<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Online Tutorial &amp; Business</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/blogspot/UCqZ" /><description>Tutorial Kuliah dan Bisnis Online</description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</managingEditor><lastBuildDate>Sun, 15 Jan 2012 18:36:03 PST</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">908</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="blogspot/ucqz" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Tutorial Kuliah dan Bisnis Online</itunes:subtitle><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">blogspot/UCqZ</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item><title>Stadium Gagal Ginjal Kronik</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2011/09/stadium-gagal-ginjal-kronik.html</link><category>Seputar Penyakit</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Wed, 28 Sep 2011 19:41:39 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-5641051995815200996</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gagal ginjal kronik selalu berkaitan dengan penurunan progresif GFR. Stadium-stadium gagal ginjal kronik didasarkan pada tingkat GFR yang tersisa dan mencakup yaitu (Corwin,2001: 491) :&lt;br /&gt;
a. Penurunan cadangan ginjal, yang terjadi apabila GFR turun 50% dari normal&lt;br /&gt;
b. Insufisiensi ginjal, yang terjadi apabila GFR turun menjadi20-35% dari normal. Nefron-nefron yang tersisa sangat rentan mengalami kerusakan sendiri karena beratnya beban yang mereka terima&lt;br /&gt;
c. Gagal ginjal, yang terjadi apabila GFR kurang dari 20% normal. Semakin banyak nefron yang mati&lt;br /&gt;
d. Penyakit ginjal stadium akhir, yang terjadi apabila GFR menjadi kurang dari 5% dari normal. Hanya sedikit nefron fungsional yang tersisa. Di seluruh ginjal ditemukan jaringan parut dan atrofi tubulus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-5641051995815200996?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bJtNRyEzJkIKxl62jyujnqCtSDg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bJtNRyEzJkIKxl62jyujnqCtSDg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bJtNRyEzJkIKxl62jyujnqCtSDg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bJtNRyEzJkIKxl62jyujnqCtSDg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-28T19:41:39.485-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Proses pembentukan urine</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2011/09/proses-pembentukan-urine.html</link><category>Keperawatan Medikal Bedah</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Wed, 28 Sep 2011 19:31:22 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-3471148340537727150</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses pembentukan urine juga dilakukan oleh nefron yang merupakan bagian dari ginjal. Proses pembentukan urine terjadi melalui tiga tahapan yaitu (Syaifuddin, 2006: 238-239): &lt;br /&gt;
a. Proses filtrasi &lt;br /&gt;
Pembentukan kemih dimulai dengan filtrasi plasma pada glomerulus, seperti kapiler tubuh lainnya, kapiler glumerulus secara relatif bersifat impermiabel terhadap protein plasma yang besar dan cukup permeabel terhadap air dan larutan yang lebih kecil seperti elektrolit, asam amino, glukosa, dan sisa nitrogen. Aliran darah ginjal (RBF = Renal Blood Flow) adalah sekitar 25% dari curah jantung atau sekitar 1.200 ml/menit. Sekitar seperlima dari plasma atau sekitar 125 ml/menit dialirkan melalui glomerulus ke kapsula Bowman. Ini dikenal dengan laju filtrasi glomerulus (GFR = Glomerular Filtration Rate). Gerakan masuk ke kapsula Bowman disebut filtrat. Tekanan filtrasi berasal dari perbedaan tekanan yang terdapat antara kapiler glomerulus dan kapsula Bowman, tekanan hidrostatik darah dalam kapiler glomerulus mempermudah filtrasi dan kekuatan ini dilawan oleh tekanan hidrostatik filtrat dalam kapsula Bowman serta tekanan osmotik koloid darah. Filtrasi glomerulus tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan-tekanan koloid diatas namun juga oleh permeabilitas dinding kapiler.&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;b. Proses reabsorpsi&lt;br /&gt;
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar glukosa, natrium, klorida, fosfat, dan ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi penyerapan natrium dan ion bikarbonat. Bila diperlukan akan diserap kembali ke dalam tubulus bagian bawah. Penyerapannya terjadi secara aktif dikenal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada papilla renalis.&lt;br /&gt;
c. Sekresi&lt;br /&gt;
Sisanya penyerapan urine kembali yang terjadi pada tubulus dan di teruskan ke piala ginjal selanjutnya diteruskan ke ureter masuk ke vesika urinaria.   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-3471148340537727150?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1v3y2WxH_okfxQgoGrGwBYYZsjI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1v3y2WxH_okfxQgoGrGwBYYZsjI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1v3y2WxH_okfxQgoGrGwBYYZsjI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1v3y2WxH_okfxQgoGrGwBYYZsjI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-28T19:31:22.359-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Definisi Malformasi Anorektal ( MAR )</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2011/09/definisi-malformasi-anorektal-mar.html</link><category>Keperawatan Medikal Bedah</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Mon, 12 Sep 2011 23:19:19 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-3517128635996114774</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Definisi Malformasi Anorektal ( MAR )&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malformasi anorektal (anus imperforata) adalah malformasi kongenital dimana rectum tidak mempunyai lubang keluar. Anus tidak ada, abnormal atau ektopik. Kelainan anorektal umum pada laki-laki dan perempuan memperlihatkan hubungan kelainan anorektal rendah dan tinggi diantara usus, muskulus levator ani, kulit, uretra dan vagina(Donna L. Wong, 520 : 2003).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Imperforata anus adalah tidak komplitnya perkembangan embrionik pada distal usus (anus) atau tertutupnya anus secara abnormal. (Suryadi 2006 )&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Malformasi anorektal adalah tidak terjadinya perforasi membran yang memisahkan bagian entoderm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak semputna. Anus tampat tidak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang terbentuk anus namun tidak berhubungan langsung dengan rectum (purwanto,2001 ).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesimpulan dari penulis tentang pengertian di atas adalah malformasi anorektal merupakan penyakit dimana rektum tidak mempunyai lubang keluar atau tertutupnya anus secara abnorma&lt;br /&gt;
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Malformasi Anorektal adalah suatu kelainan kongenital dimana rekrum tidak mempunyai lubang anus sehingga dapat menyebabkan kesulitan dalam BAB yang dapat menyebabkan konstipasi, ketidaknyamanan, dan  Ketika rectum tidak berhubungan dengan anus tetapi terdapat fistula, feses akan keluar melalui fistula tersebut sebagai pengganti anus sehingga akan menyebabkan infeksi.&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-3517128635996114774?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/L9RR78vCfZGoojj1um9ZCMcPduA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/L9RR78vCfZGoojj1um9ZCMcPduA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/L9RR78vCfZGoojj1um9ZCMcPduA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/L9RR78vCfZGoojj1um9ZCMcPduA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-12T23:19:19.118-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Proses Keperawatan Pada Klien Sectio Caesarea</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2011/03/proses-keperawatan-pada-klien-sectio.html</link><category>Keperawatan Maternitas</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Thu, 24 Mar 2011 00:35:53 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-5135517611342698491</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses keperawatan adalah langkah-langkah sistematis untuk penyelesaian masalah klien. Langkah-langkah sistematis tersebut dibagi dalam lima tahap meliputi: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (Haryanto, 1998: 3).&lt;br /&gt;
1. Pengkajian&lt;br /&gt;
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendapatkan data klien berdasarkan kebutuhan dasar manusia dan memberikan gambaran mengenai keadaan klien.&lt;br /&gt;
Tahap pengkajian terdiri dari kegiatan yaitu pengumpulan data, pengelompokan data, dan analisa data.&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
a. Pengumpulan Data&lt;br /&gt;
Langkah ini merupakan langkah awal dan dasar dari proses keperawatan. Dalam pengkajian, data dikumpulkan secara lengkap dari berbagai sumber, antara lain dari klien, keluarga, pemeriksaan medis maupun catatan kesehatan klien.&lt;br /&gt;
Pengumpulan data merupakan kegiatan dalam menghimpun informasi dari klien meliputi unsur Bio-Psiko-Sosial-Spiritual secara komprehensif.&lt;br /&gt;
Data yang dikumpulkan terdiri atas :&lt;br /&gt;
1) Identitas &lt;br /&gt;
a) Identitas Klien&lt;br /&gt;
Meliputi nama, usia, jenis kelamin, agama, suku bangsa, pendidikan terahir, pekerjaan, golongan darah, alamat lengkap, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, nomor medrek, dan diagnosa medis.&lt;br /&gt;
b) Identitas Penanggung jawab&lt;br /&gt;
Terdiri dari nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan terahir, hubungan dengan klien, dan alamat lengkap.&lt;br /&gt;
2) Riwayat Kesehatan&lt;br /&gt;
a) Keluhan Utama&lt;br /&gt;
Berupa keluhan yang dirasakan klien pada saat dilakukan pengkajian. Biasanya pada klien post partus dengan tindakan sectio caesarea mengeluh nyeri pada luka operasi.&lt;br /&gt;
b) Riwayat Kesehatan Sekarang&lt;br /&gt;
Merupakan informasi sejak timbulnya keluhan sampai dirawat dirumah sakit. Berkaitan dengan keluhan utama yang dijabarkan dengan PQRST yang meliputi hal-hal yang meringankan dan memberatkan. Kualitas dan kuantitas dari keluhan, penyebaran serta tingkat kegawatan atau skala dan waktu. &lt;br /&gt;
c) Riwayat Kesehatan yang Lalu&lt;br /&gt;
Apakah klien pernah menderita penyakit yang sama pada kehamilan sebelumnya atau ada faktor predisposisi terhadap kehamilan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d) Riwayat Kesehatan Keluarga&lt;br /&gt;
Ditanyakan pada klien atau keluarganya, apakah ada keluarga klien yang mempunyai penyakit keturunan, dan penyakit menular. &lt;br /&gt;
e) Riwayat Ginekologi dan Obstetri&lt;br /&gt;
(1) Riwayat Ginekologi&lt;br /&gt;
(a) Riwayat Menstruasi&lt;br /&gt;
Meliputi menarche, lamanya haid, siklus haid, banyaknya darah, keluhan, sifat darah, dan haid terakhir.&lt;br /&gt;
(b) Riwayat Perkawinan&lt;br /&gt;
Umur berapa waktu menikah (usia suami dan klien), sudah berapa lama menjalani pernikahan dan  berapa lama usia pernikahan.&lt;br /&gt;
(c) Riwayat Keluarga Berencana&lt;br /&gt;
Alat kontrasepsi yang dipakai apa, adakah gangguan yang dirasakan, kapan mulai berhenti dan apa alasannya.&lt;br /&gt;
(2) Riwayat Obstetri&lt;br /&gt;
(a) Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang Lalu&lt;br /&gt;
Meliputi tanggal partus, umur kehamilan, jenis persalinan, tempat/penolong, jenis kelamin, panjang badan bayi, berat lahir bayi, kelainan kehamilan, kelainan bayi, kelainan masa nifas, keadaan masa nifas, keadaan anak sekarang apakah sehat atau meninggal.&lt;br /&gt;
(b) Riwayat Kehamilan Sekarang&lt;br /&gt;
Apakah klien memeriksakan kehamilannya dimana, berapa kali, teratur apa tidak, mendapat imunisasi lengkap atau tidak, keluhan yang dirasakan saat hamil, adakah perdarahan, berapa berat badan sebelum hamil, selama hamil, sesudah melahirkan dan penambahan berat badan saat hamil.&lt;br /&gt;
(c) Riwayat Persalinan Sekarang Dengan Sectio Caesarea&lt;br /&gt;
Jam berapa masuk kamar operasi, berapa lama operasi, berat badan dan panjang bayi waktu lahir, jenis anastesi yang digunakan, dan jenis operasi yang digunakan.&lt;br /&gt;
3) Pemeriksaaan Fisik&lt;br /&gt;
a) Keadaan Umum&lt;br /&gt;
1. Kesadaran &lt;br /&gt;
Biasanya klien tampak lemah, kesadaran compos mentis atau terjadi penurunan kesadaran yang diakibatkan efek anestesi.&lt;br /&gt;
2. Tanda-tanda vital&lt;br /&gt;
Beberapa perubahan tanda-tanda vital bisa terlihat, peningkatan kecil sementara baik peningkatan tekanan darah sistol maupun diastol dapat timbul. Fungsi pernafasan kembali ke fungsi saat wanita tidak hamil, dan setelah rahim kosong diafragma menurun, aksis jantung kembali normal.&lt;br /&gt;
b) Sistem Pernafasan&lt;br /&gt;
Biasanya frekuensi nafas meningkat lebih dari 24x/menit jika terjadi nyeri, irama nafas vesikuler, Biasanya pada pasien dengan anestesi umum sering mempunyai keluhan batuk.&lt;br /&gt;
c) Sistem Kardiovaskuler&lt;br /&gt;
Apakah ada peningkatan vena jugularis, konjungtiva anemis karena adanya pendarahan saat persalinan post sectio caesarea, tetapi jika terjadi pendarahan hebat dapat disertai dengan adanya penurunan hemoglobin yang tajam, kapilaritas dapat terjadi penurunan akibat gangguan perpusi pada perifer, tekanan darah dapat meningkat jika disertai dengan riwayat pre-eklamsi berat yaitu sistol 140 mmHg atau lebih dan diastolik 100 mmHg atau lebih. &lt;br /&gt;
d) Sistem Pencernaan&lt;br /&gt;
Mukosa bibir akan terjadi kering akibat anestesi, bising usus tidak ada atau lemah jika post anestesi dapat terjadi mual atau muntah ini disebabkan oleh efek sentral dari anastesi atau akibat iritasi lambung oleh obat yang tertelan, sehingga menimbulkan nyeri tekan di efigastrium dan akan terjadi konstipasi satu sampai tiga hari post sectio caesarea akibat aktivitas usus terhambat.&lt;br /&gt;
e) Sistem Reproduksi&lt;br /&gt;
(1) Payudara &lt;br /&gt;
