<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445</id><updated>2009-11-09T13:37:29.698+07:00</updated><title type="text">Semoga Allah Melembutkan Hati Semua Umat Islam...</title><subtitle type="html">Blog ini untuk Muhasabah (Introspeksi) ke-Islam-an kita. Semua tulisan untuk mengkritisi diri kita sendiri, bukan orang lain. Adapun visi, misi dan motto blog ini: &lt;br&gt;&lt;b&gt;"Semoga Allah Menyatukan dan Melembutkan Hati Semua Umat Islam, Amin..."&lt;/b&gt; &lt;br&gt;
# Achmad Faisol #</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/" /><link rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>69</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><link rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/SemogaAllahMelembutkanHatiSemuaUmatIslam" type="application/atom+xml" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-7783776368507684343</id><published>2009-11-06T00:00:00.000+07:00</published><updated>2009-11-06T00:00:02.090+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="nikmat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="mendustakan nikmat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kekuasaan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="dusta" /><title type="text">Mendustakan Nikmat?!</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;M. Quraish Shihab menerangkan bahwa nikmat diartikan oleh sementara ulama sebagai “segala sesuatu yang berlebih dari modal.” Lalu, adakah manusia memiliki sesuatu sebagai modal? Jawabnya, “Tidak.” Bukankah hidupnya sendiri adalah anugerah Allah?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;&lt;br /&gt;هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِيْنٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُوْرًا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS al-Insân [76]: 1)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْياَكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS al-Baqarah [2]: 28)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua nikmat berasal dari Allah, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Memberi Nikmat &lt;em&gt;(Al-Mun‘im)&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS an-Na&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;l [16]: 53)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semua nikmat yang telah dianugerahkan Allah, kita ditanya oleh-Nya,&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;&lt;br /&gt;فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS ar-Ra&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;mân [55]: 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama menganalisis jumlah pengulangan ayat (31x) dan mengelompokkannya:&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat dalam kehidupan di dunia, antara lain nikmat pengajaran Al-Qur’an, pengajaran berekspresi, langit, bumi, matahari, lautan, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tujuh pertanyaan berkaitan dengan ancaman siksa neraka di akhirat nanti. Perlu diingat bahwa ancaman adalah bagian dari pemeliharaan dan pendidikan, serta merupakan salah satu nikmat Allah.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat yang diperoleh di surga pertama.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Delapan pertanyaan berhubungan dengan nikmat di surga kedua.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dari hasil tersebut, para ulama menyusun semacam “rumus”, yaitu siapa yang mampu mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang disebutkan dalam rangkaian delapan pertanyaan pertama—syukur seperti makna yang dikemukakan di atas—maka ia akan selamat dari ketujuh pintu neraka yang disebut dalam ancaman dalam tujuh pertanyaan berikutnya. Sekaligus dia dapat memilih pintu-pintu mana saja dari kedelapan pintu surga, baik surga pertama maupun surga kedua, baik surga (kenikmatan duniawi) maupun kenikmatan ukhrawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, repetisi pertanyaan di 31 ayat tersebut adalah renungan, nasihat dan peringatan bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kiranya jarang sekali bahkan mungkin tak ada di antara kita yang merasa diri telah mendustakan nikmat yang telah dianugerahkan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga terjadi, kita sudah merasa dan mengakui telah mendustakan nikmat Allah, namun hanya berupa tulisan dan perkataan, tak ada langkah kongkret yang kita lakukan 'tuk memperbaiki diri. Entah mengapa! Kondisi kita persis seperti sindiran umum, “Kalau cuma ngomong, anak TK pun bisa. Buktikan dong!” &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Mari kita perhatikan salah satu nikmat Allah, yaitu jantung. Detak jantung ditimbulkan oleh jantung itu sendiri, bukan bersandar kepada bagian tubuh lainnya. Itu kenapa, ketika kita tidur pun—saat banyak organ tubuh lainnya beristirahat—jantung tetap berdetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih memahami kehebatan anugerah Allah, mari kita buat jantung buatan. Dengan demikian, bila ada seseorang rusak jantungnya, cukup diganti dengan jantung buatan ini. Ada dua kelemahan jantung buatan ini, yaitu:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimana agar jantung tersebut terus berdetak? Disuplai saja dengan baterei seperti hand phone. Jika baterei habis, harus di-charge. Jika saat ini banyak terdapat hot spot, dengan jantung buatan ini harus ada charger spot di mana-mana. Bisa juga menggunakan sensor elektronik untuk mengontrol detak jantung dan juga aliran darah yang mengalir ke dalamnya, sebagaimana penemuan ilmuwan Perancis. Dengan konsep ini pun, sensor harus tetap diperhatikan sensitivitasnya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika hendak mendekati orang yang kita segani/cintai, degup jantung cenderung tetap; tak berubah. Tak ada rasa deg-degan, darah berdesir dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sub&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;anallâh. Betapa besar nikmat Allah kepada kita. Lantas, apa yang telah kita lakukan sebagai bukti bahwa kita tidak mendustakan nikmat jantung tersebut? Mari merenung sejenak!&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;. . . . . . .&lt;br /&gt;. . . . . . .&lt;br /&gt;. . . . . . .&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari dijelaskan bahwa آلاء bisa pula dimaknai “kekuasaan”. Berikut ini penjelasan di tafsir tersebut:&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;حدثني يونس، قال: أخبرنا ابن وهب، قال: قال ابن زيد في قوله: ( فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ) قال: الآلاء: القدرة، فبأيّ آلائه تكذّب خلقكم كذا وكذا، فبأيّ قُدرة الله تكذّبان أيها الثَّقَلان، الجنّ والإنس.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;Jadi, Allah mengajukan pertanyaan kepada kita, &lt;strong&gt;“Maka, kekuasaan Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adakah kita hendak mengingkari kekuasaan Allah?&lt;br /&gt;Adakah kita hendak melupakan kekuasaan Allah?&lt;br /&gt;Adakah kita hendak mengabaikan kekuasaan Allah?&lt;br /&gt;Adakah kita hendak meremehkan kekuasaan Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menjawab “Tidak,” mari periksa lagi apa saja yang kita kerjakan setiap hari. Benarkah jawaban kita sesuai dengan kenyataan? Mari kita rinci tiap 15 menit. Mengapa 15 menit? Karena kalau rentang waktu melebar, biasanya terlihat kegiatan kita padat sekali. Oleh karena itu, 15 menit adalah rentang waktu yang lebih fair dalam menilai kesibukan kita sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita catat, sedang apakah kita saat pukul:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;07:00 – 07:15&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;07:15 – 07:30&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;07:30 – 07:45&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;07:45 – 08:00&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;dan seterusnya sampai dengan pukul 07:00 hari berikutnya&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/strong&gt;Maktabah Syamilah &lt;em&gt;al-Ishdâr ats-Tsâniy&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1835872-mengapa-jantung-terus-berdetak/"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1835872-mengapa-jantung-terus-berdetak/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-7783776368507684343?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/7783776368507684343/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/11/mendustakan-nikmat.html#comment-form" title="3 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/7783776368507684343" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/7783776368507684343" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/11/mendustakan-nikmat.html" title="Mendustakan Nikmat?!" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-3850593275065570125</id><published>2009-10-30T00:00:00.006+07:00</published><updated>2009-10-30T00:01:32.605+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="setan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="jin" /><title type="text">Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (5 of 5)</title><content type="html">&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;b. Setan dari Golongan Jin&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setan jenis ini adalah setan yang tak tampak mata. Dijelaskan oleh para ulama bahwa di dunia ini kita tidak dapat melihat bangsa jin, sedangkan mereka bisa melihat kita. Kondisi ini akan berubah di akhirat kelak—kita tak tampak oleh mereka, sedangkan mereka tampak oleh penglihatan kita. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi atau tingkat pendidikan setan yang menggoda setiap manusia disesuaikan dengan orang yang akan digoda, minimal setara. Bukankah usia setan memang sangat panjang? Bisa ribuan tahun. Coba kita bandingkan dengan diri kita. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tentunya mereka sudah sedemikian lama belajar dan berlatih untuk menggoda anak cucu Nabi Adam as. Teknik menggelincirkan manusia, sejak manusia pertama sampai manusia modern mungkin telah mereka pelajari dengan baik. Bahkan, bisa jadi mereka telah mengembangkan semacam komputerisasi sehingga tercipta sejenis program 5 GL &lt;em&gt;(Fifth Generation Language)&lt;/em&gt; yang bisa di-&lt;em&gt;install&lt;/em&gt; di tubuh manusia. Dengan demikian, tugas mereka jadi lebih ringan. &lt;em&gt;Wallâhu a‘lam&lt;/em&gt;. Itulah &lt;em&gt;curriculum vitae&lt;/em&gt; atau profil musuh kita—musuh yang nyata—namun tak kasat mata.&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;إِنَّ الشَّيْطٰـنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا. إِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَـهُ ُ لِيَكُوْنـُوْا مِنْ أَصْحاَبِ السَّعِيْرِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS Fâthir [35] : 6)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS an-Nûr [24] : 21)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ibarat pengintai, setan adalah pengintai nomor satu. Ia dapat mengikuti kita ke mana pun kita pergi. Ia bisa berada di samping kita untuk memata-matai kita setiap saat. Karena ia tidak terlihat, maka ia bisa dengan leluasa mempelajari kelebihan dan kekurangan kita. Dengan santainya, seolah sedang menonton tayangan &lt;em&gt;reality show&lt;/em&gt; kehidupan kita, setan bisa menyusun strategi untuk menggoda kita tanpa takut ketahuan atau bocor, seperti bocornya soal-soal ujian para pelajar sekolah. Kalau dia ingin menyerang kita, dengan bebasnya dia memilih dari arah mana dia akan menyerang. Setan juga bisa mengalir seperti aliran darah, sebagaimana sabda Nabi saw. :&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِيْ مِنَ اْلِإنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya setan (dapat) mengalir di dalam diri manusia sebagaimana darah mengalir &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(HR Bukhari dan Muslim)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita sudah mengerti keadaanya seperti itu, apakah kita masih menyangka bahwa kita bisa melindungi diri sendiri dari setan? Karena musuh kita tidak tampak, maka kita harus berlindung dan memohon pertolongan kepada Yang bisa melihat dan mengetahui rahasia semua kelemahan musuh kita. Beliau adalah Allah Yang Maha Memelihara dan Menjaga &lt;em&gt;(Al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;afîzh)&lt;/em&gt;. Allah yang bersifat &lt;em&gt;&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;afîzh&lt;/em&gt;-lah yang memelihara kehidupan dari kehancuran, baik yang sifatnya perorangan maupun kelompok. Beliau (Allah) juga yang memelihara jiwa manusia dari rayuan dan godaan setan, dari sentakan kesedihan atau benturan malapetaka; dengan mengilhami kesabaran serta ketabahan, dan menggantinya dengan nikmat, ketenangan, juga kegembiraan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Allah memelihara manusia dengan petunjuk-petunjuk-Nya, baik berupa wahyu yang termaktub dalam kitab suci, maupun hidayah-Nya dalam bentuk ilham dan intuisi. Walhasil, beraneka ragamlah pemeliharaan Allah, juga mencakup segala wujud. Sebagai hamba, kita dituntut untuk meneladani sifat ini menurut pemeliharaan diri dari segala yang dapat membinasakannya; khususnya memelihara hati dari segala keburukan penyakit-penyakitnya, seperti dengki, hasud, riya’, kemunafikan dan sebagainya. Serta dituntut pula penciptaan pengawasan melekat pada diri kita, yang lahir dari kesadaran tentang kehadiran Allah dan kehadiran para malaikat-Nya (Raqib dan ‘Atid) bersama kita setiap saat. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dzun Nun Al-Mishri berkata, “Setan memang dapat melihat manusia dari arah yang manusia tidak dapat melihatnya. Sedangkan Allah dapat melihat makhluk-Nya, dari arah yang mereka tidak dapat melihat Allah. Hendaklah kalian selalu berlindung kepada Allah dari gangguan setan. Ketahuilah bahwa Allah itu bersifat Pemurah. Apabila manusia sudah tergoda oleh tipu daya setan, Allah tetap menerima taubat dan istighfar hamba-hamba-Nya.”&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Athaillah mengingatkan, “Jikalau kamu sudah tahu bahwa setan itu tidak pernah lupa kepadamu, maka janganlah kamu lupa kepada Allah, yang nasibmu ada di dalam kekuasaan-Nya.”&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan beriman, berlindung dan memohon pertolongan pada Allah, maka kita bisa mengusir setan. Dengan demikian, selamatlah kita dari godaannya yang tak kenal henti ia lakukan.&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;إِنَّهُ ُ لَيْسَ لَهُ ُ سُلْطـٰنٌ عَلَى ٱلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَعَلىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS an-Nahl [16] : 99)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;إِنَّمَا سُلْـٰطـنُهُ ُ عَلَى ٱلَّذِيْنَ يَتَوَلَّوْ نَهُ ُ وَٱلَّذِيْنَ هُمْ بِه ٰ مُشْرِكُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya kekuasannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya sebagai pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(QS an-Na&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;l [16] : 100)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Aisyah ra. bahwa Nabi saw. bersabda :&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;إِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْتِيْ أَحَدَكُمْ فَيَقُوْلُ : مَنْ خَلَقَكَ؟ فَيَقُوْلُ : اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَيَقُوْلُ : مَنْ خَلَقَ اللهَ ؟ فَإِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ ذَلِكَ فَلْيَقُلْ : أَمَنْتُ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُذْهِبُ عَنْهُ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang di antara kamu, lalu bertanya, “Siapa yang menciptakanmu?” Ia menjawab, “Allah Yang Maha Tinggi.”’ Setan bertanya lagi, “Siapakah yang menciptakan Allah?” Apabila salah seorang di antara kalian menghadapi hal itu, maka katakanlah, “Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Sesungguhnya perkataan itu dapat mengusirnya.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Ahmad, al-Bazzar, Abu Ya‘la, Bukhari dan Muslim)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Wasi‘ membaca doa setiap hari selepas menunaikan shalat Subuh, &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, Engkau jadikan bagi kami musuh yang sangat mengetahui kekurangan-kekurangan kami. Dia dan pasukannya dapat melihat kami, sedangkan kami tidak melihat mereka. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, buatlah dia pesimis dari kami sebagaimana Engkau telah membuatnya pesimis dari rahmat-Mu. Buatlah dia berputus asa dari kami sebagaimana Engkau telah membuatnya putus asa dari ampunan-Mu. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, jauhkanlah antara kami dan dia sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara dia dan rahmat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hazm bertanya, “Siapakah setan itu? Mengapa ia ditakuti? Demi Allah, setan itu memang sudah pernah diikuti, akan tetapi mengikutinya sama sekali tidak berguna. Setan juga tidak mampu memberi apa pun.” Sementara itu, Abu Sulaiman ad-Darani berkata, “Tidak ada makhluk yang lebih rendah dari setan.”&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Agar selalu dalam penjagaan-Nya, marilah kita bersama-sama bermunajat kepada Allah :&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;اللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِيْ وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَاِليْ وَمِنْ فَوْقِيْ وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, peliharalah hamba di hadapan dan belakang hamba, di kanan dan kiri hamba, demikan pula dari arah atas hamba. Hamba berlindung dengan keagungan-Mu, sehingga hamba tidak diperdaya dari arah bawah hamba, amin.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf &lt;em&gt;(Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)&lt;/em&gt;”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maktabah Syamilah &lt;em&gt;al-Ishdâr ats-Tsâlits&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;usnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan ini lanjutan dari : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari_23.html"&gt;Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (4 of 5)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-3850593275065570125?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/3850593275065570125/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari_30.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/3850593275065570125" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/3850593275065570125" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari_30.html" title="Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (5 of 5)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-7797478252528406240</id><published>2009-10-23T00:00:00.007+07:00</published><updated>2009-10-30T10:11:32.823+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="minuman keras" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ghibah" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="menggunjing" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="khamar" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="narkoba" /><title type="text">Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (4 of 5)</title><content type="html">&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Tentang minuman keras, Allah memerintahkan kita sebagai hamba-Nya untuk tidak meminum khamr dan perbuatan durhaka lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib (dengan panah) adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS al-Mâidah [5] : 90)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita ingat kembali larangan pemimpin kita, Rasulullah saw. tentang minuman yang memabukkan, termasuk di dalamnya adalah narkoba. Khamr terambil dari kata &lt;em&gt;“khamara”&lt;/em&gt; yang menurut pengertian kebahasaan adalah “menutup”. Karena itu, makanan dan minuman yang dapat mengantar kepada tertutupnya akal disebut juga khamr. Semua itu adalah &lt;em&gt;ummu al-khabâits&lt;/em&gt; (biang keburukan), yang akan membawa kita melakukan yang dilarang agama.&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;كُلُّ مُسْـكِرٍ حَرَامٌ وَكُلُّ مُسْـكِرٍ خَمْرٌ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Semua yang memabukkan adalah haram, dan semua yang memabukkan adalah khamr.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Muslim melalui Ibnu Umar)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;مَا أَسْـكَرَ كَثِيْرُهُ فَقَلِـيْلُهُ حَرَامٌ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sesuatu yang memabukkan bila banyak, maka sedikit pun tetap haram.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(HR Abu Daud, Tirmidzi dan an-Nasa’i dari Jabir bin Abdullah)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;لَعَنَ اللهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُوْلَةَ إِلَيْهِ وَاۤكِلَ ثَمَنِهَا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Allah melaknat siapa yang meminum khamr (arak), menuangkannya untuk orang lain, menjual, membeli (atau membelikan untuk orang lain dengan uang milik orang yang menyuruh), membuat (memproduksi), minta dibuatkan, membawa, dibawakan dan yang memakan harganya (menadahnya).&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Abu Daud dan Hakim)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;الْخَمْرُ أُمُّ الْخَبَائِثِ فَمَنْ شَرِبَهَا لَمْ تُقْبَلْ صَلاَتُهُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا فَإِنْ مَاتَ وَهِيَ فِيْ بَطْنِهِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِـيَّةً&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Khamr adalah biang keburukan. Siapa meminumnya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. Siapa meninggal sedangkan di dalam perutnya masih mengandung arak, maka dia mati dalam keadaan Jahiliyah.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Thabrani)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain, Nabi saw. bersabda :&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ وَسَكِرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا&lt;br /&gt;وَإِنْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ فَإِنْ تَابَ تَابَ اللهُ عَلَيْهِ&lt;br /&gt;وَإِنْ عَادَ فَشَرِبَ فَسَكِرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا&lt;br /&gt;فَإِنْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ فَإِنْ تَابَ تَابَ اللهُ عَلَيْهِ&lt;br /&gt;وَإِنْ عَادَ فَشَرِبَ فَسَكِرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا&lt;br /&gt;فَإِنْ مَاتَ دَخَلَ النَّارَ فَإِنْ تَابَ تَابَ اللهُ عَلَيْهِ&lt;br /&gt;وَإِنْ عَادَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ رَدَغَةِ الْخَبَالِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Siapa yang minum arak hingga mabuk, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.&lt;br /&gt;Jika ia mati (sedangkan di dalam perutnya masih mengandung arak), akan masuk neraka. Dan jika ia bertaubat, maka Allah menerima taubatnya.&lt;br /&gt;Jika ia kembali minum hingga mabuk lagi, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.&lt;br /&gt;Jika ia mati, akan masuk neraka. Jika ia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya.&lt;br /&gt;Jika ia kembali minum hingga mabuk lagi, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.&lt;br /&gt;Jika ia mati, akan masuk neraka. Jika ia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya.&lt;br /&gt;Jika ia kembali lagi mabuk, maka sungguh Allah akan menuangkan padanya radghah al-khabal (keringat ahli neraka).&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Ibnu Majah)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;إِنَّ مَلِكًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ أَخَذَ رَجُلا فَخَيَّرَهُ بَيْنَ أَنْ يَشْرَبَ الْخَمْرَ، أَوْ يَقْتُلَ صَبِيًّا، أَوْ يَزْنِيَ، أَوْ يَأْكُلَ لَحْمَ الْخِنْزِيْرِ، أَوْ يَقْتُلُوْهُ إِنْ أَبىَ، فَاخْتَارَ أَنَّهُ يَشْرَبُ الْخَمْرَ، وَأَنَّهُ لَمَّا شَرِبَ لَمْ يَمْتَنِعْ مِنْ شَيْئٍ أَراَدُوْهُ مِنْهُ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Seorang pemimpin Bani Israel memanggil seorang lelaki. Ia memberinya pilihan antara minum khamr, membunuh anak lelaki atau memakan daging. Atau orang-orang akan membunuhnya jika ia mengabaikan pilihan itu. Lelaki itu untuk meminum khamr. Selesai ia minum khamr, hal itu ternyata tidak menghalangi sesuatu yang mereka inginkan darinya (ia melakukan semua yang tadi diminta).&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Thabrani)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Allah juga telah melarang kita untuk tolong-menolong dalam bermaksiat kepada-Nya.&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;وَتَعَاوَنُوْا عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوٰى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى ٱْلإِثْمِ وَٱلْعُدْوَانِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS al-Mâidah [5] : 2)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berkumpul dengan orang-orang yang senantiasa melakukan hal yang dilarang agama akan membuat kita secara tak sadar ikut serta di dalamnya, misalnya menggunjing (ghibah). Bagi mereka, menggunjing orang lain ibarat bumbu dapur agar percakapan di antara mereka lebih lama dan lebih seru. Menurut mereka, menggunjing bukanlah sebuah kejahatan, apalagi berdosa. Namun, mereka tidak sadar bahwa lama-kelamaan, sebuah gunjingan akan menyebabkan buruk sangka terhadap orang lain. Mereka akan menyalahkan orang lain atas nasib jelek yang menimpa mereka. Mereka merasa lebih pantas mendapatkan semuanya dibandingkan orang lain. Mereka pun tak segan membuka aib orang lain, termasuk saudara sesama muslim. Bahkan, mereka menjadikan aib sesama sebagai bahan tertawaan. Mereka senang melihat orang lain jatuh dan terpuruk.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tentang larangan menggunjing, mari kita baca lagi tulisan &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/01/membicarakan-orangkelompok-lain.html"&gt;Membicarakan Orang/Kelompok Lain, Kebiasaan Kitakah? (1 of 2)&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memohon pertolongan Allah untuk menjaga diri kita setiap saat. Ketika kemaksiatan di depan mata, bukan hanya akal yang bicara, hawa nafsu pun akan berujar. Banyak orang berakal, namun mengapa banyak pula yang dikalahkan oleh hawa nafsu? Hanya dengan pertolongan Allah-lah kita bisa mengendalikan nafsu kita, agar menjadi nafsu yang mendapat rahmat-Nya; dan tergolong dalam nafsu yang dipanggil untuk menghadap-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai. Labid mengingatkan kita dalam bait syairnya :&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;Dustakanlah nafsu jika kamu berbicara dengannya &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Sebab membenarkan nafsu hanya akan melambungkan angan &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Agar senantiasa dibantu oleh-Nya, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah, sebagaimana doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. :&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;اللَّهُمَّ لاَتَكِلْنِيْ إِلىَ نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, jangan Engkau biarkan hamba sendiri (dengan pertimbangan nafsu akal hamba saja), walau sekejap, amin.