<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Bisnis and Islami</title><description>Blog ini di buat khusus untuk mereka yang pingin belajar bisnis dari internet dan sharing pendapat tentang masalah islami.</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Tomi25)</managingEditor><pubDate>Fri, 1 Nov 2024 03:44:59 -0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://tofi25.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><copyright>silahkan bergabung</copyright><itunes:keywords>uang</itunes:keywords><itunes:summary>yang ingin mendapatkan penghasilan</itunes:summary><itunes:subtitle>bisnis dan islam</itunes:subtitle><itunes:category text="Business"><itunes:category text="Careers"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>tomifirmansyah2rocketmail.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>KAIDAH " DARIPADA "</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/05/kaidah-daripada.html</link><category>Islami</category><pubDate>Sat, 16 May 2009 07:57:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-8209144372694546112</guid><description>&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditanya, kaidah apa yang paling populer dalam perpolitikan kaum Muslim sekarang ...? Besar kemungkinan jawabannya adalah kaidah ‘ daripada ‘. Dari pada sistem otoriter lebih baik demokrasi, daripada capres A yang sekuler lebih baik capres B yang sekulernya sedikit, daripada semuanya non-Muslim lebih baik kita juga ikutan, daripada tidak ada dalam sistem itu dan tidak bisa berbuat apa-apa kan lebih baik ikut sistem, demikian seterusnya. Kaidah ‘daripada‘ ini sesungguhnya merupakan cerminan dari sikap pragmatisme politik kaum Muslim saat ini.&lt;br /&gt;Memang, ‘pragmatisme‘ menjadi gejala umum di kalangan kaum Muslim, khususnya dalam berpolitik. Inti pragmatisme adalah tunduk pada realita (kenyataan), seakan-akan realita tersebut tidak bisa diubah. Doktrin-doktrin seperti,  “kenyataan tidak bisa diubah”, atau “negara ini sudah final“ memang terus ditanamkan di benak kaum Muslim hingga kaum Muslim putus asa. Pernyataan bahwa, “Sistem Khilafah memang ideal, tetapi itu kan utopis,“yang sering kita dengar merupakan cerminan sikap putus asa.&lt;br /&gt;Tentu tidak benar jika dikatakan bahwa sistem kehidupan ini tidak bisa diubah. Bukankah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sebelumnya tidak ada, kemudian pada tanggal 17 Agustus 1945, NKRI diproklamasikan...? bukankah sebelum sistem sekuler diadopsi oleh negara-negara Barat, mereka menerapkan sistem kerajaan-teokrasi...?bukankah sebelumnya kaum Muslim bersatu di bawah naungan Daulah Khilafah, yang kemudian terpecah-belah menjadi negara-negara kecil dengan asas sekuler...? karena itu, sistem sekarang juga tentu bisa diubah. Semuanya bergantung pada kemauan masyarakatnya. Kemauan masyarakat itu bergantung pada kesadaran mereka. Artinya, perubahan sisten seperti apapun bisa terjadi, bergantung pada kemauan dan kesadaran masyarakat.&lt;br /&gt;Apa yang kemudian menjadi ukuran baik dan buruk dalam pragmatisme ini...? tentu bukan lagi hukum syariat, tetapi kemanfaatan yang didominasi oleh hawa nafsu manusia. Kemaslahatan sendiri, dalam filsafat politik Barat, sering disebut dengan utilitarianisme. Salah satu pemikir utama utilitarian ini adalah Jhon Stuart Mill (1806-1873). Teori utilitarianisme (kemanfaatan) ini berpangkal pada pandangan bahwa sikap dan tindakan manusia menurut kodratnya ditentukan oleh sakit dan senang, benar atau salah. Hubungan sebab-akibat berpangkal pada ketentuan sakit dan senang itu. Kesenangan itu baik, bahkan kebaikan yang sesungguhnya, dan merupakan satu-satunya kebaikan. Sakit itu tidak baik dan merupakan satu-satunya kejahatan. (Deliar Noer, Pemikiran Politik Barat, hlm. 169) sakit dan senag, menurut Jeremy Bentham, bapak aliran ini, merupakan ukuran manusia dalam sikap politik. Baik dan buruk kemudian sangat bergantung pada apakah perkara itu memuaskan kesenangan fisik (jasad) manusia atau tidak.&lt;br /&gt;Memang, banyak para politisi Muslim merujuk pada kaidah syariat yang cukup populer, yakni, “Ahwan asy-Syarrayn” atau “Akhaffu ad-Dharrayn” intinya adalah memilih kemadaratan atau keburukan yang paling ringan. Namun kenyataannnya, kaidah ini digunakan secara sembarangan. Padahal, kaidah ini hanya bisa digunakan dalam kondisi yang tidak ada pilihan lain kecuali ketika dihadapkan dua perkara buruk.&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah kita sekarang sedasng dihadapkan pada dua pilihan buruk...? tentu tidak. Kita tidak ada dalam posisi harus memilih antara sistem demokrasi atau otoriter...? tidak juga dalam posisi memilih capres A yang sekuler denagn capres B yang sedikit sekulernya. Kita masih punya pilihan ketiga. Kita tidak memilih demokrasi tetapi juga bukan otoriter. Pilihan kita adalah Sistem Daulah Khilafah. Kita juga tidak dalam posisi harus memilih dua nama capres yang sama-sama buruk. Kita masih punya pilihan lain, mengangkat Khalifah yang akan menerapkan syariat Islam secara kaffah.&lt;br /&gt;Di samping itu, yang menentukan standar kemadaratan atau keburukan adalah hukum syariat. Pada faktanya, sekarang ini standar kemadaratan atau keburukan lebih didasarkan pada kemauan hawa nafsu manusia. Padahal Allah SWT telah menjelaskan ketidakmampuan manusia dalam menentukan baik dan buruk, kalau hanya berdasarkan pada dirinya, apalagi kepuasaan dirinya. (Lihat QS al-Baqarah [2] : 216). Dalam konteks ini, Asy-Syatibi mengatakan bahwa meraih kemaslahatan dengan cara yang bertentangan dengan syariat adalah bid’ah. Argumentasi kaidah ‘daripada’ ini jelas sangat berbahaya kalau dijadikan oleh umat sebagai patokan dalam tindakannya sehari-hari. Bayangkan kalau seorang pelacur menggunakan kaidah ‘daripada’ untuk membenarkan tindakannya, “Daripada anak saya tidak makan, lebih baik saya melacur”, “Daripada saya golput, lebih baik saya ikut pemilu”. Daripada saya menolak cawapres lebih baik saya mendukungnnya. Jadi jelas kaidah “daripada” ini merupakan bom waktu yang berbahaya bagi masyarakat. Bahaya lain kaidah “daripada” ini adalah dominannya relativisme kebenaran. Karena tidak ada patokan, mana yang baik dan mana yang buruk, semua orang bisa bertindak seenaknya.&lt;br /&gt;Islam jelas menolak relativisme kebenaran ini. Dalam Islam, sangat jelas yang disebut syarr (keburukan) adalah sesuatu yang dibenci Allah SWT, yakni yang bertentangan dengan syariat-Nya. Sebaliknya, khyar (kebaikkan) adalah yang diridhai oleh Allah SWT yakni yang sejalan dengan syariat-Nya. Kaidah “daripada” juga telah menjerumuskan politisi Islam pada sikap plin-plan tidak istiqamah. Saat punya kepentingan untuk parpolnya muncul fatwa, “Pemilu itu wajib, golput haram”. Sebaliknya kalau tidak ada lagi kepentingan, “Golput tidak apa-apa”, Kalau punya interest politik, “Presiden wanita haram” Kalau interest-nya berubah yang haram bisa jadi halal. Umat Islam zaman sekarang ini seperti Anjing, jika tidak kebagian tulang dia akan menggonggong dengan keras tetapi setelah dia kebagian tulang dia diam saja. Padahal hanya ada satu yang haram itu bisa menjadi halal...? yaitu daging mentah. Daging mentah itu asalnya haram tetapi setelah adanya ijab qabul maka daging mentah itu menjadi halal, bahkan nikmat sekali, katanya. Bahkan banyak orang baik tua maupun muda yang  ketagihan sama daging mentah. Hahahahahaha.  Sikap plin-plan seperti ini jelas bisa membuat umat kehilangan kepercayaan pada partai Islam, termasuk pada gagasan syariat Islam. Kalau ini terjadi, penegakkan syariat Islam yang merupakan cita-cita bersama umat Islam akan semakin sulit. Na’udzu billah !!!!!!!!!!!!!!!!                     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item><item><title>UPAYA MENGASINGKAN ISLAM ( ISLAMOPHOBIA )</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/03/upaya-mengasingkan-islam-islamophobia.html</link><category>Islami</category><pubDate>Sat, 28 Mar 2009 07:41:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-8792219217535314094</guid><description>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;“ Muslim fundamentalism is at least as dangerous as Communism once was. Please do not underestimate this risk..... at the conclusion of this age it is a serious threat, because it represent terrosim, religious fanatism and exploitation of social and economic justice. “ ( A TV interview reported by Inter Press Service, 18 February 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Itu adalah ucapan Will Claes, mantan Sekjen Nato yang merefleksikan kekhawatiran ( baca : ketakutan ) Barat terhadap Islam dan kaum Muslim. Jauh – jauh hari, sebelum peristiwa 911 ( peruntuhan gedung WTC pada tahun 2001 ) Will Claes telah menyamakan kaum Muslim yang berpegang teguh pada agamanya sebagai teroris. Dia juga mewanti – wanti bahwa kaum Muslim fundamentalis – demikian dia menyebut kaum Muslim yang teguh pada ajaran Islam – jauh lebih berbahaya daripada pengikut komunis sehingga jangan di anggap remeh !&lt;br /&gt;Ketakutan terhadap Islam sudah ada sejak Perang Salib meletus; disusul dengan era penjajahan Barat atas negeri – negeri Muslim hingga berakhirnya masa Kekhalifahan Islam yang terakhir ( tahun 1924 ). Selama kurun waktu itu pula terbentuk Islamophobia ( ketakutan pada Islam ) yang sengaja diciptakan Barat untuk mendeskriditkan kaum Muslim, mengisolasi mereka dan membuangnya sebagai sampah peradaban. Jika dulu kaum Muslim mereka cap dengan stempel terbelakang, barbar, tidak berpikiran maju / produktif, jorok dan lain – lain maka sekarang mereka mencap kaum Muslim yang berpegang teguh dengan ajaran Islam dengan label teroris, ekstremis, fundamentalis dan sejenisnya.&lt;br /&gt;Islamophobia adalah hasil samping dari benturan peradaban antara peradaban Islam dan peradaban Barat. Barat menggunakan segala cara untuk memojokkan Islam dan kaum Muslim. Peradaban Barat tidak akan mampu bertahan hidup di atas kakinyasendiri, kecuali dengan melakukan invasi, kolonisasi, eksploitasi dan imperialisasi. Hanya dengan itu Barat bisa mereguk energi yang dimiliki bangsa – bangsa lain yang kaya tanpa harus mengeluarkan ‘ keringat ‘. Peradaban Barat tidak mampu mencukupi kebutuhan akal dan hawa nafsu masyarakatnya yang hedonis-materialistis, sehingga imperialisme ( penjajahan ) menjadi sesuatu yang niscaya bagi mereka, bahkan merupakan ciri khas dari ideologi Kapitalisme. Peradaban Barat bagaikan benalu bagi umat manusia. Ia tidak bisa hidup, kecuali dengan mengganggu dan menggerogoti peradaban lain. Karena itu, tidak mengherankan jika kita menyaksikan keberadaan peradaban Barat sepanjang sejarah umat manusia hanya menyisakan penderitaan, kesengsaraan dan kezaliman. Amerika Serikat saja, selama periode seratus tahun terakhir, telah melakukan invasi lebih dari 100 kali ke negara – negara lain. Tidak salah jika AS dan sekutunya dikategorikan sebagai trouble maker ( si pembuat keonaran ), karena dengan cara begitulah dia hidup.&lt;br /&gt;Sementara itu, kaum Muslim sebagai sebuah peradaban juga berhak untuk hidup. Oleh karena itu, wajar jika mereka berpegang teguh dan menaati ajaran agamanya serta menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan Rasul_Nya. Apabila negeri – negeri mereka diancam, diserang, dieksploitasi dan dijajah; rakyat mereka disakiti, diusir, dianiaya dan dibantai; rumah dan harta mereka hancur karena pendudukan Barat dan sukutunya; maka wajar pula jika mereka melawan, membalas dan mengusir musuh – musuh mereka dari negeri – negeri mereka. Hal itu dilakukan oleh kaum Muslim terhadap peradaban Barat yang menodai kesucian negeri – negeri kaum Muslim, mencoreng kehormatan Islam, dan secara terang – terangan menghina Islam dan kaum Muslim. Sungguh sangat tragis ! Pada masa kita hidup sekarang ini, orang – orang yang memegang teguh agamanya, mengejar keridhaan Allah SWT.., dan konsisten mengikuti petunjuk dan manhaj Nabi SAW, dihina dan dilecehkan dengan kata – kata menjijikan, yaitu “ Teroris “ ! Sebaliknya, teroris sejati dielu – elukan bak pahlawan pembela kebenaran.