Pada hari kedua post partus baik normal maupun post sectio caesarea, keadaan payudara sama dengan saat hamil, kira-kira hari ketiga payudara menjadi besar, keras dan nyeri yang menandakan permulaan sekresi air susu dan kalau areola payudara dipijat, keluarlah cairan putih dari puting susu, ditambah dengan klien belum menetekan sehingga payudara bengkak.&lt;br /&gt;
(2) Uterus&lt;br /&gt;
Pada persalinan normal maupun post sectio caesarea setelah plasenta lahir konsistensi uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil. Pada post operasi sectio casarea mungkin akan terjadi perlambatan pengecilan uterus akibat dari adanya luka operasi pada uterus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(3) Vulva&lt;br /&gt;
Pada persalinan normal maupun post sectio caesarea terjadi pengeluaran lochea, ada beberapa jenis lochea, diantaranya lochea rubra, lochea sanguilenta, lochea serosa, lochea alba.&lt;br /&gt;
(4) Perineum&lt;br /&gt;
Pada post sectio caesarea tidak akan ada perubahan atau perlukaan.&lt;br /&gt;
f) Sistem Perkemihan&lt;br /&gt;
Pada pasien post sectio caesarea dapat terjadi vasokontriksi pada pembuluh darah ginjal sehingga terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus yang dapat mengakibatkan  produksi urine menurun. &lt;br /&gt;
g) Sistem Integumen&lt;br /&gt;
Biasanya dilihat turgor kulitnya, keadaan rambut mulai dari kebersihan dan distribusi. Dilihat apakah ada strie gravidarum, linea alba dan apakah ada luka post operasi pada abdomen klien&lt;br /&gt;
h) Sistem Persyarafan&lt;br /&gt;
Tidak terjadi penurunan kesadaran pada sectio caesarea karena menggunakan anestesi spinal ataupun umum.&lt;br /&gt;
i) Sistem Endokrin&lt;br /&gt;
Kaji adanya pembesaran kelenjar tiroid, adanya keringat yang berlebihan, adanya hipo/hiperpigmentasi, riwayat penyakit diabetes militus, dan kaji pengeluaran ASI. &lt;br /&gt;
j) Sistem Muskuloskeletal&lt;br /&gt;
(1)  Ekstremitas atas&lt;br /&gt;
Pada post sectio caesarea dapat terjadi kelemahan sebagai dampak anestesi yang mendefresikan sistem saraf pada muskuloskeletal sehingga menurunkan tonus otot. Setiap wanita nifas memiliki derajat diastasis rektus abdominis yang berbeda-beda tergantung dari beberapa faktor  termasuk kondisi umum dan tonus otot.&lt;br /&gt;
(2)  Ekstremitas bawah &lt;br /&gt;
Pada post sectio caesarea dapat terjadi kelemahan sebagai dampak anestesi yang mendefresikan sistem saraf pada muskuloskeletal sehingga menurunkan tonus otot, serta kaji apakah ada tanda-tanda tromboplebitis yang diakibatkan kurangnya mobilitas fisik.&lt;br /&gt;
4) Pemeriksaan Fisik Pada Bayi &lt;br /&gt;
Pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir yaitu dilakukan dengan cara head to toe mulai dari kepala sampai ekstremitas disertai dengan refleks- refleks nya.&lt;br /&gt;
5) Pola Aktivitas Sehari-Hari&lt;br /&gt;
a) Pola Nutrisi&lt;br /&gt;
(1) Makan &lt;br /&gt;
Biasanya pada post sectio caesarea klien mengalami mual akibat pengaruh anestesi tetapi nanti hilang dengan sendirinya.&lt;br /&gt;
(2) Minum &lt;br /&gt;
Pada klien post sectio caesarea biasanya baik, dianjurkan klien banyak minum.&lt;br /&gt;
b) Pola Eliminasi&lt;br /&gt;
Pada post sectio caesarea biasanya pemenuhan eliminasi BAK tidak terganggu. Pada hari ke 2 post sectio caesarea klien masih terpasang kateter. Pemenuhan eliminasi BAB biasanya terganggu karena kondisi klien yang lemah dan sakit pada daerah abdomen sehingga klien takut untuk BAB.&lt;br /&gt;
c) Pola Istirahat Tidur&lt;br /&gt;
Karena klien merasa nyeri pada daerah luka operasi, maka biasanya tidur klien kurang dari kebutuhan. Hal ini juga bisa disebabkan oleh cemas yang datang dari klien.&lt;br /&gt;
d) Pola Aktivitas dan Latihan&lt;br /&gt;
Karena kondisi klien yang lemah dan ditambah adanya luka operasi pada abdomen. Biasanya aktivitas dan latihan klien terganggu.&lt;br /&gt;
e) Pola Personal Hygine&lt;br /&gt;
Karena kondisi klien yang lemah dan terdapat luka operasi pada abdomen biasanya pemenuhan personal hygine (mandi, cuci rambut gosok gigi gunting kuku) klien terganggu.&lt;br /&gt;
f) Ketergantungan Fisik&lt;br /&gt;
Apakah klien mempunyai ketergantungan fisik seperti merokok, minum-minuman keras, dan obat-obatan.&lt;br /&gt;
6) Aspek Psikososial dan Spiritual&lt;br /&gt;
a) Pola fikir dan persepsi&lt;br /&gt;
Apakah klien mengatakan mengetahui atau tidak tentang cara perawatan payudara, rencana akan memberikan ASI atau tidak, dan alat kontrasepsi yang akan klien pakai setelah melahirkan.&lt;br /&gt;
b) Persepsi diri&lt;br /&gt;
Hal apa yang dipikirkan klien saat dilakukan pengkajian.&lt;br /&gt;
c) Konsep diri&lt;br /&gt;
(1) Peran yaitu apakah klien menerima perannya sekarang yaitu sebagai seorang ibu dari anaknya.&lt;br /&gt;
(2) Identitas yaitu klien seorang istri dari suaminya dan ibu dari anak-anaknya.&lt;br /&gt;
(3) Gambaran diri yaitu bagaimana penerimaan klien terhadap anggota tubuhnya yang sekarang yang tidak sempurna lagi yaitu adanya luka sectio caesarea &lt;br /&gt;
(4) Ideal diri yaitu bagaimana persepsi klien mengenai tubuhnya, apakah klien menerima perannya yang sekarang, dan bagaimana harapan klien kedepannya.&lt;br /&gt;
(5) Harga diri yaitu bagaimana perasaan klien tentang harga dirinya, apakah klien merasa dihargai atau tidak.&lt;br /&gt;
d) Hubungan/komunikasi &lt;br /&gt;
Bahasa dan komunikasi yang digunakan klien sehari-hari.&lt;br /&gt;
e) Kebiasaan seksual&lt;br /&gt;
Kebiasaan seksual sebelum hamil, setelah hamil, dan rencana akan berhubungan seksual setelah melahirkan.&lt;br /&gt;
f) Sistem spiritual&lt;br /&gt;
Agama yang diyakini klien dan keyakinan klien mengenai kesehatannya.&lt;br /&gt;
7) Data Penunjang &lt;br /&gt;
Pada pemeriksaan laboratorium terjadi penurunan hemoglobin &amp;lt;10 gr/dL bila terjadi pendarahan, peningkatan leukosit &amp;lt;11.300 mm3 bila terjadi infeksi. 8) Therapi  Therapi yang digunakan klien post sectio caesarea.     b. Analisa Data Analisa data adalah kemampuan mengaitkan data dan menghubungkan data tersebut dengan konsep teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dan menentukan masalah kesehatan dan keperawatan klien. Analisa data yaitu proses intelektual yang meliputi kegiatan  menyelidiki,  mengklasifikasi dan mengelompokan data. Kemudian  mencari kemungkinan penyebab dan dampak serta menentukan masalah atau penyimpangan yang terjadi.    &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-5135517611342698491?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IkpqfqSDKKQaC8DhI8RB1ywz4tw/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IkpqfqSDKKQaC8DhI8RB1ywz4tw/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IkpqfqSDKKQaC8DhI8RB1ywz4tw/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IkpqfqSDKKQaC8DhI8RB1ywz4tw/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-24T00:35:53.952-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Jenis-jenis Vaksin Dalam Program Imunisasi di Indonesia</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2011/03/jenis-jenis-vaksin-dalam-program.html</link><category>Info Kesehatan</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Wed, 23 Mar 2011 17:42:13 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-1954401345667014510</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Vaksin BCG&lt;br /&gt;
Jadwal pemberian&lt;br /&gt;
Diberikan 1 kali pada umur antara 0-2 bulan &lt;br /&gt;
Cara Pemberian dan Dosis:&lt;br /&gt;
• Sebelum disuntikkan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu. Melarutkan dengan menggunakan alat suntik steril (ADS 5 ml)&lt;br /&gt;
• Dosis pemberian: 0,05 ml sebanyak 1 kali&lt;br /&gt;
• Disuntikkan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas (insertio musculus deltoideus) , dengan menggunakan spuit suntik (ADS 0,05 ml)  &lt;br /&gt;
• Vaksin yang dilarutkan harus digunakan sebelum lewat 3 jam&lt;br /&gt;
b. Vaksin DPT&lt;br /&gt;
Jadwal Pemberian&lt;br /&gt;
Diberikan 3 kali (DPT 1,2,3), selang 4 minggu, umur antara 2-11 bulan &lt;br /&gt;
Cara Pemberian dan Dosis&lt;br /&gt;
• Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen&lt;br /&gt;
• Disuntikkan secara im dengan dosis pemberian 0,5ml sebanyak 3 dosis&lt;br /&gt;
• Dosis pertama diberikan pada anak umur 2 bulan, dosis selanjutnya diberikan dengan interval paling cepat 4 minggu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;• Di unit pelayanan statis, vaksin DPT yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu, dengan ketentuan:&lt;br /&gt;
• vaksin belum kadaluarsa&lt;br /&gt;
• vaksin disimpan dalam suhu 2 0 C s/d 8 0 C&lt;br /&gt;
• tidak pernah terendam air&lt;br /&gt;
• sterilitasnya terjaga&lt;br /&gt;
• VVM masih dalam kondisi terjaga&lt;br /&gt;
• Di Posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya&lt;br /&gt;
c. Vaksin Jerap TT&lt;br /&gt;
Jadwal Pemberian&lt;br /&gt;
Pada WUS atau ibu hamil, dosis primer diberi 2 kali, ke 3 kali waktu 6 bulan kemudian. Diberikan 5 kali, ke 4 dan ke 5 diberikan interval minimal 1 tahun setelah pemberian ke 3 dan ke 4. &lt;br /&gt;
Cara Pemberian dan Dosis&lt;br /&gt;
• Sebelum digunakan vaksin harus dikocok lebih dahulu agar suspensi menjadi homogen&lt;br /&gt;
• Untuk mencegah tetanus/tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer yang disuntikkan secara im atau sc dalam, dengan dosis pemberian 0,5 ml dengan interval 4 minggu. Dilanjutkan dengan dosis ke 3 setelah 6 bulan berikutnya. Untuk mempertahankan kekebalan terhadap tetanus pada WUS, maka dianjurkan diberikan 5 dosis. Dosis ke empat dan ke lima diberikan dengan interval minimal 1 tahun setelah pemberian dosis ke 3 dan ke 4. Imunisasi TT dapat diberikan secara aman selama masa kehamilan bahkan pada periode trimester pertama.&lt;br /&gt;
• Di unit pelayanan statis, vaksin TT yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu dengan ketentuan:&lt;br /&gt;
1. vaksin belum kadaluarsa&lt;br /&gt;
2. vaksin disimpan dalam suhu 2 0 C s/d 8 0 C&lt;br /&gt;
3. tidak pernah terendam air&lt;br /&gt;
4. sterilitasnya terjaga&lt;br /&gt;
5. VVM masih dalam kondisi A dan B&lt;br /&gt;
• Sedangkan di posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya&lt;br /&gt;
d. Vaksin DT&lt;br /&gt;
Jadwal Pemberian&lt;br /&gt;
Dianjurkan pada usia 8 tahun (usia anak SD)&lt;br /&gt;
Cara Pemberian dan Dosis&lt;br /&gt;
• Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen&lt;br /&gt;
• Disuntikkan secara im atau sc dalam, dengan dosis pemberian 0,5 ml. Dianjurkan untuk anak usia di bawah 8 tahun. Untuk usia ≥ 8 tahun lebih dianjurkan imunisasi dengan vaksin Td&lt;br /&gt;
• Di unit pelayanan statis, vaksin TT yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu dengan ketentuan: &lt;br /&gt;
1. vaksin belum kadaluarsa&lt;br /&gt;
2. vaksin disimpan dalam suhu 2 0 C s/d 8 0 C&lt;br /&gt;
3. tidak pernah terendam air&lt;br /&gt;
4. sterilitasnya terjaga&lt;br /&gt;
5. VVM masih dalam kondisi A dan B&lt;br /&gt;
• Sedangkan di posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya.&lt;br /&gt;
e. Vaksin Polio  &lt;br /&gt;
Jadwal Pemberian&lt;br /&gt;
Diberikan 4 kali (Polio 1, 2, 3, 4) selang 4 minggu, umur antara 0-11 bulan &lt;br /&gt;
Cara Pemberian dan Dosis&lt;br /&gt;
• Diberikan secara oral (melalui mulut), 1 dosis adalah 2 (dua) tetes sebanyak 4 kali (dosis) pemberian dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu&lt;br /&gt;
• Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper) yang baru&lt;br /&gt;
• Di unit pelayanan statis, vaksin polio yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 2 minggu dengan ketentuan:&lt;br /&gt;
1. vaksin belum kadaluarsa&lt;br /&gt;
2. vaksin disimpan dalam suhu 2 0 C s/d 8 0 C&lt;br /&gt;
3. tidak pernah terendam air&lt;br /&gt;
4. sterilitasnya terjaga&lt;br /&gt;
5. VVM masih dalam kondisi A atau B&lt;br /&gt;
• Sedangkan di posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya&lt;br /&gt;
f. Vaksin Campak&lt;br /&gt;
Jadwal Pemberian&lt;br /&gt;
Pemberian 1 kali, umur antara 9 – 11 bulan &lt;br /&gt;
Cara Pemberian dan Dosis&lt;br /&gt;
• Sebelum disuntikkan vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutkan dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut &lt;br /&gt;
• Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subcutan pada lengan kiri atas, pada usia 9-11 bulan. Dan ulangan (booster) pada usia 6 - 7 tahun (kelas 1 SD) setelah catch-up campaign campak pada anak SD kelas 1-6.&lt;br /&gt;
g. Vaksin Hepatitis B&lt;br /&gt;
Jadwal pemberian&lt;br /&gt;
Pemberian 3 kali selang 4 minggu, umur antara 0-11 bulan.&lt;br /&gt;
Cara Pemberian dan Dosis&lt;br /&gt;
• Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen &lt;br /&gt;
• Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml atau 1 buah HB PID, pemberian suntikan secara im, sebaiknya pada anterolateral paha&lt;br /&gt;
• Pemberian sebanyak 3 dosis&lt;br /&gt;
• Dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari, dosis berikutnya dengan interval minimum 4 minggu (1 bulan)&lt;br /&gt;
Untuk Hepatitis B vial &lt;br /&gt;
• Di unit pelayanan statis, vaksin Hep B yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu dengan ketentuan:&lt;br /&gt;
a. Vaksin belum kadaluarsa&lt;br /&gt;
b.Vaksin di simpan dalam suhu  2 0 C s/d 8 0 C&lt;br /&gt;
c. Tidak pernah terendam air &lt;br /&gt;
d. Sterilitasnya terjaga&lt;br /&gt;
e. VVM masih dalam kondisi A dan B&lt;br /&gt;
• Sedangkan di Posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya &lt;br /&gt;
h. Vaksin DPT-HB &lt;br /&gt;
Vaksin mengandung DPT berupa toxoid difteri dan toxoid tetanus yang dimurnikan dan pertusis yang inaktivasi serta vaksin Hepatitis B yang merupakan sub unit vaksin virus yang mengandung HbsAg murni dan bersifat non infectious.&lt;br /&gt;
Jadwal Pemberian &lt;br /&gt;
Dosis pertama umur 2 bulan, diberikan 3 kali, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4 minggu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara Pemberian dan Dosis&lt;br /&gt;
• Pemberian dengan cara im, 0,5 ml sebanyak 3 dosis&lt;br /&gt;
• Dosis pertama pada usia 2 bulan, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4 minggu&lt;br /&gt;
