<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926</id><updated>2009-11-08T10:12:14.400-08:00</updated><title type="text">Wacana Bahasa Kita</title><subtitle type="html">Eksistensi Bahasa adalah Conditio Sine Qua Non. Karena itu, Perjalanan Wacana Bahasa Tak Akan Pernah Berhenti Sejalan Adanya Manusia Itu Sendiri ....</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/" /><link rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>38</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><link rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/WacanaBahasaKita" type="application/atom+xml" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-8143776939116680327</id><published>2009-10-30T10:09:00.000-07:00</published><updated>2009-10-30T11:02:21.700-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="surat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="puisi" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="rindu" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pecandu" /><title type="text">SURAT RINDU SEORANG PECANDU</title><content type="html">(In memoriam&lt;br /&gt;Bayu, Di nisan batu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibu …&lt;br /&gt;salahkah aku&lt;br /&gt;kala rindu membeku di pagar bisu&lt;br /&gt;kini menjelma ular berbisa yang mengoyak-koyak luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibu .,..&lt;br /&gt;dulu bersemi rindu&lt;br /&gt;kau lempar aku dalam pelukan babu&lt;br /&gt;jika mau menyusu kau jejali aku sebotol tetek lembu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau pergi &lt;br /&gt;mencari harga diri&lt;br /&gt;atau memang tidak tahu diri&lt;br /&gt;sementara ayah terbang mengejar bayang di negri seberang&lt;br /&gt;hingga kini lupa pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena rumah hanyalah kotak kosong penuh bohong&lt;br /&gt;menggerus hatiku kosong melompong&lt;br /&gt;rindu dendamku bermuarakan candu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anyir kali jagir empang mandiku&lt;br /&gt;dingin besi stasiun Wonokromo kolong tidurku&lt;br /&gt;malam-malam bercengkerama&lt;br /&gt;di sorga cinta dengan bidadari penjaja &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibu …&lt;br /&gt;kini kakiku kaku ngilu&lt;br /&gt;aortaku gemerecap penuh setan merayap&lt;br /&gt;otakku berderak-derak seakan meledak-ledak&lt;br /&gt;aku sekarat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maafkan aku&lt;br /&gt;bila sampai detik akhirku&lt;br /&gt;jangan ada tetes mata&lt;br /&gt;jatuh untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ibu ….&lt;br /&gt;dalam sudut hatiku&lt;br /&gt;masih tersisa puing-puing rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila menyergap suatu saat&lt;br /&gt;jangan kau tutup jendela kamarku&lt;br /&gt;kukan menyelinap dengan cepat&lt;br /&gt;curahkan rindu yang tersisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonokromo, 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-8143776939116680327?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kGDCmerzawWwIT1SdMiKBynzmaE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kGDCmerzawWwIT1SdMiKBynzmaE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kGDCmerzawWwIT1SdMiKBynzmaE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kGDCmerzawWwIT1SdMiKBynzmaE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/CcZeD9t9wJM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/8143776939116680327/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/10/surat-rindu-seorang-pecandu.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/8143776939116680327" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/8143776939116680327" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/CcZeD9t9wJM/surat-rindu-seorang-pecandu.html" title="SURAT RINDU SEORANG PECANDU" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/10/surat-rindu-seorang-pecandu.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-6015203038153787663</id><published>2009-10-23T16:09:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T18:37:55.581-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berbahasa" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ketrampilan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pengetahuan" /><title type="text">Urgensi Pemahaman Konsep Kalimat Sederhana</title><content type="html">Apabila pertama kali mengajar di kelas baru, saya selalu membuat eksperimen kepada para siswa. Eksperimen tersebut adalah memberikan kepada mereka untuk menentukan unsur-unsur kalimat (S-P-O-Pel-K) dari kalimat-kalimat berikut.&lt;br /&gt;   1. Saya mengajar di kelas.&lt;br /&gt;   2. Saya mengajar.&lt;br /&gt;   3. Saya di kelas.&lt;br /&gt;   4. Adiknya cantik.&lt;br /&gt;   5. Motornya dua.&lt;br /&gt;   6. Paman dari Jakarta.&lt;br /&gt;Jawabannya ternyata hampir sama, yaitu umumnya para siswa benar untuk kalimat (1) dan (2), sedangkan kalimat (3, (4), (5), dan (6), salah. Jawabannya sebagai berikut.&lt;br /&gt;   1. Saya mengajar di kelas. (SPK)&lt;br /&gt;   2. Saya mengajar. (SP)&lt;br /&gt;   3. Saya di kelas. (SK)&lt;br /&gt;   4. Adiknya cantik. (SK)&lt;br /&gt;   5. Motornya dua. (SK)&lt;br /&gt;   6. Paman dari Jakarta. (SK)&lt;br /&gt;Padahal yang benar; kalimat (1) SPK, kalimat (2), (3), (4), (5), dan (6) semuanya berpola SP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksperimen yang sama juga selalu saya lakukan pada saat membina matakuliah bahasa Indonesia di PTS. Hasilnya juga sama, tidak dapat membuat kalimat sederhana dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman Konsep Yang Salah&lt;br /&gt;Kesalahan siswa secara umum dapat diasumsikan penyebabnya adalah kesalahan guru dalam mengajar. Dimungkinkan pula penyebabnya karena pemahaman konsep yang salah dari para guru. Pemahaman konsep yang salah saat penyampaikan pembelajaran mengakibatkan kesalahan berjamaah. Padahal yang saya eksperimenkan masih berupa kalimat sederhana, belum menguji topik kalimat tunggal apalagi kalimat majemuk.&lt;br /&gt;Pemahamanan konsep terhadap kalimat sederhana sangat urgen. Hal ini karena kalimat sederhana merupakan dasar dari pembuatan kalimat tunggal bahkan kalimat mejemuk. Pemahaman yang salah terhadap konsep kalimat sederhana akan berakibat pada pemahaman konsep kalimat tunggal maupun majemuk. Karena itu agar dapat membuat kalimat dengan baik dan benar harus dimulai dengan pembuatan kalimat sederhana yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan Berbahasa VS Ketrampilan Berbahasa&lt;br /&gt;Bila kita tes siswa kita mengarang, mereka umumnya mampu membuat kalimat secara lancar. Namun bila kita teliti lebih jauh, tatabahasa mereka belepotan di sana-sini. Pembelajaran bahasa Indonesia yang bertumpu pada ketrampilan berbahasa relatif berhasil, namun gagal pada pemahaman konsep tatabahasanya. Hal ini dapat dimaklumi karena memang materi pembelajaran tatabahasa tidak digariskan dengan jelas dalam silabus kurikulum 2006. &lt;br /&gt;Memang kisi-kisi materi uji ujian nasional lebih menekankankan pada ketrampilan berbahasa. Hal ini berbeda dengan materi ujian SMPB / SNMPTN yang lebih menekankan aspek pengetahuan bahasa (tatabahasa). Terdapat jurang pemisah yang sangat lebar antara kisi-kisi materi ujian nasional dengan SPMB / SNMPTN. Akibatnya, bila guru mengajar hanya menekankan pada Kurikulum 2006, maka akan mengorbankan siswanya masuk PTN. Karena itu, meskipun tidak tercantum dengan eksplisit dalam kurikulum guru sekali-sekali harus berimprovisasi mengajarkan materi tatabahasa untuk mempersiapkan para siswanya sukses SPMB / SNMPTN.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-6015203038153787663?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/F_-keZZ6wORcYB2FeqjM32W287I/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/F_-keZZ6wORcYB2FeqjM32W287I/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/F_-keZZ6wORcYB2FeqjM32W287I/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/F_-keZZ6wORcYB2FeqjM32W287I/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/b1mQ8LuZD6Y" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/6015203038153787663/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/10/ketrampilan-berbahasa-vs-pengetahuan.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/6015203038153787663" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/6015203038153787663" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/b1mQ8LuZD6Y/ketrampilan-berbahasa-vs-pengetahuan.html" title="Urgensi Pemahaman Konsep Kalimat Sederhana" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/10/ketrampilan-berbahasa-vs-pengetahuan.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-2895232279784757294</id><published>2009-10-23T10:43:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T12:13:30.625-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bumi" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Panggelaran" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Gempa" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wacana" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tantu" /><title type="text">Wacana Gempa Bumi dalam Cerita Tantu Panggelaran</title><content type="html">“Pada jaman Tanah Pulau Jawa sangat labil, sering bergetar atau terguncang-guncang. Seperti sebuah perahu, pulau ini dapat bergeser ke utara saat gelombang besar dan akan bergeser ke arah selatan saat laut surut. Getaran gelombang laut selatan yang sangat besar juga turut menggetarkan tanah Pulau Jawa”, demikianlah gambaran Tanah Pulau Jawa yang sangat labil pada saat itu sebagaimana dalam cerita Tantu Tanggelaran. Hal ini mungkin sebagaimana gambaran tanah Pulau Jawa (atau Indonesia) saat ini yang sangat sering terjadi gempa.&lt;br /&gt;Diceritakan selanjutnya, para dewa yaitu Bathara Brahma, Wisnu, Narada, Anta Boga, dan lain-lain di bawah pimpinan Mahadewa Syiwa (Bathara Guru) bermusyawah untuk mengatasi masalah tersebut. Maka diputuskanlah untuk memberi beban pemberat agar tanah Pulau Jawa tidak labil dan bergerak-gerak. Caranya dengan memotong puncak Gunung Maha Meru (Gaurin Sankar / Mout Everest).&lt;br /&gt;Dewa Bumi (Bathara Anta Boga) berubah menjadi naga raksasa dan bertugas melilit puncak Maha Meru. Para dewa lainnya turut membantu bekerja siang dan malam tanpa mengenal lelah. Bumi terguncang dengan hebatnya, tatkala peristiwa ini terjadi.&lt;br /&gt;Selanjutnya potongan dari puncak Gunung Maha Meru dibawa terbang ke atas Pulau Jawa. Kemudian bagian tersebut dipotong-potong menjadi Gunung-gunung dan pegunungan di Pulau Jawa yang terbentang dari Jawa Barat hingga Jawa Timur, antara lain Gunung Ceremai, Gunung Slamet, Gunung Dieng, dan lain-lain. Akhirnya sisanya ditaruh di Jawa Timur yang disebut Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa.&lt;br /&gt;(Kisah cerita Tantu Panggelaran sebenarnya masih panjang, namun untuk fenomena kejadian Pulau Jawa cukup sampai di sini).  http://www.wacananusantara.org/2/157 /kitab-tantu-panggelaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reflection of reality and reflection of minds&lt;br /&gt;Fenomena gempa bumi di Pulau Jawa yang sangat sering terjadi, membutuhkan jawaban yang masuk akal. Pada jaman dahulu logika berpikir masyarakat selalu dikembalikan pada keyakinan mereka, yaitu mitos yang ada dalam agama Hindu saat itu.&lt;br /&gt;Tantu Panggelaran adalah sebuah teks prosa yang menceritakan tentang kisah penciptaan manusia di pulau Jawa dan segala aturan yang harus ditaati manusia. Tantu Panggelaran ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan pada zaman Majapahit. Suntingan teks yang sangat penting telah terbit pada tahun 1924 di Leiden oleh Dr. Th. Pigeaud.&lt;br /&gt;Khusus yang berhubungan dengan wacana gempa bumi, cerita Tantu Panggelaran ini merefleksikan realitas bahwa tanah Pulau Jawa memang sangat labil sejak jaman dahulu. Cerita ini pula merefleksikan kegelisahan pemikiran masyarakat kita saat itu untuk mencari jawaban fenomena kelabilan tanah Pulau Jawa ini. Para pujangga kerajaan sebagai kaum intelektual mencoba memberikan jawaban melalui khasanah pengetahuan mereka.&lt;br /&gt;Sebagai pemangku otoritas keilmuan saat itu, para pujangga menjawabnya dengan menyadur atau bahkan mengarang cerita etiologis yang berhubungan dengan proses kejadian sesuatu di alam semesta. Di samping itu, karena wacana berpikir masih terbatas dan belum sampai pada taraf berpikir ilmiah, maka jawawabnya masih berupa mitos. Akhirnya, mitos ini pula yang disampaikan pada masyarakat untuk menjawab fenomena kelabilan tanah Pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Sains bukan Mitos&lt;br /&gt;Hal ini juga masih terjadi pada masyarakat kita saat ini. Bagi masyarakat yang tidak memahami sains geografi khususnya proses evolusi permukaan bumi dan terjadinya benua, tidak jarang fenomena ini dikaitkan dengan mitos. Fenomena gempa bumi dan tsunami dikaitkan dengan nama pemerintah, hari sial saat pelantikan, buruknya akhlak masyarakat dan sebagainya.&lt;br /&gt;Meskipun hal ini juga merupakan usaha untuk menjawab fenomena tersebut, namun konotasinya sangat buruk. Wacana ini dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak sebagai senjata untuk mengkritik bahkan menghantam pihak pemerintah.&lt;br /&gt;Meskipun bencana datang bertubi-tubi dan dapat membuat hampir putus asa, sebagai masyarakat modern seharusnya menjawab permasalahan dengan cara berpikir logis dan ilmiah. Fenomena gempa bumi dan tsunami yang sangat sering terjadi di Jawa (Indonesia) sudah ada sejak dahulu. Kenyataannya negara kita berada di lempeng ujung benua Asia. Lempeng benua ini bertumbukan dengan lempeng benua Australia secara terus-menerus, karena memang demikianlah perjalanan evolusi permukaan bumi.&lt;br /&gt;Melarikan diri dari tanah dan negara ini hanya untuk menghindari gempa dan tsunami adalah pemikiran picik. Pillihan yang tepat adalah mau, mampu, menikmati hidup sekaligus mengambil hikmah dalam situasi  khaos sekali pun.&lt;br /&gt;Peribahasa menyatakan &lt;i&gt;Kalau kita pandai meniti buih, selamatlah badan ke seberang&lt;/i&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-2895232279784757294?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PneS6iEyppN0OVPMy4QfFYIeyl0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PneS6iEyppN0OVPMy4QfFYIeyl0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PneS6iEyppN0OVPMy4QfFYIeyl0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/PneS6iEyppN0OVPMy4QfFYIeyl0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/auKnxyUMXdc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/2895232279784757294/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/10/wacana-gempa-bumi-dalam-cerita-tantu.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/2895232279784757294" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/2895232279784757294" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/auKnxyUMXdc/wacana-gempa-bumi-dalam-cerita-tantu.html" title="Wacana Gempa Bumi dalam Cerita Tantu Panggelaran" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/10/wacana-gempa-bumi-dalam-cerita-tantu.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-3543690501910007816</id><published>2009-06-27T16:19:00.000-07:00</published><updated>2009-07-15T17:55:46.186-07:00</updated><title type="text">Kompetensi Berbahasa Indonesia Menurun? (Catatan UN 2009)</title><content type="html">Saat pengumuman kelulusan UN 2009, saya dan beberapa guru harus mengikuti PORSENI Madrasah se-Jawa Timur di Kediri pada 14-17 Juni 2009. Betapa hancur perasaan saya saat lima orang siswa saya tidak lulus, apalagi ketidaklulusan itu karena nilai bahasa Indonesia. Padahal tahun-tahun sebelumnya saya sangat bangga akan prestasi UN / UNAS siswa saya yang selalu lulus dengan nilai bagus, bahkan ada yang hampir sempurna.&lt;br /&gt;Apakah ada yang salah dengan cara saya mengajar? Selama ini saya mengajar dengan baik dan penuh semangat. Tidak jarang saya memberikan pelajaran tambahan khusus menghadapi UNAS meski tanpa harus dibayar. Saya juga selalu memotivasi mereka untuk belajar rajin dan percaya diri. Saya selalu meminta mereka selalu jujur, konsisten, tidak lupa shalat, dan berdoa. Padahal soal UNAS mata pelajaran bahasa Indonesia di hari pertama jauh lebih mudah dibandingkan dengan soal-soal tryout yang kami buat dan soal-soal tryout bersama sekabupaten.&lt;br /&gt;Mengapa mereka tidak lulus? Berkecamuk rasa bersalah saya. Kekhawatiran dimarahi oleh Pimpinan bahkan Kepala Kantor Departemen Agama (Kakandepag) selalu menghantui benak saya. Demikian pula saya harus siap menghadapi pandangan sinis rekan guru lainnya, saat kembali ke Sidoarjo selesai Porseni 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai Rata-rata 7,32&lt;br /&gt;Saat kembali ke madrasah persaan bersalah menghantui saya. Terlihat wajah-wajah kurang sedap pada ketua panitia PIB pada saya. Saya curiga ada apa dengan nilai siswa kami. Akhirnya saya mencari kesempatan melihat langsung daftar nilai mereka. Betapa heran bercampur tidak percaya demikian perasaan saya. Ternyata nilai mereka umumnya 6,7,dan 8, serta ada yang 9.&lt;br /&gt;Adapun mereka yang tidak lulus nilainya 3. Rata-rata nilai mereka 7,32.&lt;br /&gt;Dari data tersebut saya yakin ada yang tidak beres dengan ketidaklulusan mereka. Mungkin salah dalam mengarsir jawaban atau yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban SMS Menyesatkan&lt;br /&gt;Setelah saya bertanya pada para siswa, ternyata mereka mengakui bahwa sebelum ujian nasional berlangsung pukul 06.30 sudah beredar jawaban melalui sms ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;handphone&lt;/span&gt; para siswa.&lt;br /&gt;Jawaban yang tidak tahu darimana asalnya tersebut kemudian beredar ke banyak siswa.&lt;br /&gt;Pada saat mengerjakan soal UNAS para siswa mencoba menjawab dengan sms tersebut. Banyak siswa menyadari gelagat jawaban yang ternyata banyak salahnya tersebut. Akhirnya mereka menjawab dengan kemampuan sendiri, karena disadari jawaban sms tersebut banyak sekali salahnya. Beberapa siswa kami yang tidak mau repot-repot berpikir akhirnya menerimanya apa adanya. Akhirnya diketahui lima siswa kami tidak lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha Sistematis Menggagalkan UNAS&lt;br /&gt;Jawaban SMS menyesatkan tersebut ternyata terjadi pula pada banyak sekolah / madrasah lainnya. Hampir setiap sekolah para siswanya mendapatkannya. Bagi mereka yang tidak mau repot-repot berpikir akan memanfaatkannya dengan berakibat tidak lulus. Penyebaran sms yang demikian luas di Jawa Timur dan tersebar secara sporadis telah banyak memakan korban. Saya menduga ada upaya sistematis untuk menghancurkan prestasi UNAS siswa. Apabila salah satu matapelajaran hancur maka semua nilai UNAS lainnya juga akan tidak lulus. Dapatkah hal ini juga dapat dicurigai sebagai upaya menggagalkan UNAS? Saya mencurigainya ke arah sana.&lt;br /&gt;Ke depan para guru lain hendaknya mengingatkan dan para siswa mawas diri terhadap kasus ini terulang lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-3543690501910007816?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ccIYuhHznQGTOujAqPF8MxP-kUQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ccIYuhHznQGTOujAqPF8MxP-kUQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ccIYuhHznQGTOujAqPF8MxP-kUQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ccIYuhHznQGTOujAqPF8MxP-kUQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/fCDmv-S0ptM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/3543690501910007816/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/06/kompetensi-berbahasa-indonesia-menurun.html#comment-form" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/3543690501910007816" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/3543690501910007816" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/fCDmv-S0ptM/kompetensi-berbahasa-indonesia-menurun.html" title="Kompetensi Berbahasa Indonesia Menurun? (Catatan UN 2009)" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/06/kompetensi-berbahasa-indonesia-menurun.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-3996718935011612342</id><published>2009-06-26T14:27:00.000-07:00</published><updated>2009-06-26T15:20:22.011-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pendidikan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SBI" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bahasa Indonesia" /><title type="text">Bahasa Indonesia dikebiri di RSBI</title><content type="html">Kebijakan Pemerintah dalam pendidikan telah memberikan iklim yang kondusif bagi kreatifitas penyelenggaraan pendidikan. Tingkat satuan pendidikan dapat membentuk ragam penyenggaraan pendidikan apakah hanya sebatas sekolah persiapan, sekolah berstandar nasional, ataukah telah menjadi sekolah internasional.&lt;br /&gt;Bagi sekolah yang tidak mampu baik finansial maupun SDM-nya, mungkin hanya dapat menjadi sekolah persiapan saja. Bagi yang lebih baik kondisinya, dapat menjadi sekolah yang berstandar nasional. Adapun yang mampu, pemerintah menjamin keberadaan sekolah yang berstandar internasional.&lt;br /&gt;Tampaknya, kita tidak bisa menghindar dari kepungan globalisasi, meskipun globalisasi (khususnya ekonomi) telah terbukti membuat negara-negara di dunia ini makin terpuruk (ekonominya). Kenyataan ini pun tidak membuat para penyelenggara pendidikan tidak surut ambisinya untuk tetap menyelenggarakan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional).&lt;br /&gt;SBI dalam satu sisi sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan patut diacungi jempol. Mereka semakin mahir dalam berbahasa Inggris, mahir ICT, penerapan kurikulum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sister school &lt;/span&gt;memang merupakan nilai tambah&lt;span style="font-style: italic;"&gt;.&lt;/span&gt; Di sisi lainnya, pamor sekolah akan semakin bersinar di masyarakat dan menaikkan nilai tawar biaya pendidikannya.&lt;br /&gt;Hal inilah yang akhirnya menimbulkan ephoria agar sekolah menjadi SBI. Akhirnya bermunculanlah sekolah-sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar Tidak Menjadi Sekolah Gratis&lt;br /&gt;Kebijakan sekolah gratis memang merupakan angin surga bagi orang tua agar dapat memperoleh pendidikan murah bagi anaknya. Kebijakan ini membuat sekolah gigit jari' tidak mendapatkan tunjangan-tunjangan tambahan dari SPP siswa atau iuran lainnya. Banyak kasus kepala sekolah harus berurusan dengan polisi maupun wartawan amplop manakala melakukan pungutan dan ketahuan melanggar. Sisi lainnya, bantuan pemerintah semakin 'seret'. Para guru akan menyelenggarakan pendidikan 'apa adanya', dan mereka lebih baik cari sambilan di luar. Akhirnya, pendidikan gratis dapat mengakibatkan pendidikan tidak berkualitas. Tidaklah heran saat ini 'sekolah mahal' justru menjadi semakin diserbu oleh wali murin yang sadar bahwa pendidikan adalah investasi yang mahal.&lt;br /&gt;Agar tidak menjadi sekolah gratis yang akhirnya para gurunya tidak gigit jadi, banyak sekolah yang berambisi menjadi SBI. Mengapa? Karena SBI boleh menarik iuran siswa untuk tunjangan tambahan guru. Karena itulah, menjadi SBI apakah bukan upaya untuk menghindar dari sekolah gratis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia Dikebiri&lt;br /&gt;Di RSBI (SBI), kurikulum dalam mengambil penuh dari kurikulum sekolah asing yang berkualitas atau dapat berupa kolaborasi antara kurikulum nasional dan kurikulum asing. Nilai tambah lainnya, adalah ICT dan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, khususnya untuk jurusan utama.&lt;br /&gt;Permasalahannya, bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan sebagaimana dalam amanat Politik Bahasa Nasional 1975 akan dilupakan. Bahasa Indonesia dilupakan sebagai bahasa nasional dan dikebiri sebagai bahasa negara. Sebagai lambang kebanggaan nasional, bahasa Indonesia akan semakin dilupakan. Siswa dicetak semakin bangga mahir berbahasa Inggris, dan menghindari bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;Semakin menjamurnya sekolah RSBI/SBI di kota-kota sangat mengkhawatirkan nasionalisme kita. Pemerintah telah memberikan keleluasaan dan sekolah akan melaksanakan. Haruskah bahasa Indonesia akan semakin pudar dan hilang? Perlu kita pikirkan bersama, khususnya bagi para pakar bahasa Indonesia dan para pengambil kebijakan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-3996718935011612342?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/atIKvbM75gPe3ZKp1mGsvOP3ly0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/atIKvbM75gPe3ZKp1mGsvOP3ly0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/atIKvbM75gPe3ZKp1mGsvOP3ly0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/atIKvbM75gPe3ZKp1mGsvOP3ly0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/Ea9SY4yW5p0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/3996718935011612342/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/06/bahasa-indonesia-dikebiri-di-rsbi.html#comment-form" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/3996718935011612342" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/3996718935011612342" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/Ea9SY4yW5p0/bahasa-indonesia-dikebiri-di-rsbi.html" title="Bahasa Indonesia dikebiri di RSBI" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/06/bahasa-indonesia-dikebiri-di-rsbi.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-4770422823749801695</id><published>2009-06-26T14:12:00.000-07:00</published><updated>2009-06-26T14:20:03.713-07:00</updated><title type="text">introspeksi 2</title><content type="html">korup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;marah hatiku&lt;br /&gt;setiap kali kulihat&lt;br /&gt;tikus, tikus,&lt;br /&gt;anjing-anjing,&lt;br /&gt;dan babi-babi&lt;br /&gt;dengan sangat rakusnya&lt;br /&gt;melakukan kemungkaran&lt;br /&gt;tanpa rasa bersalah&lt;br /&gt;bahkan bangga&lt;br /&gt;menjalaninya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bau mereka&lt;br /&gt;mengepung segala penjuru&lt;br /&gt;hingga lengket mengerak pula&lt;br /&gt;di wajahku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-4770422823749801695?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Poa-vdgdPdjo5KyfSqqUJLYfuFM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Poa-vdgdPdjo5KyfSqqUJLYfuFM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Poa-vdgdPdjo5KyfSqqUJLYfuFM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Poa-vdgdPdjo5KyfSqqUJLYfuFM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/n0_UL2Aldjg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/4770422823749801695/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/06/introspeksi-2.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/4770422823749801695" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/4770422823749801695" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/n0_UL2Aldjg/introspeksi-2.html" title="introspeksi 2" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/06/introspeksi-2.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-2180600324876956143</id><published>2009-06-26T14:05:00.000-07:00</published><updated>2009-06-26T14:12:15.152-07:00</updated><title type="text">introspeksi 1</title><content type="html">perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tidak tahu&lt;br /&gt;mengapa aku harus terantuk batu&lt;br /&gt;padahal aku telah berhati-hati&lt;br /&gt;untuk tidak terantuk lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tidak tahu&lt;br /&gt;mengapa aku harus terbentur dinding&lt;br /&gt;padahal aku selalu waspada&lt;br /&gt;yang ada di depan mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku selalu bertanya&lt;br /&gt;mengapa dan mengapa&lt;br /&gt;terjadi begitu saja ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak berdaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya .....&lt;br /&gt;aku mengalir saja&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-2180600324876956143?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/MNwZmFegkKpzr7IeV0HnN7qHAMU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/MNwZmFegkKpzr7IeV0HnN7qHAMU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/MNwZmFegkKpzr7IeV0HnN7qHAMU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/MNwZmFegkKpzr7IeV0HnN7qHAMU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/kdy0GMLJ8Ks" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/2180600324876956143/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/06/introspeksi-1.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/2180600324876956143" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/2180600324876956143" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/kdy0GMLJ8Ks/introspeksi-1.html" title="introspeksi 1" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/06/introspeksi-1.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-4939122099336625330</id><published>2009-03-30T20:57:00.000-07:00</published><updated>2009-03-30T20:58:11.914-07:00</updated><title type="text">Malangnya Si Anak Hilang</title><content type="html">Oleh :&lt;br /&gt;Arss Sakti Amry S&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara adzan isya’ berkumandang dimana-mana. Para penduduk desa Weringin berbondong-bondong menuju ke masjid untuk melaksanakan ibadah shalat isya’ dan Tarawih. Karena ini adalah bulan Ramadhan maka semua penduduk sangat bersemangat dalam melaksanakan ibadah-ibadah.&lt;br /&gt; Malam itu Beni yang di kampunya terkenal sebagai pemuda yang bandel dan keraskapala hendak pergi ke masjid. Sebelumya ia mengajak beberapa temannya untuk pergi ke masjid.&lt;br /&gt;”Hai, Dick ayo00 kita ke Masjid yuuk,....! inikan  bulan yang penuh berkah.....!” teriak Beni di depan rumah Dicky.&lt;br /&gt;”Oh...Beni ayo Ben kebetulan aku juga mau berangkat ke Masjid” jawab Dicky.&lt;br /&gt;”lihat tuh ada Rio dan Doni, kita ajak sekalian aja.” tambah Beni.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Akhirnya mereka berangkat ke Masjid bersama-sama, karena jarak dari rumah mereka kemasjid cukup jauh maka ulah nakal Beni pun muncul.&lt;br /&gt;”Teman-teman daripada kita capek-capek ke Masjid mending kita beli minum dulu di warungnya Buk Sri.” kata Beni.