<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;CU8DSXkycCp7ImA9WhZQFE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152140761831197779</id><updated>2011-04-21T17:57:58.798-07:00</updated><title>Fontheus</title><subtitle type="html" /><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://fontheus.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://fontheus.blogspot.com/" /><author><name>Donatsagogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18337986038711539722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Fontheus" /><feedburner:info uri="fontheus" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;A0EBQnw8eSp7ImA9WxVaEEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152140761831197779.post-3317954321305826502</id><published>2009-04-05T20:56:00.000-07:00</published><updated>2009-04-06T19:00:53.271-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-06T19:00:53.271-07:00</app:edited><title>Dari Depan Layar Laptop</title><content type="html">Halo-halo para pembaca sekalian, disini ada Okky sang pengetik kisah fiksi fantasi Fontheus yang sedang anda gemari :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, saya membuat tulisan ini sebagai perkenalan tentang siapa sih dalang dibalik cerita fantastis ini? Sekaligus sebagai sebuah wadah untuk komunikasi dua arah antara saya selaku pengetik dengan anda selaku pembaca. Ngebosenin dong kalo anda sekalian cuma baca doang? Oleh karena itu saya mengajak anda lewat tulisan ini untuk ikut terlibat komunikasi dua arah dengan cara ikut aktif memberi saran, kritik, cacian, dan segala macam pendapat yang dapat membantu saya untuk menyelesaikan kisah Fontheus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, saya ingin mengucapkan rasa terima-kasih yang sangat mendalam untuk anda semua yang telah mensupport saya untuk mengetik Fontheus. Memang sih, kebanyakan dari anda yang membaca kisah ini adalah blogger -dunia yang mudah saya gapai sebagai pembaca pertama kisah ini-. Terima kasih bagi yang sudah menjadi Follower di blog ini, walau sampai detik ini saya baru mendapatkan 18 orang Follower, tapi itu cukup menghibur hati saya :D. Terima kasih juga bagi yang rela menghabiskan tempat di blognya hanya untuk memasang banner Fontheus -yang sangat jelek-, saya tidak pernah memaksa anda untuk memasang banner ini :D. Beribu-ribu terima kasih juga saya ucapkan untuk pembaca non blogger yang sudi meluangkan waktunya mengunjungi blog saya ini. Dalam kurun waktu kurang dari dua bulan blog ini telah dikunjungi 1000 Visitor lebih, itu adalah hasil yang cukup memuaskan bagi saya. Donats Blog saja dulu waktu pertama diluncurin yang ngunjungin cuma saya doang x(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, mungkin anda penasaran, siapa sih saya? Belum tahu? Hari gini? Kemane aje lo?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama saya &lt;b&gt;Donatian Okky Mintaraga&lt;/b&gt;. Jika anda membaca blog personal saya di &lt;a href="http://donatian.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Donats blog&lt;/a&gt;, maka anda bisa memanggil saya &lt;b&gt;Donat&lt;/b&gt;. Namun dalam kisah ini, saya lebih senang dipanggil &lt;b&gt;Okky&lt;/b&gt; saja. Kenapa? Donats blog adalah personal blog saya, disana isinya penuh kekonyolan dari kehidupan sehari-hari saya, namun Fontheus menjadi semacam &lt;b&gt;Alter-Ego&lt;/b&gt; saya dalam menulis, jadi panggil saja saya &lt;b&gt;Okky&lt;/b&gt; -sebagai Alter-Ego Fiksi Fantasi saya-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Jangan pernah heran jika anda membandingkan gaya menulis saya antara Donats blog dengan Fontheus, namanya juga &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alter-Ego&lt;/span&gt; xP&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup perkenalannya saya rasa, jika anda ingin tahu lebih lanjut tentang saya bisa add Facebook saya, itu badgenya ada di kotak kanan bawah dengan foto Najong saya bersama Brisingr *apa? ngising?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya akan menjawab beberapa saran, kritik dan pertanyaan yang selama ini anda berikan, anyway thanks buat yang udah kasi saran, kritik dan pertanyaan tersebut xD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Q&lt;/span&gt;: Bagaimana sisi Drama -yang mampu menjual- yang anda tawarkan dalam Novel ini?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A&lt;/span&gt;: Tentu saja saya tidak menulis kisah ini dengan datar, tanpa bumbu dan membosankan. Saya membaca sebuah tips menulis kisah fiksi dan saya merasa tertampar sangat keras ketika membaca fakta bahwa banyak naskah novel fiksi fantasi(seperti kisah saya) yang ditolak oleh pihak editor sebuah penerbit karena cerita tersebut cenderung membosankan. Kenapa membosankan? Karena naskah-naskah tersebut(menurut mereka) kebanyakan mengisahkan tentang seorang HERO tanpa cacat yang berpetualang dari satu kota ke kota dan di akhir cerita bertarung dengan BOSS besar, macam cerita-cerita seperti game RPG gitulah. Maka dari itu saya mencoba memberikan sisi drama yang berbeda. Memang benar Chadolice harus berpetualang bersama teman-temannya untuk mengambil batu Orb, tapi sebuah rahasia terbesar dan pertarungan terhebat ada di akhir cerita(yang sepertinya tidak akan saya ungkap di blog ini, nanti siapa dong yang mau beli buku saya xP ). Di akhir cerita, terjadi konflik batin di dalam diri Chadolice. Penasaran? Beberapa Clue sudah saya sebar sejak dari bab 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Q&lt;/span&gt;: Lalu bagaimana dengan sisi Love Interestnya?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A&lt;/span&gt;: Ok, saya akui sisi romantis adalah salah satu poin dari "Selling-The-Drama", namun sepertinya saya belum bisa menyisipkan hal tersebut ke buku pertama. Kenapa? Yah dalam buku pertama ini saya lebih menekankan pada perjalanan Chadolice untuk mengambil kembali batu Orb(tapi inti dari buku pertama sebenarnya bukan tentang batu Orb itu sendiri). Saya merasa bingung jika harus menyisipkan sisi romantis kedalamnya, namun sebenarnya sudah ada sisi romantis yang saya masukkan di bab 4 seperti bagaimana Helena sangat merasa terpukul ketika ia tidak mengetahui kabar suaminya dari medan perang. Sebuah Clue juga sudah saya beberkan sebagai modal untuk buku kedua. Selain itu, mungkin di tengah perjalanan saya bisa memasukkan roman yang terjadi di antara tokoh-tokoh utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Q&lt;/span&gt;: Gaya menulis anda jelek sekali.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A&lt;/span&gt;: Terima kasih, mungkin karena saya bukan seorang penulis profesional sekelas JR Tolkien atau Christoper Paolini, saya hanya seorang anak remaja yang pikirannya penuh khayalan &lt;s&gt;porno&lt;/s&gt; fiksi fantasi. Bisa berkhayal belum tentu bisa mengaplikasikannya dalam tulisan bukan? Memang setiap bab yang saya sajikan belum 100% siap untuk dibaca. Oleh karena itu saya selalu berusaha merevisi setiap bab yang sudah ada di blog ini. Sekarang baru bagian Prolog saja yang sudah saya revisi dengan memberikan banyak detail dan penguatan karakter untuk beberapa tokoh. Jadi anda bisa selalu membaca setiap bab berulang-ulang karena siapa tahu saya akan membuat revisi besar-besaran dalam setiap bab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q: Kapan bukunya keluar? Kapan Filmnya diputar?&lt;br /&gt;A: Soal Film anda bisa membeli tiket layar tancap terdekat, bintang utamanya adalah saya, tokoh pembantu juga saya, apalagi antagonis, saya juga. Ok itu becanda, saya belum memikirkan kearah itu(serasa mau kawin). Kapan Novel dari kisah ini bisa anda temukan di rak penjualan di toko buku yang biasa anda kunjungi, tergantung dari seberapa cepat saya mampu menyelesaikannya. Saya mencoba memberi batas waktu(untuk diri saya sendiri) agar selesai dalam kurun waktu satu tahun. Oleh karena itu saya selalu membutuhkan support anda semua. Bagi 5 supporter terfavorit dapat mendapatkan buku ini gratis! Ketik reg spasi Fontheus kirim ke neraka, thanks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nb: Pertanyaan yang ada di tulisan ini akan segera saya salin di bagian Faq.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, saya mau memberitahukan bahwa saya akan Vakum untuk sementara. Bukannya saya mau membiarkan Fontheus terbengkalai, sumber duit kok dibuang, sayang toh. Maksud saya, saya Vakum karena akan menghadapi UAN sebentar lagi. Saya sedang menghitung hari lho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Menghitung hari, senin-selasa, rabu-kamis, jumat-sabtu-minggu-kuturut ayah kekota&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok mulai ngelantur -_-"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ga akan lama-lama kok, bab 5 akan segera saya posting kira-kira bulan Mei. Jadi jangan kemana-mana yah ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, sekian sepatah dua patah kata yang mampu saya ketik, maklum sudah malam dan saya ngantuk. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih karena sudi membaca kisah Fontheus yang tidak menarik ini. Selamat malam berhubung sekarang sudah malam, selamat tidur, saya akan mencari inspirasi fiksi fantasi dalam mimpi saya xD&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152140761831197779-3317954321305826502?l=fontheus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://fontheus.blogspot.com/feeds/3317954321305826502/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://fontheus.blogspot.com/2009/04/dari-depan-layar-laptop.html#comment-form" title="9 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/3317954321305826502?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/3317954321305826502?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Fontheus/~3/xmj0sbK1ttE/dari-depan-layar-laptop.html" title="Dari Depan Layar Laptop" /><author><name>Donatsagogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18337986038711539722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>9</thr:total><feedburner:origLink>http://fontheus.blogspot.com/2009/04/dari-depan-layar-laptop.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C08MQnY8cSp7ImA9WxVbF08.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152140761831197779.post-3298203226755057708</id><published>2009-04-02T18:17:00.000-07:00</published><updated>2009-04-02T18:24:43.879-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-02T18:24:43.879-07:00</app:edited><title>Bab 4: Guinglaint Manor</title><content type="html">Chad, Tevlan dan Oric melanjutkan perjalanan mereka di pagi itu. Heine dan anak-anak lainnya telah berangkat menuju provinsi Farlov. Disana mereka akan tinggal di desa Leafth sesuai dengan saran Tevlan. Sebelum mereka berpisah dengan Chad dan kedua temannya, mereka mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan nyawa mereka. Chad, Tevlan dan Oric memacu kereta dan kuda mereka menuju ke arah utara. Sebelum mereka tiba di Delfador mereka harus melewati kota Valencia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Valencia telah diserbu dan dibakar oleh pasukan Orc dan Goblin. Mereka terus bergerak menuju kota tersebut setelah menjebol pintu gerbang di benteng hijau. Setelah 3 hari kota itu dikepung, akhirnya para Orc dan Goblin berhasil memasuki dan menghancurkan semua yang ada di dalamnya. Pasukan Fastocia yang hanya berjumlah kurang dari 500 orang tidak kuasa menahan pasukan barbar tersebut. Mereka berjuang mati-matian dari dalam tembok kota untuk mencegah para Orc dan Goblin menaiki tembok kota dan menjebol pintu gerbang kota tersebut. Walaupun pertahanan mereka dapat dihancurkan dengan mudah, setidaknya mereka dapat melindungi kota hingga penduduk kota terakhir dapat mengungsi menuju Delfador.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan pengungsi menyemut di jalan antara kota Delfador dan Valencia. Mereka sebagian menaiki kuda dan kereta kuda, namun banyak juga yang harus berjalan kaki. Pria, wanita dan anak-anak harus merelakan rumah dan harta benda mereka untuk menyelamatkan diri dari serangan Orc dan Goblin. Sepanjang perjalanan wajah mereka tampak sedih dan kusut. Terdengan tangisan anak-anak dan bayi yang tidak biasa melakukan perjalanan yang melelahkan tersebut. Beberapa prajurit Fastocia menjaga dan memandu mereka menuju Delfador. Raut muka para prajurit itu tidak lebih baik daripada para pengungsi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad, Tevlan dan Oric tiba di pintu gerbang Valencia sebelum tengah hari. Mereka mendapati pintu gerbang tersebut telah rusak dijebol oleh alat pendobrak pintu yang dibuat oleh para Orc dari kayu-kayu besar yang diambil dari hutan Grat. Di dalam kota puing-puing reruntuhan bangunan masih menyisakan sedikit asap akibat pembakaran yang dilakukan oleh bangsa barbar tersebut. Abu dan warna hitam reruntuhan mendominasi di seluruh penjuru kota tersebut, tertutupi dengan warna putih salju yang tampak kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan prajurit dan ratusan pengungsi yang kembali ke kota Valencia tampak sedang memeriksa puing-puing bangunan. Mereka ditugaskan untuk mencari mayat-mayat prajurit Fastocia untuk segera dikuburkan. Beberapa dari mereka tampak sedih ketika mereka menemukan jasad teman-temannya telah terbujur kaku dengan tubuh menghitam karena terjebak di dalam kebakaran. Namun tak sedikit pula yang hanya menampakkan raut muka datar, seolah-olah mereka tampak begitu tegar dengan bencana yang terjadi tersebut. Mereka semua terus mengais-ngais diantara reruntuhan untuk sekiranya menemukan jasad lainnya di bawah puing-puing bangunan dan salju yang menghitam karena abu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria tua tampak menangis tersedu-sedu sementara istrinya meraung-raung kencang di sampingnya. Mereka berdua berada di depan bangunan rumah mereka yang telah menjadi abu. Di dalam rumah tersebut ternyata terdapat jasad anak perempuan mereka yang tidak sempat ikut mengungsi dan memilih untuk bersembunyi di bawah kasurnya ketika para Goblin mulai membakar rumahnya. Mereka berdua sangat menyesal karena tidak menyadari anak perempuannya tersebut menghilang di antara rombongan pengungsi dan ternyata kembali ke rumahnya hanya untuk mengambil boneka kesayangannya yang tertinggal. Ketika ia tiba di rumahnya, ia jatuh tertidur karena kelelahan dan menyadari rumahnya sedang terbakar ketika ia terbangun. Ia segera bersembunyi di bawah kasurnya sambil memeluk erat-erat bonekanya. Sayang sekali dia tidak dapat terselamatkan dari api yang terus mengamuk, ayah dan ibunya menemukan jasadnya yang menghitam sedang memeluk boneka kesayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan kuda Chad dan kedua temannya berjalan melewati puing-puing bangunan di sisi jalan kota. Di sepanjang jalan mereka hanya menemukan abu dan kesedihan penduduk kota. "Dhak hadha yhang dhersisha dhari khoda hinhi. Hanyha khesedhihan yhang mhereka dhinggalkhan." Ujar Oric meratapi nasib kota tersebut. Tevlan mengiyakan ratapan Oric, ia hanya terdiam dan terus menatap ke sekeliling dari atas kudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian mereka telah tiba di pintu gerbang barat kota Valencia. Laju kuda mereka dihentikan oleh beberapa prajurit yang sedang bersiaga di atas jembatan kota Valencia. "Maaf tuan-tuan, bolehkah saya tahu darimana dan akan kemana rombongan tuan-tuan akan pergi? Ujar pemimpin dari prajurit yang menjaga pintu gerbang kota tersebut.&lt;br /&gt;"Khamhi hadhalah rhombonghan phedaghang dhari khoda Fhalovha dhan hakhan phergi mhenujhu Dhelfadhor. Sheorhang dheman khami mheningghal khedika khami mhelawhan Ghoblin di phersimphangan jhalan mhenuju khesinhi." ujar Oric.&lt;br /&gt;"Ah, kami turut berduka cita tuan. Maaf telah mengganggu perjalanan anda." Ujar prajurit tersebut seraya memerintahkan anak buahnya untuk membuka jalan untuk mereka.&lt;br /&gt;"Bolehkah kami tahu kronologis dari serangan Orc di kota ini?" Tanya Chad sebelum mereka meninggalkan kota Valencia.&lt;br /&gt;"Yah, dua hari yang lalu kota ini telah dikepung selama tiga hari. Para Orc tersebut berhasil menaiki tembok dan menjebol pintu gerbang kota. Kami yang berjumlah sangat sedikit tidak mampu membendung serangan mereka. Pasukan barbar tersebut membantai setiap prajurit dan warga kota yang mereka temui dan membumi-hanguskan kota ini." Prajurit tersebut menghela napas sejenak, "Penasihat kerajaan, tuan Cariandeldor mengadakan negosiasi dengan Arghol, pemimpin Orc dan Goblin tersebut, seorang penyihir hitam yang menunggangi seekor serigala putih raksasa. Aku ikut menjaga tuan Cariandeldor saat itu, tulang-tulangku serasa meleleh ketika melihat serigala putih tersebut. Tuan Cariandeldor dengan sangat terpaksa memberikan batu Orb yang selama beratus-ratus tahun dijaga oleh kerajaan, ini semua demi nasib kerajaan karena Arghol mengancam akan menyerang ibukota dan mengambil batu Orb dengan tangannya sendiri."&lt;br /&gt;"Ah, jadi paman Cariandeldor harus bernegosiasi dengan Arghol." Pikir Chad, Cariandeldor adalah kakak dari mendiang ibunya, jadi ia memanggilnya dengan sebutan paman. Pikiran Chad sekarang tertuju kepada Arghol, mungkin penyihir hitam tersebut adalah orang yang selalu muncul dalam mimpi buruknya akhir-akhir ini, namun ia tidak yakin karena ia belum mendapat gambaran yang jelas dari sosok Arghol, dan apa maksud dari perkataan penyihir dalam mimpinya yang mengatakan sesuatu tentang membangkitkan kerajaan Gardan? Chad berusaha tidak memikirkan mimpi buruknya tersebut. Sekarang ia ingin tahu bagaimana nasib raja Gustave XII. Mengapa bukan beliau yang melakukan negosiasi dengan Arghol. "Mengapa bukan raja Gustave yang melakukan negosiasi?"&lt;br /&gt;"Jadi anda belum tahu berita duka tersebut tuan? Mendiang raja Gustave XII telah meninggal dunia akibat luka dalam yang hebat, para tabib kerajaan mengatakan bahwa raja telah diserang oleh ilmu sihir ketika ia memimpin perang di padang hijau. Pemakaman telah dilakukan dengan sederhana karena negara masih berada dalam kondisi yang kacau balau. Seluruh penduduk kota Delfador menghadiri pemakaman raja. Calon penerus raja, pangeran Efran masih berumur 14 tahun, jadi untuk sementara kepemimpinan kerajaan diwakilkan oleh tuan Cariandeldor. Kami yakin beliau tetap loyal kepada kerajaan dan tidak akan mendeklarasikan diri sebagai raja dan membentuk dinasti baru."&lt;br /&gt;Chad mengiyakan pendapat prajurit tersebut dalam hati. Ia mengenal baik sosok pamannya yang telah 50 tahun lebih mengabdi kepada kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian rombongan Chad meminta diri untuk meneruskan perjalanan ke kota Delfador. Mereka melintasi jembatan Valencia dan memacu kuda mereka. Di luar kota Valencia, mereka melihat beberapa orang yang sedang menggali liang kuburan tepat di pinggir sungai Leona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mengurangi rasa hormat, belasan mayat dibawa menggunakan gerobak yang berulang kali keluar masuk kota Valencia. Mayat-mayat tersebut ditumpuk di atas tanah bersalju, menunggu giliran untuk segera dikuburkan. Para penggali kubur harus menguburkan mayat-mayat tersebut sebelum wabah penyakit menjangkiti mereka yang masih hidup. Beberapa pendeta kerajaan melakukan upacara penguburan di sisi liang kuburan yang telah diisi dengan beberapa tubuh. Biasanya sebuah liang kuburan yang telah digali diisi oleh 10 mayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para Orc tersebut telah memasuki kerajaan kita, membumi-hanguskan kota kita dan membantai orang-orang kita, hanya karena sebuah batu hitam bundar yang menurutku tidak lebih berharga dari sepiring keju panggang dan segelas susu kambing hangat." Keluh salah seorang penggali kuburan tersebut.&lt;br /&gt;"Jangan banyak mengeluh Tod, cepat selesaikan tugas kita hari ini karena sepiring keju panggang dan segelas susu kambing hangat telah menunggu di rumahmu." Ujar salah satu temannya yang terus menggali tanah dengan sekopnya.&lt;br /&gt;"Kurasa dengan banyaknya mayat yang harus kita kuburkan." Tod berhenti sejenak dari kegiatan menggali tanah dan menyeka keringatnya. "Aku tidak bernafsu lagi untuk menyantap makanan yang sangat kuimpikan itu."&lt;br /&gt;Teman Tod tertawa dan diikuti oleh tawa penggali kuburan lainnya. Mereka semua ternyata berasal dari desa Flint di dekat kota Valencia dan dibayar beberapa koin perunggu untuk menguburkan mayat-mayat tersebut. Walaupun upah yang mereka dapatkan sangatlah kecil, namun mereka tetap menjalankan pekerjaan tersebut, sebagian didasari oleh rasa kemanusiaan untuk menguburkan mayat-mayat yang juga merupakan penduduk kerajaan Fastocia sementara yang lain terpaksa melakukannya karena tidak ada pekerjaan yang dapat dilakukan selama musim dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad, Tevlan dan Oric memacu kereta dan kuda mereka di jalan antara Valencia dengan Delfador. Sesekali mereka berpapasan dengan prajurit atau pengungsi yang memutuskan untuk kembali ke kota Valencia. Banyak juga beberapa pengungsi yang memutuskan untuk mendirikan tenda di tanah pertanian dan rumah-rumah penduduk di sekitar jalan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan dengan kereta dan kuda, mereka bertiga akhirnya hampir tiba di ibukota Delfador. Di kejauhan mereka melihat dinding kota dan menara-menara yang menjulang tinggi di dalam kota tersebut. Semakin rombongan mereka mendekat, semakin banyak tenda-tenda pengungsi yang terlihat di sisi-sisi jalan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah-wajah para pengungsi tersebut tampak kelelahan. Beberapa dari mereka hanya duduk di dekat perapian atau di dalam tenda mereka, meratapi nasib rumahnya di Valencia yang pasti telah menjadi abu. Yang lain terutama orang dewasa mencoba pergi ke ibukota untuk membeli persediaan makanan dan kayu bakar. Dari dalam beberapa tenda, dapat terdengar suara bising orang-orang yang bercakap-cakap. Kebanyakan dari mereka mengobrol tentang invasi para Orc dengan nada marah dan sedih. Tak sedikit dari mereka yang mengutuk serangan Orc yang telah membakar kota mereka. Anak-anak hanya terdiam mendengar obrolan orang tua mereka. Banyak juga dari mereka yang tertidur karena kelelahan sementara yang lain menangis karena kelaparan atau kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad memandangi tenda-tenda tersebut. Dalam hati ia sangat marah terhadap para Orc dan Goblin yang telah menyebabkan nyawa ribuan orang menghilang sementara puluhan ribu lainnya harus kehilangan rumah dan sanak saudara mereka. Ia bersumpah dalam hati untuk membalas perbuatan Orc tersebut bagaimanapun cara yang bisa ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan kereta dan kuda mereka telah tiba di gerbang masuk kota Delfador. Banyak orang yang keluar masuk kota melalui gerbang utama tersebut. Sebagian besar dari mereka adalah pengungsi yang akan membeli perbekalan di dalam kota. Beberapa prajurit bersiaga di depan gerbang tersebut sementara beberapa pemanah juga ikut mengawasi dari atas dinding kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga memasuki kota dan langsung terjebak dalam keramaian. Ribuan orang berseliweran di jalan utama kota tersebut. Sebagian besar adalah para pengungsi yang membawa bungkusan besar berisi perbekalan dan berjalan atau memakai kereta dan kuda untuk kembali ke tenda-tenda mereka. Beberapa penduduk kota Delfador melongok keramaian tersebut dari jendela rumah mereka. Banyak dari mereka dengan kesadaran tinggi membantu para pengungsi tersebut dengan menyumbangkan sedikit makanan bagi pengungsi yang tidak mampu membeli makanan dan terpaksa mengemis dari pintu ke pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan kereta dan kuda Chad meneruskan perjalanan di dalam kota menuju Guinglaint Manor, tempat dimana Chad tinggal dan dibesarkan bersama saudara-saudaranya. Perjalanan mereka sedikit terhambat dengan adanya kemacetan di jalan tersebut, namun 30 menit kemudian mereka akhirnya tiba di depan pintu masuk Guinglaint Manor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guinglaint Manor terletak di bagian barat kota, bersama rumah-rumah milik bangsawan Fastocia lainnya. Rumah tersebut cukup besar dan mewah dengan sekitar 20 kamar dan halaman yang luas. Sekitar 10 orang pelayan bekerja di rumah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad turun dari kudanya dan mengetuk pintu gerbang rumah tersebut. Lubang intip yang berada di tengah pintu tersebut terbuka. Tampak mata seorang pria tua yang menatap tajam kehadiran Chad dan kedua temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa?" Ujar pria tua tersebut.