<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-8720550053706566135</atom:id><lastBuildDate>Fri, 27 Sep 2024 20:37:19 +0000</lastBuildDate><title>indonesia modern</title><description></description><link>http://indonesia-modern.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (tata cakep)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8720550053706566135.post-1344105672864135972</guid><pubDate>Mon, 26 Jan 2009 19:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-26T11:43:39.687-08:00</atom:updated><title></title><description>MANUSIA INDONESIA ABAD MODERN (21) YANG&lt;br /&gt;BERKAULITAS TINGGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGANTAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi sebelum abad 21 menampilkan komunikasi antar bangsa, negara, wilayah&lt;br /&gt;yang tidak mudah dilakukan. Banyak keterbatasan yang dihadapi, sehingga peristiwa&lt;br /&gt;yang terjadi di satu tempat tidaklah mudah diketahui oleh orang-orang yang tinggal di&lt;br /&gt;tempat lain. Dunia menjadi terpisah-pisah dalam ruang dan waktu. Kejadian di Amerika&lt;br /&gt;tidak akan mudah diketahui oleh mereka yang tinggal di belahan bumi lainnya seperti&lt;br /&gt;Eropa, Asia, Afrika, dan Australia. Dengan demikian pikiran, pandangan, gaya hidup&lt;br /&gt;masyarakat di wilayah tertentu bersifat lokal dan khusus, mengacu pada kebiasaan dan&lt;br /&gt;budaya setempat. Kondisi tersebut memunculkan berbagai ragam tatanan masyarakat dan&lt;br /&gt;gaya hidup. &lt;br /&gt;Keterbatasan komunikasi juga mengisolir peristiwa yang berlangsung di wilayah&lt;br /&gt;tertentu. Peristiwa di Banda Aceh, misalnya, akan lama sekali sampai pemberitaannya di&lt;br /&gt;Merauke,  Irian  Jaya.  Namun,  berkat  perkembangan  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi&lt;br /&gt;menjelang abad 21, jarak tampaknya tidak lagi menjadi masalah. Menit ini peristiwanya&lt;br /&gt;terjadi,  menit  berikutnya  seluruh  dunia  bisa  mengetahuinya.  Ditemukannya  satelit&lt;br /&gt;membuat  komunikasi  menjadi  lebih  mudah.  Kemudahan  komunikasi  inilah  yang&lt;br /&gt;membawa penghuni dunia ke dalam kehidupan bersama, yang memungkinkan mereka&lt;br /&gt;saling berinteraksi, mempengaruhi dan dipengaruhi, juga dalam memilih dan menentukan&lt;br /&gt;pandangan serta gaya hidup.&lt;br /&gt;Abad 21 ditandai dengan semakin membaurnya bangsa-bangsa warga masyarakat&lt;br /&gt;dunia  dalam  satu  tatanan  kehidupan  masyarakat  luas  yang  beraneka  ragam  tetapi&lt;br /&gt;sekaligus  juga  terbuka  untuk  semua  warga.  Gaya  hidup  yang  menyangkut  pilihan&lt;br /&gt;pekerjaan,  kesibukan,  makanan,  mode  pakaian,  dan  kesenangan  telah  mengalami&lt;br /&gt;perubahan, dengan kepastian mengalirnya pengaruh kota-kota besar terhadap kota-kota&lt;br /&gt;kecil, bahkan sampai ke desa. Bentuk-bentuk tradisional bergeser, diganti dengan gaya&lt;br /&gt;hidup  global.  Kesenangan  bergaya  hidup  internasional  mulai  melanda.  Perbincangan&lt;br /&gt;mengenai  pengembangan  hubungan  antar  negara  menjadi  mirip  pembahasan  tentang&lt;br /&gt;pengembangan  komunikasi  antar  kota  dan  desa.  Teknologi  komunikasi  memang&lt;br /&gt;memungkinkan dilakukannya pengembangan hubungan dengan siapa saja, kapan saja, di&lt;br /&gt;mana saja, dalam berbagai bentuk yakni suara dan gambar yang menyajikan informasi,&lt;br /&gt;data, peristiwa dalam waktu sekejap. Secara psikologis kondisi tersebut akan membawa&lt;br /&gt;manusia  pada  perubahan  peta  kognitif,  pengembangan  dan  kemajemukan  kebutuhan,&lt;br /&gt;pergeseran prioritas dalam tata nilainya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; BAB I&lt;br /&gt;KONDISI DAN SITUASI DI ABAD 21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses  menuju  abad  21  telah  berlangsung  sejak  tahun  tujuh  puluhan.  Dalam&lt;br /&gt;percaturan internasional tak ada yang bisa menghindar atau mengelakkan diri dari proses&lt;br /&gt;ini. Pengaruh yang datang tak lagi bisa dibendung, mengalir deras tanpa kenal batas.&lt;br /&gt;Film, surat kabar, majalah, radio, televisi gencar menyuguhkan pemikiran, sikap dan&lt;br /&gt;perilaku yang sebelumnya tidak dikenal. Gaya hidup baru yang diberi label &#39;modern&#39;&lt;br /&gt;diperkenalkan secara luas. Naisbitt dan Aburdene (1990) sebagaimana dikutip oleh Sri&lt;br /&gt;Mulyani Martaniah (1991) mengatakan bahwa era globalisasi memungkinkan timbulnya&lt;br /&gt;gaya hidup global. Tumbuhnya restoran dengan menu khusus dari mancanegara semakin&lt;br /&gt;menjamur,  menggeser  selera  masyarakat  yang  semula  bertumpu  pada  resep-resep&lt;br /&gt;tradisional. Gaya berpakaian dipengaruhi oleh garis-garis mode  yang diciptakan oleh&lt;br /&gt;perancang kelas dunia. Kosmetika, aksesori, dan pernak-pernik lainnya untuk melengkapi&lt;br /&gt;penampilan tidak lepas dari pengaruh era globalisasi, seperti halnya tata busana. Selain&lt;br /&gt;mode, dunia hiburan juga tersentuh. Munculnya kafe, kelab malam, rumah bola (bilyard)&lt;br /&gt;memberi  warna  baru  dalam  kehidupan  masyarakat.  Demikian  pula  kegiatan  pasar.&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk pasar tradisional yang memungkinkan terjadinya keakraban antara penjual&lt;br /&gt;dan pembeli, sehingga keterlibatan emosional ikut mewarnai, perlahan menghilang dan&lt;br /&gt;berganti dengan transaksi ekonomi semata ketika muncul pasar-pasar swalayan.&lt;br /&gt;Seiring dengan perubahan jaman, masyarakat pun mengembangkan norma-norma,&lt;br /&gt;pandangan dan kebiasaan baru dalam berperilaku. Era globalisasi yang mewarnai abad 21&lt;br /&gt;telah memunculkan pandangan baru tentang arti bekerja. Ada yang lebih luas dari sekadar&lt;br /&gt;makna mencari nafkah dan ukuran kecukupan  dalam memenuhi kebutuhan keluarga.&lt;br /&gt;Orang cenderung mengejar kesempatan untuk bisa memuaskan kebutuhan aktualisasi diri,&lt;br /&gt;sekaligus tampil sebagai pemenang dalam persaingan untuk memperoleh yang terbaik,&lt;br /&gt;tertinggi, terbanyak. Untuk bisa mengikuti gaya hidup yang baru, diperlukan dukungan&lt;br /&gt;kemampuan ekonomi  yang tinggi. Kebutuhan ini sangat terasa. Tawaran gaya hidup&lt;br /&gt;modern yang ditawarkan melalui kaca-kaca ruang pamer toko atau distributor benda-&lt;br /&gt;benda yang digandrungi masyarakat telah memacu banyak orang untuk bekerja tak kenal&lt;br /&gt;waktu.  Orang  sibuk  mencari  uang  untuk  bisa  memiliki  gaya  hidup  seperti  yang&lt;br /&gt;ditawarkan.  Apalagi  media  massa  juga  rajin  menggelitik  masyarakat  untuk  dapat&lt;br /&gt;mengikutinya, antara lain melalui iklan, sinetron, acara-acara hiburan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Kemajuan teknologi komunikasi abad ini telah memungkinkan berita dan cerita segera&lt;br /&gt;menyebar ke seluruh pelosok, menyapa siapa saja, tak peduli penerima pesannya siap&lt;br /&gt;atau tidak. &lt;br /&gt;Wajah keluarga juga berubah. Perkembangan jaman yang merubah gaya hidup&lt;br /&gt;masyarakat  ikut  mewarnai  kehidupan  keluarga.  Peran  suami  istri,  pola  asuh  dan&lt;br /&gt;pendidikan  anak  tidak  bisa  mempertahankan  pola  lama  sepenuhnya.  Pengaruh  yang&lt;br /&gt;diterima suami istri, juga yang diterima anak dalam proses perkembangannya, tak lagi&lt;br /&gt;bisa dipisahkan dari dunia di luar rumah. Melalui perangkat teknologi anak bisa langsung&lt;br /&gt;menerima pengaruh dari luar, yang tentu saja akan selalu mempunyai dua sisi, baik dan&lt;br /&gt;tidak baik, positif dan negatif. Situasi inilah yang akan mewarnai kehidupan anak dan&lt;br /&gt;orang tua di abad 21. Orang tua tak lagi menjadi pewarna tunggal dalam pengembangan&lt;br /&gt;pola sikap dan tingkah laku anak. Ada lingkungan yang lebih luas dan leluasa memasuki&lt;br /&gt;kehidupan keluarga dalam menawarkan berbagai bentuk perilaku untuk diamati, dipilih,&lt;br /&gt;dan  diambil  alih  anak.  &#39;Teman&#39;  dan  &#39;pesaing&#39;  orang  tua  menjadi  bertambah,  sebab lingkungan memang tidak hanya terdiri dari dukungan atau penguat pesan-pesan dan nilai&lt;br /&gt;yang ditanamkan orang tua, tetapi juga menjadi penghambat dan pengganggu penerimaan&lt;br /&gt;pesan dan nilai tersebut. &lt;br /&gt;Perkembangan  kehidupan  keluarga  yang  mewarnai  abad  21  memunculkan&lt;br /&gt;penampilan ibu yang berbeda dalam peran dan fungsinya selaku penyelenggara rumah&lt;br /&gt;tangga dan pendidik anak. Seiring dengan pemunculan ibu dalam kegiatan di luar rumah&lt;br /&gt;(bekerja, melakukan kegiatan sosial-budaya), kehadiran ibu yang tidak lagi 24 jam di&lt;br /&gt;rumah menimbulkan pertanyaan tentang hasil yang bisa diharapkan dari pola asuhan dan&lt;br /&gt;pendidikan dalam situasi seperti itu. Apa jadinya setelah ibu juga sibuk di luar, padahal&lt;br /&gt;ibu dikenal selaku pendidik pertama dan utama? Bisakah anak tetap diharapkan mampu&lt;br /&gt;berkembang optimal tanpa kehadiran ibu? Kalau ibu tidak ada, siapa yang layak ditunjuk&lt;br /&gt;dan diserahi tanggung jawab sebagai pengganti? Pertanyaan ini menjadi terasa lebih&lt;br /&gt;bermakna karena ayah tak juga menjadi surut dari kegiatannya di luar rumah, bahkan&lt;br /&gt;cenderung meningkat seiring dengan tuntutan kehidupan abad 21. Nah, kalau ayah dan&lt;br /&gt;ibu sama-sama tidak bisa hadir penuh, lalu siapa yang harus menjadi pengganti mereka&lt;br /&gt;berdua? Padahal, kehadiran itu sangat diperlukan anak, tak peduli berapapun umurnya,&lt;br /&gt;sebab proses pendidikan berlangsung selama masa perkembangannya, sejak kanak-kanak&lt;br /&gt;sampai dewasa. Jadi, bukan hanya balita (anak berumur di bawah lima tahun)  yang&lt;br /&gt;memerlukan  kehadiran  bapak  dan  ibu,  tetapi  juga  anak  pada  tahapan  perkembangan&lt;br /&gt;selanjutnya,  yakni mereka  yang berada dalam tahap perkembangan kanak-kanak, pra&lt;br /&gt;remaja, remaja, dewasa muda, dewasa.&lt;br /&gt;Mencari pengganti ibu tampaknya merupakan masalah yang akan mewarnai abad&lt;br /&gt;21. Tidak mudah memperoleh pengasuh anak.. Hampir tak ada lagi pengasuh anak dalam&lt;br /&gt;keluarga yang bisa membantu ibu dan berperan turun temurun, dari generasi ke generasi,&lt;br /&gt;seperti yang pernah dialami pada era sebelumnya. Unsur kesetiaan dan pengabdian sudah&lt;br /&gt;berubah  menjadi  transaksi  ekonomi  semata,  sekadar  menjual  dan  memakai  jasa.&lt;br /&gt;Sementara itu gagasan untuk mengatasi masalah ini dengan mendirikan Tempat Penitipan&lt;br /&gt;Anak (TPA) masih memerlukan banyak pengkajian dan pertimbangan.&lt;br /&gt;Masalah  pendidikan  anak  yang  mewarnai  abad  21  perlu  disikapi  sungguh-&lt;br /&gt;sungguh sejak sekarang. Bekal untuk anak agar bisa tumbuh dan berkembang sebagai&lt;br /&gt;sosok  pribadi  yang  sehat  jasmani  dan  rohani,  tangguh  dan  mandiri  serta  mampu&lt;br /&gt;beradaptasi dalam era globalisasi ini menjadi semakin perlu diperhatikan kualitasnya.&lt;br /&gt;Kondisi abad 21 yang memberi peluang besar bagi bangsa-bangsa di dunia untuk saling&lt;br /&gt;berinteraksi, sekaligus membawa ke suasana kompetisi atau persaingan yang semakin&lt;br /&gt;ketat dalam memperoleh kesempatan untuk mengisi kehidupan dan membuatnya menjadi&lt;br /&gt;bermakna (bisa sekolah, bisa bekerja dan mencari nafkah, dan sebagainya). Persaingan ini&lt;br /&gt;memerlukan  ketangguhan  dan  keuletan  dalam  menghadapinya.  Kebutuhan  untuk&lt;br /&gt;&quot;menjadi  seseorang&quot;  dan  &quot;menjadi  bagian&quot;  yang  jelas  kedudukannya  bisa  menjadi&lt;br /&gt;landasan untuk menumbuhkan motivasi pengembangan diri dan kemampuan beradaptasi.&lt;br /&gt;Kebutuhan ini erat kaitannya dengan pembentukan rasa percaya diri dan menumbuhkan&lt;br /&gt;motivasi untuk berusaha dan meraih kesempatan agar dapat senantiasa meningkatkan diri.&lt;br /&gt;Sikap  yang  mandiri,  tak  gentar  menghadapi  rintangan,  mampu  berpikir  kreatif  dan&lt;br /&gt;bertindak  inovatif  tapi  juga  peduli  lingkungan  adalah  sosok  yang  diperlukan  untuk&lt;br /&gt;menjalani  kehidupan  dalam  era  globalisasi.  Jelas  bahwa  pengembangan  sikap  dan&lt;br /&gt;perilaku tersebut merupakan tuntutan yang lebih berat daripada hasil pendidikan yang&lt;br /&gt;menjadi tanggung jawab generasi sebelumnya. Kemampuan mengantisipasi masa depan&lt;br /&gt;dengan  berbagai  alternatif  untuk  mengatasi  permasalahannya  menjadi  sangat  penting untuk diperhatikan dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak. Situasi ini tidak hanya&lt;br /&gt;merupakan  masalah  keluarga,  melainkan  juga  seluruh  pendukung  proses  pendidikan&lt;br /&gt;anak, yaitu masyarakat, bangsa dan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; BAB II&lt;br /&gt;PERILAKU MANUSIA INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kehidupan masyarakat pasca proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945&lt;br /&gt;Kehidupan berbangsa dan bernegara mempengaruhi pembentukan pola perilaku&lt;br /&gt;masyarakat, yang tercermin dari perilaku individu selaku anggota masyarakat. Sebagai&lt;br /&gt;bangsa  yang  bangkit  dari  penjajahan  (Belanda  dan  Jepang),  di  awal  kemerdekaan&lt;br /&gt;manusia  Indonesia  mengembangkan  perilaku  penuh  gairah  membangun  bangsa  dan&lt;br /&gt;negara. Kebanggaan menyandang identitas sebagai bangsa dan negara yang merdeka dan&lt;br /&gt;berdaulat penuh mendorong terjadinya interaksi yang saling mengisi antar berbagai suku&lt;br /&gt;bangsa dalam semangat kesatuan dan persatuan, yang tercermin dalam lambang Bhinneka&lt;br /&gt;Tunggal Ika, walaupun berbeda tetap satu jua. Ada kebutuhan untuk saling mengenal,&lt;br /&gt;memahami dan menghayati agar kesatuan dan persatuan tidak hanya sekadar simbol,&lt;br /&gt;melainkan merasuk dalam kehidupan sehari-hari. &lt;br /&gt;Kebanggaan dan cita-cita mempertahankan kemerdekaan serta keinginan untuk&lt;br /&gt;tampil  sebagai  bangsa  yang  dikenal  dan  dihormati  dalam  percaturan  dunia  telah&lt;br /&gt;membawa masyarakat dalam pengembangan perilaku kebersamaan, yang cenderung tidak&lt;br /&gt;mempertajam  perbedaan  latar  belakang  suku,  pendidikan,  agama,  dan  sebagainya.&lt;br /&gt;Menjadi Manusia Indonesia adalah tujuan yang diharapkan dapat dibentuk bersama oleh&lt;br /&gt;masyarakat  &quot;seribu  pulau&quot;  ini.  Ada  kebutuhan  yang  ditumbuhkan  untuk  memotivasi&lt;br /&gt;masyarakat agar bisa tampil sebagai &quot;Orang Indonesia&quot; sebagai identitas diri yang baru,&lt;br /&gt;dengan tetap mempertahankan latar belakang warna suku bangsanya. Perpaduan berbagai&lt;br /&gt;ragam  budaya  pun  dicari  dan  diusahakan  bersama.  Dengan  falsafah  gotong  royong,&lt;br /&gt;semangat persatuan dan kesatuan, pembangunan bangsa dan negara mendapat dukungan&lt;br /&gt;dari berbagai lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;2. Pembentukan perilaku manusia Indonesia dalam masa Orde Baru&lt;br /&gt;Peristiwa  di  tahun  1965  (pembubaran  Partai  Komunis  Indonesia)  kemudian&lt;br /&gt;memunculkan arah baru dalam pembentukan perilaku manusia Indonesia. Masa yang&lt;br /&gt;dikenal sebagai Orde Baru mengarahkan pembangunan di bidang ekonomi sebagai fokus&lt;br /&gt;utama.  Masyarakat  pun  berpaling.  Segenap  lapisan  berusaha  mengikuti  derap&lt;br /&gt;pembangunan yang baru, sesuai dengan kemampuan dan harapannya. Sejalan dengan&lt;br /&gt;perkembangan  ini  maka  sikap  dan  gaya  hidup  masyarakat  pun  berubah.  Manusia&lt;br /&gt;Indonesia  seolah  dipaksa  masuk  ke  dalam  persaingan  global  yang  berciri  khas&lt;br /&gt;kapitalisme. Para pengusaha siap menjelajah seluruh pelosok dan menelan siapa saja&lt;br /&gt;untuk  mencapai  tujuannya  demi  laba  yang  ingin  diraih.  Arief  Budiman  (1991)&lt;br /&gt;mengemukakan bahwa salah satu aspek ekspansi kapitalisme global adalah diciptakannya&lt;br /&gt;manusia-manusia yang serakah dan materialistis, sesuai dengan yang dibutuhkan oleh&lt;br /&gt;sistem kapitalisme. Produksi akan macet kalau manusia merasa sudah cukup dan tidak&lt;br /&gt;mau berkonsumsi lagi. Akibatnya, melalui iklan dan berbagai bentuk promosi lainnya&lt;br /&gt;manusia dibentuk menjadi berperilaku konsumeristis. Sikap serakah, materialistis, dan&lt;br /&gt;konsumeristis  inilah  yang  mendorong  orang  untuk  bekerja  sekeras-kerasnya,  demi&lt;br /&gt;memenuhi keinginannya yang tak kunjung terpuaskan. Kekayaan menjadi simbol status&lt;br /&gt;dalam sistem kapitalis. Ukuran tidak lagi pada kualitas manusianya, melainkan pada&lt;br /&gt;jumlah  atau  kuantitas  harta  yang  dimiliikinya.  Kejujuran  tak  lagi  menjadi  ukuran&lt;br /&gt;keluhuran perilaku. Menurut istilah Arief, &quot;orang yang jujur tapi miskin tampak bodoh&lt;br /&gt;ketimbang orang yang kaya meski kurang jujur.&quot;  Sisi lain dari pengembangan sistem kapitalis adalah ditimbulkannya semangat&lt;br /&gt;individualistis, baik dalam berkonsumsi maupun berproduksi. Kolektivitas dan solidaritas&lt;br /&gt;dianggap  tidak  rasional.  Kemampuan  berkompetisi  untuk  meraih  yang  terbanyak,&lt;br /&gt;tertinggi,  lalu  berkonsumsi  dalam  jumlah  banyak  untuk  meraih  simbol  status  adalah&lt;br /&gt;tuntutan untuk bisa masuk dan bertahan dalam kehidupan sistem kapitalis. Akhirnya,&lt;br /&gt;kapitalisme bukan lagi sekadar sistem perekonomian belaka, tetapi sudah mencampuri&lt;br /&gt;nilai-nilai kehidupan dan menentukan arah tujuan hidup. Suasana inilah yang mewarnai&lt;br /&gt;periode  pemerintahan  Orde  Baru.  Upaya  menciptakan  manusia  yang  materalitis,&lt;br /&gt;individualistis, memiliki daya saing tinggi agar bisa menjadi pemenang dan mengalahkan&lt;br /&gt;pesaing-pesaing lainnya (siapapun dia) menjadi arah pembentukan perilaku oleh berbagai&lt;br /&gt;pihak. &lt;br /&gt;Ada pemenang ada pecundang (the winner and the looser). Mereka yang mampu&lt;br /&gt;akhirnya  memang  &#39;berhasil&#39;  mengikuti  gaya  hidup  global.  Tapi,  sebagian  besar&lt;br /&gt;masyarakat Indonesia belum memiliki dukungan untuk bisa mengikuti gaya hidup yang&lt;br /&gt;baru.  Keadaan  ekonominya  masih  sangat  jauh  untuk  bisa  tampil  dalam  persaingan&lt;br /&gt;tersebut. Akibatnya, banyak orang menempuh jalan pintas. Korupsi, kolusi , koncoisme,&lt;br /&gt;nepotisme dilakukan orang dalam berbagai bentuk, yang sama buruknya dengan perilaku&lt;br /&gt;menipu, mencuri, merampok, melacurkan diri. Cara ini ditempuh orang-orang yang tidak&lt;br /&gt;memiliki  kemampuan  untuk  bersaing  tetapi  sangat  mendambakan  kehidupan  yang&lt;br /&gt;diciptakan  oleh  sistem  kapitalis.  Berdasarkan  kondisi  kemampuan  ekonomi  sebagian&lt;br /&gt;besar masyarakat Indonesia, Sri Mulyani Martaniah (1991) melihat banyak aspek dalam&lt;br /&gt;era globalisasi yang dapat berdampak negatif dan bisa menyebabkan patologi sosial dan&lt;br /&gt;memerlukan pengembangan psikologi komunitas sebagai salah satu cara mengatasinya. &lt;br /&gt;Ada lagi kelompok lain, yaitu mereka yang tidak dapat melakukan cara-cara tersebut,&lt;br /&gt;tetapi tetap terimbas oleh kehidupan sistem kapitalis. Akibat bagi kelompok ini adalah&lt;br /&gt;perilaku yang menunjukkan perasaan tertekan (stress), depresi, bunuh diri, melarikan diri&lt;br /&gt;ke  pemakaian  obat-obatan  dan  minuman  keras.  Sebagian  lainnya  dari  kelompok  ini&lt;br /&gt;mengembangkan perilaku yang bersifat apatis. Mereka hanya menjadi penonton pasif dan&lt;br /&gt;mencoba bertahan dengan apa yang dimilikinya dan bisa dilakukannya, entah sampai&lt;br /&gt;kapan.&lt;br /&gt;Manusia  tak  lepas  dari  lingkungannya.  Kecenderungan  mengikuti  gaya  hidup&lt;br /&gt;yang baru, yang &quot;trendy&quot; dan menempatkan nilai-nilai baru dalam ukuran keberhasilan&lt;br /&gt;telah  merusak  dan  menghancurkan  nilai-nilai  tradisional  yang  sebelumnya  dipegang&lt;br /&gt;teguh  dan  diyakini  sebagai  kebenaran.  Nilai  yang  mementingkan  kebersamaan  dan&lt;br /&gt;menumbuhkan  sikap  gotong  royong  dilibas  oleh  nilai  individualistis.  Nilai  yang&lt;br /&gt;meletakkan  unsur  spiritual  berganti  dengan  unsur  materi.  Sikap  yang  mementingkan&lt;br /&gt;keselarasan  dalam  kehidupan  bersama,  sebagaimana  yang  telah  mewarnai  kehidupan&lt;br /&gt;masyarakat Indonesia, diubah menjadi sikap yang selalu mau bersaing dan memenangkan&lt;br /&gt;persaingan, tak peduli apapun caranya dan siapapun yang dihadapi. &lt;br /&gt;Dalam periode ini semua pihak, mau tidak mau, suka atau tidak, seolah dipaksa&lt;br /&gt;masuk ke dalam pembentukan perilaku persaingan global. Namun, di sisi lain, pada saat&lt;br /&gt;yang bersamaan tidak ingin meninggalkan cita-cita bangsa, yaitu terwujudnya masyarakat&lt;br /&gt;yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan sosial. Benturan antara keyakinan&lt;br /&gt;terhadap nilai-nilai tradisional dan kenyamanan serta keamanan, yang pernah diberikan&lt;br /&gt;dalam cara kehidupan yang menjunjung tinggi kebersamaan, dengan kehidupan sistem&lt;br /&gt;kapitalis melahirkan konflik-konflik pribadi yang cukup tajam pengaruhnya dalam proses&lt;br /&gt;pembentukan perilaku. &lt;br /&gt;Bayang-bayang kehidupan masyarakat dalam masa Orde Baru dengan berbagai&lt;br /&gt;benturan kepentingan dan kebutuhan itulah yang kemudian memunculkan Era Reformasi,&lt;br /&gt;yang  ditandai  oleh  &quot;lengsernya&quot;  Soeharto  dari  jabatannya  selaku  Presiden  Republik&lt;br /&gt;Indonesia setelah berkuasa selama 32 tahun. Wajah masyarakat muncul beraneka ragam.&lt;br /&gt;Berbagai  bentuk  perilaku  tampak  mencerminkan  kondisi  dan  situasi  yang  dimiliki&lt;br /&gt;masing-masing, baik sebagai individu maupun kelompok, yang semula ditekan kuat-kuat&lt;br /&gt;agar tidak muncul ke permukaan dan tidak menimbulkan konflik terutama bagi mereka&lt;br /&gt;yang  berbeda  pendapat.  Demonstrasi,  pembentukan  partai-partai  baru,  penjarahan,&lt;br /&gt;perkosaan, doa bersama, tuding menuding, menghujat dan dihujat mewarnai kehidupan&lt;br /&gt;masyarakat Indonesia saat ini. Negeri seribu pulau dengan nyanyian nyiur melambai yang&lt;br /&gt;melambangkan kenyamanan dan kedamaian seolah terpuruk dalam tangis Pertiwi yang&lt;br /&gt;meratapi nasib bangsa dan negara yang tampak &#39;carut marut&#39; oleh berbagai kepentingan&lt;br /&gt;dan  kebutuhan.  Kondisi  dan  situasi  dalam  kehidupan  berbangsa  dan  bernegara  yang&lt;br /&gt;dirasakan dalam keadaan terpuruk itu menjadi bertambah sulit proyeksinya ke depan,&lt;br /&gt;karena perilaku yang tampil di masyarakat tidak lagi mencerminkan kepedulian terhadap&lt;br /&gt;hukum dan aturan kehidupan bersama yang menimbulkan ketenteraman dan kenyamanan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; BAB III&lt;br /&gt;MAKNA HUKUM DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum dapat mengarahkan masyarakat ke arah pembaruan perilaku yang sesuai&lt;br /&gt;dengan kebutuhan mereka untuk dapat menghadapi berbagai tantangan, sekarang dan di&lt;br /&gt;masa yang akan datang. Ditinjau dari segi budaya hukum, yaitu bagaimana masyarakat&lt;br /&gt;mempersepsikan hukum, maka secara umum hukum dipersepsikan sebagai:&lt;br /&gt;a. suatu tatanan normatif dalam kehidupan bernegara &lt;br /&gt;b. berfungsi mengatur kehidupan warganegara dengan memberikan batasan tentang apa&lt;br /&gt;yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan &lt;br /&gt;c. bertujuan untuk melindungi tiap warganegara dengan mengacu pada nilai-nilai dasar&lt;br /&gt;seperti kemanusiaan dan keadilan &lt;br /&gt;d. ditetapkan oleh otoritas yang legitimasinya diakui oleh seluruh warganegara. &lt;br /&gt;Dengan  demikian  dapat  dikatakan  bahwa  dari  sudut  perilaku  masyarakat,  maka&lt;br /&gt;hukum memiliki dua fungsi, yaitu:&lt;br /&gt;a.  memantapkan  pola  perilaku  masyarakat  yang  sudah  ada  dan  ingin  dipertahankan&lt;br /&gt;dan/atau &lt;br /&gt;b. mengubah pola perilaku masyarakat yang ada saat ini ke arah perilaku baru yang&lt;br /&gt;dicita-citakan. &lt;br /&gt;Persepsi masyarakat terhadap hukum dan kenyataan yang dirasakannya dalam&lt;br /&gt;menerima perlakuan hukum adalah unsur penting dalam pengembangan perilaku hukum.&lt;br /&gt;Bila  masyarakat  sungguh  mempersepsikan  bahwa  hukum  melindungi  kepentingan&lt;br /&gt;mereka dan dalam pelaksanaannya dilakukan oleh otoritas yang diakui legitimasinya oleh&lt;br /&gt;warga, maka proses pemantapan ataupun perubahan perilaku  yang dilakukan melalui&lt;br /&gt;pendekatan hukum akan dapat terlaksana secara teratur dan terencana. &lt;br /&gt;Kepastian  hukum  dan  jaminan  pelaksanaannya  merupakan  landasan  bagi&lt;br /&gt;masyarakat dalam pengembangan perilaku normatif yang diperlukan bagi keamanan dan&lt;br /&gt;kenyamanan  kehidupan  bersama.  