dengan posisi seperti semula. Tanah bagian&lt;br /&gt;atas dicampur dulu dengan 20 kg pupuk kandang sebelum dimasukkan ke&lt;br /&gt;dalam lubang.&lt;br /&gt;d) Lubang tanam yang telah tertutup kembali diberi ajir untuk memindahkan&lt;br /&gt;mengingat letak lubang tanam.&lt;br /&gt;3) Cara Penanaman&lt;br /&gt;Waktu penanaman yang tepat adalah pada awal musim hujan dan tanah yang ada&lt;br /&gt;dalam lubang tanam tidak lagi mengalami penurunan. Hal yang perlu diperhatikan&lt;br /&gt;adalah tanah yang ada dalam lubang tanam harus lebih tinggi dari tanah&lt;br /&gt;sekitarnya. Hal ini untuk menghindari tergenangnya air bila disirami atau turun&lt;br /&gt;hujan. Langkah-langkah penanaman adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a) Lubang tanam yang telah ditutup, digali lagi dengan ukuran sebesar wadah&lt;br /&gt;bibit.&lt;br /&gt;b) Bibit dikeluarkan dari keranjang atau polibag dengan menyayatnya agar&lt;br /&gt;gumpalan tanah tetap utuh.&lt;br /&gt;c) Bibit beserta tanah yang masih menggumpal dimasukkan dalam lubang setinggi&lt;br /&gt;leher batang, lalu ditimbun dan diikatkan ke ajir.&lt;br /&gt;d) Setiap bibit sebaiknya diberi naungan untuk menghindari sinar matahari secara&lt;br /&gt;langsung, terpaan angin, maupun siraman air hujan. Naungan tersebut dibuat&lt;br /&gt;miring dengan bagian yang tinggi di sebelah timur. Peneduh ini berfungsi&lt;br /&gt;sampai tumbuh tunas-tunas baru atau lebih kurang 2-3 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;1) Penyiangan&lt;br /&gt;Gulma banyak tumbuh di sekitar tanaman karena di tempat itu banyak terdapat&lt;br /&gt;zat hara. Selain merupakan saingan dalam memperoleh makanan, gulma juga&lt;br /&gt;merupakan tempat bersarangnya hama dan penyakit. Oleh karena itu, agar&lt;br /&gt;tanaman dapat tumbuh dengan baik maka gulma-gulma tersebut harus disiangi&lt;br /&gt;(dicabut) secara rutin.&lt;br /&gt;2) Penggemburan Tanah&lt;br /&gt;Tanah yang setiap hari disiram tentu saja akan semakin padat dan udara di&lt;br /&gt;dalamnya semakin sedikit. Akibatnya akar tanaman tidak dapat leluasa menyerap&lt;br /&gt;unsur hara. Untuk menghindarinya, tanah di sekitar tanaman perlu digemburkan&lt;br /&gt;dengan hati-hati agar akar tidak putus.&lt;br /&gt;3) Penyiraman&lt;br /&gt;Bibit yang baru ditanam memerlukan banyak air, sehingga penyiraman perlu&lt;br /&gt;dilakukan setiap hari. Waktu yang tepat untuk menyiram adalah pagi/sore hari,&lt;br /&gt;dan bila hari hujan tidak perlu disiram lagi.&lt;br /&gt;4) Pemangkasan Tanaman&lt;br /&gt;Pemangkasan hanya dilakukan pada cabang-cabang yang tumbuh terlalu rapat&lt;br /&gt;atau ranting-ranting yang mati. Pemangkasan dilakukan secara hati-hati agar luka&lt;br /&gt;bekas pemangkasan terhindar dari infeksi penyakit dan luka bekas pemangkasan&lt;br /&gt;sebaiknya diberi fungisida/penutup luka.&lt;br /&gt;5) Pemupukan&lt;br /&gt;Dalam pembudidayaan tanaman alpukat diperlukan program pemupukan yang&lt;br /&gt;baik dan teratur. Mengingat sistem perakaran tanaman alpukat, khususnya akarakar&lt;br /&gt;rambutnya, hanya sedikit dan pertumbuhannya kurang ekstensif maka pupuk&lt;br /&gt;harus diberikan agak sering dengan dosis kecil.&lt;br /&gt;Jumlah pupuk yang diberikan tergantung pada umur tanaman. Bila program&lt;br /&gt;pemupukan tahunan menggunakan pupuk urea (45% N), TSP (50% P), dan KCl&lt;br /&gt;(60% K) maka untuk tanaman berumur muda (1-4 tahun) diberikan urea, TSP, dan&lt;br /&gt;KCl masing-masing sebanyak 0,27-1,1 kg/pohon, 0,5-1 kg/pohon dan 0,2-0,83&lt;br /&gt;kg/pohon. Untuk tanaman umur produksi (5 tahun lebih) diberikan urea, TSP, dan&lt;br /&gt;KCl masing-masing sebanyak 2,22-3,55 kg/pohon, 3,2 kg/pohon, dan 4 kg/pohon.