• Di unit pelayanan statis, vaksin DPT-HB yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu, dengan ketentuan:&lt;br /&gt;
1. vaksin belum kadaluarsa&lt;br /&gt;
2. vaksin disimpandalam suhu 2 0 C s/d 8 0 C&lt;br /&gt;
3. tidak pernah terendam air &lt;br /&gt;
4. Sterilitasnya terjaga &lt;br /&gt;
5. VVM masih dalam kondisi A dan B&lt;br /&gt;
• Sedangkan di posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya.&lt;br /&gt;
Sumber : catatan kuliah   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-1954401345667014510?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Zx8q4Mnl9r4EMFZGe3SCz6sdOgE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Zx8q4Mnl9r4EMFZGe3SCz6sdOgE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Zx8q4Mnl9r4EMFZGe3SCz6sdOgE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Zx8q4Mnl9r4EMFZGe3SCz6sdOgE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-23T17:42:13.194-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Letak Colon (colon asendens dan colon desendens) - ( caecum, sigmoid, dan colon transversum)</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2011/03/letak-colon-colon-asendens-dan-colon.html</link><category>Keperawatan Medikal Bedah</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Wed, 23 Mar 2011 17:34:19 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-6412603469012441159</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Usus besar merupakan sambungan dari usus halus dan berakhir di rectum yang memiliki panjang sekitar 1,5 meter, lebarnya sekitar 5-6 cm. Usus besar ini menghasilkan lendir yang berfungsi menyerap air dan elektrolit dari tinja. Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi, bakteri didalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting seperti vitamin K. (Price &amp;amp; Wilson, 2006 : 457)&lt;br /&gt;
Usus besar berbentuk saluran muscular berongga yang membentang dari saecum hingga canalis ani.&lt;br /&gt;
Menurut letaknya colon dibagi menjadi :&lt;br /&gt;
a. Ekstra peritoneal (colon asendens dan colon desendens)&lt;br /&gt;
b. Intra peritoneal ( caecum, sigmoid, dan colon transversum)&lt;br /&gt;
1) Colon asendens &lt;br /&gt;
Panjangnya ± 14 cm terletak dibawah abdomen sebelah kanan membujur keatas dari ileum ke bawah hati. Dibawah hati melengkung kekiri, lengkungan ini disebut fleksura hepatica, dilanjutkan sebagai colon transversum&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh4.googleusercontent.com/-hu_8J3cAzeE/TYqRQ7zui1I/AAAAAAAABuM/3m9ATlz8lqg/s1600/colon.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://lh4.googleusercontent.com/-hu_8J3cAzeE/TYqRQ7zui1I/AAAAAAAABuM/3m9ATlz8lqg/s1600/colon.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   2) Colon Transversum&lt;br /&gt;
Panjangnya ± 38 cm membujur dari colon asendens sampai colon desendens berada bawah abdomen, sebelah kanan terdapat fleksura hepatica dan sebelah kiri terdapat fleksura lienalis&lt;br /&gt;
3) Colon desendens&lt;br /&gt;
Panjangnya ± 25 cm terletak dibawah abdomen kiri membujur dari atas kebawah dari fleksura lienalis sampai ileum kiri bersambung dengan colon sigmoid&lt;br /&gt;
4) Colon sigmoid&lt;br /&gt;
Merupakan lanjutan dari colon desendens terletak miring dalam rongga pelvis sebelah kiri, bentuknya menyerupai huruf S, ujung bawahnya berhubungan dengan rectum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-6412603469012441159?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WGopnH-Y1Revsoc_h1quo2IOmys/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WGopnH-Y1Revsoc_h1quo2IOmys/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WGopnH-Y1Revsoc_h1quo2IOmys/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WGopnH-Y1Revsoc_h1quo2IOmys/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-23T17:34:19.923-07:00</app:edited><media:thumbnail url="https://lh4.googleusercontent.com/-hu_8J3cAzeE/TYqRQ7zui1I/AAAAAAAABuM/3m9ATlz8lqg/s72-c/colon.png" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Bentuk Luka Perineum</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2011/03/bentuk-luka-perineum.html</link><category>Kebidanan</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Tue, 22 Mar 2011 20:57:12 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-8705693859849074309</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bentuk luka perineum setelah melahirkan ada 2 macam yaitu :&lt;br /&gt;
1. Rupture&lt;br /&gt;
Rupture adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan. Bentuk rupture biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan penjahitan. (Hamilton, 2002).&lt;br /&gt;
2. Episotomi&lt;br /&gt;
Episiotomi adalah sebuah irisan bedah pada perineum untuk memperbesar muara vagina yang dilakukan tepat sebelum keluarnya kepala bayi (Eisenberg, A., 1996).&lt;br /&gt;
Episiotomi, suatu tindakan yang disengaja pada perineum dan vagina yang sedang dalam keadaan meregang. Tindakan ini dilakukan jika perineum diperkirakan akan robek teregang oleh kepala janin, harus dilakukan infiltrasi perineum dengan anestasi lokal, kecuali bila pasien sudah diberi anestasi epiderual. Insisi episiotomi dapat dilakukan di garis tengah atau mediolateral. Insisi garis tengah mempunyai keuntungan karena tidak banyak pembuluh darah besar dijumpai disini dan daerah ini lebih mudah diperbaiki (Jones Derek, 2002).&lt;br /&gt;
Pada gambar berikut ini dijelaskan tipe episotomi dan rupture yang sering dijumpai dalam proses persalinan yaitu :&lt;br /&gt;
1. Episiotomi medial&lt;br /&gt;
2. Episiotomi mediolateral&lt;br /&gt;
Sedangkan rupture meliputi &lt;br /&gt;
1. Tuberositas ischii&lt;br /&gt;
2. Arteri pudenda interna&lt;br /&gt;
3. Arteri rektalis inferior&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-aMP2slW3URc/TYlvX-G09UI/AAAAAAAABuI/tUe-qEfuKrw/s1600/vagin.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="299" src="https://lh5.googleusercontent.com/-aMP2slW3URc/TYlvX-G09UI/AAAAAAAABuI/tUe-qEfuKrw/s320/vagin.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;a href="http://creasoft.files.wordpress.com/2008/04/pp.jpg"&gt;&lt;span style="color: black; text-decoration: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-8705693859849074309?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/81Z3dCp2Shrj45lN3ITt2TDzxPg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/81Z3dCp2Shrj45lN3ITt2TDzxPg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/81Z3dCp2Shrj45lN3ITt2TDzxPg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/81Z3dCp2Shrj45lN3ITt2TDzxPg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-22T20:57:12.859-07:00</app:edited><media:thumbnail url="https://lh5.googleusercontent.com/-aMP2slW3URc/TYlvX-G09UI/AAAAAAAABuI/tUe-qEfuKrw/s72-c/vagin.png" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>konsep Dasar Asuhan Pasca Nifas</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2011/03/konsep-dasar-asuhan-pasca-nifas.html</link><category>Kebidanan</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Tue, 22 Mar 2011 20:41:26 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-43378416209747207</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;Perawatan masa nifas adalah perawatan terhadap wanita hamil yang telah selesai bersalin sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, lamanya kira-kira 6-8 minggu. Akan tetapi, seluruh alat genetelia baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan.&lt;br /&gt;Perawatan masa nifas dimulai sebenarnya sejak kala uri dengan menghindarkan adanya kemungkinan-kemungkinan perdarahan post partum dan infeksi. Bila ada perlukaan jalan lahir atau luka bekas episiotomi, lakukan penjahitan dan perawatan luka dengan sebaik-baiknya. Penolong persalinan harus tetap waspada sekurang-kurangnya 1 jam sesudah melahirkan, untuk mengatasi kemungkinan terjadinya perdarahan post partum.&lt;br /&gt;Periode Post partum&lt;br /&gt;a. Periode post partum adalah waktu kembali pada keadaan tidak hamil dan penyesuaian terhadap penambahan keluarga baru (Marylin Doengoes, edisi 1995).&lt;br /&gt;b. Masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira enam minggu (Arif Mansyur, 1999).&lt;br /&gt;c. Masa pulih kembali mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil lama nifas ini yaitu 6 sampai 8 minggu (Rustam Muchtar, 1998).&lt;br /&gt;d. Dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil, berlangsung selama 6 minggu. (Abdul Bari Saefudin, 2002)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Periode post partum di bagi 3 :&lt;br /&gt;a. Immediately post partum : 24 jam pertama&lt;br /&gt;b. Early post partum : minggu pertama&lt;br /&gt;c. Late post partum : minggu kedua sampai dengan keenam.&lt;br /&gt;Tujuan asuhan  post partum (straight, 2001)&lt;br /&gt;a. Meningkatkan involusi uterus normal dan mengemabalikan pada keadaan sebelum hamil.&lt;br /&gt;b. Mencegah atau meminimalkan komplipkasi post partum.&lt;br /&gt;c. Meningkatkan kenyamanan dan penyembuhan pelvis perianal dan jaringan perianal.&lt;br /&gt;d. Membantu perbaikan fungsi tubuh yang normal.&lt;br /&gt;e. Meningkatkan pemahaman perubahan fisiologi dan psikologi.&lt;br /&gt;f. Memfasilitasi perawatan bayi kedalam unit keluarga.&lt;br /&gt;g. Mensupport keterampilan orang tua dan attachment ibu dan bayi.&lt;br /&gt;h. Memberikan perencanaan pulang yang efektif.&lt;br /&gt;Faktor yang mempengaruhi pengalaman post partum&lt;br /&gt;a. Persalinan normal dan bayi yang dilahirkan.&lt;br /&gt;b. Persiapan persalinan dan menjadi orangtua.&lt;br /&gt;c. Masa transisi menjadi orang tua.&lt;br /&gt;d. Peran keluarga yang di harapkan.&lt;br /&gt;e. Pengalaman keluarga pada kelahiran anak.&lt;br /&gt;f. Sensitifitas dan efektifitas perawat dan tenaga profesional lainnya.&lt;br /&gt;g. Faktor resiko untuk terjadinya kompliaksi post partum :&lt;br /&gt;1) Pre eklamasi atau eklamasi&lt;br /&gt;2) Diabetes&lt;br /&gt;3) Masalah Jantung&lt;br /&gt;4) Overdistensi Uterus (akibat bayi kembar atau hydramnion)&lt;br /&gt;5) Abruptio placenta atau placenta previa&lt;br /&gt;6) Persalinan lama dan sulit.&lt;br /&gt;Tanda dan gejala yang menjadi perhatian untuk dilaporkan :&lt;br /&gt;a. Peningkatan perdarahan : bekuan darah atau keluarnya jaringan&lt;br /&gt;b. Keluarga darah merah segar terus-menerus setelah persalinan.&lt;br /&gt;c. Nyeri yang hebat.&lt;br /&gt;d. Peningkatan suhu&lt;br /&gt;e. Perasaan kandung kemih yang penuh dan ketidakmampuan mengosongkan&lt;br /&gt;f. Perluasan hematoma.&lt;br /&gt;g. Muka pucat, dingin, kulit lembab, peningkatan HR, chest pain, batuk, perasaan ketakutan pucat, dingin.&lt;br /&gt;2. Perubahan Anatomi dan Fisiologi Wanita Setelah Melahirkan¬¬&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Sistem reproduksi dan struktur terkait&lt;br /&gt;1) Uterus&lt;br /&gt;Proses Involusi&lt;br /&gt;Yaitu proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan. Proses ini di mulai setelah placenta lahir pada proses ini terjadi proses autolisis yaitu proses perusakan secara langsung terhadap jaringan hipertropi (pembesaran sel yang ada) selama hamil.&lt;br /&gt;Menurut Rustam Muchtar 1998 proses involusi sebagai berikut :&lt;br /&gt; Setelah lahir : 2 jam dibawah pusat&lt;br /&gt; 1 Minggu : Pertengahan pusat simfisis&lt;br /&gt; 2 Minggu : Tidak teraba disimfisis&lt;br /&gt; 6 Minggu : 50 gram&lt;br /&gt; 8 Minggu : 30 gram&lt;br /&gt;Menurut Irene M Bobak (1995) yaitu : Dalam waktu 12 jam tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm diatas umbilikus, tinggi fundus turun kira-kira 1-2 cm setiap 24 jam pertama pada hari ke-6 fundus berada pada pertengahan antara umbilikus dan simfisis pubis, 9 hari post partum, fundus tidak terasa pada abdomen. Sub involusi adalah kegagalan uterus untuk kembali pada keadaan tidak hamil penyebab tersering, tertahannya fragmen placenta dan infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontraksi&lt;br /&gt;Hormon okatosin yang di lepas dari kelenjar hipofisis posterior, memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengkompresi pembuluh darah dan membantu homoistatis. Homoistatis pasca partum dicapai terutama akibat kompresi pembuluh darah intra miometrium, intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir. Selama masa ini kontraksi Uterus penting untuk dipertahankan.&lt;br /&gt;Afterpain&lt;br /&gt;Yaitu rasa nyeri pada masa awal purperium terutama daerah uterus. Relaksasi dan kontraksi yang periodik sering dialami multipara dan bisa menimbulkan nyeri yang tertahan sepanjang masa awal puerperium pada primipara tonus uterus meningkat sehingga fundus uterus tetap kencang. Afterpains itu dipengaruhi oleh parritas bayi yang dilahirkan lama kala II serta hormon oksitosin&lt;br /&gt;Tempat placenta&lt;br /&gt;Pertumbuhan endometrium baru dibawah permulaan cuka atau pertumbuhan endometrium ke atas menyebabkan pelepasan jaringan nekrotik dengan mencegah pembentukan jaringan perut yang menjadi karakteristik penyembuhan luka. Proses involusi daerah implantasi placenta 2-3 hari pelepasan jaringan nekrotik, 7 hari post partum ke bentuk lapisan basal, 15 hari post partum regenerasi endometrium kecuali pada bekas placenta. 6 minggu post partum perkembangan sel-sel epitel endometrium.&lt;br /&gt;Lochea&lt;br /&gt;Yaitu Rabas (cairan) uterus yang keluar setelahg bayi lahir jenis dan karakteristik lokia yaitu : lokea rubra : mengandung darah segar debris dosi dua dan debris prokoblastik, sekitar 3-4 hari. Lokasi serosa yang mengandung darah agak kecoklatan,mengandung serum, leukosit dan debris jaringan 10 hari setelah bayi lahir warna coklat menjadi kuning di sebut lokea alba, mengandung leukosit, desi dua epitel, mucus, serum dan bakteri. Lokea alba bisa bertahan selama 6-8 minggu setelah bayi lahir. Selama 2 jam pertama setelah lahir jumlah cairan yang keluar dari uterus baik boleh lebih dari jumlah maksimal yang keluar selama menstruasi dan aliran lochea yang keluar harus semakin berkurang.