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni &lt;em&gt;(Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)&lt;/em&gt;”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Al-Mundziri, al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;âfizh, &lt;em&gt;“At-Targhîb wat-Tarhîb”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibnu Hazm al-Andalusi, “Di Bawah Naungan Cinta &lt;em&gt;(Thawqul &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;amâmah)&lt;/em&gt; – Bagaimana Membangun Puja Puji Cinta Untuk Mengukuhkan Jiwa”, Penerbit Republika, Cetakan V : Maret 2007&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maktabah Syamilah &lt;em&gt;al-Ishdâr ats-Tsâniy&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan ini lanjutan dari : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari_16.html"&gt;Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (3 of 5)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini berlanjut ke : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari_30.html"&gt;Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (5 of 5)&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-7797478252528406240?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/7797478252528406240/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari_23.html#comment-form" title="8 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/7797478252528406240" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/7797478252528406240" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari_23.html" title="Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (4 of 5)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-4595206668046711488</id><published>2009-10-16T00:00:00.003+07:00</published><updated>2009-10-23T12:35:16.838+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="usia" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="umur" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="manfaat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="waktu" /><title type="text">Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (3 of 5)</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Modal seorang hamba adalah waktunya. Ia dapat menguntungkan dan membahagiakan, dapat pula merugikan dan menyusahkan. Jika kita menggunakan waktu kepada sesuatu yang tidak bermanfaat dan tidak menggunakan waktu untuk memperoleh pahala di akhirat, maka sungguh kita telah menyia-nyiakan modal kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Waktu laksana emas, jangan sampai hilang begitu saja. Sang waktu datang dan pergi setiap saat, dan dalam setiap tarikan nafas. Ia berada pada langkah manusia, pada setiap gerakan dan detak-detak nadi. Lenyapnya waktu berarti lenyap pula kesempatan. Tiada terasa saat sang waktu sedang bersama kita, dan tiada terasa pula ketika ia berangsur habis. Jangan sampai waktu yang didapatkan hanyalah ibarat air yang disiramkan ke atas pasir panas. Airnya menguap, sementara pasirnya tidak basah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Athaillah mengatakan, “Apa yang telah hilang dari usiamu tidak dapat diganti lagi. Apa yang telah engkau hasilkan dari usiamu haruslah hal yang tak ternilai harganya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di buku “Membangun Dunia Baru Islam &lt;em&gt;(Syuruth an-Nahdhah)&lt;/em&gt;”, Malik bin Nabi menulis, “Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota dan desa; membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu—selain Tuhan—tidak akan mampu melepaskan diri darinya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan yang menunjukkan pentingnya waktu juga dicantumkan dalam sebuah pepatah Arab :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;الْوَقْتُ كَالسَّـيْفِ إِنْ لَمْ تَقْطَـعْهُ قَطَعَكَ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Waktu ibarat pedang. Jika engkau tidak memotongnya, niscaya ia memotongmu.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pedang yang mampu memenggal, maka begitu pula dengan waktu. Dengan “keberlaluan”, waktu adalah kepastian. Dengan “sedang” atau “yang akan datang”, waktu mengalahkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mata pedang itu amat lembut dan tajam. Keberadaannya memiliki fungsi ganda. Jika kita memperlakukannya secara lembut, kita akan selamat. Dan jika sebaliknya yang terjadi, ia akan tercerabut dari akarnya. Demikian pula dengan waktu. Bagi kita yang patuh pada hukum waktu, maka kita akan selamat. Bagi kita yang menentangnya, maka waktu akan berbalik menjadi bumerang dan melemparkan pemiliknya. Janganlah kita mengisi waktu dengan hal-hal yang tiada guna.&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالاَ يَعْـنِيْهِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Diantara (tanda) baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Tirmidzi)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khaththab ra. memberi nasihat, “Jangan lakukan sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu, hindari musuhmu, hati-hati terhadap teman dari suatu golongan kecuali orang yang dipercaya, dan tidak ada yang bisa dipercaya kecuali orang yang takut kepada Allah. Jangan berteman dengan orang jahat sehingga engkau belajar dari kejahatannya, jangan engkau beberkan rahasiamu kepadanya, dan bermusyawarahlah dengan orang-orang yang takut kepada Allah dalam segala urusanmu.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Atha’ bin Abu Rabah berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu tidak menyukai berlebihan dalam berbicara. Adapun yang mereka anggap sebagai kata-kata berlebihan adalah selain Kitabullah (Al-Qur’an), sunnah Rasulullah, amar ma‘ruf nahi munkar (menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran), atau ucapan yang mesti dikatakan demi kebutuhan hidup.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita mengingkari adanya dua malaikat penjaga (Raqib dan ‘Atid) di sebelah kanan dan kiri yang menulis apa yang kita ucapkan dan lakukan? Apakah kita tidak malu jika kelak kebanyakan catatan yang ditulis dalam buku amal kita adalah hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kemaslahatan agama dan dunia kita?&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;مَايَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَـتِيْدٌ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS Qâf [50] : 18)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana lazimnya, kejahatan lebih cepat menular dibandingkan kebaikan. Itulah kecenderungan hawa nafsu. Jika teman-teman kita adalah orang-orang yang tidak memuliakan, mula-mula memang kita hanya jadi penonton. Berikutnya kita diajak tapi dalam hal yang ringan, misalnya membelikan minuman keras bila mereka suka mabuk, tapi kita tidak disuruh meminumnya. Selanjutnya kita akan diajak serta untuk mencicipinya. Jika kita menolak, yang dikuatirkan adalah mereka akan mengejek dan mencemooh kita karena tidak mengikuti kemauan mereka. Kita akan dikucilkan, dianggap pengecut, tidak gaul, kuno, katrok, ndeso, udik, sok suci, tidak setia kawan atau hasutan dan ancaman lainnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, bila seseorang sudah disinggung ketidakmampuannya atau merasa tidak diterima keberadaannya, maka dia akan mengikuti apa pun syarat yang diajukan agar semua hinaan, cemoohan dan tuduhan terhadapnya terhapus. Hal itu terjadi karena timbul kekuatiran menjadi seperti sehelai daun kering yang jatuh dari pohon di seberang jalan, tak ada yang memperhatikan apalagi peduli; atau laksana secuil pecahan kaca di jalanan yang selalu dihindari bahkan disingkirkan orang. Ada ketakutan eksistensi diri dinafikan, seperti kata pepatah,&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;وُجُوْدُهُ كَعَدَمِهِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Keberadaanya sama dengan tidak ada.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Nasi yang sudah menjadi bubur masih bisa dimakan, asalkan lauknya sesuai. Tetapi, jika kita sudah bergelimang dosa dan terjerumus dalam aktivitas yang tidak memuliakan, sanggupkah kita berjuang dengan semangat membara untuk keluar dari situasi itu? Padahal, ketika perjuangan masih ringan saja kita tidak mampu melakukannya. Oleh karena itu, mencegah harus tetap diutamakan. Mario Teguh menasihatkan bahwa tidak ada seorang kaisar pun yang cukup berkuasa untuk mengubah suatu kejadian atau peristiwa dalam rentang waktu yang disebut “tadi”.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Duhai jiwa!&lt;br /&gt;Ayo bangkit dan siapkan dirimu tuk hari depan&lt;br /&gt;Hindari nafsu yang membuatmu lupa daratan&lt;br /&gt;Ayo bergegas menuju keselamatan&lt;br /&gt;Ayo berjuang, berjuang, dan berjuang&lt;br /&gt;Agar kau selamat dari azab yang membinasakan&lt;br /&gt;Raih kemenangan hakiki di negeri keabadian&lt;br /&gt;Selamatkan dirimu dari api yang menyengsarakan&lt;br /&gt;(nasihat Ibnu Hazm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf &lt;em&gt;(Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)&lt;/em&gt;”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419 &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni &lt;em&gt;(Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)&lt;/em&gt;”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibnu Hazm al-Andalusi, “Di Bawah Naungan Cinta &lt;em&gt;(Thawqul &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;amâmah)&lt;/em&gt; – Bagaimana Membangun Puja Puji Cinta Untuk Mengukuhkan Jiwa”, Penerbit Republika, Cetakan V : Maret 2007&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan ini lanjutan dari : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari_09.html"&gt;Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (2 of 5)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini berlanjut ke : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari_23.html"&gt;Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (4 of 5)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...# &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-4595206668046711488?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/4595206668046711488/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari_16.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/4595206668046711488" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/4595206668046711488" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari_16.html" title="Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (3 of 5)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-8556897973360999364</id><published>2009-10-09T00:00:00.004+07:00</published><updated>2009-10-16T13:30:36.490+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kawan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="teman" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sahabat" /><title type="text">Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (2 of 5)</title><content type="html">&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;a. Setan dari Golongan Manusia&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memilih teman sangat dianjurkan. Bergaul dengan orang-orang baik dan shaleh, sungguh diperintahkan. Orang-orang shaleh mempunyai sifat seperti seekor lebah, makan dari makanan yang baik dan menghasilkan madu yang baik pula. Bila hinggap pada setangkai bunga, ia tidak pernah merusaknya. Kelembutan tutur kata, senyuman tulus di bibir, dan sapaan-sapaan hangat yang terpuji saat bersua merupakan hiasan yang selalu dikenakan orang-orang mulia.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita akan bertanya, “Apakah kita tidak boleh berkawan dengan orang-orang yang notabene banyak berbuat dosa? Apakah itu tidak berarti kita pilih-pilih dalam berteman? Bukankah semakin banyak teman semakin bagus?”&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bila kita termasuk orang yang kuat iman, teguh pendirian, kokoh jiwa dan hati serta hebat pengaruhnya, maka boleh saja berteman dengan orang yang tidak taat dan selalu bermaksiat kepada Allah. Tentunya dengan harapan agar kita bisa membawa mereka ke arah kebaikan atau untuk diambil pelajarannya. Minimal, kita tidak terpengaruh oleh hal-hal negatif. Seorang bijak bestari berkata, “Aku mengetahui kejahatan bukan untuk melakukan kejahatan itu, tapi untuk menghindarinya. Siapa tidak mengetahui kejahatan, maka ia akan terjatuh ke dalamnya.”&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika kita adalah manusia biasa, yang hatinya terbolak-balik setiap saat, mudah dipengaruhi atau dipaksa—ibarat sehelai bulu ,jatuh di padang luas yang kosong, dihempas angin ke kanan dan ke kiri—maka pencegahan lebih baik daripada pengobatan.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(QS an-Nisâ’ [4] : 69)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْهُ شَيْئٌ أَصَابَكَ رِيْحُهُ وَمَثَلُ الْجَلِيْسِ السُّـوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْكِيْرِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ شَيْئٌ مِنْ شَرَرِهِ أَصَابَكَ مِنْ دُخَانِهِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Perumpamaan teman yang shaleh itu seperti pemilik minyak misik (minyak wangi). Kalau toh minyak itu tidak mengenai kamu sedikit pun, maka engkau terkena bau harumnya. Dan teman yang jelek/jahat itu seperti pemilik alat pandai besi, kalau toh percikan apinya tidak mengenai kamu, maka kamu terkena sebagian asapnya.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Abu Daud)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dalam riwayat lain, Rasulullah saw. bersabda dengan matan (kandungan isi) yang senada :&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَجَلِيْسِ السُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يَحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا مُنْـتِنَةً&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya perumpamaan berteman dengan orang yang baik dan dengan orang yang buruk adalah seperti berteman dengan penjual parfum dan peniup api pada pandai besi. Jika kamu berteman dengan penjual parfum, maka boleh jadi kamu diolesi parfum atau minimal mendapatkan bau harum darinya. Adapun jika kamu berteman dengan peniup api, maka boleh jadi bajumu terbakar atau kamu mendapatkan bau yang tidak sedap.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Bukhari dan Muslim)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Seseorang mengikuti agama kawannya. Karena itu, lihatlah olehmu siapakah yang menjadi kawannya.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Abu Daud dan Tirmidzi)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ النَّاسِ؟ قَالُوْا : بَلَى يَارَسُوْلَ اللهِ، قَالَ : مَنْ تُذَكِّرُكُمْ رُؤْيَتُـهُ بِاللهِ عَزَّوَجَلَّ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Maukah kalian kukabari tentang orang yang paling baik? Sahabat menjawab, “Tentu, ya Rasulullah.” Beliau lalu berkata, “Yaitu seseorang yang jika engkau melihatnya, ia akan mengingatkan engkau kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Ibnu Majah)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Athaillah berpesan, “Janganlah kalian bersahabat dengan orang yang tidak membangkitkan semangat beribadah, serta ucapan yang tidak membawa kalian mendekati Allah. Apabila kalian berbuat salah, ia akan mengatakan bahwa itu kebaikan, sebab kalian bersahabat dengan orang yang perilakunya lebih jelek daripada diri kalian sendiri.”&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya persahabatan memengaruhi hidup manusia. Memilih pergaulan sebagai cara memperbagus persahabatan sama pentingnya seperti memilih makanan yang cocok dengan selera, juga makanan yang dapat memberi manfaat bagi kesehatan. Sebaik-baik orang yang bersahabat ialah mereka yang berjumpa karena Allah dan apabila berpisah juga karena Allah. Jangan sampai sahabat kita akan menenggelamkan diri kita sendiri, karena harus mengikuti kemauannya tanpa mengetahui tujuan dan arah yang jelas serta bermanfaat. Bersahabat dengan orang yang tidak memuliakan ibarat memenuhi hati dengan polusi nafas sehingga hati menjadi hitam pekat dan beban berat bagi jiwa.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai motivator, Mario Teguh menasihatkan bahwa mencari teman memang harus memilih. Dari kata “mencari”, sudah tersirat dan tersurat adanya aktivitas pemilihan. Misal, kita mencari permata yang hilang di sebuah gundukan pasir, apakah kita tidak memilih? Tidak mungkin setiap pasir kita masukkan ke dalam kotak perhiasan. Hanya yang benar-benar permatalah yang akan kita simpan. Dengan demikian, mencari adalah memilih. Mencari teman berarti memilih teman. Kalau tidak memilih, itu bukanlah mencari, tapi menemukan. Menemukan teman berarti kita tidak memilih, tiba-tiba saja bertemu. Semakin jelaslah perbedaan antara mencari teman dan menemukan teman.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf &lt;em&gt;(Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)&lt;/em&gt;”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419 &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni &lt;em&gt;(Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)&lt;/em&gt;”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Salim Bahreisy, “Tarjamah &lt;em&gt;Al-lu’lu’ wal-Marjân&lt;/em&gt; (karya Syaikh Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi) – Himpunan Hadits Shahih Yang Disepakati Oleh Bukhari dan Muslim – Jilid 1 dan 2”, PT Bina Ilmu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan ini lanjutan dari : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari.html"&gt;Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (1 of 5)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini berlanjut ke : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari_16.html"&gt;Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (3 of 5)&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-8556897973360999364?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/8556897973360999364/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari_09.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/8556897973360999364" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/8556897973360999364" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari_09.html" title="Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (2 of 5)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-4740136676079844055</id><published>2009-10-02T00:00:00.002+07:00</published><updated>2009-10-09T08:37:33.408+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="nasihat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="manusia" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="setan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pergaulan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="jin" /><title type="text">Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (1 of 5)</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Apabila kita masih bersatus pelajar atau mahasiswa, kita akan seringkali menerima nasihat dari orang yang lebih tua khususnya orang tua kita. Salah satu nasihat yang sering kita dengar adalah, “Hati-hati, jangan salah pergaulan. Jangan sampai terjerumus ke noda hitam, pergaulan bebas atau pemakaian narkoba.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita akan mengomel bila menerima nasihat seperti itu, “Saya sudah besar, Pak. Saya sudah dewasa, bisa menjaga diri sendiri. Bapak jangan terus menasihati seperti itu. Itu artinya Bapak tidak percaya pada saya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika kita adalah orang yang sudah berumur, apalagi sudah lanjut usia, biasanya kita malah menolak mentah-mentah bila ada nasihat yang dialamatkan pada kita. Kita akan berkata, “Saya ini sudah berumur, sudah banyak makan asam garam kehidupan. Saya sudah sangat mengerti antara benar dan salah, baik dan buruk. Tidak selayaknya saya dinasihati. Saya lebih bisa menjaga diri saya dibandingkan orang lain menjaga diri mereka masing-masing. Apalagi dibandingkan orang yang lebih muda dari saya, saya lebih tahu pahit getirnya hidup. Justru sayalah yang pantas menasihati orang lain, bukan sebaliknya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memang, dalam hidup ini kita seringkali hanya memandang hal-hal yang tampak. Kita sering melupakan bahwa hawa nafsu mempunyai kecenderungan ke arah ketidakbaikan, kecuali nafsu yang mendapat rahmat dari Allah. Kita juga sering mengabaikan peranan setan dalam kehidupan sehari-hari. Alhasil, kita selalu merasa bisa menjaga diri sendiri karena kepandaian, kecerdasan, ilmu dan pengalaman kita. Benarkah kita menjaga diri sendiri dari setan? Apakah bukan Allah yang menjaga kita? Lalu, buat apa kita membaca &lt;em&gt;ta‘awwudz&lt;/em&gt; untuk memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk? Apakah itu hanya sekadar ikut-ikutan saja? Atau sebuah ritual tanpa makna? Mari kita perhatikan cerita pengantar berikut ini untuk memahami yang akan kita bahas. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di dunia persilatan, tersebutlah seorang pendekar, Si Tangan Seribu—murid tertua Begawan Senomaya. Ia dijuluki demikan karena mempunyai pukulan mega dahsyat, yaitu Sasra Baja. Yang terkena pukulan ini, laksana diserang seribu tangan; sedahsyat ditimpa seribu gunung runtuh bersamaan. Ia juga menguasai tendangan secepat halilintar dengan julukan Tendangan Tanpa Bayangan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari datanglah seorang pendekar hendak “mengadu ke ujung penjahit,” menjajal kemampuan masing-masing pihak. Pendekar ini mempunyai julukan Jaka Geledek. Ia menguasai dua jurus pilih tanding, yaitu Rengkah Gunung dan Naga Angkasa. Rengkah Gunung adalah ilmu langka yang hampir punah. Hanya pewaris Panembahan Sokadarma yang memilikinya. Dengan ilmu itu, sekali pukul, sasaran akan serasa dihantam ombak raksasa yang sangat hebat, setara dengan tsunami. Adapun Naga Angkasa merupakan gabungan gerakan tangan dan tendangan kaki yang menari-nari dengan indahnya di angkasa raya. Bila ilmu ini dipraktekkan, pemiliknya seolah bisa terbang selincah rajawali, namun dengan serangan segarang naga.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, mereka berdua bertarung untuk menentukan siapa pendekar sejati, tokoh yang paling dihormati dunia persilatan. Semacam kejuaraan nasional antar pendekar, namun tak resmi. Rengkah Gunung bertemu Sasra Baja. Ketika kedua ilmu itu beradu, benturan dahsyat pun tak terelakkan, bagai mendengar suara ratusan meriam ditembakkan secara serentak. Namun, tak ada yang jatuh. Keduanya hanya terhuyung beberapa saat, setelah itu mereka sudah berdiri dengan kuda-kuda kokoh. Ternyata penguasaan ilmu masing-masing sudah sempurna. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga tatkala Si Tangan Seribu melancarkan tendangan yang sudah terkenal seantero jagad persilatan, Tendangan Tanpa Bayangan. Sebelumnya, tak ada satu pendekar pun bisa menghindar darinya. Tendangan ini benar-benar melebihi kecepatan suara, bahkan secara hiperbolik bisa dikatakan setara dengan kecepatan kilat. Namun, Jaka Geledek bukanlah pendekar ingusan. Naga Angkasa, salah satu dari dua ilmu tertinggi yang dia warisi dari gurunya adalah jurus tanpa tanding. Dengan kecepatan naga terbang, Jaka Geledek bisa menghindar dengan cantik dari tendangan Si Tangan Seribu. Mereka pun menari-nari di udara, bak dua ekor elang sedang berlatih bersama. Lama sekali pertarungan itu terjadi, namun belum ada tanda-tanda siapa yang akan mengembangkan senyum tanda kemenangan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mendadak pertarungan terhenti. Si Tangan Seribu meloncat mundur tujuh langkah. Betapa kaget Jaka Geledek melihat ancang-ancang yang dilakukan lawan tandingnya. Dengan duduk bersila khidmat, Si Tangan Seribu mengatur nafasnya dengan pernafasan segitiga sama kaki dan berkonsentrasi penuh. Jaka Geledek merasa di atas angin. Ia berencana menyerang Si Tangan Seribu saat itu juga. Namun, keberuntungan seolah tak berpihak padanya. Ketika dia melayangkan pukulan Rengkah Gunung ke arah lawan tarungnya, Si Tangan Seribu seolah lenyap ditelan angin, tak tampak mata. Dia benar-benar menghilang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba sebuah pukulan dahsyat menghantam dada Jaka Geledek, membuatnya terhuyung-huyung beberapa depa ke belakang. Pukulan demi pukulan diterimanya tanpa tahu siapa pelakunya. Sebagai selingan, kadang-kadang dia juga harus menerima dengan pasrah sebuah tendangan yang terasa seperti dihujani puluhan anak panah. Tak tahu harus berbuat apa, Jaka Geledek pun memukul dan menendang sekenanya. Si Tangan Seribu benar-benar tak kasat mata. Dengan ilmu menghilangnya, ia sangat leluasa melancarkan serangan tanpa perlawanan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Walaupun cerita tersebut tidak penulis lanjutkan, penulis yakin kita sepakat tentang siapa yang akan memenangkan pertandingan perebutan gelar juara ini. Kita pasti akan menjagokan Si Tangan Seribu, karena dengan kesaktian sepadan, dia memiliki kelebihan lain, yaitu ilmu menghilang, yang membuat lawan tandingnya tak tahu lagi keberadaannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setan, hakikatnya adalah setiap perbuatan mungkar. Setan bisa dari golongan manusia maupun jin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS al-An‘âm [6] : 112)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Katakanlah, “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.&lt;br /&gt;Raja manusia.&lt;br /&gt;Sembahan manusia.&lt;br /&gt;Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi,&lt;br /&gt;yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,&lt;br /&gt;dari (golongan) jin dan manusia.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS an-Nâs [114] : 1-6)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aditya Bagus Pratama, “5079 Peribahasa Indonesia”, Pustaka Media, Cetakan II, 2004&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini berlanjut ke : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari_09.html"&gt;Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (2 of 5)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-4740136676079844055?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/4740136676079844055/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/4740136676079844055" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/4740136676079844055" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/10/kita-yang-menjaga-diri-sendiri-dari.html" title="Kita Yang Menjaga Diri Sendiri dari Setan? (1 of 5)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-8114187055571173605</id><published>2009-09-25T00:00:00.019+07:00</published><updated>2009-09-28T13:20:04.415+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tertipu" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="renungan idul fitri" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="peningkatan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kuantitas" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ibadah" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="beruntung" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="syawal" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kualitas" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="idul fitri" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ketulusan" /><title type="text">Renungan Idul Fitri : Antara Ketulusan, Tradisi dan Basa-Basi (2 of 2)</title><content type="html">&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Ketulusan adalah bahasa kalbu yang tertanam (ter-&lt;em&gt;install&lt;/em&gt;) dalam fitrah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketulusan adalah bahasa universal yang dapat menembus batas gender, usia, suku dan wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketulusan adalah bahasa yang bisa dimengerti orang awam, dipahami cerdik cendekia, didengar si tuna rungu, dilihat sang tuna netra dan dirasakan setiap jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketulusan adalah hiasan indah, namun beribu sayang kita sering membuang serta mengabaikannya seolah sepatu usang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketulusan tak kan lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas, dan tak kan menua karena usia zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketulusan itu sejernih tetes embun, sehangat dekapan ibu, seindah lukisan alam dan seharum wewangian surga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;&lt;p align="right"&gt;إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللهِ لاَ نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلاَ شُكُوْرًا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS al-Insân [76] : 9)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak peduli dengan jatuhnya gengsi, permintaan maaf harus kita haturkan bila memang kita bersalah, tanpa perlu berbelit-belit membuat argumentasi pembenaran perilaku diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak peduli apa pun sikap orang lain—apakah mereka minta maaf atau tidak—pemberian maaf seharusnya kita curahkan kepada siapa pun. