<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150</id><updated>2024-12-18T19:14:14.851-08:00</updated><category term="tesis"/><category term="ptk"/><category term="skripsi"/><category term="skripsi hukum"/><category term="skripsi komunikasi"/><category term="skripsi adm negara"/><category term="skripsi fkm"/><category term="skripsi akuntansi"/><category term="skripsi pai"/><category term="skripsi pendolra"/><category term="skripsi ekonomi pembangunan"/><category term="skripsi manajemen"/><category term="ekonomi"/><category term="skripsi keperawatan"/><category term="skripsi pgpaud"/><category term="skripsi pendidikan matematika"/><category term="skripsi psikologi"/><category term="bahasa inggris"/><category term="skripsi pend bhs indonesia"/><category term="skripsi kebidanan"/><category term="aqidah akhlak"/><category term="kinerja karyawan"/><category term="motivasi"/><category term="pendapatan asli daerah"/><category term="faktor yang berhubungan"/><category term="hasil belajar"/><category term="komite audit"/><category term="pertumbuhan ekonomi"/><category term="prestasi belajar siswa"/><category term="produktivitas kerja"/><category term="capital adequacy ratio"/><category term="citra perusahaan"/><category term="corporate social responsibility"/><category term="hubungan supervisi akademik kepala sekolah"/><category term="kelompok b"/><category term="partisipasi masyarakat"/><category term="strategi humas"/><category term="strategi kepala sekolah"/><category term="analisis anggaran biaya produksi"/><category term="analisis pengaruh gaya kepemimpinan"/><category term="analisis pengaruh harga"/><category term="anemia ibu hamil"/><category term="budaya organisasi"/><category term="dalam membangun budaya religius di sma"/><category term="di kantor kecamatan"/><category term="disiplin kerja"/><category term="ekspor impor"/><category term="fashion involvement"/><category term="impulse buying behavior"/><category term="index card match"/><category term="jasa pemerintah"/><category term="kelompok a"/><category term="kemiskinan"/><category term="kepemilikan manajerial"/><category term="kepemimpinan"/><category term="kepuasan kerja"/><category term="kepuasan pelanggan serta dampaknya"/><category term="kesempatan kerja"/><category term="kinerja pegawai"/><category term="komunikasi antar pribadi"/><category term="kualitas pelayanan"/><category term="manajeman laba"/><category term="manajemen laba"/><category term="motivasi kepala lembaga"/><category term="motivasi kerja"/><category term="otonomi daerah"/><category term="pajak bumi dan bangunan"/><category term="pembelajaran menulis cerpen"/><category term="pemekaran wilayah"/><category term="pendidikan karakter"/><category term="penerapan akuntansi"/><category term="pengaruh motivasi"/><category term="pengaruh pengeluaran pemerintah"/><category term="pengawasan dan pendidikan keimigrasian"/><category term="pengetahuan"/><category term="pengetahuan ibu"/><category term="perilaku seksual remaja"/><category term="perjanjian pengadaan barang"/><category term="radio"/><category term="return on asset"/><category term="strategi komunikasi"/><category term="strategi public relation"/><category term="terhadap kinerja pegawai"/><category term="32 tahun 2009"/><category term="ASI"/><category term="BPMPPT"/><category term="KTSP"/><category term="MANAJEMAN ASET TETAP DAN PENERAPAN AKUNTANSI"/><category term="PT. Telkom"/><category term="administrasi manunggal satu atap"/><category term="agama islam dengan moral remaja akhir"/><category term="akhlak"/><category term="akibat hukum kawin"/><category term="akibat hukum penundaan kewajiban pembayaran utang"/><category term="akibat hukumnya"/><category term="akibat hukumnya di tinjau uu no.1 tahun 1974"/><category term="akibat penipuan di hadapan notaris"/><category term="akibatnya dalam peradilan pidana"/><category term="akta jual beli kapling perumahan oleh ppat"/><category term="aktiva tetap"/><category term="akuntansi pemerian kredit"/><category term="akuntansi pertanggungjawaban"/><category term="alih fungsi tanah pertanian ke non pertanian"/><category term="alternatif model pembelajaran"/><category term="amalisis faktor yang mempengaruhi pendapatan asli daerah"/><category term="anak usia dini"/><category term="anak yang berhadapan dengan hukum"/><category term="analisa hukum mengenai ketentuan perdagangan regional"/><category term="analisi faktor yang mempengaruhi kualitas"/><category term="analisis determinan permintaan kredit pnpm mandiri"/><category term="analisis faktor yang berhubungan"/><category term="analisis faktor yang berhubungan dengan kinerja perawat"/><category term="analisis faktor yang mempengaruhi"/><category term="analisis hubungan tingkat kebisingan"/><category term="analisis hukum dan kewajiban para pihak"/><category term="analisis hukum kewajiban sosial perusahaan"/><category term="analisis hukum putusanm pembatalan perkawinan"/><category term="analisis hukum terhadap kewajiban tanggung jawab sosial perusahaan"/><category term="analisis jabatan"/><category term="analisis keberhasilan pendidikan karakter"/><category term="analisis kedudukan"/><category term="analisis kemampuan daerah"/><category term="analisis kemampuan keuangan daerah"/><category term="analisis laporan keuangan"/><category term="analisis pelaksanaan pembelajaran"/><category term="analisis pelaksanaan pembelajaran ilmu pengetahuan sosial"/><category term="analisis pengaruh kepuasan kerja"/><category term="analisis pengaruh kondisi kerja"/><category term="analisis pengaruh kredit perbankan"/><category term="analisis pengaruh pengembangan karir"/><category term="analisis pengaruh tanggung jawab kerja"/><category term="analisis perbandingan kinerja"/><category term="analisis perlindungan hukum hak tersangka"/><category term="analisis potensi pajak penerangan jalan"/><category term="analisis program penanggulangan kemiskinan"/><category term="analisis sistem informasi"/><category term="analisis strategi komunikasi eksternal"/><category term="analisis terhadap pelaksanaan prindip keseimbangan"/><category term="analisis terhadap permohonan pembatalan perkawinan"/><category term="analisis terhadap putusan hakim"/><category term="analisis yang mempengaruhi minat beli"/><category term="analisis yang menghambat"/><category term="analisis yuridis atas eksistensi surat kuasa"/><category term="anatara anak dan orang tua terpisah"/><category term="angka kejadian diare pada anak usia balita"/><category term="angka kesakitan malaria"/><category term="angkatan kerja dan incestasi terhadap pdrb"/><category term="asi eksklusif"/><category term="aspek hukum dalam perjanjian leasing"/><category term="asset growth"/><category term="badan pelayanan perizinan terpadu"/><category term="badan permusyawaratan desa"/><category term="balanced scorecard"/><category term="balita"/><category term="bank pemerintah"/><category term="bank pemerintah dan bank swasta"/><category term="bank swasta"/><category term="barang bagasi penumpang"/><category term="barang kiriman mewnurut uu no.22 tahun 2009"/><category term="barbasis convextual teaching learning"/><category term="bayi berat lahir rendah"/><category term="bayi usia 0-6 bulan"/><category term="beasiswa dan sitra perusahaan"/><category term="bekerja menggunakan model kooperatif tipe tgt"/><category term="berasal dari tanah negara"/><category term="berbantuan lks"/><category term="berbantuan lks pada kompetensi dasar teorema phytagoras"/><category term="berbantuan mbi"/><category term="berbantuan media powerpoint"/><category term="berdasarkan beban kerja dinas kesehatan"/><category term="berdasarkan keputusan keyua bapepam"/><category term="berdasarkan warna bentuk pada kelomp[ok b"/><category term="berhubungan dengan kejadian ispa pada balita"/><category term="bermain estafet"/><category term="biaya operasional"/><category term="bola di lempar"/><category term="bpd"/><category term="cadangan devisa"/><category term="calon independen pemilihan kepala daerah"/><category term="cara jual beli di kantor pertanahan"/><category term="catatan sipil pemda kabupaten"/><category term="creative problem solving"/><category term="current ratio"/><category term="daftar skripsi lengkap"/><category term="dalam asean china free trade agreement"/><category term="dalam demonstrasi yang bersifat anarki"/><category term="dalam manajemen krisis"/><category term="dalam membiayai pengeluaran daerah"/><category term="dalam mempertahankan eksistensi"/><category term="dalam meningkatakan kinerja guru"/><category term="dalam merebut pasar"/><category term="dalam pembelajaran fiqih"/><category term="dalam pembentukan peraturan daerah"/><category term="dalam program berita"/><category term="dalam rangka otonomi daerah"/><category term="dalam rangka pendeportasian"/><category term="dalam rangka wto"/><category term="dalam tindak pidana penganiayaan"/><category term="dan motivasi kerja guru"/><category term="dan perilaku islami"/><category term="dari segi hukum pidana"/><category term="debt equity ratio"/><category term="dehidrasi"/><category term="dengan disiplin kerja karyawan non medis"/><category term="dengan efektivitas pada pelayanan publik"/><category term="dengan good coperate governance sebagai variabel moderating di perudahaan umum bulog"/><category term="dengan hak membeli kembali"/><category term="dengan kejadian penyakit ispa pada balita"/><category term="dengan komitmen organisasional sebagai variabel intervening"/><category term="dengan motif berprestasi pada mata pelejaran pendidikan jasmani"/><category term="dengan pembangunan desa"/><category term="dengan penyakit rematik pada lansia"/><category term="departemen keuangan"/><category term="desentralisasi fiskal"/><category term="di bursa efek"/><category term="di dinas kependudukan dan pencatatan sipil"/><category term="di lembaga penyiaran publik"/><category term="di lingkungan kejaksaan republik indonesia"/><category term="di sektor publik"/><category term="di tinjau dari aspek kriminologi"/><category term="di tinjau dari kemandirian belajar siswa kelas 2 sekolah dasar"/><category term="di tinjau dari uu no.41 tahun 1999"/><category term="diabetes melitus"/><category term="diare"/><category term="dibuat setelah perkawinan"/><category term="didi tangan yang lumpuh"/><category term="digital evidence"/><category term="dikaitkan dengan hak asasi manusia"/><category term="dilakukan sengaja"/><category term="dinas kebudayaan dan pariwisata"/><category term="dinas kependudukan dan pencatatan sipil"/><category term="dinas kependudukan dan pencatatan sipil kota"/><category term="dinas pekerjaan umum kimpraswil"/><category term="dinas pendapatan daerah"/><category term="ditinjau dari peraturan mentri"/><category term="ditinjau dari undang undang no 9 tentang keimigrasian"/><category term="ditinjau dari undang undang nomor 6 tahun 2011"/><category term="dividen payout ratio"/><category term="dukungan suami"/><category term="dysmenorrhea primer"/><category term="education games"/><category term="efektifitas implementasi manajemen berbasis sekolah"/><category term="efektifitas model pembelajaran matematika realistik"/><category term="efektifitas musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan"/><category term="efektivitas dan penerapan kuasa dalam akta perjanjian kual beli"/><category term="efektivitas kerja pegawai"/><category term="efektivitas metode explicit instruction"/><category term="efektivitas model pembelajaran kooperatif"/><category term="efektivitas model pembelajaran problem posing"/><category term="efektivitas permainan konstruksitif"/><category term="efektivitas prosedur rekrutmen pegawai negri"/><category term="euthanasia ditinjau dari undang mo 39"/><category term="evaluasi atas pelayanan"/><category term="evaluasi atas pelayanan suku"/><category term="evaluasi atas penerapan pengadaan barang"/><category term="evaluasi pegadaian barang"/><category term="evaluasi pelaksanaan program"/><category term="evaluasi pengadaan barang pemerintah"/><category term="faktor pendorong kenakalan remaja"/><category term="faktor resiko intrinsik"/><category term="faktor yang berhubungan dengan perilaku lansia"/><category term="faktor yang berhubungan dengan persalinan"/><category term="faktor yang berhubunganm pemberian imunisasi campak pada batita"/><category term="faktor yang mempengaruhi"/><category term="faktor yang mempengaruhi kemampuan"/><category term="faktor yang mempengaruhi kualitas hasil pemeriksaan satuan pengawasan intern"/><category term="fiqih"/><category term="fiqih kelas IV"/><category term="fiqih kelas VII"/><category term="fiqih kelas xi"/><category term="fitrah manusia"/><category term="fungsi kepemimpinan"/><category term="gambaran bayi usia 0-1 tahun"/><category term="gambaran faktor lingkungan"/><category term="gambaran faktor yang mempengaruhi ibu"/><category term="gambaran implementasi"/><category term="gambaran kelelahan"/><category term="gambaran tingkat pengetahuan sikap"/><category term="good corporate governance"/><category term="good governance"/><category term="gula darah"/><category term="hadiah undian yang diperoleh dalam perkawinan"/><category term="hak tanggungan yang diingkari debitur"/><category term="hasil belajar bhs indo siswa kelas v"/><category term="hasil belajar bukutangjis"/><category term="hasil belajar matematika pada siswa kelas V"/><category term="hasil belajar passing bawah bola voli"/><category term="hasil belajar sepak sila"/><category term="hedonic consumption tendency"/><category term="hiperemesis gravidarum"/><category term="hubungan akuntabilitas"/><category term="hubungan alokasi dana desa"/><category term="hubungan antara dukungan sosial orangtua"/><category term="hubungan antara jilbab"/><category term="hubungan antara karakteristij individu"/><category term="hubungan antara keberfungsian keluarga"/><category term="hubungan antara penghayatan pendidikan"/><category term="hubungan faktor kesehatan lingkungan"/><category term="hubungan jenis kelamin"/><category term="hubungan kebisingan"/><category term="hubungan komunikasi interpersonal"/><category term="hubungan kondisi lingkungan rumah"/><category term="hubungan motivasi kerja"/><category term="hubungan pengetahuan"/><category term="hubungan sikap pemain terhadap kehadiran sporter"/><category term="hubungan sumber daya organisasi"/><category term="hubungan tingkat kebisingan"/><category term="hubungan tingkat pengetahuan"/><category term="hukum kewarisan islam"/><category term="hukum kewarisan kuh perdata"/><category term="ibu hamil"/><category term="ibu nifas"/><category term="iklan blackberry"/><category term="iklem komunikasi terhadap"/><category term="iklim organisasi"/><category term="ilmiah siswa terhadap prestasi belajar"/><category term="ilmu pengetahuan sosial dalam kurikulum 2013"/><category term="implementasi agreement on trade related investment measures"/><category term="implementasi e-ktp"/><category term="implementasi kebijakan tentang penyelenggaraam"/><category term="implementasi kurikulim 2013"/><category term="implementasi manajeman sekolah"/><category term="implementasi peraturan daerah"/><category term="implementasi permainan edukatif"/><category term="implementasi standart operasioanl pelayanan sop"/><category term="implemtasi pembelajaran bhs indonesia"/><category term="implentasi kebijakan sistem"/><category term="implentasi metode pembiasaan"/><category term="implentasi model sekolah alam"/><category term="implentasi pemungutan pajak restoran"/><category term="implentasi peraturan tentang pengendalian"/><category term="impression management"/><category term="improving reading comprehension through kwl strategy at the eight grade students of smp"/><category term="infertilitas"/><category term="inflasi"/><category term="informasi akuntansi manajemen"/><category term="inovasi pendidikan di smk"/><category term="inovasi pendidikan di smk pondok pesantren"/><category term="internal auditor"/><category term="interprestasi khalayak terhadap retorika politisi dalam televisi"/><category term="investasi"/><category term="investasi angkatan kerja"/><category term="investasi dan angakatan kerja"/><category term="ipa model problem based learning berbantuan media audio visual"/><category term="izin penebangan pohon pada dinas pertamanan kota"/><category term="izin tinggal orang asing di indonesia"/><category term="jaminan dalam perjanjian kredit"/><category term="jamsostek terhadap pelayanan kesehatan di rsu"/><category term="jumlah industri"/><category term="jumlah kredit yang disalurkan"/><category term="kaitannya dengan kitab undang-undang hukum perdata"/><category term="kaitanya dengan harta bersama."/><category term="kajian hukum pidana"/><category term="kantor dinas pengelola kekayaan dan aset derah"/><category term="kantor pelayanan kekayaan negara dan lelang"/><category term="kantor pelayanan pajak"/><category term="kartu kata"/><category term="kasus tentang strategi coping stress pada single parent"/><category term="kasus tindak pidana pembunuhan"/><category term="kebijakan revitalisasi posyandu"/><category term="kecemasan"/><category term="kedisiplinan siswa"/><category term="kedudukan corporate guarantee sebagai pihak penjamin debitur utama"/><category term="kedudukan hak tanggungan terhadap peningkatan hak guna bangunan"/><category term="kedudukan perjanjian pewrkawinan"/><category term="keefektifan model pembelajaran addie"/><category term="keefektifan model pembelajaran think-pair-share"/><category term="keefektifan permainan kooperatif"/><category term="keefektifan strategi pembelajaran think talk write"/><category term="keefektifan teknik scaffolding"/><category term="kegiatan employe relation"/><category term="kegiatan employee relation"/><category term="kegiatan guru memfasilitasi proses belajar"/><category term="kekuatan pembuktian"/><category term="kelas IX"/><category term="keluahan subjektif pada operator spbu"/><category term="keluhan kesehatan pada masinis"/><category term="kemampuan gerak terhadap hasil belajar sepak dan taham bola"/><category term="kemampuan membaca"/><category term="kemampuan penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah"/><category term="kepatuhan diet"/><category term="kepemilikan institusional"/><category term="kepemimpinan camat"/><category term="kepemimpinan lurah"/><category term="kepuasan kerja terhadap kinerja dosen"/><category term="kepuasan nasabah"/><category term="kerja pegawai negeri sipil"/><category term="kerukunan umat beragama"/><category term="kesehatan anak umur 1-3 penderita gizi buruk"/><category term="keselamatan dan kesehatan kerja"/><category term="kesembuhan luka"/><category term="kesepian pada remaja indonesia"/><category term="keterkaitannya dengan akta kuasa jual"/><category term="keterpaparan media"/><category term="kewenangan pemberian persetujuan penanaman modal"/><category term="kinerja aparatur"/><category term="kinerja kepala sekolah sebagai supervisor"/><category term="kinerja keuangan daerah"/><category term="kinerja koperasi"/><category term="kinerja pegawai pada direktorat penilaian kekayaan negara"/><category term="kinerja perawat di instalasi rawat inap"/><category term="kinerja perawat puskesmas"/><category term="kinerja petugas pemasyarakatan anak kelas 2"/><category term="kinerja petugas tb paru"/><category term="kinerja tim usaha kesehatan gigi sekolah"/><category term="kode etik terhadap prestasi kerja pegawai"/><category term="komisaris independen"/><category term="kompentensi guru dalam mengevaluasi hasil belajar penjas di smp"/><category term="kompetensi dasar aritmatika sosial"/><category term="komposisi dewan komisaris"/><category term="komunikasi antara pribadi bermedia"/><category term="komunikasi interpersonal"/><category term="komunikasi organisasi fornal"/><category term="komunikasi profesionalisme terhadap kualitas"/><category term="konsentrasi anak"/><category term="konstruktivisme"/><category term="konsumsi produk susu"/><category term="kontribusi iklim organisasi"/><category term="kreatifitas pemecahan masalah"/><category term="kualiatas pelayanan di dinas kependudukan"/><category term="kualitas pelayanan publik"/><category term="kualitas pelayanan terhadap"/><category term="kulaitas laporan keuangan pemerintah daerah"/><category term="kulaitas pelayanan di dinas kependudukan catatan sipil"/><category term="kulitas layanan publik"/><category term="kunjungan ke posyandu"/><category term="kurikulum 2013 kelas v"/><category term="kurikulum 2013 kelas v di sekolah dasar"/><category term="kurikulum 2013 smp"/><category term="kurs nilai tukar rupiah"/><category term="laba perusahaan"/><category term="laba produksi"/><category term="lalu lintas dan angkutan jalan"/><category term="laporan keuangan pemerintah daerah"/><category term="learning start with a question"/><category term="lembaga pendidikan islam"/><category term="lembaga penyiaran publik"/><category term="lembaga permasyarakatan"/><category term="leverage"/><category term="likuiditas"/><category term="loan to deposit ratio"/><category term="loyalitas pelanggan restoran"/><category term="makanan bergizi pada anak kelompok b"/><category term="makanan tambahan"/><category term="manajeman kurikulum pendidikan anak usia dini"/><category term="manajemen berbasis sekolah"/><category term="manajemen mutu dalam peningkatan kompetensi"/><category term="manajemen mutu terpadu madrasah aliyah"/><category term="masalah matematika dengan model pembelajaran treffinger"/><category term="mata pelajaran bahasa indonesia di sma"/><category term="mata pelajaran ppkn"/><category term="matematika akhlak"/><category term="materi garis dan sudut"/><category term="media barang produk siswa"/><category term="media buku bergambar"/><category term="media meningkatkan kosakata siswa smp"/><category term="melalui eksekusi hak tanggungan"/><category term="melalui metode karya wisata"/><category term="melalui mutu proses belajar mengajar"/><category term="melalui prinsip mengenal nasabah"/><category term="melalui teknik membaca nyaring"/><category term="memahami soal pada pokok bahasan lingkaran"/><category term="membangun budaya religius di sma"/><category term="membangun pemahaman karakter kejujuran"/><category term="membiayai pengeluaran daerah"/><category term="membina peningkatan profesionalisme guru"/><category term="mempersiapkan penggunaan kemajuan teknologi informasi"/><category term="menanamkan akhlakul karima pada siswa"/><category term="menanamkan kemandirian anak usia dini"/><category term="mencegah tindak pidana pencucian uang"/><category term="menderita ispa"/><category term="mendukung peningkatan pendapatan asli daerah"/><category term="mengakibatkan kematian"/><category term="mengapresiasikan kesadaran hukum masyarakat terhadap pendaftaran tanah"/><category term="mengatasi kesulitan belajar di tk"/><category term="menggunakan blanko akta jual beli ppat"/><category term="menggunakan cerita buku"/><category term="menggunakan lks untuk meningkatkan dasil belajar"/><category term="menggunakan model problem based intruction"/><category term="mengidentifikasi ragam lagu daerah"/><category term="menguatkan reputasi di masyarakat"/><category term="menimbulkan skabees pada pondok pesantren"/><category term="meningkatkan hasil belajar"/><category term="meningkatkan hasil belajar biologi standar pencemaran lingkungan"/><category term="meningkatkan hasil belajar matematika"/><category term="meningkatkan hasil belajar siswa"/><category term="meningkatkan kemampuan berpikir kreatid siswa"/><category term="meningkatkan kemampuan jognitif"/><category term="meningkatkan kemampuan mengenal konsep bilangan pada anak usia dini"/><category term="meningkatkan kemampuan menulis karangan pada siswa kelas x"/><category term="meningkatkan kemampuan sosialisasi anak usia dini"/><category term="meningkatkan ketrampilan menulis siswa"/><category term="meningkatkan ketrampilan sosial anak prasekolah"/><category term="meningkatkan minat prestasi belajar siswa"/><category term="meningkatkan mutu pendidikan"/><category term="meningkatkan perilaku siswa"/><category term="meningkatkan prestasi belajar siswa smk"/><category term="meningkatkan resiko kejadian berat bayi lahir rendah di rsud"/><category term="menurut undang undang no 25 tahun 2007"/><category term="menurut uu no"/><category term="menurut uu no. 1 tahun 1974 tentang perkawinan"/><category term="menyelesaikan skripsi"/><category term="merokok dan riwayat penyakit dasar"/><category term="metode bercakap-cakap pada kelompok b"/><category term="metode bermain peran"/><category term="metode ceramah"/><category term="metode demonstrasi"/><category term="metode kontektual"/><category term="metode langsung terhadap kemampuan passing atas permainan bola voli"/><category term="metode montessori pada pokok bahasan membaca dan menulis lambang bilangan dg papan seguin"/><category term="metode pembelajaran berdasarkan masalah teknik membandingkan"/><category term="metode restitasi"/><category term="metode sufistik"/><category term="minat beli"/><category term="minat membeli"/><category term="minat siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga"/><category term="minat siswa terhadap olahraga bola voli"/><category term="minimalisasi inkontensia urin"/><category term="model draladater berbantuan media audiovisual"/><category term="model kepemimpinan islami"/><category term="model pbl dengan media audio visual"/><category term="model pembelajaran berbasis masalah dengan bantuan film"/><category term="model pembelajaran contekstual teaching and learning"/><category term="model pembelajaran pendidikan islam"/><category term="model problem based learning"/><category term="model think pair share"/><category term="modul trigonometri"/><category term="moral anak"/><category term="motivasi belajar"/><category term="motivasi dan disiplin"/><category term="motivasi disiplin kerja"/><category term="motivasi ekstrinsik"/><category term="motivasi intrinsik"/><category term="motivasi kerja guru terhadap kinerja mangajar"/><category term="motivasi kerja guru terhadap kinerja mengajar"/><category term="motivasi kerja pegawai"/><category term="motivasi kerja pegawai penyiaran publik"/><category term="motivasi prestasi pada anak"/><category term="motivasi terhadap kinerja karyawan"/><category term="nomor 14 tahun 2001 tentang paten"/><category term="non performing loan"/><category term="obyek pengurang pengahsilan kena pajak"/><category term="obyek pengurang penghasilan kena pajak"/><category term="operasi dengan pencegahan infeksi nosokomial"/><category term="orang tua dengan anak"/><category term="orangtua"/><category term="otonomi desa"/><category term="otot tungkai terhadap hasil lempar cakram"/><category term="pada bayi 0-6 bulan"/><category term="pada kurikulum 2013"/><category term="pada loyalitas pelanggan restoran"/><category term="pada lpse kementerian keuangan"/><category term="pada lpse kementrian keuangan"/><category term="pada masyarakat"/><category term="pada pokok bahasan fungsi kelas"/><category term="pada sekolah menengah pertama"/><category term="pada siswa kelas xi"/><category term="pada siswa putra dan putri sekolah dasar"/><category term="pajak hotel"/><category term="pajak kendaraan bermotor"/><category term="pajak penerangan jalan"/><category term="pajak restoran"/><category term="pasien stroke"/><category term="paska kateterisasi"/><category term="pdam"/><category term="pdrb"/><category term="pelajaran pendidikan kewarganegaraan"/><category term="pelajsanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan"/><category term="pelaksanaan corporate"/><category term="pelaksanaan eksekusi sita jaminan"/><category term="pelaksanaan ekstrakurikuler bola voli di smk"/><category term="pelaksanaan fungsi legalisasi DPR"/><category term="pelaksanaan hygiene sanitasi depot"/><category term="pelaksanaan kegiatan ekstrakurukuler bola voli di sma"/><category term="pelaksanaan metode cerita"/><category term="pelaksanaan pembelajaran ketrampilan berbicara"/><category term="pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama islam"/><category term="pelaksanaan pembelajaran sastra"/><category term="pelaksanaan pembelelajaran keterampilan berbicara"/><category term="pelaksanaan pencegahan penangkalan dikantor imigrasi"/><category term="pelaksanaan pendaftaran hak atas tanah"/><category term="pelaksanaan pendaftaran peralihan hak milik atas tanah"/><category term="pelaksanaan pengajaran olahraga senam oleh guru penjas di sd"/><category term="pelaksanaan pengalihan tanah non sertifikat"/><category term="pelaksanaan tugas dan fungsi dinas pendidikan"/><category term="pelaksanaan usaha kesehatan sekolah di sd"/><category term="pelanggarannya pada penyidikan perkara pidana"/><category term="pelayanan aparatur"/><category term="pelayanan konseling pastoral"/><category term="pelayanan perizinan dan non perizinan bagi publik"/><category term="pelayanan posyandu"/><category term="pelayanan publik"/><category term="pelayanan terpadu satu pintu"/><category term="pemanfaatan media gambar"/><category term="pemasang iklan"/><category term="pembangunan desa"/><category term="pembangunan partisipatif"/><category term="pembatalan [erjanjian jual beli tanah"/><category term="pembatalan perkawinan di pengadilan agama"/><category term="pembatalan sertifikat hak atas tanah"/><category term="pembelajaran bahasa inggris"/><category term="pembelajaran berbicara menguunakan metode permainan dengan bermain peran"/><category term="pembelajaran diskusi panel"/><category term="pembelajaran menulis puisi"/><category term="pembelajaran pai pada anak usia dini"/><category term="pembelajaran pas atas menggunakan sasaran tembok"/><category term="pembelajaran pendidikan agama islam"/><category term="pembelajatan menulis karya ilmiah."/><category term="pembentukan identitas diri santri remaja putri"/><category term="pembentukan konsep diri"/><category term="pemberian amakanan pendamping asi"/><category term="pemberian kredit"/><category term="pemberian makanan tambahan"/><category term="pemberian stimulasi di desa kesehatan keluarga dan gizi"/><category term="pemberitaan tindak kriminal"/><category term="pembina akhlak siswa"/><category term="pembinaan keagamaan"/><category term="pembinaan kredit"/><category term="pembuatan keterangan mewaris"/><category term="pembuktian perkara korupsi"/><category term="pemeriksaan kandungan bakteri escherichia"/><category term="pemeriksaan operasional"/><category term="pemerintah secara elektronik"/><category term="pemgaruh komisaris independen"/><category term="penaggulangan tindak pidana"/><category term="penalaran dan komunikasi terhadap kemampuan pemecahan masalah"/><category term="penanaman modal asing"/><category term="penanganan perkara kepailitan"/><category term="penanggulangan tindak pidana korupsi"/><category term="pencabutan delik aduan dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga"/><category term="pencegahan tindak pidana pencucian uang"/><category term="pencucian uang hasil tindaj pidana narkotika"/><category term="pendapatan masyarakat"/><category term="pendekatan matematika realistik"/><category term="pendekatan sets"/><category term="pendidikan anak usia dini"/><category term="pendidikan biologi"/><category term="pendidikan dan disiplin kerja terhadap kepuasan kerja pegawai"/><category term="pendidikan dan latihan"/><category term="pendidikan islam"/><category term="pendidikan kewarganegaraan smp"/><category term="pendidikan pelatihan motivasi"/><category term="pendidikan seks"/><category term="penemuan penderita tb paru"/><category term="penerapan batas anatara wanprestasi"/><category term="penerapan good corporate"/><category term="penerapan hukum pidana terhadap tindak pidana"/><category term="penerapan kombinasi metode ceramah"/><category term="penerapan metode bercerita"/><category term="penerapan metode bermain dengan playdough"/><category term="penerapan metode resitasi"/><category term="penerapan metode student team achievement division"/><category term="penerapan metodeimla"/><category term="penerapan model pembelajaran berbasis masalah"/><category term="penerapan model pembelajaran kooperatif"/><category term="penerapan model pembelajaran matematika"/><category term="penerapan model snowball throwing"/><category term="penerapan modifikasi alat bantu bokortasko"/><category term="penerapan pembelajaran kontekstual"/><category term="penerapan pembelajaran kooperatif tipe tgt"/><category term="penerapan pendekatan contextual teaching and learning"/><category term="penerapan standart asuhan keperawatan"/><category term="penerapan teknik koreksi teman sebaya"/><category term="pengadaan tanah utuk pembangunan jalan tol"/><category term="pengadilan TUN sebagai bentuk penyelesaian sengketa kepemilikan  ganda"/><category term="pengadilan tata usaha negara"/><category term="pengajaran kemampuan menulis cerpen"/><category term="pengamalan ibadah shalat"/><category term="pengambilan keputusan jangka panjang"/><category term="pengangkatan anak secara ilegal"/><category term="pengaruh aktivitas fisik"/><category term="pengaruh aktivitas fisik merokok"/><category term="pengaruh biaya pendidikan"/><category term="pengaruh bladder training"/><category term="pengaruh brand awareness"/><category term="pengaruh desentralisai fiskal"/><category term="pengaruh gaya kepemimpinan"/><category term="pengaruh gaya kepemimpinan iklim komunikasi"/><category term="pengaruh implementasi program corporate"/><category term="pengaruh inflasi"/><category term="pengaruh karakteristik ibu terhadap"/><category term="pengaruh kemampuan pemahaman konsep"/><category term="pengaruh kepemimpinan"/><category term="pengaruh komite audit"/><category term="pengaruh kompetensi"/><category term="pengaruh latihan senam ayo bersatu"/><category term="pengaruh layanan konsultasi"/><category term="pengaruh lingkungan kerja"/><category term="pengaruh media gambar"/><category term="pengaruh media pembelajaran gambar bergerak"/><category term="pengaruh menonton"/><category term="pengaruh model pembelajaran nht"/><category term="pengaruh modul berbasis contextual teaching learning"/><category term="pengaruh motivasi kerja"/><category term="pengaruh pelatihan dan partisipasi dalam mgmp"/><category term="pengaruh pembelajaran model stl"/><category term="pengaruh pembelajaran teknis"/><category term="pengaruh pengawasan disiplin"/><category term="pengaruh penilaian karyawan"/><category term="pengaruh perilaku aparat"/><category term="pengaruh perilaku penderita terhadap"/><category term="pengaruh permainan tradisional kombayan"/><category term="pengaruh pola asuh orangtua"/><category term="pengaruh tayangan"/><category term="pengaruh teman sebaya"/><category term="pengaruh tingkat motivasi"/><category term="pengaruh tingkat pendidikan"/><category term="pengaruh tingkat pendidikan orang tua"/><category term="pengaruh wakaf produksi"/><category term="pengaruh wakaf produktif"/><category term="pengasuhan gizi"/><category term="pengawasan"/><category term="pengawasan keimigrasian terhadap orang asing"/><category term="pengembangan media musikalisasi puisi"/><category term="pengembangan moral keagamaan anak usia dini"/><category term="pengembangan pembelajaran penjasorkes sd"/><category term="pengembangan sistem informasi perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan"/><category term="pengembangan sumber daya manusia"/><category term="pengemudi angkutan"/><category term="pengendalian biaya"/><category term="pengendalian intern"/><category term="pengeruh kepemimpinan situasional"/><category term="pengguanaan media grafis siswa kelas VIII"/><category term="penggunaan handout interaktif"/><category term="penggunaan instrumen anti pencucuian uang"/><category term="penggunaan media audio visual"/><category term="penggunaan peraga"/><category term="pengungsi warga negara asing di kota"/><category term="peningkatan cakupan kepemilikan jamban"/><category term="peningkatan hasil belajar matematika"/><category term="peningkatan hasil belajar siswa pembelajaran fikih"/><category term="peningkatan kemampuan berhitung anak"/><category term="peningkatan kemampuan mengepresiasikan puisi"/><category term="peningkatan kemampuan menulis puisi"/><category term="peningkatan kemampuan motorik halus"/><category term="peningkatan kerja sama anak tk"/><category term="peningkatan kesadaran masyarakat"/><category term="peningkatan ketarmpilan memparafrase iklan baris menjadi wacana eksplanasi lisan"/><category term="peningkatan ketrampilam pidato persuasi"/><category term="peningkatan ketrampilan berbicara"/><category term="peningkatan ketrampilan berbicara pada anak usia dini"/><category term="peningkatan ketrampilan membaca indah puisi"/><category term="peningkatan ketrampilan menulis resensi buku"/><category term="peningkatan kualitas pembelajaran tema cita citaku"/><category term="peningkatan kualitas pembelajaran tema indahnya negeriku"/><category term="peningkatan kualitas pembelajaran tema peduli makhluk hidup"/><category term="peningkatan kualitas pendidikan"/><category term="peningkatan pendapatan nazhir"/><category term="peningkatan usaha"/><category term="penundaan kewajiban pembayaran utang"/><category term="penyakit demam berdarah"/><category term="penyakit pneumonia pada balita"/><category term="penyakit skabies"/><category term="penyerapan tenaga kerja sektor industri kecil"/><category term="penyidikan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor"/><category term="penyimpangan"/><category term="penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah"/><category term="peradilan menurut rbg"/><category term="peran dinas perhubungan"/><category term="peran ganda seorang singgle parent"/><category term="peran guru dalam mengenalkan"/><category term="peran guru pendidikan agama islam"/><category term="peran imigrasi dalam penanganan"/><category term="peran kepolisian"/><category term="peran media gambar"/><category term="peran notaris dalam membantu menyelesaikan masalah waris"/><category term="peran penyidik dalam penerapan diversi"/><category term="peran sosial guru"/><category term="peranan guru pendidikan aqidah akhlaj"/><category term="peranan informasi akuntansi manajemen"/><category term="peranan kepala sekolah sebagai supervisor"/><category term="peranan kurator"/><category term="peranan lembaga pembiayaan ekspor indonesia"/><category term="peranan pusat pelaporan dan analisi transaksi keuangan"/><category term="peranan visum et refertum"/><category term="perawat tentang teknik perawatan luka"/><category term="perbandingan kinerja"/><category term="perbandingan pengetahuan sikap remaja"/><category term="perbedaan pengaruh belajar antara bola digantung"/><category term="perbedaan pengaruh hasil latihan passingatas"/><category term="perbedaan pengaruh metode latihan"/><category term="perbedaan pengaruh pendekatan pembelajaran"/><category term="perbedaan tekanan darah"/><category term="perbuatan melawan hukum dalam suatu perikatan"/><category term="percaya diri"/><category term="perdagangan orang"/><category term="perencanaan biaya operasional"/><category term="perilaku buang air besar pada ibu"/><category term="perilaku