<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Blogger Kalianyar</title><link>http://buanyakilmu.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/BloggerKalianyar" /><description>Semuanya menjadi mudah dan bisa jika tahu ilmunya</description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (admin)</managingEditor><lastBuildDate>Tue, 28 Feb 2012 19:47:55 PST</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="bloggerkalianyar" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Semuanya menjadi mudah dan bisa jika tahu ilmunya</itunes:subtitle><item><title>Makalah Mushaf Usmani</title><link>http://buanyakilmu.blogspot.com/2009/06/makalah-mushaf-usmani.html</link><category>Rosm Utsmani</category><category>Mushaf Usmani</category><category>Makalah</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Mon, 28 Mar 2011 18:30:24 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2431628938927798429.post-728302991703825160</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan mayoritas umat Muslim pada umumnya, mushaf al-Qur'an hasil kodifikasi masa pemerintahan khalifah Usman bin Affan adalah teks standar yang final historisitas dan otentisitasnya tidak diragukan lagi, begitu juga dengan jumlah salinan mushaf tersebut bagi sebagian sarjana muslim hal itu tidak menjadi masalah yang jelas mushaf tersebut telah selesai disalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;A. Latar Belakang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selama pemerintahan Usman, yang dipilih oleh masyarakat melalui bai'ah yang amat terkenal sebagai khalifah ketiga, umat Islam sibuk melibatkan diri di medan jihad yang membawa Islam ke utara sampai ke Azerbaijan dan Armenia. Berangkat dari suku kabilah dan provinsi yang beragam, sejak awal para pasukan tempur memiliki dialek yang berlainan dan Nabi Muhammad SAW, di luar kemestian, telah mengajar mereka membaca aI-Qur'an dalam dialek masing-masing, karena dirasa sulit untuk meninggalkan dialeknya secara spontan. Akan tetapi sebagai akibat adanya perbedaan dalam menyebutkan huruf al-Qur'an mulai menampakkan kerancuan dan perselisihan dalam masyarakat. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini saya akan mencoba membahas tentang Mushaf Usmani lebih dalam pada makalah saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;B. Rumusan Masalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Sejarah Singkat Mushaf Usmani &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Pandangan Para Orientalis Terhadap Mushaf Usmani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a. Koleksi Dan Susunan Teks&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;b. Perbedaan Qiraat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;c. Proses Pemantapan Teks Dan Qiraat Menjadi Kanonik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Kekeliruan Para Orientalis Terhadap Al-Quran (Mushaf Usmani)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BAB II&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;PEMBAHASAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. SEJARAH SINGKAT MUSHAF UTSMANI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah Rasulullah SAW wafat pada tahun 11 Hijriah, perjuangan Rasulullah SAW dalam memperjuangkan agama Allah masih terus dilakukan oleh para sahabatnya. Perluasan wilayah yang merupakan salah satu agenda Rasulullah SAW merupakan agenda utama bagi setiap khalifah yang memegang kekhalifahan. Sehingga akibat dari kebijakan memprioritaskan perluasan wilayah ini secara tidak langsung menimbulkan dampak negative bagi pertumbuhan dan perkembangan budaya ilmiyah di dalam masyarakat muslim. Perkembangan di bidang pendidikan mandeg, budaya dan tradis masyarakat muslim yang tidak terurus serta munculnya berbagai kemerosotan akhlaq merupakan efek negative dari kebijakan khalifah pada waktu itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hal ini baru disadari setelah terjadinya peperangan Yamamah yang menewaskan sebagian besar huffadz yang merupakan pemegang dan pemelihara kalamullah pada waktu itu. Setelah melihat hal ini, Umar bin Khatab mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar untuk segera mengumpulkan Al Qur’an agar kalamullah ini tetap terjaga dari pihak-pihak yang ingin meruntuhkan Islam. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, msekipun agak berat, Abu Bakar akhirnya menyetujui usulan Umar dan beliau lengsung memerintahkan Zaid bin Tasbit seorang sekretaris Rasulullah SAW untuk segera menghimpun dan mengumpulkan Al Qur’an dalam satu mushaf. Dalam masa yang relative singkat, akhirnya Zaid yang diperbantukan oleh beberapa orang sahabat berhasil menghimpun dan mengumpulkan Al Qur’an kedalam satu mushaf yang biasa dikenal dengan sebutan mushaf Abu Bakar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mushaf ini, sepeninggal Abu Bakar diserahkan kepada Khalifah Umar bin Khattab yang seterusnya sebagai ahli waris dan istri Rasulullah SAW mushaf ini diserahkan kepada Hafsah binti Umar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di masa pemerintahan khalifah Usman bin ‘Affan, atas usulan Huzaifah bin Yaman yang melihat banyaknya terjadi perpecahan dikalangan masyarakat muslim yang diakibatkan oleh adanya perbedaan dalam pembacaan Al Qur’an antara satu dengan yang lain, maka melihat hal ini khalifah Usman langsung memanggil Zaid bin Tsabit untuk segera membuat sebuah tim untuk mengumpulkan dan menghimpun semua ayat-ayat Al-Quran dalam satu mushaf. Akhirnya seiring dengan berjalannya waktu, Zaid sebagai ketua tim bersama para anggotanya berhasil mengumpulkan dan menghimpun semua Al-Quran kedalam sebuah mushaf yang dikenal dengan nama mushaf Usmani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sesuai dengan tujuan awal pengumpulan dan penghimpunan ini, yaitu untuk mempersatukan semua umat Islam yang sempat terpecah belah karena adanya perbedaan dalam pembacaan Al Qur’an, maka sang khalifah memerintahkan kepada semua gubernurnya untuk segera menghancurkan semua mushaf yang ada ditengah-tengah masyarakat dan digantikan dengan mushaf Usmani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pandangan Para Orientalis Terhadap Mushaf Usmani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Secara umum, sasaran kajian orientalis terhadap kemunculan mushaf Usmani tertuju pada tiga fase kesejarahan. Pertama, koleksi dan susunan teks dari lisan sampai tulisan. Kedua, perbedaan tata cara baca dan beberapa kodeks sahabat. Ketiga, proses pemantapan teks dan cara baca menjadi kanonik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a. Koleksi Dan Susunan Teks&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut para orientalis, pada saat Nabi saw wafat Al Qur’an sama sekali belum terkodifikasi. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya teks-teks Al Qur’an yang masih berceceran di tangan para sahabat, baik berupa catatan-catatan pribadi maupun berupa hafalan yang mereka miliki. Selain hal tersebut, adanya kepedulian para sahabat terhadap pentingnya pengumpulan dan penyusunan Al Qur’an yang baru terjadi setelah terjadinya peristiwa peperangan Yamamah pada 12 hijriah yang banyak menewaskan para Huffadz juga menjadi salah satu fakta sejarah yang memperkuat asumsi mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam mengomentari pendapat para sarjana muslim yang mengaitkan motif pengumpulan Al Qur’an dengan peristiwa Yamamah, dengan pendekatan sejarah mereka brusaha membuktikan dan memberikan fakta bahwa pengaitan dua hal tersebut sulit diterima dan dipertahankan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Banyaknya versi riwayat yang menginformasikan jumlah huffadz yang gugur dalam peperangan ini, menurut mereka hal ini megindikasikan bahwa dalam periwayatan tersebut terdapat sesuatu yang musykil. Dan untuk memecahkan permasalahan ini diperlukan adanya suatu pendekatan sejarah untuk melacak kevaliditan berita tersebut. Para orientalis setelah melakukan pengkajian dan penelitan terhadap sumber-sumber sejarah yang terkait dengan peristiwa Yamamah ini, ternyata hanya ditemukan sejumlah kecil dari nama-nama yang gugur dalam peperangan Yamamah, yang mungkin banyak menghafal bagian al-quran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;L. Caetani, dalam hal ini mengatakan bahwa jumlah yang tewas pada waktu  peperangan Yamamah ini hampir seluruhnya orang-orang yang baru masuk Islam. Sementara Schawally menyebutkan bahwa dari pemeriksaannya terhadap daftar nama-nama penghafal Al Qur’an yang gugur, ia hanya menemukan dua orang yang bisa dikatakan memiliki pengetahuan al-quran yang meyakinkan, yaitu Abdullah bin Hafs bin Ghanim dan Salim bin Ma’qil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selain adanya keganjilan di atas, yang ditemukan oleh para orientalis terhadap anggapan yang diyakini oleh para sarjana muslim selama ini, adanya kenyataan bahwa otoritas mushaf koleksi Abu Bakar yang tidak diakui secara ofisial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hal tersebut berdasarkan pada periwayatan yang menyebutkan bahwa dimasa khalifah Abu Bakar beliau pernah memerintahkan Zaid untuk mengumpulkan Al Qur’an. Karakter mushaf yang dikumpulkan Zaid pada esensinya merupakan mushaf yang resmi karena dilakukan atas perintah dan otoritas khalifah Abu Bakar. Suatu kumpulan “resmi” Al Qur’an semacam itu tentunya bisa diduga memiliki otoritas dan pengaruh luas, sebagaimana dinisbatkan