Kepercayaan  masyarakat  terhadap  aparat  penegak&lt;br /&gt;hukum dan proses penegakan hukum merupakan unsur penting dalam mengembangkan&lt;br /&gt;perilaku  yang  peduli  hukum,  yang  tampil  dalam  bentuk  perbuatan  yang  memahami&lt;br /&gt;aturan, melaksanakan aturan, dan kesediaan menanggung konsekuensi akibat pelanggaran&lt;br /&gt;hukum  yang  dilakukannya.  Perasaan  diperlakukan  secara  adil  juga  penting  bagi&lt;br /&gt;dipatuhinya aturan-aturan dalam kehidupan bermasyarakat sesuai hukum yang berlaku.&lt;br /&gt;Sebaliknya,  perlakuan  hukum  yang  dirasakan  berpihak  akan  mendorong  timbulnya&lt;br /&gt;perilaku yang cenderung mengingkari, yang bisa muncul dalam bentuk &quot;menghindari&quot;&lt;br /&gt;atau bahkan melawan hukum (denda &#39;damai&#39; atau suap). &lt;br /&gt;Setiap anggota masyarakat diharapkan bisa secara mandiri memahami makna dan&lt;br /&gt;tujuan ditegakkannya hukum, sehingga dalam pelaksanaannya tidak terlalu memerlukan&lt;br /&gt;pengawasan. Dengan demikian jumlah aparat yang diperlukan untuk pengawasan dalam&lt;br /&gt;pelaksanaan hukum bisa lebih efisien. Salah satu ciri kemandirian adalah kemampuan&lt;br /&gt;memilih yang benar dari yang salah berdasarkan norma atau aturan yang berlaku di satu&lt;br /&gt;tempat  dalam  kurun  waktu  tertentu.  Kesiapan  seseorang  untuk  bisa  mandiri  dalam&lt;br /&gt;membedakan  yang  benar  dan  salah  berdasarkan  norma  yang  diyakininya  dan&lt;br /&gt;dijadikannya sebagai pegangan dalam berperilaku memerlukan proses yang bertahap.&lt;br /&gt;Menurut  Lawrence  Kohlberg  ada  tiga  tahapan  pokok  yang  dilalui  seseorang  untuk&lt;br /&gt;mampu  bersikap  adil  dan  mengembangkan  sikap  dan  perbuatan  berdasarkan&lt;br /&gt;pertimbangan moral., yaitu: a. Moralitas Prakonvensional. Pada tahapan ini dasar  yang menjadi pegangan dalam&lt;br /&gt;bersikap  dan  bertingkah  laku  adalah  pujian  dan  hukuman  yang  diberikan  oleh&lt;br /&gt;lingkungan.  Tingkah  laku  yang  diancam  hukuman  tidak  akan  dilakukan  lagi.&lt;br /&gt;Sebaliknya,  perbuatan  yang  mendatangkan  pujian  atau  hadiah  akan  cenderung&lt;br /&gt;diulang. &lt;br /&gt;b. Moralitas Konvensional. Pada tahapan ini perilaku sudah lebih disesuaikan dengan&lt;br /&gt;norma yang dianut dalam lingkungan sosial tertentu. Sikap dan perilaku diarahkan&lt;br /&gt;supaya  bisa  dikelompokkan  sebagai  perbuatan  seorang  anggota  atau  warga&lt;br /&gt;masyarakat yang baik. &lt;br /&gt;c. Moralitas Pascakonvensional. Pada tahapan ini prinsip-prinsip moral digunakan dalam&lt;br /&gt;arti luas, tidak sekadar hitam putih dan tidak mengacu pada batasan-batasan sempit&lt;br /&gt;yang berlaku hanya untuk kalangan masyarakat tertentu. &lt;br /&gt;  Perilaku masyarakat terbagi dalam tiga kelompok tersebut, yang dipengaruhi oleh&lt;br /&gt;proses perkembangannya. Tingkat kematangan pribadi sangat menentukan moralitas yang&lt;br /&gt;mendasari perilakunya.&lt;br /&gt;Ada dua mekanisme belajar yang utama dalam membentuk perilaku manusia,&lt;br /&gt;yaitu:&lt;br /&gt;a. Cara belajar instrumental &lt;br /&gt;b. Cara belajar observasional &lt;br /&gt;Belajar instrumental pada dasarnya mengatakan bahwa suatu perilaku yang diikuti&lt;br /&gt;oleh konsekuensi yang positif (reinforcement) akan diulangi, sedangkan perilaku yang&lt;br /&gt;diikuti oleh konsekuensi negatif (punishment) tidak akan diulangi. Contoh: Bila dalam&lt;br /&gt;pengalaman  sehari-hari  seseorang  selalu  mengalami  bahwa  &quot;mengurus  KTP  dengan&lt;br /&gt;mengikuti prosedur yang berlaku&quot; (perbuatan menaati peraturan) membuat dia kehilangan&lt;br /&gt;jam kerja berhari-hari, sedangkan dengan &quot;mengurus KTP dengan memberi uang pelicin&quot;&lt;br /&gt;(perbuatan melanggar peraturan) petugas malahan mengantar KTP baru ke rumah, maka&lt;br /&gt;menurut belajar instrumental, dia akan cenderung memberi uang pelicin setiap kali harus&lt;br /&gt;mengurus KTP di masa yang akan datang, walaupun perbuatan itu melanggar hukum.&lt;br /&gt;Menurut  persepsinya,  perbuatan  itulah  yang  menghasilkan  reinforcement  sedangkan&lt;br /&gt;menaati hukum justru menghasilkan punishment.&lt;br /&gt;Tentu  dalam  hal  ini  keterkaitan  (contingency)  antara  suatu  perilaku  dengan&lt;br /&gt;konsekuensi yang menyertainya harus terjadi secara konsisten untuk suatu jangka waktu&lt;br /&gt;tertentu  sebelum  pola  perilaku  yang  diinginkan  dapat  terbentuk.  Tanpa  adanya&lt;br /&gt;konsistensi ini maka perilaku yang diinginkan tidak akan dapat terbentuk. Misalnya bila&lt;br /&gt;pada suatu waktu si Anu akan melewati lampu merah dilarang oleh polisi, sedangkan&lt;br /&gt;ketika ia melakukan hal yang sama pada waktu lain polisi membiarkan saja hal tersebut&lt;br /&gt;maka  tidak  akan  terjadi  proses  pengkaitan  antara  &quot;melewati  lampu  merah&quot;  dengan&lt;br /&gt;&quot;penilangan oleh polisi.&quot; Sebagai konsekuensinya tidak akan terbentuk perilaku &quot;berhenti&lt;br /&gt;setiap kali melihat lampu merah.&quot;&lt;br /&gt;Belajar observasional mengatakan bahwa seseorang dapat mempelajari perilaku&lt;br /&gt;baru atau memperkuat perilaku yang sudah dimilikinya hanya dengan mengamati orang&lt;br /&gt;lain (model) melaksanakan perilaku tersebut. Besarnya pengaruh perilaku model terhadap&lt;br /&gt;perilaku si pengamat tergantung pada tiga hal, yaitu:&lt;br /&gt;a. penilaian pengamat tentang kemampuannya untuk dapat melaksanakan perilaku yang&lt;br /&gt;ditunjukkan oleh model &lt;br /&gt;b.  persepsi  pengamat  tentang  hasil  perilaku  yang  ditunjukkan  model,  yaitu  apakah&lt;br /&gt;menghasilkan konsekuensi positif atau negatif  c. perkiraan pengamat, apakah ia akan menghasilkan konsekuensi yang sama bila ia juga&lt;br /&gt;melaksanakan perilaku yang ditunjukkan model. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh: Si Dewi belum pernah mangkir dari pekerjaan karena hal tersebut melanggat&lt;br /&gt;peraturan kerja yang ada. Namun si Polan mengamati bahwa atasan dan rekan kerjanya&lt;br /&gt;yang sering mangkir tidak pernah ditegur atau dihukum, malahan dapat menikmati uang&lt;br /&gt;dari hasil pekerjaan sampingan (reinforcement) yang dilakukan pada saat mangkir kerja.&lt;br /&gt;Dalam situasi ini si Polan pun akan cenderung untuk ikut mangkir kerja dan melakukan&lt;br /&gt;pekerjaan sampingan, sesuai dengan perilaku model yang diamatinya. Menurut Bandura&lt;br /&gt;(1986) belajar observasional dari model ini telah terbukti sebagai sarana yang ampuh&lt;br /&gt;untuk meneruskan nilai-nilai, sikap dan pola perilaku dalam masyarakat. Bila persepsi&lt;br /&gt;masyarakat  tentang  peranan  hukum  dikaitkan  dengan  kedua  mekanisme  belajar  tadi,&lt;br /&gt;maka hukum sebenarnya merupakan suatu instruksi atau pemberitahuan dari otoritas yang&lt;br /&gt;diakui kewenangannya mengenai:&lt;br /&gt;a) perilaku yang diharapkan dari semua individu yang dikenai oleh hukum tersebut&lt;br /&gt;b) konsekuensi yang akan dialami individu pelaku bila ia melaksanakan atau menolak&lt;br /&gt;melaksanakan perilaku yang dimaksud.&lt;br /&gt;Agar  hukum  ini  dapat  berfungsi  secara  efektif,  ada  dua  syarat  yang  perlu&lt;br /&gt;dipenuhi, yaitu:&lt;br /&gt;a.  hukum  tersebut  harus  dimengerti  oleh  individu  yang  melaksanakannya  dan  oleh&lt;br /&gt;individu yang akan dikenai oleh hukum tersebut &lt;br /&gt;b. konsekuensi dari dipatuhi atau tidak dipatuhinya hukum tersebut harus dijalankan&lt;br /&gt;secara konsisten dan berlaku umum tanpa pengecualian. &lt;br /&gt;Arah pembangunan Indonesia dalam tiga dasa warsa terakhir ini, yang dikenal&lt;br /&gt;sebagai era Orde Baru, pada hakekatnya adalah pembangunan yang sangat menekankan&lt;br /&gt;pengembangan  bidang  ekonomi.  Dalam  konteks  ini  segala  sesuatu  diarahkan  agar&lt;br /&gt;pertumbuhan ekonomi dapat terus berlangsung tanpa mengalami gangguan. Untuk itu&lt;br /&gt;harus selalu diupayakan terciptanya stabilitas ekonomi agar dapat menarik para investor.&lt;br /&gt;Stabilitas ekonomi memerlukan dukungan stabilitas politik, yang kemudian oleh para&lt;br /&gt;pejabat  negara  seringkali  diinterpretasikan  sebagai  perlunya  pendekatan  keamanan&lt;br /&gt;(security approach). Tanpa terasa, secara bertahap, semakin banyak kebijakan, keputusan&lt;br /&gt;dan kebijaksanaan  yang dibuat dengan dalih mempertahankan pertumbuhan ekonomi&lt;br /&gt;nasional, padahal dalam kenyataannya tidak jarang hal tersebut hanya menguntungkan&lt;br /&gt;pihak tertentu saja dan kadang-kadang bahkan merugikan rakyat kecil. Hal ini antara lain&lt;br /&gt;terlihat dengan dikeluarkannya peraturan-peraturan yang bertentangan dengan hukum,&lt;br /&gt;seperti  pemberian  hak  monopoli  untuk  komoditi  tertentu,  keputusan-keputusan&lt;br /&gt;pengadilan yang dirasakan kurang adil, misalnya penyelesaian kasus Kedung Ombo dan&lt;br /&gt;hak tanah ulayat di Irian Jaya. Dalam bentuk lain, hal yang sama sering terlihat dalam&lt;br /&gt;proses penegakan hukum ataupun proses pengadilan di mana status, kekuasaan atau uang&lt;br /&gt;yang  dimiliki  pelanggar  hukum  ikut  mempengaruhi  jalannya  persidangan  maupun&lt;br /&gt;keputusan yang diambil. &lt;br /&gt;Berbagai  hal  yang  kurang  menguntungkan  dalam  pengembangan  perilaku&lt;br /&gt;masyarakat yang sadar hukum, sebagai bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara,&lt;br /&gt;masih  diperburuk  lagi  dengan  adanya  dua  hal  yang  sangat  berpengaruh  dalam&lt;br /&gt;pembentukan perilaku:&lt;br /&gt;a.  budaya  feodalisme  dan  paternalistik  yang  membuka  banyak  peluang  bagi  yang&lt;br /&gt;berkuasa  di  berbagai  tingkat  untuk  membuat  aturan  sendiri  atau  melakukan interpretasi subyektif terhadap hukum dan perundang-undangan yang ada, sehingga&lt;br /&gt;peraturan yang sama dapat diartikan berbeda oleh pejabat yang berbeda, di wilayah&lt;br /&gt;yang berbeda atau dalam kurun waktu yang berbeda. &lt;br /&gt;b. adanya kecenderungan budaya untuk menghindari konflik terbuka dan mencari jalan&lt;br /&gt;kompromi yang menyebabkan orang sering lari ke prosedur penyelesaian konflik&lt;br /&gt;alternatif  di  luar  pengadilan,  padahal  bentuk  penyelesaian  alternatif  ini  sangat&lt;br /&gt;dipengaruhi oleh kekuasaan atau status dari pihak-pihak yang ikut berperan dalam&lt;br /&gt;proses tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai hal tadi dengan sendirinya menurunkan wibawa para penegak hukum&lt;br /&gt;seperti  hakim,  pengacara,  polisi,  dan  lain  sebagainya  serta  menurunkan  kepercayaan&lt;br /&gt;masyarakat terhadap sistem peradilan dan sistem penegakan hukum itu sendiri. &lt;br /&gt;Apa  arti  kenyataan  itu  dilihat  dari  pendekatan  belajar  dalam  rangka  pembentukan&lt;br /&gt;perilaku menurut mekanisme belajar instrumental dan observasional?&lt;br /&gt;a.  Kenyataan  bahwa  seringkali  ada  peraturan-peraturan  yang  bertentangan  atau  tidak&lt;br /&gt;konsisten satu dengan yang lain akan menimbulkan kebingungan, baik di tingkat&lt;br /&gt;pelaksana maupun pada mereka yang dikenai oleh peraturan tersebut. Padahal untuk&lt;br /&gt;dapat  terjadi  proses  pembentukan  perilaku  sesuai  dengan  yang  dianjurkan  oleh&lt;br /&gt;peraturan tertentu, syarat pertama yang harus terpenuhi adalah bahwa orang-orang&lt;br /&gt;yang  terlibat  di  dalamnya  harus  mengerti  dengan  jelas,  apa  yang  dimaksud  oleh&lt;br /&gt;peraturan tersebut. Sebagai konsekuensinya, kondisi di mana terdapat kebingungan&lt;br /&gt;jelaslah bukan situasi yang memungkinkan terjadinya pembentukan perilaku yang&lt;br /&gt;sesuai peraturan. &lt;br /&gt;b. Adanya penerapan hukum secara berbeda, tergantung pada status dan kekuasaan orang&lt;br /&gt;yang ikut dalam proses penyelesaiannya maupun pada status dan kekuasaan individu&lt;br /&gt;yang dikenai oleh hukum tersebut, menyebabkan konsekuensi dari hukum/peraturan&lt;br /&gt;tersebut tidak dapat dilakukan secara konsisten tanpa pengecualian. Bila kondisi ini&lt;br /&gt;tidak terpenuhi, maka pembentukan perilaku yang dituju oleh hukum tersebut tidak&lt;br /&gt;akan terjadi. &lt;br /&gt;c. Kenyataan bahwa orang yang memiliki kekuasaan seringkali mendapat perlakuan yang&lt;br /&gt;menguntungkan (reinforcement) secara konsisten akan menjadikannya sebagai model&lt;br /&gt;bagi para pemegang kekuasaan pada tingkat yang lebih rendah. Sebagai akibatnya,&lt;br /&gt;semakin banyak para pemilik kekuasaan pada tingkat yang lebih rendah meneladani&lt;br /&gt;pola perilaku para pemimpin yang lebih tinggi. Namun, sayangnya peneladanan ini&lt;br /&gt;lebih jarang terjadi dalam hal menaati hukum tanpa pengecualian dan lebih sering&lt;br /&gt;terjadi dalam hal memperoleh perlakuan  yang  berbeda dan menguntungkan, sesuai&lt;br /&gt;dengan kedudukan atau kekuasaan mereka. Hal ini agaknya dapat menjelaskan semakin&lt;br /&gt;meningkatnya praktek korupsi, kolusi, koncoisme dan nepotisme di kalangan penguasa&lt;br /&gt;di berbagai tingkatan di negara kita. &lt;br /&gt;Dengan  perkataan  lain,  hukum  tertulis  yang  berisikan  instruksi  atau&lt;br /&gt;pemberitahuan  mengenai  perilaku  yang  diharapkan  dan  sanksi  yang  merupakan&lt;br /&gt;konsekuensinya  tidak  efektif  karena  tidak  dapat  dilaksanakan  secara  konsisten  dan&lt;br /&gt;berlaku umum tanpa pengecualian. Di sisi lain, hal-hal yang ingin dicegah oleh hukum,&lt;br /&gt;yaitu adanya perlakuan yang berbeda pada orang dengan status yang berbeda, justru&lt;br /&gt;menjadi semakin tumbuh subur di antara para pemegang kekuasaan. Hal ini disebabkan&lt;br /&gt;oleh karena mereka mengamati banyak sekali teladan dari penguasa yang lebih tinggi,&lt;br /&gt;yang  menunjukkan  bahwa  &quot;tidak  menaati  hukum  secara  konsisten  dan  tanpa pengecualian&quot;  justru  memberikan  konsekuensi  positif  (reinforcement)  pada  mereka.&lt;br /&gt;Dalam kondisi demikian kiranya akan sangat sulit untuk berharap bahwa pelaksanaan&lt;br /&gt;hukum secara konsisten tanpa pengecualian akan dapat ditegakkan.&lt;br /&gt;Namun, yang tidak kalah pentingnya untuk direnungkan adalah konsekuensi yang&lt;br /&gt;mungkin terjadi bila keadaan seperti ini terus berlanjut. Dalam hal ini ada beberapa hal&lt;br /&gt;yang mungkin terjadi:&lt;br /&gt;a.  Mereka  yang  merasa  dirugikan  akan  berusaha  untuk  memperjuangkan  perbaikan&lt;br /&gt;melalui cara-cara yang dimungkinkan oleh hukum. Alternatif ini semakin mungkin&lt;br /&gt;untuk  dipilih  bila  situasi  dan  kondisi  memungkinkan  dan  cukup  banyak  anggota&lt;br /&gt;masyarakat  yang  memiliki  pengetahuan  dan  mau  bertindak  asertif  untuk&lt;br /&gt;mengupayakan perubahan (memiliki self-efficacy tinggi). &lt;br /&gt;b. Bila situasi dan kondisi tidak memungkinkan alternatif di atas atau alternatif tersebut&lt;br /&gt;sudah  diusahakan  tetapi  tidak  membuahkan  hasil  maka  akan  muncul  perasaan&lt;br /&gt;frustrasi. Dengan adanya stimulus tertentu sebagai pemicu, frustrasi ini dapat dengan&lt;br /&gt;mudah menjelma menjadi perilaku agresif. Pengamatan terhadap pengalaman di masa&lt;br /&gt;lalu menunjukkan bahwa dalam pola budaya yang berorientasi kekuasaan, orang-&lt;br /&gt;orang yang berstatus rendah lazimnya mencari perlindungan dalam kolektivitas (Lev,&lt;br /&gt;1991). Bandura (1986) menemukan hal yang kurang lebih sama, yaitu bila cukup&lt;br /&gt;banyak  orang  yang  memiliki  self-efficacy  tinggi,  maka  mereka  cenderung  untuk&lt;br /&gt;melakukan protes dan usaha kolektif untuk mengubah keadaan. &lt;br /&gt;c.  Bila  perasaan  frustrasi  yang  diakibatkan  oleh  tidak  adanya  kemungkinan  untuk&lt;br /&gt;melakukan tindakan perbaikan berlangsung dalam waktu yang relatif lama atau bila&lt;br /&gt;berbagai upaya yang telah dilakukan berkali-kali tidak memberikan hasil nyata, maka&lt;br /&gt;sebagian besar kemungkinan mereka yang terlibat akan mengalami apa yang disebut&lt;br /&gt;sebagai &quot;learned helplessness&quot;. Artinya, proses panjang dari berbagai upaya yang&lt;br /&gt;telah dilakukan namun tidak membuahkan perubahan yang diinginkan menyebabkan&lt;br /&gt;orang-orang ini belajar menjadi tidak berdaya dan tidak mau lagi berusaha, karena&lt;br /&gt;mereka tidak lagi percaya akan adanya hubungan antara usaha mereka dengan hasil&lt;br /&gt;yang ingin dicapai (bersikap apatis). Bila hal ini terjadi pada cukup banyak anggota&lt;br /&gt;masyarakat kita, khususnya orang muda, kiranya akan sulit bagi bangsa kita untuk&lt;br /&gt;dapat  bersaing  secara  global  di  abad  21  dan menjadi  bangsa  yang  percaya  akan&lt;br /&gt;kemampuan diri sendiri. &lt;br /&gt;Kondisi dan situasi negara dewasa ini, yang sedang dilanda berbagai kesulitan&lt;br /&gt;dalam  kehidupan  akibat  krisis  moneter  berkepanjangan,  serta  terbongkarnya  praktek-&lt;br /&gt;praktek  pelanggaran  hukum  justru  oleh  mereka  yang  seharusnya  dijadikan  panutan&lt;br /&gt;masyarakat, baik sebagai penentu kebijakan maupun selaku aparat penegak, berdampak&lt;br /&gt;luas terhadap kondisi kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Krisis kepercayaan ini&lt;br /&gt;kemudian melahirkan sikap yang cenderung mengabaikan hukum. Perilaku masyarakat&lt;br /&gt;yang akhir-akhir ini menunjukkan kecenderungan melanggar hukum dalam memenuhi&lt;br /&gt;kebutuhannya  dan  &#39;main  hakim  sendiri&#39;  dalam  menyelesaikan  masalahnya,  harus&lt;br /&gt;ditanggapi  secara  sungguh-sungguh  dan  tidak  bisa  dibiarkan  berlarut-larut,  apalagi&lt;br /&gt;sampai  dijadikan  pola  perilaku  menetap  karena  &#39;dilegalisir&#39;  secara  tak  langsung  oleh&lt;br /&gt;pejabat negara. Tanpa  disadari pernyataan pejabat negara  yang dimaksudkan sebagai&lt;br /&gt;simpati terhadap kesulitan hidup yang dialami warga masyarakat (atau justru menarik&lt;br /&gt;simpati  masyarakat?)  telah  menimbulkan  persepsi  yang  mengesankan  &#39;disahkannya&#39;&lt;br /&gt;perilaku hukum yang menyimpang. Contoh: pengungkapan dan penyelesaian masalah perbankan,  tanah,  operasi  becak  di  Jakarta,  kasus  orang  hilang,  penjarahan,  dan&lt;br /&gt;sebagainya.&lt;br /&gt;Peristiwa huru hara di Jakarta dan kota-kota lainnya pada tanggal 13 dan 14 Mei&lt;br /&gt;1998 dan hari-hari berikutnya semakin membawa negeri ini dalam keadaan terpuruk&lt;br /&gt;dengan krisis kepercayaan yang sangat berat. Situasi yang tak kunjung stabil, sementara&lt;br /&gt;masyarakat  menantikan  kepastian  dalam  penegakan  hukum,  akhirnya  menumbuhkan&lt;br /&gt;sikap  apatis  dan  putus  asa  dengan  segala  konsekuensinya.  Kondisi  ini  mengantar&lt;br /&gt;pemerintah pada beban yang amat berat, terutama dalam hal pemulihan kepercayaan&lt;br /&gt;masyarakat  kepada  pemerintah.  Diperlukan  sikap  yang  mampu  menampung  aspirasi&lt;br /&gt;ketiga  kelompok  masyarakat  dalam  pengembangan  moral  (prakonvensional,&lt;br /&gt;konvensional,  pascakonvensional)  agar  kehidupan  bersama  bisa  ditata  kembali.&lt;br /&gt;Komunikasi  yang  digunakan,  baik  bentuk  maupun  jalurnya,  harus  sangat&lt;br /&gt;memperhitungkan karakter kelompok masyarakat secara cermat, sehingga tidak terjadi&lt;br /&gt;salah  tafsir  atau  keliru  interpretasi.  Dalam  kaitan  ini  pernyataan  pejabat,  penjelasan&lt;br /&gt;pemerintah,  penetapan  kebijakan  harus  mengacu  pada  kepentingan  segala  lapisan&lt;br /&gt;masyarakat,  dengan  memperhatikan  karakteristik  masing-masing,  sehingga  dapat&lt;br /&gt;dipahami dengan baik.&lt;br /&gt;Bagaimana mengubah pola perilaku masyarakat melalui hukum? Seperti telah&lt;br /&gt;diuraikan  terdahulu,  salah  satu  fungsi  hukum  adalah  untuk  mengubah  perilaku&lt;br /&gt;masyarakat ke arah yang diinginkan. Bila dikaitkan dengan prinsip-prinsip perubahan&lt;br /&gt;perilaku berarti diperlukan hukum yang berisikan batasan perilaku yang diinginkan dan&lt;br /&gt;uraian yang jelas tentang konsekuensi yang akan diterima bila hukum tersebut ditaati atau&lt;br /&gt;dilanggar.  Namun,  agar  sistem  hukum  yang  baru  dapat  berfungsi  secara  efektif&lt;br /&gt;diperlukan persyaratan berikut:&lt;br /&gt;a. Sistem hukum tersebut harus dimengerti oleh mereka yang akan melaksanakannya&lt;br /&gt;maupun oleh mereka yang akan dikenai oleh hukum tersebut. Hal ini berarti perlu&lt;br /&gt;dilakukan peningkatan keahlian (memiliki expert power) dari para penegak hukum&lt;br /&gt;sehingga keputusan-keputusan mereka dihargai dan dihormati oleh semua pihak. Di&lt;br /&gt;samping itu perlu pula dilakukan pendidikan/penyuluhan hukum bagi seluruh anggota&lt;br /&gt;masyarakat sehingga mereka mengetahui apa yang merupakan hak mereka dan apa&lt;br /&gt;yang merupakan tanggung jawab mereka. &lt;br /&gt;b. Sistem hukum tersebut harus dilaksanakan secara konsisten dan mengikat semua warga&lt;br /&gt;tanpa  pengecualian  termasuk  si  pembuat  hukum  sendiri  (Golding,  1975).&lt;br /&gt;Keberhasilannya terutama akan sangat ditentukan oleh keteladanan (memiliki referent&lt;br /&gt;power) dan political will dari para pemegang kekuasaan serta komitmen dari semua&lt;br /&gt;pihak. &lt;br /&gt;c.  Sistem  hukum  tersebut  didukung  oleh  sistem  dan  budaya  demokratis  di  mana&lt;br /&gt;masyarakat dan pers dapat menjalankan fungsi kontrol. &lt;br /&gt;Bagaimana proyeksi kita ke depan? Pengalaman selama enam Pelita menunjukkan&lt;br /&gt;bahwa  pembangunan  yang  hanya  menekankan  pertumbuhan  ekonomi  tanpa  disertai&lt;br /&gt;dengan pertumbuhan yang seimbang di bidang sosial, politik dan hukum ternyata tidak&lt;br /&gt;berhasil meningkatkan daya saing kita di dunia internasional. Berarti kita memerlukan&lt;br /&gt;suatu pembaharuan yang menyeluruh sifatnya dan mencakup berbagai aspek kehidupan&lt;br /&gt;bangsa. Beberapa hal yang dapat disebutkan antara lain adalah:&lt;br /&gt;a. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa agar dapat menjadi bangsa yang percaya diri&lt;br /&gt;dan sekaligus mampu berkiprah di dunia internasional. Untuk mencapainya diperlukan&lt;br /&gt;suatu  transformasi  sosio-kultural  dari  budaya  feodal,  paternalistik  dan  berorientasi kekuasaan menuju budaya yang lebih bersifat demokratis, partisipatif dan berorientasi&lt;br /&gt;ke depan. &lt;br /&gt;b. Untuk dapat berkiprah di dunia internasional kita perlu memperoleh kepercayaan dari&lt;br /&gt;dunia internasional. Untuk itu kita perlu memiliki hukum yang mengacu pada nilai-&lt;br /&gt;nilai universal seperti penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia, demokrasi, dan lain&lt;br /&gt;sebagainya. Selain itu, salah satu hal pokok yang dapat membina kepercayaan dunia&lt;br /&gt;internasional ialah adanya sistem hukum yang berwibawa dan berlandaskan asas-asas&lt;br /&gt;hukum modern dengan dukungan sistem peradilan yang dapat diandalkan. &lt;br /&gt;Dalam kaitan ini perlu  dipahami bahwa betapapun bagusnya rencana,  sistem,&lt;br /&gt;maupun kelembagaan yang diciptakan, kemungkinan berhasilnya akan sangat kecil bila&lt;br /&gt;tidak didukung oleh perubahan yang mendasar dalam pola pikir, sikap dan perilaku pada&lt;br /&gt;tingkat individu sebagai anggota masyarakat.&lt;br /&gt;Ada dua alternatif keadaan masyarakat Indonesia berdasarkan analisis tersebut,&lt;br /&gt;yakni: &lt;br /&gt;a. menjadi bangsa yang mengalami &quot;learned helplessness&quot;, apatis, tidak percaya diri dan&lt;br /&gt;tidak mampu bersaing di tatanan global atau &lt;br /&gt;b. menjadi bangsa  yang memiliki self-efficacy, percaya diri dan mampu bersaing di&lt;br /&gt;tatanan global. &lt;br /&gt;Indonesia,  sebagai  bangsa  dan  negara,  juga  secara  individual,  memiliki  dua&lt;br /&gt;pilihan  tersebut.  Namun,  bila  dilihat  dari  sudut  belajar  observasional  di  mana  unsur&lt;br /&gt;keteladanan (referent power) memegang peranan penting dalam mengubah pola perilaku,&lt;br /&gt;maka sikap pemimpin bangsa dan negara ini menjadi sangat bermakna. Semakin tinggi&lt;br /&gt;status seseorang dan semakin besar kekuasaan/pengaruhnya, maka semakin menentukan&lt;br /&gt;pula pilihannya bagi masa depan bangsa. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; BAB IV&lt;br /&gt;PERANAN KELUARGA DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU DAN&lt;br /&gt;PROYEKSI DI ABAD 21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana pembangunan yang lebih terfokus di bidang ekonomi ditingkah dengan&lt;br /&gt;era globalisasi telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat. Tawaran untuk menikmati&lt;br /&gt;gaya hidup global telah mendorong semua orang untuk sibuk mencari uang, dengan&lt;br /&gt;berbagai cara. Setiap orang, laki-laki dan perempuan, berusaha pagi dan petang. Mereka&lt;br /&gt;membanting tulang dan memeras keringat untuk meraih yang terbaik demi gaya hidup&lt;br /&gt;global.  Tentu  saja  kondisi  ini  berpengaruh  terhadap  kehidupan  kekeluargaan,  yang&lt;br /&gt;menjadi kurang terbina. Mulailah terjadi kerenggangan antara suami istri, orang tua dan&lt;br /&gt;anak, yang tentunya sukar untuk diharapkan sebagai tempat persemaian tumbuh kembang&lt;br /&gt;anak  secara  optimal.  