<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Alikhlas-online</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</managingEditor><pubDate>Fri, 1 Nov 2024 03:57:59 -0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">387</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:category text="Government &amp; Organizations"><itunes:category text="National"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Prof. Azyumardi: Pendidikan Islam di IAIN adalah “Islam Liberal”</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2011/02/prof-azyumardi-pendidikan-islam-di-iain.html</link><category>libralisme</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Sun, 13 Feb 2011 06:15:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-2334172641840593647</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2uKV0q45nJ1QVa_Ly1o3F9E_OpoN4IrZXJHRIo_JKsNSkJfGvXocVSSGhUb8unKmU1B50C4FatE7QVvEU3hkn1WjTHL6bOqgvSusAnW-ExmaawY7ButnWxR4kFXf_eMtp26aKrPhEy-CY/s1600/kat378387296.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 178px; height: 250px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2uKV0q45nJ1QVa_Ly1o3F9E_OpoN4IrZXJHRIo_JKsNSkJfGvXocVSSGhUb8unKmU1B50C4FatE7QVvEU3hkn1WjTHL6bOqgvSusAnW-ExmaawY7ButnWxR4kFXf_eMtp26aKrPhEy-CY/s320/kat378387296.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5573179684019809074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Dr. Adian Husaini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagai lembaga akademik, kendati IAIN terbatas memberikan pendidikan Islam kepada mahasiswanya, tetapi Islamyang diajarkan adalah Islam yang liberal. IAIN tidak mengajarkan fanatisme mazhab atau tokoh Islam, melainkan mengkaji semua mazhab dan tokoh Islam tersebut dengan kerangka, perspektif dan metodologi modern. Untuk menunjang itu, mahasiswa IAIN pun diajak mengkaji agama-agama lain selain Islam secara fair, terbuka, dan tanpa prasangka. Ilmu perbandingan agama menjadi mata kuliah pokok mahasiswa IAIN.”&lt;span class="fullpost"&gt;“Jika di pesantren mereka memahami dikotomi ilmu: Ilmu Islam (naqliyah dan ilmu keagamaan) dan ilmu umum (sekuler dan duniawiah), maka di IAIN merekadisadarkan bahwa hal itu tidak ada. Di IAIN mereka bisa memahami bahwa belajar sosiologi, antropologi, sejarah, psikologi, sama pentingnya dengan belajar ilmu Tafsir al-Quran. Bahkan ilmu itu bisa berguna untuk memperkaya pemahaman mereka tentang tafsir. Tetapi, IAIN tidak mengajarkan apa yang sering disebut dengan “islamisasi ilmu pengetahuan” sebab semua ilmu yang ada di dunia ini itu sama status dan arti pentingnya bagi kehidupan manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pernyataan Prof. Dr. Azyumardi Azra saat menjabat sebagai Rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Pernyataan itu dimuat dalam buku IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia (2002, hal. 117), yang diterbitkan atas kerjasama Canadian International Development Agency (CIDA) dan Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Islam (Ditbinperta) Departemen Agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan Profesor Azyumardi Azra tentang corak liberal dan liberalisasi pendidikan Islam di IAIN itu tentu saja menarik untuk kita simak, sebab disampaikan bukan dengan nada penyesalan, tetapi justru dengan nada kebanggaan. IAIN merasa bangga, sebab sudah berhasil mengubah banyakn mahasiswanya yang kebanyakan berbasis pesantren/madrasah menjadi mahasiswa atau sarjana-sarjana liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis dalam buku ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Model studi Islam tersebut membuka wawasan mahasiswa IAIN yang pada umumnya berbasis pesantren dan madrasah. Memang, pada tahun-tahun pertama studi di IAIN, sebagian mahasiswa yang telah terdidik dengan budaya pengkajian Islam pesantren mengalami goncangan. Tetapi setelah itu umumnya bisa memahami arti penting model studi Islam di IAIN. Selain itu dalam pengamatan Azyumardi, liberalisasi studi Islam di IAIN juga telah mengubah caara pandang mahasiswa umumnya terhadap ilmu.” (hal. 117).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin berkomentar terlalu jauh terhadap pernyataan Prof. Azyumardi atau fakta-fakta liberalisasi IAIN yang dipaparkan oleh para aktor utamanya di perguruan tinggi Islam. Pada catatan-catatan sebelumnya, kita sudah sering membahas masalah ini. Karena masalah ini teramat sangat penting bagi masa depan pendidikan Islam dan bahkan masa depan umat Islam di Indonesia, ada baiknya kita simak kembali sejumlah pemaparan tentang proses liberalisasi IAIN, sebagaimana diuraikan dalam buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses liberalisasi itu dimulai dari pulangnya para kafilah yang menimba ilmu di Institute of Islamic Studies of McGill University. Mereka mendapat didikan dari profesor-profesor Islamic Studies kenamaan semisal Charles J. Adam, pakar dalam sejarah Islam; Wilfred Cantwell Smith, pakar sejarah peradaban Islam dan perbandingan agama; N. Barkes, ahli Turki dan sekularisasi di dunia Muslim, Herman Landolt, pakar filsafat, sufism, dan Syiah; Wael Hallaq, pakar hukum Islam, dan sebagainya. ”Para alumni McGill ini, dengan latar belakang dan keahlian yang berbeda, pada gilirannya memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam pengembangan wacana akademik kajian keislaman dan dunia birokrasi di tanah air.” (hal. vii-viii).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan juga dalam buku ini, bahwa IAIN kini sudah berubah, dari lembaga dakwah menjadi lembaga akademis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“IAIN mulanya dimaknai sebagai lembaga dakwah Islam yang bertanggung jawab terhadap syiar agama di masyarakat. Sehingga orientasi kepentingannya lebih difokuskan pada pertimbangan-pertimbangan dakwah. Tentu saja orientasi ini tidaklah keliru. Hanya saja, menjadikan IAIN sebagai lembaga dakwah pada dasarnya telah mengurangi peran yang semestinya lebih ditonjolkan, yaitu sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena IAIN sebagai lembaga akademis, maka tuntutan dan tanggung jawab yang dipikul oleh IAIN adalah tanggung jawab akademis ilmiah.” (hal. x).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan status IAIN dari lembaga dakwah menjadi lembaga akademis, memang dilandasi dengan perubahan metodologi studi Islam, dari metode para ulama menjadi metode para orientalis, seperti diungkapkan oleh buku ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah satu yang menonjol adalah tradisi keilmuan yang dibawa pulang oleh kafilah IAIN (dan STAIN) dari studi mereka di McGill University secara khusus dan universitas-universitas lain di Barat secara umum. Berbeda dengan tradisi keilmuan yang dikembangkan oleh jaringan ulama yang mempunyai kecenderungan untuk mengikuti dan menyebarkan pemikiran ulama gurunya, tradisi keilmuan Barat, kalau boleh dikatakan begitu, lebih membawa pulang metodologi maupun pendekatan dari sebuah pemikiran tertentu. Sehingga mereka justru bisa lebih kritis sekalipun terhadap pikiran profesor-profesor mereka sendiri. Disamping aspek metodologis itu, pendekatan sosial empiris dalam studi agama juga dikembangkan.” (hal. xi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa hari ini, saya mendapatkan beberapa buku menarik tentang “Islam Liberal”. Buku pertama berjudul Islam Liberal 101 (2010), karya Akmal Sjafril, sarjana Teknik Sipil ITB yang juga alumnus Program Kaderisasi Ulama DDII-Baznas di Magister Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Buku ini berhasil mengkritisi berbagai pemikiran liberal dengan membalikkan dan mengkritisi logika-logika kaum liberal yang seringkali rancu dan paradoks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu buku lagi yang saya dapatkan berjudul "Argumen Islam untuk Pluralisme" (2010), karya Budhy Munawar Rachman, Program Officer and Development, The Asia Foundation. Sebenarnya saya sudah agak malas membaca sejumlah karya yang mendukung Pluralisme Agama, karena banyak yang tidak jelas dan tegas dalam merumuskan definisi “Pluralisme” itu sendiri, sehingga bisa diambil satu acuan penilaian. Yang sering terjadi ada manipulasi data, khususnya saat mengutip pendapat ulama atau tokoh Islam tertentu untuk mendukung paham Pluralisme. Sejumlah logika teologis dan hukum Islam yang digunakan juga asal-asalan, dan jauh dari semangat akademis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, di halaman 182 tertulis: “Karena itu pandangan yang memasukkan non-Muslim sebagai musyrik – seperti sering dilakukan oleh kalangan Islam Radikal – harus ditolak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah pernyataan itu sangat keliru? Begitu banyak ayat dalam al-Quran yang mengecam keras kaum musyrik, karena menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya. Orang non-Muslim yang melakukan tindakan semacam itu jelas-jelas tergolong musyrik. Orang non-Muslim yang menyembah batu, setan, atau makhluk apa pun; atau yang mengangkat derajat makhluk ke derajat al-Khaliq, jelas-jelas telah melakukan tindakan syirik. Orang yang mengaku Muslim saja bisa terjatuh dalam dosa syirik, apalagi orang non-Muslim. Ini bukan soal pernyataan Radikal atau moderat, karena begitu jelasnya ajaran Islam tentang hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halaman yang sama, penulis --dengan logika asal-asalan-- melakukan penghalalan terhadap hukum pernikahan antara Muslimah dengan laki-laki non-Muslim. Dikatakannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soal perkawinan laki-laki non-Muslim dengan perempuan Muslim merupakan wilayah ijtihadi dan terikat dengan konteks tertentu, di antaranya konteks dakwah Islam pada saat itu, yang mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga perkawinan antaragama merupakan sesuatu yang terlarang.” Bagaimana cara mengukur bahwa jumlah umat Islam sudah “banyak” atau “sedikit”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan kaum non-Muslim seluruh dunia, umat Islam masih sedikit. Kita maklum, yang mereka inginkan adalah kebebasan perkawinan lintas agama. Soal dalil atau logika, bisa dicari-cari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya sayangkan berulang kali adalah kutipan yang salah – sengaja atau tidak -- terhadap tulisan ulama Islam, hanya untuk mendukung paham Pluralisme. Di buku ini dikutip pendapat Buya Hamka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buya Hamka, seorang ulama besar dan berpengaruh, yang pandangan-pandangannya sangat progresif-liberal, dalam buku tafsirnya, al-Azhar, mengatakan bahwa ayat tersebut (QS 2:62. Pen.), adalah satu tuntunan bagi menegakkan jiwa, untuk orang yang percaya kepada Allah, baik dia bernama Mukmin atau Muslim, Yahudi, Kristen, dan Shabiin yang beriman kepada Allah, hari akhir dan diikuti amal yang shaleh, mereka akan mendapat ganjaran di sisi Tuhan. Tiga nilai universal tersebut adalah syarat yang mutlak. Namun, menurut Buya, meskipun seorang manusia telah mengaku beriman kepada Allah, mengaku beriman kepada Nabi Muhammad saw, kalau iman itu tidak dibuktikannya dengan amal saleh, tidaklah akan diberi ganjaran oleh Tuhan.” (hal. 122-123).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal pendapat Hamka tentang QS 2:62 sudah pernah kita bahas di CAP ke-172. Pendapat Hamka tentang keselamatan kaum non-Muslim dalam pandangan Islam sebenarnya juga tidak berbeda dengan para mufassir terkemuka yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk ketika menafsirkan QS 2:62 dan 5:69. Karena itu, Hamka memandang, ayat itu tidak bertentangan dengan QS 3:85 yang menyatakan: "Dan barangsiapa yang mencari selain dari Islam menjadi agama, sekali-kali tidaklah tidaklah akan diterima daripadanya. Dan di Hari Akhirat akan termasuk orang-orang yang rugi." Jadi, QS 3:85 tidak menasakh QS 2:62 dan 5:69 karena memang maknanya sejalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hamka hakikat Islam ialah percaya kepada Allah dan Hari Akhirat. Percaya kepada Allah, artinya percaya kepada segala firmanNya, segala Rasul-Nya dengan tidak terkecuali. Termasuk percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang shalih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Hamka tetap menekankan siapa pun, pemeluk agama apa pun, akan bisa mendapatkan pahala dan keselamatan, dengan syarat dia beriman kepada segala firman Allah, termasuk al-Quran, dan beriman kepada semua nabi dan rasul-Nya, termasuk Nabi Muhammad saw. Jika seseorang beriman kepada al-Quran dan Nabi Muhammad saw, maka itu sama artinya dia telah memeluk agama Islam. Dengan kata lain, dalam pandangan Hamka, siapa pun yang tidak beriman kepada Allah, al-Quran, dan Nabi Muhammad saw, meskipun dia mengaku secara formal beragama Islam, tetap tidak akan mendapatkan keselamatan. Itulah makna QS 3:85 yang sejalan dengan makna QS 2:62 dan 5:69.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal keimanan kepada Nabi Muhammad saw dan al-Quran itulah yang sejak awal ditolak keras oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Orang Yahudi menolak mengimani Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw. Dan kaum Nasrani menolak untuk beriman kepada Nabi Muhammad saw. Sedangkan kaum Muslim mengimani Nabi Musa, Nabi Isa, dan juga Nabi Muhammad saw, sebagai penutup para Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Pluralis – seperti penulis buku ini – kemudian berusaha mengecilkan arti penting keimanan kepada kenabian Muhammad saw, sebagai dasar keselamatan. Di sini ditulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keselamatan dicapai dengan iman yang benar yang menguasai jiwa dan amal yang memperbaiki manusia. Tidak ada masalah sama sekali jika mereka orang-orang Yahudi, Kristen, dan Shabi’in, yang tidak beriman kepada Nabi saw. Keselamatan tidaklah mensyaratkan iman kepada Nabi Muhammad.” (hal. 130).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan membaca buku ini, kita tidak perlu terlalu cerdas untuk memahami kesalahan paham Pluralisme Agama. Justru buku ini memaparkan dengan sangat gamblang betapa bathilnya paham ini. Jika orang tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw, dia pasti tidak beriman kepada al-Quran. Lalu, bagaimana dia bisa mengenal Allah? Bagaimaan dia bisa menyembah Allah dengan benar? Bagaimana dia bisa beramal shalih? Amal shalih menurut siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, untuk apa dia bersyahadat: saya bersaksi bahwa “Tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah.”? [Depok, 14 Januari 2011/hidayatullah.com] *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;foto: Rektor UIN Prof Dr Azhar Arsyad MA menerima kunjung an tim CIDA&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2uKV0q45nJ1QVa_Ly1o3F9E_OpoN4IrZXJHRIo_JKsNSkJfGvXocVSSGhUb8unKmU1B50C4FatE7QVvEU3hkn1WjTHL6bOqgvSusAnW-ExmaawY7ButnWxR4kFXf_eMtp26aKrPhEy-CY/s72-c/kat378387296.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Taushiyah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir: Hikmah Idul Adha dan Perjuangan Islam</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2010/11/taushiyah-ustadz-abu-bakar-baasyir.html</link><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Sat, 27 Nov 2010 21:55:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-2981708685682321897</guid><description>Selasa (16/11/10) saat dibesuk di sel bareskrim Mabes Polri Usatadz Abu Bakar Ba'asyir memberikan taushiyahnya kepada umat Islam yang saat ini sedang merayakan hari raya Idul Adha. Dengan ilmiah beliau menjelaskan apa saja hikmah hari raya idul adha dan apa kaitannya dengan perjuangan menegakkan Islam, dan berikut inilah taushiyah beliau mengenai hikmah Idul Adha.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Idul qurban, qurban di sini dalam bahasa arab asalnya (قَرُبَ) qoruba artinya mendekat. Jadi sebenarnya pelajaran dari idul qurban yaitu untuk menguji kebenaran iman. Kebenaran iman itu harus dibuktikan dan siap untuk berkorban, dalilnya mana? Yaitu ketika Nabi Ibrahim mulai punya anak, setelah diberi anak satu yaitu Ismail diperintahkan Ibu (Hajar) dan anaknya pergi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman."  (Qs. Ibrahim : 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut akal anak dan ibunya ini akan mati, tidak ada tumbuh-tumbuhan tidak ada air - yang sekarang jadi masjidil haram - nah itu ujian iman. Kalau menurut akal tidak akan mau melaksanakan perintah itu. Tapi kerena Nabi Ibrahim imannya itu di atas segala-galanya maka di letakkan betul anak dan istrinya di sana. Memang ada kesulitan, sampai Hajar berlari-lari dari shafa ke marwa terus mucul sumur zam-zam semua kan ujian itu. Jadi iman itu harus dibuktikan dengan ta'at meski perintah itu sepertinya berbahaya. Ini ujian yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat As-Shafat ayat 102;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim..." Nabi Ibrahim yang mempunyai anak begitu baik sangat sayang, tetapi setelah dia dewasa, membantunya kerja dan akhlaqnya baik baik tiba-tiba ada lagi wahyu lewat mimpi, ayatnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;artinya; "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Nabi Ibrahim mendapat wahyu lewat mimpi untuk menyembelih Ismail. Bayangkan! orang yang sudah tua, baru punya anak satu yang begitu menyenangkan hati diperintahkan untuk menyembelih, disampaikanlah: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!". Dan ismail itu imannya sama dengan ayahnya, tidak banyak cakap; Ia menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;artinya; "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Nah ini ujian yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian itu yang kalau dipikir pakai akal bias stress. Allah Cuma mau nguji mau taat atau tidak, itu saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah hikmah idul adha, menguji ketaatan, iman itu prinsipnya pada ketaatan. Kemudian dilaksanakan betul (oleh Nabi Ibrahim);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya)." (Qs. As-Shafat : 103)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dicelentangkan mau disembelih diganti oleh Allah dengan kambing, terus ayat selanjutnya itu kan Allah menguji,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata." (Qs. As-Shafat : 106) Itulah iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat Al-Ankabut ayat 2-3 Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ( ) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dengan mulut semua orang bisa, tetapi ketika ada perintah Allah mau taat atau tidak? Itu persoalannya. Jadi idul adha itu titik beratnya pejaran iman untuk mengajarkan iman yang benar itu harus dibuktikan dengan taat, sami'na wa atha'na tidak boleh dibahas, dicocok-cocokan, hanya kita diberi kelonggaran menurut kemampuan. Sebab orang beriman itu modalnya percaya hanya kepada Allah dan RasulNya itu mutlak, pokoknya dari Allah dan Rasul itu benar titik! Apakah akal bisa memahami maslahatnya atau tidak, pokoknya dari Allah dan Rasul itu paling benar, paling ilmiah, paling modern titik! Sikap yang seperti ini namanya mukmin, sikap yang seperti ini yang dinamakan oleh orang-orang kafir itu ekstrimis, fundamentalis. Tapi memang begitu, iman itu harus begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dalam ayat yang lain;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung" (Qs. An-Nur : 51)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami dengar kami taati. Bukan kami dengar kami koreksi, itu syaitan, takabur itu. Seperti iblis kan begitu tidak mau sujud karena mengoreksi perintahnya Allah; "wong saya dari api dan dia dari tanah ya Allah kok saya yang suruh sujud" (lihat Qs. Al-A'raf : 12, Shad : 76). Itu kan mengoreksi namanya, diusir, dilaknat sampai hari kiamat karena itu takabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi idul adha itu prinsipnya mengajarkan tentang iman, iman yang benar itu dibuktikan dengan taat mutlak kepada Allah dan RasulNya menurut kemampuan, tidak boleh membantah, tidak boleh dikoreksi, kita harus mempunyai modal (iman);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar."  (Qs. Al-Hujarat : 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterkaitannya dengan perjuangan, di dalam ayat itu (Al-Hujarat ayat 15) karakter orang beriman itu ada dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu, imannya kepada Al-Qur'an dan Sunnah didasari yakin sehingga menimbulkan taat mutlak. Nah karakter semacam ini menimbulkan karakter yang kedua yaitu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah..." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidupnya itu hanya untuk berjuang menegakkan Islam dengan harta dan nyawa. Berjuang dengan sistim perang, berjuang dengan sistim dakwah berjuang dengan harta masing-masing menurut kemampuan. Jadi otomatis orang beriman itu hidupnya untuk berjuang menegakkan Islam di luar itu tidak! Nah kalau sudah dua karakter ini ada baru ditutup ayat ini;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...mereka itulah orang-orang yang benar ." itu kaitan idul adha dengan perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah taushiyah ustadz Abu Bakar Ba'asyir mengenai hikmah Idul Adha dan hendaknya setiap muslim merenungkan apa yang beliau nasihatkan agar perayaan idul adha yang diperingati setiap tahun bukan sekedar menjadi ritual rutinitas tanpa makna namun sarat akan hikmah untuk memperkuat keimanan sebagai modal dalam memperjuangkan tegaknya Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah membebaskan beliau ...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Download File Audio acara Khotbah Wada` Al-Ikhlash</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2010/06/download-file-audio-acara-khotbah-wada.html</link><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Sat, 26 Jun 2010 22:30:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-2000701395158704083</guid><description>Berikut Alamat file yang dapat didownload secara langsung&lt;br /&gt;Audio File kurang jelas,utk hasil rekaman yg lebih jelasnya InsyaAllah menyusul&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.Pembukaan oleh Ust Dipo.&lt;a href "http://www.4shared.com/audio/JT3fdLjm/0620212900.html"&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2.Ceramah Ust Farid 1.&lt;a href "http://www.4shared.com/video/yzmxB_nY/Ust_Farid_1.html"&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3.Ceramah Ust Farid 2.&lt;a href "http://www.4shared.com/video/0mRmixBT/Ust_Farid_2.html"&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wassalam...</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Brosur Pendaftaran Santriwati Baru</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2010/06/brosur-pendaftaran-santriwati-baru_25.html</link><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Fri, 25 Jun 2010 06:54:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-717420527404940967</guid><description>Untuk lebih jelasnya bisa di download dg cara.&lt;br /&gt;Klik kanan gambar tersebut kemudian pilih tulisan "Save picture As" kemudian simpan di folder yang telah anda pilik trus klik ok/Enter.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpSDQokHjmOlQs1mUh-X8asBNLBks9m5hjS3i1DR_V81XAEDSXiHSI2eQZcgojbLBgcoEu41BpWmiJIfVvDbNYd4JvWpNqgU2byp_xq_55xRiIVMVTczJcgqIukUtb_G6nq2kBhaUknap4/s1600/2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 206px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpSDQokHjmOlQs1mUh-X8asBNLBks9m5hjS3i1DR_V81XAEDSXiHSI2eQZcgojbLBgcoEu41BpWmiJIfVvDbNYd4JvWpNqgU2byp_xq_55xRiIVMVTczJcgqIukUtb_G6nq2kBhaUknap4/s320/2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5486709758411751074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvtLMD6whs39TrYi4sN8LDlke1uidObvz9QcTInJIxCefvZV_JomMcjo4vyoorPEUj-1OlQvwoSIVPcGTq9K-5PkoJU_-nVQXOVDgU6uKIMGf2DwD9VzY62cXSSuWjeHBtk1hXO3NECXSU/s1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 206px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhvtLMD6whs39TrYi4sN8LDlke1uidObvz9QcTInJIxCefvZV_JomMcjo4vyoorPEUj-1OlQvwoSIVPcGTq9K-5PkoJU_-nVQXOVDgU6uKIMGf2DwD9VzY62cXSSuWjeHBtk1hXO3NECXSU/s320/1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5486710269789203266" /&gt;&lt;/a&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpSDQokHjmOlQs1mUh-X8asBNLBks9m5hjS3i1DR_V81XAEDSXiHSI2eQZcgojbLBgcoEu41BpWmiJIfVvDbNYd4JvWpNqgU2byp_xq_55xRiIVMVTczJcgqIukUtb_G6nq2kBhaUknap4/s72-c/2.