<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-180733631219306484</atom:id><lastBuildDate>Thu, 24 Oct 2024 18:47:03 +0000</lastBuildDate><title>QUO VADIS PENDIDIKAN</title><description>Dengan Pendidikan Membangun Bangsa</description><link>http://quovadispendidikan.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (MUNIR YUSUF)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-180733631219306484.post-8263200480771726780</guid><pubDate>Tue, 31 Mar 2009 03:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-30T20:59:05.021-07:00</atom:updated><title>&quot;Kata&quot; dalam Bahasa Bugis</title><description>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Kata dalam bahasa bugis &lt;br /&gt;(by LaMuni’)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya dan saya sebenarnya sudah hampir frustrasi belajar bahasa Arab. Itu disebabkan karena rumitnya kosa kata bahasa arab yang sangat kaya dengan makna. Arti sebuah kata dalam bahsa arab dapat berbeda, walau  hanya sekadar perubahan satu huruf atau bahkan perubahan bunyi, meskipun dibentuk oleh huruf yang sama. Misalnya kata “anta” dan “anti” jelas, dibentuk oleh huruf yang sama, tetapi keduany memiliki arti yang berbeda. “anta” hanya benar untuk menunjuk pada laki-laki dan “anti” hanya benar  jika menunjuk pada perempuan. Ada pula yang disebut dengan “wazan”, yang menunjukkan perubahan-perubahan sebuah kata berdasarkan pada waktu terjadinya dan bentuk subyek kalimatnya, dan itu jumlahnya sangat banyak. Keunikan itu ditambah lagi oleh struktur tata bahasa arab yang sangat rumit.&lt;br /&gt;Tapi tahukah anda, bahwa bahasa bugis sesungguhnya memiliki beberapa kesamaan dengan bahasa Arab, baik dari segi kekayaan kosa katanya maupun dari segi perbedaan makna kata akibat adanya perubahan bunyi. Bahkan bahasa bugis lebih istimewa, karena di dalam bahasa bugis, beberapa kata tertentu mengalami makna yang berbeda walau diucapkan dengan cara yang sama, tetapi dengan intonasi yang berbeda. Atau bahkan sebuah kata bisa memiliki arti dan Sense yang berbeda jika diucapkan dalam suasana yang berbeda.&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Kata “engka” adalah kata dasar yang berarti “ada”. Tetapi jika kata “engka” ditambah dengan akhiran tertentu, maka maknanya bisa berubah. Misalnya, kata “Engka” ditambah dengan akhiran “ni” menjadi Engkani ,  maka kata “engkani” berarti“ sudah tiba”. Tetapi jika kata Engkani diucapkan dengan memanjangkan huruf  “i”, menjadi “Engkaniii”, maka makanya akan berubah, dan umumnya menunjukkan makna“orang yang telah dinanti-nantikan pada saat itu” telah tiba. Namun kata tersebut akan menjadi berubah makna jika diganti menjadi “engkasi”. Kata “engkasi” dapat diartikan“datang lagi” (menunjukkan frekuensi kedatangan yang sudah berulang-ulang sebelumnya, dan yang mengucapkan kata tersebut  (mungkin) sudah merasa bosan dengan kedatangan orang tersebut. Maka kata yang digunakan adalah kata “engkasi”, artinya “ datang lagi” (Seolah-olah ingin mengungkapkan bahwa Tadi dia sudah datang, kemarin dia datang, dua hari yang lalu dia datang, maka hari ini, dia juga datang lagi, capek deehh), maka begitu dia muncul diucapkan “Engkasi”&lt;br /&gt;Selain itu, bahasa bugis juga memiliki perubahan kata yang cukup banyak. Satu kata dapat terdiri dari banyak perubahan  dengan makna yang sangat berbeda satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Kata “Anre” merupakan kata dasar bagi semua potensi bentuk kata yang dapat ditimbulkannya,  karena kata tersebut dapat membentuk kata kerja ataupun kata benda. Contohnya “Manre”, berarti makan (kata kerja). Kata “Manre” pun kemudian dapat memiliki arti yang banyak.&lt;br /&gt;1. Perubahan makna karena tambahan awalan dan akhiran&lt;br /&gt;Manreni = Sedang makan&lt;br /&gt;Manresi = Makan lagi (mengulangi makan)&lt;br /&gt;Manreka’ = Saya sedang makan&lt;br /&gt;Manrepi = Nanti jika sementara makan (tunggu hingga dia sementara makan)&lt;br /&gt;Manretoi = Sementara makan pula&lt;br /&gt;Anresi = Kalimat memerintahkan makan (tetapi dengan nada kurang sopan) = ya..makan lagi (padahal orang menyuruhnya makan karena jengkel)&lt;br /&gt;Pakkanreang = Lauk pauk&lt;br /&gt;Nanrei = dia memakannya&lt;br /&gt;Tanrei = Merupakan kalimat “mempersilahkan makan” dengan cara yang sopan&lt;br /&gt;Nanresi = Dia makan lagi (Dia ulang memakannya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perubahan karena tambahan akhiran&lt;br /&gt;Anrei = Mempersilahkan makan (tetapi biasanya hanya diucapkan pada orang yang lebih rendah (baik dari segi usia, pangkat, kebangsawanan dsb), dan kesannya kurang sopan.&lt;br /&gt;  Atau kalimat menyatakan makian kepada seseorang.&lt;br /&gt;Anreni =  Memerintahkan untuk tidak ragu-ragu memakannya. (makan saja)&lt;br /&gt;Anrepi = Kalimat yang menunjukkan kejengkelan karena orang tersebut memakan sesuatu. (siapa suruh kau makan)&lt;br /&gt;Anreka’ = Silahkan memakan saya&lt;br /&gt;Anreko = Menyuruh orang makan dengan cara yang kasar.&lt;br /&gt;Anreang = Piring makan (kata benda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perubahan karena tambahan awalan&lt;br /&gt;Nanre = Artinya nasi (kata benda)&lt;br /&gt;Manre = Sementara makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunikan bahasa bugis karena setiap kata bahasa bugis tidak memiliki struktur tata bahasa yang baku berlaku bagi semua kata. Akibatnya perubahan setiap kata “hanya” dengan menggunakan “sense” orang bugis saja yang bisa memahaminya dengan baik.&lt;br /&gt;Tidaklah mengherankan, jika hingga hari ini, saya (kita???) belum pernah menemukan buku yang berisi pelajaran tata bahasa bugis. Yang banyak ditemukan adalah sastra bugis yang tertulis dalam lontara. &lt;br /&gt;Lalu bagaimana mempelajari bahasa bugis? Rumitkah? Susahkah? Saya rasa tidak juga. Caranya mudah; bergaullah, berteman, atau pacaranlah dengan orang bugis, atau bahkan kalau mau lancar???? Menikahlah dengan orang bugis (heheheheheheheeh…….. )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://quovadispendidikan.blogspot.com/2009/03/kata-dalam-bahasa-bugis.html</link><author>noreply@blogger.com (MUNIR YUSUF)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-180733631219306484.post-3810501310128329579</guid><pubDate>Tue, 31 Mar 2009 03:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-30T20:53:30.051-07:00</atom:updated><title>NENEKKU SEORANG FILSUF</title><description>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Nenekku Seorang Filsuf&lt;br /&gt;(by La Muni’)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan khazanah bahasa bugis menunjukkan betapa orang-orang bugis tidak dapat disepelekan dalam pentas sejarah perkembangan bahasa-bahasa dunia. Dapat diklaim bahwa bahasa bugis sejajar dengan bahasa-bahasa besar dunia lainnya. Indikasinya adalah bahasa bugis memiliki bentuk huruf sendiri (yang disebut: lontara atau hurupu sulapa eppa) yang berbentuk segi empat. Huruf Lontara sejajar dengan bentuk huruf yang  telah dikenal saat ini, yaitu huruf Arab, huruf Latin, huruf China, huruf Pallawa, dan -tentu saja- huruf Lontara (huruf Bugis).&lt;br /&gt;Huruf Kanji (Jepang)- misalnya- adalah bentuk yang diambil dari huruf China. Huruf jawa (kawi) merupakan turunan dari huruf Pallawa (bahasa Sansekerta), dan huruf latin yang kita kenal dewasa ini pun merupakan turunan dari huruf Latin sendiri. Tetapi orang bugis ternyata memiliki bahasa dan sistem simbol bahasa tulis sendiri yang dikenal dengan huruf Lontara. &lt;br /&gt;Karena itu, sepanjang yang penulis ketahui, bahasa bugis merupakan satu dari lima bahasa yang memiliki sistem simbol bahasa tulis sendiri, selain bahasa china, Pallawa, Arab dan Latin. Hal ini juga mengindikasikan kalau orang bugis memiliki tradisi berpikir yang kuat dan menghasilkan karya luar biasa. Bisa dikatakan bahwa orang-orang bugis sejajar dengan filsuf-filsuf besar lainnya seperti Plato, Socrates, Hegel dan berbagai filosof besar lainnya di dunia.&lt;br /&gt;Masalahnya kemudian adalah betapa sulitnya mengidentifikasi para “filsuf-filsuf” bugis tersebut. Karya-karya tulis mereka sulit dilacak (selain karena waktu itu belum ada penerbit …????heheheh…), juga karena para orang tua itu menyimpannya dalam bentuk cerita turun temurun.  Karena itu, naskah-naskah kuno yang ditulis dengan huruf Lontara  sangat sedikit. Bahkan karya terbesar yang tersimpan “hanya” lontara I La Galigo; itupun naskah aslinya ada di negeri Belanda.&lt;br /&gt;Namun demikian, toh bukti-bukti itu tetap lestari sampai sekarang. Bahasa dan huruf bugis masih bisa kita temukan,  hanya saja melestarikannya tentu menjadi tugas para “orang-orang bugis muda”. &lt;br /&gt;Jaji Idi’…..????? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://quovadispendidikan.blogspot.com/2009/03/nenekku-seorang-filsuf.html</link><author>noreply@blogger.com (MUNIR YUSUF)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-180733631219306484.post-3389940381789111347</guid><pubDate>Wed, 11 Mar 2009 05:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-10T22:18:01.879-07:00</atom:updated><title></title><description>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;BAGIAN KEDUA&lt;br /&gt;Fase Pertama: Masa Pranikah, Prahamil, dan Kehamilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam memberikan perhatian ekstra terhadap perkembangan anak serta kesehatan jasmani dan ruhaninya jauh sebelum sang anak dilahirkan. Islam menganjurkan para orang tua untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan keselamatan dan kesehatan anaknya, sehingga anak akan lahir dan tumbuh dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan tersebut antara lain, pertama, Islam menekankan pentingnya melakukan seleksi ketat dalam pemilihan jodoh. Dan selanjutnya, saat janin telah berada di rahim ibunya, yang merupakan masa yang sangat berpengaruh bagi perkembangannya di masa mendatang, Islam juga mengajarkan kepada kita bagaimana masa ini harus dilewati. Ajaran-ajaran Islam yang berkenaan dengan fase ini dapat kita kelompokkan seperti di bawah ini:&lt;br /&gt;1. Masa Pranikah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik realitas maupun riset ilmiah membuktikan bahwa gen atau unsur keturunan dan lingkungan sosial sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian anak maupun perkembangan jasmaninya.[1] Anak banyak mewarisi sifat dan karakter yang dimiliki ayah, ibu, dan kakeknya, seperti tingkat kecerdasan, tingkah laku, kerendahdirian, kedermawanan, dan berbagai hal lainnya. Karena itu, orang tua merupakan salah satu faktor perpindahan sifat-sifat tersebut kepada anak atau, paling tidak, mereka dapat menciptakan semacam potensi pada diri anak untuk menyandang sifat-sifat tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, adat istiadat dan kebiasaan juga berpengaruh pada diri anak. Oleh sebab itulah, Islam menekankan pentingnya mengadakan seleksi ketat dalam memilih pasangan hidup dari lingkungan dan keluarga yang sehat dan baik.&lt;br /&gt;a. Memilih Isteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memilih isteri, Islam mengajarkan kepadakaum lelaki muslim untuk memperhatikan dua hal yaitu, pertama, silsilah keturunan calon isteri, dan kedua, lingkungan tempat ia hidup dan sejauh mana lingkungan ini berpengaruh pada kepribadiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAWW bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Pandai-pandailah memilih calon isteri karena saudara isteri akan menurunkan sifat dan karakternya pada anak kalian.[2]     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadis yang lain beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Pilihlah dengan benar wanita yang akan mengandung anakmu karena unsur keturunan sangat berpengaruh pada anak. [3] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah menganjurkan untuk memilih isteri dari keluarga yang memiliki sifat-sifat terpuji karena keluarga yang baik akan membentuk karakter yang baik pula pada diri wanita tersebut. Bila kita menengok ke lembaran sejarah kehidupan beliau akan kita temukan bahwa Rasulullah juga sangat memperhatikan hal tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mengawini Khadijah a.s., seorang wanita mulia yang di kemudian hari melahirkan anak yang merupakan penghulu wanita seluruh dunia yaitu Fatimah Zahra a.s. Sunnah Nabi ini diikuti oleh keluarga suci beliau. Ahlul Bait a.s. selalu memilih isteri dari keluarga yang baik dan terhormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memilih istri yang berasal dari keluarga yang baik dan mulia, Islam juga menekankan untuk memilih isteri dari lingkungan sosial yang bersih karena lingkungan yang baik akan memberikan pengaruh yang baik pula kepada wanita tersebut. Sebaliknya, Islam melarang kaum lelaki untuk memilih isteri dari lingkungan yang tidak baik. Dalam hadis disebutkan, bahwa Rasul SAWW melarang untuk mempersunting wanita cantik yang hidup di lingkungan yang sesat. Beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Berhati-hatilah terhadap wanita cantik yang hidup di lingkungan yang tidak baik.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ja’far Shadiq a.s. melarang lelaki muslim menikahi wanita pezina. Beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jangan sekalipun kalian menikahi wanita yang terang-terangan berzina.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muhammad Baqir a.s. dalam hadisnya melarang pria beriman untuk mengawini wanita gila karena dikhawatirkan anak yang akan dilahirkannya akan mewarisi kegilaan ibunya. Ketika ditanya tentang perkawinan dengan wanita gila, beliau menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jangan! Tetapi jika ada orang yang memiliki budak wanita yang gila, ia dapat mengumpulinya dan jangan sampai ia mendapatkan anak darinya. [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat disebutkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib a.s. memperingatkan pria muslim untuk tidak menikahi wanita dungu karena dikhawatirkan anak yang ia lahirkan akan mewarisi kedunguannya. Selain itu, wanita dungu tidak akan mampu mendidik anak dengan baik dan benar. Beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jangan sekalipun kalian mengawini wanita dungu karena bergaul dengan wanita seperti itu merupakan petaka bagi seseorang dan anak yang dilahirkan akan tidak berguna. [7] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa tolok ukur yang benar dalam memilih isteri adalah tingkat keimanan dan keloyalan wanita terhadap agamanya. Rasulullah dalam banyak hadisnya sangat menekankan masalah ini. Suatu hari seseorang datang menemui Rasulullah SAWW dan meminta nasehat dari beliau tentang perkawinan. Beliau menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Pilihlah wanita yang loyal pada agamanya, niscaya engkau akan berbahagia. [8] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ja’far Shadiq a.s. memprioritaskan masalah agama di atas harta dan kecantikan wanita. Beliau mengatakan,  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jika seseorang mengawini seorang wanita karena kecantikan atau hartanya, ia akan mendapatkan apa yang ia cari itu. Tapi bila ia mengawininya karena agamanya, Allah pasti akan memberinya kecantikan dan harta.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita yang berasal dari keturunan yang baik dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang beriman akan menjadi wanita yang taat beragama. Wanita seperti inilah yang dapat mendidik anak-anaknya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, program pendidikan anak yang diterapkan oleh kedua belah pihak, suami dan isteri, akan sama, tanpa perbedaan yang berarti. Wanita seperti ini akan memiliki rasa tanggung jawab untuk menjalankan program pendidikan yang sesuai dengan nilai Islam dan menganggapnya sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan. Mental yang demikian ini akan mencegahnya melakukan hal-hal yang dapat menghalangi kelancaran program pendidikan anak dan meninggalkan dampak negatif pada diri anak.&lt;br /&gt;b. Memilih Suami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana ibu, seorang ayah juga memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan anak, fisik, serta mental dan kejiwaannya. Karena itu, dalam memilih calon suami, Islam juga mengajarkan untuk memperhatikan sisi keturunan dan lingkungan tempat ia tinggal. Si calon suami tersebut hendaknya juga memiliki sifat-sifat yang terpuji sebab ia kelak akan menjadi panutan anak-anaknya dan menurunkan semua sifat dan wataknya kepada mereka. Selain itu, isteri juga akan terpengaruh oleh sebagian sifat-sifatnya melalui pergaulan sehari-hari dengannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, Rasulullah SAWW menganjurkan para wanita untuk memilih calon suami yang sepadan. Suami yang sepadan menurut Rasulullah SAWW adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Lelaki yang sepadan adalah lelaki yang menjaga kehormatannya dan sedikit berkecukupan. [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ja’far Shadiq a.s. memperingatkan kaum wanita agar jangan memilih lelaki yang kesehatan jiwanya terganggu. Beliau berkata, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Kawinilah wanita yang peragu tetapi jangan kalian berikan wanita kalian pada lelaki yang peragu karena isteri selalu belajar dari perangai dan kebiasaan suami serta mengikutinya dalam beragama.[11] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menjadikan ketaatan pada agama sebagai penilaian terpenting dalam memilih calon suami. Rasulullah SAWW bersabda, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jika seorang lelaki yang kalian sukai perangai dan agamanya datang meminang, terimalah pinangannya itu! [12] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Islam, seorang wanita muslimah tidak diperbolehkan untuk menikah dengan lelaki nonmuslim. Hikmah dari hukum ini adalah demi menjaga keselamatan anak-anak dan keluarga dari hal-hal yang tidak diinginkan, termasuk yang menyangkut kepercayaan (agama) dan perilaku, sebab istri dan anak akan sangat terpengaruh oleh kepercayaan dan perilaku si ayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam juga melarang kita mengawinkan wanita anggota keluarga kita dengan seorang lelaki yang tidak taat beragama dan berperilaku tidak Islami demi menjaga wanita tersebut serta anak-anaknya kelak dari penyimpangan terhadap agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ja’far Shadiq a.s. mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jangan kalian menikahi wanita yang terang-terangan berzina dan jangan kalian kawinkan wanita kalian dengan lelaki pezina kecuali jika kalian yakin bahwa mereka telah bertaubat. [13] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ja’far Shadiq a.s. juga melarang mengawinkan wanita anggota keluarga kita dengan seorang lelaki peminum arak. Beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jika seseorang mengawinkan anak atau saudara perempuannya dengan peminum arak, berarti ia telah memutuskan tali persaudaraan dengannya.[14] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berperilaku menyimpang akan memberikan dampak yang negatif pada perilaku anak-anaknya karena semua tindak-tanduknya akan terekam pada memori anak-anak dan dipraktekkan dalam tingkah-laku mereka. Selain itu, orang seperti ini tidak akan pernah mempedulikan pendidikan anak-anaknya. Dia juga akan membuat banyak masalah dengan isterinya dan hal itu akan menciptakan ketidakharmonisan dalam keluarga. Jika hal ini terjadi, rumah tangga yang semestinya menjadi tempat yang aman dan tenteram bagi perkembangan dan pendidikan anak-anak berubah menjadi tempat yang seram dan menegangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat hidup Rasulullah SAWW dan Ahlul Bait a.s. memperlihatkan contoh teladan dalam memilih pasangan untuk anak-anak mereka. Rasulullah SAWW tidak memberikan anaknya yang bernama Fatimah kepada para sahabat-sahabat besarnya. Setiap datang lamaran dari salah seorang sahabat, jawaban yang selalu diberikannya adalah bahwa beliau menunggu ketentuan Allah.[15] Kemudian beliau mengawinkan putri kesayangannya itu dengan Ali bin Abi Thalib a.s. sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah kepadanya.[16] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan, bahwa Dzalfa’, seorang wanita muslim yang terkenal karena kecantikan dan kebangsawanannya, dipuji oleh Rasulullah SAWW karena mau menikah dengan Juwaibir, lelaki muslim yang miskin dan tidak tampan tetapi taat beragama dan beriman tebal.[17]&lt;br /&gt;2. Masa Prahamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengajarkan pentingnya seleksi dalam memilih pasangan hidup, Islam melanjutkan arahannya dengan menjelaskan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh suami dan isteri dalam mendidik anak sejak masa yang paling dini, yaitu sejak masa prahamil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT telah menjadikan hubungan antara suami isteri sebagai hubungan yang didasari oleh perasaan cinta dan kasih sayang; hubungan yang dilandasi oleh sikap saling berbagi perasaan. Untuk menjaga kelestarian hubungan ini, Islam mengajak kita untuk menjadikan nilai-nilai luhur Islam sebagai asas dan pondasi keluarga. Allah SWT berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Salah satu tanda kekuasaan-Nya adalah dijadikan-Nya untuk kalian isteri dari jenis kalian sendiri agar kalian merasa tenteram dan cenderung kepadanya. Kemudian, Dia jadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang .... [18]  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam pengantin merupakan awal dari hubungan sejati suami isteri. Pada saat-saat seperti itu, Islam mengajarkan kepada mereka berdua untuk memperhatikan etika Islam supaya hubungan ini tidak semata-mata hubungan badan murni seperti sepasang binatang. Pertama, suami dan isteri hendaknya melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Setelah mengucapkan puji syukur ke hadirat Ilahi atas nikmat yang telah Dia berikan kepada mereka dan membaca shalawat bagi Rasulullah SAWW dan keluarganya, mereka hendaknya memanjatkan doa demi keutuhan hubungan cinta di antara keduanya, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku cinta, kasih sayang, dan kerelaannya. Jadikanlah aku ridha padanya. Jadikanlah kebersamaan kami ini kebersamaan terbaik dan hubungan antara kami ini hubungan yang harmonis. Sesungguhnya Engkau menyenangi yang halal dan membenci yang haram. [19] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan ajaran Islam ini, akan terciptalah suasana yang indah dan menyenangkan pada pertemuan pertama. Tidak ada lagi alasan bagi isteri untuk merasa takut dan cemas menghadapi malam pengantin. Dengan demikian, malam pertama atau malam pengantin mereka berdua akan dipenuhi oleh rasa cinta, kasih sayang dan keakraban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika keduanya akan melangkah ke tahap berikutnya, yaitu melakukan hubungan intim, di-sunnah-kan untuk membaca doa sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Ya Allah, karuniailah aku anak yang shaleh dan cerdas yang tidak ada cacat dalam bentuk lahirnya dan jadikanlah akhir kehidupannya di dunia husnul khatimah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zikir yang paling baik dibaca sebelum memulai hubungan badan adalah Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.