<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2870268717355237523</id><updated>2024-12-23T14:23:40.370+07:00</updated><category term="kehutanan"/><category term="hutan"/><category term="kelompok"/><category term="kelompok tani"/><category term="motivasi"/><category term="pelatihan"/><category term="pendidikan"/><title type='text'>HUMA SILVA</title><subtitle type='html'>kehutanan,pendidikan,pelatihan,komunikasi,penyuluhan,motivasi,terkait</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://humasilva.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2870268717355237523/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://humasilva.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Huma Silva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02815814579789163486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2870268717355237523.post-5203594994764023526</id><published>2013-12-10T13:22:00.001+07:00</published><updated>2013-12-10T14:37:46.060+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="hutan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kelompok"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kelompok tani"/><title type='text'>KEBERLANJUTAN KELOMPOK TANI HUTAN</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; mso-outline-level: 2; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #20124d;&quot;&gt;A. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; mso-outline-level: 3; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pada saat ini, peran serta
masyarakat di dalam pengelolaan hutan terus di dorong dan di tingkatkan. Hal
ini terlihat nyata dari upaya Kementerian Kehutanan untuk meningkatkan kapasitas
dan melibatkan kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan hutan melalui program
rehabilitasi hutan. Kelembagaan yang dimaksud adalah kelembagaan masyarakat
yang berbentuk kelompok tani hutan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; mso-outline-level: 3; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keberadaan sebuah kelompok tani tidak
terlepas dari lingkungan yang mempengaruhi kelompok tersebut. Demikian juga
keberadaan kelompok tani hutan tidak dapat dilepaskan dari kelestarian hutan
yang dikelolanya melalui program rehabilitasi dan reklamasi hutan. Program
rehabilitasi dan reklamasi hutan merupakan upaya untuk memulihkan,
mempertahankan dan meningkatkan daya dukung, &amp;nbsp;produktivitas,&amp;nbsp;
peran dan fungsi hutan dalam mendukung sistem penyangga kehidupan secara
berkelanjutan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; mso-outline-level: 3; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagai bagian dari pengelolaan
hutan secara lestari, program rehabilitasi hutan tidak akan berjalan dengan
baik tanpa didukung oleh kelembagaan petani hutan yang dikelola secara
berkelanjutan. Oleh karena itu, kelompok tani hutan harus mampu mengelola
dirinya sendiri dan menjaga eksistensinya agar dapat mengelola hutan secara
lestari. Menggunakan pendekatan dinamika kelompok, tulisan ini berupaya menawarkan
konsep keberlanjutan kelompok tani hutan dan indikator-indikator yang digunakan
untuk mengukur tingkat keberlanjutan kelompok tani hutan.&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; mso-outline-level: 3;&quot;&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #20124d;&quot;&gt;B. Dinamika kelompok.&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di kalangan para ahli, kelompok memiliki pengertian yang
bermacam-macam ber-gantung pada siapa dan dari disiplin ilmu apa. Keragaman
pengertian kelompok dapat dilihat pada definisi kelompok yang disampaikan oleh
para ahli berikut ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Beberapa ahli memandang kelompok sebagai hubungan dua
orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama (Mills dalam Johnson and
Johnson, 2000; Shaw, 1981). Kelompok juga diartikan sebagai interdepensi antar
individu (Fiedler; Lewin dalam Johnson and Johnson, 2000). Hare, Boner dan
Bales (dalam Johnson and Johnson, 2000) memandang kelompok sebagai sebuah
interaksi dua orang atau lebih. Pengertian yang lebih komprehensif dikemukakan
oleh Paulus (dalam Baron and Byrne, 1997), kelompok merupakan interaksi dua
orang atau lebih yang memiliki tujuan bersama, memiliki hubungan yang tetap
(stabil), saling-tergantung dan mereka merasa menjadi bagian dari kelompok.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sekumpulan orang dapat dikatakan sebagai sebuah kelompok
jika para anggota kelompok saling berinteraksi; memiliki kesaling-tergantungan
dalam arti apa yang dialami oleh salah satu anggota akan mempengaruhi anggota
yang lain. Disamping itu, sekumpulan orang tersebut harus memiliki tujuan yang
akan dicapai bersama; interaksi yang dilakukan harus terstruktur dan
orang-orang yang menjadi anggota kelompok harus menyadari bahwa mereka
merupakan bagian dari kelompok. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Lebih jauh lagi, sekumpulan orang dapat dianggap sebagai
sebuah kelompok jika memenuhi persyaratan tertentu. Menurut Soekanto (1987),
persyaratan tersebut meliputi: 1) kesadaran sebagai bagian dari kelompok; 2)
hubungan timbal balik diantara anggota; 3) kepemilikan bersama; 4) berstruktur,
berkaidah dan berpola-perilaku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebuah kelompok dapat mempengaruhi pola perilaku anggotanya
melalui proses konformitas, persuasi dan ketertarikan. Proses-proses ini
dipengaruhi oleh empat aspek kelompok yaitu peran, status, norma dan
kohesivitas (Baron and Byrne, 1997). Peran, status, norma dan kohesivitas berpengaruh
terhadap komformitas seseorang di dalam sebuah kelompok. Komformitas tersebut
selanjutnya akan menciptakan perilaku kolektif kelompok (Baron and Byrne,
1997). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Proses pembentukan perilaku kolektif kelompok dalam upaya
mencapai tujuan kelompok dikenal dengan istilah dinamika kelompok. Tujuan
bersama yang ingin dicapai tersebut akan memunculkan suatu tingkat dinamika
kelompok. Johnson and Johnson (2000) mendefinisikan dinamika kelompok sebagai
kajian ilmiah tentang perilaku dalam kelompok untuk meningkatkan pengetahuan
tentang asal-usul kelompok, perkembangan kelompok, interrelasi antara kelompok
dengan invidu, antara kelompok dengan kelompok lain dan dengan entitas yang
lebih luas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dinamika kelompok ditinjau dari istilah mengandung arti
kelompok yang selalu memiliki gairah dan semangat untuk bekerja. Dinamika juga
mengandung arti adanya interaksi, saling mempengaruhi dan interdependensi
antara anggota kelompok satu sama lain secara timbal balik diantara anggota
kelompok dengan kelompok secara keseluruhan. Dinamika kelompok bertujuan untuk:
meningkatkan proses interaksi antara anggota kelompok,&amp;nbsp; meningkatkan produktivitas anggota kelompok,
mengembangkan kelompok ke arah yang lebih baik, lebih maju dan meningkatkan
kesejahteraan hidup anggotanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; mso-outline-level: 3;&quot;&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;span style=&quot;color: #20124d;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;C. Keberlanjutan &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;kelompok tani hutan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Program rehabilitasi hutan sebagai
bagian dari pengelolaan hutan dilaksanakan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat terutama petani hutan dan menjaga kelestarian hutan. Oleh karena
itu, program rehabilitasi hutan harus dilaksanakan secara bersama-sama,
terprogram dan berkesinambungan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Untuk mendukung pelaksanaan program
tersebut diperlukan dukungan dan partisipasi masyarakat melalui pembentukan
kelembagaan masyarakat yang berbentuk kelompok tani hutan. Kelompok tani hutan diartikan
sebagai kumpulan individu petani di dalam suatu organisasi yang tumbuh
berdasarkan kebersamaan, kesamaan kepentingan dalam memanfaatkan sumber daya
alam secara berkelanjutan dan keinginan untuk bekerjasama dalam rangka
pengembangan usaha bidang kehutanan untuk kesejahteraan anggotanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Terbentuknya kelompok tani hutan
tersebut memudahkan dalam menyampaikan program dan tujuan rehabilitasi hutan.