hidup bersih dan sehat"/><category term="perilaku mahasiswa"/><category term="perilaku siswa"/><category term="perimbangan keuangan pusat daerah"/><category term="perineum"/><category term="perizinan pada badan pelayanan terpadu bpt"/><category term="perjanjian leasing dengan objek alat berat"/><category term="perjanjian sewa menyewa menurut undang-undang no. 37 tahun 2004"/><category term="perkawinan anak dibawah umur"/><category term="perkawinan dan kompilasi hukum islam"/><category term="perkawinan usia muda"/><category term="perkembangan kemandirian anak didik tk"/><category term="perkembangan kepribadian remaja"/><category term="perkembangan organ seks"/><category term="perlindungan dan pengolahan lingkungan hidup"/><category term="perlindungan hukum atas syarat baku perjanjian gadai"/><category term="perlindungan hukum terhadap industri dalam negeri"/><category term="perlindungan hukum terhadap paten asing"/><category term="perlindungan hukum terhadap pekerja outsourcing"/><category term="perlindungan hukum terhadap penerima lisensi paten di indonesia"/><category term="permaianan sepak takraw siswa putra sd"/><category term="permainan bilangan kereta angka kelompok b"/><category term="permainan kaleng indah pada kelompok b tk"/><category term="permainan klasifikasi"/><category term="permainan sepak bola"/><category term="permainan tradisional jawa"/><category term="permintaan air bersih"/><category term="persaingan lokal"/><category term="personal selling"/><category term="pertanggung jawaban pidana koporasi"/><category term="pertanggungjawaban pidana peserta"/><category term="pertimbangan hakim dalam memutus perkara kecelakaan lalu lintas"/><category term="perusahaan daerah"/><category term="perwakafan tanah menurut uu no.41 tahun 2004"/><category term="peserta didik materi pokok segi empat kelas vii"/><category term="peternak ayam"/><category term="pidana korporasi dalam hukun positif di indonesia"/><category term="pidana seumur hidup terhadap tindak pidana pembunuhan berencana"/><category term="pnpm mandiri"/><category term="pokok bahasan matriks"/><category term="pokok bahasan sikap pantang menyerah"/><category term="pola bimbingan orang tua"/><category term="pola kepemimpinan kepala madrasah"/><category term="pola suh singgle parent ibu"/><category term="positive emotion"/><category term="post-decision stage"/><category term="power otot tungkai terhadap peningkatan kecepatan lari"/><category term="ppns keimigrasian"/><category term="pramuria"/><category term="prasarana pembelajaran penjasorkes sd"/><category term="prasekolah"/><category term="pre-decision stage"/><category term="prematur di indonesia"/><category term="presentasi diri"/><category term="prestasi belajar pendidikan kewarganegaraan"/><category term="prestasi kerja pegawai pada bkpm"/><category term="primigravida"/><category term="primipara"/><category term="prinsip penghormatan hak atas tanah"/><category term="printed material comic strips"/><category term="produktivitas kerka pegawai"/><category term="profesional pendidik di madrasah aliyah"/><category term="program dpkp"/><category term="program mentoring"/><category term="prokrastinasi akademik"/><category term="proses kepailitan"/><category term="proses pemeriksaan dan penyelesaian sengketa tata usaha negara"/><category term="proses pemeriksaan perkara pidana korupsi"/><category term="proses penyelidikan"/><category term="proses penyidik perkara kecelakaan lalu lintas oleh penyidik"/><category term="proses penyidikan terhadap pelaku pelanggaran uu keimigrasian"/><category term="pubertas"/><category term="rasio keuangan perbankan"/><category term="ratna megawangi"/><category term="rawat inap dalam penerapan standart asuhan keperawatan"/><category term="realistic mathematics education"/><category term="reksa dana"/><category term="reksa dana konvensional"/><category term="reksa dana syariah"/><category term="remaja"/><category term="reputasi auditor"/><category term="retribusi izin gangguan"/><category term="retribusi parkir"/><category term="retribusi pasar"/><category term="riwayat panyakit dasar hipertensi"/><category term="riwayat pemberian asi ekslusif"/><category term="rumah sakit berstatus blu"/><category term="samsat"/><category term="santunan bagi korban meninggal atau luka berat"/><category term="sarana dan prasarana pendidikan"/><category term="sebagai alat pengendalian"/><category term="sebagai alat pengendalian baiaya"/><category term="sebagai dasar pendaftaran hak atas tanah"/><category term="secara elektronik dei lingkungan kementerian keuangan"/><category term="secara eletronik"/><category term="sekolah dasar negeri"/><category term="seksio sesarea"/><category term="sektor industri"/><category term="sektor industri kecil"/><category term="sektor publik"/><category term="setelah keluarnya peraturan pemerintah nomor 24 tahun 1997"/><category term="sfektivitas pembelajaran menulis puisi"/><category term="shopping lifestyle"/><category term="sikap"/><category term="sikap disiplin"/><category term="sikap ibu"/><category term="sikap pasien tb paru"/><category term="sikap sekolah sd"/><category term="siklus penggajian"/><category term="sisi tangan yang normal"/><category term="sistem informasi akuntansi"/><category term="social redponsibility pencitraan"/><category term="sosial ekonomi masyarakat"/><category term="sosialisasi"/><category term="standarisasi ujian"/><category term="strategi demonstrasi"/><category term="strategi guru"/><category term="strategi komunikasi pemasaran"/><category term="strategi marketing public relation"/><category term="strategi tv"/><category term="strategy in rebranding"/><category term="stress pasien rawat jalan hemodialisa"/><category term="struktur dan nilai pendidikan dalam novel mihrab cinta"/><category term="studi korelasi latar belakang pendidikan"/><category term="studi sarana"/><category term="studi tentang kesehatan pribadi"/><category term="studi tentang manajemen kesiswaan"/><category term="studi tentang pelaksanaan eksepsi oleh penasihat hukum"/><category term="studi tentang pembelajaran penjasorkes"/><category term="studi tentang penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan di sekolah dasar"/><category term="suatu sengketa tata usaha negara"/><category term="suku bunga sertifikat bank indonesia"/><category term="sumbangan power otot lengan"/><category term="sumber informasi bagi profesi wartawan"/><category term="survai tingkat kesegaran jasmani"/><category term="taktis terhadap hasil belajar passing bola basket"/><category term="talking stick"/><category term="tanggung jawab perusahaan angkutan barang"/><category term="tanggung jawab perusahaan penerbangan"/><category term="tanpa pendeta jemaat"/><category term="tari burung"/><category term="tata cara masuknya pihak ketiga yang berkepentingan"/><category term="teisi"/><category term="teknik menyusui"/><category term="teknik peta pikiran imajinatif"/><category term="telah didaftarkan menurut undang-undang"/><category term="telekomunikasi pondok pesantren"/><category term="televisi dan budaya populer"/><category term="tentang ham"/><category term="tentang kesehatan reproduksi di man dan sman"/><category term="tentang model quality control madrasah aliyah"/><category term="tentang pencegahan tb"/><category term="tentang penularan hiv di kota"/><category term="tentang sanitasi dasar perilaku hidup bersih dan sehat"/><category term="terhadap asuransi kerugian pada asuransi takaful"/><category term="terhadap hasil belajar matematika"/><category term="terhadap izin tinggal orang asing di indonesia"/><category term="terhadap kecakapan pas atas dalam permainan bola voli"/><category term="terhadap keprofesionalan guru"/><category term="terhadap kinerja guru tk"/><category term="terhadap kinerja karyawan"/><category term="terhadap kinerja mengajar"/><category term="terhadap kinerja petugas di lembaga pemasyaratan anak"/><category term="terhadap manajeman laba"/><category term="terhadap manajemen laba"/><category term="terhadap mutu hasil belajar"/><category term="terhadap peningkatan pendapatan nazhir"/><category term="terhadap perilaku imitasi di kalangan remaja"/><category term="terhadap perkembangan psikososial anak prasekolah"/><category term="terhadap perubahan perilaku kekerasan"/><category term="terhadap produk tempe"/><category term="terhadap stres pada pekerja bag produksi"/><category term="terhadap terjadinya hipertensi"/><category term="terjadap pertumbuhan ekonomi"/><category term="tesism tinjauan yuridis terhadap akta perjanjian kawin pasangan calom suami istri"/><category term="tingkah laku anak di sd"/><category term="tingkat kemiskinan"/><category term="tingkat kepuasan pasien askes"/><category term="tingkat kesegaran jasmani siswa puteri kelas IV"/><category term="tingkat moticasi kerja karyawan"/><category term="tingkat tutur bahasa jawa"/><category term="tinjau ahli waris pengganti"/><category term="tinjauan hukum administrasi negara"/><category term="tinjauan hukum pelaksanaan perjanjian kredit studi pada bank bri"/><category term="tinjauan hukum terhadap mekanisme pelaksanaan pengawasan pegawai negeri sipil"/><category term="tinjauan psikologi kriminal terhadap narapidana anak"/><category term="tinjauan tentang ttg diskresi fungsional"/><category term="tinjauan terhadap penyelesaian kredit bermasalah"/><category term="tinjauan yuridis atas hak di bawah tangan"/><category term="tinjauan yuridis jual beli"/><category term="tinjauan yuridis pelaksanaan dan pengelolaan"/><category term="tinjauan yuridis pembatalan sertifikat ganda"/><category term="tinjauan yuridis penggunaan formulir"/><category term="tinjauan yuridis perjanjian pemborongan pekerjaan"/><category term="tinjauan yuridis terhadap delik pemalsuan surat sertifikat tanah"/><category term="tinjauan yuridis terhadap kedudukan benda tidak bergerak"/><category term="tinjauan yuridis terhadap pertanggungjawaban"/><category term="tipe game tournament"/><category term="tipe polah asuh orang tua"/><category term="total quality management"/><category term="trimester 1"/><category term="trimester 1 dan trimester 2"/><category term="ukuran perusahaan"/><category term="undang-undang pemerintah daerah"/><category term="undur kesalahan tindak pidana lingkungan hidup"/><category term="untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak pada tk"/><category term="untuk meningkatkan kemampuan siswa"/><category term="untuk meningkatkan motivasi belajar"/><category term="untuk rumah tinggal yang dibebani hak tanggungan"/><category term="upaya meningkatkan aktivitas hasil belajar"/><category term="upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa"/><category term="upaya meningkatkan kemampuan konsep bilangan"/><category term="upaya meningkatkan kemampuan mengapresiasi puisi"/><category term="upaya meningkatkan kemampuan sosialsasi anak"/><category term="upaya meningkatkan kualitas pembelajaran"/><category term="upaya meningkatkan prestasi belajar"/><category term="upaya meningkatkan prestasi belajar peserta didik"/><category term="upaya meningkatkan produktivitas kerja"/><category term="upaya penanaman nilai islam pada pra sekolah"/><category term="upaya peningkatan penguasaan kosakata bahasa arab"/><category term="usaha kecil dan menengah berdasarkan uu no 2 th 2009"/><category term="variasi menu sarapan"/><category term="verbalis terhadap kemampuan menulis"/><category term="vygotsky"/><category term="warung kopi sebagai sarana komunikasi"/><category term="women entrepreneur dalam berwirausaha"/><category term="word of mouth terhadap keputusan membeli"/><category term="yang dilakukan istri pertama"/><category term="yang terdaftar di bei"/><category term="yang tidak memiliki jamban keluarga"/><title type='text'>1SKRIPSI</title><subtitle type='html'>Jual File Skripsi, PTK &amp;amp; Tesis, tinggal download</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://1skripsi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>coba lagi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03256568401791157570</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>517</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-4483184758844132649</id><published>2016-07-10T21:53:00.000-07:00</published><updated>2016-07-18T16:19:52.459-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pembinaan keagamaan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="perilaku siswa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tesis"/><title type='text'>TESIS POLA PEMBINAAN RELIGIUSITAS PERILAKU SISWA (STUDI KASUS DI SMA X)</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
KODE : T-(0114) : TESIS POLA PEMBINAAN RELIGIUSITAS PERILAKU SISWA (STUDI KASUS DI SMA X)&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;BAB II&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KERANGKA TEORI&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;A. Religiusitas Perilaku Siswa di Sekolah&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Pengertian&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sejak pemikiran manusia memasuki tahap positif dan pungsional sekitar abad ke-18, pendidikan (baca: pendidikan agama) mulai digugat eksistensinya. Suasana kehidupan modern dengan kebudayaan passif serta terpenuhinya berbagai kualitas kehidupan secara teknologis-mekanis, pada satu sisi telah melahirkan etika dan moral.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Krisis moral tersebut tidak hanya melanda msyarakat lapisan bawah (grass not), tetapi juga meracuni atmosfir birokrasi negara mulai dari level paling atas sampai paling bawah. Munculnya penomena white collar crimes (kejahatan kera putih atau kejahatan yang dilakukan oleh kaum berdasi, seperti para eksekutif, birokrat, guru, polisi, atau yang setingkat dengan mereka), serta isu KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang dilakukan oleh para elit, merupakan indikasi kongkrit bangsa Indonesia sedang mengalami krisis multidimensional.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Realitas di atas mendorong timbulnya berbagai gugatan terhadap efektivitas pembinaan religiusitas perilaku siswa di sekolah yang selama ini dipandang oleh sebagian masyarakat telah gagal dalam membangun efeksi anak didik dengan nilai-nilai yang enternal serta mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah. Terlebih lagi dalam hal ini, dunia pendidikan yang mengembang peran sebagai pusat pengembangan ilmu dan SDM, pusat sumber daya penelitian dan sekaligus pusat kebudayaan kurang berhasil kalau tidak dikatakan gagal dalam mengemban misinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sistem pendidikan yang dikembangkan selama ini lebih mengarah pada pengisian kognitif mahasiswa, sehingga melahirkan lulusan yang cerdas tetapi kurang bermoral.1Aspek afektif dan psikomotor yang sangat vital keberadaannya terabaikan begitu saja.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Penomena di atas tidak terlepas adanya pemahaman yang kurang benar tentang agama dan keberagamaan (religiusitas). Agama sering kali dimaknai secara dangkal, tekstual dan cenderung esklusif. Nilai-nilai agama hanya dihafal sehingga hanya menyentuh pada wilayah kognisi, tidak sampai menyentuh aspek efeksi dan psikomotorik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
Keberagamaan (religiusitas) tidak selalu identik dengan agama. Agama lebih merujuk kepada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan, dalam aspek yang resmi, yuridis, peraturan-peraturan dan hukum-hukumnya, sedangkan keberagamaan atau religiusitas lebih melihat aspek yang di dalam lubuk hati nurani pribadi. Oleh karena itu, religiusitas lebih dalam dari agama yang tampak formal.&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Istilah nilai keberagamaan merupakan istilah yang tidak mudah untuk diberikan batasan secara pasti. Ini disebabkan karena nilai merupakan sebuah realitas yang abstrak. Secara etimologi nilai keberagamaan berasal dari dua kata yakni nilai dan keberagamaan. Menurut Rokeach dan Bank bahwasanya nilai merupakan suatu tipe kepercayaan yang berada pada suatu lingkup sistem kepercayaan dimana seorang bertindak untuk menghindari suatu tindakan, atau mengenai sesuatu yang dianggap pantas atau tidak pantas. Ini berarti pemaknaan atau pemberian arti terhadap suatu obyek. Sedangkan keberagamaan merupakan suatu sikap atau kesadaran yang muncul yang didasarkan atas keyakinan atau kepercayaan seseorang terhadap suatu agama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Gay Hendricks dan Kater Ludeman dalam Ary Ginanjar, &quot;Terdapat beberapa sikap religius yang tampak dalam diri seseorang menjalankan tugasnya, diantaranya: kejujuran, keadilan, bermanfaat bagi orang lain, rendah hati, bekerja efisien, visi kehidupan, disiplin tinggi dan keseimbangan.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam kelompok pembelajaran, beberapa nilai religius tersebut bukanlah tanggug jawab Guru Agama semata, kejujurang tidak hanya disampaikan lewat mata pelajaran agama saja, tetapi juga lewat mata pelajaran lainnya. Misalnya seorang guru untuk mengajarkan kejujuran lewat rumus-rumus pasti menggambarkan suatu kondisi yang tidak kurang dan tidak lebih atau apa adanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Begitu juga seorang guru Ekonomi bisa menanamkan nilai-nilai keadilan lewat pelajaran Ekonomi. Seseorang akan menerima untung dari suatu usaha yang dikembangkan sesuai dengan besar kecilnya modal yang ditanamkan. Dalam hal ini, aspek keadilanlah yang diutamakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keberagamaan atau religiusitas seseorang diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupannya. Aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah) tetapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya berkaitan dengan aktivitas yang tampak dan dapat dilihat dengan mata, tetapi juga aktivitas yang tidak tampak dan terjadi dalam hati seseorang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Nurcholis Majid, agama bukanlah sekedar tindakan-tindakan ritual seperti shalat dan membaca do&#39;a. Agama lebih dari itu, yaitu keseluruhan tingka laku manusia yang terpuji, yang dilakukan dari memperoleh ridho atau perkenan Allah swt. Agama dengan demikian meliputi keseluruhan tingka laku manusia dalam hidup ini, yang tingka laku itu membentuk keutuhan manusia berbudi luhur atas dasar percaya atau iman kepada Allah swt. dan tanggung jawab pribadi dihari kemudian.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari beberapa penjelasan di atas dapat dipahami bahwa nilai religius adalah nilai-nilai kehidupan yang mencerminkan tumbuh kembangnya kehidupan beragama yang terdiri dari tiga unsur pokok yaitu aqidah, ibadah dan akhlak yang menjadi pedoman perilaku sesuai dengan aturan-aturan atau untuk mencapai kesejahteraan serta kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bila nilai-nilai religius tersebut telah tertanam pada diri siswa dan dipupuk dengan baik, mereka dengan sendirinya akan tumbuh menjadi jiwa agama. Dalam hal ini jiwa agama merupakan suatu kekuatan batin, daya dan kesanggupan dalam jasad manusia yang menurut para ahli ilmu jiwa agama, kekuatan tersebut bersarang pada akal, kemauan dan perasaan. Selanjutnya, jiwa tersebut dituntun dan dibimbing oleh peraturan atau undang-undang Illahi yang disampaikan melalui para nabi dan rosul-Nya, untuk mengatur hidup dan kehidupan manusia untuk mencapai kesejahteraan baik kehidupan di dunia ini maupun di akhirat kelak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bila jiwa agama telah tumbuh dengan subur dalam diri siswa, maka tugas pendidik selanjutnya adalah menjadikan nilai-nilai agama sebagai sikap beragama siswa. Sikap beragama merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya kepada agama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sikap keagamaan tersebut karena adanya konstitusi antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur kognitif dan perilaku terhadap agama sebagai unsur kognitif/psikomotorik. Jadi sikap keagamaan pada anak sangat berhubungan erat dengan gejala kejiwaan anak yang terdiri dari tiga aspek tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2. Macam-macam religiusitas perilaku siswa di sekolah&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari sekian banyak nilai yang terkandung dalam sumber ajaran Islam, nilai yang pundamental adalah nilai tauhid. Ismail Raji al-Faruqi, &quot;Memformalisasikan bahwa kerangka Islam berarti memuat teori-teori, metode, perinsip dan tujuan tunduk pada asumsi Islam yaitu tauhid.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Nilai-nilai tersebut memberikan arah dan tujuan dalam proses pendidikan dan memberikan motivasi dalam aktivitas pendidikan. Konsepsi tujuan pendidikan yang berdasarkan pada nilai tauhid menurut an-Nahlawi disebut ahdaf al-Rabbani, yaitu tujuan yang bersifat ketuhanan yang seharusnya menjadi dasar dalam kerangka berfikir, bertindak, dan pandangan hidup dalam sistem dan aktifitas pendidikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berkaitan dengan hal tersebut, budaya religius sekolah merupakan cara berfikir dan cara berindak warga sekolah yang didasarkan atas nilai-nilai religiusitas (keberagamaan). Religius menurut Islam adalah menjalankan ajaran agama secara menyeluruh. Allah Berfirman dalam al-Qur&#39;an, 2 (al-Baqarah): 208:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&quot;&lt;i&gt;Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.&lt;/i&gt;&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Glock dan Stark (1966) dalam Muhaimin ada lima macam dimensi keberagamaan (religiusitas), yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Dimensi keyakinan yang berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui keberadaan doktrin tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Dimensi praktik agama yang mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Praktik-praktik keagamaan ini terdiri atas dua kelas penting, yaitu ritual dan ketaatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Dimensi pengalaman. Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu. Dimensi ini berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi dan sensasi-sensasi yang dialami seseorang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Dimensi pengetahuan agama yang mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/4483184758844132649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/4483184758844132649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/07/TESIS-POLA-PEMBINAAN-RELIGIUSITAS-PERILAKU-SISWA-STUDI-KASUS-DI-SMA-X.html' title='TESIS POLA PEMBINAAN RELIGIUSITAS PERILAKU SISWA (STUDI KASUS DI SMA X)'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-5335177464582237964</id><published>2016-07-10T21:50:00.000-07:00</published><updated>2016-07-10T21:50:04.852-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kerukunan umat beragama"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="peran sosial guru"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tesis"/><title type='text'>TESIS PERAN SOSIAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBINA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
KODE : (T-0113) : TESIS PERAN SOSIAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBINA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA&lt;/h3&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;BAB II&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KAJIAN PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;A. Peran Sosial Tokoh Agama/Pemimipin Agama&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Pengertian Peran Sosial&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Peran dalam sosiologi dibahas ketika mengkaji struktur sosial. dalam struktur sosial dikenal dua konsep penting yaitu status (status) dan peran (role). Kedudukan dan peranan merupakan unsur-unsur baku dalam sistem lapisan, dan mempunyai arti penting bagi sistem sosial.Keduanya sangat berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Jika seseorang melaksanakan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, berarti dia telah menjalankan suatu peranan.Peran merupakan aspek dinamis dari kedudukan. Pembedaan antara keduanya dilakukan untuk kepentingan ilmu. Karena memang antara keduanya sebenarnya tidak dapat dipisahkan dan satu tergantung pada yang lain. begitu juga sebaliknya. Tidak ada peran tanpa kedudukan atau kedudukan tanpa peran.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setiap orang mungkin mempunyai sejumlah status dan diharapkan mengisi peran yang sesuai dengan status tersebut. Dalam arti tertentu, suatu peran adalah dua aspek dari gejala yang sama. Status adalah seperangkat hak dan kewajiban; sedangkan peran adalah pemeranan dari perangkat hak dan kewajiban tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
Asal usul peran sosial, dipinjam dari dunia sandiwara (drama). Pada umumnya setiap peranan (role) diserahkan pada seorang pemain yang sesuai dengan sifat, watak dari tokoh yang dipentaskan. Seorang pelaku harus menirukan tingkah laku tokoh (yang mungkin historis, fiktif) yang hendak digambarkan secara konkret di hadapan penonton. Istilah &quot;peranan&quot; dalam sandiwara oleh para ahli sosiologi dialihkan ke &quot;panggung masyarakat&quot; sehingga disebut &quot;peranan sosial&quot;. Perbedaan antara peranan sandiwara dengan peran sosial ialah bahwa pelaku-pelaku peran sosial tidak mementaskan tokoh khayal, tetapi tokoh yang nyata dan masih ada, yang tak lain &quot;pemain itu sendiri&quot;.&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Soerjono Soekanto mengatakan bahwa peranan yang melekat pada diri seseorang harus dibedakan dengan posisi dalam pergaulan kemasyarakatan. Posisi seseorang dalam masyarakat (social position) merupakan unsur statis yang menunjukkan temapt individu pada organisasi masyarakat. Peranan lebih banyak menunjuk pada fungsi, penyesuaian diri dan sebagai suatu proses. Jadi seseorang menduduki suatu posisi dalam masyarakat serta menjalankan suatu peranan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Artinya, istilah peran menunjukkan masyarakat mempunyai lakon, bahkan masyarakat adalah lakon itu sendiri. Lakon dalam masyarakat itu disebut fungsi atau tugas masyarakat yang terdiri atas sejumlah pola kelakuan lahiriah dan batiniah yang diterima dan diikuti banyak orang. Sehingga peran dapat didefinisikan sebagai bagian dari fungsi sosial masyarakat yang dilaksanakan oleh orang atau kelompok tertentu, menurut pola kelakuan lahiriah dan batiniah yang telah ditentukan. Peranan mungkin mencakup tiga hal, yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat.dalam hal ini peranan merupakan rangkaian peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Peranan adalah suatau konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Peran memiliki beberapa arti. Setiap orang mempunyai macam-macam peran yang berasal dari pola-pola pergaulan hidupnya. Hal itu sekaligus berarti bahwa peran menentukan apa yang diperbuatnya bagi masyarakat dan apa yang diberikan oleh masyarakat kepadanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setiap peranan bertujuan agar antara individu yang melaksanakan peranan dengan orang-orang di sekitarnya yang tersangkut, atau, ada hubungannya dengan peranan tersebut terdapat hubungan yang diatur oleh nilai-nilai sosial yang diterima dan ditaati oleh kedua belah pihak. Nilai-nilai sosial tersebut, misalnya nilai ekonomis yang tercipta antara bankir dengan nasabah, nilai higienis antara dokter dengan pasiennya, nilai-nilai keagamaan antara pemuka agama dengan umatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mengenai pembahasan tentang macam peranan yang melekat pada individu-individu dalam masyarakat, Marion J. Levy sebagaimana yang dikutip Soerjono33 bahwa ada beberapa hal-hal penting yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Bahwa peranan-peranan tertentu harus dilaksanakan apabila struktur masyarakat hendak dipertahankan kelangsungannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Peranan tersebut seyogyanya diletakkan pada individu yang dianggap mampu melaksanakannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Dalam masyarakat kadangkala dijumpai individu yang tidak mampu melaksanakan peranannya sebagaimana diharapkan oleh masyarakat. Karena mungkin pelaksanaanya memerlukan pengorbanan kepentingan-kepentingan pribadi yang banyak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Apabila semua orang sanggup dan mampu melaksanakan peranannya, belum tentu masyarakat akan dapat memberikan peluang yang seimbang. Bahkan seringkali masyarakat terpaksa membatasi peluang-peluang tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di dalam interaksi sosial kadangkala kurang disadari bahwa yang paling penting adalah melaksnakan peranan. Tidak jarang terjadi bahwa dalam proses interaksi tersebut, kedudukan lebih dipentingkan, sehingga terjadi hubungan-hubungan timapng yang tidak seharusnya terjadi. Hubungan-hubungan yang timpang tersebut lebih cenderung mementingkan bahwa suatu pihak hanya mementingkan hak saja sedangkan pihak lain hanya mempunyai kewajiban semata.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2. Jenis-Jenis Peran&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Peran sosial yang ada dalam masyarakat dapat diklasifikasi menurut bermacam-macam cara sesuai sudut pandang yang diambil. Disini akan di tampilkan sejumlah jenis-jenis peran sosial.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Peran yang diharapkan atau diperrjuangkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Masyarakat menghendaki peran yang diharapkan dilaksanakan secermat-cermatnya, lengkap, sesuai dengan peraturan. Peran ini antara lain peran hakim, peran pilot pesawat, dan sebagainya. Peran-peran ini merupakan peran yang &quot;tidak dapat ditawar&quot;, harus dilaksanakan seperti yang ditentukan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Peran yang disesuaikan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam melaksanakannya harus lebih luwes dari pada peran yang diharapkan, bahkan kadang-kadang harus di sesuaikan. Peran yang disesuaikan mungkin tidak cocok dengan situasi setempat, tetapi kekurangan yang muncul dianggap wajar oleh masyarakat. Suatu peran disesuaikan bukan karena manusia pelakunya, tetapi karena faktor-faktor di luar manusia, yaitu situasi dan kondisi yang selalu baru dan sering sulit di ramalkan sebelumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Peran bawaan dan peran pilihan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Peran bawaan adalah peran yang diperoleh secara otomatis, bukan karena usaha, misalnya peran sebagai anak, peran sebagai kakak, sebagai kakek atau nenek dan sebagainya. Kadang-kadang secara tidak langsung terdapat unsur pilihan untuk memperoleh peran bawaan, misalnya peranan bapak dan ibu. Pada saat seorang calon bapak dan calon ibu hendak memasuki hidup perkawinan, keduannya memiliki keputusan bebas. Setelah mereka mempunyai anak, secara otomatis mereka memiliki peranan bapak dan ibu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Peranan kunci (key roles) dan peranan tambahan (suplementary roles)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari pengamatan kasar mengenai jenis-jenis peranan yang ada dalam masyarakat, kita dapat mengetahui bahwa setiap orang memegang lebih dari satu peranan, tidak hanya peranan bawaan, tetapi juga sejumlah peranan yang diperoleh melalui usaha sendiri, serta peranan yang ditunjuk oleh pihak-pihak lain. Si B, misalnya, tidak saja memegang peranan bapak, mertua, menantu, tetapi juga guru SMA Negeri, ketua RW, ketua sejumlah Yayasan, anggota perkumpulan tenis, anggota partai, anggota koperasi simpan pinjam dan beberapa peranan lain. Diantara peranan-peranan itu ada satu peranan disebut peranan kunci, sedang peranan lainnya disebut peranan tambahan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;3. Kondisi Dinamis Peranan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam masyarakat terdapat banyak individu dengan peranan yyang beraneka ragam. Kondisi tersebut membawa akibat dinamis bagi peran sosial yang berupa&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Konflik peran. Konflik peran akan terjadi apabila seseorang dengan kedudukan tertentu harus melaksanakan peran yang sesungguhnya tidak diharapkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Paling sedikit ada dua macam konflik peran: konflik antara berbagai peran dan konflik dalam satu peran tunggal.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
(1) Satu atau lebih peran mungkin menimbulkan kewajiban-kewajiban yang bertentangan bagi seseorang. Contoh seorang istri yang bekerja menyadari bahwa tuntunan pekerjaannya bertentangan dengan tugas-tugas rumah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
(2) Di dalam peran tunggal bisa terdapat konflik yang inhern. Contoh seorang pendeta dalam ketentaraan yang berdoa demi perdamaian, harus mempertahankan semanagt prajurit agar siap&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
untuk membunuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bentrokan peranan (role conflict) sering terjadi pada orang-orang yang memegang sejumlah peranan yang berbeda macamnya, kalau peranan-peranan itu mempunyai pola kelakuan yang saling berlawanan meski subjek atau sasaran yang dituju sama. Dengan kata lain bentrokan peranan terjadi kalau untuk menaati satu pola, seseorang harus melanggar pola lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Ketegangan peran. Ketegangan peran akan terjadi jika seseorang mengalami kesulitan melakukan peran karena adanya ketidaksesuaian antara kewajiban-kewajiban yang harus diembannya dan tujuan peran itu sendiri. Contoh, seorang kepala desa harus menerapkan disiplin di kantor secara ketat kepada para pamong desa yang sebagian besar adalah kerabatnya sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Kegagalan peran. Kegagalan peran akan terjadi jika seseorang tidak sanggup menjalankan beberapa peran sekaligus karena terdapat tuntutan yang saling bertentangan. Contoh, seseorang yang memiliki kecenderungan homoseksualitas dituntut untuk menikah oleh orang tuanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Kesenjangan peran. Kesenjangan peran akan terjadi jika seseorang harus menjalankan peran yang tidak menjadi prioritas hidupnya sehingga merasa tertekan atau merasa tidak cocok menjalankan peran tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan demikian, di dalam menjalankan peranan, seorang anggota masyarakat ada yang mengalami ada yang mengalami permasalahan sehubungan dengan kedudukan dan peranan sosial, di antaranya adalah konflik kedudukan (satus conflic), konflik peranan (role conflic), dan ada juga pemisahan antara peranan individu dan peranan yang seharusnya dijalankan. 4. Peran Pemimpin Agama/Tokoh Agama di Masyarakat&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan mengacu pada pengertian mengenai peran di atas, bahwa dapat dibedakan antara status sebagai seorang tokoh/pemimpin agama dengan peran sebagai tokoh agama. Dapat dikatakan bahwa status tokoh agama terdiri atas sekumpulan kewajiban tertentu seperti kewajiban mendidik umat, mengabdikan hidup untuk agama dan mengajarkan ilmu yang dimiliki. Selain sekumpulan kewajiban, dalam status sebagai tokoh agama, juga terdapat sekumpulan hak seperti mendapat penghormatan dari umat, memperoleh legitimasi sosial, memiliki pengikut dan menerima imbalan atas jasanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun terkait dengan peran, maka peran seorang tokoh agama mengacu kepada bagaimana seseorang yang berstatus sebagai tokoh agama menjalankan hak dan kewajibannya tersebut, antara lain bagaimana mendidik umat, memberikan keteladanan dan melakukan bimbingan kepada umat. Dengan demikian peran merupakan implementasi dari kerangka yang melekat pada hak-haknya tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Membahas peranan para tokoh agama dalam pembangunan masyarakat memang sangat menarik, bukan saja lantaran para tokoh agama merupakan salah satu komponen itu sendiri, melainkan juga karena pada umumnya pembangunan diorientasikan pada upaya-upaya manusia yang bersifat utuh dan serasi antara aspek lahiriah dan aspek batiniah. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa keberadaan manusia yang terdiri atas unsur jasmaniah dan ruhaniah. Kedua unsur itu harus terisi dalam proses pembangunan. Kekosongan pada salah satu unsur, berarti hilangnya keseimbangan, dan hilangnya keseimbangan pada diri manusia sama artinya dengan tidak tercapainya keutuhan dalam pembangunan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Peran serta aktif tokoh agama (yang dalam Islam seperti ulama, kiayi, ustadz dan sejenisnya) adalah sangat diharapakan, karena mereka adalah para pemimpin informal yang sering kali lebih disegani, lebih dipatuhi dan lebih dicintai daripada para pemimpin yang formal dalam masyarakat Indonesia khususnya pada masyarakat dunia pada umumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pentingnya keterlibatan para tokoh agama adalah dalam pembangunan aspek ruhaniah. Unsur ini mustahil dapat terisi tanpa keterlibatan para tokoh agama. Dengan demikian, keterlibatan para pemimpin agama dalam kegiatan pembangunan tidak bersifat suplementer (pelengkap penderita), tetapi benar-benar menjadi salah satu komponen inti dalam seluruh proses pembangunan. Dalam pelaksanaannya, bahkan para pemimipin agama dapat berperan lebih luas, bukan hanya terbatas pada pembangunan ruhani masyarakat, tetapi juga dapat berperan sebagai motivator, pembimbing, pemberi landasan moral, serta menjadi mediator dalam seluruh aspek kegiatan pembangunan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Pemimpin agama sebagai motivator&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tokoh agama/pemimpin agama/elit agama yang termasuk di dalamnya guru agama merupakan wakil representatif dari masyarakat sehingga jabatan Guru yang dalam Islam juga disebut ustadz, ulama, cendikiawan muslim adalah merupakan elit agama. Konsep tentang elit ini oleh Pareto (Varma, 1987:202) diartikan sebagai sekelompok kecil orang yang mempunyai kualitas-kualitas yang diperlukan bagi kehadiran mereka pada kekuasaan sosial dan politik yang penuh. Sedangkan Kaplan (1950) menguraikan elit sebagai orang yang memperoleh paling banyak dari apa yang seharusnya diperoleh, dan tiga hal yang berharga untuk sebagai guru sekaligus merupakan jabatan kemasyarakatan.48 Guru bertugas membina masyarakat agar berpartisipasi dalam pembangunan. Dalam kedudukan seperti ini, guru bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga diharapkan tampil aktif sebagai pendidik dan pembimbing di masyarakat yang harus memberikan keteladanan yang baik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/5335177464582237964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/5335177464582237964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/07/TESIS-PERAN-SOSIAL-GURU-PENDIDIKAN-AGAMA-ISLAM-DALAM-MEMBINA-KERUKUNAN-UMAT-BERAGAMA.html' title='TESIS PERAN SOSIAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBINA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-578445918018493577</id><published>2016-07-09T21:46:00.000-07:00</published><updated>2016-07-09T21:46:04.351-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="corporate social responsibility"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi komunikasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="strategi humas"/><title type='text'>SKRIPSI STUDI DESKRIPTIF KUALITATIF STRATEGI KOMUNIKASI HUMAS DALAM MENJALANKAN CSR BIDANG PENDIDIKAN UNTUK MENINGKATKAN PENDIDIKAN MASYARAKAT</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0031-KOMUNIKASI) : SKRIPSI STUDI DESKRIPTIF KUALITATIF STRATEGI KOMUNIKASI HUMAS DALAM MENJALANKAN CSR BIDANG PENDIDIKAN UNTUK MENINGKATKAN PENDIDIKAN MASYARAKAT&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;BAB II&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KERANGKA TEORI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Strategi Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Strategi pada hakikatnya adalah perencanaan dan manajemen untuk mencapai suatu tujuan. Akan tetapi untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja, melainkan harus mampu menunjukkan bagaimana titik operasionalnya. (Effendy, 2004: 32). Sedangkan Sondang P. Siagian (1985: 21) berpendapat bahwa, strategi adalah cara-cara yang sifatnya mendasar dan fundamental yang akan dan oleh suatu organisasi untuk mencapai tujuan dan berbagai sasaran dengan selalu memperhitungkan kendala lingkungannya yang pasti akan dihadapi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setiap strategi dalam bidang apa pun harus didukung oleh teori, demikian juga dalam strategi komunikasi. Teori merupakan pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman yang telah diuji kebenarannya. Untuk strategi komunikasi, teori yang barangkali tepat untuk dijadikan sebagai &quot;pisau analisis&quot; adalah paradigma yang dikemukakan oleh Harold D. Lasswell. Untuk mantapnya strategi komunikasi, maka segala sesuatunya harus dipertautkan dengan komponen-komponen yang merupakan jawaban terhadap pertanyaan yang dirumuskan, yaitu who says what in which channel to whom with what effect. Rumus ini tampaknya sederhana, tetapi jika dikaji lebih jauh, pertanyaan &quot;efek apa yang diharapkan&quot; secara implisit mengandung pertanyaan lain yang perlu dijawab dengan seksama, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. When ( Kapan dilaksanakannya)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. How ( Bagaimana melaksanakannya)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Why ( Mengapa dilaksanakan demikian)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tambahan pertanyaan tersebut dalam strategi komunikasi sangat penting, karena pendekatan (approach) terhadap efek yang diharapkan dari suatu kegiatan komunikasi (Ruslan, 2003 : 99).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Secara etimologis, istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin &quot;communicatio&quot; dan bersumber dari kata &quot;communis&quot; yang berarti &quot;sama&quot;, dalam arti &quot;sama makna&quot;. Menurut Carl I. Hovland (Siahaan, 2000: 3), komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikan). Berdasarkan pernyataan tersebut komunikasi mengandung unsur psikologis yakni mempengaruhi tingkah laku individu/kelompok. Dengan adanya perubahan tingkah laku yang dikarenakan proses komunikasi, maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi tersebut mengandung unsur-unsur persuasif.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Joseph A. Devito (1997), komunikasi adalah sebuah tindakan untuk berbagi informasi, gagasan, atau pendapat dari setiap partisipan komunikasi yang terlibat di dalamnya guna mencapai kesamaan makna. Komunikasi merupakan suatu tindakan yang memungkinkan kita mampu menerima dan memberikan informasi atau pesan sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Proses komunikasi adalah setiap langkah mulai dari saat menyampaikan informasi sampai dipahaminya informasi oleh komunikan. Komunikasi adalah suatu proses, suatu kegiatan yang berlangsung secara kontinyu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tujuan komunikasi dapat dilihat dari berbagai aspek dalam kampanye dan propaganda. Untuk itu diperlukan strategi yang pada hakikatnya adalah perencanaan dan manajemen untuk mencapai tujuan tertentu dalam praktek operasionalnya. Dari definisi tersebut terdapat kesepakatan bahwa strategi komunikasi memberikan fokus terhadap usaha komunikasi yang dilakukan karena dengan perencanaan dan manajemen membantu melihat hasil dan melihat jauh ke depan. (Ruslan, 2005: 36)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kegiatan komunikasi yang dilakukan perusahaan merupakan komponen yang jelas terlihat siapa pun karena komunikasi memang ditujukan untuk masyarakat. Misalnya komunikasi yang dilakukan melalui kegiatan promosi atau iklan di media massa adalah sesuatu yang terlihat. Komunikasi berfungsi sebagai katalisator untuk mempresentasikan dan mendukung strategi tindakan. Dalam situasi tertentu komunikasi menggunakan media tertentu untuk mencapai sasaran yang jauh atau banyak jumlahnya. Untuk itu dibutuhkan strategi komunikasi agar pesan/informasi yang dimaksudkan atau ditujukan untuk merubah sikap, pendapat atau tingkah laku, seseorang atau sejumlah orang dapat mengahasilkan efek tertentu sesuai dengan yang diharapkan. (Morrisan, 2006: 191)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Strategi komunikasi merupakan paduan perancanaan komunikasi (Communication Planning) dengan menejemen komunikasi (Communication Management) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi komunikasi ini harus mampu menunjukkan bagaimana oprasionalnya secara praktis harus dilakukan, dalam arti kata bahwa pendekatan (approach) bisa berbeda sewaktu-waktu bergantung pada situasi dan kondisi (Effendy, 2004: 32).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari pendapat para ahli di atas, maka dapat di tarik kesimpulan bahwa strategi komunikasi adalah suatu cara atau taktik rencana dasar yang menyeluruh dari rangkaian tindakan yang akan dilaksanakan oleh sebuah organisasi untuk mencapai suatu tujuan atau beberapa sasaran dengan memiliki sebuah paduan perencanaan komunikasi (communication planning) dengan manajemen komunikasi (management communication) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun tujuan sentral dari strategi komunikasi itu, menurut R.Wayne Pace, Brent D. Peterson, dan M. Dallas Burnett dalam bukunya, Techniques for Effective Communication, menyatakan bahwa tujuan sentral kegiatan komunikasi terdiri dari atas tiga tujuan utama, yaitu: Pertama, to secure understanding, memastikan bahwa komunikan mengerti pesan yang diterimanya. Kedua, andaikata ia sudah dapat mengerti dan menerima, maka penerimanya itu harus dibina (to establish acceptance). Ketiga, pada akhirnya kegiatan dimotivasikan (to motive action). (Effendy, 2004: 32).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam strategi komunikasi mengenai isi pesan tentu sangat menentukan efektivitas komunikasi. Wilbur Schramm (Rusdianto, 2010: 15) mengatakan bahwa agar komunikasi yang dilancarkan dapat lebih efektif, maka pesan yang disampaikan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian sasaran dimaksud.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Pesan harus menggunakan tanda-tanda yang tertuju kepada pengalaman yang sama antara sumber dan sasaran, sehingga sama-sama dapat dimengerti.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi pihak sasaran dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Pesan harus menyarankan sesuatu jalan untuk memperoleh kebutuhan tadi, yang layak bagi situasi kelompok di mana sasaran berada pada saat ia gerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Gejala-gejala psikis komunikan sangat perlu diketahui oleh seorang komunikator. Gejala-gejala psikis tersebut biasanya dapat dipahami bila diketahui pula lingkungan pergaulan komunikan yang dalam hal ini biasanya disebut situasi sosial.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jika kita sudah tahu sifat-sifat komunikan, dan mengetahui pula efek seperti apa yang kita kehendaki dari mereka, memilih cara mana yang kita ambil untuk berkomunikasi sangatlah penting, karena ini ada kaitannya dengan media yang harus kita gunakan. Cara bagaimana kita berkomunikasi (how to communicate), kita bisa mengambil salah satu dari dua tatanan berikut ini:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;a. Komunikasi Tatap Muka (Face To Face Communication)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Komunikasi tatap muka dipergunakan apabila kita mengharapkan efek perubahan tingkah laku (behaviour change) dari komunikan. Mengapa demikian, karena kita sewaktu berkomunikasi memerlukan umpan balik langsung (immediate feedback). Dengan saling melihat, kita sebagai komunikator bisa mengetahui pada saat kita berkomunikasi apakah komunikan memperhatikan kita dan mengerti apa yang kita komunikasikan. Jika umpan baliknya positif, kita akan mempertahankan cara komunikasi yang kita pergunakan dan memeliharanya supaya umpan balik tetap menyenangkan kita. Bila sebaliknya, kita akan mengubah teknik komunikasi kita sehingga komunikasi kita berhasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;b. Komunikasi Bermedia (Mediated Communication)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Komunikasi bermedia (public media and mass media) pada umumnya banyak digunakan untuk komunikasi informative, karena tidak begitu ampuh untuk mengubah tingkah laku. Lebih-lebih media massa. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa media massa kurang sekali keampuhannya dalam mengubah tingkah laku komunikan. Walaupun demikian, tetap ada untung ruginya. Kelemahan komunikasi bermedia ialah tidak persuasive, sebaliknya kekuatannya dapat mencapai komunikan dalam jumlah yang besar. Komunikasi tatap muka kekuatannya ialah dalam hal mengubah tingkah laku komunikan, tetapi kelemahannya ialah bahwa komunikan yang dapat diubah tingkah lakunya itu relatif hanya sedikit saja, sejauh bisa berdialog dengannya. (Effendy, 2004: 301-303)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bagaimanapun juga setiap komunikasi yang dilakukan senantiasa menambah efek yang positif atau efektivitas komunikasi. Komunikasi yang tidak menginginkan efektivitas, sesungguhnya adalah komunikasi yang tidak bertujuan. Efek dalam komunikasi adalah perubahan yang terjadi pada diri penerima (komunikan atau khalayak), sebagai akibat pesan yang diterima baik&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/578445918018493577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/578445918018493577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/07/SKRIPSI-STUDI-DESKRIPTIF-KUALITATIF-STRATEGI-KOMUNIKASI-HUMAS-DALAM-MENJALANKAN-CSR-BIDANG-PENDIDIKAN-UNTUK-MENINGKATKAN-PENDIDIKAN-MASYARAKAT.html' title='SKRIPSI STUDI DESKRIPTIF KUALITATIF STRATEGI KOMUNIKASI HUMAS DALAM MENJALANKAN CSR BIDANG PENDIDIKAN UNTUK MENINGKATKAN PENDIDIKAN MASYARAKAT'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-2924685742710542614</id><published>2016-07-09T21:43:00.000-07:00</published><updated>2016-07-09T21:43:08.028-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kinerja karyawan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="komunikasi antar pribadi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi komunikasi"/><title type='text'>SKRIPSI HUBUNGAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DENGAN PENINGKATKAN KINERJA KARYAWAN</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0030-KOMUNIKASI) : SKRIPSI HUBUNGAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DENGAN PENINGKATKAN KINERJA KARYAWAN&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;BAB II&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KAJIAN TEORI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;A. Teori Dasar&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Pengertian Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris Communication berasal dari kata latin Communcatio dan bersumber dari kata Communis yang berarti sama. Sama di sini maksudnya sama maknanya. (Effendy;1993 : 9).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pengertian komunikasi menurut maknanya adalah Proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan maupun tidak langsung melalui media. (Effendy;1989 : 5).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Komunikasi menurut Hovland yang dikutip Mulyana adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikan). (Mulyana;2005 : 62).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan antara dua orang yang terlibat dalam proses menyampaikan rangsangan untuk memberitahu atau mengubah sikap, pendapat, atau perilaku dan ada kesamaan makna dan bahasa agar kedua pihak tersebut bisa jauh lebih memahami lawan bicaranya dengan baik dan benar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat dilancarkan secara efektif para pengamat komunikasi sering kali menilik formula yang dikemukakan oleh Lasswell. Yang mengatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi adalah menjawab pertanyaan sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
(Siapa Berkata apa Melalui saluran apa Kepada siapa Dengan efek apa)&lt;br /&gt;
(Effendy;1999 : 10)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Formula Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1) Komunikator (Communicator)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2) Pesan (Message)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3) Media (Channel)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4) Komunikan (Receiver)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5) Efek (Impact)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jadi berdasarkan formula Lasswell di atas, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Model komunikasi gabungan yang dilakukan oleh Lasswell dan Shannon &amp;amp; Weaver saling berkaitan antara satu dengan yang lain, diantaranya yaitu : (Effendy;1998 : 11)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Pengirim atau penerima {Sender / receiver)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang dimaksud pengirim atau penerima adalah pengirim pesan atau penerima pesan karena adanya umpan balik&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Pesan (Message)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pesan dapat berupa tulisan, ucapan, bahasa non verbal, bentuk grafik atau visual.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Gangguan (Noise)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Semua hal yang dapat mengganggu sebuah pesan, termasuk suara, kurang knsentrasi, penafsiran yang berbeda dari sebuah pesan, pengucapan atau lafal yang tidak jelas, tingkah laku non verbal, persepsi yang salah dari sebuah situasi dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Umpan balik (Feedback)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Suatu respon atau tanggapan dari sebuah situasi yang dapat dimengerti, misalnya tepukan tangan, tertawa, kata tidak setuju, berkata &quot;ya&quot; atau &quot;tidak&quot;. Namun bisa juga respon secara fisik lewat muka yang menggambarkan keheranan, senyuman dan lain-lain. Bila secara tertulis bisa digambarkan berupa makna yang disampaikan dari surat balasan dan pada dunia televisi, bisa berupa rating dari masyarakat terhadaptanggapan suatu acara. Intinya dengan adanya respon, komunikasi dapat berjalan dua arah. e. Saluran (Channel)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut. Bisa secara langsung, dengan tatap muka, tetapi bisa dengan media seperti handphone, internet, dan Iain-lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari uraian di atas dapat disimpulkan gabungan formula Lasswell dan Shannon &amp;amp; Weaver dapat mengetahui sender atau receiver adalah pengirim dan penerima pesan karena adanya umpan balik. Pesan dapat berupa tulisan, ucapan, bahasa non verbal, bentuk grafik ataupun visual. Noise adalah semua hal yang dapat mengganggu sebuah pesan baik itu pengirim ataupun penerima pesan. Feedback adalah suatu respon atau tanggapan dari sebuah situasi yang dapat dimengerti sehingga komunikasi dapat berjalan dengan baik. Channel dapat diartikan dengan cara-cara apa pesan dapat diberitahukan dalam hal ini saluran apa yang digunakan (media).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2. Efektivitas Komunikasi Antar Pribadi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Komunikasi antar pribadi sebagai suatu bentuk perilaku, dapat berubah dari sangat efektif ke sangat tidak efektif. Pada suatu saat komunikasi bisa lebih buruk dan pada saat lain bisa lebih baik. Namun perlu diingat bahwa setiap tindakan komunikasi adalah berbeda dan mempunyai keunikan-keunikan sendiri, sehingga prinsip-prinsip yang ada harus diterapkan secara fleksibel.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam komunikasi antar pribadi terdapat karakteristik-karakteristik efektivitasnya. Karakteristik-karakteristik efektivitas komunikasi antar pribadi oleh Yoseph De Vito dalam bukunya The Interpersonal Communication Book yang dikutip oleh Djuarsa Sendjaja dan dapat dilihat dari Efektivitas Komunikasi Antar Pribadi dari Perspektif Humanistik. Terdapat beberapa sifat yang tercakup dalam perspektif humanistikyaitu : (Sendjaja;1994:123)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a) Keterbukaan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Terdapat 2 aspek dalam keterbukaan, aspek pertama yaitu bahwa kita harus terbuka pada orang-orang yang berinteraksi dengan kita, tidak berarti semua hal kita sampaikan tetapi yang terpenting ada kemauan untuk membuka diri pada masalah-masalah umum. Lalu aspek kedua adalah menunjuk pada kemauan kita untuk memberikan tanggapan terhadap orang lain dengan jujur dan terus terang tentang segala sesuatu yang dikatakan. Demikian pula sebaliknya, kita ingin orang lain memberi tanggapan secara jujur dan terbuka tentang segala sesuatu yang kita katakan. Keterbukaan diperlihatkan dengan cara memberi tanggapan secara spontan dan tanpa dalih terhadap komunikasi dan umpan balik orang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b) Empati&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Empati adalah kemampuan seseorang uuntuk menempatkan dirinya pada peranan atau posisi orang lain. Artinya bahwa seseorang secara emosional maupun intelektual mampu memahami apa yang dirasakan dan dialami orang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c) Perilaku Suportif&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Komunikasi antar pribadi akan efektif bila dalam diri seseorang ada perilaku suportif, artinya seseorang dalam menghadapi suatu masalah tidak bersikap bertahan (defensif). Ada 3 perilaku yang menimbulkan perilaku suportif, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Deskriptif&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Suasana deskriptif menimbulkan sikap suportif disbanding suasana yang evaluatif, artinya orang yang memiliki sifat ini lebih banyak meminta informasi atau deskripsi tentang suatu hal.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
-Spontanitas&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Orang yang spontan dalam berkomunikasi adalah orang&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
yang terbuka dan terus terang tentang apa yang&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
dipikirkannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Provisionalisme&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seseorang yang memiliki sifat ini adalah orang yang memiliki sikap berpikir terbuka, ada kemauan untuk mendengar pandangan yang berbeda dan bersedia menerima pendapat orang lain bila memang pendapatnya keliru.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d) Perilaku positif&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sikap positif dalam komunikasi antar pribadi menunjuk pada 2 aspek. Aspek pertama komunikasi antar pribadi akan berkembang bila ada pandangan positif terhadap diri sendiri. Aspek kedua mempunyai perasaan positif terhadap orang lain dan berbagai situasi komunikasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
e) Kesamaan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kesamaan dalam komunikasi antar pribadi mencakup 2 hal. , kesamaan bidang pengalaman di antara para pelaku komunikasi. Artinya komunikasi antar pribadi umumnya akan lebih efektif bila para pelakunya mempunyai nilai, sikap, perilaku dan pengalaman yang sama. Kedua, kesamaan dalam percakapan diantara para pelaku komunikasi. Hal ini memberi pengertian bahwa dalam komunikasi antar pribadi harus ada kesamaan dalam hal mengirim dan menerima pesan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam konteks penelitian ini, lebih difokuskan pada perspektif humanistik. Dikarenakan lebih sederhana dan lebih mudah dimengerti serta lebih umum di masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;3. Definisi Public Relations (PR)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Frank Jefkins Public Relations adalah semua bentuk komunikasi yang terancang baik itu ke dalam maupun ke luar antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian.(Jefkins;2002:10).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut S.K Bonar public relations adalah usaha untuk mengembangkan hubungan yang baik, akrab, pantas dan oleh karena itu menguntungkan kedua pihak seperti antar suatu perusahaan, industri, organisasi dengan masyarakat. (1991 : 5)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Definisi Public Relations menurut F. Rachmadi adalah suatu kegiatan yang bertujuan memperoleh good will, kepercayaan, sebagai pengertian dasar citra yang baik dari publik atau masyarakat. (Rachmadi; 1994 : 20).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan, public relations adalah semua bentuk komunikasi dan usaha yang terancang baik untuk mengembangkan hubungan yang akrab antar kedua belah pihak demi memperoleh good will dan kepercayaan masyarakat yang baik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Rusady Ruslan dalam bukunya Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi, Public Relations memiliki 2 ruang lingkup, yaitu : (Ruslan;2005 : 23)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Publik Internal (membina hubungan ke dalam) Yang dimaksud dengan public internal adalah public yang menjadi bagian dari unit / badan / perusahaan atau organisasi itu sendiri. Seorang PR harus mampu mengidentifikasi atau mengenali hal-hal yang menimbulkan gambaran negative di dalam masyarakat sebelum kebijakan itu dijalankan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/2924685742710542614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/2924685742710542614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/07/SKRIPSI-HUBUNGAN-KOMUNIKASI-ANTAR-PRIBADI-DENGAN-PENINGKATKAN-KINERJA-KARYAWAN.html' title='SKRIPSI HUBUNGAN KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DENGAN PENINGKATKAN KINERJA KARYAWAN'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-6915281250490848017</id><published>2016-07-08T21:41:00.000-07:00</published><updated>2016-07-08T21:41:33.211-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="iklim organisasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="motivasi kerja"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi komunikasi"/><title type='text'>SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA IKLIM KOMUNIKASI DAN MOTIVASI KERJA KARYAWAN</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0029-KOMUNIKASI) : SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA IKLIM KOMUNIKASI DAN MOTIVASI KERJA KARYAWAN&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;BAB II&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pembahasan mengenai iklim organisasi dan iklim komunikasi berkaitan dengan keadaan atau situasi yang terbentuk dalam organisasi. Pemahaman yang baik terhadap iklim organisasi dan iklim komunikasi dalam suatu organisasi secara tidak langsung memberikan pengaruh yang positif terhadap tingkah laku, motivasi, dan kinerja kerja anggotanya, oleh karena itu keduanya perlu mendapat perhatian khusus dari ketua atau pimimpin organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pendefinisian dan penelitian mengenai iklim organisasi, iklim komunikasi, dan motivasi telah dikaji serta dirumuskan oleh beberapa ahli. Hasil penelitian dari para ahli yang kemudian menjadi landasan dan pembelajaran bagi praktisi-praktisi organisasi khususya perusahaan dalam proses kerja organisasi. Berikut adalah uraian pembahasan mengenai iklim organisasi, iklim komunikasi dan motivasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;A. Iklim Organisasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Pengertian Iklim Organisasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Istilah iklim organisasi pertama kali diperkenalkan oleh Kurt Lewin pada tahun 1930-an dengan istilah iklim psikologi (psychological climate). Kemudian berkembang istilah iklim organisasi oleh R. Tagiuri dan G. Litwin. Pendefinisian mengenai iklim organisasi turut dirumuskan oleh beberapa ahli, diantaranya dalam buku berjudul komunikasi organisasi (2009:82) oleh Arni Muhammad :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Tagiuri (1968) iklim organisasi adalah kualitas yang relatif abadi dari lingkungan internal organisasi yang dialami oleh anggota-anggotanya, mempengaruhi tingkah laku mereka serta dapat diuraikan dalam istilah nilai-nilai suatu set karakteristik tertentu dari lingkungan. Sementara Payne dan Pugh (1976) mendefinisikan iklim organisasi sebagai suatu konsep yang mereflesikan isi dan kekuatan dari nilai-nilai umum, norma, sikap, tingkah laku dan perasaan anggota terhadap suatu system sosial.&quot;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keduanya memandang iklim komunikasi sebagai keadaan yang terbentuk dari hasil interaksi antara anggota organisasi dengan sub-sub sistem yang ada didalam organisasi, seperti : nilai, norma, keadaan serta sistem yang berlaku dalam organisasi. Interaksi antara anggota organisasi dan sub-sub system tersebut yang kemudian mempengaruhi tingkah laku anggota dalam sebuah organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Dimensi Iklim Organisasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seperti halnya organisasi, iklim organisasi juga tersusun oleh dimensi-dimensi, menurut Litwin dan Stringers (1968) dimensi iklim organisasi tersusun oleh : rasa tanggung jawab, standar atau harapan tentang kualitas pekerjaan, ganjaran atau reward, rasa persaudaraan serta semangat tim.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sementara menurut Wirawan dalam buku berjudul Budaya dan Iklim Organisasi (2007:128), iklim organisasi tersusun oleh dimensi dan indikator iklim organisasi yang terdiri dari :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Keadaan lingkungan fisik yang berkaitan dengan persepsi anggota organisasi mengenai tempat, proses, serta peralatan kerja mereka. Indikator untuk mengukur dimensi lingkungan fisik, terdiri dari : tempat kerja, mebel, alat produksi dan sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Keadaan lingkungan sosial yakni interaksi antar anggota organisasi dalam hubungan formal maupun informal. Indikator pengukurnya adalah hubungan antar anggota, sistem komunikasi dan kepemimpinan, kepercayaan, kebersamaan dan penghargaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Pelaksanaan sistem manajemen yang berlaku di dalam sebuah organisasi. Indikatornya terdiri dari : visi, misi,struktur, sistem, standar, prosedur kerja dan strategi organisasi. Serta pengembangan karier dan manajemen konflik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Produk yang dihasilkan organisasi turut mempengaruhi iklim yang terbentuk dalam organisasi. Indikatornya adalah proses produksi, jenis barang, prosedur layanan konsumen, jenis jasa, dan prosedur penyajiannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
e. Konsumen yang dilayani berkaitan dengan subjek yang menjadi tujuan dari produksi barang organisasi. Indikator pengukurnya adalah jenis, dan perilaku konsumen, sistem layanan serta hubungan antar anggota organisasi dengan konsumen.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
f. Kondisi fisik dan kejiwaan anggota organisasi turut mempengaruhi iklim yang terbentuk dalam organisasi. Indikatornya terdiri dari : kesehatan, komitmen, moral, kebersamaan, etos dan semangat bekerja.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
g. Budaya organisasi yakni segala hal yang telah menjadi kebiasaan dan bagian dari organisasi. Idikator untuk mengukurnya terdiri dari : pelaksanaan nilai-nilai, norma, kepercayaan dan filsafat, pelaksanaan kode etik, seremoni, serta sejarah organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Penelitian Iklim Organisasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Wirawan dalam buku berjudul Budaya dan Iklim Organisasi (2007:187) memaparkan hasil penelitian Mark. A. Shadur, Riene Kienzle dan John J. Rodweel (1999) dalam artikel berjudul “ The Relationship between Organizational Climate and Employee Perception of Involvement The importance of Support”. Penelitian mereka bertujuan untuk mengukur hubungan antara iklim organisasi dan persepsi karyawan mengenai keterlibatan kerjanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mark. A. Shadur, Riene Kienzle, dan John J. Rodweel mendefinisikan iklim organisasi sebagai variabel bebas yang terdiri dari birokrasi, inovasi dan dukungan. Sementara keterlibatan kerja didefinisikan sebagai variabel terikat yang tersusun oleh tiga dimensi yakni : komunikasi, partisipasi dalam pengambilan keputusan, dan tim kerja. Berikut adalah hasil temuan dalam penelitian Mark. A. Shadur, Riene Kienzle, dan John J. Rodweel :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
“Penelitian ini menunjukkan perlunya para manajer untuk memahami pengaruh iklim organisasi terhadap keterlibatan kerjanya. Walaupun para manajer sering mengakses iklim organisasi dengan mengukur perasaan umum terhadap organisasi, hanyalah iklim organisasi suportif yang merupakan prediktor konstan terhadap tiga variabel yang diteliti : partisipasi dalam pengambilan keputusan, tim kerja, dan komunikasi. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa jika iklim organisasi dipecah menjadi berbagai subkomponen, maka dapat dipakai untuk menentukan efektivitas dan proses sistem manajemen seperti program keterlibatan karyawan dalam organisasi. Iklim organisasi harus dianggap sebagai indikator kompleks dari persepsi organisasi yang dapat dipergunakan untuk mengelola organisasi dan sistem keterlibatan karyawannya.&quot;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hasil penelitian mengenai iklim organisasi mendukung kesimpulan bahwa iklim organisasi yang positif mampu meningkatkan produktifitas organisasi. Iklim organisasi yang positif tidak hanya memberikan keuntungan bagi organisasi, namun hal tersebut juga mendatangkan manfaat untuk anggota-anggota dalam organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;B. Iklim Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Pengertian Iklim Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Proses komunikasi bersifat lebih terbuka, santai, ramah-tamah dengan anggota lainnya menghasilkan iklim komunikasi yang positif. Iklim komunikasi yang positif berpengaruh terhadap keadaan anggota organisasi dalam berkomunikasi. Sebaliknya, iklim negatif yang terbentuk menjadikan anggota tidak berani berkomunikasi secara terbuka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pace dan Faules dalam buku komunikasi organisasi (2010:147) mendefinisikan iklim komunikasi sebagai gabungan dari persepsi-persepsi, suatu evaluasi makro, mengenai peristiwa komunikasi, perilaku manusia, respons pegawai terhadap pegawai lainnya, harapan-harapan, konflik-konflik antarpersona, dan kesempatan bagi pertumbuhan dalam organisasi tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Iklim komunikasi berbeda dengan iklim organisasi dalam arti iklim komunikasi meliputi persepsi-persepsi mengenai pesan dan peristiwa yang berhubungan dengan pesan yang terjadi dalam organisasi. Sementara iklim organisasi dapat disimpulkan sebagai kualitas lingkungan internal organisasi yang secara relatif terus berlangsung yang dialami oleh anggota organisasi serta turut mempengaruhi perilaku mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Dimensi Iklim Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Arni Muhammad dalam buku berjudul komunikasi organisasi (2009:86) Redding (Goldhaber, 1986) mengemukakan lima dimensi penting dari iklim komunikasi yang terdiri dari :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. “&lt;i&gt;supportiveness&lt;/i&gt;” atau bawahan mengamati bahwa hubungan komunikasi mereka dengan atasan membantu mereka membangun dan menjaga perasaan diri berharga dan penting.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Partisipasi membuat keputusan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Kepercayaan, dapat dipercaya dan dapat menyimpan rahasia&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Keterbukaan dan keterusterangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Tujuan kinerja yang tinggi, pada tingkat mana tujuan kinerja dikomunikasikan dengan jelas kepada anggota organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Arni Muhammad dalam buku berjudul komunikasi organisasi (2009:86) menguraikan pokok persoalan utama dari iklim komunikasi adalah sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Persepsi mengenai sumber komunikasi dan hubungannya dalam organisasi. Persoalan ini berkaitan dengan kepuasan, keterbukaan, kepercayaan anggota organisasi dengan atasan, teman bekerja dan bawahan sebagai sumber informasi. Serta seberapa penting sumber-sumber tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Persepsi mengenai tersedianya informasi bagi anggota organisasi. Hal ini berkaitan dengan manfaat, ketepatan penerimaan, serta jumlah informasi yang diterima cocok atau tepat dengan topic-topik yang penting dari sumber informasi&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Persepsi mengenai organisasi yang membahas mengenai banyaknya anggota yang terlibat dalam pembuatan keputusan yang mempengaruhi anggota organisasi, Apakah tujuan dan objektif dipahami ? Apakah orang diberi sokongan dan dihargai ? Apakah sistem terbuka terhadap input dari anggotanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pokok persoalan mengenai iklim komunikasi yang diuraikan Arni Muhammad menekankan pada persepsi terhadap proses komunikasi yakni sumber komunikasi yang bersifat terbuka, dipercaya dan memberikan kepuasan dalam penyampaian informasi. Persepsi terhadap tersedianya informasi serta persepsi terhadap unsur-unsur yang terdapat di dalam organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/6915281250490848017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/6915281250490848017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/07/SKRIPSI-HUBUNGAN-ANTARA-IKLIM-KOMUNIKASI-DAN-MOTIVASI-KERJA-KARYAWAN.html' title='SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA IKLIM KOMUNIKASI DAN MOTIVASI KERJA KARYAWAN'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-5070650618122894243</id><published>2016-07-08T21:30:00.000-07:00</published><updated>2016-07-08T21:30:09.557-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="iklan blackberry"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="minat beli"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi komunikasi"/><title type='text'>SKRIPSI IKLAN BLACKBERRY DAN MINAT BELI</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0028-KOMUNIKASI): SKRIPSI IKLAN BLACKBERRY DAN MINAT BELI&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;BAB II&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KAJIAN TEORI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;A. Komunikasi dan Komunikasi Massa&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Pengertian Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Secara etimologis atau menurut asal katanya, istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin communication dan perkataan ini bersumber pada kata communis. Communis berarti sama, dalam arti kata sama makna, yaitu sama makna mengenai suatu hal. Jadi komunikasi berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan. Secara terminologis, komunikasi berarti proses penyampaian suatu peernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jelas bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang, di mana seseorang menyatakan sesuatu kepada orang lain. Secara umum, komunikasi adalah proses penyampaian suatu pernyataan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain sebagai konsekuensi dari hubungan sosial (Effendy, 1992 : 3-5).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Widjaja (2000 : 15) menyimpulkan bahwa komunikasi adalah penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain. Komunikasi akan dapat berhasil apabila timbul saling pengertian, yaitu jika sipengirim dan sipenerima informasi dapat memahaminya. Dari pengertian komunikasi yang dikemukakan para ahli, dapat dilihat komponen atau unsur yang dicakup dan merupakan persyaratan terjadinya komunikasi, yaitu : komunikator, pesan, media, komunikan, dan efek.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Unsur komunikasi itu dapat dilihat melalui paradigma Laswell, yaitu : Who Says What in Which Channel to Whom with What Effect (Effendi, 1999 : 10). Dari paradigma Laswell tersebut, diperoleh lima komponen atau unsur komunikasi, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Komunikator adalah pihak yang menyampaikan pesan pada seseorang atau sejumlah orang, atau sering juga disebut dengan sumber.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Pesan adalah pernyataan yang didukung oleh lambang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Komunikan adalah orang yang menerima pesan dari komunikator, sering juga disebut dengan penerima {receiver).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Media adalah sarana atau saluran yang mengandung pesan bila komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Efek adalah dampak sebagai pengaruh dari pesan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ilmu komunikasi sendiri dalam aplikasinya akan mampu mencegah dan menghilangkan konflik karena semakin banyak manusia yang dicakup, cenderung akan semakin banyak masalah yang timbul. Berkenaan dengan itu, Effendy (1994 : 28) mendefenisikan juga hakekat komunikasi yaitu pernyataan benar antarmanusia, yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2. Pengertian Komunikasi Massa&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Istilah komunikasi diambil dari bahasa Yunani, yaitu common, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi shared by all alike. Itulah sebabnya, komunikasi pada prinsipnya harus dua arah dalam rangka pertukaran pikiran (ide) dan informasi menuju pada terbentuknya pengertian bersama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sedangkan komunikasi massa adalah berkomunikasi dengan massa (auidiens atau khayalak sasaran). Massa di sini dimaksudkan sebagai para penerima pesan (komunikan) yang memiliki status sosial dan ekonomi yang heterogen satu sama lainnya. Pada umumnya, proses komunikasi massa tidak menghasilkan feedback (umpan balik) yang langsung, tetapi tertunda dalam waktu yang relatif (Kuswandi, 1996 : 16).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beberapa karakteristik yang pernah ditulis para pakar komunikasi untuk mendefenisikan gejala komunikasi massa adalah sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Komunikator adalah suatu organisasi media yang mempunyai institusi sosial yang jelas.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Message (pesan) diproduksi secara besar-besaran (dalam jumlah besar) dan disebarkan kepada audiens dalam jumlah yang besar pula.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Komunikan pada umumnya adalah publik yang bersifat anonim (tidak saling mengenal).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Komunikan bisa mengelompok pada suatu tempat atau karena suasana tertentu, tetapi juga terpencar meliputi wilayah yang luas.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Feedback (umpan balik) umumnya bersifat tidak langsung atau tertunda karena kontak langsung antara komunikator dan komunikan terhalang oleh medium. Umpan balik langsung hanya untuk pesan dan medium.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
