<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Jurnal Manajemen, Bahan Kuliah Manajemen</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/JurnalManajemenManajemenSumberDayaManusiaBahanKuliah" /><description>Jurnal Manajemen, Jurnal Manajemen SDM, Jurnal International, Bahan Kuliah Manajemen, Bahan Skripsi, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Keuangan, Manajemen Pemasaran, Kepemimpinan</description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (admin)</managingEditor><lastBuildDate>Wed, 29 May 2013 01:17:54 PDT</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">258</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="jurnalmanajemenmanajemensumberdayamanusiabahankuliah" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Jurnal Manajemen, Jurnal Manajemen SDM, Jurnal International, Bahan Kuliah Manajemen, Bahan Skripsi, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Keuangan, Manajemen Pemasaran, Kepemimpinan</itunes:subtitle><item><title>Cara Mudah Untuk Meningkatkan Komitmen Karyawan</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2013/02/cara-mudah-untuk-meningkatkan-komitmen.html</link><category>Manajemen Sumber Daya Manusia</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Sun, 10 Feb 2013 23:32:26 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-4698223409838235264</guid><description>Komitmen pada organisasi merupakan suatu keadaan dimana seorang karyawan memihak pada suatu organisasi dan tujuan-tujuannya, serta berniat memelihara keanggotaan dalam organisasi itu. (Robbins,2001:140)&lt;br /&gt;
Mengingat betapa pentingnya suatu komitmen dalam berorganisasi maka tidaklah berlebihan jika &lt;a href="http:///"&gt;komitmen tersebut harus dibangun&lt;/a&gt; dipelihara dan ditingkatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memperkuat &lt;a href="http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/07/komitmen-karyawan-definisi-dan-jenis.html"&gt;komitmen Karyawan dalam suatu organisasi&lt;/a&gt; dapat dilakukan dua cara yaitu dengan mengurangi tuntutan kerja karyawan dan meningkatkan kemampuan karyawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Mengurangi Tuntutan Karyawan :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Menentukan Prioritas yang bertujuan mengurangi tuntutan kerja karyawan dengan melakukan aktivitas yang berguna dan menunda atau menghilangkan aktivitas yang tidak berguna.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt; Menetapkan fokus, tuntutan karyawan dapat terlalu tinggi karena tidak terpusatkan, sebuah perusahaan dapat melakukan dengan menerapkan beberapa aktivitas yang sangat penting saja. Dalam hal ini fokus dengan menentukan tema bagi aktivitas perusahannya&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Melakukan rekayasa, rekayasa proses produksi dapat mengurangi tuntutan kerja karyawan, rekayasa tersebut dapat berupa memperpendek jalur, otomatisasi, dan penyederhanaan kerja.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Meningkatkan Kemampuan Karyawan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt; Kontrol adalah memberikan karyawan kewenangan untuk mengontrol keputusan mengenai bagaimana mengerjakan pekerjaan mereka&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Strategi atau visi yaitu menawarkan kepada karyawan visi dan arahan yang membuat mereka memiliki komitmen untuk berkerja keras.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tantangan kerja yaitu memberi karyawan stimulasi kerja yang dapat mengembangkan ketrampilan baru&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kolaborsi dan team work adalah membentuk tim untuk melakukan pekerjaan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kultur kerja yaitu membangun suatu lingkungan dan susana keterbukaan,menarik, menyenangkan dan penuh penghargaan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt; Membagi keuntungan adalah memberikan kompensasi kepada karyawan karena menyelesaikan pekerjaan dengan baik&lt;/li&gt;
&lt;li&gt; Komunikasi yaitu menyebarkan informasi sesering mungkin dan secara terbuka&lt;/li&gt;
&lt;li&gt; Perhatian adalah memastikan bahwa setiap karyawan diperlakukakn sesuai martabatnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Teknologi yaitu memberikan karyawan teknologi yang membuat pekerjaan mereka menjadi lebih mudah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt; Pelatihan dan pengembangan adalah memastikan karyawan memiliki keterampilam untuk mengerjakan pekerjaan mereka dengan baik&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-02-10T23:32:26.301-08:00</app:edited></item><item><title>PENGETAHUAN MENU : Fungsi, Struktur dan Jenis Menu</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2013/02/pengetahuan-menu-fungsi-truktur-dan.html</link><category>Pengantar Industri Pariwisata</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Thu, 07 Feb 2013 21:33:14 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-4136732744520142087</guid><description>&lt;b&gt;PENGETAHUAN MENU&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menu berasal dari bahasa Prancis “Le Menu” yang bebarti daftar makanan yang disajikan kepada tamu di ruang makan. Dalam lingkungan rumah tangga, menu diartikan sebagai susunan makanan/hidangan tertentu. Oleh orang Inggris menu disebut juga “Bill of Fare”. Menu adalah pedoman bagi yang menyiapkan makanan/hidangan, bahkan merupakan penuntun bagi mereka yang menikmatinya karena akan tergambar tentang apa dan bagaimana makanan tersebut dibuat. Menurut Pellapart seorang ahli gastronomi yang sangat terkenal, perkataan menu dikenal untuk pertama kalinya pada tahun 1541, ketika Dukeof Brunsick menuliskan segala sesuatunya yang akan dihidangkan dalam sebuah pesta yang dilaksanakannya.&lt;br /&gt;
Perkataan menu didalam pemakaiannya mengalami perkembangan, terutama setelah revolusi Prancis, sehingga menu merupakan suatu mode yang harus dan pasti ada pada setiap jamua makan.&lt;br /&gt;
Pada saat ini perkembangan dan bentuk-bentuk menu sangat menarik sehingga salah satu alat promosi dan sering diambil oleh para tamu sebagai kenang-kenangan. Sehingga didalam pembuatan menu/daftar makanan ini memerlukan biaya yang cukup besar sehingga mempengaruhi terhadap harga hidangan. Didalam praktek, menu berperan juga sebagai alat promosi yang efektif bagi restaurant tersebut. Oleh karena itu susunan menu memegang susunan yang cukup penting dalam menunjang keberhasilan usaha, maka harus dibuat secara menarik dan tepat. Untuk itu diperlukan pengetahuan dasar sebagai bahan penunjang dalam rangka menyusun menu, seperti pengetahuan tentang tipe, struktur/kerangka, karakter, komposisi, design dan penulisan menu.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
FUNGSI MENU&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dari uraian diatas maka dapat ditarik suatu kesimpulan, bahwa fungsi menu itu sangat tergantung pada yang menggunakan menu tersebut, sehingga dapat diuraikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Fungsi menu bagi perusahaan adalah :&lt;br /&gt;
a. Sebagai media komunikasi antara pihak tamu dengan pihak perusahaan dengan mencantumkan nama makanan dengan jelas dan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh tamu.&lt;br /&gt;
b.Sebagai media promosi dengan mencantumkan :&lt;br /&gt;
-Fasilitas yang ada di hotel, adalah semua fasilitas yang ada seperti : restaurant, tempat olah raga, tempat berenang dan rekreasi bisa dipromosikan baik berupa gambar maupun tulisan.&lt;br /&gt;
-Makanan daerah dan favorit dan special&lt;br /&gt;
-Mempromosikan perusahaan luar seperti : bir bintang, rokok, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.Fungsi menu sebagai pedoman kerja bagi :&lt;br /&gt;
a.Dapur yaitu :&lt;br /&gt;
-Menentuksn bahan makanan yang diperlukan&lt;br /&gt;
-Menentukan jumlah alat&lt;br /&gt;
-Menentukan jumlah personalia&lt;br /&gt;
b.Restaurant yaitu :&lt;br /&gt;
-Menentukan table set-up&lt;br /&gt;
-Menentukan jumlah dan jenis alat makan (cutleries)&lt;br /&gt;
-Menentukan jumlah personalia&lt;br /&gt;
c.Steward yaitu :&lt;br /&gt;
-Menyiapkan alat-alat yang diperlukan seperti : cutleries, chapping, dish, platter dan lain-lain&lt;br /&gt;
d.Tamu yaitu :&lt;br /&gt;
-Sebagai alat atau media penuntun dalam menentukan pilihan&lt;br /&gt;
-Sebagai pedoman dalam kemampuan untuk membeli makanan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;STRUKTUR MENU&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tiap negara memiliki cara-cara tersendiri dalam menyusun menu, tetapi pada dasarnya adalah sama. Mereka mengenal makanan ringan yang dinikmati sebagai hidangan pembuka/penarik selera, dan juga terdapat makanan yang digolongkan ke dalam sop, makanan pokok, manisan yang digolongkan sebagai makanan penutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuk dan susunannya berubah dari tahun ke tahun sesuai dengan perubahan tingkat hidup suatu bangsa sehingga dikenal dengan adanya menu klasik dan menu modern.&lt;br /&gt;
Pada bentuk menu klasik, susunan hidangan terdiri dari tidak kurang dari empat belas jenis hidangan, sehingga memerlukan persiapan dan pengerjaan yang teliti dan sukar. Pada dewasa ini bentuk menu klasik masih dipergunakan, tetapi jenis hidangannya lebih terbatas, terdiri dari tujuh sampai delapan jenis hidangan terutama di dalam pesta perjamuan kenegaraan (state lunheon/dinner).&lt;br /&gt;
Sedang bentuk yang kedua berkembang di Amerika Serikat, dan dikebal sebagai menu modern yang banyak dipakai di hotel-hotel besar pada “chain” yang besar seperti Holiday Inn, Inter Continental, Hilton, Sheraton dan lain-lain. Sesuai dengan kesibukan dan keterbatasan waktu yang dimiliki orang-orang jaman sekarang, maka jenis hidangan yang dinikmati terdiri dari empat sampai lima macam hidangan.&lt;br /&gt;
1. Kerangka Menu Klasik&lt;br /&gt;
- Hors-D’oeuvre (Froid) -Appetizer (cold)&lt;br /&gt;
(chad)  (hot)&lt;br /&gt;
- Potage         - Soup&lt;br /&gt;
- Poisson         - Fish&lt;br /&gt;
-Oenfs/farineux  - Eggs/Farinaceous&lt;br /&gt;
- Entree (freod) - Entre (cold)&lt;br /&gt;
(chaud)  (hot)&lt;br /&gt;
- Relive  - Main Course&lt;br /&gt;
- Sorbet  - Sherbet&lt;br /&gt;
- Roti  - Roast&lt;br /&gt;
- Legume  - Vegetables&lt;br /&gt;
- Sapoureuk  - Sweet&lt;br /&gt;
- From age  - Cheese&lt;br /&gt;
- Dessert  - Dessert&lt;br /&gt;
- Cafe/teh  - Coffee/tea &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Kerangka Menu Modern&lt;br /&gt;
Yang pada umumnya terdiri dari tiga sampai lima jenis hidangan&lt;br /&gt;
a. Tiga jenis Hidangan&lt;br /&gt;
- Soup  - Appotizer&lt;br /&gt;
- Main Course OR - Main Course&lt;br /&gt;
- Dessert  - Dessert&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Empat jenis Hidangan&lt;br /&gt;
- Appetizer  - Soup (cold)&lt;br /&gt;
- Soup (hot) OR - Appetizer (hot)&lt;br /&gt;
- Main Course  - Main Course&lt;br /&gt;
- Dessert   - Dessert&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Lima jenis Hidangan&lt;br /&gt;
- Appetizer (cold)  - Appetizer (cold)&lt;br /&gt;
- Soup (cold)  - Soup (hot)&lt;br /&gt;
- Appetizer (hot) OR - Entrée/fish/fariconaous/eggs&lt;br /&gt;
- Main Course  - Main Course&lt;br /&gt;
- Dessert   - Dessert&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat kedua contoh diatas, ternyata menu modern marupakan suatu bentuk penyederhanaan dari menu klasik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;JENIS MENU&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Adalah merupakan jenis hidangan yang ditawarkan kepada tamu, yang datang, baik yang datang perorangan maupun yang datang secara rombongan (bergroup).&lt;br /&gt;
Kita mengenal beberapa jenis menu berdasarkan :&lt;br /&gt;
1. Bentuk penawaran, yaitu dilihat dari sisi bagaimana menu itu disusun dan ditawarkan kepada tamu yang menyangkut harga.&lt;br /&gt;
Berdasarkan bentuk penawaran ini, maka menu dapat diklasifikasikan menjadi :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;a. A la carte menu :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Adalah suatu daftar makanan yang mencantumkan berbagai jenis makanan dari appetizer atau makanan pembuka sampai dengan makanan penutup dimana masing-masing makanan tersebut memiliki harga tersendiri.&lt;br /&gt;
Ini berarti tamu memiliki kesempatan untuk memilih makanan sesuai dengan seleranya dan kemampuan untuk membayar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;b. Table D’hote Menu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Adalah daftar makanan yang membentuk atau tersusun dalam satu set makanan dengan satu harga yang pasti.&lt;br /&gt;
Table d’hote menu ini dapat terdiri dari 2 coursis, 3 coursis maupun 4 coursis.&lt;br /&gt;
Ini berarti dalam table d’hote menu ini tidak adanya banyak pilihan bagi tamu dan biasanya menu semacam ini akan banyak dihidangkan dalam melayani tamu group, karena akan lebih mudah mempersiapkan dan melayaninya.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Contoh : &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Lumpia Asem Manis&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Soto Ayam Madura&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Ayam Kalasan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Nasi Putih&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Sayur Kacang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Buah Segar&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Rp. 8.500,00&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;c. Special Party Menu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menu untuk banquet dan perayaan sejenis biasanya dibuat setelah diadakan persetujuan antara si pemesan dan pihak hotel. Setelah melalui pembicaraan dengan banquet manager atau lain yang ditunjuk untuk itu, dibuatlah susunan menu.&lt;br /&gt;
Disini bisa diberikan adanya dua kemungkinan, pertama harganya ditetapkan oleh pemesan dan menu disusun pihak hotel atau kemungkinan kedua susunan menu diberikan si pemesan dan harga ditentukan oleh pihak penyelenggara dalam hal ini adalah pihak hotel.&lt;br /&gt;
Dengan sendirinya tidak tiap pesanan dapat dilayani oleh pihak hotel, meskipun harganya telah disepakati oleh kedua belah pihak karena si penyelenggara harus mempertimbangkan juga beberapa hal demu lancarnya perayaan tersebut, seperti kemampuan dari staff restoran dan dapur serta daya tampung restoran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa jenis “Special Party Menu”, sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Jamuan Cocktail (Cocktail Party)&lt;br /&gt;
Perayaan ini biasanya mengambil waktu antara makan siang dan makan malam, dimana undangan dibuat untuk beberapa alasan seperti pembukaan gedung baru, pembukaan kantor-kantor cabang, konferensi pers, olah raga, politik, pameran dan lain-lain.&lt;br /&gt;
Makanan yang dihidangkan harus sesuai dengan bentuk perayaan itu sendiri, yaitu makanan/minuman yang ringan, seperti kue-kue kecil, emping, kacang canapé, sandwich, relish, currypuffe, chips, fritters dan lain-lain.&lt;br /&gt;
Makanan yang kecil dingin maupun yang panas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Jamuan Promosi (Business Lunch)&lt;br /&gt;
Susunan menu harus dibuat dari makanan yang ringan dan mudah dicerna, sehingga tidak menyebabkan kelelahan. Yang harus diperhatikan adalah nilai-nilai nutritive, kwalutas dan rasa makanan yang dihidangkan.&lt;br /&gt;
Contoh :&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Smoked Salmon&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Clear oxtail soup&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Veal steak mushroom sauce&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Buttered noodles&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Assorted salad a&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Fresh fruits&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
3. Rombongan Tourist&lt;br /&gt;
Menu disusun berdasarkan group yang bagaimana yang akan datang, apakah tourist itu datang dari daerah lain ataupun negeri lain atau rombongan tersebut terdiri dari wanita/pria atau anak-anak muda/orang-orang umur.&lt;br /&gt;
Memang betul, bahwa orang-orang tersebut ingin melihat kebudayaan dan mencicipi makanan setempat, tetapi harus pula dihindari adanya makanan yang terlampau banyak bumbu-bumbu yang asing, makanan yang kurang baik bentuk maupun warnanya dan tentunya juga kebiasaan bersantap.&lt;br /&gt;
Untuk menghindari hal tersebut biasanya untuk rombongan tourist menunya disusun berdasarkan kombinasi dari makanan daerah dan makanan aslinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Jamuan Kenegaraan (State Banquet)&lt;br /&gt;
Menu disini dapat berupa menu yang sederhana sampai yang paling mewah, karena ini merupakan jamuan kehormatan sehingga segala sesuatunya harus disusun dan dikerjakan dengn teliti.&lt;br /&gt;
Tamu dihidangkan apa yang paling baik dan merupakan suatu yang khusus dari negeri kita.&lt;br /&gt;
Di bawah ini dua contoh menu diperoleh dari istana negara untuk beberapa tamu-tamu negara.&lt;br /&gt;
Contoh 1 :&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
MENU&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Galantine of Ducking&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Soto Madura&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Tourneded of beef “Apphitrion”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Corn Fritters&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Roasst new Lembang Potatoes&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Buttered Baby Corrosst&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Sauted Champagnous&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Tossed Bandung Greens&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Sari Sirsak&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Mocca&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
*&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Little Pompadours&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
2. Jenis menu berdasarkan waktu penghidangan (Bentuk hidangan) maka akan dikenal :&lt;br /&gt;
a. Hidangan makan pagi (Breakfast)&lt;br /&gt;
b. Hidangan makan siang (Lunch)&lt;br /&gt;
c. Hidangan makan malam (Dinner)&lt;br /&gt;
d. Hidangan makan tengah malam (Supper)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Hidangan Makan Pagi (Breakfast)&lt;br /&gt;
Hidangan ini biasanya disajikan antara jam 06.00 sampai 10.00 pagi, dengan susunan beraneka ragam dari yang paling sederhana sampai yang lengkap.&lt;br /&gt;
Oleh karena itu ada beberapa macam hidangan makan pagi yaitu :&lt;br /&gt;
a) Continental Breakfast, yang terdiri dari tiga macam makanan yaitu :&lt;br /&gt;
- Bermacam-macam jus (sari buah) atau buah-buahan&lt;br /&gt;
- Bermacam-macam roti&lt;br /&gt;
(Toast, Croisants, Danish postry) dengan dihidangkan mentega, sele dan marmalade&lt;br /&gt;
b. American Breakfast, yang terdiri dari :&lt;br /&gt;
- Bermacam-macam buah dan jus&lt;br /&gt;
- Roti (Toast, Croissants, Danish, Pastry) dihidangkan dengan jam, butter, dan marmalade&lt;br /&gt;
- Bermacam-macam telor seperti :&lt;br /&gt;
Poached, Fried, Boiled, Scramble, dan Omelet dengan dihidangkan Sausage, Ham, Bacon&lt;br /&gt;
- Kopi, Teh, Susu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. English Breakfast, yang terdiri dari :&lt;br /&gt;
- Bermacam-macam jus dan buah&lt;br /&gt;
- Cereal seperti : oat meal, Corn flake, Rice Crispiest, yang disajikan dengan susu&lt;br /&gt;
- Roti (Toast, Croissant, Danish, Pastry) dihidangkan dengan butter, jam dan marmalade&lt;br /&gt;
- Kopi, Teh, Susu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d. Indonesia Braekfast yang terdiri dari :&lt;br /&gt;
- Bermacam-macam jus dan buah&lt;br /&gt;
- Nasi goreng, Bubur Ayam, Soto, dan sebagainya&lt;br /&gt;
- Kopi, tea, susu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Hidangan Makanan Siang (Lunch)&lt;br /&gt;
Hidangan ini biasanya disajikan dari jam 11.00 sampai jam 15.00 siang. Susunan hidangan ini terdiri dari :&lt;br /&gt;
- Makanan Pembuka&lt;br /&gt;
- Soup&lt;br /&gt;
- Makanan Utama (Main Course)&lt;br /&gt;
- Makanan Penutup (Dessert)&lt;br /&gt;
Makanan Pembuka (Appetizer)&lt;br /&gt;
Adalah hidangan dengan rasa dominan kecut dan disajikan dalam porsi kecil. Hidangan appetizer ini biasanya dapat menggunakan atau menimbulkan selera makan.&lt;br /&gt;
Adapun bahan yang digunakan dalam membuat appetizer ini adalah :&lt;br /&gt;
a. Jenis-jenis buah, seperti : nanas, apel dan sebagainya&lt;br /&gt;
b. Jenis-jenis sayur, seperti : buncis, kentang, wortel, daun selada, union, tomat dan lin-lain&lt;br /&gt;
c. Jenis-jenis daging seperti : chiken, fish/ikan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahan-bahan di atas itu akan dicampur atau dihidang kan dengan saus seperti :&lt;br /&gt;
- Cocktail sauce&lt;br /&gt;
- Mayonnaise sauce&lt;br /&gt;
- Tartar sauce&lt;br /&gt;
- Thousand island sauce&lt;br /&gt;
- American sauce&lt;br /&gt;
- Blue chesses sauce&lt;br /&gt;
- Vinaigrette sauce dan sebagainya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh :&lt;br /&gt;
- Sea food cocktail&lt;br /&gt;
- Chicken salad Hawaiian&lt;br /&gt;
- Lumpia Asem manis&lt;br /&gt;
- Egg mayonnaise Russian salad&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soup&lt;br /&gt;
Adalah hidangan yang lebih banyak mengandung air atau hidangan yang encer.&lt;br /&gt;
Hidangan ini bahan dasarnya adalah kalsu seperti : kaldu ayam, ikan, sapi dan sebagainya dan dicampur dengan bahan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jenis-jenis soup&lt;br /&gt;
Ada dikenal tiga jenis soup yaitu :&lt;br /&gt;
1. Soup kental (thick soup)&lt;br /&gt;
2. Soup encer / bening (clear soup)&lt;br /&gt;
3. Soup yang terdapat dalam daerah (National soup)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Soup Kental (Thick Soup)&lt;br /&gt;
Adalah soup dimanan teksturnya agak kental dan dapat dibagi menjadi :&lt;br /&gt;
a. Soup yang dikentalkan oleh bahannya sendiri (puree soup)&lt;br /&gt;
Contoh :&lt;br /&gt;
- Puree of chicken soup&lt;br /&gt;
- Puree of permentiere&lt;br /&gt;
b. Soup yang dikentalkan oleh craem dan tepung&lt;br /&gt;
Contoh :&lt;br /&gt;
- Cream of chicken soup&lt;br /&gt;
- Cream of tomato soup&lt;br /&gt;
2. Soup Encer atau Bening (Clear Soup)&lt;br /&gt;
Adalah suatu soup yang dihidangkan dimana di dalamnya tidak terdapat zat pengental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh :&lt;br /&gt;
- Consomme soup&lt;br /&gt;
- Soup ikan laut&lt;br /&gt;
3. National Soup&lt;br /&gt;
Adalah soup yang terdapat dalam suatu daerah atau negara.&lt;br /&gt;
Contoh :&lt;br /&gt;
- Soup buntut dari Indonesia&lt;br /&gt;
- Soto ayam Madura&lt;br /&gt;
- Laksa soup dari Malaysia&lt;br /&gt;
- Honggarian Goulas soup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidangan Makanan Utama (Main Course)&lt;br /&gt;
Adalah makanan yang dihidangkan sebagai makanan pokok pada tamu.&lt;br /&gt;
Makanan pokok ini terdiri dari :&lt;br /&gt;
- Vegetarian (sayuran)&lt;br /&gt;
- Nasi atau kentang&lt;br /&gt;
- Daging seperti beef, ikan, ayam, dan sebagainya&lt;br /&gt;
- Saus&lt;br /&gt;
Disamping itu juga makanan pokok ini bisa berupa jenis-jenis pasta seperti : Spaghetti, Pizza, Macaroni, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
Contoh :&lt;br /&gt;
- Fillet Steak Mitered’ hotel&lt;br /&gt;
- Spaghetti Bolognaise&lt;br /&gt;
- Pizza Napolitaine&lt;br /&gt;
- Chicken Sauted Chasseur&lt;br /&gt;
- Fillet Fish Mineure&lt;br /&gt;
Makanan Penutup (Dessert)&lt;br /&gt;
Adalah berbagai jenis makanan yang dihidangkan pada akhir acara makan atau makanan yang dihidangkan terakhir.&lt;br /&gt;
Makanan ini digunakan sebagai makanan penutup dan dapat berupa :&lt;br /&gt;
- Buah-buahan&lt;br /&gt;
- Roti atau cake&lt;br /&gt;
- Es krim (Ice Cram)&lt;br /&gt;
Sehingga rasanya makanan penutup ini dominan rasa manis.&lt;br /&gt;
Contoh :&lt;br /&gt;
- Sliced Fresh Fruit&lt;br /&gt;
- Fruit Cocktail&lt;br /&gt;
- Vanilla Ice Cream&lt;br /&gt;
- Banana split&lt;br /&gt;
- Cendol, dan lain-lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Hidangan Makan Malam ( Dinner)&lt;br /&gt;
Adalah susunan menu yang dihidangkan pada malam hari. Pada dasarnya sama dengan hidangan siang hari. Yaitu terdapatnya appetizer, soup, main course, dan dessert.&lt;br /&gt;
Yang membedakan adalah komposisi berat dimana untuk lunch menu lebih berat dibandingkan dengan Dinner menu. Karena siang hari kita akan lebih banyak melakukan aktifitas/bekerja. Sedangkan malam hari kita akan beristirahat/tidur. Dan malam hari biasanya di tambah dengan beberapa makanan yang dibakar (flambee)&lt;br /&gt;
d. Hidangan Makan Tengah Malam&lt;br /&gt;
Adalah hidangan yang disajikan pada waktu tengah malam yaitu antara jam 23.00 sampai dengan jam 02.00 pagi.&lt;br /&gt;
Menu ini dihidangkan kepada tamu yang datang ke restaurant pada waktu tengah malam, baik bagi tamu yang tidak bisa tidur maupun yang ingin menikmati suasana malam.&lt;br /&gt;
Mereka akan memesan makanan.&lt;br /&gt;
Menu yang ditawarkan jumlahnya sangat terbatas, dalam arti tidak selengkap menu lunch dan dinner. Ini disebab kan karena secara umum tamu yang makan tengah malam (supper) tidaklah banyak dan juga jumlah staff yang ada sedikit baik untuk di restaurant maupun untuk di dapur. Sehingga menu itu bersifat sederhana dan dilengkapi dengan bermacam-macam minuman. Sehingga tidak sakit bagi waiter dan cook yang bertugas malam hari untuk melayani tamu yang datang.&lt;br /&gt;
Contoh :&lt;br /&gt;
- Terdapatnya banyak cake (jajan)&lt;br /&gt;
- Terdapatnya kopi, teh&lt;br /&gt;
- Terdapatnya bermacam sandwich, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
Disamping keempat hidangan tersebut, dikenal juga hidangan :&lt;br /&gt;
- Brunch menu, terdiri dari hidangan makan pagi dan siang&lt;br /&gt;
- Gala dinner menu&lt;br /&gt;
Adalah perjamuan yang disajikan selama peristiwa tertentu seperti tahun baru, perjamuan khusus&lt;br /&gt;
- Vegetarian Meal&lt;br /&gt;
Adalah hidangan ini tidak mengandung daging atau ikan, tapi terdiri dari keju, telor ayam, sayur-sayuran, buah-buahan dan bubur-buburan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
E   Sifat Menu&lt;br /&gt;
Pada dasarnya penyusunan menu perlu divariasikan seiiring dengan tuntutan selera konsumen/tamu, yang selalu menginginkan menu yang tidak monoton.&lt;br /&gt;
Untuk merubah menu harus dipertimbangkan factor-faktor seperti selera mayoritas, tersedianya bahan baku di pasaran, peralatan, keahlian juru masak dan lain-lain. Dilihat bagaimana cara menu itu dirubah, dapat kita bagi menjadi dua sifat yaitu static menu dan cycle menu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Statik Menu&lt;br /&gt;
Penggantian dilakukan setiap 6 bulan sekali dan biasanya menu telah disusun dari berbagai macam pilihan sehingga mampu bertahan sampai 6 bulan, bahkan lebih.&lt;br /&gt;
Contoh :&lt;br /&gt;
- Alacarte menu&lt;br /&gt;
- Table d’hote menu&lt;br /&gt;
2. Cycle Menu&lt;br /&gt;
Perubahan dan pergantiannya satu minggu sekali atau tiap hari berubah. Dan biasanya hanya terdiri dari satu atau dua macam pilihan (pilihan terbatas).&lt;br /&gt;
Contoh : Special to day menu.</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-02-07T21:33:14.644-08:00</app:edited></item><item><title>Manajemen Operasional : Definisi dan Faktor yang mempengaruhi Manajemen Operasional</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2013/02/manajemen-operasional-definisi-dan.html</link><category>Manajemen Operasional</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Thu, 07 Feb 2013 21:33:33 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-5562987827109689060</guid><description>Definisi Manajemen Operasional&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud Operasi adalah suatu aktivitas dalam mentransformasikan input – input menjadi output – output yang dapat menambah nilai pada barang atau jasa.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Menurut Anoraga(2009) &lt;a href="http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/11/teori-pengantar-manajemen-fungsi-fungsi.html"&gt;Manajemen&lt;/a&gt; operasional adalah&lt;/b&gt; seluruh aktivitas untuk mengatur dan mengkoordinir faktor – faktor produksi secara efektif dan efisien untuk dapat menciptakan dan menambah nilai dan benefit dari produk (barang atau jasa) yang dihasilkan oleh sebuah organisasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Render dan Heizer (2005 : 2)mendefinisikan Manajemen Operasional adalah&lt;/b&gt; Serangkaian kegiatan yang membuat barang dan jasa melalui perubahan dari masukan dan keluaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Russel and Taylor (2002) dalam Murdifin Haming (2003 : 17)mendefinisikan Manajemen Operasional adalah&lt;/b&gt; Fungsi atau sistem yang melakukan kegiatan proses pengolahan masukan keluaran dengan nilai tambah yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Menurut Eddy Herjanto (2007) Manajemen operasi adalah&lt;/b&gt; suatu kegiatan yang berhubungan dengan pembuatan barang, jasa, dan kombinasinya, melalui proses transformasi dari sumber daya produksi menjadi keluaran yang diinginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Suryadi Prawirosentono (2001) mendefinisikan Manajemen produksi (operasi) adalah&lt;/b&gt; perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan dari urutan berbagai kegiatan untuk membuat barang (produk) yang berasal dari bahan baku dan bahan penolong lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Agus Ahyari mengartikan Manajemen operasi merupakan&lt;/b&gt; proses kegiatan untuk mengadakan perencanaan,&lt;a href="http://jurnal-sdm.blogspot.com/2013/01/teori-pengorganisasian-dalam-fungsi.html"&gt;pengorganisasian&lt;/a&gt;,pengarahan,pengkoordinasian dari produksi dan proses produksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Aquilano (2001) Mendefinisikan Manajemen Operasional sebagai&lt;/b&gt; suatu proses perancangan, pengoperasian dan pengembangan dari sistem yang menghasilkan produk atau jasa utama perusahaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