Kelompok tani hutan yang telah dibentuk dapat dijadikan sebagai wahana belajar
dan kerjasama dalam rangka mencapai tujuan. Proses belajar dan bekerjasama di
dalam kelompok tani hutan akan meningkatkan kedinamikaan kelompok dapat menjaga
kelangusngan hidup kelompok tani hutan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keberlanjutan kelompok tani hutan
diartikan sebagai sebuah dinamika untuk menjaga kelangsungan hidup kelompok
tani hutan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan anggota melalui program
rehabilitasi hutan. Keberlanjutan kelompok tani hutan akan tetap terjaga selama
anggota kelompok memiliki keinginan tetap berada di dalam (menjadi anggota)
kelompok tani hutan sebagai wadah untuk mencapai tujuan bersama. Keinginan
anggota untuk tetap berada di dalam kelompok dapat dilihat dari tingkat
kohesivitas anggota kelompok, komitmen anggota, interdependensi positif&amp;nbsp; dan program kerja yang disusun secara
bersama-sama. Keempat hal tersebut merupakan indikator keberlanjutan kelompok
tani hutan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; mso-outline-level: 4;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;1.
Kohesivitas anggota kelompok&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kohesivitas anggota kelompok
merupakan jumlah dari kekuatan yang menarik anggota kelompok dan menjaga
kebersamaan kelompok (Spector, 2006); kemampuan kelompok untuk menjaga anggota
tetap di dalam kelompok karena daya tarik kelompok tersebut (Umstot, 1988);
keinginan untuk tetap menjadi bagian dari kelompok (Greenberg and Baron , 2003).
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, kohesivitas kelompok dapat dipandang
sebagai keinginan anggota kelompok untuk tetap berada di dalam kelompok karena
adanya daya tarik kelompok.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Daya tarik (valensi) suatu obyek
atau kegiatan merupakan fungsi dari kebutuhan seseorang dan sifat yang melekat
kepada obyek tersebut (Cartwright and Zander, 1962). Ketertarikan seseorang
untuk bergabung dengan sebuah kelompok muncul karena adanya daya tarik yang
dimiliki orang-orang yang menjadi anggota, kegiatan dan program yang dimiliki
oleh kelompok. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kelompok yang memiliki kesamaan latar
belakang, sikap dan kepentingan akan memiliki kohesivitas yang lebih tinggi
daripada kelompok yang tidak memiliki latar belakang, sikap dan kepentingan
yang sama. Kohesivitas kelompok dapat digunakan untuk menjaga kelangsungan
hidup kelompok karena adanya keinginan anggota untuk tetap berada dalam kelompok
dan menjaga kebersamaan dalam kelompok karena adanya daya tarik kelompok
tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kohesivitas angota kelompok akan
mendorong anggota untuk melaksanakan kegiatan atau program kerja kelompok tani
hutan. Rasa kebersamaan yang ada di dalam kelompok akan memotivasi anggota
untuk melaksanakan kesepakatan yang telah disusun dalam rangka melaksanakan
kegiatan dan program kerja kelompok. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; mso-outline-level: 4;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;2.
Komitmen anggota&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Komitmen dapat dimaknai sebagai
keinginan, kesediaan atau janji untuk melakukan sesuatu. Jika kelompok
dipandang sebagai sebuah organisasi, maka komitmen anggota dapat dipandang
sebagai sebuah komitmen organisasi. Komitmen organisasi berkaitan dengan
tingkat keterlibatan seseorang di dalam organisasi dan tingkat ketertarikan
untuk tetap berada di dalamnya (Greenberg and Baron, 2003). Meyer, Allan and
Smith mengembangkan tiga tipe komitmen, yaitu komitmen berkesinambungan (&lt;i&gt;continuance commitment&lt;/i&gt;), komitmen
afektif (&lt;i&gt;affective commitment&lt;/i&gt;) dan
komitmen normatif (&lt;i&gt;normative commitment&lt;/i&gt;)
(Spector, 2006 238). Ketiga komitmen tersebut jika digambarkan akan terlihat sebagaimana
tersaji pada Gambar 1. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;v:shapetype coordsize=&quot;21600,21600&quot; filled=&quot;f&quot; id=&quot;_x0000_t75&quot; o:preferrelative=&quot;t&quot; o:spt=&quot;75&quot; path=&quot;m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe&quot; stroked=&quot;f&quot;&gt;
 &lt;v:stroke joinstyle=&quot;miter&quot;&gt;
 &lt;v:formulas&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;if lineDrawn pixelLineWidth 0&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;sum @0 1 0&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;sum 0 0 @1&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @2 1 2&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @3 21600 pixelWidth&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @3 21600 pixelHeight&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;sum @0 0 1&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @6 1 2&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @7 21600 pixelWidth&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;sum @8 21600 0&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @7 21600 pixelHeight&quot;&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;sum @10 21600 0&quot;&gt;
 &lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:formulas&gt;
 &lt;v:path gradientshapeok=&quot;t&quot; o:connecttype=&quot;rect&quot; o:extrusionok=&quot;f&quot;&gt;
 &lt;o:lock aspectratio=&quot;t&quot; v:ext=&quot;edit&quot;&gt;
&lt;/o:lock&gt;&lt;/v:path&gt;&lt;/v:stroke&gt;&lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape alt=&quot;komitmencolor2&quot; id=&quot;Picture_x0020_1&quot; o:spid=&quot;_x0000_i1025&quot; style=&quot;height: 2in; mso-wrap-style: square; visibility: visible; width: 138.75pt;&quot; type=&quot;#_x0000_t75&quot;&gt;
 &lt;v:imagedata blacklevel=&quot;-3932f&quot; cropbottom=&quot;6800f&quot; cropleft=&quot;4647f&quot; cropright=&quot;4401f&quot; gain=&quot;79922f&quot; o:title=&quot;komitmencolor2&quot; src=&quot;file:///C:\Users\fiasti\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.jpg&quot;&gt;
&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPtqf1s2SdLbZHBUf8e73DEy_YAXGpHL-8ImljfZbQImTyl2bXHV8SrY2SlVvWzaom9SWr2sg2jyYHg-WdbA3840IAWEMwuQRwNdHj08j3sfaj4tKNNEbqBhJ5VG8wxFDOXDGuFy76bbgu/s1600/komitmencolor2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPtqf1s2SdLbZHBUf8e73DEy_YAXGpHL-8ImljfZbQImTyl2bXHV8SrY2SlVvWzaom9SWr2sg2jyYHg-WdbA3840IAWEMwuQRwNdHj08j3sfaj4tKNNEbqBhJ5VG8wxFDOXDGuFy76bbgu/s1600/komitmencolor2.jpg&quot; height=&quot;200&quot; width=&quot;199&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 11.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Gambar 1. Komponen komitmen organisasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 12.0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Komitmen
berkesinambungan (&lt;i&gt;continuance commitment&lt;/i&gt;)
adalah kuatnya keinginan seseorang untuk tetap bekerja bagi organisasinya
karena sudah merupakan kewajibannya dan jika ditinggalkan akan mengkibatkan
kerugian (Greenberg and Baron, 2003). Komitmen ini muncul karena adanya keuntungan
yang diperoleh dari kelompok. Banyak orang tidak bersedia untuk keluar dari sebuah
kelompok karena tidak ingin mendapatkan kerugian &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Komitmen kedua adalah komitmen
afektif (&lt;i&gt;affective commitment&lt;/i&gt;), yaitu
kesediaan seseorang untuk bekerja bagi organisasi karena setuju dengan tujuan
dan nilai-nilai yang mendasari organisasi tersebut (Greenberg and Baron, 2003).
