<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" version="2.0">

<channel>
	<title>Buletin At-Tauhid</title>
	
	<link>http://buletin.muslim.or.id</link>
	<description>Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Apr 2012 09:23:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/BuletinAt-tauhid" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="buletinat-tauhid" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">BuletinAt-tauhid</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Keutamaan Bersabar</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/akhlaq/keutamaan-bersabar</link>
		<comments>http://buletin.muslim.or.id/akhlaq/keutamaan-bersabar#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 22:17:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[At Tauhid Tahun VIII]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan bersabar]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=1074</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pembaca yang dirahmati Allah <em>ta'ala</em>, setiap kita pasti memiliki permasalahan. Bahkan terkadang sangat berat sehingga benar-benar menguji kesabaran kita. Sebagian orang ada yang sampai berkata <em>“Kesabaran saya sudah habis”</em>, atau bahkan sampai keluar ucapan <em>"</em><em>Mengapa saya tertimpa musibah semacam ini, apa dosa saya, apa kesalahan saya, padahal saya juga sudah banyak beribadah, sungguh Tuhan tidak adil"</em>. Ini sebagian contoh perkataan yang sering kita dengar. Namun perkataan tersebut tidaklah dibenarkan dalam syari'at Islam, bahkan menunjukkan lemahnya tauhid seseorang. Pada edisi buletin kali ini, kami akan mengulas secara singkat mengenai perkara yang sangat penting dimiliki setiap muslim, yaitu kesabaran.</p>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://buletin.muslim.or.id/akhlaq/keutamaan-bersabar/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Faidah Surat Al Ashr</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/tafsir/faidah-surat-al-ashr</link>
		<comments>http://buletin.muslim.or.id/tafsir/faidah-surat-al-ashr#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2012 22:03:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[At Tauhid Tahun VIII]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[faidah tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al ashr]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=1071</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Huruf <em>wau</em> dalam ayat ini disebut dengan <em>wau qasam, </em>yang dalam bahasa arab digunakan untuk bersumpah. Maka ayat pertama ini termasuk bentuk kalimat sumpah atau <em>qasam</em>. Dalam ayat ini Allah <em>Ta'ala</em> bersumpah dengan salah satu makhluk-Nya yaitu <em>al ashr</em>. Imam Al Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa ada tiga pendapat ulama dalam menafsirkan makna <em>al ashr</em> berikut.</p>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://buletin.muslim.or.id/tafsir/faidah-surat-al-ashr/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bertaubatlah Saudaraku!</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/bertaubatlah-saudaraku</link>
		<comments>http://buletin.muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/bertaubatlah-saudaraku#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Apr 2012 12:52:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[At Tauhid Tahun VIII]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[do'a dan dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[syarat taubat]]></category>
		<category><![CDATA[taubat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=1068</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Terjatuh ke dalam dosa dan maksiat, pasti pernah dilakukan oleh setiap manusia. Tidak ada manusia yang ma’shum (terjaga) dari kesalahan dan dosa, kecuali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan para Sahabat beliau sekali pun tidak luput dari yang namanya kesalahan. Karena manusia adalah tempatnya salah dan lupa.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai hamba yang ta’at, kita harus memiliki sikap yang benar tatkala terjatuh ke dalam dosa dan maksiat. Seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> (yang artinya), <em>“Setiap anak cucu Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah ialah orang yang banyak bertaubat.”</em> (HR. At-Tirmidzi, <em>hasan</em>). Oleh karena itu, hendaknya kita segera memohon ampun kepada Allah <em>ta’ala</em>. Allah <em>ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>‎”Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”</em> (QS. Al-Hadid: 21)</p>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://buletin.muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/bertaubatlah-saudaraku/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Puluh Faidah Dzikir</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/dua-puluh-faidah-dzikir</link>
		<comments>http://buletin.muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/dua-puluh-faidah-dzikir#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Mar 2012 03:13:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[At Tauhid Tahun VIII]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[do'a]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[dzikrullah]]></category>
		<category><![CDATA[faidah dzikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=1064</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dzikrullah (mengingat Allah) merupakan amalan yang sangat agung. Ia merupakan sebab diturunkannya berbagai nikmat. Penolak segala bala’ dan musibah. Ia merupakan sebab kuatnya hati, penyejuk hati manusia. Ruh kehidupan, sekaligus sebab hidupnya ruh itu sendiri. Betapa seorang hamba teramat butuh akan dzikrullah, dan tidak merasa cukup dengannya dalam berbagai situasi dan kondisi. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (yang artinya), <em>“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” </em>(QS. Al Ahzab : 41). Allah juga berfirman (yang artinya), <em>“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” </em>(QS. Al-Ahzab: 35).</p>
