<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>RENEWABLE ENERGY</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</managingEditor><pubDate>Fri, 1 Nov 2024 04:33:16 -0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">63</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://go-greenergy.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:category text="Government &amp; Organizations"><itunes:category text="Local"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><xhtml:meta content="noindex" name="robots" xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml"/><item><title>Energi dari Buah Asli Indonesia</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2011/06/energi-dari-buah-asli-indonesia.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Tue, 7 Jun 2011 20:14:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-5632649598129123486</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDnu7Mj9HbfFWRP161u0T1VP7kML4Rum1s0LQfKqW8hrjVSuL9ccogCu9rP7HG-ZMdv6WaoMlJgAyvhhHk3PFZlTdmS9Q7KM4Kx7puyK5JQ_z1LsQYXhH9HeRE2H1mD4-e_F4zuvqAc5U/s1600/buah-bintangur1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615682319625219170" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 286px; CURSOR: hand; HEIGHT: 228px" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDnu7Mj9HbfFWRP161u0T1VP7kML4Rum1s0LQfKqW8hrjVSuL9ccogCu9rP7HG-ZMdv6WaoMlJgAyvhhHk3PFZlTdmS9Q7KM4Kx7puyK5JQ_z1LsQYXhH9HeRE2H1mD4-e_F4zuvqAc5U/s320/buah-bintangur1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tim mahasiswa Universitas Cendrawasih Papua menemukan energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar fosil, pada buah Bintanggur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah Bintanggur adalah buah endemik dan diketahui hanya tumbuh di Papua. Buah itu diproses melalui penyulingan sederhana dan bisa menghasilkan solar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah Bintangur disebutkan lebih baik dari pohon jarak, dan bisa ditemukan di pesisir pantai, pegunungan, atau pun lembah-lembah di seluruh Papua. Keunggulan lainnya, buah Bintangur tumbuh tidak mengenal musim dan berbuah dalam jumlah yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses penciptaan energi alternatif untuk masyarakat miskin di Papua itu, pertama biji buah Bintanggur diambil dan dikeringkan dengan dijemur. Setelah itu, dia akan digerus dan dimasukkan ke dalam kertas saring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyaringan dilakukan 4-7 kali dan setelah itu minyak dan air akan dipisahkan. Minyak yang keluar dari kertas saring tersebut akan bercampur dengan larutan PE (Petroleum Eter). PE dengan sendirinya akan menguap ke udara, tinggallah minyak mentahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, seorang guru di Kecamatan Sabbang, Luwu Utara, Sulawesi Selatan menemukan jus buah yang mampu menghasilkan energi listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memanfaatkan tiga jenis buah hutan, Ketiga jenis buah yang bisa menghasilkan energi listrik itu tidak sering dimanfaatkan. Selain karena tumbuhnya di hutan,buah-buahan ini juga jarang dikonsumsi karena memiliki rasa sangat asam. Buah- buahan itu adalah kadundung (sejenis kedondong hutan), kakobi, dan dengen (biasa dikenal dengan nama sempu atau jerukan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis buah ini banyak terdapat di hutan di wilayah Luwu Utara. Buah-buahan tersebut cukup diblender seperti membuat jus buah. Setelah itu, ditempatkan di dalam wadah plastik dengan menghubungkan dua pelat sebagai penghantar arus listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larutan untuk 2 kg buah dengen atau volume 250 mililiter bisa menghasilkan rata-rata 3,4 volt. Larutan buah kadundung menghasilkan 1,8 volt, dan larutan kakobi menghasilkan 2,8 volt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya buahnya, kulit kayu dari ketiga jenis buah tersebut juga bisa menghasilkan energi listrik yang lebih besar dengan merebusnya dengan air. Untuk1kg kulit kayu pohon dengen menghasilkan rata-rata 3,2 volt, kulit kayu kakobi menghasilkan 3,2 volt,dan kulit kayu kadundung menghasilkan 3,4 volt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.greenradio.fm/technology/energy/bio-energy/1189-energi-dari-buah-asli-indonesia&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDnu7Mj9HbfFWRP161u0T1VP7kML4Rum1s0LQfKqW8hrjVSuL9ccogCu9rP7HG-ZMdv6WaoMlJgAyvhhHk3PFZlTdmS9Q7KM4Kx7puyK5JQ_z1LsQYXhH9HeRE2H1mD4-e_F4zuvqAc5U/s72-c/buah-bintangur1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Energi Alternatif dari Es</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2011/06/energi-alternatif-dari-es.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Tue, 7 Jun 2011 19:58:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-6233150084975802066</guid><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjPzSitkw8c_RxdaTHEF3kdWFfCFeBiyP1_sG0-LWZ6RZxsnMjQB127lJcEw5kwdRQZsCG8mmmPlnNREdKl6T2GtRmOECZHRPSGBrmMpXsjOjcA6EMHldxbkxg5vV2sCszkPotWQgu4p8/s1600/es12.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615678337764346098" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 286px; CURSOR: hand; HEIGHT: 208px" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjPzSitkw8c_RxdaTHEF3kdWFfCFeBiyP1_sG0-LWZ6RZxsnMjQB127lJcEw5kwdRQZsCG8mmmPlnNREdKl6T2GtRmOECZHRPSGBrmMpXsjOjcA6EMHldxbkxg5vV2sCszkPotWQgu4p8/s320/es12.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Badan survei geologi Amerika Serikat menemukan gas hydrates atau dikenal sebagai es yang bisa terbakar mampu menyediakan sumber energi alternatif yang bersih di masa mendatang. Gas itu bisa menggantikan sumber bahan bakar fosil yang menyebabkan polusi tinggi pada saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gas alam membeku yang ditemukan di bawah lautan antartika bisa digunakan untuk sumber energi di rumah atau pabrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gas hydrates dapat ditambang layaknya gas biasa. Peneliti AS yang dipimpin oleh Tim Collett mendapati kandungan gas ini sangat besar, bisa untuk memanaskan seratus juta rumah selama beberapa dekade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gas hydrates lebih bersih daripada bahan bakar fosil dan mengeluarkan karbondioksida lebih sedikit. Proses pembakaran gas Hydrates lebih efisien jika sudah dibentuk menjadi bahan bakar sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan bakar ini terbentuk, saat gas metana keluar dari materi pembusukan organik dan kontak dengan air pada suhu yang rendah dan tekanan tinggi. Para ahli memperkirakan terdapat 85,4 triliun kubik kaki gas alam yang bisa ditambang dari wilayah utara Alaska.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:http://www.greenradio.fm/technology/energy/bio-energy?start=20</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjPzSitkw8c_RxdaTHEF3kdWFfCFeBiyP1_sG0-LWZ6RZxsnMjQB127lJcEw5kwdRQZsCG8mmmPlnNREdKl6T2GtRmOECZHRPSGBrmMpXsjOjcA6EMHldxbkxg5vV2sCszkPotWQgu4p8/s72-c/es12.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Energi Alternatif dari Bakteri E Coli</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2011/06/energi-alternatif-dari-bakteri-e-coli.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Tue, 7 Jun 2011 19:49:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-3178064103792367727</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2G4PEJYjzZfwUpTMP_f12wcAPcOM8HEFnuNJncPuqq0iuV3bZ5Fps2qNCB2VIHey7zg-kkx5JZAEd70Jmz-gXO7fJVkceQL7e5NQSx0BYle6l3xSLN_HXmptTcVgBxnRgFuDF91KRCyA/s1600/e-coli12.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615675820134986882" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 286px; CURSOR: hand; HEIGHT: 286px" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2G4PEJYjzZfwUpTMP_f12wcAPcOM8HEFnuNJncPuqq0iuV3bZ5Fps2qNCB2VIHey7zg-kkx5JZAEd70Jmz-gXO7fJVkceQL7e5NQSx0BYle6l3xSLN_HXmptTcVgBxnRgFuDF91KRCyA/s320/e-coli12.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Peneliti dari Fakultas Teknik Kimia Universitas A&amp;amp;M Texas, Thomas Wood berhasil mengolah bakteri E. Coli menjadi sumber energi yang kelak dapat menghidupkan kendaraan bermotor dan penerangan di rumah-rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memodifikasi sifat genetis bakteri E. Coli, Thomas berhasil merekayasa jaringan Coli sehingga menghasilkan gas hidrogen yang cukup banyak, Sel yang telah dimodifikasi gennya itu memproduksi hidrogen 140 kali lebih banyak dibanding proses normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian ini bisa disebut sebagai batu lompatan bagi lahirnya energi berbasis hidrogen-yang diyakini akan banyak diterapkan di berbagai negara kelak. Energi yang terbarukan, bersih, dan efisien adalah kunci bagi teknologi yang memanfaatkan sel sebagai bahan bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis bahan bakar ini berpotensi menjadi sumber energi buat barang-barang, mulai dari elektronik yang mudah dipindahkan hingga kendaraan bermotor, dan bahkan pembangkit listrik sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini hidrogen diproduksi secara massal di seluruh dunia dengan teknologi yang dikenal dengan sebutan 'memecah air', sehingga hidrogen bisa terpisah dari oksigen dalam unsur air. Tapi proses ini sangatlah mahal dan membutuhkan energi yang luar biasa besarnya, itu sebabnya teknologi ini belum ekonomis bagian kebanyakan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi temuan Wood menawarkan solusi yang berbeda. Bila selama ini orang kerap mendengar jaringan tertentu selalu membawa penyakit untuk manusia, namun sebenarnya banyak jaringan lain yang tidak menimbulkan bahaya, bahkan bermanfaat positif bisa mencegah hadirnya bakteri jahat di tubuh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: AFP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2G4PEJYjzZfwUpTMP_f12wcAPcOM8HEFnuNJncPuqq0iuV3bZ5Fps2qNCB2VIHey7zg-kkx5JZAEd70Jmz-gXO7fJVkceQL7e5NQSx0BYle6l3xSLN_HXmptTcVgBxnRgFuDF91KRCyA/s72-c/e-coli12.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Energi Dari Jamur Kayu</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2011/06/energi-dari-jamur-kayu.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Tue, 7 Jun 2011 19:45:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-138922600444944177</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifx89SnnhzVZYEkMvb89HDgHF9AIXeh4INMTJMhK0pj07HgG2PFlUnTSbAT8Bw6mQRFQgCSTZaV9yKTHaEcSHX7TyywwKqxeUHKIJyh7bHRUOcpJT6ZMSokU54nzUbm16oupSTSQUb4qQ/s1600/jamur-kayu12.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615674913829975602" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 286px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifx89SnnhzVZYEkMvb89HDgHF9AIXeh4INMTJMhK0pj07HgG2PFlUnTSbAT8Bw6mQRFQgCSTZaV9yKTHaEcSHX7TyywwKqxeUHKIJyh7bHRUOcpJT6ZMSokU54nzUbm16oupSTSQUb4qQ/s320/jamur-kayu12.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tanaman yang ditumbuhi jamur menghasilkan campuran hidrokarbon yang bisa dijadikan bahan bakar diesel. Dengan hasil temuan terbaru, ilmuwan berharap mereka bisa membelah gen DNA jamur untuk dicangkokkan ke mikroorganisma lain dan memprosesnya menjadi bahan bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan bakar alternatif berbasis ethanol yang dihasilkan dari jagung atau batang tebu, belum cukup mengatasi masalah ini. Pasalnya, untuk memproduksi satu liter ethanol membutuhkan hidrokarbon mentah dalam jumlah yang sama. Hidrokarbon adalah bahan kimia yang bisa menghasilkan bahan bakar diesel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ini kemungkinan besar akan segera terpecahkan dengan bantuan jamur parasit mikroskopik yang hidup di dalam substansi kayu sebuah pohon dan memecah selulosa sehingga menghasilkan campuran hidrokarbon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selulosa kayu menjadi tempat terbaik bagi jamur penghasil hidrokarbon untuk menghasilkan bahan bakar. Namun untuk mengambilnya, sangat sulit karena harus memecah struktur selulosa kayu yang kuat. Diperlukan enzim khusus untuk proses tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peneliti studi ini mengatakan, sedikit bahan bakar diesel yang dihasilkan jamur ini akan cukup memberikan tenaga bagi satu buah traktor untuk bekerja. Oleh karenanya, mereka terus mengembangkan temuan ini. Menurut mereka, sangat mungkin mengadakan analisa genetik pada jamur dan mendeteksi gen serta mencangkoknya pada organisma lain untuk menghasilkan bahan bakar dari kayu berjamur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : BBC News&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifx89SnnhzVZYEkMvb89HDgHF9AIXeh4INMTJMhK0pj07HgG2PFlUnTSbAT8Bw6mQRFQgCSTZaV9yKTHaEcSHX7TyywwKqxeUHKIJyh7bHRUOcpJT6ZMSokU54nzUbm16oupSTSQUb4qQ/s72-c/jamur-kayu12.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Nasib Biofuel Indonesia (selesai)</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2011/06/nasib-biofuel-indonesia-selesai.