<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5496464690455652937</id><updated>2024-11-08T21:48:23.826+07:00</updated><category term="Pasar Bermartabat dan Berkeadilan"/><category term="Paskomnas"/><title type='text'>widya story</title><subtitle type='html'>sebenarnya ini adalah sebuah keinginan yang menjadi kenyataan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://widyahistory.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5496464690455652937/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://widyahistory.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>widya_sri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04595588057753265541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg13hgN4DzhQpOGKLK5345h0tEdeY6F3Pjm26LzrcRgfK1BXq3W4fI1YBeqsI8dcnPcjnSX_tR_q8G8t7p4Y8gqdRLkdXRjltdkE52xTTczKevpkxhDbYDtMbYR8HE2WQ/s220/PIC_0037.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5496464690455652937.post-7877308203952067163</id><published>2009-05-20T15:41:00.002+07:00</published><updated>2009-05-20T15:42:01.569+07:00</updated><title type='text'>Obsesi Mengembangkan Paskomnas</title><content type='html'>Hartono Wignjopranoto&lt;br /&gt;Dirut PT Paramita Group&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah: Sri Widiya (Bulletin Berjangka BAPPEBTI)&lt;br /&gt;Berguna untuk orang lain. Demikianlah moto hidup dari Hartono Wignjopranoto, Direktur Utama Paramita Group. Moto hidup tersebut menurut Hartono, sebenarnya telah ditanamkan kedua orang tuanya sejak kecil. Sehingga memupuk pribadinya menjadi lebih sensitif atas yang namanya kepedulian. Buktinya, meski telah mampu mendirikan perusahan besar yang bergerak di bidang real estate dan building contractor, dia juga membuka hatinya untuk melakukan “ekspansi” besar-besaran bahkan sampai keluar areal bisnis sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka merambahlah dia ke jalur pengembangan pasar tradisional yang dibungkus aroma moderen. Dari Pasar Tanah Tinggi di Tangerang, hingga Pasar Jakabaring di Palembang. Sehingga menyerap tenaga kerja dan usaha hingga ribuan orang. Bukan itu saja, tingkat kepedulian juga digerakkan mulai dari kesejahteraan kaum buruh pasar hingga arahan pendidikan kepada anak-anak mereka. Merasa tak puas sampai disitu, pria dengan postur tinggi 168 cm dan berat 68 kg ini malah belakangan juga  menggandeng pihak PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) untuk menuangkan obsesinya membentuk Pasar Komoditas Nasional (Paskomnas). Lalu, puaskah dia sampai disitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut suami dari Radita Kuncoro ini, tidak ada kata puas untuk membantu sesama. Karena ada rasa kebahagiaan tersendiri yang tak akan dapat diutarakan ketika kita mampu berbuat lebih untuk orang lain. Dalam kegiatan bisnis sekalipun, Hartono mengaku tetap menjalankan prinsip ini. Baginya, seorang pengusaha tidak perlu menjadi egois hanya demi mengejar keuntungan. Justru usaha akan sulit berkembang, jika terlalu banyak merugikan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu, orang Tangerang mau beli sayur dan buah harus ke Pasar Kramat Jati. Tetapi setelah kita buat di Tanah Tinggi, kan jadi lebih efisiensi. Kita ini agen, jadi tidak akan mematikan pedagang kecil. Justru kita memasok barang kebutuhan mereka. Lalu sebagai pengembang, kita jangan memikirkan keuntungan semata. Kita juga memikirkan, bagaimana pedagang yang menggunakan pasar kita itu menjadi sejahtera. Termasuk juga kehidupan buruh pasar dan keluarganya. Bahkan sampai ke urusan limbah pun kita pikirkan juga. Jangan sampai mencemari, jadi dibawa Pemda untuk dibuat pupuk organik” terang penggemar olahraga dan lari pagi sejauh 5 KM ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mungkin inilah yang membuat usaha Hartono berhasil. Doa sekian banyak orang mampu membuat perusahaannya kian melebar. Padahal dulunya, alumnus Teknik Civil ITB tahun 1974 ini hanya bekerja pada perusahaan-perusahaan kontraktor. Tetapi tekad bulatnya untuk merubah hidup, membuatnya mencoba mendirikan PT Paramita sekitar tahun 1981 yang kemudian diresmikannya pada tahun1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sosok Hartono, tetap seperti sediakala. Ramah dan bersahaja. Dia pun tak malu menuai kisah, jika ayahnya dulu hanya seorang guru Biologi di SMA Karang Turi, Semarang. Tak ada latar belakang keluarga mapan. Namun kini, dia bahkan mampu menyekolahkan tiga buah hatinya sampai ke Australia dan Amerika. Mereka, Indriani Wignjopranoto (27) saat ini mendalami bisnis fashion. Adiknya, Indriati Wigjopranoto (25) “diberdayakan” untuk membantu bisnis keluarga. Sementara si bungsu, Budiarto Wignjopranoto (19) masih melanjutkan sekolah bisnis di Amerika.(***)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://widyahistory.blogspot.com/feeds/7877308203952067163/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/5496464690455652937/7877308203952067163' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5496464690455652937/posts/default/7877308203952067163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5496464690455652937/posts/default/7877308203952067163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://widyahistory.blogspot.com/2009/05/obsesi-mengembangkan-paskomnas.html' title='Obsesi Mengembangkan Paskomnas'/><author><name>widya_sri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04595588057753265541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg13hgN4DzhQpOGKLK5345h0tEdeY6F3Pjm26LzrcRgfK1BXq3W4fI1YBeqsI8dcnPcjnSX_tR_q8G8t7p4Y8gqdRLkdXRjltdkE52xTTczKevpkxhDbYDtMbYR8HE2WQ/s220/PIC_0037.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5496464690455652937.post-9016594632135521673</id><published>2009-05-20T15:37:00.001+07:00</published><updated>2009-05-20T15:38:47.991+07:00</updated><title type='text'>Sempat Jadi Penerbang</title><content type='html'>Edi Susmadi&lt;br /&gt;Direktur PT Bursa Berjangka Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah : Sri Widiya (Bulletin Berjangka BAPPEBTI)&lt;br /&gt;Ramah dan bersahaja. Demikian yang terlihat pada sosok pria kelahiran Prabumulih (Sumatera Selatan), 24 April 1956 ini. Meski belum lama ini berhasil “mengalahkan” sejumlah pesaingnya untuk memperebutkan kursi Direktur PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Bahkan alumnus Universitas Negeri Jakarta jurusan Administrasi Niaga tahun 1986 ini mengaku justru tidak memiliki ambisi apa pun saat terpilih menjadi salah satu calon untuk “berlaga” di arena fit and proper test pada pemilihan Direktur BBJ itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangkali saya terpilih ini karena salah satu strength yang saya miliki. Artinya saya mengetahui network dari komoditi itu dalam arti siapa-siapa saja potensial person artinya yang bisa diminta opininya untuk melakukan bursa berjangka ini. Selama pengalaman kerja saya, saya lumayan mengetahui karakter-karakter pebisnis di dalam komoditi. Sementara kelemahan saya, dalam hal ini, mengenai pasar keuangan, foreign exchange, karena ini bukan bidang saya jadi saya kurang begitu memahami,” ulas ayah dari Ira Delizia Estaliza (23), semester akhir fakultas Ekonomi Universitas Trisakti. Oscar Prima (17), siswa kelas 2 SMA Al-Azhar dan Zelica Zelda (11) murid kelas 5 SD Al-Azhar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pria berpostur tinggi 167 cm dan berat 103 kg ini memang memiliki latar belakang karir sebagai physical commodity trader. Dia memahami betul seluk beluk perdagangan komoditas, mulai dari membeli, mengumpulkan di gudang, sortasi, lalu dipilah-pilah untuk persiapan ekspor, hingga dikapalkan dan dimonitor di negara tujuan. Diantaranya dia pernah menangani komoditas coffee, soya bean, rice, corn, tapioca, dan masih banyak lagi. Bukan hanya itu, dia pun memiliki pengalaman untuk kegiatan impor. Menurutnya, karir bisnisnya telah mengajarkan banyak hal. Mulai dari bersahabat dengan petani lokal hingga terbang ke Amerika, Jerman, Inggris, Brazil, Malaysia, Vietnam dan Jepang untuk bisnis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, putra pasangan H Hambali (alm) dan  Hj Siti Aisyah (almh) ini mengaku memang tidak pernah bercita-cita menjalani profesi yang sama dengan orang-orang di sekelilingnya. Termasuk menekuni profesi ayahnya yang merupakan seorang pegawai bagian Logistik di Pertamina, meski kedua kakaknya mengikuti jejak sang ayah bekerja di perusahaan minyak tersebut. Edi mengaku memang memiliki pandangan yang jauh ke depan. Secara jujur diakuinya, sejak muda dia memiliki keinginan kuat mencari peluang untuk terjun ke bisnis global. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip hidupnya yang selalu ingin maju membuatnya berani mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidupnya. Suatu keputusan yang boleh dikatakan cukup berani, bahkan cenderung ke arah nekad. Misalnya, saat sudah berhasil menggondol beasiswa dan kuliah dengan lancar di sebuah akademi pariwisata, tahun 1978 Edi malah ikut tes sekolah penerbangan di Curug. Ketika dinyatakan lulus, penggemar warna hijau ini juga tidak merasa rugi meninggalkan pendidikannya yang telah ditempuh selama tiga tahun dan pindah ke sekolah penerbangan bergengsi tersebut. Setelah lulus tahun 1980, dia pun didampuk sebagai Simulator Aircraft Instructor selama 10 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dasar Edi yang selalu tertantang, meski akan dipromosikan sebagai kepala bandara kelas dua, dia tetap tidak melupakan mimpinya untuk mengenal bisnis global. Tahun 1989, penyantap sayuran dan ikan ini meninggalkan dunia penerbangan demi bekerja di PT Cargill Indonesia dimana dia sempat menjadi Branch Manager Coffee Division di Bandar Lampung. Lalu menjadi General Manager Cocoa Division (2001-2002). Padahal pada awalnya dia mengawali karirnya hanya sebagai trainee, kemudian meningkat menjadi trader dan menjejak promosi sebagai manager pada tahun ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak puas juga berkarir di perusahaan Amerika, tahun 2003 akhirnya penyuka lagu-lagu oldiest ini pun pindah ke PT Indonesia Samudra Persada. Pada perusahaan yang bergerak di bidang cold storage tersebut, penggemar renang ini menjadi Marketing Director di Bandar Lampung. Kemudian sempat pula menjadi Senior Operation Trading Manager di PT Agri Mulya Indonesia, dan terakhir bahkan menjabat sebagai Director Specialist Coffee Asosiation of Indonesia (SCAI). (***)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://widyahistory.blogspot.com/feeds/9016594632135521673/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/5496464690455652937/9016594632135521673' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5496464690455652937/posts/default/9016594632135521673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5496464690455652937/posts/default/9016594632135521673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://widyahistory.blogspot.com/2009/05/sempat-jadi-penerbang.html' title='Sempat Jadi Penerbang'/><author><name>widya_sri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04595588057753265541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg13hgN4DzhQpOGKLK5345h0tEdeY6F3Pjm26LzrcRgfK1BXq3W4fI1YBeqsI8dcnPcjnSX_tR_q8G8t7p4Y8gqdRLkdXRjltdkE52xTTczKevpkxhDbYDtMbYR8HE2WQ/s220/PIC_0037.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5496464690455652937.post-6012881693953667258</id><published>2009-05-20T15:31:00.001+07:00</published><updated>2009-05-20T15:34:18.293+07:00</updated><title type='text'>ghost of the river</title><content type='html'>Sinopsis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 tahun lalu, Dhea pernah di selamatkan Antu Banyu saat tenggelam di sungai Musi Mahluk mengerikan yang konon gemar menghisap darah dan otak manusia. Dia merasa yakin, mahluk itu memperingatkannya untuk tidak menceritakan peristiwa itu kepada siapa pun kalau tidak ingin terjadi bencana. Hal tersebut juga Dhea sampaikan kepada teman-teman yang berenang dengannya dan sempat menyaksikan mahluk air itu. Tetapi sayangnya, teman-temannya tidak mengindahkan peringatan itu. Akibatnya, terjadi hal-hal menakutkan bagi mereka. Jamie tiba-tiba meninggal dunia. Hany yang mendengar kisah tentang Antu Banyu itu dari Jamie, juga tewas dalam kecelakaan. Sementara Vina, tewas terbakar di karaoke tempatnya bekerja menjelang hari pernikahannya. Budi tewas dalam kecelakaan di jalan raya, Doddy menjadi terganggu jiwanya. Dan Eve, satu-satunya yang tidak melihat Antu Banyu itu tetapi menceritakan kisah tersebut kepada kakaknya. Malah membuat kakaknya pun kehilangan ingatannya. Dhea pun merasa bersalah ketika kakak perempuannya kemudian juga mengalami gangguan jiwa, setelah secara kebetulan membaca diary Dhea yang telah menuliskan kenangan tentang peristiwa di sungai Musi itu. Bukan itu saja. Kecelakaan yang dialami ayah Dhea saat membangun rumah pun disadari kemudian ada kaitannya dengan pengungkapan peristiwa pertemuannya dengan Antu Banyu. Dan ternyata, masih banyak korban-korban lain yang akan berjatuhan karena mengetahui tentang peristiwa itu. Mungkin, salah satunya, termasuk kamu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ghost of The River &lt;br /&gt;(the true story of Sri Widya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plaju, 1983&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu kami memutuskan untuk meneruskan kegiatan bermain di sungai. Setelah kegiatan bermain di sekitar rumah sudah tidak begitu menyenangkan lagi. Bosan rasanya jika pagi-pagi kami main kawin-kawinan lagi. Mengarak si Eve dengan si Doddy yang duduk diatas sepeda roda tiga warna hijau tua. Dimana kami kemudian sibuk mendorong sambil berlari sekencang-kencangnya. Jenuh rasanya melihat muka si Eve tebal dengan make-up seperti biduan dangdut yang mau pentas. Bosan juga mengawasi kegiatan para penyapu dan penyabit rumput di lapangan bola Patra Jaya milik Pertamina. Atau berkumpul di pekarangan atau belakang rumah salah satu diantara kami, sambil main rumah-rumahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kegiatan kami, anak-anak penghuni asrama tentara di kawasan Plaju itu. Atau yang biasa disebut anak kolong. Setelah ayah-ayah kami setiap pagi itu pergi dengan seragam lengkap menaiki truk hijau besar, dimana kami kemudian akan berlari mengejar dan terus melambai sampai gerbang pengawalan (gerbang masuk asrama yang dijaga beberapa tentara bersenjata), barulah kegiatan kami dimulai. Kami memang merupakan para anak tentara yang masih kecil-kecil. Belum kenal Taman Kanak-Kanak, atau karena alasan tertentu tidak dimasukkan ke sekolah itu. Seperti aku, yang meski hampir lima tahun tapi tidak juga mengenal TK. Meski ada TK di lingkungan asrama itu. Karena ayahku yang agak kolot dan super hemat itu lebih setuju jika aku nantinya langsung masuk SD saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“TK itu cuma tempat main-main saja. Kau bawa duit dan makanan dari rumahmu sebakul, lalu kau makan dengan teman-temanmu disana. Menghabis-habiskan uang saja. Ah, sudahlah. Jika kau ingin belajar maka belajarlah di rumah. Kau akan jauh lebih pintar dari teman-temanmu yang berkumpul di TK itu” demikian nasehat ayahku, jika aku merengek minta sekolah di TK seperti teman-teman seusiaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keempat saudaraku, hanya kakak perempuanku yang sempat mengecap indahnya bersekolah di TK. Suatu hal yang menurut orangtuaku sama sekali tidak ada faedahnya. Kedua kakak laki-lakiku mengaku justru lebih senang tidak sempat berkenalan dengan tempat yang menurut mereka kurang maskulin itu. Dan aku, si bungsu ini, akhirnya hampir setiap pagi hanya mampu menatap dengan penuh kecemburuan terhadap teman-teman yang berseragam putih dan hijau itu. Mereka berbedak putih tebal, membawa ransel berisi dua tangkup roti dan sebotol air minum. Terkadang ditangan mereka juga melambai lembaran uang seratus perak sebagai bekal buat jajan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah mati, aku sangat membenci pemandangan ini. Sebenci aku menahan kejengkelan akibat kekerasan pola pikir orangtuaku yang seakan mentabukan anaknya untuk mengenal yang namanya sekolah TK itu. Mereka tidak tahu bagaimana perasaanku. Betapa tertekannya aku melihat mereka bersekolah di pagi hari yang ceria. Orangtuaku seperti tidak merasakan betapa aku terluka jika beberapa diantara mereka menertawakan aku yang sudah terlalu tua tapi tidak juga bersekolah. Dan mungkin, karena aku sudah terlalu sering merengek bahkan sampai menangis segala, akhirnya orangtuaku dan saudaraku sedikit bersimpati juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku sakit, maka aku digendong ibuku untuk dibawa melihat-lihat kegiatan di TK. Suatu kenangan yang sulit kulupakan, saat ibu memelukku dengan hangat sambil mengajakku menyanyi menirukan murid-murid yang sedang latihan paduan suara. Kakak-kakakku juga sering mengajakku main di TK. Jika  kegiatan di TK sudah tidak ada lagi, kami sering main ayunan, perosotan (meluncur dari kayu licin dan melingkar seperti ular) atau sekedar kejar-kejaran disana. Terkadang teman-teman yang lain pun ikut serta. Ibu juga terkadang pagi-pagi sudah mendandaniku dengan rapi. Lalu ayah menggandengku sampai ke dekat TK, lalu kami kembali lagi ke rumah. Aku tahu itu dilakukan mereka agar aku berhenti merengek-rengek jadi murid TK. Dan akhirnya aku memang berhenti merengek lagi. Bukan karena puas telah diberikan simpati, tetapi karena sudah capek dan malu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malu jika kegiatanku setiap pagi itu dipertanyakan dan dikasihani para tetangga. Sedih karena mereka menyalahkan program hidup hemat yang dijalankan ayah dan ibu tercinta. Meski suatu hari aku memaklumi, bahwa tindakan tersebut karena ayah hanya seorang tentara berpangkat rendah dengan gaji yang tidak seberapa tetapi harus menghidupi istri serta ke-empat anaknya. Belum lagi ditambah ibunya (nenek kami) yang sudah tua. Sementara disetiap saat pintu rumah kami juga selalu terbuka demi segala saudara sepupu ayah dari antah berantah, yang selalu datang memohon bantuan seperti  rumah kami itu Departemen Sosial saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setiap pagi hariku di usia menjelang lima tahun itu akhirnya harus kuhabiskan bersama teman-teman balitaku yang memang belum waktunya mengenal TK. Jika dengan anak yang lebih besar, kami bermain karena mereka sekolah siang. Dan jika aku bermain dengan anak seusiaku, itu artinya mereka senasib karena kami kebetulan berasal dari keluarga yang sedang melancarkan program hidup hemat, cermat dan bersahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola permainan anak-anak seusia kami tentu dapat di tebak. Kalau tidak meniru kegiatan orang dewasa (seperti kawinan-kawinan itu), maka kami mencari kesenangan pribadi yang begitu rahasia. Bukan suatu hal yang aneh lagi, jika ketahuan main di sungai maka kami akan ditarik-tarik para orangtua untuk pulang ke rumah. Masih untung kalau cuma diomeli atau dijewer. Biasanya akan diterapkan sanksi khusus untuk tidak boleh keluar rumah sampai beberapa waktu lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat-tempat rahasia yang kami miliki, seperti hutan belukar di belakang asrama dan Sungai Musi. Jika hutan belukar yang menyeramkan itu sering jadi arena permainan anak-anak laki-laki yang sudah besar, maka sungai adalah rahasia terbesar kami. Kami yang kecil ini tidak pernah diajak anak-anak yang lebih besar untuk mencari biji keluwe (semacam buah mirip sukun yang bijinya enak direbus) atau pisang liar, karena dianggap terlalu polos dan merepotkan. Meski mereka juga kerap mandi di sungai, tetapi karena sudah besar tentu tidak ada larangan yang sifatnya keras. Larangan akan muncul jika tiba-tiba ada seorang anak tenggelam di sungai yang konon katanya dilahap Antu Banyu. Monster menakutkan yang wujudnya sendiri tidak ada yang secara jelas bisa mendiskripsikan. Belum lagi para buaya sungai yang lapar dan konon tidak kalah buasnya dengan si Antu Banyu itu. Pokoknya judulnya, serem aja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bagi kami, para mahluk kecil ini, bukan hanya Antu Banyu yang ditakutkan akan menyerang. Postur tubuh yang mini tentu dikhawatirkan belum dapat menjaga diri sendiri dari bahaya apa pun yang akan menyerang. Termasuk ombak besar yang menerjang akibat pengaruh kapal besar yang berlalu lalang. Dan dipastikan kami memang belum pandai berenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi sungai Musi bukan sungai biasa. Meski nampak terlihat tenang, arus sungai Musi tidak dapat dikatakan setenang permukaannya. Konon kondisi sungai ini mengerucut, dimana pada bagian tengah yang sempit dan sangat dalam itu (konon juga) terdapat pusaran air yang dapat menyedot apa saja. Sebagian orang percaya bahwa di bagian lengkung sungai inilah terhadap kerajaan siluman, setan atau sejenisnya. Masyarakat biasa menyebutnya dengan Antu Banyu. Antu berasal dari kata hantu, dan banyu berasal dari kata air. Mahluk antah berantah yang konon hidupnya sudah ribuan bahkan jutaan tahun lalu. Sebab banyak yang meyakini jika mahluk ini sebenarnya hanya hewan purba yang sanggup hidup di air maupun di darat. Mereka diyakini sebelumnya berjumlah banyak, namun karena habitatnya terdesak oleh kehidupan manusia membuat populasinya menjadi kian langka. Bahkan diyakini berevolusi sehingga bentuknya mengecil menjadi seukuran tubuh kucing. Padahal sebelumnya, ada banyak cerita dari masyarakat lama yang meyakini jika wujud mahluk yang satu ini besar luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi konon, mahluk itu wujudnya saat ini mirip seekor monyet tetapi bertubuh tidak lebih besar dari kucing. Berambut panjang, bersisik dan berlendir. Suatu deskripsi yang cukup aneh bagi seekor mahluk air. Wujud ini, antara lain ku ketahui dari ibuku sendiri. Menurut ibu, saat ibu melahirkan anak pertamanya yakni kakakku, ayahlah yang mencucikan kain penuh darah yang digunakan waktu persalinan. Saat itu ayah mencuci kain-kain tersebut di Sungai Musi menjelang tengah malam. Ketika sibuk mencuci, tiba-tiba ayah melihat sesuatu yang timbul tenggelam di atas permukaan sungai. Mukanya seperti monyet. Tetapi karena ayah meyakini tidak mungkin ada monyet yang jago berenang, maka ayah langsung melempari mahluk itu dengan batu. Ayah yakin itu mahluk air yang sering disebut masyarakat dengan Antu Banyu yang terpancing bau darah dari kain yang dicuci ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Sungai Musi yang sepanjang aliran sungainya padat dengan sejarah itu memang terus menenggelam misteri tentang Antu Banyu. Sungai ini pun wujudnya seperti laut saja. Banyak kapal besar dari negara asing seperti tidak henti-henti melintasinya. Meski kalah panjang dengan Sungai Kapuas, tapi aku yakin sungai ini mungkin lebih lebar dari sungai lainnya di nusantara. Kalau main di sungai ini, aku senang berdiri diatas batu karang. Sebenarnya itu batu besar yang dibuat untuk menghalang hantaman air sungai. Panjangnya sekitar seratus meter dengan ketinggian sepuluh meter. Konon di bangun sejak zaman penjajahan Jepang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di seberang sana, kita masih dapat melihat Pabrik Pupuk Sriwijaya (PUSRI).  