Keberadaan komitmen ini akan memberikan dukungan bagi tercapai tujuan kelompok.
Komitmen afektif juga akan menum-buhkan loyalitas anggota terhadap kelompok.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Terakhir adalah komitmen normatif (&lt;i&gt;normative commitment&lt;/i&gt;), yaitu kesediaan
sese-orang untuk bekerja bagi organisasi karena adanya desakan dari orang lain
untuk tetap ber-ada dalam organisasi (Greenberg and Baron, 2003). Komitmen
normatif muncul karena adanya keyakinan terhadap nilai-nilai kelompok yang
harus dipedomani. Komitmen ini menimbulkan perasaan berkewajiban bagi anggota
untuk tetap berada dan bekerja bagi kelompok. Anggota kelompok dengan komitmen
normatif yang kuat memiliki perhatian terhadap apa yang akan dikatakan orang
lain jika ia meninggalkan kelompok. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Komitmen orgaisasi dapat memberikan
keyakinan kepada anggota kelompok untuk tetap berada di dalam kelompok karena
adanya keuntungan yang diperolehnya. Disamping itu, komitmen organisasi akan
menumbuhkan dukungan terhadap pencapaian tujuan kelompok yang diwujudkan dengan
upaya bekerja keras guna mencapai tujuan kelompok. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; mso-outline-level: 4; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Komitmen
anggota akan mendorong anggota kelompok untuk bekerja sesuai dengan status dan
peran di dalam kelompok. Kesediaan anggota untuk bekerja bagi kelompok disebabkan
adanya keyakinan bahwa nilai-nilai, norma dan aturan kelompok akan membawa
anggota pencapaian tujuan kelompok untuk mensejahterakan anggota. Disamping
itu, anggota kelompok merasa berkewajiban untuk bekerja dalam rangka mencapai
tujuan kelompok.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; mso-outline-level: 4;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;3.
Interdependensi positif. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Seseorang akan berusaha dengan sekuat
tenaga untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Usaha yang dilakukan dalam rangka
mencapai tujuan tersebut dapat dilakukan melalui kerjasama atau kompetisi dengan
orang lain. Usaha mencapai tujuan melalui kerjasama ataupun kompetisi merupakan
bahasan dari teori interdepensi sosial. Kurt Lewin (dalam Johnson and Johnson,
2000) menyatakan bahwa:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; margin-left: 26.95pt; margin-right: 27.8pt; margin-top: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;(1) hakekat dari sebuah kelompok adalah kesaling-tergantungan/interdependensi
anggota (yang tercipta karena tujuan bersama) yang meng-hasilkan dinamika
kelompok sehingga perubahan keadaan pada setiap anggota atau sub kelompok akan
mengubah keadaan anggota atau sub kelompok lainnya, (2) ketegangan intrinsik
diantara anggota kelompok memberikan dorongan untuk bergerak menuju pencapaian
tujuan bersama yang diinginkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 12.0pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Interdependensi
sosial muncul ketika sekelompok orang memiliki tujuan bersama dan setiap hasil
perorangan mempengaruhi tindakan orang lain. Terdapat dua jenis inter-dependensi
sosial: kooperatif dan kompetitif. Teori interdependensi menyatakan bahwa tindakan
seseorang akan memberikan dampak bagi orang dalam tiga kemungkinan, yaitu memberikan
keberhasilan bagi orang lain, menghalangi keberhasilan orang lain, tidak
berdampak sama sekali terhadap keberhasilan atau kegagalan orang lain.&amp;nbsp; Premis dasar dari teori interdependensi
sosial adalah bahwa interdependensi&amp;nbsp; yang
memberi warna pada suatu keadaan menentukan pola interaksi masing-masing orang,
selanjutnya akan mempengaruhi hasil yang diperoleh (lihat Tabel 1). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoCaption&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://draft.blogger.com/blogger.g?blogID=2870268717355237523&quot; name=&quot;_Toc270621480&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href=&quot;https://draft.blogger.com/blogger.g?blogID=2870268717355237523&quot; name=&quot;_Toc268899881&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;Tabel &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[if supportFields]&gt;&lt;span
style=&#39;mso-bookmark:_Toc268899881&#39;&gt;&lt;span style=&#39;mso-bookmark:_Toc270621480&#39;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span
style=&#39;mso-element:field-begin&#39;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&#39;mso-bookmark:_Toc268899881&#39;&gt;&lt;span
style=&#39;mso-bookmark:_Toc270621480&#39;&gt;&lt;span lang=IN style=&#39;font-size:12.0pt;
font-weight:normal;mso-bidi-font-weight:bold&#39;&gt;&lt;span
style=&#39;mso-spacerun:yes&#39;&gt; &lt;/span&gt;SEQ Tabel \* ARABIC &lt;span style=&#39;mso-element:
field-separator&#39;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;1&lt;/span&gt;&lt;!--[if supportFields]&gt;&lt;span
style=&#39;mso-bookmark:_Toc268899881&#39;&gt;&lt;span style=&#39;mso-bookmark:_Toc270621480&#39;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span
style=&#39;mso-element:field-end&#39;&gt;&lt;/span&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;. Jenis-jenis
interdependensi sosial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table border=&quot;1&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;MsoNormalTable&quot; style=&quot;border-collapse: collapse; border: none; margin-left: 5.4pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-insideh: .5pt solid windowtext; mso-border-insidev: .5pt solid windowtext; mso-padding-alt: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-yfti-tbllook: 480; width: 531px;&quot;&gt;
 &lt;thead&gt;
&lt;tr&gt;
   &lt;td style=&quot;background: silver; border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: none; border-top: solid windowtext 1.0pt; mso-border-bottom-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 74.15pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;99&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Proses&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
   
   &lt;td style=&quot;background: silver; border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: none; border-top: solid windowtext 1.0pt; mso-border-bottom-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Kooperatif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
   
   &lt;td style=&quot;background: silver; border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: none; border-top: solid windowtext 1.0pt; mso-border-bottom-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Kompetitif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
   
   &lt;td style=&quot;background: silver; border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: none; border-top: solid windowtext 1.0pt; mso-border-bottom-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Individualis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
   
  &lt;/tr&gt;
&lt;/thead&gt;
 &lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style=&quot;border: none; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 74.15pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;99&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Interdependensi
  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
  &lt;td style=&quot;border: none; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Positif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
  &lt;td style=&quot;border: none; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Negatif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
  &lt;td style=&quot;border: none; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Tidak
  Ada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style=&quot;border: none; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 74.15pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;99&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Pola