jika digambarkan maka proses manajemen Operasional sb:&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-rFgxP7kNnCk/URNabmKjKqI/AAAAAAAAFko/meh2PA1Oy0g/s1600/manajemen%2BOprasional.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="197" src="http://3.bp.blogspot.com/-rFgxP7kNnCk/URNabmKjKqI/AAAAAAAAFko/meh2PA1Oy0g/s400/manajemen%2BOprasional.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut (Anoraga, 2009) proses transformasi dapat dijabarkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;
1. Alter (mengubah)&lt;br /&gt;
2. Transport&lt;br /&gt;
3. Store (penyimpangan)&lt;br /&gt;
4. Inspect (memeriksa)&lt;br /&gt;
Dalam melakukan keempat proses transformasi di atas tentunya dibutuhkan peran dari manajer operasi yang dapat mengarahkan berbagai masukan (input) agar dapat memproduksi berbagai keluaran (output) dengan jumlah yang sesuai dengan permintaan konsumen, selain itu juga memperhatikan dan menanggapi kekuatan-kekuatan dari lingkungan eksternal yang terus menerus berkembang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Operasional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Higgins (1994)Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Operasional adalah: &lt;br /&gt;
1. Manajer/Pimpinan&lt;br /&gt;
Pada dasarnya setiap tindakan yang diambil oleh manajer atau pimpinan mempengaruhi dalam beberapa hal, seperti aturan-aturan, kebijakan-kebijakan, dan prosedur-prosedur organisasi terutama masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah personalia, distribusi imbalan, gaya komunikasi, cara-cara yang digunakan untuk memotivasi, teknik-teknik dan tindakan pendisiplinan, interaksi antara manajemen dan kelompok, interaksi antar kelompok, perhatian pada permasalahan yang dimiliki karyawan dari waktu ke waktu, serta kebutuhan akan kepuasan dan kesejahteraan karyawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tingkah laku karyawan&lt;br /&gt;
Tingkah laku karyawan mempengaruhi melalui kepribadian mereka, terutama kebutuhan mereka dan tindakan-tindakan yang mereka lakukan untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Komunikasi karyawan memainkan bagian penting, karena cara seseorang berkomunikasi menentukan tingkat sukses atau gagalnya hubungan antar manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Tingkah laku kelompok kerja&lt;br /&gt;
Terdapat kebutuhan tertentu pada kebanyakan orang dalam hal hubungan persahabatan, suatu kebutuhan yang seringkali dipuaskan oleh kelompok dalam organisasi. Kelompok-kelompok berkembang dalam organisasi dengan dua cara, yaitu secara formal, utamanya pada kelompok kerja; dan informal, sebagai kelompok persahabatan atau kesamaan minat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Faktor eksternal organisasi&lt;br /&gt;
Sejumlah faktor eksternal organisasi mempengaruhi pada organisasi tersebut. Keadaan ekonomi merupakan faktor utama yang mempengaruhi organisasi. Keadaan ekonomi adalah faktor utama. Di lain pihak, ledakan ekonomi dapat mendorong penjualan dan memungkinkan setiap orang mendapatkan pekerjaan dan peningkatan keuntungan yang besar, sehingga hasilnya menjadi lebih positif.</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-02-07T21:33:33.000-08:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/-rFgxP7kNnCk/URNabmKjKqI/AAAAAAAAFko/meh2PA1Oy0g/s72-c/manajemen%2BOprasional.png" height="72" width="72" /></item><item><title>Jurnal Manajemen - Teori Basis Ekonomi (Economic Base Theory)</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2013/01/jurnal-manajemen-teori-basis-ekonomi.html</link><category>Ekonomi</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Mon, 21 Jan 2013 22:31:22 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-3512341811913944543</guid><description>Teori basis ekonomi ini dikemukakan oleh Harry W. Richardson (1973) yang menyatakan bahwa faktor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan permintaan akan barang dan jasa dari luar daerah (Arsyad 1999:116). Dalam penjelasan selanjutnya dijelaskan bahwa pertumbuhan industri-industri yang menggunakan sumberdaya lokal, termasuk tenaga kerja dan bahan baku untuk diekspor, akan menghasilkan kekayaan daerah dan penciptaan peluang kerja (job creation). Asumsi ini memberikan pengertian bahwa suatu daerah akan mempunyai sektor unggulan apabila daerah tersebut dapat memenangkan persaingan pada sektor yang sama dengan daerah lain&lt;br /&gt;
sehingga dapat menghasilkan ekspor (Suyatno 2000:146).&lt;br /&gt;
Ada serangkaian teori ekonomi sebagai teori yang berusaha menjalankan perubahan-perubahan regional yang menekankan hubungan antara sektor-sektor yang terdapat dalam perekonomian daerah. Teori yang paling sederhana dan populer adalah teori basis ekonomi (economic base theory). Menurut Glasson (1990:63-64), konsep dasar basis ekonomi membagi perekonomian menjadi dua sektor yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1) Sektor-sektor Basis adalah sektor-sektor yang mengekspor barang-barang dan jasa ke tempat di luar batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan atas masukan barang dan jasa mereka kepada masyarakat yang datang dari luar perbatasan perekonomian masyarakat yang bersangkutan.&lt;br /&gt;
2) Sektor-sektor Bukan Basis adalah sektor-sektor yang menjadikan barang-barang yang dibutuhkan oleh orang yang bertempat tinggal di dalam batas perekonomian masyarakat bersangkutan. Sektor-sektor tidak mengekspor barang-barang. Ruang lingkup mereka dan daerah pasar terutama adalah bersifat lokal.&lt;br /&gt;
Secara implisit &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
pembagian perekonomian regional yang dibagi menjadi dua sektor tersebut terdapat hubungan sebab-akibat dimana keduanya kemudian menjadi pijakan dalam membentuk teori basis ekonomi. Bertambahnya kegiatan basis di suatu daerah akan menambah arus pendapatan ke dalam daerah yang bersangkutan sehingga menambah permintaan terhadap barang dan jasa yang dihasilkan, akibatnya akan menambah volume kegiatan bukan basis. Sebaliknya semakin berkurangnya kegiatan basis akan menurunkan permintaan terhadap produk dari kegiatan bukan basis yang berarti berkurangnya pendapatan yang masuk ke daerah yang bersangkutan. Dengan demikian kegiatan basis mempunyai peran sebagai penggerak utama.    &lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-01-21T22:31:22.516-08:00</app:edited></item><item><title>Sikap, Kepribadian dan Kerjasama Team; Definisi, Pembentukan dan Tipe</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2013/01/sikap-kepribadian-dan-kerjasama-team.html</link><category>Manajemen</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Thu, 10 Jan 2013 22:30:26 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-1201062662583608843</guid><description>&lt;b&gt;1.  Sikap&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Pengertian Sikap&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap (attitude) adalah pernyataan evaluatif,  baik  yang  menyenangkan maupun tidak menyenangkan terhadap objek, individu, atau peristiwa, (Stephen dan Timothy, 2008:92). Hal ini mencerminkan tentang perasaan seseorang tentang sesuatu. Ada 3 (tiga) komponen utama dari sikap, antara lain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.   Kognitif atau evaluasi&lt;br /&gt;
Kognitif atau evaluasi adalah segmen opini atau keyakinan dari sikap, yang  menentukan  tingkatan  untuk  bagian  yang  lebih  penting  dari sebuah sikap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.   Afektif atau perasaan,&lt;br /&gt;
Perasaan adalah segmen emosional atau perasaaan dari sebuah sikap, yang menimbukan hasil akhir perilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.   Perilaku atau tindakan&lt;br /&gt;
Perilaku atau tindakan adalah sikap merujuk pada suatu maksud untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadap sesuatu atau seseorang.&lt;br /&gt;
Menurut   Muchlas   (2005:151)   sikap   (attitudes)   ialah   sesuatu   yang kompleks, yang dapat didefinisikan sebagai pernyatan-pernyataan evaluatif, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, atau penilaian mengenai objek,  manusia,  atau  peristiwa-peristiwa.  Sebahagian  sikap  terbentuk  melalui &lt;br /&gt;
proses belajar sosial yang diperoleh dari orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.  Pembentukan Sikap&lt;br /&gt;
Proses  pembentukan  sikap  berlangsung  secara  bertahap,  dimulai  dari proses  belajar.  Proses  belajar  ini dapat  terjadi karena  pengalaman-pengalaman pribadi  seseorang  dengan  objek  tertentu,  seperti  orang,  benda  atau  peristiwa, dengan cara menghubungkan objek tersebut dengan pengalaman-pengalaman lain dimana  seseorang  telah  memiliki  sikap  tertentu  terhadap  pengalaman  itu  atau melalui  proses   belajar   sosial  dengan  orang   lain.   Ada  3  (tiga)  komponen pembentukan sikap, antara lain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.   Pengalaman pribadi&lt;br /&gt;
Pengalaman   pribadi   diperoleh   dari   pembentukan   sikap   dengan melakukan kontak langsung dengan objeknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.   Asosiasi&lt;br /&gt;
Asosiasi   merupakan   pemindahan   sebahagian   atau   seluruh   sikap terhadap objek lama menuju kepada objek baru, dan akan membentuk sikap yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.   Proses belajar sosial&lt;br /&gt;
Sumber pembentukan sikap yang umumnya terjadi dan kuat sifatnya adalah proses belajar sosial. Kerap kali pembentukan sikap terjadi pada objek-objek  yang  belum  pernah  dialami  secara  langsung.  Proses belajar  sosial  tidak  hanya  mempengaruhi  kepercayaan seseorang, tetapi  juga  mempengaruhi  reaksi-reaksi  efektif  dan  kecenderungan perilaku seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.  Tipe Sikap&lt;br /&gt;
Ada 3 (tiga) tipikal sikap seseorang, antara lain: (Ardana, 2009: 22)&lt;br /&gt;
1.   Kepuasan kerja, seseorang yang mempunyai tingkat kepuasan kerja yang  tinggi akan cenderung  menunjukkan sikap positif terhadap pekerjaan, demikian sebaliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.   Keterlibatan  kerja,  sampai  sejauh  mana  seseorang  memihak pada   pekerjaannya,   berpartisipasi   aktif   didalamnya   serta menanggapi kinerjanya sangat penting bagi organisasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.   Komitmen  pada  organisasi, sampai tingkat  mana seseorang pegawai memihak   pada organisasinya dan bertekad setia didalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.  Kepribadian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Pengertian Kepribadian &lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepribadian  sering  didefinisikan  sebagai  gabungan  dari  semua  cara dimana individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang-orang lain, atau kadang- kadang  didefenisikan  sebagai  organisasi  internal  dari  proses  psikologis  dan kecenderungan   perilaku   seseorang,   (Muchlas,   2005:   84).   Jadi   kepribadian merupakan perangkat gambaran diri yang berintegrasi dan merupakan perangkat total dari kekuatan  intrapsikis,  yang  membuat  seseorang  menjadi unik  dengan perilaku yang spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menururt Stephen dan Timothy, (2008:127), kepribadan juga merupakan organisasi yang dinamis dalam sistem psikofisiologis individu yang menentukan caranya untuk menyesuaikan diri secara unik terhadap lingkungan, atau dengan kata  lain  kepribadian  merupakan  keseluruhan  cara  dimana  seseorang  individu berekasi dan berinteraksi dengan individu lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.  Faktor-faktor Penentu Kepribadian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepribadian seseorang dihasilkan oleh faktor keturunan, lingkungan dan kondisi situasional (Stephen dan Timothy, 2008:127), antara lain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1).  Faktor Keturunan&lt;br /&gt;
Faktor keturunan ditransimisikan melalui ”gen”, yang berada dalam kromosom,  yang  menentukan  keseimbangan  hormon,  bentuk  fisik, dan  menentukan  atau  membentuk  kepribadian.  Kepribadian  tidak seluruhnya dipengaruhi oleh faktor keturunan, faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi bentuk kepribadian seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2).  Faktor Lingkungan&lt;br /&gt;
Faktor lingkungan yang dapat memberikan tekanan kepada kepribadian  seseorang  adalah  kultur  masyarakat  dimana  seseorang dibesarkan,   norma-norma   keluarga,   teman-teman   dan   kelompok sosial,  serta  pengaruh-pengaruh  lain  yang  kita  alami.  Kultur  akan membentuk  norma,  sikap,  dan  nilai-nilai  yang  diwariskan dari satu generasi  ke  genarasi  berikutnya  yang  terus  menerus  berlangsung secara konsisten.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3).  Kondisi Situasional&lt;br /&gt;
Kondisi   situsional   dapat   mempengaruhi   efek   dari   faktor-faktor keturunan   dan   lingkungan   terhadapa   kepribadian.   Kepribadian seseorang meskipun  relatif stabil dan konsisten, namun dapat berubah pada situasi-situasi yang berbeda. Tuntutan yang berbeda pada situasi yang berbeda dapat menimbulkan reaksi dan aspek yang berbeda pada kepribadian seseorang. Oleh karena itu, sebaiknya tidak melihat corak kepribadian secara terisolasi,  tetapi juga  mengetahui  bahwa situasi-situasi tertentu lebih relevan dari situasi-situasi lain dalam mempengaruhi kepribadian sehingga dapat dilihat adanya perbedaan-perbedaan individual yang signifikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.  Sifat-sifat Kepribadian&lt;br /&gt;
Sifat-sifat kepribadian (personality traits) adalah karateristik yang sering muncul dan mendeskripsikan perilaku seorang individu. Ada 5 (lima) faktor yang mempengaruhi kepribadian seseorang atau Big Five Model, antara lain: (Stephen dan Timothy, 2008:131)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1). Ekstraversi (extraversion)&lt;br /&gt;
Dimensi  ini  mengungkapkan  tingkat  kenyamanan  seseorang  dalam berhubungan  dengan  individu  lain.  Individu  yang  memiliki  sifat ekstraversi  cenderung  suka  hidup  berkelompok,  tegas,  dan  mudah bersosialisasi.   Sebaliknya   individu   yang   memiliki   sifat   introver cenderung suka  menyendiri, penakut, dan pendiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2).   Mudah akur atau mudah bersepakat (agreeableness)&lt;br /&gt;
Dimensi  ini  merujuk  pada  kecenderungan  individu  untuk  patuh terhadap individu lainnya. Individu yang sangat mudah bersepakat adalah   individu   yang   senang   bekerjasama,   hangat,   dan  penuh kepercayaan. Sementara itu, individu yang tidak mudah bersepakat cenderung bersikap dingin, tidak ramah, dan suka menantang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3).   Sifat berhati-hati (conscientiousness)&lt;br /&gt;
Dimensi ini merupakan ukuran kepercayaan. Individu yang sangat berhati-hati adalah individu yang bertanggung jawab, teratur, dapat dihandalkan, dan gigih. Sebaliknya,  individu  dengan sifat  berhati-hati yang rendah cenderung mudah bingung, tidak teratur, dan tidak bisa diandalkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4).  Stabilitas emosi (emotonal stability)&lt;br /&gt;
Dimensi kepribadian yang menggolongkan seseorang sebagai orang yang tenang, percaya diri, memiliki pendirian yang teguh (positif). Dimensi ini  menilai kemampuan seseorang untuk  menahan stress. Sementara   itu,   individu   dengan   stabilitas   emosi   yang   negatif cenderung  mudah  gugup,  khawatir,  depresi,  dan  tidak  memiliki pendirian yang teguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5).   Terbuka terhadap hal-hal baru (openness to experience)&lt;br /&gt;
Dimensi  ini  merupakan  dimensi  terakhir  yang  mengelompokkan individu berdasarkan lingkup minat dan keterikatannya terhadap hal-hal baru. Individu yang sangat terbuka cenderung kreatif, ingin tahu, dan sensititf terhadap hal-hal yang bersifat seni. Sebaliknya mereka yang  tidak  terbuka  cenderung  memiliki  sifat  konvensional  dan merasa nyaman dengan hal-hal yang telah ada.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
3. Kerjasama Tim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.   Pengertian Kerjasama Tim&lt;br /&gt;
Kerjasama  Tim  atau  Tim  kerja  adalah  kelompok  yang  usaha-usaha individualnya   menghasilkan   kinerja   lebih   tinggi  daripada   jumlah   masukan individual  (Stephen  dan  Timothy,  2008:406).  Tim  kerja  menghasilkan  sinergi positif  melalui  usaha  yang  terkoordinasi.  Hal  ini  memiliki  pengertian  bahwa kinerja  yang  dicapai  oleh  sebuah  tim  lebih  baik  daripada  kinerja  perindividu disuatu organsasi ataupun suatu perusahaan.&lt;br /&gt;
Sementara  menurut  Allen  (2004:21)  pekerja  tim  atau  tim  kerja  adalah orang yang sportif, sensitif dan senang bergaul, serta mampu mengenali aliran emosi yang terpendam dalam tim dengan sangat jelas. Tim kerja menghasilkan sinergi positif melalui usaha yang terkoordinasi. Usaha-usaha individual mereka menghasilkan  satu  tingkat  kinerja  yang  lebih  tinggi  daripada  jumlah  masukan individual. Penggunaan tim secara ekstensif menghasilkan potensi bagi sebuah organisasi untuk membuahkan banyak hasil yang lebih besar tanpa peningkatan masukan. Kinerja tim akan lebih unggul daripada kinerja individu jika tugas yang harus dilakukan menuntut ketrampilan ganda.&lt;br /&gt;
Sebuah tim (team) adalah sebuah unit yang terdiri dari 2 (dua) orang atau lebih   yang   berinteraksi   dan   mengkoordinasikan   pekerjaan   mereka   untuk menyelesaikan   sebuah   tugas   yang   spesifik   (Daft,   2003:171).   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.  Jenis – jenis Kerjasama Tim&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jenis –jenis kerjasama tim terdiri dari 6 (enam) bagian, antara lain: (Daft,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2003:171)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.) Tim Formal&lt;br /&gt;
Tim formal adalah sebuah tim yang dibentuk oleh organisasi sebagai bagian dari struktur organisasi formal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.)  Tim Vertikal&lt;br /&gt;
Tim  vertikal  adalah  sebuah  tim  formal  yang  terdiri  dari  seorang manajer  dan  beberapa  orang  bawahannya  dalam  rantai  komando organisasi formal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.) Tim Horizontal&lt;br /&gt;
Tim horizontal adalah sebuah tim formal yang terdiri dari beberapa karyawan dari tingkat hirarki yang hampir sama tapi berasal dari area keahlian yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.) Tim dengan Tugas Khusus&lt;br /&gt;
Tim  dengan  tugas  khusus  adalah  sebuah  tim  yang  dibentuk  diluar organisasi formal untuk menangani sebuah proyek dengan kepentingan atau kreativitas khusus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.) Tim Mandiri&lt;br /&gt;
Tim Mandiri adalah sebuah tim yang terdiri dari 5 hingga 20 orang pekerja dengan beragam keterampilan yang menjalani rotasi pekerjaan untuk  menghasilkan  sebuah  produk  atau  jasa  secara  lengkap,  dan pelaksanaannya diawasi oleh seorang annggota terpilih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.) Tim Pemecahan Masalah&lt;br /&gt;
Tim  pemecahan  masalah  adalah  biasanya  terdiri  dari  5  hingga  12 karyawan yang dibayar perjam dari departemen  yang  sama, dimana mereka  bertemu  untuk mendiskusikan  cara  memperbaiki  kualitas, efisiensi, dan lingkungan kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-01-10T22:30:26.673-08:00</app:edited></item><item><title>Teori Pengorganisasian dalam Fungsi Manajemen</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2013/01/teori-pengorganisasian-dalam-fungsi.html</link><category>Manajemen</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Thu, 10 Jan 2013 22:00:22 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-1199694608468280392</guid><description>&lt;b&gt;PENGORGANISASIAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Adalah merupakan fungsi dari  manajemen,  yang merupakan proses dalam mengatur manusia, tugas, wewenang dan tanggung jawab dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
FUNGSINYA  PENGORGANISASIAN :&lt;br /&gt;
 1. Mengatur orang  - orang.&lt;br /&gt;
 2. Mengatur kegiatan dalam perusahaan &lt;br /&gt;
 3. Mengadakan pembagian kerja. ( uraian tugas )&lt;br /&gt;
 4. Menempatkan orang – orang dalam departemen.&lt;br /&gt;
 5. Menetapkan batasan – batasan wewenang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TINDAKAN PIMPINANAN :&lt;br /&gt;
1. Merencanakan struktur organisasi.&lt;br /&gt;
2. Mengadakan departementasi kegiatan dalam perusahan.&lt;br /&gt;
3. Mengadakan pendelegasian wewenang agar dapat melaksanakan tugas yang dibebankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;ORGANISASI :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
•Merupakan hal yang statis yang menggambarkan pola – pola, skema, bagan yang menunjukan garis – garis perintah, dan hubungan yang ada.&lt;br /&gt;
•Suatu system kerjasama yang terkoordinasi antara manusia dalam mencapai tujuan bersama.&lt;br /&gt;
•Struktur tata pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja dari orang – orang dalam mencapai tujuan bersama. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;HUBUNGAN PENGORGANISASIAN DENGAN ORGANISASI:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Adalah bahwa hasil dari pengorganisasian adalah organisasi yang merupakan sebagai alat, tempat / wadah manajer untuk melakukan kegiatan – kegiatan dalam mencapai tujuan bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2 BAGIAN DASAR DALAM ORGANISASI :&lt;br /&gt;
1. Bagian – bagian / departeman / divisi&lt;br /&gt;
2. Hubungan – hubungan :&lt;br /&gt;
a. Hubungan garis&lt;br /&gt;
b. Hubungan fungsional&lt;br /&gt;
c. Hubungan staff&lt;br /&gt;
d. Hubungan koordinasi&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
BEBERAPA KONSEP PENGERTIAN PENGORGANISASIAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1.GR.TERRY&lt;br /&gt;
Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan – hubungan kelakuan yang efektif antara orang – orang, sehingga mereka dapat bekerjasama secara efisien, dan dengan demikian memperoleh kepuasan pribadi dalam hal melaksanakan tugas –tugas tertentu dalam kondisi likungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.KOONTZ &amp; DONNELL&lt;br /&gt;
Fungsi pengorganisasian manajer meliputi penentuan golongan kegiatan – kegiatan yang diperlukan untuk tujuan – tujuan perusahaan, pengelompokan kegiatan tersebut kedalam suatu bagian yang dipimpin oleh seorang manajer serta melimpahkan wewenang untuk melaksanakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.SP HASIBUAN&lt;br /&gt;
Pengorganisasian adalah suatu proses penentuan, pengelompokan dan pengaturan bermacam – macam aktifitas yang diperelukan untuk mencapai tujuan, menempatkan orang – orang pada setiap aktifitas, menyediakan alat – alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang secara relatif didelegasikan kepada setiap individu yang akan melakukan aktifitas tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ASPEK PENTING YANG DAPAT DIRUMUSKAN DARI KONSEP TERSEBUT :&lt;br /&gt;
1. &lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;
Adanya kelompok orang yang bekerjasama.&lt;br /&gt;
2. Adanya tujuan tertentu yang akan dicapai.&lt;br /&gt;
3. adanya pekerjaan yang akan dikerjakan.&lt;br /&gt;
4. Adanya penetapan dan pengelompokan pekerjaan.&lt;br /&gt;
5. Adanya wewenang dan tanggungjawab.&lt;br /&gt;
6. adanya pendelegasian wewenang.&lt;br /&gt;
7. Adanya hubungan kerjasama satu sama lain.&lt;br /&gt;
8. Adanya penempatan orang – orang yang akan melakukan pekerjaan.&lt;br /&gt;
9. Adanya tata tertib yang harus ditaati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
UNSUR – UNSUR PENGORGANISASIAN.&lt;br /&gt;
1. Sebagai wadah / tempat untuk bekerjasama.&lt;br /&gt;
2. Proses kerjasamauntuk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;
3. Tugas dan kedudukan masing – masing sangat jelas.&lt;br /&gt;
4. adanya tujuan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PROSES PENGORGANISASIAN&lt;br /&gt;
1. Penentuan sasaran yang ingin dicapai.&lt;br /&gt;
2. penentuan jenis kegiatan – kegiatan.&lt;br /&gt;
3. Pengelompokan kegiatan – kegiatan.&lt;br /&gt;
4. Pendelegasian wewenang.&lt;br /&gt;
5. Menentukan jumlah personal pada setiap departemen.&lt;br /&gt;
6. Uraian tugas ( job discreption )&lt;br /&gt;
7. Menentukan tipe organisasi ( garis, fungsional )&lt;br /&gt;
8. Membuat bagan organisasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;MANFAAT PENGORGANISASIAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Adalah untuk mengetahui tugas dan tanggung jawab dengan jelas, hubungan / koordinasi antar departemen, wewenang, jumlah personal yang diperlukan, kualifikasi personal dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
JENIS – JENIS ORGANISASI&lt;br /&gt;
1. Berdasarkan proses pembentukannya:&lt;br /&gt;
a. Organisasi formal&lt;br /&gt;
b. Organisasi Informal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. berdasarkan skala ( ukuran ):&lt;br /&gt;
a. Organisasi kecil&lt;br /&gt;
b. Organisasi menengah&lt;br /&gt;
c. Organisasi besar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Berdasarkan saluran wewenangnya :&lt;br /&gt;
a. Organisasi garis / lini ( oleh Hennry Fayol )&lt;br /&gt;
Adalah tipe organisasi yang tua dan sederhana dimana tugas – tugas perencanaan, komando, dan pengawasan berada disatu tangan dan garis kewenangan langsung dari pimpinan kepada bawahan. Sering digunakan dalam organisasi kecil dan disebut juga organisasi militer. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
CIRINYA :&lt;br /&gt;
1. Tujuan organisasi masih sederhana.&lt;br /&gt;
2. Organisasi kecil&lt;br /&gt;
3. Jumlah karyawan sedikit.&lt;br /&gt;
4. Pimpinan dan karyawan saling mengenal dan dapat berhubungan langsung melalui garis wewenang.&lt;br /&gt;
5. Pucuk pimpinan adalah biasanya pemilik perusahaan.&lt;br /&gt;
6. Pucuk pimpinan sebagai sumber kekuasaan.&lt;br /&gt;
7. Tingkat specialisasi rendah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KEBAIKAN :&lt;br /&gt;
1. Kesatuan pimpinan terjamin ( satu tangan )&lt;br /&gt;
2. Disiplin kerja karyawan tinggi.&lt;br /&gt;
3. Koordinasi dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.&lt;br /&gt;
4. Proses mengambil keputusan dan instruksi berjalan cepat&lt;br /&gt;
5. garis pimpinan tegas. Tidak terjadi ketimpang siuran sebab pimpinan dapat langsung berhubungan dengan bawahan.&lt;br /&gt;
6. Solidaritas karyawan tinggi sebab saling mengenal.&lt;br /&gt;
7. Pengendalian bawahan sangat ketat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KEBURUKAN:&lt;br /&gt;
1. Tujuan pribadi pimpinan sering masuk ke tujuan organisasi.&lt;br /&gt;
2. Pimpinan sering seperi militer ( otoriter )&lt;br /&gt;
3. Karyawan sulit berkembang  karena segala sesuatu ada pada pucuk pimpinan.&lt;br /&gt;
4. Organisasi tergantung pada satu orang ( pemimpin )  &lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-01-10T22:00:22.378-08:00</app:edited></item><item><title>Perusahaan Perseorangan, Firma dan CV</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2013/01/perusahaan-perseorangan-firma-dan-cv.html</link><category>Ekonomi</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Fri, 04 Jan 2013 22:16:20 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-6277499392258036444</guid><description>Perusahaan Perorangan (PO)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perusahaan Perorangan (PO) adalah Suatu jenis perusahaan yang dijalankan oleh satu orang pemilik.&lt;br /&gt;
Pemilik mempunyai tanggung jawab tak terbatas. Badan usaha yang mengelola perusahaan itu disebut Badan Usaha Perorangan, yang oleh masyarakat umum lebih dikenal dengan sebutan Perusahaan Perorangan (Po).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ciri- ciri dari perusahaan ini adalah :&lt;br /&gt;
1. Dimiliki perseorangan (individu atau perusahaan keluarga)&lt;br /&gt;
2. Pengelolaannya sederhana&lt;br /&gt;
3. Modalnya relative tidak terlalu besar&lt;br /&gt;
4. Kelangsungan usahanya tergantung pada para pemiliknya&lt;br /&gt;
5. Nilai penjualannya dan nilai tambah yang diciptakan relative kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kelebihan dan Kelemahan Perusahaan Perseoranga (PO):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kelebihan perusahaan perseorangan :&lt;br /&gt;
1. Perseorangan tidak dikenakan pajak perusahaan seperti halnya PT atau Partnership (Firma).&lt;br /&gt;