Di sebelahnya juga ada Pulau Kemaro, sebuah pulau kecil yang menyajikan cerita legenda  cinta Putri Fatimah dari Kesultanan Palembang  dengan Pangeran Tan Bun An dari Kerajaan Tiongkok. Mereka konon mati karena menceburkan diri di sungai, karena mencari guci-guci berisi sawi busuk yang terlanjur mereka buang. Padahal guci-guci dari Tiongkok itu sebenarnya berisi emas dan permata. Orang tua Tan Bun An sengaja menutupi harta benda itu dengan sawi busuk atau biasa juga disebut sekarang sayur sawi yang diasinkan, untuk mengelabui para perompak. Tapi karena Tan Bun An mengira orang tuanya sengaja menghinanya dengan memberi barang yang tak berharga, maka dia membuangnya begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, guci terakhir keburu pecah sebelum terlempar ke sungai. Dan terlihatlah, tumpukan emas permata dibawah tumpukan sawi busuk. Berharap dapat menemukan guci-gucinya kembali, pangeran Tiongkok ini pun menceburkan diri ke sungai Musi. Karena tak kunjung kembali, para pengikutnya, termasuk Putri Fatimah pun ikut menceburkan diri. Konon, mereka tak pernah muncul ke permukaan lagi. Tetapi tepat di lokasi mereka menceburkan diri malah muncul pulau kecil. Pulau itu sampai kini masih sering dikunjungi warga keturunan terutama saat Imlek. Mungkin selain berziarah, mereka juga dapat menuai hikmah. Minimal menghayati kata pepatah; hormatilah segala pemberian orangtua. Atau mungkin, don’t judge book with this cover?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang, masih banyak lagi kelebihan sungai Musi. Seperti, begitu banyak kapal besar dan kecil yang melintas, juga suatu pemandangan indah. Mereka membawa hasil kebun seperti kelapa, pisang dan sayur mayur. Para pelancong juga lewat dengan speedboat.  Kami biasanya melambai-lambai kepada mereka, sambil mengucapkan selamat jalan seakan-akan kami sudah puluhan tahun saling mengenal dan sedih mengalami suatu perpisahan. Sungguh, betapa menyenangkan main di sungai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, main di sungai harus dilakukan secara diam-diam. Biasanya, kami memulainya saat ibu-ibu kami lagi berjuang memasak atau mencuci di dapur. Jika masih ada beberapa ibu-ibu yang ngobrol di depan rumah, maka kegiatan menuju sungai juga harus diselenggarakan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Mula-mula, kami main-main di ujung rumah yang paling dekat sungai. Jika dipastikan tidak ada satu pun orang tua yang melihat, maka kami dengan cepat melesat menuju sungai. Berlari pontang-panting bagai dikejar setan kuburan, dengan mulut terkunci dan sepasang sandal jepit tergenggam erat di tangan.  Jika sudah sampai di sungai, baru kami berteriak-teriak seperti orang kesurupan. Bagai meraih suatu kemenangan besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ritual aneh jenis ini juga agak sedikit berbeda jika dilakukan untuk mewujudkan aksi pulang ke rumah.  Meski harus tetap waspada takut tertangkap basah, urusan lari atau tidak tergantung dari kondisi keramaian lingkungan rumah. Jika suasana sepi, maka tidak perlu begitu takut untuk berlari sekencang-kencangnya menuju rumah. Tetapi jika ramai, maka kami akan pulang pelan-pelan mengitari belakang rumah orang. Bila perlu melalui jalan memutar, tentu saja jika air sungai sedang tidak pasang. Karena jika pasang, akan sulit memanjat tebing beton untuk memasuki kawasan itu. Terpeleset bisa sukses masuk sungai. Tetapi jika tidak pasang maka akan mudah berlari di pasir, kemudian memanjat tebing  tersebut.  Rutenya memang melewati stadion Patrajaya dan kemudian masuk asrama lewat gerbang pengawalan. Jadi seolah-olah baru pulang dari rumah teman yang rumahnya di dekat jalan raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma bahaya ketika akan pergi, jauh lebih menakutkan dari bahaya menuju acara pulang. Bahaya pergi, jika ketangkap basah paling hanya diomeli. Tetapi jika bahaya pulang, justru bukan dari orang tua. Jika lewat belakang rumah orang, kondisinya sangat menyeramkan. Gelap, rawa, nyamuk dan bau busuk. Jika lewat Patra Jaya, harus waspada terhadap serbuan monyet-monyet aneh penghuni makam yang terletak tak jauh dari stadion sepakbola, bahkan ditengah-tengah lokasi lapangan golf. Konon itu bukan monyet sembarangan. Mereka hidup berkelompok dan berkegiatan bak manusia. Jumlah mereka konon selalu tetap. Sebab jika ada satu anggota baru (bayi monyet yang baru dilahirkan), maka satu monyet akan di depak dari komunitas itu. Monyet yang sudah keluar dari habitatnya ini biasanya datang ke pemukiman penduduk dan kemudian akan dipelihara orang buat jaga rumah, layaknya anjing atau kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya monyet-monyet ini kalau kelaparan juga sering mendatangi rumah-rumah penduduk untuk cari makanan. Mereka memanjat pohon untuk makan jambu atau pisang seenaknya, bahkan kerak yang dijemur penduduk pun bisa dibawanya. Monyet-monyet ini memang hanya mengandalkan makanan dari sesaji yang diberikan para peziarah makam tua di Patra Jaya itu. Konon itu makam Putri Bagus Kuning berikut kerabatnya. Putri yang konon wujudnya bagus (sempurna) dengan kulit kuning langsat. Mungkin putri ini termasuk idola atau superstar di zamannya, sehingga menjadi rebutan banyak pria dan melegenda. Dan monyet-monyet itu konon adalah para dayang dan pengawal sang puteri yang tetap setia sampai keturunannya untuk menemani sang puteri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada juga yang bercerita, jika sekumpulan monyet-monyet itu tidak lain adalah keturunan Kero Rambang. Atau Kero (kera) dari Pulau Rambang. Mereka adalah sekelompok manusia yang dikutuk karena suatu kesalahan dan lari dari pulau tersebut.  Karena malu, mereka berlindung di makam  tua sang puteri yang konon angker. Karena itu, jika ada kelakuan manusia yang rakus, tidak tahu malu atau tidak berakal budi, maka orang sering menyebutnya bertingkah seperti Kero Rambang. Salah satu tindakan monyet tersebut yang dianggap tidak berperikebinatangan, adalah mengusir salah satu anggota keluarganya jika sudah terdapat anggota baru. Para monyet ini dianggap tidak mau populasinya bengkak. Mereka sudah menganggap habitat mereka itu sudah penuh sesak dan tidak punya niat untuk mempersempit wilayahnya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sistem apa yang digunakan untuk mengeluarkan anggota lama demi anggota baru ala para monyet ini. Mungkin secara voting, mufakat, atau mungkin juga diundi layaknya arisan. Yang jelas,hanya monyet-monyet tua yang bertubuh gemuk dan besar sepertinya tidak pernah ditemukan terlantar di pemukiman penduduk. Mereka selalu ada di komunitas itu. Mungkin juga para monyet besar dan tua ini tetap terus bertahan karena mengantungi hak veto. Atau mungkin sebenarnya monyet-monyet tua ini justru merupakan manusia yang dikutuk itu? (Wallahuallam!) Yang jelas, aku tidak pernah menghitung jumlah monyet-monyet itu. Jangan kan menghitung, melihatnya saja ngeri. Padahal para monyet ini pede sekali. Terutama jika ada acara di stadion, misalnya sepakbola, mereka tidak malu-malu juga ikut berbaur dengan penonton. Dan tidak malu-malu merampas makanan dan minuman orang. Makanya kami kadang berpikir lama baru memutuskan pulang lewat Patra Jaya. Monyetnya itu, lho! Hanya saja, biar ritual pulang ke rumah cukup sulit, tetapi acara bermain di sungai selalu menjadi kegiatan favorit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pagi itu. Kami memutuskan berenang di sungai, meski yang bisa berenang cuma dua orang. Vina dan Budi. Vina sudah kelas tiga SD, tapi dia sekolah siang. Dia paling besar diantara kami. Jamie yang terkenal sangat nakal tetapi murah senyum itu juga jago berenang. Sedang Budi, biar lebih kecil dari aku dia jago berenang seperti lumba-lumba. Dia sangat pemberani dan cukup pintar bicara. Sementara temanku yang lain, Doddy dan Eve juga sama seperti aku. Kalau berenang bisanya gaya batu, alias begitu menceburkan diri langsung tenggelam. Karenanya kami paling berenang sambil berpegangan di kayu-kayu besar bekas pohon tumbang. Kalau berenang, kami semua telanjang. Entah itu laki atau pun perempuan. Baju kami kami letakkan di rerumputan atau batu yang kering. Jika pulang dalam keadaan basah, maka sama saja membuka rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, aku memang takut dengan kedalaman sungai. Meski senang dengan air, aku takut menuju ke tengah sungai. Aku sudah cukup puas dengan bermain di pinggirnya saja. Tetapi hari itu, entah kenapa, aku iri sekali melihat Budi jungkir balik terjun ke sungai dan berenang sampai ke tengah. Rasanya aku begitu malu jika sampai tua nanti tidak juga mahir berenang seperti dirinya. Meski Vina beberapa kali meneriakkan kepada kami yang tidak bisa berenang untuk tidak ke tengah, tetapi aku diam-diam mencoba.&lt;br /&gt;Pertama, aku melepaskan peganganku dari pohon tumbang itu. Tetapi ketika aku seperti akan hanyut, maka aku kembali berpegangan. Itu terjadi berulang kali, hingga tiba-tiba aku sudah tidak bisa meraih pohon  itu lagi. Kakiku pun tidak bisa menjejak pasir. Jauh-jauh…itulah yang kurasakan. Tiba-tiba aku merasa menjadi semakin jauh dengan teman-temanku. Aku berteriak menggapai-gapai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Vin! Vin!” aku memanggil-manggil Vina. Aku melihatnya mencoba menarik tanganku. Aku juga masih mendengar jeritan teman-temanku yang lain. Tetapi selanjutnya, yang kulihat dan kurasakan hanya air, air dan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa lama aku berada di dalamnya, sampai ketika aku merasakan semuanya sesak dan begitu menyakitkan. Aku mengepak, berlari dan menggapai kesana-sini. Mengharap pertolongan datang dari siapa pun. Sampai akhirnya aku memegang sesuatu, seperti rambut atau entah apalah itu.  Dan ketika aku memaksakan diri untuk membuka lebar-lebar mataku, bathinku terenyuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, Tuhan. Aku hampir tak mempercayai mataku. Sosok itu…sosok yang mampu mengaburkan mata dan jiwaku. Kami bertatapan dengan situasi yang tak mampu kujelaskan. Tetapi aku ingat tatapan itu dan seakan mengerti makna yang terkandung di dalamnya. Dia terus melaju dengan kuat ke permukaan, menyeretku dengan genggaman rambut ditanganku. Sinar matahari kurasakan semakin hangat ketika kepalaku menyembul diatas permukaan, membuatku mampu bernafas dengan kesetanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dapat! Dapat! Dhea selamat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak apa-apa, Dhea?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tarik! Tarik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepat, sebelum dia kembali di tarik Antubanyu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar suara-suara itu. Aku masih bingung dan kelelahan. Tetapi tangan-tangan itu menarikku dengan buas hingga aku tersungkur di pasir. Terbatuk-batuk hingga muntah. Setelah kurasakan penglihatanku pulih, aku baru terduduk diam di pasir. Di sampingku, tampak Vina, Jamie, Budi, Donnie, Doddy dan Eve ikut duduk dengan tubuh gemetaran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau melihatnya, Dhea?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terpana. Tetapi Budi mengangkat bahunya.”Sudahlah. Kami tadi melihat sesuatu di air. Apalah itu bentuknya, aku yakin itu yang namanya Antubanyu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Budi!” Eve tampak merinding ketakutan.”Aku tidak lihat apa pun tadi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Eve tidak sempat lihat. Dia sibuk menangis” bela Doddy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau beruntung, Dhea. Vina menyelamatkanmu tadi. Dengan berani dia berenang ke tengah untuk menggapai tanganmu. Kau tadi hanyut terbawa arus, timbul dan tenggelam dan tiba-tiba kau menghilang seakan ditelan ke dasar sungai. Tetapi beberapa saat kemudian kau muncul ke permukaan. Menyeruak bagai kesurupan. Ketika kami masih terpana, Vina dengan sigap menggapai tanganmu. Kalau dia tidak menarikmu cepat-cepat, kau sudah mati dimakan Antubanyu” terang Budi panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung menatap Budi dan Vina bergantian. “Kalian melihat sesuatu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku lihat!” teriak Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diam, Budi!” bentak Vina nyaris tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian lihat juga?” aku memandangi Doddy, Jamie dan Eve. Kulihat Eve menggeleng dengan jujur. Tetapi Doddy, dia tampak kebingungan. Sementara Jamie, gayanya yang cuek itu menyiratkan bahwa meski dia tahu tapi tak akan peduli apa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela nafas,”Tolong, kawan-kawan. Apa pun yang kalian lihat tadi. Apa pun itu. Jangan pernah bercerita kepada siapa pun”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, jangan cerita apa-apa. Nanti orang tua kita marah jika tau Dhea sampai hanyut tadi di sungai. Kita kan main ke sungai ini diam-diam” kata Vina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu salah satunya. Terima kasih Vin, sudah menyelamatkan aku. Tetapi aku harap kau akan menyimpan cerita tentang kejadian ini selamanya. Kalian semua. Sampai kapan pun!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?!” teriak mereka nyaris bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya jangan cerita pada siapa pun kalau kalian ingin selamat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mengancam kami?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan aku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengalihkan pandangan ke sungai itu. Kini airnya bergelombang kuat. Seperti ketika sebuah kapal asing tiba-tiba lewat. Air sungai itu berderak menghantam batuan penahan air yang di bangun pada masa penjajahan Jepang itu. Angin pun tiba-tiba berhembus kencang, menerbangkan pasir-pasir hingga baju-baju kami yang tadi tergeletak bergelimpangan di rerumputan. Dan anehnya, cuaca yang tadinya panas tiba-tiba menjadi suram. Dan semakin mencekam ketika petir mulai menyambar-nyambar. Kami berlarian menjauh dengan ketakutan sambil sibuk menyambar pakaian masing-masing yang sudah bertebaran tak karuan. Dan aku, di tengah kekalutan itu, seperti kembali mendengar suara-suara. Suara aneh yang sempat kudengar sebelumnya. Suara samar tetapi terasa begitu nyaring melengking. Memekakkan telinga dan membuat kepala pusing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan bilang siapa-siapa soal kejadian ini! Berjanjilah! Kalau kalian bercerita pada siapa pun, maka akan terjadi sesuatu yang menakutkan pada diri kalian. Sangat menakutkan!” aku berteriak-teriak sekuat-kuatnya. Aku tahu teman-temanku itu bodoh dan mulutnya ember semua. Harus ada kekuatan besar untuk menyadarkan mereka pentingnya untuk menjaga suatu rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya! Ya! Kami berjanji” mereka kemudian kudengar pula berteriak-teriak kepadaku. Semuanya. Aku lega. Setidaknya mereka telah berjanji untuk tidak bercerita. Aku percaya kepada mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu lagi apa sesungguhnya yang terjadi kepadaku selanjutnya. Aku merasa tubuhku panas dan bergetar hebat. Tetapi sebelum semuanya kurasakan menjadi gelap, aku masih mendengar suara-suara teman-teman kecilku yang kembali menjerit-jerit ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesurupan! Kesurupan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Tak ada yang tahu banyak soal peristiwa itu. Untunglah, teman-temanku itu merahasiakannya terutama dari keluargaku. Entah mereka takut soal pesanku atau takut juga kena getahnya. Tetapi saat aku pingsan mereka dengan setia menungguiku. Kami berteduh di reruntuhan gedung bekas restoran pinggir sungai. Padahal lokasi itu sebenarnya sangat membahayakan karena nyaris runtuh. Dindingnya sebagian sudah retak dan sebagian lagi sudah benar-benar runtuh mencium tanah. Tetapi rasa ketakutan teman-temanku atas kemarahan orangtua masing-masing mengalahkan ketakukan akan dihantam keruntuhan gedung tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukurlah kau sudah sadar” terdengar suara Vina, “Pusing?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng,”Tidak, rasanya aku baik-baik saja” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vina tertawa kecil dan yang lainnya ikut-ikutan cengengesan. Kekacauan tadi sudah berakhir. Tak ada lagi angin apalagi hujan. Cuaca juga mulai cerah lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita pulang!” tiba-tiba suara Budi memecah. Kemudian terdengar sorak-sorai yang begitu keras seperti akan meremukkan reruntuhan bekas restoran itu. Seakan tersadar dari kekacauan panjang, kami kemudian berlarian liar menuju rumah. Sekuat tenaga seakan mengejar sesuatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi kau seperti akan mati saja” Vina tertawa-tawa ketika kami berlari-lari di jalan setapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, matamu melotot dan kau berteriak-teriak” sahut Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, dia cuma ketakutan” sambung Jamie sambil berjingkat-jingkat menggoda Doddy yang berlari kecil di sebelah Eve.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, dia…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, apa yang kau pegang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?” aku berhenti berlari. Kedua tanganku lalu kuangkat ke muka. Dan aku baru menyadari, jika aku memegang sesuatu di tangan kananku. Sesuatu yang panjang, keras dan seperti ijuk namun sedikit berlendir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu rambut!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rambut siapa ini? Aku kan…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Antu Banyu …”suara itu, suara salah satu dari kami. Tetapi yang terdengar malah lebih mirip suara lain dari dunia yang lain. Sebelum kami menyadarinya lebih jauh, kaki-kaki kecil kami seakan tak dapat ditahan untuk segera berlari. Menjauh dan menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan katakan ini kepada siapa pun!” aku kembali berteriak sambil terus berlari. Tetapi aku yakin, tak ada satu pun dari mereka yang mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aku bangun di pagi itu dengan kebingungan. Ibu pagi-pagi sudah menghilang dan bukan ke warung. Saat aku ke luar rumah, para tetangga sibuk berlarian ke satu arah. Sebelum aku sempat bertanya, ibu kulihat berlari-lari menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mandi! Mandi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di dalam kamar mandi itu, aku diberikan ceramah panjang lebar. Soal tidak boleh main di jalan raya, tidak boleh pergi-pergi tanpa izin orang tua sampai jangan mau diajak orang asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa sih, Mak?” tanyaku pada Ibu. Kami memang kemudian lebih terampil memanggil Ibu dengan sebutan Emak. Padahal sebelumnya kami diajarkan untuk memanggil orang tua kami dengan sebutan Ibu dan Ayah. Tetapi lingkungan merubah segalanya. Karena di lingkungan kami banyak orang menyebut ibunya sebagai “emak”, Layaknya orang melayu, orang tua biasa disapa dengan sebutan emak dan ayah. Maka kemudian berubahlah panggilan itu. Bahkan karena lingkungan juga, aku bahkan pernah memanggil ayahku dengan sebutan “Pak-e” karena tetanggaku kebetulan juga ada yang dari Jawa. Meski kemudian hal itu tidak berlanjut, karena ayah tetaplah disebut ayah.  