[20]&lt;br /&gt;3. Masa Kehamilan&lt;br /&gt;a. Pembentukan Janin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi menjaga keselamatan jasmani dan ruhani janin, Islam telah mengajarkan beberapa hal yang mudah untuk diamalkan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAWW melarang wanita untuk memakan apel muda, susu, dan cuka pada minggu pertama kehamilannya sebab makanan tadi dapat menyebabkan kesulitan saaat melahirkan nanti atau bahkan menunda kelahiran anak. Selain itu juga dapat mengakibatkan beberapa penyakit[21] yang berdampak negatif pada kandungan dan janin yang ia kandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAWW dan Ahlul Bait a.s. melarang suami isteri melakukan hubungan badan pada waktu-waktu tertentu yang dikhawatirkan dapat berakibat buruk pada anak. Larangan ini tentunya bukan berarti haram, melainkan makruh dan berdampak buruk pada kesehatan jasmani dan ruhani anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu-waktu tersebut, antara lain, di antara terbitnya fajar dan terbitnya matahari, di antara terbenamnya matahari hingga hilangnya awan merah, sesaat setelah zuhur, tanggal pertama, pertengahan dan akhir setiap bulan, saat terjadinya gerhana bulan dan gerhana matahari, saat bertiupnya angin hitam, merah dan kuning, saat terjadinya gempa dan beberapa waktu yang lain. Rasulullah menganjurkan para suami untuk mengumpuli isteri mereka pada waktu-waktu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau diperhatikan, waktu-waktu larangan di atas menunjukkan bahwa sebagiannya bisa berakibat buruk pada mental dan kejiwaan anak, khususnya waktu-waktu yang mencekam dan menakutkan. Bila terjadi persetubuhan di saat itu dan janin terbentuk, anak yang akan dilahirkan akan memiliki jiwa yang tidak stabil dan selalu dicekam rasa takut. Sedangkan sebagian dari waktu-waktu larangan di atas, dapat menyebabkan anak yang dihasilkan dari persetubuhan itu mengidap penyakit-penyakit menakutkan seperti, lepra, idiot, dan bahkan kegilaan.[22] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAWW dan keluarga beliau yang suci mengajarkan beberapa tata cara bersetubuh. Rasulullah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jangan berbicara saat melakukan senggama, karena dikhawatirkan anak yang dihasilkan darinya akan menjadi bisu. Dan jangan sekali-kali melihat kemaluan isteri saat bersetubuh, karena hal itu dapat mengakibatkan kebutaan pada anak. [23] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jika seorang bermimpi junub, makruh baginya untuk mengumpuli isterinya sampai ia mandi. Jika ia mengumpuli isterinya dalam keadaan yang demikian, maka salahkanlah dirinya sendiri jika anak yang lahir dari persetubuhan itu gila.[24] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jangan kaulakukan senggama dalam posisi berdiri layaknya keledai karena dapat menyebabkan anak mengidap penyakit mengompol. [25]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis Rasulullah SAWW yang lain menyebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jangan kau kumpuli isterimu dengan nafsumu pada wanita lain, karena aku khawatir anak yang dihasilkan akan menjadi banci, lemah, dan tidak berperasaan.[26] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari riwayat di atas kita pahami pula bahwa beliau juga melarang suami membayangkan wanita lain saat bersetubuh dengan isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Rasulullah SAWW bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jika isterimu tengah mengandung, jangan kau kumpuli ia kecuali setelah berwudhu. Jika tidak, dikhawatirkan anak yang akan dilahirkannya menjadi orang yang buta mata hati dan kikir. [27]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, Islam mengajarkan kepada para suami untuk selalu mengingat Allah sebelum mengadakan hubungan badan dengan isteri dan membaca basmalah. Selain itu, Islam juga mengajarkan tata cara bersenggama dengan melakukan hal-hal yang dapat menambah rasa cinta dan kasih sayang antara suami isteri, seperti ciuman, pelukan dan kata-kata yang lembut dan manis.[28]&lt;br /&gt;b. Lingkungan Pertama Anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahim ibu merupakan lingkungan pertama yang membentuk seorang manusia. Lingkungan pertama ini sangat erat hubungannya dengan perkembangan janin. Janin adalah bagian yang tak terpisahkan dari ibu yang mengandungnya. Karena itulah, semua kondisi dan keadaan yang dialami oleh ibu akan berpengaruh terhadap janin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil studi dan riset yang dilakukan oleh para ahli membuktikan bahwa kesehatan jasmani dan kondisi psikis ibu sangat berpengaruh pada janin. Rasa cemas, kalut, takut, dan sebagainya, dapat mengakibatkan hal yang serupa pada jiwa anak.[29]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketegangan dan goncangan yang dialami oleh seorang ibu hamil akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan pada janin. Bahkan hal itu akan membuat anak yang ia kandung menjadi seorang yang emosional. Karena itu, perlu adanya program bimbingan bagi para ibu hamil untuk menghindarkan semua pikiran yang dapat mengusik ketenangannya dan menciptakan ketegangan dan kece-masan, serta menjaga agar suasana kehidupannya selalu harmonis dan menyenangkan”.[30] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa kehamilan sangat berpengaruh pada kestabilan jiwa dan mental anak”.[31]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berabad-abad yang lalu, sebelum para ahli psikologi menyingkap masalah ini, Islam telah lebih dahulu menekankan kepada kita untuk memperhatikan hal tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAWW bersabda, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Orang yang sengsara telah sengsara sejak ia berada di perut ibunya dan orang yang berbahagia telah berbahagia sejak ia berada di perut ibunya. [32] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud dari kebahagiaan dan kesengsaraan semasa di perut ibu adalah bahwa kondisi ibu tersebut menciptakan potensi pada janin untuk menjadi bahagia atau sengsara di masa mendatang. Sebagian penyakit yang diidap ibu dapat menular pada anak sehingga ia lahir dengan penyakit bawaan yang ia sandang seumur hidupnya dan ini merupakan sebagian dari kesengsaraan hidup baginya. Atau sebaliknya, ia lahir sehat walafiat dan kesehatannya itu akan ia bawa selama hidupnya dan itu merupakan bagian dari kebahagiaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula halnya dengan kondisi spiritual, moral dan kejiwaan, seperti kecemasan dan ketenangan, kerisauan dan kestabilan mental, ketakutan dan sebagainya, semua itu sangat berpengaruh pada anak. Namun pada perkembangan selanjutnya, anak akan dipengaruhi oleh lingkungannya. Ada kalanya lingkungan akan menyelamatkannya dari pengaruh buruk yang ia bawa sejak lahir. Sebaliknya, bisa jadi lingkungan akan merusak potensi baik yang ia bawa sejak lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini akan kami jelaskan beberapa ajaran Islam tentang cara menjauhkan janin dan anak dari pengaruh buruk yang mungkin timbul sewaktu berada di dalam kandungan.&lt;br /&gt;1.Perhatian terhadap Makanan Ibu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli mengatakan bahwa kesehatan janin dalam kandungan tergantung pada kesehatan fisik ibu. Salah satu hal yang mendukung kesehatan ibu adalah makanan yang ia makan. Karena itu, kita saksikan bahwa kelaparan yang melanda beberapa negara berpengaruh besar pada kesehatan anak-anak yang dilahirkan saat itu. Anak-anak tersebut pada umumnya berfisik lemah, mengidap banyak penyakit atau bahkan menderita cacat tubuh, yang kesemuanya itu disebabkan oleh kelaparan atau kekura-ngan gizi ibu-ibu mereka. Keadaan yang sebaliknya akan menghasilkan hal yang sebaliknya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, baik Rasulullah SAWW maupun Ahlul Baitnya sangat menekankan pentingnya perhatian terhadap makanan ibu hamil, khususnya makanan yang berpengaruh pada sisi psikis dan spiritual anak. Beberapa makanan yang dianjurkan untuk dimakan ibu selama masa kehamilan adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Buah Pir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAWW bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Makanlah buah pir karena buah itu dapat membuat terang penglihatan dan menumbuhkan rasa cinta di hati. Dan berikanlah buah ini kepada ibu yang sedang mengandung karena dapat mempercantik anak kalian. [33]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Luban atau Kemenyan Arab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAWW bersabda, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Berilah luban (kemenyan Arab) kepada isteri kalian yang sedang mengandung karena itu dapat mencerdaskan anak yang sedang dikandungnya. [34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ali bin Musa Ridha a.s. berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Berikanlah luban kepada isteri kalian yang sedang mengandung. Jika bayi yang dikandungnya itu laki-laki, maka anak tersebut akan menjadi anak yang cerdas, pandai, dan pemberani. Dan jika bayi yang kandungnya itu perempuan, maka anak itu akan menjadi cantik paras dan budi pekertinya, serta akan dihormati oleh suaminya.[35]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Buah Kurma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Berikanlah buah kurma kepada isteri kalian di bulan kesembilan kehamilannya karena hal itu dapat membuat anak yang ia lahirkan menjadi orang berhati lembut dan bersih. [36]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Imam Ahlul Bait a.s. telah membuat daftar menu makanan yang sangat berguna bagi kesehatan tubuh, seperti yang diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis Ahlul Bait, misalnya Al-Kafi dan Makarim Al-Akhlaq. Makanan-makanan tersebut antara lain adalah buah delima, tin, anggur, kismis, sayuran, dan jenis buah-buahan yang lain, juga daging, bubur daging, dan hijau-hijauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, mereka melarang kita untuk memakan makanan yang membahayakan kesehatan seperti bangkai, darah, daging babi, arak, dan jenis-jenis makanan lain yang telah dilarang dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi SAWW.&lt;br /&gt;2. Perhatian Terhadap Kondisi Kejiwaan Ibu Hamil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi kejiwaan ibu hamil harus diusahakan agar selalu stabil, tenteram, dan bahagia. Upaya untuk menciptakan kondisi demikian antara lain dengan menyediakan rumah yang luas baginya, mencukupi kebutuhan pokoknya, dan bersikap baik terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Rumah yang Luas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Rumah yang luas adalah bagian dari sebuah kebahagiaan. [37]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat yang lain beliau mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Mukmin akan merasa tenang berada di rumah yang luas.[38]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh rumah yang luas terhadap kebahagiaan pribadi dan keluarga sudah dibuktikan oleh para ahli dan Islam juga menekankan hal tesebut. Dalam sebuah masyarakat Islami yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama samawi ini dalam kehidupan sehari-hari, pastilah mereka akan saling bahu membahu dalam memenuhi kebutuhan akan rumah yang luas bagi seluruh anggotanya, juga kebutuhan-kebutuhan yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila seorang suami tidak mampu untuk membeli atau menyewa sebuah rumah yang luas, hendaknya ia meyakinkan isterinya bahwa ia akan giat bekerja agar bisa mendapatkan rumah idaman tersebut. Atau jika tidak, ia dapat menyuruh isteri untuk bersabar atas kondisi ekonomi mereka karena Allah pasti akan memberikan pahala dan kebaikan-Nya kepada mereka jika bersabar hidup dalam kemiskinan. Dengan demikian isteri akan merasa tenang dan senang hati meski hidup di dalam rumah yang kecil dan sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Memenuhi Kebutuhan Pokok Isteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Atha’ berkata, “Suatu hari aku datang ke rumah Imam Abu Ja’far a.s. Di dalam rumah beliau itu aku melihat ada kasur, bantal, kain seprai, dan sandaran. Akupun bertanya, ‘Untuk apakah semua ini?’ Beliau menjawab, ‘Ini adalah barang yang diperlukan oleh wanita.’ ” [39]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang wanita untuk rumahnya seperti bantal, sandaran, dan kasur, juga pakaian-pakaian yang bagus dan perabot rumah tangga, adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Semua itu akan membuat hati dan perasaannya tenang dan berbahagia. Karena itu, tugas yang dipikul oleh suami adalah memenuhi seluruh kebutuhan tadi, tentunya disesuaikan dengan kemampuannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika suami tidak mampu untuk memenuhinya, atau hanya dapat memenuhi sebahagiannya, ia dapat menyadarkan sang isteri dan menyuruhnya untuk menerima kehendak Tuhan ini, karena Dia juga telah menjanjikan pahala yang besar bagi mereka yang bersabar. Selain itu, ia juga harus berjanji padanya akan lebih giat bekerja agar dapat mengangkat kondisi ekonomi mereka dan memenuhi semua kebutuhan keluarga khususnya isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Bersikap Baik Terhadap Isteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap baik tehadap isteri, khususnya isteri yang sedang mengandung, akan membuat kehidupannya bahagia. Isteri akan merasakan ketenangan dan ketenteraman batin. Dengan demikian, tidak akan ada lagi tempat untuk kerisauan dan ketegangan di hati dan batinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ali Zainal Abidin a.s. mengatakan,            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Hak wanita yang engkau nikahi adalah, engkau harus tahu bahwa Allah telah menjadikannya sebagai sumber ketenangan dan ketentraman bagimu serta sebagai penjaga harta dan kehormatanmu. Kalian berdua haruslah memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah atas anugerah yang Dia berikan berupa pasangan kalian. Engkau harus tahu bahwa itu semua adalah nikmat Allah atasmu. Karena itu, suami harus memperlakukan isterinya dengan baik, menghormatinya, dan berlemah-lembut terhadapnya, meskipun hak-haknya atas sang isteri lebih besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri harus menaati suaminya jika ia memerintahkan sesuatu, selama tidak berupa maksiat kepada Allah. Isteri berhak untuk mendapatkan kasih sayang dan kelemahlembutan karena dialah yang memberikan ketenangan hati bagi suami. Isterilah yang dapat memuaskan kebutuhan biologis suami yang memang harus disalurkan, dan hal itu adalah sesuatu yang agung ....[40]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap baik suami terhadap isterinya dapat diwujudkan dalam bentuk pergaulan yang baik, lemah lembut terhadapnya, kata-kata yang manis, menghormati dan mendudukkannya di tempat yang layak, memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya, memperlakukan isteri layaknya seorang manusia yang dimuliakan oleh Islam, menciptakan suasana rumah yang dipenuhi dengan keceriaan, kegembiraan, cinta dan kasih sayang, menyenangkan hatinya, dan menjaga semua rahasianya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, suami sebaiknya membantu istri dalam menyelesaikan pekerjaan rumah yang tidak mampu ia lakukan, memaafkan kesalahannya sejauh tidak keluar dari batas-batas agama, bersikap penuh pengertian dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi sehingga tidak menyinggung perasaannya, menghindari semua hal yang dapat mengganggu ketenangan jiwanya, seperti rasa cemburu yang tidak pada tempatnya, atau bermuka masam terhadapnya, atau bahkan sampai memukul, pisah ranjang dan tidak memenuhi hak-haknya.[41] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika perlakuan suami terhadap isteri baik, kondisi psikis isteri menjadi baik pula, dan itu akan memberikan pengaruh yang positif kepada janin yang dikandungnya&lt;/div&gt;</description><author>noreply@blogger.com (MUNIR YUSUF)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-180733631219306484.post-3487897094041295523</guid><pubDate>Wed, 11 Mar 2009 05:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-10T22:13:48.111-07:00</atom:updated><title></title><description>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;BAGIAN PERTAMA&lt;br /&gt;Pendidikan dalam Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antar individu dalam lingkungan keluarga sangat mempengaruhi kejiwaan anak dan dampaknya akan terlihat sampai kelak ketika ia menginjak usia dewasa. Suasana yang penuh kasih sayang dan kondusif bagi pengembangan intelektual yang berhasil dibangun dalam sebuah keluarga akan membuat seorang anak mampu beradaptasi dengan dirinya sendiri, dengan keluarganya dan dengan masyarakat sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, dalam proses pembentukan sebuah keluarga diperlukan adanya sebuah program pendidikan yang terpadu dan terarah. Program pendidikan dalam keluarga ini harus pula mampu memberikan deskripsi kerja yang jelas bagi tiap individu dalam keluarga sehingga masing-masing dapat melakukan peran yang berkesinambungan demi terciptanya sebuah lingkungan keluarga yang kondusif untuk mendidik anak secara maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam bagian pertama buku ini akan kami paparkan beberapa faktor yang signifikan dalam garis-garis besar pendidikan keluarga menurut ajaran Islam, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Keterpaduan Program Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan sebuah program yang jelas dalam menjalani kehidupan akan memberikan pengaruh yang positif terhadap perilaku seseorang. Jika kita benar-benar yakin pada nilai positif program tersebut dan menjalankannya dengan konsekuen, sebuah karakter positif dalam perilaku kita akan terbentuk. Adanya program hidup yang sama, akan menghasilkan perilaku yang sama pula. Oleh karena itu, program tunggal dapat dijadikan parameter untuk mengetahui sejauh mana tindakan dan perilaku kita sesuai dengan program itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami isteri harus bersepakat untuk menentukan satu program yang dengan jelas menerangkan hak-hak dan kewajiban masing-masing dalam keluarga. Islam dengan keterpaduan ajaran-ajarannya menawarkan sebuah konsep dalam membangun keluarga muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep ini adalah konsep rabbani yang diturunkan oleh Allah, Tuhan Yang Maha mengetahui. Dialah yang menciptakan manusia dan Dia pulalah yang paling mengetahui kompleksitas kehidupan manusia. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa konsep yang ditawarkan oleh Islam adalah satu-satunya konsep dan program hidup yang sesuai dengan fitrah manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Islam adalah sebuah konsep yang secara jelas dan seimbang mendistribusikan tugas-tugas kemanusiaan. Islam tidak pernah memberikan tugas yang tidak dapat dilakukan oleh seorang manusia dengan segala keterbatasannya. Konsep ini tidak akan pernah salah, tidak memiliki keterbatasan, dan tidak mungkin mengandung perintah dan tugas yang tidak dapat dilakukan. Penyebabnya tentu saja, karena konseptornya adalah Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep keluarga Islami memberikan prinsip-prinsip dasar yang secara umum menjelaskan hubungan antaranggota keluarga dan tugas mereka masing-masing. Sementara itu, cara pengaplikasian prinsip-prinsip dasar ini bersifat kondisional. Artinya, amat bergantung pada kondisi dan situasi dalam sebuah keluarga dan dapat berubah sesuai dengan keadaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kedua orang tua harus bersepakat dalam merumuskan detail pengaplikasian konsep dan program pendidikan yang ingin mereka terapkan sesuai dengan garis-garis besar konsep keluarga Islami. Kesepakatan antara kedua orang tua dalam perumusan ini akan menciptakan keselarasan dalam pola hubungan antara mereka berdua dan antara mereka dengan anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keselarasan ini menjadi amat penting karena akan menghindarkan ketidakjelasan arah yang mesti diikuti oleh anak dalam pendidikannya. Jika ketidakjelasan arah itu terjadi, anak akan berusaha untuk memuaskan hati ayah dengan sesuatu yang kadang bertentangan dengan kehendak ibu atau sebaliknya. Anak akan memiliki dua tindakan yang berbeda dalam satu waktu. Hal itu dapat membuahkan ketidakstabilan mental, perasaan, dan tingkah laku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset para ahli membuktikan bahwa anak-anak yang dibesarkan di sebuah rumah tanpa pengawasan kedua orang tua sekaligus lebih banyak bermasalah dibandingkan dengan anak-anak yang mendapatkan pengawasan bersama dari kedua orang tuanya.