Era  globalisasi  juga  melahirkan  kompetisi  yang  membutuhkan&lt;br /&gt;kompetensi tinggi di segala bidang untuk bisa menjadi pemenang. &lt;br /&gt;Hanya yang terbaik yang bisa memenangkan kompetisi. Akibatnya, orang tua&lt;br /&gt;memaksa anak meninggalkan dunianya dan mengisinya dengan upaya pembekalan diri&lt;br /&gt;untuk dapat meraih kompetensi sebanyak-banyaknya. Dunia kanak-kanak yang ceria tak&lt;br /&gt;lagi bisa dinikmati, berganti dengan jadwal ketat yang mengantarnya pada situasi yang&lt;br /&gt;selalu  serius  dan  memandang  jauh  ke  depan.  &#39;Paksaan&#39;  yang  melanda  anak  dalam&lt;br /&gt;penafsiran  era  globalisasi  di  bidang  ekonomi  ini  tentunya  bisa  berdampak  negatif&lt;br /&gt;terhadap  perkembangan  anak  di  kemudian  hari,  baik  terhadap  kehidupan  pribadinya&lt;br /&gt;maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. &lt;br /&gt;   Newman  &amp;amp;  Newman (1981) menyebutkan tiga unsur pendukung  kemampuan&lt;br /&gt;seseorang untuk bisa menyesuaikan diri dengan baik, yaitu dirinya sendiri, lingkungan&lt;br /&gt;dan situasi krisis dalam pengalaman hidupnya yang sangat membekas dalam dirinya.&lt;br /&gt;Pada  unsur  pribadi  (diri  sendiri)  tercakup  kemampuan  untuk  bisa  merasa,  berpikir,&lt;br /&gt;memberikan alasan, kemauan belajar, identifikasi, kesediaan menerima kenyataan, dan&lt;br /&gt;kemampuan  memberikan  respon  sosial.  Kemampuan  tersebut  didasari  oleh  tingkat&lt;br /&gt;kecerdasan yang dimiliki, temperamen, bakat, dan aspek genetika. Berdasarkan konsep&lt;br /&gt;tersebut maka proses penyesuaian diri bagi anggota masyarakat merupakan keterkaitan&lt;br /&gt;yang sangat erat antara kondisi pribadi, situasi lingkungan dan kemampuan mengelola&lt;br /&gt;pengalaman. &lt;br /&gt;Pembentukan perilaku normatif dimulai dari pengenalan terhadap aturan yang&lt;br /&gt;berlaku  dan  terapannya  dalam  kehidupan  sehari-hari,  yang  kemudian  menjadi&lt;br /&gt;pengalaman  yang  terekam  dalam  kehidupan  seseorang.  Selanjutnya,  dengan  bekal&lt;br /&gt;kemampuan yang dimilikinya, terjadi proses pengambilalihan norma di luar diri menjadi&lt;br /&gt;pengembangan  nilai-nilai  yang  dijadikan  pegangan  dalam  berperilaku  (internalisasi).&lt;br /&gt;Tergantung dari tingkat kematangan pribadinya, pengembangan nilai dalam diri sendiri&lt;br /&gt;bisa dilakukan secara mandiri, bahkan bernuansa luas, dan mampu dipertahankan secara&lt;br /&gt;tangguh dalam berbagai kondisi dan situasi. Pada tingkat seperti ini orang tersebut tidak&lt;br /&gt;akan mudah terpengaruh atau terbawa suasana lingkungan. Dia tahu memilih yang benar,&lt;br /&gt;yang perlu, yang bermanfaat dan bisa dengan mudah membedakannya dari hal-hal yang&lt;br /&gt;bisa  merugikan  pribadi  maupun  lingkungannya.  Pengalamannya  berpadu  dengan&lt;br /&gt;penalaran pikirnya, menghasilkan dialog yang terus menerus sebelum memutuskan sikap&lt;br /&gt;dan perilaku dengan kesadaran terhadap konsekuensinya, baik untuk diri sendiri maupun&lt;br /&gt;lingkungan. Sikap dan perilaku orang tua sebagai anggota masyarakat yang menampilkan gaya&lt;br /&gt;hidup dan etos kerja serta pengembangan interaksi dengan lingkungan akan direkam&lt;br /&gt;anak, baik untuk kepentingan belajar instrumental maupun belajar observasional. Perilaku&lt;br /&gt;masyarakat menuju abad 21 tidak lagi mencerminkan setia kawan, gotong royong seperti&lt;br /&gt;yang tampak di era sebelumnya. Perilaku itu cenderung meluntur, terutama di kota-kota&lt;br /&gt;besar. Tingkah laku manusia di kota besar lebih mengarah pada kesibukan pribadi, tidak&lt;br /&gt;acuh, tidak peduli terhadap mereka yang kurang beruntung (individualis). &quot;Pokoknya&lt;br /&gt;saya senang, saya berhasil, saya bisa meraih semuanya. Apa yang terjadi dengan orang&lt;br /&gt;lain, bukan urusan saya,&quot; kata si individualis, yang juga masuk ke dalam rekaman anak&lt;br /&gt;dan bukan tak mungkin dijadikannya pola bertingkah laku.&lt;br /&gt;Ketidakpastian  dalam  penegakan  hukum  berdampak  pula  pada  perilaku  yang&lt;br /&gt;ditampilkan orang tua dan anggota masyarakat lainnya dalam bekerja dan berorganisasi,&lt;br /&gt;yang  selanjutnya  bisa  dijadikan  acuan  oleh  anak  dalam  mengembangkan  dirinya.&lt;br /&gt;Tindakan yang lebih suka memilih jalan pintas untuk mencapai tujuan, tidak tepat waktu,&lt;br /&gt;unjuk  kerja  seadanya,  lebih  menuntut  fasilitas  daripada  tanggung  jawab  adalah&lt;br /&gt;melunturnya etos kerja yang diamati anak dengan leluasa, di dalam maupun di luar rumah&lt;br /&gt;(orang  tuanya  sendiri  maupun  orang  tua  lainnya).  Sikap  mau  menang  sendiri,  tidak&lt;br /&gt;adanya kepatuhan terhadap hukum, pelanggaran terhadap tata tertib yang berlaku adalah&lt;br /&gt;ketidakdisiplinan pribadi yang bisa ditangkap anak dari orang tua dan lingkungannya.&lt;br /&gt;Tindak  kejahatan  dengan  kekerasan,  baik  yang  berupa  pengrusakan,  perampokan,&lt;br /&gt;penyiksaan,  perkosaan  juga  pertikaian  yang  diakhiri  dengan  pembunuhan,  walaupun&lt;br /&gt;penyebabnya mungkin sepele, adalah agresivitas yang masuk dalam benak anak dan bisa&lt;br /&gt;menjadi  referensi  dalam  menjalani  kehidupannya.  Kesenangan  berlebihan  terhadap&lt;br /&gt;barang-barang simbol teknologi canggih dan kemapanan serta kenyamanan hidup sebagai&lt;br /&gt;kecenderungan hidup materialistik bisa dijadikan dasar pola pembentukan perilakunya.&lt;br /&gt;Penggunaan berlebih terhadap produk teknologi canggih tanpa memperhatikan kondisi&lt;br /&gt;lingkungan  yang  bisa  dikatakan  sebagai  kecenderungan  pendewaan  teknologi  adalah&lt;br /&gt;referensi lain yang sewaktu-waktu siap ditampilkan anak. Meningkatnya frekuensi dan&lt;br /&gt;intensitas perkelahian antar kelompok remaja dan dewasa muda adalah situasi lain yang&lt;br /&gt;diamati  anak.  Mereka  melihat  mengurangnya  kemampuan  menalar,  komunikasi  dan&lt;br /&gt;penyelesaian masalah melalui dialog di antara pelaku-pelakunya. Dalam hal ini pengaruh&lt;br /&gt;media massa terasa sangat bermakna. &lt;br /&gt;Kesibukan kota besar yang segera merambah pelosok lainnya dengan gerak hidup&lt;br /&gt;cepat, bertubinya rangsangan kegiatan dan mobilitas pribadi yang tinggi menempatkan&lt;br /&gt;individu dalam situasi yang dilematis. Situasi tersebut membuat individu harus memilih&lt;br /&gt;antara pencarian kegiatan yang didasari oleh minat pribadi dengan pelestarian ikatan dan&lt;br /&gt;fungsi  utama  keluarga  sebagai  sarana  dalam  menyiapkan  anggotanya  untuk  hidup&lt;br /&gt;bermasyarakat. Kecenderungan ini oleh para ahli dianggap sebagai melunturnya fungsi&lt;br /&gt;utama keluarga. Fokus perhatian yang lebih mengarah pada tugas-tugas di luar rumah&lt;br /&gt;agar tak kalah bersaing kemudian menjadi pilihan orang tua dan sekaligus menempatkan&lt;br /&gt;anak dalam kekosongan yang cukup bermakna, terutama dalam upaya pembentukan hati&lt;br /&gt;nurani yang akan menjadi pemandunya kelak, sebagai orang yang tangguh, mandiri, tapi&lt;br /&gt;juga peduli lingkungan dengan warna spiritual yang kental dan luwes. Apakah orang tua&lt;br /&gt;dan masyarakat menyadari kepentingan ini, juga bahwa masa depan bangsa dan negara&lt;br /&gt;ada di tangan anak-anak yang sekarang menjadi penonton dan pengamat perilaku orang&lt;br /&gt;tua, baik yang ada di rumahnya maupun di masyarakat, apapun peran dan fungsinya? Seberapa jauh kita menyiapkan anak-anak agar bisa berkualitas tinggi dalam abad 21&lt;br /&gt;nanti? &lt;br /&gt;Pendidikan adalah upaya membekali anak dengan ilmu dan iman agar ia mampu&lt;br /&gt;menghadapi  dan  menjalani  kehidupannya  dengan  baik,  serta  mampu  mengatasi&lt;br /&gt;permasalahannya secara mandiri. Bekal itu diperlukan karena orang tua tidak mungkin&lt;br /&gt;mendampingi anak terus menerus, melindungi dan membantunya dari berbagai keadaan&lt;br /&gt;dan kesulitan yang dihadapinya. Anak tidak akan selamanya menjadi anak. Dia akan&lt;br /&gt;berkembang  menjadi  manusia  dewasa.  Kalau  perkembangan  fisiknya  secara  umum&lt;br /&gt;berjalan  sesuai  dengan  pertambahan  umurnya,  maka  kemampuan  kecerdasan  dan&lt;br /&gt;perkembangan  emosi  serta  proses  adaptasi  atau  penyesuaian  diri  dan  ketakwaannya&lt;br /&gt;sangat  memerlukan  asuhan  dan  pendidikan  untuk  bisa  berkembang  optimal.  Melalui&lt;br /&gt;bekal pendidikan dan proses perkembangan yang dialaminya selama mendapatkan asuhan&lt;br /&gt;dari lingkungannya, diharapkan anak akan mampu menyongsong dan menjalani masa&lt;br /&gt;depannya dengan baik.&lt;br /&gt;Memberi bekal adalah sikap yang mencerminkan pemikiran dan pandangan ke&lt;br /&gt;depan. Artinya, kondisi atau keadaan dan situasi  yang akan dihadapi anak nantinya,&lt;br /&gt;ketika ia sudah menjadi orang dewasa, sangat perlu diperhitungkan. Kehidupan berjalan&lt;br /&gt;ke depan. Jadi, sangatlah penting mempertimbangkan kondisi dan situasi di masa depan&lt;br /&gt;itu dalam upaya memberikan bekal kepada anak. Sosok manusia dewasa hasil asuhan dan&lt;br /&gt;pendidikan  orang  tua  dalam  kurun  waktu  sekarang  akan  terlihat  secara  jelas  dalam&lt;br /&gt;perkembangan anak menjadi orang dewasa. Berhasilkah pendidikan dan asuhan yang&lt;br /&gt;telah diberikan? Tercapaikah harapan dan cita-cita atau impian orang tua? Bahagiakah&lt;br /&gt;anak dengan yang diperoleh dan dimilikinya? Mampukah ia menjadi sosok pribadi yang&lt;br /&gt;diangankannya sendiri, yang mungkin sama dengan harapan orang tua dan lingkungan&lt;br /&gt;pendidiknya yang lain? Semua jawaban itu baru akan tampak nanti, ketika anak sudah&lt;br /&gt;menjadi dewasa. &lt;br /&gt;Latar belakang pengertian tersebut hendaknya menjadi dasar pengembangan pola&lt;br /&gt;asuhan  dan  pendidikan  untuk  anak.  Biasanya  pendidikan  diberikan  berdasarkan&lt;br /&gt;pengalaman masa lalu, yakni ketika yang menjadi orang tua masih berstatus kanak-kanak,&lt;br /&gt;yang menerima pendidikan dari orang tuanya. Pengalaman masa lalu ini kerap kali cukup&lt;br /&gt;mewarnai pola asuhan dan pendidikan anak. Pemanfaatan pengalaman memang selalu&lt;br /&gt;ada  gunanya.  Akan  tetapi  sikap  yang  mampu  mengantisipasi  ke  depan  juga  sangat&lt;br /&gt;penting, karena anak tidak akan hidup di masa lalu, tetapi menapak ke masa depan.&lt;br /&gt;Dengan demikian posisi pengalaman ketika menerima didikan dan asuhan orang tua di&lt;br /&gt;masa  lalu  hanyalah  pantas  sebagai  acuan  atau  referensi,  terutama  dalam  rangka&lt;br /&gt;mengembangkan empati (penghayatan, kemampuan merabarasakan dari sudut pandang&lt;br /&gt;atau  posisi  orang  lain)  agar  komunikasinya  bisa  berjalan  seperti  yang  diharapkan.&lt;br /&gt;Terapan pengalaman masa lalu ayah ibu, ketika dididik dan diasuh orang tuanya, perlu&lt;br /&gt;disesuaikan dengan kondisi dan situasi perkembangan jaman. Tanpa penyesuaian, pola&lt;br /&gt;asuh  dan  pendidikan  yang  dilakukan  akan  cenderung  menyulitkan  anak  dalam&lt;br /&gt;perkembangannya,  sehingga  iapun  akan  tumbuh  menjadi  sosok  pribadi  yang  sukar&lt;br /&gt;menemukan konsep diri, sulit menyesuaikan diri dan tentunya sulit mengaktualisasikan&lt;br /&gt;diri. &lt;br /&gt;Proses  pendidikan  berlangsung  dinamis,  sesuai  dengan  kondisi  perkembangan&lt;br /&gt;pribadi anak dan situasi lingkungan. Era globalisasi yang menandai abad 21 seyogianya&lt;br /&gt;tidak  hanya  dilihat  sebagai  hal  yang  mengancam,  dengan  dampak  kecemasan  atau&lt;br /&gt;kekhawatiran dalam mendidik anak, yang mungkin hanya akan menghasilkan kondisi perkembangan  yang  kurang  menguntungkan.  Kecemasan  dan  kekhawatiran  biasanya&lt;br /&gt;akan  menyebabkan  orang  tua  menjadi  tegang  dan  tertekan  sehingga  kurang  mampu&lt;br /&gt;melihat alternatif, lalu justru menekan anak padahal tindakan itu lebih ditujukan untuk&lt;br /&gt;dapat menenteramkan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Kondisi jaman dalam era globalisasi justru bisa dimanfaatkan untuk membangun&lt;br /&gt;sosok-sosok pribadi yang tangguh dan mandiri, antara lain karena terbiasa menghadapi&lt;br /&gt;persaingan yang ketat dan mampu memanfaatkan fasilitas dan peluang yang dibukakan&lt;br /&gt;oleh &quot;pintu globalisasi.&quot; Untuk itu orang tua sangat perlu menyadari, bahwa kehidupan&lt;br /&gt;terus  berkembang  sesuai  perputaran  dunia,  jaman  pun  berubah.  Sangat  diperlukan&lt;br /&gt;kemampuan dan kemauan untuk mengikuti perubahan dan senantiasa menyesuaikan diri. &lt;br /&gt;Perubahan kondisi dan situasi orang tua dalam menjalankan peran dan fungsinya selaku&lt;br /&gt;pengasuh  dan  pendidik  anak  perlu  diikuti  dengan  upaya  menambah  pengetahuan,&lt;br /&gt;meluaskan wawasan, dan meningkatkan keterampilan. &lt;br /&gt;Dengan sikap ini maka orang tua pun bisa diharapkan melaksanakan tugasnya&lt;br /&gt;dalam  mengarahkan,  membimbing,  mendorong,  membantu  anak  serta  mengusahakan&lt;br /&gt;peluang/kesempatan untuk berprestasi optimal, sesuai dengan kemampuannya. Berpikir&lt;br /&gt;positif dan bersikap adaptif adalah sikap yang diharapkan dari para orang tua yang kini&lt;br /&gt;tengah mendidik dan mengasuh anak-anak yang akan memasuki era globalisasi. Tugas ini&lt;br /&gt;tentunya tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu. Bersama, ayah dan ibu menyikapi&lt;br /&gt;perubahan  jaman  dalam  kondisi  yang  lebih  menguntungkan  bagi  anak,  sehingga  ia&lt;br /&gt;mampu menyongsong era globalisasi dengan keyakinan diri yang kuat, berdasarkan bekal&lt;br /&gt;yang diperolehnya dan kepercayaan akan rakhmat dan karunia-NYA.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; BAB V&lt;br /&gt;BEBERAPA PEMIKIRAN TENTANG KUALITAS &lt;br /&gt;MANUSIA INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai pembahasan mengenai kualitas manusia Indonesia dalam periode&lt;br /&gt;Orde Baru yang memfokuskan pembangunan di bidang ekonomi, terlihat kecenderungan&lt;br /&gt;untuk menyimpulkan beberapa insiden sebagai gambaran manusia Indonesia dewasa ini&lt;br /&gt;yang  lebih  menandakan  sikap  instrumental,  egosentris,  kurang  peka  terhadap&lt;br /&gt;lingkungannya, konsumtif, dan melakukan jalan pintas untuk mencapai kepuasan pribadi.&lt;br /&gt;Bernadette N. Setiadi dan kawan-kawan dalam penelitiannya (1989) menemukan hal-hal&lt;br /&gt;yang menguatkan pengamatan tersebut. Menurutnya, kualitas manusia Indonesia diwarnai&lt;br /&gt;oleh kurangnya etos kerja dan sangat berorientasi pada hasil akhir tanpa atau kurang&lt;br /&gt;memperhatikan proses pencapaian hasil akhir. Enoch Markum (1984) mengemukakan&lt;br /&gt;bahwa  untuk  menyongsong  pembangunan  tahun  2000  mendatang  secara  mutlak&lt;br /&gt;diperlukan  manusia  Indonesia  dengan  karakteristik  tingkah  laku  seperti  kemandirian,&lt;br /&gt;kerja  keras,  gigih  dan  prestatif.  Saparinah  Sadli  dan  kawan-kawan  (1985)  dalam&lt;br /&gt;penelitian tentang sistem nilai masyarakat kota besar yang dilakukan pada pertengahan&lt;br /&gt;dekade  delapanpuluhan  menemukan  bahwa  masyarakat  kota  mempunyai  besar  nilai&lt;br /&gt;terminal (preverensi tujuan hidup) yang diwarnai dengan hal-hal yang sifatnya materi.&lt;br /&gt;Sedangkan  nilai  instrumental  (preverensi  cara-cara  pencapaian  tujuan  hidup)  lebih&lt;br /&gt;ditandai oleh pengutamaan kompetensi pribadi.&lt;br /&gt;Abad  21  yang  memunculkan  situasi  makin  terbukanya  hubungan  antar&lt;br /&gt;bangsa/negara  membuat  batasan  sebelumnya  menjadi  tipis,  sehingga  berlangsung&lt;br /&gt;persentuhan aspek kehidupan mental psikologis, ekonomi, sosial, budaya. Bila dikaitkan&lt;br /&gt;dengan proses pembentukan tingkah laku manusia, maka proses globalisasi membawa&lt;br /&gt;kemungkinan sebagai berikut: &lt;br /&gt;a. Terjadi peningkatan interaksi, interdependensi dan saling pengaruh &lt;br /&gt;b. Terbuka pilihan pengembangan diri yang memerlukan penyesuaian prioritas tindakan&lt;br /&gt;secara terus menerus sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Secara psikologis&lt;br /&gt;terjadi  perubahan  kognitif,  perubahan  kebutuhan,  yang  kemudian  membawa&lt;br /&gt;pembentukan  nilai  (pemberian  skala  prioritas)  terhadap  hal-hal  yang  dianggap&lt;br /&gt;bermakna dalam hidupnya. &lt;br /&gt;La  Piere  (1981)  mengartikan  pembangunan  sebagai  suatu  usaha  yang  secara&lt;br /&gt;sistematis direncanakan dan dilakukan untuk merubah kondisi masyarakat yang ada ke&lt;br /&gt;arah  kondisi  dan  taraf  kehidupan  yang  lebih  santun.  Di  sini  terkandung  arti  bahwa&lt;br /&gt;pembangunan  sebenarnya  merupakan  suatu  perubahan  sosial,  yang  mau  tidak  mau&lt;br /&gt;merujuk pada terjadinya perubahan tingkah laku individu warga masyarakat yang sedang&lt;br /&gt;membangun.  Fuad  Hassan  menyatakan  bahwa  hakiki  manusia  adalah  kemampuan&lt;br /&gt;manusia untuk menjadi dirinya sendiri dan kemudian mengembangkan kehidupannya&lt;br /&gt;dalam suatu keadaan yang menjadi pilihannya. Manusia berpeluang untuk diarahkan agar&lt;br /&gt;bisa  menumbuhkan  motivasi,  sehingga  di  setiap  saat  dan  situasi  ia  selalu  berusaha&lt;br /&gt;mencari  peluang  dan  kesempatan  yang  menarik  keinginan  dan  perhatiannya  untuk&lt;br /&gt;memenuhi kebutuhan aktualisasi diri. Di setiap saat dan situasi manusia dihadapkan pada&lt;br /&gt;berbagai alternatif pilihan. Ia memerlukan kebebasan untuk dapat menentukan pilihan&lt;br /&gt;yang baik, yaitu pilihan dengan kapasitas, bakat serta minat atau kebutuhannya secara&lt;br /&gt;umum. Dengan kebebasan itu barulah ia leluasa melakukan aktuialisasi diri, menentukan&lt;br /&gt;arah dan pengembangan hidupnya.  Mempelajari hakiki manusia sebagai mahluk sosial, jelas bahwa ia membutuhkan&lt;br /&gt;kehadiran  manusia  lainnya,  kebutuhan  untuk  berkelompok  dan  menjadi  bagian  dari&lt;br /&gt;kelompok. Membanjirnya peluang, kesempatan dan pilhan untuk aktualisasi diri sering&lt;br /&gt;membuat manusia hanyut sehingga melupakan hakiki yang sangat mendasar. Terbawanya&lt;br /&gt;manusia  dalam  banjir  informasi  menyebabkan  kekaburan  manusia  untuk  memahami&lt;br /&gt;perbedaan antara kebutuhan dengan keserakahan (needs and  greed),  butuh dan ingin&lt;br /&gt;(wish and need) yang kemudian mendorong manusia untuk secara terus menerus terlibat&lt;br /&gt;dalam kegiatan pemuasan pribadi. Dia lalu berkembang menjadi mahluk yang egosentris&lt;br /&gt;dan  instrumental.  Mereka  yang  tidak  mampu  sehingga  tidak  mungkin  memenuhi&lt;br /&gt;kebutuhan aktualisasi diri akan memunculkan pesimisme dan kekhawatiran, yang bisa&lt;br /&gt;melahirkan ketidakpuasan dan protes terhadap  kejadian di lingkungannya. Disonansi,&lt;br /&gt;kesenjangan generasi, kesenjangan kelas sosial-ekonomi, adalah efek samping lainnya&lt;br /&gt;karena usaha yang dilakukan tidak lagi sekadar ingin memiliki tetapi juga memuaskan,&lt;br /&gt;sementara  kepuasan  sifatnya  relatif  dan  cenderung  tidak  berujung.  Keserakahan&lt;br /&gt;menampilkan  wajah  egosentris  yang  kemudian  melepaskan  diri  dari  kasih  sayang&lt;br /&gt;(Gromm). Kemudahan komunikasi membuat individu melupakan peran-peran lain dalam&lt;br /&gt;kehidupan, terutama yang menyangkut kehidupan interdependensi. AKU menjadi sangat&lt;br /&gt;menonjol. Situasi ini bisa menjadi pemicu bagi pemunculan pribadi yang kehilangan&lt;br /&gt;kontrol diri. &lt;br /&gt;Psikologi sebagai ilmu yang kajian utamanya adalah perilaku manusia terkait erat&lt;br /&gt;dengan telaah proses pembentukan perilaku, yang hasilnya bisa disumbangkan sebagai&lt;br /&gt;intervensi dalam pembentukan perilaku Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas&lt;br /&gt;Tinggi. Keterlibatan dalam upaya rekayasa tingkah laku, baik dalam kapasitas sebagai&lt;br /&gt;sarana belajar maupun bimbingan dan penyuluhan, perlu dilakukan untuk mendapatkan&lt;br /&gt;wawasan  tentang  konteks  dan  lingkungan  serta  eksistensi  manusia.  Cara  yang  bisa&lt;br /&gt;ditempuh dalam upaya rekayasa ini adalah melakukan usaha yang berkesinambungan&lt;br /&gt;dengan memperhitungkan dukungan kelompok maupun dukungan masyarakat. Untuk itu&lt;br /&gt;kerjasama dengan berbagai disiplin ilmu lainnya terasa sangat bermakna. Psikologi akan&lt;br /&gt;memfokuskan pada upaya pembangkitan kebutuhan untuk berubah agar bisa menjadi&lt;br /&gt;pendorong (motivasi) dalam proses perubahan tingkah laku yang diharapkan. Pembekalan&lt;br /&gt;individu  dengan  pengetahuan  dan  keterampilan  yang  cukup  harus  dilakukan  agar  ia&lt;br /&gt;mampu  melaksanakan  perubahan  tingkah  laku  yang  diharapkan,  yang  sudah  beralih&lt;br /&gt;menjadi kebutuhan pribadi dan bukan kebutuhan yang bersifat eksternal. Dalam upaya ini&lt;br /&gt;harus diciptakan kesempatan bagi individu untuk memecahkan masalah berkaitan dengan&lt;br /&gt;adopsi tingkah laku dalam kondisi nyata. Penelitian yang dilakukan oleh Bernadette N.&lt;br /&gt;Setiadi (1987), Yaumil A. Achir (1990), Iman Santoso Sukardi (1991) dan Soesmaliyah&lt;br /&gt;Soewondo  (1991)  membuktikan  bahwa  usaha  merubah  tingkah  laku  manusia  dapat&lt;br /&gt;dilakukan melalui intervensi terencana perubahan tingkah laku. &lt;br /&gt;Dengan mengembangkan teori serta intervensi dalam pola asuh yang khas Indonesia,&lt;br /&gt;pengalaman daur belajar Kolb dan intervensi perubahan tingkah laku Mc Clelland yang&lt;br /&gt;diadaptasikan  ke  Indonesia  serta  pengembangan  intervensi  lain  dalam  keterampilan&lt;br /&gt;hubungan antar manusia, membuktikan bahwa psikologi mampu berbuat sesuatu dalam&lt;br /&gt;rangka menyongsong era globalisasi. Yang diperlukan adalah intervensi terencana yang&lt;br /&gt;menekankan analisis kebutuhan individu dan masyarakat, pengembangan iklim belajar&lt;br /&gt;partisipatif, penciptaan dukungan kelompok serta pemanfaatan seluruh sumber sebagai&lt;br /&gt;sarana belajar. Dalam rekayasa terencana perlu dilihat, mana nilai-nilai tradisional yang masih bisa dipertahankan dan dikembangkan, mana pula yang harus ditinggalkan karena&lt;br /&gt;sudah tidak sesuai, bahkan bisa menghambat. &lt;br /&gt;Dalam rangka globalisasi ternyata manusia Indonesia mengalami perubahan peta&lt;br /&gt;kognitif, pengembangan dan kemajemukan kebutuhan serta pergeseran prioritas dalam&lt;br /&gt;tata nilainya. Kesemuanya tampil dalam perilakunya yang egosentris, instrumental, jalan&lt;br /&gt;pintas, etos kerja yag lemah dan kurang peka terhadap masalah yang tidak menyangkut&lt;br /&gt;kepentingannya. Padahal era abad 21 memerlukan manusia Indonesia yang tangguh, yang&lt;br /&gt;harus menampilkan tingkah laku yang diwarnai dengan etos kerja, prestatif, religius, peka&lt;br /&gt;terhadap lingkungan, inovatif dan mandiri. Pertanyaannya adalah, sejauh mana manusia&lt;br /&gt;Indonesia bisa dibantu untuk menemukan jati dirinya dan mampu beradaptasi terhadap&lt;br /&gt;tarikan dan pengaruh globalisasi masyarakat dunia. Selain itu perlu dicermati pula, berapa&lt;br /&gt;banyak yang &#39;masih tersisa&#39; saat ini untuk bisa diajak memasuki abad 21 secara produktif?&lt;br /&gt;Berapa  bagian  dan  seberapa  luas  kerusakan  yang  sudah  terjadi?  Di  lapisan  mana&lt;br /&gt;kerusakan  itu  terjadi  dan  di  tingkat  mana  yang  masih  menjanjikan  harapan  untuk&lt;br /&gt;pembentukan perilaku yang adaptif dalam memasuki abad 21?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; BAB VI&lt;br /&gt;PENGEMBANGAN POLA PERILAKU MANUSIA INDONESIA YANG&lt;br /&gt;BERKUALITAS TINGGI DALAM MASYARAKAT ABAD 21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah diuraikan di atas, ada dua kemungkinan pembentukan pola&lt;br /&gt;perilaku manusia Indonesia dalam memasuki abad 21, yang diwarnai oleh latar belakang&lt;br /&gt;sejarah bangsa dan negara selama ini, yaitu:&lt;br /&gt;a. menjadi bangsa yang memiliki self efficacy &lt;br /&gt;b. menjadi bangsa yang mengalami learned helplessness &lt;br /&gt;Era  Reformasi  membukakan  kenyataan,  betapa  banyak  unsur  penting  lainnya&lt;br /&gt;dalam  upaya  pengembangan  Manusia  Indonesia  yang  seolah  terlupakan  dalam&lt;br /&gt;membangun  bangsa  dan  negara  dalam  masa  Orde  Baru,  yang  antara  lain  menjadi&lt;br /&gt;penyebab  munculnya  perilaku  yang  mengarah  kepada  perbuatan  Korupsi,  Kolusi, &lt;br /&gt;Nepotisme  (KKN).  Kesadaran  tersebut  lalu  mendorong  keinginan  untuk  membenahi&lt;br /&gt;perilaku Manusia Indonesia dari sikap yang cenderung KKKN menjadi perilaku yang&lt;br /&gt;Bersih, Transparan, Profesional. Keinginan untuk memunculkan Manusia Indonesia yang&lt;br /&gt;bersih, transparan, dan  profesional dalam menjalani kehidupannya sangat diperlukan,&lt;br /&gt;apapun  yang  dilakukannya,  di  manapun  posisinya.  