Tetapi dikemudian hari (lagi-lagi) karena lingkungan juga, saat remaja kami kerap memanggil ibu kami dengan sebutan “mami”. Hanya saja, sebutan itu sering kami lontarkan kalau kami sedang sebal mendengar omelannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik lagi ke pagi hari yang aneh itu, rupanya pertanyaanku tidak langsung dijawab ibuku. Dengan hati-hati sekali beliau menjelaskan sesuatu yang sulit kupahami. Untuk pertama kalinya aku tahu, bahwa manusia itu pasti mati. Hany, putri kesayangan tetangga kami tewas dalam kecelakaan di jalan raya saat akan menyeberang jalan menuju ke sekolah. Ada tiga teman sekolahnya yang juga ditabrak saat itu. Dua temannya parah semua. Ada yang patah kaki, yang lainnya malah patah tangan. Tetapi Hany, anehnya dia tidak luka sedikit pun. Dibanding teman-temannya yang  terpaksa di rawat di rumah sakit, Hany diperbolehkan pulang ke rumah. Cuma setelah di rumah dia mengeluh pusing di kepala dan minta tidur. Tetapi kemudian dia malah muntah-muntah dan akhirnya kembali di bawa ke rumah sakit. Sayang, Hany kemudian meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdiri berderet-deret di jendela rumahnya. Mengintip jenazah Hany yang di bawa ke rumah. Ada rasa ketakutan karena beberapa teman membisikkan bahwa orang yang meninggal arwahnya akan menjadi setan. Setan dalam pikiranku tentu sangat menakutkan. Karena aku pernah melihat contoh setan itu saat nonton film horor di tempat tetangga kami yang punya video dan kerap mengutip biaya nonton bak bioskop. Tetapi yang lebih menarik lagi, adalah bisikan teman-teman tentang satu lemari penuh mainan milik Hany yang kami lihat tepat berada di dekat jendela itu. Suatu hal yang tidak akan dinikmati lagi oleh anak kesayangan keluarganya itu. Aku melihat mainan-mainan itu. Ada boneka, mainan peralatan masak, keyboard hingga drum kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir itu, suatu mainan yang begitu menarik dalam penglihatanku. Meski semua mainan itu tentu saja menarik bagi anak seusiaku dan bernasib kurang beruntung seperti aku. Sebanyak-banyak mainan yang pernah kumiliki, adalah warisan dari mainan kakak-kakakku. Tak ada kesempatan bagiku untuk menikmati indahnya dibelikan banyak mainan seperti itu karena krisis keuangan di keluargaku saat itu. Aku hanya ingat, ayah pernah membelikanku gitar kecil dari plastik dan ibu pernah membelikanku keranjang mungil isi telur plastik suatu mainan yang hingga remaja aku masih menyimpannya. Meski gitar itu patah karena dibanting sepupuku dan akhirnya keranjang itu jadi penghuni dapur sebagai tempat meletakkan korek api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kenangan akan drum mungil milik itu, menjadi kenangan tersendiri dalam kehidupanku. Mainan yang mungkin bertahun-tahun kemudian tetap ada di lemari kaca itu, meski pemiliknya sudah terbang ke alam baka. Keluarganya mungkin menyimpan itu untuk sebuah kenangan. Dan mungkin, mereka tidak pernah tahu, jika beberapa meter dari rumah mereka ada seorang anak kecil yang begitu menginginkan mainan itu. Soal mainan itu, masih terkenang-kenang sampai aku dewasa. Tetapi sebenarnya, bukan soal mainan itu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak begitu lama dari kematian Hany, peristiwa lain datang lagi. Aku masih ingat, hari itu semuanya baik-baik saja. Aku mengakui, Jamie memang cukup jahil dan nakal. Bagi anak-anak kolong setempat, bocah peranakan bule itu memang cukup disegani sepak terjangnya. Jarang ada yang mau bermain dengannya dalam waktu yang cukup lama. Bahkan terkadang dia tidak diizinkan untuk ikut bermain. Tetapi tampaknya Jamie tidak terlalu merasa dikucilkan. Kalau diusir, dia paling hanya tertawa-tawa saja. Dia cukup puas dengan pola permainannya sendiri. Bahkan dia juga tidak mau melibatkan dua saudaranya, Flora dan Donnie untuk turut bermain dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bagiku, sebenarnya Jamie tidak benar-benar menjengkelkan. Meski aku agak risih dengan tampangnya yang sedikit bule itu (konon nenek buyutnya ada keturunan Belanda), namun Jamie cukup mengagumkan. Dibalik rambutnya yang pirang, kulitnya yang pucat kusam kemerahan dan bibirnya yang aneh (meski merah tapi tebal, besar dan lebar), Jamie merupakan anak hebat. Dia sangat pintar membuat mainan. Keahlian itulah yang kadang membuat banyak teman kadang bisa juga sedikit simpati, bahkan bersedia menukar mainan buatannya itu dengan uang atau makanan. Yang kuingat, Jamie jago sekali membuat sesuatu dari tanah liat. Dia bisa membuat patung, peralatan masak dan masih banyak lagi. Dan karyanya yang paling monumental dan mungkin yang terakhir kalinya adalah televisi dari tanah liat. Benar-benar luar biasa, nyaris seperti aslinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamie menciptakan televisi tanah liat itu, setelah teman-teman tidak mengajaknya bermain di rumah kosong (salah satu rumah tentara yang kosong karena penghuninya pindah tugas). Dia diusir dengan kasar karena dianggap terlalu liar untuk berada dalam komunitas yang sama. Seperti biasa, si cuek itu cuma cengengesan. Berlalu dengan santai dan bermain di pekarangan rumahnya, tepat di bawah pohon nangka besar. Suatu tempat yang telah menjadi saksi karya-karya spektakulernya. Tetapi beberapa saat kemudian, seorang teman berteriak-teriak dengan penuh kekaguman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, Jamie membuat tivi! Bagus, bagus sekali!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat kami berlari ke depan rumah Jamie, dia sudah datang memamerkan televisinya itu. Dan respon teman-teman pun langsung berubah. Mereka mulai merayu-rayu Jamie untuk minta dibuatkan mainan serupa. Meski sudah diusir, Jamie tampaknya tidak sakit hati. Mungkin dia sudah cukup puas melihat teman-teman mulai mengemis-ngemis kepadanya minta dibuatkan televisi dari tanah liat. Dan sampai siang itu, Jamie sibuk menerima order pembuatan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jamie, buatin aku juga ya” pintaku penuh harap. Ketika dia sudah menyelesaikan beberapa televisi tanah liat pesanan teman-teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, nanti. Besok ya!’ katanya dengan mantap. Lagi-lagi aku melihat dia cengengesan. Menampilkan deretan giginya yang mulai hitam berkarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, janji Jamie itu tidak pernah terpenuhi. Di pagi hari itu, kembali aku melihat salah seorang temanku mati. Suatu hal yang sangat mengagetkan, karena kemarin Jamie tidak terlihat sakit. Dia justru begitu bersemangat membuat televisi tanah liat. Meski takut, aku melihat Jamie sudah dalam keadaan dikafani. Kain kafan putih yang membungkus tubuhnya itu selalu kukenang. Sebagaimana aku mengenang ritual aneh menjelang mayatnya di bawa ke pekuburan. Di tengah gerimis itu, ibunya menyerahkan sepiring beras kuning kepada seorang bapak tua. Bapak itu lalu menaburkan beras itu diatas keranda mayat, tetapi anehnya kemudian membanting piring itu ke batu. Terdengar jeritan para wanita di sana-sini. Aku pun, yang terang-terangan ada di dekat lokasi tersebut bahkan meloncat ketakutan karena serpihan pecahan piring itu nyaris menghantam kakiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sore itu, kami kehilangan bocah unik yang sebenarnya mungkin sangat berbakat menjadi seniman perupa. Bisik-bisik yang kudengar dari para ibu-ibu tetangga yang bergosip seharian, Jamie meninggal karena habis disiksa ayahnya. Ayahnya yang tampan tetapi sangat pendiam dan tertutup itu konon kesal karena Jamie melakukan kenakalan yang menurutnya sulit dimaafkan. Apalagi saat dipukul sang ayah, Jamie balas memukul dengan tak kalah kerasnya. Seperti kesurupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sakit itu bapaknya kena tonjokan si Jamie. Entah, Jamie kesurupan setan mana. Dia kuat melawan bapaknya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang bapaknya agak aneh ya. Seperti tidak mau mengenal orang lain. Tertutup sekali. Tetapi saya tidak yakin dia tega memukul anaknya sampai mati”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah satu diantara mereka, bapak dan anak itu pasti ada yang kemasukan setan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setan? Setan mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, mana aja. Kan kita ini tinggal di dekat sungai. Sungai yang sering makan korban. Tiap tahun pasti ada orang yang mati. Kalau buaya yang makan pasti mayatnya udah masuk ke dalam perut. Tapi ini, masa mayatnya bisa diketemukan dalam keadaan kepala yang bolong? Mahluk apa yang bisa menyedot ubun-ubun kepala manusia hingga isi kepalanya kopong?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau jangan asal bicara, aduh, ampun mbah buyut…penunggu sungai…saya tidak mendengar apa pun!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-ibu itu kemudian berlarian masuk rumah. Suatu hal yang jarang terjadi. Aku pun segera ikut berlari pulang karena ayahku sudah mengajak untuk sholat berjamaah. Memang, meski menjelang maghrib tetapi ibu-ibu disana biasanya tetap ngerumpi.Bapak-bapaknya juga masih nongkrong di luar rumah. Berbeda dengan keluargaku yang dididik ayah secara ketat soal agama. Sholat maghrib berjamaah menjadi kewajiban mutlak bagi seluruh anggota keluarga. Bahkan anak-anak tetangga terkadang ikut-ikutan shalat juga dengan keluarga kami karena orang tuanya tidak pernah shalat. Memang hanya segelintir para tetangga yang menjalankan pendidikan agama seperti keluarga kami. Bahkan aku masih ingat, beberapa tetangga kami masih menganut paham animisme. Meski KTPnya muslim, mereka rajin memberikan sajenan (sesaji) bagi roh-roh leluhur terutama pada saat malam jumat. Karenanya, kami sudah biasa melihat hal-hal aneh. Misalnya, kakakku pernah melihat keris melayang-layang di atas rumah tetangga. Atau ibuku mendengar ada yang mengamuk di rumah tetangga, padahal penghuninya sudah pindah. Kata ibu, para setan di rumah itu sedang kesal karena sudah tidak ada yang memberi sajenan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk urusan perbedaan paham ini, ayahku jawabannya. Ayah pernah membubarkan perguruan beladiri yang dipimpin tetangga, hanya karena melihat yang belajar ilmu itu jadi pada kesurupan semua. Seperti kemasukan setan, saat belajar ilmu itu mereka sering mengamuk, mencakar, mengais seperti harimau lapar. Dan menurut ayah, ilmu tersebut tidak diajarkan di dalam Alquran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terserah, apa kalian mau jadi harimau atau mau jadi setan. Tetapi jangan sekali-kali mengembangkan ilmu itu di sebelah rumahku!” teriak ayah dihadapan tetangga yang mengajarkan aliran menyeramkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan anak-anak yang belajar beladiri aneh itu kemudian bubar. Dan tetangga kami yang mencoba mengembangkan kegiatan itu pun mendadak jadi pindah rumah. Mengisi rumah tentara lain yang kebetulan kosong. Tidak ada benturan yang terjadi. Semuanya berakhir damai. Toh, para orangtua yang anaknya sempat belajar ilmu aneh itu juga malah bersyukur atas pembubaran itu. Meski demikian, hal mistis masih saja terus membingkai kehidupan di lingkungan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti seminggu setelah Jamie meninggal, Dian, Johan, Hery dan Tuti menceritakan sesuatu yang berbau mistis dan membuatku merinding. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tantri, Indri dan Hany itu sehari sebelum kecelakaan sempat bertemu dengan Jamie. Bahkan Hany sempat ngobrol dengan Jamie. Aku melihatnya kok pas mau main ke rumah Nino. Tanya aja dengan si Hery. Eh, besoknya Hany meninggal. Terus, Jamie juga ikut-ikutan mati kan?” kata Dian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Her?” tanyaku pada gadis hitam manis yang kalau bermain senang menirukan gaya wanita karir itu. Dan si Hery mengangguk. Aku tahu, dia anak yang jujur. Aku paling senang bermain dengannya karena dia terlalu lugu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka saling ajak ya?” kata Johan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa sih?” Tuti yang paling kecil itu mengkerut takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jawaban selanjutnya kudapat dari Tantri yang sudah pulang dari rumah sakit. Kaki kirinya masih digips dan dia masih sulit berjalan. Agak membingungkan aku jika Tantri dan kawan-kawannya tiba-tiba bisa ngobrol dengan Jamie. Rumah mereka cukup jauh dari rumah Jamie dan mereka juga bukan teman sebaya. Hal yang cukup langka jika tiba-tiba mereka menyempatkan waktu ke rumah Jamie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu itu kami ada keperluan dengan kakak Jamie, Flora. Kami kan teman satu sekolah. Kami ada kegiatan menari dan Flora itu kan kepengen banget jadi artis. Kami pikir dia cocok untuk bergabung dalam kelompok tari itu. Ya, sekarang boro-boro nari, jalan saja susah” kata Tantri sambil tertawa. Seakan dia lupa kalau kakinya pernah patah dilindas roda mobil. Dia memang selalu tampak gembira. Mungkin itu bawaan dari keluarganya yang selalu murah senyum itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu kata kakak dan ibuku, sebelum masuk SD Tantri gemar main ke rumahku. Dia anak yang sangat sederhana dan tidak banyak tingkah. Konon, dia tetap makan meski hanya diberi sepiring nasi dingin dan sebiji jengkol mentah saja. Cerita ini kerap diulang ibuku, jika kami kakak beradik sering ribut soal makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan terlalu banyak memilih soal makanan. Apa pun yang ada di makan asal halal. Karena belum tentu kita punya kesempatan makan terus. Jika kita tidak punya cukup uang untuk makan, maka kita harus siap makan dengan alakadarnya. Tantry itu contohnya, tidak pilih-pilih soal makanan. Dia tidak sombong apalagi takabur. Bayangkan, anak sekecil itu dikasih nasi dengan jengkol mentah aja mau” pesan ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pesan yang sulit kami jalankan. Karena meski kami tidak pernah dibelikan barang-barang mahal, tetapi untuk urusan makan di rumah nomor satu. Dari pagi buta hingga malam, menjelang nasi plus lauk-pauk terhidang lengkap. Ibuku terkenal rajin membuat beraneka ragam kue yang mengundang selera. Setiap hari ada variasinya. Alasan ibu, biar kami tidak rewel minta jajan di luar. Karena jajan berarti boros dan belum tentu jajanan itu bersih. Kalau kotor, nanti berpenyakit, lalu masuk rumah sakit dan artinya tentu bakal mengeluarkan biaya …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Tantry juga membenarkan soal besarnya pengeluaran biaya keluarganya saat dia masuk rumah sakit. Meski biaya perawatan ditanggung pemerintah karena bapaknya tentara, tetapi ada banyak biaya ekstra yang tak terduga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biaya makanan tambahanku seperti buah, susu dan lain-lain  biar cepat sehat. Biaya ongkos transportasi keluargaku yang membesuk dan menjagaku, belum makannya mereka masing-masing. Banyak deh! Kasihan bapakku. Untung nenek dan paman membantu untuk urusan biaya ini. Ah, pokoknya ingin cepat sembuh deh” ungkap Tantry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa bisa kecelakaan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tau juga tuh. Kita kan bertiga mau nyebrang. Biasanya kami kan minta bantuan oom-oom di pengawalan (tentara yang bertugas menjaga gerbang asrama). Tetapi mungkin karena kami tidak sabar jadi kami nyeberang sendiri. Mulanya ragu, eh, terus kita lari-lari. Tiba-tiba ada mobil dan ..gitu deh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak ada yang aneh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aneh?” Tantry berpikir sebentar.”Ya, aneh juga sih. Kayaknya saat lari-lari itu satu dari kita ada yang jatuh. Terus kita bantuin supaya berdiri, tetapi kayaknya kaki kita lengket diatas jalan raya itu. Nggak bisa jalan apalagi lari. Tahu-tahu udah dihajar mobil”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaki lengket di jalan? Ada hal aneh lain tentang Hany?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, dia ditengah. Kan dia yang jatuh. Tapi dia tidak luka, tidak apa-apa. Malah dia sibuk bantuin aku dan Indry yang luka parah. Tahu-tahu dia meninggal ya. Sedih banget rasanya. Kena gegar otak mungkin dia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku juga sedih kehilangan Jamie. Mungkin dia nakal, tapi dia sebenarnya tidak pernah terlalu jahat. Terutama padaku, seingatku dia tidak pernah jahat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantry mengangguk,”Ya, aku mungkin baru satu kali itu ngobrol dengannya. Oh ya, dia jago buat patung-patung dari tanah liat ya? Bagus sekali karyanya itu. Saat menunggu kakaknya di depan rumah, kami ngobrol soal kehebatannya membentuk tanah liat itu. Itu pasti bakat alam, karena orang tuanya kan nggak ada yang seniman? Atau mungkin neneknya yang bule itu kali ya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin. Aku memang lebih akrab dengan adiknya, Donnie. Dan Flora lebih akrab dengan kakakku Liza. Tetapi Jamie sendiri memang tidak terlalu suka bicara. Dia lebih banyak cengengesan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, benar. Dia tertawa terus. Hany sangat suka dengan karya-karyanya. Bahkan dia berkeinginan untuk minta dibuatkan mainan dari tanah liat dan akan disimpannya di lemari kaca”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela nafas. Oh, lemari yang menyimpan mainan drum kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, Jamie mau membuatkannya sesuatu dari tanah liat itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin. Habis mereka bicara berdua saja. Aku dan Indry sibuk ngobrol dengan Flora. Ya, kalau pun Jamie berjanji membuatkannya juga tidak ada gunanya. Besoknya Hany mati, dan kini Jamie juga ikut-ikutan dikubur”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kamu tidak tahu mereka membicarakan apa saja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak. Eh, memang kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, anu…”aku gelagapan.Aku khawatir dia mencurigai aku. Mungkin karena aku masih lima tahun mestinya tidak usah terlalu sok tahu urusan begitu. ”Kata teman-teman, biasanya orang yang mau mati itu bisa saling ajak. Kan akhirnya mereka mati dalam waktu yang berdekatan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantry mengangguk-angguk,”Ya, mungkin juga”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, Tuhan. Syukurlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi tunggu! Kalau tidak salah, mereka membicarakan tentang sungai”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungai?!” nafasku seakan terganjal di tenggorokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ya. Sungai atau apalah itu. Masalahnya aku sempat dengar Hany bertanya dari mana Jamie memperoleh tanah liat itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari kebun pisang dekat sungai …” tebakku. Karena aku ingat, Jamie pernah menunjukkan lokasi tanah yang pernah digalinya untuk mengambil tanah liat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mengambil tanah lempung (tanah liat) disitu!” ujar Jamie waktu kami sedang bermain di sungai. Lokasi kebun pisang tempat penggalian tanah itu memang berada sekitar sepuluh meter dari tepi sungai. Malah kalau air sungai sedang pasang, kebun pisang itu juga kebanjiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, begitu!” Tantry membenarkan dengan penuh semangat. “Terus Hany bertanya apakah dia tidak takut mengambil tanah liat sendirian di sungai”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jamie jawab apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu. Tapi aku yakin jawabannya tidak. Buktinya kan dia membuat banyak mainan dari tanah liat. Pasti setiap hari dia ke sungai mengambil tanah liat itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Jamie tidak takut apa pun. Bathinku. Mungkin juga dia tidak takut meski pernah melihat mahluk air itu. Dan tidak terlalu ragu untuk bercerita tentang sosok itu pada seorang Hany yang begitu mengagumi hasil karya tanah liatnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, aku nyaris tidak bisa tidur. Setelah pulang dari rumah Tantry tadi, aku langsung lari ke rumah. Dengan hati-hati aku membuka tas kecil kuning hadiah ayah waktu tugas di Bangka. Sesuatu itu, masih ada disana. Tidak lagi basah, tetapi kering seperi ijuk. Sejak kejadian di sungai itu aku masih menyimpannya. Terkadang aku membuka tas tersebut hanya karena ingin melihat “sesuatu” itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sejak kejadian di sungai itu, entah kenapa, aku selalu ingin kembali kesana. Entah itu bersama teman-teman atau hanya sendiri saja. Bahkan saat malam tiba, aku langsung merangkak di bawah ranjang kakak-kakak laki-laki, dimana ada nenekku yang tidur lelap disana. Nenekku yang bertubuh jangkung dengan rambut perak dan mata kelabu yang entah warisan dari mana itu memang gemar sekali tidur di bawah ranjang. Suatu kebiasaan yang menurut kami sebenarnya kurang wajar tetapi beliau enggan menjelaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika kemudian aku meniru kegemaran nenek ini, hampir semua keluarga juga menentang. Sebelum aku terlena ikut tertidur bersama nenek, biasanya nenek juga langsung ribut untuk menyuruh aku pindah kamar. Jadi aku pasti akan tetap tidur bersama ibu dan kakak perempuanku (sementara ayah tidur di ruang tamu), karena nenek pasti “mengusirku” jika aku sudah terlihat mengantuk disampingnya. Kamar itu terletak di sebelah dapur. Ruangan sambungan, karena batas rumah tentara memang tidak dapat dikatakan besar. Otomatis dengan penghuni rumah mencapai tujuh kepala, maka ayah terpaksa membangun ruangan baru alakadarnya dari kayu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tentara disitu, umumnya membangun dapur atau kamar tambahan di belakang rumah. Karena biasanya terbuat dari kayu, maka kondisi kekuatan bangunan itu tentu tidak akan dapat dikatakan mampu bertahan lama. Gampang lapuk oleh hujan dan remuk oleh rayap-rayap yang bermukim disana. Karenanya, ketika suatu hari ayah menemukan selembar dinding dari anyaman bambu yang biasa kami sebut gedhek, maka tepat di sebelah kamar kakak dan nenek itu gedhek itu diletakkan. Dan dari bawah ranjang nenek itu, aku akan menyibak sudut-sudut gedhek yang tidak teranyam rapat. Dari lobang-lobang selebar kuku itu aku akan melihat pemandangan yang sangat indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kandang ayam milik tetangga. Lalu, kolam-kolam ikan, wc tradisional diatas got-got yang penuh ikan kopi-kopi, sepat serta belut. Juga ada pohon pisang, pohon waru, dinding stadion Patra Jaya, lokasi produksi air minum dimana diatasnya penuh lampu yang terang benderang. Dan jauh disana aku juga kadang melihat lampu-lampu lain dari kapal-kapal asing. Aku bahkan dapat mendengar jelas suara raungan speedboat, rengekan perahu gethek hingga debur ombak sungai yang pecah berderai menghantam batu-batu besar. Terkadang jika aku larut dengan semuanya, maka aku akan mendengar suara-suara yang terasa aneh ditelinga…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku duduk di kelas dua SD, ayah pensiun. Kami lalu pindah di rumah kecil sederhana hasil kerja keras ayah. Lokasinya hanya seratus meter dari asrama tentara. Saat melihat rumah itu, rasanya aku maklum mengapa selama ini ayah selalu menjalankan pola hidup melarat sejahtera. Ternyata ayah ingin membangun rumah sederhana dari tabungan keluarga yang jumlahnya tidak seberapa. Dari uang itu, ayah membeli tanah yang sebelumnya berupa hutan rimba. Lokasi itulah yang dulu merupakan arena permainan anak-anak laki-laki asrama yang sudah besar. Hutan lebat menakutkan tetapi membuat penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat, ketika pertama kali ayah “meratakan” hutan itu untuk membuka lahan itu ayah menebas dan membakarnya. Aku masih sempat melihat begitu banyak ular yang ukurannya mulai dari sebesar tanganku hingga sebesar paha orang dewasa terpanggang karenanya. Bau daging panggang begitu menyengat. Bahkan sampai beberapa hari kami masih melihat bangkai ular yang garing itu. Mirip daging ikan asin gabus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan disanalah ayahku membangun rumah. Sebelumnya tanah itu ditanami dulu berbagai hasil kebun seperti kacang tanah, singkong, lengkuas dan kelapa. Setelah tabungan ayah dirasa cukup, kemudian beliau membangun sendiri rumah itu. Dengan kedua tangannya sendiri. Karena ayah tidak punya cukup uang untuk menggaji tukang. Ayah juga bukan tukang yang hebat, beliau hanya seorang ayah yang nekad. Seorang ayah yang tidak ingin nasibnya keluarganya tidak jelas setelah dia pensiun. Maka beberapa tahun menjelang pensiun, dia jungkir balik membangun rumah impiannya. Bertanya disana-sini dengan orang-orang yang pakar membangun rumah. Sepulang dari kantor, ayah langsung bergelut dengan semen dan batu bata. Dua anak lelakinya yang masih remaja ikut membantunya, bersama sang istri tercinta. Terkadang aku dan kakak perempuan ikut membawakan ayah seember pasir atau sebiji batu bata. Tetapi biasanya, kedatangan kami ini lebih sering merepotkan saja. Terutama aku, yang masih kecil dan terlalu sering ingin tahu dan senang mengacaukan segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun rumah memang tidak mudah. Dana terkuras meski biaya sudah ditekan disana-sini. Pasir ayah membelinya dari para bocah-bocah kecil yang mengeduknya dari sungai. Mereka adalah bocah-bocah pemberani yang hidupnya jauh lebih susah dari kami anak tentara berpangkat rendah. Aku ingat, usianya  lebih muda dari kakak-kakakku. Rumah mereka jauh bahkan berkilo-kilometer dari kami. Sepulang sekolah mereka berkumpul di sungai demi mengeruk pasir untuk di dorong dengan gerobak kayu kecil ke rumah kami di asrama tentara itu. Mereka memang sudah biasa bekerja mengumpulkan pasir. Masalah ekonomi di keluarga mereka masing-masing, mendorong mereka untuk lebih kuat dan cepat dari usia sebenarnya dalam mencari uang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan menjelang maghrib, mereka akan berbaris rapi di ruang tamu. Sebagian duduk malu-malu di atas kursi kayu rotan hasil anyaman ayah. Lalu ayah yang sudah rapi dengan baju kemeja lengan panjang dan sarung, karena akan segera shalat maghrib,  akan tersenyum lebar dan menggoda mereka dengan uang kertas atau logam. Sebelum membagikannya, ayah selalu memberikan petuah. Misalnya, agar tidak memfoya-foyakan uang upah mengumpulkan pasir karena lebih baik ditabung atau diberikan ke ibu masing-masing. Juga ada pesan agar hati-hati jika berada di sungai dan minta izin orang tua jika akan pergi bekerja. Sebagai tambahan,  Ibu juga sering membuat penganan untuk dibagikan kepada mereka. Kemudian, ditengah keremangan malam mereka pulang dengan berboncengan naik sepeda ke rumah mereka yang jauh disana dengan penuh rasa gembira. Karena dikantung celana mereka ada potongan kue serta beberapa uang kertas dan logam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkadang memperhatikan kelompok bocah kecil pengumpul pasir ini. Mereka nampak lucu dan ramah-ramah. Kalau mendorong gerobak pasir mereka akan tertawa-tawa gembira, seakan itu bukan suatu beban dalam kehidupan mereka. Bahkan mereka sering saling bercanda sehingga pekerjaan itu tidak ubahnya arena permainan saja. Beberapa dari mereka ada yang sering mengajak aku bicara. Tetapi sebagian biasanya hanya tersenyum jika kebetulan melihatku berdiri di depan rumah. Kepada mereka yang mau bicara itu, aku terkadang menanyakan rumah, sekolah atau saudara-saudara mereka seperti layaknya petugas sensus saja. Tetapi setelah sedikit akrab, aku kemudian berani menanyakan soal pasir yang selama ini telah mereka kumpulkan dari sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh aku melihat kalian mengumpulkan pasir?