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>TABLIGH AKBAR</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2010/06/tabligh-akbar.html</link><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Tue, 15 Jun 2010 19:38:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-5408213000624027728</guid><description>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PONDOK PESANTREN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-size:180%;" &gt;AL IKHLASH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Sedayulawas - Brondong - Lamongan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;Undangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;TABLIGH AKBAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;السلام عليكم و رحمة الله و بركاته&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dengan  mengharap Ridho Allah ta`ala kami mengharap kehadiran Bapak /Ibu  /Saudara (i) pada&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;ul style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Hari   : Ahad malam senin&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tanggal : 20 Juni  2010&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Waktu   : Jam 19:00 WIB&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tempat : Pondok Pesantren Al ikhlash&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Acara     : &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;                         1. Tabligh  Akbar &amp;amp; Khutbah Wada` ( DR.Ahmad Farid Ocbah )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;                          2. Pelepasan Santri kelas III KMA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;SUSUNAN ACARA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;TABLIGH AKBAR 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol style="font-weight: bold;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pembukaan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sambutan -Sambutan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ul style="font-weight: bold;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ketua Yayasan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kepala  Desa&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Wakil Tokoh Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sambutan Wakil Wali Santri&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;    3.  Pembagian Tempat Tugas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;         ( Direktur Pondok )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;    4. Tabligh Akbar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;         ( DR.AHMAD FARID OCBAH-JAKARTA )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;    5. Penutup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sehubungan dengan pentingnya acara tersebut, maka kehadiran Bapak  / Ibu / Saudara (i) sangat kami harapkan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;ولسلام عليكم و رحمة الله و بركاته&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lamongan ,30 Mei 2010 M&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Azhari Dipo Kusumo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  (Direktur Pondok)  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Meniti Jalan Istiqomah</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2010/01/meniti-jalan-istiqomah.html</link><category>IMAN DAN TAQWA</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Wed, 13 Jan 2010 16:49:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-4050694869532541243</guid><description>Kaum muslimin rahimakumullah, di dalam kehidupan manusia, Allah telah menetapkan jalan yang harus ditempuh oleh manusia melalui syariat-Nya sehingga seseorang senantiasa Istiqomah dan tegak di atas syariat-Nya, selalu menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya serta tidak berpaling ke kanan dan ke kiri. Allah ta’ala telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk senantiasa istiqomah.&lt;span class="fullpost"&gt;Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Robb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap beristiqomah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan (di dunia)” (QS. Al Ahqaaf [46]: 13-14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi bagaimana pun juga seorang hamba tidak mungkin untuk senantiasa terus dan sempurna dalam istiqomahnya. Terkadang seorang hamba luput dan lalai yang menyebabkan nilai istiqomah seorang hamba menjadi berkurang. Oleh karena itu, Allah memberikan jalan keluar untuk memperbaiki kekurangan tersebut yaitu dengan beristigfar dan memohon ampun kepada Allah ta’ala dari dosa dan kesalahan. Allah ta’ala berfirman yang artinya, Maka beristiqomahlah (tetaplah) pada jalan yang lurus menuju kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya”. (QS. Fushshilat [41]: 6). Di dalam al-Qur’an maupun Sunnah telah ditegaskan cara-cara yang dapat ditempuh oleh seorang hamba untuk bisa meraih istiqomah. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat dengan baik dan benar. Allah Ta’ala berfirman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat” (QS. Ibrahim [14] : 27). Makna “ucapan yang teguh” adalah dua kalimat syahadat. Sehingga, Allah akan meneguhkan orang yang beriman yang memahami dan mengamalkan dua kalimat syahadat ini di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, membaca al-Qur’an dengan menghayati dan merenungkannya. Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah: ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan al-Qur‘an itu dari Robb-mu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. An Nahl [16]:102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, berkumpul dan bergaul di lingkungan orang-orang saleh. Hal ini sangat membantu seseorang untuk senantiasa istiqomah di jalan Allah ta’ala. Teman-teman yang saleh akan senantiasa mengingatkan kita untuk berbuat baik serta mengingatkan kita dari kekeliruan. Bahkan dalam al-Qur’an disebutkan bahwa hal yang sangat membantu meneguhkan keimanan para sahabat adalah keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman yang artinya, “Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rosul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? Dan barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali ‘Imran [3]:101)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, berdoa kepada Allah ta’ala agar Dia senantiasa memberikan kepada kita istiqomah hingga akhir hayat. Bahkan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa, “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik ” artinya “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dishahihkan oleh Adz Dzahabi, lihat pula Shahihul Jami’)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, membaca kisah Rasulullah, para sahabat dan para ulama terdahulu untuk mengambil teladan dari mereka. Dengan membaca kisah-kisah mereka, bagaimana perjuangan mereka dalam menegakkan diinul Islam, maka kita dapat mengambil pelajaran dari kisah tersebut sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Huud [11]: 120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin rahimakumullah demikianlah sedikit yang dapat kami sampaikan sebagai renungan bagi kita semua untuk meniti jalan istiqomah. Semoga Allah ta’ala memberikan keteguhan kepada kita untuk senantiasa menjalankan syariat-Nya hingga kelak kematian menjemput kita semua. Amiin ya Mujibbassaailiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diringkas dari penjelasan Hadits Arba'in No. 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Ruqyah Syar`iyah</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/11/saatnya-kita-kembali-kepada-tauhid-dan.html</link><category>FATWA-FATWA TENTANG JIN</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Fri, 27 Nov 2009 16:23:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-4393115910339822837</guid><description>Ruqyah Syar'iyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah ta`ala atas segala nikmat yang tiada terhitung jumlahnya. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi saw Muhammad saw , kepada keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang senantiasa komitmen mengikuti beliau hingga akhir zaman.saatnya kita kembali kepada tauhid dan ruqyah syar`iyah, tinggalkan dukun dan ...&lt;span class="fullpost"&gt;kemusyrikan.&lt;br /&gt;Setiap nikmat yang dianugrahkan adalah menuntut kita untuk mensyukurinya. Salah satu dari sekian banyak nikmat itu adalah nikmat kesehatan, maka menjaga stamina ruhiyah dan jasmaniyah agar tetap dalam keadaan sehat bugar sehingga kuat dalam beribadah merupakan bentuk syukur terhadap nikmat tersebut. Sebaliknya kelalaian merupakan bentuk kufur nikmat, sebagaiman yang terjadi pada saat ini dengan timbunya berbagai macam bentuk penyakit baik yang sifatnya ruhiyah maupun jasmaniyah. Islam adalah Din yang sempuna, tidak didapatkan suatu masalah melainkan Islam memberikan solusinya. Diantara terapi yang diajarkan Rasulullah saw saw adalah ruqyah syar'iyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Itu Ruqyah Syar`iyaah?&lt;br /&gt;Ruqyah syar'iyyah adalah kumpulan ayat-ayat dari Al Qur`an dan bacaan (التعويذات ) serta do`a-do`a yang ma`tsur dari Rasulullah saw. Ini dibaca oleh seorang muslim baik untuk dirinya sendiri atau keluarganya dan orang lain ketika badan atau jiwanya tertimpa suatu penyakit. Inilah yang dimaksud dengan Ruqyah Syar'iyyah dan bukan sejenis sihir  atau bid'ah munkar sebagaimana anggapan kebanyakan orang.,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Harus Ruqyah Syar'iyyah?&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan kenapa kita lebih memilih terapi dengan ruqyah syar'iyyah diantaranya ialah :&lt;br /&gt;1. Ruqyah Syar'iyyah adalah termasuk sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah saw.&lt;br /&gt;2. Lalainya seseorang dan umumnya kaum muslimin hari ini untuk berdzikir dengan wirid-wirid yang ma`tsur.&lt;br /&gt;3. Merajalelanya penyakit hasad dan dengki ditengah masyarakat yang tidak terbendung sehingga menuangkannya dalam bentuk gangguan seperti sihir.&lt;br /&gt;4. Untuk menyembuhkan penyakit yang terkadang menimpa pada diri seseorang seperti  Al 'Ain yang pengaruhnya begitu cepat tanpa menyadarinya. Rasulullah saw n bersabda:&lt;br /&gt;العين حق, و لو كان الشيء سابق القدر لسبقته العين                                                            &lt;br /&gt;    "Penyakit 'Ain itu benar adanya, dan seandainya ada sesuatu yang  bisa mendahului takdir dari Allah ta`ala pasti penyakit 'Ain bisa mendahuluinya".  &lt;br /&gt;5. Terlenanya kebanyakan manusia dengan tipu daya jin seperti melalaikan ibadah shalat dan meninggalkan syari'at Allah ta`ala .&lt;br /&gt;6. Ruqyah syar'iyyah merupakan jalan terbaik yang akan mengantarkan seseorang menuju ketenangan dan ketentraman jiwa.&lt;br /&gt;7. Ruqyah syar'iyyah adalah sebab yang paling afdhal –setelah Allah ta`ala- yang dapat meringankan untuk melaksanakan ketaatan dan istiqamah dalam menjalankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyru'iyyah Ruqyah Syar'iyyah&lt;br /&gt;Rasulullah saw telah memerintahkan dan menganjurkan bahkan melakukan sendiri terapi ruqyah syar'iyyah, hal ini sebagaimana dijelaskan dalam banyak riwayat yang shahih diantaranya adalah:&lt;br /&gt;قول عائشة : كان النبي  إذا اشتكى يقرأ على نفسه و ينفث، فإذا اشتد وجعه كنت أقرأ عليه و أمسه بيمينه رجاء بركتها.&lt;br /&gt;"Perkataan 'Aisyah ; 'Bahwa Nabi saw saw apabila mengeluhkan suatu penyakit,maka beliau membaca untuk dirinya sendiri kemudian meniupkannya, dan apabila semakin bertambah sakitnya maka aku yang membacakan untuk beliau dan aku mengusap dengan tangan kanannya untuk mengharap barakahnya" .&lt;br /&gt;قوله n :لا بأس بالرقى ما لم تكن شركا. و قوله عليه الصلاة و السلام : من استطاع منكم أن ينفع أخاه فليفعل.&lt;br /&gt;"Tidak mengapa melakukan ruqyah selagi tidak ada unsur syirik di dalamnya".  Dan sabda beliau saw , "Barangsiapa diantara kalian yang bisa memberikan manfaat untuk saudaranya maka lakukanlah".&lt;br /&gt;أن النبي صلى الله عليه وسلم أخذ ترابا من بطحان فجعله في قدح ثم نفث عليه بماء وصبه عليه.&lt;br /&gt;"Bahwasannya Nabi saw mengambil tanah dari bathan diletakkannya di gelas kemudian beliau menyemburkan air padanya dan menuangkannya di atasnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Ruqyah Hanya Khusus Untuk Penyakit Tertentu?&lt;br /&gt;Ada anggapan yang kini berkembang ditengah masyarakat bahwa ruqyah syar'iyyah adalah terapi yang hanya khusus untuk menyembuhkan penyakit sihir dan kesurupan jin saja. Dan jika penyakit yang diderita adalah penyakit jasmani, maka harus menggunakan terapi medis karena ruqyah tidak akan berpengaruh. Ini adalah anggapan bathil yang harus diluruskan sebab menyelisihi dalil-dalil Al Qur`an dan As Sunnah yang menerangkan keumuman manfaat ruqyah syar'iyyah. Allah ta`ala berfirman :&lt;br /&gt;      ...&lt;br /&gt;"Katakanlah: "Al Quraan itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mu'min…"&lt;br /&gt;       ...&lt;br /&gt;"Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian."&lt;br /&gt;Kemudian dalil-dalil as-sunnah juga menunjukkan tentang keumuman akan manfaat ruqyah syar'iyyah. Diantaranya ialah:&lt;br /&gt;Jibri as meruqyah Nabi saw saw ketika dia betanya, "Wahai Muhammad! Apakah engkau mengeluh karena sakit?" Beliau saw menjawab "Benar". Kemudian Jibril as mengucapkan do`a:&lt;br /&gt;بسم الله أرقيك من كل شيئ يأذيك، من شر كل نفس أو عين حاسد، الله يشفيك، بسم الله أرقيك.&lt;br /&gt;"Dengan menyebut nama Allah ta`ala aku meruqyahmu, dari segala sesuatu yang mengganggumu, dan dari keburukan setiap jiwa atau mata yang dengki, Allah ta`ala-lah yang menyembuhkanmu, dengan menyebut nama Allah ta`ala aku meruqyahmu."&lt;br /&gt;kemudian dalil lain adalah riwayat dari 'Utsman bin Abil 'Ash Ats- Tsaqafy ra, Bahwa dia mengeluh kepada Nabi saw tentang sakit yang dirasakan ditubuhnya sejak ia masuk Islam. Maka Rasulullah saw , "Letakkanlah tanganmu pada tubuh yang engkau rasa sakit, kemudian ucapkanlah, 'Bismillah (tiga kali) kemudian membaca do`a:&lt;br /&gt;أعوذ بعزة الله و قدرته من شر ما أجد و أحاذر.&lt;br /&gt;Ibnu Qayyim rhm berkata, "Al-Qur`an adalah obat yang mujarab untuk semua penyakit jasmani dan rohani dan juga obat didunia dan akhirat. Akan tetapi tidak semua orang mau dan diberi taufiq untuk menjadikan Al-Qur`an sebagai obat". Kemudian beliau menuturkan pengalamannya, "Suatu ketika, aku pernah jatuh di kota Makkah. Aku sama sekali tidak mendapatkan Tabib dan obat. Maka akupun mengobati penyakitku sendiri dengan membaca Al Fatihah. Aku mengambil air zam-zam dan kubacakan atasnya surat Al fatihah, lalu aku meminumnya. Akupun sembuh secara total dari sakitku. Dan aku selalu melakukan hal itu setiap kali merasakan sakit sampai aku mendapatkan manfaat yang sempurna".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruqyah Syar'iyyah Dan Pengobatan Yang Mubah&lt;br /&gt;Yang perlu digaris bawahi, bahwa anjuran syariah untuk menggunakan terapi ruqyah terhadap segala penyakit yang diderita, bukan berarti tidak boleh mengambil sebab dengan meggunakan terapi lain yang hukumnya mubah seperti pengobatan secara medis dan pengobatan alternatif lainnya. Namun semua itu adalah masyru' dan tidak menafikan tawakkal, bahkan yang lebih afdhal adalah menggunakan kedua macam terapi tersebut sebagaimana Rasulullah saw saw melakukannya sendiri dan beliau menganjurkannya. Imam Ahmad rhm. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw saw bersabda:&lt;br /&gt;يا عباد الله تداووا، فإن اللهl لم يضع داء إلا وضع له شفاء إلا داء واحدا، قالوا: ما هو؟ قال: الهرم.&lt;br /&gt;"Wahai ibadullah berobatlah kalian, karena Allah ta`ala tidaklah menurunkan suatu penyakit melaikan menurunkan pula obatnya kecuali satu macam penyakit". Para sahabat bertanya, "Penyakit apa yang tidak ada obatnya?" Beliau menjawab, "Penyakit tua".&lt;br /&gt;Beliau n juga bersabda:&lt;br /&gt;الشفاء في ثلاثة : شربة عسل، و شرطة محجم، و كية نار، و أنا أنهى أمتي عن الكي بالنار.&lt;br /&gt;"Kesembuhan itu ada dalam tiga perkara, minum madu, dalam syatan alat hijamah dan sundutan dengan besi panas, namun aku melarang umatku melakukan sundutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilakah Ruqyah itu Bermanfaat?&lt;br /&gt;Pertanyaan ini sangat dijawab. Karena terkadang ada seseorang yang telah mencoba meruqyah dirinya sendiri atau orang lain namun tidak mendapatkan reaksi dan pengaruh sedikitpun, ataupun tidak ada tanda-tanda adanya kesembuhan, sehingga muncul dalam hatinya keraguan akan manfaat ruqyah syar'iyyah.&lt;br /&gt;Mengenai hal ini Ibnul Qayyim rhm memberikan jawabannya, bahwa terapi dengan ruqyah syar'iyyah menyangkut dua hal; pertama, orang yang sakit (yang diruqyah). Kedua, Mu'alij (orang yang meruqyah), nah masing-masing  hendaknya kekuatan jiwa dan sikap tawakkal yang benar kepada Allah ta`ala serta meminta perlindungan kepada-Nya. kemudian memiliki keimanan yang kuat bahwa Al Qur`an benar-benar mengandung kesembuhan dan rahmat bagi kaum mukminin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat-syarat Ruqyah&lt;br /&gt;Ibnu  Hajar rhm. berkata, bahwa para ulama` telah sepakat tentang bolehnya ruqyah ketika terpenuhi tiga syarat, yaitu:&lt;br /&gt;1. Ruqyah haruslah dengan menggunakan ayat-ayat Allah ta`ala, asma dan sifat-Nya atau dengan sesuatu yang ma`tsur dari Rasulullah saw saw.&lt;br /&gt;2. Harus dengan berbahasa Arab dan dipahami maknanya.&lt;br /&gt;3. Harus diyakini bahwa ruqyah tidak berpengaruh dengan dzatnya melainkan dengan takdir Allah ta`ala.&lt;br /&gt;4. Hendaknya tidak dilakukan dengan hal-hal yang diharamkan. Seperti yang dilakukan oleh sebagian orang, dia meruqyah pada saat orang yang sakit dalam keadaan junub, atau dikuburan..., atau pada saat dia dalam kedaan najis atau hal-hal yang dapat menimbulkan keraguan.&lt;br /&gt;5. Hendaknya tidak mengandung ungkapan-ungkapan yang diharamkan. Seperti mencela dan mencaci.&lt;br /&gt;Maka segala macam ruqyah yang tidak memenuhi syarat-syarat diatas  adalah tidak diperbolehkan, karena jelas itu akan mengarah kepada kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikasi Adanya Penyakit Nafsiah dan Ruhiyah&lt;br /&gt;Apabila diantara indikasi yang disebutkan terdapat pada diri seseorang secara jelas, maka orang tersebut perlu untuk melakukan terapi ruqyah syar'iyyah dan terapi medis lainnya. Diantara indikasi tersebut adalah:&lt;br /&gt;1. Berpaling dari dzikrullah dan ketaatan kepada Allah ta`ala terlebih khusus lagi adalah shalat.&lt;br /&gt;2. Pusing yang berkepanjangan tanpa adanya sebab-sebab lazim.&lt;br /&gt;3. Marah dengan kemarahan yang menggebu-gebu dan melampaui batas.&lt;br /&gt;4. Seringnya hilang ingatan dan banyak lupa diluar kelaziman.&lt;br /&gt;5. Seluruh badan terasa lemas disertai rasa malas dan futur.&lt;br /&gt;6. Susah tidur pada malam hari.&lt;br /&gt;7. Selalu merasakan kegelisahan, kesempitan dan kesedihan.&lt;br /&gt;8. Tertawa dan menangis tanpa sebab.&lt;br /&gt;9. Selalu bermimpi hal-hal yang menakutkan.&lt;br /&gt;10. Minder diluar kelaziman sehingga memilih 'uzlah dan jauh dari manusia.&lt;br /&gt;11. Merasa muak tidak suka tinggal dirumah dan berkumpul bersama keluarga termasuk istri dan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda Adalah Dokter Bagi Diri Anda Sendiri&lt;br /&gt;Ketika seseorang telah memahami betul akan pentingnya ruqyah sya'iyyah dalam kehidupan ini, maka ia tidak perlu lagi untuk mencari dan meminta seseorang untuk meruqyahnya karena ia bisa meruqyah dirinya sendiri, dan ini adalah lebih afdhal ditinjau dari beberapa hal;&lt;br /&gt;1. Ruqyah syar'iyyah adalah termasuk bagian dari do`a-do`a yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Dan hal tersebut merupakan wujud kesempurnaan tawakkal kepada Allah ta`ala dimana Anda tidak meminta kesembuhan melainkan hanya kepada Allah ta`ala .&lt;br /&gt;2. Ruqyah syar'iyyah yang dilakukan untuk diri sendiri akan lebih memudahkan bagi seseoang dalam menggapai keikhlasan dan sikap tunduk serta tawakkal kepada Allah ta`ala.&lt;br /&gt;3. Dapat dilakukan kapan dan dimana saja. Lain halnya jika bersandar kepada orang lain dimana ia hanya mendapatkan waktu luang yang terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata cara meruqyah&lt;br /&gt;Perkara lain yang demikian serius yang harus diperhatikan oleh seorang peruqyah adalah tidak melakukan tata cara ruqyah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مختصر علام الجن و الشياطين&lt;br /&gt;Ringkasan Kitab Alam Jin Dan Syaitan&lt;br /&gt;Karangan Dr. Umar sulaiman Al-Asqar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEFINISI JIN DAN PENJELASANNYA&lt;br /&gt;Apa Itu Jin&lt;br /&gt;Jin adalah makhluk yang berakal yang mempunyai kemampuan untuk memilih jalan kebaikan dan keburukan. Jin memiliki alam tersendiri dan bukan alam malaikat atau alam manusia. Alam yang tersembunyi dari pandangan manusia sehingga mereka disebut Jin karena tertutup (ijtina'). Jin adalah makhluk yang diciptakan dari api sebagaimana yang terdapat dalam surat Ar-Rahman ayat 15. Dan Jin lebih dahulu diciptakan daripada penciptaan manusia (Al-Hijr: 26-27).&lt;br /&gt;Nama-Nama Jin Dan Kelompoknya&lt;br /&gt;Ibnu Abd Al-Barr rhm mengatakan bahwa menurut para ahli ilmu kalam dan bahasa, Jin memiliki beberapa jenis sebutan:&lt;br /&gt;1. Bila yang mereka maksudkan adalah Jin secara murni, maka mereka dipanggil Jinni.&lt;br /&gt;2. Bila yang mereka maksudkan Jin yang tinggal bersama manusia, maka mereka dipanggil Amir, jamaknya Imar.&lt;br /&gt;3. Jika yang dimaksud Jin yang nampak pada anak-anak kecil, maka mereka dipanggil Arwah.&lt;br /&gt;4. Jika ia jahat dan mengganggu, maka ia dipanggil Syaitan.&lt;br /&gt;5. Jika kejahatannya lebih daripada syaitan dan pengaruhnya lebih kuat, maka disebut Afrit.&lt;br /&gt;Kemudian mengenai kelompok Jin Rasuulullah bersabda:&lt;br /&gt;"Jin ada tiga kelompok: satu kelompok terbang melayang diudara. Satu kelompok lagi berupa ular dan anjing. Dan satu kelompok lagi diam dilumpur dan berjalan."&lt;br /&gt;(HR. Thabrani, Al-Hakim dan Al-Baihaqi dengan isnad shahih, Shahih Al-Jami' 3/85)&lt;br /&gt;Syaitan Dan Jin&lt;br /&gt;Kata syaitan dalam bahasa Arab dijadikan istilah bagi segala sifat yang angkuh dan durhaka. Dinamakan syaitan karena keangkuhan dan kedurhakaannya kepada Allah ta`ala. Dan syaitan memiliki nama lain diantaranya yaitu Thaghut yang artinya melampuau batas (An-Nisa`:76). Allah ta`ala juga menamai mereka Iblis karena keterputusasaannya dari rahmat-Nya. Iblis adalah bentuk kata benda bahasa Arab diambil dari kata Ilbalasa yang berarti orang yang tidak mempunyai kebaikan. Ublisa berarti putus asa dan bingung.&lt;br /&gt;Syaihkhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa syaitan adalah asli Jin sebagaimana Adam yang asli manusia. (lihat Majmu' Fatawa: 4/235,346).&lt;br /&gt;Makanan Dan Minuman Jin&lt;br /&gt;Banyak hadits yang menjelaskan akan hal ini diantaranya adalah riwayat Tirmidzi dengan isnad yang shahih Rasulullah saw bersabda, "Jangan kalian beristinja` dengan kotoran binatang dan jangan pula dengan tulang. Karena ia merupakan bekal bagi saudara-saudara kalian dari bangsa Jin."