kepadanya. Tetapi, bukti semacam itu tidak ditemukan dalam kenyataan sejarah. Kumpulan-kumpulan atau mushaf-mushaf Al Qur’an lainya, seperti mushaf ibn mas’ud, ubay bin kaab atau abu musa al-asyari, justru terlihat lebih otoritatif dan memiliki pengaruh luas diberbagai wilayah kekhalifahan Islam ketika itu, ketimbang mushaf yang dikumpulkan zaid. Masih dalam alur yang sama, pertikaian yang disebabkan oleh perbedaan bacaan dalam mushaf-mushaf otoritatf dan berpengaruh pada masa Usman barangkali tidak akan timbul jika pada waktu itu telah ada satu mushaf resmi di tangan khalifah yang bisa dijadikan rujukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan demiakan karakter resmi mushaf Al Qur’an yang dikumpulkan zaid pada masa pemerintahan Abu Bakar terlihat sangat meragukan. Bahkan perjalanan histories selanjutnya mushaf tersebut, dari tangan Umar berpindah ke Hafshah sebagai warisan lebih menunujukkan karakter personalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Oleh sebab itu, dengan adanya berbagai versi mushaf yang terdapat ditengah-tengah kaum muslimin pada waktu itu menimbulkan suatu kenyataan yang tak terbantahkan yaitu masalah adanya perbedaan bacaan yang terdapat dalam keempat mushaf tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari hal-hal yang tersebut di atas, mereka meyakini bahwa al-quran pada dasarnya mengalami nasib yang sama dengan kitab-kitab suci sebelumnya yakni ia tidak terbebas dari adanya penambahan atau bahkan pengurangan dari para generasi awal Islam sesuai dengan selera mereka masing-masing yang tergambar dari banyaknya versi Al Qur’an yang ada pada mereka yang mana antara satu sama lain banyak terdapat perbedaan. Perbedaan teks dan susunan inilah yang mengindikasikan bahwa Al Qur’an sejak wafatnya Nabi saw telah mengalami reduksi dan pabrikasi yang nilai-nilai otentisitasnya tidak bis dipertanggungjawabkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;b. Perbedaan Qiraat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perbedaan antar mushaf pribadi yang ditemukan dalam kesejarahan teks Al Qur’an mengindikasikan bahwa teks Al Qur’an semenjak masa-masa awal sudah mendapat “campur tangan” pemilik mushaf pibadi. Dengan kata lain, terlepas dari motif-motif yang ada, peran generasi Islam awal cukup kentara dalam menyusun redaksi final Al Qur’an disertai dengan adanya penambahan-penambahan sesuai dengan selera dan kebutuhan mereka masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mushaf Usmani seperti yang kita ketahui, dalam segi tulisan naskah kodifikasinya masih” telanjang”. Ia belum dilengkapi dengan tanda-tanda akhir surat dan begitu juga tanda-tanda khusus untuk setiap huruf yang bisa membedakan bunyinya dengan huruf-huruf yang lain. Di samping itu, berbeda dengan mushaf-mushaf yang lain, jenis tulisan mushaf Usmani tidak memiliki suatu informasi yang pasti terkait dengan masalah gaya penulisan tersebut. Jika potongan-potongan mushaf yang lain menggunakan jenis tulisan khufi – berdasarkan pada informasi sejarah, yang mengatakan bahwa keseluruhan fragmen manuskrip tersebut diprediksikan baru ditulis setelah abad ke 3 hijriah – maka ia (mushaf Usmani) menurut Jeffery informasinya tidak teridentifikasi sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan demikian, dengan adanya berbagai macam kemusykilan yang terjadi dalam sejarah kompilasi ini khususnya dalam kasus perbedaan qiraat ini, mendorong para peneliti barat untuk mempertanyakan riwayat-riwayat yang menginformasikan koleksi-koleksi pribadi para sahabat pra mushaf Usmani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Paling tidak dalam mengomentari dan menanggapi semua kemusykilan yang terjadi dalam hal ini, ada dua nama yang menonjol yaitu, John Burton dan John Wansbrough.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;John Burton menegaskan bahwa seluruh riwayat yang menceritakan kodeks para sahabat dan kodeks yang beredar di beberapa kota metropolitan muslim saat itu, sebenarnya telah dipalsukan oleh para fuqaha dan filolog muslim kemudian. Hal ini menurut Burton, dimaksudkan untuk dijadikan sebagai setting kisah kodifikasi mushaf Usman yang pada gilirannya dijadikan penutup kenyataan bahwa Muhammad sendiri telahh mengumpulkan dan mengecek edisi final Al Qur’an.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di sisi lain, Wansbrough mencurigai peran aktif generasi muslim awal dalam penyusunan redaksi final al-quran. Menurutnya, generasi awal Islam tidak hanya memformulasikan wahyu yang diajarkan Muhammad, akan tetapi memberiakn tambahan di sana- sini untuk mengantisipasi masuknya tradisi yahudi di dalmnya. Peran aktif generasi awal muslim ini terlihat jelas dalam berbagai versi bacaan Al Qur’an yang berbeda-beda. Selain itu ia juga menambahkan, berdasarkan teori Joseph Schacht yang mengatakan bahwa hokum Islam tidak dideduksi dari Al Qur’an, bahwa redaksi final Al Qur’an baru di susun pada permulaan abad ketiga hijrah. Hal ini ditopang data histories bahwa terminology baku seperti rujukan kepada mushaf Usmani sebagai mushaf al-imam baru dimulai pada abad ketiga hijriah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;c. Proses Pemantapan Teks Dan Qiraat Menjadi Kanonik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Para orientalis denga metode pendekatan penelitian ala mereka, di samping mengkritik dua hal yang terkait dengan mushaf Usmani di atas, tetapi lebih jauh mereka mengkritik proses pemantapan teks dan qiraat menuju suatu teks Al Qur’an yang utuh yang dipegangi dan dianggap sacral oleh kaum muslim atau dalam istilah lain menuju suatu teks kanonik yang nantinya akan dijadikan pegangan dalam menjalani kehidupan di dunai dan diakhirat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Wansbrough dan para orientalis lain setelah mereka mengkaji mushaf Usmani dengan pendekatan dan metodolgi yang mereka gunakan, sebagai tindak lanjut dan konsekuensi dari dua kesimpulan mereka di atas, mereka meyakini bahwa kanonisasi dan stabilisasi teks Al Qur’an berjalan bersamaan dengan formasi komunitas muslim. Menurut mereka teks Al Qur’an yang final tidak akan dibutuhkan sebelum kekuasaan politik terkontrol secara sepenuhnya. Sehingga pada penghujung abad kedua, terjadi semacam upaya pengumpulan “tradisi oral” dan liturgis yang pada gilirannya pada abad ketiga hijriah muncul mushaf baku Al Qur’an.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berdasarkan pemaparan Wansbrogh di atas, pada dasarnya ia ingin menyampaikan bahwa Al Qur’an (mushaf Usmani) pada dasarnya merupakan suatu kodeks yang sarat dengan kepentingan politik khalifah Usman, yang mana dalam proses penghimpunannya setelah membuang bagian-bagian yang tidak sesuai dengan kepentingan mereka dari mushaf-mushaf yang berkembang sebelumnya, mushaf-mushaf tersebut dihancurkan. Setelah penghancuran mushaf-mushaf tersebut, ditetapkanlah mushaf Usmani menjadi mushaf tunggal (mushaf tertutup) yang akan dijadikan pegangan dikalangan umat Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kekeliruan Para Orientalis Terhadap Al-Quran (Mushaf Usmani)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Al Qur’an sebagai kalamullah yang ditransmisikan secara lisan, dalam arti ucapan dan sebutan. Kesalahan dalam memahami pada aspek inilah sehingga melahirkan suatu anggapan yang menyamakan Al Qur’an dengan bibel dikalangan orientalis. Oleh sebab itu, konsekuensi logis dari frame work berfikir seperti ini akan menimbulkan suatu konklusi yang menganggap bahwa Al Qur’an adalah suatu teks yang profan yang sama dengan teks-teks lain yang bisa direvisi dan diotak-atik sesuai dengan kehendak reader.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut Syamsuddin Arif, ada beberapa kekeliruan yang menyebabkan konklusi dari para orientalis dalam memamahami dan memandang Al Qur’an (mushaf Usmani) berbeda dengan konklusi yang dihasilkan oleh para sarjana muslim. Kekeliruan tersebut adalah;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pertama, pada prinsipnya Al Qur’an bukanlah tulisan (rasm atau writing) tetapi ia adalah bacaan (qiraah atau recitation) dalam arti ucapan atau sebutan. Al Qur’an dalam artian bacaan ini dimaknakan dalam setiap transimisinya baik itu dalam proses pewahyuannya maupun pengajaran atau penyampaiannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari itu seluruh kekeliruan dan kengawuran para orientalis bersumber dari sini. Orang-orang seperti Jeffery, Wansbrough dan Puin, misalnya berangakatt dari sebuah asumsi keliru yang menganggap Al Qur’an sebagai “dokumen tertulis” atau teks, bukan sebagai “hafalan yang dibaca” atau recitio. Dengan asumsi keliru ini, mereka mau menerapkan metodologi filologi yang lazim digunakanan dalam memamahi bible untuk memahami Al Qur’an. Akibatnya mereka menganggap bahwa Al Qur’an adalah produk sejarah, hasil interaksi orang arab abad ke-7 dan 8 M dengan masyarakat sekeliling mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kedua, kekeliruan mereka dalam memahami fakta sejarah jam’u (pengumpulan dan penghimpunan) Al Qur’an seperti yang telah dipaparkan diatas. Lebih lanjut mereka menganggap bahwa sejarah kodifikasi tersebut hanyalaah kisah fiktif dan mengatakan bahwa proses kodifikasi baru dilakukan pada abad ke 9 M.