2. Dalam melakukan pengelolaan perusahaan, pemilik juga menjadi bagian dari manajemen sehingga pengendalian internal tidak terlalu kompleks dan mudah diawasi oleh pemilik langsung.&lt;br /&gt;
3. Biaya yang rendah dalam pengelolaan, karena karyawan yang bekerja didalam perseorangan adalah si pemilik usaha.&lt;br /&gt;
4. Tidak melalui proses administrasi hukum yang terlalu kompleks, biasanya hanya sampai akte notaris, dan surat keterangan domisili dari kelurahan saja. tidak perlu melalui proses pembuatan SIUP, atau TDP ataupun hingga membutuhkan surat keputusan dari Menkeh dan HAM.&lt;br /&gt;
5. Proses pembentukan yang sangat cepat.&lt;br /&gt;
6. Apabila dalam bisnis perseorangan terjadi kerugian maka kompensasi kerugian dapat dimasukan dalam perhitungan pajak penghasilan pemilik.&lt;br /&gt;
7. Seluruh laba menjadi miliknya. Bentuk perusahaan perseorangan memungkinkan pemilik menerima 100% laba yang dihasilkan perusahaan.&lt;br /&gt;
8. Kepuasan Pribadi. Prinsip satu pimpinan merupakan alasan yang baik untuk mengambil keputusan.&lt;br /&gt;
9. Kebebasan dan Fleksibilitas. Pemilik perusahaan perseorangan tidak perlu berkonsultasi dengan orang lain dalam mengambil keputusan&lt;br /&gt;
10. Sifat Kerahasiaan. Tidak perlu dibuat laporan keuangan atau informasi yang berhubungan dengan masalah keuangan perusahaan. Dengan demikian masalah tersebut tidak dapat dimanfaatkan oleh pesaing.&lt;br /&gt;
11. Peraturan minim. Jika pada persekutuan dengan firma, komanditer, PT, terdapat banyak peraturan-peraturan pemerintah yang harus dituruti maka perusahaan perseorangan hanya sedikit peraturan yang dikenakan.&lt;br /&gt;
12. Dorongan perusahaan. Pengusaha perusahaan perseorangan selalu berusaha sekuat tenaga agar perusahaannya mendapatkan keuntungan tanpa memperhatikan lamanya waktu bekerja dalam perusahaan.&lt;br /&gt;
13. Lebih mudah memperoleh kredit. Perusahaan perseorangan lebih mudah mendapatkan kredit karena tanggung jawab atau jaminannya tidak terbatas pada modal usaha sendiri saja tetapi juga kekayaan pribadi dari pemilik maka resiko kreditnya lebih kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kelemahan perusahaan perseorangan :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Tanggung jawab pemilik tidak terbatas. Artinya seluruh kekayaan pribadinya termasuk sebagai jaminan terhadap seluruh utang perusahaan.&lt;br /&gt;
2. Sumber keuangan terbatas. Karena pemiliknya hanya satu orang, maka usaha-usaha yang dilakukan untuk memperoleh sumber dana hanya bergantung pada kemampuannya.&lt;br /&gt;
3. Kesulitan dalam manajemen. Semua kegiatan seperti pembelian, penjualan, pembelanjaan, pengaturan karyawan dan sebagainya dipegang oleh seorang pimpinan. Ini lebih sulit apabila manajemen dipegang oleh beberapa orang.&lt;br /&gt;
4. Kelangsungan usaha kurang terjamin. Kematian pimpinan atau pemilik, bangkrut, atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan usaha ini berhenti kegiatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;FIRMA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Firma adalah : suatu badan usaha dimiliki oleh lebih dari satu orang, dan semua pemiliknya bertanggung-jawab tak terbatas atas utang-utang badan usaha.&lt;br /&gt;
Dari segi pemilik Firma biasanya dimiliki oleh orang-orang yang hubungan yang sangat dekat, misalnya satu keluarga atau famili. Hal ini disebabkan para pemilk Firma harus bertanggung jawab tak terbatas terhadap Firma. &lt;br /&gt;
karena pemilik Firma lebih dari satu orang, maka untuk mendirikan Firma harus dengan akte notaris, didaftarkan pada pengadilan negeri setempat. dan didaftarkan pada kantor dinas perekonomian daerah setempat untuk mendapatkan nomer registrasi seperti halnya pada Po. Dengan demikian, secara hukum perjanjian persekutuan antar pemiliknya akan menjadi lebih kuat (terpercaya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Persekutuan Komanditer (Commanditaire Vennootschap)(CV)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Persekutuan Komanditer (Commanditaire Vennootschap) selanjutnya disingkat CV adalah persekutuan firma yang mempunyai satu atau beberapa orang sekutu komanditer.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
sebagian pemiliknya bertanggung jawab tak terbatas, dan sebagian lagi bertanggung jawab terbatas atas utang-utang CV. Dengan demikian di dalam CV ada dua kelompok pemilik , yaitu: (1) kelompok yang memiliki tanggung jawab tak terbatas yang kemudian disebut sebagai sekutu aktif (sekutu pengusaha); dan (2) kelompok yang memiliki tanggung jawab terbatas yang disebut sebagai sekutu diam (sekutu komanditer)&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sekutu dibagi menjadi dua bagian yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
1. Sekutu aktif atau sekutu Komplementer, adalah sekutu yang menjalankan perusahaan dan berhak melakukan perjanjian dengan pihak ketiga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
Artinya, semua kebijakan perusahaan dijalankan oleh sekutu aktif. Sekutu aktif sering juga disebut sebagai persero kuasa atau persero pengurus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;
2. Sekutu Pasif atau sekutu Komanditer, adalah sekutu yang hanya menyertakan modal dalam persekutuan. Jika perusahaan menderita rugi, mereka hanya bertanggung jawab sebatas modal yang disertakan dan begitu juga apabila untung, uang mereka memperoleh terbatas tergantung modal yang mereka berikan. Status Sekutu Komanditer dapat disamakan dengan seorang yang menitipkan modal pada suatu perusahaan, yang hanya menantikan hasil keuntungan dari inbreng yang dimasukan itu, dan tidak ikut campur dalam kepengurusan, pengusahaan, maupun kegiatan usaha perusahaan. Sekutu ini sering juga disebut sebagai persero diam. &lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2013-01-04T22:16:20.508-08:00</app:edited></item><item><title># Teknik Pengumpulan Informasi Analisis Pekerjaan #</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2012/12/teknik-pengumpulan-infosmasi-analisis.html</link><category>Manajemen Sumber Daya Manusia</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Mon, 10 Dec 2012 18:55:34 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-3382843621562200468</guid><description>:: Teknik Dalam Mengumpulkan Informasi Analisis Pekerjaan::&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mengadakan analisis jabatan maka perlu Pengumpulan data anaiisis pekerjaan, tugas ini biasanya dilakukan oleh spesialis bagian personalia seperti manajer personalia, analis pekerjaan atau konsultan dapat diminta untuk meninjau dan memverifikasi kesimpulan anaiisis pekerjaan yang berkaitan dengan aktivitas dan tugas pekerjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan utama menggunakan alat seleksi untuk mengukur prestasi kerja adalah agar pengusaha dapat membuktikan bahwa alat seleksi dan penilaian prestasi yang digunakan benar-benar berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang dinilai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Beberapa metode yang umum digunakan adalah: &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Job Questioner/Daftar-daftar Pertanyaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Job Questioner merupakan daftar-daftar pertanyaan yang dibagikan kepada para pegawai yang menguraikan tugas-tugas dan tanggung jawab yang berkaitan dengan pekerjaan mereka. Melalui metode ini diharapkan mereka memperoleh gambaran yang jelas daripada suatu jabatan.&lt;br /&gt;
Hal utama yang perlu diputuskan dalam metode ini adalah sejauh mana kadar struktur kuesioner tersebut seharusnya dan apa pertanyaan - pertanyaan yang harus dicakup.&lt;br /&gt;
Setiap pegawai/karyawan disajikan suatu daftar yang berisi tugas-tugas dan beberapa tanggung jawab secara khusus. Kemudian pegawai diminta menunjukkan apakah ia melakukan pekerjaan tersebut atau tidak, jika ia melakukan pekerjaan tersebut, berapa lama waktu yang biasanya diperlukan untuk melaksanakan tiap pekerjaan.&lt;br /&gt;
Pada bagian yang lain, kuesioner tersebut tidak terlalu terstruktur dan hanya meminta pegawai untuk menguraikan tugas-tugas utama dalam pekerjaannya. Dalam praktek, kuesioner terbaik sering merupakan gabungan antara kedua bagian itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Moekijat, 1992: 73 Beberapa Keuntungan dan Kelemahan dari Metode ini adalah: :&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keuntungan : &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Biaya relatif murah, karena tidak memerlukan banyak orang.&lt;br /&gt;
2. Dapat digunakan untuk memberikan latar belakang informasi guna menganalisis jabatan yang lebih baik.&lt;br /&gt;
3. Metode ini lebih sistimatis dibandingkan dengan metode - metode lainnya, karena telah dipersiapkan lebih dahulu secara tertulis apa yang akan ditanyakan.&lt;br /&gt;
4. Metode ini membantu pencatatan data dengan cara yang distandarisasikan sehingga menyebabkan lebih mudah pula dalam menafsirkan keterangan -keterangan yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Kelemahan :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
a. Metode ini hanya dapat dipergunakan untuk pegawai-pegawai yang dapat membaca dan menulis. Untuk mereka yang buta huruf metode ini tidak dapat dipakai.&lt;br /&gt;
b. Informasi yang diperoleh sering kurang lengkap, kurang teratur dan kadang-kadang tidak berurutan.&lt;br /&gt;
c. Bagi banyak orang, sulit mengisi daftar pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Wawancara (Interview)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Wawancara tatap muka merupakan suatu cara efektif untuk mengumpulkan informasi pekerjaan. &lt;br /&gt;
Bila metode ini digunakan, analisis perlu mewawancarai baik tenaga kerja yang menempati posisi pekerjaan maupun atasan langsungnya. Dengan wawancara ganda seperti itu, analisis dapat memeriksa kebenaran tanggapan - tanggapan yang dia terima. Bagaimanapun juga, efektivitas sistem ini terutama tergantung pada ketrampilan pewawancara (T. Hani Handoko, 1992: 44)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Moekijat, 1992: 75 Beberapa Keuntungan dan Kelemahan dari Metode ini adalah: :&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keuntungan : &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
a. Dapat diperoleh informasi (keterangan) yang lebih lengkap dan lebih jelas daripada dengan metode kuesioner. Hal ini adalah jelas, karena apabila informasi itu kurang lengkap atau kurang jelas dapat segera ditanyakan lagi.&lt;br /&gt;
b. Dapat dihindarkan adanya salah pengertian.&lt;br /&gt;
c. Dapat dipergunakan untuk membetulkan informasi yang kurang jelas yang diperoleh melalui metode-metode lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelemahan :&lt;br /&gt;
a. Metode ini memakan waktu yang lebih lama dan biaya yang lebih mahal daripada dengan metode dafltar pertanyaan.&lt;br /&gt;
b. Pegawai yang diwawancarai mungkin merasa pekerjaannya diselidiki, sehingga merasa kurang senang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Buku Harian (Log Tenaga Kerja)&lt;br /&gt;
Log harian adalah :&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;
daftar hal-hal yang dilakukan oleh para tenaga kerja selama hari itu, di mana mereka mencatat setiap aktivitas tersebut dalam log.&lt;br /&gt;
Hal ini membantu penganalisa jabatan dalam memperoleh suatu gambaran yang lengkap mengenai pekerjaan yang dilakukan para pegawai, terutama apabila hal itu dilengkapi dengan wawancara dengan pegawai dan supervisor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Moekijat, 1992: 75 Beberapa Keuntungan dan Kelemahan dari Metode ini adalah: :&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keuntungan : &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
a. Memberikan dorongan kepada pegawai untuk melakukan pekerjaan dengan lebih baik, karena adanya pencatatan hasil pekerjaannya tiap hari dalam buku catatan harian yang kemudian diperiksa oleh kepalanya.&lt;br /&gt;
b. Metode ini dapat mengurangi waktu dari penganalisa jabatan dalam mengadakan observasi dan wawancara, apabila sebelumnya telah mempelajari buku-buku catatan harian.&lt;br /&gt;
Kelemahan:&lt;br /&gt;
a. Pada umumnya informasi yang diperoleh adalah tidak lengkap, karena tidak&lt;br /&gt;
memasukkan data - data lain yang diinginkan seperti alat -alat yang dipergunakan, kondisi - kondisi kerja dan sebagainya.&lt;br /&gt;
b. Memakan waktu lama&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Pengamatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pengamatan langsung terutama bermanfaat dalam pekerjaan yang hanya terdiri dari aktivitas fisik yang dapat diamati. Pengamatan langsung sering digunakan dengan kombinasi wawancara. Salah satu pendekatan adalah dengan mengamati pegawai pada waktu melaksanakan tugasnya dalam suatu daur (cycle) kerja yang lengkap. Di sini perusahaan mencatat semua aktivitas-aktivitas pekerjaan yang diamati, kemudian setelah mengakumulasi informasi sebanyak mungkin, perusahaan mewawancarai pegawai, di mana orang itu didorong untuk memperjelas hal - hal yang belum dipahami benar dan menjelaskan aktivitas tambahan yang dilakukannya yang tidak kita amati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Moekijat, 1992: 76 Beberapa Keuntungan dan Kelemahan dari Metode ini adalah: :&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keuntungan : &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
a. Ada keseragaman , baik mengenai informasi yang dikumpulkan, maupun mengenai standard yang dipergunakan untuk menilai kecakapan, pengetahuan, pendidikan, tanggung jawab dan kondisi kerja.&lt;br /&gt;
b. Informasi yang diperoleh adalah lebih lengkap, lebih teliti, dan lebih dapat&lt;br /&gt;
dipercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kelemahan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
a. Sebagai metode tunggal, informasi yang diperoleh kurang lengkap.&lt;br /&gt;
b. Apabila pengamatan itu dilakukan hanya dalam waktu-waktu yang terbatas, misalnya sekali seminggu atau sekali sebulan, maka informasi yang diperoleh tidak lengkap.&lt;br /&gt;
Metode pengamatan merupakan metode yang paling baik untuk jabatan yang sederhana dan yang sifatnya berulang. Untuk jabatan-jabatan yang lain sebaiknya dipergunakan gabungan antara metode pengamatan dan metode wawancara&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-12-10T18:55:34.629-08:00</app:edited></item><item><title>Model Kano dalam Pengukuran Kepuasan Konsumen</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2012/11/model-kano-dalam-pengukuran-kepuasan.html</link><category>Manajemen Pemasaran</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Mon, 12 Nov 2012 18:17:27 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-6365462519468569239</guid><description>Model Kano merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kepuasan konsumen, dimana model ini bertujuan untuk mengategorikan atribut-atribut dari produk ataupun jasa jasa berdasarkan seberapa baik produk atau jasa tersebut mampu memuaskan kebutuhan pelanggan,yang dikembangkan oleh Dr. Noriaki Kano Dalam modelnya, Kano membedakan tiga tipe produk yang diinginkan yang dapat mempengaruhi kepuasan konsumen, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-4c94EmxgDpc/UKGrjzpP3YI/AAAAAAAAFjc/onA3xpdsrrg/s1600/kanomodel.png" imageanchor="1" style="margin-left:1em; margin-right:1em"&gt;&lt;img border="0" height="227" width="320" title="kanomodel" alt="kanomodel" src="http://2.bp.blogspot.com/-4c94EmxgDpc/UKGrjzpP3YI/AAAAAAAAFjc/onA3xpdsrrg/s320/kanomodel.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&lt;b&gt; Must-be requirements&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tipe ini merupakan kriteria dasar yang harus ada pada suatu produk atau jasa. Jika persyaratan dasar ini tidak ada, tidak dipenuhi atau kurang maka konsumen akan merasa sangat tidak puas. Tetapi, jikalau kepuasan lebih kepada konsumen. Pada kenyataannya, konsumen melihat kriteria ini sebagai syarat dasar, tetapi konsumen biasanya tidak secara tegas menyatakan persyaratan ini. karena konsumen menganggap kategori ini sudah semestinya, maka pemenuhan kategori ini tidak akan meningkatkan kepuasan konsumen.&lt;br /&gt;
Must-be requirements merupakan kriteria dasar dari sebuah produk ataupun jasa. Pemenuhan kategori ini hanya akan mengarah ke pernyataan tidak puas. Konsumen memandang must-be requirements sebagai syarat mutlak, mereka menganggap kategori ini sudah semestinya ada sehingga secara eksplisit tidak memuaskan mereka. Dalam berbagai hal, must-be requirements merupakan sebuah faktor kompetitif yang pasti, dan jika tidak dipenuhi, maka konsumen sama sekali tidak akan tertarik kepada produk atau jasa yang ditawarkan.&lt;br /&gt;
Misalnya fasilitas SMS pada handphone, merupakan fasilitas yang sudah seharusnya ada pada handphone keluaran sekarang. Kepuasan konsumen tidak akan meningkat karena pada handphone terdapat fasilitas SMS, tetapi konsumen sama sekali tidak akan tertarik membeli handphone yang tidak memiliki fasilitas SMS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. One-dimensional requirements.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tipe ini, kepuasan konsumen berbanding secara proportional tingkat pemenuhan kebutuhan konsumen, dimana semakin tinggi tingkat pemenuhan kebutuhan dari konsumen, maka semakin tinggi pula derajat kepuasan konsumen dan sebaliknya. One-dimensional requirements secara eksplisit selalu dituntut oleh konsumen.&lt;br /&gt;
Misalnya fasilitas biaya murah ketika menghubungi nomor pada provider yang sama, jika fasilitas ini diberikan maka kepuasan konsumen akan langsung meningkat, tetapi kepuasan konsumen akan langsung menurun jika tidak ada fasilitas tsb.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
3. Attractive requirements.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persyaratan ini merupakan kunci dari kepuasan konsumen. Persyaratan ini merupakan &lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;
kriteria produk yang memiliki pengaruh paling besar pada kepuasan konsumen jika diberikan. Attractive requirements tidak dituntut harus ada dan juga tidak diharapkan oleh konsumen. Pemenuhan persyaratan ini akan menyebabkan peningkatan kepuasan konsumen yang sangat tinggi. Tetapi&lt;br /&gt;
jika tidak dipenuhi, tidak akan menyebabkan penurunan tingkat kepuasan. Peryaratan ini tidak dinyatakan secara tegas dinyatakan maupun diharapkan oleh konsumen.&lt;br /&gt;
Misalnya pada handphone diberikan fasilitas camera, maka kepuasan konsumen akan meningkat sangat tinggi, karena konsumen tidak menuntut agar fasilitas tersebut disediakan. Tetapi jika pada handphone tidak terdapat fasilitas tersebut, kepuasan konsumen tidak akan menurun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harus diperhatikan pula bahwa kategori konsumen tersebut tidak akan tetap sepanjang masa, tetapi akan berubah sesuai dengan perkembangan waktu.&lt;br /&gt;
Secara spesifik, atribut attractive akan menjadi one-dimensional, dan akhirnya akan menjadi atribut must-be. Sebagai contoh, fasilitas camera pada handphone pada saat pertama kali muncul merupakan atribut attractive, sekarang telah menjadi one-dimensional atau bahkan menjadi atribut must-be bagi sebagian pelanggan.&lt;br /&gt;
Implikasi lain dari Model Kano ini adalah keinginan konsumen lebih bersifat dinamis daripada statis.&lt;br /&gt;
   &lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-11-12T18:17:27.426-08:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/-4c94EmxgDpc/UKGrjzpP3YI/AAAAAAAAFjc/onA3xpdsrrg/s72-c/kanomodel.png" height="72" width="72" /></item><item><title>Knowledge Management ; Definisi Knowledge Management, Jenis Penerapan dan Elemen Pokok Knowledge Management</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2012/07/knowledge-management-definisi-knowledge.html</link><category>Manajemen</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Tue, 10 Jul 2012 23:39:02 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-588584750473781640</guid><description>&lt;b&gt;Definisi Knowledge Management&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Dr. Yogesh Malhotra (2003) president and founding chairman dari Brinnt Institute menyatakan bahwa “knowledge is the potential for action based upon data, information, insights, intuition and experience”. Yang artinya pengetahuan adalah potensi untuk tindakan yang berdasar pada data, informasi, wawasan, intuisi dan pengalaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiwana (1999) &lt;b&gt;mendefinisikan knowledge management&lt;/b&gt; secara luas dalam arti memanajemeni pengetahuan sebagai “ ...management of organizational knowledge for creating business value and generating a competitive advantage.” Knowledge Management memberikan kemampuan untuk mencipta, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan yang diperlukan dan berguna bagi pencapaian semua jenis tujuan bisnis. Tiwana juga menjelaskan “Knowledge management is the ability to create and retain greater value from core business competencies." Knowledge Management menyelesaikan masalah bisnis partikular mencakup penciptaan dan penyebaran barang atau jasa inovatif, mengelola dan memperbaiki hubungan dengan para pelanggan, mitra dan pemasok, juga mengadministrasi serta meningkatkan praktek dan proses kerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Probst (2001) mengemukakan bahwa &lt;b&gt;knowledge adalah&lt;/b&gt; keseluruhan bagian dari pengetahuan yang ada dan keterampilan individu yang digunakan untuk memecahkan masalah. Knowledge tersebut terbagi dalam teori dan praktek yang pada umumnya berupa aturan dan petunjuk untuk mengambil keputusan. Knowledge bergantung pada data dan informasi yang dimiliki oleh suatu personal yang merefleksikan tentang suatu pendapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Laudon dan Laudon (2002), knowledge management berfungsi meningkatkan kemampuan organisasi untuk belajar dari lingkungannya dan menggabungkan pengetahuan ke dalam proses bisnis. Knowledge Management adalah serangkaian proses yang dikembangkan dalam suatu organisasi untuk menciptakan, mengumpulkan, memelihara dan mendiseminasikan pengetahuan organisasi tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Honeycutt, (2000) Knowledge management adalah suatu disiplin yang memperlakukan modal intelektual sebagai aset yang dikelola. Sistem knowledge management memberikan informasi yang tepat kepada orang yang tepat pada saat yang tepat. Knowledge management mengubah pengalaman dan informasi menjadi hasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barclay dan Murray (2002, p. 1) mendefinisikan knowledge management sebagai suatu aktivitas bisnis yang mempunyai dua aspek penting, yaitu: &lt;br /&gt;
1. Memperlakukan komponen pengetahuan dalam aktivitas-aktivitas bisnis yang direfleksikan dalam strategi, kebijakan, dan berbagai praktek perusahaan secara keseluruhan.&lt;br /&gt;
2. Membuat suatu hubungan langsung antara aset intelektual perusahaan baik yang explicit maupun tacit untuk mencapai tujuan perusahaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jenis Penerapan Knowledge Management &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Perbedaan yang paling signifikan di antara jenis knowledge adalah tacit versus explicit (Nonaka dan Takeuchi, 1995). Di dalam organisasi explicit knowledge tidak menjadi masalah karena mudah didokumentasikan, diarsipkan, dan diberi kode. Di lain pihak, tacit knowledge merupakan suatu tantangan tersendiri karena pengetahuan sering kali dirasakan sangat berharga untuk dibagikan dan digunakan dengan cara yang tepat. Pemahaman akan perbedaan kedua jenis knowledge ini sangatlah penting, dan yang perlu diperhatikan juga adalah aplikasinya dengan cara yang berbeda untuk memindahkan jenis knowledge yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Tacit Knowledge&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada dasarnya tacit knowledge bersifat personal, dikembangkan melalui pengalaman yang sulit untuk diformulasikan dan dikomunikasikan (Carrillo et al.,2004). Tacit knowledge tidak dinyatakan dalam bentuk tulisan, melainkan sesuatu yang terdapat dalam benak orang-orang yang bekerja di dalam suatu organisasi.&lt;br /&gt;
Menurut Polanyi (1966) tacit knowledge secara umum dijabarkan sebagai:&lt;br /&gt;
1.Pemahaman dan aplikasi pikiran bawah sadar&lt;br /&gt;
2. Susah untuk diucapkan&lt;br /&gt;
3. Berkembang dari kejadian langsung dan pengalaman&lt;br /&gt;
4. Berbagi pengetahuan melalui percakapan (story-telling)&lt;br /&gt;
Berdasarkan pengertiannya, maka tacit knowledge dikategorikan sebagai personal knowledge atau dengan kata lain pengetahuan yang diperoleh dari individu (perorangan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.1. Personal  Knowledge&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Berkeley (1957, p. 23) pengetahuan manusia bermula pada saat orang mendapatkan ide dimana kesan tersebut muncul dari perasaan dan sistem kerja pikiran atau dengan kata lain ide dibentuk dengan bantuan dari memori dan imajinasi yang menambah, membagi, mengungkapkan perasaan sebenarnya.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;
Selanjutnya menurut Bahm (1995, p. 199) penelitian pada sifat dasar pengetahuan seketika mempertemukan perbedaan antara knower dan known, atau seringkali diartikan dalam istilah subject dan object, atau ingredient subjective dan objective dalam pengalaman. Pengalaman yang diperoleh tiap karyawan tentunya berbeda-beda berdasarkan situasi dan kondisi yang tidak dapat diprediksi. Definisi experience yang diambil dari kamus bahasa Inggris adalah the process of gaining knowledge or skill over a period of time through seeing and doing things rather than through studying. Yang artinya proses memperoleh pengetahuan atau kemampuan selama periode tertentu dengan melihat dan melakukan hal-hal daripada dengan belajar.&lt;br /&gt;
Davenport dan Prusak dalam Martin (2010, p. 2) mendefinisikan personal knowledge is a fluid mix of framed experience, values, contextual information and expert insight that provides a framework for evaluating and incorporating new experiences and information.” Secara garis besar, berarti gabungan dari pengalaman, nilai – nilai, informasi kontekstual, dan wawasan luas yang menyediakan sebuah kerangka pengetahuan untuk mengevaluasi dan menggabungkan pengalaman – pengalaman dan&lt;br /&gt;
informasi yang baru.&lt;br /&gt;
Menurut Martin (2010), personal knowledge didapat dari instruksi formal dan informal. Personal knowledge juga termasuk ingatan, story-telling, hubungan pribadi, buku yang telah dibaca atau ditulis, catatan, dokumen, foto, intuisi, pengalaman, dan segala sesuatu yang dipelajari, mulai dari pekarangan hingga pengembangan nuklir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.&lt;b&gt; Explicit Knowledge&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Explicit knowledge bersifat formal dan sistematis yang mudah untuk dikomunikasikan dan dibagi (Carrillo et al., 2004). Menurut pernyataan Polanyi (1966) pada saat tacit knowledge dapat dikontrol dalam benak seseorang, explicit knowledge justru harus bergantung pada pemahaman dan aplikasi secara tacit, maka dari itu semua pengetahuan berakar dari tacit knowledge. Secara umum explicit knowledge dapat dijabarkan sebagai:&lt;br /&gt;
1. Dapat diucapkan secara tepat dan resmi&lt;br /&gt;
2. Mudah disusun, didokumentasikan, dipindahkan, dibagi, dan dikomunikasikan&lt;br /&gt;
Penerapan explicit knowledge ini lebih mudah karena pengetahuan yang diperoleh dalam bentuk tulisan atau pernyataan yang didokumentasikan, sehingga setiap karyawan dapat mempelajarinya secara independent.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.1 Job Procedure&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Secara terpisah pengertian job adalah a responsibility, duty or function, dan procedure adalah a formal or official order or way of doing things. Jadi pengertian job procedure atau prosedur kerja adalah tanggung jawab atau tugas yang bersifat formal atau perintah resmi atau cara melakukan hal-hal. Berdasarkan pernyataan Anshori selaku pihak yang mencetuskan knowledge management, salah satu bentuk konkret dari explicit knowledge adalah Standard Operation Procedure.&lt;br /&gt;
Standard Operation Procedure atau prosedur pelaksanaan dasar dibuat untuk mempertahankan kualitas dan hasil kerja. Dengan menggunakan Standard Operation Procedure maka tugas-tugas akan semakin mudah dikerjakan, juga tamu akan terbiasa dengan sistem pelayanan yang ada. Disamping itu Standard Operation Procedure diciptakan agar para tamu merasa nyaman dalam mendapatkan apa yang dibutuhkan dan diinginkan. Standard Operation Procedure sendiri dalam pelaksanaannya sangat fleksibel karyawan dapat memberikan masukan berdasarkan pengetahuan yang didapat.&lt;br /&gt;
Lebih lanjut menurut Sulastiyono (2001, p. 244) Standard adalah sebagai langkah awal untuk mendapatkan derajat kesesuaian suatu produk, dibandingkan dengan harapan-harapan tamu. Oleh sebab itu, agar suatu jenis pekerjaan dapat menghasilkan produk yang standard dari waktu ke waktu, maka cara-cara mengerjakan untuk menghasilkan produk tersebut juga harus dilakukan dengan cara-cara yang standard pula. Yang dimaksudkan dengan produk yang standard adalah:&lt;br /&gt;