[1]&lt;br /&gt;2. Hubungan Kasih Sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kewajiban orang tua adalah menanamkan kasih sayang, ketenteraman, dan ketenangan di dalam rumah. Allah SWT berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Ia menciptakan untuk kalian isteri-isteri dari jenis kalian sendiri agar kalian merasa tentram dengan mereka. Dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara suami dan isteri atau kedua orang tua adalah hubungan kasih sayang. Hubungan ini dapat menciptakan ketenteraman hati, ketenangan pikiran, kebahagiaan jiwa, dan kesenangan jasmaniah. Hubungan kasih sayang ini dapat memperkuat rasa kebersamaan antaranggota keluarga, kekokohan pondasi keluarga, dan menjaga keutuhannya. Cinta dan kasih sayang dapat menciptakan rasa saling menghormati dan saling bekerja sama, bahu-membahu dalam menyelesaikan setiap problem yang datang menghadang perjalanan kehidupan mereka. Hal ini sangat berperan dalam menciptakan keseimbangan mental anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Spock berpendapat sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keseimbangan mental anak sangat dipengaruhi oleh keakraban hubungan kedua orang tuanya dan kebersamaan mereka dalam menyelesaikan setiap masalah kehidupan yang mereka hadapi”.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami isteri harus berusaha memperkuat tali kasih di antara diri mereka berdua dalam semua periode kehidupan mereka, baik sebelum masa kelahiran anak mereka maupun setelahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperkuat rasa cinta dan kasih sayang merupakan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT. Karena itu, menjaga keutuhan kasih sayang termasuk dalam perintah Allah dan merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada-Nya. Imam Ali bin Al-Husain Zainal Abidin a.s. mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Hak wanita yang engkau nikahi adalah engkau harus tahu bahwa Allah telah menjadikannya sebagai sumber ketenangan dan ketentraman bagimu serta sebagai penjaga harta dan kehormatanmu. Kalian berdua haruslah memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah atas anugerah yang Dia berikan berupa pasangan kalian. Engkau harus tahu bahwa itu semua adalah nikmat Allah atasmu. Karena itu, suami harus memperlakukan isterinya dengan baik, menghormatinya, dan berlemah-lembut terhadapnya, meskipun hak-haknya atas sang isteri lebih besar.Isteri harus menaati suaminya jika ia memerintahkan sesuatu, selama tidak berupa maksiat kepada Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri berhak untuk mendapatkan kasih sayang dan kelemah-lembutan karena dialah yang memberikan ketenangan hati bagi suami. Isterilah yang dapat memuaskan kebutuhan biologis suami yang memang harus disalurkan, dan hal itu adalah sesuatu yang agung.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahlul Bait a.s. memberikan perhatian yang sangat besar terhadap keutuhan cinta kasih dalam sebuah keluarga. Anjuran-anjuran mereka berikut ini ditujukan kepada kedua pihak, suami dan isteri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAWW bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Lelaki terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap isterinya. Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap isteri.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ja’far bin Muhammad Shadiq a.s. dalam sebuah hadis mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:Semoga Allah merahmati orang yang bersikap baik terhadap isterinya.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAWW bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jika seseorang menikahi seorang wanita,ia harus berbuat baik kepadanya. [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jibril sering berpesan kepadaku tentang wanita, sampai-sampai aku merasa bahwa wanita tidak berhak untuk diceraikan kecuali jika telah melakukan zina dengan terang-terangan.[8]   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjuran-anjuran dan arahan yang diberikan oleh Nabi SAWW dan Ahlul Bait a.s. mengenai sikap baik dan penghormatan terhadap istri ini merupakan acuan penting yang harus diterapkan dalam rangka menciptakan kelanggengan hubungan cinta dan kasih sayang antara keduanya di dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, Ahlul Bait a.s. juga berpesan kepada kaum wanita untuk melakukan segala hal yang dapat menumbuhkan dan menjaga cinta dan kasih sayang dalam rumah tangga. Rasulullah Muhammad SAWW dalam hal ini bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jika seorang wanita telah melakukan kewajibannya shalat lima waktu, berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka ia berhak untuk masuk ke dalam surga melalui pintu manapun yang ia sukai.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu beliau juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Setelah nikmat Islam, tak ada satupun nikmat yang melebihi isteri muslimah yang shalihah, yaitu isteri yang membuat suami senang saat memandangnya, patuh padanya saat ia menyuruhnya melakukan sesuatu, dan menjaga dirinya dan harta suaminya di saat sang suami tidak berada di rumah.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan bahwa seorang sahabat pernah mendatangi Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah, aku memiliki seorang isteri yang selalu menyambutku ketika aku datang dan mengantarku saat aku keluar rumah. Jika ia melihatku termenung ia selalu menyapaku dan mengatakan, ‘Ada apa denganmu? Apa yang kau risaukan? Jika kau risau akan rezekimu, ketahuilah bahwa rezekimu ada di tangan Allah. Tapi jika kerisauanmu karena urusan akhirat, semoga Allah menambah rasa risaumu itu.’” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar cerita sahabat beliau tersebut, Rasulullah SAWW bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Berilah kabar gembira kepadanya tentang surga yang tengah menantinya! Dan katakan padanya, bahwa ia termasuk salah satu pekerja Allah. Allah SWT menuliskan baginya setiap hari pahala tujuh puluh orang yang gugur di jalan Allah. (dalam riwayat lain disebutkan), ‘Ketahuilah bahwa Allah memiliki banyak pekerja, dan ia termasuk salah satu dari mereka. Allah akan memberinya setengah dari pahala orang syahid.’ [11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Imam Muhammad Baqir a.s. berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jihad bagi wanita adalah berbuat baik pada suaminya.[12] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang membantu dalam menambah rasa cinta, kasih sayang, dan perhatian suami adalah kepasrahan isteri pada suami saat ia menginginkan dirinya. Imam Ja’far Shadiq a.s. mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Wanita terbaik adalah yang saat berduaan dengan suaminya ia menanggalkan semua rasa malunya dan jika ia memakai kembali pakaiannya ia kenakan lagi rasa malunya.[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri sudah semestinya bersikap terbuka dan tidak malu-malu terhadap suaminya dengan tetap menjaga rasa hormat padanya. Dengan kata lain, seorang istri perlu menjaga keseimbangan antara sikap hormat dan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ali bin Al-Husain a.s. menyebutkan beberapa faktor penting yang dapat menambah rasa cinta, kasih sayang, dan keakraban dalam keluarga, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Seorang lelaki hendaknya memperhatikan tiga hal berikut ini dalam berhubungan dengan isterinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, memahami keadaan isteri, karena dengan itu ia dapat menarik perhatian isterinya untuk memahami keadaannya dan lebih mencintainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bersikap baik terhadap isteri dan berusaha merebut hatinya dengan penampilan lahir yang menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, memaafkan kesalahan isteri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita hendaknya memperhatian tiga hal berikut ini dalam pergaulannya dengan suami: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, menjaga diri dari segala kotoran dan noda, sehingga sang suami merasa tenang dengan keadaannya, baik di saat senang maupun di saat susah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mempercayai suami, karena hal itu dapat membuat sang suami mudah memaafkannya di kala ia melakukan kesalahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menampakkan rasa cinta kepadanya dengan berpenampilan menarik.[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan yang didasari oleh cinta dan kasih sayang sangat diperlukan dalam semua fase kehidupan, khususnya pada masa kehamilan. Sebab di masa-masa itu, isteri sangat memerlukan ketenangan dan keseimbangan mental. Hal itu sangat mempengaruhi keselamatan janin selama dalam kandungan dan keselamatan anak di masa menyusui.&lt;br /&gt;3. Menjaga Hak dan Kewajiban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam konsep keluarga Islami telah ditentukan hak-hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak suami dan isteri. Konsep ini jika benar-benar dijalankan akan menjamin ketenangan dan kebahagiaan dalam keluarga. Jika suami dan isteri konsisten dengan kewajiban dan hak-hak mereka, hal itu akan dapat mempererat tali cinta dan kasih antara mereka. Selain itu, hal ini dapat menjauhkan segala kemungkinan timbulnya perselisihan dan pertengkaran yang mengancam keutuhan rumah tangga yang dengan sendirinya berdampak negatif pada kejiwaan anak.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak terpenting yang dimiliki oleh suami adalah kepemimpinan dalam keluarga. Allah SWT berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri berkewajiban untuk menghormati hak suami ini dan menjadikan suami sebagai pemimpin karena kehidupan rumah tangga tidak mungkin berjalan dengan baik tanpa ada yang mengaturnya dan karena kepe-mimpinan layak untuk dipegang oleh kaum lelaki, sesuai dengan perbedaan yang ada antara suami dan isteri dalam hal fisik dan perasaan. Di samping itu, isteri juga harus menunjukkan kepemimpinan suami dalam keluarga di hadapan anak-anaknya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak penting kedua bagi suami setelah kepemimpinan dalam keluarga dapat kita simpulkan dari riwayat berikut ini. Diceritakan bahwa seorang wanita datang dan bertanya kepada Rasulullah SAWW tentang hak suami atas isterinya. Dalam jawabannya, beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Isteri harus patuh dan tidak menentangnya. Ia tidak berhak untuk bersedekah apapun yang ada di di rumah suami tanpa izin sang suami. Selain itu, ia tidak diperbolehkan untuk berpuasa sunnah kecuali jika suami mengizinkannya. Selanjutnya, ia tidak boleh menghindar kala suaminya menginginkan dirinya walaupun ia sedang dalam kesulitan. Isteri tidak diperkenankan untuk keluar dari rumah kecuali dengan izin suami….[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadis yang lain Rasulullah SAWW menye-butkan hak-hak suami sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Hak suami atas isteri adalah bahwa isteri hendaknya menyalakan lampu untuknya, memasakkan makanan, menyambutnya di pintu rumah kala ia datang, membawakan untuknya bejana air dan kain sapu tangan lalu mencuci tangan dan mukanya, dan tidak menghindar saat suami menginginkan dirinya kecuali jika ia sedang sakit.[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat pentingnya perhatian terhadap hak-hak suami tersebut, Rasulullah SAWW mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: (Ketahuilah) bahwa wanita tidak pernah akan dikatakan telah menunaikan semua hak Allah atasnya kecuali jika ia telah menunaikan kewajibannya kepada suami.[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, Islam juga telah menentukan hak-hak isteri yang harus diperhatikan oleh suami. Imam Ja’far Shadiq a.s., saat ditanya oleh Ishaq bin Ammar mengenai hak wanita atas suaminya, mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: (Kewajiban suami atas isterinya adalah) memberinya makanan dan pakaian dan memaafkannya jika ia melakukan kesalahan.[19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khaulah binti Al-Aswad pernah mendatangi Rasulullah SAWW dan bertanya tentang hak wanita. Beliau dalam jawabannya mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Hak-hakmu atas suami adalah bahwa ia harus memberimu makan dengan makanan yang ia makan dan memberimu pakaian seperti ia juga berpakaian, tidak menampar wajahmu, dan tidak membentakmu. [20]          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak istri yang lain adalah bahwa suami harus memperlakukannya dengan lemah lembut dan bersikap baik terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak istri dan seluruh anggota keluarga selanjutnya adalah bahwa suami harus bekerja untuk dapat memenuhi semua kebutuhan materi mereka. Rasulullah SAWW dalam hal ini bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Orang yang bekerja untuk menghidupi keluarganya sama dengan orang yang pergi berperang di jalan Allah. [21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Terkutuklah! Terkutuklah orang yang tidak memberi nafkah kepada mereka yang menjadi tanggung jawabnya. [22] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadis yang lain beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Hak isteri atas suami adalah bahwa suami harus memberinya makan, menutupi auratnya, dan tidak memakinya. Jika seorang lelaki telah melakukan kewajibannya ini berarti ia telah menunaikan hak Allah atasnya. [23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik suami maupun isteri harus saling memperhatikan dan menghormati hak pasangannya demi terciptanya suasana cinta dan kasih sayang dan keharmonisan dalam keluarga. Adanya sikap saling menghormati di antara keduanya akan mendorong masing-masing pihak untuk menunaikan semua hal yang menjadi kewajibannya demi kebahagiaan keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan yang berhasil diciptakan akan menciptakan keseimbangan mental isteri selama masa kehamilan, menyusui, serta pada tahun-tahun awal umur anak, yang pada gilirannya akan sangat mempengaruhi keseimbangan dan kestabilan mental anak. Anak yang tumbuh dengan mental yang baik dan stabil, pikiran dan perilakunya akan berkembang dengan baik dan stabil pula serta akan dengan mudah menuruti semua anjuran dan nasehat diberikan kepadanya.&lt;br /&gt;4. Menghindari Perselisihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengkaran dan perselisihan yang terjadi dalam keluarga akan menyebabkan suasana yang panas dan tegang yang dapat mengancam keutuhan dan kehar-monisan rumah tangga. Tidak jarang, pertengkaran itu berakhir dengan perceraian dan kehancuran keluarga. Fenomena ini merupakan salah satu hal yang paling dikhawatirkan oleh semua anggota keluarga, termasuk di dalamnya anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana yang menegangkan dalam rumah sangat berdampak negatif terhadap perkembangan dan pembentukan jati diri anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelabilan sikap dan penyakit-penyakit kejiwaan yang diderita oleh anak-anak belia dan orang dewasa, disebabkan oleh perlakuan tidak benar yang diperlihatkan oleh orang tua mereka, seperti pertengkaran yang menyebabkan suasana dalam rumah panas dan menegangkan. Hal seperti itu membuat anak tidak merasa aman berada di dalam rumah”.[24]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor Richard Fougen berpendapat bahwa, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu yang tidak diperlakukan dengan layak sebagai seorang manusia, sebagai ibu bagi anak-anaknya, dan sebagai isteri bagi suaminya, tidak akan mampu memberikan rasa aman pada diri anak-anaknya”.[25]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan aman dan tenang merupakan salah satu faktor terpenting dalam membangun kepribadian anak secara benar dan sempurna. Perasaan semacam ini tidak akan didapatkan dalam lingkungan yang selalu diliputi oleh ketegangan dan pertengkaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan seperti itu, anak akan berada dalam kebingungan dan kebimbangan. Ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Posisinya tidak memungkinkan baginya untuk menyelesaikan pertengkaran kedua orang tuanya, apalagi jika pertengkaran tersebut sampai menggunakan kekerasan. Di satu sisi, ia tidak mungkin akan berpihak pada salah satu dari orang tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, kebingungan anak akan memuncak kala masing-masing pihak yang berselisih berusaha untuk menarik dukungannya dengan menyebutkan bahwa pihaknyalah yang benar, sedangkan lawannyalah yang bersalah dan memulai menyulut api pertengkaran ini. Semua itu meninggalkan kesan negatif di hati, pikiran, dan perasaan si anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Spock berpendapat sebagai berikut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Riset yang dilakukan oleh para ahli terhadap ribuan anak yang tumbuh besar di tengah-tengah keluarga yang selalu diliputi oleh ketegangan membuktikan bahwa mereka ketika menginjak usia dewasa akan merasa bahwa mereka tidak seperti orang-orang lain pada umumnya. Mereka kehilangan rasa percaya diri. Mereka pun takut untuk menjalin hubungan cinta yang sehat dengan orang lain, karena mereka selalu membayangkan bahwa membangun keluarga berarti menempatkan dirinya di suatu tempat yang dihuni oleh orang-orang yang selalu berselisih dan bertengkar satu dengan yang lainnya”.[26]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap keluarga memiliki masalah yang berpotensi memicu percekcokan di antara mereka. Cara melampiaskan kekesalan dan kemarahan masing-masing pun berbeda. Sebagian orang terbiasa untuk menggunakan kata-kata kotor, makian, dan hinaan. Sebagian yang lain terbiasa untuk melayangkan tangan ketika amarahnya memuncak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menyaksikan adegan demikian, anak-anak akan belajar untuk mempraktekkannya ketika terlibat pertengkaran dengan kawan-kawannya. Hal itu akan mempengaruhi tingkah laku mereka saat kanak-kanak maupun saat menginjak usia dewasa nanti. Karena itulah kita banyak menyaksikan ataupun mendengar adanya anak yang sampai memaki ibunya atau bahkan memukulnya. Dan terkadang pula, si anak akan menggunakan apa yang ia pelajari itu terhadap isterinya ketika kelak menginjak usia dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencegah terjadinya pertengkaran dan percekcokan antara suami dan isteri, atau paling tidak, mengurangi dampak negatif yang ditimbulkannya terhadap psikis dan mental, atau jika mungkin, menghilangkannya sama sekali, Islam telah mengenalkan sebuah konsep sempurna dalam menyelesaikan pertengkaran dan perselisihan dalam keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada uraian sebelumnya telah disebutkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya mempererat tali cinta kasih dalam keluarga. Selain itu juga telah disebutkan hak-hak dan kewajiban suami dan istri. Dalam ajaran Islam pun disebutkan tentang pentingnya proses seleksi dengan standar nilai Islam ketika memilih calon suami atau istri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini dimaksudkan untuk mencegah perselisihan yang mungkin terjadi dalam keluarga. Namun jika tanda-tanda munculnya percekcokan sudah nampak, atau bahkan percekcokan itu telah terjadi, Islam menawarkan cara untuk mengakhirinya. Selain itu, Islam juga mengecam pihak yang memicu perselisihan dan memperingatkan semua pihak agar waspada terhadap masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAWW bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Lelaki terbaik dari umatku adalah orang tidak menindas keluarganya, menyayangi mereka dan tidak berlaku zalim.[27]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muhammad Baqir a.s. dalam sebuah hadis menganjurkan para suami untuk bersabar menerima perlakuan buruk, sebab membalas keburukan dengan keburukan akan membuat area perselisihan bertambah luas. Beliau mengatakan, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Orang yang sabar dalam menerima perlakuan buruk istrinya, meskipun hanya sebatas satu kata, niscaya akan dibebaskan Allah dari siksa api neraka dan ditempatkannya di dalam surga.[28]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAWW menghimbau para suami untuk bersabar atas perlakuan buruk isterinya. Beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jika seseorang bersabar atas perlakuan buruk isterinya, Allah akan memberinya pahala seperti yang Dia berikan kepada Nabi Ayyub a.s. yang tabah dan sabar menghadapi ujian-ujian Allah yang berat. [29]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersabar terhadap perlakuan buruk isteri adalah hal yang mungkin dianggap tidak wajar oleh kaum lelaki. Tetapi dengan adanya perintah dan anjuran Nabi SAWW dan Ahlul Bait a.s., hal tersebut menjadi suatu yang sunnah yang akan dengan senang hati dijalankan oleh kaum lelaki yang beriman. Tanpa merasakan adanya kehinaan dan kerendahan bagi martabatnya sebagai suami, ia akan bersabar terhadap perlakuan buruk isterinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meniru perilaku Rasulullah SAWW terhadap isteri-isteri beliau dan perilaku Ahlul Bait a.s. dapat meminimalkan timbulnya pertengkaran dalam keluarga. Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Ayahku pernah mempunyai seorang isteri yang sering menyakitinya. Namun, ayahku selalu mema-afkannya. [30]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAWW melarang para suami untuk menggunakan kekerasan terhadap isterinya dalam hadis berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Barang siapa melayangkan tamparan ke pipi isterinya satu kali, Allah akan memerintahkan malaikat penjaga neraka untuk membalas tamparan itu dengan tujuh puluh kali tamparan di neraka jahanam. [31]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pihak lain, kaum wanita pun dianjurkan untuk bersikap yang sama. