<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7352326541738377432</id><updated>2009-03-04T09:23:33.070+07:00</updated><title type='text'>PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://apuythea.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://apuythea.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://apuythea.blogspot.com/'/><author><name>apuythea</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03329300409640403113</uri><email>w_herpiandi@yahoo.co.id</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7352326541738377432.post-5128931349727397000</id><published>2009-03-02T23:47:00.002+07:00</published><updated>2009-03-02T23:50:42.934+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://purl.org/atom/app#'>2009-03-02T23:50:42.934+07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mikrobiologi Pangan'/><title type='text'>TERASI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yxW0bUJvaQA/SawOS1UA5DI/AAAAAAAAADY/AwkCN0P0ptc/s1600-h/terasi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 98px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yxW0bUJvaQA/SawOS1UA5DI/AAAAAAAAADY/AwkCN0P0ptc/s320/terasi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308633777474430002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bersantap dengan menu khas Sunda, tanpa sambal terasi? Wah, kurang lengkap itu. Tanpa sambal terasi, maka nasi putih hangat, ikan bakar, dan lalapan yang terhidang di meja makan, tak akan terasa nikmat. &lt;br /&gt;Sepintas, terasi tampak sepele. Walau begitu kehadirannya sangat berarti. Banyak orang menggemarinya. Tak cuma pada sambal, terasi juga menjadi bahan penyedap berbagai jenis masakan, dari nasi goreng sampai sayur asam. &lt;br /&gt;Sebagai penyedap masakan, terasi merupakan warisan yang secara turun-temurun diproduksi masyarakat nelayan di Indonesia. Saat ini, terasi masih diproduksi secara tradisional. Beberapa daerah yang terkenal sebagai penghasil terasi adalah Bagansiapi-api. Namun, tak sedikit kota di Pulau Jawa yang dikenal sebagai sentra industri rumah tangga terasi. Sebut saja misalnya, Sidoarjo, Rembang, Indramayu, Cirebon, serta Pati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga jenis terasi&lt;br /&gt;Ada beberapa jenis terasi. Bila dilihat dari bahan dasar yang digunakan, terdapat tiga macam terasi. Ada terasi udang, ikan, dan terasi campuran antara ikan dan udang. Masyarakat sendiri tampaknya lebih menyukai terasi udang, karena aromanya lebih sedap dan rasanya lebih lezat. Terasi memang bukan bahan pangan utama seperti ikan atau daging. Ia hanya sejenis bumbu atau bahan penyedap rasa. Sebagai bahan penyedap rasa atau penambah selera makan, terasi tidak banyak  memiliki kandungan gizi. Soalnya, terasi itu bukan sumber gizi dan hanya bahan tambahan. Selain itu, penggunaannya dalam masakan juga tidak terlalu banyak. &lt;br /&gt;Selain itu, jika dilihat dari derajat keasaman (pH), maka terasi bukanlah bahan yang terlalu aman untuk dikonsumsi. Sebab, derajat keasaman yang dikandung terasi lebih dari 5. Untungnya, kandungan air bebas atau air tidak terikat dalam terasi sangat rendah, yakni 0,6. Dengan begitu, terasi tidak mudah ditumbuhi kuman atau mikroba patogen. Biasanya, kuman patogen mudah tumbuh subur dalam bahan yang mengandung air bebas di atas 0,9. &lt;br /&gt;Hal lain yang perlu  di perhatikan berkait dengan terasi adalah mutunya.    Kualitas terasi yang beredar di pasaran sangat tergantung pada mutu bahan baku, cara pengolahan, dan pengemasan produk. Terasi yang berkualitas baik, salah satunya bisa ditandai oleh warnanya, yaitu berwarna gelap atau hitam kecokelatan. Warna hitam pada terasi adalah alami. Warna itu berasal dari pigmen ikan atau udang.  Selain pigmen heme, pada ikan maupun udang juga mengandung karotenoid, yaitu sekelompok pigmen yang memberikan warna kuning, jingga, atau merah. Tunaxantin merupakan pigmen ikan laut yang karakteristik, sedangkan astaxantin merupakan pigmen terpenting yang terdapat pada udang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna terasi yang kehitaman juga sering disebabkan oleh adanya penambahan gula merah (aren). Penambahan gula merah dilakukan pada pembuatan terasi di berbagai daerah. Penambahan gula merah tersebut menyebabkan terjadinya reaksi Maillard (reaksi pencokelatan), yaitu antara gugus amino dari protein dengan gugus karboksil gula pereduksi dari gula merah.