6. Tingkat kerangka referensi {frame of reference) antara pengirim {sender) dan penerima {receiver).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
7. Menimbulkan efek yang besar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
8. Media massa dapat membantu membentuk struktur sosial yang baru secara cepat dan harmonis dengan :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Menjadikan dirinya alat pengikat ataupun perantara dalam perubahan yang semakin renggang ikatannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Menyadarkan masyarakat luas akan perubahan struktur yang diperlukan oleh masyarakat tradisional agar ia mampu bertahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Me Quail (1994 : 33) menjabarkan ciri-ciri utama komunikasi massa sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Sumber komunikasi massa merupakan suatu organisasi formal dan sang pengirimnya seringkali komunikator personal.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Pesannya tidak unik dan beraneka ragam serta dapat diperkirakan. Pesan tersebut diproses, distandarisasi, dan selalu diperbanyak. Pesan juga merupakan suatu produk dan komoditi yang mempunyai nilai tukar, serta acuan simbol yang mengandung nilai kegunaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Hubungan antara pengirim dan penerima bersifat dua arah dan jarang sekali bersifat interaktif Hubungan tersebut bersifat interpersonal bahkan mungkin bersifat nonmoral dan kalkulatif Artinya, pengirim biasanya tidak bertanggung jawab atas konsekuensi yang terjadi pada setiap individu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;B. Periklanan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Pengertian Iklan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Secara etimologi, iklan berasal dari bahasa Latin, yaitu ad-vere yang berarti mengoperkan pikiran dan gagasan kepada pihak lain. Sedangkan advertensi dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Inggris yaitu advertising (Liliweri, 1997 : 17). Iklan merupakan bagian dari reklame yang berasal dari bahasa Perancis, yaitu re-clamare yang berarti meneriakkan berulang-ulang. Meneriakkan berulang-ulang di pinggir jalan, lorong ataupun yang sejenisnya sudah merupakan bersifat iklan. Bedanya hanyalah, bahwa iklan pada umumnya menggunakan media sehingga reklame dagangan dapat tersebar luas dan tidak perlu bersusah payah membawa barang atau jasa yang hendak dijual.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kehadiran iklan tidak hanya diperlukan oleh perusahaan semata-mata, tetapi juga oleh masyarakat luas. Artinya dengan adanya iklan maka masyarakat jadi tahu akan kelebihan dan keuntungan yang akan diperoleh daripada barang atau jasa yang dianjurkan tersebut. Kemudian dengan adanya iklan pula, masyarakat jadi mudah mencari dimana tempat untuk mendapatkan barang atau jasa, sesuai dengan yang diinginkannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain itu, masyarakat adalah sekumpulan dari berbagai macam individu yang selalu disibukkan dengan kehidupan sehari-harinya. Sehingga tidak jarang lupa atau memang sengaja melupakan hal-hal yang kurang berkenaan dengan dirinya. Pokok umpamanya, sebagai salah satu kebutuhan tambahan dalam hidup manusia. Oleh karena itu, memberitahukan, menggerakkan, meyakinkan, dan menggiatkan masyarakat adalah sangat penting terutama bagi perusahaan di dalam upaya meraih peminat dari pada barang atau jasa yang telah dihasilkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mengenai pengertian iklan sendiri, banyak para ahli yang telah menyumbangkan pemikiran, seperti C.H. Sandage dalam bukunya Advertising Theory and Practice yang mengatakan, bahwa iklan adalah :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&quot;&lt;i&gt;The dissemination of information, concerning idea, service or product to compelaction in accordance with the intent of the advertiser&lt;/i&gt;&quot; (Iklan adalah penyebaran informasi beripa ide, pelayanan atau produk untuk menimbulkan kegiatan sesuai dengan yang diinginkan oleh si pemasang iklan) (H.R. DananDjaja, 1985 : 110).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Secara sederhana, Rhenald Kasali mendefenisikan iklan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat lewat suatu media (Kasali, 1992 : 9).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
American Marketing Association (AMA) mendefenisikan iklan sebagai berikut : &lt;i&gt;&quot;Any paid from of nonpersonal presentation and promotion of ideas, goods, or services by an identified sponsor&quot;&lt;/i&gt; (Kasali 1992 : 10).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sementara kode Etik Periklanan Indonesia menguraikan sebagai berikut : &quot;Iklan adalah publikasi atau penyiaran yang berupa reklame, pemberitahuan atau pernyataan yang bersifat bukan berita (news) dengan menyewa suatu ruangan yang khusus disediakan untuk itu, dengan maksud memperkenalkan atau memberitahukan sesuatu melalui mass media&quot; (H.R. DananDjaja, 1985 : 110).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Iklan adalah publikasi yang dapat berupa reklame, pemberitahuan atau pernyataan yang bukan bersifat berita dan disampaikan dengan menyewa satu ruang khusus yang ada pada suatu mass media. Dalam pengertian lain, dengan iklan sesuatu perusahaan membangun kesadaran masyarakat untuk memiliki barang yang dibutuhkannya&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/5070650618122894243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/5070650618122894243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/07/SKRIPSI-IKLAN-BLACKBERRY-DAN-MINAT-BELI.html' title='SKRIPSI IKLAN BLACKBERRY DAN MINAT BELI'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-310562050735411200</id><published>2016-06-17T19:05:00.000-07:00</published><updated>2016-06-17T19:05:00.184-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="citra perusahaan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="corporate social responsibility"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi komunikasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="strategi humas"/><title type='text'>SKRIPSI STRATEGI PUBLIC RELATIONS PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO) MELALUI PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAL AM MEMBANGUN CITRA PERUSAHAANNYA DI KALANGAN MASYARAKAT</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0027-KOMUNIKASI) : SKRIPSI STRATEGI PUBLIC RELATIONS PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO) MELALUI PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DALAM MEMBANGUN CITRA PERUSAHAANNYA DI KALANGAN MASYARAKAT&amp;nbsp;&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;BAB II&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.1 Tinjauan tentang komunikasi&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.1.1 Definisi Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin communis yang berarti &quot;membuat sama&quot; (to make common). Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering disebut sebagai asal-usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama.&lt;br /&gt;
Definisi komunikasi menurut Harold Lasswell cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut (Who Says What In Which Channel To Whom With Effect? atau siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan pengaruh bagaimana?).&lt;br /&gt;
Berdasarkan definisi Lasswell dapat diturunkan lima unsur komunikasi yang saling bergantung satu sama lain, yaitu :&lt;br /&gt;
1. Sumber (source), sering disebut juga pengirim (sender), penyandi (encoder), komunikator (communicator), pembicara (speaker) atau originator.&lt;br /&gt;
Sumber adalah pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi.&lt;br /&gt;
2. Pesan (massage)&lt;br /&gt;
Pesan adalah apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima.&lt;br /&gt;
3. Saluran atau media&lt;br /&gt;
Saluran atau media yakni alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima.&lt;br /&gt;
4. Penerima (receiver), sering disebut juga sasaran tujuan (destination), komunikate (communicate), penyandi-balik (interpreter) Penerima yakni orang yang menerima pesan dari sumber.&lt;br /&gt;
5. &amp;nbsp;(effect)&lt;br /&gt;
Efek yaitu apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut. (Mulyana, 2001: 62)&lt;br /&gt;
Sedangkan Menurut Hovland, dikutip oleh Onong Uchjana Effendy mendefinisikan komunikasi sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&quot;The process by which an individual (the communicator) transmits stimuli (usually verbal symbols) to modify the behavior of other individuals (communicates). (proses dimana seseorang (komunikator) menyampaikan perangsang (biasanya lambang bahasa) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikan)).&quot; (Effendy, 2002:49).&lt;br /&gt;
Definisi diatas memberikan gambaran bahwa ketika ingin mengubah perilaku seseorang yakni dengan melakukan komunikasi dengan cara memberikan rangsangan berupa suatu lambang bahasa yang dipahami oleh komunikan dan komunikator. Perubahan yang diinginkan tidak hanya bersifat perubahan perilaku tapi juga perubahan cara berpikir (mindset) orang yang dituju. Reaksi perubahan itu pun bermacam-macam, ada yang langsung atau bahkan ada yang mengalami proses penundaan sampai orang yang dituju benar-benar memahami maksud dari aksi komunikasinya.&lt;br /&gt;
Komunikasi merupakan proses seorang komunikator menyampaikan sesuatu, apakah itu pesan, kesan, atau informasi kepada orang lain sebagai komunikan, bukan hanya sekedar memberitahu, tapi juga mempengaruhinya untuk melakukan tindakan tertentu, yakni mengubah perilaku orang lain dengan menggunakan suatu media dalam penyampaiannya Menurut Gordon I. Zimmerman et al. dalam buku suatu pengantar ilmu komunikasi bahwa tujuan komunikasi dibagi menjadi dua kategori yaitu kita berkomunikasi untuk menyelesaikan tugas-tugas yang penting bagi kebutuhan kita dan kita berkomunikasi untuk menciptakan dan memupuk hubungan dengan orang lain. Dari definisi diatas dapat dijabarkan bahwa tujuan komunikasi adalah utuk kebutuhan kita dan memupuk hubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;
Sedangkan fungsi komunikasi menurut Onong Uchjana Effendy mengemukakan bahwa fungsi komunikasi adalah :&lt;br /&gt;
1. Menginformasikan (to inform)&lt;br /&gt;
Adalah memberikan informasi kepada masyarakat, memberitahukan kepada masyarakat mengenai peristiwa yang terjadi, ide (pikiran dan tingkah laku orang lain), serta segala sesuatu yang disampaikan orang lain.&lt;br /&gt;
2. Mendidik (to educated)&lt;br /&gt;
Adalah komunikasi merupakan sarana pendidikan. Dengan komunikasi, manusia dapat menyampaikan ide dan pikirannya kepada orang lain, sehingga orang lain mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;
3. Menghibur (to entertain)&lt;br /&gt;
Adalah komunikasi selain berguna untuk menyampaikan komunikasi. Pendidikan dan mempengaruhi juga berfungsi untuk menyampaikan hiburan atau menghibur orang lain.&lt;br /&gt;
4. Mempengaruhi (to influence)&lt;br /&gt;
&quot;Adalah fungsi mempengaruhi setiap individu yang berkomunikasi, tentunya berusaha saling mempengaruhi jika pikiran komunikan dan lebih jauh lagi berusaha merubah sikap dan tingkah laku komunikan sesuai dengan yang diharapkan.&quot; (Effendy, 1997:36)&lt;br /&gt;
Dilihat dari fungsi dan keberadaannya di masyarakat komunikasi tidak bisa lepas dari kehidupan, karena komunikasi akan selalu berada dalam kehidupan manusia sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.1.2 Proses Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sebuah komunikasi tidak terlepas dari sebuah proses. Oleh karena itu menurut Onong Uchjana, proses komunikasi pada hakekatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini, dan Iain-lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keragu-raguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati. Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap yakni secara primer dan sekunder:&lt;br /&gt;
1. Proses komunikasi secara primer&lt;br /&gt;
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, ikal, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan. Pikiran dan atau perasaan seseorang baru akan diketahui oleh dan akan ada dampaknya kepada orang lain apabila ditransmisikan dengan menggunakan media primer tersebut, yakni lambang-lambang.&lt;br /&gt;
Media primer atau lambang yang paling banyak dalam komunikasi adalah bahasa, jelas karena hanya bahasa lah yang mampu atau menerjemahkan pikiran seseorang kepada orang lain.&lt;br /&gt;
2. Proses komunikasi secara sekunder&lt;br /&gt;
&quot;Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada oranglain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi adalah surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan banyak lagi. Pentingnya peranana media yakni media sekunder dalam proses komunikasi, disebabkan oleh efisiennya dalam mencapai komunikan&quot;. (Effendy, 2003:11-17)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.1.3 Komponen Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Proses komunikasi melibatkan komponen dasar komunikasi ada lima yaitu :&lt;br /&gt;
1. Pengirim pesan&lt;br /&gt;
Adalah individu atau orang yang mengirim pesan. Pesan atau informasi yang akan dikirim berasal dari otak si pengirim pesan.&lt;br /&gt;
2. Pesan&lt;br /&gt;
Adalah informasi yang akan dikirimkan kepada si penerima. Pesan ini dapat berupa verbal maupun non verbal.&lt;br /&gt;
3. Saluran&lt;br /&gt;
Adalah jalan yang dilalui pesan dari si pengirim dengan si penerima. Channel yang biasa dalam komunikasi adalah gelombang cahaya dan suara yang dapat kita lihat dan dengar.&lt;br /&gt;
4. Penerima pesan&lt;br /&gt;
Adalah yang menganalisis dan menginterpretasikan isi pesan yang diterimanya.&lt;br /&gt;
5. Balikan&lt;br /&gt;
Adalah respon terhadap pesan yang diterima yang dikirimkan kepada si pengirim pesan. Dengan diberikannya reaksi ini kepada si pengirim, pengirim akan dapat mengetahui apakah pesan yang dikirimkan tersebut diinterpretasikan sama dengan apa yang dimaksudkan oleh si pengirim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.2 Tinjauan Umum Pubic Relations&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.2.1 Pengertian Pubic Relations&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pubic Relations merupakan suatu disiplin ilmu komunikasi, yang salah satunya mempelajari bagaimana membina hubungan saling pengertian antara pihak perusahaan dengan publiknya. Adapun pengertian Pubic Relations tersebut menurut The Institute Of public Relations adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&quot;Bahwa Pubic Relations adalah merupakan suatu usaha yang dilakukan dengan sengaja, direncanakan dan dilakukan terus menerus untuk mendapatkan dan saling menjalin saling pengertian antara satu organisasi dengan publiknya&quot;. (Thomas, 1989:2)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/310562050735411200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/310562050735411200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-STRATEGI-PUBLIC-RELATIONS-PT-KERETA-API-INDONESIA-PERSERO-MELALUI-PROGRAM-CORPORATE-SOCIAL-RESPONSIBILITY-DAL-AM-MEMBANGUN-CITRA-PERUSAHAANNYA-DI-KALANGAN-MASYARAKAT.html' title='SKRIPSI STRATEGI PUBLIC RELATIONS PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO) MELALUI PROGRAM CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAL AM MEMBANGUN CITRA PERUSAHAANNYA DI KALANGAN MASYARAKAT'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-1842441461124584303</id><published>2016-06-17T19:00:00.000-07:00</published><updated>2016-06-17T19:00:02.971-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="citra perusahaan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi komunikasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="strategi humas"/><title type='text'>SKRIPSI STRATEGI HUMAS DAN CITRA PERUSAHAAN</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0026-KOMUNIKASI) : SKRIPSI STRATEGI HUMAS DAN CITRA PERUSAHAAN&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;BAB II&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KAJIAN PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.1 Strategi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Harold Koontz menjelaskan kata &quot;strategi&quot; berasal dari Bahasa Yunani &quot;strategos&quot; memiliki makna cara yang berbeda untuk digunakan. Selanjutnya Harold Koontz menjelaskan strategi adalah menganalisa situasi yang terjadi pada saat sekarang ini untuk menetapkan sasaran.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dan dalam studi manajemen strategi adalah salah satu bentuk proses perencanaan strategis &quot;Strategic Planning Proccess&quot; terdiri dari:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Input&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Merupakan masukan dari berbagai organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Profil Perusahaan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Manajer puncak menentukan tujuan dasar dari perusahaan dan kejelasan orientasi geografis perusahaan, seperti apakah harus beroperasi di wilayah tertentu. Selain itu manajer menilai situasi kompetitif perusahaan mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Orientasi Manaj er Puncak&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Profil perusahaan dibentuk oleh orang, khususnya manajer puncak, dan berorientasi untuk merumuskan strategi. Mereka mengatur iklim organisasi dan menentukan arah perusahaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Maksud dan Tujuan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tujuan dan tujuan utama adalah titik akhir kea rah mana kegiatan perusahaan diarahkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Lingkungan Eksternal&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lingkungan eksternal saat ini dan masa depan harus dinilai dalam hal ancaman dan peluang. Evaluasi berfokus pada bidang ekonomi, sosial, politik, demografi dan faktor geografis.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
6. Lingkungan Internal&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lingkungan internal perusahaan harus diaudit dan dievaluasi dalam hal sumber daya dan kelemahan serta kekuatan dalam penelitian dan pengembangan, produksi, operasi, pengadaan, pemasaran, dan produk jasa. Faktor internal lain yang penting untuk memmuskan strategi yaitu penilaian sumber daya manusia, sumber daya keuangan dan faktor-faktor lain seperti citra perusahaan, struktur organisasi dan iklim, sistem perencanaan dan pengawasan dan hubungan dengan pelanggan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
7. Strategi Alternatif&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Strategi alternatif dikembangkan berdasarkan analisis lingkungan eksternal dan internal. Suatu organisasi dapat menjalankan berbagai macam strategi. Atau, sebuah perusahaan dapat membuat variasi dengan memperluas operasi ke pasar bam yang menguntungkan. Strategi lain adalah untuk go international dan memperluas operasi ke negara-negara lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam keadaan tertentu, perusahaan mungkin harus mengadopsi strategi likuidasi dengan mengakhiri suatu lini produk yang tidak menguntungkan. Namun dalam beberapa kasus likuidasi mungkin tidak diperlukan dan strategi penghematan mungkin tepat. Dalam situasi seperti ini perusahaan dapat membatasi operasi sementara.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ini hanya beberapa contoh dari strategi yang mungkin. Dalam prakteknya, perusahaan-perusahaan, terutama yang besar, mengejar kombinasi strategi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
8. Evaluasi dan Pilihan Strategi&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berbagai strategi harus benar-benar dievaluasi sebelum pilihan diambil. Pilihan strategis harus dipertimbangkan dengan berbagai resiko. Beberapa peluang yang tidak menguntungkan tidak mungkin dilakukan karena dapat mengakibatkan kebangkmtan perusahaan. Elemen lain yang penting dalam memilih sebuah strategi adalah waktu. Bahkan produk terbaik mungkin gagal jika diperkenalkan ke pasar pada waktu yang tidak tepat. Selain itu, reaksi dari pesaing harus dipertimbangkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
9. Perencanaan Jangka Menengah dan Pendek, Implementasi dan Pengendalian&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Meskipun bukan bagian dari proses perencanaan strategis, perencanaan jangka menengah dan pendek serta pelaksanaan rencana harus dipertimbangkan selama tahap proses. Pengawasan juga harus dilakukan untuk memantau kinerja terhadap rencana.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.1.1 Manfaat Strategi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mintzberg menawarkan lima kegunaan dari kata strategi, yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Sebuah rencana - suatu arah tindakan yang diinginkan secara sadar;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Sebuah cara - suatu manuver spesifik yang dimaksudkan untuk mengecoh lawan atau kompetitor;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Sebuah pola - dalam suatu rangkaian tindakan;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Sebuah posisi - suatu cara menmpatkan organisasi dalam sebuah lingkungan;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Sebuah perspektif- suatu cara yang terintegrasi dalam memandang dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mintzberg melihat hubungan di antara kelima kegunaan yang dia ajukan dan dalam tulisannya selalu menekankan bahwa sangat penting untuk menggali bergbagai perspektif yang berbeda dari sebuah organisasi dan aktivitasnya yang diberikan oleh tiap-tiap kegunaan. Praktisi yang reflektif yang bekerja pada sebuah organisasi selalu melakukan ini setiap hari sebagai aktivitas pengendalian professional dan akan menyadari bahwa:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Keputusan public relations yang penting akan mempengaruhi sasaran organisasi dalam beberapa tahun mendatang;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Keputusan public relations melibatkan komitmen penting dari sumber daya;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Keputusan public relations melibatkan situasi yang kompleks pada tingkat korporasi, unit bisnis, atau tingkat stakeholders lainnya yang mungkin mempengaruhi atau dipengaruhi oleh banyak pihak dalam organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Strategi komunikasi antara berbagai tingkat dalam organisasi harus konsisten. Seringkali terjadi keputusan strategis yang dibuat pada tingkat-tingkat yang berbeda kurang dipahami. Oleh karena itu, peran spesialis public relations adalah untuk memastikan bahwa konsistensi diterapkan secara menyeluruh. Penerapan menyeluruh ini tidak berarti &#39;umum&#39; atau &#39;sama&#39; (Oliver, Sandra, 2001:2-3).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.2 Public Relations&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Public Relations bila dilihat dari studi ilmu komunikasi adalah salah satu teknik komunikasi yang menitikberatkan kepada usaha untuk menumbuhkan suatu suasana kerja sama {goodwill) dan menciptakan saling pengertian {mutual understanding) antara publik yang berkepentingan untuk mencapai tujuan bersama dalam iklim yang saling menguntungkan (favourable) (Danandjaja, 2011:44).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pandangan bahwa Public Relations merupakan kegiatan persuasi satu arah terus bertahan hingga usai Perang Dunia II. Defmisi Public Relations yang muncul banyak sekali dikaitkan dengan kegiatan &quot;membujuk&quot; ini. Bahkan salah seorang tokoh PR saat itu, Edward.L. Berney dalam bukunya The Engineering Of Consent (1955) mendefinisikan Public Relations sebgai inducing the public in have understanding for and goodwill (membujuk publik untuk memiliki pengertian yang mendukung serta memiliki niat baik (Morison, 2006:6). Sampai saat ini masih banyak praktisi PR yang berpandangan bahwa Public Relations sebagai subjek komunikasi satu arah yang bertujuan untuk membujuk orang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beberapa dekade kemudian, pandangan mengenai pengertian Public Relations mulai mengalami perubahan. Defmisi mengenai Public Relations mulai memasukkan aspek komunikasi atau Two-ways communication (hubungan dua arah). Definisi-defmisi tersebut kemudian memasukkan kata-kata seperti reciprocal (timbal balik), mutual (saling), dan between (antara). Dengan demikian pengertian Public Relations sudah mengandung pengertian interaktif (aksi timbal balik).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Majelis Humas Dunia (World Assembly of Public Relations) mendefmisikan public relations is the art social science of analyzing trends, predicting their consequence, coceling organization leaders and implementing planned programs of action which serve both of organization&#39;s and the public interest (public relations adalah seni dan ilmu sosial dalam menganalisa kecenderungan, memperkirakan akibat-akibat, memberikan saran kepada pemimpin perusahaan seta melaksanakan program tindakan terencana yang melayani baik kepentingan organisasi dan khalayaknya (Morissan, 2006:7).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.2.1 Fungsi Public Relations dalam perusahaan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Fungsi public relations sebenarnya dapatlah dijelaskan secara sederhana bahwa public relations itu pada dasarnya adalah untuk menghubungkan publik atau pihak yang berkepentingan di dalam atau di luar suatu instansi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Strategi suatu perusahaan (yang menentukan arah jangka panjang serta lingkup kerja) ditentukan melalui proses analisis dan pengambilan keputusan yang mendalam. Banyak pihak yang terlibat dalam proses ini, baik yang berasal dari dalam maupun luar perusahaan. Setelah strategi ditetapkan, strategi ini perlu untuk dikomunikasikan sehingga mendapat dukungan serta dapat diimplementasikan dengan baik. PR memiliki peran yang penting dalam proses ini, baik dalam proses pengembangan strategi maupun dalam mengkomunikasikannya (Gregory, Anne. 2001:5-6).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.2.2 Publik dalam Pubic Relations&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari awal praktisi PR perlu menyadari pentingnya berbagai jenis publik yang menjadi sasaran komunikasi. Ini merupakan faktor utama yang harus diperhatikan ketika hendak menentukan tugas PR. Tiap jenis publik memiliki kebutuhan komunikasi yang berbeda, meskipun informasi yang diberikan adalah sama. Tujuan dari aktivitas PR adalah untuk menggalang dukungan dari publik-publik ini. Publik dalam Public Relations dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Publik internal dan publik eksternal: Internal publik yaitu publik yang berada di dalam organisasi/persahaan seperti supervisor, karyawan pelaksana, manajer, pemegang saham dan direksi perusahaan. Eksternal publik secara organic tidak berkaitan langsung dengan perusahaan seperti pers, pemerintah, pendidik/dosen, pelanggan, komunitas dan pemasok.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Publik primer, sekunder, dan marginal: Publik primer bisa sangat membantu atau merintangi upaya suatu perusahaan. Publik sekunder adalah publik yang kurang begitu pentingdan publik marginal adalah publik yang tidak begitu penting.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Publik tradisional dan publik masa depan: Karyawan dan pelanggan adalah publik tradisional, mahasiswa/pelajar, peneliti, konsumen potensial, dosen, dan pejabat pemerintah (madya) adalah publik masa depan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Proponents, opponent, dan uncommitted: Di antara publik terdapat kelompok yang menentang perusahaan {opponents), yang memihak (proponents) da nada yang tidak peduli (uncommitted). Perusahaan perlu mengenal publik yang berbeda-beda ini agar dapat dengan jernih melihat permasalahan (Seitel, 1992:13-14).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/1842441461124584303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/1842441461124584303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-STRATEGI-HUMAS-DAN-CITRA-PERUSAHAAN.html' title='SKRIPSI STRATEGI HUMAS DAN CITRA PERUSAHAAN'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-64697108041907477</id><published>2016-06-17T18:56:00.000-07:00</published><updated>2016-06-17T18:56:01.678-07:00</updated><title type='text'>SKRIPSI PENGARUH PELAYANAN CUSTOMER SERVICE TERHADAP CITRA PERUSAHAAN</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0025-KOUNIKASI) : SKRIPSI PENGARUH PELAYANAN CUSTOMER SERVICE TERHADAP CITRA PERUSAHAAN&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;BAB II&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.1 Komunikasi Antarpribadi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.1.1 Pengertian Komunikasi Antarpribadi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada dasarnya, komunikasi antarpribadi merupakan suatu proses sosial dimana orang-orang yang terlibat di dalamnya saling mempengaruhi. Sebagaimana diungkapkan oleh Devito (1997:97), bahwa komunikasi antarpribadi merupakan pengiriman pesan-pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain, atau sekelompok orang dengan efek dan umpan balik yang langsung.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selanjutnya Devito (1997: 169-170) menjabarkan komunikasi antarpribadi menjadi tiga pendekatan secara umum, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Komunikasi antarpribadi didefinisikan sebagai pengiriman pesan-pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain. Atau sekelompok kecil orang, dengan efek dan umpan balik yang langsung.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Komunikasi antarpribadi merupakan komunikasi antara dua orang yang memang telah ada hubungan di antara keduanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Interpersonal communication is seen a kind of proggresstion (or development) from interpersonal communication at one extreme to personal communication at the other extreme, yang artinya &quot;Komunikasi antarpribadi merupakan bentuk perkembangan atau peningkatan dari komunikasi dari satu sisi menjadi komunikasi pribadi pada sisi yang lain&quot;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam bukunya &quot;Komunikasi Antarpribadi&quot; (1991:12), Alo Liliweri mengemukakan bahwa pada hakikatnya komunikasi anatarpribadi adalah komunikasi antara komunikator dengan seorang komunikan. Komunikasi jenis ini dianggap paling efektif dalam hal mengubah sikap, pendapat, atau perilaku sesorang, karena sifatnya yang dialogis berupa percakapan dan arus balik bersifat langsung. Komunikator mengetahui tanggapan komunikank etika itu juga, pada saat komunikasi dilancarkan. Komunikan mengetahui pasti apakah komunikasi itu positif atau negatif, berhasil atau tidak. Jika tidak, ia dapat memberikan kesempatan kepada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Evert M. Rogers, dalam Komunikasti antarpribadi (Liliweri 1991:46) ada beberapa ciri komunikasi yang menggunakan saluran antarpribadi, yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1) Arus pesan yang cenderung dua arah&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2) Konteks komunikasinya tatap muka&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3) Tingkat umpan balik yang terjadi tinggi&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4) Kemampuan mengatasi tingkat selektifitas (terutama selectivitas exposure) yang tinggi&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5) Kecepatan jangkauan terhadap audiens yang besar relatif lambat&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
6) Efek yang mungkin terjadi ialah perubahan sikap&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.1.2 Sifat-Sifat Komunikasi Antarpribadi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Komunikasi antarpribadi dari mereka yang saling mengenal lebih bermutu dari mereka yang belum mengenal karena setiap pihak mengetahui secara baik tentang liku-liku hidup pihak lain, pikiran, dan pengetahuannya, perasaanya, maupun menanggapi tingkah lakunya. Sehingga jika hendak menciptakan komunikasi antarpribadi yang lebih bermutu maka didahului dengan keakraban, dengan kata lain tidak semua bentuk interaksi yang dilakukan anatara dua orang dapat digolongkan ke dalam komunikasi antarpribadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ada tujuh sifat yang menunjukan bahwa sesuatu komunikasi antara dua orang merupakan sikap komunikasi anatarpribadi dan bukanya komunikasi lainnya yang terangkum dari pendapat Effendy (2003:.46) Sifat-sifat komunikasi antarpribadi itu sendiri adalah : (1) melibatkan di dalamnya perilaku verbal dan non verbal; (2) melibatkan pernyataan ataupun ungkapan yang spontan, scripted, dan contrived., (3) tidak statis, namun dinamis; (4) melibatkan umpan balik pribadi, hubungan interaksi dan koherensi (pernyataan satu dan harus berkaitan dengan sebelumnya); (5) dipandu oleh tata aturan yang bersifat intrinsic dan ekstrinsik. (6) komunikasi antarpribadi merupakan satu kegiatan dan tindakan; (7) melibatkan didalamnya bidang persuasif (Liliweri, 1991:31).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.1.3 Komponen Komunikasi Antarpribadi dan Proses Komunikasi Antarpribadi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Effendy (2003:7), yang mencoba mengutip paradigma Laswell. Ada lima komponen penting yang menyebabkan suatu komunikasi dapat berjalan dengan baik, yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
• Who : komunikator : pihak penyampaian pesan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
• Says what : pesan : pernyataan yang didukung oleh lambang-lambang&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
• In which channel : media : sarana atau saluran penyampaian pesan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
• To whom : komunikan : pihak penerima pesan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
• With what effect : efek : dampak yang timbul sebagai pengaruh dari pesan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apabila digambarkan secara sederhana kelima komponen yang telah diuraikan di atas&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
melalui proses sebagai berikut : Komunikator dan komunikan dalam proses komunikasi antarpribadi dapat berganti peran, artinya suatu ketika komunikator dapat berganti peran, demikian juga sebaliknya dengan komunikasi (Effendy, 2003:12).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.2 Efektifitas Komunikasi Antarpribadi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dikatakan efektifitas dalam waktu tertentu tujuan dapat tercapai dengan baik. Ini berarti komunikasi antarpribadi efektif jika dalam waktu tertentu komunikasi memahami pesan yang disampaikan komunikatornya dengan baik dan melaksanakannya. Berkomunikasi efektif berarti bahwa komunikator dan komunikan sama-sama memiliki pengertian yang sama tentang suatu pesan. Rakhmat (2004:159) menyatakan bahwa komunikasi yang efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Effendy (2003:219) Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang menimbulkan sikap, opini ataupun perilaku. Efek komunikasi yang timbul pada komunikan diklasfikasikan sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Efek kognitif yaitu efek yang berkaitan dengan pikiran, nalar atau ratio. Dengan efek ini diharapkan komunikan yang semula tidak mengerti menjadi mengerti, yang semula tidak&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
tau membedakan mana yang salah dan yang benar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Efek afektif adalah efek yang berhubungan dengan perasaan. Misalnya yang semula tidak senang menjadi senang, yang semula rendah diri menjadi mimiliki rasa percaya diri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Efek behavioral yakni efek yang menimbulkan etika untuk berprilaku tertentu dalam arti kata melakukan suatu tindakan atau kegiatan yang bersifat fisik atau jasmani.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketiga jenis efek ini adalah hasil proses psikologi yang berkaitan satu sama lain, secara terpadu. Efek behavioral tidak mungkin timbul pada komunikan apabila sebelumnya dia tidak tahu atau tidak mengerti disertai rasa senang dan berani.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Tubbs dan Moss (Rakhmat, 2004:13) komunikasi yang efektif menimbulkan 5 hal yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Pengertian, artinya penerimaan yang cermat dari isi stimulus/pesan seperti yang dimaksud oleh komunikator.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Kesenangan, artinya tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian, akan tetapi ada juga dilakuakan untuk menimbulkan kesenangan, misalnya menanyakan seseorang. Komunikasi inilah yang menyebabkan hubungan kita menjadi hangat, akrab dan menyengkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Pengaruh pada sikap. Komunikasi seringkali dilakukan dengan tujuan untuk mempengaruhi orang lain. Komunikasi yang efektif ditandai dengan perubahan sikap, perilaku atau pendapat komunikan sesuai dengan kehendak komunikator.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Hubungan sosial yang baik. Komunikasi juga ditunjukan untuk menumbuhkan hubungan sosial yang baik. Manusia juga adalah makhluk sosial yang tidak tahan hidup sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