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa sepanjang penelitiannya, beliau tidak pernah menemukan dalam Al-Qur’an perintah meminta maaf. Ayat-ayat yang ditemukan adalah perintah atau permohonan agar memberikan maaf.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS. al-A‘râf [7]: 199)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiadaan perintah meminta maaf, bukan berarti yang bersalah tidak diperintahkan meminta maaf, bahkan ia wajib memintanya, tetapi yang lebih perlu adalah menuntun manusia agar berbudi luhur sehingga tidak menunggu atau membiarkan yang bersalah datang mengeruhkan air mukanya dengan suatu permintaan—walaupun permintaan itu adalah pemaafan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak peduli apa pun perbuatan orang terhadap kita setelah lebaran, perbaikan diri harus kita lakukan dengan mengabaikan persepsi keliru yang berkembang di tengah masyarakat, yaitu “Setelah meminta dan memberi maaf berarti 0-0 sehingga sesudah Idul Fitri saatnya berbuat dosa lagi. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idul Fitri hakekatnya sebuah rangkaian peristiwa dan waktu dalam perjalanan kita menuju Allah. Adakah kita hendak mengisi perjalanan tersebut dengan permainan-permainan (sesuatu) yang tidak diridhai Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idul Fitri hakekatnya sebuah momen bagi setiap muslim untuk meningkatkan amal dan ibadah, bukan malah bersantai-santai dengan dalih menikmati masa rehat setelah berbagai aktivitas ibadah Ramadhan. Hal ini selaras dengan nama bulan saat Idul Fitri, yaitu Syawal (dalam bahasa Arab disebut &lt;em&gt;Syawwâl&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Syawwâl&lt;/em&gt; (شَوَّالْ) berasal dari kata &lt;em&gt;syawala&lt;/em&gt; (شَوَلَ). Menurut ilmu sharaf, &lt;em&gt;syawala&lt;/em&gt; termasuk &lt;em&gt;Binâ’ Ajwaf Wâwi&lt;/em&gt; karena ‘ain fi‘il berupa wawu (salah satu dari tiga huruf ‘illat, yakni wawu, alif dan ya’). Pada &lt;em&gt;Binâ’ Ajwaf&lt;/em&gt;, huruf alif selalu digunakan sebagai pengganti huruf wawu bila &lt;em&gt;Binâ’ Ajwaf Wâwi&lt;/em&gt; dan pengganti huruf ya’ bila &lt;em&gt;Binâ’ Ajwaf Yâ’i&lt;/em&gt;. Dengan demikian &lt;em&gt;syawala&lt;/em&gt; (شَوَلَ) berubah menjadi &lt;em&gt;syâla&lt;/em&gt; (شَالَ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mempermudah pemahaman, penulis sajikan dua contoh lain &lt;em&gt;Binâ’ Ajwaf Wâwi&lt;/em&gt; yang lazim kita dengar, yaitu kata &lt;em&gt;qawala&lt;/em&gt; (قَوَلَ) berubah menjadi &lt;em&gt;qâla&lt;/em&gt; (قَالَ) dan kata &lt;em&gt;shawama&lt;/em&gt; (صَوَمَ) berubah menjadi &lt;em&gt;shâma&lt;/em&gt; (صَامَ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kamus Al-Munawwir Arab—Indonesia, &lt;em&gt;syâla&lt;/em&gt; berarti naik, oleh karena itu &lt;em&gt;syawwâl&lt;/em&gt; berarti peningkatan. Jadi bulan Syawal adalah bulan peningkatan amal kebajikan, baik kuantitas maupun kualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meningkatkan amal ibadah baik kuantitas maupun kualitas,” adalah ucapan indah yang setiap orang bisa melafalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meningkatkan amal ibadah baik kuantitas maupun kualitas,” adalah kalimat sarat makna yang setiap pelajar dapat menuliskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meningkatkan amal ibadah baik kuantitas maupun kualitas,” adalah retorika bermutu tinggi yang setiap insan dapat meneriakkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Namun&lt;/strong&gt;,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meningkatkan amal ibadah baik kuantitas maupun kualitas,” hanyalah sebuah slogan kampanye bila kita tidak terus memonitor ibadah harian diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meningkatkan amal ibadah baik kuantitas maupun kualitas,” hanyalah sebuah janji politik kita terhadap diri sendiri bila tanpa bukti nyata. Anehnya, mengapa kita tidak menagih janji itu ketika kita malas dalam beribadah? &lt;strong&gt;Mengapa kita rajin menuntut orang lain memenuhi janjinya tapi enggan menuntut diri sendiri?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, mari kita tanamkan benar-benar sebuah cambuk jiwa, pelecut asa dan penguat semangat berikut ini :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;مَنْ كاَنَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْـبُوْنٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرّاً مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;Siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka ia orang beruntung. Siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka dia tertipu dan siapa yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin maka ia orang terlaknat.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ahmad Warson Munawwir, “Kamus Al-Munawwir Arab—Indonesia Terlengkap”, Pustaka Progressif, Edisi Kedua–Cetakan Keempat belas 1997 &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;M. Abdul Manaf Hamid, “Pengantar Ilmu Shorof Ishthilahi—Lughowi”, P.P Fathul Mubtadin—Prambon, Nganjuk, Jawa Timur, Edisi Revisi&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;usnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan ini lanjutan dari : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/09/renungan-idul-fitri-antara-ketulusan.html"&gt;Renungan Idul Fitri : Antara Ketulusan, Tradisi dan Basa-Basi (1 of 2)&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Artikel lain tentang Idul Fitri: &lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/10/idul-fitri-kembali-fith-rah-ataukah.html"&gt;Idul Fitri, Kembali &lt;em&gt;Fith-rah&lt;/em&gt; ataukah Kembali &lt;em&gt;Fith-run&lt;/em&gt;?(1 of 2)&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/10/idul-fitri-kembali-fith-rah-ataukah_10.html"&gt;Idul Fitri, Kembali &lt;em&gt;Fith-rah&lt;/em&gt; ataukah Kembali &lt;em&gt;Fith-run&lt;/em&gt;?(2 of 2)&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...# &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-8114187055571173605?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/8114187055571173605/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/09/renungan-idul-fitri-antara-ketulusan_25.html#comment-form" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/8114187055571173605" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/8114187055571173605" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/09/renungan-idul-fitri-antara-ketulusan_25.html" title="Renungan Idul Fitri : Antara Ketulusan, Tradisi dan Basa-Basi (2 of 2)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-277285456746462421</id><published>2009-09-18T00:00:00.008+07:00</published><updated>2009-09-28T13:19:36.679+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="renungan idul fitri" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tulus" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ikhlas" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="idul fitri" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="minta maaf" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="memberi maaf" /><title type="text">Renungan Idul Fitri : Antara Ketulusan, Tradisi dan Basa-Basi (1 of 2)</title><content type="html">&lt;p align="center"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Duhai hati…&lt;br /&gt;Kurendam engkau di air kelapangan jiwa&lt;br /&gt;Kukerik kerak yang mulai mengeras&lt;br /&gt;Kucuci hingga suci tak bernoda&lt;br /&gt;Kujemur di bawah cahaya Ilahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai hati…&lt;br /&gt;Itulah hasratku&lt;br /&gt;Itulah kehendakku&lt;br /&gt;Itulah ‘azam&amp;shy;-ku&lt;br /&gt;Itulah visi dan misiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai hati…&lt;br /&gt;Tapi diri ini lebih senang menunda&lt;br /&gt;Semua jadi teori dan omong kosong belaka&lt;br /&gt;Cuma desain tanpa implementasi nyata&lt;br /&gt;Hebat kata-kata namun hampa adanya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Setiap kita tentu tulus saat menulis maupun mengucapkan permohonan maaf kala Idul Fitri tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kita tentu tulus saat melafalkan kalimat pemberian maaf kepada orang yang mengharap maaf kita kala Idul Fitri datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ketika meminta maaf kepada seseorang, pernahkah kita—di dalam hati—menyebut apa saja kesalahan kita kepadanya? Ataukah kita hanya mengikuti sebagaimana lazimnya, yaitu dengan mengucap “Mohon dimaafkan atas segala kesalahan, baik disengaja maupun tidak”? Padahal kita sendiri tidak tahu (atau bahkan tidak mau tahu) kesalahan apa yang telah kita perbuat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Misal kita khilaf telah meng-&lt;em&gt;copas&lt;/em&gt; tulisan orang lain tapi tidak mencantumkan nama atau alamat web/blog orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maukah dengan jujur kita segera mencantumkan namanya, lalu secepatnya memohon keikhlasan darinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah dengan egoisme tinggi kita enggan melakukannya karena para pengunjung blog telah mengira bahwa artikel tersebut tulisan kita, dan bila kita revisi, ada kekuatiran harga diri akan jatuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Apakah pemberian maaf kita hanya berlaku untuk orang yang secara langsung memohon maaf kepada kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bila ada orang yang bersalah kepada kita tapi tidak minta maaf? Akankah kita juga memaafkannya? Apakah di hari nan fitri kita berniat memaafkan semua orang, baik yang menghaturkan kata maaf maupun tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah kita hendak berkata, “Kalau dia ngga minta maaf terlebih dahulu, aku ngga sudi memaafkannya. Jangankan memberi maaf, melihat mukanya saja aku tak mau!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Apabila kita murid/mahasiswa, setelah bermaaf-maafan dengan guru/dosen, apa di bulan-bulan berikutnya kita masih mengulangi kebiasaan kita, yaitu membicarakan &lt;em&gt;(ngrasani)&lt;/em&gt; guru/dosen kala berkumpul &lt;em&gt;(kongkow/cangkruk)&lt;/em&gt; bareng teman-teman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kalau kita guru/dosen/ustadz, sesudah saling meminta dan memberi maaf kepada siswa/mahasiswa/santri, masihkah kita bersikap merasa diri lebih tua, lebih pengalaman dan lebih-lebih lainnya sehingga tidak boleh ada satu siswa/mahasiswa/santri pun mendebat atau membantah kita? Masihkah kita berprinsip &lt;em&gt;“kalah–menang nyérék”&lt;/em&gt; (apa pun yang terjadi—walaupun kita salah—keputusan dan kekuasaan berada di tangan kita sehingga kita senantiasa menang)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jika kita atasan, setelah lebaran, apakah kita benar-benar memperbaiki kualitas kepemimpinan sehingga kesalahan yang telah lalu tak terulang lagi? Begitu pula sebagai karyawan, apakah kita sungguh-sungguh meningkatkan kinerja sebagai bukti tulus permintaan maaf kita kepada atasan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bila kita pejabat, apakah permintaan dan pemberian maaf kepada rakyat akan membuahkan kejujuran yang senantiasa mengalir bersama aliran darah dan menyatu dalam diri sehingga tak kan pernah ada kamus membohongi publik, korupsi dan sejenisnya di benak kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “tulus” bermakna sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yang suci); jujur; tidak pura-pura; tidak serong; tulus hati; tulus ikhlas. Adapun ketulusan berarti kesungguhan dan kebersihan (hati); kejujuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Kamus Al-Munawwir Indonesia—Arab serta software Kamus Al-Mufid versi 1.0, terjemah kata “tulus” dalam bahasa Arab adalah &lt;em&gt;ikhlâs&lt;/em&gt; (إخلاص).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah dibahas di artikel “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/09/benarkah-kita-hamba-allah-1-of-2.html"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Benarkah Kita Hamba Allah? (1 of 2)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;,” ikhlas berarti semua hal dilakukan semata-mata untuk dan karena Allah, apa pun sikap/perlakuan orang terhadap kita. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;قُلْ إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Katakanlah, “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS al-An‘âm [6] : 162)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas, bukankah wajar bahkan sebuah keharusan bila kita bertanya kepada diri sendiri, “Tuluskah saya ketika meminta dan memberi maaf? Jika memang tulus, apa buktinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat diri sendiri, tak perlu repot-repot menilai orang lain. Bukankah orang terdekat adalah diri sendiri? Bukankah semakin dekat seharusnya semakin mengerti betul kekurangan/kesalahan yang ada? &lt;strong&gt;Anehnya, justru karena sangat dekat itulah sehingga kita kesulitan bahkan tak dapat melihat kekurangan diri sendiri.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ahmad Warson Munawwir dan Muhammad Fairuz, “Kamus Al-Munawwir Indonesia—Arab Terlengkap”, Pustaka Progressif, Cetakan Pertama 2007 &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, “Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga”, Balai Pustaka, Cetakan Ketiga 2005 &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php"&gt;http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan ini berlanjut ke : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/09/renungan-idul-fitri-antara-ketulusan_25.html"&gt;Renungan Idul Fitri : Antara Ketulusan, Tradisi dan Basa-Basi (2 of 2)&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Artikel lain tentang Idul Fitri: &lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/10/idul-fitri-kembali-fith-rah-ataukah.html"&gt;Idul Fitri, Kembali &lt;em&gt;Fith-rah&lt;/em&gt; ataukah Kembali &lt;em&gt;Fith-run&lt;/em&gt;?(1 of 2)&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/10/idul-fitri-kembali-fith-rah-ataukah_10.html"&gt;Idul Fitri, Kembali &lt;em&gt;Fith-rah&lt;/em&gt; ataukah Kembali &lt;em&gt;Fith-run&lt;/em&gt;?(2 of 2)&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...# &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-277285456746462421?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/277285456746462421/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/09/renungan-idul-fitri-antara-ketulusan.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/277285456746462421" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/277285456746462421" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/09/renungan-idul-fitri-antara-ketulusan.html" title="Renungan Idul Fitri : Antara Ketulusan, Tradisi dan Basa-Basi (1 of 2)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-8883096392088891618</id><published>2009-09-11T00:00:00.011+07:00</published><updated>2009-09-11T00:00:00.395+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tarawih" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="musyarathah" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="umur" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bosan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="wisata religi" /><title type="text">Mengapa Tarawih Semakin Hari Semakin Berat? (3 of 3)</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;strong&gt;b. Shalat Tarawih Berpindah-pindah Masjid&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tabiat manusia memang mudah bosan—dan itu wajar—namun harus dicari solusinya, tidak berdiam diri. Barangkali karena setiap hari melaksanakan shalat Tarawih di tempat sama, maka semangat untuk mengerjakannya tidak seperti saat awal Ramadhan. Shalat Tarawih seolah menjadi sebuah ritual dan rutinitas tanpa ruh. Salah satu cara untuk tetap menjaga semangat dalam menjalankan shalat Tarawih dengan baik adalah dengan berpindah-pindah masjid.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa melakukan wisata religi dengan pergi ke masjid-masjid lain. Kalau di Surabaya, kita bisa melakukan shalat Tarawih di Masjid Agung Sunan Ampel, Masjid Al-Akbar yang merupakan salah satu masjid terbesar di Indonesia dengan daya tampung 30.000 jamaah, Masjid Al-Falah, Masjid Kemayoran, Masjid Muhammad Cheng Hoo, masjid-masjid kampus atau masjid mana pun, demi mendapatkan suasana dan pengalaman baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih mengasyikkan lagi jika kita ikut buka bersama di masjid yang dituju. Kebersamaan dalam menikmati takjil, shalat Maghrib dan makan bersama dengan menu seadanya, sungguh tak terperikan. Betapa kerukunan dan kekompakan yang terjalin bisa menjadi kenangan terindah bagi memori kita. Setelah itu dilanjutkan dengan shalat Isya’ dan Tarawih berjamaah. Selain tujuan tersebut, kita bisa mempelajari keunikan (ciri khas), arsitektur, arti filosofis bangunan, sejarah dan hal-hal lain yang ada di masjid yang sedang kita kunjungi, misalnya ziarah ke makam Sunan Ampel bila kita di Masjid Ampel.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, para pelajar dan mahasiswa senang sekali melakukan wisata religi ini. Tujuan utama tetaplah ibadah. Barakah dari ibadahlah yang menyebabkan bisa buka bersama secara gratis, tiap hari pula. Uang saku pun tidak banyak berkurang :-).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;c. Shalat Tarawih Hanya Untuk Hari itu&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Rasa malas untuk melaksanakan shalat Tarawih, apalagi harus sendirian, biasanya muncul karena adanya anggapan bahwa kemarin kita sudah melaksanakannya, dan esok pun masih ada. Bahkan, sering kita berkata pada diri sendiri, “Tahun depan kan masih ada Tarawih, jadi tidak perlu bersusah-payah. Apalagi saat ini tugas menumpuk.” Dengan persepsi seperti ini, kita telah memperkenankan diri kita untuk membuat berbagai alasan &lt;em&gt;(excuse)&lt;/em&gt; supaya tidak shalat Tarawih.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bila pikiran itu mendera kita, maka solusinya adalah melupakan bahwa kita pernah Tarawih dan masih ada kesempatan lagi esoknya. Anggaplah bahwa kita hanya hidup di hari itu. Anggaplah bahwa hari itu adalah hari di mana kita shalat Tarawih pertama dan/atau terakhir kali, dan esok sudah tidak ada lagi Tarawih. Isilah hari itu dengan kebaikan apa pun yang bisa dilakukan. Dengannya, kita akan mempunyai semangat untuk melaksanakan shalat Tarawih, bagaimana pun kondisinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, nasihat “Hiduplah hari ini. Lupakan kemarin dan esok”, diberikan oleh seorang motivator untuk orang-orang yang takut akan masa depan dan trauma dengan masa lalunya. Namun, nasihat ini juga bisa digunakan untuk senantiasa memperbaiki ibadah kita dalam keseharian. Kita lupakan bahwa kita pernah beribadah, dan jangan berpikir bahwa kita bisa beribadah esok hari.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;‘Aidh al-Qarni berpesan, “Harimu adalah hari ini. Umur Anda, mungkin tinggal hari ini. Maka, anggaplah masa hidup Anda hanya hari ini, atau seakan-akan Anda dilahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Pada hari ini pula, sebaiknya Anda mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Pada hari inilah, Anda harus bertekad mempersembahkan kualitas shalat yang paling khusyu‘, bacaan Al-Qur’an yang sarat &lt;em&gt;tadabbur&lt;/em&gt; (penghayatan), dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian terhadap keadaan sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik terhadap sesama.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam keberagamaan, kita sering mendapat nasihat agar berbuat untuk akhirat seolah-olah esok kita telah tiada. Rasulullah bersabda :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا، وَاعْمَلْ ِلآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Berbuatlah untuk duniamu, seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu, seolah-olah engkau mati esok pagi.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, hadits di atas termasuk dha‘if. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Qutaibah dalam kitab &lt;em&gt;“Gharîb al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;adîts”&lt;/em&gt; dengan sanad mawqûf (terhenti pada sahabat). Ibnu Mubarak dalam kitab &lt;em&gt;“Az-Zuhud”&lt;/em&gt; juga meriwayatkannya dengan sanad lain yang &lt;em&gt;mawqûf &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;munqathi‘&lt;/em&gt; (jika gugur nama seorang rawi selain sahabat, atau gugur dua orang rawi yang tidak berdekatan). Derajat &lt;em&gt;mawqûf&lt;/em&gt; lebih baik daripada &lt;em&gt;munkar&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;matrûk&lt;/em&gt; (yang ditinggalkan atau semi palsu) dan &lt;em&gt;mawdhû‘&lt;/em&gt; (palsu). Para ulama berpendapat bahwa hadits dha‘if dengan derajat seperti hadits ini tetap boleh digunakan asal tidak untuk masalah aqidah dan hukum syariah. &lt;em&gt;Wallâhu a‘lam.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghazali menasihatkan agar setiap hari kita meluangkan waktu sesaat—misalnya selesai shalat Subuh—untuk menetapkan syarat-syarat terhadap jiwa &lt;em&gt;(musyârathah)&lt;/em&gt;. Pada kondisi itu, katakanlah kepada jiwa, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mempunyai barang dagangan kecuali umur. Apabila ia habis, maka habislah modalku sehingga putuslah harapan untuk berniaga dan mencari keuntungan lagi. Allah telah memberiku tempo pada hari yang baru ini, memperpanjang usiaku dan memberi nikmat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Seandainya aku diwafatkan oleh-Nya, niscaya aku berharap untuk dikembalikan ke dunia satu hari saja sehingga aku bisa beramal shaleh. Anggaplah wahai jiwa, bahwa engkau telah wafat, kemudian engkau dikembalikan ke dunia lagi, maka jangan sampai engkau menyia-yiakan hari ini karena setiap nafas merupakan mutiara yang sangat berharga.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah wahai jiwa bahwa sehari-semalam adalah dua puluh empat jam, maka bersungguh-sungguhlah pada hari ini untuk mengisi lemarimu. Jangan kau biarkan dia kosong tanpa barang-barang simpanan. Janganlah engkau cenderung kepada kemalasan, kelesuan dan kesantaian sehingga engkau tidak dapat meraih derajat tinggi &lt;em&gt;(‘illiyyîn)&lt;/em&gt; yang dapat diraih orang lain, lalu engkau penuh sesal.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa menolong kita untuk bisa mengabdi kepada-Nya, dan memberikan maaf serta ampunan-Nya kepada kita, amin. Marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;َاللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia. Engkau menyukai sikap pemaaf, maka maafkanlah kami, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;‘Aidh al-Qarni, Dr, “Lâ Ta&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;zan – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” &lt;em&gt;(Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus)&lt;/em&gt; – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://media.isnet.org/hadits/dm1/0008.html"&gt;http://media.isnet.org/hadits/dm1/0008.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan ini lanjutan dari : &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/09/mengapa-tarawih-semakin-hari-semakin.html"&gt;Mengapa Tarawih Semakin Hari Semakin Berat? (2 of 3)&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-8883096392088891618?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/8883096392088891618/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/09/mengapa-tarawih-semakin-hari-semakin_11.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/8883096392088891618" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/8883096392088891618" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/09/mengapa-tarawih-semakin-hari-semakin_11.html" title="Mengapa Tarawih Semakin Hari Semakin Berat? (3 of 3)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-8977095458985527636</id><published>2009-09-04T00:00:00.012+07:00</published><updated>2009-09-11T08:14:46.225+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tarawih" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ganjaran" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kemauan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="semangat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pahala" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tanggung jawab" /><title type="text">Mengapa Tarawih Semakin Hari Semakin Berat? (2 of 3)</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kala kegiatan begitu menumpuk, misalnya belajar ketika ada ujian bagi pelajar atau mahasiswa, kursus atau kuliah sore, kerja lembur, shift sore, tugas di posko, sedang di perjalanan atau yang lain, maka shalat Tarawih sendirian memang terasa begitu berat. Terkadang ada juga yang mengalami kejenuhan karena shalat Tarawih dilakukan setiap hari. Ibarat makanan, hari pertama sangat berselera, tapi setelah beberapa hari, selera pun menurun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memang, agama itu mudah, tapi jangan diremehkan. Itulah maksud sebenarnya. Manusia pada hakikatnya—setidaknya pada awal masa perkembangan (karena setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci)—tidak akan sulit melakukan kebajikan, berbeda halnya dengan melakukan keburukan yang terasa lebih berat.&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;لَهَا مَا كَسَـبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَـبَتْ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(QS al-Baqarah [2] : 286)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir &lt;em&gt;“Al-Manâr”&lt;/em&gt; menyatakan bahwa kata &lt;em&gt;“iktasabat”&lt;/em&gt; dan semua kata yang berpatron demikian, memberi arti adanya semacam upaya sungguh-sungguh dari pelakunya; berbeda dengan kata &lt;em&gt;“kasabat”&lt;/em&gt; yang berarti dilakukan dengan mudah dilakukan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di frase QS al-Baqarah [2] : 286 (penggalan dari ayat lengkapnya) tersebut, perbuatan-perbuatan manusia yang buruk dinyatakan dengan “&lt;em&gt;iktasabat”&lt;/em&gt;, sedangkan perbuatan yang baik dengan “&lt;em&gt;kasabat”&lt;/em&gt;. Ini menandakan bahwa fitrah manusia pada dasarnya cenderung kepada kebaikan, sehingga dapat melakukan kebaikan dengan mudah. Berbeda halnya dengan keburukan yang harus dilakukannya dengan susah payah dan keterpaksaan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Potensi yang kita miliki untuk melakukan kebaikan dan keburukan, dengan kecenderungan yang mendasar kepada kebaikan, seharusnya mengantarkan kita menjalankan perintah Allah yang dinyatakan-Nya sesuai dengan fitrah (asal kejadian manusia).