&lt;br /&gt;Agar terasi menjadi lebih menarik, sering ditambahkan bahan pewarna dari luar. Pewarna alami yang paling umum dipakai adalah pewarna merah yang berasal dari angkak, yakni produk dari beras yang difermentasi dengan Monascus purpureus.&lt;br /&gt;masyarakat hendaknya menghindari terasi yang berwarna merah. Sebab, warna merah itu berasal dari bahan pewarna rhodamin B yang biasa digunakan untuk tekstil. Tambahan pewarna rhodamin B akan membuat terasi tampak sangat merah dari luar, bahkan warna merah itu menembus hingga ke dalam. &lt;br /&gt;Rhodamin B sendiri, karena berbahaya untuk kesehatan, telah dilarang penggunaannya sejak 1978. Penelitian menunjukkan, penggunaan rhodamin B yang terus-menerus bisa menyebabkan munculnya penyakit kanker hati, ginjal, dan kandung kemih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya terasi yang enak dibuat dari udang-udang kecil (Atya sp) yang berwarna putih kelabu dengan sirip kemerah-merahan (biasa disebut rebon). Namun, karena rebon tidak dapat diperoleh sepanjang tahun (musim), terasi lebih sering dibuat dari ikan. Terasi ikan sering dibuat dari ikan-ikan kecil seperti teri (Stolephorus spp.) dan sisa-sisa pengolahan udang berukuran besar (Penaidae) , yang kurang laku dijual segar atau kurang baik untuk dibuat ikan asin.. Sedangkan bahan tambahan pokok dalam pengolahannya adalah garam dapur (NaCl).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikenal di Luar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuatan terasi di Pulau Jawa umumnya menggunakan bibit terasi yang berasal dari daerah Bagansiapi-api. Pembuatan terasi menggunakan bibit terasi dilakukan dengan mencampurkannya ke dalam bahan baku yang digunakan. Campuran tersebut digiling, dihancurkan, dicetak, dijemur, dibungkus, lalu dipasarkan. Kadang-kadang ditambah rempah-rempah atau bumbu untuk menambah cita rasa produk yang dihasilkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbandingan antara bibit terasi dan bahan campuran lain sangat bervariasi tergantung pada mutu terasi yang diinginkan. Makin banyak bibit yang digunakan, makin baik mutu terasi yang dihasilkan. Produk semacam terasi juga dikenal di negara-negara lain dengan sebutan yang berbeda, seperti belachan (Malaysia), kapi (Thailand), bagoong atau alanang (Filipina), prahoc atau mom tom (Kamboja), padec (Laos), mam-ton (Vietnam), ngapi (Birma), dan gyoniso (Jepang). Proses pembuatan di setiap negara sangat bervariasi, tetapi pada dasarnya sama, yaitu penggaraman dan fermentasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil Proses Fermentasi&lt;br /&gt;Manfaat utama terasi adalah sebagai komponen bumbu, yaitu untuk membuat sambal dan bumbu masak lainnya. Terasi digunakan terutama karena baunya yang tajam dan khas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu terasi sangat dipengaruhi oleh mutu bahan baku, cara pengolahan, dan penanganan produk akhir. Selama fermentasi, protein akan terhidrolisis menjadi turunannya oleh enzim proteolitik yang terdapat dalam daging atau jeroan ikan atau oleh enzim yang dihasilkan oleh mikroba. Penggunaan jeroan ikan menjadi penting dalam pembuatan terasi. Sebab, enzim yang dihasilkannya dapat memecah protein lebih baik, dibandingkan dengan enzim yang terdapat pada bagian dagingnya. Oleh karena itu, sebaiknya ikan yang akan digunakan dalam pembuatan terasi adalah ikan utuh (dengan jeroannya). Jenis mikroba yang tumbuh selama fermentasi akan sangat mempengaruhi mutu terasi yang dihasilkan. Bakteri terutama berperan dalam pembentukan cita rasa dan aroma terasi yang khas. Selama proses pembuatan terasi, muncul bau asam yang berasal dari asam laktat. Tidak mengherankan bila pada terasi terkandung senyawa bermanfaat seperti laktobasilin. Sejauh ini, mikroba yang berperan dalam proses fermentasi pada terasi belum diketahui dengan jelas. Akan tetapi Jenis bakteri laktat yang terlibat langsung pada pembuatan makanan dan minuman fermentasi adalah Lactobacillus acidophilus, L fermentum, L casei, dan L lactis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAKTERI laktat (lactobacillus) merupakan kelompok mikroba dengan habitat dan lingkungan hidup sangat luas, baik di perairan (air tawar ataupun laut), tanah, lumpur, maupun batuan. Bakteri ini juga menempel pada jasad hidup lain seperti tanaman, hewan, serta manusia.