  Interaksi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
  &lt;td style=&quot;border: none; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Promotif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
  &lt;td style=&quot;border: none; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Berlawanan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
  &lt;td style=&quot;border: none; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Tidak
  Ada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style=&quot;border: none; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 74.15pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;99&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Hasil
  1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
  &lt;td style=&quot;border: none; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Usaha-usaha
  untuk mencapai tujuan tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
  &lt;td style=&quot;border: none; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Usaha-usaha
  untuk mencapai tujuan rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
  &lt;td style=&quot;border: none; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Usaha-usaha
  untuk mencapai tujuan rendah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style=&quot;border: none; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 74.15pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;99&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Hasil
  2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
  &lt;td style=&quot;border: none; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Hubungan
  positif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
  &lt;td style=&quot;border: none; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Hubungan
  negatif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
  &lt;td style=&quot;border: none; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Tidak
  ada hubungan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
 &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border: none; mso-border-bottom-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 74.15pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;99&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Hasil
  3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border: none; mso-border-bottom-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Kesehatan
  psikologis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border: none; mso-border-bottom-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Penderitaan
  psikologis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border: none; mso-border-bottom-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 3.0pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Patologi
  psikologis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;
  
 &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 11.0pt;&quot;&gt;Sumber:
Johson and Johson (2000: 101)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Interdependensi
positif menghasilkan pola hubungan yang promotif. Pola hubungan ini akan
mendorong usaha-usaha untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Dukungan yang
diberikan kepada setiap orang dalam kelompok dapat berupa: saling memberi-menerima
bantuan dan asistensi (baik terkait dengan tugas atau pribadi), pertukaran
sumberdaya dan informasi, memberi dan menerima umpan balik atas perilaku tugas
dan kerja tim, membantu meningkatkan usaha-usaha untuk mencapai tujuan dan
saling mempengaruhi pemikiran dan perilaku masing-masing orang (Johnson and
Johnson, 2000).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pola interaksi promotif mendorong
anggota untuk tetap berada dalam kelompok. Anggota kelompok akan merasa lebih
mudah dalam mencapai tujuan karena adanya dukung-an dari anggota yang lain. Bentuk-bentuk
dukungan antar anggota tersebut akan memberikan rasa aman bagi anggota kelompok
tani hutan dan akan merasa rugi/terancam jika keluar dari kelompok. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Interdependesi positif memberikan
rasa aman dalam melaksanakan kegiatan dan program kerja kelompok karena adanya
dukungan dari sesama anggota kelompok. Dukungan dari sesama anggota juga
menumbuhkan pola kerja sama antar anggota untuk menyelesaikan program kerja
kelompok. Adanya interdependensi positif akan menjaga keberlanjutan kelompok
tani hutan dalam pengelolaan hutan secara lestari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; mso-outline-level: 4;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;4.
Program kerja kelompok &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Program kerja kelompok merupakan
serangkaian kegiatan yang direncanakan, disusun dan dilaksanakan oleh sebuah
kelompok. Menurut Mardikanto (1993) perencanaan program yang baik mengacu
kepada perumusan tujuan dan pemecahan masalah yang menjanjikan kepuasan dengan menjaga
keseimbangan dan kejelasan pekerjaan melalui proses yang berkelanjutan dan terkoordinasi
dengan baik serta memberikan kesempatan evaluasi proses dan hasil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Program kerja kelompok tani hutan
yang disusun berdasarkan acuan tersebut akan meningkatkan dinamika kelompok
tani melalui pembagian peran dan pekerjaan yang jelas dalam rangka mencapai
tujuan kelompok. Kejelasan peran dan pekerjaan membuat kelompok tani hutan
menjadi lebih dinamis karena masing-masing anggota akan memberikan kontribusi
sesuai peran dan pekerjaan yang dimilikinya. Dinamika kelompok tani hutan akan
semakin meningkat dengan adanya upaya-upaya dari anggota kelompok untuk
menyempurnakan norma, program kerja dan tujuan kelompok melalui mekanisme
evaluasi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Program kerja kelompok tani hutan
selain memuat rencana kegiatan seharusnya juga memuat rencana usaha produktif
kelompok. Keberadaan usaha produktif kelompok akan meningkatkan kedinamikaan
kelompok karena adanya peningkatan proses interaksi antara anggota kelompok
dalam upaya meningkatkan produktivitas anggota kelompok. Hal ini memberikan
daya tarik bagi anggota kelompok untuk tetap berada di dalam kelompok. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%;&quot;&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #20124d;&quot;&gt;D. Penutup&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tingkat keberlanjutan kelompok tani
hutan dapat digunakan sebagai dasar untuk mengukur kemampuan suatu kelompok
tani hutan dalam dalam mengelola hutan secara lestari. Semakin tinggi tingkat
keberlanjutan kelompok tani hutan semakin tinggi pula kemampuan kelompok
tersebut untuk mengelola hutan secara lestari. Tingkat keberlanjutan kelompok
tani hutan dapat dilihat dari&amp;nbsp; tingkat
kohesivitas anggota, tingkat komitmen anggota kepada kelompok, tingkat
interdependensi positif antar anggota dan program kerja kelompok yang disusun
secara bersama-sama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Program rehabilitasi hutan sebagai
bagian dari pengelolaan hutan secara lestari tidak dapat dilepaskan dari
keberlanjutan kelompok tani hutan yang terlibat dalam program tersebut. Keberlanjutan
kelompok tani hutan dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan kohesivitas
anggota, menumbuhkan komitmen anggota, mendorong pola hubungan promotif antar
anggota dan menciptakan mekanisme penyusunan program kerja yang partisipatif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%;&quot;&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0c343d;&quot;&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 28.05pt; text-indent: -28.05pt;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Baron &amp;amp; Byrne. 1997. &lt;i&gt;Social