&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِـيْفًا،فِطْرَتَ اللهِ ٱلَّتِيْ فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(QS ar-Rûm [30] : 30)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semangat untuk tetap Tarawih harus tetap dipupuk. Apa pun alasannya kita harus berusaha sekuat-kuatnya untuk melaksanakan Tarawih, karena kelak di hari kemudian pada saat pertanggungjawaban, kita akan dihadapkan kepada diri sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;اِقْرَأْ كِتٰـبَكَ كَفٰى بِنَفْسِكَ ٱلْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيْـبًا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(QS al-Isrâ’ [17] : 14)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas, marilah kita bahas hal-hal yang bisa meringankan pikiran kita, sehingga apa pun yang terjadi, kita tetap mempunyai keinginan kuat &lt;em&gt;(‘azam)&lt;/em&gt; untuk melaksanakan shalat Tarawih, baik berjamaah maupun sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;a. Pahala Shalat Tarawih Tak Terkira&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tentang ganjaran shalat malam di bulan Ramadhan (Tarawih), Rasulullah Muhammad saw. bersabda :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang bangun (shalat malam) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Muttafaq ‘alayh)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui bersama dari penjelasan para ulama bahwa di bulan Ramadhan, Allah mencurahkan semua rahmat dan melipatgandakan pahala, jauh melebihi selain Ramadhan. Bahkan, dalam sebuah nasihat (bukan hadits Nabi) dituturkan bahwa tidurnya orang yang sedang berpuasa adalah ibadah. Tentunya hal ini bila dibandingkan dengan melakukan kemaksiatan atau berkata yang tidak bermanfaat, seperti menggunjing.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya keutamaan ini, janganlah kita menganggap bahwa shalat Tarawih “hanyalah” shalat sunnah. Dengan anggapan seperti ini, maka kita sudah memerintahkan otak dan diri kita, bahwa melaksanakannya akan mendapat pahala, dan tidak berdosa jika meninggalkannya. Dengannya, kita akan tenang-tenang saja walau tidak pernah Tarawih. Kita tidak akan merasa kehilangan apalagi menyesal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kita harus meyakini bahwa shalat Tarawih bukan sekadar shalat sunnah. Shalat Tarawih nilainya begitu besar, bahkan dalam kitab &lt;em&gt;“An-Nashâi&lt;u&gt;h&lt;/u&gt; ad-Dîniyyah wal-Washâyâ al-Îmâniyyah”&lt;/em&gt; dijelaskan bahwa pahala shalat sunnah di bulan Ramadhan sama dengan shalat fardhu di luar Ramadhan. Adapun shalat wajib di bulan Ramadhan setara dengan tujuh puluh shalat fardhu selain Ramadhan. Betapa agung karunia Allah di bulan mulia ini, bulan Ramadhan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan keyakinan tersebut, maka kita akan bersemangat dalam menjalankan Tarawih, meskipun badan lelah setelah bertugas, waktu terbatas dan mengerjakannya pun harus sendirian. Ini juga berarti, kita telah menabung dengan nilai yang sangat besar untuk kehidupan di akhirat nanti. Mengabaikan Ramadhan berarti menyia-nyiakan masa depan. Bukankah kita akan menanamkan modal di tempat teraman dengan hasil investasi berlipat ganda? Ramadhan adalah investasi teraman dengan hasil luar biasa, bahkan hanya Allah Yang Maha Tahu tentang besar balasan yang diberikan kepada kita. Dan, shalat Tarawih adalah salah satu jenis investasinya, laksana saham yang tak akan membuat kita rugi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;‘Aidh al-Qarni berkata, “Jika seorang hamba dikaruniai semangat besar, maka dia akan berjalan di atas jalan keutamaan dan akan menaiki tangga derajat yang tinggi. Dan, itu adalah salah satu ciri Islam.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semangat adalah pusat penggerak yang membentuk kepribadian dan mengawasi organ-organ tubuh. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semangat adalah bahan bakar jiwa dan kekuatan berkobar-kobar, yang akan menggerakkan pemiliknya untuk melompat cukup tinggi dan memburu nilai-nilai kemuliaan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semangat besar akan mendatangkan—dengan izin Allah—kebaikan tak terhingga. Dengan begitu kita bisa naik pada tangga kesempurnaan, urat nadi kita teraliri darah ksatria, dan kita terdorong ke wilayah ilmu dan amal.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semangat besar membuat kita berdiri di semua pintu kemuliaan dan terlibat dalam perburuan bersama mereka yang juga memburu nilai-nilai keutamaan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semangat besar membuat kita tidak pernah puas dengan tingkatan rendah, tidak pernah berhenti meski telah sampai batas dan tidak pernah puas dengan yang sedikit.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Misalnya ada seorang pengusaha berkata kepada para karyawannya, “Bulan ini adalah bulan kelahiran saya. Saya ingin memberi bonus besar-besaran kepada Anda semua. Saya tahu uang transport Anda setiap hari sebesar Rp 33.000,-. Sedangkan untuk makan siang sudah tersedia di kantin. Khusus bulan ini, siapa yang masuk kantor setiap hari—tidak ada ijin—maka saya akan memberinya bonus 700 kali uang transport setiap hari, bahkan lebih bila dia dinilai baik. Di akhir bulan, saya bayar dia sebesar 1000 kali gaji bulanan yang diterima selama ini.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jika kita adalah karyawan di perusahaan tersebut, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita tidak terpengaruh dengan bonus itu? Mungkin ada di antara teman kita berkata, “Ah, santai saja. Toh, saya tetap dapat uang transport setiap hari. Walaupun nilainya biasa-biasa saja, tidak apa-apa. Cukuplah uang harian seperti yang saya terima di luar bulan ini. Gaji pun cukup seperti biasanya. Tak perlu berusaha keras untuk masuk terus dan bekerja dengan lebih baik di bulan ini.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apa pendapat kita tentang teman kita tadi? Setujukah kita dengannya, dan kita pun akan berbuat yang sama? Ataukah dengan semangat membara kita rajin masuk dan memperbaiki kinerja, demi mendapatkan bonus dan masa depan yang lebih baik?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Abu Hamid al-Ghazali menyatakan, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Apabila seseorang sudah tidak memiliki perhatian terhadap suatu perkara, ia akan melihat perkara itu besar dan caranya sangat sulit. Akan tetapi, jika ia memiliki perhatian besar, semangat tinggi dan kemauan yang kuat pula, maka ia akan menemukan berbagai jalan yang dapat ditempuh untuk sampai kepada tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, dengan kemauan kuat dan kemampuan tinggi, ia akan dapat menangkap burung yang terbang di udara, mendapatkan ikan yang berenang di dasar laut, mengeluarkan emas dan perak dari dasar gunung, berburu binatang liar di hutan atau padang pasir, menjinakkan binatang buas, menangkap ular berbisa dan mengambil bisa dari mulutnya, membuat sutra, menghitung jarak antar galaksi, melatih kuda untuk ditunggangi, anjing untuk berburu, elang untuk menangkap burung dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semua itu dapat dilakukan bila seseorang memiliki kemauan kuat, semangat tinggi dan kemampuan memadai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abdullah Ba‘alawi Al-Haddad, asy-Syaikh, &lt;em&gt;“An-Nashâi&lt;u&gt;h&lt;/u&gt; ad-Dîniyyah wal-Washâyâ al-Îmâniyyah”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;‘Aidh al-Qarni, Dr, “Lâ Ta&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;zan – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maktabah Syamilah &lt;em&gt;al-Ishdâr ats-Tsâniy&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” &lt;em&gt;(Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus)&lt;/em&gt; – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan ini lanjutan dari : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/08/mengapa-tarawih-semakin-hari-semakin.html"&gt;Mengapa Tarawih Semakin Hari Semakin Berat? (1 of 3)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini berlanjut ke : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/09/mengapa-tarawih-semakin-hari-semakin_11.html"&gt;Mengapa Tarawih Semakin Hari Semakin Berat? (3 of 3)&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-8977095458985527636?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/8977095458985527636/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/09/mengapa-tarawih-semakin-hari-semakin.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/8977095458985527636" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/8977095458985527636" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/09/mengapa-tarawih-semakin-hari-semakin.html" title="Mengapa Tarawih Semakin Hari Semakin Berat? (2 of 3)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-429730775991104680</id><published>2009-08-28T00:00:00.013+07:00</published><updated>2009-09-04T10:26:08.048+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tarawih" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="berat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="malas" /><title type="text">Mengapa Tarawih Semakin Hari Semakin Berat? (1 of 3)</title><content type="html">&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;Seperti kita pahami bahwa di bulan Ramadhan, kita disunnahkan melaksanakan shalat Tarawih pada malam hari. Jumlah rakaat shalat Tarawih ada empat pendapat, yaitu 8 (delapan), 10 (sepuluh), 20 (dua puluh) dan 36 (tiga puluh enam). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;Para muballigh kita memang jarang menceritakan shalat Tarawih dengan 10 atau 36 rakaat. Adapun bilangan shalat witirnya sama, yaitu 3 (tiga) rakaat. Semuanya baik, jadi tidak perlu saling menyalahkan. Yang lebih perlu diperhatikan adalah yang tidak melaksanakan shalat Tarawih. Di posting ini, penulis menekankan pada hal yang berhubungan dengan introspeksi diri, yaitu perasaan bahwa shalat Tarawih semakin hari semakin berat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;Sebagai pendahuluan, mari kita perhatikan pertanyaan dan pernyataan yang sering kita dengar tentang shalat Tarawih. Pertanyaan yang diajukan adalah, “Mengapa kian hari, shaf shalat Tarawih di masjid kian maju? Bukankah itu berarti bahwa yang melaksanakannya kian sedikit?” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Biasanya jawaban pertanyaan tersebut adalah, “Karena orang lebih sibuk belanja untuk keperluan lebaran. Dengan begitu, pusat perbelanjaan, super market, mall dan plasa penuh, sedangkan isi masjid berkurang.” Menurut penulis, jawaban ini tidak sepenuhnya benar, namun juga tidak keliru.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jawaban kedua yang disampaikan oleh para ustadz lebih diplomatis, “Ibarat lomba, maka kian hari kian berkurang pesertanya. Itu wajar. Siapa bertahan sampai garis akhir, dialah pemenangnya.”&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita jawab pertanyaan di atas dengan lebih lengkap. Mengapa barisan shalat Tarawih di masjid kian berkurang?&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Para pelajar dan mahasiswa biasanya libur di awal puasa. Setelah itu masuk seperti biasa. Bagi pelajar yang ikut kursus sore hari dan mahasiswa yang mengambil kuliah sore, tentu tidak bisa mengikuti shalat Tarawih di masjid karena harus kursus atau kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pegawai pabrik bagian produksi umumnya bergantian shift. Giliran kerja shift sore (shift II) yaitu pukul 14.00–22.00 atau 15.00–23.00. Bahkan ada juga yang &lt;em&gt;long shift&lt;/em&gt;, yaitu pukul 19.00–07.00. Sedangkan di restoran, mall atau plasa, shift sore lazimnya pukul 13.00–22.00. Dengannya, mereka tidak akan bisa ke masjid ketika kewajiban ini memanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Beberapa sekolah, kampus dan organisasi kepemudaan mengadakan Pesantren Kilat selama beberapa hari di bulan Ramadhan. Ini artinya para peserta, panitia dan pembina akan shalat Tarawih di tempat kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagian perusahaan atau instansi mengadakan buka puasa bersama, rata-rata hanya sekali selama puasa. Setelah itu mereka juga shalat Isya’ dan Tarawih berjamaah. Bukankah kegiatan ini tetap mengurangi barisan shaf di masjid?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perempuan yang sudah baligh tentunya ada masa libur dalam sebulan dari beberapa macam aktivitas ibadah, salah satunya adalah shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mendekati hari raya, pusat perbelanjaan memang lebih banyak dikunjungi orang, terutama umat Islam. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Peraturan Pemerintah, THR (Tunjangan Hari Raya) minimal dibagikan seminggu sebelum lebaran. Misalnya hari raya jatuh pada hari Selasa. Itu berarti, THR minimal dibagikan hari Selasa sebelumnya. Para pegawai tentunya tidak bisa shopping di siang hari karena harus bekerja. Kalau dipilih hari Sabtu atau Minggu, tentu sudah sangat dekat dengan lebaran, apalagi mereka harus mudik ke kampung halaman. Inilah yang menyebabkan sebagian dari kita berbelanja di sore hari, yang berarti meninggalkan shalat Tarawih di masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis, sebagai solusi masalah ini, sebaiknya kita menabung dalam masa satu tahun sebelum lebaran. Dengan demikian, kita tidak hanya mengandalkan THR untuk belanja lebaran. Kita bisa belanja di siang hari pada hari libur, sehingga tetap bisa shalat Tarawih berjamaah. Bagi para pekerja dengan gaji setara UMK (Upah Minimum Kota/Kabupaten), mungkin akan terasa berat. Namun, bukankah bila niat sudah bulat, akan ada saja jalannya? Bukankah Allah Maha Membantu hamba-Nya yang ingin berbuat kebaikan? Sebuah pepatah Arab berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;مَنْ جَدَّ وَجَدَ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Siapa bersungguh-sungguh, dia menemukan (berhasil).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bule berkata, &lt;em&gt;“There is a will, there is a way”&lt;/em&gt;, di mana ada kemauan, di situ ada jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mulai hari H-7, kebanyakan orang sibuk mengurusi mudik ke daerah asal. Bagi yang mudik pada malam hari, ada yang mudik setelah Tarawih, namun ada juga yang berangkat setelah buka puasa. Dengan demikian, mereka tengah dalam perjalanan ketika shalat Tarawih didirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saat ini banyak didirikan posko mudik, ada juga yang beroperasi 24 jam. Para petugas posko, baik dari jajaran TNI/Polri, instansi Pemerintah atau swasta, tentunya sedang bertugas ketika para jamaah di masjid melaksanakan shalat Tarawih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagi yang mudik dan sudah sampai di kampung halaman, mereka akan shalat Tarawih di daerah masing-masing. Insyâ Allah. Hal ini berarti masjid di kampung halaman semakin ramai, sementara di daerah yang ditinggalkan semakin sepi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pertanyaan berikutnya adalah, “Dengan berlalunya hari, mengapa shalat Tarawih terasa semakin berat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertanyaan tersebut secara sadar atau tidak, tersirat sebuah maksud bahwa semakin hari kita semakin mudah meninggalkan Tarawih, tanpa rasa penyesalan. Sebenarnya, berat atau tidaknya sesuatu bagi setiap pribadi, diri kita masing-masinglah yang mengetahui. Namun, kadang kita mencoba memanipulasi, seharusnya tidak berat tapi dibuat berat. Alasannya klasik, berdalih bahwa agama itu mudah—tidak sulit—jangan dipersulit. Jadi, kalau tidak sempat shalat Tarawih, ya tidak perlu, toh hukumnya sunnah saja.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Manshur Ali Nashif, asy-Syaikh, “Mahkota Pokok-Pokok Hadis Rasulullah saw. &lt;em&gt;(At-Tâju al-Jâmi‘u lil-Islâmi fî Ahâdîtsi ar-Rasûli)&lt;/em&gt;”, CV. Sinar Baru, Cetakan pertama : 1993&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tulisan ini berlanjut ke :&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/09/mengapa-tarawih-semakin-hari-semakin.html"&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Mengapa Tarawih Semakin Hari Semakin Berat? (2 of 3)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:130%;"  &gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-429730775991104680?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/429730775991104680/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/08/mengapa-tarawih-semakin-hari-semakin.html#comment-form" title="4 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/429730775991104680" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/429730775991104680" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/08/mengapa-tarawih-semakin-hari-semakin.html" title="Mengapa Tarawih Semakin Hari Semakin Berat? (1 of 3)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-5886962557439178617</id><published>2009-08-21T00:00:00.008+07:00</published><updated>2009-08-21T00:00:01.353+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="shalat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="qabliyah subuh" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tidur" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="dunia" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ban bekas" /><title type="text">Shalat Lebih Baik Daripada Tidur, Hanya Senilai itu? (2 of 2)</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Apakah shalat “hanya” lebih baik daripada tidur? Mari kita tanyakan pada diri sendiri. Apabila kita sangat mengantuk karena begitu lelah setelah berbagai aktivitas yang kita lakukan; apakah emas, berlian, perhiasan, uang dan seluruh isi dunia lebih kita pilih daripada tidur? Tentu saja tidak. Hal ini mirip seperti orang yang sedang tenggelam di lautan. Baginya, intan permata tidak ada artinya. Justru ban bekas jauh lebih berharga daripada semua harta kekayaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Jadi, shalat tidak hanya lebih baik daripada tidur. Shalat jauh lebih baik daripada seluruh dunia beserta isinya. Shalat mencari kekayaan serta kehidupan hakiki, kenikmatan ukhrawi, surga nan abadi serta perjumpaan dan keridhaan Ilahi Rabbi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bangun untuk melaksanakan shalat Subuh terasa lebih berat? Selain karena kelelahan, ada juga alasan lainnya. Pada saat tidur pulas di waktu malam, setan berusaha untuk meninabobokan kita supaya tetap istirahat. Rasulullah asw. &lt;em&gt;(‘alayhish shalâtu was salâm)&lt;/em&gt; bersabda :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ : يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ، عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيْلٌ فَارْقُدْ، فَإِنِ اسْتَيْـقَظَ فَذَكَرَ اللهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، وَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْـبَحَ نَشِيْطًا طَيِّبَ النَّفْسِ، وَإِلاَّ أَصْـبَحَ خَبِـيْثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Setan akan mengikat ujung kepala kalian ketika sedang tidur dengan tiga ikatan. Pada setiap ikatan setan akan dibisikkan, “Kamu masih memiliki malam panjang, maka tidurlah.” Jika engkau bangun dan mengingat Allah, maka akan terlepaslah ikatanmu yang pertama. Apabila engkau kemudian berwudhu, maka akan terlepaslah ikatan kedua. Dan jika engkau melakukan shalat, maka akan terlepaslah ikatanmu yang ketiga. Jika engkau tidak melakukan ketiga hal itu, niscaya hatimu akan menjadi sesat dan malas.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Bukhari dan Muslim)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan shalat Subuh, yang memang lebih berat untuk dilaksanakan. Rasulullah saw. bersabda :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;يَتَعَاقَبُوْنَ فِيْكُمْ مَلاَئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُوْنَ فِيْ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِيْنَ بَاتُوْا فِيْكُمْ فَيَسْـأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِيْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Malaikat-malaikat malam hari dan malaikat-malaikat siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian malaikat-malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, “Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Mereka menjawab, “Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat, dan kami datangi mereka dalam keadaan mengerjakan shalat pula.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Bukhari, Muslim dan an-Nasa’i)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jabir bin Abdullah al-Bajalli berkata, “Kami berada di samping Nabi saw. pada suatu malam, maka Nabi melihat bulan purnama sambil berkata,&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لاَتَضَامُّوْنَ فِيْ رُؤْيَتِهِ، فَإِنِ اسْـتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوْا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوْا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Kalian akan melihat Tuhan sebagaimana kalian melihat bulan ini, tidak silau karena melihatnya. Maka sebisa mungkin, jangan sampai dikalahkan untuk shalat sebelum terbit matahari (Subuh) dan sebelum terbenamnya (Ashar). Cepatlah kamu kerjakan!”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Bukhari dan Muslim)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Utsman bin Affan ra. menuturkan, “Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِيْ جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِيْ جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلِ كُلَّهُ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang shalat Isya’ berjamaah, seolah-olah bangun setengah malam (seperti shalat separuh malam). Siapa yang shalat Subuh berjamaah, maka bagaikan shalat semalam penuh.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Muslim)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, Nabi saw. menyatakan bahwa dua rakaat sebelum Subuh (shalat sunnah Qabliyah Subuh) nilainya lebih baik daripada dunia dan semua yang ada di dalamnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;رَكْعَتَا اْلفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Dua rakaat shalat sunnah Subuh lebih baik daripada dunia dan semua yang ada di dalamnya.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maksud hadits tersebut yaitu seandainya kita memiliki semua yang ada di dunia ini kemudian menyedekahkannya, maka nilainya tidak akan sama dengan shalat Qabliyah Subuh. Oleh karena begitu besarnya nilai shalat ini, para ulama menasihatkan agar kita tidak meninggalkannya. Walaupun kita shalat Subuh sendirian di rumah, janganlah kita lupakan shalat sunnah ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kalau keutamaan shalat sunnah Qabliyah Subuh saja seperti itu, bagaimana dengan shalat fardhu Subuh? Tentu kita bisa mengkalkulasi sendiri sebesar apa keutamaannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Agar senantiasa bisa berbakti kepada-Nya, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلـٰوةِ وَمِنْ ذُرِيَّتِيْ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku orang yang mendirikan shalat (sujud menyembah Engkau). Ya Tuhan kami, perkenankanlah permohonan kami ini.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS Ibrâhîm [14] : 40)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;A. Hassan, “Tarjamah Bulughul Maram”, Penerbit Diponegoro, Cetakan XXIII, Oktober 1999&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni &lt;em&gt;(Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)&lt;/em&gt;”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibnu Hajar al-‘Asqalani, &lt;em&gt;al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;âfizh&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;“Bulûghul Marâm – Min Adillatil Ahkâm”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maktabah Syamilah &lt;em&gt;al-Ishdâr ats-Tsâniy&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan lanjutan dari : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/08/shalat-lebih-baik-daripada-tidur-hanya.html"&gt;Shalat Lebih Baik Daripada Tidur, Hanya Senilai itu? (1 of 2)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-5886962557439178617?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/5886962557439178617/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/08/shalat-lebih-baik-daripada-tidur-hanya_21.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/5886962557439178617" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/5886962557439178617" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/08/shalat-lebih-baik-daripada-tidur-hanya_21.html" title="Shalat Lebih Baik Daripada Tidur, Hanya Senilai itu? (2 of 2)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-1575579112848260440</id><published>2009-08-14T00:00:00.010+07:00</published><updated>2009-08-21T10:04:51.951+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tatswib" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="shalat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tidur" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="adzan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="subuh" /><title type="text">Shalat Lebih Baik Daripada Tidur, Hanya Senilai itu? (1 of 2)</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Seorang teman bertanya, “Pada saat adzan Subuh, ada seruan bahwa shalat lebih baik daripada tidur. Kenapa begitu, ya? Kenapa nilai shalat hanya lebih baik daripada tidur? Kalau begitu, rendah sekali ternyata nilai shalat itu.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Senang sekali rasanya mengetahui bahwa saat ini semua orang semakin kritis. Hal yang dulu hanya diterima sebagai teori, bahkan sebagian orang mengatakan dogma, saat ini sudah diimplementasikan dalam tataran akal. &lt;em&gt;Al&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;amdulillâh.&lt;/em&gt; Bukankah akal memang diciptakan untuk mengokohkan iman? Namun, jangan lupa, iman harus tertanam dulu, baru kemudian akal menguatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebelum kita bahas pertanyaan tersebut, marilah kita ingat lagi asal mula kalimat adzan seperti yang sering kita dengar, barangkali kita sudah melupakannya. Maklum, bukankah manusia itu tempat salah dan lupa? Setelah itu kita bahas mengapa hanya adzan Subuh yang ada tambahan kalimat tersebut. Terakhir, marilah kita lihat apakah nilai shalat “hanya” lebih baik daripada tidur, seperti kata teman penulis tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di kitab &lt;em&gt;“Bulûghul Marâm – Min Adillatil A&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;kâm”&lt;/em&gt; terdapat hadits ke-190 yang menerangkan tentang adzan dan iqamah. Pada masa-masa awah hijrah, kaum muslimin bermusyawarah tentang bagaimana cara memanggil orang untuk shalat berjamaah lima waktu. Ada yang usul agar membunyikan lonceng. Namun pendapat ini tidak disetujui karena cara tersebut digunakan oleh orang Nasrani. Pendapat lain mengusulkan agar ditiup terompet, namun ditolak juga karena cara ini dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Ada yang usul dengan kalimat &lt;em&gt;“ash-Shalâh ash-Shalâh”&lt;/em&gt;, dan dipilihlah kalimat ini sebagai seruan untuk shalat. Ada juga riwayat yang menyatakan beberapa kalimat lain untuk ajakan shalat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam Sahabat Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbah ra. bermimpi bertemu seseorang yang mengajarkan cara adzan dan iqamah. Keesokan paginya, Abdullah bin Zaid datang kepada Rasulullah saw. dan menceritakan mimpinya. Rasulullah bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;إِنَّهَا لَرُؤْياَ حَقٍّ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya (yang demikian) itu mimpi yang benar.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Ahmad dan Abu Daud, disahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Umar bin Khattab juga bermimpi yang sama. Akhirnya adzanlah yang digunakan untuk memanggil umat Islam dalam rangka menunaikan shalat berjamaah. Adzan adalah sebuah seruan yang membahana, menggema di angkasa dan memenuhi seluruh pelosok.