&lt;br /&gt;Pada manusia, sejumlah bakteri laktat ditemukan di usus, aliran darah, paru-paru, serta mulut. Pada vagina yang merupakan organ reproduksi wanita, tercatat delapan jenis bakteri laktat, antara lain Lactobacillus acidophilus, L fermentum, L brevis, L casei, L leichmannii, L lactis, L salivarius, dan L cellobiosus.&lt;br /&gt;Asam laktat yang dihasilkan bakteri laktat dengan nilai pH (keasaman) 3,4-4 cukup untuk menghambat sejumlah bakteri perusak dan pembusuk bahan makanan dan minuman. Namun, selama proses fermentasi bakteri laktat terhadap sayuran, daging, dan ikan, bakteri laktat tidak hanya menghasilkan asam laktat dan laktobasilin. Dihasilkan pula senyawa tertentu yang dapat meningkatkan nilai organoleptik makanan dan minuman, termasuk rasa dan bau yang mengundang selera serta memperbaiki penampilan.&lt;br /&gt;Bahkan sejak awal 1960-an telah dibuktikan oleh tim peneliti di lingkungan Laboratorium Mikrobiologi ITB bahwa selama pembuatan terasi ikan diproduksi sejumlah vitamin, khususnya B-12. Dengan demikian, memakan terasi-walau dalam jumlah terbatas melalui sambal maupun sayur asam- menjadi sumber asupan vitamin B-12.&lt;br /&gt;Penelitian juga menunjukkan, laktobasilin yang dihasilkan asam laktat membuat bakteri fekal tidak aktif. Seperti diketahui, proses pembentukan kolesterol dan karsinogen (senyawa pemicu tumor) dimulai dari lemak yang akan berubah menjadi asam empedu yang kemudian menjadi sederet enzim, seperti azoreduktase, nitroreduktase, dan glukonireduktase. Enzim-enzim tersebut akan mengubah prokarsinogen menjadi karsinogen, yang antara lain memicu kanker usus, payudara, prostat, dan pankreas.&lt;br /&gt;Proses pembentukan asam empedu dari lemak dirangsang oleh bakteri fekal atau bakteri coli yang berasal dari tinja atau feses. Tetapi dengan adanya laktobasilin, maka bakteri fekal menjadi tidak aktif sehingga proses perubahan lemak menjadi asam empedu juga terhenti.&lt;br /&gt;Senyawa lain dari bakteri laktat adalah NI (not yet identified atau belum diketahui). Namun, senyawa ini sudah diketahui perannya dalam menghambat pembentukan kolesterol. Seperti diketahui, pembentukan kolesterol darah dimulai dari asetil Co-A yang berubah menjadi aseto-asetil Co-A. Ini seterusnya menjadi NADH yang berubah menjadi asam nevalonat dan NAD. Berikutnya setelah berubah menjadi isopentil pirofosfat, squalen, akhirnya menjadi kolesterol.&lt;br /&gt;NI bekerja menghambat enzim 3-hidroksi 3-metil glutaril reduktase yang akan mengubah NADH menjadi asam nevalonat dan NAD. Dengan demikian, rangkaian senyawa lain yang akan membentuk kolesterol juga terhambat.&lt;br /&gt;Karena itu bisa dikatakan kalau kehadiran makanan dan minuman yang diasamkan secara alami dengan fermentasi bakteri laktat, bisa membantu pengonsumsinya mencegah munculnya kolesterol dan kanker.&lt;br /&gt;Hasil penguraian protein bisa berupa pepton, peptida, dan asam-asam amino. Proses fermentasi juga menghasilkan amonia, yang mengakibatkan terasi mentah mempunyai aroma yang kurang sedap. Asam amino esensial tertinggi pada terasi adalah leusin, sedangkan yang nonesensial adalah asam amino glutamat. Tingginya kadar asam glutamat tersebutlah yang membuat terasi enak digunakan sebagai komponen bumbu. Terasi bahkan dapat digunakan sebagai pengganti penyedap rasa yang berupa monosodium glutamat (vetsin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeraman atau proses fermentasi ikan untuk terasi dapat menghasilkan aroma yang khas. Komponen aroma tersebut adalah senyawa yang mudah menguap, yang terdiri dari 16 macam senyawa hidrokarbon, 7 macam alkohol, 46 macam karbonil, 7 macam lemak, 34 macam senyawa nitrogen, 15 macam senyawa belerang, serta 10 macam senyawa lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyawa-senyawa tersebut antara lain menghasilkan bau amonia, asam, busuk, gurih, dan bau-bau khas lainnya. Adanya campuran komponen bau yang berbeda dengan jumlah yang berbeda akan menyebabkan terasi mempunyai bau atau aroma khas, menurut daerah asal dan proses pembuatannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses Pembuatan&lt;br /&gt;Sebagai bahan tambahan penyedap makanan (krupuk, sambal, bumbu soup/sayur) terasi telah diproduksi, dikenal dan digemari hampir di seluruh Indonesia. Produk akhir terasi yang dipasarkan umumnya berbentuk pasta, baunya menyengat, liat lengket, harus dimasak (dibakar, digoreng/ dikukus) terlebih dahulu, sehingga cukup menyulitkan dalam penyimpanan dan penggunaannya. Bahan baku yang umum digunakan adalah jenis udang berukuran kecil atau rebon (Atya spp.), selain itu juga jenis ikan lainnya seperti teri (Stolephorus spp.) dan sisa-sisa pengolahan udang berukuran besar (Penaidae). Sedangkan bahan tambahan pokok dalam pengolahannya&lt;br /&gt;adalah garam dapur (NaCl). Teknik-fisik proses pengolahan terasi pasta mencakup  pencampuran (pelumatan) adonan bahan terasi, pemeraman (fermentasi), penggilingan/ penumbukan, penjemuran dan pembentukan. Pengolahan ini telah disempurnakan dengan introduksi teknik pemanggangan/pengeringan, penggilingan (penghalusan) dan pengemasan sebagai proses lanjutan dan dihasilkan terasi bubuk masak dalam kemasan 100 g yang aromanya lebih diterima, siap dan mudah digunakan serta mudah disimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. BAHAN DAN PERALATAN&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;1. Rebon basah ……... 100 kg&lt;br /&gt;2. Garam dapur (NaCl) 20 kg&lt;br /&gt;3. Air tawar secukupnya&lt;br /&gt;Peralatan :&lt;br /&gt;1.Ember plastik ukuran 30 l&lt;br /&gt;2.Pengaduk dari kayu 1 bh&lt;br /&gt;3.Keranjang plastik 2 bh a 50 l&lt;br /&gt;4.Lumpang + penumbuk 1 bh&lt;br /&gt;5.Gilingan daging 3 kg 1 bh&lt;br /&gt;6. Oven 1 bh&lt;br /&gt;4.Pengemas berupa gelas&lt;br /&gt;bertutup dari bahan plastik&lt;br /&gt;(food grade) ukuran100 g.&lt;br /&gt;7.Para-para dari waring&lt;br /&gt;(0.5 x 0.75 m) 20 bh&lt;br /&gt;8.Karung plastik 50 kg 2 bh&lt;br /&gt;9.Pengepres ulir 1 bh&lt;br /&gt;10. Grinder 1 bh</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://apuythea.blogspot.com/feeds/5128931349727397000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://apuythea.blogspot.com/2009/03/terasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7352326541738377432/posts/default/5128931349727397000?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://apuythea.blogspot.com/feeds/posts/default/5128931349727397000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://apuythea.blogspot.com/2009/03/terasi.html' title='TERASI'/><author><name>apuythea</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03329300409640403113</uri><email>w_herpiandi@yahoo.co.id</email></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yxW0bUJvaQA/SawOS1UA5DI/AAAAAAAAADY/AwkCN0P0ptc/s72-c/terasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7352326541738377432.post-8433460214162516750</id><published>2009-03-01T21:22:00.006+07:00</published><updated>2009-03-02T11:01:13.239+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://purl.org/atom/app#'>2009-03-02T11:01:13.239+07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemanasan Global'/><title type='text'>Global Warming - Apa dan mengapa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di Bumi selalu berubah. Dari studi tentang jaman es di masa lalu menunjukkan bahwa iklim bisa berubah dengan sendirinya, dan berubah secara radikal. Apa penyebabnya? Meteor jatuh? &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;http:&gt;Variasi panas matahari ? Gunung meletus yang menyebabkan awan asap? Perubahan arah angin akibat perubahan struktur muka Bumi dan arus laut? Atau karena komposisi udara yang berubah? Atau sebab yang lain? &lt;/http:&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;http:&gt;Sampai baru pada abad 19, maka studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut sebagai gas rumah kaca, yang bisa mempengaruhi iklim di Bumi.&lt;/http:&gt; Apa itu gas rumah kaca?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebetulnya yang dikenal sebagai ‘gas rumah kaca’, adalah suatu efek dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan Bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, atau kalau tidak, maka tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka Bumi ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada sekitar tahun 1820, Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos (permeable) oleh cahaya Matahari yang masuk ke permukaan Bumi, tetapi tidak semua cahaya yang dipancarkan ke permukaan Bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi merah-infra yang seharusnya terpantul terjebak, dengan demikian maka atmosfer Bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tiga puluh tahun