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Ja’far Shadiq a.s. menganjurkan kaum wanita untuk sedapat mungkin untuk menghindari pertengkaran yang buruk. Beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Wanita terbaik adalah wanita yang ketika marah atau membuat suaminya marah, berkata kepada suaminya itu, “Aku letakkan tanganku di tanganmu. Aku bersumpah untuk tidak tidur sebelum engkau mema-afkanku.” [32]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muhammad Baqir a.s. berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jihad bagi seorang wanita adalah bersabar terhadap perlakuan buruk dan rasa cemburu suaminya.[33]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAWW melarang isteri untuk melakukan tindakan yang dapat memancing timbulnya pertengkaran. Beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Wanita terburuk adalah wanita yang hina dalam keluarganya tetapi merasa mulia di hadapan suami; yang mandul dan selalu merasa dengki; yang tidak berhenti melakukan perbuatan buruk; yang selalu berhias kala suami bepergian dan bersikap sombong kala suami ada; yang tidak mendengar kata-kata suami dan tidak menuruti perintahnya; yang jika berduaan dengan suaminya akan menolak ajakannya; dan yang tidak pernah mau memaafkan kesalahan suami dan tidak menerima alasannya. [34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAWW dalam hadisnya melarang wanita untuk membebani suami dengan sesuatu yang di luar kemampuannya. Beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Wanita yang memaksa suaminya untuk memberikan nafkah di luar batas kemampuannya, tidak akan diterima Allah SWT amal perbuatannya sampai ia bertaubat dan meminta nafkah semampu suaminya.[35]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Rasulullah SAWW juga melarang wanita untuk mengungkit-ungkit kelebihannya atas suami. Beliau bersabda,          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Seandainya seorang wanita datang ke rumah suaminya dengan membawa serta bersamanya seluruh kekayaan bumi dari emas dan peraknya, lalu pada suatu saat ia mengangkat kepalanya di hadapan suami sambil mengatakan, “Siapa kau ini? Bukankah seluruh harta ini adalah milikku?”, Allah akan menghapus semua amalan baiknya meskipun ia adalah orang yang paling banyak beribadah, kecuali bila ia bertaubat dan meminta maaf kepada suaminya. [36]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAWW juga mengingatkan para wanita untuk tidak menggunakan kata-kata kasar yang dapat membangkitnya amarah suami saat berhadapan dengannya. Beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jika seorang wanita menyakiti suaminya dengan kata-kata, Allah tidak akan menerima seluruh amalan baiknya sampai sang suami memaafkannya. [37]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadisnya yang lain, Rasulullah SAWW melarang suami isteri tidak menyapa satu sama lain, karena hal itu merupakan awal perpisahan dan terputusnya hubungan antara mereka. Beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jika seorang wanita mendiamkan suaminya padahal ia adalah pihak yang salah dan berlaku zalim terhadapnya, Allah kelak akan mengumpulkannya bersama dengan Fir’aun, Haman, dan Qarun di dasar neraka, kecuali jika ia bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. [38] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua perintah dan anjuran di atas, jika dijalankan dengan baik dan sempurna, akan menjamin keselamatan keluarga dari pertengkaran dan percekcokan atau paling tidak meminimalkannya. Namun bila pasangan suami isteri tidak mampu menjalankannya dengan baik, maka hendaknya pertengkaran yang terjadi di antara mereka tidak didengar oleh anak-anak. Sebaiknya, anak-anak tidak mendengar tuduhan-tuduhan, kata-kata kotor, dan makian yang terlontar dari kedua orang tua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban orang tua adalah menjelaskan kepada anak-anak mereka bahwa pertengkaran dalam sebuah keluarga adalah hal yang wajar dan mereka berdua masih saling mencintai. Selain itu, mereka berdua juga harus secepatnya mencari jalan penyelesaian kemelut yang melanda rumah tangga mereka itu.&lt;br /&gt;5. Ancaman Perceraian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam memperingatkan setiap pasangan suami istri tentang dampak negatif perceraian dan putusnya tali ikatan perkawinan. Dampak negatif tersebut akan menimpa kondisi psikis mereka berdua, anak-anak, dan juga masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perceraian adalah sumber kegelisahan dan kelabilan psikis, perasaan, dan tingkah laku anak karena ia sangat membutuhkan cinta dan kasih sayang yang seimbang dari ayah dan ibunya. Bahkan, seorang anak hanya dengan memikirkan dan mengkhayalkan perceraian kedua orang tua, akan merasa gelisah. Jika hal itu berkelanjutan akan berdampak negatif pada kestabilan perasaan dan kejiwaannya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan hal ini, Islam telah menawarkan sebuah konsep dalam menjaga hubungan baik antara suami isteri untuk menghindarkan perceraian dan kehancuran rumah tangga. Dalam banyak nash, Islam bahkan melarang perceraian. Rasulullah SAWW bersabda, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jibril sering berpesan kepadaku tentang talak (perceraian), sampai-sampai aku mengira bahwa wanita tidak boleh dicerai kecuali jika telah melakukan perbuatan zina dengan terang-terangan.[39]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ja’far Shadiq a.s. mengatakan,                    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Tidak ada sesuatu yang halal yang lebih Allah benci daripada perceraian. Allah sangat membenci orang lelaki yang gemar menceraikan isteri dan sering kawin hanya untuk menikmati wanita sesaat saja. [40]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Sesungguhnya Allah SWT menyenangi rumah yang di dalamnya terdapat orang yang baru menikah, dan membenci rumah yang di dalamnya terdapat perceraian. Tidak ada sesuatupun yang lebih Allah benci daripada perceraian. [41]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Islam, juga menganjurkan semua pasangan untuk menyusun strategi demi menghindari perceraian. Islam mengajak para suami istri untuk mempererat tali cinta kasih di antara mereka dan menghimbau agar secepatnya menyelesaikan semua masalah dan pertikaian di antara keduanya yang dapat mengakibatkan perceraian. Karena itulah, kita temukan dalam banyak nash agama adanya perintah untuk bergaul dengan baik dengan pasangan kita. Allah SWT berfirman,         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: ...Bergaullah dengan isteri-isteri kalian dengan cara yang baik. Jika kalian tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena mungkin saja kalian membenci sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang berlimpah. [42]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam juga telah mengajarkan untuk mengadakan perbaikan hubungan demi mengembalikan suasana harmonis dalam keluarga. Allah SWT berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jika seorang wanita merasa khawatir terhadap sikap tak acuh suami terhadapnya, ia dapat mengusahakan perdamaian di antara mereka berdua. Perdamaian itu adalah sesuatu yang baik.... [43]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengadakan perdamaian antara suami dan isteri lebih baik daripada meninggalkannya. Melihat kenyataan bahwa hati manusia dapat berubah-ubah dan kehendak sewaktu-waktu dapat berbalik, Islam menekankan kepada suami dan isteri untuk melakukan upaya perdamaian sebelum mengambil keputusan untuk saling berpisah. Allah SWT berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Jika kalian mengkhawatirkan adanya pertikaian antara keduanya, utuslah seorang juru damai dari masing-masing pihak, suami dan isteri. Jika mereka berdua bermaksud mengadakan perbaikan, Allah pasti akan memberikan taufik-Nya kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui dan Maha mengenal. [44]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua usaha perbaikan hubungan dan upaya untuk mengembalikan keadaan seperti sediakala tidak membuahkan hasil, dan jika semua pertikaian dan perselisihan yang ada tidak bisa diselesaikan kecuali dengan perceraian, saat itulah mungkin perceraian merupakan jalan terbaik bagi mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, anak tetap akan mendapatan pukulan yang hebat dari perpisahan kedua orang tuanya tersebut dan ini akan terlihat pada perubahan tingkah lakunya. Karena itu, Islam masih memberikan peluang kepada mereka berdua untuk kembali membangun rumah tangga mereka. Islam memberikan kesempatan kepada suami untuk merujuk isterinya saat ia masih berada dalam masa iddah atau menikahinya dengan ijab qabul baru jika wanita itu telah keluar dari masa iddah. Selain itu, ia masih dapat merujuk setelah menceraikan isterinya sebanyak dua kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua usaha perbaikan hubungan ini tidak membuahkan hasil dan perpisahan benar-benar terjadi, mereka berdua berkewajiban untuk menjaga perasaan anak-anak dengan mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Selain itu, mereka berdua harus memberikan pengertian kepada anak-anak, bahwa baik ayah maupun ibu mereka adalah orang-orang yang baik. Islam melarang kita untuk berdusta, bergunjing, serta membongkar aib dan cela orang lain. Dengan demikian, anak akan dapat mengatasi masalah dan benturan psikis yang ditimbulkan oleh perceraian orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anjuran dan himbauan ini tidak diperhatikan dan masing-masing pihak saling melemparkan tuduhan kepada pihak lain serta membongkar aib dan kesalahannya kepada anak, si anak akan membenci kehidupan dan merasa rendah diri. Lebih jauh lagi, hal itu akan berpengaruh pada perasaannya terhadap orang tuanya. Ia akan membenci dan sekaligus mencintai mereka pada saat yang sama setelah mengetahui cela dan kesalahan masing-masing. Anak yang demikian ini akan selalu dihinggapi oleh rasa gelisah dan kekhawatiran. Kegelisahannya hari demi hari akan bertambah, dan hal itu berpengaruh buruk pada kehidupan sosialnya dan rumah tangganya di masa mendatang.&lt;/div&gt;</description><author>noreply@blogger.com (MUNIR YUSUF)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-180733631219306484.post-6956617790232689388</guid><pubDate>Tue, 24 Feb 2009 17:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-24T09:10:18.486-08:00</atom:updated><title></title><description>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt;MAZHAB-MAZHAB FILSAFAT PENDIDIKAN&lt;br /&gt;Ø	Filsafat pendidikan &lt;br /&gt;ü	Merupakan terapan dari filsafat umum, maka selama membahas filsafat pendidikan akan berangkat dari filsafat.&lt;br /&gt;ü	Filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. &lt;br /&gt;ü	Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab/aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran, sekurang-kurnagnya sebanyak aliran filsafat itu sendiri.&lt;br /&gt;ü	Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar, yaitu&lt;br /&gt;&lt;font face=&quot;\froman\fcharset0\fprq2{\*\panose 02020603050405020304}Times New Roman&quot;&gt;a.	&lt;/font&gt;Filsafat pendidikan progresif&lt;br /&gt;&amp;middot;	Didukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Roousseau&lt;br /&gt;&lt;font face=&quot;\froman\fcharset0\fprq2{\*\panose 02020603050405020304}Times New Roman&quot;&gt;b.	&lt;/font&gt;Filsafat pendidikan  Konservatif.&lt;br /&gt;&amp;middot;	Didasari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius.&lt;br /&gt;Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme, perenialisme,dan sebagainya. &lt;br /&gt;Berikut aliran-aliran dalam filsafat pendidikan:&lt;br /&gt;&lt;font face=&quot;\froman\fcharset0\fprq2{\*\panose 02020603050405020304}Times New Roman&quot;&gt;1.	&lt;/font&gt;Filsafat Pendidikan Idealisme &lt;br /&gt;ü	Filsafat idealismememandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali &lt;br /&gt;&lt;font face=&quot;\froman\fcharset0\fprq2{\*\panose 02020603050405020304}Times New Roman&quot;&gt;2.	&lt;/font&gt;Filsafat Pendidikan Realisme &lt;br /&gt;ü	Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face=&quot;\froman\fcharset0\fprq2{\*\panose 02020603050405020304}Times New Roman&quot;&gt;3.	&lt;/font&gt;Filsafat Pendidikan Materialisme &lt;br /&gt;ü	Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach&lt;br /&gt;&lt;font face=&quot;\froman\fcharset0\fprq2{\*\panose 02020603050405020304}Times New Roman&quot;&gt;4.	&lt;/font&gt;Filsafat Pendidikan Pragmatisme &lt;br /&gt;ü	Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos. &lt;br /&gt;&lt;font face=&quot;\froman\fcharset0\fprq2{\*\panose 02020603050405020304}Times New Roman&quot;&gt;5.	&lt;/font&gt;Filsafat Pendidikan Eksistensialisme &lt;br /&gt;ü	Filsafat ini memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich &lt;br /&gt;&lt;font face=&quot;\froman\fcharset0\fprq2{\*\panose 02020603050405020304}Times New Roman&quot;&gt;6.	&lt;/font&gt;Filsafat Pendidikan Progresivisme &lt;br /&gt;ü	Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, LawrenceB.Thomas, Frederick C. Neff &lt;br /&gt;&lt;font face=&quot;\froman\fcharset0\fprq2{\*\panose 02020603050405020304}Times New Roman&quot;&gt;7.	&lt;/font&gt;Filsafat Pendidikan esensialisme &lt;br /&gt;ü	Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda. Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell. &lt;br /&gt;&lt;font face=&quot;\froman\fcharset0\fprq2{\*\panose 02020603050405020304}Times New Roman&quot;&gt;8.	&lt;/font&gt;Filsafat Pendidikan Perenialisme &lt;br /&gt;ü	Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler. &lt;br /&gt;&lt;font face=&quot;\froman\fcharset0\fprq2{\*\panose 02020603050405020304}Times New Roman&quot;&gt;9.	&lt;/font&gt;Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme &lt;br /&gt;ü	Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanyamemikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini:Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena Hidup Lebih Maju&lt;br /&gt;	Setiap orang, pasti menginginkan hidup bahagia. Salah satu diantaranya yakni hidup lebih baik dari sebelumnya atau bisa disebut hidup lebih maju. Hidup maju tersebut didukungatau dapat diwujudkan  melalui pendidikan. Dikaitkan dengan penjelasaan diatas, menurut pendapat saya filsafat pendidikan yang sesuai atau mengarah pada terwujudnya kehidupan yang maju yakni filsafat yang konservatif yang didukung oleh sebuah idealisme, rasionalisme(kenyataan). Itu dikarenakan filsafat pendidikan mengarah pada hasil pemikiran manusia mengenai realitas, pengetahuan, dan nilai seperti yang telah disebutkan diatas. &lt;br /&gt;	Jadi, aliran filsafat yang pas dan sesuai dengan pendidikan yang mengarah pada kehidupan yang maju menurut pikiran saya yakni filsafat pendidikan progresivisme (berfokus pada siswanya). Tapi akan lebih baik lagi bila semua filsafat diatas bisa saling melengkapi. 	&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;</description><author>noreply@blogger.com (MUNIR YUSUF)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-180733631219306484.post-2131179901268483445</guid><pubDate>Wed, 11 Feb 2009 04:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-10T21:05:55.934-08:00</atom:updated><title></title><description>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;font size=3&gt;PENELITIAN KUALITATIF&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=&quot;#000000&quot; size=3&gt;Penelitian kualitatif &lt;font color=&quot;#000000&quot; size=3&gt;(termasuk penelitian historis dan deskriptif) adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif.  &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=3&gt;Tujuan : &lt;br /&gt;Memahami, menginterpretasi bagaimana &lt;br /&gt;responden dalam lingkungan sosialnya &lt;br /&gt;membentuk dunia di sekeliling mereka&lt;br /&gt;	Deskripsi suatu fenomena&lt;br /&gt;	&lt;/font&gt;Arti / interpretasi fenomena tersebut&lt;br /&gt;&lt;font size=3&gt;	&lt;/font&gt;Teori berdasarkan interpretasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;font size=3&gt;POSISI TEORI DALAM METODE KUALITATIF&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=3&gt;Dalam penelitian kualitatif, teori yang sudah ada memiliki kegunaan yang cukup penting. Tidak seperti dalam penelitian kuantitatif, di mana teori yang ada menjadi senteral dan menjadi dasar pengembangan ilmu melalui penelitian, teori dalam penelitian kualitatif digunakan secara lebih longgar. Pada umumnya teori itu berguna bagi penelitian kualitatif sebagai sumber insfirasi dan pembanding. &lt;br /&gt;	Posisi teori terdahulu pada pendekatan kualitatif harus diletakkan sesuai dengan maksud penelitian yang dikerjakan. &lt;i&gt;Pertama, &lt;/i&gt;untuk penelitian yang bermaksud menemukan teori dari dasar, paling tidak ada tiga aspek fungsi teori yang dapat dimanfatkan; (a) Konsep-konsep yang ditemukan pada teori terdahulu dapat &quot;dipinjam&quot; sementara (sampai ditemukan konsep yang sebenarnya dari kancah) untuk merumuskan masalah, membangun kerangka berpikir, dan menyusun bahan wawancara; (b) Ketika peneliti sudah menemukan kategori-kategori dari data yang dikumpulkan, ia perlu memeriksa apakah sistem kategori serupa telah ada sebelumnya. Jika ya, maka peneliti perlu memahami tentang apa saja yang dikatakan oleh peneliti lain tentang kategori tersebut. Hal ini dilakukan hanya untuk perbandingan saja, bukan untuk mengikutinya; dan (c) Proposisi teoritik yang ditemukan dalam penelitian kualitatif (yang memiliki hubungan dengan teori yang sudah dikenal) merupakan sumbangan baru untuk memperluas teori yang sudah ada. Demikian pula, jika ternyata teori yang ditemukan identik dengan teori yang sudah ada, maka teori yang ada dapat dijadikan sebagai pengabsahan dari temuan baru itu.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kedua, &lt;/i&gt;untuk penelitian yang bermaksud memperluas teori yang sudah ada, teori tersebut bermanfaat bagi peneliti pada tiga hal berikut; (a) Penelitian dapat dimulai dari teori terdahulu tersebut dengan merujuk kerangka umum teori itu. Dengan kata lain, kerangka teoritik yang sudah ada bisa digunakan untuk menginterpretasi dan mendekati data. Namun demikian, penelitian yang sekarang harus dikembangkan secara tersendiri dan terlepas dari teori sebelumnya. Dengan demikian, penelitian dapat dengan bebas memilih data yang dikumpulkan, sehingga memungkinkan teori awalnya dapat diubah, ditambah, atau dimodifikasi; (b) Teori yang sudah ada dapat dimanfaatkan untuk menyusun sejumlah pertanyaan atau menjadi pedoman dalam pengamatan/wawancara untuk mengumpul data awal; dan (c) Jika temuan penelitian sekarang berbeda dari teori yang sudah ada, maka peneliti dapat menjelaskan bagaimana dan mengapa temuannya berbeda dengan teori yang ada.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;font size=&quot;1&quot;&gt;&lt;/font&gt;</description><link>http://quovadispendidikan.blogspot.com/2009/02/penelitian-kualitatif-penelitian.html</link><author>noreply@blogger.com (MUNIR YUSUF)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-180733631219306484.post-7098198514288098959</guid><pubDate>Wed, 11 Feb 2009 04:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-10T21:05:55.938-08:00</atom:updated><title></title><description>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;font size=&quot;1&quot;&gt;&lt;font size=&quot;3&quot;&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;font size=4&gt;PENELITIAN KUANTITATIF&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face=&quot;\froman\fcharset0\fprq2{\*\panose 02020603050405020304}Times New Roman&quot; size=3&gt;1. Aplikasi Statistika dalam Penelitian Kuantitatif&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=3&gt;Salah satu metode kuantitatif yang banyak digunakan untuk analisis data adalah dengan menggunakan statistika. Namun sayangnya, materi-materi statistika yang diajarkan di universitas dan buku-buku statistika yang kita jumpai hanya membahas tentang statistika saja tanpa menghubungkannya dengan penelitian. Hal ini saya alami sendiri, waktu memperoleh materi Statistika I dan II semasa masih lugu dahulu, yang diajarkan adalah bagaimana &lt;/font&gt;menghitung mean, median, modus, menguji hipotesis dengan t-test, F-test, anova, dan sebagainya. Perhatikan bahwa yang diajarkan adalah &quot;bagaimana menghitung&quot; bukannya &quot;bagaimana manfaat semua itu, bagaimana kaitannya dengan hal lain&quot;. Mudah-mudahan hal tersebut cuma dialami oleh saya saja yang mungkin tidak menyimak, karena tertidur ataupun mengantuk di kelas. :) &lt;br /&gt;Luar biasa gawatnya terjadi ketika harus melakukan penelitian kuantitatif dengan menggunakan statistika. Karena tidak paham secara integratif metode statistika untuk penelitian, maka banyak waktu yang terbuang hanya untuk mencari-cari referensi tentang hal tersebut, yang tentu saja sulit ditemui di perpustakaan ataupun toko-toko buku yang hanya menjual buku-buku praktis misalnya saya menjumpai sebuah buku SPSS yang hanya mengajarkan cara menjalankan program SPSS, cara memasukkan data ke sana, menyimpannya, dan lain-lain hal yang bisa dibaca langsung di manual SPSS. Aneh bin ajaib. &lt;br /&gt;(&lt;font color=&quot;#0000FF&quot;&gt;&lt;u&gt;http://tedi.heriyanto.net/papers/aplikasi-stat.html&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=&quot;#000000&quot; size=3&gt;2. Hakikat Hipotesis Dalam Penelitian Kuantitatif&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=3&gt;Pada hakikatnya setiap penelitian kuantitatif dalam ilmu-ilmu sosial menerapkan filosofi yang disebut deducto hipothetico verifikatif artinya, masalah penelitian dipecahkan dengan bantuan cara berpikir deduktif melalui pengajuan hipotesis yang dideduksi dari teori-teori yang bersifat universal dan umum, sehingga kesimpulan dalam bentuk hipotesis inilah yang akan diverifikasi secara empiris melalui cara berpikir induktif dengan bantuan statistika inferensial.