&lt;br /&gt;Pupuk sebaiknya diberikan 4 kali dalam setahun.&lt;br /&gt;Mengingat tanaman alpukat hanya mempunyai sedikit akar rambut, maka&lt;br /&gt;sebaiknya pupuk diletakkan sedekat mungkin dengan akar. Caranya dengan&lt;br /&gt;menanamkan pupuk ke dalam lubang sedalam 30-40 cm, di mana lubang tersebut&lt;br /&gt;dibuat tepat di bawah tepi tajuk tanaman, melingkari tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;7.1. Hama pada Daun&lt;br /&gt;1) Ulat kipat (Cricula trisfenestrata Helf)&lt;br /&gt;Ciri: Panjang tubuh 6 cm, berwarna hitam bercak-bercak putih dan dipenuhi&lt;br /&gt;rambut putih. Kepala dan ekor berwarna merah menyala. Gejala: Daun-daun tidak&lt;br /&gt;utuh dan terdapat bekas gigitan. Pada serangan yang hebat, daun habis sama&lt;br /&gt;sekali tetapi tanaman tidak akan mati, dan terlihat kepompong bergelantungan.&lt;br /&gt;Pengendalian: Menggunakan insektisida yang mengandung bahan aktif&lt;br /&gt;monokrotofos atau Sipermetein, misal Cymbush 50 EC dengan dosis 1-3 cc/liter&lt;br /&gt;atau Azodrin 15 WSC dengan dosis 2-3 cc/liter.&lt;br /&gt;2) Ulat kupu-kupu gajah (Attacus atlas L.)&lt;br /&gt;Ciri: Sayap kupu-kupu dapat mencapai ukuran 25 cm dengan warna coklat&lt;br /&gt;kemerahan dan segitiga tansparan. Ulat berwarna hijau tertutup tepung putih,&lt;br /&gt;panjang 15 cm dan mempunyai duri yang berdaging. Pupa terdapat di dalam&lt;br /&gt;kepompong yang berwarna coklat. Gejala: Sama dengan gejala serangan ulat&lt;br /&gt;kipat, tetapi kepompong tidak bergelantungan melainkan terdapat di antara daun.&lt;br /&gt;Pengendalian: Sama dengan pemberantasan ulat kipat.&lt;br /&gt;3) Aphis gossypii Glov/A. Cucumeris, A. cucurbitii/Aphis kapas.&lt;br /&gt;Ciri: Warna tubuh hijau tua sampai hitam atau kunig coklat. Hama ini&lt;br /&gt;mengeluarkan embun madu yang biasanya ditumbuhi cendawan jelaga sehingga&lt;br /&gt;daun menjadi hitam dan semut berdatangan. Gejala: Pertumbuhan tanaman&lt;br /&gt;terganggu. Pada serangan yang hebat tanaman akan kerdil dan terpilin.&lt;br /&gt;Pengendalian: Disemprot dengan insektisida berbahan aktif asefat/dimetoat,&lt;br /&gt;misalnya Orthene 75 SP dengan dosis 0,5-0,8 gram/liter atau Roxion 2 cc/liter.&lt;br /&gt;4) Kutu dompolan putih (Pseudococcus citri Risso)/Planococcus citri Risso&lt;br /&gt;Ciri: Bentuk tubuh elips, berwarna coklat kekuningan sampai merah oranye,&lt;br /&gt;tertutup tepung putih, ukuran tubuh 3 mm, mempunyai tonjolan di tepi tubuh&lt;br /&gt;dengan jumlah 14-18 pasang dan yang terpanjang di bagian pantatnya. Gejala:&lt;br /&gt;Pertumbuhan tanaman terhambat dan kurus. Tunas muda, daun, batang, tangkai&lt;br /&gt;bunga, tangkai buah, dan buah yang terserang akan terlihat pucat, tertutup massa&lt;br /&gt;berwarna putih, dan lama kelamaan kering. Pengendalian: Disemprot dengan&lt;br /&gt;insektisida yang mengandung bahan aktif formotion, monokrotofos, dimetoat, atau&lt;br /&gt;karbaril. Misalnya anthion 30 EC dosis 1-1,5 liter/ha, Sevin 85 S dosis 0,2% dari&lt;br /&gt;konsentrasi fomula.&lt;br /&gt;5) Tungau merah (Tetranychus cinnabarinus Boisd)&lt;br /&gt;Ciri: Tubuh tungau betina berwarna merah tua/merah kecoklatan, sedangkan&lt;br /&gt;tungau jantan hijau kekuningan/kemerahan. Terdapat beberapa bercak hitam, kaki&lt;br /&gt;dan bagian mulut putih, ukuran tubuh 0,5 mm. Gejala: Permukaan daun berbintikbintik&lt;br /&gt;kuning yang kemudian akan berubah menjadi merah tua seperti karat. Di&lt;br /&gt;bawah permukaan daun tampak anyaman benang yang halus. Serangan yang&lt;br /&gt;hebat dapat menyebabkan daun menjadi layu dan rontok. Pengendalian:&lt;br /&gt;Disemprot dengan akarisida Kelthan MF yang mengandung bahan aktif&lt;br /&gt;dikofoldan, dengan dosis 0,6-1 liter/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2. Hama pada Buah&lt;br /&gt;1) Lalat buah Dacus (Dacus dorsalis Hend.)