&lt;br /&gt;Metode untuk memperkirakan kehilangan darah pasca partum secara subjektif menurut Jacobson (1985) dengan mengkaji jumlah cairan yang memadai tampon perineum 1 gram peningkatan berat pembalut sama dengan kira-kira 1 ml kehilangan darah dan menurut persis Mary Hamilton mengkaji jumlah darah yang terdapat dalam pembalut yaitu pembalut yang basah seluruhnya (benklot tau) mengandung sekitar 100 ml darah dan kehilangan 100 ml darah dalam 15 menit dipertimbangkan sebagai aliran yang hebat.&lt;br /&gt;2) Serviks&lt;br /&gt;Setelah melahirkan serviks menjadi lunak, edematosa,tipis dan rapuh, sedikit laserase. Menurut Arif Mansyur&lt;br /&gt;3) Vagina dan perineum&lt;br /&gt;Vagina yang semula sangat tegang akan kembali secara bertahap ke ukuran sebelum hamil (6-8 minggu setelah bayi lahir) rugae akan mulai terlihat sekitar minggu ke-4. pada umumnya rugae akan memipih secara permanen. Proses penyembuhan luka episiotomi sama dengan operasi lain. Dalam pemeriksaan perlu penerangan yang sangat baik agar episiotomi terlihat jelas. Pemeriksaan dilakukan dengan cara miring ke arah episiotomi terlihat jelas. Pemeriksaan dilakukan dengan cara miring ke arah episiotomi dengan bokong diangkat atau dengan posisi litotomi. Kebanyakan episiotomi sembuh sebelum minggu ke-6 (Persis M. Hamilton, 1989).&lt;br /&gt;4) Topangan otot panggul&lt;br /&gt;Struktur penopang uterus dan vagina bisa mengalami cedera sewaktu melahirkan dan masalah ginegologis dapat timbul dikemudian harijaringan dasar panggul yang robek atau saat itu melahirkan memerlukan waktu sampai 6 bulan untuk kembali ke tonus semula.&lt;br /&gt;B. Sitem Endoktrin&lt;br /&gt;1) Hormon placenta&lt;br /&gt;Pada periode post partum terjadi perubahan produksi hormon, kadarestrogen dan progesteron menurun secara mencolok, terendah 1 minggu pasca partum, penurunan human placenta lactogen, kortisol serta placenta enzim insulin yang dapat menurunkan kadar gula dalam darah sehingga dengan adanya perubahannya ini membuat masa purperium menjadi 1 periode transisi terutama bagi ibu dengan penyakit diabetik.&lt;br /&gt;2) Hormon Hipofisis dan fungsi hormon&lt;br /&gt;Kelenjar pitultary (hifofisis) secara fisiologi dibagi menjadi 2 bagian hipofisis anterior (adhonotifosis) dan hipofisis posterior (Neoro hipofisis). Hipofisis anterior mensekresi hormon : hormon pertumbuhan yang mempengaruhi banyak sistem metabolisme.&lt;br /&gt;Adenokortikosteroid mengatur sekresi beberapa hormon korteks adrenal yang selanjutnya mempengaruhi metabolisme glukosa,protein dan lemak.Hormon perangsang tiroid menngatur kecepatan sekresi tiroksin oleh kelenjar tiroid. Hormon perangsang tiroid mengatur kecepatan skresi tiroksin oleh kelenjar tiroid. Hormon prolaktin meningkatkan kelenjar mamae dan pembentukan susu. Pada wanita menyusui kadar prolaktin serum tinggi, kadar ini di pengaruhi oleh : kekerapan menyusui, lama setiap kali menyusui. Kekuatan menghisap banyaknya makanan tambahan yang diberikan pada ibu, hormon perangsang folikal : dapat mempengaruhi ovulasi, Hormon lufeinisasi : mengatur pertumbuhan gonad serta aktifitas reproduksi.&lt;br /&gt;Hipofisis posterior mensekresi hormon yang sangat penting, yaitu : Hormon diaretik : mengatur kecepatan ekresi air di dalam urine serta mengatur konsentrasi air dalam tubuh.&lt;br /&gt;Oksitasin : mengkonsentrasi alveolus payudara sehingga membantu mengalirkan susu dari kelenjar mamae ke puting susu selama penghisapan serta kontraksi uterus.&lt;br /&gt;c. Abdomen&lt;br /&gt;Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama sehingga apabila pada hari pertama wanita tersebut nampak seperti masih hamil. Dalam 2 minggu dinding abdomen akan rileks dan setelah 6 minggu akan pulih seperti sebelum hamil. Diastosis abdomalis adalah suatu keadaan dimana otot-otot dinding abdomen memisah. Tempat yang lemah ini akan terlihat menonjol pada saat mengedan. Seiring perjalanan waktu defet tersebut menjadi kurang terlihat.&lt;br /&gt;d. Sistem Urinaria&lt;br /&gt;Perubahan normal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi) turut meningkatkan fungsi ginjal sehingga terjadi penurunan fungsi ginjal pada masa post partum. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu 1 bulan. Oedema trigonium dapat menimbulkan obstruksi dan uretha sehingga terjadi refensi urinea dan kandung kemih pada masa post partum menjadi kurang sensitif dan kapasitasnya bertambah, hal ini dapat menimbulkan urin residual.&lt;br /&gt;Dilatasi urethal normal dalam waktu 2 minggu. Pemecahan kelebihan protein 2 hari setelah melahirkan. Aseton Uria dapat terjadi pada wanita tanpa komplikasi persalinan, partus lama dan dehidrasi. Diaforesis merupakan salah satu mekanisme tubuh untuk mengurangi cairan yang teretensi dalam tubuh, terjadi selama 2-2 hari pertama setelah melahirkan.&lt;br /&gt;Diaforsis disebabkan oleh : menurunnya keadaan estogen, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tungkai bawah dan hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan serta mekanisme tubuh dalam mengatasi kelebihan cairan.&lt;br /&gt;e. Sistem Pencernaan&lt;br /&gt;Pada masa awal post partum dapat terjadi penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna, penurunan bising usus, rasa mual, konstipasi dan hemoroid. Adanya diastasis rectus Abdominalis yang berat menurunkan tonus abdomen.&lt;br /&gt;f. Payudara&lt;br /&gt;Setelah bayi lahir dengan cepat terjadi penurunan konsentrasi hormon yang menstimualsi perkembangan payudara, (estrogen, progesteron, human chorionik gonadotropin, prolaktin, kartisol dan insulin).&lt;br /&gt;Sebagian hormon-hormon ini kembali ke kadar sebelum hamil yang ditentukan oleh ibu menyusui atau tidak. Ketika bayi menghisap puting, reflek saraf merangsang lobus posterior kelenjar pituitary untuk mensekresi hormon oksitasin.&lt;br /&gt;Oksitasin merangsang refleks let-down (mengalihkan) menyebabkan ejeksi ASI dari sinus laktiferus payudara ke duktus yang terdapat pada putting. Ketika ASI di hisap maka sel-sel laktasi terangsang untuk menghasilkan ASI yang lebih banyak.&lt;br /&gt;g. Sistem Kardiovaskuler&lt;br /&gt;Denyut jantung. Volume sekuncup dan arah jantung meningkat segera setelah melakukan (lebih tinggi selama 30-60 menit) hal ini terjadi karena darah yang biasanya melintasi sirkuit uteroplacenta tiba-tiba kembali ke sirkualasi umum.&lt;br /&gt;Curah jantung normal 8-10 minggu setelah melahirkan. Biasanya tidak terjadi syok hipovolemik pada kehilangan darah persalinan normal (300-400 ml kelahiran tanggal pervaginam dan 2 kali lipat dengan SC). Hal ini karena adanya perubahan fisiologis pasca partum pada wanita yaitu : hilangnya sirkulasi uteroplacenta yang mengurangi ukuran pembuluh darahmaternal 10%-15% hilangnya fungsi ekstravaskuler yang disimpan selama hamil.&lt;br /&gt;Tanda-tanda vital setelah melahirkan dalam batasa normal, bila temperatur selama 24 jam pertama meningkat sampai 38 derajat, keadaan ini sebagai akibat dehidrasi denyut nadi, volume sekuncup serta curah jantung tetap tinggi selama jam pertama menigkat sampai 38 derajat, keadaan ini sebagai akibat dehidrasi denyut nadi, volume sekuncup serta curah jantung tetap tinggi selama jam pertama setelah bayi lahir, dan tekanan darah sedikit berubah atau nmenetap, evaluasi rutin bila perlu dilakukan selama 48 jam pertama.&lt;br /&gt;h. Sistem Neurologi&lt;br /&gt;Perubahan neurologis pada masa post partum lebih disebabkan karena adanya trauma saat melahirkan, yaitu : trauma jaringan / episiotomi : kandung kemih penuh. Sedangkan nyeri kepala bisa disebabkan oleh hipertensi, stress dll. Keadaan ini memerlukan penanganan dan pemeriksaan yang cepat&lt;br /&gt;i. Sistem Muskuloskletal&lt;br /&gt;Adaptasi system muskuloskeletal yang terjadi selama hamil secara langsung terbalik pada masa post partum. Adaptasi ini mencakup antara lain : relaksasi, mobilitas dan perubahan pusat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berat akibat pembesaran rahim. Serta semua sendi akan kembali ke keadaan sebelum hamil.&lt;br /&gt;j. Sistem Integumen&lt;br /&gt;Kloasma yang muncul pada masa hamil bis amenghilang. Sedangkan hiperpegmentasi di areola dan nigra tidak menghilang seluruhnya atau dapat menetap kulit yang menegang pada payudara, abdomen, paha dan panggul mungkin memudar, tetapi tidak menghilang. Rambut halus yang tumbuh pada saat hamil akan menghilang. Olaporesis perubahan yang paling jelas terlihat pada sistem inegumen.&lt;br /&gt;k. Sistem kekebalan&lt;br /&gt;Kebutuhan ibu untuk mendapatkan vaksin ditetapkan&lt;br /&gt;l. Adaptasi psikologis post partum&lt;br /&gt;Selama periode post partum tugas dan tanggung jawab baru muncul dan kebiasaan lama perlu ditambah atau dirubah.Dengan adanya perubahan tersebut diperlukan suatu adaptasi baik pada ibu maupun bapak. Tiga fase penyesuaian terhadap peran sebagai orang tua yang ditandai oleh perilaku independen, perilaku dependen-mendiri, dan perilaku interdependen (Irene M. Gobak,1995)&lt;br /&gt;Post partum Blues merupakan respon emosi ibu post partum dimana ia merasa sangat tertekan, mungkin menangis, individu tidak tahu mengapa ia merasa depresi.keadaan ini sifatnya sementara 1-10 hari menghilang, penyebab koping dan respon menjadi orang tua tidak adaptif meliputi : memberi makan,menstimulasi bayi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengistirahatkan bayi, persepsi yang realitas, memiliki inisiatif melakukan kegiatan positif, menginteraksikan dengan anak lain, rasa puas terhadap peran mengasuh (Irene M. Bobak, at all, 1995)&lt;br /&gt;Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan masa nifas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mobilisasi&lt;br /&gt;Umumnya wanita sangat lelah setelah melahirkan, lebih-lebih bila persalinan berlangsung lama, karena si ibu harus cukup beristirahat, dimana ia harus tidur terlentang selama 8 jama post partum untuk memcegah perdarahan post partum. Kemudian ia boleh miring ke kiri dan ke kanan untuk memcegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada hari kedua telah dapat duduk, hari ketiga telah dapat jalan-jalan dan hari keempat atau kelima boleh pulang. Mobilisasi ini tidak mutlak, bervariasi tergantung pada adanya komplikasi persalinan, nifas, dan sembuhnya luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diet / Makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan yang diberikan harus bermutu tinggi dan cukup  kalori,  yang mengandung cukup protein, banyak cairan, serta banyak buah-buahan dan sayuran karena si ibu ini mengalami hemokosentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Buang Air Kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buang air kecil harus secepatnya dilakukan sendiri. Kadang-kadang wanita sulit kencing karena pada persalinan m.sphicter vesica et urethare mengalami tekanan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi musc. sphincter ani. Juga oleh karena adanya oedem kandungan kemih yang terjadi selama persalinan. Bila kandung kemih penuh dengan wanita sulit kencing sebaiknya lakukan kateterisasi, sebab hal ini dapat mengundang terjadinya infeksi. Bila infeksi telah terjadi (urethritis, cystitis, pyelitis), maka pemberian antibiotika sudah pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Buang Air Besar&lt;br /&gt;Buang air besar harus sudah ada dalam 3-4 hari post partum. Bila  ada obstipasi dan timbul berak yang keras, dapat kita lakukan pemberian obat pencahar (laxantia) peroral atau parenterala, atau dilakukan klisma bila masih belum berakhir. Karena jika tidak, feses dapat tertimbun di rektum, dan menimbulkan demam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Demam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah bersalin, suhu badan ibu naik ± 0,5 C dari keadaan normal, tapi tidak melebihi 38 C. Dan sesudah 12 jam pertama suhu badan akan kembali normal. Bila suhu lebih dari 38 C/ mungkin telah ada infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mules-mules&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini timbul akibat kontraksi uterus dan biasanya lebih terasa sedang menyusui. Hal ini dialami selama 2-3 hari sesudah bersalin. Perasaan sakit ini juga timbul bila masih ada sisa selaput ketuban, plasenta atau gumpalan dari di cavum uteri. Bila si ibu sangat mengeluh, dapat diberikan analgetik atau sedativa supaya ia dapat beristirahat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Laktasi&lt;br /&gt;8. Jam sesudah persalinan si ibu disuruh mencoba menyusui bayinya untuk merangsang timbulnya laktasi, kecuali ada kontraindikasi untuk menyusui bayinya, misalnya: menderita thypus abdominalis, tuberkulosis aktif, thyrotoxicosis,DM berat, psikosi atau puting susu tertarik ke dalam, leprae.&lt;br /&gt;Atau kelainan pada bayinya sendiri misalnya pada bayi sumbing (labiognato palatoschizis) sehingga ia tidak dapat menyusu oleh karena tidak dapat menghisap, minuman harus diberikan melalui sonde.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. PEMERIKSAAN PASCA PERSALINAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada wanita yang bersalin secara normal, sebaiknya dianjurkan untuk kembali 6 minggu sesudah melahirkan. Namun bagi wanita dengan persalinan luar biasa harus kembali untuk kontrol seminggu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan pasca persalinan meliputi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pemeriksaan keadaan umum: tensi, nadi, suhu badan, selera makan, keluhan, dll&lt;br /&gt;b. Keadaan payudara dan puting susu.&lt;br /&gt;c. Dinding perut, perineum, kandung kemih, rektrum.&lt;br /&gt;d. Sekret yang keluar (lochia, flour albus).&lt;br /&gt;e. Keadaan alat-alat kandungan (cervix, uterus, adnexa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan sesudah 40 hari ini tidak merupakan pemeriksaan terakhir, lebih-lebih bila ditemukan kelainan meskipun sifatnya ringan. Alangkah baiknya bila cara ini dipakai sebagai kebiasaan untuk mengetahui apakah wanita sesudah bersalin menderika kelainan biarpun ringan. Hal ini banyak manfaatnya agar wanita jangan sampai menderita penyakit yang makin lama makin berat hingga tidak dapat atau susah diobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasihat/penkes untuk ibu post natal:&lt;br /&gt;1. Fisioterapi pastnatal adalah baik diberikan&lt;br /&gt;2. Susukanlah bayi anda&lt;br /&gt;3. Kerjakan senam hamil&lt;br /&gt;4. Ber-KB untuk menjarangkan anak dan untuk kesehatan ibu, bayi dan  keluarganya.