&lt;br /&gt;"Thurg, ini aku, Chad!" Ujar Chad.&lt;br /&gt;Thurg, nama pria tua itu menajamkan matanya. Ia telah berumur 70 tahun dan matanya tidak sekabur ketika ia muda dulu. Seolah tidak percaya, ia berkata "Tuan Chad! Syukurlah Tuan masih hidup!"&lt;br /&gt;Thurg membuka pintu gerbang dan meminta mereka segera masuk. "Masuk tuan-tuan." Ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad, Tevlan dan Oric memasuki halaman Guinglaint Manor. Thurg yang sangat gembira dengan kehadiran Chad menggenggam tangan kanan Chad dengan kedua tangannya. "Syukurlah, masih ada ksatria lain dari klan Guinglaint yang masih hidup selain tuan Brad!"&lt;br /&gt;"Maksudmu, Brad selamat?" Chad berkata dengan setengah tidak percaya.&lt;br /&gt;"Iya tuan, tuan Brad telah selamat bersama prajurit-prajurit lainnya." Thurg melepaskan genggaman tangannya, "Sekarang ia sedang berada di istana untuk memenuhi panggilan tuan Cariandeldor"&lt;br /&gt;"Aku ingin menemuinya."&lt;br /&gt;"Saya sarankan tuan untuk beristirahat terlebih dahulu dan bertemu dengan nona Helena, istri kakak tuan." Thurg mencoba meyakinkan Chad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita keluar dari kamarnya di lantai dua dan memandang kehadiran Chad dan kedua temannya dari atas balkon kamarnya. Wanita tersebut sangat cantik dan rupawan, rambutnya yang pirang berkilau diterpa sinar matahari siang musim dingin. Ia adalah Helena, istri dari Glenn, putra tertua Richard Guinglaint. Helena telah menunggu kehadiran suaminya sejak ia pergi untuk berperang. Ia selalu berdiri menunggu di balkon kamarnya, berharap Glenn membuka pintu gerbang Guinglaint Manor dan menemuinya. Namun hingga 1 minggu lebih setelah perang usai, ia masih belum mendapatkan kabar dari suaminya tersebut. Bahkan Brad yang beberapa hari lalu berhasil selamat bersama prajurit-prajurit lainnya tidak dapat memberikan kabar yang pasti tentang Glenn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad menyetujui saran Thurg. Ia mengajak Tevlan dan Oric untuk memasuki Guinglaint Manor sementara kereta dan kuda mereka dibawa oleh para pelayan menuju istal kuda. Oric hampir saja lupa untuk mengambil barang yang akan ia kirim, ia segera mengambil pedang yang dibungkus oleh kain putih tersebut. Mereka bertiga kini berada di ruang utama Guinglaint Manor. Ruang tersebut dihiasi oleh pernak-pernik senjata yang diatur sedemikian rupa; Pedang, tombak dan perisai yang dipajang di dinding serta beberapa baju zirah ksatria yang dikenakan oleh patung-patung manekin lengkap dengan senjata mereka, disusun di setiap sisi ruang utama tersebut. Sebuah lukisan besar potret diri leluhur Chad, Edward Guinglaint terpampang di dinding dekat tangga ruang utama tersebut. Berdiri gagah dengan mengenakan baju zirah putih dengan emblem klan Guinglaint, tangan kirinya memeluk helm perang sementara tangan kanannya menggenggam gagang pedang yang ujung mata pedangnya menyentuh tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pelayan wanita menuntun Tevlan dan Oric untuk menuju ke kamar yang telah disiapkan sementara Chad pergi menemui Helena. Ia menaiki tangga di ruang utama tersebut dan berjalan menuju kamar Helena. Ia mengetuk pintu kamar tersebut dan suara lembut Helena meminta Chad untuk masuk. Wanita tersebut masih berdiri di balkon rumahnya, memandang pemandangan hutan dan bukit-bukit kecil yang menyembunyikan desa Ka'arni nan jauh di balik sungai dinding-dinding kota Delfador. Chad berjalan ke arah balkon dan bersender di dekat jendela, ia berdiri terpaku dan menunggunya untuk memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana kabarmu Chadolice?" Tanya Helena tanpa memalingkan muka dari pemandangan yang ia pandang.&lt;br /&gt;"Aku baik-baik saja." Ujar Chad, "Bagaimana dengan dirimu?"&lt;br /&gt;"Kami baik-baik saja."&lt;br /&gt;"Kami?" Chad bingung dengan jawaban Helena.&lt;br /&gt;"Ya, aku dan benih di dalam rahimku." Helena sekarang menatap Chad sambil mengelus perutnya.&lt;br /&gt;"Selamat Helena!" Chad meraih dan mencium punggung tangan Helena.&lt;br /&gt;Helena tampak tersenyum, namun sedetik kemudian raut wajahnya berubah menjadi murung. "Kau tahu bagaimana kabar kakakmu?" Tanyanya lirih.&lt;br /&gt;"Maaf Helena, aku belum mendapatkan kabar darinya."&lt;br /&gt;"Sama seperti Brad." Ujar Helena, "Mungkin aku harus merelakannya, kesedihan tidak baik bagiku dan bagi benih yang ia tanam di rahimku." Air mata tampak menggenang di kedua bola matanya yang indah, "Ini hadiah terakhir yang ia berikan padaku." Helena kembali mengelus perutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad merasa bahwa kakak iparnya butuh waktu untuk sendiri. Ia segera meminta diri untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat. Chad berjalan keluar kamar dan menutup pintu kamar tersebut dengan nyaris tidak bersuara, ia tidak mau mengganggu kesedihan Helena. Chad segera turun ke lantai satu dan seorang pelayan wanita yang tadi menuntun Tevlan dan Oric telah menunggunya di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuan, kamar dan baju ganti anda telah saya siapkan." Ujar pelayan tersebut, "Dan kedua teman tuan telah kami urus dengan baik."&lt;br /&gt;"Ah, terima kasih La'arni. Tolong buat jamuan untuk mereka nanti malam" Ujar Chad.&lt;br /&gt;"Baik tuan." Ujar pelayan tersebut seraya memohon diri untuk kembali ke bangsal pelayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad kemudian berjalan menuju kamarnya lewat koridor di dalam Manor tersebut. Oric keluar dari kamarnya ketika Chad lewat di depannya.&lt;br /&gt;"Hakhu mhau phergi khe rhumah phembelhi bhenda hinhi." Ujar Oric menunjukkan pedang buatan Dwarfs yang dibungkus dengan kain putih, "Dhevlan jhuga hakhan hikhut bhersamhaku."&lt;br /&gt;"Kau yakin tidak akan beristirahat terlebih dahulu?" Tanya Chad.&lt;br /&gt;"Dhidak, dhidak pherlu."&lt;br /&gt;"Kau tidak akan langsung kembali ke Falova bukan? Setidaknya menginaplah 1 malam saja, aku akan meminta para pelayan untuk menyiapkan jamuan untukmu dan Tevlan."&lt;br /&gt;"Ya-ah, mhungkin hidhu bhukan hidhe yhang bhuruk." Oric berpikir sejenak, "Khami hakhan khembali shebelhum mhalam hari dhiba."&lt;br /&gt;"Apakah kau tahu rumah pemesan pedang tersebut?"&lt;br /&gt;"Ga-Drakh, mheninggalkhan shebuah shurat dhari phemesan bhenda hinhi, sheorhang bhangsawhan bhernamha Rodish."&lt;br /&gt;"Ah, mungkin yang ia maksud adalah Fharkog Rodish! Rumahnya tidak jauh dari sini, kau bisa menemukannya dengan mudah, cari rumah yang memiliki papan nama Rodish di pintu masuknya." Lanjut Chad menjelaskan, "Kau yakin tidak perlu kuantar?"&lt;br /&gt;"Dhidhak, dhidhak hushah, chukup hakhu dhan Dhevhlan shaja yhang phergi."&lt;br /&gt;"Baiklah, aku ingin beristirahat dahulu. Jangan lupa untuk kembali sebelum malam tiba."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan keluar dari kamarnya dan ia telah siap untuk pergi bersama Oric. Mereka keluar dari Manor dan menyusuri kota Delfador dengan berjalan kaki. Chad masuk ke kamarnya dan mengganti pakaian dari Dorin dengan pakaian yang telah disiapkan pelayannya. Ia langsung berbaring di atas ranjangnya dan langsung tertidur karena ia cukup lelah dalam perjalanan dari Falova tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152140761831197779-3298203226755057708?l=fontheus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://fontheus.blogspot.com/feeds/3298203226755057708/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://fontheus.blogspot.com/2009/04/bab-4-guinglaint-manor.html#comment-form" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/3298203226755057708?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/3298203226755057708?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Fontheus/~3/sEXKH7lEGNo/bab-4-guinglaint-manor.html" title="Bab 4: Guinglaint Manor" /><author><name>Donatsagogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18337986038711539722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://fontheus.blogspot.com/2009/04/bab-4-guinglaint-manor.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUQFRH47eCp7ImA9WxVbFUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152140761831197779.post-2037477977365199814</id><published>2009-03-18T01:30:00.000-07:00</published><updated>2009-03-31T20:41:55.000-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-31T20:41:55.000-07:00</app:edited><title>Bab 3: Perjalanan ke Delfador</title><content type="html">Chad bangun dari tidurnya sebelum matahari menyapa Terra-Fonthea di pagi itu. Semalam ia mengalami mimpi yang serupa dengan mimpi yang dialaminya saat ia sedang sekarat. Ia berada di tengah padang hijau dengan ribuan mayat prajurit Fastocia dan Orc bergelimpangan. Ketika ia berjalan menuju ke arah benteng hijau yang sedang terbakar, ia bertemu lagi dengan Arghol. Mayat-mayat saudara dan ayahnya tampak mengelilingi Arghol dan ia hanya tertawa terkekeh-kekeh. Ketika Chad hendak mendekatinya, ia lagi-lagi merasa badannya tidak dapat bergerak dan penyihir hitam tersebut berkata dengan suara serak, "Kemarilah, wahai penerusku, bangkitkan kembali Gardan yang telah lama tertidur!". Setelah itu ia langsung terbangun dengan keringat dingin yang membanjiri seluruh tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad melihat Tevlan tidur dengan pulas di ranjang sebelahnya. "Ini waktunya." Pikir Chad. Ia langsung bangkit dari ranjangnya dan mengambil pedang dan mantelnya. Dengan segera ia keluar dari kamar tersebut dengan mengendap-endap lalu turun ke bawah. Disana ia bertemu dengan Bjarni yang sedang membereskan barnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat pagi Bjarni." Sapa Chad seraya mengenakan mantelnya.&lt;br /&gt;"Selamat pagi, tidur nyenyak?" Ujar Bjarni seraya menurunkan bangku-bangku yang diletakkan diatas meja, tampaknya ia baru saja selesai mengepel lantai bar tersebut.&lt;br /&gt;"Yea, kau melihat 2 orang Vandals itu?" Tanya Chad.&lt;br /&gt;"Mereka sudah menunggumu di depan." Lanjut Bjarni, "Oh iya, kau tidak perlu memikirkan masalah biaya penginapan, Tevlan semalam berkata ia akan membayar semuanya, ia berkali-kali memenangkan taruhan tadi malam. Ngomong-ngomong kau ingin sarapan?"&lt;br /&gt;"Oh, maaf aku sangat buru-buru sekali, mereka sudah menungguku." Ujar Chad.&lt;br /&gt;"Kau akan meninggalkan anak itu? Bagaimana jika kau membawa beberapa potong roti?" Ujar Bjarni, anak yang dia maksud adalah Tevlan.&lt;br /&gt;"Yah, aku sudah berjanji kepada 2 orang Vandals itu untuk tidak membawanya, perjalanan ke ibukota sangat berbahaya, para Orc dan Goblin mungkin saja masih berkeliaran di provinsi Leona." Ujar Chad, "Baiklah, beberapa potong roti cukup untuk mengganjal perut."&lt;br /&gt;"Ah, kurasa itu keputusan yang cukup bijaksana, namun tentu dia akan sangat kecewa sekali. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan roti di dapur." Ujar Bjarni seraya melangkah ke dapur bar tersebut, tak lama kemudian ia membawa bungkusan kain berisi roti.&lt;br /&gt;"Ah, terima kasih Bjarni." Ujar Chad seraya menerima bungkusan tersebut, "Maaf sekali aku tidak memiliki uang untuk membayar semuanya."&lt;br /&gt;"Tidak apa-apa, kan sudah kubilang Tevlan yang akan membayarnya." Ujar Bjarni. "Hati-hati di jalan, lebih baik hindari Orc dan Goblin jika kau bertemu mereka."&lt;br /&gt;"Ya, sekali lagi terima kasih, sampai jumpa Bjarni." Ucap Chad seraya melangkah keluar dari bar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar bar telah menunggu Ga Drakh dan Oric. Mereka menaiki sebuah kereta kuda yang ditarik oleh 2 ekor kuda. Ga Drakh tampak sedang memeriksa barang bawaannya diatas kereta kuda tersebut sementara Oric sedang asyik memakan roti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, hakhirnyha khau bhanghun jhugha." Ujar Ga Drakh, "Khau shudhah menghambhil khepudhushan yhang dhepat hundhuk dhidak menghajhak hanhak hidhu bhukan?"&lt;br /&gt;"Ya, tunggu sebentar, aku akan mengambil kudaku." Ujar Chad. Ia memasuki istal di sebelah penginapan Bjarni dan mengambil kudanya. Pengurus kuda tersebut hanya mengangguk-angguk ketika Chad mengeluarkan kudanya. Ketika Chad telah mengeluarkan kudanya dari istal tersebut, dari kejauhan tampak Dorin yang datang dengan keledainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei, pagi Dorin." Sapa Chad.&lt;br /&gt;"Pagi, kau sudah akan berangkat nak?" Tanya Dorin&lt;br /&gt;"Ya, aku angkat berangkat dengan mereka." Jawab Chad sambil menunjuk kereta kuda milik Ga Drakh dan Oric.&lt;br /&gt;"Jadi kau akan meninggalkan Tevlan? Ia tentu akan sangat kecewa." Tanya Dorin dengan raut muka yang sedikit serius.&lt;br /&gt;"Khamhi dhidhak bhisa mhengambhil seghala rhesiko bhu." Ujar Ga Drakh sebelum Chad sempat menjawab pertanyaan Dorin. "Hia mhasih shangat mudha shemendhara pherjalhanan khe Dhelfadhor shangat bherbahayha."&lt;br /&gt;"Ah, baiklah, aku mengerti dengan hal tersebut." Ujar Dorin, "Ngomong-ngomong Chad, bawalah ramuan ini." Dorin menyerahkan sebungkus kain yang berisi ramuan yang ia buat, "Ini adalah ramuan dari akar Glycyrrhizic, jika kau terluka, cukup oleskan ramuan ini dan perban dengan kain."&lt;br /&gt;Chad menerima bungkusan tersebut dan berkata, "Oh, terima kasih Dorin, sekali lagi terima kasih atas segala bantuan darimu."&lt;br /&gt;"Selamat jalan Chad, setelah ini aku harus segera kembali ke desa." Ujar Dorin. "Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu, kau mewarisi senyum ayahmu, hahaha." Ia tertawa kecil.&lt;br /&gt;"Baiklah Dorin, aku harus segera berangkat, tolong sampaikan permintaan maafku kepada Tevlan karena aku tidak sempat mengajaknya." Lanjut Chad, "Ia mungkin bisa datang ke ibukota di lain waktu dan pasti aku akan membantunya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad menaiki kudanya dan mulai berangkat bersama kedua orang Vandals tersebut. Dorin mengamati mereka lalu mulai pergi dengan keledainya ke arah desa Leafth. Di sepanjang jalan-jalan di kota Falova, Chad melihat banyak pedagang yang sedang menyiapkan barang dagangannya. Mereka menjajakan berbagai macam barang seperti perhiasan manik-manik, perkakas-perkakas dapur hingga senjata sekalipun dijual di tempat tersebut. Pemandangan seperti itu bisa dilihat hampir setiap hari mulai dari pagi hingga sore hari di kota Falova. Kadang kala juga ada pasar malam jika sedang ada perayaan-perayaan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu di penginapan Bjarni, Tevlan terbangun dan kaget ketika tidak mendapati Chad di tempat tidurnya. Ia melihat sekeliling dan tidak menemukan pedang dan mantel Chad. Ia segera mengambil barang bawaan dan busurnya dan bergegas turun ke bawah. Disana ia bertemu dengan Bjarni yang telah selesai membereskan barnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dimana Chad?" Tanya Tevlan.&lt;br /&gt;"Kau terlambat bangun nak, ia telah berangkat bersama 2 orang Vandals tersebut." Ujar Bjarni sambil mengelap gelas-gelas yang tertata rapi di lemari kayu. "Ngomong-ngomong jangan lupa membayar, kau tidak akan berhutang lagi kan?"&lt;br /&gt;"Ah, tentu." Ujar Tevlan sambil membuka kantong uangnya dan menyerahkan beberapa keping uang logam perunggu besar, tak lama kemudian ia segera bergegas keluar dari bar dan berkata, "Ambil saja kembaliannya."&lt;br /&gt;Bjarni memeriksa jumlah uang yang diberikan oleh Tevlan dan berkata, "Hei, ini tidak cukup!" Namun sayang sekali Tevlan telah keluar dari bar tersebut dan bergegas untuk mengambil kudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan segera menaiki kudanya dan memacunya kencang. Ia mencoba mengejar Chad dan 2 orang Vandals tersebut sebelum mereka keluar dari kota Falova dan mencapai perbatasan provinsi. Di sepanjang jalan ia melalui rumah-rumah dan toko-toko yang berjejeran di sisi jalan utama menuju pintu gerbang timur kota Falova.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba di tengah perjalanan ia terpaksa menghentikan kudanya. Ia melihat kerumunan pedagang dan pembeli di sepanjang jalan utama yang membuat jalan tersebut nyaris tidak dapat dilalui oleh kuda sekalipun. Pemandangan tersebut sebenarnya sudah sering dilihat oleh Tevlan saat ia berkunjung ke Falova, namun kali ini ia harus memutar otak bagaimana caranya ia bisa melewati kemacetan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memutuskan untuk segera memutar arah dan mencoba melewati pelabuhan yang menurutnya tidak terlalu ramai karena hanya ada sedikit kegiatan bongkar muat selama musim dingin di pelabuhan tersebut. Ia kembali memacu kudanya dengan kencang tanpa menghiraukan udara dingin yang menerpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian ia sampai di sisi pelabuhan. Hanya ada sedikit kapal yang sedang membuang sauh di pelabuhan tersebut, kebanyakan hanya ada kapal barak milik orang Vandals yang terkenal tangguh mengarungi badai sebesar apapun. Beberapa orang tampak sedang membongkar muatan kapal tersebut. Burung-burung camar terlihat terbang mengelilingi tiang-tiang kapal dan hinggap di atap-atap bangunan di pelabuhan tersebut.Tevlan memacu kudanya di sisi kapal-kapal yang sedang membuang sauh tersebut. Ia hampir saja menabrak seseorang yang sedang membawa jaring yang penuh berisi ikan, namun dengan sigap ia berhasil menghindarinya. Orang tersebut mengumpat dan menyumpahi Tevlan namun ia tidak peduli dan tetap memacu kudanya hingga akhirnya ia memasuki jalan alternatif yang tidak seramai jalan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan terus memacu kudanya hingga akhirnya ia tiba di pintu gerbang timur kota Falova. Di kejauhan ia melihat sebuah kereta kuda dan ia yakin Chad ada disana. Ia segera mengejarnya dan akhirnya berhasil mencapai kereta kuda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei, Tunggu!" Teriak Tevlan untuk menghentikan laju kereta kuda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad yang menunggangi kudanya dan berada di depan kereta kuda tersebut menoleh dan mendapati Tevlan yang sedang memacu kencang kudanya. Ia segera menghentikan kudanya dan meminta kedua orang Vandals tersebut untuk ikut berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kalian meninggalku?" Tanya Tevlan ketika ia tiba di dekat Chad.&lt;br /&gt;"Khau Yhakhin Hundhuk Hikhut? Khau mhasih shanghat mhuda dhan dhidhak bherpenghalamhan, pherjalhanan khe Dhelfadhor shangat bherbahayha dhengan hadanyha phara Horc dhan Ghoblhin!" Ujar Ga Drakh sebelum Chad sempat untuk menjelaskan.&lt;br /&gt;"Kalian mengira aku hanyalah seorang anak kecil ingusan?" Tevlan mulai sedikit marah, "Aku telah berumur 18 tahun, dan aku sudah diperbolehkan untuk menjadi prajurit. Aku seorang pemanah handal dan aku pernah mengalahkan beberapa perampok di desaku hanya dengan panahku ini!"&lt;br /&gt;"Khau mhampu? Khalau bhegidhu bukdhikan khalau khau mhemang mhampu!" Ujar Oric, ia merasa perkataan Tevlan bukan hanya sekedar bualan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan marah dan mukanya menjadi merah. Ia merasa Oric hanya mengejeknya sebagai anak ingusan tukang membual saja. Ia melihat sekeliling dan matanya tertuju ke sebuah papan petunjuk jalan yang berada beberapa puluh meter dari tempat mereka. Di atas papan tersebut terdapat sebuah penunjuk arah yang dapat berputar jika tertiup angin. Tevlan merasa itu adalah sasaran yang tepat untuk membuktikan bahwa ia bukan hanya sekedar anak ingusan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau lihat papan tersebut?" Ujar Tevlan, "Aku akan membidikkan panahku tepat di tengah penunjuk arah yang sedang berputar diatasnya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oric melihat kearah papan tersebut. Ia melihat penunjuk arah di atasnya berputar dengan cepat karena kencangnya angin, ia merasa target tersebut cukup sulit untuk dibidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bhaiklah, hanhak mhuda, jhika khau bherhasil mhembhidhikkan phanahmhu khe hadhas phaphan dhershebhut, khau bholeh hikhud khe Dhelfadhor." Ujar Oric.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan mengambil busurnya dan sebuah anak panah yang menurutnya adalah sebuah anak panah keberuntungan. Dengan anak panah keberuntungannya tersebut, selama ini ia selalu berhasil membunuh hewan buruannya dengan satu bidikan. Ia selalu mencabut anak panah tersebut dari tubuh hewan buruannya dan membersihkan serta mengasahnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari atas kudanya, Tevlan dengan percaya diri menarik tali busurnya dan mengarahkannya ke penunjuk arah yang berputar tersebut. Ketika ia merasa arah angin telah tepat, dengan cepat ia melepaskan anak panah keberuntungannya. Dalam hitungan detik anak panah tersebut melesat dan menancap tepat di tengah-tengah penunjuk arah yang mulai berhenti berputar tersebut. Ia memamerkan senyum kemenangannya kepada Chad dan 2 orang Vandals yang sedikit terkesima tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana? Kalian masih menganggapku sebagai anak ingusan?" Ujar Tevlan.&lt;br /&gt;"Ya-ah, bhaiklah khau bholeh hikut dhengan khami." Ujar Ga Drakh, Oric hanya mengangguk tanda bahwa ia kagum dengan kemampuan Tevlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan tersenyum senang. Ia memacu kudanya ke arah papan tersebut dan mencabut anak panah keberuntungannya. Namun sayang sekali anak panah tersebut patah ketika ia mencoba mencabutnya. Tampaknya anak panah itu menancap terlalu kuat di penunjuk jalan tersebut. "Ah biarlah, aku mungkin tidak akan membutuhkannya lagi" Pikir Tevlan. Lalu ia kembali lagi ke kereta kuda Ga Drakh dan Oric.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, mereka berempat melanjutkan perjalanan menuju ke Delfador. Sebelum mereka dapat memasuki provinsi Leona, mereka harus melewati sebuah gerbang perlintasan yang dijaga sangat ketat oleh para prajurit Fastocia. Di gerbang perbatasan tersebut tidak ada seorangpun yang diperbolehkan masuk ke provinsi Leona. Ternyata para Orc telah membobol benteng hijau di utara kerajaan Fastocia dan beberapa hari yang lalu mereka telah membumi-hanguskan kota Valencia. Beberapa pengungsi berhasil lari menuju ke gerbang perbatasan tersebut, sementara yang lain lari menuju ibukota. Tak sedikit rakyat Fastocia di provinsi Leona yang dibunuh oleh Orc, sementara anak-anak mereka ditangkap oleh Goblin untuk dijadikan budak dan bekerja di tambang-tambang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ceritakan tentang negeri asalmu." Tanya Tevlan penasaran, ia tampaknya cukup jenuh menempuh perjalanan yang agak jauh tersebut.