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adapun lafadzh adzan sebagaimana yang kita dengar selama ini. Sedangkan lafazh iqamah, ada perbedaan mengenai jumlah bilangan takbir. Sebuah riwayat dua kali, di riwayat yang lain satu kali. Semuanya benar, jadi tidak perlu diperselisihkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Untuk shalat Subuh disunnahkan dua kali adzan. Adzan pertama dikumandangkan sebelum waktu Subuh yang berfungsi membangunkan orang tidur. Adzan kedua ketika sudah masuk waktu Subuh yang berfungsi mengajak orang mengerjakan shalat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di kitab &lt;em&gt;“I‘ânah ath-Thâlibîn”&lt;/em&gt; terdapat penjelasan tentang tambahan kalimat &lt;em&gt;“Ash-Shalâtu khayrum minan nawm”&lt;/em&gt;, yang disebut dengan &lt;em&gt;tatswîb&lt;/em&gt;. Sahabat Bilal pernah mengumandangkan adzan Subuh, kemudian dikabarkan kepadanya bahwa Nabi saw. sedang tidur, lalu Bilal menambahkan lafazh :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. اَلصَّـلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Semoga salam, rahmat dan barakah dari Allah tetap atasmu wahai Nabi. (Pahala) shalat lebih baik daripada (kelezatan) tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nabi Muhammad saw. bersabda :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;اِجْعَلْهُ فىِ تَأْذِيْنِكَ لِلصُّبْحِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Jadikanlah tatswîb itu pada adzan Subuhmu.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang mengatakan bahwa Bilal menambahnya karena saat itu banyak sahabat yang belum bangun, diakibatkan kelelahan yang sangat sehabis berperang. &lt;em&gt;Wallâhu a‘lam.&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Disunnahkan &lt;em&gt;tatswîb&lt;/em&gt; sebanyak dua kali setelah &lt;em&gt;“&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ayya ‘alal falâ&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;”&lt;/em&gt; berdasarkan hadits riwayat Abu Daud dengan jalur perawi yang baik. Hal ini dinyatakan dalam kitab &lt;em&gt;“Syara&lt;u&gt;h&lt;/u&gt; al-Muhadzdzab”&lt;/em&gt;. Kesunnahan tersebut berlaku untuk adzan sebelum Subuh maupun saat Subuh, meskipun penduduk Mekah menentukan &lt;em&gt;tatswîb&lt;/em&gt; ini untuk adzan kedua saja dengan tujuan untuk membedakan dengan adzan pertama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apa pun riwayat yang kita jadikan dasar, tidur malam memang begitu nikmat sehabis melakukan aktivitas yang sangat melelahkan. Memang, ada sebagian dari kita yang aktivitasnya tidak terlalu berat, sehingga tidurnya cukup. Namun, sebagian dari kita yang lain mempunyai aktivitas yang sangat padat, sehingga tidur malam adalah jeda untuk melepas penat dan letih. Pada masa Rasulullah, aktivitas harian para sahabat tidak seperti kita, yaitu belajar, bekerja dan bermasyarakat. Kadang kala mereka harus berperang untuk menegakkan agama Allah. Bukankah hal itu sangat menguras tenaga? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tambahan kalimat tatswîb tercantum juga di kitab &lt;em&gt;“Bulûghul Marâm – Min Adillatil A&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;kâm”&lt;/em&gt; hadits ke-191 yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Khuzaimah.&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;اَلصَّـلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Shalat itu lebih baik daripada tidur.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Adapun cara menjawabnya, Rasulullah mengajarkan :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;صَـدَقْتَ وَبَرَرْتَ وَاَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِـدِيْنَ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Engkau benar, engkau telah berbuat baik, dan aku termasuk golongan orang-orang yang menyaksikan.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/strong&gt;A. Hassan, “Tarjamah Bulughul Maram”, Penerbit Diponegoro, Cetakan XXIII, Oktober 1999&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibnu Hajar al-‘Asqalani, &lt;em&gt;al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;âfizh&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;“Bulûghul Marâm – Min Adillatil A&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;kâm”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maktabah Syamilah &lt;em&gt;al-Ishdâr ats-Tsâniy&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury, asy-Syaikh, “Sirah Nabawiyah &lt;em&gt;(Ar-Ra&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;îq al-Makhtûm, Ba&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;tsun fî as-Sirah an-Nabawiyyah ‘Alâ Sha&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ibihâ Afdhalish-Shalâti wa as-Salâm)&lt;/em&gt;”, Pustaka Al-Kautsar, Cetakan Kelima : Desember 1998&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tim PW LTN NU Jatim, “Ahkamul Fuqaha”, Khalista Surabaya, Cetakan ketiga Pebruari 2007&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan ini berlanjut ke : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/08/shalat-lebih-baik-daripada-tidur-hanya_21.html"&gt;Shalat Lebih Baik Daripada Tidur, Hanya Senilai itu? (2 of 2)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-1575579112848260440?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/1575579112848260440/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/08/shalat-lebih-baik-daripada-tidur-hanya.html#comment-form" title="3 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/1575579112848260440" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/1575579112848260440" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/08/shalat-lebih-baik-daripada-tidur-hanya.html" title="Shalat Lebih Baik Daripada Tidur, Hanya Senilai itu? (1 of 2)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-6354940754888142165</id><published>2009-08-07T00:00:00.012+07:00</published><updated>2009-08-07T09:35:34.788+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="mukmin" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Multi Level Pahala (MLP)" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sebaik-baik orang" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="bermanfaat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="manusia terbaik" /><title type="text">Apa Kita Termasuk Mukmin Kuat dan Bermanfaat? (2 of 2)</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Selain pesan agar kita menjadi mukmin kuat, Rasul saw. juga mengingatkan kita agar menjadi manusia (mukmin) yang bermanfaat bagi orang lain, sebisa mungkin sebanyak-banyaknya manfaat dan orang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:240%;"  &gt;خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(HR al-Qadha‘i – hadits hasan)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:240%;"  &gt;أَحَبُّ النَّاسِ إِلىَ اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Thabrani – hadits hasan lighayrih)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mukmin penuh manfaat&lt;/strong&gt; senantiasa menebar ilmu tanpa memperhitungkan apakah ada imbalan materi atau tidak, juga tidak menyembunyikan ilmu dengan beriklan agar orang lain membeli buku karyanya, kecuali memang terlalu panjang pembahasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah jalan rezeki bisa dari arah yang tak disangka-sangka &lt;em&gt;(min &lt;u&gt;h&lt;/u&gt;aytsu lâ ya&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;tasib)&lt;/em&gt;? Bukankah kita senantiasa berikrar &lt;em&gt;&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;asbunallâh&lt;/em&gt; (cukuplah bagi kami, Allah semata)? Bukankah Allah Maha Kaya &lt;em&gt;(Al-Ghaniyy)&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Renungan&lt;/strong&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;“Seorang ustadz boleh menerima &lt;em&gt;bisyârah&lt;/em&gt; (uang saku) setelah ceramah atau khutbah tapi jangan dihitung besarnya, langsung saja masukkan ke dompet sehingga bercampur dengan uang lainnya. Dengan demikian hati kita tidak akan membanding-bandingkan di manakah kita akan diundang, berapa besar &lt;em&gt;bisyârah&lt;/em&gt; yang akan diterima dan hal-hal yang bersifat keduniaan lainnya,” nasihat KH. Asrori al-Ishaqi—pengasuh Pesantren Al-Fithrah Jl. Kedinding Lor Surabaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:240%;"  &gt;وَلاَ تَشْتَرُوْا بِأ ٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلاً&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;Dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS al-Baqarah [2] : 41)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:240%;"  &gt;مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا ِممَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ غَرَضًا مِنَ الدُّنْياَ لمَ ْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَعْنِيْ رِيْحَهَا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;Siapa yang mempelajari suatu ilmu agama yang seharusnya ditujukan untuk Allah, tiba-tiba ia tidak mempelajari itu untuk Allah, hanya untuk mendapat kedudukan atau kekayaan dunia, maka ia tidak akan mendapat bau surga pada hari Kiamat.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;(HR Abu Daud)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mukmin penuh manfaat&lt;/strong&gt; selalu berusaha berkarya, berkreasi dan berinovasi demi sumbangsih kepada kemanusiaan khususnya kejayaan Islam dan kaum muslimin di belahan dunia mana pun (bahkan di masa depan bisa jadi di planet mana pun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Renungan&lt;/strong&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sudahkah kita menemukan/menciptakan alat, software, teori, rumus, jasa atau apa pun yang berguna bagi khalayak ramai? Tidak malukah kita kepada para penemu (ilmuwan/praktisi) di masa lampau yang dengan segala keterbatasan mampu membuat sekian banyak terobosan? Bukankah saat ini fasilitas lebih memadai? Bukankah saat ini teknologi telah mempermudah kita melakukan berbagai hal? Mana hasil karya kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Jika ruh sudah terpisah dari jasad, amal jariyah apa yang akan kita tinggalkan? Tak perlulah kita saling lempar tanggung jawab, mari kita tanya diri kita masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:240%;"  &gt;مَنْ سَنَّ فِى اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِم شَيْئًا&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;Siapa memberi contoh perbuatan baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Muslim)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Aku begadang untuk mempelajari dan meneliti ilmu pengetahuan,&lt;br /&gt;lebih nikmat bagiku dibandingkan bersenda gurau dan bersenang-senang dengan wanita cantik&lt;br /&gt;Aku bergerak kesana-kemari untuk memecahkan masalah ilmu pengetahuan,&lt;br /&gt;lebih enak dan lebih menarik seleraku dibandingkan hidangan lezat&lt;br /&gt;(ungkapan Az-Zamakhsyari)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Mukmin penuh manfaat&lt;/strong&gt; tidak menunggu dilihat orang lain baru bertindak, dalam kesendirian pun selalu berupaya memberi manfaat. Selain itu tidak menunggu orang lain 'tuk berbuat kebaikan terlebih dahulu, tapi berupaya mendahului.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Renungan&lt;/strong&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Bila ada sampah, misalnya bungkus permen di dalam masjid, dengan senang hati kita memungut dan membuangnya di tempat sampah. Namun, jika bungkus permen itu ada di ruang kelas atau kantor, mengapa sering kali kita malas 'tuk mengambilnya dengan dalih sudah ada petugas kebersihan? Apakah kebersihan hanya diperintahkan di dalam masjid? Ataukah kita baru bersemangat melakukannya bila dilihat oleh guru, atasan atau orang yang kita kita segani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita ingat lagi, apakah nasihat bijak—bukan hadits Nabi saw.—yang diajarkan kepada kita seperti ini :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:240%;"  &gt;النَّظَافَةُ فىِ الْمَسْجِدِ مِنَ اْلإِيْمَان&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;Kebersihan di dalam masjid itu sebagian dari iman.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ataukah :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:240%;"  &gt;النَّظَافَةُ مِنَ اْلإِيْمَانِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Kebersihan itu sebagian dari iman.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Mengapa kita enggan antri dengan tertib? Mengapa dengan begitu santainya kita melanggar aturan lalu lintas? Bukankah hal itu membuat orang lain harus mengalah terus kepada kita? Bukankah itu berarti kita telah menghalangi jalan orang lain?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:240%;"  &gt;اُنْظُرْ مَا يُؤْذِي النَّاسَ فَاعْزِلْهُ عَنْ طَرِيْقِهِمْ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;Lihatlah sesuatu yang menyakiti manusia, maka singkirkanlah dari jalan mereka.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Ahmad)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Mukmin penuh manfaat&lt;/strong&gt; mendapat lebih banyak ganjaran karena amal yang dilakukan tidak hanya berguna untuk dirinya sendiri, tapi juga orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:240%;"  &gt;مَنْ مَشَى فِيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ كاَن َخَيْرًا لَهُ مِنِ اعْتِكَافٍ عَشْرَ سِنِيْنَ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;Siapa berjalan untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, maka hal itu lebih baik baginya daripada i'tikaf selama sepuluh tahun.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Thabrani)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Syaikh Nashiruddin al-Albani, hadits tersebut termasuk dha‘if, tapi bukan &lt;em&gt;dha‘if jiddan&lt;/em&gt; (sangat lemah), &lt;em&gt;munkar&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;matrûk&lt;/em&gt; (semi palsu) apalagi &lt;em&gt;mawdhû‘&lt;/em&gt; (palsu). Para ulama berpendapat bahwa hadits dha‘if dengan derajat seperti hadits ini tetap boleh dijadikan pegangan asalkan tidak untuk masalah aqidah dan hukum syariah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;Wallâhu a‘lam.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Sebagaimana penjabaran mukmin kuat, deskripsi mukmin penuh manfaat juga begitu banyak. Mari kita tambahkan sesuai spesifikasi teknis kita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mukmin penuh manfaat&lt;/strong&gt; . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mukmin penuh manfaat&lt;/strong&gt; . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mukmin penuh manfaat&lt;/strong&gt; . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa memberi rahmat dan menolong kita sehingga bisa menjadi mukmin kuat dan bermanfaat, amin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Daftar Pustaka :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Maktabah Syamilah &lt;em&gt;al-Ishdâr ats-Tsâniy&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Mushthafa as Siba'i, Dr, “&lt;em&gt;Akhlâqunâ al Ijtimâ‘iyyah&lt;/em&gt; (Etika Sosial Islam) – diterjemahkan oleh Abdul Hayyie al Kattani”, Darus Salam Kairo, Cetakan: I/1998 M – 1418 H&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” &lt;em&gt;(Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus)&lt;/em&gt; – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://media.isnet.org/islam/Etc/EtikaSosial.html"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;http://media.isnet.org/islam/Etc/EtikaSosial.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tulisan ini lanjutan dari : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/07/apa-kita-termasuk-mukmin-kuat-dan.html"&gt;Apa Kita Termasuk Mukmin Kuat dan Bermanfaat? (1 of 2)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-6354940754888142165?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/6354940754888142165/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/08/apa-kita-termasuk-mukmin-kuat-dan.html#comment-form" title="4 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/6354940754888142165" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/6354940754888142165" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/08/apa-kita-termasuk-mukmin-kuat-dan.html" title="Apa Kita Termasuk Mukmin Kuat dan Bermanfaat? (2 of 2)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-904553902499321186</id><published>2009-07-31T00:00:00.023+07:00</published><updated>2009-09-29T09:31:24.830+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="mukmin" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="istiqamah" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kuat" /><title type="text">Apa Kita Termasuk Mukmin Kuat dan Bermanfaat? (1 of 2)</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Berat rasanya jemari tangan mengetik posting kali ini. Malu kepada diri sendiri, Rasul saw. dan Ilahi membuat penulis hampir tak ada daya meneruskan ide di benak menjadi aliran kata penguat jiwa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kondisi penulis masih jauh sekali dari judul artikel. Penulis belum punya prestasi yang telah diukir, manfaat yang ditebar, ilmu dan pengalaman yang dibagi, apalagi buah karya untuk dinikmati.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun, penulis teringat sebuah pengakuan ‘Aidh al-Qarni yang terjemah bebasnya, “Ketika saya hendak bersedih, saya katakan kepada diri sendiri, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;‘Bukankah Engkau penulis buku Lâ Ta&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;zan? Lâ Ta&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;zan! Jangan bersedih!’ ”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meneladani ‘Aidh al-Qarni, penulis berharap coretan ini bisa menjadi pelecut jiwa saat malas mendera, menjadi penghangat tubuh sebelum dingin membuat tulang ngilu, menjadi pembakar semangat bila lelah terlalu cepat meronta, menjadi &lt;em&gt;charger&lt;/em&gt; ketika baterai melemah dan menjadi cahaya kala kabut menyelimuti asa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;*******#######*******&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang mukmin (orang beriman), ada pertanyaan yang harus kita renungkan dan jawab, yaitu “Sudahkah kita memantaskan diri sehingga wajar menyandang gelar seorang mukmin? Lalu, mukmin seperti apakah kita?”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Muhammad saw. berpesan agar kita menjadi mukmin kuat.&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Seorang mukmin kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada seorang mukmin lemah.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Muslim)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi &lt;em&gt;ra&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;imahullâh&lt;/em&gt; menjelaskan makna “kuat” di kitab Syarah Muslim yang intinya bahwa kita harus kuat di segala bidang yang bernilai ibadah dan dalam menegakkan agama Allah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Mukmin kuat&lt;/strong&gt;, dalam menuntut dan memperdalam ilmu tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh derasnya hujan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Renungan&lt;/strong&gt;, &lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bila kita mahasiswa, saat hujan turun begitu deras, apa kita tetap berangkat kuliah tepat waktu? Ataukah ditunda sampai hujan reda dengan dalih telat kuliah termasuk wajar bahkan sebuah kebiasaan? Ataukah lebih parah lagi, kita tidak masuk kuliah dan TA (Titip Absen)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika kita hendak menghadiri majelis ta’lim, apa semangat mengaji tetap membara ketika hujan lebat? Ataukah kita segera meraih selimut 'tuk menghangatkan diri di atas &lt;em&gt;spring bed&lt;/em&gt;, dengan argumentasi masih ada pengajian lagi minggu/bulan berikutnya?&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;مَنْ خَرَجَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Siapa keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka dia berada dalam sabilillah hingga kembali. &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(HR Tirmidzi – hadits hasan gharib)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya berarti ia mengambil bagian yang banyak.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Abu Daud dan Tirmidzi)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mukmin kuat&lt;/strong&gt;, dalam berbagi ilmu, pengalaman serta kebenaran tak akan susut oleh situasi dan tak akan marah karena keadaan sepele apalagi remeh-temeh.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Renungan&lt;/strong&gt;, &lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Apabila ada orang bertanya atau mendebat kita dengan gaya bahasa yang kurang enak didengar, apakah kita membalas dengan nada pembicaraan sama ataukah tetap santun, ramah dan indah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Asumsikan saja pada hari Senin kita sedang mengajar murid/santri/mahasiswa kita tentang sebuah pelajaran, yaitu istilah perempuan yang tidak boleh dinikahi disebut &lt;em&gt;ma&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ram&lt;/em&gt;, bukan &lt;em&gt;mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;rim&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;rim&lt;/em&gt; arti sebenarnya adalah orang yang berpakaian ihram, namun telah terjadi salah kaprah di tengah masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya ada seorang anak didik kita, sebut saja Fulan, yang bertanya lagi perbedaan &lt;em&gt;ma&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ram&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;rim&lt;/em&gt;. Dengan telaten kita menjelaskan ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pun berganti. Ternyata Fulan masih belum paham juga perbedaan tersebut. Untuk ketiga kali kita menerangkan lagi perbedaan yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ke-4—hari Kamis—Fulan tetap menanyakan masalah sama karena dia masih kebingungan dengan kedua kata berbahasa Arab tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, “Apakah kita masih akan tetap menjawab dengan nada merdu dan terasa renyah di indra pendengaran sebagaimana membahasnya pertama kali? Ataukah suara kita sudah naik 1 (satu) oktaf bahkan lebih, serta tak ada kendali nada &lt;em&gt;(pitch control)&lt;/em&gt;? ”&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah orang kuat itu dengan menang bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Muttafaq ‘alayh)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Peribahasa mengatakan, “Adat muda menanggung rindu, adat tua menahan ragam”—menghadapi kesukaran (tantangan), yang berusia muda maupun tua hendaklah bersabar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Mukmin kuat&lt;/strong&gt;, di bidang kehidupan apa pun yang sedang digeluti, selalu berusaha sekuat tenaga menggapai prestasi setinggi-tingginya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Renungan&lt;/strong&gt;, &lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagai murid, santri atau mahasiswa, sudahkah prestasi kita, baik intra maupun ekstra kulikuler memuaskan semua pihak? Apakah nilai ujian kita termasuk kategori papan atas? Memang, nilai bukan segala-galanya, namun bukankah salah satu parameter prestasi adalah nilai akademik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagai karyawan, apakah kita senantiasa memelototi kalender untuk menghitung berapa buah tanggal merah 'tuk bersantai? Berapa lama cuti bersama yang bisa dinikmati? Ataukah kita justru mempertanyakan kenapa begitu banyak tanggal merah karena kita jadi tidak produktif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebagai &lt;em&gt;entrepreneur&lt;/em&gt; (pengusaha), sudahkah kita menyejahterakan karyawan dengan layak bahkan lebih baik lagi dengan niat mencari ridha Allah? Menambah wawasan para pegawai melalui diklat, training atau sekolah ke jenjang yang lebih tinggi? Memfasilitasi kegiatan-kegiatan keagamaan, misalnya pengajian rutin dan shalat berjamaah? Menganggap karyawan adalah mitra sehingga prinsip saling membutuhkan dan melayani selalu terpatri di dalam dada?&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;الْفَتَى رَجُلٌ رِجْلُهُ فىِ الثَّرَى وَهِمَّتُهُ فىِ الثُّرَيَّا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pemuda adalah orang yang kakinya menginjak tanah tapi cita-citanya menyentuh bintang Kartika.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Mukmin kuat&lt;/strong&gt;, dalam beribadah senantiasa berusaha istiqamah demi meraih ridha Allah, bukan gegap-gempita tepuk tangan serta riuh-rendah pujian manusia yang fana.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Renungan&lt;/strong&gt;, &lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika kita blogger, apakah posting kita yang bernilai ibadah senantiasa hadir menyapa dunia secara berkala? Ataukah kita aktif menulis hanya jika sedang mood dan bila banyak komentar indah para pengunjung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Bila hendak menghadiri pengajian umum, janganlah meninggalkan mengaji kitab yang tiap hari kita lakukan setelah Isya’. Walau cuma 15 menit, mengaji kitab harus tetap dilakukan demi menjaga istiqamah, baru kemudian kita bersama-sama menghadiri pengajian umum PHBI (Peringatan Hari Besar Islam),” pesan Ust. Drs. Damanhuri, ustadz yang mengasuh penulis kala mengaji di kampung halaman.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُِئلَ : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ : أَوْدَمُهُ وَإِنْ قَلَّ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya, “Amal apakah yang paling disukai Allah?” Jawab beliau, “Yang paling mudawamah (terus-menerus atau istiqamah) sekalipun sedikit.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Muslim)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Mukmin kuat&lt;/strong&gt;, meneladani &lt;em&gt;Al-Qawiyy&lt;/em&gt; (Yang Maha Kuat) dengan menyadari sepenuhnya bahwa sumber kekuatan adalah Allah SWT. Dengan demikian, kita tak akan merasa diri sebagai orang hebat, brilian, layak dihormati dan sederet sebutan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Renungan&lt;/strong&gt;, &lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seorang arif memberi wejangan, “Jika apa pun kekuatan yang Anda miliki justru men-zhalimi orang lain, maka ingatlah Allah yang telah menganugerahkannya kepada Anda. Ingat pulalah kekuatan Allah terhadap diri Anda.”&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;أَنَّ الْقُوَّةَ ِللهِ جَمِيْعًا&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kekuatan itu seluruhnya milik Allah.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS al-Baqarah [2] : 165)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak deskripsi mukmin kuat yang bisa diuraikan. Mari kita tambahkan sesuai bidang keahlian/ilmu kita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Mukmin kuat&lt;/strong&gt;, . . .&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Mukmin kuat&lt;/strong&gt;, . . .&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Mukmin kuat&lt;/strong&gt;, . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aditya Bagus Pratama, “5079 Peribahasa Indonesia”, Pustaka Media, Cetakan II, 2004&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ahmad Warson Munawwir, “Kamus Al-Munawwir Arab—Indonesia Terlengkap”, Pustaka Progressif, Edisi Kedua–Cetakan Keempat belas 1997&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;‘Aidh al-Qarni, Dr, “Lâ Ta&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;zan – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maktabah Syamilah &lt;em&gt;al-Ishdâr ats-Tsâniy&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-Husnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan ini berlanjut ke : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/08/apa-kita-termasuk-mukmin-kuat-dan.html"&gt;Apa Kita Termasuk Mukmin Kuat dan Bermanfaat? (2 of 2)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-904553902499321186?