&lt;br /&gt;Ciri: Ukuran tubuh 6 - 8 mm dengan bentangan sayap 5 - 7 mm. Bagian dada&lt;br /&gt;berwarna coklat tua bercak kuning/putih dan bagian perut coklat muda dengan&lt;br /&gt;pita coklat tua. Stadium larva berwarna putih pada saat masih muda dan&lt;br /&gt;kekuningan setelah dewasa, panjang tubuhnya 1 cm. Gejala: Terlihat bintik&lt;br /&gt;hitam/bejolan pada permukaan buah, yang merupakan tusukan hama sekaligus&lt;br /&gt;tempat untuk meletakkan telur. Bagian dalam buah berlubang dan busuk karena&lt;br /&gt;dimakan larva. Pengendalian: Dengan umpan minyak citronella/umpan protein&lt;br /&gt;malation akan mematikan lalat yang memakannya. Penyemprotan insektisida&lt;br /&gt;dapat dilakukan antara lain dengan Hostathion 40 EC yang berbahan aktif&lt;br /&gt;triazofos dosis 2 cc/liter dan tindakan yang paling baik adalah memusnahkan&lt;br /&gt;semua buah yang terserang atau membalik tanah agar larva terkena sinar&lt;br /&gt;matahari dan mati.&lt;br /&gt;2) Codot (Cynopterus sp)&lt;br /&gt;Ciri: Tubuh seperti kelelawar tetapi ukurannya lebih kecil menyerang buahbuahan&lt;br /&gt;pada malam hari. Gejala: Terdapat bagian buah yang berlubang bekas&lt;br /&gt;gigitan. Buah yang terserang hanya yang telah tua, dan bagian yang dimakan&lt;br /&gt;adalah daging buahnya saja. Pengendalian: Menangkap codot menggunakan&lt;br /&gt;jala/menakut-nakutinya menggunakan kincir angin yang diberi peluit sehingga&lt;br /&gt;dapat menimbulkan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.3. Hama pada Cabang/Ranting&lt;br /&gt;1) Kumbang bubuk cabang (Xyleborus coffeae Wurth / Xylosandrus morigerus Bldf).&lt;br /&gt;Ciri: Kumbang yang lebih menyukai tanaman kopi ini berwarna coklat tua dan&lt;br /&gt;berukuran 1,5 mm. Larvanya berwarna putih dan panjangnya 2 mm. Gejala:&lt;br /&gt;Terdapat lubang yang menyerupai terowongan pada cabang atau ranting.&lt;br /&gt;Terowongan itu dapat semakin besar sehingga makanan tidak dapat tersalurakan&lt;br /&gt;ke daun, kemudian daun menjadi layu dan akhirnya cabang atau ranting tersebut&lt;br /&gt;mati. Pengendalian: Cabang/ranting yang terserang dipangkas dan dibakar.&lt;br /&gt;Dapat juga disemprot insektisida berbahan aktif asefat atau diazinon yang&lt;br /&gt;terkandung dalam Orthene 75 SP dengan dosis pemberian 0,5-0,8 gram/liter dan&lt;br /&gt;Diazinon 60 EC dosis 1-2 cc/liter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.4. Penyakit yang disebabkan Jamur&lt;br /&gt;1) Antraknosa&lt;br /&gt;Penyebab: Jamur Colletotrichum gloeosporioides (Penz.) sacc. Yang mempunyai&lt;br /&gt;miselium berwarna cokleat hijau sampai hitam kelabu dan sporanya berwarna&lt;br /&gt;jingga. Gejala: Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman, kecuali akar.&lt;br /&gt;Bagian yang terinfeksi berwarna cokelat karat, kemudian daun, bunga,&lt;br /&gt;buah/cabang tanaman yang terserang akan gugur. Pengendalian: Pemangkasan&lt;br /&gt;ranting dan cabang yang mati. Penelitian buah dilakukan agak awal (sudah tua&lt;br /&gt;tapi belum matang). Dapat juga disemprot dengan fungisida yang berbahan aktif&lt;br /&gt;maneb seperti pada Velimex 80 WP. Fungisida ini diberikan 2 minggu sebelum&lt;br /&gt;pemetikan dengan dosis 2-2,5 gram/liter.