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketiga, para orientalis salah paham tentang rasm dan qiraat. Sebagaimana diketahui, tulisan arab atau khat mengalami perkembangan sepanjang sejarah. Pada kurun awal Islam Al Qur’an ditulis “gundul”, tanpa tanda baca sedikit pun. System vokalisasi baru diperkenalkan kemudian. Meskipun demikian rasm Usmani sama sekali tidak meninbulkan masalah, mengingat kaum muslimin pada saat itu belajar Al Qur’an langsung dari para sahabat, dengan cara menghafal dan bukan dari tulisan. Mereka tidak bergantung pada manuskrip atau tulisan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari pemahaman mereka yang keliru terhadap permasalahan ini, sehingga mereka (para orientalis) menyimpulkan bahwa teks gundul inilah sumber variant readings – sebagaimana terjadi dalam kasus bible- yang pada akhirnya mereka menyimpulkan bahwa Al Qur’an pada dasarnya sama dengan bible. Dari itu untuk memahaminya kita juga harus menggunakan metodologi yang sama seperti metodologi yang diterapkan pada bible.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Demikianlah tulisan singkat ini, penulis sadar dalam tulisan ini masih terdapat banyak kekurangan dari itu saran dan kritik sangat penulis harapkan agar terwujud suatu kajian yang lebih komprehensif dan berkualitas demi mencapai ilmuwan muslim sejati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BAB III&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Usaha Usman yang sungguh-sungguh jelas tampak berhasil dan dilihat dari dua cara: pertama, tidak ada Mushaf di provinsi Muslim kecuali Mushaf ‘Uthmani yang telah menyerap ke darah daging mereka; dan kedua, Mushaf atau kerangka teks Mushafnya dalam jangka waktu empat belas abad tidak bisa dirusak. Sesungguhnya manifestasi Kitab Suci Al-Qur'an adalah benar-benar ajaib; interpretasi yang lain tidak berhasil. Khalifah berikutnya, mungkin meneruskan usaha nenek moyangnya, mengutus dan terus mengirim naskah Mushaf yang resmi, tetapi tidak ada naskah yang dikirim yang bertentangan dengan standar universal Mushaf  Usmani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sampai hari ini terdapat banyak Mushaf yang dinisbatkan langsung kepada ‘Uthman, artinya bahwa Mushaf-mushaf tersebut asli atau kopian resmi dari yang asli. Inda Office Library (London), dan di Tashkent (dikenal dengan Mushaf Samarqand). Mushaf-mushaf ini ditulis pada kulit, bukan kertas, dan tampak sejaman. Teks-teks kerangkanya cocok satu sama lainnya dan sama dengan Mushaf-mushaf dari abad pertama hijrah dan setelahnya, sampai pada mushaf-mushaf yang digunakan pada masa kita ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2431628938927798429-728302991703825160?l=buanyakilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-29T08:30:24.109+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sentuhan Bisa Sembuhkan Sakit</title><link>http://buanyakilmu.blogspot.com/2009/06/sentuhan-bisa-sembuhkan-sakit.html</link><category>psikologi</category><category>kesehatan</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Sat, 13 Jun 2009 09:25:11 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2431628938927798429.post-2083904056882678949</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.kompas.com/data/photo/2008/04/25/152849p.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 298px; height: 225px;" src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/04/25/152849p.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tahukah Anda, sebenarnya kita punya kemampuan untuk menyembuhkan penyakit, menyalurkan energi positif dan menyampaikan ekspresi kasih sayang tanpa perlu mengeluarkan kata-kata?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan akan kehangatan, keakraban, dan kedekatan sebagai pribadi (need for intimacy). Menurut psikolog Ratih Ibrahim, pemenuhan kebutuhan itu bisa dipenuhi lewat sentuhan fisik dengan orang lain. "Sentuhan, pelukan, atau genggaman adalah contoh komunikasi non verbal yang punya kekuatan dan arti lebih besar dari kata-kata," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Tiffany Field, Ph.D, direktur Touch Research Institute, kontak dari kulit ke kulit adalah makanan bagi jiwa. Sama halnya dengan makanan bagi perut kita. Itu sebabnya tindakan ini perlu untuk dijadikan kebiasaan. Sebab, jika jiwa kekurangan 'makanan', mood dan kerja hormon-hormon pun bisa terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pelukan diketahui dapat membantu meredakan emosi. Pasangan yang berpelukan usai berdebat, hubungannya akan lebih langgeng dibandingkan dengan yang tidak melakukannya. Berikanlah juga pelukan sayang kepada anak. Anak yang terbiasa mendapat sentuhan kasih sayang orangtuanya akan tumbuh jadi pribadi yang lebih terbuka dalam menerima orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentuhan terhadap tubuh manusia juga bisa bermanfaat dalam penyembuhan penyakit. Riset yang dilakukan dari University of Cincinnati mengungkapkan, pengobatan moderen yang digabung dengan terapi sentuhan bisa membantu pasien sembuh lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usapan perlahan di punggung pasien yang sakit ternyata memiliki efek yang sama seperti obat penenang. Sedangkan genggaman dan tepukan di punggung tangan sambil mengucapkan kata-kata pemberi semangat akan memberikan keberanian pada orang yang sedang dilanda kebimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat begitu banyaknya efek positif dari sebuah sentuhan fisik, jadikanlah terapi sentuhan sebagai bagian dari keseharian Anda. Berikan pasangan atau anak pelukan yang paling hangat untuk kualitas hidup yang lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;sumber:kompas.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2431628938927798429-2083904056882678949?l=buanyakilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-06-13T23:25:11.035+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Membahas Hak-Hak Wanita dalam Suatu Ikatan Hubungan</title><link>http://buanyakilmu.blogspot.com/2009/06/membahas-hak-hak-wanita-dalam-suatu.html</link><category>hak-hak wanita</category><category>makna pernikahan</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Sun, 07 Jun 2009 23:12:12 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2431628938927798429.post-2510027774083166009</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_qV9gXylid3U/SiyqTVbyz4I/AAAAAAAAAJc/fq0WunrO7Io/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 103px; height: 137px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_qV9gXylid3U/SiyqTVbyz4I/AAAAAAAAAJc/fq0WunrO7Io/s320/images.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344834106929893250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Makna Pernikahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata pernikahan? Ikatan, romantis, atau suatu hal yang merepotkan? Perbedaan pendapat itu memang wajar. Seperti pandangan bookaholic berikut tentang ikatan itu. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Isu diskriminasi gender sudah lama sekali jadi topik perdebatan. Kartini telah habis-habisan menegakkan hak kaum perempuan. Tapi, ada satu hal yang perlu dipertanyakan. Benarkah hak-hak perempuan sudah mendapat pengakuan sepenuhnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan tersebut memang masih menjadi pokok bahasan yang hangat. Apalagi kalau isu itu dihubungkan dengan institusi bernama pernikahan. Perbedaan pendapat dari lima bookaholic kali ini mewarnai diskusi tentang novel bernama Place Monge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astri Pinatih, Satria Agus, Hayati Nufuz, Lintang Kusumo, dan Betty Purnamasari mencoba mengutarakan pendapat masing-masing. "Sebagai seorang perempuan, menurutku, tokoh Helen terlalu bebas dalam berpikir. Emang benar sih dia itu kritis dan mandiri. Tapi, saking kritisnya, sampai-sampai dia menganggap pernikahan sebagai belenggu," ujar Satria yang langsung dapat tanggapan dari Betty.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wajar aja sih. Nyatanya, masih banyak orang yang beranggapan kayak gini. Mau sekolah setinggi apa pun, ujung-ujungnya perempuan harus balik ke dapur. Belum lagi doktrin kalau istri harus nurut sama suami," seru Betty yang diikuti anggukan bookaholic cewek yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggambaran tokoh Helen di sini memang menjadi contoh masih semrawutnya kedudukan wanita dalam berbagai bidang. Helen menganggap eksistensi kaum hawa selama ini sekadar simbol. Dia tidak anti menikah, tapi dia benci harus kembali pada tradisi lama, di mana perempuan dibatasi hanya mengasuh anak dan melayani suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, aku punya pemikiran beda. Aku bakal kasih izin ke pasanganku buat berkarir sama kayak aku. Nggak ada pembeda antara cewek dan cowok. Cewek juga boleh menyuarakan pendapatnya," tutur Lintang mencoba menengahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yap! Bagus kalau semua laki-laki bisa berpikiran terbuka. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya Helen sendiri kalau udah berurusan sama cinta langsung keok. Jadi rapuh gitu deh. Buktinya, dia mau aja nungguin Wicak yang jelas-jelas nggak pernah peduli sama dia dan mentingin kerjaan. Gitu Helen masih setia aja nungguin," ujar Astri dengan nada sebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membiarkan hati sejalan dengan logika memang bukan urusan mudah. Helen banyak berkenalan dengan pria-pria di Paris. Mencoba jatuh cinta dan menjalin hubungan. Namun, tetap saja hatinya tidak mampu berpindah dari sosok Wicak. Helen menganggap Wicak sebagai cinta sejati. Namun, kenyataan itu berubah ketika Wicak menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, pas Wicak akhirnya menikah sama cewek lain, Helen berhenti berharap. Mending gitu sih, sakit hati tapi dapat jawaban. Anehnya, Wicak itu masih aja suka kirim-kirim SMS kangen ke Helen. Nggak bener deh!" ujar Astri lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya Wicak yang sempat mengisi pikiran Helen. Laki-laki bernama Ben juga hampir berhasil mengusir Wicak dari pikiran Helen. Place Monge menjadi saksi bisu dari kehidupan Helen sehari-hari. Saat dia harus pergi kuliah, saat dia berkencan dengan kenalannya, ataupun saat Helen patah hati untuk yang kali kesekian. Di sanalah dia pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tema yang diangkat bagus sih. Bahasanya juga condong ke arah sastra. Tapi, sebaiknya penulis nggak menceritakan kegiatan Helen dengan terlalu detil. Banyak penjabaran kurang penting," saran Satria menutup diskusi sore itu&lt;br /&gt;sumber:jawapos.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2431628938927798429-2510027774083166009?l=buanyakilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-06-08T13:12:12.840+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_qV9gXylid3U/SiyqTVbyz4I/AAAAAAAAAJc/fq0WunrO7Io/s72-c/images.jpeg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Model Penelitian Sejarah Islam  (bab 7)</title><link>http://buanyakilmu.blogspot.com/2009/05/model-penelitian-sejarah-islam-bab-7.html</link><category>Metodologi Studi Islam</category><category>Makalah</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Mon, 28 Mar 2011 18:31:22 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2431628938927798429.post-5589427415819761129</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejarah Islma meruapakan salah satu bidang studi Islam yang banyak menarik perhatian para penelitia baik dari kalangan sarjana muslim maupun non muslim, karen abanyak manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian tersebut. Bagi umat Islam, mempelajari sejarah Islam selain akan memberikan kebanggaan juga sekaligus peringatas agar berhati-hati. Dengan mengetahui bahwa umat islam dalam sejarah pernah mengalami kemajuan dalam segala bidang selama beratus-ratus tahun misalnya, akan memberikan rasa bangga dan percaya diri menjadi orang muslim. Demikian pula dengan mengetahui bahwa umat Islam juga mengalami kemunduran, penjajahan dan keterbelakangan, akan menyadarkan umat Islam untuk memperbaiki keadaan dirinya dan tampil untuk berjuang mencapai kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sementara itu, bagi para peneliti Barat, mempelajari sejarah Islam selain diajukan untuk pengembangan ilmu, juga terkadang dimaksudkan untuk mencari-cari kelemahan dan kekurangan umat Islam agar dapat dijajah dan sebagainya sebagainya. Disadari atau tidak, selama ini informasi mengenai sejarah Islam banyak berasal dari hasil penelitian para sarjana Barat. Hal ini terjadi, karena selain masyarakat Barat memiliki etos kemauan yang tinggi juga didukung oleh dana dan kemauan politik yang kuat dari para pemimpinnya. Sementara .dari kalangan para peneliti Muslim tampak di samping etos keilmuannya rendah, juga belum didukung oleh keahlian di bidang penelitian yang memadai serta dana dan dukungan politik dari pemeintah yang kondusif. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hasil penelitian tersebut nampaknya berguna sebagai informasi awal untuk melakukan penelitian sejarah yang mengambil pendekadan kawasan. Penelitian tersebut dapat dikategorikan sebagai penelitian literatur yang didukung oleh survei, dan dianalisis dengan pendekatan sejarah dan perbandingan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2431628938927798429-5589427415819761129?l=buanyakilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-29T08:31:22.698+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Model Penelitian Filsafat Islam  (bab 6)</title><link>http://buanyakilmu.blogspot.com/2009/05/model-penelitian-fislasat-islam-bab-6.html</link><category>Metodologi Studi Islam</category><category>Makalah</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Mon, 28 Mar 2011 18:32:28 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2431628938927798429.post-6826953481815453548</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Filsafat Islam merupakan salah satu bidang studi Islam yang keberadaannya telah menimbulkan pro dan kontra. Sebagian mereka yang berpi¬kiran maju dan bersifat liberal cenderung mau menerima pemikiran filsafat Islam. Sedangkan bagi mereka yang bersifat tradisional yakni berpegangan kepada doktrin ajaran Alquran dan Al-Hadis secara tekstual, cenderung kurang mau menerima filsafat, bahkan menolaknya. Dari kedua kelompok : tersebut nampak bahwa kelompok terakhir masih cukup kuat pengaruhnya di masyarakat dibandingkan dengan kelompok pertama.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kajian filsafat Islam; dilakukan sebagian mahasiswa pada jurusan tertentu di akhir abad ke 20. Sedangkan pada masyarakat secara umum seperti yang terjadi di kalangan pesantren, pemikiran filsafat masih dianggap terlarang, karena dapat melemahkan iman. Kalaupun di pesantren diajarkan logika, yang pada hakekatnya merupakan ilmu yang mengajarkan cara berpikir filosofis, namun ini tidak diterapkan, melainkan hanya semata-mata sebagai hafalan. Berbagai analisis tentang penyebab kurang diterimanya filsafat di kalangan masyarakat Islam Indonesia pada umumnya adalah karena pengaruh pikiran Al-Ghozali yang dianggapnya sebagai pembunuh pemikiran filsafat. Anggapan ini selanjutnya telah pula dibantah oleh pendapat lain yang mengatakan bahwa penyebabnya bulanlah Al-Ghozali, melainkan sebab-sebab lain yang belum jelas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan demikian, metede, penelitian yang ditempuh Ahmad Fual Al-Ahwani adalah penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang menggunakan bahan-bahan kepustakaan. Sifat dan coraknya adalah penelitian deskriptif kualitatif, sedangkan pendekatannya adalah pendekatan yang bersifat campuran, yaitu pendekatan historis, pendekatan kawasan dan tokoh. Mulai pendekatan historis, ia mencoba menjelaskan latar belakang timbunya pemikiran filsafah daalam Islam. Sedangkan dengan pendekatan kawasan ia mencoba membagi tokoh-tokoh filosif menurut tempat tinggal meraka dan dengan pendekatan tokoh, ia mencoba mengemukakan berbagai pemikiran filsafat yang sesuai dengan tokoh yang mengemukakannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2431628938927798429-6826953481815453548?l=buanyakilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-29T08:32:28.391+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Teori-Teori Penelitian Agama (bab 5)</title><link>http://buanyakilmu.blogspot.com/2009/05/teori-teori-penelitian-agama-bab-5.html</link><category>Metodologi Studi Islam</category><category>Makalah</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Mon, 28 Mar 2011 18:33:39 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2431628938927798429.post-2341380516206165751</guid><description>Teori adalah alat terpenting suatu ilmu  pengetahuan. Tanpa teori berarti hanya ada serangkian fakta atau data saja dan tidak ada ilmu pengetahuan. Teori itu (1) menyimpulkan generalisasi fakta-fakta, (2) memberi kerangka orientasi untuk analisis dan klasifikasi fakta-fakta, (3) memberikan kerangka baru, (4) mengisi kekosingan pengetahuan tentang gejala – gejala yang telah ada atau sedang terjadi.&lt;br /&gt;Ilmu-ilmu agama pada segi-seginya yang menyangkut masalah sosial, termasuk bagian yang dapat diteliti, dimatai dengan menggunakan piranti ilmiah atau metodologi ilmiah yang didalamnya mengandung teori yang akan digunakan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Metodologi ilmiah ditentukan oleh objek yang dikaji. Kalau segi-segi tertentu agama, katakanlah Islam itu berada pafa fenomena sosial, niscaya metode pengakajian terhadap fenomena itu adalah ilmu-ilmu sosial. Adapun terhadap segi-segi lain yang berpangkal pada postulat – postulat yang lebih bersifat normatif dan dogmatis, sesuai dengan ajaran metode ilmiah yang harus mempertahankan objektivitas berdasarkan konsep-konsep pemikiran logis dan bukti-bukti  empiris. Tentu saja kebenaran agama dalam norma dan dogma mendambakan kebenaran mutlak sedangkan kebenaran ilmiah hanyalah kebenaran nisbi, berdasarkan pada logika dan ketetapan ilmu pengetahuan, Karena itu hakikat pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmu pengetahuan tidak mutlak sifatnya.&lt;br /&gt;Penggunan teori dalam kajian studi islam telah banyak dibahas para ahli Ricard C. Martin dalam bukunya berjudul Approaches to Islam in religious studies, telah membahas penggunaan teori dalam melakukan penelitian terhadap bidang studi agama Islam. Demikian pula buku yang berjudul Penelitian Agama. Masalah dan pemikiran yang diedit oleh Mulyanto Sumradi telah pula mengkaji secara seksama tentang penggunaan teori dalam penelitian agama.