Kehidupan  Abad  21  menyiratkan&lt;br /&gt;tantangan yang lebih luas dalam berkompetisi di era globalisasi. Pengembangan perilaku&lt;br /&gt;bersih, transparan, dan profesional menjadi persyaratan bagi Manusia Indonesia agar bisa&lt;br /&gt;berkualitas tinggi dan mampu mengambil posisi dalam persaingan di kancah dunia dan&lt;br /&gt;memanfaatkannya dengan baik. Sebaliknya, perilaku yang mencerminkan KKKN harus&lt;br /&gt;ditinggalkan. &lt;br /&gt;Peristiwa di Bulan Mei 1998 dan hari-hari berikutnya telah menunjukkan betapa&lt;br /&gt;kompleksnya permasalahan yang harus diperhatikan dalam upaya meningkatkan kualitas&lt;br /&gt;Manusia Indonesia. Ada masalah budaya, ada masalah sosial, ada masalah agama yang&lt;br /&gt;secara  psikologis  menjadi  dasar  pengembangan  sikap  dan  perilaku,  selain  masalah&lt;br /&gt;ekonomi dan harapan untuk bisa mengambil posisi dalam mengantisipasi globalisasi dan&lt;br /&gt;perkembangan teknologi. Pemahaman diri sebagai Manusia Indonesia perlu dimiliki agar&lt;br /&gt;dapat menempatkan diri dan mengembangkan hubungan dengan lingkungan, baik dalam&lt;br /&gt;skala kecil maupun percaturan yang lebih luas. Negara dan bangsa memerlukan Manusia&lt;br /&gt;Indonesia yang mencerminkan pandangan, sikap, dan perilaku warga Republik Indonesia&lt;br /&gt;(siapapun  dia,  dari  kelompok  mana  pun  -  etnik,  kelas  sosial,  agama,  pendidikan,&lt;br /&gt;kemampuan  ekonomi).  Era  globalisasi  yang  semakin  terasa  denyutnya  memerlukan&lt;br /&gt;penampilan  Manusia  Indonesia  yang  berkualitas  tinggi,  sehingga  dapat  mengikuti&lt;br /&gt;perkembangan dunia,  yang selanjutnya  akan dapat menghasilkan peran serta aktif di&lt;br /&gt;berbagai bidang (pertanian, perdagangan, perindustrian, teknologi, kesehatan, pendidikan,&lt;br /&gt;dan sebagainya). &lt;br /&gt;Manusia  Indonesia  yang  berkualitas  tinggi,  dengan  latar  belakang  berbagai&lt;br /&gt;periode  yang  telah  dijalaninya  memerlukan  kajian  lintas  disiplin  ilmu  agar  bisa&lt;br /&gt;dirumuskan secara jelas dan tegas. Dalam kaitan ini sangat disadari bahwa kompleksitas&lt;br /&gt;permasalahan  yang  dihadapi  dalam  memunculkannya  sekaligus  mensyaratkan  adanya&lt;br /&gt;dialog/komunikasi  yang  bersifat  saling  isi  dan  melengkapi  antar  berbagai  ilmu  yang&lt;br /&gt;terkait, sesuai dengan kondisi dan situasinya. Forum Organisasi Profesi Ilmiah Indonesia&lt;br /&gt;(FOPI) yang beranggotakan berbagai Organisasi Profesi Ilmiah (OPI) diharapkan secara&lt;br /&gt;ilmiah  mampu  merumuskan  Manusia  Indonesia  Abad  21  Yang  Berkualitas  Tinggi&lt;br /&gt;sehingga arah pembangunan bangsa dan negara pun bisa ditata lebih baik. Untuk itu perlu dicarikan upaya agar dapat memberdayakan Manusia Indonesia dengan meningkatkan&lt;br /&gt;kualitas  ketangguhan  dan  kemandirian  dengan  tetap  peduli  lingkungan  (alam,  sosial,&lt;br /&gt;budaya) sehingga lebih mampu menyikapi berbagai perubahan kondisi dan situasi. Hasil&lt;br /&gt;kajian tersebut diharapkan dapat memunculkan karakteristik Manusia  Indonesia  yang&lt;br /&gt;berkualitas tinggi, yang menggambarkan manusia dan budayanya (akhlak, moral, budi&lt;br /&gt;pekerti) serta kaitannya dengan kehidupan lingkungan (kependudukan, politik, ekonomi,&lt;br /&gt;sosial, alam). Gambaran tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi dan situasi yang&lt;br /&gt;harus dihadapi masyarakat Indonesia di masa depan, sehingga bisa dicarikan berbagai&lt;br /&gt;alternatif upaya yang perlu dan harus dilakukan agar Manusia Indonesia bisa menerima&lt;br /&gt;dan  memahami  dirinya  serta  mampu  menyesuaikan  diri  dengan  kondisi  dan  situasi&lt;br /&gt;lingkungan pada jamannya. &lt;br /&gt;John  J.  Macionis  (1996)  mengemukakan  bahwa  abad  21  menyiratkan&lt;br /&gt;ketidakjelasan  terhadap  ukuran  keberhasilan  yang  bisa  dijadikan  keteladanan.  Sukar&lt;br /&gt;sekali  menutupi  kejadian  yang  tak  ingin  disebarluaskan,  baik  untuk  pertimbangan&lt;br /&gt;menghormati  hak  asasi  manusia  maupun  kecanggihan  teknologi  komunikasi.  Banyak&lt;br /&gt;masalah yang masih harus dijawab dalam memasuki abad 21, antara lain merumuskan&lt;br /&gt;makna  kehidupan,  pemecahan  sengketa/konflik  antar  bangsa/negara,  pengentasan&lt;br /&gt;kemiskinan yang tidak hanya terkait dengan masalah populasi (pertambahan penduduk)&lt;br /&gt;dalam hubungannya dengan ketersediaan sumber daya alam yang makin terbatas. Abad&lt;br /&gt;21 mengisaratkan perlunya wawasan pikir yang lebih luas, imajinasi, rasa kasihan atau&lt;br /&gt;simpati, dan keteguhan hati. Pemahaman yang luas terhadap kehidupan bersama akan&lt;br /&gt;menjadi dasar yang kuat bagi upaya membantu manusia memasuki abad 21 dengan sikap&lt;br /&gt;optimis.&lt;br /&gt;Ada lima cara yang dikemukakan Macionis dalam pembentukan perilaku yang&lt;br /&gt;mencerminkan pemahaman sosialisasi, yaitu:&lt;br /&gt;a. teori Id, Ego, Superego dari Sigmund Freud (1856-1939) &lt;br /&gt;b. teori Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget (1896-1980) &lt;br /&gt;c. teori Perkembangan Moral dari Lawrence Kohlberg (1981) &lt;br /&gt;d. teori Gender dari Carol Gilligan (1982) &lt;br /&gt;e. teori &quot;Social Self&quot; dari George Herbert Mead (1863-1931) &lt;br /&gt;Jalur  yang  bisa  digunakan  untuk  membentuk  perilaku  yang  mencerminkan&lt;br /&gt;kemampuan sosialisasi adalah: &lt;br /&gt;a. keluarga &lt;br /&gt;b. sekolah &lt;br /&gt;c. kelompok sebaya &lt;br /&gt;d. media massa &lt;br /&gt;e. opini publik &lt;br /&gt;Sedangkan proses sosialisasi bisa berlangsung sepanjang kehidupan, yakni sejak&lt;br /&gt;kanak-kanak, pra remaja, remaja, dewasa muda, dewasa, lanjut usia. &lt;br /&gt;Harapan  untuk  dapat  membantu  masyarakat  dalam  mewujudkan  perilaku  Manusia&lt;br /&gt;Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi bisa mengacu pada kerangka pikir tersebut&lt;br /&gt;(untuk pemahaman, proses dan pembentukan perilaku dalam upaya sosialisasi), terutama&lt;br /&gt;dalam upaya membentuk manusia yang cerdas, terampil, tangguh, mandiri, berdaya saing&lt;br /&gt;tinggi tapi juga punya hati nurani, yang membuatnya peduli dan tidak individualis. Untuk&lt;br /&gt;itu  perlu  dipahami  dulu  kondisi  masyarakat  Indonesia  saat  ini.  Berdasarkan  teori&lt;br /&gt;perkembangan moral dari Kohlberg, masyarakat Indonesia terbagi dalam tiga kelompok&lt;br /&gt;moralitas.  Kelompok  pertama  menyandarkan  perilakunya  pada  pengertian  benar  dan salah,  baik  dan  buruk  berdasarkan  reaksi  yang  diterimanya  dari  lingkungan.  Bagi&lt;br /&gt;kelompok ini, keputusan benar salah, baik buruk harus bisa dipahami secara nyata, bukan&lt;br /&gt;sesuatu yang bersifat abstrak. Bentuk hukuman dan pujian/penghargaan harus dipahami&lt;br /&gt;sesuai dengan tingkat kemampuan mereka, antara lain taraf kecerdasannya. Penempatan&lt;br /&gt;patung-patung  polisi  lalu  lintas  di  berbagai  kota  (Bogor,  pinggiran  kota  Bandung,&lt;br /&gt;Surabaya, Padang) adalah contoh pemahaman &quot;hitam putih&quot; dalam usaha pengawasan&lt;br /&gt;perilaku. Kehadiran polisi secara fisik (terlihat) menjadi penting daripada hanya sekadar&lt;br /&gt;penempatan  rambu-rambu  lalu  lintas.  Kelompok  ini  lebih  terfokus  pada  pikiran  dan&lt;br /&gt;pertimbangannya  sendiri,  menggunakan  ukurannya  sendiri  dan  tidak  terlalu  mampu&lt;br /&gt;mempertimbangkannya dalam perspektif yang lebih luas. Kelompok kedua sudah lebih&lt;br /&gt;luas pandangannya, sehingga pemahaman terhadap norma dalam kehidupan bersama,&lt;br /&gt;yang mengacu pada kehidupan bersama, bisa diharapkan. Kepedulian dan kebutuhan&lt;br /&gt;mendapatkan predikat sebagai warga masyarakat yang baik sudah dimiliki. Kelompok&lt;br /&gt;ketiga memiliki tingkat pemahaman dan kesadaran yang lebih tinggi mengenai perlunya&lt;br /&gt;norma  dalam  kehidupan  bersama  agar  dapat  mencapai  rasa  aman  dan  nyaman.&lt;br /&gt;Pengelompokan tersebut seharusnya dijadikan patokan dalam mengembangkan aturan&lt;br /&gt;berikut sanksinya. Meskipun secara umum tetap bersumber pada acuan hukum  yang&lt;br /&gt;sama, tetapi dalam penyampaian informasi dan terapannya sangat perlu memperhatikan&lt;br /&gt;kondisi psikologis masing-masing kelompok, sehingga bisa diterima dan dilaksanakan&lt;br /&gt;dengan baik.&lt;br /&gt;Bagi masyarakat Indonesia yang secara mayoritas mencerminkan pola patrilineal,&lt;br /&gt;adanya figur yang bisa dijadikan pegangan menjadi sangat penting. Figur tersebut harus&lt;br /&gt;dapat mencerminkan tokoh yang dikagumi dan bisa dipercaya,  yang antara lain bisa&lt;br /&gt;dilihat dari sikap dan perilakunya dalam kehidupan keseharian sebagai pribadi maupun&lt;br /&gt;dalam  melaksanakan  tugasnya.  Perasaan  diperlakukan  secara  adil,  yang  antara  lain&lt;br /&gt;merasa memiliki hak dan kewajiban yang sama di depan hukum, menjadi syarat utama&lt;br /&gt;bagi tumbuhnya kepercayaan kepada pimpinan negara dan aparat penegak hukum. Segala&lt;br /&gt;bentuk kekecualian akan mengurangi bobot aturan yang ditetapkan. Apalagi kalau figur&lt;br /&gt;yang  seharusnya  menjadi  panutan  ternyata  menampilkan  perilaku  yang  tidak  sesuai&lt;br /&gt;dengan aturan yang telah disepakati bersama. Bentuk masyarakat Indonesia yang sangat&lt;br /&gt;heterogen juga harus diperhatikan. Sejalan dengan hal tersebut maka penyusunan undang-&lt;br /&gt;undang dan peraturan penjelasan serta kelengkapannya harus disampaikan dalam bentuk&lt;br /&gt;komunikasi yang efektif, sesuai karakteristik masing-masing kelompok. &lt;br /&gt;Untuk bisa menjaga agar perilaku masyarakat tetap produktif dalam upaya menegakkan&lt;br /&gt;kewibawaan pemerintah, ketertiban dan ketenteraman bersama, masyarakat yang seolah&lt;br /&gt;baru terbangun dan mulai sadar atas hak-haknya sebagai individu maupun sebagai warga&lt;br /&gt;negara, yang kemudian memunculkan berbagai bentuk perilaku &#39;terkejut&#39; harus segera&lt;br /&gt;diarahkan dan dibimbing, sehingga reformasi bisa tetap sesuai dengan jiwanya ketika&lt;br /&gt;diperjuangkan  oleh  mahasiswa.  Perilaku  beberapa  pihak  yang  saling  tunjuk,  saling&lt;br /&gt;menghujat, saling menghakimi tanpa mengindahkan prosedur hukum/aturan/tatanan yang&lt;br /&gt;berlaku perlu segera diatasi, sebelum menyesatkan masyarakat dalam pengembangan pola&lt;br /&gt;pikir dan tindakan yang jauh dari kehidupan sadar hukum. &lt;br /&gt;Pemulihan kepercayaan masyarakat tidak hanya diperlukan untuk mengembalikan&lt;br /&gt;kondisi dalam negeri, tetapi juga bagi dunia internasional dalam menentukan sikap dan&lt;br /&gt;kebijaksanaan politik maupun ekonomi terhadap Indonesia. Beban psikologis ini amat&lt;br /&gt;berat. Persoalannya adalah seberapa jauh pemerintah dan seluruh jajarannya menyadari&lt;br /&gt;hal ini? Apakah masyarakat juga bisa melihat persoalan ini dalam skala pikir yang lebih luas dari hanya sekadar memikirkan kepentingannya sendiri? Dapatkah mereka melihat&lt;br /&gt;dirinya sebagai bagian dari kepentingan bersama, selaku anggota masyarakat dan warga&lt;br /&gt;negara? Pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama menyelesaikan persoalan ini&lt;br /&gt;sebagai kepentingan yang tak bisa ditawar untuk dapat mempertahankan keutuhan dan&lt;br /&gt;kesatuan bangsa dan negara. Untuk itu sangat perlu dimasyarakatkan secara luas dan&lt;br /&gt;terbuka  mengenai  kondisi  dan  situasi  yang  dihadapi  bersama  agar  pemerintah  dan&lt;br /&gt;masyarakat  bisa  bahu  membahu  dalam  upaya  penyelesaiannya,  yang  tentunya  harus&lt;br /&gt;sangat memperhitungkan karakter masing-masing kelompok, sehingga bentuk dan jalur&lt;br /&gt;penyampaiannya bisa disesuaikan dan kemudian bisa dipahami sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;Hal  lain  yang  memerlukan  perhatian  pemerintah  untuk  dapat  memulihkan&lt;br /&gt;kepercayaan masyarakat kepada pemerintah adalah koordinasi yang baik antara seluruh&lt;br /&gt;aparat/jajaran  pemerintah.  Pernyataan  dan  tindakan  yang  terkesan  kontradiktif  antar&lt;br /&gt;departemen harus dihindarkan. Sebelum memberikan pernyataan, baik sebagai tanggapan&lt;br /&gt;maupun rumusan kebijaksanaan, seyogianya sudah ada pemahaman dan kesepakatan di&lt;br /&gt;antara  para  anggota  kabinet  dan  aparat/jajaran  di  bawahnya  yang  terkait.  Dengan&lt;br /&gt;demikian masyarakat tidak seperti penonton yang kebingungan, sebab tidak ada yang bisa&lt;br /&gt;dijadikan  pegangan  secara  jelas,  yang  akibatnya  memunculkan  perilaku  yang&lt;br /&gt;dikembangkan  atas  interpretasi  sendiri.  Kondisi  ini  dapat  memunculkan  situasi  yang&lt;br /&gt;rawan bagi kehidupan bersama, sebab tak ada acuan yang jelas dan tak ada kepastian&lt;br /&gt;yang bisa dipercaya untuk dijadikan pedoman.&lt;br /&gt;Transparansi  atau  keterbukaan  dalam  menjalankan  pemerintahan  masih  perlu&lt;br /&gt;dilakukan secara selektif, sesuai karakter masyarakat yang dihadapi supaya tidak berubah&lt;br /&gt;menjadi  bentuk  perilaku  yang  seenaknya  menuntut  dan  menghujat  orang/pihak  lain,&lt;br /&gt;sedangkan di sisi lain menepuk dada atau menganggap diri paling benar dan bersih.&lt;br /&gt;Kehidupan demokrasi yang sesungguhnya harus dijabarkan secara operasional di tiap&lt;br /&gt;tingkatan  kemampuan  masyarakat  dalam  memahaminya,  sesuai  karakter  kelompok-&lt;br /&gt;kelompok yang ada. Pendekatan persuasif dan tidak sekadar responsif sangat diperlukan,&lt;br /&gt;yang bisa dilakukan dalam bentuk pendidikan masyarakat dalam hal kesadaran hidup&lt;br /&gt;berbangsa dan bernegara, yang menyiratkan rasa kebersamaan, bahu membahu, saling isi,&lt;br /&gt;saling melengkapi. Tatanan kehidupan menurut adat dan agama harus jelas posisinya&lt;br /&gt;dalam  tatanan  hukum  negara,  sehingga  aspirasi  dan  kebutuhan  masyarakat  bisa&lt;br /&gt;tertampung  dengan  baik  dan  tidak  menimbulkan  gejolak  yang  merugikan  kehidupan&lt;br /&gt;bersama. Aturan yang meliputi seluruh kehidupan, antara lain dalam ketentuan mengenai&lt;br /&gt;tanah  adat,  kehidupan  beragama,  kehidupan  masyarakat  yang  berlandaskan  bhinneka&lt;br /&gt;tunggal ika, kesempatan memperoleh pendidikan/pekerjaan, kenyamanan dan jaminan&lt;br /&gt;keamanan dalam bekerja, corak kehidupan perkawinan/keluarga sesuai kondisi jaman&lt;br /&gt;perlu ditelaah untuk bisa memenuhi aspirasi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; BAB VII&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia  Indonesia  Abad  21  Yang  Berkualitas  Tinggi  ditandai  oleh  lima  ciri&lt;br /&gt;utama dari aspek-aspek perkembangan yang berlangsung secara seimbang dan selaras,&lt;br /&gt;yaitu  perkembangan  tubuh  (fisik),  kecerdasan  (inteligensi),  emosional  (afeksi),&lt;br /&gt;sosialisasi, spiritual. Pola perawatan, asuhan, dan pendidikan anak hendaknya mengacu&lt;br /&gt;pada upaya pengembangan kelima aspek tersebut secara harmonis dan seimbang agar&lt;br /&gt;terbentuk pribadi yang sehat, cerdas, peka (sensitif), luwes beradaptasi dan bersandar&lt;br /&gt;pada hati nurani dalam bersikap dan bertindak. Dengan demikian meskipun ia berhadapan&lt;br /&gt;dengan gaya hidup global, pijakannya pada akar kehidupan tradisional yang menjadi cikal&lt;br /&gt;bakal kehidupan bangsa dan negaranya tidak akan hanyut terbawa arus kehidupan global.&lt;br /&gt;Justru  ia  akan  dapat  memilih  dan  memutuskan  yang  terbaik  untuk  diri,  bangsa  dan&lt;br /&gt;negaranya,  baik  untuk  keperluan  jangka  pendek  maupun  jangka  panjang.  Penegakan&lt;br /&gt;hukum dan contoh  yang diperlukan sebagai model pembentukan perilaku, baik  yang&lt;br /&gt;ditunjukkan orang tua maupun masyarakat, menjadi penting. &lt;br /&gt;Kerjasama antar disiplin ilmu dalam memecahkan masalah yang dihadapi saat ini&lt;br /&gt;sangat diperlukan. Pembangunan harus diarahkan pada cita-cita bangsa dan negara ketika&lt;br /&gt;republik ini didirikan. Kebersamaan menjadi penting untuk dapat menjaga kesatuan dan&lt;br /&gt;persatuan.  Menyadari  keterbatasan  kemampuan  diri  sebagai  individu  dan  kelebihan&lt;br /&gt;bekerja sama akan dapat menghindarkan suasana yang saling tuding, saling hujat, saling&lt;br /&gt;mencemooh,  saling  menepuk  dada,  saling  melecehkan,  adu  kuasa  dan  adu  kekuatan&lt;br /&gt;seperti  yang  tampak  sekarang  ini.  Selain  merugikan  kehidupan  bangsa  dan  negara,&lt;br /&gt;memunculkan ancaman perpecahan, perilaku tersebut tidak akan menempatkan individu&lt;br /&gt;dalam proses belajar memahami dan mentaati hukum. Padahal, era globalisasi di abad 21&lt;br /&gt;akan menghadapkan manusia  Indonesia pada hukum dan tatanan kehidupan bersama&lt;br /&gt;yang lebih luas, tidak hanya dalam batas wilayah Republik Indonesia. Perilaku sadar&lt;br /&gt;hukum  adalah  sebagian  dari  persyaratan  yang  diajukan  abad  21.  Siapkah  kita&lt;br /&gt;membentuknya?  Tahukah  kita  cara  membentuknya?  Jawaban  pertanyaan  ini  akan&lt;br /&gt;menentukan corak individu yang menandai masyarakat Indonesia abad 21, apakah kita&lt;br /&gt;akan menjadi bangsa yang mengalami &quot;learned helplessness&quot;, apatis, tidak percaya diri&lt;br /&gt;dan tidak mampu bersaing di tatanan global atau menjadi bangsa yang memiliki self-&lt;br /&gt;efficacy, percaya diri dan mampu bersaing di tatanan global. &lt;br /&gt;Agar bangsa dan negara ini tidak semakin terpuruk karena terpaksa mengalami&lt;br /&gt;&quot;learned helplessness&quot; seharusnya pemerintah dan masyarakat mampu  menumbuhkan&lt;br /&gt;motivasi berprestasi tinggi atau dikenal sebagai need for achievement (Mc Clelland).&lt;br /&gt;Menurut  teori  Maslow,  manusia  Indonesia  harus  didorong  sampai  pengembangan&lt;br /&gt;motivasi untuk mampu mengaktualisasi diri dan tidak terhenti pada motivasi pemenuhan&lt;br /&gt;kebutuhan hidup yang mendasar saja. &lt;br /&gt;Dalam kaitan dengan pembangunan selanjutnya, ada pertanyaan yang masih harus&lt;br /&gt;dijawab,  terutama  mengacu  pada  pengalaman  kita  selama  ini,  akankah  kita  masih&lt;br /&gt;terkotak-kotak  dalam  menyelenggarakan  pembangunan?  Dapatkah  kita  menempatkan&lt;br /&gt;manusia sebagai individu dengan segala keunikannya sehingga tidak memperlakukannya&lt;br /&gt;sebagai obyek semata? Atau kita masih tetap beranggapan bahwa masyarakat yang terdiri&lt;br /&gt;dari kumpulan individu adalah sekadar obyek, yang bisa diatasi dengan &quot;dua K&quot; yaitu&lt;br /&gt;kekuatan dan kekuasaan. Kalau jawabannya &quot;Ya,&quot; maka cita-cita untuk mewujudkan Manusia  Indonesia  Abad 21 Yang  Berkualitas Tinggi barangkali cuma angan-angan,&lt;br /&gt;seperti membangun rumah di atas angin.</description><link>http://indonesia-modern.blogspot.com/2009/01/manusia-indonesia-abad-modern-21-yang.html</link><author>noreply@blogger.com (tata cakep)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8720550053706566135.post-3393381284612743179</guid><pubDate>Fri, 23 Jan 2009 17:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-23T09:10:29.504-08:00</atom:updated><title></title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Salafi MODERN MOVEMENT IN INDONESIA;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Efforts to dissect a Root Growth&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;and Ideas Substansialnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Introduction&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesian indeed appears to be always a fertile land of birth and growth of various Islamic movements with various ragamnya; both &quot;just&quot; an extension of the hand movements that have been there before, or that can be categorized as a movement that is completely new. Islamic movement and the history of Indonesia has actually become witnesses to the fact that for some period of time ever.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And now, in this modern era, the history of the &quot;spoiled&quot; by the fact that with the growth of a variety of modern Islamic movement that each store keunikannya own. Jagat Indonesia modern Islamic movement not only diramaikan by organizations such as Muhammadiyah and NU, but there are new players which is also slowly-but-surely they began to embed. From relying on the political struggle to choose a path social movement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Islamic movement that is calling themselves as Salafi or Salafiyah. One of the events fenomenal movement that had &quot;scandalize&quot; is the birth of the Laskar Jihad dimotori by Ja&#39;far Umar Thalib on 6 April 2000 after the nuances SARA meletusnya conflict in Ambon and Poso. [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This brief paper will try to review the history and ideas important movement, as well as provide some critical notes that are expected to benefit not only for movement but also for all Islamic movements in the country.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What is Salafi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The word Salafi is a form of penisbatan to al-salaf. Said al-salaf own meaning in the language of those who preceded or before the time of our lives. [2] The meaning of al-salaf terminologis is here is a generation that is limited by an explanation of the Prophet in haditsnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;The best people are (living) in masaku, and that they follow, and that they follow ...&quot; (HR. Bukhari and Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Based on this hadith, it is the al-salaf is the Companions of the Prophet saw, then tabi&#39;in, and atba &#39;al-tabi&#39;in. Therefore, the third this century and also known as the al-Qurun al-Mufadhdhalah (over-eminence over the gain). [3] Some of the scholars and then add the label of al-Salih (to be al-salaf al-Salih) to provide character pembeda our predecessors with the other. [4] Therefore, a Salafi means a claim to follow the path of the Prophet saw, tabi&#39;in and atba &#39;al-tabi&#39;in in all the teachings and understanding them. [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Up to here seem clear that in fact no problem with Salafiyah understand this, because basically every Muslim will recognize the legality of the position of the Prophet saw and two best-generation Muslims after that; tabi&#39;in and atba &#39;al-tabi&#39;in. Or in other words a Muslim anywhere in fact, many have little value in kesalafian himself although he did not tout a recognition that he Salafi. As was also recognition kesalafian someone can never be a guarantee that it really follow the al-salaf al-Salih, the author-and-match with this recognition kemusliman who sometimes more often stop at the extent of the sheer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&#39;Ala kulli things, the use of the term Salafi is specifically directed at certain groups after the Islamic movement maraknya so-called &quot;Resurrection of Islam in the 15 Century Hijriyah&quot;. Especially in the developing country, they have some ideas and characters that are unique and distinguish them with other Islamic reform movement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Salafi history in Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Could not be denied that the Salafi movement in Indonesia, many influenced by the ideas and movements that updates been by Muhammad ibn &#39;Abd al-Wahhab in the Arabia peninsula. According to Abu Abdirrahman al-Thalibi [6], ideas updates Ibn &#39;Abd al-Wahhab was first suspected to be brought into the archipelago by several scholars origin of West Sumatra in the early 19th century. This is the first Salafiyah movement in the ground water that is then known as the Padri movement, which is one of the main character is Tuanku Imam Bonjol. This movement took place in the period 1803 to about 1832. But, Ja&#39;far Umar Thalib, claimed in one of his writings [7] - that this movement has actually start to appear during the bibitnya Aceh Sultan Iskandar Muda (1603-1637).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besides, the idea was a relative and also to give effect to the Islamic movements, who was born and the modern, such as Muhammadiyah, exact, and Al-Irsyad. &quot;Back to the al-Quran and al-Sunnah&quot; and the eradication takhayul, bid&#39;ah myth and then became a kind of fundamental issue that carried by these movements. Although one should note that it appears that the movements are not fully taking especially the ideas brought by the movement purifikasi Muhammad ibn &#39;Abd al-Wahhab. Moreover, the emergence of ideas with other updates that come later, such as the liberalization idea that Islam can be said has been nearly occupy the position in each of these movements.