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan! Nanti bapakmu marah. Bisa-bisa kami ditembaknya” kata salah satu dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang kenapa ayahku mau menembak kalian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapakmu kan tentara”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biar pun tentara, tetapi di rumah ayah tidak pernah kulihat bawa senjata”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, pasti disimpannya di tempat yang kau tidak tahu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir sejenak. Ya, mungkin juga. Tetapi aku tidak yakin ayahku gemar menembak orang. Biar beliau terkesan galak, kurasa otaknya masih baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian kan sering ke sungai. Apa kalian tidak melihat sesuatu?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesuatu apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu buaya?” lalu mereka berdiri merapat. Seperti tim sepakbola yang sedang menanti tendangan pinalti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba salah seorang dari mereka mendekatiku sambil berbisik,“Atau Antu Banyu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mundur selangkah. Mereka tertawa tergelak-gelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanyalah pada pasir-pasir yang kami bawa itu. Mungkin dapat bercerita. Ah, kau ini ada-ada aja. Ini kan bukan bulan Desember dimana Antu Banyu minta tumbal”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terus tertawa-tawa, sambil memindahkan pasir dari gerobaknya. Tampaknya mereka baru saja mendapat hiburan pelepas lelah. Dan sejak itu, aku tidak pernah bertanya-tanya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata mereka, aku lebih baik bertanya pada pasir. Aku memang kemudian sering memandangi pasir di depan rumah yang dari hari ke hari semakin menggunung itu. Dimana terkadang aku juga serasa mendengar suara ombak, suara kapal dan suara-suara ‘itu’. Jika kemudian gunungan pasir di depan rumah itu menjadi kian menyusut, itu berarti para bocah pengumpul pasir itu telah usai menunaikan tugas. Mereka telah mendapat upah terakhir dan mencari majikan baru, orang-orang yang akan membangun rumah dengan biaya seadanya. Sementara ayah dan kakak sudah memindahkan gundukan itu ke lokasi bakal rumah baru. Pasir itu bercampur semen untuk merapatkan batu bata itu. Membentuk dinding sederhana di bakal rumah masa depan kami. Kata ayah, yang penting kami tidak kehujanan dan kepanasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di dinding yang di dalamnya tercampur pasir sungai itu, aku seakan merasakan sesuatu itu selalu ada di rumah kami. Bahkan bertahun-tahun kemudian. Meski aku pergi merantau begitu lama dan jarang kembali, aku seakan tahu jika tak perlu pergi ke sungai untuk merasakan sesuatu itu. Kelak, ketika kami telah benar-benar menghuni rumah itu, terkadang aku selalu merapatkan telinga ke dinding jika malam tiba. Disana aku seakan menikmati suasana sungai yang sebenarnya. Seperti aku benar-benar telah mengarunginya bahkan sampai ke dasarnya. Tetapi melintas diatas sungai Musi baru benar-benar kurasakan ketika usiaku telah menginjak 29 tahun. Karena suatu tugas dalam pekerjaan jurnalisku, meliput berita beberapa wakil rakyat yang meninjau kehidupan sungai yang tercemar karena minyak tumpah. Sekaligus “menikmati” beragam “keharuman” yang tercipta diatas permukaan sungai yang tidak lagi indah. Karena sudah tersangkut polusi pabrik pupuk, pabrik karet dan sampah masyarakat lainnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sejak kecil aku sangat mengidam-ngidamkan untuk menjelajah sungai. Aku seakan ingin mengetahuinya sampai ceruk terdalam. Maka, ketika tiga perahu dari seberang datang ke asrama tentara sore itu, aku nyaris mati gembira. Aku tidak menyangka jika kami punya keluarga jauh yang memiliki perahu. Mereka adalah sepupu nenek. Para nenek tua berkerudung yang dikawal banyak anggota keluarga lain. Puluhan tahun tak bertemu mereka berpelukan, berciuman dan bertangis-tangisan di depan pintu. Sesaat setelah mereka menikmati teh hangat dan kue-kue yang disajikan ibu, tiba-tiba aku  mendengar jika mereka datang untuk mengundang. Salah satu kerabat kami akan menikah minggu depan. Mereka berniat menjemput nenek dengan perahu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku, bersama sepupu-sepupuku yang seusia langsung berlari sekuat tenaga ke sungai. Disitu, aku melihat tiga perahu besar terikat di pinggir sungai. Sepupu kecil yang datang dengan perahu itu mengajak aku masuk kedalamnya. Kami bermain, tertawa dan bernyanyi bersama. Aku begitu yakin jika nenek akan ikut perahu itu, dan artinya aku pun boleh ikut serta. Wow, mengarungi sungai dengan perahu! Saking senangnya aku sampai meninggalkan sapu tanganku disitu. Saputangan bergambar mickey mouse warna merah, salah satu barang terbagus milik keluarga kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, dikeluarga kami, segala barang yang dibeli dari gaji ayah kami adalah barang berharga yang harus terus lestari. Tidak boleh rusak, apalagi hilang. Ketentuan yang berlaku selayaknya doktrin pribadi ini tidak dapat ditawar-tawar lagi. Dulu, aku menganggap hal ini suatu hal yang aneh dan membingungkan. Tetapi setelah dewasa aku baru paham, jika kesusahan hidup terkadang mengajarkan seseorang untuk bertindak berlebihan. Bahkan aku tidak menyangka, jika paham yang dianut keluargaku ini terkadang berdampak psikologis hingga aku dewasa. Terkadang, aku agak susah melepaskan sesuatu yang telah kubeli ke kotak sampah. Meski itu hanya sekedar bungkus permen saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kejadian kehilangan saputangan Mickey Mouse warna merah itu memang kemudian menjadi sesuatu hal yang menakutkanku. Karena sesuatu hal tersebut memang kemudian terus disesalkan ibu selama bertahun-tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gara-gara terlalu centil, kau menghilangkan saputangan yang begitu indah. Hem, memalukan sekali! Saputangan sebagus itu dihilangkan begitu saja. Oh, tega sekali!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, kelakuanku yang terlalu bersemangat hingga nekad mengemasi pakaian untuk ikut para sepupu jauh itu pun kerap menjadi bahan sindiran beliau sampai aku remaja. Sebab dianggap hal bodoh, karena akhirnya nenek memang tidak pergi ke acara pernikahan itu. Keluarga kami pun merasa tempat itu terlalu jauh, dan mereka juga ternyata tidak pernah merasa menyesalinya. Apalagi kemudian acara pernikahan tersebut jadi perbincangan para kerabat lain. Karena konon, banyak tamu dan keluarga yang datang di acara itu kelaparan akibat kekurangan makanan. Terlalu banyak orang yang diundang, sementara urusan konsumsi berbenturan dengan tekanan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untung kau tidak ikut ke sana. Lagian ada apa dengan kau ini? Setan apa yang membuatmu seperti cacing kepanasan memaksa ingin ikut para saudara jauh yang berperahu itu?” kata ibuku saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setan apa? Apakah ada setan yang menggoda manusia untuk berjalan-jalan di sungai dengan perahu? Tetapi keinginan yang sangat kuat memang begitu menggelora diatas kepalaku. Begitu menyala sampai ingin membakar akal pikiranku. Padahal sesuatu yang pernah menyelamatkan aku di sungai itu lama kelamaan sudah seperti siluet-siluet saja dalam memoriku. Namun kerinduan akan pertemuan kembali itu seperti benar-benar memabukkanku .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kerinduan itu akhirnya benar-benar membakar diriku. Apalagi saat tanpa sengaja aku diberi salah seorang pejabat daerah sebuah majalah. Musi Mengalir. Majalah kebudayaan lokal. Tak ada yang aneh disana selain menceritakan tentang sejarah Sriwijaya, songket sampai peninggalan prasejarah. Tetapi ada yang membuat aku tercabik dibuatnya. Salah satu artikel tentang Antu Banyu yang melegenda. Seakan ceruk terdalam dihatiku menggelegak dan mengeluarkan larva. Akhirnya, aku memang terbentur dengan CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali). Aku harus mencarinya! Benar-benar mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali ke Jakarta. Aku menghimpun kekuatan untuk mengupas tuntas permasalahan ini. Aku tidak mau timbul korban lagi. Aku harus mencari cara untuk membuka tabir misteri ini. Sudah begitu lama misteri itu terdiam di dasar terdalam sungai. Tanpa ada orang yang mau melirik, apalagi mengusik. Kuatnya mitos yang menyelimutinya membuat misteri itu seperti tidak menarik bagi segala jenis ilmuwan atau tenaga ahli kebinatangan yang mengurusi masalah itu. Seperti tidak ada niat sama sekali untuk menambah daftar spesies baru di dunia ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut bahkan sempat terungkap oleh teman-temanku di Palembang, yang ternyata ada cukup minat untuk mengomentari urusan Antu Banyu ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal jika pemerintah daerah serius mengurusi misteri Antu Banyu ini, bukan tidak mungkin justru akan mendatangkan keuntungan dari meningkatnya jumlah kunjungan wisata?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, kalau produser film Hollywood tahu soal ini, bukan tidak mungkin filmnya jauh lebih dahsyat dari Anaconda, The Lost World atau apalah yang sejenis itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang jelas, dunia akan gempar menatap sosok Antu Banyu yang sebenarnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi lagi-lagi itu hanya diskusi, dan diskusi saja. Tidak ada tindak lanjut. Dan memang seakan tidak mungkin untuk dilanjutkan. Sebab yang menggelar percakapan bukan berasal dari tenaga ahli biologi, tim pemburu hantu atau pun pendobrak misteri. Yang berkumpul ini, hanya sekelompok orang-orang yang hanya kebetulan “tertarik” dengan Antu Banyu ini. Hanya tertarik. Tidak mencoba untuk melirik, apalagi mengulik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun-tahun, aku berharap, dapat bertemu dengan salah satu pihak yang dapat membuka jalan pertemuanku dengan sosok misteri di masa lalu. Tetapi siapa dan bagaimana? Bercerita tentang sosok itu saja aku seperti tidak memiliki kekuatan. Aku akan ikut berbicara, kalau ada orang yang lebih dulu mau berbicara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya, aku bertemu dengan orang-orang yang membuatku bukan hanya mampu berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memutuskan bertemu di salah satu kafe di bilangan Sudirman. Siang itu cuaca demikian buruk. Bukan hanya hujan deras mengalir, tetapi juga karena hantaman petir. Aku bahkan memiliki firasat yang jauh lebih buruk atas perkembangan pertemuan tersebut. Terkadang aku menyesal mengapa aku telah dengan iseng menulis semaunya di blog pribadi. Apa aku tidak pernah berpikir bahwa akan ada banyak orang yang tertarik? Dan orang-orang itu sebenarnya bukanlah orang-orang yang kuharapkan untuk tertarik? Tapi aku telah menulis tentang itu hampir setengah tahun lalu. Dan memang ada banyak pesan elektronik yang kuterima sejak itu, meminta penjelasan lengkap tentang tulisan itu. Mereka ingin aku menulis lebih banyak lagi. Bahkan ada banyak orang juga yang menantikan pertemuan denganku, berharap bisa memuaskan rasa penasaran mereka. Begitu dahsyatkan tulisanku itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian, aku memutuskan untuk melakukan pertemuan dengan empat orang, yang kuanggap betul-betul punya keseriusan untuk membicarakan tentang Antu Banyu. Mereka, seorang penulis novel picisan yang berharap bisa menghasilkan karya sastra terhebat zaman ini, sarjana pengangguran yang sudah capek cari kerja, mantan pecandu narkoba yang ditolak kembali ke rumah dan cewek narsis yang bermimpi jadi artis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap mereka satu per satu. Tuhan, aku menghela nafas. Jelas-jelas mereka bukan pasukan yang dapat diandalkan. Aku  pahami itu jauh sebelum mereka dengan penuh perasaan mencoba saling memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Andra, panggil aku begitu. Aku ingin membuat karya baru spektakuler. Mungkin dapat kuilhami dari Antu Banyu ini. Ya, aku memang telah menelurkan beberapa novel hebat sebelumnya. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa saja itu?”  kami berebutan ingin tahu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cinta Usang, Bukit Indah Cintaku, Tertambat Cinta di Sekolah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum pernah dengar itu….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, karyaku memang hanya dinikmati kalangan tertentu. Tidak sembarangan memang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria berusia diatas tiga puluh tahun itu nampak begitu percaya diri. Tubuhnya kurus ceking bak lidi. Rambut gondrong sebahu yang dikucir ala pendekar zaman dulu. Jaket dan celana jinsnya tampak awut-awutan dan sikapnya sok cuek dan sinis banget. Tetapi bukan sikap sinisnya itu yang bikin mual dihati. Gayanya bersikap yang sok ingin dimengerti dan dipahami sebagai seniman sejati. Sok paling aneh, paling hebat, paling pintar, paling memahami banyak hal dan paling-paling lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini salah satu contoh orang yang berharap ingin sekali diyakini sebagai seorang seniman. Banyak orang berpendapat seniman itu gaya hidupnya sebegitu berantakan, karena imajinasinya sering melompati daya pikir orang kebanyakan. Padahal tidak setiap seniman begitu. Kalau perilakunya mungkin agak “lain” dari orang kebiasaan, itu mungkin. Tetapi untuk memaksakan diri dianggap seniman dengan membentuk karakter nyeleneh demi suatu pengakuan juga menyedihkan. Seperti laki-laki itu, yang bertingkah mirip orang yang tersesat di ibu kota, abis kecopetan, lalu terpaksa menginap di terminal berbulan-bulan lamanya. Dan aku yakin, orang ini sebenarnya sudah putus asa karena tidak pernah mampu melahirkan karya-karya yang sanggup dikenang mungkin bahkan oleh segilintir orang saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kemudian, aku melihat pemuda bertubuh tinggi besar dengan muka putih pucat, bagai penat menahan beban berat. Dia mengaku sarjana ekonomi dari universitas swasta terkemuka di Jakarta. Tetapi gayanya lebih mirip anak orang kaya yang sedang digencet uang jajannya. Akhirnya itu terbukti juga dari cerita hidupnya yang diungkap panjang lebar segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namaku Jeff. Cari kerja di Jakarta ini susah. Semua butuh pengalaman, keuangan dan segala bentuk dukungan. Usaha bapakku bangkrut pas aku selesai di wisuda. Ibuku ribut dengan bapakku dan minta cerai segala. Bapakku juga sekarang di penjara karena memukul pria selingkuhan ibuku. Adik-adikku sih masih kecil, sehingga bisa jadi tanggungan paman dan bibiku yang cukup kaya. Tapi mereka kan tidak mau menampung bujangan usia 25 tahun. Tapi ya, itu. Cari kerja tanpa koneksi dan lain-lainnya itu susah. Aku kan tidak mau jadi cleaning service atau pelayan kafe? Nanti bisa diketawain teman-temanku. Mending aku berpetualang aja. Mampus-mampus gua!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu mata kami mengarah pada sosok yang tidak kalah menyedihkannya. Namanya Aga. Tubuhnya kering kerontang bak habis kehilangan banyak darah. Matanya sayu, sangat layu. Sehingga aku berkeyakinan jika pemuda yang satu ini sebenarnya memang sangat berharap cepat mati. Tetapi yang pasti, dia tidak ingin mati bunuh diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bersumpah tidak lagi mengenal barang haram itu. Tetapi tak ada satu pun penghuni rumahku yang percaya. Mereka lebih senang kehilangan anak, kakak atau adik mereka. Ya, mereka menganggap aku tidak lebih buruk dari sampah. Cuma mengotori saja. Sebab itu aku ingin mencari suatu petualangan seru yang akhirnya dapat membuat aku kehilangan kesempatan hidup lebih lama”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu pikir, kita semua ini akan menuju ke kematian?” tanyaku ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tulisanmu kan tentang Antu Banyu yang telah mencabut nyawa beberapa orang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, aku tidak pernah menuduh Antu Banyu telah membunuh sekian banyak orang ya? Aku cuma penasaran dengan sosok ini, dan setidaknya dia suspect sementara untuk beragam kejadian yang membingungkan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa bedanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anggap saja proyek kita ini memang memancing ke kematian”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek? Aku memukul jidatku. Tapi belum hilang peningku, terdengar suara lain. Suara serak-serak yang dibuat mendesah dan bersengau. Mirip penyanyi lokal yang habis-habisan meniru karakter gaya suara penyanyi luar biar dianggap ‘berkarakter”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau aku sih setuju jika hal ini tidak akan mengarah ke kematian. Aduh, jangan serem-serem dong. Aku ikut ini, karena aku sedang break syuting film dan iklan. Ya, sekedar warming up-lah! Hitung-hitung refreshing. Siapa tau, kalau memang kita berhasil mengungkap misteri ini kepada dunia, terus nanti ada produser yang memfilmkan, aku kan bisa terlibat jadi salah satu tokoh utamanya. Ya…kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kami kemudian tertuju pada wanita ini. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, dia memang berupaya sekali untuk dianggap sebagai salah satu pelengkap dunia hiburan tanah air. Mukanya sih tidak cantik-cantik sekali, tetapi harus diakui, dia memang punya body yang sejajar dengan penyanyi dangdut heboh abad ini. Rosemary, itu nama kerennya. Tetapi di KTP-nya, ternyata Rosmaryamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan. Aku menggeleng-gelengkan kepala berkali-kali. Benarkah aku akan mengungkap misteri Antu Banyu ini dengan manusia-manusia aneh ini? Apakah aku berpikir bahwa mengorbankan mereka pun tak akan membuat aku begitu sedih? O, lihatlah manusia-manusia tanpa arah ini. Sebagian pemimpi yang sial, sementara sebagian lagi orang yang telah sial karena kehilangan mimpi. Jika mereka hilang pun di muka bumi, kurasa tidak ada orang yang mau menangisi. Tetapi tegakah aku mengorbankan mereka-mereka yang nasibnya tidak begitu mujur ini demi rasa kerinduanku akan Antu Banyu? Apa aku sendiri lupa jika sudah banyak orang-orang  yang ada disekelilingku pelan-pelan kehilangan kesempatan untuk menikmati dunia? Tiba-tiba aku merasa pusing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bangun! Bangun, dek. Bangun!