&lt;br /&gt;Jelasnya untuk mengenal Islam, kita tidak memilih satu pendekatan saja, karena Islam bukanlah berdimensi satu. Islam bukanlah agama yang didasarkan semata-mata pada perasaan-perasaan mistik manusia atau hanya terbatas kepada hubungan antara Tuhan dan manusia. Ini hanya dimensi dari akidah Islam. Untuk mengenal dimensi tertentu ini kita harus beralih kepada metode filsafat, karena hubungan antara manusia dan Tuhan merupakan bagian dari bidan pemikiran (filsafat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2431628938927798429-2341380516206165751?l=buanyakilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-29T08:33:39.210+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Telaah “Konstruksi Teori” Penelitian Agama  (bab 4)</title><link>http://buanyakilmu.blogspot.com/2009/05/telaah-konstruksi-teori-penelitian.html</link><category>Metodologi Studi Islam</category><category>Makalah</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Mon, 28 Mar 2011 18:35:14 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2431628938927798429.post-8330386403852801396</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A. PENGERTIAN "KONSTRUKSI TEORI" PENELITIAN AGAMA&lt;br /&gt;Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta Mengartikan konstruksi adalah cara membuat (menyusun) bangunan – bangunan (jembatan dan sebagainya); dan dapat pula berarti susunan dan hubungan kata di kalimat atau di kelompok kata. Sedangkan teori berarti pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai suatu peristiwa (kejadian); dan berarti pula asas-asas dan hukum-hukum umum yang dasar suatu kesenian atau ilmu pengetahuan. Selain itu, teori dapat pula berarti pendapat, cara-cara, dan aturan-aturan untuk melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selanjutnya, dalam ilmu penelitian teori-teori itu pada hakikatnya merupakan pernyataan mengenai sebab akibat atau mengenai adanya suatu hubungan positif antara gejala yang diteliti dari satu atau beberapa faktor tertentu dalam masyarakat, misalnya kita ingin meneliti gejala bunuh diri. sudah mengetahui tentang teori integrasi atau kohesi sosial dari Emile Durkheim (seorang ahli sosiologi Perancis kenamaan), yang mengatakan adanya hubungan positif antara lemah dan kuatnya integrasi sosial dan gejala bunuh diri dari pengertian – pengertian tersebut, kita dapat memperroleh suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan Ksnstruksi teori adalah susunan atau bangunan dari suatu pendapat, asas-asas atau hukum – hukum mengenai sesuatu yang antara suatu dan lainnya saling berkaitan, sehuingga membentuk suatu banunan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Adapun penelitian berasal dari kata teliti yang artinya cermat, seksama, pemeriksaan yang dilakukan secara saksama dan teliti, dan dapat pula berarti penyelidikan, tujuan pokok dari kegiatan penelitian ini adalah mencari kebenaran-kebenaran objektif yang disimpulkan melalui data-data yang terkumpul. Kebenaran – kebenaran objektif yang diperoleh tersebut kemudian digunakan sebagai dasar atau landasan untuk pembaruan, perkembangan atau perbaikan dalam masalah-masalah teoritis dan praktis bidang-bidang pengetahuan yang bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan demikian, penelitian mengandung arti upaya menemukan jawaban atas sejumlah masalah berdasarkan data-data yang terkumpul.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Barikutnya, sampailah kita kepada pengertian agama. Telah banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan seperti antropologi, psikologi, sosiologi, dan lain-lain yang mengcoba mendefinikan agama. R.R. Maret salah seorang ahli antropologi Inggris, menyatakan bahwa agama adalah yang paling sulit dari semua perkataan untuk didefinisikan karena agama adalah menyangkut lebih daripada hanya pikiran, yaitu perasaan dan kemauan juga, dan dapat memanifestasikan dari menurut segi-segi emosionalnya walaupun idenya kabur.Harun Nasution menyebutkan adanya empat unsur penting yang terdapat dalam agama, yaitu :1) unsur kekuatan gaib yang dapat mengambil bentuk Dewa, Tuhan, dan sebagainya; 2) unsur keyakinan manusia bahwa kesejahterahannya di dunia ini dan hidupnya di akhirat nanti amat tergantung kepada adanya hubungan baik dengan kekuatan gaib yang dimaksud; 3) unsur respond yang bersifat emosional dari manusia yang dapat mengambil bentuk perasaan takut, cinta, dan sebagainya; dan 4) unsur pahan adanya yang kudus (sacred) dan suci yang dapat mengambil bentuk kekuatan gaib. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari definisi-definisi tersebut, Harun Nasution selannjutnya menyebutkan adanya empat unsur penting yang terdapat dalam agama, yaitu: 1) Unsur kekuatan gaib yang dapat rnengambil bentuk dewa, atau Tuhan, dan sebagainya: 2) Unsur keyakinan manusia bahwa kesejahteraannya di dunia ini dan hidupnya di akhirat nanti amat bergantung kepada adanya hubungan baik dengan kekuatan gaib yang dimaksud : 3) Unsur respons yang bersifat emosional dari manusia yang dapat mengambil bentuk perasaan takut, cinta dan sebagainya dan 4) Unsur paham adanya yang kudus (Sacred) dan suci yang dapat mengambil bentuk kekuatan gaib, kitab yang mengandung ajaran-ajaran agama yang bersangkutan, dan dalam bentuk tempat-tempat tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2431628938927798429-8330386403852801396?l=buanyakilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-29T08:35:14.881+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Metodologi Pemahaman Islam (bab 3)</title><link>http://buanyakilmu.blogspot.com/2009/05/metodologi-pemahaman-islam-bab-3.html</link><category>Metodologi Studi Islam</category><category>Makalah</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Mon, 28 Mar 2011 18:36:42 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2431628938927798429.post-4683682096798425606</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A. STUDI ISLAM&lt;br /&gt;Dikalangan para ahli masih terdapat perbedaan disekitar permasalahan apakah studi islam (agama) dapat dimasukkan ke dalam bidang ilmu pengetahuan, mengingat sifat dan karakteristik antara ilme pengetahuan dan agama berbeda.&lt;br /&gt;Pada dataran normativitas studi Islam agaknya masih banyak terbebani oleh misi kagamaan yang bersifat memihak, romantis, dan apologis, sehingga kadar muatan analisis, kritis, medodologis, historis, empiris, terutama dalam menelaah teks-teks atau naskah-naskah keagamaan produk sejarah terdahulu kurang begitu ditonjolkan, kecuali dalam lingkungan para peneliti tertentu yang masih sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;dengan demikian secara sederhana dapat dekemukakan jawabannya bahwa dilihat dari segi normatif sebagaimana yang terdapat di dalam Alquran dan hadis, maka Islam lebih merupakan agama yang tidak dapat diberlakukan kepadanya pradigma ilmu pengetahuan, yaitu pradigma analisistis, kritis, metodologis, historis, dan empiris. Sebagai agama, Islam lebih bersifat memihak romantis, apologis, dan subjektif. sedangkan jika dilihat dari segi historisnya yakni islam dalam arti yang dipraktikkan oleh manusia serta tumbuh dan berkembang dalam sejarah kehidupan manusia, maka Islam dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu, yakni ilmu keislaman atai Islam Studies &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perbedaan dalam melihat Islam yag demikian itu dapat menimbulkan perbedaan dalam menjelaskan Islam itu sendiri. Ketika islam dilihat dari sudur normatif, Islam merupakan agama yang di dalamnya berisi ajaran Tuhan dengan urusan akidah dan muamalah sedangkan ketika Islam dilihat dari sudut historis atau sebagaimana yang tampak dalam Islam tampil sebagai sebuah disiplin ilmu (Islamic Studies).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;B. METODE MEMAHAMI ISLAM &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada bagian ini penulis akan mencoba menelusuri metode memahami Islam sepanjang yang dapat dijumpai dari berbagai literatur keislaman. Dalam buku herjudul Tentang Sosiologi Islam, karya Ali Syari'ati, dijumpai uraian singkat mengenai metode memahami yang pada intinya Islam harus dilihat dari berbagai dimensi. Dalam hubungan ini, ia mengatakan jika kita meninjau Islam dari satu sudut pandangan saja, maka yang akan terlihat ha-nya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak. Mungkin kita berhasil melihatnya secara tepat, namun tidak cukup bila kita ingin memahaminya secara keseluruhan. Buktinya ialah Alquran sendiri. Kitab ini memiliki banyak dimensi; sebagiannya telah dipelajari oleh sarjana-sarjana besar sepanjang sejarah. Satu dimensi, misalnya, mengandung aspek-aspek linguistik dan sastra Alquran. Para sarjana sastra telah mempelajarinya secara terperinci. Dimensi lain terdiri atas tema-tema filosofis dan keimanan Alquran yang menjadi bahan pemikiran hagi para filosof serta para teolog hari ini. Dimensi alquran lainnya lagi yang belum dikenal ialah dimensi manusiawinya, yang mengandung persoalan historis, sosiofogis, dan psikologis. Dimensi ini belum banyak dikenal, karena sosiologi, psikologi ilmu-ilmu manusia memang jauh lebih muda dibandingkan ilmu-ilmu  alam. Apalagi ilmu sejarah yang merupakan ilmu termuda di dunia. Namun yang dimaksudkan dengan ilmu sejarah di sini tidaklah identik dengan data historis ataupun buku-buku sejarah yang tergolong dalam buku-buku tertua yang pernah ada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk memahami islam secara benar ini, Nasruddin Razak mengajukan empat cara. : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pertama, Islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli, yaitu Alquran dan      Al-Sunnah Rasulullah. Kekeliruan memahami Islam, karena orang hanya megenalnya dari sebagian ulama dan pemeluknya yang telah jauh dari bimbingan Alquran dan Al-Sunnah, atau melalui pengenalan dari sumber – sumber kitab fiqih dan tasawuf yang semangatnya sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Mempelajari Islam dengan cara demikian akan men¬jadikan orang tersebut sebagai pemeluk Islam yang sinkretisme, hidup penuh bid’ah dan khurafat, yakni telah tercampur dengan hal-hal yang tidak Islami, dari ajaran Islam yang murni.