&lt;br /&gt;"Khami bherashal dhari nhegeri Vhandals, shebuah nhegerhi yhang dherledhak jauh dhi hudhara. Khami hidhup bherdamphingan dhengan phara Dwarfs" Ujar Ga Drakh, "Shelama bheribu-ribu dhahun, kherajhaan Ghardan mhenchoba hundhuk mhenakhlukhan nhegerhi khami, nhamun mherekha dhidak phernah bhisa mhenghalahkhan lheluhur khami yhang phemberani. Lheluhur khami bahu-mhembahu dhengan bhangsha Dwarfs hundhuk mhelawhan Ghardan shelama rhadusan dhahun, shelama hidhu phula khami dhedaplah shebuah nhegeri yhang mherdeka dhan hidhup dhamai dhengan bhangsha Dwarfs. Dhiceridhakan khedika lelhuhur pherdama khami, Garrugh yhang dhibawha holheh bhangsha Dwarfs khe hudhara, dhisanha hia dhirawhad holheh bhangsha Dwarfs dhan khedurhunannyha dherus bherdambhah dhan hidhup bhershama bhangsha Dwarfs." Ga Drakh mengakiri kisahnya.&lt;br /&gt;"Lalu, barang apa yang kau bawa ke ibukota?" Tanya Chad, tampaknya ia juga ikut penasaran.&lt;br /&gt;"Shebuah phedhang bhuadan Dwarfs, phedhang yhang shangat hebhat kharenha phedhang hinhi dhibuat dhari bhesi dherbhaik dhan dhidempha holeh phandhai bhesi dherbhaik bhangsha Dwarfs. Dhengan phedhang hinhi khau bhisa mhemhodong bhesi shemudah khau mhenghiris mhendega." Ujar Oric, ia tampaknya hanya tertarik dengan segala hal yang berbau senjata dan petualangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perjalanan yang cukup jauh, Chad, Tevlan, Ga Drakh dan Oric tiba di gerbang perlintasan tersebut. Gerbang tersebut tertutup rapat dan dijaga oleh sekitar 50an prajurit yang berada di atas tembok dan menara gerbang tersebut. Sebagian besar dari mereka membawa busur dan sisanya membawa tombak. Bendera Fastocia yang berlambang sebuah mahkota dengan 2 ekor singa berkibar di tiap sudut di atas gerbang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 orang prajurit bertombak yang berjaga di bagian bawah gerbang mencegat mereka berempat. Mereka menyilangkan tombak panjang mereka, tanda bahwa tidak ada seorangpun yang diperbolehkan untuk melintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf tuan, tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melintasi gerbang ini." Ujar salah satu prajurit yang lebih jangkung.&lt;br /&gt;"Dhidhak boleh mhelindhas? Hakhu harhus shegerha dhiba di Dhelfadhor shebelhum bhesok phagi. Shehorhang bhangsawhan mhemeshan shebuah phedhang bhuadan Dwarfs! Khalian phasti hakhan dhihukhum jhika khirimhan inhi dherlambhat dhadang!" Ujar Ga Drakh, ia mencoba menakuti kedua prajurit tersebut.&lt;br /&gt;Si jangkung tersebut mengerutkan dahinya, ia bertatapan dengan temannya yang lebih pendek dan sedikit gemuk, lalu ia berkata lagi, "Maaf sekali tuan, perintah adalah perintah, kami bisa dihukum lebih berat jika membiarkan seseorang melintasi gerbang ini."&lt;br /&gt;Ga Drakh sedikit kesal, "Bhisa phanggilkhan phemimphin khalian? Hakhu hinghin bherbhicarha dhengannyha!"&lt;br /&gt;Kedua prajurit tersebut kembali saling bertatapan. "Tolong panggilkan sersan Hylas!" Teriak si jangkung kepada para prajurit yang berjaga diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian sersan Hylas muncul di atas gerbang tersebut. Ia adalah seorang prajurit tua yang telah ditugaskan untuk memimpin penjagaan gerbang perbatasan tersebut selama 30 tahun lebih. Ia tampaknya baru saja bangun tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa ini." Ujar sersan Hylas sambil menguap, matanya tertuju ke arah kereta kuda Ga Drakh, "Ah, tuan-tuan, berdasarkan perintah dari ibukota, tidak ada seorangpun yang diperbolehkan untuk melintasi perbatasan ini, jika anda tetap nekat, kami tidak segan-segan untuk menangkap anda semua dan menghukum anda sebagai pemberontak. Baiklah, selamat pagi." Sersan tersebut melengos untuk kembali tidur di menara utama, namun Ga Drakh buru-buru mencegahnya.&lt;br /&gt;"Dhunggu shebendar dhuan!" Ujar Ga Drakh, ia mengisyaratkan Oric untuk mengambil 2 tong bir di dalam kereta kuda mereka, "Khami hakhan menhuju khe Dhelfadhor, dhapi dhampaknyha bharang bhawaan khami dherlalhu bhanyak. Jhika dhuan mhengijhinkan, bholehkah khami mhenidhipkan bir dherbaik hini dhisini?"&lt;br /&gt;Sersan Hylas mengamati 2 tong bir yang dikeluarkan oleh Oric. Kedua penjaga yang berada di depan pintu gerbang seakan ingin meneteskan air liur mereka. Mereka telah bertugas selama beberapa minggu tanpa mendapatkan bir karena tidak ada kiriman dari luar akibat cuaca yang buruk. Sekarang di depan mereka terdapat 2 tong bir yang cukup untuk  memuaskan hasrat mereka selama ini. "Ah, baiklah. Bukakan Gerbang!" Perintah Sersan Hylas.&lt;br /&gt;Ga Drakh tersenyum ketika pintu gerbang di depannya terbuka dengan perlahan. "Shenang bherbisnhis dhenganmhu dhuan!" Ujar Ga Drakh.&lt;br /&gt;"Yaya, cepatlah pergi sebelum ada orang yang melihat ini." Ujar Sersan tersebut, "Tunggu sebentar, berhati-hatilah tuan, rumah-rumah dan ladang-ladang penduduk di sepanjang jalan menuju ke Valencia telah dibakar. Banyak pengungsi yang berdatangan kesini dan kurasa para Orc dan Goblin masih berkeliaran di luar sana"&lt;br /&gt;"Dhenang shaja dhuan, khami mhemilhiki bheberapha horhang yhang dhangguh dhisinhi." Ujar Ga Drakh, "Khalau bhegidhu, hijhinkhan shaya phermisi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad, Tevlan, Ga Drakh dan Oric melintasi pintu gerbang yang telah dibuka tersebut. Setelah mereka lewat, pintu tersebut dengan cepat ditutup. Para penjaga tidak mau ada orang yang melihat dan melaporkan hal tersebut ke ibukota. Tentu saja mereka akan dihukum berat jika ketahuan membiarkan orang memasuki provinsi Leona. Di kejauhan, tampak asap-asap yang mengepul tinggi. Tampaknya asap tersebut berasal dari rumah-rumah yang dibakar di sepanjang jalan menuju ke Valencia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemarin cuaca sangat buruk, bagaimana asap tersebut bisa tetap mengepul?" Tanya Chad penasaran.&lt;br /&gt;"Hashap dhershebut mhasih bharu, mhungkhin phara Ghoblin bharu shaja mhembakharnya." Ujar Oric, "Chepat, khida harhus bherangkhad shecephatnyha!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berempat segera memacu kereta kuda dan kuda mereka kencang-kencang. Jalan mereka yang lalui tampak begitu sepi dan mencekam. Mereka melewati sebuah kereta kuda yang terbalik. Di dekat kereta kuda tersebut tampak mayat seorang pria dewasa dan seorang wanita yang sedang membawa bayi yang juga sudah tewas. Di tubuh mayat-mayat tersebut dipenuhi dengan anak panah yang menancap. Tampaknya mereka tidak sempat sampai ke pintu gerbang perbatasan sebelum para Goblin menjadikan mereka sasaran anak panah. Rombongan Chad juga melewati beberapa mayat yang kondisinya sungguh mengenaskan. Mereka semua telanjang bulat dan beberapa sudah tidak berkepala. Tampaknya para Goblin yang serakah telah menjarah seluruh harta benda mayat-mayat tersebut. Mereka berempat tidak mempedulikan pemandangan tersebut. Mereka harus segera tiba di Delfador sebelum nasib mereka menjadi sama dengan mayat-mayat mereka temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 2 jam kemudian, mereka hampir mendekati persimpangan jalan antara desa Ka'arni dengan kota Valencia ketika tiba-tiba Ga Drakh meminta mereka untuk berhenti. Ia tampaknya menemukan pemandangan ganjil di depannya. Ga Drakh mengambil teropong navigasi yang biasanya ia gunakan jika sedang berlayar di laut. Ia mengamati rumah-rumah yang terbakar. "Ghoblhin!" Hujhar Ga Drakh, lalu ia menyerahkan teropong tersebut kepada Oric.&lt;br /&gt;"Lhihat, mherekha mhembhawa bhudak!" ujar Oric. Di kejauhan tampak rombongan Goblin yang membawa beberapa budak yang berjalan berbaris dan diikat dengan rantai. Jumlah budak tersebut kurang lebih 10 orang dan mereka semua adalah anak-anak. Tampaknya para Goblin menangkap mereka dari desa Ka'arni untuk dijadikan budak.&lt;br /&gt;"Hei, kita harus menolong mereka!" Ujar Chad.&lt;br /&gt;"Dhidhak!" Sergah Ga Drakh, "Hurhusan khida hanyhalah shampai khe Dhelfadhor dhenghan shelamhat, dhidak hadha hurushan dhengan Ghoblin mahuphun bhudak!"&lt;br /&gt;"Jhumlah phara Ghoblin hidhu." Lanjut Oric sambil tetap mengamati mereka, "Dhidhak shampai 10, dhan mherekha bhukanlah penghendhara sherighala, khurasha mhudah hundhuk membhasmi mherekha."&lt;br /&gt;"Ya itu benar, aku akan ikut menolong mereka!" Ujar Tevlan.&lt;br /&gt;"Ya-ah, dherserah khalian, hakhu hanya hakhan mhenungghu dhisinhi, nhamun jhika khalian mhadi, hakhu dhedap hakhan phergi khe Dhelfadhor!" Ujar Ga Drakh kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oric mulai menyusun rencana bersama Chad dan Tevlan untuk menyergap para Goblin tersebut. "Bherapha dharget yhang bhisa khau bhidik?" Tanya Oric kepada Tevlan.&lt;br /&gt;"2 atau 3 untuk serangan awal, sisanya mungkin lebih banyak lagi." Ujar Tevlan.&lt;br /&gt;"Bhaiklah, Chad, khau sherang mherekha dhengan khudamhu." Lanjut Oric. "Shedelah Dhevlan mhembhunuh bheberhapa Ghoblin, khau khacaukhan mherekha, lhalu hakhu hakhan shegerha dhadang hundhuk mhembhandhumu."&lt;br /&gt;"Baiklah, itu rencana yang bagus." Ujar Chad setuju, "Ayo kita segera bereskan mereka."&lt;br /&gt;"Dhungghu shebendar." Oric kembali ke kereta kudanya dan tampaknya sedang mencari sesuatu. Tak lama kemudian ia kembali sambil membawa sebuah kapak perang, sebuah helm besi, dan sebuah baju zirah berbahan kulit. "Hinhi hundhukmu." Ujar Oric seraya menyerahkan baju zirah tersebut kepada Chad, "Bhenda hinhi chukup hundhuk mhelindhungimhu, lhebih rhingan dhari bhesi dhan khuat!"&lt;br /&gt;"Ah, terima kasih." Ujar Chad seraya mengenakan baju zirah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oric mengenakan helm perangnya dan melepas ikat salah satu kuda di kereta kudanya untuk ia tunggangi. Ia tampak seperti ksatria bangsa Vandals yang dahulu kala mempertahankan tanah mereka dari kerajaan Gardan. Ia telah berumur 40 tahun dan ia suka berperang layaknya semua laki-laki dari daerah asalnya di utara. Raut wajahnya menyiratkan sebuah kerinduan untuk berperang setelah 10 tahun ia beralih profesi sebagai pedagang. Saat itu Ga Drakh, teman sedesanya mengajaknya untuk ikut berdagang dan mengarungi lautan dari pelabuhan satu ke pelabuhan yang lain. Oric yang kala itu adalah seorang prajurit, merasa bahwa itu ajakan yang menarik karena kariernya sebagai prajurit tidak mengalami perkembangan yang berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga mengendarai kuda untuk mengejar rombongan budak tersebut sementara Ga Drakh tetap diam bersama kereta kudanya sambil terus mengumpat dengan bahasa Vandals. Mereka lalu memotong jalan melalui ladang dan rumah-rumah yang terbakar untuk menyergap rombongan tersebut. Tak lama kemudian Chad, Oric dan Tevlan tiba di sebuah tempat di sisi jalan yang ditutupi oleh pepohonan. Tevlan turun dari kudanya dan mulai menyiapkan busur dan anak panahnya. Oric juga ikut turun karena ia lebih merasa nyaman bertarung tanpa kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan telah menarik tali busurnya dan mengamati rombongan budak bersama Chad dan Oric. Ketika rombongan tersebut semakin mendekat, Tevlan membidik salah satu Goblin dan melepaskan anak panahnya yang langsung menancap di leher Goblin tersebut. Tevlan kembali menarik tali busurnya dan mengarahkannya ke para Goblin yang sedang kebingungan. Goblin-goblin tersebut mencoba mencari arah datangnya panah pertama tersebut. Tidak sampai 1 menit sudah 2 goblin yang tumbang karena panah Tevlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad dan Oric langsung keluar dari persembunyian mereka dan menyergap Goblin-Goblin tersebut. Chad memacu kudanya seraya mengangkat pedangnya tinggi-tinggi sementara Oric berlari membawa kapaknya yang berat sambil meneriakkan teriakan perang. Chad langsung menebas leher salah satu Goblin yang menghadangnya. Ia mengacaukan pasukan Goblin tersebut tersebut dengan kudanya. Oric dengan beringas membantai tiap Goblin yang ditemuinya sementara Tevlan terus menembakkan anak panah dari tempat persembunyiannya. Anak-anak yang akan dijadikan budak oleh Goblin tersebut berkumpul dan terlihat sangat ketakutan. Mereka semua menangis dan saling berpelukan. Chad dan Oric terus bertarung dan membantai seluruh Goblin tersebut. Akhirnya pertarungan singkat tersebut dimenangkan oleh Chad, Oric dan Tevlan. Para Goblin tersebut hampir tidak dapat melakukan perlawanan sama sekali karena disergap dengan tiba-tiba oleh mereka bertiga. Tevlan keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari-lari kecil menuju tempat Chad dan Oric. Ia tersenyum dan mengklaim dirinya telah berhasil membunuh 5 goblin dengan busurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oric memeriksa mayat-mayat Goblin tersebut. Ia sedang mencoba mencari kunci dari rantai yang mengikat anak-anak malang tersebut. Tak lama kemudian ia menemukan salah satu Goblin yang ternyata belum mati dan sedang sekarat. Oric menanyakan kunci rantai tersebut kepada Goblin itu dengan bahasa utara. Goblin tersebut hanya mendesis seperti ular dan menolak untuk berbicara. Oric kembali bertanya kepada Goblin tersebut, kali ini ia mengancam akan membunuhnya jika ia tidak menjawabnya. Goblin tersebut tampak ketakutan dan menunjuk salah satu rekannya yang telah mati. Tevlan berjalan menuju mayat yang ditunjuk oleh Goblin tersebut dan memeriksanya. Ia menemukan kuncinya dan melemparkannya kepada Chad yang telah turun dari kudanya dan sedang mendekati anak-anak malang tersebut. Chad lalu membuka rantai yang mengikat tangan anak-anak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oric menatap ke arah datangnya rombongan tadi dan ia melihat ada yang datang. "Phenghendhara Sherighala!" Teriak Oric, dari kejauhan tampak 5 Goblin yang memacu kencang hewan tunggangan mereka. Tevlan merespon teriakan Oric dan membidikkan anak panahnya.&lt;br /&gt;"Bhidik Sherighalanya!" Perintah Oric kepada Tevlan, seorang penunggang serigala Goblin bukanlah apa-apa tanpa hewan tunggangan mereka. Anak panah Tevlan melesat dan mengenai salah satu serigala yang langsung terjungkal. Keempat pengendara serigala lainnya terus memacu hewan tunggangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad menaiki kudanya dan memacunya kencang menuju arah penunggang serigala tersebut. Ia mengangkat pedangnya dan menebaskannya ke salah satu penunggang serigala tersebut yang langsung menangkis serangannya. Chad memutar kudanya dan berhadapan dengan penunggang tersebut sementara teman-teman lainnya tetap memacu serigala mereka ke arah Oric dan Tevlan. Ia lalu memacu kudanya yang juga dibarengi Goblin tersebut. Chad hampir saja terkena tombak Goblin tersebut, namun dengan sigap ia memiringkan badannya dan menebaskan pedangnya ke serigala tunggangan Goblin tersebut. Serigala tersebut terjungkal dan menjatuhkan penunggangnya. Chad segera menebas kepala Goblin tersebut sebelum ia sempat mengangkat tombaknya yang terjatuh. Setelah itu Chad langsung mengejar Goblin yang tunggangannya dipanah oleh Tevlan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oric dan Tevlan siap untuk melawan tiga penunggang serigala lainnya yang mendekati mereka. Tevlan terus menembakkan anak panahnya namun berhasi dihindari oleh para penunggang tersebut. Ia hanya berhasil melukai pundak salah satu Goblin tersebut. Tevlan segera mengambil pedang dari Goblin yang telah mati ketika  para penunggang serigala semakin mendekat. Pertarungan jarak dekat tidak dapat dihindari, Oric menundukkan badannya untuk menghindari tusukan tombak salah satu Goblin tersebut. Ia dengan sigap menebas serigala penunggang lainnya yang juga akan menyerangnya. Tevlan sementara itu tidak dapat berbuat banyak karena ia memang tidak terlalu ahli dalam pertempuran jarak dekat. Ia hanya bisa menghindar dan menangkis serangan penunggang serigala yang menyerangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad kembali ke tempat pertarungan Oric dan Tevlan. Ia membantu Tevlan yang sedang kesusahan melawan penunggang serigala tersebut. Chad memancing Goblin tersebut untuk mengejarnya dan dengan sigap Tevlan membidikkan busurnya ke Serigala Goblin tersebut. Oric dengan mudah mengalahkan 2 penunggang serigala lainnya walaupun ia menghadapi pertarungan yang hampir tidak seimbang. Akhirnya seluruh penunggang tersebut dapat dikalahkan juga oleh Chad, Oric dan Tevlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oric terdiam menatap arah datangnya para penunggang tersebut. ia tersentak dan teringat dengan Ga Drakh. Ia segera mengambil kudanya dan meminta Chad dan Tevlan untuk tetap disitu dan membantu melepaskan rantai ikatan anak-anak tersebut. Kemudian ia memacu kudanya dan tiba di dekat kereta kuda Ga Drakh. Oric sangat terkejut dan sedih ketika mendapati tubuh Ga Drakh yang sudah tidak bernyawa dan bersimbah darah tergeletak di dekat kereta kuda tersebut dengan menggenggam sebilah pedang di tangannya. Ga Drakh tampaknya diserang oleh kelima penunggang serigala tersebut dan telah melakukan perlawanan mati-matian. Namun dengan lawan yang tidak seimbang dan gerak tubuhnya yang tidak lincah, ia dengan mudah dibunuh oleh para penunggang serigala tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oric turun dari kudanya dan melepas helm perangnya. Ia berlari menuju mayat Ga Drakh dan menutup matanya yang masih terbuka. Oric menjadi sangat sedih dan marah. Ia menutup jasad Ga Drakh dengan sebuah kain dan menaikannya ke atas kereta kuda. Ia memasang kudanya kembali ke kereta kuda tersebut dan menjalankannya ke tempat Chad dan Tevlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad dan Tevlan sedang sibuk membuka rantai anak-anak malang tersebut ketika Oric datang. Mereka berdua sangat terkejut ketika melihat jasad Ga Drakh diatas kereta kuda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hia Dhelah Mheningghal." Ujar Oric dengan sedih dan marah "Phara Phenungghang Dherkhuduk Dhershebut Dhelah mhembhunuhnya!"&lt;br /&gt;Chad dan Tevlan tidak dapat berkata-kata sementara anak-anak yang akan dijadikan budak tersebut juga terdiam dan sesekali masih menangis sesenggukan.&lt;br /&gt;"Hakhu hakhan mhengubhurkhannya, mhalam hinhi khida bherkemah dhisini." Ujar Oric.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oric menjalankan kereta kudanya ke tanah pertanian di tempat tersebut. Chad menginstruksikan anak-anak yang akan dijadikan budak itu untuk mengikutinya. Oric menghentikan kereta kudanya ketika ia telah tiba. Ia lalu menurunkan jasad Ga Drakh dan mulai menggali tanah untuk menguburkannya. Chad dan Tevlan membantunya setelah mereka menemukan sekop di sebuah rumah yang telah ditinggalkan pemiliknya di tanah pertanian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari telah beranjak sore ketika mereka telah selesai menguburkan Ga Drakh. Oric menguburkan Ga Drakh dengan upacara penguburan bangsa Vandals. Ia menguburkan Ga Drakh bersama dengan pedangnya dan sebuah koin emas Vandals. Lalu ia juga menancapkan sebuah nisan kayu yang diukir dengan huruf kuno yang bertuliskan "Ga Drakh(sang Naga) telah tertidur disini"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh anak-anak yang telah diselamatkan tersebut duduk melingkari api unggun yang mereka buat. Perut mereka lapar dan Tevlan telah menyuruh mereka untuk mencari sisa-sisa makanan yang mungkin masih ada di rumah-rumah kosong di tanah pertanian tersebut. Mereka hanya mendapatkan beberapa potong roti dan daging kering. Oric membantu mereka dengan mengeluarkan seluruh persediaan makanannya yang tersimpan di kereta kudanya. Mereka semua berkumpul dan menyantap makan malam seadanya malam itu. Oric tidak ikut berkumpul bersama mereka dan memilih untuk diam di samping kuburan temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, ceritakan bagaimana kalian bisa tertangkap oleh Goblin tersebut." Ujar Chad mengawali pembicaraan.&lt;br /&gt;Seorang anak perempuan berumur 15 tahun dan tampaknya yang paling tua diantara mereka menjawab pertanyaan Chad, "Kami diminta oleh orang tua kami untuk bersembunyi di bukit ketika Goblin-goblin tersebut telah datang. Ketika kami kembali turun ke desa kami, seluruh warga desa kami telah dibantai, tak terkecuali orang tua kami." Ia berhenti sejenak dan sedikit terisak. Matanya memerah dan air mata meluncur di pipinya. "Kami sedang kebingungan ketika Goblin-goblin tersebut datang kembali, mereka menangkap kami semua sampai akhirnya tuan-tuan menolong kami."&lt;br /&gt;Chad dan Tevlan tertegun mendengar cerita anak tersebut. "Siapa namamu?" Tanya Tevlan.&lt;br /&gt;"Namaku Heine." Ujar anak tersebut singkat.&lt;br /&gt;"Setelah ini kalian akan kemana?" Tanya Tevlan lagi.&lt;br /&gt;"Kami tidak memiliki arah tujuan." Heine kembali terisak, "Orangtua kami telah meninggal, desa kami telah dihancurkan dan kami hampir akan dijadikan budak!" Isakan Heine juga diikuti oleh anak-anak lainnya.&lt;br /&gt;"Sudah-sudah, kalian semua adalah anak pemberani." Ujar Chad menenangkan, "kurasa lebih baik kalian semua pergi ke kota Falova, disana kalian akan mendapat tempat yang aman dan memulai hidup kembali."&lt;br /&gt;"Kami tidak memiliki sanak-saudara, teman, apakah kami harus hidup mengemis disana?" Sergah Heine.&lt;br /&gt;"Pergilah ke desa Leafth di Farlov." Lanjut Tevlan mengusulkan, "Disana carilah seorang nenek bernama Dorin, ia pasti akan mengurus kalian semua."&lt;br /&gt;Heine terdiam, ia tampaknya setuju dengan usul Tevlan. Tidak mungkin baginya dan bagi teman-temannya untuk kembali ke desa mereka. Memulai hidup kembali di desa Leafth adalah keputusan yang tepat. "Baiklah, kurasa itu keputusan yang terbaik bagiku dan teman-temanku." Heine mengusap air matanya, "Kalian tuan, akan pergi kemana?"&lt;br /&gt;"Kami bertiga akan berangkat ke Delfador besok pagi." Ujar Chad, "Lebih baik kalian semua tidur malam ini, besok pagi-pagi sekali kalian harus mulai berangkat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heine dan anak-anak lainnya menyudahi makan malam mereka dan masuk ke dalam sebuah rumah kosong di tanah pertanian tersebut. Mereka semua masih menyisakan kesedihan karena desa dan orangtua mereka telah tiada. Namun mereka masih menyimpan rasa syukur karena mereka telah diselamatkan oleh Chad, Tevlan dan Oric walaupun Oric harus membayar mahal dengan kehilangan temannya Ga Drakh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad dan Tevlan tidur di dekat api unggun dengan berselimutkan mantel mereka. Mereka tidak ingin mengganggu Oric yang masih saja terdiam di dekat pusara Ga Drakh. Oric tampak sangat sedih karena Ga Drakh adalah teman baiknya sejak ia kecil. Mereka berdua telah dibesarkan bersama-sama di desa mereka. Ketika mereka telah beranjak remaja, Oric memutuskan untuk menjadi prajurit sementara Ga Drakh mulai merintis karirnya sebagai pedagang mengikuti jejak ayahnya mengarungi lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu langit tampak cerah tanpa awan. Bulan Aeron yang berwarna Biru Kehijauan bersinar cukup terang disertai dengan ribuan bintang yang dipercaya sebagai pecahan matahari yang dibuat oleh Hagall di siang hari. Oric menatap ke arah bulan tersebut. Ia berharap masa terang Aeron akan segera usai dan digantikan oleh bulan Tronjheim. Tronjheim adalah dewa utama yang disembah oleh bangsa Vandals dan Dwarfs. Mereka percaya bahwa Tronjheim adalah sumber dari kekuatan mereka. Oleh karena itulah bangsa Vandals dan Dwarfs lebih suka berperang di saat bulan Tronjheim berada di langit malam Terra-Fonthea selama 32 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam telah beranjak pagi. Oric yang sedari tadi sama sekali tidak tidur, beranjak dari samping pusara Ga Drakh dan mulai membangunkan Chad dan Tevlan. Perjalanan harus segera dilanjutkan dan petualangan mereka juga akan terus berlanjut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152140761831197779-2037477977365199814?l=fontheus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://fontheus.blogspot.com/feeds/2037477977365199814/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://fontheus.blogspot.com/2009/03/perjalanan-ke-delfador.html#comment-form" title="14 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/2037477977365199814?