&lt;br /&gt;Begitulah yang terjadi saat ini, propaganda ‘ war on terror ‘  yang diserukan AS beserta sekutunya pada hakikatnya adalah perang melawan Islam dan kaum Muslim. Itu merupakan bagian dari sejarah panjang perang peradaban Barat terhadap peradaban Islam. Dengan propaganda tersebut AS berhasil ‘ menyihir seluruh dunia ‘ guna mengikuti jejaknya, menciptakan ketakutan terhadap Islam; Islamophobia. Propaganda perang melawan teror telah melupakan begitu saja invasi AS ke Afganistan dan Irak. Seakan – akan penduduk AS itu adalah sesuatu yang ringan.&lt;br /&gt;Barat sangat paham bahwa musuh terberatnya hanyalah Islam dan kaum Muslim. Untuk menghancurkannya, Barat sendiri tidak akan mampu. Oleh karena itu, Barat merangkul seluruh dunia, termasuk para penguasa Muslim yang menjadi kaki tangannya; kaum intelektual Muslim yang dibina oleh mereka; para ulama yang cinta dunia dan tidak takut kepada Allah; serta mayoritas masyarakat manusia yang kondisinya bodoh sehingga mudah dibodohi. Semuanya digalang untuk memojokkan Islam, mengasingkan orang – orang Islam yang memegang teguh ajarannya, dan menyingkirkan kaum Muslim yang melawannya. Akibatnya, ajaran Islam menjadi sesuatu yang asing. Orang – orang yang menaati Allah SWT dan megikuti Sunnah Nabi-Nya bagaikan orang asing di hadapan masyarakatnya. Benarlah sabda Rasulullah SAW :&lt;br /&gt;“ Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing seperti semula. Berbahagialah orang – orang yang terasing “. (HR Muslim).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item><item><title>PENERAPAN SYARIAT ADALAH BUKTI KEIMANAN</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/03/penerapan-syariat-adalah-bukti-keimanan.html</link><category>Tentang Pemilu</category><pubDate>Wed, 18 Mar 2009 06:00:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-7906588677793499533</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipjGC_zcYp6MAmtKpoXtU9x9PS-3JngbYbmBOiUVaN-ybI0RExtf5mwWi22q1gG6ehNVQEPBl6xoFKC-CREHTbLP161Ji_78B12h1-KyPEgq7DU_eYS5kzs4Qmv-Jgko4MfXSvqG_Jl3g/s1600-h/BSMLH_B.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 248px; height: 62px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipjGC_zcYp6MAmtKpoXtU9x9PS-3JngbYbmBOiUVaN-ybI0RExtf5mwWi22q1gG6ehNVQEPBl6xoFKC-CREHTbLP161Ji_78B12h1-KyPEgq7DU_eYS5kzs4Qmv-Jgko4MfXSvqG_Jl3g/s200/BSMLH_B.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5314513183731401858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;QS an – Nisa’ [4] : 65&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;“ Sungguh, demi Tuhanmu, mereka ( pada hakikatnya ) tidak beriman hingga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara apa saja yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Menurut Atha’. Mujahid dan asy – Sya’bi ayat ini masih berhubungan dengan ayat sebelumnya yang turun berkenaan dengan perselisihan seorang munafik dan yahudi. Dalam perselisihan tersebut, orang yahudi menginginkan Rasulullah SAW sebagai hakimnya, sementara orang munafik justru mengajak ber – tahkim kepada Ka’ab bin Asyraf. Kemudian turunlah ayat di atas, yang sebelumnya diawali ayat berikut : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;“ Apakah kamu tidak memperhatikan orang – orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sbelum kamu ? Mereka hendak bertahkim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut. “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt; ( QS an – Nisa’ [4] : 60 )&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;. Pendapat ini didukung Fakhruddin ar-Razi, Ibn ar-Rabi dan Ibnu Jarir ath-Thabari. Menurut ath-Thabari ayat ini masih dalam konteks kisah orang – orang yang diceritakan Allah SWT, mulai dari ayat 60. di samping itu, tidak ada dalalah (bukti) yang menunjukkan terputusnya kisah mereka. Menurut pendapat lain, ayat ini turun secara terpisah dengan ayat sebelumnya. Sabab nuzulnya berkenaan dengan perselisihan Zubayr bin al-‘Awwam dengan seorang laki – laki Anshar dalm hal pengairan kebun. Dalam kasus ini, Rasulullah SAW memutuskan agar air dialirkan ke kebun Zubayr lebih dulu, karena letak kebunnya lebih dekat aliran air. Laki – laki Anshar itu merasa keberatan dan berkata, “ Wahai Rasulullah, apakah karena ia anak pamanmu?” Mendengar perkataan itu, wajah Rasulullah SAW berubah lalu bersabda, “ Airilah kebunmu hai Zubayr, tahanlah hingga melampui pematangnya, kemudian alirkan ke tetanggamu.” Menurut Zubayr, ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut. Demikian riwayat Ahmad, Imam al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Nasa’i, Ibn Majah, Ibn Jarir, Ib Mundzir, Ibn Abi Hatim, Ibn Hibban dan al-Baihaqi. Sekalipun terdapat perbedaan pendapat tentang sabab an-nuzul-nya, ayat ini tidak hanya dikhususkan untuk orang munafik yang ber-tahkim kepada Ka’ab bin Asyraf atau laki-laki Anshar yang keberatan dengan keputusan Nabi SAW, ketika berselisih dengan Zubayr bin al-Awwam saja. Ayat ini berlaku umum, meliputi setiap orang dan mencakup setiap perkara, sebagaimana ditegaskan dalam ayat sebelumnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;(QS an-Nisa’ [4] : 64)&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;. Ini dilakukan pada saat Nabi SAW masih hidup. Sepeninggal beliau, tentu kaum Muslim harus ber-tahkim pada al-Quran dan as-Sunnah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ayat ini diawali dengan frasa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;fala warabbika&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;. Allah SWT bersumpah dengan Zat-Nya Yang Maha Suci, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;wa rabbika&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; (demi tuhanmu). disandarkannya kata rabb kepada  (Rasulullah SAW) sebagai bentuk &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;kaf al-khithabta’zhim&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; (penghormatan) kepada beliau. Sedangkan kata &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;la&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;, menurut ath-Thabari adalah untuk menafikan perkara yang disebutkan sebelumnya, sehingga maknanya, “ Perkaranya tidak seperti yang mereka dakwakan, bahwa mereka telah beriman pada apa yang diturunkan kepadamu, padahal mereka justru &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;ber-tahkim&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; kepada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;thaghut&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; dan berpaling darimu tatkala diseru kepadamu.” Berbeda dengan ath-Thabari,menurut ar-Razi dan az-Zamahsyari kata &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;la&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; dalam ayat tersebut merupakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;mazidah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; yang berfungsi untuk yang berfungsi untuk menegaskan makna sumpah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;(li ta’kid ma’na al-qasam)&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; dan mengagungkan perkara yang disumpahkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;(li ta’zhim al-muqsam bih).&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Untuk memperkuat argumentasinya mereka menunjukkan ayat-ayat lain seperti &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;QS al-Qiyamah : 1, QS al-Insyiqaq : 16&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; yang menggunakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;la mazidah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; untuk menegaskan makna &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;qasam&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; (sumpah). Oleh karena itu, frasa awal ayat itu dapat diartikan Sungguh, demi Tuhanmu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Setelah bersumpah dengan Zat-Nya Yang Maha Suci dan Maha Agung, lalu disampaikan jawab &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;al-qasam-nya&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;la’ yu’minu’na hatta’ yuhakkimuka fi’ ma’ syajara baynahum&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; (mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara apa saja yang mereka perselisihkan). Kata &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;hatta’&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; memberikan makna &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;gha’yah &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;(batas akhir). Itu berarti, mereka baru dapat dikategorikan sebagai Mukmin ketika mereka telah mengerjakan semua perbuatan yang disebutkan setelahnya (kata &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;hatta’&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;). Perbuatan tersebut adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;yuhakkimuka fi’ ma’ syajara baynahum&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;. Kata&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt; yuhakkimuka&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; berarti &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;yaj’aluka hakam[an]&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; (mereka menjadikan kamu sebagai hakim), sedangkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;fi’ ma’ syajara baynahum&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; berarti &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;fi’ ma’ ihktalatha baynahum&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; (dalam perkara apa saja yang mereka perselisihkan diantara mereka).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pada frasa ini Allah SWT menegaskan keimanan mereka sebelum mereka bersedia menjadikan Rasulullah SAW sebagai hakim yang memutuskan semua perkara mereka dan tidak mengangkat hakim selain beliau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Selanjutnya Allah SWT berfirman :  Menurut Mujahid, kata haraj bermakna &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tsumma la’ yajidu fi’ anfusihimharaj[an] mima’qadhayta.asy-syakk&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; (keraguan), karena orang yang ragu, dadanya akan terasa sempit dalam menjalankan perintahnya. Musafir lainnya menjelaskan bahwa kata &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;haraj&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; berarti &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;dhayyiq&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; (sesak atau sempit). Artinya, dada mereka tidak merasa sesak terhadap keputusan Rasulullah SAW dan mereka pun meresa ridha dengan keputusan beliau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Frasa ini memberikan syarat lanjutan bagi siapa pun yag ingin dikelompokkan sebagai Mukmin. Ia tidak hanya sanggup &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;ber-tahkim&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; kepada Rasulullah SAW, namun hatinya juga merasa yakin dan ridha dengan semua keputusan beliau SAW.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kemudian Allah SWT, berfirman : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;wa yusallimu taslim[an]&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;. Kata &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;yusallimu &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;berarti&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt; yanqadu wa yud’inu&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; (mereka tunduk dan patuh). Artinya, mereka tunduk dan patuh pada keputusanmu, tidak membantah sedikitpun, dan tidak menyelisihinya baik secara lahir maupun batin. Dengan ditambahkannya kata &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;taslum[an]&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; bentuk masdar yang berfungsi sebagai penguat ketundukan pada keputusan Rasulullah SAW itu harus benar-benar tulus dan total. Menurut az-Zuhayli, frasa ini masuk dalam tahap pelaksanaan. Kadang-kadang, ada seseorang yang menganggap benar sebuah hukum, tetapi dia menghindar untuk melaksanakannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Karena itu, seorang Mukmin tidak hanya harus ber-tahkim kepada Rasulullah SAW dan hatinya merasa puas dengan keputusan tersebut, namun juga harus tunduk dan patuh kepadanya yang diimplementasikan dalam bentuk perbuatan. Rasulullah Saw bersabda : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seseorang di antara kalian tidak beriman hingga hawa nafsunya mengikuti (risalah) yang aku bawa (HR. Muslim).     