<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Putra Darwesh Qadian</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (putra darweisy)</managingEditor><pubDate>Thu, 5 Sep 2024 18:39:05 -0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">40</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://putradarweisy.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:category text="Religion &amp; Spirituality"><itunes:category text="Islam"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Apakah Imam Mahdi Benar-Benar Berada Dalam Satu Kuburan Dengan Rasulullah?</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2013/11/apakah-imam-mahdi-benar-benar-berada.html</link><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Mon, 11 Nov 2013 23:01:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-4457540933100661265</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;Dalam acara soal jawab, Hazrat Khalifatul Masih Ar Rabi ra menjawab satu pertanyaan yang tidak dimunculkan dan langsung dimulai dengan jawaban Huzur (dalam format MP3). Dari jawaban Huzur, penerjemah memperkirakan bahwa pertanyaan yang dilontarkan mungkin berkenaan dengan “dikuburkannya Imam Mahdi dengan Rasulullah dalam satu kuburan yang sama” atau yang senada dengan itu. lengkapnya sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;Huzur bersabda: ”Yang disabdakan tadi mengisyarahkan kepada satu hadits yang sampai batas tertentu saya berkesan bahwa alfaaz (kata-kata) dalam hadits itu tidaklah benar. Tapi dari sisi topik, ada hadits lain yang senada dengan topik tersebut, saya akan jelaskan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;Kita harus berhati-hati dalam mensikapi suatu Hadits nabi. Jika kita teringat akan suatu topik, maka katakanlah dengan penuh kehati-hatian bahwa “saya teringat dengan suatu topik yang sejenis dengan itu dan jangan sekali-kali menyandarkan suatu perkataan kepada Rasulullah SAW sebelum kita benar-benar yakin kebenarannya, karena Huzur SAW bersabda:” Jika ada yang menyandarkan suatu perkataan kepadaku, padahal aku tidak pernah mengatakannya, maka dia akan membuat rumahnya sendiri di neraka”, karena merupakan satu tanggung jawab yang sangat besar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;Banyak sekali hal-hal yang jika kita sampaikan kepada seseorang, maka orang itu tidak akan mempercayainya dan tidak akan ada bedanya, tapi jika perkataan itu kita sandarkan kepada Rasulullah SAW, maka orang itu akan langsung mempercayainya. Karena itu, jalan untuk berbuat zalim akan terbuka jika kita menyandarkan perkataan dusta kepada Rasulullah SAW. Memang perbuatan seperti ini tidak dilakukan secara sengaja, melainkan ada sedikit kecerobohan dalam kata-katanya. maksudnya, point inti dari semua ini adalah disabdakan bahwa “Pada hari kiamat aku dan Imam Mahdi akan diangkat dari kuburan yang sama”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;Dalam konteks ini Hazrat Rasulullah SAW telah mengatakan suatu perkataan yang mengandung makna kiasan. Yang jadi pertanyaan adalah hadits ini dengan sendirinya menjelaskan bahwa apa makna yang terkandung didalamnya? Karena berkenaan dengan Imam Mahdi ditemukan juga hadits hadits lain yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:” Nama ibu dan bapaknya (Imam-Mahdi) akan sama dengan nama ibu dan ayahku, bahkan namanya pun akan sama dengan namaku”.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;Dan jika ada hadits serupa yang disabdakan dengan kalimat yang senada yakni “Aku dan Mahdi akan diangkat dari kuburan yang sama pada hari kiamat”, maka dari itu bisa kita ketahui bahwa didalamnya terkandung makna kiasan, karena tidaklah mungkin ada orang yang akan berani menggali kuburan Rasulullah SAW, apakah itu Mahdi atau wujud siapapun juga, tidak akan ada seorang muslim yang akan berani untuk menggali kuburan Rasulullah SAW demi untuk menguburkannya (Mahdi). Dan jika orang itu mengatakan bahwa “Aku adalah Mahdi”, maka mereka akan menjawab bahwa bagaimana kami bisa mengetahui bahwa kamu Mahdi sebelum kamu dikuburkan terlebih dahulu? Dan jika Mahdi tadi mati sebelum mereka beriman, maka siapa yang akan mengizinkan untuk menggali kuburannya (Mahdi) lalu dikuburkan disana (dalam kuburan Rasulullah) bagaimanapun ghairat kita tidak akan mengizinkan hal itu terjadi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;Dari gaya bahasanya memberitahukan kepada kita bahwa didalam kalimat tersebut terkandung makna kiasan dan sedang disampaikan pesan sebagaimana terkadang para nabi mengatakan hal-hal yang serupa dengan tujuan supaya pemahaman kita menjadi tajam lalu merenungkannya sehingga kita bisa mengambil manfaat dari permisalan seperti ini. Perkataan ini sangatlah jelas.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;Masalahnya adalah awal permulaannya sama dan hasil akhir kehidupannya pun sama (Rasulullah dengan Mahdi-Pent) memberitahukan bahwa dia (Mahdi) suci, benar, dia taat sepenuhnya kepadaku dan seperti halnya seorang yang taat dengan sempurna, maka diapun berhak untuk ditaati. Ayah dan Ibunya sama. Seperti halnya ibuku begitu juga ibunya dan seperti halnya ayahku begitu juga ayahnya, namanya juga sama seperti namaku. Makna inilah yang dimaksud berkenaan dengan Imam Mahdi, maksudnya adalah kalian jangan menyerang akal pemikirannya dan janganlah mencelanya, karena celaan ini akan sampai juga kepadaku sebab dia datang sebagai ghulamku (hambaku).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;Begitu juga, janganlah kalian menyerang hasil akhir dari kehidupannya, karena dikuburkannya dalam satu kuburan mengisyarahkan pada hasil akhir yang sama (dengan Rasulullah) dan istilah ini digunakan juga dalam peribahasa bahasa urdu, dikatakan “Kamu masuk saja dikuburanmu sendiri jangan masuk di kuburanku! Maksudnya adalah hasil akhir dari kehidupannya adalah sama. Selain makna tersebut tidak ada makna lain yang bisa dicocokkan dengan hadits tersebut, karena makna (leterlek-Pent) tadi bertentangan dengan akal sehat dan tujuan dari seorang mukmin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="line-height: 28px;"&gt;Note: Penulis bertanggung jawab penuh apabila ada kesalahan dalam pengalihbahasaan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Konspirasi Internasional menentang Ahmadiyah</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2011/02/konspirasi-internasional-menentang.html</link><category>Ahmadiyah Indonesia</category><category>Hz. Khalifatul Masih Ar Rabi r.ah</category><category>Nasehat</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Mon, 21 Feb 2011 20:15:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-1929720062815454445</guid><description>&lt;div style="background-image: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial; background-color: rgb(239, 251, 251); text-align: justify; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; "&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjy2On162T1DGxwdTgDfwHHlaDXYE8t6Xu-86ogMS3hj-KcEQGT_0Xhk4o4uIICGBF0yeiXgHnDXbhEhvoYUW2t8jh36fQuqF_n7j7Cr-WuUIF3jNNR_Q9tPrEHKRmTBK2H2StI9qYWfro/s1600/khalifah+4.jpg" style="font-size: 100%; "&gt;&lt;img style="text-align: left;float: left; margin-top: 0px; margin-right: 10px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; cursor: pointer; width: 109px; height: 150px; " src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjy2On162T1DGxwdTgDfwHHlaDXYE8t6Xu-86ogMS3hj-KcEQGT_0Xhk4o4uIICGBF0yeiXgHnDXbhEhvoYUW2t8jh36fQuqF_n7j7Cr-WuUIF3jNNR_Q9tPrEHKRmTBK2H2StI9qYWfro/s320/khalifah+4.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575071559852344530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: center;font-size: 100%; "&gt;&lt;b&gt;Amanah Khalifah Ahmadiyah ke IV r.h. Pada Pertemuan Dengan Pengurus Besar Jamaah Ahmadiyah Indonesia di Singapura tanggal 20 Juli 1989 Tentang Konspirasi Internasional Menentang Ahmadiyah Dan Menghancurkan Umat Islam&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saudara-saudara telah mendengar segala sesuatu mengenai latar belakang kegiatan berbagaikekuatan anti-Islam dan konspirasi (persekongkolan) yang berlangsung dewasa ini di Indonesia. Saya telah senantiasa berusaha mengirimkan pesan (amanat) kepada Jama’at Ahmadiyah Indonesia mengenai apa yang sedang terjadi dan mengenai segala sesuatu yang saya fahamibakal terjadi di kemudian hari. Akan tetapi malang sekali, saya tidak puas dengan reaksi dari Jama’at Indonesia dalam mengambil langkah-langkah penjagaan dan secara serentakmenanggulangi bahaya ini.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-image: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial; background-color: rgb(239, 251, 251); text-align: justify; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; "&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pertama-tama, seluruh anggota Jama’at Ahmadiyah Indonesia harus mengerti tentang apa yang sedang terjadi dan mengapa hal itu terjadi. Berkenaan dengan ini, saya pikir, pengarahan-pengarahan saya tidak dijalankan dengan memuaskan. Orang-orang (para anggota Jemaat) dari segala lapisan – laki-laki, perempuan, bahkan para pemuda dan anak-anak yang beranjak dewasa – haruslah mengerti apa yang sedang terjadi supaya mereka melaluipropaganda (penerangan) dan tukar-pikiran dengan kawan-kawan mereka menjelaskan kepada khalayak umum.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Akibat "Buta Politik" &amp;amp; 3 Musuh Utama Islam&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saya sangat meragukan analisa Saudara-saudara yang saya terima mengenai situasi dan mengenai apa yang sedang terjadi di pemerintahan negara Saudara-saudara. Beranggapan bahwa apa yang sedang terjadi di Departemen Agama, dan di Departemen-departemen lainnya -- termasuk Departemen Hankam (Pertahanan Keamanan) – dan sebagainya, itu adalah tanpa sepengetahuan dan tanpa pengukuhan serta dukungan Presiden merupakan pandangan yang kekanak-kanakan dan menunjukkan bahwa mereka yang membuat penilaian (analisa) ini tidak mempunyai (tidak memahami) konsep bagaimana politik berlangsung di dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Penilaian (anggapan/pandangan) bahwa keputusan-keputusan yang diambil di tingkat Eksekutif, yakni di Departemen-departemen, adalah tanpa sepengetahuan Presiden -- seperti yang Saudara-saudara katakan kepada saya -- mustahil terjadi di mana pun di dunia ini. Apa yang sedang terjadi, pada hakikatnya, adalah akibat dari ulah 3 musuh utama Islam yang bergabung dalam satu kekuatan yang dengan cara bertahap menjuruskan Indonesia kepada satu situasi yang pada akhirnya pasti akan terjadi seperti di Pakistan, andaikata Saudara-saudara tidak mencegahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Mula-mula – faktor ini yang kurang diperhatikan – adalah peranan Saudi Arabia. Saudi Arabiabersama-sama dengan Pakistan telah berusaha dengan segala cara yang terbaik maupun yang terburuk untuk membentuk sikap yang serupa di negeri-negeri Islam lainnya di dunia ini, sebagaimana mereka telah berhasil melakukannya di Pakistan. [Persekongkolan/makar buruk] ini bisa terjadi berkat dukungan serta liputan yang penuh dari Amerika Serikat. Ada pun alasannya jelas. Peranan unsur ketiga [yakni Amerika Serikat] yang akan dibahas nanti merupakan salah satu di antara alasan-alasan itu.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Politik Global Amerika Serikat&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menurut politik global Amerika Serikat, ada 2 hal yang sudah pasti akan terjadi di dunia:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;div style="text-align: left; font-size: 100%; "&gt; Pertama, Saudi Arabia harus menanam pengaruh di negeri-negeri Islam di dunia ini, karenaSaudi Arabia 100% bergantung pada Amerika Serikat dalam mempertahankan keberlangsungan kehidupannya, sebab Saudi Arabia adalah hamba Amerika Serikatyang paling cantik dan paling setia. Pengaruh Saudi Arabia yang meluas di negara-negaraIslam atau negeri-negeri Afrika atau negeri-negeri Dunia Ketiga, akhirnya berujung pada terciptanya pengaruh Amerika Serikat yang meluas serta menjamin kepentingannya sendiri di negeri-negeri tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; Kedua, dukungan terhadap agama Kristen dan jaminan keberlangsungan upaya,pengeluaran uang, dan tindakan lainnya, untuk menyebarkan agama Kristen -- teristimewa di daerah strategis di dunia, yang paling nekad dan sangat terkenal adalahpolitik Amerika Serikat. Oleh karena itulah maka Amerika Serikat memainkan peran sebagai pahlawan dalam mendukung agama Islam dan agama Kristen. Amerika Serikat secara serempak mendukung perjuangan Islam di Afghanistan [yang di pengaruhi pihak komunis] dan perjuangan Kristen di Polandia [yang juga komunis]. Apakah Amerika Serikat itu adalah orang Islam dan juga sekaligus orang Kristen?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Peran Ahmadiyah Menghadang Makar Buruk Amerika Serikat&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ahmadiyah menghambat jalan politik Amerika Serikat di kedua wilayah (sasaran) ini:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; Pertama-tama, Amerika Serikat menyadari bahwa Jama’at Ahmadiyah adalah lawanSaudi Arabia, dalam upaya memegang merk (label) Islam, di tempat mana saja ada upaya penyebaran Islam.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; Kedua, Amerika Serikat sepenuhnya mengetahui bahwa hanyalah Ahmadiyah satu-satunya yang dapat melawan Kristen dan [mampu] menghentikan derap kemajuannya di mana saja kita (Ahmadiyah) berhadapan dengan Kristen.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jadi, rencana yang sangat keji dan jahat [Amerika Serikat] dibuktikan oleh kenyataan adanyaSaudi Arabia sedang memainkan peran sebagai pahlawan Islam nenentang Jama’at Ahmadiyah di seluruh dunia. Akibatnya ialah perhatian semua pemimpin Islam tertuju kepadaAhmadiyah. Dan mereka (Saudi Arabia dan Amerika Serikat) mengatakan kepada para pemimpin Islam bahwa:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-image: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial; background-color: rgb(239, 251, 251); text-align: justify; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; "&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: left; font-size: 100%; "&gt;Ahmadiyah adalah satu-satunya ancaman yang berbahaya di dunia. Oleh karena itu binasakanlah Jemaat Ahmadiyah maka bahaya tidak akan ada lagi bagi Islam! Dan pada saat yang bersamaan agama Kristen sendiri yang berderap maju untuk merambah ke jalan kemajuan ke mana pun ia suka. Jama’at Ahmadiyah adalah satu-satunya kaum(golongan) yang mampu melawan Kristen dan [kemudian] diadu-dombakan dengan golongan Islam lainnya, dengan maksud menjamin pertahanan mereka (Kristen) sendiri.&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;div style="text-align: left; font-size: 100%; "&gt;Seluruh perhatian Dunia Islam akan diarahkan kepada Jama’at Ahmadiyah. Kian banyakkesukaran akan ditimbulkan terhadap Jama’at Ahmadiyah yang sedang giat-giatnya bertablighdan memerangi [faham] Kristen dengan bebas untuk kepentingan Islam. Dampak [makar-buruk] inilah yang sedang terjadi di Indonesia dan juga di dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tidak Melaksanakan Amanat Khalifah&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ketika beberapa orang [Ahmadi] Indonesia berada di London atau di tempat lainnya, saya mencoba menerangkan kepada mereka segala sesuatu, dengan permohonan (harapan) sekembali mereka ke negeri mereka supaya memberitahukan kepada seluruh Jama’at dan memberi pengarahan kepada Jama’at mengenai hal ini.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Akan tetapi seringkali saya melihat keheranan (ketidak-percayaan) di wajah mereka karena mereka sendiri tidak merasa yakin. Kadang-kadang bertanya: "Mengapa Amerika Serikat harus menaruh perhatian terhadap Jama’at Ahmadiyah?" Ini sikap yang sungguh sangat sederhana (lugu).&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Amerika Serikat menaruh perhatian terhadap Jama’at Ahmadiyah dengan tingkat kadar perhatian yang sangat tinggi. Untuk itu saya akan mengemukakan 2 bukti yang saya tahu secara pribadi. Saya sungguh menyayangkan sekali orang-orang Ahmadi yang berpikiran bahwa sayatanpa alasan (sembarangan) begitu berlebihan menekankan peranan Amerika Serikat, padahal itu [menurut anggapan mereka] hanya merupakan kejadian yang kecil saja di pentas dunia.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kejadian (program) itu merupakan suatu keputusan yang diambil di tingkat tinggi. Suatu pengambilan langkah politik untuk melumatkan Ahmadiyah di seluruh dunia. Ini merupakansatu tekad politik Amerika Serikat dan mengenai itu saya dapat mengemukakan alasan (bukti-bukti) mengapa mereka berkepentingan sebagaimana telah saya katakan tadi; akan tetapi saya dapat memberikan kepada Saudara-saudara bukti-bukti bersumber pada pengetahuan saya pribadi yang terjadi di tingkat tertinggi [di Amerika Serikat].&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Peran Aktif Presiden Ronald Reagan &amp;amp; Pemerintah Amerika Serikat&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Boleh jadi Saudara-saudara ingat, bahwa ketika [Ronald] Reagan mengambil alih jabatanPresiden [Amarika Serikat], segera ia sesudah itu pergi ke California guna menghadiri konferensisebuah sekte Kristen yang ia sendiri menjadi anggotanya. Ia pergi ke sana dan beritanya dipublikasikan secara luas.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sekte tersebut sekte yang sangat aktif menyebarkan agama Kristen di seluruh duniaserta mendapat dukungan penuh dari pemerintah Amerika Serikat. Maka ketika Presiden Reagan datang ke sana ia secara terbuka mengatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat bertekad untuk memajukan agama Kristen di seluruh dunia dan sekte ini akan diberi dukungan penuh.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ingatlah ini. Sekarang saya hendak mengemukakan sedikit informasi yang saya terima dariSpanyol. Selang beberapa tahun yang lalu di Spanyol ada seorang Ahmadi yang walau pun bukandokter reguler (tetap) tetapi ia dipanggil dokter, namanya Mubasyir. Ia sudah jauh hubungannya dengan Jama’at Ahmadiyah. Sesudah ia datang ke Spanyol kita kehilangan jejaknya. Saya tidak tahu di mana ia berada. Ia tidak pernah datang ke Missi [Jemaat Ahmadiyah] dan ia memutuskan hubungan.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sekonyong-konyong, pada suatu hari saya menerima sepucuk surat dari dia di London, menerangkan sesuatu yang sangat ganjil yang kebetulan diketahui olehnya. Dalam situasi itu ia – tampak lahirnya -- mulai menaruh perhatian pada agama Kristen, tetapi tidak sebenarnya, hanya demi meraih suatu tujuan duniawi. Dan kebetulan kejadiannya di Spanyol. Sekte [Kristen] itu pula yang paling aktif di mana Reagan menjadi anggotanya. Maka ia menjadi sangat dekat kepada mereka dan memberikan kesan kepada mereka bahwa ia hampir menerima agama Kristen, dengan akibat bahwa pada suatu ketika seorang tokoh besar sekte [Kristen] tersebut dari Amerika Serikat datang ke Spanyol. Mubasyir juga diundang ke sana untuk ikut-serta dalam pertemuan tersebut karena terkesan bahwa ia telah menjadi seorang Kristen.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Di sana, ketika tamu dari Amerika Serikat tersebut berpidato di hadapan sidang pertemuan itu – di mana tanpa diketahui bahwa di dalam koferensi itu hadir seorang yang mempunyai hubungan dengan Ahmadiyah -- ia berbicara mengenai pokok masalah ini dan mengatakan bahwa:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Saya meyakinkan Anda sekalian bahwa Presiden Reagan dan Pemerintahnya sepenuhnyaada di belakang kita, dan saya meyakinkan Anda sekalian bahwa satu-satunya sekte dalam Islam yang paling berbahaya bagi Kristen adalah Jemaat Ahmadiyah. Dan Kami telah mengambil keputusan -- dengan dukungan penuh dari [pemerintah] Amerika Serikat --untuk melawan Jama’at Ahmadiyah di mana saja mereka dan dengan cara apa saja yang dapat kita lakukan. Dan ini adalah salah satu tekad kebijaksanaan sekte kami dan [pemerintah] Amerika Serikat berada di sampingnya".&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Oleh karena itu apabila Saudara-saudara kembali mengkaji sejarah Pakistan, Saudara-saudara akan melihat lebih jauh bahwa Pakistan telah masuk ke dalam kantung Amerika Serikat dan telah lebih jauh lagi melawan Jama’at Ahmadiyah. Rencana (program) tersebut merupakan rencana (program) yang berkesinambungan, tanpa berubah. Dan apabila menerapkan rumusan ini kepada negeri lain di dunia maka Saudara-saudara akan tercengang mengenai peristiwa yang sama terjadi di semua negeri Islam yang berada dalam kantung Amerika Serikat, mereka mati-matianmelawan Jama’at Ahmadiyah.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Semua negeri Islam yang berada di luar kantung Amerika Serikat sama sekali tidak merasa berkepentingan [melawan Jemaat Ahmadiyah]. Mengapa demikian? Jelaslah bahwa hal itu bukan suatukebetulan. Ini disebabkan oleh adanya politik sekte [Kristen] itu juga yang tengah dilaksanakan secara sangat aniaya dengan sangat cermat.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Bukti Kedua: Informasi Dari Keponakan Lyndon B. Johnson&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Bukti kedua yang sampai kepada saya, dengan karunia Allah, akan meyakinkan Saudara-saudara bahwa Jama’at Ahmadiyah selamanya ada dalam pemikiran tokoh-tokoh tertinggi pembuat kebijaksanaan Politik.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sekali peristiwa sewaktu saya sempat mengadakan kontak (hubungan) dengan para Pemimpin Dunia setiba saya dari Pakistan ke Inggris, saya bertemu dengan orang yang sangat berpengaruh di Amerika Serikat. Ia adalah keponakan Lyndon B. Johnson, mantan Presiden Amerika Serikat.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saya mengenalnya dengan perantaraan beberapa orang dan ia mempunyai hubungan erat denganGedung Putih dan dengan para pejabat tinggi pembuat kebijaksanaan politik Amerika Serikat. Dikarenakan ia seorang anggota keluarga penting maka ia pun sering diundang ke pestayang biasa diselenggarakan sebagai penghormatan kepada orang-orang terkemuka dunia.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Apabila seorang Kepala Negara berkunjung ke Amerika Serikat mereka biasa mengundang beberapa tokoh yang sangat penting. Menurut dia, 30 nama selalu diundang, termasuk ia sendiri. Jadi, demikian pentingnya kedudukan orang itu dan seperti itulah jangkauan koneksinya (hubungannya). Saya akan menceritakan kepada Saudara-saudara apa yang terjadi kemudian.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ketika saya berdiskusi dengan dia mengenai masalah Ahmadiyah dan apa yang tengah terjadi, saya mengemukakan kepadanya pandangan saya mengenai segala keterlibatan Amerika Serikat. Sejak awal ia sedikit pun tidak menyatakan ketidak-setujuannya terhadap pandangan saja. Ia mengetahui segala sesuatu, katanya, dan ia mengetahui apa yang sedang terjadi, tetapi mereka tidak mempunyai pilihan lain. Itulah politik mereka. Lalu ia berkata:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Tunjukanlah (kemukakanlah), mengapa kami tidak boleh menempuh politik ini. Ini adalah politik global, ini [bertujuan] menghambat penyebaran Komunis dan kami tidak punya alternatif lain. Jadi, tolong katakan kepada saya mengapa kami tidak boleh menempuh politik ini?"&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ketika saya berbicara kepadanya mengenai berbagai kejadian penting yang secara bertahap berkembang di dunia, saya mengatakan kepadanya bahwa:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Pada akhirnya politik [yang negara Anda laksanakan] ini akan menendang-balik dan akan menghancurkan kalian. Sebab, bertambah kalian memihak kepada rejim tertentu yang tidak popular di negeri mereka, maka bertambah pula perlawanan akan muncul yang terorganisasi atau yang dibuat terorganisasi. Dan dalam proses itu pada akhirnya – jikalau tidak hari ini – esok, beberapa tahun lagi pasti Anda akan melihat bahwa politik ini akan menendang-balik muka kalian".&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pendek kata, kami berdiskusi mengenai banyak hal dan kemudian ia percaya kepada apa yang saya katakan. Ia mengatakan kepada saya bahwa sekembalinya di Washington ia akan pergi menjumpai para pejabat Gedung Putih dan barangkali akan menghadap Presiden -- ia sendiri tidak menyebut nama Presiden [Lyndon B. Johnson] melainkan beberapa nama beberapa pejabat teras – dan berkata bahwa ia akan menyampaikan kasus ini kepada mereka, dan bila ia kembali [berkunjung] ke London lain kali ia akan mendiskusikan perkara ini dengan saya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Khutbah Khalifah Jama’at Ahmadiyah: Tawaran Kerjasama Melawan Israel&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pada lain kesempatan, ketika ia berkunjung lagi ke London, saya menerima telepon darinya dari Oxford. Ia berkata bahwa ia hendak datang menemui saya segera. Saya mengundang dia makan-siang. Tahukah Saudara-saudara apa yang dikatakannya kepada saya? Pertama-tama yang dikatakannya kepada saya ialah:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Ketika Anda menjadi Khalifah, adakah Anda menyampaikan khutbah (pidato) segera sesudah pemilihan itu dengan mengatakan kepada seluruh dunia bahwa Anda bertekad akan menentang Israel seperti orang-orang Islam lainnya dan Anda menawarkan kerjasama kepada seluruh Dunia Islam untuk memperjuangkan kepentingan Islam melawan Israel?"&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saya katakan, "Ya, saya lakukan itu. Kejadiannya sudah lama sekali di Pakistan, dan khutbah (pidato) itu dalam bahasa Urdu". Ia berkata:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Setelah mengemukakan khutbah (pidato) semacam itu, bagaimana Anda dapat mengharapkan sayamemperjuangkan urusan Anda di Gedung Putih dengan para pembuat kebijaksanaan politik Amerika?"&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Hal yang mencengangkan ialah, ternyata khutbah yang saya ucapkan di Pakistan dalam bahasa Urdu -- hanya beberapa bulan setelah saya menjadi Khalifah -- begitu cepat disampaikan ke Gedung Putih. Semua pembuat kebijaksanaan politik di Amerika Serikat mengetahui benar akankebijaksanaan saya tersebut dan mereka bertekad untuk membalas dengan berketetapan hatimembantu perjuangan Islam.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Oleh karena itu, hendaknya janganlah mengira bahwa diri Saudara-saudara tidak berarti, padahal banyak kalangan yang tidak diperbahaskan di forum yang tinggi itu [di Amerika Serikat].Di forum tertinggi pembuat kebijaksanaan politik, Jemaat Ahmadiyah dianggap faktor yang sangat penting dalam pergolakan dunia dan di dalam sejarah modern dunia. Dan, adanya kenyataan demikian, di tempat mana saja pun mereka menganggap Saudara-saudara (Jama’at Ahmadiyah) menghambat jalan kebijaksanaan politik mereka, mereka akan cenderungmembinasakan Saudara-saudara. Dan itulah salah satu alasan mengapa dalam hubungan iniSaudi Arabia dan semua negeri Islam yang menggantung dari atap [bantuan Amerika Serikat] demi mempertahankan kelestarian hidup mereka, mengambil (melakukan) semua tindakan untuk menistakan Jama’at Ahmadiyah, membinasakan Jama’at Ahmadiyah dan membuatnya di Dunia Islam sebagai orang-orang rendah. Padahal kaum yang sama sekali berada di luar golongan Islam [termasuk Amerika Serikat] adalah kaum yang paling nista di muka bumi. Inilah sebenarnya yang sedang mereka lakukan.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Bantuan Dana Dari Saudi Arabia &amp;amp; Agen CIA&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Itulah sebabnya dimana saja perasaan anti-Ahmadiyah dikobarkan dan perlawanan yang terorganisasi terhadap Amadiyah diciptakan dengan bantuan dana dari Saudi Arabiadan dari sumber-sumber lainnya, Saudara-saudara akan menyaksikan juga kebangunan agama Kristen di negeri-negeri itu. Kebangunan dan gerakan Kristenisasi yang sangat kuat di wilayah-wilayah secara serempak dan sejajar dengan tindakan anti-Ahmadiyah.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Rabithah Alam Islamy adalah agen CIA yang paling berbahaya di Dunia Islam. Orang yang memimpinnya bukan langsung Raja [Saudi Arabia] melainkan Abdullah, Pangeran Abdullah, yang mendapat latihan mata-mata di Sekolah Intelijen di Inggris selama 2 tahun. Ia mendapat pendidikan di sekolah tempat menciptakan mata-mata tersebut dan kemudian ia kembali [Saudi Arabia] lalu mulai memainkan peran sebagai mata-mata Amerika Serikat dan kepentingan [negara-negara] Barat di negeri Arab.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Itulah sebabnya ia diangkat juga sebagai komandan pasukan Para untuk menciptakanperpecahan di Saudi Arabia (jazirah Arabia) dan untuk memelihara Saudi Arabia supaya tetap di bawah naungan tenda Amerika Serikat, sehingga ia (Saudi Arabia) tidak akan pernah mencobamelarikan diri. Kita lihat hal ini mustahil di mana pun di dunia ini yaitu bahwa militer (Angkatan Bersenjata) berada di bawah kekuasaan saingan dalam pemerintahan, dan demikian juga mustahilsedemikian berimbang sehingga hampir keseluruhan militer [Saudi Arabia] sebanding dengan Pasukan Para Militer.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Inilah yang sedang terjadi di Saudi Arabia. Pangeran Sulthan -- saudara [raja] Fadh -- adalahKomandan Pasukan Keamanan dan Pertahanan, sedangkan Abdullah -- orang yang cerdas itu -- sebagai Komandan Pasukan Para, kedua Angkatan itu sama-sama memilikipersenjataan yang lengkap akan tetapi satu sama lain terpisah.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Di samping itu, Pangeran Abdullah pun menjadi Ketua Organisasi Keagamaan di Saudi Arabia. Semua organisasi keagamaan yang penting adalah di bawah pengawan langsung Pangeran Abdullah. Begitulah caranya sistim intelijen Amerika Serikat sama sekali (benar-benar) telah membuat Saudi Arabia berada di bawah kendalinya. Dan bahkan mereka tidak dapat bergerak dan tidak dapat memberontak terhadap sistem itu.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Nah, Saudara-saudara harus memahami latar-belakang ini sebelum Saudara-saudara memulaimenjabarkan apa yang sedang terjadi di negeri Saudara-saudara sendiri (di Indonesia). Sebab serenta (begitu) Saudara-saudara memahami latar-berlakang ini maka segala sesuatu akan menjadi mudah dan jelas.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Apa yang sedang terjadi di negeri Saudara-saudara mempunyai latar-belakang adanyapembicaraan pribadi yang telah berlangsung lama antara para pembesar (pejabat) tinggi di negeri Saudara-saudara – termasuk Presiden Saudara-saudara, Presiden Pakistan -- denganPangeran-pangeran Saudi Arabia yang berkunjung ke negeri Saudara-saudara, sedangkanbeberapa tamu dari Amerika Serikat menghembus-hembus semangat untuk menentang Jama’at Ahmadiyah, dan mengatakan kepada mereka supaya lebih baik meniadakan (menghapuskan) Jama’at Ahmadiyah dan mempersatukan golongan-golongan Islam. Kalau tidak, Indonesia akan dijegal oleh Komunis dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pembisik Kewaswasan &amp;amp; Sogokan Politik&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tipu-muslihat dan tetek-bengek serupa itu dibicarakan di tingkat tinggi dan Pemerintahmenjadi percaya bahwa Jama’at [Ahmadiyah] berbahaya; bahwa Jama’at [Ahmadiyah] tidak mempunyai arti apa-apa untuk mereka. Jika mereka menghancurkan Jama’at [Ahmadiyah] maka mereka akan menjadi Pahlawan Islam. Jika mereka menentang Jama’at [Ahmadiyah] maka mereka akan mendapat simpati dari semua golongan Islam.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Begitulah pikiran mereka, bahwa dengan menentang Ahmadiyah, antara lain, akan menguntungkan mereka (pemerintah). Para ulama daripada bekerja melawan mereka(pemerintah) malah akan mulai bekerja untuk mereka. Lagi, para ulama daripada mengajukan protesini dan itu kepada pemerintah, bahkan sebaliknya mereka akan menganggap pemerintah sebagaipelindung mereka untuk melawan Jama’at Ahmadiyah, kemudian mereka sepenuhnya akan mendampingi pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Inilah sogokan politik yang disodorkan mereka (Amerika Serikat dan Saudi Arabia) denganpendekatan-pendekatan secara pribadi. Inilah latar belakang kedatangan Presiden Zia [ul-Haqq] dan [Presiden George] Bush di Indonesia dan Duta Besar-nya mulai mengadakanpembicaraan secara santai.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kami mempunyai pengalaman di negeri kami sendiri (Pakistan), dan kami mengetahui bahwa cara itulah satu-satunya cara yang di jalankan di sana. Bagaimana Saudara-saudara bisa mempercayai bahwa para Pemimpin bangsa Indonesia tidak akan terpengaruh?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sekali mereka terpengaruh maka mereka akan menetapkan langkah-langkah tertentu [menentang Jemaat Ahmadiyah]. Kemudian para pejabat tingkat bawah, jawatan-jawatan, dapat berbicara secara terbuka menentang maksud Saudara-saudara (Jama’at Ahmadiyah). Jika tidak demikian, tentu mereka tidak akan berbuat serupa itu terhadap Saudara-saudara (Jama’at Ahmadiyah).&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Persekongkolan Internasional Untuk Melawan Islam&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Begitulah kerusakan telah terjadi, kebijaksanaan politik telah dijalankan. Secara resmi Saudara-saudara (Jama’at Ahmadiyah) telah dijadikan sasaran Persekongkolan Internasional untuk melawan Islam. Para pemimpin negeri Saudara-saudara tidak mengerti apa yang sedang terjadi atas diri mereka. Mereka diperdayakan.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jika Saudara-saudara pergi kepada tokoh-tokoh itu dan menerangkan bahwa Saudara-saudara adalah orang Muslim yang baik mereka tidak akan tertarik, sebab mereka sendiri bukan orang Muslim yang baik. Mengapa mereka harus ambil pusing mengenai Keislaman Saudara-saudara (Jemaat Ahmadiyah)? Mereka adalah para politikus. Mereka menginginkan kekuatan politik. Oleh karena itu bahasa Saudara-saudara berbeda. Mereka tidak akan pernah mengerti bahasa Saudara-saudara. Saudara-saudara begitu polos (lugu), sehingga (sampai-sampai) menyediakan berbagaidokumen lalu mengatakan kepada mereka:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Lihat, inilah arti Khaataman-Nabiyyiyn. Inilah arti ini dan itu, dan semua ulama telah memberi dukungan kepada maksud-maksud (pemahaman) kami, kami setia kepada bangsa dan negara Indonesia."&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Semua itu sama sekali tidak ada artinya bagi mereka. Mereka mengetahui benar keadaan Saudara-saudara (Jama’at Ahmadiyah), mereka mengetahui keadaan masa lalu Saudara-saudara (Jama’at Ahmadiyah), mereka mengetahui kesetiaan Saudara-saudara (Jama’at Ahmadiyah) kepadanegara. Oleh karena itu mengapa Saudara-saudara berlaku seperti anak-anak yang polos(lugu) dalam menghadapi konspirasi (persekongkolan) Internasional dan Saudara-saudara berpikir bahwa Saudara-saudara dalam penanggulangannya sedang membuat sedikit kemajuan?Padahal Saudara-saudara gagal membuat kemajuan.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pengeras Suara Berada Di Saudi Arabia Mikrofonnya Di Washington&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ini adalah konspirasi (persekongkolan) yang terarah terhadap Jama’at Ahmadiyah. Hanyaorang yang berakal sajalah yang mampu menganalisa seluruh situasi dan mengambil suatu langkah guna menangkal konspirasi (persekongkolan) ini, dan kendati adanya keputusan pemerintah namun akan berusaha memaksa pemerintah mengubah kebijaksanaan mereka, baik secara terbuka atau pun dengan melakukan pendekatan secara pribadi, atau dalampertemuan ramah-tamah (lobbying) untuk menciptakan kekuatan Islam dengan membentuk opini serta menjelaskan apa sebenarnya yang sedang terjadi di belakang layar. Kemudian mengatakan (menjelaskan) kepada mereka bahwa:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;“Apa yang mereka dengar dari Saudi Arabia itu bukanlah suara-suara dari menara-menara Makkah dan Madinah. Lupakanlah pikiran seperti itu. Suara itu keluar dari pengeras suara yang dipasang di Makkah dan Madinah (dipasang di Saudi Arabia) akan tetapimikrofonnya ada di Washington. Dan mikrofon-mikrofon itu sendiri dioprasikan oleh para kaki-tangan Israel, oleh orang-orang Yahudi, yang memegang kendali sepenuhnya atasurusan-urusan Amerika Serikat.”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pemerintah Amerika Serikat tidak dapat bergerak seinci pun tanpa terlebih dulu mendapat pesetujuan serta restu anasir Israel di Amerika Serikat. Seluruh tatanan keuangan sudah di tangan mereka, seluruh media massa sudah ada di tangan mereka, seluruh sistim komunikasi: televisi, radio, surat-surat kabar; begitu pula pasar uang, semua ilmuwan penting, ahli-ahli fisika nuklir, paling kurang 90% -- kalau pun tidak seluruhnya -- adalah orang-orang Yahudi. Pasar emas seluruhnya di tangan orang-orang Yahudi. Jadi, bagaimana Saudara-saudara dapat percaya bahwa ada Presiden Amerika Serikat mana pun dapat berjaya di dalam kampanyenyatanpa restu orang-orang Yahudi? Tidak seorang pun dapat berhasil. Oleh sebab itu mereka (Presiden) sepenuhnya bergantung pada orang-orang Yahudi.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ketika berita khutbah -- yang saya ucapkan setalah 2 atau 3 bulan sesudah saya menjabatKhalifah -- mencapai (sampai ke) Gedung Putih, Saudara-saudara dapat membayangkan betapa banyaknya orang-orang Yahudi menaruh perhatian terhadap khutbah saya tersebut, dan betapa para pembuat kebijaksanaan politik Amerika Serikat berada di bawah pengaruhorang-orang Yahudi. Jadi, inilah situasi yang sebenarnya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Harus Memanfaatkan Potensi Kebijaksanaan Dan Intelegensia Yang Dimiliki&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Atas dasar itu, bagaimana Saudara-saudara dapat menghadap Presiden Saudara-saudara dan mengatakan [dengan polos/lugu], "Barangkali Bapak belum mengerti, kami ini orang-orang baik. Kami adalah orang-orang yang setia kepada Pemerintah". Mereka tidak akan mempercayai ucapan Saudara-saudara tanpa uang, itu pun kalau mereka menghendaki. Dan Saudara-saudara tidak dapat berbuat apa pun tanpa mengetahui apa pun yang sedang terjadi di dunia serta memberi penjelasan mengenai ini dan itu, sementara itu berbagai peristiwa terus terjadi di sana dan semakin menjadi-jadi.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Mereka mengetahui keterbatasan-keterbatasan kemampuan Saudara-saudara; mereka mengetahui berbagai kelemahan Saudara-saudara. Oleh karena itu Saudara-saudara harus menandinginya. Adakan penerangan umum, adakan kontak secara luas dengan orang-orang di mana saja, danmengadakan pengarahan-pengarahan yang konstan (berkesinambungan) kepada mereka mengenai apa-apa yang sedang terjadi di belakang layar [selama ini]. Sebab mereka itu dapat mengunjukkan reaksi-reaksi yang tidak dapat Saudara-saudara lakukan, jadi Saudara-saudaradapat mengunjukkan reaksi-reaksi dengan perantaraan mereka, sebab bilangan (jumlah) Saudara-saudara kecil, namun demikian Saudara-saudara besar dalam kebijaksanaan dan intelegensia. Apalah artinya bilangan (jumlah) Saudara-saudara bagi mereka. Penampilan Saudara-saudara [dari segi jumlah] sama sekali tidak berarti.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saudara-saudara pun harus menjumpai para pemimpin Islam, hilangkan berbagai pelik-pelik ini, berbicaralah dengan mereka, terangkanlah kepada mereka semata-mata karena Allah, supaya mereka mengerti. Katakanlah kepada mereka:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Berilah kami waktu untuk melawan Kristen, tidak lain. Kami akan menjadi sahabat Anda berjuang di garis depan dan kami tidak akan meminta sesuatu dari Anda. Akan tetapi fahamilah apa yang sedang terjadi di negeri kita dan terhadap Islam. Terjalinnya persahabatan antara Amerika Serikatdengan Indonesia adalah akibat dari kegagalan kup Cina. Semenjak itu pemerintah Indonesia kian lama kian bergeser ke kubu Amerika Serikat. Adalah mustahil mempercayai, bahwa apa yang sedang terjadi itu adalah tanpa sepengetahuan dan restu Amerika Serikat, tanpa partisipasi penuh dari Amerika Serikat".&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tatkala pada suatu kesempatan saya mengadakan hubungan dengan Kementerian Luar Negeri(Pakistan) saya mengatakan kepada pihak mereka segala sesuatunya. Mereka berkata:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Baik, kami akan mengatakan kepada pemerintah Pakistan supaya berbuat sesuatu untuk ini dan itu".&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saya berkata, "Perhatikan, saya tahu siapa yang menyebabkan luka ini. Saya tidak akan mengemis-ngemis kepada si pemilik tangan yang melukai agar saya diberi salep (obat luar). Jika dapat, ubahlahfaktor mendasar yang bertanggungjawab atas terjadinya tindakan-tindakan kejam terhadap orang-orang Ahmadi di Pakistan maka barulah saya dapat memahami bahwa Anda bermaksud baik. Mungkin Anda tidak bisa mengubah tetapi Anda senantiasa menginginkan saya datang kepada Anda meminta bantuan agar menyembuhlan luka. Saya mempunyai integritas dan rasa harga-diri untuk tidak datang kepada Anda, sebab Anda sekalian itulah yang menyebabkan luka ini".&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Bagaimana kita dapat pergi kepada seseorang yang memberi luka (melukai) lalu berkata: "Tolong beri saya sedikit salep." Itulah yang mereka inginkan. Itulah sebabnya pada suatu ketika sebuahresolusi diajukan di dalam Kongres [Amerika Serikat] yang didukung oleh banyak anggota Kongres, beberapa di antara mereka sangat baik hati kepada kita, dan kita percaya mereka secara ikhlas akan membantu kita. Di antara mereka ada seorang yang bertama Tony, Tony Hall.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ketika berita itu sampai kepada saya, saya amat terkejut. Resolusi itu mengatakan bahwa tidak ada seorang pun Presiden Amerika Serikat akan menyetujui bantuan tahunan diberikan kepada Pakistan kalau Pemerintah Pakistan tidak memuaskan hati merekakarena di sana (di Pakistan) tidak ada tindakan anti-Ahmadiyah, atau bahwa pemerintah tidak berpartisipasi dan keadaan Ahmadiyah sedang membaik. Jika semua itu dapat dibuktikan adanya hal-hal itu (tindakan terhadap Jemaat Ahmadiyah) barulah bantuan tahunanakan disetujui [oleh Kongres]".&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saya berkata kepada semua anggota Jama’at [di Amerika Serikat] supaya menemui Mr. Tony Hall untuk mengucapkan terima-kasih kepadanya dan mengatakan kepadanya supaya menggagalkanresolusi tersebut. Saya tidak suka hal itu. Saya berkata kepadanya: "Kalian (Amerika Sertikat) menghendaki kami selalu bergantung pada Amerika Serikat dan berlari-lari di belakang Amerika Serikat".&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kenyataannya, resolusi itu melawan kepentingan Pakistan dan bekerja melawan arahyang dituju oleh kepentingan Pakistan, dan supaya menjadi partai yang sama sekali bertentangan dengan kepentingan Pakistan, dengan mengatakan bahwa Amerika Serikat mempunyai fakta-fakta (bukti-bukti), dan kalau tidak menerima fakta-fakta [penentangan terhadap Jama’at Ahmadiyah] itu maka Amerika Serikat tidak akan memberi bantuan kepada Pakistan.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jika Amerika Serikat tidak memberi bantuan kepada Pakistan, orang-orang Ahmadi juga warga Pakistan [mereka siap untuk memberikan bantuan]. Apa yang mereka (Pemerintah Pakistan) kehendaki dari kami untuk berbuat? Adakah Amerika Serikat menginginkan kami lebih lanjutmemisahkan diri dari masyarakat Pakistan dan selalu datang kepada Amerika Serikat dengan memberikan berbagai informasi? Pada saat yang sama kami mengetahui, bahwa pada akhirnyaAmerika Serikat pasti akan memberikan bantuan kepada Pakistan.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tidak peduli apa pun yang akan terbukti (yang akan terjadi), dikemanakan akan kami sembunyikanmuka kami? Sesudah kami melakukan ikhtiar guna membuktikan bahwa Pakistan terus menerus tidak bersahabat terhadap orang-orang Ahmadi, dan pada akhirnya suasana pun tetap memberi kesaksian bahwa segala propaganda [buruk] terus dilancarkan terhadap kami.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saya berkata [kepada Tony Hall]: "Jangan menganggap kami bodoh. Kami mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Amerika Serikat, jadi teruskanlah rencana itu! Tetapi saya tidak akan mendatangi partai yang melancarkan rencana jahat itu". Saya pun berkata kepadanya: bahwa saya hanya berterimakasih kepadanya, saya tahu ia seorang yang bermaksud baik, tetapi ia bermain untuk (dengan) beberapa anggota Kongres lainnya yang berada di bawah pengaruh Yahudi. Mereka ingin menciptakan jalan ini. Saya tidak akan ikut-serta.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pendeknya, segala sesuatu telah terjadi di forum tingkat tertinggi. Kita sepenuhnya mengetahui hal itu, dan kita akan melakukan tindakan sesudah kita mempertimbangkan suara pro dankontra [dalam Kongres] dan sebagainya. Kemudian kita akan membuat kebijaksanaan politik untuk menandinginya. Nanti akan saya kemukakan kepada Saudara-saudara hal itu. Saudara-saudara [di Indonesia] harus berkumpul dan merancang suatu kebijaksanaan politik yang sama sekalibaru. Sebab apa yang telah Saudara-saudara lakukan [di Indonesia selama ini] adalah nol besar(tidak ada artinya).&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menekan Ahmadiyah Melalui Pemimpin Angkatan Bersenjata &amp;amp;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pemberlakuan Undang-undang Darurat Perang&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Hal lainnya yang dilakukan Amerika Serikat, di mana saja ia mengingkatkan pengaruhnya, ia langsung berhubungan dengan Angkatan Bersenjata. Pemimpin-pemimpin Angkatan Bersenjata mereka diundang ke Amerika Serikat dengan berbagai kedok untuk kursus ini dankursus itu. Mereka (para perwira militer) tersebut sama sekali dipegang dan dibawahkan kepadapengaruh Amerika.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Bagaimana pun, mereka tidak mengetahui, bahwa semenjak itu mereka telah "menjadi Amerika." Mereka terpengaruh secara mendalam oleh pikiran dan pola hidup Amerika, dan olehpersahabatan Amerika kepada Angkatan Bersenjata, dan oleh apa yang dilakukan Amerika kepada perwira-perwira tertentu itu untuk memenuhi kepentingan mereka (Amerika Serikat). Tanpa menyadari apa yang sedang terjadi mereka lambat-laun bergeser kepada Amerika Serikat. Walaupun mereka tidak menjadi para pengkhianat secara sadar namun akibat akhirnya tetap sama. Mereka jatuh ke bawah pengaruh Amerika Serikat dan sejak ituAmerika Serikat dapat mendikte mereka.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Semenjak itu, bilamana tokoh-tokoh politik tidak berbuat atau tidak berusaha menzahirkanpengaruh Amerika Serikat maka Undang-undang Darurat Perang diciptakan. Inilah latar belakang diberlakukannya Undang-undang Darurat Perang yang terjadi di dalam sejarah duniadewasa ini. Banyak Undang-undang Darurat Perang diciptakan oleh Amerika Serikat danRusia [di berbagai negara] dengan tujuan yang sama, dengan maksud yang sama, dan denganmetode yang sama.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Akan tetapi, sungguh malang, kebanyakan dari kalangan politisi di dunia tidak menyadari apa yang sedang terjadi terhadap mereka. Tetapi hal itu begitu jelas, alasannya cukup banyak dibuktikan secara luas di dunia bahwa semua itu sedang terjadi.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Lihatlah pengaruh-pengaruh Rusia [di berbagai negara]. Semua berakhir pada Undang-undang Darurat Perang yang pro Rusia. Lihat wilayah-wilayah yang berada di bawah pengaruh Amerika Serikat, dimana saja politik di sana tidak menguntungkan Amerika Serikat atau berusaha menjadi tidak tergantung kepada Amerika Serikat, maka wilayah-wilayah tersebut menderita dari (akibat) Undang-undang Darurat Perang. Pimpinan Angkatan Bersenjata atau PenguasaUndang-undang Darurat Perang kemudian mulai mendiktekan berbagai syarat kepadaanak-negeri (rakyat), persis seperti mereka didikte oleh majikan-majikan mereka (Rusia dan Amerika Serikat).&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kemudian, apabila Undang-undang Darurat Perang tersebut mengambil langkah-langkah yang anti-Ahmadiyah yakinlah (merupakan bukti) bahwa perintah itu datang dari luar negeri. Sebab Undang-undang Darurat Perang itu sendiri tidak lepas dari dukungan Amerika Serikat, tidak lepas dari intelijen Amerika Serikat.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Undang-undang Darurat Perang selamanya (selalu) tidak populer [di masyarakat luas negeri-negeri yang secara paksa memberlakukannya]. Oleh karena itu Undang-undang Darurat Perang pasti mendapat dukungan dari tempat lain (luar negeri).&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Perbedaan Para Politisi Populer dengan Rezim Diktator&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kita dapat berdiri di atas kaki sendiri di atas bumi atau kita dapat bergantung dengan berpegang pada langit-langit. Tidak ada jalan yang ketiga. Para politisi yang populer di suatu negeri berdiri di atas kaki sendiri di atas tanah mereka sendiri; sedangkan rezim diktator selamanya harus mempunyai langit-langit tempat mereka dapat berpegang (bergantung). Dan negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Rusia memasok (menyediakan) langit-langit dan tiang [untuk berpegang] kepada mereka supaya mereka (rezim diktator] dapat terus bergantung. Oleh karena itu tindakan apa pun yang mereka ambil (lakukan) tidak pernah dapat berlawanan dengankeinginan-keinginan majikan mereka.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kalau kita mengkaji Undang-undang Darurat Perang di Bangladesh, sejarah yang serupa sekarang setahap demi setahap membuka tabir hal itu. Di sana bergejolak anti-Ahmadiyah yang di dalamnya Saudi Arabia memainkan peranan yang besar lagi penting. Pengaruh ditanamkan secara bertubi-tubi kepada Jenderal Irshad untuk mengambil (melakukan) langkah, sebagaimana yang telah dilakukan Pemerintah Pakistan terhadap orang-orang Ahmadi. Akan tetapi:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; pertama, Jenderal Irshad, adalah orang yang lebih bertanggungjawab, sangat cakap seperti umumnya seorang Benggali, maka ia akan berhati-hati.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; kedua, watak orang-orang Bangladesh adalah lain.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; ketiga, tekanan atas rakyat tidak sebanyak di negeri lain seperti di Pakistan, di Indonesia, dan di beberapa negeri lainnya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Oleh karena itu sampai sejauh ini pemerintah [Bangladesh] belum bermain mengikuti irama yang dimainkan oleh Amerika Serikat, tetapi kita tahu bahwa irama ini sedang dimainkan kepada mereka.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Jebakan" Amerika Serikat Melalui Kementrian Agama&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Di mana saja sebuah Kementrian Agama (Departemen Agama) diadakan, hendaknya diingat, selamanya pasti ada sesuatu (kerusuhan) yang terjadi di sana. Suatu ketika saya pernah mengatakan kepada beberapa Presiden negeri-negeri Afrika dan kepada tokoh-tokoh di sana, dalam kesempatan berjumpa dengan mereka saya mengatakan bahwa:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Anda tidak pernah berpikir ke arah ini bahwa di Amerika Serikat tidak ada Kementerian Agama, di Kanada tidak ada Kementerian Agama, di Inggris tidak mempunyai Kementerian Agama. Tidak ada negara mana pun di Eropa yang mempunyai Kementerian Agama. Sedangkan Anda mempunyai karena dibisikkan oleh Amerika Serikat.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Begitu Anda melangkah untuk menciptakan Kementerian [Agama] ini maka peristiwa-peristiwa mulai terjadi di luar kendali Anda. Sebab Kementerian Agama harus membuat kerusuhan. Kalau tidak demikian maka adanya Kementerian tersebut tidak bertujuan apa-apa. Mereka menarik berbagai problema ke sana ke mari dan mengumpulkan beberapa kekuatan atas nama agama kemudian membinasakan kemerdekaan [beragama] di negeri itu sendiri,membinasakan kebebasan [beragama] rakyat sendiri. Jadi, semua kerusuhan atas nama agama tersebut mulai (bersumber) dari Kementerian Agama.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sekali waktu saya memberi nasihat kepada seorang Presiden dari sebuah negera besar diAfrika Barat: "Perhatikanlah, Anda akan terperangkap dalam situasi ini. Negeri [Anda] akan dibuat tidak stabil dan Anda selamanya tidak akan menemukan damai (kedamaian) kembali jika Anda masukke dalam jebakan ini dan mulai bermain menurut irama mereka (Amerika Serikat)".&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ia (Presiden) mengambil tindakan dengan segera. Ia mengerti segala sesuatu. Akan tetapiAfrika adalah lain (berbeda) dari negeri-negeri lainnya di dunia. Para Pemimpin Afrika lebih terbuka untuk menerima logika dan imbauan daripada (dibandingkan dengan) para pemimpinlainnya di dunia. Bangsa Afrika pun berpikiran sangat terbuka. Oleh karena itu Ahmadiyah menyebar dengan sangat cepat dan luas di sini (Afrika). Sebab bilamana mereka mengetahui sesuatu yang baik dan benar maka mereka mempunyai keberanian sesuai dengan watak asli bangsa Afrika: "Baiklah, kami mengerti dan menerima ini".&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Hal demikian tidak terdapat di Indonesia, tidak terdapat di India dan Pakistan. Di ketiga negeri tersebut para pemimpin beranggapan bahwa diri mereka sangat cerdik dan sangat cakap. Mereka berkata: "Bagus, kebijakan itu adalah kebijakan Anda. Anda mempunyai kebijakan, tetapi kami [lebih] mengetahui apa yang harus kami lakukan; kami mengetahui kepentingan kami". Hal (sikap) serupa itu tidak ada di Afrika.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Umumnya Rakyat Afrika Membutuhkan Makanan dan Pendidikan, bukan Madrasah&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ketika pada sekali peristiwa saya berbicara mengenai politik Amerika Serikat denganperantaraan Saudi Arabia untuk menggoyahkan kestabilan Afrika, maka dengan serta-merta timbul protes keras dari lobby Saudi Arabia dan lobby Amerika Serikat. Saya merasa heran mengetahui adanya dukungan kuat terhadap perjuangan saya, di publik (masyarakat), di televisi, di radio. Tiba-tiba membanjir dukungan terhadap perjuangan saya. Mereka mengatakan:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Ia (Khalifah Ahmadiyah) bicara bijak, dengarkan dia, kalian keliru menentang dia. Apa yang dia katakan itu benar dan kita harus waspada akan (terhadap) usaha merusak kestabilan Afrika melalui kekuatan-kekuatan ini (Amerika Serikat dan Saudi Arabia)".&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saya berkata kepada mereka: "Tengoklah, kalian hampir mati kelaparan, seperti di Ethiopia, di Sudan, dan di negeri lainnya. Apa yang dibawa oleh Saudi Arabia untuk kalian? Mesjid, madrasah, untuk menciptakan para ulama. Apakah akan kalian makan semua itu?"&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saya berkata lagi: "Tidak, justru merekalah yang akan memakan kalian hidup-hidup. Mereka tidak akan pernah merasa puas dengan darah manusia. Berilah mereka darah manusia maka mereka mau lebih banyak lagi, kemudian akan memakan daging kalian. Mereka akan menghancurkan rasa damai kalian!"