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Tue, 7 Jun 2011 19:40:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-822227186973741518</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgm4lVFiSN8qoOyrjhgs8tOxfbkyyMHWlywoqluigmb0Qf8VagPDC6Vt1643nJSgRbsgcTfgwBKBhZB9-zeqWzhAu08CEssbB2sEO03rTJfObiFp07ahKc0kELy87aRuM4EjHoSsec0iE/s1600/biofuel_corservemus_com1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615673540219726722" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 286px; CURSOR: hand; HEIGHT: 303px" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgm4lVFiSN8qoOyrjhgs8tOxfbkyyMHWlywoqluigmb0Qf8VagPDC6Vt1643nJSgRbsgcTfgwBKBhZB9-zeqWzhAu08CEssbB2sEO03rTJfObiFp07ahKc0kELy87aRuM4EjHoSsec0iE/s320/biofuel_corservemus_com1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berdasarkan data Pertamina, jumlah konsumsi bahan bakar nabati terus menurun. Jika bulan Januari lalu ada 20 depot yang menjual bahan bakar minyak yang dicampur bahan bakar nabati, maka pada Februari jumlahnya hanya 13 depot saja. Sedangkan pada Juni lalu kembali melorot, tinggal 8 depot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juru Bicara PT Pertamina, Basuki Trikora Putra mengatakan, Pertamina hanya menggunakan satu persen saja penggunaan biofuel dari tahun lalu yang 2 sampai 3 persen. Pengurangan ini disebabkan, sebagian besar produsen bahan bakar nabati, justru mengekspor BBN ke luar negeri. Pertamina tidak mampu menawarkan harga yang lebih tinggi dari pasar di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul bahwa pertamina ini kan di dalam menunjang program pemerintah untuk pengguanaan bahan bakar nabati sudah dilakukan diproduk pertamina baik premium maupun solar. Dan itu memang kita sangat tergantung pada perusahaan penyedia nabatinya,” kata Basuki Trikora Putra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat Energi, Pri Agung Rakhmanto mengatakan, pemerintah seharusnya menjadikan penggunaan biofuel sebagai program nasional. Dengan begitu jumlah subsidi yang digelontorkan pun jauh lebih besar. Harga bahan bakar nabati di pasaran pun bisa lebih murah dari minyak, sehingga ketergantungan terhadap BBM secara otomatis akan berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Subsidinya diperbesar anggarannya. Itu otomatis yang teserap di dalam negeri lebih banyak. Alokasi anggaran dari pemerintah diperbesar lah untuk mensubsidi bahan bakar nabati itu. Kalau sama-sama harus mensubsidi, itu akan lebih bagus mensubsidi bahan bakar nabati daripada BBM. Jelas karena ini terbarukan, menyerap lebih banyak tenaga kerja,: ujar Pri Agung Rakhmanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, jika pemerintah tidak segera bergerak cepat dengan menggunakan energi alternatif seperti nabati dan batubara, maka Indonesia hampir dipastikan akan mengalami krisis energi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgm4lVFiSN8qoOyrjhgs8tOxfbkyyMHWlywoqluigmb0Qf8VagPDC6Vt1643nJSgRbsgcTfgwBKBhZB9-zeqWzhAu08CEssbB2sEO03rTJfObiFp07ahKc0kELy87aRuM4EjHoSsec0iE/s72-c/biofuel_corservemus_com1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Nasib Biofuel Indonesia (bag.1)</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2011/06/dalam-rancangan-anggaran-pendapatan-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Tue, 7 Jun 2011 19:33:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-4537810805499954797</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhC_P5pVUYNfMEv4HsV3bcuyFPbjBlYbt-gFFz-LzOiBgs30m3C0wpgpmKeQekH6hElnFkGUYug3_szk0NrHTiRqGHExXseiwIr1QVD3Habrl-TWelysfw_qwdaHku5aMnwGqUbyJMneiY/s1600/biofuelphoto81.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615671707617771058" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 220px" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhC_P5pVUYNfMEv4HsV3bcuyFPbjBlYbt-gFFz-LzOiBgs30m3C0wpgpmKeQekH6hElnFkGUYug3_szk0NrHTiRqGHExXseiwIr1QVD3Habrl-TWelysfw_qwdaHku5aMnwGqUbyJMneiY/s320/biofuelphoto81.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2010, subsidi bahan bakar nabati dipatok maksimal 2000 perliter. Sehingga total subsidi BBN ditargetkan sebesar 1 milyar lebih. Adanya penaikan subsidi ini diharapkan mampu merangsang produsen kembali menjual bahan bakar nabati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia, Aprobi menilai, pemerintah tidak bisa mematok subsidi bahan bakar nabati. Pasalnya kata Sekretaris Jendral Aprobi, Paulus Tjakrawana harga bahan baku BNN yaitu kelapa sawit juga tergantung dari harga CPO dunia yang selalu berubah-ubah. Karena itu menurut dia, pemerintah harus menyamakan besaran subsidi bahan bakar nabati dengan bahan bakar minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama perlakuannya dengan BBM. Kalau BBM yang sebagian besar impor itu 400 ribu barel kita impor bisa diperlakukan seperti itu kenapa produksi dalam negeri tidak bisa diperlakukan seperti itu? Saat ini semua berhenti pak. Hanya satu saja perusahaan yang masih bisa berproduksi. Tapi yang lain mencoba untuk ekspor tapi hanya satu atau dua,” papar Paulus Tjakrawana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, seandainya industri bahan bakar nabati atau biofuel dikembangkan untuk keperluan konsumsi dalam negeri, maka pada tahun depan diprediksi bisa menyerap 3 sampai 5 juta tenaga kerja. Juga bisa mengurangi subsidi penggunaan BBM minimal 10 persen, menghemat devisa senilai 100 trilyun rupiah dan membudidayakan lahan 5 juta hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia, Apindo Jimanto menilai pemerintah seharusnya menambah subsidi bahan bakar nabati lebih besar. Sehingga kata dia, besaran harga produk bahan bakar nabati bisa lebih murah ketimbang bahan bakar minyak. Dengan harga yang murah, kata Jimanto, para pengusaha pasti tertarik untuk beralih ke bahan bakar nabati. Saat ini, harga biosolar seribu rupiah lebih mahal dibandingkan harga solar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau menurut saya, harga penyerahan terakhir harus lebih rendah dari BBM. Sehingga merangsang kami untuk memakai itu. Karena kan lebih ramah lingkungan. Sedangkan menjaga lingkungan ini kan jadi tanggungjawab kita bersama untuk memelihara dan menjaganya. Tidak ada salahnya kalau dalam APBN/APBD juga dipergunakan untuk lingkungan,” papar Jimanto. (bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.greenradio.fm/technology/energy/bio-energy/1471-nasib-biofuel-indonesia-bag1 &lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhC_P5pVUYNfMEv4HsV3bcuyFPbjBlYbt-gFFz-LzOiBgs30m3C0wpgpmKeQekH6hElnFkGUYug3_szk0NrHTiRqGHExXseiwIr1QVD3Habrl-TWelysfw_qwdaHku5aMnwGqUbyJMneiY/s72-c/biofuelphoto81.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Biosolar Ampas Kopi</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2011/06/para-peneliti-di-nevada-amerika-serikat.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Tue, 7 Jun 2011 19:30:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-5362317908128078192</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjYk_j0yu0mB9cFY24cPrePpInvOPyN7S2vCzcCiGSrAAGOTCI3nvFJ0VUuSGkXyoKEXL6sSYDGaUKoHl53LtDnkCumL85rzSYQuR5GdHv2ikQ8WAaatMTgK23WzEcffX84PF_optu59T0/s1600/kopi12.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615670882228999826" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 286px; CURSOR: hand; HEIGHT: 229px" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjYk_j0yu0mB9cFY24cPrePpInvOPyN7S2vCzcCiGSrAAGOTCI3nvFJ0VUuSGkXyoKEXL6sSYDGaUKoHl53LtDnkCumL85rzSYQuR5GdHv2ikQ8WAaatMTgK23WzEcffX84PF_optu59T0/s320/kopi12.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Para peneliti di Nevada, Amerika Serikat menemukan bahwa ampas kopi bisa dijadikan bahan biosolar untuk mobil dan truk yang murah dan ramah lingkungan. Mereka mengumpulkan ampas kopi dari ritel penyedia kopi cepat saji dan mengekstrak minyaknya. Mereka menggunakan proses mudah yang murah untuk mengubah 100 persen minyaknya menjadi biosolar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biosolar ini bahkan masih memiliki bau kopi. Dibandingkan dengan biosolar tradisional, biosolar dari ampas kopi ini punya keunggulan dalam hal kestabilan. Sebab kandungan antioksidan di dalam kopi sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Limbah padat yang tersisa dari konversi ini dapat diubah menjadi etanol atau digunakan sebagai kompos. Tim peneliti memperkirakan proses ini dapat menghasilkan keuntungan lebih dari 8 juta dolar AS, itu pun hanya dalam lingkup Amerika saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, mereka berencana mengembangkan pabrik skala kecil untuk menghasilkan dan menguji bahan bakar eksperimen tersebut. Diperikirakan produksi global tahunan dari biosolar akan mencapai angka tiga miliar galon tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini produksi kopi di seluruh dunia mencapai 16 miliar pon per tahun. Ampas kopi mengandung minyak sekitar 11-20 persen dari beratnya. Jumlah ini setara dengan bahan baku biosolar tradisional seperti kelapa sawit atau kacang kedelai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari ampas kopi, biosolar juga dapat dibuat dari minyak kedelai, minyak kelapa sawit, minyak kacang, minyak sayuran lainnya, lemak hewani, bahkan minyak jelantah (bekas menggoreng).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biosolar dapat dijadikan produk tersendiri, tetapi bisa juga dicampurkan bersama solar biasa, sebagai bahan bakar alternatif untuk mesin-mesin diesel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.greenradio.fm/technology/energy/bio-energy/1297-biosolar-ampas-kopi &lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjYk_j0yu0mB9cFY24cPrePpInvOPyN7S2vCzcCiGSrAAGOTCI3nvFJ0VUuSGkXyoKEXL6sSYDGaUKoHl53LtDnkCumL85rzSYQuR5GdHv2ikQ8WAaatMTgK23WzEcffX84PF_optu59T0/s72-c/kopi12.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Bus Listrik : Transportasi Publik Hijau atau Publik Transportasi?</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2011/06/bus-listrik-tidak-hanya-baik-untuk.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Tue, 7 Jun 2011 19:20:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-1014218532831551191</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsgH07iWhMjdni84zajW4g4m2OJLWdxB6AswATdCNdiuVqhiJ9fOxdjTcRDvCni1YaU0ERnLWWZS7P_aD5Dmg9YGVyXOSaNYWlF18jZPwuKSVWwn8sNx0-6-SY8ZcW3pHzwSXyOfcpX00/s1600/bis%252520elektrik.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615668360675555474" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 271px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsgH07iWhMjdni84zajW4g4m2OJLWdxB6AswATdCNdiuVqhiJ9fOxdjTcRDvCni1YaU0ERnLWWZS7P_aD5Dmg9YGVyXOSaNYWlF18jZPwuKSVWwn8sNx0-6-SY8ZcW3pHzwSXyOfcpX00/s320/bis%252520elektrik.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bus listrik tidak hanya baik untuk lingkungan tetapi sangat cocok untuk sarana transportasi publik dengan kondisi banyaknya kendaraan dan hemat energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan moda transportasi umum yang lebih ramah lingkungan membuat bus listrik menjadi salah satu alternatif solusi mengurangi polusi. Bahkan dengan bus listrik menjadi salah satu hal yang menonjol guna menjawab kelebihan moda transportasi ramah lingkungan dibanding dengan dalam mengambil panggung sebagai solusi potensial, tetapi listrik angkutan umum bisa bus berbahan baker diesel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cina, salah satu negara yang memberikan perhatian besar pada hal ini. Bahkan pada pada Maret 2009 lalu di Shanghai, diperkenalkan armada baru bernama Ankai. Bus listrik itu sudah mulai beroperasi di kota Shanghai. Tujuan awal pemerintah Cina adalah untuk mengurangi tingkat polusi udara. Bahlan respons warga di kota itu mengatakan, bahwa bus listrik yang dioperasikan lebih baik dari bus diesel. Warga menyukai bus listrik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan Bus Listrik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesinnya bekerja lebih baik dan menghasilkan emisi yang rendah sehingga lebih ramah lingkungan. Selain itu, bus listrik lebih kuat dalam menanjak dan menghadapi medan yang berbukit dan berkelok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Getaran dari mesin bus litrik lebih halus dibanding dengan kendaraan mesin diesel sehingga membuat nyaman buat penumpang dan pengendaranya. Getaran mesin yang halus juga membuat mesin menjadi awet dalam pemeliharaan sehingga hemat biaya perawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski armada bus litrik lebih mahal, namun untuk investasi jangka panjang dengan pertimbangan ramah lingkungan dan hemat biaya pemeliharaan, bus litrik bis amenjadi pilihan tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan paling umum dari bus listrik ini adalah bebas bising suara mesin. Bus listrik yang sangat tenang dan tentu saja mengurangi polusi suara serta ini menjadi kenyamanan utama bagi penumpangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pengereman, bus listrik tidak mengeluarkan banyak energi seperti bus diesel. Bahkan, generator yang mengendalikan pengereman dapat menyalurkan kelebihan energi ke dalam baterai dan kabel dari bus. Dan bus listrik ini lebih hemat 30 % saat merem atau memulai berjalan dibanding bus biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sebuah kota menyediakan infrastruktur bagu bus listrik ini akan mendorong lingkungan yang lebih ramah atau hijau dan itu berdampak pada hal lainnya. Contohnya di kota Arnhem, Belanda, dengan menyediakan infrastruktur dan bus listrik kota ini mengalami 17% lebih baik, apakah itu polusi yang turun dan warga masyarakat yang menggunakan sarana publik lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trem Listrik : Kerugiannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moda transportasi trem listrik punya banyak kelemahan. Salah satunya, trem listrik perlu infrastruktur buat kabel dan jalur. Hal lainnya, trem listrik tidak semua bisa dilalui atau terbatas wilayahnya. Dan dalam pengerjaannya dibutuhkan biaya, pekerjaan konstruksi yang justru membuat jalan macet dan rusak serta gangguan lalu lintas lainnya. Pilihan moda transportasi publik trem listrik memiliki banyak kelemahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus Listrik untuk Masa Depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hino, yang adalah dari Toyota, saat ini sedang menguji sebuah bus listrik nirkabel menggunakan teknologi pengisian elektromagnetik induktif, yaitu metode yang digunakan untuk mengisi baterai seperti sikat gigi listrik. Keuntungan dari ideologi yang dikembangkan ini adalah bus listrik tidak perlu menghentikan operasinya untuk mengisi ulang baterai, tetapi akan dikenakan biaya untuk kekuatan elektromagnetik induktifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan itu tengah mengembangkan sebuah sistem pengisian alternatif untuk bis-bis listrik dengan sistem pengisian cepat yang dapat diinstal di halte bus tertentu. Jadi, metode yang dikembangkan sekaligus ingin menghapus mitos bahwa baterai listrik harus harus diisi ulang pada tempat tertentu dan memakan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya instalasi akan dibuat terkait dengan pengisian baterai. Betul bahwa biaya pembelian armada bis listrik bisa sangat mahal dibandingkan dengan armada diesel. Namun, keunggulan-keunggulan tadi layak diperhitungkan sehingga sarana transportasi yang diidamkan yaitu bebas polusi, hemat biaya perawatan dan nyaman menjadi hal yang lebih penting bagi masa depan transportasi publik masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : www.enviro-news.