&lt;br /&gt;2) Bercak daun atau bercak cokelat&lt;br /&gt;Penyebab: cercospora purpurea Cke./dikenal juga dengan Pseudocercospora&lt;br /&gt;purpurea (Cke.) Derghton. Jamur ini berwarna gelap dan menyukai tempat&lt;br /&gt;lembab. Gejala: bercak cokelat muda dengan tepi cokelat tua di permukaan daun&lt;br /&gt;atau buah. Bila cuaca lembab, bercak cokelat berubah menjadi bintik-bintik&lt;br /&gt;kelabu. Bila dibiarkan, lama-kelamaan akan menjadi lubang yang dapat dimasuki&lt;br /&gt;organisme lain. Pengendalian: Penyemprotan fungisida Masalgin 50 WP yang&lt;br /&gt;mengandung benomyl, dengan dosis 1-2 gram/liter atau dapat juga dengan&lt;br /&gt;mengoleskan bubur Bordeaux.&lt;br /&gt;3) Busuk akar dan kanker batang&lt;br /&gt;Penyebab: Jamur Phytophthora yang hidup saprofit di tanah yang mengandung&lt;br /&gt;bahan organik, menyukai tanah basah dengan drainase jelek. Gejala: Bila&lt;br /&gt;tanaman yang terserang akarnya maka pertumbuhannya menjadi terganggu,&lt;br /&gt;tunas mudanya jarang tumbuh. Akibat yang paling fatal adalah kematian pohon.&lt;br /&gt;Bila batang tanaman yang terserang maka akan tampak perubahan warna kulit&lt;br /&gt;pada pangkal batang. Pengendalian: drainase perlu diperbaiki, jangan sampai&lt;br /&gt;ada air yang menggenang/dengan membongkar tanaman yang terserang&lt;br /&gt;kemudian diganti dengan tanaman yang baru.&lt;br /&gt;4) Busuk buah&lt;br /&gt;Penyebab: Botryodiplodia theobromae pat. Jamur ini menyerang apabila ada luka&lt;br /&gt;pada permukaan buah. Gejala: Bagian yang pertama kali diserang adalah ujung&lt;br /&gt;tangkai buah dengan tanda adanya bercak cokelat yang tidak teratur, yang&lt;br /&gt;kemudian menjalar ke bagian buah. Pada kulit buah akan timbul tonjolan-tonjolan&lt;br /&gt;kecil. Pengendalian: Oleskan bubur Bordeaux/ semprotkan fungisida Velimex 80&lt;br /&gt;WP yang berbahan aktif Zineb, dengan dosis 2-2,5 gram/liter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. PANEN&lt;br /&gt;8.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;Ciri-ciri buah yang sudah tua tetapi belum masak adalah:&lt;br /&gt;a) warna kulit tua tetapi belum menjadi cokelat/merah dan tidak mengkilap;&lt;br /&gt;b) bila buah diketuk dengan punggung kuku, menimbulkan bunyi yang nyaring;&lt;br /&gt;c) bila buah digoyang-goyang, akan terdengar goncangan biji.&lt;br /&gt;Penetapan tingkat ketuaan buah tersebut memerlukan pengalaman tersendiri.&lt;br /&gt;Sebaiknya perlu diamati waktu bunga mekar sampai enam bulan kemudian, karena&lt;br /&gt;buah alpukat biasanya tua setelah 6-7 bulan dari saat bunga mekar. Untuk&lt;br /&gt;memastikannya, perlu dipetik beberapa buah sebagai contoh. Bila buah-buah contoh&lt;br /&gt;tersebut masak dengan baik, tandanya buah tersebut telah tua dan siap dipanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.2. Cara Panen&lt;br /&gt;Umumnya memanen buah alpukat dilakukan secara manual, yaitu dipetik&lt;br /&gt;menggunakan tangan. Apabila kondisi fisik pohon tidak memungkinkan untuk&lt;br /&gt;dipanjat, maka panen dapat dibantu dengan menggunakan alat/galah yang diberi&lt;br /&gt;tangguk kain/goni pada ujungnya/tangga. Saat dipanen, buah harus dipetik/dipotong&lt;br /&gt;bersama sedikit tangkai buahnya (3-5 cm) untuk mencegah memar, luka/infeksi pada&lt;br /&gt;bagian dekat tangkai buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.3. Periode Panen&lt;br /&gt;Biasanya alpukat mengalami musim berbunga pada awal musim hujan, dan musim&lt;br /&gt;berbuah lebatnya biasanya pada bulan Desember, Januari, dan Februari. Di&lt;br /&gt;Indonesia yang keadaan alamnya cocok untuk pertanaman alpukat, musim panen&lt;br /&gt;dapat terjadi setiap bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.4. Prakiraan Produksi&lt;br /&gt;Produksi buah alpukat pada pohon-pohon yang tumbuh dan berbuah baik dapat&lt;br /&gt;mencapai 70-80 kg/pohon/tahun. Produksi rata-rata yang dapat diharapkan dari&lt;br /&gt;setiap pohon berkisar 50 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. PASCAPANEN&lt;br /&gt;9.1. Pencucian&lt;br /&gt;Pencucian dimaksudkan untuk menghilangkan segala macam kotoran yang&lt;br /&gt;menempel sehingga mempermudah penggolongan/penyortiran. Cara pencucian&lt;br /&gt;tergantung pada kotoran yang menempel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.2. Penyortiran&lt;br /&gt;Penyortiran buah dilakukan sejak masih berada di tingkat petani, dengan tujuan&lt;br /&gt;memilih buah yang baik dan memenuhi syarat, buah yang diharapkan adalah yang&lt;br /&gt;memiliki ciri sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Tidak cacat, kulit buah harus mulus tanpa bercak.&lt;br /&gt;2. Cukup tua tapi belum matang.&lt;br /&gt;3. Ukuran buah seragam. Biasanya dipakai standar dalam 1 kg terdiri dari 3 buah&lt;br /&gt;atau berbobot maksimal 400 g.&lt;br /&gt;4. Bentuk buah seragam. Pesanan paling banyak adalah yang berbentuk lonceng.&lt;br /&gt;Buah yang banyak diminta importir untuk konsumen luar negeri adalah buah alpukat&lt;br /&gt;yang dagingnya berwarna kuning mentega tanpa serat. Sedangkan untuk memenuhi&lt;br /&gt;kebutuhan dalam negeri, semua syarat tadi tidak terlalu diperhitungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.3. Pemeraman dan Penyimpanan&lt;br /&gt;Alpukat baru dapat dikonsumsi bila sudah masak. Untuk mencapai tingkat kemasan&lt;br /&gt;ini diperlukan waktu sekitar 7 hari setelah petik (bila buah dipetik pada saat sudah&lt;br /&gt;cukup ketuaannya). Bila tenggang waktu tersebut akan dipercepat, maka buah harus&lt;br /&gt;diperam terlebih dulu. Untuk keperluan ekspor, tidak perlu dilakukan pemeraman&lt;br /&gt;karena tenggang waktu ini disesuaikan dengan lamanya perjalanan untuk sampai di&lt;br /&gt;tempat tujuan.&lt;br /&gt;Cara pemeraman alpukat masih sangat sederhana. Pada umumnya hanya dengan&lt;br /&gt;memasukkan buah ke dalam karung goni, kemudian ujungnya diikat rapat. Setelah&lt;br /&gt;itu karung diletakkan di tempat yang kering dan bersih.&lt;br /&gt;Karena alpukat mempunyai umur simpan hanya sampai sekitar 7 hari (sejak petik&lt;br /&gt;sampai siap dikonsumsi), maka bila ingin memperlambat umur simpan tersebut&lt;br /&gt;dapat dilakukan dengan menyimpannya dalam ruangan bersuhu 5 derajat C. Dengan&lt;br /&gt;cara tersebut, umur penyimpanan dapat diperlambat samapai 30-40 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.4. Pengemasan dan Pengangkutan&lt;br /&gt;Kemasan adalah wadah/tempat yang digunakan untuk mengemas suatu komoditas.&lt;br /&gt;Kemasan untuk pasar lokal berbeda dengan yang untuk diekspor. Untuk pemasaran&lt;br /&gt;di dalam negeri, buah alpukat dikemas dalam karung-karung plastik/keranjang, lalu&lt;br /&gt;diangkut dengan menggunakan truk. Sedangkan kemasan untuk ekspor berbeda&lt;br /&gt;lagi, yaitu umumnya menggunakan kotak karton berkapasitas 5 kg buah alpukat.&lt;br /&gt;Sebelum dimasukkan ke dalam kotak karton, alpukat dibungkus kertas tissue,&lt;br /&gt;kemudian diatur sususannya dengan diselingi penyekat yang terbuat dari potongan&lt;br /&gt;karton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN&lt;br /&gt;10.1 Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;Perkiraan analisis budidaya tanaman alpukat dengan luas lahan 1 hektar selama 10&lt;br /&gt;tahun di daerah Jawa Barat pada tahun 1999.