1. Memiliki derajat kesesuaian untuk pemakai.&lt;br /&gt;
2. Setiap jenis produk yang dihasilkan untuk digunakan, secara konsisten memiliki spesifikasi yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dengan adanya atau digunakannya Standard Operation Procedure adalah:&lt;br /&gt;
1. Mempunyai nilai sebagai alat atau saluran komunikasi bagi manajemen dengan para staf dan para pelaksananya. Melalui Standard Operation Procedure, seluruh staf dan karyawan akan mengetahui secara jelas, berusaha untuk memahami tentang tujuan dan sasaran, serta kebijakan dan prosedur kerja perusahaan. Dengan demikian setiap orang dalam organisasi akan menerima pesan yang jelas dari Standard Operation Procedure tersebut.&lt;br /&gt;
2. Standard Operation Procedure juga dapat digunakan sebagai alat atau acuan untuk melaksanakan pelatihan baik bagi para staf dan karyawan, serta bagi karyawan baru.&lt;br /&gt;
3. Standard Operation Procedure dapat mengurangi waktu yang terbuang, dengan demikian diharapkan akan meningkatkan produktivitas kerja baik bagi manajemen ataupun bagi para staf dan karyawan. Apabila tidak tersedia manual pekerjaan, maka bila terjadi sesuatu kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan harus dicari dahulu jalan pemecahannya, atau didiskusikan dahulu dengan rekan sekerja dan atasannya, dan ini berarti membuang waktu. Lain halnya bila cara penyelesaiannya sudah tersedia secara tertulis, maka akan lebih cepat pelaksanaanya dan waktu lebih banyak dihemat, serta dapat lebih dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan lain.&lt;br /&gt;
4. Dengan dibantu oleh pengawasan yang dilaksanakan dalam proses pekerjaan, maka Standard Operation Procedure dapat dilaksanakan secara lebih konsisten, dan menjamin terciptanya produk yang standar, sekalipun dikerjakan oleh orang-orang yang berbeda dan waktu pelaksanaan yang tidak bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.2 Technology&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Teknologi merupakan salah satu elemen pokok yang terdapat pada knowledge management, dikenal sebagai media yang mempermudah penyebaran explicit knowledge. Berdasarkan pernyataan Gillingham dan Roberts (2006) awal mulanya knowledge management digerakkan oleh teknologi, khususnya explicit knowledge yang lebih mudah disusun. Menurut Marwick (2001) teknologi bukanlah hal baru dalam knowledge management, dan pengalaman yang telah dibentuk oleh para ahli sebelumnya menjadi bahan pertimbangan terbentuknya teknologi itu sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu teknologi yang mendukung knowledge management akan selalu berkembang dalam bentuk sistem-sistem yang mempermudah proses penyebaran knowledge. Salah satu teknologi paling mutakhir yang saat ini digunakan oleh banyak perusahaan untukproses penyebaran knowledge adalah intranet, dimana hal ini didasarkan pada kebutuhan untuk mengakses knowledge dan melakukan kolaborasi, komunikasi serta sharing knowledge secara ”on line”. Intranet merupakan salah satu bentuk teknologi yang diterapkan di Surabaya Plaza Hotel. Intranet atau yang disebut juga internal internet menawarkan kesempatan untuk menggunakan telekomunikasi yang maju yang telah dikembangkan dari internet. Menurut pendapat Merali peralatan seperti intranet dan internet dianggap sebagai sistem knowledge management yang utama untuk menjalankan dan mendukung forum diskusi dan praktek (1999). Intranet bukan merupakan jaringan tunggal juga bukan merupakan perangkat yang menghubungkan jaringan-jaringan seperti internet. Nama intranet digunakan sebagai perwujudan dimana standar dan alat- alat dikembangkan dalam internet digunakan untuk menyimpan dan mengirim data perusahaan kepada pengguna dalam jaringan internal &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Elemen Pokok Knowledge&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. People&lt;br /&gt;
Yang berarti Knowledge Management berasal dari orang. People merupakan bentuk dasar untuk membentuk knowledge baru. Tanpa ada orang tidak akan ada knowledge.&lt;br /&gt;
2. Technology&lt;br /&gt;
Merupakan infrastruktur teknologi yang standar, konsisten, dan dapat diandalkan dalam mendukung alat-alat perusahaan.&lt;br /&gt;
3. Processes&lt;br /&gt;
Yang terdiri dari menangkap, menyaring, mengesyahkan, mentransformasikan, dan menyebarkan knowledge ke seluruh perusahaan dilengkapi dengan menjalankan prosedur dan proses tertentu.&lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-07-10T23:39:02.038-07:00</app:edited></item><item><title>Perdagangan International : Definisi, Ciri Utama, Faktor Penyebab terjadinya Perdagangan International dan Istilah istilah dalam Perdagangan Luar Negeri</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2012/02/perdagangan-international-definisi-ciri.html</link><category>Perdagangan International</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Wed, 22 Feb 2012 23:08:35 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-616511787509855880</guid><description>&lt;b&gt;Pengertian Perdagangan International&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Perdagangan Internasional dapat diartikan sebagai&lt;/b&gt; suatu hubungan kerjasama ekonomi yang dilakukan oleh negara yang satu dengan negara lain yang berkaitan dengan barang dan jasa sehingga mampu membawa suatu kemakmuran bagi suatu negara.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Perdagangan internasional merupakan&lt;/b&gt; hubungan kegiatan ekonomi antar negara yang diwujudkan dengan adanya proses pertukaran barang dan jasa atas dasar suka rela dan saling menguntungkan. Perdagangan Internasional juga dikenal dengan sebutan perdagangan dunia. Perdagangan Internasional terbagi menjadi dua bagian yaitu impor dan ekspor, yang biasanya disebut sebagai perdagangan ekspor impor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
teori dari para ahli ekonomi dari masyarakat kaum klasik mengenai perdagangan internasional :&lt;br /&gt;
1. Teori Keunggulan Mutlak (Absolute Advantage Theory) Adam Smith mengemukakan idenya tentang pembagian kerja internasional yang membawa pengaruh besar bagi perluasan pasar barang-barang negara tersebut serta akibatnya berupa spesialisasi internasional yang dapat memberikan hasil berupa manfaat perdagangan yang timbul dari dalam atau berupa kenaikan produksi serta konsumsi barang-barang dan jasa-jasa. Menurut Adam Smith bahwa dengan melakukan spesialisasi internasional, maka masing-masing negara akan berusaha untuk menekan produksinya pada barang-barang tertentu yang sesuai dengan keuntungan yang dimiliki baik keuntungan alamiah maupun keuntungan yang diperkembangkan.&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;/ol&gt;Yang dimaksud dengan keuntungan alamiah adalah: Keuntungan yang diperoleh karena suatu negara memiliki sumberdaya alam yang tidak dimiliki oleh negara lain baik kualitas maupun kuantitas.&lt;br /&gt;
Sedangkan yang dimaksud dengan keuntungan yang di perkembangkan adalah: Keuntungan yang diperoleh karena suatu negara telah mampu mengembangkan kemampuan dan ketrampilan dalam menghasilkan produk-produk yang diperdagangkan yang belum dimiliki oleh negara lain. (Soelistyo, 1991:28)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Teori Keunggulan Komparatif ( Comparative Advantage Theory)Teori ini dikemukakan oleh David Ricardo untuk melengkapi teori Adam Smith yang tidak mempersoalkan kemungkinan adanya negara-negara yang sama sekali tidak mempunyai keuntungan mutlak dalam memproduksi suatu barang terhadap negara lain misalnya negara yang sedang berkembang terhadap negara yang sudah maju.&lt;br /&gt;
Untuk melengkapi kelemahan-kelemahan dari teori Adam Smith, Ricardo membedakan perdagangan menjadi dua keadaan yaitu:&lt;br /&gt;
1. Perdagangan dalam negeri.&lt;br /&gt;
2. Perdagangan luar negeri.&lt;br /&gt;
Menurut Ricardo keuntungan mutlak yang dikemukakan oleh Adam Smith dapat berlaku di dalam perdagangan dalam negeri yang dijalankan atas dasar ongkos tenaga kerja, karena adanya persaingan bebas dan kebebasan bergerak dari faktor-faktor produksi tenaga kerja dan modal.&lt;br /&gt;
Karena itu masing-masing tempat akan melakukan spesialisasi dalam memproduksi barang-barang tertentu apabila memiliki ongkos tenaga kerja yang paling kecil. Sedangkan untuk perdagangan luar negeri tidak&lt;br /&gt;
dapat didasarkan pada keuntungan atau ongkos mutlak. Karena faktor-faktor produksi di dalam perdagangan luar negeri tidak dapat bergerak bebas sehingga barang-barang yang dihasilkan oleh suatu negara mungkin akan ditukarkan dengan barang-barang dari negara lain meskipun ongkos tenaga kerja yang dibutuhkan untuk membuat barang tersebut berlainan.&lt;br /&gt;
Dengan demikian inti Keuntungan komparatif dapat dikemukakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
Bahwa suatu negara akan menspesialisasi dalam memproduksi barang yang lebih efisien di mana&lt;br /&gt;
negara tersebut memiliki keunggulan komparatif.( Budiono, 1990:35)&lt;br /&gt;
Atau dengan kata lain dapat dikemukakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
Kemampuan untuk menemukan barang-barang yang dapat di produksi pada tingkat biaya relatif yang lebih rendah daripada barang lainnya. ( Charles P.Kidlleberger dan Peter H. Lindert, Ekonomi Internasional (terjemahan Burhanuddin Abdullah,1991:30)&lt;br /&gt;
Untuk itu bagi negara yang tidak memiliki faktor-faktor produksi yang menguntungkan, dapat melakukan perdagangan internasional, asalkan negara tersebut mampu menghasilkan satu atau beberapa jenis barang yang paling produktif dibandingkan negara lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ciri utama perdagangan Internasional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perdagangan internasional berada dalam lingkup komoditi dalam pertukaran barang, dengan adanya perbedaan alam di tiap Negara. Namun, &lt;span class="fullpost"&gt;dengan adanya perbedaan di tiap – tiap Negara atau daerah, oleh sebab itu ada beberapa karakteristik utama dalam perdagangan Internasional, antara lain :&lt;br /&gt;
1. Perdagangan internasional dalam barang dan jumlah jumlah transaksi lebih umumnya, transportasi jarak jauh, untuk memenuhi waktu yang lama, sehingga kedua belah pihak menganggap risiko yang lebih besar dari perdagangan domestik.&lt;br /&gt;
2. Rentan terhadap perdagangan internasional dalam barang perdagangan kedua negara dalam politik dan ekonomi perubahan dalam situasi internasional, hubungan bilateral memiliki dampak dalam perubahan kondisi.&lt;br /&gt;
3. Barang dalam perdagangan internasional, perdagangan di samping kedua belah pihak, yang harus berhubungan dengan transportasi, asuransi, perbankan, komoditi inspeksi, adat dan lainnya departemen bekerja sama dengan proses perdagangan dalam negeri akan semakin kompleks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Faktor Penyebab terjadinya perdagangan Internasional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Perbedaan dalam memproduksi barang&lt;br /&gt;
Satu negara tidak dapat memproduksi barang tertentu. &lt;br /&gt;
2. Negara tidak dapat memproduksi barang sesuai dengan permintaan masyarakat&lt;br /&gt;
Kadang kala masyarakat tidak menyukai barang yang diproduksi oleh negaranya sendiri. Misalnya saja masyarakat Indonesia, mereka tidak puas memakai barang produksi dalam negeri.&lt;br /&gt;
Masyarakat Indonesia lebih menyukai memakai barang impor dari negara lainnya, misalnya sepatu, tas, dan baju yang lebih bermerk.&lt;br /&gt;
3. Produksi dalam negeri yang tidak seimbang dengan permintaan pasar.&lt;br /&gt;
Persediaan barang dan permintaan pasar disetiap negara yang tidak seimbang. (Liang, 1999)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Istilah-Istilah Penting yang Berkaitan dengan Perdagangan Luar Negeri :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
- Perdagangan Luar Negeri adalah perdagangan barang-barang dari suatu negeri ke lain negeri di luar batas negara.&lt;br /&gt;
 - Sales Contract adalah persetujuan antara penjual dan pembeli, yang menyatakan bahwa kedua belah pihak mengikat diri melakukan perjanjian jual-beli dengan syarat-syarat yang telah sama-sama dimufakati.&lt;br /&gt;
- Barter adalah pengiriman barang-barang ke luar negeri untuk ditukarkan dengan barang-barang yang dibutuhkan di dalam negeri.&lt;br /&gt;
- Balance of Trade adalah Neraca Perdagangan yaitu laporan penerimaan dan pembayaran devisa yang bersumber dari perdagangan ekspor dan impor.&lt;br /&gt;
- Bilateral Trade Agreement adalah persetujuan perdagangan yang dibuat antara dua negara.&lt;br /&gt;
- Certificate of Origin adalah surat pernyataan yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang (Perindag) yang menyebutkan negara asal suatu barang.&lt;br /&gt;
- Commercial Invoice adalah suatu nota perhitungan yang dibuat oleh penjual (eksportir) untuk pembeli (importir) yang berisi jumlah barang, harga satuan dan harga total.&lt;br /&gt;
- Commodity adalah barang dagangan terutama bahan baku dan hasil pertanian.&lt;br /&gt;
- Competitive adalah kemampuan daya saing.&lt;br /&gt;
- Dumping adalah menjual barang-barang di luar negeri dengan harga yang lebih rendah daripada harga di dalam negeri.&lt;br /&gt;
- Embargo adalah larangan ekspor impor atas produk tertentu terhadap negara tertentu.&lt;br /&gt;
- Free on Board (FOB) adalah kondisi penjualan bahwa penjual hanya bertanggung jawab sampai dengan barang-barang ditempatkan diatas kapal.&lt;br /&gt;
- Free Zone adalah bagian wilayah negara yang dinyatakan daerah bebas bea.&lt;br /&gt;
- Free Trade Area adalah daerah perdagangan bebas sebagai hasil perjanjian antar beberapa negara untuk menghapuskan bea masuk untuk impor barang dari negara anggota tetapi tetap mengenakan bea masuk untuk negara lainnya.&lt;br /&gt;
- Quota adalah pembatasan jumlah fisik terhadap barang yang masuk (quota impor) dan barang yang keluar (quota ekspor).&lt;br /&gt;
- Tariff adalah pembebanan pajak terhadap barang-barang yang melewati batas suatu negara.&lt;br /&gt;
- Bay Plan adalah dokumen yang menggambarkan posisi muatan berikut data-data muatan dalam palka kapal.&lt;br /&gt;
- Bill of Lading (B/L) adalah tanda terima barang yang telah dimuat didalam kapal laut, yang berarti sebagai bukti atas pemilikan barang.&lt;br /&gt;
- Consignee adalah pihak kepada siapa barang ditujukan atau diberitahukan tentang tibanya barang (impor).&lt;br /&gt;
- Container adalah alat untuk mengangkut barang.&lt;br /&gt;
- Word Trade Organizaton (WTO) adalh organisasi perdagangan dunia&lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-02-22T23:08:35.991-08:00</app:edited></item><item><title>Skripsi : Hubungan Antara Stres Kerja Dengan Produktivitas Kerja</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2012/01/skripsi-hubungan-antara-stres-kerja.html</link><category>Skripsi</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Tue, 24 Jan 2012 18:01:32 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-8189030916292541959</guid><description>Dwi Retnaningtyas. 2005. Hubungan Antara Stres Kerja Dengan Produktivitas Kerja Di Bagian Linting Rokok PT Gentong Gotri Semarang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Stres kerja dapat menimpa semua tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaannya. Penyebab terjadinya stres kerja yaitu faktor- faktor intrinsik pekerjaan, peran individu dalam organisasi, pengembangan karir, hubungan dalam organisasi, struktur organisasi, hubungan di luar organisasi atau pekerjaan, ciri individu. Stres yang dialami oleh tenaga kerja dapat berkembang kearah positif&lt;br /&gt;
yaitu stres dapat menjadi kekuatan positif bagi tenaga kerja. Adanya dorongan yang tinggi untuk berprestasi membuat makin tinggi tingkat stresnya dan makin tinggi juga produktivitas dan efisiensinya. Tetapi stres juga dapat berkembang kearah negatif yaitu penurunan prestasi kerja, peningkatan ketidakhadiran kerja dan kecenderungan mengalami kecelakaan. Demikian pula jika banyak diantara tenaga kerja di dalam organisasi atau perusahaan mengalami stres kerja, maka&lt;br /&gt;
produktivitas dan kesehatan organisasi itu akan terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara stres kerja dengan produktivitas tenaga kerja wanita. Penelitian dilakukan pada tenaga kerja wanita bagian linting PT Gentong Gotri Semarang. Populasi penelitian&lt;br /&gt;
berjumlah 100 orang dengan sampel sebanyak 25 orang. Sampel diambil dengan menggunakan teknik sampling purposive, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Adapun pertimbangan tersebut yaitu tenaga kerja wanita, berkeluarga, umur 20-35 tahun, masa kerja 1-5 tahun, pendidikan terakhir SMP, Kesehatan fisik baik (tidak sedang sakit).&lt;br /&gt;
Setelah penentuan sampel maka dilakukan pengambilan data. Teknik pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala stres kerja dan lembar pencatatan produktivitas tenaga kerja. Sebelum skala stres kerja disebarkan, diadakan uji coba skala stres kerja. Kemudian hasilnya dianalisis yang terdiri dari validitas dan reliabilitas untuk mendapatkan skala stres kerja yang absah. Teknik yang digunakan dalam analisis data adalah korelasi Rank Spearman. Berdasarkan hasil analisis data, didapatkan besarnya probabilitas yaitu 0,005. Karena probabilitas &amp;lt; 0,05 maka Ho ditolak, yang artinya ada hubungan antara stres kerja dengan produktivitas tenaga kerja wanita. Didapatkan r hitung sebesar -0,549 yang artinya ada hubungan yang cukup kuat antara dua variabel. Koefisien korelasi mempunyai tanda negatif yang berarti semakin tinggi stres kerja maka produktivitas tenaga kerja semakin rendah. Demikian sebaliknya makin rendahstres kerja, maka produktivitas tenaga kerja semakin tinggi.&lt;br /&gt;
Kata kunci: Stres kerja, produktivitas kerja . &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blink&gt;&lt;a href="http://adf.ly/4z7I3"&gt;Download Skripsinya disini&lt;/a&gt;&lt;/blink&gt;&lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-24T18:01:32.508-08:00</app:edited></item><item><title>Jurnal tentang : PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN KOMITMEN ORGANISASIONAL TERHADAP KEPUASAN KERJA KARYAWAN</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2012/01/jurnal-tentang-pengaruh-budaya.html</link><category>Jurnal SDM</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Tue, 17 Jan 2012 17:42:42 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-6060350177004560325</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Klara Innata Arishanti&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma, klara_innata@yahoo.com&lt;/div&gt;ABSTRAK&lt;br /&gt;
Penelitian ini dilakukan terhadap 75 karyawan PT. X, dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi dan komitmen organisasional (variabel bebas) terhadap kepuasan kerja (variabel terikat). Analisis data pada penelitian ini menggunakan regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Berdasarkan perhitungan, diketahui pula bahwa rerata skor empirik dari tiap skala yang dibagikan pada subjek menunjukkan bahwa subjek memiliki skor diatas rata-rata pada tiap variabel yang diteliti. Baik budaya organisasi, komitmen organisasional maupun kepuasan kerja dikategorikan cukup tinggi.&lt;br /&gt;
Kata Kunci : budaya organisasi, komitmen organisasional, kepuasan kerja, regresi ganda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ABSTRACT&lt;br /&gt;
The research was conducted by involving 75 employees of X Company. The objective is to find out the influence organizational culture and organizational commitment (independent variable) toward job satisfaction (dependent variable). Data were analyzed by using multiple regression. The result indicated that the influence between independence variable and dependence variable is significant. Based on statistics, it is found that the empiric score’s mean of each scale which is divided to subject shows that subject has high score in each observed variable, either the organizational culture, organizational commitment, or job satisfaction. Keywords : organizational culture, organizational commitment, job satisfaction, multiple regression.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://adf.ly/4oeYn"&gt;Download Jurnalnya&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-17T17:42:42.078-08:00</app:edited></item><item><title>Manajemen Kinerja : Definisi manajemen Kinerja, Pandangan Dasar, Tahapan dan Tujuan Manajemen Kinerja</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2011/12/manajemen-kinerja-definisi-manajemen.html</link><category>Manajemen Operasional</category><category>Manajemen Sumber Daya Manusia</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Sun, 18 Dec 2011 22:18:19 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-7146953554988848427</guid><description>&lt;b&gt;Definisi manajemen Kinerja:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara mendasar, Manajemen kinerja merupakan rangkaian kegiatan yang dimulai dari perencanaan kinerja, pemantauan / peninjauan kinerja, penilaian kinerja dan tindak lanjut berupa pemberian penghargaan dan hukuman. Rangkaian kegiatan tersebut haruslah dijalankan secara berkelanjutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Baird (1986) definisi Manajemen Kinerja adalah suatu proses kerja dari kumpulan orang- orang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dimana proses kerja ini berlangsung secara berkelanjutan dan terus- menerus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Direktorat Jenderal Anggaran (2008), manajemen kinerja merupakan suatu proses strategis dan terpadu yang menunjang keberhasilan organisasi melalui pengembangan performansi aspek-aspek yang menunjang keberadaan suatu organisasi. Pada implementasinya, manajemen kinerja tidak hanya berorientasi pada salah satu aspek, melainkan aspek-aspek terintegrasi dalam mendukung jalannya suatu organisasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Dessler (2003:322) definisi Manajemen Kinerja adalah: Proses mengonsolidasikan penetapan tujuan, penilaian, dan pengembangan kinerja ke dalam satu sistem tunggal bersama, yang bertujuan memastikan kinerja karyawan mendukung tujuan strategis perusahaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Udekusuma (2007) Manajemen kinerja adalah suatu proses manajemen yang dirancang untuk menghubungkan tujuan organisasi dengan tujuan individu sedemikian rupa, sehingga baik tujuan individu maupun tujuan perusahaan dapat bertemu. Dalam hal ini bagi pekerja bukan hanya tujuan individunya yang tercapai tetapi juga ikut berperan dalam pencapaian tujuan organisasi, yang membuat dirinya termotivasi serta mendapat kepuasan yang lebih besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Dasar Sistem Manajemen Kinerja:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bacal (1998) mengungkapkan lima pandangan dasar dalam sistem manajemen kinerja. &lt;br /&gt;
1. Model integratif untuk kinerja organisasi. Pada pandangan ini, manajemen kinerja sebagai suatu struktur sistem integratif yang saling berkesinambungan antar aspek. Sehingga, keberhasilan manajemen kinerja ditentukan oleh keseluruhan aspek yang ada dalam suatu organisasi, tidak ditentukan bagian per bagian.&lt;br /&gt;
2. Fokus pada proses dan hasil. Manajemen kinerja menjadi suatu sistem yang tidak hanya berorientasi pada hasil (pandangan tradisional). Proses menjadi salah satu aspek penunjang yang penting dalam penentuan hasil yang baik.&lt;br /&gt;
3. Keterlibatan pihak yang berkaitan dalam pencapaian tujuan. Pekerja sebagai subyek utama yang melakukan proses bisnis organisasi secara langsung. Maka dari itu, keterlibatan pihak yang berkaitan (pekerja) menjadi penunjang dalam pencapaian tujuan organisasi.&lt;br /&gt;
4. Penilaian kinerja objektif dan mengena pada sasaran. Manajemen kinerja mencakup penilaian kinerja objektif dan sesuai dengan sasaran tiap bagian organisasi yang berkaitan. Akhirnya, hal ini berpotensi pada dampak positif dari penilaian kinerja yang sukses dan terstruktur.&lt;br /&gt;
5. Evaluasi dan pembelajaran antara atasan dan bawahan. Manajemen kinerja yang baik mampu menyediakan suatu hasil evaluasi kinerja terukur. Hasil evaluasi dapat memberikan informasi pada pihak terkait (atasan maupun bawahan). Informasi mengenai hasil evaluasi dapat menjadi sarana pembelajaran dan penentu tindakan perbaikan di masa mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahapan Manajemen Kinerja: &lt;br /&gt;
Tahapan Manajemen Kinerja Menurut Williams (1998), terdapat empat tahapan utama dalam pelaksanaan manajemen kinerja. Tahapan ini menjadi suatu siklus manajemen kinerja yang saling berhubungan dan menyokong satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;
1. Tahap pertama: &lt;span class="fullpost"&gt;directing/planning. Tahap pertama merupakan tahap identifikasi perilaku kerja dan dasar/basis pengukuran kinerja. Kemudian, dilakukan pengarahan konkret terhadap perilaku kerja dan perencanaan terhadap target yang akan dicapai, kapan dicapai, dan bantuan yang akan dibutuhkan. Indikator-indikator target juga didefinisikan di tahap ini. Menurut Khera (1998), penentuan target/goal akan efektif bila mengadopsi SMART. SMART merupakan singkatan dari Spesific, Measureable, Achievable, Realistic, dan Timebound (dalam Ilyas, 2006, p. 28). Sebuah target harus jelas apa yang akan dicapai dan bagaimana mencapainya (spesific), terukur keberhasilannya (measureable) dan orang lain dapat memahami/melihat keberhasilannya. Target harus memungkinkan untuk dicapai, tidak terlalu rendah atau berlebihan (achievable), masuk akal dan sesuai kondisi/realita (realistic), serta jelas sasaran waktunya (timebound).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tahap kedua: managing/supporting. Tahap kedua merupakan penerapan monitoring pada proses organisasi. Tahap ini berfokus pada manage, dukungan, dan pengendalian terhadap jalannya proses agar tetap berada pada jalurnya. Jalur yang dimaksudkan disini adalah kriteria maupun proses kerja&lt;br /&gt;
yang sesuai dengan prosedur berlaku dalam suatu organisasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Tahap ketiga: review/appraising. Tahap ketiga mencakup langkah evaluasi.&lt;br /&gt;
Evaluasi dilakukan dengan flashback/review kinerja yang telah dilaksanakan. Setelah itu, kinerja dinilai/diukur (appraising). Tahap ini memerlukan dokumentasi/record data yang berkaitan dengan obyek yang dievaluasi. Evaluator harus bersifat obyektif dan netral agar didapat hasil evaluasi yang&lt;br /&gt;
valid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Tahap keempat: developing/rewarding. Tahap keempat berfokus pada pengembangan dan penghargaan. Hasil evaluasi menjadi pedoman penentu keputusan terhadap action yang dilakukan selanjutnya. Keputusan dapat berupa langkah perbaikan, pemberian reward/punishment, melanjutkan suatu kegiatan/prosedur yang telah ada, dan penetapan anggaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tujuan Manajemen Kinerja:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Adapun tujuan dari manajemen kinerja adalah (Williams, 1998; Armstrong &amp;amp; Baron, 2005; Wibisono, 2006):&lt;br /&gt;
1. Mengatur kinerja organisasi dengan lebih terstruktur dan terorganisir.&lt;br /&gt;
2. Mengetahui seberapa efektif dan efisien suatu kinerja organisasi.&lt;br /&gt;
3. Membantu penentukan keputusan organisasi yang berkaitan dengan kinerja organisasi, kinerja tiap bagian dalam organisasi, dan kinerja individual.&lt;br /&gt;
4. Meningkatkan kemampuan organisasi secara keseluruhan dengan perbaikan berkesinambungan.&lt;br /&gt;
5. Mendorong karyawan agar bekerja sesuai prosedur, dengan semangat, dan produktif sehingga hasil kerja optimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manajemen kinerja yang efektif akan memberikan beberapa hasil, diantaranya adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tujuan yang jelas bagi organisasi dan proses yang benar untuk mengidentifikasi, mengembangkan, mengukur, dan membahas tujuan.&lt;br /&gt;
- Integrasi antara tujuan secara luas yang dibuat oleh manajemen senior dengan tujuan masing-masing pekerja.&lt;br /&gt;
- Kejelasan yang lebih baik mengenai aspirasi dan tujuan organisasi.&lt;br /&gt;
- Pelaksanaan dialog berkelanjutan antara manajemen dengan pekerja.&lt;br /&gt;
- Pengembangan lingkungan yang lebih terbuka.&lt;br /&gt;
- Perusahaan dapat mencapai hasil yang diinginkan.&lt;br /&gt;
- Mendorong pengembangan pribadi.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-18T22:18:19.394-08:00</app:edited></item><item><title>Stimulus Pemasaran : Stimulus Pemasaran dan Stimulus Lingkungan Sosial dan Budaya</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2011/12/stimulus-pemasaran-stimulus-pemasaran.html</link><category>Manajemen Pemasaran</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Thu, 01 Dec 2011 17:59:20 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-7289021948517602882</guid><description>&lt;b&gt;Definisi Stimulus atau Stimuli:&lt;/b&gt;
Stimulus menurut Assael (192:128) adalah:Stimuli are any physical, visual, or verbal communications that can influence an individual's response. yang berarti :setiap bentuk secara fisik, visual, atau komunikasi secara verbal yang dapat mempenganrhi respon dari individu.&lt;br /&gt;
Setiadi (2008) menyatakan bahwa stimulus atau stimuli merupakan bentuk fisik, visual, atau komunikasi verbal yang dapat mempengaruhi individu.