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/2037477977365199814?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Fontheus/~3/1koFRhy0q1A/perjalanan-ke-delfador.html" title="Bab 3: Perjalanan ke Delfador" /><author><name>Donatsagogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18337986038711539722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>14</thr:total><feedburner:origLink>http://fontheus.blogspot.com/2009/03/perjalanan-ke-delfador.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUYGRnk5fSp7ImA9WxVVFUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152140761831197779.post-1504807267954587070</id><published>2009-03-07T03:55:00.000-08:00</published><updated>2009-03-08T04:52:07.725-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-08T04:52:07.725-07:00</app:edited><title>Bab 2: Tevlan Sang Pemburu</title><content type="html">Matahari musim dingin terlihat bersinar cukup terang pada pagi hari itu. Di ujung langit barat masih terlihat bulan Aeron yang belum hilang walaupun malam telah digantikan oleh pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badai yang terus memburuk selama beberapa hari telah reda hari itu. Hewan-hewan hutan di lembah Leafth keluar berkeliaran mencari makan setelah berhari-hari tertahan di sarangnya akibat badai salju tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibalik rimbunnya pohon pinus dan cemara di lembah tersebut, tampak seorang pemuda berjalan mengendap-endap. Ia berjalan sangat pelan sambil memegangi busur dan anak panahnya. Ia berhenti di sebuah tempat yang ia anggap strategis untuk membidik buruannya. Ya, dia memang seorang pemburu dari desa Leafth di selatan lembah Leafth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda tersebut bernama Tevlan. Ia berumur sekitar 17 tahun. Tevlan memiliki wajah yang biasa-biasa saja dengan mata yang berwarna cokelat dan rambut hitam pendek. Ia banyak menghabiskan waktunya untuk berburu hewan liar di lembah Leafth. Biasanya daging hasil buruannya akan ia makan sendiri sementara kulit dan bagian-bagian tubuh lain yang cukup berharga akan ia jual di kota pelabuhan Falova. Ia seringkali merasa bosan tinggal di desa Leafth yang kecil dan terasing dari pusat keramaian, bahkan pedagang-pedagang di kota Falova sekalipun enggan untuk berkunjung ke desa tersebut karena banyak perampok dan hewan buas yang akan menyerang mereka. Tevlan memimpikan sebuah petualangan yang akan membawanya ke negeri-negeri yang belum pernah ia jumpai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan sedang melamun membayangkan tempat-tempat asing di daratan Terra-Fonthea ketika tiba-tiba di balik tempat persembunyiannya muncul kawanan rusa. Rusa-rusa tersebut sedang mencari rerumputan segar yang tersembunyi di bawah tumpukan salju. Tampaknya mereka tidak menyadari kehadiran Tevlan yang sedang mengamati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan siap untuk membidik buruannya. Dengan nyaris tidak bersuara ia mulai mengambil ancang-ancang untuk memanah. Ia mulai menarik tali busurnya dan mengarahkannya ke salah satu rusa yang ia anggap paling gemuk. Namun saat ia akan melepaskan anak panah dari busurnya, tiba-tiba kawanan rusa tersebut dikagetkan oleh suara kuda yang meringkik di dekat tempat tersebut. Kawanan rusa tersebut berlarian dan anak panah Tevlan meleset tidak mengenai sasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sial!" Gerutu Tevlan. Ia penasaran dengan pemilik kuda tersebut. Ia berpikir jangan-jangan kuda tersebut milik para perampok yang sedang bersembunyi di lembah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Tevlan masih berumur 12 tahun, ia dan ayahnya sedang berburu ketika mereka tidak sengaja menemukan sebuah tempat persembunyian perampok. Para perampok yang tidak ingin tempat persembunyiannya terbongkar, menyerang Tevlan dan ayahnya. Tevlan berhasil kabur namun ayahnya terbunuh oleh anak panah beracun milik perampok tersebut. Tevlan berlari sekuat tenaga kembali ke desanya dan melaporkan kejadian tersebut kepada pasukan patroli Fastocia yang memang sedang memburu para perampok tersebut. Tevlan menjadi pemandu pasukan tersebut kearah tempat persembunyian para perampok. Para perampok tersebut mencoba melawan namun pada akhirnya mereka berhasil tertangkap sementara yang lainnya terbunuh dalam perlawanan. Tevlan membawa jasad ayahnya dan menguburkannya di desa Leafth. Sejak itu ia menjadi sebatang-kara karena ibunya telah meninggal sejak ia lahir, ia juga menjadi sangat benci terhadap perampok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan mencoba mencari dari mana arah datangnya suara kuda tersebut. Ia berjalan perlahan seraya memasang telinga tajam-tajam. Ia kembali mendengar suara ringkikan kuda tersebut dan pergi ke arah tersebut. Ia berjalan sangat pelan dengan tangan memegang busur dengan anak panah yang siap untuk dilepaskan jika ia bertemu dengan perampok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia semakin dekat ke arah suara kuda tersebut, ia mulai menarik tali busurnya. Namun saat ia akan membidikkan panahnya, ia kaget karena ternyata suara kuda tersebut bukanlah suara kuda milik perampok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara kuda tersebut ternyata berasal dari seekor kuda putih yang sedang menyingkap salju untuk menemukan rumput. Tevlan melihat seseorang yang sepertinya telah mati di atas punggung kuda tersebut. Tevlan mendekati kuda tersebut. Kuda putih itu hanya mendengus ketika melihat Tevlan mendekatinya dan melanjutkan acara makannya. Tevlan memeriksa orang yang tergeletak di atas punggung kuda tersebut. Ia memeriksa denyut nadinya dan tampaknya ia masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan mengamati kondisi orang tersebut. Ia terlihat sedikit lebih tua darinya dan mengenakan baju zirah yang telah rusak. Terdapat sebuah luka menganga di tangan kanan orang tersebut dan di sekujur badannya dipenuhi dengan noda darah yang telah mengering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurasa dia bukanlah perampok." Pikir Tevlan, "Mungkin dia adalah salah satu prajurit yang kemarin berperang dengan Orc, tapi bagaimana ia bisa sampai disini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan memutuskan untuk membawa orang tersebut ke desanya. Disana ia bisa diobati oleh Dorin, seorang peramu obat-obatan handal yang mungkin dapat menyembuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan menarik tali kekang kuda putih tersebut agar ia mengikutinya. Kuda tersebut menurut dan berjalan mengikuti Tevlan. Ia terlihat sangat jinak seakan-akan ia tahu bahwa Tevlan akan mengobati tuannya. Ia dan kuda tersebut berjalan menyusuri pepohonan cemara dan pinus di lembah tersebut. Tak lama kemudian ia sampai di desa Leafth setelah menyebrangi jembatan yang menghubungkan desa dengan lembah Leafth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan berjalan menyusuri rumah-rumah di desa tersebut. Seorang penebang kayu yang sedang membelah kayu bakar menyapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey Tevlan, kuda siapa itu?" Tanya penebang kayu tersebut.&lt;br /&gt;"Entahlah, mungkin milik orang ini." Jawab Tevlan.&lt;br /&gt;"Lalu, siapakah dia? Apakah dia salah satu kawanan perampok yang berhasil kau bunuh?" Tanyanya lagi.&lt;br /&gt;"Bukan-bukan, aku menemukannya ketika aku sedang berburu, lihat baju zirah yang dikenakannya, ia mungkin salah satu prajurit yang bertempur kemarin."&lt;br /&gt;"Aneh sekali, bagaimana dia bisa sampai kesini?" Penebang kayu tersebut semakin penasaran.&lt;br /&gt;"Entahlah, sudah dulu ya, aku harus membawanya ke Dorin, ia masih hidup tapi terluka parah." Ujar Tevlan sambil berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Tevlan tiba di depan sebuah rumah yang lebih cocok dikatakan sebagai gubuk. Rumah tersebut terlihat sangat kotor dan tidak terurus. Di samping rumah tersebut terdapat sebuah ladang yang biasanya ditanami tanaman obat-obatan selama musim semi hingga musim gugur. Di sebelahnya lagi terdapat sebuah tiang jemuran yang dipenuhi dengan kain tunik yang tampaknya baru selesai dicuci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tunggu disini." Ujar Tevlan kepada kuda putih tersebut seraya mengikat tali kekangnya di tiang jemuran tersebut. Tevlan lalu berjalan kearah pintu rumah tersebut dan menggedornya. "Halo, ada orang? Aku menemukan sesorang yang sedang terluka parah disini." Teriak Tevlan sambil terus menggedor pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu dibuka, seorang perempuan tua mengintip dari balik pintu. Perempuan tersebut berumur sekitar 50 tahunan, ia terlihat agak gemuk dan walaupun sudah tua, wajahnya menyimpan seberkas sinar kehangatan, seperti seorang nenek-nenek ramah yang akan memberimu kue jika berkunjung ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa?" Ujar Dorin.&lt;br /&gt;"Aku menemukan seseorang yang terluka parah ketika sedang berburu di lembah Leafth." Lanjut Tevlan, "Ia tampaknya salah satu prajurit yang bertempur di padang hijau."&lt;br /&gt;"Mana dia?" Ujar Dorin seraya menengok ke arah kanan dan kiri untuk mencari orang yang dimaksud Tevlan. "Bawa dia masuk, cepat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan kembali ke kuda putih tersebut dan memanggul tubuh orang tersebut. Ia tampaknya sudah terbiasa memanggul tubuh hewan buruannya sehingga ia tidak kesusahan ketika memanggul orang tersebut. Ia membawa orang tersebut ke dalam rumah Dorin dan membaringkannya di sebuah tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dorin memeriksa luka di lengan kanan dan tubuh orang tersebut. Ia meminta Tevlan untuk mengambil lap yang dibasahi dengan air hangat lalu ia menaruh lap tersebut diatas kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmmm, lukanya terlihat sangat parah, namun ajaib pemuda ini masih hidup" Ujar Dorin. "Ia kedinginan dan terserang demam, aku butuh beberapa tanaman dari hutan, kau bisa mengambilkan beberapa akar dan daun?"&lt;br /&gt;"Hey, bukankah sekarang musim dingin? Pasti tanaman tersebut tidak dapat kutemukan?" Ujar Tevlan sangsi&lt;br /&gt;"Kau bisa menemukannya di sekitar air terjun Aiglhondur, disana tanaman tersebut tidak mengenal istilah pergantian musim." Jawab Dorin.&lt;br /&gt;"Baiklah, tapi mungkin perjalananku sedikit lama karena medan ke air terjun tersebut cukup sulit." Ujar Tevlan.&lt;br /&gt;"Ah aku tau kau sudah sangat mengenal seluruh daerah di lembah Leafth." Ujar Dorin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan beranjak keluar dan memakai kuda putih milik pemuda tersebut untuk kembali ke lembah Leafth, sementara Dorin menyiapkan obat-obatan yang diperlukan. Ia membuka lemari yang isinya dipenuhi oleh berbagai macam botol yang isinya berbagai macam ramuan dan tanaman obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, dimana aku menyimpannya." Gumam Dorin sambil mencari-cari diantara botol-botol tersebut, "Ah ini dia, akar tanaman Glycyrrhizic, sekarang kau akan sembuh nak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dorin membuka botol tempat menyimpan akar tanaman Glycyrrhizic. Akar tanaman tersebut telah mengering dan kelihatannya telah disimpan cukup lama dalam botol tersebut. Ia lalu menumbuk daun tersebut dengan berbagai macam tanaman obat lainnya hingga melumat dan bercampur rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dorin kembali ke ranjang pemuda tersebut dan membuka seluruh baju zirahnya yang telah rusak. Ia membasuh luka dan darah kering di tubuh Chad dengan kain yang telah dibasahi dengan air hangat. Setelah semua luka tersebut bersih, ia melumurkan ramuannya ke daerah-daerah luka yang menganga dan memerbannya dengan kain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai, Dorin pergi ke dapur untuk membuat ramuan baru sambil menunggu kedatangan Tevlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad berdiri sendirian di padang hijau. Di sekelilingnya ia melihat mayat-mayat prajurit Fastocia dan Orc bergelimpangan. Padang hijau yang sebelumnya berwarna putih karena salju sekarang seakan berwarna merah oleh darah mayat-mayat tersebut. Ribuan burung-burung gagak berterbangan di angkasa dan menyantap bangkai mayat-mayat tersebut. Mereka terlihat berpesta-pora dan seakan tidak peduli dengan Chad yang berdiri sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kejauhan Chad melihat bayangan benteng hijau yang terbakar. Ia memutuskan untuk berjalan ke arah benteng tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terus berjalan diantara bangkai-bangkai manusia dan Orc yang bertebaran. Semakin jauh ia berjalan, semakin banyak mayat-mayat yang terlihat. Ia seolah berada di sebuah lautan mayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sedang berjalan, dari arah kejauhan ia melihat seseorang berdiri. Ia memutuskan untuk mendekati orang tersebut. Ketika ia tiba, ia sangat kaget karena melihat mayat-mayat kelima saudaranya dan ayahnya mengelilingi orang tersebut. Orang tersebut memakai jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dan memegang sebuah tongkat sihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad menjadi sangat marah dan sedih. Ia menghunuskan pedangnya dan berlari menyerang penyihir tersebut. Namun saat hampir mencapai orang tersebut, ia tiba-tiba tidak bisa menggerakkan badannya dan hanya mampu terdiam melihat penyihir tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyihir tersebut tertawa terkekeh-kekeh dan berkata dengan suara yang berat, "Kemarilah, penuhi takdirmu! Bangkitkan kembali Gardan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad terbangun dari mimpinya. Ia mendapati dirinya di atas sebuah ranjang dan memakai sebuah selimut butut. Ia mengamati sekitar dan mendapati seorang nenek tua yang berjalan mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, akhirnya kau bangun juga, beristiratlah, kau telah pingsan selama 3 hari." Ujar Dorin&lt;br /&gt;"Di, dimana aku?" Tanya Chad dengan suara bergetar.&lt;br /&gt;"Kau berada di rumahku, di desa Leafth." Lanjut Dorin, "Tevlan, seorang pemburu, menemukanmu dan kudamu di lembah Leafth. Kau sekarat dan ia membawamu kesini untuk kuobati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad hanya terdiam. Ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Ia teringat lengan kanannya terluka parah, namun saat ia memeriksa lukanya, ia tak mendapati satu noda sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku telah menyembuhkan luka-lukamu, ajaib dirimu masih hidup dengan kondisi seperti itu." Lanjut Dorin, "Siapa namamu nak?"&lt;br /&gt;"Chad, Chadolice, aku ksatria dari klan Guinglaint." Jawab Chad yang masih takjub dengan menghilangnya luka di lengan dan tubuhnya.&lt;br /&gt;"Ah, Guinglaint muda, aku jadi mengerti bagaimana dirimu bisa sampai ke lembah Leafth." Ujar Dorin, "beberapa puluh tahun yang lalu ketika aku masih anak-anak, aku sedang mencari tanaman obat yang diminta guruku di lembah Leafth. Ketika itu aku bertemu dengan beberapa goblin yang entah bagaimana bisa berada disitu. Ketika aku akan berteriak, seorang pemuda membungkam mulutku dan memintaku untuk diam. Pemuda tersebut luka parah dan para goblin tersebut tampaknya mencarinya. Setelah goblin-goblin tersebut pergi, aku membantu pemuda tersebut untuk ke desa ini. Guruku menyembuhkan lukanya dan ia sangat berterima-kasih kepada guruku dan diriku. Ia menyebutkan namanya sebagai Richard Guinglaint."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, dia ayahku, ia telah mengetahui sebuah jalan rahasia yang menghubungkan padang hijau dengan lembah Leafth." Lanjut Chad, "Karena itulah aku berhasil selamat karena pengorbanannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi dia telah meninggal? Aku turut berduka-cita nak, telah berpuluh-puluh tahun kami tidak bertemu." Ujar Dorin.&lt;br /&gt;"Entahlah, aku belum tahu kabarnya, namun kurasa ia masih hidup sekarang." Ujar Chad menyangsikan mimpi yang baru saja di alaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dorin meminta Chad menyantap sebuah sup hangat yang ia buat. Ia mengatakan bahwa sup tersebut akan mengisi perut Chad yang telah kosong selama beberapa hari dan membantunya memulihkan tubuhnya. Chad menyantap sup tersebut dengan lahap, perutnya terasa kosong setelah berhari-hari pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, pintu rumah Dorin terbuka. Tevlan masuk dengan membawa beberapa ekor kelinci hutan buruannya dan sekantong tanaman obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini tanaman obat yang kau minta Dorin, dan dan aku bersumpah ini untuk yang terakhir kalinya aku ke air terjun Aiglhondur, medannya terlalu berat dan aku tadi hampir mati karena ada salju yang longsor." Ujar Tevlan, "Hei, pemuda tersebut telah terbangun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai, kau pasti Tevlan, terima kasih telah menyelamatkan nyawaku." Ujar Chad.&lt;br /&gt;"Tentu, siapa namamu? kau pasti salah satu prajurit yang ikut bertempur di padang hijau bukan?" Tanya Tevlan dengan semangat.&lt;br /&gt;"Namaku Chad, Chadolice, aku ksatria dari klan Guinglaint." Lanjut Chad, "Ya, aku ikut dalam pertempuran tersebut."&lt;br /&gt;"Ah, ternyata kau seorang ksatria, ceritakan bagaimana hasil pertempuran tersebut." Semangat Tevlan menggebu-gebu untuk mendengarkan cerita Chad.&lt;br /&gt;"Yah, pertempuran yang buruk, kami para pasukan Fastocia terdesak disaat hari kedua, para Orc tersebut ternyata mendapatkan bantuan dari para penunggang serigala Goblin." Lanjut Chad, "Aku berhasil lari kesini dengan bantuan ayahku yang memberikan kudanya, entahlah mungkin ada semacam jalan rahasia antara padang hijau dengan lembah Leafth."&lt;br /&gt;"Lukamu terlihat sangat parah? Bagaimana kau bisa terluka separah itu?" Tanya Tevlan.&lt;br /&gt;"Aku bertarung sendirian dengan Orc, ia berhasil melukai tangan kananku namun aku berhasil membunuhnya dengan pedang milik saudaraku Jeff." Chad terdiam sejenak dan teringat akan Jeff, "Ia telah meninggal."&lt;br /&gt;"Aku turut berduka cita atas kematian saudaramu, Chad."&lt;br /&gt;Chad melanjutkan ceritanya, "Dan luka di sekujur tubuhku ini karena serangan serigala Goblin, terima kasih kepada, err, aku tidak tahu namamu?"&lt;br /&gt;"Dorin." Dorin menjawab singkat.&lt;br /&gt;"Ya, terima kasih karena telah menyembuhkan lukaku, bagaimana kau menyembuhkannya secepat ini?"&lt;br /&gt;"Aku hanya menggunakan akar Glycyrrhizic warisan dari guruku, ia mendapatkannya dari hutan Loraint." Jawab Dorin, "Sekarang lebih baik dirimu beristirahat saja, lukamu telah sembuh namun dirimu belum sembuh benar."&lt;br /&gt;"Eh, baiklah, kapan aku bisa pulih benar? Aku harus segera kembali ke Delfador untuk mencari saudara-saudaraku yang mungkin masih hidup." Ujar Chad.&lt;br /&gt;"Besok pagi pasti kau akan sembuh. Aku bisa mengantarmu hingga ke pelabuhan Falova, aku perlu membeli beberapa ramuan disana." Ujar Dorin.&lt;br /&gt;"Hei, aku ikut, kalian pasti membutuhkan seseorang yang mampu melindungi kalian dari perampok dan hewan buas bukan?" Tambah Tevlan.&lt;br /&gt;"Yaya, tapi sepertinya aku lebih percaya kepada Chad, ia mampu membunuh satu Orc, daripada seorang anak muda yang hanya bisa berburu kelinci hutan saja." Canda Dorin.&lt;br /&gt;Muka Tevlan merah padam, "Hei, aku tadi hampir saja mendapatkan seekor rusa gemuk jika saja salju tidak longsor dan aku tidak harus berlari menyelamatkan diri!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad tertawa kecil. Ia kembali menyantap supnya. Dorin menyuruh Tevlan untuk kembali ke rumahnya agar Chad bisa beristirahat. Malam telah datang dan Chad tertidur dengan pulas. Ia tidak sabar untuk kembali ke ibukota dan mencari saudara-saudaranya yang ia yakin masih ada yang hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari pagi terbit dan menyinari lembah dan desa Leafth dari balik pegunungan kabut. Penduduk desa yang mayoritas pemburu dan penebang kayu mulai melakukan aktifitas mereka masing-masing. Para petani tidak dapat menggarap ladang mereka di musim dingin, mereka lebih memilih berdiam di rumah sambil menikmati hangatnya perapian atau bekerja sambilan sebagai pemburu dan penebang kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu Chad terbangun dan merasa sangat segar. Dorin telah terbangun lebih dulu sebelum Chad dan ia telah menyiapkan sarapan berupa sup yang sama seperti kemarin. Chad menyantap sup tersebut dengan lahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dimana baju zirahku?" Tanya Chad sambil menyeruput supnya.&lt;br /&gt;"Aku sudah membuangnya, kau tidak akan bisa memakainya lagi." Ujar Dorin, "Tapi pedang dan mantelmu masih kusimpan, aku telah mencucinya."&lt;br /&gt;"Terima kasih Dorin, entah dengan bagaimana aku bisa membalas segala kebaikanmu." Ujar Chad berterima kasih.&lt;br /&gt;"Aku tidak butuh apapun darimu, sudah berpuluh-puluh tahun aku menyembuhkan penduduk desa tanpa mengharapkan imbalan apapun." Ujar Dorin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad menghabiskan sarapannya lalu ia bergegas untuk menyiapkan diri. Ia mengenakan mantel putihnya yang telah dicuci oleh Dorin dan menyarungkan pedang &lt;br /&gt;Jeff yang dibawanya. Tak lama kemudian ia keluar dari rumah Dorin dan bertemu dengan Tevlan yang telah menunggunya diluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidurmu nyenyak?" Tanya Tevlan.&lt;br /&gt;"Ya, cukup nyenyak." Lanjut Chad, "Kau benar-benar ingin ikut?"&lt;br /&gt;"Tentu, bawa aku sekalian ke ibukota. Aku sudah bosan diam terlalu lama di desa yang kecil ini. Lihat, aku telah menjual segala harta peninggalan orangtuaku untuk membeli kuda ini dan sebagai bekal perjalanan." Jawab Tevlan seraya memamerkan seekor kuda berwarna cokelat dan kantung berisi uang di tangannya.&lt;br /&gt;"Ah, baiklah, tapi apa yang akan kau kerjakan di ibukota?" Tanya Chad lagi.&lt;br /&gt;"Apa saja! Aku akan mencoba mengadu nasib, tapi jika aku kurang beruntung, kurasa aku akan mendaftarkan diri sebagai prajurit." Jawab Tevlan semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad melihat semangat yang dimiliki Tevlan. Ia masih sangat muda dan terlihat seperti anak-anak, namun Chad merasa ia memiliki jiwa petualangan yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Dorin muncul dengan menaiki seekor keledai. Di samping kiri-kanan keledai tersebut terdapat keranjang untuk menyimpan berbagai tanaman obat dan ramuan yang akan ia beli di pelabuhan Falova.