&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Nah, bahasa yang seperti ini dimengerti oleh orang-orang Afrika. Mereka mengetahui benar dan dengan demikian mereka tertawa terbahak-bahak:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Ya, ya, kami tahu itu! Semuanya itu omong-kosong dan goblok. Kami memerlukan sekolah-sekolah umum (sekular); kami memerlukan pendidikan, sains dan lain-lain. Orang-orang Ahmadi datang dan memberi kami semua itu, sedangkan Saudi Arabia datang dan mendirikan madrasah baru dan menambah lebih banyak ulama. Untuk apa?"&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pendek kata, apa yang terjadi itu semuanya melalui Kementerian Agama. Mereka (Amerika Serikat dan Saudi Arabia) menyuap menterinya dan memberi mereka bantuan dalam bentukdollar serta mengatakan: "Belanjakanlah uang itu dalam mata uang Anda dan belanjakanlah dollar itu sekehendak Anda". Maka siapakah yang tidak jatuh hatinya dengan cara ini? Akan tetapi orang-orang Afrika tetap (sekali pun) mencoba menerima suapan ini akan tetapi tidak mau menurutikemauan mereka (Amerika Serikat dan Saudi Arabia). Ini suatu politik bagus orang-orang Afrika tetapi sedikit mematahkan hati mereka (Amerika Serikat dan Saudi Arabia) itu.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sikap Bijaksana Presiden Gambia&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sekali peristiwa, seorang Menteri Agama – nama dan negerinya tidak akan saya sebutkan – berkata kepada saya sesudah kami berbincang-bincang: "Coba perhatikan, saya akan menceritakan sesuatu yang menarik hati kepada Anda. Saudi Arabia menawarkan sogokan (suapan) kepada saya secara langsung dengan imbalannya saya harus melakukan ini dan itu".&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saya berkata: Lalu bagaimana? Kata dia: "Ya, kami menerimanya, kami tidak dapat menolak, akan tetapi kami bergerak secara sadar. Dengan suapan atau tanpa suapan, kami mengetahui apa yang sedang terjadi [di negara kami]. Dengan demikian biarlah mereka memberi uang kepada kami jika mereka suka. Lumayan!"&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Akan tetapi pada beberapa kasus lainnya suapan itu berbuntut (berekor) lebih lanjut. Upaya yang sangat jahat dilakukan untuk meyakinkan beberapa negeri Afrika agar mereka mengambil langkah (tindakan) anti-Ahmadiyah seperti di Pakistan. Ini terjadi, misalnya, di Gambia.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ketika Presiden Gambia berkunjung ke Pakistan beberapa minggu sebelum kematian Jenderal Zia [ul-Haqq]. Jenderal Zia menawarkan jasa kepadanya suatu paket pembangunan industridan sejumlah uang yang besar akan dibelanjakan di Gambia, sungguh pun uang itu bukan dari Pemerintah Pakistan melainkan dari Amerika Serikat atau dari sumber-sumber lainnya. Jenderal Zia berkata bahwa ia akan memberi kepadanya uang ini dengan syarat harus mengadakanlangkah-langkah anti-Ahmadiyah seperti di negeri Pakistan.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Presiden Gambia adalah Presiden sebuah negara yang paling miskin di Afrika, tetapi ia seorang bijaksana, seorang pemimpin sejati, sangat jujur dan mempunyai rasa tanggungjawab untuk memelihara iklim damai di negerinya, dan keadaan di Gambia jauh lebih baik daripada negeri Afrika lainnya. Ia berkata:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Tidak perlu begitu, silakan makan sendiri, saya akan pulang kembali ke tanah air (negeri) saya".&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kemudian ia berkata kepada istrinya dengan sangat marah:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Orang-orang ini benar-benar bedebah! Mereka mau menyogok kita dan membeli iman kitaserta integritas kita! Bagaimana kita dapat berlaku kejam kepada Ahmadiyah yang telah begitu banyak berbuat untuk kepentingan negeri kita hanya semata-mata untuk berkhidmat?"&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kemunafikan Negara-negara Barat&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Begitulah, masih ada kejujuran di Afrika, walau pun korupsi juga ada di sana. Akan tetapi di dalam lubuk hatinya mereka jujur. Itulah sebabnya saya senantiasa mengatakan kepada bangsa Barat bahwa kejujuran mereka hanya tampak di permukaan, tetapi jauh di dalam batinnyamereka sangat korup. Sedangkan orang-orang Afrika ketidak-jujuran tersebut nampak di permukaan, tetapi jauh di dalam batinnya mereka adalah bangsa yang sangat jujur. Sebabketidak-jujuran tersebut belum menembus lebih jauh ke dalam kalangan Angkatan Bersenjata.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Akan hal para diplomat orang-orang Barat, mereka membuat makar dalam kejujuran, integritas, peradaban. Jauh di dalam batinnya mereka mengetahui sendiri, mereka merampok seluruh dunia dan menyesatkan dunia serta mereka berlaku kejam terhadap negeri-negeri Dunia Ketiga. Mereka memperluas jarak antara mereka dengan bangsa-bangsa yang miskin. Jadi, inilah landasan ketidak-jujuran.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Apa yang saya terangkan kepada Saudara-saudara ialah dimana-mana di seluruh dunia rencana (makar-buruk) ini sedang berjalan (berlangsung) . Kita menyadari penuh mengenai mereka.Kita akan mengambil segala macam langkah dengan bantuan Allah, insya Allah. Kita akan melangkahkan kekuatan dengan bantuan Allah, insya Allah. Kita akan mengalahkan kekuatan besar ini. Tetapi Saudara-saudara harus mulai bergerak dengan arah yang benar. Saudara-saudara harus memperhatikan dan mempertimbangkan semua fakta ini. Duduklah bersama-sama dan ketahuilah keterbatasan kekuatan Saudara-saudara. Namun demikian berupayalah dengan lebih bijaksana guna mengalahkan motif lebih lanjutkekuatan besar yang sedang bersekongkol terhadap Jama’at Ahmadiyah dan Islam di negeri Saudara-saudara.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;♣ ♣ ♣ ♣ ♣ ♣&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Diterjemahkan oleh R. Ahmad Anwar.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Diedit oleh Ruhdiyat Ayyubi Ahmad.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjy2On162T1DGxwdTgDfwHHlaDXYE8t6Xu-86ogMS3hj-KcEQGT_0Xhk4o4uIICGBF0yeiXgHnDXbhEhvoYUW2t8jh36fQuqF_n7j7Cr-WuUIF3jNNR_Q9tPrEHKRmTBK2H2StI9qYWfro/s72-c/khalifah+4.jpg" width="72"/></item><item><title>Kerajaan Arab Saudi, Pemerintahan Yahudi Berbaju Islam (Muhammad Sakher)</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2011/02/kerajaan-arab-saudi-pemerintahan-yahudi.html</link><category>Artikel</category><category>Kabar Pilihan</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Sun, 20 Feb 2011 07:01:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-5452490659418660159</guid><description>&lt;a href="http://wildwestwahabi.wordpress.com/2009/02/11/wajah-asli-dinasti-saudi/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="background-image: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial; background-color: rgb(239, 251, 251); text-align: justify; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; "&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixzOf8PLlmDzs-EO2YUShdZJurd_oz05brv70_YY2H5YVp_ArIK_jvZYWERDvDGoNipsVCOJkzTatEeMDKCqsxd-l93KK3PMH8UDXvTOH6Yq1DXJoHZH3urBe7dpWZkmu9m8xNJuTj5p8/s1600/saudi03.jpg" style="font-size: 100%; "&gt;&lt;img style="text-align: left;float: left; margin-top: 0px; margin-right: 10px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; cursor: pointer; width: 155px; height: 200px; " src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixzOf8PLlmDzs-EO2YUShdZJurd_oz05brv70_YY2H5YVp_ArIK_jvZYWERDvDGoNipsVCOJkzTatEeMDKCqsxd-l93KK3PMH8UDXvTOH6Yq1DXJoHZH3urBe7dpWZkmu9m8xNJuTj5p8/s200/saudi03.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575792311761722098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kerajaan Arab Saudi adalah Kerajaan yang didirkan oleh orang Yahudi, dengan memakai kedok Islam, yang bertujuan untuk memecah belah Islam dengan ajaran-ajarannya yang mengkafirkan sesama Islam, membid’ahkan sesama Islam. Bahkan, memang dalam sejarahnya melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap umat Islam sendiri. Bukti itu telah dilacak oleh seorang bernama Muhammad Sakher dalam penelitiannya, dan ringkasan penelitiannya dalam bahasa Arab berjudulAlu Su`ud min Aina wa ila Aina?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Di bawah ini adalah tulisan Muhammad Sakher yang diterjemahkan oleh pengelola situs wildwestwahabi, sedangkan sumber-sumber dari bahasa Inggris dan Arab, majlis para masyayikh sendiri yang melacaknya. Silahkan dinikmati suguhan sangat menarik ini.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pada tahun 851 H, sebuah rombongan kafilah dari Kabilah Al-Masalih, salah satu kabilah dari Bani Anza, mengadakan perjalanan ke Irak dalam rangka membeli kebutuhan pangan seperti gandum, jagung dll. untuk dibawa kembali ke Najd. Kafilah itu dipimpin oleh Sahmi bin Hathlul.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ketika rombongan kafilah sampai di Basra mereka bertemu dengan saudagar Yahudi yang kaya bernama Murdahai bin Ibrahim bin Musa yang menjual bahan2 kebutuhan pangan yang mereka perlukan. Disela-sela tawar menawar, saudagar Yahudi itu menanyakan mereka darimana dan dijawab bahwa mereka adalah Kabilah Al-Masalih dari Bani Anza. Mendengar hal ini, saudagar Yahudi ini kemudian memeluk satu persatu semua anggota rombongan itu sambil mengatakan bahwa dia juga berasal dari Kabilah Al-Masalih yang terpaksa pindah ke Basra karena perselisihan antara ayahnya dengan anggota Bani Anza lainnya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Mengiringi cerita bohong tersebut, dia memerintahkan pelayannya untuk memenuhi seluruh onta2 mereka dengan tepung gandum, kurma, tamman dan bahan2 kebutuhan pangan mereka lainnya. Kebaikan ini sangat berkesan dan sekaligus membuat mereka bangga karena bertemu “saudara” sendiri yang menjadi saudagar kaya di Irak. Mereka tidak saja sangat menyukainya tetapi juga sangat mempercayainya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ketika rombongan akan kembali ke Najd, saudagar Yahudi yang berpura-pura sebagai bagian dari Kabilah Al-Masalih itu meminta agar dia diperkenankan ikut rombongan itu pulang ke Najd. Dengan senang hati permintaan itu dipenuhi.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sesampainya di Najd, saudagar Yahudi itu dengan dukungan penuh “saudara-saudaranya” mulai mempropagandakan dirinya. Namun pandangan-pandangannya ditentang masyarakat Al-Qasim dibawah pimpinan Syekh Saleh Salman Abdullah Al Tamimi, seorang ulama Muslim terkemuka. Dakwahnya meliputi kawasan Najd, Yaman dan Hijaz. Akibat penentangan ini dia pindah dari Al-Qasim ke Al- Ihsa dan mengganti namanya dengan Marhan bin Ibrahim Musa.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dia kemudian tinggal ditempat yang bernama Dir’iya dekat Al-Qatif. Di sini dia mulai menyebarkan cerita bohong tentang Perisai Nabi Muhammad saw bahwa perisai tersebut diambil oleh Kafir Quraisy pada waktu Perang Uhud dan kemudian dijual kepada sebuah kabilah Yahudi bernama Bani Qunaiqa’ yang menyimpannya sebagai pusaka. Dia secara bertahap menaikkan posisinya dimata kaum Badui dengan cerita2 bohong seperti itu dan sekaligus secara halus tersamar mempengaruhi orang2 Badui agar beranggapan bahwa orang Yahudi telah ikut berjasa menjaga peninggalan Islam yang sangat bersejarah.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dengan semakin kuat posisi dan pengaruhnya dimata kaum Badui Arab, dia kemudian memutuskan untuk menjadikan Dir’iya sebagai ibukota kerajaan Yahudi di tanah Arab dan memproklamirkan dirinya sebagai raja mereka.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sementara itu Bani Ajaman bersama dengan Bani Khalid menyadari bahaya dari Marhan setelah mereka mengetahui siapa dia sebenarnya dan rencana jahatnya. Mereka kemudian menyerang Dir’iya dan berhasil mendudukinya tetapi tidak berhasil menangkap Marhan karena keburu melarikan diri.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dalam pelariannya, Marhan bin Ibrahim Musa yang nama aslinya Murdahai bin Ibrahim Musa yang adalah orang Yahudi ini, sampai disebuah tanah pertanian yang waktu itu disebut Al-Malibid Ghusaiba dekat Al-Arid, yang dikemudian hari dan sampai sekarang disebut Al-Riyadh.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dia meminta kepada pemilik tanah pertanian itu agar diperbolehkan tinggal disitu. Dengan baik hati dan penuh keramahtamahan pemilik tanah pertanian tersebut memperkenankannya. Tetapi, kurang lebih satu bulan setelah ia tinggal disitu, pemilik tanah pertanian yang baik hati itu beserta seluruh keluarganya ia bunuh, dan berpura-pura bahwa pemilik tanah pertanian beserta seluruh keluarganya dibunuh oleh perampok. Kekejian dan kebohongannya tidak sampai disitu saja, ia juga menyebarkan berita bahwa ia sudah membeli seluruh tanah pertanian itu dari pemiliknya sebelum peristiwa tragis itu terjadi. Karenanya sekarang dia berhak atas tanah pertanian itu dan mengubah namanya menjadi Al-Dir’iya, sama dengan nama tempat sebelumnya yang lepas dari tangannya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Di situ ia kemudian membangun sebuah Tempat Persinggahan yang diberi nama Madaffa, dan bersama-sama dengan para pengikutnya kembali menyebarkan propaganda yang menyesatkan bahwa dia adalah seorang Syeikh Arab tulen dan agung. Dia kemudian membunuh Syeikh Saleh Salman Abdullah Al-Tamimi, musuh bebuyutannya, di sebuah masjid di kota yang disebut Al-Zalafi.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Setelah puas dapat melenyapkan Syeikh Saleh, dia kemudian menjadikan tempat yang namanya sudah diubahnya menjadi Al-Dir’iya tersebut sebagai pusat kegiatannya. Dia mengawini banyak wanita dan memperoleh banyak anak yang semuanya dia beri nama-nama Arab. Salah satu anak lelakinya dia beri nama Al-Maqaran (berakar dari nama Yahudi: Mack-Ren) yang kemudian mempunyai anak lelaki yang diberi nama Muhammad. Anak lelakinya yang lain dia beri nama Saud, dan nama inilah yang kemudian dan sampai sekarang menjadi nama Dinasti Saudi.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dengan berjalannya waktu, keturunan Marhan si Yahudi ini telah berkembang biak semakin banyak dan semakin kuat di bawah nama Keluarga Saudi. Mengikuti jejak pendahulunya mereka meneruskan gerakan bawah tanah dan konspirasinya menentang Negeri/Bangsa Arab. Secara illegal mereka memperluas wilayahnya dan membunuh setiap orang yang menentang mereka. Mereka menghalalkan segala cara untuk meraih ambisi mereka. Mereka tidak saja menggunakan uang mereka tetapi juga para wanita mereka untuk membeli pengaruh, khususnya terhadap mereka yang mau menulis biografi asli dari Keluarga Yahudi ini.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Mereka menyewa penulis bayaran untuk merekayasa biografi mereka, yang sekaligus menyembunyikan keturunan siapa mereka sebenarnya, dengan mengaitkan mereka dengan kabilah-kabilah Arab terkenal seperti Rabi’a, Anza dan Al-Masalikh.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sebagai contoh rekayasa penulis bayaran ditahun 1362 H atau 1943-an misalnya seperti Muhammad Amin Al-Tamimi, Direktur Perpustakaan Kerajaaan Saudi, membuatkan silsilah yang menyambung kepada Nabi Besar Kita Muhammad Rasulullah saw. Untuk itu ia mendapat hadiah 35.000 Pound Mesir dari Duta Besar Saudi untuk Mesir yang waktu itu dijabat oleh Ibrahim Al-Fadil.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dalam Buku Sejarah Keluarga Saudi halaman 98 – 101 penulis sejarah bayaran mereka menyatakan bahwa Dinasti Saudi menganggap seluruh penduduk Najd adalah kafir dan karenanya wajib dibunuh, hartanya dirampas, dan para wanitanya dijadikan budak. Tidak ada seorang muslim/muslimah pun yang keyakinannya murni kecuali mereka mengikuti paham Muhammad bin Abdul Wahab. Doktrinnya memberi kekuasaan kepada Keluarga Saudi untuk menghancurkan kota-kota, desa-desa, perkampungan beserta seluruh isinya, membunuh para lelaki dan anak-anak, memperkosa para wanitanya, merobek perut para wanita yang sedang hamil dan kemudian memotong tangan anak-anak mereka lalu membakar mereka. Doktrin brutalnya juga memberi kekuasaan kepada Keluarga Saudi untuk merampas dan menguasai seluruh harta benda dan kekayaan penduduk yang mereka anggap sesat (yaitu mereka yang tidak mengikuti paham Wahabi).&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Keturunan Saud (sekarang dikenal dengan Keluarga Saudi) mengkampanyekan pembunuhan terhadap para pemimpin kabilah-kabilah Arab dengan menuduhnya sebagai kaum kafir dan musyrik .&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Keluarga Saudi yang sejatinya adalah Keluarga Yahudi ini benar-benar telah melakukan segala macam perbuatan keji atas nama ajaran sesat mereka yaitu Wahabisme, dan benar-benar telah menimbulkan teror dihati para penduduk kota-kota dan desa-desa sejak tahun 1163 H. Mereka menamakan seluruh jazirah Arab yakni Negeri Rasulullah saw dengan nama keluarga mereka yaitu Saudi Arabia seakan seluruh kawasan di jazirah Arab adalah milik pribadi keluarga mereka, dan seluruh penduduk lainnya dianggap sebagai para pelayan dan budak mereka yang harus bekerja keras untuk kesenangan majikan mereka yakni Keluarga Saudi.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Mereka benar-benar menguasai seluruh kekayaan alam sebagai milik pribadi mereka dan bila ada orang yang memprotes kelakuan Dinasti Yahudi ini maka orang tersebut akan dipancung didepan umum. Pernah salah seorang putri mereka pergi ke Florida, Amerika Serikat, dengan segala kebesarannya menyewa 90 (sembilan puluh) Suite Rooms di Grand Hotel dengan harga sewa US$ 1 juta per malam. Tidak ada yang berani memprotes kemewahan dan pemborosan ini karena takut akan dipancung didepan umum.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kesaksian atas Darah Yahudi dari Keluarga Saudi&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pada tahun 1960, Radio Sawt Al Arab di Kairo Mesir dan Radio Yaman di Sana’a mengkonfirmasikan kebenaran Darah Yahudi dari Keluarga Saudi.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Raja Faisal Al-Saud waktu itu tidak bisa menolak kenyataan Darah Yahudi dari Keluarga Saudi ketika dia menyatakan kepada Washington Post pada 17 September 1969 dengan berkata: ”Kami, Keluarga Saudi adalah saudara sepupu (cousins) Yahudi. Kami sama sekali tidak setuju kepada sebarang Pemerintah Negara Arab atau Pemerintah Negara Muslim yang menunjukkan kebencian kepada Yahudi, tetapi kita harus hidup berdampingan secara damai dengan mereka. Negara kami (Arabia) adalah asal muasal darimana orang Yahudi pertama muncul, dan kemudian keturunannya menyebar keseluruh penjuru dunia”. Demikianlah deklarasi Raja Faisal Al-Saud bin Abdul Aziz.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Hafiz Wahbi, Penasehat Kerajaan Saudi, menyebutkan dalam bukunya yang berjudul ”Peninsula of Arabia” bahwa Raja Abdul Aziz Al Saud yang meninggal tahun 1953 telah berkata: ”Pesan kami (Pesan Saudi) kepada seluruh kabilah Arab yang menentang kami: Kakek saya, Saud Awal, pernah menawan sejumlah Sheikh dari Kabilah Mathir dan ketika serombongan orang dari kabilah yang sama datang menuntut pembebasan mereka, Saud Awal memerintahkan kepada para pengawalnya untuk memenggal kepala semua tawanan itu, kemudian, dia ingin menghinakan para penuntut itu dengan mengundang mereka untuk memakan daging korbannya yang sudah dimasak sementara potongan kepalanya ditaruh di atas nampan. Para penuntut itu sangat terkejut dan menolak untuk memakan daging keluarganya sendiri; dan karena penolakannya itu, dia memerintahkan kepada para pengawalnya untuk memenggal kepala mereka juga”.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Hafiz Wahbi mengatakan lebih jauh bahwa maksud Raja Abdul Aziz Al Saud menceritakan kisah berdarah itu agar delegasi dari Kabilah Mathir yang saat itu sedang datang untuk menuntut pembebasan pemimpin mereka saat itu, yakni Sheikh Faisal Al Darwish, untuk tidak meneruskan niat mereka. Karena bila tidak mereka akan mengalami nasib yang sama. Dia membunuh Sheikh itu dan menggunakan darahnya untuk wudhu tepat sebelum ia melakukan sholat (sesuai dengan fatwa sesat paham Wahabi ).&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kesalahan Sheikh Faisal Al Darwish saat itu adalah karena dia mengkritik Raja Abdul Aziz Al Saud yang telah menandatangi dokumen yang disiapkan pemerintah Inggris sebagai sebuah Deklarasi untuk memberikan Palestina kepada Yahudi. Penandatanganan itu dilakukan di sebuah konferensi yang diselenggarakan di Al Aqeer pada tahun 1922.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Begitulah dan hal itu berlanjut terus sampai sekarang dalam sistem kekuasaan rezim Keluarga Saudi atau tepatnya Keluarga Yahudi ini.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Semua tujuannya adalah: menguasai semua kekayaan dan keberkahan negeri Rasulullah saw; dengan cara merampok dan segala macam perbuatan keji lainnya, penyesatan, pengkafiran, mengeksekusi semua yang menentangnya dengan tuduhan kafir dan musyrik yang semuanya itu didasarkan atas doktrin paham wahabi.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;1. Sumber dari bahasa Indonsia, Wajah Asli dinasti Saudi, dalamhttp://wildwestwahabi.wordpress.com/2009/02/11/wajah-asli-dinasti-saudi/&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;2. Sumber dari bahasa Inggris, dengan judul: THE SAUDI DYNASTY: FROM WHERE IS IT? AND WHO IS THE REAL ANCESTOR OF THIS FAMILY? Dapat diunduh dihttp://www.fortunecity.com/boozers/bridge/632/history.html&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;3. Juga bisa diunduh dalam, Zionist Rulers of Saudi Arabia: Jewish Roots of the Saudi Ruling Family, dalamhttp://pakalert.wordpress.com/2008/12/24/zionist-rulers-of-saudi-arabia/&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;4. Sumber dalam bahasa Arab berjudul, Alu Su`ud min Aina wa Ila Aina? karangan Muhammad Sakher, dalamhttp://www.fortunecity.com/boozers/bridge/632/history.html&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixzOf8PLlmDzs-EO2YUShdZJurd_oz05brv70_YY2H5YVp_ArIK_jvZYWERDvDGoNipsVCOJkzTatEeMDKCqsxd-l93KK3PMH8UDXvTOH6Yq1DXJoHZH3urBe7dpWZkmu9m8xNJuTj5p8/s72-c/saudi03.jpg" width="72"/></item><item><title>Ahmadiyah, Surga Neraka, Urusan Allah</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2011/02/ahmadiyah-surga-neraka-urusan-allah.html</link><category>Ahmadiyah</category><category>Interview</category><category>Tokoh Nasional</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Fri, 18 Feb 2011 19:28:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-5719107826387147228</guid><description>&lt;a href="http://www.pedomannews.com/tokoh-a-wawancara/berita-tokoh-a-wawancara/kabar-tokoh/1855-ahmadiyah"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.pedomannews.com/tokoh-a-wawancara/berita-tokoh-a-wawancara/kabar-tokoh/1855-ahmadiyah"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="background-image: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial; background-color: rgb(239, 251, 251); text-align: justify; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; "&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivvlqtlAA684jaaJy_cpuPy8UEZPUGI0WcsEhnaQC55Vf9LMhy71l9DGBGQMSPrCY7ECe8RewDsS2gFPLrIFKOCnyLfR0QxqHFlvMhsa11lH_rgDbObRYShV3D9pAiivSG1M_dy1Whrrk/s1600/masdar.jpeg" style="font-size: 100%; "&gt;&lt;img style="text-align: left;float: left; margin-top: 0px; margin-right: 10px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; cursor: pointer; width: 264px; height: 188px; " src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivvlqtlAA684jaaJy_cpuPy8UEZPUGI0WcsEhnaQC55Vf9LMhy71l9DGBGQMSPrCY7ECe8RewDsS2gFPLrIFKOCnyLfR0QxqHFlvMhsa11lH_rgDbObRYShV3D9pAiivSG1M_dy1Whrrk/s320/masdar.jpeg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575593736104642370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;JAKARTA- Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas'udi di kantornya di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat memberikan wawancara seputar penyerangan, kekerasan, dan pembunuhan jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, seperti yang diungkapkan detikcom sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Bagaimana tanggapan anda soal penyerangan terhadap jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pertama-tama yang ingin saya tegaskan, negara itu wajib melindungi rasa aman dari seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan agama, keyakinan maupun suku dan sebagainya. Itu pertama yang harus betul-betul ditunaikan tanpa tawar-menawar lagi. Dan untuk itu, negara sudah memiliki segala persyaratan yang dibutuhkan, ada aparat kepolisian dengan perangkatnya termasuk untuk penindakan sampai intelijennya. Kalau polisi tidak sanggup, bisa menggunakan aparat lainya seperti militer.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kalau perlu Nahdlatul Ulama (NU) siap membantu dan amankan segenap warga. Jangan sampai ada kezaliman di antara warga dan sesama warga. Pertumpahan darah itu mutlak harus dihidarkan. Satu nyawa hilang itu sudah terlalu banyak. Kalau nyawa sampai hilang bukan karena nyawa, tapi itu sama saja menghilangkan seluruh umat manusia, ini adalah sesuai Alquran.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jadi membiarkan seorang warga negara terbunuh tanpa alasan pembunuhan, maka sebenarnya sama saja membiarkan seluruh warga negara ini terbunuh. Bahkan di dalam Alquran bukan hanya seluruh warga negara, tapi seluruh umat manusia, bila ada nyawa seorang dibiarkan melayang tanpa alasan yang setimpal.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Berkaitan dengan soal keimanan, negara kita kan bukan negara agama, bukan negara agama tertentu. Tetapi negara yang melindungi keyakinan segenap warganya, maka negara tidak boleh mendiskriminasi perlindungan kepada warga negara atas pertimbangan keyakinan tertentu, itu tidak boleh. Dan, NU berada di belakang misi negara itu.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Apakah konflik terjadi karena perbedaan keyakinan di antara warga itu sendiri?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Itu yang sebenarnya tidak boleh. Perbedaan keyakinan memang tidak mungkin dihindari, karena agama memang teksnya terlalu mendalam dan luas. Oleh karena itu tafsir terhadap teks agama itu suatu keniscayaan. Tidak ada suatu ajaran agama yang hanya ada satu tafsir dan semua tafsir sebenarnya itu dilindungi. Bahwa ada yang mengaku dirinya benar dan yang lain itu salah, itu biasa. Tetapi kalau semua mengaku benar dan semua mengaku yang lain salah, maka sesungguhnya tidak ada yang mutlak benar.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Perbedaan keyakinan tidak bisa menjadi alasan untuk memaksa keyakinan saya terhadap orang lain. Karena yang memberikan petunjuk ke jalan benar itu hanya Allah. Innaka laa tahdi man ahbabta walakinnallaaha yahdi man yasya, sesungguhnya kamu tidak bisa memastikan hidayah kepada orang lain, hanya Allah lah yang dapat memasukan hidayah kepada hamba-Nya yang dikehendaki (surat Al Qoshosh ayat 56).&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Di dunia ini kan bukan surga dan juga bukan neraka. Jadi di sini itu ada yang baik dan ada yang buruk, ada yang kafir, ada yang mukmin, ada yang tersesat dan ada yang mendapatkan hidayah, inilah dunia. Jangan berpikir dunia ini adalah surga, dan semuanya harus mukmin. Dan jangan berpikir bahwa dunia ini adalah neraka, semuanya harus kafir, tidak seperti itu.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Soal surga-neraka, tersesat dan mendapatkan hidayah hanya Allah yang tahu. Bahkan&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;dalam Islam, kalau ada orang mengkafirkan orang lain, maka boleh jadi sesungguhnya&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;dia kafir. Jadi jangan gampang mengkafirkan orang. Anda boleh saja meyakini seyakin-yakinnya apa yang anggap anda imani benar, tapi jangan pada saat yang sama mengaku sayalah satu-satunya paling benar, orang lain salah atau menuding keyakinan orang lain itu salah.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jadi bagaimana sebaiknya menghadapi jemaat Ahmadiyah?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saya ambil contoh di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat asuhan almarhum KH Ilyas Ruhyat (mantan Rais Am PBNU), di sekitar itu sudah berpuluh-puluh tahun ada sebuah masjid Ahmadiyah. Pas bertetanggaan dengan pesantren, dan dari dahulu tidak pernah ada santri yang menggruduk atau mengejek anggota jemaat Ahmadiyah. Mereka bebas menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya, itulah yang terjadi di lingkungan NU sebenarnya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Bahwa anda memiliki keyakinan seperti itu dan anda bertekad menjalankannya, itu hak anda. Memang kita memang mempunyai kewajiban moral untuk melakukan dialog, memberi tahu atau dakwah. Tetapi melakukan dakwah mengajak orang mendekatkan dengan keyakinan kita harus dengan bil hikmah atau bijaksana. Tidak ada kata paksaan dalam dakwah itu. Apabila kita sudah berdakwah atau kita sedikit bermujadalah(perdebatan). Kok masih tidak mau menerima apa keyakinan kita, ya sudah, kewajiban kita sudah gugur. Tidak ada keimanan yang bisa dipaksakan. Mungkin orang bisa dipaksa tubuhnya, tapi hatinya tidak bisa dipaksa.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dakwah yang paling efektif itu dakwah melalui perilaku, bukan dengan kata-kata, apalagi dengan kekerasan. Kalau orang Islam memperlakukan orang lain dengan kekerasan dan kekejaman, itu sebetulnya dia sedang melecehkan secara telak agamanya sendiri. Karena orang akan bertanya, loh agamanya mulia, tapi kenapa perilaku dan akhlaknya buruk dan kejam? Jadi orang Islam yang suka dan sering memekikan suara keras dan jihad, sesungguhnya dia bukan membela Islam, tapi sedang meruntuhkan kewibawaan dan nama baik Islam.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kawasan Cikeusik, Pandeglang, Banten walau dikenal masyarakatnya keras tapi belum pernah terjadi bentrokan antar keyakinan agama. Apakah ini ada rekayasa untuk memicu kekerasan itu sendiri?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Memang belakangan ini, sekitar sepuluh tahun belakangan terakhir ini pengaruh dari kelompok-kelompok radikal yang dibiayai dengan uang yang banyak dari Timur Tengah menjalar ke mana-mana. Meskipun kita ketahui dalam dunia Islam, perbedaan mazhab dan perbedaan tafsir itu sudah ada sejak zaman dahulu kala. Sejak zaman para sahabat itu sudah ada orang menafsiri sebuah ayat yang sama dengan tafsir yang berbeda. Jadi sesungguhnya itu sudah alami dan memang tafsir itu bisa berbeda-beda.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tapi tafsir yang berbeda dan diikuti dengan pemaksaan, penistaan sampai pembunuhan baru belakangan ini lebih marak. Jadi dahulu pernah ada pada zaman klasik itu. Misalnya konflik antara lain dengan kaum Khawarij dan Syiah sampai pertumpahan darah dan lainnya. Kemudian orang berpikir bila lama-lama seperti ini bisa habis, maka wisdom atau kearifan yang muncul, bahwa tidak ada di dunia manapun yang memiliki satu tafsir, tapi banyak dan berbeda-beda.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Untuk mensikapi adanya tafsir-tafsir yang berbeda ini, ya sudah kita sama-sama menghormatinya. Bahwa kami juga minta dihormati untuk mengikuti tafsir kami, sebagaimana anda juga kami menghormati untuk mengikuti tafsir anda. Itulah yang paling fair (adil), toh kita sama-sama tidak tahu siapa yang sesungguhnya secara hakiki di jalan yang benar. Kita hanya berdoa saja kepada Allah SWT untuk dibimbing di jalan yang benar. Kita tidak boleh mengklaim bahwa saya sudah sepenuhnya berada&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;di jalan yang benar, itu tidak boleh karena itu namanya takabur.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kita salat setiap hari lima waktu ada 17 rakaat, kita setiap rakaat selalu baca Al Fatihah dengan doa ihdinash shiroothol mustaqiim, tunjukilah kami ke jalan yang benar. Itu artinya apa? Orang Islam setiap menjalankan ibadahnya sekalipun tidak boleh mengklaim bahwa saya sudah ada di jalan yang benar. Justru kita harus terus memohon kepada Allah untuk dibimbingnya. Justru kita harus rendah hati dan jauh untuk mengklaim saya sudah ada di jalan yang benar, apalagi sambil menuding orang lain kau sesat dengan diikuti tindakan kekerasan. Ini nauzubillah minzaliq, itu jauh dari kebenaran.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Apakah bisa dikatakan semakin banyaknya tindak kekerasan mengatasnamakan agama karena pengaruh radikalisme Timur Tengah?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Memang tindakan manusia tidak pernah bisa disederhanakan pada satu faktor saja, selalu ada multi faktor. Taruhlah faktor faham radikalisme itu memiliki peranan, meskipun tidak seratus persen. Tapi juga ada faktor-faktor lainnya, misalnya faktor adanya provokator dan yang tidak kalah penting faktor kelambanan aparat pemerintah dalam bertindak preventif. Ini sangat penting sekali.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Oleh karena itu, ini harus menjadi catatan yang sangat kuat bagi kita bahwa semua faktor-faktor yang bersifat pemahaman tidak bisa berdiri sendiri. Kalau ada orang yang berbeda faham, kemudian tumbuh menjadi saling curiga sampai saling membenci. Tapi kalau aparat keamanan pemerintah bertindak tegas, tentunya tidak akan meledak menjadi kenyataan. Itu yang kita sesalkan, kenapa aparat keamanan tidak bertindak tepat waktu.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sebenarnya beliau-beliau itu sudah tahu ada riak-riak seperti di Banten atau Temanggung, itu sudah diketahui dua hari sebelumnya gelagat-gelagat itu. Persoalannya kenapa tidak dilakukan pencegahan? Sebenarnya itu hak aparat keamanan untuk mencegahnya, apalagi sudah ada tanda-tanda datangnya rombongan dari Solo, Semarang, Pekalongan ke Temanggung untuk melakukan tindakan kekerasan atas protes putusan pengadilan. Kenapa ini tidak dicegat di tengah jalan? Sebelum sampai ke tempat kejadian. Membiarkan mereka sampai ke tempat kejadian dan berkumpul ribuan orang itu pasti&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;akan sulit sekali. Tapi kan bisa dicegah sebelumnya, kan jarak Pekalongan-Temanggung, Solo-Temanggung tidak dekat. Sepanjang puluhan dan ratusan kilometer kan bisa dilakukan pencegahan. Ini yang kami sesalkan kenapa aparat tidak bertindak semestinya sesuai tanggung jawabnya melindungi masyarakat agar tidak bertumpah darah.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kelambanan atau kelalaian aparat keamanan dan pemerintah ini bisa diartikan juga sebagai upaya memperkeruh konflik antar kelompok masyarakat beragama ini?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kelambanan itu bisa dituduh sebagai by omission atau pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi karena pembiaran dan tidak mengambil tanggung jawab. Sekali lagi kami katakan, aparat keamanan harus ambil tanggung jawab melindungi  masyarakat, apalagi yang menyangkut perbedaan keyakinan ini. NU sendiri akan mensupport aparat keamanan kalau soal ini.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jadi bagaimana seharusnya menghadapi jemaat Ahmadiyah ini?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kewajiban kita kepada orang yang berbeda keyakinan, kalau kita merasa terpanggil, ya dakwah atau mengajak dengan bijak. Kalau memang diperlukan semacam diskusi, dialog atau berdebat, adu argumentasi dengan cara santun daripada orang yang kita hadapi. Kalau sudah cara-cara itu kita lakukan dan mereka tidak mau berubah, ya sudah, kita sudah selesai kewajibannya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tidak ada sedikitpun ruang bagi kita untuk memaksa mereka agar meyakini apa yang kita yakini. Kalau kita memaksakan begitu, lagi-lagi kita telah mengklaim saya sudah berada di jalan yang sepenuhnya benar dan anda di jalan kesesatan. Kita harus terus memohon petunjuk kepada Allah SWT. Artinya kita harus lebih redah hati dan jauhkan mengklaim diri kita sudah berada di jalan yang benar. Kita berdoa semoga kita bisa dibimbing ke jalan yang benar, bukan kita yakin betul kita sudah berada di jalan yang benar.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Betulkah ada dalil yang membenarkan untuk memerangi kelompok semacam Jemaat Ahmadiyah atau aliran sesat lainnya?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tidak ada, tidak ada dalil yang mengatakan orang bisa dibunuh karena perbedaan keyakinan. Memang dalam Alquran ada izin untuk memerangi orang lain dengan alasan agama, kalau memang kita diperangi. Kalau kita tidak pernah diperangi mereka, ya kita tidak boleh memerangi mereka.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Justru kalau kita hadapi dengan kelembutan, tentu hasilnya akan lebih baik. Ini sama ketika Rasulullah SAW akan dibunuh, tapi pedang musuhnya terjatuh. Nabi membiarkannya dan mengampuninya. Itu begitu kuatnya akhlak dan kelembutan hati yang bisa mengubah orang. Cara efektif mengubah keyakinan itu dengan akhlak yang baik, kesalehan amal, bukan dengan pedang.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Begitu juga di NU, kita akan menghadapi kelompok-kelompok ini dengan cara-cara santun dan dakwah yang bijak. Kalau ada yang melawan dengan kekerasan, kami serahkan kepada negara yang memiliki hak dan tanggung jawab. Negara punya hak monopoli untuk menindak pelaku kekerasan demi melindungi masyarakat lainnya. Tidak boleh masyarakat menggunakan alat kekerasan.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Bagaimana solusinya agar tidak terjadi pemaksaan dan penyerangan kepada kelompok agama yang beda keyakinan?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jangan kita pernah memaksakan keyakinan kita kepada orang lain. Biarkan itu diserahkan kepada Allah yang akan memberikan hidayah. Memang dalam beberapa kasus belakangan ini, banyak yang menunjukan keimanan dengan cara penuh kesombongan. Padahal kesombongan ini lebih buruk dari kesesatan atau kejahatan itu sendiri serta lebih buruk dari dosa besar lainnya. Kesombongan atas keimanan kita itu lebih berbahaya dari yang lainnya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber: detikcom/(zal/iy)&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivvlqtlAA684jaaJy_cpuPy8UEZPUGI0WcsEhnaQC55Vf9LMhy71l9DGBGQMSPrCY7ECe8RewDsS2gFPLrIFKOCnyLfR0QxqHFlvMhsa11lH_rgDbObRYShV3D9pAiivSG1M_dy1Whrrk/s72-c/masdar.jpeg" width="72"/></item><item><title>Sesat atau Tidak Allah yang Menentukan</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2011/02/sesat-atau-tidak-allah-yang-menentukan.html</link><category>Ahmadiyah</category><category>komentar</category><category>Tokoh Nasional</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Thu, 17 Feb 2011 18:25:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-8492510066854234727</guid><description>&lt;div style="background-image: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial; background-color: rgb(239, 251, 251); text-align: justify; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; "&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKu-8OfYGaiapiUP-IQN8ilxvFITN0db4s2TTY1Ykx8BT3m_7LjmoFvfvyUN-z6R8RVqai7cnGH7iuFHd10EjoYk9RqgOz21-EtxpD4AYr-omySt9Xe3wSEpV6fjg5KrcO2ZBjj_UJxEA/s1600/NU-luar.jpg" style="font-size: 100%; "&gt;&lt;img style="text-align: left;float: left; margin-top: 0px; margin-right: 10px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px; " src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKu-8OfYGaiapiUP-IQN8ilxvFITN0db4s2TTY1Ykx8BT3m_7LjmoFvfvyUN-z6R8RVqai7cnGH7iuFHd10EjoYk9RqgOz21-EtxpD4AYr-omySt9Xe3wSEpV6fjg5KrcO2ZBjj_UJxEA/s200/NU-luar.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575073282918085826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style="font-size: 100%; "&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal; "&gt;&lt;b style="font-size: 100%; "&gt;PBNU: Sesat atau Tidak Allah yang Menentukan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal; "&gt;&lt;b style="font-size: 100%; "&gt;Hery Winarno - detikNews&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jakarta - Majelis Ulama Indonesia secara tegas menyatakan bahwa Ahmadiyah sesat karena ajarannya menyimpang dari akidah Islam. Namun tidak demikian dengan Nahdatul Ulama (NU).&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Mas'udi menyatakan bahwa Ahmadiyah belum tentu sesat. Sesat atau tidak, menurut Masdar bukan manusia yang menentukan.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Sesat atau tidak, yang paling tahu itu adalah Allah," ujar Masdar saat rapat dengar pendapat antara Komisi VIII DPR dengan para pemuka Agama di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (17/2/2011) dini hari.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menurut Masdar, agama seharusnya dijadikan landasan untuk kehidupan yang lebih damai. Untuk bisa mewujudkan hal tersebut diperlukan peran dan tugas tokoh serta pemimpin umat beragama untuk menjaga kerukunan.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Kerukunan adalah tanggung jawab pemimpin umat beragama. Yang menentukan wajah umatnya adalah pemimpinnya," terangnya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Terkait kekerasan dan aksi main hakim sendiri yang berbalut busana agama, Masdar mendesak pemerintah mengusut para pelakuknya. Ia pun mengusulkan agar pelaku dihukum lebih berat.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;"Kekerasan atas nama agama, saya kira layak diberi hukuman dua kali lipat, yaitu untuk kezaliman dan atas penodaan agama yang diklaimnya," imbuhnya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKu-8OfYGaiapiUP-IQN8ilxvFITN0db4s2TTY1Ykx8BT3m_7LjmoFvfvyUN-z6R8RVqai7cnGH7iuFHd10EjoYk9RqgOz21-EtxpD4AYr-omySt9Xe3wSEpV6fjg5KrcO2ZBjj_UJxEA/s72-c/NU-luar.jpg" width="72"/></item><item><title>Ahmadiyah Disayang, Ahmadiyah Ditendang</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2011/02/ahmadiyah-disayang-ahmadiyah-ditendang.html</link><category>Ahmadiyah</category><category>Artikel</category><category>Cendekiawan</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Sat, 12 Feb 2011 17:59:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-8387089840425000341</guid><description>&lt;div style="background-image: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial; background-color: rgb(239, 251, 251); text-align: justify; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; "&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tahun 1907, seorang wanita dari kalangan elite Jerman, Carolyn, masuk Islam. Putri keluarga turunan bangsawan Prusia ini tertarik Islam setelah membaca buku-buku agama Islam yang bagus dan berstandar Eropa.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Masuk Islamnya Carolyn sangat menggemparkan orang Jerman saat itu. Maklumlah, awal abad ke- 20, wajah Islam di Eropa masih terlihat prengus dan kotor. Propaganda politik dan media massa di Eropa terhadap wajah Islam yang bengis dan menakutkan masih menghantui bangsa Jerman. Masuk Islamnya Carolyn barangkali adalah momentum penting dari “perkenalan” Islam di Jerman— negara termaju dan terbesar di dunia saat itu setelah Inggris Raya. Islamnya Carolyn pun membawa dampak besar: orang Eropa, khususnya Jerman, mulai sedikit mengurangi “alergi”-nya pada Islam. Keterkejutan berikutnya terjadi lagi pada 1982. Sebuah masjid besar berdiri di Kota Pedro Abad, kota kecil di Provinsi Cordova, Spanyol.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Masyarakat Spanyol ramai membincangkan berdirinya Masjid Basyarah yang megah itu karena inilah masjid pertama yang dibangun di Spanyol dalam kurun 750 tahun setelah musnahnya kejayaan Islam di Eropa yang berpusat di Negeri Matador itu. Bagi bangsa Eropa Barat yang pernah diduduki imperium Islam selama 750 tahun, kehadiran masjid tersebut membangkitkan kembali kenangan kekalahan Eropa yang Kristen di tangan Imperium Turki Osmani yang Islam. Lalu, 21 tahun kemudian, tepatnya tahun 2003, masyarakat Eropa kembali dikejutkan oleh berita dibangunnya masjid Islam termegah dan terbesar di Eropa Barat, yaitu Masjid Baitul Futuh, di Distrik Morden, Kota London, Inggris.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Majalah berkala di Inggris The Informer menyebutkan bahwa Masjid Baitul Futuh merupakan salah satu bangunan dari 50 bangunan terkenal dan terbaik di dunia. Pada 2003, masyarakat Eropa juga dibuat tercengang dan kagum ketika media-media Eropa memberitakan bahwa umat Islam di Jerman dalam kurun waktu 50 tahun ke depan akan membangun 100 buah masjid di seluruh Jerman. Salah satunya yang telah sangat menggemparkan masyarakat Jerman, khususnya masyarakat Kota Berlin, ialah pembangunan Masjid Khadijah di Kota Berlin pada akhir 2008. Setelah itu, peresmian Masjid Mubarak di Distrik Saint Prix, Paris, Prancis.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Orang Eropa yang menghargai kebebasan dan hak asasi manusia tampaknya menyokong pembangunan tempat-tempat ibadah Islam tersebut. Ini terjadi karena ajaran Islam yang disebarkan di masjid-masjid itu mengusung tema love for all, hatred for none (cinta kepada siapa pun, tidak benci kepada siapa pun). Saat ini, sudah ribuan, bahkan jutaan, buku diterbitkan di Amerika, Eropa, Asia, dan Australia oleh umat Islam yang membangun masjid-masjid megah di Eropa tersebut. Jutaan orang telah diajak memahami Islam yang agung, mulia, dan penuh kasih melalui buku-buku itu.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kebanggaan&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;div style="text-align: left; font-size: 100%; "&gt;Di pihak lain, nun jauh dari Eropa, dalam sebuah pengajian akbar yang dihadiri ribuan umat Islam di Yogyakarta, awal tahun 1980-an, seorang dai terkenal KH Ir HA Syahirul Alim, MSc, dosen kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UGM, dengan bangga menyatakan bahwa akhir abad ke-20 merupakan momentum kembalinya Islam di pentas ilmu pengetahuan tingkat dunia. Saat itu, umat Islam di seluruh dunia sedang menikmati euforia “Nobel Fisika” yang diterima Prof Dr Abdus Salam dari Pakistan pada 1979.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Prof Dr Ahmad Baiquni, ahli fisika nuklir, yang bersahabat baik dengan Abdus Salam diundang berceramah di mana-mana di Indonesia untuk menjelaskan kesesuaian ayat-ayat Alquran dengan ilmu pengetahuan alam yang telah mengantarkan Abdus Salam meraih Nobel Fisika yang amat bergengsi itu. Penerbit Pustaka Bandung secara khusus menerbitkan buku kecil berjudul Islam dan Ilmu Pengetahuan karya Prof Baiquni yang di dalamnya menjelaskan penemuan sang nobelis Abdus Salam tersebut. Salam menjadi penerang sains Islam dan menjadi penggugah kaum muslimin untuk kembali meraih kejayaan di bidang sains yang pernah digenggamnya pada abad ke ketujuh sampai ke-15, tulis Republika.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Harian Islam terbesar di Indonesia ini juga memuji Salam sebagai saintis Islam terbesar dan ilmuwan muslim pertama yang mendapatkan hadiah Nobel paling bergengsi di bidang fisika atom di tengah terpuruknya sains Islam dalam lima abad terakhir. Abdus Salam kelahiran Pakistan, 29 Januari 1926 itu meraih gelar doktor fisika dalam usia 26 tahun dari Cambridge University, Inggris. Abdus Salam dalam penelitiannya berhasil menemukan fakta bahwa sesungguhnya semua gaya yang ada di jagat raya—yaitu gaya gravitasi, elektromagnet, nuklir kuat, dan gaya nuklir lemah–– hakikatnya merupakan satu kesatuan. Ide penelitian Abdus Salam ini, menurut pengakuannya, terinspirasi dari pernyataan Alquran dalam Surah Al-Mulk ayat 3 tentang keseimbangan ciptaan Allah.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Abdus Salam meninggal tahun 1996. Dunia Islam berbelasungkawa amat dalam atas kepergiannya. Dua pemimpin Pakistan yang amat bermusuhan, Benazir Bhuto dan Ziaul Haq, bersatu memberikan gelar pahlawan Pakistan sejati untuknya. Kerajaan Arab Saudi yang menggelar karpet merah ketika Abdus Salam datang ke Tanah Suci ikut belasungkawa atas wafatnya Salam. Mereka sayang kepada Abdus Salam karena beliau telah mengharumkan nama Islam di pentas internasional. Lalu, siapakah Prof Abdus Salam yang punya energi luar biasa untuk mencari titik temu ayat-ayat Alquran dengan ilmu pengetahuan alam itu? Umat Islam yang mana yang membangun masjid megah di Spanyol setelah 750 tahun nama Islam terkubur di Negeri Real Madrid itu?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Buku karya siapakah yang berhasil mengislamkan Carolyn, wanita bangsawan Prusia yang kemudian membalikkan citra Islam di Jerman itu? Ternyata, mereka semua adalah orang-orang Ahmadiyah. Abdus Salam adalah orang Ahmadiyah. Yang membangun masjid di Spanyol juga orang Ahmadiyah. Buku yang dibaca Carolyn juga karya orang Ahmadiyah. Orang-orang Ahmadiyah punya banyak prestasi luar biasa karena punya prinsip mendahulukan cinta dan karya dalam beragama. Salah satu tafsir Alquran yang fenomenal di dunia, The Holy Quran, karya Maulana Muhammad Ali, intelektual Ahmadiyah, menjadi bacaan yang menginspirasi tokoh-tokoh pejuang Indonesia seperti Bung Karno dan HOS Cokroaminoto. Di dunia, The Holy Quran juga menjadi rujukan kajian Islam di Eropa dan Amerika.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tapi bagaimana kini di Indonesia? Orang Ahmadiyah yang telah mengharumkan nama Islam di dunia internasional itu kini ditendang. Rumahnya dihancurkan. Mereka dicerca, mereka disiksa. Negeri dengan 200 juta umat Islam itu lupa bahwa sumbangan Ahmadiyah terhadap syiar Islam itu luar biasa. Orang Ahmadiyah yang jumlahnya jutaan di dunia tampaknya hanya bisa bersabar menunggu redanya amarah masyarakat Indonesia yang, katanya, cinta Rasul Muhammad itu.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Seandainya umat Islam bertanya kepada Jalaluddin Rumi dan Ibnu Arabi, apa bedanya antara jamaah Ahmadiyah dan jamaah Islam Ahli Sunnah, jawabannya niscaya seperti ini: kedua jamaah ini sama-sama mencintai Allah dan Rasul-Nya, Muhammad. Sampai titik ini, marilah kita merenung: Rasulullah diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak manusia, agar sesama manusia saling mengasihi dan saling mencintai. Bukan sebaliknya, menyerang dan menyiksa manusia hanya karena perbedaan paham seperti di Pandeglang dan Bogor.(*)&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Syahadat Ahmadiyah</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2011/02/syahadat-ahmadiyah.html</link><category>Ahmadiyah</category><category>Tokoh Nasional</category><category>Tulisan</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Wed, 9 Feb 2011 04:37:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-7106767552159569633</guid><description>&lt;div style="background-image: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial; background-color: rgb(239, 251, 251); text-align: justify; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; "&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGcytY6BCaOTA_VprSrsUA2-V3s0PGH0ycqcCQ_thk5jVevu_PrhhX3Ishy_zkzBukqvM8-ia1P0GNpY01PfQ5Pd5S_WUZ-cVZc0V4rGqQBt4xE3pfjsnF3SuAmO0RR7dsIcCCgS9UNu8/s1600/MujaniS.jpg" style="font-size: 100%; "&gt;&lt;img style="text-align: left;float: left; margin-top: 0px; margin-right: 10px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; cursor: pointer; width: 75px; height: 100px; " src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGcytY6BCaOTA_VprSrsUA2-V3s0PGH0ycqcCQ_thk5jVevu_PrhhX3Ishy_zkzBukqvM8-ia1P0GNpY01PfQ5Pd5S_WUZ-cVZc0V4rGqQBt4xE3pfjsnF3SuAmO0RR7dsIcCCgS9UNu8/s320/MujaniS.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575079189430244434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Anggota jemaah Ahmadiyah diburu, dikepung ruang geraknya, seperti binatang. Bukan hanya oleh orang-orang di lapisan bawah, tapi juga oleh elite negara dan ulama. Wujudnya adalah kebijakan jahat yang dibuat elite tersebut dalam bentuk surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri, dan dikaitkan dengan undang-undang penistaan agama. Dalam SKB itu, Ahmadiyah jelas kehilangan hak-hak asasinya yang paling fundamental sebagai warga negara, yakni kebebasan berkeyakinan dan menjalankannya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sejumlah aktivis mengajukan review kebijakan dan undang-undang yang digunakan untuk mendiskriminasi dan membantai warga Ahmadiyah itu. Dasar pengajuan review tersebut adalah kebijakan yang diskriminatif itu dinilai bertentangan dengan konstitusi, yang menjamin kebebasan berkeyakinan serta beragama dan, karena itu, wajib hukumnya dibatalkan. Kita tahu semua, Mahkamah Konstitusi tidak mengabulkan permohonan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kalau bicara secara pribadi dengan para pejabat negara tersebut, mereka mengakui bahwa kebijakan negara itu diskriminatif dan melanggar konstitusi. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan bicara secara jernih pun bahwa setiap warga, apa pun keyakinannya, dijamin di negeri hukum ini mereka tidak berani. Saya melihat mereka takut. Takut terhadap siapa? Saya tidak tahu, tapi kesan saya, mereka takut terhadap "umat Islam".&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Umat Islam adalah kolektivitas yang dibayangkan hidup, punya logika, dan punya jalan pikiran sendiri. Ia punya sikap tentang apa itu Islam dan apa itu bukan Islam. Barang siapa yang memahami Islam di luar pemahamannya dianggap mengancam Islam dan umat Islam dan, karena itu, harus dikeluarkan. Bila tidak mau keluar, tetap bernaung dalam nama Islam, ia dinilai pantas dimusnahkan.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sikap umat seperti ini sebenarnya diciptakan dalam sejarah oleh sebuah otoritas agama atau ulama dan negara atas dasar penafsiran yang dinilai berlaku umum dalam tradisi otoritas tersebut. Peran ulama adalah membentuk paham-paham Islam mana yang benar dan mana yang tidak benar, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Sampai di situ tidak apa-apa. Tapi, ketika otoritas agama ini punya kekuasaan atau bisa menggunakan kekuasaan negara, paham tersebut bisa punya daya paksa dan bahkan daya musnah seperti yang kita saksikan di Pandeglang itu.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Negara bisa dipaksa atau mungkin dipersuasi oleh ulama, terutama Majelis Ulama dan para ulama di Kementerian Agama karena petinggi negara terkait takut dinilai membela hak-hak beragama jemaah Ahmadiyah. Mereka takut dinilai memusuhi umat Islam kalau menolak permintaan para ulama untuk mengkerangkeng jemaah Ahmadiyah.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Saya tahu para ulama itu sungguh-sungguh melihat Ahmadiyah sebagai ancaman terhadap umat Islam. Tapi para pejabat negara terkait sebenarnya tidak merasa seperti itu. Sebenarnya banyak di antara mereka yang memandang bahwa paham seperti yang dipegang oleh Ahmadiyah merupakan hak jemaah Ahmadiyah sendiri dan negara tidak boleh memaksa mereka berislam selain cara mereka sendiri. Mereka juga percaya bahwa negara wajib melindungi setiap keyakinan apa pun, termasuk keyakinan yang dikaitkan dengan Islam, seperti Ahmadiyah. Tapi elite negara itu takut terhadap umat kalau harus mengatakan demikian secara terbuka kepada publik. Mereka takut dinilai merusak Islam, dan takut dimusuhi umat Islam.