&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian kuantitatif dirumuskan masalah sebagai berikut, apakah terdapat hubungan antara motivasi kerja dengan produktivitas kerja karyawan, maka rumusan hipotesis penelitiannya adalah terdapat hubungan antara motivasi kerja dengan produktivitas kerja karyawan. Namun hipotesis penelitian ini masih ngambang karena tidak secara tegas menyatakan hubungan apa, positif atau berbanding lurus ataukah negatif atau berbanding terbalik, tergantung teorinya. Kalau teorinya menemukan bahwa makin kuat motivasi kerja karyawan maka makin tinggi produktivitasnya maka hipotesis dinyatakan terdapat hubungan positif, kecuali variabel bebas yang dipilih adalah stress, sehingga bentuk hubungannya menjadi hubungan berbanding terbalik dengan produktivitas karyawan.&lt;br /&gt;Demikian juga bila masalah yang dirumuskan seperti apakah kecerdasan emosional berpengaruh langsung terhadap kepemimpinan, sehingga hipotesisnya menjadi kecerdasan emosional berpengaruh langsung terhadap kepemimpinan. &lt;br /&gt;[Filed under: &lt;font color=&quot;#0000FF&quot;&gt;&lt;u&gt;Metodologi Penelitian &lt;/font&gt;&lt;/u&gt;putrawan at 10:03 am on Monday, April 23, 2007 ( © Prof. Dr. I Made Putrawan, April 22, 2007 )]&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://quovadispendidikan.blogspot.com/2009/02/penelitian-kuantitatif-1.html</link><author>noreply@blogger.com (MUNIR YUSUF)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-180733631219306484.post-3699076664850804447</guid><pubDate>Wed, 11 Feb 2009 04:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-10T21:05:55.946-08:00</atom:updated><title></title><description>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;div align=&quot;right&quot;&gt;&lt;font size=4&gt;LOGIKA DAN STATISTIKA  SEBAGAI &lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align=&quot;right&quot;&gt;&lt;font size=4&gt;SARANA BERPIKIR ILMIAH&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Hujair AH. Sanaky&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/div&gt;&lt;sup&gt;&lt;font size=2&gt;1&lt;/font&gt;&lt;/sup&gt;&lt;font size=2&gt;Hujair AH. Sanaky, adalah dosen tetap Fakultas Ilmu Agama Islam, Jurusan Tarbiyah, Program Studi : Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Kepala Lembaga Pengabdian paada Masyarakat [LPM] UII 2004-2006 dan sekarang sedang studi lanjut di Program Doktor [Program S-3] Universitas Islam Negeri [UIN] Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun akademi 2005-2006.&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;A.	&lt;/div&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Tadi malam di rumah pak &lt;i&gt;Pulan&lt;/i&gt;ada pencuri dan Polisi segera diberitahukan. Komandan polisi yang dating memimpin pemeriksaaan, sebuah jendela belakang dibongkar oleh pencuri itu. Dari jendelah inilah mereka masuk &lt;i&gt;piker Komandan. &lt;/i&gt;Dengan segera ia tahun, bahwa yang &lt;i&gt;mencuri itu lebih dari satu, &lt;/i&gt;karena dilihatnya &lt;i&gt;dua macam jejak di bawah jendela itu. &lt;/i&gt;Tahukah tuan, barang-barang apa yang dicuri, Tanya Komandan Polisi kepada pak &lt;i&gt;Pulan, &lt;/i&gt;sebuah Radio, satu set Komputer jawab pak Pulan.&lt;br /&gt;Dari cerita ini ada proses berpikir. Berpikir merupakan suatu aktivitas pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah kepada suatu tujuan. Manusia berpikir untuk menemukan pemahaman atau pengertian, pembentukan pendapat, dan kesimpulan atau keputusan dari sesuatu yang kita kehendaki. Menurut J.S.Suriasumantri&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;font size=2&gt;2J.S.Suriasumantri, &lt;i&gt;Ilmu dalam Perspektif, Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu, &lt;/i&gt;Yayasan Obor Indonesia, 1997, hlm. 1 &lt;/font&gt;, manusia  &lt;i&gt;homo sapiens, &lt;/i&gt;makhluk yang berpkir. Setiap saat dari hidupnya, sejak dia lahir sampai masuk liang lahat, dia tak pernah berhenti berpkir. Hampir tak ada masalah yang menyangkut dengan perikehidupan yang terlepas dari jangkauan pikirannya, dari soal paling remeh sampai soal paling asasi.&lt;br /&gt;Berpikir merupakan ciri utama bagi manusia, untuk membedakan antara manusia dengan makhluk lain. Maka dengan dasar berpikir, manusia dapat mengubah keadaan alam sejauh akal dapat memikirkannya. Berpikir merupakan proses bekerjanya akal, manusia dapat berpikir karena manusia berakal. ...Akal merupakan salah satu unsur kejiwaan manusia untuk mencapai kebenaran di samping rasa dan kehendak untuk mencapai kebaikan&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;font size=2&gt;3Tim Dosen Filsafat Ilmu, Fakultas Filsafat UGM, &lt;i&gt;Filsafat Ilmu, &lt;/i&gt;Liberti, Yogyakarta, 1992, hlm. 67. &lt;/font&gt;. Dengan demikian, cirri utama dari berpkikir adalah adanya &lt;i&gt;abstraksi. &lt;/i&gt; Maka dalam arti yang luas kita dapat mengatakan berpikir adalah bergaul dengan &lt;i&gt;abstraksi-abstraksi. &lt;/i&gt; Sedangkan dalam arti yang sempit berpikir adalah meletakan atau mencari hubungan atau pertalian antara &lt;i&gt;abstraksi-abstraksi&lt;/i&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;4&lt;/sup&gt;&lt;/i&gt;&lt;sup&gt;&lt;font size=2&gt;4&lt;/font&gt;&lt;/sup&gt;&lt;font size=2&gt;M. Ngalim Puswanti, &lt;i&gt;Psikologi Pendidikan, &lt;/i&gt;Remaja Rosdakarya, Bandung, 1992, hlm. 44. [Pengertian &lt;i&gt;abstrak, &lt;/i&gt;ialah pengertian yang memperlihatkan sifat tanpa memperlihatkan subjeknya. Misalnya : secara konkrit kita berkata : &lt;i&gt;ia amat pandai, &lt;/i&gt;tetapi secara abstrak kita mengatakan: &lt;i&gt;Kepandaiannya amat sangat. &lt;/i&gt;Dalam bahasa Indonesia untuk menyatakan pengertian yang abstrak itu ialah dengan menamba pada kata itu awalan &lt;i&gt;ke &lt;/i&gt;dan akhiran &lt;i&gt;an &lt;/i&gt;misalnya: &lt;i&gt;kebaikan, keburukan, keduniawan, kebangsaan, ketidak-adilan, &lt;/i&gt;dan sebagainya[Hasbullah Bakry, &lt;i&gt;Sistimatika Filsafat, &lt;/i&gt;Widjaja, Jakarta, 1981, hlm. 25]. &lt;/font&gt;&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar berpikir dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: &lt;i&gt;berpikir alamiah &lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;berpikir ilmiah. &lt;/i&gt;Berpikir alamiah, pola penalaran yang berdasarkan kebiasaan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya [katakana saja : penalaran tentang api yang dapat membakar]. Berpikir ilmiah, pola penalaran berdasarkan sasaran tertentu secara teratur dan cermat [dua hal yang bertentangan penuh tidak dapat sebagai sifat hal tertentu pada saat yang sama dalam satu kesatuan]&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;&lt;font size=2&gt;5Tim Dosen Ilmu, Fakultas Filsafat UGM, Loc.cit. &lt;/font&gt;.  &lt;br /&gt;Dari dua pola berpikir di atas, akan dibahas pola berpikir ilmiah dan lebih khusus di fokuskan pada pembahasan &lt;i&gt;logika dan statistika sebagai sarana berpikir ilmiah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;B.	&lt;/i&gt;Sarana Berpkir Ilmiah&lt;br /&gt;Berpikir merupakan sebuah proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt;&lt;font size=2&gt;6S.Suriasumantri, &lt;i&gt;Loc.cit. &lt;/i&gt;&lt;/font&gt;. Oleh karena itu, proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan diperlukan sarana tertentu yang disebut dengan &lt;i&gt;sarana berpikir ilmiah. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada langkah tertentu biasanya juga diperlukan sarana tertentu pula. Tanpa penguasaan sarana berpikir ilmiah kita tidak akan dapat melaksanakan kegiatan berpikir ilmiah yang baik. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik diperlukan sarana berpikir ilmiah berupa: [1] Bahasa Ilmiah, [2] Logika dan metematika, [3] Logika dan statistika&lt;sup&gt;7&lt;/sup&gt;&lt;font size=2&gt;7Tim Dosen Filsafat Ilmu, Fakultas Filsafat, &lt;i&gt;Op.Cit, &lt;/i&gt;hlm. 68. &lt;/font&gt;. Bahasa ilmiah merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah. Bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasiuntuk menyampaikan jalan pikiran seluruh proses berpikir ilmiah kepada orang lain. Logika dan matematika mempunyai peran penting dalam berpikir &lt;i&gt;deduktif &lt;/i&gt;sehingga mudah diikuti dan dilacak kembali kebenarannya. Sedangkan logika dan statistika mempunyai peran penting dalam berpikir i&lt;i&gt;nduktif &lt;/i&gt;untuk mencari konsep-konsep yang berlaku umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan &lt;br /&gt;Metode-metode &lt;br /&gt;Ilmiah&lt;sup&gt;8&lt;/sup&gt;&lt;font size=2&gt;8Penjelasan &lt;i&gt;Metode Ilmiah  &lt;/i&gt;merupakan suatu prosedur yang mencakup berbagai &lt;i&gt;tindakan pikiran, &lt;/i&gt;&lt;i&gt;pola kerja, cara teknis, &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;tata langkah&lt;/i&gt;untuk memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang telah ada. Pola umum tata langkah dalam metode ilmiah mencakup : [1] &lt;i&gt;penentuan masalah,&lt;/i&gt; [2] &lt;i&gt;perumusan dengan sementara,&lt;/i&gt; [3] &lt;i&gt;pengumpulan data,&lt;/i&gt; [4] &lt;i&gt;perumusan kesimpulan,&lt;/i&gt; dan [5] &lt;i&gt;verifikasi&lt;/i&gt;[Tim Dosen Filsafat Ilmu, Fakultas Filsafat UGM, &lt;i&gt;Filsafat Ilmu, &lt;/i&gt;Liberty, Yogyakarta, 1996, hlm. 110]&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarana berpikir ilmiah digunakan sebagai alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuannya berdasarkan metode-metode ilmiah. Sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuan. Dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah pada dasarnya ilmu menggunakan penalaran &lt;i&gt;induktif &lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;deduktif, &lt;/i&gt;dan sarana berpikir ilmiah tidak menggunakan cara tersebut. Berdasarkan cara mendapatkan pengetahuan tersebut jelaslah bahwa sarana berpikir ilmiah bukanlah ilmu, melainkan sarana ilmu yang berupa : bahasa, logika, matematika, dan statestika.  Sedangkan fungsi sarana berfikir ilmiah adalah untuk membantu proses metode ilmiah, baik secara &lt;i&gt;deduktif &lt;/i&gt;maupun secara &lt;i&gt;induktif&lt;/i&gt;&lt;sup&gt;9&lt;/sup&gt;&lt;font size=2&gt;9 Ibid, hlm. 100.&lt;/font&gt;.&lt;/div&gt;</description><link>http://quovadispendidikan.blogspot.com/2009/02/logika-dan-statistika-sebagai-sarana.html</link><author>noreply@blogger.com (MUNIR YUSUF)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-180733631219306484.post-1368795962283193944</guid><pubDate>Mon, 09 Feb 2009 12:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-10T21:05:55.973-08:00</atom:updated><title></title><description>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Artikel Populer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA ITU PENDIDIKAN?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Yunani Lama, lebih kurang 600 tahun Sebelum Masehi, telah menyatakan bahwa pendidikan ialah usaha membantu manusia menjadi manusia. Ada dua kata yang penting dalam kalimat itu, pertama &quot;membantu&quot; dan kedua &quot;manusia&quot;.&lt;br /&gt;     Manusia perlu dibantu agar ia berhasil menjadi manusia. Itu menunjukkan bahwa tidaklah mudah menjadi manusia. Karena itulah maka sejak dahulu banyak manusia  gagal menjadi manusia.  Perlu dibantu.  Jadi, tujuan mendidik ialah manusia yang telah menjadi manusia. Agar tujuan itu dapat dicapai dan agar program dapat disusun maka ciri-ciri manusia yang telah menjadi manusia itu haruslah jelas. &lt;br /&gt;     Apa manusia yang menjadi tujuan pendidikan itu? Tentulah hal ini akan ditentukan oleh filsafat hidup masing-masing orang. Orang-orang Yunani Lama itu menentukan ada tiga syarat untuk disebut manusia. Pertama, memiliki kemampuan dalam mengendalikan diri; kedua, cinta tanah air; dan ketiga berpengetahuan.&lt;br /&gt;     Kemampuan mengendalikan diri memang penting dalam kehidupan ini. Ini telah diketahui sejak dulu sekali. Pada tahun 1995 muncul buku Goleman yang menjelaskan betapa pentingnya kemampuan mengendalikan diri tersebut. Ia menyebutnya emotional intelligence (EI) yang sering disingkat dengan EQ (emotional quotient) . Ia mengatakan bahwa EI atau EQ lebih penting ketimbang IQ. Nah, orang Yunani telah mengetahui hal itu.  Pythagoras, salah seorang filosof besar pada zaman itu memberi syarat pada murid-muridnya agar murid-muridnya tidak makan kacang tanah dan ayam putih. Katanya, dua jenis makanan ini akan menyebabkan sulit mengendalikan diri. &lt;br /&gt;Orang-orang zaman sekarang juga memahami pentingnya seseorang memiliki kemampuan mengendalikan diri. Sering orang tua menasehati menantunya agar mampu mengendalikan diri tatkala dapat uang banyak, tatkala memperoleh kesuksesan. Sering orang menasehati orang lain agar sabar; sabar adalah salah satu ciri kemampuan mengendalikan diri. Ya, ini memang penting. Banyak orang menyesali perceraiannya karena tatkala ia mengucapkan talak cerai itu ia dalam keadaan tidak mampu mengendalikan diri; banyak orang yang putus pertunangannya gara-gara ketelanjuran dan itu adalah ciri kurang mampu mengendalikan diri. Banyak yang jatuh dari tempat tinggi karena kurang mampu mengendalikan diri.  Jatuh dengan cara seperti itu akan dirasakan amat sakit. Menyesal, malu, rugi. Kok hanya gara-gara ketelanjuran. Ketelanjuran adalah salah satu ciri kurang memiliki kemampuan mengendalikan diri. Pepatah lama mengatakan mulut kamu harimau kamu, akan menerkam kepala kamu. Maksud pepatah ini ialah banyak orang celaka karena ketelanjuran dalam bicara dan ia celaka oleh pembicaraannya itu.  &lt;br /&gt;     Jika orang telah mampu mengendalikan diri, itu berarti ia telah memiliki akhlak mulia. Nah dengan sendirinya cinta pada tanah air juga akan tinggi. Cinta tanah air orang Yunani Lama itu adalah dalam arti cinta pada tempat tinggal. Konsep inilah yang menjadi cikal bakal pelajaran civic atau kewarganegaraan yang kita kenal sekarang.  Kalau dipikir-pikir, sebenarnya sampai sekarang inti civic tetap saja cinta tempat tinggal. Civic justru akan rusak bila pengertiannya digeser dari pengertian itu. Ya, cinta tempat tinggal: jangan merusak alam, tidak  membuang sampah sebarangan, jangan mencorat coret tembok, jangan mengganggu ketenangan tetangga. Bila yang seperti itu terujud, maka kehidupan akan menjadi kehidupan yang enak. Bener juga.&lt;br /&gt;     Bila konsep ini digeser, misalnya menjadi cinta bangsa, maka bahayanya ialah chauvinisme, bila disempitkan maka akan leih berbahaya lagi. Bila diubah menjadi cnta dunia, maka konsep akan diterima sebagai terlalu luas dan abstrak. Memang yang terbaik ialah cinta tempat tinggal. Di mana pun ia tinggal ia akan menyintai tempat itu, sekalipun ia tinggal di negara orang lain.&lt;br /&gt;     Manusia yang menjadi tujuan pendidikan itu harus memiliki pengetahuan yang tinggi. Intinya ialah orang harus mampu berpikir benar. Mendengar ini mungkin akan ada orang bertanya, apa ada orang yang berpikir tidak benar. Banyak, orang gila misalnya. Orang yang sudah kuat secara ekonomi, tetapi masih mencuri atau korupsi juga, jelas itu orang yang tidak mampu berpikir benar. Orang seperti itu sebenarnya sejenis orang gila, ia orang yang sakit jiwa. Orang Yunani beranggapan berpikir cara filsafat atau berfilsafat adalah latihan terbaik untuk mampu berpikir benar.&lt;br /&gt;     Yang di atas itu adalah aspek pertama pendidikan yaitu tentang konsep manusia. Konsep itu masih layak dipakai sekarang. Masih bagus. &lt;br /&gt;     Aspek  pendidikan yang kedua ialah menolong. Mengapa menolong, bukan mencetak, atau mewujudkan? Ya, karena pendidik mengetahui bahwa pada manusia itu ada potensi yang dapat dikembangkan untuk menjadi manusia. Pada setiap manusia itu ada potensi untuk menjadi manusia. Tetapi, ada juga potensi untuk menjadi bukan manusia, menjadi binatang misalnya. Teori inilah yang dapat menjelaskan mengapa orang yang dididik itu ada juga yang gagal menjadi manusia. Misalnya, ada juga beberapa tamatan perguruan tinggi yang punya sifat ingin menang sendiri (ini bukan sifat seseortang sebagai manusia), ada juga yang sudah kaya tetapi masih korupsi (ini juga bukan sifat manusia). Kegagalan pendidik dalam membantu manusia menjadi manusia itu memang ada, tetapi hanya sedikit. &lt;br /&gt;     Pendidik berpendapat batu tidak mungkin ditolong menjadi manusia, karena, ya itu tadi, batu tidak memiliki potensi menjadi manusia. Dari sinilah pendidik mengetahui bahwa dalam mendidik pendidik itu harus mengetahui poteni-potensi anak didiknya. Ini bidang psikologi; karena itu pendidik yang baik tentu mengetahui psikologi mengenai potensi-potensi itu. &lt;br /&gt;     Kata &quot;menolong&quot; juga menegaskan bahwa perbuatan mendidik itu hanya sekedar menolong. Jadi, pendidik jauh sebelum berbuat telah mengetahui bahwa muridnya itu nanti ada yang akan berhasil menjadi manusia dan ada yang tidak. &lt;br /&gt;     Apakah pendidik salah bila ia gagal? Pendidik biasanya merasa bersalah. Tetapi sebenarnya pedidik itu tidak bersalah. Itu hanya pembenaran terhadap teori &quot;menolong&quot; itu saja. Pendidik dapat saja gagal menolong muridnya. &lt;br /&gt;     Kata &quot;menolong&quot; juga mengkiaskan agar pendidik tidak sombong. Bila berhasil maka hasil itu adalah berkat usaha murid itu sendiri dan usaha dari orang lain atau pengaruh dar lainnya, sebagiannya merupakan hasil si pendidik. Kata &quot;menolong&quot; juga mengajarkan kepada pendidik bahwa ia mestilah melakukan pertolongan itu dengan kasih saying. Kata kasih sayang itu telah terdapat di dalam kata menolong itu. Tidak ada pertolongan yang kosong dari kasih saying. Konsekwensinya ialah pendidik tidak akan berhasil menolong bila dalam menolong itu tidak ada rasa kasih sayang kepada yang ditolong. Kata &quot;menolong&quot; juga mengandung pengertian selalu ke arah benar. Itu pun sudah terdapat dalam kata menolong itu. Jadi, pendidik itu harus menolong murid, dan pertolongannya itu harus berisi sesuatu yang benar. Karena itulah pendidik tidak mengenal istilah &quot;mendidik anak mencuri, atau mendidik anak membohong&quot;. Sebab &quot;mencuri&quot; dan &quot;membohong&quot; itu tidak ada dalam kata menolong. Al-Qur`an menegaskan &quot;tolong menolonglah kamu dalam kebaikan&quot; , itu hanyalah menegaskan.&lt;br /&gt;     Sekarang banyak orang mengharap gaji terlalu banyak dari kerja mendidik. Akibatnya biaya pendidikan menjadi sangat mahal. Seringkali orang berpikir bahwa adalah wajar saja jika pendidik meminta upah yang tinggi dari kerja mendidik. Seolah dalam dirinya ia berkata, apa sih bedanya kerja mendidik dengan kerja mengelas atau nyopir?  Jika kerja sebagai pilot meminta bayaran tinggi mengapa kerja mendidik -yang nota bene menghasilkan pilot- tidak wajar menuntut gaji yang tinggi? Begitulah berbagai pertanyaan muncul yang diakui atau tidak, di belakang pertanyaan itu tersimpan sifat kurang sayang pada murid. Sayang kepada murid dalam pendidikan dikatakan sama dengan sayang kepada anak sendiri. Itu suatu hal yang sungguh tidak mungkin. Yang mungkin ialah sayang dalam bentuk prihatin, khawatir, kalau-kalau murid itu tidak berkembang menjadi manusia yang diharapkan. &lt;br /&gt;     Kapan pendidikan bagi seseorang dimulai, dan kapan berakhir? Pertanyaan ini sudah lama sekali muncul di kalangan ahli pendidikan. Agama Islam mengatakan sejak buaian sampai liang kubur. Para ahli pendidikan mengatakan pendidikan berlaku sepanjang hayat (life long education). Ahli lain mengatakan pendidikan tidak pernah berhenti. Tiga pernyataan itu mengandung esensi yang sama: pendidikan berlangsung seumur hidup. &lt;br /&gt;     Pertanyaan lebih jauh muncul lagi, yaitu seunur hidup itu apa maksudnya? Apakah sejak lahir sampai meninggal? Atau sejak adanya hidup. Bila sejak adanya hidup itu berarti pendidikan itu dimulai sejak janin hidup di dalam rahim. Jadi ada pendidikan pranatal dan dilanjutkan setelah natal.&lt;br /&gt;     Baiklah kita ambil satu kesimpulan saja: pendidikan berlangsung seumur hidup dengan mengesampingkan apakah dimulai sejak dalam rahim atau setalah lahir. Persoalan yang perlu dibahas sedikit ialah mengapa pendidikan itu berlangsung seumur hidup. &lt;br /&gt;     Jawaban terhadap pertanyaan itu terletak pada pandangan kita tentang hakikat pendidikan dari segi lain. Tadi dikatakan pendidikan ialah pertolongan. Segi lain menyatakan bahwa pendidikan ialah segala yang mempengaruhi seseorang. Nah, dari segi ini memang benar, tidak boleh tidak, pendidikan harus berlangsung seunur hidup karena manusia selama masih hidup ia selalu mendapat pengaruh dari berbagai pihak. Segi lain lagi ialah ini: pendidikan ialah usaha menolong orang agar ia mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Jadi, selama manusia masih menghadapi masalah yang harus diselesaikan selama itu pula ia masih menjalani pendidikan, sementara itu manusia tidak pernah tidak menghadapi masalah. Jadi, karena manusia selalu menghadapi masalah maka ia selama itu pula memerlukan pendidikan.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel Populer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASALAH  YANG TIDAK PERNAH SELESAI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Tiara Eka Saputri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan masalah yang tidak pernah selesai. Pendidiakn selalu terasa tidak pernah memuaskan. Pendidikan selalu dibicarakan. Pendidikan bahkan selalu menjadi bahan perdebatan. Apakah Anda mengira pendidikan di negara yang disebut sudah maju tidak pernah lagi membicarakan pendidikan mereka? Apakah mereka sudah betul-betul puas terhadap pendidikan mereka? Tidak, orang-orang di negara maju pun masih mengkritik keadaan pendidikan di negara mereka. Mengapa manusia tidak pernah puas terhadap pendidikan yang ada?