&lt;br /&gt;Dan tentang bagaimana syaitan makan, Rasulullah saw menjelaskan, "Jika seseorang diantara kalian makan, hendaklah ia makan dengan tangan kanannya. Dan bila ia minum hendaklah ia minum dengan tangan kanannya juga. Karena syaitan itu makan degan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya juga." (Shahih Muslim).&lt;br /&gt;Ibnu Qayyim rhm membuat suatu kesimpulan dengan firman Allah ta`ala :&lt;br /&gt;"Sesungguhnya minuman arak, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan." (Al-Maidah: 90). Karenanya segala minuman yang memabukkan adalah minuman syaitan.&lt;br /&gt;Perkawinan Manusia Dengan Jin&lt;br /&gt;Dalil yang menunjukkan bahwa perkawinan antara manusia dengan Jin bisa terjadi adalah firman Allah ta`ala:&lt;br /&gt;"Mereka belum pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni surga) dan tidak pula oleh Jin" (Ar-Rahman: 56).&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah rhm berkata, "Kadang-kadang manusia kawin dengan Jin dan lahirlah seorang anak dari keduanya. Peristiwa ini banyak terjadi dan sudah masyhur." (Majmu' Fatawa 19/39). Sekalipun demikian banyak ulama` yang membenci perkawinan ini. Sebab tidak ada hikmah dari perkawinan tersebut (Ar-Rum: 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kediaman Jin Dan Waktu-Waktu Munculnya&lt;br /&gt;Jin bertempat tinggal di bumi diamana kita tinggal diatasnya, mereka banyak berada di tempat-tempat kotor dan najis seperti pemandian, tempat buang kotoran, sampah-sampah dan kuburan. Mereka juga banyak terdapat di tempat-tempat maksiat seperti pasar dan juga menginap di rumah-rumah manusia namun mereka dapat diusir dengan bacaan-bacaan dzikir kepada Allah ta`ala apalagi ketika mendengar adzan dikumandangkan. Dan rasulullah saw menjelaskan bahwa mereka banyak bertebaran ketika datangnya kegelapan  malam.&lt;br /&gt;Hewan-Hewan Yang Ditemani Jin&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud ra bahwa jin pernah meminta bekal kepada Rasulullah saw lalu beliau bersabda' "Bagi semua tulang yang disebutkan nama Allah ta`ala padanya. Ia akan tiba di tangan-tangan kalian sebagai makanan. Dan, bagi kalian seluruh kotoran sapi yang juga merupakan makanan bagi binatang-binatang kalian." (HR. Muslim).&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa Jin memiliki binatang-binantang dan diantara hewan yang selalu mereka temani adalah unta sebagaimana sabda Nabi saw, "Sesungguhnya unta itu diciptakan dari syaitan-syaitan, dan di belakang setiap unta ada syaitan." (Shahih Al-Jami': 2/52). Karenanya Rasulullah saw, melarang kita shalat dikandang unta.&lt;br /&gt;Kemampuan Jin Menyerupai Beberapa Rupa Dan Bentuk&lt;br /&gt;Jin mempunyai kemampuan untuk menyerupai bentuk manusia dan binatang. Dan terkadang menyerupai binatang unta, keledai, sapi, anjing terutama anjing dan kucing hitam serta ular.&lt;br /&gt;Dalam shahih Muslim Rasulullah saw, bersabda, "Sesungguhnya di Madinah ada sekelompok jin sudah masuk Islam. Maka yang melihat para penghuni ini, hendaklah ia mengizinkannya (menampakkan diri) tiga hari. Jika tetap nampak sesudah itu, hendaklah ia membunuhnya, karena sesungguhnya dia itu syaitan."    &lt;br /&gt;Dan syaitan dapat berjalan cepat pada aliran darah manusia. Rasulullah saw, bersabda:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya syaitan berjalan cepat pada diri manusia di tempat mengalirnya darah." (Shahih Al-Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;Kelemahan Jin&lt;br /&gt;Jin dan syaitan selain memiliki kekuatan diantaranya adalah ketangkasan berpindah namun mereka juga memiliki kelemahan. Allah ta`ala berfirman:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah." (An-Nisa: 76).&lt;br /&gt;Diantara kelemahan mereka adalah tiada kekuatan bagi syaitan atas hamba-hamba Allah ta`ala yang shalih sebagaimana firman-Nya, "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga." (Al-Isra`: 65).&lt;br /&gt;Diantara kelemahannya pula bahwa jin-jin tidak dapat melewati batas-batas tertentu sebab jika mereka melanggar maka mereka akan mati dengan nyala api dan cairan tembaga. Hal ini dijelaskan dalam surat Ar-Rahman: 33-35.&lt;br /&gt;Kemudian jin juga tidak dapat membuka pintu yang ditutup dengan menyebut nama Allah ta`ala padanya. Rasulullah saw ` bersabda, "Tutuplah pintu-piintu dan sebutlah nama Allah ta`ala padanya. Karena syaitan itu tidak dapat membukan pintu yang ditutup dengan menyebut nama-Nya." (HR. Abu Daud, Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim dengan sanad shahih).&lt;br /&gt;Bila seorang hamba komitmen di atas kebenaran maka syaitan akan memisahkan diri darinya sebagaimana sabda Rasulullah saw, "Sesungguhnya syaitan benar-benar memisahkan diri darimu wahai Umar." (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dengan isnad shahih).&lt;br /&gt;Syaitan hanya berkuasa pada hamba-hamba yang lantaran mereka menyukai fikirannya dan mengikutinya suka dan patuh kepadanya (Al-Hjr: 42).&lt;br /&gt;Syaitan Terkadang Menguasai Orang-Orang Beriman Disebabkan Dosa-Dosa Mereka&lt;br /&gt;Dalam hadits disebutkan, "Sesungguhnya Allah ta`ala bersama hakim selama hakim itu tidak zalim. Bila zalim, maka Allah ta`ala berlepas darinya dan ia akan ditempati syaitan." (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi dengan isnad hasan).&lt;br /&gt;Allah ta`ala berfirman:&lt;br /&gt;"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.  Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir." (Al-A'raf: 175-176).&lt;br /&gt;Menundukkan Jin Untuk Sulaiman&lt;br /&gt;Allah ta`ala telah menundukkan untuk Nabi-Nya, Sulaiman sekelompok jin dan syaitan sehingga mereka mengerjakan apa saja yang diperintahkan kepada mereka dan akan dihukum jika melanggar. Firman Allah ta`ala&lt;br /&gt;"Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya)  syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu." (Shad: 36-38).&lt;br /&gt;Dan Allah ta`ala berfirman dalam surat Saba`: 12-13:&lt;br /&gt;"Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tung-ku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah ta`ala). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih."&lt;br /&gt;Hal ini sebagai  bukti dikabulkannya do`a Sulaiman dimana beliau pernah berdo`a:&lt;br /&gt;"Ya Tuhanku,  ampunilah aku  dan  anugerahkanlah kepadaku  kerajaan  yang   tidak   dimiliki  oleh seorang  juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi". (Shaad:35).&lt;br /&gt;Do`a inilah yang kemudian mencegah Nabi saw ` untuk mengikat seorang jin yang datang kepada beliau dengan membawa panah api yang akan dilemparkannya ke muka beliau.&lt;br /&gt;Ketidakmampuan Jin Mendatangkan Mukjizat&lt;br /&gt;Jin tidak dapat mendatangkan mukjizat sebagaimana yang dibawa oleh para Rasul, sehingga ketia orang-orang kafir mengatakan bahwa Al-Qur`an itu adalah buatan syaitan maka Allah ta`ala menantang manusia dan jin untuk mendatangkan yang serupa dengan Al-Qur`an sebagaimana diterangkan dalam surat Al-Isra`: 88.&lt;br /&gt;Jin Tidak Dapat Menyerupai Rasulullah saw Dalam Mimpi&lt;br /&gt;Rasululllah ` bersabda, "Barangsiapa yang bermimpi melihat aku, maka sesungguhnya dialah aku. Karena syaitan itu tidak dapat menyerupai aku." (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih).&lt;br /&gt;Namun dalil ini tidak mencegah syaitan untuk menyerupai selain rupa Rasulullah saw ` lalu mengaku bahwa dia dengan rupa tersebut adalah Rasulullah saw ` padahal bukan. Jadi tidak setiap yang bermimpi melihat Rasulullah saw ` itu adalah benar kecuali jika sifat-sifat yang dilihatnya sesuai dengan sifat-sifat yang diriwayatkan dalam hadits tentang beliau ` .&lt;br /&gt;TUJUAN PENCIPTAAN JIN&lt;br /&gt;Tujuan penciptaan jin sama dengan diciptakannya manusia yaitu untuk beribadah kepada Allah ta`ala semata. Sebagaimana firman-Nya, "Tidaklah Aku menciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribadah." (Adz-Dzariat: 56).&lt;br /&gt;Sehingga yang taat diantara mereka akan masuk kedalam Jannah sedangkan yang ingkar akan dimasukkan kedalam neraka jahannam sebagaimana banyak dinyatakan di dalam Al-Qur`an diantara surat Al-An'am: 130 dan Al-A'raaf: 38.&lt;br /&gt;Hal ini sebagai bukti sampainya risalah syariat kepada mereka.&lt;br /&gt;Beban Dan Tanggungjawab Yang Sesuai Dengan Kemampuan Mereka&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah rhm dalam Majmu' Fatawa 4/233 berkata, "Bangsa jin diperintahkan untuk mengerjakan suatu perkara usul dan furu' yang sesuai dengan ukuran mereka. Mereka tidak sama dengan manusia dalam batasan dan hakikat perkara, karena itu perintah dan larangan yang ditujukan kepada mereka tidak sama dengan yang diberikan kepada manusia. Mereka sama dengan manusia dalam hal dibebani perintah dan larangan, dibebani halal dan haram. Mengenai hal ini saya tidak tahu adanya perselisihan diantara kaum muslimin."&lt;br /&gt;Bagaimana Wahyu Sampai Kepada Mereka&lt;br /&gt;Karena mereka mukallaf, tentu saja harus ada wahyu yang sampai kepada mereka. Lalu bagaimanakah sampainya wahyu kepada mereka? Dalam hal ini pendapat yang paling kuat adalah bahwa Rasul yang diutus kepada manusia adalah Rasul yang diutus kepada bangsa jin, sebagaimana ucapan jin ketika mendengar Al-Qur`an, "Kami mendengar kitab yang diturunkan setelah zaman Nabi Musa." (Al-Ahqaf: 30).&lt;br /&gt;Risalah Muhammad ` Yang Bersifat Umum&lt;br /&gt;Sudah menjadi ijma' Ahlussunnah bahwa Nabi Muhammad ` diutus kepada bangsa jin dan manusia. Sehingga ini menunjukkan bahwa Al-Qur`an adalah petunjuk bagi jin dan manusia. Firman Allah ta`ala:&lt;br /&gt;"Katakanlah (hai Muhammad): 'Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Qur'an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur'an yang mena'jubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami." (Jin: 1-2). &lt;br /&gt;Utusan Jin&lt;br /&gt;Bangsa Jin yang mendengarkan syariat kemudian beriman dan menyebarkan seruan tersebut kepada kaumnya. Sehingga datang utusan mereka kepada Nabi saw ` ketika di Makkah untuk mempelajari syariat-syariat Allah ta`ala dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;Dalam riwayat Thabari dari Ibnu Mas'ud ra bahwa Rasulullah saw ` bersabda, "Aku menginap pada malam itu. Aku membacakan Al-Qur`an kepada Jin dan berhenti pada kata hujuun."&lt;br /&gt;Mereka Memerintahkan Kepada Kebaikan Dan Menjadi Saksi Bagi Orang Islam&lt;br /&gt;Abu Sa'id ra berkata, "Saya mendengar dari Rasulullah saw ` bahwa beliau telah memberitahukan bahwa jin-jin akan menjadi saksi pada hari kiamat terhadap orang-orang yang mendengarkan adzannya." (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;Urutan Mereka Dalam Kebaikan Dan Kejahatan&lt;br /&gt;Tingkatan mereka dalam hal ketakwaan dan kekufuran sama hal manusia. Firman Allah ta`ala, "Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda." (Jin: 11).&lt;br /&gt;Tabiat Syaitan&lt;br /&gt;Setelah pembangkangannya kepada Allah ta`ala ia berubah menjadi kafir dan begitu bersemangat untuk menjerumuskan manusia kedalam kesesatan. Allah ta`ala berfirman:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Aku pasti akan  memenuhi neraka Jahannam dengan jenis  kamu dan  dengan  orang-orang  yang  mengikuti   kamu   di antara mereka kesemuanya." (Shaad: 85).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYAITAN MENYERUPAI PELBAGAI MACAM RUPA&lt;br /&gt;Syaiatan terkadang datang menggoda dalam bentuk manusia. Terkadang pula hanya dengan suara tanpa terlihat siapa yang berbicara atau ia datang dengan bentuk yang aneh untuk menipu manusia. Namun ini semua hanya dilakukan terhadap orang yang kufur kepada Allah ta`ala atau terhadap orang-orang yang berbuat kemungkaran dan dosa-dosa besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-Orang Yang Dilayani Syaitan Mendekatkan Diri Kepadanya Dengan Perbuatan Maksiat&lt;br /&gt;Orang yang mengaku memiliki ilmu hitam pada hakekatnya syaitan itulah yang melayani mereka dan sebagai timbal baliknya mereka harus mendekatkan diri kepada syaitan-syatan itu dengan kekufuran dan kemusyrikan. Misalnya menulis kalamullah dengan benda-benda najis atau membolak-balikkan hurufnya.&lt;br /&gt;Orang-Orang Ghaib&lt;br /&gt;Sebagaimana yang dikatakan oleh Thahawiyah, bahwa di antara syaitan-syaitan itu ada yang dinamakan "Orang-orang ghaib" dimana sebagian manusia dapat berbicara kepada mereka. Mereka mampu memperlihatkan hal yang luar biasa dan karenanya mereka mengaku sebagai wali-wali Allah ta`ala dan mereka ini pada  hakekatnya adalah saudara-saudaranya orang musyrik sungguh amat jauh perbedaan antara wali Allah ta`ala dengan wali-wali syaitan.                  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Mempekerjakan Dan Mempergunakan Jin&lt;br /&gt;Di muka telah dijelaskan tentang do`a Nabi Sulaiman. Maka jelas jika diantara manusia memperoleh ketaatan jin, ini bukanlah suatu penyihiran akan tetapi dengan kemauan jin itu sendiri. Ibnu Taimiyah rhm dalam Majmu' Fatawa 11/306 menjelaskan tentang hukum mempekerjakan jin sebagai berikut:&lt;br /&gt;Beberapa hal mengenai hubungan jin dan manusia&lt;br /&gt;Siapa yang dapat memerintahkan jin untuk menjalankan kebaikan dan kewajiban yang diperintahkan Allah ta`ala berupa ibadah, maka ia termasuk wali-wali  Allah ta`ala. namun barangsiapa yang melakukannya dalam hal kemaksiatan kepada Allah ta`ala berupa kekufuran dan kemusyrikan berarti dia telah meminta bantuan kepada jin dalam urusan kekafiran dan kemusyrikan maka ia telah keluar dari millah. &lt;br /&gt;MENDATANGKAN ARWAH&lt;br /&gt;Pengakuan seorang akan kemampuan mendatangkan arwah bukanlah masalah yang baru bahkan pengakuan seperti itu sudah terjadi sejak tempo duloe. Ustadz Muhammad Hussain di dalam bukunya Ar-Ruhiyah Al-Haditsah (Spritualisme Modern) telah banyak mengungkapkan tentang tipu daya dan pemalsuan hakikat oleh mereka yang mengaku dapat mendatang arwah. Beliau juga mengungkapkan cara yang kedua , dengan mempergunakan jin dan cara kedua inilah yang banyak mereka gunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian Masa Kini&lt;br /&gt;Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Izzuddin Al-Bayanuni dalam buku Al-Imam bil Malaikah didapatkan suatu kesimpulan bahwa masalah ini adalah suatu pembohongan dan merupakan pengakuan yang menjerumuskan kepada kekufuran. Karena tidak ada seorang pun yang dapat mendatangkan roh, syaitanlah yang menyesatkan mereka.&lt;br /&gt;Mendatangkan arwah adalah suatu hal yang mustahil karena hal itu termasuk hal yang ghaib. Allah ta`ala berfirman, "Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Katakanlah Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (All-Isra`: 85).&lt;br /&gt;Dan Allah ta`ala juga menjelaskan bahwa Dialah yang memegang ruh manusia ketika mati dan menahannya ketika mati (Az-Zumar: 42).&lt;br /&gt;JIN DAN ILMU GHAIB&lt;br /&gt;Sesungguhnya bangsa jin tidak mengetahui hal yang ghaib. Terbukti ketika Nabi saw Sulaiman telah Wafat, Allah ta`ala membiarkan jasadnya berdiri tegak, sementara itu jin-jin yang telah ditundukkan untuk Sulaiman terus bekerja tanpa menyadari kematian tuannya. Allah ta`ala berfirman, "Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan." (Saba`:14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tukang Ramal Dan Dukun&lt;br /&gt;Dengan keterangan diatas jelas bahwa pengakuan tukang ramal dan dukun akan pengetahuan mereka tentang hal-hal yang ghaib adalah pengakuan yang menyesatkan yang bertentangan dengan akidah Islam. Bahkan Ibnu Qayyim dalam bukunya Al-Ighatsah mengatakan bahwa dukun-dukun itu adalah utusan syaitan. Bagi yang mempercayainya adalah kafir. Karenya Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal lalu bertanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari." (HR. Muslim dan Ahmad). Jika demikian bagaimanakah hukum dukun dan tukang ramal itu sendiri?&lt;br /&gt;Ahli Nujum&lt;br /&gt;Membuat ramalan yang isinya tentang hukum dan pengaruh adalah haram hukumnya. Adapun pernyataan bahwa ahli nujum terkadang benar maka pada hakikatnya itu menipu manusia. Aisyah smeriwayatkan bahwa Rasulullah saw ` tentang dukun-dukun maka beliau bersabda, "Mereka tidak ada apa-apanya" sahabat bertanya lagi, "Ya Rasulullah saw mereka membicarakan sesuatu kemudian terjadi." Kemudian beliau menjawaab, "Kata-kata itu ada benarnya, jin mendengarkannya secara sembunyi lalu membisikkannya di telinga walinya, lantas mereka mencampurkannya dengan seratus lebih kebohongan." (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;          Jin takut kepada manusia&lt;br /&gt;Mujahid berkata :&lt;br /&gt;“ Sesungguhnya mereka takut kepada kalian sebagaimana kalian takut kepada mereka ”.&lt;br /&gt;Ia juga berkata : “ Syetan lebih takut kepada kalian, karena itu jika ia menampakkan diri kepada kalian janganlah kalian takut karena ia akan mengalahkan kalian, tetapi bersikap keraslah kepadanya karena ia akan pergi”.&lt;br /&gt;Ibnu Abid-Dunya meriwayatkan dari Abu Syura`ah, dia berkata : “Yahya Al-jariah melihatku takut menembus kegelapan malam. Maka ia berkata ,” sesungguhnya syetan yang kita takuti, justru lebih takut kepadamu”.&lt;br /&gt;Ibnu Abid-Dunya juga meriwayatkan dari Mujahid, dia berkata : “Syetan lebih cepat melarikan diri dari pada kalian. Maka jika ada syetan yang menampakkan diri di hadapan kalian, janganlah kalian lari darinya sehingga dia mengejar kalian, tapi bersikaplah yang keras terhadapnya karena dia akan lari sendiri”.&lt;br /&gt;  Tempat tinggal jin&lt;br /&gt;1. Tempat-tempat yang sepi dari manusia.&lt;br /&gt;Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas`ud bahwa Rosulullloh saw, sering keluar ke padang pasir untuk mengajak mereka (jin) kepada Alloh, membacakan Al qur`an dan mengajarkan masalah-masalah dien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tempat sampah dan tempat-tempat yang najis/ kotor.&lt;br /&gt;Hadits Riwayat Muslim dari Ibnu Mas`ud bahwa jin bertempat tinggal di tempat-tempat kotoran dan sampah karena mereka memakan sisa-sisa makanan manusia.&lt;br /&gt;Dari Zaid bin Arqom, bahwa Rosululloh saw, bersabda : “Jika salah seorang diantara kalian memasuki kamar mandi hendaklah ia mengucapkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللهم انى اعوذ بك من الخبث واالخبائث&lt;br /&gt;“ yaa Alloh, aku berlindung kepadamu dari syetan laki-laki dan syetan perempuam.”  (HR. Attirmidzi, An nasa`I dan Ibnu Majah )&lt;br /&gt;3. Di setiap atap rumah.&lt;br /&gt;Abu Bakar bin Ubaid meriwayatkan dari Yazid di dalam buku Maqo`idusy Syaiton :&lt;br /&gt;ما من اهل بيت من المسلمين الا وفى سقف بيتهم من الجن من المسلمين ...&lt;br /&gt;“ Di setiap rumah kaum muslimin ada jin muslim yang tinggal diatapnya.”&lt;br /&gt;4. Di lubang-lubang tanah&lt;br /&gt;Dari qotadah dari Abdulloh bin syarjas, Nabi saw saw, bersabda :    لايبولن اجدكم فى جحر&lt;br /&gt;“ Janganlah kalian kencing dilubang.” (HR. Nasa`i)&lt;br /&gt;5. Tempat rendah yang becek (jin Kafir) dan tempat tinggi yang kering dan keras (jin muslim)&lt;br /&gt;At thobroni meriwayatkan dari Bilal bin Al Harits yang bertanya kepada Rosululloh saw, tentang suara gaduh disekitarnya, kemudian Nabi saw saw, menjawab : “ Di dekatku ada sekumpulan jin muslim dan jin kafir yang saling bertengkar. Lalu mereka meminta kepadaku untuk menempatkan mereka. Maka aku menempatkan jin muslim diatas tanah yang tinggi dan keras sedang jin kafir diatas tanah yang rendah dan becek.”&lt;br /&gt;6. Bebatuan yang besar.&lt;br /&gt;Abu Daud meriwayatkan dari Qotadah dari Abdulloh bin Syarjas bahwa Nabi saw saw, melarang kencing pada batu. Orang-orang bertanya kepada Qotadah :” Mengapa kencing pada batu di makruhkan ?” dia menjawab : “ Karena batu itu tempat tinggalnya jin.”&lt;br /&gt;7. Di air&lt;br /&gt;Abdur Rozaq meriwayatkan dari Abu Ja`far Muhammad bin `Aly bahwa Hasan dan Hisain pernah masuk kamar mandi pada suatu pagi sambil mengenakan mantel, lalu merka berdua berkata : “ sesungguhya di dalam air ada penghuninya.”&lt;br /&gt;Ar rifa`i mengatakan di dalam as sarh : “ Ada yang mengatakan bahwa air pada malam hari diperuntukan untuk jin, maka jangan lah kencing di air dan tidak pula mandi pada malam hari karena khawatir akan mengganggu unat dari jin.”&lt;br /&gt;8. Tanah gundul/kering&lt;br /&gt;Ibnu `Ady meriwayatkan di dalam Al kamil, dari Abu Huroiroh ra, bahwa Nabi saw saw, melarang seseorang membuang hajat di tanah yang gundul. Ada yang bertanya : “ apa tanah yang gundul itu. “ Beliau menjawab : “ Jika salah seorang diantara kalian datang disuatu tempat yang setiap tumbuhan diatasnya mati/kering. Itulah tempat tinggal saudara kalian dari jin.”&lt;br /&gt;9. Singgasana Iblis dia atas air (lautan)&lt;br /&gt;Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya, dari Abu Al Mughiroh dari Shofwan dari mu`ad At Tamimy dari Jabir bin Abdulloh bahwa Nabi saw saw, bersabda : “ Singgasana Iblis itu berada di atas lautan. Setiap hari ia mengutus bala tentaranya untuk memfitnah manusia, yang mendapat kedudukan paling tinggi diantara mereka ialah yang dapat menciptakan fitnah terbesar untuk umat manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-تم بحمد الله-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Apakah Engkau Benar-benar Mencintaiku?</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/10/apakah-engkau-benar-benar-mencintaiku.html</link><category>AKHLAQ</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Sun, 18 Oct 2009 05:40:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-8537781615711266998</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiU7IyvGagv9AGcNcBmEDGgJ3sLLm5LliWZlnJ5tfdgNINIrRANjhFi5LQ-a8VeIz2WEB0SKwdMtzz9Q7813ndXo7GOCP1pKIeZF5J-zUsadFrt_I_q_2ktQdwQQqCs7c28RwcVQl3KiWhv/s1600-h/timthumb.php.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 253px; height: 167px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiU7IyvGagv9AGcNcBmEDGgJ3sLLm5LliWZlnJ5tfdgNINIrRANjhFi5LQ-a8VeIz2WEB0SKwdMtzz9Q7813ndXo7GOCP1pKIeZF5J-zUsadFrt_I_q_2ktQdwQQqCs7c28RwcVQl3KiWhv/s400/timthumb.php.