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ketakutan elite negara, yang umumnya awam dengan tafsir Islam, itu semakin menjadi-jadi karena hampir tidak ada ulama tandingan dari umat Islam yang berpengaruh untuk menyampaikan paham alternatif terhadap pandangan tentang Islam yang dinilai umum tersebut. Kita tahu ada sejumlah ulama atau intelektual yang menoleransi adanya perbedaan paham dalam Islam, termasuk yang berkaitan dengan akidah, karena mereka tahu bahwa perbedaan semacam itu punya sejarah yang panjang dalam tradisi Islam. Dan sah adanya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kita ingat bagaimana para pendukung Sayidina Ali dan para pendukung Sayidina Usman saling mengkafirkan, saling mengeluarkan mereka dari Islam. Padahal mereka semua para pengikut setia Nabi. Mereka berebut pengaruh. Bukan soal paham agama betul.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kita tahu banyak ulama besar pada masa keemasan Islam yang lebih mengutamakan akal daripada wahyu, yang menganggap akal lebih penting daripada wahyu. Juga kita ingat perdebatan besar para ulama Asyariah dan Mu'tazilah tentang hakikat wahyu atau Al-Quran, apakah ia kekal (qadim) atau baru (hadis). Kita juga tahu ada ulama besar tasawuf, seperti Yazid Albustami atau Al-Hallaj, yang punya ungkapan ganjil bagi awam umat Islam ketika mengatakan, misalnya, "tidak ada Tuhan selain Aku"; "Aku adalah Tuhan", dan seterusnya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Itu semua wilayah akidah dan, karena itu, beda paham dalam soal akidah juga biasa saja. Kalau Mirza Ghulam Ahmad mengaku dirinya seorang nabi, ya, tidak ada apa-apanya kalau kita melihat perbedaan paham para ulama pada zaman keemasan Islam tersebut. Jangankan yang mengaku sebagai nabi, yang mengaku dirinya sebagai Allah saja ada. Jangankan perbedaan paham dalam menafsirkan sumber doktrin Islam, yakni Al-Quran, yang menganggap Al-Quran kurang penting pun ada. Dan semuanya berdasarkan atas otoritas keulaman mereka.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Celakanya, para ulama yang berdiri di belakang SKB itu cukup tahu sejarah Islam, tapi mereka memilih secara selektif. Seleksi itu bukan karena mereka sudah bertemu dengan Allah dan mengatakan bahwa Allah membenarkan substansi SKB itu, tapi lebih karena perasaan dan sejarah sosial mereka sendiri dalam lingkungan ulama Indonesia yang jumud, yang mata hatinya tertutup terhadap kenyataan bahwa ini adalah Indonesia, negara Pancasila, bukan negara Islam.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sejauh ini para ulama yang bernafsu mengeluarkan Ahmadiyah dari Islam cukup berhasil memonopoli arti dan makna Islam itu, sehingga paham yang lain harus dimusnahkan. Lebih dari itu, mereka kemudian berhasil juga menciptakan ketakutan di seantero negeri, termasuk kepada para jenderal yang paham keislamannya dari tradisi abangan itu.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Para elite negara begitu takut kepada umat Islam yang maknanya ciptaan para ulama itu. Mereka begitu percaya, kalau melawan paham ulama itu, mereka akan ditinggalkan umat Islam, yang membentuk hampir seluruh penduduk negeri ini. Kalau ditinggalkan, apalagi dimusuhi umat yang buatan ulama itu, habislah riwayat petinggi negara yang nasibnya bergantung pada pilihan umat itu, apakah itu presiden, anggota DPR, gubernur, maupun bupati. Pejabat-pejabat negara lainnya yang tak dipilih umat, seperti yang duduk di Mahkamah Konstitusi, kejaksaan, kepolisian, dan kementerian, juga takut karena bergantung pada para pejabat yang dipilih umat tersebut. Umat berkuasa, dan membuat takut seantero negeri.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGcytY6BCaOTA_VprSrsUA2-V3s0PGH0ycqcCQ_thk5jVevu_PrhhX3Ishy_zkzBukqvM8-ia1P0GNpY01PfQ5Pd5S_WUZ-cVZc0V4rGqQBt4xE3pfjsnF3SuAmO0RR7dsIcCCgS9UNu8/s72-c/MujaniS.jpg" width="72"/></item><item><title>Keteguhan Jiwa Wakaf Huzur Tercinta</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2010/11/keteguhan-jiwa-wakaf-huzur-tercinta.html</link><category>Riwayat Hidup</category><category>Terjemahan</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Sat, 6 Nov 2010 23:55:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-4674930390356229742</guid><description>&lt;div style="background-image: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial; background-color: rgb(239, 251, 251); text-align: justify; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; "&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnhhdOm_GhyphenhyphenWCmQH5IaP1YedCoQH-Wc1FoXbuaaNbacjDd-eG1dLnyrtND0g-ihU8OcR_TKwonemsuqB6ZFWPf0FRzwhdQssgo2afnnLcZ1WRQ8UmtipNBEIicg-ep5-5_8AS9ruvRklA/s1600/khalifa5.jpg" style="font-size: 100%; " onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="text-align: left;float: left; margin-top: 0px; margin-right: 10px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; cursor: pointer; width: 159px; height: 204px; " src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnhhdOm_GhyphenhyphenWCmQH5IaP1YedCoQH-Wc1FoXbuaaNbacjDd-eG1dLnyrtND0g-ihU8OcR_TKwonemsuqB6ZFWPf0FRzwhdQssgo2afnnLcZ1WRQ8UmtipNBEIicg-ep5-5_8AS9ruvRklA/s320/khalifa5.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575075233213300866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Beberapa contoh keteguhan jiwa wakaf yang diambil dari riwayat hidup Hazrat Khalifatul Masih Al Khamis, Huzur bersabda,:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;1. Ketika saya (Hazrat Khalifatul Masih Al Khamis) masih kecil, saya pernah diajak oleh kakek saya (Hazrat Mirza Syarif Ahmad) untuk mulakat dengan Hazrat Khalifatul Masih Tsani ra. Saat itu saya masih berumur 9,10 tahun. Saat itu Hazrat Khalifatul Masih Tsani ra sedang sakit dan terbaring di ranjang. Disana telah disediakan kursi untuk kakek saya (Hazrat Mirza Syarif Ahmad), tapi beliau berbincang-bincang Hazrat Khalifatul Masih Tsani ra sambil duduk dilantai. Beliau memperlihatkan sikap santun dan rasa hormat kepada Hazrat Khalifatul Masih Tsani ra pada saat berbincang, lalu pamitan pulang. Hazrat Khalifatul Masih Al Khamis bersabda,” Dengan itu, kakek saya memberikan pelajaran kepada saya untuk bersikap santun didepan khalifah e waqt.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;2. Ketika saya masih kecil, ayah saya selalu menekankan saya untuk melaksanakan shalat lima waktu. Beliau selalu membangunkan saya dari tidur untuk melaksanakan shalat shubuh. Apabila saya susah bangun, beliau memercikan air diwajah saya. Setelah shalat shubuh, ayah saya selalu menekankan kepada saya untuk berolahraga dan ayah saya sendiri pun berolah raga setelah shalat shubuh.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;3. Didalam kehidupan sehari-hari orang tua kami selalu menerapkan kesdisiplinan. Begitu indahnya kedisiplinan yang diterapkan, sehingga Sampai umur 16,17 tahun, sama sekali anak-anak tidak diizinkan untuk keluar rumah setelah shalat maghrib. Kami tinggal dilingkungan rabwah, padahal disekitar rumah kami tinggal kerabat dekat, tapi meskipun demikian orang tua kami tidak mengizinkan kami untuk keluar rumah setelah shalat maghrib. Dan ketika kami suduh bertambah dewasa, ayah tidak mengizinkan kami untuk keluar rumah setelah shalat isya. Huzur Bersabda,” Anak yang selalu pergi keluyuran setelah shalat isya, laziman dia akan rusak.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;4. Ketika Mia Masroor Ahmad sedang menempuh pendidikan MSc di bidang agriculture (pertanian), &lt;i&gt;menurut informasi&lt;/i&gt; disatu departemen dalam sebuah universitas bisa diperoleh madu asli. Hazrat Khalifatul masih Tsalits ra meminta Mia Masroor untuk membelikan satu botol madu asli. Pada saat Mia Masroor Ahmad beranjak pergi, Hazrat Khalifatul masih Tsalits ra memberikan uangnya. Mia Masroor :,” Huzur! Saya akan membeli madu itu dari uang saya pribadi. Huzur bersabda,”Setiap saya meminta orang lain untuk membeli sesuatu saya selalu memberikan uangnya terlebih dahulu. Akhirnya ada seorang ahmadi yang akan membelikan madu tersebut untuk Mia Masroor. Ketika sang ahmadi itu tahu bahwa Hazrat Khalifatul masih Tsalits ra lah yang memesan madu itu, maka dia membelikan madu itu dengan uang pribadinya. Ketika Mia Masroor Ahmad kembali untuk menyerahkan madu dan mengembalikan kembali uang yang telah diberikan oleh Hazrat Khalifatul masih Tsalits ra, maka Huzur bersabda,” Apabila saya sudah memberikan uang kepada seseorang, saya tidak akan mengambilnya lagi, apakah orang itu menggunakan uang yang saya berikan tadi untuk membeli barang tersebut atau ada orang lain yang membayarkan dengan uang pribadinya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;5. Setelah Mia Masroor menyelesaikan gelar MSc, Belie menyampaikan permohonan wakafnya kepada Kantor Tahrik Jadid, tapi Kantor Tahrik Jadid menolak permohonan wakaf beliau karena melihat basic pendidikan beliau MSc pertanian, mereka memberikan jawaban,” Saat ini kantor kami tidak memerlukan waqif bidang pertanian, begitu juga Rabwah dan di sekolah-sekolah di Ghana pun tidak diajarkan subject mengenai pertanian. Tapi memang Allah Ta’ala lah yang akan menerima wakaf beliau. Begitu kuatnya keinginan Mia Masroor untuk mewakafkan diri, Beliau terus berdoa dan akhirnya belie mengirimkan permohonan wakafnya kepada Hazrat Khalifatul masih Tsalits ra, lalu Huzur pun meneruskan lagi permohonan Mia Masroor kepada Tahrik Jadid, lantas jawaban itu pulalah yang diterima oleh Hazrat Khalifatul masih Tsalits ra yakni kami tidak bisa menerima waqaf pemuda ini, sampaikanlah kepadanya untuk mencari pekerjaan lain. Ketika jawaban ini sampai kepada Hazrat Khalifatul masih Tsalits ra, beliau menulis catatan,” Kalau kalian tidak memerlukan pemuda ini, saya yang memerlukannya, lalu Hazrat Khalifatul masih Tsalits ra menerima waqaf dan mengutus Mia Masroor ke Afrika sebagai guru.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;6. Sejak kecil saya sangat dekat dengan Hazrat Khalifatul Masih Ar Rabi ra sebagai sahabat yang saling mencintai. Begitu dekatnya saya dengan beliau, sehingga Huzur selalu melimpahkan tugas-tugas kepada saya, supaya saya yang mengerjakan tugas-tugas itu. Kapanpun saya memberikan saran kepada Beliau, misalnya dalam suatu meeting, meskipun ada orang lain yang memberikan pendapat yang bertentangan dengan saran saya, Beliau pasti menerima saran saya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;7. Pada saat saya akan dikirim ke Ghana, fikiran manusiawi saya merasa tidak suka apabila saya ditugaskan ke suatu tempat yang fasilitasnya tidak memadai, tidak ada air, listrik. Ketika beliau sampai di Ghana, beliau baru mengetahui bahwa keadaannya seperti apa yang dikhawatirkan (tidak memadainya fasilitas, sebelumnya beliau tidak tahu kalau keadaannya seperti itu. Beliau ditugaskan oleh Hazrat Khalifatul Masih Ar Rabi ra, ke tempat yang jauhnya sekitar 70 mil dari tempat saya tinggal, saat itu musim panas, saya harus menjalankan traktor sendiri, di tempat itu jalannya masih tanah yang berdebu, seharian sibuk, malam tidak bisa kembali pulang ke rumah, saya berfikir supaya saya tinggal 3 hari sekaligus, sampai pekerjaan selesai. Makanan di daerah itu tidak bisa dimakan, rasanya…, jika dimakan pun bisa menyebabkan sakit, air juga kotor sehingga tidak bisa diminum. Karena saya ditugaskan oleh Khalifah e waqt, saya harus melaksanakannya. Untuk makan, saya membawa satu termos cae dan biscuit, selama 3 hari, itulah yang saya makan dan minum. (Kita bisa bayangkan sebesar apa termos cae). Malam hari pun saya harus berkali kali bangun karena lingkungannya hutan, saya khawatir ada ular dan kalajengking. Bagaimana Mia masroor mengemban tugas wakaf yang diberikan kepada beliau.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;8. Bagi seorang wakaf waktu untuk berkhidmat bukanlah dari jam 8 sampai jam 4 , melainkan 24 jam dalam sehari. Jadwal kegiatan Huzur setiap harinya sbb, Huzur ABA bersabda: "Pada waktu shubuh saya bangun untuk tahajjud, saya tidak akan beritahukan pukul berapa saya bangun untuk melaksanakan shalat tahajjud, yang pasti saya bangun cepat untuk shalat tahajjud, setelah shalat tahajjud  saya menilawatkan Al Quran, lalu beranjak untuk shalat fajar, lalu olahraga jalan pagi, setelah itu kembali kerumah untuk mandi, lalu sarapan, lalu saya mengambil Al Quran dan merenungkan 2,3 ayat dengan seksama, kemudian selama 4, 5 menit saya beristirahat, lalu pergi ke kantor, dari pagi sampai tiba waktu shalat zuhur, Huzur mengerjakan pekerjaan kantor, meeting, memberikan instruksi, petunjuk, intinya semua pekerjaan kantor, kemudian ke mesjid untuk mengimami shalat zuhur, setelah shalat zuhur saya pulang ke rumah, (rumah beliau tepat berada diatas kantor), kemudian makan siang, setelah itu untuk 25, 30 menit saya istirahat, lalu ke kantor lagi, lalu shalat ashar, kemudian ke kantor, lalu shalat magrib, beberapa saat sebelum magrib saya ke rumah untuk minum cae, lalu pergi ke masjid untuk shalat magrib, saya melaksanakan shalat sunat di kantor, lalu ke kantor untuk membaca surat-surat yang datang, surat jemaat, surat kantor dan pribadi, jika ada yang harus diberikan petunjuk. setelah itu 1 jam untuk mulaqat, setelah itu saya pulang untuk makan malam, lalu shalat isya, setelah shalat saya pulang kerumah untuk beberapa menit, kalau saja ada kerabat yang datang ke rumah untuk berjumpa dengan saya, maka saya menemui mereka untuk 5, 10 menit, lalu saya kembali ke kantor sampai pukul 11, setelah itu membaca surat kabar, bulletin jemaat, papers lain-lain atau kitab-kitab yang lain, lalu saya tidur, dan shubuh seperti biasa bangun untuk tahajjud.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Semoga kita diberikan taufik untuk bisa menjadikan Khalifah waqt sebagi model dalam kehidupan kita, mendengar nasihat-nasihat beliau dengan penuh kecintaan, dan berupaya untuk memiliki sikap-sikap itu didalam diri kita dan putra putri kita, sehingga Allah Ta’ala ridlo kepada kita. Amin&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnhhdOm_GhyphenhyphenWCmQH5IaP1YedCoQH-Wc1FoXbuaaNbacjDd-eG1dLnyrtND0g-ihU8OcR_TKwonemsuqB6ZFWPf0FRzwhdQssgo2afnnLcZ1WRQ8UmtipNBEIicg-ep5-5_8AS9ruvRklA/s72-c/khalifa5.jpg" width="72"/></item><item><title>Kecintaan Masih Mau'ud as (Hazrat Mirza Ghulam Ahmad) Kepada Hazrat Rasulullah SAW</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2010/08/kecintaan-masih-mauud-as-hazrat-mirza.html</link><category>Artikel</category><category>buku jemaat</category><category>ulama jemaat</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Sat, 14 Aug 2010 16:01:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-901761383486937613</guid><description>&lt;div style="background-image: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial; background-color: rgb(239, 251, 251); text-align: justify; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; "&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi45dU8OSDjiQ-HxeHlvL5jY0X4QP1jCZpwkikU03FuH8-yWET8_Lq0nTx0e4Yd4a3NwXkZwKMNx_Oy9cirjaIEOqJnjORZn8gdY138ODNh9pVd_VHN26obG99ssaLEufnnvEhuS3wh97I/s1600/mirza%252Babdul%252Bhaq%252Bshahib.jpg" style="font-size: 100%; "&gt;&lt;img style="text-align: left;float: left; margin-top: 0px; margin-right: 10px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; cursor: pointer; width: 150px; height: 101px; " src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi45dU8OSDjiQ-HxeHlvL5jY0X4QP1jCZpwkikU03FuH8-yWET8_Lq0nTx0e4Yd4a3NwXkZwKMNx_Oy9cirjaIEOqJnjORZn8gdY138ODNh9pVd_VHN26obG99ssaLEufnnvEhuS3wh97I/s320/mirza%252Babdul%252Bhaq%252Bshahib.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575081217935355506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Suatu ketika Hazrat Masih Mau’ud as berjalan sendiri di dalam mesjid kecil yang berdampingan dengan kediaman Beliau as, yang dinamakan dengan mesjid Mubarak. Beliau as bersenandung dengan suara yang sangat pelan, seiring dengan itu air mata terus mengalir dari mata beliau as. Pada saat itu seorang sahabat yang mukhlis datang dari arah luar dan mendengar senandung itu. Ternyata saat itu Beliau sedang melantunkan sebuah syair sahabat Rasulullah saw yang bernama Hazrat Hassaan bin tsabit yang pernah dibacakan oleh beliau ra pada saat kewafatan Rasulullah saw. Syair itu berbunyi:”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kuntas sawaada linnaaziriy fa’amiya ‘alaikan naaziru&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;man syaa’a ba’dakal yamut fa’alailka kuntu uhaadziru&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Artinya:” Ya Rasul Allah! Engkau adalah kornea mataku,&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;karena kewafatanmu hari ini, (mataku) menjadi buta.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sekarang, siapapun yang akan mati setelah engkau, matilah!&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Aku hanya takut dengan kematian engkau, yang benar-benar telah terjadi.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menurut penjelasan perawi, ketika saya melihat Hazrat Masih Mau’ud as menangis, pada saat itu beliau benar-benar sendiri, dengan rasa segan saya bertanya kepada Beliau as,” Hazrat! Apa yang telah terjadi? Apa yang telah membuat Huzur bersedih? Hazrat Masih Mau’ud as bersabda,” tadi saya sedang membaca sebuah syair Hazrat Hassan bin tsabit ra, lalu timbul hasrat pada diri saya ,”Seandainya syair ini keluar dari mulutku”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;‘Isyq artinya Ghalba e Muhabbat (kecintaan yang mengungguli). Muhabbat itu sendiri adalah sesuatu yang meliputi/menguasai jisim dan ruh. Sedangkan ‘Isyq membawanya melangkah lebih jauh ke depan, menzahirkan kekhasan dan tanda-tanda, lalu memberikan hasil.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Satu kekhasan dari muhabbat adalah manusia ingin terwarnai (tercelup) dalam warna sang kekasih, perangai dan kebiasaan sang kekasihlah yang digandrunginya, pada jalan sang kekasihlah dia ingin melangkah, keitaatan dan kesetiaan kepada sang kekasihlah yang dia inginkan dan demi sang kekasih dia rela terpisah dari wujudnya sendiri. Orang yang menzahirkan kecintaan kepada Hadhrat Rasul Maqbuul saw dengan untaian kalimat saja, tapi tidak menjadikan keitaatan dan kesetiaannya sebagai kebiasaan, pendakwaannya ini sama sekali tidak benar. Kapan saja kecintaan hakiki ini muncul, dia akan menghapus dan melenyapkan wujudnya didalam keitaatan dan kesetiaan dan tidak akan membiarkan sesuatu yang dibenci oleh sang kekasih tersisa didalam dirinya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Seolah-olah fanaa fil mahbub (fana dalam sang kekasih) adalah kekhasan pertama dari muhabbat. Tempat yang didalamnya tidak terdapat kekhasan seperti yang telah disebutkan tadi, berarti ditempat itu tidak terdapat muhabbat. Jika hanya sebatas kebesaran yang tidak mengandung kebenaran atau luapan angan-angan para penyair yang rapuh dan tidak disertai amal perbuatan, maka ucapan yang seperti itu tidak akan memberikan pengaruh dan juga tidak akan menciptakan revolusi pada diri orang yang mendengarnya. Tapi orang yang benar-benar mencintai sang sumber keindahan dan kebaikan, Hadhrat Muhammad Mustafa saw, setiap ucapan yang keluar Dari mulutnya, terucap setelah dia melenyapkan diri tenggelam dalam sumber mata air kecintaan yang suci bersih itu lalu turun kedalam hati dengan membawa warna dan aromanya, lalu menciptakan satu revolusi agung.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Satu kekhasan dalam kecintaan kepada Hazrat Rasulullah saw yakni mengenal kejuwitaan Huzur saw yang hakiki dan menzahirkannya kepada orang-lain. Keindahan-keindahan yang nampak dalam diri para pecinta adalah tersembunyi dari pandangan orang lain, karena itu kecintaan yang terdapat didalam dirinya pun tidak memilih coraknya yang shahih.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Satu tanda kecintaan beliau as terhadap Rasul saw adalah beliau as senantiasa diliputi oleh hasrat untuk selalu mengirimkan shalawat kepada junjunannya Hadhrat Rasulullah saw, sehingga Allah Ta’ala terus meninggikan derajat beliau as setinggi-tingginya. Hanya zat Tuhan lah yang memiliki sifat-sifat yang tidak terbatas sesuai dengan keadaan dan ukuran, selebihnya merupakan arena untuk meraih kemajuan yang terbentang luas bagi semua. Jadi, menghendaki kemajuan yang sebesar-besarnya bagi Rasulullah saw dan berdoa supaya Allah Ta’ala menyebarkan seluas-luasnya nur beliau saw di dunia ini dan menjauhkan kegelapan dunia dengan perantaraannya merupakan satu tanda kecintaan yang besar terhadap Rasulullah saw. Satu tanda kecintaan terhadap Rasulullah saw adalah, seorang pecinta sejati selalu berupaya untuk memajukan agama Beliau saw dan memberikan jawaban atas segala keberatan yang dilontarkan (berkenaan dengan agama Beliau saw-Pent) dan menyinari dunia dengan kebenaran Beliau saw. Dia tidak akan tinggal diam apabila zat yang memiliki keindahan dan kejuwitaan yang tak terhingga itu ditampilkan buruk. Para penentang Islam berupaya untuk mengotorinya. Seorang pecinta sejati selalu siap untuk mempersembahkan setiap pengorbanannya dalam mengkhidmati dan menjaga agama Islam, sekalipun harus mengorbankan segenap wujud dan jiwanya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tahapan terakhir dari ‘isyq adalah membawa kefanaan tadi sampai pada derajat dimana yang tampak dalam wujudnya hanyalah sang kekasih semata. Seolah-olah sang kekasih lah yang telah zahir untuk kedua kalinya dalam wujud atau perangainya, kedatangan sang kekasih telah menjadi kedatangannya, inilah yang dinamakan dengan buruz (bayangan)&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jika kita memperhatikan Hadhrat Masih Mau’ud as dari kelima sisi itu, maka akan nampak kepada kita bahwa Beliau as telah sampai pada derajat ‘isyq kepada Hazrat Rasulullah saw dan derajat itu telah menzahirkan kekhasan tersebut pada derajat yang sempurna. Para waliullah agung telah berlalu didalam umat ini, tapi yang hak adalah dalam hal kecintaan terhadap Hazrat Rasulullah saw, tidak ada orang yang bisa sampai pada tahapan dimana Hadhrat Masih Mau’ud as berada, tidak juga mendekatinya. Sampai-sampai “perwujudan” Rasulullah saw secara utuh zahir pada diri beliau as.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sekarang saya (penulis) akan uraikan dengan sangat rinci kekhasan itu dengan urutan tersebut, meskipun saya hanya bisa menjelaskan dalam kapasitas yang sangat terbatas dan singkat sesuai dengan kemampuan saya. Untuk menjelaskannya secara shahih diperlukan seorang ‘aasyiq (pecinta) Rasul saw. Sedangkan saya yang lemah ini tidak memiliki hakikat apa-apa.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Berikut ini kami sampaikan beberapa riwayat yang menggambarkan kecintaan Hazrat Masih Mau’ud as kepada Hazrat Rasulullah saw:”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;1. Dalam sebuah syair, Beliau as bersabda,” Setelah kepada Tuhan, selanjutnya aku mabuk dalam kecintaan yang mendalam kepada Muhammad Rasulullah saw. jika pada pandangan seseorang, rasa cintaku ini merupakan kekufuran, maka demi Tuhan, aku adalah manusia yang sangat kafir.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;2. Saya yang lemah (penulis buku ini) lahir dirumah kediaman Hazrat Masih Mau’ud as. Begitu besarnya anugerah ini sehingga lidah pun terasa berat untuk mengucapkan rasa syukur ini, bahkan yang hak adalah didalam hati pun saya tidak sempat berfikir untuk mengungkapkan rasa syukur ini. Tapi suatu hari saya harus mati dan menyerahkan jiwa ini kepada Tuhan. Demi sang penguasa samawi yang maha wujud dan melihat, aku katakan,” Aku tidak pernah menyaksikan satupun pemandangan dimana apabila disinggung perihal Hazrat Rasulullah saw, bahkan hanya disebut namanya saja, tapi pada mata Hazrat Masih Mau’ud as tidak mengalir air mata. Hati dan fikiran Beliau as, bahkan setiap pembuluh yang ada pada tubuh beliau penuh dengan ‘isyq (kecintaan) kepada junjunannya Hazrat sang penguasa dua alam (akhirat), wujud yang menjadi kebanggaan seluruh makhluk.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;3. Suatu ketika Hazrat Masih Mau’ud as berjalan sendiri di dalam mesjid kecil yang berdampingan dengan kediaman Beliau as, yang dinamakan dengan mesjid Mubarak. Beliau as bersenandung dengan suara yang sangat pelan, seiring dengan itu air mata terus mengalir dari mata beliau as. Pada saat itu seorang sahabat yang mukhlis datang dari arah luar dan mendengar senandung itu. Ternyata saat itu Beliau sedang melantunkan sebuah syair sahabat Rasulullah saw yang bernama Hazrat Hassaan bin tsabit yang pernah dibacakan oleh beliau ra pada saat kewafatan Rasulullah saw. Syair itu berbunyi:”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kuntas sawaada linnaaziriy fa’amiya ‘alaikan naaziru&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;man syaa’a ba’dakal yamut fa’alailka kuntu uhaadziru&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Artinya:” Ya Rasul Allah! Engkau adalah kornea mataku,&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;karena kewafatanmu hari ini, (mataku) menjadi buta.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sekarang, siapapun yang akan mati setelah engkau, matilah!&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Aku hanya takut dengan kematian engkau, yang benar-benar telah terjadi.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menurut penjelasan perawi, ketika saya melihat Hazrat Masih Mau’ud as menangis, pada saat itu beliau benar-benar sendiri, dengan rasa segan saya bertanya kepada Beliau as,” Hazrat! Apa yang telah terjadi? Apa yang telah membuat Huzur bersedih? Hazrat Masih Mau’ud as bersabda,” tadi saya sedang membaca sebuah syair Hazrat Hassan bin tsabit ra, lalu timbul hasrat pada diri saya ,”Seandainya syair ini keluar dari mulutku”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dunia mengetahui bahwa sekeras-kerasnya zaman pernah beliau as lewati, menyaksikan berbagai macam aral melintang, menahan setiap musibah yang menimpa, badai kesulitan telah beliau lalui, beliau as telah merasakan permusuhan dan himpitan dari para penentang yang sudah sampai pada puncaknya, akibatnya beliau pun terpaksa melewati berbagai persidangan atas tuduhan persekongkolan pembunuhan, beliau pun pernah menyaksikan pemandangan kematian anak-anak, kerabat, sahabat, dan orang-orang yang dicintai , tapi beliau tidak pernah menangis dengan gejolak rasa haru yang seperti ini, tapi ketika didalam kesendirian, beliau mengingat syair cinta yang menceritakan tentang kewafatan junjunan beliau, Hazrat Rasul maqbul saw (padahal kewafatannya pun telah berlalu 1300 tahun yang lalu) lalu pada mata beliau seperti layaknya banjir yang mengalir dan dipenuh dengan penyesalan yang meluap keluar, ”Seandainya syair ini keluar dari mulutku” Dengan peristiwa ini, janganlah beranggapan bahwa dalam penzahiran syair Hazrat Hassan tentang kecintaan terhadap Rasul saw ini lebih unggul dari kalam-kalam lainnya, melainkan disebabkan karena kesempurnaan rasa cinta Hazrat Masih Mau’ud as kepada Rasulullah saw, dalam setiap kesempatan penzahiran kecintaan yang luar biasa, dalam hati beliau as selalu timbul keinginan ”Seandainya syair ini keluar dari mulutku”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dunia mengetahui bahwa sekeras-kerasnya zaman pernah menghampiri Hazrat Masih Mau’ud as, menyaksikan berbagai macam aral melintang, menahan segala jenis musibah, badai kesulitan telah beliau lalui, beliau telah merasakan permusuhan dan himpitan yang sudah sampai pada puncaknya dari para penentang, sampai-sampai beliau pun terpaksa melewati berbagai persidangan atas tuduhan pembunuhan, beliau pun pernah menyaksikan pemandangan kematian anaanak, kerabat, sahabat, dan orang-orang yang dicintai , tapi mata beliau tidak pernah memata-matai gejolak hati beliau (menangis), tapi ketika mengingat syair cinta dalam kesendirian berkenaan dengan kewafatan junjunan beliau, Hazrat Rasul maqbul saw (padahal kewafatannya pun telah berlalu 1300 tahun yang lalu) pada mata beliau seperti layaknya banjir yang mengalir dan hasrat penyesalan beliau yang penuh ini meluap keluar. ”Seandainya syair ini keluar dari mulutku” Dengan peristiwa ini, janganlah beranggapan bahwa dalam penzahiran syair Hazrat Hassan tentang kecintaan terhadap Rasul saw ini lebih unggul dari kalam-kalam lainnya, melainkan disebabkan karena kesempurnaan rasa cinta Hazrat Masih Mau’ud as terhadap rasul saw, dalam setiap kesempatan penzahiran kecintaan yang luar biasa, dalam hati beliau as selalu timbul keinginan ”Seandainya syair ini keluar dari mulutku”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;4. Di Qadian ada seorang yang bernama Muhammad Abdullah. Orang memanggilnya dengan sebutan professor. Beliau tidak terlalu terpelajar, tapi sangat mukhlis dan untuk mencari sesuap nasi beliau sering mempertunjukan gambar-gambar berbagai macam pemandangan kepada anak-anak yang masih kecil, Tapi terkadang beliau kehilangan kontrol dalam menjaga emosinya. Suatu ketika dalam majlis dengan Hazrat Masih Mau’ud as, ada seseorag yang menceritakan bahwa seorang penentang di suatu tempat berkata-kata kasar perihal Hazrat Masih Mau’ud as dan melontarkan cacian kepada Huzur. Professor Shahib naik pitam dan berkata,”Jika saat itu saya ada, aku akan pecahkan kepalanya. Secara spontan Hazrat Masih Mau’ud as bersabda,” Tidak, tidak, jangan begitu ajaran kita adalah ajaran sabar dan kelembutan. Saat itu professor shahib bertambah emosi, dengan gejolak emosi berkata,” Ah Shahib! Memangnya kenapa? Jika ada orang yang menghina junjunan tuan (yakni Hazrat Rasulullah saw) maka dengan spontan tuan siap untuk mengirimnya ke jahannam dengan menantangnya bermubahalah. Tapi tuan mengatakan kepada kami jika ada orang yang mencaci tuan dihadapan kami, maka sabarlah! Ini adalah kekeliruan professor shahib saat itu. Siapa yang memiliki kesabaran melebihi kesabaran Hazrat Masih Mau’ud as? Siapa yang ingin melakukannya? Tapi dalam peristiwa singkat ini, terlihat penampakan kecintaan kepada Rasul dan ghairat akan kehormatan Rasul saw, yang jarang kita jumpai permisalannya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;5. Siapa yang tidak mengenal Pandit Lekhram? Dia adalah seorang pemimpin besar sekte Hindu Arya Samaj dan juga seorang musuh Islam yang sangat licik. Lidahnya bergerak seperti gunting dan memotong seperti pisau dalam menentang Islam dan pendiri Islam yang suci (Hazrat Rasulullah saw). Seumur hidupnya, dia tidak pernah lelah untuk menentang Hazrat Masih Mau’ud as dan melontarkan cacian yang sekotor-kotornya kepada Islam dan pendirinya suci, tapi dalam setiap kesempatan Hazrat Masih Mau’ud as selalu memberikan jawaban-jawaban yang jitu (atas keberatan-keberatan yang dia sampaikan) yang selalu membuatnya bungkam seribu bahasa. Tapi orang ini tidak pernah berhenti. Pada akhirnya, pertarungan Hazrat Masih Mau’ud dengan Pandit Lekhram ini berakhir dengan satu tantangan mubahalah dari Hazrat Masih Mau’ud as yang akibatnya sang Pandit meninggal dunia dengan membawa ribuan kedengkian didalam dadanya setelah melihat kemajuan Hazrat Masih Mau’ud as yang sangat gemilang. Satu peristiwa berkenaan dengan Pandit Lekhram. Suatu ketika Hazrat Masih Mau’ud dalam safar, sedang menunggu kereta api di sebuah stasiun, pandit Lekhram pun lewat ditempat yang sama dan mengetahui bahwa Hazrat Masih Mau’ud as sedang berada di tempat tersebut. Dengan licik dan didorong bara api kebencian didalam dirinya dia datang kehadapan Hazrat Masih Mau’ud as. Pada saat itu Huzur as sedang berwudlu untuk mendirikan shalat. Pandit Lehram muncul di hadapan Beliau as menyampaikan salam dengan cara Hindu, tapi Hazrat Masih Mau’ud as tidak menjawab sepatah kata pun. Seolah-olah beliau as tidak melihatnya. Setelah itu sang Pandit berpindah ke posisi lain untuk menyampaikan salamnya yang kedua kali, tapi Hazrat Masih Mau’ud as tetap terdiam, lalu sang Pandit putus asa dan pergi kembali. Seseorang berfikir, mungkin Hazrat Masih Mau’ud as tidak mendengar ucapan salam Pandit Lekhram, dia bertanya kepada Huzur as,”Tadi ada pandit Lekhram dan menyampaikan salam kepada Huzur” Dengan penuh ghairat Hazrat Masih Mau’ud as bersabda,” Dia telah melontarkan banyak cacian kepada junjunan saya (Hazrat Rasulullah saw), disisi lain menyampaikan salam kepada kami!!!?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;6. Peristiwa serupa, jalsah Lahore yang bertempat di daerah wucchu wali. Golongan Arya mengadakan sebuah jalsah (acara) di Lahore yang sekaligus mengundang berbagai agama dan firqah untuk ikut serta didalamnya dan meminta Hazrat Masih Mau’ud untuk menulis dan menyampaikan satu topik dalam kesempatan jalsah Internasional tersebut dan juga mereka berjanji tidak akan menyampaikan hal-hal yang bertentangan dengan kesopanan dan memojokkan suatu agama. Dalam menindak lanjuti undangan tersebut, Hazrat Masih Mau’ud as mengutus sahabatnya yang terpilih, Hazrat Maulwi Nuruddin Shahib yang dikemudian hari menjadi Khalifah pertama, bersama dengan banyak sekali anggota jemaat ke Lahore dengan membawa sebuah karya tulis beliau as yang didalamnya dijelaskan dengan sangat menarik berkenaan dengan “Keindahan-keindahan Islam” yang penuh dengan kejuwitaan.Tapi ketika tiba giliran kelompok Hindu Arya untuk membacakan karya tulisnya, seorang hamba Tuhan telah melupakan janji-janji kaumnya dan justru sebaliknya, melontarkan cacian kotor untuk menentang Rasul suci saw dan begitu kotornya cacian yang dituduhkan, astaghfirullah. Ketika Hazrat Masih Mau’ud mengetahui perihal program yang telah berlangsung didalam jalsah tersebut, sepulangnya tim perwakilan Jemaat ke Qadian, beliau as sangat marah kepada hazrat maulwi Nuruddin ra dan para ahmadi lainnya, dengan kemarahan yang berkecamuk, berkali-kali Beliau as mmengatakan,” Kenapa kalian tetap duduk di dalam majlis yang didalamnya Rasulullah saw di caci maki dan dihina”? Kenapa tidak spontan pergi dari majlis tersebut? Bagaimana ghairat kalian bisa tahan, duduk terdiam dan mendengarkan junjunan kalian (Rasulullah saw) dicaci maki? Kemudian dengan penuh suara lantang beliau as membaca ayat Al- Qur’an yang berbunyi :”Idza sami’tum aayaatillaahi yukfaru bihaa wa yustahza’u bihaa falaa taq’uduw ma’ahum hattaa yakhuudluu fii hadiitsin ghairihii&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Artinya:” Wahai orang-orang mukmin! Jika kalian mendengar tanda-tanda Tuhan diingkari secara zalim dan dijadikan bahan tertawaan, maka bangkitlah kalian dari majlis-majlis yang seperti itu sampai mereka memilih bahan pembicaraan lain yang beradab.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Hazrat Maulwi Nuruddin juga berada dalam majlis itu, setelah mendengar sabda Hazrat Masih Mau’ud as tersebut beliau ra tertunduk malu dan penuh dengan penyesalan, bahkan setelah mendengarkan sabda Hazrat Masih Mau’ud as yang sangat menggugah tersebut, seluruh hadirin yang hadir merasa malu dan diliputi rasa penyesalan yang dalam.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;7. sebagian besar sahabat mengenal Almarhum Khan Bahadur Mirza Sultan Ahmad Shahib. Beliau adalah putra tertua Hazrat Masih Mau’ud as yang lahir dari perut istri pertama Beliau as, beliau seorang pensiunan pegawai dapti komissioner (jabatan pemerintahan di india) dan memiliki pengalaman yang sangat luas dalam segala hal. Selama Hazrat Masih Mau’ud as hidup, beliau tidak pernah baiat kepada beliau as, bahkan hidup memisahkan diri dari Huzur as dan berkomitmen untuk menjadi penentang yang berasal dari keluarga (Hz Masih Mau’ud), meskipun beliau baiat masuk ke dalam jemaat pada zaman Hazrat Khalifatul masih Tsani. Begitulah akhirnya, beliau menggenapi kami tiga bersaudara menjadi empat. Singkat cerita, ketika Khan Bahadur Miirza Sultan Ahmad masih berstatus ghair ahmadi. Suatu ketika terfikir oleh saya untuk sedikit bertanya kepada beliau (Khan Bahadur Miirza Sultan Ahmad) berkenaan dengan akhlak dan kebiasaan Hazrat Masih Mau’ud as pada zaman permulaan. Atas pertanyaan saya, beliau menjawab:”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;“ Saya melihat sesuatu yang khas dalam diri ayah saya (Hazrat Masih Mau’ud as) yakni, Beliau tidak akan tinggal diam apabila ada orang yang menentang Hazrat Rasulullah saw, sekalipun perihal yang sepele. Jika ada orang yang mengatakan sesuatu yang menentang keluhuran Hazrat Rasulullah saw, sekalipun itu hal yang biasa, maka wajah ayah menjadi memerah dan mata beliau mulai berubah karena diliputi amarah lalu beliau segera meninggalkan majlis yang seperti itu. Ayah saya sangat mencintai Rasulullah saw dan saya belum pernah melihat kecintaan yang seperti itu pada diri orang lain. Mirza Sultan Ahmad Shahib selalu mengulang-ulang hal tersebut”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Ini adalah kesaksian orang yang tidak pernah baiat kepada beliau as, yang telah melihat kehidupan Hazrat Masih Mau’ud dari semenjak beliau as masih remaja sampai akhir hayatnya. Orang (Mirza Sultan Ahmad Shahib ) yang telah wafat pada usia 80 tahun, yang disebabkan karena pergaulannya yang sangat luas, dengan jabatan yang terhormat, jasa-jasa pengkhidmatannya yang mulia dan hubungan sosialnya dengan yakni bisa mengatakan:”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Yang artinya :” bahwa di dunia ini saya telah berhubungan dengan berbagai tipe karakter manusia”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tapi dalam kehidupan Hazrat Masih Mau’ud as, meskipun seorang ghair ahmadi, dari kesaksian (dalam pergaulan) seumur hidupnya, selain mengatakan hal ini tidak ada kesimpulan lain yakni:”Ayah sangat mencintai Hazrat Rasulullah saw dan saya belum pernah melihat kecintaan yang seperti itu pada diri orang lain”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;8. Suatu hari terjadi perbincangan didalam lingkungan keluarga Hazrat Masih Mau’ud as. Saat itu karena sakit, beliau as berbaring diatas carpaiy (ranjang dari kayu dan untaian tali di India) di rumah beliau as. Hazrat Amma Jaan nawwarallaahu marqadaha dan kakek beliau as dari pihak ibu yang bernama Almarhum Hazrat Mir Nasir Nawab Shahib sedang duduk-duduk disana. Mulailah perbincangan mengenai ibadah haji. Sang kakek mengatakan :”Saat ini banyak kemudahan untuk melaksanakan ibadah haji, kita hendaknya pergi menunaikan ibadah haji. Seketika teringat dibenak Hazrat Masih Mau’ud untuk ziarat ke haramain syarifain (tanah suci), mata beliau as berlinang penuh dengan air mata, sehingga berkali-kali beliau as mengeringkan air mata dengan jari tangan. Setelah mendengar perkataan sang kakek, beliau as bersabda,” Memang sebaiknya demikian dan kami pun berkeinginan untuk itu. Tapi saya selalu berfikir “Apakah saya akan mampu (tahan) melihat makam Hazrat Rasulullah saw”?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;9. Disebabkan oleh kecintaan kepada Hazrat Rasulullah saw, beliau as pun sangat mencintai keluarga, putra-puteri dan sahabat-sahabat beliau. Sebagaimana, ketika tiba bulan muharram, saat itu hazrat Masih Mau’ud sedang berbaring pada carpaiy (ranjang yang terbuat dari kayu dan untaian tali), lalu beliau as memanggil kakak ipar kami Mubarakah Begum sallamaha, saudara kami dan putra yang paling bungsu Almarhum Mubarak Ahmad, lalu beliau as bersabda,” Marilah! Aku ceritakan pada kalian peristiwa yang terjadi pada bulan muharram! Kemudian dengan penuh rasa haru beliau as menceritakan peristiwa syahidnya Hazrat Imam Husain ra dan terus menceritakannya. Seiring jalannya cerita, air mata pun tak berhenti menetes dari mata beliau as, sehingga beliau as terus mengeringkan air mata dengan jari-jari beliau. Setelah selesai menceritakan peristiwa yang mengharukan itu, sambil bergetar beliau as bersabda,” Si Yazid yang jahatlah yang telah merencanakan kezaliman kepada cucu nabi karim saw itu. Tapi dengan cepatnya Tuhan telah mengazab orang-orang yang zalim itu. Saat itu beliau as diliputi oleh suasana yang aneh dan setelah mengingat peristiwa syahidnya belahan jiwa junjunan Nabi Karim saw yang sangat mengiris hati itu, disebabkan oleh kecintaan yang mendalam kepada Rasul suci saw, hati beliau as dicekam oleh rasa gundah. Sebagaimana beliau mengungkapkan isi hati beliau sendiri kepada hazrat Rasulullah saw yang dituangkan dalam satu syair, yang berbunyi:”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Demi wajah engkau, ahmadku yang tercinta&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Demi engkau, kami mennanggung semua ini berkali-kali&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Setiap zarrah mati karena dipenuhi dengan kecintaan kepadamu&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kami telah menyemaikan sebuah kota didalam dada kami&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;10. buah dari rasa cinta yang mendalam Hazrat Masih Mau’ud as kepada junjunan sang junjunan saw adalah setiap syair puji sanjungan yang beliau as tulis untuk melukiskan kebesaran hazrat Rasulullah saw seperti halnya sarang madu, disebabkan karena berlimpahnya madu didalam sarang tersebut, sehingga meluap dan meneteskan tetesan madu yang bisa mensucikan. Sebagaimana beliau tuangkan dalam satu syair berbahasa farsi yang beliau lukiskan dalam curahan hati yang sangat romantis, artinya:”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tuhan telah melimpatkan nur yang ajaib dalam wujud Muhammad saw, telinga beliau yang berberkat telah dipenuhi dengan perhiasan yang sangat istimewa. Wahai orang-orang yang ingkar! Jika kalian menginginkan bukti dalil untuk kebenaran Muhammad saw, sangatlah banyak. Tapi sebagai jalan pintas, “masuklah” kedalam para pecintanya! Karena dalil yang paling besar untuk kebenaran Muhammad adalah wujud Muhammad itu sendiri. Demi Allah! Jika seandainya aku di iris-iris pada jalan engkau lalu potongan-potongan tubuhku dibakar dan dijadikan debu, maka tetap saja aku tidak akan pernah memalingkan wajah dari pintumu. Wahai jiwanya Muhammad! Aku korbankan jiwaku demi engkau. Engkau telah menyinari perhiasanku dengan kecintaanmu.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;11. Begitu juga dalam sebuah syair berbahasa arab, beliau as melukiskan perasaannya kepada Rasulullah saw, sebagai berikut:”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Unzur ilayya birohmatin wa tahannunin&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Yaa sayyidiy ana ahqarul ghilmaan&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Yaa hibbi innaka qad dakholta mahabbatan&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Fii muhjatiy wa madaarikiy wa janaanii&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Min zikri wajhika yaa hadiiqata bahjatiy&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Lam akhlu fii lahzin wa laa fii aan&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jismiy yatliiru ilaika min syauqin ‘alaa&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Yaa laita kaanat quwwatut tloyaraanii&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Artinya:” Wahai junjunanku! Lihatlah padaku dengan penuh kasih sayang&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Aku abdimu yang paling hina&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Wahai orang yang kucintai! Kaulah yang telah menyerapkan cinta&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kedalam jiwa ragaku dan sukmaku&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Wahai kebun hatiku, aku selamanya ingat kepadamu&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sesaatpun aku tak pernah melupakanmu&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jasadku ingin terbang kepadamu karena teramat rindunya&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Wahai, aku tak berdaya untuk terbang&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Bagaimana luapan gejolak rasa cinta, kerinduan, rintihan dan pengorbanan yang nampak pada diri Hazrat Masih Mau’ud kepada Hazrat Rasulullah saw dalam syair ini, tidak memerlukan penjelasan lagi. Semoga para pemuda-pemudi ahmadi kita berupaya untuk menggugah hatinya dengan percikan api kecintaan ini dan juga semoga saudara-saudara ghair ahmadi kita bisa mengenal ketinggian wujud agung ini, yang berkenaan dengan itu, junjunan dan panutan kita Hazrat Khataman nabiyyiin saw bersabda:”&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Yudfanu ma’iya fii qabriy&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Artinya:” aku dan Al-masih yang akan datang akan memiliki banyak kesamaan dan ikatan yang begitu dalam sehingga setelah kewafatannya, ruhnya akan dikuburkan beserta ruhku.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;12. Buah yang akan diraih dari ‘isyq (kecintaan) pasti selalu zahir dalam bentuk pengorbanan, (fidaiyat) kerinduan dan ghairat. Semua gejolak perasaan ini kita jumpai dalam diri Hazrat Masih Mau’ud as pada derajat yang sempurna. Suatu ketika beliau as menjelaskan berkenaan dengan keberatan-keberatan yang penuh kedustaan dan kekotoran yang dilontarkan oleh para pendeta Kristen kepada zat dan sifat-sifat Hazrat saw. Beliau as bersabda:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;“Para missionary Kristen melontarkan banyak sekali tuduhan palsu untuk menentang Rasul kita saw dan dengan perantaraan kedustaan ini mereka menyesatkan banyak sekali umat manusia. Tidak pernah sesuatu benda melukai hatiku seperti halnya olok-olokan dan caci makian mereka yang terus dilontarkan untuk (merendahkan-pent) keagungan Rasul suci saw. Kezaliman, laknat dan cacian yang mereka lontarkan kepada zat dan sifat-sifat Hazrat Khairul Bashar (manusia yang terbaik) sangat melukai hatiku. Demi Tuhan! Jika seandainya seluruh anak keturunanku, sahabat-sahabat dan para asisten dan pegawaiku (mu’awin madadgaar) dibunuh didepan mataku, tangan kakiku juga dipotong, bola mataku dicungkil, lalu semua yang menjadi maksud dan tujuanku di mahrumkan dariku, dan semua kebahagiaan dan ketentramanku dilenyapkan, maka semua hal ini tidak akan lebih menyedihkan bagiku dibandingkan dengan luka hati pada saat Rasul Akram saw dihujani dengan kekotoran seperti itu. Walhasil, wahai junjunan samawiku! Pandanglah kami dengan pandangan rahmat dan pertolongan dan selamatkanlah kami dari ujian yang sangat berat ini.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;13. Begitu juga pada kesempatan lain Beliau as menjelaskan berkenaan dengan keberkatan dan kesucian Hazrat Rasulullah saw:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;“Begitu banyaknya saya yang lemah ini mengirim shalawat kepada Hazrat Rasulullah saw pada suatu malam, sehingga hati dan jiwaku menjadi wangi karenanya. Pada malam itu juga aku melihat dalam mimpi, para malaikat datang ke rumah saya dengan membawa kantong yang berisikan nur dalam wujud air suci yang menyembuhkan. Salah seorang dari antara malaikat berkata kepadaku:” Inilah keberkatan-keberkatan yang telah engkau kirimkan kepada Muhammad saw”.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Maksudnya adalah begitu mendalamnya kecintaan Hazrat Masih Mau’ud as kepada Hazrat Rasulullah saw, sehingga tidak akan kita jumpai permisalannya. Jiwa beliau benar-benar menjadi halus lembut dalam kecintaan ini. Kami telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mendengar dengan telinga kami, merasakan dengan perasaan lahir dan batin bahwa beliau selalu mengorbankan setiap zarrah-zarrah yang terdapat dalam diri beliau as demi Muhammad, Tuhannya Muhammad dan agama Muhammad saw.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Penerjemah: Mahmud Ahmad Wardi&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Penulis: Mukarram Mirza Abdul haqq Shahib advokat, Amir Daerah, Nazir Da’wat o Tabligh Sadr Anjuman Ahmadiyah Qadian Punjab, India&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kutipan dari Buku Berbahasa urdu yang berjudul:1. Kecintaan Hazrat Masih Mau’ud as Kepada Hazrat Rasulullah saw 2. Kecintaan Hazrat Masih Mau’ud as Kepada Hazrat Rasulullah saw yang disampaikan pada kesempatan Jalsah Salanah Qadian Januari 1967&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi45dU8OSDjiQ-HxeHlvL5jY0X4QP1jCZpwkikU03FuH8-yWET8_Lq0nTx0e4Yd4a3NwXkZwKMNx_Oy9cirjaIEOqJnjORZn8gdY138ODNh9pVd_VHN26obG99ssaLEufnnvEhuS3wh97I/s72-c/mirza%252Babdul%252Bhaq%252Bshahib.jpg" width="72"/></item><item><title>Dosa Hakiki Menurut Syariat Islam</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2010/07/dosa-hakiki-menurut-syariat-islam.html</link><category>Artikel</category><category>Hz Khalifatul Masih Ats Tsani r.a</category><category>Tafsir Kabir</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Tue, 13 Jul 2010 18:14:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-2124091455893549138</guid><description>&lt;div style="background-image: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial; background-color: rgb(239, 251, 251); text-align: justify; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; "&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNieGVFB1CcsD2jNtJocRXIvF7yts1axcKlOnoHmNoHcKlVUbfLCePi3Dt0hhgGD-Xjdw_VGWQWYvqMK9TL4YWfGxZJoenCeUAZC1J1_HIPFkAOUePvwIcL7xsn39fsfhPrdzzBVxR9TQ/s1600/Muslih+Mau%2527ud.jpg" style="font-size: 100%; "&gt;&lt;img style="text-align: left;float: left; margin-top: 0px; margin-right: 10px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; cursor: pointer; width: 101px; height: 150px; " src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNieGVFB1CcsD2jNtJocRXIvF7yts1axcKlOnoHmNoHcKlVUbfLCePi3Dt0hhgGD-Xjdw_VGWQWYvqMK9TL4YWfGxZJoenCeUAZC1J1_HIPFkAOUePvwIcL7xsn39fsfhPrdzzBVxR9TQ/s320/Muslih+Mau%2527ud.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575062794659746674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dalam menafsirkan surat Yunus, ayat 7-8 yang artinya:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-size: 100%; "&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami dan telah merasa senang dan puas dengan kehidupan dunia ini dan orang-orang yang lalai terhadap tanda-tanda Kami. Mereka itulah yang tempat tinggalnya api disebabkan apa yang selalu mereka usahakan (Yunus:7-8)&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Hazrat Muslih Mau’ud ra bersabda,” ...Point ketiga yang harus diingat dalam ayat ini adalah didalamnya dijelaskan secara halus berkenaan dengan hakikat dosa dan hukuman. Perihal dosa, Allah Ta’ala berfirman bahwa dosa hakiki yang akan mendapatkan hukuman adalah dosa yang maksub (dikerjakan/dilakukan). Seperti yang sudah terbukti dari lughat, Arti dari kasaba adalah “mengumpulkan” dan “ dengan sengaja melakukannya”. Jadi dari kata kasaba mengisyarahkan kepada dua hal yaitu, pertama, orang yang berdosa adalah secara sengaja terjatuh kedalam kekotoran dosa. Apabila manusia melakukan satu perbuatan buruk secara tidak sengaja atau karena lupa, yang demikian bukanlah dosa hakiki dan menurut istilah syariat Islam, orang yang seperti itu tidak dkategorikan sebagai pendosa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Yang kedua mengisyarahkan bahwa seseorang akan dipastikan sebagai pendosa jika dia mengumpulkan dosa yakni secara terus menerus terjerumus di dalam dosa-dosa. Jika tidak terus-menerus melakukan dosa, yakni meskipun manusia melakukannya secara sengaja tapi setelah itu dia merasa malu lalu meninggalkannya dan bertaubat, maka orang yang seperti itu bukanlah pendosa, karena “mengumpulkan” pun termasuk kedalam makna kasaba dan kata tersebut juga mengisyarahkan kepada keberlanjutan (terus menerus). Walhasil dari sisi makna-makna tersebut, menurut syariat islam pendosa yang layak untuk mendapatkan hukuman adalah orang yang secara sengaja melakukan perbuatan dosa dan setelah itu dia tidak bertaubat.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sebagaimana pada ayat yang lainnya, yang artinya:&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;orang-orang yang terhindar dari dosa-dosa besar dan aib yang nyata. Kecuali setelah terjerumus dia meninggalkannya (Allah Ta’ala akan membalas mereka). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya (An Najm:32)&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Allah Ta’ala menjelaskan berkenaan dengan hukuman yakni, ma’waahumun naaro, ma’wa (tempat tinggal) mereka nanti adalah api. Seperti yang telah dijelaskan bahwa ma’wa adalah tempat untuk berlindung dan tempat yang dihuni manusia. Sangatlah mengherankan, karena dalam ayat ini api ditetapkan sebagai tempat berlindung dan tempat tinggal, tapi dengan sedikit merenungkan akan bisa difahami, bahwa dalam ayat ini dijelaskan mengenai hakikat hukuman Ilahi. Allah Ta’ala menghukum manusia tidaklah bertujuan untuk menyakiti/menyusahkan, melainkan sebagai proses penyembuhan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sebagaimana halnya manusia tidak menyukai sulitnya proses pengobatan, tapi pada akhirnya dia akan menganggap hal itu dilakukan demi kebaikan dirinya lalu menerimanya. Begitu juga ketika hakikat azab telah dibukakan sepenuhnya kepada seorang pendosa, maka dia akan menganggap api yang didalamnya dia akan dimasukkan itu sebagai ma’wa (tempat tinggalnya) yakni azab yang hakiki menjadi sarana untuk mendapatkan najat sekalipun menyebabkan kemarahan Allah Ta’ala dan menciptakan jarak dengan-Nya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jadi dengan menggunakan kata ma’wa, menjelaskan bahwa azab bukanlah sarana untuk menjerumuskan (manusia-Pent) ke dalam malapetaka, melainkan sarana untuk mensucikan dan hanya itulah yang menjadi sarana untuk mendapatkan najat dan kesucian. Kenapa azab ukhrawi disebut dengan naar, karena dunia merupakan kumpulan dua penzahiran nari dan nuri. Ikatan dengan Allah Ta’ala membawa manusia kepada nur yang memberikan penyejuk dan kebahagiaan. Sedangkan tunduk kepada dunia akan membawa manusia kepada naar. Karena keburukan adalah api. orang yang memilihnya (api), maka tempat yang serupa jugalah yang telah dipilihkan baginya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;(Penerjemah:Mahmud Ahmad Wardi)&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 100%;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;(Tafsir Kabir jilid III,Hal. 32-33)&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNieGVFB1CcsD2jNtJocRXIvF7yts1axcKlOnoHmNoHcKlVUbfLCePi3Dt0hhgGD-Xjdw_VGWQWYvqMK9TL4YWfGxZJoenCeUAZC1J1_HIPFkAOUePvwIcL7xsn39fsfhPrdzzBVxR9TQ/s72-c/Muslih+Mau%2527ud.jpg" width="72"/></item><item><title>Tradisi-Tradisi Buruk Dalam Pernikahan Bagian II</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2010/06/tradisi-tradisi-buruk-yang-berhubungan.html</link><category>Al Fazl</category><category>Artikel</category><category>Kumpulan Sabda</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Wed, 9 Jun 2010 23:13:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-6725812936313562859</guid><description>&lt;div style="background: rgb(33, 58, 84) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous; text-align: justify; font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUxEjjpTjV-YfCnwAbQz44cop_w54gskUj1onIjPJYJdOxG5BzXyx94xOBRlHVuwu_hl8IsP5j91k94euNxCteR1iOpD5zdMstvq8XzgzAlXnO7iLtHsrh9RZyqvASgp9I3uhHrbeaF18/s1600/wedding+3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 122px; height: 115px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUxEjjpTjV-YfCnwAbQz44cop_w54gskUj1onIjPJYJdOxG5BzXyx94xOBRlHVuwu_hl8IsP5j91k94euNxCteR1iOpD5zdMstvq8XzgzAlXnO7iLtHsrh9RZyqvASgp9I3uhHrbeaF18/s320/wedding+3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481403764288171074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255); font-weight: bold;"&gt;Hanya Memperhatikan Ketaqwaan Ketika memilih Pasangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div  style="background: rgb(33, 58, 84) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous; text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);font-size:100%;"&gt;Hazrat Aqdas Masih Mau’ud as bersabda:” Satu lagi tradisi buruk dalam kaum kita, yakni tidak mau menjodohkan puterinya dengan kaum lain, bahkan sebisa mungkin mereka pun tidak mau mencari jodoh dari antara mereka (kaum lain). Ini jelas-jelas merupakan cara-cara yang takabbur dan sombong yang sangat bertentangan dengan hukum syariat. Setiap bani adam adalah hamba Allah Ta’ala. Dalam masalah perjodohan hendaknya diperhatikan, dengan siapapun puteri kita dijodohkan dia adalah seorang pria yang akhlak dan keadaannya baik dan tidak terperangkap dalam suatu masalah yang bisa menimbulkan fitnah. Hendaknya diingat, bahwa dalam agama yang hak, sedikitpun tidak memandang suku bangsa, melainkan semata-mata hanya melihat ketakwaan dan akhlak yang baik. Allah Ta’ala berfirman … “Orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah Ta’ala adalah orang yang paling bertakwa (Fatawa Ahmadiyah Hal. 8 dengan referensi fatawa Hazrat Masih Mau’ud as hal.144-145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keengganan Untuk Menjodohkan Anak Dengan Pria Yang Telah Beristri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hazrat Aqdas Masih mau’ud as bersabda:” Pada saat mengikat tali perjodohan, setelah sepakat untuk menjodohkan puterinya dengan pria manapun, sebagian orang bodoh selalu terlebih dahulu bertanya, apakah masih beristri atau tidak? Jika pria tersebut masih beristri, maka mereka menolak mentah-mentah untuk menikahkan dengan pria semacam itu. Hendaknya diingat bahwa orang-orang yang seperti itu hanya statusnya saja, padahal di satu sisi mereka adalah para istri yang menolong  para istri yang marah/tidak rela akan pernikahan kedua suaminya (dengan merelakan suaminya menikah lagi). Jadi mereka pun hendaknya takut kepada Allah Ta’ala. (Fatawa Ahmadiyah Jld 2 Hal. 8-9  dengan referensi fatawa Hazrat Masih Mau’ud as hal. 145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melamar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hazrat Aqdas Masih Mau’ud as bersabda:” Pelamaran diadakan untuk bisa mengetahui segala kebaikan dan keburukan. Pelamaran bukanlah pernikahan yang apabila dibatalkan akan berbuntut dosa (Malfuzat jld. 5 Hal.231)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memboros-boroskan Harta Kekayaan Seperti Halnya Debu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hazrat Khalifatul Masih Ar-Rabi bersabda:” Banyak sekali orang kaya yang bertingkah secara berlebihan pada saat perkawinan, sehingga setelah melihatnya pasti akan timbul rasa jijik, sudah seharusnya mereka dikasihani. Hazrat Masih Mau’ud as telah membersihkan segala hal yang sia-sia dari dalam diri kita, lalu mengajak kita kepada cahaya. Dengan meniru-niru, mereka ingin mengulangi segala hal. Saya mendapatkan informasi, band musik dan hal-hal sia-sia yang menghabiskan banyak biayapun diadakan. Mereka memboros-boroskan uang seperti halnya debu yang dihamburkan. Tidak ada sama sekali penghargaan terhadapnya. Mereka tidak berfikir bahwa Qur’an Karim telah memberitahukan bahwa sebagian pengeluaran harta tidak akan memberikan manfaat, justru malah menyebabkan kerugian bagi kalian. Difirmankan bahwa orang yang merusak rezekinya seperi itu adalah saudaranya syaitan. Apakah cara-cara perkawinan yang mereka rayakan itu bisa menghilangkan keburukan atau tidak, tapi tabiat mengatakan bahwa (amalan) ini sudah terkeluar dari kebiasaan jemaat Ahmadiyah dan termasuk kedalam kebiasaan orang-orang duniawi. Sekarang, jika diperingatkan, lantas mereka marah, (dan mengatakan) :”kalian ini siapa? Apa maksudnya bahwa dalam segala hal ada peraturannya, Apa itu nizam jemaat? Dikatakan ataupun tidak, didalam hatinya mereka berfikir bahwa siapa yang akan melarang kami (untuk melakukan itu)? Biarkan kami melakukannya. Mereka telah memisahkan dunia mereka, berkata:” Kenapa kalian iri? Kalian hendaknya bersyukur! Allah tidak menciptakan dunia ini untuk menjadi milik kalian. Walhasil, yang hak adalah nasihatilah mereka sesering mungkin supaya takut kepada Allah, janganlah menghambur-hamburkan uang seperti itu, jangan mengada-adakan tradisi-tradisi baru (Harian Al Fazl 19 Juli 2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perbedaan Dalam Alam Pernikahan Dan Kematian&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hazrat Khalifatul Masih Ar Rabi bersabda:” Tugas kita adalah tugas yang agung. Dalam merayakan kebahagiaan, hendaknya kita mengamalkan kesederhanaan dan seimbang (sesuai dengan keadaan). Tidaklah alam kematian dan kebahagiaan berada disatu alam yang sama, (sehingga bertanya) sedang ada kematian atau merayakan pernikahankah? Sehingga orang-orang tidak mengetahui, kenapa terpasang tenda. Kebahagiaan itu berbicara. Dalam kebahagiaan timbul satu nyanyian, yang didengar dan dilihat suaranya oleh orang-orang. Didalamnya terdapat satu corak dan aroma yang sedap. Inilah hal-hal yang ketika berada dalam kesedihan, jika mengupayakan kondisi lain, maka selalu menjadi tangisan. Perbedaan inilah yang harus dijaga dalam hidup bermasyarakat. (Roznamah Al Fazl 19 Juli 2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tari-tarian, lagu-lagu dan Dansa Pada Saat Pernikahan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Mukmin yang sempurna adalah orang yang menghindari hal-hal yang laghou (Al Mu’min:4)&lt;br /&gt;Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan Perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan (Luqman :7)&lt;br /&gt;Hazrat Masih Mau’ud as bersabda:” Saat ini diperbolehkan untuk mengumumkan perkawinan dengan dif (alat tabuh kecil), tapi jika didalamnya dicampur adukkan dengan tari-tarian dan lain-lain, maka itu dilarang (Malfuzat Jld. V, Hal. 355)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hazrat Muslih Mau’ud bersabda:” Tidaklah berdosa jika menyanyikan lagu pada saat perkawinan dengan syarat didalamnya tidak terdapat keburukan, kelaghouan dan kesia-siaan dan tidak dinyanyikan secara seronok. (Al Fazl 20 Juli 1915 Hal. 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersabda lagi:” Tidak diragukan lagi bahwa nyanyian pada saat pernikahan secara syariat adalah diperbolehkan. Tapi nyanyian tersebut hendaknya nyanyian relijius yang sama sekali tidak terdapat keburukan didalamnya, misalnya nyanyian yang umum pada saat perkawinan yang dinyanyikan dalam corak menghibur yang didalamnya tidak terdapat keburukan sama sekali, maka yang seperti itu diperbolehkan, karena dinyanyikan hanya semata-mata untuk menghibur hati dan tidak akan berpengaruh buruk pada akhlak. (Al Fazl 20 Januari 1945)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hazrat halifatul Masih Al Khamis bersabda:” Perempuan Menari diantara sesama perempuan juga adalah tidak boleh…(Tapi) jika berhubungan dengan nyanyi-nyanyian, diperbolehkan jika para wanita menyanyikan lagu pernikahan dengan sopan pada saat pernikahan (antara sesama perempuan) (Khutbat Masroor jld. 2 Hal. 94)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau bersabda lagi:” Aku nasihatkan supaya kalian terhindar dari hal-hal yang laghou dan sia-sia. Lalu dansa-dansi, tari-tarian atau keributan para wanita pada saat atau setelah pernikahan, ketika si pengantin perempuan berkunjung ke rumah pengantin pria, tak jarang disanapun diadakan acara musik dan lagu-lagu yang sia-sia juga, lalu mereka, karib kerabat dan sanak famili yang hadir pada saat itupun menari dan bernyanyi bersama, perbuatan yang seperti itu tidak bisa diizinkan dalam corak apapun. Sebagian orang ada juga yang membuat acara terpisah, setelah sebagian besar tamu undangan pulang, maka mulailah acara-acara yang laghou dan ribut seperti itu. Di rumah juga diadakan acara tari-tarian dan dansa secara terpisah. Terlepas Apakah itu wanita ataupun pria yang sedang berdansa, tapi begitu sia-sianya lagu dan musik yang mereka stel, sehingga tidak akan bisa tahan mendengarkannya (Khutbat Masroor jld. 3 hal. 686-688)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membagi-bagikan Manisan Pada Saat Melamar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hazrat Aqdas Masih Mau’ud as bersabda:” Tujuan yang sebenarnya  dengan dibagikannya manisan dan makanan kecil pada saat melamar adalah supaya orang-orang menjadi tahu, sehingga dimasa yang akan datang tidak akan timbul keburukan. Tapi sekarang, tujuan yang sebenarnya ini telah hilang bahkan telah digantikan dengan tradisi-tradisi buruk yang didalamnya terdapat banyak sekali hal-hal yang diada-adakan. Jadi (melamar) janganlah dianggap sebagai tradisi, melainkan perkara yang penting untuk menjaizkan rishtah nata. Ingatlah bahwa syariat sekali-kali tidak memaksakan sesuatu hal yang bisa memberikan manfaat kepada makhluk, karena maksud dari syariat itu sendiri adalah untuk memberikan manfaat kepada makhluk (Malfuzt jld. 2 Hal.310)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mehendi (Tradisi menggambar Pada Tangan Dan Kaki)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Tradisi-tradisi buruk dalam pernikahan yang sedang mendapatkan tempat yang luar biasa di masyarakat adalah tradisi mehendi. Tradisi tersebut dirayakan dengan resepsi yang sangat hebat, sehingga memberikan kesan bahwa ini merupakan pesta yang terpisah dari pernikahan. Untuk acara tersebut (mehendi) dibuatkan kartu undangan secara terpisah dengan judul “tradisi mehendi atau memeriahkan” lalu dibagikan. Orang yang membagikan kartu sendiri memberikan nama “tradisi”, seolah-olah menjelaskan bahwa ini adalah sebuah tradisi. Untuk memberikan warna dalam lingkungan masyarakat, dikeluarkan biaya yang sangat berlebihan dalam acara tersebut. Misalnya, untuk seragam anak-anak perempuan, dijahitkan pakaian berwarna kuning yang sangat mahal, sedangkan untuk para pemuda dipasangkan kain sejenis dupata berwarna kuning pada leher mereka, lalu kawasan sekitar pesta dirias dengan bunga-bunga yang asli dan tiruan dari kertas, dibuatkan panggung yang menghabiskan biaya ribuan rupees yang disinari dengan kemilau lampu-lampu yang berwarna kuning lalu menempatkan sang pengantin wanita pada panggung tersebut dan diletakkan tissue pada tangan, selanjutnya mulailah menggambar  mehendi dan diabadikan dengan video. Ini semua adalah tradisi yang diada-adakan. Bahkan di beberapa tempat lain diadakan juga acara tetabuhan gendang, tari-tarian, nyanyian dan juga bhangra. Dalam acara tersebut pihak keluarga pengantin pria mengadakan pawai untuk mengarak sang pengantin pria dengan membawa uang. Seolah-olah tradisi tersebut mulai diwarnai dengan pesta yang terpisah pada saat pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengirimkan Kartu Undangan Pada Acara Mehendi (Tradisi menggambar Pada Tangan Dan Kaki)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Suatu ketika Hazrat Khalifatul Masih Ar Rabi’ mendapatkan undangan untuk menghadiri acara mehendi pada tanggal 25 maret 1998, Huzur menzahirkan perasaan yang sangat kecewa dan bersabda:” Anda telah mengirimkan undangan pernikahan puteri anda, tapi sedikitpun anda tidak memiliki rasa takut dengan serta merta mengirimkan undangan untuk menghadiri tradisi mehendi. Padahal tradisi-tradisi seperti ini jelas-jelas bertentangan dengan peraturan jemaat. Petunjuk-petunjuk yang saya berikan sangatlah jelas untuk sekali-kali tidak mengadakan pesta mehendi sebagai tradisi. Ya, adakanlah acara tersebut (mehendi) dirumah, bersama-sama dengan saudari-saudari perempuan dan beberapa teman perempuannya tanpa sungkan, yang demikian diperbolehkan. Ini adalah petunjuk saya yang jelas, tapi anda tidak hanya bertentangan dengan itu secara terang-terangan, bahkan mengirimkan kartu undangan juga kepada saya untuk menhadirinya. Semoga Allah Ta’ala memberikan pemahaman kepada anda.(Buletin bulanan Misbah, Juli agustus 2009, hal 24-25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tradisi Mehendi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hazrat Khalifatul Masih Ar Rabi’ bersabda:” Pada zatnya Dalam hal ini (mehendi) tidak ada dosa jika pada saat (pernikahan) itu teman-teman perempuan puteri kita berkumpul dan merayakan kegembiraan. Jika diadakan secara alami (tidak mengada-ada), maka diperbolehkan. Tapi kalau tradisi tersebut dijadikan tradisi buruk yakni pengantin pria pasti akan mengantarkan mehendi dari luar (ke rumah pengantin wanita), maka jelaslah didalamnya terdapat hal-hal yang diada-adakan. Mehendi untuk puteri kita hendaknya sudah disiapkan di rumah kita. Dengan tradisi mengadakan pawai arak-arakan yang kecil untuk acara tersebut akan menimbulkan dosa-dosa. Jika pada saat acara mehendi dikirim utusan dari pihak pengantin pria untuk menghadirinya dengan penuh pengaturan lalu dengan susah payah menyiapkan makanan dan lain-lain sebagai syarat yang harus dilakukan pada acara tersebut (mehendi), jika hal ini menjadi sebuah tradisi, maka hal tersebut akan menjadikan beban bagi masyarakat (Al Fazl 26 Juni 2002 hal. 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hazrat Khalifatul Masih Al Khamis aba bersabda:” tradisi mehendi mulai dijadikan sesuatu hal yang penting layaknya pernikahan. Pada acara tersebut diadakan undangan-undangan, kartu undangan dicetak, panggung ditata, dan tidak hanya itu, bahkan mata rantai undangan tadi berlanjut sampai berhari-hari dan bahkan sudah berlangsung sebelum diadakan pernikahan. Terkadang acara tersebut sudah dimulai beberapa minggu sebelum pernikahan dan setiap harinya panggung ditata dengan penataan baru untuk memberitahukan bahwa pada hari ini sekian banyak makanan yang dihidangkan, hari ini sekian. Ini semua adalah tradisi buruk yang telah menjerat orang-orang tidak mampu sehingga mereka akan terlilit hutang. Ghair ahmadi biasa mengadakan hal tersebut, tapi sekarang beberapa ahmadi juga mengamalkan tradisi yang laghou dan sia-sia itu secara besar-besaran atau beberapa keluarga ahmadi sudah terjerumus didalamnya. Alih-alih mentaati perintah imam zaman dan terhindar dari tradisi-tradisi tersebut, justru mereka malah terbawa arus lingkungan dan mengikatkan erat diri mereka sendiri dengan tradisi-tradisi buruk tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan sebelumnya saya telah menekankan bahwa pada saat melaksanakan tradisi mehendi, kita harus menghindarkan diri dari jumlah biaya dan undangan yang lebih dari keperluan. Huzur bersabda:” Suatu hari saya menerima undangan untuk menghadiri tradisi mehendi dari keluarga ahmadi di London, setelah mendengarkan khutbah saya (tentang masalah pernikahan-Pent), lantas ahmadi tersebut membatalkan niatnya dengan hanya mengundang beberapa teman perempuan lalu diadakan acara makan, sedangkan sisa makanan yang berlebih, beliau kirimkan untuk sebuah acara yang saat itu sedang berlangsung di Baitul futuh. Inilah ahmadi yang ketika diperingatkan dengan serta merta langsung memperlihatkan amalannya, lalu beliau pun menulis surat permohonan maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya pun mendapatkan beberapa keberatan dari Pakistan atau Rabwah bahwa sebagian orang (ahmadi) telah terperangkap kedalam tradisi tersebut dengan mengamalkan lebih dari keperluan. Karena Rabwah adalah kota yang kecil, sehingga segala hal akan diketahui dengan cepat. Karena itu saya katakan secara terbuka untuk jangan terpengaruh dengan tradisi yang sia-sia itu, hentikanlah itu (Harian al Fazl 2 Maret 2010)&lt;br /&gt;(Penerjemah :Mahmud Ahmad Wardi)&lt;br /&gt;(Dikutip dari Mingguan Al Fazl London)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUxEjjpTjV-YfCnwAbQz44cop_w54gskUj1onIjPJYJdOxG5BzXyx94xOBRlHVuwu_hl8IsP5j91k94euNxCteR1iOpD5zdMstvq8XzgzAlXnO7iLtHsrh9RZyqvASgp9I3uhHrbeaF18/s72-c/wedding+3.jpg" width="72"/></item><item><title>Tradisi-Tradisi Buruk Dalam Pernikahan Bagian I</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2010/06/hukum-hukum-dalam-jemaat-ahmadiyah.html</link><category>Artikel</category><category>Hz Khalifatul Masih Ats Tsani r.a</category><category>Tafsir Kabir</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Tue, 1 Jun 2010 18:01:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-3814262440380622059</guid><description>&lt;div style="background: none repeat scroll 0% 0% rgb(77, 33, 33); text-align: justify; font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjx9j38ZaNAzBmZ13ER2R1EjQPEMHepSonBbMbPij6dozsZAGQZLPU4JtrO3xsL4OLDMcmmqcCveOztgNrrAiY9KC0ubFeTdkzfRvwYC56HREkjkjxpmFa4djcwh5o7BA1aRfJmOnBJKrw/s1600/wedding+1.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 139px; height: 111px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjx9j38ZaNAzBmZ13ER2R1EjQPEMHepSonBbMbPij6dozsZAGQZLPU4JtrO3xsL4OLDMcmmqcCveOztgNrrAiY9KC0ubFeTdkzfRvwYC56HREkjkjxpmFa4djcwh5o7BA1aRfJmOnBJKrw/s320/wedding+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481403029612410066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Kecenderungan Tidak Adanya Pardah Dalam Acara-acara Perkawinan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Khalifatul Masih Ar-Rabi bersabda:” Salah satu diantara keburukan-keburukan yang merajalela adalah kecenderungan untuk tidak menerapkan pardah (dalam pernikahan). Yang pastinya hampir melewati batas-batas hukum syariat dan dalam hal ini orang yang merayakan pernikahan sedang menzahirkan ketidaksopanan, karena diantara tamu-tamu terhormat yang hadir diantaranya banyak sekali anak-anak yang pemalu/polos dan berpardah. Tapi tanpa rasa canggung mereka (pemilik acara) memanggil juru photo, memanggil orang-orang yang tidak berkepentingan dan ghair muhrim untuk berphoto dan tidak perduli bahwa acara tersebut hanya terbatas untuk kerabat dekat saja. Berkenaan dengan hal ini hendaknya diberikan nasihat secara jelas dan terus menerus, yakni jika anda ingin membuat video dan lain-lain didalam rumah, maka informasikan terlebih dahulu kepada para tamu lalu puaskanlah keinginan tersebut dalam ruang keluarga khusus yang terbatas (Al Fazl 26 juni 2002 hal.4)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Menjaga Pardah Dari Pengantin Pria&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Muslih mau’ud bersabda:” Pada saat pengantin pria tiba, karena menganggap dia bukan orang lain, sehingga para wanita di lingkungan tersebut tidak menganggap perlu menjaga pardah darinya, malah berkata,” apa perlunya menjaga pardah darinya? Mereka tidak hanya tidak mengindahkan pardah, bahkan bercanda dan ketawa-ketawa dengannya (pengantin pria) .(Khutbat Mahmud Jld. III Hal. 71)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255); font-weight: bold;"&gt;Pengumuman Penikahan Dengan Dif (Menabuh Gendang)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Sesuatu yang buruk adalah haram, sebaliknya sesuatu yang suci adalah halal. Allah Ta’ala tidak mengharamkan sesuatu yang suci, tapi menghalalkan segala sesuatu yang suci. Memang, kalau sesuatu yang buruk dicampuradukkan dengan sesuatu yang suci, maka dia (yang halal) akan menjadi haram. Sekarang mengumumkan pernikahan dengan menabuh gendang adalah dibolehkan, tapi ketika didalamnya dicampuradukkan dengan tari-tarian dan lain-lain, maka menjadi terlarang. Apabila dilakukan sesuai dengan yang disabdakan oleh Nabi Karim saw, maka tidaklah haram. (Malfuzat jilid V hal. 354-355)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255); font-weight: bold;"&gt;Menetapkan Hak Mahar Dalam Jumlah Yang Besar Dengan Maksud Pamer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat muslih Mau’ud ra bersabda,” Dalam memberikan mahar, (Agama yang hak) sekali-kali tidak mengizinkan (perbuatan) pamer yang akan menyebabkan penipuan. Walhasil, orang yang menetapkan mahar dalam jumlah yang besar dengan maksud pamer kepada orang lain, padahal tidak dibayarnya, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang berdosa. Mereka yang menetapkan mahar kurang dari kemampuannya adalah termasuk orang-orang yang berdosa juga. (Khutbah Mahmud, Jld III, hal.29)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Lalu bersabda,” Bayarlah mahar sesuai dengan syariat dan bayarlah dengan jumlah yang tidak akan menyulitkan sang suami. (Khutbah Mahmud, Jld III, hal.302) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Khalifatul Masih Al-Khamis aba bersabda,” Jika ada pesta/acara para wanita, maka wanita-wanita lajnah imaaillah lah yang bekerja. (Khutbah Masroor, Jld II, hal.88)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Nikah Dan Tradisi-tradisi Buruk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Masih Mau’ud as bersabda,” Aatishbaaziy (tradisi pertunjukan kembang api/petasan pada pernikahan), pertunjukan dan lain-lain sama sekali dilarang, karena selain merugikan, tidak ada manfaat yang bisa diperoleh darinya”.  (Malfuzat, jld II hal.310)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Muslih Mau’ud ra bersabda,”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Pernikahan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan ketenangan, kedamaian, ketentraman dan ketakwaan kepada Allah. Tapi di zaman ini dengan adanya tradisi-tradisi buruk dan bid’ah-bid’ah, telah menjadikan (pernikahan) sebagai penyebab timbulnya kesedihan (malapetaka) baginya (si pelaku). Saya berharap supaya anggota jemaat ahmadiyah lebih berani lagi untuk memisahkan pernikahannya dari tradisi-tradisi buruk, bid’ah-bid’ah dan benar-benar dilaksanakan sesuai dengan sunnah Nabi saw, sehingga maksud yang hakiki dari pernikahan bisa tercapai. (Khutbah Mahmud, Jld III, hal.20)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Kartu Undangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Khalifatul masih Al Khamis aba bersabda,” Untuk (mecetak) kartu undangan pernikahan pun dikeluarkan biaya yang sangat banyak. Di Pakistan, kartu undangan bisa dicetak dengan biaya sebesar 1 rupee (150 rupiah)/lembar. Disini juga bisa dicetak dengan harga murah yakni 5, 7 pence. (Sebenarnya) Hanya ingin mengirimkan kartu undangan, bukannya untuk dipamerkan kan? Tapi, tanpa alasan dikeluarkan biaya yang sangat besar untuk mencetak kartu undangan. Kalau ditanyakan kepada mereka, lantas menjawab,” (kartu undangan) dicetak dengan biaya yang sangat murah, hanya 50 rupees (7500 rupiah)/ lembar. Sekarang dengan biaya 50 rupees/lembar tersebut, jika dicetak sebanyak 500 eksemplar, maka totalnya akan menjadi 25.000 rupee (3.750.000 rupiah). Padahal kalaulah 25.000 rupees itu digunakan untuk menikah oleh orang yang tidak mampu, maka dia akan tenggelam didalam kebahagiaan dan gejolak rasa syukur. Banyak sekali tempat-tempat seperti itu, yang bisa diselamatkan. Dan bagi mereka yang mendapatkan taufik, mereka mengatakan bahwa kami bisa memberikan bantuan pada pernikahan orang-orang (yang tidak mampu-Pent). (Khutbah Masroor, Jld III, hal.334)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;(Point-point) Rekomendasi Majlis Musyawarah 2009 yang Terpisah-Pisah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Tidak adanya disiplin waktu pada saat pernikahan sudah menjadi hal yang biasa dan dianggap bukan masalah, kita harus menghindarinya. Kita telah beriman kepada orang yang telah difirmankan kepadanya “Waktumu tidak akan disia-siakan”. Merias pengantin perempuan di salon kecantikan dengan biaya yang sangat besar adalah tidak benar. Tradisi tersebut harus dikurangi. Begitu pengantin perempuan dirias di salon kecantikan, sehingga dia tidak bisa datang tepat waktu pada resepsi pernikahan adalah tidak benar. Sang pengantin perempuan hendaknya siap tepat waktu dalam segala kondisi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Janganlah memboroskan uang untuk mencetak kartu undangan pernikahan. Hindarilah kartu undangan pernikahan yang mewah dan mahal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Membelanjakan uang yang banyak untuk membeli gaun pengantin perempuan adalah tidak baik, karena gaun yang seperti itu pada umumnya tidak dipakai lagi (setelah pernikahan-Pent). jika saja lajnah mengumpulkan dan membagikan pakaian-pakaian seperti itu kepada anak-anak yang tidak mampu, itu bagus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Tradisi membuatkan dan memakaikan pakaian seragam berwarna kuning pada seluruh pria dari pihak laki-laki dan perempuan pada saat menggambar mehendi (tradisi menggambar motif-motif pada bagian tubuh di India) adalah tradisi tidak baik, kita harus menghindarinya. Di kota-kota besar terdapat tradisi baaraat (pawai arak-arakan pengantin pada malam hari) yang berlangsung sampai larut malam, begitu larutnya malam sehingga ada kekhawatiran mahrum dari melaksanakan shalat shubuh. Sampai larut malam sekali adalah tidak baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Tradisi Bid, Mayung bathana (tradisi memakaikan pakaian berwarna kuning pada pengantin pria dan wanita lalu memintanya duduk, pada saat beberapa hari sebelum pernikahan), memaksa pengantin laki-laki untuk bernyanyi, menyawer uang pada pawai arak-arakan pengantin, sar baalaa (tradisi menggantungkan bunga-bunga yang dirangkai pada tali dari kepala sampai dada pada pengantin pria), memamerkan barang-barang pemberian pengantin pria kepada orang lain, membayar para waria untuk menari, memasangkan kalung yang dirangkai uang dan lain-lain adalah tradisi yang tidak baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;(Mempertunjukan) kembang api udara dengan berlebihan dan pamer juga sangat berbahaya, untuk masalah itu perlu perhatian dan nasihat khusus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Membelanjakan uang untuk pemasangan lampu-lampu kelap-kelip yang berlebihan adalah tidak baik. Saat ini disebabkan karena efisiensi daya, sehingga pemerintahan pun mencanangkan gerakan untuk tidak mengadakan pemasangan lampu-lampu tersebut. (Rekomendasi shura 2009, hal.12-14)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Membelanjakan Uang Untuk Perhiasan Dan Lain-lain Yang Melebihi Kemampuan Pada Saat Pernikahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Khalifatul Masih Tsani ra bersabda:“ Pada zaman ini, untuk mengangkat martabat dan kehormatan, orang-orang membelanjakan uang yang melebihi kemampuannya untuk membeli perhiasan dan lain-lain pada saat pernikahan, yang akibatnya, alih-alih memberikan kebahagiaan bagi mereka, justru mereka terpaksa harus menanggung hutang kepada orang lain sehingga menyulitkan diri mereka sendiri untuk melunasinya. Jika seseorang memiliki uang yang sangat banyak, maka tidak dilarang baginya untuk membelanjakan uangnya pada saat pernikahan sampai pada batas yang sesuai. Tapi bagi mereka yang tidak mempunyai uang, lantas berbelanja dengan meminjam uang terlebih dahulu kepada orang lain dengan maksud untuk mengangkat derajat kehormatannya, maka perbuatannya ini termasuk kedalam pemborosan. (Tafsir Kabir Jilid 6, hal. 571)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Khalifatul Masih Al-Khamis aba bersabda,” Setiap kaum dan setiap penduduk suatu negeri di dunia ini memiliki berbagai tradisi. Diantara tradisi-tradisi itu, salah satunya adalah tradisi perkawinan. Di negeri-negeri kita pada saat perkawinan, mereka mempertunjukan lagu-lagu yang seronok dan jorok, sehingga dengan mendengarnya pun kita akan merasa malu. Didalam lagu-lagu tersebut digunakan kata-kata yang sangat jorok dan sia-sia, sehingga saya merasa heran, bagaimana mereka bisa (tahan-Pent) mendengarkannya.  Alhamdulillah, lingkungan orang-orang ahmadi terjaga sampai batas tertentu dari perbuatan yang laghou dan sia-sia itu. Tapi karena begitu cepatnya menyerap (budaya) orang lain, sehingga di lingkungan kita india dan Pakistan, hal-hal (laghou) tersebut mulai menemukan celah untuk masuk. Dengan meniru agama lain yang sangat menjunjung tinggi martabat kehormatan dan menganggap agama tidak ada kepentingannya, ketika merayakan kebahagiaan mereka mabuk-mabukan, menari, bernyanyi, minum-minuman keras, kerusakan akhlak yang luar biasa, semoga Allah menjaga kita. Seperti yang telah saya katakan, bahwa orang-orang ahmadi pun bisa terpengaruh oleh lingkungan yang seperti itu, bahkan saya juga telah menerima beberapa keberatan. Ingatlah! orang ahmadi harus menjaga diri mereka sendiri dan terhindar dari kelaghouan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Semoga kita mampu menghindarkan diri kita dari segala macam bidah dan beban-beban dalam tradisi, menjadi orang-orang yang mengamalkan perintah-perintah Allah Ta’ala, sunnah Rasulullah saw dan mendahulukan agama daripada dunia sesuai dengan ajaran hakim adil di zaman ini. Mendahulukan agama daripada dunia merupakan amalan yang bisa menghimpun seluruh kebaikan dalam diri kita dan menekankan kita untuk meninggalkan seluruh keburukan dan tradisi yang sia-sia. Kita hendaknya memperhatikan hal-hal tersebut. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk itu.  (Khutbah Masroor Jld. III Hal. 685-700)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Sebagian keluarga yang sedang merayakan pernikahan, karena terpengaruh oleh perkataan orang lain, dipaksa atau untuk memamerkan diri, bahwa si A juga mengadakan pertunjukan lagu-lagu, si B melakukan ini dan itu, kita pun harus melakukannya. (Sebenarnya) mereka sedang menghancurkan kebaikan-kebaikannya sendiri. Setiap ahmadi hendaknya terhindar dari itu. Jika si A melakukannya, maka dia sendirilah yang akan melakukan perhitungan dan kalian akan melakukan perhitungan sendiri. Jika orang lain melakukannya tapi tidak diketahui orang, sehingga terselamat dari cengkraman nizam, maka tidaklah mesti bahwa kamu juga akan selamat. Yang terpenting adalah jika ingin mengamalkan semua perbuatan itu atau ingin melakukan kebaikan-kebaikan, maka lakukanlah demi Allah Ta’ala! Dia sedang melihatnya. Karena itu untuk ikut serta dalam jemaat Masih Mau’ud as harus terhindar dari semua hal yang bisa menimbulkan bidah bidah dalam agama. (Mahnamah mishbaah july, august 2009, Hal.66)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Sehrabandiy (mengikatkan bunga atau mutiara yang dirangkai pada tali di kepala kedua mempelai)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;sehrabandi termasuk kedalam cara cara bidah yang menjadikan manusia sebagai kuda (Al-Fazl 4 Januari, 1946)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Nyanyi-nyanyian perempuan pada saat pernikahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Bagaimana jika para pemudi dari pihak pengantin pria atau wanita bersama-sama menyanyikan lagu di rumah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Jawab:”Jika lagu-lagu itu tidak jorok dan kotor, tidaklah mengapa. Pada saat Rasulullah saw hijrah ke Madinah, sekelompok wanita muda bersama-sama menyanyikan lagu untuk memuji Beliau saw. Di mesjid ada seorang sahabat yang membacakan syair dengan suara yang merdu nan indah, lalu Hazrat Umar melarangnya. Orang itu menjawab,” Saya pernah membacakan ini didepan Rasulullah saw, beliau saw tidak melarang saya, bahkan suatu ketika beliau saw mendengarkan syairnya, lalu Rasul saw bersabda kepada orang itu “rahmatullah” Kepada siapa saja beliau ucapkan kata itu, orang tersebut selalu syahid. Maksudnya, jika didalamnya tidak terdapat lagu-lagu yang seronok dan sia-sia, maka tidaklah dilarang. Tapi hendaknya pria tidak hadir dalam majlis-majlis perempuan seperti itu. Ingatlah jika didalamnya terdapat sedikit saja hal-hal yang seronok dan sia-sia, maka itu dilarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Ini adalah hal-hal yang manusia bisa mengambil fatwanya sendiri. jika didalamnya terdapat hal-hal yang bertentangan dengan ketakwaan dan keridloan Allah Ta’ala dan tidak ada memberikan manfaat bagi manusia, itu adalah dilarang. (Malfuzat jld II hal.311) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Mengumumkan Pernikahan Dengan Menggunakan Dif  (gendang)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;mengumumkan pernikahan dengan menggunakan dif diperlukan karena pengumuman dengan cara seperti itu bisa menjadi saksi jika dimasa yang akan datang terjadi perselisihan. Begitu juga jika ada orang yang membagikan manisan pada saat lamaran (pra nikah), tujuannya supaya pelamaran tadi menjadi matang, hal tersebut bukanlah dosa. Sebaliknya Jika tidak didasari niat seperti itu, melainkan bertujuan untuk memperlihatkan pamor dan ketokohannya, maka yang seperti itu tidak boleh. (Al Hakam 17 April 1903 hal.2)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Pemborosan Uang dan Tradisi Membagi-bagikan bhaji (makanan-makanan ringan/sayuran) Dalam Pernikahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Satu lagi tradisi buruk di negeri kita adalah membelanjakan ratusan rupees (India) secara sia-sia pada saat pernikahan. Hendaknya diingat bahwa membagi-bagikan makanan (pada saat pernikahan) kepada orang-orang untuk memperlihatkan ketokohan dan kebesaran, memberikan dan memakannya secara syariat adalah diharamkan. Menyalakan kembang api/petasan, memanggil wanita-wanita nakal, orang-orang yang tidak punya malu untuk meramaikan, tukang memainkan music dan lagu semua itu adalah haram mutlak. (Fatawa Hazrat Masih Mau’ud as hal.145)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Tanbowl (Satu tradisi pada saat pernikahan yakni kerabat dan sanak saudara memberikan uang sebatas kemampuan), (salami/uang yang diberikan oleh keluarga pengantin wanita kepada pengantin pria pada saat rukhsatiy (perisahan)/Neondra) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Seseorang bertanya,”Berkenaan dengan tanbowl, bagaimana nasihat Huzur? Hazrat Masih Mau’ud as bersabda,” Itu adalah salah satu bentuk bantuan saudaranya. Ditanyakan lagi,” Mereka yang memberikan tanbowl dengan niat supaya dengan memberi 5 rupee, kita akan mendapatkan 6 rupee, lalu membelanjakan uang itu untuk membayar penghibur (penyanyi dan penari)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Bersabda,” Jawaban kami adalah kaitan dengan tradisi yang sebenarnya, yakni jiwa tidak menentang tradisi. Yang tersisa adalah niat. Bagaimana anda mengetahui akan niat setiap orang. itu adalah perikeadaan orang-orang yang serakah yakni memberikan (tanbowl) dengan niat supaya bisa mendapatkan balasan yang lebih atau menghitung-hitung hal-hal yang remeh. Ada juga orang-orang yang baik, memberikan tanbowl dengan niat untuk mengamalkan perintah membantu dan menjalin hubungan kasih sayang semata. Bahkan ada juga sebagian orang yang tidak ingin mengambilnya kembali dan semata-mata menolong orang yang tidak mampu. Wahasil, jawaban dari semua itu adalah innamal ‘amaalu binniyyaat (amalan tergantung kepada niat) (Al-Badr 17 Januari 1907, Hal.4)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Akibat Buruk Dari Menempuh  Tradisi Yang Tidak Baik &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Khalifatul Masih Tsani bersabda,” Saat ini mereka yang telah berpaling dari keitaatan terhadap hukum-hukum dan terperangkap dalam berbagai macam tradisi, sedang melihat akibat yang sangat buruk. Mereka sedemikian rupa memboroskan uang pada saat pernikahan, tidak hanya dia sendiri, bahkan orang yang dinikahinya pun ikut terlilit hutang seumur hidupnya  dan seringkali tidak ada kesepakatan pada pihak pria dan wanita. Dalam hal ini Jemaat kita khususnya, hendaknya mematuhi hukum-hukum syariat, sehingga pernikahan mereka bisa memberikan hasil yang luhur dan baik. Hindarilah  segala keburukan yang dengannya orang lain akan terpaksa menanggung penderitaan (Khutbah Mahmud, Jld. 3 Hal 72)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Tradisi-Tradisi Yang Termasuk Kedalam Hal Yang Laghou (Sia-sia)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Dalam menjelaskan tafsir surat Al-A’raf ayat 158 Hazrat Khalifatul Masih Ar-Rabi’, dalam kesempatan khutbah Jumah bersabda,” Berupayalah untuk tidak membiasakan (hidup) berlebih lebihan. Dalam hal-hal yang diperbolehkan pun tetaplah untuk tinggal dalam batas-batas (tidak berlebih-lebihan-Pent). Banyak sekali tradisi-tradisi, perbuatan-perbuatan yang terpaksa dilarang karena dilakukan dengan. Ada sebagian amalan yang disebut sebagai aghlal belenggu pada leher, yakni tradisi-tradisi yang secara khusus termasuk kedalam kategori yang sia-sia, dalam kondisi apapun (amalan tersebut) tidak disukai. Dalam kehidupan bermasyarakat pun hendaknya terhindar dari itu. Misalnya pada saat pernikahan mengadakan pertunjukan tetabuhan, meminta penari untuk menari, memanggil maratsi (pembaca nazm untuk orang-orang yang sudah meninggal), menyalakan kembang api/petasan, mengadakan pertunjukan-pertunjukan seperti itu sehingga menjadi beban berat bagi suatu kaum, tidak ada sanad (yang meriwayatkan hadits) berkenaan dengan amalan tersebut, tidak juga disunnahkan pada zaman Rasul Akram saw dan tidak juga Hazrat Masih Mau’ud as mengizinkan untuk mengamalkan hal-hal tersebut, bahkan secara terang-terangan Beliau as melarangnya. Untuk itu kita harus menghindari hal-hal tersebut, jika tidak, akan menjadi belenggu pada leher. Maksudnya adalah tradisi-tradisi ini sedikit demi sedikit akan menguasai suatu bangsa, sehingga kebebasannya bisa merubah sesuatu yang baik menjadi buruk, akibatnya mereka akan menjadi hamba dari tradisi dan tidak akan bisa terlepas lagi darinya. (Khutbah Tahir Jilid II Hal.632-633)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Tradisi Pernikahan adalah agamis/religious&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Khalifatul masih Al-Khamis aba bersabda,” Hazrat Rasulullah saw tidak bersabda bahwa setiap orang, setiap qabilah harus selalu membiasakan menabuh gendang (pada saat pernikahan), ini adalah suatu keharusan. Maksudnya adalah yang sesuai dengan tradisi masing-masing, janganlah mengamalkan  tradisi-tradisi yang bisa menimbulkan kerusakan dalam agama. Zahirkanlah selalu kebahagiaan dengan berpedoman pada hal tersebut, (didalamnya) terdapat kebahagiaan yang tidak membebani dan juga tidak dilarang untuk melakukannya. Sebaliknya, amalan-amalaan yang bisa menimbulkan bahaya menyebarnya syirik dan menimbulkan kerusakan dalam agama, tidak bisa diizinkan.  tradisi pernikahan juga merupakan satu agama juga. Kapan saja Hazrat Rasulullah saw bersabda bahwa,” Ketika kalian berfikir untuk menikah, maka dalam segala hal, utamakanlah wanita yang (dari sisi-Pent) agamanya lebih baik. Karena itu keliru jika mengatakan bahwa pernikahan itu adalah hanya penzahiran kebahagiaan semata, kebahagiaan, dan hak pribadi saya adalah amalan kita. Jika pernikahan itu hanya merupakan keramaian, keributan, tetabuhan, maka kenapa pada saat menyampaikan khutbah nikah, Hazrat Rasulullah saw memulai dengan puji sanjungan kepada Allah Ta’ala dan begitu menekankan untuk menjaga ketaqwaan dan tidak hanya menekankan, bahkan (menekankan bahwa-Pent) dasar dari setiap nasihat dan petunjuk dalam pernikahan adalah ketaqwaan. Walhasil, sembari tetap dalam (prinsip) keadilan, agama yang hak mengizinkan perkara-perkara yang diperbolehkan tersebut, hendaknya tetaplah berada dalam batas-batas itu dan dengan adanya izin tersebut, janganlah mengambil manfaat dari perkara-perkara yang tidak diperbolehkan. Janganlah melebihi batas-batas (yang sudah ditetapkan) sehingga akan menimbulkan kerusakan dalam agama. (Masy’al rah jilid 5 bagian 3 hal. 152-153)  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Menganggap beberapa tradisi sebagai satu kewajiban dan Diamalkan Pada Saat Pernikahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Khalifatul masih Al Khamis aba bersabda,” Jadi, adalah satu kewajiban bagi kita, jika tidak ada hambatan, larangan, kita harus menikah. Tapi didalamnya terdapat beberapa  tradisi buruk, khususnya pada masyarakat Pakistan dan india sudah mendapatkan tempat, Yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan talim (Islam).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Sekarang, untuk mengamalkan beberapa tradisi buruk itu, dikeluarkan biaya sampai batas tertentu sehingga didalam masyarakat yang didalamnya diamalkan tradisi buruk itu dilakukan dengan penuh kegaduhan. Disana sudah menjadi satu pemikiran bahwa mungkin (tradisi) ini pun termasuk kedalam syarat-syarat wajibnya (rukun) pernikahan, yang tanpanya pernikahan tidak bisa dilakukan. (roznamah AL Fazl 2 Maret 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hindarilah segala sesuatu yang akan menimbulkan keburukan dan bid’ah dalam agama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Khalifatul masih Al Khamis aba bersabda:“ Untuk bergabung dalam jemaat Hazrat Masih Mau’ud as harus terhindar dari segala sesuatu yang akan menimbulkan keburukan dan bid’ah dalam agama, Diantaranya jahez (tradisi memberikan sesuatu barang oleh orang tua pengantin perempuan kepada pengantin pria pada saat rukhsati/perpisahan), pengeluaran biaya untuk pernikahan, walimah, tradisi buruk, dan beberapa tradisi-tradisi lainnya yang sama sekali merupakan kesia-siaan dan beban. Kita hendaknya berbahagia karena telah beriman kepada agama yang membebaskan kita dari tradisi-tradisi kaum dan keluarga. tradisi yang telah membuat kehidupan menjadi tidak nyaman/tidak disukai. Jangan pula dengan meniru-niru agama lain kita mulai menempuh cara-cara yang laghou tersebut. (Masy’al rah jilid 5 bagian 3 hal. 153-154)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255); font-weight: bold;"&gt;Bukanlah suatu keharusan untuk Mengundang Orang Dalam Jumlah Yang Sangat Banyak Dalam Resepsi Walimah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Yang kedua adalah walimah. Perintahnya yang sebenarnya adalah mengundang kerabat sendiri. Kalau diperhatikan, maka dalam inilah salah satu  perintah untuk undangan pernikahan. Tapi itupun tidak mesti dalam jumlah yang besar. Sesuai dengan taufik. bisa mengundang orang-orang dan memberi mereka makan sesuai dengan taufik yang dimiliki. (Al Fazl 2 Maret 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Dalam acara-acara pesta kita hendaknya nampak kesederhanaan. Jika Allah Ta’ala menganugerahkan kelapangan rezeki pada seseorang dan dia mengamalkan wa ammaa bini’mati robbika fahaddits, lalu membelanjakan uang untuk merayakan pestanya sesuai dengan kemampuan, maka diapun hendaknya memikirkan orang-orang miskin yang lainnya dan memperhatikan prinsip-prinsip pemborosan. Bersabda dalam satu kesempatan,” Orang yang membelanjakan (hartanya) lebih dari keperluan adalah saudara syaitan. Mereka yang tidak diberikan kelapangan rezeki oleh Allah Ta’ala, janganlah meniru orang-orang kaya dengan membebani diri sendiri dengan beban yang tidak perlu dan sulit untuk melepaskannya. Hazrat Rasulullah saw bersabda,” Makanan yang seburuk-buruknya adalah makanan pada resepsi walimah yang didalamnya diundang orang-orang kaya sedangkan orang-orang miskin tidak (Muslim Kitabun Nikah bab Al amru biijaabatid daa’iy ila da’wah)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Sebagian orang mengatakan bahwa diantara kami ada sebagian kecil  orang saja yang terjerumus dalam tradisi yang buruk, tapi kenapa didalam jemaat ini diterbitkan literature dalam jumlah yang sangat banyak? Kenapa sampai-sampai di peringatkan di berbagai tingkatan berkenaan dengan masalah itu? Hendaknya diingat bahwa setiap penyakit bermula dari hal-hal yang sepele. Kebijaksanaan terletak pada kehati-hatian sampai batas tertentu terhadap sesuatu hal, pada saat permulaan timbulnya masalah. Dan tepat pada waktunya jiwa kita diselamatkan dengan upaya-upaya. Begitu jugalah tugas seorang mukmin untuk dari sejak awal mencegah (timbulnya) perkara-perkara yang bisa menyebabkan jatuhnya keimanan kedalam jurang bahaya. Meskipun mereka yang terjerumus dalam tradisi-tradisi buruk itu jumlahnya sedikit dalam jemaat ini, tapi jika jemaat tidak memprosesnya dengan upaya-upaya yang akan memberikan pengaruh, maka sedikit demi sedikit berbondong-bondong orang bisa terjerumus kedalam penyakit itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Muthalabah (Permintaan Sejumlah Barang/Uang Yang Disampaikan Pada Saat Pernikahan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Muslih Mau’ud ra berkali kali menekankan kepada jemaat dalam kesempatan khutbah nikah bahwa janganlah dibiasakan menyampaikan permintaan (dalam kesempatan pernikahan). Dalam kesempatan khutbah nikah pada tanggal 27 maret 1931 Huzur ra bersabda,” Saya ingin menekankan kepada jemaat bahwa dalam corak apapun  tradisi buruk itu, tetap saja buruk. Saya sedih, karena apabila anggota jemaat kita menghapuskan beberapa tradisi buruk, lantas mereka pun menggantikannya dengan upaya-upaya dalam corak yang lainnya. Pada saat pernikahan, telah diputuskan terlebih dahulu dirumah-rumah bahwa akan dibawakan sekian perhiasan dan pakaian-pakaian, lalu sedikit-demi sedikit, syarat-syarat tersebut mulai berubah kedalam bentuk tulisan-tulisan, yang selanjutnya disampaikan kepada saya. Syariat hanya menetapkan mahar. Selain dari itu apabila ada permintaan perhiasan dan pakaian dari pihak perempuan, itu adalah ketidak punya maluan semata yang dalam pemahaman saya tidak lain sama halnya dengan menjual anak perempuan. Saya sampaikan bahwa untuk masa yang akan datang, jika saja saya mengetahui, bahwa seseorang telah menetapkan syarat perhiasan, pakaian dan lain-lain atau pihak perempuan melakukan perbuatan yang serupa itu, maka saya tidak akan umumkan pernikahan orang yang seperti itu. (Al Fazl 7 April 1931)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Selanjutnya pada satu kesempatan Huzur ra bersabda,”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Terkadang mereka memperbincangkan hal yang tidak berdasar dan menetapkan persyaratan yang sia-sia, sehingga sangatlah mengherankan. Misalnya mereka menetapkan persyaratan jahez (tradisi memberikan sesuatu barang oleh orang tua pengantin perempuan kepada pengantin pria pada saat rukhsati/perpisahan), jika sanggup memberikan sejumlah barang, sesuai dengan yang ditetapkan, maka kami akan menikahkannya, semua ini adalah laghou. Selama bertahun-tahun, saya terus menerus menekankan kepada jemaat untuk memperbaiki hal-hal seperti ini. Jika saja anggota jemaat memperhatikan hal tersebut, maka bisa terjadi perbaikan dengan cepat. Jika mereka (anggota jemaat-Pent) berjanji bahwa kami tidak akan menghadiri pernikahan yang didalamnya ditetapkan persyaratan (muthalabah) oleh pihak manapun diantara kedua belah pihak yang menikah, maka lihatlah! dalam waktu yang tidak lama, mereka akan mulai menyesali dan jera dari perbuatan-perbuatan yang buruk tadi. Memang tidak ada yang lebih rendah daripada anak-anak perempuan yang diperjual belikan oleh orang tuanya seperti halnya carpaiy (tempat tidur di india yang terbuat dari kayu dan tali) yang dipajang dipasar, lalu tawar menawar harga. Walhasil jemaat kita hendaknya terhindar dari perbuatan-perbuatan yang seperti ini dan berjanji bahwa kami tidak akan menghadiri pernikahan yang demikian sekalipun itu adalah (pernikahan) saudara kandung sendiri. (Al Fazl 18 April 1947)  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Jahez (tradisi memberikan sesuatu barang oleh orang tua pengantin perempuan kepada pengantin pria pada saat rukhsati/perpisahan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Suatu ketika seseorang datang ke hadapan Hazrat Khalifatul masih Awwal ra, mengatakan bahwa saya adalah sayyid (keturunan Rasul saw), saya akan mengadakan pernikahan puteri saya, saya mohon tuan bisa menolong saya saat ini. Beliau ra bersabda,” Saya siap untuk memberikan semua sarana kepadamu untuk keperluan pernikahan puterimu, seperti yang telah diberikan Rasul Karim saw kepada puterinya Fatimah. Setelah mendengar ini, dengan terpaksa dia berkata,”Apakah tuan ingin menjatuhkan kehormatan saya? Hazrat Khalifatul masih Awwal bersabda,” Apakah kehormatan kamu lebih luhur dari pada kehormatan Rasulullah saw? Kehormatan kamu terletak pada kesayyidan kamu. sejumlah jahez seperti yang telah diberikan Rasulullah kepada Hazrat Fatimah saja tidak membuat kehormatan Beliau saw menjadi jatuh, apalagi kamu? (Hayat e Nur hal. 530)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Memamerkan Jahez Atau Bari (Pemberian sesuatu barang dari pihak pengantin pria kepada pengantin wanita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Pada tahun 1921, dalam kesempatan Mengumumkan Pernikahan, Hazrat Muslih Mau’ud ra bersabda,” Tradisi memamerkan jahez dan lain-lain dalam masyarakat. Hendaknya keiasaan itu ditinggalkan. Ketika mereka memamerkannya, maka orang lain pun akan bertanya. Jika tradisi memamerkan itu dihapuskan, maka orang-orang pun akan berhenti dari bertanya (Al Fazl 17 Februari 1921)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Pamer Pada Saat Pernikahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Khalifatul masih Al-Khomis aba bersabda,” Hazrat Aqdas Masih mau’ud as bersabda,” Kalian berjanji baiat jugalah kepadaku bahwa kalian tidak akan mengikuti tradisi buruk. Tradisi yang kamu campur baurkan dalam agama itu semata-mata karena tradisi tersebut merupakan bagian dari lingkungan yang kamu tinggal didalamnya. Kalian mengamalkan tradisi-tradisi itu karena kalian jumpai itu didalam agama-agama lain,. Misalnya pada saat pernikahan terdapat tradisi-tradisi yang sia-sia. Seperti memamerkan bari (barang-barang yang diberikan pihak pria kepada pengantin wanita), jahez, dipamerkan secara resmi. Agama yang haq (Islam) hanya mengumumkan pernikahan dengan pernyataan hak mahar, selebihnya adalah tradisi yang sia-sia. Pertama, mereka yang memiliki taufik mempertunjukkan bari atau jahez dengan maksud ingin memamerkan perlipatgandaan semata, yakni sudahkah (kalian melihat) apa pun yang telah diberikan oleh para tamu yang hadir kepada abang, kaka perempuan, putera, Puteri pada saat pernikahan, lihatlah bagaimana kami telah memberikannya lebih banyak lagi dari itu? Hanya membanding-bandingkan dan pamer semata. Saat ini dengan karunia-Nya yang khas, setelah datang kemari banyak sekali diantara anda yang telah dianugerahkan harta yang banyak oleh Allah Ta’ala. Inipun adalah berkat dari baiat kedalam jemaat Hazrat Masih Mau’ud, buah dari pengorbanan para pendahulu kita dan keberkatan dari doa-doa mereka. Dalam menzahirkan (rasa syukur) akan karunia dan keberkatan-keberkatan itu, alih-alih tunduk dihadapan Allah Ta’ala dan membelanjakan harta di jalan-Nya, dalam kesempatan pernikahan Sebagian orang malah menzahirkannya dengan tujuan untuk memamerkan kemasyhuran dan membangga-banggakan diri sendiri, terjerumus dalam tradisi-tradisi (buruk) tersebut lalu menghambur-hamburkan makanan pada saat pesta perkawinan dan walimah dan dibuatkan banyak sekali dashen untuk tujuan pamer, sehingga orang-orang miskin atau yang kurang mampu mulai meniru-niru akibatnya  demi memamerkan jahez dan lain-lain mereka pun mulai terlilit hutang. Terkadang disebabkan karena permintaan jahez dari para gadis dari pihak pengantian pria, sehingga Apa kata orang nanti jika menantu perempuan tidak membawa jahez”, akhirnya berhutang. Pihak keluarga pengantin pria pun hendaknya memiliki rasa takut kepada Allah Ta’ala. Janganlah karena tradisi dan ingin meninggikan kehormatan, lantas menjerumuskan orang-orang miskin kedalam kesulitan dan hutang (Syarat-syarat baiat dan tanggung jawab orang ahmadi hal. 92-93)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Pemberian Jahez (tradisi memberikan sesuatu barang oleh orang tua pengantin perempuan kepada pengantin pria pada saat rukhsati/perpisahan) dan Bari (Pemberian sesuatu barang dari pihak pengantin pria kepada pengantin wanita)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Muslih Mau’ud ra bersabda:”Tidak diragukan lagi bahwa tradisi pemberian jahez dan bari adalah sangat buruk. Karena itu berupayalah untuk memperbaikinya sesegera mungkin. Dalam hal ini saya mendukung Mir sahib sepenuhnya. Itu adalah Wabah dan malapetaka yang akan meluluh lantahkan rumah-rumah, sehingga harus segera dihapuskan. Saya menyaksikan keluarga-keluarga yang baik-baik telah terjerumus kedalam tradisi tersebut dengan sangat mengerikan dan saya tidak sungkan-sungkan mengatakan bahwa para wanita dalam rumah kami pun harus memperhatikan hal ini dan saya pasti mendengarkan kalimat-kalimat dari mulut mereka sendiri yakni sedikit sedikit harus melakukannya. Pada umumnya tidak dilihat kondisi keuangan (harta). Jadi tidak diragukan lagi bahwa tidak hanya jahez, bari pun adalah tidak baik. Memberikan jahez sesuai dengan kemampuan memang terbukti ada, tapi saya tidak pernah menemukan dalil berkenaan dengan memberikan bari dalam corak seperti tradisi yang ada sekarang. Tapi bukanlah maksudnya bahwa kalaulah ada yang mampu memberikan jahez, lantas tidak perlu memberikannya. Dalam kesempatan seperti itu bagi kita terdapat contoh-contoh yang diamalkan oleh Hazrat Masih Mauud as dan Al-Qur’an Karim yang paling utama, dan berkenaan dengan masalah-masalah yang Al-Quran tidak berkomentar, maka diperbolehkan melihat hadits. (Orhni walion ke liye phul Hal. 240-241)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Memboroskan Uang ratusan rupees Dalam Perkawinan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Dalam satu khutbah, Hazrat Khalifatul Masih Al Khamis aba bersabda:”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Suatu saat Hazrat Masih Mau’ud as bersabda,” Dalam kaum kami terdapat satu tradisi yang tidak baik yakni pemborosan uang ratusan rupees pada saat pernikahan (Majmu’ah Isytiharat, Jld I,hal. 70)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;100 tahun yang lalu atau sebelum itu, membelanjakan uang ratusan rupees adalah jumlah yang sangat besar, tapi dizaman ini ratusan tadi sama dengan ratusan ribu rupees. Dan dibelanjakan sesuai dengan kemampuan yang mungkin saja lebih besar (nilainya) dibandingkan dengan ratusan rupees pada zaman itu. Bahkan Beliau as bersabda juga bahwa mempertunjukan kembang api/petasan dan lain-lain pada saat pernikahan adalah haram. (Malfuzat jilid V hal. 49 edition jadid)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Saat ini pada acara-acara pernikahan diadakan pertunjukan kembang api/petasan dan orang-orang menyalakan banyak lampu/lentera dirumah-rumah mereka yang biayanya lebih dari kemampuan yang dia miliki. Disatu sisi di Pakistan dan di setiap tempat ramai, setiap orang yang datang mengabarkan, bahkan di surat kabar-surat kabar sedang ramai dikabarkan bahwa sedang kekurangan daya listrik sehingga diadakan pemadaman lampu sampai berjam jam, kemahalan harga telah sedemikian rupa mencekik, sedangkan disisi lain di sebagian rumah (listrik) dihambur-hamburkan lebih dari kebutuhan, yang akibatnya tidak hanya menyebabkan kerugian bagi negara, bahkan mereka mengumpulkan dosa-dosa. Karena itu para ahmadi di Pakistan pada umumnya berhati-hatilah, jangan sampai terjadi pemborosan uang dan secara khusus di Rabwah harus memperhatikan hal-hal tersebut. Sebagai penanggung jawab di Rabwah adalah sadr Umumiy untuk mengawasi jangan sampai terjadi pemborosan, pamer, memamerkan kebesaran dan uang pada saat pernikahan. Merupakan karunia yang khusus dari Allah Ta’ala untuk jemaat yang telah terhindar dari tradisi-tradisi buruk ketika dilanda duka (kematian-Pent) . Di dalam Jemaat tidak diamalkan hari ketujuh, ke sepuluh, ke empat puluh, ini adalah kebiasaan orang-orang ghair ahmadi yang terkadang atau bahkan sering mengamalkannya sehingga malah menjadi beban bagi yang sedang berduka.  Tapi jika kita terjerumus dalam satu jenis tradisi yang buruk karena terpengaruh oleh masyarakat, maka tradisi-tradisi buruk yang lainnya pun akan bisa mendapatkan celah untuk masuk, bermula dari itulah hal-hal tadi terjadi.