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pagi buta itu, suara kakak keduaku menohok tajam. Mendepak mimpi-mimpi indah yang belum sempat kesampaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau harus nonton tivi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepatlah! Kau tidak akan pernah membayangkan bisa menonton ini secara langsung”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlarian kami menerjang pintu berebut menuju ruang tamu. Meski rasa kantukku masih lembek bergayut dimataku, tetapi jantungku seakan berpacu untuk menguak rasa penasaran itu. Sungguh bukan suatu kebiasaan kakakku menyeretku untuk nonton tivi di tengah suasana pagi yang mestinya masih tetap ramah dengan selimut ini. Pastilah ada suatu kejadian mahadahsyat di tivi yang melibatkan orang-orang sekeliling kami. Tetapi ketika mukaku sudah sekitar setengah meter di depan tivi, aku malah terbengong-bengong sendiri. Sebuah gedung bertingkat nampak dilalap api. Aku merasa tidak akrab dengan gedung yang satu ini. Itu bukan rumah saudara, tetangga atau milik orang-orang yang kukenal selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gedung apa ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karaoke Party”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu? Kakak membangunkan aku pagi-pagi untuk melihat ada tempat karaoke…” mendadak nafasku nyangkut dikerongkongan. Oh, Tuhan! Mendadak aku ingat sesuatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia yang sering pulang tengah malam dengan seragam pegawai karaoke. Jika aku pulang kerja kemalaman, kami sering berjalan beriringan. Kemudian kami berpisah, karena dia harus terus melanjutkan perjalanan di tikungan tergelap yang penuh rumput liar dan pohon-pohon pisang tinggi besar. Dia begitu berani menjalani kehidupan malam yang begitu keras demi membantu kebangkitan ekonomi keluarga semenjak ayahnya memutuskan menjalani kehidupan dengan beristri dua. Persahabatan kami yang pernah terjalin sewaktu masih belia, membuat ikatan yang begitu kuat meski kami jarang bersua. Aku ingat senyumnya yang begitu ramah, selalu terlihat indah jika kami kembali bertemu di malam-malam yang gelap  itu. Dia yang pernah menyelamatkan hidupku, menarik aku dari sungai itu bertahun-tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, dek. Vina kerja di karaoke itu” terdengar suara kakakku. Sungguh, aku tidak ingin terjadi sesuatu hal buruk padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi air mata itu tidak dapat kubendung lagi, ketika kudengar berita tentang ratusan korban kebakaran gedung karaoke itu. Bukan dari tivi, radio atau koran lagi. Karena siang itu ibuku buru-buru membawa sebaskom beras, berlari-lari dengan kerudung rapat di kepala. Aku tidak sanggup mengikuti ibuku. Aku lebih suka di rumah, menangis sepuasnya. Lebih baik aku tidak melihat jasadnya meski untuk yang terakhir kalinya. Karena kudengar banyak tetangga yang sudah melihatnya, menceritakan hal itu begitu terbukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seluruh tubuhnya terbakar. Kulitnya sebagian gosong, sebagian mengelupas….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betapa tersiksanya dia dalam kondisi itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku hanya menutup rapat kupingku dari berita mulut tetangga itu.  Mereka itu kelompok ibu-ibu penggosip di warung atau di rumah tetangga. Mereka menganut gaya hidup hiperbola, baik dari segi bahasa maupun tingkah lakunya. Aku memilih menunggu berita dari ibu. Mungkin tidak begitu buruk kedengarannya, tetapi tetap saja membuat hatiku berdarah-darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ibu, Vina sudah mempersiapkan rencana pesta pernikahannya yang akan di gelar beberapa minggu lagi. Kekasihnya sudah berulang kali memintanya berhenti bekerja dari karaoke itu. Tetapi Vina selalu ingin membantu keuangan keluarganya. Saat api tengah berkobar, kekasih yang menjemputnya memintanya meloncat dari tangga. Tetapi dia takut dengan ketinggian dan kobaran api. Vina malah berlari ke lantai lain dari gedung itu, berharap menemukan jalan keluar. Malang, petugas pemadam kebakaran menemukannya pingsan di tengah lautan asap dengan tubuh terbakar api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan menuju rumah sakit, menurut sang kekasih, Vina sempat tersadar. Berulang kali dia mengatakan kalimat yang sangat mengharukan. “Kak, aku sudah tidak kuat” demikian kata kekasihnya yang diceritakan kepada ibu. Suatu kalimat yang tidak kutemukan dari semangat hidup seorang Vina yang kukenal sejak kecil dulu. Biar hidup susah, Vina begitu semangat bersekolah. Saat dia sakit pun dia tetap pergi ke sekolah. Suatu kali menurut ibuku, Vina pernah berlari ke rumah kami yang sudah pindah cukup jauh dari rumahnya. Listrik di asrama tentara sedang mati. Vina ke rumah kami untuk minta izin menumpang menyetrika baju seragamnya. Biar seragamnya lusuh, Vina selalu ingin tetap terlihat rapi jika menuju sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja pun Vina semangat luar biasa. Tidak mudah mendapatkan pekerjaan dengan ijazah sekolah menengah zaman ini. Jika kemudian hanya usaha karaoke yang menghargai kecantikan dan keluguannya untuk menjadi pelayan jasa pemutar lagu bagi para pengguna karaoke, dia pun tetap semangat. Meski hampir seluruh tetangga mencibir dan mencurigai pekerjaan yang membuatnya harus terpaksa selalu pulang tengah malam itu. Tetapi Vina tetap kuat dengan pilihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada kesempatan bekerja. Aku bekerja. Aku lebih kuat mendengar ocehan para tetangga itu, dari pada melihat ibu dan adik-adikku kelaparan. Mereka itu bisanya cuma ngomong aja. Jika aku tidak bekerja, apa mereka itu yang akan memberi kami makan?” katanya, ketika kami sama-sama pulang bekerja di tengah malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Vina juga menguntai cerita tentang harapannya dengan sang kekasih yang ditemuinya saat bekerja di karaoke itu. Seorang lelaki baik yang mau menerima dirinya apa adanya. Termasuk berjanji untuk membantu kehidupan keluarga Vina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku juga masih ingat ucapannya waktu itu,“Aku yakin, semua kesulitan ini suatu saat pasti akan berakhir”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang semuanya kini telah berakhir. Vina sudah tidak lagi merasakan beratnya himpitan hidup. Dia sudah tidak perlu lagi bertanggung jawab penuh atas tuntutan perut seluruh anggota keluarganya. Meski dia sudah lama meninggal pun, ketika kemudian aku masih sempat tidur di kamarku yang tepat di pinggir jalan itu, terkadang saat tengah malam aku masih seperti mendengar langkah kakinya. Ketukan hak sepatunya yang tegap berjalan menuju ke rumahnya. Atau terkadang juga sayup-sayup aku mendengar senandungnya, menyanyikan lagu-lagu yang sering di putar di tempatnya bekerja. Suatu hal yang membuat aku sering menitikkan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Vina, kondisi keluarga Vina semakin memburuk. Ayahnya meninggal, dan sebagian harta sang ayah justru jatuh ke tangan istri mudanya. Adiknya yang bungsu, Eve, terpaksa menikah muda, tetapi kehidupannya justru tidak lebih baik. Ibunya yang kudengar terakhir kali malah jadi pembantu rumah tangga karena harus membiayai hidup adik laki-laki Vina yang terganggu jiwanya. Adiknya Vina, Elang, sudah lama jadi kurang waras. Saat kecil, dia sempat ikut kakeknya ke Jakarta. Elang pernah bercerita pada kakakku kalau  di kota ini dia justru diperbudak sang kakek dan nenek tirinya. Jadi sapi perah, mesin uang, atau sejenisnya. Dia bekerja membanting tulang jadi pedagang asongan cilik. Entah jualan Koran, makanan, atau mainan. Elang sangat rindu ingin kembali ke rumah, tetapi sang kakek tidak pernah mengizinkannya. Bukan sekali dua kali dia ingin kabur, tetapi sang kakek selalu menemukannya dan menghajarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan kabur itu datang setelah dia lulus SMA. Dengan semangat membara dia pulang ke kampung halaman. Tetapi malangnya, dalam perjalanan pulang dia di rampok. Ijazah SMA Elang hilang digondol rampok tak berperikemanusiaan itu. Hal ini yang menurut Elang membuat dia stres karena tidak bisa mencari pekerjaan. Akhirnya Elang hanya mendapat pekerjaan menjadi kernet bus kota. Lagi-lagi, dia mendapat musibah. Saat bergelantungan di bus kota mencari penumpang, dia terjatuh dan kepalanya membentur trotoar jalan. Dia memang lama dirawat di rumah sakit. Tetapi setelah sembuh, jiwanya sudah menjadi terganggu. Tingkah lakunya tidak seperti orang normal. Tidur di sembarang tempat, bicara dan tertawa sendiri, senang berlari atau malah menangis tiada henti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya aku mendengar, Elang gila karena pernah mempelajari ilmu-ilmu mistis. Tetapi setelah mendengar cerita kakakku, aku kemudian berpikir logis. Elang sudah didera masalah psikologis sejak kecil. Kerampokan ijazah dan jatuh dari bus kota itu pelengkap penderitaannya. Hanya saja, setelah kematian Vina, aku merasa perlu mengungkap kejadian yang sebenarnya. Mengapa Vina harus mati dalam keadaan mengenaskan? Bukan karena sakit atau katakanlah, kematian yang wajarlah. Apa dia pernah menceritakan tentang peristiwa kami di sungai dulu itu dengan seseorang? Lalu siapa orang itu? Apakah Elang? Kalau itu benar, maka mungkin saja Elang jadi gila. Kemudian Vina menjemput ajalnya karena telah membongkar peristiwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, rupanya analisaku salah. Bertahun kemudian, Eve, mengaku bahwa dialah yang telah menceritakan soal Antu Banyu kepada kakaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu itu kak Elang sedang sibuk mendalami ilmu-ilmu mistis. Katanya dia sering melihat mahluk gaib. Aku ingat kejadian kita di sungai dulu itu. Kuceritakan padanya, agar kakakku bisa mencari mahluk itu” kata Eve, yang kutemui sambil menggendong anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu kan pernah kuperingatkan dulu agar tidak cerita”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti kau kena musibah. Juga orang yang mengetahui ceritamu itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, Usie mati itu juga karena Vina cerita soal Antu Banyu itu padanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, aku ingat tentang Usie. Saat aku kelas dua SMA, Usie mengalami kecelakaan tragis. Bus mahasiswa yang dinaikinya terbalik. Belasan mahasiswa luka-luka. Tetapi anehnya, Cuma Usie yang kehilangan kepala. Dia duduk tepat di pinggir jendela. Kaca jendela bus tersebut ternyata begitu tajam menggores lehernya. Ibu dan kakakku waktu itu juga sempat menghadiri prosesi pemakamannya. Mungkin hal itu cukup mengguncang perasaan mereka. Sehingga membuat aku kemudian tidak diperbolehkan memilih kuliah di kampus Usie yang jauh itu. Keluargaku takut aku juga mengalami kecelakaan yang sama seperti Usie. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eve menjelaskan, jika Vina dan Usie cukup berteman akrab. Dapat dimaklumi, karena ayah Usie merupakan dokter yang kerap menjadi langganan keluarga di lingkungan kami. Ibu Vina yang sering sakit-sakitan merupakan pasien tetap ayah Usie. Vina kerap mengantar ibunya berobat ke rumah sang dokter. Kunjungan ini sering membuat Vina dan Usie bertemu. Apalagi mereka memang pernah satu sekolah waktu masih SD dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata Vina, anak tetangga Usie hilang saat berenang di sungai. Lalu Vina cerita soal peristiwa kita di sungai itu. Vina itu bukan tipe orang yang suka menceritakan banyak hal. Aku yakin itu kebetulan saja, karena kondisinya pas. Pas ada anak hilang dicaplok Antu Banyu” ungkap Eve.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kita sudah mengetahui penyebab kematian Usie sekarang” bisikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kakakku si Elang juga gila karena aku cerita soal peristiwa di sungai itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, mungkin saja. Lalu kenapa Elang tidak mati setelah mendengar cerita itu? Kenapa Elang hanya terganggu jiwa, sama seperti halnya Doddy? Doddy dan Eve, pasangan “pengantin” kecil kami itu. Dan Eve, dia yang memberitahukan kisah itu kepada Elang. Toh, dia sendiri tidak mati. Apa karena Eve dan Doddy saat itu memang tidak sempat melihat “mahluk” yang telah menarikku itu dari dasar sungai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai merentang kisah tragis yang telah terjadi. Teman sekolah kakak Jamie yang tewas kecelakaan. Kata Tantry, dia sempat ngobrol soal sungai dengan Jamie. Anggaplah Jamie bercerita pada bocah malang itu. Lalu, Jamie sendiri mati. Konon, ditangan ayahnya yang kalap melihat anak itu tiba-tiba berulah seperti setan. Lalu ada perubahan dari sosok Doddy. Anak itu perlahan menjadi berubah aneh. Seakan memiliki dunia sendiri diatas dunia yang sebenarnya. Sampai dewasa dia akhirnya tumbuh menjadi sosok yang menakutkan bagi banyak orang. Kemudian aku juga mendengar kabar, jika Budi saat menjelang remaja juga tewas akibat kecelakaan di jalan raya. Lalu ada Elang, adik Vina dan kakak Eve yang juga terganggu jiwanya. Menyusul kematian Vina yang tak kalah tragis. Sementara sebelumnya nasib Usie, lebih menakutkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah peristiwa di sungai itu, siapa yang belum mati? Aku. Ya, tentu saja. Kalau tidak, mana mungkin aku dapat menulis cerita ini. Lalu, Doddy dan Eve. Kenapa (lagi) Doddy hanya terlihat agak gila dan Eve biar pun hidupnya banyak masalah tetapi tampaknya baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku memang tidak melihat apa pun saat itu. Seingat aku, aku cuma terlalu ketakutan. Kemudian menangis. Lalu tiba-tiba kau sudah berbaring di pinggir sungai dalam pelukan Vina. Kurasa Doddy pun tidak melihat apa-apa. Dia sibuk mendiamkan aku agar tidak terus menjerit-jerit. Kenapa sih kau merasa urusan Antu Banyu ini penting banget? Kalau memang masalah semua ini memang benar karena Antu Banyu, maka ini tentu bukan salah kami. Kaulah yang nekad berenang di sungai itu. Sudah tahu kau tidak bisa berenang. Kau yang bertemu sosok itu, dan kami yang terpaksa menaggung akibatnya. Apa kau pikir, aku juga akan mati dengan cara yang begitu parah atau ikutan jadi gila?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kalimat pamungkas Eve, saat terakhir kali aku menemuinya. Begitu dahsyat menjagal perasaanku. Eve benar. Akulah yang bersalah. Aku yang membuat begitu banyak nyawa mati sia-sia, juga mengungkung banyak jiwa ke dunia hayalnya. Aku harus menghabisi kisah memilukan ini. Dan keinginan itu begitu kuat, ketika kakakku Lizbeth tiba-tiba juga kehilangan makna hidup. Kelakuan lebih buruk dari Doddy, bahkan tak jauh berbeda seperti Elang. Ketiganya kemudian jadi lajang yang mengalami krisis kejiwaan. Kesepian, dijauhi banyak orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku membaca buku diarymu. Wah, ternyata kau menyimpan banyak rahasia ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu ucapan Lizbeth terakhir, sebelum dia terjebak dalam dunia maya. Kembali, hal tolol kulakukan. Diary yang kutulis saat aku duduk di kelas dua SMP itu memang sempat menuliskan kisah hidupku di masa kecil. Termasuk, tentang peristiwa di sungai itu. Aku tidak tahu jika akhirnya hal itu justru mengguncang jiwa kakak perempuanku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ayahku? Kenapa beliau bisa jatuh dari rumah yang waktu itu sedang kami bangun sehingga tangan kanannya patah? Apa karena ayah telah membuka kisah “pertemuannya” dengan Antu Banyu pada ibu, lalu tanpa sengaja ibu menceritakan hal itu kepadaku? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, aku ingat. Sore itu, saat aku sedang asyik bermain, tiba-tiba aku melihat begitu banyak orang berlari ketakutan. Jelas, aku tidak tahu siapa orang yang sedang dibopong beramai-ramai itu. Tapi telingaku mendengar jelas orang memanggil-manggil nama ayahku dengan histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, ayah kenapa?” tanyaku pada ayah yang tergeletak tak berdaya di ruang tamu. Begitu banyak orang yang mengurumuninya. Ibu dan kakakku sudah pada menangis semua. Tapi tak ada yang menjelaskan kepadaku. Ayah sendiri tampak tidak bersedia menunjukkan rasa sakitnya. Beliau hanya berusaha terlihat baik-baik saja dengan senyumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah mobil tentara itu membawa ayah ke rumah sakit, aku baru tahu kejadiannya. Ayah yang membangun rumah impian kami itu, tiba-tiba jatuh dari atas rumah yang dibangun dengan tangannya sendiri itu. Tubuh ayah menghantam tanah bakal lantai rumah kami. Malangnya saat jatuh, tangan kanan ayah tertekuk sehingga patah. Karena memang bekerja sendiri dan lokasi kejadian memang sepi, membuat ayah nyaris terlambat mendapat pertolongan. Beruntung, ada Oom Simatupang, salah satu tentara yang sedang menggiring bebek peliharaannya. Berkat Oom Tupang ini, ayah bisa diselamatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musibah yang dialami ayah, membuatnya harus lama berada di rumah sakit. Proses pembangunan rumah kami pun akhirnya tersendat. Tetapi setelah ayah sembuh, meski tangannya kemudian menjadi cacat (menjadi agak bengkok), rumah kami pun dibangun kembali. Ada banyak hikmah dari kejadian ini. Sebab sejak kecelakaan yang menimpa ayah, orang jadi banyak tahu jika ayah nekad membangun rumah kami itu sendiri. Tanpa bantuan tukang bangunan satu pun. Perjuangan ayah ini akhirnya menarik simpati banyak pihak. Karena akhirnya, tidak sedikit orang yang membantu ayah untuk membangun rumah tersebut. Selain Oom Tupang, ada juga beberapa tentara lain. Salah satunya seorang tentara muda yang tampan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lupa nama tentara berpangkat prajurit dua ini. Tetapi aku ingat, suatu sore dia datang mengunjungi ayah. “Biar saya nanti membantu bapak membangun rumah ini. Saya ikhlas pak menolong. Saya tidak tega melihat bapak membangun rumah dengan tangan yang masih sakit seperti itu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memperhatikan tentara tersebut. Sambil bicara, dia sibuk mematah-matahkan dahan kecil rapuh. Duduk diatas kertas bekas semen sambil menghadap ayah. Dan besok sorenya dia benar-benar datang lagi. Begitu juga sore-sore selanjutnya. Dia membantu ayah mengaduk semen, mengangkat batu atau kayu. Begitu bersemangat. Lama-lama dia seakan menjadi bagian dari keluarga kami. Sebab dia membantu kami membangun rumah impian itu. Kami sangat menghormati dan menyayanginya. Ibu bahkan selalu membuatkan kue-kue yang paling enak untuknya. Kue-kue yang dinikmatinya dengan begitu lahap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, aku sangat senang memperhatikan tentara yang satu ini sedang makan. Mungkin, karena waktu itu aku masih terlalu kecil sehingga masih suka tertarik dengan hal-hal unik dan baru disekitarku. Tapi gara-gara hobiku memperhatikannya, aku malah sempat mendapat malu besar. Saat bolak-bolak mengintipnya lagi makan, tiba-tiba aku terpeleset dan masuk ke kubangan air bekas hujan. Untung aku masih kecil saat itu. Sehingga tingkah laku dimaafkan banyak orang. Tetapi tentu saja aku malu sekali. Dan sejak itu, aku memang tidak pernah mengintip tentara itu makan lagi. Sampai kemudian rumah kami akhirnya cukup pantas untuk ditempati. Kebetulan, tentara muda itu juga pindah tugas. Sayang, kami tidak sempat banyak berterima kasih. Tetapi aku tahu, Tuhan akan memberikan rezeki lebih pada pemuda baik hati ini. Yang begitu ikhlas menolong seorang tentara bertangan cacat yang sedang membangun rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, begitulah banyak peristiwa aneh yang terjadi. Kecelakaan, kematian, kekurang warasan dan apa pun itu yang membuatku bergidik ngeri. Apa karena mereka tanpa sengaja membocorkan rahasia tentang si Antu Banyu ini? Apakah ini tidak terasa berlebihan? Rasanya sulit diterima akal. Siapa sebenarnya Antu Banyu ini? Mereka tentu bukan Tuhan. Tetapi apakah mereka dari kelompok iblis atau setan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kenapa orang-orang yang tertarik dengan tulisan di blog-ku itu tidak jadi gila? Atau katakanlah tidak tertimpa kecelakaan  atau langsung tiba-tiba mati misalnya. Kenapa? Apa memang mereka ini memang ditakdirkan untuk membantuku membuka tabir misteri ini? Karena memang akulah yang membuat musibah beruntun ini datang, dan mungkin akulah yang harus menyelesaikannya. Apa memang aku harus mati bersama orang-orang ini? Entahlah. Tapi, haruskah ada banyak korban lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, akhirnya aku menghimpun kekuatan menguatkan tekad mengunjungi kembali sungai Musi. Bersama orang-orang aneh itu. Beserta tambahan, dua orang bule asal Amerika. Jans dan Bryant. Mereka ini adalah kenalan Rosemary dari bar tempat biasa cewek ini nongkrong dengan para calon artis lainnya.. Jans dan Bryant hanya pemuda yang baru saja kehilangan pekerjaan karena dampak krisis global. Perusahaan tempat mereka bekerja gulung tikar dan mereka lalu mendapat sedikit uang pesangon sekedar terima kasih karena pernah mengabdi selama beberapa tahun. Stres tidak mendapat kerja baru, mereka lalu berpetualang ke Indonesia. Jika kemudian mereka berlagak jadi hippies, itu setelah dana dikantung mereka sudah menipis. Sementara mereka masih berharap dapat menikmati wisata murah sampai masa kunjungan mereka habis. Akhirnya, melalui rekomendasi Rosemary, keduanya memang nekad ikut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kami sepakat mengumpulkan uang untuk biaya perjalanan dan penginapan kami di Palembang nanti. Aku memang tidak akan membiarkan mereka menginap di salah satu rumah keluargaku. Aku justru tidak ingin jika “proyek” misterius ini diketahui oleh orang-orang terdekat. Biarlah begitu. Jika banyak orang bertanya, maka kukatakan saja jika kami sedang mengawal dua orang turis mancanegara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu kami sudah berada di Palembang. Bandaranya yang berstandar internasional memang cukup memenangkan urat syaraf. Tetapi itu hanya sebentar. Kita akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di sebuah hotel kelas melati, maka pertengkaran diantara kami nyaris tidak terelakkan lagi. Sebagian ingin tinggal di hotel yang kondisinya jauh lebih murah lagi, sebagian justru merasa urusan dana tidak perlu dipikirkan sampai sedemikian itu. Inilah susahnya melakukan petualangan dengan orang-orang yang ingin cepat mati, tetapi tidak mau mati dalam keadaan tidak pegang uang. Namun akhirnya situasi itu dapat berganti. Kami akhirnya menyewa tiga kamar. Satu buat aku dan Rosemary, dua kamar lagi diperebutkan para pria; Andra, Jeff, Aga, Jans dan Bryant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam pertama mengenal sungai Musi, kami habiskan memang benar-benar di pinggir sungai itu. Tepatnya di lokasi Benteng Kuto Besak (BKB), yang dulunya merupakan lokasi pasar buah nan becek, rawan dan bau banget. Pemkot setempat telah menyulapnya menjadi lokasi wisata yang sekarang malah jadi pusat kegiatan seni. Beberapa konser artis top ibukota rutin dijalankan. Bahkan launching Visit Musi nan megah bersama beberapa menteri tahun 2008 lalu juga di gelar disana. Meski belum terdengar