&lt;br /&gt;5. Bawalah bayi untuk imunisasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-43378416209747207?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Os7wfo8gXOWw27TIW5zAx8xwais/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Os7wfo8gXOWw27TIW5zAx8xwais/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Os7wfo8gXOWw27TIW5zAx8xwais/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Os7wfo8gXOWw27TIW5zAx8xwais/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-22T20:41:26.925-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PSIKOLOGIS DALAM PERSALINAN</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2011/03/psikologis-dalam-persalinan.html</link><category>Kebidanan</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Tue, 22 Mar 2011 20:37:21 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-4326959635141840354</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegiatan komunikasi terapeutik pada ibu melahirkan merupakan pemberian bantuan pada ibu yang akan melahirkan dengan kegiatan bimbingan proses persalinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Tujuan Komunikasi terapeutik Pada Ibu Dengan Gangguan Psikologi Saat  Persalinan&lt;br /&gt;1. Membantu pasien memperjelas serta mengurangi beban perasaan dan pikiran selama Proses persalinan&lt;br /&gt;2.Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien.&lt;br /&gt;3. Membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri untuk kesejahteraan ibu dan proses persalinan agar dapat berjalan dengan semestinya.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;B. Pendekatan Komunikasi Terapeutik.&lt;br /&gt;1. Menjalin hubungan yang mengenakkan (rapport) dengan klien.&lt;br /&gt;  Bidan menerima klien apa adanya dan memberikan dorongan verbal yang positif.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2.  Kehadiran.&lt;br /&gt;Kehadiran merupakan bentuk tindakan aktif ketrampilan yang meliputi mengayasi semua kekacauan/kebingungan, memberikan perhatian total pada klien. Bila memungkinkan anjurkan pendamping untuk mengambil peran aktif dalam asuhan.&lt;br /&gt;3. Mendengarkan.&lt;br /&gt;Bidan selalu mendengarkan dan memperhatikan keluhan klien.&lt;br /&gt;4. Sentuhan dalam pendampingan klien yang bersalin.&lt;br /&gt;Komunikasi non verbal kadang-kadang lebih bernilai dari pada kata-kata. Sentuhan bidan terhadap klien akan memberi rasa nyaman dan dapat membantu relaksasi.&lt;br /&gt;5. Memberi informasi tentang kemajuan persalinan.&lt;br /&gt;Hal ini diupayakan untuk memberi rasa percaya diri bahwa klien dapat menyelesaikan persalinan. Pemahaman dapat mengerangi kecemasan dan dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Informasi yang diberikan diulang beberapa kali       dan jika mungkin berikan secara tertulis.&lt;br /&gt;6. Memandu persalinan dengan memandu intruksi khusus tentang bernafas, berelaksasi dan posisi postur tubuh. Misalnya : bidan meminta klien ketika ada his untuk meneran. Ketika his menghilang, bidan mengatakan pada ibu untuk bernafas pajang dan rileks.&lt;br /&gt;7. Mengadakan kontak fisik dengan klien.&lt;br /&gt;Kontak fisik dapat dilakukan dengan menggosok punggung, memeluk dan menyeka keringat serta membersihkan wajah klien.&lt;br /&gt;8. Memberikan pujian.&lt;br /&gt;Pujian diberikan pada klien atas usaha yang telah dilakukannya.&lt;br /&gt; 9. Memberikan ucapan selamat pada klien atas kelahiran putranya dan menyatakan ikut berbahagia.&lt;br /&gt;Komunikasi terapeutik pada ibu dengan gangguan psikologi saat persalinan dilaksanakan oleh bidan dengan sikap sebagai seorang tua dewasa, karena suatu ketika bidan harus memberikan perimbangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-4326959635141840354?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qQv5gqhp9ScqaHHP7Hyyc6jjKi8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qQv5gqhp9ScqaHHP7Hyyc6jjKi8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qQv5gqhp9ScqaHHP7Hyyc6jjKi8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qQv5gqhp9ScqaHHP7Hyyc6jjKi8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-22T20:37:21.735-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>GERAKAN SAYANG IBU</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2011/03/gerakan-sayang-ibu_21.html</link><category>Kebidanan</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Tue, 22 Mar 2011 20:49:33 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-3437084282199935752</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Gerakan sayang ibu(GSI) merupakan produk kesepakatan inter sektoral yang terdiri dari berbagai Dinas/instansi Pemerintah,organisasi Profesi, LSM serta Organisasi permpuan dan Organisasi Kemasyarakatan lainnya. Gerakan Sayang Ibu (GSI) merupakan gerakn untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan melalui upaya penurunan angka kematian ibu karena hamil,melahirkan dan nifas,diantaranya dengan menghapus pandangan-pandangan yang sselama ini bias gender,diskriminatif dalam bidang Hak dan Kesehatan Reproduksi.&lt;br /&gt;Gerakan Sayang Ibu(GSI) telah dicanangkan oleh Presiden RI pada tahun 1996 di Kabupaten Karang Anyar Jawa Tengah. Sejak saat itu pelaksanan Gerakan Sayang Ibu merupakan gerakan nasional untuk mempercepat penuruna angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan ibu nifas(AKI). Disamping itu Gerakan Sayang Ibu (GSI) diarahkan untuk pengarusutamaan gender di lingkungan masyarakat dan keluarga. Pada awalnya Gerakan Sayang Ibu (GSI) dilaksankan di 8 pripinsi yang kemudian berkembang ke seluruh propinsi di indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maksud Gerakan Sayang Ibu (GSI) merupakan gerakan masyarakat bersama dengan pemerintah. Selanjutnya yang dimaksud Gerakan Sayang Ibu (GSI) adalah:&lt;br /&gt;“suatu geraakan yang dilaksanankan oleh masyarakat, bekerjasama dengan pemerintah untuk meningkatkkan perbaikan kualitas hidup perempuan (sebagai sumber daya manusia) melalui berbagai kegiatan yang mempunyai dampak terhadap upaya penurunan angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas serta kematian bayi” &lt;br /&gt;Dari pengertian tersebut diatas, terdapat 3 unsur pokok yang sangat penting, yaitu:&lt;br /&gt;Pertama : Gerakan Sayang Ibu (GSI) merupakan gerakan yang dilaksanakan oleh masyarakat bersama dengan pemerintah.&lt;br /&gt;Artinya : Pelaksananaan Gerakan Sayang Ibu (GSI) melibatkan masyarakat secara aktis, tidak hanya sebagai sasaran, tetapi juga sebagi pelaku. Keikutsertaan masyaraakat dalam Gerakan Sayang Ibu merupakan pengalihan pengelola dan tanggung jawab secara bertahap dari pemerintah kepada masyarakat. Proses ini membutuhkan waktu yang panjang, konsisten dan intensif. Dalam proses ini, keterlibatkan sektoral,pemerintah daerah sangat dubutuhkan sekali.&lt;br /&gt;Kedua : Geraakan Sayang Ibu (GSI) mempunyai tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan sebagai sumber daya manusia.&lt;br /&gt;Artinya : Perempuan yang selama ini telah mendapatkan perlakuan yang tidak adil dan diskriminatif dalam bebagai bidang, tyermasuk dalam bidang Kesehatan Reproduksi dan telah menimbulakan berbagai masalah sampai menyebabkan kematian ibu yang tinggi karena hamil,malahirkan dan nifas. Perlakuan tidak adil tersebut telah menyebabkan perempuan tertinggal dalam berbagai bidang kegiatan kehidupan jika dibandingkan dengan mitra laki-laki. Gerakan Sayang Ibu melaui pendekatan pemberdayaan masyarakat, terutama para laki-laki agar memperhatikan hak-hak reproduksi perempuasn serta melindungi dengan cara membantu memberikan perawatan kepada ibu-ibu hamil, melahirkan dan nifas. Dengan hamil dan melahirkan dalm kondisi yang sehat serta direncanakan dengan baik, akan memberikan peliang para ibu-ibu tersebut untuk mengembangkan potensi dirinya dengan baik.&lt;br /&gt;Disamping mengembangkan potensi dirinya, ibu-ibu tersebut dapat merawat bayi dilahirkannya dengan baik, diantaranya dengan memberikan ASI Esklusif yang sangat dibutuhkan oleh bayi serta merawat kesehatan bayi yang dilahirkan dengan baik. Hal ini akan berdampak dalam usaha menurunkan angka kematian bayi.&lt;br /&gt;Ketiga : Gerakan Sayang Ibu (GSI) bertujuan untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu hamil, melahirkan dan nifas dan bayi.&lt;br /&gt;Artinya : kematian ibu hamil, melahirkan dan nifas  di indonesia sebesar 373 per 100.000 kelahiran hidup, atau terdapat sekitar18.000 perempuan meninggal dunia setiap tahun dan kondisi ini merupakan angka kematian ibu tertinggi di ASEAN. Kondisi tersebut, sangatmenghambat upaya pembangunan, khusunya dalam pelaksanaan program peningkatan kualitas hidup perempuan.&lt;br /&gt;Upaya untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) melalui GSI untuk menyadarkan masyarakat dan keluarga mengenai pentingnya memahami tiga fase terlambat yang dapat menyebebkan kematian ibu,yaitu (WHO, 1998):&lt;br /&gt;Terlambat satu : terlambat memutuskan untuk mencari pertolongan baik secara individu, keluarga atau keduanya.&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhui fase satu ini adalah terlambat mengenali kehamilan dalam situasi gawat.jauh dari fasilitas kesehtan, biaya, persepsi menganai kualitas dan efetifitas dari perawatan kesehtan.&lt;br /&gt;Terlambat kedua: terlambat mendapat pelayanan fasilitas pelayana kesehatan&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhui fase dua ini lama pengangkutan, kondisi jalan, dan biaya transportasi.&lt;br /&gt;Terlambat ketiga : terlambat mendapatkan pelayanan adekuat&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi fase tiga ini adalah terlambat mendapatkan pelayanan pertama kali dirumah sakit (rujukan). Keterlambatan ini dipengaruhi oleh kelengkapan peralatan Rumah Sakit, ketersedian Obat, dan ketersediaan tenaga kesehatan terlatih.&lt;br /&gt;Disamping tiga terlambat, faktor lain yang mempunyai pengaruh terhadap tingginya angka kematian ibu adalah 4 TERLALU,yaitu:&lt;br /&gt;• Terlalu muda untuk hamil&lt;br /&gt;• Teralu tua untuk hamil&lt;br /&gt;• Terlalu sering untuk hamil&lt;br /&gt;• Terlalu banyak untuk melahirkan&lt;br /&gt;Empat terlau terssebut, disamping mempunyai pengaruh terhadap angka kematian ibu, juga mempunyai dampak terhadap angka kematian bayi dan pertumbuhan kesehatan yang dilahirkan.&lt;br /&gt;Pendekatan Pengembangan Masyarakat&lt;br /&gt;Massalah Kesehatan Reproduksi di indonesia akan sulit ditembus secara tuntas, apabila kita hannya berbicara soal pelayanan saja, karena masalah sosial budaya masyarakat memepunyai pengaruh yang sangat besar. Dengan demekian dapat diutarakan dalam uraian diatas, Gerakan sayang Ibu kegiatannya lebih banyak menitikberatkan pada mobilisasi potensi masyarakat dengan model pendekatan pengembangan masyrakat (community delevoment approach) yang basisi operasional terletak pada pembentukan mminat bersama dan konsessus yang bulat. Yang dimaksud dengan konsesus atau mufakat adalah suatu keadaan dimana warga masyarakat telah setuju atau mufakat terhadap nilal-nilal atau upaya program yang akan dilaksanakan bersama.&lt;br /&gt;Mengubah Inovasi&lt;br /&gt;Gerakan Sayang Ibu yang kegiatannya ditunjang oleh tim pokja dan tim satgas GSI telah mampu mendorong masyarakat untuk berperan secra aktif dan mengembangkan pontesinya dengan melahirkan ide-ide kreatif dalam melaksanakan GSI di daerahnya, seperti:&lt;br /&gt;• Pengadan Dana Bersalin.&lt;br /&gt;Dana bersalin yang merupakan usaha swadaya masyarakat ini, ditujukan bagi Keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera 1, yang tidak mampu untukmempenyai persalinan pada temat-tempat persalinan kesehatan. &lt;br /&gt;• Donor Darah.&lt;br /&gt;Dalam memenuhi kebutuhan donor untuk bantu persalinan, dalam kegiatan GSI warga masyarakat telah mengembangkan berbagai cara, diantaranya seperti yang terdapat di malang jawa timur, masyrakat malang khususunya kecamatan singosari membentuk kelompok donor darah bagi ibu melahirkan,yang terdiri dari laki-laki dewasa. &lt;br /&gt;• Ambulan desa&lt;br /&gt;Seringkali masalah kebutuhan transportasi untuk membantu ibu hami yang akan melahirkan menjadi masalah yang sangat penting,maka dalam menanggulanginya permasalahan tersebut, warga masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Sayang Ibu telah melakukan terbosan dengan menyediakan Ambulan Desa.&lt;br /&gt;• Pondok sayang Ibu.&lt;br /&gt;Pondok sayang ibu pertama kali muncul atas ide PKK lampung. Untuk membantu ibu-ibu hamil yang akan melahirkan, tetapi tempat tinggal jauh tempat pelayanan.&lt;br /&gt;• Pendataan Ibu Hamil.&lt;br /&gt;Untukmendeteksi ibu hamil khususnya yang beresiko tinggi dan untuk mengetahui ibu hamil yang hendak melahirkan, warga masyarakat yang terbergabung dalam kegiatan GSI mengadakan pendataan ibu hamil dan sekaligus dicantumkan dalam peta. Bagi ibu hamil yang beresiko tinggi diberi tanda biru, untuk yang normal diberi tanda kuning. Ide ini dikembangkan dari sumatra selatan dan telah banyak dikembangkan didaerah lain.&lt;br /&gt;• Kemetriaan Bidan-Dukun Bayi&lt;br /&gt;• Kegiatan KIE&lt;br /&gt;Masyarakat melakukan kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) GSI melalui pengajian, penyuluhan bagi calon pengantin,posyandu, khotbah jum’at, bahkan di sumtra utara telah mengembangkan secara mandiri pembuatan billboard GSI sampai di desa.&lt;br /&gt;Kegiatan KIE banyak mendapat dukungan dan bimbingan dari para petugas lapangan keluarga bverencana, petugas  depag, dinas kesehatn dan sebagiannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-3437084282199935752?