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau yakin akan menaiki hewan itu?" Sindir Tevlan, "Ia hanya akan memperlambat perjalanan kita."&lt;br /&gt;"Anak muda, jika kau mau membelikanku seekor kuda dengan perhiasan peninggalan ibumu yang kau jual, tentu saja aku akan sangat bersenang hati." Dorin balik menyindir Tevlan."&lt;br /&gt;"Hei, bagaimana kau bisa tahu?" Wajah Tevlan kembali merah padam seperti wajan penggorengan.&lt;br /&gt;"Tentu, aku tahu karena akulah yang membantu ibumu ketika beliau melahirkanmu." Jawab Dorin, jawabannya membuat Chad bingung namun wajah Tevlan semakin merah padam.&lt;br /&gt;"Sudah-sudah, aku harus kembali ke ibukota secepatnya, dimana kau menyimpan kudaku?" Tanya Chad.&lt;br /&gt;"Itu, apa kau tidak melihatnya? Mungkin ia berkamuflase diantara salju." Wajah Tevlan kembali normal dan ia tertawa bersama Chad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad berjalan menuju ke arah White. Ia membelai kepala kuda tersebut dengan lembut, seakan-akan ia sangat berterima kasih karena kuda tersebut telah menyelamatkan nyawanya. Chad melepas ikatan tali kekang kuda tersebut lalu menaikinya. Kuda tersebut tampak bersemangat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita berangkat!" Ujar Chad dengan semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad, Tevlan dan Dorin berangkat dengan tunggangan mereka masing-masing. Mereka memacu kuda dan keledai mereka dengan pelan menyusuri rumah-rumah penduduk di desa tersebut. Seorang anak kecil yang sedang bermain di depan rumahnya berlari ke balik badan ibunya yang menemaninya ketika ia melihat mereka bertiga. Dia terlihat takut dengan hewan tunggangan mereka bertiga, seakan-akan ia akan diinjak oleh kuda dan keledai tersebut. Ibu anak tersebut menyapa mereka dengan ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat Pagi, kalian mau ke Falova?" Tanya Ibu yang masih muda tersebut, "Dan siapakah pemuda ini?"&lt;br /&gt;"Ya, kami akan ke Falova. Dia adalah salah satu prajurit yang bertempur di padang hijau kemarin." Lanjut Dorin, "Dia berhasil menyelamatkan diri hingga kesini."&lt;br /&gt;"Ah, beruntung sekali kau bisa sampai kesini," Wajah ibu tersebut berubah menjadi muram, "Ayah anak ini adalah prajurit Fastocia, ia ikut bertempur dalam peperangan tersebut, namun sampai sekarang aku belum mendapatkan kabar darinya. Terakhir kali ia mengirim surat kepadaku, mengatakan bahwa ia akan berperang melawan Orc."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad tertegun mendengar perkataan ibu muda tersebut. Ia menatap wajah anak laki-lakinya yang kira-kira masih berumur 5 tahun. Anak tersebut masih terlihat ketakutan dengan kuda mereka, ia bersembunyi di belakang ibunya dan memegang roknya erat-erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, seandainya ia cukup pintar untuk mengikutimu sampai kesini, aku pasti akan memukulnya karena telah membuatku cemas, hahaha." Tawa ibu tersebut untuk menghibur diri, "Tentu aku tidak akan mengijinkan anakku ini untuk mengikuti jejak ayahnya. Lebih baik ia hidup biasa saja sebagai seorang petani dan penebang kayu."&lt;br /&gt;"Kami turut berdoa semoga suamimu selamat." Ujar Chad, "Sekarang kami mohon ijin untuk meneruskan perjalanan karena saya harus kembali ke ibukota secepatnya."&lt;br /&gt;"Oh tentu-tentu, maaf aku jadi terbawa dengan suasana." Lanjut ibu tersebut, "Semoga perjalanan kalian menyenangkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad, Tevlan dan Dorin mengucapkan salam kepada ibu muda tersebut dan mereka melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian mereka bertiga telah keluar dari pintu masuk desa Leafth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan menuju ke kota Falova menempuh waktu hanya setengah jam jika mereka memacu kuda mereka untuk berlari. Namun karena keledai Dorin yang berjalan lamban, mereka harus menempuh waktu hingga 3 jam perjalanan. Sepanjang perjalanan, Chad mengamati pemandangan di sekitarnya. Pemandangan di samping kiri dan kanan jalan menuju kota Falova didominasi oleh pepohonan cemara dan pinus. Bayang-bayang dari perbukitan yang memisahkan laut dengan daerah hutan Leafth terlihat samar-samar di belakang pepohonan cemara dan pinus tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad dapat memilih 2 jalan untuk menuju ibukota dari kota Falova. Yang pertama adalah melalui provinsi Leona dengan melewati perbatasan dan berkuda menuju kota Valencia, lalu melanjutkan perjalanan hingga sampai ke ibukota. Pilihan kedua adalah melalui provinsi Turrin dengan melalui jembatan di kota Teneor dan berkuda menuju kota Turrin, lalu melanjutkan perjalanan hingga tiba di ibukota. Kedua jalan tersebut sama-sama membutuhkan waktu hingga 1 setengah hari untuk sampai ke ibukota, namun karena keadaan yang tidak aman dengan adanya pasukan Orc dan Goblin yang telah masuk ke provinsi Leona, Chad tampaknya harus memilih jalur kedua melalui provinsi Turrin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga hampir tiba di kota Falova ketika tiba-tiba cuaca yang sedari pagi cukup cerah sekarang mulai berubah. Hujan salju mulai turun dan lama-kelamaan mulai membesar dan dengan segera akan menjadi badai salju. Mereka bertiga telah memasuki gerbang kota Falova ketika badai mulai terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Falova adalah satu-satunya kota pelabuhan di Fastocia. Kota tersebut menjadi denyut nadi perekonomian dengan banyaknya pedagang yang terus berdatangan selama musim semi, panas, dan gugur. Namun selama musim dingin terutama pada bulan Aeron, hampir tidak ada pedagang yang singgah di Falova karena kondisi laut yang sering berubah karena buruknya cuaca. Hanya beberapa pedagang dari negeri Vandals yang terkenal tangguh saja yang berani menghadapi badai dan singgah di Falova.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad, Tevlan dan Dorin berjalan menuntun kuda dan keledai mereka di dalam kota tersebut. Mereka menyusuri daerah-daerah permukiman yang warna temboknya didominasi oleh warna pualam putih. Ketika sampai di sebuah persimpangan jalan, Dorin hendak memisahkan diri dari Chad dan Tevlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pergilah mencari penginapan, sangat berbahaya untuk melanjutkan perjalanan ke ibukota dalam cuaca seburuk ini." Ujar Dorin sambil menahan dinginnya angin utara yang bertiup dalam badai tersebut "Aku akan pergi ke toko untuk membeli segala ramuan yang kubutuhkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga berpisah, Dorin pergi menuju ke sebuah toko ramuan langganannya, sementara Chad dan Tevlan pergi menuju ke penginapan. Tevlan telah hapal jalan menuju ke penginapan tersebut karena ia memang sering datang ke Falova untuk menjual hasil buruannya. Terkadang ia mencoba peruntungan dengan bermain judi dadu di penginapan yang juga merupakan bar tersebut. Sayangnya ia selalu kalah, entah ia memang kurang beruntung atau memang ia dibodohi oleh pemain lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Chad dan Tevlan tiba di depan sebuah penginapan. Papan nama penginapan tersebut terbaca sebagai "Bar dan Penginapan Bjarni". Tevlan mengajak Chad untuk menaruh kudanya di istal yang ada di samping penginapan tersebut. Mereka memasuki istal kuda dan meminta seorang pengurus istal untuk mengurus kuda mereka. Tevlan memberi 2 koin logam perunggu kecil ke orang tersebut sebagai jasa pengurusan kudanya dan kuda Chad selama 1 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad dan Tevlan memasuki penginapan tersebut. Di dalam, suasana cukup ramai. Beberapa orang sedang menikmati segelas susu kambing dan keju yang hangat, sementara yang lainnya sedang bermain judi dadu. Mereka asyik bercengkrama tentang berbagai isu mulai dari kekalahan pasukan Fastocia di padang hijau hingga cuaca yang memburuk akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik penginapan tersebut menyapa Tevlan ketika ia melihatnya masuk, "Hei nak, apa kabar? Siapa temanmu itu?"&lt;br /&gt;"Halo Bjarni, ini Chad, dia adalah salah satu ksatria yang kemarin ikut berperang di padang hijau." Jawab Tevlan kepada Bjarni.&lt;br /&gt;"Ah, ksatria! Hei teman-teman, lihat ada salah satu ksatria yang ikut berperang di padang hijau!." Ujar Bjarni kepada seluruh pengunjung bar tersebut. Beberapa orang menolehkan pandangannya ke Chad dan tampak penasaran dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad dan Tevlan duduk di depan Bjarni yang sedang agak sibuk melayani pesanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngomong-ngomong, aku akan membayar semua utangku disini." Ujar Tevlan sambil mengeluarkan kantong uangnya.&lt;br /&gt;"Ah, tentu, kau sedang banyak uang rupanya?" Tanya Bjarni.&lt;br /&gt;"Ya, aku baru saja menjual perhiasan milik mendiang ibuku." Jawab Tevlan, "Aku akan mencoba mengadu nasib ke ibukota."&lt;br /&gt;"Hahaha, tampaknya kau terlalu bosan berdiam di desamu nak." Lanjut Bjarni, "Dan, kau, ksatria, ingin pesan sesuatu? Maaf kami kehabisan bir dan anggur. Sudah sejak 2 hari yang lalu tidak ada kiriman dari luar karena cuaca yang buruk, bahkan tong bir terakhir kami dibeli oleh orang Vandals itu." Bjarni menunjuk dua orang Vandals yang sedang duduk dan menikmati susu kambing. "Aku sebenarnya tidak mau menjualnya, namun mereka membelinya dengan harga 2x lipat, hahaha."&lt;br /&gt;"Oh ya, tidak apa-apa, aku pesan susu kambing saja." Ujar Chad sementara Tevlan  beralih ke tempat judi dadu, ia berharap hari ini ia cukup beruntung untuk melipat gandakan uangnya.&lt;br /&gt;"Ok, pesananmu akan segera tiba. Ngomong-ngomong kau akan pergi kemana?" Tanya Bjarni lagi.&lt;br /&gt;"Ibukota, aku harus mencari saudara-saudaraku yang mungkin masih hidup." Jawab Chad.&lt;br /&gt;"Ibukota? Sayang sekali sepertinya kau tidak akan bisa pergi kesana selama beberapa hari ini." Lanjut Bjarni, "perbatasan antara provinsi Leona dan provinsi Farlov ditutup dan para penjaga tidak memperbolehkan siapapun untuk melewatinya, kecuali orang-orang dari provinsi Leona yang akan mengungsi. Sementara jembatan di desa Teneor baru saja rusak diterjang badai beberapa hari yang lalu, mungkin butuh waktu 1 minggu untuk membetulkannya, jika cuaca cerah tentunya."&lt;br /&gt;"Tidak ada jalan lainkah?" Tanya Chad.&lt;br /&gt;"Maksudmu kau akan mengambil rakit dan menyusuri pantai hingga ke desa Treagh? Tentu saja tidak bisa, ombak di laut sedang mengganas akhir-akhir ini," Lanjut Bjarni, "Tapi, hei, mungkin 2 orang Vandals itu bisa membantumu. Aku dengar mereka akan melewati perbatasan, dan tong bir yang mereka beli pasti akan digunakan untuk menyogok para penjaga perbatasan. Ngomong-ngomong, ini pesananmu"&lt;br /&gt;Chad menolehkan pandangannya ke 2 orang Vandals tersebut, "Aku akan mencoba bertanya kepada mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad mengambil gelasnya dan pindah ke meja 2 orang Vandals tersebut. Ia mencoba menyapa mereka, namun wajah mereka tampak sedang kesal.&lt;br /&gt;"Hei kawan, ada masalah?" Tanya Chad.&lt;br /&gt;"Ya-ah, khami bhuduh horhang hundhuk pherghi khe Dhelfahadhor." Ujar salah satu orang Vandals tersebut dengan logat khas mereka.&lt;br /&gt;"Pergi ke Delfador? Kebetulan aku juga akan pergi kesana, mungkin aku bisa membantumu." Ujar Chad.&lt;br /&gt;"Ya-ah, jhika khau sherihus dhengan hal thersebhud, khami dehendhu akhan shangat shenangh." Jawabnya.&lt;br /&gt;"Perkenalkan, namaku Chadolice, aku seorang ksatria dari klan Guinglaint." Ujar Chad mengenalkan diri.&lt;br /&gt;"Nhamhaku Ga Drakh, hinhi themankhu Oric, hia lhebih shenhang beherdhiam dhiri" Ujar Ga Drakh, "Khami ha-arus mhenghandarkhan pheshanan shesehorang dhi Dhelfadhor, nhamhun bhenchanha dhadhang sehirhing dhenghan dhathanghnya Orc-Orc thershebut, khami suda-ah dherdahan dhi Falhovha shelamha 3 ha-arhi. Khamhi mhemang dhaphat mhelhewahadhi pherbhadashan dhenghan muhulush, nhamun khami bhuduh bhebherapha horhang hundhuk mehembhandu mhenjagha baharhang baharhang khami. Jhadhi, hapha khepehendhinghanmhu pherghi khe Dhelfadhor?"&lt;br /&gt;"Aku baru saja mengikuti pertempuran di padang hijau dan aku berhasil melarikan diri hingga ke desa Leafth." Lanjut Chad sambil meminum susu kambingnya, "Dan sekarang aku harus kembali ke ibukota untuk mencari saudara-saudaraku yang masih hidup."&lt;br /&gt;"Ya-ah, hakhu mengherdi, shejhak khemharin hakhu mhenchari horhang-horhang yhang mahu dhibayhar hundhuk mhenjagha baharhang baharhang khami, nhamhun hamphir dhidhak adha yhang beheranhi khe Dhelfadhor hakhir-hakhir hini, parha Orc-Orc dhershebut mhemang shenhang mhenchari mhasalhah." Lanjut Ga Drakh, "Nhamun khurasa kahau shaja chukup hundhuk mhembhanthu khami. Dhaphi khau sherihus mahu mhembhawha hanak hidhu?" Tanya Ga Drakh sambil menunjuk Tevlan yang sedang asyik bermain judi dadu.&lt;br /&gt;"Ya, tentu saja, ada masalah?" Tanya Chad.&lt;br /&gt;"Dhidhak, nhamhun khusharhankhan hanak hidhu dhidhak hushah hikhut." Jawab Ga Drakh, "Pherjahalanhan khe Dhelfadhor shangat bherbahaya, mhasih bhanyhak Orc dhan Ghoblhin yhang bherkheliharan dhi lhuar shana, hakhu rhasa khau harhus memhikirkhan hal dhershebut bahik-bahik."&lt;br /&gt;Chad berpikir sejenak, ia menoleh ke Tevlan lalu kembali berbicara, "Aku akan memikirkannya lagi nanti, kapan kita berangkat?"&lt;br /&gt;"Bheshok phaghi, shebhelhum mhadaharhi dherbhit." Lanjut Ga Drakh, "Hakhu hakhan mhenhungghumhu di dhephan, jhika khau mhenghambhil khepudhusan hundhuk dhidak mhenghajaknya, jhanghan bhanghunkan dhia."&lt;br /&gt;"Baiklah, besok pagi aku akan siap sebelum matahari terbit. Senang berkenalan denganmu Ga Drakh, dan kau, err.."&lt;br /&gt;"Oric." Ujar Oric singkat, ini pertama kalinya ia berbicara setelah sedari tadi ia hanya diam saja.&lt;br /&gt;"Ya, Oric. Ok, kalau begitu permisi, aku mau memesan makanan." Ujar Chad disertai anggukan Ga Drakh dan Oric.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad beralih menuju ke Bjarni kembali.&lt;br /&gt;"Bagaimana? Kau berhasil?" Tanya Bjarni disela kesibukannya.&lt;br /&gt;"Ya, ternyata mereka tidak terlihat seseram penampilan mereka." Ujar Chad.&lt;br /&gt;"Haha, orang-orang Vandals yang datang kesini biasanya dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu orang-orang Vandals yang berdagang dan orang-orang Vandals yang suka berpetualang. Mereka tampaknya adalah orang Vandals yang suka berdagang." Ujar Bjarni.&lt;br /&gt;"Ah, lalu bagaimana dengan Oric? Yang lebih tinggi itu, dia terlihat tidak ramah dan hanya diam saja ketika aku berbicara dengan Ga Drakh." Tanya Chad.&lt;br /&gt;"Hmmm, mungkin dia adalah salah satu tipe yang suka berpetualang, kemarin ketika ia datang aku melihat ia membawa sebuah kapak yang cukup besar." Ujar Bjarni, "Ngomong-ngomong, kau tidak lapar? Keju panggang kami adalah yang terbaik di seluruh Falova ini."&lt;br /&gt;"Hmmm, ok baiklah." Lanjut Chad, "Kapan badai ini berhenti? Aku mau melihat-lihat laut daripada aku harus berdiam disini seharian."&lt;br /&gt;"Ok, pesananmu segera tiba. Sepertinya badai ini akan berlangsung hingga malam hari nak, lebih baik kau istirahat saja di penginapan setelah makan." Ujar Bjarni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Tevlan datang dan wajahnya tampak kesal. Tampaknya ia kalah taruhan lagi kali ini. Ia duduk di samping Chad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sial, aku kehilangan lebih dari setengah uangku." Ujar Tevlan.&lt;br /&gt;"Ingat saja agar kau tidak lupa untuk membayar sewa penginapan nak." Lanjut Bjarni "Ini pesananmu."&lt;br /&gt;"Ah, baiklah." Ujar Chad seraya menerima sepiring keju panggang dari Bjarni.&lt;br /&gt;"Yaya, aku masih punya uang untuk membayar penginapan, namun tampaknya aku harus menjadi prajurit ketika sampai di ibukota." Ujar Tevlan, "Sial."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tevlan terus menggerutu hingga sore datang. Suasana di bar tersebut semakin ramai namun Chad memutuskan untuk beristirahat di penginapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad menaiki tangga menuju ke penginapan yang terdapat di lantai 2 bar tersebut. Di lantai atas berjejer kamar-kamar yang memiliki nomer di pintunya. Chad mencari kamarnya dengan bantuan nomer yang tertera di kunci yang diberikan oleh Bjarni. Tak lama kemudian ia memasuki sebuah kamar di paling ujung lantai 2.&lt;br /&gt;Kamar tersebut cukup rapi dan memiliki 2 tempat tidur, satu untuk Chad dan satunya untuk Tevlan. Chad membuka mantelnya dan menghempaskan diri keatas ranjang. Ia mencoba memejamkan mata walaupun hari belum terlalu malam. Dalam hitungan menit ia mulai tertidur dan kembali memimpikan mimpi buruk itu lagi...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152140761831197779-1504807267954587070?l=fontheus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://fontheus.blogspot.com/feeds/1504807267954587070/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://fontheus.blogspot.com/2009/03/bab-2-tevlan-sang-pemburu.html#comment-form" title="15 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/1504807267954587070?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/1504807267954587070?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Fontheus/~3/Sn7c3MhRDZs/bab-2-tevlan-sang-pemburu.html" title="Bab 2: Tevlan Sang Pemburu" /><author><name>Donatsagogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18337986038711539722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>15</thr:total><feedburner:origLink>http://fontheus.blogspot.com/2009/03/bab-2-tevlan-sang-pemburu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C04BQ34yfSp7ImA9WxVVFk0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152140761831197779.post-9002980679193412618</id><published>2009-03-07T03:51:00.000-08:00</published><updated>2009-03-09T05:32:32.095-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-09T05:32:32.095-07:00</app:edited><title>Faq</title><content type="html">Disini saya mengumpulkan berbagai pertanyaan yang mengalir seputar novel Fontheus ini. Pertanyaan akan selalu diupdate sesuai dengan berbagai pertanyaan yang masuk baik lewat email, komentar dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Question(Q)&lt;br /&gt;Answer(A)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q = Ibu saya mau baca, bolehkah saya ngprint cerita Fontheus?&lt;br /&gt;A = Boleh, asalkan anda mengikuti peraturan Copyright, menyalin cerita ini ke notepad sekalipun harus dengan seijin sang penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q = Siapa yang membuat kisah ini?&lt;br /&gt;A = Yang membuat ya saya dong, masa tetangga.&lt;br /&gt;Q = Maksudnya, anda itu siapa?&lt;br /&gt;A = Nama saya Donatian Okky Mintaraga, bisa dipanggil Donatian atau Okky, info lebih lanjut baca Tentang Pengarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q = Novelnya seru sekali, bagaimana anda bisa menulisnya?&lt;br /&gt;A = Saya ngga nulis, cuma ngetik&lt;br /&gt;Q = Maksud saya, bagaimana anda bisa mencetuskan untuk membuat novel ini?&lt;br /&gt;A = Yah, saya sejak dulu tertarik dengan novel-novel fiksi fantasi seperti Eragon dan Lord of the Ring, abis itu baca Tentang Pengarang aja deh, capek jelasinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q = Darimana anda dapat nama-nama yang digunakan dalam novel tersebut? &lt;br /&gt;A = Imajinasi! Pemikiran! Itulah yang anda butuhkan jika anda memberi nama kepada anak anda yang baru lahir.&lt;br /&gt;Q = kenapa namanya bukan joko? marijan?&lt;br /&gt;A = Kalo anda memberi nama Ponari ke anak anda bagus ga? Ntar dikira anak anda dukun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q = Saya bingung dengan jalan ceritanya, harus mulai membaca dari mana?&lt;br /&gt;A = Anda bisa langsung memulai dengan prolognya, lalu mulai menyusuri bab perbab, tapi jika ingin mengetahui jalan ceritanya, saya sarankan untuk membaca sinopsis terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q = Bagaimana cara anda membuat peta Fastocia?&lt;br /&gt;A = Saya memakai aplikasi map editor untuk sebuah game bernama Battle of Westnoth, map yang sudah selesai saya buat saya edit memakai Potoshop, selebihnya hanya memakai imajinasi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q = (pertanyaan yang paling sering ditanyakan)Bisa membuat ilustrasi tokohnya? Chadolice itu ganteng nggak?&lt;br /&gt;A = Berhubung saya ga bisa menggambar, saya tidak bisa membuat ilustrasi dengan gambar. Lagipula jika saya memakai sebuah ilustrasi, itu sama saja dengan membatasi imajinasi anda untuk membayangkan tokoh-tokohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q = Kapan Novel ini diterbitkan?&lt;br /&gt;A = Untuk sementara ini saya fokus dulu dengan &lt;s&gt;menulis&lt;/s&gt; mengetik di blog ini. Jika ceritanya sudah tamat di buku 1, saya mulai memikirkan untuk mencari penerbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q = Ada berapa buku yang akan dibuat?&lt;br /&gt;A = Rencananya saya akan membuatnya menjadi Trilogi, gambaran jelasnya sudah saya pikirkan.&lt;br /&gt;Q = Bagaimana tuh gambarannya?&lt;br /&gt;A = Wah itu rahasia &lt;s&gt;penulis&lt;/s&gt; pengetik, yang pasti untuk buku 1 sudah saya jelaskan di bagian sinopsis, yang pasti di buku ke 2 tokoh utamanya saya ganti, dan buku ke 3 juga diganti lagi, penasaran? ikuti terus ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q = Filmnya kapan keluar?&lt;br /&gt;A = Saya belum berencana hingga ke arah tersebut, lebih baik kita berdoa saja agar novel ini cepat selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q = Orc bisa berenang ga?&lt;br /&gt;A = Bisa, mereka bisa berenang dengan gaya "Orc Indah"&lt;br /&gt;Q = Terus kenapa ga nyebrangin sungai aja?&lt;br /&gt;A = Sungainya alirannya deras, dingin lagi, brrrr.&lt;br /&gt;Q = Tinggi Orc berapa kali orang biasa?&lt;br /&gt;A = Tingginya kurang lebih 2,5 meter, besarnya 3x manusia.&lt;br /&gt;Q = Kok warnanya Ijo?&lt;br /&gt;A = Suka upil kali.&lt;br /&gt;Q = Orcnya datang dari mana?&lt;br /&gt;A = Mereka datang dari utara, lebih tepatnya dari pegunungan Orc&lt;br /&gt;Q = Kok nyerangnya lewat hutan? ga lewat gunung?&lt;br /&gt;A = Itu pegunungannya terlalu tinggi dan terjal, Orcnya takut, badan gede tapi penakut, ye ga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q = Padang Hijau berapa luasnya?&lt;br /&gt;A = Beberapa puluh kali luas lapangan sepak bola&lt;br /&gt;Q = Cara memasukkan menara pemanah itu gimana? Jembatan di benteng hijau kan dari kayu, apa ga roboh?&lt;br /&gt;A = Tentu tidak, jembatan itu cukup kuat, lagipula menara pemanah tersebut ditidurkan terlebih dahulu dan dibawa dengan kereta kuda, lalu diberdirikan kembali.&lt;br /&gt;Q = Berapa jumlah penduduk Fastocia?&lt;br /&gt;A = Menurut sensus terakhir para tukang sensus, jumlah penduduk Fastocia kurang lebih 3 juta jiwa.&lt;br /&gt;Q = Pusat persenjataan ada dimana? Pusat perdagangan ada dimana?