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In an 80-year, maraknya-line with the Islamic movement back to the campus in the various water-may be said as a milestone early occurrence of the modern Salafiyah movement in Indonesia. Ja&#39;far Umar Thalib is one of the main figures involved in this case. In one of his writings titled &quot;I&#39;m missing Imaniyah Ukhuwah Islamiyah,&quot; he told kisahnya recognize familiar with this saying: [8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;When I studied religion in Pakistan between 1986 until 1987, I see how Muslims in the world tercerai berai in understanding the flow of various groups. I&#39;m sad and sad to see this bitter reality. When I go to sabilillah fi medan jihad in Afghanistan between 1987 until 1989, I see the spirit of discord among Muslims mengunggulkan with the leaders of each and throw in other characters ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the years of jihad fi sabilillah I start with young people from Yemen and the Surian and introduce them to my understanding Salafus Salih Ahlus Sunnah wal Jamaah. I know them from a figure called dakwah Salafiyah Al-&#39;Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi&#39;i ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadness I find in Afghanistan marks the menggejala in Indonesia. I returned to Indonesia in late 1989, and padajanuari 1990 I started berdakwah. Struggle of propaganda that I serukan is Salafiyah propaganda ... &quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ja&#39;far Talib own and recognizes that there are a lot of thoughts that change, including attitudes and kekagumannya on Sayyid Quthub, one of the leaders Ikhwanul many Muslims that he was greedy first book-book. Perkenalannya movement with the idea that this admiration turn 180 degrees to become a critical attitude extraordinary not-for-the very hateful. [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition to Ja&#39;far Talib, there are some other figures that can be said as of early Modern Salafi Movement in Indonesia, such as: Yazid Abdul Qadir Jawwaz (Bogor), Abdul Hakim Abdat (Jakarta), Muhammad Umar As-Sewed (Solo), Ahmad Fais Asifuddin (Solo), and Abu nida &#39;(Yogyakarta). These names and even joined in the board of redaction Magazine As-Sunnah-magazine Modern Salafi Movement in Indonesia, the first, before then broken to them several years later.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The figures outside Indonesia&#39;s most influential of the Salafi Movement in Modern-this side of Muhammad ibn &#39;Abd al-Wahhab, of course, are:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ulama-ulama Saudi Arabia in general.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Nashir sheikh Muhammad al-Din al-Albany in Jordan (w. 2001)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Rabi al-sheikh Madkhaly in Medina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Muqbil sheik of al-Wadi&#39;iy in Yemen (w. 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Of course there are figures other than the third, but third this figure can be said as the main source of inspiration this movement. And if dikerucutkan more, then the second and third figures are much more specific role in the formation of the movement in Indonesia. Ideas that developed in the modern Salafi not rotate away from the landing, and the teachings of the two leaders are Fatwas; sheik Rabi &#39;al-Madkhaly and Muqbil sheik of al-Wadi&#39;iy. The two figures then this is to give effect to the emergence of extreme Salafi movement, or borrow-term Abdirrahman Abu al-Salafi movement Thalibi-Yamani. [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Differences of views between the Salafi movement began at least modern mengerucut Gulf War since the occurrence of which involve the United States and Iraq, which is considered to have made the Kuwait invasion. In particular, when Saudi Arabia again &quot;invited&quot; the U.S. troops to open a base militernya there. At that time, the scholars and the Saudi-du&#39;at in general-and the different views: between a pro [11] with the policies and the contra. [12] Until this far did not have a problem, because they generally still consider it as ijtihadiyah problem that allows the occurrence of these differences. However, based on information that the author appears to be no parties who want to fish in muddy water with &quot;exaggerate&quot; the problem. In particular, some sources [13] mentioned that the Minister of Home Affairs of Saudi Arabia at the time, which is known as the officials who do not like the propaganda that there is movement-have any contribution in this regard. The efforts made and the core is mendiskreditkan them as a contra khawarij, quthbiy (Sayyid understand the Quthb), sururi (the familiar Surur ibn Muhammad Zain al-&#39;Abidin), and such.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momentum is what then confirm the existence of two in the modern-Salafi movement to simplify the discussion by Abu &#39;Abdirrahman al-as-called Thalibi: Yamani and Salafi Salafi Haraki. [14] And, as other phenomena of movement, both the very day terimpor to enter Indonesia and have support.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Important ideas Salafi Movement&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Most fundamental questions that arise and then is what the important ideas or character typical of this movement other than that mentioned a little-affected with many ideas purifikasi Muhammad ibn &#39;Abd al-Wahhab in the Arabia peninsula?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At least there are some important ideas and unique Modern Salafi movement with the movements, and that is:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hajr Mubtadi &#39;(Pengisoliran against perpetrators bid&#39;ah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a purifikasi Islamic movement, issues of bid&#39;ah become the attention of the movement in particular. The efforts that they kerahkan focus on one effort to scrutinize and clean multiformity bid&#39;ah believed that during this and diamalkan by various sections of the community of Islam. And as an effort to minimize kebid&#39;ahan, the scholars Ahl al-Sunnah agree on a mechanism known as hajr al-mubtadi &#39;or pengisoliran against mubtadi&#39;. [15] And of course, all Salafi movement will agree to this.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, in practice in Indonesia, each faksi-Yamani and the Salafi-haraki is very different. In this case, the Salafi Yamani seem foolhardy in implementing this mechanism. The phenomenon is evident that this will apply to the way they throw tahdzir (warning) to the person who even confess mendakwahkan Salafi movement. Is the peak when they issued a &quot;list of names ustadz recommended&quot; in their site www.salafy.or.id. [16] In this list included 86 names ustadz from Aceh to Papua, which they can be trusted to make a referral, and &#39; unique &#39;names that are dominated by students Muqbil sheik of al-Wadi&#39;i in Yemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While Salafi Haraki mechanism hajr tend to see al-mubtadi &#39;this as something that is absolutely not done, because everything depends on the maslahat and mafsadatnya. According to them, hajr al-mubtadi &#39;do no more to give effect to the perpetrators bid&#39;ah. But if it is not useful, the method can be ta&#39;lif al-qulub that useful. [17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Attitude towards political (and parliamentary elections).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another thing which is the main idea of this is that the Salafi movement is not a political movement in the sense that practical. Even their involvement in all political processes as practical as a general election bid&#39;ah and irregularities. Dipegangi this idea, especially with the incentive and distributed by supporters Salafi Yamani. Muhammad As-Sewed mislanya-which at that time still serving as chairman FKAWJ review the damage-election damage as follows:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Election is an effort menyekutukan God (syirik) because the rule set based on the most votes (people), but that is only entitled to God.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. What most agreed that the vote is considered valid, even if it conflicts with religious or rule of God and His Messenger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. The election is not directly to the accusation that he is not Islam to create a just society so that other systems require.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Islamic parties have no choice than to follow the existing rules, even though the rules that conflict with Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. In the election there jahannamiyah principles, namely menghalalkan all the way for the achievement of political objectives, and very few survivors from that.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Election potentially large embed jahiliah fanaticism against parties that have. [18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unlike the Salafi Haraki which tend to consider this issue as a matter purely ijtihadiyah. Any posts in an al-titled Musyarakah fi al-Intikhabat al-Barlamaniyah published by islamtoday.com site (one of the sites that are often considered to be managed by their reference DR. Salman ibn Fahd al-&#39;Audah), for example, that the system were presented and the transition penyematan power in the Islamic system does not have the raw materials. Therefore, it is not possible to close the electoral system adopted in the West after &#39;memodifikasi&#39;nya to comply with the principles of political Islam. The main reason is because it is not more than a mere administrative section that allows us to mengadopsinya from any cause during mashlahat. [19] So not surprising if one of the mass organizations that are considered as one of representation faksi this, Wahdah Islamiyah, the decision to issue a directive members to participate in the rights pilihnya-election in elections ago. [20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Attitude towards the other Islamic movements.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Views supporting modern Salafi movement in Indonesia against a range of movement that is the sole electrical current from the application of the principle axiomatical hajr al-mubtadi &#39;which was described earlier. Neither the Salafi Yamani and Haraki, attitudes towards the two other Islamic movements is influenced by their views in the implementation of hajr al-mubtadi &#39;. So not surprisingly in the very day they are different points of views.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If Salafi Haraki likely &#39;moderate&#39; movement in the other, then known Salafi Yamani very often without even extreme compromise at all. The phenomenon of Salafi Yamani attitude towards other Islamic movements can be seen in some of the following examples:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Attitudes towards Muslims Ikhwanul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhaps not excessive if Ikhwanul said Muslims seemed to be the main enemy in the Salafi Yamani. They even often memelesetkannya to &quot;Ikhwanul Muflisin.&quot; [21] Figure-figure major movement this evil spirit does not again become the main target of sharp criticism repeatedly from this group. In Saudi self-which is the origin of this movement, phenomenon &#39;hatred&#39; in Ikhwanul Muslims can be said mencuat story line bermulanya the first Gulf War. Is DR. Rabi &#39;ibn Hadi al-Madkhali the first time preparing a variety of books that specifically attack Quthb Sayyid and his works. One of the books that were given the title &quot;Matha&#39;in Sayyid Quthb fi Ashab al-Rasul&quot; (stab-stab Sayyid Quthub against the Friends of the Apostle). [22]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepengetahuan author, this phenomenon can be spelled out in the new period, considering the past few prominent Ikhwan as sheikh Muhammad al-Ghazali and DR. Yusuf al-Qaradhawi a member of the board of the Islamic University in Medina, and many other prominent Ikhwan who was a lecturer at various universities of Saudi Arabia. In many of the scientific-including the thesis and dissertation-even figure works-including the Ikhwan al-Fi Zhilal criticized the Koran out by DR. Rabi al-Madkhali-often used as a reference. Even sheikh Bin Baz-General Mufti of Saudi-time ever to send a letter to the President of Egypt, Gamal Abdul Naser decision to revoke the death penalty against Sayyid Quthb. [23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Related to this, for example, Ja&#39;far Umar Thalib, for example write:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the sheik Muqbil I also heard the news of misuse of figures for this as I know da&#39;i and author of menganu understanding salafus Salih. Figures that have been deviant was Muhammad Surur bin Zainal Abidin, Salman al-Audah, Safar al-Hawali, A&#39;idl Al-Qarni, Nasir al-Umar, Abdurrahman Abdul Khaliq. Diversion them are located in the spirit of their welcome to mengelu figures that have been hand understanding of various perverted Islam among the people, such as Sayyid Qutub, Hasan al-Banna, Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Ridha Rasyid and others. [24]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And long before that, Ja&#39;far Umar Thalib also declaim against a very strong DR. Yusuf al-Qaradhawy-one of the important figures of the present Ikhwanul-Muslims with the call as&#39; aduwullah (enemy of God) and Yusuf al-Qurazhi (penisbatan a nomadic tribe to the Jews in Medina, Banu Quraizhah). Although he was later criticized by teachers themselves, Muqbil sheik in Yemen, which then replace it with a reproachful says: Yusuf al-Qaradha (Yusuf Islam Syariat Sang penggunting). [25] In Indonesia itself, this attitude to berimbas Sejahtera Justice Party (PKS) which is considered as a representation Ikhwanul Muslims in Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In general, there are some things that are considered as distortions by the Salafi Yamani body in Ikhwanul Muslims, including:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bai&#39;at which is considered as bai&#39;at sufiyah and the military. [26]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- The marhalah (phase-phase) propaganda in favor of the principle flow Bathiniyah. [27]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Organization party (tanzhim hizb). [28]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Different from the so-called Salafi Haraki, they tend to see in the cooperative movements in the Islamic frame &quot;nata&#39;awan fima ittafaqna &#39;alaih, wa natanashahu fima ikhtalafna fihi.&quot; [29] Therefore, faksi these tend to be more easy to understand even interact with other groups, including for example Ikhwanul Muslims. Although for the very day that the group must be willing stamp &quot;Sururi&quot; by the Salafi group Yamani. Al-Sofwa Foundation, for example, accommodate cassettes lecture some figures such as MCC DR.Ahzami Sami&#39;un Jazuli. [30]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Attitudes towards Sururiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In general, Sururi or Sururiyah is a label that disematkan the Salafi Yamani against Salafi Haraki deemed &#39;mix-adukkan&#39; various manhaj Islamic movement with manhaj salaf. Sururiyah word itself is penisbatan to Muhammad Surur bin Zainal Abidin. This figure is considered a forerunner to adopt and understand the teachings combine with Ikhwanul Salafi Muslims. Besides Muhammad Surur, other names that are frequently included in this group is DR. Safar ibn &#39;Abdirrahman al-Hawali, DR. Salman ibn Fahd al-&#39;Audah-both in Saudi and Abdurrahman Abdul-Khaliq&#39;s Jam&#39;iyyah Ihya &#39;al-Turats in Kuwait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In a thought disassemble any posts entitled Hasan al-Banna-Sururiyah (III) described in detail Sururiyah understanding that: [31]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;There is a group of people who follow the rules of salaf in Asthma and nature of God, faith and taqdir. But there is one of those very principles that is fatal mengkafirkan Muslims. They were affected by the principle Ikhwanul Muslims. The flow of this pioneer named Muhammad bin Surur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surur bin Muhammad, who was born in Syria is Ikhwanul Muslims. Then he menyempal Jamaah astray from this gerakannya and build their own minds based on the thought-Sayyid Quthub (such as a demonstration problem, like a coup d&#39;etat and )...&quot;[ 32]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The same paper also concluded some of the similarities between Sururiyah with Ikhwanul Muslims, namely:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Both equally mengkafirkan the government and other Muslims.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Both the ideas in the demonstrations, mobilization and leaflets-leaflets.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Both in the same issue of the revolution in order to coup d&#39;etat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Both in the same system and tanzhim leadership mengerucut (pyramid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Both equally in the political swamp. [33]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But many &#39;alleged&#39; is actually too hastily not to say foolhardy. There is evidence that does not have any accurate, including the issue or the actual categories including individual and can not be called as a distraction (read: bid&#39;ah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Attitudes towards government&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In general, as the government believed that public-Ahl al-Sunnah is ketidakbolehan khuruj or to separatism movement in Islam that a government-authorized, Salafi Movement also believes this. That is, any attempt or action that you want to swing is considered a legitimate government with cap Khawarij be easy, or that such bughat. [34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the writings titled &quot;The Thought dismantle Begawan Terrorists (I), such as Abu Hamzah Yusuf wrote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Figure leaders Imam Samudra mentioned above (mean: Salman al-Audah, Safar al-Hawali and others-pen) is not running in the top manhaj salaf. Even their journey of life filled with notes of black shows that far from their manhaj salaf ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is no relationship between the figures that with the Ahlus Sunnah scholars. In fact, all people know that between them in terms of different manhaj (methodology). Figures that berideologikan Quthbiyyah, Sururiyah, and Kharijiyah ...&quot;[ 35]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In &quot;They is Terrorists&quot; are also mentioned, for example:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;... Then this relay rod followed by the ruwaibidhah (for a Khawarij-pen) of the present kind Dr. Safar al-Hawali, Salman al-Audah champion and the incompetent Usamah bin Laden. Meanwhile, Imam Samudra is just one of only a small part of a syndicate of terrorism in Indonesia. We say this because on the Imam Samudra still have figures khawarij of a more senior, such as: alias Ustadz Abdullah Sungkar Abdul Halim, Abu Bakar Ba&#39;asyir alias Ustadz Abdush Shamad. &quot;[36]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is because figures are known as people who bring persistent critics&#39; scathing &#39;government against the Kingdom of Saudi Arabia, especially in the case of U.S. military base there. While the two last names, known as the people who persevere memformalisasikan Syariat Islam in Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a consequence of this principle, it appears that the effects tend to be Salafi &#39;reluctant&#39; hurl criticism against the government. Indeed, even though al-salaf manhaj give yourself the opportunity to even the limited &quot;four eyes&quot; with the authorities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, in practice, then, that very day a little more the principle has been infringed by their own. Abu &#39;Abdirrahman al-Thalibi such as a write-sharp criticism against the movement, mentioning one of the irregularities Salafi Yamani: &quot;attitude against the Government.&quot; He wrote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;In some cases, clearly Salafy Yamani has approved the government against the Islamic community consensus by Indonesia, particularly through the actions of Laskar Jihad in the Abdurrahman Wahid government.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On 6 April 2000, they hold Tabligh akbar in Senayan, not long after they berdemo around the State Palace where Abdurrahman Wahid was in it. The fact is very surprising, they move in bulk with sharp weapons. Had not the State Palace RI didemo by armed men, except in the above events. Dimaklumi still can, even if unlawful, if that is a member of communist party, known menghalalkan violence, but the act that would be done by young people who inherit manhaj Salafus Salih. God, Salih Salafus which they mean? &quot;[37]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another thing is that until now they were still only reinforce the stinging criticism of the Party Keadilan Sejahtera, which is considered as part of the Ikhwanul-Muslims in Indonesia. But the fact is that the party now has become part of the legitimate government of Indonesia. Some of their members to sit as a member of parliament, who have become ministers in the cabinet, even the former head, Hidayat Nur Wahid currently serves as Chairman of the MPR-RI. Not based on the principle that during the time they use, their slate against the MCC can be categorized as khuruj action on the government?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ja&#39;far Umar Thalib We have been away ...&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentence might be used as proof of a new phase development of the Salafi movement in Indonesia. After previously described in a way that movement is divided into at least 2 faksi: Yamani and haraki, the executive board since at least FKAWJ disperse FKAWJ and Laskar Jihad in mid-October 2002, there is a wind blowing a very significant changes in body movement. Salafi Yamani was then broken to into 2 groups: the pro and contra Ja&#39;far terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ja&#39;far Umar Thalib since that time can be said to &#39;target&#39; groups of the former Laskar Jihad contra with. Moreover, after DR.Rabi &#39;al-Madkhali-scholars who had often made reference it would issue a fatwa-tahdzir terhadapnya. Pesantrennya start in Yogyakarta also abandoned by their former students to be.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniquely, a group that is contra terhadapnya &#39;led&#39; by Muhammad Umar As-Sewed, those who had become a right hand (deputy commander) at a Laskar Jihad commander. Ja&#39;far-Talib also start close to the people who may be with him. Arifin Ilham &#39;Majlis-Az Zikra&#39; and Hamzah Haz, for example.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Therefore, Qomar ZA-magazine editor-asy Sharia is the first student Ja&#39;far Umar Thalib, write a short article entitled &quot;Ja&#39;far Umar Thalib was leaving We ...&quot;.[ 38] There, among others, he wrote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;The situation is now how far from the first (Ja&#39;far Umar Thalib, red). Majlis Isn&#39;T that you do not want menghadirinya at that time, even now dzikirnya Majlis Arifin Ilham you attend, mejlis A Reflection on the Exercise of the clergy and biksu you attend (at the UGM, red), in the Majlis boarding Tawwabin a ceremony initiated by Habib Riziq Syihab, Abu Bakr Baa&#39;syir Assembly Mujahidin Indonesia and others. You also attend memorial Isra &#39;Mi&#39;raj as dinukil in Sabili magazine and more ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Is the teacher at this time until you like to put behind them the sheik Muqbil, Allah merahmatinya, will remain with memujimu are such that this ??...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Sheikh Rabi &#39;said: &quot;... And I say: He is leaving and you leave this manhaj (manhaj Ahlus Sunnah )...