&lt;br /&gt;”Ah, gak usah ini sudah adzan lho..nanti kita telambat....!”jawab Doni.&lt;br /&gt;”Udah gak apa-apa kita cuman sebentarkok.”sahut Dicky.&lt;br /&gt;”Lho kamu ini gimana sih Ben tadi ngajak ke Masjid, eh sekarang kamu malah ngajak nongkrong.” bantah Rio.&lt;br /&gt; Sesampainya di warung ternyata Beni berlama-lama dan memeaksa temam temanya untuk tidak pergi ke masjid.&lt;br /&gt;”Wah, kalu gini aku pergi ke Masjid sama Rio aja.” kata Doni.&lt;br /&gt;”Kamu itu di Bulan yang penuh berkah ini seharusnya menambah amal ibadah bukanya malah namba-nambah maksiatnya.” Tambah Rio.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Katika di masjid Rio dan Dino langsung mengambil air wudlu dan bergegas Shalat karena kitika datang mereka sudah masbuk. Setelah shalat mereka berdua melanjutkan dengan shalat tarawih berjamaah.&lt;br /&gt;”Jamaah hari ini banyak sekali.”kata Rio.&lt;br /&gt;”Iya memang hari ini, tidak seperti biasanya.”sahut Dino.&lt;br /&gt;Setelah shalat isya’ dan shalat tarawih mereka berdua ikut tadarus Alqur’an.&lt;br /&gt; Semantara itu, Beni dan Dicky masih saja bergurau sambil menepuk-neoukkan pecinya kekursi. Sambil membawa segelas es teh Beni tertawa terbahak-bahak seakan lupa akan tujuan awalnya.&lt;br /&gt;”Ben ini sudah waktunya Tadarus nih, kita kesana yuuuk....!”ajak Dicky anak yang bertubuh gendut ini sambil mengunyah makananya.&lt;br /&gt;”iya iya disana ada banyak makanan, kita bisa makan gratis sepuasnya di sana.”jawab Beni.&lt;br /&gt;Sambil mengunyah makanan keduanya berlari menuju ke masjid.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; ”Don Don itu Beni dan Dicky.”teriak Rio.&lt;br /&gt;”iya mau apa mereka kisini  ?”tanya Doni.&lt;br /&gt;”mungkin mereka mau tadarus...!”jawab Rio.&lt;br /&gt;”Hai Doni, Rio.......!”teriak Beni.&lt;br /&gt; Tak lama kemudian Beni dan Dicky langsung menyerbu makanan di sebelah pintu yang sengaja disediakan untuk mereka yang mengaji. Tanpa punya rasa malu Beni memakan segala makanan yang ada.&lt;br /&gt;”Hai, hai Ben makanan itu kan untuk orang yang tadarus.”teriak Dicky.&lt;br /&gt;”Masa bodoh makanan ini kan disuguhkan  di masjid berarti juga untuk orang yang ada di masjid.”jawab Beni&lt;br /&gt;”ah aku gak ikut-ikutan.”tambah Dicky.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Setelah beberapa lama kemudian tadarus d imasjid selesai. Ada yang pulang tetapi ada juga yang masih di masjid. Benipun merasa kenyang, ia kemudian menghampiri Doni dan Rio. Mereka kemudian ngobrol lama tetapi krena kekenyangan Beni tertidur.&lt;br /&gt;”Don, Dick gimana nich Beni tertidur tuh.”kata Rio.&lt;br /&gt;”Iya, tapi ini sudah waktunya sahur ayo kita keliling untuk membangunkan orang sahur !.”kata Doni sambil mennjuk arah jam 2 malam.&lt;br /&gt;”Sudah biarkan saja, lagian dia nanti malam marah kalau kita bangunkan.”tambah Dicky.&lt;br /&gt;”Iya Beni biar tidur di sini saja, kan di sini ada bapak-bapak yang menjaga masjid.”kata Rio.&lt;br /&gt;”Kalau begitu ayo keliling dulu nanti kita kembali ke sini untuk membangunkan Beni sahur.”tamabah Doni.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Sementara itu Beni yang tertidur lelap tidak sadar kalau dia ngompol. Beberap saat kemudian Doni, Rio, dan Dicky tiba di masjid tetapi mereka bingung karena Beni tidak ada di tempnya. Mereka menanyakan kepada semua orang yang ada di masjid akan tetapi mereka semua tidak tahu.&lt;br /&gt; Di tengah-tengah persawahan desa, tiba-tiba Beni terbangun karena kedinginan. Tetapi ketika bangun Beni sangat terkejut karena berada di tengah sawah yang gelap gulita. Ia langsung lari terbirit sambil berpikir mengapa dia bisa berada di tengah sawah, sehingga karena ketakutanya ia sampai pipis di celana dan merasa menyesal atas perbuatanya pada malam itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Arss Sakti Amry S.&lt;br /&gt;XI IPA 1&lt;br /&gt;03&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-4939122099336625330?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/s8KQ4UZxop5SsnGFWMZ6ljdShMM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/s8KQ4UZxop5SsnGFWMZ6ljdShMM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/s8KQ4UZxop5SsnGFWMZ6ljdShMM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/s8KQ4UZxop5SsnGFWMZ6ljdShMM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/LyLNZoU0OV8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/4939122099336625330/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/03/malangnya-si-anak-hilang.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/4939122099336625330" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/4939122099336625330" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/LyLNZoU0OV8/malangnya-si-anak-hilang.html" title="Malangnya Si Anak Hilang" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/03/malangnya-si-anak-hilang.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-8742039914799305810</id><published>2009-03-14T21:51:00.000-07:00</published><updated>2009-03-14T21:55:11.801-07:00</updated><title type="text">Test Bahasa</title><content type="html">Berikut ini beberapa model ujia kecakapan berbahasa Indonesia. Tidaklah berlebihan bila kita melakukannya, dan mengukur seberapa besar kemampuan kita menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Mencoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;object data="http://apps.quibblo.com/static/flash/qwidget/qwidget.swf?s=&amp;amp;theme=quibblo&amp;amp;quiz=2FGgT-u" allowscriptaccess="never" allownetworking="all" width="300" height="400" wmode="transparent" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;br /&gt;&lt;param value="http://apps.quibblo.com/static/flash/qwidget/qwidget.swf?s=&amp;amp;theme=quibblo&amp;amp;quiz=2FGgT-u" name="movie"/&gt;&lt;br /&gt;&lt;param value="never" name="allowscriptaccess"/&gt;&lt;br /&gt;&lt;param value="all" name="allownetworking"/&gt;&lt;br /&gt;&lt;param value="transparent" name="wmode"/&gt;&lt;br /&gt;&lt;param value="ffffff" name="bgcolor"/&gt;&lt;br /&gt;&lt;/object&gt; &lt;br/&gt; &lt;font size="1"&gt; &lt;a href="http://www.quibblo.com/"&gt;Quizzes&lt;/a&gt; by &lt;a href="http://www.quibblo.com/quiz/2FGgT-u/Soal-Ejaan-Bahasa-Indonesia"&gt;Quibblo.com&lt;/a&gt;&lt;/font&gt; &lt;/div&gt;&lt;img border="0" style="visibility:hidden;width:0px;height:0px;" width="0" src="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bT*xJmx*PTEyMjE2Njk2MTk*ODQmcHQ9MTIyMTY2OTYzNjcxOCZwPTE2MTYwMSZkPTJGR2dUJTJEdSZuPSZnPTEmdD*mbz*wZDIxNGE3NGNkZmY*YTYxODNmOTNjODdlMzA3Y2M5OA==.gif" height="0"/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-8742039914799305810?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tiehTYxclczYN98lpA23QpJdy9o/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tiehTYxclczYN98lpA23QpJdy9o/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tiehTYxclczYN98lpA23QpJdy9o/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tiehTYxclczYN98lpA23QpJdy9o/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/HSstgkcykFI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/8742039914799305810/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/03/test-bahasa.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/8742039914799305810" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/8742039914799305810" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/HSstgkcykFI/test-bahasa.html" title="Test Bahasa" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/03/test-bahasa.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-2848720613276792712</id><published>2009-03-14T21:40:00.000-07:00</published><updated>2009-03-14T21:41:00.607-07:00</updated><title type="text">Model Pidato Sambutan</title><content type="html">Contoh 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;1&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;div align="center"&gt;PIDATO SAMBUTAN&lt;br /&gt;KEPALA BADAN KOORDINASI KELUARGA BERENCANA NASIONAL&lt;br /&gt;PADA UPACARA PERINGATAN HARI KELUARGA NASIONAL XII&lt;br /&gt;DI AREA MONUMEN NASIONAL, DKI JAKARTA&lt;br /&gt;MINGGU, 3 JULI 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;Dr Sumarjati Arjoso&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;•Yang terhormat Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono  beserta Ibu Hj Ani Bambang Yudhoyono&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;•Yang terhormat Para Pimpinan dan Anggota DPR-RI&lt;br /&gt;•Yang terhormat Bapak/Ibu Pejabat Tertinggi dan Tinggi Negara Kabinet Indonesia Bersatu&lt;br /&gt;•Yang mulia para Duta Besar dan Perwakilan Negara-negara Sahabat&lt;br /&gt;•Yang terhormat Para Perwakilan Badan Dunia dan Donor Agency&lt;br /&gt;•Yang terhormat Para Gubernur, beserta Bupati/Walikota dan Para Anggota Muspida Provinsi DKI Jakarta&lt;br /&gt;•Hadirin yang berbahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,&lt;br /&gt;Selamat Pagi dan Salam Sejahtera bagi kita sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan diiringi puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas nama seluruh Keluarga Indonesia, serta undangan yang hadir pada hari ini, kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Bapak Presiden beserta Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono bersama kita pada hari minggu yang cerah ini, di monumen kebanggaan warga DKI Jakarta, bahkan wilayah Indonesia. Padaupacara ini kami menghaturkan penghargaan yang tulus atas perkenan BapakPresiden untuk memimpin upacara peringatan dan sekaligus memberikanarahan langkah-langkah kita dalam membangun keluarga Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada kesempatan ini, perkenankan kami mengucapkan terima kasih kepada Gubernur DKI Jakarta, Bapak Sutiyoso beserta seluruh jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang telah berkenan menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan Upacara Hari Keluarga Nasional XII.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ucapan terima kasih yang tulus kami sampaikan kepada Ketua Umum Tim Penggerak PKK&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;selaku Ketua Umum Panitia Hari Keluarga Nasional XII, Ibu Susiyati Ma’ruf beserta jajaran TP PKK diseluruh pelosok, yang telah menggerakan kegiatan Hari Keluarga Nasional menjadi kegiatan yang bermakna bagi keluarga-keluarga Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kepada seluruh hadirin yang telah berkenan hadir memenuhi undangan kami, kami sampaikan selamat datang dan penghargaan yang sebesar-besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejalan dengan Peringatan Hari Keluarga Nasional, pada tanggal 11 Juli 2005 kita juga akan memperingati Hari Kependudukan Dunia. Peringatan Hari Keluarga Nasional berkaitan dengan Hari Kependudukan Dunia, karena keluarga dan penduduk tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Pada tahun ini Badan Kependudukan Dunia menetapkan tema Hari Kependudukan Dunia yang dikaitkan dengan Keadilan dan Kesetaraan Gender, mengingat pentingnya peranan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Presiden yang kami hormati dan hadirin sekalian yang berbahagia,&lt;br /&gt;Ditengah-tengah kehangatan dan kecerian peringatan Hari Keluarga Nasional kali ini, masih ada keprihatinan yang sangat mendalam karena dalam catatan kami hasil Pendataan Keluarga tahun 2004 sekitar 30,5 persen keluarga (16,2 juta keluarga) Keluarga Indonesia miskin, yaitu masuk kategori Keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera I karena alasan ekonomi. Keadaan ini merupakan&lt;br /&gt;masalah yang sangat menekan para keluarga Indonesia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tekanan ekonomi dan kurangnya pengertian keluarga miskin yang umumnya memiliki jumlah anak banyak, membuat keluarga tidak mampu memberikan perhatian yang cukup terhadap kebutuhan anggota keluarga, khususnya anak-anak. Kasus-kasus kekurangan gizi berat dan bahkan semakin banyaknya anak-anak jalanan sebagian besar di kota-kota besar berkaitan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dengan kemampuan ekonomi keluarga. Masalah sosial lain yang dihadapi keluarga adalah penyimpangan perilaku yang dapat mendorong semakin besarnya angka penderita HIV/AIDS, pengguna narkoba dan aborsi di kalangan remaja, perkelahian antar remaja, perkelahian antar anak sekolah, kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan sosial lainnya. Kita perlu bekerja keras untuk meningkatkan kualitas keluarga di Indonesia. Besarnya jumlah anak pada keluarga yang kurang mampu dan berpendidikan rendah memerlukan perhatian yang seksama dari semua pihak karena bila tidak semakin lama semakin besar jumlah penduduk Indonesia yang – maaf – kurang berkualitas sehingga menambah beban negara yang berat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita memaklumi bahwa kualitas suatu bangsa sangat ditentukan oleh Kualitas Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat. Keluarga juga diyakini sebagai wadah pertama dan utama dalam pembentukan kepribadian manusia. Karena dalam Keluarga terdapat rangkaian interaksi sosial yang terkait dengan peran dan fungsi keluarga seperti fungsi keagamaan, budaya, cinta kasih,&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi dan pembinaan lingkungan. Oleh karena itu, tema Hari Keluarga Nasional ke XII tahun ini adalah “ Ketahanan Keluarga, Pilar Pembangunan Bangsa, dengan slogan Keluarga Berkualitas, Citra Bangsa Bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peringatan Hari Keluarga Nasional ini hendaknya dapat membuka nurani keluarga dan  masyarakat Indonesia untuk lebih memberikan perhatian terhadap peran dan fungsi masing-masing anggota keluarga dalam suasana komunikasi dan interaksi yang harmonis yang pada akhirnya akan memberikan ketahanan keluarga yang lebih baik. Untuk itu kita perlu mewujudkan suasana budaya “dialog” yang lebih terbuka baik diantara anggota keluarga maupun dengan masyarakat di lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dengan keterbukaan yang didasari dengan rasa saling mengasihi dan saling pengertian sesama keluarga dan sesama warga bangsa, akan dapat melahirkan keluarga dan masyarakat yang berkepribadian dan bermoral tinggi dengan tidak meninggalkan nilai-nilai sosial budaya bangsa Indonesia, sebagai pilar pembangunan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bapak Presiden dan hadirin yang kami hormati,&lt;br /&gt;Pada kesempatan acara puncak hari ini, kami hadirkan kehadapan Bapak Presiden para petugas lapangan dan para kader relawan, kader PKK yang terpilih yang sehari-hari dengan tidak mengenal lelah berperan sebagai ujung tombak program KB Nasional. Khusus mengenai kader relawan program KB di tingkat desa kebawah, di Indonesia jumlahnya sekitar sejuta institusi. Di tangan merekalah salah satu kunci keberhasilan program KB Nasional selama ini. Sebagai rangkaian acara puncak Harganas XII kali ini disamping penyampaian penghargaan kepada Kader KB Desa (PPKBD) dan Petugas Lapangan KB (PLKB) terpilih, juga kita hadirkan keluarga-keluarga teladan pilihan Tim Penggerak PKK. Pada kesempatan ini dalam rangka mensosialisasikan pentingnya peran keluarga dalam pembentukan kepribadian dan sebagai pilar pembangunan bangsa, kami mohon perkenan Bapak Presiden untuk meluncurkan Pesan Presiden RI Kepada Keluarga Indonesia yang akan kami sampaikan kepada keluarga Indonesia, khusus untuk daerah DKI Jakarta dilakukan penyampaian secara langsung dengan menggunakan pesawat udara AURI.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kami sampaikan bahwa pada dasarnya Hari Keluarga Nasional merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun, yang dapat digunakan sebagai kendaraan yang memberikan apresiasi kepada pengelola dan pelaksana program beserta seluruh keluarga yang telah berhasil dalam pembangunan keluarga sejahtera. Momentum Hari Keluarga Nasional&lt;br /&gt;merupakan daya dorong yang besar untuk peningkatan komitmen bagi penyempurnaan program pembangunan keluarga berkualitas di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kelancaran acara puncak Hari Keluarga Nasional, khususnya kepada Ibu Ketua Tim Penggerak PKK dan jajarannya, Bapak Gubernur DKI dan jajarannya serta mitra kerja lintas sektor dan swasta yang telah memberikan banyak kontribusi dan perhatian atas terselenggaranya acara ini.&lt;br /&gt;Demikian laporan yang dapat kami haturkan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, selanjutnya kami mohon perkenan Bapak Presiden memberikan arahan pada upaya Pemberdayaan Keluarga Indonesia sebagai dasar pembentukan pilar pembangunan bangsa.&lt;br /&gt;Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberikan rakhmat dan hidayah-Nya kepada keluarga-keluarga Indonesia dalam rangka membangun keluarga yang berkualitas dimasa depan, Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu’alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Kepala BKKBN,&lt;br /&gt;Dr. Sumarjati Arjoso, SKM.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;====================================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;PIDATO SAMBUTAN&lt;br /&gt;KUASA USAHA AI KBRI CANBERRA&lt;br /&gt;DALAM MEMPERINGATI HARI PAHLAWAN&lt;br /&gt;Canberra, 11 Nopember 2002&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarrakatuh&lt;br /&gt;    Salam sejahtera bagi kita semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari, dan&lt;br /&gt;    Para peserta upacara yang saya hormati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan YME karena hanya atas ijinNya-lah kita dapat berkumpul bersama untuk memperingati Hari Pahlawan, 10 Nopember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebelum melanjutkan sambutan ini, perkenankanlah pula saya atas nama KBRI Canberra mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi mereka yang melaksanakannya dengan harapan semoga dalam bulan suci dan penuh berkah ini Allah s.w.t berkenan untuk selalu melimpahkan rakhmat dan hidayahNya kepada kita semua di dalam menjalankan kehidupan profesional dan pribadi kita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari, dan&lt;br /&gt;    Para peserta upacara yang saya hormati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hari Pahlawan 10 Nopember merupakan salah-satu tonggak utama dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia di dalam upayanya membebaskan diri dari cengkeraman tangan kaum penjajah. Keheroikan para pejuang pembela kemerdekaan di dalam mempertahankan bumi pertiwi dari agresi bangsa-bangsa penjajah kembali dibuktikan ketika mereka mampu menunjukkan keteguhan hati untuk mempertahankan kota Surabaya, walaupun ribuan nyawa pejuang bangsa - dikenal atau tidak dikenal - dikorbankan. Perjuangan mereka tidaklah sia-sia, korban di pihak tentara asing juga tidak kecil, bahkan komandan pasukan Inggris yang ingin dimanfaatkan oleh kolonialis Belanda, turut gugur di medan laga Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semangat yang melandasi pertempuran Surabaya itulah yang mendorong kita untuk mengukuhkan hari pecahnya pertempuran tersebut sebagai Hari Pahlawan yang setiap tahun kita peringati dengan tujuan tidak hanya untuk tetap mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur dalam pertempuran tersebut, tetapi juga untuk memperbaharui semangat kita untuk kembali bangkit dan bersatu di dalam menghadapi krisis multidimensional yang berkepanjangan yang melanda negara dan bangsa Indonesia beberapa tahun terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lunturnya semangat perjuangan dan rasa persatuan akhir-akhir ini harus kita akui. Bangsa Indonesia tidak henti-hentinya dilanda krisis yang cenderung menghilangkan semangat patriotisme dan semangat kebersamaan sebagai sesama anak bangsa. Sungguh suatu tantangan yang amat sulit yang memerlukan pembaharuan semangat kejuangan kita, agar mampu meneruskan perjuangan para pahlawan bangsa yang darahnya telah membasahi bumi pertiwi demi terwujudnya NKRI yang utuh, sejahtera, aman, adil dan makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari, dan&lt;br /&gt;    Para peserta upacara yang saya hormati,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hendaknya serangkaian cobaan yang dihadapi bangsa dan negara saat ini yang mencakup pecahnya konflik-konflik sektarian, separatisme, krisis ekonomi dan politik, serta peristiwa pemboman di Bali, 12 Oktober yang lalu, dapat menyegarkan kembali semangat kepahlawanan nasional kita untuk turut membantu bangsa dan negara keluar dari cobaan-cobaan yang sungguh tidak ringan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Untuk itu, perkenankanlah saya untuk menggunakan kesempatan ini untuk menghimbau para peserta upacara untuk kembali merenungkan dan mengenang kesucian perjuangan para pahlawan bangsa, karena memang hanya bangsa yang besar yang menghargai para pahlawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya berkeyakinan bahwa Indonesia masih memiliki sejumlah kualitas yang akan membantunya keluar dari kemelut, salah-satu diantaranya adalah masih tertanamnya semangat kepahlawanan di dada kita untuk menyongsong masa depan Indonesia yang lebih cerah, dimana seluruh warga-negara terlepas dari agama, ras, etnik, dan warna kulit bahu-membahu berpartisipasi di dalam membangun bangsa dan negara, Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selamat merayakan Hari Pahlawan dengan harapan semoga cita-cita para pahlawan pendahulu kita dapat segera terwujud di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarrakatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Canberra, 11 November 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imron Cotan&lt;br /&gt;Kuasa Usaha a.i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;====================================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;TEKS PIDATO SAMBUTAN MENTERI KUKM&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sambutan pada acara Temu Alummni Nasional pondok pesantren Darunnajah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Para Pengasuh Pondok Pesantren Darunnajah;&lt;br /&gt;• Para Alim Ulama;&lt;br /&gt;• Para Alumni dan Santri Pondok Pesantren Darunnajah,Jakarta;&lt;br /&gt;• Para Undangan dan Hadirin yang Berbahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu'alaikum Wr.Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Marilah kita bersama-sama senantiasa memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT,yang telah memberikan rahmat,nikmat dan karunia kepada kita semua,sehingga kita dapat hadir dalam keadaan sehat wal'afiat pada acara SILATURAHMI NASIONAL DAN HALAL BIHALAL ALUMNI PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH di Taman Mini Indonesia Indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Saya juga bersyukur dan bangga mendapat laporan bahwa Pondok Pesantren ini juga telah memiliki jaringan alumni yang tersebardiseluruh pelosok tanah air.Banyak diantara alumninya yang melanjutkan kuliah diberbagai perguruan tinggi ternama baik yang ada didalam negeri maupun yang diluar negeri.Jaringan alumni ini merupakan asset yang sangat penting tidak hanya bagi Pondok Pesantren Darunnajah sendiri,tetapi juga bagi bangsa dan Negara kita yang merupakan komunitas umat Islam terbesar didunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Aset jaringan alumni ini akan menjadi semakin penting jika mampu memberikan manfaat yang nyata bagi kehidupan masyrakat,tidak hanya terbatas pada bidang keagamaan saja tetapi juga dibidang –bidang lainnya,terutam pada bidang ekonomi yang dapat ikut mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan.Kita semua tidak menginginkan alumni pondok pesantren ini menjadi pengangguran yang justru menjadi beban,tidak hanya bagi orang tua,bagi pondok maupun beban bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin yang saya muliakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Sampai saat ini bangsa kita masih menghadapi permasalahan yang sangat besar yitu tingginya angka pengangguran dan kemiskinan.Berdasarkan data BPS Juli 2007,jumlah pengangguran masih sekitar 13,2 juta jiwa,dan jumlah penduduk yang masih miskin sekitar 30,2 juta jiwa.Sebagian besar penduduk Indonesia adalah umat muslim (sekitar 90%).Oleh karena itu diantara jumlah penduduk yang masih menganggur ataupun yang masih miskin tersebut sebagian besar adalah saudara kita umat Islam.&lt;br /&gt;Hadirin yang saya muliakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Itulah tantangan nyata yang harus kita hadapi dan kita atasi secara bersama-sama.Seperti yang telah saya sampaikan tadi bahwa "Kita semua tidak menginginkan alumni pondok pesantren ini menjadi pengangguran yang justru menjadi beban,bagi pondok maupun beban bagi masyarakat".Oleh karena itu pada kesempatan ini saya mengharapkan setiap poindok pesantren memberikan bekal kewirausahaan dan ketrampilan usaha sejak dini kepada para santri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin yang berbahagia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Memberikan bekal kewirausahaandan ketrampilan usaha sejak dini kepada para santri ini sangat penting,karena paradigma lama bahwa menjadi wirausaha merupakan talenta yang dibawa sejak lahir sudah terbantahkan oleh banyak teori. Menjadi wirausaha tidak dapat hanya dibentuk melalui proses pembelajaran didalam kelas.Jiwa dan semangat kewirausahaan harus dibentuk melalui proses penyadaran bahwa dirinya telah dibekali oleh Allah SWT potensi ekonomi yang tidak terbatas,kecuali oleh keterbatasan pikirannya sendiri.&lt;br /&gt;        Setiap individu dibekali kekuatan fisik,kekuatan nalar yang menjadi sumber kreativitas dan inovasi,naluri untuk berinteraksi sosial.Semuanya itu adalah potensi ekonomi yang dapat untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Untuk menumbuhkan kesadaran itu tidak cukup hanya dengan mentransfer pengetahuan dari pengajr ke para santri,tetapi harus dibuktikan dengan praktek, agar para santri menyakininya dari bukti empirik yang dialaminya sendiri.Dalam proses menumbuhkan kesadaran dan menanamkan semangat berwirausaha, sedikitnya harus ditempuh melalui pentahapan proses sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengenalan potensi ekonomi dirinya;yaitu mengenali kompetensi dan kapasitas potensi diri yang berpotensi untuk menghasilkan nilain tambah ekonomi,&lt;br /&gt;2. Mengenal potensi bisnis dengan memberikan wawasan tentang peluang-peluang bisnis yang dapat dikembangkan sesuai dengan kompetensi dan kapasitas yang dimilikinya,&lt;br /&gt;3. Mengenal praktek bisnis yang praktis bagi para santri,&lt;br /&gt;4. Mengenalkan cara-cara memulai bisnis;&lt;br /&gt;5. Mengenal cara mengelola atau menatausahakan pencatatan bisnis yang praktis,&lt;br /&gt;6. Mengenalkan cara-cara mengatasi resiko bisnis,&lt;br /&gt;7. Mengenalkan cara mengembangkan bisnis;baik dengan memanfaatkan teknologi,inovasi ataupun kreativitas yang dapat dikembangkan,serta&lt;br /&gt;8. Mengenalkan cara membangun jaringan usaha bisnis,terutama dengan membangun "trust" sesame alumni agar dapat saling melengkapi,saling memperkuat,saling membesarkan dan saling menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Untuk itulah maka sejak tahun 2006 yang baru lalu Kementrian Negara Koperasi dan UKM secara khusus mengembangkan program pemberdayaan ekonomi pondok pesantren dengan memberikan fasilitas Tempat Praktek Usaha para Santri (TPUS).Dengan fasilitas TPUS tersebut,diharapkan setiap pondok pesantren dapat memberikan pembekalan kewirausahaan secara lebih dini kepada para santrinya,sehingga setelah lulus dapat menciptakan lapangan pekerjaan (job creator) bukan lagi sebagai pencari kerja (job seeker).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin yang Berbahagia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Saya berkeyakinan dengan memberikan bekal kewirausahaan sejak dini bagi santrinya,Pondok Pesantren "Darunnajah" akan memiliki jaringan usaha para alumni yang tangguh.Jaringan alumni yang demikian diharapkan dapat menjadi kekuatan baru untuk ikut mengurangi pengangguran dan kemiskinan bagi saudara kita umat Islam.&lt;br /&gt;        Untuk itu selain memanfaatkan program pemberdayaan ekonomi pondok pesantren tersebut,jaringan alumni pondok pesantren juga dapat memanfaatkan berbagai program yang dikembangkan oleh Kementrian Negara Koperasi dan UKM yaitu antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Program Sarjana Pencipta Kerja Mandiri (PROSPEK MANDIRI);program ini bertujuan memberi peluang berwirausaha bagi para sarjana yang masih menganggur melalui wadah Koperasi;&lt;br /&gt;2. Program Perempuan Keluarga Sehat Sejahtera (PERKASA);program ini diperuntukkan bagi Koperasi-koperasi Wanita yang ingin mengembangkan usahanya;&lt;br /&gt;3. Program Pembiayaan Produktif bagi Koperasi dan Usaha Mikro (P3KUM) Pola Syariah;program ini bertujuan menstimulir pembiayaan usaha produktif masyarakat anggota Koperasi (Koppontren) dengan melakukan pola syariah.&lt;br /&gt;4. Program penjaminan kredit,terutama untuk pengembangan usaha-usaha produktif,serta&lt;br /&gt;5. Program pengembangan usaha sektoral yang disesuaikan dengan potensi produk unggulan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin yang Berbahagia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Demikian yang dapat saya sampaikan dalam silaturahmi kali ini,semoga keluarga besar Pondok Pesantren "Darunnajah" dapat terus berkiprah dalam menjalankan amanah yang rahmatan lil'alamin.Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi usaha kita bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian,wabillahi taufiq walhidayah&lt;br /&gt;Wassalamu'alaikum Wr.Wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta,18 November2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                 Menteri Negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                              Suryadharma Ali&lt;br /&gt;Last Updated ( Thursday, 17 April 2008 )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-2848720613276792712?