(Al Fazl 2 Maret 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Kewajiban Kita Untuk Menghormati Peraturan Negara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Khalifatul Masih Al-Khamis aba menjelaskan:” Setiap ahmadi hendaknya memahami kedudukannya masing-masing, bahwa Allah Ta’ala telah berbuat ihsan kepadanya dengan memberikan taufik untuk bergabung kedalam jemaat Masih dan Mahdi. Saat ini kewajibannya adalah harus beramal sesuai dengan ajaran yang benar. Untuk pernikahan, Kewajiban-kewajiban yang ada dalam ajaran yakni salah satu kewajiban dalam pernikahan yakni bisa diadakan satu resepsi. Jika mendapatkan taufik, maka bisa diadakan acara makan-makan, dll. Bukanlah suatu kewajiban untuk mengikut sertakan setiap orang yang ikut iring-iringan (baraat) pernikahan sebagai tamu, lalu diberikan makan. Jika datang baaraat (iring-iringan) dari tempat yang jauh, maka hanya iring-iringan itulah yang bisa diberikan makan. Tapi jika undang-undang negara melarangnya, maka hentikanlah dan dibatasi hanya kerabat keluarga atau beberapa orang yang mengantar saja yang makan, karena sebelumnya telah ditetapkan larangan di Pakistan. Sekarang saya tidak tahu bagaimana perkembangannya, tapi sampai batas tertentu peraturan itu masih ada. (Al-Fazl 2 Maret 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Aatisy baaziy (Pertunjukan kembang api/petasan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hazrat Masih Mau’ud as bersabda:” Mempertunjukan tari-tarian atau Pertunjukan kembang api/petasan (pada pernikahan-Pent) adalah dosa dan pemborosan, Ini tidak diperbolehkan. (Malfuzat jilid III hal. 227)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Pengumuman Penikahan Dengan Dif (Menabuh Gendang )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Sesuatu yang buruk adalah haram, sebaliknya sesuatu yang suci adalah halal. Allah Ta’ala tidak mengharamkan sesuatu yang suci, tapi menghalalkan segala sesuatu yang suci. Memang, kalau sesuatu yang buruk dicampuradukkan dengan sesuatu yang suci, maka dia (yang halal) akan menjadi haram. Sekarang mengumumkan pernikahan dengan menabuh gendang adalah dibolehkan, tapi ketika didalamnya dicampuradukkan dengan tari-tarian dan lain-lain, maka menjadi terlarang. Apabila dilakukan sesuai dengan yang disabdakan oleh Nabi Karim saw, maka tidaklah haram. (Malfuzat jilid V hal. 354-355)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Menabuh Gendang (Pada saat Pernikahan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Dalam menjawab pertanyaan seorang perempuan, Hazrat Khalifatul Masih Ar Rabi bersabda:”Didalam perkawinan, silahkan tabuh gendang seberapa yang disukai, tidaklah dilarang. Silahkan nyanyikan lagu. Pada akhirnya hendaknya ada sedikit perbedaan antara perkawinan dengan kematian. Tapi dalam kesempatan-kesempatan seperti itu, janganlah mengamalkan tradisi-tradisi yang tidak diperbolehkan. Tradisi-tradisi yang tidak diperbolehkan, meskipun pada zahirnya tanpa dosa, janganlah dilakukan, karena akan menjadikan beban bagi lingkungan sehingga menjerumuskan mereka kedalam malapetaka. Tapi Agama yang hak (islam) telah menetapkan penzahiran kebahagiaan yang diperbolehkan sampai batas tertentu, janganlah hal itu dilarang. Ketika Hazrat Rasulullah saw hijrah ke madinah, maka anak-anak perempuan disana menabuh gendang dan melantunkan nyanyian. Rasul Akram saw tidak melarangnya, bahkan menyukainya. Bersama Rasulullah saw saat itu terdapat para pria yang juga mendengarkan. Bersabda,” Jika dalam suara wanita sedang dilantunkan nyanyian yang suci, yang tidak akan menimbulkan keburukan, mana pernah Allah Ta’ala melarangnya. Jika mendengarkan suara wanita dilarang, maka suara lelakipun hendaknya dilarang. Itu akan menimbulkan gerakan pada hati wanita. Meskipun masalah tetabuhan itu lain, tapi jika dilantunkan nyanyian yang tidak akan menyebabkan tersebarnya kekotoran dalam masyarakat, maka diperbolehkan. Tapi jika menghina dengan kata-kata kotor dan cacian adalah termasuk hal-hal yang laghou, janganlah melakukannya. Tapi nyanyian yang umum, yang berisi hal-hal yang lucu, kasih sayang, guyonan, adalah diperbolehkan. jangan ada hal-hal kotor dan seronok didalamnya. (Majlis Irfan terbitan Lajnah Imaillah Karaci Hal.134)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;(Penerjemah:Mahmud Ahmad Wardi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;(Al Fazl 26, 27 Maret 2010)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjx9j38ZaNAzBmZ13ER2R1EjQPEMHepSonBbMbPij6dozsZAGQZLPU4JtrO3xsL4OLDMcmmqcCveOztgNrrAiY9KC0ubFeTdkzfRvwYC56HREkjkjxpmFa4djcwh5o7BA1aRfJmOnBJKrw/s72-c/wedding+1.jpg" width="72"/></item><item><title>Pengorbanan, Tabligh Dan Khidmat Khalq</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2010/03/pengorbanan-tablig-dan-khidmat-khalq.html</link><category>Artikel</category><category>Hz Khalifatul Masih Ats Tsani r.a</category><category>Tafsir Kabir</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Fri, 5 Mar 2010 14:43:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-6385774487320795887</guid><description>&lt;div style="background: rgb(33, 58, 84) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; text-align: justify; font-size: 100%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFYqmJilbNUp0oWYzfnLj6dy9oo7Q6FyGnPKp1ayzn4IBN1P64U_cWZwgHx8Dfpoh6sZLgYHoL-Z5eIE8pOF8vQUL7dlpIBi4dvNZlD-r6bUfwpLCbiTdSw_l2LG6PGWFPXV9SF6-mCeA/s1600-h/Muslih+Mau%27ud.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 101px; height: 150px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFYqmJilbNUp0oWYzfnLj6dy9oo7Q6FyGnPKp1ayzn4IBN1P64U_cWZwgHx8Dfpoh6sZLgYHoL-Z5eIE8pOF8vQUL7dlpIBi4dvNZlD-r6bUfwpLCbiTdSw_l2LG6PGWFPXV9SF6-mCeA/s320/Muslih+Mau%27ud.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5445289610184408978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;        Kelebihan  yang kedua dijelaskan bahwa wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquwn Apapun yang kami berikan kepada mereka, kami belajakan sebagiannya. Yakni nikmat apapun yang Allah Ta’ala anugerahkan kepadanya, mereka belanjakan untuk kemaslahatan dan kemakmuran umat manusia, mereka tidak hanya membelanjakan rupiahnya untuk fakir miskin, tapi apapun yang Kami berikan kepada mereka, mereka selalu belanjakan satu bagiannya untuk orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Didalam bahasa Arab rizq artinya segala sesuatu anugerah Allah Ta’ala, sebagaimana harta juga termasuk kedalam rizq, ilmu dan kekuatan juga, rizq yang berarti biji-bijian, itupun termasuk kedalam rizq. Waktu juga termasuk kedalam rizq. Maksudnya rizq adalah segala sesuatu yang memberikan faidah bagi manusia dalam corak apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dengan mengatakan mimmaa rozaqnaahum yunfiquwn ditekankan bahwa apapun yang Allah Ta’ala berikan, hendaknya dibelanjakan untuk kemaslahatan manusia. Kalau ada orang yang mempunyai keahlian tapi karena tidak berharta sehingga dia tidak bisa memanfaatkan keahliannya, maka kalian tolonglah dari sisi harta. yang tidak memiliki apa-apa untuk dimakan, berikanlah dia sesuatu untuk dimakan, dia yang tidak punya apa-apa untuk diminum, berikan dia sesuatu untuk diminum.     Mereka yang tidak punya sesuatu untuk dipakai, berikanlah sesuatu untuk dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sesuai dengan hal itu, Hazrat Khalifatul Masih Awwal menyampaikan satu kisah menarik, bahwa ada seorang tua yang sedang terus-menerus membaca Al-Qur’an Karim, dia menggunakan mulutnya untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an, menggunakan matanya juga untuk melihat kalimat-kalimatnya, dan jari juga menunjuk ayat-ayat seiring pembacaan ayat-ayat. Seseorang bertanya kepadanya,” Apa yang sedang kamu lakukan ini? Dia menjawab,” Allah Ta’ala telah menganugerahkan ketiga bagian tubuh ini, kalaulah aku hanya membacanya (Al-Qur’an) dengan mulut saja, maka Allah Ta’ala akan bertanya, kenapa kamu tidak memanfaatkan tangan dan mata kamu? Kalau aku hanya menggunakan mulut dan tangan saja, maka Allah Ta’ala akan bertanya, kenapa kamu tidak menggunakan mata juga? Dan kalau membaca Al-Qur’an hanya dengan mata saja, tapi tidak menggerakkan mulut dan tangan, maka Allah Ta’ala akan bertanya, kenapa kamu tidak memanfaatkan ini, karena itulah aku menggunakan ketiga bagian tubuh ini dalam satu waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;   Saya melihat almarhumah ua wanita (kakaknya ayah), meskipun sudah berumur 80, 85 tahun, tapi sepanjang tahun tetap saja memintal kapas menjadi benang, lalu di berikan kepada tukang tenun untuk dibuatkan kain, darinya dibuatkan selimut tebal dan kasur yang terbuat dari kapas lalu dibagikan kepada fakir miskin. Diantaranya banyak sekali pekerjaan yang beliau kerjakan dengan tangan sendiri dan kalau kami katakan kepada beliau supaya menyuruh orang lain saja yang mengerjakannya, beliau menjawab,” Kalau begitu rasanya tidak nikmat”. Jadi, Perlu sekali untuk membelanjakan segala pemberian Allah Ta’ala di jalan-Nya. Mereka yang setelah memberikan beberapa rupiah saja lantas beranggapan bahwa hal ini sudah diamalkan, adalah keliru. Orang yang membelanjakan uangnya tapi tidak menggunakan mulutnya untuk bertabligh, tidak bisa mengatakan bahwa dia sudah mengamalkan dengan sepenuhnya perintah ini. Atau seorang yang betabligh, tapi tidak mengkhidmati janda-janda dan anak yatim, dia pun tidak bisa mengatakan bahwa dia sudah mengamalkan perintah ini dengan baik. Untuk itu perlu juga untuk mengorbankan perasaan kita sendiri di jalan Allah Ta’ala. Misalnya marah kepada seseorang, lalu memafkannya. Didalam perintah ini termasuk juga berbagai macam pekerjaan yang berhubungan dengan khidmat khalq yang seyogyanya diperhatikan secara khusus oleh pemuda-pemudi jemaat kita dan mengkhidmati seluruh umat manusia tanpa membeda bedakan agama dan golongan sesuai standar seorang ahmadi, supaya mereka mendapatkan keridloan Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;(Tafsir Kabir Jilid 7 ,Hal. 523-524)&lt;br /&gt;(Penerjemah: Mahmud Ahmad Wardi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Yang dimaksud kalimat wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquwn (mereka membelanjakan dari apa-apa yang kami rezekikan kepada mereka) dalam ayat ini tidak hanya uang. Dengan hanya memberikan beberapa rupiah saja, lantas manusia bisa dianggap sebagai orang yang telah melaksanakan kewajibannya. Tapi maksud dari wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquwn adalah bahwa matanya, otaknya, telinganya, hidungnya, tangan dan kakinya dan tubuhnya pun termasuk didalamnya (rozaqnaahum), maksud dari kalimat wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquwn juga rumahnya, Gandum/beras yang dia gunakan, bahkan sayur lobak, wortel, dan gula yang ditanam oleh petani pun termasuk didalamnya. Tidak diragukan lagi bahwa memang seseorang yang membelanjakan uangnya, bisa ditetapkan sebagai orang yang memberikan pengorbanan harta. Tapi syariat tidak hanya memerintahkan untuk memberikan pengorbanan harta saja, bahkan syariat juga memerintahkan supaya apapun yang telah kami berikan kepadamu, belanjakanlah satu bagiannya dijalan Allah Ta’ala! Jadi kalaulah ada orang yang menyerahkan seluruh harta kekayaannya sabagai candah, tapi matanya tidak mengambil bagian dalam mengkhidmati hamba Allah Ta’ala, tangan dan kakinya tidak mengambil bagian dalam mengkhidmati hamba Allah, maka dia tidak bisa mengatakan bahwa dengan menyerahkan seluruh harta kekayaannya, berarti kami sudah melaksanakan kewajiban kami. hal ini bisa disebut sebagai mantik (ilmu dalam berbicara), tapi tidak bisa disebut dengan agama. Untuk memenuhi tuntutan agama, perlu untuk menggunakan seluruh anggota tubuh untuk mengkhidmati hamba Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Terdapat didalam hadits-hadits, bahwa ketika seluruh umat manusia akan dipersembahkan dihadapan Allah Ta’ala pada hari kiamat, maka Dia (Allah) akan mengatakan kepada sebagian orang,” Wahai hambaku! Saat itu aku kelaparan, engkau telah memberikan aku makan, saat itu aku lapar, engkau telah memberikan aku minum, saat itu aku tidak berpakaian, engkau telah memberikan aku pakaian, saat itu aku sakit, engkau telah menjengukku, karena itu masuklah, masuklah kedalam surgaku! Hamba tersebut akan berkata,” tobah-tobah apalah dayaku sehingga aku bisa memberi engkau (Tuhan) makan, memberikan engkau minum, memberikan engkau pakaian, menjenguk engkau ketika sakit. Engkau terbebas dari semua (penderitaan) itu, Allah Ta’ala akan menjawab,” Tapi ketika hambaku yang hina dan kelaparan datang kepadamu, engkau memberinya makan, maka seolah-olah engkau telah memberiku makan, begitu jugalah ketika hambaku yang hina dan lapar datang kepadamu, lalu engkau memberinya minum, maka seolah-olah engkau telah memberiku minum, begitu juga ketika hambaku yang tidak berpakaian dan sakit, engkau telah memberinya pakaian dan menjenguknya, engkau tidak memberikan hamba itu pakaian, engkau tidak menjenguknya, tapi pada hakikatnya engkau telah memberiku (Tuhan) pakaian dan telah menjengukku, karena itu masuklah, masuklah kedalam sorgaku, Jadi Maksud dari wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquwn    disini adalah memberikan perhatian kepada kita supaya seberapapun daya dan kekuatan yang didapatkan oleh seorang mukmin dari Allah ta’ala, maka dia (mu’min) itu wajib untuk menggunakan kekuatan itu hanya untuk kebaikan umat manusia, dan janganlah bahagia hanya dengan dia sudah memberikan rupiah, sudah mendirikan shalat, sudah berpuasa.&lt;br /&gt;Perhatikanlah, suatu saat Rasulullah SAW pernah membuat satu gerakan pengorbanan harta, maka ada seorang sahabat yang tidak memiliki apa-apa, dia membawa dua butir manisan dari biji-bijian lalu di persembahkan dihadapan Rasulullah SAW. Setelah melihat pemandangan ini, para munafiqin tertawa dan mengatakan,’nah, sekarang dunia akan meraih kemenangan dengan dua butir manisan dari biji bijian. Padahal seandainya mata (orang munafiq) itu bisa berbicara, maka dia akan menganggap bahwa itu bukanlah dua butir manisan dari biji-bijian, tapi merupakan dua tetesan darah dari hati yang gelisah/tidak berdaya  dalam mencintai Allah yang telah dia persembahkan kehadapan Rasulullah SAW dan dunia selalu menang dengan tetesan darah dari hati, bukanlah dengan sarana-sarana duniawi. Jadi tanda akan sempurnanya keimanan adalah bahwa apapun yang kalian makan di dirumah-rumah kalian, apapun yang kalian hasilkan dari mata pencaharian kalian, apapun yang kalian pakai, apapun yang kalian belanjakan, berikanlah satu bagiannya kehadapan Allah Ta’ala dan gunakanlah kekuatan kalian hanya semata-mata untuk kebaikan dan kemaslahatan umat manusia.&lt;br /&gt;(Tafsir Kabir jilid 6, hal 52,53)&lt;br /&gt;Penerjemah:Mahmud Ahmad Wardi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFYqmJilbNUp0oWYzfnLj6dy9oo7Q6FyGnPKp1ayzn4IBN1P64U_cWZwgHx8Dfpoh6sZLgYHoL-Z5eIE8pOF8vQUL7dlpIBi4dvNZlD-r6bUfwpLCbiTdSw_l2LG6PGWFPXV9SF6-mCeA/s72-c/Muslih+Mau%27ud.jpg" width="72"/></item><item><title>9 Langkah Membersihkan Virus Yahoo Messenger</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2010/01/langkah-membersihkan-virus-yahoo.html</link><category>Teknologi</category><category>Tips</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Tue, 19 Jan 2010 17:52:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-4693638178294853621</guid><description>&lt;div style="background: rgb(77, 33, 33) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; text-align: justify; font-size: 100%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.detikinet.com/read/2010/01/18/133335/1280698/510/9-langkah-membersihkan-virus-yahoo-messenger"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 187px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVrr2PPd4A9RpAlLPh-tctz3NVYg5hJ9Pah7z68sInMoh7BeHkxNQ0PmgGkEXN64vK8ehFzpBaL_lAOxG_FjcBDWG-wlzMnVvmhCqFrZJr5bbsbJP3LmxFJ7AciaPT4EU74QQjOt0vaWg/s200/virus+yahoo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428642417738628930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jakarta - Virus Yahoo Messenger dapat melakukan update layaknya program antivirus dengan mendownload beberapa file dari website yang telah ditentukan. Tak ayal, untuk menyingkirkannya pun terbilang sulit.&lt;br /&gt;Simak 9 langkah untuk membersihkan virus paling ganas dan paling banyak mengganggu di awal tahun 2010 ini menurut analis virus dari Vaksincom, Adang Jauhar Taufik:&lt;br /&gt;1. Putuskan komputer yang akan dibersihkan dari jaringan maupun internet&lt;br /&gt;2. Ubah nama file [C:\Windws\system32\msvbvm60.dll] menjadi [xmsvbvm60.dll] untuk mencegah virus aktif kembali selama proses pembersihan.&lt;br /&gt;3. Sebaiknya lakukan pembersihan dengan menggunakan Tools Windows Mini PE Live CD hal ini disebabkan untuk beberapa file induk dan file rootkit yang menyamar sebagai services dan drivers sulit untuk di hapus terlebih file ini akan disembunyikan oleh virus.&lt;br /&gt;Kemudian booting komputer dengan menggunakan software Mini PE Live CD tersebut. Setelah itu hapus beberapa file iduk virus dengan cara:&lt;br /&gt;a. Klik menu [Mini PE2XT]&lt;br /&gt;b. Klik menu [Programs]&lt;br /&gt;c. Klik menu [File Management]&lt;br /&gt;d. Klik menu [Windows Explorer]&lt;br /&gt;e. Kemudian hapus file berikut:&lt;br /&gt;-. C:\Windows\System32&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;-. Wmi%xxx.exe, dimana xxx menunjukan karater acak (contohnya: wmispqd.exe, wmisrwt.exe, wmistpl.exe, atu wmisfpj.exe) dengan ukuran file yang berbeda-beda tergantung varian yang menginfeksi computer target.&lt;br /&gt;-. %xxx%.exe@, dimana %xxx% menunjukan karakter acak (contoh: qxzv85.exe@) dengan ukuran yang berbeda-beda tergantung varian yang menginfeksi.&lt;br /&gt;-. secupdat.dat&lt;br /&gt;-. C:\Documents and Settings\%user%\%xx%.exe, dimana xx adalah karakter acak (contoh: rllx.exe) dengan ukuran file sekitar 6 kb atau 16 kb (tergantung varian yang menginfeksi).&lt;br /&gt;-. C:\Windows\System32\drivers&lt;br /&gt;-. Kernelx86.sys&lt;br /&gt;-. %xx%.sys, dimana xx ini adalah karakter acak yang mempunyai ukuran sekitar 40 KB (contoh: mojbtjlt.sys atau cvxqvksf.sys)&lt;br /&gt;-. Ndisvvan.sys&lt;br /&gt;-. krndrv32.sys&lt;br /&gt;-. C:\Documents and Settings\%user%\secupdat.dat&lt;br /&gt;-. C:\Windows\INF&lt;br /&gt;-. netsf.inf&lt;br /&gt;-. netsf_m.inf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hapus registry yang dubah dibuat oleh virus, dengan menggunakan "Avas! Registry Editor", caranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Klik menu [Mini PE2XT]&lt;br /&gt;b. Klik menu [Programs]&lt;br /&gt;c. Klik menu [Registry Tools]&lt;br /&gt;d. Klik [Avast! Registry Editor]&lt;br /&gt;e. Jika muncul layar konfirmasi kelik tombol "Load....."&lt;br /&gt;f. Kemudain hapus registry:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ü  LOCAL_MACHINE_SOFTWARE\microsoft\windows\currentverson\run\\ctfmon.exe&lt;br /&gt;ü  LOCAL_MACHINE_SYSTEM\ControlSet001\services\\kernelx86&lt;br /&gt;ü  LOCAL_MACHINE_SYSTEM\CurrentControlSet\services\\kernelx86&lt;br /&gt;ü  LOCAL_MACHINE_SYSTEM\CurrentControlSet\services\\passthru&lt;br /&gt;ü  LOCAL_MACHINE_SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Image File Execution Options\\ctfmon.exe&lt;br /&gt;ü  LOCAL_MACHINE_SOFTWARE\microsoft\windows nt\currentversion\winlogon&lt;br /&gt;§  Ubah value pada string Userinit menjadi = userinit.exe,&lt;br /&gt;ü  LOCAL_MACHINE_SOFTWARE\microsoft\windows nt\currentversion\winlogon&lt;br /&gt;§   Ubah value pada string Shell menjadi = Explorer.exe&lt;br /&gt;ü  LOCAL_MACHINE_SYSTEM\ControlSet001\services\\%xx%&lt;br /&gt;ü  LOCAL_MACHINE_SYSTEM\CurrentControlSet\services\\%xx%&lt;br /&gt;ü  LOCAL_MACHINE_SYSTEM\ControlSet002\Services\SharedAccess\Parameters\FirewallPolicy\DomainProfile\AuthorizedApplications\List\\C:\windows\system32\%file_induk_virus%.exe (contoh: wmistpl.exe)&lt;br /&gt;ü  LOCAL_MACHINE_SYSTEM\ControlSet002\Services\SharedAccess\Parameters\FirewallPolicy\StandardProfile\AuthorizedApplications\List\\C:\windows\system32\%file_induk_virus%.exe (contoh: wmistpl.exe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: %xx% menunjukan karakter acak, key ini dibuat untuk menjalankan file .SYS yang mempunyai ukuran sebesar 40 KB yang berada di direktori [C:\Windows\system32\drivers\]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Restart komputer, pulihkan sisa registry yang diubah oleh virus dengan copy script berikut pada program notepad kemudian simpan dengan nama repair.inf. Jalankan file tersebut dengan cara: klik kanan repair.inf | klik install&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Version]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Signature="$Chicago$"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Provider=Vaksincom Oyee&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[DefaultInstall]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AddReg=UnhookRegKey&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DelReg=del&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[UnhookRegKey]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, Software\CLASSES\batfile\shell\open\command,,,"""%1"" %*"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, Software\CLASSES\comfile\shell\open\command,,,"""%1"" %*"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, Software\CLASSES\exefile\shell\open\command,,,"""%1"" %*"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, Software\CLASSES\piffile\shell\open\command,,,"""%1"" %*"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, Software\CLASSES\regfile\shell\open\command,,,"regedit.exe "%1""&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, Software\CLASSES\scrfile\shell\open\command,,,"""%1"" %*"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Winlogon, Shell,0, "Explorer.exe"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, software\microsoft\ole, EnableDCOM,0, "Y"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SOFTWARE\Microsoft\Security Center,AntiVirusDisableNotify,0x00010001,0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SOFTWARE\Microsoft\Security Center,FirewallDisableNotify,0x00010001,0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SOFTWARE\Microsoft\Security Center,AntiVirusOverride,0x00010001,0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SOFTWARE\Microsoft\Security Center,FirewallOverride,0x00010001,0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SYSTEM\ControlSet001\Control\Lsa, restrictanonymous, 0x00010001,0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SYSTEM\ControlSet002\Control\Lsa, restrictanonymous, 0x00010001,0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SYSTEM\CurrentControlSet\Control\Lsa, restrictanonymous, 0x00010001,0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Explorer\Advanced\Folder\SuperHidden, CheckedValue,0x00010001,0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Explorer\Advanced\Folder\SuperHidden, DefaultValue,0x00010001,0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Explorer\Advanced\Folder\SuperHidden, UncheckedValue,0x00010001,1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[del]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKCU, Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\System,DisableRegistryTools&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKCU, Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\System,DisableCMD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKCU, Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer,NoFolderOptions&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Run,ctfmon.exe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SYSTEM\ControlSet001\Services\kernelx86&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SYSTEM\ControlSet002\Services\kernelx86&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SYSTEM\CurrentControlSet\Services\kernelx86&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SYSTEM\CurrentControlSet\Services\mojbtjlt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SYSTEM\ControlSet001\Services\mojbtjlt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SYSTEM\ControlSet002\Services\mojbtjlt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SYSTEM\ControlSet001\Services\Passthru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SOFTWARE\Policies\Microsoft\Windows NT\SystemRestore&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SOFTWARE\Policies\Microsoft\Windows\WindowsUpdate, DoNotAllowXPSP2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SOFTWARE\Policies\Microsoft\Windows\WindowsUpdate&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HKLM, SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Image File Execution Options\ctfmon.exe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Fix registry Windows untuk mengembalikan agar komputer dapat booting "safe mode with command prompt" dengan download file FixSafeBoot.reg (Windows XP) di alamat berikut kemudian jalankan file tersebut dengan cara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Klik menu [Start]&lt;br /&gt;o Klik [Run]&lt;br /&gt;o Ketik REGEDIT.EXE kemudian klik tombol [OK]&lt;br /&gt;o Pada layar "Registry Editor", klik menu [File | Import]&lt;br /&gt;o Tentukan file .REG yang baru anda buat&lt;br /&gt;o Klik tombol [Open]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Hapus file temporary dan temporary internet file. Silahkan gunakan tools ATF-Cleaner. Download tools tersebut di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Restore kembali host file Windows yang telah di ubah oleh virus. Anda dapat menggunakan tools Hoster, silahkan download di alamat berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik tombol [Restore MS Host File], untuk merestore file hosts Windows tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Untuk pembersihan optimal dan mencegah infeksi ulang, scan dengan antivirus yang up-to-date dan sudah dapat mendeteksi virus ini. ( ash / faw )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVrr2PPd4A9RpAlLPh-tctz3NVYg5hJ9Pah7z68sInMoh7BeHkxNQ0PmgGkEXN64vK8ehFzpBaL_lAOxG_FjcBDWG-wlzMnVvmhCqFrZJr5bbsbJP3LmxFJ7AciaPT4EU74QQjOt0vaWg/s72-c/virus+yahoo.jpg" width="72"/></item><item><title>Majlis Irfan Lajnah Dengan Huzur</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2010/01/korban-tewas-diperkirakan-100-ribu.html</link><category>Huzur</category><category>Lajnah</category><category>Soal Jawab</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Fri, 15 Jan 2010 14:30:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-6474113307518680161</guid><description>&lt;div  style="background: rgb(33, 58, 84) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: border; -moz-background-origin: padding; -moz-background-inline-policy: continuous; text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Soal:” Huzur! Dalam buku Malfuzat jilid 10 Hazrat Masih Mau’ud as menulis bahwa asuransi jiwa tidaklah jaiz (boleh). Waktu itu saya sudah ikut dalam life policy, tapi pada hari berikutnya saya batalkan. Pertanyaan saya adalah ketika membeli rumah dan mengambil kredit pinjaman, sebagian pasangan muda akan terpaksa untuk mengambil life policy, yakni kalau naudzu billaah terjadi sesuatu, maka perusahaan-perusahaan yang memberikan pinjaman, mereka bisa mendapatkan uangnya kembali. Mohon penjelasan Huzur mengenai hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huzur Anwar:” Fatwa jemaat Ahmadiyah berkenaan dengan hal ini adalah Kalau diharuskan, dan tidak bisa dihindari, harus ikut serta didalamnya, Misalnya: Sebagian perusahaan dan departemen pemerintahan yang mengharuskan ikut serta dalam asuransi jiwa, untuk kasus seperti itu diperbolehkan untuk ikut, tapi bayaran hadiah apapun yang anda dapatkan (dari asuransi), anda bisa membelanjakannya untuk tujuan yang baik. Tapi bagi masyarakat umum tidak diizinkan jika anda mengasuransikan untuk suatu keuntungan. Kalau dalam hal ini anda terpaksa, maka lakukanlah! Tapi untuk Mortgage (kredit pinjaman pegadaian) tidak diharuskan mengambil asuransi jiwa. Kalaulah anda tidak mengambil mortgage (kredit pinjaman pegadaian) secara langsung dari bank, maka mungkin saja ada beberapa perusahaan pegadaian yang mengharuskan hal tersebut. Maka untuk menghindarinya, kalau anda mengambil mortgage (kredit pinjaman pegadaian) dari bank, tapi tetap saja mendapatkan kesulitan, maka itu adalah keterpaksaan. Lalu, kalau anda mengasuransikan nya, maka belanjakanlah hadiah dari asuransi jiwa yang anda dapatkan setiap tahunnya untuk amalan yang baik, janganlah belanjakan untuk kepentingan diri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanya:” Seketika itu juga langsung saya batalkan, Huzur!&lt;br /&gt;Huzur Anwar:”Ya, Anda telah melakukan hal yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Soal:” Huzur! Saya ingin bertanya berkenaan dengan anak-anak waqifin e nou saya, dua anak saya sudah masuk ke Jamiah, pastilah dari sisi agama mereka sedang menuntut ilmu yang luhur, tapi anak-anak saya yang lainnya yang profesinya berbeda, seperti belajar journalism. Huzur! Bisakah sekiranya di jamiah diadakan kelas untuk mereka dalam satu bulan satu kali? Atau cara-cara serupa, sehingga seiring dengan menuntut ilmu duniawi, mereka pun bisa mempelajari standard keilmuan agama dengan baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huzur Anwar:” Lihatlah, Kantor waqifin e nou telah membuat syllabus (kurikulum) untuk anak-anak waqifin e  nou yag berumur sampai 15 tahun, ya kan? Setelah itu tidak ada syllabus waqifin e nou lainnya. Semenjak 2, 3 tahun yang lalu sudah saya katakan kepada jemaat, untuk membuat syllabus bagi anak-anak (waqf e nou) yang sedang beranjak dewasa, supaya mereka pun membacanya, sebagian lagi hal-hal keagamaan, literature misalnya kitab-kitab Hazrat Masih Mau’ud as, berbagai kutipan buku “Essence of Islam” sudah diterjemahkan, mereka harus membacanya. Kalau putera anda tidak membacanya, anda bisa mengawasinya, apakah anak anda mendirikan shalat 5 waktu, membaca Al-Qur’an dengan teratur? Terjemah Al-Qur’an Syarif yang sudah diterjemahkan dalam bahasa inggris juga baca, seiring dengan itu ada juga keterangannya, bacalah! Kalau memiliki ketertarikan lebih dari itu, maka baca jugalah “five volume commentary” juga kitab-kitab Hazrat Masih Mau’ud as yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Saat ini adalah tugas orang tua untuk memberikan perhatian. Bagi anak-anak yang sedang menginjak dewasa, saya selalu katakan bahwa untuk manfaat diri sendiri pun, tuntutlah ilmu pengetahuan agama. Pernah saya sampaikan di Jerman juga, disini juga sudah berkali-kali, bahwa saat ini adalah tugas kalian untuk menuntut ilmu dengan menelaah sendiri, saya pun pernah mengatakan kepada jemaat, untuk mengadakan kursus-kursus yang setidaknya akan mencukupi bagi anak-anak yang berusia sampai 20 tahun, harus ada sedikit kursus tambahan, tapi untuk masuk ke jamiah (kursus tambahan bagi waqf e nou), sangatlah sulit. Jamiah sendiri kesulitan untuk mengurus kelas-kelas yang ada sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanya:” Bersama saya duduk saudara perempuan saya.&lt;br /&gt;Huzur Anwar:” Kalau ada disini saudara anda, suruh untuk mengajukan pertanyaan sendiri dari pada menyuapi anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal:” Huzur! Dia mempertanyakan masalah syaitan, Sebelumnya dijelaskan bahwa dia (syaitan) dahulunya adalah malaikat, tapi sekarang dia bukanlah malaikat, Bagaimana? Saya tidak faham.&lt;br /&gt;Huzur Anwar,” Pandangan akan hal itu tidaklah berubah. Apa yang dikatakan AL-Qur’an Karim pada hari pertama, itu jugalah yang berlaku sampai hari terakhir. Tidak pernah syaitan disebut sebagai malaikat, ketika dia datang untuk menentang nabi, maka dia menjadi iblis dan itulah syaitan yang setiap saat selalu mengajak manusia kepada pekerjaan-pekerjaan yang buruk. Hari pertama yang dikatakan Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an Karim, yakni kenapa kalian (syaitan) tidak bersujud? Jawaban itulah yang telah dia berikan, bahwa aku bukalanlah malaikat. Dia (syaitan)  berkata,” Engkau (Tuhan) telah menciptakan manusia dari tanah yang dibentuk, dari lumpur, sedangkan engkau ciptakan aku dari api. Padahal malaikat tidaklah diciptakan dari api, karena itu pada hari pertama pun itu sudah disangkal, bahwa dia bukanlah malaikat. Syaitan sendiri lah yang mengatakan bahwa aku tercipta dari api, bagaimana aku bisa menjadi malaikat? Aku akan mengerjakan pekerjaan ini, aku akan mengerjakan setiap pekerjaan yang menggangu (manusia-Pent). Allah Ta’ala telah menurunkan malaikat sebagai rahmat. Dan sebagian malaikat ditetapkan untuk memberikan hukuman bagi orang-orang yang melakukan dosa. Tidak ada malaikat yang telah dikatakan Allah kepadanya bahwa kalian bebas, lakukanlah pekerjaan yang akan membawa manusia kepada keburukan. Karena itu, itulah pandangan yang ada dahulu (mengenai syaitan-Pent) dan itu jugalah yang berlaku sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:” Huzur! Jika seseorang telambat sampai untuk melaksanakan shalat jum’at karena sesuatu hal dan khutbah jum’at sudah dimulai, apakah shalat sunat harus segera dilakukan? Saya sering melihat banyak wanita yang bangun melaksanakan shalat (sunnat) pada saat khutbah kedua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huzur Anwar:” Pada prinsipnya adalah ketika sampai, lalu kerjakanlah shalat sunat. Tapi terkadang ada beberapa topic dalam khutbah yang menarik perhatian bagi sebagian orang, sehingga dia beranggapan, jika saya kerjakan shalat sunat sekarang, maka perhatian saya akan tertuju kepadanya, karena itu dia menunggu beberapa saat, setelah itu (dia melakukan shalat sunnat) diantara khutbah kedua dan khutbah yang utama pada saat jeda bagi imam untuk duduk beberapa saat atau khutbah (kedua) yang berbahasa arab yang tidak mereka fahami, karena itu mereka menganggap, tidaklah mengapa kalau (shalat sunnat) dilaksanakan pada saat (jeda) tersebut. Bisa dikerjakan pada dua tempat tersebut. Maksudnya adalah ketika ingin mengerjakan shalat sunat, maka hendaklah perhatian tertuju kepada shalat sunat tersebut kan? Pada dasarnya perintahnya adalah ketika kamu datang dan khutbah sudah dimulai, maka kerjakanlah shalat sunat secara singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanya:” Huzur! Seseorang telah mengatakan bahwa ketika bahasa arab sedang dibaca, maka pada saat itu hendaknya tidak mengerjakan shalat?&lt;br /&gt;Huzur Anwar:” Tidaklah begitu, (shalat) bisa dilaksanakan. Amalan ini berjalan dari sejak Hazrat Khalifatul Masih Awwal sampai sekarang. Meskipun tampak didepannya ada yang sedang membaca (bahasa arab), tapi tidak ada yang menghentikannya (shalat). Tidak juga ada hadits yang secara jelas menyatakan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:” Huzur! Tadi telah dijelaskan mengenai syaitan, bahwa syaitan terbuat dari api, diciptakan dari api. Tapi seringkali terlihat, ketika para ibu marah, menyebut anaknya dengan kata “kamu syaitan!”, atau “anaknya syaitan!”, dll. Apakah perkataan seperti itu dibenarkan?&lt;br /&gt;Huzur Anwar:” Mereka mengucapkan perkataan yang salah. Saya teringat, suatu ketika, Hazrat Khalifatul Masih Tsalis ra sedang menyampaikan ceramah dalam majlis lajnah imaillah, karena itu beliau menasihatkan bahwa, banyak sekali para ibu yang ketika sedang mempersiapkan anak-anaknya untuk berangkat ke sekolah, seiring dengan itu mereka pun memakaikan pakaian pada anak-anaknya dan juga sambil mengeluarkan cacian dari mulutnya, nakal, ini atau itu, apapun yang ingin mereka katakan, mereka lontarkan. Daripada melakukan hal tersebut, kalaulah ketika mempersiapkan anak-anaknya untuk pergi ke sekolah atau pada kesempatan yang lainnya, mereka membaca shalawat atau mebacakan doa-doa, maka doa-doa tersebut akan berpengaruh pada anak-anaknya. Padahal ketika dia mengatakan “anak syaitan” (kepada anaknya) berarti dia tidak hanya mengeluarkan cacian tersebut pada anak-anaknya saja, tapi dia pun sedang mencaci dirinya sendiri dan suaminya.&lt;br /&gt;Penanya:” Huzur! Terkadang, orang tua pun mengatakan “kurang ajar” Ini pun jangan dikatakan kan?&lt;br /&gt;Huzur Anwar:” Sekali-kali janganlah mengucapkannya. Segala sebutan yamh tidak baik yang artinya buruk, akan bisa membawa kepada keburukan, janganlah diucapkan. Inilah sebabnya saya melihat ketika anak-anak datang di masjid Fazl (London), dihadapan saya mereka baik baik saja, tapi ketika bermain diluar, terkadang sampai suara-suara  (sumbang), yang lainnya juga mengatakan kepada saya bahwa terkadang mereka saling mencaci satu sama lain dalam bahasa urdu dan inggris juga, karena mereka belajar sedikit dari sekolahnya, ada juga yang dari teman-temannya dan ada juga yang belajar dari orang tuanya. Kalaulah tarbiyat orang tua baik, maka cacian-cacian ini tidak akan sampai pada mereka. Acara-acara tarbiyat dan seminar yang anda adakan isinya menyampaikan topic-topik berat, padahal selain itu jika diajarkan supaya para ibu berdoa bagi anak-anak mereka sejak mereka masih kecil dan berkata dengan perkataan yang sopan dihadapan mereka, kalau mereka belajar sesuatu yang buruk dari sekolahnya, maka nasihatilah mereka dengan kasih saying, bahwa ini adalah salah, sehingga banyak sekali keburukan yang kita lihat pada anak-anak yang tampak ketika mereka bermain dan itu menjadi bertambah ketika mereka dewasa, sehingga menjadi sulit dihapus, sulit untuk hilang, janganlah seperti itu. Inilah hal-hal yang mendasar, yang didalamnya perlu untuk mentarbiyati anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:” Para istri yang tidak mendapatkan uang saku yang ditentukan dari suami mereka, bagaimana mereka memberikan candah wasiatnya?&lt;br /&gt;Huzur Anwar:”Ini adalah masalah pengaturan, bukan masalah fiqah. Karena itu para pengurus bidang alwasiyat telah membuat satu qaidah untuk menyelesaikan masalah-masalah kantornya yang tentunya jelas telah meminta persetujuan dari Hazrat Khalifatul Masih. Kaidah ini telah berjalan sejak khalifatul Masih Tsalits bahwa biaya untuk keperluan makan minum anda setelah diperkirakan, yakni biaya untuk keperluan makan anda dalam satu bulan misalnya seperti biaya makan seorang pria 100 pound atau 150 pound. Sebagaimana anda makan, setiap orang mengeluarkan biaya rumah tangganya sesuai dengan keadaannya masing masing. Jika perbulan anda membelanjakan 500 atau 600 pound untuk bahan makanan untuk keperluan rumah tangga dan makanan minuman yang lainnya, atau 300 pound, atau 200 pound sedangkan anda memiliki 3 atau 4 anggota keluarga, maka bagilah! Berapa orang anggota keluarga? dari itu berapapun bagian anda, berikanlah candah wasiyyatnya sesuai dengan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanya:” Jika istri yang mengatur pembelanjaan rumah tangga sendiri dan biayanya diberikan oleh suaminya, maka bagaimana caranya?&lt;br /&gt;Huzur Anwar:” Katakanlah kepada suami anda, “saya ingin berwasiyat”, saya berkeinginan untuk itu, jika kamu (suami) mengizinkan, saya akan berwasiyat”. Tapi kaidahnya adalah biaya bulanan untuk keperluan makan minum saya, 100 pound atau 125 pound atau berapapun, saya harus memberikan candahnya sesuai dengan itu. Apakah kamu akan memberikan candah saya tersebut? Jika dia mengiyakan, maka berwasiyatlah! Jika tidak, berdoalah kepada Allah Ta’ala, supaya Allah Ta’ala memberikan akal kepada suami anda, sehingga mengizinkan anda untuk berwasiyat. Maksud dari “anda” adalah bukan hanya anda saja, maksud saya adalah yang suaminya belum juga berwasiyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:” satu dua bulan yang lalu selalu dikatakan bahwa di Pakistan Nampak gambar Masih Mau’ud as di bulan, apakah ini benar?&lt;br /&gt;Huzur Anwar:” Ini adalah kebohongan besar. Setiap orang telah membuat khayalan-khayalan masing masing pada bulan. Ada yang mengatakan bahwa tampak gambar Hazrat Masih Mau’ud di bulan, Sebagian lagi menulis kepada saya bahwa tampak satu gambar beliau as, ada yang menulis tampak gambar minaratul masih, ada yang menulis muncul tulisan nama Muhammad, para Astronom juga mengatakan bahwa dalam beberapa hari bentuk bulan menjadi begini, begitu, dan sedikit lebih besar. Saat ini atau secara umum juga, perhatikanlah bulan! maka didalamnya akan terus tampak kepada anda tanda titik, sebagian bersinar, sebagian yang lainnya gelap. Jadi, apa yang digambarkan manusia terkadang bentuk itulah yang tampak muncul kepermukaan. Pada masa kecil kita sering mengatakan, lihatlah! Disana ada orang tua yang sedang menenun kain dari kapas, sangatlah berberkat perempuan yang menenun kain itu, karena wajahnya selalu tampak dan tampak pada setiap anak-anak. Bagaimanapun semua ini adalah salah, semuanya dusta.&lt;br /&gt;Pertanyaan:” Saya ingin mengklarifikasi berkenaan dengan hari ulang tahun. Saya tahu bahwa kita tidak diperbolehkan untuk merayakan ulang tahun, tapi (bagaimana) jika anak anak kita disekolah diundang (untuk menghadiri perayaan hari ulang tahun) apakah mereka diperbolehkan untuk menghadirinya?&lt;br /&gt;Huzur Anwar:” Janganlah anda merayakan hari ulang tahun anak anda sendiri, tapi jika anak-anak anda diundang pada perayaan hari ulang tahun oleh teman teman sekolahnya, maka jika menurut anda tidak akan ada keburukan (kejahatan:harm) dengan menghadirinya, anda bisa mengizinkan mereka untuk menghadirinya, tidaklah mengapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:” Apakah mereka diizinkan untuk memakan makanan didalamnya ( perayaan hari ulang tahun itu)?&lt;br /&gt;Huzur Anwar:”Tidaklah mengapa, tidak haram. hanya jika daging babi, ham (daging babi bagian paha) atau apapun yang disembelih dengan nama sesuatu selain nama Allah, tidaklah diperbolehkan untuk dimakan, selain itu, semua makanan yang halal boleh dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:” Huzur! Sebagaiamana selalu diadakan kelas-kelas untuk anak-anak perempuan waqifin e nou, kenapa tidak diadakan kelas bagi anak-anak yang bukan wakaf?&lt;br /&gt;Huzur Anwar:”Apa yang harus dilakukan? Kapan saya melarangnya? dimana ada kelas?&lt;br /&gt;Penanya:” (kelas) dengan Huzur.&lt;br /&gt;Huzur Anwar:” Dengan saya? Oke. diadakan kelas dengan saya karena hubungan saya sekarang banyak dengan para waqifin e nou, karena (saat ini) anak-anak waqifin e nou sedang beranjak dewasa. Saya menginginkan tingkatan mereka sedikit lebih baik dibanding anak-anak yang lainnya. Selebihnya kalau ada pertanyaan, kenapa yang lainnya tidak ada? Padahal setiap bulan ada juga program untuk anak-anak yang lainnya, children class  yang didalamnya dihadiri anak-anak yang berumur 14 sampai 15 tahun, kurang lebih berjumlah 125 sampai 150 anak yang hadir. Tidak mungkin untuk yang sudah dewasa. Seberapa banyak waktu yang saya miliki, sesuai dengan itu saya bisa luangkan. Sekarang mereka yang waqifin e nou sudah dibagi kedalam beberapa kelompok, Dalam waqifin e nou terdapat kelompok  jamiah, khuddamul ahmadiyah, athfal yang berumur 12 sampai 15 tahun. Kelompok perempuan yang berumur 12 sampai 15 tahun, kelompok lajnah, juga anak-anak laki-laki dam perempuan yang berumur 9 sampai 12 tahun. Menjadi 6 kelompok. Yang ketujuh adalah children class. berjumlah tujuh. Aor eik ki do mehineh bad barah ati he. Lebih sulit lagi dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:” Huzur! Anak-anak perempuan yang tidak diwakafkan dan sekarang beranjak dewasa, apakah setelah dewasa nanti dia bisa mewakafkan dirinya sendiri?&lt;br /&gt;Huzur Anwar:” Tentu saja boleh. Syaratnya, mereka harus memiliki keahlian. Berikanlah mereka tarbiyat, ilmu-ilmu keagamaan dan kerohanian. Jadikanlah mereka orang yang memiliki keahlian, dokter atau guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanya:” Huzur! Ada bidang yang dikhususkan yang didalamnya anak-anak perempuan bisa mewakafkan dirinya sendiri?&lt;br /&gt;Huzur Anwar:” Bidang yang dikhususkan? Jika ingin melakukannya nanti, maka selanjutnya jemaat akan melihat, apa permintaannya? Apabila anak-anak menjadi sesuai dengan permintaan, setelah nanti dibentuk menjadi sesuatu yang indah dan akan anda persembahkan untuk jemaat, itulah yang sebenarnya dan jemaat pun akan menggunakannya. Penting juga. Ada juga sekolah milik jemaat, di afrika, di Pakistan juga dibuka, ada rumah sakit 2, untuk itu dibutuhkan dokter-dokter, guru-guru, saya telah katakan kepada sebagian orang, ambillah bidang jurnalis, kalau ada yang bagus dalam  bidang jurnalis, maka kita bisa mengambil banyak manfaat dari mereka. Banyak sekali lajnah-lajnah kita yang memberikan manfaat dalam penerjemahan, kalau mempelajari berbagai macam bahasa, urdu, arab juga, maka akan sangat bermanfaat untuk penerjemahan. Begitu jugalah dalam corak yang ada sekarang, meskipun bukan wakaf, tapi saat ini banyak sekali bibel kita yang ada di “research cell” yang telah didirikan oleh Hazrat Khalifatul Masih Arrabi’. Sekarang beberapa anak-anak perempuan waqifin e nou sudah ikut andil didalamnya dan dengan karunia Allah ta’ala, mereka mengerjakannya dengan baik, mereka telah begitu banyak melakukan tugas penelitian dalam membandingkan antara bible dan qur’an, sehingga banyak sekali para pakar-pakar pria kita tertinggal di belakang. Lakukanlah demikian, insya Allah akan bermanfaat. Selanjutnya jemaat akan mengambil pengkhidmatan darinya. Oke? &lt;br /&gt;Soal:”Huzur! Waktu saya di sekolah dulu, saya sering berdiskusi tentang jemaat dengan teman-teman ghair ahmadi. Suatu hari ketika saya memberikan satu referensi dari kitab Shahih bukhari kepada teman saya itu, maka keesokannya dia membawa kitab shahih bukhari tersebut. Setelah dilihat ternyata diketahui bahwa mereka telah menghilangkan hadits tersebut dari kitab itu. Huzur! Apakah jemaat memiliki koleksi shahih bukhari dan shahih muslim terbitan ghair ahmadi yang diterbitkan sebelum pendakwaan Hazrat Masih Mu’ud as ?&lt;br /&gt;Huzur Anwar:” Ya, saya punya kitab tersebut terbitan ghair ahmadi, di jemaat dan di perpustakaan juga ada, tidak ada yang bisa mengingkarinya. Shahih Muslim juga sudah dicetak. Kita berikan referensi dari kitab mereka sendiri. Memang jemaat juga saat ini sedang menerbitkan kitab-kitab hadits terbitan sendiri, saya telah mendirikan noor foundation yang sedang menerbitkan kitab-kitab shihah sittah terbitan sendiri dalam teks bahasa arab disertai terjemah disertai penjelasan singkat, sampai saat ini diantaranya sudah diterbitkan 4 jilid bukhari, kitab Shahih muslim juga telah dicetak beberapa jilid sementara jilid shamail e Tirmidzi sudah diterbitkan. Memang Jemaat sedang menerbitkan (kitab-kitab), tapi sampai saat ini jemaat ahmadiyah masih memberikan dan mengutip referensi hadits-hadits dari kitab-kitab mereka sendiri. Apabila seseorang telah menyobek halamannya, maka biarkanlah menyobeknya. (pada dasarnya-Pent)) tidak ada hadits yang telah dibuang dari kitab manapun. Mungkin saja dia telah menyobek bagian hadits tersebut sebelum datang kepada mu.&lt;br /&gt;Penanya:”Memang halamannya lengkap, tapi hadits tersebut tidak dijumpai dalam dalam buku terbitan itu.&lt;br /&gt;Huzur Anwar:” Ya, mungkin juga dijumpai dalam terbitan sebelumnya, lalu orang yang telah menerbitkannya mungkin telah membuangnya (hadits tersebut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal:” Huzur! Saya ingin bertanya mengenai nasirat yang sudah dewasa yang berumur 12 sampai 14 tahun. Mereka tidak tertarik untuk belajar di kelas, sehingga kami membuat berbagai macam program untuk mereka seperti permainan indoor, mengajarkan masak-memasak, kesenian dan keterampilan, dan lain-lain, tapi mereka tidak ada ketertarikan akan hal-hal tadi (pelajaran dikelas-Pent), mereka merasakan bosan, kami tidak tahu bagaimana caranya untuk menjelaskan kepada mereka supaya mereka tertarik pada pelajaran di kelas, karena pada saat-saat ini justru mereka sangat memerlukan hal tersebut, belum berhasil meskipun sudah berupaya dan berdoa. Kami mohon petunjuk dari Huzur.&lt;br /&gt;Huzur Anwar:”Anak-anak perempuan kan? Anak-anak laki-laki tidak diserahkan kepada anda kan? Untuk para nasirat, anda buatlah program-program yang didalamnya disediakan sedikit makanan dan minuman, permainannya juga, dan hal-hal lain yang menarik bagi mereka, cerita-cerita dll. Berikan juga kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain diantara mereka sendiri. Kalau anda berdiri dan berceramah di depan anak-anak, kasihan, mereka akan merasa bosan mendengarkan ceramah-ceramah, lalu akan menjadi sulit. Karena itu ketika saya mengisi kelas-kelas, saya berikan kesempatan kepada mereka untuk berbicara. Kalau mereka sudah puas berbicara, lalu saya mulai berbicara. Karena itu janganlah anda puaskan diri sendiri dengan berbicara, berikan juga kepada mereka kesempatan berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanya:”Huzur, itulah yang kami katakan kepada mereka, tapi mereka mengatakan bahwa kami tidak punya waktu untuk membuat program-program atau cari alasan-alasan lain.&lt;br /&gt;Huzur Anwar:” Tidak, tidak. Begini, mereka harus dibimbing terlebih dahulu. Untuk segala sesuatu berikanlah gambarannya, yakni inilah topiknya, bawalah ini! Diskusikanlah dengan orang tua kalian! Lalu anda tindak lanjuti! Pertama-tama berikanlah waktu satu bulan kepada mereka, lalu tindak lanjuti, sudah sampai dimana? Apakah dia tertarik atau tidak? Sekretaris Nasirat juga harus memperlihatkan ketertarikan kepada anak-anak, supaya mereka tahu bahwa para sekretaris memiliki ketertarikan tersendiri terhadap pekerjaan dan tugas-tugas kami. Sebenarnya pendekatan secara pribadi akan lebih mengakrabkan lagi. Ciptakanlah itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Penerjemah:Mahmud Ahmad Wardi)                          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description></item><item><title>Pemikiran Dan Anekdot Gusdur</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2010/01/pemikiran-dan-anekdot-gusdur.html</link><category>Opini</category><category>Tokoh Nasional</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Wed, 13 Jan 2010 15:47:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-6011733966201933253</guid><description>&lt;div style="background: rgb(77, 33, 33) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; text-align: justify; font-size: 100%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmPbxFgJ82E98earjQxiZBy4Gm4opFM24Yrqs2dptPgMhFrnHBjrRi6u6Ri5_dehXZNbs1lB_OHajgT9MNdQEVlIhmvj81Q_8sxLdfHUR6EIQRkKNRGvvOnts4wj8XmmPevpqUhPomX-M/s1600-h/gusdur.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 220px; height: 160px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmPbxFgJ82E98earjQxiZBy4Gm4opFM24Yrqs2dptPgMhFrnHBjrRi6u6Ri5_dehXZNbs1lB_OHajgT9MNdQEVlIhmvj81Q_8sxLdfHUR6EIQRkKNRGvvOnts4wj8XmmPevpqUhPomX-M/s400/gusdur.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427118052247531138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PEMIKIRAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lain Dulu Lain Sekarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Ketika bangsa Indonesia berdiri, ada sebuah hal yang sangat menarik,yaitu istilah "merdeka". Dengan kata yang digunakan dalam penggunaan berbeda-beda,maka didapat beberapa arti dan makna. Kata merdeka berarti lepas atau bebas.&lt;br /&gt;Sekarang ini, kata merdeka itu juga digunakan oleh pihak keamanan, seperti merdeka dari penahanan atau bisa diartikan bebas. Namun,kata merdeka lebih dari bebas. Bagi sebuah bangsa, merdeka berarti lepas dari penjajahan. Kata ini digunakan untuk menunjukkan kepada kemandirian politik, ekonomi,maupun lain-lainnya.&lt;br /&gt;Merdeka secara ekonomi, berarti sama sekali tidak bergantung kepada negara lain dalam segala hal. Secara politik, berarti lepas dari penjajahan pihak lain. Contohnya, lepasnya Indonesia dari pen-jajahan kolonial Belanda sehingga bangsa kita mampu segera mengembangkan budaya politik, ekonomi, dan lainnya sendiri.&lt;br /&gt;Kalimat seperti negara A mampu memelihara kemerdekaan yang dicapainya, baik melalui perang maupun dengan cara berunding, merujuk kepada aspek-aspek kemerdekaan itu. Inilah yang digunakan oleh Undang-Undang Dasar 1945 kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika almarhum Raja Ali Haji dari Riau mengubah buku Tata Bahasa Melayu, maka dengan sengaja ia telah "memerdekakan" bahasa Melayu dari bahasa Belanda.Buku ini menjadi cikal-bakal lahirnya bahasa Indonesia.Lahirnya bahasa Melayu sebagai lingua franca, menjadi cikal-bakal dari tumbuhnya kesadaran suku-suku yang ada di nusantara untuk membangun sebuah ikatan kebangsaan.&lt;br /&gt;Hal ini terlihat dengan berdirinya Boedi Oetomo (BO), yang menjadi salah satu bangunan inti kebangsaan kita. Meski demikian, semangat menjadi satu bangsa ini telah tampak dalam sejarah kita sejak abad ke-8.Padahal,Kerajaan Majapahit sendiri baru lahir di tahun 1293 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-8 Masehi, seorang agamawan Budha dari Tiongkok bernama Fahien telah melaporkan adanya semangat menghargai perbedaan di Sriwijaya,Sumatera Selatan. Dua abad setelahnya, orang-orang Sriwijaya menyerbu Pulau Jawa melalui pela-buhan lama Pekalongan. Dalam perjalanan mendaki Gunung Dieng,mereka ditemui oleh orang-orang Kalingga Hindu.&lt;br /&gt;Orang-orang Hindu itu tidak diapa-apakan. Pasukan Sriwijaya tersebut melanjutkan sampai di daerah Muntilan,yang sekarang ini menjadi bagian Kabupaten Magelang. Di sana mereka membangun candi yang dinamakan Borobudur. Sebagian mereka tinggal di Borobudur dan sebagian lagi menuju kawasan Yogyakarta sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kawasan baru itu, mereka dirikan Kerajaan Kalingga Budha dan mendirikan Prambanan, sebuah candi Hindu-Budha yang segera dimusuhi oleh orang Hindu maupun orang Budha. Mereka menganggapnya sebagai agama "campur- aduk". Di bawah pimpinan Prabu Darmawangsa, mereka berpindah dari Prambanan ke Kediri.&lt;br /&gt;Dua abad kemudian, mereka berpindah lagi ke Kerajaan Singasari di Utara kota Malang sekarang.Di sana orang-orang Hindu-Budha itu mendirikan Kerajaan Majapahit di dukung oleh angkatan laut Cina, yang waktu itu hampir seluruhnya memeluk agama Islam. Dari sini kita dapat melihat bahwa asas kebangsaan itu tidak dapat digantikan oleh apa pun.&lt;br /&gt;Namun, sekarang lahir kelompok-kelompok fundamentalis yang mengajak kita semua meninggalkan semangat kebangsaan yang telah mempersatukan kita sebagai bangsa sejak berabad-abad yang lalu. Sebenarnya, setelah dikuatkan oleh UUD 1945,kita telah bertekad mencapai kemerdekaan politik, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Hal ini seharusnya senantiasa kita ingat sebagai bagian penting dari sejarah kita sebagai bangsa. Inilah modal bangsa kita untuk merengkuh kehidupan masa depan, bukan?&lt;br /&gt;Sumber: seputar-indonesia.com, Jakarta,19 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebuah Era Dengan Kejadian-Kejadian Penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pada tahun 1919, HOS Tjokroaminoto bertemu tiap hari Kamis siang di Kota Surabaya dengan dua saudara sepupunya. Mereka adalah KH M Hasjim As'yari dari Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang dan KH A Wahab Chasbullah.Tjokroaminoto disertai menantunya Soekarno, yang kemudian hari disebut Bung Karno.