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/904553902499321186/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/07/apa-kita-termasuk-mukmin-kuat-dan.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/904553902499321186" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/904553902499321186" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/07/apa-kita-termasuk-mukmin-kuat-dan.html" title="Apa Kita Termasuk Mukmin Kuat dan Bermanfaat? (1 of 2)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-8156872730389544198</id><published>2009-07-24T00:00:00.008+07:00</published><updated>2009-07-24T09:09:52.675+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kalbu" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="meninggalkan maksiat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="taat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sabar" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="musibah" /><title type="text">Setiap Kita Penyabar (Ketika Belum Ada Masalah)</title><content type="html">&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Ketika musim hujan, di suatu Senin sore mendung tebal memayungi sebagian wilayah Surabaya. Sunnatullah pun berlaku, hujan akhirnya turun begitu lebat, bak ribuan anak kecil berkejar-kejaran dengan riangnya. Alhamdulillah, saat pulang kerja curah hujan berkurang, hanya rintik-rintik sehingga hawa sejuk menyelimuti tubuh. Demi melindungi pakaian, penulis berkendara menggunakan jas hujan model lowo yang terbuka di kedua sisinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika penulis melewati area Rungkut Industri, air menggenang di tepi sungai yang memisahkan jalur ke arah Rungkut Kidul dan Kutisari. Melihat air tergenang cukup banyak, penulis naik motor perlahan-lahan serta senantiasa berada di sisi kiri menuju Rungkut Kidul.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tak disangka, sebuah taxi melaju cukup kencang. Byor..., sekawanan air merangkul penulis tanpa permisi. Pakaian basah di sisi kanan. “Yok opo, rek… Pelan-pelan po’o…,” gumam penulis perlahan. Bibir tersenyum kecut dibuatnya, tapi bagaimana pun semua t'lah terjadi. Ternyata, bersabar membutuhkan latihan secara konsisten dan persisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*******#######*******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keseharian, biasanya tutur kata kita mencerminkan bahwa kita seorang penyabar, apalagi ditunjang “keahlian” kita menasihati orang lain. Sayang beribu sayang, sifat dan sikap tersebut kita miliki hanya ketika kita sendiri belum mengalami masalah.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana diri kita sebenarnya tercermin tatkala bertemu masalah. Saat muncul masalah, maka masalah itulah yang akan memisahkan dan menggolongkan tingkatan kita—apakah kesabaran kita berada di level TK, SD, SMP, SMA atau yang lain.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Manusia secara alami memang mempunyai kemampuan bersabar. Hal ini telah diakui oleh para pakar ilmu jiwa. Freud berpendapat bahwa manusia memiliki kemampuan memikul sesuatu yang tidak disenangi.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bilamana kita bisa disebut penyabar? Penilaian sabar atau tidak dilakukan saat kita pertama kali menerima masalah. Jadi ketika ada masalah, reaksi pertama kitalah sebagai penentu sabar/tidaknya kita.&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;إنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُوْلىَ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya sabar—yang sangat terpuji—itu pada pukulan pertama (di kala mendadaknya kedatangan musibah).&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(Muttafaq ‘alayh)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bila setelah beberapa lama kemudian baru kita berkata, “Aku sekarang sudah bersabar tertimpa musibah”, maka kita belum bisa disebut seorang penyabar. Namun demikian, untuk pembelajaran, hal ini tetaplah baik. Intinya semakin cepat kita menguasai diri semakin baik. Seterusnya kita berlatih agar bisa bersabar pada saat pertama kali mengalami peristiwa apa pun.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Telah sering dijelaskan pula oleh para ulama bahwa kesabaran itu dalam tiga kondisi, yaitu sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar ketika mendapat musibah dan sabar dalam meninggalkan maksiat.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita lihat apakah kita juga sabar dalam ketaatan. Asumsikan saja bahwa kita senantiasa shalat Dhuha dan membaca Al-Qur’an dalam keseharian. Suatu ketika perusahaan tempat kita bekerja mengadakan rekreasi ke luar kota untuk seluruh karyawan dan keluarga. Berangkat rekreasi hari Jum’at malam dan pulang Minggu malam.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang harus diajukan kepada diri sendiri yaitu, “Apakah kita tetap shalat Dhuha dan membaca Al-Qur’an di hotel/penginapan?” Ataukah kita akan berkata, “Sekali-sekali ngga apa-apalah ngga shalat Dhuha dan baca Al-Qur’an. Toh cuma dua hari saja.” Nah, manakah yang kita pilih?&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan besar kita akan enggan melaksanakannya karena keadaan yang menurut kita kurang memungkinkan. Argumentasi kita karena acara yang disusun panitia cukup padat dan menarik, selain itu disertai &lt;em&gt;door prize&lt;/em&gt; sehingga kita merasa rugi besar bila melewatkan setiap event.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mari merenung sejenak. Untuk contoh sederhana begitu saja, kita sudah dikalahkan oleh situasi dan kondisi. Entah apa yang kita lakukan bila yang kita alami lebih rumit. Entah apa pula yang akan kita lakukan bila kita sedang berada di puncak bukit kesedihan atau di dasar lembah kegalauan. Mungkin saja kita akan meninggalkan semua ibadah sunnah dan hanya mengerjakan yang fardhu, itu pun demi menggugurkan kewajiban saja—&lt;em&gt;lamcing&lt;/em&gt; (habis salam, langsung plencing).&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada juga ungkapan salah kaprah yang kadang kita ucapkan ketika mendapat cemoohan dan gangguan, “Sabar itu ada batasnya. Sekarang saya sudah tidak bisa lagi bersabar atas kelakuannya.”&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sabar itu tak terbatas dan tak bertepi, kita sendirilah yang membatasi. Imam Ibnul Qayyim menuturkan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi tubuh. Apabila kepala terpotong maka tak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.”&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana kiat agar bisa bersabar? Sekian banyak tips dan trik telah dikemukakan. Salah satunya sebagaimana nasihat bijak berikut ini,&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Masalah dalam hidup seperti garam.”&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Rasa ‘asin’ (pedih, pusing, penat, lelah dsb.) yang dialami sangat tergantung dari besarnya kalbu yang menampung. Supaya tidak terlalu menderita, janganlah jadi segelas air. Segelas air bila diberi segenggam garam akan terasa sangat asin. Oleh karena itu, jadikan kalbu di dalam dada sebesar danau. Berlapang dadalah, niscaya memanggul masalah apa pun tidak akan terasa berat. ”&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Inti nasihat tersebut yaitu semua hal tergantung kepada diri kita sendiri, bukan pada masalah yang terjadi. Masalah sama akan berbeda hasilnya bila disikapi dengan cara berbeda. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tentang kesabaran, Al-Qur’an bahkan dua kali berpesan agar menjadikan kesabaran (dan shalat) sebagai sarana untuk memperoleh segala yang dikehendaki.&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;وَاسْتَعِْينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan (melalui) sabar dan (mengerjakan) shalat. &lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(QS al-Baqarah [2] : 45)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُواْ اسْتَعِْينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan (melalui) sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS al-Baqarah [2] : 153)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;M. Quraish Shihab menerangkan bahwa di ayat-ayat tersebut terlihat yang didahulukan adalah kesabaran, baru shalat. Hal ini bukan saja karena shalat pun membutuhkan kesabaran, tetapi juga karena syarat utama tercapainya yang dikehendaki adalah kesabaran dan ketabahan dalam memperjuangkannya.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sabar biasanya pahit di awal, namun manis di akhir. Semoga Allah senantiasa memberi rahmat dan menolong kita sehingga bisa menjadi penyabar, amin...&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, asy-Syaikh, &lt;em&gt;“Riyâdhush Shâlihîn”&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;M. Quraish Shihab, Dr, “‘Menyingkap’ Tabir Ilahi – Al-Asmâ’ al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;usnâ dalam Perspektif Al-Qur’an”, Penerbit Lentera Hati, Cetakan VIII : Jumadil Awal 1427 H/September 2006&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-8156872730389544198?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/8156872730389544198/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/07/setiap-kita-penyabar-ketika-belum-ada.html#comment-form" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/8156872730389544198" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/8156872730389544198" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/07/setiap-kita-penyabar-ketika-belum-ada.html" title="Setiap Kita Penyabar (Ketika Belum Ada Masalah)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-7294020401451079175</id><published>2009-07-17T00:00:00.007+07:00</published><updated>2009-07-17T00:00:00.517+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="mukmin" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="penyembuh" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="jamuan Allah" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="munafik" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tafsir" /><title type="text">Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (4 of 4)</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Marilah kita ingat lagi nasihat junjungan kita bahwa sebagai seorang mukmin, sudah seharusnya kita senantiasa membaca Al-Qur’an. Dari Abu Musa al-Asy‘ari ra., Rasulullah Muhammad saw. mengingatkan kita dalam sebuah hadits,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ اْلأُتْرُجَةِ رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ لا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لاَرِيْحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، ومَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيْحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِيْ لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيْحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah limau (jeruk), baunya harum dan rasanya lezat. Orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti tamar/kurma, dia tidak berbau sedang rasanya manis. Orang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti pohon kemangi, baunya enak sedang rasanya pahit. Dan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti labu pahit, dia tidak berbau sedang rasanya pun pahit”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Sab‘ah : Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an juga merupakan hidangan (jamuan) dari Allah. Kalau kita dijamu oleh manusia saja kita bergembira, apakah kita tidak bahagia dijamu oleh Allah? Khalifah Ustman bin Affan ra. berkata, “Demi Allah, andaikan hati kita bersih, niscaya ia tidak akan merasa kenyang dengan Al-Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa memahami bahwa Al-Qur’an adalah hidangan dari Allah, maka kita harus senantiasa belajar untuk menertibkan bacaan, memahami, menghayati dan mengamalkannya. Bukankah sudah kita ketahui bersama bahwa membaca Al-Qur’an secara berulang-ulang akan menimbulkan makna dan pemahaman baru? Dengannya, kita bisa menikmati ayat-ayat Al-Qur’an, merasa senang membaca dan mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Athaillah menjelaskan, “Siapa dapat merasakan buah amal ibadahnya di dunia, itulah tanda amal ibadahnya diterima di akhirat.” Buah amal ibadah dapat dirasakan manis-lezatnya. Ketika seorang hamba melaksanakan ibadah, maka dapat dirasakan kelezatan dan kenikmatan yang tiada tara. Apabila seorang hamba belum mampu merasakan kelezatan dan manisnya amal ibadah yang ia lakukan, berarti ia belum mengenyam buah dari ibadahnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;‘Aidh al-Qarni menerangkan, “Kebajikan itu sebajik namanya, keramahan seramah wujudnya, dan kebaikan sebaik rasanya. Orang-orang yang dapat merasakan manfaat semua itu adalah mereka yang melakukannya. Mereka akan merasakan ‘buah’-nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak dan nurani mereka.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Abul Laits as-Samarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas‘ud ra. Ibnu Mas‘ud berkata, &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;إِنَّ هٰذَا الْقُرْآنَ مَأْدُبَةُ اللهِ فَتَعَلَّمُوْا مَأْدُبَةَ اللهِ مَااسْتَطَعْـتُمْ. إِنَّ هٰذَا الْقُرْآنَ حَبْلُ اللهِ الْمَتِيْنِ وَنُوْرٌ مُبِيْنٌ وَشِفَاءٌ نَافِعٌ وَعِصْمَةٌ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِهِ وَمَنْجَاةٌ لِمَنِ اتَّبَعَهُ لاَيَعْوَجُ فَيُقَوَّمُ وَلاَيَزِيْغُ فَيَسْتَعْـتِبَ وَلاَتَنْقَضِى عَجَائِـبُهُ وَلَمْ يَخْلَقْ عَنْ كَثْرَةِ التِّرْدَادِ أُتْلُوْهُ فَإِنَّ اللهَ تَعَالىَ يَأْجُرُكُمْ عَلَى تِلاَوَتِهِ بِكُلِّ حَرْفٍ عَشْرُ حَسَـنَاتٍ أَمَا إِنِّيْ لاَأَقُوْلُ آلمۤ عَشَرَةٌ وَلـٰـكِنَّ اْلأَلِفَ عَشَرَةٌ وَاللاَّمَ عَشَرَةٌ وَالْمِيْمَ عَشَرَةٌ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Al-Qur’an ini sebagai hidangan (jamuan) Allah, maka pelajarilah hidangan Allah itu sedapat-dapatnya. Sesungguhnya Al-Qur’an ini sebagai tali hubungan kepada Allah yang sangat kukuh, sebagai cahaya yang menerangi, obat penyembuh yang sangat berguna, dapat memelihara siapa yang berpegang padanya, menyelamatkan siapa yang mengikutinya, tidak kuatir berbelok untuk ditegakkan dan tidak akan menyesatkan, tidak akan habis hikmah mutiaranya dan tidak lapuk karena sering diulang-ulang. Bacalah ia, maka Allah akan memberimu pahala untuk tiap huruf sepuluh kebaikan. Ingatlah Aku tidak mengatakan ‘alif lâm mîm’ itu hanya sepuluh kebaikan, tetapi alif sepuluh, lâm sepuluh dan mîm sepuluh.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, banyak sekali buku, kitab atau software untuk mengetahui arti ayat-ayat Al-Qur’an berikut penjelasannya, antara lain :&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Al-Qur’an dan Terjemahnya” oleh Lembaga Penyelenggara Penerjemah Kita Suci Al-Qur’an, yang menerjemahkan per ayat.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Al-Ibrîz&lt;/em&gt; oleh Kyai Bisyri Mustofa – Rembang, menerjemahkan per kata dalam bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf-huruf Arab (istilahnya Arab Pego).&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Terjemah Al-Qur’an Secara Lafzhiyah – Penuntun Bagi Yang Belajar” oleh Yayasan Pembinaan Masyarakat Islam (YA SALAM) Al-Hikmah Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Al-Qur’an digital, software-software Al-Qur’an dan terjemahnya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Situs-situs di internet.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tafsir-tafsir yang ditulis oleh mufassir (ahli tafsir) Indonesia, misalnya Tafsir Al-Misbah karya Prof. M. Quraish Shihab.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tafsir-tafsir terjemahan dari karya ulama-ulama salaf (zaman dulu) maupun khalaf (modern), yang edisi aslinya dalam bahasa Arab; misalnya Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Di Bawah Naungan Al-Qur’an &lt;em&gt;(Fî Zhilâli Al-Qur’an)&lt;/em&gt; oleh Sayyid Quthb dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Namun demikian, janganlah kita lupa bahwa belajar itu harus dibimbing oleh seorang guru. Setinggi apa pun pendidikan kita, marilah kita serahkan setiap urusan kepada ahlinya. Janganlah hanya dengan membaca terjemah Al-Qur’an, kemudian kita mencoba untuk menafsirkan berdasarkan logika semata. Sebagaimana kita ketahui bersama, setiap ilmu punya tingkatan. Setiap tingkat punya syarat yang harus dipenuhi sebelum mempelajari dan memahaminya. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Akhirnya, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah :&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِالْقُرآنِ وَاجْـعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُوْرًا وَهُـدًى وَرَحْمَـةً&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, sayangilah kami dengan Al-Qur’an. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai imam, cahaya, petunjuk dan rahmat bagi kami, amin.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka :&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;‘Aidh al-Qarni, Dr, “&lt;em&gt;Lâ Ta&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;zan&lt;/em&gt; – Jangan Bersedih”, Qisthi Press, Cetakan Ketiga puluh enam : Januari 2007&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Salim Bahreisy, “Tarjamah Tanbihul Ghafilin (karya Syaikh Abul Laits as-Samarqandi) – Peringatan Bagi Yang Lupa – Jilid 1 dan 2”, PT Bina Ilmu&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan lanjutan dari : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/07/menerangi-rumah-orang-lain-rumah_10.html"&gt;Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (3 of 4)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-7294020401451079175?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/7294020401451079175/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/07/menerangi-rumah-orang-lain-rumah_17.html#comment-form" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/7294020401451079175" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/7294020401451079175" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/07/menerangi-rumah-orang-lain-rumah_17.html" title="Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (4 of 4)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-4390363211200847112</id><published>2009-07-10T07:00:00.014+07:00</published><updated>2009-07-17T09:09:01.735+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="syafa'at" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="suara merdu/indah" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="khath" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="membaca Al-Qur'an" /><title type="text">Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (3 of 4)</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Supaya kita senang membaca Al-Qur’an, salah satu caranya adalah membeli mush-haf yang indah dan tulisan Arabnya sejuk dipandang mata. Mata kita beribadah dengan memandang ayat-ayat suci Al-Qur’an. Jenis-jenis &lt;em&gt;khath&lt;/em&gt; (kaligrafi Arab) ada beberapa, yaitu &lt;em&gt;naskhi, riq‘ah, ray&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ani, tsuluts, farisi, diwani, diwani jali&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;khawfi&lt;/em&gt;. Dengan tulisan yang indah, setidaknya kita akan tertarik, senang dan bahagia untuk senantiasa membuka &lt;em&gt;mush-&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;af&lt;/em&gt; Al-Qur’an al-Karim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, sudah ada mush-haf Al-Qur’an dengan huruf berwarna-warni sesuai hukum ilmu tajwid, misalnya &lt;em&gt;izh-hâr&lt;/em&gt; berwarna biru laut, &lt;em&gt;ikhfâ’&lt;/em&gt; hijau daun, &lt;em&gt;ghunnah&lt;/em&gt; jingga dan seterusnya termasuk bacaan &lt;em&gt;gharîb&lt;/em&gt;. Tentunya hal ini sangat membantu kita dalam rangka membaca dengan baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Al-Qur’an dapat menyucikan jiwa, memberi tahu kita tuntutan yang harus dilaksanakan dan membangkitkan berbagai nilai yang diinginkan dalam penyucian jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Al-Qur’an dapat melenyapkan godaan setan dan bisikan dalam hati untuk melakukan keburukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Al-Qur’an membawa kesembuhan lahir dan batin serta membimbing kita menuju surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Al-Qur’an menyempurnakan fungsi shalat, zakat, puasa dan haji dalam mencapai derajat kehambaan kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Al-Qur’an menuntut penguasaan yang sempurna mengenai hukum tajwid dan komitmen harian untuk mewiridkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Al-Qur’an disunnahkan dengan suara yang bagus lagi merdu, sebagaimana sabda Rasulullah saw. :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْـوَاتِكُمْ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah kamu sekalian menghiasi Al-Qur’an dengan suara merdu.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(HR Darimi)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;حَسِّـنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ، فَإِنَّ الصَّوْتَ الْحَسَنَ يَزِيْدُ الْقُرْآنَ حَسَـنًا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Perindahlah Al-Qur’an dengan suaramu. Sesungguhnya suara indah akan menambah keindahan Al-Qur’an.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(HR Darimi, Bukhari dan Muslim)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;لِكُلِّ شَيْئٍ حِلْيَةٌ وَحِلْيَةُ الْقُرْآنِ الصَّوْتُ الْحَسَنِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Setiap sesuatu mempunyai hiasan dan hiasan Al-Qur’an adalah suara indah.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR adh-Dhiya’ Abdurrazaq dari Anas bin Malik)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;لَمْ يَأْذَنِ اللهُ لِشَيْئٍ مَا أَذِنَ لِلنَّبِيِّ أَنْ يَتَـغَنَّى بِالْقُرْآنِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Allah tidak mendengarkan sesuatu sebagaimana mendengarkan seorang Nabi yang membaca Al-Qur’an dengan suara merdu.” &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(HR Bukhari dan Muslim)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Abu Musa al-Asy‘ari berkata bahwa Rasulullah bersabda padanya,&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;يَا أَبَا مُوْسَى، لَقَدْ أُتِيْتَ مِنْ مَارًا مِنْ مَزَامِيْرِ آلِ دَاوُ ُدَ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Abu Musa, sungguh Allah telah memberikan padamu tenggorokan sebagaimana tenggorokan Nabi Daud.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Bukhari dan Muslim)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an berbicara kepada kita tentang tauhid, kemudian beranjak kepada tema shalat. Selesai membahas tema shalat, Al-Qur’an beralih kepada pembicaraan tentang hari akhir, kemudian berpindah ke persoalan jihad; karena Al-Qur’an diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui rahasia langit dan bumi. Para sahabat Rasulullah sangat menginginkan sesuatu yang dapat mendekatkan mereka kepada penghayatan ayat-ayat Al-Qur’an. Oleh sebab itu, mereka sangat teduh mendengarkan ayat-ayat itu dilantunkan dengan suara yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara indah memang memesona dan dapat mendatangkan pengaruh yang baik dalam hati, jika suara indah itu melantunkan ayat-ayat Allah yang terang dan pesan-pesan ayat yang agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang senang menikmati suara bagus dan indah, juga merasa santai jika mendengarkannya adalah sesuatu yang tidak bisa diingkari. Anak kecil akan tenang jika mendengar suara yang enak. Bahkan, unta yang berjalan dengan kasar dan berat oleh muatan di punggungnya akan menjadi tenang dan santai jika mendengar suara pengiring unta yang merdu dan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik berkata, “Tidak mengapa jika seorang imam memperindah suaranya saat membaca Al-Qur’an, dan ini bukan perbuatan yang mengada-ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi saw. juga memberikan semangat pada kita untuk senantiasa membaca Al-Qur’an. Dari Aisyah, Rasulullah bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السًّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَـعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌ لَهُ أَجْرَانِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang membaca Al-Qur’an, (dan) ia mahir, kelak mendapat tempat dalam surga bersama-sama dengan para rasul yang mulia lagi baik. Dan orang yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan tampak agak berat lidahnya (belum lancar), ia akan mendapat dua pahala (pahala karena mau belajar dan pahala membaca Al-Qur’an).”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadist lain dari Abu Umamah ra., Rasulullah bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;اِقْرَؤُا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَـةِ شَفِيْعًا ِلأَصْحَابِهِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Bacalah Al-Qur’an oleh kamu sekalian, sesungguhnya Al-Qur’an itu akan menjadi syafa‘at/penolong bagi para pembacanya di hari Kiamat.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(HR Muslim)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;‘Aidh al-Qarni, Dr, “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an &lt;em&gt;(‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)&lt;/em&gt;”, Maghfirah Pustaka, Cetakan Kedua : Januari 2006&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;M. Misbachul Munir, “325 Contoh Kaligrafi Arab”, Penerbit Apollo, Jumadil Awal 1412H/Nopember 1991&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sa‘id Hawwa, asy-Syaikh, “Kajian Lengkap Penyucian Jiwa “Tazkiyatun Nafs” &lt;em&gt;(Al-Mustakhlash fi Tazkiyatil Anfus)&lt;/em&gt; – Intisari Ihya ‘Ulumuddin”, Pena Pundi Aksara, Cetakan IV : November 2006&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Salim Bahreisy, “Tarjamah &lt;em&gt;Al-lu’lu’ wal-Marjân&lt;/em&gt; (karya Syaikh Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi) – Himpunan Hadits Shahih Yang Disepakati Oleh Bukhari dan Muslim – Jilid 1 dan 2”, PT Bina Ilmu&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Salim Bahreisy, “Tarjamah Tanbihul Ghafilin (karya Syaikh Abul Laits as-Samarqandi) – Peringatan Bagi Yang Lupa – Jilid 1 dan 2”, PT Bina Ilmu&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan lanjutan dari : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/07/menerangi-rumah-orang-lain-rumah.html"&gt;Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (2 of 4)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini berlanjut ke : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/07/menerangi-rumah-orang-lain-rumah_17.html"&gt;Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (4 of 4)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-4390363211200847112?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/4390363211200847112/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/07/menerangi-rumah-orang-lain-rumah_10.