Psychology&lt;/i&gt;, 8th edition. Massachuset: Allyn &amp;amp; Bacon A Viacom Company.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 27.0pt; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none; text-indent: -27.0pt;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Cartwright,
Dorwin dan Zander,Alvin.1962. Group Cohesiveness: Introduction &lt;u&gt;in&lt;/u&gt;
Cartwright, D dan Zander, A (Ed). 1962. &lt;i&gt;Group
Dynamics Research and Theory&lt;/i&gt;, Second Edition. Illionis: Row, Peterson and
Company.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 27.0pt; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none; text-indent: -27.0pt;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 27.0pt; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none; text-indent: -27.0pt;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Greenberg,
J. and Baron, R. A. 2003. &lt;i&gt;Behavior in
Organizations, Understanding and Managing the Human Side of Work&lt;/i&gt;, Eight
Edition. New Jersey: Pearson Education, Inc.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 27.0pt; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none; text-indent: -27.0pt;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 27.0pt; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none; text-indent: -27.0pt;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Johnson,
D W and Johnson, F P. 2000. &lt;i&gt;Joining
Together, Group Theory and Group Skill&lt;/i&gt;, Seventh Edition. Boston: Allyn and
Bacon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 1.0cm; text-indent: -1.0cm;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Mardikanto,
T 1993. &lt;i&gt;Penyuluhan Pembangunan Pertanian&lt;/i&gt;. Acuan untuk Pelajar, Mahasiswa, Dosen, Penyuluh, Pekerja Sosial,
Penentu Kebijakan dan Peminat Ilmu/Kegiatan Penyuluhan Pembangunan. Solo:
Sebelas Maret University Press.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 1.0cm; text-indent: -1.0cm;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Shaw,
M. E. 1981. &lt;i&gt;Group Dynamics: The
Psychology of Small Group Behavior&lt;/i&gt;, Third Edition.New York: McGraw-Hill
Book Company.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 1.0cm; text-indent: -1.0cm;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 1.0cm; text-indent: -1.0cm;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Spector,
P. E. 2006. &lt;i&gt;Industrial and Organizational
Psychology, Research and Practice&lt;/i&gt;, Fourth Edition.New Jersey: John Willey
&amp;amp; Sons, Inc.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 1.0cm; text-indent: -1.0cm;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 1.0cm; text-indent: -1.0cm;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Soekanto,
S. 1987. &lt;i&gt;Sosiologi Suatu Pengantar&lt;/i&gt;,
Edisi Baru, Cetakan Ketiga. Jakarta: Rajawali Pers.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 1.0cm; text-indent: -1.0cm;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 1.0cm; text-indent: -1.0cm;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Umstot,
D D. 1988. &lt;i&gt;Understanding Oganizational
Behavior&lt;/i&gt;, SecondEdition. St. Paul: West Publishing Company.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 1.0cm; text-indent: -1.0cm;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 1.0cm; text-indent: -1.0cm;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;

&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://humasilva.blogspot.com/feeds/5203594994764023526/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://humasilva.blogspot.com/2013/12/keberlanjutan-kelompok-tani-hutan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2870268717355237523/posts/default/5203594994764023526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2870268717355237523/posts/default/5203594994764023526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://humasilva.blogspot.com/2013/12/keberlanjutan-kelompok-tani-hutan.html' title='KEBERLANJUTAN KELOMPOK TANI HUTAN'/><author><name>Huma Silva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02815814579789163486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPtqf1s2SdLbZHBUf8e73DEy_YAXGpHL-8ImljfZbQImTyl2bXHV8SrY2SlVvWzaom9SWr2sg2jyYHg-WdbA3840IAWEMwuQRwNdHj08j3sfaj4tKNNEbqBhJ5VG8wxFDOXDGuFy76bbgu/s72-c/komitmencolor2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2870268717355237523.post-187094990090407919</id><published>2009-02-20T14:43:00.026+07:00</published><updated>2013-12-10T14:42:06.547+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kehutanan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pelatihan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pendidikan"/><title type='text'>Identifikasi Kebutuhan Diklat</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3xQPeRmkgp-kcAifa0ReyJfYSBBCrATHnLQKBa1N88IaFmHYCkz0COzkGWD2jCX4Bj7Lrs90gSS94-qx0gq6iy-jadKtd-Q4pNDtjvUZxIRDpVFgLBjnJ2wP-WFbMCUwndaD6ByWhqy7u/s1600-h/pohon.gif&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3xQPeRmkgp-kcAifa0ReyJfYSBBCrATHnLQKBa1N88IaFmHYCkz0COzkGWD2jCX4Bj7Lrs90gSS94-qx0gq6iy-jadKtd-Q4pNDtjvUZxIRDpVFgLBjnJ2wP-WFbMCUwndaD6ByWhqy7u/s200/pohon.gif&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5305904784122214290&quot; style=&quot;cursor: pointer; float: left; height: 95px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 54px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%; font-style: italic;&quot;&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Penyelenggaraan diklat merupakan bagian integral dari pembinaan karir PNS sekaligus dalam rangka peningkatan kualitas sumberdaya manusia kehutanan. Untuk itu perlu perencanaan diklat Kehutanan yang baik. Perencanaan diklat yang baik diawali dengan kegiatan identifikasi kebutuhan diklat (IKD). Sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.20/Menhut-II/2004 menyatakan bahwa perencanaan diklat Kehutanan disusun berdasarkan hasil kegiatan identifikasi kebutuhan diklat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Kegiatan identifikasi kebutuhan diklat diharapkan dapat memberikan gambaran tentang kebutuhan diklat di wilayah pelayanan Balai Diklat Kehutanan Kupang. Pada hakekatnya terdapat 3 kegiatan yang digunakan oleh Balai Diklat Kehutanan Kupang dalam menyusun perencanaan diklat, yaitu : hasil kegiatan Identifikasi Kebutuhan Diklat, hasil kegiatan Rapat Koordinasi Regional dan hasil Kunjungan ke Wilayah Pelayanan. Dari ketiga kegiatan tersebut, kegiatan Identifikasi Kebutuhan Diklat merupakan acuan utama dalam perencanaan diklat di Balai Diklat Kehutanan Kupang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Dengan wilayah pelayanan BDK Kupang yang meliputi Propinsi Bali, NTB dan NTT maka kegiatan IKD memerlukan biaya, waktu dan tenaga yang besar. Untuk itu agar pelaksanaan kegitan IKD dapat berdayaguna dan berhasil guna perlu dicari model pendekatan yang sesuai dengan wilayah pelayanan BDK Kupang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%; font-style: italic;&quot;&gt;Kebutuhan Diklat dan Faktot-faktor yang Mempengaruhi&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Kebutuhan diklat terdiri dari dua suku kata, yaitu kebutuhan dan diklat. Kebutuhan menurut Briggs adalah ketimpangan atau gap antara ”apa yang seharusnya” dengan ”apa yang senyatanya”(Depdagri, 2003). Dalam dunia kerja, kebutuhan juga diartikan sebagai masalah kinerja .(Anung Haryonotanpa tahun).&lt;/span&gt;&lt;code style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;&lt;/code&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: courier new; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Diklat mempunyai arti penyelenggaraan proses belajar mengajar dalam rangka  meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan tugas dan jabatan tertentu. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Kebutuhan diklat adalah jenis diklat yang dibutuhkan oleh seorang pemegang jabatan atau pelaksana pekerjaan tiap jenis jabatan atau unit organisasi untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam melaksanakan tugas yang efektif dan efisien (Dephutbun dan ITTO,2000:16). Sedangkan menurut Lembaga Administrasi Negara (1998:3) kebutuhan diklat adalah kekurangan pengetahuan, ketrampilan dan sikap seorang pegawai sehingga kurang mampu melaksanakan tugas, tanggung jawab, wewenang dan haknya dalam suatu satuan organisasi. Dengan demikian kebutuhan diklat dapat diartikan sebagai kesenjangan kemampuan pegawai yang terjadi karena adanya perbedaan antara kemampuan yang diharapkan sebagai tuntutan pelaksanaan tugas dalam organisasi dan kemampuan yang ada.(Hermansyah dan Azhari, 2002:3)Konsep dasar pemikiran kebutuhan diklat adalah adanya deskrepansi kemampuan kerja. Sesuai dengan tingkatan dalam pengungkapan kebutuhan diklat maka deskrepansi dapat terjadi pada seseorang pejabat/pelaksana pekerjaan terhadap tugas di dalam organisasi, jabatan maupun terhadap tugas individu. Secara umum deskrepansi kemampuan kerja diilustrasikan sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Diskrepansi kemampuan kerja dinyatakan perbedaan antara kemampuan kerja seseorang pada saat kini dengan kemampuan kerja yang diinginkan atau seharusnya yang umumnya juga di kenal kemampuan kerja standar/baku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Kebutuhan diklat dapat dibedakan menjadi tiga tingkatan, yaitu tingkat organisasi, tingkat jabatan, dan tingkat individu. Tidak semua masalah kinerja dapat dipecahkan dengan diklat. Diklat tersebut digunakan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan kurangnya pengetahuan, keterampilan, dan sikap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Kebutuhan diklat dalam suatu organiasi dpengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dalam organiasi yang mempengarihu kebutuhan diklat adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;1. Mutasi jabatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Seseorang yang dimutasi dari kedalam jabatan yang lebih tinggi dituntut memiliki kompetensi yang sesuai denga jabatan tersebut. Jika terdapat beberapa kompetensi yang belum dimiliki maka diperlukan upaya untuk memenuhi kompetensi tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui kegiatan diklat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;2. Perluasan atau pembentukan orgnasisasi baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Perluasan atau pembentukan organisasi baru akan memerlukan sumberdaya manusia yang akan ditempatkan pada unit tersebut. Hal ini merupakan salah satu faktor timbulnya kebutuhan diklat dalam sebuah organisasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;3. Penggunaan teknologi baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;4. Kurangnya pengetahuan, ketrampilan dan sikap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi timbulnya kebutuhan diklat adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;1. Peraturan perundangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;2. Keadaan ekonomi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;3. Sikap masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: courier new; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-style: italic;&quot;&gt;Identifikasi Kebutuhan Diklat (IKD)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: courier new; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Dalam kaitan kebutuhan diklat, ada tiga terminologi yang sering digunakan, yaitu: Identifikasi Kebutuhan Diklat (IKD), Analisis Kebutuhan Diklat (AKD) dan Penentuan Kebutuhan Diklat (PKD). (Dephutbun dan ITTO:2000:67). IKD adalah proses pengungkapan kebutuhan diklat pada tingkat organisasi, AKD adalah proses pengungkapan kebutuhan diklat pada tingkat jabatan dan PKD adalah proses pengungkapan kebutuhan diklat pada tingkat individu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Menurut Siwi Kadarmo dalam Hermansjah dan Azhari (2002:3) identifikasi kebutuhan diklat adalah suatu studi yang sistematis dan sistemik dalam suatu usaha pengambilan suatu keputusan mengenai dilakukannya suatu diklat atau non-diklat di masa yang akan datang, dengan memanfaatkan data dan pemikiran dari berbagai sumber, sehingga keputusan yang diambil lebih produktif. Identifikasi kebutuhan diklat juga merupakan serangkaian kegiatan untuk menemukan masalah-masalah yang timbul di tempat kerja dalam suatu organisasi dan untuk menentukan apakah diperlukan suatu kegiatan diklat untuk mengatasi masalah-masalah dalam organisasi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Identifikasi kebutuhan diklat juga dapat memberikan informasi yang tepat kepada pembuat keputusan mengenai isi dan metode diklat, kelompok sasaran, kendala dan hasilnya. Ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari kegiatan identifikasi kegiatan diklat, yaitu manfaat langsung dan tidak langsung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Manfaat langsung dari IKD, adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;•Menghasilkan program diklat yang disusun sesuai dengan kebutuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;•Sebagai dasar peyusunan program diklat yang tepat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;•Menambah motivasi peserta diklat dalam mengikuti diklat karena sesuai dengan minat dan kebutuhannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Sedangkan manfaat tidak langsung dari IKD, adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;•Menjaga produktivitas kerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;•Meningkatkan produktivitas dalam menghadapi tugas-tugas baru.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: courier new; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-style: italic;&quot;&gt;Teknik-Teknik Identifikasi Kebutuhan Diklat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: courier new; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Dalam melakukan identifikasi kebutuhan diklat, ada tiga teknik pendekatan yang umum digunakan dalam menentukan kebutuhan diklat, yaitu : (1) pendekatan Analisis Kinerja, (2) Focus Group dan Nominatif Group, (3) Pendekatan DIF(Difficulties, Importancy, Frequency).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;1.Pendekatan Analisis Kinerja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Langkah-langkah dalam prosedur analisis kinerja tersebut adalah sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;(1) mengidentifikasi standar kinerja, (2) mengidentifikasi kinerja, (3) mengidentifikasi dan merumuskan masalah, (4) mengidentifikasi bukti-bukti masalah, (5) mengidentifkasi penyebab masalah dan (6) mengidentifikasi pemecahan masalah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;2.Pendekatan Focus Group dan Nominal Group&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Focus Group Technique (FGT) adalah suatu teknik yang dapat digunakan untuk mencari dan menentukan fokus dari suatu kegiatan sesuai dengan kebutuhan kelompok. Teknik ini bersifat kualitatif yang dalam proses pelaksanaannya memerlukan bantuan seorang fasilitator.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Dalam penerapan FGT kelompok bisa terdiri dari calon peserta diklat, widyaiswara, penyelenggara diklat dan unsur kepegawaian. Hal-hal yang perlu diperhatikan,   adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;a.Jumlah anggota sebaiknya antara 8 – 12 orang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;b.Tempat duduk disusun membentuk huruf “U”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;c.Satu orang fasilitator pada setiap kelompok dibantu oleh seorang pencatat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;d.Ide atau gagasan dikemukakan dengan menjawab empat pertanyaan yang telah disiapkan secara tertulis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;e.Partisipasi aktif dari semua anggota kelompok sangat diperlukan. Peran fasilitator sangat penting untuk memotivasi anggota dalam menyampaikan ide atau gagasan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;f.Tidak ada tanggapan, sanggahan atau diskusi terhadap ide atau pemikiran yang disampaikan anggota.