jelas berapa volume terakhir serapan jumlah turis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, kota ini bukan hanya sekedar kota kelahiran, dan juga kota dimana aku bertahun-tahun melewati masa remajaku. Meski kota ini seperti “malas” untuk membangun kembali kejayaan kebudayaan, tetapi kemajuannya memang cukup luar biasa. Bayangkan, dalam hitungan tahun kota ini sudah padat dengan Mall. Fly over dibangun, jalan-jalan diasah, hotel-hotel berbintang menjamur. Jika dulu Palembang cuma punya sebuah jembatan besar, tetapi kini, banyak hal-hal besar lain yang dapat dikagumi dan diperbincangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi itulah, jika aku boleh mengkritik kotaku sendiri, pasti terdapat kekurangan. Sebenarnya kota ini sanggup mendatangkan turis jauh lebih besar, bahkan (mungkin) dari beberapa kota lain sejenisnya (yang juga tua dan kuat unsur melayunya). Palembang kental dengan riwayat indah Sriwijaya. Tetapi gaung keemasan di masa lampau itu, ibarat hanya sekedar cerita lama. Tidak ada suatu bentuk penguatan disana-sini untuk memanfaatkan kenangan sejarah tersebut. Kalau soal promosi wisata, entahlah, ini jargon politik atau sekedar proyek pelepasan dana. Yang jelas, hanya berupa kegiatan-kegiatan resmi pemerintah yang minim realisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya lokasi BKB ini. Mestinya, lokasi ini dilengkapi sarana dan prasana ala lokasi wisata pada umumnya. Tetapi yang terlihat, justru hanya beberapa pedagang kaki lima yang berjualan santai untuk kebutuhan biasa. Seperti makanan atau minuman. Belum tampak ada barisan pedagang kecil yang menggelar souvenir unik khas daerah. Memang sesekali tempat ini juga jadi ajang bazar murah untuk kegiatan menyambut hari raya, misalnya. Dimana banyak pedagang pakaian, perhiasan dan mainan menumpuk disitu menjalankan perputaran uang. Jadi memang, teriakan untuk mendatangkan turis, tidak sepadan dengan daya juang tingkat akhir yang justru sebenarnya dapat meningkatkan perekonomian dalam jumlah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami akhirnya malam itu makan di restoran terapung. Suasana memang sangat indah di waktu malam. Lampu-lampu yang menaburi jembatan Ampera, membuat kita ibarat sedang liburan di dekat jembatan San Fransisco (ehem!). Restoran terapung ini memang salah satu bentuk upaya memancing wisatawan. Suatu ide unik yang mestinya terus didukung dan mengalami perkembangan. Sungai Musi di waktu siang, dapat terlihat berwarna coklat keabu-abuan. Puluhan kapal kecil hilir mudik, sementara kapal besar nampak manis bersandar. Kudengar, dipinggir sungai ini nanti, akan dibangun sebuah hotel besar. Bersandingan dengan rumah-rumah penduduk yang rapat menjilat air sungai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipinggir sungai Musi, masih terdapat kebudayaan Palembang. Mereka umumnya keturunan warga asli yang berbicara seperti layaknya orang Jerman, alias tidak mengenal lafal baik huruf R. Tetapi nasib orang Palembang asli yang tinggal di pinggiran, tidak ada ubahnya dengan kenyataan keseharian. Mereka terpinggir dengan segenap kebudayaan, kematangan ekonomi dan serbuan semangat kaum pendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kota ini, sudah jarang terlihat para rutin wanita menenun songket. Kain indah berbenang emas. Suatu kegiatan, yang dulu sangat dikagumi kaum penjajah. Saat duduk di kelas dua SMP, aku pernah satu kelas dengan teman yang bisa menenun songket. Dan selama aku sekolah di kota ini, memang hanya satu teman itulah yang pernah kutemui memiliki keahlian tersebut. Banyak temanku yang merupakan keturunan Palembang asli, tetapi memang jarang yang masih mampu menjalankan tradisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenian Dul Muluk, suatu sandiwara panggung yang mengawinkan unsur melayu dengan padang pasir, sudah jarang ditemui. Padahal dulu, kesenian ini begitu digemari karena sarat petuah dan kental komedi. Jika orang ada pesta di rumahnya, entah kawinan atau sunatan, belum lengkap jika tidak mendatangkan kelompok ini. Namun pada perkembangannya, Dul Muluk tergeser oleh hingar bingar diskotik kampung ala organ tunggal dan goyangan biduan orkes melayu. Selama hidupku, aku pernah menyempatkan diri bertemu dengan kelompok Dul Muluk ini. Pada umumnya, kegiatan tersebut hanya menjadi pekerjaan sampingan saja. Karena mereka punya pekerjaan tetap lain yang mampu mempertahankan kepulan asap di dapur. Sulit untuk menggantungkan hidup hanya dengan bermain Dul Muluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin cuma kesenian rebana yang masih cukup mencorong sampai saat ini. Hanya saja itu mungkin karena di kota ini kebudayaan Islam masih tetap melekat erat. Jadi, kesenian rebana yang sarat pujian kepada Allah ini tetap dibutuhkan dalam segenap kegiatan ritual adat keagamaan. Hanya saja sekarang peralatannya bukan sekedar alat musik yang dipukul itu saja, sebab gitar elektrik dan organ juga kadang ikut menemani. Lagu-lagunya juga lebih ngepop, mulai menyentuh kegiatan keseharian, pokoknya ala penyanyi kasidah tanah air yang sekarang dapat kita dikenal melalui kaset dan CD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tempat wisata lain? Apa ya. Aku sendiri paling kenal Pulo Kemaro, Bukit Siguntang dan sungai Musi ini. Padahal sebenarnya, di wilayah ini banyak yang dapat dijadikan daya tarik wisata berlebih. Terutama wisata penelitian dan ilmu pengetahuan. Termasuk urusan menguak misteri tentang Antu Banyu itu. Tetapi anehnya, kenapa tidak ada pihak yang tertarik untuk membuka tabir ini? Apakah karena kisah tentang Antu Banyu ini sebelumnya terlalu banyak diselimuti mitos magis sehingga mengaburkan realita tentang mahluk itu sendiri? Entahlah. Yang jelas, aku dan teman-teman baruku ini bertekad menyelesaikan kasus ini. Apapun terjadi. Doakan kami. (to be continue)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://widyahistory.blogspot.com/feeds/6012881693953667258/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/5496464690455652937/6012881693953667258' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5496464690455652937/posts/default/6012881693953667258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5496464690455652937/posts/default/6012881693953667258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://widyahistory.blogspot.com/2009/05/ghost-of-river.html' title='ghost of the river'/><author><name>widya_sri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04595588057753265541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg13hgN4DzhQpOGKLK5345h0tEdeY6F3Pjm26LzrcRgfK1BXq3W4fI1YBeqsI8dcnPcjnSX_tR_q8G8t7p4Y8gqdRLkdXRjltdkE52xTTczKevpkxhDbYDtMbYR8HE2WQ/s220/PIC_0037.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5496464690455652937.post-3330611281253007672</id><published>2009-05-20T15:26:00.002+07:00</published><updated>2009-05-20T15:28:31.010+07:00</updated><title type='text'>Kaori Cari Lelaki</title><content type='html'>Sri Widya Burlian,&lt;br /&gt; (special to my baby Rudysta Dihyah Al-Kalabi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang sekali nasib Kaori. Sejak kecil dia yatim piatu. Menyumpal hidup pada segenap sanak saudara yang secara bergantian “terpaksa’ menampungnya. Setelah dewasa, dia hidup kesepian melajang dengan karir buntu tak berkesudahan. Meski wajahnya tidak dapat dikatakan pas-pasan, tetapi sosok Kaori memang tidak dapat dikatakan menggoda apalagi menggairahkan. Sehingga memang dia bahkan tidak dapat menceritakan, bagaimana rasanya dilirik atau ditegur pria di tengah jalan. Kaori pun tidak tahu bagaimana itu yang namanya jatuh cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau urusan jatuh sih sering, tetapi cinta? Kaori seakan benar-benar tidak dapat menyentuhnya. Meski segala daya upaya ditempuhnya, mulai dari mengisi formulir kontak jodoh hingga menggelar jasa mak comblang segala. Hingga suatu hari malaikat cinta iba juga padanya. Hanya sayangnya, panah asmara sang malaikat salah tancap nampaknya. Kaori memang akhirnya benar-benar merasakan jatuh cinta. Tetapi sayangnya, orang yang membuatnya jatuh cinta itu justru sudah tak lagi bernyawa. Lalu, benarkah Kaori tidak akan mampu menemukan pangeran hatinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Penulis&lt;br /&gt;Nama Lengkap : Sri Widiya Putri Burlian Aqieb&lt;br /&gt;Nama Popular : Widya Burlian&lt;br /&gt;Lahir   : Palembang, 24 Agustus 1978&lt;br /&gt;Anak   : Rudysta Dihyah Al-Kalabi&lt;br /&gt;Alumnus Politeknik Negeri Sriwijaya Palembang, Jurusan Administrasi Niaga. Sebelum menjadi penulis novel, lebih banyak aktif berkarir di dunia jurnalistik, diantaranya pernah menjadi wartawan di Koran Harian Transparan Palembang, wartawan di Majalah Komoditas Jakarta dan sekarang masih  bergabung di MATAPENA SINERGI, perusahaan yang bergerak di bidang media cetak dan elektronik, diantaranya menjadi Konsultan Bulletin Berjangka BAPPEBTI dan pendiri Tabloid Margin dan marginTV.com (pionir media khusus Perdagangan Berjangka).&lt;br /&gt;Contact Person : HP (088210318775), Office (021-8860384) widya_sri@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku Kaori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku Kaori. Maaf, ini tak ada hubungannya dengan Jepang. Nama itu juga bukan sesuatu yang special ketika kudapatkan. Kakek memberikan nama itu secara kebetulan, atau kalau tidak lebih kasar kubilang karena tergesa-gesa. Sebulan setelah aku dilahirkan, nama buatku tak kunjung diberikan. Maka, ketika salah satu sepupuku juga kemudian lahir dan diberi nama Auri (karena bapaknya anggota AURI) maka aku pun mendadak mendapat sebutan menjadi “Kakaknya Auri”. Lambat laun setelah nama si Auri diubah lebih imut jadi si Ori (karena sebelumnya lidah ortunya sering “keserimpet” memanggilnya), maka namaku pun berubah menjadi Kakak Ori. Lalu demi efisiensi akhirnya menjadi hanya Kaori saja. Dan sampai proses pembuatan akte kelahiranku, kakek merasa cukup puas untuk mensyahkan keputusan pemberian nama itu. Suatu nama yang menurutku jauh dari literatur secara harfiah, tidak ada duanya dan aku yakin pasti juga tidak tercantum dalam buku daftar nama-nama bayi “Sesuai Selera dan Doa” yang sempat jadi bestseller diberbagai klinik bersalin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, kalau orang tuaku masih hidup aku pasti diberikan nama yang jauh lebih bermakna. Tetapi ayahku meninggal jauh sebelum aku dilahirkan. Karena sakit bengek. Lalu ibuku menyusul kemudian, setelah beberapa saat aku dilahirkan karena pendarahan hebat. Dan memang pada tahap awal, pengasuhan pertamaku dibebankan kepada kakek dan nenekku yang sudah tua dan sakit payah itu. Kakek hanya pensiunan tentara berpangkat rendah, sementara nenek dari dulu karirnya murni ibu rumah tangga biasa. Anak-anak mereka ada enam dan sudah pada kawin semua. Hidup para anak yang sudah beranak pinak ini juga tidak dapat dikatakan berlimpah bahkan boleh dikatakan agak lebih condong ke susah. Sehingga wajar, mereka tidak punya cukup kemampuan (atau keberanian?) untuk mengadopsi bayi kecil yang merupakan anak dari saudara bungsu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sudahlah. Toh, kakek dan nenek membesarkan aku dengan susah payah. Itu bukti rasa kasih sayang mereka yang tak terhingga. Tetapi nasib buruk tampaknya terus menerpa. Saat baru memasuki jenjang SMP, tiba-tiba kakek meninggal karena serangan jantung. Uang pensiun yang diambilnya di bank ternyata dicopet orang dijalan. Si copet tak berperasaan inilah yang memberikan kontribusi yang cukup besar atas kematian kakekku. Mungkin karena rasa dendam yang tak terkira terhadap oknum copet sialan ini, sampai aku dewasa pun aku memang tetap memusuhi apa pun yang bergelar tukang copet ini. Sering aku menantikan saat-saat dimana tukang copet tertangkap basah dan dikerubuti masa. Bukan hanya menonton, aku pun kerap menyumbang dua atau tiga pukulan berbahaya. Bahkan pernah aku sampai harus dipegangi polisi dan warga karena memukuli copet secara membabi buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah mbak, sudah! Copetnya sudah pingsan” kata mereka sambil terus memegangi tanganku yang erat memegang sebelah sepatu highheels . Wujud sepatu bagian kananku yang tadinya panjang dan runcing itu sudah tak karuan lagi. Bukan karena sepatu itu berkualitas rendah karena kubeli di pasar kaki lima, tetapi karena sepatu itulah yang kupergunakan dengan ganas untuk menyerang si copet tadi. Salah sendiri kenapa mencopet ibu-ibu di pasar, pas siang bolong, dimana aku baru saja ditolak saat melamar pekerjaan? Cari penyakit namanya! Biar pun sejumlah polisi mengkuliahi aku untuk mengurangi nafsu main hakim sendiri, tetapi yang namanya emosi memang terkadang sulit terkendali. Coba, apa mereka pernah merasakan bagaimana rasanya kalau kakeknya mati karena abis kecopetan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi sepeninggal kakek, kehidupanku seakan kian melorot saja. Nenek semakin parah penyakitnya, dan kami harus hidup dengan uang pensiun janda tentara yang menyedihkan jumlahnya. Masa SMP adalah masa yang benar-benar membuatku merana. Tak pernah ada uang jajan, sekolah berkilo-kilo meter harus kutempuh dengan jalan dan banyak buku-buku pelajaran yang tak mampu kubeli karena kemahalan. Menjelang kelas tiga SMP, nenekku pun berpulang. Sebelumnya beliau kena stroke, lalu koma hampir dua minggu lamanya dan meninggalkan duka yang semakin menganga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, Nek Ijah dan Cerita Cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup tanpa nenek selanjutnya menciptakan siklus “pengembaraan” dalam kehidupanku. Karena kemudian secara bergantian, mulai dari uwak, paman atau bibi akhirnya bertanggung jawab mengurusku. Kalau masa terakhir SMP aku dirumah paman, lalu SMA aku di rumah uwak, kemudian pas kuliah aku numpang ke rumah bibi. Perjalanan pendidikanku memang menyedihkan, atau dapat dikatakan menyakitkan. Karena belas kasihan dari saudara-saudara orang tuaku, akhirnya aku dapat meraih gelar diploma dengan susah payah. Meski banyak menampung jasa, tetapi rupanya nasibku tidak juga berubah. Sehingga aku tidak juga mampu membalas kebaikan orang-orang yang pernah begitu terbebani atas kehidupanku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal aku ingin sekali membuat mereka itu tidak menyesal pernah membantuku. Tetapi lagi-lagi takdir hidup ini memang susah dimengerti. Sekeras itu ingin berubah, sekeras itu pula cobaan mendatangi kita. Perjuangan mencari kerja merupakan pertarungan luar biasa. Bekerja dari satu tempat yang biasa, ke tempat yang jauh lebih biasa dalam kehidupanku justru bukan suatu hal yang luar biasa. Sampai akhirnya, aku berhasil mendapat pekerjaan sebagai tenaga administrasi bagian gudang di sebuah perusahaan supplier bahan kain untuk industri pakaian jadi. Perusahaan yang baru berkembang ini milik suami istri warga keturunan. Dulunya si engkoh (yang punya usaha), merupakan sales bahan kain yang menawarkan dagangannya ke toko-toko kain. Setelah memiliki pinjaman modal, dia lalu mendirikan usaha sendiri bersama istrinya yang biasa kita panggil si encik itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tenaga administrasi gudang, kerjaanku tentu tidak ribet-ribet amat tetapi sangat membutuhkan ketelitian. Pagi hari tepat jam 9 pagi, aku sudah sibuk dengan segenap kwitansi, buku laporan barang masuk dan keluar serta melakukan pengecekan gudang. Lalu dengan buku dan pena ditangan, aku kemudian mendatangi truk atau mobil box yang membawa kain pesanan dari Bandung. Kain yang dikeluarkan dan diangkut para kuli panggul harus kuhitung dengan cermat. Karenanya, terkadang aku harus melompat masuk ke dalam mobil box atau bergantungan dipinggir truk untuk memastikan dengan benar penghitunganku. Apalagi jenis kain beraneka macam dan kuli pangggul bergerak cepat mengangkut ke gudang. Sebab salah hitung sedikit, gajiku bisa tekor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika belum ada truk atau mobil box yang datang, maka aku harus segera mengerjakan buku laporan bulanan gudang. Karena biasanya, akan banyak tugas lain menyusul berikutnya seperti membuat sample kain bagi pelanggan, juga mengecek pemesanan atau barang yang dikembalikan di Bandung. Atau mengeluarkan barang-barang dari gudang untuk dikirim ke pelanggan, dimana aku juga harus kembali menghitung barang-barang yang akan masuk ke mobil box. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebagian pekerjaan rutinku. Sehingga wajar jika aku tidak punya kesempatan untuk sedikit “merapikan” diri selayaknya wanita sejati. Kostum wajibku hanya kaos dan celana jeans. Teman-teman kerjaku kebanyakan kuli panggul dan sopir truk atau mobil box antar kota itu. Tak ada perbincangan lain diantara kami selain biaya hidup, hutang di warung atau badan sakit karena capek. Meski demikian, kami selalu akrab. Setiap makan siang, dengan nasi dan lauk seadanya kami berkumpul dan makan dengan lahap. Entah itu di atas truk, di dekat kotak sampah atau di dekat dapur tepat di sebelah gudang. Sesekali jika mereka mengantar barang dari Bandung, para sopir ini kerap membawakanku oleh-oleh ringan. Entah itu peuyeum atau buah-buahan. Bersama mereka, aku terkadang melupakan pahitnya kehidupan. Karena mereka selalu tertawa dan itu sangat menghiburku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ketika kembali ke tempat kostku yang sunyi senyap itu, aku kembali merasakan kesendirianku. Ya, sejak memiliki pekerjaan aku pun memberanikan diri untuk mandiri. Tidak tergantung atas belas kasihan para saudara lagi. Meski gajiku tak seberapa, tapi aku bertekad untuk melawan hidup ini sendiri saja. Karenanya aku hanya mampu tinggal di kawasan kumuh. Setelah bertahun-tahun hidup sendiri,dan kerap berpindah kost, akhirnya aku menemukan lokasi strategis sesuai dengan nasibku yang selalu sunyi dan sepi diusia yang hampir menuju kepala tiga ini. Dan jangan lupa, harga kost ditempat terakhir ini juga lumayan murah. Sesuai untuk ukuran karyawan rendahan seperti aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kost di sebuah rumah tua milik seorang nenek tua renta. Nek Ijah, nama ibu kostku itu. Meski anaknya banyak, tetapi nenek ini ternyata hidup sendiri. Entah pengen mandiri atau anak-anaknya tak peduli. Yang jelas, aku memang tak pernah melihat anak-anaknya berkunjung apalagi sampai menginap berhari-hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sosok Nek Ijah, aku pun menuai ketauladanan atas merdekanya hidup “berkesendirian”. Meski salah satu kaki nenek ini dipotong, karena sang nenek penderita diabetes, tetapi sang nenek tidak pernah tergantung dengan orang lain. Dia mencuci dan memasak sendiri. Kaki kirinya yang terpotong itu diikat kuat dengan banyak kain agar tidak sakit saat melangkah. Nek Ijah tidak pernah tahu berapa umurnya. Tetapi dari tubuhnya yang renta, aku yakin usia nenek ini sudah diatas 70 tahun. Meski posturnya kecil dan bongkok, dengan rambut putih dan gigi ompong, tetapi Nek Ijah selalu ceria. Kami kerap ngobrol bersama kalau dia kebetulan membuka pintu pembatas antara rumah dan kamar kostku itu. Atau kami sering duduk-duduk di depan rumahnya sambil memandangi pohon rambutan yang tak kunjung berbuah juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nek Ijah, sangat senang menceritakan masa lalunya. Tentang berapa kali dia menikah, bagaimana dia dulu banyak dipuja pria hingga rahasia kecantikanya di masa lalu yang tentu sulit terlacak sisa-sisanya di masa kini. Bahkan saat pertama kali bertemu, aku hampir pingsan melihat parasnya. Sosoknya mengingatkan aku akan film-film bergenre horor Indonesia. Tetapi menurut Nek Ijah, sosoknya yang sekarang jauh jika dibandingkan dengan sosoknya di zaman dahulu kala. Sebab katanya, dulu beliau sempat menjadi idola di masanya. Entah itu tahun berapa, yang jelas kata Nek Ijah masih pas zaman Belanda dan Jepang ada. Konon, banyak pria yang takluk dihadapan Nek Ijah karena tidak kuat melihat kecantikannya. Bahkan ada yang rela menungguinya berjam-jam menumbuk padi demi mendapatkan kesempatan mengungkapkan isi hati. Aih…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena terlalu banyak yang ingin mendapatkan Nek Ijah ini, pertarungan diantara sesama pria juga tidak dapat terelakkan lagi. Meski tidak terjadi pertumpahan darah, tetapi (lagi-lagi) menurut versi Nek Ijah, sudah banyak korban atas kecantikannya itu. Minimal ada cowok yang mukanya bonyok, giginya rontok atau bibirnya montok karena adu jotos di arena tanding liar atas nama cinta itu. Karena sosoknya yang laku keras ini, makanya Nek Ijah mengaku sudah pernah menghadap penghulu sampai tujuh kali! Meski rata-rata pernikahan itu berakhir dengan kasus kawin cerai layaknya selebriti. Abis, kata sang nenek, para suami yang mendapatkannya dengan susah payah itu punya penyakit sama. Suka cemburuan! Karena nggak mau capek hati, akhirnya Nek Ijah sering pindah ke lain hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru pada suami terakhirlah, Nek Ijah bertahan sampai sang suami mati. Bukan karena di bunuh, tetapi karena udah tua. Sejak itu Nek Ijah juga nggak pernah menikah lagi. Ya, mungkin itu, karena sudah tua juga. Meski rajin menikah dan rajin punya anak, tetapi Nek Ijah tidak dekat dengan anak-anaknya. Yang jelas kata dia, wajah anaknya berbeda-beda sesuai wajah bapaknya masing-masing. Karena terlalu cantik dan terlalu asyik kawin cerai, Nek Ijah sampai terlalu lupa untuk menjadi ibu yang sebenarnya. Semua anak-anak dari rahimnya itu hidup bersama bapak mereka masing-masing. Mereka lebih mengenal rasa kebapakkan ketimbang keibuan. Sehingga dalam masa tuanya, tak ada satu pun dari anak-anaknya itu yang berusaha mencari apalagi kembali kepelukan Nek Ijah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, menyesalkah Nek Ijah terlahir sebagai wanita cantik tiada tara? Oh, no! Lebih jauh dituturkan Nek Ijah, jika suatu saat diberi kesempatan Gusti Allah kembali lahir ke bumi, dia justru tetap ingin lahir sebagai wanita cantik sejati. Bahkan kalau boleh nambah, katanya, sekalian juga bertubuh tinggi bak peragawati. Bila perlu tinggi banget kayak pohon kelapa! Sebab menurut Nek Ijah ini, tubuhnya meski seksi, semok, aduhai, bohay dan sensual, tetapi tingginya jauh dari batas normal standar ukuran catwalk. Kondisi ini yang membuatnya minder untuk pacaran dengan pihak kompeni, karena bule Belanda kan tubuhnya di atas rata-rata orang Indonesia. Sementara pacaran dengan penjajah Jepang Nek Ijah juga ogah, karena katanya sama aja kayak pacaran dengan engkoh bermata sipit pemilik toko sembako di kampungnya. Hasilnya memang mantan Nek Ijah hanya dari kalangan Pendekar (pendek dan kekar) semua. Akibatnya dapat dimaklumi, keturunan Nek Ijah nggak ada yang bisa masuk ke kancah dunia selebriti. Kenyataan inilah yang sungguh disesalkannya sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kerap mengumbar cerita masa lalunya yang fantastis dan luar biasa, tetapi Nek Ijah juga tak lupa berbagi rahasia resep kecantikannya. Seperti, mandi pas malam bulan purnama, banyak puasa mutih (hanya makan nasi putih) dan pisang emas atau minum air kunyit campur asem. Serta melumuri rambut dengan ramuan khusus minyak cem-ceman, berupa campuran minyak kelapa dengan aneka bunga dan daun pandan yang dikukus sampai harum baunya, mengolesi bibir dengan madu, mengolesi ketiak dengan kapur sirih, membedaki diri dengan bedak tradisional berupa campuran tepung beras dan daun pandan, serta luluran tepung beras campur sari bengkoang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep-resep tradisional ini sering digembar-gemborkannya sebagai sarana mutlak untuk menciptakan dan menjaga kelestarian kecantikan tersebut. Pada awalnya aku menganggap itu hanya refleksi kebanggaannya saja di masa lalu. Namun lama kelamaan, aku semakin merasakan jika upaya mengungkap resep tradisional itu jadi lebih mirip semacam hasutan. Agar aku terbakar dan meniru kedigjayaannya di masa lalu itu. Apalagi beliau sering mempertanyakan kesendirianku. Mengapa aku tiap malam minggu sendiri saja? Kenapa belum pernah ada pria main ke rumah meski aku sudah ngekost berbulan-bulan lamanya? Atau kenapa Nek Ijah tidak pernah dititipi salam buat aku dari pemuda-pemuda kampung yang sering nongkrong di tikungan jalan itu? Dan sebagainya, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau nenek muda dulu, waduh! Jangankan nenek lewat di depan para pria. Nenek berdiri nggak jauh dari mereka saja udah pada ngejar semua. Ibaratnya, mencium bau nenek saja mereka sudah kelojotan semua. Nah ini, kamu? Udah tiga kali nenek ke pasar naik becak, tapi belum pernah disetopi para pemuda kampung. Kan di rumah nenek ada perawan yang setiap malam minggu selalu sendiri sampe manyun? Kok ya nggak ada yang mencoba menanyakan atau sekedar menitip salam? Makanya neng, cepat dijalankan program kecantikan nenek di masa lalu itu. Mutakhir, eh, mujarab lho!