Stimulus terdiri dari 2 bentuk, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Stimulus pemasaran (Marketing Stimuli)
Marketing stimuli adalah setiap komunikasi atau stimuli secara fisik yang di desain untuk mempengaruhi konsumen. 
Setiadi (2008) menyatakan bahwa stimuli pemasaran adalah setiap komunikasi atau stimuli fisik yang didesain untuk mempengaruhi konsumen. Produk dan komponen lainnya (seperti kemasan, isi, ciri-ciri fisik) adalah stimuli utama (primary/intrinsic stimulus).&lt;br /&gt;
Menurut Kotler (2007) bahwa Marketing stimuli ini terdiri dari :
(a) Product (produk)
(b) Price (harga)
(c) Promotion (promosi)
(d) Place (tempat)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


b. Stimulus lingkungan (Enviromental stimuli).
Enviromental stimuli adalah faktor-faktor ekstemal dari konsumen.Menurut Assael (1992:319) mempunyai dua faktor yang sangat penting mempengaruhi perilaku konsumen yaitu: Budaya (culture) dan Kelas Sosial (social class).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

a. Budaya (culture) Menurut Philip Kotler (1997:172) mendelinisikan budaya sebagai: Culture is the most fundamental determinant of a person's wants and behavior. Yang kira2 mempunyai arti: Kebudayaan adalah faktor dasar yang paling menentukan dari perilaku dan keinginan seseorang.
Kebudayaan mencakup segala cara atau pola pikir, merasakan dan bertindak yang manusia sebagai anggota masyarakat.
Perilaku konsumen ditentukan oleh kebudayaan, yang tercennin pada cara hidup, kebiasaaii, dan tradisi dalam permintaan akan bennacam - macam barang dan jasa di pasar dimana pcrusahaan dituntut untuk dapat memenuhinya. Perilaku manusia sangat ditentukan oleh kebudayaan yang melingkupinya dan pengaruhnya akan selalu berubah setiap waktu sesuai dengan perkembangan jaman dari masyarakat tersebut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