&lt;br /&gt;Mereka mendiskusikan hubungan antara ajaran agama Islam dan semangat kebangsaan/ nasionalisme. Terkadang hadir HM Djojosoegito, anak saudara sepupu keduanya, yang kemudian hari (tahun 1928) mendirikan Gerakan Ahmadiyah. Dari kenyataan-kenyataan di atas dapat dipahami mengapa Nahdlatul Ulama didirikan tahun 1926, selalu mempertahankan gerakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kemudian hari, seluruh gerakan Islam itu dimasukkan ke elemen gerakan yang berupaya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Itu adalah perkembangan sejarah. Ada generasi kedua dalam jajaran pendiri negeri kita, yaitu Kahar Muzakir dari PP Muhammadiyah, KH Abdul Wahid Hasyim dari NU, dan HM Djojosoegito (pendiri gerakan Ahmadiyah).&lt;br /&gt;Tiga sepupu yang lahir di bawah generasi KH M Hasjim As'yari itu banyak jasanya bagi Indonesia. Mereka banyak mengisi kegiatan menuju kemerdekaan negeri kita. Setelah wafatnya Djojosoegito, muncul letupan keinginan membubarkan Ahmadiyah,tanpa mengenang jasajasa gerakan itu di atas. Padahal dalam jangka panjang,jasa-jasa itu akan diketahui masyarakat kita.&lt;br /&gt;Dalam melakukan kegiatan,mereka tidak pernah kehilangan keyakinan. Apa yang mereka lakukan hanya untuk kepentingan Indonesia merdeka.Karena itu,segala macam perbedaan pandangan dan kepentingan mereka disisihkan.Mereka mengarahkan tujuan bagi Indonesia. Mereka terus menjaga kesinambungan gerakan yang ada,guna memungkinkan lahirnya sebuah kekuatan yang terus menggelorakan perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kemudian,NU melahirkan sebuah media pada 1928yangdinamai SoearaNU. Hal itu dilakukan guna memantapkan upaya yang ada.Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dipakai untuk kepentingan tersebut. Dalam nomor perdana majalah Soeara NU, KH Hasjim As'yari menyatakan bahwa ia menerima penggunaan rebana dan beduk untuk keperluan memanggil salat.&lt;br /&gt;Namun, dia menolak penggunaan kentungan kayu. Menurutnya, penggunaan beduk dan rebana didasarkan pada sesuatu yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.Sementara penggunaan kentungan kayu tidak ada dasarnya.Hal ini disanggah oleh orang kedua NU waktu itu, yaitu KH Faqih dari Pondok Pesantren Maskumambang di Gresik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dimuat sebagai artikel balasan dalam media "Soeara NU"edisi selanjutnya.KH Faqih menyatakan, "Apakah KH Hasyim lupa pada dasar pembentukan hukum dalam NU, yaitu Alquran,hadis, ijmak,dan qiyas?" Segera setelah itu, KH Hasyim As'yari mengumpulkan para ulama dan santri senior di Masjid Tebuireng.&lt;br /&gt;Dia menyuruh dibacakan dua artikel di atas.Kemudian, dia mengatakan, mereka boleh menggunakan pendapat dari KH Faqih Maskumambang asalkan kentungan tidak dipakai di Masjid Pondok Pesantren Tebuireng itu. Terlihat di sini betapa antara para ulama NU itu terdapat sikap saling menghormati meski berbeda pendirian.&lt;br /&gt;Hal inilah yang harus kita teladani dalam kehidupan nyata. Penerimaan akan perbedaan pandangan sudah berjalan semenjak Fahien memulai pengamatannya atas masyarakat Budha di Sriwijaya dalam abad ke-6. Prinsip ini masih terus berlanjut hingga sekarang di negeri kita dan hingga masa yang akan datang. Sudah pasti kemerdekaan kita harus dilaksanakan dengan bijaksana dan justru digunakan untuk lebih mengokohkan perdamaian dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, diperlukan kemampuan meletakkan perdamaian dalam penyusunan politik luar negeri,yang diiringi dengan tujuan memperjuangkan kepentingan bersama. Bukankah dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa menerima perbedaan pendapat dan asal-muasal bukanlah tanda kelemahan, melainkan menunjukkan kekuatan.&lt;br /&gt;Bukankah kekuatan kita sebagai bangsa terletak dalam keberagaman yang kita miliki? Marilahkitabangunbangsadankita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejarahan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali.(*)&lt;br /&gt;Sumber: Seputar Indonesia , Selasa 21 April 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kerja Besar Kita Sekarang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KITA dibuat tertegun dengan kenyataan bahwa dalam proses pembangunannya bangsa ini didominasi orang kaya/elite. Tidak punya uang, maka harus “mengalah” dari mereka yang lebih beruntung. Pendidikan dan sebagainya hanya menganakemaskan mereka yang kaya.&lt;br /&gt;Dikotomi kaya-miskin ini berlaku di hampir semua bidang kehidupan. Nah, bagi mereka yang merasa tertinggal, mengakibatkan munculnya rasa marah dan dendam. Pemerintah turut bersalah dalam hal ini, karena mengambil pihak yang salah untuk dijadikan panutan.&lt;br /&gt;Untuk menutupi hal itu, lalu mereka mengambil sikap yang juga salah, yaitu membiarkan salah pengertian satu sama lain antarkelompok melalui politik yang berat sebelah. Contohnya, dibiarkan saja suara berdengung dari garis keras yang meminta pembubaran kelompok minoritas, tanpa memberikan pembelaan kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia dulu dikenal sebagai bangsa yang toleran dan penuh sikap tenggang rasa. Namun, kini penilaian tersebut tidak dapat diamini begitu saja, karena semakin besarnya keragu-raguan dalam hal ini. Kenyataan yang ada menunjukkan, hak-hak kaum minoritas tidak dipertahankan pemerintah, bahkan hingga terjadi proses salah paham yang sangat jauh.&lt;br /&gt;Kaum minoritas agama pun meragukan iktikad baik pemerintah dalam melindungi hak-hak mereka. Memang, terucap janji pemerintah untuk melindungi hak-hak minoritas. Namun, tentunya pemulihan perlindungan itu tidak berupa sikap berdiam diri saja terhadap gangguan yang muncul di mana-mana dalam dasawarsa tahun ini.&lt;br /&gt;Ketika Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) diserang kanan-kiri, termasuk oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), tidak ada pihak mana pun yang memperjuangkan hak mereka yang dilindungi UUD 1945. Baru setelah berbulan-bulan lamanya hal itu dikoreksi, dengan pengambilan sikap yang benar terhadap GAI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dulu kita pernah disibukkan dengan hubungan antara ajaran Islam dan semangat keagamaan yang sempit, sehingga lahirlah pertentangan kultural antara keduanya, maka sekarang ini justru terjadi suatu hal yang tidak kita duga sama sekali; pertentangan antara ajaran Islam dan modernisasi. Saat ini, kita tersentak oleh “penegasan” MUI bahwa Islam perlu dibela terhadap kesalahan-kesalahan anggapan atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, ada usulan agar karya seni seperti film Perempuan Berkalung Sorban dilarang.Penulis sendiri sebagai orang pondok pesantren tidak melihat pembelaan seperti itu diperlukan. Mana batas yang wajar dari yang tidak, itulah yang harus kita cari. Dinasti Sriwijaya memerintahkan penyerangan atas Jawa Tengah, melalui pelabuhan Pekalongan.&lt;br /&gt;Hasilnya adalah munculnya Borobudur sebagai manifestasi agama Buddha yang dianut sebagian besar penduduk Sriwijaya. Namun, mereka juga menyaksikan munculnya cara baru beragama di Jawa,yaitu kaum Hindu-Buddha.Dia bertahan terus hingga abad ke-15 Masehi, terutama dengan memunculkan Kerajaan Majapahit. Tentu saja,pemunculannya didahului semakin mantapnya peradaban Hindu sebelum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara peradaban itu sendiri didahului peradaban lokal, seperti yang dibawakan Raja Prabu Saka di Medang Kamulan (di Malang Selatan). Jelaslah dari uraian di atas, bahwa perkembangan budaya yang terjadi di negeri kita sangat terpengaruh oleh dialog-dialog antaragama dan budaya, yang masih terus berjalan hingga saat ini.&lt;br /&gt;Nah, kesediaan kita berdialog tentang hal itu juga sangat diperlukan,minimal untuk memetakan masa lampau kita sendiri dan untuk mengetahui banyaknya warisan budaya yang kita terima. Penguasaan atas warisan budaya itu sangat berharga,bukan? (*)&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/212895/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ANEKDOT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sate babi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Suatu ketika Gus Dur dan ajudannya terlibat percakapan serius.&lt;br /&gt;Ajudan: Gus, menurut Anda makanan apa yang haram?&lt;br /&gt;Gus Dur: Babi&lt;br /&gt;Ajudan: Yang lebih haram lagi&lt;br /&gt;Gus Dur: Mmmm ... babi mengandung babi!&lt;br /&gt;Ajudan: Yang paling haram?&lt;br /&gt;Gus Dur: Mmmm ... nggg ... babi mengandung babi tanpa tahu bapaknya dibuat sate babi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diplintir media&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur, dalam satu acara peluncuran biografinya, menceritakan tentang kebiasan salah kutip oleh media massa atas berbagai pernyataan yang pernah dikeluarkannya.&lt;br /&gt;Dia mencontohkan, ketika berkunjung ke Sumatera Utara ditanya soal pernyataan Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew tentang gembong teroris di Indonesia, dia mengatakan, pada saatnya nanti akan mengajarkan demokratisasi di Singapura. Namun, sambungnya, media massa mengutip dia akan melakukan demo di Singapura.&lt;br /&gt;Walah ... walah, gitu aja kok repot! (//mbs)&lt;br /&gt;sumber: okezone, Jum'at, 29 Mei 2009 - 13:06 wib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Humor bisa sejenak lupakan kesulitan hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sekalipun pandangan matanya terganggu, Gus Dur dikenal sebagai humoris. Orang yang banyak humor. Saat berbicara, dia selalu menyelipkan joke, cerita lucu, yang membuat pendengarnya tertawa. Joke-jokenya itu disukai oleh banyak tokoh dunia.&lt;br /&gt;"Gus, kok suka humor terus sih?" tanya seorang yang kagum karena humor Gus Dur selalu berganti-ganti. "Di pesantren, humor itu jadi kegiatan sehari-hari," jelasnya.&lt;br /&gt;"Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat," sambungnya. (ahm)&lt;br /&gt;Sumber: okezone.com, Jum'at, 01 Mei 2009 10:56 wib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmPbxFgJ82E98earjQxiZBy4Gm4opFM24Yrqs2dptPgMhFrnHBjrRi6u6Ri5_dehXZNbs1lB_OHajgT9MNdQEVlIhmvj81Q_8sxLdfHUR6EIQRkKNRGvvOnts4wj8XmmPevpqUhPomX-M/s72-c/gusdur.jpg" width="72"/></item><item><title>Berbagai Segi Pardah</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2010/01/berbagai-segi-pardah.html</link><category>Artikel</category><category>Hz Khalifatul Masih Ats Tsani r.a</category><category>Tafsir Kabir</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Tue, 12 Jan 2010 20:08:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-3767526326321837674</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghoIBXUNtjTqZLgSHXobpPzjanPsyqr9aYIBLH3BzYKTYOJKwUQ6nN71ydNhPX9exm-rIJSS3UEKctLvDweLx1VPaGhDhC8hX4bgJHNN0F2wCVqRFir-Yv76zOphQgU8P27d5AvWRwaR8/s1600-h/Muslih+Mau%27ud.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 101px; height: 150px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghoIBXUNtjTqZLgSHXobpPzjanPsyqr9aYIBLH3BzYKTYOJKwUQ6nN71ydNhPX9exm-rIJSS3UEKctLvDweLx1VPaGhDhC8hX4bgJHNN0F2wCVqRFir-Yv76zOphQgU8P27d5AvWRwaR8/s320/Muslih+Mau%27ud.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426409924565125538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div  style="background: rgb(33, 58, 84) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; text-align: justify; color: rgb(255, 255, 255);font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;...."Yang dilarang adalah kalau wanita pergi kesana-kemari dengan wajah terbuka dan bergaul bebas dengan pria. Ya, kalau dia menurunkan kain tipis pada bagian atas pardah dan menutupi wajah lalu melihat jalan dan lain lain dengan mata, diperbolehkan, tapi kalau membuka penutup wajah atau pergi ke pesta-pesta umum, padahal disana-sini terdapat laki-laki, lalu tanpa rasa canggung dia mengobrol bebas tentang hal-hal yang tidak perlu dengan laki-laki, itu tidak boleh. Begitu juga wanita tidak boleh memperdengarkan syair-syair kepada pria, karena ini adalah perbuatan yang laghou."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selengkapnya....silahkan baca!&lt;br /&gt;Firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat". (QS. 24:31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini telah diberitahukan lagi satu cara supaya terhindar dari keburukan yakni, bagi pria mukmin dan wanita mukmin biasakanlah untuk menundukkan pandangannya, karena dengan cara itu, peluang untuk terjadinya keburukan akan sangat sedikit dan jalan untuk tersebarnya keburukan akan tertutup. Seolah-olah meskipun telah ada perintah berkenaan dengan pardah yang telah dijelaskan dalam ayat-ayat Ilahi, tapi masih terbuka kesempatan untuk berkumpulnya antara laki-laki dan perempuan. Dalam kondisi yang seperti itu diperintahkan supaya pria dan wanita, keduanya membiasakan untuk menundukkan pandangannya, supaya syaitan tidak akan menggelincirkannya dan kesucian hati mereka akan tetap terjaga. Adalah aneh ketika Hazrat Al-Masih as juga didalam injil melarang untuk memandang wanita lain (bukan muhrim) dan Islam juga melarangnya.  Tapi Hazrat Al-Masih as hanya mengatakan,”&lt;br /&gt;“Barang siapa yang melihat seorang wanita (bukan muhrim) dengan pandangan birahi, berarti didalam hatinya dia sudah berzina dengannya.”(Matius Pasal 5, ayat 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Islam mengatakan, “Janganlah engkau memandang wajah wanita lain, baik dengan pandangan yang baik maupun pandangan yang buruk, karena seandainya kamu memandangnya, maka syaitan bisa menggelincirkanmu dan setelah itu akan  menanamkan benih keburukan didalam hatimu.” Kalau Islam di satu sisi memerintahkan kaum pria untuk menundukkan pandangannya, bersamaan dengan itu Islam pun menekankan kepada kaum wanita. Sedangkan agama Kristen hanya memerintahkan ajaran itu kepada laki-laki saja, itu pun dalam corak memberikan izin (kepada laki-laki) untuk memandang perempuan yang bukan muhrim secara terang-terangan. Sedemikian rupa penuh kehati-hatian dalam memberikan petunjuk, sehingga mengatakan, “Janganlah memandang dengan pandangan yang buruk (birahi),” tapi itu tidak lain, sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair (dalam bahasa Parsi),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Darmiane ta’re dariya takhta bandam kardae - Baaz mi goiy keh daman tar maken hasyiar baash.”&lt;br /&gt;Artinya: “Memenjarakan (seseorang) di tengah-tengah sungai, lantas mengatakan, ‘Hati-hati, jangan sampai pakaian kamu basah!’ Benar-benar bertentangan dengan akal.”&lt;br /&gt;Begitu juga dengan mengatakan,”Pandanglah wanita-wanita, tapi janganlah memandang dengan pandangan yang buruk (birahi). [Perintah] itu tidak bisa dikatakan layak untuk diamalkan dalam corak apapun, karena akar dari keburukan adalah [disebabkan] oleh pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan. Seandainya akar itu dibiarkan tumbuh, maka tidak akan mungkin keburukan itu bisa berhenti. Walhasil Agama Kristen mempersembahkan sebuah ajaran yang tidak layak untuk diamalkan, tapi Islam memerintahkan supaya pria jangan melihat wanita yang bukan muhrim dan menjaga keimanan dan ketakwaan.&lt;br /&gt;Tapi sebagian orang yang tidak terbiasa untuk memperhatikan hakikat, telah keliru mengambil kesimpulan dari perintah itu bahwa menurut mereka hukum Islam tidak diperbolehkan memandang setiap bagian manapun dari wanita yang bukan muhrim, padahal ini tidaklah benar. Seandainya ini adalah kehendak syariat Islam supaya jangan memandang bagian manapun dari tubuh wanita, maka kalau begitu, tidak akan diizinkan wanita keluar dari dinding tembok rumah dan jendela rumah pun akan dibuat tertutup seperti halnya penjara yang dibuat oleh raja-raja yang kejam pada zaman dahulu, padahal wanita adalah jenis manusia juga sebagaimana halnya pria dan kebutuhan alaminya pun seperti layaknya pria sehingga hukum alami Allah Ta’ala juga berpengaruh sama terhadap keduanya. Hukum itu pun menuntut supaya (wanita) bisa berjalan-jalan menghirup udara bebas untuk kesehatan dan kekuatannya, jangan sampai dengan memikirkan hidup terkungkung didalam ruangan terbatas akan menciptakan kelemahan pada badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat Jiwa Pardah&lt;br /&gt;Selama syariat mengizinkan wanita pergi keluar rumah, sudah lazim, ketika dia pergi keluar (rumah), pandangannya akan banyak tertuju kepada bagian-bagian tubuh kaum pria, sebagaimana pandangan kaum pria tertuju kepada bagian tubuh wanita, meskipun mereka bersembunyi dibalik pakaian dan itu tidak dilarang. Pada hakikatnya, yang merupakan jiwa dari pardah dan (inti pokok) yang diperintahkan dalam ayat ini adalah “menghindarkan bertemunya kedua pandangan itu (pria dan wanita)”. Dan bagian tubuh yang tidak bisa dihindari mata (untuk memandangnya) atau sangat sulit terhindar dari memandangnya adalah (bagian) wajah. Sedangkan untuk bagian tubuh yang lain, selama bagian itu tertutup dengan pakaian yang sesuai, karena memang tidak perlu untuk disembunyikan dan tidak juga bisa disembunyikan, selama wanita tidak meninggalkan kebiasaan pergi ke jalan-jalan umum dan pasar-pasar atau sama sekali kanate taan wanita tidak melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Itu mustahil.&lt;br /&gt;Bagi para wanita bangsawan, mereka bisa berjalan-jalan di halaman rumahnya yang luas, tapi bagaimana halnya dengan wanita-wanita miskin atau kalangan menengah? Tapi para wanita bangsawan pun [kadang] terpaksa pergi dari satu rumah ke rumah lain yang jauh jaraknya untuk bertemu (dengan seseorang), dan wajar saja kalau pandangan mereka tertuju kepada bagian-bagian tubuh para pria yang sedang berjalan di jalan-jalan umum, di gang-gang dan juga yang sedang berada di halaman, stasiun dan dalam kendaraan. Begitu juga sebaliknya, pandangan para pria pun tertuju kepada bagian tubuh para wanita, kecuali kalau pada saat mereka keluar rumah, mata mereka ditutup supaya tidak bisa melihat satu sama lain, tapi tidak akan ada orang yang bijaksana yang bisa mengizinkan hal itu.&lt;br /&gt;Walhasil, bukanlah kehendak dari perintah ghadd e bashr (tundukkan pandangan) supaya wanita dilarang untuk memandang bagian manapun dari tubuh pria atau sebaliknya, tapi hanya menghindarkan dari bertemunya pandangan antara laki-laki dan perempuan, karena (tidak bisa dihindari) bahwa wanita yang pergi keluar rumah, kaki mereka, langkah, tubuh, gerakan tangan, begitu juga hal-hal yang lainnya akan nampak kepada para pria. Begitu juga bagian-bagian tubuh wanita akan nampak pada para pria, dan untuk hal yang demikian, syariat tidak melarang. Tapi bagi wanita yang tanpa hijab menghampiri pria dan tanpa rasa canggung bergaul dengannya, disebabkan hal itu akan menimbulkan gejolak pada tuntutan hewani manusia dan akan mendorongnya kepada nafsu birahi, untuk itu syariat melarang hal yang demikian dan telah memerintahkan pardah kepada kaum wanita.&lt;br /&gt;Pada tempat ini hendaknya diingat bahwa Al-Qur’an Karim tidak menggunakan cara dengan memerintahkan kaum wanita secara terpisah dari kaum pria. Tapi seiring perintah yang ditujukan kepada kaum pria, didalamnya juga termasuk untuk kaum wanita. Pertama-tama disini diperintahkan kepada laki-laki mukmin, supaya menundukkan pandangannya dan juga menjaga farjinya, setelah itu mengatakan Qul lilmu’minaati (katakanlah bagi wanita mukmin) perintah kepada wanita mukmin, supaya mereka pun menundukkan pandangannya dan menjaga farjinya. Satu alasannya bahwa keburukan ini biasa dijumpai pada wanita juga, karena itu perlu adanya perintah secara terpisah bagi kaum wanita supaya mereka juga diperintahkan untuk menundukkan pandangannya. Selain itu, berdasarkan ilmun-nafs (ilmu kejiwaan) bahwa awal mula terciptanya hubungan antara laki-laki dan perempuan selalu disebabkan karena bertemunya pandangan keduanya. Adalah suatu kaidah bahwa ketika pandangan tertuju pada salah seorang, meskipun pandangan yang lainnya tertunduk, tetap saja akan berpengaruh padanya. Karena itu perintah ini bisa bermanfaat, kalau ditujukan kepada kedua-duanya (pria dan wanita) dan bagi keduanya ditetapkan aturan dalam hal ini, supaya mereka jangan melihat satu sama lain, janganlah laki-laki memandang perempuan, jangan juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Perhiasan Wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa laa yubdiina ziinatahunna,&lt;br /&gt;Kemudian bersabda, “Janganlah perlihatkan kepada orang-orang ketika memakai pakaian dan perhiasan yang bagus, kecuali yang nampak dengan sendirinya dan tidak ada dosa atas kalian akan nampaknya hal itu.  Berkenaan dengan  Maa Zoharo minha para Mufassirin berbeda pendapat, apa maksudnya? Sebagian berpendapat bahwa yang dimaksud perhiasan adalah pakaian, dan sebagian lagi berpendapat, maksudnya adalah perhiasan yang terdapat pada tangan dan kaki perempuan, seperti cincin, gelang tangan, gelang kaki, dan lain-lain, sedangkan sebagian lagi berpendapat bahwa maksud perhiasan disana adalah tangan sampai sikut, sebagian lagi berpendapat itu artinya burkah dan cadar pada bagian atas, sebagian lagi berpendapat mehendi (gambar pada kulit) pada tangan. Tapi kata-kata yang digunakan oleh Al-Qur’an Karim adalah  (Illa maa zoharo minha) yakni kecuali yang zahir dengan sendirinya. Kata-kata ini membuktikan bahwa sesuatu yang nampak dengan sendirinya, hanya itu saja yang diperbolehkan nampak oleh syariat. Bukanlah maksudnya bahwa bagian mana yang wanita ingin menampakkannya sendiri, maka dizinkan baginya untuk menampakkannya. Menurut hemat saya, bagian yang utama yang zahir dengan sendirinya ada dua yaitu tubuh (qad) dan gerakan tubuh, caal (langkah, sikap) tapi secara logika, hal ini jelas jika ditinjau dari sudut pandang pekerjaan wanita, atau dari sudut pandang keterpaksaan bahwa bagian yang nampak dengan sendirinya itu tidak termasuk kedalam (aturan) pardah. Jadi, berdasarkan izin itulah seorang Tabib (dokter) (bisa) melihat urat nadi kaum wanita, karena penyakit yang telah memaksanya (wanita) untuk memperlihatkan bagian (tubuh) itu. Seandainya pada wajah (pasien wanita) terdapat penyakit kulit, maka tabib pun akan melihat wajahnya, kalau (pasien wanita) memiliki penyakit dalam, maka dia (dokter) akan melihat lidahnya (pasien itu).&lt;br /&gt;Hazrat Aisyah ra bersabda, “Pada saat peperangan, kami biasa memikul air, sehingga betis kami selalu terbuka.” Terbukanya betis pada saat itu adalah tidak bertentangan dengan Al-Qur’an Karim, bahkan sesuai dengan perintah Al-Qur’an. Dari sudut pandang keperluan peperangan, perlu supaya kaum wanita pun melakukan tugasnya, dan disebabkan karena berlari-lari, betis dengan sendirinya menjadi terbuka,  karena pada saat itu bukanlah memakai celana panjang (pajama), tapi biasa memakai sejenis kain sarung, atas dasar itulah, Seandainya kesibukan (pekerjaan) rumah tangga menuntut para wanita terpaksa bekerja di sawah atau di lapangan, maka bagi mereka diperbolehkan untuk membiarkan terbuka bagian mata sampai hidung dan tidak akan dianggap sebagai pardah yang tidak lengkap, karena tanpa terbukanya itu, wanita tidak akan bisa melakukan pekerjaan. Bagian (tubuh) yang terpaksa harus dibuka untuk kepentingan hidup dan mata pencaharian, dengan terbukanya itu, adalah termasuk dalam perintah pardah (tidak melanggar). Begitu juga wanita yang terpaksa (bekerja) didalam air, bagi mereka juga diperbolehkan untuk melipat (mengangkat) pajama (celana panjang) sehingga betisnya menjadi terbuka. Tapi pekerjaan yang tidak memaksanya untuk mengangkat celananya untuk bekerja di lapangan terbuka, bagi wanita seperti itu mutlak tidak diizinkan. Maksudnya, berdasarkan ayat Illa ma Zoharo minha, dalam keadaan terpaksa, bagian (tubuh) manapun yang harus di buka, maka bisa dibuka. Misalnya wanita tuan tanah, bagi mereka tidak akan bisa mengerjakan pekerjaan memikul dan lain-lain atau pekerjaan lain yang berhubungan dengan pertanahan dengan memakai niqab (penutup wajah), baginya diperbolehkan untuk membiarkan terbuka bagian tangan dan bagian mata sampai hidung, sehingga mereka bisa melakukan pekerjaannya. Tapi bagi wanita yang tidak terpaksa melakukan pekerjaan yang seperti itu, yakni kaum wanita (yang pekerjaannya) hanya keluar rumah untuk melakukan perjalanan, diperintahkan bagi mereka supaya menutup wajahnya.&lt;br /&gt;Jadi maksud dari Illa maa zoharo minha adalah bagian yang dengan sendirinya nampak atau karena terpaksa bagian itu tidak bisa disembunyikan, apakah keterpaksaan itu dari sisi dibuat-buat seperti halnya tubuh, itu juga merupakan satu perhiasan, tapi tidak mungkin untuk menyembunyikannya (tubuh), karena itu, syariat tidak melarang untuk  menzahirkannya, atau dari sudut pandang penyakit, jika terpaksa ada bagian tubuh yang harus diperlihatkan kepada dokter. Bahkan Hazrat Masih Mau’ud as bersabda,” Mungkin saja seorang dokter memerintahkan kepada seorang wanita untuk membuka penutup wajahnya, Seandainya tetap ditutup, maka kesehatannya (wanita itu) akan rusak, lalu dokter memerintahkan untuk berjalan kesana-kemari, maka dalam keadaan seperti itu, kalau wanita tadi (karena mentaati perintah dokter) berjalan kesana-kemari dengan wajah terbuka, maka itu diperbolehkan.&lt;br /&gt;Tapi beberapa ahli fiqih berpendapat, kalau ada wanita yang sedang hamil dan (didaerah itu) tidak ada dokter perempuan, dan dokter memerintahkan,” Kalau kamu tidak meminta bantuan seorang dokter ahli, maka jiwanya akan terancam. Maka dalam kondisi seperti ini, kalau wanita itu pergi kepada dokter laki-laki untuk proses melahirkan anak, maka itupun diperbolehkan. Bahkan kalau ada wanita yang tidak datang kepada dokter laki-laki untuk membantu proses kelahiran anaknya dan anaknya mati, maka dia akan dianggap sebagai pendosa di hadapan Allah Ta’ala, sama halnya dengan dia bunuh diri. Jadi keterpaksaan pun mungkin saja dari sudut pandang pekerjaan. Seperti halnya seorang perempuan tuan tanah yang saya berikan contoh tadi, tidak akan mungkin pekerjaannya akan berjalan, sebelum dia menolong para (pekerja) pria dalam bisnis itu. Semua hal ini temasuk kedalam Illa ma zoharo minha.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Makna Khimar dan Ajaran Menutup Wajah&lt;br /&gt;Kemudian bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walyadlribna bikhumurihinna ‘alaa juyuubihinna.”&lt;br /&gt;“Dan hendaklah mereka menarik kain penutup kepalanya sampai kepada dada.”&lt;br /&gt;Khimar bukanlah nama dari cadar atau dupatta (kain penutup kepala dan dada di India), tapi kain yang digunakan para wanita untuk menutup kepala pada saat bekerja. Jeb dalam bahasa arab disebut dengan belahan pada bagian ujung kameez (kemeja ala wanita india),  seperti di negeri kita (india) disebut dengan geriban. Geriban dibuat dengan berbagai gaya, sebagian orang memasangnya pada bagian belakang, ada yang memasangnya pada bagian pundak sebelah kanan, ada yang pada bagian pundak sebelah kiri, ada yang di bagian depan, ada juga yang dipasang di keduanya yakni kiri dan kanan.&lt;br /&gt;Kebiasaan di negeri arab memasang belahan pada baju itu di depan, yakni pada bagian dada, dan kebiasaan pada kaum wanita Arab mereka kain menutupi bagian punggung dan pundak dan membiarkan bagian dada terbuka sebagaimana yang kita lihat pada kaum wanita Eropa dizaman sekarang. Allah Ta’ala berfirman,” Walyadlribna bikhumurihinna ‘ala juyuubihinna hendaknya mereka menutup dada mereka dengan kain. Karena juyub mereka berada pada bagian depan, karena itu maknanya adalah menarik pakaian dari atas kepala sampai ke dada, yakni menurunkan kain penutup kepala, menutupi wajah sampai kebawah, bukan berarti  bahwa tutupkanlah kain dupatta ke dada, karena khamar tidak memiliki ancal dan kecil. Maksudnya adalah turunkanlah kain itu dari kepala sampai pada dada supaya wajah tidak nampak kepada pria yang datang dari arah depan.&lt;br /&gt;Petunjuk ini memberitahukan bahwa wajah kaum wanita adalah termasuk kedalam aturan pardah, tapi sebagian orang beranggapan keliru bahwa bagi wanita tidak ada pardah untuk wajah, padahal, yang perlu diperhatikan bahwa, apa yang Rasulullah SAW fahami berkenaan dengan ayat-ayat ini dan bagaimana pengamalan para sahabat dan sahabiat (wanita) akan hal tersebut? Untuk maksud inilah, kalau kita perhatikan hadits-hadits dan sejarah Islam, akan diketahui dengan jelas, bahwa pada zaman itu, wajah juga termasuk kedalam pardah, sebagaimana tertulis, bahwa Rasulullah SAW mengutus Ummi Salamah untuk urusan Ristha nata, untuk melihat bagaimana (kondisi fisik-pent) perempuan itu? (Musnad Ahmad Bin Hanbal Jld III, Hal.231). Seandainya pada saat itu (bagian wajah) tidak tertutup, maka apa perlunya Rasulullah SAW mengutus seorang perempuan untuk melihat bagaimana warna kulit wanita itu, dll.?&lt;br /&gt;Begitu juga diriwayatkan didalam Hadits-hadits, bahwa pada zaman Rasul Karim SAW seorang pemuda menyukai seorang perempuan untuk dilamar, sang pemuda meminta kepada ayah si perempuan itu, “Saya menyukai segala sesuatunya, saya hanya meminta agar bapak mengizinkan saya untuk bisa melihat wajah puteri bapak sekali saja, supaya hati saya tenang.” Karena pada saat itu, perintah pardah sudah turun, ayah si perempuan itu meganggap hal ini tidak sopan sehingga dia (sang ayah) menjadi marah. Datanglah sang pemuda itu (mengadu) ke hadapan Rasulullah SAW dan mengungkapkan seluruh peristiwa yang telah terjadi. Rasulullah SAW bersabda, “Memang perintah pardah sudah turun, tapi (perintah) itu ditujukan untuk wanita yang lain (bukan yang sedang dilamar-pent). Seorang wanita yang akan dinikahi oleh seorang pria, dan orang tua wanita itu sudah merestuinya, maka sebelum menikahinya, Seandainya si laki-laki itu ingin melihat (wajah) si wanita, maka dia bisa melihatnya sekali.” Bersabda, “Pergilah dan katakan pada ayah si perempuan itu!” Pergilah sang pemuda dan menyampaikan pesan Rasulullah SAW kepada ayahnya, tapi ternyata keimanannya (sang ayah) masih belum matang, dia menjawab, “Saya bukan tipe orang yang tidak punya malu, sehingga memperlihatkan (wajah) anakku kepadamu.” Sang perempuan yang sedang terduduk dan mendengarkan obrolan itu di dalam kamarnya, ketika ayahnya mengingkari sabda Rasulullah SAW untuk memperlihatkan wajah anaknya, maka seketika itu wanita itu membuka penutup  wajahnya dan keluar dari kamarnya, lalu berkata, “Ketika Rasulullah SAW sudah memerintahkan untuk melihat wajah saya, apa hak ayah saya untuk mengingkarinya, sekarang aku berdiri di hadapanmu, lihatlah aku!” (Ibnu Majah Kitabun Nikah dan Musnad Ahmad Bin Hanbal jld IV Hal.244).&lt;br /&gt;Seandainya wanita itu terbiasa pergi keluar rumah dengan wajah terbuka, maka apa perlunya si pemuda itu mengatakan hal itu kepada ayah sang perempuan untuk meminta diperlihatkan wajah puterinya? Dan apa maksud dari meminta izin kepada Rasulullah SAW berkenaan dengan itu? Begitu juga terdapat didalam hadits-hadits, suatu ketika Rasulullah SAW bersama salah seorang istri Beliau yang bernama Shafiah ra pada malam hari melewati suatu gang, Beliau melihat ada seorang pria yang datang dari arah depan, Beliau SAW merasa ragu, jangan sampai si pria ini berfikir didalam hatinya, bahwa saya (Rasul SAW) sedang bersama dengan wanita lain, karena itu Rasulullah SAW membuka pardah yang menutupi wajah istri Beliau dan bersabda,”Lihatlah! Dia adalah Shafiah. (Bukhari Abwabul I’tikaf dan Musnad Ahmad Bin Hanbal Jld.III Hal. 156 dan 285). Seandainya ada perintah untuk membiarkan wajah terbuka, maka tidak akan ada keraguan yang membahayakan seperti itu.&lt;br /&gt;Begitu juga diriwayatkan, berkenaan dengan Hazrat Aisyah ra, ketika Beliau ra sedang melawan seorang prajurit musuh pada peperangan “jamal”, si musuh memotong tali pengikat hodaj (tempat duduk pada unta) dan dijatuhkan, maka seorang Khariji yang kurang ajar itu membuka pardah hodaj  dan mengatakan,” wah, disini ada wanita yang berwarna kemerah-merahan (merona-pent). Seandainya para istri Rasulullah SAW terbiasa dengan membiarkan terbuka wajah beliau-beliau, ketika Hazrat Aisyah duduk bertarung pada hodaj, maka pada saat itu musuh itu seharusnya sudah melihat wajah beliau ra sehingga tidak akan ada hal yang mengherankan lagi bagi si musuh itu.&lt;br /&gt;Bagi mereka yang mengatakan bahwa didalam Islam tidak ada perintah untuk menutup wajah, kita akan bertanya, bahwa Quran karim telah memerintahkan untuk menyembunyikan perhiasan, sedangkan, wajahlah yang merupakan perhiasan paling berharga. Seandainya tidak ada perintah untuk menutupi wajah, lantas apa yang dimaksud dengan perhiasan, sehingga diperintahkan untuk menyembunyikannya? Tentu kita sependapat untuk menutup wajah tapi jangan sampai berakibat buruk pada kesehatannya, misalnya (dengan cara) menutupinya dengan kain tipis, atau dibuat penutup wajah seperti yang digunakan oleh kaum wanita di negeri Arab yang membiarkan lubang hidung dan mata terbebas (lubang-lubang kecil pada kain-pent), tapi tetap wajah tidak bisa dipisahkan dari pardah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pardah di Dalam Rumah&lt;br /&gt;Selanjutnya berfirman,&lt;br /&gt;“Wa laa yubdiina ziinatahunna illa libu’uulatihinna ao aabaaihinna …ila akhir,” (dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera- putera saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara-saudara laki-laki meraka, atau putera-putera saudara-saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan, (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita,&lt;br /&gt;Dari kata ao Nisaaihinna bisa diketahui bahwa perlu juga untuk berpardah dihadapan sebagian wanita. Ada kebiasaan di setiap negeri dan zaman dahulu juga pernah terjadi di negeri kita, meskipun sekarang sudah berkurang, bahwa orang-orang jahat menyimpan wanita-wanita nakal yang akan mendatangi rumah-rumah untuk menggelincirkan para wanita dan membawanya lari (dari rumah), syariat telah memerintahkan untuk melarang wanita-wanita yang seperti itu, dan hendaknya jangan mengizinkan kepada setiap wanita untuk masuk kedalam rumah, izinkanlah masuk wanita-wanita yang tidak akan menimbulkan bahaya seperti itu, dan kenalilah dengan benar peri keadaan mereka (wanita). Bagi mereka yang menelaah sejarah, maka akan mengetahui bahwa penyebab kehancuran yang menimpa spanyol dan India adalah wanita. Ketika orang-orang Kristen Spanyol menyebarkan wanita-wanitanya dikalangan umat Muslim, dan meminta mereka (para wanita) untuk melakukan bermacam-macam perbuatan yang kotor dan menjadikan para wanita sebagai sarana untuk menyebarkan agamanya juga telah merubah pemikiran para wanita Islam, sehingga mengakibatkan hilangnya semangat pada generasi Muslim selanjutnya dalam menentang Kristen malah mereka sedemikian rupa bercampur baur dengan Kristen, sehingga orang-orang Kristen mendapatkan tempat terhormat atas hal tersebut. Di sisi lain, orang-orang Kristen dengan perantaraan wanita-wanitanya, telah menciptakan kebiasaan bersenang-senang dan bersantai ria di kalangan umat Islam, sehingga dalam diri umat Islam tidak tersisa lagi kecintaan terhadap Islam tidak juga kekuatan untuk melawan, pada akhirnya Kristen mulai menguasai secara paksa negeri berpenduduk Muslim itu. Sedemikian berkembang dan sampai pada tembok dinding Gharnatah, meskipun demikian umat Islam tidak sadar juga, mereka sedemikian rupa terbuai dalam kesenangan, seolah-olah yang berada diluar kota itu adalah pawai pengantin,  padahal itu adalah pasukan tentara. Akhirnya mereka berencana untuk meninggalkan negerinya menuju ke Afrika.&lt;br /&gt;Tapi sejak kapan umat Kristen membiarkan mereka untuk meninggalkan negerinya? Umat Kristen menenggelamkan kapal laut (yang ditumpangi umat Islam) didalamnya, dengan seizin Raja Kristen sendiri umat muslim telah memenuhi/melengkapi kitab-kitab literature Islami. Demikianlah nama Islam dan umat Islam dilenyapkan dari Spanyol. Begitu juga di Hindustan, perempuan-perempuan Kristen pergi ke rumah-rumah orang Islam dan menjadikan wanita-wanita Islam sebagai Kristiani. Tapi sangat disesalkan, sampai sekarang umat Islam memasukkan puteri-puterinya ke sekolah-sekolah pendeta. Dimana yang menjadi pengajarnya adalah perempuan-perempuan Kristen dan akibatnya wanita muslim menjadi bosan dengan agamanya sendiri dan mentertawakan Islam. Illa Masya Allah.&lt;br /&gt;Walhasil, Allah Ta’ala berfirman,” Berkenaan dengan perempuan juga, pertama-tama selidikilah terlebih dahulu, bagaimana sikap dan tabiatnya? Ketika kalian merasa puas, lalu izinkanlah mereka masuk ke rumah. Inilah maksud dari Nisaaihinna. Dan perempuan yang datang ke rumah kalian harus perempuan yang baik-baik, seolah-olah mereka adalah kerabat kalian.&lt;br /&gt;Kemudian berfirman,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ao Maa Malakat aimaanuhunna&lt;br /&gt;Diperbolehkan bagi wanita untuk menzahirkan perhiasannya dihadapan para hamba sahaya perempuan, karena hamba sahaya perempuan dianggap sebagai anggota keluarga juga. Tapi artinya tidak seperti sebagian Mufassirin yang keliru memahaminya bahwa wanita-wanita kita boleh datang kehadapan hamba sahaya laki-lakinya, karena budak belian boleh ditangkap pada saat peperangan yang penuh darah antara musuh dengan kaum. Peperangan juga bukan disebabkan karena politik, tapi disebabkan agama. Dan ketika musuh yang seperti itu saja qoum ke barsar jang afrad tertangkap sebagai tawanan, maka bagaimana bisa timbul pertanyaan, supaya wanita harus berpardah atau tidak dihadapan mereka? Ketika syariat memerintahkan kepada kaum wanita untuk berpardah dari orang-orang yang baik dari antara kaum sendiri, lantas pemikiran untuk mebuka pardah dari orang yang berasal dari bangsa musuh bisa timbul dalam otak seseorang yang dangkal dari akal dan pemahaman. Jadi pada tempat (ayat) ini tidak disebutkan berkenaan dengan ghulam (hamba sahaya laki-laki), melainkan hanya disebutkan hamba sahaya perempuan dan itupun hamba sahaya perempuan yang bisa dipercaya sepenuhnya, tidak termasuk wanita-wanita yang nakal dan tidak berakhlak, tapi wanita yang dari sisi mana pun layak untuk dipercaya dan dalam kehormatan dan kesetiaannya benar benar tidak bernoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ghoiri ulil irbati minarrijaal&lt;br /&gt;Dalam mengartikan ayat ini, Sebagian (Mufassirin) mengikut sertakan juga para waria, sedangkan Rasulullah SAW (sendiri) memerintahkan untuk berpardah dari waria. Sebagaimana suatu ketika Beliau bersabda kepada para istri Beliau SAW, “Kalau waria datang, berpardahlah kalian dari mereka! Begitu juga Beliau bersabda,”Mereka (waria) pergi keluar dan bercakap-cakap juga dengan pria-pria yang lainnya, hal itu bisa menyebabkan tersebarnya keburukan (Abu Daud Kitabullibas dan Ibnu Majah kitabun nikah dan Musnad Ahmad Bin Hanbal jld 6, Hal.290). Dari itu bisa diketahui disini Ghoiri ulil irbati minarrijaal bukan berarti waria, tapi maksudnya adalah pekerja yang sudah tua yang sudah sedemikian terjauh dari nafsu Shahwat, sehingga tidak akan ada fikiran buruk lagi yang bisa menghampirinya. Karena waria itu bisa saja masih muda, dan disebabkan karena sarana sementara dalam menghilangkan kejantanan, shahwat dan kemarahannya menjadi hebat, Karena itu mereka tidak bisa diikut sertakan didalamnya. Selain itu, terbukti dari Al-Qur’an Karim bahwa merusak wajah manusiawi adalah pekerjaan syaitan, sebagaimana terdapat dalam Quran Karim, Syaitan berkata,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wala aamuronnahum falayughoyyirunna kholqollaahi (Annisa R.18).&lt;br /&gt;Dengan perintahku orang-orang akan selalu merubah wajah-wajah yang dibuat oleh Allah Ta’ala. Karena itu didalam Islam tidak diizinkan untuk menjadikan seseorang waria dan sesuatu yang tidak jaiz, bagaimana untuk itu bisa disampaikan perintah perintah. Jadi, maksud dari kata-kata ini adalah pekerja yang tua renta, orang gila, kerabat yang setengah waras yang tidak memiliki nafsu syahwat, atau anak-anak yang belum timbul nafsu shahwatnya dan tidak mengetahui hubungan antara pria dan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaa Yadlribna biarjulihinna liyu’lama maa yukhfiina min ziinatihinna&lt;br /&gt;Perhiasan-perhiasan apakah yang tersembunyi, hendaknya wanita jangan menggoyangkan kaki, supaya bunyi gelang dikakinya tidak terdengar oleh orang-orang sehingga mereka akan mengetahui bahwa dia adalah wanita kaya, akan menguntungkan jika bergaul dengannya (wanita itu).&lt;br /&gt;Dari ini pun bisa diketahui bahwa syariat melarang tari-tarian, dll. Karena dari itu akan timbul rasa tidak punya malu. Perintah ini sedemikian memiliki hikmat, kalau ada orang yang merenungkan hal ini tanpa berat sebelah, maka dia tidak akan bisa hidup tanpa mengikrarkan keindahan perintah-perintah ini. Karena dengan ini banyak sekali keburukan yang telah dihilangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Konsepsi Pardah Yang Salah&lt;br /&gt;Di dalamnya tidak ada keraguan, bahwa berkenaan dengan pardah, di beberapa tempat telah diterapkan sedemikian rupa kerasnya sehingga mereka (wanita) keluar rumah diangkut dengan doli (tandu untuk wanita) sebagaimana saya sendiri melihat mereka memikul wanita didalam doli (tandu untuk mengangkat manusia) dan disekeliling doli pardahnya tertutup rapat lalu menaikkannya kedalam kendaraan. Dibeberapa kaum, lebih keras lagi dari itu dalam menerapkan pardah, mereka mengatakan,” Jenazah wanita tidak boleh dikeluarkan, sebelum dimasukkan kedalam tandu. Tapi ini sebetulnya adalah cara pardah buatan mereka sendiri yang sangat zalim dan akibatnya buruk bagi kesehatan, akhlak, ilmu, dan agamanya.&lt;br /&gt;Pardah seperti itu tidak dijumpai didalam Al-Qur’an dan Hadits, bahkan didalam Quran Karim secara gamblang diketahui bahwa wanita diizinkan untuk pergi keluar (rumah). seandainya tidak ada izin bagi mereka untuk pergi keluar, maka apa perlunya ada perintah untuk menundukkan pandangan. Kemudian dari sejarah diketahui bahwa pada zaman Rasul karim SAW, para istri  Beliau dan puteri-puteri beliau sendiri biasa pergi keluar rumah, ikut serta dalam peperangan, bekerja di sawah, dan lain-lain, pergi untuk memenuhi kebutuhan manusiawi, pergi untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya. Hal itu terbukti banyaknya ditemukan dan bisa dilihat buktinya dari sejarah yang sekecil-kecilnya pun. Walhasil Islam sekali-kali tidak memerintahkan supaya kaum wanita tinggal di rumah-rumah, padahal di zaman awal juga kaum wanita Islam tidak melakukan hal tersebut, bahkan mereka selalu datang untuk mendengarkan cerama-ceramah, nasihat Rasul Karim SAW, ikut serta dalam peperangan, mengobati luka–luka (prajurit perang), menaiki kendaraan, menuntut ilmu dari para pria dan mengajarkannya pada pria.&lt;br /&gt;Berkenaan dengan Hazrat Aisyah ra terbukti bahwa beliau ra memperdengarkan hadits-hadits Rasulullah SAW kepada para pria, bahkan beliau sendiri ikut bertarung dengan pria, suatu ketika beliau pernah juga memanah. Maksudnya adalah sedemikian rupa mereka mendapatkan kebebasan, mereka hanya diperintahkan untuk menutup kepala, leher, atau bagian muka yang berhubungan dengan kepala dan leher, supaya celah yang bisa menimbulkan dosa-dosa bisa tertutup, dan kalau bisa lebih berhati-hati lagi, maka tutuplah dengan niqab (pardah).&lt;br /&gt;Bukanlah ajaran Islam apabila hidup tertutup didalam rumah, jauh dari keilmuan dan tarbiyat, hal itu tidak juga pernah diamalkan sebelumnya. Kita jumpai didalam hadits-hadits berkenaan dengan cara-cara yang digunakan oleh Rasulullah SAW pada saat kondisi aman, beliau saw sering mengadakan pertarungan persahabatan dengan para sahabat beliau, yang didalamnya ditampilkan keahlian dalam memanah, menggunakan peralatan perang dan kekuatan. Suatu saat beliau pernah juga mengadakan permainan sejenis itu di mesjid dan bersabda kepada hazrat Aisyah, “Kalau kamu ingin melihat, berdiri dibelakangku dan naiklah ke pundakku.” Demikianlah beliau ra juga berdiri diatas pundak beliau saw dan menonton seluruh pertunjukan latihan perang kurtub (Bukhari Kitabul Eidain). Dari  itu terbukti bahwa Islam menganggap perlu untuk mengajarkan (cara menggunakan) peralatan perang kepada kaum wanita, supaya ketika tiba waktunya, dia bisa melindungi dirinya dan negerinya dalam peperangan. Kalaulah hatinya bergetar ketika melihat kilauan pedang atau darahnya seketika itu menjadi kering ketika mendengar suara meriam atau senjata, maka dia tidak akan rela mengizinkan anak-anaknya pergi ke medan perang dan juga dia sendiri tidak bisa ambil bagian dalam menjaga negerinya dengan penuh keberanian.&lt;br /&gt;Kehancuran pemerintahan Mughal di Hindustan hanya disebabkan oleh sifat pengecut para wanitanya dan tidak adanya be ja muhabbat para pria. Pada zaman Ghadar, ketika mata-mata (penyusup) Inggris melihat pasukan Mughl meletakkan meriam di suatu tempat yang dengannya bisa merugikan pasukan Inggris maka mereka (pasukan inggris) mengirim pesan kepada istri tercinta sang raja, Zinat Mehel, yang memiliki persekongkolan secara diam-diam dengan Inggris (khianat) dan menginginkan supaya anak saya bisa menjadi pewaris tahta, (Inggris mengatakan) kalau kamu ingin mendapatkan keuntungan, maka suruh mereka untuk memindahkan meriam itu,  terus Zinat Mehel dengan beralasan sakit, berkata kepada raja bahwa hatiku gentar (kalau mendengar letupan meriam) dan akan pingsan, suruh untuk pindahkan meriam ini dari sini atau bunuh saja aku terlebih dahulu. Atas perintahnya (istri), sang raja menyingkirkan meriam itu dari sana, yang berakibat lepasnya tampuk pemerintahan dari tangan umat muslim sehingga keluarga kerajaan dan tampuk pemerintahan dilli menjadi berbalik. Sekarang kalaulah peristiwa itu benar terjadi, maka karena itulah alasan Zinat mehel (istri raja) berpengaruh pada sang raja, karena sang raja mengetahui bahwa dia (istrinya) memang tidak terbiasa mendengar suara letupan meriam. Sebaliknya, kalaulah dia (istrinya) terbiasa mendengar meriam meletup dihadapannya, dan terbiasa dengan persenjataan perang, maka dia tidak akan membuat-buat alasan seperti itu, sehingga sang raja bisa menjawab,” Kalaulah kamu sebelumnya terbiasa mendengarkan letupan meriam, maka bagaimana mungkin kamu akan pingsan. Begitu juga kalaulah sang raja mahir dalam (menggunakan) persenjataan perang, dan seumur hidupnya dia gunakan untuk hal-hal seperti itu, memahami (seluk beluk-pent) peperangan dan akibatnya, maka bagaimana mungkin dia akan mempercayai perkataan seorang wanita. Karena dia sendiri (sang raja) tidak mengenal persenjataaan perang dan tidak memperkenalkan istrinya dengan peralatan perang, sehingga Zinat mehel bisa menipu sang raja. tapi ketika Hazrat Aisyah ra melihat pemandangan perang, beliau sekali-kali tidak akan mengatakan bahwa hatinya gentar, karena Rasulullah SAW telah memperkenalkan peralatan perang dan selalu menyertakan salah satu istrinya bersamanya (dalam peperangan), sehingga didalam diri mereka timbul keberanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiprah Wanita dalam Masyarakat Muslim&lt;br /&gt;Berdasarkan ajaran Islam, bersamaan dengan penerapan kaidah-kaidah pardah, seorang wanita bisa ikut serta mengerjakan segala macam pekerjaan seperti halnya kaum pria, dia bisa belajar dari pria, bisa mendengarkan kuliahnya (pria), dan Seandainya didalam majlis-majlis, seorang wanita terpaksa harus memberikan ceramah yang tidak bisa dilakukan oleh seorang pria, maka wanita pun bisa berceramah. Dalam majlis-majlis tarbiyat, atau kuliah boleh duduk dengan cara terpisah dari kaum pria, dan dalam kesempatan yang sangat penting, wanita bisa menyampaikan pendapatnya, juga bisa berdebat. Karena dalam perkara-perkara yang perlu adanya andil kaum wanita, dalam perkara seperti itu perlu untuk bermusyawarah dengan kaum wanita. Begitu juga, dalam kondisi yang sangat penting, seorang wanita bisa duduk bersama dengan pria, sebagaimana halnya Rasulullah SAW dalam keadaan safar, ada seorang pemudi yang sedang berjalan, lalu Rasulullah mendudukkan perempuan itu di atas kuda dan posisinya berada dibelakang Rasul SAW. (Musnad Ahmad Bin Hanbal jilid 6 hal 380)&lt;br /&gt;Seandainya ada yang berbuat seperti itu, Sesuai dengan adat istiadat di negeri kita, mungkin saja seluruh kaum akan memboikotnya.  Tapi hukum-hukum syariat sudah kita dapatkan sejak 1300 tahun yang lalu, tidak ada yang bisa merobahnya (syariat-syariat) itu, dengan melihat amalan-amalan Rasulullah SAW, saya beranggapan bahwa Seandainya pada kendaraan yang berpenumpangkan perempuan, ada hal-hal yang membahayakan, maka kewajiban kaum pria lah untuk menempatkan wanita itu pada kendaraan yang berpenumpangkan laki-laki, atau si wanita itu sendirilah yang pergi menaiki kendaraan yang berpenumpangkan pria, dimana didalam kendaraan itu ada pria-pria yang berakhlak baik, kalau si wanita itu menganggap dengan begitu kehormatannya akan lebih terjaga dibandingkan dengan duduk sendiri di dalam kendaraannya. Begitu juga kalau sekiranya tidak ada yang membahayakan, seorang wanita bisa pergi sendiri untuk berbelanja ke pasar-pasar. Di negeri Arab, saya melihat para wanita pergi sendiri berbelanja ke pasar-pasar, bahkan penduduk (pria-pent) disana mengatakan bahwa para wanita tidak menyukai barang-barang yang dibeli oleh kami (kaum pria), mereka mengatakan, tahu apa laki-laki (dalam berbelanja-pent)? bagaimana cara memilih pakaian, juga barang-barang yang lain, apa yang mereka tahu? Biar kami akan pergi sendiri untuk membelinya.&lt;br /&gt;Yang dilarang adalah kalau wanita pergi kesana-kemari dengan wajah terbuka dan bergaul bebas dengan pria. Ya, kalau dia menurunkan kain tipis pada bagian atas pardah dan menutupi wajah lalu melihat jalan dan lain lain dengan mata, diperbolehkan, tapi kalau membuka penutup wajah atau pergi ke pesta-pesta umum, padahal disana-sini terdapat laki-laki, lalu tanpa rasa canggung dia mengobrol bebas tentang hal-hal yang tidak perlu dengan laki-laki, itu tidak boleh. Begitu juga wanita tidak boleh memperdengarkan syair-syair kepada pria, karena ini adalah perbuatan yang laghou.&lt;br /&gt;Fitrat insani tidak dapat mentolerir bahwa kaum pria yang kuat, untuk menjaga kesehatannya,  memerlukan udara bebas (luar) sedangkan wanita yang secara fitrat lemah, malah harus dihindarkan dari udara bebas(udara diluar rumah-peny). Terbukti dari hadits-hadits, suatu saat Rasulullah berlomba lari dengan Hazrat Aisyah dihadapan orang-orang, yang akhirnya dimenangkan oleh Hazrat Aisyah, tapi dalam kesempatan lain diadakan lagi lomba, yang akhirnya dimenangkan oleh Rasulullah SAW. Walhasil, pardah yang dipaksakan terhadap perempuan, yang kalau tanpa ditandu dia tidak beranjak keluar rumah adalah suatu kezaliman dan bertentangan dengan pardah Islam.&lt;br /&gt;Sebaliknya dari itu, ada satu lagi pardah yang ada di negeri kita, wanita pergi keluar (rumah) dengan memakai burkah dan pergi dari satu rumah ke rumah lain, dan mereka tidak diizinkan lebih dari itu. Meskipun cara-cara pardah yang sama, seperti yang disebutkan tadi tidak bisa disangkal, tapi dengan cara-cara seperti itu kaum wanita tidak akan mendapatkan bantuan untuk perkembangan otak dan kemajuan dalam kesehatan, yang justru hal itu sangat diperlukan untuk kemajuan suatu bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Burkah yang Baik&lt;br /&gt;Model lain burkah kita yang kuno justru akan merusak kesehatan wanita atau dengan mengatasnamakan pardah, malah justru menyebabkan tidak adanya pardah. Pada model burkah seperti itu dari bawah sampai keatas tertutup pakaian  lurus bersambung, dan tangan wanita pun tertutup didalamnya, sehingga kalau dia menggendong anak, maka bagian depannya menjadi terbuka telanjang dari kepala sampai kaki dan menjadi satu pemandangan yang menimbulkan rasa jiji dan dengan sendirinya akan menimbulkan rasa benci terhadap model pardah yang seperti itu. Lebih baik lagi adalah model cadar yang ada sebelum burkah ditemukan yang dengan memakainya para wanita juga bisa melakukan pekerjaannya dan bisa menutupi diri sendiri. Menurut saya (model) burkah yang baru yang disebut dengan burkah Turki, dari sisi pardah adalah yang paling baik, dibandingkan dengan (model) pardah-pardah yang lain dengan syarat tidak menutupi tubuh dengan ketat. Tapi seperti kebiasaan para wanita dalam jemaat kita, mereka mengenakan jas yang menutupi pundak sampai kaki, jangan memakai jas ketat yang akan memperlihatkan lekuk tubuh. Seandainya jenis pakaian yang seperti itu diperbolehkan, kalau begitu pakaian untuk tubuh saja sudah cukup. Quran Majid tidak memerintahkan untuk menutupi dengan kain yang lainnya lagi.&lt;br /&gt;Manfaat lain burkah dengan model seperti itu adalah tangan menjadi leluasa dan dengan burkah itu, wanita bisa mengerjakan segala jenis pekerjaan dengan nyaman, seperti halnya dokter, pada saat mengoperasi dia bisa memakai jas yang longgar, tapi seiring dengan itu, bagi perempuan yang masih sangat muda belia, adalah suatu kezaliman apabila dia disuruh memakai burkah, efeknya buruk bagi kesehatannya, dan tubuhnya tidak akan bisa berkembang dengan baik, ketika perempuan beranjak dewasa, pada saat itu dia harus diperintahkan untuk memakai pardah, sebelum itu jangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah Kerja Bagi Pria dan Wanita&lt;br /&gt;Ada lagi pertanyaan, “Kenapa pardah diperintahkan kepada perempuan, kenapa tidak diperintahkan kepada kaum pria? Maka jawabannya adalah ,”(perintah) pardah adalah sama untuk keduanya, kalau perempuan diperintahkan untuk memakai cadar pada saat  pergi keluar (rumah), tidaklah berarti bahwa perintah pardah hanya untuk wanita saja, tapi penyebab yang sesungguhnya adalah area kerja untuk kaum pria adalah diluar (rumah), sedangkan area kerja untuk perempuan adalah didalam dinding rumah, walhasil ketika wanita memasuki area kerja laki-laki, maka dia memakai cadar, sedangkan karena itu adalah area kerja bagi kaum pria, maka dia (laki-laki) akan bebas pergi kesana-kemari (diluar). Kalau didalam area kerjanya sendiri, dia (laki laki) diperintahkan untuk mengenakan cadar, karena setiap saat dia mengerjakan pekerjaannya disana (diluar), maka baginya akan sulit untuk bekerja. Begitu juga sebaliknya, kalau perempuan yang memang tinggal didalam dinding tembok rumah sendiri, lantas diperintahkan untuk mengenakan cadar, maka dia akan ghabrana dan tidak akan bisa mengerjakan pekerjaannya.&lt;br /&gt;Untuk menyeimbangkan perbedaan ini, diperintahkan kepada para pria supaya jangan sekali-kali memasuki area kerja kaum wanita (rumah), biarkanlah dia mengerjakan pekerjannya dengan leluasa, dan kalau (laki laki) akan memasuki rumah orang lain, dia harus meminta izin terlebih dahulu, tapi bagi wanita tidak perlu meminta izin kepada laki-laki (umum, bukan suami) untuk pergi keluar rumah, karena wanita memiliki hak untuk berada didalam area kerja laki laki (luar rumah), wanita bisa bebas berhubungan dengan jalan-jalan umum dan pasar. Tapi bagi pria umum (bukan muhrim) tidak ada hak untuk berada pada area kerja kaum wanita (rumah), walhasil bagi wanita tidak perlu meminta izin, cukup dengan memakai pardah dan menutupi tubuh dan kaum pria dilarang untuk memasuki area kerja wanita tanpa izin, walhasil didalam pardah tidak ada istilah hormat dan tidak hormat, tapi ini adalah pembagian yang terpisah antara area kerja laki-laki dan perempuan dan penentangan yang terjadi itu hanyalah disebabkan oleh adat istiadat dan kebiasaan saja (suatu kaum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pardah dan Kemajuan Kaum Wanita&lt;br /&gt;Dikatakan juga bahwa disebabkan karena pardah wanita tidak bisa meraih kemajuan dan kesehatannya menjadi rusak, ini adalah benar-benar keliru, wanita yang sama sekali tidak berpardah lalu pergi kesana-kemari, pekerjaan apa yang bisa dia lakukan, lantas tidak bisa dilakukan oleh wanita yang berpardah? Pada saat wanita berpardah sesuai dengan hukum Islam, saat itu kesehatannya juga baik. Mereka juga ikut serta didalam peperangan, membunuh musuh-musuh juga, tapi pada zaman ini, wanita yang pergi kesana-kemari tanpa pardah, dia tidak sedang melakukan apa-apa. Sebenarnya kesehatan itu timbul dari harapan dan keinginan, ketika didalam diri seseorang tidak ada keinginan, meskipun dia di perintahkan untuk berdiri pada puncak gunung, dia akan terjatuh juga, sebaliknya kalau ada harapan dan keinginan, meskipun dia dikurung selimut, tetap dia akan terus melambung tinggi (bulend) sehingga saya selalu berusaha supaya pardah para wanita ahmadi sesuai dengan syariat, dan pada masa kekhalifahan saya, di Qadian maupun di Rabwah jumlah wanita yang berpendidikan selalu lebih banyak dibanding dengan yang tidak, Tapi pria yang berpendidikan dengan yang tidak, (jumlahnya) tidak pernah sama, begitu juga mereka selalu melaksanakan tugas-tugas lajnah dengan penuh dedikasi, pergi ke rumah-rumah dan menarik candah, menggugah semangat orang-orang, bahkan terkadang mereka pun pergi ke luar kota. Walhasil, keliru kalau beranggapan bahwa pardah menjadi penghalang dalam kemajuan wanita, meskipun berada dibalik pardah, para wanita bisa terus mendulang berbagai macam kemajuan, penting supaya bagaimana perempuan bisa berpendidikan dan dia sendiri mengamalkan pardah sesuai dengan syariat. Sampaikan juga pada wanita-wanita lain, dalam kondisi mengenakan pardah, kita bisa peroleh segala macam kemajuan, kalau pria yang menyampaikan hal ini, tidak akan banyak memberikan pengaruh, tapi kalau wanita sendiri yang mengatakan bahwa kalian pergi kesana-kemari diluar sana, apa yang kalian tahu tentang kesulitan kesulitan yang ditimbulkan oleh pardah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran&lt;br /&gt;Daftar Pakaian Wanita Muslim di Berbagai Negara&lt;br /&gt;The Qur'an states that women should dress modestly in the presence of unfamiliar men.