&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ja&#39;far themselves seem to realize the attitude of the excessive severity in the early dakwahnya. And appears to be, doing what he has become a cause, although the target-supporting former criticism is an error efforts to improve it. In his article, &quot;I&#39;m missing Ukhuwwah Imaniyah Islamiyah,&quot; he wrote with the recognition that says:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;... I forgot the real situation with the majority of people in Indonesia are very low level of understanding about Islam. I assume that when the level of understanding ummatku with the same level of understanding student-muridku. As a result, when the abuse of human As-Sunnah, I consider it the same as those in the sekitarku that I always ajari science. Of course this is the presumption that dhalim. Assuming this is me finally teach me hard and firm attitude against humanity that deviate from the As-Sunnah, even if they have not got the delivery of science Sunnah. Sayapun had considered that the majority of Muslims are Ahlul Bid&#39;ah and must disikapi as Ahlul Bid&#39;ah. Dakwah Salafiyyah appeared then that I perjuangkan become terkucil, rigid and hard. I have misunderstanding with what I learned from the scriptures of the Ulama &#39;in the top of the Ahlul Bid&#39;ah attitude. I suspected it was the Ahlul Bid&#39;ah all those who run bid&#39;ah the absolute.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GERAKAN SALAFI MODERN DI INDONESIA;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Upaya Membedah Akar Pertumbuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan Ide-ide Substansialnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia nampaknya memang akan selalu menjadi lahan subur lahir dan tumbuhnya berbagai gerakan Islam dengan berbagai ragamnya; baik yang “hanya sekedar” perpanjangan tangan dari gerakan yang sebelumnya telah ada, ataupun yang dapat dikategorikan sebagai gerakan yang benar-benar baru. Dan sejarah pergerakan Islam Indonesia benar-benar telah menjadi saksi mata terhadap kenyataan itu selama beberapa kurun waktu lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, di era modern ini,  mata sejarah semakin “dimanjakan” oleh kenyataan itu dengan tumbuhnya aneka gerakan Islam modern yang masing-masing menyimpan keunikannya tersendiri. Jagat pergerakan Islam Indonesia modern tidak hanya diramaikan oleh organisasi semacam Muhammadiyah dan NU, tapi disana ada pemain-pemain baru yang juga secara perlahan –namun pasti- mulai menanamkan pengaruhnya. Mulai dari yang mengandalkan perjuangan politis hingga yang lebih memilih jalur gerakan sosial-kemasyarakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu gerakan Islam tersebut adalah yang menyebut diri mereka sebagai Salafi atau Salafiyah. Salah satu peristiwa fenomenal gerakan ini yang sempat “menghebohkan” adalah kelahiran Laskar Jihad yang dimotori oleh Ja’far Umar Thalib pada 6 April 2000 pasca meletusnya konflik bernuansa SARA di Ambon dan Poso.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan singkat ini akan mencoba mengulas sejarah dan ide-ide penting gerakan ini, sekaligus memberikan beberapa catatan kritis yang diharapkan dapat bermanfaat tidak hanya bagi gerakan ini namun juga bagi semua gerakan Islam di Tanah Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Itu Salafi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Salafi adalah sebuah bentuk penisbatan kepada al-Salaf. Kata al-Salaf sendiri secara bahasa bermakna orang-orang yang mendahului atau hidup sebelum zaman kita.[2]  Adapun makna al-Salaf secara terminologis yang dimaksud di sini adalah generasi yang dibatasi oleh sebuah penjelasan Rasulullah saw dalam haditsnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di masaku, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka...”  (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits ini, maka yang dimaksud dengan al-Salaf adalah para sahabat Nabi saw, kemudian tabi’in, lalu atba’ al-tabi’in. Karena itu, ketiga kurun ini kemudian dikenal juga dengan sebutan al-Qurun al-Mufadhdhalah (kurun-kurun yang mendapatkan keutamaan).[3] Sebagian ulama kemudian menambahkan label al-Shalih (menjadi al-Salaf al-Shalih) untuk memberikan karakter pembeda dengan pendahulu kita yang lain.[4] Sehingga seorang salafi berarti seorang yang mengaku mengikuti jalan para sahabat Nabi saw, tabi’in dan atba’ al-tabi’in dalam seluruh sisi ajaran dan pemahaman mereka.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini nampak jelas bahwa sebenarnya tidak masalah yang berarti dengan paham Salafiyah ini, karena pada dasarnya setiap muslim akan mengakui legalitas kedudukan para sahabat Nabi saw dan dua generasi terbaik umat Islam sesudahnya itu; tabi’in dan atba’ al-tabi’in. Atau dengan kata lain seorang muslim manapun sebenarnya sedikit-banyak memiliki kadar kesalafian dalam dirinya meskipun ia tidak pernah menggembar-gemborkan pengakuan bahwa ia seorang salafi. Sebagaimana juga pengakuan kesalafian seseorang juga tidak pernah dapat menjadi jaminan bahwa ia benar-benar mengikuti jejak para al-Salaf al-Shalih, dan –menurut penulis- ini sama persis dengan pengakuan kemusliman siapapun yang terkadang lebih sering berhenti pada taraf pengakuan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ala kulli hal, penggunaan istilah Salafi ini secara khusus mengarah pada kelompok gerakan Islam tertentu setelah maraknya apa yang disebut “Kebangkitan Islam di Abad 15 Hijriyah”. Terutama yang berkembang di Tanah Air, mereka memiliki beberapa ide dan karakter yang khas yang kemudian membedakannya dengan gerakan pembaruan Islam lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Kemunculan Salafi di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dipungkiri bahwa gerakan Salafi di Indonesia banyak dipengaruhi oleh ide dan gerakan pembaruan yang dilancarkan oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab di kawasan Jazirah Arabia. Menurut Abu Abdirrahman al-Thalibi[6], ide pembaruan Ibn ‘Abd al-Wahhab diduga pertama kali dibawa masuk ke kawasan Nusantara oleh beberapa ulama asal Sumatera Barat pada awal abad ke-19. Inilah gerakan Salafiyah pertama di tanah air yang kemudian lebih dikenal dengan gerakan kaum Padri, yang salah satu tokoh utamanya adalah Tuanku Imam Bonjol. Gerakan ini sendiri berlangsung dalam kurun waktu 1803 hingga sekitar 1832. Tapi, Ja’far Umar Thalib mengklaim –dalam salah satu tulisannya[7]- bahwa gerakan ini sebenarnya telah mulai muncul bibitnya pada masa Sultan Aceh Iskandar Muda (1603-1637).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, ide pembaruan ini secara relatif juga kemudian memberikan pengaruh pada gerakan-gerakan Islam modern yang lahir kemudian, seperti Muhammadiyah, PERSIS, dan Al-Irsyad. “Kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah” serta pemberantasan takhayul, bid’ah dan khurafat kemudian menjadi semacam isu mendasar yang diusung oleh gerakan-gerakan ini. Meskipun satu hal yang patut dicatat bahwa nampaknya gerakan-gerakan ini tidak sepenuhnya mengambil apalagi menjalankan ide-ide yang dibawa oleh gerakan purifikasi Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab. Apalagi dengan munculnya ide pembaruan lain yang datang belakangan, seperti ide liberalisasi Islam yang nyaris dapat dikatakan telah menempati posisinya di setiap gerakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 80-an, -seiring dengan maraknya gerakan kembali kepada Islam di berbagai kampus di Tanah air- mungkin dapat dikatakan sebagai tonggak awal kemunculan gerakan Salafiyah modern di Indonesia. Adalah Ja’far Umar Thalib salah satu tokoh utama yang berperan dalam hal ini. Dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Saya Merindukan Ukhuwah Imaniyah Islamiyah”, ia menceritakan kisahnya mengenal paham ini dengan mengatakan:[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika saya belajar agama di Pakistan antara tahun 1986 s/d 1987, saya melihat betapa kaum muslimin di dunia ini tercerai berai dalam berbagai kelompok aliran pemahaman. Saya sedih dan sedih melihat kenyataan pahit ini. Ketika saya masuk ke medan jihad fi sabilillah di Afghanistan antara tahun tahun 1987 s/d 1989, saya melihat semangat perpecahan di kalangan kaum muslimin dengan mengunggulkan pimpinan masing-masing serta menjatuhkan tokoh-tokoh lain...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun-tahun jihad fi sabilillah itu saya mulai berkenalan dengan para pemuda dari Yaman dan Surian yang kemudian mereka memperkenalkan kepada saya pemahaman Salafus Shalih Ahlus Sunnah wal Jamaah. Saya mulai kenal dari mereka seorang tokoh dakwah Salafiyah bernama Al-‘Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepiluan di Afghanistan saya dapati tanda-tandanya semakin menggejala di Indonesia. Saya kembali ke Indonesia pada akhir tahun 1989, dan padajanuari 1990 saya mulai berdakwah. Perjuangan dakwah yang saya serukan adalah dakwah Salafiyah...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ja’far Thalib sendiri kemudian mengakui bahwa ada banyak yang berubah dari pemikirannya, termasuk diantaranya sikap dan kekagumannya pada Sayyid Quthub, salah seorang tokoh Ikhwanul Muslimin yang dahulu banyak ia lahap buku-bukunya. Perkenalannya dengan ide gerakan ini membalik kekaguman itu 180 derajat menjadi sikap kritis yang luar biasa –untuk tidak mengatakan sangat benci-.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping Ja’far Thalib, terdapat beberapa tokoh lain yang dapat dikatakan sebagai penggerak awal Gerakan Salafi Modern di Indonesia, seperti: Yazid Abdul Qadir Jawwaz (Bogor), Abdul Hakim Abdat (Jakarta), Muhammad Umar As-Sewed (Solo), Ahmad Fais Asifuddin (Solo), dan Abu Nida’ (Yogyakarta). Nama-nama ini bahkan kemudian tergabung dalam dewan redaksi Majalah As-Sunnah –majalah Gerakan Salafi Modern pertama di Indonesia-, sebelum kemudian mereka berpecah beberapa tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tokoh-tokoh luar Indonesia yang paling berpengaruh terhadap Gerakan Salafi Modern ini –di samping Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab tentu saja- antara lain adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Ulama-ulama Saudi Arabia secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Syekh Muhammad Nashir al-Din al-Albany di Yordania (w. 2001)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Syekh Rabi al-Madkhaly di Madinah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Syekh Muqbil al-Wadi’iy di Yaman (w. 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ada tokoh-tokoh lain selain ketiganya, namun ketiga tokoh ini dapat dikatakan sebagai sumber inspirasi utama gerakan ini. Dan jika dikerucutkan lebih jauh, maka tokoh kedua dan ketiga secara lebih khusus banyak berperan dalam pembentukan karakter gerakan ini di Indonesia. Ide-ide yang berkembang di kalangan  Salafi modern tidak jauh berputar dari arahan, ajaran dan fatwa kedua tokoh tersebut; Syekh Rabi’ al-Madkhaly dan Syekh Muqbil al-Wadi’iy. Kedua tokoh inilah yang kemudian memberikan pengaruh besar terhadap munculnya gerakan Salafi ekstrem, atau –meminjam istilah Abu Abdirrahman al-Thalibi- gerakan Salafi Yamani.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan pandangan antara pelaku gerakan Salafi modern setidaknya mulai mengerucut sejak terjadinya Perang Teluk yang melibatkan Amerika dan Irak yang dianggap telah melakukan invasi ke Kuwait. Secara khusus lagi ketika Saudi Arabia “mengundang” pasukan Amerika Serikat untuk membuka pangkalan militernya di sana. Saat itu, para ulama dan du’at di Saudi –secara umum- kemudian berbeda pandangan: antara yang pro[11] dengan kebijakan itu dan yang kontra.[12] Sampai sejauh ini sebenarnya tidak ada masalah, karena mereka umumnya masih menganggap itu sebagai masalah ijtihadiyah yang memungkinkan terjadinya perbedaan tersebut. Namun berdasarkan informasi yang penulis dapatkan nampaknya ada pihak yang ingin mengail di air keruh dengan “membesar-besarkan” masalah ini. Secara khusus, beberapa sumber[13] menyebutkan bahwa pihak Menteri Dalam Negeri Saudi Arabia saat itu–yang selama ini dikenal sebagai pejabat yang tidak terlalu suka dengan gerakan dakwah yang ada- mempunyai andil dalam hal ini. Upaya inti yang dilakukan kemudian adalah mendiskreditkan mereka yang kontra sebagai khawarij, quthbiy (penganut paham Sayyid Quthb), sururi (penganut paham Muhammad Surur ibn Zain al-‘Abidin), dan yang semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momentum inilah yang kemudian mempertegas keberadaan dua pemahaman dalam gerakan Salafi modern –yang untuk mempermudah pembahasan oleh Abu ‘Abdirrahman al-Thalibi disebut sebagai-: Salafi Yamani dan Salafi Haraki.[14] Dan sebagaimana fenomena gerakan lainnya, kedua pemahaman inipun terimpor masuk ke Indonesia dan memiliki pendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Ide-ide Penting Gerakan Salafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan paling mendasar yang muncul kemudian adalah apa yang menjadi ide penting atau karakter khas gerakan ini dibanding gerakan lainnya yang disebutkan sedikit-banyak terpengaruh dengan ide purifikasi Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab di Jazirah Arabia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada beberapa ide penting dan khas gerakan Salafi Modern dengan gerakan-gerakan tersebut, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Hajr Mubtadi’ (Pengisoliran terhadap pelaku bid’ah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah gerakan purifikasi Islam, isu bid’ah tentu menjadi hal yang mendapatkan perhatian gerakan ini secara khusus. Upaya-upaya yang mereka kerahkan salah satunya terpusat pada usaha keras untuk mengkritisi dan membersihkan ragam bid’ah yang selama ini diyakini dan diamalkan oleh berbagai lapisan masyarakat Islam. Dan sebagai sebuah upaya meminimalisir kebid’ahan, para ulama Ahl al-Sunnah menyepakati sebuah mekanisme yang dikenal dengan hajr al-mubtadi’ atau pengisoliran terhadap mubtadi’. [15] Dan tentu saja, semua gerakan salafi sepakat akan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, pada prakteknya di Indonesia, masing-masing faksi –salafi Yamani dan haraki- sangat berbeda. Dalam hal ini, salafi Yamani terkesan membabi buta dalam menerapkan mekanisme ini. Fenomena yang nyata akan hal ini mereka terapkan dengan cara melemparkan tahdzir (warning) terhadap person yang bahkan mengaku mendakwahkan gerakan salafi. Puncaknya adalah ketika mereka menerbitkan “daftar nama-nama ustadz yang direkomendasikan” dalam situs mereka www.salafy.or.id.[16] Dalam daftar ini dicantumkan 86 nama ustadz dari Aceh sampai Papua yang mereka anggap dapat dipercaya untuk dijadikan rujukan, dan ‘uniknya’ nama-nama itu didominasi oleh murid-murid Syekh Muqbil al-Wadi’i di Yaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Salafi Haraki cenderung melihat mekanisme hajr al-mubtadi’ ini sebagai sesuatu yang tidak mutlak dilakukan, sebab semuanya tergantung pada maslahat dan mafsadatnya. Menurut mereka, hajr al-mubtadi’ dilakukan tidak lebih untuk memberikan efek jera kepada sang pelaku bid’ah. Namun jika itu tidak bermanfaat, maka boleh jadi metode ta’lif al-qulub-lah yang berguna.[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Sikap terhadap politik (parlemen dan pemilu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang menjadi ide utama gerakan ini adalah bahwa gerakan Salafi bukanlah gerakan politik dalam arti yang bersifat praktis. Bahkan mereka memandang keterlibatan dalam semua proses politik praktis seperti pemilihan umum sebagai sebuah bid’ah dan penyimpangan. Ide ini terutama dipegangi dan disebarkan dengan gencar oleh pendukung Salafi Yamani. Muhammad As-Sewed mislanya –yang saat itu masih menjabat sebagai ketua FKAWJ mengulas kerusakan-kerusakan pemilu sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.       Pemilu adalah sebuah upaya menyekutukan Allah (syirik) karena menetapkan aturan berdasarkan suara terbanyak (rakyat), padahal yang berhak untuk itu hanya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.      Apa yang disepakati suara terbanyak itulah yang dianggap sah, meskipun bertentangan dengan agama atau aturan Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.       Pemilu adalah tuduhan tidak langsung kepada islam bahwa ia tidak mampu menciptakan masyarakat yang adil sehingga membutuhkan sistem lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.      Partai-partai Islam tidak punya pilihan selain mengikuti aturan yang ada, meskipun aturan itu bertentangan dengan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.       Dalam pemilu terdapat prinsip jahannamiyah, yaitu menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan-tujuan politis, dan sangat sedikit yang selamat dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.        Pemilu berpotensi besar menanamkan fanatisme jahiliah terhadap partai-partai yang ada.[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Salafi Haraki yang cenderung menganggap masalah ini sebagai  persoalan ijtihadiyah belaka. Dalam sebuah tulisan bertajuk al-Musyarakah fi al-Intikhabat al-Barlamaniyah yang dimuat oleh situs islamtoday.com (salah satu situs yang dianggap sering menjadi rujukan mereka dikelola oleh DR. Salman ibn Fahd al-‘Audah) misalnya, dipaparkan bahwa sistem peralihan dan penyematan kekuasaan dalam Islam tidak memiliki sistem yang baku. Karena itu, tidak menutup mungkin untuk mengadopsi sistem pemilu yang ada di Barat setelah ‘memodifikasi’nya agar sesuai dengan prinsip-prinsip politik Islam. Alasan utamanya adalah karena hal itu tidak lebih dari sebuah bagian adminstratif belaka yang memungkinkan kita untuk mengadopsinya dari manapun selama mendatangkan mashlahat.[19]  Maka tidak mengherankan jika salah satu ormas yang dianggap sebagai salah satu representasi faksi ini, Wahdah Islamiyah, mengeluarkan keputusan yang menginstruksikan anggotanya untuk ikut serta dalam menggunakan hak pilihnya dalam pemilu-pemilu yang lalu.[20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Sikap terhadap gerakan Islam yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan pendukung gerakan Salafi modern di Indonesia terhadap berbagai gerakan lain yang ada sepenuhnya merupakan imbas aksiomatis dari penerapan prinsip hajr al-mubtadi’ yang telah dijelaskan terdahulu. Baik Salafi Yamani maupun Haraki, sikap keduanya terhadap gerakan Islam lain sangat dipengaruhi oleh pandangan mereka dalam penerapan hajr al-mubtadi’. Sehingga tidak mengherankan dalam poin inipun mereka berbeda pandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Salafi Haraki cenderung ‘moderat’ dalam menyikapi gerakan lain, maka Salafi Yamani dikenal sangat ekstrim bahkan seringkali tanpa kompromi sama sekali. Fenomena sikap keras Salafi Yamani terhadap gerakan Islam lainnya dapat dilihat dalam beberapa contoh berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.       Sikap terhadap Ikhwanul Muslimin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali tidak berlebihan jika dikatakan Ikhwanul Muslimin nampaknya menjadi musuh utama di kalangan Salafi Yamani. Mereka bahkan seringkali memelesetkannya menjadi “Ikhwanul Muflisin”.[21] Tokoh-tokoh utama gerakan ini tidak pelak lagi menjadi sasaran utama kritik tajam yang bertubi-tubi dari kelompok ini. Di Saudi sendiri –yang menjadi asal gerakan ini-, fenomena ‘kebencian’ pada Ikhwanul Muslimin dapat dikatakan mencuat seiring bermulanya kisah Perang Teluk bagian pertama. Adalah DR. Rabi’ ibn Hadi al-Madkhali yang pertama kali menyusun berbagai buku yang secara spesifik menyerang Sayyid Quthb dan karya-karyanya. Salah satunya dalam buku yang diberi judul “Matha’in Sayyid Quthb fi Ashab al-Rasul” (Tikaman-tikaman Sayyid Quthub terhadap Para Sahabat Rasul).[22]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepengetahuan penulis, fenomena ini bisa dibilang baru mengingat pada masa-masa sebelumnya beberapa tokoh Ikhwan seperti Syekh Muhammad al-Ghazali dan DR. Yusuf al-Qaradhawi pernah menjadi anggota dewan pendiri Islamic University di Madinah, dan banyak tokoh Ikhwan lainnya yang diangkat menjadi dosen di berbagai universitas Saudi Arabia. Dalam berbagai penulisan ilmiah –termasuk itu tesis dan disertasi- pun karya-karya tokoh Ikhwan –termasuk Fi Zhilal al-Qur’an yang dikritik habis oleh DR. Rabi al-Madkhali- sering dijadikan rujukan.  Bahkan Syekh Bin Baz –Mufti Saudi waktu itu- pernah mengirimkan surat kepada Presiden Mesir, Gamal Abdul Naser untuk mencabut keputusan hukuman mati terhadap Sayyid Quthb.[23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan ini misalnya, Ja’far Umar Thalib misalnya menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat Syekh Muqbil pula saya mendengar berita-berita penyimpangan tokoh-tokoh yang selama ini saya kenal sebagai da’i dan penulis yang menganu pemahaman salafus shalih. Tokoh-tokoh yang telah menyimpang itu ialah Muhammad Surur bin Zainal Abidin, Salman Al-Audah, Safar Al-Hawali, A’idl Al-Qarni, Nasir Al-Umar, Abdurrahman Abdul Khaliq. Penyimpangan mereka terletak pada semangat mereka untuk mengelu-elukan tokoh-tokoh yang telah mewariskan berbagai pemahaman sesat di kalangan ummat Islam, seperti Sayyid Qutub, Hasan Al-Banna, Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha dan lain-lainnya. [24]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jauh sebelum itu, Ja’far Umar Thalib juga melontarkan celaan yang sangat keras terhadap DR. Yusuf al-Qaradhawy –salah seorang tokoh penting Ikhwanul Muslimin masa kini- dengan menyebutnya sebagai ‘aduwullah (musuh Allah) dan Yusuf al-Qurazhi (penisbatan kepada salah satu kabilah Yahudi di Madinah, Bani Quraizhah). Meskipun kemudian ia dikritik oleh gurunya sendiri, Syekh Muqbil di Yaman, yang kemudian mengganti celaan itu dengan mengatakan: Yusuf al-Qaradha (Yusuf Sang penggunting syariat Islam).[25] Di Indonesia sendiri, sikap ini berimbas kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dianggap sebagai representasi Ikhwanul Muslimin di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, ada beberapa hal yang dianggap sebagai penyimpangan oleh kalangan Salafi Yamani dalam tubuh Ikhwanul Muslimin, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Bai’at yang dianggap seperti bai’at sufiyah dan kemiliteran.[26]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Adanya marhalah (fase-fase) dalam dakwah yang menyerupai prinsip aliran Bathiniyah.[27]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Organisasi kepartaian (tanzhim hizb).[28]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan yang disebut Salafi Haraki, mereka cenderung kooperatif dalam melihat gerakan-gerakan Islam yang ada dalam bingkai “nata’awan fima ittafaqna ‘alaih, wa natanashahu fima ikhtalafna fihi.”[29] Karena itu, faksi ini cenderung lebih mudah memahami bahkan berinteraksi dengan kelompok lain, termasuk misalnya Ikhwanul Muslimin. Meskipun untuk itu kelompok inipun harus rela diberi cap “Sururi” oleh kelompok Salafi Yamani. Yayasan Al-Sofwa, misalnya, masih mengakomodir kaset-kaset ceramah beberapa tokoh PKS seperti DR.Ahzami Sami’un Jazuli.[30]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.      Sikap terhadap Sururiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, Sururi atau Sururiyah adalah label yang disematkan kalangan Salafi Yamani terhadap Salafi Haraki yang dianggap ‘mencampur-adukkan’ berbagai manhaj gerakan Islam dengan manhaj salaf. Kata Sururiyah sendiri adalah penisbatan kepada Muhammad Surur bin Zainal Abidin. Tokoh ini dianggap sebagai pelopor paham yang mengadopsi dan menggabungkan ajaran Salafi dengan Ikhwanul Muslimin. Disamping Muhammad Surur, nama-nama lain yang sering dimasukkan dalam kelompok ini adalah DR. Safar ibn ‘Abdirrahman al-Hawali, DR. Salman ibn Fahd Al-‘Audah –keduanya di Saudi- dan Abdurrahman Abdul Khaliq dari Jam’iyyah Ihya’ al-Turats di Kuwait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah tulisan berjudul Membongkar Pikiran Hasan Al-Banna-Sururiyah (III) diuraikan secara rinci pengertian Sururiyah itu:[31]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada sekelompok orang yang mengikuti kaidah salaf dalam perkara Asma dan Sifat Allah, iman dan taqdir. Tapi, ada salah satu prinsip mereka yang sangat fatal yaitu mengkafirkan kaum muslimin. Mereka terpengaruh oleh prinsip Ikhwanul Muslimin. Pelopor aliran ini bernama Muhammad bin Surur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Surur yang lahir di Suriah dahulunya adalah Ikhwanul Muslimin. Kemudian ia menyempal dari jamaah sesat ini dan membangun gerakannya sendiri berdasarkan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthub (misalnya masalah demonstrasi, kudeta dan yang sejenisnya)...”