kemudian,  Tyndall menemukan bahwa tipe-tipe gas yang menjebak panas tersebut terutama adalah karbon-dioksida dan uap air, dan molekul-molekul tersebut yang akhirnya dinamai sebagai gas rumah kaca, seperti yang kita kenal sekarang. Arrhenius kemudian memperlihatkan bahwa jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperatur permukaan menjadi sangat signifikan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Semenjak penemuan Fourier, Tyndall dan Arrhenius tersebut, ilmuwan semakin memahami bagaimana gas rumah kaca menyerap radiasi, memungkinkan membuat perhitungan yang lebih baik untuk menghubungkan konsentrasi gas rumah kaca dan peningkatan Temperatur. Jika konsentrasi karbondioksida dilipatduakan saja, maka temperatur bisa meningkat sampai 1°C.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tetapi, atmosfer tidaklah sesederhana model perhitungan tersebut, kenyataannya peningkatan temperatur bisa lebih dari 1°C karena ada faktor-faktor seperti perubahan jumlah awan, pemantulan panas yang berbeda antara daratan dan lautan, perubahan kandungan uap air di udara, perubahan permukaan Bumi, baik karena pembukaan lahan, perubahan permukaan, atau sebab-sebab yang lain, alami maupun karena perbuatan manusia. Bukti-bukti yang ada menunjukkan, atmosfer yang ada menjadi lebih panas, dengan atmosfer menyimpan lebih banyak uap air, dan menyimpan lebih banyak panas, memperkuat pemanasan dari perhitungan standar.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa  dunia telah mengalami peningkatan temperatur lebih dari 3°C semenjak jaman pra-industri, itu saja jika bisa menekan konsentrasi gas rumah kaca supaya stabil pada 430 ppm CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;e (ppm = part per million = per satu juta ekivalen CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; - yang menyatakan rasio jumlah molekul gas CO&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt; per satu juta udara kering). Sejak tahun 1900 Bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,7°C.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lalu, jika memang terjadi pemanasan, sebagaimana disebut; yang kemudian dikenal sebagai pemanasan global, (atau dalam istilah populer bahasa Inggris, kita sebut sebagai Global Warming): Apakah merupakan fenomena alam yang tidak terhindarkan? Atau ada suatu sebab yang signifikan, sehingga menjadi ‘populer’ seperti sekarang ini? Apakah karena Al Gore dengan filmnya &lt;a href="http://langitselatan.com/2007/04/24/dalam-rangka-memperingati-hari-bumi-inconvenient-truth/" target="_blank"&gt;&lt;em&gt;“An Inconvenient Truth”&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; &lt;http:&gt; yang mem&lt;/http:&gt;&lt;http:&gt;populerkan global warming? Tentunya tidak sesederhana itu.&lt;/http:&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perlu kerja-sama internasional untuk bisa mengatakan bahwa memang manusia-lah yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Laporan IPCC (&lt;em&gt;Intergovernmental Panel on Climate Change&lt;/em&gt;) tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi Matahari dan keseluruhan permukaan Bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim. Dalam besaran yang dinyatakan sebagai &lt;em&gt;Radiative Forcing&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; sebagai alat ukur apakah iklim global menjadi panas atau dingin (warna merah menyatakan nilai positif atau menyebabkan menjadi lebih hangat, dan biru kebalikannya), maka ditemukan bahwa akibat kegiatan manusia-lah (antropogenik) yang menjadi pendorong utama terjadinya pemanasan global (Gb.1).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yxW0bUJvaQA/SaqaiSH0VWI/AAAAAAAAACc/mlTrYxiUsuw/s1600-h/ipcc2007.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 387px; height: 292px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yxW0bUJvaQA/SaqaiSH0VWI/AAAAAAAAACc/mlTrYxiUsuw/s320/ipcc2007.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308225024580408674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari gambar terlihat bahwa karbon-dioksida adalah penyumbang utama gas kaca. Dari masa pra-industri yang sebesar 280 ppm menjadi 379 ppm pada tahun 2005. Angka ini melebihi angka alamiah dari studi perubahan iklim dari masa lalu (paleoklimatologi), dimana selama 650 ribu tahun hanya terjadi peningkatan dari 180-300 ppm. Terutama dalam dasawarsa terakhir (1995-2005), tercatat peningkatan konsentrasi karbon-dioksida terbesar pertahun (1,9 ppm per tahun), jauh lebih besar dari pengukuran atmosfer pada tahun 1960, (1.4 ppm per tahun), kendati masih terdapat variasi tahun per tahun.