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;g.Posisi semua anggota kelompok adalah sama, tidak memandang status atau jabatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Untuk menggali ide atau gagasan, empat pertanyaan yang diajukan adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;a.Ketrampilan/pengetahuan dan kemampuan pribadi apakah yang anda miliki pada saat menduduki jabatan sekarang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;b.Ketrampilan/pengetahuan dan kemampuan pribadi apakah yang pada kenyataannya anda perlukan dan telah anda pergunakan dalam menyelesaikan tugas pokok dan fungsi anda selama ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;c.Ketrampilan/pengetahuan dan kemampuan pribadi apakah yang menurut anda sangat diperlukan untuk dapat menyelesaikan tugas pokok dan fungsi anda selama ini?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;d.Darimana dan bagaimanakah cara memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Setelah proses focus group selesai dilanjutkan dengan nominal group technique (NGT). Ada empat kegiatan pokok dalam NGT, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;a.Para anggota kelompok menuliskan ide atau gagasan pada selembar kertas (Listing)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;b.Daftar ide atau gagasan dari para anggota kelompok tersebut dicatat pada kertas flipchart (Recording)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;c.Dilakukan klasifikasi, penyederhanaan dan kombinasi ide atau gagasan untuk menghindari duplikasi (Collating).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;d.Para anggota kelompok melakukan penilaian secara individual untuk menentukan prioritas (Prioritizing)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;3.Pendekatan DIF&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;DIF analisis adalah analisis kebutuhan diklat yang berdasarkan pada job analisis (Analisis Jabatan) yang diikuti dengan mencari tingkat kesulitan (difficulties/D), tingka kepentingan (importance/I) dan tingkat keseringan (frequency/F). Berdasarkan tingkat-tingkat tersebut dicari analisis job manakah yang paling D, I, F. Dari hasil tersebut, maka patut dicuigai terdapat kesenjangan ketrampilan. Mengapa patut dicurigai?, karena harus dikenali kemungkinan adanya indikator pelatihannya dengan menggunakan pertanyaan mengapa. Dismaping itu kita harus juga melaksanakan wawancara dengan atasan yang bersangkutan (responden) untuk mengetahui standar prestasi responden. Apakah yang bersangkutan sudah memenuhi standar yang ditentukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Jika terdapat prestasi yang di bawah standar, maka dilakukan analisis lebih lanjut dalam rangka penemuan kebutuhan diklat. Hal ini dimungkinkan, bahwa ada kemungkinan prestasi di bawah standar tersebut bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan ketrampilan, namun karena indikator lain seperti sarana dan prasarana.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: courier new; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-style: italic;&quot;&gt;Program Diklat Balai Diklat Kehutanan Kupang dan Identifikasi Kebutuhan Diklat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: courier new; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Balai Diklat Kehutanan Kupang sebagai salah satu UPT Pusat Diklat Kehutanan mempunyai wilayah pelayanan yang meliputi Propinsi Bali, Nusa Tenggra Barat dan Nusa Tenggara Timur. Masing-masing propinsi memiliki penekanan yang berbeda dalam pembangunan sektor kehutanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Keadaan ini menimbulkan perbedaan kebutuhan diklat sesuia dengan titik berat pembangunan sektor kehutanan masing-masing propinsi. Sasaran program diklat BDK Kupang adalah sumberdaya manusia kehutanan di ketiga propinsi tersebut. Dengan demikian program diklat yang direncanakan oleh BDK Kupang merupakan diklat yang dibutuhkan oleh ketiga propinsi. Hal ini mengakibatkan jenis-jenis diklat yang dilaksanakan oleh BDK Kupang kurang menyentuh kebutuhan diklat dari masing-masing propinsi di wilayah pelayanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Disamping itu, sasaran diklat dari BDK Kupang adalah para PNS di lingkup Dinas yang menangani bidang kehutanan. Sebagaimana diketahui bahwa Dinas yang menangani bidang kehutanan sebenarnya merupakan institusi pembuat kebijakan pengelolaan hutan, bukan institusi yang secara langsung mengelola hutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Guna mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam tentang pendekatan dalam pelaksanaan Identifikasi Kebutuhan Diklat di wilayah pelayanan BDK Kupang. Sebagai langkah awal, maka dapat dilakukan beberapa tindakan yang perlu diambil, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;1.BDK Kupang perlu memiliki data-base pegawai lingkup kehutanan di wilayah pelayanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;2.Perlu adanya pengkajian tentang pola kebutahan diklat dari masing-masing propinsi di wilayah pelayanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;3.Perlu adanya pengakjian yang lebih mendalam tentang teknik pelaksanaan Identifikasi Kebutuhan Diklat yang sesuai dengan karkateristik wilayah pelayanan BDK Kupang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;4.Perlu dilakukan kegiatan in-house training bagi tim pelaksana IKD, yang meliputi, teknik penyusunan rancangan IKD, teknik penyusunan instrumen pengumpulan dan pengolahan data.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Pengkajian tentang teknik identifikasi kebutuhan diklat diharapkan dapat memberikan pendekatan yang sesuai dengan wilayah pelayanan BDK, sehingga dapat menghasilkan rancangan identifikasi kebutuhan diklat yang baik. Sedangkan kegiatan in-house traning diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petugas IKD sehingga dapat menghasilkan program diklat yang sesuai dengan kebutuhan wilayah pelayanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Jika program diklat disusun berdasarkan IKD yang tepat yaitu sesuai dengan kebutuhan, maka dapat diperloleh manfaat sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;1.diklat akan relevan dan efektif,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;2.diklat akan lebih murah,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;3.peserta diklat akan lebih termotivasi dalam mengikuti diklat,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;4.mutu diklat akan lebih berkualitas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: courier new; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-style: italic;&quot;&gt;Penutup.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: courier new; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Berdasarkan uraian diatas maka dapat diberikan beberapa penekanan, antara lain :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;1.Kegiatan identifikasi kebutuhan diklat merupakan kegiatan penelitian yang sistematis untuk menenukan jenis kegiatan diklat atau non diklat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;2.Identifikasi kebutuhan diklat dapat memberikan informasi yang tepat kepada pembuat keputusan mengenai isi dan metode diklat, kelompok sasaran, kendala dan hasilnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;3.Terdapat 3 model pendekatan dalam pelaksanaan identifikasi kebutuhan diklat, yaitu pendekatan analisis kinerja, pendekatan FGT-NGT dan pendekatan DIF&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;4.Perlu pengkajian lebih lanjut tentang model atau pendekatan dalam identifikasi kebutuhan diklat yang sesuai dengan karakteristik wilayah pelanan BDK Kupang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;5.Dalam pelaksanaan identifikasi kebutuhan diklat, diperlukan sumberdaya manusia yang  terlatih dalam kegiatan IKD.