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EVN7H4Dul-HYO8kciXTfvKjyMYU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EVN7H4Dul-HYO8kciXTfvKjyMYU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EVN7H4Dul-HYO8kciXTfvKjyMYU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EVN7H4Dul-HYO8kciXTfvKjyMYU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-22T20:49:33.662-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Patofisiologi Gagal Ginjal Kronik</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/11/patofisiologi-gagal-ginjal-kronik.html</link><category>Keperawatan Medikal Bedah</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Thu, 18 Nov 2010 22:01:34 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-7247308642534427232</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada gagal ginjal kronik fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein yang normalnya diekskresikan ke dalam urin tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah, maka gejala akan semakin berat. Penurunan jumlah glomeruli yang normal menyebabkan penurunan klirens substansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal. Dengan menurunnya glomerulo filtrat rate (GFR ) mengakibatkan penurunan klirens kreatinin dan peningkatan kadar kreatinin serum. Hal ini menimbulkan gangguan metabolisme protein dalam usus yang menyebabkan anoreksia, nausea maupan vomitus yang menimbulkan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Peningkatan ureum kreatinin sampai ke otak mempengaruhi fungsi kerja, mengakibatkan gangguan pada saraf,  terutama pada neurosensori. Selain itu Blood Ureum Nitrogen (BUN) biasanya juga meningkat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada penyakit ginjal tahap akhir urin tidak dapat dikonsentrasikan atau diencerkan secara normal sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan elektrolit. Natrium dan cairan tertahan meningkatkan resiko gagal jantung kongestif. Penderita dapat menjadi sesak nafas, akibat ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan. Dengan tertahannya natrium dan cairan bisa terjadi edema dan ascites. Hal ini menimbulkan resiko kelebihan volume cairan dalam tubuh, sehingga perlu dimonitor balance cairannya. Semakin menurunnya fungsi renal terjadi asidosis metabolik akibat ginjal mengekskresikan muatan asam (H+) yang berlebihan. Terjadi penurunan produksi eritropoetin yang mengakibatkan terjadinya anemia. Sehingga pada penderita dapat timbul keluhan adanya kelemahan dan kulit terlihat pucat menyebabkan tubuh tidak toleran terhadap aktifitas.&lt;br /&gt;Dengan menurunnya filtrasi melalui glomerulus ginjal terjadi peningkatan kadar fosfat serum dan penurunan kadar serum kalsium. Penurunan kadar kalsium serum menyebabkan sekresi parathormon dari kelenjar paratiroid. Laju penurunan fungsi ginjal dan perkembangan gagal ginjal kronis berkaitan dengan gangguan yang mendasari, ekskresi protein dalam urin, dan adanya hipertensi (Smeltzer,2002:1448).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-7247308642534427232?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1-s4ZjGK1Mclt5Jl-Mh3mP4r9UI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1-s4ZjGK1Mclt5Jl-Mh3mP4r9UI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1-s4ZjGK1Mclt5Jl-Mh3mP4r9UI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1-s4ZjGK1Mclt5Jl-Mh3mP4r9UI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-18T22:01:34.774-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Etiologi Gagal Ginjal Kronik</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/11/etiologi-gagal-ginjal-kronik.html</link><category>Keperawatan Medikal Bedah</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Thu, 18 Nov 2010 21:59:56 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-3757912897416671775</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyebab dari gagal ginjal kronis menurut (Price, 2002), adalah :&lt;br /&gt;1) Infeksi Saluran Kemih&lt;br /&gt;Infeksi saluran kemih (SIK) sering terjadi dan menyerang manusia tanpa memandang usia, terutama wanita. Infeksi saluran kemih umumnya dibagi dalam dua kategori besar : Infeksi saluran kemih bagian bawah (uretritis, sistitis, prostatis) dan infeksi saluran kencing bagian atas (pielonepritis akut). Sistitis kronik dan pielonepritis kronik adalah penyebab utama gagal ginjal tahap akhir pada anak-anak. (Price, 2002: 919)&lt;br /&gt;2) Penyakit peradangan&lt;br /&gt;Kematian yang diakibatkan oleh gagal ginjal umumnya disebabkan oleh glomerulonepritis kronik. Pada glomerulonepritis kronik, akan terjadi kerusakan glomerulus secara progresif yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya gagal ginjal. (Price, 2002:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3) Nefrosklerosis hipertensif&lt;br /&gt;Hipertensi dan gagal ginjal kronik memiliki  kaitan yang erat. Hipertensi mungkin merupakan penyakit primer dan menyebabkan kerusakan pada ginjal, sebaliknya penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan hipertensi atau ikut berperan pada hipertensi melalui mekanisme retensi natrium dan air, serta pengaruh vasopresor dari sistem renin-angiotensin. (Price, 2002: 933),&lt;br /&gt;4) Gangguan kongenital dan herediter&lt;br /&gt;Asidosis tubulus ginjal dan penyakit polikistik ginjal merupakan penyakit herediter yang terutama mengenai tubulus ginjal. Keduanya dapat berakhir dengan gagal ginjal meskipun lebih sering dijumpai pada penyakit polikistik. (Price, 2002: 937),&lt;br /&gt;5) Gangguan metabolik&lt;br /&gt;Penyakit metabolik yang dapat mengakibatkan gagal ginjal kronik antara lain diabetes mellitus, gout, hiperparatiroidisme primer dan amiloidosis. (Price, 2002: 940).&lt;br /&gt;6) Nefropati toksik&lt;br /&gt;Ginjal khususnya rentan terhadap efek toksik, obat-obatan dan bahan-bahan kimia karena alasan-alasan berikut :&lt;br /&gt;a) Ginjal menerima 25 % dari curah jantung, sehingga sering dan mudah kontak dengan zat kimia dalam jumlah yang besar.&lt;br /&gt;b)  Interstitium yang hiperosmotik memungkinkan zat kimia dikonsentrasikan pada daerah yang relatif hipovaskular.&lt;br /&gt;c) Ginjal merupakan jalur ekskresi obligatorik untuk kebanyakan obat, sehingga insufisiensi ginjal mengakibatkan penimbunan obat dan meningkatkan konsentrasi dalam cairan tubulus. (Price, 2002:944).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-3757912897416671775?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rVMwuHmUvri5imuGm7IXNSB7IFc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rVMwuHmUvri5imuGm7IXNSB7IFc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rVMwuHmUvri5imuGm7IXNSB7IFc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/rVMwuHmUvri5imuGm7IXNSB7IFc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-18T21:59:56.660-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pembuluh darah berdasarkan fungsinya</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/11/pembuluh-darah-berdasarkan-fungsinya.html</link><category>Keperawatan Medikal Bedah</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Thu, 18 Nov 2010 21:56:07 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-4059366112170419132</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembuluh darah berdasarkan fungsinya terbagi dalam 5 jenis yaitu&lt;br /&gt;(1) Arteri&lt;br /&gt;Arteri adalah pembuluh darah yang menerima darah dari jantung yang berisi zat-zat pengatur untuk dikirimkan ke sel-sel seluruh tubuh. Arteri terdiri dari 3 lapisan yaitu :  Tunika Intima (lapisan yang paling dalam), tunika media (lapisan tengah)  dan tunika adventisia (lapisan paling luar). Tunika intima merupakan dinding yang licin yang melancarkan aliran darah, tetapi mempunyai afinitas terhadap lemak tertentu sehingga mempunyai kecenderungan untuk terbentuknya plak selama pertambahan usia. Arteri terbagi dua: Arteri koroner kiri berfungsi sebagai melingkari jantung antara atrium dan ventrikel (sulkus atrioventrikuler) dan memisahkan kedua ventrikel (sulkus interventrikuler), sedangkan arteri koroner kanan berfungsi sebagai memberi nutrisi pada atium kanan, ventrikel kanan dan dinding sebelah dalam dari ventrikel kiri.&lt;br /&gt;(2) Arteriol&lt;br /&gt;Adalah cabang-cabang paling ujung dari system arteri. Berfungsi sebagai katup pengontrol untuk mengatur pengaliran darah ke kapiler dan mampu berkontriksi/menyempit secara komplit atau dilatasi/melebar sampai beberapa kali ukuran normal, sehingga dapat mengatur aliran darah ke kapiler.&lt;br /&gt;(3) Kapiler&lt;br /&gt;Berfungsi sebagai tempat pertukaran cairan dan nutrisi antara arah dan ruang interstisial. Untuk peran ini kapiler dilengkapi dinding yang sangat tipis dan permeable terhadap substansi-substansi bermolekul halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;(4) Venul&lt;br /&gt;Berfungsi menampung darah dari kapiler dan secara bertahap bergabung kedalam vena yang lebih besar. Dinding Venul hanya sedikit lebih tebal daripada dinding kapiler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Vena&lt;br /&gt;Berfungsi sebagai jalur transportasi darah dari jaringan kembali ke jantung. Dinding Vena tipis namun berotot dan ini memungkinkan vena berkontraksi sehingga mempunyai kemampuan untuk menyimpan atau menampung darah sesuai kebutuhan tubuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-4059366112170419132?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/HJtsJwD-Nz3LhOPJ1OsIyb_3UaU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/HJtsJwD-Nz3LhOPJ1OsIyb_3UaU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/HJtsJwD-Nz3LhOPJ1OsIyb_3UaU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/HJtsJwD-Nz3LhOPJ1OsIyb_3UaU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-18T21:56:07.398-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Bayi Berat Lahir Rendah</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/11/bayi-berat-lahir-rendah.html</link><category>Keperawatan Medikal Bedah</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Wed, 17 Nov 2010 21:33:50 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-5326015977939317962</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Definisi Bayi Berat Lahir Rendah&lt;br /&gt;  Bayi berat lahir rendah yaitu bayi yang berat badannya kurang dari 2500 gram tanpa memerhatikan usia gestasi (Dona L Wong).&lt;br /&gt;Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir (Iskandar Wahidiyat, 1991:l)&lt;br /&gt;Berat badan lahir rendah adalah bayi baru lahir dengan berat badan pada saat kelahiran kurang dari 2500 gr atau lebih rendah ( WHO, 1961 ).&lt;br /&gt;Bayi berat lahir rendah  adalah bayi baru lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram, terjadi gangguan pertumbuhan dan pematangan (maturitas) organ yang dapat menimbulkan kematian (Talbott Laura A, 1997: 6).&lt;br /&gt;b. Penyebab Bayi Berat Lahir Rendah&lt;br /&gt; (1) Faktor ibu&lt;br /&gt; Penyakit, seperti malaria, anaemia, sipilis, infeksi TORCH, dan lain-lain, komplikasi pada kehamilan ibu seperti perdarahan antepartum, pre-eklamsia berat, eklamsia, ketuban pecah dini dan kelahiran preterm. Usia Ibu dan paritas, angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan usia kurang atau lebih, faktor kebiasaan ibu juga berpengaruh seperti ibu perokok, ibu pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika  atau dengan penyakit seperti diabetes mellitus, kardioyaskuler dan paru.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;  (2) Faktor Janin&lt;br /&gt; Prematur, hidramion, kehamilan kembar/ganda (gemeli), kelainan kromosom.&lt;br /&gt;  (3) Faktor Lingkungan&lt;br /&gt;  Yang dapat berpengaruh antara lain; tempat tinggal di daratan tinggi, radiasi, sosio-ekonomi dan paparan zat-zat racun.&lt;br /&gt;c. Patofisiologi Bayi Berat Lahir Rendah&lt;br /&gt;Ibu dengan preeklamsi berat, pembuluh darah menyempit, janin yang dikandung nutrisi dan oksigen di bawah normal, sehingga pembuluh darah menyalurkan ke pembuluh darah menyempit mengakibatkan buruknya nutrisi, sehingga pertumbuhan janin terhambat menyebabkan bayi dengan berat lahir rendah. Terjadi pencernaan yang imatur terjadi obstruksi ileus merangsang sekresi lambung HCI menyebabkan mual dan muntah, keluar natrium, sehingga anoreksia mengakibatkan nutrisi menurun, berat badan pun menurun, menyebabkan gangguan ketidakseimbangan nutrisi berhubungan dengan intake yang kurang sehingga asupan karbohidrat menurun terjadi proteinuria sehingga hypoalbumin mengakibatkan tekanan osmotik plasma menurun, cairan intravaskuler menurun berpindah ke interstisial cairan intravaskuler berkurang terjadi oedem anasarka menyebabkan sel kekurangan cairan, sirkulasi darah dan cairan menurun terjadi syok hipovolemik. Pada pernafasan terjadi paru-paru yang imatur, compliance paru menurun sehingga oksigen pun menurun, menyebabkan pernafasan meningkat. Pada kulit cadangan lemak berkurang terjadi hipotermi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.  Komplikasi Bayi Berat Lahir Rendah&lt;br /&gt;1.  Hipotermia&lt;br /&gt;2. Hipoglikemia&lt;br /&gt;3. Gangguan cairan dan elektrolit&lt;br /&gt;4. Hiperbilirubinemia&lt;br /&gt;5. Sindroma gawat nafas&lt;br /&gt;6.  Paten duktus arteriosus&lt;br /&gt;7. Infeksi&lt;br /&gt;8. Perdarahan intraventrikuler&lt;br /&gt;9. Apnea of Prematurity&lt;br /&gt;10. Anemia&lt;br /&gt;Masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada bayi-bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) antara lain&lt;br /&gt;1. Gangguan perkembangan&lt;br /&gt;2. Gangguan pertumbuhan&lt;br /&gt;3. Gangguan penglihatan (Retinopati)&lt;br /&gt;4. Gangguan pendengaran&lt;br /&gt;5. Penyakit paru kronis&lt;br /&gt;6. Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit&lt;br /&gt;7. Kenaikan frekuensi kelainan bawaan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-5326015977939317962?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2qHJzAYakiKih_d3DvbGpnc4SY0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2qHJzAYakiKih_d3DvbGpnc4SY0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2qHJzAYakiKih_d3DvbGpnc4SY0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2qHJzAYakiKih_d3DvbGpnc4SY0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-17T21:33:50.075-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Langkah-langkah Latihan Aktif dan Pasif / ROM</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/11/langkah-langkah-latihan-aktif-dan-pasif.html</link><category>Keperawatan Medikal Bedah</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Sun, 14 Nov 2010 21:33:09 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-8133217252821808895</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Latihan pasif anggota gerak atas&lt;br /&gt;A. Gerakkan menekuk dan meluruskan sendi bahu :&lt;br /&gt;Tangan satu penolong memegang siku, tangan lainnya memegang lengan.