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sumber terutama peningkatan konsentrasi karbon-dioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es). Peningkatan konsentrasi metana (CH4), dari 715 ppb (part per billion= satu per milyar) di jaman pra-industri menjadi 1732 ppb di awal 1990-an, dan 1774 pada tahun 2005. Ini melebihi angka yang berubah secara alamiah selama 650 ribu tahun (320 - 790 ppb). Sumber utama peningkatan metana pertanian dan penggunaan bahan bakar fosil. Konsentrasi nitro-oksida (N&lt;sub&gt;2&lt;/sub&gt;O) dari 270 ppb - 319 ppb pada 2005. Seperti juga penyumbang emisi yang lain, sumber utamanya adalah manusia dari agrikultural. Kombinasi ketiga komponen utama tersebut menjadi penyumbang terbesar pada pemanasan global.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kontribusi antropogenik pada aerosol (sulfat, karbon organik, karbon hitam, nitrat and debu) memberikan efek mendinginkan, tetapi efeknya masih tidak dominan dibanding terjadinya pemanasan, disamping ketidakpastian perhitungan yang masih sangat besar. Demikian juga dengan perubahan ozon troposper akibat proses kimia pembentukan ozon (nitrogen oksida, karbon monoksida dan hidrokarbon) berkontribusi pada pemanasan global. Kemampuan pemantulan cahaya Matahari (albedo), akibat perubahan permukaan Bumi dan deposisi aerosol karbon hitam dari salju, mengakibatkan perubahan yang bervariasi, dari pendinginan sampai pemanasan. Perubahan dari pancaran sinar Matahari (solar irradiance) tidaklah memberi kontribusi yang besar pada pemanasan global.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa memang manusia yang berperanan bagi nasibnya sendiri, karena pemanasan global terjadi akibat perbuatan manusia sendiri.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://apuythea.blogspot.com/feeds/8433460214162516750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://apuythea.blogspot.com/2009/03/global-warming-apa-dan-mengapa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7352326541738377432/posts/default/8433460214162516750?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://apuythea.blogspot.com/feeds/posts/default/8433460214162516750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://apuythea.blogspot.com/2009/03/global-warming-apa-dan-mengapa.html' title='Global Warming - Apa dan mengapa'/><author><name>apuythea</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03329300409640403113</uri><email>w_herpiandi@yahoo.co.id</email></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yxW0bUJvaQA/SaqaiSH0VWI/AAAAAAAAACc/mlTrYxiUsuw/s72-c/ipcc2007.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7352326541738377432.post-496928658275643832</id><published>2009-03-01T20:42:00.005+07:00</published><updated>2009-03-02T10:49:56.125+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://purl.org/atom/app#'>2009-03-02T10:49:56.125+07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemanasan Global'/><title type='text'>Global Warming 2007, Tahun Terpanas Kedua di Bumi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_yxW0bUJvaQA/SaqSlclsk4I/AAAAAAAAACM/-N_wm12Uj4k/s1600-h/208488main_global_temp_change.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 226px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_yxW0bUJvaQA/SaqSlclsk4I/AAAAAAAAACM/-N_wm12Uj4k/s320/208488main_global_temp_change.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308216282836669314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut para ahli klimatologi di NASA, tahun 2007 merupakan tahun kedua terpanas pada abad ini, bersaing dengan tahun 1998. Dan diperkirakan kecil kemungkinan tahun 2008 akan menjadi tahun dengan rata-rata temperatur global yang berbeda. Dengan adanya erupsi vulkanik, kemungkinan yang terjadi rekor temperatur global tahun ini akan melampaui temperatur rata-rata di tahun 2005 dalam beberapa tahun ke depan, saat El Nino berikutnya terjadi sebagai akibat trend pemanasan global yang terus meningkat akibat gas rumah kaca.