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wlDBoMbCdbwcOpy1iINNbwGQplM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wlDBoMbCdbwcOpy1iINNbwGQplM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wlDBoMbCdbwcOpy1iINNbwGQplM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wlDBoMbCdbwcOpy1iINNbwGQplM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/Rq3qPvFkPhY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/2848720613276792712/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/03/model-pidato-sambutan.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/2848720613276792712" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/2848720613276792712" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/Rq3qPvFkPhY/model-pidato-sambutan.html" title="Model Pidato Sambutan" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/03/model-pidato-sambutan.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-553959249959325102</id><published>2009-03-14T21:38:00.001-07:00</published><updated>2009-03-14T21:38:29.226-07:00</updated><title type="text">Kata Sambung</title><content type="html">Kata sambung (konjungsi) adalah kata yang digunakan untuk menyambung atau menghubungkan kata dengan kata, kalimat dengan kalimat, paragraf dengan paragraf, ide-ide dengan ide-ide, dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragam kata sambung :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kata sambung asal, misalnya : dan, maka, sedang, hingga, meski, lalu, bila, sambil, atau, serta, karema, jika, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kata sambung jadian / bentukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     - kata ulang, misalnya : jangan-jangan, seakan-akan, kalau-kalau, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     - kata sambung majemuk, misalnya : apabila, lagi pula, karena itu, andaikata, sebab itu, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     - kata sambung berimbuhan, misalnya : sebelum, selama, sehingga, seandainya, sekiranya, melainkan, semenjak, andaikan, bagaikan, asalkan, sedangkan, jangankan, walaupun, meskipun, kendatipun, bermula, sebermula, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna kata sambung :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sebagai pengantar (kalimat), misalnya : alkisah, syahdan, arkian, maka, sebermula, bahwasanya, hatta, adapun, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sebagai himpunan / kumpulan, misalnya : dan, lagi, dengan, lagi pula, tambahan lagi, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.  Yang menyatakan pertentangan, misalnya : tetapi, hanya, sedangkan, biar, meski, meskipun, sekalipun, walaupun, sungguhpun, melainkan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Yang menyatakan sebab, misalnya : sebab, karena, oleh sebab itu, oleh karena, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.  Yang menyatakan akibat, misalnya : sampai, sehingga, sebab itu, karena itu, sampai-sampai, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.  Yang menyatakan waktu, misalnya : bila, waktu, ketika, mula-mula, apabila, bilamana, sebelum, selama, setelah, tatkala, semenjak, sesudah, setelah, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Yang menyatakan tempat, misalnya : sampai, hingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Yang menyatakan maksud, misalnya : supaya, agar, agar supaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Yang menyatakan syarat, misalnya : asal, asalkan, jika, andaikata, kalau, seandainya, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j. Yang menyatakan perwatasan, misalnya : kecuali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k. Yang menyatakan keadaan/perihal, misalnya : sambil, seraya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;l. Yang menyatakan perbandingan, misalnya : seperti, bagaikan, sebagai, seakan-akan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;m. Yang menyatakan modalitas, misalnya : jangan-jangan, kalau-kalau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disarikan dari : Tatabahasa Indonesia -  Soekono Wirjosoedarmo)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-553959249959325102?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/fbr6rd-KS7ThnWJasMVRN71-z14/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/fbr6rd-KS7ThnWJasMVRN71-z14/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/fbr6rd-KS7ThnWJasMVRN71-z14/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/fbr6rd-KS7ThnWJasMVRN71-z14/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/AEzF0XKiGxw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/553959249959325102/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/03/kata-sambung.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/553959249959325102" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/553959249959325102" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/AEzF0XKiGxw/kata-sambung.html" title="Kata Sambung" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/03/kata-sambung.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-6148903236462070568</id><published>2009-02-03T23:41:00.000-08:00</published><updated>2009-02-03T23:53:13.615-08:00</updated><title type="text">Promo Media : "Teknik Membaca Puisi"</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sM2dtv1yPfU/SYlIaZExUHI/AAAAAAAAALA/4biPiRKQVQk/s1600-h/coverarspuisi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 221px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sM2dtv1yPfU/SYlIaZExUHI/AAAAAAAAALA/4biPiRKQVQk/s320/coverarspuisi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298846054822793330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran bahasa Indonesia, tidak dapat dilepaskan dengan pembelajaran sastra. Pada saat pembahasaan sastra khususnya puisi, sering ditemukan pula kutipan-kutipan puisi.&lt;br /&gt;Guru yang ideal seharusnya mampu membaca dan membawakannya dengan tepat. Namun demikian, banyak di antara kita yang kurang PD, pada saat membaca puisi.&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut serta dukungan MGMP, kami buat media pembelajaran "Teknik Membaca Puisi". Dalam media ini kami masukkan model-model pembacaan puisi yang dibawakan oleh para penyair yang tergabung dalam Teater ARS. Mereka telah memiliki pengalaman juara tingkat Propinsi Jawa Timur.&lt;br /&gt;Dalam pembelajaran para guru dapat memutarnya di komputer dan menayangkannya di layar serta menjelaskan teknik pembawaan yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga CD Pembelajaran "Teknik Membaca Puisi" @ Rp 50.000,00 (pembelian langsung) + Rp 15.000,00 (ongkos kirim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda berminat hubungi : 03170464636&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-6148903236462070568?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wajt3dj0XJqyxHTx0pDTWoKAAek/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wajt3dj0XJqyxHTx0pDTWoKAAek/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wajt3dj0XJqyxHTx0pDTWoKAAek/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wajt3dj0XJqyxHTx0pDTWoKAAek/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/KB2dPiDwLaE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/6148903236462070568/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/02/promo-media-teknik-membaca-puisi.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/6148903236462070568" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/6148903236462070568" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/KB2dPiDwLaE/promo-media-teknik-membaca-puisi.html" title="Promo Media : &quot;Teknik Membaca Puisi&quot;" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_sM2dtv1yPfU/SYlIaZExUHI/AAAAAAAAALA/4biPiRKQVQk/s72-c/coverarspuisi.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/02/promo-media-teknik-membaca-puisi.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-974322506763127265</id><published>2009-02-03T23:25:00.000-08:00</published><updated>2009-02-03T23:40:59.031-08:00</updated><title type="text">Promo Media :"Sidoarjo Menangis"</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sM2dtv1yPfU/SYlEbVgS1PI/AAAAAAAAAK4/Qeg9LPvazw8/s1600-h/sm4sale.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 237px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sM2dtv1yPfU/SYlEbVgS1PI/AAAAAAAAAK4/Qeg9LPvazw8/s320/sm4sale.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298841672997852402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali saya menerima email tentang permintaan pada media pembelajaran karya saya sendiri, yaitu : "Sidoarjo menangis". Penulis menyadari perlunya media ini bagi guru, khususnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Karena itu, saya menawarkan media pembelajaran ini kepada Anda yang membutuhkannya (termasuk karya ilmiah PTK-nya).&lt;br /&gt;Perlu diketahui, media ini pernah saya lombakan dan mendapat juara 2 tingkat propinsi.&lt;br /&gt;Harga CD Pembelajaran @ Rp 50.000,00 (untuk pembelian langsung) + Rp 15.000,00 (ongkos kirim)&lt;br /&gt;Model PTK Media Pembelajaran "Sidoarjo Menangis" @ Rp 75.000,00 (pembelian langsung) + Rp 15.000,00 (ongkos kirim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda berminat, hubungi : 03170464636&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-974322506763127265?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UWV3izvUTytWefwygHKoSkjbe-w/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UWV3izvUTytWefwygHKoSkjbe-w/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UWV3izvUTytWefwygHKoSkjbe-w/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UWV3izvUTytWefwygHKoSkjbe-w/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/KBO_Ec1a9tc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/974322506763127265/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/02/promo-media-sidoarjo-menangis.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/974322506763127265" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/974322506763127265" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/KBO_Ec1a9tc/promo-media-sidoarjo-menangis.html" title="Promo Media :&quot;Sidoarjo Menangis&quot;" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_sM2dtv1yPfU/SYlEbVgS1PI/AAAAAAAAAK4/Qeg9LPvazw8/s72-c/sm4sale.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2009/02/promo-media-sidoarjo-menangis.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-581016329203977970</id><published>2008-07-17T05:04:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T17:52:44.890-07:00</updated><title type="text">Banjirnya Kosakata dari Bahasa Asing</title><content type="html">&lt;b class="pn_std"&gt;Robi&lt;/b&gt;: Mengapa bahasa Indonesia dibanjiri bahasa-bahasa yang berasal dari bahasa asing?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kolom obrolan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;chatting&lt;/span&gt;) terdapat pertanyaan sebagaimana tersebut di atas. Kalau didaftar kosakata yang berasal dari bahasa asing, akan ditemukan banyak sekali atau bahkan lebih banyak kosakata asing daripada kosakata asli dari bahasa Indonesia. Apalagi bila kurun waktunya diperpanjang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a. Bahasa Melayu Kuna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejak jaman kerajaan Sriwijaya (abad VII), bahasa Melayu Kuna (Kwun-Lun)  ditulis dengan huruf Pallawa. Bahasa ini banyak dipengaruhi bahasa Sanskerta. Hal ini bisa dilihat pada prasasti-prasasti yang ditinggalkan oleh kerajaan ini, misalnya : Karang Berahi, Talang Tuwo, Kedukan Bukit, dsb. Pengaruhnya tidak hanya terjadi pada kosakatanya saja melainkan juga pada bentuk katanya (morfologinya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut contoh kutipan dari prasasti Kedukan Bukit :&lt;br /&gt;&lt;i&gt;1. Swasti, sri. Sakawarsatita 604 ekadasi su-&lt;br /&gt;2. klapaksa wulan Waisakha Dapunta Hyang naik di&lt;br /&gt;3. samwau mangalap siddhayatra. Di saptami suklapaksa&lt;br /&gt;4. wulan Jyestha Dapunta Hyang marlapas dari&lt;/i&gt;&lt;i&gt; Minanga&lt;br /&gt;5. tamwan mamawa yang wala dua laksa dangan &lt;/i&gt;&lt;i&gt;kosa&lt;br /&gt;6. dua ratus cara di samwau, dangan jalan sariwu&lt;br /&gt;7. telu ratus sapulu dua wanyaknya, datang di Mukha Upang&lt;br /&gt;8. sukhacitta. Di pancami suklapaksa wulan Asada&lt;br /&gt;9. laghu mudita datang marwuat wanua .....&lt;br /&gt;10. Sriwijaya jayasiddhayatra subhiksa&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan dalam bahasa Indonesia modern:&lt;br /&gt;1. Bahagia, sukses. Tahun Saka berlalu 604 hari kesebelas&lt;br /&gt;2. paroterang bulan Waisaka Dapunta Hyang naik di&lt;br /&gt;3. perahu melakukan perjalanan. Di hari ketujuh paroterang&lt;br /&gt;4. bulan Jesta Dapunta Hyang berlepas dari Minanga&lt;br /&gt;5. tambahan membawa balatentara dua laksa dengan perbekalan&lt;br /&gt;6. dua ratus koli di perahu, dengan berjalan seribu&lt;br /&gt;7. tiga ratus dua belas banyaknya, datang di Muka Upang&lt;br /&gt;8. sukacita. Di hari kelima paroterang bulan Asada&lt;br /&gt;9. lega gembira datang membuat wanua .....&lt;br /&gt;10. Perjalanan jaya Sriwijaya berlangsung sempurna&lt;br /&gt;(Baca : http://irfananshory.blogspot.com/2007/04/prasasti-kedukan-bukit-sriwijaya.html)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh bahasa Sanskerta yang berasal dari India ini tidak hanya terjadi pada bahasa Melayu Kuna (Kwun-Lun) melainkan juga pada bahasa Jawa Kuna (Kawi). Dalam hal ini penyebaran agama dari India (yaitu Hindu dan Budha) membawa pula pengaruh bahasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b. Bahasa Melayu Pertengahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada masa ini, bahasa Melayu menjadi lingua franca (bahasa perhubungan) khususnya bagi para pedagang di wilayah perairan Riau. Lalu lintas perdagangan membawa pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan bahasa ini. Bahasa Melayu pada masa ini dituliskan dalam huruf Arab-Jawi dan banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab. Jejaknya dapat dilihat pada karya-karya sastra, misalnya : Hikayat Raja-raja Pasai, Sejarah Melayu, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Aceh, Tuhfatun Nafis, dan sejenisnya. Demikian pula, pengaruh bahasa Arab bisa dilihat pada karya-karya sastra karya Hamzah Fanzuri, Nuruddin Ar Raniri, dan pengarang sastra kitab lainnya.&lt;br /&gt;(Baca : http://culture.melayuonline.com/?a=b29Sei9zVEkvUXZ5bEpwRnNx=)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_sM2dtv1yPfU/SI0YJ9R05TI/AAAAAAAAAHQ/CCkfGgXiGUc/s1600-h/melayu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_sM2dtv1yPfU/SI0YJ9R05TI/AAAAAAAAAHQ/CCkfGgXiGUc/s320/melayu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5227861301794235698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-581016329203977970?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/scfTrrGOvv49-IEH-koBvLVr7oo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/scfTrrGOvv49-IEH-koBvLVr7oo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/scfTrrGOvv49-IEH-koBvLVr7oo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/scfTrrGOvv49-IEH-koBvLVr7oo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/V_M0KoC9njA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/581016329203977970/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/07/kosakata-dari-bahasa-asing.html#comment-form" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/581016329203977970" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/581016329203977970" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/V_M0KoC9njA/kosakata-dari-bahasa-asing.html" title="Banjirnya Kosakata dari Bahasa Asing" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://bp2.blogger.com/_sM2dtv1yPfU/SI0YJ9R05TI/AAAAAAAAAHQ/CCkfGgXiGUc/s72-c/melayu.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/07/kosakata-dari-bahasa-asing.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-7584915634413393966</id><published>2008-07-09T13:14:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T14:44:56.505-07:00</updated><title type="text">Implementasi e-Learning : Tantangan dan Kendalanya</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;E-learning, di antara kita mungkin masih asing terhadap istilah tersebut. Namun, bagi kita yang sudah lama berkecimpung dalam pembelajaran yang menggunakan komputer apalagi internet, maka secara tidak sadar kita telah melakukannya, tanpa memahami maknanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Istilah e-learning  merupakan singkatan dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;elektronic learning&lt;/span&gt;  atau pembelajaran elektronik, yaitu  pembelajaran yang menggunakan  alat-alat  listrik. Ruang lingkup konsep ini terlalu luas karena pembelajaran saat ini banyak sekali yang melibatkan alat-alat listrik misalnya penggunaan slide, OHP, video, atau film. Konsep e-learning dibatasi pada penggunaan teknologi komputer sebagai media pembelajaran. Sementara itu, UNESCO memberikan ruang lingkup yang lebih khusus pada pembelajaran yang menggunakan media internet.&lt;br /&gt;E-learning merupakan keniscayaan dan tantangan bagi lembaga pendidikan. E-learning sebagai sebuah keniscayaan berarti mau atau tidak mau harus tetap dilaksanakan sebagai tuntutan pendidikan modern. Yang tidak mau mengikutinya akan terperosok pada kemunduran. Adapun e-learning sebagai tantangan karena merupakan wacana pendidikan modern yang memerlukan sumber dana dan sumber daya yang harus mampu menggunakan dan mengaplikasikannya dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;Saat ini banyak lembaga pendidikan dalam promosinya menawarkan pembelajaran dengan komputer bahkan internet. Terlepas bagaimana kualitas alat dan pelaksanaan pembelajarannya, yang terpenting adalah mau melaksanakannya, khususnya sebagai kompetisi promosi lembaga pendidikan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jardiknas&lt;/span&gt; : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kendala&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Solusinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tersebut merupakan iklim yang tepat bagi pemerintah untuk membimbing dan memberi arah yang tepat bagi lembaga pendidikan agar pembelajaran berbasis e-learning menjadi tepat sasaran. Diharapkan penerapan e-learning bukan hanya sekedar ajang gengsi dan kompetisi yang tidak sehat antarsekolah.&lt;br /&gt;Pemerintah melalui Jardiknas telah mengantisipasi kondisi ini. Jardiknas telah memberikan diklat / workshop bagi sekolah-sekolah tentang pembelajaran menggunakan komputer dan internet. Hampir setiap kabupaten dan kota seluruh Indonesia telah dijangkau oleh program Jardiknas.&lt;br /&gt;Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa kualitas guru yang dilatih sangat beragam dan hasilnya pun beragam. Diklat yang tidak ditindaklanjuti melalui implementasi di sekolah masing-masing akan sia-sia saja. E-learning, yang mau silahkan mengimplementasikannya, yang tidak mau hanya sebagai wacana saja. Karena itu, perlu ditunjuk khusus tenaga yang khusus menjadi 'lokomotif' dari setiap sekolah. Tenaga pendidikan inilah yang selalu dilatih dan kemudian menyampaikan dan mengembangkannya di sekolah masing-masing. Jangan mengirimkan tenaga pendidikan yang 'buta sama sekali' terhadap komputer. Pengalaman membuktikan, pasti hal itu akan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Web dan Blog Sebagai Media E-Learning&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;E-learning yang paling ideal dilaksanakan secara total dan integral dalam setiap aspek pembelajarannya. Mulai dari  pengumuman,  pendaftaran,  penyampaian materi pembelajaran, alat bantu dan media, hingga evaluasi dilaksanakan melalui internet. Beberapa lembaga pendidikan tinggi telah menerapkan konsep '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;distance learning&lt;/span&gt;' ini. Para peserta didik tidak harus tatap muka dengan guru/dosennya. Mereka dapat berinteraksi melalui internet. Dalam hal ini ruang dan waktu bisa fleksibel, kapan saja dan dimana saja bisa terjadi proses pembelajaran. Pembelajaran tidak lagi terikat oleh ruang kelas, laboratorium, atau perpustakaan tertentu. Banyak program berbasis web yang telah dibuat khusus untuk model pembelajaran seperti ini, misalnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;A Tutor&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Dalam perkembangan selanjutnya, web dan blog banyak digunakan pula sebaga media e-learning. Banyak web dan biasa  umum yang mampu memberikan materi pembelajaran yang berbobot sebagai wahana e-learning. Para dosen / guru tidak malu-malu menuangkan materi pembelajaran dan perangkat pembelajaran lainnya melalui blog yang siap diakses oleh para siswanya. Dengan fasilitas dan widget yang lengkap sebuah blog mampu menjadi wahana e-learning yang baik. Permasalahannya, para dosen / guru tersebut harus mengenal dan mengembangkannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;selesai&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-7584915634413393966?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4xXdIlS5WwFH0SDrdlRUkcIxeKs/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4xXdIlS5WwFH0SDrdlRUkcIxeKs/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4xXdIlS5WwFH0SDrdlRUkcIxeKs/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/4xXdIlS5WwFH0SDrdlRUkcIxeKs/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/gx55_E5tUyQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/7584915634413393966/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/07/implementasi-e-learning-tantangan-dan.html#comment-form" title="3 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/7584915634413393966" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/7584915634413393966" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/gx55_E5tUyQ/implementasi-e-learning-tantangan-dan.html" title="Implementasi e-Learning : Tantangan dan Kendalanya" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/07/implementasi-e-learning-tantangan-dan.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-2145667496321389437</id><published>2008-06-28T06:47:00.000-07:00</published><updated>2008-07-08T19:18:30.853-07:00</updated><title type="text">Standar ataukah standart, standarisasi ataukah standardisasi</title><content type="html">Yang benar adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;standar&lt;/span&gt; bukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;standard&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;standart&lt;/span&gt;, dan yang benar justru &lt;span style="font-style: italic;"&gt;standardisasi &lt;/span&gt;bukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;standarisasi&lt;/span&gt;. Mengapa demikian ? Hal ini karena kedua istilah itu diserap dua-duanya dengan prosedur penyerapan yang berbeda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inggris                                                        bahasa Indonesia&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;standard            --------------------&gt;   standar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini terjadi penyerapan dengan penyesuaian bunyi akhir (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;-d&lt;/span&gt;) yang dihilangkan dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;standardization   -------------------&gt;  standardisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini terjadi proses penyerapan (-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ization&lt;/span&gt;) dalam bahasa Inggris menjadi (-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;isasi&lt;/span&gt;) dalam bahasa Indonesia.  Hal ini sebagaimana beberapa istilah berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sosialization  ----------------------&gt; sosialisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;modernization  -------------------&gt; modernisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;organization  ---------------------&gt; organisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mobilization  ---------------------&gt; mobilisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, proses pembentukan kata itu bukan dari kata  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;standar &lt;/span&gt;kemudian langsung ditambah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;-isasi&lt;/span&gt; akhirnya menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;standarisasi&lt;/span&gt;.  Yang benar, kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;standardization&lt;/span&gt; kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;standardisasi&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-2145667496321389437?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZwJ2ugnvQgi6POiGYvu4T1YcvMc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZwJ2ugnvQgi6POiGYvu4T1YcvMc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZwJ2ugnvQgi6POiGYvu4T1YcvMc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZwJ2ugnvQgi6POiGYvu4T1YcvMc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/Lx80n9fItYM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/2145667496321389437/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/standar-ataukah-standart-standarisasi.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/2145667496321389437" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/2145667496321389437" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/Lx80n9fItYM/standar-ataukah-standart-standarisasi.html" title="Standar ataukah standart, standarisasi ataukah standardisasi" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/standar-ataukah-standart-standarisasi.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-6172671979497012141</id><published>2008-06-28T00:52:00.000-07:00</published><updated>2008-06-29T20:31:23.681-07:00</updated><title type="text">Mengapa 'mengubah' bukan 'mengobah', 'merubah', atau 'merobah'?</title><content type="html">&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tanya : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Mengapa yang benar &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;mengubah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; bukan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mengobah&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;merubah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;, atau &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;merobah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Jawab :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Bila penggunaannya dalam kalimat sebagai berikut ini :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; 1. Ia telah berusaha &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;mengubah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; kebiasaan buruk adiknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; 2. Operasi plastik telah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;mengubah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; wajahnya yang buruk menjadi cantik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; 3. Jangan mengubah tempat dudukmu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Bila konteks kalimatnya sebagaimana di atas, kata dasar yang tepat adalah kata &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;ubah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;, bukan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;obah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;(yang merupakan bentuk kata tidak baku), &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;rubah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; (yaitu nama sejenis anjing hutan) apalagi &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;robah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; (juga merupahan bentuk kata tidak baku).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hal ini karena mendapat awalan &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;meN-&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; maka proses morfologisnya menjadi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;menN- + ubah  -----&gt;  mengubah&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Jadi yang benar &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mengubah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-6172671979497012141?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5IdFAnMmMcuuJBeaNE0KnBJFcbc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5IdFAnMmMcuuJBeaNE0KnBJFcbc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5IdFAnMmMcuuJBeaNE0KnBJFcbc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5IdFAnMmMcuuJBeaNE0KnBJFcbc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/2n1TVMchmHY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/6172671979497012141/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/mengapa-mengubah-bukan-mengobah-merubah.html#comment-form" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/6172671979497012141" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/6172671979497012141" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/2n1TVMchmHY/mengapa-mengubah-bukan-mengobah-merubah.html" title="Mengapa 'mengubah' bukan 'mengobah', 'merubah', atau 'merobah'?" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/mengapa-mengubah-bukan-mengobah-merubah.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-5759029076769588350</id><published>2008-06-26T03:07:00.000-07:00</published><updated>2008-06-30T19:38:30.885-07:00</updated><title type="text">Mengapa Kita Perlu Bangga pada Bahasa Indonesia</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_sM2dtv1yPfU/SGmYjN4okdI/AAAAAAAAAG4/7tMJPO3-bDE/s1600-h/davies.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_sM2dtv1yPfU/SGmYjN4okdI/AAAAAAAAAG4/7tMJPO3-bDE/s320/davies.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217869374075474386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p style="padding-top: 3px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="sqb"&gt;Seorang ahli politik dan pengarang dari Irlandia yaitu Thomas Osborne Davies (1814-1845) pernah menyampaikan pernyataan yang selalu menjadi catatan bagi para politikus, yaitu "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;A people without a language of its own, is only half a nation&lt;/span&gt;". Artinya kurang lebih suatu bangsa (negara) yang tidak memiliki bahasa yang berasal dari miliknya sendiri, dianggap 'setengah bangsa' atau bukanlah bangsa yang besar. Bisa diartikan bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki bahasanya sendiri. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki bahasa nasionalnya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 3px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="sqb"&gt;Dapat dianalogikan, kita memiliki uang yang banyak namun uang milik orang lain, tidaklah kita patut berbagangga karena itu bukan uang milik kita. Lain halnya bila uang itu milik kita sendiri, kita patut berbangga karenanya. Kita patut berbangga terhadap milik kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 3px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="sqb"&gt;Demikian halnya dengan keberadaan bahasa nasional kita, bahasa Indonesia. Bahasa ini milik kita sendiri. Bahasa ini berasal dari bahasa Melayu. Pemangku budaya bahasa Melayu adalah suku Melayu yang tinggal di Riau, yang memang dalam wilayah negara kita. Tidak ada alasan untuk tidak menerimanya dan tidak membanggakannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 3px; text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;Konflik Bahasa&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 3px; text-align: justify;"&gt;Ada banyak bangsa yang tidak menggunakan bahasa miliknya sendiri. Contohnya, Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan banyak lagi menggunakan bahasa Inggris. Beberapa bangsa juga lebih bangga menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa nasionalnya sendiri, contohnya India dan Hong Kong.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 3px; text-align: justify;"&gt;Tidak mudah memiliki suatu bahasa nasional. Sejarah telah membuktikan betapa sulitnya dapat memiliki bahasa persatuan. Salah satu negara kecil di Afrika tidak jadi mereka dan mereka berperang antarsuku karena berebut agar bahasa sukunya sendiri diangkat menjadi bahasa nasional.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 3px; text-align: justify;"&gt;Beberapa negara Barat, di antaranya Swiss memiliki 3 macam bahasa persatuan. Untuk menentukan menjadi hanya satu bahasa persatuan mereka harus berdebat panjang tanpa usai yang akhirnya tetap dibiarkan menggunakan ketiga bahasa tersebut.Beberapa negara seperti India dan Filiphina lebih suka menggunakan bahasa Inggris dan Spanyol dari pada bahasa nasionalnya, karena berasal dari suku mayoritas yang kurang disukai.&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 3px; text-align: justify;"&gt;Beruntunglah Indonesia karena konflik tersebut tidak pernah di alami. Berdasarkan Esser (1930), pemakai bahasa Jawa saat itu terbesar 40%, sedangkan bahasa Sunda dan bahasa Madura masing-masing kurang lebih 10% sementara bahasa Melayu  kurang dari  10%. Namun apa yang terjadi bahasa mayoritas tidak diangkat menjadi bahasa nasional, justru bahasa Melayu yang diterima .&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 3px; text-align: justify;"&gt;Berbagai alasan yang agak rasional pernah disampaikan oleh  Sutan Takdir Alisyahbana tentang keunggulan bahasa Melayu, di antaranya lebih  sederhana, mudah dipakai, dan lebih luas wilayah pemakainya. Namun, yang lebih penting dari hal itu adalah kesediaan hati orang-orang Jawa merelakan bahasa mereka yang sudah mapan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;established&lt;/span&gt;) sebagaimana bahasa Jepang, dan bahasa Inggris, untuk tidak menjadi bahasa nasional, demi persatuan bangsa Indonesia.  Nuansa nilai  tradisional '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tuna sathak bathi sanak&lt;/span&gt;'  (rugi tidak masalah demi beruntung dalam persaudaraan) sangat kental pada para nasionalis kita waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 3px; text-align: justify;"&gt;Karena itulah, kita harus bangga karena memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang tidak setiap  bangsa memilikinya. Kita pun harus mencintainya dengan menggunakannya dalam konteks yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="padding-top: 3px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-5759029076769588350?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/9CwrvyXJlsoMY-ZdVB94YOnJ5LE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/9CwrvyXJlsoMY-ZdVB94YOnJ5LE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/9CwrvyXJlsoMY-ZdVB94YOnJ5LE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/9CwrvyXJlsoMY-ZdVB94YOnJ5LE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/cVd7oEWBgos" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/5759029076769588350/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/mengapa-kita-perlu-bangga-pada-bahasa.html#comment-form" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/5759029076769588350" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/5759029076769588350" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/cVd7oEWBgos/mengapa-kita-perlu-bangga-pada-bahasa.html" title="Mengapa Kita Perlu Bangga pada Bahasa Indonesia" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_sM2dtv1yPfU/SGmYjN4okdI/AAAAAAAAAG4/7tMJPO3-bDE/s72-c/davies.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/mengapa-kita-perlu-bangga-pada-bahasa.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-7173580005560897663</id><published>2008-06-24T07:27:00.000-07:00</published><updated>2008-06-24T10:35:57.340-07:00</updated><title type="text">PTK : Penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia</title><content type="html">BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komputer (ICT) telah berkembang dengan pesat dalam semua aspek kehidupan kita. Tidak terkecuali terhadap MAN Sidoarjo. Pembelajaran yang menggunakan media berbasis komputer (ICT) merupakan terobosan yang baru di MAN Sidoarjo yaitu dimulai tahun 2004 yang lalu. Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan seperangkat komputer atau laptop, LCD, dan perangkat audio. Arah inovasi ini adalah agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam implementasinya, inovasi ini memang diterima dengan serta-merta sebagai keniscayaan perubahan. Namun demikian, tidak semua guru dapat mengadopsi inovasi ini. Masih banyak di antara guru, khususnya guru senior kurang akrab dengan komputer. Para guru tersebut tetap menggunakan pendekatan konvensional atau telah menggunakan pendekatan pembelajaran yang baru tanpa menggunakan media presentasi pembelajaran berbasis ICT. Sementara itu beberapa guru yunior memang mau menerima inovasi tersebut dan menerapkannya dalam pembelajaran, meskipun media presentasi pembelajarannya bukan hasil karya sendiri melainkan membeli paket-paket yang sudah terjual bebas..&lt;br /&gt;Demikian pula dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan berhasil, beberapa guru menggunakan media presentasi pembelajaran dengan cara membeli dan menggunakannya secara langsung. Misalnya media pembelajaran pembacaan puisi, drama, atau  film.&lt;br /&gt;Dalam silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 terdapat beberapa topik pembahasan pembelajaran menggunakan wacana rekaman televisi,  Namun demikian penggunaan media pembelajaran yang berhubungan dengan topik ini mengalami kendala. Kendalanya antara lain :&lt;br /&gt;a. Media pembelajaran yang berasal dari televisi khususnya berita belum pernah ada, dan belum pernah dibuat apalagi dijual bebas; padahal topik tersebut beberapa kali muncul dalam silabus KTSP 2006 bahasa Indonesia SMA / MA.&lt;br /&gt;b. Pembuatan media pembelajaran ini membutuhkan kemampuan yang kompleks dan relatif tinggi, khususnya bidang software &amp;amp; hardware komputer, yaitu desain grafis, pembuatan animasi, editing gambar dan suara.&lt;br /&gt;c. Pembuatan media pembelajaran harus memiliki langkah-langkah dan prosedur tertentu sehingga cukup layak dianggap sebagai media pembelajaran.&lt;br /&gt;d. Bila disampaikan hanya dengan metode pemberian tugas, siswa dan guru kesulitan menemukan stasiun televisi mana yang akan menyampaikan topik tertentu, pada hari apa dan jam berapa, karena banyak stasiun televisi.&lt;br /&gt;e. Siswa sering tidak melaporkan tugas tersebut. Guru juga seringkali terlewatkan acara televisi tersebut. Pembahasan menjadi tidak efektif karena melebar dan seringkali antara guru dan siswa tidak memiliki referensi yang sama akibat selanjutnya memiliki pemahaman yang berbeda.&lt;br /&gt;f. Penyampaian dengan metode ceramah, pembelajaran menjadi ’teacher centered’ siswa hanya medengarkan saja dan berakibat tidak menarik perhatian siswa dan membosankan.&lt;br /&gt;g. Saat evaluasi performansi siswa, topik menjadi melebar karena pemahaman atas referensi yang berbeda. (Hasil observasi dan wawancara dengan siswa kelas X-1 dan wawancara dengan guru bahasa Indonesia.)&lt;br /&gt;Pada 8-14 November 2006 lalu, MAN Sidoarjo yang diwakili oleh peneliti sendiri telah memenangi .Medali Perak (Silver Prize) untuk kategori Lomba Pembuatan Media Presentasi Pembelajaran (MPP) yang diselenggarakan oleh Dirjen Pendidikan Menengah Umum Departemen Pendidikan Nasional bersama Departemen Agama.&lt;br /&gt;Berbekal pengalaman pembuatan media pembelajaran itulah, peneliti merasa sangat perlu membuat media pembelajaran untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya topik rekaman televisi ini. Lebih lanjut, bila media pembelajaran ini dianggap memiliki kelayakan dapat disebarkan pada para guru bahasa Indonesia lain yang membutuhkannya. Demikian langka dan urgennya bagi pembelajaran, maka media  pembelajaran ini segara harus dibuat.&lt;br /&gt;Akhirnya, peneliti membuat Media Presentasi Pembelajaran  “Sidoarjo Menangis“ (untuk selanjutnya istilah ini disingkat MPP “SM“). MPP “SM“ ini memuat rekaman berita televisi yang berhubungan dengan bencana yang berada di konteks sosial peneliti, yaitu bencana lumpur panas Lapindo Brantas. Sengaja peneliti mengambil objek ini karena bencana ini telah menjadi wacana nasional yang diperkirakan akan berlangsung hingga 30 tahunan ke depan.&lt;br /&gt;Problematikanya, apakah Media Presentasi Pembelajaran (MPP) “Sidoarjo Menangis“ ini apakah dapat diterima oleh para siswa dan guru, dapatkah meningkatkan perhatian dan minat mereka dalam belajar, serta mampukah meningkatkan prestasi pembelajarannya.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas dirumuskan judul penelitian :“Penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Menyimak Siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo“.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;1.2 Perumusan Masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Apakah Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ memiliki kelayakan sebagai media pembelajaran bagi siswa kelas X  Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo?&lt;br /&gt;b. Apakah penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi belajar siswa kelas X  Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo?&lt;br /&gt;c. Apakah penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X  Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;1.3 Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Sejalan dengan rumusan masalah penelitian di atas, tujuan penelitian ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk menilai kelayakannya sebagai media pembelajaran bagi siswa kelas X  Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.&lt;br /&gt;b. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk memotivasi siswa kelas X  Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.&lt;br /&gt;c. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X  Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;1.4. Signifikansi Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian  ini diharapkan memiliki manfaat :&lt;br /&gt;a. Bagi guru&lt;br /&gt;(1) Untuk dapat mengembangkan profesionalisme guru dalam penerapan strategi pembelajaran yang efektif khususnya dalam pokok bahasan menyimak berita televisi&lt;br /&gt;(2) Sebagai latihan praktik langsung melalukan penelitian tindakan kelas.&lt;br /&gt;(3) Sebagai sarana untuk menghasilkan karya tulis ilmiah.&lt;br /&gt;b. Bagi Siswa&lt;br /&gt;(1) Untuk meningkatkan perhatian, aktivitas, dan prestasi pembelajaran&lt;br /&gt;(2) Agar pembelajaran menarik, menyenangkan, dan mudah dipahami&lt;br /&gt;c. Bagi Pendidikan dan Pembelajaran&lt;br /&gt;Untuk dapat menyempurnakan strategi pembelajaran sehingga semakin efektif penerapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5 Hipotesis Tindakan&lt;br /&gt;Berdasarkan semua uraian di atas dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“, siswa kelas X  Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo menilainya layak sebagai media pembelajaran.&lt;br /&gt;2. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi siswa kelas X  Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.&lt;br /&gt;3. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X  Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II KAJIAN PUSTAKA&lt;br /&gt;2.1 Media Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     Belajar adalah suatu proses yang kompleks pada semua orang dan terjadi seumur hidup yaitu sejak masih bayi hingga mati. Tanda-tanda terjadinya pembelajaran bagi seseorang adalah terjadinya perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi lebih tahu, dan dari tidak bisa menjadi bisa baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.&lt;br /&gt;Sejalan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan masyarakat masyarakat serta budaya berkembang pula tugas dan peranan guru sejalan dengan jumlah anak yang memerlukan pendidikan. Mau tidak mau harus diakui guru bukanlah satu-satunya sumber belajar melainkan hanya salah satunya. Siswa, petugas perpustakaan, kepala sekolah, tutor, tokoh masyarakat, atau orang-orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan tertentu di masyarakat juga dapat dijadikan sumber belajar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Menurut Arief S. Sadiman (2006) sumber belajar dapat digolongkan dalam beberapa jenis, yaitu :&lt;br /&gt;a. jenis orang (people)&lt;br /&gt;b. pesan atau informasi (message),&lt;br /&gt;c. jenis bahan (materials), ke dalam jenis ini sering disebut perangkat lunas (software) yang di dalamnya terkandung pesan-pesan yang perlu disajikan&lt;br /&gt;   dengan alat bantu atau tanpa alat bantu, misalnya : modul, majalah, OHP,&lt;br /&gt;   compact disk (CD) program atau data.&lt;br /&gt;d. Alat (device) atau hardware yang menyajikan pesan, misalnya :projector film, video, TV, Komputer, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;e. Teknik adalah prosedur rutin atau acuan untuk menggunakan alat, bahan, atau orang dan lingkungan untuk menyajikan pesan, misalnya teknik demonstrasi, kuliah, ceramah, tanya-jawab, dan sejenisnya.&lt;br /&gt;f. Lingkungan (setting), yaitu tempat yang memungkinkan siswa belajar. Misalnya : gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, museum, taman, kebun binatang, rumah sakit, pabrik, dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sementara itu media teknologi mutakhir, terdiri dari :&lt;br /&gt;a. Media berbasis telekomunikasi, misalnya : teleconfrence, kuliah jarak jauh, dsb.&lt;br /&gt;b. Media berbasis mikroprosesor, misalnya : game komputer, hypermedia, CD / DVD, Computer Assisted Instructional, hypertxet, dsb.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun menurut Gagne, media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa belajar. Sementara itu Briggs menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids) Alat bantu yang dipakai adalat alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek, dan alat-alat lain yang tujuannya dapat memberikan pengalaman konket, meningkatkan motivasi belajar, mempertinggi daya serap, dan retensi belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dalam proses pembelajaran, keguaan media pembelajaran adalah :&lt;br /&gt;1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka)&lt;br /&gt;2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misalnya :&lt;br /&gt;a. objek yang terlalu besar – bisa digantikan dengan realitas, gambar, film, atau model;&lt;br /&gt;b. objek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro, film atau gambar;&lt;br /&gt;c. gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan timelapse atau highspeed photography.&lt;br /&gt;d. Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film, video, foto, maupun secara verbal;&lt;br /&gt;e. Objek-objek yang terlalu kompleks (misalnya mesin) dapat disajikan dalam model, diagram, dan lain-lain;&lt;br /&gt;f. Konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain) dapat divisualisasikan dalam bentuk film, gambar, dan sebagainya.&lt;br /&gt;3. Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pembelajaran berguna untuk :&lt;br /&gt;a. menimbulkan kegairahan belajar;&lt;br /&gt;b. memungkinkan interaksi lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dengan kenyataan;&lt;br /&gt;c. memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Sifat unik tiap siswa, lingkungan dan pengalaman yang berbeda, kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru akan kesulitan bila harus diatasi sendiri. Lebih sulit lagi bila latar belakang lingkungan guru dan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu kemampuannya dalam :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;a. memberikan perangsang yang sama;&lt;br /&gt;b. mempersamakan pengalaman;&lt;br /&gt;c. menimbulkan persepsi yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2 Media Presentasi Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Perkembangan teknologi komputer dan informasi (ICT) juga semakin mengembangkan bentuk dan variasi media pembelajaran. Menurut Thomson (Elida dan Nugroho, 2003) komputer yang digunakan dalam pembelajaran dapat memberikan manfaat, yakni saat digunakan komputer meningkatkan motivasi pembelajaran. Para siswa akan menikmati kerja komputer ini dan komputer memberikan tantangan di samping komputer menampilkan perpaduan antarteks, gambar, animasi gerak, dan suara secara bersamaan maupun bergantian.&lt;br /&gt;Sementara ini Bower dan Hilgard berpendapat bahwa komputer bermanfaat besar dibandingkan dengan teknologi pendidikan lainnya karena mampu memberikan presentasi materi yang sangat fleksibel bagi pembelajar dan dapat mengikuti kemajuan sejumlah pembelajar dalam waktu yang sama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Selanjutnya, menurut Woolfolk ada 9 keuntungan menggunakan komputer dalam pembelajaran, yaitu :&lt;br /&gt;a. siswa dapat menyesuaikan dengan kecepatan belajarnya,&lt;br /&gt;b. dapat melatih dengan sabar,&lt;br /&gt;c. dapat dipakai untuk belajar sendiri,&lt;br /&gt;d. dapat disajikan berbagai macam penginderaan,&lt;br /&gt;e. dapat melakukan simulasi,&lt;br /&gt;f. dapat dikembangkan pemecahan masalah,&lt;br /&gt;g. dapat memberikan pujian untuk memperkuat perilaku,&lt;br /&gt;h. dapat membantu manajemen kelas dan sekolah&lt;br /&gt;Menurut Luther (Sutopo, 2003:32) ada 6 tahap dalam pengembangan media pembelajaran berbasis komputer, yaitu:&lt;br /&gt;a. Tahap pertama konsep (concept), yaitu mengidentifikasikan tujuan, kebutuhan belajar, atau hal-hal lain yang perlu diungkapkan.&lt;br /&gt;b. Tahap kedua analisis karakteristik siswa, yaitu disesuaikan dengan minat, bakat, dan kemampuan siswa.&lt;br /&gt;c. Tahap ketiga merencanakan dan menyusun software. Dalam hal ini ada 3 ketrampilan yang harus dimiliki pengembang sofware yaitu menguasai bidang studi materi yang akan dibahas, menguasai prosedur pengembangan media, dan menguasai program komputer.&lt;br /&gt;d. Tahap keempat desain (design), yaitu yaitu tahap merancang produk secara rinci agar memudahkan tahap-tahap pembuatan produk selanjutnya.&lt;br /&gt;e. Tahap kelima pengumpulan bahan (material collecting), yaitu mengoleksi bahan-bahan pendukung untuk memperkaya isi produk media tersebut,&lt;br /&gt;f. Tahap keenam pembuatan (assembly), yaitu menyusun naskah materi pada setiap frame sehingga menjadi sebuah produk media yang sudah jadi.&lt;br /&gt;g. Tahap ketujuh uji coba (testing), yaitu melakukan uji coba produk yang akan digunakan secara luas karena itu perlu validasi kelayakannya. Ada dua kriteria dalam ujicoba produk media pembelajaran, yaitu :&lt;br /&gt;(1) kriteria pembelajaran, yang mencakup apakah sesuai dengan kurikulum, tujuan pembelajaran, sesuai dengan materinya, dan sebagainya. Jika tidak perlu dilakukan revisi.&lt;br /&gt;(2) Kriteria presentasi, yaitu apakah validasi terkait dengan tampilannya di layar, kelancaran navigasi, kemudahan penggunaan, dan interaksi / komunikabilitas.&lt;br /&gt;h. Tahap distribusi (distribution), yaitu tahap menyebarluaskan produk pembelajaran dan menjelaskan tujuan produk media pembelajaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3 Motivasi Belajar&lt;br /&gt;Menurut Oemar Hamalik (2001, 27-28), belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui interaksi dengan lingkungannya. Dalam kegiatan belajar mengajar, motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak di dalam diri seorang siswa untuk menimbulkan kegiatan belajar dan menjamin kelangsungan kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.&lt;br /&gt;Macam-macam motivasi&lt;br /&gt;a. Motivasi Intrinsik&lt;br /&gt;Motivasi intrinsik adalah dorongan dalam diri seseorang yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu (Sardiman, 1988). Dilihat dari segi tujuan kegiatan belajar, motivasi intrinsik adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung dalam kegiatan belajar itu sendiri.&lt;br /&gt;b. Motivasi Ekstrinsik&lt;br /&gt;Motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang aktif dan berfungsi karena adanya rangsangan dari luar. Motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting sebab kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis dan juga mungkin komponen lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.&lt;br /&gt;Prayitno (1989) menyatakan bahwa betapapun baiknya potensi anak yang meliputi kemampuan intelektual atau materi yang akan diajarkan dan lengkapnya sarana belajar, namun bila siswa tidak termotivasi dalam belajar, maka belajar tidak akan berlangsung secara optimal. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Motivasi sangat berhubungan erat dengan bagaimana seseorang melakukan kegiatan atau pekerjaan. Dengan demikian, makin banyak dan tepat motivasi belajar yang didapat siswa, maka aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa akan semakin tinggi sehingga pembelajaran siswa menjadi semakin berhasil.&lt;br /&gt;Dengan adanya motivasi yang baik dalam belajar, maka akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan didasari adanya motivasi tinggi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4 Pembelajaran Menyimak&lt;br /&gt;Secara garus besar ketrampilan berbahasa manusia dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu : menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Berdasarkan penelitian Donald E. Bird aktivitas hidup manusia didominasi aktivitas menyimak (42%), sementara aktivitas berbicara (25%), aktivitas membaca (15%), aktivitas (18%). Realitas tersebut hampir sama keadaanya dengan di Indonesia (Tarigan, 1990:48). Karena itulah, kurikulum 2004 dan 2006 menitikberatkan pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia pada empat ketrampilan berbahasa tersebut.&lt;br /&gt;Menurut Henry Guntur Tarigan, ada beberapa  teknik pembelajaran menyimak, yaitu : (a) dengar-ulang ucap, (b) dengar tulis (dikte), (c) dengar kerjakan, (d) dengar terka, (e) memperluas kalimat, (f) menemukan benda, (g) seseorang bilang, (h) bisik berantai, (i) menyelesaikan cerita, (j) identifikasi kata kunci, (k) identifikasi kalimat topik, (l) menyingkat / merangkum, (m) parafrase, dan (n) menjawab pertanyaan.&lt;br /&gt;Dalam menyimak, ada empat ketrampilan khusus yang dituntut, yaitu :&lt;br /&gt;a. penyimak harus melibatkan diri secara total.&lt;br /&gt;b. penyimak harus menguasai seni mencatat dengan tepat&lt;br /&gt;c. penyimak harus mencari dan menganalisis sarana penunjang&lt;br /&gt;d. penyimak harus mencari pola organisasi dan struktur keseluruhan (Tarigan, 1994 : 87-89).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III METODOLOGI PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1 Pendekatan Penelitian&lt;br /&gt;Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pelaksanaan penelitian ini mengikuti suatu daur (siklus) yang di dalamnya terdapat kegiatan merencanakan tindakan, melaksanakan tindakan, melakukan pengamatan, dan melaksanakan refleksi pada seluruh tindakan sebelumnya.&lt;br /&gt;Pendekatan yang ditempuh dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif  yang diterapakan dalam metode PTK. Penelitian ini dilakukan sendiri oleh peneliti. Dalam pelaksanaannya peneliti bertugas mengobservasi, mencatat,  dan merekam  segala aktivitas dan siswa dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2. Lokasi Penelitian&lt;br /&gt;Lokasi penelitian ini di MAN Sidoarjo dengan alamat Jl. Jenggolo (Belakang Stadion) No. 2 Sidoarjo. Waktu penelitian telah dilakukan sejak 14 – 26 Mei 2007. Pengambilan data dilakukan selama 2 siklus pembelajaran, setiap siklus terdiri atas sekali tatap muka. Untuk validasi instrumen penelitian diperlukan sekali tatap muka pada kelas X-1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3. Subjek Penelitian dan Pembatasan Penelitian&lt;br /&gt;Subjek penelitian ini adalah siswa MAN Sidoarjo kelas X. Jumlah kelas X ada 10 kelas. Setiap kelas terdiri atas 45-47  siswa. Komposisi kecerdasan siswa tiap kelas relatif sama, karena belum dibedakan berdasarkan prestasi mereka. Karena itu peneliti mengambilnya secara acak dari kelas X, yaitu hanya kelas X-2, dan X-4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4. Prosedur Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dan setiap siklus memiliki 4 tahap, yaitu : (1). Perencanaan tindakan (planning); (2). Pelaksanaan Tindakan (action); (3). Observasi (observation); dan (4). Refleksi (reflection).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5. Instrumen Penelitian&lt;br /&gt;Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah :&lt;br /&gt;1. Lembar Pengamatan untuk Siswa dan Guru&lt;br /&gt;Lembar pengamatan ini digunakan untuk mengamati siswa dalam proses pembelajaran hingga evaluasi. Aspek-aspek yang dinilai adalah aktivitas keterlibatan siswa  hingga evaluasi.&lt;br /&gt;2. Tes Tanggapan Siswa Terhadap Media&lt;br /&gt;Tes tanggapan siswa terhadap media pembelajaran ini digunakan untuk meneliti seberapa tinggi kelayakan MPP “SM“ sebagai media pembelajaran. Dalam hal ini digunakan skala Likert.&lt;br /&gt;3. Tes Motivasi Siswa&lt;br /&gt;Tes motivasi siswa ini digunakan untuk meneliti siswa terkait dengan motivasi dan perhatian siswa terhapap proses pembelajaran. Dalam hal ini pun digunakan skala Likert.&lt;br /&gt;         4. Tes Kemampuan Menyimak&lt;br /&gt;Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyimak, siswa  diberikan evaluasi terhadap kemampuan mereka dalam menulis ide-ide pokok dari wacana berita televisi yang telah disimak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6. Teknik Analisis Data&lt;br /&gt;Analisis data dilakukan meliputi kegiatan klasifikasi data, penyajian data, dan penilaian keberhasilan tindakan. Kegiatan klasifikasi ini meliputi memilah-milah data yang telah dikelompokkan sesuai dengan jenis datanya.&lt;br /&gt;Data yang diperoleh dari pengamatan dan angket dilakukan analisis deskriptif melalui : 1) reduksi data, 2) pemaparan data, dan 3) penyimpulan. Reduksi data dilakukan dengan menyederhanakan dan konseptualisasi melalui seleksi, pemfokusan, dan abstraksi data mentah sehingga menjadi informasi yang bermakna. Paparan data dilakukan dengan penyajian data dalam bentuk paparan naratif maupun statistik. Adapun penyimpulan adalah proses mengambil intisari dalam bentuk pernyataan kalimat.&lt;br /&gt;1. Analisis Kelayakan Media&lt;br /&gt;Evaluasi kelayakan media perlu dilakukan terhadap MPP “SM”. Hal ini karena media pembelajaran tersebut baru dibuat peneliti, karena itu perlu diujicobakan sekaligus diuji kelayakannya. Kriteria kelayakan MPP “SM” dinilai pada aspek : kesesuaiannya dengan kurikulum, tujuan pembelajaran, dengan materinya, tampilannya di layar, kelancaran navigasi, kemudahan penggunaan, dan interaksi komunikabilitas.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui skor kelayakan media ini dilakukan dengan cara&lt;br /&gt;a. mengangkakan (kuantifikasi) tanggapan siswa dengan cara :&lt;br /&gt;• pilihan jawaban a (sangat setuju)  dinilai skor  5&lt;br /&gt;• pilihan jawaban b (setuju) dinilai skor 4&lt;br /&gt;• pilihan jawaban c (tidak tahu / netral)  dinilai skor 3&lt;br /&gt;• pilihan jawaban d (tidak setuju) dinilai angka 2&lt;br /&gt;• pilihan jawaban e (sangat tidak setuju) dinilai angka 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. menghitung tingkat kelayakan media pembelajaran&lt;br /&gt;Tingkat kelayakan media pembelajaran dihitung dengan rumus berikut :&lt;br /&gt;Rata-rata skor = Jumlah skor kelayakan / Jumlah siswa&lt;br /&gt;Adapun kriteria tingkat kelayakan media ditentukan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat Kelayakan Media  Rata-rata |  Skor&lt;br /&gt;Sangat Tinggi                                             21 – 25&lt;br /&gt;Tinggi                                                          16 – 20&lt;br /&gt;Sedang                                                         11 – 15&lt;br /&gt;Rendah                                                        6 – 10&lt;br /&gt;Sangat Rendah                                            0 – 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Analisis Aspek Motivasi Siswa&lt;br /&gt;Motivasi siswa diidentifikasikan pada saat berlangsungnya pembelajaran yang terdiri atas besarnya motivasi khususnya perhatian mereka dalam memperhatikan pembelajaran tanpa melalaikannya. Hal ini dapat dilihat dari tes tentang motivasi mereka.