&lt;br /&gt;A = Pusat persenjataan ada di kota Turrin, disana terdapat sebuah tambang besi dan para pandai besi yang handal. Pusat perdagangan ada di kota Falova yang sering disinggahi pedagang dari berbagai negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q = Cataphract itu apa ya? Saya jadi teringat dengan mencret(terima kasih kepada Clarita yang menanyakan pertanyaan aneh ini)&lt;br /&gt;A = Pasukan Cataphract benar-benar ada sejak zaman Babylonia hingga zaman Bizantium Timur, pasukan Cataphract adalah pasukan berkuda yang memakai baju zirah lengkap dan membawa sebuah tombak panjang, biasanya digunakan untuk menjatuhkan mental dan mengobrak-abrik barisan musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q = Apa yang dimaksud dengan Beogard, Kingdom of Hagall?&lt;br /&gt;A = Itu artinya kerajaan Beogard adalah kerajaan yang menyembah dewa Hagall, tiap musim panas kerajaan Beogard selalu mengadakan perayaan untuk menghormati dewa Hagall.&lt;br /&gt;Q = Lalu, apa maksud dari Loraint, Elf Mystical Forest?&lt;br /&gt;A = Loraint adalah hutan yang dihuni oleh bangsa Elf. Sejak usainya perang Elf-Dwarfs yang terakhir dan datangnya ras manusia, bangsa Elf mengasingkan diri hingga ke Loraint sementara yang lain juga menghuni hutan-hutan lainnya. Selama beribu-ribu tahun hutan Loraint tidak bisa dimasuki oleh ras selain Elf, sihir mereka membuat pegunungan kabut tidak bisa ditembus sehingga tidak ada siapa pun yang dapat mencapai Loraint.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q = Kapan para Dwarfs akan muncul di cerita?&lt;br /&gt;A = Untuk di buku 1 mereka belum muncul. Dwarfs mungkin baru akan muncul di buku 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Q = Itu tanaman apa itu di bab2, Glycyrrhizic?&lt;br /&gt;A = Ya, Glycyrrhizic emang bener-bener, Glycyrrhizic maksudnya adalah akar manis, dan sudah dipakai selama beribu-ribu tahun untuk pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada pertanyaan yang ingin anda tanyakan seputar Fontheus ini, silahkan anda tanyakan di komentar atau di ym saya, pertanyaan anda mensuport saya untuk terus menulis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152140761831197779-9002980679193412618?l=fontheus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://fontheus.blogspot.com/feeds/9002980679193412618/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://fontheus.blogspot.com/2009/03/faq.html#comment-form" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/9002980679193412618?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/9002980679193412618?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Fontheus/~3/u8MpZ2tK4xc/faq.html" title="Faq" /><author><name>Donatsagogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18337986038711539722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://fontheus.blogspot.com/2009/03/faq.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0YAQHg5eCp7ImA9WxVVFk0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152140761831197779.post-5393558924749519327</id><published>2009-03-07T03:48:00.000-08:00</published><updated>2009-03-09T05:19:01.620-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-09T05:19:01.620-07:00</app:edited><title>Tentang Penulis</title><content type="html">Donatian Okky Mintaraga, lahir pada tanggal 28 Januari 1992. Seorang eksentrik yang suka dengan dunia musik, desain dan perbloggeran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mulai menyusun Novel ini sekitar 5 tahun yang lalu. Saat itu ia masih duduk di bangku kelas 2 smp dan pikirannya banyak terpengaruh oleh Novel Fiksi Fantasi seperti Lord of the Ring, Eragon dan Harry Potter. Kala itu ia banyak berfantasi untuk menciptakan sebuah Novel bertema sama dengan Eragon dan Lord of the Ring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beranjak ke kelas 3 smp ia mulai menulis Novel ini pada sebuah buku tulis pelajaran dan menunjukkannya kepada teman-temannya. Didorong oleh semangat teman-temannya yang mengatakan bahwa cerita tersebut cukup bagus ia mulai semangat untuk terus menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang sekali statusnya sebagai anak akselerasi di smp membuat waktunya banyak habis tersita untuk belajar. Akhirnya Novel tersebut tertunda hingga kelas 2 sma dia memulai menulis lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu ia menulis di sebuah buku diary yang sengaja ia beli untuk melanjutkan kembali Novel ini. Sayang walaupun kisah ini cukup disukai oleh teman-temannya, ia tidak bisa melanjutkannya karena buku diary tersebut hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pindah sekolah karena tuntutan tugas orang tuanya yang sering berpindah, ia mulai menulis lagi dengan media laptop yang merupakan laptop pertamanya. Namun sekali lagi kisah ini kandas di tengah jalan karena laptop tersebut rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, ketika ia telah beranjak ke kelas 3 SMA dan akan menghadapi Ujian akhir, ia kembali mencoba menulis novel ini. Kali ini ia mencoba serius melanjutkannya dan dengan pengalamannya yang cukup matang sebagai penulis blog(kunjungi blog personalnya di &lt;a href="http://donatian.blogspot.com/" target="_blank"&gt;Donatian.blogspot.com&lt;/a&gt;), ia mencoba membagikan tulisannya ke dalam blog ini. Sebuah langkah awal yang bagus untuk menggaet pembaca bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo beri dukungan kepada Okky Mintaraga dengan menjadi Follower blognya dan memasang banner Fontheus ke blog anda. Mari kita simak fantasi dan hayalan seorang Okky Mintaraga yang ingin memberi anda sebuah kisah tentang perjalanan Chadolice Guinglaint di buku pertama dari trilogi Fontheus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152140761831197779-5393558924749519327?l=fontheus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://fontheus.blogspot.com/feeds/5393558924749519327/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://fontheus.blogspot.com/2009/03/tentang-penulis.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/5393558924749519327?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/5393558924749519327?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Fontheus/~3/MxaKneJa_rs/tentang-penulis.html" title="Tentang Penulis" /><author><name>Donatsagogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18337986038711539722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://fontheus.blogspot.com/2009/03/tentang-penulis.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUcBQn4ycCp7ImA9WxVVEEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152140761831197779.post-2076153917739454576</id><published>2009-03-02T21:44:00.000-08:00</published><updated>2009-03-02T22:50:53.098-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-02T22:50:53.098-08:00</app:edited><title>Peta Fastocia</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://img4.imageshack.us/img4/4079/maplkz.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 340px;" src="http://img4.imageshack.us/img4/4079/maplkz.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Klik untuk memperbesar gambar&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Credits&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tool 1: Battle of westnoth map editor&lt;br /&gt;Tool 2: Potoshop&lt;br /&gt;Tool 3: My Imagination :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152140761831197779-2076153917739454576?l=fontheus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://fontheus.blogspot.com/feeds/2076153917739454576/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://fontheus.blogspot.com/2009/03/peta-fastocia_02.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/2076153917739454576?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/2076153917739454576?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Fontheus/~3/JLEyZjw-Zj4/peta-fastocia_02.html" title="Peta Fastocia" /><author><name>Donatsagogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18337986038711539722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://fontheus.blogspot.com/2009/03/peta-fastocia_02.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0YHQnczcCp7ImA9WxVVEEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152140761831197779.post-4036870408074218863</id><published>2009-02-28T03:34:00.000-08:00</published><updated>2009-03-02T22:18:53.988-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-02T22:18:53.988-08:00</app:edited><title>Bab 1: Perang di Padang Hijau</title><content type="html">Padang hijau, pos terdepan kerajaan Fastocia, hari keempat bulan Aeron tahun 1857 kalender pembaharuan Dewa-Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam hujan salju mengguyur padang tersebut. Di seluruh penjuru padang hijau, terhampar luas tumpukan salju. Tumpukan salju tersebut seakan-akan mengubah warna Padang Hijau menjadi putih. Matahari musim dingin masih malu-malu untuk mengintip karena tebalnya awan dan kabut di pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamp-kamp dan tenda-tenda Pasukan Fastocia telah didirikan sejak lima hari yang lalu di bagian selatan Padang Hijau di dekat Benteng Hijau. Alat-alat berat seperti Pelontar Batu dan Menara Pemanah telah dipasang sehingga siap untuk digunakan kapanpun jika perang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata-mata pasukan Fastocia melaporkan bahwa pasukan Orc telah menyebrangi sungai Grat yang memisahkan hutan Grat Utara dan Selatan dua hari yang lalu. Cepat atau lambat mereka akan segera tiba di batas selatan hutan Grat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Jenderal dan Penasihat perang Fastocia telah memikirkan strategi untuk membendung serangan Orc tersebut. Jika Orc datang menyerang, mereka terlebih dahulu dihujani oleh anak panah serta batu yang dilontarkan alat pelontar batu. Jika posisi mereka semakin dekat, seluruh pasukan berkuda yang dipimpin langsung oleh raja akan menyerang mereka, menciptakan sebuah serangan kejut yang biasa disebut dengan serangan Cataphract. Lalu seluruh pasukan Infantri akan ikut menyerang dan akhirnya pertempuran besar tidak akan terhindari lagi. Strategi tersebut telah digunakan beratus-ratus tahun dalam berbagai pertempuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana di pagi hari yang tidak cerah tersebut cukup riuh. Beberapa prajurit telah terbangun dari tidurnya yang kurang nyenyak akibat badai semalam. Mereka saling menyapa satu dengan yang lainnya lalu menyantap sarapan yang telah dibuat oleh koki pasukan. Tanpa menghiraukan rasa dingin yang membeku, mereka saling bercanda dan tertawa satu sama lain, seakan-akan mereka sedang tidak dalam kondisi akan berperang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, suasana riuh di pagi hari tersebut seakan pecah oleh suara sangkala yang ditiupkan oleh para peniup sangkala. Para prajurit sadar, inilah saatnya mereka berperang. Mereka langsung mengambil baju zirah mereka dan bergegas untuk berbaris sesuai dengan barisan mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah keriuhan akibat bunyi suara sangkala tersebut, 2 orang ksatria berjalan menyusuri barisan tenda-tenda prajurit Fastocia. Walau tinggi badan mereka sedikit berbeda, namun wajah mereka tampak mirip satu sama lain; bentuk wajah mereka sama dan bola mata mereka juga sama-sama berwarna biru. Hanya warna rambut mereka saja yang berbeda, yang lebih tinggi memiliki rambut berwarna cokelat sedangkan yang satunya berwarna pirang emas. Tampaknya mereka berdua memiliki hubungan saudara. 2 Ksatria tersebut mengenakan mantel putih dan baju zirah lengkap. Dari emblem yang berwujud sebuah perisai dengan gambar naga putih yang ada di baju zirah mereka, tampaknya mereka adalah ksatria dari klan Guinglaint, salah satu klan yang dikenal paling banyak berjasa dalam sejarah kerajaan Fastocia. Tak lama kemudian, Kedua ksatria tersebut berhenti di depan sebuah tenda berwarna biru yang memiliki jahitan emblem yang sama dengan emblem di baju zirah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau masuklah, bangunkan dia, aku menunggu di luar saja" Ujar ksatria yang lebih jangkung disertai anggukan ksatria satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam tenda tersebut, terdapat seorang pemuda yang tampaknya masih tertidur lelap di atas tempat tidurnya. Ia juga berparas sama dengan kedua ksatria tersebut, dan rambutnya yang panjang sebahu dan dibiarkan terurai juga berwarna cokelat. Ksatria yang diminta masuk tersebut segera berjalan ke arah pemuda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey, Chad, bangun!" Ujar ksatria tersebut.&lt;br /&gt;"Uhh, sebentar lagi bu." Ujar pemuda yang dipanggil Chad tersebut.&lt;br /&gt;"Hey, dasar tukang tidur, cepat bangun! Orc telah datang dan membakar seluruh kemah Fastocia!" Teriak ksatria tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad langsung terbangun dan mendapati saudaranya, Jeff tertawa cekikikan di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uh ada apa, aku masih mengantuk sekarang." Ujar Chad sambil menguap.&lt;br /&gt;"Ah, dasar tukang tidur, tidakkah kau mendengar suara sangkala tadi? Orc akan segera datang!" Ujar Jeff.&lt;br /&gt;"Benarkah?" Tanya Chad sambil mengikat rambutnya yang terurai&lt;br /&gt;"Yaya, sekarang cepat bersiaplah dan pakai baju zirahmu." Lanjut Jeff, "Aku dan Brad menunggumu di luar tenda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad bergegas bangun untuk menyiapkan diri. Ia membasuh mukanya dengan air dingin lalu memakai baju zirahnya yang tersimpan rapi di samping tempat tidurnya. Tak lama kemudian setelah selesai memakai baju zirahnya, ia mengambil pedang, perisai dan helm perangnya dan bergegas untuk keluar dari tenda dan menemui kedua saudaranya. Ia cukup bersemangat karena hari ini adalah pertempuran pertamanya sejak ia ditahbiskan sebagai ksatria pada umur 18 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad menemui kedua saudaranya di luar tenda. Ia sedikit menggigil kedinginan karena cuaca yang cukup dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau siap tukang tidur?" Tanya Brad&lt;br /&gt;"Yaya, aku sudah siap." Ujar Chad seraya mengenakan mantelnya.&lt;br /&gt;"Mungkin kau belum cukup tidur eh? Bagaimana kalau kau tidur lagi?" Canda Jeff "Kami takut nanti dirimu menjadi bulan-bulanan para Orc karena tertidur di medan perang."&lt;br /&gt;Jeff tertawa dibarengi Brad, Chad langsung memotong tawa mereka, "Ah, aku sudah cukup tidur, kecuali jika para Orc tidak jadi datang karena mereka juga kurang tidur, mungkin aku akan tidur menemani mereka?"&lt;br /&gt;Jeff dan Brad kembali tertawa lebih keras.&lt;br /&gt;"Sudah, sudah, ayo kita segera menuju barisan depan untuk mendengarkan pidato dari raja." Ujar Brad.&lt;br /&gt;"Ok" Sahut Jeff dan Chad bersamaan. Mereka bertiga lalu berjalan menyusuri tenda-tenda yang sudah sepi untuk ke barisan depan tempat dimana seluruh pasukan berkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngomong-ngomong, mana saudara-saudara kita yang lain?" Tanya Chad.&lt;br /&gt;"Glen berada di barisan pasukan berkuda bersama ayah dan ksatria berkuda lainnya." Lanjut Brad, "Sementara Orvhanav dan Thorvhinav berada di barisan pemanah, mereka berdua tentu saja akan ikut naik ke atas menara pemanah untuk menyerang Orc dari atas."&lt;br /&gt;"Sekarang mungkin satu-satunya yang mereka khawatirkan adalah dirimu. Itu sebabnya kami berdua diminta untuk menjagamu." Canda Jeff.&lt;br /&gt;"Hey, aku telah mendapatkan tahbisan ksatriaku, setidaknya aku sudah berhak untuk mengikuti sebuah pertempuran." Bela Chad "Kau juga belum pernah mengikuti sebuah pertempuran sama sekali, Jeff."&lt;br /&gt;"Ah, sudah-sudah, jangan bahas itu lagi." Lanjut Brad menengahi. "Kita harus cepat, kalau tidak kita akan mendapat hukuman dari ayah gara-gara kau yang telat bangun"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga bersaudara tersebut lebih mempercepat langkah mereka untuk sampai ke tempat para pasukan berbaris. Mereka tidak ingin ketinggalan pidato raja Gustave XII yang dikenal berkharisma tinggi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad atau Chadolice Guinglaint, adalah seorang ksatria termuda dari klan Guinglaint. Ayahnya adalah Richard Guinglaint, seorang ksatria veteran yang telah ambil andil dalam berbagai pertempuran. Richard Guinglaint juga menjadi pemimpin Orde of Knights, perkumpulan klan ksatria baik dari kerajaan Fastocia maupun dari kerajaan Beogard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Richard Guinglaint memiliki 4 putra dan 2 putri yang semuanya menjadi ksatria seperti ayah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putra tertua adalah Glen Guinglaint. Ia berumur 38 tahun dan juga ikut ambil andil dalam beberapa pertempuran bersama ayahnya. Ia didukung sebagai calon pemimpin Orde of Knights jika ayahnya telah tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orvhanav dan Thorvinav adalah putri kembar dari Richard. Mereka berdua berumur 29 tahun dan dikenal sebagai ahli panah. Mereka berdua dijuluki sebagai "Mawar Berduri" karena kecantikan dan ketepatan mereka dalam membidik musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bradon Guinglaint adalah putra keempat Richard. Ia berumur 25 tahun dan baru mengikuti 1 pertempuran di Beogard. Ia masih muda dan sangat ahli dalam memakai tombak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jefftaint Guinglaint putra kelima Richard. Ia masih berumur 21 tahun dan pertempuran kali ini adalah pertempuran pertamanya. Ia dekat dengan Chadolice karena umur mereka yang tidak jauh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chadolice Guinglaint adalah putra termuda Richard. Ia berumur 20 tahun dan sama seperti Jeff, pertempuran kali ini juga pertempuran pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klan ksatria Guinglaint, dikenal sebagai klan ksatria yang pemberani. Selama 500 tahun para ksatria Guinglaint telah ikut ambil bagian dalam sejarah kerajaan Fastocia. Mulai dari leluhur pertama mereka, Sir Edward Guinglaint yang datang dari utara dan mengabdi kepada raja Gustave I. Sir Edward Guinglaint ikut membantu mendirikan kerajaan Fastocia, setelah jatuhnya kerajaan Gardan yang kekuasaannya mencakup setengah dari seluruh wilayah Terra-Fonthea yang luas. Kerajaan Fastocia sendiri mendapat bantuan dari bangsa Elves dari hutan Loraint untuk memisahkan diri dari kekuasaan raja Fillast XXXIII yang tiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh pasukan Fastocia telah berbaris dengan rapi di garis depan sesuai dengan barisan mereka masing-masing. Mereka semua siap untuk berperang melawan Orc walaupun cuaca hari ini cukup dingin. Mereka semua saling mengobrol tentang perang kali ini sehingga suasana menjadi ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana ramai tiba-tiba menjadi hening ketika raja Gustave XII naik keatas podium. Raja tersebut hampir berumur 60 tahun dan wajahnya telah berkeriput karena dimakan usia. Namun semangat perangnya seakan tidak pernah padam. Ia selalu memimpin sendiri pasukannya karena ia yakin semangat pasukan akan terbakar jika melihat raja mereka maju paling depan dalam pertempuran. Raja tua tersebut memandang satu-persatu wajah prajuritnya, memastikan tidak ada ketakutan dalam wajah mereka untuk berperang hari ini. Ia bergumam sebentar lalu memulai pidatonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seluruh prajuritku yang gagah berani." Ujar raja Gustave dengan penuh wibawa, "Hari ini kita akan menghadapi sebuah takdir. Takdir yang akan menentukan nasib kerajaan kita, takdir yang akan menentukan nasib orang tua kita, istri, anak, saudara, teman dan seluruh rakyat Fastocia yang kita kasihi!" Raja Gustave berhenti sejenak untuk melihat reaksi pasukannya.&lt;br /&gt;"Sekarang, lihatlah kearah hutan tersebut!" Lanjut raja Gustave seraya menunjuk hutan Grat dengan pedangnya, "Disana, ribuan Orc telah menunggu untuk berperang! Mereka menunggu untuk membantai kita! Lalu apa yang harus kita takutkan? Jika mereka menginginkan sebuah perang, kita akan memberikan mereka perang yang dahsyat! Hancurkan mereka wahai prajuritku!" Seru raja Gustave yang diikuti oleh seluruh prajuritnya, suasana padang hijau menjadi riuh oleh suara teriakan-teriakan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, dari arah hutan Grat terdengar suara riuh teriakan perang pasukan Orc. Suara dari dalam hutan Grat tersebut saling bersahutan dengan suara pasukan Fastocia di padang hijau, seakan-akan mereka saling mengejek dan siap untuk bertempur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, ribuan Orc keluar dari hutan Grat. Mereka berlarian kearah pasukan Fastocia seraya berteriak-teriak dan mengacung-acungkan senjata mereka. Tanah di padang hijau seakan bergetar oleh suara langkah kaki mereka yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Gustave segera memerintahkan para peniup sangkala, penabuh drum dan pembawa bendera untuk menginstruksikan pasukan pemanah menyiapkan busur dan anak panahnya. Sangkala ditiup dan drum ditabuh beriringan, bendera bergambar seekor naga terbang yang menyemburkan api dikibarkan oleh para pembawa bendera. Seluruh pemanah mulai menarik busurnya dan mengarahkannya membentuk sudut 45 derajat ke atas. Raja mengangkat pedangnya keatas dan tak lama kemudian ia mengayunkannya seraya berseru, "Tembak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan anak panah berterbangan ke udara. Dalam hitungan detik ribuan anak panah tersebut melesat ke tanah dan menghujam ke tubuh sebagian besar Orc tersebut. Para Orc yang terkena anak panah tumbang, namun sebagian besar dari mereka kembali berdiri. Tentu saja beberapa anak panah yang menancap di tubuh mereka tidak akan menghentikan nafsu mereka untuk membantai pasukan Fastocia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan anak panah kembali berterbangan dan kali ini diikuti oleh batu-batu yang dilontarkan pelontar batu. Anak panah tersebut kembali menghujam ke tubuh sebagian Orc dan batu-batu besar juga menimpa mereka. Namun mereka kembali berdiri dan menjadi lebih bernafsu untuk membantai prajurit Fastocia yang sekarang hampir dekat di depan mereka. Hanya beberapa Orc saja yang sekarat atau tewas akibat terlalu banyak anak panah yang menancap ke tubuh mereka atau karena tertimpa batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan Orc semakin dekat, raja Gustave telah menaiki kudanya. Ia kembali mengangkat pedangnya keatas dan diikuti oleh seluruh pasukan berkuda. Ia berteriak keras, "Demi Fastocia!" lalu ia memacu kudanya ke arah pasukan Orc bersama seluruh pasukan berkudanya sementara para pasukan pemanah menaiki menara pemanah untuk menyerang Orc dari atas. Raja Gustave bukannya nekat untuk maju paling depan menyerang Orc. Ia tentu saja dilindungi oleh beberapa pengawal elitnya yang memang bertugas untuk melindungi nyawa raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara tombak dan pedang pasukan berkuda Fastocia beradu dengan pedang dan perisai pasukan Orc. Serangan kilat itu cukup ampuh untuk memberi serangan kejut bagi pasukan Orc sehingga barisan mereka menjadi kacau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian pasukan Infantri datang menyerbu. Menara-menara pemanah didorong hingga ke garis depan oleh beberapa prajurit di bawahnya sehingga para pemanah mampu membidikkan panahnya tepat sasaran ke tubuh Orc. Tak pelak pertempuran sengit terjadi antara pasukan Fastocia dengan pasukan Orc. Suara senjata yang beradu, teriakan