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Beberapa komentar dari para Ahli Tafsir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Mengomentari ayat ini, al-Jashash berkata, “ Ayat ini menunjukkan bahwa siapa pun yang menolak salah satu perintah Rasulullah SAW telah keluar dari Islam; sama saja apakah penolakan itu disebabkan karena ragu, tidak menerima atau menolak untuk tunduk. Inilah pendapat para sahabat yang sah ketika mereka menghukumi murtad orang yang menolak membayar zakat, membunuh mereka dan menawan tawanan mereka. Sebab, Allah SWT telah menetapkan bahwa siapa saja yang tidak menerima keputusan Nabi SAW dan hukumnya tidak termasuk &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;ahl al-iman&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sedangkan Ibnu Katsir menyatakan, “ Allah SWT bersumpah dengan Dirinya Yang Maha Mulia dan Maha Suci, bahwa seseorang tidak beriman hingga ia menjadikan Rasul sebagai hakim dalam semua perkara. Apa yang diputuskan olehnya adalah sebuah kebenaran yang wajib ditaati, baik lahir maupun batin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Berdasarkan uraian diatas, ayat ini menetapkan bahwa seseorang dapat dianggap telah beriman jika memenuhi tiga syarat :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;1.  Sanggup ber-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;tahkim&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; kepada Rasulullah SAW pada setiap perkara yang mereka hadapi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;2. Dadanya tidak ada rasa berat, sesak atau ragu terhadap semua keputusan Rasulullah SAW, sebaliknya hatinya merasa lapang dan ridha.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;3. Bersedia menerima, mentaati dan melaksanakan keputusan Rasulullah SAW tidak ada keinginan untuk membantah atau menolaknya sedikit pun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sunah Sebagai Sumber Hukum    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Taat kepada Rasulullah SAW merupakan sebuah kewajiban. Ditolaknya iman orang yang tidak mau menjadikan Rasulullah SAW sebagai hakim dalam urusan kehidupannya sebagaimana disebut ayat diatas merupakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;qarinah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; (indikasi) yang amat jelas tentang kewajiban tersebut. Menjadikan Rasulullah SAW sebagai hakim berarti menjadikan semua keputusan beliau sebagai acuan, standar dan parameter untuk menilai baik buruknya segala sesuatu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pada hakikatnya, menaati Rasulullah SAW sama halnya dengan menaati Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;QS an-Nisa : 64&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; (silahkan buka al-Qurannya). Perintah untuk mengikuti dan menaati Rasulullah SAW bertebaran dalam al-Quran, seperti : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;QS al-Hasyr : 7, QS al-Ahzab : 36, QS an-Nisa : 59, Qs an-Nur : 64, QS ali Imran : 31&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;. Semua ayat tersebut menunjukkan tentang wajibnya menaati seluruh risalah yang dibawa Rasulullah SAW. Karena yang dibawa beliau bukan hanya al-Quran, namun juga as-Sunnah, maka berdasarkan ayat-ayat tersebut, setiap Muslim juga wajib menjadikan as-Sunnah sebagai sumber hukum. Tidak boleh ada keraguan sedikitpun akan kebenaran as-Sunnah; baik dalam perkara akidah maupun syariat. Sebab, sebagaimana al-Quran, as-Sunnah juga berasal dari wahyu; Allah SWT berfirman dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;QS an-Najm : 3 – 4.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; (silahkan buka al-Qurannya).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Beberapa ayat lainyang senada dengannya adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;QS al-Anbiya : 45, QS Shad : 7, dan QS al-An’am : 50&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;. semuanya menunjukkan secara pasti bahwa yang diucapkan Rasulullah SAW adalah wahyu. Demikian pula perbuatan dan persetujuannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Bertolak dari dalil-dalil tersebut, wajib menjadikan Sunnah sebagai sumber hukum. Membatasi diri hanya pada al-Quran dan meninggalkan as-Sunnah merupakan kekufuran yang nyata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Tunduk Pada Syariat adalah Bukti Keimanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Ayat diatas juga mengungkapkan keterkaitan antara iman dan amal perbuatan. Memang, iman merupakan itikad qalbu. Karenanya, amal perbuatan tidak termasuk dalam cakupannya. Sebab, secara syar’i, iman berarti &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;at-tashdiq al-Jazim al-muthabiq li al-waqi ‘an dalil&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; (pembenaran yang pasti, yang bersesuaian dengan fakta dan bersumber dari dalil). Kendati demikian antara iman dan amal terdapat keterkaitan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Selain dalam beberapa ayat di atas, Allah SWT berfirman dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;QS an-Nisa : 59&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;. (silahkan buka al-Qurannya). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ungkapan in kuntum tu’minuna bi Allah wa al-yawm al-akhir (jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir) menunjukkan bahwa siapa pun yang tidak ber-tahkim kepada Kitab dan Sunnah tidak terkategori sebagai orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pada ayat berikutnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;QS an-Nisa : 60,&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; al-Quran mengecam sikap paradoks orang-orang yang mengaku mengimani al-Quran dan kitab-kitab sebelumnya, tetapi mereka justru ber-tahkim kepada thaghut, yakni hukum selain Islam. Di sinilah letak paradoksnya; bagaimana mungkin orang mengaku beriman pada kitab-kitab Allah SWT, namun ketika memutuskan perkara, mereka tidak mengembalikannya pada kitab Allah SWT, malah justru menggunakan hukum yang tidak bersumber darinya, yakni hukum thaghut ? Bukankah itu berarti terdapat kontradiksi antara ucapan dan kenyataan ? Oleh karena itu, pengakuan akan keimanan mereka pada Kitabullah dianggap sebagai pengakuan palsu. Al-Quran menyebutnya dengan yaz umuna. Menurut al-Layts, kata za’ama digunakan untuk orang yang diragukan, apakah ucapannya dusta atau benar. Menurut Ibnu Durayd, kata za’ama kebanyakan digunakan untuk menyatakan sesuatu yang batil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pada ayat selanjutnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;QS an-Nisa : 61&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;, al-Quran menyebut karakter orang munafik sebagai orang yang menolak dan menghalangi orang untuk berhukum dengan apa yang Allah SWT turunkan. Kalaupun ada ketentuan syariat yang mereka terima, itu bukan lantaran mereka yakin akan kebenarannya, namun semata-mata karena ketentuan syariat tersebut sejalan dengan kepentingannya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;(QS an-Nur : 49) &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;(silahkan buka al-Qurannya). Karakter kontradiktif dengan karakter orang Mukmin, Allah SWT berfirman dalam &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;QS an-Nur : 51&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; (silahkan buka al-Qurannya).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Walhasil, siapa pun anda, jika ingin terkategori sebagai Mukmin sejati, maka menerima dan menerapkan syariat-Nya secara total dalam kehidupan merupakan keniscayaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipjGC_zcYp6MAmtKpoXtU9x9PS-3JngbYbmBOiUVaN-ybI0RExtf5mwWi22q1gG6ehNVQEPBl6xoFKC-CREHTbLP161Ji_78B12h1-KyPEgq7DU_eYS5kzs4Qmv-Jgko4MfXSvqG_Jl3g/s72-c/BSMLH_B.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item><item><title>Promosi Komputer</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/03/promosi-komputer.html</link><category>Komputer</category><pubDate>Mon, 2 Mar 2009 08:03:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-6812590270349836761</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGVu_SOaipW33ThcYFA9opzejctE4SPu132PqMWJpqUzrDPU1A6ZmUqyujLJMe3s5LZIz5M7n7BW571IdpRF0TNPhrEUkwtrmVR0FFxwCO1y6AxBbBIDRwLWrn3R5y3NZjj3E3T4Dg_bY/s1600-h/HOPE_1507_15_LCD_display.summ.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 100px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGVu_SOaipW33ThcYFA9opzejctE4SPu132PqMWJpqUzrDPU1A6ZmUqyujLJMe3s5LZIz5M7n7BW571IdpRF0TNPhrEUkwtrmVR0FFxwCO1y6AxBbBIDRwLWrn3R5y3NZjj3E3T4Dg_bY/s320/HOPE_1507_15_LCD_display.summ.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308621867625105218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;HOPE 1507 15" LCD display &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Place of origin        : China&lt;br /&gt;Model No               : 1511&lt;br /&gt;Fob Price                : US$ 60~100 shenzhen&lt;br /&gt;Port                         : shenzhen&lt;br /&gt;Payment Terms    : L/C,T/T,Western Union&lt;br /&gt;Minimum Order Quantity    : 200 Piece/Pieces&lt;br /&gt;Supply Ability        : 30000 Piece/Pieces per Month&lt;br /&gt;Package                   : original package&lt;br /&gt;Delivery Time        : within 10 working days&lt;br /&gt;Brand Name           : HOPE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Features Specifications: HOPE 1507 15" LCD display&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Panel Size :15"&lt;br /&gt;* Pixel Pitch :0.297*0.297mm&lt;br /&gt;* Brightness :300cd/m²&lt;br /&gt;* Contrast Ratio :500:1&lt;br /&gt;* Horizontal Viewing :120(CR&gt;5)&lt;br /&gt;* Vertical Viewing :110(CR&gt;5)&lt;br /&gt;* Response Time :8(ms)&lt;br /&gt;* Horizontal Frequency(KHz) :30-60(KHz)&lt;br /&gt;* Vertical frequency(Hz) :30-60(KHz)&lt;br /&gt;* Standard Resolution :1024×768&lt;br /&gt;* Signal Input Resolution :RGB&lt;br /&gt;* Connecting :15pin D pattern plug&lt;br /&gt;* Surface Color :black&lt;br /&gt;* Consumption :35(standard)&lt;br /&gt;* Weight Net Weight(Kg) :3&lt;br /&gt;* Compatibility Compatibility :PC/MAC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpKJLcO2tipA_goBXF0wPVozsLlR8y-QnxpgHI-3WMApu_877xc6A-KGBN-FwQXt5E5-Hr8LNH9JZsDJu_U9NlXBS1F4VKawEoT9hk6BEKh7t_LM9JwqR7ETAyeVNu7OKN9KUTDjgY_fQ/s1600-h/104851471.summ.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 75px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpKJLcO2tipA_goBXF0wPVozsLlR8y-QnxpgHI-3WMApu_877xc6A-KGBN-FwQXt5E5-Hr8LNH9JZsDJu_U9NlXBS1F4VKawEoT9hk6BEKh7t_LM9JwqR7ETAyeVNu7OKN9KUTDjgY_fQ/s320/104851471.summ.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308626480483610226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;USB 2.0 Flash Drive&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KINGSTON Data Traveler USB Flash Drive,usb 2.0 flash drive, usb memory,flash usb&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Capacities - DTI/1GB,DTI/2GB, DTI/4GB, DTI/8GB, DTI/16GB,DTI/32GB,DTI/64GB :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;* Dimensions  -  2.64" x 0.80" x 0.35" (66.9mm x 20.4mm x 9.0mm)&lt;br /&gt;* Operating Temperature - 0° to 60° C / 32° to 140° F&lt;br /&gt;* Storage Temperature  - 20° - 85° C / -4° to 185° F&lt;br /&gt;* Compliant -  Designed to Hi-Speed USB 2.0 specifications&lt;br /&gt;* Convenient Pocket - sized for easy transportability&lt;br /&gt;* Simple - Just plug into a USB port&lt;br /&gt;* Practical -  Stores cap securely on end of device to prevent loss of cap&lt;br /&gt;* Guaranteed Five-year warranty&lt;br /&gt;* Fashionable - Available in multiple colors by capacity&lt;br /&gt;* Customizable Co-logo program available&lt;br /&gt;* Compatibility Table:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Gambar USB lainnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVBa9vAREeadNa44JYW0_f_F-Gwgu6oWsTAqUs6pVAKeCpdR7viH3dXE-wjw-D9s5vkz1KMNoGW00DHdtYDpqJIcKN4SC-Hl6wDYU1x-Dso5Uq1Q24OHSQBFsgvIIAVyvYvJdy64mcYbs/s1600-h/Cartoon_USB_flash_driver_USB_memory_USB_flash_HOT_SALE_.summ.