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui skor motivasi dan tingkat motivasi siswa dilakukan dengan cara:&lt;br /&gt;a. mengangkakan (kuantifikasi) motivasi siswa dengan cara :&lt;br /&gt; pilihan jawaban a (sangat setuju) dinilai  skor  5&lt;br /&gt;• pilihan jawaban b (setuju) dinilai skor 4&lt;br /&gt;• pilihan jawaban c (tidak tahu / netral) dinilai skor 3&lt;br /&gt;• pilihan jawaban d (tidak setuju) dinilai angka 2&lt;br /&gt;• pilihan jawaban e (sangat tidak setuju) dinilai angka 1&lt;br /&gt;b. menghitung tingkat motivasi siswa&lt;br /&gt;Tingkat motivasi siswa dihitung dengan rumus sebagai berikut :&lt;br /&gt;Rata-rata skor   =  Jumlah skor motivasi siswa/  Jumlah siswa&lt;br /&gt;Adapun kriteria tingkat motivasi siswa ditentukan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat Motivasi Belajar Siswa Rata-rata / Skor&lt;br /&gt;Sangat Tinggi                             21 – 25&lt;br /&gt;Tinggi                                                 16 – 20&lt;br /&gt;Sedang                                                11 – 15&lt;br /&gt;Rendah                                                6 – 10&lt;br /&gt;Sangat Rendah                            0 – 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Analisis Hasil Tes Kemampuan Menyimak&lt;br /&gt;Hasil kemampuan menyimak siswa diidentifikasikan pada saat akhir proses pembelajaran yaitu saat evaluasi pembelajaran. Dalam hal ini dilakukan tes performansi, yaitu praktik menuliskan ide-ide pokok dari wacana rekaman berita televisi. Adapun unsur-unsur yang dinilai adalah : (a) sistematika ide pokok, (b) kelengkapan ide pokok, (c) kerapian penulisan, (d) tidak ada ide lain yang menyimpang, dan (5) banyaknya karangan.&lt;br /&gt;Skor maksimal per siswa adalah 100. Adapun penetuan skornya digunakan  kriteria sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SKOR |    Taraf Kemampuan  Ketentuan&lt;br /&gt;81 – 100  Sangat Baik 5 unsur terpenuhi&lt;br /&gt;61 – 80   Baik 4 unsur terpenuhi&lt;br /&gt;41 – 60   Cukup 3 unsur terpenuhi&lt;br /&gt;21 – 40   Kurang Baik 2 unsur terpenuhi&lt;br /&gt;0 – 20    Buruk 1 unsur terpenuhi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil akhirnya akan dianalisis dan diinterpretasikan dengan membandingkan skor maupun perlakukan terhadap siklus 1  dan siklus 2 beserta latar belakang penyebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV  PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA&lt;br /&gt;4.1 Penyajian Data&lt;br /&gt;Secara operasional penelitian telah dilaksanakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;• Observasi Awal ( 21 Mei 2007)&lt;br /&gt;Observasi awal dilakukan peneliti pada kelas X-1, jam 1-2 . Peneliti melakukannya tanpa menggunakan media presentasi pembelajaran. Hal ini cukup dilakukan di dalam kelas. Tindakan yang dilakukan peneliti adalah :&lt;br /&gt;a. bertanya jawab bagaimanakah langkah-langkah yang dilakukan oleh guru bahasa Indonesianya pada saat pembelajaran dengan wacana berita televisi&lt;br /&gt;b. memberikan apersepsi tentang wacana berita televisi seputar bencana Lapindo Brantas, dan&lt;br /&gt;c. menugasi siswa menuliskan ide-ide pokok berita seputar bencana Lapindo Brantas dengan batasan topik :&lt;br /&gt;• dampak bencana Lapindo Brantas,&lt;br /&gt;• bagaimana kehidupan pengungsi, dan&lt;br /&gt;• upaya penanggulangannya, serta&lt;br /&gt;• dialog-dialog yang pernah dilihatnya di televisi.&lt;br /&gt;d. mengumpulkan dan menilai hasil karangan siswa.&lt;br /&gt;• Refleksi Awal&lt;br /&gt;Hasil yang diperoleh dari observasi awal dan evaluasi terhadap objek kelas X-1 sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Menurut para siswa, karena tidak ada medianya guru sering menghindar saat membahas materi wacana yang berasal dari berita televisi. Sementara itu menurut guru yang bersangkutan, pembelajaran dilakukan dengan menugasi siswa menyimak wacana berita televisi dari rumah masing-masing, menuliskannya, dan melaporkannya di kelas.&lt;br /&gt;2. Pada saat ditugasi oleh peneliti untuk menuliskan ide-ide pokok wacana berita yang telah disimak dari televisi yang pernah didengar dan dilihatnya di rumah, terjadi kasus-kasus berikut :&lt;br /&gt;a. beberapa siswa mengaku belum pernah melihat dari berita dari televisi,&lt;br /&gt;b. beberapa siswa mengaku pernah melihat dari berita dari televisi namun kurang perduli&lt;br /&gt;c. ada yang pernah melihat berita televisi tentang bencana Lapindo Brantas, namun telah lupa ide-ide pokoknya,&lt;br /&gt;d. beberapa siswa masih memikir-mikir dulu saat mau menulis. Kelihatan mereka bingung terhadap topik yang akan ditulisnya. Setelah beberapa menit kemudian baru mereka menuliskannya.&lt;br /&gt;3. Hasil tulisan siswa menunjukkan :&lt;br /&gt;a. topik yang dibahas melebar karena referensi yang berbeda&lt;br /&gt;b. karangan siswa tidak sistematis ide-ide pokok yang diungkapkannya berbeda antara setiap siswa&lt;br /&gt;c. banyak di antaranya menulis bukan dari menyimak berita televisi terbukti tidak mampu menyebutkan sumber televisi penyampai berita tersebut, melainkan dari pengalamannya dari rata-rata para siswa tinggal relatif tidak jauh dari lokasi bencana&lt;br /&gt;d. topik yang dibahas terlalu banyak (4 topik) sehingga waktu tidak cukup. Banyak di antara siswa tidak mampu menyelesaikan topik yang keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Rencana Tindakan 1&lt;br /&gt;1. Membuat media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”, dan mengemasnya dalam compact disk (CD)&lt;br /&gt;2. Agar waktu yang disediakan cukup yaitu hanya 2 x 45 menit, maka diatur waktunya sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. pengantar   : 5 menit&lt;br /&gt;b. penjelasan awal  : 5 menit&lt;br /&gt;c. presentasi media pembelajaran : 45 menit&lt;br /&gt;d. siswa menuliskan ide-ide pokok berita : 30&lt;br /&gt;e penutup   : 5 menit&lt;br /&gt;3. Karena menggunakan media presentasi pembelajaran maka diselenggarakan di ruang multimedia (moving class).&lt;br /&gt;4. Membuat lembar observasi untuk siswa dan guru&lt;br /&gt;5. Membuat instrumen penelitian berupa angket untuk mengetahui tingkat motivasi siswa dan kelayakan MPP “SM”&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;• Pelaksanaan Tindakan 1  (Siklus 1)&lt;br /&gt;Dalam siklus 1, tindakan yang dilakukan penelitian adalah :&lt;br /&gt;1. Melakukan penelitian pada kelas X-4 (kebetulan saat itu jam 5-6 pengajarnya tidak ada / kosong)&lt;br /&gt;2. Para siswa diajak menuju ruang multimedia, berikut disuruh membawa alat tulis.&lt;br /&gt;3. Peneliti memberikan pengantar dan penjelasan materi selama 10 menit.&lt;br /&gt;4. Peneliti memutar dan menayangkan MPP “SM” pada layar selama 45 menit secara terus-menerus.&lt;br /&gt;5. Setelah selesai penayangan MPP “SM” tersebut, peneliti menugasi siswa selama 30 menit menuliskan ide-ide pokok dari wacana rekaman berita televisi dengan urutan topik : dampak bencana, kehidupan pengungsi, dan upaya penanggulangannya.&lt;br /&gt;6. Peneliti mengumpulkan hasil tulisan siswa dan menutup pertemuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Observasi 1&lt;br /&gt;1. Siswa antusias sekali saat menyimak tayangan media presentasi pembelajaran. Beberapa di antara siswi mengaku sedih bahkan ada yang menitikkan air mata, khususnya ketika tayangan intro disampaikan.&lt;br /&gt;2. Pada saat menyimak, ada beberapa siswa yang membuat catatan kecil terhadap materi yang ditayangkan. Peneliti membiarkan dan tidak melarangnya.&lt;br /&gt;3. Pada saat ditugasi menulis hasil simakannya, beberapa siswa menunjukkan kebingungannya karena harus mengingat-ingat apa yang telah disimak sebelumnya.&lt;br /&gt;4. Peneliti menemukan beberapa yang janggal dalam MPP “SM”, yaitu :&lt;br /&gt;a. Ada space kosong di tengah, perlu diberikan gambaran background layer&lt;br /&gt;b. Background mestinya sama,  setelah tayangan video berita dan menuju tombol skip.&lt;br /&gt;c. Akan lebih indah bila huruf judul tertentu diberikan blow effect.&lt;br /&gt;d. Tidak ada file autorun&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;• Refleksi 1&lt;br /&gt;1. Siswa terlihat antusias dan bahkan ada yang terbawa perasaannya saat melihat tayangan MPP “SM” karena sesuai dengan konteks siswa dan menimbulkan kesan mendalam pada pemahaman dan perasaan mereka.&lt;br /&gt;2. Pada saat menyimak, ada beberapa siswa yang membuat catatan kecil menunjukkan siswa masih berusaha memerlukan bantuan ingatan saat akan menuliskannya nanti.&lt;br /&gt;3. Beberapa kejanggalan dalam media perlu disempurnakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Rencana Tindakan 2&lt;br /&gt;1. Diperlukan tayangan intro relatif lebih lama untuk membawa suasana hati siswa kondusif terhadap situasi bencana yang memang menyedihkan.&lt;br /&gt;2. Agar siswa tidak mengalami kesulitan mengingat apa yang telah disimaknya, peneliti akan menayangkannya secara bertahap sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Tahap 1 :&lt;br /&gt;- penyampaian topik dampak bencana selama 15 menit&lt;br /&gt;- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit&lt;br /&gt;b. Tahap 2 :&lt;br /&gt;- penyampaian topik kehidupan pengungsi selama 15 menit&lt;br /&gt;- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit&lt;br /&gt;c. Tahap 3 :&lt;br /&gt;- penyampaian topik upaya penanggulangan selama 15 menit&lt;br /&gt;- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit&lt;br /&gt;3. Siswa akan disarankan membuat catatan kecil sebagai alat bantu mengingat siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pelaksanaan Tindakan 2 (Siklus 2) (Kamis, 24 Mei 2007)&lt;br /&gt;Dalam melakukan penelitian pada siklus 2 ini, peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Penelitian dilakukan pada kelas X-2 pada hari Kamis, 24 Mei 2007 Jam ke-5-6 dengan minta ijin guru yang bersangkutan, dan para siswa diajak ke ruang multimedia.&lt;br /&gt;2. Peneliti memberikan pengatar materi.&lt;br /&gt;3. Peneliti menayangkan media presentasi pembelajaran sesuai dengan tahap-tahap yang direncanakan, yaitu :&lt;br /&gt;a. Tahap 1 :&lt;br /&gt;- penyampaian topik dampak bencana selama 15 menit&lt;br /&gt;- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit&lt;br /&gt;b. Tahap 2 :&lt;br /&gt;- penyampaian topik kehidupan pengungsi selama 15 menit&lt;br /&gt;- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan  selama 10 menit&lt;br /&gt;c. Tahap 3 :&lt;br /&gt;- penyampaian topik upaya penanggulangan selama 15 menit&lt;br /&gt;- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan  selama 10 menit&lt;br /&gt;4. Peneliti mempersilakan para siswa membuat catatan kecil sebagai alat bantu mengingat.&lt;br /&gt;5. Peneliti mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, dan menutup pertemuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Observasi 2&lt;br /&gt;1. Siswa kelas X-2 juga sangat antusias dalam menyimak tayangan media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”. Sebagaimana kelas X-4, para siswa kelas ini mengaku sedih sekali khususnya tayangan intro.&lt;br /&gt;2. Pada saat menyimak, siswa membuat catatan kecil terhadap materi yang ditayangkan sebagaimana peneliti telah perintahkan.&lt;br /&gt;3. Pada saat menuliskan ide-ide pokok rekaman berita, para siswa langsung menuliskannya tanpa berpikir panjang, mengacu catatan kecil yang dibuatnya.&lt;br /&gt;4. Waktu pelaksanaan hingga akhir molor 10 menit, menunggu seluruh tulisan siswa selesai.&lt;br /&gt;5. Peneliti masih menemukan beberapa yang janggal dalam media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”, yaitu :&lt;br /&gt;a. ada beberapa file yang tidak gayut dan sebaiknya dihapus, yaitu : file master, file bank, dan file test.&lt;br /&gt;b. File flash player perlu dimasukkan cd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Refleksi 2  (Akhir)&lt;br /&gt;1. Secara umum siswa tertarik dan antusias dalam menyimak MPP “SM”. Bahkan intro-nya mampu membawa penyimaknya dalam suasana sedih, khususnya para siswa wanita.&lt;br /&gt;2. Penyampaian materi secara bertahap dibantu siswa membuat cacatan kecil sangat membantu siswa dalam menyimak ide-ide pokok wacana berita televisi kemudian langsung menuliskannya.&lt;br /&gt;3. Secara umum, siswa melihat desain media pembelajaran sudah sangat bagus dan mereka menyatakan layak sebagai media pembelajaran, meskipun menurut amatan penulis masih perlu disempurnakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2 Analisis Data&lt;br /&gt;1. Data Aktivitas Guru dan Siswa&lt;br /&gt;Data aktivitas guru diperoleh melalui observasi partisipan oleh peneliti sendiri sesuai instrumen 01. Adapun data aktivitas siswa diperoleh melalui observasi langsung yang dilakukan oleh peneliti sesuai instrumen 02.&lt;br /&gt;Adapun data hasil observasi terhadap aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 4.1&lt;br /&gt;Data Aktivitas Guru dalam Proses Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas Siklus 1  Siklus 2 Frekuensi / % Frekuensi / %&lt;br /&gt;a. Membuka pelajaran 1 x (1,54%)                 1x (1,56%)&lt;br /&gt;b. Memberikan apersepsi 1 x (1,54%)         1x (1,56%)&lt;br /&gt;c. Memberikan petunjuk 1 x (1,54%)            1x (1,56%)&lt;br /&gt;d. Memutar MPP “SM” 10 x (18,51%)           10x (15,62%)&lt;br /&gt;e. Pause MPP “SM” 6 x (11,11%)                        6x (9,37)%)&lt;br /&gt;f. Menugasi siswa menyimak 10 x (18,51%)   10x (16,62%)&lt;br /&gt;g. Menugasi siswa membuat catatan -                  10x (16,62%)&lt;br /&gt;h. Menugasi siswa menulis 6 x (11,11%)              6x (9,37)%)&lt;br /&gt;i. Mengamati siswa 18 x (33,33%)                           18x (28,12%)&lt;br /&gt;j. Menutup pelajaran 1 x (1,54%)                                1x (1,56%)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 4.2&lt;br /&gt;Data Aktivitas Siswa dalam Proses Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas Siklus 1  Siklus 2  % siswa % siswa&lt;br /&gt;a. Memperhatikan penjelasan guru 45 (100%)               42 (100%)&lt;br /&gt;b. Menyimak MPP “SM” 45 (100%)                                             42 (100%)&lt;br /&gt;c. Membaca buku 0                                                                                         0&lt;br /&gt;d. Membuat catatan sendiri terkaitmateri menyimak 9 (20%) 40 (88%)&lt;br /&gt;e. d. Menulis sesuai perintah guru  45 (100%)                42 (100%)&lt;br /&gt;f. Bertanya jawab relevan sesuai dengan materi pelajaran 0  0&lt;br /&gt;g. Menyampaikan ide / pendapat 0                                                    0&lt;br /&gt;h. Aktivitas tidak relevan dengan pembelajaran 2 (4%) pada 5 menit pertama 0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data tabel 4.1 dan 4.2 di atas menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok yang telah dilaksanakan oleh guru dan siswa dalam pembelajaran siklus 1 dan siklus 2. Secara umum tindakan yang dilakukan oleh guru tidak ada hambatan. Demikian pula semua siswa (100%) terlibat sangat aktif dalam pembelajaran menyimak  MPP “SM”.&lt;br /&gt;Tidak ada aktivitas siswa yang tidak relevan dengan pembelajaran, misalnya bolos keluar, tidur, menggambar, menulis-nulis atau membaca materi pelajaran lainnya, mengobrol sendiri, dan sejenisnya. Hanya ada 2 siswa (4%) pada siklus 1 yaitu kelas X-4 yang terpaksa harus keluar kelas sebentar pada 5 menit pertama pembelajaran karena menuju kamar kecil.&lt;br /&gt;Adapun perbedaannya, pada siklus 1 ada 9 siswa (20%) yang aktif membuat catatan kecil saat menyimak. Padahal guru tidak menganjurkannya apalagi memerintahnya. Guru pun tidak melarang aktivitas ini.&lt;br /&gt;Namun melihat efektifitasnya, maka pada siklus 2 guru mengajurkan siswa untuk membuat catatan kecil untuk membantu mengingat saat menyimak yang kemudian menuliskan ide-ide pokok dalam rekaman wacana berita televisi.&lt;br /&gt;Akhirnya pada siklus 2 sejumlah 40 siswa (95,23%) membuat catatan kecil saat menyimak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Data Hasil Tanggapan Kelayakan Media Pembelajaran&lt;br /&gt;Penelitian ini tidak bisa dilepaskan dari tes kelayakan media pembelajaran. Hal ini karena penelitian ini menggunakan media pembelajaran buatan peneliti sendiri yang belum pernah diujicobakan. Perlu diketahui kelayakan MPP “SM” ini. Dalam hal ini digunakan tes tanggapan yang menggunakan instrumen 03.&lt;br /&gt;Adapun data hasil tes tanggapan siswa terhadap kelayakan MPP “SM” sebagai media pembelajaran sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 4.3&lt;br /&gt;Skor Hasil Tes Kelayakan MPP “SM”&lt;br /&gt;Sebagai Media Pembelajaran&lt;br /&gt;Siklus 1 (Kelas X-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Nama Siswa Skor  No. Nama Siswa Skor&lt;br /&gt;1 Achmad Nafi 19                              26 M. Rachmanto 19&lt;br /&gt;2 Adam Lukman F 21                       27 M. Hardianto S 20&lt;br /&gt;3 Aisyah Nurdeka 19                        28 M. Irvan R 20&lt;br /&gt;4 Alfiyah Nur K 20                           29 M. Agung S 18&lt;br /&gt;5 Aulia Alfi Ismi I 19                         30 M. Azam Zur’ain 21&lt;br /&gt;6 Ayu Rohmah P 18                         31 Nashrulloh Ibadi 16&lt;br /&gt;7 Chusnul Ch 19                                 32 Nita Apri Rosalina 19&lt;br /&gt;8 Desi Dwi A 19                                 33 Nur Afifah 17&lt;br /&gt;9 Dimas Dwi A 20                             34 Nur Mayasari 17&lt;br /&gt;10 Eka Retno O 20                           35 Olvy Trismayuni 17&lt;br /&gt;11 Fajar Adi P 16                              36 Rani Rahmawati 17&lt;br /&gt;12 Fitri Muttafaqoh 21                    37 Ria Rilla R ===&lt;br /&gt;13 Henik Nur A 20                           38 Rina Puspita Ningsih 20&lt;br /&gt;14 Hindriyani R 17                           39 Risca Faiqotin 19&lt;br /&gt;15 Ike Oktavianis 24                        40 Rizky Amelia 20&lt;br /&gt;16 Istikhomah 14                              41 Rusvita Efendi 19&lt;br /&gt;17 Juwita Tri Septasari 20              42 Sherly Dwi KA 19&lt;br /&gt;18 Khoirun Nisak 16                         43 Siti Mutrofin ===&lt;br /&gt;19 Khusniatin N 16                           44 Siti Rosyidah 17&lt;br /&gt;20 Lailatul M 17  45                         45. Winda S. 18&lt;br /&gt;21 Lailis Savitri 16                            46 Wulan Indah C 22&lt;br /&gt;22  Larastika DW 21                         47 Yudhi Aprianto 19&lt;br /&gt;23  Luluk Nuraini M 19                                 Total 824&lt;br /&gt;24 M. Arifuddin 18                                   Jumlah Siswa 45&lt;br /&gt;25 M. Nurul Burhani 19                              Rata-rata 18,31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 4.4&lt;br /&gt;Skor Hasil Tes Kelayakan MPP “SM”&lt;br /&gt;Sebagai Media Pembelajaran&lt;br /&gt;Siklus 2 (Kelas X-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Nama Siswa Skor  No. Nama Siswa Skor&lt;br /&gt;1 Ach. Rifai Romly 19                                  26 M. Syaifuddin 18&lt;br /&gt;2 Ainul Latifah 23                                       27 M. Zainuddin 20&lt;br /&gt;3 Ainur Rochmah 19                                   28 Machmud 17&lt;br /&gt;4 Ali As’ad 18                                               29 Mita Pratiwi 20&lt;br /&gt;5 Amri Yahya ===                                     30 Moh. Nasrudin 22&lt;br /&gt;6 Aridatul Saidah 18                                  31 Mufidatus S. ===&lt;br /&gt;7 Aulia Akbar 20                                        32 Muthoyibatu Aw 24&lt;br /&gt;8 Ayu Novieanthi 20                                 33 Najwa Farah S 22&lt;br /&gt;9 Ayu Rizka 21                                           34 Nikmahatus R 17&lt;br /&gt;10 Bagus Suprayogi 25                             35 Nuril Hidayati 20&lt;br /&gt;11 Eka Sussiani 21                                     36 Nurul Umami 23&lt;br /&gt;12 Fadilah 20                                            37 R. Awaluddin Yusuf 18&lt;br /&gt;13 Fathir Fathoni 19                                 38 Raisa Hakim 19&lt;br /&gt;14 Futischatis F 20                                   39 Risaatul Lailiyah 19&lt;br /&gt;15 Ginarti SW 20                                      40 Sholihatun 24&lt;br /&gt;16 Iis Sugiyati 23                                      41 Siti Aisyah 18&lt;br /&gt;17 Imroatul M 19                                      42 Siti Latifah ===&lt;br /&gt;18 Istifadatul M 23                                   43 Ulfa Oktaviana 16&lt;br /&gt;19 Izzati Choirina 23                                 44 Wildah Faiz PH 20&lt;br /&gt;20 Khusniatur R 21                                   45 Yona Nus D ===&lt;br /&gt;21 Latifati A Ch 20                                     46 Zumrotus S. 19&lt;br /&gt;22 Lianatus S 19                                                 Total 826&lt;br /&gt;23 Lia Andriani 16                                           Jumlah Siswa 42&lt;br /&gt;24 Lina Wayu Fitria 20                                 Rata-rata 19,64&lt;br /&gt;25 M. Fanani SM 21 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 4.3 menunjukkan bahwa tanggapan siswa terhadap kelayakan MPP “SM” rata-rata skornya 18,31. Sementara itu dalam tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa tanggapan terhadap kelayakan MPP “SM” rata-rata skornya 19,64. Berdasarkan atas kriteria kelayakan media pembelajaran di atas MPP “SM” tergolong tinggi. Artinya,  MPP “SM” memiliki kelayakan yang tinggi sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Data Hasil Tes Motivasi Belajar&lt;br /&gt;Tes terhadap motivasi belajar siswa terdapat pada instrumen 04. Pada siklus 1 tes motivasi belajar diberikan kepada kelas X-4, dan pada siklus 2 tes motivasi diberikan kepada kelas X-2.&lt;br /&gt;Adapun data hasil tanggapan kelayakan media pembelajaran sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 4.5&lt;br /&gt;Skor Hasil Tes Motivasi Belajar Siswa&lt;br /&gt;Siklus 1 (Kelas X-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Nama Siswa Skor                                      No. Nama Siswa Skor&lt;br /&gt;1 Achmad Nafi 22                                             26 M. Rachmanto 23&lt;br /&gt;2 Adam Lukman F 22                                     27 M. Hardianto S 20&lt;br /&gt;3 Aisyah Nurdeka 20                                     28 M. Irvan R 20&lt;br /&gt;4 Alfiyah Nur K 21                                        29 M. Agung S 20&lt;br /&gt;5 Aulia Alfi Ismi I 24                                     30 M. Azam Zur’ain 23&lt;br /&gt;6 Ayu Rohmah P 18                                      31 Nashrulloh Ibadi 23&lt;br /&gt;7 Chusnul Ch 19                                            32 Nita Apri Rosalina 20&lt;br /&gt;8 Desi Dwi A 20                                             33 Nur Afifah 19&lt;br /&gt;9 Dimas Dwi A 21                                          34 Nur Mayasari 22&lt;br /&gt;10 Eka Retno O 21                                        35 Olvy Trismayuni 21&lt;br /&gt;11 Fajar Adi P 19                                           36 Rani Rahmawati 17&lt;br /&gt;12 Fitri Muttafaqoh 22                                 37 Ria Rilla R ===&lt;br /&gt;13 Henik Nur A 21                                        38 Rina Puspita Ningsih 20&lt;br /&gt;14 Hindriyani R 19                                         39 Risca Faiqotin 21&lt;br /&gt;15 Ike Oktavianis 24                                     40 Rizky Amelia 21&lt;br /&gt;16 Istikhomah 18                                           41 Rusvita Efendi 21&lt;br /&gt;17 Juwita Tri Septasari 21                            42 Sherly Dwi KA 20&lt;br /&gt;18 Khoirun Nisak 20                                      43 Siti Mutrofin ===&lt;br /&gt;19 Khusniatin N 18                                        44 Siti Rosyidah 20&lt;br /&gt;20 Lailatul M 22  45                                     45. Winda S. 23&lt;br /&gt;21 Lailis Savitri 19                                        46 Wulan Indah C 21&lt;br /&gt;22  Larastika DW 24                                     47 Yudhi Aprianto 21&lt;br /&gt;23  Luluk Nuraini M 21                                           Total 933&lt;br /&gt;24 M. Arifuddin 19                                             Jumlah Siswa 45&lt;br /&gt;25 M. Nurul Burhani 22                                      Rata-rata 20,73&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 4.6&lt;br /&gt;Skor Hasil Tes Motivasi Belajar Siswa&lt;br /&gt;Siklus 2 (Kelas X-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Nama Siswa Skor                           No. Nama Siswa Skor&lt;br /&gt;1 Ach. Rifai Romly 20                           26 M. Syaifuddin 19&lt;br /&gt;2 Ainul Latifah 22                                  27 M. Zainuddin 18&lt;br /&gt;3 Ainur Rochmah 20                             28 Machmud 17&lt;br /&gt;4 Ali As’ad 20  29 Mita Pratiwi 20&lt;br /&gt;5 Amri Yahya ===  30 Moh. Nasrudin 22&lt;br /&gt;6 Aridatul Saidah 20  31 Mufidatus S. ===&lt;br /&gt;7 Aulia Akbar 20  32 Muthoyibatu Aw 22&lt;br /&gt;8 Ayu Novieanthi 20  33 Najwa Farah S 22&lt;br /&gt;9 Ayu Rizka 23  34 Nikmahatus R 22&lt;br /&gt;10 Bagus Suprayogi 22  35 Nuril Hidayati 22&lt;br /&gt;11 Eka Sussiani 20  36 Nurul Umami 24&lt;br /&gt;12 Fadilah 22  37 R. Awaluddin Yusuf 19&lt;br /&gt;13 Fathir Fathoni 21  38 Raisa Hakim 19&lt;br /&gt;14 Futischatis F 20  39 Risaatul Lailiyah 21&lt;br /&gt;15 Ginarti SW 20  40 Sholihatun 23&lt;br /&gt;16 Iis Sugiyati 23  41 Siti Aisyah 20&lt;br /&gt;17 Imroatul M 22  42 Siti Latifah ===&lt;br /&gt;18 Istifadatul M 22  43 Ulfa Oktaviana 21&lt;br /&gt;19 Izzati Choirina 19  44 Wildah Faiz PH 21&lt;br /&gt;20 Khusniatur R 20  45 Yona Nus D ===&lt;br /&gt;21 Latifati A Ch 21  46 Zumrotus S. 22&lt;br /&gt;22 Lianatus S 19   Total 869&lt;br /&gt;23 Lia Andriani 16   Jumlah Siswa 42&lt;br /&gt;24 Lina Wayu Fitria 22   Rata-rata 20,69&lt;br /&gt;25 M. Fanani SM 21 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 4.5 di atas menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa kelas X-4 rata-rata skornya 20,73. Sementara itu dalam tabel 4.6 di atas menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa kelas X-2 rata-rata skornya 20,69.&lt;br /&gt;Jadi, berdasarkan atas kriteria motivasi belajar di atas, maka motivasi belajar tergolong tinggi. Artinya,  siswa kelas X memiliki motivasi yang tinggi dalam pembelajaran menyimak yang menggunakan MPP “SM”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Data Hasil Tes Kemampuan Menyimak&lt;br /&gt;Penelitian terhadap kemampuan menyimak siswa, dilakukan segera setelah menayangkan MPP “SM”. Pada siklus 1 dilakukan tes kemampuan menyimak pada kelas X-4 dan pada siklus 2 dilakukan pada kelas X-2.&lt;br /&gt;Hasil kemampuan menyimak siswa dituliskan dalam tabel sebagai berikut.&lt;br /&gt;Tabel 4.7&lt;br /&gt;Skor Hasil Tes Kemampuan Menyimak&lt;br /&gt;Siklus 1 (Kelas X-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Nama Siswa Skor  No. Nama Siswa Skor&lt;br /&gt;1 Achmad Nafi 66  26 M. Rachmanto 66&lt;br /&gt;2 Adam Lukman F 86  27 M. Hardianto S 73&lt;br /&gt;3 Aisyah Nurdeka 90  28 M. Irvan R 53&lt;br /&gt;4 Alfiyah Nur K 73  29 M. Agung S 90&lt;br /&gt;5 Aulia Alfi Ismi I 60  30 M. Azam Zur’ain 66&lt;br /&gt;6 Ayu Rohmah P 73  31 Nashrulloh Ibadi 83&lt;br /&gt;7 Chusnul Ch 73  32 Nita Apri Rosalina 86&lt;br /&gt;8 Desi Dwi A 80  33 Nur Afifah 80&lt;br /&gt;9 Dimas Dwi A 90  34 Nur Mayasari 73&lt;br /&gt;10 Eka Retno O 70  35 Olvy Trismayuni 86&lt;br /&gt;11 Fajar Adi P 73  36 Rani Rahmawati 66&lt;br /&gt;12 Fitri Muttafaqoh 90  37 Ria Rilla R ===&lt;br /&gt;13 Henik Nur A 66  38 Rina Puspita Ningsih 73&lt;br /&gt;14 Hindriyani R 80  39 Risca Faiqotin 90&lt;br /&gt;15 Ike Oktavianis 76  40 Rizky Amelia 96&lt;br /&gt;16 Istikhomah 83  41 Rusvita Efendi 63&lt;br /&gt;17 Juwita Tri Septasari 73  42 Sherly Dwi KA 90&lt;br /&gt;18 Khoirun Nisak 73  43 Siti Mutrofin ===&lt;br /&gt;19 Khusniatin N 66  44 Siti Rosyidah 80&lt;br /&gt;20 Lailatul M 86  45 45. Winda S. 93&lt;br /&gt;21 Lailis Savitri 76  46 Wulan Indah C 86&lt;br /&gt;22  Larastika DW 93  47 Yudhi Aprianto 76&lt;br /&gt;23  Luluk Nuraini M 76   Total 3431&lt;br /&gt;24 M. Arifuddin 90   Jumlah Siswa 45&lt;br /&gt;25 M. Nurul Burhani 70   Rata-rata 77,24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 4.8&lt;br /&gt;Skor Hasil Tes Kemampuan Menyimak&lt;br /&gt;Siklus 2 (Kelas X-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Nama Siswa Skor  No. Nama Siswa Skor&lt;br /&gt;1 Ach. Rifai Romly 86  26 M. Syaifuddin 83&lt;br /&gt;2 Ainul Latifah 96  27 M. Zainuddin 90&lt;br /&gt;3 Ainur Rochmah 93  28 Machmud 93&lt;br /&gt;4 Ali As’ad 93  29 Mita Pratiwi 100&lt;br /&gt;5 Amri Yahya ===  30 Moh. Nasrudin 100&lt;br /&gt;6 Aridatul Saidah 100  31 Mufidatus S. ===&lt;br /&gt;7 Aulia Akbar 60  32 Muthoyibatu Aw 100&lt;br /&gt;8 Ayu Novieanthi 100  33 Najwa Farah S 100&lt;br /&gt;9 Ayu Rizka 100  34 Nikmahatus R 100&lt;br /&gt;10 Bagus Suprayogi 100  35 Nuril Hidayati 93&lt;br /&gt;11 Eka Sussiani 100  36 Nurul Umami 100&lt;br /&gt;12 Fadilah 100  37 R. Awaluddin Yusuf 80&lt;br /&gt;13 Fathir Fathoni 100  38 Raisa Hakim 100&lt;br /&gt;14 Futischatis F 86  39 Risaatul Lailiyah 100&lt;br /&gt;15 Ginarti SW 90  40 Sholihatun 100&lt;br /&gt;16 Iis Sugiyati 100  41 Siti Aisyah 96&lt;br /&gt;17 Imroatul M 100  42 Siti Latifah ===&lt;br /&gt;18 Istifadatul M 100  43 Ulfa Oktaviana 100&lt;br /&gt;19 Izzati Choirina 100  44 Wildah Faiz PH 100&lt;br /&gt;20 Khusniatur R 100  45 Yona Nus D ===&lt;br /&gt;21 Latifati A Ch 96  46 Zumrotus S. 93&lt;br /&gt;22 Lianatus S 90   Total 3758&lt;br /&gt;23 Lia Andriani 100   Jumlah Siswa 42&lt;br /&gt;24 Lina Wayu Fitria 96   Rata-rata 89,47&lt;br /&gt;25 M. Fanani SM 90 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa kemampuan menyimak siswa kelas X-4 pada siklus 1 rata-rata skornya 77,24. Sementara itu dalam tabel 4.8 di atas menunjukkan bahwa kemampuan menyimak siswa kelas X-2 pada siklus 2 rata-rata skornya 89,47.&lt;br /&gt;Berdasarkan atas kriteria kemampuan menyimak di atas maka kemampuan menyimak siswa kelas X-4 tergolong baik, adapun kemampuan menyimak siswa kelas X-2 tergolong sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa ada peningkatan nilai rata-rata kemampuan menyimak siswa, disamping peningkatan kelayakan MPP “SM”. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari perbedaan perlakuan yang semakin disempurnakan (pada silus 2) dari perlakuan sebelumnya (pada siklus 1). Hal ini dapat dilihat pada bagan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek Siklus 1 Siklus 2 Keterangan&lt;br /&gt;Aktivitas Guru -  membuka pembelajaran&lt;br /&gt;-  memberikan  penjelasan&lt;br /&gt;Awal - membuka pembelajaran&lt;br /&gt;-  memberikan  penjelasan&lt;br /&gt;awal - aktivitas sama&lt;br /&gt;- aktivitas sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-  menugasi menyimak&lt;br /&gt;terus menerus (45&lt;br /&gt;menit)&lt;br /&gt;- menugasi menulis 3&lt;br /&gt;topik sekaligus (30&lt;br /&gt;menit)&lt;br /&gt;- menugasi menyimak per&lt;br /&gt;topik (15 menit)&lt;br /&gt;kemudian menulis (10&lt;br /&gt;menit)&lt;br /&gt;- perbaikan cara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- tidak menghimbau siswa&lt;br /&gt;membuat catatan kecil&lt;br /&gt;- menghimbau siswa&lt;br /&gt;membuat catatan kecil&lt;br /&gt;- perbaikan cara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- melakukan observasi&lt;br /&gt;- menutup pelajaran&lt;br /&gt;- melakukan observasi&lt;br /&gt;- menutup pelajaran&lt;br /&gt;- aktivitas sama&lt;br /&gt;- aktivitas sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas Siswa -  menerima   penjelasan&lt;br /&gt;Awal -  menerima   penjelasan&lt;br /&gt;awal - aktivitas sama&lt;br /&gt;-  menyimak  terus menerus (45&lt;br /&gt;menit)&lt;br /&gt;- menulis 3 topik sekaligus (30&lt;br /&gt;menit) hasil simakan&lt;br /&gt;- sebagian kecil siswa (20%)&lt;br /&gt;membuat catatan kecil - menyimak bertahap (15 menit&lt;br /&gt;menyimak dan 10 menit&lt;br /&gt;menuliskannya) hingga 3&lt;br /&gt;tahap&lt;br /&gt;- sebagian besar  siswa (88%)&lt;br /&gt;membuat catatan kecil&lt;br /&gt;- perbaikan cara&lt;br /&gt;- perbaikan cara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MPP “SM” - space kosong di tengah&lt;br /&gt;- background mestinya sama&lt;br /&gt;setelah skip&lt;br /&gt;- huruf statis monoton&lt;br /&gt;- belum diberi autorun - space kosong di tengah sudah&lt;br /&gt;diperbaiki&lt;br /&gt;- membuat background sama&lt;br /&gt;setelah skip&lt;br /&gt;- huruf di blow effect&lt;br /&gt;- diberi autorun&lt;br /&gt;- perbaikan desain&lt;br /&gt; media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelayakan MPP “SM” Skor rata-rata&lt;br /&gt;18,31 Skor rata-rata&lt;br /&gt;19,64 - peningkatan skor&lt;br /&gt; rata-rata 1,33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi Siswa Skor rata-rata&lt;br /&gt;20,73 Skor rata-rata&lt;br /&gt;20,69 - perbedaan skor&lt;br /&gt;rata-rata 0,04&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan Menyimak Skor rata-rata&lt;br /&gt;77,24 Skor rata-rata&lt;br /&gt;89,47 - peningkatan&lt;br /&gt;Skor rata-rata&lt;br /&gt;   12,23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.3 Interpretasi&lt;br /&gt;Berdasarkan rangkaian penelitian hingga analisis data dapat diketahui bahwa :&lt;br /&gt;(1)   MPP “SM” dinilai tinggi kelayakannya sebagai media pembelajaran.&lt;br /&gt;     MPP “SM” ini dinilai layak berdasarkan hal-hal berikut :&lt;br /&gt;a. Materi MPP “SM” sudah sesuai dengan silabus Kurikulum 2006 (KTSP)&lt;br /&gt;b. Desain gambar, warna, tulisan, maupun komposisi suara dan  filmnya sudah&lt;br /&gt; baik&lt;br /&gt;c. MPP “SM” mudah digunakan atau dipakai dalam pembelajaran&lt;br /&gt;d. Navigasi menu-menu dan tombol dalam MPP “SM” sudah jelas dan tidak&lt;br /&gt;  membingungkan&lt;br /&gt;e. MPP “SM” sudah komunikatif artinya mudah dipahami para siswa.&lt;br /&gt;Bertolak hal tersebut berarti hipotesis tindakan 1 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“, siswa kelas X  Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo menilainya layak sebagai media pembelajaran.&lt;br /&gt;(2) Berdasarkan analisis terhadap motivasi belajar siswa menunjukkan bahwa siswa memiliki motivasi yang tinggi. Bahkan dalam observasi terhadap aktivitas pembelajaran semua siswa (100%) terlibat aktivitas aktif dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan hipotesis tindakan 2 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi siswa kelas X  Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.&lt;br /&gt;(3) Berdasarkan analisis terhadap kemampuan menyimak menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yaitu rata-rata skornya 77,24 (tingkatan  baik) pada siklus 1 meningkat menjadi rata-rata skor 89,47 (tingkatan sangat baik). Terjadi peningkatan skor rata-rata 12,23. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari adanya perbaikan dan peningkatan perlakuan dari siklus pembelajaran sebelumnya, melalui perbaikan MPP “SM” serta memberikan kesempatan kepada para siswa untuk membuat catatan kecil pada saat proses menyimak. Hal ini dapat membantu mengingat siswa terhadap materi yang disimaknya.&lt;br /&gt;Berdasarkan hal itu maka hipotesis tindakan 3 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X  Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V PENUTUP&lt;br /&gt;5.1 Simpulan&lt;br /&gt;Dari seluruh rangkaian penelitian sebelumnya akhirnya dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo menilai kelayakan tinggi terhadap MPP “SM” sebagai media membelajaran bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;2. Siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo memiliki motivasi tinggi pada saat pembelajaran bahasa Indonesia dengan topik menyimak rekaman berita televisi dengan menggunakan MPP “SM” sebagai media membelajaran.&lt;br /&gt;3. Penerapkan MPP “SM” dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X  Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2 Saran&lt;br /&gt;Disamping mampu membentuk kompetensi siswa, pembelajaran memperhatikan hal-hal berikut:&lt;br /&gt;1. Guru harus mengusahakan media pembelajaran yang mampu menarik perhatian dan minat siswa dalan belajar&lt;br /&gt;2. Media pembelajaran disamping gayut dengan topik pembelajaran perlu pula dinilai kelayakannya&lt;br /&gt;3. Pada era ICT (Information Computer &amp;amp; Technology) banyak media pembelajaran dapat dihasilkan dengan bantuan komputer. Karena itu para guru perlu belajar dan menguasai teknologi pembelajaran berbasis komputer ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arikunto, Suharsimi. dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.&lt;br /&gt;Chandra. 2005. Menu Interaktif Flah MX 2004. Palembang : Maxiikom.&lt;br /&gt;Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.&lt;br /&gt;Fathoni, A.R. 1993. Pengembangan Komputer Pembelajaran (Unit II CIA). Surabaya  University Press IKIP Surabaya.&lt;br /&gt;Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.&lt;br /&gt;Kurniawan, Yahya. 2006. Belajar Sendiri Macromedia Flash 8. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.&lt;br /&gt;Madya, Suwarsih. 2006. Teori dan Praktik : Penelitian Tindakan. Bandung : Alfabeta.&lt;br /&gt;Mudhoffir. 2001. Prinsip-prinsip Pengelolaan Pusat Sumber Belajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;Mukminan. 2001. Desain Pembelajaran. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta Press.&lt;br /&gt;Parera, Jos Daniel. 1997. Linguistik Edukasional. Jakarta : Erlangga.&lt;br /&gt;Pramono, Andi. 2001. Presentasi Multimedia dengan Macromedia Flash 8. Yogyakarta : CV Andi Offset.&lt;br /&gt;Prayitno, E. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta. Depdikbud.&lt;br /&gt;Rachman, Saiful. dkk.. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya : SIC &amp;amp; Dinas P dan K Provindi Jawa Timur.&lt;br /&gt;Sardiman, Arief S. dkk. 2006. Media Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.&lt;br /&gt;Suyatno.2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya : SIC.&lt;br /&gt;Tarigan, Henry Guntur. 1990. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung : Angkasa.&lt;br /&gt;---------------------. 1990. Teknik Pengajaran Ketrampilan Menyimak. Bandung : Angkasa.&lt;br /&gt;---------------------. 1994. Menyimak : Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.&lt;br /&gt;Uno, Hamzah B.. 2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta : Bumi Aksara&lt;br /&gt;Wiriatmadja, Rochiati. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : PT Remaja Roskakarya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-7173580005560897663?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/e4-kVo32py-CEEAPG6HL66MgXMM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/e4-kVo32py-CEEAPG6HL66MgXMM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/e4-kVo32py-CEEAPG6HL66MgXMM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/e4-kVo32py-CEEAPG6HL66MgXMM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/wEZcETKA2eM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/7173580005560897663/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/ptk-sidoarjo-menangis.html#comment-form" title="3 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/7173580005560897663" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/7173580005560897663" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/wEZcETKA2eM/ptk-sidoarjo-menangis.html" title="PTK : Penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/ptk-sidoarjo-menangis.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-419711503865980582</id><published>2008-06-23T03:23:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T15:12:33.846-07:00</updated><title type="text">Religiusitas dalam Puisi-puisi Sutarji Calzoum Bachri</title><content type="html">1. Pengantar&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   Konsep dasar religius berbeda dengan agama. Bila agama lebih mengacu pada keterkaitan seseorang dengan agama tertentu secara formalitas, maka religius adalah ikatan seseorang terhadap suatu religi bisa juga agama tertentu dari sisi informalnya. Seorang dapat dikatakan tidak memiliki religiusitas yang tinggi bila praktik batinnya kering terhadap suatu agama atau religi. Dalam hal ini religiusitas dapat dilihat dari ungkapan batin yang kemudian  direfleksikan dalam tindakan yang terkait dengan suatu religi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puisi adalah salah salat genre sastra. Sebagai genre sastra, puisi merupakan ungkapan pikiran dan perasaan seseorang yang telah mengkristal (penulis lebih cenderung mengungkapkannya sebagai kristal jiwa) yang meiliki nilai estetika dan kemudian diungkapkan dalam media bahasa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahasa sebagai media estetika berbeda dengan genre seni lainnya, seperti seni lukis menggunakan ungkapan komposisi goresan dan warna, seni musik menggunakan komposisi bunyi atau suara, sementara itu sastra sebagai seni menggunakan komposisi bahasa. Komposisi bahasa ini meliputi bangunan fonem / bunyi, kata-kata, frase, kalimat, bahkan wacana. Gejala-gejala bahasa, dan gaya bahasa juga diterapkan demi pencapaian estetikanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sutarji Calzoum Bachri lahir pada 24 Juni 1943 di Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Dari sajak-sajaknya Sutarji mampu menunjukkan dirinya sebagai pelopor / pembaharu puisi kontemporer. Dalam kredonya, Dia hendak membebaskan kata dari kungkungan makna dan akan mengembalikannya sebagaimana fungsi mantra.&lt;br /&gt;Pada tahun 1974, Sutarji mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam. Dari Oktober 1974 hingga April 1975, dia mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Atas prestasinya Sutarji pernah mendapat penghargaan South East Asia Writer Award di Bangkok Thailad pada tahun 1979. &lt;/p&gt;Beberapa karyanya adalah O (Kumpulan Puisi, 1973), Amuk (Kumpulan Puisi, 1977), dan Kapak (Kumpulan Puisi, 1979) merupakan karya monumentalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, puisi-puisinya juga dimuat dalam berbagai antologi, antara lain Arjuna in Meditation (Calcutta, India, 1976), Writing from The Word (USA), Westerly Review (Australia), Dchters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststechting, 1975), Ik Wil NogdulzendjaarLeven, Negh Moderne Indonesische Dichter (1979), Laut Biru, Langit Biru (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977), Parade Puisi Indonesia (1990), majalah Tenggara, Journal of Southeast Asean Lietrature 36 dan 37 (1997), dan Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi-puisi Sutarji merupakan puisi inkonvensional, tidak seperti hanya Amir Hamzah, Chairil Anwar, Taufiq Ismail, maupun WS Rendra. Banyak kalangan siswa dan juga guru kesulitan dalam mengapresiasinya. Permasalahannya beberapa puisi Sutarji pernah muncul dalam soal-soal ujian nasional. Hal ini menimbulkan tuntutan adanya kemampuan untuk mengapresiasi puisi-puisinya, khususnya bagi para guru bahasa Indonesia, demikian pula para siswa. Diperlukan kemampuan analisis dan apresiasi, dan tidak ketinggalan wawasan yang luas terhadap wacana puisi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pendekatan maupun teori yang dapat digunakan dalam menganalisis memahami dan menganalisis puisi. Di antaranya strukturalisme (intrinsik dan ekstrinsik, lapis dalam dan lapis luar), sosiologi sastra, semiotik, pragmatisme, dan sebagainya. Khusus puisi-puisi Sutarji perlu ada pertimbangan yang berbeda karena puisinya memang memiliki karakteristik yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apresiasi puisi terhadap puisi-puisi Sutarji perlu dilakukan karena beberapa kali puisinya dikeluarkan dalam soal ujian nasional. Dalam pembahasan oleh guru-guru di sekolah menengah terjadi silang pendapat karena tidak memiliki pijakan pendekatan dan teori yang tepat. Memang, apresiasi karya sastra (khususnya puisi) bisa berakibat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;polyinterpretable&lt;/span&gt;. Hasil apresiasi setiap orang bisa berbeda.&lt;br /&gt;Permasalahannya, dalam pembelajaran di sekolah hanya dibutuhkan satu kepastian jawaban dan menutup kemungkinan berbeda pendapat tergantung argumentasinya. Hal ini karena sudah tersedia pilihan jawaban dan harus dipilih satu yang paling tepat. Karena itu di sini kami mencoba menyajikan apresiasi beberapa puisi Sutarji dari aspek religiusitasnya.&lt;br /&gt;Pembahasan hanya dibatasi pada kumpulan puisi "O, Amuk, Kapak"  (1981). Dalam kumpulan puisi ini berserak banyak puisi karya Sutarji. Beberapa di antaranya akan dianalisis khususnya yang mewakili dalam aspek religiusnya. Pengarang bisa saja menolak serta merta hasil analisis ini, namun yang harus dipahami kembali adalah pijakan  karya sastra  khususnya  puisi  itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;polyinterpretable&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jadi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_sM2dtv1yPfU/SHPnSYX4vYI/AAAAAAAAAHA/1YRfnsyhbK4/s1600-h/tidak+setiap.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_sM2dtv1yPfU/SHPnSYX4vYI/AAAAAAAAAHA/1YRfnsyhbK4/s400/tidak+setiap.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220770696018836866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Puisi ini bertema &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pengakuan ketidakmutlakan manusia di bawah kekuasaan Tuhan&lt;/span&gt;. Tipografi puisi, penataan baris-baris dan kata-kata "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tidak setiap ............ jadi ..........&lt;/span&gt;" menunjukkan relatifitas hukum keniscayaan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;jika .... maka .....&lt;/span&gt;" bagi manusia.&lt;br /&gt;Konklusi puisi jelas terlihat pada  "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;memandang Kau, pada wajahku!&lt;/span&gt;". Sebagai sebuah simbol bahasa (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;semion&lt;/span&gt;), kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kau&lt;/span&gt; mengacu pada "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tuhan&lt;/span&gt;". Karena itu bisa diartikan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kekuasaan Tuhan atasku&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;Puisi merupakan kristal jiwa dari pengarangnya. Pengalaman hidup yang berisi ungkapan pikiran dan perasaan pengarangnya terungkap dalam kata-kata yang kemudian melalui proses seleksi dan kontemplasi jadilah puisi. Bisa jadi pengarang puisi di atas telah mengalami dalam perjalanan hidupnya dan orang lain yang akhirnya membuat pengakuan akan ketidakmutlakan diri dan usahanya dalam kekuasaan Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Q&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_sM2dtv1yPfU/SHP1KI08-qI/AAAAAAAAAHI/2Y3ORpMAFJg/s1600-h/q.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_sM2dtv1yPfU/SHP1KI08-qI/AAAAAAAAAHI/2Y3ORpMAFJg/s400/q.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5220785947569617570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Puisi di atas bila disingkat menjadi "Q : alif lam mim". Jelaslah bahwa puisi ini mengutip salah satu ayat dalam Al Quran. Beberapa ayat dalam Al Quran yang berupa huruf-huruh hijaiyah tanpa harakat, misalnya : tho ha, lam mim shod, dan lain-lain. Terjemahannya tidak ada, namun selalu ditulis tafsir hanya Allah yang tahu.&lt;br /&gt;Tipografi puisi sebagaimana tertulis di atas sebagaimana pembacaan  kalau  qiraah. Meski kita tidak memahami arti 'alif lam mim' namun huruf-huruf tersebut dengan kata : i'lam (ketahuilah), alam (jagat raya), alama (pembelajaran), dan alim (ilmu). Ayat ini terpampang jelas pada Al Baqarah ayat pertama. Bila ditafsirkan maka kita hidup memang harus mempelajari jagat raya ini sebagai ilmu, sebagai langkah awal sebagai makhluk bernama manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puisi di atas menunjukkan bahwa Allah sengaja tidak memberitahukan maknanya secara langsung. Tampaknya Allah memberikan teka-teki kepada manusia. Dalam hal ini, Allah hanya memberikan isyarat konsonan dasarnya dan kita yang memaknainya.&lt;br /&gt;Namun apa yang terjadi, kita tetap dihadapkan oleh Allah pada teka-teki maha rahasia, karena sangat terbatasnya kemampuan dan pengetahuan kita. Betapa tidak, pengetahuan kita sangat terbatas pada yang kita miliki dan ketahui. Sementara kalau kita kaitkan dengan konsep kosmologi, jagat raya ini sungguh tidak ada apa-apanya. Bulan mengelilingi bumi, bumi mengelilingi matahari, matahari bersama bintang-bintang lainnya juga beredar di galaksi Bima Sakti ini, dan milyaran galaksi juga beredar melebur menuju kehancurannya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;black hole&lt;/span&gt;). Kita tidak tahu dari mana dan akan kemana nasib kita terbawa ratusan, ribuan, jutaan, bahkan milyaran tahun kemudian.&lt;br /&gt;Karena itulah puisi di atas sebenarnya memiliki  religousitas  yang serius yaitu ketidaktahuan yang  dalam.  Karena  itu  bila ditanya  apa makna puisi  tersebut maka jawablah sebagaimana orang qiraah :  Tidaaaaaaaaakkkkkk  Tahuuuuuuuuu !!!!!!!!!!!!!!!!!!!    Dalam  bahasa  Jawanya  :  Embuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maaf segera diselesaikan ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-419711503865980582?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Z9XwwIuWia6Qls5N2cwT_WdN-xM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Z9XwwIuWia6Qls5N2cwT_WdN-xM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Z9XwwIuWia6Qls5N2cwT_WdN-xM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Z9XwwIuWia6Qls5N2cwT_WdN-xM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/Wl6FThd5snE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/419711503865980582/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/religiusitas-dalam-puisi-puisi-sutarji.html#comment-form" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/419711503865980582" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/419711503865980582" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/Wl6FThd5snE/religiusitas-dalam-puisi-puisi-sutarji.html" title="Religiusitas dalam Puisi-puisi Sutarji Calzoum Bachri" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_sM2dtv1yPfU/SHPnSYX4vYI/AAAAAAAAAHA/1YRfnsyhbK4/s72-c/tidak+setiap.JPG" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/religiusitas-dalam-puisi-puisi-sutarji.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-7647626056603579131</id><published>2008-06-18T22:36:00.001-07:00</published><updated>2008-06-21T00:25:12.109-07:00</updated><title type="text">Jangan Lupakan Maklumat Bangkalan dalam Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia</title><content type="html">segera diselesaikan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-7647626056603579131?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CywuLrptCFocIg7jbcbH8dsDyL4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CywuLrptCFocIg7jbcbH8dsDyL4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CywuLrptCFocIg7jbcbH8dsDyL4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CywuLrptCFocIg7jbcbH8dsDyL4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/MoBWY9ip90o" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/7647626056603579131/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/jangan-lupakan-maklumat-bangkalan-dalam.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/7647626056603579131" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/7647626056603579131" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/MoBWY9ip90o/jangan-lupakan-maklumat-bangkalan-dalam.html" title="Jangan Lupakan Maklumat Bangkalan dalam Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/jangan-lupakan-maklumat-bangkalan-dalam.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-998756580002791674</id><published>2008-06-18T12:17:00.001-07:00</published><updated>2008-06-26T07:52:17.515-07:00</updated><title type="text">AjaranTasawuf dalam "Serat Ngabdul Jalil"</title><content type="html">1. Pengantar&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karya sastra sering dinyatakan sebagai salah satu bentuk filsafat. Hal ini didasarkan atas pendapat bahwa karya sastra memiliki ide-ide yang dibungkus oleh struktur. Karena berisi filsafat maka karya sastra itu juga berisi ide-ide yang dapat menuntun manusia ke arah yang baik. Di samping itu, karya sastra dapat dianggap sebagai dokumen sejarah filsafat serta mencerminkan bentuk pemikiran jamannya. Untuk itu perlu dilakukan kajian hubungan karya sastra dan filsafatnya dengan cara mengetahui filsafat yang dirumuskan pengarang dan kejelasan serta sistematisasi filsafat itu (Wellek dan Warren, 1962:110-114).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Filsafat itu sendiri banyak definisinya. Intisarinya adalah berpikir menurut tatatertib (logika), bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma / agama), dan dengan sangat dalam sehingga sampai pada dasar persoalan (Nasution, 1987:3).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ternyata Filsafat dalam ”Serat Ngabdul Jalil” (selanjutnya disingkat ”SNJ”) tidak memenuhi kriteria itu. ”SNJ” berisi bentuk-bentuk pemikiran yang terikat, terutama pada agama tertentu. Menurut Nasution, filsafat yang bentuknya seperti itu disebut filsafat agama, dan filsafat agama menurut The Liang Gie termasuk dalam filsafat khusus. Lebih lanjut Nasution menjelaskan bahwa filsafat agama dapat mengambil dua bentuk pemikiran. Kedua bentuk pemikiran tersebut adalah : a) membahas dasar-dasar agama secara analitis dan kritis tanpa terikat pada ajaran-ajaran agama, dan tidak bertujuan untuk menyatakan kebenaran suatu agama. Bentuk pemikiran ini mencoba memahami dasar-dasar agama menurut logika. Jadi, kebenaran bukan ditentukan oleh wahyu melainkan oleh akal; b) membahas dasar-dasar agama secara analitis dan kritis dengan maksud untuk menyatakan kebenaran ajaran-ajaran agama atau sekurang-kurangnya untuk menjelaskan bahwa yang diajarkan agama tidaklah mustahil dan tidak bertentangan dengan logika.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Bentuk pemikiran yang diterapkan oleh penulis naskah ”SNJ” adalah bentuk pemikiran yang (b). Dalam hal ini penulis naskah membenarkan semua ajaran agama, yaitu agama Islam. Penulis naskah ini mengambil langkah bukan menyampaikan ayat-ayat Al Quran maupun Hadits secara langsung, melainkan membahasnya dalam bahasa Jawa. Ajaran-ajaran yang disampaikan oleh penulis naskah mempunyai tujuan akhir mendekatkan diri dan mengabdikan diri pada Tuhan. Hal ini tersirat dari pengertia judul naskah ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul naskah ini ”Serat Ngabdul Jalil”. Hal ini dapat diartikan pula bahwa ”serat” adalah naskah lama (Jawa  klasik) yang isinya adalah ajaran-ajaran : ’abdul’ atau ’abd’ dari bahasa Arab artinya ’abdi’ atau ’hamba’; sedangkan ’jalil’ atau ’jalal’ adalah salah satu nama Allah yang berarti Maha Berkebesaran, Mahaluhur, dan Maha Sempurna dalam segala sifat-sifat-Nya. Jadi, ”Serat Ngabdul Jalil” juga berarti naskah lama (Jawa klasik) yang berisi ajaran-ajaran agar dapat menjadi abdi / hamba Allah yang Maha Berkebesaran, Mahaluhur, dan Maha Sempurna dalam segala Sifat-sifat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Nasution (1987:56) ilmu pengetahuan yang mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang Islam dapat berada sedekat-dekatnya dengan Allah SWT disebut tasawuf. Sementara itu, As Salawy berpendapat (1986:26), tasawuf itu meliputi ajaran-ajaran : a) metafisika, b) etika, c) psikologi, dan d) estetika.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Akhirnya untuk mengetahui unsur-unsur tasawuf dalam ”SNJ” kajiannya dibatasi berdasarkan pendapat As Salawy di atas.&lt;br /&gt;Sebenarnya pengertian tasawuf banyak sekali berdasarkan orang-orang yang memberikan definisi. Ibnu Khaldun memberikan batasan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Tashawuf itu adalah semacam ilmu syareat yang timbul kemudian didalam agama, asalnya ialah bertekun beribadat dan memutuskan pertaliannya dengan segala selain Allah, hanya menghadap Allah semata, menolak hiasan-hiasan dunia serta membenci perkara-perkara yang selalu memperdaya orang banyak, kelezatan harta benda dan kemegahan, dan menyendiri menuju jalan Tuhan dalam halwat dan ibadat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal lain, Hamka menyatakan definisi bahwa tasawuf adalah membersihkan jiwa dari pengaruh benda atau alam supaya dia mudah menuju kepada Tuhan. Adapun Nasution menyatakan bahwa tasawuf adalah ilmu pengetehuan yang mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang Islam dapat berada sedekat-dekatnya dengan Allah swt. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tasawuf adalah ilmu pengetahuan, caranya dengan bertekun ibadah dan pembersihan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Yang menjadi sumber tasawuf adalah Al-Quran da hadist. Banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadist yang menguatkan adanya tasawuf. Karena itu ada yang menyatakan bahwa tasawuf merupakan salah satu cabang kajian agama Islam. Adapun ayat-ayat tersebut antara lain :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;”Katakanlah : Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Ali Imron : 13). ”Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang” (Al-Ahzab : 24).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; ”Dari Abi Hurairah beliau berkata : Rasulullah saw. Bersabda : berfirman Allah Maha Mulia dan Maha Agung. Aku adalah menurut persangkaaan hamba-Ku pada diri-Ku dan aku besertanya di kala ia menyebut asma-Ku. Apabila ia menyebut-Ku pada dirinya secara sirri, maka akupun menyebutnya dengan pahala dan rahmat secara rahasia. Andaikata ia menyebut-Ku  pada suatu perkumpulan maka Aku pun akan menyebutnya pada suatu perkumpulan yang lebih baik. Dan andaikata ia mendekat pada-Ku satu elo, maka aku dekati ia sehasta. Dan jika ia datang pada-Ku dengan berjalan maka Aku akan datang padamu dengan cepat-cepat ( H.R. Muslim ).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Demikian pula yang terjadi dalam ”SNJ”. Ajaran-ajarannya umumnya bertolak dari dasar Al-Quran dan Hadist. Banyak sekali uraian yang dinyatakan oleh ’penulis’ yang menunjukkan ungkapan-ungkapan dan perilaku hidup bertasawuf. Adapun ajaran-ajarannya itu diuraikan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Ajaran Metafisika    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metafisika berasal dari bahasa Yunani yaitu ’meta’ berarti ’sesudah’, ’di luar’ atau ’selain’, dan ’phisica’ berarti ’alam nyata’ atau ’alam maujud’. Jadi, metafisika berarti hal-hal yang di luar alam dunia (maa-ba’da thobiah) , atau sesuatu yang ada di alam supernatural.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Dalam tasawuf, ajaran metafisika adalah percaya terhadap sesuatu yang gaib dan . selalu berhubungan dengan keimanan. Dengan mengingat hal-hal yang supernatural misalnya Tuhan, Malaikat, Surga, Neraka, dan lain=lain akan bertambah mudah serta ringanlah orang Islam menjalani kehidupan religi untuk beribadah dan mendekat kepada  Tuhan. Dengan mengingat  kekuasaan Tuhan akan mengetahui kebesaran-Nya, dengan mengingat surga  akan tertarik untuk mencapainya, dan dengan mengingat siksa neraka akan menjadikan manusia takut terjerumus ke dalamnya. Karena itu tiada jalan lain yang terbaik kecuali melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-larangan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Dalam ”SNJ” hal-hal yang supernatural antara lain : Tuhan , Alam akhirat, setan, jin, iblis, hantu, ’mamang’, sukma, nyawa, dan guna-guna, serta sihir.