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kedua, Islam harus dipelajari secara integral, tidak dengan cara parsial, artinya dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang bulat tidak secara. sebagian saja. Memahami Islam secara parsial akan membahayakan, menimbulkan skeptis, bimbang dan penuh keraguan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketiga, Islam perlu dipelajar dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Keempat, Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis yang ada dalam Alquran, baru kemudia dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris, dan sosiologis yang ada di masyarakat. Dengan cara demikian dapat diketahui tingkat kesesuaian atau kesenjangan antara Islam yang berada pada dataran normatif teologis yang ada dalam Alquran dengan Islam yang ada pada dataran historis, sosiologis, dan empiris&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Memahami Islam dengan cara keempat sebagaimana disebutkan di atas, akhir-akhir ini sangat diperlukan dalam upaya menjunjukkan peran sosial dan kemanusiaan dari ajaran Islam itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari uraian tersebut kita melihat bahwa metode yang dapat digunakan. untuk memahami Islam secara garis besar ada dua macam. Pertama, metode komparasi, yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam tersebut dengan agama lainnya, dengar. cara demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang objektif dan utuh Kedua, metode sintesis, vaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional, objektif, kritis, dan seterusnya dengan metode teologis normatif. Metode ilmiah digunakar. untuk memahami Islam yang tampak dalam kenyataan historis, empiris, dar sosiologis, sedangkan metode teologis normatif digunakan untuk memaham: Islam yang terkandung dalam kitab suci. Melalui metode teologis normatif ini seseorang memulainya dari meyakini Islam sebagai agama yang mutlak benar. Hal ini didasarkan pada alasan, karena agama berasal dari Tuhan dari apa yang berasal dari Tuhan mutlak benar, maka agamapun mutlak benar Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagaimana norma ajaran yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan manusia yang secara keseluruhan diyakini amat ideal. Melalui metode teologis normatif yang tergolong tua usianya ini dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat, kokoh, dan militan pada Islam, sedangkan dengan metode ilmiah yang dinilai sebagai tergolong Muda usianya ini dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya itu dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2431628938927798429-4683682096798425606?l=buanyakilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-29T08:36:42.151+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Posisi Islam Di Antara Agama-Agama Di Dunia (bab 2)</title><link>http://buanyakilmu.blogspot.com/2009/05/posisi-islam-di-antara-agama-agama-di.html</link><category>Metodologi Studi Islam</category><category>Makalah</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Mon, 28 Mar 2011 18:38:11 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2431628938927798429.post-3426855611458376513</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum Islam datang ke dunia ini, telah terdapat sejumlah agama yang dianut oleh umat mansuia. Para ahli Ilmu Perbandingan Agama (The Comparative Study Of Religion ) bida membagi agama secara garis besar ke dala dua bagian. Pertama, kelompok agama yang diturunkan oleh Tuhan melalui wahyu-wahyunya sebagaimana termaksud dalam kitab suci Alquran. Kedua, kelopok agama yang didasarkan pada hasil renungan mendalam dari tokoh yang membawanya sebagaimana terdokumentasikan dalam kitab suci yang disusunnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Islam adalah agama yang terakhir di antara agama besar di dunia yang semuanya merupakan kekuatan raksasa yang mengeerakkan revolusi dunia, dan mengubah nasib sekalian bangsa. Selain itu, Islam bukan saja agama yang terakhir melainkan agama yang melengkapi segala-galanya dan mencakup sekalian agama yang datang sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mengenai posisi Islam terhadap agama-agama yang datang sebelumnya dapat dikemukakan sebagai berikut : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pertama, dapat dari ciri khas agama islam yang paling menonjol yaitu bahwa Islam menyuruh para pemeluknya agar beriman dan mempercayai bahwa seklian agama besar di dunia yang datang sebelumnya diturunkan dan diwahyukan oleh Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Didalam Alquran dijunpai ayat-ayat yang menyuruh umat Islam mengakui agama-agama yang diturunkan sebelumnya sebaigian dari rukun iman. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berdasarkan ayat – ayat tersebut terlihat dengan jelas bahwa posisi Islam di antara agama-agama lainnya dari sudut keyakinan adalah agama yang menyakini dan mempercayai agama-agama yang dibawa oleh para rasul sebelumnya. Dengan demikian orang Islam bukah saja beriman keapda Nabi Muhammad SAW. melainkan beriman kepada semua nabi. menurut ajaran Alquran yang terang benderang, bahwa semua bangsa telah kedatangan Nabi. tidak ada satu umat, melainkan seorang juru ingat telah berlalu di kalangan mereka (QS. Faathir, 35:24). Dengan demikian orang Islam adalah orang yang beriman kepada para nabi dan Kitab Suci dari semua bangsa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kedua, posisi Islam di antara agama-agama besar di dunia dapat pula dilihat dari ciri khas agama Islam yang memberinya kedudukan istimewa diantara sekalian agama. Selain menjadi agama yang terakhir dan yang meliput semuanya, Islam adalah pernyataaan kehendak Ilahiyang sempurna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketiga, posisi Islam diantara agama-agama lainya dapat dilihat dari peran yang dimainkannya. Dalam hubungan ini agama Islam memiliki tugas besar, yaitu (1), mendatangkan perdamaian dunia dengan membentuk persaudaraan diantara sekalian agama di dunia dan (2), menghimpun segala kebenaran yang termuat dalam agama yang telah ada sebelumnya (3), memperbaiki kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh para penganur agama sebelumnya yang kemudian dimasukkan ke dalam agamanya itu, (4), mengerjakan kebenaran abadi yang sebelumnya tak pernah diajarkan, berhubung keadaan bangsa atau umat pada waktu itu masih dalam tarap permulaan dari tingkat perkembangan mereka dan yang terakhir ialah memenuhi segala kebutuhan moral dan rohani bagi umat manusia yang selalu bergerak maju.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Keempat, posisi Islam di antara agama-agama lain dapat pula dilihat dari adanya unsur pembaruan didalamnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kelima, Posisi agama Islam terhadap agama-agama lainnya dapat dilihat dari dua sifat yang yang dimiliki oleh ajaran Islam, yaitu akomodatif dan persuasif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2431628938927798429-3426855611458376513?l=buanyakilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-29T08:38:11.574+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Metodologi Studi Islam ( Bab 1 )</title><link>http://buanyakilmu.blogspot.com/2009/05/metodologi-studi-islam-bab-1.html</link><category>Metodologi Studi Islam</category><category>Makalah</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Mon, 28 Mar 2011 18:39:03 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2431628938927798429.post-2459740010181175116</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;MISI AJARAN ISLAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi terhadap misi ajaran Islam secara komprehensif dan mendalam adalah sangat diperlukan karena beberapa sebab sebagai berikut :&lt;br /&gt;Pertama, untuk menimbulkan kecintaan manusia terhadap ajaran Islam yang didasarkan kepada alasan yang sifatnya bulan hanya normatif , yakni karena diperintah oleh Allah, dan bukan pula karena emosional semata-mata karena didukung oleh argumentasi yang bersifat rasional, kultural dan aktual. Yitu argumen yang masuk akal, dapat dihayati dan dirasakan oleh umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kedua, untuk membuktikan kepada umat manusia bahwa Islam baik secara normatif maupun secara kultural dan rasional adalah ajaran yang dapat membawa manusia kepada kehidupan yang lebih baik, tanpa harus mengganggu keyakinan agama Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketiga, untuk menghilangkan citra negatif dan sebagian Masyarakat  terhadap ajaran Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;A. Terdapat sejumlah argumentasi yang dapat digunakan untuk menyatakan bahwa misi ajaran Islam sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam. Argumentasi tersebut dikemukakan sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pertama,  untuk menunjukkan bahwa Islam sebagai pembawa rahmat dapat dilihat dari pengertian Islam itu sendiri. Kata Islam makna aslinya masuk dalam perdamaian, dan oran Muslim ialah orang yang damai dengan Allah dan damai dengan manusia. Damai