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 100px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVBa9vAREeadNa44JYW0_f_F-Gwgu6oWsTAqUs6pVAKeCpdR7viH3dXE-wjw-D9s5vkz1KMNoGW00DHdtYDpqJIcKN4SC-Hl6wDYU1x-Dso5Uq1Q24OHSQBFsgvIIAVyvYvJdy64mcYbs/s320/Cartoon_USB_flash_driver_USB_memory_USB_flash_HOT_SALE_.summ.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308627544071168082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0RKSvqwDw7fFvMfnTQcfIgdtKOG2IupzfuIey5vvSIsB3UzjIs1wBEq55i4vIFq3r-C8x3Zk2eAdV7SzXm6FAfoxv9_CLsofJdq_RF1nUi5YoQ5qeEpYZOpLSBVTT0XNiuMJd9Ld4CUo/s1600-h/colour_diamond_usb_memory_MUFD_122_5.summ.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 100px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0RKSvqwDw7fFvMfnTQcfIgdtKOG2IupzfuIey5vvSIsB3UzjIs1wBEq55i4vIFq3r-C8x3Zk2eAdV7SzXm6FAfoxv9_CLsofJdq_RF1nUi5YoQ5qeEpYZOpLSBVTT0XNiuMJd9Ld4CUo/s320/colour_diamond_usb_memory_MUFD_122_5.summ.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308627648760271026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2V2j1De8aA1xQMuWaY-5M8yIgyy09p2TQjWHZNgfPL8ZPiGcTtujSqEEv-ErxiHzqEuXIbKuDMpOOx0ubp3XVP0a6pvLHYERBUpUavoItzbLYLzYVE3m-1ZBxZ-hC0cY0FiTuxF6cs-Q/s1600-h/On_Sale_Leather_USB_Flash_Drive_USB_Memory_Stick_DW_U_026_.summ.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 93px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2V2j1De8aA1xQMuWaY-5M8yIgyy09p2TQjWHZNgfPL8ZPiGcTtujSqEEv-ErxiHzqEuXIbKuDMpOOx0ubp3XVP0a6pvLHYERBUpUavoItzbLYLzYVE3m-1ZBxZ-hC0cY0FiTuxF6cs-Q/s320/On_Sale_Leather_USB_Flash_Drive_USB_Memory_Stick_DW_U_026_.summ.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308627793062827682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVHcgdk7UVzJGHSwsWCrqYcxU_Dc06AegPKkLg9EAta3r_CEzmKxwaTiI9nRVUMOegp_amSPBZEFRTZXaw-d3rkb5yz9T-WiuT6hOrX4lGo_rhPaYM2pZC2JQ7NkPxX1oaTvdEaaNl0lU/s1600-h/USB_DISK_MD_UB01_.summ.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 73px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVHcgdk7UVzJGHSwsWCrqYcxU_Dc06AegPKkLg9EAta3r_CEzmKxwaTiI9nRVUMOegp_amSPBZEFRTZXaw-d3rkb5yz9T-WiuT6hOrX4lGo_rhPaYM2pZC2JQ7NkPxX1oaTvdEaaNl0lU/s320/USB_DISK_MD_UB01_.summ.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308627948086896178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCk-Tr-dE_SC4PTA7rEz7-tT9ZmM5m2TlxIuxlmaSSHLcGQ3rFAqbNq1PqZMDwicZnDCAXGl6tZ0jtYzYwUmkRj4pRsz8nXgkJx7myqEoL2Sbjr5XXszBjA_ibMljrDQWRglfxSHiRTdY/s1600-h/Usb_Disk_Music.summ.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 82px; height: 100px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCk-Tr-dE_SC4PTA7rEz7-tT9ZmM5m2TlxIuxlmaSSHLcGQ3rFAqbNq1PqZMDwicZnDCAXGl6tZ0jtYzYwUmkRj4pRsz8nXgkJx7myqEoL2Sbjr5XXszBjA_ibMljrDQWRglfxSHiRTdY/s320/Usb_Disk_Music.summ.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308628085478977618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNurMr9aZAO_wETChuliyQodyoPSnJjLf-qH3uAgyV_YBgLcB_g-jqINpemvIfH1zFesIx3dyUp2_LDi5RBVAed6Mue2L_NYSaDxSVVUrp58aDK9s5D1MeLD6enlhH00r75hYDR6SWj70/s1600-h/USB_Flash_Drive.summ.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 100px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNurMr9aZAO_wETChuliyQodyoPSnJjLf-qH3uAgyV_YBgLcB_g-jqINpemvIfH1zFesIx3dyUp2_LDi5RBVAed6Mue2L_NYSaDxSVVUrp58aDK9s5D1MeLD6enlhH00r75hYDR6SWj70/s320/USB_Flash_Drive.summ.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308628225680887314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMu9NAd9gxJggeqY0M-Q3w67mMw_4R8Kvqco9aEbFt5EcsAuXYDjmPrplncnZztAkAMAJAGUQTXex4V3GxOgFJMjVtF3pRvtOt1XP5jYLM_3s5LVjUHj0SVn7yaw5Dqx_p-BZ2mfFM_XM/s1600-h/__summ.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 91px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMu9NAd9gxJggeqY0M-Q3w67mMw_4R8Kvqco9aEbFt5EcsAuXYDjmPrplncnZztAkAMAJAGUQTXex4V3GxOgFJMjVtF3pRvtOt1XP5jYLM_3s5LVjUHj0SVn7yaw5Dqx_p-BZ2mfFM_XM/s320/__summ.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308628376442770162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Hight Quality 2.0M pixels usb webcam &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Delivery Time :  5 Days&lt;br /&gt;Production Capacity  80000 Piece/Pieces per Month&lt;br /&gt;Place of origin: Shenzhen,China&lt;br /&gt;Model No: WT-19&lt;br /&gt;Payment Terms: T/T,Western Union&lt;br /&gt;Minimum Order Quantity: 100 Set/Sets&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Features Specifications: Hight Quality 2.0M pixels usb webcam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Camera Lens: VGA          Imaging: Digital&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Features :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1) 2 mega pixels (1600 x 1200) software supported resolution&lt;br /&gt;2) Smart face track&lt;br /&gt;3) 30 degree scan motion&lt;br /&gt;4) 1/4 HD CMOS VGA sensor&lt;br /&gt;5) 30 (CIF) and 15 (VGA) video stream rate per second&lt;br /&gt;6) 24 bit true color&lt;br /&gt;7) 10x digital zoom&lt;br /&gt;8) Wide angle lens 39V 51H 62D&lt;br /&gt;9) Focal ratio: (F) 2.0&lt;br /&gt;10) Automatic exposure control (light adjustment according to the natural light)&lt;br /&gt;11) Compatible with MSN messenger Yahoo messenger Skype ICQ soft wares&lt;br /&gt;12) Enables video record with DiVX format&lt;br /&gt;13) Built-in microphone (optional)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;14) Rotary headgear (in horizontal axis 3600 in vertical axis forward 300 backward 900)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;15) White balance and background light correction&lt;br /&gt;16) 8pcs LED (total 12 lux power)&lt;br /&gt;17) Brightness can be adjusted by rheostat on the cable&lt;br /&gt;18) Compatible with notebooks clips system&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Software features&lt;/span&gt; :&lt;br /&gt;1) English interface and software&lt;br /&gt;2) 2.0 English image software&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Enables 2 mega pixels photos enable video record with DiVX and serial recording with time setup option&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;4) Video chat and email&lt;br /&gt;5) 14 different picture effects and 9 different pictures for frames for your pictures&lt;br /&gt;6) Enables capturing images and transforming them into postcards&lt;br /&gt;7) Enables correction of upside down or sideways images&lt;br /&gt;8) VP-EYES picture and image software&lt;br /&gt;9) Minimum system requirements&lt;br /&gt; a) Intel Pentium III 500 processor&lt;br /&gt; b) 128 MB RAM&lt;br /&gt; c) 75MB free disc space&lt;br /&gt; d) Sound card with speakers&lt;br /&gt; e) USB interface&lt;br /&gt; f) CD-ROM&lt;br /&gt; g) Windows 98SE, Me 2000 or XP/Vsta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfI_fcAG1iEYGznxV7fHk1CfmYE4IZwMxeJlf3G0twmxMVW4II79n2WWkSE3YpnLCnahsIO21MabPTPpOfm6grDGsodywZYjiQXc_MP999XaQBIhuceA0tGPooJgPFr1roHjyn5rjithI/s1600-h/hard_drive_for_computer.summ.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 100px; height: 100px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfI_fcAG1iEYGznxV7fHk1CfmYE4IZwMxeJlf3G0twmxMVW4II79n2WWkSE3YpnLCnahsIO21MabPTPpOfm6grDGsodywZYjiQXc_MP999XaQBIhuceA0tGPooJgPFr1roHjyn5rjithI/s320/hard_drive_for_computer.summ.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308629492824747490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Hard drive for computer :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Features Specifications: hard drive for computer&lt;br /&gt;  * Mfr part number: WD1600AAJS&lt;br /&gt;  * Capacity: 160GB&lt;br /&gt;  * Rotational speed: 7,200rpm&lt;br /&gt;  * Cache: 8MB&lt;br /&gt;  * Interface: SATA 300&lt;br /&gt;  * Maximum external transfer rate: 300 MBps&lt;br /&gt;  * Seek time:&lt;br /&gt;        o Track to track: 2ms&lt;br /&gt;        o Average: 8.9ms&lt;br /&gt;        o Full stroke: 21ms&lt;br /&gt;  * Shock:&lt;br /&gt;        o Operating: 65G @ 2ms&lt;br /&gt;        o Non-operating: 300G @ 2ms&lt;br /&gt;  * Dimensions (W x L x H): 4 x 5.787 x 1.028 inches/101.6 x 147 x 26.1mm&lt;br /&gt;  * Weight: 1.32lbs/0.6kg</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhGVu_SOaipW33ThcYFA9opzejctE4SPu132PqMWJpqUzrDPU1A6ZmUqyujLJMe3s5LZIz5M7n7BW571IdpRF0TNPhrEUkwtrmVR0FFxwCO1y6AxBbBIDRwLWrn3R5y3NZjj3E3T4Dg_bY/s72-c/HOPE_1507_15_LCD_display.summ.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item><item><title>MENIMBANG KAIDAH SYARIAT : Ma La Yudraku Kulluhu La Yutraku Jalluhu</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/02/menimbang-kaidah-syariat-ma-la-yudraku.html</link><category>Tentang Pemilu</category><pubDate>Sat, 28 Feb 2009 08:46:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-2398262706334348500</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pada dasarnya kaidah syariat adalah setiap kaidah yang digali dari nash – nash syariat. Dengan demikian, status kaidah syariat sama dengan hukum syariat yang lain; sama – sama merupakan hukum yang digali dari dalil syariat dan melalui proses iktihad yang shahih. Disebut sebagai kaidah, karena hukum ini mempunyai posisi sebagai panduan umum, yang padanya hukum – hukum derivat ( turunan ) diurai dari kaidah tersebut. Meski demikian, perlu diberi catatan, bahwa kaidah syariat bukanlah dalil syariat dan tidak layak dijadikan sebagai dalil syariat. Yang dilakukan terhadap kaidah syariat adalah menderivasi ( menurunkan ) hukum – hukum cabang, yang notebane merupakan hukum derivat kaidah tersebut. Dari sinilah digunakan istilah tafri’at al – ahkam ( menderivasi hukum ) dan bukan istinbat al – ahkam ( menggali hukum ).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dilihat dari aspek khitab ( seruan ) – nya, lahir hukum syariat taklifi, seperti wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah; lahir pula hukum syariat wadh’i, seperti azimah, rukhshah, sabab, syarat, mani, sah, fasad dan batal. Dari aspek lafal yang menjadi sandaran hukum, misalnya hukum haram yang disandarkan pada lafal kulli, seperti al – wasilah ila al – haram muharramah, di sini hukum haram ( muharramah ) disandarkan pada lafal al – wasilah ila al – haram, yang notebane merupakan lafal kulli. Hukum yang disandarkan pada lafal kulli seperti ini disebut hukum kulli. Karena itu, kemudian muncul pembagian hukum kulli, ‘am dan khash. Karena panisbatan hukum pada lafal itu mempunyai konsekuensi adanya struktur lafal ( takrib ), sementara yang memenuhi kriteria seperti itu hanya ada dua, yaitu kaidah dan takrif, maka klasifikasi hukum dari aspek lafal yang menjadi sandaran hukum tersebut kemudian diklasifikasikan menjadi dua, yaitu kaidah syariat dan takrif syariat. Masing – masing kemudian bisa diklasifikasikan menjadi kaidah dan takrif syariat kulliyah dan ‘ammah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Meski demikian, semua hukum syariat tersebut baik yang dilihat dari aspek khitab-nya maupun lafal yang menjadi sandarannya tetap merupakan hukum yang harus digali dari dalil – dalil syariat melalui proses ijtihad yang shahih. Jika tidak, hukum tersebut akan kehilangan statusnya sebagai syariat. Karena itu, memahami dalail syariat dan proses penggalian hukum  dari dalil tersebut menjadi sangat penting untuk membuktikan bahwa hukum tersebut memang benar – benar merupakan hukum syariat. Sebagai contoh, kaidah Al – ‘ibrah fi al – ‘uqud li al – maqashid wa al - ma’ani wa la al - alfadz ( yang menjadi pijakan akad adalah maksud dan makna bukan lafal dan susunan kata ) jelasbukan merupakan kaidah syariat. Kaidah ini bertentangan dengan fakta akad yang merupakan ijab ( pengajuan ) dan qabul ( penerimaan ) yang notebane masing – masing merupakan tasharruf qawli ( aktivitas timbal balik secara lisan ). Dalam konteks tasharruf ( aktivitas timbal balik ) baik secara lisan ( qawli ) maupun verbal ( fi’il ) tidak diperlukan niat. Ini berbeda dengan amal yang bukan merupakan aksi timbal balik, seperti shalat, zakat, puasa dan haji. Jenis