&lt;br /&gt;     Semua orang mengambil bagian bila yang dibicarakan pendidikan. Itu mudah dipahami. Karena semua orang berkepentingan dengan pendidikan. Orang yang ingin memperbaiki seseorang, sekelompok orang, sesuatu negara, dan bahkan dunia, pasti akan melakukannya, langsung atau tidak langsung, melalui pendidikan. Orang yang akan merusak negara juga akan melakukannya melalui pendidikan. Orang yang mengerti pendidikan tentu akan ikut bicara pendidikan. Orang yang tidak tahu apa-apa tentang pendidikan juga ikut berbicara tentang pendidikan karena anak dan turunannya telah dan akan mengikuti pendidikan. Pendidikan adalah masalah bersama, semua orang berkepentingan dengan pendidikan.&lt;br /&gt;Berbeda halnya bila yang dibicarakan masalah pabrik nuklir, sekalipun juga menyangkut masalah bersama tetapi tidak setiap orang akan ikut membicarakannya. Berbeda juga dengan masalah sampah, toh tidak setiap orang ikut membicarakannya, sekalipun setiap orang bersangkutan dengan sampah. Adapun pendidikan, semua orang membicarakannya, mencercanya, mengutuknya, tidak puas terhadapnya tetapi ia tetap saja menyerahkan pendidikan anaknya ke lembaga pendidikan. Amat jarang terdengar orang memuji pendidikan. &lt;br /&gt;     Itulah sebabnya pendidikan tidak pernah selesai. Dan tidak pernah selesai dibicarakan. Mengapa? Pertama, fitrah setiap orang menginginkan yang lebih baik. Ia menginginkan pendidikan yang lebih baik sekalipun belum tentu ia tahu mana pendidikan yang lebih baik itu. Karena sudah fitrah manusia, maka penyebab pertama ini tidak dapat dibahas lebih lanjut. Jadi, sudah takdirnya pendidikan itu tidak pernah selesai.&lt;br /&gt;Kedua, karena teori pendidikan -dan teori pada umumnya- selalu ketinggalan oleh kebutuhan masyarakat. Umumnya, teori pendidikan dibuat berdasarkan kebutuhan masyarakat pada  tempat dan waktu tertentu. Karena waktu berubah dan tempat selalu berubah, maka kebutuhan masyarakat juga berubah. Bahkan perubahan tempat dan waktu itu ikut pula mengubah sifat manusia. Karena adanya perubahan itu maka masyarakat merasa tidak puas dengan teori pendidikan yang ada.&lt;br /&gt;Ketiga, karena pengaruh pandangan hidup. Pada suatu waktu mungkin seseorang telah puas dengan keadaan pendidikan di tempatnya karena sudah sesuai dengan pandangan hidupnya. Suatu ketika ia terpengaruh oleh pandangan hidup yang lain. Akibatnya, berubah pula pendapatnya tentang pendidikan yang tadinya sudah memuaskannya. Tiga penyebab itu intinya ialah sifat manusia yang tidak pernah puas.&lt;br /&gt;     Watak tidak pernah puas itu pernah dibahas secara mendasar oleh J.P. Sartre, filosof eksistensialis Perancis. Katanya, salah satu sifat dasar manusia ialah tidak pernah puas; yang ia inginkan ialah yang belum ada sedangkan yang ada bukanlah yang diinginkannya. Inilah salah satu takdir manusia, kata Sartre. Sartre berhasil membongkar sifat tidak pernah puas itu tetapi ia tidak berhasil menemukan jalan keluarnya. Katanya, watak tidak pernah puas itu akan menyebabkan manusia menderita,  itu dapat diakhiri dengan bunuh diri.&lt;br /&gt;     Agama juga membenarkan adanya sifat tidak puas itu, gunanya ialah agar manusia selalu maju, selalu berusaha menjadi lebih baik. Tetapi, bila perbaikan atau kemajuan itu tidak tercapai agama-agama mengajarkan agar manusia dengan sadar menerimanya, wajib mensyukurinya, dan bukan mengakhirinya dengan bunuh diri. Jadi, jika tidak puas dengan keadaan suatu pendidikan, ya, kita carikan jalan perbaikannya, sementara yang telah ada itu -sekalipun belum memuaskan kita- wajib kita syukuri. Bukan dengan mengutuk terus menerus.&lt;br /&gt;     Bagaimana memperbaiki pendidikan? Lazimnya perbaikan pendidikan dilakukan dengan mengkaji ulang pendidikan pada tingkat filsafat, pada level ini dilakukan renungan mendalam yang universal di mana pendidikan dihubungkan dengan segala sesauatu yang ada dan yang mungin ada; pemikiran mendalam, universal dan bersifat umum ini selanjutnya diturunkan pada level kedua yaitu filsafat pendidikan. Pada leval dua ini pendidikan itu dipikirkan secara mendalam dan universal tetapi terfokus pada masalah pendidikan yang akhirnya muncul dalam bentuk paradigma baru tentang pendidikan. Renungan-renungan mendalam tentang pendidikan ini selanjutnya diturunkan pada level ketiga yaitu penyusunan dan pembangunan kembali teori-teori ilmu pendidikan yang disesuaikan dengan paradigma yang telah dihasilkan pada level dua.  Setelah itu barulah didisain model-model pendidikan yang sejalan dengan teori ilmu pendidikan yang baru tersebut. Inilah cara yang benar dalam memperbaiki pendidikan. Tentu saja itu dilakukan oleh ahli pendidikan.&lt;br /&gt;     Apa yang kita lihat selama ini? Terlalu banyak orang ikut berbicara tentang pendidikan. Bila yang berbicara tentang pendidikan itu bukan orang penting, artinya bukan pemegang kekuasaan, bukan pembuat keputusan yang mengikat publik, itu baik-baik saja. Itu dapat menjadi bahan dalam perenungan pendidikan pada tingkat filsafat pendidikan. Yang berbahaya ialah bila orang yang berbicara itu adalah pemegang kekuasaan, pembuat kebijakan.  Itu yang pertama.&lt;br /&gt;Yang kedua, kita seringkali menyaksikan perbaikan pendidikan secara tambal sulam. Misalnya, lulusan kurang cinta negara, lantas buru-buru pelajaran civic ditambah jamnya. Adakan pelatihan guru civic. Orang melihat murid-murid sekolah malas shalat atau ke gereja, orang buru-buru menambah jam pelajaran agama, penataran guru agama, mencetak buku paket. Ada gejala anak-anak sering merusak lingkungan, lantas buru-buru diberi palajaran cinta lingkungan. Perbaikan pendidikan dengan cara demikian (cara tambal sulam, ad hoc) sebenarnya tidak pernah dianjurkan dalam Ilmu Pendidikan. Tapi aneh ya, cara seperti itu sering sekali ditempuh.&lt;br /&gt;     Pernah ada seorang tokoh level nasional berteriak di salah satu kampus perguruan tinggi: &quot;Mengapa SMA kita terlalu banyak mata pelajarannya, coba tiga atau empat saja, tentu mutunya akan hebat.&quot; Kalimat beliau ini menjelaskan bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang pendidikan. Tetapi tidak apa-apa, toh tadi sudah dikatakan bahwa setiap orang boleh bicara tentang pendidikan, dan itu baik. Tetapi bila teriakan tokoh itu akan kita pertimbangkan, tentunya itu dilakukan menuruti prosedur yang disebut di atas tadi, yaitu pikirkan secara filsafat, lalu filsafat pendidikan, dilanjutkan ke tingkat ilmu pendidikan, bukan lantas buru-buru mengubah kurikulum SMA hanya dengan empat mata pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://quovadispendidikan.blogspot.com/2009/02/artikel-populer-apa-itu-pendidikan.html</link><author>noreply@blogger.com (MUNIR YUSUF)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-180733631219306484.post-4409033751609986181</guid><pubDate>Mon, 09 Feb 2009 11:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-10T21:05:55.980-08:00</atom:updated><title></title><description>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;font color=&quot;#365F91&quot; size=4&gt;Masalah sosial dan fakta sosial&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=3&gt;Sosiologi sesungguhnya bukanlah praktek, tetapi suatu upaya untuk memahami realitas dan masalah sosial. Masalah-masalah yang menarik perhatian sosiologi tidak perlu sama dengan apa yang oleh orang lain sebut sebagai masalah sosial. Berbeda dengan pengertian masalah sosial yang lebih banyak dipahami orang awam atau kaum birokrat, sebagai sesuatu yang tidak beres di dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah sosial bukanlah semata-mata mengapa sesuatu hal tidak beres di dalam masyarakat, tetapi pada persoalan bagaimana seluruh sistem bekerja, apa yang menjadi presuposisinya, dan bagaimana semuanya diikat menjadi satu ( Berger, 1985:55)&lt;br /&gt;Menurut Durkheim, Tugas Ilmu sosial adalah mempelajari apa yang ia sebut sebagai fakta-fakta sosial, yakni sebuah kekuatandan struktur yangbersifat eksternal, tetapi mampu mempengaruhi prilaku individu. Dengan kata lain, fakta sosial adalah cara-cara bertindak, berfikir dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunyai kekuatan memaksa yang mengendalikannya. Yang dimaksud fakta sosial di sini tidak hanya yang bersifat material, tetapi juga non material, seperti kultur, agama atau institusi sosial.&lt;br /&gt;Secara teoritik, sekurang-kurangnya ada dua syarat bagi terjadinya suatu  interaksi sosial dan komunikasi. Terjadinya suatu kontak sosial, tidaklah semata-mata tergantung dari tindakan tetapi juga tergantung  pada adanya tangapan terhadap tindakan tersebut. Sedangkan aspek terpenting dari komunikasi adalah bila seseorang memberikan tafsiran terhadap sesuatu atau perlakuan orang lain.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://quovadispendidikan.blogspot.com/2009/02/masalah-sosial-dan-fakta-sosial.html</link><author>noreply@blogger.com (MUNIR YUSUF)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-180733631219306484.post-8053050861795825169</guid><pubDate>Mon, 09 Feb 2009 11:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-10T21:05:55.987-08:00</atom:updated><title></title><description>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Metode Penelitian Kritis dan Prinsip-prinsip Participatory Action Research (PAR) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan telah diumumkan para nominator yang akan menerima bantuan dana program pemberdayaan mutu madrasah/pesantren.masjid binaan PTAI tahun 2004, belum lama ini diadakan Workshop Nasional Parcipatory Action Research dan juga metode penelitian kritis Ditperta kerjasama dengan STAIN Surakarta. Dengan pembekalan ini diharapkan mereka yang mendapatkan amanah untuk melakukan pemberdayaan pesantren, madrasan dan masjid akan memiliki &quot;seperangkat&quot; ilmu yang memadai dan memudahkan pelaksanaan program nantinya. Dipilihnya PAR sebagai materi pelatihan, karena metode ini dianggap paling cocok untuk mengadakan perubahan dan perbaikan terhadap komunitas masyarakat. Dan memang ini yang diharapkan oleh Pak Direktur H. Arief Furqan, M.A, Ph.D agar mereka-mereka yang mendapatkan program ini tidak sekedar secara formal dapat menyelesaikan program, akan tetapi sejauhmana mereka (yang dijadikan sasaran program pemberdayaan) betul-betul berdaya atau mandiri setelah program tersebut selesai dilaksanakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam agenda workshop tersebut, didatangkan para ahli yang memang menguasai mengenai PAR, yakni Ahmad Mahmudi. Nara sumber juga melengkapi kajiannya dengan memberikan metode penelitian kritis (meneliti dunia untuk merubahnya). Menurut Ahmad mahmudi ada beberapa prinsip-prinsip PAR yang yang harus dipahami terlebih dahulu. Antara lain, pertama PAR harus diletekkan sebagai suatu pendekatan untuk memperbaiki praktek-praktek sosial dengan cara merubahnya dan belajar dari akibat-akibat dari perubahan tersebut. Kedua, secara keseluruhan merupakan partisipasi yang murni (autentik) dimana akan membentuk sebuah spiral yang berkesinambungan sejak dari perencanaan (planing), tindakan (pelaksanaan atas rencana), observasi (evaluasi atas pelaksanaan rencana), refleksi (teoritisi pengalaman). Ketiga, PAR merupakan kerjasama (kolaborasi), semua yang memiliki tanggungjawab atas tindakan perubahan dilibatkan dalam upaya-upaya meningkatkan kemampuan mereka. Keempat PAR merupakan suatu proses membangun pemahaman yang sistematis (systematic learning process), merupakan proses penggunaan kecerdasan kritis saling mendiskusikan tindakan mereka dan mengembangkannya, sehingga tindakan sosial mereka akan dapat benar-benar berpengaruh terhadap perubahan sosial. Kelima, PAR suatu proses yang melibatkan semua orang dalam teoritisasi atas pengalaman-pengalaman mereka sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini mereka harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh rasa ingin tahu dan memahami pola hubungan antara keadaan, tindakan, dan konsekuensi-konsekuensi dalam kehidupan mereka sendiri. Proses teoritisasi dalam PAR dimulai dengan pengungkapan-pengungkapan dan penguraian secara rasional dan kritis terhadap praktek-praktek sosial mereka. Dari kesemua prinsip-prinsip PAR yang ada, yang terpenting adalah dalam PAR tidak mengharuskan membuat dan mengelola catatan rekaman yang menjelaskan apa yang sedang terjadi se-akurat mungkin, akan tetapi merupakan analisa kritis terhadap situasi yang secara kelembagaan diciptakan (seperti melalui proyek-proyek, program-program tertentu atau sistem. Salah satu prinsip dalam PAR yang paling unique adalah menjadikan pengalaman-pengalaman mereka sendiri sebagai sasaran pengkajian (objectifying their own experience). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu dalam rangka melengkapi ketrampilan para peserta workshop, mereka juga diberi bekal metode penelitian kritis. Metode ini sangatlah penting untuk dapat menambahi wawasan dan artikulasi penelitian atau arti penting dari penelitian itu sendiri. Setelah para peserta diperkenalkan dengan prinsip-prinsip PAR dan metode penelitian kritis, selanjutnya mereka diajak praktek langsung untuk membedah proposal (agenda penelitian) yang akan mereka garap, baik dalam bidang pemberdayaan pesantren, masjid ataupun madrasah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pemberdaayaan masjid masalah utama yang dihadapi adalah keberadaan masjid yang hanya (sekedar) menjadi pusat peribadatan dalam arti ritual dan tidak terlibat dalam persoalan riil keseharian jama&#39;ahnya. Khutbah yang diterima oleh jama&#39;ah tidak mencerminkan keprihatinan terhadap apa yang secara nyata dipersepsi sebagai problem Jama&#39;ahnya. Demikian pula posisi takmir masjid seringkali tidak menjalankan aktifitas yang dapat mendorong dilakukannya tindakan nyata dalam menghadapi problem sosial. Himbauan tentang iman, kesabaran dalam menghadapi hidup dan tema-tema sejenisnya tidak tidak dielaborasikan dalam seruan-seruan dan gerakan-gerakan yang lebih nyata dan kongkret. Sementara itu, keberadaan masjid hampir tidak memiliki sumberdaya untuk melakukan pemberdayaan, grass-root lapisan sosial masyarakat. Pesan keagamaan yang disampaikan hanya berkaitan dengan seruan-seruan moral, iman dan akherat. Sementara itu pada saat yang sama problem kemiskinan, pengangguran dan pendidikan luput dari sorotan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau para jamaáh seolah-olah &quot;dibiarkan&quot; terbelit dalam problemnya sendiri, tanpa adanya sentuhan strategis-kongkret dari inspirasi ajaran agama. Singkatnya masjid kurang dapat mengoptimalkan dalam melakukan kemitraan dengan jalinan masyarakat, dalam rangka ikut serta memecahkan problem sosial yang sedang mereka hadapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem kurangnya kemitraan ini juga dialami oleh masyarakat pengelola madrasah. Mardarasah kurang mampu mendinamisasi partisipasi masyakarat setempat agar ada rasa kepedulian dalam mengembangkan dan memajukan madrasah. Tidaklah menggherankan kalau sebagian proposal pemberdayaan madrasah bermuara dan bertujuan untuk dapat mengoptimalkan pengurus madrasah. Oleh karena itu, diperlukan adanya rekayasa sistematis dalam meningkatkan peran madrasah dengan merangkul partisipasi masyarakat secara aktif. Sedangkan untuk pondok pesantren lebih banyak perubahan internal yang diharapkan, baik kurikulum dalam mengajar, relasi anta kyai dan santri serta tumbuhnya suasana demokratisasi dalam pesantren. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan penjelasan metode penelitian kritis dan Participatory Action Research (PAR) sebagian dari peserta workshop yang mewakili mereka yang mendapatkan program pemberdayaan pesantren, madrasah, dan masjid mendapatkan gambaran yang detail untuk melangkah dan menjalankankan program pemberdayaan, dan yang paling penting adalah adanya hasil dan perubahan pasca program pemberdayaan. Direkonstruksi dari (Adib, Gja)&lt;/div&gt;</description><link>http://quovadispendidikan.blogspot.com/2009/02/metode-penelitian-kritis-dan-prinsip.html</link><author>noreply@blogger.com (MUNIR YUSUF)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-180733631219306484.post-3360685255692523165</guid><pubDate>Fri, 06 Feb 2009 07:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-05T23:48:16.960-08:00</atom:updated><title></title><description>&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Penelitian Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sifat manusia yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa adalah sifat ingin tahu. Sejak kecil, dengan dilengkapi kepandaian menggunakan tangan dan kakinya, ia berusaha ingin tahu segala sesuatu yang ada di sekitar dan lingkungan tempat tinggalnya. Semakin tumbuh dewasa dan berkembang kepandaiannya melalui pendidikan orang tuanya, semakin besar keingintahuannya. Dan segala sesuatu yang ingin diketahuinya adalah yang lebih rumit dan tentu saja memerlukan penguasaan berfikir dan berbahasa yang semakin rumit pula. Seringkali keingintahuannya tersebut dinyatakan dalam bentuk pertanyaan atau permasalahan. Dan setiap pertanyaan atau permasalahan itu ia mengharapkan jawaban atau pemecahan. Maka sifat manusia lainya yang dianugerahkan adalah usaha untuk mengetahui jawaban atau memperoleh pemecahan masalah. Dan tentunya, jawaban atau pemecahan yang diperoleh tersebut adalah suatu kenyataan yang benar mengenai masalah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakekatnya penelitian diawali dari hasrat keingintahuan peneliti yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan atau permasalahan. Setiap pertanyaan atau per-masalahan  tersebut perlu jawaban atau pemecahan. Dari jawaban dan pemecahan  tersebut peneliti memperoleh pengetahuan yang benar mengenai suatu masalah. Pengetahuan yang benar adalah yang dapat diterima akal dan berdasarkan fakta empirik. Untuk memperolehnya harus mengikuti kaidah-kaidah dan menurut cara-cara bekerjanya akal yang disebut logika, dan dalam pelaksanaannya diwujudkan melalui penalaran.. Pengetahuan yang benar tersebut disebut juga pengetahuan ilmiah atau ilmu. Dengan demikian penelitian  ilmiah adalah suatu metode ilmiah untuk memperoleh pengetahuan menggunakan penalaran. Penalaran tersebut dilaksanakan melalui prosedur logika deduksi dan induksi. Dengan pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain untuk pengembangan pengetahuan dan teknologi, perencanaan pembangunan dan untuk pemecahan masalah-masalah dalam kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian atau research berasal dari kata re dan  to search yang berarti mencari kembali yang menunjukkan adanya proses berbentuk siklus bersusun yang selalu berkesinambungan.. Penelitian dimulai dari hasrat keingintahuan dan permasalahan, dilanjutkan dengan pengkajian landasan teoritis yang terdapat dalam kepustakaan untuk mendapatkan jawaban sementara atau hipotesis. Selanjutnya direncanakan dan dilakukan pengumpulan data untuk menguji hipotesis yang akan diperoleh kesimpulan dan jawaban permasalahan. Dalam proses pemecahan masalah dan dari jawaban permasalahan tersebut akan timbul permasalahan baru,  sehingga akan terjadi siklus secara berkesinambungan.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENELITIAN  DESKRIPTIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan (memaparkan) peristiwa-peristiwa yang urgen terjadi pada masa kini. Pemaparan peristiwa tersebut dilakukan secara sistematik, akurat dan lebih menekankan pada data faktual. Contohnya: Studi tentang pelaksanaan Pendidikan Jasmani berbasis kompetensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian deskriptif seringkali dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan sifat dan analisis datanya, yaitu penelitian deskriptif eksploratif dan penelitian deskriptif develop-mental. (Arikunto: 1989). Penelitian deskriptif yang bersifat eksploratif bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena. Bisanya dilakukan dengan survey dan menjadi dasar dalam mengambil kebijakan atau penelitian lanjutan. Analisis data menggunakan statistik deskritif, prosentase atau pemaparan menggunakan kata-kata atau kalimat. Penelitian deskriptif yang bersifat developmental digunakan untuk menemukan suatu model atau prototype. Penelitian dilakukan dengan mencobakan suatu model atau prototype dan diamati pelaksanaannya dalam kurun waktu tertentu. Datanya dibanding-kan dengan kriteria yang telah ditetapkan, selanjutnya dilakukan penyempurnaan dan modifikasi model. Setelah model dianggap mantap, maka dapat dilakukan desiminasi atau perluasan.