<p style="text-align: justify;">Banyaknya perintah berdzikir ini menunjukkan bahwa seorang hamba teramat butuh terhadap dzikrullah. Hendaknya dia tidak meninggalkannya sekejap mata sekalipun. Dari Abu Musa al-Asy'ari <em>radhiyallahu'anhu,</em> Nabi <em>shallallaahu alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Permisalan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya bagaikan orang yang hidup dengan orang yang mati” </em>(HR. Bukhari). Oleh karena itu dzikir memiliki banyak sekali faidah, sebagaimana disebutkan Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> dalam kitab “<em>Al Wabilush Shayyib</em>”, diantaranya adalah sebagai berikut.</p>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://buletin.muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/dua-puluh-faidah-dzikir/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Muliakanlah Mereka</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/manhaj/muliakanlah-mereka</link>
		<comments>http://buletin.muslim.or.id/manhaj/muliakanlah-mereka#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2012 23:23:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[At Tauhid Tahun VIII]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat nabi]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=1061</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kaum muslimin yang dimuliakan Allah... Keimanan kita kepada agama Islam tidak mungkin  dipisahkan dengan penghormatan kepada orang-orang yang sangat besar jasanya kepada kita. Mereka adalah para Sahabat Rasulullah <em>shallallahu 'alaihi wa sallam</em>. Orang-orang yang telah menginfakkan umurnya untuk membela dakwah dan menyampaikannya kepada generasi sesudahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap mukmin tentu jatuh cinta ketika membaca pujian demi pujian yang Allah dan Rasul-Nya tujukan kepada mereka. Setiap muslim pun akan terharu tatkala melihat besarnya pengorbanan yang mereka berikan demi tegaknya agama! Karena bagi mereka iman dan tauhid jauh lebih berharga di atas segala kenikmatan dunia. Bukan hanya harta, waktu, pikiran, dan tenaga yang mereka curahkan. Bahkan nyawa pun rela untuk mereka persembahkan...</p>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://buletin.muslim.or.id/manhaj/muliakanlah-mereka/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Mencintai Orang Miskin</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/akhlaq/keutamaan-mencintai-orang-miskin</link>
		<comments>http://buletin.muslim.or.id/akhlaq/keutamaan-mencintai-orang-miskin#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Mar 2012 22:39:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[At Tauhid Tahun VIII]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ikhlas]]></category>
		<category><![CDATA[mencintai orang miskin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=1058</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ada sebuah do’a yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang isinya: <em>Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot wa tarkal munkaroot wa hubbal masaakiin …</em> (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran serta aku memohon pada-Mu sifat mencintai orang miskin). Dari do’a ini saja menunjukkan keutamaan seorang muslim mencintai orang miskin. Lalu kenapa sampai Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>seraya berdo’a sedemikian rupa? Apa gerangan dengan si miskin? Mencintai orang miskin adalah tanda ikhlasnya cinta seseorang. Karena apa yang dia harap dari si miskin? Si miskin tidak memiliki materi atau harta yang banyak. Beda halnya dengan seseorang mencintai orang kaya, pasti ada maksud, ada udang di balik batu. Dan kadang maksud mencintai orang kaya tadi <a title="Berusaha untuk Ikhlas" href="http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2783-berusaha-untuk-ikhlas.html" target="_blank"><strong>tidak ikhlas</strong></a>. Inilah di antara alasan kenapa Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengajarkan do’a yang demikian kepada kita.</p>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://buletin.muslim.or.id/akhlaq/keutamaan-mencintai-orang-miskin/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Niat</title>
		<link>http://buletin.muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/niat</link>
		<comments>http://buletin.muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/niat#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Mar 2012 00:58:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[At Tauhid Tahun VIII]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufus]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[niat]]></category>
		<category><![CDATA[pentingnya niat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buletin.muslim.or.id/?p=1050</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Suatu amalan ibadah tidaklah akan diterima kecuali  jika terkumpul dua syarat, yaitu ikhlas dan ittiba’. Ikhlas berkaitan dengan amalan hati yaitu niat, sedangkan ittiba’ adalah berkaitan dengan amalan dzahir seseorang, apakah ia sesuai tuntunan Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam beribadah atau tidak. Dengan kata lain, niat ikhlas adalah tolak ukur ibadah hati dan ittiba’ur rasul adalah tolak ukur ibadah dzahir.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang yang setelah mengenal kebenaran, tahu mana yang sunnah dan mana yang bid’ah, mereka bersemangat memperbaiki amalan dzahir agar mencocoki Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> dalam beramal. Tidaklah dipungkiri bahwa hal ini merupakan amalan yang baik. Akan tetapi sayangnya kita sering kurang memperhatikan masalah yang berhubungan dengan hati, yaitu niat. Sehingga tema ini kami angkat dalam edisi ini.</p>]]></description>
		<wfw:commentRss>http://buletin.muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/niat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