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;URL Source: http://www.greenradio.fm/technology/energy/bio-energy/5502-bus-listrik-transportasi-publik-hijau-atau-publik-transportasi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsgH07iWhMjdni84zajW4g4m2OJLWdxB6AswATdCNdiuVqhiJ9fOxdjTcRDvCni1YaU0ERnLWWZS7P_aD5Dmg9YGVyXOSaNYWlF18jZPwuKSVWwn8sNx0-6-SY8ZcW3pHzwSXyOfcpX00/s72-c/bis%252520elektrik.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Listrik Dari Belimbing Wuluh</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2011/06/listrik-dari-belimbing-wuluh.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Tue, 7 Jun 2011 19:14:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-2459362057328790549</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwOQGKXVpKgKH6bnFiyj624QOEic4NOGWsNeWxPTur9kRfQHPdQE_ZyL6S8AoGPOW5zO73n4B8apmdR3MBXLW3NP-0WNLSS-KaZbOXBLkb7hSWHVQtAnHe5HWjkYOO-jSf5jkoJJ02hoU/s1600/belimbing-wuluh.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615666669324492850" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 286px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwOQGKXVpKgKH6bnFiyj624QOEic4NOGWsNeWxPTur9kRfQHPdQE_ZyL6S8AoGPOW5zO73n4B8apmdR3MBXLW3NP-0WNLSS-KaZbOXBLkb7hSWHVQtAnHe5HWjkYOO-jSf5jkoJJ02hoU/s320/belimbing-wuluh.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Warga desa Nguntoronadi, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur menemukan listrik yang berasal dari buah blimbing wuluh. Penemunya adalah Sunarto. Dia mampu menciptakan tenaga listrik yang berasal dari blimbing wuluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak satu kilogram buah belimbing wuluh yang baru dipetik Sunarto, dimasukkan ke blender. Lalu, Sunarto menghancurkan belimbing itu dengan blender hingga menjadi lembut dan berair. Setelahnya, belimbing disaring untuk mendapatkan air sarinya saja. Untuk apa? Sebagai bahan baku tenaga listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Sunarto sedang membuat energi listrik dengan bahan baku utama belimbing wuluh. Caranya, cukup sederhana. Sari blimbing wuluh dicampur dengan tanah, yang diletakkan di dalam wadah bekas gelas air mineral, yang sudah diberi penghantar listrik. Maka, energi listrik siap digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diambil sarinya. Ini untuk menghindari bau yang yang ditimbulkan dari proses pembusukannya blimbing wuluh. Yang ke dua kita menyediakan gelas mineral bekas, yang nantinya akan digunakan untuk mengisi sel-sel, yaitu diisi dengan campuran antara tanah dan blimbing wuluh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penghantar listriknya berupa seng dan tembaga. Sunarto merangkainya sedemikian rupa, hingga untuk satu sel atau campuran satu gelas mineral, bisa menghasilkan 0,5 volt. Jadi untuk pemakaian lampu kecil misalnya, yang membutuhkan 2 Volt aliran listrik, maka tinggal dibagi saja, menjadi 4 gelas sel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Blimbing wuluh itu mengandung asam. Lha asamnya ini yang yang nantinya akan berelektrolisa dengan antara seng dan tembaga tadi,” tambah Sunarto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ide membuat listrik dari belimbing wuluh ini, bermula dari kegerahan Sunarto akan tarif dasar listrik yang terus merangkak naik. Selain itu, banyaknya belimbing wuluh di sekitar rumahnya, juga menjadi salah satu alasan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Listrik dari belimbing wuluh, saat ini sudah dinikmati oleh beberapa tetangga Sunarto. Salah satunya adalah Suprihatin. Rumah Suprihatin yang letaknya tepat di sebelah kiri rumah Sunarto ini, sudah dipasok listrik dari belimbing wuluh sejak Maret lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu itu kan ada pengumuman ya, dasar tarif listrik akan naik. Tentu kami dari warga begini akan resah. Nah, ternyata dengan penemuannya pak Narto dapat membantu sekali, dapat meringankan beban khususnya bagi kami yang berada di pedesaan. Dan saya lihat juga, bahan bakunya kan mudah,” ujar Suprihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain murah bahan bakunya, perawatannya pun juga gampang. Cukup memasukkan sari belimbing yang baru dijus ke masing-masing sel. Untuk sekali isi, listrik mampu bertahan hingga sebulan lamanya. Suprihatin sendiri, menggunakan listrik belimbing wuluh ini untuk lampu panjer, radio, dan jam dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang Sunarto saja sudah berupaya untuk mengatasi masalah kurangnya pasokan listrik yang terjadi di banyak tempat di nusantara ini? Bagaimana dengan pemerintah setempat? Jubir pemkab Magetan Saif Muchlisun mengatakan, pihaknya saat ini sedang melakukan pengkajian terhadap produk Sunarto tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat ini masih melakukan pengkajian, penelitian, juga pemanfaatan dari teknologi tepat guna tersebut. Apakah itu nanti bisa kita kembangkan lebih lanjut, syukur-syukur kalau nanti tetep kita bisa memanfaatkan penemuan yang penemuan dari warga asli Magetan itu. Untuk kita jadikan sebagai teknologi tepat guna, dalam rangka mengatasi kekurangan energi kita. Jadi ada salah satu solusi, tinggal sekarang mengembangkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Listrik belimbing wuluh ini, memang sangat membantu. Namun, kemasan yang cukup banyak memakan tempat dan sulit untuk dibawa ke mana-mana, menjadi kelemahan yang perlu segera dicari solusinya. Seperti radio misalnya, Sunarto memerlukan 60 gelas atau 60 sel untuk bisa menyalakannya&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sumber:&lt;a href="http://www.greenradio.fm/technology/energy/bio-energy/3919-listrik-dari-belimbing-wuluh"&gt;http://www.greenradio.fm/technology/energy/bio-energy/3919-listrik-dari-belimbing-wuluh&lt;/a&gt;-&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwOQGKXVpKgKH6bnFiyj624QOEic4NOGWsNeWxPTur9kRfQHPdQE_ZyL6S8AoGPOW5zO73n4B8apmdR3MBXLW3NP-0WNLSS-KaZbOXBLkb7hSWHVQtAnHe5HWjkYOO-jSf5jkoJJ02hoU/s72-c/belimbing-wuluh.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Bebas Mampat dengan Bakteri Perut Sapi</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2011/06/bebas-mampat-dengan-bakteri-perut-sapi.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Tue, 7 Jun 2011 19:09:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-5718175051752399182</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;Anda pasti pernah mengalami saluran kloset yang tiba-tiba mampat. Satu-satunya cara mengatasi adalah memanggil mobil penyedot WC. Jika kejadian ini terus berulang, Anda harus menyiapkan uang lebih untuk mengatasinya. Kenapa tidak mencoba menggunakan bakteri perut sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, bakteri ini terbukti ampuh mengurai limbah yang menyebabkan septic tank tersumbat. Cara ini sudah dikembangkan oleh Soelaiman Budi Sunarto sejak beberapa tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakteri pengurai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Soelaiman, bakteri bersumber dari rumen, kotoran dari sisa makanan yang ada dalam perut sapi. Rumen itu diambil dengan cara dioperasi. Operasi dilakukan dengan membuat lubang seukuran 10 jari di antara pangkal paha belakang dengan lambung. Lubang itu kemudian ditutup dengan semacam karet. Kalau rumen mau diambil, penutupnya tinggal dibuka saja, kata Soelaiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sapinya tetap hidup, tidak mengurangi harkat hidup dia. Bisa beranak, bisa menyusui,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria yang mendapat Agrobisnis Award 2004 dari Menteri Pertanian Anton Apriantono ini menambahkan, rumen yang diambil ini akan tergantikan dengan makanan yang masuk. Sehingga tidak berdampak apa pun bagi sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumen itu kemudian diperas. Air hasil perasan, sekitar 3 liter, dicampur dengan sekam dari tapioka dan bekatul yang sudah digiling lembut dan kering. Campuran itu ditutup dan didiamkan selama satu hari. Dari campuran itu lah akan muncul bakteri pengurai. Bahan itu kemudian dikeringkan dan disimpan dalam tempat tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahan yang sudah dikeringkan ini diambil saja dua sendok. Dicampur satu liter air, diaduk. Kemudian disiram langsung ke kloset. Jika wastafel mampat oleh tulang ayam atau tulang ikan, dimasukin bahan ini, dimakan oleh berjuta-juta bakteri, maka langsung lancarlah airnya. Jadi diurai oleh bakteri itu,” papar Soelaiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjamin bakteri ini tidak berdampak pada lingkungan. Pasalnya, bakteri ini anaerob, yang langsung mati bila terkena matahari atau udara. bakteri ini mampu membersihkan kotoran organik dalam waktu 24 jam. Bukan cuma tulang yang dimakan bakteri ini, tapi juga rambut manusia yang nyangkut di kloset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tissue dan kain juga adalah bahan organik. Dia diproses dari benang, dari kapas sehingga juga bisa diurai oleh bakteri ini. Bakteri ini juga tidak membuat benda-benda berkarat,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soelaiman sengaja memilih sapi karena hewan ini sangat jinak sehingga bisa mempermudah pengambilan rumen. Badan sapi yang besar juga memudahkan Soelaiman melakukan operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang bisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produk itu sudah lolos uji laboratorium teknologi bioindustri, Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Soelaiman memberi nama produknya ini biojoos dan sudah dipasarkan hingga Papua. Dalam sebulan ia memproduksi 2000 pak. Tiap pak harganya sekitar 10 ribu rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biojoos tidak hanya digunakan untuk mengurai limbah di saluran pembuangan, tapi juga untuk menghilangkan bau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Soelaiman, usaha bakteri pengurai itu bisa menjadi tambahan pemasukan bagi pemelihara sapi lainnya. Ia sendiri membuka pelatihan pembiakan bakteri pengurai tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang operasinya tidak bisa diperaktikan oleh semua peternak sapi, karena pada umumnya mereka riskan, jangan-jangan sapi saya mati, padahal hargany sapi 10 juta. Untuk itulah saya siap memberi pelatihan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, sudah banyak peternak dari dalam dan luar negeri yang datang ke pusat pelatihan di Agro Makmur, Jl. Joko Songo No. 33 Doplang Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:http://www.greenradio.fm/technology/energy/bio-energy/5913-bebas-mampat-dengan-bakteri-perut-sapi-&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Etanol dari Bunga Matahari</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2011/06/etanol-dari-bunga-matahari.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Tue, 7 Jun 2011 19:02:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-8202001183476994253</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJJuHWrVKqnQeagX1_-Pqy8HveV2hbRbvoEH-ca6lTC_m-OrRW44Trg_yInP9mzyZTCiD7wZMWzU62wiChkDSbtAkZlZWdH3axmbWNLR0nyepzxf3DjAR8vfnP1QWdnQtR2Ye4vQ8iXRU/s1600/bunga-matahari.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615663886237656738" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 286px; CURSOR: hand; HEIGHT: 213px" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJJuHWrVKqnQeagX1_-Pqy8HveV2hbRbvoEH-ca6lTC_m-OrRW44Trg_yInP9mzyZTCiD7wZMWzU62wiChkDSbtAkZlZWdH3axmbWNLR0nyepzxf3DjAR8vfnP1QWdnQtR2Ye4vQ8iXRU/s320/bunga-matahari.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Para peneliti Amerika Serikat tengah meneliti DNA bunga matahari dan diharapkan dapat menghasilkan suatu varietas baru yang dapat menghasilkan makanan dan bahan bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akan mengawinsilangkan jenis bunga matahari biasa dengan spesies Silverleaf untuk menghasilkan bunga dengan warna kuning cerah. Bunga ini menghasilkan biji berasa lezat dan batang tebal yang mengandung banyak gula sehingga dapat diproses menjadi etanol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Silverleaf yang tumbuh di alam liar dan tahan kekeringan dikenal memiliki batang berkayu. Proyek bernama The Genomics of Sunflower ini didanai oleh Genome Canada melalui pemerintah Kanada, Genome BC, Departemen Energi dan Pertanian AS, serta Institut Penelitian Pertanian Nasional Prancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek ini bertujuan menemukan gen yang memiliki ciri-ciri bermanfaat bagi bidang pertanian, seperti biji mengandung minyak, berbunga, dan tahan terhadap hama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika Serikat, tanaman itu tumbuh banyak di North Dakota, South Dakota, Kansas, Minnesota, dan Colorado. Biasanya, bunga matahari menghasilkan minyak yang dapat digunakan untuk menggoreng dan bijinya dikonsumsi sebagai makanan ringan. Pemetaan terhadap seluruh DNA famili bunga matahari dapat membantu peningkatan panen, pengendalian gulma, dan pengembangan varietas yang dapat memproduksi bahan kayu untuk lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya kadar gula di tangkai Silverleaf dapat dikembangkan guna menghasilkan etanol. AS mengoperasikan 170 tanaman etanol yang menghasilkan 10,6 juta galon bahan bakar per tahunnya. Tapi, bahan bakar itu lebih banyak dihasilkan dari jagung. Kongres AS berharap produksi etanol dari sumber nonmakanan akan mencapai 100 juta galon pada 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: AP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;URL Source: http://www.greenradio.fm/technology/energy/bio-energy/2077-etanol-dari-bunga-matahari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJJuHWrVKqnQeagX1_-Pqy8HveV2hbRbvoEH-ca6lTC_m-OrRW44Trg_yInP9mzyZTCiD7wZMWzU62wiChkDSbtAkZlZWdH3axmbWNLR0nyepzxf3DjAR8vfnP1QWdnQtR2Ye4vQ8iXRU/s72-c/bunga-matahari.