[32]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan yang sama juga menyimpulkan beberapa sisi persamaan antara Sururiyah dengan Ikhwanul Muslimin, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Keduanya sama-sama mengkafirkan golongan lain dan pemerintah muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Keduanya satu ide dalam masalah demonstrasi, mobilisasi dan selebaran-selebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Keduanya sama dalam masalah pembinaan revolusi dalam rangka kudeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Keduanya sama dalam hal tanzhim dan sistem kepemimpinan yang mengerucut (piramida).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Keduanya sama-sama tenggelam dalam politik.[33]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja banyak ‘tuduhan’ sebenarnya terlalu tergesa-gesa untuk tidak mengatakan membabi buta. Ada yang tidak mempunyai bukti akurat, atau termasuk persoalan yang sebenarnya termasuk kategori ijtihad dan tidak bisa disebut sebagai kesesatan (baca: bid’ah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Sikap terhadap pemerintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, sebagaimana pemerintah yang umum diyakini Ahl al-Sunnah –yaitu ketidakbolehan khuruj atau melakukan gerakan separatisme dalam sebuah pemerintahan Islam yang sah-, Gerakan Salafi juga meyakini hal ini. Itulah sebabnya, setiap tindakan atau upaya yang dianggap ingin menggoyang pemerintahan yang sah dengan mudah diberi cap Khawarij, bughat atau yang semacamnya.[34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisannya yang bertajuk “Membongkar Pemikiran Sang Begawan Teroris (I), Abu Hamzah Yusuf misalnya menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tokoh-tokoh yang disebutkan Imam Samudra di atas (maksudnya: Salman al-Audah, Safar al-Hawali dan lain-lain –pen) tidaklah berjalan di atas manhaj Salaf. Bahkan perjalanan hidup mereka dipenuhi catatan hitam yang menunjukkan mereka jauh dari manhaj Salaf...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada hubungan antara tokoh-tokoh itu dengan para ulama Ahlus Sunnah. Bahkan semua orang tahu bahwa antara mereka berbeda dalam hal manhaj (metodologi). Tokoh-tokoh itu berideologikan Quthbiyyah, Sururiyah, dan Kharijiyah...”[35]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam “Mereka Adalah Teroris” juga misalnya disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...Kemudian dilanjutkan tongkat estafet ini oleh para ruwaibidhah (sebutan lain untuk Khawarij -pen) masa kini semacam Dr. Safar Al-Hawali, Salman Al-Audah dan sang jagoan konyol Usamah bin Laden. Sementara Imam Samudra hanyalah salah satu bagian kecil saja dari sindikat terorisme yang ada di Indonesia. Kami katakan ini karena di atas Imam Samudra masih ada tokoh-tokoh khawarij Indonesia yang lebih senior seperti: Abdullah Sungkar alias Ustadz Abdul Halim, Abu Bakar Ba’asyir alias Ustadz Abdush Shamad.”[36]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ini disebabkan karena tokoh-tokoh yang dimaksud dikenal sebagai orang-orang yang gigih melontarkan kritik ‘pedas’ terhadap pemerintah Kerajaan Saudi Arabia terutama dalam kasus penempatan pangkalan militer AS di sana. Sementara dua nama terakhir dikenal sebagai orang-orang yang gigih memformalisasikan syariat Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai konsekwensi dari prinsip ini, maka muncul kesan bahwa kaum Salafi cenderung ‘enggan’ melontarkan kritik terhadap pemerintah. Meskipun sesungguhnya manhaj al-Salaf sendiri memberikan peluang untuk itu meskipun dibatasi secara “empat mata” dengan sang penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada prakteknya kemudian, ternyata prinsip inipun sedikit banyak telah dilanggar oleh mereka sendiri. Abu ‘Abdirrahman al-Thalibi misalnya –yang menulis kritik tajam terhadap gerakan ini- menyebutkan salah satu penyimpangan Salafi Yamani: “Sikap Melawan Pemerintah”. Ia menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam beberapa kasus, jelas-jelas Salafy Yamani telah melawan pemerintah yang diakui secara konsensus oleh Ummat Islam Indonesia, khususnya melalui tindakan-tindakan Laskar Jihad di masa pemerintahan Abdurrahman Wahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 6 April 2000, mereka mengadakan tabligh akbar di Senayan, tak lama kemudian mereka berdemo di sekitar Istana Negara dimana Abdurrahman Wahid sedang berada di dalamnya. Kenyataan yang sangat mengherankan, mereka bergerak secara massal dengan membawa senjata-senjata tajam. Belum pernah Istana Negara RI didemo oleh orang-orang bersenjata, kecuali dalam peristiwa di atas. Masih bisa dimaklumi, meskipun melanggar hukum, jika yang melakukannya adalah anggota partai komunis yang dikenal menghalalkan kekerasan, tetapi perbuatan itu justru dilakukan oleh para pemuda yang mewarisi manhaj Salafus Shalih. Masya Allah, Salafus Shalih mana yang mereka maksudkan?”[37]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain lagi adalah bahwa hingga kini mereka masih saja melancarkan kritik yang pedas terhadap Partai Keadilan Sejahtera –yang dianggap sebagai bagian dari Ikhwanul Muslimin di Indonesia-. Namun kenyataannya sekarang bahwa Partai ini telah menjadi bagian dari pemerintahan Indonesia yang sah. Beberapa anggota mereka duduk sebagai anggota parlemen, ada yang menjadi menteri dalam kabinet, bahkan mantan ketuanya, Hidayat Nur Wahid saat ini menjabat sebagai Ketua MPR-RI. Bukankah berdasarkan kaidah yang selama ini mereka gunakan, kritik pedas mereka terhadap PKS dapat dikategorikan sebagai tindakan khuruj atas pemerintah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ja’far Umar Thalib Telah Meninggalkan Kita...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat mungkin dapat dijadikan sebagai bukti fase baru perkembangan gerakan Salafi di Indonesia. Setelah sebelumnya dijelaskan bahwa dalam perjalanannya gerakan ini terbagi menjadi setidaknya 2 faksi: Yamani dan haraki, maka setidaknya sejak dewan eksekutif  FKAWJ membubarkan FKAWJ dan Laskar Jihad pada pertengahan Oktober 2002, ada hembusan angin perubahan yang sangat signifikan di tubuh gerakan ini. Salafi Yamani ternyata kemudian berpecah menjadi 2 kelompok: yang pro Ja’far dan yang kontra terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ja’far Umar Thalib sejak saat itu dapat dikatakan menjadi ‘bulan-bulanan’ kelompok eks Laskar Jihad yang kontra dengannya. Apalagi setelah DR.Rabi’ al-Madkhali –ulama yang dulu sering ia jadikan rujukan fatwa- justru mengeluarkan tahdzir terhadapnya. Pesantrennya di Yogyakarta pun mulai ditinggalkan oleh mereka yang dulu menjadi murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uniknya, kelompok yang kontra terhadapnya justru ‘dipimpin’ oleh Muhammad Umar As-Sewed, orang yang dulu menjadi tangan kanannya (wakil panglima) saat menjadi panglima Laskar Jihad. Ja’far Thalib-pun mulai dekat dengan orang-orang yang dulu dianggap tidak mungkin bersamanya. Arifin Ilham ‘Majlis Az-Zikra’ dan Hamzah Haz, contohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Qomar ZA –redaktur majalah Asy-Syariah yang dulu adalah murid Ja’far Umar Thalib- menulis artikel pendek berjudul “Ja’far Umar Thalib Telah Meninggalkan Kita...”.[38] Di sana antara lain ia menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun sekarang betapa jauh keadaannya dari yang dulu (Ja’far Umar Thalib, red). Jangankan majlis yang engkau tidak mau menghadirinya saat itu, bahkan sekarang majlis dzikirnya Arifin Ilham kamu hadiri, mejlis Refleksi Satu Hati dengan para pendeta dan biksu kamu hadiri (di UGM, red), majlis dalam peresmian pesantren Tawwabin yang diprakarsai oleh Habib Riziq Syihab, Abu Bakar Baa’syir Majelis Mujahidin Indonesia dan lain-lain. Kamu hadiri juga peringatan Isra’ Mi’raj sebagaimana dinukil dalam majalah Sabili dan banyak lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah gurumu yang sampai saat ini kamu suka menebeng di belakangnya yaitu Syekh Muqbil, semoga Allah merahmatinya, akan tetap memujimu dengan keadaanmu yang semacam ini??...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Rabi’ berkata: “...Dan saya katakan: Dialah yang meninggalkan kalian dan meninggalkan manhaj ini (manhaj Ahlus Sunnah)...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ja’far sendiri belakangan nampak menyadari sikap kerasnya yang berlebihan di masa awal dakwahnya. Dan nampaknya, apa yang ia lakukan belakangan ini –meski menyebabkannya menjadi sasaran kritik bekas pendukungnya- adalah sebuah upayanya untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Dalam artikelnya, “Saya Merindukan Ukhuwwah Imaniyah Islamiyah” , ia menulis pengakuan itu dengan mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...Saya lupa dengan keadaan yang sesungguhnya mayoritas ummat di Indonesia yang tingkat pemahamannya amat rendah tentang Islam. Saya saat itu menganggap tingkat pemahaman ummatku sama dengan tingkat pemahaman murid-muridku. Akibatnya ketika saya menyikapi penyelewengan ummat dari As-Sunnah, saya anggap sama dengan penyelewengan orang-orang yang ada di sekitarku yang selalu saya ajari ilmu. Tentu anggapan ini adalah anggapan yang dhalim. Dengan anggapan inilah saya akhirnya saya ajarkan sikap keras dan tegas terhadap ummat yang menyimpang dari As-Sunnah walaupun mereka belum mendapat penyampaian ilmu Sunnah. Sayapun sempat menganggap bahwa mayoritas kaum muslimin adalah Ahlul Bid’ah dan harus disikapi sebagai Ahlul Bid’ah. Maka tampaklah Dakwah Salafiyyah yang saya perjuangkan menjadi terkucil, kaku dan keras. Saya telah salah paham dengan apa yang saya pelajari dari kitab-kitab para Ulama’ tersebut di atas tentang sikap Ahlul Bid’ah. Saya sangka Ahlul Bid’ah itu ialah semua orang yang menjalankan bid’ah secara mutlak.”[39]</description><link>http://indonesia-modern.blogspot.com/2009/01/salafi-modern-movement-in-indonesia.html</link><author>noreply@blogger.com (tata cakep)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8720550053706566135.post-4177252992760752301</guid><pubDate>Fri, 23 Jan 2009 16:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-23T09:12:01.130-08:00</atom:updated><title></title><description>&lt;table id=&quot;texttable&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;td style=&quot;text-align: left;&quot; id=&quot;gap&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;almost_half_cell&quot;&gt;&lt;div id=&quot;result_box&quot; dir=&quot;ltr&quot;&gt;MODERN CULTURE Maritime; an alternative CULTURE CONCEPT FOR INDONESIA in the 21st century&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTRODUCTION&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The failure of the author&#39;s philosophy of culture present paper entitled &quot;Concept Formulation Indonesian culture well, make keterpukulan own. Some of the critical responses, lack of synchronization between the title with a discussion of the paper, the study is too antropologis-sociological-historical, the paper is more suitable given the title of &quot;Cultural Phenomena Indonesia.&quot; So the need for the author to design and produce the paper a new, more philosophical and specific language. Finally, after study, the author find new ideas that are still continuing the papers first. This paper gave the author the title &quot;Modern Maritime Culture; An Alternative Concept of Culture for Brazil in the 21 Century.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the earlier paper (Culture Concept Formulation Indonesia), has length paparkan author about the culture, national culture of Indonesia, the root of the Indonesian culture, inclusion of western culture in Indonesia, the Indonesian culture today, the challenge of culture and the steps toward civilization Indonesia . Because the two papers is not the first to drop out of the paper, the author of this opportunity to focus the formulation of cultural author bids. This analysis of the strategy to take van Peursen culture, a philosophy of academics Dutch nationality.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Criticism&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Culture concept van Peursen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The wealth and diversity of human cultural history is very difficult to be described fully. But, according to van Peursen, the history of mankind can we pilah into 3 phases, namely:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  * Phase Mitis, the attitude of people feel themselves besieged by unseen forces in the surrounding areas.&lt;br /&gt;  * Phase Ontologis, the attitude of people no longer live in the siege of mitis strength, but want to freely examine all things.&lt;br /&gt;  * The Functional, the attitude and the nature of mind is not so stunned again by the environment (attitudes mitis), it is no longer with the cold distance of the object taken penyelidikannya (ontologis attitude), he would like to make new relationships, relationships, a new kebertautan against everything in the environment (Peursen, 1976; 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some aspects of the functional characteristics of the stages described by van peursen people are looking for relationships between all areas, meaning a word or an act of goods and is seen by the role or function that is played each other in the entire mesh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inelasticity be typical. Human mortgage itself, lead to self or others to a life with all the passion and emotion-emosinya. Eksistensiil attitude is typical for the functional phase: the search for relationships, relationships, kebertalian as penganti for distance and objectives.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In respect of nature and society, self-directing people to the surrounding world, the people involved to fill out the meaning of the world. Human development of the active mix of nature and history. In respect of employment and organizations, work is no longer seen as an object, a kind of substance that can be traded. Working is a way to give content to our existence as human beings, our humanity to make something clear, if not, then the work is to be empty, without meaning, and can not be justified. Financial result of the work, income is seen as one of the factors factor-factor with the other. That determine how the man is in the overall work with the full meaning or not.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In respect of the role of knowledge, people want to increase knowledge. The point is that there? This means, the way things appeared to us, how we can take the goods, the functions that can be run. In respect of culture, culture is the way people express themselves, how he mecari relations, the right-relationship with the surrounding world. In respect of God, God diketengahkan questions about the functional; how God can dikongkritkan in the day-to-day relationship Peursen, 1976, 85-117).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. The concept of Maritime Culture&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Base on the history of Indonesia that have been the two kingdoms of Sriwijaya and Majapahit preach to us that they are progressing as a country not as a State Maritime Agraris. View from the geographic, Indonesia has a sea of 2 / 3 of the overall area of Indonesia. Then the views of the functional by the dikemukan van Peursen, authors take a conclusion that the right maritimlah culture in the development of the Indonesian culture.&lt;br /&gt;At the top was the author of kemukakan discrete functional stage. Author view this concept during the Indonesian culture disetting with the agrarian culture that cendrung glued on the nature and strength of adikodrati, very feodalistik, and divide the community in the strata-level power-kekayaaan. But this culture has been successfully used by the occupation had mengcengkramkan feet in this country. We serve as the nation&#39;s slaves, the coolie, the labor that readers can understand from the papers first.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Therefore, the author saw the paradigm we need to change our culture to the concept of maritime culture. Related to the above functional before, I can say a lot of similarities with the point maritime culture.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maritime kemukakan the author is not in the meaning &quot;sea&quot; as the meaning of the word passive, but more than that. Author menyandarkannya the word modern. The author with a sense of modern maritime culture is culture with the spirit of transparency, independence, and courage in facing the modern era with the spaciousness and ingenuity sea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Is an attitude of openness want to open themselves to the changes of time and other values that enter or get it. As we know by call on regional maritime various ethnic and nations that brings with it a different nilai-nilai/budaya. People often also the maritime sea to sail to another country, and there they interact and communicate with the local nations. Many new things that they encountered. Of maritime community is when he wants to respect the cultures and other nations often make innovative adaptation of other cultures to strengthen the culture. In the context of the age now where it is said the world as global village, a meeting between the nation&#39;s culture is very easy and fast then this attitude is very much needed in the association among the people who inhabit the world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Concerned with this case, the attitude is a self-protective fences for maritime nation. Trade is the main search maritime community. Modern maritime culture that we want to achieve is to try to release kunkungan consumerism, a nation that is only as of the goods made in other people. This collaborative effort with the control of the market with the creation of production in the country. Agrarian nature of the Indonesian people that the majority of farmers can be empowered in this context. Agriculture and industry developed, modern, not only goods but raw production to finished. So this product is distributed by traders to the entire world through negotiation and reaching capacity throughout other nation / transportation capability.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Courage to be typical of the maritime community. When sailing many natural obstacles found. Storm waves, keterasingan in the middle of the sea, pirate / pirate, and the threat of sea animals to become a regular thing. But the challenge is so heavy compared to manage agriculture. So that the community is a maritime nation in the psychological brave. They did not want a subdued nature, but are trying with nature. Natural phenomena as they learn and as a bookmark in the sail. Related to the relationship with the superior strength kodrati, they fully trust. Because of the existence of God in fungsionalnya they felt in their gambaraan in the sea. Religuslitas not so lost in themselves.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departing from the analysis that the author believes the concept of maritime culture can be a solution for the cultural strategy in the era of Indonesia has entered the phase of fungsionalistik today.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;submitcell&quot;&gt;&lt;div style=&quot;float: left;&quot;&gt;&lt;input value=&quot;id&quot; name=&quot;sl&quot; type=&quot;hidden&quot;&gt;&lt;span class=&quot;langselect&quot; id=&quot;sl_select&quot;&gt;&lt;div haspopup=&quot;true&quot; tabindex=&quot;0&quot; style=&quot;-moz-user-select: none;&quot; role=&quot;button&quot; title=&quot;&quot; class=&quot;goog-inline-block goog-menu-button&quot;&gt;&lt;div class=&quot;goog-inline-block goog-menu-button-outer-box&quot;&gt;&lt;div class=&quot;goog-inline-block goog-menu-button-inner-box&quot;&gt;&lt;div class=&quot;goog-inline-block goog-menu-button-caption&quot;&gt;Indonesia&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;goog-inline-block goog-menu-button-dropdown&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class=&quot;arrow&quot; onclick=&quot;ctr._swap()&quot;&gt;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;input value=&quot;en&quot; name=&quot;tl&quot; type=&quot;hidden&quot;&gt;&lt;span class=&quot;langselect&quot; id=&quot;tl_select&quot;&gt;&lt;div haspopup=&quot;true&quot; tabindex=&quot;0&quot; style=&quot;-moz-user-select: none;&quot; role=&quot;button&quot; title=&quot;&quot; class=&quot;goog-inline-block goog-menu-button&quot;&gt;&lt;div class=&quot;goog-inline-block goog-menu-button-outer-box&quot;&gt;&lt;div class=&quot;goog-inline-block goog-menu-button-inner-box&quot;&gt;&lt;div class=&quot;goog-inline-block goog-menu-button-caption&quot;&gt;Inggris&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;goog-inline-block goog-menu-button-dropdown&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt; &lt;a class=&quot;swap&quot; href=&quot;http://translate.google.com/translate_t&quot; onclick=&quot;ctr._swap();return false;&quot;&gt;tukar&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;float: right;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;subbutton&quot; id=&quot;submit_button&quot;&gt;&lt;div tabindex=&quot;0&quot; style=&quot;-moz-user-select: none;&quot; role=&quot;button&quot; title=&quot;&quot; class=&quot;goog-inline-block goog-custom-button&quot;&gt;&lt;div class=&quot;goog-inline-block goog-custom-button-outer-box&quot;&gt;&lt;div class=&quot;goog-inline-block goog-custom-button-inner-box&quot;&gt;&lt;div&gt;Terjemahkan&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td id=&quot;dict&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan=&quot;2&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;</description><link>http://indonesia-modern.blogspot.com/2009/01/modern-culture-maritime-alternative.html</link><author>noreply@blogger.com (tata cakep)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8720550053706566135.post-7132622531455820285</guid><pubDate>Tue, 20 Jan 2009 04:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-19T20:03:05.491-08:00</atom:updated><title>High-Speed Deep Onboard Memory</title><description>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;A key requirement in many applications, ranging from video to communications, is large waveform generation and acquisition. Video test image generation with AWGs, sparkle code test of ADCs with digital waveform generators/analyzers, and error vector magnitude (EVM) measurements of baseband modulators/demodulators with digitizers are some of the myriad of applications requiring deep memory for waveform capture and generation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The SMC input and output data transfer cores are designed to arbitrate waveform movements between the memory banks and the front-end electronics of the instrument at 100 MHz. Incorporated into the SMC, along with the DSF, is the National Instruments SCARAB memory controller, which provides the interface between the memory banks, the DSF, and the National Instruments MITE, a scatter-gather DMA controller. The SCARAB effectively keeps track of where waveforms and instructions are stored in memory and fetches the appropriate data upon request from the DSF and the MITE. It also provides the capability to stream waveforms to and from the memory at the full sampling rates at a sustained pace to accommodate large waveform acquisition and generation. The SMC input core treats the deep memory as a 2-port FIFO buffer, whereby it moves the data at the full sampling rate of 100 MHz from the ADC of the digitizer or the digital lines of the digital waveform generator/analyzer into the memory banks and streams data to the host PC at the available bandwidth of the PCI bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The SMC output core treats the memory in a relatively more complex manner because of the shared data and instruction format of the memory. It has to stream data to the digital-to-analog converter (DAC) of the AWG or the digital lines of the digital waveform generator/analyzer at the full sampling rate of 100 MHz, meanwhile extracting the instructions for sequencing the output waveforms at a rate whereby the full sampling rate of 100 MHz is guaranteed. Because of potentially large sequences ranging into hundreds of thousands of instructions, it is not possible to compile all of the sequencing instructions in the DSF at the start of generation due to FPGA size constraints. Therefore, the SCARAB has not only to pull out waveforms from the deep memory at the full sampling rate of 100 MHz but also to provide the sequence instructions to the DSF to execute in real time.