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian deskriptif biasanya hanya melibatkan variabel tunggal, tidak mengungkapkan hubungan antar variabel. Sehingga penelitian deskriptif tidak dimaksud-kan untuk menguji hipotesis. Oleh karena itu hipotesis penelitian tidak diperlukan. Seperti pada contoh judul penelitian di atas, penelitian tersebut hanya mendeskripsikan variabel pelaksanaan Pendidikan Jasmani yang berbasis kompetensi. Aspek-aspek dalam pelaksanaan Pendidikan Jasmani yang berbasis kompetensi dapat berupa kegiatan siswa, kegiatan guru, media pembelajaran dan sebagainya. Deskripsi setiap aspek dilakukan secara terpisah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan Proses Penelitian Deskriptif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan penelitian deskriptif, secara umum tidak jauh berbeda dengan tahapan penelitian-penelitian yang lain. Berikut ini disajikan tahapan penelitian deskriptif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi, memilih dan merumuskan masalah penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian deskriptif dimulai dari munculnya minat peneliti terhadap suatu fenomena yang sedang menjadi perhatian peneliti.. Pada suatu saat selalu ada fenomena yang belum sepenuhnya dimengerti atau mungkin terjadi perbedaan pendapat tentang suatu fenomena tertentu. Atau mungkin juga dalam situasi tertentu tidak dapat berjalan dengan semestinya sesuai rencana dan prosedur yang telah ada. Situasi tersebut menunjukkan ada kesenjangan antara yang seharusnya dengan kenyataan, antara yang diperlukan dengan yang tersedia, antara harapan dengan capaian.Hal tersebut dapat dijadikan obyek penelitian yang unik dan menarik, sehingga perlu pengembangan atau penyempurnaan melalui penelitian. Fenomena tersebut kemudian disusun menjadi masalah penelitian yang lebih jelas dan sistematis dengan memanfaatkan informasi ilmiah yang sudah tersedia dalam literatur yaitu teori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan perlunya diadakan suatu penelitian di bidang tertentu: 1) tidak ada informasi sama sekali pada aspek tertentu pada bidang tersebut; 2) informasi yang ada belum lengkap pada aspek tertentu pada bidang tersebut; 3) banyak informasi namun perlu pembuktian kembali kebenarannya dengan data yang lebih mutakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperoleh permasalahan penelitian tidaklah mudah, seorang peneliti perlu peka, bersikap kritis dan berfikir logis terhadap fenomena yang terjadi. Penting untuk selalu mengembangkan ketajaman persepsinya, sehingga lebih cermat dan teliti pada sesuatuyang perlu dipertanyakan. Selain itu, untuk memperoleh permasalahan penelitian, seorang peneliti perlu dibekali dengan scientific mind dan prepared mind. Scientific mind adalah selalu berpandangan obyektif yang mampu melepaskan diri dari praduga dan  opini pribadi. Bersikap independen, yaitu tidak mudah terpengaruh oleh pandangan orang lain. Mempunyai wawasan yang luas berkaitan dengan permasalahan penelitian. Prepared mind maksudnya selalu siap untuk dapat menangkap permasalahan yang timbul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa sumber informasi masalah penelitian. Masalah penelitian yang bersumber dari literatur sering dan lazim dgunakan, terutama literatur primer seperti jurnal akademik dan profesional, jurnal penelitian, laporan penelitian, skripsi. tesis, desertasi, makalah,buku dan tinjauan pustaka. Tentunya literatur sebagai sumber masalah penelitian harus memiliki kriteria tertentu yaitu aktualitas isi sumber tersebut. Pengalaman empirik di lapangan di bidang profesi se hari-hari merupakan sumber masalah yang potensial. Sumber masalah penelitian lainnya adalah hasil komunikasi dengan para ahli atau teman sejawat di bidang terkait, dan juga hasil pengamatan. Hasil berfikir pribadi seorang peneliti sendiri dapat juga menjadi sumber masalah penelitian.          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah disebutkan dimuka bahwa dalam penelitian deskriptif hanya melibat-kan satu variabel penelitian. Oleh karena itu, variabel penelitian tertentu  yang ditentukan, berangkat dari suatu permasalahan yang menjadi perhatian pada suatu fenomena. Permasalahan dalam suatu fenomena tersebut merupakan sesuatu yang urgen terjadi pada masa kini. Penelitian penting untuk dilakukan yang diharapkan memberikan kontribusi  atau andil yang jelas dalam bidang profesi atau untuk kepentingan praktis.  Pengulangan penelitian dengan permasalahan yang sama dalam penelitian deskriptif memungkinkan untuk dilakukan. Misalnya penelitian pada suatu kurun waktu tertentu atau tempat yang berlainan tentang masalah yang sama dapat dilakukan pengulangan penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kriteria kelayakan yang perlu diperhatikan dalam menentukan suatu masalah untuk diteliti. Masalah yang akan diteliti memiliki kontribusi profesionil dan signifikansi secara ilmiah terhadap ilmu pengetahuan (teoritik) maupun secara praktis;  mempunyai derajad keunikan dan keaslian; tersedia sumber data dan memungkinkan untuk pengumpulan data; tersedianya instrumen pengukuran data; tersedianya dana dan waktu untuk melaksanakan penelitian; dan sesuai dengan kemampuan peneliti.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menentukan permasalahan penelitian yang akan diteliti, selanjutnya  dirumuskan masalah penelitian tersebut secara singkat jelas padat dalam bentuk kalimat tanya. Ditinjau dari cakupan aspek-aspek yang terkait dengan masalah penelitian maka rumusan masalah penelitian dapat dibedakan secara umum dan khusus. (Ibnu, Mukhadis, Dasna: 2003). Rumusan masalah umum menunjukkan keseluruhan permasalahan penelitian secara utuh. Contoh: Bagaimanakah pelaksanaan Pendidikan Jasmani di Sekolah Menengah Umum I Malang berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumusan masalah khusus yang berfokus pada aspek-aspek tertentu dari permasalahan yang dikaji. Contoh: 1) Bagaimanakah kegiatan Guru dalam pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Jasmani berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi? 2) Bagaimanakah kegiatan Siswa dalam pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Jasmani berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi? 3) Bagaimanakah ketersediaan sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Jasmani berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Melakukan Kajian Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masalah penelitian ditetapkan, selanjutnya pada tahapan ini peneliti mencari landasan teoritis dari permasalahan penelitiannya dengan cara melakukan kajian pustaka. Tujuan kajian pustaka adalah untuk memperoleh informasi yang relevan dengan masalah yang diteliti, mempedalam pengetahuan tentang obyek (variabel) yang diteliti, mengkaji teori dasar yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, mengkaji temua penelitian terdahulu, dan mencari informasi aspek masalah yang belum tergarap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber kajian pustaka dapat diperoleh dari sumber primer dan sekunder. Sumber primer merupakan karangan asli yang ditulis oleh orang lain secara langsung mengalami, melihat dan mengerjakan sendiri. Sumber sekunder adalah tulisan tentang penelitian orang lain. Bahan pustaka yang biasanya tersedia diperpustakaan adalah ensiklopedia, kamus, buku-buku teks dan buku referensi, buku pegangan, biografi, indeks, abstrak laporan penelitian, majalah, jurnal dan surat kabar, skripsi, tesis, desertasi. Bahan pustaka tersebut dapat juga diperoleh dari instansi atau lembaga tertentu seperti LIPI atau lembaga yang terkait dengan obyek penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan pustaka, yaitu kemuta-khiran dan relevansi. Dengan memilih bahan pustaka yang mutakhir maka akan diperoleh informasi terbaru dan representatif sebagai landasan teori obyek yang sedang diteliti. Selain itu, bahan pustaka yang relevan diperlukan untuk menghasilkan kajian pustaka yang berkaitan erat dengan masalah yang diteliti.            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Merumuskan tujuan penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan penelitian merupakan ungkapan sasaran yang akan dicapai dalam suatu penelitian. Tujuan penelitian harus dinyatakan dengan kongkrit, jelas dan ringkas dan dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan. Isi dan rumusan tujuan penelitian harus mengacu pada rumusan masalah penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian deskriptif, tujuan penelitian adalah untuk memperoleh gambaran dan diskripsi secara rinci, sistematis dan akurat suatufenomena. Rumusan tujuan peneliti-an deskriptif meliputi mengklasifikasi dan menguraikan tentang sifat-sifat atau faktor-faktor fenomena tersebut.  Suatu penelitian ada yang hanya memerlukan satu tujuan, ada juga mempunyai beberapa tujuan sesuai dengan sub-permasalahan  (Zainuddin:1988). Contoh rumusan tujuan penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan Pendidikan Jasmani di Sekolah Menengah Umum I Malang berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Rumusan tujuan penelitian tersebut dijabarkan lebih rinci berdasakan sub permasalahan penelitian sesuai rumusan permasalahan, meliputi kegiatan guru, siswa dan ketersediaan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan Proses Belajar  Mengajar Pendidikan Jasmani berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi?                &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menguraikan kegunaan dan pentingnya penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bagian ini diuraikan kegunaan dan pentingnya penelitan yang berisi alasan bahwa masalah yang dipilih memang layak untuk diteliti. Suatu penelitian adalah sebagai cara mengembangkan pengetahuan yaitu berupa temuan-temuan baru, merupakan koreksi atau dukungan terhadap teori yang sudah ada. Suatu penelitian berguna untuk pengem-bangan teknologi. Mungkin juga suatu penelitian bermanfaat sebagai penyumbang informasi penting pembuatan kebijakan dan perencanaan program pembangunan. Kegunaan yang lain adalahsebagai alat pemecahan masalah-masalah praktis di lapangan dalam bidang tertentu..      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menetapkan Asumsi Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi dalam konteks penelitian diartikan sebagai anggapan dasar, yaitu  suatu pernyataan atau sesuatau yang diakui kebenarannya atau dianggap benar tanpa harus dibuktikan lebih dahulu. Asumsi penelitian merupakan pijakan berpikir dan bertindak dalam melaksanakan penelitian. Menurut sifatnya ada tiga jenis asumsi, yaitu asumsi konseptual, asumsi situasional dan asumsi operasional. Asumsi konseptual berakar pada pengakuan akan kebenaran suatu konsep atau teori. Asumsi situasional diperlukan untuk mengantisipasi adanya kondisi lokal atau situasi yang bersifat sementara yang berpotensi mempengaruhi berlakunya suatu hukum atau prinsip yangdapat menggoyahkan rancangan penelitian. Asumsi operasional bertolak dari masalah-masalah operasional yang masih dalam jangkauan pengendalian peneliti. (Ibnu, Mukhadis, Dasna: 2003) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Menetapkan Ruang lingkup dan Keterbatasan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang lingkup penelitian menggambarkan luas dan batas-batas area penelitian yang akan dilaksanakan. Pada bagian ini dikemukakan secara pasti faktor-faktor atau variabel-variabel yang diteliti, subyek atau populasi penelitian, dan lokasi penelitian. Ruang lingkup penelitian akan menjadi jelas dengan menjabarkan variabel penelitian menjadi sub-variabel dan indikator-indikatornya. Variabel adalah faktor yang apabila diukur memberikan nilai yang bervariasi. Variabel adalah suatu konsep yang mempunyai lebih dari satu nilai, keadaan, katagori, atau kondisi. Dalam penelitian deskriptif hanya mempunyai satu variabel, sehingga variabel penelitian tersebut dijabarkan menjadi sub-variabel dan indikator sesuai dengan permasalahan yang diteliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbatasan penelitian menunjuk kepada suatu situasidan kondisi yang tidak bisa dihindari dalam penelitian dan peneliti tidak dapat berbuat banyak untuk mengendalikan- nya. Situasi dan kondisi tersebut dapat mempengaruhi kesimpulan hasil penelitian dan merupakan kelemahan penelitian.  Misalnya, jika penelitian dilakukan di sekolah, tentu ada faktor di luar sekolah yang tidak dapat dikendalikan oleh peneliti. Meskipun demikian tidak berarti hasil penelitian menjadi tidak berguna dan keterbatasan penelitian ini perlu dikemukakan agar pembaca dapat menyikapi temuan penelitian tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.          &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Membuat Definisi Istilah/Operasional           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap istilah yang unik, istilah yang mempunyai beberapa pengertian atau dapat diartikan ganda, yang berhubungan erat dengan konsep-konsep pokok dengan masalah yang diteliti atau variabel penelitian harus diberi definisi. Definisi istilah ini penting untuk menyamakan pengertian dan makna istilah yang dimaksud. Definisi istilah dapat berbentuk definisi operasional variabel yang diteliti dan dititikberatkan pada pengertian yang diberikan oleh peneliti. Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat-siat sesuatu yang didefinisikan yang dapat diamati dan diukur. Sehingga dari definisi operasional tersebut akan mengacu pada cara pengambilan data dan alat pengumpul data yang akan digunakan.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Penyusunan Rancangan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyusun rancangan penelitian mencakup pokok-pokok bahasan antara lain 1) menentukan metode/rancangan penelitian, 2) menentukan populasi dan sampel penelitian, 3) menentukan instrumen penelitian, 4) mengumpulkan data, dan 5) melaku-kan analisis data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan tujuan dan sifatnya, pada umumnya penelitian deskriptif meng-gunakan metode survey. Metode survey merupakan bagian dari studi deskriptif yang bertujuan untuk mencari kedudukan (status) fenomena (gejala) dan menentukan ke-samaan status dengan cara membandingkan dengan standar yang sudah ditentukan (Suharsimi: 1989). Lebih lanjut dijelaskan bahwa studi survey merupakan bagian dari studi deskriptif yang meliputi sebagai berikut. 1) School survey yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan efektifitas pendidikan. Masalahnya berhubungan dengan situasi belajar, proses belajar mengajar, personalia pendidikan, siswa dan hal-hal yang berkaitan dengan yang menunjang proses belajar mengajar. 2) Job analisis yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai tugas-tugas dan tanggung jawab karyawan, aktivitas khusus, keterlibatan dan fungsi anggota organisasi, kinerja dan fasilitas. 3) Analisis dokumen, sering disebut juga analisis isi analisis aktivitas atau analisis informasi. Kegiatannya antara lain menganalsis dokumen, peraturan, keputusan-keputusan dan buku. 4) Public opinion surveys bertujuan untuk mengetahui pendapat umum tentang sesuatu hal. 5) Community surveys  disebut juga social surveys atau field surveys yang bertujuan mencari informasi tentang aspek kehidupan secara luas dan mendalam yang menyangkut masyarakat dan sekolah. (Van Dalen: 1962).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Singarimbun (1987), penelitian survey dapat digunakan untuk maksud penjajagan (eksploratif), deskriptif, penjelasan (explanatory atau confirmatory), evaluasi, prediksi penelitian operasional dan pengembangan indikator-indikator sosial.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Menentukan Populasi dan Sampel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Populasi adalah keseluruhan subjek atau objek yang menjadi pusat perhatian penelitian. Populasi dapat berupa himpunan orang, benda, kejadian, gejala, kasus, waktu, tempat.  Populasi dapat berstatus sebagai objek penelitian jika populasi tersebut sebagai substansi yang diteliti. Populasi penelitian dapat berstatus sebagai sumber informasi. Dalam penelitian survey, orang atau sekelompok orang biasanya berfungsi sebagai sumber informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan dirinya atau fenomena yang berkaitan dengan dirinya. (Ibnu, Mukhadis dan Dasna: 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelibatan populasi dalam suatu penelitian merupakan suyatu yang ideal. Tetapi dalam suatu penelitian seringkali tidak dapat menjangkau populasi karena jumlahnya sangat besar. Dengan beberapa pertimbangan, memungkinkan penelitian populasi tidak perlu dilakukan. Pertimbangan tersebut adalah pertimbangan akademik, yaitu berlakunya inferensi statistik dan pertimbangan non akademik yaitu keterbatasan tenaga, waktu, biaya dukungan logistik dan kepraktisan. (Ibnu, Mukhadis dan Dasna: 2003). Maka penelitian dapat hanya menjangkau sebagian dari populasi.  Sebagian populasi tersebut adalah sampel. Sampel merupakan bagian dari populasi atau sejumlah anggota populasi yang mewakili populasinya. Karena sampel mewakili populasi maka sampel harus dipilih sesuai dengan karakteristik populasi tersebut. Sehingga sampel tersebut benar-benar representatif, artinya sampel tersebut mencerminkan keadaan populasi secara cermat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pengambilan sampel (sampling) dibedakan menjadi dua yaitu random sampling dan non-random sampling. Dalam random (acak) sampling, setiap individu anggota populasi mempunayi kesempatan (probabilitas) yang sama untuk menjadi sampel. Dalam non-random sampling, kesempatan setiap individu anggota populasi menjadi sampel tidak sama. Yang termasuk random sampling adalah simple random sampling (acak sederahana), systematic random sampling, stratified random sampling (acak stratifiasi atau bertingkat), cluster random sampling (acak rumpun atau kelompok) dan multistage random sampling (acak gabungan berbagai cara). Yang termasuk non-random sampling adalah sampling seenaknya, purposif sampling (sampling bertujuan), quota sampling..       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian deskriptif, sampel sebagai sumber data seringkali disebut responden, tergantung pada cara pengambilan data. Besarnya sampel tergantung dari homogenitas  karakteristik populasi. Semakin homogen karakteristik populasi, semakin sedikit sampel yang perlu diambil. Sebaliknya, semakin hiterogen karakteristik populasi, semakin besar sampel yang harus diambil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Menentukan Instrumen Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti. Instrumen atau alat pengumpul data harus sesuai dengan tujuan pengumpulan data. Sumber data dan jenis data yangakan dikumpulkan harus jelas. Instrumen penelitian yang digunakan harus memenuhi persyaratan validitas (kesahihan) dan reliabilitas (keterandalan), paling tidak ditinjau dari segi isinya sesuai dengan variabel yang diukur. Prosedur pengembangan instrumen pengumpul data perlu dijelaskan tentang proses uji coba, analisis butir tes, uji kesahihan dan uji keterandalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian deskriptif instrumen yang sering digunakan adalah angket (kuesioner), pedoman wawancara dan pedoman pengamatan. Jelaskan variabel dan faktor-faktor yang akan diukur, serta jenis data yang akan dikumpulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini disajikan pengembangan instrumen angket (kuesioner), pedoman wawancara dan pedoman pengamatan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angket atau kuesioner&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik angket adalah salah satu cara untuk mengumpulkan data atau informasi  siswa menggunakan serangkaian pertanyaan yang diajukan kepada siswa secara tertulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun angket sebagai berikut. Pertama, merumuskan tujuan yang diinginkan dari penggunaan angket sebagai alat pengumpul data siswa. Kedua, mengidentifikasi masalah yang menjadi materi angket dan dijabarkan ke dalam susunan kalimat-kalimat pertanyaan. Ketiga, susunan kalimat pertanyaan harus disesuaikan dengan kemampuan siswa. Menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti, jelas dan tidak bermakna ganda. Keempat, dituntut kreatifitas penyusun angket agar diperoleh obyektifitas jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik angket dibedakan menjadi dua, yaitu angket terstruktur dan angket tidak terstruktur. Angket terstruktur bersifat tegas, pertanyaan yang diajukan kepada siswa menuntut jawabab yang tegas dan jawaban relatif lebih singkat. Sedangkan angket tidak terstruktur, siswa diharapkan menguraikan jawaban secara lengkap leluasa dan terbuka. (Kirkendal, Gruber, dan Johnson: 1980).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan bentuk dan jenis pertanyaan, angket dibedakan menjadi tiga bentuk. Bentuk pertama adalah angket isian tertutup. Jawaban yang diharapkan sudah tertentu dan diarahkan oleh pembuat angket. Bentuk angket kedua adalah angket isian terbuka. Angket ini menghendaki jawaban yang lebih luas dan lengkap. Bentuk ketiga adalah angket dengan daftar cek. Siswa diminta menentukan jawaban yang sesuai dengan memberi tanda cek (Ö)  pada daftar yang telah tersedia. Bentuk keempat adalah angket pilihan ganda. Jawaban siswa terbatas pada alternatif jawaban yang telah direncanakan penyusun angket dengan cara memilih jawaban yang sesuai. (Suharsimi: 1989) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara (interview)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik wawancara adalah cara mengumpulkan data tentang siswa yang dilakukan dengan mengadakan percakapan antara pewawancara (guru) dengan siswa yang sedang dikumpulkan datanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan wawancara perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, pewawancara hendaknya dapat menciptakan hubungan yang baik dengan yang diwawancarai agar jawaban dan pendapatnya dapat dikemukakan secara terbuka, obyektif dan benar. Kedua, pewawancara perlumenciptakan situasi wawancara sedemikian rupa sehingga siswa yang sedang diwawancarai  tidak merasakan seperti diinterograsi. Ketiga, agar wawancara tidak menyimpang dari apa yang ingin diperoleh, terlebih dahulu perlu disusun materi wawancara sebagai pedoman bagi pewawancara. (Suharsimi: 1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan peranan yang dilakukan, teknik wawancara dibedakan menjadi tiga jenis. Pertama, wawancara berpedoman. Yaitu wawancara yang telah direncanakan menggunaka suatu pedoman wawncara, sehingga wawancara sesuai dengan tujuan. Kedua, wawancara terpusat, yaitu wawancara yang dilakukan terhadap siswa-siswa tertentu yang diharapkan dapat diperoleh informasi yang ber-kaitan dengan suatu obyek dan tujuan wawancara. Ketiga, wawancara berulang, biasanya dilakukan untuk mengungkap perkembangan proses sosial pada kurun waktu tertentu. (Suharsimi: 1989).