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Bahan Bakar dari Air Laut</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2009/09/bahan-bakar-dari-air-laut.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Tue, 8 Sep 2009 00:38:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-6020664318274236704</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378999528185821618" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 286px; CURSOR: hand; HEIGHT: 284px" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnWclbhOsKIiKqZGiANdBTGAI9PUvpJS4JJ8juLxT_F_cqmxTvVYP5HX56dE2mlicDq0y_bClDFEtvKVp76k0gqA3JJf-Y6_p69rQ36mmWsrFJ8BP6EDg_2dp8ZDc0N7kkXfHnfCZ60ZI/s320/ocean-water11.jpg" border="0" /&gt;Angkatan laut Amerika Serikat tengah melakukan eksperimen mengubah air laut menjadi bahan bakar jet. Ahli kimia AL berusaha memproses air laut menjadi hydrocarbon, setelah itu dimurnikan dan diolah kembali menjadi bahan bakar jet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun para ilmuan itu harus menemukan sumber energi yang bersih untuk menghasilkan produk akhir berupa karbon netral. Proses ini meliputi pemisahan Karbon dioksida dari air dan mencampurnya dengan hidrogen. Proses pemisahan molekul air ini dilakukan dengan tenaga listrik, hingga akhirnya akan terbentuk bahan bakar hydrocarbon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli Kimia AL Amerika Serikat, Robert Dorner mengatakan, pemanfaatan CO2 ini berkaitan dengan upaya mengurangi pemanasan global. Dia menambahkan, para ahli kimia tengah berusaha memisahkan CO2 dari gas methan sehingga bisa menghasilkan lebih banyak lagi hydrocarbon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi untuk menghasilkan bahan bakar jet yang lebih ramah lingkungan perlu proses yang panjang dan justru membutuhkan energi yang lebih besar, belum lagi dana yang cukup banyak untuk melakukan percobaan. Sepertinya masih butuh waktu lama untuk mewujudkan hal ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;sumber:&lt;a href="http://www.greenradio.fm/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=968:bahan-bakar-dari-air-laut&amp;amp;catid=91:bio-energy&amp;amp;Itemid=173"&gt;http://www.greenradio.fm/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=968:bahan-bakar-dari-air-laut&amp;amp;catid=91:bio-energy&amp;amp;Itemid=173&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnWclbhOsKIiKqZGiANdBTGAI9PUvpJS4JJ8juLxT_F_cqmxTvVYP5HX56dE2mlicDq0y_bClDFEtvKVp76k0gqA3JJf-Y6_p69rQ36mmWsrFJ8BP6EDg_2dp8ZDc0N7kkXfHnfCZ60ZI/s72-c/ocean-water11.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pengembangan Energi Terbarukan Masih Banyak Kendala</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2009/09/pengembangan-energi-terbarukan-masih.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Tue, 8 Sep 2009 00:31:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-5432099310491801516</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGrzKMLJouanXtFy7uj62YtnABCK-BzJcmiuVRlGwJOd_wdZskJaT_LiZ2C-3v2xRhDj4GALzZSgy_JDoBDNhTQtVbc32T2H31UATDjcrbjZnLn4KQs0QuBMpFe-T910NHYF_wJ6nOaO0/s1600-h/microhydro-sederhana1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 286px; height: 253px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGrzKMLJouanXtFy7uj62YtnABCK-BzJcmiuVRlGwJOd_wdZskJaT_LiZ2C-3v2xRhDj4GALzZSgy_JDoBDNhTQtVbc32T2H31UATDjcrbjZnLn4KQs0QuBMpFe-T910NHYF_wJ6nOaO0/s320/microhydro-sederhana1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378997197511388706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Anggapan bahwa Indonesia kaya energi konvensial macam batu bara, minyak dan gas perlu dikoreksi lagi. Hal ini disampaikan Koordinator Working Group on Power Sector Restructuring, Fabby Tumiwa dalam diskusi dengan Green Radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Fabby, data soal energi yang dimiliki pemerintah adalah data tahun 80-an dan tidak pernah diperbaharui atau diverifikasi. Selain itu semua potensi energi itu tidak semuanya bisa dimanfaatkan. Fabby mencontohkan, untuk energi panas bumi, Indonesia punya potensi hingga mencapai 27 gigawatt. Sayangnya letak energi panas bumi itu terpencar di sejumlah wilayah dan tidak semuanya dapat dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika ditanya soal energi terbarukan, Fabby Tumiwa mengatakan, untuk mengandalkan mikrohidro terkendala dengan daerah aliran sungai, DAS yang rusak dan kritis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kerusakan ini hampir terjadi di seluruh Jawa, dan sebagian Sumatera. Yang agak baik ada di Papua,” kata Fabby.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara untuk potensi angin belum bisa diandalkan karena di negeri tropis kekuatan angin tidak begitu kencang. Di Indonesia baru bisa dikembangkan di daerah timur, yang lumayan berangin. Untuk pemanfaatan energi matahari masih terkendala dengan teknologi yang belum efisien dan relatif mahal.&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGrzKMLJouanXtFy7uj62YtnABCK-BzJcmiuVRlGwJOd_wdZskJaT_LiZ2C-3v2xRhDj4GALzZSgy_JDoBDNhTQtVbc32T2H31UATDjcrbjZnLn4KQs0QuBMpFe-T910NHYF_wJ6nOaO0/s72-c/microhydro-sederhana1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kulit Kacang Untuk Briket Energi</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2009/08/kulit-kacang-untuk-briket-energi.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Tue, 18 Aug 2009 19:49:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-1902799983010644035</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGvz5AM5r1PgXnd8EsTu1gTBXjKOmjkMJ4ROoUONLzsVNngxYCuHCC8SXS6rK2GPw-IZJNq-KIbunzxg4WMeEUkWM-IApIhiX2-bPmhk5cwky6EX4I9KSGyRuuyohc9zjPVloPMIb_JSM/s1600-h/kacangbriketlg.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371502039951521042" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 292px; CURSOR: hand; HEIGHT: 225px" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGvz5AM5r1PgXnd8EsTu1gTBXjKOmjkMJ4ROoUONLzsVNngxYCuHCC8SXS6rK2GPw-IZJNq-KIbunzxg4WMeEUkWM-IApIhiX2-bPmhk5cwky6EX4I9KSGyRuuyohc9zjPVloPMIb_JSM/s320/kacangbriketlg.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Edy Gunarta (35) meraih Citi Micro-Entrepreneurship Award (CMA) 2008 bagi pengusaha kecil yang diselenggarakan oleh Citi Peka sebagai penyandang dana dan UKM Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI). Perajin briket dari Bantul, Yogyakarta dan pengusaha makanan, pestisida dan pupuk organik ini meraih penghargaan untuk kategori kerajinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edy memulai usaha kerajinan briket yang terbuat dari kulit kacang dan batang jagung dengan modal Rp 1,5 juta. Baru satu tahun merintis usaha, kini Edy telah menjangkau pasar di daerah Yogyakarta, dan sekitarnya. Dia mengandalkan promosi briket seharga Rp 2.500 per kilogram ini melalui media yang kerap bertandang ke rumahnya.&lt;br /&gt;Awalnya kulit kacang dijual dengan harga yang minim sekali. Lalu pada awal 2007 Edi berinisiatif mencari cara agar kulit kacang tersebut ada nilai nominalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edi mengatakan, ide ini muncul dari pengalaman rumah tangganya yang bermula menggunakan serbuk gergaji, lalu dia mencoba mencari cara lain yaitu menggunakan kulit kacang tanah. Didukung oleh Pemerintah Desa yaitu Usaha Unit Desa yang mengadakan pelatihan-pelatihan, ia semakin mendalami potensi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edi mendapatkan pasokan kulit kacang tanah dari petani dalam bentuk kulit kacang tanah yang kering. Untuk bijinya langsung diolah ke tingkat yang lebih tinggi, dan kulitnya dibuat bahan baku briket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk perekatnya, Edi menggunakan tepung tapioka dengan perbandingan 1 : 10. Diawali proses pengarangan, lalu kulit ditepung, digiling menjadi serbuk, lalu dicampur dengan adonan, dan proses terakhir adalah dipres sesuai dengan bentuk yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Edi, keistimewaan menggunakan briket ini adalah jelaga rumah tangga tidak hitam tapi putih, praktis, mudah dipindah ke mana-mana, lebih murah daripada briket batubara. Untuk memasak 2 liter air dengan durasi masak 11-12 menit, lebih cepat 2-3 menit dengan minyak tanah atau arang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pasokan kulit kacang, Edi mempunyai dua titik penggilingan dan di wiliyah Bantul ada lima titik penggilingan untuk pengupasan kacang tanah. Limbah penggilingannya bisa dijadikan bahan baku briket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tenaga kerjanya, Edi mempekerjakan pemuda-pemuda dari daerah sekitarnya yang sudah putus sekolah ataupun pengangguran. Ia menjadikan mereka sebagai relasi untuk dapat bekerja sama. Tujuannya untuk meningkatkan sumber daya manusia sekaligus membuka lapangan pekerjaan. Sungguh suatu ide yang cemerlang. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;sumber:&lt;a href="http://www.greenradio.fm/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=226:kulit-kacang-untuk-briket-energi&amp;amp;catid=67:bussines&amp;amp;Itemid=193"&gt;http://www.greenradio.fm/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=226:kulit-kacang-untuk-briket-energi&amp;amp;catid=67:bussines&amp;amp;Itemid=193&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGvz5AM5r1PgXnd8EsTu1gTBXjKOmjkMJ4ROoUONLzsVNngxYCuHCC8SXS6rK2GPw-IZJNq-KIbunzxg4WMeEUkWM-IApIhiX2-bPmhk5cwky6EX4I9KSGyRuuyohc9zjPVloPMIb_JSM/s72-c/kacangbriketlg.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Medco Energy Mengembangkan Bio-Ethanol</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2009/08/medco-energy-mengembangkan-bio-ethanol.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Tue, 18 Aug 2009 19:17:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-6434979316537976962</guid><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1aZYpnNzu3OFuEqOQl8YLtv0gFzha_lfb17d87FaDqmM4N3NDuph2CmgtSHolyTky-8XhWhsWgJZ-AsXHt5iIiiu500P-EMcDW5Vi7x0gTRI2gRQueeoL-_P4o4rdFS1enYHacMs1VsU/s1600-h/medco_logo.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371499733200833874" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 135px" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1aZYpnNzu3OFuEqOQl8YLtv0gFzha_lfb17d87FaDqmM4N3NDuph2CmgtSHolyTky-8XhWhsWgJZ-AsXHt5iIiiu500P-EMcDW5Vi7x0gTRI2gRQueeoL-_P4o4rdFS1enYHacMs1VsU/s320/medco_logo.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Produktifitasnya ditargetkan mencapai 180 kilo liter perhari, atau sekitar 60 ribu kilo liter pertahun. Pabrik itu diharapkan menjadi alternatif energi terbarukan, yang ramah lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Djatnika S Puradinata, Presiden Komisaris Medco Energy Chemicals, bio-ethanol bisa dimanfaatkan 100% sebagai bahan bakar, ataupun dicampur dengan bahan bakar fosil, seperti bensin dan solar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu disampaikan oleh Djatnika saat membahas bio-ethanol di acara Green Talk, 89.2 FM Green Radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;GR&lt;/span&gt; (Green Radio): Apa itu bahan bio-ethanol?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJ (Djatnika): bio-ethanol sama dengan alkohol, berbahan kimia. Disebut bio-ethanol karena bahan bakunya berasal dari bahan biologi, seperti singkong, jagung, tebu dan lain-lain. bio-ethanol dapat meningkatkan oktan number dari bensin, sehingga lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan bensin secara langsung. Artinya, CO2 yang dihasilkan dari bio-ethanol akan lebih rendah dari emisi yang dikeluarkan bensin dan solar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;GR&lt;/span&gt;: Penggunaan bio-ethanol di kendaraan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJ: Saat ini, pemerintah mengharuskan pencampuran bio-ethanol ke bahan bakar. Jumlahnya yaitu 1% ke dalam bensin, dan 5% dalam solar. Tidak hanya untuk campuran, bio-ethanol pun bisa digunakan semuanya sebagai bahan bakar. Hal itulah yang membuat unik bio-ethanol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di Indonesia, pelaksanaan 100% bio-ethanol sebagai bahan bakar belum siap. Berbeda di Brazil, yang sudah menggunakan 100% bio-ethanol dengan memodifikasi kendaraan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;GR&lt;/span&gt;: Apa kelebihan menggunakan bio-ethanol 100%?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJ: Segi pembuatan akan lebih murah karena produksinya pun semakin banyak. Hal itu akan berdampak harga untuk dibeli warga pun akan menjadi murah. Hal itu terjadi di Brazil, harga jual bio-ethanol 100% lebih murah dibandingkan bio-ethanol yang dicampur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;GR&lt;/span&gt;: Mengapa Medco tertarik mengembangkan bio-ethanol?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJ: Bio-ethanol berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbarui, kebalikan dari bahan bakar fosil. Bahan baku bio-ethanol pun berlimpah di Indonesia, seperti jagung, tebu, singkong, sagu, hingga nira. Yang dikembangkan oleh Medco berasal dari singkong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;GR&lt;/span&gt;: Lalu, apa yang sedang dipersiapkan Medco?