e. Tindakan Efektifitas komunikasi biasanya diukur dari tindakan nyata yang dilakukan komunikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Menurut Rakhmat (2004:129) ada tiga faktor menumbuhkan hubungan interpersonal, yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Percaya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Definisi ini menyebutkan tiga unsur percaya, yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Ada situasi yang menimbulkan resiko. Bila orang menaruh kepercayaan kepada orang lain, ia akan menghadapi resiko.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Orang yang menaruah kepercayaan pada orang lain berarti menyadari bahwa akibat-akibatnya bergantung pada perilaku orang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Orang yakin bahwa perilaku pihak lain akan berakibat baik baginya. Selain itu, faktor kepercayaan juga berhubungan dengan karakterisitik dan maksud orang lain, hubungan kekuasaan, serta sifat dan kualitas komunikasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Sikap Suportif&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sikap suportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif dalam berkomunikasi. Orang dikatakan defensif bila tidak menerima, tidak jujur, dan tidak empatis; dan tentunya akan menggagalkan komunikasi interpersonal. Jack R. GIBB (Rahkmat, 2004:134) menyebutkan enam prilaku sportif, yaitu sebagi berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/64697108041907477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/64697108041907477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-PENGARUH-PELAYANAN-CUSTOMER-SERVICE-TERHADAP-CITRA-PERUSAHAAN.html' title='SKRIPSI PENGARUH PELAYANAN CUSTOMER SERVICE TERHADAP CITRA PERUSAHAAN'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-278339741801870797</id><published>2016-06-17T18:53:00.000-07:00</published><updated>2016-06-17T18:53:00.232-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pramuria"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="presentasi diri"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi komunikasi"/><title type='text'>SKRIPSI PRESENTASI DIRI PRAMURIA DI KALANGAN MAHASISWI</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0024-KOMUNIKASI) : SKRIPSI PRESENTASI DIRI PRAMURIA DI KALANGAN MAHASISWI&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;BAB II&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.1 Tinjauan Tentang Komunikasi&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.1.1 Pengertian Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Komunikasi adalah salah satu kebutuhan manusia yang sangat mendasar. Manusia membutuhkan komunikasi untuk kelangsungan hidupnya. Komunikasi diibaratkan seperti detak jantung, keberadaannya, amat penting bagi kehidupan manusia, namun kita sering melupakan betapa besar peranannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam bukunya Prof. Dr. Deddy Mulyana dijelaskan, kata komunikasi atau communications dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin communis yang berarti sama, communico, communication, atau communicare yang berarti membuat sama (to make common). Istilah pertama (communis) paling sering disebut sebagai asal kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama. (Mulyana, 2007:46)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sementara, menurut Onong Uchjana Effendy Istilah komunikasi atau dalam bahasa inggris communication berasal dari bahasa latin atau communicatio dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah satu makna. Jadi, jika dua orang terlibat dalam komunikasi maka komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
apa yang di komunikasikan, yakni baik si penerima maupun si pengirim sepaham dari suatu pesan tertentu (Effendy,1993: 30)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Komunikasi mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia, hampir 90% dari kegiatan keseharian manusia dilakukan dengan berkomunikasi. Dimanapun, kapanpun, dan dalam kesadaran atau situasi macam apapun manusia selalu terjebak dengan komunikasi. Dengan berkomunikasi manusia dapat memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan-tujuan hidupnya, karena berkomunikasi merupakan suatu kebutuhan manusia yang amat mendasar. Oleh karena itu sebagai makhluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya. la ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, Bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Dengan rasa ingin tahu inilah yang memaksa manusia perlu berkomunikasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.1.2 Proses Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Deddy Mulyana, Proses komunikasi dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) bagian yaitu:&lt;br /&gt;
1. Komunikasi verbal&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan satu kata atau lebih. Hampir semua rangsangan wicara yang kita sadari termasuk ke dalam kategori pesan verbal disengaja yaitu usaha-usaha yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara lisan. Bahasa dapat juga dianggap sebagai suatu sistem kode verbal.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Komunikasi non verbal&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Secara sederhana pesan non verbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. komunikasi non verbal mencakup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima (Mulyana, 2000: 237).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rangsangan atau stimulus yang disampaikan komunikator akan mendapat respon dari komunikan selama keduanya memiliki makna yang sama terhadap pesan yang disampaikan Jika disimpulkan maka komunikasi adalah suatu proses, pembentukan, penyampaian, penerimaan, dan pengolahan pesan yang terjadi di dalam seseorang dan atau di antara dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu sebagaimana diharapkan oleh komunikator&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.1.3 Tujuan Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setiap individu dalam berkomunikasi pasti mengharapkan tujuan dari komunikasi itu sendiri, secara umum tujuan berkomunikasi adalah mengharapkan adanya umpan yang diberikan oleh lawan bicara kita serta semua pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh lawan bicara kita dan adanya efek yang terjadi setelah melakukan komunikasi tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Onong Uchjana Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek mengemukakan beberapa tujuan berkomunikasi, yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. mengubah sikap (to change the attitude)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Supaya gagasan kita dapat diterima oleh orang lain dengan pendekatan yang persuasif bukan memaksakan kehendak&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Mengubah Opini/pendapat/pandangan (to change the opinion)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Memahami orang lain, kita sebagai pejabat atau pimpinan hams&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
mengetahui benar aspirasi masyarakat tentang apa yang diinginkannya, jangan mereka inginkan arah kebarat tapi kita memberikan jakur ke timur.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Mengubah perilaku (to change the behavior)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menggerakan orang lain untuk melakukan sesuatu, menggerakan sesuatu itu dapat bermacam-macam mungkin berupa kegiatan yang dimaksudkan ini adalah kegiatan yang banyak mendorong, namun yang penting hams di ingat adalah bagaimana cara yang terbaik melakukannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Mengubah masyarakat (to change the society)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Supaya yang kita sampaikan itu dapat dimengerti. Sebagai pejabat atau komunikator kita hams menjelaskan kepada komunikan (penerima) atau bawahan dengan sebaik baiknya dan tuntas sehingga mereka dapat mengikuti apa yang kita maksudkan. Jadi secara singkat dapat dikatakan tujuan komunikasi itu adalah mengharapkan pengertian, dukungan, gagasan dan tindakan. Serta tujuan yang sama adalah agar semua pesan yang kita sampaikan dapat dimengerti dan diterima oleh komunikan. (Effendy. 1993:55)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.1.4 Fungsi Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Komunikasi memiliki beberapa fungsi. Menurut Onong Uchjana Effendy ada empat fungsi utama dari kegiatan komunikasi, yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Menginformasikan (to inform)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menginformasikan yaitu memberikan informasi kepada masyarakat, memberitahukan kepada masyarakat mengenai peristiwa yang terjadi, ide atau pikiran dan tingkah laku orang lain, serta segala sesuatu yang disampaikan orang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Mendidik (to educate)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mendidik yaitu komunikasi mempakan sarana pendidikan, dengan komunikasi manusia dapat menyampaikan ide dan pikirannya kepada&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
orang lain sehingga orang lain mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Menghibur (to entertain)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adalah komunikasi selain berguna, untuk menyampaikan komunikasi, pendidikan, mempengaruhi juga berfungsi untuk menyampaikan hiburan atau menghibur orang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Mempengaruhi (to influence)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adalah fungsi mempengaruhi setup individu yang berkomunikasi, tentunya berusaha Baling mempengaruhi jalan pikiran komunikan dan lebih jauh lagi berusaha merubah sikap dan tingkah laku komunikan sesuai dengan apa yang diharapkan. (Effendy, 2003:55)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.2 Tinjauan Presentasi Diri&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Goffman, presentasi diri merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh individu tertentu untuk memproduksi definisi situasi dan identitas sosial bagi para aktor dan definisi situasi tersebut mempengaruhi ragam interaksi yang layak dan tidak layak bagi para aktor dalam situasi yang ada (Mulyana, 2008: 110).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lebih jauh presentasi diri merupakan upaya individu untuk menumbuhkan kesan tertentu di depan orang lain dengan cara menata perilaku agar orang lain memaknai identitas dirinya sesuai dengan apa yang ia inginkan. Dalam proses produksi identitas tersebut, ada suatu pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan mengenai atribut simbol yang hendak digunakan sesuai dan mampu mendukung identitas yang ditampilkan secara menyeluruh.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Goffman, kebanyakan atribut, milik atau aktivitas manusia digunakan untuk presentasi diri, termasuk busana yang kita kenakan, tempat kita tinggal, rumah yang kita huni berikut cara kita melengkapinya (furnitur dan perabotan rumah), cara kita berjalan dan berbicara, pekerjaaan yang kita lakukan dan cara kita menghabiskan waktu luang kita. Lebih jauh lagi, dengan mengelola informasi yang kita berikan kepada orang lain, maka kita akan mengendalikan pemaknaan orang lain terhadap diri kita. Hal itu digunakan untuk memberi tahu kepada orang lain mengenai siapa kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Goffman, perilaku orang dalam interaksi sosial selalu melakukan permainan informasi agar orang lain mempunyai kesan yang lebih baik. Kesan non-verbal inilah yang menurut Goffman harus dicek keasliannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Goffman menyatakan bahwa hidup adalah teater, individunya sebagai aktor dan masyarakat adalah penontonnya. Dalam pelaksanaannya, selain panggung di mana ia melakukan pementasan peran, ia juga memerlukan ruang ganti yang berfungsi untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika individu dihadapkan pada panggung, ia akan menggunakan simbol-simbol yang relevan untuk memperkuat identitas karakternya, namun ketika individu tersebut telah habis masa pementasannya, maka di belakang panggung akan terlihat tampilan seutuhnya dari individu tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/278339741801870797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/278339741801870797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-PRESENTASI-DIRI-PRAMURIA-DI-KALANGAN-MAHASISWI.html' title='SKRIPSI PRESENTASI DIRI PRAMURIA DI KALANGAN MAHASISWI'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-541472335242470692</id><published>2016-06-16T18:51:00.000-07:00</published><updated>2016-06-16T18:51:32.648-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="citra perusahaan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="program dpkp"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi komunikasi"/><title type='text'>SKRIPSI IMPLEMENTASI PROGRAM DANA PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PESERTA (DPKP) DALAM MENINGKATKAN CITRA PT. JAMSOSTEK (PERSERO)</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0023-KOMUNIKASI) : SKRIPSI IMPLEMENTASI PROGRAM DANA PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PESERTA (DPKP) DALAM MENINGKATKAN CITRA PT. JAMSOSTEK (PERSERO)&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KAJIAN TEORITIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.1. Dasar Teori&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.1.1. Masalah Pokok sebagai Masalah Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Istilah komunikasi atau communication berasal dari bahasa Latin, yaitu communicates yang berarti berbagi atau menjadi milik bersama. Kata sifatnya communis yang bermakna umum atau bersama-sama. Dengan demikian komunikasi menurut Lexicographer (ahli kamus bahasa), menunjuk pada suatu upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan (Fajar, 2009:31).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sarah Trenholm dan Arthur Jensen (1996:4) (dalam Fajar, 2009:31) mendefinisikan komunikasi adalah suatu proses di mana sumber mentransmisikan pesan kepada penerima melalui berbagai saluran.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sedangkan Everett M. Rogers dan Lawrence Kincaid (1981:18) (dalam Fajar, 2009:32) menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi antara satu sama lain, yang pada gilirannya terjadi saling pengertian yang mendalam.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Harold Lasswell (1960) (dalam Fajar, 2009:32) cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan berikut: Siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan efek bagaimana?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan penulis bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan baik secara langsung maupun melalui berbagai saluran sehingga menimbulkan efek dan terjadi saling pengertian yang mendalam.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kaitan dengan masalah pokok yang diteliti dalam program Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta (DPKP) bahwa dalam pelaksanaan program DPKP terjadi proses komunikasi yang dilakukan oleh PT.Jamsostek (Persero) sebagai komunikator menyampaikan informasi mengenai jenis/bentuk program dari DPKP seperti pemberian pinjaman perumahan dan bantuan di bidang kesehatan, pendidikan/pelatihan dan bantuan keuangan pemutusan hubungan kerja agar dapat mendukung pemenuhan kebutuhan hidup untuk meningkatkan kesejahteraan peserta program Jamsostek sebagai komunikan sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai yaitu memperoleh saling pengertian dan citra yang positif dari tenaga kerja yang menjadi peserta Jamsostek. Oleh karena itu, komunikasi memiliki peranan yang penting dalam pelaksanaan program DPKP yang dilakukan PT.Jamsostek (Persero).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.1.2. Masalah Pokok sebagai Masalah Public Relations&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
PR adalah kegiatan yang dilakukan dengan sengaja, direncanakan dan berlangsung secara berkesinambungan untuk membina dan mempertahankan saling pengertian antara suatu organisasi dengan masyarakat (Ruslan : 2001).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Anggoro (2002 : 45) PR adalah suatu rangkaian kegiatan yang diorganisasi sedemikian rupa sebagai suatu rangkaian kampanye atau program terpadu, dan semuanya itu berlangsung secara berkesinambungan dengan teratur.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
The Institute of Public Relations mendefinisikan PR adalah keseluruhan upaya yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik (goodwill) dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya (Jefkins, 2003:9).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari definisi di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa PR adalah kegiatan yang dilakukan secara terorganisasi guna menciptakan dan memelihara niat baik (goodwill) dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya. Kaitan dengan masalah dalam penelitian ini merupakan salah satu kegiatan PR yaitu kegiatan Community Relations dimana kegiatan yang dilakukan tersebut merupakan upaya Public Relations dalam membina hubungan dan kerjasama yang baik dengan publik eksternalnya yaitu tenaga kerja peserta Jamsostek.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
PR senantiasa berkenan dengan kegiatan penciptaan, pemahaman melalui pengetahuan. Melalui kegiatan- kegiatan tersebut diharapkan akan muncul suatu dampak yakni perubahan yang positif. Dengan demikian kunci sukses seorang PR adalah melalui komunikasi, artinya keberhasilan humas untuk mencapai tujuannya tergantung kepada sejauh mana PR itu dapat menjalin hubungan dengan masyarakatnya, baik khalayak internal maupun eksternal.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Fungsi PR ketika menjalankan tugas dan operasionalnya, baik sebagai komunikator dan mediator maupun organisator, menurut Ruslan (2008:9) adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publik, baik publik eksternal maupun internal.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik dengan menyebarkan informasi dari organisasi kepada publik dan menyalurkan opini publik kepada organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Melayani publik dan menasehati pimpinan organisasi demi kepentingan umum.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Operasionalisasi dan organisasi PR adalah bagaimana membina hubungan harmonis organisasi dengan publiknya, untuk mencegah terjadinya rintangan psikologis, baik yang timbul dari pihak organisasi maupun dari pihak publiknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain itu, Ruslan (2008:10) menyebutkan ada empat fungsi PR yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Sebagai komunikator atau penghubung antara organisasi atau lembaga yang diwakilinya dengan publiknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Membina , yakni berupaya membina hubunga yang positif dan saling menguntungkan dengan pihak publiknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Peranan Back Up Management yakni sebagai pendukung dalam fungsi manajemen organisasi atau perusahaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Membentuk Corporate , artinya peran PR berupaya menciptakan citra bagi organisasi atau perusahaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dapat penulis simpulkan bahwa PR memiliki fungsi sebagai penghubung antara organisasi atau lembaga yang diwakilinya dengan publiknya, baik publik internal maupun eksternal sehingga dapat menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan perusahaan yakni memperoleh citra perusahaan di mata publik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Secara umum fungsi Public Relations (PR) menurut Harlow (dalam Ruslan, 2010:35) dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut :&lt;br /&gt;
a. PR sebagai metode berkomunikasi (methode of communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
PR/Humas merupakan rangkaian atau sistem kegiatan (order or system of action), melalui kegiatan komunikasi yang khas kehumasan. Artinya sebagai metode komunikasi, Humas mengandung makna setiap pimpinan dari sebuah organisasi bagaimanapun kecilnya dapat melaksanakan fungsi-fungsi PR.&lt;br /&gt;
b. PR sebagai perwujudan (state of being)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
State of being yang dimaksud dalam manajemen kehumasan adalah perwujudan suatu kegaiatan komunikasi, yang &quot;dilembagakan&quot; ke dalam bentuk biro, bagian, devisi atau seksi. Artinya terdapat orang yang memimpin atau pejabat Humas suatu kelembagaan tertentu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Biro Humas PT. Jamsostek (Persero) termasuk kedalam state of being dimana kegiatan komunikasi yang dilakukan biro humas sudah dilembagakan kedalam bentuk biro, bagian, devisi atau seksi dan terdapat pejabat Humas yang memimpin lembaga tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2.1.3. Masalah Pokok sebagai Masalah Corporate Social Responsibility&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam penelitian ini yang penulis teliti adalah kegiatan CSR dalam meningkatkan citra PT. Jamsostek (Persero) melalui Program Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta (DPKP).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Corporate Social Responsibility (CSR) atau juga dikenal dengan sebutan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan adalah kewajiban perusahaan untuk merumuskan kebijakan, mengambil keputusan dan melaksanakan tindakan yang memberikan manfaat kepada masyarakat. (Tunggal, 2008:1).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
World Business Council for Sustainable Development mendefinisikan CSR sebagai komitmen berkelanjutan kalangan bisnis untuk berperilaku etis dan memberikan sumbangan pada pembangunan ekonomi sekaligus memperbaiki mutu hidup angkatan kerja dan keluarganya serta komunitas lokal dan masyarakat secara keseluruhan (Iriantara, 2004:49).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sedangkan menurut Lord Holme dan Ricards Watts (dalam Hardiman, 2006:27) CSR adalah komitmen perusahaan untuk berlaku etis dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi, meningkatkan kualitas hidup pekerja dan keluarga disamping komunitas sekitar dan masyarakat secara keseluruhan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari beberapa pengertian di atas, penulis menyimpulkan bahwa CSR merupakan komitmen sebuah perusahaan untuk berperilaku etis dan merupakan kewajiban perusahaan untuk memberikan manfaat dalam memperbaiki mutu hidup angkatan kerja beserta keluarga dan masyarakat sekitar. Kaitan dengan masalah dalam penelitian ini bahwa program Dana Peningkatan Kesejahteraan Peserta (DPKP) merupakan komitmen PT. Jamsostek (Persero) untuk berperilaku etis dan berkewajiban kepada peserta Jamsostek dan atau keluarganya dalam meningkatkan kesejahteraan peserta melalui manfaat dari program DPKP seperti pemberian pinjaman dan bantuan di bidang kesehatan, pendidikan/pelatihan dan bantuan keuangan PHK.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/541472335242470692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/541472335242470692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-IMPLEMENTASI-PROGRAM-DANA-PENINGKATAN-KESEJAHTERAAN-PESERTA-DPKP-DALAM-MENINGKATKAN-CITRA-PT-JAMSOSTEK-PERSERO.html' title='SKRIPSI IMPLEMENTASI PROGRAM DANA PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PESERTA (DPKP) DALAM MENINGKATKAN CITRA PT. JAMSOSTEK (PERSERO)'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-1357292013326236972</id><published>2016-06-16T18:49:00.000-07:00</published><updated>2016-06-16T18:49:17.383-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="minat membeli"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="personal selling"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi komunikasi"/><title type='text'>SKRIPSI PERSONAL SELLING DAN MINAT MEMBELI</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0022-KOMUNIKASI) : SKRIPSI PERSONAL SELLING DAN MINAT MEMBELI&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;BAB II&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;A. Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Harold Laswell (Mulyana, 2005:62), cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: &lt;i&gt;Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect? &lt;/i&gt;Atau Siapa Mengatakan Apa Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana?.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berdasarkan defenisi Laswell ini dapat diturunkan lima unsur komunikasi yang saling bergantung satu sama lain, yaitu: pertama, sumber (source), sering disebut juga pengirim (sender), penyandi (encoder), komunikator (communicator), pembicara (speaker) atau originator. Kedua, pesan, yaitu apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima. Ketiga, saluran atau media, yakni alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima. Keempat, penerima (receiver), sering juga disebut sasaran/tujuan (destination), komunikate (communicatee), penyandi-balik (decoder), atau khalayak (audience), pendengar (listener), penafsir (interpreter), yakni orang yang menerima pesan dari sumber. Kelima, efek, yaitu apa yang terjadi pada penerima pesan tersebut, misalnya penambahan pengetahuan (dari tidak tahu menjadi tahu), terhibur, perubahan sikap (dari tidak setuju menjadi setuju), perubahan keyakinan, perubahan perilaku dan sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1) Bentuk/Tatanan Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Komunikasi Pribadi (personal communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Komunikasi antar pribadi (interpersonal communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Komunikasi intra pribadi (intrapersonal communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Komunikasi Kelompok (group communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Komunikasi kelompok kecil (small group communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Ceramah (lecture)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Forum&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Simposium&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Diskusi panel&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Seminar&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Curahsaran (brainstorming)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Komunikasi kelompok besar (large group communication/public speaking)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Komunikasi Organisasi (organization communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Komunikasi Massa (mass communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Komunikasi massa cetak (printed mass communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Surat kabar&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Majalah&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Buku, dll&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Komunikasi massa elektronik (electronic mass communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Radio&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Televisi&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Film, dll&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2) Sifat Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berdasarkan sifatnya komunikasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. Komunikasi verbal (verbal communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Komunikasi lisan (oral communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Komunikasi tulisan (written communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Komunikasi non verbal&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Komunikasi kial (gesture/body communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Komunikasi gambar (pictorial communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Komunikasi tatap muka (face-to-face communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Komunikasi bermedia (mediated communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;3) Tujuan Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berdasarkan tujuannnya komunikasi terbagi empat yakni:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Untuk mengubah sikap (to change the attitude)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Untuk mengubah opini/pendapat/pandangan (to change the opinion)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Untuk mengubah perilaku (to change the behavior)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Untuk mengubah masyarakat (to change the society)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;4) Fungsi Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Menginformasikan (to inform)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Mendidik (to educated)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Menghibur (to entertain)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Mempengaruhi (to influence)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;5) Metode Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kata metode berasal dari bahasa inggris, artinya rangkaian yang sistematis. Metode komunikasi berarti kegiatan-kegiatan yang terorganisir yangmeliputi:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Komunikasi informatif (informative communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Komunikasi persuasif (persuasive communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Komunikasi pervasif (pervasive communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Komunikasi koersif (coersive communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Komunikasi instruktif (instructive communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
6. Hubungan manusiawi (human relation)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;6) Teknik Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Teknik berasal dari kata &quot;technicon&quot; bahasa yunani, yang berarti ketrampilan. Berdasarkan ketrampilan komunikasi, maka teknik komunikasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Jurnalistik (journalism)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Hubungan masyarakat (public relations)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Periklanan (advertising)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Propaganda&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Publisitas (publicity)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;II. 1.7 Model Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Komunikasi satu tahap (one step communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Komunikasi dua tahap (two step flow communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Komunikasi banyak tahap (multi step flow communication)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;B. Komunikasi Pemasaran&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
William G. Nickels dalam bukunya Marketing Communication And Promotion, mendefenisikan komunikasi pemasaran sebagai berikut: proses pertukaran informasi yang dilakukan secara persuasif sehingga proses pemasaran dapat berjalan secara efektif dan efisien (Purba, 2006:126).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Model komunikasi pemasaran yang biasa dikembangkan pada umumnya tidak jauh berbeda. Model komunikasi pemasaran meliputi sender atau juga disebut sumber atau source, kedua disebut dengan encoding yaitu proses menerjemahkan tujuan-tujuan komunikasi ke dalam bentuk-bentuk pesan yang akan dikirimkan kepada penerima (agency iklan, tenaga penjualan, iklan, personal selling, sales promotion, public relation dan direct marketing), ketiga adalah transmisi, yaitu penyampaian pesan melalui media (radio, tv, surat kabar, majalah dan brosur), keempat adalah decoding yaitu tindakan konsumen sebagai penerima pesan (respons dan interpretasi dari penerima), kelima adalah feedback (tindakan) yaitu umpan balik atas pesan yang dikirimkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1) Marketing Mix&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Marketing mix ialah kumpulan variabel-variabel yang dapat digunakan perusahaan untuk mempengaruhi tanggapan konsumen. Ada empat komponen yang tercakup dalam kegiatan marketing mix yang terkenal dengan sebutan 4 P, yang akan dianalisa satu persatu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/1357292013326236972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/1357292013326236972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-PERSONAL-SELLING-DAN-MINAT-MEMBELI.html' title='SKRIPSI PERSONAL SELLING DAN MINAT MEMBELI'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-533856377416872712</id><published>2016-06-16T18:44:00.000-07:00</published><updated>2016-06-16T18:44:19.244-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pengetahuan ibu"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="primigravida"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sikap ibu"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi keperawatan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="teknik menyusui"/><title type='text'>SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III TERHADAP TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0017-KEPERAWATAN ) : SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III TERHADAP TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;BAB II&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;TINJAUAN TEORITIS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;A. Pengetahuan (Knowledge)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pengetahuan adalah hasil &quot;tahu&quot;, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba (Notoatmodj o,2003: 127).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003: 128).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Penelitian Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003: 128), mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berprilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang yang berurutan, yaitu Awareness (kesadaran), di mana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui lebih dahulu terhadap stimulus (objek). Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Di sini sikap subjek sudah mulai timbul. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. Trial, di mana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Tahu (Know)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Memahami (Comprehension)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Memahami yaitu suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan tempat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Aplikasi (Application)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aplikasi yaitu suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Analisis (Analysis)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Analisa yaitu suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
e. Sintesis (Synthesis)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