&lt;br /&gt;1) Biaya produksi&lt;br /&gt;1. Bibit okulasi: 121 batang @ Rp.10.000,- Rp. 1.210.000,-&lt;br /&gt;2. Pupuk&lt;br /&gt;- Pupuk kandang 3 ton@ Rp. 150.000,-/ton Rp. 450.000,-&lt;br /&gt;- Urea&lt;br /&gt;Tahun ke-1-4, 1.936 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 2.904.000,-&lt;br /&gt;Tahun ke-5-10, 9.801 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 14.701.500,-&lt;br /&gt;- TSP&lt;br /&gt;Tahun ke-1-4, 1.936 kg @ Rp. 1.600,- Rp. 3.097.600,-&lt;br /&gt;Tahun ke-5-10, 9.317 kg @ Rp.1.600,- Rp. 14.907.200,-&lt;br /&gt;- KCl&lt;br /&gt;Tahun ke-1-4, 1.694 kg @ Rp. 1.650,- Rp. 2.795.100,-&lt;br /&gt;Tahun ke-5-10, 11.616 kg @ Rp. 1.650,- Rp. 19.166.400,-&lt;br /&gt;4. Pestisida dan fungisida Rp. 240.000,-&lt;br /&gt;5. Peralatan&lt;br /&gt;- Cangkul Rp. 70.000,-&lt;br /&gt;- Sprayer Rp. 250.000,-&lt;br /&gt;6. Tenaga kerja&lt;br /&gt;- Pembajakan lahan dan pupuk dasar (borongan) Rp. 400.000,-&lt;br /&gt;- Penyiraman 15 HOK @ Rp. 7.000,- Rp. 105.000,-&lt;br /&gt;- Pemangkasan 4 HOK @ Rp. 7.000,- Rp. 28.000,-&lt;br /&gt;- Pembuatan lubang tanam 15 HOK @ Rp. 7.000,- Rp. 105.000,-&lt;br /&gt;- Penanaman 7 HOK @ RP. 7.000,- Rp. 49.500,-&lt;br /&gt;- Penyiangan 20 HOK/tahun @ Rp. 7.000,- Rp. 1.400.000,-&lt;br /&gt;- Pemupukan 10 HOK/tahun @ Rp. 7.000,- Rp. 700.000,-&lt;br /&gt;- Perlindungan tanaman 4HOK/tahun @ Rp. 7.000,- Rp. 280.000,-&lt;br /&gt;7. Panen dan pascapanen&lt;br /&gt;Tahun ke-4, 18 HOK @ Rp. 7.000,- Rp. 126.000,-&lt;br /&gt;Tahun ke-5, 22 HOK @ Rp. 7.000,- Rp. 154.000,-&lt;br /&gt;Tahun ke-6, 35 HOK @ Rp. 7.000,- Rp. 245.000,-&lt;br /&gt;Tahun ke-7, 48 HOK @ Rp. 7.000,- Rp. 336.000,-&lt;br /&gt;Tahun ke-8, 48 HOK @ Rp. 7.000,- Rp. 336.000,-&lt;br /&gt;Tahun ke-9, 48 HOK @ Rp. 7.000,- Rp. 336.000,-&lt;br /&gt;Tahun ke-10, 48HOK @ Rp. 7.000,- Rp. 336.000,-&lt;br /&gt;Jumlah biaya produksi dalam 10 tahun Rp. 64.841.300,-&lt;br /&gt;2) Pendapatan&lt;br /&gt;1. Tahun ke-4, 3.300 kg @ Rp. 3.500,- Rp. 11.550.000,-&lt;br /&gt;2. Tahun ke-5, 6.500 kg @ Rp. 3.500,- Rp. 22.750.000,-&lt;br /&gt;3. Tahun ke-6, 9.800 kg @ Rp. 3.500,- Rp. 34.300.000,-&lt;br /&gt;4. Tahun ke-7, 12.000 kg @ Rp. 3.500,- Rp. 42.000.000,-&lt;br /&gt;5. Tahun ke-8, 12.200 kg @ Rp. 3.500,- Rp. 42.700.000,-&lt;br /&gt;6. Tahun ke-9, 12.500 kg @ Rp. 3.500,- Rp. 43.750.000,-&lt;br /&gt;7. Tahun ke-10, 12.500 kg @ Rp. 3.500,- Rp. 43.750.000,-&lt;br /&gt;Jumlah pendapatan dalam 10 tahun Rp.240.800.000,-&lt;br /&gt;3) Keuntungan dalam 10 tahun Rp.175.958.700,-&lt;br /&gt;Tanaman alpukat yang berasal dari bibit okulasi atau sambung akan mulai berbuah&lt;br /&gt;pada umur 4 tahun dengan produksi 3.300 kg/ha. Produksi ini akan terus bertambah&lt;br /&gt;hingga mencapai kestabilan pada tahun ke-7 (panen keempat) dengan jumlah&lt;br /&gt;produksi rata-rata 12.000 kg/ha. Keuntungan baru dapat diperoleh pada panen&lt;br /&gt;kedua (tahun ke-5) dan akan stabil pada panen keempat (tahun ke-7). Namun&lt;br /&gt;analisis tersebut belum termasuk biaya sewa tanah.&lt;br /&gt;10.2 Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;Walaupun keuntungan bertanam alpukat di Indonesia belum begitu bisa dirasakan&lt;br /&gt;karena pengelolaannya tidak intensif, namun karena permintaannya naik maka&lt;br /&gt;pertanaman alpukat dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Prospek ke depan&lt;br /&gt;bisnis alpukat semakin cerah sehubungan dengan semakin terbukanya peluang&lt;br /&gt;pasar. Tetapi sayangnya masih banyak wilayah yang merupakan sentra produksi&lt;br /&gt;belum tergali, sehingga kesulitan mendapatkan buah masih tetap dirasakan oleh&lt;br /&gt;para pedagang, baik di pasar lokal maupun eksportir.&lt;br /&gt;Alpukat merupakan salah satu jenis buah bergizi tinggi yang semakin banyak&lt;br /&gt;diminati. Hal ini terlihat dari banyaknya permintaan alpukat di pasaran. Sebagai&lt;br /&gt;contoh, seorang grosir membutuhkan alpukat 12-20 ton/minggu untuk pedagang&lt;br /&gt;pengecer di Bogor.