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJ: Kami sedang membuat pabrik bio-ethanol, berkapasitas 180 kilo liter perhari atau 60 ribu kilo liter pertahun, di Kota Bumi, Lampung Utara. Pemilihan tempat ini karena disana berlimpah ribuan hektar tanaman singkong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;GR&lt;/span&gt;: Penggunaan singkong seperti apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJ: Kami mengembangkan singkong yang bobotnya bisa mencapai 30 kg per satuannya. Singkong olahan tersebut dipilih agar tidak mengganggu singkong untuk pangan warga. Meskipun singkong untuk pangan warga itu bisa menjadi bahan baku bio-ethanol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;GR&lt;/span&gt;: Penyediaan singkong itu dari Medco saja atau dari petani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJ: Kita bermitra dengan petani yang ada, artinya kita menampung singkong dari mereka. Medco membantu agar pasokan singkong tetap stabil. Caranya dengan membantu menyediakan bibit, penyuluhan ke warga bagaimana cara menanam yang baik, memberi pupuk, hingga proses panennya. Semuanya dilakukan agar petani mampu menghasilkan singkong yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;GR&lt;/span&gt;: Proses pembuatan bio-ethanol-nya ramah lingkungan, tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJ: Tentu saja. Semua tahapan pembuatannya memperhatikan hal itu. Mulai dari proses fermentasi, limbahnya dimanfaatkan jadi pupuk, dikeringkan jadi pakan ternak, hingga dijadikan energi lagi bila dibakar. Bahkan gas metan yang dihasilkan dari proses fermentasi itu kita gunakan untuk turbin menggerakan listrik. Sebisa mungkin Medco akan meminimalisir limbah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;GR&lt;/span&gt;: Bagaimana dengan harga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJ: saat ini, biaya produksi masih ada di atas harga penjualan bensin. Sehingga pemerintah, dalam hal ini Dirjen Migas, merencanakan memberikan subsidi pada bahan bakar bio-ethanol. Hal ini terkait suppy-demand yang masih kecil, meskipun pabrik Medco saat ini terbesar di Indonesia. Angka itu cukup kecil bila dibandingkan di Brazil yang telah mencapai produksi 100rb kilo liter pertahun. Bahkan Brazil siap membangun pabrik berkapasitas lebih dari 400 ribu kilo pertahun. Limpahan kapasitas itu membuat harga bio-ethanol terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;GR&lt;/span&gt;: Ada rencana mengembangkan pabrik bio-ethanol di Papua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DJ: Iya, kami akan membangun pabrik yang lebih besar disana. Hal itu untuk menekan biaya produksi lebih rendah. Bahan baku yang dipakai adalah tebu dan sorgum. Keduanya memiliki potensi sumber energi lainnya yang bisa dimanfaatkan. Sorgum menghasilkan buah yang juga menghasilkan bio-ethanol. Begitu pula tebu, dari proses olahan, tebu menghasilkan bagas atau sisa perasan tebu. Sisa tebu itu dapat menghasilkan listrik dari uap bagas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diyakini Indonesia bisa menjadi sumber energi terbarukan yang besar, dan menyaingi Brazil. Hal itu bisa tercapai selama Indonesia bisa mengelola sumber daya manusia, potensi alam dan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sumber:&lt;a href="http://www.greenradio.fm/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=334:medco-energy-mengembangkan-bio-ethanol&amp;amp;catid=91:bio-energy&amp;amp;Itemid=173"&gt;http://www.greenradio.fm/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=334:medco-energy-mengembangkan-bio-ethanol&amp;amp;catid=91:bio-energy&amp;amp;Itemid=173&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1aZYpnNzu3OFuEqOQl8YLtv0gFzha_lfb17d87FaDqmM4N3NDuph2CmgtSHolyTky-8XhWhsWgJZ-AsXHt5iIiiu500P-EMcDW5Vi7x0gTRI2gRQueeoL-_P4o4rdFS1enYHacMs1VsU/s72-c/medco_logo.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Aren Sebuah Jawaban Krisis Energi atau Pesaing Kebutuhan Makanan???</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2009/08/aren-sebuah-jawaban-krisis-energi-atau.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Fri, 14 Aug 2009 20:17:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-984656910635076265</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada Selasa 6 Desember lalu Kementrian Negara Riset dan Teknologi mengadakan  Workshop yang bertajuk Budidaya dan Pemanfaatan Aren Untuk Bahan Pangan dan  Energi, workshop ini diikuti oleh para peneliti dan praktisi aren dan energi  terbarukan, akademisi dari berbagai universitas, serta berbagai departemen baik  pusat maupun daerah diseluruh Indonesia, sementa untuk pembicara terdiri dari  akademisi, dan ahli energi terbarukan serta praktisi, pengusaha dan pengembang  bio ethanol maupun petani dan pengrajin gula aren.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;David Alloreung Pembicara kunci yang merupakan Peneliti pada Puslitbang  Tanaman Perkebunan, Departemen Pertanian dalam pemaparanya menjelaskan bahwa  aren merupakan tanaman serba guna yang mempunyai potesi besar dalam bahan  subtitusi pembuat gula maupun bioethanol, sayangnya sampai saat ini pohon aren  yang tumbuh di Indonesia sebagian besar merupakan pohon yang umumnya tumbuh  secara liar serta sampai saat ini belum ada penelitian yang memadai tentang  pohon aren unggul.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Aren (Arenga pinnata Merr) adalah salah satu keluarga palma yang serbaguna,  dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 meter di atas permukaan laut. Sekalipun  lebih dikenal sebagai tanaman hutan, aren telah mulai dibudidayakan secara baik  oleh suku Batak Toba sejak awal tahun 1900. Tanaman ini tersebar di hampir  seluruh wilayah Indonesia pada berbagai kondisi agroekososistem. Penyebaran  pertumbuhan aren umumnya berlangsung secara alamiah. Di beberapa tempat,  terutama yang memiliki kebiasaan membuat gula atau mengonsumsi minuman  beralkohol, aren sudah sering ditanam secara sengaja, meskipun umumnya sebagai  tanaman pinggiran atau tanaman sela di antara tanaman pepohonan yang sudah ada.  Meskipun para petani penderes mengakui bahwa gula yang dihasilkan dari nira aren  sangat menolong ekonomi mereka, perhatian pemerintah terhadap upaya pengembangan  tanaman ini sangat terbatas dan tidak konsisten. Hal yang sama dijumpai pada  lembaga-lembaga penelitian, penelitian tanaman aren umumnya dilakukan secara  insidentil.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Berkaitan dengan sumber energi terbarukan, yang sudah lama disuarakan, kita  ternyata tidak memberikan respons secara cepat. Krisis energi di akhir 2005 yang  dibarengi dengan fenomena kekacauan iklim telah berhasil memicu kesadaran semua  pihak untuk mengembangkan energi terbarukan dan lebih ramah lingkungan. Dalam  konteks ini, aren memiliki potensi yang sangat besar sebagai sumber utama  bioenergi yang ramah lingkungan di samping sebagai penghasil pangan dan tanaman  konservasi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kebutuhan bahan bakar premium terus meningkat sejalan dengan kemajuan di  bidang ekonomi dan impor meningkat tajam dari sekitar 0.5 juta pada tahun 1998  menjadi sekitar 6 juta KL pada tahun 2004 ketika kebutuhan bahanbakar jenis ini  telah mencapai 17 juta KL/tahun. Jika digunakan campuran alkohol sebesar 10 %  berarti kebutuhan alkohol akan mencapai 1.7 juta Kl/tahun atau sekitar 4.6 juta  liter/hari. Masalahnya adalah hampir sama sumber bahan baku biofuel bersaing  dengan kebutuhan pangan di samping persaingan pemanfaatan lahan untuk  menghasilkan bioenergi. Dalam konteks ini, aren dapat berperan sebagai salah  satu sumber bioenergi yang penting mengingat produktivitasnya yang sangat tinggi  sehingga hemat pemakaian lahan. Disamping itu, dapat ditanam di antara tanaman  yang sudah ada atau sebagai komponen tanaman untuk reboisasi atau penghijauan  sehingga tidak bersaing dengan komoditas pangan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tanaman aren memiliki daya adaptasi terhadap berbagai kondisi lahan dan  agroklimat, memiliki toleransi yang tinggi dalam pertanaman campuran termasuk  dengan tanaman kayu, tumbuh relatif cepat serta memiliki perakaran dan tajuk  yang lebat sehingga sangat cocok untuk tujuan konservasi tanah dan air,  merupakan tanaman serbaguna karena hampir semua bagiannya bernilai ekonomi dan  tidak membutuhkan pemeliharaan intensif sehingga cocok bagi petani miskin di  lahan marginal. Tanaman aren juga menghasilkan biomas di atas tanah yang sangat  besar satu hingga 2 ton/pohon, sehingga dapat berperan penting dalam CO2  sequestration.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 128);"&gt;Sumber: &lt;a href="http://kebunaren.blogspot.com/search?updated-min=2008-01-01T00%3A00%3A00%2B08%3A00&amp;amp;updated-max=2009-01-01T00%3A00%3A00%2B08%3A00&amp;amp;max-results=36"&gt;http://kebunaren.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Desember  25, 2008&lt;/p&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Aren Sangat Potensial Menghasilkan Biofuel dibanding yang Lain</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2009/08/aren-sangat-potensial-menghasilkan.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Fri, 14 Aug 2009 20:05:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-4435655204928378258</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgp219cD-NeW99XdEemhAXe8m-Jq7ESmMdm1nN2huxoJ7MT2RWxwbDqA_Yf05CnKDnmULTnHPm6U6H1f7wSgc8hB5OWkboeT1YZLH93EPndzjsh5yeCAhipxzWX-_hes6HGMGvHupY83h4/s1600-h/pohon-aren.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 238px; height: 188px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgp219cD-NeW99XdEemhAXe8m-Jq7ESmMdm1nN2huxoJ7MT2RWxwbDqA_Yf05CnKDnmULTnHPm6U6H1f7wSgc8hB5OWkboeT1YZLH93EPndzjsh5yeCAhipxzWX-_hes6HGMGvHupY83h4/s320/pohon-aren.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370021769936083202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tanaman aren (Arenga Pinnata) sangat potensial menghasilkan biofuel (bahan  bakar nabati) dan perlu dikembangkan sebagai perkebunan besar seperti halnya  kelapa sawit atau jarak pagar.&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Kelebihan tanaman aren ini bisa dipanen setiap hari sepanjang tahun,  menghasilkan lebih banyak dan cepat bahan bakar dibanding tanaman lain,” kata  Kepala Bagian Jasa Iptek Puslit Kimia LIPI Dr Hery Haeruddin di Jakarta,  Senin.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pohon aren, ujarnya, tidak seperti tanaman lain penghasil bioethanol (bahan  bakar pengganti bensin) yaitu singkong yang memiliki masa panen enam bulan atau  tebu tiga bulan untuk sekali panen saja serta keterbatasan lainnya. Aren, lanjut  dia, bisa dipanen terus-menerus di mana setiap satu pohon aren bisa menghasilkan  nira 1-20 liter per hari yang 10 persennya bisa diproses menjadi ethanol.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Setiap hektar bisa ditanami 75-100 pohon sehingga setiap hektar bisa  menghasilkan 1.000 liter nira per hari atau sekitar 100 liter ethanol per hari.  Bandingkan dengan sawit yang satu hektarnya hanya menghasilkan maksimal enam ton  biodiesel per tahun,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada masa lalu penanaman aren, tanaman asli Indonesia ini, sangat sulit dan  hanya bisa dilakukan oleh musang, tetapi kini Puslit Biologi LIPI telah mampu  membudidayakannya dan menyediakan bibitnya, ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari mulai bibit hingga menjadi tanaman aren yang menghasilkan, ia akui,  memerlukan 6-8 tahun, namun demikian angka itu tidak terlalu lama jika  dibandingkan dengan tanaman lain seperti kelapa sawit yang memerlukan waktu 5-6  tahun untuk menghasilkan minyak sawit.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut dia, getah nira yang menetes dari bunganya, lebih mudah dijadikan  bioethanol dibanding dijadikan gula aren. Getahnya cukup difermentasi (diberi  ragi/mikroba) lalu setelah menjadi alkohol dipisahkan dari airnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tanaman aren selain bisa diproses menjadi subtitusi bensin juga baik dalam  hal menyimpan air tanah serta mencegah bencana banjir dan longsor. Saat ini aren  banyak ditanam antara lain di Rangkas Bitung, Cianjur Selatan, Ciamis, hingga di  Sulawesi Utara.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sumber:  www.republika.co.id , 17-01-2008 10:11&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgp219cD-NeW99XdEemhAXe8m-Jq7ESmMdm1nN2huxoJ7MT2RWxwbDqA_Yf05CnKDnmULTnHPm6U6H1f7wSgc8hB5OWkboeT1YZLH93EPndzjsh5yeCAhipxzWX-_hes6HGMGvHupY83h4/s72-c/pohon-aren.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Aren, Sumber Energi Terbarukan Murah</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2009/08/aren-sumber-energi-terbarukan-murah.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Fri, 14 Aug 2009 20:00:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-3203031257434177088</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;JAKARTA : Tahun ini, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)  menargetkan pembuatan prototipe mesin destilasi aren dengan kapasitas 200  liter/hari. Aren yang sebagian besar dikonsumsi dalam berbagai bentuk produk  pangan dan minuman ini, berpotensi diolah menjadi ethanol (bahan bakar  terbarukan).