b. Kelas Sosial (social class)
Menurut Kotler (1997:13) kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat yang tersusun dalam sebuah urutan jenjang dan para anggota dalam setiap jenjang itu memiliki nilai - nilai, kepentingan atau minat, serta tingkah laku yang sama.
 
Stimuli atau rangsangan lainnya terdiri dari&lt;span class="fullpost"&gt; kekuatan-kekuatan dan kejadian-kejadian penting dalam lingkungan pembeli: lingkungan ekonomi, teknologi, politik dan budaya. Semua rangsangan ini akan melewati kotak hitam pembeli dan menghasilkan serangkaian tanggapan dari para pembeli yang bisa diteliti, sehinga pemasar perlu memahami apa yang terjadi dengan kotak hitam antara rangsangan dan tanggapan. seperti gambar beriku:

&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-k1RNui-hOXY/TtgvMeQC7fI/AAAAAAAAFjM/Zo93VeWKehk/s1600/model%2Btingkah%2Blaku%2Bkonsumen.png" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="198" src="http://2.bp.blogspot.com/-k1RNui-hOXY/TtgvMeQC7fI/AAAAAAAAFjM/Zo93VeWKehk/s640/model%2Btingkah%2Blaku%2Bkonsumen.png" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Menurut Basu Swastha dan T. Hani Handoko (1987:63), kelas sosial dapat dikelompokkan ke dalam tiga golongan:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;1. Golongan atas
Yang termasuk dalam kelas ini antara lain : pengusaha pengusaha kaya, pejabat pejabat tinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;
2. Golongan menengah
Yang termasuk dalam kelas ini antara lain : karyawan instansi pemerintah, pengusaha menengah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;3. Golongan rendah
Yang termasuk dalam kelas ini adalah : buruh pabrik, pegawai rendah. Adapun perbedaan tingkat kelas sosial yang ada dalam masyarakat, menyebabkan perilaku yang berbeda, dari tiap - tiap tingkat atau golongan kelas sosial. Di sini terlihat bahwa perilaku seseorang juga dipcngaiiihi oleh tingkat atau golongan kelas sosialnya masing - masing.



&lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-01T17:59:20.473-08:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/-k1RNui-hOXY/TtgvMeQC7fI/AAAAAAAAFjM/Zo93VeWKehk/s72-c/model%2Btingkah%2Blaku%2Bkonsumen.png" height="72" width="72" /></item><item><title>Sikap dan Kepribadian : Pengertian Sikap dan kepribadian, Pembentukan Sikap, Tipe Sikap dan Faktor Penentu Kepribadian</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2011/11/sikap-dan-kepribadian-pengertian-sikap.html</link><category>Manajemen Sumber Daya Manusia</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Thu, 17 Nov 2011 19:23:47 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-5593876050498354759</guid><description>&lt;b&gt;Definisi Sikap: &lt;/b&gt;
Stephen dan Timothy, 2008:92 mendefinisikan Sikap (attitude) adalah pernyataan evaluatif, baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan terhadap objek, individu, atau peristiwa.
menurut Ramdhani, 2008 sikap adalah cara menempatkan atau membawa diri, atau cara merasakan, jalan pikiran, dan perilaku.&lt;br /&gt;
Menurut Kotler dan Armstrong (1997, p.157), sikap adalah “Evaluasi,perasaan, dan kecenderungan dari individu terhadap suatu obyek yang relatif konsisten”. Sikap menempatkan orang dalam kerangka pemikiran mengenai menyukai atau tidak menyukai sesuatu, mengenai mendekati atau menjauhinya&lt;br /&gt;
Menurut Muchlas (2005:151) sikap (attitudes) ialah sesuatu yang kompleks, yang dapat didefinisikan sebagai pernyatan-pernyataan evaluatif, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, atau penilaian mengenaiobjek, manusia, atau peristiwa-peristiwa. Sebahagian sikap terbentuk melalui proses belajar sosial yang diperoleh dari orang lain.&lt;br /&gt;
Menurut Azwar (1995)sikap dapat dikategorikan ke dalam tiga orientasi pemikiran, yaitu: sikap yang
berorientasi pada respon, sikap yang berorientasi pada kesiapan respon, dan sikap yang berorientasi pada skema triadic.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Definisi Kepribadian:&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Allport (Pasaribu &amp;amp; Simandjuntak, 1984:95) Kepribadian didefinisikan sb: Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical system that determine his unique adjustment to his environment. yang kurang lebih memiliki arti bahwa kepribadian adalah organisasi yang dinamis pada individu di dalam system psychophysical yang menentukan keunikan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Psychophysical berarti bahwa kepribadian meliputi mental dan neural (susunan syaraf) atau keseluruhan fisik-psikologis yang dimiliki seseorang&lt;br /&gt;
Kepribadian (Muchlas, 2005: 84) didefinisikan sebagai gabungan dari semua cara dimana individu bereaksi dan berinteraksi dengan orang-orang lain, atau kadang-kadang didefenisikan sebagai organisasi internal dari proses psikologis dankecenderungan perilaku seseorang.&lt;br /&gt;
Menururt Stephen dan Timothy, (2008:127), kepribadan juga merupakan organisasi yang dinamis dalam sistem psikofisiologis individu yang menentukan caranya untuk menyesuaikan diri secara unik terhadap lingkungan, atau dengan kata lain kepribadian merupakan keseluruhan cara dimana seseorang individu berekasi dan berinteraksi dengan individu lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3 (tiga) komponen utama dari sikap, antara lain:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Kognitif atau evaluasi
Kognitif atau evaluasi adalah segmen opini atau keyakinan dari sikap, yang menentukan tingkatan untuk bagian yang lebih penting dari sebuah sikap.&lt;br /&gt;
2. Afektif atau perasaan,
Perasaan adalah segmen emosional atau perasaaan dari sebuah sikap, yang menimbukan hasil akhir perilaku.&lt;br /&gt;
3. Perilaku atau tindakan
Perilaku atau tindakan adalah sikap merujuk pada suatu maksud untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadap sesuatu atau seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pembentukan Sikap&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Proses pembentukan sikap berlangsung secara bertahap, dimulai dari proses belajar. Proses belajar ini dapat terjadi karena pengalaman-pengalaman pribadi seseorang dengan objek tertentu, seperti orang, benda atau peristiwa,dengan cara menghubungkan objek tersebut dengan pengalaman-pengalaman lain dimana seseorang telah memiliki sikap tertentu terhadap pengalaman itu atau melalui proses belajar sosial dengan orang lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah (Azwar:1995,30):&lt;br /&gt;
1. Pengalaman Pribadi
Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan obyek psikologis yang akan membentuk sikap positif dan sikap negatif. Pembentukan tanggapan terhadap obyek merupakan proses kompleks dalam diri individu yang melibatkan individu yang bersangkutan, situasi di mana tanggapan itu terbentuk, dan ciri-ciri obyektif yang dimiliki oleh stimulus. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam
dan lebih lama berbekas.&lt;br /&gt;
2. Pengaruh Orang Lain Yang Dianggap Penting
Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu di antara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang kita anggap penting akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Orang-orang yang biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau suami, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
3. Pengaruh Kebudayaan
Kebudayaan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita terutama kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan. Kebudayaan telah menanamkan garis pengarah sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayaan pula-lah yang memberi corak pengalaman-pengalaman individu-individu yang menjadi anggota kelompok masyarakatnya. Hanya kepribadian individu yang telah mapan dan kuatlah yang dapat memudarkan dominansi kebudayaan dalam pembentukan sikap individual.4. Media Massa&lt;span class="fullpost"&gt; 
Berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Sebagai tugas pokoknya dalam menyampaikan informasi, media massa membawa pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, bila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah sikap. Walaupun pengaruh media massa tidak sebesar pengaruh interaksi individual secara langsung, namun dalam proses pembentukan dan perubahan sikap, peranan media massa tidak kecil artinya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;
5. Lembaga Pendidikan Dan Lembaga Agama
Kedua lembaga di atas, mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan pusat keagamaan serta
ajarannya. Karena konsep moral dan ajaran agama sangat membentuk sistem kepercayaan maka tidak mengherankan kalau konsep tersebut ikut berperan dalam menentukan sikap individu terhadap sesuatu hal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;
6. Pengaruh Faktor Emosional
Terkadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap ini dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang. Akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang dapat bertahan lama.

&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Tipe Sikap&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Ada 3 (tiga) tipikal sikap seseorang, antara lain: (Ardana, 2009: 22)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;1. Kepuasan kerja, seseorang yang mempunyai tingkat kepuasan kerja yang tinggi akan cenderung menunjukkan sikap positif terhadap pekerjaan, demikian sebaliknya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;2. Keterlibatan kerja, sampai sejauh mana seseorang memihak pada pekerjaannya, berpartisipasi aktif didalamnya serta menanggapi kinerjanya sangat penting bagi organisasi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;3. Komitmen pada organisasi, sampai tingkat mana seseorang pegawai memihak pada organisasinya dan bertekad setia didalamnya.

&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;Faktor-faktor Penentu Kepribadian&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Kepribadian seseorang dihasilkan oleh faktor keturunan, lingkungan dan kondisi situasional (Stephen dan Timothy, 2008:127), antara lain:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;
1). Faktor Keturunan
Faktor keturunan ditransimisikan melalui ”gen”, yang berada dalam kromosom, yang menentukan keseimbangan hormon, bentuk fisik, dan menentukan atau membentuk kepribadian. Kepribadian tidak seluruhnya dipengaruhi oleh faktor keturunan, faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi bentuk kepribadian seseorang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;
2). Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang dapat memberikan tekanan kepada kepribadian seseorang adalah kultur masyarakat dimana seseorang dibesarkan, norma-norma keluarga, teman-teman dan kelompok sosial, serta pengaruh-pengaruh lain yang kita alami. Kultur akan membentuk norma, sikap, dan nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi ke genarasi berikutnya yang terus menerus berlangsung secara konsisten.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;

3). Kondisi Situasional
Kondisi situsional dapat mempengaruhi efek dari faktor-faktor keturunan dan lingkungan terhadapa kepribadian. Kepribadian seseorang meskipun relatif stabil dan konsisten, namun dapat berubah pada situasi-situasi yang berbeda. Tuntutan yang berbeda pada situasi yang berbeda dapat menimbulkan reaksi dan aspek yang berbeda pada kepribadian seseorang. Oleh karena itu, sebaiknya tidak melihat corak kepribadian secara terisolasi, tetapi juga mengetahui bahwa situasi-situasi tertentu lebih relevan dari situasi-situasi lain dalam mempengaruhi kepribadian sehingga dapat dilihat adanya perbedaan-perbedaan individual yang signifikan.&lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-17T19:23:47.711-08:00</app:edited></item><item><title>Penilaian Prestasi Kerja Berorientasi Masa Lalu</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2011/10/penilaian-prestasi-kerja-berorientasi.html</link><category>Manajemen Sumber Daya Manusia</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Tue, 18 Oct 2011 19:27:54 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-7340952768656010725</guid><description>Penilaian &lt;a 04="" 2009="" href="http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/07/prestasi-kerja-penegertian-penilaian.html" http:="" jurnal-sdm.blogspot.com="" metode-penilaian-pendekatan-dalam.html="" title="Pengertian Penilaian prestasi Kerja&amp;gt;prestasi kerja&amp;lt;/a&amp;gt; Merupakan proses melalui mana organisasi-organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan. ada beberapa &amp;lt;a href="&gt;metode dan pendekatan dalam penilaian prestasi kerja karyawan&lt;/a&gt;.

Suatu penerapan &lt;a href="http://jurnalmanajemenn.blogspot.com/2010/01/perancangan-penilaian-kinerja-karyawan.html" title="Download Jurnal Perancangan Penilaian Kinerja Karyawan Berdasarkan Kompetensi Spencer Dengan Metode Analytical Hierarchy Process disini"&gt;penilaian prestasi pekerjaan&lt;/a&gt; dikatakan baik biia penilaian prestasi pekerjaan diarahkan bukan untuk menilai orangnya, tetapi yang kita nilai adalah hasil pekerjaan yang telah dilakukannya. Suatu proses penilaian prestasi pekerjaan dapat dikatakan baik, apabila mampu:
a menghasilkan umpan balik hasil prestasi kerja yang jelas, sehingga yang bersangkutan tahu apa yang diharapkan darinya
b. Mengenali bidang pelaksanaan pekerjaan secara khusus yang perlu dipertahankan atau ditingkatkan.
c. Mengenali cara-cara yang dapat memberi kemungkinan bagi yang bersangkutan untuk mengembangkan bakat dan tangung jawab yang besar.

Faktor penilai dalam penilaian prestasi kerja sangat menentukan di samping alat ukur penilaiannya. Penilai prestasi kerja dapat bersifat individual misalnya atasan langsung, dapat pula berbentuk team penilai, yang lebih dari satu orang.
Untuk memungkinkan tercapainya obyektivitas penilaian, maka penilai prestasi kerja karyawan dapat berupa team penilai yang terdiri dari 2 atau 3 orang yang memiliki kemampuan yang diperlukan. (Martoyo, 1996:87)

Secara Umum Metode penilaian prestasi kerja dikelompokkan menjadi dua macam yaitu Metode penilaian yang berorientasi waktu yang lalu dan Metode penilaian yang berorientasi pada waktu yang akan datang ( Notoatmodjo, 1992).

&lt;b&gt;Metode-metode Penilaian Berorientasi Masa Lalu&lt;/b&gt;
Metode-metode yang berorientasi masa lalu mempunyai kelebihan daJam hal perlakuan terhadap prestasi kerja yang telah terjadi dan sampai derajat tertentu, dapat diukur. Kelemahannya adalah bahwa prestasi kerja di masa lalu tidak dapat diubah, tetapi dengan mengevaluasi prestasi kerja di masa lalu, para karyawan memperoleh umpan balik mengenai upaya-upaya mereka Umpan balik ini selanjutnya bisa mengarahkan kepada perbaikan-perbaikan prestasi.
Penilaian prestasi kerja yang berorientasi masa lalu, artinya penilaian prestasi kerja seorang karyawan itu dinilai berdasarkan hasil yang telah dicapai oleh karyawan selama ini.

Teknik-teknik penilaian prestasi kerja berorientasi waktu lalu antara lain :

&lt;b&gt;a. Rating Scale&lt;/b&gt;
Dalam hal ini penilai melakukan penilaian subyektif terhadap prestasi kerja karyawan dengan skala tertentu dari yang terendah sampai dengan tertinggi. Penilai memberikan tanda pada skala yang sudah ada tersebut dengan membandingkan antara hasil pekerjaan karyawan dengan kriteria yang telah ditentukan tersebut berdasarkan justifikasi penilai yang bersangkutan. Kelebihan metode ini adalah tidak mahal dalam penyusunan dan administrasinya, penilai hanya memerlukan sedikit latihan, tidak memakan waktu, dan dapat diterapkan untuk jumlah karyawan yang besar. Kelemahan adalah kesulitan dalam menentukan kriteria yang relevan dengan pelaksanaan kerja.

&lt;b&gt;b. Checklist&lt;/b&gt;
Dalam metode checklist penilai hanya memilih pernyataan-pernyataan yang sudah tersedia, yang menggambarkan prestasi kerja dan karakteristik-karakteristik karyawan ( yang dinilai ). Kebaikan checklist adalah ekonomis, mudah administrasinya, latihan bagi
penilai terbatas, dan terstandardisasi. Kelemahannya meliputi penggunaan kriteria kepribadian di samping kriteria prestasi kerja, kemungkinan terjadinya bias penilai (terutama hallo effect), interpretasi salah terhadap item-item check list dan penggunaan bobot yang tidak tepat dan juga tidak memungkinkan penilai memberikan penilaian relatif.

&lt;b&gt;c. Metode Peristiwa Kritis&lt;/b&gt;
Metode penilaian yang mendasarkan pada catatan-catatan penilai yang &lt;span class="fullpost"&gt; 
menggambarkan perilaku karyawan sangat baik dan sangat jelek dalam kaitannya dengan pelaksanaan kerja Peristiwa diklasifikasikan menjadi berbagai kateori seperti pengendalian bahaya keamanan pengawasan sisa bahan atau pengembangan karyawan. Kelebihan metode ini adalah berguna dalam memberikan umpan balik kepada karyawan dan mengurangi kesalahan pesan terakhir. Kelemahannya adalah bahwa para atasan sering tidak berminat mencatat peristiwa kritis atau cenderung mengada-ada, dan bersifat subyektif.
&lt;b&gt;
d. Metode Peninjauan Lapangan&lt;/b&gt;
Agar tercapai penilaian yang lebih terstandardisasi, banyak perusahaan menggunakan metode peninjauan lapangan (field review method). Spesialis personalia mendapatkan informasi khusus dari atasan langsung tentang prestasi kerja karyawan. Evaluasi dikirim kepada penyelia untuk review, perubahan, persetujuan dan pembahasan dengan karyawan yang dinilai. Spesialis personalia bisa mencatat penilaian pada tipe formulir penilaian apapun yang digunakan perusahaan.