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan jumlah orang yang diwawancarai dibedakan menjadi dua jenis. Pertama, wawancara dilakukan terhadap satu siswa. Biasanya wawancara ini untuk mengumpulkan informasi tentang masalah-masalah siswa yang bersifat pribadi. Kedua, wawancara yang dilakukan erhadap sekelompok siswa atau lebih dari satu siswa. Wawancara ini digunakan untuk mengumpulkan informasi dari sekelompok siswa. yang mempunyai masalah yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamatan (observasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik pengamatan atau observasi dilakukan dengan cara mengamati tingkah laku siswa atau obyek sedemikian rupa, diharapkan siswa atau obyek yang diamati tidak mengetahui bahwa dia sedang diamati. Dalam melakukan pengumpulan data  mengguna-kan teknik pengamatan ada beberapa yang perlu  diperhatikan. Pertama, tujuan yang yang ingin dicapai harus ditetapkan lebih dahulu. Kedua, kegiatan pengamatan direncanakan secara sistematis; mulai dari instrumen, pelaksanaan pengamatan, pencatatan sampai dengan pengolahan hasil. Ketiga, perlu diperhati-kan reliabilitas, validitas dan obyeltifitas instrumen. Keempat, meskipun teknik pengamatan bersifat kualitatif dan subyektif, diusahakan diperoleh hasil yang kuantitatif dan obyektif. (Suharsimi: 1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan tujuan dan cara pengamatan, dibedakan menjadi beberapa teknik pengamatan: Pertama, pengamatan partisipatif. Dalam pengamatan partisipatif ini, pengamat ikut terlibat dan mengambil bagia dalam kegiatan yang dilakukan siswa atau obyek yang diamati. Misalnya, seorang guru ingin mengetahui kesungguhan dan keaktifan siswa dalam suatu kegiatan belajar mengajar permainan  sepakbola; maka guru harus  ikut terlibat langsung dalam permainan sepakbola tersebut. Selain itu ada cara pengamatan kuasi-partisipatif, yaitu pengamat harus ikut terlibat langsung dalam kegiatan atau kadang-kadang hanya mengamati dari luar kegiatan saja. Kedua, pengamatan sistematis. Sebelum melakukan pengamatan, aspek-aspek yang akan diamati telah disusun dan diatur dalam suatu struktur pengamatan berdasarkan katagori masalah yang akan diamati. Aspek-aspek yang akan diamati dijabarkan dalam suatu instrumen pengamatan. Misalnya, pengamatan tentang kemampuan kerjasama dalam bermain bola voli. Maka dalam instrumen pengamat-an harus dijabarkan aspek-aspek tingkah laku pemain bola voli yang merupakan indikator kemampuan kerjasama dalam bermain. Ketiga, pengamatan eksperimental. Biasanya pengamatan eksperimental dilakukan untuk mengetahui gejala-gejala atau perubahan-perubahan sebagai akibat dari suatu situasi perlakuan eksperimen yang sengaja diadakan. Contoh: pengamatan tentang sportifitas dalam bermain bulutangkis jika tidak dipimpin oleh wasit. (Budiwanto: 2001) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Mengumpulkan Data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah instrumen penelitian diperoleh, selanjutna dilakukan pengumpulan data. Jelaskan langkah-langkah yang ditempuh dan teknik yang digunakan untuk mengpulkan data. Dalam proses mengumpulan data mungkin melibatkan petugas, maka harus dijelaskan kualifikasi dan jumlahnya. Petugas pengumpul data perlu dilakukan koordinasi dan penjelasan teknis pengumpulan data.  Kemudian tetapkan jadwal waktu pelaksanaan pengumpulan data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosedur yang dilakukan dalam proses pengumpulan data dibagi menjadi dua tahap, yaitutahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Tahap persiapan terdiri dari persiapan yang bersifat konseptual, teknis dan administratif. Tahap pelaksanaan pengumpulan data disesuaikan dengan teknik pengumpulan data yang digunakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Menganalisis Data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diperoleh data dari hasil pengumpulan data, tahap selanjutnya adalah . melakukan analisis data. Berdasarkan sifat data yang dikumpulkan, analisis data hasil penelitian dibedakan menjadi dua, yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisiskualitatif digunakan untuk data yang bersifat uraian kalimat yang tidak dapat diubah dalam bentuk angka-angka. Sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk data yang dapat diklasifikasi dalam katagori-katagori atau diubah dalam bentuk angka-angka. Analisis kuantitatif disebut juga analisis statistik. Analisis statistik dibedakan menjadi dua, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan sifat-sifat sampel atau populasi. (Budiwanto: 1999). Statistik inferensial digunakan untuk mengambil kesimpulan mengenai sifat-sifat populasi berdasarkan data dari sample.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian deskriptif kegiatan analisis data meliputi langkah-langkah mengolah data, menganalisis data dan menemukan hasil. Mengolah data adalah proses persiapan sebelum dilakukan analisis data, yaitu pencocokan (checking), pembenahan (editing), pemberian label (labeling) dan memberikan kode (coding). Kegiatan pen-cocokan adalah untuk mengetahui jumlah instrumen yang terkumpul sesuai dengan kebutuhan dan mengecek kelengkapan lembar instrumen. Kegiatan pembenahan meliputi mengecek kelengkapan pengisian data, keterbacaan tulisan, kejelasan makna jawaban, keajegan dan kesesuaian jawaban, relevansi jawaban, dan penggunaan satuan data. Kegiatanpemberian label adalah pemberian identitas secara spesifik terhadap instrumen yang masuk, meliputi jenis instrumen, identitas responden, stratifikasi, area atau kelompok. Kegiatan pemberian kode adalah mengklasifikasi jawaban responden menurut jenis dan sifatnya dengan cara memberi kode.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan selanjutnya adalah menganalisis data yang meliputi mengklasifikasi data, menyajikan data dan melakukan analisis statistik diskriptif atau prosentase. Data yang terkumpul  diklasifikasi menjadi dua kelompok data yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data yang bersifat kualitatif yaitu jawaban responden yang digambarkan menggunakan kata-kata atau kalimat. Data kualitatif ini selanjutnya dipisah-pisahkan menurut katagori yang digunakan untuk mengambil kesimpulan. Data yang bersifat kuantitatif berupa angka-angka dapat diproses dengan beberapa cara, antara lain menggunakan statistik deskriptif atau prosentase. Statistik deskriptif antara lain rata-rata hitung (mean), median dan modus. Kadang-kadang, setelah dianalisis persentase kemudian ditafsirkan dengan kata yang bersifat kualitatif, misalnya 86% --100% adalah baik sekali, 71% -- 85%  adalah baik, 56% --70% adalah sedang, 46% -- 55% adalah kurang, dan 46% ke bawah adalah kurang sekali. Teknik ini sering disebut teknik deskriptif  kualitatif dengan persentase. Berdasarkan analisis data tersebut kemudian divisualisasikan dalam bentuk tabel, grafik atau diagram secara jelas sebagi temuan hasil penelitian.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Rujukan &lt;br /&gt;Budiwanto, S., 1999. Statistika Deskriptif, Malang: Jurusan Ilmu Keolahragaan, FIP, Universitas Negeri Malang&lt;br /&gt;Ibnu, S., Mukhadis, A dan Dasna, I.W., 2003. Dasar-dasar Metodologi Penelitian, Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kirkendal, D.R., Gruber, J.J. and Johnson, R.E., 1980. Measurement and Evaluation for  Physical Educators, Dubuque: Wm. C. Brown Company Publishers   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singarimbun, M. dan Effendi, S. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suharsimi, A., 1989.  Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT.  Bina Aksara &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas, J.R. dan Nelson, J.K., 1990. Research Methods in Physical Activity, 2th edition, Illinois: Human Kinetics Books Publishers, Inc. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VanDalen, D.B., 1962. Understanding Educational Researh, An Introduction, New York: Mc. Graw-Hill Book Company, Inc.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zainuddin, M., 1988. Metodologi Penelitian, Surabaya: Fakultas Farmasi Universitas Airlangga.&lt;/span&gt;</description><link>http://quovadispendidikan.blogspot.com/2009/02/penelitian-pendidikan-salah-satu-sifat.html</link><author>noreply@blogger.com (MUNIR YUSUF)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-180733631219306484.post-1726441124775445270</guid><pubDate>Fri, 06 Feb 2009 02:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-05T18:56:21.797-08:00</atom:updated><title></title><description>&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;SEMUT DAN KEPOMPONG&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;Di suatu hutan yang rindang, hidup berbagai binatang buas dan jinak. Ada kelinci, burung, kucing, capung, kupu-kupu dan yang lainnya. Pada suatu hari, hutan dilanda badai yang sangat dahsyat. Angin bertiup sangat kencang, menerpa pohon dan daun-daun. Kraak&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;...&lt;/span&gt;terdengar bunyi dahan-dahan berpatahan. Banyak hewan yang tidak dapat menyelamatkan dirinya, kecuali si semut yang berlindung di dalam tanah. Badai baru berhenti ketika pagi menjelang. Matahari kembali bersinar hangatnya. &lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;Tiba-tiba dari dalam tanah muncul seekor semut. Si semut terlindung dari badai karena ia bisa masuk ke sarangnya di dalam tanah. Ketika sedang berjalan, ia melihat seekor kepompong yang tergeletak di dahan daun yang patah. Si semut bergumam,&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;Hmm, alangkah tidak enaknya menjadi kepompong, terkurung dan tidak bisa kemana-mana&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;Menjadi kepompong memang memalukan! &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;Coba lihat aku, bisa pergi ke mana saja ku mau&lt;/span&gt;, ejek semut pada kepompong. Semut terus mengulang perkataannya pada setiap hewan yang berhasil ditemuinya. &lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;Beberapa hari kemudian, semut berjalan di jalan yang berlumpur. Ia tidak menyadari kalau lumpur yang diinjaknya bisa menghisap dirinya semakin dalam.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;Aduh, sulit sekali berjalan di tempat becek seperti ini, &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;keluh semut. Semakin lama, si semut semakin tenggelam dalam lumpur. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;Tolong&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;tolong, &lt;/span&gt;teriak si semut. &lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;Wah, sepertinya kamu sedang kesulitan ya&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;? &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;Si semut terheran mendengar suara itu. Ia memandang kesekelilingnya mencari sumber suara. Dilihatnya seekor kupu-kupu yang indah terbang mendekatinya. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;Hai, semut aku adalah kepompong yang dahulu engkau ejek. Sekarang aku sudah menjadi kupu-kupu. Aku bisa pergi ke mana saja dengan sayapku. Lihat&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;... &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;sekarang kau tidak bisa berjalan di lumpur itu kan? &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;Yah, aku sadar&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;. Aku mohon maaf karena telah mengejekmu. Maukah kau menolongku sekarang&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;? &lt;/span&gt;kata si semut pada kupu-kupu. &lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;Akhirnya kupu-kupu menolong semut yang terjebak dalam lumpur penghisap. Tidak berapa lama, semut terbebas dari lumpur penghisap tersebut. Setelah terbebas, semut mengucapkan terima kasih pada kupu-kupu. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;Tidak apa-apa, memang sudah kewajiban kita untuk menolong yang sedang kesusahan bukan?, karenanya kamu jangan mengejek hewan lain lagi ya&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;...&lt;/span&gt;? Karena setiap makhluk pasti diberikan kelebihan dan kekurangan oleh yang Maha Pencipta. Sejak saat itu, semut dan kepompong menjadi sahabat karib. &lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;Moral &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffffff;&quot;&gt;: Sesama makhluk ciptaan Tuhan, janganlah saling mengejek dan menghina, karena siapa tahu yang dihina lebih baik kedudukannya daripada yang menghina. TAMAT&lt;/span&gt;</description><link>http://quovadispendidikan.blogspot.com/2009/02/semut-dan-kepompong-di-suatu-hutan-yang.html</link><author>noreply@blogger.com (MUNIR YUSUF)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-180733631219306484.post-1267045497518345116</guid><pubDate>Fri, 06 Feb 2009 01:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-05T18:39:06.806-08:00</atom:updated><title></title><description>PUASA SEHAT: BERBUKALAH DENGAN YANG MANIS, HINDARI ASAM DAN PEDAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak usia 4 tahun, anak bisa diajarkan berpuasa. Mulailah berpuasa setelah makan pagi sampai tengah hari. Di usia sekolah, barulah waktu berpuasanya diperpanjang secara bertahap hingga magrib. Namun, segera hentikan jika ia tampak sakit atau lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjalani puasa di bulan Ramadan merupakan kewajiban sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Dari segi kesehatan, ketika orang berpuasa, terjadi proses yang menyehatkan tubuh. Pasalnya, puasa membuang racun-racun (detoksifikasi) yang sudah menumpuk lama dalam tubuh. Pada akhirnya, puasa bersifat total dan holistik (menyeluruh). Artinya, bukan saja terjadi pencerahan jiwa dan pikiran karena patuh menjalankan perintah agama, tapi juga terjadi pembersihan yang menyangkut fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masa akil balig, setiap umat Islam wajib berpuasa sejak subuh hingga magrib selama sebulan penuh. Namun, tak demikian halnya pada anak balita. Menurut dr. Eva J. Soelaeman Sp.A, dari RSAB Harapan Kita, sejak usia 4 tahun anak boleh diajarkan berpuasa, tapi latihan berpuasa ini sebaiknya hanya sebentar saja. &quot;Secara medis, yang paling aman untuk anak balita adalah puasa setengah hari.&quot; Soalnya, anak balita tengah berada pada fase pertumbuhan. &quot;Banyak organ tubuhnya yang belum berkembang sempurna. Mereka masih membutuhkan asupan gizi yang lebih lengkap dan lebih banyak dari orang dewasa.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, cara kerja enzim-enzim dalam usus anak pun berbeda dari orang dewasa. &quot;Pada orang dewasa, puasa berguna untuk membersihkan perut dan mengistirahatkan usus. Sedangkan pada anak, usus justru harus bekerja terus untuk mengaktifkan enzim-enzim yang membantu pertumbuhan.&quot; Itulah sebabnya, pada anak-anak, yang penting adalah makan sedikit-sedikit tapi sering, termasuk juga minumnya harus sering karena kebutuhan cairannya banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BISA DEHIDRASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tidak semestinya memaksakan anak balita berpuasa sehari penuh. &quot;Ini bisa berbahaya!&quot; tukas Eva. &quot;Apalagi kalau si anak yang sudah lemas lalu muntah-muntah tapi tetap saja memaksakan puasa. Bisa saja itu sudah menandakan si anak mengalami dehidrasi,&quot; lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahaya lain, anak bisa kehilangan berat badannya (BB). Padahal di usia ini anak justru tak boleh kehilangan BB. &quot;Kalau BB-nya turun, puasa jangan diteruskan. Nanti malah bisa menyebabkan kesehatan anak terganggu.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balita gemuk pun, puasanya tak boleh seperti orang dewasa. Soalnya, anak gemuk membutuhkan cairan yang sangat banyak. &quot;Jadi, dia harus sering minum.&quot; Hal ini disebabkan, aktivitas anak masih tinggi. &quot;Enggak mungkin, kan, anak disuruh diam. Pasti dia akan tetap main. Nah, keringat yang keluar itu bisa memancing dehidrasi.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bila anak sudah merengek lapar, apalagi sampai berkeringat dingin dan tampak lemas, &quot;Ibu-ibu jangan ragu untuk menyetop puasa si kecil. Kalau dibiarkan, anak malah bisa syok dan dehidrasi.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsipnya, mengajari anak berpuasa itu penting. Namun harus pula diperhatikan sehat-tidaknya si kecil dalam menjalankan puasa. Untuk itu, sediakan makanan dan minuman yang tepat untuk bersahur dan berbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POLA MAKAN BIJAK SELAMA BERPUASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AGAR kondisi tubuh anak tetap prima selama berpuasa, maka makanannya harus mendapatkan perhatian ekstra. Inilah tip dari Eva menyangkut makanan untuk si buah hati yang tengah berpuasa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Menu makanan berbuka dan sahur untuk anak sama saja dengan menu orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Biasanya rasa lapar saat berpuasa dipicu oleh turunnya kadar gula dalam tubuh. Nah, saat berbuka anak perlu diberi konsumsi makanan yang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengandung gula, semisal teh manis hangat, kue-kue manis, serta beragam makanan manis lainnya. Minuman hangat lebih dianjurkan mengingat kondisi lambung yang sebelumnya kosong. Namun bukan berarti minuman dingin dilarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Gula mudah diserap dalam tubuh menjadi sumber energi, sehingga anak bisa segera fit kembali setelah mengonsumsinya. Aktivitas bermainnya maupun beribadah bersama orang tua bisa tetap dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Oleh karena gula bersifat mudah diserap, maka energi yang dihasilkan juga memiliki waktu yang relatif singkat. Pada malam hari, ada baiknya anak makan lagi sebelum tidur atau pada saat-saat senggang di waktu malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Untuk sahur, perbanyaklah makanan dari jenis protein dan lemak seperti daging, nasi, telur, ikan, dan lainnya. Makin besar lemak dan protein yang dikonsumsi saat sahur, otomatis cadangan energi yang dimiliki si buah hati juga lebih besar. Meski juga harus diingat, si kecil tak boleh makan sampai kekenyangan, karena dampaknya pun kurang baik. Lambungnya penuh dan perutnya terasa tak enak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Sifat lemak dan protein yang proses pembakaran energinya lebih lama ketimbang gula, menjadikan rasa lapar yang muncul juga waktunya lebih lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jenis makanan tambahan seperti vitamin atau susu juga tetap perlu diberikan. Apalagi saat berpuasa, anak tentu memerlukan energi yang lebih besar ketimbang saat hari-hari biasa. Hanya saja, hati-hati dalam memilih vitamin. Jangan sampai kita memberikan vitamin penambah nafsu makan, karena malah membuatnya jadi cepat lapar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jangan memberi makanan dan minuman yang merangsang selama berbuka puasa, karena akan mengganggu kerja lambung misalnya makanan yang asam, bersantan, atau pedas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Perbanyak juga konsumsi serat karena akan membantu melancarkan buang air besar (BAB). Kalau susah BAB, biasanya anak jadi malas ke kamar mandi padahal ini berbahaya karena kotoran di perut semakin menumpuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola pemberian makanan yang tepat tentu akan membantu si buah hati untuk berpuasa tanpa merasa cepat lapar. Sehingga baginya, berpuasa merupakan ibadah yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUASA MENCERDASKAN EMOSI  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN berpuasa, tambah Eva, anak pun belajar berdisiplin. &quot;Bukankah kita tak boleh sembarangan makan dan minum hingga tiba saat berbuka puasa?&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat penjelasan orang tua, tambahnya, anak juga dapat diajarkan mengendalikan diri. &quot;Temperamen anak itu, kan, adakalanya sulit dikendalikan. Nah, lewat puasa, anak dilatih untuk mampu menahan emosinya dan tak boleh gampang mengumbar ngambek-nya.&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, karena puasa belum merupakan kewajiban bagi anak balita, Eva menyarankan agar orang tua tak mengaitkannya dengan pahala dan dosa. &quot;Anak-anak belum mengerti hal-hal yang sifatnya abstrak, seperti apa itu dosa, pahala, surga dan lain-lain. Sebaiknya pengenalan puasa jangan dilihat dari sisi itu, tapi lebih untuk mengembangkan moral etika. Orang tua bisa memberi contoh dan menjelaskan realitas lain di luar lingkungan anak, bahwa ada orang yang kekurangan dan enggak bisa makan. Nah, anak diajak untuk berempati pada penderitaan orang.&quot; &lt;br /&gt;Selain itu, bulan puasa adalah juga bulan untuk banyak berbagi/beramal. &quot;Nah, selama bulan puasa, anak dapat diajak untuk berderma kepada kaum fakir miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santi Hartono. Foto: Iman/nakita</description><link>http://quovadispendidikan.blogspot.com/2009/02/puasa-sehat-berbukalah-dengan-yang.html</link><author>noreply@blogger.com (MUNIR YUSUF)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-180733631219306484.post-8885061468196316143</guid><pubDate>Thu, 05 Feb 2009 05:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-05T09:11:03.755-08:00</atom:updated><title></title><description>&lt;p&gt;Assalamu alaikum Wr.Wb.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Quo Vadis Pendidikan??&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebuah pertanyaan besar terhadap perjalanan pendidikan bangsa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;termasuk kepada anda.. anda dan semua yang anda anda yang ada di sana&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengapa anda diam???&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apakah anda juga bingung????&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jangan bingung!!, segera berbuat untuk pendidikan..&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://quovadispendidikan.blogspot.com/2009/02/assalamu-alaikum-wr.html</link><author>noreply@blogger.com (MUNIR YUSUF)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>