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Mesin destilasi ini memiliki kemampuan operasional hingga 24 jam. Harganya  cukup murah sekitar Rp 15 juta rupiah. Namun, jika dilengkapi dengan fasilitas  evaporator untuk uapkan ethanol yang mampu tahan lama, bisa mencapai Rp 20  juta,” ujar Dr Arief Budiarto, peneliti Balai Etahonol BPPT Lampung saat  dihubungi melalui telepon beberapa waktu lalu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan desain bangunan yang diperuntukkan untuk pengolahan aren, kata  Arief, tergantung masing-masing kebutuhan pengusaha aren tersebut. “Semakin  dekat lokasi perkebunan, maka nilai energi yang dihasilkan bisa lebih murah,”  ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, menurut Hari Purwanto, Asisten Deputi Program Tekno Ekonomi  Kementerian Negara Riset dan Teknologi, prospek aren sebagai bahan bakar  terbarukan sangat baik. “Nira aren sebagai sumber energi terbarukan masuk buku  putih Ristek untuk program 2010-2015,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perkebunan aren tersebar di beberapa wilayah Indonesia, seperti Minahasa  (Sulawesi Utara), Rejanglebong (Bengkulu), serta di Jawa Timur. “Sebagian diolah  sebagai minuman keras, bahkan di Jawa Timur, pohonnya ditebangi untuk dibuat  campuran produk bihun,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dibanding singkong, nilai energi dalam bentuk ethanol yang dihasilkan dari  aren, kata Hari Purwanto, jauh lebih rendah. “ Satu hektar singkong hanya mampu  memproduksi 4500 liter etahanol. Sedangkan, dari aren bisa menghasilkan 56 ton  ethanol,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ethanol (Ethyl Alkohol) dengan rumus molekul adalah C2H5-OH sudah  dikategorikan sebagai energi komersial. Saat ini, Brasil tercatat sebagai  produsen ethanol terbesar dunia.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perusahaan-perusahaan otomotif kini, bahkan sudah memproduksi mobil dengan  bahan bakar ethanol, seperti Volkwagen AG. Mesin yang bisa memproses bahan bakar  ethanol disebut Flex-Fuel, namun mesin yang menggunakan bahan bakar biasa  (minimal nilai Octan 90) juga dapat dikonversi dengan bioethanol, dengan  campuran premium 80% – 90%.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Campuran tersebut dapat meningkatkan nilai octan yang lebih tinggi sehingga  dapat dikategorikan bahan bakar bersih lingkungan. Untuk premium, perkiraan  nilai octan 88 ditambah ethanol 10% – 20% (dengan nilai octan 129) sehingga  dapat menghasilkan nilai octan sekitar 91 – 93.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebuah perusahaan di Brasil, bahkan telah memperkenalkan pesawat terbang  kecil EMB 202, yang merupakan pesawat terbang pertama di dunia menggunakan bahan  bakar ethanol (Alcohol), dan saat ini lebih dari 300 pesawat terbang kecil di  Brasil telah memakai ethanol sebagai bahan bakar yang terbuat dari tebu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ethanol saat ini berasal dari beberapa sumber, Brasil dari tebu, Amerika  Serikat dari Jagung, sedangkan di Indonesia umumnya berasal dari tebu, sorghum,  termasuk singkong. (Lea)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.technologyindonesia.com/news.php?page_mode=detail&amp;amp;id=777"&gt;http://www.technologyindonesia.com/&lt;/a&gt;02  Januari 2008&lt;/p&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>“Mengebor” Minyak di Pohon Aren</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2009/08/mengebor-minyak-di-pohon-aren.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Fri, 14 Aug 2009 19:57:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-6399157421103577876</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Krisis ekonomi global dan ketergantungan terhadap  impor, ditambah kapasitas produksi minyak dalam negeri dari waktu ke waktu yang  terus menurun, menuntut pemerintah mengembangkan bahan bakar alternatif yang  lebih murah dan tentu harus ramah lingkungan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Muncullah berbagai pilihan. Badan Pengkajian dan  Penerapan Teknologi (BPPT), yang memiliki segudang peneliti, mulai menyebut  beberapa alternatif, di antaranya mengembangkan energi biomassa, biodiesel, dan  bioetanol. Guna mengikat rencana tersebut, pemerintah mengeluarkan Peraturan  Presiden (Perpres) Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional untuk  mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti BBM. Namun, peraturan  ini dinilai belum cukup, karena hanya menekankan penggunaan batu bara dan gas  sebagai pengganti BBM.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah pun pada 25 Januari 2006, mengeluarkan  Instruksi Presiden (Inpres) No 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan  Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan baskar lain. Sejak Inpres itu  dikeluarkan, eksplorasi sumber-sumber alam alternatif dimulai. Kementerian  Energi dan Sumber Daya Mineral pun hingga saat ini gencar memasyarakatkan  penggunaan bahan bakar nabati untuk penghematan energi dan penyelamatan  lingkungan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kalau kita kembali menelusuri sejarah, Rudolf  Diesel, sang penemu mesin diesel, memang sejak awal merancang mesin diesel yang  berbahan bakar minyak kacang. Rudolf lalu mendemonstrasikan temuannya itu dalam  World’s Exhibition di Paris pada tahun 1900. Tetapi dalam perkembangannya,  justru bahan bakar solar dari hasil olah minyak bumi yang banyak digunakan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan harga yang murah dan mendapat subsidi  pemerintah, BBM menjadi pilihan satu-satunya, sampai akhirnya krisis global  mendongkrak harga minyak ke level tertinggi dalam sejarah. Banyak pihak di  negeri ini berteriak, menuntut pengembangan energi alternatif.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Yuddy Chrisnandi dalam Konvensi Calon Presiden RI  2009-2014 di Jakarta, Sabtu (7/3), mengatakan, kalau pemerintah salah mengelola,  tahun 2040 minyak bumi akan habis. Calon presiden muda itu sangat cemas,  bagaimana nasib bangsa ini kalau minyak bumi habis.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Marwah Daud, capres lain dari Dewan Integritas  Bangsa (DIB) mengatakan, negara kita ini sangat kaya. Sumber daya alam melimpah.  Tetapi kita miskin, karena pemerintah salah urus. Namun, jangan khawatir, ada  banyak alternatif jika stok minyak bumi habis.&lt;br /&gt;Saat ini, tegas Marwah,  dirinya tengah mengembangkan bio- etanol di Garut, Jawa Barat. “Kita tidak akan  jual singkong, tetapi bioetanol,” katanya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pemanfaatan bahan bakar nabati tentu membawa  sebuah harapan besar akan terjadinya perubahan di negara ini. Selain  meningkatkan devisa, pemanfaatan bahan bakar nabati juga akan membuka lapangan  kerja baru dan membantu mengurangi angka kemiskinan. Selain itu, bahan bakar  nabati ini juga diharap bisa mengurangi polusi udara akibat pembuangan gas dari  kendaraan bermotor yang berbahan bakar minyak.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Namun, banyak pihak cemas, eksplorasi dan  eksploitasi energi alternatif ini akan merusak hutan, melemahkan ketahanan  pangan, dan merusak pasar domestik. Ada dua alternatif sumber biodiesel yang  paling prospesktif saat ini, yakni minyak kelapa sawit dan jarak pagar. Untuk  mendapatkan hasil yang maksimal, dibutuhkan lahan yang luas. Konversi hutan  menjadi perkebunan kelapa sawit akan membuat hutan kita rusak. Aktivis  lingkungan seperti Walhi memperkirakan industri biodiesel akan mengulangi  kesalahan seperti yang telah dilakukan oleh industri pulp dan kertas, karena  merusak hutan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Program bahan bakar nabati juga akan  mengakibatkan naiknya harga komoditas pertanian tertentu, sebagai dampak  konversi besar-besaran tanaman pangan menjadi tanaman penghasil biofuel.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dampak lain yang tidak kalah penting adalah  ancaman kegagalan menciptakan pasar domestik. Ketika konversi lahan terlaksana,  hasil panen melimpah, sementara pemerintah tidak menyiapkan teknologi pengolahan  yang modern, maka kita hanya akan menjadi penyedia dan pengekspor bahan baku  energi alternatif ke negara-negara industri. Kalau ini yang terjadi, sia-sia  upaya mencari energi alternatif.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pohon Aren&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Prabowo Subianto, calon presiden dari Partai  Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) menyadari betul dampak dari penerapan energi  alternatif. Dalam pemaparan 8 program aksi untuk kemakmuran rakyat, di Jakarta,  Selasa (10/3), ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu mengatakan,  pihaknya telah menyiapkan program kemandirian energi.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Konsep Prabowo sederhana saja. Dia akan membuka 2  – 4 juta hektare hutan aren, dengan sistem tanam tumpang sari, untuk produksi  bahan bakar etanol sebagai pengganti BBM. Pembukaan lahan ini akan menjadikan  Indonesia sebagai negara pengekspor bahan bakar nabati setelah 7 tahun masa  tanam. Dalam kalkulasinya, empat juta hektare hutan aren menghasilkan sekitar 56  juta mt etanol/tahun.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mengapa pohon aren? Ide ini muncul ketika ia  mengamati beberapa negara Amerika Latin yang beralih menggunakan energi  alternatif, seperti Kolombia, Brasil, dan Tanzania di Afrika Timur. Setelah  diselidiki, kata Prabowo, ternyata tanaman aren seluas empat juta hektare yang  ada di Kolombia itu berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. “Brasil kirim pakar  ke Minahasa. Tanzania kirim menteri ke Minahasa untuk meneliti dan belajar  program etanol dari aren. “Lalu Indonesia?” tanya Prabowo kecewa.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Indonesia memang kaya akan sumber alam. Bahan  bakar nabati bisa dari apa saja. Kita tidak perlu lagi mengebor bumi untuk  mengais sisa-sisa minyak. Saatnya mengebor minyak yang ada dari energi  alternatif. Ada kelapa sawit, jarak pohon, singkong, aren, kemiri, tebu, jagung,  sagu, dan sebagainya. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sumber: Suara Pembaruan, Jumat 13 Maret 2009: &lt;a href="http://alumnifatek.forumotion.com/tampilan-pada-portal-f1/mengebor-minyak-di-pohon-aren-t619.htm"&gt;http://alumnifatek.forumotion.com/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Potensi Pengembangan Pohon Aren Di Indonesia (solusi permasalahan kemandirian energi dan lingkungan)</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2009/08/potensi-pengembangan-pohon-aren-di.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Fri, 14 Aug 2009 19:43:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-4419335730219894169</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Program bagi-bagi uang yang digagas pemerintah sekarang tidak akan  menyelesaikan masalah. Habis uang, kemiskinan tetap akan ada. Di sisi lain kita  punya hutan yang menjadi paru-paru dunia, yang harus kita selamatkan. Untuk  mengatasi tantangan tersebut, kami menawarkan gagasan pengembangan budi daya  aren di Indonesia. Pohon Aren ini adalah sumber energi yang sangat menjanjikan.  Aren ini dapat menghasilkan bermacam produk, yang ujungnya dapat dijadikan bahan  bakar, etanol. Hebatnya, Pohon ini akan lebih bagus pertumbuhannya jika ditanam  diantara pohon-pohon yang lain. Selain itu juga aren ini bisa menahan erosi,  menambah subur tanah, mengendapkan air lebih banyak, dan menghasilkan bio  etanol.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Aren merupakan tanaman yang sudah lama dimanfaatkan oleh penduduk Indonesia  dengan produk utama berupa gula merah. Aren memiliki berbagai nama seperti nau,  hanau, peluluk, biluluk, kabung, juk atau ijuk (aneka nama lokal di Sumatra dan  (Semenanjung Malaya); kawung, taren (Sd.); akol, akel, akere, inru, indu  (bahasa-bahasa di Sulawesi); moka, moke, tuwa, tuwak (di Nusa Tenggara), dan  lain-lain.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Aren dapat tumbuh di daerah tropis dengan baik, namun hingga saat ini  pengembangan potensi Aren di Indonesia masih sangat minim, hal ini ditunjukkan  dengan minimnya teknologi pengolahan Aren, minimnya lahan Aren, produk turunan  yang belum berkembang dan belum banyaknya pengelolaan Aren secara Industri di  Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nira aren di beberapa daerah selain sebagai bahan pemanis, melalui proses  fermentasi, Nira diubah menjadi minuman beralkohol yang dikenal dengan nama  tuak. Alkohol yang dihasilkan secara ilmiah dikenal dengan nama Etanol  (Bioetanol), Nira dapat diubah menjadi bioetanol dengan bantuan fermentasi oleh  bakteri ragi (Saccharomyces cereviseae) dimana kandungan gula (sukrosa) pada  nira dikonversi menjadi glukosa kemudian menjadi etanol.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nira Aren memiliki kelebihan dibandingkan dengan bahan baku bioetanol lainnya  seperti singkong dan jagung (tanaman penghasil pati) dikarenakan tahap yang  dilakukan cukup satu tahap saja yaitu tahap fermentasi, sedangkan bioetanol yang  berasal dari tumbuhan berpati memerlukan tahap hidrolisis ringan (sakarifikasi)  untuk merubah polimer pati menjadi gula sederhana.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Aren memiliki kelebihan dibandingkan dengan tebu, dimana pohon aren lebih  produktif menghasilkan nira dibandingkan dengan tebu dimana produktivitasnya  bisa 4-8 kali dibandingkan tebu dan rendemen gulanya 12%, sedangkan tebu  rata-rata hanya 7% .&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Rata-rata produksi nira aren ialah sebesar 10 liter nira/hari/pohon bahkan  pada masa suburnya untuk beberapa jenis pohon Aren (Aren Genjah) satu pohon  perhari dapat menghasilkan nira aren sebesar 40 liter, dengan kalkulasi  sederhana jika dalam satu hektar dapat tumbuh 200 pohon Aren dan tiap harinya  disadap 100 pohon maka dalam satu hari dapat menghasilkan nira aren sebesar 1000  liter/ha/hari dengan rule of thumb konversi glukosa menjadi ethanol sebesar 0,51  g ethanol/g glukosa maka dalam satu hari bioethanol perhektar yang dapat  diperoleh ialah 500 liter/hari.