&lt;br /&gt;Gulf-style&lt;br /&gt;(Gaya Teluk) Abaya&lt;br /&gt;Jenis pakaian luar dari wilayah Teluk atau Khaleej Timur Tengah yang mencakup dari kepala ke kaki. Hal ini juga semakin umum di antara wanita konservatif Pakistan. Abaya tradisional adalah hitam, dan mungkin berupa baik kain persegi lebar yang disampirkan dari bahu atau kepala, atau berupa jubah hitam panjang (Kaftan).&lt;br /&gt;Al-amira   Kerudung yang terdiri dari dua potong. Pertama sebuah penutup kepala yang pendek, biasanya terbuat dari katun atau polyester, dan disertai oleh kerudung seperti selubung.&lt;br /&gt;Bushiyya&lt;br /&gt;Sebuah kerudung yang diikat pada dahi dan jatuh untuk menutupi seluruh wajahnya tetapi tidak memiliki cut-out untuk mata, melainkan kain yang cukup tipis untuk bisa melihat melaluinya.&lt;br /&gt;Bukhnuk بخنق  Ini mirip dengan khimār 2 (lihat di bawah), tetapi hanya turun ke pangkuan. Kadang-kadang disebut "Amira jilbab" jika memiliki bordir di tepi.&lt;br /&gt;Afghani Burqa البرقع الأفغاني   Juga dikenal sebagai Burqa Afghanistan. Meliputi seluruh tubuh dan memiliki kisi-kisi di atas wajah yang wanita terlihat melalui. Mungkin memiliki celah untuk tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;East of Arabia Burqa برقع شرق الجزيرة العربية   Dipakai oleh wanita yang menikah di Uni Emirat Arab, Oman, Qatar dan Arab Iran Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chador&lt;br /&gt;Pakaian luar tradisional Iran yang menutupi kepala dan tubuh dan adalah panjang penuh setengah lingkaran kain tapi turun ke tanah. Tidak memiliki celah untuk tangan dan ditahan erat dengan tangan, gigi atau hanya dibungkus di bawah lengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dupatta&lt;br /&gt;Kain biasa orang Pakistan, Punjabi dan barat laut India, kain berwarna besar terbuat dari bahan ringan yang menutupi kepala dan bahu. Biasanya dijual dalam 3-potong set dengan warna atau pola yang cocok dengan celana panjang dan kemeja dari salwar kameez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijāb (1) حجاب generic Seluruh pakaian sopan/sederhana/layak bagi  wanita Muslim.&lt;br /&gt;Hijāb (2)&lt;br /&gt;generic Jilbab; ini biasanya disebut sebagai khimār, jamak khumur.&lt;br /&gt;Hijāb (3)&lt;br /&gt;Jenis penutup kepala yang merupakan kain persegi yang dilipat menjadi segitiga lalu ditempatkan di atas kepala dan diikatkan di bawah dagu; ini mungkin adalah gaya yang paling umum saat ini, terutama di negara-negara Barat. Lihat penjelasan dalam artikel tentang jilbab.&lt;br /&gt;Jilbāb (1) جلباب generic Istilah yang digunakan dalam Al Qur'an (Suratu l-Ahzab, Aya 59) untuk merujuk pada pakaian luar.&lt;br /&gt;Jilbāb (2)&lt;br /&gt;Jenis pakaian luar yang mirip jas hujan panjang atau mantelnya.&lt;br /&gt;Khimār (1) خمار generic Istilah yang digunakan dalam Al Qur'an (Suratu n-Nūr, Aya 31) untuk merujuk ke jilbab, kata "hijab" lebih umum digunakan dengan makna ini.&lt;br /&gt;Khimār (2)&lt;br /&gt;Paling umum, sebuah penutup kepala melingkar dengan lubang keluar untuk wajah, yang biasanya turun hingga ke pinggang. Perhatikan variasi buknuk dan kerudung di atas, yang merupakan gaya yang sama tapi panjang yang berbeda.&lt;br /&gt;Niqaab نقاب&lt;br /&gt;Sebuah tabir yang menutupi wajah dan seluruh kepala tetapi dengan tempat untuk mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niqaab (2)&lt;br /&gt;Sebuah kerudung yang diikat di pangkal hidung dan jatuh untuk menutupi wajah bagian bawah. Juga disebut "setengah niqab".&lt;br /&gt;Paranji /Paranja     Sebuah pakaian luar tradisional Asia Tengah yang menutupi kepala dan tubuh, berat dan terbuat dari bulu kuda. Terutama lazim di masyarakat Uzbekistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tudung  Jilbab yang dipakai di Malaysia dan Indonesia&lt;br /&gt;Türban&lt;br /&gt;Tutup kepala yang dipakai dalam gaya modern di Turki, namun juga dipandang sebagai simbol politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;(Penerjemah:Mahmud Ahmad Wardi)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghoIBXUNtjTqZLgSHXobpPzjanPsyqr9aYIBLH3BzYKTYOJKwUQ6nN71ydNhPX9exm-rIJSS3UEKctLvDweLx1VPaGhDhC8hX4bgJHNN0F2wCVqRFir-Yv76zOphQgU8P27d5AvWRwaR8/s72-c/Muslih+Mau%27ud.jpg" width="72"/></item><item><title>Tujuan Didirikannya Badan-Badan Dalam Jemaat Ahmadiyah</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2009/09/islam-dan-terorisme_14.html</link><category>Artikel</category><category>Hz Khalifatul Masih Ats Tsani r.a</category><category>Tafsir Kabir</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Mon, 14 Sep 2009 22:06:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-2564050519123485865</guid><description>&lt;div style="background: rgb(77, 33, 33) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; text-align: justify; font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdZCr021g5P-WStLfcRdWhwiBUwoS_9plDL6MVkVgqrylC_xAjcQVE4VdiXXNSltBf43QQY2wK2ZxYZuYfqKauSqfPBXX656ooRIPGcd79uadqOSXnmlUKeDWUg04ocBa7kjzKXewOu5A/s1600-h/Muslih+Mau%27ud.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 101px; height: 150px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdZCr021g5P-WStLfcRdWhwiBUwoS_9plDL6MVkVgqrylC_xAjcQVE4VdiXXNSltBf43QQY2wK2ZxYZuYfqKauSqfPBXX656ooRIPGcd79uadqOSXnmlUKeDWUg04ocBa7kjzKXewOu5A/s320/Muslih+Mau%27ud.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426406970853918962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Untuk maksud itulah aku mendirikan Khuddamul Ahmadiyah dan Ansharullah didalam Jemaatku, supaya mereka bekerja keras dan menciptakan kebiasaan didalam diri mereka untuk bekerja keras. Sebelum manusia menyelamatkan waktunya dari kesia-siaan, dia tidak akan bertemu dengan Allah Ta’ala. Inilah maksud sebenarnya dari mendirikan Khuddamul Ahmadiyah dan Ansharullah, supaya didalam Jemaat ini timbul kebiasaan untuk bekerja keras. Dan setiap orang selalu sibuk dalam pekerjaan apa saja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;selengkapnya...silahkan baca!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Kaadihun adalah bentuk isim fail dari kata kadaha, makna kadaha adalah bekerja keras, yang dengan mengerjakannya akan bisa berpengaruh terhadap tubuh. Dikatakan kadaha ( yakdahu -  kadhan) ae sa’aa wa ‘amila linafsihi khairan aw Sharron wa kadda artinya dia berusaha untuk bekerja, apakah upaya itu baik atau buruk, bekerja keras dengan gigih. Wa qiila alkadhu juhdu annafsi fil ‘amali wal kaddu fiihi hatta yuatstsiro fiiha. Sebagian ahli bahasa berpendapat, bahwa sesuatu yang dikerjakan dengan gigih, sehingga kesehatan manusia menjadi rusak akibatnya, tulang-tulangnya menjadi remuk dan pengaruhnya sampai merasuk kedalam tubuhnya (Aqrab). Jadi makna kaadihun adalah orang yang bekerja keras dengan gigih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Tafsir: (Allah Ta’ala) Berfirman : “Wahai manusia! Engkau akan bekerja keras dengan sungguh sungguh, gigih, famulaaqiihi, pergi kepada Rab kalian dan pada akhirnya engkau akan berjumpa denganNya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Disini pada kalimat  Yaa ayyuhal insaan atau dijelaskan kaidah umum, maksudnya hanya merupakan imam waktu atau juga maksudnya bahwa: Hai manusia! Sudah terbuka jalan bagimu untuk berjumpa dengan Allah Ta’ala, syaratnya adalah kamu harus kadah (bekerja keras). Dari sisi ini setiap manusia termasuk didalamnya atau memang secara langsung manusia tidak termasuk didalamnya, tapi akan termasuk didalamnya setelah mengikuti Insan Kaamil (Rasulullah SAW), maknanya adalah “Hai Insan Kamil! Engkau akan melakukan pengorbanan-pengorbanan yang besar untuk meraih Allah Ta’ala dan pada akhirnya suatu hari engkau akan meraihnya. Ketika  seorang insan kamil bisa meraihnya (liqa Ilahi), maka menjadi perintah bagi semuanya, bahwa kalian juga berjalanlah pada jalan itu dan raihlah kedekatan dengan Allah Ta’ala. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Dalam ayat ini dikatakan bahwa mendapatkan jalan untuk bertemu dengan Allah Ta’ala bukanlah hal yang mudah. Untuk tujuan ini manusia terpaksa akan bekerja keras,  dan sedemikian kerasnya sehingga bisa berpengaruh pada tulang. Inilah point yang karena tidak difahami, sehingga manusia menjadi mahrum dari Liqa Ilahi. Mereka menganggap bahwa mereka sudah beriman dan cukup dengan duduk-duduk (ongkang ongkang kaki) sebentar dan dengan merasakan manisnya perkara-perkara keimanan lalu mengamalkan shalat dan puasa saja, lantas ruhaninya akan menjadi sempurna, padahal disebabkan kesedihan yang timbul karena kecintaan lah, ruhani akan menjadi sempurna yang efeknya akan merasuk sampai pada tulang manusia.  Sebelum kecenderungan, kesedihan, kecintaan dan kasih sayang kepada Allah Ta’ala ini timbul didalam diri manusia, maka baginya tidak akan tersedia maqam mulaaqiihi (perjumpaan dengan Nya). Selainnya, dengan beranggapan bahwa setelah mendirikan shalat dan berpuasa berarti saya sudah tegak dalam bekerja keras, itu bukanlah kadaha. kadaha adalah lebih hebat lagi dari yang dilakukan orang orang yang bekerja keras. Lihatlah buruh tukang sapu, betapa gigihnya dia bekerja, perhatikanlah buruh cuci pakaian, begitu kerasnya pekerjaan yang biasa dia lakukan. Lihatlah tukang pikul, bagaimana dia bertahan dari kesulitan yang luar biasa, tapi dengan pekerjaan-pekerjaan itu tidak menjadikan tulang-tulang mereka mulai meremuk. Seberapapun berpengaruhnya pekerjaan itu, hanya berpengaruh terhadap badan saja, yang beberapa saat kemudian akan pulih lagi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Tapi disini Allah Ta’ala menggunakan kata kaadihun. Yang dimaksud dengan kadaha adalah manusia melakukan suatu pekerjaan yang dengan pekerjaan itu bisa menyebabkan kesehatannya rusak, tulang-tulangnya akan menjadi remuk, tubuhnya menjadi hancur. Ketika manusia bekerja dalam corak yang seperti itu, maka dia akan meraih kesuksesan, sebaliknya kalau tanpa itu, lantas dia mengharapkan kesuksesan, itu adalah keliru. Untuk maksud itulah aku mendirikan Khuddamul Ahmadiyah dan Ansharullah didalam Jemaatku, supaya mereka bekerja keras dan menciptakan kebiasaan didalam diri mereka untuk bekerja keras. Sebelum manusia menyelamatkan waktunya dari kesia-siaan, dia tidak akan bertemu dengan Allah Ta’ala. Inilah maksud sebenarnya dari mendirikan Khuddamul Ahmadiyah dan Ansharullah, supaya didalam Jemaat ini timbul kebiasaan untuk bekerja keras. Dan setiap orang selalu sibuk dalam pekerjaan apa saja. Dalam ayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Yaa ayyuhal insanu innaka kaadihun ila robbika kadhan fa mulaaqiihi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Diberitahukan bahwa sebelum manusia sibuk dalam bekerja dan memfanakan (membinasakan) dirinya sendiri,  maka Tuhan tidak akan zahir dalam lingkup kaum. Kalau secara individu, setelah kadaha (bekerja keras) tentu manusia bisa meraih Liqa Ilahi, tapi untuk lingkup kaum, nikmat liqa Ilahi akan diraih ketika individu setiap kaum tersebut memfanakan (membinasakan) dirinya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Di dunia ini Liqa Ilahi bisa diraih dengan dua cara, pertama secara individu, kedua secara kaum. Meskipun (kerohanian-Pent) suatu kaum sudah rusak, tapi secara individu, manusia masih bisa meraih Qurub Ilahi. Sebagaimana sebelum diutusnya Hazrat Masih Mau’ud as, meskipun pasa saat itu kondisi kerohanian umat Muslim secara kaum sudah rusak, diantara umat Muslim itu dijumpai beberapa orang suci. Misalnya berkenaan Hazrat Abdullah Ghaznawi, Hazrat Masih Mau’ud as sendiri menulis bahwa Beliau adalah orang suci, begitu juga sebelum Hazrat Masih Mauud as diutus, Hazrat Mujaddid Shahib Brelwi atau Hazrat Maulwi Muhammad Ismail Shahib Shahid, dan juga beberapa orang suci yang lainnya sudah berlalu. Tapi diantara 400 juta umat Muslim (data pada zaman ketika tafsir ini ditulis) pada saat itu hanya beberapa jiwa saja yang telah menemukan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah mengutus mereka untuk memperlihatkan bahwa Islam masih memiliki kekuatan didalamnya, dan sekarang juga dia (Islam) bisa menghidupkan manusia, dia (Islam) bisa mempertemukan manusia kehadirat Allah Ta’ala, tapi untuk lingkup kaum, wujud-wujud mereka itu (beberapa orang suci tadi) tidak memberikan faidah yang khas. Walhasil, siapa Hazrat Sayyid Ahmad Shahib Brelwi itu? Beliau sebenarnya adalah Hujjah bagi orang-orang yang malas, Beliau merupakan Hujjah bagi orang orang yang lalai, Beliau dikirim untuk memberitahukan bahwa Islam didalamnya masih memiliki pengaruh untuk menganugerahkan kehidupan. Begitu juga siapa itu Hazrat Sayyid Ismail Shahib Shahiid? Beliau merupakan Hujjah bagi orang-orang pemalas, Beliau merupakan Hujjah bagi orang yang lalai,  Beliau dikirim untuk memberitahukan bahwa Islam masih memiliki pengaruh untuk menganugerahkan kehidupan didalamnya, tapi untuk lingkup kaum dari wujudnya (orang orang suci) tidak memberikan faidah yang khusus bagi Islam, karena Islam adalah sebuah nama yang diantara 400 juta umatnya itu sebagian tinggal di China, ada yang di Jepang, ada yang di Sumatra dan Jawa, dan ada juga yang tinggal di negeri-negeri yang lainnya. Suara Beliau-beliau itu tidak sampai di negeri-negeri inilah. Begitu juga Jemaat kita masih kecil, tapi dengan karunia Allah Ta’ala jemaat kita tengah menyebar di berbagai negeri. Walhasil, meraka itu hanya merupakan Hujjah bagi orang-orang yang lalai dan merupakan dalil bahwa sekarang juga Tuhan bisa menghidupkan manusia. Jikalau tidak pada zaman mereka untuk lingkup kaum, umat Muslim tidak melihat wajah Allah Ta’ala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Walhasil Allah Ta’ala berfirman :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Yaa ayyuhal insanu innaka kaadihun ila robbika kadhan fa mulaaqiihi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Wahai setiap individu Jemaat Mu’min!, setiap kalian harus memfanakan dirinya sendiri dijalan ini, dengan begitu akan nampak wajah Allah Ta’ala dalam lingkup kaum, dan kalian akan meraih nikmat liqa (pertemuan) dengan Nya. Nikmat ini merupakan nikmat yang hakiki, jikalau tidak dalam setiap zaman manusia secara individu terus meraih liqa Ilahi, tapi meraih liqa Ilahi secara individu tidak memberikan faidah  untuk lingkup kaum. Dalam lingkup kaum, sifat Jalal Allah Ta’ala akan zahir ketika individu individu kaum tersebut melihat wajah Allah Ta’ala dengan matanya sendiri, setiap individu memfanakan dirinya sendiri dijalan Qurub Ilahi, dan tidak mundur kebelakang sebelum bisa meraih nikmat yang agung itu .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Dlomir Mulaaqiihi juga bisa tertuju kepada jaza (ganjaran) Tapi pengertian yang sekarang sedang saya sampaikan, dari sisi itu pertemuan dengan Allah Ta’ala diketahui lebih mauzuwn (memberatkan) pada dasarnya dlomirnya bisa tertuju kepada jazaa (ganjaran). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;TAFSIR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Untuk melakukan suatu pekerjaan selalu digunakan tangan kanan, sebagaimana dalam ayat sebelumnya digunakan kata kadaha, karena itu disini diberitahukan bahwa seluruh kemajuan yang terjadi adalah disebabkan karena menggerakkan tangan kanan. Kalaulah kalian menggerakkan tangan kanan, maka kalian akan unggul. Dalam dua ayat ini telah dijelaskan kesimpulan dari seluruh tahrik Jadid yakni dengan bekerja keras dan terbiasa bekerja dengan tangan akan menjadikan manusia sukses dalam kehidupannya. Inilah makna dari fasaufa yuhaasabu hisaaban yasiiron yakni penghisaban orang itu akan mudah. Yakni pada saat menghadapi kesulitan dan masalah dia tidak akan merasa gentar, karena dengan bekerja keras , berarti dia sudah terbiasa dengan segala (kesulitan itu) dan baginya kesulitan pun akan dianggap mudah. Sebaliknya orang yang terbiasa  hidup bermalas-malasan, lalai, santai, sedikit saja ditimpa musibah, dia akan panik, tapi orang-orang yang gigih dan terbiasa bekerja keras, sekalipun gunung musibah pecah dihadapannya, dia akan dengan mudah menghadapinya. Ini jugalah maksud dari ayat yang berbunyi bahwa Allah Ta’ala akan mempermudah orang mukmin yang seperti itu (bekerja keras-pent), tapi makna yang lain juga adalah sekalipun dihadapkan dalam corak musibah yang bagaimanapun, dia akan menganggapnya mudah. Orang-orang yang meninggalkan kampung halamannya nya demi Rasulullah SAW, meninggalkan kehormatan, harta, istri, dan anak-anaknya, kalau setelah (merasakan musibah yang seperti itu-pent), musibat yang bagaimana lagi yang bisa menggoyahkan dan bisa membuat mereka bersedih? Setelah itu corak musibah bagaimanapun yang akan menimpanya, dia pasti akan menganggapnya tidak berarti dan dia akan bertahan dengan senyuman kebahagiaan. Ghalib (penyair-pent) adalah seorang pemabuk, tapi banyak sekali hal-hal yang penuh hikmah yang mengalir dari mulutnya, dengan demikian pasti didalam hatinya terdapat kebenaran. Dia mengatakan dalam satu kesempatan :” Mushkilen itni parin, Mujh peh keh aasaan hogaeen” artinya kesulitan begitu banyaknya, Bagiku terasa mudah. Ketika manusia membiasakan diri (hidup) dengan penuh kelezatan dan bersantai, maka hisab yang akan datang akan terasa berat, tapi ketika manusia bertahan dalam kondisi yang keras dan sudah terbiasa dengan hal itu, maka penghisabannya pun akan nampak mudah baginya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt; Hazrat Masih Mau’ud as bersabda:” Ada dua macam cobaan, pertama, cobaan yang seorang hamba memiliki kewenangan, (maksudnya) jika berkenaan dengan (cobaan) itu dia bisa mencari cara yang santai dan mudah, maka dia bisa memilihnya. Tapi ada cobaan yang datang dari Allah Ta’ala yang didalamnya terkandung kesulitan yang luar biasa. Beliau as bersabda :”Permisalannya adalah seperti halnya kita harus berwudlu sebelum shalat, karena wudlu sebelum shalat adalah penting, tapi kalau pada musim dingin, maka manusia diberikan kewenangan jika dia menghendaki, dia bisa memanaskan air terlebih dahulu. Inilah cobaan yang Allah Ta’ala serahkan kewenangan untuk mensikapinya kepada manusia. Tapi cobaan jenis kedua yang Allah Ta’ala letakkan pada tangannya, dan manusia tidak diberi kewenangan untuk memudahkan kesedihan itu, sebagaimana kematian seorang kerabat, untuk kesedihan yang seperti ini, manusia akan bisa bertahan kalau saja dia membiasakan dirinya dengan menghadapi kehidupan yang pahit dan meninggalkan kehidupan yang leha-leha. Ketika manusia mengamalkan itu, maka dia akan menganggap segala sesuatunya terasa mudah.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Wa yanqolibu ilaa ahlihii masruuroo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Dan dia akan kembali kepada keluarganya dengan bahagia. Ayat ini pun mengatakan dengan jelas bahwa didalamnya disebutkan berkenaan dengan hisab dunia, karena ketika penghisaban terjadi di akhirat nanti, maka pada saat itu tidak ada seorang pun yang akan bisa mengenali keluarganya, dimanakah dia? Juga tidak mesti bahwa diantara keluarganya, berapapun banyaknya mereka, mungkin saja diantara mereka ada yang menjadi ahli neraka, tapi disini Allah Ta’ala berfirman bahwa setelah dihisab, pada saat itu jugalah dia akan kembali kepada keluarganya. Tidak diragukan lagi bahwa Allah Ta’ala akan menempatkan orang-orang mukmin bersama dengan keluarganya, ini akan terjadi nanti. Tidak akan terjadi kondisi dimana di satu tempat dia sedang dihisab dan ditempat lain keluarganya tidak dijumpai untuk pergi bersamanya ke surga. Kondisinya sebagaimana Rasulullah SAW sabdakan:”Kalaulah kalian ingin mencariku disana, maka carilah dengan tanda-tanda, dan ketika diperlukan tanda-tanda untuk mencari Rasulullah SAW, maka bagi seorang mukmin yang umum bagaimana dia akan mendapati keluarganya dengan seketika? Jadi dari kalimat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Wa yanqolibu ilaa ahlihii masruuroo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Menjelaskan bahwa ini adalah peristiwa di dunia ini, yakni orang yang bekerja keras demi agama, dia akan bekerja keras dan setelah mendapatkan hasil yang baik, selanjutnya dia akan kembali kepada keluarganya dengan bahagia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;DARI SEGI TATA BAHASA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Ats tsabuuru–al halaaku wal fasaadu yakni makna tsabur adalah kehancuran dan kerusakan (Mufradat) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;TAFSIR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Wa amma man uutiya kitaabahu warooa zohrihii&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Maksudnya adalah orang yang selalu mengundur-undurkan pekerjaannya, berkata:” tidak hari ini, besok akan saya kerjakan, ketika hari esok tiba dia mengatakan nanti saja besok lusa akan saya kerjakan, maksudnya adalah dia selalu melemparkan pekerjaannya kebelakang punggungnya. Dia akan diberikan kitab dari arah belakang punggung. Dia yang telah menggunakan tangan kanan pada saat bekerja, dia akan diberikan kitab pada tangan kanannya. Tapi dia yang setiap hari mengundur-undurkan pekerjaannya dia akan diberikan kitab dari belakang punggung. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Fasaufa yad'uu tsubuuroo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Orang yang kepadanya akan datang kitab dari balik punggungnya, jelas sekali bahwa baginya tidak ada hal yang bisa membahagiakannya, karena suatu hal yang membahagiakan itu di zahirkan, dan sebaliknya suatu hal yang menyedihkan selalu disembunyikan, karena baginya hal itu adalah sesuatu yang menyedihkan, sehingga dia akan diberikan kitab dari balik punggungnya yang dengan melihatnya, dia akan segera memohon kehancuran bagi dirinya. Makna dari yad’uw tsubuuroo yakni yad’uw tsubuuroo linafsihii yakni dia akan memohon kehancuran bagi jiwanya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Inipun bisa bermakna bahwa begitu kerasnya cengkraman Allah Ta’ala, sehingga akan nampak pemandangan “Yaa Laitanii kuntu turoobaa” dia akan mengatakan:” Mudah-mudahan saya mati supaya saya tidak sempat melihat akibatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Inipun bisa bermakna bahwa Allah Ta’ala tidak mengirimkan kehancuran, tapi itu terjadi disebabkan oleh amalan hamba itu sendiri. Walhasil, bukanlah Allah Ta’ala yang mengazab tapi hamba itu sendiri yang telah memanggil azab itu kepadanya disebabkan amalan-amalannya. Wa Yashlaa sa’iiroo yakni dia akan masuk kedalam api yang menyala nyala, dari sisi duniawi maknanya adalah dia akan dijerumuskan kedalam panas, kekhawatiran, dan kesedihan, sedangkan dari sisi akhirat maknanya adalah zahir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;TAFSIR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Berfirman:” Dialah orangnya yang didalam keluarganya selalu berbahagia, dikatakan dalam ayat sebelumnya Yanqolib Ilaa Ahlihii Masruuroo yakni disebabkan karena orang mukmin selalu bekerja keras, gigih, kadah dan tidak menjalani kehidupan yang leha-leha di rumahnya, karena itu ketika dia mendapatkan imbalan, maka Yanqolib Ilaa Ahlihii Masruuroo dia akan kembali kepada keluarganya dengan bahagia, (berkata) aku sudah kembali dengan sukses. Sebaliknya karena orang kafir selalu duduk santai dirumah, tidak mengerjakan suatu pekerjaan yang bisa membahagiakan Allah Ta’ala, karena itulah ketika datang balasannya, dia akan sangat bersedih. Dari itu diketahui bahwa orang mukmin memulai pekerjaaannya dengan bersedih terlebih dahulu dan berakhir dengan kebahagiaan, tapi sebaliknya orang kafir memulai pekerjaannya dengan bahagia tapi berakhir dengan kesedihan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Penerjemah :Mahmud Ahmad Wardi)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdZCr021g5P-WStLfcRdWhwiBUwoS_9plDL6MVkVgqrylC_xAjcQVE4VdiXXNSltBf43QQY2wK2ZxYZuYfqKauSqfPBXX656ooRIPGcd79uadqOSXnmlUKeDWUg04ocBa7kjzKXewOu5A/s72-c/Muslih+Mau%27ud.jpg" width="72"/></item><item><title>Perbedaan Azab dan Cobaan</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2009/09/perkembangan-ahmadiyah-di-jerman.html</link><category>Artikel</category><category>Hz. Khalifatul Masih Ar Rabi r.ah</category><category>Tafsir Kabir</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Mon, 14 Sep 2009 21:38:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-6325840238973400660</guid><description>&lt;div style="background: rgb(33, 58, 84) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; text-align: justify; font-size: 100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGYb7a7ox2A8_aGUtAVrUazIM8GIsEs-aZBWwwjGhCUcZSiUyOcRV1vHa_JfXXyQR8EVhQzvCcDHbU7wfZVq6zRxbCIGyt-ZcPwQHsdCyhvRFYf7jiJZka7xQR_I4xDTM7zsiikgZvJzE/s1600-h/Muslih+Mau%27ud.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 101px; height: 150px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGYb7a7ox2A8_aGUtAVrUazIM8GIsEs-aZBWwwjGhCUcZSiUyOcRV1vHa_JfXXyQR8EVhQzvCcDHbU7wfZVq6zRxbCIGyt-ZcPwQHsdCyhvRFYf7jiJZka7xQR_I4xDTM7zsiikgZvJzE/s320/Muslih+Mau%27ud.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426394706044472274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;Hazrat Khalifatul Masih Ats Tsani ra bersabda:” Dari kalimat  ja’ala fitnatan naasi ka’adzaabillahi diketahui bahwa antara azab dan cobaan terdapat perbedaan besar, tapi karena kebodohan, orang-orang tidak memperhatikan perbedaan itu dan menganggap bahwa kesulitan yang dihadapi di jalan Tuhan itu sebagai penyebab kehancuran mereka, padahal itulah yang akan menyebabkan kemajuan bagi mereka. Perbedaan antara cobaan dan azab adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;1. Azab akan mengakibatkan kehancuran dan kebinasaan, sedangkan ujian tidak, kesulitan memang dirasakan oleh kedua kondisi itu. Perhatikanlah perihal (kehidupan) Rasulullah SAW, meskipun berkali-kali Beliau terjerat dalam genggaman musuh dalam keadaan sendiri, Tapi Allah Ta’ala senantiasa menyelamatkan Beliau SAW, tapi Abu Jahal yang hanya satu kali saja tertangkap dengan bala tentaranya, langsung mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;2. Azab akan mengakibatkan bertambahnya kerugian, tapi sebaliknya den gan adanya cobaan akan bertambahnya manfaat.  Permisalan cobaan/ujian adalah seperti halnya bola karet, sekeras apa dia dilemparkan, sehebat itulah dia akan melompat-lompat, tapi setelah manusia terjatuh kedalam azab, dia tidak akan bangkit lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;3. Kepada siapa suatu azab diturunkan, maka akan timbul rasa putus asa dan ketakutan didalam dirinya. Tapi kepada siapa ujian turun, maka didalam hatinya akan timbul ketentraman dan ketenangan. Ketika azab turun maka disebut sebagai maghdlub,  aduh, saya sudah mati atau kalaupun dia tidak takut dari azab itu, maka perasaan takabbur dan gejolak egois  mulai menguasai hatinya dan dia akan menganggap, siapa yang mampu membunuh ku? tapi ketika cobaan datang, maka insan mengatakan, tidak perduli, aku lemah dan tidak berdaya tapi penyelamatku adalah maha gagah, dan keyakinan terhadap Allah Ta’ala semakin bertambah, sehingga prasangka baik terhadap Allah Ta’ala semakin bertambah kuat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;4. Ketika manusia berusaha untuk menjauhkan azab, maka dia selalu tersandung. Tapi kepada siapa ujian turun, akan menjadikan suatu pemahaman baru (pelajaran, fehm rasan)  kemudian dia mulai memahami masalahnya dengan baik. Perhatikanlah Rasulullah SAW, bagaimana kaum kuffar menyisir jejak langkah Beliau sehingga sampai di Gua Tsur (Pada saat Hijrah-Pent) . Dan si pencari jejak mengatakan:” atau mungkin dia naik ke langit  Atau disini (dalam gua). Mereka sangat mempercayai perkataan si pencari jejak. Pada saat itu nyawa Rasulullah SAW dalam keadaan yang sangat berbahaya. Tapi sedikitpun Rasulullah SAW tidak merasa khawatir, Beliau bahkan mulai untuk menenangkan Hazrat Abu Bakar ra dengan bersabda Laa Tahzan Innal Looha Ma’ana, janganlah bersedih! Allah Ta’ala bersama kita, begitu juga suatu ketika Beliau sedang tidur, tiba-tiba seorang kafir menghunuskan pedang kepada Beliau dan ingin membunuh Beliau SAW,  tapi sedikitpun Beliau tidak merasakan takut dan Beliau menjawab pertanyaan si kafir dengan penuh ketengan, dia bertanya:”sekarang siapa yang bisa menyelamatkan engkau? Beliau menjawab :” ALLAH. Setelah melihat kondisi tenang yang luar biasa itu si kafir itu sedemikian rupa gemetar sehingga pedang itu terjatuh dari tangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;5. Perbedaan yang kelima adalah ketika menghadapi ujian, dalam diri manusia tidak ada perasaan dicoba, ketika cobaan datang, manusia menganggap kesulitan itu tidak berarti dan dia akan merasakan suatu kelezatan karena terdapat keyakinan didalam hatinya bahwa aku sedang mengorbankan sesuatu yang tidak berharga untuk sesuatu  yang luhur misalnya hartanya raib, maka dia akan mengatakan (harta itu) telah pergi untuk Allah Ta’ala, karena itu apa perdulinya, atau kalaulah anaknya mati, maka dia mengatakan Allah lah yang telah memberikan anak, kalaulah dia mengambilnya kembali, apa yang harus disedihkan? Ada peristiwa Hazrat Masih Mau’ud as. Beliau sangat mencintai Mia Mubarak Ahmad dan ketika Beliau sakit Beliau as sering sekali menjaganya dengan ini terfikir juga oleh Hazrat Khalifatul Masih Awwal, kalaulah Mubarak Ahmad wafat, maka Hazrat Masih Mau’ud as akan sangat sedih. Pada saat terakhir Hazrat Khalifatul Masih Awwal memperhatikan urat nadinya (Mia Mubarak), dan Beliau ra mengatakan kepada Hazrat Masih Mau’ud as tolong ambilkan minyak kesturi, karena denyut nadinya berhenti, Beliau berfikir bahwa Hazrat Masih Mau’ud as akan sangat bersedih dengan wafatnya Mia Mubarak, sehingga (Beliau ra berfikir) sedemikian Beliau as akan merasa sedih, sehingga ketika berdiri pun Beliau as akan terjatuh. Tapi ketika Hazrat Masih Mau’ud as mengetahui bahwa Mubarak Ahmad sudah wafat, maka pada saat itu dengan sabarnya Beliau mulai menulis surat kepada sahabat sahabatnya bahwa Mubarak Ahmad sudah wafat. Tapi hendaknya tidak khawatir akan hal ini, ini adalah satu kehendak Allah Ta’ala dan kita harus bersabar dalam menghadapinya dan Beliau pergi keluar dengan tersenyum dan mulai berceramah bahwa ilham yang berkenaan dengan Mia Mubarak Ahmad sekarang sudah sempurna, sebagaimana ada sebuah syair Beliau as yang berbunyi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;“Yang memanggilnya adalah yang paling indah (tampan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;kepada Dialah  engkau sandarkan jiwa, wahai hati !”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Maksudnya adalah didalam menghadapi ujian, kesedihan tidak menjadikan putus asa dalam diri, karena manusia menganggap bahwa aku sedang mengorbankan sesuatu yang tidak berarti untuk sesuatu yang luhur. Terkadang dalam azab yang berat pun perasaan menderita menjadi terhapus. Tapi ini terjadi disebabkan karena daya untuk merasakannya sudah hilang. Suatu ketika Hazrat Khalifah Awwal ra memperlihatkan seorang wanita dan bertanya kepadanya (wanita itu) bagaimana kabar saudara kamu si  anu itu? Wanita itu menjawab sambil tersenyum bahwa dia sudah mati, begitu juga ketika ditanyakan (kabar) satu dua orang saudaranya lagi dia pun menjawab dengan tersenyum bahwa mereka sudah mati. Meskipun dari sisi makrifat dia tidak biasa melakukan hal itu, tapi memiliki penyakit yang didalamnya tidak tersisa lagi perasaan untuk merasakan kesedihan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;6. Perbedaan yang ke enam bahwa didalam azab, kerohanian akan mengalami penurunan, sebaliknya didalam ujian, kerohanian menjadi bertambah, karena didalam azab akan menjadikan manusia terjauh dari Tuhan, tapi didalam ujian, perhatian justru akan bertambah lagi kepada Allah Ta’ala.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Inilah perbedaan-perbedaan yang besar antara Ujian dan azab yang harus diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;(Penerjemah :Mahmud Ahmad Wardi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGYb7a7ox2A8_aGUtAVrUazIM8GIsEs-aZBWwwjGhCUcZSiUyOcRV1vHa_JfXXyQR8EVhQzvCcDHbU7wfZVq6zRxbCIGyt-ZcPwQHsdCyhvRFYf7jiJZka7xQR_I4xDTM7zsiikgZvJzE/s72-c/Muslih+Mau%27ud.jpg" width="72"/></item><item><title>Freedom of Speech  &amp; Tolerance in Islam</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2009/06/freedom-of-speech-tolerance-in-islam.html</link><category>Artikel</category><category>English</category><category>Islam</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Fri, 5 Jun 2009 16:01:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-4565630386644663237</guid><description>&lt;div style="background: rgb(77, 33, 33) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; text-align: justify; font-size: 100%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2zOiS3-MfjKq4yR-bEsdkULwwyAqrklCw9q6u2z05G-kQ69pphPUuoyIEICrrjiaUdzEsLSJNYm2oWRiO9zA2XhhhXB98DVbpbqF7sP5LD4GuVPGTpAlxa_FeazUZo4qBdKYp58q3E5Y/s1600-h/gjj.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 108px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2zOiS3-MfjKq4yR-bEsdkULwwyAqrklCw9q6u2z05G-kQ69pphPUuoyIEICrrjiaUdzEsLSJNYm2oWRiO9zA2XhhhXB98DVbpbqF7sP5LD4GuVPGTpAlxa_FeazUZo4qBdKYp58q3E5Y/s400/gjj.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343987650492830002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;An address by Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Head of the worldwide Ahmadiyya&lt;br /&gt;Muslim community delivered in Baitul Futuh Morden on 25 March 2006 All the distinguished guests, ladies and gentlemen, Peace and blessings of Allah be upon you Some months ago, a Danish newspaper published some cartoons about the Holy Founder of Islam, Hadhrat Muhammad(saw)* in which, unfortunately, an attempt was made to show that the law and teaching brought by him is one of extremism. As a result, terrorism and cruelty has begun to grow in the hearts of the followers of Islam. It is alleged that Muslims believe that the solution to all their problems lies in adopting a cruel and barbaric attitude. According to them there is no concept of tolerance, reconciliation or love and affection in Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non-Muslims draw this conclusion based on the incorrect behaviour and improper actions of the so-called Jihadi organisations (that is to say those who are trigger-happy and call their act a holy war) and the attacks of their suicide bombers. Instead of solving issues through love and understanding, they display obstinacy and intolerance. Then, some scholars of today, unfortunately, support such Jihadi organisations even though their actions are totally opposed to the teachings of Islam. But I wish to say just one thing that may perhaps be construed as if I am supporting such Jihadi organisations. The ultimate decisive authority assumed by the superpowers in respect of the poor and under-developed nations and the double standards in the manner in which the superpowers deal with these nations, is the cause of this violent natural reaction by these nations. Admittedly, this is not an Islamic method and is totally against the teachings of Islam. However, in this day and age, the trend not to conform to the teachings of one’s faith is as prevalent amongst followers of other religions as it is amongst Muslims whose majority is by lip-service Muslim even though their deeds are not Islamic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In due course, a reformer is needed to make the act of the people conform to the teachings. This is why the Ahmadiyya Muslim community holds the belief that when, with the passage of time, the people begin to forget the teachings of their faith, then equipped with guidance from God, God sends prophets or reformers who bring mankind back to the ways of God, and thus remind man to discharge the obligations due to the Creator and His creation. We Muslims believe that there have been 124,000 messengers who have come to the “...it is a requirement of kindness to mankind that what you hold to be true for yourself, you should share it with the rest of mankind&lt;br /&gt;and include them also in this commandment” world. They identified the One God and taught man to live in love and affection with each other. The last person to bring a new Law and teaching was Hadhrat Muhammad(saw). In other words, a Muslim believes in all prophets and reformers from Adam to Muhammad, peace and blessings of Allah be upon them all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Moreover, an Ahmadi Muslim believes that in accordance with what past prophets prophesied about a Reformer for the latter days, that Reformer has indeed come and we believe in him. Nevertheless, the Law and teaching is, of course, the same as that brought by Hadhrat Muhammad(saw).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The purpose of this introduction is that a religion that requires belief in and respect of all prophets and believes that the teachings revealed to them at the time of their advent was true, then how can it be said that such a religion does not teach tolerance of other faiths? How can it not teach reconciliation and harmony with other faiths? How can it teach the habit of religious intolerance and advocate living with others in anything but love and affection? It is impossible. That there is no forbearance in this religion and no freedom of opinion or speech is an unfounded allegation against Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In keeping with the constraints of time, I shall highlight a few examples of what the teachings of Islam are about tolerance; what the meaning of the freedom of expression and the right to hold an opinion are; what practical example the Prophet of Islam established of this beautiful teaching; and the tradition set by those Muslims who followed in his footsteps. I hope that as a result, some prominent aspects of this beautiful teaching will become clear.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But firstly, I would like to say that the very name ‘Islam’ contains an antidote for cruelty, the nability to put up with others and the absence of tolerance. I shall define some of the main meanings that the word ‘Islam’ incorporates. One meaning is peace, another meaning is submission and obedience, yet another is making peace and achieving reconciliation. One meaning is to leave someone when he is likely to cause you harm, another meaning is to walk together in harmony. The purpose of telling you about these definitions of the name of Islam given by God&lt;br /&gt;2 Almighty to this religion is because the sum total of its teachings and the Muhammadan Laws include within it love, tolerance, endurance, and freedom of conscience and speech and the right to express an opinion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After this brief clarification, let me mention the teachings about the freedom of conscience, belief and opinion and tolerance that the Holy Qur’an (the Sacred Book of Muslims) gives us. It should be remembered that when something is attributed to a religion, then the first point of reference has to be that religion’s book of law in which the legal code, tenets, and teachings are set out.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When the Holy Prophet(saw) claimed that he was a Messenger and by the command of Allah Almighty proclaimed that he was the Prophet sent with the final Law and the only means of salvation was to accept Islam and adapt their lives in accordance with the commandments of God Almighty, then this proclamation was stated as follows by God Almighty: And say, ‘It is the truth from your Lord; wherefore let him who will, believe, and let him who will, disbelieve.’…&lt;br /&gt;(Ch.18:V.30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thereafter, God has preserved this task unto Himself as to how to treat the one who does not believe. God will determine this matter whether in this world or the Hereafter. Therefore, O Prophet and O ye who believe in this Prophet, your work is only to convey the Message. In the interest of maintaining an environment of love and affection and tolerance, you should promote this message with kindness. Because you believe that in accordance with the teaching given to you by God, your religion is right and based on the truth, it is a requirement of kindness to mankind that what you hold to be true for yourself, you should share it with the rest of mankind and include them also in this commandment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It may be objected that the permission to let people believe or disbelieve was given to the people of Makkah at a time when the position of the Muslims was very weak. It may be said that this is why such words were used so that the disbelievers of Makkah do not cruelly destroy all the Muslims.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This objection is a weak argument. Despite this commandment, the disbelievers of Makkah did not flinch a muscle in their cruelty to the Muslims. They persecuted them because of their faith. Some were laid on burning coal, others were made to lie on the burning sand in the mid-day sun. Some were tied with their legs to two camels and the camels driven in opposite directions cutting&lt;br /&gt;asunder the Muslim in two halves. Even the women were beaten and not spared this torture. So if the verse I quoted earlier was meant to save the Muslims from cruelty, then history proves that it did not serve that purpose. This commandment was not limited to that time but is preserved in the Holy Qur’an to this day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have given this example of barbaric cruelty so that you can keep this context in your mind. Once again, in keeping within the constraints of time, I hope that you will understand from the one or two events that I will relate, the extent to which Islam grants the freedom of conscience and requires tolerance and reconciliation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fed up with the cruelty inflicted by their fellow countrymen, the Muslims migrated to Madinah. First of all, the poor and weak Muslims migrated followed by the Holy Prophet of Islam(saw). Upon his arrival, a pact was drawn with the Jews of Madinah who had not become Muslim at that time stating how the communities were to live together and remain free and how each other’s rights were to be discharged.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I shall mention one or two covenants of this pact of co-existence. But before that a teaching of the Holy Qur’an states:&lt;br /&gt;3 There should be no compulsion in religion… (Ch.2:V.257)&lt;br /&gt;This commandment was revealed in Madinah. Let me remind you that by that time, a majority of the inhabitants of Madinah had become Muslim, or they were people who had no interest in religion and they joined the Muslims as birds of the same flock. When seen from that vantage point, the Muslim population represented a dominant majority. On the other side were the Jews who ruled and in whose hands lay the power before the arrival in Madinah of the Holy Prophet(saw). But now the Jews were reduced to a minority. As a consequence, and being the Head of State, the governance of the Holy Prophet Muhammad(saw) was firmly established. Now he held the power. However, the commandment was that ‘you will not use compulsion in religion, nor shall you use force against those weak persons who even though they are not Muslim, have joined you as your kith and kin, nor shall you use force against the Jews who live under your domain.’ But you can see from the pact that was drawn up how an atmosphere of love and affection, freedom of belief and tolerance was created. The pact runs somewhat as follows:&lt;br /&gt;1. Muslims and Jews shall live together with each other in kindness and sincerity and shall not commit any excess nor be cruel to one another;&lt;br /&gt;2. The Jews will keep to their own faith, and Muslims to their own;&lt;br /&gt;3. The life and property of all citizens shall be respected and protected save in the case a crime has been committed by someone;&lt;br /&gt;4. All disputes will be referred for the Prophet of Allah’s decision because he has the determining authority but all decisions in respect of individual people shall be based on their respective laws. And there are, of course, other terms of this agreement in addition to the four I have quoted. Now, see what effort has been used to establish a liberal and compassionate atmosphere in society. At that time there were no national laws. Each person lived in accordance with the traditions and laws of his or her own clan or tribe. The Holy Prophet(saw) did not say that you are a minority, and as might is right, you have to comply with the laws of the Muslim majority. Instead, the condition of the agreement was that your affairs would be determined on the basis of your own laws. This is the first charter of freedom of conscience and faith in Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giving other excellent examples of toleration, the Holy Qur’an explains that no matter what the circumstance, you are not to abandon tolerance. Irrespective of the cruelties inflicted on you, you are not to act other than with justice and take revenge by being just as cruel. If you do that, you are misguided. To call you a Muslim would be meaningless. The Holy Qur’an states:&lt;br /&gt;…and let not a people’s enmity incite you to&lt;br /&gt;act otherwise than with justice. Be always just, that is nearer to righteousness. (Ch.5:V.9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is the standard of tolerance and justice in Islam. Islam advocates that do not respond to the low and base allegations of the opponents because to do that would make you just as cruel. If you can forgive, then forgive, that is better. If you must seek revenge, then the recompense of an injury is no more than the injury inflicted on you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An excellent example of this tolerance and forgiveness was set by the Holy Prophet of Islam(saw) who forgave all the persecutors at the time of the victory of Makkah. History bears testimony to this event. Ikramah was the greatest enemy of Islam. Despite the general amnesty proclaimed by the Holy Prophet(saw) on the day of victory, Ikramah picked a fight with the Muslims, suffered a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 defeat and then fled. When Ikramah’s wife pleaded for his forgiveness, the Holy Prophet(saw) orgave. Immediately after forgiveness, when Ikramah appeared before the Holy Prophet(saw), he said to him arrogantly that ‘if you think that because of your forgiveness I have also become a Muslim, then let it be clear that I have not become a Muslim. If you can forgive me while I remain steadfast on my own faith, then that is fine, otherwise I leave’. The Holy Prophet(saw) said, ‘You can, no doubt, remain steadfast on your faith. You are free in every way.’ Moreover,&lt;br /&gt;thousands of Makkans had not accepted Islam and despite their defeat exercised their right of freedom of faith. So this is the teaching of the Holy Qur’an and the example set by the Holy Prophet(saw) on this matter.&lt;br /&gt;I shall present some other examples of freedom of speech and tolerance.&lt;br /&gt;Once the Holy Prophet(saw) bought a camel from a&lt;br /&gt;Bedouin in exchange for about 90 kilos of dried dates. When the Prophet got home, he found that the dates had all gone.&lt;br /&gt;In all honesty and simplicity, he went to the&lt;br /&gt;Bedouin and said frankly to him, ‘O man of God! I bought a camel in exchange for dried dates and I thought that I had that much dates with me but when I reached home, I discovered that I did not have that many dates.’&lt;br /&gt;The Bedouin said, ‘O defrauder!’&lt;br /&gt;The people began to tell the Bedouin off for talking to the Messenger of God in that manner but the Holy Prophet(saw) said, ‘Let him be.’ (Musnad Ahmad bin Hanbal Vol.6 p.268 published Beirut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now see this is how the ruler of the day dealt with an ordinary man. This was the standard of granting the freedom of speech and the standard of his forbearance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then let me present an incident about the freedom of faith with reference to people of other faiths. Once a delegation of Christians from Najaran came to the Holy Prophet(saw). During this meeting with him in the Prophet’s Mosque in Madinah, the time for the Christians to say their prayers arose and they began to go outside. The Holy Prophet(saw) invited them to&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 “An excellent example of this tolerance and forgiveness was set by the Holy Prophet of Islam(saw) who forgave all the persecutors at the time of the victory of Makkah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;offer their prayers in the Mosque. Then the pact drawn with these Christians of Najaran granted them full freedom of faith and it was made incumbent upon the Muslims to protect their churches. No church should be destroyed nor should any priest be evicted or expelled. Nor should any right of theirs be diminished. Nor should any Christian be required to change his faith. The proclamation was that the Holy Prophet(saw) hereby warrants his personal assurance. The pact went so far as to say that if the Muslims wish to help fund the repair etc. of the Christian churches, it would be an act of benevolence on their part.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With regard to justice, truth and the freedom of faith, the Founder of Jama’at Ahmadiyya, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad(as) states that it is proven that once a dispute between a Muslim and a Jew came before the Holy Prophet(saw). The Holy Prophet(saw) deter-mined that the Jew was true and decreed against the claims of the Muslim. Then quoting the Holy Qur’an, he states that this verse means ‘O Prophet! ask the people of the Book and the ignorant people of Arabia to enter the religion of Islam. So if they enter Islam, they have attained guidance but if they turn away, then your work is only to convey the Message of God.’ It is not written in this verse that it is your task to wage war against them. It is obvious from this verse that war was only permitted against the criminals who killed the Muslims or interfered with the maintenance of peace and were busy in theft and robbery. This war was as a result of his being a Commander and not because of his prophethood. Allah says ‘fight in the cause of the Lord against those who fight with you’, that is to say, ‘be disinterested in others and do not commit any excess’. God does not like those who commit excesses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So this is the beautiful teaching of Islam and the excellent example of the Holy Prophet of Islam(saw), a specimen of which I have laid before you. It is a great travesty to allege that there is no concept of freedom of faith and conscience in Islam. We should not construe the vested interest of a few individuals as Islam nor can it be construed as such.&lt;br /&gt;In any case, it would have become abundantly clear that whereas there is freedom of speech and tolerance in Islam, there is also the respect for mankind and forbearance.&lt;br /&gt;In keeping within the constraints of time, I rest my case. I am most grateful to all of you. I think that the food is ready, and I do not wish to come between your food and you. I am most grateful to you who have come here today and listened to me, tolerantly. If we can meet together, many misunderstandings about each other can be removed. I once again thank you from the bottom of my heart for sparing your time to be with us today.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thank you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love for All,&lt;br /&gt;Hatred for None&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*The abbreviation ‘saw’ suffixed after the&lt;br /&gt;word the Holy Prophet(saw) or Muhammad(saw)&lt;br /&gt;is a salutation meaning ‘peace and blessings&lt;br /&gt;of Allah be upon him’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 FREEDOM OF SPEECH SEMINAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The ‘Freedom of Speech and Tolerance in Islam’ seminar was a very successful event attended by over 250 guests from all faiths and walks of life. The highlight of the evening was the speech by Hadhrat Mirza Masroor Ahmad – Head of the worldwide Ahmadiyya Community.&lt;br /&gt;Short speeches were also given by other people and quotes below should provide a gist of their sentiments about the community and the theme of the seminar.&lt;br /&gt;MICHAEL MACEY – Cultural Attache at the US&lt;br /&gt;Embassy, London&lt;br /&gt;‘For me, a student of Islam for over 30 years, I am constantly amazed by the depth of service that is certainly represented by this community and tradition&lt;br /&gt;– by the depth of tolerance and the constant searching for what it means to be human’.&lt;br /&gt;REV. MARCUS RAYBROOK – (President of the World Congress of Faiths)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘I believe that learning and meeting with people of other faiths does not just bring about personal&lt;br /&gt;transformation, it brings about a way of transformation of the world’. ‘...I believe that interfaith sharing can lead us to a richer experience of the Divine’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RAFIQ AHMAD HAYAT – AMEER UK&lt;br /&gt;“The scale of reaction against the cartoons certainly reflects the degree of offence and seriousness of the offence caused. Equally the nature of reaction of some people – calling for a violent response to the publication – is absolutely wrong”. STEVEN HAMMOND – (MP for Wimbledon)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Our country is a multi-cultural, multi-ethnic, multireligious society and the better for it... Your community has a history of peace, has a history of integrating with local people and a history of helping the local community... True followers know that the message of Islam is a message of peace.