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393919552847255922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dulu, saat aku memutuskan memilihmu, ada ragu di dadaku. Apakah aku bisa mengimbangi kualitasmu. Tapi berkali-kali kau meyakinkanku, bahwa kita akan belajar untuk saling menyesuaikan diri. Akhirnya aku pun mengangguk, sebagai tanda betapa aku bersedia menjadi belahan jiwamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari menjelang pertemuan denganmu di prosesi akad itu, membuat campur aduk hatiku yang lemah ini. Segala debar, takut, dan khawatir menyeruak indah. Tak ingin lepas, apalagi hilang. Tapi rasa ini membuatku merasa sudah memilikimu. Padahal belum ada ikatan antar aku dan kamu. Akhirnya kubiarkan rasa itu menggenggamku, apakah itu termasuk sebuah kesalahan?Berdua melangkah menuju hidup yang baru. Aku masih begitu asing denganmu. Cara kamu bersikap, cara kamu bicara, dan cara kamu mengungkapkan cinta&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun akhirnya mendengarmu melantunkan janji setia. Akad suci yang sudah disepakati. Pernyataan hati bahwa engkau akan menjadi suami sehidup semati. Tidak hanya itu, bahkan menjadi suami hingga akhirat nanti. Janji ini janji suci. Bukan main-main, bukan pula guyonan, bukan juga lelucon yang bisa diketawain. Tapi ini adalah mitsaqan ghalidan, ikatan yang kuat dan tangguh. Saling menguatkan hati yang terkait, saling mengukuhkan cinta yang sudah dan akan terjalin. Kenapa aku berkata sudah, karena boleh jadi sudah ada benih cinta di hatiku sebelum menikah denganmu. Dan kenapa aku bilang akan, karena aku yakin Allah yang berkuasa atas hati kita. Cinta inilah yang akan Allah gerakkan, untuk mencintaimu sebagai suamiku, dan mencintai aku sebagai istrimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdua melangkah menuju hidup yang baru. Aku masih begitu asing denganmu. Cara kamu bersikap, cara kamu bicara, dan cara kamu mengungkapkan cinta. Karena memang selama ini kita tidak pernah bertemu sebagai sepasang kekasih. Cinta kita memang benar-benar berbeda. Aku menikah denganmu dengan niat menyelamatkan jiwaku. Agar cintaku pada-Nya tetap utuh, tanpa harus ternodai oleh cintaku padamu. Semoga niatku ini menjadikan ikatan kita semakin diberkahi. Lagi, lagi dan lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian demi perhatian kau curahkan. Seolah aku adalah dewi di bumi yang sangat berarti bagi hidupmu. Kau menjadi suami yang sangat baik bagiku, juga bagi keluarga besarku. Namun waktu berjalan begitu cepat. Kau sibuk dengan urusanmu. Seabrek amanah dakwah, selusin urusan dunia, dan sejuta masalah mulai menghampirimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketakutanku pun terjadi. Di titik itu aku tak lagi mampu mengimbangimu. Kau sibuk dengan duniamu sendiri, seolah kau tidak lagi membutuhkan aku. Waktu demi waktu hanya terbagi buat semua urusanmu. Sementara waktu bagi aku dan anak-anakmu hanyalah waktu yang tersisa dari sekian waktu yang kamu punya. Aku hanya bisa berdoa, semoga Allah memberkahi setiap nafasmu. Tapi ijinkan aku meminta, berilah juga waktu untuk aku dan keluargamu. Karena shalihnya kamu tiada berarti kalau kau justru mengabaikan keluargamu dan aku sebagai istrimu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitkan tangan, mempersamai setiap niat perubahan diri. Karena hati wanita itu butuh kekuatan seorang pria yang selalu menopang saat ia jatuh. Saat aku lemah, aku butuh dukunganmu sebagai suamiku. Untuk menguatkan setiap tekad yang mungkin kehilangan energinya. Atau membimbing setiap keinginan yang mungkin sudah berubah haluannya. Karena cinta kita bukan cinta hanya pelampiasan nafsu, namun sebuah rasa yang ingin kita kecap bersama. Membesarkan anak kita, dan mewujudkan rumah muslim yang bahagia, tak hanya di dunia, tapi juga di hadapan Allah yang telah menciptakan cinta kita...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiU7IyvGagv9AGcNcBmEDGgJ3sLLm5LliWZlnJ5tfdgNINIrRANjhFi5LQ-a8VeIz2WEB0SKwdMtzz9Q7813ndXo7GOCP1pKIeZF5J-zUsadFrt_I_q_2ktQdwQQqCs7c28RwcVQl3KiWhv/s72-c/timthumb.php.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>CBSA: Cinta Bersemi Sesama Aktivis</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/10/cbsa-cinta-bersemi-sesama-aktivis.html</link><category>AKHLAQ</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Sun, 18 Oct 2009 05:35:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-7916137115334390529</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqBvp4lVrB9LLJn1msVQsDUhT9wDe1d88Zd5lhfmGnLsO6OEgqRpmv3AmBAKXZFBaRizAOKb-HhBkzMz4sF_hQsd-qPpS2D8GHYGzja_YAftbrFUG7VhOQJ55NyeQHahW2Ffz56WswJ3DF/s1600-h/timthumb.php.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 179px; height: 176px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqBvp4lVrB9LLJn1msVQsDUhT9wDe1d88Zd5lhfmGnLsO6OEgqRpmv3AmBAKXZFBaRizAOKb-HhBkzMz4sF_hQsd-qPpS2D8GHYGzja_YAftbrFUG7VhOQJ55NyeQHahW2Ffz56WswJ3DF/s400/timthumb.php.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393918218428784674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seorang akhwat tertunduk malu. Ia merenungi dirinya yang kini sedang merasakan hal yang tidak biasa di hatinya. Terutama bila ia mendengar namanya, atau teringat wajahnya, atau hanya sekadar terlintas tentang dirinya. Ia sebenarnya menduga-duga, apakah ini sebuah rasa yang selama ini ditolaknya? Selama ini memang ia dikenal makhluk tanpa cinta. Sikapnya keras, tegas dan tanpa ampun bila berhadapan dengan sosok bernama pria. Ia bahkan relatif 'bengis' bila harus membicarakan sosok berjenggot dan berkopiah itu. Baginya, pria hanya perlu dibicarakan bila nanti sudah akan menikah. Karena kini ia masih sendiri, maka tak perlu membahasnya terlalu dini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, tidak diduga, tidak pula dinyana. Perasaan itu menyerang tiba-tiba. Ia tidak mengundangnya, tapi seolah hatinya tidak bisa menolaknya. Semakin ia tolak, semakin gencar perasaan itu menyerang. Awalnya padahal hanya soal-soal sederhana. Soal dia yang selalu menghubungi dengan kata manis dan nasihat agamis. Soal dia yang selama ini selalu memberi komentar dalam setiap status facebooknya. Soal dia yang selalu bertanya kabar kepada temannya, saat si akhwat tidak hadir di rapat kerja. Pfffhh…awal-awal yang sederhana itu secara kompak dan meyakinkan telah membuat hatinya gundah gulana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cukup itu, wajah si pria yang selama ini ia hindari, ternyata justru nempel di hati tak mau pergi. Terbayang senyumnya, terbayang suara tawanya, dan mungkin terbayang cara dia bicara dan sikap biasanya itu. Semua bayangan itu menteror diri setiap hari, setiap jam dan setiap detik menghampiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala vitamin, suplemen hati dan beraneka cara antisipasi sudah dilakukan. Kajian, taklim, bedah buku, konsultasi sudah dilakukan. Tapi hasilnya nihil. Semua itu tidak mempan. Hanya karena dia pernah sekali memberi kesempatan. Hanya karena dia pernah sesekali memberinya peluang dan harapan. Namun ternyata tindakan yang sesekali itu berakibat fatal. Hatinya tertawan, pikirannya terbelenggu oleh makhluk berjenis kelamin ikhwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, kepada siapa kini mengadu. Saat hati bertalu-talu pilu. Konsentrasi buyar pecah mengambang. Pandangan kabur, tak setajam ingatan akan dia. Gundah, gelisah, dan resah dan takut. Takut kehilangan, takut ini sebuah kesalahan, tapi tak tahu harus bagaimana menyudahi segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sederhana saja, obat cinta adalah menghilangkan penyebabnya. Kalau penyebabnya si pria yang berwajah tak berdosa itu, maka dia harus dihilangkan dari dirinya. Dijauhkan bayangannya, dihindari pertemuan dengannya, dan dikurangi intensitas interaksi dengan si dia. Apakah itu saja cukup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa iya, bisa juga tidak. Kalau memang rasa itu baru sebatas simpatik dan naksir belaka, maka boleh jadi semua itu akan kembali normal. Apalagi bila kemudian kita tahu kelemahan dan kecatatan akhlaknya. Kita akan segera sadar bahwa cinta kita telah terbelah. Cinta Allah berkurang, dan beralih kepada si pria yang bercambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bila cinta itu sudah cinta sejati hingga ke dasar hati. Maka penyelesaiannya bisa sangat panjang. Obatnya bisa sangat mahal. Kalau tidak segera dinikahkan, maka akan menjadi penyesalan yang sangat berat di angan. Akan dibawa hingga ke kehidupan di masa depan. Meski tidak memiliki, namun bayangan dia akan selalu menghampiri. Nah, inilah yang selama ini kita khawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah CBSA, Cinta Bersemi Sesama Aktivis. Cinta yang selama ini mungkin sebaiknya tidak terjadi sporadis. Terjadi hanya karena kedekatan yang berlebihan, komunikasi yang terlalu sering, dan godaan-godaan yang melenakan. Seharusnya aktivis lebih giat bekerja untuk islam. Tetapi ternyata ujian lawan jenis sudah terbukti ampuh mengkandaskan niat mulia mereka. Fokus mereka berubah, dari umat menjadi akhwat. Dari masyarakat menjadi sebatas mencari pendamping dunia akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini hanya sekadar introspeksi untuk hati. Setelah sekian lama kita tidak menggubris soal hal ini. Sudah saatnya gerakan islam bangkit dari diri yang selalu berevaluasi. Mungkin pernah sekali, atau dua kali atau bahkan tiga kali kamu merasakan jenis cinta ini. Namun setelah membaca tulisan ini, plis...jangan dilanjutkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqBvp4lVrB9LLJn1msVQsDUhT9wDe1d88Zd5lhfmGnLsO6OEgqRpmv3AmBAKXZFBaRizAOKb-HhBkzMz4sF_hQsd-qPpS2D8GHYGzja_YAftbrFUG7VhOQJ55NyeQHahW2Ffz56WswJ3DF/s72-c/timthumb.php.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Hari Ginii Belum Berjilbab ???? Please Deh.....</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/10/hari-ginii-belum-berjilbab-please-deh.html</link><category>AKHLAQ</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Sun, 18 Oct 2009 05:28:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-3214792405167473975</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSNxTdpmcwVqu-_wpXzr8zEfkgHduPZOJiCRwEbvZ81FcwlXjB2Hw5ytcT_PnQzT67DK5elqux6twHFQVaEH3r1JLwnRueaNc_rW5KxBQlIQ4Ryj-3lO8BWParWZcAXm4HYG9TqGwbqE9O/s1600-h/n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 110px; height: 82px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSNxTdpmcwVqu-_wpXzr8zEfkgHduPZOJiCRwEbvZ81FcwlXjB2Hw5ytcT_PnQzT67DK5elqux6twHFQVaEH3r1JLwnRueaNc_rW5KxBQlIQ4Ryj-3lO8BWParWZcAXm4HYG9TqGwbqE9O/s320/n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393916697613005554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hai girls …, khususnya kamu-kamu yang belum nutup aurat, alias belum berjilbab . Sebenarnya apa siiih yang membuat kamu menunda hal mulia itu ? Alasannya apa ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku sich yakin bangeeet, perintah itu pasti banyak manfa’atnya buat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara lain ga’ diganggu, asal jilbab dan pakaiannya yang syar’i. Jangan mencolok warnanya, jangan ketat dan jangan tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why ? / Kenapa sich kita harus berjilbab  ?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Simple aja, karena yang kasih order/perintah ga’ tanggung-tanggung … sang Pencipta langsung. Maka sikap kita seharusnya kami dengar dan kami taat. Yakinlah karena Dia yang Mencipta, so, Dia tau pasti hal terbaik bagi makhluk ciptaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takut dikatakan ga’ modis ya ? atau ga’ gaul ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang …? Kamu kan tau, sekarang ini jilbab modis banyak sekaliii. Mau model apa saja, warna apa saja ada .Tinggal disesuaikan dengan sikon aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ga’ gaul, kata siapa dear ? Gaul tetap gaul-lah… malahan teman-teman jadi lebih simpati. Percaya deh …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragu-ragu ya, takut dikatakan sok alim ???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Take it easy girls, anggap aja itu sebagai ujian untuk kita. Namanya juga kebaikan, godaan dan cobaan insya Alloh ada. Anggap aja test case biar kita jadi lebih kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang namanya syaithon  itu, ga’ akan pernah ridho kita jadi baik. Dia sudah bersumpah, akan goda kita, dari depan-belakang, kanan-kiri. Mereka mencari teman ke neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau … jangan-jangan nich, takut sulit dapat jodoh ya ??? Please deh, tenang aza … perempuan baik-baik untuk laki-laki baik-baik. Insya Alloh, mekanismenya sudah Alloh atur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atauuu alasan klasik ya ? … belum siap ! Bagaimana atuh ?, kapan mau mulai ? Jangan nembak terus dong, tar – tar – tar . Untuk kebaikan apalagi perintah, bersegeralah . Jangan kasih kesempatan syaithon ngipas … kepada keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So … bismillah ya, Allahuma paksaken ! Jangan tunda-tunda lagi, mulai sekarang juga tutup aurat mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deal ??? Deal …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSNxTdpmcwVqu-_wpXzr8zEfkgHduPZOJiCRwEbvZ81FcwlXjB2Hw5ytcT_PnQzT67DK5elqux6twHFQVaEH3r1JLwnRueaNc_rW5KxBQlIQ4Ryj-3lO8BWParWZcAXm4HYG9TqGwbqE9O/s72-c/n.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Masjid Al-Ikhlash Tempoe Doloe</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/09/sebuah-perjalanan-yang-memakan-waktu.html</link><category>Galery Foto</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Thu, 10 Sep 2009 02:29:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-1285043370165829166</guid><description>Sebuah Perjalanan yang memakan waktu tidak sedikit Dalam Mendirikan Rumah Allah Swt di suatu daerah terpencil yakni Sedayulawas - Brondong - Lamongan ,Dari penggalangan dana masyarakat sekitar dan Donatur dari luar daerah yang alhamdulillah sekarang sudah mencakup 80% dari pembangunan total dengan daya tampung Ratusan orang untuk malakukan sholat rawatib berjamaah dan tempat kajian rutin baik mingguan maupun bulanan yang di ikitui masyarakat serta simpatisan dari ponpes Al-Ikhlash sera Alhamdulillah untuk lantai dua digunakan sudah bisa digunakan untuk kegiatan santriwati dalam mencari ilmu dienul Islam &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="visibility:visible;width:500px;margin:auto"&gt;&lt;embed src="http://flash.picturetrail.com/pflicks/3/spflick.swf" quality="high" FlashVars="ql=2&amp;src1=http://pic80.picturetrail.com/VOL2045/12650194/flicks/1/7550236" wmode="transparent" bgcolor="#000000" width="500" height="410" name="spiral" align="middle" allowScriptAccess="sameDomain" style="height:410px;width:500px" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="whitespace:no-wrap;margin-top:10px;height:24px;width:500px"&gt;&lt;a href="http://www.picturetrail.com/misc/counter.fcgi?link=%2FphotoFlick%2Fsamples%2Fpflicks%3Dshtml&amp;cID=924"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk merampungkan proses pembangunan kami selaku panitia pembangunan Masjid al-Ikhlash mengajak para dermawan untuk menyisihkan sebagian hartanya guna melanjutkan sisa-sisa pembangunan yang belum terlealisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Masalah Penting Seputar Puasa</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/08/masalah-penting-seputar-puasa.html</link><category>FATWA-FATWA TENTANG PUASA</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Thu, 20 Aug 2009 23:51:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-5161497184718775734</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMUUSmvyfEIJSFyqkTYHP0Sq06d-DKO1Dwo6AWY1ctOONa-VwHpBChdbqKqwvZh61Ma5YiiZeQkFz13OZgDZx1kFdEi_H0d2jRj5KGPASspUUixJ9JhEsW2UFMgRLBOVR1gsMTfbjYEF8r/s1600-h/rambu-puasa.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 376px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMUUSmvyfEIJSFyqkTYHP0Sq06d-DKO1Dwo6AWY1ctOONa-VwHpBChdbqKqwvZh61Ma5YiiZeQkFz13OZgDZx1kFdEi_H0d2jRj5KGPASspUUixJ9JhEsW2UFMgRLBOVR1gsMTfbjYEF8r/s400/rambu-puasa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372306618779916530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Rukun-Rukun Puasa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rukun-rukun puasa adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Niat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu kemantapan hati untuk melakukan puasa sebagai bentuk ketaatan atas perintah Allah subhanahu wata’ala atau untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallahu ‘alaihi wasallam,"Seluruh amal perbuatan itu tergantung pada niatnya." (HR. al-Bukhari). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika puasa yang akan dikerjakan adalah puasa wajib, maka niatnya harus dilakukan pada malam hari sebelum fajar, berdasarkan sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam,"Orang yang tidak berniat puasa sejak malam harinya, maka tidak ada puasa baginya." (HR. at-Tirmidzi dan an-Nasa'i, redaksi ini ada dalam riwayat an-Nasa'i). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika puasa yang akan dilakukan adalah puasa sunnah, maka puasanya sah walaupun niatnya dilakukan setelah terbitnya fajar dan matahari telah tinggi, dengan syarat ia belum makan sesuatu apa pun. Ini berdasarkan pernyataan Aisyah radhiyallahu ‘anha, "Pada suatu hari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam rumahku, kemudian bertanya, "Apakah engkau mempunyai makanan?" Aku menjawab, "Tidak." Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Kalau begitu aku akan berpuasa." (HR. Muslim) &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Imsak &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa seperti makan, minum, hubungan suami istri dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Waktu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksudkan di sini adalah siang hari sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Jika seseorang berpuasa pada malam hari dan berbuka pada siang hari, maka puasanya tidak sah, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya,“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (QS. Al-Baqarah:187) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunnah-Sunnah Puasa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Ta'jil (Menyegerakan Berbuka Puasa) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu segera berbuka puasa apabila waktu berbuka telah tiba, pada saat matahari benar-benar telah terbenam, sebagaimana sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam,"Manusia masih dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa." (Muttafaq ‘alaih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu juga berkata, "Sesungguhnya Nabi shallahu ‘alaihi wasallam tidak mengerjakan shalat Maghrib sampai berbuka puasa walaupun hanya dengan seteguk air." (HR. Ath-Thabrani dalam al-Ausath 8/335) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berbuka dengan Kurma atau Air &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terbaik adalah dengan kurma matang, boleh juga jenis yang lain dan terakhir adalah dengan air jika tidak ada kurma. Disunnahkan pula agar memakannya dalam jumlah yang ganjil: tiga, lima, atau tujuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, "Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam berbuka dengan beberapa kurma yang telah matang sebelum mengerjakan shalat Maghrib. Jika tidak ada kurma matang maka dengan kurma kering, jika tidak ada maka beliau meminum beberapa tegukan air." (HR. At-Tirmidzi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berdoa ketika Berbuka Puasa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sahur &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu makan dan minum pada saat sahur, di akhir malam dengan niat berpuasa sebagaimana sabda Nabi shallahu ‘alaihi wasallam,"Sesungguhnya pembeda antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur." (HR. Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga sabda Nabi shallahu ‘alaihi wasallam,"Sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat barakah." (Muttafaq alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mengakhirkan Sahur &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni sampai pada bagian akhir malam hari, sebagaimana sabda Nabi shallahu ‘alaihi wasallam,"Ummatku masih dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur. " (HR. Ahmad, hadits shahih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu sahur dimulai sejak pertengahan malam yang akhir dan berakhir beberapa saat sebelum fajar tiba. Ketentuan ini berdasarkan peryataan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, "Kami melaksanakan sahur bersama Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau berdiri untuk shalat. Aku bertanya, "Berapa jarak antara waktu adzan dengan sahur?" Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Sekitar lima puluh ayat." (Muttafaq 'alaih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Orang yang merasa ragu-ragu mengenai terbitnya fajar, maka ia boleh makan sampai merasa yakin bahwa fajar telah terbit, kemudian berhenti dari makan dan minum sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya,"Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar." (QS. Al-Baqarah:187) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang berkata kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, "Aku sedang sahur tetapi tiba-tiba aku merasa ragu-ragu sehingga aku berhenti sahur. Ibnu Abbas zberkata kepadanya, "Makanlah selama kamu merasa ragu-ragu sampai kamu tidak merasa ragu-ragu lagi (yakin)." (HR. Ibnu Abi Syaibah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-Hal yang Makruh dalam Puasa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berlebih-lebihan dalam berkumur dan membersihkan hidung dengan cara menghirup air (istinsyaq) dan mengeluarkannya kembali (istinsyar) ketika berwudhu, berdasarkan sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam, &lt;br /&gt;"Dan bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air dengan hidung kecuali jika engkau sedang berpuasa." (HR. Para penyusun kitab Sunan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam membenci hal itu karena khawatir apabila air tersebut masuk ke dalam rongga tubuhnya sehingga merusak puasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ciuman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ciuman kadang-kadang dapat membangkitkan syahwat yang memungkinkan merambat sampai merusak puasa, baik itu dengan keluarnya air madzi, mani, bahkan hubungan suami istri yang mengharus kan untuk membayar kafarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berlama-lama Memandang Istri &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang suami makruh hukumnya terus-menerus memadang istri dengan syahwat ketika dia dalam keadaan berpuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menghayalkan hubungan suami istri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menyentuh Wanita &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni menyentuhnya dengan tangan atau menempelkan tubuhnya pada tubuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mengunyah Sirih &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengunyah daun sirih dikhawatirkan beberapa bagiannya akan masuk ke dalam tenggorokan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Mencicipi makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Berkumur-kumur bukan untuk wudhu atau keperluan yang mengharuskannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Bercelak pada permulaan siang, tetapi jika dilakukan pada akhir siang maka hal itu boleh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Berbekam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berpuasa sebaiknya tidak berbekam atau mengeluarkan darah (seperti donor dan semisalnya, red) pada siang hari, karena dikhawatirkan akan melemahkan tubuh yang menyebabkan harus membatal kan puasa, karena dalam hal tersebut ada perkara yang dapat menjurus kepada batalnya puasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara-perkara yang Dimaafkan dalam Puasa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara perkara-perkara yang dimaafkan apabila dilakukan oleh seseorang yang sedang berpuasa adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menelan ludah walaupun dalam jumlah banyak. Yang dimaksudkan adalah ludahnya sendiri bukan ludah orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Terpaksa muntah dan mengeluar kan cairan dari perut, jika tidak ada lagi yang masuk atau tertelan lagi ke dalam perut setelah keluar dari mulutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menelan lalat, nyamuk (serangga) karena tanpa disengaja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menghirup debu jalanan, asap pabrik, asap kayu bakar dan asap-asap lainnya yang tidak dapat dihindari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bangun pagi dalam keadaan junub. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mimpi basah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada akibat apa pun bagi orang yang berpuasa jika ia mengalami mimpi basah dan hal itu tidak menyebabkan puasanya batal. Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;“Hukum tidak dapat diberlakukan atas tiga orang, yaitu; Orang gila sampai ia sadar; Orang tidur sampai ia bangun; Dan anak kecil sampai ia baligh.” (HR Ahmad dan Abu Dawud) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Makan dan minum tanpa disengaja atau karena lupa. Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;“Orang yang lupa sedangkan dia sedang berpuasa, kemudian ia makan atau minum maka ia harus menyempurnakan puasanya, sesungguhnya Allah yang memberikan makan dan minum kepadanya.” (Muttafaq alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Kitab, “Minhajul Muslim” edisi terjemah, Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, halamah 465-469 dan 472-473. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMUUSmvyfEIJSFyqkTYHP0Sq06d-DKO1Dwo6AWY1ctOONa-VwHpBChdbqKqwvZh61Ma5YiiZeQkFz13OZgDZx1kFdEi_H0d2jRj5KGPASspUUixJ9JhEsW2UFMgRLBOVR1gsMTfbjYEF8r/s72-c/rambu-puasa.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Adab dan Faidah Puasa</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/08/adab-dan-faidah-puasa.html</link><category>FATWA-FATWA TENTANG PUASA</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Thu, 20 Aug 2009 23:44:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-8093782099677228881</guid><description>Adab Berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa memiliki adab-adab yang yang harus ditunaikan oleh siapa saja yang sedang menjalankannya. Di antara adab berpuasa sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menahan Pandangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu menahan mata dari melihat hal-hal yang diharamkan, melihat aurat, dan wanita yang bukan mahramnya. Karena wanita itu adalah aurat dan dapat mendatangkan fitnah. Allah subhanahu wata’ala telah berfirman, artinya,&lt;br /&gt;“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (QS. 24:30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lainnya Allah subhanahu wata’ala juga berfirman, artinya,&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya.” (QS. 17:36) &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Menjaga Pendengaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu menjaganya dari segala hal yang diharamkan atau yang dibenci, karena manusia akan ditanya tentang pendengarannya, sebagaimana pula ditanya tentang penglihatannya seperti yang telah disebutkan di dalam ayat di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang mengucapakan ucapan buruk atau ucapan batil dan orang yang mendengarkannya, maka kedua-duanya telah berserikat di dalam perbuatan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menjaga Lisan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Yaitu memeliharanya dari segala ucapan yang buruk dan keji, dari memfitnah dan sebagainya. Maka wajib bagi seorang yang berpuasa untuk meninggalkan ucapan dusta, ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), bertengkar, mencaci maki dan mencela orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hendaknya dia memilih diam atau menyibukkan diri dengan sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala, seperti membaca al-Qur'an, berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala, berdoa, beristighfar, dan amar ma'ruf nahi munkar. Karena setiap yang diucapkan oleh manusia akan menjadi bumerang baginya kecuali dzikrullah dan segala bentuk ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menjaga Perut &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya adalah jangan sampai memasukkan sesuatu yang haram ke dalam perut, baik berupa makanan atau minuman. Di dalam hadist disebutkan,&lt;br /&gt;"Tidak masuk surga daging yang tumbuh dari suht (penghasilan haram)." (HR. Ibnu Hibban)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim berpuasa menahan diri dari yang halal, maka selayaknya dia pun menahan diri dari yang haram yang dapat mencelakakan nya. Seorang muslim jangan sampai menipu di dalam bermua'amalah, atau menjual dagangannya dengan sumpah palsu. Demikian pula hendaknya dia jangan mengambil penghasilan dari segala yang berbau riba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menjaga Kemaluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;"Siapa yang dapat menjamin untukku apa yang ada di antara dua janggutnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku menjamin untuknya surga." (HR. Al-Bukhari) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;6. Menjaga Tangan dan Kaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu jangan sampai tangan tersebut melakukan sesuatu yang haram (seperti memukul orang dsb), dan kaki jangan sampai melangkah menuju yang haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh adab-adab yang tersebut di atas hendaknya senantiasa dijaga oleh setiap muslim kapan saja, bukan hanya ketika berpuasa. Adapun dalam puasa, maka hal itu sangat ditekankan karena dapat merusak dan melenyap kan pahala orang yang berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seseorang dapat menjaga diri dari segala yang diharamkan, baik pendengaran, penglihatan, makanan, minuman, langkah kaki dan gerakan tangan, maka diharapkan dia akan menggapai ampunan Allah subhanahu wata’ala dan kebebasan dari api neraka, dan tentunya dia akan mampu meninggal kan itu semua di luar bulan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAIDAH BERPUASA &lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdH8qiIxFmHkoscNZq8x5mb5CdasNs6uL3FsO54fJu8keDMZrW8afNr843ivsaVX1Wo6wdFf22fQ7HXUEjWuS46OPPxyPM_qvYF7qshO8xtOxhnyUsCgs5kgjZgRuO2Iil4fyXW3dTbwUK/s1600-h/ramadhan.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 283px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdH8qiIxFmHkoscNZq8x5mb5CdasNs6uL3FsO54fJu8keDMZrW8afNr843ivsaVX1Wo6wdFf22fQ7HXUEjWuS46OPPxyPM_qvYF7qshO8xtOxhnyUsCgs5kgjZgRuO2Iil4fyXW3dTbwUK/s400/ramadhan.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372305334122838018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Sarana Menuju Takwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang- orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. 2:183)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata’ala menyebutkan bahwa puasa memberikan faidah yang sangat besar dan banyak yang terkandung di dalamnya, yakni "agar kalian bertakwa." Maksudnya ialah agar puasa tersebut menjadi sarana bagi kalian untuk menggapai ketakwaan dan agar kamu menjadi orang yang bertakwa dengan melaksanakan puasa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua dikarenakan takwa adalah merupakan segala bentuk perbuatan yang diridhai dan dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, serta meninggalkan segala yang yang dibenci Allah subhanahu wata’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka puasa merupakan jalan terbesar untuk mencapai tujuan tersebut yang dapat mengantarkan seorang hamba kepada kebahagiaan dan kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menambah Keimanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan puasa iman akan bertambah, dan seseorang akan melatih dirinya untuk menahan diri dari segala yang mendorongnya kepada keburukan berupa hawa nafsu dan syahwat yang merugikan. Dan puasa akan membantu kita untuk memperbanyak ibadah, seperti shalat, bacaan al-Qur'an, dzikir, shadaqah, dan lain sebagainya. Juga mengekang hawa nafsu agar tidak terjerumus ke dalam ucapan dan perbuatan yang haram, dan ini semua merupakan pondasi utama ketakwaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengenal Nikmat Allah subhanahu wata’ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan puasa seorang hamba akan lebih mengenal nikmat Allah subhanahu wata’ala yang telah diberikan kepadanya berupa makan, minum, pernikahan dan seterusnya. Dengan menahan rasa lapar dan haus di satu waktu (siang) lalu ia mendapatkan obatnya di waktu lain (malam), akan terasalah betapa besar nikmat Allah subhanahu wata’ala yang telah diberikan kepadanya. Dan terasa pula bagaimana penderitaan saudaranya yang hampir setiap hari tidak mendapatkan makanan untuk mengisi perutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Melatih Kesabaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berpuasa seorang hamba akan menjadi lebih sabar dan tabah di dalam menjalankan ketaatan, menjauhi kemaksiatan dan menghadapi ketentuan dari Allah subhanahu wata’ala, seperti rasa lapar dan haus yang tentunya menyakit kan bagi hawa nafsu manakala dibiarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan puasa pula akan lahir rasa syukur kepada Allah subhanahu wata’ala atas segala nikmat dan kecukupan dan lebih-lebih nikmat terbesar yaitu taufiq untuk dapat menjalankan puasa. Karena nikmat diniyah (religi) lebih utama daripada nikmat keduniaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitahukan bahwa puasa merupakan salah satu rukun Islam yang lima, dia menghapuskan dosa yang telah lalu, Allah subhanahu wata’ala mencintai dan meridhai orang yang berpuasa, dan memberikan kepadanya pahala yang besar. Dan bahwa orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal maka seakan-akan dia berpuasa satu tahun. Demikian pula bagi yang berpuasa tiga hari dalam sebulan, karena kebaikan itu akan dilipat gandakan sepuluh kali lipat. Itu semua merupakan keutamaan dan kenikmatan dari Allah subhanahu wata’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga merupakan salah satu kemudahan yang diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala adalah bahwa Dia mensyari'atkan puasa wajib dalam waktu dan bulan yang bersamaan yakni Ramadhan. Hal ini dimaksudkan agar seluruh kaum muslimin melakukan puasa dalam waktu yang bersamaan, sehingga akan menciptakan suasana yang kondusif dan membantu terlaksananya ibadah tersebut dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ikut serta dalam menjalankan ibadah puasa akan memberikan manfaat yang sangat besar dan faidah yang sangat banyak. Sesungguhnya di balik syariat puasa ini terdapat rahasia dan hikmah yang tidak terhingga. Termasuk ditinjau dari sisi kesehatan telah dinyatakan oleh para dokter bahwa puasa itu dapat menjaga kesehatan, menghilangkan sisa-sisa zat dalam tubuh yang berbahaya, menguatkan serta memperbaiki metabolisme dan fungsi organ tubuh. Maka kita katakan bahwa puasa itu mencakup segala kebaikan dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdH8qiIxFmHkoscNZq8x5mb5CdasNs6uL3FsO54fJu8keDMZrW8afNr843ivsaVX1Wo6wdFf22fQ7HXUEjWuS46OPPxyPM_qvYF7qshO8xtOxhnyUsCgs5kgjZgRuO2Iil4fyXW3dTbwUK/s72-c/ramadhan.gif" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Meraih Kesempurnaan Ramadhan</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/08/meraih-kesempurnaan-ramadhan.html</link><category>FATWA-FATWA TENTANG PUASA</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Thu, 20 Aug 2009 23:42:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-8935325845798930908</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5HRIlH1YEdJTtBRUVfX8BG46xSa4RY2JI56-361bXajehshSeb4nwPc_2bPp16c1IItQUU8Ic02UVbJhPljzlu3wriJgNL5ggbA-dFDiLcURulc7DaEuwDE-obvBFocTyHTY4VOPyBrSC/s1600-h/ramadhan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5HRIlH1YEdJTtBRUVfX8BG46xSa4RY2JI56-361bXajehshSeb4nwPc_2bPp16c1IItQUU8Ic02UVbJhPljzlu3wriJgNL5ggbA-dFDiLcURulc7DaEuwDE-obvBFocTyHTY4VOPyBrSC/s320/ramadhan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372303982626140162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk menutup bulan Ramadhan Allah subhanahu wata’ala mensyari'atkan berbagai ibadah yang akan memperbanyak catatan amal kebaikan, menguatkan iman, dan menambah kedekatan dengan Allah subhanahu wata’ala. Di antara amalan yang disyari'atkan selepas Ramadhan yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayar Zakat Fithri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat fithri ( sering disebut zakat fithrah, red) diwajibkan kepada setiap muslim, baik orang tua, anak-anak, pria, wanita, orang merdeka ataupun budak. Orang yang tidak memiliki kelebihan harta untuk menafkahi kebutuhannya dari pagi hingga malam hari raya tidak terkena kewajiban untuk mengeluar kan zakat fithri. Jika dia mempunyai kelebihan kurang dari satu sha' maka ia tetap mengeluarkannya sesuai dengan kemampuannya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mengenai hikmahnya, maka sangat jelas. Ia merupakan bentuk perbuatan baik (ihsan) kepada fakir miskin, sekaligus mencegah mereka dari meminta-minta di hari raya dan agar mereka bergembira bersama-sama dengan orang kaya, sehingga kebahagiaan di hari raya dirasakan oleh semua kalangan. Hikmah lainnya yaitu, ia akan dapat menumbuhkan sifat kedermawanan dan kasih sayang sekaligus menyucikan orang yang berpuasa dari dosa, kekurangan dan kesia-siaan. Ia juga merupakan ungkapan rasa syukur atas nikmat Allah subhanahu wata’ala, berupa kesempurnaan pelaksanaan ibadah puasa di bulan Ramadhan, menghidupkannya dengan shalat dan kemudahan untuk melakukan amal-amal shalih lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian, bejana, perabot rumah tangga dan benda-benda lainnya selain makanan pokok tidak dapat digunakan untuk membayar zakat fithri. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mensyari'atkan pembayaran zakat fithrah dengan makanan, dan ketentuan Nabi ini tidak boleh untuk dilanggar. Juga tidak boleh untuk mengganti makanan dengan uang seharga makanan, karena ini menyelisihi petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan amalan para shahabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takaran zakat fithri adalah satu sha' nabawi, beratnya mencapai 480 mitsqal, atau 2,04 kg dari gandum (beras) yang berkualitas baik. Seseorang terkena kewajiban membayar zakat fithri adalah mulai terbenamnya matahari di malam hari raya. Jika seseorang meninggal dunia beberapa saat sebelum terbenam matahari, maka dia tidak terkena kewajiban membayar zakat fithri. Sebaliknya jika meninggal setelah terbenam matahari, maka dia terkena kewajiban, meskipun meninggalnya hanya dalam hitungan menit dari tenggelamnya matahari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pembayaran zakat fithri yang paling utama adalah ketika Shubuh hari raya sebelum dilaksana kannya shalat Ied. Dibolehkan juga satu atau dua hari sebelum malam hari raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertakbir &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila bilangan bulan Ramadhan telah sempurna maka Allah subhanahu wata’ala mensyari'atkan kepada hamba-Nya untuk bertakbir, dimulai dari terbenamnya matahari malam hari raya sampai didirikannya shalat Ied. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, &lt;br /&gt;“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. 2:185) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shigat (redaksi) bacaan takbir adalah, "Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallahu wallahu akbar, Allahu akbar walillahilhamdu." Disunnahkan bagi kaum pria untuk mengeraskan takbir tersebut baik di dalam masjid, di pasar, ataupun di rumah-rumah dalam rangka mengumandangkan keagungan Allah subhanahu wata’ala serta menampak kan ibadah dan rasa syukur kepada-Nya. Adapun wanita maka cukup mengucapkannya dengan pelan, karena mereka diperintahkan untuk menutup diri dan menjaga suaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indahnya keadaan manusia ketika di setiap tempat mereka bertakbir kepada Allah subhanahu wata’ala dalam rangka mengagungkan dan memuliakan-Nya pada saat mereka mengakhiri bulan puasa. Mereka memenuhi seluruh ufuk dengan suara takbir, tahmid dan tahlil karena mangharap rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat Hari Raya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata’ala juga mensyari'atkan shalat Ied pada hari raya sebagai kesempurnaan dzikir kepada-Nya. Hal ini juga diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ummat ini, baik laki-laki ataupun perempuan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para wanita untuk keluar melaksanakan shalat Ied, padahal untuk selain shalat Ied mereka lebih baik tetap berada di rumah. Ini merupakan dalil atas ditekankannya shalat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Athiyah radhiyallahu ‘anha berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk membawa keluar wanita-wanita merdeka, wanita-wanita haidh dan wanita-wanita yang sedang dipingit ketika Iedul Fithri dan Iedul Adha. Wanita-wanita yang sedang haidh ditempatkan secara terpisah dari tempat shalat, namun mereka menyaksikan kebaikan dan seruan kaum muslimin. Aku berkata kepada beliau, "Ya Rasulullah, ada di antara kami yang tidak memiliki jilbab. Beliau bersabda, "Hendaklah saudarinya memberikan jilbabnya kepadanya." (Muttafaq 'alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disunnahkan untuk memakan kurma dengan jumlah ganjil; Tiga, lima, tujuh atau lebih dari itu, sebelum keluar melaksanakan shalat Ied. Berdasarkan kepada hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, " Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak keluar untuk melaksanakan shalat Ied (Iedul Fithri) sebelum memakan kurma. Dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil.” (HR. Ahmad dan Al-Bukhari) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disunnahkan pula untuk keluar dengan berjalan kaki, tidak berkendaraan, kecuali jika ada udzur, seperti tidak mampu untuk berjalan atau jaraknya cukup jauh. Hal ini berdasarkan perkataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, "Termasuk sunnah adalah engkau keluar menuju shalat ied dengan berjalan kaki." (HR. at-Tirmidzi, dan berkata hadits hasan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kaum laki-laki disunnahkan untuk berhias dan memakai pakaian yang paling bagus, namun tidak boleh memakai emas dan baju dari sutera karena itu haram bagi mereka. Adapun wanita, maka boleh baginya berhias menuju shalat Ied namun tetap tidak boleh bertabarruj (membuka aurat), memakai minyak wangi dan membuka kerudungnya. Sebab mereka tetap terkena perintah untuk senantiasa melaksanakan ha-hal tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kita semua melaksana kan shalat Ied dengan khusyu' dan hati yang tunduk, serta memperbanyak dzikir dan do’a dengan mengharap rahmat-Nya dan takut adzab-Nya. Momen berkumpulnya manusia pada saat Ied tersebut akan mengingatkan kita bahwa manusia kelak akan berkumpul kembali pada suatu tempat yang agung (Mahsyar) di hadapan Allah subhanahu wata’ala yang Maha Mulia lagi Maha Perkasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari itu setiap mukmin menampakkan kegembiraanya atas nikmat yang telah Allah subhanahu wata’ala berikan kepadanya berupa perjumpaan dengan bulan Ramadhan serta beramal di dalamnya, baik itu berupa shalat, puasa, membaca al-Qur'an, sedekah dan amalan-amalan lainnya. Semua itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, &lt;br /&gt;Katakanlah, "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". (QS.Yunus:58) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya puasa Ramadhan di siang hari dan shalat di malam harinya dengan penuh iman dan pengharapan merupakan sebab terampuninya dosa. Seorang mukmin tentu akan bergembira ketika selesai dari melaksanakan puasa dan shalat karena keduanya merupakan sebab terlepas dari dosa. Adapun orang yang lemah imannya dia akan bergembira dengan selesainya puasa, karena ia sebenarnya merasa berat dan enggan untuk melaksanakannya, dan dadanya terasa sempit dalam menjalankan puasa tersebut. Kedua golongan orang ini sama-sama bergembira, namun perbedaan antara dua kegembiraan ini sangatlah besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, bulan Ramadhan telah usai namun amal seorang mukmin tidak akan pernah berhenti dan selesai, sebelum maut datang menjemput. Meskipun bulan Ramadhan telah pergi namun itu tidak berarti bahwa seorang mukmin harus terputus dari ibadah puasa, karena puasa tetap disyari'atkan dalam bulan-bulan lainnya meskipun di luar bulan Ramadhan. Di antara puasa tersebut adalah puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal, puasa tiga hari setiap bulan hijriyah (ayyamul bidh tanggal 13,14,15) setiap bulan, puasa Arafah (9 Dzulhijjah), puasa Asyura', puasa Senin dan Kamis, puasa di bulan Sya'ban, puasa sepuluh hari awal Dzulhijjah, dan juga yang sangat utama yaitu puasa Dawud. Demikian pula meskipun shalat tarawih telah usai namun di luar Ramadhan masih banyak shalat-shalat sunnah dan nawafil yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadur dan diringkas dari buku “Majlis Ramadhan” Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5HRIlH1YEdJTtBRUVfX8BG46xSa4RY2JI56-361bXajehshSeb4nwPc_2bPp16c1IItQUU8Ic02UVbJhPljzlu3wriJgNL5ggbA-dFDiLcURulc7DaEuwDE-obvBFocTyHTY4VOPyBrSC/s72-c/ramadhan.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puasa Sunnah dan Manfaatnya</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/08/puasa-sunnah-dan-manfaatnya.html</link><category>FATWA-FATWA TENTANG PUASA</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Thu, 20 Aug 2009 23:36:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-5857620562928130021</guid><description>Setiap kewajiban memiliki nafilah (sunnah) yang dapat mempertahankan keberadaan kewajiban tersebut serta menyempurnakan kekurangannya. Shalat lima waktu misalnya, memiliki shalat-shalat sunnah baik sebelum atau sesudahnya. Demikian juga dengan zakat, yang memiliki shadaqah sunnah. Haji dan umrah merupakan hal yang wajib dikerjakan sekali seumur hidup, sedangkan selebihnya adalah sunnah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa pun demikian, puasa wajib dikerjakan pada bulan Ramadhan sedangkan puasa yang sunnah banyak sekali, di antaranya: Puasa sunnah yang tidak pasti, seperti puasa bagi orang yang belum mampu menikah. Ada pula puasa sunnah yang ditentukan misalnya puasa enam hari di bulan Syawwal. Keutamaan puasa ini adalah bahwa siapa yang mengerjakan nya setelah puasa Ramadhan, maka seakan-akan dia telah berpuasa sepanjang tahun. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hal ini berdasarkan pada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersumber dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;"Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal maka ia seperti berpuasa ad-dahar (sepanjang tahun)." (HR. Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain puasa enam hari bulan Syawwal, masih ada puasa-puasa sunnah yang lainnya, di antaranya adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Tiga Hari Setiap Bulan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;"Tiga hari dalam setiap bulan (hijriyah), serta dari Ramadhan ke Ramadhan, semua itu seolah-olah menjadikan pelakunya berpuasa setahun penuh." (HR. Ahmad dan Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa kekasihnya (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) telah mewasiatkan tiga perkara kepadanya, di antaranya adalah puasa selama tiga hari dalam setiap bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling utama, puasa tiga hari tersebut dilakukan pada ayyamul bidh (hari-hari putih/terang, yakni malam-malam purnama) pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulannya. Dasarnya adalah hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;"Wahai Abu Dzar, jika engkau berpuasa tiga hari pada setiap bulan, maka berpuasalah pada tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas." (HR. Ahmad dan an-Nasa'i di dalam as-Sunan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa 'Arafah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa Arafah, beliau menjawab, "Dia (puasa Arafah) menghapuskan dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula disunnahkan berpuasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Asyura' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang puasa Asyura' (puasa tangggal 10 Muharram), maka beliau menjawab, "Dia menghapuskan dosa tahun yang lalu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula secara umum puasa di bulan Muharrram, sebagaimana terdapat di dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan, maka beliau menjawab, &lt;br /&gt;"Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah al-Muharram." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Bulan Sya'ban &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai puasa bulan Sya'ban ini, telah disebutkan di dalam ash-Shahihain dari Aisyah xberkata, "Aku tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa selama sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa seperti yang dilakukannya pada bulan Sya'ban." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam riwayat yang lain, "Beliau banyak berpuasa pada bulan itu, kecuali hanya sedikit hari-hari (beliau berbuka) di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Senin Kamis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari Senin maka beliau bersabda, &lt;br /&gt;"Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus sebagai Nabi, atau hari diturunkannya al-Qur'an kepadaku." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam riwayat yang bersumber dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata, "Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menjaga puasa Senin dan Kamis. (HR. Lima Imam ahli hadits, kecuali Abu Dawud). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;"Amal-amal itu diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku senang jika amalku ditampakkan pada saat aku sedang berpuasa." (HR at-Tirmidzi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Nabi Dawud &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang puasa Nabi Dawud ini terdapat dalam riwayat al-Bukhari bahwa Abdullah Ibnu Amr radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, "Demi Allah aku akan berpuasa pada siang hari dan bangun pada malam hari terus menerus selama hidupku." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hal itu disampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka beliau bersabda, &lt;br /&gt;"Sesungguhnya engkau tidak akan mampu melakukan hal tersebut, karena itu berpuasa dan berbukalah, bangun dan tidurlah, berpuasalah engkau tiga hari dalam setiap bulannya, karena satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat, dan itu seperti puasa ad-Dahr (sepanjang tahun). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala mendengar jawaban dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini Abdullah Ibnu Amr radhiyallahu ‘anhu berkata, "Sesungguhnya aka mampu melakukan yang lebih baik daripada itu. Maka beliau bersabda, "Berpuasalah satu hari dan berbukalah (tidak berpuasa) dua hari." Abdullah Ibnu Amr radhiyallahu ‘anhu menjawab, "Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih baik daripada itu." Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda, "Berpuasalah satu hari dan berbukalah satu hari, yang demikian itu adalah puasa Dawud, puasa tersebut adalah puasa yang paling baik." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu berkata, "Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih baik daripada itu." Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tidak ada yang lebih baik daripada puasa tersebut." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGARUH PUASA SUNNAH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Puasa sunnah dapat dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Rabb-Nya, karena membiasakan diri berpuasa di luar puasa Ramadhan merupakan tanda diterimanya amal perbuatan, insya Allah. Hal ini karena Allah subhanahu wata’ala jika menerima amal seorang muslim maka dia akan memberikan petunjuk kepadanya untuk mengerjakan amal shalih setelahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Puasa Ramadhan yang dikerjakan seorang muslim untuk Rabbnya dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala, akan menyebabkan seorang muslim mendapatkan ampunan atas dosa-dosa sebelumnya. Orang yang yang berpuasa akan mendapatkan pahala pada hari Idul Fithri, karena hari itu merupakan hari penerimaan pahala. Maka puasa setelah berlalunya Ramadhan merupakan bentuk rasa syukur terhadap nikmat ini, bagi hubungan seorang muslim dengan Rabbnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Puasa sunnah merupakan janji seorang muslim untuk Rabbnya bahwa ketaatan itu akan terus berlangsung dan tidak hanya pada bulan Ramadhan saja, bahwa kehidupan ini secara keseluruhannya adalah ibadah. Dengan demikian puasa itu tidak berakhir dengan berakhirnya bulan Ramadhan, tetapi puasa itu terus disyari'atkan sepanjang tahun. Maha benar Allah subhanahu wata’ala yang telah berfirman, &lt;br /&gt;“Katakanlah, "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (QS. 6:162) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Puasa sunnah menjadi sebab timbulnya kecintaan Allah subhanahu wata’ala kepada hamba-Nya serta sebab terkabulnya doa, terhapusnya kesalahan-kesalahan, berlipatgandanya kebaikan kebaikan, tingginya derajat serta sebab keberuntungan mendapatkan surga yang penuh dengan kenikmatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Makruh &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara puasa-puasa yang dimakruhkan adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Arafah bagi orang yang menunaikan ibadah haji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa hari Jum’at saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa hari Sabtu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa hari terakhir dari bulan Sya’ban, kecuali jika bertepatan dengan puasa yang telah bisa dilakukan seperti puasa Senin Kamis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa ad-Dahr, jika berbuka pada hari-hari yang diharamkan berpuasa. Jika tetap berpuassa maka hukumnya adalah haram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Yang Diharamkan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara puasa yang dilarang adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa dua hari raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa hari-hari tasyriq &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa saat haid dan nifas bagi wanita &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa sunnah bagi wanita jika suami melarangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa orang sakit yang jika berpuasa membahayakan dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Persiapan Menuju Akhirat</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/08/persiapan-menuju-akhirat.html</link><category>NASEHAT-NASEHAT</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Thu, 20 Aug 2009 23:27:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-8009644945245649306</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizuFHCg9htb9ZYUTs7rBgwpfUjLXI_RP2mLDQhBTvZj5FhPRMopV4Z3GLegt4w1gUbBOA1Jcc_raEBvrA2kL-F1mwoiiKh3Ip3CvetB2bHmPIWjScGgI2fRH8U8cU0z5pwsUtsC_RNTaIm/s1600-h/css5stepstitle.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizuFHCg9htb9ZYUTs7rBgwpfUjLXI_RP2mLDQhBTvZj5FhPRMopV4Z3GLegt4w1gUbBOA1Jcc_raEBvrA2kL-F1mwoiiKh3Ip3CvetB2bHmPIWjScGgI2fRH8U8cU0z5pwsUtsC_RNTaIm/s400/css5stepstitle.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372301442815112066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, berikut ini merupakan bekal bagi kita untuk menuju alam akhirat. Dengan bekal ini diharapkan perjalanan panjang yang akan kita lalui menjadi mudah. Dan semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkan kita semua dalam melewati alam barzakh, makhsyar, hisab, mizan, dan sirath. Bekal-bekal tersebut di antaranya adalah: &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Keimanan kepada Allah subhanahu wata’ala, malaikat, kitab-kitab, para Rasul-Nya dan hari Akhir serta Qadar baik dan buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjaga shalat fardhu lima waktu di masjid dengan mengerjakannya secara berjama'ah pada waktunya, dengan penuh kekhusyu'an dan mema-hami makna-maknanya. Sedangkan bagi wanita, shalat di rumah adalah lebih utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengeluarkan zakat wajib pada waktunya sesuai dengan ukuran dan sifat-sifatnya yang telah disyari'atkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala dari Allah subhanahu wata’ala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Haji yang mabrur, sebab tiada balasan baginya kecuali surga dan berumrah di bulan Ramadhan yang pahalanya setara haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mengerjakan hal-hal yang sunnah, yaitu yang di luar shalat lima waktu, zakat, puasa dan haji. Dalam hadits Qudsi, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, &lt;br /&gt;"Dan senantiasalah hamba-Ku mende-katkan diri kepada-Ku dengan hal-hal yang sunnah hingga Aku mencintainya." (HR. Al-Bukhori dan Ahmad) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Segera bertaubat yang sebenarnya dari semua perbuatan maksiat dan munkar serta bertekad untuk memanfaatkan waktu-waktu yang tersedia dengan memperbanyak istighfar, dzikir, dan beragam jenis keta'atan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Berbuat ikhlas kepada Allah subhanahu wata’ala dan meninggalkan riya' dalam segala urusan. (Baca: QS. Al-Bayyinah: 5) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Mencintai Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya yang hanya bisa terealisir dengan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. (Baca: QS. Ali 'Imran: 31) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Mencinta karena Allah, membenci karena Allah, loyal karena Allah dan memusuhi karena Allah. Dan konsekuensi dari hal ini adalah mencintai kaum Mukminin sekali pun mereka jauh dan membenci orang-orang kafir sekali pun mereka dekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Takut kepada Allah subhanahu wata’ala, Yang Maha Agung, mengamalkan wahyu-Nya, rela hidup berkekurangan serta bersiap diri menyambut hari kepergian (saat kematian). Inilah hakikat takwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Bersabar atas bencana yang menimpa, bersyukur di saat mendapatkan kesenangan, merasa selalu dalam pengawasan Allah subhanahu wata’ala dalam setiap kondisi serta berharap mendapatkan karunia dan pemberian-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Bertawakkal dengan baik kepada Allah subhanahu wata’ala. (Baca: QS. Al-Ma'idah: 23) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Menuntut ilmu yang bermanfa'at dan berusaha untuk menyebarkan dan mengajarkannya. (Baca: QS. Al-Mujadilah: 11; Ali 'Imran: 187) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Mengagungkan al-Qur'an dengan mempelajari dan mengajarkannya, menjaga batasan-batasan dan hukum-hukumnya, mengetahui halal dan haramnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, &lt;br /&gt;"Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Al-Bukhari) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Berjihad di jalan Allah, murabathah di jalan-Nya, tegar menghadapi musuh dan tidak lari dari medan peperangan. Hal ini berdasar-kan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, &lt;br /&gt;"Janganlah kamu mengangankan bertemu musuh, mintalah keselamatan kepada Allah; jika kamu bertemu mereka, maka bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga berada di bawah kilatan pedang." (Muttafaqun 'alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Menjaga lisan dari hal-hal yang diharamkan seperti berdusta, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu-domba), mencaci, melaknat, berkata kotor dan musik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (Muttafaqun 'alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Menepati janji, menunaikan amanah, tidak berkhianat dan licik. (Baca: QS. Al-Ma'idah: 1; QS. Al-Baqarah: 283) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Tidak melakukan zina, minum khamer, membunuh jiwa yang diharamkan Allah subhanahu wata’ala kecuali dengan haq, berbuat zhalim, memakan harta orang lain secara batil, memakan riba dan memakan sesuatu yang secara syari'at bukan miliknya. (Baca: QS. Al-A'raf: 33) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Wara' (menjaga kesucian diri) dalam hal makanan dan minuman serta menghindari sesuatu yang tidak halal darinya. (Baca: QS. Al-Maidah: 3) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Berbakti kepada kedua orangtua, menyambung tali rahim, mengunjungi teman-teman, bersabar atas tingkah polah mereka, mengupayakan berbuat baik, terhadap orang dekat atau pun jauh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;"Barangsiapa yang memenuhi hajat saudaranya, niscaya Allah akan memenuhi hajatnya dan barangsiapa yang menghilangkan satu dari kesulitan-kesulitan di dunia yang dihadapi seorang mukmin, niscaya Allah akan menghilangkan satu dari kesulitan-kesulitan di hari Kiamat yang dihadapinya." (Muttafaqun 'alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Menjenguk orang sakit, berziarah kubur, mengiringi jenazah, sebab hal itu dapat mengingatkan akhirat dan membuat zuhud dalam kehidupan di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Tidak memakai pakaian yang diharamkan seperti sutera, emas, tidak berpakaian melebihi mata kaki bagi laki-laki (Isbal) dan menggunakan bejana-bejana yang terbuat dari emas dan perak untuk makan dan minum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Berhemat dalam nafkah, menjaga nikmat dan tidak berbuat mubazir. (Baca: QS. Al-Isra': 26) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Tidak dengki, iri, memusuhi, saling membenci dan menjatuhkan kehor-matan kaum Muslimin dan Muslimah dengan tanpa haq. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. Beramar ma'ruf nahi munkar, berdakwah mengajak orang kepada Allah subhanahu wata’ala dengan cara hikmah dan Mau'izhoh Hasanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. Berlaku adil terhadap manusia, tolong-menolong dalam berbuat kebajikan dan takwa. (Baca: QS. Al-An'am: 152) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Berakhlak mulia seperti Tawadhu' (rendah hati), kasih sayang, lemah lembut, malu, halus hati, menahan emosi, dermawan, tidak sombong, angkuh, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. Menjalankan hak-hak anak-anak dan isteri secara penuh dan mengajarkan mereka masalah-masalah agama yang diperlukan.(Baca: QS. At-Tahrim: 06) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. Memberi salam dan membalasnya, mendoakan orang yang bersin, memuliakan tamu dan tetangga, menutupi aib pelaku maksiat semampunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;"Barangsiapa yang menutupi (aib) saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari Kiamat." (Muttafaqun 'alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. Zuhud di dunia, pendek angan-angan sebelum ajal menjemput. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. Cemburu (sensitif) terhadap kehormatan, memicingkan mata dari hal-hal yang diharamkan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33. Menghindari hal yang sia-sia dan bermain-main serta melakukan perkara-perkara positif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34. Mencintai shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ke-luarga beliau (pen), berlepas diri dari orang-orang yang membenci atau men-cela mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;"Barangsiapa yang mencela para shahabatku, maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia." (HR. Ath-Thabarani, dinilai Hasan oleh Syaikh Al-Albani) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35. Mendamaikan sesama manusia, menengahi beda pendapat di antara dua orang yang berselisih pendapat sehingga jurang perselisihan dan perpecahan tidak meluas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36. Tidak mendatangi dukun, ahli nujum, para tukang sihir, para peramal dan sebagainya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37. Wanita hendaknya patuh terhadap suaminya, menjaganya dalam harta, anak dan ranjangnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, &lt;br /&gt;"Bila seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan mena'ati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, “Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.!” (HR. Ibnu Hibban, dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38. Tidak berbuat Bid'ah (mengada-ada) di dalam agama atau menyeru kepada kebatilan dan kesesatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39. Kaum wanita hendaknya tidak menyambung rambutnya dengan rambut lain (menyanggul atau rambut Wig), tidak mentato, mencukur alis, meratakan gigi dengan tujuan hanya untuk mempercantik diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40. Tidak mematai-matai kaum Muslimin dan mengungkap aurat serta menyakiti mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizuFHCg9htb9ZYUTs7rBgwpfUjLXI_RP2mLDQhBTvZj5FhPRMopV4Z3GLegt4w1gUbBOA1Jcc_raEBvrA2kL-F1mwoiiKh3Ip3CvetB2bHmPIWjScGgI2fRH8U8cU0z5pwsUtsC_RNTaIm/s72-c/css5stepstitle.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>TAHAP-TAHAP PENYESATAN SYETAN</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/08/tahap-tahap-penyesatan-syetan.html</link><category>AKHLAQ</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Thu, 20 Aug 2009 23:24:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-4879089339512974802</guid><description>Syaithan adalah musuh sejati Bani Adam, maka hendaklah manusia berhati-hati serta waspada terhadap segala tipu daya yang mereka lancarkan untuk menyesatkan manusia. Di antara jurus dan tipu daya yang mereka lancarkan ialah melalui celah perbuatan dosa dan maksiat dengan berbagai tingkatannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya Madaarijus Saalikin telah menjelaskan beberapa jurus dan tipu daya syaitan dalam menjerumuskan manusia. Berikut ini langkah-langkah syaitan dalam menyesatkan manusia: &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pertama: Kekufuran dan Kesyirikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu ajakan syaitan kepada manusia agar kufur kepada Allah subhanahu wata’ala, keluar dari agama-Nya dan mengingkari sifat-sifat-Nya. Di antara bentuk kekufuran yang terkadang masih samar bagi kebanyakan manusia adalah ajakan berbuat kesyirikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syirik merupakan ajakan dan tipu daya syaitan yang terbesar untuk menyesatkan manusia, karena syaitan menyadari dosa syirik tidak akan di ampuni oleh Allah subhanahu wata’ala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila syaitan itu menang dan mampu menggelincirkan manusia dalam langkah ini, maka permusuhan antara dia dengan manusia akan berkurang. Dia akan menjadikan bani Adam yang menyambut ajakan dan seruannya tersebut sebagai bala tentaranya (agen-agen syaitan), akan tetapi di hari Kiamat nanti syaitan akan berlepas diri dari tanggung jawabnya terhadap manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, &lt;br /&gt;“Dan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, syaitan berkata, “Sesung-guhnya Allah telah menjanjikan kepada-mu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tiada kekuasaan bagiku terhadapmu, melain-kan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu menjadikan aku sekutu (bagi Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya hamba-hamba yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim: 22) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, jika manusia selamat dan tidak tertipu dengan tipu dayanya ini karena mendapatkan ilmu dan hidayah dari Allah subhanahu wata’ala, maka syaitan akan berusaha menempuh langkah berikutnya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke Dua: Berbuat Bid’ah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila syetan gagal menyesatkan manusia dengan cara yang pertama, yakni kemusyrikan maka dia akan berusaha menyesatkan manusia dengan cara yang lain, yaitu melalui celah kebid'ahan. Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim mengetahui perbedaan antara sunnah dengan bid'ah. Bujukan dan ajakan syaitan dalam langkah yang ke dua ini, bisa dengan cara meyakini sesuatu yang berlawanan dengan kebenaran yang dengan hal itu Allah subhanahu wata’ala telah mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya, yaitu dengan cara membujuk manusia tersebut agar beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan cara-cara yang tidak diizinkan oleh-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Bid'ah lebih disenangi oleh Iblis daripada perbuatan maksiat, karena pelaku maksiat biasanya bertaubat, sedangkan pelaku bid'ah tidak bertaubat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila manusia itu selamat dari bujukan dan tipu daya yang ke dua ini dan dia mampu melawannya dengan cahaya Sunnah, berpegang teguh dengannya, mengikuti dan berjalan di atas manhaj salaf yaitu generasi terbaik dari ummat ini dari kalangan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka syaitan akan menempuh langkah yang ke tiga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke Tiga: Dosa Besar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila syaitan merasa gagal menjerumuskan manusia lewat jalan kebid'ahan dalam agama, maka dia akan menempuh cara yang lain yaitu mengajak manusia untuk berbuat dosa besar. Syaitan sangat bernafsu untuk menjatuhkan seorang insan ke dalam dosa besar. Jika dia seorang alim yang menjadi panutan ummat, maka nantinya dosa yang dia perbuat tersebar di kalangan ummat, sehingga ummat akan lari dan tidak lagi mau mengambil ilmu darinya. (Tafsir Qayyim hal. 613) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat yang mulia Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, berkata, “Dosa besar adalah setiap dosa yang Allah tutup akhirnya dengan ancaman neraka, murka, laknat dan adzab-Nya.” (Tafsir Ath-Thabari 5/41). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sudah semestinya setiap muslim untuk menjauhi dosa-dosa besar, agar selamat dari laknat Allah dan ancaman adzab-Nya. Perhatikanlah firman Allah subhanahu wata’ala berikut ini, artinya, &lt;br /&gt;“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang untuk mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia(surga).” (QS. An-Nisa`: 31) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menuturkan, “Berdasarkan nash ini, Allah menjamin akan memberikan jaminan bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar untuk memasukkannya ke dalam surga.” (Al-Kabaair tahqiq Sayyid Ibrahim, hal 13) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang mukmin yang melakukan dosa besar adalah orang mukmin yang keimanannya sedang menurun. Apabila dia meninggal dunia dalam keadaan tidak bertaubat dari dosanya, maka perkaranya dikembalikan kepada Allah subhanahu wata’ala. Jika Allah berkehendak mengadzabnya, maka Dia akan mengadzabnya sesuai dengan dosa yang dia perbuat, kemudian dimasukkan ke dalam surga. Jika Allah subhanahu wata’ala berkehendak mengampuni, maka Dia akan mengampuni dan tidak menyiksanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah langkah ke tiga yang ditempuh oleh syaitan, apabila dengan cara ini dia tidak mampu menjerumuskan manusia, maka syaitan itu akan mengambil langkah yang ke empat, yaitu melakukan dosa-dosa kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke Empat: Dosa Kecil &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila syaitan telah putus asa untuk menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar, maka dia akan membujuknya untuk melakukan dosa-dosa kecil yang apabila terkumpul pada diri manusia, maka dapat membinasa-kannya. (Tafsir Qayyim hal. 613) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang memberikan peringatan akan bahaya dosa-dosa kecil. Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepadaku, &lt;br /&gt;“Wahai 'Aisyah, waspadalah dari meremehkan amalan-amalan, karena ssungguhnya amalan itu akan dituntut pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak.” (HR. Abu Dawud, Darimi, Ibnu Hibban, Ahmad dan dishahihkan oleh Syekh Al-Albani) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Dosa-dosa kecil apabila banyak dan dilakukan terus menerus bisa menjadi besar.” (Fathul Bari 11/337) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Setan akan senantiasa membujuk manusia untuk melakukan dosa kecil hingga dia menganggap enteng dosa tersebut, maka orang berbuat dosa besar dengan rasa takut masih lebih baik ketimbang orang yang meremehkan dosa walaupun kecil.” (Tafsir Qayyim hal. 613). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang mukmin hendaklah menyikapi dosanya bagaikan orang yang sedang duduk di bawah gunung besar yang nyaris menimpanya, sedangkan orang yang fajir melihat dosanya bagaikan lalat yang hinggap di hidungnya sekali kibas ia akan terbang.” (riwayat al-Bukhari) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilal Bin Sa'id rahimahullah berkata, “Janganlah engkau melihat kecilnya dosa, tapi perhatikanlah kepada siapa engkau berbuat maksiat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Khaulah Binti Tsa’labah (Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit Ketujuh)</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/08/khaulah-binti-tsalabah-wanita-yang.html</link><category>KISAH-KISAH ISLAMI</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Mon, 17 Aug 2009 04:37:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-1332283159562950012</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiasGe5uIahQpRkK62EgmdeFPrdrzIkwRzmMN-xsFiqF5dibE7ijgopG7OWMqgBPI02mZQWiSdbZ3I3Nqbu8F-BZhUkoC0O69_7poPjiKg2lj8rZdAh6-zxow-aiLyrcqocYNgb28YT6TFo/s1600-h/muslimah_r190x.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 190px; height: 136px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiasGe5uIahQpRkK62EgmdeFPrdrzIkwRzmMN-xsFiqF5dibE7ijgopG7OWMqgBPI02mZQWiSdbZ3I3Nqbu8F-BZhUkoC0O69_7poPjiKg2lj8rZdAh6-zxow-aiLyrcqocYNgb28YT6TFo/s400/muslimah_r190x.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370897329026806194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;.&lt;/span&gt; Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit r.a yang beliau menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi`.&lt;span class="fullpost"&gt;Khaulah binti Tsa`labah mendapati suaminya Aus bin Shamit dalam masalah yang membuat Aus marah, dia berkata, “Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku.” Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu dia masuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Khaulah berkata, “Tidak…jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu dia duduk di hadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya. Keperluannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan nabi tentang urusan tersebut. Rasulullah saw bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut… aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepada Rasulullah saw apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia harus cerai dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, “Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Pada kedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoa kepada-Nya. Beliau berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk Allah Ta`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketika Rasulullah saw pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw sadar kembali, beliau bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`an tentang ditimu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya (artinya), “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,…sampai firman Allah: “dan bagi oranr-orang kafir ada siksaan yang pedih.”(Al-Mujadalah:1-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi : Perintahkan kepadanya (suami Khansa`) untuk memerdekan seorang budak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khaulah : Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi : Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khaulah : Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi : Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khaulah : Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi : Aku bantu dengan separuhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khaulah : Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi : Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmu itu secara baik.” Maka Khaulah pun melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin anak Adam a.s yang mengandung banyak pelajaran di dalamnya dan banyak hal yang menjadikan seorang wanita yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatian Islam terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, “Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah saw, dia berbincang-bincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada di samping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah…” (Al-Mujadalah: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikan Khalifah Umar bin Khaththab r.a saat berjalan untuk memberikan wejangan dan nasehat kepadanya. Beliau berkata, “Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama Amirul Mukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia kan takut kehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab Allah.” Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khaththab tidak tahan mengatakan kepada Khaulah, “Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita.!” Umar kemudian menegurnya, “Biarkan dia…tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akan mengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai keperluannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(SUMBER: buku Mengenal Shahabiah Nabi SAW., karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly dan Musthafa Abu an-Nashar asy-Syalaby, h.242-246, penerbit AT-TIBYAN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiasGe5uIahQpRkK62EgmdeFPrdrzIkwRzmMN-xsFiqF5dibE7ijgopG7OWMqgBPI02mZQWiSdbZ3I3Nqbu8F-BZhUkoC0O69_7poPjiKg2lj8rZdAh6-zxow-aiLyrcqocYNgb28YT6TFo/s72-c/muslimah_r190x.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Al-Walahan : Setan Spesialis Wudhu</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/04/al-walahan-setan-spesialis-wudhu_20.html</link><category>FATWA-FATWA TENTANG JIN</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Mon, 20 Apr 2009 00:18:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-7387924250771369196</guid><description>Bisa kita bayangkan, bagaimana canggihnya seorang pencuri kendaraan bermotor jika setiap hari yang dipelajari dan dikerjakan adalah mencuri motor. Ada juga pencuri spesialis elektronik, dia paling ahli soal bagaimana menggondol barang elektronik di rumah orang yang sedang lengah. Ternyata, iblis juga memiliki bala tentara yang dibekali ketrampilan khusus dan ditugasi pekerjaan yang khusus pula. Iblis menggoda manusia di setiap lini, dan di setiap lini dia siapkan setan-setan ‘spesialis’ yang pakar dalam bidangnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;untuk menggoda orang-orang yang wudhu sehingga menjadi kacau wudhunya. Setan spesialis wudhu ini disebut Nabi dengan ‘Al-Walahan’. Nabi bersabda:&lt;br /&gt;"Pada wudhu itu ada setan yang menggoda, disebut dengan Al-Walahan, maka hati-hatilah terhadapnya." (HR Ahmad) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setan ini menggoda tidak hanya mengandalkan satu jurus saja untuk memperdayai mangsanya. Untuk masing-masing karakter pelaku wudhu, disiapkan satu jurus untuk melumpuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waspadai Setiap Jurusnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian dipermainkan setan hingga sibuk mengulang-ulang lafazh niat. Saking sibuknya mengulang, ada yang rela ketinggalan rekaat untuk meng’eja’ niat. Niat memang harus dilazimi bagi setiap hamba yang hendak melakukan suatu kativitas. Akan tetapi, tak ada secuil keteranganpun dari Nabi yang shahih menunjukkan sunahnya melafazkan niat. Bahkan tidak ada dalil sekalipun berupa hadits dha’if, mursal, atau yang terdapat di musnad maupun perbuatan sahabat yang menunjukkan keharusan atau sunahnya melafazkan niat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil yang biasa dipakai adalah hadits Nabi "segala sesuatu tergantung niatnya." Hadits ini tidak menunjukkan sedikitpun akan perintah melafazkan niat. Jika hadits ini dimaknai sebagai niat yang dilafazkan, berarti untuk setiap amal shalih baik menolong orang tenggelam, belajar, bekerja dan aktivitas lain menuntut dilafazkan niat. Apakah orang yang melafazkan niat ketika wudhu juga melafazkan niat ketika melakukan aktivitas amal yang lain? Kalau saja itu baik, tentunya Nabi dan para sahabat melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian lagi digoda setan sehingga asal-asalan ketika melakukan wudhu. Dia membiarkan anggota tubuh yang mestinya wajib dibasuh, tidak terkena oleh air. Nabi mengingatkan akan hal ini dengan sabdanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Celakalah tumit dari neraka." (HR Al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menangkal godaan ini, wajib bagi kita mengetahui, manakah anggota tubuh yang wajib dibasuh atau diusap. Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan mata kaki ..." (QS. al-Maidah : 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Utsaimin menyebutkan bahwa ‘istinsyaq’ atau memasukkan air ke hidung kemudian istinsyar (mengeluarkannya) hukumnya wajib karena hidung termasuk bagian dari wajah yang dituntut untuk dibasuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telinga juga wajib untuk diusap karena termasuk bagian dari kepala sebagaimana hadits Nabi: al-udzun minar ra’si, telinga adalah bagian dari kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boros Menggunakan Air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal-asalan berwudhu adalah jurus setan yang diarahkan bagi orang yang malas. Sedangkan untuk orang yang antusias dan bersemangat, ‘al-walahan’ memiliki jurus yang lain. Yakni dia menggoda agar orang yang wudhu terlampau boros menggunakan air. Timbullah asumsi bagi orang yang berwudhu, semakin banyak air, maka semakin sempurna pula wudhunya. Padahal anggapan ini bertentangan dengan sunnatul huda. Bahkan Nabi mengingatkan umatnya akan hal itu. Beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya akan ada di antara umat ini yang melampaui batas dalam bersuci dan berdoa." (HR Abu Dawud, Ahmad, dan An-Nasa’i, sanadnya kuat dan dishahihkan oleh Al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula hadits menyebutkan, tatkala Nabi melewati Sa’ad yang tengah berwudhu beliau bersabda: "Janganlah boros dalam menggunakan air." Sa’ad berkata: "Apakah ada istilah pemborosan dalam hal air?" beliau menjawab: "Ya, meskipun engkau (berwudhu) di sungai yang mengalir." (HR Ibnu Majah dan Ahmad). Ibnul Qayyim menyebutkan hadits ini dalam Zaadul Ma’ad, begitu pula Ibnul Jauzi dalam kitabnya "Talbis Iblis", hanya saja Syaikh Al-Albani menyatakan ini sebagai hadits dha’if, begitu pula dengan Al-Bushiri dalam Al-Zawa’id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang baik adalah kita tidak boros dalam menggunakan air, termasuk ketika berwudhu. Namun bukan berarti boleh meninggalkan sebagian anggota yang wajib untuk dibasuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragu-Ragu Ketika Berwudhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurus lain yang ditujukan bagi orang yang kelewat semangat dalam hal wudhu adalah, setan menanamkan keraguan kepada orang yang berwudhu. Ketika orang itu selesai wudhu, dibisikkan di hatinya keraguan akan keabsahan wudhunya. Agar orang itu mengulangi wudhunya kembali dan hilanglah banyak keutamaan seperti takbiratul uula maupun shalat jama’ah secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah datang kepada Ibnu Uqail seseorang yang terkena jurus setan ini. Dia menceritakan bahwa dirinya telah berwudhu, kemudian dia ulangi wudhunya karena ragu, bahkan dia menceburkan diri ke sungai, setelah keluar darinya diapun masih ragu akan wudhunya. Dia bertanya: "Dalam keadaan (masih ragu) seperti itu apakah saya boleh shalat?" Ibnu Uqail menjawab: "Bahkan kamu tidak lagi wajib shalat." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tak ada orang yang melakukan seperti itu kecuali orang yang hilang ingatan, sedangkan orang yang hilang ingatan tidak terkena kewajiban. Wallahu a’lam. (Majalah Ar risalah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hikmah Diciptakannya Jin</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/04/hikmah-diciptakannya-jin.html</link><category>FATWA-FATWA TENTANG JIN</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Mon, 20 Apr 2009 00:11:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-1394898295434729096</guid><description>Akhir-akhir ini kisah-kisah misteri/mistik marak sekali ditayangkan di televisi kita. Hampir setiap malam pemirsa disuguhi kisah dan cerita misteri/mistik dalam bentuk dan cara yang berbeda-beda. Seolah-olah 'kisah dunia lain itu lebih penting dari dunia nyata yang kita hadapi sehari-hari dengan susah payah karena keterpurukan bangsa ini di segala bidang kehidupan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penayangan kisah-kisah misteri dan mistik ini sudah sangat berlebihan, sangat mengganggu dan mempengaruhi jiwa masyarakat. Saking keterlaluannya sampai mengundang keprihatinan para ulama dan para tokoh nasional. Mereka telah menghimbau dan melayangkan surat supaya insan pertelevisian kita menghentikan tayangan-tayangan tersebut, tetapi tampaknya tidak digubris. Buktinya penayangan kisah-kisah misteri itu malah makin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikaitkan dengan peran setan, agaknya ini adalah salah satu daya upaya setan untuk merusak akidah umat manusia, agar manusia lebih takut kepada setan daripada kepada Allah, dan agar manusia mengabdi kepada setan demi kejayaan setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Itu Setan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setan (Syaithan) berasal dari kata kerja syathana yang mengandung arti menyalahi, menjauhi. Setan artinya pembangkang pendurhaka. Secara istilah, setan adalah makhluk durhaka yang perbuatannya selalu menyesatkan dan menghalangi dari jalan kebenaran (al-haq). Makhluk durhaka seperti ini bisa dari bangsa jin dan manusia (QS. 114: 1-6/QS. 6:112). Makhluk yang pertama kali durhaka kepada Allah adalah iblis. Maka iblis itu disebut setan. Keturunan iblis yang durhaka juga disebut setan (QS. 2 : 36/4 : 118).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menggoda manusia, setan dari bangsa jin itu masuk ke dalam diri manusia, membisikkan sesuatu yang jahat dan membangkitkan nafsu yang rendah (syahwat). Selain menggoda dari dalam diri manusia, setan juga menjadikan wanita, harta, tahta, pangkat dan kesenangan duniawi lain sebagai umpan (perangkapnya, Dihiasinya Kesenangan duniawi itu dihiasinya sedemikian menarik hingga manusia tergoda, terlena, tertutup mata hatinya, lalu memandang semua yang haram jadi halal. Akhirnya manusia terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan/ kemungkaran. Maka manusia yang telah mengikuti ajakan setan, menjadi hamba setan, dalam al-Quran juga disebut setan (QS. 38 : 37-38) dan golongan (partai) mereka juga disebut golongan setan (hizbusy-syaithan - QS. 58 : 19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik setan dari bangsa jin maupun dari bangsa manusia terus menerus berupaya untuk menyesatkan manusia. mereka bahu rnembahu untuk menyebarkan kemungkaran dan kemaksiatan. Mereka kuasai berbagai media, termasuk televisi, mereka sebarkan kisah-kisah misteri dan kemaksiatan demi uang dan kesenangan duniawi tanpa peduli umat manusia rusak atau tidak akidahnya dan akhlaknya. Itulah sumpah setan di hadapan Allah untuk menggoda manusia dari berbagai sudut yang bisa mereka masuki. (QS, 7:17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudharat Tayangan Setan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam sangat jelas bahwa penayangan seperti itu diharamkan, karena: Pertama, tayangan mistik seperti itu mempersubur kemusyrikan, membuat manusia lebih takut kepada setan, khurafat dan tahyul daripada takut kepada Allah. Padahal tidak ada yang bisa memberi manfaat dan mudharat di dunia ini kecuali hanya Allah (QS. 39 : 38), tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya dari Allah. Kedua, tayangan mistik seperti itu adalah bentuk pembodohan masyarakat, hanya membuat bangsa semakin jumud dan terbelakang. Ketiga, tayangan seperti itu sarat dengan praktek perdukunan. Dengan maraknya penayangan kisah-kisah mistik, maka praktek-praktek perdukunan juga semakin marak. Sedangkan perdukunan juga diharamkan dalam Islam. Dan keempat, rezeki yang dihasilkan dari usaha yang diharamkan, maka rezeki itu juga haram dan tidak diberkahi Allah. Oleh karenanya penayangan kemusyrikan itu mestilah dihilangkan karena tidak ada manfaatnya selain mudharat dunia-akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah Diciptakannya Setan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Quran menjelaskan, Allah SWT menciptakan alam semesta dan semua yang ada di dalamnya, satu pun tidak ada yang batil atau sia-sia (QS Ali Imran : 191). Oleh karena itu Allah menciptakan iblis atau makhluk yang disebut setan Itu, bila dilihat dari sisi nilai ibadah, pada hakikatnya juga ada hikmahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam al-Ghazali pernah menyatakan; jika ingin melihat kesalahan/kelemahan kita, carilah pada sahabat karib kita, karena sahabat kitalah yang tahu kesalahan/ kelemahan kita. Jika kita tidak mendapatkannya pada sahabat kita, carilah pada musuh kita, karena musuh kita itu paling tahu kesalahan/kelemahan kita. Sifat musuh adalah selalu mencari kelemahan lawan untuk dijatuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula setan. la selalu mencari kesalahan/kelemahan orang-orang beriman untuk kemudian digelincirkan dengan segala macam cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika kita telah mcngetahui kesalahan/kelemahan kita, entah dari kawan, lawan, bahkan dari setan, lalu kita memperbaiki diri, insya Allah kita akan menjadi orang baik dan sukses. Jadi, kalau kita berpikir positif, ada juga hikmahnya setan itu buat orang-orang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih rinci, di antara hikmah dicipta-kannya setan ialah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Untuk menguji keimanan dan komitmen manusia beriman terhadap perintah Allah. Karena setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah pasti akan diuji (QS. 29:2). Jika dengan godaan setan seorang mukmin tetap istiqamah dengan keimanannya, maka derajatnya akan ditinggikan oleh Allah dan hidupnya akan bahagia. Tetapi jika ia tergoda dan mengikuti ajakan setan, derajatnya akan jatuh, hina kedudukannya dan dipersulit hidupnya oleh Allah. (QS. 41 : 30-31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menguji keikhlasan manusia beriman dalam mengabdi kepada Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT menjelaskan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia tidak lain supaya mereka mengabdi kepada-Nya (QS. 51 : 56). Kemudian setan datang menggoda manusia, membangkit-bangkitkan syahwat kepada kenikmatan duniawi, rnembisikkan ke dalam hatinya angan-angan kosong dan keraguan, supaya manusia lupa terhadap tujuan dan tugas hidupnya di dunia. Jika manusia tetap sadar akan tujuan dan tugas hidupnya di dunia, dia akan tetap ridha menjadi hamba Allah dan mengabdi kepada-Nya. Terhadap hamba Allah seperti ini, setan tidak akan rnampu menggodanya (QS. 15 : 40). Tetapi jika manusia tergoda, pada gilirannya ia akan menjadi hamba setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk meningkatkan perjuangan di jalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab tanpa ada setan yang memusuhi kebenaran, maka tidak akan ada semangat perjuangan (jihad) untuk mempertahankan kebenaran. Sedangkan jihad di jalan Allah juga merupakan bukti penting manusia beriman dan ridha sebagai hamba Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Allah hendak memberi pahala yang lebih besar kepada para hamba-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin besar godaan setan kepada manusia dan dia mampu menghadapinya dengan baik, maka semakin besar pahalanya di sisi Allah (QS. 3 : 195).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Agar manusia waspada setiap saat, selalu memperbaiki kesalahan, meningkatkan kualitas ibadah dengan bertaqarrub kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena setan senantiasa mengintai kelengahan manusia. Sekejap saja manusia lengah, setan akan masuk, lalu mengacaukan hati dan syahwat. Tapi orang yang selalu waspada, akan senantiasa ingat kepada Allah sehingga setan tidak punya kesempatan untuk mengganggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bagi orang yang sudah kuat imannya, gangguan setan itu tidak akan merusak ibadahnya. tetapi malah mempertinggi kualitas iman dan ibadahnya. Masalahnya, tayangan-tayangan setan yang makin marak di televisi, tidak ditonton oleh mereka yang telah kuat imannya, melainkan oleh masyarakat dari berbagai lapisan umur dan kadar iman yang terbanyak masih memerlukan bimbingan. Bagi mereka ini, tayangan-tayangan itu sangat kontra produktif, bahkan bisa mendangkalkan iman mereka. Apakah ini tidak terpikirkan oleh insan pertelevisian kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Wanita Pergi Sendiri Haji Tanpa Mahram</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/02/wanita-pergi-sendiri-haji-tanpa-mahram.html</link><category>HAJI DAN UMRAH</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Fri, 6 Feb 2009 16:31:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-7573247753194641274</guid><description>Pertanyaan&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta' ditanya : Seorang wanita shalihah setengah usia atau mendekati tua di Saba' ingin haji dan tidak mempunyai mahram. Tapi di daerahnya ada seorang lelaki yang shaleh yang ingin haji bersama beberapa wanita dari mahramnya. Apakah wanita tersebut sah hajinya jika pergi bersama seorang lelaki shaleh yang pergi bersama beberapa wanita mahramnya dan lelaki tersebut sebagai pembimbingnya ? Ataukah dia gugur dari kewajiban haji karena tidak ada mahram yang mendampingi padahal dia telah mampu dari sisi materi ? Mohon fatwa tentang hal tersebut, sebab kami berselisih dengan sebagian kawan kami dalam hal tersebut&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jawaban.&lt;br /&gt;Wanita yang tidak mempunyai mahram yang mendampingi dalam haji maka dia tidak wajib haji. Sebab mahram bagi seorang wanita merupakan bentuk kemampuan melakukan perjalanan dalam haji. Sedangkan kemampuan melakukan perjalanan merupakan syarat dalam haji. Allah berfirman.