f. Evaluasi (Evaluation)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Evaluasi yaitu kemampuan untuk melakukan suatu penilaian terhadap suatu materi atau objek.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;B. Sikap (Attitude)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup terhadap suatu stimulasi atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup (Notoatmodjo, 2003: 130).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Komponen Pokok Sikap&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Notoatmodjo (2003), komponen pokok sikap meliputi hal-hal berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Kecenderungan untuk bertindak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Tingkatan Sikap&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Notoatmodjo (2003), tingkatan sikap meliputi:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Menerima (Receiving)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menerima, diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Merespon (Responding)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Merespon yaitu memberikan jawaban jika ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan mempakan indikasi sikap.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Menghargai (Valuing)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menghargai yaitu pada tingkat ini individu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Bertanggungjawab (Responsible)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bertanggung jawab yaitu mempakan sikap yang paling tinggi, dengan segala resiko bertanggungjawab terhadap sesuatu yang telah dipilih.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Maulana (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi sikap yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Faktor Internal yaitu faktor yang terdapat dalam diri pribadi manusia itu sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Faktor ini berupa daya pilih seseorang untuk menerima atau menolak pengaruh-pengaruh yang datang dari luar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Faktor Eksternal yaitu faktor yang terdapat dari luar diri manusia itu sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Faktor ini berupa interaksi sosial diluar kelompok. Misalnya interaksi antara manusia dalam bentuk kebudayaaan yang sampai kepada individu melalui surat kabar, televisi, majalah, dan sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;C. Teknik Menyusui yang Benar&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Pengertian Teknik Menyusui yang Benar&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perinasia (2003), menyatakan teknik menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Roesli (2008), agar proses menyusui dapat berjalan lancar, maka seorang ibu harus mempunyai keterampilan menyusui agar ASI dapat mengalir dari payudara ibu ke bayi secara efektif&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Manfaat menyusui&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Roesli (2008), bagi ibu dan bayi ASI menyebabkan kuatnya ikatan batin antara ibu dan bayi. Hal ini merupakan manfaat awal dari menyusui.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Manfaat bagi bayi&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Saleha (2009), banyak manfaat pemberian ASI khususnya ASI ekslusif yang dapat dirasakan yaitu: komposisi sesuai kebutuhan, kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi sampai usia enam bulan, ASI mengandung zat pelindung, perkembangan psikomotorik lebih cepat, menunjang perkembangan kognitif, menunjang perkembangan penglihatan, memperkuat ikatan batin antara ibu dan anak, dasar untuk perkembangan emosi yang hangat dan dasar untuk perkembangan kepribadian yang percaya diri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Manfaat bagi ibu&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Saleha (2009), manfaat menyusui bagi ibu adalah mencegah perdarahan pascapersalinan dan mempercepat kembalinya rahim ke bentuk semula, mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum hamil, menunda kesuburan, menimbulkan perasaan dibutuhkan dan mengurangi kemungkinan kanker payudara dan ovarium.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Manfaat bagi keluarga&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun manfaat menyusui bagi keluarga menurut Saleha (2009) adalah mudah dalam proses pemberiannya, mengurangi biaya rumah tangga dan bayi yang mendapat ASI jarang sakit, sehingga dapat menghemat biaya untuk berobat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Manfaat bagi Negara&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Manfaat menyusui bagi negara menurut Saleha (2009) adalah penghematan untuk subsidi anak sakit dan pemakaian obat-obatan, penghematan devisa dalam hal pembelian susu formula dan perlengkapan menyusui dan mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Posisi dan perlekatan menyusui yang benar&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Maryunami, A. (2009), terdapat berbagai macam posisi menyusui sebagai berikut:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Posisi ibu&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1) Posisi menyusui ibu yang bersalin normal (persalinan spontan)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ibu yang melahirkan secara spontan bisa lebih leluasa memilih posisi menyusui, sambil duduk atau berbaring menyamping. Jika posisi duduk yang dipilih: gunakan kursi yang nyaman, upayakan telapak kaki menginjak lantai dan gunakan bangku kecil sebagai pengganjal bila posisi kaki agak menggantung.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2) Posisi menyusui ibu yang melahirkan seksio caesaria&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Football position adalah posisi yang disarankan untuk ibu yang melahirkan melalui persalinan seksio caesaria. Pada posisi ini: tubuh bayi digendong dengan salah satu tangan ibu, upayakan letak kepala bayi berada tepat dibawah payudara dan membentuk garis lurus dengan badan bayi dan posisi ini aman karena bagian bawah perut ibu yang masih nyeri akibat operasi dapat terlindungi. Posisi ini merupakan posisi yang paling nyaman bagi ibu maupun bayinya. (Varney&#39;s.2008).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3) Posisi menyusui ibu dengan bayi kembar&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sama dengan ibu yang melahirkan melalui persalinan seksio caesaria, &lt;i&gt;football position&lt;/i&gt; (dengan cara seperti memegang bola) juga tepat untuk bayi kembar dimana kedua bayi disusui bersaman kiri dan kanan, dengan cara : kedua tangan ibu memeluk masing-masing satu kepala bayi, seperti memegang bola, letakkan tepat dibawah payudara ibu, posisi kaki bayi boleh dibiarkan menjuntai keluar, untuk memudahkan, kedua bayi dapat diletakkan pada satu bidang datar yang memiliki ketinggian kurang lebih sepinggang ibu dengan demikian, ibu cukup menopang kepala bayi kembarnya saja. Cara lain adalah dengan meletakkan bantal diatas pangkuan ibu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/533856377416872712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/533856377416872712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-HUBUNGAN-PENGETAHUAN-DAN-SIKAP-IBU-PRIMIGRAVIDA-TRIMESTER-III-TERHADAP-TEKNIK-MENYUSUI-YANG-BENAR.html' title='SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III TERHADAP TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-5860585649918410331</id><published>2016-06-16T18:41:00.000-07:00</published><updated>2016-06-16T18:41:01.433-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="diabetes melitus"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gula darah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kepatuhan diet"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi keperawatan"/><title type='text'>SKRIPSI HUBUNGAN KEPATUHAN DALAM MENJALANKAN DIET DENGAN GULA DARAH TERKONTROL PADA PASIEN DIABETES MELITUS</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0016-KEPERAWATAN) : SKRIPSI HUBUNGAN KEPATUHAN DALAM MENJALANKAN DIET DENGAN GULA DARAH TERKONTROL PADA PASIEN DIABETES MELITUS&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;BAB II&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;TINJAUAN PUSTAKA&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;A. Konsep kepatuhan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Pengertian&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh, yang berarti disiplin dan taat. Menurut Sacket dalam Niven (2000) kepatuhan adalah sejauh mana perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Variabel yang mempengaruhi tingkat kepatuhan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beberapa variabel yang mempengaruhi tingkat kepatuhan menurut Brunner &amp;amp; Suddarth (2002) adalah :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Variabel demografi seperti usia, jenis kelamin, status sosio ekonomi dan pendidikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Variabel penyakit seperti keparahan penyakit dan hilangnya gejala akibat terapi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Variabel program terapeutik seperti kompleksitas program dan efek samping yang tidak menyenangkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Variabel psikososial seperti intelegensia, sikap terhadap tenaga kesehatan, penerimaan, atau penyangkalan terhadap penyakit, keyakinan agama atau budaya dan biaya finansial dan lainnya yang termasuk dalam mengikuti regimen hal tersebut diatas juga ditemukan oleh Bart Smet dalam psikologi kesehatan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan&lt;br /&gt;
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan dapat digolongkan menjadi empat bagian menurut Niven (2002) antara lain :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Pemahaman tentang instruksi&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tak seorang pun dapat mematuhi instruksi jika ia salah paham tentang instruksi yang diberikan padanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Kualitas interaksi&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kualitas interaksi antara profesional kesehatan dan pasien merupakan bagian yang penting dalam menentukan derajat kepatuhan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Isolasi sosial dan keluarga&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan nilai kesehatan dan nilai kesehatan individu serta juga dapat menentukan program pengobatan yang dapat mereka terima.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Keyakinan, sikap dan kepribadian&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Becker et al (1979) dalam Niven ( 2002) telah membuat suatu usulan bahwa model keyakinan kesehatan berguna untuk memperkirakan adanya ketidak patuhan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Faktor penentu derajat ketidakpatuhan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Neil Niven (2002: 193), juga mengungkapkan derajat ketidakpatuhan itu ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Kompleksitas prosedur pengobatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Derajat perubahan gaya hidup yang dibutuhkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Lamanya waktu dimana pasien harus mematuhi program tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Apakah penyakit tersebut benar-benar menyakitkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
e. Apakah pengobatan itu berpotensi menyelamatkan hidup.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
f. Keparahan penyakit yang dipersepsikan sendiri oleh pasien dan bukan petugas kesehatan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Strategi untuk meningkatkan kepatuhan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Smet (1994) berbagai strategi telah dicoba untuk meningkatkan kepatuhan adalah :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Dukungan profesional kesehatan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dukungan profesional kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan, contoh yang paling sederhana dalam hal dukungan tersebut adalah dengan adanya teknik komunikasi. Komunikasi memegang peranan penting karena komunikasi yang baik diberikan oleh profesional kesehatan baik dokter/ perawat dapat menanamkan ketaatan bagi pasien.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Dukungan sosial&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dukungan sosial yang dimaksud adalah keluarga. Para profesional kesehatan yang dapat meyakinkan keluarga pasien untuk menunjang peningkatan kesehatan pasien maka ketidakpatuhan dapat dikurangi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Perilaku sehat&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Modifikasi perilaku sehat sangat diperlukan. Untuk pasien dengan diabetes melitus diantaranya adalah tentang bagaimana cara untuk menghindari komplikasi lebih lanjut apabila sudah menderita diabetes. Modifikasi gaya hidup dan kontrol secara teratur atau minum obat sangat perlu bagi pasien diabetes.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Pemberian informasi&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pemberian informasi yang jelas pada pasien dan keluarga mengenai penyakit yang dideritanya serta cara pengobatannya&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;B. Diabetes Melitus&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Definisi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Diabetes melitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Mansjoer, 2000 : 580).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Diabetes melitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Brunner &amp;amp; Suddart, 2002 : 1220),&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Diabetes melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Soegondo, 2007).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Diabetes melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai oleh ketiadaan absolut insulin atau insensitivitas sel terhadap insulin (Corwin, 2001 : 542).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/5860585649918410331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/5860585649918410331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-HUBUNGAN-KEPATUHAN-DALAM-MENJALANKAN-DIET-DENGAN-GULA-DARAH-TERKONTROL-PADA-PASIEN-DIABETES-MELITUS.html' title='SKRIPSI HUBUNGAN KEPATUHAN DALAM MENJALANKAN DIET DENGAN GULA DARAH TERKONTROL PADA PASIEN DIABETES MELITUS'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-2395656765814201361</id><published>2016-06-09T19:36:00.000-07:00</published><updated>2016-06-09T19:36:07.891-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="budaya organisasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kinerja karyawan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi adm negara"/><title type='text'>SKRIPSI PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : &amp;nbsp;0021-ADM NEGARA) : SKRIPSI PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN&lt;/h3&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KERANGKA TEORI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebelum melangkah pada operasionalisasi penelitian, akan dikemukakan terlebih dahulu teori-teori yang sesuai dengan penelitian yang dilaksanakan. Sebagai upaya untuk lebih mengarahkan mencapai tujuan yang hendak dicapai.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kerangka teori merupakan landasan berpikir untuk melakukan penelitian dan teori dipergunakan untuk menjelaskan fenomena sosial yang menjadi objek penelitian. Teori adalah alur logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, defenisi, dan propoposi yang disusun secara sistematis.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;A. Budaya Organisasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Pengertian Budaya Organisasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Phiti Sithi Amnuai dalam tulisannya How to Build a Corporation Culture (dalam Tika, 2006: 4) budaya organisasi adalah seperangkat asumsi dasar dan keyakinan yang dianut oleh anggota-anggota organisasi, kemudian dikembangkan dan diwariskan guna mengatasi masalah-masalah adaptasi eksternal dan masalah integrasi internal.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Budaya organisasi mempakan cara berpikir dan melakukan sesuatu yang mentradisi, yang dianut bersama oleh semua anggota organisasi dan para anggota baru harus mempelajari atau paling sedikit menerima sebahagian dari budaya tersebut agar diterima sebagai bagian dari organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kotter dan Heskett (dalam Tika, 2006: 19) menyatakan bahwa budaya organisasi mempakan nilai yang dianut secara bersama oleh anggota organisasi, cendemng membentuk perilaku kelompok. Nilai-nilai sebagai budaya organisasi cendemng tidak terlihat maka sangat sulit berubah. Sedangkan norma perilaku kelompok dapat dilihat dan tergambar pada pola tingkah laku dan gaya anggota organisasi relatif dapat bembah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Budaya bisa sangat stabil sepanjang waktu, namun budaya juga tak pernah statis. Krisis kadang-kadang mendorong kelompok untuk mengevaluasi kembali beberapa nilai atau perangkat praktis. Tantangan-tantangan baru dapat mengakibatkan penciptaan cara-cara baru untuk melakukan segala sesuatu. Keluar masuknya anggota inti, diservikasi ke dalam bisnis yang sangat berbeda, ekspansi geografis dan asimilasi yang cepat dari karyawan baru, semua itu dapat memperlemah atau mengubah suatu budaya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Taliziduhu Ndraha dalam bukunya budaya organisasi (dalam Tika, 2006: 7) menyatakan bahwa budaya organisasi mempakan genus dan budaya pemsahaan salah satu spesiesnya. Budaya pemsahaan adalah sekumpulan sistem nilai yang diakui dan dibuat oleh semua anggotanya yang membedakan pemsahaan yang satu dengan yang lainnya (Robins, dalam Tika, 2006: 6). Dengan demikian antara budaya organisasi dan budaya pemsahaan saling terkait karena keduanya ada kesamaan, meskipun dalam budaya perusahaan terdapat hal-hal khusus seperti gaya manajemen dan sistem manajemen dan sebagainya, namun semuanya masih tetap dalam rangkaian budaya organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa berbeda organisasi maka berbeda pula budayanya. Perbedaan tersebut dapat dilihat dengan jelas apabila kita membandingkan budaya kerja yang ada di organisasi pemerintah dan bedaya kerja yang ada di organisasi swasta. Banyak orang yang berpendapat bahwa organisasi pemerintahan mempunyai budaya kerja yang sangat lambat bila dibandingkan dengan budaya kerja yang ada di organisasi swasta. Salah satu contohnya dalam hal pendidikan, sekarang ini kebanyakan pendidikan dari organisasi swasta lebih maju dibanding pendidikan dari organisasi pemerintah dan dengan kualitas yang berbeda pula. Selain itu juga banyak hal lain yang seharusnya organisasi pemerintah itu lebih baik daripada organisasi swasta, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Hal ini mungkin bisa disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya pengalokasian dana yang tidak tepat, kurangnya perhatian, dll.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Begitu juga dalam hal pelayanan, sudah menjadi rahasia umum kalau pelayanan masyarakat oleh instansi atau aparat pemerintahan umumnya berjalan lamban dan kadang tidak efisien. Birokrasi menjadi kehilangan makna yang sesungguhnya sebagaimana pertama kali digagas oleh Max Weber : &quot;Alasan yang jelas bagi kemajuan organisasi yang birokratis selalu berupa keunggulan teknisnya atas bentuk organisasi lain manapun. Ketepatan, kecepatan, kejelasan, pengurangan friksi dan biaya material maupun personal - semua ini ditingkatkan sampai titik optimal dalam pemerintahan yang sangat birokratis.&quot; Namun kenyataannya sangat berbeda.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ada beberapa perbedaaan mendasar yang terdapat antara organisasi swasta dan organisasi pemerintah. Pertama, organisasi swasta didasari oleh semangat entrepreneur ship, sedangkan organsasi pemerintahan tidak. Orang selalu menganggap entrepreuneur adalah seorang pengambil resiko (risk taker), tetapi dari hasil beberapa kajian yang lebih teliti, entrepreuner lebih tepat untuk dikatakan sebagai pengambil peluang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kedua, organisasi swasta didasari oleh profit motif oriented (keuntungan setinggi-tingginya), sedangkan organisasi pemerintah oleh motif politik. Pemerintahan bergerak lamban karena bersifat terbuka terhadap publik. Pengambilan keputusan tidak bisa dilakukan dengan cepat dan segera seperti perusahaan swasta yang gerak perusahaannya didorong oleh kompetisi sedangkan organisasi pemerintah menggunakan monopoli.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketiga, drive (dorongan) dalam organisasi swasta/dunia bisnis adalah kompetisi. Sedangkan di organisasi pemerintahan tidak ada.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keempat, perusahaan swasta digerakkan oleh misi, sedangkan pemerintahan oleh peraturan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kelima, organisasi swasta menyerahkan hasil dan layanan pada mekanisme pasar, organisasi pemerintahan memberikan layanan dengan cara monopoli.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kesimpulannya, sampai kapan pun tidak akan pernah bisa sama 100% organisasi pemerintah dapat dijalankan seperti organisasi swasta. Yang memungkinkan untuk diambil dan diterapkan dari organisasi swasta ke dalam organisasi pemerintahan adalah prinsip-prinsip dasarnya, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Organisasi swasta mencurahkan segenap energinya untuk memperoleh uang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Organisasi swasta berorientasi pada kepuasan pelanggan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Organisasi swasta berorientasi pada hasil.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Organisasi swasta bergerak lebih dinamis karena adanya kompetisi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Organisasi swasta menyerahkan keberlangsungan perusahaan pada mekanisme pasar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
6. Organisasi swasta digerakan oleh tujuannya, yakni oleh misi mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
7. Organisasi swasta berusaha mencegah masalah sebelum masalah itu muncul.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
8. Organsisasi swasta memberi wewenang dan partisipasi para anggotanya untuk memajukan perusahaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
9. Organisasi swasta melakukan desentralisasi wewenang dengan menjalankan manajemen partisipasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
10. Organsisasi swasta bersikap responsif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Robbins juga memaknai budaya organisasi sebagai filosofi dasar yang memberikan arahan bagi kebijakan organisasi dalam pengelolaan karyawan dan nasabah. Lebih lanjut Robbins menyatakan sebuah sistem makna bersama dibentuk oleh para warganya yang sekaligus menjadi pembeda dengan organisasi lain, sistem pemaknaan bersama merupakan seperangkat karakter kunci dari dari nilai-nilai organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam budaya organisasi ditandai adanya sharing atau berbagi nilai dan keyakinan yang sama dengan seluruh anggota organisasi. Value (nilai) merupakan suatu ukuran normatif yang mempengaruhi manusia untuk melaksanakan tindakan yang dihayatinya. Misalnya berbagi nilai dan keyakinan yang sama melalui pakaian seragam. Namun menerima dan memakai seragam saja tidaklah cukup. Pemakaian seragam haruslah membawa rasa bangga, menjadi alat kontrol dan membentuk citra organisasi. Dengan demikian, nilai pakaian seragam tertanam menjadi basic.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/2395656765814201361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/2395656765814201361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-PENGARUH-BUDAYA-ORGANISASI-TERHADAP-KINERJA-KARYAWAN.html' title='SKRIPSI PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-3167729378299231861</id><published>2016-06-09T19:33:00.001-07:00</published><updated>2016-06-09T19:33:52.868-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kepemimpinan lurah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pajak bumi dan bangunan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="peningkatan kesadaran masyarakat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi adm negara"/><title type='text'>SKRIPSI PENGARUH KEPEMIMPINAN LURAH TERHADAP PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT DALAM MEMBAYAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0025-ADM NEGARA) : SKRIPSI PENGARUH KEPEMIMPINAN LURAH TERHADAP PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT DALAM MEMBAYAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN&lt;/h3&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KERANGKA TEORI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;A. Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kepemimpinan berasal dari kata pemimpin, yang berarti seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan dan kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas tertentu demi tercapainya suatu maksud dan beberapa tujuan, (Kartono, 1993:76). Kepemimpinan pada dasarnya mempunyai pokok pengertian sebagai sifat, kemampuan, proses dan atau konsep yang dimiliki oleh seseorang sedemikian rupa sehingga ia diikuti, dipatuhi, dihormati, sehingga orang lain bersedia dengan penuh keikhlasan melakukan perbuatan atau kegiatan yang dikehendaki pemimpin tersebut.&lt;br /&gt;
Kepemimpinan dapat timbul apabila terdapat faktor-faktor yang saling mempengaruhi satu sama lain. Faktor-faktor tersebut meliputi orang-orang, bekerja dari sebuah posisi organisatoris, dan timbul dalam situasi yang spesifik (Winardi,2000:48).&lt;br /&gt;
Menurut Tannenbaum, Weschler dan Massarik dalam Yuki (1994:5), kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu serta diarahkan melalui proses komunikasi ke arah pencapaian satu atau beberapa tujuan. Menurut Siagian (2002:62) Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain, dalam hal ini para bawahannya sedemikian rupa, sehingga orang lain itu mau melakukan kehendak pemimpin meskipun secara pribadi hal itu tidak disenanginya.&lt;br /&gt;
Sunindhia (1993:4) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang-orang agar bekerja sama menuju kepada suatu tujuan tertentu yang mereka inginkan bersama. Dari pengertian diatas dapat dikatakan bahwa kepemimpinan tidak harus dibatasi oleh aturan-aturan atau tata krama birokrasi.&lt;br /&gt;
Menurut Miftah Thoha (1997:142) pemimpin birokrasi merupakan : &quot;Pemimpin yang diangkat dalam suatu jabatan oleh pejabat yang berwenang. Dia menjadi pemimpin karena mengepalai suatu unit organisasi tertentu. Dia mempunyai bawahan atau staf sebagai pengikutnya. Para bawahan itu berada di bawah garis komandonya. Mereka berada disitu karena sudah diatur oleh yang berwenang mengaturnya. Dinamakan pemimpin karena pada wujudnya ia bertugas memimpin, mengarahkan, mengendalikan baik orang-orang yang ada di kesatuannya ataupun fasilitas lain yang berada dalam wewenangnya&quot;.&lt;br /&gt;
Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Kouzes dan Posner (2004:13) ditemukan terdapat lima praktik kepemimpinan teladan, dan telah terbukti sangat relevan dengan perkembangan kepemimpinan itu sendiri selama ini, adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
- Mencontohkan caranya&lt;br /&gt;
Gelar hanyalah sebuah pemberian, akan tetapi perilaku seseoranglah yang akan membuat seseoarang tersebut mendapatkan penghargaan dari lingkungannya. Seorang pemimpin teladan mengetahui bahwa mereka apabila tetap memegang teguh komitmen dan ingin mencapai standar tertinggi, mereka harus menjadi model dari perilaku yang mereka harapkan dari orang.&lt;br /&gt;
- Menginspirasikan visi bersama&lt;br /&gt;
Para pemimpin menginspirasikan visi bersama. Untuk membuat seseorang menerima sebuah visi, pemimpin harus mengenali para pengikutnya dan berbicara dalam bahasa mereka. Orang harus percaya bahwa pemimpin mengerti kebutuhan mereka dan memperhatikan keinginan mereka.&lt;br /&gt;
- Menantang proses&lt;br /&gt;
Pemimpin adalah pionir, orang yang bersedia melangkah ke dalam situsi yang tidak diketahui. Mereka mencari peluang untuk mencari inovasi, tumbuh, dan melakukan perbaikan.&lt;br /&gt;
- Memungkinkan orang lain bertindak&lt;br /&gt;
Pemimpin teladan memungkinkan orang lain untuk bertindak. Mereka memupuk kolaborasi dan membangun kepercayaan. Kerja tim melibatkan semua pihak yang memiliki kewajiban untuk membuat proyek berhasil. Kemampuan seorang pemimpin untuk memungkinkan orang lain melakukan tindakan sangatlah penting.&lt;br /&gt;
- Menyemangati jiwa&lt;br /&gt;
Dalam hal ini pemimpin menyemangati jiwa para pengikutnya untuk terus melangkah. Tindakan tulus dalam usaha untuk memperdulikan mereka dapat mengangkat semangat dan membuat orang terus maju.&lt;br /&gt;
Adapun Menurut Hadari Nawawi (1995:74), secara operasional dapat dibedakan atas fungsi pokok kepemimpinan:&lt;br /&gt;
1. Fungsi Instruktif&lt;br /&gt;
Pemimpin berfungsi sebagai komunikator yang menentukan apa (isi perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai, melaksanakan dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi orang yang dipimpin hanyalah melaksanakan perintah.&lt;br /&gt;
2. Fungsi Konsultatif.&lt;br /&gt;
Pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua arah. Hal tersebut digunakan manakala pemimpin dalam usaha menetapkan keputusan yang memerlukan bahan pertimbangan dan berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;
3. Fungsi Partisipasi.&lt;br /&gt;
Dalam menjalankan fungsi partisipasi pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam melaksanakannya. Setiap anggota kelompok memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang dijabarkan dari tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisi masing-masing.&lt;br /&gt;
4. Fungsi Delegasi&lt;br /&gt;
Dalam menjalankan fungsi delegasi, pemimpin memberikan pelimpahan wewenang membuat atau menetapkan keputusan. Fungsi delegasi sebenarnya adalah kepercayaan seorang pemimpin kepada orang yang diberi kepercayaan untuk pelimpahan wewenang dengan melaksanakannya secara bertanggung jawab. Fungsi pendelegasian ini, hams diwujudkan karena kemajuan dan perkembangan kelompok tidak mungkin diwujudkan oleh seorang pemimpin seorang diri.&lt;br /&gt;
5. Fungsi pengendalian&lt;br /&gt;
Fungsi pengendalian berasumsi bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Dalam melaksanakan fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;B. Pajak Bumi dan Bangunan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bermacam-macam defmisi yang dikemukakan oleh para ahli tentang perpajakan, namun kesemuanya mempunyai inti dan tujuan yang sama.&lt;br /&gt;
Soemahamidjaja dalam Brotodiharjo (1993:5), mengemukakan &quot;Pajak adalah iuran wajib berupa uang atau barang yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma hukum menetapkan biaya produksi barang-barang dan jasa-jasa korektif dalam mencapai kesejahteraan umum&quot;.&lt;br /&gt;
Dari defmisi di atas dicantumkan istilah iuran wajib, untuk memenuhi ciri bahwa pajak dipungut dengan bantuan dari dan kerja sama dengan wajib pajak dengan maksud menghindari penggunaan istilah &quot;paksaan&quot;. Selanjutnya yang dimaksud dengan pajak menurut Soemitro (1992:15) adalah :&lt;br /&gt;
&quot;Pajak adalah iuran kepada negara yang dapat dipaksakan yang terhutang oleh wajib yang membayar menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mencapai prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan&quot;.&lt;br /&gt;
Menurut Sri dan Suryo (2003:4) mengatakan pajak adalah :&lt;br /&gt;
1. Dipungut dari semua rakyat yang menurut Undang-Undang wajib membayar pajak.&lt;br /&gt;
2. Dimasukkan untuk membayar kas negara (Anggaran Pendapatan Belanja Negara / APBN).&lt;br /&gt;
3. Dapat dipaksakan pembayarannya karena diatur oleh Undang-Undang.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/3167729378299231861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/3167729378299231861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-PENGARUH-KEPEMIMPINAN-LURAH-TERHADAP-PENINGKATAN-KESADARAN-MASYARAKAT-DALAM-MEMBAYAR-PAJAK-BUMI-DAN-BANGUNAN.html' title='SKRIPSI PENGARUH KEPEMIMPINAN LURAH TERHADAP PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT DALAM MEMBAYAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-4610993335513232462</id><published>2016-06-09T19:31:00.002-07:00</published><updated>2016-06-09T19:31:38.948-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="keselamatan dan kesehatan kerja"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="produktivitas kerja"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi adm negara"/><title type='text'>SKRIPSI PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0026-ADM NEGARA) : SKRIPSI PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;KERANGKA TEORI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Singarimbun (1989 : 37) mengartikan teori sebagai serangkaian konsep, defenisi dan proposisi yang saling berkaitan bertujuan memeberikan gambaran sistematis tentang suatu fenomena.&lt;br /&gt;
Berdasarkan pendapat diatas, penulis mengemukakan teori sebagai titik tolak atau landasan berpikir dalam penelitian ini yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;A. Keselamatan Kerja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Keselamatan Kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan. (Suma&#39;mur, 1993:1).&lt;br /&gt;
Keselamatan kerja menunjukkan pada kondisi yang aman atau selamat dari penderitaan, kerusakan atau kerugian di tempat kerja (Mangkunegara, 2000:161).&lt;br /&gt;
Salah satu aspek penting sasaran keselamatan kerja, mengingat resiko bahayanya adalah penerapan tehnologi maju dan mutakhir dan secara terperinci, sasaran keselamatan kerja tersebut adalah :&lt;br /&gt;
1. Mencegah Terjadinya kecelakaan.&lt;br /&gt;
2. Mencegah timbulnya penyakit akibat pekerjaan.&lt;br /&gt;
3. Mencegah/mengurangi kematian.&lt;br /&gt;
4. Mencegah/mengurangi cacat tetap.&lt;br /&gt;
5. Mengamankan material, konstruksi, pemakaian, pemeliharaan bangunan, alat- alat kerja, mesin, instalasi dan Iain-lain.&lt;br /&gt;
6. Meningkatakan produktivitas tenaga kerja, modal, alat-alat, dan sumber- sumber produksi lainnya sewaktu kerja.&lt;br /&gt;
7. Menjamin tempat kerja yang sehat, bersih, nyaman dan aman sehingga dapat menimbulkan kegembiraan semangat kerja.&lt;br /&gt;
8. Memperlancar, meningkatkan dan mengamankan produksi, industry serta pembangunan. (Darmodiharjo, 1981 ; 8)&lt;br /&gt;
Keselamatan kerja merupakan suatu usaha untuk melindungi buruh dari bahaya yang timbul karena pekerjaan dan menciptakan kondisi kerja yang aman bagi pekerja yang menjadi tujuan keselamatan kerja adalah :&lt;br /&gt;
1. Melindungi buruh dari resiko kecelakaan pada saat ia melakukan pekerjaan.&lt;br /&gt;
2. Menjaga supaya orang-orang yang berada disekitar tempat kerja terjamin keselamatannya.&lt;br /&gt;
3. Menjaga supaya sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan berdaya guna. (Budiono, 1995 : 228) Disegala tempat kerja, suatu perusahaan diwajibkan melakukan usaha-usaha tertentu yang disebut syarat-syarat keamanan kerja yang dimaksudkan untuk :&lt;br /&gt;
• Mencegah dan mengurangi kecelakaan.&lt;br /&gt;
• Mencegah mengurangi bahaya peledakan.&lt;br /&gt;
• Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian lain yang berbahaya.&lt;br /&gt;
• Memberi pertolongan pada kecelakaan.&lt;br /&gt;
• Memberi alat perlindungan diri kepada para tenaga kerja.&lt;br /&gt;
• Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarluasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, gas, sinar dan getaran.&lt;br /&gt;
• Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja.&lt;br /&gt;
• Memperoleh penerangan yang cukup dan serasi.&lt;br /&gt;
• Menyelenggarakan udara yang cukup.&lt;br /&gt;
• Memelihara kebersihan, keselamatan dan ketertiban.&lt;br /&gt;
• Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya. (Darmodiharjo, 1981 ; 8)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;B. Kesehatan Kerja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kesehatan kerja adalah suatu usaha yang bertujuan agar pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun sosial dengan usaha-usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit umum (Sum&#39;amur, 1967 : 1).&lt;br /&gt;
Kesehatan kerja menunjukkan pada kondisi yang bebas dari gangguan fisik, mental, emosi atau rasa sakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja. Resiko kesehatan merupakan faktor-faktor dalam lingkungan kerja yang bekerja melebihi periode waktu yang ditentukan, Lingkungan yang dapat membuat stress emosi atau gangguan fisik (Mangkunegara, 2000:161).&lt;br /&gt;
Kesehatan kerja dimaksudkan untuk memberi perlindungan bagi pekerja terhadap pemerasan (eksploitasi) tenaga kerja oleh majikan misalnya untuk mendapatkan tenaga yang murah. Kesehatan kerja merupakan penjagaan agar buruh melakukan pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan dan tidak hanya ditunjuk terhadap pihak majikan yang hendak memersa tenaga pekerja, tetapi juga ditujukan terhadap pekerja itu sendiri, dimana dan bilamana pekerja misalnya hendak memboroskan tenaganya dengan tidak mengindahkan kekuatan jasmani dan rohaninya. Kesehatan kerja merupakan suatu hal yang penting dan perlu diperhatikan oleh pihak pengusaha. Karena dengan adanya program kesehatan yang baik akan menguntungkan para karyawan secara material, karena karyawan akan lebih jarang absen, bekerja dengan lingkungan yang lebih menyenangkan, sehingga secara keseluruhan karyawan akan mampu bekerja lebih lama.&lt;br /&gt;
Pada suatu perusahan biasanya kesehatan kerja berjalan seiring dengan hygiene perusahaan. Dalam hal ini hakikatnya adalah sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja setinggi-tingginya dan dimaksudkan untuk kesejahteraan pekerja dan sebagai alat untuk meningkatkan produksi yang berlandaskan kepada meningginya efisiensi dan daya produktivitas pekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;C. Produktivitas Kerja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Secara umum pengertian produktivitas adalah ratio out put terhadap input, dimana out put merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan, sedangkan input adalah pendapatan yang diterima. Pengukuran dilakukan dengan produktivitas melihat jumlah output yang dihasilkan oleh setiap karyawan selama sebulan. Seorang karyawan dapat dikatakan produktif apabila ia mampu menghasilkan jumlah produk yang lebih banyak dibandingkan dengan karyawan lain dalam waktu yang sama.&lt;br /&gt;
Produktivitas adalah suatu pendekatan interdispliner untuk menentukan tujuan yang efektif, pembuatan rencana, aplikasi penggunaan cara yang produktif untuk menggunakan sumber-sumber secara efisien dan tetap menjaga adanya kualitas yang tinggi. Produktivitas mengikutsertakan pendayagunaan secara terpadu SDM dan keterampilan, barang modal, tehnologi, manajemen, informasi, energi dan sumber-sumber lain menuju kepada pengembangan dan peningkatan standar hidup (Muchdarsyah, 1992 ; 17).&lt;br /&gt;
Peningkatan produktivitas itu sendiri dapat dilihat dalam tiga bentuk yaitu:&lt;br /&gt;
1. Jumlah produksi yang meningkat dengan menggunakan sumber daya yang sama.&lt;br /&gt;
2. Jumlah produksi yang sama atau meningkat dicapai dengan menggunakan sumber daya yang kurang.&lt;br /&gt;
3. Jumlah produksi yang jauh lebih besar dengan pertambahan sumber daya yangrelatif lebih kecil. (Nasution, 1996 : 28)&lt;br /&gt;
Produktivitas Kerja merupakan suatu sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hari hams lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;D. Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Produktivitas Kerja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Seperti yang telah diuraikan pada bagian terdahulu yaitu bahwa pada dasarnya tujuan daripada keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk melindungi para tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan dan untuk menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif, sehingga upaya pencapaian produktivitas yang semaksimalnya dari suatu perusahaan dapat lebih terjamin. Berkenaan dengan kenyataan ini, pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, akan member manfaat bagi perusahaan yaitu :&lt;br /&gt;
a) Tercegahnya atau mengurangi tingkat kecelakaan, kebakaran, peledakan dan Iain-lain sebagainya.&lt;br /&gt;
b) Pengamanan peralatan produksi dan hasil produksi itu sendiri.&lt;br /&gt;
c) Mempertahankan dan meningkatkan tingkat produktivitas kerja.&lt;br /&gt;
d) Meningkatkan dan membina moral dan dedikasi para tenaga kerja sehingga memperkecil tingkat kemangkiran.&lt;br /&gt;
e) Memperkecil kemungkinan pemborosan biaya dalam proses produksi.&lt;br /&gt;
Dan pada dasarnya keselamatan kerja dapat membantu peningkatan produksi dan produktivitas, atas dasar sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. Dengan tingkat keselamatan yang tinggi, kecelakaan yang menjadi penyebab sakit, cacat dan kematian dapat dikurangi sehingga biaya yang tidak perlu dapat dihindari.&lt;br /&gt;