perang dan jerit kesakitan terdengar riuh di seluruh penjuru padang hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chadolice dan kedua saudaranya ikut bertempur bersama barisan infantri. Mereka selalu menyerang satu Orc secara bersamaan. Hal ini dikarenakan kekuatan Orc yang sangat luar biasa dan kebuasan mereka yang tidak akan sanggup dikalahkan oleh seorang prajurit biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga menerapkan sebuah strategi untuk mengalahkan satu Orc. Chad dan Jeff secara bergantian memancing Orc untuk bertarung, kemudian Orc tersebut akan diserang bersamaan oleh mereka bertiga. Keahlian tombak Brad-lah yang biasanya mampu menusuk daerah vital di tubuh Orc yang tidak terlindungi oleh baju zirah. Mereka bertiga selalu memakai strategi yang sama sehingga hampir tidak ada dari mereka yang terluka sama sekali. Keahlian bertarung yang telah diajarkan kepada mereka sejak kecil pulalah yang turut membantu mereka mengalahkan setiap Orc yang mereka jumpai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertarungan terus berlangsung hingga sore hari datang menjelang. Suara sangkala terdengar dari arah hutan Grat, tanda bahwa pertempuran bagi Orc hari ini telah usai. Mereka menyudahi pertempuran dan kembali ke hutan Grat. Begitu juga dengan pasukan Fastocia. Mereka mengumpulkan mayat-mayat prajurit-prajurit yang gugur dan membawanya ke sebuah liang besar yang telah digali untuk segera dikuburkan. Selain untuk penghormatan bagi mereka yang telah gugur, penguburan mayat juga harus dilakukan secepatnya agar wabah penyakit tidak menjangkiti pasukan yang masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar lebih dari 1000 pasukan Fastocia telah gugur dalam pertempuran di hari pertama. Upacara penguburan singkat dilaksanakan oleh para pendeta kerajaan. Raja Gustave kembali berpidato singkat untuk menghormati mereka yang telah gugur dan membangkitkan kembali semangat prajurit yang lelah setelah seharian bertempur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah upacara penguburan selesai dilaksanakan dan seluruh mayat prajurit dikuburkan, seluruh prajurit Fastocia kembali ke kemah mereka dan menyiapkan makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api unggun besar dinyalakan dan seluruh prajurit berpesta pada malam hari itu. Daging rusa dan anggur dibagikan kepada seluruh prajurit. Para pemain musik memainkan berbagai lagu yang bernada riang. Seluruh prajurit menari bersama dengan gembira, seakan-akan mereka lupa pada pertempuran yang terjadi di siang hari sebelumnya. Mereka butuh kesenangan untuk melupakan kesedihan akibat ditinggal teman-teman mereka yang gugur pada pertempuran hari itu, serta untuk melepas lelah setelah seharian berperang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang jenderal yang ikut berbaur bersama prajurit tampak mabuk karena terlalu banyak meminum anggur. Ia mengangkat piala anggurnya tinggi-tinggi dan mulai mengoceh keras sambil berjalan sempoyongan, "Besok,, kita akan menghancurkan mereka semua (hick), tunjukkan kepada para mahluk idiot itu (hick), mereka menyerang rumah yang salah." Lalu ia tertawa keras dan diikuti tawa prajurit-prajurit lainnya, mereka kembali menari mengikuti irama sitar yang dimainkan para pemain musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam semakin menjelang dan salju mulai turun. Pesta terpaksa dibubarkan karena salju tersebut turun dengan lebat. Seluruh prajurit kembali ke tenda mereka masing-masing dan siap untuk bertempur kembali esok harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam telah berganti pagi, hujan salju yang turun semalam telah berubah menjadi badai yang mengganas. Badai telah hampir usai, namun kabut tebal turun dan mengaburkan pandangan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pagi hari tersebut, suara sangkala kembali bertiup menandakan kepada seluruh pasukan untuk segera bersiap. Para prajurit terbangun dari tidurnya dan segera menyiapkan diri dan menyantap sarapan pagi berupa bubur sup yang disediakan oleh koki pasukan. Para prajurit tidak terlalu bersemangat untuk berperang pada pagi hari itu akibat tebalnya kabut dan dinginnya tiupan angin sisa dari badai semalam. Setelah para prajurit selesai menyantap sarapan pagi mereka, mereka berkumpul sesuai dengan barisan mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi perang hari itu akan diubah karena kondisi cuaca yang tidak terlalu menguntungkan. Seluruh pasukan hanya akan menunggu serangan Orc tanpa menggunakan serangan kilat pasukan berkuda karena kabut tebal membuat kuda mereka ragu untuk melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara teriakan perang pasukan Orc kembali terdengar dari dalam hutan Grat sebelum raja Gustave sempat berpidato. Para pasukan Orc tampaknya sangat bersemangat untuk berperang pada hari itu tanpa mempedulikan cuaca yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian pasukan Orc berlarian keluar dari hutan Grat. Para prajurit Fastocia hanya bisa menunggu dengan waswas sambil mendengarkan suara teriakan dan langkah kaki mereka karena mereka tidak dapat melihat pasukan Orc akibat tebalnya kabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja memerintahkan para pasukan pemanah untuk bersiap. Suara sangkala yang ditiup serta genderang perang yang ditabuh mengiringi berkibarnya bendera-bendera yang bergambar Naga Terbang yang menyemburkan api. Seluruh pasukan pemanah menyiapkan busur dan anak panahnya. Sayang sekali alat pelontar batu tidak dapat digunakan karena cuaca yang lembap membuat tali pelontar batu yang terbuat dari urat hewan menjadi kehilangan tegangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja mengayunkan pedangnya dan ribuan anak panah berterbangan di udara. Sebagian besar pasukan Orc tidak dapat melihat arah datangnya anak panah sehingga mereka tidak bisa menghindar dari hujaman anak panah tersebut. Beberapa dari mereka tumbang dan terbangun kembali seraya mengerang kesakitan, lalu mereka kembali berlari untuk menyerang pasukan Fastocia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemanah terus menembakkan panahnya hingga pasukan Orc muncul dari balik kabut. Para pasukan Infantri telah bersiap di garis depan dan bersiaga dengan perisai mereka. Suara besi beradu kembali terdengar saat pedang dan kapak pasukan Orc menghujam perisai pasukan Fastocia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran besar-besaran kembali terjadi. Pasukan  Infantri Fastocia bertarung dengan sengit melawan pasukan Orc. Para pemanah terus menembakkan anak panah ke arah Orc dari atas menara pemanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran sengit terus terjadi hingga siang hari dan pasukan Fastocia terus terdesak. Cuaca yang kembali mengamuk membuat daya tahan tubuh dan semangat mereka melemah dan mereka menjadi bulan-bulanan senjata Orc. Ribuan prajurit Fastocia berguguran pada pertempuran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba suara teriakan perang lain terdengar dari hutan Grat. Para pasukan Fastocia bertanya-tanya siapakah yang ada di dalam hutan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian pertanyaan mereka terjawab, ribuan Goblin penunggang serigala berhamburan keluar. Mereka berteriak dengan suara yang menakutkan dan menghujamkan tombak mereka kepada setiap prajurit Fastocia yang mereka temui. Ternyata pasukan Goblin tersebut adalah bantuan untuk pasukan Orc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari barisan paling belakang pasukan Goblin tersebut, muncul seekor serigala putih raksasa. Serigala tersebut 3x lebih besar dari serigala hitam yang ditunggangi oleh para Goblin. Diatas pundak serigala tersebut, duduk seorang penyihir yang mengenakan jubah hitam dan membawa sebuah tongkat sihir panjang yang bermatakan permata hitam. Penyihir tersebut mengarahkan tongkat sihirnya ke arah menara pemanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percikan api keluar dari ujung tongkat sihir tersebut. Percikan api tersebut terus membesar dan berubah menjadi bola api yang meluncur menuju ke arah menara pemanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hitungan detik bola api tersebut menabrak menara pemanah dan menghancurkannya. Pemanah-pemanah yang ada di atasnya terbakar dan berjatuhan ke bawah. Puing-puing kayu dari menara tersebut berjatuhan dan menimpa prajurit Fastocia dan Orc yang bertarung di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyihir tersebut mengulang hal yang sama dengan menara pemanah lainnya. Seluruh menara pemanah menjadi sasarannya. Tak terhitung berapa banyak pemanah yang mati terbakar atau terjatuh ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi pasukannya yang semakin terdesak, perintah untuk mundur ke benteng hijau diberikan oleh raja Gustave. Seluruh prajurit Fastocia berlarian menuju ke pintu gerbang benteng hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suasana yang kacau tersebut, Chad, Jeff dan Brad sedang kebingungan. Mereka bertiga memutuskan untuk ikut berlari bersama para prajurit Fastocia. Namun tak lama kemudian Brad berhenti dan berkata, "Kalian larilah terlebih dahulu, aku akan mencari ayah!" ujarnya sambil berlari ke arah yang berlari ke arah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu, Brad!" Teriak Chad, namun Brad telah terlebih dahulu menghilang di balik tebalnya kabut dan ramainya prajurit Fastocia yang berlarian.&lt;br /&gt;"Aku tak menyangka ia pergi meninggalkan kita." Ujar Chad namun tiba-tiba Jeff mendorongnya seraya berteriak, "Chad, awas!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata ada Orc yang mengincar Chad yang sedang tidak waspada. Orc tersebut mengayunkan pedangnya ke arah Chad dan Jeff yang melihat hal tersebut segera mendorong Chad agar terhindar dari serangan Orc tersebut. Namun pundak Jeff terkena tebasan pedang Orc tersebut, ia jatuh terkapar seraya memegangi luka yang cukup dalam di pundaknya. Chad yang terjatuh karena didorong oleh Jeff berteriak histeris ketika melihat saudaranya jatuh terkapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kemarahan yang luar biasa ia menyerang Orc tersebut. Chad mengayunkan pedangnya namun berhasil ditangkis dengan perisai Orc tersebut. Sedetik Chad lengah dan Orc tersebut mengayunkan pedangnya dan menebas lengan kanan Chad yang terlambat menarik diri. Chad berteriak kesakitan dan membuang pedangnya. Ia terjatuh di atas tumpukan salju di dekat Jeff, dengan kondisi lengan kanan yang terluka parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orc tersebut mendekatinya dan siap untuk melakukan serangan terakhir. Ia berdiri di depan Chad yang tersungkur di tumpukan salju seraya mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Namun saat Orc tersebut akan mengayunkan pedangnya, Chad dengan cepat mengambil pedang milik Jeff dengan tangan kirinya, lalu menusukkannya ke leher Orc tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedang Jeff menancap cukup dalam di tenggorokan Orc tersebut. Darah mengucur deras dan Orc tersebut jatuh diatas tubuh Chad. Chad segera membebaskan diri dari berat tubuh Orc yang menimpanya. Ia mengerang kesakitan seraya memegangi lengan kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia teringat dengan Jeff dan segera menatap tubuhnya yang terbujur kaku di atas tumpukan salju. Jeff belum tewas namun ia sekarat. Nafasnya tersengal-sengal dan wajahnya mulai memucat. Ia telah kehilangan darah yang cukup banyak akibat serangan Orc tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau, melakukan sesuatu yang hebat, Chad," Ujar Jeff dengan terbata-bata.&lt;br /&gt;"Ayo Jeff, aku akan menggendongmu dan kau akan selamat!" Ujar Chad.&lt;br /&gt;"Haha, jangan bodoh, aku tahu lengan kananmu juga terluka parah." Ujar Jeff dengan senyuman getir. "Sekarang tinggalkan aku sendiri disini, aku boleh gugur dalam pertempuran ini tapi kau tidak. Aku sudah sekarat, kurasa kematian akan segera menjemputku..." Jeff tertawa miris, namun tak lama kemudian tawanya berhenti dan matanya tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad memandangi wajah saudaranya yang terlihat seperti sedang tertidur. Ia memahami bahwa saudaranya yang telah bersamanya lebih dari 20 tahun sekarang telah meninggal. Perasaan Chad menjadi sangat sedih, namun ia sadar ia tidak boleh terlalu lama berada disitu karena Orc yang lain akan datang mengincarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad memberi penghormatan terakhir dengan mencium kening saudaranya, lalu ia segera bergegas untuk kembali berlari sebelum Orc menyerangnya. Ia membawa pedang milik Jeff dengan tangan kirinya karena pedangnya sendiri hilang entah kemana. Ia tentu saja tidak akan menghabiskan waktu hanya untuk mencari pedang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para prajurit Fastocia terus berlari menyelamatkan diri ke arah pintu gerbang benteng Hijau yang tampaknya akan segera ditutup. Mental dan semangat mereka telah jatuh. Beberapa dari mereka terkejar oleh pasukan penunggang serigala goblin dan dibunuh dengan sadis sementara yang lainnya dicegat oleh Orc dan terbunuh sebelum sempat melakukan perlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad terus berlari dengan kondisi yang kelelahan dan lengan kanan yang terluka. Napasnya tersengal-sengal dan ia merasa ia tidak akan sanggup untuk mencapai ke gerbang benteng hijau sebelum gerbang tersebut ditutup. Chad berhenti berlari sejenak untuk mengumpulkan nafas kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba datang salah satu goblin penunggang serigala yang akan menyerang Chad. Chad yang menyadari hal tersebut langsung menghindar sebelum tombak Goblin tersebut menusuk tubuhnya. Chad kembali terjatuh ke atas tumpukan salju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goblin tersebut memutar arah tunggangannya dan berhenti sejenak. Serigala yang ditungganginya menatap Chad dengan buas sementara penunggangnya mengambil posisi untuk melempar tombaknya kearah Chad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad tidak kuasa untuk berdiri karena rasa lelah luar biasa yang dirasakannya. Ia hanya terdiam di depan Goblin tersebut, seakan-akan dia merasa bahwa ajalnya kini telah dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goblin tersebut siap untuk melempar tombaknya, namun tiba-tiba sebuah tombak besar telah menancap di tubuhnya. Goblin tersebut terjatuh dari punggung serigala tunggangannya. Namun tampaknya serigala tunggangannya masih bernafsu untuk membantai Chad. Ia mendengus keras dan menerjang Chad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad berusaha melawan serigala tersebut. Ia mencoba menahan kepala serigala tersebut agar ia tidak menggigit Chad. Kuku-kuku serigala tersebut mencakar-cakar tubuhnya. Chad berusaha bertahan walaupun lengan kanannya terasa sakit luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak diduga seorang ksatria yang memakai baju zirah dan helm putih datang dengan menunggangi seekor kuda putih. Ia menghunus pedangnya dan menebas kepala serigala tersebut sehingga kepalanya terlepas dari tubuhnya. Tampaknya orang itulah yang melemparkan tombak kepada Goblin tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad masih berbaring sambil memegangi tubuh serigala yang sudah tak bernyawa tersebut. Ia melemparkannya dan mencoba untuk bangun. Ia merasa rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya akibat cakaran kuku serigala tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ksatria tersebut turun dari kudanya dan membuka helm yang menutupi seluruh wajahnya. Chad mengenali ksatria tersebut sebagai ayahnya, Richard Guinglaint.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Astaga putraku, kukira tidak ada lagi ksatria Guinglaint yang masih hidup." Ujar Richard.&lt;br /&gt;"A-Ayah, Jeff telah..." Chad berbicara dengan menahan sakit, namun ayahnya langsung memotong pembicaraannya.&lt;br /&gt;"Naiklah keatas kudaku, gerbang benteng hijau telah ditutup, kau tidak akan sempat kesana." Lanjut Richard, "Kudaku akan membawamu ke sebuah jalan rahasia dibalik pegunungan itu yang akan membawamu ke desa Leafth."&lt;br /&gt;"Tapi bagaimana denganmu ayah?" Lanjut Chad, "Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu! Lebih baik aku..." Chad tidak sempat melanjutkan pembicaraannya karena tiba-tiba ayahnya memukul tengkuknya dengan ujung gagang pedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chad jatuh pingsan. Ayahnya segera mengangkatnya dan menaikkannya keatas kudanya.&lt;br /&gt;"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, White." Bisik Richard di telinga kuda tersebut. Seakan mengerti, kuda tersebut langsung berlari secepat kilat ke arah barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Richard terus memandangi kuda tersebut hingga ia menghilang dibalik kabut. Ia menghela napas panjang dan berbisik, "Semoga kau tetap hidup, tak akan ada yang tersisa pada klan Guinglaint"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152140761831197779-4036870408074218863?l=fontheus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://fontheus.blogspot.com/feeds/4036870408074218863/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://fontheus.blogspot.com/2009/02/bab-1-perang-di-padang-hijau.html#comment-form" title="12 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/4036870408074218863?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/4036870408074218863?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Fontheus/~3/9zsybRJiCwg/bab-1-perang-di-padang-hijau.html" title="Bab 1: Perang di Padang Hijau" /><author><name>Donatsagogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18337986038711539722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>12</thr:total><feedburner:origLink>http://fontheus.blogspot.com/2009/02/bab-1-perang-di-padang-hijau.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU4EQn08cCp7ImA9WxVWF04.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152140761831197779.post-4971325869929320186</id><published>2009-02-27T04:06:00.000-08:00</published><updated>2009-02-27T04:31:43.378-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-27T04:31:43.378-08:00</app:edited><title>Sinopsis</title><content type="html">"Orb Stone" adalah sebuah batu magis yang dibuat oleh bangsa Elves untuk menyegel kekuatan magis dari Naga Hitam bernama Orbheus. Bangsa Elves menyegel Orbheus karena kekuatan Orbheus yang dapat menghancurkan seluruh mahluk di daratan Terra-Fonthea. Karena kekuatan jahat yang ada di dalam batu tersebut, bangsa Elves meminta kerajaan Fastocia untuk menjaganya . Kerajaan Fastocia yang merasa berhutang budi karena pernah dibantu oleh bangsa Elves, menerima tugas tersebut dan menjaga Orb stone selama beratus-ratus tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;500 tahun berlalu, kerajaan Fastocia diserang oleh pasukan Orc yang dipimpin oleh Argol sang penyihir hitam yang ingin membangkitkan kembali Orbheus untuk menguasai seluruh daratan Terra-Fonthea. Pasukan Fastocia memberi perlawanan sengit atas serangan tersebut namun karena kekuatan musuh yang lebih besar, pasukan tersebut akhirnya kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chadolice, seorang ksatria muda dari klan Guinglaint adalah salah satu prajurit yang selamat dalam pertempuran tersebut. Dalam pelariannya, ia bertemu dengan Tevlan dari desa Leafth yang menyelamatkannya ketika ia sekarat dan Oric, seorang pedagang dan petualang yang berasal dari utara(kerajaan Vandals) yang membantunya kembali ke ibukota kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kembali ke ibukota kerajaan, Chad bertemu dengan Brad, salah satu saudaranya yang ternyata selamat dalam pertempuran tersebut. Mereka berdua beserta Tevlan dan Oric diberi tugas oleh kerajaan untuk bergabung ke dalam sebuah misi untuk mengambil kembali Orb Stone yang telah diambil oleh Arghol sebelum ia tiba di gunung berapi Gollus tempat dimana Orbheus disegel dalam kawah gunung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perjalanan Chadolice dan kawan-kawannya dalam mendapatkan kembali Orb Stone? Dan takdir dari ramalan kuno apakah yang menanti Chadolice ketika ia bertemu dengan Arghol? Ikuti kisah Chadolice dalam &lt;b&gt;Fontheus: The Orb Stone&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152140761831197779-4971325869929320186?l=fontheus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://fontheus.blogspot.com/feeds/4971325869929320186/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://fontheus.blogspot.com/2009/02/sinopsis.html#comment-form" title="8 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/4971325869929320186?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/4971325869929320186?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Fontheus/~3/qeXosD5ZT-M/sinopsis.html" title="Sinopsis" /><author><name>Donatsagogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18337986038711539722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>8</thr:total><feedburner:origLink>http://fontheus.blogspot.com/2009/02/sinopsis.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkAMR3Y_fip7ImA9WxVbGUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152140761831197779.post-1878622155974856183</id><published>2009-02-26T18:32:00.000-08:00</published><updated>2009-04-05T21:06:26.846-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-05T21:06:26.846-07:00</app:edited><title>Prolog: Serbuan Orc</title><content type="html">Hutan Grat, wilayah barat daratan Terra-Fonthea, hari ke-29 bulan Geofu tahun 1857 kalender pembaharuan dewa-dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim gugur hampir sepenuhnya usai, dedaunan pepohonan di penjuru hutan Grat telah meranggas secara sempurna. Warna-warni merah, oranye, cokelat dan kuning semburat berhamburan dari dahan-dahan pohon yang tampak telanjang, seakan kehabisan daya untuk menahan daun-daun yang telah melindunginya sejak awal musim semi hingga musim gugur berakhir. Tanah berlumut yang menjadi tempat berpijak bagi pohon di hutan itu, sekarang tertutupi oleh jutaan daun yang terhampar luas di seluruh penjuru hutan, menunggu mengering dan akhirnya hanya akan menghilang di balik tumpukan salju ketika musim dingin tiba. Bau daun basah menyerbak di seluruh penjuru hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hewan-hewan penghuni hutan telah bersiap diri untuk tidur sepanjang musim dingin dan akan terbangun saat cahaya musim semi yang hangat berpancar kembali. Kelinci-kelinci dan tikus-tikus hutan menggali sarang di dalam tanah, berbagi kehangatan yang diberikan dewa Geofu yang melindungi mereka dari dingin di luar sana. Burung-burung dan tupai-tupai, telah menumpuk persediaan makananan berupa kacang-kacangan di dalam lubang yang mereka buat di batang pepohonan; cukup bagi mereka sebagai persediaan hingga musim semi tiba. Kelompok-kelompok Rusa dan Menjangan yang juga mendiami hutan tersebut, menebalkan bulu mereka untuk menghadapi musim dingin. Mereka hanya bertahan dengan mengais rerumputan yang masih tetap tumbuh di bawah tumpukan salju ketika musim dingin tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin utara yang membekukan tulang mulai bertiup lirih malam itu, menandakan bahwa kedudukan bulan Geofu akan segera digantikan oleh bulan Aeron yang menyambut datangnya musim dingin dengan angin yang terus bertiup selama 27 hari. Angin musiman tersebut sesekali bertiup dan menggerakkan cabang-cabang pepohonan, menciptakan sebuah siluet menakutkan yang terpapar di lantai tanah hutan Grat di bawah sinar bulan Geofu yang sesekali mengintip dari balik gumpalan awan tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah naungan bulan Geofu yang mulai meredup dan bintang-bintang yang sedikit terhalang sinarnya oleh gumpalan awan tebal, sinar-sinar mata serigala hutan bermunculan di balik gelapnya malam. Mereka mengawasi sekelompok rusa yang sedang terlelap yang akan segera mereka dapatkan untuk makan malam; mereka cukup lapar dan mereka harus segera makan sebelum dinginnya musim dingin akan membunuh mereka dan anak-anak mereka yang baru lahir musim semi lalu. Serigala-serigala yang kelaparan itu berburu secara berkelompok, mengelilingi  kelompok rusa yang akan segera menjadi makan malam mereka. Gigi-gigi yang basah dengan air liur bergemeretak kedinginan ketika angin utara kembali bertiup. Suara dan bau serigala yang dibawa angin tersebut sontak membangunkan kelompok rusa yang sedang terlelap itu, namun sebelum mereka semua sempat berlari, para serigala telah menerjang dari balik pepohonan ke arah mereka. Kelompok rusa tersebut lari berhamburan dan mengeluarkan suara "ngik-ngik" dari tempat mereka terlelap. Para serigala menggonggong keras dan mencoba mengepung mereka dari segala arah. Seekor rusa betina berhasil digapai oleh salah satu serigala dengan kuku-kukunya yang tajam.  