&lt;br /&gt;Selain di pasar lokal, pasar luar negeri pun berhasil ditembusnya. Mula-mula hanya&lt;br /&gt;Singapura dan Belanda, kemudian menyusul Saudi Arabia, Perancis, dan Brunei&lt;br /&gt;Darussalam. Impor Perancis pada tahun 1989 sebanyak 3.790 kg dengan nilai 379&lt;br /&gt;US$, dan pada tahun 1990 meningkat menjadi 5.749 kg dengan nilai 10.876 US$.&lt;br /&gt;Situasi harga di tingkat petani memang relatif bervariasi dibandingkan dengan di&lt;br /&gt;tingkat pengecer. Harga setiap kilogram di tingkat petani di daerah Garut pada tahun&lt;br /&gt;1991 berkisar antara Rp 200,- sampai Rp 600,-. Seangkan di tingkat pengecer&lt;br /&gt;biasanya lebih stabil, dan harga bisa mencapai Rp 700,- sampai Rp 1.750,-/kg.&lt;br /&gt;Adanya perbedaan harga yang cukup besar tersebut antara lain disebabkan karena&lt;br /&gt;di tingkat pengecer risiko kerusakannya lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;11.1.Ruang Lingkup&lt;br /&gt;Standar produksi ini meliputi: syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan&lt;br /&gt;contoh dan cara pengemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.2.Diskripsi&lt;br /&gt;Alpukat adaalah buah tanaman apaokat (Persea Americana MILL) dalam keadaan&lt;br /&gt;cukup tua, utuh, segar dan bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.3.Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;Alpokat digolongkan dalam 3 macam ukuran berdasarkan berat, yaitu:&lt;br /&gt;a) Alpokat besar : 451-550 gram/buah&lt;br /&gt;b) Alpokat sedang : 351-450 gram/buah&lt;br /&gt;c) Alpokat kecil : 250-350 gram/buah&lt;br /&gt;Sedangkan syarat mutu adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a) Kesamaan sifat varietas: mutu I seragam; mutu II seragam; cara pengujian&lt;br /&gt;organoleptik&lt;br /&gt;b) Tingkat ketuaan: mutu I tua tapi tidak terlalu matang; mutu II tua tapi tidak terlalu&lt;br /&gt;matang; cara pengijian organoleptik&lt;br /&gt;c) Bentuk: mutu I normal; mutu II kurang normal; cara pengujian organoleptik&lt;br /&gt;d) Kekerasan: mutu I keras; mutu II keras; cara pengujian Organoleptik&lt;br /&gt;e) Ukuran: mutu I seragam; mutu II kurang seragam; cara pengujian SP-SMP-309-&lt;br /&gt;1981&lt;br /&gt;f) Kerusakan (bobot/bobot): mutu I maks 5%; mutu II 10%; cara pengujian SP-SMP-&lt;br /&gt;310-1981&lt;br /&gt;g) Busuk (bobot/bobot): mutu I maks 1%; mutu II 2%; cara pengujian SP-SMP-311-&lt;br /&gt;1981&lt;br /&gt;h) Kotoran: mutu I bebas; mutu II bebas; cara pengujian organoleptik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.5.Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;Setiap kemasan diambil contohnya sebanyak 3 kg dari bagian atas, tengah dan&lt;br /&gt;bawah. Contoh tersebut dicampur merata tanpa menimbulkan kerusakan, kemudian&lt;br /&gt;dibagi 4 dan dua bagian diambil secara diagonal. Cara ini dilakukan beberapa kali&lt;br /&gt;sampai contoh mencapai 3 kg untuk dianalisa.&lt;br /&gt;a) Jumlah kemasan dalam partai: 1 sampai 100, minimum jumlah contoh yang&lt;br /&gt;diambil 5.&lt;br /&gt;b) Jumlah kemasan dalam partai: 101 sampai 300, minimum jumlah contoh yang&lt;br /&gt;diambil 7.&lt;br /&gt;c) Jumlah kemasan dalam partai: 301 sampai 500, minimum jumlah contoh yang&lt;br /&gt;diambil 9.&lt;br /&gt;d) Jumlah kemasan dalam partai: 501 sampai 1000, minimum jumlah contoh yang&lt;br /&gt;diambil 10.&lt;br /&gt;e) Jumlah kemasan dalam partai: lebih dari 1000, minimum jumlah contoh yang&lt;br /&gt;diambil 15.