2. Tingkat keselamatan yang tinggi sejalan pemeliharaan dan penggunaan peralatan kerja dan mesin yang produktif bertalian dengan tingkat&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/4610993335513232462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/4610993335513232462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-PENGARUH-KESELAMATAN-DAN-KESEHATAN-KERJA-TERHADAP-PRODUKTIVITAS-KERJA-KARYAWAN.html' title='SKRIPSI PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-2300219352758848483</id><published>2016-06-09T19:28:00.000-07:00</published><updated>2016-06-09T19:28:15.923-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kepuasan nasabah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kualitas pelayanan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi adm negara"/><title type='text'>SKRIPSI PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN NASABAH</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0027-ADM NEGARA) : SKRIPSI PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN NASABAH&lt;/h3&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KERANGKA TEORI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Landasan teori perlu ditegakkan agar penelitian mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba (trial and error). Adapun landasan teori merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data (Sugiyono, 2005:55).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Hoy &amp;amp; Miskel (Sugiyono,2005:55), teori adalah seperangkat konsep, asumsi, dan generalisasi yang dapat digunakan untuk mengungkapkan dan menjelaskan perilaku dalam berbagai organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berdasarkan rumusan diatas, maka dalam bagian ini penulis akan mengemukakan teori, pendapat, gagasan yang akan menjadi titik tolak landasan berfikir dalam penelitian ini:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;A. Kualitas&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Pengertian Kualitas&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Didalam persaingan global yang semakin kompetitif, persoalan kualitas pelayanan menjadi isu sentral bagi setiap perusahaan. Kemampuan perusahaan untuk menyediakan suatu pelayanan yang berkualitas akan menjadi suatu senjata untuk memenangkan persaingan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Kotler, kualitas itu harus dimulai dari kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi konsumen. Ini berarti bahwa citra kualitas yang baik bukanlah berasal pada sudut pandang atau persepsi pihak penyedia jasa, melainkan berdasarkan sudut pandang atau persepsi konsumen. Pengertian kualitas menurut Goetsch &amp;amp; Davis (dalam Tjiptono, 1996:51), kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Meskipun tidak ada definisi mengenai kualitas yang diterima secara universal, namun dari beberapa pengertian kualitas diatas, terdapat kesamaan yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Kualitas mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari pengertian diatas, kualitas dapat diartikan sebagai totalitas dari karakteristik suatu produk (barang dan jasa) yang menunjang kemampuan dalam memenuhi kebutuhan. Kualitas juga mengandung elemen-elemen yang meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan yang mencakup produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kualitas pelayanan adalah salah satu unsur penting dalam organisasi jasa. Hal ini disebabkan oleh kualitas pelayanan merupakan salah satu alat yang digunakan untuk mengukur kinerja organisasi jasa (Hope dan Muhlemann, 1997). Kualitas pelayanan yang baik dan memuaskan menjadi salah satu faktor yang sangat penting untuk diperhatikan agar mengerti bahwa pelayanan yang diberikan oleh perusahaan sesuai dengan harapan pelanggan, pemasar juga harus memperhatikan perilaku konsumen, karena hal tersebut akan mempengaruhi keputusan dalam pengambilan keputusan pembelian.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2. Prinsip-Prinsip Kualitas&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk menciptakan suatu gaya manajemen dan lingkungan yang kondusif bagi perusahaan jasa untuk memperbaiki kualitas, perusahaan harus mampu memenuhi enam prinsip utama yang berlaku bagi perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa. Menurut Wolkins Enam prinsip tersebut meliputi (Tjiptono, 1996:75) :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Kepemimpinan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Strategi kualitas perusahaan harus merupakan inisiatif dan komitmen dari manajemen puncak. Manajemen puncak harus memimpin perusahaan untuk meningkatkan kinerja kualitasnya. Tanpa adanya kepemimpinan dari manajemen puncak, maka usaha untuk meningkatkan kualitas hanya berdampak kecil terhadap perusahaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Pendidikan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Semua personil perusahaan dari manajer puncak sampai karyawan operasional harus memperoleh pendidikan mengenai kualitas. Aspek-aspek yang perlu mendapatkan penekanan dalam pendidikan tersebut meliputi konsep kualitas sebagai strategi bisnis, alat dan teknik implementasi strategi kualitas dan peranan eksekutif dalam implementasi strategi kualitas.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Perencanaan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Proses perencanaan strategik harus mencakup pengukuran dan tujuan kualitas yang dipergunakan dalam mengarahkan perusahaan untuk mencapai visinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Review&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Proses review merupakan satu-satunya alat yang paling efektif bagi manajemen untuk mengubah perilaku organisasional. Proses ini merupakan suatu mekanisme yang menjamin adanya perhatian yang konstan dan terus menerus untuk mencapai tujuan kualitas.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Komunikasi&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Implementasi strategi kualitas dalam organisasi dipengaruhi oleh proses komunikasi dalam perusahaan. Komunikasi harus dilakukan dengan karyawan, pelanggan dan stakeholder perusahaan lainnya seperti pemasok, pemegang saham, pemerintah, masyarakat umum dan lain-lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
6. Penghargaan dan pengakuan {Total Human Reward) Penghargaan dan pengakuan merupakan aspek yang penting dalam implementasi startegi kualitas. Setiap karyawan yang berprestasi baik perlu diberi penghargaan dan prestasinya tersebut diakui. Dengan demikian dapat meningkatkan motivasi, moral kerja, rasa bangga, dan rasa kepemilikan setiap orang dalam organisasi, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi besar bagi perusahaan dan bagi pelanggan yang dilayani.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;3. Model Kualitas&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang menentukan kualitas suatu jasa adalah bagaimana perusahaan jasa mampu menyampaikan layanan sesuai dengan harapan pelanggan maupun melebihinya. Namun untuk memenuhi harapan pelanggan dengan pemasar atau perusahaan jasa tidaklah mudah karena banyaknya kesenjangan-kesenjangan (Gap) antara konsumen dan penyedia jasa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/2300219352758848483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/2300219352758848483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-PENGARUH-KUALITAS-PELAYANAN-TERHADAP-KEPUASAN-NASABAH.html' title='SKRIPSI PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN NASABAH'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-7145247299013373459</id><published>2016-06-09T19:19:00.000-07:00</published><updated>2016-06-09T19:19:53.811-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="corporate social responsibility"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi komunikasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="strategi komunikasi"/><title type='text'>SKRIPSI STRATEGI KOMUNIKASI KAMPANYE SEBAGAI PROGRAM CSR</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0021-KOMUNIKASI) : SKRIPSI STRATEGI KOMUNIKASI KAMPANYE SEBAGAI PROGRAM CSR&lt;/h3&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KERANGKA TEORI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;A. Corporate Social Responsibility&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Organisasi bisnis harus dilihat sebagai bagian dari ekosistem, dimana setiap bagian dari ekosistem saling membutuhkan dan saling melengkapi satu sama lain. Dalam manajemen modern, keberhasilan organisasi bisnis untuk memperoleh kepuasan stakeholders dapat dijadikan indikator keberhasilan perusahaan. Perusahaan yang gagal umumnya mengalami kehilangan kepercayaan dari konsumen, pemerintah, komunitas, karyawan, dan dari para unsur stakeholders lainnya. Jadi, setiap kegiatan bisnis yang dilakukan perusahaan harus menjamin dan memperhatikan kepentingan semua pihak yang terlibat di dalamnya (stakeholders) secara baik. Dan itu berarti bisnis harus dijalankan secara baik, etis, dan bertanggung jawab. Salah satu bentuknya adalah melalui kegiatan CSR.&lt;br /&gt;
Dapat dikatakan strategi social responsibility dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan sosial dan harapan stakeholder dengan tujuan yang ingin dicapai perusahaan. Keraf mengelompokkan stakeholders menjadi dua kelompok, yaitu kelompok primer dan kelompok sekunder. Kelompok primer terdiri dari pemilik modal atau saham, kreditor, karyawan, pemasok, konsumen, penyalur, dan pesaing, atau rekanan. Kelompok sekunder terdiri dari pemerintah setempat, pemerintah asing, kelompok sosial, media massa, kelompok pendukung, masyarakat pada umumnya, dan masyarakat setempat.&lt;br /&gt;
Menurut Keraf, yang paling penting diperhatikan dalam suatu kegiatan bisnis adalah kelompok primer, karena berhasil tidaknya bisnis suatu perusahaan sangat ditentukan oleh relasi yang saling menguntungkan yang dijalin dengan kelompok primer tersebut. Demi keberhasilan dan kelangsungan bisnis suatu perusahaan, tidak boleh merugikan satupun kelompok stakeholders primer. Dengan kata lain, perusahaan tersebut harus menjalin relasi bisnis yang baik dan etis dengan kelompok tersebut. Dalam kaitannya dengan kelompok sekunder, Keraf mengatakan dalam situasi tertentu, kelompok ini bisa sangat penting, bahkan bisa jauh lebih penting dari kelompok primer. Karena itu kepentingan mereka sangat perlu diperhitungkan dan dijaga. Ketika suatu perusahaan beroperasi tanpa mempedulikan kesejahteraan, nilai budaya, sarana, prasarana lokal, lapangan kerja setempat dan seterusnya, akan menimbulkan suasana sosial yang sangat tidak kondusif dan tidak stabil bagi kelangsungan perusahaan. Relasi antara perusahaan dan kedua kelompok stakeholders tersebut, digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Konsep CSR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Corporate Social Responsibility/CSR, (atau juga disebut Businness Ethics, Corporate Responsibility, Corporate Citizenship, Sustainable Development, Triple Bottom Line), saat ini sedang menjadi tren di dunia, dan juga di Indonesia. Seiring dengan maraknya tuntutan masyarakat terhadap perusahaan agar lebih bertanggung jawab dalam menjalankan usahanya, kini banyak perusahaan mulai menyadari arti penting CSR dan menjadikannya sebagai agenda tetap perusahaan.&lt;br /&gt;
Tetapi apa sebenarnya definisi dari CSR? Chrisyanti Hasibuan menyebutkan definisi CSR memang beragam. Salah satunya yang singkat, dari Mallen Baker, berbunyi : &quot;CSR adalah bagaimana perusahaan mengelola proses bisnisnya untuk menghasilkan dampak keseluruhan yang positif bagi masyarakat.&quot; Sementara definisi yang secara luas sering dipakai adalah definisi dari World Business Council for Sustainable Development, yaitu : &quot;CSR is the continuing commitment by business to behave ethically and contribute to economic development while improving the quality of life of the workforce and their families as well as of the local community and society at large. &quot;&lt;br /&gt;
Pendekatan CSR versi World Business Council for Sustainable Development lebih memfokuskan pada pembangunan ekonomi, dengan memandang bisnis lebih sebagai patner dari komunitasnya, tidak hanya sekedar mencari keuntungan semata untuk memenuhi kebutuhan shareholder atau para&lt;br /&gt;
pemegang saham. Definisi lain CSR disebutkan oleh organisasi Business for Social Responsibility yaitu: &quot;operating a business in a manner that meets or exceeds the ethical, legal, commercial, and public expectations that society has of business.&quot;&lt;br /&gt;
Definisi dari Business for Social Responsibility tersebut memandang tanggung jawab perusahaan secara lebih luas, tidak hanya fokus pada keseimbangan pembangunan ekonomi perusahaan dengan lingkungannya. Dari definisi tersebut dapat dilihat bahwa kegiatan bisnis berkaitan dengan etika, hukum, penghargaan terhadap komunitas, dan lingkungan.&lt;br /&gt;
Sementara itu Kotler dan Lee melihat tanggung jawab sosial perusahaan sebagai kegiatan yang sukarela, bukan berdasarkan aturan hukum, moral, maupun etika. Seperti definisinya berikut: &quot;Corporate social responsibility is a commitment to improve community well-being through discretionary bussines practices and contributions of corporate recources.&quot;&lt;br /&gt;
Kotler dan Lee lebih melihat CSR sebagai komitmen sukarela dari perusahaan yang diwujudkan melalui praktek bisnisnya, maupun melakukan kontribusi menggunakan sumber daya perusahaan, baik dalam bentuk moneter maupun non moneter untuk meingkatkan kesejahteraan masyarakat maupun lingkungan.&lt;br /&gt;
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa perusahaan sebagai pelaku usaha dan lingkungan merupakan dua pihak yang saling berkepentingan.&lt;br /&gt;
Dengan CSR, perusahaan dituntut untuk bisa menyeimbangkan atau mengitegrasikan antara kepentingan lingkungan dan sosial, dan secara bersamaan memenuhi ekspetasi para pemegang saham (shareholder). Untuk itu perusahaan dituntut untuk menjalankan bisnisnya lebih bertanggung jawab dan beretika atas aktifitasnya yang berpengaruh terhadap manusia, masyarakat, dan lingkungan hidup, sehingga dapat tercapai pembangunan berkelanjutan (sustainable development).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Inisiatif Kegiatan CSR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kotler dan Lee, menyebutkan bahwa pendekatan CSR kini telah bergeser dari kewajiban menjadi strategi, sehingga pelaksanaan CSR pun kini lebih matang, dan terencana, tidak hanya sekedar &quot;doing good to look good”, tapi &quot;doing all we can do to do the most good, not just some good. &quot; Untuk itu, penting bagi perusahaan untuk memilih inisiatif yang tepat dalam melaksanakan kegiatan CSR, sehingga tujuan yang diinginkan tercapai. Kotler dan Lee mendefinisikan corporate social initiative: &quot;Corporate social initiatives are the major activities undertaken by a corporation to support social causes and to fulfill commitments to corporate social responsibility.&quot; (Corporate social initiatives adalah kegiatan-kegiatan utama yang dilakukan oleh perusahaan untuk mendukung kegiatan sosial dan memenuhi komitmen tanggung jawab sosial perusahaan).&lt;br /&gt;
Jadi, Corporate social initiative adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan upaya-upaya utama dibawah payung CSR. Kotler dan Lee menyebutkan 6 corporate social initiative yang dapat diambil berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, yaitu:&lt;br /&gt;
1. Cause Promotion&lt;br /&gt;
Social initiative ini adalah sebuah upaya yang bersifat promosional. Strategi yang digunakan adalah persuasive communication. Cause promotion merupakan salah satu bentuk kegiatan CSR yang dilakukan oleh perusahaan dan inisiatif ini biasanya berupa kampanye. Kegiatan dalam cause promotion antara lain memberikan bantuan dana, kontribusi untuk amal, maupun penggunaan sumber-sumber lain dari perusahaan untuk meningkatkan awareness dan kepedulian terhadap masalah-masalah sosial. Selain itu, kegiatan lain yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan dukungan untuk pengumpulan dana maupun rekrutmen sukarelawan dalam masalah sosial.&lt;br /&gt;
2. Cause-Related Marketing&lt;br /&gt;
Dalam kampanye cause-related marketing (CRM), perusahaan berkomitmen untuk mendukung suatu tujuan sosial dengan mendonasikan sekian persen dari keuntungan berdasarkan penjualan produk tertentu dalam jangka waktu tertentu. Itu salah satu hal yang membedakannya dari inisiatif yang lain. Selain itu, CRM membutuhkan perjanjian formal dan sistem pengukuran serta koordinasi dengan organisasi penyalur dana terkait dengan penelusuran dana yang telah disumbangkan perusahaan.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/7145247299013373459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/7145247299013373459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-STRATEGI-KOMUNIKASI-KAMPANYE-SEBAGAI-PROGRAM-CSR.html' title='SKRIPSI STRATEGI KOMUNIKASI KAMPANYE SEBAGAI PROGRAM CSR'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-4254929760042702793</id><published>2016-06-09T19:16:00.001-07:00</published><updated>2016-06-09T19:16:48.176-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="good governance"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kinerja aparatur"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pelayanan publik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi adm negara"/><title type='text'>SKRIPSI PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP GOOD GOVERNANCE DALAM MENINGKATKAN KINERJA APARATUR PELAYANAN PUBLIK</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0020-ADM NEGARA) : SKRIPSI PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP GOOD GOVERNANCE DALAM MENINGKATKAN KINERJA APARATUR PELAYANAN PUBLIK&lt;/h3&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KERANGKA TEORI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;A. Good Governance&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Pengertian Good Governance&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Semangat reformasi politik di Indonesia beberapa tahun lalu telah memunculkan terminologi baru yang disebut sebagai Good Governance. Popularitas terminologi ini mencuat di kalangan pemerintah, akademis, dan lembaga swadaya masyarakat. Terminologi Good Governance sering diterjemahkan sebagai tata pemerintahan, penyelenggara negara, atau cukup diartikan dengan penyelenggaraan ataupun pengelolaan (manajemen).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Secara teoritis, good governance sendiri dapat diberi arti sebagai suatu proses yang mengorientasikan pemerintahan pada distribusi kekuatan dan kewenangan yang merata dalam seluruh elemen masyarakat untuk dapat mempengaruhi keputusan dan kebijakan yang berkaitan dengan kehidupan publik berserta seluruh upaya pembangunan politik, ekonomi, sosial dan budaya mereka dalam sistem pemerintahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sedangkan menurut Sedarmayanti, arti Good dan Good Governance mengandung dua pengertian sebagai berikut: pertama, nilai yang menjunjung tinggi keinginan atau kehendak rakyat, dan nilai yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan (nasional), kemandirian, pembangunan berkelanjutan dan keadilan soisal. Kedua, aspek fungsional dari pemerintahan yang efektif dan efisien dari pelaksanaan tugasnya untuk mencapai tujuan tersebut. Berdasarkan pengertian ini, Good Governance berorientasi pada:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Orientasi ideal, negara yang diarahkan pada pencapaian tujuan nasional. Orientasi ini bertitik tolak pada demokratisasi dalam kehidupan bernegara dengan elemen konstituennya seperti: legitimacy (apakah pemerintah) dipilih dan mendapat kepercayaan dari rakyat, accountability, securing of human rights, autonomy and devolution of power, and assurance of civilian control.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Pemerintahan yang berfungsi secara ideal, yaitu secara efektif dan efisien dalam melakukan upaya pencapaian tujuan nasional. Orientasi kedua ini tergantung pada sejauh mana pemerintah mempunyai kompetensi, dan sejauh mana struktur serta mekanisme politik serta administratif berfungsi secara efektif dan efisien.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
Governance menunjuk pada pengertian bahwa kekuasan tidak lagi semata-mata dimiliki atau menjadi urusan pemerintah. Governance menekankan pada pelaksanaan fungsi governing secara bersama-sama oleh pemerintah dan institusi-institusi lain, yakni LSM, perusahaan swasta maupun warga negara. Bahkan institusi non pemerintahan ini dapat memegang peran domain dalam governance tersebut, atau malah lebih dari itu pemerintah tidak mengambil peran apapun.&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
United Nation Development Program (UNDP) sendiri mendefinisikan good governance sebagai hubungan yang sinergis dan konstruktif di antara negara, sektor swasta dan masyarakat (society). Berdasarkan defenisi tersebut, UNDP kemudian mengajukan karekteristik good governance yang saling memperkuat dan tidak dapat berdiri sendiri. Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah partisipasi, supremasi hukum, transparansi, cepat tanggap, membangun konsensus, kesataraan, efektif dan efisien, bertanggung jawab dan visi yang strategi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
United Nation Development Program (UNDP) merumuskan bahwa setidaknya ada tiga pihak yang berperan sebagai pelaku dalam good governance yaitu (i) negara atau pemerintah; (ii) sektor private (sektor swasta atau dunia usaha); dan (iii) civil society. Setiap pelaku tersebut memiliki peran masing-masing demi terbentuknya good governance. Secara umum pemerintah berperan untuk menciptakan lingkungan politik dan hukum yang kondusif, sedangkan sektor private memiliki peran untuk menggerakan dunia usaha sehingga dapat memberikan lapangan pekerjaan dan pendapatan. Sementara masyarakat sipil berperan untuk memfasilitasi interaksi-intaraksi sosial politik dan mobilitas kelompok-kelompok masyarakat untuk berpartisipasi dalam aktivitas politik, ekonomi, sosial dan budaya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Organization of Economic Corporation and Development (OECD) dan World Bank mensinonimkan good governance dengan penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab, sejalan dengan demokrasi dan pasar yang efisiean, penghindaran salah alokasi, dana investasi yang langka, pencegahan korupsi, baik secara politk maupun administratif, menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal and political framework bagi tumbuhnya aktivitas kewiraswastaan.9&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Tjokromidjojo dalam Sinambela,10 bahwa konsep pengelolaan kepemerintahan yang amanah (good governance) dapat dijelaskan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. akuntabilitas, yaitu kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atas kinerja dan tindakan pimpinan suatu organisasi kepada publik yang memiliki hak meminta pertanggungjawaban.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. transparansi, dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan mengenai kebijaksanaan pemerintah dan organisasi badan hukum.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. keterbukaan, pemberian informasi secara terbuka, terhadap saran dan kritik yang dianggap sebagai partisipasi masyarakat untuk perbaikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. berdasarkan hukum. Keputusan, kebijakan pemerintah, organisasi dan badan usaha yang menyangkut kepentingan publik dilakukan berdasarkan hukum.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. jaminan fairness, a level playing field (perlakuan yang adil/perlakuan kesetaraan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
United Nation Development Program UNDP mengemukakan bahwa karekteristik atau prinsip-prinsip yang harus dianut dan dikembangkan dalam praktik penyelenggaraan kepemerintahan yang baik (good governance) meliputi:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. partisipasi (participation), setiap warga Negara mempunyai suara dalam pembuatan keputusan, baik secara langsung maupun melalui intermediasi institusi legitimasi yang mewakili kepentingannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. aturan hukum {rule of law), kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa perbedaan, terutama hukum hak asasi manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. transparansi {transparency), transparansi dibangun atas dasar kebebasan arus informasi. Proses lembaga dan informasi secara langsung dapat diterima oleh mereka yang membutuhkan. Informasi harus dapat dipahami dan dipantau.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. daya tanggap {responsiveness), lembaga dan proses harus mencoba untuk melayani setiap stakeholders.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. berorientasi konsensus {consensus orientation), good governance menjadi perantara kepentingan yang berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas, baik dalam hal kebijakan maupun prosedur.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
6. efektivitas dan efisiensi {effectiveness and efficiency), setiap proses dan lembaga diarahkan untuk menghasilkan sesuai dengan apa yang telah digariskan dengan menggunakan sumber yang tersedia sebaik mungkin.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
7. akuntabilitas {accountability), para pembuat keputusan dalam pemerintahan, sektor swasta dan masyarakat bertanggung jawab kepada publik dan lembaga stakeholders.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
8. bervisi strategis {strategic vision), para pemimpin dan publik harus mempunyai prespektif good governance dan pengembangan manusia yang luas serta jauh kedepan sejalan dengan apa yang diperlukan untuk pembangunan semacam ini.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/4254929760042702793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/4254929760042702793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-PENERAPAN-PRINSIP-PRINSIP-GOOD-GOVERNANCE-DALAM-MENINGKATKAN-KINERJA-APARATUR-PELAYANAN-PUBLIK.html' title='SKRIPSI PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP GOOD GOVERNANCE DALAM MENINGKATKAN KINERJA APARATUR PELAYANAN PUBLIK'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-5765645322715882284</id><published>2016-06-09T19:14:00.001-07:00</published><updated>2016-06-09T19:14:36.863-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="badan permusyawaratan desa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi adm negara"/><title type='text'>SKRIPSI PELAKSANAAN FUNGSI BADAN PERMUSYARATAN DESA (BPD)</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0018-ADM NEGARA) : SKRIPSI PELAKSANAAN FUNGSI BADAN PERMUSYARATAN DESA (BPD)&lt;/h3&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KERANGKA TEORI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk memudahkan penelitian diperlukan pedoman dasar berpikir, yaitu kerangka teori. Sebelum melakukan penelitian yang lebih lanjut, seorang peneliti perlu menyusun kerangka teori sebagai landasan berpikir untuk menggambarkan dari sudut mana peneliti menyoroti masalah yang telah dipilih (Nawawi; 1987:40)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selanjutnya Singarimbun menyebutkan bahwa teori merupakan serangkaian asumsi, konsep, dan konstruksi, defenisi dan proposisi untuk menerangkan fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep. Ringkasnya, teori adalah hubungan satu konsep dengan konsep lainnya untuk menjelaskan gejala tertentu. Adapun teori-teori yang mendasari penelitian ini adalah:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Fungsi Lembaga Bad an Permusyaratan Desa (BPD)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Defenisi Fungsi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Fungsi merupakan tranformasi akibat pemetaan suatu nilai ke nilai lain&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Defenisi Lembaga Badan Permusyaratan Desa (BPD).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Badan Permusyaratan Desa (BPD) merupakan salah satu unsur dalam pemerintahan desa yang diharapkan dapat membantu terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan desa yang demokratis sesuai dengan aspirasi masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Fungsi, wewenang, hak dan kewajiban Badan Permusyaratan Desa (BPD).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1) Fungsi Badan Permusyaratan Desa (BPD):&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a) Fungsi mengayomi yaitu: menjaga kelestarian adat istiadat yang hidup dan berkembang di desa yang bersangkutan sepanjang menunjang kelangsungan pembangunan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b) Legilasi: merumuskan dan menetapkan Peraturan Desa bersama-sama Pemerintah Desa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c) Menampung aspirasi masyarakat yaitu menangani dan menyalurkan aspirasi yang diterima dari masyarakat kepada pejabat atau instansi yang berwenang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d) Pengawasan, yaitu meliputi pengawasan terhadap pelaksanaan Peratauran Desa, pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja desa, pelaksanaan Keputusan Kepala Desa dan Kebijaksanaan Pemerintahan Desa serta memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah Desa terhadap perjanjian kerja sama yang menyangkut kepentingan desa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2) Wewenang Badan Permusyaratan Desa (BPD):&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a) Membahas rancangan peraturan desa bersama kepala desa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b) Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan desa dan peraturan kepala desa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c) Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala desa&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d) Menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan aspirasi masyarakat;dan menyusun tata tertib Badan Permusyaratan Desa (BPD)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3) Hak Badan Permusyaratan Desa (BPD) :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a) Meminta keteranagn kepada Pemerintah Desa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b) Menyatakan pendapat&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4) Kewajiban Badan Permusyaratan Desa (BPD):&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a) Mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Republik Indonesia Tahun 1945 dan mentaati segala peraturan perundang-undangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b) Melaksanakan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c) Mempertahankan dan memelihara hukum nasional serta keutuhan Negara Kesatuan Republuk Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d) Menyerap, menampung, menghimpun dan menindak lanjuti aspirasi masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
e) Memproses pemilihan kepala desa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
f) Mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
g) Menghormati nilai-nilai sosial budaya dan adat istiadat masyarakat setempat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
h) Menjaga norma dan etika dalam hubungan kerja dengan lembaga kemasyarakatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2. Badan Permusyaratan Desa (BPD)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Badan Permusyaratan Desa (BPD) merupakan suatu lembaga yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa. Anggota Badan Permusyartan Desa (BPD) adalah wakil dari penduduk desa bersangkutan berdasarkan keterwakilan wilayah yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan mufakat. Anggota Badan Permusyaratan Desa ( BPD) terdiri dari ketua rukun warga, pemangku adat, golongan profesi, pemuka agama dan tokoh atau pemuka masyarakat lainnya. Masa jabatan anggota Badan Permusyaratan Desa (BPD) adalah 6 (enam) tahun dan dapat diangkat/diusulkan kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya. Jumlah anggota Badan Permusyaratan Desa (BPD) ditetapkan dengan jumlah ganjil, paling sedikit 5 (lima) orang dan paling banyak 11 (sebelas) orang, dengan memperhatikan luas wilayah, jumlah penduduk, dan kemampuan keuangan desa. Peresmian anggota Badan Permusyaratan Desa (BPD) ditetapkan dengan keputusan Bupati/Walikota dihadapan masyarakat dan dipandu oleh. Pimpinan BPD yang terdri dari 1 (satu) orang ketua, 1 (satu) orang wakil ketua, dan 1 (satu) orang sekretaris. Pimpinan Badan Permusyaratan Desa (BPD), dipilih dari dan oleh anggota Badan Permusyaratan Desa (BPD) secara langsung dalam rapat Badan Permusyaratan Desa (BPD) yang diadakan secara khusus, Rapat pemilihan pimpinan Badan Permusyaratan Desa (BPD) untuk pertama kali dipimpin oleh anggota tertua dan dibantu oleh anggota termuda. Badan Permusyaratan Desa (BPD) berfungsi menetapkan peraturan desa bersama kepala desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat..&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rapat Badan Permusyaratan Desa (BPD) dipimpin oleh pimpinan Badan Permusyaratan Desa (BPD). Rapat Badan Permusyaratan Desa (BPD) dinyatakan sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya (satu per dua) dari jumlah anggota Badan Permusyaratan Desa (BPD), dan keputusan ditetapkan berdasarkan suara terbanyak. Dalam hal tertentu rapat Badan Permusyaratan Desa (BPD) dinyatakan sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua per tiga dari jumlah anggota Badan Permusyaratn Desa (BPD),dan keputusan ditetapkan dengan persetujuan sekurang-kurangnya satu perdua ditambah 1 (satu) dari jumlah anggota Badan Permusyartan Desa (BPD) yang hadir. Hasil rapat Badan Permusyaratan Desa (BPD) ditetapkan dengan keputusan Badan Permusyaratan Desa (BPD) dan dilengkapi dengan notulen rapat yang dibuat oleh Sekretaris BPD. Pimpinan dan anggota Badan Permusyaratan Desa (BPD) menerima tunjangan sesuai dengan kemampuan keuangan desa. Tunjangan pimpinan dan anggota Badan Permusyaratan Desa (BPD) ditetapkan dalam APB desa. Untuk kegiatan Badan Permusyaratan Desa (BPD) disediakan biaya operasional sesuai kemampuan keuangan desa yang dikelola oleh Sekretaris Badan Permusyaratan Desa (BPD). Biaya ditetapkan setiap tahun dalam APB desa. Pimpinan dan anggota Badan Permusyaratan Desa (BPD) tidak diperbolehkan merangkap jabatan sebagai Kepala Desa dan perangkat Desa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pimpinan dan Anggota Badan Permusyaratan Desa (BPD) dilarang:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Sebagai pelaksan proyek desa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Merugikan kepentingan umum, meresahakan sekelompok masyarkat, dan mendiskriminasikan warga atau golongan masyarakat lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Melakukan korupsi, kolusi, nepotisme dan menerima uang, barang dan jasa dari pihak lain yang dapat mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Menyalah gunakan wewenang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
e. Melanggar sumpah/janji jabatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketentuan lebih lanjut mengenai Badan Permusyaratan Desa (BPD), ditetapkan dengan peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Peraturan daerah Kabupaten /Kota sekurang-kurangnya:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Persyaratan untuk menjadi anggota sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Mekanisme musyawarah dan mufakat penetapan anggota.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Pengesahan penetapan anggota.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Fungsi, dan wewenang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
e. Hak, kewaj ib an dan 1 arangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
f. Pemberhentian dan masa keanggotaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
g. Penggantian anggota dan kepemimpinan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
h. Tata cara pengucapan sumpah dan janji.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
i. Pengaturan tata tertib dan mekanisme kerja.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
j. Tata cara menggali, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