&lt;br /&gt;Luruskan siku, naikkan dan turunkan lengan dengan siku tetap lurus.&lt;br /&gt;B. Gerakkan menekuk dan meluruskan siku :&lt;br /&gt;Pegangan lengan atas dengan lengan satu, tangan lainnya menekuk dan meluruskan siku.&lt;br /&gt;C. Gerakkan memutar pergelangan tangan :&lt;br /&gt;Pegangan lengan bawah dengan lengan satu, tangan lainnya menggenggam telapak tangan pasien.&lt;br /&gt;Putar pergelangan tangan pasien ke arah luar (terlentang) dan ke arah dalam (telungkup).&lt;br /&gt;D. Gerakkan menekuk dan meluruskan pergelangan tangan :&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pegang lengan bawah dengan lengan satu, tangan lainnya memegang pergelangan tangan pasien.&lt;br /&gt;Tekuk pergelangan tangan keatas dan kebawah.&lt;br /&gt;E. Gerakkan memutar ibu jari :&lt;br /&gt;Pegang telapak tangan dan keempat jari dengan tangan satu, tangan lainnya memutar ibu jari tangan.&lt;br /&gt;F. Gerakkan menekuk dan      meluruskan jari-jari tangan :&lt;br /&gt;Pegang pergelangan tangan dengan tangan satu, tangan lainnya menekuk dan meluruskan jari-jari tangan.&lt;br /&gt;Latihan pasif anggota gerak bawah.&lt;br /&gt;A. Gerakkan menekuk dan meluruskan pangkal paha :&lt;br /&gt;Pegang lutut dengan tangan satu, tangan lainnya memegang tungkai.&lt;br /&gt;Naikkan dan turunkan kaki dengan lutut tetap lurus.&lt;br /&gt;B. Gerakkan menekuk dan meluruskan lutut :&lt;br /&gt;Pegang lutut dengan tangan satu, tangan lainnya memegang tungkai.&lt;br /&gt;Tekuk dan luruskan lutut.&lt;br /&gt;C. Gerakkan untuk pangkal paha :&lt;br /&gt;Gerakkan kaki pasien menjauh dan mendekati badan (kaki satunya)&lt;br /&gt;D. Gerakkan memutar pergelangan kaki :&lt;br /&gt;Pegang tungkai dengan tangan satu, tangan lainnya memutar pergelangan kaki.&lt;br /&gt;3. Latihan aktif anggota gerak atas dan bawah&lt;br /&gt;A. Latihan 1&lt;br /&gt;Angkat tangan yang lumpuh menggunakan tangan yang sehat keatas.&lt;br /&gt;Letakkan kedua tangan diatas kedua kepala&lt;br /&gt;Kembalikan tangan ke posisi semula.&lt;br /&gt;B. Latihan 2&lt;br /&gt;Angkat tangan yang lumpuh melewati dada kearah tangan yang sehat&lt;br /&gt;Kembalikan ke posisi semula&lt;br /&gt;C. Latihan 3&lt;br /&gt;Angkat tangan yang lemah menggunakan tangan yang sehat keatas&lt;br /&gt;Kembali seperti semula&lt;br /&gt;D. Latihan 4&lt;br /&gt;Tekuk siku yang lumpuh menggunakan tangan yang sehat&lt;br /&gt;Luruskan siku, kemudian angkat keatas&lt;br /&gt;Letakkan kembali tangan yang lumpuh ditempat tidur.&lt;br /&gt;E. Latihan 5&lt;br /&gt;Pegang pergelangan tangan yang lumpuh menggunakan tangan yang sehat, angkat keatas dada&lt;br /&gt;Putar pergelangan tangan kearah dalam dan kearah luar &lt;br /&gt;Sumber : Leaflet kuliah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-8133217252821808895?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dp2tVta8dPyyhDvaE2OnAK44hJI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dp2tVta8dPyyhDvaE2OnAK44hJI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dp2tVta8dPyyhDvaE2OnAK44hJI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dp2tVta8dPyyhDvaE2OnAK44hJI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-14T21:33:09.158-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tentang Craniektomy</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/11/tentang-craniektomy.html</link><category>Keperawatan Medikal Bedah</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Sun, 14 Nov 2010 21:30:52 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-3253024388284278942</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Craniektomy adalah insisi pada tulang tengkorak dan membersihkan tulang dengan memperluas satu atau lebih lubang,. Pembedahan craniektomy dilakukan untuk mengangkat tumor, hematom, luka, atau mencegah infeksi pada daerah tualang tengkorak.&lt;br /&gt;Craniektomy juga diindikasikan untuk mengobati craniosynostosis pada infant dan megurangi tekanan pada otak akibat tekanan tulang atau perdarahan internal akibat trauma.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-3253024388284278942?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6BFbOVVDWIVZXja70MyMvicvL08/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6BFbOVVDWIVZXja70MyMvicvL08/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6BFbOVVDWIVZXja70MyMvicvL08/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6BFbOVVDWIVZXja70MyMvicvL08/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-14T21:30:52.122-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tanda dan gejala Gagal ginjal kronik</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/11/tanda-dan-gejala-gagal-ginjal-kronik.html</link><category>Keperawatan Medikal Bedah</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Sun, 14 Nov 2010 21:21:45 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-8883348958002729103</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Suyono (200l) Tanda dan gejala Gagal ginjal kronik adalah :&lt;br /&gt;a. Gangguan pada sistem gastrointestinal.&lt;br /&gt;- Anoreksia, mual, dan muntah yang berhubungan dengan gangguan metabolisme protein dalam usus dan terbentuknya zat – zat toksik.&lt;br /&gt;- Fetor uremik : disebabkan ureum yang berlebihan pada air liur yang diubah menjadi amonia oleh bakteri sehingga nafas berbau amonia.&lt;br /&gt;- Cegukan, belum diketahui penyebabnya.&lt;br /&gt;b. Gangguan sistem Hematologi dan kulit.&lt;br /&gt;- Anemia, karena berkurangnya produksi eritropoetin.&lt;br /&gt;- Kulit pucat karena anemia dan kekuningan karena penimbunan urokrom.&lt;br /&gt;- Gatal-gatal akibat toksin uremik.&lt;br /&gt;- Trombositopenia (penurunan kadar trombosit dalam darah).&lt;br /&gt;- Gangguan fungsi kulit (Fagositosis dan kemotaksis berkurang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;c. Sistem Syaraf dan otak.&lt;br /&gt;- Miopati, kelelahan dan hipertropi otot.&lt;br /&gt;- Ensepalopati metabolik : Lemah, Tidak bisa tidur, gangguan konsentrasi.&lt;br /&gt;d. Sistem Kardiovaskuler.&lt;br /&gt;- Hipertensi.&lt;br /&gt;- Nyeri dada, sesak nafas.&lt;br /&gt;- Gangguan irama jantung akibat sklerosis dini.&lt;br /&gt;- Edema.&lt;br /&gt;e. Sistem endokrin.&lt;br /&gt;- Gangguan seksual : libido, fertilitas dan penurunan seksual pada laki-laki, pada wanita muncul gangguan menstruasi.&lt;br /&gt;- Gangguan metabolisme glukosa, retensi insulin dan gangguan sekresi insulin.&lt;br /&gt;f. Gangguan pada sistem lain.&lt;br /&gt;- Tulang : osteodistrofi renal.&lt;br /&gt;- Asidosis metabolik akibat penimbunan asam organik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-8883348958002729103?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YxGs8GJ9qMTkV5PkYLQGvgCcaRw/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YxGs8GJ9qMTkV5PkYLQGvgCcaRw/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YxGs8GJ9qMTkV5PkYLQGvgCcaRw/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YxGs8GJ9qMTkV5PkYLQGvgCcaRw/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-14T21:21:45.212-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Etiologi &amp; Tanda Gejala Fraktur</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/11/etiologi-tanda-gejala-fraktur.html</link><category>Keperawatan Medikal Bedah</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Fri, 05 Nov 2010 01:30:10 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-2857199841806315656</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;            FRAKTUR&lt;br /&gt;1. Definisi&lt;br /&gt;Fraktur adalah patah atau gangguan kontinuitas jaringan tulang&lt;br /&gt;( PUSDIKNAKES DEPKES, 1995 : 75 )&lt;br /&gt;Fraktur adalah terputusnya kontinuitas struktur jaringan tulang, baik itu tulang rawan, sendi, tulang epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial.  ( Chairuddin, 2000 : 388 )&lt;br /&gt;Fraktur adalah terputusnya kerusakan kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.&lt;br /&gt;( Brunner dan Suddarh’s, Ed. 8 Vol. 3 Hal : 2357)&lt;br /&gt;Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, baik yang bersifat total  maupun parsial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Etiologi Fraktur&lt;br /&gt;Etiologi fraktur secara umum yaitu :&lt;br /&gt;a. Fraktur terjadi ketika tekanan yang menimpa tulang lebih besar dari     &lt;br /&gt;  pada daya tahan tulang akibat trauma.&lt;br /&gt;b. Fraktur terjadi karena penyakit tulang seperti tumor tulang, osteoporosis yang disebut fraktur pathologis.&lt;br /&gt;c. Fraktur stress atau fatigue, fraktur yang fatigue biasanya sebagai &lt;br /&gt;  Akibat dari  penggunaan tulang secara berlebihan yang berulang –&lt;br /&gt;  ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Tanda dan Gejala Fraktur&lt;br /&gt;a. Deformitas ( perubssahan struktur atau bentuk)&lt;br /&gt;b. Bengkak atau penumpukan cairan/darah karena kerusakan pembuluh darah&lt;br /&gt;c. Ekimosis ( perdarahan subkutan)&lt;br /&gt;d. Spasme otot karena kontraksi involunter disekitar fraktur&lt;br /&gt;e. Nyeri, karena kerusakan jaringan dan perubahan struktur yang meningkat karena penekanan sisi-sisi fraktur dan pergerakan bagian fraktur&lt;br /&gt;f. Kurangnya sensasi yang dapat terjadi karena adanya gangguan syaraf, dimana syaraf ini terjepit atau terputus oleh fragmen tulang&lt;br /&gt;g. Hilangnya atau berkurangnya fungsi normal karena ketidakstabilan tulang, nyeri atau spasme otot&lt;br /&gt;h. Pergerakan abnormal&lt;br /&gt;i. Krepitasi, yang dapat dirasakan atau didengar bila fraktur digerakan&lt;br /&gt;j. Hasil foto rontgen yang abnormal&lt;br /&gt;Akibat terjadi kepatahan/patah tulang, tulang tersebut mengadakan adaptasi terhadap kondisi tersebut, diantaranya adalah mengalami proses penyembuhan atau perbaikan tulang. Faktor tersebut dapat diperbaiki tapi prosesnya lambat, karena melibatkan pembentukan tulang baru. Proses tersebut terjadi  secara bertahap,  yang dikaji dalam 4 tahap  yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Pembentukan prokallus/haematoma&lt;br /&gt;Haematoma akan terbentuk pada 48 sampai 72 jam pertama pada fraktur yang disebabkan karena adanya perdarahan yang terkumpul disekitar fraktur yaitu darah dan eksudat, kemudian akan diserbu oleh kapiler dan sel darah putih terutama netrofil, kemudian diikat oleh makrofag, sehingga akan terbentuk jaringan granulasi.&lt;br /&gt;2) Pembentukan Kallus&lt;br /&gt;Selama 5 sampai 5 hari osteoblast menyusun trabekula disekitar ruangan-ruangan yang kelak menjadi saluran harvest. Jaringan itu ialah jaringan osteosid, disebut Kallus yang berfungsi sebagai bidai  (Splint) yang terbentuk pada akhir minggu kedua.&lt;br /&gt;3) Osifikasi&lt;br /&gt;Dimulai pada 2 sampai 3 minggu setelah fraktur jaringan kallus akhirnya akan diendapi oleh garam-garam mineral, dan akan terbentuk tulang yang menghubungkan kedua sisi yang patah.&lt;br /&gt;4) Penggabungan dan Remodelling&lt;br /&gt;Kallus tebal diabsopsi oleh aktivitas dari osteoblast dan osteoclast menjadi konteks baru yang sama dengan konteks sebelum fraktur.Remodeling berlangsung 4 sampai 8 bulan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-2857199841806315656?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/RAs_Xs13k0614UzLB50N-veAmSk/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/RAs_Xs13k0614UzLB50N-veAmSk/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/RAs_Xs13k0614UzLB50N-veAmSk/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/RAs_Xs13k0614UzLB50N-veAmSk/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-05T01:30:10.869-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Lapisan-lapisan pembungkus ginjal</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/11/lapisan-lapisan-pembungkus-ginjal.html</link><category>Keperawatan Medikal Bedah</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Mon, 01 Nov 2010 22:12:44 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-3367850939030873514</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lapisan-lapisan pembungkus ginjal :&lt;br /&gt;(1) Bagian dalam   : capsula renalis yang berlanjut dengan lapisan permukaan ureter&lt;br /&gt;(2) Bagian tengah : capsula adiposa yang merupakan jaringan lemak untuk melindungi ginjal dari trauma&lt;br /&gt;(3) Bagian luar : Fascia renalis (jaringan ikat) yang membungkusrginjal dan menghubungkannya dg dinding abdomen posterior. Jaringan flexibel            memungkinkan ginjal bergerak dengan lembut saat diafragma bergerak waktu bernafas, mencegah penyebarab infeksi dari ginjal ke yang lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-3367850939030873514?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5ZXHmNpjDhUQIU3-Kez2XsgGvV0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5ZXHmNpjDhUQIU3-Kez2XsgGvV0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5ZXHmNpjDhUQIU3-Kez2XsgGvV0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5ZXHmNpjDhUQIU3-Kez2XsgGvV0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-01T22:12:44.131-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Definisi Glomerulonefritis</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/11/definisi-glomerulonefritis.html</link><category>Keperawatan Medikal Bedah</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Mon, 01 Nov 2010 18:19:31 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-6504918472240796235</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Glomerulonefritis terjadi karena adanya peradangan pada glomerulus yang diakibatkan karena adanya pengendapan kompleks antigen antibodi. Kompleks biasanya terbentuk 7 – 10 hari setelah infeksi faring atau kulit oleh streptokokus. Reaksi peradangan di glomerulus menyebabkan pengaktifan komplemen, sehingga terjadi peningkatan aliran darah dan peningkatan permeabilitas kapiler glomerulus dan filtrasi glomerulus. Protein-protein plasma dan sel darah merah bocor melalui glomerulus.