&lt;br /&gt;Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang&lt;br /&gt;berpengalaman/dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan suatu badan&lt;br /&gt;hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.6.Pengemasan&lt;br /&gt;Buah alpukat disajikan dalam bentuk utuh dan segar, dikemas dalam keranjang&lt;br /&gt;bambu/bahan lain yang sesuai dengan/tanpa bahan penyekat, ditutup dengan&lt;br /&gt;anyaman bambu/bahan lain, kemudian diikat dengan tali bambu/bahan lain. Isi&lt;br /&gt;kemasan tidak melebihi permukaan kemasan dengan berat bersih maksimum 20 kg.&lt;br /&gt;Di bagian luar kemasan diberi label yang bertuliskan antara lain: nama barang,&lt;br /&gt;golongan ukuran, jenis mutu, daerah asal, nama/kode perusahaan/eksportir, berat&lt;br /&gt;bersih, hasil Indonesia dan tempat/negara tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;1) Direktorat Reboisasi dan Rehabilitasi (1978). "Pedoman penanaman jenis&lt;br /&gt;tanaman hortikultura dan rerumputan". Jakarta: Direktorat Reboisasi dan&lt;br /&gt;Rehabilitasi, Departemen pertanian.&lt;br /&gt;2) Hodson, R.W. (1950). "The avocado a gift from the middle Americas". Economic&lt;br /&gt;Botany, (4) hal. 253&lt;br /&gt;3) Indriani, Y. Hetty; Suminarsih, Emi (1997). "Alpukat". Jakarta: Penebar Swadaya.&lt;br /&gt;96 hal.&lt;br /&gt;4) Kalie, Moehd. Baga (1997). "Alpukat: budidaya dan pemanfaatannya".&lt;br /&gt;Yogyakarta: Kanisius. 112 hal.&lt;br /&gt;5) Lawrence, G.H.M. (1951). "Taxonomy of vasculer plants" New York: The Mac&lt;br /&gt;Millan Company. 512 hal.&lt;br /&gt;6) Mardisiswojo, S.; Mangunsudarso, H.R. (1968). "Cabe puyang warisan nenek&lt;br /&gt;moyang" jilid III, Jakarta: Karya Wreda. Hal. 24.&lt;br /&gt;7) Ochse, J.J. (1931). "Fruit an fruits culture in the Dutch East Indies". Batavia: G.&lt;br /&gt;Kolff and Co. 55 hal.&lt;br /&gt;8) Ochse, J.J. (1961). "Tropical and subtropicak agriculture". Vol. I. New York : The&lt;br /&gt;Mac Millan Company, 617 hal.&lt;br /&gt;9) Palmer, D.F. (1937). "Avocado fertilization. Cal. Avocado Ass'n. 20th ed., Coit, J.E.&lt;br /&gt;(ed.), Year Book. 235 hal.&lt;br /&gt;10) Purseglove, J.W. (1974). "Tropical crops dicotyledons". London: Longman. 192&lt;br /&gt;hal.&lt;br /&gt;11) Rismunandar (1981). "Memperbaiki lingkungan dengan bercocok tanam jambu&lt;br /&gt;mede dan alpukat". Bandung: Sinar Baru 39 hal.&lt;br /&gt;12) Sunaryo, H.; Rismunandar (1981). "Pengantar pengetahuan dasar hortikultura".&lt;br /&gt;I. Bandung: Sinar Baru. 31 hal.&lt;br /&gt;13) Supriyanto, Arry (1989). "Bibit alpukat sambung dini." Trubus, (Nov.) hal. 192.&lt;br /&gt;14) Tohir, K.A. (1978). "Tropical agriculture. The climate, soils, cultural methods,&lt;br /&gt;crops, live stock, commercial importance and opportunities of tropics". New York:&lt;br /&gt;D. Appleton and company, 112 hal.&lt;br /&gt;15) Wirasmanto (1971). "Penggunaan alpukat". Warta Pertanian (10) hal. 19.&lt;br /&gt;16) Zentmeyer, G.A. (1953). "Diseases of the avocado". Dalam: The year book of&lt;br /&gt;agriculture United States Departement of Agriculture, Washington, D.C., hal. 875&lt;br /&gt;Jakarta, Februari 2000&lt;br /&gt;Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS&lt;br /&gt;Editor : Kemal Prihatman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TTG BUDIDAYA PERTANIAN&lt;br /&gt;Hal. 14/ 18&lt;br /&gt;Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi&lt;br /&gt;Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340&lt;br /&gt;Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id</description><link>http://manaree.blogspot.com/2009/04/budidaya-alpukat.html</link><author>noreply@blogger.com (manaree)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>