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari segi penumbuhan tanaman aren tidak tidak membutuhkan pupuk untuk tumbuh  sehingga Aren dapat bebas dari pestisida dan lebih ramah lingkungan, selain itu  Aren dapat ditanam di daerah lereng atau perbukitan serta tahan penyakit  sehingga dibandingkan dengan Tebu pengelolaan Aren jauh lebih mudah. Tanaman  aren juga lebih efektif jika ditanam secara tumpang sari. Dengan metode  penanaman tersebut, petani aren juga dapat menikmati penghasilan tambahan dari  tanaman tumpang sari lainnya. Tumpang sari juga bisa dimanfaatkan untuk  melakukan konservasi terhadap berbagai jenis tumbuhan di hutan Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bahan Bakar Nabati yang dihasilkan aren seperti kita ketahui merupakan bahan  bakar yang ramah lingkungan, hal ini disebabkan emisi yang dikeluarkan khususnya  emisi karbon sangatlah rendah, sehingga secara langsung dapat menjaga lingkungan  sekitar pengguna bahan bakar dan secara tidak langsung dapat mengurangi efek  dari pemanasan global (Perubahan iklim).&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selain itu pohon Aren merupakan pohon berdaun hijau, sehingga dengan menanam  Aren, kita ikut serta dalam menumbuhkan paru-paru dunia dan mengurangi atau  mencegah pemanasan global akibat emisi gas CO2 yang dihasilkan oleh aktivitas di  bumi melalui proses fotosintesis. Dengan kondisi lingkungan yang semakin baik,  kita dapat menyediakan masa depan lebih baik bagi anak-anak kita.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pengembangan aren juga dapat menimbulkan multiplier effect dalam hal  penyerapan tenaga kerja. Satu hektare perkebunan aren akan menyerap tenaga kerja  sebanyak 6 orang. Jika kita membuka 4 juta Hektare perkebunan aren, maka kita  dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi 24 juta orang. Belum lagi jika jumlah  tersebut ditambah dengan tenaga kerja yang dibutuhkan pada industri pengolahan  hingga ke pemasaran. Dengan terbukanya lapangan kerja, para ayah akan mampu  menafkahi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber: &lt;a href="http://perubahanuntukrakyat.com/2009/03/11/potensi-pengembangan-pohon-aren-di-indonesia-solusi-permasalahan-kemandirian-energi-dan-lingkungan/"&gt;http://perubahanuntukrakyat.com/2009/03/11/potensi-pengembangan-pohon-aren-di-indonesia-solusi-permasalahan-kemandirian-energi-dan-lingkungan/&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Prabowo Subianto:  Swasembada Energi dengan Pohon Aren</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2009/08/prabowo-subianto-swasembada-energi.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Fri, 14 Aug 2009 19:41:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-6909235227952319521</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sumber: RABU, 11 MARET 2009, 14:02 WIB&lt;/p&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Prabowo Subianto saat acara ulang tahun partai Gerindra (VIVAnews/Nurcholis  Anhari Lubis); Indonesia tidak perlu lagi mengimpor 900 ribu barel bahan bakar  tiap tahun.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;VIVAnews – Prabowo Subianto melihat peluang emas dari budidaya pohon aren.  Pasalnya, selain sektor pangan, Prabowo juga akan concern pada swasembada energi  terbarukan, seperti pohon aren.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dia mengatakan, pohon aren bisa menghasilkan kolang-kaling, gula aren, sagu,  dan tuak. “Terpenting pohon aren bisa menghasilkan etanol,” kata calon presiden  yang diusung partai Gerindra itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Prabowo mengatakan itu dalam diskusi Peran Pengusaha Nasional Menghadapi  Krisis Global Dalam Merebut Pasar Lokal yang diselenggarakan Himpunan Pengusaha  Pribumi Indonesia (HIPPI) di Hotel Gran Melia Jakarta, Rabu 11 Maret 2009.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Etanol dikenal bisa mensubstitusi minyak tanah dan bahan bakar.  Prabowo&lt;br /&gt;memperkirakan satu hektar lahan pohon aren bisa menghasilkan 20 ton  etanol per tahun. “Padahal kita punya 59 juta hektar lahan hutan yang rusak.  Kalau bisa ditanami aren diselingi tanaman lain, bisa swasembada energi,”  katanya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan adanya swasembada energi, Prabowo mengatakan, Indonesia tidak perlu  lagi mengimpor 900 ribu barel bahan bakar tiap tahun. Karena, hanya dengan 4  juta hektar pohon aren dapat menghasilkan 80 juta ton etanol tiap tahun. Dengan  asumsi satu ton bisa menghasilkan 6 barel, maka 480 juta barel dihasilkan dalam  setahun.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Prabowo menjelaskan, dengan adanya swasembada energi, Indonesia tidak perlu  lagi impor bahan bakar, bahkan bisa ekspor.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Dengan asumsi 1 hektar bisa dikerjakan 6 orang, jika ada 4 juta hektar  akan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;mempekerjakan 24 juta orang,” katanya. • VIVAnews</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Prabowo Akan Buka Empat Juta Hektare Aren</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2009/08/prabowo-akan-buka-empat-juta-hektare.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Fri, 14 Aug 2009 19:37:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-1956040492669589093</guid><description>&lt;p&gt;Jakarta (ANTARA News) – Calon presiden (Capres) dari Partai Gerakan Indonesia  Raya (Gerindra) Prabowo Subianto di Jakarta, Selasa, meluncurkan delapan program  aksi untuk memakmuran rakyat, termasuk membuka dua juta hektare lahan sawah baru  dan empat juta hektare lahan aren.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Delapan program aksi yang diluncurkan meliputi penjadwalan pembayaran utang  luar negeri, menyelamatkan kekayaan negara untuk memberantas kemiskinan,  melaksanakan ekonomi kerakyatan sesuai Pasal 33 UUD 1945, pemberdayaan pedesaan,  memperkuat sektor usaha kecil dan memandirikan pengelolaan dan pemanfaatan  energi dan sumber daya alam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pembukaan lahan sawah baru dan lahan untuk pohon aren itu merupakan bagian  dari program ekonomi kerakyatan. Menurut Prabowo, apabila satu hektare lahan  sawah baru menyerap enam tenaga kerja, maka 12 hektare lahan sawah akan menyerap  12 juta orang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Begitu juga apabila untuk membuka satu hektare lahan aren membutuhkan enam  tenaga kerja, maka untuk 4 hektare lahan aren akan mampu menyerap 24 juta tenaga  kerja. Hal ini akan sangat penting untuk menyerap tenaga kerja serta  memberdayakan petani.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lahan sawah diarahkan untuk meningkatkan produksi beras nasional, sedangkan  pohon aren akan sangat penting untuk kebutuhan ethanol yang bisa diolah menjadi  bahan bakar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kebutuhan aren di dunia akan terus meningkat sering dengan meningkatnya  diversifikasi bahan bakar. Pembukaan lahan aren sedang digencarkan Brazil,  Kolombia dan Tanzania.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di negara-negara tersebut, aren akan menjadi bahan baku utama bahan  bakar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena itu, jutaan hektare lahan aren sedang dibuka. “Bibitnya darimana? Dari  Minahasa (Sulawesi Utara). Ironis kalau Indonesia mengabaikan perlunya  mengembangkan pohon aren,” katanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Prabowo mengemukakan, selama 10 tahun terakhir, kemandirian bangsa cenderung  menurun. Sektor pertanian yang semestinya menjadi andalan, justru dipinggirkan  sehingga berbagai produk pertanian tidak bisa menghasilkan untuk kepentingan  masyarakat maupun negara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Indonesia hanya mampu mengandalkan ekspor produk mentah dan tidak mampu  menghasilkan produk olahan. Indonesia sebenarnya produsen coklat dan karet  terbesar di dunia. Tetapi pabrik coklat terbesar justru di Singapura dan  Malaysia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Begitu juga kita kita punya pabrik pengolah karet sehingga harus mengimpor  ban kendaraan,” kata Prabowo yang pada saat itu memperkenalkan tim ahlinya,  termasuk mantan Dirut Pertamina Widya Purnama dan mantan staf ahli menteri  pertanian Dr Rahmat Pambudi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Prabowo mengemukakan, turunnya kemandirian bangsa selama 10 tahun terakhir  menyebabkan tidak adanya akumulasi kekayaan nasional. Sebaliknya, justru terjadi  aliran kekayaan ke luar negeri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Hal itu mengindikasikan bahwa sebenarnya tidak tercapai kesejahteraan,”  katanya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Terjadinya aliran kekayaan ke luar negeri juga akibat tidak adanya kewajiban  bagi perusahaan-perusahaan asing yang mengelola sumber daya alam nasional untuk  menyetorkan keuntungan kepada negara.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Padahal perusahaan-perusahaan itu menggunakan infrastruktur, listrik dan  membayar tenaga kerja sesuai Upah Minimum Regional (UMR) yang murah.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;“Kalau begini, siapapun yang memimpin tidak akan mampu menyejahterakan  masyarakat,” katanya yang menambahkan, jika terpilih menjadi presiden maka  perubahan sistem ekonomi dari kapitalis dan liberal akan dikembalikan sesuai  Pasal 33 UUD 1945.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dia menyatakan, tidak anti kapitalis apalagi dirinya dan juga kakaknya Hasim  Djojohadikoesoemo juga pengusaha nasional. Tetapi mengembalikan sistem ekonomi  sesuai konstitusi menjadi tanggungjawab dan tekad untuk segera diwujudkan.  (*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber: http:&lt;a href="http://www.antara.co.id/arc/2009/3/10/prabowo-akan-buka-empat-juta-hektare-aren/"&gt;//www.antara.co.id/arc/2009/3/10/prabowo-akan-buka-empat-juta-hektare-aren/;  &lt;/a&gt;10/03/09 16:53&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Greenpeace: Stop PLTN, Tingkatkan Energi Terbarukan</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2009/07/greenpeace-stop-pltn-tingkatkan-energi.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Sun, 26 Jul 2009 22:21:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-5861212379528576316</guid><description>Tenaga nuklir yang kerap dipakai sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) disalahpersepsikan sebagai solusi untuk perubahan iklim. Padahal ada energi terbarukan yang sangat aman dan bersih seperti sinar matahari, panas bumi, angin dan mikrohidro. Dan Indonesia baru memanfaatkan energi terbarukan ini kurang dari 5 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu kenapa masih berupaya mendirikan PLTN," kata Tessa de Ryck, Juru Kampanye Nuklir Greenpeace Regional Asia Tenggara saat peluncuran Komik Nuclear Meltdown Pesan dari Kegelapan di Jakarta, Minggu (21/6).&lt;br /&gt;Menurut de Ryck, satu PLTN menghasilkan limbah nuklir dengan kadar radioaktif tinggi 20 hingga 30 ton per tahun. Parahnya, sampai sekarang tidak ada cara aman untuk menyimpan limbah nuklir, sehingga limbah nuklir bertumpuk. Di seluruh dunia diperkirakan ada 250.000 ton limbah nuklir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut ia mengatakan, kalau radiasi nuklir bocor dari PLTN maka akan meradiasi sel-sel tubuh sehingga mengakibatkan kanker kelenjar, kelainan saat bayi dilahirkan, kemandulan, leukimia, mutasi gen, kardiovaskular. Pada dasarnya, ia menambahkan, tidak ada reaktor nuklir yang benar-benar aman. Semua reaktor operasional memiliki kelemahan pada sistem keselamatan dasar yang tidak dapat dihilangkan begitu saja meskipun dengan meningkatkan tingkat keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, de Ryck memaparkan deretan kelemahan PLTN. Menurutnya sampai saat ini tidak ada solusi untuk limbah nuklir, membangun PLTN mahal mencapai 5 miliar dollar AS, jika terjadi kecelakaan akibatnya fatal, teknologi nuklir terlalu kompleks dan hanya dikuasai beberapa negara (AS, Rusia, Perancis, Jepang, Korsel dan Kanada), cadangan uranium sebagai bahan PLTN hanya terdapat di negara tertentu (Kanada, Australia, Nigeria, Kazakstan, Usbekistan), dan nuklir tidak bisa membantu perubahan iklim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oleh karena itu lebih baik menggunakan sumber energi terbarukan yang aman, bersih dan jauh lebih murah. Dan yang terpenting, sumbernya ada banyak di Indonesia," ungkapnya. Namun demikian, de Ryck tidak memungkiri pemerintah melalui Badan Tenaga Atom Indonesia (BATAN) terus bergiat dengan risetnya di 3 reaktor riset nuklir.&lt;br /&gt;"Mengatakan sudah berhasil meriset pada reaktor riset lalu berhasil pula pada saat PLTN dibangun, sama saja mengatakan saya bisa menjahit luka maka saya bisa mengoperasi jantung, sekalipun reaktor risetnya sebesar di Serpong," papar de Ryck, saat mengomentari para peneliti BATAN yang terus bekerja mempersiapkan PLTN.&lt;br /&gt;Melihat terlalu berbahayanya PLTN dan ada begitu banyak sumber energi terbarukan yang dimiliki Indonesia, Greenpeace mendesak pemerintah Indonesia untuk meningkatkan target energi terbarukan sekaligus meningkatkan kualitas hukum dan peraturan yang selama ini menjadi batu sandungan terbesar dalam investasi di bidang energi terbarukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meningkatkan investasi bahan bakar fosil dan nuklir untuk dialihkan pada panas bumi, angin, dan matahari tidak hanya merupakan pilihan pintar untuk mengurangi emisi, tetapi juga pilihan ekonomi yang pintar," pungkas de Ryck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;source:http://sains.kompas.com/read/xml/2009/06/21/23021941/greenpeace.stop.pltn.tingkatkan.energi.terbarukan</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Toak, Bisa Disulap Jadi Energi Alternatif</title><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2009/07/toak-bisa-disulap-jadi-energi.