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUDY SAUNDERS – (Hon. Mayor of Merton) ‘Merton has a rich source of cultural and religious diversity. Your people have been the leaders in taking the peace movement that one step further...’ ‘We need to hear what you are saying – the true voice of Islam&lt;br /&gt;and not the distorted views of a tiny minority.’&lt;br /&gt;7 Freedom of Speech &amp;amp; Tolerance in Islam Seminar&lt;br /&gt;Saturday 25 March 2006 at Baitul Futuh Mosque, Morden&lt;br /&gt;FOR FURTHER INFORMATION, PLEASE CONTACT:&lt;br /&gt;The Ahmadiyya Muslim Association UK, The London Mosque, 16 Gressenhall Road, London SW18 5QL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tel: +44 20 8875 4321 Tel: +44 20 8687 7800 FAX: +44 20 8687 7899 www.alislam.org&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2zOiS3-MfjKq4yR-bEsdkULwwyAqrklCw9q6u2z05G-kQ69pphPUuoyIEICrrjiaUdzEsLSJNYm2oWRiO9zA2XhhhXB98DVbpbqF7sP5LD4GuVPGTpAlxa_FeazUZo4qBdKYp58q3E5Y/s72-c/gjj.jpg" width="72"/></item><item><title>The Holy Prophet Muhammad  in the Eyes of Non-Muslims</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2009/05/holy-prophet-muhammad-in-eyes-of-non.html</link><category>Opini</category><category>Rasulullah</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Mon, 25 May 2009 15:29:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-6795835028183874654</guid><description>&lt;div style="background: rgb(33, 58, 84) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; text-align: justify; font-size: 100%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKO3h62yoiioQt3AudV3vPbgK-dNlfZhdx6tg9aay-kRMJ-h-RXzL4l3oUBop6dXDw2GeKMYA64bJ3juAGeHdclAnw4zHqCHyWDONUdz3rkjoPg_F13JF7D44U8cQ0sQt_Zd08jpcEEk0/s1600-h/MUHAMMAD1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 146px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKO3h62yoiioQt3AudV3vPbgK-dNlfZhdx6tg9aay-kRMJ-h-RXzL4l3oUBop6dXDw2GeKMYA64bJ3juAGeHdclAnw4zHqCHyWDONUdz3rkjoPg_F13JF7D44U8cQ0sQt_Zd08jpcEEk0/s400/MUHAMMAD1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343456256343463906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;PRINGLE KENNEDY&lt;br /&gt;Pringle Kennedy has observed (Arabian Society at the Time of Muhammad, pp.8, 10, 18, 21):&lt;br /&gt;Muhammad was, to use a striking expression, the man of the hour. In order to understand his wonderful success, one must study the conditions of his times. Five and half centuries and more had elapsed when he was born since Jesus had come into the world. At that time, the old religions of Greece and Rome, and of the hundred and one states along the Mediterranean, had lost their vitality. In their place, Caesarism had come as a living cult. The worship of the state as personified by the reigning Caesar, such was the religion of the Roman Empire. Other religions might exist, it was true; but they had to permit this new cult by the side of them and predominant over them. But Caesarism failed to satisfy. The Eastern religions and superstitions (Egyptian, Syrian, Persian) appealed to many in the Roman world and found numerous votaries. The fatal fault of many of these creeds was that in many respects they were so ignoble ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When Christianity conquered Caesarism at the commencement of the fourth century, it, in its turn, became Caesarised. No longer was it the pure creed which had been taught some three centuries before. It had become largely de spiritualised, ritualised, materialised .......&lt;br /&gt;How, in a few years, all this was changed, how, by 650 AD a great part of this world became a different world from what it had been before, is one of the most remarkable chapters in human history .... This wonderful change followed, if it was not mainly caused by, the life of one man, the Prophet of Mecca ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whatever the opinion one may have of this extraordinary man, whether it be that of the devout Muslim who considers him the last and greatest herald of God's word, or of the fanatical Christian of former days, who considered him an emissary of the Evil One, or of certain modern Orientalists, who look on him rather as a politician than a saint, as an organiser of Asia in general and Arabia in particular, against Europe, rather than as a religious reformer; there can be no difference as to the immensity of the effect which his life has had on the history of the world.&lt;br /&gt;To those of us, to whom the man is everything, the milieu but little, he is the supreme instance of what can be done by one man. Even others, who hold that the conditions of time and place, the surroundings of every sort, the capacity of receptivity of the human mind, have, more than an individual effort, brought about the great steps in the world's history, cannot well deny, that even if this step were to come, without Muhammad, it would have been indefinitely delayed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;MICHAEL H HART&lt;br /&gt;He in his book The 100 has ranked the great men in history with respect to their influence on human history. He ranked the Holy Prophet Muhammmadsaw as the most influential man in the human history. He wrote the following about the Holy Prophet Muhammadsaw. The text has been quoted in its entirety, however in the few places where I differed strongly with his opinion, I have taken the liberty to insert my humble opinion within parenthesis to caution the reader.&lt;br /&gt;My choice of Muhammad to lead the list of the world's most influential persons may surprise some readers and may be questioned by others, but he was the only man in history who was supremely successful on both the religious and secular levels.&lt;br /&gt;Of humble origins, Muhammad founded and promulgated one of the world's great religions, and became an immensely effective political leader. Today, thirteen centuries after his death, his influence is still powerful and pervasive.&lt;br /&gt;The majority of the persons in this book had the advantage of being born and raised in centers of civilization, highly cultured or politically pivotal nations. Muhammad, however, was born in the year 570, in the city of Makkah, in southern Arabia, at that time a backward area of the world, far from the centers of trade, art, and learning. Orphaned at age six, he was reared in modest surroundings. Islamic tradition tells us that he was illiterate. His economic position improved when, at age twenty five, he married a wealthy widow. Nevertheless, as he approached forty, there was little outward indication that he was a remarkable person.&lt;br /&gt;Most Arabs at that time were pagans, who believed in many gods. There were, however, in Makkah, a small number of Jews and Christians; it was from them no doubt that Muhammad first learned of a single, omnipotent God who ruled the entire universe. When he was forty years old, Muhammad became convinced that this one true God (Allah) was speaking to him, and had chosen him to spread the true faith.&lt;br /&gt;For three years, Muhammad preached only to close friends and associates. Then, about 613, he began preaching in public. As he slowly gained converts, the Makkahn authorities came to consider him a dangerous nuisance. In 622, fearing for his safety, Muhammad fled to Madinah (a city some 200 miles north of Makkah), where he had been offered a position of considerable political power. This flight, called the Higra, was the turning point of the Prophet's life. In Makkah, he had had few followers. In Madinah, he had many more, and he soon acquired an influence that made him a virtual dictator. During the next few years, while Muhammad's following grew rapidly, a series of battles were fought between Madinah and Makkah. This war ended in 630 with Muhammad's triumphant return to Makkah as conqueror. The remaining two and one half years of his life witnessed the rapid conversion of the Arab tribes to the new religion. When Muhammad died, in 632, he was the effective ruler of all of southern Arabia.&lt;br /&gt;The Bedouin tribesmen of Arabia had a reputation as fierce warriors. But their number was small; and plagued by disunity and internecine warfare, they had been no match for the larger armies of the kingdoms in the settled agricultural areas to the north. However, unified by Muhammad for the first time in history, and inspired by their fervent belief in the one true God, these small Arab armies now embarked upon one of the most astonishing series of conquests in human history. (However, one should note that these were not offencive wars, limitation of time and space will not allow us to dwell onto a detailed analysis of these wars and conquests). To the northeast of Arabia lay the large Neo Persian Empire of the Sassanids; to the northwest lay the Byzantine, or Eastern Roman Empire, centered in Constantinople. Numerically, the Arabs were no match for their opponents. On the field of battle, though, the inspired Arabs rapidly conquered all of Mesopotamia, Syria, and Palestine. By 642, Egypt had been wrested from the Byzantine Empire, while the Persian armies had been crushed at the key battles of Qadisiya in 637, and Nehavend in 642.&lt;br /&gt;But even these enormous conquests -- which were made under the leadership of Muhammad's close friends and immediate successors, Abu Bakr and 'Umar ibn al Khattab did not mark the end of the Arab advance. By 711, the Arab armies had swept completely across North Africa to the Atlantic Ocean. There they turned north and, crossing the Strait of Gibraltar, overwhelmed the Visigothic kingdom in Spain. For a while, it must have seemed that the Muslims would overwhelm all of Christian Europe. However, in 732, at the famous Battle of Tours, a Muslim army, which had advanced into the center of France, was at last defeated by the Franks. Nevertheless, in a scant century of fighting, these Bedouin tribesmen, inspired by the word of the Prophet, had carved out an empire stretching from the borders of India to the Atlantic Ocean -- the largest empire that the world had yet seen. And everywhere that the armies conquered, large scale conversion to the new faith eventually followed.&lt;br /&gt;Now, not all of these conquests proved permanent. The Persians, though they have remained faithful to the religion of the Prophet, have since regained their independence from the Arabs. And in Spain, more than seven centuries of warfare finally resulted in the Christians reconquering the entire peninsula. However, Mesopotamia and Egypt, the two cradles of ancient civilization, have remained Arab, as has the entire coast of North Africa. The new religion, of course, continued to spread, in the intervening centuries, far beyond the borders of the original Muslim conquests. Currently, it has tens of millions of adherents in Africa and Central Asia, and even more in Pakistan and northern India, and in Indonesia. In Indonesia, the new faith has been a unifying factor. In the Indian subcontinent, however, the conflict between Muslims and Hindus is still a major obstacle to unity.&lt;br /&gt;How, then, is one to assess the overall impact of Muhammad on human history? Like all religions, Islam exerts an enormous influence upon the lives of its followers. It is for this reason that the founders of the world's great religions all figure prominently in this book. Since there are roughly twice as many Christians as Muslims in the world, it may initially seem strange that Muhammad has been ranked higher than Jesus. There are two principal reasons for that decision First, Muhammad played a far more important role in the development of Islam than Jesus did in the development of Christianity. Although Jesus was responsible for the main ethical and moral precepts of Christianity (insofar as these differed from Judaism), St. Paul was the main developer of Christian theology, its principal proselytizer, and the author of a large portion of the New Testament.&lt;br /&gt;Muhammad, however, was responsible for both the theology of Islam and its main ethical and moral principles. In addition, he played the key role in proselytizing the new faith, and in establishing the religious practices of lslam. Moreover, he is the author of the Muslim holy scriptures, the Quran, (however, the Muslims believe and try to prove that it is the literal word of God), a collection of certain of Muhammad's insights that he believed had been directly revealed to him by Allah. Most of these utterances were copied more or less faithfully during Muhammad's lifetime and were collected together in authoritative form not long after his death. The Quran, therefore, closely represents Muhammad's ideas and teachings and to a considerable extent his exact words. No such detailed compilation of the teachings of Christ has survived. Since the Quran is at least as important to Muslims as the Bible is to Christians, the influence of Muhammad through the medium of the Quran has been enormous. It is probable that the relative influence of Muhammad on Islam has been larger than the combined influence of Jesus Christ and St. Paul on Christianity. On the purely religious level, then, it seems likely that Muhammad has been as influential in human history as Jesus.&lt;br /&gt;Furthermore, Muhammad (unlike Jesus) was a secular as well as a religious leader. In fact, as the driving force behind the Arab conquests, he may well rank as the most influential political leader of all time.&lt;br /&gt;Of many important historical events, one might say that they were inevitable and would have occurred even without the particular political leader who guided them. For example, the South American colonies would probably have won their independence from Spain even if Simon Bolivar had never lived. But this cannot be said of the Arab conquests. Nothing similar had occurred before Muhammad, and there is no reason to believe that the conquests would have been achieved without him. The only comparable conquests in human history are those of the Mongols in the thirteenth century, which were primarily due to the influence of Genghis Khan. These conquests, however, though more extensive than those of the Arabs, did not prove permanent, and today the only areas occupied by the Mongols are those that they held prior to the time of Genghis Khan.&lt;br /&gt;It is far different with the conquests of the Arabs. From Iraq to Morocco, there extends a whole chain of Arab nations united not merely by their faith in Islam, but also by their Arabic language, history, and culture. The centrality of the Quran in the Muslim religion and the fact that it is written in Arabic have probably prevented the Arab language from breaking up into mutually unintelligible dialects, which might otherwise have occurred in the intervening thirteen centuries. Differences and divisions between these Arab states exist, of course, and they are considerable, but the partial disunity should not blind us to the important elements of unity that have continued to exist. For instance, neither Iran nor Indonesia, both oil producing states and both Islamic in religion, joined in the oil embargo of the winter of 1973 74. It is no coincidence that all of the Arab states, and only the Arab states, participated in the embargo.&lt;br /&gt;We see, then, that the Arab conquests of the seventh century have continued to play an important role in human history, down to the present day. It is this unparalleled combination of secular and religious influence which I feel entitles Muhammad to be considered the most influential single figure in human history.&lt;br /&gt;SIR THOMAS CARLYLE&lt;br /&gt;Talking about the fact that Hadhrat Muhammadsaw was illiterate he writes:&lt;br /&gt;One other circumstance we must not forget: that he had no school learning; of the thing we call school-learning none at all. The art of writing was but just introduced into Arabia; it seems to be the true opinion that Muhammad never could write! Life in the Desert, with its experiences, was all his education. What of this infinite Universe he, from his dim place, with his own eyes and thoughts, could take in, so much and no more of it was he to know. Curious, if we will reflect on it, this of having no books. Except by what he could see for himself, or hear of by uncertain rumour of speech in the obscure Arabian Desert, he could know nothing. The wisdom that had been before him or at a distance from him in the world, was in a manner as good as not there for him. Of the great brother souls, flame beacons through so many lands and times, no one directly communicates with this great soul. He is alone there, deep down in the bosom of the Wilderness; has to grow up so, -- alone with Nature and his own Thoughts.&lt;br /&gt;Talking about his marriage he writes:&lt;br /&gt;How he was placed with Kadijah, a rich Widow, as her steward, and travelled in her business, again to the Fairs of Syria; how he managed all, as one can well understand, with fidelity and adroitness; how her gratitude, her regard for him grew: the story of their marriage is altogether a graceful intelligible one, as told us by the Arab authors. He was twenty five; she forty, though still beautiful. He seems to have lived in a most affectionate, peaceable, wholesome way with this wedded benefactress; loving her truly, and her alone. It goes greatly against the impostor theory, the fact that he lived in this entirely unexceptionable, entirely quiet and commonplace way, till the heat of his years was done.&lt;br /&gt;J. H. DENISON&lt;br /&gt;J. H. Denison writes in his book, Emotions as the Basis of Civilisation, pp. 265 9:&lt;br /&gt;In the fifth and sixth centuries, the civilised world stood on the verge of chaos. The old emotional cultures that had made civilisation possible, since they had given to man a sense of unity and of reverence for their rulers, had broken down, and nothing had been found adequate to take their place. ..... It seemed then that the great civilisation which had taken four thousand years to construct was on the verge of disintegration, and that mankind was likely to return to that condition of barbarism where every tribe and sect was against the next, and law and order were unknown ....... The new sanctions created by Christianity were creating divisions and destruction instead of unity and order .... Civilisation like a gigantic tree whose foliage had over reached the world ..... stood tottering ..... rotted to the core .... Was there any emotional culture that could be brought in to gather mankind once more to unity and to save civilisation? ... It was among the Arabs that the man was born who was to unite the whole known world of the east and south.&lt;br /&gt;S.P. SCOTT&lt;br /&gt;S. P. Scott writes in, History of the Moorish Empire in Europe, p. 126:&lt;br /&gt;If the object of religion be the inculcation of morals, the diminution of evil, the promotion of human happiness, the expansion of the human intellect, if the performance of good works will avail in the great day when mankind shall be summoned to its final reckoning it is neither irreverent nor unreasonable to admit that Muhammad was indeed an Apostle of God.&lt;br /&gt;LAMARTINE&lt;br /&gt;Lamartine a French historian, writes in his book, History of Turkey, p. 276:&lt;br /&gt;Philosopher, orator, apostle, legislator, warrior, conqueror of ideas, restorer of rational dogmas, the founder of twenty terrestrial empires and of one spiritual empire, that is Muhammad. As regards all standards by which human greatness may be measured, we may ask, is there any man greater than he?&lt;br /&gt;I“f greatness of purpose, smallness of means, and outstanding results are the three criteria of human genius, who could dare to compare any great man in modern history with Muhammad? The most famous men created arms, and empires only. They founded, if any at all, no more than material power which often crumbled away before their eyes. This man merged not only armies, legislation, empires, peoples and dynasties but millions of men in one third of the inhabited world, and more than that, moved the altars, the gods, the religions, the ideas, the beliefs and the souls on the basis of a Book, every letter of which has become law. He created a spiritual nationality of every tongue and of every race.” (Historie de la Turqu,, Vol. 2, page 76-77)&lt;br /&gt;SIR WILLIAM MUIR&lt;br /&gt;The following description of his person and character is taken from Sir William Muir (Life of Muhammad, pp. 510-13):&lt;br /&gt;His form, though little above mean height, was stately and commanding. The depth of feeling in his dark black eyes, and the winning expression of a face otherwise attractive, gained the confidence and love of strangers, even at first sight. His features often unbended into a smile full of grace and condescension. He was, says an admiring follower, the handsomest and bravest, the brightest faced and most generous of men. It was as though the sunlight beamed in his countenance. His gait has been likened to that of one descending a hill rapidly. When he made haste, it was with difficulty that one kept pace with him. He never turned, even if his mantle caught in a thorny bush; so that his attendants talked and laughed freely behind him secure of being unobserved.&lt;br /&gt;Thorough and complete in all his actions, he took in hand no work without bringing it to a close. The same habit pervaded his manner in social intercourse. If he turned in a conversation towards a friend, he turned not partially, but with his full face and his whole body. In shaking hands, he was not the first to withdraw his own; nor was he the first to break off in converse with a stranger, nor to turn away his ear. A patriarchal simplicity pervaded his life. His custom was to do everything for himself. If he gave an alms he would place it with his own hands in that of the petitioner. He aided his wives in their household duties, mended his clothes, tied up the goats, and even cobbled his sandals. His ordinary dress was of plain white cotton stuff, made like his neighbours'. He never reclined at meals. Muhammad, with his wives, lived, as we have seen, in a row of low and homely cottages built of unbaked bricks, the apartments separated by walls of palm branches rudely daubed with mud, while curtains of leather, or of black haircloth, supplied the place of doors and windows. He was to all of easy access even as the river's bank to him that draweth water from it. Embassies and deputations were received with the utmost courtesy and consideration. In the issue of rescripts bearing on their representations, or in other matters of state, Muhammad displayed all the qualifications of an able and experienced ruler. What renders this the more strange is that he was never known himself to write.&lt;br /&gt;A remarkable feature was the urbanity and consideration with which Muhammad treated even the most insignificant of his followers. Modesty and kindliness, patience, self denial, and generosity, pervaded his conduct, and riveted the affections of all around him. He disliked to say No. If unable to answer a petitioner in the affirmative, he preferred silence. He was not known ever to refuse an invitation to the house even of the meanest, nor to decline a proffered present however small. He possessed the rare faculty of making each individual in a company think that he was the favoured guest. If he met anyone rejoicing at success he would seize him eagerly and cordially by the hand. With the bereaved and afflicted he sympathised tenderly. Gentle and unbending towards little children, he would not disdain to accost a group of them at play with the salutation of peace. He shared his food, even in times of scarcity, with others, and was sedulously solicitous for the personal comfort of everyone about him. A kindly and benevolent disposition pervaded all those illustrations of his character. Muhammad was a faithful friend. He loved Abu Bakr with the close affection of a brother; Ali, with the fond partiality of a father. Zaid, the freedman, was so strongly attached by the kindness of the Prophet, that he preferred to remain at Makkah rather than return home with his own father. 'I will not leave thee,' he said, clinging to his patron, 'for thou hast been a father and mother to me.' The friendship of Muhammad survived the death of Zaid, and his son Usama was treated by him with distinguished favour for the father's sake. Uthman and Umar were also the objects of a special attachment; and the enthusiasm with which, at Hudaibiyya, the Prophet entered into the Pledge of the Tree and swore that he would defend his beleaguered son in law even to the death, was a signal proof of faithful friendship. Numerous other instances of Muhammad's ardent and unwavering regard might be adduced. His affections were in no instance misplaced; they were ever reciprocated by a warm and self sacrificing love.&lt;br /&gt;In the exercise of a power absolutely dictatorial, Muhammad was just and temperate. Nor was he wanting in moderation towards his enemies, when once they had cheerfully submitted to his claims. The long and obstinate struggle against his pretentions maintained by the inhabitants of Makkah might have induced its conqueror to mark his indignation in indelible traces of fire and blood. But Muhammad, excepting a few criminals, granted a universal pardon; and, nobly casting into oblivion the memory of the past, with all its mockery, its affronts and persecution, he treated even the foremost of his opponents with a gracious and even friendly consideration. Not less marked was the forbearance shown to Abdullah and the disaffected citizens of Madinah, who for so many years persistently thwarted his designs and resisted his authority, nor the clemency with which he received submiss ive advances of tribes that before had been the most hostile, even in the hour of victory.&lt;br /&gt;Again he wrote:&lt;br /&gt;It is strongly corroborative of Muhammad's sincerity that the earliest converts to Islam were not only of upright character, but his own bosom friends and people of his own household who, intimately acquainted with his private life could not fail otherwise to have detected those discrepancies which even more or less exist between the profession of the hypocritical deceiver abroad and his actions at home".&lt;br /&gt;SIR JOHN GLUBB&lt;br /&gt;Talking about the revelations and dreams of Hadhrat Muhammadsaw he writes:&lt;br /&gt;Whatever opinion the reader may form when he reaches the end of this book, it is difficult to deny that the call of Muhammad seems to bear a striking resemblance to innumerable other accounts of similar visions, both in the Old and New Testaments, and in the experience of Christian saints, possibly also of Hindus and devotees of other religions. Such visions, moreover, have often marked the beginnings of lives of great sanctity and of heroic virtue.&lt;br /&gt;To attribute such phenomena to self delusion scarcely seems an adequate explanation, for they have been experienced by many persons divided from one another by thousands of years of time and by thousands of miles of distance, who cannot conceivably have even heard of each other. Yet the accounts which they give of their visions seem to bear an extraordinary likeness to one another. It scarcely appears reasonable to suggest that all these visionaries "imagined" such strikingly similar experiences, although they were quite ignorant of each other's existence.&lt;br /&gt;Talking about the migration of the companions of the Holy Prophet Muhammad, may peace be upon him, to Abyssinia while the prophet himself was in Makkah, he writes:&lt;br /&gt;The list seems to have included very nearly all the persons who had accepted Islam and the Messenger of God must have remained with a much reduced group of adherents, among the generally hostile inhabitants of Makkah, a situation which proves him to have possessed a considerable degree of moral courage and conviction.&lt;br /&gt;Talking about Muhammad's migration from Makkah to Madinah, when he had to escape like a fugitive whose life was in great danger, he writes:&lt;br /&gt;When the fugitives had whispered goodbye to Abu Bakr's son and daughter outside the cave on Mount Thaur and the camels had padded silently away into the darkness beneath the sharp Arabian stars, the curtain rose on one of the greatest dramas of human history. How little did Caesar or Chosroes, surrounded by their great armies and engaged in a long and bitter war for world supremacy (as they thought), realise that four ragged Arabs riding silently through the bare mountains of the Hejaz were about to inaugurate a movement which would put an end to both their great imperial dominions.&lt;br /&gt;MONTGOMERY WATT&lt;br /&gt;W. Montgomery Watt, the well known Orientalist, has said the following about his personality in general (Muhammad at Madinah pp 334-5):&lt;br /&gt;We may distinguish three great gifts Muhammad had, each of which was indispensable to his total achievement. First, there is what may be called his gift as a seer. Through him or on the orthodox Muslim view, through the revelations made through him the Arab world was given an ideological framework within which the resolution of its social tensions became possible. The provision of such a framework involved both insight into the fundamental causes of the social malaise of the time, and the genius to express this insight in a form which would stir the hearer to the depths of his being. ...........&lt;br /&gt;Secondly, there is Muhammad's wisdom as a statesman. The conceptual structure found in the Quran was merely a framework. The framework had to support a building of concrete policies and concrete institutions. In the course of this book, much has been said of Muhammad's far sighted political strategy and his social reforms. His wisdom in these matters is shown by the rapid expansion of a small state to a world empire, and by the adaption of his social institutions to many different environments and their continuance for thirteen centuries.&lt;br /&gt;Thirdly, there is his skill and tact as an administrator and his wisdom in the choice of men to whom to delegate administrative details. Sound institutions and a sound policy will not go far if the execution of affairs is faulty and fumbling. When Muhammad died, the state he had founded was a going concern, able to withstand the shock of his removal and, once it had recovered from this shock, it expanded at prodigious speed.&lt;br /&gt;The more one reflects on the history of Muhammad and of early Islam, the more one is amazed at the vastness of his achievement. Circumstances presented him with an opportunity such as few men have had, but the man was fully matched with the hour. Had it not been for his gifts as a seer, statesman, and administrator and, behind these, his trust in God and firm belief that God had sent him, a notable chapter in the history of mankind would have remained unwritten. It is my hope that this study of his life may contribute to a fresh appraisal and appreciation of one of the greatest of the sons of Adam.&lt;br /&gt;Such is a testimony of a biographer who was not favorably disposed towards the Holy Prophet.&lt;br /&gt;WILL DURANT&lt;br /&gt;Talking about the immence influence of Muhammad on world history he wrote:&lt;br /&gt;In the year 565 Justinian died, master of a great empire. Five years later Muhammad was born into a poor family in a country three quarters desert, sparsely peopled by nomad tribes whose total wealth could hardly have furnished the sanctuary of St. Sophia. No one in those years would have dreamed that within a century these nomads would conquer half of Byzantine Asia, all Persia and Egypt, most of North Africa, and be on their way to Spain. The explosion of the Arabian peninsula into the conquest and conversion of half the Mediterranean world is the most extraordinary phenomenon in medieval history.&lt;br /&gt;ALFRED GUILLAME&lt;br /&gt;He wrote the following in his book Islam in regards to the battles fought by the Prophet:&lt;br /&gt;Muhammad accomplished his purpose in the course of three small engagements: the number of combatants in these never exceeded a few thousand, but in importance they rank among the world's decisive battles.&lt;br /&gt;REV. BOSWELL SMITH&lt;br /&gt;“Head of the state as well as the Church, he was Caesar and Pope in one, but he was Pope without the Pope's pretensions, and Caesar without the legions of Caesar, without a standing army, without a body guard, without a palace, without a fixed revenue. If ever a man had the right to rule by a right divine, it was Muhammad for he had all the power without the instruments and without its supports. (Muhammad and Muhammadanism )&lt;br /&gt;On the whole, the wonder is not how much but how little, under different circumstances, Muhammad differed from himself. In the shepherd of the desert, in the Syrian trader,in the solitary of Mount Hira, in the reformer in the minority of one, in the exile of Madinah, in the acknowledged conqueror, in the equal of the Persian Chosroes and the Greek Heraclius, we can still trace substantial unity. I doubt whether any other man whose external conditions changed so much, ever himself changed less to meet them.&lt;br /&gt;KAREN ARMSTRONG&lt;br /&gt;A modern research scholar of Islam Karen Armstrong, wrote in her book:&lt;br /&gt;Muhammad had to start virtually from scratch and work his way towards the radical monotheistic spirituality of his own. When he began his mission, a dispassionate observer would not have given him a chance. The Arabs, he might have objected, were just not ready for monotheism: they were not sufficently developed for this sophisticated vision. In fact, to attempt to introduce it on a large scale in this violent, terrifying society could be extremely dangerous and Muhammad would be lucky to escape with his life.&lt;br /&gt;Indeed, Muhammad was frequently in deadly peril and his survival was a near-miracle. But he did succeed. By the end of his life he had laid an axe to the root of the chronic cycle tribal violence that afflicted the region and paganism was no longer a going concern. The Arabs were ready to embark on a new phase of their history.&lt;br /&gt;(Muhammad - A Biography of the Prophet page 53-54)&lt;br /&gt;Finally it was the West, not Islam, which forbade the open discussion of religious matters. At the time of the Crusades, Europe seemed obsessed by a craving for intellectual conformity and punished its deviants with a zeal that has been unique in the history of religion. The witch-hunts of the inquisitors and the persecution of Protestants by the Catholics and vice versa were inspired by abtruse theoligical opinions which in both Judaism and Islam were seen as private and optional matters. Neither Judaism nor Islam share the Christian conception of heresy, which raises human ideas about the divine to an unacceptably high level and almost makes them a form of idolatry. The period of the Crusades, when the fictional Mahound was established, was also a time of the great strain and denial in Europe. This is graphically expressed in the phobia about Islam.&lt;br /&gt;(Muhammad: A Biography of the Prophet, page 27).&lt;br /&gt;MAJOR A. LEONARD&lt;br /&gt;If ever any man on this earth has found God; if ever any man has devoted his life for the sake of God with a pure and holy zeal then, without doubt, and most certainly that man was the Holy Prophet of Arabia.&lt;br /&gt;(Islam, its Moral and Spiritual Values, p. 9; 1909, London)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKO3h62yoiioQt3AudV3vPbgK-dNlfZhdx6tg9aay-kRMJ-h-RXzL4l3oUBop6dXDw2GeKMYA64bJ3juAGeHdclAnw4zHqCHyWDONUdz3rkjoPg_F13JF7D44U8cQ0sQt_Zd08jpcEEk0/s72-c/MUHAMMAD1.jpg" width="72"/></item><item><title>Pernyataan Jujur Para Tokoh Tentang Ahmadiyah</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2009/05/pernyataan-jujur-para-tokoh-tentang.html</link><category>Pernyataan Jujur Para Tokoh Tentang Ahmadiyah</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Sun, 3 May 2009 15:53:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-8363937699888053227</guid><description>&lt;div style="background: rgb(77, 33, 33) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; text-align: justify; font-size: 100%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGO22XJIvNK1v5tKtUNWItVI3KhD4Mx8Lb_fmm6vLv-mdCkfVhgldCT27n5W_HJTgGJD_0qBBeJ1NzgHo7nLdoOVwdidwrhqunZHFkc3OV4egmy-P8fN2eLF0KlNO-JoFL1rABGQ7I7Gs/s1600-h/bung+karno.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 91px; height: 130px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGO22XJIvNK1v5tKtUNWItVI3KhD4Mx8Lb_fmm6vLv-mdCkfVhgldCT27n5W_HJTgGJD_0qBBeJ1NzgHo7nLdoOVwdidwrhqunZHFkc3OV4egmy-P8fN2eLF0KlNO-JoFL1rABGQ7I7Gs/s400/bung+karno.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331736112354551714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bung Karno, Proklamator Kemerdekaan RI dan Presiden RI Pertama:&lt;br /&gt;“Maka oleh karena itulah, walaupun ada beberapa fasal dari Ahmadiyah tidak saya setujui dan malahan saya tolak,….., tokh saya merasa wajib berterima kasih atas faedah-faedah dan penerangan-penerangan yang telah saya dapatkan dari mereka punya tulisan-tulisan yang rasional, moderen, broad minded dan logis itu”. (Di Bawah Bendera Revolusi : 346; Sinar Islam, Januari 1984 : 57 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. H.A.Karim Amarulah, Ulama dan Tokoh Pergerakan Kemerdekaan RI, ayah Prof. Dr. Hamka :&lt;br /&gt;“Diatas nama Islam dan kaum Muslimin se-Dunia kita mem&lt;br /&gt;uji sungguh kepada pergerakannya Ghulam Ahmad tentang mereka banyak menarik kaum Nasrani (Kristen) masuk agama Islam di tanah Hindustan dan lain-lain tempat…..”. (Al Qaulus-Shahih : 149; Ibid )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. Hamka, Ulama dan Ketua MUI pertama :&lt;br /&gt;“Adapun kaum Ahmadi (Ahmadiyah), dan usahanya melebarkan Islam di benua Eropa dan Amerika, dengan dasar ajaran mereka, faedahnya bagi Islam ada juga. Mereka menafsirkan Qur’an ke dalam bahasa-bahasa yang hidup di Eropa. Padahal zaman 100 tahun yang lalu masih merata kepercayaan tidak boleh menafsirkan Qur&lt;br /&gt;’an. Penafsiran Quran dari kedua golongan Ahmadiyah itu membangkitkan minat bagi golongan yang mengingini kebangkitan Islam ajaran Muhammad kembali buat memperdalam selidiknya tentang Islam…..”. (Pelajaran Agama Islam, Cet. I : 199; Ibid )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Akram M.A., Cendekiawan Muslim :&lt;br /&gt;“Pengaruh Jemaat Ahmadiyah memang jauh sekali. Ini disebabkan kepercayaan Pendiri Jemaat Ahmadiyah dan pengikutnya, bahwa jihad dengan pedang bukanlagh masanya sekarang. Yang diperlukan ialah jihad dengan pena, jihad dengan lisan dan tulisan. Pendirian mereka ini tidak sejalan dengan pendirian umat Islam lainnya, tetapi hakikat yang nyata ialah, kemampuan jihad dengan pedang tidak ada pada Ahmadiyah dan tidak pula terdapat pada umat Islam lainnya. Karena kepercayaan umum umat Islam terhadap jihad dengan pedang itu, maka akhirnya jihad ‘am dan dakwah pun tidak dilakukan. Orang Ahmadiyah yang mengakui jihad dengan dakwah itu merekalah yang melakukannya dengan menganggapnya sebagai kewajiban. Di sini mereka berhasil dan sukses”. (Maud-i-Kauthar, 193-194; Ibid )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Drs. K.H. Hasbullah Bakry S.H., Ulama dan Cendekiawan Muslim :&lt;br /&gt;“Menurut pendapat saya, adalah suatu kesalahan yang amat besar telah dilakukan oleh Majlis Ulama kita baru-baru ini tanpa mendengar lebih dulu pendapat ulama lain, menyatakan Ahmadiyah bukan Islam (hal ini pasti bertentangan dengan ayat Alquran An-Nisa:94 yang mencegah kita mengkafirkan sesama Islam).&lt;br /&gt;Kalau kita tidak boleh mengkafirkan golongan Syi’ah, begitu juga kita tidak boleh mengkafirkan golongan Ahmadiyah, sebab mereka tetap masih mengaku Islam dengan iman Islam. Kiranya  para Ulama di Indonesia dapat menempati posisinya yang benar dalam membangun bangsa dan negara, amien”. (Kiblat, No.16/XXVII, hal 26 ).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGO22XJIvNK1v5tKtUNWItVI3KhD4Mx8Lb_fmm6vLv-mdCkfVhgldCT27n5W_HJTgGJD_0qBBeJ1NzgHo7nLdoOVwdidwrhqunZHFkc3OV4egmy-P8fN2eLF0KlNO-JoFL1rABGQ7I7Gs/s72-c/bung+karno.jpg" width="72"/></item><item><title>Effects Of Cold Water</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2009/04/effects-of-cold-water_29.html</link><category>Informasi</category><category>Kesehatan</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Wed, 29 Apr 2009 16:22:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-5393205525569576536</guid><description>&lt;div style="FONT-SIZE: 100%; BACKGROUND: #213a54; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnOAZDJhUwgfFYHY7dtRH29BNBPgZ3y3ChibpYSg54ip5EiAefRuXEiHRKgAdr1x7XsI5YCV9jfqsI9tmh5pXSoSOqmloAIK7G-6ykWcLWqItwE7H-GLvE1hjb3BBmlgIlmhPREkkWMXs/s1600-h/tengkorak.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330258779924804866" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 158px" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnOAZDJhUwgfFYHY7dtRH29BNBPgZ3y3ChibpYSg54ip5EiAefRuXEiHRKgAdr1x7XsI5YCV9jfqsI9tmh5pXSoSOqmloAIK7G-6ykWcLWqItwE7H-GLvE1hjb3BBmlgIlmhPREkkWMXs/s200/tengkorak.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="color:#ffffff;"&gt;For those who like to drink cold water, this article is applicable to you. It is nice to have a cup of cold drink after a meal. However, the cold water will solidify the oily stuff that you have just consumed. It will slow down the digestion. Once this "sludge" reacts with the acid, it will break down and be absorbed by the intestine faster than the solid food. It will line the intestine. Very soon, this will turn into fats and lead to cancer. It is best to drink hot soup or warm water after a meal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A serious note about heart attacks - You should know that not every heart attack symptom is going to be the left arm hurting. Be aware of intense pain in the jaw line.&lt;br /&gt;You may never have the first chest pain during the course of a heart attack. Nausea and intense sweating are also common symptoms. 60% of people who have a heart attack while they are asleep do not wake up. Pain in the jaw can wake you from a sound sleep. Let's be careful and be aware. The more we know the better chance we could survive.&lt;br /&gt;A cardiologist says if everyone who reads this message sends it to 10 people, you can be sure that we'll save at least one life. Read this &amp;amp; Send the link to a friend. It could save a life. So, please be a true friend and send this article to all your friends you care about.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anda yang menyukai air dingin, artikel ini sangat bermanfaat bagi anda. Memang menyenangkan bila kita meminum air dingin setelah makan. Namun, air dingin akan membekukan makanan berminyak yang baru anda konsumsi. Hal ini akan memperlambat pencernaan. Sekali saja “ mengendap” bereaksi dengan asam, akan merusak dan diserap usus lebih cepat dari pada makanan padat. Dan akan membatasi usus. Segera setelah itu, akan menimbun menjadi lemak dan menjadi penyebab kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Lebih baik untuk meminum air panas atau hangat setelah makan.&lt;br /&gt;Catatan penting tentang serangan jantung – anda harus mengetahui bahwa tidak setiap gejala serangan jantung akan melukai lengan sebelah kiri. Waspadalah jika anda merasa sakit pada kerongkongan. Anda mungkin tidak akan pernah merasa sakit pada bagian dada selama serangan jantung berlangsung. Rasa mual dan keringat yang bercucuran juga menjadi gejala umum. 60 persen orang yang mengalami serangan jantung pada saat tidak sadarkan diri atau tidur tidak pernah terbangun. Rasa sakit pada tenggorokan dapat membangunkan anda dari tidur anda yang nyenyak.&lt;br /&gt;Mari berhati-hati dan waspada. Semakin kita tahu semakin baik untuk kita bertahan.&lt;br /&gt;Seorang ahli jantung mengatakan jika seseorang membaca pesan ini dan mengirimkannya kepada 10 orang, anda dapat menyelamatkan sedikitnya 1 nyawa seseorang. Perhatikan &amp;amp; kirimkan ini kepada teman-teman anda. Agar dapat menyelamatkan kehidupan. Jadi, sadarlah kawan dan kirimkan artikel ini kepada teman-teman yang anda cintai&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnOAZDJhUwgfFYHY7dtRH29BNBPgZ3y3ChibpYSg54ip5EiAefRuXEiHRKgAdr1x7XsI5YCV9jfqsI9tmh5pXSoSOqmloAIK7G-6ykWcLWqItwE7H-GLvE1hjb3BBmlgIlmhPREkkWMXs/s72-c/tengkorak.bmp" width="72"/></item><item><title>The Largest Mosque in Western Europe</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2009/04/baitul-futuh-mosque-morden.html</link><category>Ahmadiyah</category><category>Berita Pilihan</category><category>Internasional</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Mon, 20 Apr 2009 19:37:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-7804372044083572384</guid><description>&lt;div style="FONT-SIZE: 100%; BACKGROUND: rgb(77,33,33); TEXT-ALIGN: justify; moz-background-clip: -moz-initial; moz-background-origin: -moz-initial; moz-background-inline-policy: -moz-initial"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUroE_Iz6qimcGlWlUYwxdy1fCaq28phnINCbxTEuL-HgRe3se1uZ24I-JPoY4rvDKOEK-nh5PMD8AJj9LTjFRp0RVTqRO1V5myZVuPZJFP8S1Li1Kjxy2bRWv-9CHZOg_y-N6KTLFlYs/s1600-h/clip_image002_0005.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326974661028550146" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 270px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 220px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUroE_Iz6qimcGlWlUYwxdy1fCaq28phnINCbxTEuL-HgRe3se1uZ24I-JPoY4rvDKOEK-nh5PMD8AJj9LTjFRp0RVTqRO1V5myZVuPZJFP8S1Li1Kjxy2bRWv-9CHZOg_y-N6KTLFlYs/s400/clip_image002_0005.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(255,255,255)"&gt;The Baitul Futuh Mosque, is a landmark building. The mosque itself is among the largest built in Europe. The design of the mosque has incorporated both Islamic and modern British architecture. The strategic planning of the entire site has blended the previous Dairy Factory into the new complex. The main auxiliary building has also been developed and refurbished to offer ancillary facilities. The mosque was opened on 3 October 2003.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="BACKGROUND: rgb(77,33,33); COLOR: rgb(255,255,255); TEXT-ALIGN: justify; moz-background-clip: -moz-initial; moz-background-origin: -moz-initial; moz-background-inline-policy: -moz-initialfont-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;The complex also has to offer many facilities, such as various conference halls and auditoriums, a library and dining facilities. Events ranging from the Islamic 'Eid' celebrations to student career seminars have already been held at the site.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The site also has fully refurbished offices to house the administration of the various auxiliary organisations of the Ahmadiyya Community, such as the Youth Organisation; Women's Organisation; Over 40s Men's Organisation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A non-profit making gymnasium is being set-up. Classes for both career development and the unemployed are already taking place.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is our aim to continually work with the local community and to keep all informed of the progress, design and activities being hosted. The community has set-up the AMA Liaison Group, which comprises of Local Councillors, Residents Associations, Schools &amp;amp; Colleges, Church leaders and representatives of various other local organisations&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Islam Awareness Week&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As part of National Islam Awareness Week the Baitul Futuh Mosque in Morden will be holding open days from the 23rd November - 29th November 2008 (except Friday 28th November 2008) between 10 am and 4pm. You will be given a tour of the mosque, various multi-purpose halls, library and exhibition. You will be given an information pack on various aspects of Islam and the mosque.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The site is located next to Morden South Station and 5-10 minutes walk from Morden Underground Station. Buses numbers 80, 93 and 154 stop outside the mosque. Parking is available on site.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you have any queries please do not hesitate to email us at seminars@ahmadiyya.org.uk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;School Visits&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The mosque welcomes school visits to tour the mosque and the site. This also includes a talk and questions and answers on the basic teachings of Islam and the purposes of a mosque. Refreshments can also be provided.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contact&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For each of these events you can contact us via phone or email:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tel:&lt;br /&gt;020 8687 7812&lt;br /&gt;Email: events@baitulfutuh.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HOUSE OF VICTORIES&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By the Grace of Allah the Baitul Futuh mosque complex has been completed through voluntary donations of individual members of the Ahmadiyya Muslim Community.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The mosque complex provides the Ahmadiyya Muslim Community with a central focal point for meetings, social and religious events on a national scale that was no longer possible in the much smaller London mosque. The Ahmadiyya Muslim Community acquired the site in 1996 which was previously “Express Dairies”, and the late Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, the fourth Khalifa laid the foundation stone on 19th October 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The first mosque built by the Ahmadiyya Muslim Community in England was the Fazal Mosque situated in Southfields, South West London. The Fazal mosque which is commonly known as the London Mosque was built by the funds provided by the ladies section of the Ahmadiyya Muslim Community in 1924.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUroE_Iz6qimcGlWlUYwxdy1fCaq28phnINCbxTEuL-HgRe3se1uZ24I-JPoY4rvDKOEK-nh5PMD8AJj9LTjFRp0RVTqRO1V5myZVuPZJFP8S1Li1Kjxy2bRWv-9CHZOg_y-N6KTLFlYs/s72-c/clip_image002_0005.jpg" width="72"/></item><item><title>Ahmadiyya Muslims in Leamington "happy" in their new mosque</title><link>http://putradarweisy.blogspot.com/2009/04/ahmadiyya-muslims-in-leamington-happy.html</link><category>Ahmadiyah</category><category>Berita Pilihan</category><category>Internasional</category><author>noreply@blogger.com (putra darweisy)</author><pubDate>Mon, 13 Apr 2009 16:14:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7278316261340354526.post-3904341914422857573</guid><description>&lt;div style="background: rgb(33, 58, 84) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; text-align: justify; font-size: 100%; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.leamingtoncourier.co.uk/news/Ahmadiyya-Muslims-in-Leamington-34happy34.5154117.jp"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 200px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyOAMNegHj-sIOexLzD3s-9opjNc6g1SJSmYwe87MsZoskbyvazrB5z9bSDjvHSCTbeAnut3WgeqI287m3Vfc31nIXP3XlS3qXPerP3R9mDmWPiAg_7MMibDpQQytowxFTWudzXDb2knM/s400/TH1_84200921Mosque.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324319904014255986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Published Date:  08 April 2009&lt;br /&gt;A small community of Ahmadiyya Muslims in Leamington have enjoyed the first six months since their new mosque opened.&lt;br /&gt;Some 80 people worship at the £250,000 Baitul Ehsan Centre, opened by the Ahmadiyya Muslim Association, at the former James West Centre in Adelaide Road in November.&lt;br /&gt;The association was formerly based in Lantern Corner before it rented rooms at Bath Place Community Venture and Oddfellows Hall in Warwick.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warwick and Leamington assocation president Mohammad Salim said: "We are really pleased we have our own place now and a lot of people have shown an interest in the building.&lt;br /&gt;"Not only is it a base for our community but it has helped us contribute to Leamington's community as a whole."&lt;br /&gt;Neighbours and dignitaries were invited to the mosque's opening last year.&lt;br /&gt;It is the first building of its type in Leamington.&lt;br /&gt;Youngsters come to play and eat and several functions have taken place there.&lt;br /&gt;Schools have shown an interest in going to look round and members of the Women's Institute have visited and invited women from the mosque to attend its events.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mr Salim said the mosque was enjoying a good relationship with its neighbours, which include St Patrick's Irish Club and the Royal Naval Association.&lt;br /&gt;He added: "People are happy and we are a peaceful neighbour - our motto is love for all and hate to none.&lt;br /&gt;"We intend to keep it that way."&lt;br /&gt;The Ahmadiyya Muslim community has branches in more than 189 countries and its worldwide membership exceeds tens of millions.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Established in 1889 in Punjab, India, its stated aim is to rejuvenate Islamic moral and spiritual values and claims there have been prophets since Mohammed - beliefs which contrast with mainstream Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;The association built its first UK mosque in Wandsworth, London, in 1924.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Ahmadiyya is said to advocate peace, tolerance, love and understanding among followers of different faiths and to strongly reject violence and terrorism.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;An invitation only conference on the global financial crisis will take place at the mosque on April 18.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Prof Andrew Oswald from Warwick University will give a talk on the causes of the situation and a guest speaker will talk about the Islamic economic system.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.leamingtoncourier.co.uk/news/Ahmadiyya-Muslims-in-Leamington-34happy34.5154117.jp"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;mahmudwardi80@gmail.com&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyOAMNegHj-sIOexLzD3s-9opjNc6g1SJSmYwe87MsZoskbyvazrB5z9bSDjvHSCTbeAnut3WgeqI287m3Vfc31nIXP3XlS3qXPerP3R9mDmWPiAg_7MMibDpQQytowxFTWudzXDb2knM/s72-c/TH1_84200921Mosque.jpg" width="72"/></item></channel></rss>