&lt;br /&gt;"Artinya : Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah" [Ali-Imran : 97]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita tidak boleh pergi haji atau lainnya kecuali bersama suami atau mahramnya, sebagaimana Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Tidak halal bagi wanita bepergian dalam perjalanan sehari semalam melainkan bersama mahramnya" [Hadits Ruwayat Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas Radhiallahu 'anhu, ia mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;"Artinya : Tidak boleh pria berduaan dengan wanita, keucali bila wanita itu bersama mahramnya. Dan janganlah seorang wanita berpergian melainkan bersama mahramnya" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka seorang sahabat berdiri dan berkata : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku pergi haji dan aku berkewajiban dalam berperang demikian dan demikian" Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Pergi hajilah bersama istrimu" [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian ini adalah pendapat Hasan Al-Bashri, Al-Nakha'i, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir dan Ahli Ra'yi (madzhab Hanafi). Dan pendapat ini adalah pendapat yang shahih karena sesuai dengan keumuman hadits-hadits yang melarang wanita bepergian tanpa suami atau mahramnya. Tapi pendapat tersebut berbeda dengan pendapat Imam Malik, Imam Syafi'i dan Al-Auza'i. Di mana masing-masing menentukan syarat yang tidak dapat dijadikan hujjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Mundzir berkata : "Mereka meninggalkan pendapat dengan lahirnya hadits dan masing-masing dari mereka menentukan syarat yang tidak dapat dijadikan hujjah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WANITA PERGI HAJI SENDIRI TANPA MAHRAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan.&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Seorang wanita berkata, "Ibu saya di Maroko dan saya bekerja di Saudi Arabia. Saya ingin mengirim surat agar ibu datang untuk melaksanakan haji, tapi dia tidak mempunyai mahram karena bapak telah meninggal dan saudara-saudara saya tidak mempunyai kemampuan melaksanakan kewajiban haji. Bolehkah pergi haji sendiri tanpa disertai mahram ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban.&lt;br /&gt;Dia tidak boleh datang sendiri ke Saudi untuk haji. Sebab Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Wanita tidak boleh bepergian, kecuali bersama mahramnya" [Hadits Riwayat Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian itu dikatakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika menyampaikan khutbah kepada manusia. Maka seseorang berdiri dan berkata : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku pergi haji, dan aku berkewajiban dalam perang demikian dan demikian". Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Pergi hajilah bersama istrimu" [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita yang tidak bersama mahramnya, maka haji tidak wajib atas dia. Adakalanya kewajiban haji gugur darinya karena tiadanya kemampuan sampai ke Mekkah dan tiadanya kemampuan adalah alasan syar'i, dan adakalanya dia tidak wajib melaksanakannya. Artinya, jika dia meninggal, maka hajinya dapat digantikan oleh ahli warisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengatakan kepada penanya, bahwa wanita tidak berdosa jika tidak haji sebab tiadanya mahram. Dan demikian itu tidak mudharat kepadanya. Sebab dia diamaafkan karena tiadanya kemampuan dalam tinjauan syar'i. Dimana Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah" [Ali-Imran : 97]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Wanita Ingin Haji Tetapi Dilarang Oleh Suaminya</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/02/wanita-ingin-haji-tetapi-dilarang-oleh.html</link><category>HAJI DAN UMRAH</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Fri, 6 Feb 2009 16:30:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-1322811134661579436</guid><description>Pertanyaan.&lt;br /&gt;Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Saya seorang wanita tua dan kaya. Saya telah menyampaikan niat saya untuk haji kepada suami saya lebih dari satu kali, namun suami saya tidak memperbolehkan saya pergi haji tanpa alasan yang jelas. Tetapi saya mempunyai kakak yang ingin haji. Apakah saya boleh haji bersama kakak saya meskipun saya tidak diizinkan suami, ataukah saya tidak haji dan tetap di negeri saya karena menta'ati suami ? Mohon penjelasan, semoga Allah memberikan balasan yang baik kepada Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jawaban.&lt;br /&gt;Karena haji wajib dilaksanakan seketika jika telah memenuhi syarat-syaratnya. Dan karena wanita penanya tersebut telah memenuhih syarat karena mendapatkan kemampuan dan mahram, maka dia wajib segera haji dan suaminya haram melarangnya tanpa alasan. Artinya, bahwa wanita penanya tersebut boleh haji bersama kakaknya meskipun suaminya tidak menyetujuinya. Sebab haji sebagai kewajiban individu seperti shalat dan puasa, dan hak Allah lebih utama untuk didahulukan, sedang suami tidak mempunyai hak melarang istri dari melaksanakan kewajiban haji tanpa alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUKUM HAJI BAGI WANITA YANG TIDAK DIIZINKAN SUAMINYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan&lt;br /&gt;Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Apakah sah hukumnya haji wanita yang tidak dizinkan suaminya ? Apakah pemberian izin suami terhadap istrinya untuk haji itu boleh di cabut ? Dan apakah suami boleh melarang istri untuk melaksanakan haji .?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;Suami tidak boleh melarang istrinya yang ingin melaksanakan haji wajib jika telah memenuhi syarat-syarat kewajiban haji dan mendapatkan kemudahan melaksanakan haji. Sebab haji sebagai kewajiban yang harus segera dilaksanakan dan tidak boleh ditunda jika telah mempunyai kemampuan. Tapi istri disunnahkan minta izin suami untuk hal tersebut. Jika suaminya tidak mengizinkan maka istrinya boleh haji tanpa seizin suami. Dan jika suaminya telah mengizinkannya maka suaminya tidak boleh mencabut izinnya. Adapaun haji sunnah maka suami boleh melarang istrinya dan istri tidak boleh melakukan haji sunnah tanpa izin suami. Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGHAJIKAN WANITA YANG TIDAK MEMPUNYAI MAHRAM BERSAMA BEBERAPA ISTRINYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan.&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Daimah Lil ifta ditanya : Saya haji bersama beberapa istri saya dan ada seorang wanita tua yang tidak mempunyai mahram yang aku bantu sehingga dia dapat melaksanakan haji bersama keluarga saya dan dia kembali ke negerinya bersama istri-istri saya. Apakah saya berdosa dalam melakukan hal tersebut .?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban.&lt;br /&gt;Karena wanita tersebut telah lanjut usia dan penanya menyebutkan bahwa wanita itu bersama beberapa istri dia sehingga wanita tua itu di antara mereka, kemudian bergabungnya wanita tua tersebut karena tiadanya orang yang melindunginya dan ketidaktahuannya tentang manasik haji, maka si penanya adalah orang yang melakukan kebaikan dalam amalnya tersebut, dan tiada dosa bagi orang-orang yang melakukan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada pemimpin kita Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGGUNAKAN TABLET PENCEGAH HAIDH DALAM HAJI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan.&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum menggunakan tablet untuk mencegah haidh selama dalam haji .?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban.&lt;br /&gt;Tidak mengapa melakukan hal tersebut karena terdapat manfaat dan maslahat sehingga seorang wanita dapat thawaf bersama manusia dan tidak kesulitan dalam menemaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Seseorang Melaksanakan Haji Dan Dalam Hartanya Terdapat Harta Curian</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/02/seseorang-melaksanakan-haji-dan-dalam.html</link><category>HAJI DAN UMRAH</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Fri, 6 Feb 2009 16:30:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-241776396400962270</guid><description>Syaikh Abdul Aziz bin Baz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Azin bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya mengambil sejumlah uang dari bibi saya dari fihak ayah tanpa sepengetahuannya, dan dia telah meninggal sebelum saya mengembalikan uang tersebut. Namun saya telah haji tahun lalu dan sejumlah uang tersebut masih dalam tanggungan saya. Pertanyaan saya, apakah haji saya sah ?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dan apa yang harus saya lakukan terhadap uang tersebut agar saya bebas dari tanggungan, sedangkan bibi saya tidak mempunyai ahli waris selain ayah saya, dan beberapa saudara laki-laki ayah ? Mohon penjelasan, semoga Allah memberikan balasan baik kepada Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;Insya Allah haji anda sah jika telah menunaikan kewajiban-kewajiban haji dengan sempurna dan meninggalkan apa-apa yang dapat merusaknya. Namun anda harus bertaubat kepada Allah sebab mengambil harta bibi anda dengan cara yang tidak benar, dan anda wajib menyerahkan apa yang diambil dari bibi kepada ayah anda jika dia sebagai ahli warisnya. Kami bermohon kepada Allah semoga Allah mengampuni kami dan anda, juga kepada setiap muslim dari segala dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INGIN HAJI TAPI MEMPUNYAI UTANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya ingin melaksanakan haji wajib tahun ini, tapi saya mempunyai utang sejumlah uang dan saya membayarnya secara kredit setiap bulan, sedangkan masa pembayaran harus habis setelah enam bulan dari sekarang. Apakah saya wajib haji padahal saya telah mempunyai sejumlah utang sebelum saya memikirkan untuk melaksanakan haji wajib dan tujuan baik yang lain .?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;Jika seseorang mempunyai biaya haji dan membayar utang pada waktunya, maka wajib haji karena keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Mengerjakan haji adalah kewajiban terhadap Allah yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah" [Ali-Imran : 97]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika tidak mempunyai biaya haji karena harus membayar utang, maka tidak wajib haji berdasarkan ayat tersebut dan hadits-hadits shahih yang searti dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAJI DENGAN MENGUTANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya ingin haji, tapi tidak mempunyai biaya yang mencukupi. Lalu kantor tempat saya bekerja menyetujui memberikan pinjaman kepada saya untuk biaya haji dengan cara memotong gaji setelah itu. Apakah cara ini dibenarkan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;Jika anda ingin haji dengan uang pinjaman, maka cara yang anda lakukan dapat dibenarkan. Tapi yang utama dan lebih baik adalah tidak melakukan itu. Sebab Allah hanya mewajibkan haji kepada orang yang mampu, sedangkan anda sekarang belum mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya anda tidak meminjam uang untuk haji. Sebab anda tidak mengerti, barangkali utang itu masih dalam tanggungan sedangkan anda tidak mampu membayarnya setelah itu, misalnya karena sakit atau tempat kerja mengalami kebangkrutan atau meninggal dunia. Maka seyogianya anda jangan mengutang untuk haji. Kapan saja Allah memberikan kecukupan kepada anda dan mampu haji dari dana sendiri, maka lakukanlah. Tapi jika tidak, maka jangan mengutang untuk haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Oleh</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pesan Dan Wasiat Penting Untuk Jama'ah Haji Dan Umrah</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/02/pesan-dan-wasiat-penting-untuk-jamaah.html</link><category>HAJI DAN UMRAH</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Fri, 6 Feb 2009 16:29:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-1857360416194416485</guid><description>Oleh&lt;br /&gt;Kumpulan Ulama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DITERBITKAN DAN DIEDARKAN OLEH DEPARTEMEN AGAMA, WAQAF, DAAWAH DAN BIMBINGAN ISLAM, SAUDI ARABIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jama'ah haji yang budiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami panjatkan puji kepada Allah, yang telah melimpahkan taufiq kepada anda sekalian untuk dapat menunaikan ibadah haji dan ziarah ke Masjid Haram, semoga Allah menerima kebaikan amal kita semua dan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sampaikan berikut ini pesan dan wasiat, dengan harapan agar ibadah haji kita diterima oleh Allah sebagai haji yang mabrur dan usaha yang terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Ingatlah, bahwa anda sekalian sedang dalam perjalanan yang penuh berkah, perjalanan menuju Ilahi dengan berpijakkan Tauhid dan ikhlas kepada-Nya, serta memenuhi seruan-Nya dan ta'at akan perintah-Nya. Karena tiada amal yang paling besar pahalanya selain dari amal-amal yang dilaksanakan atas dasar tersebut. Dan haji yang mabrur itu balasannya adalah sorga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Waspadalah anda sekalian dari tipu daya syetan, karena ia adalah musuh yang selalu mengintai anda. Maka dari itu hendaknya anda saling mencintai dalam naungan rahmat Ilahi dan menghindari pertikaian dan kedurhakaan kepada-Nya. Ingatlah bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda : "Artinya : Tidaklah sempurna iman seseorang diantara kamu, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Bertanyalah kepada orang yang berilmu tentang masalah-masalah agama dan ibadah haji yang kurang jelas bagi anda, sehingga anda mengerti. Karena Allah telah berfirman : "Artinya : Maka bertanyalah kamu kepada orang yang berpengetahuan jika kamu tidak mengetahui". Dan Rasul pun telah bersabda : "Artinya : Barangsiapa yang dikehendaki Allah untuk di karuniai kebaikan, maka ia niscaya memberinya kefahaman dalam agama".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Ketahuilah, bahwa Allah telah menetapkan kepada kita beberapa kewajiban dan menganjurkan kita untuk melakukan amalan-amalan yang sunnah. Akan tetapi tidaklah diterima amalan sunnah ini apabila amalan-amalan yang wajib tadi disia-siakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sering kurang disadari oleh sebagian jama'ah haji, sehingga terjadilah perbuatan yang menggangu dan menyakiti sesama mu'min. Sebagai contoh ; ketika mereka berusaha untuk mencium Hajar Aswad, ketika melakukan ramal (berlari kecil pada tiga putaran pertama) dalam tawaf qudum, ketika shalat dibelakang Maqam Ibrahim, dan ketika minum air Zamzam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amalan-amalan tersebut hukumnya hanyalah sunnah, sedangkan mengganggu dan menyakiti sesama mu'min adalah haram. Patutkah kita mengerjakan suatu perbuatan yang haram hanya semata-mata untuk mencapai amalan yang sunnah ..? Maka dari itu hindarilah perbuatan yang dapat mengganggu dan meyakiti satu sama lain, mudah-mudahan dengan demikian Allah memberikan pahala yang berlipat ganda bagi anda sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kami tambahkan beberapa penjelasan sebagai berikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a] Tak layak bagi seorang muslim melakukan shalat disamping wanita atau dibelakangnya, baik di Masjid Haram ataupun di tempat lain dengan sebab apapun, selama ia dapat menghindari hal itu. Dan bagi wanita hendaklah melakukan shalat dibelakang kaum pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b] Pintu-pintu dan jalan masuk ke Masjid Haram adalah tempat lewat yang tak boleh di tutup dengan melakukan shalat di tempat tersebut walaupun untuk mengejar shalat jama'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c] Tidak boleh duduk atau shalat didekat Ka'bah atau berdiam diri di Hijir Ismail atau di Maqam Ibrahim, sebab hal itu dapat mengganggu orang-orang yang sedang melakukan tawaf. Lebih-lebih disaat penuh sesak, karena yang sedemikian itu dapat membahayakan dan mengganggu orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b] Mencium Hajar Aswad hukumnya adalah sunnat, sedangkan menghormati sesama muslim adalah wajib. Maka janganlah menghilangkan yang wajib hanya semata-mata untuk mengerjakan yang sunnat. Dan dikala penuh sesak cukuplah anda berisyarat (mengacungkan tangan) kearah Hajar Aswad sambil bertakbir, dan terus berlalu bersama orang-orang yang melakukan tawaf. Seusai anda melakukan tawaf janganlah keluar dengan menerobos barisan, tetapi ikutilah arus barisan tersebut sehingga anda dapat keluar dari tempat tawaf dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c] Mencium rukun Yamani tidak termasuk sunnat, cukuplah anda menjamahnya dengan tangan kanan apabila tidak penuh sesak, seraya mengucapkan "Bismillah wallahu Akbar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kami berpesan kepada segenap kaum muslimin agar selalu berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan Al-Sunnah. "Dan ta'atlah kamu sekalian kepada Allah dan Rasu-Nya supaya kamu dikaruniai rahmat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pengarahan Ringkas Untuk Jamaah Haji Dan Umrah 2/2</title><link>http://alikhlas-online.blogspot.com/2009/02/pengarahan-ringkas-untuk-jamaah-haji_06.html</link><category>HAJI DAN UMRAH</category><author>noreply@blogger.com (al-ikhlash)</author><pubDate>Fri, 6 Feb 2009 16:29:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4564695823159230717.post-2642000566306967139</guid><description>Oleh&lt;br /&gt;Kumpulan Ulama&lt;br /&gt;Bagian Terakhir dari Dua Tulisan [2/2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[28] Shalat Maghrib dan Isya dilakukan setelah sampai di Muzdalifah, baik sampainya pada waktu Maghrib ataupun setelah masuk waktu Isya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;[29] Memungut batu pelempar Jamrah, boleh dilakukan dimana saja, dan tidak harus dipungut dari Muzdalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[30] Tidak disunatkan mencuci batu-batu itu, sebab hal itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah begitu pula para sahabat beliau. Dan agar jangan melontar dengan batu yang telah dipakai melontar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[31] Diperbolehkan bagi orang-orang yang lemah, seperti wanita, anak-anak kecil dan yang semisalnya, untuk berangkat menuju Mina saat lewat pertengahan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[32] Apabila telah sampai di Mina pada hari Raya, hendaknya jama'ah haji menghentikan bacaan Talbiyah, dan agar melontar Jamrah Aqabah dengan tujuh batu berturut-turut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[33] Tidak disyaratkan agar batu itu tinggal di tempat lontaran, tapi yang disyaratkan adalah jatuhnya batu di tempat lontaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[34] Penyembelihan Qurban waktunya adalah sampai terbenam matahari pada hari Tasyriq yang ketiga menurut pendapat Ulama yang paling benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[35] Tawaf Ifadhah atau Tawaf Ziyarah adalah salah satu rukun haji yang tidak dianggap sah haji seseorang apabila Tawaf itu ditinggalkan, dan ini hendaknya dilakukan pada Hari Raya, tapi boleh juga ditunda sampai setelah hari-hari Mina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[36] Bagi yang melakukan Haji Qiran, ia hanya wajib melakukan satu kali sa'i. Demikian pula bagi yang melakukan Haji Ifrad dan ia tetap berihram sampai hari nahr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[37] Bagi Jama'ah haji, lebih utama baginya melakukan amalan-amalan haji pada hari nahr dengan tertib, yaitu memulai dengan melontar Jamrah Aqabah kemudian menyembelih binatang kurban, lantas mencukur bersih atau memendekkan rambutnya, setelah itu Tawaf Ifadhah di Baitullah dan selanjutnya Sa'i. Dan boleh juga amalan-amalan tersebut dilakukan dengan tidak tertib, yaitu dengan mendahulukan atau mengakhirkan satu dari yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[38] Tahalul penuh dapat dilaksanakan setelah melakukan hal-hal dibawah ini : &lt;br /&gt;[a] Melontar Jamrah Aqabah&lt;br /&gt;[b] Mencukur bersih atau memendekkan rambut&lt;br /&gt;[c] Tawaf Ifadhah dan Sa'i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[39] Apabila seorang jamaah haji menghendaki pulang secepatnya (pada tanggal 12) dari Mina. Maka harus keluar dari Mina sebelum terbenam matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[40] Anak kecil yang tidak mampu melontar, hendaklah diwakili oleh walinya setelah ia melontar untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[41] Begitu juga orang-orang yang tidak mampu melontar karena sakit atau lanjut usia atau karena hamil, boleh mewakilkan kepada orang lain untuk melontar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[42] Bagi yang mewakili, boleh melontar setiap jamrah dari ketiga jamrah itu untuk dirinya sendiri terlebih dahulu, kemudian untuk yang diwakilinya dalam satu tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[43] Bagi yang melakukan haji Tamattu' atau Qiran, sedang ia bukan penduduk Masjid Haram (Mekkah), wajib baginya membayar dam, yaitu seekor kambing, atau sepertujuh onta/sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[44] Bagi yang melakukan haji Tamattu' atau Qiran, dan ia tidak mampu menyembelih binatang kurban, maka ia diwajibkan untuk berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari apabila telah pulang ke keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[45] Puasa tiga hari itu lebih utama dilakukan sebelum Hari Arafah, agar pada Hari Arafah itu ia dalam keadaan tidak berpuasa. Jika puasa itu belum dilakukan makan hendaklah dilakukan pada hari-hari Tasyriq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[46] Puasa tiga hari tersebut boleh dilakukan secara berturut-turut atau terpisah-pisah. Begitu pula puasa yang tujuh hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[47] Tawaf Wada' hukumnya wajib bagi setiap jama'ah haji, kecuali bagi wanita yang sedang datang bulan atau baru bersalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[48] Disunahkan berziarah ke Masjid Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, baik sebelum haji ataupun sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[49] Bagi yang berziarah ke Masjid Nabawi, disunatkan memulai dengan shalat dua rakaat Tahiyat al-Masjid dimana saja di dalam Masjid. Dan yang lebih utama shalat dilakukan di Raudhah yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[50] Ziarah ke kubur Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan ke pekuburan lain, hanya disyari'atkan untuk kaum pria, bukan untuk kaum wanita, dengan syarat agar dilakukan tanpa bersusah payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[51] Mengusap-ngusap dinding kubur Rasul, atau menciumnya ataupun mengelilinginya (bertawaf di sekitarnya), adalah perbuatan bid'ah yang mungkar, yang tidak pernah dilakukan oleh ulama-ulama Salaf. Lebih-lebih apabila ia mengelilinginya dengan maksud mendekatkan diri kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka hal itu adalah syirik besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[52] Tidak boleh bagi seseorang memohon kepada Rasul agar beliau memenuhi hajatnya atau melepaskan dirinya dari kesulitan, sebab hal itu syirik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[53] Kehidupan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, didalam kubur adalah kehidupan alam barzakh, bukan seperti hidup di dunia sebelum wafatnya. Dan kehidupan itu hanya Allah saja yang mengetahui hakekat dan keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[54] Mengutamakan berdo'a didekat kubur Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, sambil menghadap kearahnya dengan mengangkat kedua belah tangan, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian penziarah, adalah termasuk bid'ah yang diada-adakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[55] Ziarah ke kubur Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, bukanlah wajib, dan bukan merupakan suatu syarat dalam ibadah haji, sebagaimana anggapan sebagian orang awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[56] Hadits-hadits yang dipergunakan sebagai dasar hukum oleh orang-orang yang membolehkan untuk bersusah-payah mendatangi kubur Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hadits-hadits yang lemah sanadnya atau hadits-hadits bikinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>