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemanasan terbesar pada tahun 2007 terjadi di Artik dan daerah sekitarnya yang memiliki lintang tinggi. Pemanasan global sendiri memiliki efek yang sangat besar di area kutub dengan menghilangnya salju dan memicu peningkatan air terbuka (lautan) yang menyerap lebih banyak cahaya dan panas matahari. Salju dan es memantulkan cahaya matahari, nah saat mereka menghilang maka menghilang pula kemampuan mereka untuk mengalihkan panas matahari. Anomali paling besar di Artik pada tahun 2007 konsisten dengan rekaman geografi terhadap lautan es Artik di bulan September 2007.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_yxW0bUJvaQA/SaqTOqGFZ0I/AAAAAAAAACU/bnKjtUkxUFk/s1600-h/208484main_surface_temp_anom.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 396px; height: 275px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_yxW0bUJvaQA/SaqTOqGFZ0I/AAAAAAAAACU/bnKjtUkxUFk/s320/208484main_surface_temp_anom.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308216990836811586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut direktur NASA Goddard Institute for Space Studies (GISS), James Hansen, keadaan tahun 2007 yang lebih panas dari tahun 2006 memang sudah diprediksikan sebelumnya. Keadaan ini meneruskan tren efek pemanasan yang semakin kuat selama 30 tahun terakhir dan diperkirakan berasal dari efek peningkatan gas rumah kaca yang dihasilkan manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h7&gt;sumber : NASA&lt;/h7&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://apuythea.blogspot.com/feeds/496928658275643832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://apuythea.blogspot.com/2009/03/global-warming-2007-tahun-terpanas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7352326541738377432/posts/default/496928658275643832?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://apuythea.blogspot.com/feeds/posts/default/496928658275643832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://apuythea.blogspot.com/2009/03/global-warming-2007-tahun-terpanas.html' title='Global Warming 2007, Tahun Terpanas Kedua di Bumi'/><author><name>apuythea</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03329300409640403113</uri><email>w_herpiandi@yahoo.co.id</email></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_yxW0bUJvaQA/SaqSlclsk4I/AAAAAAAAACM/-N_wm12Uj4k/s72-c/208488main_global_temp_change.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7352326541738377432.post-1445629622531977557</id><published>2009-02-27T11:01:00.002+07:00</published><updated>2009-03-02T10:50:51.109+07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://purl.org/atom/app#'>2009-03-02T10:50:51.109+07:00</app:edited><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PLH'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p style="font-family: georgia; color: rgb(153, 102, 51); text-align: justify;"&gt;Bagaimana memulai pendidikan lingkungan hidup? Pendidikan Lingkungan Hidup harus dimulai dari HATI. Tanpa sikap mental yang tepat, semua pengetahuan dan keterampilan yang diberikan hanya akan menjadi sampah semata.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: georgia; color: rgb(153, 102, 51); text-align: justify;"&gt;Untuk membangkitkan kesadaran manusia terhadap lingkungan hidup di sekitarnya, proses yang paling penting dan harus dilakukan adalah dengan menyentuh hati.  Jika proses penyadaran telah terjadi dan perubahan sikap dan pola pikir terhadap lingkungan telah terjadi, maka dapat dilakukan peningkatan pengetahuan dan pemahaman mengenai lingkungan hidup, serta peningkatan keterampilan dalam mengelola lingkungan hidup &lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://apuythea.blogspot.com/feeds/1445629622531977557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://apuythea.blogspot.com/2009/02/manusia-terdiri-atas-pikiran-dan-rasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7352326541738377432/posts/default/1445629622531977557?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://apuythea.blogspot.com/feeds/posts/default/1445629622531977557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://apuythea.blogspot.com/2009/02/manusia-terdiri-atas-pikiran-dan-rasa.html' title=''/><author><name>apuythea</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03329300409640403113</uri><email>w_herpiandi@yahoo.co.id</email></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>