k. Hubungan kerja dengan kepala desa dan lembaga kemasyarakatan.&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;1. Keuangan dan administratif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/5765645322715882284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/5765645322715882284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-PELAKSANAAN-FUNGSI-BADAN-PERMUSYARATAN-DESA-BPD.html' title='SKRIPSI PELAKSANAAN FUNGSI BADAN PERMUSYARATAN DESA (BPD)'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-3173145217281471536</id><published>2016-06-09T19:12:00.001-07:00</published><updated>2016-06-09T19:12:28.827-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="efektivitas kerja pegawai"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kepemimpinan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi adm negara"/><title type='text'>SKRIPSI PENGARUH KEPEMIMPINAN TERHADAP EFEKTIVITAS KERJA PEGAWAI</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0024-ADM NEGARA) : SKRIPSI PENGARUH KEPEMIMPINAN TERHADAP EFEKTIVITAS KERJA PEGAWAI&lt;/h3&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KERANGKA TEORI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;A. Kepemimpinan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Pengertian kepemimpinan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kepemimpinan berasal dari kata pemimpin, yang berarti seseorang yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan dan kelebihan dalam satu bidang, sehingga dia mampu mempengamhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktifitas demi tercapainya suatu maksud dan beberapa tujuan (kartono, 2005:76).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut (Rivai, 2004:64), Kepemimpinan pada dasarnya mempunyai pokok pengertian sebagai sifat, kemampuan, proses, dan atau konsep yang dimiliki oleh seseorang sedemikian rupa sehingga ia diikuti, dipatuhi, dihormati dan orang lain bersedia dengan penuh keikhlasan melakukan perbuatan atau kegiatan yang telah dikehendaki oleh pemimpin tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan sebagai proses untuk mempengaruhi orang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Umar (2008:38) mendefmisikan kepemimpinan sebagai proses pengarahan dan usaha mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan tugas dari para anggota kelompok.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sedangkan Menurut Hasibuan (2003:170) &quot;Kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin mempengaruhi perilaku bawahan agar mau bekerja sama dan bekerja secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan organisasi&quot;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi orang lain agar mau berperan serta dalam rangka memenuhi tujuan yang telah ditetapkan bersama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dimana defenisi kepemimpinan akhirnya dikategorikan menjadi tiga elemen. (Susanto A.B; Koesnadi Kardi, 2003:115), yakni :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Kepemimpinan merupakan proses ;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Kepemimpinan merupakan suatu konsep relasi (hubungan) antara pimpinan dan bawahan;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Kepemimpinan merupakan ajakan kepada orang lain&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari berbagai pengertian diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa secara umum pengertian pemimpin adalah suatu kewanangan yang disertai kemampuan seseorang dalam memberikan pelayanan untuk menggerakan orang-orang yang berada dibawah koordinasinya dalam usaha mencapai tujuan yang ditetapkan suatu organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2. Fungsi Pemimpin&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam upaya mewujudkan kepemimpinan yang efektif, maka kepemimpinan tersebut harus dijalankan sesuai dengan fungsinya. Sehubungan dengan hal tersebut, menurut nawawi (1995:74), fungsi kepemimpinan berhubungan langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok masing-masing yang mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada didalam, bukan berada diluar situasi itu. Pemimpin harus berusaha agar menjadi bagian didalam situasi sosial kelompok atau organisasinya. Fungsi kepemimpinan menurut Hadari Nawawi memiliki dua dimensi yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Dimensi yang berhubungan dengan tingkat kemampuan mengarahkan dalam tindakan atau aktivitas pemimpin, yang terlihat pada tanggapan orang-orang yang dipimpinnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan atau keterlibatan orang- orang yang dipimpin dalam melaksanakan tugas-tugas pokok kelompok atau organisasi, yang dijabarkan dan dimanifestasikan melalui keputusan-keputusan dan kebijakan pemimpin.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sehubungan dengan dua dimensi tersebut, menurut Nawawi, secara operasional dapat dibedakan dengan lima fungsi pokok kepemimpinan, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Fungsi Instruktif&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pemimpin berfungsi sebagai komunikator yang menentukan apa (isi perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai, melaksanakan dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi orang yang dipimpin hanyalah melaksanakan perintah. Dalam hal ini fungsi orang yang dipimpin adalah sebagai pelaksana perintah. Inisiatif tentang segala sesuatu yang ada kaitannya dengan perintah tersebut, sepenuhnya adalah merupakan fungsi pemimpin, fungsi ini juga berarti bahwa keputusan yang ditetapkan pemimpin tanpa kemauan para bawahannya tidak akan berarti. Jika perintah tidak dilaksanakan juga tidak akan ada artinya. Intinya, kemampuan bawahan menggerakan pegawainya agar melaksanakan perintah, bersumber dari keputusan yang ditetapkan. Perintah yang jelas dari pimpinan berati juga sebagai perwujudan proses bimbingan dan pengarahan yang dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Fungsi Konsultatif&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua arah. Hal tersebut digunakan sebagai usaha untuk menetapkan keputusan yang memerlukan bahan pertimbangan dan mungkin perlu konsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya. Konsultasi yang dimaksudkan untuk memperoleh masukan berupa umpan balik (feed back), yang dapat dipergunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan keputusan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Fungsi Partisipasi&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam menjalankan fungsi partisipasi pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam melaksanakannya. Setiap anggota kelompok memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kesepakatan yang dijabarkan dari tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisi masing-masing. Fungsi ini tidak sekedar berlangsung dua arah, tetapi juga perwujudan pelaksanaan hubungan manusia yang efektif antara pemimpin dan orang yang dipimpin baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya. Sekalipun memiliki kesempatan yang sama bukan berarti setiap orang bertindak semaunya, tetapi harus dilakukan dan dikerjakan secara terkendali dan terarah yang merupakan kerjasama dengan tidak mencampuri atau mengambil tugas pokok orang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan demikian musyawarah menjadi hal yang sangat penting dalam kesempatan berpartisipasi melaksanakan program organisasi. Pemimpin tidak sekedar mampu membuat keputusan dan memerintahkan pelaksanaannya, akan tetapi pemimpin harus tetap dalam posisi sebagai pemimpin yang melaksanakan fungssi kepemimpinan bukan sebagai pelaksana.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Fungsi Delegasi&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam melaksanakan fungsi delegasi, pemimpin memberikan pelimpahan wewenang membuat atau menetapkan keputusan. Fungsi delegasi sebenarnya adalah kepercayaan seorang pemimpin kepada orang yang diberi kepercayaan untuk pelimpahan wewenang dengan melaksanakannya secara bertanggungjawab. Fungsi pendelegasian ini, harus diwujudkan karena kemajuan dan perkembangan kelompok tidak mungkin diwujudkan oleh pemimpin seorang diri. Jika pemimpin berkerja seorang diri, ia pasti tidak dapat berbuat banyak dan mungkin dapat menjadi tidak berarti sama sekali. Oleh karena itu sebagian wewenang perlu didelegasikan kepada para bawahannya agar dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Fungsi Pengendalian&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Fungsi pengendalian berasumsi bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Dalam melaksanakan fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkannya melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawaasan. Dalam melakukan kegiatan tersebut berarti pemimpin berusaha mencegah terjadinya kekeliruan atau kesalahan setiap perseorangan dalam melaksanakan beban kerja atau perintah dari pimpinannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seluruh fungsi kepemimpinan tersebut diatas, diselenggarakan dalam aktifitas kepemimpinan secara intergral. Aktifitas atau kegiatan kepemimpinan yang bersifat intergral tersebut dalam hal pelaksanaannya akan berlangsung sebagai berikut;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Pemimpin berkewajiban mejabarkan program kerja yang menjadi keputusan yang kongkrit untuk dilaksanakan sesuai dengan prioritasnya masing-masing keputusan-keputusan itu harus jelas hubungannya dengan tujuan kelompok/organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Pemimpin harus mampu menterjemahkan keputusan-keputusan menjadi intruksi yang jelas, sesuai dengan kemampuan anggota yang melaksanakannya. Setiap anggota yang melaksanakannya. Setiap anggota harus mengetahui dari siapa intruksi diterima dan pada siapa di pertanggungjawabkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Pemimpin harus berusaha untuk mengembangkan dan menyalurkan kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat baik secara perorangan maupun kelompok kecil. Pemimpin harus mampu menghargai gagasan, pendapat, saran, kritik anggotanya sebagai wujud dari parti sipasinya. Usaha mengembangkan partisipasi anggota tidak sekedar ikut aktif dalam melaksanakan perintah, tetapi juga dalam memberikan informasi dan masukan untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi pemimpin dalam membuat dan memperbaiki keputusan-keputusan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
d. Mengembangkan kerjasama yang harmonis, sehingga setiap anggota mengerjakan apa yang harus dikerjakannya, dan bekerjasama dalam mengerjakan sesuatu yang memerlukan kebersamaan. Pemimpin harus mampu memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap kemampuan, prestasi atau kelebihan yang dimiliki setiap anggota kelompok/organisasinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
e. Pemimpin harus membantu dalam mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan mengambil keputusan sesuai dengan batas tanggungjawab masing-masing. Setiap anggota harus didorong agar tumbuh menjadi orang yang mampu menyelesaikan masalah-masalahnya, dengan menghindari ketergantungan yang berlebihan dari pemimpian atau orang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setiap anggota harus dibina agar tidak menjadi orang yang selalu menunggu perintah. Namun diharapkan setiap anggota/bawahan adalah orang yang inisiatif artinya mampu berkerja dengan sendirinya karena kesadaran bahwa ia memiliki tanggungjawab.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/3173145217281471536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/3173145217281471536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-PENGARUH-KEPEMIMPINAN-TERHADAP-EFEKTIVITAS-KERJA-PEGAWAI.html' title='SKRIPSI PENGARUH KEPEMIMPINAN TERHADAP EFEKTIVITAS KERJA PEGAWAI'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-4060985212439269863</id><published>2016-06-09T19:10:00.000-07:00</published><updated>2016-06-09T19:10:19.720-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="otonomi desa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="partisipasi masyarakat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pembangunan desa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi adm negara"/><title type='text'>SKRIPSI PENGARUH OTONOMI DESA TERHADAP PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN DESA</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0030-ADM NEGARA) : SKRIPSI PENGARUH OTONOMI DESA TERHADAP PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN DESA&lt;/h3&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KERANGKA TEORI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kerangka teori merupakan landasan berpikir untuk melakukan penelitian dan teori-teori yang dipergunakan untuk menjelaskan fenomena sosial yang menjadi objek penelitian. Teori adalah serangkaian asumsi, konsep dan kontsruksi, defenisi dan proposisi untuk menerangkan fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan dua konsep (Singarimbun, 1989; 37).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada dasarnya teori adalah merupakan landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian (Suryabrata dalam Sugiyono, 2002). Landasan teori ini perlu ditegakkan agar penelitian tersebut mempunyai dasar yang kokoh dan bukan sekedar perubahan coba-coba (trial and error). Adanya landasan teoritis ini mempunyai ciri bahwa penelitian ini merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk memudahkan penelitian diperlukan pedoman dasar berpikir yaitu kerangka teori. Sebelum melakukan penelitian yang lebih lanjut, seorang peneliti harus menyusun suatu kerangka teori sebagai landasan berpikir untuk menggambarkan dari sudut mana peneliti menyoroti masalah yang telah dipilih. (Nawawi, 1991; 40).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam penelitian ini, adapun kerangka teori yang dibentuk adalah sebagai berikut: 1.5.1. Desa&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kata &quot;Desa&quot; berasal dari bahasa India yakni Swadesi yang berarti tempat asal, tempat tinggal, negeri asal, atau tanah leluhur yang merujuk pada satu kesatuan hidup, dengan satu kesatuan norma, serta memiliki batas yang jelas.(Soetardjo, 1984 dalam Wasistiono, 2006; 7).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sesuai dengan defenisi tersebut, maka di Indonesia dapat ditemui banyak kesatuan masyarakat dengan peristilahannya masing-masing seperti Dusun, Marga Dati, Nagari, Wanua, dan lain sebagainya. Pada daerah lain masyarakat setingkat desa juga memiliki berbagai istilah dan keunikan sendiri, baik mata pencaharian maupun adat istiadatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Desa adalah : Kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Republik Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kebanyakan orang memahami desa sebagai tempat dimana bermukimnya penduduk dengan peradaban yang terbelakang daripada kota. Biasanya dicirikan dengan bahasa ibu yang kental, tingkat pendidikan yang relatif rendah, mata pencaharian yang umumnya di sektor pertanian. Bahkan terdapat kesan kuat bahwa desa merupakan tempat tinggal para petani.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 tahun 2005 dan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Desa disebut, bahwa Desa atau yang disebut dengan nama lain selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilaayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyaarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang dialami dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk didalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah Camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Widjaja,1996; 19).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Desa dibentuk bertujuan untuk meningkatkan pelayanan publik guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2. Otonomi Desa&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Otonomi desa merupakan otonomi asli, bulat dan utuh serta bukan merupakan pemberian dari pemerintah. Sebaliknya pemerintah berkewajiban menghormati otonomi asli yang dimiliki oleh desa tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak istimewa, desa dapat melakukan perbuatan hukum, baik hukum publik maupun hukum perdata, memiliki kekayaan, harta benda serta dapat dituntut dan menuntut dimuka pengadilan. (Widjaja, 2003; 165).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Undang-Undnag Nomor 32 Tahun 2004, kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan mengatur dan mengurus kepentingannya sendiri berarti kesatuan masyarakat hukum tersebut mempunyai otonomi. Hanya otonomi desa bukan otonomi formal seperti yang dimiliki pemerintah propinsi, kota dan kabupaten, tapi otonomi berdasarkan asal-usul dan adat istiadat. Otonomi berdasarkan asal-usul adat-istiadat setempat adalah otonomi yang telah dimiliki sejak dulu kala dan telah menjadi adat-istiadat yang melekat dalam masyarakat desa yang bersangkutan. (Nurcholis, 2005; 234).&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
Dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 telah diakui adanya otonomi yang dimiliki oleh desa dan kepada desa dapat diberikan penugasan ataupun pendelegasian dari pemerintah ataupun pemerintah daerah untuk melaksanakan urusan pemerintah tertentu. Sedangkan desa diluar desa gineologis yaitu bersifat administratif seperti desa yang dibentuk karena pemekaran desa, transmigrasi atau alasan lainnya yang warganya majemuk/heterogen, maka melalui otonomi desa dapat tumbuh dan berkembang mengikuti perkembangan desa itu sendiri.&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kewenangan pemerintahan desa dalam mengatur dan mengurus masyarakat setempat didasarkan pada hak asal usul dan nilai-nilai sosial budaya yang terdapat pada masyarakat setempat namun hams diselenggarakan dalam perspektif adiministrasi pemerintahan negara yang selalu mengikuti perkembangan zaman.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berdasarkan penjelasan umum pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa dijelaskan bahwa landasan pemikiran pengaturan mengenai desa tetap yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1) Keanekaragaman, yang memiliki makna bahwa istilah Desa dapat disesuaikan dengan asal usul dan kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Hal ini berarti pola penyelenggaraan pemerintahan serta pelaksanaan pembangunan di Desa hams menghormati sistem nilai yang berlaku pada masyarakat setempat namun hams tetap mengindahkan sistem nilai bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kaitan ini Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia,&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2) Partisipasi, memiliki makna bahwa penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa hams mampu mewujudkan peran aktif masyarakat agar masyarakat senantiasa memiliki dan tumt serta bertanggungjawab terhadap perkembangan kehidupan bersama sebagai sesama warga desa,&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3) Otonomi asli, memiliki makna bahwa kewenangan pemerintahan desa dalam mengatur dan mengums masyarakat setempat didasarkan pada hak asal usul dan nilai-nilai sosial budaya yang terdapat pada masyarakat setempat namun hams diselenggarakan dalam perspektif adiminstrasi pemerintahan negara yang selalu mengikuti perkembangan zaman,&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4) Demokratisasi, memiliki makna bahwa penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan di Desa hams mengakomodasi aspirasi masyarakat yang diartikulasi dan diagregasi melalui BPD dan Lembaga Kemasyarakatan sebagai mitra Pemerintah Desa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5) Pemberdayaan masyarakat, memiliki makna bahwa penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan di Desa ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat melalui penetapan kebijakan, program dan kegiatan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Otonomi yang dimiliki pemerintah kabupaten/kota adalah otonomi formal/resmi. Artinya urusan-urusan yang dimiliki atau menjadi kewenangannya ditentukan oleh Undang-Undang. Sedangkan otonomi yang dimiliki pemerintah desa adalah otonomi berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat. Artinya jika desa memang mempunyai urusan-urusan yang secara adat diatur dan diurus, maka urusan tersebut diakui oleh Undang-Undang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1.5.3. Pemerintahan Desa&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, desa tidak lagi di bawah kecamatan tapi di bawah kabupaten/kota. Dengan demikian, kepala desa langsung di bawah pembinaan bupati/walikota. Kecamatan bukan lagi sebagai suatu wilayah yang membawahi desa-desa tapi hanya merupakan wilayah kerja camat. Camat sendiri bukan kepala wilayah dan penguasa tunggal di wilayahnya, tapi hanya sebagai perangkat daerah kabupaten. Jadi camat tersebut hanyalah staf daerah kabupaten yang mengurusi desa-desa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pemerintah desa adalah unsur dari penyelenggara pemerintahan desa. Adapun pemerintah desa memiliki tugas pokok:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Melaksanakan urusan rumah tangga desa, urusan pemerintahan umum, pembangunan dan pembinaan masyarakat&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Menjalankan tugas pembantuan dari pemerintah, pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk menjalankan tugas pokok tersebut, pemerintah desa mempunyai fungsi :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Penyelenggaraan urusan rumah tangga desa&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Pelaksanaan tugas dibidang pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan yang menjadi tanggung jawabnya&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Pelaksanaan pembinaan perekonomian desa&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Pelaksanaan pembinaan partisipasi dan swadaya gotong royong masyarakat&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Pelaksanaan pembinaan ketentraman dan ketertiban masyarakat&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Pelaksanaan musyawarah penyelesaian perselisihan masyarakat desa&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Penyusunan, pengajuan rancangan Peraturan Desa&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
- Pelaksanaan tugas yang dilimpahkan kepada pemerintah desa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pemerintah desa dipimpin oleh kepala desa. Kepala desa dibantu oleh sekretaris desa dan perangkat desa. Perangkat desa terdiri atas kepala-kepala urusan, dan kepala dusun. Kepala-kepala urusan membantu sekretaris desa menyediakan data dan informasi serta memberi pelayanan. Pelaksanaan urusan adalah pejabat yang melaksanakan urusan rumah tangga desa di lapangan. Kepala dusun adalah wakil kepala daerah di wilayahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Urusan rumah tangga desa adalah urusan yang berhak diatur dan diurus oleh pemerintah desa sendiri. Untuk mengatur dan mengurus urusannya, pemerintah desa membuat Peraturan Desa atau Perdes. Perdes dilaksanakan oleh kepala desa dan dipertanggungjawabkan kepada rakyat melalui Badan Permusyawaratan Desa atau BPD.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;4. Partisipasi Masyarakat&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Partisipasi masyarakat merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh perorangan maupun secara berkelompok atau masyarakat. Untuk menyatukan kepentingan atau keterkaitan mereka terhadap organisasi atau masyarakat yang bergabung dalam rangka pencapaian tujuan bersama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Partisipasi Masyarakat adalah pemberdayaan maysarakat, peran sertanya dalam kegiatan penyusunan perencanaan dan implementasi program/proyek pembangunan, dan merupakan aktualisasi dan kesediaan dan kemauan masyarakat untuk berkorban dan berkontribusi terhadap implemntasi program pembangunan. (Adisasmita 2006:41)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Partisipasi didefenisikan sebagai keterlibatan mental dan emosional individu dalam situasi kelompok yang mendorongnya memberikan sumbangan terhadap tujuan kelompok serta membagi tanggung jawab bersama mereka (Yusran 2006:11)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/4060985212439269863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/4060985212439269863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-PENGARUH-OTONOMI-DESA-TERHADAP-PARTISIPASI-MASYARAKAT-DALAM-PEMBANGUNAN-DESA.html' title='SKRIPSI PENGARUH OTONOMI DESA TERHADAP PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN DESA'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-5709184581200755770</id><published>2016-06-09T19:07:00.000-07:00</published><updated>2016-06-09T19:07:11.371-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="di kantor kecamatan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kinerja pegawai"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="motivasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi adm negara"/><title type='text'>SKRIPSI PENGARUH MOTIVASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI DI KANTOR CAMAT</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0029-ADM NEGARA) : SKRIPSI PENGARUH MOTIVASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI DI KANTOR CAMAT&lt;/h3&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KERANGKA TEORI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;A. Motivasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;1. Pengertian Motivasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Menurut Isbandi Rukminto Adi (dalam Uno, 2008:3) mengatakan bahwa motif tidak dapat diamati secara langsung, tetapi dapat diinterpretasikan dalam tingkah lakunya berupa rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga munculnya suatu tingkah laku tertentu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Hasibuan (1996:95), motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang, agar mereka mau bekerjasama, bekerja efektif dan terintegrasi dalam segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam Winardi (2001:4), ada defenisi yang mengatakan bahwa motivasi berhubungan dengan:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Pengarahan perilaku,&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Kekuatan reaksi (upaya kerja), setelah seorang pegawai telah memutuskan arah tindakan -tindakan tertentu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Persistensi perilaku, berapa lama orang yang bersangkutan melanjutkan pelaksanaan perilaku dengan cara tertentu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Stanley Vance (dalam Danim, 2004:15), mengatakan bahwa pada hakikatnya motivasi adalah perasaan atau keinginan seseorang yang berada dan bekerja pada kondisi tertentu untuk melaksanakan tindakan - tindakan yang menguntungkan dilihat dari perspektif pribadi dan terutama organisasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Siagian (2002:102) motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seorang anggota organisasi mau dan rela untuk menyerahkan kemampuan dalam bentuk keterampilan dan keahlian, tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam Gibson (1997:87) memuat beberapa pendapat tentang motivasi yaitu:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
a. Menurut John P. Cambell menyatakan satu defenisi bahwa motivasi berhubungan dengan arah perilaku, kekuatan,respons (usaha) setelah pegawai memilih mengikuti tindakan tertentu, atau berapa lama orang itu terus menerus berperilaku menurut cara tertentu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
b. Menurut J.W. Atkinson menyarankan bahwa analisis tentang motivasi harus memusatkan perhatian pada factor - faktor yang mendorong dan mengarahkan kegiatan seseorang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
c. Menurut M.R. Jones menyatakan bahwa motivasi adalah berhubungan kuat dengan bagaimana perilaku itu dimulai, dikuatkan, disokong, diarahkan, dihentikan dan reaksi subyektif seperti apakah yang timbul dalam organisasi ketika semua itu berlangsung.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari pendapat yang telah dikemukakan diatas dapat dinyatakan bahwa motivasi merupakan suatu faktor pendorong atau penggerak seseorang untuk mau bertindak dan bekerja dengan giat sesuai dengan tugas dan kewajibannya untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;2 Manfaat Motivasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Motivasi menjelaskan mengapa ada orang berperilaku tertentu untuk mencapai serangkaian tujuan. Teori motivasi berupaya merumuskan apa yang membuat orang menyajikan kinerja yang baik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Hasibuan (1996:97) menyatakan manfaat motivasi bagi seorang pegawai selain memberikan keuntungan kepada pegawai itu sendiri juga menguntungkan organisasi seperti :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Mendorong gairah dan semangat kerja pegawai&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Meningkatkan moral dan kepuasan kerja pegawai&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Meningkatkan produktifitas kerja pegawai&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
4. Mempertahankan loyalitas dan kestabilan pegawai&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
5. Meningkatkan kedisplinan dan menurunkan tingkat absensi pegawai&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
6. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
7. Meningkatkan kreatifitas dan partisipasi pegawai&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
8. Mempertinggi rasa tanggung jawab pegawai terhadap tugasnya&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
9. Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;3 Tipe-tipe Motivasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Motivasi merupakan fenomena hidup yang banyak corak dan ragamnya. Menurut (Danim, 2004:17) secara umum motivasi dapat diklasifikasikan ke dalam empat jenis, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Motivasi Positif&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Motivasi positif didasari atas keinginan manusia untuk mencari keuntungan-keuntungan tertentu. Manusia bekerja dalam organisasi jika dia merasakan bahwa setiap upaya yang dilakukannya akan memberikan keuntungan tertentu. Dengan demikian, motivasi positif merupakan pemberian motivasi yang diarahkan pada usaha untuk mempengaruhi orang lain untuk bekerja secara baik dan antusias dengan cara memberikan keuntungan tertentu padanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
2. Motivasi Negatif&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Motivasi negatif sering dikatakan sebagai motivasi yang bersumber dari rasa takut misalnya, jika seorang pegawai tidak bekerja maka akan muncul rasa takut dikeluarkan, takut diskors, dan takut dijauhi oleh rekan kerja. Motivasi negatif yang berlebihan akan membuat organisasi tidak mampu mencapai tujuan. Personalia organisasi menjadi tidak kreatif, serba takut, dan serba terbatas geraknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
3. Motivasi dari Dalam&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Motivasi dari dalam timbul pada diri pegawai saat dia melaksanakan tugas-tugasnya dan bersumber dari dalam diri pegawai itu sendiri. Dengan demikian berarti juga bahwa motivasi pegawai muncul pada saat dia bekerja dan dia sendiri yang menyenangi pekerjaan itu.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/5709184581200755770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/5709184581200755770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-PENGARUH-MOTIVASI-TERHADAP-KINERJA-PEGAWAI-DI-KANTOR-CAMAT.html' title='SKRIPSI PENGARUH MOTIVASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI DI KANTOR CAMAT'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6661570758031814150.post-6230241940766302183</id><published>2016-06-09T19:05:00.000-07:00</published><updated>2016-06-09T19:05:13.661-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pajak bumi dan bangunan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="partisipasi masyarakat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="skripsi adm negara"/><title type='text'>SKRIPSI PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MEMBAYAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
(KODE : 0016-ADM NEGARA) : SKRIPSI PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MEMBAYAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN&lt;/h3&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KERANGKA TEORI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Kerangka teori diperlukan untuk memudahkan penelitian, sebab ia merupakan pedoman berfikir bagi peneliti. Oleh karena itu, seorang peneliti hams terlebih dahulu menyusun suatu kerangka teori sebagai landasan berfikir untuk menggambarkan dari sudut mana ia menyoroti masalah yang dipilihnya. Selanjutnya, menumt Singarimbun dan Effendi (1989: 37), teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstmksi, defenisi, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara memmuskan hubungan antar konsep. Dalam penelitian ini yang menjadi kerangka teorinya adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;A. Partisipasi Masyarakat membayar PBB&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Defenisi Partisipasi masyarakat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menginterpretasikan kata partisipasi secara kelim menyebabkan masyarakat maupun pemerintah mempunyai tanggapan yang salah. Banyak makna untuk kata partisipasi yang membuat masyarakat bingung bagaimana masyarakat sehamsnya bertindak dan berperan dalam suatu program pembangunan sehingga masyarakat telah dianggap berpartisipasi.&lt;br /&gt;
Berbicara tentang partisipasi masyarakat dalam pembangunan, orang akan menemukan mmusan pengertian yang cukup bervariasi, sejalan dengan luasnya lingkup penggunaan konsep tersebut dalam wacana pembangunan. Menumt Soetrisno (1995; 221-222) ada dua definisi partisipasi yang beredar dalam masyarakat. Definisi pertama adalah definisi yang diberikan oleh para perencana pembangunan formal di Indonesia. Definisi jenis ini mengartikan partisipasi masyarakat dalam pembangunan sebagai dukungan rakyat terhadap proyek pembangunan yang dirancang dan ditentukan tujuannya oleh perencana. Definisi kedua dan berlaku universal adalah partisipasi dalam pembangunan merupakan kerjasama yang giat antara perencana dan rakyat dalam merencanakan, melaksanakan, melestarikan dan mengembangkan hasil pembangunan yang telah dicapai.&lt;br /&gt;
Menurut T.B. Simatupang dalam Khairuddin (1992: 124) memberi rincian tentang partisipasi berarti apa yang kita jalankan adalah bagian dari usaha bersama untuk mencapai tujuan bersama diantara semua warganegara yang mempunyai latar belakang yang beragam atau dasar hak dan kewajiban yang sama untuk memberi sumbangan demi terciptanya masa depan. Partisipasi juga tidak hanya berarti mengambil bagian dalam pelaksanaan-pelaksanaan rencana pembangunan, akan tetapi berarti memberi dukungan agar dalam pembangunan, nilai-nilai kemanusiaan, cita-cita, mengenai keadilan sosial dijunjung tinggi, misalnya partisipasi dalam pembayaran PBB.&lt;br /&gt;
Pemikiran di atas senada dengan Sondang P.Siagian (2003:30) yang mengungkapkan bahwa partisipasi dari masyarakat luas mutlak diperlukan, karena masyarakatlah yang pada akhirnya melaksanakan berbagai kegiatan di dalam pambangunan, rakyat banyak memegang peranan sekaligus sebagai subjek dan objek pembangunan.&lt;br /&gt;
Partisipasi masyarakat ikut mempengaruhi hasil, manfaat dan dampak keberhasilan dalam proses pembayaran PBB dalam pambangunan. Disadari partisipasi masyarakat dalam membayar PBB akan memberikan kontribusi positif bagi kehidupan masyarakat di masa mendatang. Karena di dalam menumbuhkan partisipasi masyarakat besar-kecilnya terdapat usaha pembelajaran oleh masyarakat secara mandiri untuk mengerti dan paham akan kebutuhan maupun kepentingannya sendiri terutama yang menyangkut perbaikan taraf hidup masyarakat dalam pembangunan.&lt;br /&gt;
Memperhatikan beberapa pengertian partisipasi di atas, tampak bahwa kriteria utama yang digunakan untuk menentukan adanya partisipasi masyarakat adalah adanya keterlibatan tanpa harus mempersoalkan faktor yang melatarbelakangi dan mendorong keterlibatan tersebut. Beberapa pihak mencoba merumuskan pengertian partisipasi dengan menggunakan kedua kriteria tersebut: unsur keterlibatan dan latar belakang yang mendorongnya.&lt;br /&gt;
Dengan menggunakan kedua kriteria tersebut partisipasi diartikan sebagai keterlibatan masyarakat dalam suatu proses pembangunan yang didorong oleh determinasi dan kesadarannya tentang arti keterlibatannya tersebut. Kesadaran serta keterlibatan yang dimaksud pada penelitian ini adalah sikap masyarakat dalam membayar PBB. Sikap masyarakat dalam hal ini, yakni memenuhi kewajibannya dalam membayar PBB dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan dalam jumlah yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Tahap-tahap partisipasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Ndraha (1990 ; 125-126) partisipasi masyarakat memiliki beberapa tahap dalam prosesnya antara lain;&lt;br /&gt;
1. Partisipasi melalui kontak dengan pihak lain,&lt;br /&gt;
2. Partisipasi dalam memperhatikan, menyerap dan memberi tanggapan terhadap informasi baik dalam arti menerima (menaati, memenuhi, melaksanakan), mengiyakan, menerima dengan syarat maupun dalam arti menolaknya,&lt;br /&gt;
3. Partisipasi dalam arti perencanaan pembangunan, termasuk pengambilan keputusan/ kebijakan seperti proses penentuan arah dan strategi,&lt;br /&gt;
4. Partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan, program dan proyek pembangunan,&lt;br /&gt;
5. Partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan,&lt;br /&gt;
6. Partisipasi dalam keterlibatan mereka mengevaluasi program pembangunan. Partisipasi merupakan suatu usaha kegiatan yang penting dalam pelaksanaan pembangunan masyarakat . Menurut Adi (2001:23), partisipasi masyarakat atau keterlibatan masyarakat dalam pembangunan dapat dilihat dalam empat tahap yaitu :&lt;br /&gt;
1. Tahap assessment&lt;br /&gt;
Dilakukan dengan mengidentifikasi masalah dan sumber daya yang dimiliki. Untuk ini masyarakat dilibatkan secara aktif merasakan permasalahan yang sedang terjadi merupakan pandangan mereka sendiri.&lt;br /&gt;
2. Tahap alternatif program atau kegiatan&lt;br /&gt;
Dilakukan dengan melibatkan warga untuk berfikir tentang masalah yang mereka hadapi dan cara mengatasinya dengan memikirkan beberapa cara alternatif program.&lt;br /&gt;
3. Pelaksanaan (Implementasi) program atau kegiatan.&lt;br /&gt;
Dilakukan dengan melaksanakan program yang sudah direncanakan dengan baik agar tidak melenceng dalam pelaksanaanya di lapangan.&lt;br /&gt;
4. Tahap evaluasi (termasuk evaluasi input, proses dan hasil) Dilakukan dengan adanya pengawasan dari masyarakat dan petugas terhadap program yang sedang berjalan.&lt;br /&gt;
Tahapan partisipasi publik menurut Hoofsteede dalam Khairuddin (1992:125) telah membagi partisipasi menjadi tiga tingkatan, antara lain;&lt;br /&gt;
1. Partisipasi Inisiasi {Initiation Participation) adalah partisipasi yang mengundang inisiatif dari pemimpin desa, baik formal maupun informal ataupun dari anggota masyarakat mengenai suatu proyek yang nantinya proyek tersebut merupakan kebutuhan bagi masyarakat.&lt;br /&gt;
2. Partisipasi Legitimasi {Legitimation Participation) adalah partisipasi pada tingkat pembicaraan atau pembuatan keputusan tentang proyek tersebut.&lt;br /&gt;
3. Partisipasi Eksekusi {Execution Participation ) adalah partisipasi pada tingkat kecamatan.&lt;br /&gt;
Partisipasi inisiasi mempunyai kadar yang lebih tinggi dibanding dengan partisipasi legitimasi dan eksekusi. Di sini penduduk tidak hanya sekedar menjadi objek pembangunan saja, akan tetapi dapat menentukan dan mengusulkan segala suatu rencana yang akan dilaksanakan. Sedangkan kalau masyarakat ikut hanya dalam tahap pembicaraan saja seperti rembug desa, padahal proyek yang akan dibangun sudah jelas wujudnya, maka masyarakat hanya berpartisipasi pada tingkat legitimasi. Partisipasi eksekusi adalah yang terendah dari semua tingkatan partisipasi di atas. Masyarakat hanya turut serta dalam pelaksanaan proyek tanpa harus ikut serta menentukan dan menbicarakan proyek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Pendekatan Pengembangan Partisipasi Masyarakat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Mikekelsen dalam soetomo (2006:146) ada empat pendekatan untuk mengembangkan partisipasi masyarakat yaitu :&lt;br /&gt;
a. Pendekatan partisipasi pasif, pelatihan dan informasi. Pendekatan ini berdasarkan pada anggapan bahwa pihak eksternal (pemerintah) lebih tahu, lebih menguasai pengetahuan, teknologi, skill dan sumber daya. Dengan demikian, bentuk partisipasi ini akan melahirkan tipe komunikasi satu arah dari atas ke bawah, hubungan pihak eksternal dan masyarakat bersifat vertikal.&lt;br /&gt;
b. Pendekatan partisipasi aktif. Dalam pendekatan ini sudah dicoba dikembangkan komunikasi dua arah, walaupun pada dasarnya masih berdasarkan pra anggapan yang sama dengan pendekatan yang pertama, bahwa pihak eksternal lebih tahu dibandingkan dengan masyarakat. Pendekatan ini sudah mulai membuka dialog, guna memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berinteraksi kepada masyarakat untuk berinteraksi secara lebih intensif dengan para petugas dari institusi eksternal. Salah satu contohnya adalah pendekatan pelatihan dan kunjungan.&lt;br /&gt;
c. Pendekatan partisipasi dengan keterikatan. Pendekatan ini mirip kontrak sosial antara pihak eksternal dengan masyarakat. Dalam keterkaitan tersebut dapat disepakati apa yang dapat dilakukan masyarakat dan apa yang harus dilakukan dan diberikan pihak eksternal. Masyarakat setempat, baik sebagai individu kecil, diberikan pilihan untuk terikat pada sesuatu dengan tanggung jawab atas setiap kegiatan pada masyarakat dan juga pada pihak eksternal.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;gudang skripsi&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/6230241940766302183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6661570758031814150/posts/default/6230241940766302183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://1skripsi.blogspot.com/2016/06/SKRIPSI-PARTISIPASI-MASYARAKAT-DALAM-MEMBAYAR-PAJAK-BUMI-DAN-BANGUNAN.html' title='SKRIPSI PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MEMBAYAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN'/><author><name>santi rahayu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08370657397974241591</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>