aktivitas ‘amal mengharuskan adanya niat sedangkan jenis aktivitas tasharruf tidak. Contohnya adalah akad. Karena itu, yang menjadi patokan dalam menilai akad bukan terletak pada niat atau maknanya, melainkan lafal dan redaksi akad tersebut. Di sisi lain dijadikannya niat atau maksud sebagai patokan dalam akad itu lebih karena pengaruh filsafat barat, yang mengenal apa yang disebut dengan spirit of law ( ruh hukum ), yang lahir dari tendensi spiritual ( naz’ah ruhiyah ). Inilah ketentuan umum tentang kaidah syariat sebagai bagian dari hukum syariat. Intinya, ia harus digali dari dalil syariat dan melalui ijtihad yang shahih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Kaidah ini di mata Ulama Fikih dan Ushul Fikih&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;“ Apa yang tidak bisa diraih semuanya, tidak boleh ditinggalkan semuanya “&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Jika kita menganalisis kitab – kitan klasik, baik fikih maupun ushul fikih bisa disimpulkan bahwa kaidah di atas bisa dikatakan jarang dipakai oleh para ulama fikih dan ushul. Kebanyakan ulama fikih dan ushul justru menggunakan kaidah : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;“ Perkara yang mudah ( bisa dikerjakan ),&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; tidak bisa dianggap gugur kewajibannya. Karena&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; adanya perkara yang sulit ( tidak bisa dikerjakan ) “&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Meski kedua kaidah dengan redaksi yang berbeda ini konotasinya sama, sebagaimana kedua – duanya tel;ah digunakan oleh Dr. Muhammad Khayr Haykal dalam disertasi doktoralnya. Al – jihad wa al – Qital fi as – Siyasah as – Syar’iyyah, kaidah kedualah yang lebih populer di kalangan ulama ushul mtaakhir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dalam kitab – kitab klasik dan mutaakhir, kita akan menemukan kaidah ini, masing – masing dalam kitab Awn – al – Ma’bud, karya Abu Thayyib dan kitab Abjad al – Ulum, karya Shadiq al – Qanuji ( w. 1307 ) meski keduanya tidak dalam konteks menguraikan kaidah tersebut. Sedangkan kaidah kedua banyak digunakan oleh ulama fikih ushul klasik, antara lain, al – ibhaj karya as – Subki ( w. 756 H ), al – Asybah wa an – Nadha’ir karya as – Suyuthi ( w. 911 H ) dan lai – lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ditilik dari maknanya, keduanya mempunyai persamaan maksud, meski demikian dengan konteks redaksional yang berbeda. Masing – masing menjelaskan hukum melaksanakan kewajiban syariat, bahwa hukum melaksanakan kewajiban adalah wajib, dan kewajiban itu tetap wajib dilaksanakan meski kewajiban itu merupakan perkara yang ma’sur ( sukar ). Sebab, sukarnya kewajiban tersebut tidak bisa menggugurkan kewajiban secara keseluruhan, termasuk yang bisa dilaksanakan ( al – maysur ). Dari sinilah, konteks kaidah ma la yudraku kulluhu la yutraku jalluhu ( apa yang tidak bisa diraih semuanya, tidak boleh ditinggalkan semuanya )menemukan persamaannya dengan kaidah al – maysur di atas. Artinya, tidak mungkinnya suatu kewajiban untuk dilaksanakan secara keseluruhan tidak berarti semuanya menjadi tidak wajib atau boleh ditinggalkan.Akan tetapi, mana yang mungkin itulah yang harsu dilaksanakan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Menurut as – Suyuthi, kaidah di atas digali dari Hadis Nabi SAW, yang mengatakan : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;“ Jika aku memerintahkan kepada kalian suatu urusan, tunaikanlah urusan itu sesuai dengan kemampuan kalian, “.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hanya saja, konteks ma-statha’tum ( sesuai dengan kemampuan kalian), mengindikasikan adanya aqsha al-istitha’ah ( kemampuan yang paling tinggi ) dan bukan semampunya. Misalnya, jika seseorang mempunyai kemampuan 10, maka tidak dikatakan ma’statha’tum, ketika dia menunaikan perintah tersebut hanya dengan kemampuan 8 atau 9. baru ketika dia menunaikannya dengan kemampuan 10, bisa dikatakan bahwa dia telah menunaikan perintah tersebut sesuai dengan kualifikasi ma-statha’tum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Dari Lingkup Kaidah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dilihat dari aspek lafal yang menjadi sandaran hukum pelaksanaan kewajiban tersebut, maka baik ma la yudraku kulluhu la yutraku jalluhu ataupun al – maysur la yasquthu bi al – ma’sur, yang notebane merupakan lafal kulli, bisa disimpulkan bahwa kaidah tersebut merupakan kaidah kulliyah. Karena itu, kaidah ini meliputi banyak aspek. Bahkan, kaidah ini disebut – sebut oleh ulama ushul sebagai persoalan ushul yang sangat luas, yang nyaris tidak pernah dilupakan. Kaidah ini bisa digunakan dalam konteks ibadah. Misalnya, ketika seseorang dipenjara, sementara didalamnya tidak tersedia air dan juga tidak ada debu yang suci, maka ketika tiba waktunya shalat, orang tersebut tetap wajib menunaikan shalat, meski tanpa wudhu dan tayamum. Sebab, tidak bisa dilakukannya wudhu dan tayamum di dalam penjara itu pada dasarnya tetap tidak bisa menggugurkan kewajiban shalat orang tersebut. Sama dengan ketika seseorang yang baru masuk Islam yang notebane belum menguasai bacaan shalat, mulai dari takbir, al – Fatihah hingga doa – doa yang harus dibaca di dalamnya tidak berarti orang tersebut tidak wajib mengerjakan shalat. Sebaliknya, dia tetap wajib menunaikan kewajiban tersebut, meski untuk itu dia harus di talqin ( dipandu ) oleh orang lain. Kaidah ini juga bisa digunakan dalam konteks lain. Ketika Rasulullah SAW dan kaum Muslim tengah menghadapi pasukan koalisi musuh yang jumlahnya sangat besar dalam Perang Khandak, beliau menyadari bahwa pasukan beliau tidak mampu mengalahkan mereka. Namun, tidak berarti bahwa mereka juga diperbolehkan untuk menyerah kepada pasukan koalisi musuh. Dalam situasi seperti iini, yang mungkin bagi Rasul sebagai panglima perang dan kepala negara Islam ketika itu, adalah melakukan perjanjian damai. Sebab, melakukan perjanjian damai ini masih mungkin dilakukan. Karena itu, kemungkinan ini tetap wajib dilaksanakan. Pada titik inilah kaidah : al – maysur la yusquthu ( perkara yang mudah [ bisa dikerjakan ] tidak bisa dianggap gugur kewajibannya karena adanya perkara yang sulit [ tidak bisa dilakukan ] ), atau kaidah : ma la yudraku kulluhu la yutraku jalluhu ( yang tidak bisa diraih semuanya, tidak boleh ditinggalkan semuanya) bisa dipraktikkan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ini berbeda dengan status perjanijian damai yang dilakukan oleh otoritas Palestina dengan etnis yahudi, yang pernah difatwakan kebolehannya dengan justifikasi kaidah ma la yudraku kulluhu la yutraku jalluhu. Penggunaan kaidah tersebut dalam konteks seperti ini jelas batil. Alasannya, karena baik otoritas Palestina maupun negeri – negeri Muslim di sekitarnya yang notebane terkena kewajiban berjihad untuk melawan Israel tidak pernah melakukan usaha untuk meraih semuanya, yaitu terbebasnya wilayah Palestina dari cengkraman yahudi dan hilangnya entitas yahudi dari wilayah tersebut. Sejak awal para penguasa tidak pernah mempersoalkan keberadaan entitas yahudi di bumi Palestina. Padahal, inilah masalah utmanya, bukan persoalan perbatasan atau yang lain. Ini merupakan bukti yang nyata, bahwa usaha untuk menyelesaikan krisis Palestina tersebut memang tidak pernah dilakukan dengan sungguh – sungguh. Lalu, bagaimana mungkin bisa dikatakan, ma la yudraku kulluhu la yutraku jalluhu...?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dalam konteks dakwah, kewajiban dakwah ini harus dilakukan secara maksimal ( aqsha al – istitha’ah ), sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW. setelah dilakukan secara maksimal, ternyata belum berhasil meraih tujuan, yaitu isti’naf al – hayah al - Islamiyyah ( melangsungkan kembali kehidupan Islam ), justru sebaliknya para pengembannya mendapatkan berbagi ujian, baik teror, penyiksaan fisik, eliminasi maupun yang lain, sehingga kewajiban tersebut menjadi stagnan. Karena itu, thalab an – nushrah dalam konteks seperti ini merupakan bagian dari kewajiban yang bisa dilakukan sehingga secara keseluruhan dakwah tetap bisa dilaksanakan. Artinya, thalab an – nushrah dalam konteks seperti ini merupakan perkara yang bisa dilaksanakan ( al – maysur ) makanya harus dilakukan baik untuk melindungi dakwah ( himayah ad – da’wah ) maupun untuk mendapatkan kekuasaan ( istilam al – hukm). Pada titik ini, melakukan thalab an – nushrah, selain merupakan kewajiban, yang dicontohkan oleh Rasul juga merupakan implementasi dari kaidah al – maysur la yusqutu bi al – ma’sur atau kaidah ma la yudraku kulluhu la yutraku jalluhu. Sebaliknya, berbagai kompromi dengan sistem kufur dan para pengembannya yang dilakukan pada titik kritis seperti ini tetap tidak bisa dijustifikasi dengan kaidah tersebut. Sebab, konteks al – maysur maupun la yutraku jalluhu sama – sama berkaitan dengan sesuatu yang menjadi bagian dari kewajiban yang ditunaikan, atau apa saja yang terkait langsung dengan pelaksanaanya. Sebaliknya, perkara yang justru bertentangan dengan kewajiban tersebut, seperti kompromi dengan sistem kufur dan para pengembannya jelas out of context. Karena itu, tetap tidak bisa dijustifikasi dengan kaidah ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dalam kasus pemilu, Islam memandang bahwa pemilu merupakan perkara yang mubah, dan tidak wajib. Sebab, pemilu merupakan salah satu uslub ( cara ) untuk memilih wakil, dan bukan thariqah ( metode ). Dalil kemubahannya adalah perbuatan RasulSAw, ketika meminta kaum Anshar untuk memilih 12 wakil dari kalangan meeka. Namun, setelah itu Rasul tidak pernah melakukannya lagi. Karena itu, hukum asal pemilu tetap mubah. Jika kemubahan ini terkait langsung dengan pelaksanaan kewajiban, yaitu melakukan perubahan sistem, dari sistem kufur menjadi sistem Islam, maka konteks kaidah al – maysur la yasquthu bi al – ma’sur atau kaidah ma la yudraku kulluhu la yutraku jalluhu bisa digunakan. Sebaliknya, jika kemubahan ini terkait langsung atau bahkan bertentangan dengan kewajiban yang hendak ditegakkan maka kaidah tersebut jelas tidak bisa digunakan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dari paparan di atas bisa disimpulkan, bahwa kaidah “ ma la yudraku kulluhu la yutraku jalluhu “ adalah kaidah kulliyah, yang bisa digunakan dalam berbagai konteks ditunaikannya kewajiban. Hanya saja, ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;a.    Konteks ma la yudraku kulluhu bisa dilakukan jika memang ada usaha yang dilakukan secara sungguh – sungguh untuk meraih seluruh kewajiban yang diperintahkan. Sebaliknya jika tidak ada usaha untuk meraih kewajiban yang diperinyahkan denagn sungguh – sungguh maka tidak bisa digunakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;b.    Konteks “ tidak bisa meraih semuanya “ adalah meraih semua kewajiban, misalnya ada satu kewajiban yang memiliki 10 poin, namun dalam pelaksanaannya karena berbagai kesulitan yang ada ke – 10 poin tersebut tidak bisa diraih semuanya, maka tidak berarti semuanya harus ditinggalkan. Yang bisa diraih itulah yang harus dilaksanakan. Inilah yang dimaksud dengan la yutraku jalluhu atau al – maysur. Karena itu, konteks “ yang bisa dilaksanakan “ merupakan bagian dari konteks “ yang tidak bisa dilaksanakan “ yaitu sama – sama merupakan perkara yang asalnya diwajibkan. Itu artinya, apa yang berada di luar konteks kewajiban tersebut tidak bisa dimasukkan dalam konteks ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;c.    Batasan ma la yudraku kulluhu atau al – ma’sur itu bisa ditentukan setelah kewajiban tersebut dilakukan. Sebelum kewajiban tersebut dilakukan tentu tidak bisa dikatakan tidak mungkin dan tidak bisa dilaksanakan. Ikhtiar untuk melaksanakannya pun harus maksimal, tidak boleh setengah – setengah. Dengan kata lain, harus aqsha al – wus’i ( potensi paling tinggi ) atau aqsha al – istitha’ah ( kemampuan paling tinggi ). Jika mempunyai potensi atau kemampuan 10, maka harus diberikan 10 untuk menunaikan kewajiban tersebut, sehingga baru layak disebut aqsha al – wus’i atau aqsha al – istitha’ah. Jika kemampuan 10 tapi yang diberikan hanya 5, 8 atau 9,5 maka dalam hal ini belum layak disebut aqsha al – wus’i atau aqsha al – istitha’ah. Setelah memberikan 10 ternyata masih belum bisa menjangkau pelaksanaan seluruh kewajiban tersebut, maka mana di antara kewajiban tersebut yang bisa dijangkau itulah yang harus dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Inilah beberapa ketentuan yang harus diperhatikan dalam menggunakan kaidah ma la yudraku kulluhu tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Wallahu a’lam bi ash – shawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;Daftar pustaka :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;1.    