Dengan sigap serigala itu menggigit bokong mangsanya. Rusa betina itu memekik keras dan dengan kaki belakangnya menendang dada serigala tersebut. Ia mencoba mengejar kawanannya yang telah berlari jauh namun serigala lainnya dengan sigap menangkapnya dan menancapkan kuku dan gigi mereka yang tajam ke tubuhnya. Rusa betina itu terjatuh karena tidak berdaya menghadapi kepungan para serigala. Darah merah muncrat dan mengalir dari bekas cabikan kuku dan gigitan serigala. Ia hanya bisa menatap sedih ke arah kawanannya yang telah berlari jauh untuk menyelamatkan diri. Menunggu kematian, rusa betina itu memekik kesakitan ketika serigala lainnya menerkam lehernya dan memutuskan tali kehidupan rusa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rantai makanan berputar, gerombolan serigala itu mengakhiri perburuan dan berpesta dengan hasil buruan mereka; seekor rusa betina gemuk yang mampu menghidupi kelompok mereka selama beberapa hari. Seekor serigala jantan yang tampaknya adalah pemimpin dari kelompok tersebut hanya berdiri diam dan mengawasi para serigala betina dan serigala muda mencabik dan melahap daging merah buruan mereka. Sudah menjadi tugasnya untuk menjaga kawanannya selama mereka menikmati buruan yang mereka dapatkan. Ia hanya bisa mengais sisa-sisa daging yang terselip diantara tulang-belulang hasil buruannya, atau bahkan tidak mendapatkan sisa sama sekali. Pengorbanan yang ia lakukan semata-mata demi kelangsungan hidup para serigala yang bernaung di dalam kelompok yang ia pimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin utara lagi-lagi kembali bertiup. Tiupan angin tersebut membawa bau aneh yang tertangkap oleh hidung serigala pemimpin kelompok tersebut. Bulu-bulunya yang berwarna hitam sontak berdiri. Ada sebuah kengerian dan ketakutan yang ditimbulkan oleh bau tersebut dan menyebabkan sang serigala melolong keras. Lolongan tersebut diikuti oleh lolongan serigala lain dalam kelompoknya yang juga menangkap bau aneh tersebut. Mereka semua seakan terhipnotis untuk berdiri dan mengakhiri makan malam mereka. Sang pemimpin kelompok mulai berjalan menjauh dan diikuti oleh anggota kelompoknya. Mereka bergegas berlari menjauh dan meninggalkan seonggok bangkai rusa betina dengan isi perut yang telah kosong dan usus yang memburai, serta tiga dari empat kaki yang telah dilahap habis oleh para Serigala. Jelas bahwa bau tersebut bukanlah pertanda bahwa mereka menemukan mangsa atau mencium bau bangkai lainnya. Hidung mereka sepertinya sangat sensitif dengan bau yang menjadi pertanda kehadiran ras barbar yang sangat kejam dan ditakuti di seluruh penjuru daratan Terra-Fonthea. Bau tersebut adalah bau Orc!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orc adalah ras barbar yang dikenal dengan kekejamannya membantai manusia dan ras-ras lainnya. Mereka hidup dengan kelompok-kelompok kecil yang tersebar di pegunungan Orc dan padang kering Glidlur yang terhampar luas di tengah daratan Terra-Fonthea. Tubuh Orc tiga kali lipat lebih besar dari tubuh manusia, perbandingan yang seimbang karena otak mereka juga tiga kali lipat lebih kecil dari otak manusia. Kulit mereka berwarna cokelat kehijauan dan bau yang menjadi pertanda kehadiran mereka sangat khas; campuran antara bau amis darah, keringat dan kekejaman. Mereka memiliki keahlian yang dicuri dari bangsa Dwarf untuk menempa besi dan membuat perisai dan senjata-senjata seperti pedang skimitar, kapak, palu godam dan tombak. Mereka dipercaya sebagai ras ciptaan Garland sang dewa kegelapan yang dibentuk dari campuran lumpur dari rawa-rawa di tanah asin Yuatsha serta pasir dari padang kering Glidlur, dan ditugaskan untuk membinasakan bangsa Dwarf dan Elf, serta ras manusia di kemudian harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari onggokan bangkai rusa betina tersebut, dari arah utara datang gerombolan Orc yang memakai perlengkapan perang lengkap dengan baju pelindung, senjata serta panji-panji perang bergambar tengkorak. Sebagian besar dari mereka bersenjatakan pedang skimitar, tapi banyak juga yang membawa kapak, palu godam dan tombak. Sisanya yang lain membawa senjata-senjata perang yang eksotis; Tongkat kayu yang memiliki duri di bagian matanya, rantai besi yang di ujungnya tergantung sebuah bola besi berduri, senjata yang memiliki dua sisi pedang di masing-masing ujung gagangnya dan macam-macam senjata lainnya yang tidak biasa digunakan oleh ras manusia. Mereka berjumlah lebih dari tiga ribu Orc. Jumlah tersebut bisa dihitung sangat besar karena biasanya mereka hanya datang dengan kelompok-kelompok kecil yang jumlahnya tidak lebih dari seratus Orc. Mereka berjalan menuju selatan tempat dimana kerajaan Fastocia berada. Tampaknya mereka akan menyerang kerajaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di barisan paling depan gerombolan Orc tersebut, tampak seorang penyihir hitam menunggangi seekor serigala putih raksasa. Penyihir tersebut mengenakan jubah hitam kumal yang menutupi tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambut sementara bagian wajahnya tertutup oleh sebuah topeng besi yang tampak datar tanpa ekspresi. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat sihir sepanjang empat hasta, bermatakan sebuah batu permata berwarna hitam. Suara bergemerincing terdengar dari gelang-gelang besi yang melingkari tongkat sihirnya ketika ia menggerakkannya. Tangan kirinya menggenggam tali kekang serigala tunggangannya. Serigala putih yang ia tunggangi sesekali menyeringai, menampilkan barisan gigi taring yang sebesar dan setajam pedang Skimitar Orc. Sisa-sisa daging dan air liur terselip di sela-sela gigi tersebut, menunjukkan bahwa ia baru saja diberi daging segar sebagai makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyihir hitam itu adalah Arghol. Seorang Necromancer terakhir yang masih hidup sejak kejatuhan kerajaan Gardan. Ia berasal dari timur jauh tepatnya dari tanah asin Yuatsha yang tidak berpenghuni. Ia jauh-jauh datang ke kerajaan Fastocia di pesisir barat Terra-Fonthea untuk mendapatkan batu Orb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu Orb adalah sebuah batu hitam bundar yang menyegel kekuatan magis dari Naga Hitam Orbheus. Seribu tahun yang lalu para Necromancer dari kerajaan Gardan menciptakan Orbheus untuk membinasakan para Elf yang dianggap sering mengganggu kerajaan Gardan. Orbheus yang menyerang hutan Loraint berhasil ditahan kekuatannya dan akhirnya disegel di dalam kawah gunung berapi Gollus dengan perantara batu Orb. Batu tersebut diserahkan kepada kerajaan Fastocia untuk dijaga. Para Elf di hutan Loraint tidak mau mengambil resiko yang dapat terjadi kapan saja karena kekuatan jahat di dalam batu tersebut. Kerajaan Fastocia telah berhutang budi karena mendapatkan bantuan dari para Elf ketika mereka memberontak dan memerdekakan diri dari kerajaan Gardan. Batu Orb diterima dan dijaga oleh para penyihir kerajaan sebagai balas budi kepada para Elf di hutan Loraint.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima ratus tahun telah berlalu dan kini Arghol, sang Necromancer terakhir mencoba mendapatkan batu tersebut dan membangkitkan kembali Orbheus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alor!" Seru Arghol dengan suara berat namun sangat keras hingga terdengar sampai barisan paling belakang para Orc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari arah belakang, muncul seorang penunggang kuda yang memacu kudanya dengan kencang. Derap langkah kuda tersebut mendahului para Orc yang berjalan dengan lamban. Sang penunggang, memakai jubah hitam kumal yang juga menutupi seluruh tubuhnya. Dari hidung mancung sedikit bengkok yang mencuat dari wajah yang tersembunyi di dalam jubah yang ia kenakan, jelas terlihat bahwa ia adalah Goblin, sepupu jauh Orc yang juga dipercaya sebagai ras ciptaan dewa Garland.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memperlambat derap langkah kudanya dan mendekatkannya ke samping hewan tunggangan Arghol. "Ya Tuanku Arghol, hamba siap menerima perintahmu." Ujar Alor melongok keatas dan memandang tuannya seraya menarik tali kekang kudanya untuk mengimbangi langkah Serigala putih raksasa yang ditunggangi Arghol.&lt;br /&gt;"Perintahkan mahluk-mahluk tak berotak itu untuk mempercepat langkah mereka! Kelambanan hanya akan menghalangi ambisiku! Siapapun yang berjalan lamban akan kubinasakan!" Arghol memandang lurus kedepan. Suaranya yang terdengar berat dan serak dari balik topeng besinya, sanggup menggema hingga terdengar di seluruh penjuru hutan Grat, membuat kelelawar-kelelawar hutan yang sedang hinggap berkelompok di sebuah pohon tanpa daun berhamburan berterbangan.&lt;br /&gt;"Baik Tuan, hamba akan memastikan bahwa para Orc akan berjalan lebih cepat." Alor berbalik memacu kudanya kembali ke belakang barisan. Ia mengeluarkan sebuah Sangkala dari balik jubahnya dan meniupnya dengan tetap menjaga irama kecepatan derap langkah kudanya, melewati barisan mengular Orc yang bergerak ke selatan. Para Orc yang mendengar suara Sangkala tersebut mempercepat langkah kaki mereka. Mereka sadar akan konsekuensi nyata dari sihir Arghol jika mereka tidak menuruti kemauannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan besar Orc tersebut terus berjalan menuju padang Hijau di selatan hutan Grat. Telapak kaki mereka yang tidak beralaskan sepatu menimbulkan jejak kaki di jalan tanah yang mereka lalui. Angin utara yang terus bertiup terasa tidak mempan untuk membuat mereka menggigil kedinginan, walau mereka tidak memakai selembar mantel sekalipun. Raut wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan keletihan walau mereka telah berjalan sangat jauh dan hampir tanpa istirahat. Sebaliknya mereka terlihat sangat bersemangat dengan sesekali menyeringai dan menampilkan gigi-gigi mereka yang bergerigi karena sering diasah dan dikikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin utara terus bertiup, membawa kabar kematian bagi para prajurit Fastocia yang telah mendirikan kemah di padang Hijau. Beberapa hari yang lalu datang dua prajurit berkuda dari arah hutan Grat. Keduanya adalah mata-mata kerajaan Fastocia di garis depan. Mereka berdua memacu kuda dengan kencang melewati hutan Grat dan padang Hijau. Setelah dua hari penuh berkuda, akhirnya mereka tiba di benteng Hijau, gerbang sebelum memasuki wilayah kerajaan Fastocia. Mereka membawa berita menggemparkan; ribuan Orc sedang bergerak dari arah utara dan akan tiba di padang Hijau dalam beberapa hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Gustave XII, segera memberi perintah kepada para jenderalnya untuk mengumpulkan pasukan dari segala penjuru wilayah kerajaan guna membendung serangan tersebut. Dalam waktu tiga hari, para prajurit telah didatangkan dari provinsi Leona, Turin dan Farlov. Pasukan tersebut berjumlah lima ratus pasukan Kavaleri, lima ribu pasukan Infanteri dan pemanah, dan sekitar seratus ksatria dan bangsawan baik dari kerajaan Fastocia maupun kerajaan tetangga Beogard, serta alat-alat perang seperti pelontar batu dan menara pemanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh pasukan tersebut disiagakan di padang Hijau. Ribuan prajurit berbaris menyebrangi jembatan di benteng Hijau. Mereka membangun tenda-tenda dan paviliun-paviliun di bagian selatan padang Hijau yang dekat dengan benteng tersebut. Beratus-ratus kereta yang berisi perbekalan seperti tepung, daging serta anggur didatangkan dari seluruh penjuru kerajaan. Alat pelontar batu dibawa dengan kereta kuda dan segera dirakit kembali setelah tiba di padang Hijau. Menara pemanah dibawa dengan posisi tidur agar bisa melewati jembatan di benteng Hijau lalu ditegakkan kembali. Para ksatria berdatangan dengan menaiki kuda dan membawa panji-panji dan bendera yang bersimbolkan klan mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang besar mempertahankan batu Orb bagi kerajaan Fastocia akan segera dimulai. Takdir seluruh daratan Terra-Fonthea akan dipertaruhkan dalam pertempuran antara pasukan Fastocia dengan pasukan Orc.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152140761831197779-1878622155974856183?l=fontheus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://fontheus.blogspot.com/feeds/1878622155974856183/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://fontheus.blogspot.com/2009/02/prolog-serbuan-orc_26.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/1878622155974856183?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/1878622155974856183?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Fontheus/~3/MEk8nvxKFOY/prolog-serbuan-orc_26.html" title="Prolog: Serbuan Orc" /><author><name>Donatsagogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18337986038711539722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://fontheus.blogspot.com/2009/02/prolog-serbuan-orc_26.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C04GQXk4cSp7ImA9WxVWF00.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152140761831197779.post-1402648952563958622</id><published>2009-02-26T18:31:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T18:32:00.739-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-26T18:32:00.739-08:00</app:edited><title>Kalender Pembaharuan Dewa-Dewi</title><content type="html">&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Musim Semi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Luna: Dewi Kehidupan: 20 hari (Putih keabuan)&lt;br /&gt;Beorth: Dewa Air: 32 hari (Biru muda)&lt;br /&gt;Rad: Dewi Tumbuhan:30 hari (Hijau Muda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Musim Panas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hagall: Dewa Api: 40 hari (Merah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Musim Gugur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Thierva: Dewi Kecantikan: 35 hari (Oranye)&lt;br /&gt;Geofu: Dewa Tanah: 30 hari (Cokelat Muda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Musim Dingin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aeron: Dewa Angin: 27 hari (Biru kehijauan)&lt;br /&gt;Tronjheim: Dewa Perang: 32 hari (Abu-abu Tua)&lt;br /&gt;Garland: Dewa Kegelapan: 18 hari (Hitam Pekat)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152140761831197779-1402648952563958622?l=fontheus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://fontheus.blogspot.com/feeds/1402648952563958622/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://fontheus.blogspot.com/2009/02/kalender-pembaharuan-dewa-dewi.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/1402648952563958622?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/1402648952563958622?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Fontheus/~3/jHEA2Ta7hmE/kalender-pembaharuan-dewa-dewi.html" title="Kalender Pembaharuan Dewa-Dewi" /><author><name>Donatsagogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18337986038711539722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://fontheus.blogspot.com/2009/02/kalender-pembaharuan-dewa-dewi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0AARHg7cSp7ImA9WxVWF00.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1152140761831197779.post-5754354979034621842</id><published>2009-02-26T18:25:00.000-08:00</published><updated>2009-02-26T18:29:05.609-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-26T18:29:05.609-08:00</app:edited><title>Mythology Dewa-Dewi</title><content type="html">Terberkatilah Raja para Dewa, Sang Maha Agung Fontheus, yang telah menciptakan dunia untuk ditempati oleh segenap mahluk hidup yang mendiami daratan Terra-Fonthea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kuasa, kebesaran serta kebijaksanaannya, ia memerintahkan kesembilan dewa untuk mengisi kekosongan di dunia yang baru saja ia ciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Geofu sang Dewa Tanah, menciptakan tanah sebagai tempat berpijak dan mengisi seluruh daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Tronjheim sang Dewa Perang, mengeruk tanah dan mengeraskannya menjadi batu, lalu memahatnya dengan palu godamnya sehingga terbentuklah relief bukit, lembah dan pegunungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beorth sang Dewa Air, menuangkan air yang mengisi cekungan tanah yang dikeruk oleh Tronjheim sehingga terbentuklah danau, sungai-sungai, laut serta samudera yang mengelilingi daratan Terra-Fonthea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diatas daratan dan didalam air, Luna sang Dewi Kehidupan menciptakan segala jenis hewan, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar, dan dari yang terjinak hingga yang terbuas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diatas daratan dan didalam air pula, Rad sang Dewi Tumbuhan menciptakan segala jenis tumbuhan yang tumbuh subur, mulai dari rerumputan perdu hingga pepohonan tinggi, dan mulai dari yang berguna hingga yang paling beracun sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Aeron sang Dewa Angin, menciptakan arus angin yang membawa benih-benih tumbuhan ke seluruh daratan dan menciptakan sebuah siklus serta arus ombak di seluruh samudera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diatas langit daratan Terra-Fonthea yang masih sangat gelap, Hagall sang Dewa Api menciptakan sebuah bola api raksasa yang menerangi seluruh daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Garland, sang Dewa Kegelapan, selalu memecah bola api raksasa tersebut menjadi kepingan-kepingan bintang-bintang dan Garland melakukan hal yang sama setiap kali Hagall menciptakan bola api yang baru sehingga terjadilah siang dimana bola api Hagall masih belum dihancurkan, dan malam dimana Garland telah memecahnya menjadi bintang-bintang di angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, Thierva sang Dewi Kecantikan melukis seluruh daratan dan lautan dengan warna-warna yang indah sehingga terciptalah keindahan di seluruh daratan dan lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fontheus yang Maha Agung senang dan bangga dengan hasil karya kesembilan dewa, dan sebagai hadiah, ia menciptakan sembilan bulan yang muncul secara bergantian di langit Terra-Fonthea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Fontheus merasakan ada suatu hal yang belum ada keberadaannya di daratan Terra-Fonthea, yaitu ras-ras pintar yang mampu membangun peradaban mereka dan menyembah Fontheus dan kesembilan dewa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Fontheus memberikan perintah kepada Tronjheim dan Thierva untuk menciptakan dua ras yang berbeda agar kedua ras tersebut bisa saling melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Tronjheim menciptakan Dwarfs, yang ia ciptakan dari batu yang ia pahat dengan palu godamnya sesuai dengan rupa dan bentuk yang ia kehendaki, bertubuh pendek namun keras dan kuat karena Dwarfs diciptakan dari batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Thierva menciptakan Elf, yang ia buat dari batang pohon yang ia rangkai dengan bunga-bunga yang indah sesuai dengan rupa dan bentuk yang ia kehendaki, sangat rupawan dan elegan namun juga mematikan karena Elf juga terbentuk dari tumbuhan beracun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tanpa disangka-sangka, Garland menciptakan ras-ras barbar seperti Orc, Goblin, Troll dan ras-ras barbar lainnya yang ia ciptakan dari Lumpur sesuai dengan rupa yang ia kehendaki karena ia ingin membinasakan ras yang diciptakan oleh Tronjheim dan Thierva.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui hal tersebut, Tronjheim memberi pengetahuan kepada bangsa Dwarfs untuk membuat berbagai macam senjata dan perisai, serta cara menambang untuk mendapatkan bahan baku pembuatan senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Thierva memberi pengetahuan kepada bangsa Elf berupa berbagai macam ilmu sihir hitam dan putih untuk melindungi diri, serta pemanfaatan tumbuhan sebagai senjata dan obat-obatan alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayangnya pengetahuan yang diberikan Tronjheim dan Thierva disalah gunakan oleh Dwarfs dan Elf untuk saling berperang memperebutkan wilayah kekuasaan dan kehormatan selama beribu-ribu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fontheus yang Maha Agung sangat sedih dengan kondisi tersebut dan membuat sebuah ras lagi dengan kekuatannya sendiri sesuai dengan rupa dan bentuk yang dikehendakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka terciptalah ras Manusia, yang menggeser kedudukan Dwarfs dan Elf di daratan Terra-Fonthea dan merupakan ras terakhir yang diciptakan di daratan Terra-Fonthea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fontheus yang Maha Agung telah lelah dengan segala ciptaannya sehingga ia beristirahat di dalam daratan Terra-Fonthea dan ia akan kembali untuk melakukan pemusnahan dan menciptakan sebuah dunia baru lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1152140761831197779-5754354979034621842?l=fontheus.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://fontheus.blogspot.com/feeds/5754354979034621842/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://fontheus.blogspot.com/2009/02/mythology-dewa-dewi.html#comment-form" title="5 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/5754354979034621842?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/1152140761831197779/posts/default/5754354979034621842?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/Fontheus/~3/MlWyO2sfzg0/mythology-dewa-dewi.html" title="Mythology Dewa-Dewi" /><author><name>Donatsagogo</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18337986038711539722</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>5</thr:total><feedburner:origLink>http://fontheus.blogspot.com/2009/02/mythology-dewa-dewi.html</feedburner:origLink></entry></feed>