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu mungkin salah satu ungkapan Nek Ijah yang terdalam dan sulit kulupakan. Meski begitu pedas, tetapi aku merasakan bagaimana rasa sayang dan perhatiannya dia kepadaku. Seseorang yang di masa lalunya sangat tergantung terhadap pria, tiba-tiba di masa tuanya menemukan gadis yang kehidupannya berbanding 180 derajat dengannya. Mungkin Nek Ijah tidak dapat memahami, mengapa ada perempuan yang tidak mampu memberikan daya pikat terhadap pria mana pun di dunia. Bahkan kepada sekumpulan pemuda pengangguran di ujung jalan itu sekalipun! Padahal mereka ini adalah kelompok yang menjadi batas minimalis tolak ukur seberapa parahnya wujud seorang perempuan. Ibarat kata, bebek montok lewat aja digodai. Nah ini? Gadis, yang kata Nek Ijah meski tidak secantik parasnya selagi muda,tapi ada nilai jualnya, kok ya jauh dari incaran pria? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dengan segenap rasa hormat, aku pun menjalankan ritual ala Nek Ijah. Tetapi dugaanku ternyata benar. Masa lalu mungkin bagus pas zaman dulu. Tetapi kini? Oho! Mandi pas malam bulan purnama membuat aku masuk angin, kegiatan puasa mutih membuat aku sakit dan terkapar serta terpaksa tidak dapat bekerja sampai berhari-hari. Makan pisang emas membuat aku lebih mirip monyet. Minyak cem-ceman yang dibuatkan Nek Ijah untuk ritual di kepala membuat para penumpang angkot yang kunaiki pada muntah-muntah, karena merasa begitu aneh dengan aromanya. Apalagi kuketahui kemudian, Nek Ijah pada proses pembuatannya memang kehabisan minyak kelapa sehingga terpaksa menggunakan minyak jelantah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kegiatan mengolesi madu di bibir membuatku dikerubungi semut merah. Boro-boro jadi seksi kayak bibirnya Angelina Jolie, ini bibir jadi bonyok kayak habis nabrak terali besi. Kapur sirih diketiak pun ternyata tidak sanggup membendung kucuran keringatku. Akibatnya kapur sirih di ketek malah jadi luntur, kemudian membuat noda di baju dan tentu saja malah menambah berantakannya penampilanku. Bedak tepung beras yang begitu putih tebal dimuka juga malah menambah masalah baru. Saat melihatku memakai bedak itu, salah satu anak tetangga nangis jejeritan karena ketakutan. Sementara luluran tepung beras plus bengkoang, malah membuat tubuhku gatal-gatal karena alergi. Karena lagi-lagi, Nek Ijah salah mengkombinasikan ramuan, tepung beras yang digunakan merupakan tepung sisa dari proses pembuatan gorengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah, mungkin Nek Ijah sukses dengan resep itu pada zaman dulu. Dimana para pria yang melihat, langsung berlari mengejarnya. Atau baru mencium aroma Nek Ijah, para pria itu langsung kelojotan dibuatnya. Tetapi kadang aku berpikir, Nek Ijah ini dulunya wanita cantik atau maling sih? Kok pake dikejar-kejar segala! Terus kalo para pria ini jadi kelojotan setelah mencium bau Nek Ijah, masalahnya terletak dimana? Apakah karena Nek Ijah ini memiliki daya listrik berkekuatan tinggi atau penggemar Nek Ijah sebenarnya punya penyakit ayan semua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang jelas, sejak tidak sukses menjalankan ritual kuno tersebut aku menjadi lebih memikirkan arah hidup. Benar juga kata Nek Ijah. Usiaku sebentar lagi 30 tahun. Orang yang setiap harinya pake make-up aja tidak akan luput dari kerutan dan kekeriputan, apalagi aku yang malas dandan? Aku yang muda belia aja tidak pernah mampu meluluhkan hati pria, apalagi aku yang sudah tua? Waduh, bisa tambah parah! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jodohku Mana Ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, aku sendiri tidak tahu tujuanku mencari pria. Buat apa? Kata orang sih, buat dinikahi, punya anak, jadi teman hidup atau apalah. Okelah! Tetapi sebegitu pentingkah? Mengapa aku berpikiran begitu, karena aku merasa lain kalau tidak berpikir begitu. Di sekelilingku orang pada menikah dan berkeluarga serta muncul anak-anaknya. Sementara kesendirianku ini justru membuat aku tidak normal jadinya. Sering aku malu bila bertemu di acara pesta keluargaku. Saudara-saudara sepupu yang sebaya denganku sudah pada gendong anak semua. Si Ori, yang menjadi inspirasi tunggal untuk cikal bakal namaku itu, bahkan anaknya sudah masuk TK. Kemarin, pas adiknya Ori yaitu si Aura atau Ora kawin, aku juga melihat perut Ori sudah menggelembung lagi. Kata Ori, dia ngotot menambah momongan karena usia. Ibarat sinetron stripping yang kejar tayang, Ori berpendapat jumlah anak adalah target memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, hal lain yang membuat aku merindukan kehadiran pria adalah timbulnya sisi kecemburuan. Aku iri si anu diapeli cowoknya, jalan bareng yayangnya, dilamar tunangannya atau menikah dengan pria pujaannya. Karena di dunia ini, yang mampu menggaet lawan jenis itu gelarnya: laku! Ibarat barang, manusia diakui keberadaannya jika sudah sampai mampu dipuja seseorang, diajak kawin, lalu punya anak, terus cucu dan seterusnya… Kalau sudah begitu, artinya manusia itu disebut eksis di dunia! Kemudian aku, yang masuk golongan sendiri, sebatang kara, melayang tiada arah ini, dianggap masyarakat perlu dikasihani. Karena belum menunjukkan kontribusi terhadap laju pertambahan penduduk. Suatu pikiran picik yang dulu sangat kubenci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kini, aku terpaksa “bersahabat” dengan pikiran picik itu. Dulu aku sangat memuja ungkapan tentang “jodoh ditangan Tuhan”.  Karena aku memang tetap berharap untuk menikah sebenarnya, karena atas pikiran (kembali) mau dianggap normal tadi. Selain juga jatuh cinta tampaknya menyenangkan. Apalagi mendapat balasan untuk dicintai. Cuma masalahnya, cinta yang kuharapkan itu tidak kunjung menghampiri. Itu saja. Mau membicarakan masalah ini kepada orang lain rasanya malu. Kesannya norak dan pecicilan gitu. Nggak diomongi juga rasanya berat. Susah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika suatu kali aku melihat forum kontak jodoh disebuah tabloid wanita, dengan penuh semangat aku mengikutinya. Segala bentuk persyaratan dan administrasi kujalani. Bahkan pertemuan-pertemuan rutin untuk mencari pasangan juga kulakoni. Tapi hasilnya? Nol! Meski foto yang kukirimkan berupa hasil editing designer graphis, toh, tetap tidak membuat para pria bersemangat untuk menghubungiku demi sebuah kencan romantis. Pertemuan rutin kaum jomblo juga tak membuat aku benar-benar bertemu dengan pria senasib denganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha lain akhirnya juga terpaksa kulakukan. Setelah dengan sangat menahan rasa malu, akhirnya aku bercerita dengan para rekan kerjaku. Para sopir dan kuli angkut itu. Aku pikir mereka tertawa, tetapi rupanya mereka mendukung upayaku untuk mengakhiri masa kesendirianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami pikir dulu mbak ini pilih-pilih pria. Lha, kalo taunya ngebet cari calon suami begini ya kita akan bantu usahakan” kata mereka kompak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mulailah aku menjalani kegiatan kencan buta hasil rekayasa para mak comblang dadakan ini. Mungkin, karena rekan kerjaku para sopir, kenek atau kuli panggul, maka calon yang diajukan kepadaku juga tidak jauh-jauh dari lingkungan mereka. Ada sopir taksi, tukang ojek, pedagang kaki lima, tukang kredit panci sampai preman pasar. Semua kandidat lalu kami sortir mana yang layak dan tidak layak untuk dikencani. Kegiatan yang bersifat rahasia ini kami lakukan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Terutama saat sedang makan siang bersama. Setelah dilakukan rapat yang diiringi debat, maka akhirnya terpilih beberapa nama calon kandidat terbaik. Meski hatiku berat menerimanya, karena tidak sesuai dengan harapan, tetapi aku pun mulai menjalani kencan buta berantai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kencanku pertama, seorang pengelola warteg milik ibunya. Namanya, Ferdy. Kami bertemu di mal dan berniat ingin makan bakso sekaligus nonton. Dia merupakan calon yang diajukan salah satu kernet truk, karena si kernet ini sering makan di warteg tersebut. Ferdy anaknya lumayan ganteng, nampak pemalu dan usianya jauh lebih muda dariku. Tapi yang menyebalkan, dia selalu menelepon ibunya. Kami akhirnya tidak jadi makan bakso dan nonton, gara-gara ibunya bilang ditelepon: hari sudah agak malam. Kami berpisah di depan mal dan sejak itu aku tidak melihatnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kencan kedua, juga berakhir tak kalah tragis. Si Ando, seorang pekerja las karbit yang merupakan teman akrab salah satu kuli panggul rekanku, kutemui di warung Pujasera (Pusat Jajanan Serba Ada). Menurutku, si Ando ini orangnya sih biasa saja. Tetapi yang tidak biasa adalah sikapnya. Tampaknya si Ando ini belum bisa melupakan mantan kekasihnya yang kini sudah jadi istri orang. Setiap kali, dia selalu bercerita dan memuji-muji sang mantan tersebut. Ibaratnya, liat sendok ingat dia, liat piring tambah ingat dia. Tampak sekali jiwa pemuda ini terganggu gara-gara kehilangan gadis impian itu. Sampai detik perpisahan kami menuju kediaman masing-masing, si Ando ini terus-terusan saja melempar pujian dan kenangan masa lalu itu. Jauh di dalam hati aku tidak mau lagi bertemu pemuda itu. Dan memang, kata si kuli panggul yang menjodohkan aku, si Ando memang tidak berniat melanjutkan kencan denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kencan selanjutnya, sekaligus yang terakhir, sebenarnya sedikit menampakkan titik terang. Nama pemuda itu Ryan. Anak tetangga sopir mobil box rekanku. Kami memang berbeda usia hampir dua tahun. Tetapi menurutku, Ryan ini merupakan kandidat yang jauh lebih baik dari calon-calon lain sebelumnya. Untuk urusan wajah dan penampilan lumayan, sikapnya juga menunjukkan kalau dia orang yang sopan. Sayangnya, pemuda ini baru saja kehilangan pekerjaan alias sedang menganggur. Meski demikian, ada sekitar tujuh kali kami melakukan pertemuan. Entah itu nonton, jalan ke kebon binatang sampai ngeceng di mal kayak remaja gaul sekarang. Karena dia bekerja dan tidak punya uang, maka biaya pertemuan tentu saja aku yang menanggung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, aku sangat senang menjalin hubungan dengannya. Jujur, Ryan itu lumayan romantis.  Kadang dia rajin nelpon atau sms, bahkan dia pernah menjemput aku pulang kerja dan mengantar aku ke kost-an. Suatu hal yang membuat ibu kostku girang bukan kepalang. Tetapi itu tadi, nasib kayaknya belum berpihak padaku. Walau belum ada cinta diantara kami, tetapi rupanya takdir memang berkehendak lain. Mendadak, Ryan mendapat pekerjaan jauh di pedalaman Kalimantan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu dua kali, dia masih telpon. Masih juga ada banyak sms yang nyasar ke handphone-ku darinya. Tetapi selanjutnya? Tiba-tiba terputus disitu saja. Satu bulan kemudian aku mendapatkan sms darinya, kalau dia menganggap aku hanya teman biasa. Karena ternyata dia lebih tertarik dengan wanita lain di lokasi tempatnya bekerja. Dua bulan kemudian, dari sopir mobil box kuperoleh kabar, kedua orang tua Ryan berangkat ke Kalimantan untuk melamar gadis dari suku pedalaman daerah tersebut.  Anehnya, aku tidak sedih sama sekali. Mungkin karena aku juga belum sempat jatuh cinta padanya. Aku hanya kehilangan seseorang yang pernah mengisi kehidupanku menjadi sedikit lebih “normal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, Kirim Aku Malaikat Cinta Itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah usai cerita tentang Ryan, aku juga mengakhiri masa kontrak “joint venture” dengan para mak comblang itu. Meski mereka sendiri merasa keputusanku ini terlalu berat sebelah dan didasari atas kekecewaan yang berlebihan saja, tetapi aku tetap bertekad menyudahinya. Sejujurnya, aku bukan memikirkan seberapa parahnya aku di mata kaum pria. Tetapi, betapa kasihannya orang-orang yang mencoba menjodohkan aku. Itu saja. Kalau soal jodohku sih, dapat nggak dapat ya aku juga tidak terlalu percaya diri. Meski memang kuakui, terkadang aku tak mampu melepas doa-doa di tengah sujudku kepada-Nya. Demi soal yang satu itu. Selanjutnya aku mencoba tawakal saja. Ada jodoh, hayo! Nggak ada jodoh? Ya, sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan kuperoleh dari rekan kerjaku, bernama Pak Topi. Beliau kuli panggul yang masuk golongan sudah berumur. Tetapi semangatnya begitu menyala untuk mencari penghidupan bagi keluarganya. Nama Pak Topi merupakan pemberian dariku, karena dia memang selalu memakai topi lebar dari pandan saat bekerja. Tetapi yang lebih aku sukai dari Pak Topi, adalah keramahan dan kebijaksanaannya. Di Jakarta Pak Topi tinggal sendiri, menumpang di mess kantor. Keluarganya di kampung kerap ditemuinya antara dua atau tiga bulan sekali. Karena pada masa itu, kantung Pak Topi cukup penuh dengan uang upah dari menjadi kuli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pulang kampung, Pak Topi selalu membawa oleh-oleh untuk keluarganya. Entah itu celana pendek untuk bocah lelakinya yang katanya pintar ngaji itu, selop merah jambu buat gadis kecilnya yang masih TK, atau kerudung dan kain buat si istri tercinta. Sementara buat Pak Topi sendiri, selama bertahun-tahun aku hanya melihat pakaiannya yang itu-itu saja. Kaos lengan panjang putih yang kini warnanya sudah kekuning-kuningan dan kemeja kotak-kotak yang penuh jahitan. Celana Pak Topi juga kulihat hanya satu, warna coklat berukuran panjang yang penuh tambalan. Jika sedang tidak bekerja, Pak Topi hanya memakai kaus dalam rombeng dan berkain sarung butut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada harta berlebih dari Pak Topi, selain kebahagiaan bersama keluarga. Satu-satunya tujuan hidupnya selain beribadah, ya, tentu saja keluarganya itu. Dan selama aku mengenalnya, aku tidak pernah mendengar dia mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hidup ini akan terasa lebih kalau kita tidak pernah merasa kekurangan. Apa yang telah Allah berikan kepada kita, syukurilah. Jangan pernah meminta lebih dari apa yang telah digariskan. Sebab di balik segala cobaan, Allah punya rahasia yang begitu indah untuk dilukiskan. Maut, jodoh dan rezeki di tangan Tuhan” katanya suatu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maut, jodoh dan rezeki ditangan Tuhan. Perlahan-lahan, kalimat itu kubenamkan di hati. Aku berharap hatiku yang sedang bergeming itu mau memahami. Betapa tidak baiknya untuk mempertanyakan sesuatu kepada DIA yang selalu memberikan yang terbaik kepada kita. Aku berusaha untuk merasa “cukup” dengan segala kesendirian ini. Lagi pula aku sudah berusaha, seberusaha-berusahanya. Jika memang sang jodoh itu tak kunjung menghampiri, mungkin memang belum saatnya. Atau kalau memang tidak di dunia, pasti Allah telah memilihkan pasangan terbaik untukku di akherat sana. Aku yakin itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan kuat itu akhirnya melatarbelakangi hidupku selanjutnya. Kini, saat bergerak, berjalan, berlari dan bernafas pun keyakinan itu selalu hidup di hati. Karenanya, jika melihat ada pasangan bergandengan tangan, pergi kondangan ke pesta kawinan atau mendengar teman sekerja bertunangan, aku tidak perlu gelisah lagi. Aku selalu tersenyum dengan penuh keyakinan diri. Seyakin bahwa si pangeran hati itu memang pasti ada dan merupakan pilihan Illahi Robbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maut, jodoh dan rezeki ditangan Tuhan. Kabar itu membuat suatu perubahan besar. Adik engkoh, bosku, tiba-tiba tewas dalam kecelakaan lalu lintas. Masih muda, ganteng, mahasiswa cerdas, mana baik hati lagi. Pokoknya bukan hanya keluarga si bos yang jungkir balik menangisi sang adik tersayang. Tetapi kami, karyawan abangnya yang juga sempat mengenal pribadinya juga dibuat kehilangan. Terutama para karyawati bagian staf kantor yang jomblo dan memang diam-diam mengagumi kharisma adik bos yang satu ini. Karenanya wajar, jika saat proses pemakaman adik bos ini, banyak karyawati yang bertangisan melebihi batas kemampuan. Bahkan ada yang pingsan. Karena banyaknya jumlah karyawati staf kantor yang bergelimpangan inilah yang membuat tugas kami (para karyawati yang baik-baik saja) jadi repot dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya tentu aku, karyawati bagian staf gudang. Dari yang semula tugasku cuma memegangi keranjang bunga untuk penaburan, tiba-tiba jadi merangkap ke yang lain-lain. Membantu mengangkat karyawati pingsan, mijetin kepala, sampai mengipasi mereka. Ribet! Tetapi dari tugas ganda inilah aku jadi bertemu: dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosesi pemakaman adik si engkoh memang cukup lama. Maklum, keluarga engkoh memang masih memegang adat kebudayaan leluhurnya. Segala perabotan yang menyerupai kebutuhan duniawi dibuat dan dibakar. Konon, barang-barang tersebut akan dipergunakan arwah di akherat sana. Semua anggota keluarga memakai pakaian putih, memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah. Suatu ritual unik yang baru kutemui, tetapi tidak dapat kuperhatikan secara lebih gara-gara banyak korban pingsan dari para karyawati yang merasa sok kehilangan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mobil-mobil penuh dengan karyawati yang pingsan, maka karyawati-karyawati yang pingsannya belakangan terpaksa harus puas hanya ditidurkan di atas makam-makam. Tetapi makam-makam disitu juga tidak seseram makam-makam kebanyakan. Bahkan ada makam yang bentuknya menyerupai istana. Ada air mancurnya, rumah bertingkatnya, bahkan patung malaikat kecilnya. Suatu hal yang membuat aku geleng-geleng kepala. Sementara makam-makam lain, biar pun sederhana, tetapi tidak kalah indah. Rumputnya hijau dipotong rapi, gundukannya rata, ada keramiknya, juga ada banyak bunga bahkan foto pemilik makamnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara foto pemilik makam inilah, hidupku berubah. Awalnya, kami-kami (karyawan-karyawati) yang tidak pingsan itu iseng memperhatikan foto-foto itu. Ada yang berseloroh bahwa foto-foto itu cakep juga. Bahkan ada yang mengaku naksir dengan salah satu foto di makam itu. Aku sih sesungguhnya tidak terlalu tertarik untuk memperhatikannya. Tetapi entah mengapa, tiba-tiba foto salah satu pemilik makam itu begitu menggetarkan jantungku. Foto seorang pemuda tampan. Ya, aku yakin semasa hidup si pemilik foto pasti tampan sekali. Matanya nampak begitu tajam menusuk hatiku. Sepasang mata laki-laki yang jika dia masih hidup pasti sangat kugilai. Kubaca namanya: Michael. Lahir, Jakarta, 1 Januari 1977. Meninggal, 1 Januari 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gila! Aku mengumpat dalam hati. Berarti, si Michael ini belum lama matinya. Baru awal tahun kemarin. Kenapa saat dia hidup aku nggak sempat bertemu makhluk seganteng ini, ya? Aduh, kalau saja…Tetapi keluhan hatiku berakhir disitu saja. Lagi pula si Michael itu sudah mati. Ngapain naksir orang mati? Apa aku juga mau kayak para karyawati stres yang hobi pingsan itu? Pacar bukan, saudara bukan. Kok ya adik bos meninggal, bisa-bisanya pada rame-rame pingsan. Tapi itu cuma ungkapan sesaat. Ketika prosesi pemakaman adik si engkoh usai, tiba-tiba aku seakan dikuasai “kerinduan” untuk sekedar melemparkan pandang ke arah foto di makam Michael. Aneh, aku merasa foto itu tersenyum padaku. Dan sepasang mata itu, seakan menyorot kian dalam ke dasar hatiku. Waduh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, aku tak mampu melupakan foto Michael. Seakan-akan, foto di makam ini memiliki daya magnet tersendiri, yang menyeret aku untuk selalu pergi mengunjunginya. Tuhan, pada awalnya aku merasa ada yang tidak beres dengan alam pikiranku. Terang saja, masa sih naksir orang mati? Tetapi makin kutekan perasaan itu, tiba-tiba aku semakin merasa bahwa kerinduanku terhadap foto itu semakin tak terbendung. Maka dengan perasaan campur aduk, di suatu hari minggu yang indah, aku benar-benar kembali mengunjungi makam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan…sepertinya aku merasa benar-benar sudah terganggu