Ali Raghib, Ahkam as –Shalah, Dar an – Nadhah al – Islamiyyah, Beirut, cet. I, 1991, hlm. 8.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;2.    An – Nabhani, as - Syakhshiyyah al – Islamiyyah, juz III, hlm. 445.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;3.    Muhammad Khayr Haykal, al – jihad wa al – Qital fi as – Siyasah as – Syar’iyyah, Dar al –     Bayariq, Beirut, cet II, 1996, juz I, hlm. 735.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;4.    Abu Thayyib, ‘Awn al – Ma’bud, Dar al – Kutub al – Ilmiyyah, Beirut, cet. II, 1415, juz X, hlm. 233.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;5.    Shadiq al – Qanuji, Abjad al – ‘Ulum, Dar al – Kutub al – Ilmiyyah, Beirut, 1978, juz III, hlm. 267. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;6.    Abd al – Kafi as – Subki, al – Ibhaj, Dar al – Kutub al – Ilmiyyah, Beirut, cet. I, 1404, juz I, hlm. 118.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;7.    As – Suyuthi, al – Asybah wa an – Nadha’ir, Dar al – Kutub al – Ilmiyyah, Beirut, cet. I, 1403, hlm. 159.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;8.    HR al – Bukhari dan Muslim, Lihat : al – Asqalani, Fath al – Bari, Dar al – Ma’rifah, Beirut, 1379, juz XIII, hlm. 261; as – Suyuthi, al – Asybah, hlm. 159.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;9.    As – Suyuthi, al – Asybah, hlm. 159; al – Hadhrami, Idhah al – Qawa’id, al – Haramayn li at – thiba’ah, t.t., hlm. 91.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item><item><title>MENJUAL  AYAT – AYAT ALLOH  SWT</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/02/menjual-ayat-ayat-alloh-swt.html</link><category>Tentang Pemilu</category><pubDate>Wed, 25 Feb 2009 04:23:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-1580106893803881496</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpLQ8IHknRfO3MUp87COUWSZOSA-SPfxzKTAt1lr6DIFDxhAxlFhA_oq7YFd-8QM5EUcB-BfIYBdl3KdeBcB1rB74H1EvX0O-3MPZFIQulmAiLf7W117_UFSHU8x93r6afbr1nvrogJAI/s1600-h/BSMLH_B.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 252px; height: 79px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpLQ8IHknRfO3MUp87COUWSZOSA-SPfxzKTAt1lr6DIFDxhAxlFhA_oq7YFd-8QM5EUcB-BfIYBdl3KdeBcB1rB74H1EvX0O-3MPZFIQulmAiLf7W117_UFSHU8x93r6afbr1nvrogJAI/s200/BSMLH_B.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306711004783973986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tafsir Surat at – Taubah [9] – 9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;“ Mereka menukarkan ayat – ayat Alloh dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi ( manusia ) dari jalan Alloh.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Makna Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Surat at – Taubah ayat 9 ini merupakan gambaran kaum musyrik, yang biasa menukarkan ayat – ayat Alloh SWT dengan harga yang rendah. Mereka memutarbalikkan ayat – ayat tersebut hanya untuk mendapatkan kepentingan dunia, baik berupa kekuasaan, kepemimpinan, maupun harta dengan cara menghalangi manusia untuk beriman sehingga loyalitasnya tetap untuk mereka. Sekalipun objek ayat ini adalah kaum musyrik, adanya penyifatan “ Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan, “ menunjukkan bahwa siapapun orang yang melakukan perbuatan tersebut berarti melakukan perbuatan yang paling buruk, yang tentu saja diharamkan.&lt;br /&gt;Keharaman menjual ayat – ayat Alloh dengan harga murah ini ditegaskan oleh qara’in ( indikasi – indikasi ) dalam banyak ayat. Di antaranya, mereka yang melakukan hal tersebut berarti melakukan perbuatan amat buruk ( QS Ali Imran [3] : 187 dan at – Taubah [9] : 9); mereka celaka ( QS al – Baqarah [2] : 79); membeli kesesatan dengan petunjuk; membeli siksa dengan ampunan ( QS al – Baqarah [2] : 174 – 175 ). Semua ini secara tegas menunjukkan keharaman perbuatan tersebut. Lebih jauh, pengertian menjual ayat – ayat Alloh SWT dengan harga murah ini dijelaskan dalam ayat – ayat lain.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt; menulis al – Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu menyatakan, “ ini dari Alloh, “ padahal bukan. ( Lihat QS al – Baqarah [2] : 79 ). Mereka memutar – mutar lidahnya membaca al – Kitab dan membuat – buat legalisasi seakan apa yang diungkapkannya adalah wahyu, padahal itu berasal dari logika mereka sendiri ( QS Ali Imran [3] : 77 – 88 ).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; menyembunyikan ayat Alloh. ( Lihat QS al – Baqarah [2] : 174 – 175 ). Mereka membeli kesesatan dengan petunjuk, membeli siksa dengan ampunan. Alloh mengambil janji untuk menerangkan isi Kitab dan tidak menyembunyikannya. Akan tetapi, mereka melemparkan janji itu dan menukarkannya dengan harga sedikit. ( QS Ali Imran [3] : 187 ).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt; orang – orang yang beriman kepada Alloh dan pada wahyu yang diturunkan kepada para nabi apa adanya, mereka itu orang yang tidak menjual ayat – ayat Alloh dengan harga murah. Mereka tidak terpedaya oleh kelancaran dan kemajuan dalam perdagangan dan perusahaan orang kafir. Artinya, perbuatan tidak mengimaninya merupakan tindakan menjual ayat – ayat Alloh dengan harga murah ( Lihat QS Ali Imran [3] : 196 – 199 ).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keempat,&lt;/span&gt; tidak menghukumi setiap perkara dengan ayat – ayat Alloh SWT dan menggantinya dengan yang lain karena takut kepada manusia. ( Lihat QS al – Maidah [5] : 44 ). Penyebab sebenarnya orang yang menukar ayat Alloh dengan harga murah adalah :&lt;br /&gt;(1)    lebih takut kepada manusia daripada kepada Alloh SWT ( Lihat QS al – Maidah [5] : 44 );&lt;br /&gt;(2)    untuk kepentingan orang lain ( Lihat QS al – Maidah [5] : 106 ); dan puncaknya&lt;br /&gt;(3)    untuk menghalang – halangi manusia dari jalan Alloh SWT ( Lihat QS at – Taubah [9] : 9 ). Walhasil, semuanya ditujukan semata – mata untuk kepentingan dunia.&lt;br /&gt;Larangan menjual atau menukarkan ayat – ayat Alloh SWT dengan harga sedikit tidak bisa dipahami sebagai ‘ kalau harganya mahal adalah boleh ‘. Sebab, sekalipun perbuatannya itu dihargai dengan seluruh dunia dan segala isinya, semua itu tetap sedikit. Dunia dengan segala kesenangannya hanyalah seonggok perhiasaan yang penuh tipuan.. apa yang ada di dunia akan lenyap sementara apa yang ada pada sisi Alloh kekal ( QS an – Nahl [16] : 96 ). Dunia tidak ada artinya apa – apa jika dibandingkan dengan ampunan dan ridha Alloh SWT yang salah satu wujudnya adalah surga yang luasnya seluas langit dan bumi ( QS Ali Imram [3] : 133 ). Kunci agar seseorang tidak terjerumus ke dalam tindakan menjual ayat – ayat Alloh dengan harga murah adalah betul – betul bertaqwa kepada Alloh SWT. ( QS al – Baqarah [2] : 41 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Pendapat Para Ahli Tafsir  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian surat at – Taubah [9] : 9 ini akan lebih dapat dipahami dengan menyandingkannya dengan ayat berikut (QS al – Baqarah [2] : 41 ) : silahkan buka al – Qurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;1.    Tafsir Jalalain’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;QS at – Taubah [9] : 9 : &lt;/span&gt;Mereka menjual ayat – ayat Alloh, al – Quran, dengan harga murah, berupa dunia ini. Artinya, mereka meninggalkan mengikuti ayat – ayat tersebut demi keinginan dan hawa nafsu. Lalu, mereka menghalan – halangi manusia dari jalan Alloh, din – Nya. Sesungguhnya itu adalah seburuk – buruk apa yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;QS al – Baqarah [2] : 41 :&lt;/span&gt; Berimanlah pada apa yang Aku turunkan, yakni al – Quran, yang membenarkan apa yang ada pada kalian, yaitu Taurat, karena kesesuaian al – Quran tersebut dengan Taurat dalam hal tauhid dan kenabian. Janganlah kalian menjadi orang yang pertama kafir padanya dari kalangan Ahlul Kitab, karena orang – orang sesudah kalian yang mengikuti kalian maka dosa mereka akan menimpa kalian. Janganlah kalian menjual – yakni mengganti ayat – ayat – Ku yang terdapat dalam kitab kalian berupa sifat Nabi Muhammad SAW., dengan harga yang sedikit, yaitu dengan perhiasan dunia yang sangat kecil. Artinya, janganlah kalian menyembunyikan ayat – ayat tersebut karena takut kehilangan apa yang kalian ambil dari kalangan bawah kalian. Hanya kepada Akulah kalian harus bertaqwa, yakni takutlah hanya kepada – Ku dalam hal tersebut, bukan pada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:100%;" &gt;2.    Tafsir al – Qurthubi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;QS at – Taubah [9] : 9 : &lt;/span&gt;Mereka mengganti ayat – ayat Alloh, al – Quran, demi perhiasan dunia. Lalu mereka menghalang – halangi manusia dari jalan Alloh. Mereka menjual ayat – ayat dengan harga murah, artinya, Yahudi menjual hujah – hujah Alloh dan penjelasan – Nya demi mendapatkan kepemimpinan ( riyasah ) dan mendapatkan banyak materi. Mereka itulah orang – orang yang melampaui batas, maksudnya melampaui halal – haram, dengan memutuskan perjanjian.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;QS al – Baqarah [2] : 41 :&lt;/span&gt; Kalimat janganlah kalian menjual ( wa la tasytaru ) merupakan ma’thuf bagi kalimat dan janganlah kalian menjadi orang kafir pertama ( wa la takunu... ) Dia  melarang mereka kafir dan mengambil harga atas ayat – ayat Alloh, yakni dengan mengubah sifat – sifat Muhammad SAW. Dulu para pendeta melakukan hal tersebut, maka mereka dilarang melakukannya. Ada juga yang mengatakan “ Janganlah kalian menjual....., “ artinya, Janganlah kalian menjual perintah – perintah – Ku, dan ayat – ayat – Ku dengan harga yang kecil; yakni dunia, keluasannya dan kehidupannya yang memang sedikit ( nazrun ) karena bahaya yang dikandungnya. Apa yang mereka tukarkan tersebut disebut harga ( tsaman ) karena mereka menjadikannya sebagai imbalan ( iwadh ). Karena itu, istilah harga diterapkan padanya sekalipun sebenarnya bukanlah harga. Sekalipun ayat ini khusus bagi bani Israil, ayat ini mencakup siapapun yang mengerjakan perbuatan mereka. Karena itu, siapa saja yang mengambil sogokan ( risywah ) untuk mengubah kebenaran, menyatakan batil suatu kebenaran, menolak mengajarkan apa yang wajib dia ajarkan, menolak melakukan apa yang ia ketahui, ia masuk kedalam topik ayat tersebut. Wallahu a’alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:100%;" &gt;3.    Tafsir Ath – Thabari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;QS at – Taubah [9] : 9 : &lt;/span&gt;Alloh, Zat Yang Maha Gagah Lagi Maha Terpuji, menyatakan bahwa mereka ( orang – orang musyrik ) yang Alloh menyuruh kalian, wahai kaum mukmin, untuk membunuh mereka dimana pun kalian temui mereka, karena mereka tidak mengikuti apa yang dihujahkan oleh Alloh  SWT atas mereka – menjual hujah – hujah yang jelas dengan imbalan yang sedikit dari perhiasan dunia ini. Mereka adalah orang – orang yang memutuskan perjanjian dengan Rasul SAW. adapun pernyataan., “ Alau mereka menghalang – halangi manusia dari jalan Alloh, “ maknanya adalah, “ mereka menghalangi masyarakat masuk ke dalam Islam dan berupaya mengembalikan kaum Muslim dari agama mereka tersebut. “ Dalam kalimat, “ sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu, “ Alloh, Zat Yang Maha Perkasa Lagi Maha Terpuji menyatakan bahwa mereka kaum musyrik yang sifat – sifatnya telah dijelaskan itu amatlah buruk perbuatannya, yaitu perbuatan mereka membeli kekufuran dengan iman dan membeli kesesatan dengan petunjuk serta menghalang – halangi orang – orang yang beriman kepada Alloh dan Rasul – Nya itu dan orang – orang yang hendak menjadi beriman.