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: courier new; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: courier new; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: courier new; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Dephutbun dan ITTO. Modul Pelatihan : Pelatihan Desain Pelatihan. Bogor: Departemen Kehutanan dan Perkebunan dan International Tropical Timber Organization, 2000.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: courier new; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Haryono, Anung. Analisis Kebutuhan Pelatihan/Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media, 2004.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: courier new; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;Hermasjah dan Azhari. “Identifikasi Kebutuhan Diklat”, Bahan Ajar Diklat Kewidyaiswaraan Tingkat Pertaman. Jakarta: LAN, 2002&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: courier new; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;LAN. Model-Model Diklat Analisis Kebutuhan Diklat. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pelatihan Teknik Menejemen, 1999.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://humasilva.blogspot.com/feeds/187094990090407919/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://humasilva.blogspot.com/2009/02/identifikasi-kebutuhan-diklat.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2870268717355237523/posts/default/187094990090407919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2870268717355237523/posts/default/187094990090407919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://humasilva.blogspot.com/2009/02/identifikasi-kebutuhan-diklat.html' title='Identifikasi Kebutuhan Diklat'/><author><name>Huma Silva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02815814579789163486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3xQPeRmkgp-kcAifa0ReyJfYSBBCrATHnLQKBa1N88IaFmHYCkz0COzkGWD2jCX4Bj7Lrs90gSS94-qx0gq6iy-jadKtd-Q4pNDtjvUZxIRDpVFgLBjnJ2wP-WFbMCUwndaD6ByWhqy7u/s72-c/pohon.gif" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2870268717355237523.post-4638188532063316550</id><published>2009-02-16T15:43:00.011+07:00</published><updated>2009-02-23T15:52:07.951+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kehutanan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="motivasi"/><title type='text'>NAMA ADALAH DOA</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Terinspirasi dari &lt;a target=&quot;new&quot; href=&quot;http://komendansuro.blogspot.com/2009/02/makna-sebuah-nama.html&quot;&gt;Makna Sebuah Nama&lt;/a&gt;, saya mencoba merenungkan kembali mengapa saya memberi nama blog ini huma silva. Mengapa dua suku kata : “huma” dan “silva” tersebut saya pilih. Sebelum saya membuat blog ini saya telah memiliki calon nama buat blog ini, namun pada saat membuat url tiba-tiba berubah menjadi huma silva.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;    Jujur saja, pertama-tama nama itu muncul karena “kecelakaan” kalau tidak mau dibilang “ketidak-tahuan” alias “kebodohan”. Saat login saya memakai alamat email: humasilva@.............. , pada tahap pertama berjalan lancar. Pada tahap ke-2 saat menuliskan alamat url, saya tulis nama yang telah saya persiapkan untuk blok ini. Itulah awal kecelakaan tersebut. Setelah saya menuliskan nama yang tidak sesuai dengan alamat saat saya login keluarlah pesan “nama tersebut tidak tersedia”. Beberapa kali saya coba mengetikan alamat url, sebanyak itu pula jawaban yang sama saya baca di monitor. Akirnya saya mencoba mengetik dengan nama humasilva dan ............. berhasil. Akhirnya saya punya blog sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;font-size:85%;&quot; &gt;&lt;span style=&quot;font-family:monospace;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;pre&gt;&lt;code&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;/code&gt;&lt;/pre&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;font-size:85%;&quot; &gt;huma silva&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;, nama itulah akhirnya yang muncul untuk blok ini. Puaskah saya dengan nama tersebut? Jika dirangking antara 1 s.d. 10, huma silva saya beri rangking 7 (pada saat itu). Apakah ini yang disebut kegagalan? Jawabnya bisa “ya”, bisa “tidak”. Jawabnya “ya” karena saya tidak berhasil menaruh nama yang telah saya persiapkan. Dan jawabnya “tidak” karena ternyata saya telah mendapatkan pengetahuan yang baru dari kegagalan tersebut. Untaian kata “experience is the best teacher” adalah istilah yang tepat menurut saya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;    Saya jadi teringat pada sebuah buku yang mengatakan bahwa Thomas A Edison juga gagal beratus kali sebelum menemukan lampu pijar. Kita tidak pernah mengingat kegagalan Thomas A Edison, kita hanya tahu bahwa penemu lampu pijar adalah Thomas A Edison. Akhirnya saya lupakan kegagalan saya memberi nama blog yang sesuai dengan nama yang telah saya persiapkan. Dan......saya cinta nama tersebut. Cinta dalam bahasa Inggris adalah “love” yang dapat berupa kata kerja (“love” artinya mencintai) dan kata benda (“love” artinya cinta). Saya memperoleh cinta dari blog ini dengan mencintai blog ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;    Kembali kepada nama huma silva, huma berarti padang rumput dan silva berarti hutan (sepengetahuan saya, jika salah ya mohon di koreksi walupun saya akan tetap memakai nama huma silva). Padang rumput bagi saya melambangkan masyarakat kecil, “wong cilik”, mereka yang termarjinalkan. Hutan melambangkan “the have”, orang gedean, dan keberhasilan. Secara tersurat huma silva melambangkan harapan agar hutan tetap lestari tanpa harus memarjinalkan masyakat kecil. Dan ini membutuhkan peran serta kita semua dari “wong cilik” sampai “orang gedean”. Dan ini juga memerlukan perenungan yang lebih mendalam apakah kita telah salah dalam mengelola hutan jika masih terjadi penebangan liar,  degradasi hutan, kebakaran hutan. Frase “Community Based Forest Management” perlu pengejawantahan yang lebih arif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;    Secara tersirat huma silva mengandung makna bahwa sesuatu yang besar harus diawali dari yang kecil. Keberhasilan akan kita dapatkan jika kita peduli dengan hal-hal yang kecil. Pepatah Cina mengatakan bahwa perjalanan ribuan lie dapat diselesaikan dari sebuah langkah kecil.Nama tersebut juga mengandung makna bahwa kehidupan akan menjadi lebih baik jika kita dapat menyatukan kemampuan, mulai dari yang kecil sampai yang besar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;    Inilah harapan dan doa yang tersurat dan tersirat dari nama &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;font-size:85%;&quot; &gt;huma silva&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;. Ya........nama adalah sebuah harapan, nama adalah sebuah cita-cita, nama adalah sebuah doa.&lt;/span&gt;&lt;pre&gt;&lt;code&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;/pre&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://humasilva.blogspot.com/feeds/4638188532063316550/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://humasilva.blogspot.com/2009/02/nama-adalah-doa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2870268717355237523/posts/default/4638188532063316550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2870268717355237523/posts/default/4638188532063316550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://humasilva.blogspot.com/2009/02/nama-adalah-doa.html' title='NAMA ADALAH DOA'/><author><name>Huma Silva</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02815814579789163486</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>