&lt;br /&gt;Glomerulonefritis dibagi menjadi dua :&lt;br /&gt;1) Glomerulonefritis akut&lt;br /&gt; Glomerulonefritis akut adalah peradangan glomerulus secara mendadak.&lt;br /&gt;2) Glomerulonefritis kronik&lt;br /&gt;  Glomerulonefritis kronik adalah peradangan yang lama dari sel –sel glomerulus. Kelainan ini dapat terjadi akibat glomerulonefritis akut tidak membaik atau timbul secara spontan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-6504918472240796235?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ObeJEmsW5Iw-P_9UD0GXC-moVUk/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ObeJEmsW5Iw-P_9UD0GXC-moVUk/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ObeJEmsW5Iw-P_9UD0GXC-moVUk/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ObeJEmsW5Iw-P_9UD0GXC-moVUk/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-01T18:19:31.601-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Skizofrenia Hebefrenik</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/11/skizofrenia-hebefrenik.html</link><category>Keperawatan Jiwa</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Mon, 01 Nov 2010 02:20:08 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-81099106335663995</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu pembagian skizofrenia adalah skizofrenia hebefrenik. Beberapa pendapat yang menyebutkan tentang pengertian Skizofrenia, antara lain :&lt;br /&gt;“Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk Skizofrenia yang ditandai dengan perilaku klien regresi dan primitif, afek yang tidak sesuai, wajah dungu, tertawa-tawa aneh, meringis dan menarik diri secara ekstrim”. (Townsend, alih bahasa Helena, 1998:143).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk skizofrenia dengan perubahan afektif yang tampak jelas dan secara umum juga dijumpai waham dan halusinasi yang bersifat mengambang serta terputus-putus (fragmentary), perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan, serta umumnya maneurisme (Depkes RI, 1993:111-112).&lt;br /&gt;Skizofrenia hebefrenik disebut juga disorganized type atau “kacau balau” yang ditandai dengan inkoherensi, affect datar, perilaku dan tertawa kekanak-kanakan, yang terpecah-pecah, dan perilaku aneh seperti menyeringai sendiri, menunjukkan gerakan-gerakan aneh, mengucap berulang-ulang dan kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrim dari hubungan sosial (Dadang Hawari, 2001:64-65).&lt;br /&gt;Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk skizofrenia dengan perubahan prilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan,ada kecenderungan untuk selalu menyendiri, dan prilaku menunjukkan hampa prilaku dan hampa perasaan, senang menyendiri,dan ungkapan kata yang di ulang – ulang, proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu serta adanya penurunan perawatan diri pada individu. ( Rusdi Maslim,Dr.PPDGJ- III 2001: 48)&lt;br /&gt;Dari ketiga pengertian diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa Skizofrenia hebefrenik atau Skizofrenia disorganized adalah suatu gangguan yang yang ditandai dengan regresi dan primitif, afek yang tidak sesuai, serta menarik diri secara ekstrim dari hubungan sosial.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-81099106335663995?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_Ec2McdbV2KMp63CUA973HC3SnQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_Ec2McdbV2KMp63CUA973HC3SnQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_Ec2McdbV2KMp63CUA973HC3SnQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_Ec2McdbV2KMp63CUA973HC3SnQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-01T02:20:08.243-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Usus halus</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/10/usus-halus.html</link><category>Keperawatan Medikal Bedah</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Fri, 29 Oct 2010 19:07:53 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-3616984895260035454</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Usus halus adalah  tempat berlangsungnya sebagian besar pencernaan dan penyerapan. Dengan panjang sekitar 6.3 m (21 kaki) diameternya kecil yaitu 2,5 cm / 1 inch. Bergulung di rongga abdomen dan terlentang dari lambung sampai usus besar. Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu :&lt;br /&gt;a) Duodenum (20 cm/8 inch)&lt;br /&gt;Duodenum disebut juga usus dua belas jari. Bagian pertama usus halus yang berbentuk sepatu kuda melingkari pancreas.&lt;br /&gt;b) Jejunum (2,5 cm/8 kaki)&lt;br /&gt;Disebut juga usus kosong, Terjadi pencernaan secara kimia, menghasilkan enzim pencernan.&lt;br /&gt;c) Ileum (3,6 cm/12 kaki)&lt;br /&gt;Ileum disebut juga usus penyerapan menempati 3/5 akhir. Terjadi penyerapan makanan (absorpsi).&lt;br /&gt;Sumber : catatan kuliah&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-3616984895260035454?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/26GNZTao-MVG8JNZBQmuf6L9to4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/26GNZTao-MVG8JNZBQmuf6L9to4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/26GNZTao-MVG8JNZBQmuf6L9to4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/26GNZTao-MVG8JNZBQmuf6L9to4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-10-29T19:07:53.300-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Definisi &amp; Etiologi Appendisitis</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/10/definisi-etiologi-appendisitis.html</link><category>Keperawatan Medikal Bedah</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Fri, 29 Oct 2010 18:58:57 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-8435146748097413365</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Definisi Appendisitis&lt;br /&gt;Appendisitis adalah peradangan appendiks yang relatif sering dijumpai yang dapat timbul tanpa sebab yang jelas, atau timbul setelah obstruksi appendiks oleh tinja atau akibat terpuntirnya appendiks atau pembuluh darahnya. Peradangan menyebabkan appendiks membengkakdan nyeri yang dapat menimbulkan gangren karena suplai darah terganggu. appendiks juga dapat pecah. ( Patofisiologi Corwin : 529 )&lt;br /&gt;b. Etiologi Appendisitis&lt;br /&gt;Appendisitis disebabkan oleh beberapa sebab terjadinya proses radang bakteria yang dicetuskan oleh beberapa factor pencetus diantaranya hyperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor appendik dan cacing askaris yang menyumbat. Ulserasi mukosa merupakan tahap awal dari kebanyakan penyakit ini. Namun ada beberapa faktor yang mempermudahterjadinya radang apendiks menurut Dr. Andri Haryanto diantaranya factor sumbatan, factor bakteri, kecenderungan familiar. (www.emedicine.com, diakses tanggal 6 juni 2010),&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-8435146748097413365?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4pnUIRA9_Ss74llUZ01uWEVVXqs/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4pnUIRA9_Ss74llUZ01uWEVVXqs/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4pnUIRA9_Ss74llUZ01uWEVVXqs/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4pnUIRA9_Ss74llUZ01uWEVVXqs/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-10-29T18:58:57.073-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pengertian Dekompensasi  Kordis</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/10/konsep-dasar-dekompensasi-kordis.html</link><category>Keperawatan Medikal Bedah</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Thu, 21 Oct 2010 18:59:47 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-1772280215100602851</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dekompensasi  kordis  adalah  suatu  keadaan  dimana  terjadi penurunan  kemampuan  fungsi  kontraktilitas  yang  berakibat  pada penurunan  fungsi  pompa  jantung  (Tabrani,  1998;  Price,  1995).&lt;br /&gt;Dekompensasi kordis  adalah  keadaan  patofisiologi  yang  mana  jantung sebagai  pompa  tidak  mampu  memenuhi  kebutuhan  darah   untuk metabolisme  jaringan   (Carleton, P.F dan  M.M.  O’Donnell,  1995 ; Ignatavicius  and  Bayne,  1997 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekompensasi kordis  adalah  ketidakmanpuan  jantung  untuk  memompa darah  secara   adekuat  untuk   memenuhi  kebutuhan  jaringan  akan oksigen  dan  nutrisi.  (Smeltzer C. Suzanne, keperawatan  medikal bedah  vol 2, 1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  ketiga  pendapat  di  atas  di simpulkan  bahwa  decompensasi cordis tidak   mampu  memompakan  darah  yang  adekuat  untuk  memenuhi kebutuhan  darah  untuk  metabolisme  jaringan  akan   oksigen  dan nutrisi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-1772280215100602851?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-DHueMFj4JN3VUr0NV2otW5htHI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-DHueMFj4JN3VUr0NV2otW5htHI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-DHueMFj4JN3VUr0NV2otW5htHI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-DHueMFj4JN3VUr0NV2otW5htHI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-10-21T18:59:47.473-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Konsep letak sungsang</title><link>http://tutorialkuliah.blogspot.com/2010/10/konsep-letak-sungsang.html</link><category>Kebidanan</category><author>noreply@blogger.com (Revolusi Pendidikan)</author><pubDate>Thu, 21 Oct 2010 18:37:01 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1289453786546266595.post-5495031940874276803</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Pengertian letak sungsang&lt;br /&gt;Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala berada di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri.&lt;br /&gt;b. Klasifikasi letak sungsang&lt;br /&gt; 1) Letak bokong ( Frank Breech )&lt;br /&gt;   Letak bokong dengan kedua tungkai terangkat ke atas, dimana paha fleksi, lutut ekstensi.&lt;br /&gt; 2) Letak bokong komplet ( Complete Breech )&lt;br /&gt;  Letak bokong dimana kedua kaki ada di samping bokong, letak bokong kaki sempurna ( lipat kejang ). Kedua paha dan lutut fleksi.&lt;br /&gt; 3) Letak bokong tidak komplet ( Incomplete Breech )&lt;br /&gt;   Adalah letak sungsang dimana selain bokong bagian yang terendah juga kaki atau lutut, terdiri dari :&lt;br /&gt;a) Kedua kaki = letak kaki sempurna&lt;br /&gt;b)  Satu kaki = letak kaki tidak sempurna&lt;br /&gt;c)  Kedua lutut = letak lutut smpurna&lt;br /&gt;d) Satu lutut = letak lutut tidak sempurna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;c. Etiologi letak sungsang&lt;br /&gt;  Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan di dalam uterus. Pada kehamilan sampai lebih kurang dari 32 minggu, jumlah air ketuban relative lebih banyak, sehingga kemungkinan janin bergerak lebih leluasa. Dengan demikian, janin dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak sungsang atau lintang. Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air ketuban relatif lebih berkurang. Karena bokong dengan dua tungkai yang terlipat lebih besar dari kepala, maka bokong dipaksa untuk menempati ruang yang lebih luas di fundus uteri, sedangkan kepala berada dalam ruang yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Dengan demikian dapat di mengerti mengapa pada kehamilan belum cukup bulan, frekuensi letak sungsang lebih tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan, janin sebagian besar ditemukan dalam presentasi kepala.&lt;br /&gt;  Terdapat beberapa factor yang berperan dalam terjadinya letak sungsang diantaranya adalah multiparitas, kehamilan kembar, hidramnion, hidrosephalus, anensefalus, plasenta previa, panggul sempit, prematuritas, kelainan genetic, kelainan bentuk uterus.&lt;br /&gt;d. Diagnosis letak sungsang&lt;br /&gt;1) Palpasi dan auskultasi&lt;br /&gt;  Kepala teraba di fundus, bagian bawah bokong, dan punggung di kiri atau di kanan. DJJ paling jelas terdengar pada tempat yang lebih tinggi dari pusat.&lt;br /&gt;2) Pemeriksaan dalam&lt;br /&gt; Pada pemeriksaan dalam bedakan antara :&lt;br /&gt;a) Jika teraba lubang kecil, tulang (-), isap (-), mekonium (+) maka artinya teraba anus.&lt;br /&gt;b) Jika mengisap, teraba rahang, teraba lidah artinya teraba mulut&lt;br /&gt;c) Jika teraba tumit, sudut 90o, rata jari-jari artinya teraba kaki.&lt;br /&gt;d) Jika teraba jari jari panjang, tidak rata, patella (-) artinya teraba tangan siku.&lt;br /&gt;e) Jika teraba petella dan poplitea artinya teraba lutut.&lt;br /&gt;3) Pemeriksaan foto Rontgent : bayangan kepala di fundus.&lt;br /&gt;e. Posisi letak sungsang&lt;br /&gt;1) Presentasi bokong&lt;br /&gt; Pada pemeriksaan dalam yang dapat teraba hanya bokong bayi saja. Terjadi karena janin meluruskan (ekstensi) kedua sendi lututnya, sehingga kedua kaki mengarah ke atas dan kedua ujungnya sejajar dengan bahu atau kepala.&lt;br /&gt;2) Presentasi bokong kaki sempurna&lt;br /&gt; Pada pemeriksaan dalam dilakukan, bokong dan kedua kaki dapat teraba.&lt;br /&gt;3) Presentasi bokong kaki tidak sempurna&lt;br /&gt; Bagian bokong teraba dengan satu kaki di sampingnya, sedangkan kaki yang lain terangkat ke atas.&lt;br /&gt;4) Presentasi kaki&lt;br /&gt; Yang teraba lebih dulu adalah salah satu atau kedua kaki karena posisi kaki berada di bagian paling rendah.&lt;br /&gt;Sumber : Buku Kebidanan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1289453786546266595-5495031940874276803?l=tutorialkuliah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EShFY3Nc8ck6zSmxHyHOvd7bCFo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EShFY3Nc8ck6zSmxHyHOvd7bCFo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EShFY3Nc8ck6zSmxHyHOvd7bCFo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EShFY3Nc8ck6zSmxHyHOvd7bCFo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-10-21T18:37:01.680-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>