&lt;b&gt;e. Metode-metode Evaluasi Kelompok&lt;/b&gt;
Penilaian-penilaian seperti biasanya dilakukan oleh penyelia atau atasan langsung. Metode-metode penilaian kelompok berguna untuk pengambilan keputusan kenaikan upah, promosi, dan berbagai bentuk penghargaan organisasional karena dapat menghasilkan ranking karyawan dari yang terbaik sampai terjelek.
Berbagai metode evaluasi kelompok di antaranya adalah:
1. Metode Ranking
Penilai membandingkan karyawan yang satu dengan karyawan lain untuk menentukan siapa yang lebih baik, dan kemudian menempatkan setiap karyawan dalam urutan dari yang terbaik sampai terjelek. Kekurangan metode ini adalah kesulitan untuk menentukan faktor pembanding, subyek kesalahan kesan terakhir dan halo effect. Kebaikannya menyangkut kemudahan administrasi dan penjelasannya
2. Grading atau Forced Distributions
Penilaian memisah-misahkan atau "menyortir" pada karyawan ke dalam berbagai klasifikasi yang berbeda.
3. Point Allocation Method
Metode ini merupakan bentuk lain metode Grading. Penilai diberikan sejumlah nilai total untuk dialokasikan di antara para karyawan dalam kelompok. Para karyawan yang lebih baik diberi nitai lebih besar daripada para karyawan dengan prestasi lebih jelek. Kebaikan metode alokasi nilai adalah bahwa penilai dapat mengevaluasi perbedaan relatif di antara para karyawan, meskipun kelemahannya halo effect dan bias kesan terakhir masih ada (Handoko, 1994)&lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-18T19:27:54.793-07:00</app:edited></item><item><title>Membangun Minat Beli : Definisi, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi dan Minat Pembelian Ulang (Future Intention)</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2011/10/membangun-minat-beli-definisi-faktor.html</link><category>Manajemen Pemasaran</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Tue, 04 Oct 2011 21:04:40 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-1985341672052952091</guid><description>Menurut Kamus Bahasa Indonesia SLTA, dijelaskan bahwa ”minat adalah,keinginan untuk memperhatikan atau melakukan sesuatu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Schiffman dan Kanuk (2004:25), menjelaskan bahwa pengaruh eksternal, kesadaran akan kebutuhan, pengenalan produk dan evaluasi alternatif adalah hal yang dapat menimbulkan minat beli konsumen. Pengaruh eksternal ini terdiri dari usaha pemasaran dan faktor sosial budaya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menurut Simamora (2002:131) minat adalah sesuatu yang pribadi dan berhubungan dengan sikap, individu yang berminat terhadap suatu obyek akan mempunyai kekuatan atau dorongan untuk melakukan serangkaian tingkah laku untuk mendekati atau mendapatkan objek tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Kotler, Bowen dan Makens (1999:156) mengenai minat beli : minat beli timbul setelah adanya proses evaluasi alternatif dan di dalam proses evaluasi, seseorang akan membuat suatu rangkaian pilihan mengenai produk yang hendak dibeli atas dasar merek maupun minat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Kotler dan Keller (2003:181), customer buying decision – all&lt;br /&gt;
their experience in learning, choosing, using, even disposing of a product. Yang&lt;br /&gt;
kurang lebih memiliki arti minat beli konsumen adalah sebuah perilaku konsumen dimana&lt;br /&gt;
konsumen mempunyai keinginan dalam membeli atau memilih suatu produk, berdasarkan pengalaman dalam memilih, menggunakan dan mengkonsumsi atau bahkan menginginkan suatu produk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menurut Kotler dan Keller (2003:186) the consumer may also form an intention to buy the most preffered brand yang berarti bahwa konsumen mempunyai keinginan untuk membeli suatu produk berdasarkan pada sebuah merek.&lt;br /&gt;
Menurut Boyd, Walker, dan Larreche (2000:6-7), seseorang menginginkan produk, merek, dan jasa tertentu untuk memuaskan kebutuhan. Selain itu keinginan orang juga dibentuk oleh pengaruh sosial, sejarah masa lalu, dan pengalaman konsumsi.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Beli Konsumen&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Swastha dan Irawan (2001) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi minat membeli berhubungan dengan perasaan dan emosi, bila seseorang merasa senang dan puas dalam membeli barang atau jasa maka hal itu akan memperkuat minat membeli, ketidakpuasan biasanya menghilangkan minat.&lt;br /&gt;
Super dan Crites (Lidyawatie, 1998) menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi minat, yaitu :&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;
a. Perbedaan pekerjaan, artinya dengan adanya perbedaan pekerjaan seseorang dapat diperkirakan minat terhadap tingkat pekerjaan yang ingin dicapainya, aktivitas yang dilakukan, penggunaan waktu senggangnya, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
b. Perbedaan sosial ekonomi, artinya seseorang yang mempunyai sosial ekonomi tinggi akan lebih mudah mencapai apa yang diinginkannya daripada yang mempunyai sosial ekonomi rendah.&lt;br /&gt;
c. Perbedaan hobi atau kegemaran, artinya bagaimana seseorang menggunakan waktu senggangnya.&lt;br /&gt;
d. Perbedaan jenis kelamin, artinya minat wanita akan berbeda dengan minat pria, misalnya dalam pola belanja.&lt;br /&gt;
e. Perbedaan usia, artinya usia anak-anak, remaja, dewasa dan orangtua akan berbeda minatnya terhadap suatu barang, aktivitas benda dan seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan menurut Kotler, Bowen, dan Makens (1999) terdapat dua faktor yang mempengaruhi minat beli seseorang dalam proses pengambilan keputusan pembelian, yaitu situasi tidak terduga (Unexpected situation) dan sikap terhadap orang lain (Respect to Others)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk memahami proses motivasi yang mendasari dan mengarahkan perilaku konsumen dalam melakukan pembelian perlu dipahami beberapa konsep antara lain;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Teori ekonomi mikro&lt;br /&gt;
Menurut teori ini keputusan membeli merupakan hasil perhitungan ekonomis rasional yang sadar. Teori ini didasarkan pada asumsi yaitu:&lt;br /&gt;
1. Bahwa konsumen selalu mencoba untuk memaksimumkan kepuasaanya dalam batas-batas kemampuan finansialnya&lt;br /&gt;
2. Bahwa ia mempunyai pengetahuan tentang beberapa alternatif sumber untuk memuaskan kebutuhannya.&lt;br /&gt;
3. Bahawa ia selalu bertindak rasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Teori Psikologis&lt;br /&gt;
Ada beberapa teori yang termasuk dalam teori psikologis yang secara garis besar dapat dibagi dalam 2 bagian yaitu, teori belajar dan teori psikoanalitis.&lt;br /&gt;
Teori psikologis ini mendasarkan pada penerapan teori psikologis yang berpendapat bahwa pada umumnya manusia selalu didorong untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Teori Psikoanalitis&lt;br /&gt;
Teori Psikoanalitis didasarkan pada asumsi bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh adanya keinginan yang terpaksa dan adanya motif yang tersembunyi. Perilaku manusia ini adalah merupakan hasil kerja sama dari ketiga aspek dalam struktur kepribadian manusiab yaitu, id (das es), ego (das ich) dan super ego (das veber ich).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d. Teori Antropologis&lt;br /&gt;
Menurut teori ini bahwa perilaku manusia dipenhgaruhi oleh kultur yang terdiri dari masyarakat sekitar, kelas sosial yang berlaku serta keluarga&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Minat Pembelian Ulang (Future Intention)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
pembelian ulang (repeat purchase) menurut Peter/Olsen (2002)adalah : Kegiatan pembelian yang dilakukan lebih dari satu kali atau beberapa kali.&lt;br /&gt;
Kepuasan yang diperoleh seorang konsumen, dapat mendorong ia melakukan pembelian ulang (repeat purchase), menjadi loyal terhadap produk tersebut ataupun loyal terhadap toko tempat dia membeli barang tersebut sehingga konsumen dapat menceritakan hal-hal yang baik kepada orang lain.&lt;br /&gt;
Menurut Schiffman &amp; Kanuk (2000) perilaku pembelian ulang itu sangat berhubungan dengan konsep dari brand loyalty, dimana kebanyakan perusahaan mendukung karena hal ini memilki kontribusi yang besar untuk kestabilan yang baik di dalam marketplace.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zeithalm et al (1996) menekankan bahwa pentingnya mengukur minat beli kembali (future intention) pelanggan untuk mengetahui keinginan pelanggan yang tetap setia / meninggalkan suatu barang / jasa. Konsumen yang merasa senang dan puas akan barang / jasa yang telah dibelinya, akan berpikir untuk membeli ulang kembali barang / jasa tersebut. Pembelian yang berulang akan membuat konsumen menjadi loyal terhadap suatu barang / jasa (Band, 1991).&lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-04T21:04:40.281-07:00</app:edited></item><item><title>Relationship Marketing : Definisi, Dimensi, Komponen dan Manfaat Relationship Marketing</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2011/07/relationship-marketing-definisi-dimensi.html</link><category>Manajemen Pemasaran</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Tue, 19 Jul 2011 19:17:54 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-8204546820158433448</guid><description>&lt;b&gt;Definisi Relationship Marketing menurut beberapa Ahli:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Keegan &amp;amp; Duncan Relationship marketing is an approach to marketing with its customers that promote both the company’s longterm growth and the customer’s maximum satisfaction (Keegan, Motiarty, &amp;amp; Duncan, 1995). yang kurang lebih memiliki arti bahwa relationship &lt;a href="http://jurnalmanajemenn.blogspot.com/2009/06/strategi-pemasaran-dalam-persaingan.html"&gt;&lt;b&gt;marketing&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; adalah cara usaha pemasaran pada pelanggan yang meningkatkan pertumbuhan jangka panjang perusahaan dan kepuasan maksimum pelanggan. Pelanggan yang baik merupakan suatu aset di mana bila ditangani dan dilayani dengan baik akan memberikan pendapatan dan pertumbuhan jangka panjang bagi suatu badan usaha.&lt;br /&gt;
Relationship marketing menurut Kotler dan Armstrong (1996) adalah the process of creating, maintaining and enchanging strong, value laden relationships with customers and other stockholder.  yang kurang lebih memiliki arti bahwa relationship marketing adalah proses mencipta, memelihara dan mengalihkan keunggulan, muatan nilai hubungan antara pelanggan dan pemegang saham lainnya. Jadi setiap badan usaha atau perusahaan dalam melakukan hubungan dengan pelanggan sangat membutuhkan proses relationship marketing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Relationship marketing adalah pertumbuhan, pengembangan, dan pemeliharaan dalam jangka panjang yang menimbulkan hubungan biaya efektif dengan pelanggan, pemasok, karyawan, dan rekan-rekan lain yang saling menguntungkan (Tandjung, 2004, p.89 dalam Ferisca.S &amp;amp; Mely.T).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
AMenurut Syafruddin Chan Relationship marketing merupakan pengenalan pada setiap pelanggan secara lebih dekat dengan menciptakan komunikasi dua arah yang dengan mengelola suatu hubungan yang saling menguntungkan antara pelanggan dan perusahaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Strategi relationship marketing dapat dijalankan dengan baik apabila pelanggan yang dimiliki oleh perusahaan mempunyai persyaratan sebagai berikut (Chan, 2003): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Pelanggan di masing-masing peringkat apabila mempunyai profil berbeda antara satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;
2. Pelanggan pada masing-masing peringkat apabila bisa memberi value (nilai) secara proporsional terhadap pelayanan yang diterimanya, perusahaan tentu lebih senang untuk melayani pelanggan istimewa yang menginginkan kecepatan pelayanan dan personalitas sebagai atribut yang diprioritaskan dibandingkan pelanggan biasa, yang lebih mementingkan harga murah.&lt;br /&gt;
3. Pelanggan pada masing-masing peringkat apabila memiliki perbedaan dalam pemberian respons atau tanggapan terhadap setiap penawaran perusahaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga jalan bagaimana relationship marketing bisa berkembang menurut Ford et al (2003) yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Interaction customer relationship, dimulai dari kontak pertama antara sebuah kelompok dengan kelompok lain, di mana interaksi tersebut merupakan komunikasi dua arah.&lt;br /&gt;
2. Coordinating activities, interaksi antara dua perusahaan yang berbeda membutuhkan koordinasi aktivitas yang membantu terjalinnya hubungan yang alami.&lt;br /&gt;
3. Adaptations, inti utama dari bisnis yang dilakukan oleh perusahaan adalah menciptakan kepuasan bersama. Tidak ada hubungan yang dilakukan tanpa melalui adaptasi karena adaptasi dapat menciptakan kondisi yang menguntungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dimensi Relationship marketing :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Tandjung (2004) empat dimensi relationship marketing adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Bonding&lt;br /&gt;
Ketergantungan antara kedua belah pihak harus cukup kuat, sehingga hubungan keduanya dapat bertahan lama. Seorang pelanggan bila merasa tidak memiliki ketergantungan yang kuat terhadap penjual, maka kemungkinan pelanggan tersebut akan sering berganti pemasok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Empathy&lt;br /&gt;
Seorang penjual harus memiliki kepedulian (empathy) kepada pelanggan, artinya seorang penjualan hendaknya peduli terhadap permasalahan yang dihadapai pelanggan dan memperhatikan sudut pandang pelanggan dalam mengatasi suatu masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Reciprocity&lt;br /&gt;
Hubungan jangka panjang haruslah saling memberi dan menerima. Artinya, baik penjual maupun pelanggan sama-sama mendapat keuntungan. Pelanggan yang menginginkan diskon besar, tentunya harus mengimbangi dengan pembayaran tunai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Trust&lt;br /&gt;
Trust lebih dari sekedar believe, meskipun kedua kata tersebut memiliki arti yang hampir sama. Masing-masing pihak bila memiliki komitmen yang kuat, maka akan menciptakan rasa sangat percaya (trust) dan memperkuat hubungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Komponen Relationship Marketing&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Lima Komponen Relationship Marketing Menurut Parasuraman,Berry, dan Zeithmal (1991):&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Core service performance&lt;br /&gt;
Merupakan &lt;span class="fullpost"&gt;kemampuan yang dimiliki oleh pemasar untuk memberikan&lt;br /&gt;
kinerja inti layanan kepada pelanggan sebagai dasar membangun hubungan jangka panjang antara organisasi dengan pelanggan. Kinerja suatu layanan sangat diharapkan pelanggan untuk memenuhi harapannya. Pelanggan yang harapannya terpenuhi melalui kinerja layanan yang diberikan perusahaan, maka pelanggan akan puas, dan pada akhirnya menjadi loyal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Recognition.&lt;br /&gt;
Perusahaan mengenal dan memperhatikan setiap kontribusi yang diberikan oleh anggota. Itulah sebabnya, perusahaan hendaknya memberikan penghargaan kepada para anggota atas kontribusi positif yang diberikan anggota.&lt;br /&gt;
Sekecil apapun kontribusi yang diberikan pelanggan kepada perusahaan hendaknya dihargai, karena hal itu merupakan apresiasi perusahaan kepada pelanggan dan sekaligus memanjakan pelanggan agar loyal kepada perusahaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Enhancement of member interdependence&lt;br /&gt;
Pengembangan keterkaitan pelanggan merupakan aktivitas relationship marketing yang memfasilitasi pelanggan untuk dapat meningkatkan keterkaitan antara pelanggan dengan perusahaan, perusahaan dengan pemasok, sehingga menimbulkan pertukaran nilai bagi perusahaan. Perusahaan hendaknya dapat menarik pelanggan-pelanggan baru, baik pelanggan potensial maupun pelanggan dari perusahaan pesaing. Itulah sebabnya, perusahaan harus mempertinggi kepuasan pelanggan, agar pelanggan merasa diperhatikan, sangat dibutuhkan, yang pada akhirnya akan bersedia dengan senang hati mempromosikan usaha perusahaan kepada rekan-rekan pelanggan yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Dissemination of organizational knowledge&lt;br /&gt;
Desiminasi (penghamburan) pengetahuan perusahaan kepada pelanggan dapat menciptakan kedekatan perusahaan dengan pelanggan maupun pemasok, sehingga dapat mensosialisasikan akan nilai, tujuan, dan budaya perusahaan. Penghamburan di sini dapat berarti perusahaan dengan senang hati memberikan pengetahuan, pengalaman, dan saran yang baik kepada setiap pelanggan atau anggota organisasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Reliance on external membership requirements&lt;br /&gt;
Kepercayaan pada keanggotaan luar yang dikehendaki perusahaan. Hal ini tentunya menuntut perusahaan untuk memberikan layanan yang terbaik kepada anggota intern terlebih dahulu, agar dapat menarik anggota lain (baru) seperti yang dikehendaki. Perusahaan hendaknya dapat memuaskan harapan para anggotanya, karena para anggota yang puas akan dengan senang hati mempromosikan usaha perusahaan kepada teman-temannya yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Manfaat Relationship Marketing&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Kotler dan Amstrong (1996, pp. 579-582) suatu relationship marketing mengandung tiga manfaat, yaitu manfaat ekonomis, sosial, dan status, yang secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Manfaat ekonomis&lt;br /&gt;
Pendekatan pertama untuk membangun suatu hubungan nilai dengan pelanggan adalah menambah manfaat-manfaat keuangan atau ekonomis manfaat ekonomis dapat berupa penghematan biaya yang dikeluarkan oleh pelanggan, potongan-potongan khusus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Manfaat sosial&lt;br /&gt;
Meskipun pendekatan dengan menambah manfaat ekonomis seperti di atas dapat membangun preferensi konsumen, namun hal ini dapat mudah ditiru oleh para pesaing satu badan usaha dengan yang lainnya hampir sama dalam pendekatannya. Sehingga dalam pendekatan ini, badan usaha kita harus berusaha meningkatkan hubungan social mereka yaitu dengan memberikan perhatian kepada para pelanggan dengan mempelajari kebutuhan dan keinginan pelanggan secara individual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Status&lt;br /&gt;
Pendekatan ketiga utnuk membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan adalah menambah status. Maksudnya, bahwa badan usaha-badan usaha memberikan pendekatan atau program yang terstruktur yang dapat menarik minat konsumen untuk mau terlibat menjadi anggota kartu keanggotaan&lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-07-19T19:17:54.326-07:00</app:edited></item><item><title>Permintan (Demand) dan Penawaran (Supply) [Slide/Power Point Download]</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2011/06/permintan-demand-dan-penawaran-supply.html</link><category>Ekonomi</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Mon, 20 Jun 2011 23:57:01 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-6775252051568831898</guid><description>&lt;b&gt;Teori Permintaan (Demand): &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ilmu ekonomi, istilah permintaan menunjukan jumlah barang dan jasa yang akan dibeli konsumen pada periode waktu dan keadaan tertentu.&lt;br /&gt;
Permintaan pasar merupakan penjumlahan dari permintaan individual. Oleh karena itu, agar dapat memahami permintaan pasar tersebut terlebih dahulu harus memahami sifat dari permintaan individual. (Arsyad, 2008).&lt;br /&gt;
Pada tingkat individual, permintaan ditentukan oleh dua faktor yaitu:&lt;br /&gt;
1. Nilai dari cara mendapatkan dan menggunakan barang dan jasa.&lt;br /&gt;
2. Kemampuan untuk mendapatkan barang dan jasa.&lt;br /&gt;
Kedua faktor tersebut merupakan prasyarat bagi permintaan efektif individual.&lt;br /&gt;
Suatu hasrat saja tanpa didukung daya beli (purchasing power) hanyalah keinginan dan bukan permintaan. (Arsyad, 2008).&lt;br /&gt;
Skedul permintaan (demand schedule) yaitu sebuah tabel yang memperlihatkan hubungan antara harga barang dengan kuantitas yang diminta. (Mankiw, 2002&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurva permintaan memperlihatkan bagaimana perubahan kuantitas barang yang diminta ketika harganya berubah. Karena harga yang lebih rendah meningkatkan kuantitas yang diminta, maka kurva permintaan memiliki kemiringan negatif. (Mankiw, 2002).&lt;br /&gt;
Kurva permintaan dapat diartikan sebagai berikut: sebuah grafik yang memuat hubungan antara harga sebuah barang dengan kuantitas yang diminta. (Mankiw, 2002).&lt;br /&gt;
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. Harga Barang Tersebut.&lt;br /&gt;
Harga suatu barang mempengaruhi jumlah barang yang diminta (dibeli). Hubungan antara harga dan permintaan barang itu adalah berbanding terbalik. Semakin murah harga maka jumlah barang yang diminta akan semakin banyak.&lt;br /&gt;
2. Harga Barang Substitusi.&lt;br /&gt;
Barang substitusi adalah barang lain atau pengganti yang jenis atau tujuannya adalah sama. Jadi apabila terjadi kenaikan harga barang substitusi maka mengakibatkan kenaikan pada permintaan atas barang itu.&lt;br /&gt;
3. Pendapatan&lt;br /&gt;
Bila pendapatan seseorang meningkat, berarti orang itu memiliki kemampuan yang lebih besar untuk membeli barang, yang akhirnya menyebabkan permintaan akan barang menjadi meningkat.&lt;br /&gt;
4. Ekspektasi harga di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;
Bila semua masyarakat beranggapan bahwa di masa yang akan datang akan terjadi kenaikan harga pada suatu barang, maka permintaan akan barang tersebut akan semakin meningkat.&lt;br /&gt;
5. Jumlah konsumen.&lt;br /&gt;
Apabila jumlah konsumen atau pembeli betanbah, maka semakin banyak permintaan akan barang tersebut.&lt;br /&gt;
6. Selera (trend).&lt;br /&gt;
Bila suatu barang menjadi mode atau trend di kalangnan masyarakat, maka permintaan atas barang tersebut meningkat dengan pesat. (Samuelson, 2003)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Teori Penawaran (Supply):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Hukum penawaran berasumsi bahwa dengan menganggap hal lainnya tetap, kuantitas barang yang ditawarkan akan meningkat ketika harga barang tersebut terus meningkat. (Mankow, 2002).&lt;br /&gt;
Hubungan antara harga produk dengan kuantitas yang ditawarkan dapat dilihat dalam skedul penawaran (supply schedule). (Mankiw, 2002)&lt;br /&gt;
Kurva penawaran memperlihatkan perubahan&lt;span class="fullpost"&gt;kuantitas barang yang&lt;br /&gt;
ditawarkan ketika harganya berubah. Karena harga yang lebih tinggi menaikan kuantitas yang ditawarkan, maka kurva penawaran memiliki kemiringan ke atas atau positif. (Mankiw, 2002).&lt;br /&gt;
Kurva Penawaran adalah kurva yang menggambarkan hubungan atara harga barang dengan kuantitas yang ditawarkan. (Mankiw, 2002).&lt;br /&gt;
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran diantaranya adalah:&lt;br /&gt;
1. Harga barang tersebut.&lt;br /&gt;
Hubungan antara harga dan penawaran barang itu adalah berbanding lurus.&lt;br /&gt;
Semakin murah harga maka jumlah barang yang ditawarkan akan semakin sedikit dan semakin mahal harga, maka jumlah barang yang ditawarkan semakin banyak.&lt;br /&gt;
2. Harga barang lain.&lt;br /&gt;
Semakin mahal harga barang substitusi maka semakin sedikit penawaran barang itu.&lt;br /&gt;
3. Harga faktor-faktor produksi.&lt;br /&gt;
Bila harga faktor-faktor produksi semakin meningkat maka akan menyebabkan biaya produksi menjadi mahal. Bila biaya produksi semakin mahal, maka produsen menjadi berkurang kemampuannya untuk berproduksi.&lt;br /&gt;
4. Ekspektasi harga di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;
Bila ada anggapan bahwa di masa yang akan datang akan terjadi kenaikan harga pada suatu barang maka penawaran akan barang tersebut akan semakin menurun.&lt;br /&gt;
5. Jumlah produsen.&lt;br /&gt;
Apabila jumlah produsen bertambah maka semakin banyak penawaran.&lt;br /&gt;
6. Teknologi.&lt;br /&gt;
Dengan adanya teknologi yang semakin meningkat, berarti biaya untuk memproduksi menjadi lebih rendah, dengan demikian jumlah barang yang dapat diproduksi menjadi lebih banyak. (Samuelson, 2003).&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://hulkshare.com/tphzak0c8q4g"&gt;Download Slide PPSnya&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-06-20T23:57:01.284-07:00</app:edited></item><item><title>Penyusunan Kuesioner Penelitian : Definisi, Tujuan, Persyaratan, Langkah dan Contoh quisioner Penelitian</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2011/06/penyusunan-kuesioner-penelitian.html</link><category>Metode Penelitian</category><category>Skripsi</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Tue, 17 Jan 2012 17:18:04 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-7759635900324466891</guid><description>&lt;b&gt;Kuesioner adalah&lt;/b&gt; Daftar pertanyaan yang tersusun dengan baik yang digunakan untuk alat pengumpulan data melalui survei.&lt;br /&gt;
Kuesioner harus sesuai dengan masalah yang diteliti. Oleh karena itu sebelum menyusun kuesioner, masalah penelitian harus dirumuskan dengan jelas.&lt;br /&gt;
Jenis data yang dapat dikumpulkan menggunakan kuesioner bisa kualitatif maupun uantitatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tujuan pembentukan kuesioner&lt;/b&gt;: sebagai alat memperoleh data yang sesuai dengan tujuan penelitian dan penjabaran dari hipotesis&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Persyaratan Kuesioner:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Relevan dengan tujuan penelitian&lt;br /&gt;
Mudah ditanyakan&lt;br /&gt;
Mudah dijawab&lt;br /&gt;
Data yang didapat mudah diolah&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Langkah-Langkah Pembuatan Quesioner: &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Langkah 1:&lt;br /&gt;
• Menentukan Hipotesis&lt;br /&gt;
• Menentukan tipe survey yang akan digunakan&lt;br /&gt;
• Menentukan pertanyaan-pertanyaan survey&lt;br /&gt;
• Menentukan kategori jawaban&lt;br /&gt;
• mendesain letak survey&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkah 2:&lt;br /&gt;
• Rencanakan bagaimana data akan dikumpulkan&lt;br /&gt;
• Uji awal alat pengukuran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkah 3:&lt;br /&gt;
• tentukan target populasi&lt;br /&gt;
• tentukan teknik sampling (random sampling, non random sampling)&lt;br /&gt;
• tentukan ukuran sampel&lt;br /&gt;
• pilih sampel&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkah 4:&lt;br /&gt;
• Temukan responden&lt;br /&gt;
• lakukan interview/wawancara&lt;br /&gt;
• kumpulkan data dengan teliti&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkah 5:&lt;br /&gt;
• Masukkan data kedalam komputer&lt;br /&gt;
• periksa ulang seluruh data&lt;br /&gt;
• lakukan analisis statistik pada data yang diperoleh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkah 6:&lt;br /&gt;
• Jelaskan metode dan penemuan dalam laporan penelitian&lt;br /&gt;
• Presentasikan untuk mendapatkan masukan dan evaluasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan Kuesioner:&lt;/b&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
1. Pertanyaan hendaknya jelas maksudnya:&lt;br /&gt;
a. Pertanyaan tidak terlalu luas&lt;br /&gt;
b. Pertanyaan tidak terlalu panjang&lt;br /&gt;
c. Pertanyaan tidak boleh memimpin&lt;br /&gt;
d. Menghindari pertanyaan yang dobel negatif&lt;br /&gt;
2. Pertanyaan hendaknya membantu ingatan responden&lt;br /&gt;
3. Pertanyaan menjamin responden untuk dengan mudah mengutarakan jawabannya&lt;br /&gt;
4. Pertanyaan hendaknya menghindari bias&lt;br /&gt;
5. Pertanyaan memotovasi responden untuk menjawab&lt;br /&gt;
6. Pertanyaan dapat menyaring responden&lt;br /&gt;
7. Pertanyaan hendaknya dibuat sesederhana mungkin&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Tipe Pertanyaan dan Kategori Respon Berdasar jenis:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
• Threatening questions/ Pertanyaan yang mengancam : aktivitas sexual, penggunaan obat-obatanan, perilaku menyimpang lainnya.&lt;br /&gt;
• Knowledge questions/ pertanyaan pengetahuan/ pertanyaan informatif : menanyakan ttg hal-hal yg telah diketahui responden.&lt;br /&gt;