&lt;/div&gt;</description><link>http://indonesia-modern.blogspot.com/2009/01/high-speed-deep-onboard-memory.html</link><author>noreply@blogger.com (tata cakep)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8720550053706566135.post-5489733406127568486</guid><pubDate>Tue, 20 Jan 2009 03:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-19T20:00:45.730-08:00</atom:updated><title>Ebook   BIBEL, QUR-AN, &amp; SAINS MODERN</title><description>In his objective study of the texts, Maurice Bucaille clears away many preconceived ideas about the Old Testament, the Gospels and the Qur&#39;an. He tries, in this collection of Writings, to separate what belongs to Revelation from what is the product of error or human interpretation. His study sheds new light on the Holy Scriptures. At the end of a gripping account, he places the Believer before a point of cardinal importance: the continuity of a Revelation emanating from the same God, with modes of expression that differ in the course of time. It leads us to meditate upon those factors which, in our day, should spiritually unite rather than divide-Jews, Christians and Muslims.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a surgeon, Maurice Bucaille has often been in a situation where he was able to examine not only people&#39;s bodies, but their souls. This is how he was struck by the existence of Muslim piety and by aspects of Islam which remain unknown to the vast majority of non-Muslims. In his search for explanations which are otherwise difficult to obtain, he learnt Arabic and studied the Qur&#39;an. In it, he was surprised to find statements on natural phenomena whose meaning can only be understood through modern scientific knowledge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He then turned to the question of the authenticity of the writings that constitute the Holy Scriptures of the monotheistic religions. Finally, in the case of the Bible, he proceeded to a confrontation between these writings and scientific data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The results of his research into the Judeo-Christian Revelation and the Qur&#39;an are set out in this book.</description><link>http://indonesia-modern.blogspot.com/2009/01/ebook-bibel-qur-sains-modern_19.html</link><author>noreply@blogger.com (tata cakep)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8720550053706566135.post-5899736585077588689</guid><pubDate>Tue, 20 Jan 2009 03:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-19T20:00:39.444-08:00</atom:updated><title>Ebook   BIBEL, QUR-AN, &amp; SAINS MODERN</title><description>In his objective study of the texts, Maurice Bucaille clears away many preconceived ideas about the Old Testament, the Gospels and the Qur&#39;an. He tries, in this collection of Writings, to separate what belongs to Revelation from what is the product of error or human interpretation. His study sheds new light on the Holy Scriptures. At the end of a gripping account, he places the Believer before a point of cardinal importance: the continuity of a Revelation emanating from the same God, with modes of expression that differ in the course of time. It leads us to meditate upon those factors which, in our day, should spiritually unite rather than divide-Jews, Christians and Muslims.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a surgeon, Maurice Bucaille has often been in a situation where he was able to examine not only people&#39;s bodies, but their souls. This is how he was struck by the existence of Muslim piety and by aspects of Islam which remain unknown to the vast majority of non-Muslims. In his search for explanations which are otherwise difficult to obtain, he learnt Arabic and studied the Qur&#39;an. In it, he was surprised to find statements on natural phenomena whose meaning can only be understood through modern scientific knowledge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He then turned to the question of the authenticity of the writings that constitute the Holy Scriptures of the monotheistic religions. Finally, in the case of the Bible, he proceeded to a confrontation between these writings and scientific data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The results of his research into the Judeo-Christian Revelation and the Qur&#39;an are set out in this book.</description><link>http://indonesia-modern.blogspot.com/2009/01/ebook-bibel-qur-sains-modern.html</link><author>noreply@blogger.com (tata cakep)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8720550053706566135.post-4426934845654777818</guid><pubDate>Tue, 20 Jan 2009 03:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-19T19:55:36.190-08:00</atom:updated><title>Review of Stephen Barr&#39;s Modern Physics and Ancient Faith</title><description>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;     Scientific materialism has had the upper hand against religion for about two centuries.  It&#39;s always had critics, and now has a very able one in Stephen Barr, author of Modern Physics and Ancient Faith.   Combining an in-depth knowledge of physics, mathematics and logic with his careful reading of Biblical texts and interpretations over the centuries, Barr shows that (contrary to popular supposition) it is religion that has the more plausible and coherent understanding of the universe, life, and mankind.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Barr&#39;s balanced and accessible book looks closely at the debate over what it means to know something.  His central thesis is that the scientific materialists have got it all wrong, and their viewpoint is incoherent. Initially, they based their attacks on a misunderstanding of Judeo-Christian religion, and then formulated &quot;facts&quot; that were really just beliefs of a different kind.  By the end of the 19th century, most scientists presumed the universe to be totally deterministic, which gave scientific materialism its dominance.  However, 20th-century science has swept away the most basic premises underlying that viewpoint.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Barr first presents the arguments of the scientific materialists, and points out where there is merit in their position.  He concedes that absolute proof is lacking on both sides, and asserts that the contest is for credibility and plausibility.  He concludes that religious faith presents the most complete picture, and that scientific materialism ends up denying the validity of its own methodology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Modern Physics and Ancient Faith is arranged in five parts:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. The Conflict between Religion and Materialism &lt;br /&gt;2. In the Beginning &lt;br /&gt;3. Is the Universe Designed? &lt;br /&gt;4. Man&#39;s Place in the Cosmos &lt;br /&gt;5. What is Man?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Part 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    The history of the antagonism between science and religion is sketched here.  Early on, science saw itself as the debunker of religious superstition, and by the end of the 19th century, determinism seemed very convincing.  Then came five &quot;plot twists&quot;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Relativity and the Big Bang supported the idea of a beginning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    New physics theories came along that stressed the beauty and symmetry of equations, perhaps taking physics into higher dimensions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Anthropic Coincidences were found.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    There are realities not made of matter; and materialism is inconsistent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Because of quantum mechanics, determinism is out and free will is restored.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Each of these &quot;plot twists&quot; undercut an oversimplified materialist assumption.  Barr walks carefully through the arguments favoring materialism, and shows that the core belief of materialism amounts to &quot;Materialism is true because materialism must be true.&quot;  He ends part 1 with a very clear statement of purpose:  &quot;I am claiming that on the critical points recent discoveries have begun to confound the materialist&#39;s expectations and confirm those of the believer in God.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Part 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    This deals with the beginning of the universe.  Scientific materialism wants the universe to be eternal and have no beginning - it should just always &quot;be.&quot;  Late it the 19th century it might have seemed so, but 20th-century discoveries have shown that there was a beginning.  Barr cites a number of ancient writers, including St. Augustine, who asserted that God created space and time together.  Indeed, God is not just a cause within &quot;time&quot;, but is the continuing cause of everything.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    It is a standard part of anti-religion myth that religion is hostile to science, but it&#39;s not so.  To make this point, Barr quotes from the Psalms and other biblical texts to demonstrate those authors&#39; understanding of God as an engineer.  He also introduces the reader to the notion that symmetry in equations is a form of beauty, which demonstrates a level of sophistication in the design of the universe that had previously escaped attention.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Part 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &quot;Is the universe designed?&quot;  first presents the Argument from Design for the existence of God, and then presents various attacks upon that argument -- the most familiar being natural selection.  Barr carefully follows where this line of thinking leads, and concludes &quot;How ironic that, having renounced belief in God because God is not material or observable by sense or instrument, the atheist may be driven to postulate not one but an infinitude of unobservables in the material world itself!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Barr provides an exceptionally clear presentation of the way symmetry principles are so important in contemporary physics.  He leads his reader through the changes in physics-theory that took place during the 20th century; the phrase &quot;we took something for granted&quot; stands out.  He uses a very relatable example of marbles to convey several concepts, including free energy; the mathematical concept of a group is likewise presented very clearly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Continuing about symmetry in the laws of nature, Barr presents several examples of symmetry, often hidden, such as the Golden Ratio.  On page 100 he explains SU(3) symmetry with great clarity.  He briefly mentions superstring theory and M-theory, and emphasizes that these very modern developments are based entirely on symmetry, motivated by physicists&#39; strong belief in symmetry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Incidentally, chapters 11 and 12 can even be of enormous help to students striving to learn physics.  Nowhere has this reviewer seen important concepts about symmetry in physics presented as well.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subsequently, Barr directly confronts materialist assertions about natural selection and chance by distinguishing between &quot;symmetric structure&quot; and &quot;organic structure.&quot;  Even if Darwinian chance and natural selection explain the observed organic structure, it can&#39;t explain away the symmetric structure of physics.  Barr says that he will accept natural selection for biology, rather than argue the point.  Evolution happened, but it doesn&#39;t explain everything in biology (such as the Cambrian Explosion.)  He insists that we should keep an open mind about how evolution happened.  To address the &quot;blind watchmaker&quot; argument, Barr points out that the factory that cranks out watches needs explaining!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Barr&#39;s main point running through chapters 11, 12, and 13 is that the symmetry and order that you can see is based on a deeper and more profound symmetry.  Further, it is that pattern which points to a designer.  Barr avoids the term &quot;intelligent design,&quot; (probably because it comes with so much baggage these days), but there is no question that he finds design in the universe at a very profound level.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Part 4:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Man&#39;s Place in the Cosmos&quot; begins (chapter 14) with a brief summary of the materialists&#39; expectations:  &quot;This idea of the progressive &#39;dethronement&#39; or marginalization of man by scientific discovery is perhaps the central claim of scientific materialists.  It lies at the core of their view of reality. The question is whether it is justified by a dispassionate examination of the scientific data, or is based on their own philosophical preconceptions.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eleven examples of Anthropic Coincidences are given in chapter 15, although Barr invites the reader to skip over some where the physics might appear foreboding.  Again, his writing style and ability to communicate ideas makes this material more accessible than some other writers.  His explanation of the &quot;three-alpha&quot; resonance is very clear and does not suffer from oversimplification.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Chapter 16 deals with objections that have been raised against giving significance to these Anthropic Coincidences.  The objections are rooted in the desire to avoid falling back into &quot;Teleology&quot; - attributing a purpose to everything -- which delayed the progress of science long ago.  There is widespread confidence that there will be a scientific explanation of all these coincidences somewhere, someday.  Barr goes through each major objection and examines it carefully, never asking for absolute proof, but rather asking what is the most plausible conclusion to draw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    The alternative conclusions that can be drawn from the Anthropic Coincidences are stated in chapter 17:  a) they are total coincidences, nothing more; b) there is a purely natural scientific explanation; c) they show that we were &quot;built in from the beginning.&quot;  The Weak Anthropic Principle says it&#39;s just dumb luck that our planet is habitable, and we are here to observe it all.  This leads to the hypothesis that there must be a &quot;multiverse,&quot; and Barr follows down that path of reasoning.  His close scrutiny brings us to this conclusion about the multiverse: &quot;It seems that to abolish one unobservable God, it takes an infinite number of unobservable substitutes.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    The question &quot;Why is the universe so big?&quot; is the subject of chapter 18, and here we are back into physics again.  It takes 1.5 billion years for life to evolve, and in all that time the universe has been expanding, which is why it is so big by now. With exceptional clarity, Barr argues that man is the &quot;right size&quot; at the geometric mean between {the size of the planet} and {the size of an atom}.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Part 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    The final part of the book, &quot;What is Man?&quot; is the place where all the pieces come together.  Chapter 19 contrasts the religious view and the materialist view, presents the materialist arguments fairly, and on p. 174 states the real issue: can intelligence and free will be understood in purely physical and mechanical terms?    The rest of the book is devoted to &quot;two ... discoveries, one in physics and one in mathematics, that seem very much to strengthen the case against the materialist view of this question and to weaken the case against the religious view.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Free Will is the subject of chapter 20, and it explains how quantum mechanics and indeterminacy provide an opening for free will to act.   There is no incompatibility with free will in the human brain.  There really are ways in which the things we know intuitively are correct perceptions - if you&#39;re too skeptical, there will be nothing you believe in at all.  Barr looks at the materialists&#39; explanation that free will is an illusion, and concludes that the materialist denies too much - even his own freedom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Chapter 21 looks at intelligence and reason, and discusses how humans can think abstractly.  Barr uses the number pi in several examples to illustrate that it is possible to have certainty.  The notion that &quot;it&#39;s all just neurons firing&quot; is inadequate and circular reasoning.  The question &quot;what is the intellect made of?&quot; may not be a coherent question, because the intellect might not be material at all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The question &quot;Is the human mind just a computer?&quot; is posed in chapter 22. Barr answers &quot;No.&quot;  He presents the Lucas-Penrose argument, which deals with logic - as contrasted to mathematics - and relies on Godel&#39;s Theorem.  For most people, these concepts invoke a glaze-over effect, but in this book the reader will find a clear explanation of some very important concepts:  the distinction between consistent and inconsistent formal systems is used to show that consistent systems contain propositions that are undecidable within that system. To decide, you must go outside the system.  A human can show that a statement is true, but the computer can&#39;t prove it.  A key distinction is that humans are fallible but not inconsistent.  An associated Appendix C presents the argument in greater depth.  This reviewer (a physicist) found chapter 22 to be the most difficult in the book, but well worth the extra effort required.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chapter 23 goes on to examine what the human mind has that computers lack. Barr uses the example of a person looking at a maze from above, seeing all that someone inside the 2-dimensional maze cannot see; this is reminiscent of Flatland.  The human mind goes beyond the formal rules and gains insight into the rules themselves.  The essence of understanding is to grasp the simplest unifying principle of something.  By contrast, materialists fail to do so, and they presume atheism and then dismiss facts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Next, Barr shows that the human mind cannot be reduced to physics.  Quantum theory is incompatible with materialism.  In quantum theory, you start with probabilities, but these turn into facts via measurements.  There has to be an observer - a link between mind and matter.  Thus, you want to describe both the observer and what he observes; but you can&#39;t do so, because the observer cannot be totally described by physics.  The observer is definite and real, not described by a wave function Psi and probability Psi Squared. Measurement is the key concept of this chapter.  A change in the wave function Psi represents a change in our knowledge of the system.  The observer must be outside the system of quantum theory.  The observer&#39;s mind is the place where the decision is made that one state actually did occur - that is where probability is changed into fact.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatives to traditional quantum theory are the subject of chapter 25. Here Barr is being polite and inclusive by describing theories he himself doesn&#39;t believe in - the favorite theories of people who don&#39;t like quantum theory.  The &quot;many worlds&quot; theory is consistent with quantum theory, but you must pay a high price:  zillions of &quot;yourself&quot; of which you have no cognizance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In a final chapter, Barr assembles the many threads of argument that dismantle scientific materialism.  He writes &quot;To bring all the mental processes of a reasoning being within some finished mathematical description proves to be impossible.&quot;  and &quot;The materialist seems to be forced to assert of himself not only that he is a machine, which for most people is absurd enough, but that he is really an infinite number of inconsistent machines ....&quot;  The basic supposition of materialism is that everything is reducible to laws and equations - to understand something rationally is the same thing as to understand it through laws and equations and quantities. Barr asks rhetorically &quot;But what gives us the right to expect that all of reality is reducible to such mathematical treatment?  How often are the questions we ask in life answerable by equations? ... Is all of wisdom, all of morality, all of beauty, all of understanding a matter of numbers and laws?&quot;  He closes by stating clearly that the argument for materialism is completely circular, of the form &quot;materialism is true because materialism is true.&quot; That&#39;s not good enough.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Summary::&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The central accomplishment of Modern Physics and Ancient Faith is to show that the deterministic and materialistic viewpoint that dominated science at the end of the 19th century has been completely swept away by the science of the 20th century.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Two major assets of this book are the clarity of writing style and the coherent organization of the sequence of topics.  From the historical perspective given in chapter 1 to the detailed logical reasoning of appendix C, Barr gently leads the reader upward at a comfortable pace, avoiding the tendency to leap into the domain of specialists.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When someone studies and understands a field in depth, they also understand its limits.  Stephen Barr, equipped with an exceptionally thorough knowledge of physics and mathematics, is able to see the limits of physics, and sees the flaw in &quot;the idea that all of reality is nothing but physics.&quot;  A lot of people well-schooled in philosophy and theology (but not in science) cannot do that, and hence have been intimidated by the assertions of materialists. Consequently, for 100 years they have regarded science as their enemy.  With this book, religiously-inclined thinkers have received a gift from within the field of physics - a gift that says &quot;Materialism is a false god; we&#39;re back to square one.  You certainly can have something to say, and need not retreat from the playing field.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    On rare occasions, a book comes along that considers seriously what it means to actually know something; the books Insight by Bernard J.F. Lonergan and  Personal Knowledge by Michael Polanyi come to mind.  Stephen Barr thus joins a very elite company by looking so closely at the concept of knowledge, and its association with the mind/brain problem.  Despite the considerable &quot;physics&quot; content of Modern Physics and Ancient Faith, Barr&#39;s skill at writing and explaining concepts makes this book a pleasure to read. It is accessible to the diligent first-year college student who cares enough to think about the question &quot;What is Man?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who should read this book?  All those who want to see what is wrong with scientific materialism.  The prerequisite is not to have advanced knowledge of physics, math, and logic.  Rather, it is to bring an open mind and a willingness to re-examine notions that were too easily taken for granted. Basically, that is exactly what 20th-century science did to 19th-century science.  In the 21st century, we would like to see religion and science move forward together as partners; Modern Physics and Ancient Faith provides a very solid foundation from which to begin that progress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://indonesia-modern.blogspot.com/2009/01/review-of-stephen-barrs-modern-physics.html</link><author>noreply@blogger.com (tata cakep)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>