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Tuhan memiliki nama yang banyak. Tuhan juga bernama Yang Agung artinya Yang Besar (1.3) , Yang Manon (1.5) Yang menguasai manon (jiwa), Pangeran (1.13) artinya tempat untuk bergantung, Kang Maha Mulya (1.13) artinya Yang Mahamulia, Allah (1.17) artinya Tuhan/ Allah, Widi (1.21) artinya juga Tuhan, Yang Sukma, Gusti (23) artinya Yang memiliki hati baik, Allah Maha Gung (1.71) artinya Allah Yang Mahabesar, Pangeran Maha Gung (2.5) artinya Tuhan Mahasuci, dan lain-lain. Nama-nama itu menunjukkan kebesaran-Nya. Tuhanlah yang Maha segala-galanya, Dialah Tuhan, Dialah raja, Dialah Yang Menguasai Jiwa/ Sukma, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Kekuasaan Tuhan meliputi dunia dan akhirat. Dialah yang memberi rahmat dan kemuliaan sekaligus memberi siksa baik di dunia dan akhirat (13-1.5). Dia tidak tidak terlihat oleh kedua belah mata (1.22). Dia hanya satu dan kekal serta pencipta langit dan bumi (3.26). Kekuasaan-Nya yang mutlak digambarkan dalam metafora hubungan dalang dan wayang, serta hubungan Prabu Wisesa dan rakyatnya. Dalam hal ini makhluk dilukiskan tidak mempunyai kekuasaan sedikit pun. Segala sesuatu ada di dalam kekuasaan-Nya termasuk menentukan tindakan, ucapan, serta perjalanan hidup makhluk,. Jadi hanya Tuhannlah Yang Mutlak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Kemutlakan Tuhan juga ditunjukkan oleh sifat-sifatnya. Sifat yang wajib diketahui oleh manusia (orang Islam) berjumlah dua puluh. Sifat-sifat itu adalah : 1) wujud berarti ada (6.1), Kidam berarti dahulu yang tidak didahului oleh manusia makhluk (6.2), Baqa artinya kekal (6.3), makalapah lalkawadisi berarti Allah berbeda dari segala sesuatu yang baru (6.4), Kiyamuhu binafsihi berarti Allah itu berkuasa atas segala sesuatu menurut Kehendak-Nya (6.5), Wahdaniyat berarti Allah hanya satu dan tidak berbilang (6.6), Iradat berarti Allah berkuasa membuat segala sesuatu tanpa ada yang memaksa (6.7), Ilmu berarti Allah Maha Mengetahui dan tidak mungkin Tuhan bodoh (6.8), Hayat berati Allah itu hidup dan tidak mungkin Allah itu (bisa) mati meskipun tanpa nyawa (6.8), Samak berarti Allah Maha Mendengar dan tidak tuli meskipun tanpa telinga (6.9), Basar berarti Allah Maha Melihat dan tidak buta meskipun tanpa mata (6.10), Kalam berarti Allah Maha Berbicara dan tidak mungkin bisu (6.11), Kadiran berarti Allah berkuasa membuat alam beserta isinya dan tidak mungkin sial (6.11), Muridan berarti Allah yang memiliki ide membuat alam beserta isinya dan tidak mungkin diminta oleh yang lain (6.12), Aliman berarti Allah itu Maha Mengetahui lahir dan batin (6.13), Hayan berarti Allah itu hidup dan tidak mati meskipun tanpa nyawa (6.14), Samian berarti Allah Maha Mendengar` dan tidak tuli (6.14-15), Basiran berarti Allah Maha Melihat dan tidak buta meskipun tanpa mata (6.15), Mutakaliman berarti Allah  itu berbicara meskipun tanpa lisan maupun tulisan dan Allah itu tidak mungkin bisu (6.16).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Ajaran metafisika tentang Tuhan dalam ”SNJ” nampak selaki bertolak dari dogma-dogma yang ada dalam agama Islam. Kebenaran yang diberikan adalah kebenaran yang taklid. Kebenaran itu menyatakan bahwabapa yang terdapat dalam dogma-dogma yaitu ayat-ayat Tuhan selalu benar. Tuhan tidak mungkin salah karena diakui bahwa Tuhan Mahabenar. Manusia tidak perlu berfikir lagi tentang Zat Tuhan karena manusia tidak akan mampu. Berfilsafat tentang Tuhan apabila keliru dapat terjerumus ke dalam&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Banyak sekali ayat-ayat yang menyatakan kebenaran dan kemutlakan Kekuasaan-Nya. Hal ini dinyatakan terutama dalam nama-nama-Nya Yangagung. Manusia hanyalah sesuatuyang tidak berdaya di bawah kosmos yang diciptakan-Nya. Tuhan tetap jadi misteri yang tak terhingga. Tuhan nampak ’transendent’ artinya manusia dengat sangat tidak sempurna menangkap kesempurnaan-Nya. Karena itu manusia menyatakan Dia adalah Pribadi Yang Maha Sempurna. Tuhan bersifat ’infinit’ atau tidak terbatas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Ajaran yang berhubungan dengan supernatural adalah keberadaan alam akhirat. Alam akhirat itu bersifat gaib bukan bersifat lahir (dzahir) seperti alam dunia. Alam akhirat meliputi surga dan neraka. Kedua tempat itu disediakan oleh Tuhan untuk manusia sebagai balasan amal perbuatan mereka ketika hidup di alam dunia. Surga disediakan oleh Tuhan untuk manusia yang memiliki amal perbuatan baik di dunia, sedangkan neraka disediakan untuk manusia yang memiliki amal perbuatan yang buruk. (12.11-12). Neraka adalah tempat hukuman berupa api (1.62) untuk setan (13.8) serta orang alim yang tidak mufakat dengan ilmunya serta orang munafik (14.14) juga orang-orang kafir (13.15).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Yang diuraikan penulis di atas juga bertolak dari dogma-dogma agama Islam. Hal ini terlihat dari ayat-ayat Al-Quran berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah keberuntungan yang besar“ (Al-Buruj : 11).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt; "Ya, barangsiapa mengerjakan kejahatan dan telah meliputi kesalahan itu, maka mereka itu penhuni neraka, sedangkan mereka kekal di dalamnya“ (Al-Baqarah : 11).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Tetapi mereka mendustakan hari kiamat, dan kami sediakan api yang menyala-nyala untuk orang yangmendustakan hari kiamat itu“ (Al-Furqon : 11).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Di samping itu banyak sekali ayat-ayat selain di atas yang berhubungan dengan masalah surga dan neraka yang diuraaikan oleh penulis naskah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Makhluk-makhluk supernatural yang disebutkan dalam ”SNJ” adalah setan, jin (13.27), iblis (7.16), ’mamang’ (10.14) yang merupakan makhluk supernatural yang jahat. Di samping itu disebutkan pula sukma, nyawa (11.7) yang merupakan esensi penting untuk kehidupan makhluk (manusia) dan guna-guna, serta sihir adalah kekuatan yang bersifat destruktif yang dapat diadakan oleh manusia dengan tujuan jahat. Hanya itu yang dinyatakan oleh penulis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Di dalam Al-Quran dijelaskan antara lain bahwa setan itu musuh Adam (manusia) karena membisikkan pikiran jahat menyesatkan manusia dengan janji-janjinya, dan mengalangi manusia untuk berbuat kebajikan. Dijelaskan pula bahwa setan dikutuk oleh Tuhan karena keangkuhannya, diciptakan dari api, diusir dari surga dan diberi kesempatan oleh Tuhan sampai pada masa yang ditentukan untuk disiksa di ’ dalam neraka.Sedangkan iblis adalah setn yang pertama, tindakannya seperti setan yang telah diuraikan dia atas. Diapun akan mendapat siksa yang paling berat karena sumber malapetaka. Jin adalah makhluk supranatural yang juga memiliki sifat-sifat hanpir sama dengan setan, namun diantara mereka ada yang bertakwa kepada Tuhan dan menyatakan Islam. Adapun ’ mamang ’ tidak dikenal dalam Al-Qur’an melainkan hanya dikenal dalam folklore sebagai nama sejenis hantu yang menyala seperti api.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;               Sukma atau nyawa artinya sama dengan ruh. Dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa ruh adalah esensi manusia. Apabila manusia meninggal ruhnya akan kembali kepada Tuhan. Dinyatakan pula bahwa ruh termasuk kekuasaan Tuhan, ruh juga berarti malaikat, ruh dapat berangsur-angsur dewasa sesuai dengan perkembangan jasmani, dan ruh dapat masuk ke dalam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                Dalam Al Quran terdapat pula ayat-ayat yang menyatakan keburukan-keburukan sihir (mantera) . Perbuatan sihir tidak dibenarkan karena berasal dari ajaran setan (Al-Baqarah : 102).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Ajaran Etika &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bakry menyatakan bahwa etika adalah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan melihat pada amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui akal pikiran ( As Salawy, 1986 : 28) . Dalam hal ini tolok ukur etika adalah akal manusia. Tetapi Drijakara (1978 : 40) menyatakan bahwa dasar dan tujuan etika adalah Ketuhanan, karena tanpa Ketuhanan tidak mungkin ada etika yang berkembang betul-betul. Di samping itu, Tuhan telah menyatakan firman-firman-Nya. Firman-firman itu bila sudah menjadi persepsi manusia akan selalu muncul dalam suara batin manusia. Karena firman-firman itu, manusia menyadari adanya simpulan perintah (imperatif kategoris) yang wajib harus dijalani. Kesadaran terhadap wajib itulah yang menjadikan manusia mau bersusila atau tidak. Dalam hal ini manusia dapat memilih ’ menjalani ’ atau ’memperoleh keburukan’ ,’bahagia’ atau ’sengsara’ , dan ’melawan Tuhan’ atau ’mematuhi-Nya’).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  Ajaran etika dan tasawuf sangat erat sekali . Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Al Kattani bahwa tasawuf adalah budi pekerti ; barangsiapa yang menyiapkan bekal dirimu dalam tasawuf (As Salawy, 1986:33) . Jadi , dapat dinyatakan di sini dengan menjalani budi pekerti (yang baik) manusia sudah memiliki bakal dalam tasawuf.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;   Yang menjadi tolok ukur baik buruk dalam tasawuf bukan akal manusia atau nilai masyarakat melainkan hukum syarak. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Al Ghazali berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;Adapun budi  pekerti yang baik itu dapat dicapai dengan cara menghilangkan semua adat dan kebiasaan buruk, yang telah diperkenalkan dengan jelas satu persatunya oleh syarat, dan menjauhkannya dengan membencinya , sebagaimana seorang menjauhkan dirinya dari segala macam barang yang kotor , di samping ia berusaha dengan sungguh-sungguh membiasakan adat kebiasaan yang baik, sehingga memberi bekas kepada jiwanya dan kemudian barulah ia merasakan nikmat dan kesenangan daripada daripada hasil usahanya itu).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selanjutnya Imam Sughrowardi ( salah seorang tokoh sufi ) menyatakan pula sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ’’Memperbaiki budi pekerti itu tak akan tercapai kecuali  setelah membersihkan jiwa. Sedangkan cara untuk membersihkan jiwa adalah tunduk ( patuh ) terhadap tatacara ( ketentuan syarak ’’ 53 ) .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  Adapun yang dimaksud syarak adalah syariat, dan syariat itu adalah aturan-aturan atau undang-undang ( sesuatu yang telah dibuat undang-undang) oleh Allah buat hambanya baik berupa peraturan atau hukum. Hukum itu meliputi soal-soal wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah. Jadi , hukum syarak itu berhubungan perintah-perintah dan larangan-larangan agama, termasuk di dalamnya amalan-amalan lahir seperti shalat, puasa, zakat, haji, jihad fisabillah, hukum-hukum ekonomi, sosial, politik, dan lain-lain 54 ).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  Dalam ’’SNJ’’ banyak sekali ajaran-ajaran etika yang disampaikan.  Ajaran-ajaran itu berdasarkan urutan penyampaian penulis naskah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;1). Sasaran sopan santun&lt;br /&gt;Sasaran sopan dinyatakan dalam ”SNJ” sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngajinya tata lan titi ,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kelawan hing tata krama ,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;handhap hasor hing tanduka ,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;marang wong tuwa kaliyan ,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hing bapa lan biyang ,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kaping tiga lawan guru ,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kaping patte maratuwa . (1.2)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             Sasaran sopan santun pertama tidak diebutkan . Sasaran sopan santun kedua adalah orang tua, ketiga adalah guru, dan keempat adalah mertua . Mengapa demikian ? Penukis naskah hanya menjawab karena orang tualah yang sangat berjasa kepada anaknya. Lalu sasaran sopan santun pertama kemana ?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             Dalam hal ini penulis naskah tidak menjawabnya secara langsung dan eksplisit. Tetapi bila meluhat judul naskah ini dan judul itu merupakan cermin apa yang dijelaskan dalam naskah , maka sasaran sopan santun pertama adalah Allah atau Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;2).Tatakrama Mencari Ilmu&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tatakrama mencari ilmu itu meliputi : 1) mengabdi guru yang menuju akhirat, 2) menuruti perintah guru yang sesuai dengan syarak, 3) jangan mencela guru, 4) jangan mengabaikan guru justru perhatikanlah dengan sungguh-sungguh, 5) jangan merintangi guru tetapi utamakan dia, 6) bertanyalah dengan halus bila ada masalah yang belum jelas, 7) hendaklah sering mengurangi makan supaya hati terang dan lekas mengerti. (1.27-1.33).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;3). Syariat&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syariat adalah perabot yang diperlukan oleh orang yang berjalan menuju Allah, yang meliputi : 1) syahadat, 2) shalat, 3) zakat, 4) puasa, 5) naik haji, 6) mencari yang halal dengan pedoman syarak, dan 7) mencari kawan yang baik. Dalam menjalani syariat ini, seseorang harus mencegah segala perbuatan maksiat, misalnya : mencuri, menyamun,mabuk, menipu,berzina, berjudi, dan bergunjing (1.42-1.50).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;4). Tarekat&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tarekat adalah jalan orang menuju Allah. Jalan itu meliputi : 1) bertobat, yaitu bertobat kepada Allah dengan cara istigfar, dan bertobat kepada sesama manusia dengan cara meminta maaf atau mengganti kerugian bila memang merugikan orang lain; 2) bertapa, artinya mengabaikan keduniawian dan hanya mengharap sekedarnya sebagai bekal ibadah; 3) hati kunanah, artinya menerima nikmat Allah apa adanya tanpa menuntut; 4) tawakal, artinya pasrah kepada Tuhan seperti mayat; 5) hati sabar, artinya menjaga hati agar tidak bersedih dalam berbakti kepada Allah; 6) hati syukur, artinya mengetahui bahwa segala nikmat itu datang dari Allah, karena itu harus bersyukur; dan 7) hati ikhlas, artinya segala amal perbuatan hendaknya diniatkan untuk berbakti kepada Allah saja, bukan berniat ingin mencapai surga atau takut neraka serta mencari harta (1.51-1.62).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agar cepat sampai jalannya kepada Allah, seseorang harus mencegah tujuh bab. Ketujuh bab itu adalah : 1) sifat ujub, artinya menyombongkan diri bahwa segala nikmat bukan karena Allah tetapi karena usahanya sendiri; 2) mencegah riya, riya ialah berusaha agar ibadahnya dipuji orang lain. 3) mencegah takabur. Takabur ialah menganggap diri sendiri paling unggul dari sesamanya. 4) Mencegah sumah. Sumah ialah berharap agar orang lain mendengar amal perbuatan yang dilakukannya. 5) Mencegah tamak. Tamak ialah sangat berambisi dalam mencari harta. 6) Mencegah bakhil. Bakhil ialah sifat kikir. 7) Mencegah hasud. Hasud ialah tidak senang bila ada orang lain berbahagaia, dan berusaha agar orang lain menderita (1.64-1.72).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;5). Hakekat&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hakekat adalah perjumpaan manusia dengan Tuhan. Dalam hal ini manusia melihat Tuhan dan Tuhan melihat manusia, meskipun Tuhan tidak berwujud atau berwarna serta berupa apa pun. Agar manusia dapat selalu melihat Tuhan maka jangan tinggalkan syareat maupun tarekat (1.73-1.75).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;6). Obat Sakit Hati&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Obat sakit hati itu ada lima macam, yaitu : 1) membaca Al-aquran dan menghayati maknanya, 2) mengurangi makan agar hati menjadi terang, 3) berjaga pada malam hari untuk tafakur kepada Allah, 4) mencegah hawa nafsu, dan 5) memuji Allah menurut aliran nafas (2.17-2.18).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;7). Ciri-ciri Orang Alim&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ciri-ciri orang alim adalah : 1) mencegah hawa nafsu yang meliputi mencegah keinginan, menyingkirkan yang haram, mencegah maksiat dan menjalankan segala sesuatu yang wajib dan sunah; 2) sangat senang melakukan ibadah kepada Allah baik siang maupun malam hari tanpa berkeinginan dipuji orang lain, 3) tidak memikirkan keduniawian agar orang lain tidak benci, dan 4) selalu mengajak untuk berbuat baik, serta menganjurkan untuk tidak berbuat buruk (2.35-2.46).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8). Pepali Ki Ageng Sela&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pepali Ki Ageng Sela merupakan ajaran etika yang sangat kompleks. Banyak sekali anjuran-anjuran untuk melakukan perbuatan baik atau larangan-larangan melakukan perbuatan buruk. Ajaran-ajaran etika itu antara lain : jangan angkuh, jangan sombong, jangan jahil, jangan serakah,jangan suka barang milik orang lain, jangan suyka dipuji, jangan berfikiran ke kiri (buruk), berbicaralah dengan hati-hati, jangan mengagungkan tubuh, jangan menonjolkan ketampanan, justru berbuatlah yang baik, baik lahir maupun batin (7.1-7.3).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di samping itu dinyatakan pula jangan menuhankan besi, emas, kepandaian, ilmu, mantra, kemampuan, dan lain-lain karena semua itu sia-sia. Jujur dan kebenaran hendaknya dicari. Jangan berbuat semaunya, bahagiakanlah orang lain. Jangan menuruti nafsu. Peringatkanlah orang lain yang akan berbuat tidak baik. Berbicaralah yang baik dan milikilah rasa malu, yaitu malu terhadap Tuhan, dan malu kepada sesama manusia. Karena itu berhati-hatilah di dalam bertindak (7.4-7.11).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jangan mentang-mentang menjadi orang kaya. Jangan mengajak bertengkar. Jangan memuja kepandaian. Jangan menhancurkan orang lain. Jangan bergunjing. Siapa yang berbuat buruk akan masuk neraka, sedangkan yang baik akan mendapat kebahagiaan. Jangan ketus., jangan sombong, jangan jahil, dan jangan lalai. Berwataklah yang menyelamatkan dengan meniru orang utama dan baik, mengajak selamat, berhati-hati, dan bertoleransi. Jangan merasa diri paling berani, suka barang milik orang lain, dan suka mendatangi dukun. Jangan membungakan uang. Jangan berbudi kaum, yaitu watak senang mengurangi hasil zakat.Jangan serakah, jangan berwatak seperti iblis (7.11-7.16).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau jadi pembesar berucaplah yang baik terhadap orang lain, jangan suka mencela, jangan bengis, dan berlakulah hati-hati dengan cara mencegah nafsu dan berpuasa ‚mutih’. Berbaiklah kepada sanak famili. Jangan merasa paling lurus, jangan memalukan. Jangan mengumbar nafsu. Jangan mempermalukan orang lain. Lakukanlah ’banting raga’ dengan mencegah makan dan tidur di tempat sepi dengan sabar agar terlaksana segala hajat dan mendapat wahyu dari Tuhan, ucapannya pasti terjadi, terang hatinya, dan banyak orang yang senang (7.16-7.21).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lakukanlah hidup utama yaitu hidup orang-orang yang luhur derajatnya hasil-hasil bertapa dan bukan karena mengejar keduniawian. Karena itu lakukanlah miskin di dalam kaya, sakit di dalam sembuh, dan enak di dalam sengsara. Jangan marah apabila ditertawakan dan bersifatlah ’nrima’ kepada Allah, pasti Allah akan mengasihi. Bersungguh-sungguhlah dalam bertekad (7.21-7.29).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada lagi jalan utama : bersedekalah sandang dan pangan dengan rela lahir dan batin, jangan sakit hati karenanya, dan jangan minta balasan. Anggaplah semua amalan itu seperti membuang kotoran; itulah derma yang diterima. Dalam hidup tapa contohlah perilaku utama, jangan bertindak ke kiri, menjadi atau senang kepada dukun, karena dapat berakibat maut. Hal itu terjadi karena masih memikirkan kepentingan diri sendiri (duniawi) dan bertindak tidak jujur. Karena itu tindakan yang diterima oleh Allah adalah jangan terlalu banyak tingkah. Di samping itu perhatikanlah salat sejati, yaitu salat yang juga menjalani tapa. Sebabnya banyak orang yang keliru dalam bersuci. Mereka bersuci tetapi masih mengandung tahi, sembahyang tetapi mengandung bangkai (7.30-7.32).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;9). Macam-macam Setan&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Setan itu ada 12 macam, yaitu : 1) pendeta cinta wanita dengan cara berzina dan bertindak semena-mena, 2) orang yang makan barang haram, 3) orang yang tidak mau berbakti, 4) orang yang berani kepada ayah dan ibu, 5) orang yang suka merusak teman, 6) orang yang suka bertengkar, 7) orang senang mengadu domba, 8) wanita yang mendapat murka Tuhan, 9) orang yang menyia-nyiakan orang alim, 10) orang yang tidak tahu cara mensucikan dirinya, 11) orang yang berambisi memburu harta, dan 12) orang yang jahil, mengadu-adu, memfitnah tetangga, merusak sesamanya, mengunggulkan dirinya, akhirnya mendapatkan murka Tuhan. (7.33-7.39)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;10). Faedah Mencegah Nafsu&lt;br /&gt;Faedah mencegah nafsu adalah : 1) tidak tamak dalam mencari rejeki, 2) ikhlas hatinya, 3) berhasil hajatnya kepada Tuhan, dan 4) selamat badannya (13.5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11) Akibat Mengumbar Nafsu&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Akibat mengumbar nafsu adalah : 1) tamak dalam mencari rejeki, 2) tidak ikhlas berbakti, 3) hajatnya tidak terlaksana, dan 4) cepat rusak badannya (13.6)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;12) Faedah Bertapa&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Faedah bertapa adalah : 1) hati menjadi terang sehingga mengetahui hal-hal yang gaib, 2) mengetahui hakekat dunia, 3) hati mau kunanah, 4) sabar ketika fakir, tidak mau berhutang atau meminta-minta,  5) enak badan dan hatinya, 6) hajanya terkabulkan oleh Tuhan (13.19).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;13) Akibat Menuruti Hawa Nafsu&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Akibat menuruti hawa nafsu adalah: 1) gelap hatinya dan tidak mengetahui lahir batinnya, 2) tidak tahu hakekat dunia, 3) hati tidak mau kunanah, 4) tidak sabar ketika fakir, 5) tidak mantap hatinya dan badannya cepat rusak, dan 6) tidak terlaksana hajatnya pada Tuhan (13.20-13.22).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;14) Faedah Mengurangi Makan&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Faedah mengurangi makan adalah : 1) hatinya menjadi terang, 2) ikhlas beribadah, 3) ringan rasa badannya dan bersungguh-sungguh beribadah, 4) sedikit syahwatnya, 5) hati tidak mau lacut, takabur, riya, dan 6) hati mau kunanah (13.23-13.24).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;15) Akibat Terlalu Banyak Makan&lt;br /&gt;Akibat terlalu banyak makan ada 6, yaitu : 1) hatinya gelap, mengetahui lahir tetapi batinnya gelap, 2) hatinya keras, 3) malu beribadah, banyak tidurnya, dan tidak mau salat malam, 4) syahwatnya bertambah, 5) hatinya lacut, takabur, dan riya, serta 6) sangat berambisi mencari harta. (13.25-13.26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16) Faedah Mengurangi Makan&lt;br /&gt;Faedah mengurangi makan itu ada 6, yaitu : 1) hatinya terang lahir dan batin, 2) jauh dari bahaya setan, jin, maupun manusia, 3) hati jauh dari maksiyat, 4) makannya sedikit, 5) bila bicara tidak menipu dan lacut, 6) tercapai hajatnya kepada Tuhan (13.27-13.28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17) Pesan Orang-orang Utama&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Orang-orang utama mengatakan bila dapat mengurangi tidur dan makan akan dekat kekuasaannya, jauh dari guna-guna dan sihir, jauh dari celaka, selamat badannya, dan terlaksana hajatnya kepada Allah (13.29).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;18) Pesan Putra Ahmad Rifai&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Janganlah melanggar syarak (syariah). Lakukan perbuatan baik sesuai dengan syarak agar tidak dikecam ulama di dunia, dan dihukum Allah di akhirat. Di samping itu, jangan mengaku orang alim sebelum lulus semua pengetahuan yaitu dari Al Quran, Hadits, Ijmak, dan Qiyas, sebab akan memalukan bila diketahui orang lain. Bila memang sudah selesai dalam ilmu tersebut, hendaklah mau mengajarkannya dengan niat hanya berbakti kepada-Nya tanpa memikirkan keduniawian, tetapi jangan menghancurkan diri sendiri. Orang alim yang masih melaksanakan perbuatan yang tidak baik akan disiksa setelah siksa orang-orang kafir. Karena itu takutlah kepada Tuhan dengan cara melaksanakan ibadah terus-menerus siang malam. Carilah teladan-teladan yang baik dan cara-cara ibadah yang benar (14.1-14.16).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;19) Pesan-pesan Penulis Naskah&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Berbaktilah kepada orang lain. Ucapkanlah yang baik-baik, jauhi perkataan jelek. Bila ada orang lain yang akan berbuat jahat, maka tinggalkanlah karena hal itu akan berbahaya. Bila dia memang tidak mau mengubah sikap, jangan berkumpul dengannya. Namun, bila dia sudah mau bersikap baik. Maka kumpulilah dia. Di samping itu, jauhilah perbuatan buruk. Ingatkanlah kawan agar selalu berbuat baik. Dalam beribadah, orang awam memang perlu mengharapkan anugrah dari Allah (14.17-14.22).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Nafkahilah isterimu, jauhilah perbuatan haram, dan hidup rukunlah dalam bersuami isteri. Bila memelihara ternak, unggas, rawatlah dengan baik. Berbaktilah kepada ayah dan ibu, terutama bila mereka sudah tua dan fakir. Berbaiktilah kepada mertua dan saudara tua. Berbaktilah kepada guru, sebab berbaikti kepada orang tua dan guru adalah perintah Allah, sedangkan guru adalah orang yang menunjukkan ilmu dan ibadah kepada Tuhan yang tidak akan rusak dan dibawa ke akhirat. Dalam melaksanakannya hendaklah bersungguh-sungguh dan jangan ragu-ragu supaya diterima oleh Allah (14.23-14.31).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Di samping itu hargailah tamumu, temuilah dia, jamulah dia, berbicaralah yang baik padanya serta jangan menyusahkannya. Bila ada orang minta-minta berilahs sekedarnya dengan rela. Pinjamilah orang lain yang membutuhkan pinjaman dengan rela tanpa mengharapkan pujian. Bersilaturahmilah pada para ulama, dan carilah berkahnya, serta jangan mendekati orang jail, dan angkara murka. Bersilaturahmilah kepada sanak famili, tolong-menolonglah kepada sesama, kalau ada kesusahan atau kematian dengan rela, sabar, dan pasrah. Bila berkumpul orang banyak berbicaralah dengan baik, jangan berolok-olok, jangan membuka keburukan orang lain, jangan terlalu banyak berbicara.     Didiklah anakmu agar mengerti ibadah. Ajarilah mereka dengan hukum dan peraturan baik buruk dan sopan santun (15.1-15.27).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Dari uraian di atas, banyak sekali ajaran etika yang disampaikan oleh penulis naskah. Bahkan di antaranya ada ajaran-ajaran etika yang permasalahannya diulang-ulang. Di samping ajaran etika, terdapat pula ajaran pembersihan jiwa. Dalam hal ini sesuai dengan prinsip tasawuf bahwa etika yang baik tidak akan tercapai sebelum diadakan pembersihan jiwa. Ajaran-ajaran etika itu hampir semuanya bertolak dari ajaran agama Islam. Hal ini dapat dibuktikan dari ayat-ayat antara lain sebagai berikut.&lt;br /&gt;       &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;            ”Kamu sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang karib dan tetangga yang bukan karib, teman sejawat, orang musafir, dan kepada hamba sahaya kamu. Sesungguhnya Allah tiada mengasihi orang yang sombong dan bermegah-megahan” (Q.S. An-Nisa’:36).&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari Abu Bakar berkata : Nabi SAW bersabda : Maukah kutunjukkan kepadamu tiga dosa besar? Sahabat menjawab ”Ya”. Nabi menyatakan : 1) menyekutukan Allah, 2) durhaka kepada kedua orang tua, dan 3) perkataan bohong (dosa).&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Dari Anas bin Malik berkata : ”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang suka untuk diluaskan rejekinya. Atau dipanjangkan umurnya, maka hubungilah familinya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari beberapa kutipan di atas dapat dinyatakan bahwa sopan santun itu dapat diarahkan terhadap Tuhan dan sesama manusia. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Sopan santun terhadap Tuhan dinyatakan dengan cara penyembahan dan tidak menyekutukan-Nya. Adapun soapn santun terhadap sesama manusia meliputi : kepada kedua orang tua, karib kerabat, tetangga, maupun orang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Adapun yang menjadi pembersihan jiwa bagi orang-orang Islam antara lain : &lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;      "&lt;i&gt;Maka barangsiapa yang durhaka dan mengutamakan hidup di dunia maka sesungguhnya nerakalah tempat diamnya. Adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan dirinya dari hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat diamnya” (Q.S. An-Nazi’aat :31-37).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Dan barangsiapa yang mensucikan diri mereka, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri dan kepada Allah tempat kembali.” (Q.S. Al-Fathir:18)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;”Ingatlah, dalam tubuh ada segumpal daging. Apabila daging itu baik, maka tubuh semuanya menjadi baik. Apabila daging itu binasa, maka tubuh semuanya menjadi binasa. Ketahuilah, daging itu ialah ‘qalbu’/hati.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Rasulullah bersabda : Kita baru pulang jihad paling kecil, dan akan menghadapi jihad yang sangat besar. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; sahabat bertanya : apakah itu jihad yang paling besar wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab : yakni jihad melawan hawa nafsu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kutipan-kutipan di atas menjelaskan bahwa menahan nafsu adalah perintah Allah. Orang yang menahan hawa nafsunya berarti ia beriman dan itu merupakan jaminan sorga baginya. Orang yang menahan hawa nafsu berarti ia mensucikan jiwanya dan hal itu termasuk perang besar yang lebih besar daripada perang dalam bentuk pertempuran bersenjata. Untuk itu jadikanlah hati (qalbu) sebaik-baiknya, dengan mengumpulkan sifat dan budi luhur di dalamnya serta melaksanakannya dalam kehidupan manusia. Al Ghazali menyebutkan sifat-sifat dan budi pekerti yang luhur itu antara lain: 1) banyak malu, 2) tidak pernah menyakitkan, 3) banyak amalannya, 4) jangan keliru, 5) sedikit sekali perbuatan dan kata-kata yang tidak berguna, 6) baik hati, 7) senang memelihara silaturahmi sanak famili, 8) rendah hati, 9) sabar, 10) banyak berterima kasih, 11) lapang dada, 12) lemah-lembut, 13) penyayang, 14) suci hati, 15) ramah tamah, 16) tidak senang melaknati, 17) tidak senang memaki, 18) tidak senang mengadu domba, 19) tidak senang membicarakan kejelekan orang lain, 20) tidak segera bertindak, 21) tidak kikir, 22) tidak senang dengki, 23) air mukanya sekalu berseri-seri, dan 25) cinta karena Allah dan benci karena-Nya pula, rela karena Allah, dan benci karena Allah. Sifat-sifat luhur ini memiliki banyak kesamaan dengan apa yang telah diungkapkan dalam ”SNJ”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Ajaran Psikologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span style="" lang="FI"&gt;Ajaran psikologi dalam tasawuf adalah usaha introspeksi diri sendiri (&lt;i&gt;muhasabah linafsihi).