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;QS al – Baqarah [2] : 41 :&lt;/span&gt; Abu ‘Aliyah mengatakan, makna kalimat, “ Janganlah kalian menjual ayat – ayat – Ku dengan harga sedikit, “ adalah, “ Janganlah kalian mengambil upah atas ayat – ayat tersebut. “ Sementara itu, As – Sudaymenyebutkan makna ‘ harga sedikit ‘ adalah, “ Janganlah kalian mengambil harga ( tham’an, tsaman ) sedikit dengan menyembunyikan nama Alloh. Jadi, takwil dari ayat tersebut adalah janganlah kalian menjual ilmu yang telah Aku berikan kepada kalian dalam kitab – Ku dan ayat – ayat – Ku dengan harga yang sangat murah dan perhiasan dunia yang sedikit. Penjualan mereka seperti itu berarti mereka meninggalkan keterangan yang ada dalam kitab mereka tentang Nabi Muhammad SAW bagi masyarakat, padahal di dalam kitab itu disebutkan bahwa beliau adalah nabi yang ummi, baik dalam Taurat maupun Injil. Penjualan dilakukan dengan harga murah, yaitu berupa kesukaan mereka untuk mendapatkan kepemimpinan dari golongan dan agama mereka, dan mereka pun mendapatkan imbalan atas apa yang mereka jelaskan kepada masyarakat itu.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;4.    Tafsir Ibnu Katsir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;QS at – Taubah [9] : 9 :&lt;/span&gt; Alloh, Zat Yang Maha Tinggi, berfirman sebagai celaan terhadap kaum musyrikin dan anjuran bagi kaum Mukmin untuk memerangi mereka: “ Mereka menjual ayat – ayat Alloh dengan harga sedikit, “ Artinya, mereka menolak mengikuti ayat – ayat Alloh karena digelincirkan oleh urusan – urusan dunia yang rendah. “ Lalu mereka menghalang – halangi dari jalan – Nya, “ yakni mereka menghalangi kaum Mukmin untuk mengikuti kebenaran ( Al – Haq ). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;QS al – Baqarah [2] : 41 :&lt;/span&gt; Adapun pernyataan, “ Janganlah kalian menjual ayat – ayat Alloh dengan harga sedikit, “ artinya janganlah kalian menukar keimanan kepada ayat – ayat – Ku dan pembenaran atas Rasul – Ku ini dengan dunia dan segala daya tariknya. Sebab, semua itu sedikit lagi fana. Sebagaimana yang disebutkan oleh al – Hasan al – Bashri, ‘ harga sedikit ‘ maknanya adalah dunia dan segala isinya, sedangkan menurut Sa’ad bin Jubair, ‘ dunia dan segala daya tariknya’. Berkenaan dengan firman Alloh, “ Hanya kepada – Ku – lah hendaknya kalian bertaqwa, “ arti taqwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Alloh dengan mengharap rahmat Alloh di atas cahaya Alloh serta meninggalkan kemaksiatan kepada – Nya di atas cahaya – Nya karena takut akan siksaan – Nya. Kalimat tersebut juga berarti bahwa Alloh SWT mengancam mereka atas kesengajaan mereka menyembunyikan kebenaran dan memunculkan hal – hal yang bertentangan dengan kebenaran tersebut serta menyalahi Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;Renungan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman menunjukkan bahwa pada saat – saat pemilihan umum ( Pemilu ) sering ayat – ayat al – Quran disajikan. Jika penyajian tersebut dalam rangka menjelaskan hukum dan upaya untuk memperjuangkannya untuk diterapkan di tengah kehidupan, maka hal tersebut merupakan tuntutan Islam. Akan tetapi, sayangnya, banyak ayat – ayat tersebut sekedar untuk meraih dukungan, disajikan dalam konteks perolehan suara, dan setelah itu selesailah sudah.&lt;br /&gt;Keluarlah ayat bahwa kalimat yang baik laksana pohon yang baik ( seperti disitir dalam QS Ibrahim [14] : 24 ) untuk mempromosikan lambang partainya yang berbentuk pohon. Diungkaplah pernyataan umat Nabi Musa as dalam QS al – Maidah [5] : 24, “ Pergilah engkau bersama Tuhanmu, berperanglah kalian berdua, kami di sini cukup duduk saja, “ untuk melegalisasi keikut sertaan dalam sistem kufur dan menyindir orang yang tidak mau terlibat dalam sistem tersebut ( GOLPUT). Juga, dieksploitasilah ayat – ayat syura ( seperti dalam QS Ali Imran [3] : 159 dan QS asy – Syura [42] : 38 ) dengan menyatakan bahwa syura adalah demokrasi – dalam rangka melegalkan sistem demokrasi dan meraih dukungan bagi partainya. Banyak lagi ayat – ayat al – Quran yang bertebaran saat Pemilu, yang sayangnya jauh dari pengertian sesungguhnya dan tampak dipaksakan hanya sekedar untuk meraih dukungan.&lt;br /&gt;Wahai kaum Muslim, waspadalah, jangan sampai terjerumus pada kategori, “ menjual ayat – ayat Alloh dengan harga murah !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Daftar pustaka:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1.    Al – Alamah Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al – Mahalliy dan Asy Syaikh al – Mutabahhir Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar as – Suyuthi, Tafsir Jalalain.  t.t.. Dar al – Hadist, Kairo. Jilid 1, hlm. 241.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2.    Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farah al – Qurthubiy Abu Abdillah, Tafsir al – Qurthubi, 1372 H. Dar asy – Sya’bi, Kairo. Jilid 8, hlm. 80 dan Juz I, hlm. 334 – 335.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3.    Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid ath – Thabari Abu Ja’far, Tafsir ath – Thabari. 1405 H. Dar al Fikr, Beirut. Jilid 10, hlm. 86 dan Jilid I, hlm. 253.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;4.    Isma’il bin Umar bin Katsir ad – Dimsyaqi Abu Fida, Tafsir Ibnu Katsir. 1401 H. Dar al Fikr, Beirut. Jilid IV, hlm. 341 dan Jilid I, hlm. 107 – 108.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpLQ8IHknRfO3MUp87COUWSZOSA-SPfxzKTAt1lr6DIFDxhAxlFhA_oq7YFd-8QM5EUcB-BfIYBdl3KdeBcB1rB74H1EvX0O-3MPZFIQulmAiLf7W117_UFSHU8x93r6afbr1nvrogJAI/s72-c/BSMLH_B.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item><item><title>PARPOL ISLAM, MINUS PENEGAKKAN SYARIAT ISLAM</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/02/parpol-islam-minus-penegakkan-syariat.html</link><category>Tentang Pemilu</category><pubDate>Mon, 23 Feb 2009 23:43:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-4750082959926194159</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgz8wTkrc75W6nx4VL1yyIplwnoo1eqgDvaJ7rnvyrE5iUWxolE-49vO8U1E0QnWpcIzWp6ceVD7rJOMZrjibl49uC9dR3-fJ_FwbFS7WHDbetPT50QG8iR2yMNNuNMmX6V6UYwUntBHh8/s1600-h/cl0054.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 52px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgz8wTkrc75W6nx4VL1yyIplwnoo1eqgDvaJ7rnvyrE5iUWxolE-49vO8U1E0QnWpcIzWp6ceVD7rJOMZrjibl49uC9dR3-fJ_FwbFS7WHDbetPT50QG8iR2yMNNuNMmX6V6UYwUntBHh8/s200/cl0054.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306276660027500274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Apa kabar parpol Islam menjelang Pemilu 2009...? Apa yang mereka lakukan untuk menghadapi pertarungan politik di kancah Pemilu 2009...? Masihkah ambigu terhadap gagasan penerapan syariat Islam. Ya wajar saja, karena mereka menjadikan Islam sebagai tameng untuk meraup suara. Lalu bagaimana “ prestasi “ parpol Islam setelah mereka berkiprah sejak Pemilu lalu hingga sekarang...?&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Mungkin terlalu dini menilai prestasi parpol Islam di pentas politik nasional. Keberadaan mereka juga masih amat belia. Seperti kata pengamat politik Muslim al – Chaidar, kelahiran reformasi dan parpol Islam pada tahun 1998 lalu terbilang prematur. Boleh jadi demikian, meski ada juga parpol Islam yang telah memiliki basis massa yang kental sejak era Orde Baru. Namun demikian, bukan bersrti indeks prestasi parpol Islam sama sekali tidak bisa diukur. Mengingat jangka waktu dari Pemilu lalu hingga Pemilu 2009 memiliki rentang waktu yang lumayan memadai bagi parpol Islam untuk berkiprah. &lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ada dua hal yang mungkin bisa menjadi parameter prestasi parpol Islam. Pertama, masihkah parpol Islam dipercaya publik untuk menjadi saluran aspirasi, entitas dan alat perjuangan umat. Kedua,  menyangkut gagasan dan ideologi partai; apakah parpol – parpol Islam tersebut berani menampakkan “ benang merah “ misi mereka; menegakkan syariat Islam dan mengusung gagasan Negara Islam...?&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dua hal ini sama – sama penting dan saling berkelindan. Dukungan publik menunjukkan tingkat akuntabilitas sebuah parpol di mata khalayak. Jika publik melihat parpol Islam bisa membawa aspirasi mereka, bersikap kritis terhadap kebijakan rezim penguasa yang merugikan hajat hidup rakyat banyak – dan bukan sekedar janji – maka parpol Islam akan menjadi tumpuan harapan umat.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sementara itu, yang kedua – penegakkan syariat dan gagasan Negara Islam – berkaitan dengan integritas parpol tersebut pada ideologi mereka. Apakah asa Islam melekat secara inheren dengan parpol tersebut ( bukan cuma artifisial yang tampak pada perilaku individual para politisinya – misalnya berjenggot, berjilbab, berkoko – tetapi juga tampak pada program, agenda setting politik dan platform perjuangan mereka ). Tulisan ini tidak bermaksud untuk menghakimi parpol – parpol Islam – baik yang berkiprah pada kancah Pemilu 2009 ataupun yang bergerak ekstraparlementer, tetapi bertujuan untuk memberikan “ peringatan dini “ sekaligus sebagai input yang mudah – mudahan berharga bagi mereka.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Terjebak Pola Lama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Eep Saefullah Fatah, pengamat politik dari LIPI, memberikan sejumlah kritik pada kalangan Islam termasuk parpolnya. Salah satu kritiknya adalah kalangan Islam lebih senang membuat kereumunan ketimbang barisan. Kerumunan, menurutnya bisa saja terdiri dari banyak orang namun sangat rentan karena tidak memiliki agenda, platform, program, kepemimpinan, jaringan dan rencana – renca aksi yang dikonsensuskan diantara mereka. Sebaliknya, barisan, sekalipun beranggotakan sedikit, merupakan sebuah kekuatan yang tangguh karena memiliki agenda, platform, program, kepemimpinan, jaringan dan rencana – rencana aksi ( Eep Seafullah Fatah, Zaman Kesempatan, h. 260 ).&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Fenomena ini mudah terlihat. Parpol – parpol Islam peserta Pemilu baru mulai bekerja pada tahapan menjaring pemilih, bukan membangunnya. Mereka baru bergerak menjelang Pemilu – menggalang aneka dukungan; melalukan aksi – aksi sosial, pertemuan partai dengan kalangan umum,; melakukan kontak – kontak politik dengan tokoh – totkoh masyarakat – dan dilakukan intens ( hanya ) menjelang Pemilu. Seolah tidak belajar dari pengalaman, pola tradisional ini masih dipertahankan oleh parpol – parpol Islam.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Memang, jika pola ini dikombinasikan dengan memanfaatkan kharisma public figure sebagai votegetter maka efektif untuk menarik pemilih. Akan tetapi, massa yang terbangun dengan cara ini bukanlah massa yang “ sadar “. Massa yang paham dan menjiwai platform partai dan setia memberikan dukungan. Massa yang akan diperoleh parpol Islam dari pola tradisional itu hanyalah kerumunan ( agregat ), floating mass, massa mengambang. Mereka akan berkerumun saat Pemilu tetapi, kemudian rentan untuk menyublim sesudahnya.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ambisi mendulang suara yang berlimpah pada Pemilu dengan pola tradisional akhirnya mengorbankan integritas parpol bersangkutan. Publik yang secara umum masih phobi terhadap Islam akibat trauma politik mas alalu dan juga “ pelintiran “ atas pemikiran Islam oleh Barat ( Ghazwul fikri ) memberikan semacam perasaan “ tidak nyaman “ ( mungkin juga ketakuta ) bagi parpol Islam untuk mengkampanyekan syariat Islam apalagi Negara Islam. Daripada kehilangan pemilih lebih baik mencairkan ideologi partai, begitu pikir mereka.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kondisi inilah yang mungkin menjadi semacam “ keterpaksaan “ bagi parpol Islam sehingga mereka bersikap ambigu terhadap upaya penegakkan syariat Islam dan gagasan Negara Islam. Parpol Islam bisa jadi memilih menjadi parpol yang populer dan populis secepat – cepatnya. Walaupun harus kehilangan taji ideologisnya.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Karena itu, tiga kali even Pemilu nyaris sepi dari kampanye penegakkan syariat oleh parpol Islam. Kalangan Islam baru membangun kepercayaan publik lewat jargon – jargon dan slogan – slogan yang terlalu umum, yang kurang mencerminkan karakter dari sebuah parpol Islam yang mengusung ideologi Islam; nyaris tidak ada bedanya dengan parpol – parpol lain pada umumnya.