• Skip or contingency questions / pertanyaan untuk dilewati atau diteruskan : penyaringan untuk responden tertentu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bentuk pertanyaan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Pertanyaan terbuka/ Open ended&lt;br /&gt;
– Free response questions: kebebasan bagi responden untuk menjawab.&lt;br /&gt;
– Directed response questions: kebebasan bagi responden untuk menjawab akan tetapi sudah sedikit diarahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Bentuk pertanyaan tertutup/Close Ended&lt;br /&gt;
– Dichotomus choice: hanya disediakan 2 jawaban alternatif, responden memilih satu diantaranya. &lt;br /&gt;
– Multiple choice: menyediakan beberapa jawaban alternatif, responden memilih 1 jawaban yang sesuai dengan pendapat responden&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keuntungan Pertanyaan Tertutup :&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Mudah dihitung persentase jawabannya. &lt;br /&gt;
Dapat menggunakan lembar jawaban komputer sehingga cepat menghitungnya. &lt;br /&gt;
Mudah melacak pendapat berdasarkan waktu &lt;br /&gt;
Mudah memfilter jawaban yang tidak berguna atau yang ekstrim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Berikut Adalah Contoh Kuesioner yang berhubungan dengan Budaya dan Nilai Organisasi, Komunikasi, Kepemimpinan, Aktivitas Kerja, Lingkungan Kerja dan Kompensasi.&lt;/b&gt; &lt;a href="http://adf.ly/4odFQ"&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-17T17:18:04.796-08:00</app:edited></item><item><title>Desain Organisasi ; Dimensi dan Bentuk Desain Organisasi</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2011/05/desain-organisasi-dimensi-dan-bentuk.html</link><category>Perilaku Keorganisasian</category><category>Manajemen</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Wed, 25 May 2011 20:32:42 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-4329614263402397095</guid><description>&lt;b&gt;1. Dimensi Desain Organisasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Richard L. Daft (Daft, 1998, p.15), dimensi desain organisasi terdiri dari 2 tipe yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;A. Dimensi Struktural&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
yaitu dimensi yang menggambarkan karakteristik internal dari organisasi dan menciptakan suatu dasar untuk mengukur dan membandingkan organisasi. Dimensi struktural terdiri dari :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Formalisasi.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
“Formalization refers to the extent to which rules, policies, procedures, formal training, norms, and traditions standarize behavior in an organization.” (Bedelan &amp;amp; Zammuto, 1991, 129). yang berarti formalisasi mengacu pada suatu tingkat yang terhadapnya pekerjaan di dalam organisasi itu dibakukan. Jika suatu pekerjaan sangat diformalkan, maka pelaksana pekerjaan tersebut mempunyai tingkat keleluasaan yang minimum mengenai apa yang harus dikerjakan, kapan harus dikerjakan, dan bagaimana ia harus mengerjakan. Ada 3 macam jenis formalisasi, yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Formalisasi berdasarkan pekerjaan&lt;br /&gt;
Dalam hal ini, organisasi menyatukan spesifikasi perilaku kerja dengan pekerjaan itu sendiri, dan biasanya hal ini di dokumentasikan pada deskripsi kerja yang formal. Pelaku pekerjaan atau pemegang jabatan akan diberitahu langkah apa yang harus dilakukan dalam melakukan suatu pekerjaan, dalam urutan yang bagaimana, kapan dan di mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Formalisasi berdasarkan aliran pekerjaan&lt;br /&gt;
Selain menghubungkan spesifikasi perilaku kerja dengan pekerjaan itu sendiri, organisasi juga dapat menyatukan spesifikasi tersebut dengan pekerjaan itu sendiri. Contoh : Seorang operator mesin percetakan menerima daftar instruksi untuk tiap-tiap&lt;br /&gt;
pencetakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Formalisasi berdasarkan peraturan&lt;br /&gt;
Formalisasi yang terakhir ini membangun suatu peraturan untuk semua situasi, semua pekerjaan, aliran kerja, semua karyawan. Peraturan ini juga mencakup siapa yang dapat dan tidak dapat melakukan sesuatu pekerjaan, kapan, di mana, dan dengan seijin&lt;br /&gt;
siapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Spesialisasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
“Specialization is the degree to which organizational tasks are subdivided into separate jobs.” (Daft, 1998, p.16). Hakikat spesialisasi adalah bahwa, daripada dilakukan oleh satu individu, lebih baik seluruh pekerjaan itu dipecah-pecah menjadi sejumlah langkah, dengan tiap langkah diselesaikan oleh seorang individu yang berlainan. Pada dasarnya, individu-individu berspesialisasi dalam mengerjakan bagian dari suatu kegiatan, bukannya mengerjakan seluruh kegiatan. Suatu spesialisasi kerja dikatakan bersifat ekstensif apabila setiap karyawan hanya mengerjakan tugas-tugas tertentu yang sempit wilayahnya. Suatu spesialisasi dikatakan rendah apabila karyawan mengerjakan tugas-tugas yang mempunyai batasan yang luas.&lt;br /&gt;
Kadang-kadang spesialisasi disebut juga sebagai “division of labor”. Ada 2 (dua) tipe spesialisasi, yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Spesialisasi horizontal&lt;br /&gt;
Spesialisasi horizontal ini menunjuk pada ruang lingkup suatu pekerjaan, atau pada tingkat mana seorang karyawan melakukan suatu pekerjaan yang lengkap. Semakin kecil bagian suatu karyawan terhadap suatu pekerjaan secara keseluruhan, maka semakin horizontal tingkat spesialisasi pada pekerjaan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Spesialisasi vertikal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Spesialisasi vertikal menunjuk pada tingkat kontrol yang dimiliki oleh seorang karyawan terhadap suatu pekerjaan. Semakin&lt;span class="fullpost"&gt;banyak keputusan yang dibuat oleh seorang karyawan, mengenai bagaimana dan kapan harus melakukan suatu tugas, dan semakin terbatas perilaku karyawan untuk melakukan tugas tersebut diatur oleh peraturan, prosedur, pengawasan ataupun teknologi, semakin rendah&lt;br /&gt;
tingkat spesialisasi vertikalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Standarisasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Any procedure that occurs regularly, is legitimized by the organization, has rules that cover circumstances dan applies invariably.(Jackson &amp;amp; Morgan, 1978, 92)&lt;br /&gt;
Standarisasi menunjuk pada prosedur yang di desain untuk membuat aktivitas organisasi menjadi teratur, dan hal ini secara otomatis akan memfasilitasi adanya koordinasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Hierarki Otoritas.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Authority refers to the rights inherent in a managerial position to give orders and expect the orders to be obeyed.” (Robbins, 2003,429)&lt;br /&gt;
Otoritas merupakan bentuk dari kekuasaan yang ada pada suatu posisi atau kantor. Ketika hak untuk mengatur bawahan termasuk dalam otoritas seseorang, maka otoritas tersebut memberikan hak untuk membatasi pilihan dan perbuatan yang dilakukan oleh bawahan. Bawahan diharapkan mematuhi perintah dari atasan. Meskipun jenis kekuasaan ini mempunyai batasan-batasan, namun otoritas memberikan kebebasan beberapa anggota organisasi untuk membuat kebijaksanaan dan bertindak, dibandingkan anggota organisasi lainnya.&lt;br /&gt;
Hierarki otoritas menggambarkan siapa melapor pada siapa dan bagaimana kontrol dari seorang manajer. Hierarki berhubungan dengan “span of control”, yaitu jumlah karyawan yang melapor pada seorang supervisor.&lt;br /&gt;
Ketika span of control ini sempit, hierarki otoritasnya cenderung tinggi, ketika span of control ini lebar, hierarki otoritasnya akan lebih pendek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Kompleksitas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kompleksitas menunjuk pada jumlah aktivitas maupun subsistem pada organisasi. Kompleksitas bisa diukur melalui 3 ( tiga ) diferensiasi yaitu vertikal, horizontal dan spatial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Diferensiasi vertikal. Semakin banyak tingkatan yang ada antara manajemen puncak dengan bagian operasional, organisasi tersebut semakin kompleks. Hal ini dikarenakan ada potensi yang lebih besar untuk komunikasi yang terputus dan semakin&lt;br /&gt;
sulit untuk mengkoordinasikan keputusan antar manajer. Selain itu juga lebih sulit bagi manajemen puncak untuk mengamati dari dekat kegiatan yang dilakukan oleh pihak operasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Diferensiasi horizontal adalah jumlah jenis pekerjaan satu departemen yang ada pada organisasi. Semakin banyak jumlah pekerjaan yang ada pada suatu organisasi yang membutuhkan pengetahuan dan keahlian khusus, semakin tinggi kompleksitas horizontal pada organisasi tersebut. Orientasi yang berbeda-beda ini menyebabkan adanya kesulitan yang lebih besar bagi para anggota organisasi untuk berkomunikasi dan lebih menyulitkan bagi manajemen untuk mengkoordinasikan aktivitas mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Diferensiasi spatial adalah jumlah daerah dari keberadaan organisasi secara fisik. Dengan meningkatnya diferensiasi spatial ini maka semakin tinggi pula kompleksitasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Sentralisasi&lt;br /&gt;
Istilah sentralisasi mengacu pada sampai tingkat mana pengambilan keputusan dipusatkan pada suatu titik tunggal dalam organisasi. Konsep itu hanya mencakup wewenang formal, yaitu hak-hak inheren dalam posisi seseorang. Dikatakan bahwa ketika manajemen puncak membuat keputusan-keputusan kunci dalam organisasi dengan masukan yang terbatas dari karyawan yang berada di bawahnya, maka organisasi tersebut memiliki tingkat sentralisasi tinggi. Sebaliknya, semakin banyak karyawan yang berada di bawah manajemen puncak memberikan masukan bagi pengambilan keputusan, maka dikatakan bahwa organisasi lebih terdesentralisasi. Pada perusahaan yang memiliki karakter sentralisasi tinggi akan mempunyai struktur yang berbeda dengan perusahaan yang terdesentralisasi. Pada perusahaan yang terdesentralisasi, tindakan dapat lebih cepat dilakukan ketika hendak memecahkan suatu permasalahan, lebih banyak orang yang memberikan masukan pada suatu keputusan, dan karyawan tidak akan terlalu merasa berbeda dengan orang-orang yang membuat keputusan yang mempengaruhi kehidupan kerja mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Profesionalisme&lt;br /&gt;
Profesionalisme adalah level dari pendidikan formal dan training yang harus dimiliki dan diikuti oleh karyawan. Profesionalisme dianggap tinggi apabila karyawan harus mengikuti training dalam jangka waktu yang lama untuk memegang suatu pekerjaan atau jabatan pada perusahaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Personnel ratio.&lt;br /&gt;
Personel ratio menunjuk pada jumlah karyawan pada suatu fungsi atau departemen tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;B. Dimensi Kontektual&lt;/b&gt;, yaitu dimensi yang menggambarkan keseluruhan dari suatu organisasi. Dimensi ini memperlihatkan susunan organisasi yang mempengaruhi dan membentuk suatu dimensi struktural organisasi. Terdiri dari :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Ukuran. Ukuran adalah besarnya suatu organisasi yang terlihat dari jumlah orang dalam organisasi tersebut. Organisasi dapat diukur sebagai suatu keseluruhan atau melalui komponen-komponen yang spesifik, misalnya melalui divisi yang ada. Namun biasanya organisasi diukur melalui jumlah karyawan, sebab organisasi merupakan suatu sistem sosial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Teknologi Organisasi. Teknologi organisasi adalah dasar dari subsistem produksi, termasuk teknik dan cara yang digunakan untuk mengubah input organisasi menjadi output.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Lingkungan. Lingkungan mencakup seluruh elemen di luar lingkup organisasi. Elemen kunci mencakup industri, pemerintah, pelanggan, pemasok dan komunitas finansial. Elemen lingkungan yang paling sering berdampak pada suatu organisasi biasanya adalah organisasi yang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. &lt;a href="http://jurnalmanajemenn.blogspot.com/"&gt;Bentuk Desain Organisasi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bentuk dari desain organisasi ini ditentukan oleh tingkat formalisasi yang&amp;nbsp; dilakukan, tingkat sentralisasi dalan organisasi, kualifikasi karyawan, span of control&amp;nbsp; yang ada serta komunikasi dan koordinasi yang ada dalam organisasi (Robbins, 2003,136). Bentuk desain organisasi terdiri dari :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Organic&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada organisasi yang berbentuk organic, maka dalam organisasi ini terdapat tingkat formalisasi yang rendah, terdapat tingkat sentralisasi yang rendah, serta diperlukan training dan pengalaman untuk melakukan tugas pekerjaan. Selain itu terdapat span of control yang sempit serta adanya komunikasi horisontal dalam organisasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Mostly Organic&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada organisasi yang berbentuk mostly organic, formalisasi dan sentralisasi yang diterapkan berada di tingkat moderat. Selain itu diperlukan pengalaman kerja yang banyak dalam organisasi ini. Terdapat span of control yang bersifat antara horisontal yang bersifat verbal dalam organisasi tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Mechanistic&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
moderat sampai lebar serta lebih banyak komunikasi Pada organisasi yang berbentuk mechanistic, terdapat ciri-ciri yaitu : adanya tingkat formalisasi yang tinggi, tingkat sentralisasi yang tinggi, training atau pengalaman kerja yang sedikit atau tidak terlalu penting, ada span of control yang lebar serta adanya komunikasi yang bersifat vertikal dan tertulis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Mostly Mechanistic&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada jenis organisasi ini, terdapat ciri-ciri yaitu : adanya formalisasi dan sentralisasi pada tingkat moderat, adanya training-training yang bersifat formal atau wajib, span of control yang bersifat moderat serta terjadi komunikasi tertulis maupun verbal dalam organisasi tersebut.&lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-25T20:32:42.904-07:00</app:edited></item><item><title>Contoh Skripsi tentang PENGARUH MOTIVASI KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KEPUASAN KERJA</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2011/05/contoh-skripsi-tentang-pengaruh.html</link><category>Skripsi</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Tue, 17 Jan 2012 17:16:13 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-7702557435731091510</guid><description>&lt;b&gt;Kata Kunci: Motivasi Kerja, Lingkungan Kerja, Kepuasan Kerja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Motivasi kerja dan lingkungan kerja merupakan faktor penting untuk mencapai kepuasan kerja. Dengan adanya motivasi kerja pada guru dan karyawan dapat menimbulkan kemampuan untuk bekerja. Dengan adanya kemampuan bekerja maka kepuasan kerja akan meningkat. Para pegawai akan lebih menyukai lingkungan secara umum, lingkungan kerja yang baik akan membuat pegawai merasa nyaman melakukan pekerjaan. Sehingga tidaklah mungkin suatu pekerjaan akan terpuaskan tanpa adanya motivasi dan lingkungan kerja yang baik untuk menyelesaikan pekerjaan. Namun kebenaran dari argumen ini perlu dibuktikan melalui kegiatan penelitian agar diperoleh jawaban yang akurat.&lt;br /&gt;
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah : (1) Adakah pengaruh motivasi kerja terhadap kepuasan kerja?, (2) Adakah pengaruh lingkungan kerja terhadap kepuasan kerja?, (3) Seberapa besar pengaruh motivasi kerja dan lingkungan kerja terhadap kepuasan kerja?. Penelitian ini bertujuan : (1) Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh motivasi kerja terhadap kepuasan kerja, (2) Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh lingkungan kerja terhadap kepuasan kerja, (3) Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh motivasi kerja dan lingkungan kerja terhadap kepuasan kerja.&lt;br /&gt;
Adapun variabel yang diteliti meliputi motivasi kerja dan lingkungan kerja sebagai variabel bebas, sedangkan kepuasan kerja sebagai variabel terikat. Data diambil dengan teknik kuesioner, selanjutnya dianalisis menggunakan analisis regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi kerja guru dan karyawan SMP Negeri 30 Semarang dalam kategori tinggi, yang berarti sebagian besar mempunyai minat, yang tinggi, telah tercukupi gajinya, kebutuhan akan rasa aman tercukupi, adanya hubungan interpersonal yang baik dan mendapatkan kesempatan untuk berkembang. Dari hasil uji parsial diperoleh thitung sebesar&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
3,734 dengan p value = 0,000 &amp;lt; 0,05, yang berarti motivasi kerja berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja. Besarnya pengaruh mencapai 18,8%. Lingkungan kerja di SMP Negeri 30 Semarang dalam kategori baik perwarnaan pada dinding ruangan, kebersihan, pertukaran udara, penerangan, keamanannya memberikan kenyamanan, meskipun dari segi suara masih bising, sebab dekat dengan jalan raya dan suara peralatan kerja. Dari hasil uji parsial diperoleh thitung = 3,469 dengan p value = 0,001 &amp;lt; 0,05, yang berarti lingkungan kerja berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja. Besarnya kontribusi lingkungan kerja sebesar 16,7%. Hasil uji simultan diperoleh Fhitung = 18,631 dengan p value = 0,000 &amp;lt; 0,05, yang berarti secara bersama-sama motivasi kerja dan lingkungan kerja berpengaruh postif terhadap kepuasan kerja. Besarnya kontribusi motivasi dan lingkungan kerja terhadap kepuasan kerja sebesar 38,3%. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil simpulan bahwa ada pengaruh motivasi kerja dan lingkungan kerja terhadap kepuasan kerja. Ditinjau dari lingkungan kerja, ternyata kondisi kebisingan yang timbul dari luar sekolah yaitu suara kendaraan bermotor yang masih belum terhindarkan. Oleh karena itu disarankan agar guru dan karyawan lebih berkonsentrasi terhadap pekerjaannya dan peralatan kerja (printer komputer, fotokopi, dll) yang dapat menimbulkan kebisingan untuk diletakkan di ruangan yang letaknya jauh dari ruangan guru &lt;b&gt;Download Skripsi Lengkap &lt;a href="http://adf.ly/4od1v"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-17T17:16:13.307-08:00</app:edited></item><item><title>Analisis Break Event Point (Break Even Analysis) : Definisi, Manfaat, Asumsi Dasar dan Dampak Perubahan dari Beberapa Faktor dalam Analisa Break Even Point</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2011/05/analisis-break-event-point-break-even.html</link><category>Jurnal Ekonomi</category><category>Manajemen Operasional</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Thu, 19 May 2011 19:17:20 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-4922558872554784225</guid><description>&lt;b&gt;Definisi Break Even Point&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengertian analisa break even menurut Sigit (1993, p. 2) adalah suatu cara atau suatu teknik yang digunakan oleh seorang petugas atau manajer perusahaan untuk mengetahui pada volume (jumlah) penjualan dan volume produksi berapakah perusahaan yang bersangkutan tidak menderita kerugian dan tidak pula memperoleh laba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Definisi analisa break even menurut Schmidgall, Hayes, dan Ninemeier (2002) adalah, “Break even analysis is a management tool that can help restaurant managers examine the relationship between various costs, revenues and sales volume. It allows to determine revenue required at any desired profit level that called Cost-Volume-Profit (CVP) analysis” (p. 169). yang kurang lebih memiliki arti : analisa titik impas adalah suatu alat manajemen yang dapat membantu manajer restoran untuk melihat hubungan antara bermacam-macam biaya, pendapatan dan volume penjualan. Melalui analisa titik impas, manajer juga dapat menentukan jumlah pendapatan yang diperlukan pada suatu tingkat pencapaian laba yang diinginkan yang juga biasa disebut Analisis Biaya-Volume-Laba .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Mulyadi (1993, 230) Analisa break even adalah suatu cara untuk mengetahui volume penjualan minimum agar suatu usaha tidak menderita rugi, tetapi juga belum memperoleh laba yang dengan kata lain labanya sama dengan nol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Matz, Usry, dan Hammer (1991, p. 202), Analisa break even merupakan suatu analisa yang digunakan untuk menentukan tingkat penjualan dan bauran produk yang diperlukan agar semua biaya yang terjadi dalam periode tersebut dapat tertutupi, yang mana analisa tersebut dapat menunjukkan suatu titik dimana perusahaan tidak memperoleh laba ataupun menderita rugi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Rony (1990, p. 358) Analisa break even atau disebut Analisis titik impas merupakan sarana bagi manajemen untuk mengetahui pada titik berapa hasil penjualan sama dengan jumlah biaya sehingga perusahaan tidak memperoleh keuntungan maupun kerugian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bambang Riyanto, dalam bukunya "Dasar-dasar pembelanjaan Perusahaan" mengemukakan pengertian Analisa Break Even sebagai berikut:&lt;br /&gt;
"Analisa Break Even adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan. Oleh karena analisa tersebut mempelajari hubungan antara biaya - keuntungan - volume, maka analisa tersebut sering juga disebut 'cost-profit volume analysis (CPV analysis)', (1982: 290)".&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Manfaat Analisa Break Even Point.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Rony (1990, p. 357) analisis titik impas atau analisis Break Even Point sangat bermanfaat bagi manajemen dalam menjelaskan beberapa keputusan operasional yang penting dalam tiga cara berbeda namun tetap berkaitan yaitu:&lt;br /&gt;
a. Pertimbangan tentang produk baru dalam menentukan berapa tingkat penjualan yang harus dicapai agar perusahaan memperoleh laba.&lt;br /&gt;
b. Sebagai kerangka dasar penelitian pengaruh ekspansi terhadap tingkat operasional.&lt;br /&gt;
c. Membantu manajemen dalam menganalisis konsekuensi penggeseran biaya variabel menjadi biaya tetap karena otomisasi mekanisme kerja dengan peralatan yang canggih.&lt;br /&gt;
Matz, Usry dan Hammer (1991, p. 224) juga menjelaskan beberapa manfaat analisa break even untuk manajemen, yaitu :&lt;br /&gt;
a. Membantu pengendalian melalui anggaran.&lt;br /&gt;
b. Meningkatkan dan menyeimbangkan penjualan.&lt;br /&gt;
c. Menganalisa dampak perubahan volume.&lt;br /&gt;
d. Menganalisa harga jual dan dampak perubahan biaya.&lt;br /&gt;
e. Merundingkan upah.&lt;br /&gt;
f. Manganalisa bauran produk.&lt;br /&gt;
g. Manerima keputusan kapitalisasi dan ekspansi lanjutan.&lt;br /&gt;
h. Menganalisa margin of safety.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan menurut Sigit (1993, p. 1) analisa Break Even Point mempunyai beberapa manfaat, diantaranya adalah :&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
a. Sebagai dasar merencanakan kegiatan operasional dalam usaha mencapai laba tertentu.&lt;br /&gt;
b. Sebagai dasar atau landasan untuk mengendalikan aktivitas yang sedang berjalan.&lt;br /&gt;
c. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan harga jual.&lt;br /&gt;
d. Sebagai bahan atau dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Asumsi-Asumsi Dasar Analisa Break Even Point :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Beberapa asumsi yang berpengaruh dalam analisa break even menurut Mulyadi (1993, p. 259) adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;
a. Variabilitas biaya dianggap akan mendekati pola perilaku yang diramalkan.&lt;br /&gt;
b. Harga jual produk dianggap tidak berubah-ubah pada berbagai tingkat kegiatan.&lt;br /&gt;
c. Kapasitas produksi pabrik dianggap secara relative konstan.&lt;br /&gt;
d. Harga faktor-faktor produksi dianggap tidak berubah.&lt;br /&gt;
e. Efisiensi produksi dianggap tidak berubah.&lt;br /&gt;
f. Perubahan jumlah persediaan awal dan akhir dianggap tidak signifikan.&lt;br /&gt;
g. Komposisi produk yang dijual dianggap tidak berubah.&lt;br /&gt;
h. Volume merupakan faktor satu-satunya yang mempengaruhi biaya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dampak Perubahan dari Beberapa Faktor dalam Analisa Break Even Point Menurut Mulyadi dalam buku Akuntansi Manajemen (1993, 259):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
a. Suatu perubahan dalam biaya variabel akan mengakibatkan perubahan dalam contribution margin dan impas.&lt;br /&gt;
b. Suatu perubahan dalam harga jual akan mengakibatkan perubahan pada contribution margin dan impas.&lt;br /&gt;
c. Angka laba kontribusi hanya akan dipengaruhi oleh perubahan pada biaya variabel dan harga jual.&lt;br /&gt;
d. Suatu perubahan dalam biaya tetap mengakibatkan perubahan pada impas tapi tidak mempengaruhi laba kontribusi.&lt;br /&gt;
e. Suatu perubahan gabungan dalam biaya tetap dan biaya variabel pada arah yang sama akan menyebabkan perubahan tajam terhadap impas.&lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-19T19:17:20.437-07:00</app:edited></item><item><title>Jurnal SDM: Pengaruh Perilaku Kepemimpinan Transformasional Dan Transaksional Terhadap Kinerja Karyawan Lini Depan Perusahaan Jasa</title><link>http://jurnal-sdm.blogspot.com/2011/05/jurnal-sdm-pengaruh-perilaku.html</link><category>Jurnal SDM</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Fri, 13 May 2011 13:46:19 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7037562693012982393.post-1302398266500315985</guid><description>Studi ini menitikberatkan pada tinjauan terhadap pengaruh perilaku kepemimpinan transformasional dan transaksional terhadap kinerja karyawan lini depan pada perusahaan jasa. Dugaan penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku kepemimpinan transformasi mempengaruhi secara positif kinerja karyawan lini depan dan sebaliknya perilaku kepemimpinan transformasi mempengaruhi secara negatif karyawan lini depan. Dugaan yang disusun pada penelitian ini diuji secara empiric terhadap 204 responden yang merupakan karyawan lini depan dan 204 responden yang merupakan pelanggan dari tiga jenis perusahaan jasa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum jenis kepemimpinan transformasional berpengaruh positif pada kinerja karyawan lini depan pada perusahaan jasa dan jenis kepemimpinan transaksional berpengaruh negatif. Namun demikian beberapa perilaku pada jenis kepemimpinan transformasional mempengaruhi kinerja karyawan lini depan jasa secara negatif yang berarti menolak hipotesis penelitian. Demikian juga karena perilaku imbalan kontijen dari jenis&lt;br /&gt;
kepemimpinan transaksional mempengaruhi secara positif terhadap kinerja tertentu dari karyawan lini depan.&lt;br /&gt;
Keywords : Kepemimpinan transformasional, kepemimpinan transaksional, perilaku kinerja, karyawan lini depan.&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;1. LATAR BELAKANG&lt;br /&gt;
Perkembangan industri jasa yang sangat pesat menyebabkan persaingan bisnis jasa menjadi sangat tajam, baik dipasar domestic (nasional) maupun di pasar internasional / global. Untuk memenangkan persaingan, perusahaan harus mampu memberikan kepuasan kepada para pelanggannya, yaitu dengan menghasilkan kualitas pelayanan yang sesuai dengan harapan pelanggan.&lt;br /&gt;
Menurut Zeithaml dan Bitner (1996), kepuasan pelanggan dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu kualitas layanan, faktor bunga, factor situasi dan faktor pribadi. Dari keempat faktor tersebut, faktor kualitas layanan merupakan salah satu factor penting, karena bagi konsumen jasa, harapan utama mereka adalah mendapatkan pelayanan dengan kualitas yang baik.&lt;br /&gt;
Menurut Gronroos (1990) cara untuk meningkatkan kualitas pelayanan adalah dengan memahami dan memperlakukan karyawan lini depan (frontliners) dengan tepat. Karyawan yang memiliki kontak dengan pelanggan&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://hulkshare.com/olbers1zphsb"&gt;Download Jurnal Selengkapnya disini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-05-13T13:46:19.330-07:00</app:edited></item><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>