&lt;/i&gt; Dalam berintrospeksi diri dapat digunakan beberapa pertanyaan sehingga seseorang mengetahui siapa dirinya. Beberapa pertanyaan untuk mengetahui siapa dirinya itu adalah : 1) Siapakah saya?, 2) Darimanakah asalnya?, 3) Apakah gunanya (tugasnya)?, dan 4) Akan kemanakah akhirnya? Diharapkan dari hasil jawaban tersebut akhirnya manusia merasa dirinya lemah, tidak memiliki daya apa-apa, selanjutnya akan mengenal Allah yang berkuasa atas segala makhluk-Nya (Sa-Salawy, 1986:46-47).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ajaran psikologi dalam ”SNJ” di antaranya sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Siapakah saya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;........................................................&lt;br /&gt;he Juminah &lt;u&gt;hingkang haran Allah&lt;/u&gt;,&lt;br /&gt;hiku &lt;u&gt;dat kang wajib wujudde&lt;/u&gt;,&lt;br /&gt;mokal hing ngadamipun,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;hingkang gawe bumi lan langit&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;lawan damel hing manungsa&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;lan tingkah polahipun&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;,&lt;br /&gt;..................................... &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:100%;"&gt;(2.25)&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="DE"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;            &lt;/span&gt;Kutipan di atas menyatakan bahwa manusia termasuk bumi dan langit adalah makhluk, artinya ciptaan. Yang menciptakan adalah dzat yang wajib keberadaannya yaitu Allah. Hanya Allah yang berkuasa. Kekuasaannya di antaranya menciptakan manusia dan segala tingkah lakunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam metafora “Dalang dan Wayang“ dapat dijelaskan bahwa manusia tidak memiliki daya sama sekali di bawah kekuasaan-Nya. Tuhanlah yang membuat manusia, rupa manusia, pembicaraannya, pikirannya, perbuatannya, untung ruginya, hidup matinya, dan kehendaknya, langsung didekte dan ditentukan oleh Tuhan. Manusia yang pada dasarnya ’bukan apa-apa’ menurut saja terhadap segala yang menjadi ketentuan-Nya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Hal ini terjadi tanpa kompromi antara Tuhan dan manusia. (Nasution, 1987:102-103). Hal ini juga dinyatakan secara eksplisit dalam ”SNJ”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;................................................&lt;br /&gt;&lt;i&gt;kang &lt;u&gt;pasemon Allah lan jalmine&lt;/u&gt;,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;hapan &lt;u&gt;kadya dhalang lawan ringgit&lt;/u&gt;,&lt;br /&gt;yen mekaten badan mami,&lt;br /&gt;milikke Yang Ngagung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kutipan di atas juga menjelaskan bahwa manusia itu milik Allah. Allah berkuasa mutlak atas manusia dan segalanya.Uraian ”SNJ” di atas sesuai dengan ayat-ayat dalam Al-Quran sebagai berikut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;”&lt;i&gt;Dia yang menghidupkan dan mematikan. Apabila Dia hendak memutuskan suatu urusan, maka hanya Dia berkata kepadanya : Jadilah engkau lalu jadilah ia“ (Q.S. Al Mu’min : 68).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sesunggunya Kami ciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk, kemudian Kami kembalikan dia serendah-rendah orang yang rendah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;Darimanakah asal saya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;........................................................&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;He Juminah hingkang haran Allah&lt;br /&gt;...........................................................&lt;br /&gt;Hingkang gawe bumi lan langit,&lt;br /&gt;lawan damel manungsa,&lt;br /&gt;.............................................. (3.26)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;i&gt;                     peparingringe Yang Ngagung&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;&lt;i&gt;                     lantaran wong tuwa kalih,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;                     balung hotot lan herah,&lt;br /&gt;                     daging kelawan kulit,&lt;br /&gt;                     ................................... (14.28).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 60pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;..........................................&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;hananira Yang Sukma,&lt;br /&gt;milikke sekehhe wujud,&lt;br /&gt;sarta mujuddake gampang. (1.23)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 60pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pertayaan kedua ini berhubungan dengan pertanyaan pertama. Dalam kutipan di atas disebutkan pula bahwa Tuhanlah pencipta manusia. Hal ini dapat dinyatakan bahwa manusia berasal dari Tuhan, sebagaimana asal bumi dan langit. Tetapi manusia tidak langsung dimunculkan di dunia oleh Tuhan. Keberadaan manusia di dunia melalui perantara terlebih dahulu. Perantaranya adalah kedua orang tua, yaitu ayah dan ibu. Ayah dan ibu turut menyumbang keberadan manusia dengan cara memberikan bakal pembemtuk tulang, otot, daging, kulit, dan darah. Jadi, orang tua juga turut berjasa membantu keberadaan manusai di samping Tuhan yang memberi anugrah yang pertama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Banyak sekali ayat-ayat Al Quran maupun Hadist yang menjelaskan asal-usul manusia. Hal dapat dibuktikan antara lain sebagai berikut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i&gt;”Dia yang menggambarkan (membentuk) kamu dalam rahim ibumu, sebagaimana dikehendaki-Nya. Tiada Tuhan, kecuali Dia yang Mahaperkasa, lagi Mahabijaksa” (QS. Ali Imran : 6).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dari tanah kering, dari tanah hitam yang telah berubah” (QS. AL Hijr :26).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Sesunguhnya telah kami ciptakan manusia dari sari tanah kemudian kami jadikan dia air mani (yang disimpan) di dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan tulang, lalu tulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami ciptakan makhluk yang lain (manusia yang sempurna). Maka Mahasuci Allah yang sebaik-baik menciptakan”. (Q.S. Al Mukminun : 12-14).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Dari Adullah berkata : Telah menyatakan Rasulullah SAW, yang paling benar pada kami dengan sabdanya : Sesungguhnya salah seorang di antaramu telah berkumpul kejadian pada perut ibunya 40 hari, kemudian menjadi darah kental (’alaqah) waktu itu, kemudian menjadi daging, lalu Allah mengutus malaikat yang diperintahkan dengan 4 ketetapan, dan dinyatakan padanya : Tulislah amalnya, rejekinya, ajalnya, celaka dan bahagianya, lalu ditiupkan roh ke dalamnya. Maka sesungguhnya seorang di antaramu akan bekerja hingga tidak ada jarak antara dia dengan sorga kecuali hanya sehasta dan mendahului atasnya tulisannya, maka ia bekerja dengan pekerjaan penduduk neraka. Dan ia mengerjakan hingga tidak ada jarak antara dia dan neraka kecuali sehasta maka mendahului atasnya tulisan itu, maka ia bekerja dengan pekerjaan penduduk sorga”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam kutipan ayat-ayat di atas, asal-usul manusia adalah dari penciptanya yaitu Allah. Dia menciptakan manusia dari tanah hitam yang telaah berubah atau dari saripati tanah yang kemudain oleh Allah dijadikanlah menjadi air mani yang disimpan di dalam rahim. Air mani itu kemudian dijadikan segumpal darah sampai akhirnya diciptakanlah manusia yang sempurna. Asal-usul manusia yang dinyatakan dalam ayat-ayat di atas ada kesamaannya dengan yang disampaikan ”SNJ”. Dalam penulisannya, penulis naskah dapat secara langsung maupun tidak langsung, mengambil sumber atau dasar dari ayat-ayat di atas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kemanakah akhirnya saya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;..........................................&lt;br /&gt;sun rasa neng dunnya,&lt;br /&gt;mangsa lawassa mami,&lt;br /&gt;.......................................... (10.1)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;nora wurung kuburran gonne hiku,&lt;br /&gt;..................................................... (10.2)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;              &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;ngilmu panak tegesnya,&lt;br /&gt;tepakurre sanubari,&lt;br /&gt;haningalli hing manungsa,&lt;br /&gt;wujudde datan kakiki,&lt;br /&gt;mung Allah kang maha suci,&lt;br /&gt;kakekatte wujuddipun,&lt;br /&gt;....................................... (2.14)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;..........................................&lt;br /&gt;haja hetang sandhang pangan,&lt;br /&gt;sakhenggone gawenen sangu mati,&lt;br /&gt;dedanaha mupung gesang. (7.20)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dari kutipan-kutipan di atas dinyatakan bahwa manusia hidup di dunia itu tidak lama.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Akhirnya manusia akan masuk kubur atau mati. Jadi, manusia tidak hakiki keberadaannyadi dunia. Hanya Allah yang hakiki keberadaan-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Gusti Allah hiku ngratonni&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;            hiya besuk dinanne Kiyamat&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;           ngukummi mring makhluk kabeh&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;,&lt;br /&gt;           sira ngrasaha hiku,&lt;br /&gt;           yen milikke Kang Maha Suci,&lt;br /&gt;           besuk hing dina Kiyamat,&lt;br /&gt;           sira tampa kukum,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;           kukum becik lan hala&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;,&lt;br /&gt;           hingkang becik hiya denwales becik,&lt;br /&gt;           kang hala winales hala. (12.11)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;haneng suwarga wong kang gawe becik,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;            wong gawe hala manyjing neraka,&lt;br /&gt;            ……………………………………. (12.12)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;………………………………….&lt;br /&gt;            yen sira kapengin mulya,&lt;br /&gt;            hing dunnya lan ngakerat,&lt;br /&gt;            ........................................ (1.3)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Manusia tidak hakiki hidup di dunia. Setelah mati dia akan berpindah hidup di akhirat. Di akhirat itu ada dua macam tempat, yaitu sorga dan neraka. Sorga adalah tempat yang baik yang nantinya akan diberikan Tuhan kepada manusia yang di dunia berbuat baik. Sedangkan neraka adala tempat yang sangat buruk yang nantinya diberikan Tuhan untuk menghukum orang-orang yang di dunia selalu berbuat jelek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Yang diuraikan oleh penulis naskah di atas tampak sekali bersumber baik langsung maupun tidak langsung pada ayat-ayat Al Quran maupun Hadits. Hal ini dapat dibuktikan dari kutipan ayat-ayat berikut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;”Dan sesungguhnya orang-orang yang tiada percaya kepada akhirat, Kami sediakan untuk mereka itu siksaan yang pedih” (QS. Al Isra’:10)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;”Kepada-Nya tempat kembalimu sekalian, janji Allah sebenarnya. Sesungguhnya Dia memulai ciptaan kemudian mengulanginya (waktu berbangkit), supaya dibalas-Nya orang-orang yang beriman dan mengamalkan amal shalih dengan keadilan. Orang-orang kafir untuk mereka itu minuman dari air yang sangat panas dan siksaan yang pedih karena mereka itu kafir” (QS. Yunus : 4).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;”Maka pada hari ini, seseorang tiada teraniaya sedikit pun dan kamu tiada dibalas melainkan menurut apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya penghuni sorga pada hari itu bersenang-senang dalam pekerjaannya. (QS. Yasin : 54-55).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;”Ya, barangsiapa mengerjakan kejahatan dan telah meliputi kesalahan itu, maka mereka itu penghuni neraka, sedang mereka kekal di dalamnya. Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mereka itu penghuni surga, sedang mereka kekal di dalamnya”. (QS. Al Baqarah : 81-82)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;”Dari Ibn Umar : Jika seorang di antaramu mati maka ditunjukkan tempatnya pada pagi hari dan sore hari, dan jika dari penduduk sorga maka diperlihatkan isi atau penduduk sorga, dan jika dari penduduk neraka maka diperlihatkan isi atau penduduk neraka. Maka dikatakannya : Inilah tempatmu hingga Allah membangkitkanmu hingga pada hari Qiyamat”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dalam kutipan-kutipan ayat di atas dinyatakan bahwa manusia (orang Islam) wajib beriaman tentang keberadaan hari akhirat. Di dalam hari akhirat manusia mendapat balasan sesuai dengan amal ibadahnya di dunia. Barangsiapa berbuat kejahatan siksa di nerakalah balasannya, sedangkan barangsiapa berbuat kebaikan akan dibalas nikmat kehidupan di surga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Akhirnya dapat disimpulkan bahwa yang dinyatakan penulis dalam ”SNJ” tentang tujuan kehidupan manusia sesuai dengan ayat-ayat yang terdapat dalam Al Quran maupun Hadits.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;4)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Apa tugas manusia? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;              &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;lamun sira tinggal bekti,&lt;br /&gt;maring Allah tangala,&lt;br /&gt;hiku salah sejatinne,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;sira hiku haran kawula&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;milikke Allah tangala&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;kabehhing parentahhipun&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;kawula pesthi lumampah&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;. (1.25)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;......................................&lt;br /&gt;&lt;i&gt;pelambang kang yektos,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;kang pasemon Allah lan jalminne,&lt;br /&gt;hapan kadya dhalang lan ringgit,&lt;br /&gt;&lt;u&gt;yen mekaten badan mami&lt;/u&gt;,&lt;br /&gt;&lt;u&gt;milikke Yang Ngagung&lt;/u&gt;, (4.9)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;hapan Allah sinembah wajib&lt;/u&gt;,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;............................................ (4.10)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;              &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i&gt;...........................................&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;sira murid sun tuturri,&lt;br /&gt;ngestokna pitutur mami,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;tetep pabekti hing Yang Ngagung&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;,&lt;br /&gt;&lt;u&gt;siyang dalu nglakonnona&lt;/u&gt;,&lt;br /&gt;&lt;u&gt;mring Allah Kang Maha Suci&lt;/u&gt;,&lt;br /&gt;&lt;u&gt;dadya slamet sekalire kang sineja&lt;/u&gt;. (11.6)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="DE"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dari kutipan di atas dinyatakan bahwa bila manusia tidak berbakti kepada Tuhan berarti manusia melakukan kesalahan. Manusia bersalah karena manusia makhluk milik Tuhan. Sudah sewajarnya ’hamba’ berbakti kepada ’tuan’-nya. Sudah menjadi kodrat makhluk harus berbakti kepada Tuhan. Dan, berbaikti kepada Tuhan hendaknya dilakukan terus-menerus baik siang maupun malam agar selamat dalam segala-galanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Yang diuraikan penulis naskah di atas sesuai dengan ayat-ayat yang dinyatakan dalam Al Quran. Hal ini dapat dibuktikan sebagai berikut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”&lt;i&gt;Tiadalah Aku jadikan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku” (QS At-Thuur:56)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu bertaqwa” (QS`Al Baqarah:21)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Sesungguhnya Akulah Allah tidak ada Tuhan kecuali Aku, sebab itu sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” (QS Thoha : 14)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;”Hai orang-orang yang beriman, rukuklah sujudlah dan sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, mudah-mudahan kamu mendapat kemenangan (sukses)” (QS Al Haji:77)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam kutipan-kutipan di atas dinyatakan bahwa tujuan penciptaan manusia oleh Allah adalah agar manusia menyembah-Nya. Penyembahan itu dimaksudkan agar manusia menjadi bertakwa dan mendapat kesuksesan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Akhirnya uraian di atas dapat disimpulkan tugas utama manusia di dunia ini adalah menyembah Tuhan. Tugas manusia yang dinyatakan oleh penulis naskah dalam ”SNJ” sesuai dengan ayat-ayat dalam Al Quran. Dalam hal ini penulis naskah dapat mengambil secara langsung maupun tidak langsung ayat-ayat itu ke dalam ”SNJ”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari seluruh uraian ajaran psikologi di atas, semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saya      adalah manusia. Saya adalah ciptaan Allah, sebagaimana makhluk-makhluk      lainnya. Segala sesuatu yang terdapat pada diri saya diciptakan oleh      Allah. Hanya Allah yang menentukan segala sesuatu pada diri saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saya      berasal dari Allah. Namun keberadaan saya di dunia melalui perantara orang      tua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saya      tidak kekal hidup di dunia. Akhirnya saya nanti akan mati untuk hidup lagi      di alam akhirat. Apabila saya berbuat baik di dunia, nanti saya akan      mendapat kebahagiaan di surga. Namun, apabila perbuatan saya jelek di      dunia, akan mendapat siksa di neraka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tugas      saya sebagai manusia yang hidup di dunia semata-mata untuk menyembah      kepada Tuhan. Sudah menjadi kodrat manusia menjadi penyembah, dan Tuhan      menjadi yang disembah. Penyembahan itu pun ditujukan untuk kepentingan      manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. Ajaran Estetika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Estetika dalam tasawuf suatu keindahan pada jiwa seseorang yang berpuncak pada cinta (mahabbah). Orang akan merasa indah pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jiwanya bersih dari sifat-sifat tercela dan dihiasi dengan sifat-sifat yang terpuji. Dalam hal ini orang itu sudah mencapai tujuan tasawuf, yaitu : 1) makrifat billah artinya dapat melihat Tuhan dengan hati secara jelas dan nyata dengan segala kenikmatan dan kebesaran-Nya, bukan dengan menggambarkan Tuhan seperti benda atau segala rupa sebagai jawaban Dzat Tuhan, dan 2) insan kamil, artinya manusia yang berjiwa sempurna, dekat pada sisi Allah, dan dianggap cakap untuk memberikan petunjuk dan menyempurnakan hamba Allah. Untuk mencapainya ada jalan yang harus ditempuh dalam bertasawuf. Jalan yang harus ditempuh itu adalah : 1) syariat, 2) tarekat, dan 3) haqiqat (As Salawy, 1986: 58-65).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sayyid Abi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bakkar Al-Makky menyatakan bahwa makrifat billah merupakan suatu cahaya yang dipancarkan Allah di hati hamba-Nya, sehingga dengan cahaya itu lah hamba tersebut bisa melihat rahasia-rahasia kerajaan Allah di bumi dan langit dan hamba tersebut bisa mengamat-amati sifat kekuasaan dan kekuatan Allah. Itulah tujuan tertinggi kaum sufi. Hal ini juga dinyatakan oleh Al Ghazali sebagai berikut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kelezatan mengenal dan Tuhan dan melihat keindahan ke-Tuhanan dan melihat rahasia-rahasia hal ke-Tuhanan adalah lebih lezat dari derajat kepemimpinan yang merupakan top dari kelezatan-kelezatan yang ada pada makhluk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sangat sulit menggambarkan kebesaran nikmat orang yang telah sampai kepada makrifat billah. Setelah hijab yang menghalangi Tuhan dan hamba tersingkap akan dapat menimbulkan cinta yang sangat mendalam kepada-Nya. Hal ini sebagaimana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dinyatakan oleh Rabiah al Adawiyah berikut ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;            cintaku pada-Mu ada dua,&lt;br /&gt;            cinta asmara dan cinta haq buat-Mu&lt;br /&gt;            cinta asmara ........&lt;br /&gt;            penuh ingat dan sanjungan pada-Mu&lt;br /&gt;           adapun cinta haq,&lt;br /&gt;           karena terbuka tabir melihat-Mu,&lt;br /&gt;           tak ada puji untuk ini dan itu aku tak berhaq,&lt;br /&gt;          tapi dalam kedua cintaku itulah puji bagi-Mu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;          (A. Sayfii MK, 1987:79)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Makrifat billah selain berupa nikmat bagi orang yang telah mencapainya (terutama para sufi), juga menyebabkan timbulnya sifat malu dan mengagungkan Tuhan sebagaimana tauhid menyebabkan orang menjadi ’ridla’ dan menyerahkan diri kepada Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam hal yang sama Jalaluddin Rumi menyatakan bahwa yang dimaksud insan kamil adalah sebagai berikut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Insan kamil ialah seorang yang sadar akan keakuannya yang transedent atau (faaiq), yang tak diciptakan dan bersifat Ilahi. Mungkin setiap orang seorang merealisasikannya, itulah tujuan dan akhir kehidupan. Insanul kamil langsung berhubungan dengan Tuhan tak lah ada lagi nabi yang mengantara padanya. (&lt;/i&gt;As Salawy, 1986:81).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Manusia dapat mencapai taraf insan kamil tersebut bila menumbuhkan sifat-sifat Tuhan pada dirinya, makin sempurna manumbuhkan sifat-sifat Tuhan pada dirinya maka makin kuatlah hikmat pribadinya. Di samping itu perlu dilakukan pula penghilangan sifat-sifat yang membinasakan dan menjalankan sifat-sifat yang menyelamatkan. Dengan kata lain mencapai makrifat billah lewat pensucian diri dari segala dosa dan menekunkan diri dalam beribadah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Al Ghazali menyatakan tanda-tanda insan kamil adalah cinta kepada Tuhan (mahabbah) yang diwujudkan dalam bentuk kepatuhan terhadap perintah-perintah-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;.............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maaf segera diselesaikan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-998756580002791674?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ORoxbHlf0DiNIhxr5N48x7359SQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ORoxbHlf0DiNIhxr5N48x7359SQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ORoxbHlf0DiNIhxr5N48x7359SQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ORoxbHlf0DiNIhxr5N48x7359SQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/aeNtRxy6zmw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/998756580002791674/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/nilai-tasawuf-dalam-serat-ngabdul-jalil.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/998756580002791674" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/998756580002791674" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/aeNtRxy6zmw/nilai-tasawuf-dalam-serat-ngabdul-jalil.html" title="AjaranTasawuf dalam &quot;Serat Ngabdul Jalil&quot;" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/nilai-tasawuf-dalam-serat-ngabdul-jalil.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-5182086665814563964</id><published>2008-06-18T11:48:00.000-07:00</published><updated>2008-06-18T12:00:33.547-07:00</updated><title type="text">Film Ayat-ayat Cinta</title><content type="html">&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/KvMZM0uRrkc&amp;hl=en"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/KvMZM0uRrkc&amp;hl=en" type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-5182086665814563964?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0_URIdDlYfdMIPKGB3V46nege1c/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0_URIdDlYfdMIPKGB3V46nege1c/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0_URIdDlYfdMIPKGB3V46nege1c/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/0_URIdDlYfdMIPKGB3V46nege1c/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/--TX_dsgZAs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/5182086665814563964/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/film-ayat-ayat-cinta.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/5182086665814563964" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/5182086665814563964" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/--TX_dsgZAs/film-ayat-ayat-cinta.html" title="Film Ayat-ayat Cinta" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/film-ayat-ayat-cinta.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-2333525478810825551</id><published>2008-06-18T11:44:00.000-07:00</published><updated>2008-06-21T00:13:22.465-07:00</updated><title type="text">Kontroversi Tasawuf dalam Puisi Amir Hamzah</title><content type="html">Tasawuf adalah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maaf segera diselesaikan .....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-2333525478810825551?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/NmjTtsWRNKOYrkp9WjCqyYXW790/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/NmjTtsWRNKOYrkp9WjCqyYXW790/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/NmjTtsWRNKOYrkp9WjCqyYXW790/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/NmjTtsWRNKOYrkp9WjCqyYXW790/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/FvnFenFxvAA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/2333525478810825551/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/kontroversi-tasawuf-dalam-puisi-amir.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/2333525478810825551" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/2333525478810825551" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/FvnFenFxvAA/kontroversi-tasawuf-dalam-puisi-amir.html" title="Kontroversi Tasawuf dalam Puisi Amir Hamzah" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/kontroversi-tasawuf-dalam-puisi-amir.html</feedburner:origLink></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5380445257264306926.post-6095395485786765271</id><published>2008-06-17T22:43:00.000-07:00</published><updated>2008-06-17T23:17:21.027-07:00</updated><title type="text">selamat jalan kawanku</title><content type="html">&lt;center&gt;&lt;br /&gt;in memoriam bapakku &lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat jalan kawanku&lt;br /&gt;selamat jalan memenuhi panggilan-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan berurai nestapa&lt;br /&gt;tinggalkan semua&lt;br /&gt;yang memang bukan kehendak kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat jalan kawanku&lt;br /&gt;selamat jalan menghadap-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan terpekur malu&lt;br /&gt;karena debu dan noda&lt;br /&gt;mengerak di wajah kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dongakkan kepalamu&lt;br /&gt;tegakkan wajahmu&lt;br /&gt;sebagaimana bapak kita &lt;br /&gt;berani menantang amanah-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;majulah dengan perkasa&lt;br /&gt;meski telah disiapkan siksa dan api membara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pulanglah dengan penuh bangga&lt;br /&gt;sebagai ksatria gugur di laga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena pada hakikatnya&lt;br /&gt;tidak mudah menjawab&lt;br /&gt;pusaran labirin dunia&lt;br /&gt;sehingga mereka menolaknya serta merta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pulanglah kawanku&lt;br /&gt;pulanglah segera&lt;br /&gt;rumah kencana telah disiapkan untukmu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5380445257264306926-6095395485786765271?l=wacana-bahasa.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BP8cD6Lv1r7HvjAlLaSS0xzLtpo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BP8cD6Lv1r7HvjAlLaSS0xzLtpo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BP8cD6Lv1r7HvjAlLaSS0xzLtpo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BP8cD6Lv1r7HvjAlLaSS0xzLtpo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/WacanaBahasaKita/~4/yylGGxP7WtA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/feeds/6095395485786765271/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/selamat-jalan-kawanku.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/6095395485786765271" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5380445257264306926/posts/default/6095395485786765271" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/WacanaBahasaKita/~3/yylGGxP7WtA/selamat-jalan-kawanku.html" title="selamat jalan kawanku" /><author><name>Sartono</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16392726022271086484</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="14498896093210508631" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://wacana-bahasa.blogspot.com/2008/06/selamat-jalan-kawanku.html</feedburner:origLink></entry></feed>