dengan Allah, artinya berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya dan damai dengan manusia bukah saja berarti menyingkiri berbuat jahat dan sewenang-wenang kepada sesamanya, melainkan pula ia berbuat baik kepada sesamanya. Dua pengertian ini dinyatakan dalam Alqur’an sebagai inti agama Islam yang sebenar-benarnya. Al-Qur’an menyatakan sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Islam adalah agama perdamaian dan dua ajaran pokoknya, yaitu Keesaan Allah, dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia, menjadi bukti yang nyata bahwa agama Islam selaras benar dengan mananya. Islam bukan saja dikatakan sebagai agama sekalian Nabi Allah, sebagaimana tersebut di atas, melainkan juga sesuatu yang secara taksadar tunduk sepenuhnya kepada undang-undang Allah, yang kita saksikan pada alam semesta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pertama, misi ajaran Islam sebagai pembawa rahmat dapat dilihat dari peran yang dimainkan Islam dalam menangani berbagai problematika agama, sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, kebudayaan, dan sebagainya. Dari sejak kelahirannya lima belas abad yang lalu Islam senantiasa hadir memberikan jawaban terhadap permasalahan di atas. Islam sebagaimana dikatakan H.A.R. Gibb bukan semata-mata ajaran tentang keyakinan saja, melainkan sebagia sebuah sistem kehidupan yang multi dimensial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam bidang sosial, keadaan masyarakat terbagi-bagi kedalam sosial atau kasta yang dibedakan berdasarkan suku bangsa, bahasa, warna kulit, harta benda, jenis kelamin, dan lain sebagainya. Dengan sistem kelas yang demikian, maka tidak akan terjadi mobilitas vertikal yang didasarkan pada pretasinya masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selanjutnya dalam bidang ekonomi, ditandai oleh praktik mendapatkan uang dengan menghalalkan segala cara, seperti dengan praktik riba, mengurangi timbangan, menipu, monopoli, kapitalisme, dan sebagainya. Keadaan yang demikian itu pada gilirannya membawa mereka yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Persaingan yang tidak sehat terjadi diantara mereka. Manusia telah menjadi budah dari harta benda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selanjutnya dalam bidang pendidikan, ditandai oleh keadaana di mana pendidikan atau ilmu pengetahuan hanya milik kaum elit. Rakyat dibiarkan bodoh sehingga dengan mudah dapat disesatkan akidahnya dan selanjutnya dengan mudah dapat diperbudak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam pada itu pada masa kedatangan Islam di bidang kebudayaan ditandai oleh keadaan masyarakat yang semata-mata mengikuti hawa nafsu syahwat dan nafsu duniawi. mereka gemar melakukan mabuk-mabukan, foya,foya, berzina, berjudi, dan sebagainya. Mereka tenggelam dalam dosa-dosa maksiat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari sejak kelahirannya Islam sudah memiliki komitmen dan respon yang tinggi untuk ikut terlibat dalam memecahkan berbagai masalah tersebut di atas. Islam bukan hanya mengurusi sosial ibadah dan seluk beluk yang terkait dengannya saja, melainkan juga ikut terlibat memberikan jalan keluar yang terbaik untuk mengatasi berbagai masalah tersebut dengan penuh bijaksana, adil, domokratis, manusiawi, dan seterusnya. Hal-hal yang demikian itu dapat dikemukakan sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pertama, dalam bidang sosial, Islam memperkenalkan ajaranyang bersifat egaliter atau kesetaraan dan kesederajatan antara manusia dengan manusia lain. Satu dan lainnya sama-sama sebagai makhluk Allah SWT. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kedua, misi Islam sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam dapat dilihat dari ajaran dalam bidan ekonomi yang bersandikan asas keseimbangan dan pemerataan. Dalam ajaran Islam seseorang diperbolehkan memiliki kekayaan tanpa batas, namun dalam jumlah tertentu dalam hartanya terdapat milik orang lain yagn harus dikeluarkan dalam bentuk zakat, infak, dan sedekah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketiga, misi ajaran Islam rahmatan lil alamin dalam bidang politik terlihat dari perintah Alquran agar seorang pemerintah bersikap adil, bijaksana terhadap rakyat yang dipimpinnya, mendahulukan kepentingan – kepentingan rakyat daripada kepentingan dirinya, melindungi dan mengayomi rakyat, memberikan keamanan dan ketentraman kepada masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Keempat, missi rahmatan lil alamin ajaran Islam dalam bidang hukum-hukum terlihat dari perintah Alquran surat An-Nisa’ ayat 58 sebagaimana tersebut di atas. Ayat tersebut memerintah seorang hakim agar berlaku adil dan bijaksana dalam memutuskan perkara. Penegakan supremasi hukum sangat dianjurkan dalam ajaran Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kelima, misi ajaran Islam rahmatan lil alamin dapat pula dilihat dalam bidang pendidikan. Hal ini terlihat dari ajaran Islam yang memberikan kebebasan kepada manusia untuk mendapatkan hak-haknya dalam bidang pendidikan. Islam menganjurkan belajar sungguhpun dalam keadaan perang, dan menuntut ilmu mulai dari buaian hingga ke linag lahat, serta melakukannya sepanjang hayat. Pendidikan dalam Islam adalah untuk semua. pemerataan dalam pendidikan adalah merupakan misi ajaran Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berdasarkan fakta dan analisis sebagaimana di atas, kita dapat mengatakan bahwa misi ajaran Islam adalah untuk melindungi hak-hak asasi manusia baik jiwa, akal, agama, harta, keturunan dan lainnya yang terkait. Untuk itu maka Islam sangat nenkankan perlunya menegakkan keadaan duai yang aman, damai, sejahtera, tentram, saling tolong-menolong, toleransi, adil, bijaksana, terbuka, kederajatan, dan kemanusiaan. Dengan ajran yang demikian, maka Islam bukanlah agama yang harus ditakuti, apalagi dituduh sebagai sarang teroris, pembuat kekacauan dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2431628938927798429-2459740010181175116?l=buanyakilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-29T08:39:03.663+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ulumul Qur'an ( Amtsalul Qur'an)</title><link>http://buanyakilmu.blogspot.com/2009/05/amtsalul-quran.html</link><category>Amtsalul Quran</category><category>Ulumul Qur'an</category><category>Makalah</category><author>noreply@blogger.com (admin)</author><pubDate>Mon, 28 Mar 2011 18:40:16 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2431628938927798429.post-1789135216410510054</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kata yang indah akan tampak lebih indah jika penggunaan kata tersebut menggunakan permitsalan, karena dengan permitsalan seseorang dapat mudah untuk memahami arti makna kalimat tersebut. Tamtsil merupakan kerangka yang dapat menampilkan makna-makna dalam bentuk yang hidup dan mantapdidalam pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;A. Latar Belakang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Salah satu aspek keindahan retorika al-Qur'an adalah amtsal (perumpamaan-perumpamaan)-Nya. Al-Qur'an tidak hanya membicarakan kehidupan dunia yang di indra, tetapi juga memuat kehidupan akhirat dan hakikat lainnya yang memiliki makna dan tujuan ideal yang tidak dapat di indra dan berada di luar pemikiran akal manusia. Pembicaraan yang terakhir ini dituangkan dalam bentuk kata yang indah, mempesona dan mudah dipahami, yang dirangkai dalam untaian perumpamaan dengan sesuatu yang telah diketahui secara yakin yang dinamai tamtsil (perumpamaan) itu. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini saya akan mencoba membahas tentang amtsal al-Qur'an lebih dalam pada makalah saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;B. Rumusan Masalah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Pengertian amtsal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Rukun amtsal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Macam-macam amtsal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;4. Manfaat amtsal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;5. Penggunaan amtsal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BAB II&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;PEMBAHASAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;A. Pengertian Amtsal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Secara bahasa amtsal adalah bentuk jamak dari matsal, mitsl dan matsil yang berarti sama dengan syabah, syibh, dan syabih, yang sering kita artikan dengan perumpamaan : الأمثال جمع المثل كا لشبة والشبيه . Sedangkan menurut istilah ada beberapa pendapat, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Menurut ulama ahli 'Adab, amtsal adalah upacara yang banyak menyamakan keadaan sesuatu yang diceritakan dengan sesuatu yang dituju.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Menurut ulama ahli Bayan, amtsal adalah ungkapan majaz yang disamakan dengan asalnya karena adanya persamaan yang dalam ilmu-ilmu balaghoh disebut tasyabih.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Menurut ulama ahli tafsir adalah menampakkan pengertian yang abstrak dalam ungkapan yang indah, singkat dan menarik yang mengena dalam jiwa, baik dengan bentuk tasybih maupun majaz mursal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;B. Rukun Amtsal (Tasybih)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Rukun amtsal ada empat, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Wajah syabbah;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yaitu pengertian yang bersama-sama yang ada pada musyabbah dan musyabbah bih.