jiwa. Tiba-tiba aku merasa begitu senang mengunjungi makamnya. Aku menatap fotonya, membawakannya bunga dan memberikan doa terbaik untuknya. Dan semua itu kulakukan dengan sadar! Seakan aku sudah begitu lama mengenalinya. Seakan dia bagian dari masa lalu yang sulit kuhapus begitu saja. Dan dari kunjungan ke makam itu, aku kemudian rutin terus mengunjunginya. Serutin aku mengunjungi makam kedua orang tua atau kakek dan nenekku. Tetapi di makam Michael, aku merasakan sesuatu yang beda. Ada sensasi tersendiri yang membuatku seakan mabuk dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap aku menatap fotonya, aku seakan benar-benar berbincang-bincang dengannya. Maka dari kunjungan-kunjunganku itu, aku merasa memiliki teman baru. Tempat aku berbagi cerita, tentang pekerjaan, mimpi dan tentu saja jodoh yang tak kunjung datang itu. Dan dari seringnya aku datang ke makam Michael itu, aku juga baru tahu jika ternyata ada orang lain yang juga sering mengunjunginya. Orang itu juga sering membawakannya bunga. Bunga yang sama dengan yang selalu aku bawa. Setangkai mawar merah! Tetapi anehnya, aku belum pernah bertemu dengan orang yang mengunjungi makam Michael ini. Siapa si pengunjung makam Michael ini? Mantan istrinya, pacarnya, emaknya, neneknya, apa pembokatnya? Namun rasa penasaran yang begitu menyergap, membuat aku akhirnya berani juga menanyakan keberadaan keluarga Michael pada pihak penjaga makam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pihak penjaga makam inilah aku mendapat informasi tentang Michael. Rupanya, alamat keluarga Michael tak begitu jauh dari lokasi makam. Menurut penjaga makam tersebut, makam Michael memang jarang dikunjungi keluarganya. Tapi selalu ada pria yang datang ke makam itu untuk mengantarkannya setangkai bunga. Apa! Ada seorang pria yang datang ke makam Michael hanya untuk mengantarkan setangkai bunga mawar merah? Apakah itu tidak berlebihan untuk seorang saudara atau anggota keluarga lainnya? Mengapa setangkai mawar merah? Bukankah Michael itu laki-laki, dan yang memberi bunga ini wujudnya juga laki-laki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi akhirnya pertanyaan itu terjawab sudah. Saat itu, di suatu minggu sore yang cerah. Aku memilihkan setangkai mawar merah tercantik untuknya. Seperti biasa, aku duduk di sebelah makamnya. Bercerita tentang kegiatanku hari itu. Aku membelai fotonya dan aku juga mencabuti rumput liar yang lebih tinggi dari rumput lainnya. Tetapi ketika aku ingin meninggalkan makamnya, tiba-tiba aku melihat sosok seorang laki-laki berdiri tepat di belakangku. Diam mematung. Dan ditangannya, amboi…ada setangkai mawar merah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kamu yang juga selalu membawakannya setangkai mawar merah?” kata laki-laki itu, dingin tanpa ekspresi. Seraya membuka kaca mata hitamnya. Ups! Tiba-tiba jantungku seakan berhenti berdetak. Entah kenapa, aku seperti pernah melihat sepasang mata itu. Sepasang mata elang yang menyorot tajam. Tapi aku lupa pernah melihatnya dimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memperhatikan lagi sosoknya. Tidak kalah tampan dari fotonya Michael. Aku taksir usianya pasti tidak begitu jauh dariku. Tapi jika kubandingkan dengan fotonya Michael di makam itu, tak ada sedikit pun kemiripan di wajah lelaki ini. Aku yakin, mereka bukan bersaudara. Minimal, kalau pun memang bersaudara pasti merupakan saudara yang sangat jauh. Tetapi anehnya, aku merasa mengenal sepasang mata milik laki-laki itu. Dan aku yakin hal ini bukan kebetulan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, anda saudaranya Michael?” tanyaku ramah. Atau lebih tepat meramah-ramahkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda sendiri siapanya Michael?” dia balik tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku terhenyak. Aku ini ada hubungan apa ya dengan Michael? Apa pula urusanku mengunjungi makamnya? Apa aku mau dibilang sakit jiwa, jika aku bilang pada laki-laki ini: Aku naksir si Michael gara-gara terpukau dengan fotonya di makam itu? Tidak! Tak akan ada orang yang percaya dengan omong kosong seperti itu. Maka dengan takut aku mundur perlahan-lahan, sebelum akhirnya melesat menjauh dari tempat itu. Aku masih mendengar laki-laki itu memanggilku, tetapi kakiku seakan tak mampu berhenti. Seperti bibirku yang tak mampu kuhentikan untuk terus menyuarakan suara hati, kepada DIA, Illahi Robbi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan…kenapa kau kirim malaikat cinta yang belum pintar menggunakan panah? Sehingga membuat aku jatuh cinta pada pria yang telah punah? Terima kasih Ya Allah, Engkau mendengarkan doa-doaku. Terima kasih telah mengirimkan malaikat cinta yang mungkin masih junior atau dalam tahap magang di surga-Mu. Terima Kasih juga kepada malaikat cinta, yang sudah iba dan sesungguhnya berniat baik terhadapku. Tapi, Ya, Allah… Boleh nggak kasih kesempatan malaikat cinta yang belum pengalaman itu untuk mengarahkan kembali panah cintanya. Siapa tahu kali ini nggak nyasar ke kuburan lagi? Please, help me…Ya..Allah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Izinkan Aku Mengenalmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak bertemu sosok laki-laki itu di makam Michael, aku jadi takut untuk kembali ke makamnya. Entahlah, apa yang kutakutkan sebenarnya. Takut jika dianggap gila, atau takut yang lainnya. Namun jujur, aku sulit melupakan foto Michael. Kerinduan yang terpendam itu akhirnya menggiring aku untuk mencari alamat keluarga Michael, yang kuperoleh dari penjaga makam tersebut. Bak detektif swasta, diam-diam aku mencoba menyelediki tentang sosoknya di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tukang ojek yang tidak jauh dari rumahnya, aku mendapat informasi jika Michael merupakan anak keluarga berada. Pria tampan itu bahkan mampu bersekolah di Amerika. Konon, dia merupakan harapan orang tuanya untuk melanjutkan bisnis keluarga. Karena dia merupakan anak lelaki satu-satunya. Sementara dua kakak perempuannya sudah menikah dan melebarkan sayap bisnis di bidang lain dengan suami masing-masing. Sayang, pada masa sekolah di Amerika itu Michael mengalami kecelakaan lalu lintas yang membuatnya lumpuh total. Sepanjang hidupnya, Michael hanya menghabiskan waktu di kursi roda sambil terus mendalami kegiatan melukis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal informasi ini, aku akhirnya memberanikan diri mengunjungi keluarga Michael. Aku berharap dapat dipercaya saat berpura-pura menjadi salah satu temannya dari masa lalu. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu. Tetapi sungguh, kerinduan akan Michael seakan menghilangkan akal sehatku. Dan yang lebih mengagetkan aku, adalah sambutan dari keluarga Michael. Aku tidak membayangkan jika akhirnya bisa seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kamu itu memang ada? Kamu benar-benar teman Michael?” tanya ibunya Michael, saat pertama kali melihatku. Suatu pertanyaan aneh yang membingungkanku. “Kami pikir Michael saat itu dalam keadaan tertekan dengan kondisinya. Jadi dia berhayal memiliki seorang teman baru. Dia bilang temannya perempuan, dan dia selalu menjadikan teman perempuannya itu sebagai subjek lukisannya. Kami jelas tidak percaya, karena dia memang tidak pernah keluar rumah. Bagaimana mungkin dia memiliki teman baru? ” lanjutnya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu kepalaku mendadak pening. Tetapi aku tidak menolak untuk mengikuti ibunya menuju ruang pribadi Michael. Ada banyak lukisan disitu. Dan aku hampir mati berdiri melihatnya. Ya, Tuhan! Ini benar-benar kebetulan atau keajaiban? Kenapa wajah-wajah dalam lukisan tersebut begitu mirip aku? Saat melihatnya, aku seperti sedang berhadapan dengan cermin saja. Asli, mirip aku banget! Ini kebetulan atau karena aku hanya sedang mimpi kesiangan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari ibu Michael, aku akhirnya memperoleh kisah yang hampir tidak masuk akal ini. Menurut ibunya, Michael memang gemar melukis perempuan yang wajahnya mirip aku itu setahun sebelum kematiannya. Suatu hal yang agak sulit dimengerti, mengingat selama bertahun-tahun Michael tidak pernah mengenal teman baru. Sejak kecelakaan dan menjadi lumpuh, Michael malu untuk bertemu orang lain. Entah dari mana dia memiliki ide untuk melukis perempuan yang mirip aku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ibu tanya, dia selalu bilang bahwa perempuan yang dilukisnya itu adalah temannya. Entah teman dari mana. Tapi setahun menjelang kematiannya, dia memang bertingkah aneh. Dia seakan tahu jika maut akan menjemputnya. Bahkan sebelum meninggal, dia minta diizinkan bertemu dengan sahabatnya Elang. Elang ini sahabatnya waktu bersekolah di Amerika, cuma keduanya mengalami kecelakaan lalu lintas di sana.  Jika Michael lumpuh, maka Elang menjadi buta. Dan kepada sahabatnya ini, Michael mempersembahkan sepasang matanya ..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya semua terjawab sudah. Hari itu, aku bertekad kembali mengunjungi makamnya. Tak ada setangkai mawar. Tak ada. Aku cuma ingin bertemu dengannya, memandangi sorot matanya. Itulah sisa hidup Michael yang tersisa. Pria lumpuh yang kehilangan semangat hidupnya, tetapi dibimbing Yang Kuasa untuk menemukan “jodohnya”. Akulah jodoh pria lumpuh yang tampan itu. Tuhan telah memilihkan aku untuknya melalui mimpi terindah menjelang akhir hayatnya. Tetapi Tuhan telah memanggilnya sebelum aku sempat mengenalnya. Apa sesungguhnya rahasia Tuhan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlari bagai kesurupan, ketika aku melihat sosok yang sedang berdiri mematung tepat di depan makam itu. Aku menarik dagunya, dan menatap dalam-dalam sepasang mata itu. Mata yang seharusnya kumiliki sejak bertahun-tahun sebelumnya. Sebelum si pemiliknya rebah selamanya di balik makam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang dikatakannya sebelum dia menyerahkan sepasang mata ini padamu?” tanyaku padanya dengan terbata-bata. Tak kuasa menahan emosi, atas dasar kenyataan yang begitu mengejutkan dan membingungkan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diam sesaat. Memandangku begitu dalam, seakan mengikat lekat tatapanku. Kemudian dia menghela nafas panjang.”Michael bilang, aku harus mencari perempuan dalam mimpinya itu. Perempuan yang mencintainya setelah dia mati. Perempuan yang dapat kulihat melalui sepasang matanya ini. Dan jika aku bertemu dia nanti, maka aku harus memberikannya ini…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat setangkai mawar merah itu berdiri lurus digenggamannya, dan kemudian berpindah digenggaman tanganku. Perlahan-lahan air mataku jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku Menemukan Jodohku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta pernikahan itu mungkin sederhana. Tetapi merupakan pesta terindah yang terekam dalam kepalaku. Bagaimana tidak? Di usiaku yang tepat kepala tiga, akhirnya aku berhasil menemukan yang namanya jodoh itu. Meski dengan cara yang sangat aneh, janggal dan tidak masuk diakal. Tetapi itulah rahasia Tuhan. Doa-doa yang kukirim di tengah malam buta selama ini ternyata sudah dijawab-NYA. Seorang pria terbaik pilihan- NYA, melamarku bak putri raja. Dan aku tak pernah bisa melupakan kalimat-kalimatnya yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Michael menemukan cintanya dalam mimpi yang tak mampu diwujudkannya sampai mati. Tetapi sebagian dari hidup Michael ada dalam diriku. Tepatnya dikedua bola mataku ini. Dan kau tahu, Kaori? Jika Michael mencintaimu sebelum bertemu denganmu, maka aku mencintaimu ketika pertama kali melihatmu di makam itu. Seorang perempuan aneh yang tertarik dengan orang yang telah mati. Aku tidak menganggapmu gila. Aku justru merasa kau seorang pecinta sejati. Yang tidak pernah mengharapkan pamrih ketika memberikan sebuah hati. Kaori, kaulah perempuan yang kucari. Maukah kau menikah dengan lelaki yang pernah buta ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, Tuhan. Gila aja kalau aku sampai menolaknya. Dialah laki-laki pertama yang melamarku. Sosok laki-laki yang kuidamkan selama ini. Meski dia bukan cinta pertamaku, ya, karena cintaku yang pertama itu keburu nyasar ke makam Michael. Tetapi aku bahagia akhirnya menemukan pasangan cinta yang sesungguhnya. Aku jadi tidak berpikir lagi bahwa Tuhan telah salah kirim malaikat cinta. Atau sang malaikat cinta itu telah salah mengarahkan panah asmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dulu aku berharap dikirim seorang lelaki dalam hidupku, kini aku malah dapat bonus satu. Michael dan Elang adalah dua lelaki terbaik yang memberikan cerita terindah dalam hidupku. Meskipun aku belum sempat mengenal sosok seorang Michael, tetapi aku dapat memuaskan “kerinduanku” dengan menatap sepasang biji matanya yang kini ada pada Elang. Dan setahun setelah pernikahanku dengan Elang itu, Michael kecil pun lahir. Di kemudian hari, kami sering membawa bocah kecil gendut itu ke makam Michael. Makam malaikat cinta yang telah mempertemukan aku dengan pasangan hidupku dengan cara yang begitu luar biasa. (Mei 2009/Sri Widya)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://widyahistory.blogspot.com/feeds/3330611281253007672/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/5496464690455652937/3330611281253007672' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5496464690455652937/posts/default/3330611281253007672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5496464690455652937/posts/default/3330611281253007672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://widyahistory.blogspot.com/2009/05/kaori-cari-lelaki.html' title='Kaori Cari Lelaki'/><author><name>widya_sri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04595588057753265541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg13hgN4DzhQpOGKLK5345h0tEdeY6F3Pjm26LzrcRgfK1BXq3W4fI1YBeqsI8dcnPcjnSX_tR_q8G8t7p4Y8gqdRLkdXRjltdkE52xTTczKevpkxhDbYDtMbYR8HE2WQ/s220/PIC_0037.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5496464690455652937.post-7277921795813990896</id><published>2009-05-20T15:16:00.001+07:00</published><updated>2009-05-20T15:23:33.921+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pasar Bermartabat dan Berkeadilan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Paskomnas"/><title type='text'>pasar komoditi nasional</title><content type='html'>&lt;meta equiv=&quot;Content-Type&quot; content=&quot;text/html; charset=utf-8&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;ProgId&quot; content=&quot;Word.Document&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;Generator&quot; content=&quot;Microsoft Word 11&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;Originator&quot; content=&quot;Microsoft Word 11&quot;&gt;&lt;link rel=&quot;File-List&quot; href=&quot;file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CEddy%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml&quot;&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri=&quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&quot; name=&quot;place&quot;&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri=&quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&quot; name=&quot;State&quot;&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri=&quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&quot; name=&quot;City&quot;&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate=&quot;false&quot; latentstylecount=&quot;156&quot;&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid=&quot;clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D&quot; id=&quot;ieooui&quot;&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&quot;&quot;; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:14;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:14;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:14;&quot;&gt;Naskah: Sri Widiya (Bulletin Berjangka BAPPEBTI)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;Setelah sejumlah pasar lelang yang telah diluncurkan berat berkembang, Paskomnas menyeruak mengambil peranan. Membentuk pasar spot komoditas yang bermartabat dan berkeadilan. Suatu kegiatan pasar yang memiliki nilai lebih, mulai dari efisiensi hingga adanya jaminan dalam bertransaksi. Rencananya akan beroperasi mulai 1 Juli tahun ini&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Menurut Dirut PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) Surdiyanto Suryodarmodjo, sebetulnya pendirian Pasar Komoditas Nasional (Paskomnas) dipicu dari kebutuhan akan adanya fasilitas bertransaksi yang terorganisir dengan baik. Atau diumpamakannya seperti organisme market, dimana ada kepastian harga serta pasokan. Sebab menurutnya, pelaku pasar itu membutuhkan suatu sarana bertemunya penjual dan pembeli dimana mereka bisa melakukan transaksi, tetapi ada kepastian mengenai penyelenggara. Sehingga jika setelah harga sudah terbentuk atau disepakati, maka pada saatnya penyerahan sudah tidak akan ada perubahan lagi. &lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;“Mau harga turun atau naik akan ada perubahan, karena harga sudah kontrak. Demikian juga dengan barang yang sudah disepakati. Itu sudah ada pasokannya. &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kepastian barang diterima pada saat penyerahan, sesuai spesifikasi yang ditetapkan pada saat terjadinya transaksi,” sambung Surdiyanto.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Lebih lanjut dijelaskannya, jika ide pendirian Paskomnas juga tidak terlepas dari evaluasi terhadap perkembangan beberapa pasar lelang sebelumnya yang sifatnya belum harian. &lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Selain itu juga tidak sepenuhnya ada kepastian untuk penjaminan penyelesaian yang salah satunya belum tercapai sepenuhnya. Gagasan mengenai Paskomnas ini sebenarnya malah sudah mencuat dari tahun 2002, saat pertama kalinya Pasar Lelang Bandung dicetuskan.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;“Itu adalah pasar yang seperti itu. Istilahnya yang bermartabat dan berkeadilan. Berkeadilan itu, pembentukan harga secara transparan, wajar dan efisien. Sementara bermartabat, artinya ada&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;kepastian penyelenggara, baik pada proses penyerahan maupun pembayaran. Tetapi &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:state st=&quot;on&quot;&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; pada perkembangannya, harapan menjadi pasar yang bermartabat dan berkeadilan itu belum terwujud,” ujarnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Surdiyanto mengungkapkan, yang terjadi pada pasar lelang selama ini, setelah selesai transaksi maka dianggap selesai pula kegiatan pasar lelang tersebut. Penjual dan pembeli melalui kelompok itu bertransaksi, kemudian semuanya dianggap selesai. Tidak ada penjaminan. “&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; orang order beli di pasar forward, tidak ada uang muka. Lalu misalnya lagi, pesan meja atau kursi, lalu tanpa uang muka, apa ada orang yang mau bikin? Atau begitu selesai dia bilang: Oh, dulu saya lupa. Nah, pada kenyataannya, pasar lelang yang sekarang itu masih ada risiko gagal bayar atau gagal serah,” lanjutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Penyebutan pasar lelang untuk kondisi tersebut juga menurut Surdiyanto sebenarnya salah kaprah, karena yang lebih tepat adalah pasar komoditas fisik. “Apakah itu mau spot atau forward. Salah satu cara bertransaksinya dengan lelang itu. Sehingga kegiatan ini nggak dicari-cari balai lelang, mau &lt;i style=&quot;&quot;&gt;dipajekin&lt;/i&gt; dan sebagainya. Itu &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:state st=&quot;on&quot;&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; nggak bener!” &lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Tetapi bagi Surdiyanto, &lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;pasar lelang yang sudah berjalan ini sebenarnya cukup bagus. Cuma ada perlu kebutuhan yang lebih meningkat lagi, adanya penjaminan transaksi dan dukungan pembiayaan. Kemudian, jika pasar itu bersifat harian maka penjual atau pembeli itu tidak harus menunggu kapan waktu kegiatan pasar lelang yang sebulan sekali itu. Dia mencontohkan, pasar lelang &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang sebelumnya direncanakan seminggu tiga kali ternyata juga diselenggarakan satu bulan sekali. “Di dalam salah satu Surat Keputusan Memperindag pada era Ibu Rini, pasar lelang itu dimungkinkan untuk dikelola oleh pihak swasta. Nah, Paskomnas ini wujud dari itu!”&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Kenapa pihak KBI terlibat dengan Grup Paramita untuk mendirikan Paskomnas, kata Surdiyanto, juga tidak terlepas dari tiga hal penting. Yakni, di dalam anggaran dasar PT KBI (Persero) itu dimungkinkan untuk melakukan penjaminan penyelenggaraan pasar lelang atau penjaminan penyelesaian transaksi pasar lelang. Kemudian dalam Surat Keputusan Memperindag, peran penjaminan KBI juga disebutkan di dalamnya. Selain itu, KBI juga merasa memiliki kepedulian untuk pengembangan pasar lelang yang dikembangkan atau didirikan dinas atau instansi. Sebab pada perkembangan cukup bagus, tetapi&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;karena ada kebutuhan, yaitu fungsi penjaminan, maka KBI berupaya mendukung sesuai dengan peran dan fungsi yang telah ditentukan. (***)&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:14;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  </content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://widyahistory.blogspot.com/feeds/7277921795813990896/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/5496464690455652937/7277921795813990896' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5496464690455652937/posts/default/7277921795813990896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5496464690455652937/posts/default/7277921795813990896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://widyahistory.blogspot.com/2009/05/pasar-komoditi-nasional.html' title='pasar komoditi nasional'/><author><name>widya_sri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04595588057753265541</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg13hgN4DzhQpOGKLK5345h0tEdeY6F3Pjm26LzrcRgfK1BXq3W4fI1YBeqsI8dcnPcjnSX_tR_q8G8t7p4Y8gqdRLkdXRjltdkE52xTTczKevpkxhDbYDtMbYR8HE2WQ/s220/PIC_0037.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>