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/4390363211200847112" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/4390363211200847112" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/07/menerangi-rumah-orang-lain-rumah_10.html" title="Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (3 of 4)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-5015595066195333204</id><published>2009-07-03T00:00:00.007+07:00</published><updated>2009-07-10T08:18:34.671+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="mengajar Al-Qur'an" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="belajar Al-Qur'an" /><title type="text">Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (2 of 4)</title><content type="html">&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Nah, apakah kita melaksanakan perintah pemimpin besar kita, Nabi Muhammad saw. tersebut? Sudahkan setiap hari kita membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an di rumah, walaupun hanya satu ayat, asalkan istiqamah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita diundang oleh orang lain untuk membaca Al-Qur’an di rumahnya, mungkin berbentuk pengajian, khataman Al-Qur’an, atau yang lain, apakah kita mendatanginya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kita mau bahkan aktif membaca Al-Qur’an di rumah orang lain sementara di rumah sendiri kita malas? Apakah karena kalau kita membaca firman Allah di rumah orang yang mengundang kita, kita akan mendapat makan secara gratis? Kemudian ketika pulang, kita akan membawa tentengan berupa satu kotak makanan? Ataukah kita lebih parah lagi, kita tidak pernah membaca ayat-ayat Al-Qur’an, baik di rumah sendiri maupun di rumah orang lain, kecuali ketika shalat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita sengaja membiarkan rumah kita gelap gulita? Itukah yang kita inginkan? Bukankah Rasulullah telah memerintahkan kita agar menerangi rumah kita dengan membaca Al-Qur’an? Memang, rumah kita sudah ada penerangan listrik, tetapi secara hakikat—dalam pandangan Allah dan para malaikat—rumah kita terasa suram dan buram, bila tak ada cahaya Al-Qur’an. Marilah kita introspeksi diri sendiri, tidak usah mencari-cari kesalahan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), penulis beserta semua santri mendapat nasihat dari ustadz yang mengajar mengaji. Sang ustadz menasihatkan bahwa kalau kita sudah bekerja, kecil kemungkinan bisa membaca Al-Qur’an di rumah setiap hari secara istiqamah, walaupun satu ayat. Akan ada saja alasannya, mungkin tidak ada waktu karena sebagai profesional kita sibuk sekali. Jika kita seorang entrepreneur (pengusaha), kita merasa tidak sempat karena bisnis harus tetap jalan bahkan meningkat sehingga cash flow perusahaan aman. Kalau kita adalah karyawan, kita akan mengemukakan alasan lembur, lelah dan ingin istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita aktif di organisasi, alasan kita adalah banyaknya kegiatan di luar, rapat kerja, konfrensi, musyawarah besar/nasional, muktamar, pelatihan kepemimpinan dan sebagainya. Apalagi bagi yang sudah tua namun belum bisa membaca Al-Qur’an, karena waktu mudanya tidak mengaji. Jangankan membaca, belajar pun enggan karena merasa bukan waktunya lagi. Karena sudah tua, dikatakan bahwa pikiran lambat, lidah kaku, mata lamur, sudah udzur dan banyak lagi argumen yang akan dikemukakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan itu terasa aneh pada saat penulis mendengarnya. Maklum, waktu itu masih SMP, masih banyak waktu untuk membaca Al-Qur’an di rumah. Kegiatan pun sudah terjadwal dengan baik. Setelah penulis bekerja, barulah penulis merasakan sendiri kebenaran nasihat tersebut. Memang, butuh usaha keras untuk bisa istiqamah membaca Al-Qur’an setiap hari di rumah, walaupun hanya satu ayat. Padahal, kalau kita melakukannya, tidak membutuhkan waktu lama, paling-paling hanya 5 (lima) menit. Hawa nafsu dan setan memang tak kenal istirahat untuk menggoda kita. &lt;em&gt;Wal‘iyâdzu billâh.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Wajarkah kita mengemukakan alasan-alasan di atas? Dengan berbagai argumentasi, kita merasa tidak sempat membaca Al-Qur’an walaupun satu ayat? Bagi yang belum bisa membaca, sahkah alasan kita tidak mau belajar karena merasa lidah ngilu dan kaku? Baiklah kalau memang kita anggap semua itu wajar dan sah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya ada seseorang yang sangat dermawan, kemudian orang itu berkata pada kita, “Bapak/Ibu yang baik, saya seorang biliuner. Saya ingin agar setiap orang mau membaca Al-Qur’an di rumah setiap hari. Saya merindukan lantunan ayat suci kalâm Allah bisa terdengar dari setiap rumah seperti zaman Rasulullah dan para sahabat. Betapa mengharukan dan mempertebal iman jika semua itu terlaksana. Saya ingin berbuat sesuatu untuk Islam dan beramal untuk diri saya. Nah, Bapak/Ibu, maukah Bapak/Ibu membaca Al-Qur’an secara istiqamah, setiap hari satu jam, berapa pun ayatnya; dan sebagai imbalan untuk satu jam itu, Bapak/Ibu akan saya beri uang Rp 99.000.000,- setiap hari? Dan itu berlaku selama 61 tahun Masehi atau 63 tahun Hijriyah. Apa Bapak/Ibu punya waktu dan sempat melakukannya? Kalau Bapak/Ibu belum bisa membaca Al-Qur’an, dengan imbalan sebesar itu, apakah Bapak/Ibu mau belajar? Dengan hadiah itu, maukah Bapak/Ibu bersabar untuk mengatasi kakunya lidah dan lambatnya pikir?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa jawaban kita seandainya itu benar-benar terjadi? Penulis yakin seyakin-yakinnya &lt;em&gt;(haqqul yaqîn)&lt;/em&gt; bahwa kita akan punya waktu untuk melakukannya. Bukan hanya 5 (lima) menit, tapi 60 (enam puluh) menit atau 1 (satu) jam, sesuai permintaan biliuner tersebut. Lalu, bagaimana dengan alasan-alasan kita sebelumnya? Bukankah itu menunjukkan bahwa argumen-argumen kita ibarat bangunan keropos?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja Allah mau memberikan pahala berupa uang atau permata, pastilah kita akan saling berpacu untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Namun, hal ini sudah kita bahas di tulisan &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html"&gt;“Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya...?&lt;/a&gt;” bahwa dunia adalah ladang untuk ditanami dan dituai di akhirat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita, sebagai seorang mukmin, berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an. Sabda Nabi saw. :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَـلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَـلَّمَهُ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Bukhari)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Al-Qur’an dapat dibagi menjadi beberapat tingkatan, yaitu :&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Belajar membaca sampai lancar dan baik, sesuai qaidah yang berlaku dalam qiraat dan tajwid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;مَۤا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ ِلتَشْقىٰ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(QS Thâhâ [20] : 2) &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;وَلَقَدْ يَسَّرْناَ ٱلْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(QS al-Qamar [54] : 17)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Belajar arti dan maksudnya (tafsir) sampai mengerti akan maksud yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Belajar menghapalnya di luar kepala, sebagaimana yang dikerjakan oleh para sahabat pada masa Rasulullah sampai saat ini. Namun, kewajiban ini bukanlah fardhu ‘ain. Walaupun begitu, kita harus tetap belajar menghapal beberapa ayat atau surah, setidaknya untuk dibaca ketika shalat.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka :&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;M. Quraish Shihab, Dr, “‘Membumikan’ Al-Qur’an”, Penerbit Mizan, Cetakan XXX : Dzulhijjah 1427H/Januari 2007&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Salim Bahreisy, “Tarjamah Tanbihul Ghafilin (karya Syaikh Abul Laits as-Samarqandi) – Peringatan Bagi Yang Lupa – Jilid 1 dan 2”, PT Bina Ilmu&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Tulisan lanjutan dari : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/06/menerangi-rumah-orang-lain-rumah.html"&gt;Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (1 of 4)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini berlanjut ke : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/07/menerangi-rumah-orang-lain-rumah_10.html"&gt;Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (3 of 4)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-5015595066195333204?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/5015595066195333204/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/07/menerangi-rumah-orang-lain-rumah.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/5015595066195333204" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/5015595066195333204" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/07/menerangi-rumah-orang-lain-rumah.html" title="Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (2 of 4)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-3060787237510382333</id><published>2009-06-26T00:00:00.012+07:00</published><updated>2009-07-03T07:48:53.561+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="istiqamah" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cahaya Al-Qur'an" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="rumah yang bercahaya/terang" /><title type="text">Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (1 of 4)</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Misalkan ada seseorang, sebut saja namanya Fulan. Dia suka sekali membersihkan halaman rumah orang lain, hingga mengepel lantai. Lampu-lampu yang ada dibersihkan, dan kalau agak buram segera diganti dengan yang baru. Dia tidak digaji, hanya mendapatkan makan. Jadilah rumah orang lain bersih dan kinclong karena begitu rajinnya si Fulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, rumahnya sendiri dibiarkan kotor. Debu-debu yang menempel di lantai, dinding rumah dan tiap perabotan tidak diacuhkannya, sehingga cukup tebal. Kalau di pesantren, rumah si Fulan ini dijuluki “rumah tayammum”, karena debu-debunya begitu banyak sehingga bisa digunakan untuk tayammum. Ah, ada-ada saja memang anak-anak pesantren itu :-). Fulan malas sekali merawat rumahnya. Lampu-lampu dibiarkan kotor; sampai-sampai ketika nyalanya sudah tidak terang, bahkan sangat buram, dia pun malas menggantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya apa alasan dia tidak bersemangat merawat rumah sendiri, Fulan menjawab, “Kalau aku membersihkan dan mengganti lampu rumah orang lain, aku dapat makan. Nah, jika aku melakukan hal yang sama di rumahku, siapa yang memberi makan aku? Karena tidak ada, lalu buat apa aku repot-repot? Mending aku santai, nonton televisi atau tidur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pendapat kita tentang si Fulan? Apakah dia tergolong orang hebat, wajar atau aneh? Mari kita menilainya sendiri-sendiri dan bersifat rahasia, tidak perlu memberi tahu kepada orang lain tentang komentar kita untuk si Fulan yang “luar biasa” (maksudnya di luar kebiasaan) ini, karena bisa jadi kita sama dengan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;وَلـٰكِنْ جَعَلْنٰـهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهِ مَنْ نَشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(QS asy-Syûrâ [42] : 52)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Anas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah memerintahkan kita untuk menerangi rumah kita dengan membaca Al-Qur’an.&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;نَوِّرُوْا بُيُوْتَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah kamu beri nur (cahaya) rumahmu dengan shalat (sunnah) dan membaca Al-Qur’an.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Baihaqi)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mua‘dz bin Jabal ra. berkata bahwa Nabi saw bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;ثَلاَثَةٌ هُمُ الْغُرَبَاءُ فِى الدُّنْيَا : اَلْقُرْآنُ فِي جَوْفِ الظَّالِمِ وِالرَّجُلُ الصَّالِحُ فِي قَوْمٍ سُوْءٍ وَالْمُصْحَفُ فِي بَيْتٍ لاَ يَقْرَأُ فِيْهِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Tiga macam keanehan (yang asing) di dunia ini, yaitu Al-Qur’an di dalam dada orang zhalim, orang shaleh di tengah kaum jahat dan Al-Qur’an di dalam rumah yang tidak dibaca.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Membaca Al-Qur’an, baik mengetahui artinya ataupun tidak, termasuk ibadah, amal shaleh dan berpahala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Al-Qur’an memberi rahmat serta manfaat bagi yang melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Al-Qur’an memberi cahaya ke dalam kalbu sehingga terang benderang dan memberi peringatan bagi yang membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Al-Qur’an juga memberi cahaya kepada keluarga dan rumah tempat Al-Qur’an dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah puisinya, ‘Aidh al-Qarni mengungkapkan sanjungannya untuk Al-Qur’an :&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Biarkan diriku menyanjung ayat-ayat-Nya yang bercahaya&lt;br /&gt;Bagai kilau bintang kejora di malam hari&lt;br /&gt;Datang menyusul Kitab Taurat dan membuatnya menghilang&lt;br /&gt;Tercampakkan di zaman perbudakan dan zaman yang akan tiba&lt;br /&gt;Dan Injil pun tidak setara dengannya&lt;br /&gt;Ia bagaikan bayang maya yang hinggap di pelupuk mata dalam mimpi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pahala membaca Al-Qur’an, Ali bin Abi Thalib kw. menjelaskan bahwa tiap-tiap orang yang membaca Al-Qur’an dalam shalat, akan mendapat pahala 50 (lima puluh) kebajikan untuk tiap-tiap huruf yang diucapkannya. Membaca Al-Qur’an di luar shalat dengan berwudhu, pahalanya 25 (dua puluh lima) kebajikan untuk setiap huruf. Sedangkan membaca Al-Qur’an di luar shalat dengan tidak berwudhu, pahalanya 10 (sepuluh) kebajikan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُوْلُ الۤـّمۤ حَرْفٌ وَلَكِنَّ أَقُوْلُ اَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan kebaikan itu dengan sepuluh kelipatan. Aku tidak mengatakan ‘alif lâm mîm’ satu huruf, tetapi alif satu huruf, lâm satu huruf dan mîm satu huruf.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT senantiasa memberikan anugerah kepada kita jika kita senantiasa membaca Al-Qur’an.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(QS Fâthir [35] : 2)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Membaca Al-Qur’an walaupun satu ayat, asalkan istiqamah tetaplah utama. Nabi Muhammad saw. berpesan bahwa termasuk hal yang utama adalah melakukan amal ibadah yang sedikit, asalkan terus-menerus. Siti Aisyah menceritakan hadits berikut ini :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُِئلَ : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ : أَوْدَمُهُ وَإِنْ قَلَّ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya, “Amal apakah yang paling disukai Allah?” Jawab beliau, “Yang paling mudawamah (terus-menerus atau istiqamah) sekalipun sedikit.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Muslim)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;‘Aidh al-Qarni, Dr, “Nikmatnya Hidangan Al-Qur’an &lt;em&gt;(‘Alâ Mâidati Al-Qur’an)&lt;/em&gt;”, Maghfirah Pustaka, Cetakan Kedua : Januari 2006&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Salim Bahreisy, “Tarjamah Tanbihul Ghafilin (karya Syaikh Abul Laits as-Samarqandi) – Peringatan Bagi Yang Lupa – Jilid 1 dan 2”, PT Bina Ilmu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan ini berlanjut ke : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/07/menerangi-rumah-orang-lain-rumah.html"&gt;Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (2 of 4)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-3060787237510382333?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/3060787237510382333/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/06/menerangi-rumah-orang-lain-rumah.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/3060787237510382333" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/3060787237510382333" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/06/menerangi-rumah-orang-lain-rumah.html" title="Menerangi Rumah Orang Lain, Rumah Sendiri Gelap (1 of 4)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-6821207878074491760</id><published>2009-06-19T00:00:00.017+07:00</published><updated>2009-06-19T08:51:40.402+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="negatif" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="wudhu" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pelangi" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="hitam" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="putih" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="warna kehidupan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="positif" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="surga" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="neraka" /><title type="text">Hitam dan Putih, di Manakah Warna Lainnya? (2 of 2)</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Di kitab &lt;em&gt;“Al-Adzkâr an-Nawawiyyah”&lt;/em&gt;, pada saat membasuh wajah ketika berwudhu, kita pun diajarkan untuk membaca doa,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, putihkanlah wajah hamba pada hari ketika wajah-wajah tampak putih bersinar dan ada pula wajah-wajah yang terlihat hitam muram.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Peribahasa juga mengatakan, “Hitam-hitam bendi, putih-putih sadah” yang artinya yang hina tetap hina meskipun kaya, sedangkan yang mulia tetap mulia walaupun miskin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena perumpamaan-perumpamaan seperti di tulisan sebelumnya, peribahasa dan doa di ataslah maka analogi kebaikan dan kejahatan adalah warna putih dan hitam. Selain itu, warna putih disepakati sebagai lambang kesucian dan hitam adalah kegelapan. Bukankah warna bendera kita adalah Merah-Putih, adapun warna putih tersebut melambangkan kesucian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin teman penulis terlalu kreatif, sehingga dia benar-benar menyandingkan semua warna dengan kebaikan atau tidak. Kalau memang warna putih adalah kebaikan, sedangkan hitam adalah kegelapan; lantas warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu (me-ji-ku-hi-bi-ni-u) itu diibaratkan apa? Apa yang bisa mewakili warna-warna tersebut dalam kehidupan? Kalau hanya ada hitam dan putih, lalu buat apa Tuhan menciptakan warna? Apakah kita tidak mengetahui bahwa banyaknya warna adalah sebuah keindahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah warna putih dihasilkan dari perpaduan tujuh warna pelangi?,” tulis Prof. Dr. Muhammad Nuh, DEA pada saat menjabat Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya di sebuah surat kabar tentang training ESQ untuk mahasiswa baru ITS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kita tidak perlu merisaukan lagi di mana warna-warna yang lain, bukan? Warna-warna itu telah menyatu membentuk warna putih. Warna putih tidaklah berdiri sendiri, ia tercipta oleh kesatuan yang indah dari sekian banyak warna. Semua perilaku atau pekerjaan yang kita niatkan sebagai ibadah adalah warna-warna pembentuk warna putih. Semuanya tampak indah, karena sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Indah dan menyukai keindahan &lt;em&gt;(Innallâha Jamîlun yu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ibbul jamâl)&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia ini banyak pilihan, penuh rupa dan banyak warna. Tentang dongeng kepada anak-cucu, kiranya banyak sekali cerita kebaikan dan hikmah yang bisa kita kisahkan. Dan, sepanjang usia kita yang cuma sebentar, kisah-kisah itu tidak akan pernah habis diceritakan. Tak ada seorang pun di dunia ini yang mengetahui semua kisah baik dan bermanfaat. Semua itu karena keterbatasan hidup kita di negeri fana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bangga pada kemaksiatan yang pernah kita lakukan, lalu sekarang kita merasa sudah bertaubat, apakah kita yakin bahwa kita pasti masuk surga? Bukankah kita memang diciptakan untuk mengabdi (beribadah) kepada-Nya? Apakah ada perintah bahwa bertaubat itu kalau sudah tua? Sudah diberitahukah kita tentang kapan datangnya maut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah kita mengejek orang yang berusaha lurus-lurus saja dalam hidup ini. Semua yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri. Kalau Allah mau, Allah bisa saja menjadikan semua manusia sebagai satu umat, dan semuanya taat kepada-Nya. Atau, Allah menjadikan semua yang ada halal, tidak ada larangan dan perintah untuk berbakti kepada-Nya. Namun, bila itu yang terjadi, lantas buat apa ada akhirat? Kenapa Allah menciptakan surga dan neraka? Mengapa surga bertingkat-tingkat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menghendaki dunia ini sebagai tempat bertemunya dua hal yang saling berlawanan, dua jenis yang saling bertolak belakang, dua kubu yang saling berseberangan—yakni baik dan buruk. Setelah itu, Allah akan mengumpulkan semua kebaikan, kebagusan dan kebahagiaan di surga. Adapun yang buruk akan dikumpulkan di neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik—entah serius atau sekadar guyonan, “Jika nanti wajah-wajah berubah putih, bukankah menyeramkan? Jadi aneh, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban penulis sederhana saja, “Kalau kita ke warung atau rumah makan lalu pesan air putih, apakah kita dikasih air susu yang berwarna putih ataukah air bening?” Hakekat sesungguhnya makna wajah menjadi putih hanya Allah Yang Maha Tahu. Namun, secara umum bisa disimpulkan bahwa wajah menjadi berseri-seri dan bercahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, supaya selalu di jalan-Nya yang lurus, marilah kita bersama-sama berdoa kepada Allah :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;اللَّهُمَّ أَرِناَ الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْـتِنَابَهُ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar, dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang salah itu salah, dan berilah kekuatan kepada kami untuk menjauhinya, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, asy-Syaikh, &lt;em&gt;“Al-Adzkâr an-Nawawiyyah”&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aditya Bagus Pratama, “5079 Peribahasa Indonesia”, Pustaka Media, Cetakan II, 2004&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni &lt;em&gt;(Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)&lt;/em&gt;”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bahrun Abu Bakar, Lc, dan Anwar Abu Bakar, Lc, “Khasiat Zikir dan Doa – Terjemah Kitab Al-Adzkaarun Nawawiyyah”, Penerbit Sinar Baru Algensindo, Cetakan I : Rabiul Awal 1416/Agustus 1995&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan lanjutan dari : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/06/hitam-dan-putih-di-manakah-warna.html"&gt;Hitam dan Putih, di Manakah Warna Lainnya? (1 of 2)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-6821207878074491760?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/6821207878074491760/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/06/hitam-dan-putih-di-manakah-warna_19.html#comment-form" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/6821207878074491760" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/6821207878074491760" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/06/hitam-dan-putih-di-manakah-warna_19.html" title="Hitam dan Putih, di Manakah Warna Lainnya? (2 of 2)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-2619415366791226486</id><published>2009-06-12T00:00:00.011+07:00</published><updated>2009-06-19T08:49:33.583+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="negatif" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="wudhu" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="hitam" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="putih" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="warna kehidupan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="positif" /><title type="text">Hitam dan Putih, di Manakah Warna Lainnya? (1 of 2)</title><content type="html">&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;“Banyak orang memvonis sesuatu berdasarkan hitam atau putih. Kalau dalam hidup ini hanya ada hitam dan putih, maka sungguh hidup ini tidak indah. Bukankah Tuhan juga menciptakan warna-warna yang lain?” tanya seorang teman pada penulis, sekaligus sebuah pernyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang bilang, “Kalau masa remaja dan masa muda kita isi dengan banyak kegiatan termasuk yang negatif, itu bagus sekali. Itu berarti hidup kita penuh warna, tidak monoton. Nanti kalau sudah tua, bisa jadi bahan cerita untuk anak-cucu. Kalau hidup kita lurus-lurus saja, sungguh tidak asyik hidup ini. Bukankah hidup ini harus pernah mencicipi semua rasa?” Mâsyâ Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, hitam dan putih, itulah yang sering kita dengar sebagai analogi kebaikan dan kejahatan. Dari mana istilah ini muncul? Lalu di manakah warna-warna lainnya? Apakah bahan cerita untuk anak-cucu harus mulai dari yang negatif sampai yang positif? Apakah kita harus bangga bila pernah melakukan kemaksiatan, dosa dan perbuatan nista lainnya? Benarkah tindakan kita mengejek orang-orang yang berusaha untuk lurus-lurus saja dalam hidup ini, dengan alasan hidup mereka tidak variatif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita ulas dari mana asal kata “putih” sebagai ibarat kebaikan dan “hitam” sebagai perumpamaan keburukan/kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT. berfirman di dalam Al-Qur’an al-Karim yang terjemahnya sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan), “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(QS Âli ‘Imrân [3] : 105-107)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan pada hari Kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(QS az-Zumar [39] : 60)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Sahabat Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah mendatangi kuburan dan bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat atas kalian tempat kaum mukmin dan kami insya Allah menyertai kalian. Aku senang kita telah melihat saudara-saudara kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah kami juga saudara-saudaramu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab,&lt;br /&gt;“Kalian sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita adalah yang belum lahir (lahir setelah wafatnya Rasulullah).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana Engkau mengetahui umatmu yang belum lahir nanti?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab,&lt;br /&gt;“Apa pendapatmu kalau seseorang memiliki kuda dengan warna putih di tubuhnya di antara sekumpulan kuda hitam legam, tidakkah dia mengetahui kudanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata, “Iya, benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau bersabda,&lt;br /&gt;“Mereka akan datang dengan warna putih di tubuhnya akibat dari bekas wudhu, dan aku akan menuntun mereka ke telaga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun teks Arab hadits tersebut adalah :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى الْمَقْبَرَةَ فَقَالَ : اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمِ مُؤْمِنِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ، وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا، قَالُوْا : أَوَلَسْـنَا إِخْوَانَكَ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ : أَنْتُمْ أَصْحَابِيْ، وَإِخْوَانُنَا الَّذِيْنَ لَمْ يَأْتُوْا بَعْدُ، قَالُوْا : كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلاً لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَىْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ، أَلاَ يَعْرِفُ خَيْلَهُ؟ قَالُوْا : بَلَى يَارَسُوْلَ اللهِ، قَالَ : فَإِنَّهُمْ يَأْتُوْنَ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ مِنَ الْوُضُوْءِ، وَأَنَا فَرَطُهُمْ إِلىَ الْحَوْضِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Pemimpin agung kita, Nabi saw. pasti akan mengetahui umat beliau pada hari Kiamat, di tengah-tengah kumpulan kaum (kaum Musa, Isa, Nuh dan Ibrahim). Rasulullah mengetahui mereka dengan tanda wudhu. Jika beliau melihat wajah kita bersinar bagaikan bulan karena bekas wudhu, begitu pula anggota badan kita yang lain bercahaya, maka beliau akan tahu bahwa kita termasuk pengikutnya. Lalu beliau dengan tangannya memberi kita minum (dari telaga) hingga kita tidak pernah haus selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadits lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Sahabat Shuhaib ra. bahwa Rasulullah bersabda :&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ يَقُوْلُ اللهُ تَبارَكَ وَتَعَالَى : تُرِيْدُوْنَ شَـيْئًا أَزِيْدُكُمْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوْهَنَا، أَلَمْ تُدْخِلَنَا الْجَنَّةَ، وَتُنْجِنَا مِنَ النَّارِ؟ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوْا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظْرِ إِلَى رَبِّهِمْ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah berfirman, “Maukah kalian kutambah sesuatu?” Mereka menjawab, “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga dan menghindarkan kami dari neraka?” Kemudian disingkapkanlah penghalang itu, tidak ada sesuatu yang paling diinginkan melainkan hanya melihat wajah Tuhan mereka.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, asy-Syaikh, &lt;em&gt;“Riyâdhush Shâli&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;în”&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;‘Aidh al-Qarni, Dr, “Sentuhan Spiritual ‘Aidh al-Qarni &lt;em&gt;(Al-Misk wal-‘Anbar fi Khuthabil-Mimbar)&lt;/em&gt;”, Penerbit Al Qalam, Cetakan Pertama : Jumadil Akhir 1427 H/Juli 2006 &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Salim Bahreisy, “Tarjamah Riadhus Shalihin I dan II (karya Syaikh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi)”, PT Alma‘arif&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini berlanjut ke : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/06/hitam-dan-putih-di-manakah-warna_19.html"&gt;Hitam dan Putih, di Manakah Warna Lainnya? (2 of 2)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-2619415366791226486?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/2619415366791226486/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/06/hitam-dan-putih-di-manakah-warna.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/2619415366791226486" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/2619415366791226486" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/06/hitam-dan-putih-di-manakah-warna.html" title="Hitam dan Putih, di Manakah Warna Lainnya? (1 of 2)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-6919209392686476403</id><published>2009-06-05T00:00:00.006+07:00</published><updated>2009-06-11T10:04:05.110+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tertipu" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="dhuha" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sedekah" /><title type="text">Shalat Dhuha, Nasibmu Kini (2 of 2)</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;Dzun Nun al-Mishri berfatwa bahwa kerusakan masuk pada diri manusia melalui enam perkara, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lemahnya niat untuk berbuat amal akhirat.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Badan yang dijadikan jaminan untuk nafsu.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Angan-angan panjang menguasai diri, padahal ajal sangat dekat.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lebih mengutamakan keridhaan makhluk daripada keridhaan Allah.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mengikuti kemauan hawa nafsu dan meninggalkan sunnah Nabi dengan diletakkan di belakang punggung.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menjadikan ketergelinciran lidah sebagai argumen membela diri dan pada sisi lain mengubur sebagian besar perilaku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bisa jadi ada alibi lain yang kita ungkapkan, “Wah, saya sibuk sekali, mana sempat shalat Dhuha… Saya seorang profesional dan aktif di berbagai organisasi. Selain itu saya sering ke luar kota. Bisa dimaklumilah kalau saya sangat jarang shalat Dhuha.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saja setelah shalat Dhuha, untuk &lt;strong&gt;setiap rakaat&lt;/strong&gt; yang kita kerjakan, Allah langsung menghadiahi kita uang tunai &lt;strong&gt;Rp 100 juta&lt;/strong&gt;, apakah kita masih mengatakan tidak sempat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mau bersabar menunggu cairnya tabungan pensiun, mengapa kita tidak mau sedikit bersabar lagi menunggu cairnya tabungan akhirat? Bukahkah jarak antara kita pensiun dari kerja (usia 55 tahun) dan pensiun dari kehidupan ini tidak lama, rata-rata sekitar 10-15 tahun saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali kita akan mengemukakan argumentasi lain, “Sebenarnya saya ingin sekali shalat Dhuha. Tapi, gimana ya? Ya…, begitulah, tahu sendirilah bagaimana kondisi saya. Sejujurnya, sedih juga tidak bisa melaksanakannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab alasan kita tersebut, marilah kita perhatikan pesan Syaikh Ibnu Athaillah berikut ini :&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;الْحُزْنُ عَلَى فُقْدَانِ الطَّاعَةِ مَعَ عَدَمِ النُّهُوْضِ إِلَيْهَا مِنْ عَلاَمَاتِ اْلإِغْتِرَارِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sangat sedih karena tidak dapat menjalankan ketaatan kepada Allah, akan tetapi merasa malas melakukannya adalah tanda ia terperdaya oleh setan.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kesedihan seperti ini adalah kesedihan palsu. Kita merasa sedih tetapi kita malas. Kita merasa rugi tetapi kita tinggalkan. Kita merasa tertinggal tetapi kita tidak mengejarnya. Kita ingin bangkit berdiri tetapi kita berada dalam mimpi pulas dan terbuai pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata kesedihan kita sampai menangis mencucurkan air mata diiringi penyesalan, akan tetapi tidak dengan usaha untuk mencapai apa yang menjadi kewajiban kita sebagai hamba Allah, maka tangis dan penyesalan itu akan tinggal penyesalan belaka. Kita seharusnya berusaha untuk mencari kesempatan atau mempergunakan kesempatan, bukan dibelenggu oleh rasa senang mengikuti panggilan hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang anjuran shalat Dhuha, Sahabat Abdurrahman bin Shakhr ra. atau yang lebih kita kenal dengan panggilan Abu Hurairah ra. telah menceritakan hadits berikut ini :&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِثَلاَثٍ، لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوْتُ : صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلاَةِ الضُّحٰى وَنَوْمِ عَلَى وِتْرٍ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Aku telah dipesan oleh junjunganku (Nabi Muhammad saw.) tiga hal supaya tidak aku tinggalkan sampai mati, yaitu puasa pada tiap bulan selama tiga hari, shalat Dhuha dan tidur setelah shalat Witir.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;(HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud puasa tiga hari setiap bulan yaitu tanggal 13, 14 dan 15 bulan Qamariah. Puasa ini disebut puasa hari terang atau hari putih &lt;em&gt;(yawm al-bîdh)&lt;/em&gt;. Sedangkan tidur setelah shalat Witir maksudnya tidak tidur sebelum melakukan shalat Witir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah rakaat shalat Dhuha minimal 2 (dua) rakaat, dan maksimal 8 (delapan) rakaat menurut jumhur ulama—dengan empat kali salam (satu shalat 2 rakaat). Adapun surah yang dibaca, untuk rakaat pertama QS as-Syams [91] dan rakaat kedua QS adh-Dhu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;â [93]. Bila shalat Dhuha lebih dari sekali, maka untuk shalat berikutnya, pada rakaat pertama membaca QS al-Kâfirûn [109], sedangkan QS al-Ikhlâsh [112] dibaca pada rakaat kedua. Bila ingin membaca surah yang lain juga diperbolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu indah dan hebatnya waktu Dhuha, Allah bahkan pernah bersumpah atasnya.&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;وَالضُّحٰى&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;Demi adh-Dhu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;a (waktu matahari sepenggalahan naik).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(QS adh-Dhu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;â [93] : 1)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Adh-Dhu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;a dipilih berkaitan dengan wahyu-wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. Ketika matahari naik sepenggalahan, cahayanya memancar menerangi seluruh penjuru. Cahayanya tidak terlalu terik sehingga tidak menyebabkan gangguan sedikit pun. Bahkan, panasnya memberikan kesegaran, kenyamanan dan kesehatan. Dengannya, Allah melambangkan kehadiran wahyu sebagai kehadiran cahaya matahari yang sinarnya demikian jelas, menyegarkan dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi saw. menganjurkan agar pada pagi hari kita bersedekah sebanyak bilangan seluruh anggota tubuh sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas semua nikmat yang telah dilimpahkan oleh-Nya, termasuk nikmat hidup setelah mengalami tidur yang mirip dengan mati—bahkan bisa dikategorikan saudaranya. Dua rakaat shalat Dhuha bisa mencukupi semua sedekah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Abu Dzar ra. berkata bahwa Nabi saw. pernah bersabda,&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمٰى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْـبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذٰلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحٰى&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Pada (tiap) pagi hari setiap persendian dari seseorang di antara kalian ada sedekahnya; setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar ma‘ruf adalah sedekah dan nahi munkar adalah sedekah pula. Tetapi dapat mencukupi semuanya yaitu dua rakaat yang dilakukan oleh seseorang dalam shalat Dhuha.”&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;(HR Muslim, Abu Daud dan Ahmad)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, masih adakah alasan yang akan kita kemukakan sebagai pembenar kita malas melaksanakan shalat Dhuha?&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf &lt;em&gt;(Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)&lt;/em&gt;”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, &lt;em&gt;“Syara&lt;u&gt;h&lt;/u&gt; al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;ikam”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;M. Quraish Shihab, Dr, “Wawasan Al-Qur’an – Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat”, Penerbit Mizan, Cetakan XIX : Muharram 1428H/ Februari 2007&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan ini lanjutan dari : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/05/shalat-dhuha-nasibmu-kini-1-of-2.html"&gt;Shalat Dhuha, Nasibmu Kini (1 of 2)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-6919209392686476403?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/6919209392686476403/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/06/shalat-dhuha-nasibmu-kini-2-of-2.html#comment-form" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/6919209392686476403" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/6919209392686476403" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/06/shalat-dhuha-nasibmu-kini-2-of-2.html" title="Shalat Dhuha, Nasibmu Kini (2 of 2)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-852117233966706492</id><published>2009-05-29T00:00:00.005+07:00</published><updated>2009-06-11T10:02:10.685+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="nikmat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="rejeki" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="dhuha" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="hukum tarik-menarik" /><title type="text">Shalat Dhuha, Nasibmu Kini (1 of 2)</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ilmuwan Fisika Quantum telah membuat rumusan Hukum Tarik-Menarik &lt;em&gt;(The Law of Attraction)&lt;/em&gt;. Salah satu ringkasan rahasia Hukum Tarik-Menarik adalah “Untuk menarik uang, berfokuslah pada kekayaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mario Teguh menasihatkan, “Hukum Tarik-Menarik berkata bahwa kalau kita fokus pada kekayaan, maka semesta akan menarik kekayaan untuk kita. Kalau kita selalu berpikir hal-hal baik, maka kebaikanlah yang akan diwujudkan untuk kita. Oleh karena itu, berpikir dan fokuslah untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dengan cara-cara yang tetap dalam kebaikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita perhatikan lagi ajaran agama kita. Sebelum ilmuwan, motivator dan konsultan berpesan seperti tersebut di atas, bukankah doa ketika selesai shalat Dhuha sudah mengajarkan kita untuk berpikir dan bersikap seperti itu? Coba kita telaah lagi doa setelah shalat Dhuha sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;اللَّهُمَّ إِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاؤُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ رِزْقِيْ فىِ السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فىِ اْلأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ مُعْسِـرًا فَيَسِّـرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ، بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ وَعِصْمَتِكَ، آتِنِيْ مَا أَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;&lt;br /&gt;رَبَّنَاۤ ءَاتِنَا فىِ ٱلدُّنْياَ حَسَـنَةً وَفىِ ٱْلآخِرَةِ حَسَـنَةً وَقِنَا عَـذَابَ ٱلنَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَـيِّدِنَا &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ ٱلْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى ٱلْمُرْسَلِيْنَ. وَٱلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعٰٰـلَمِيْنَ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha itu waktu-Mu; cahaya cemerlang, keindahan, kekuatan, kekuasaan dan penjagaan, semua itu adalah hak yang ada pada-Mu. Ya Allah, bilamana rejeki hamba masih di langit maka turunkanlah, apabila masih berada di dalam bumi maka keluarkanlah, jika susah mencapainya maka mudahkanlah, bila ada yang haram maka sucikanlah dan jika masih jauh maka dekatkanlah; dengan hak-Mu atas waktu dhuha, cahaya cemerlang, keindahan, kekuatan, kekuasaan dan penjagaan-Mu; anugerahkanlah kepada hamba seperti yang telah Engkau anugerahkan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. Semoga shalawat/rahmat dan kasih sayang tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad saw. beserta keluarga dan sahabat beliau. Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam, amin.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, agama kita telah mengajarkan semua hal, jauh sebelum para ilmuwan, konsultan dan motivator mengatakannya. Dengan anjuran agama untuk shalat Dhuha, serta bukti ilmiah dan logis yang ada, apakah kita masih mengabaikan shalat Dhuha? Apakah kita masih menganggapnya tidak perlu dan tidak penting? Apakah kita masih didera rasa malas untuk melaksanakannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan, perlu diingat bahwa kita tidak boleh shalat Dhuha dengan niat agar mendapatkan banyak rejeki. Shalat Dhuha tetap diniatkan untuk beribadah, mengabdi kepada-Nya, sesuai anjuran Rasulullah saw. Doa setelah shalat itulah yang kita niatkan untuk memohon kelancaran rejeki yang halal, berlimpah dan barakah. Selain uang dan perhiasan, rejeki juga bisa berarti kesehatan, keluarga SAMARA &lt;em&gt;(sakinah, mawaddah wa rahmah)&lt;/em&gt;, nilai bagus dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan waktu pelaksanaan shalat Dhuha bisa dimulai? Shalat Dhuha bisa dikerjakan setelah matahari terbit setinggi galah. Apabila diukur dalam satuan menit, kira-kira 25 (dua puluh lima) menit setelah matahari terbit. Saat ini sudah banyak dicetak pedoman shalat untuk waktu abadi dan kalender yang mencantumkan waktu-waktu shalat, imsak, terbit matahari dan Dhuha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas, berarti shalat Dhuha bisa dilaksanakan sebelum kita berangkat ke kantor, sekolah atau kuliah. Namun, jika kita berangkat ke kantor pagi-pagi benar—sebelum waktu Dhuha—karena jarak yang cukup jauh atau waktu tempuh yang lama, maka shalat Dhuha bisa dilakukan di kantor, sebelum jam kerja. Bagi para pelajar dan mahasiswa, shalat Dhuha dapat dilakukan pada jam istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada di antara kita yang berkata, “Kalau saya shalat Dhuha di sekolah, kampus atau kantor, saya kuatir akan timbul sifat riya’. Saya takut dipuji teman-teman dan akhirnya ibadah saya karena mereka, bukan karena Allah. Nanti kan saya tidak mendapat apa pun. Saya juga kuatir dikatakan sok alim, padahal saya kan bukan orang alim. Saya bukan ustadz, apalagi kyai. Saya pun belum menunaikan ibadah haji. Cukup melaksanakan shalat fardhu sajalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah salah satu cara setan untuk mencegah kita melaksanakan ibadah. Setan memang punya berjuta jurus untuk menaklukkan kita. Salah satunya yaitu membisiki kita bahwa kalau kita melaksanakan ibadah yang tidak dilaksanakan orang lain, maka kita akan mudah terjangkit penyakit hati berupa riya’ dan ‘ujub. Kalau kita malah tidak shalat Dhuha karena takut riya’ dan ‘ujub, berarti setan telah berhasil, dan kita kalah dibuatnya. Solusinya adalah tetaplah menjalankan shalat Dhuha, sambil menata hati dan memohon kepada Allah agar menjaga kita dari godaan setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Fudhail bin Iyadh menuturkan, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ dan berbuat amal karena manusia adalah syirik. Ikhlas adalah pembebasan Allah dari keduanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberi nasihat, “&lt;em&gt;Iyyâka na‘budu&lt;/em&gt; menolak penyakit riya’, sedangkan&lt;em&gt; iyyâka nasta‘în&lt;/em&gt; menolak penyakit ‘ujub dan takabur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat Dhuha tidak ada hubungannya dengan sebutan Ustadz, Kyai, Ajengan, Buya, Tuan Guru, Syaikh, Ulama atau yang lain. Shalat itu antara kita dengan Allah. Shalat Dhuha dianjurkan oleh Nabi tercinta, Muhammad saw. Kita shalat bukan untuk mendapat julukan “orang alim”. Kita shalat semata-mata karena-Nya. Kalau omongan teman membuat kita tidak shalat, justru itu menunjukkan bahwa kita shalat karena mereka (riya’). Kita rajin shalat karena pujian, dan tidak shalat karena cemoohan. Apakah diri kita memang seperti itu? Tentu tidak, kan? Bukankah kita telah berikrar bahwa shalat, ibadah, hidup dan mati kita hanya untuk Allah? Dan jika memang kita beralasan malu untuk shalat di sekolah, kampus atau kantor; apakah ketika libur, kita selalu shalat Dhuha di rumah&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Daftar Pustaka :&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf &lt;em&gt;(Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)&lt;/em&gt;”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kathur Suhardi, “Madarijus-Salikin (Pendakian Menuju Allah) – Penjabaran Kongkret &lt;em&gt;Iyyâka na‘budu wa-Iyyâka nasta‘în&lt;/em&gt; (terjemah &lt;em&gt;Madârij as-Sâlikîn&lt;/em&gt; karya Ibnul Qayyim al-Jauziyah)”, Pustaka Al-Kautsar, Cetakan Kedua : Agustus 1999&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Rhonda Byrne, “Rahasia &lt;em&gt;(The Secret)&lt;/em&gt;”, PT Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Kelima : Juni 2007&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tulisan ini berlanjut ke : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/06/shalat-dhuha-nasibmu-kini-2-of-2.html"&gt;Shalat Dhuha, Nasibmu Kini (2 of 2)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-852117233966706492?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/852117233966706492/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/05/shalat-dhuha-nasibmu-kini-1-of-2.html#comment-form" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/852117233966706492" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/852117233966706492" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/05/shalat-dhuha-nasibmu-kini-1-of-2.html" title="Shalat Dhuha, Nasibmu Kini (1 of 2)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8722759701921669445.post-8748982970662589783</id><published>2009-05-22T00:00:00.005+07:00</published><updated>2009-08-25T13:25:54.922+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sombong karena tawadhu' (rendah hati)" /><title type="text">Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong? (12 of 12)</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;f. Tawadhu‘&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab &lt;em&gt;“Al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;ikam”&lt;/em&gt;, Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Athaillah as-Sakandary menjelaskan :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;مَنْ أَثْبَتَ لِنَفْسِـهِ تَوَاضُعًا فَهُوَ الْمُتَكَـبِّرُ حَقًّا، إِذْ لَيْسَ التَّوَاضُعُ إِلاَّ عَنْ رِفْعَةٍ فَمَتَى أَثْبَتَ لِنَفْسِكَ رِفْعَةً فَأَنْتَ الْمُتَكَـبِّرُ حَقًّا&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Siapa merasa dirinya tawadhu‘, maka dia benar-benar telah takabbur (sombong). Sebab tiadalah ia merasa tawadhu‘ kalau bukan karena sifat tinggi darinya. Oleh karena itu kapan saja engkau merasa dirimu tinggi, maka sungguh engkau telah takabbur.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kadang karena ingin tawadhu‘, kita berlaku berlebihan sehingga menjalani hidup terlalu bersahaja padahal kita mampu. Misalnya tidak mau ikut serta menyumbangkan pemikiran dan pendapat yang kita miliki kepada orang lain, selalu menolak kepercayaan, tanggung jawab serta amanah yang diberikan kepada kita, padahal kita memiliki kemampuan untuk melaksanakan itu semua. Setan akan menggoda dan membisiki kita bahwa sikap itulah bentuk keunggulan kita yang tidak dimiliki orang lain. Kita adalah orang mulia karena mampu bersikap tawadhu‘ seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mâsyâ Allah. Setan memang tak pernah lelah untuk menggelincirkan kita. Walaupun kita sudah rendah hati, justru sifat itu sendiri yang dijadikan senjata oleh setan untuk membuat diri kita sombong. Merasa diri tawadhu‘ termasuk sifat angkuh &lt;em&gt;(kibr)&lt;/em&gt;. Apalagi jika sifat ini dipamerkan kepada orang lain, maka jadilah perbuatan ini riya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tawadhu‘ itu hanyalah sifat terpuji yang tersimpan dalam hazanah kalbu seorang hamba Allah. Ia tidak menunjukkan sifat-sifatnya itu. Ia hanya meneladani akhlak Rasulullah saw. Ia sendiri tidak merasa memiliki sifat tersebut, karena yang ia gunakan dan tiru adalah sifat Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hakikat tawadhu‘ adalah tawadhu‘-nya seseorang karena melihat keagungan Allah dan sifat-sifat-Nya. Tidak ada yang dapat mengeluarkan engkau dari sifat angkuh, kecuali engkau memperhatikan sifat-sifat Allah,” pesan Ibnu Athaillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan Allah adalah sifat yang ada pada-Nya. Allah-lah Yang Maha Kuasa &lt;em&gt;(Al-Qâdir)&lt;/em&gt;. Selama kita tidak memperhatikan sifat-sifat kemuliaan yang ada pada-Nya, selama itu pula kita merasa lebih dari manusia lainnya, dan dengan sifat itu kita telah &lt;em&gt;takabbur&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar Dalf asy-Syibli berkata, “Siapa yang merasa diri berharga, maka ia tidak bertawadhu‘ (tidak ada bagian dalam tawadhu‘).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sulaiman ad-Darany berpesan, “Seorang hamba tidak dapat bertawadhu‘ kepada Allah hingga mengetahui kedudukan dirinya (maksudnya dia tahu kedudukan dirinya di hadapan Allah).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, seorang ulama ahli hikmah menasihatkan, “Selama seseorang merasa ada yang lebih jahat dari dirinya, maka ia sombong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawadhu‘ adalah sifat dan watak yang harus dimiliki oleh setiap muslim karena termasuk bagian dari akhlak terpuji &lt;em&gt;(akhlâqul ma&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;mûdah)&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya senantiasa dalam ketundukan pada-Nya, marilah kita bersama-sama memohon kepada Allah :&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Traditional Arabic';font-size:180%;"  &gt;اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِاسْمِكَ الطُّهْرَ الطَّاهِرِ وَبِعَظَمَتِكَ وَكِبْرِيَائِكَ الَّذِى إِذَا طُلِبَتْ بِهَا الْحَسَنَاتِ نِيْلَتْ وَإِذَا دُرِئَتْ بِهَا السَّـيِّئاَتِ حِيْلَتْ. اللَّهُمَّ اصْرِفْ عَناَّ السُّوْءَ وَأَلْقِ عَلَيْنَا مِنْ زِيْنَتِكَ وَنُعُوْتِ رُبُوْبِيَّـتِكَ مَا تَقْهَرُ بِهَا الْقُلُوْبَ وَتَذِلُّ بِهَا النُّفُوْسَ وَتَقِرُّ بِهَا اْلأَبْصَارَ وَتَلِذُّ بِهَا اْلأَفْكَارَ وَتَخْضَعُ بِهَا كُلَّ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ. يَا اللهُ يَا مُتَكَبِّرُ يَا قَهَّارُ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya Allah, sesungguhnya kami mohon kepada-Mu, dengan nama-Mu yang suci, serta keagungan dan kebesaran-Mu yang bila dimohonkan kebijakan dengannya diperoleh kebijakan itu. Bila ditolak keburukan dengan menyebutnya terjauhkan dari keburukan itu. Ya Allah, hindarkanlah kami dari segala keburukan, campakkanlah ke dalam jiwa kami keindahan-Mu serta sifat-sifat-Mu yang terpuji, agar tunduk dengannya semua kalbu, serta luluh semua jiwa, sejuk karenanya semua mata, dan tenang semua pikiran, lagi tunduk semua yang angkuh dan pembangkang. Ya Allah, Yang Memiliki Kebesaran dan Maha Perkasa, amin&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Daftar Pustaka :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Abul Qasim Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi, asy-Syaikh, “Risalah Qusyairiyah Sumber Kajian Ilmu Tasawuf &lt;em&gt;(Ar-Risâlah al-Qusyairiyyah fî ‘Ilmi at-Tashawwuf)&lt;/em&gt;”, Pustaka Amani, Cetakan I : September 1998/Jumadil Ula 1419&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Djamal’uddin Ahmad Al Buny, “Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam (karya Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim Ibnu Athaillah)”, Mutiara Ilmu Surabaya, Cetakan ketiga : 2000&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Muhammad bin Ibrahim Ibnu ‘Ibad, asy-Syaikh, &lt;em&gt;“Syara&lt;u&gt;h&lt;/u&gt; al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;ikam”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Tulisan ini lanjutan dari : &lt;a href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/05/apa-kita-terjangkit-penyakit-sombong-11.html"&gt;Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong? (11 of 12)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;#Semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…#&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8722759701921669445-8748982970662589783?l=achmadfaisol.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/feeds/8748982970662589783/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/05/apa-kita-terjangkit-penyakit-sombong-12.html#comment-form" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/8748982970662589783" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8722759701921669445/posts/default/8748982970662589783" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://achmadfaisol.blogspot.com/2009/05/apa-kita-terjangkit-penyakit-sombong-12.html" title="Apa Kita Terjangkit Penyakit Sombong? (12 of 12)" /><author><name>faisol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00827762265104095531</uri><email>achmadfaisol@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" name="OpenSocialUserId" value="12890150177807620243" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></entry></feed>