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Alat tasybih;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yaitu kaf, mitsil, kaanna, dan semua lafadz yang menunjukkan makna perseruan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Musyabbah;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yaitu sesuatu yang diserupakan (menyerupai) musyabbah bih.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;4. Musyabbah bih;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yaitu sesuatu yang diserupai oleh musyabbah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebagai contoh, firman Allah SWT (QS. 2: 261)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ في كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةَ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَآءُ وَ اللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah milipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Wajhu Syabah yang terdapat pada ayat ini adalah pertumbuhan yang berlipat-lipat. Tasybihnya adalah kata matsal. Musyabahnya adalah infaq atau shodaqoh dijalan Allah, sedangkan musyabbah bihnya adalah benih.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;C. Macam-Macam Amtsal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Amtsal musharrahah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yaitu amtsal yang jelas, yakni yang jelas menggunakan kata-kata perumpamaan atau kata menunjukkan penyerupaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Contohnya : QS Al-Baqarah [2] : 17-20 :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka ini bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat. …. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Amtsal kaminah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yaitu amtsal yang tidak menyebutkan dengan jelas kata-kata yang menunjukkan perumpamaan tetapi kalimat itu mengandung pengertian mempesona, sebagaimana yang terkandung di dalam ungkapan-ungkapan singkat (ijaz).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Contohnya : QS Al-Baqarah [2] : 68 :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan dari itu “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Amtsal mursalah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Yaitu kalimat-kalimat al-Qur'an yang disebut secara lepas tanpa ditegaskan redaksi penyerupaan, tetapi dapat digunakan untuk penyerupaan. Tetapi khusus mengenai amtsal mursalah, para ulama berbeda pendapat dalam menganggapinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a. Sebagian ulama menganggap amtsal mursalah telah keluar dari etika al-Qur'an. Menurut Ar-Razi ada sebagaian orang-orang menjadikan ayat lakum dinukum wa liyadin sebagai perumpamaan ketika mereka lalai dan tak mau menaati perintah Allah. Ar-Razi lebih lanjut mengatakan bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan sebab Allah tidak menurunkan ayat ini untuk dijadikan perumpamaan, tetapi untuk diteliti, direnungkan dan kemudian diamalkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;b. Sebagian ulama lain beranggapan bahwa mempergunakan amtsal mursalah itu boleh saja karena amtsal, termasuk amtsal mursalah lebih berkesan dan dapat mempengaruhi jiwa manusia. Seseorang boleh saja menggunakan amtsal dalam suasana tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Contoh : QS [11] : 81 :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Bukankah subuh itu sudah dekat” sebagai perumpamaan waktu yang udah dekat. Kitab yang khusus membahas Amtsalul Qur’an diantaranya Amtsal Al-Qur’an karangan Ibnu Qayyim Jauziah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;D. Manfaat Amtsal Al-Qur'an&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Manna al-Qaththan menjelaskan bahwa diantara manfaat al-Qur'an adalah berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Menampilkan sesuatu yang abstrak (yang hanya ada dalam pikiran) ke dalam sesuatu yang konkret-material yang dapat di indera manusia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Menyingkap makna yang sebenarnya dan memperlihatkan hal yang gaib melalui paparan yang nyata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Menghimpun arti yang indah dalam ungkapan yang singkat sebagaimana terlihat dalam amtsal kaminah dan amtsal mursalah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;4. Membuat si pelaku amtsal menjadi senang dan bersemangat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;5. Menjauhkan seseorang dari sesuatu yang tidak disenangi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;6. Memberikan pujian kepada pelaku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;7. Mendorong giat beramal, melakukan hal-hal yang menarik dalam al-Qur'an.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;8. Pesan yang disampaikan melalui amtsal lebih mengena di hati lebih mantap dalam menyampaikan nasehat dan lebih kuat pengaruhnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;9. Menghindarikan dari perbuatan tercela. Allah banyak menyebut amtsal dalam al-Qur'an untuk pengajaran dan peringatan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zumar : 27:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Artinya: “Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini Setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;QS. Al-Ankabut : 43&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Artinya: “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;E. Penggunaan Amtsal Sebagai Media Dakwah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berkaitan dengan media dakwah, Musthafa Mansyur menyatakan bahwa setiap pendakwah harus membekali dirinya dengan pengetahuan yang dapat mengetuk dan membuka hati pendengarnya sehingga ia dapat menyampaikan pesan-pesannya. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah melalui media amtsal. Pesan yang disampaikan melalui amtsal lebih mengena di hati, lebih mantap dalam menyampaikan nasehat, dan lebih kuat pengaruhnya. Itulah sebabnya Nabi Muhammad SAW banyak menggunakan amtsal ketika menyampaikan dakwahnya dan banyak pula juru dakwah dan pendidik yang menyampaikan pesan-pesannya melalui media matsal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Contoh-contoh amtsal dalam al-Qur'an&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berikut ini adalah beberapa contoh amtsal dalam al-Qur'an:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Perumpamaan tentang orang kafir (QS. Al-baqarah : 71)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Artinya : Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya." mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Perumpamaan orang-orang musyrik (QS. Al-Ankabut : 41)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Artinya : Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Perumpamaan orang mukmin (QS. Huud ; 24)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Artinya : Perbandingan kedua golongan itu (orang-orang kafir dan orang-orang mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Adakah kedua golongan itu sama Keadaan dan sifatnya?. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran (daripada Perbandingan itu)?.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;4. Perumpamaan orang menafkahkan harta (QS. Al-Baqarah : 261)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Artinya : Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;5. Perumpamaan tentang kehidupan dunia (QS. Yunus : 24)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Artinya : Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya[683], dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya[684], tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;[683] Maksudnya: bumi yang indah dengan gunung-gunung dan lembah-lembahnya telah menghijau dengan tanam-tanamannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;[684] Maksudnya: dapat memetik hasilnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;6. Perumpamaan tentang pergunjingan (QS. Al-Hujurat : 12)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;BAB III&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jadi dari pengertian dalam makalah saya dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Amtsal adalah suatu perumpamaan yang hanya ada dalam pikiran (abstrak) dengan diskripsi sesuatu yang dapat diindra (konkret), melalui pengungkapan yang indah dan mempesona, baik dengan jalan tasybih, isti'anah, rinayah dan mursal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Amtsal dalam al-Qur'an dibagi menjadi:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Amtsal musharrah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Amtsal kaminah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;- Amtsal mursalah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Manfaat-manfaat amtsal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;4. Penggunaan amtsal dalam media dakwah lebih mudah diterima.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nb. Maaf, Untuk referensinya di cari sendiri yaaachhh...hehehe...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2431628938927798429-1789135216410510054?l=buanyakilmu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-29T08:40:16.236+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>