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Sun, 26 Jul 2009 22:12:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-3143745185299789319</guid><description>Toak, selama ini dikenal sebagai minuman khas dari Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Selain dikenal sebagai minuman yang bisa memabukkan peminumnya, kini toak bisa di manfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. Hasil percobaan Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuban, meski belum mencapai hasil memuaskan, namun temuan itu cukup bermanfaat sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Tuban, Muji Slamet Kamis (16/7) menyatakan saat ini, timnya sedang melakukan penelitian akhir tentang bahan bakar alternatif berbahan baku toak. Hasil fermentasi sari bunga pohon siwalan ini, ternyata mampu m enghasilkan bahan ethanol bermutu tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar menghasilkan cairan ethanol yang bermutu tinggi harus menggunakan toak basi atau toak yang difermentasi mengunakan ragi. Lalu, toak yang telah disimpan di tempat tertutup selama tujuh hari disuling melalui pemanasan. Pemanasan toak ini di lakukan h ingga mendidih, kata Muji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penguapan toak basi ini disalurkan melalui pipa yang di rendam ke dalam air dingin. Pendinginan disebut sebagai proses penyulingan menghasilkan ethanol yang dipakai sebagai bahan bakar alternatif pengganti minyak tanah.&lt;br /&gt;Kandungan ethanol dalam olahan toak ini cukup tinggi hingga mencapai 90 persen. Ethanol ini kemudian diuji kualitasnya dengan cara membakarnya. Hasilnya cukup luar biasa, ethanol yang di bakar mampu menghasilkan api dengan menyala biru dengan jangka wakt u yang lama, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian dan percobaan bahan bakar dari toak ini dilakukan sebanyak lima kali dalam kurun waktu selama satu bulan terakhir. Namun hasilnya masih perlu diuji untuk mencapai biaya produksi yang efisien untuk diproduksi oleh masyarakat. Meski telah berhasi l masih terus dilakukan pengembangan atas penemuan itu. Rencananya akan dilakukan penelitian dan percobaan penggunaan tenaga surya atau tenaga angin sebagai bahan pemanas tungku dalam proses penyulingan toak menjadi ethanol, kata Muji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia rutinitas memanjat pohon siwalan merupakan aktifitas yang tak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Tuban. Dari pohon siwalan ini tidak hanya bisa dimanfaatkan buahnya, sebagai bahan dawet atau dibuat legen siwalan. Sari bunga dari pohon ini ya ng biasa di sebut toak juga dapat dikonsumsi sebagai minuman layaknya minuman keras karena bisa memabukkan. Kini ditemukan toak bisa jadi bahan bakar cukup membanggakan, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber:&lt;a href="http://sains.kompas.com/read/xml/2009/07/16/19042888/toak.bisa.disulap.jadi.energi.alternatif"&gt;http://sains.kompas.com/read/xml/2009/07/16/19042888/toak.bisa.disulap.jadi.energi.alternatif&lt;/a&gt;.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title/><link>http://go-greenergy.blogspot.com/2009/07/by-jennifer-kho-contributor-california.html</link><author>noreply@blogger.com (alumni kebun polinela)</author><pubDate>Wed, 22 Jul 2009 20:37:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7500932528989542617.post-5229579129775357202</guid><description>&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivMYHKHHpTXxjlFpoaafrPxhrri1B1d_hzw4zjSeuSllqD6kaket5AKTSKE1Q1t1LwwTu6Ocq8FtPnBnPZ_smdO_TVPK3eN7ZJpQ1p6q07FL1gbqp0g3TPng6JvnSMPgDw-WuvwZKh4Xw/s1600-h/1332-bio-oil-bets-on-biofuels.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361496890808216466" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivMYHKHHpTXxjlFpoaafrPxhrri1B1d_hzw4zjSeuSllqD6kaket5AKTSKE1Q1t1LwwTu6Ocq8FtPnBnPZ_smdO_TVPK3eN7ZJpQ1p6q07FL1gbqp0g3TPng6JvnSMPgDw-WuvwZKh4Xw/s320/1332-bio-oil-bets-on-biofuels.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; by Jennifer Kho, Contributor&lt;br /&gt;California, United States [RenewableEnergyWorld.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At first glance, it might look like oil companies are pulling out of renewables. At the end of June, BP closed its alternative-energy headquarters. The oil company also has cut its alternative-energy budget and closed several solar factories in Spain. And that's after Shell sold off most of its solar business at the end of 2007. But while solar might not have been the best fit for the petroleum industry, analysts say that oil companies might be better-positioned in renewable fuels – and are seeing some obvious signs of movement into the area.&lt;br /&gt;"My gut [feeling] is that oil companies understand that, at some point, they've got to get into renewables."-- Michael Butler, CEO, Cascadia Capital&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One of the biggest is &lt;a href="http://www.renewableenergyworld.com/rea/news/article/2009/07/exxonmobil-to-launch-biofuels-program?cmpid=DNL-Monday-July20-2009" target="_blank"&gt;ExxonMobil's announcement&lt;/a&gt; last week that it will invest more than $600 million in algae-based biofuels, with more than $300 million going to Synthetic Genomics. Of course, oil companies have previously invested at the research level, such as when BP announced it would &lt;a href="http://berkeley.edu/news/media/releases/2007/02/01_ebi.shtml" target="_blank"&gt;invest $500 million&lt;/a&gt; — over a decade — in a research consortium led by the University of California at Berkeley in 2007. But Michael Butler, CEO of investment bank Cascadia Capital, said that starting last fall, about when the economic downturn began, he began seeing more activity in the business of renewable fuels as well.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some examples? U.S. oil company &lt;a href="http://www.valero.com/default.aspx" target="_blank"&gt;Valero Energy Corp.&lt;/a&gt; in March won court approval to &lt;a href="http://www.renewableenergyworld.com/news/article/2009/04/verasun-closes-sale-with-valero" target="_blank"&gt;buy seven ethanol plants&lt;/a&gt; — and one partially completed plant — from VeraSun Energy Corp. Earlier this month, Redmond, Wash.-based Prometheus Energy, which converts waste methane into liquid natural gas, said it &lt;a href="http://greeninc.blogs.nytimes.com/2009/07/03/funding-boost-for-waste-methane-processor/" target="_blank"&gt;raised $20 million&lt;/a&gt; from the &lt;a href="http://www.kendacapital.com/" target="_blank"&gt;Shell Technology Ventures Fund&lt;/a&gt; and &lt;a href="http://www.black-river.com/" target="_blank"&gt;Black River Asset Management&lt;/a&gt;, a subsidiary of the agricultural giant &lt;a href="http://www.cargill.com/" target="_blank"&gt;Cargill&lt;/a&gt;. And in February, Conoco &lt;a href="http://www.biodieselinvesting.com/biodiesel-archives/2009/02/02/conoco-ethanol-station-opens-in-topeka/" target="_blank"&gt;opened an ethanol fuel-blending station&lt;/a&gt; in Kansas in partnership with ICM, Poet and Crescent Oil. Conoco and Tyson Foods in May suspended &lt;a href="http://www.arkansasbusiness.com/article.aspx?aid=114723.54928.126850" target="_blank"&gt;plans&lt;/a&gt; for a plant that would have made biodiesel from animal fat, but &lt;a href="http://www.dtnethanolcenter.com/" target="_blank"&gt;DTN Research&lt;/a&gt; analyst Rick Kment said Conoco is considering buying a biofuel plant on the East Coast.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One reason for these investments is that the recession — along with the &lt;a href="http://www.greentechmedia.com/articles/read/ethanols-tough-times-continue-231/" target="_blank"&gt;hard times&lt;/a&gt; for the &lt;a href="http://www.renewableenergyworld.com/news/article/2009/02/can-the-future-of-the-us-ethanol-industry-be-determined-by-verasun" target="_blank"&gt;ethanol&lt;/a&gt; and &lt;a href="http://earth2tech.com/2009/05/13/see-ya-algae-startup-greenfuel-shuts-down/" target="_blank"&gt;biodiesel&lt;/a&gt; industry — has led to great deals for biofuel assets, Kment said. Valero was able to &lt;a href="http://www.renewableenergyworld.com/news/article/2009/02/can-the-future-of-the-us-ethanol-industry-be-determined-by-verasun" target="_blank"&gt;acquire VeraSun assets&lt;/a&gt; for a mere 30 percent of the estimated cost of building the plants, and similar opportunities may be available. In February, Archer Daniel Midlands told analysts that &lt;a href="http://money.cnn.com/2009/02/03/news/companies/adm_ethanol.reut/index.htm" target="_blank"&gt;nearly 21 percent&lt;/a&gt; of U.S. ethanol production capacity had been shut down, meaning that plenty of defunct assets could be up for grabs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kment said he expects to see more examples of oil companies buying ethanol and biofuel plants to meet that standard. After all, the &lt;a href="file:///Users/jrunyon/Library/Caches/TemporaryItems/khoOil_bio_featJR.doc(TCA0)/The%20Renewable%20Fuel%20Standard%20program%20will%20increase%20the%20volume%20of%20renewable%20fuel%20required%20to%20be%20blended%20into%20gasoline%20from%209%20billion%20gallons%20in%202008%20to%2036%20billion%20gallons%20by%202022." target="_blank"&gt;renewable fuel standard&lt;/a&gt; calls for 36 billion gallons of biofuel to be blended into transportation fuels by 2022, up from 9 billion gallons last year. At today's low prices, it makes sense for blenders to buy biofuel assets as a hedge against higher prices in the future, Kment said. "At this point, companies are looking at this as economical and a good investment," he said. "The value of these plants are at nickels or dimes on the dollar, so [oil companies] have an opportunity to lock up a portion of their blending needs of biofuels … and hedge their overall cost in case the overall supply becomes tighter in the future."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kment sees oil companies spending more money at the asset-acquisition level than at the startup stage. But even those smaller startup investments represent a significant trend at a time when many venture capitalists and private-equity investors are pulling back, Butler said. "They're filling a void in the marketplace," he said. "Oil companies have the [technological expertise] to get really deep into this technology. So they can afford to take these bets and take on some of this risk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many renewable-fuel technologies have turned out to be harder to fully commercialize than startups expect. (It took &lt;a href="http://www.prometheus-energy.com/" target="_blank"&gt;Prometheus Energy&lt;/a&gt;, for example, an extra 1-plus year to get up and running. The company was delisted from the London AIM exchange last year, before scoring its funding round.) But even though financial investors have been burned by the significant amount of capital and secure distribution channels that it takes to make biofuels successful, those same factors could give oil companies an edge, Butler said. In fact, several of his clients are currently in discussions with big oil and gas companies. "It's just a natural fit," he said. "Big companies bring the distribution and [scale], and startups bring the technology and the innovation."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In any case, all the investments signify that the petroleum industry "really looks at biofuels as a stable part of the industry," Kment said. "Whether they like it or appreciate it or not, they see it as being part of the [fuels] industry and one of the things needed to [do business] in the United States."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butler agrees that it's a milestone for biofuels. "My gut [feeling] is that oil companies understand that, at some point, they've got to get into renewables," he said. "I'm not really sure they’re going to develop the products in their own companies, so it probably makes more sense for them to go outside. If the technology ends up working, this could be very, very synergistic."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The trend of oil companies expanding from buying to also producing biofuels could significantly grow the industry, analysts said. Renewable fuels is certainly a better fit for oil companies than solar power, said &lt;a href="http://www.renewableenergyworld.com/author?id=13" target="_blank"&gt;Ron Pernick, a principal at research firm Clean Edge&lt;/a&gt;. "They didn't know [solar] manufacturing, didn't have the distribution channels for something like a solar panel — it didn't fit their gestalt or their DNA," he said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternative fuels could make far more sense because they tie more closely to oil and gas companies' core business, he added. "Here is a business where a lot of biofuel tech companies have tried and failed, and maybe that wasn't the right fit for them," he said. "I think if anyone can crack this nut, it's probably the chemical and oil and gas guys."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Freelancer Jennifer Kho has been covering green technology since 2004, when she was a reporter at Red Herring magazine. She has more than nine years of reporting experience, most recently serving as the editor of Greentech Media. Her stories have appeared in such publications as The Wall Street Journal, the Los Angeles Times, BusinessWeek.com, CNN.com, Earth2Tech, Cleantechnica, MIT's Technology Review, and TheStreet.com.&lt;/em&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivMYHKHHpTXxjlFpoaafrPxhrri1B1d_hzw4zjSeuSllqD6kaket5AKTSKE1Q1t1LwwTu6Ocq8FtPnBnPZ_smdO_TVPK3eN7ZJpQ1p6q07FL1gbqp0g3TPng6JvnSMPgDw-WuvwZKh4Xw/s72-c/1332-bio-oil-bets-on-biofuels.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>