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Gejala ini tidak saja khusus menimpa parpol kontestan Pemilu. Parpol Islam atau kelompok dakwah manapun bisa terjebak pada pola ini walau mereka bergerak secara ekstraparlementer. Ini terjadi jika mereka lebih mengejar target kuatitas ketimbang kualitas pendukung. Karena merasa berpacu dengan waktu, parpol Islam akan mematok target kuatitas rekrutmen pendukung sebanyak – banyaknya dengan mengabaikan pembinaan. Memang, dalam hitungan politis, lebih mudah membangun kerumunan ketimbang barisan. Energi, biaya dan waktu yang diperlukan jauh lebih kecil meski dengan hasil tidak maksimal.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Daripada mengorbankan ideologi partai dan hanya mendapatkan massa mengambang, seharusnya parpol – parpol Islam mencari pendekatan lain untuk menggalang dukungan. Untuk itu, tidak ada strategi lain kecuali melakukan pembinaan politik kepada publik. Program pencerdasan umat dengan pemikiran – pemikiran Islam jauh lebih berdaya guna ketimbang kegiatan – kegiatan ekstravaganza macam show of force yang kerap mereka lakukan. Pamer kekuatan semacam itu memang menyenangkan, karena menjadi konsumsi publik dan media massa. Akan tetapi bisa membuat lupa diri bahwa parpol Islam seharusnya melakukan gerakan ideologis, bukan cuma gerakan massal.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Untuk itu, parpol harus bisa membangun kepercayaan publik pada Islam; mengarahkan visi hidup mereka dan menjelaskan tujuan perjuangan parpol yaitu penegakkan syariat Islam dalam naungan negara. Aktivitas ini tidak cukup hanya dengan kegiatan rutin sekali dalam lima tahun, apalagi hanya menjelang Pemilu, tetapi harus kontinu, teragendakan dan memiliki sasaran yang jelas.&lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Platform Buram&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kritik lain yang dilontarkan Eep pada kalangan Islam adalah kenyataan kalangan Islam lebih suka mengurusi kulit daripada isi. Soal – soal substantif kerap justru luput dari perhatian kalangan Islam, sementara pada saat yang sama, soal – soal artifisial justru diurusi ( Eep Saefullah Fatah, ibid., h. 257 ). Sebagai contoh, pada kasus RUU sisdiknas kalangan Islam lebih mempersoalkan pasal pendidikan agama yang dikhawatirkan mengundang pemurtadan. Akan tetapi, substansi dari RUU Sisdiknas itu sendiri sebagai produk sistem kapitalis – sekular nyaris tak terjamah. Buktinya demo – demo itu berhenti saat RUU tersebutditunda pengesahannya. Padahal, di sekolah - sekolah di Tanah Air mulai dari tingkat elementer hingga perguruan tinggi – aneka pemikiran kufur bertebaran dan dipelajari anak – anak kaum Muslim. Begitu pula masalah otonomi kampus yang menyebabkan bengkaknya biaya pendidikan atau “ jalur khusus “ di PTN – PTN  yang melahirkan “ anak emas “ juga sepi dari perhatian dan kekritisan kalangan Islam. Karena itu, Eep menyarankan agar kalangan Islam mendukung reformasi sistematik; perubahan yang meyeluruh, bukan parsial; perubahan yang substansial, bukan artifisial.    &lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hanya saja, transformasi politik – sosial – ekonomi yang seharusnya dilakukan umat berpulang pada platform parpol Islam itu sendiri. Apakah parpol – parpol Islam telah memiliki platform yang jelas, visi dan misi perubahan yang jernih ataukah buram...? Tentu saja di dalamnya harus secara iheren terbangun sistem Islam yang akan dituju. Akan tetapi, jika parpol Islam sendiri sudah menutup diri dari penegakkan syariat, bagaimana mungkin transformasi menuju masyarakat yang ideal bisa terwujud. &lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Cukup ironis mengingat masih ada kalangan Islam – termasuk parpol Islam – yang memandang skeptis syariat Islam sebagai problem solving masalah – masalah kemanusiaan. Para politisi Muslim lebih senang dimabuk ide “ civil society “ dan “ demokrasi Islam “ ketimbang Khilafah Islamiyah. Bahkan tidak sedikit politisi Muslim yang dengan sinis menyebut kampanye penegakkan Khilafah sebagai “ nostalgia “ atau “ romantisme historis “. Ada juga yang enggan menyuarakan gagasan Khilafah hanya karena istilah itu masih asing di telinga khalayak.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Jika gagasan penegakkan syariat Islam dan Khilafah tertolak, lantas bentuk transformasi apa yang hendak ditawarkan oleh parpol – parpol Islam...? Sebab, civil society ataupun demokrasi Islam yang kini didengang – dengungkan baru sebatas tataran wacana, belum menjadi konsep utuh. Bahkan ia belum pernah menjadi sejarah ( ahistoris )...! Jika upaya penegakkan Khilafah dianggap romantisme sejarah, lalu apa sebutan yang pas bagi perjuangan sebuah gagasan yang masih absurd...?&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Jangankan demokrasi Islam, ajaran demokrasi sendiri hingga kini masih terus mengalami dialetika. W.B. Gallie beberapa tahun silam pernah mengatakan, “ Demokrasi merupakan suatu konsep yang pada prinsipnya masih diperdebatkan, “ Ia menandaskan, “ Ada beberapa perselisihan pandangan yang menyangkut konsep – konsep semacam itu. “ ( John L. Esposito &amp;amp; John O. Voll, Demokrasi di negara – negara Muslim). Lebih jauh lagi, Esposito dalam bukunya mengatakan bahwa bagi Barat, konsep “ Demokrasi Islam “ sesungguhnya sebuah anatema (Esposito, ibid.).&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pemikir Barat lain, Giovanni Sartori, mengatakan, “ Ketika kita menerapkan konsep demokrasi pada kebanyakan negara Dunia Ketiga, terutama yang disebut negara – negara berkembang, standarnya menjadi lebih rendah sehingga orang mungkin akan sangsi apakah konsep demokrasi masih layak dipakai...? Demokrasi menurut Woodrow Wilson, merupakan bentuk pemerintaha yang paling sulit. “ ( Esposito, ibid.).&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Jika demokrasi saja sudah sedemikian sulit bahkan absurd, bagaimana lagi konsep “ demokrasi Islam “...? Jangan – jangan ia seperti menegakkan benang basah...? Kenyataanya, belum ada satu negeri Islam pun yang sukses dengan demokrasi Islam.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akibat Mainstream Politik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hal lain yang mungkin menyebabkan parpol Islam bersikap ambigu terhadap upya penegakkan syariat adalah mainstream politik yang mereka ikuti. Di negeri – negeri Muslim, keikutsertaan parpol Islam dalam ajang Pemilu selalu disyaratkan mematuhi mainstream politik yang eksis warisan negera – negara kafir imperialis. Sebagian kalangan Islam berdalih dengan kaidah syariat, “ Ma la yudraku kulluhu, la yutraku kulluhu ( Apa yang tidak bisa diambil seluruhnya, janganlah ditinggalkan seluruhnya). “ dengan kaidah ini, sebagian kalangan Islam melegalkan sikap koperatif dengan mainstream politik yang ada. Dampaknya jelas terasa, yakni munculnya deviasi terhadap terhadap visi dan misi perjuangan parpol itu sendiri. &lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ketidakkonsistenan politik atau ambiguitas itu, yang paling terasa, adalah saat isu presiden wanita menjelangperhelatan Pemilu lalu, dengan sasaran tembak PDI – P dan Megawati. Para khatib, ustadz, mualim terlepas dari kontituen parpolnya – menyerukan keharaman mengangkat wanita sebagai kepala negara / presiden. Namun, seperti menjilat ludah sendiri, ketika Gusdur sebagai RI – 1 menimbulkan banyak krisis, sebagian politisi Muslim pada parpol Islam justru melegalkan ( atau setidaknya membiarkan ) Megawati naik tampuk kepresidenan. Orang pun bisa menebak bahwa nuansa politis berada di balik keputusan tersebut. Tragis memang, Marilah kita renungi : &lt;/span&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;QS 6 : 153.&lt;br /&gt;Silahkan buka Al – Qurannya.             &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgz8wTkrc75W6nx4VL1yyIplwnoo1eqgDvaJ7rnvyrE5iUWxolE-49vO8U1E0QnWpcIzWp6ceVD7rJOMZrjibl49uC9dR3-fJ_FwbFS7WHDbetPT50QG8iR2yMNNuNMmX6V6UYwUntBHh8/s72-c/cl0054.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item><item><title>MEMBANDINGKAN PEMILU Dalam Sistem Islam dan Sistem Demokrasi.</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/02/membandingkan-pemilu-dalam-sistem-islam.html</link><category>Tentang Pemilu</category><pubDate>Sat, 21 Feb 2009 04:49:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-8106643673443791936</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sistem Islam berbeda dengan sistem demokrasi dari asasnya. Keduanya melahirkan sistem yang berbeda, bahkan bertentangan termasuk Pemilu. Dewasa ini Pemilu terlanjur menjadi ritual politik terpenting bagi rakyat, termasuk kaum Muslim. Di dalamnya tergantung harapan rakyat untuk memperbaiki kehidupan mereka. Akhirnya, kaum Muslim pun hanya melihat Pemilu dari sudut kemaslahatan semata, &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;untung atau rugi&lt;/span&gt;; bukan dari sudut apakah Pemilu dalam sistem demokrasi itu benar atau tidak menurut Islam. Padahal, sudut pandang inilah yang terpenting bagi seorang Muslim jika benar – benar ingin mencapai ridha Alloh SWT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kedudukan Pemilu dalam Islam hanyalah salah satu cara untuk mengetahui kehendak rakyat, yang terkait dengan siapa yang mereka kehendaki untuk menjadi kepala negara ( Khalifah ) atau wakil rakyat dalam majelis umat. Pemilu bukanlah sesuatu yang wajib dilaksanakan, karena kedaulatan di tangan syariat ( Alloh SWT ), bukan di tangan rakyat yang tergambar dalam suara mayoritas. Yang wajib diperhatikan adalah bagaimana mengetahui pilihan rakyat dan kerelaan mereka hingga khalifah bisa dibaiat sebagai pelaksana al – Quran dan Sunnah Nabi SAW, atau wakil – wakil rakyat yang duduk dalam majelis umat bisa terpilih. Sebaliknya, Pemilu dalam demokrasi merupakan metode pokok untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dengan suara mayoritas. Dengan kata lain, Pemilu dalam demokrasi wajib dilaksanakan agar kehendak sebagai pemegang kedaulatan dapat diwujudkan hingga wakil – wakil rakyat dalam legislatif dan kepala negara terpilih. Selanjutnya, legislatif sebagai pemegang kedaulatan membuat hukum dan perundang – undangan untuk dilaksanakan oleh kepala negara sebagai pemegang kekuasaan eksekutif. Jadi, kedudukan, fungsi dan tujuan Pemilu dalam demokrasi berbeda dengan Pemilu dalam Islam &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;(an – Nabhani, Sistem Pemerintahan Islam, hlm. 39 – 44 )&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Islam membedakan siapa saja yang menjadi pemilih dan yang berhak dipilih. Untuk memilih wakil wakil rakyat yang akan duduk sebagai anggota majelis umat, seluruh rakyat ikut menjadi pemilih. Akan tetapi, non – Muslim memilih wakilnya dari kalangan non – Muslim. Kaum Muslim memilih wakilnya dari kalangan mereka. Hal ini terkait dengan perbedaan mendasar peran majelis umat dengan lembaga legislatif dalam sistem demokrasi. Majelis umat hanyalah wakil rakyat untuk menyampaikan kepentingan mereka kepada Khalifah terkait dengan pelayanannya kepada rakyat dan mengontrol jalannya pemerintahan. Majelis umat tidak berfungsi untuk membuat UUD atau UU, karena kedaulatan sendiri ada di tangan syariat ( Alloh SWT ), bukan di tangan rakyat. Khalifah hanya tinggal melaksanakan al – Quran dan Sunnah Nabi SAW yang sudah tetap dan sempurna sejak 14 abad silam &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;( An – Nabhani, ibid, hlm, 267 – 291 ).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sebaliknya, lembaga legislatif dalam sistem demokrasi merupakan perwujudan kedaulatan rakyat hingga otomatis berperan untuk membuat hukum dan perundang – undangan. Benar dan salah, baik dan buruk, terpuji dan tercela, halal dan haram semuanya terserah kepada kehendak rakyatdengan mekanisme suara mayoritas rakyat, yang direpresentasikan oleh para wakil mereka di parlemen. Di sinilah pertentangan mendasar antara Islam dan demokrasi. Dengan perbedaan ini, Islam akan mengeliminasi demokrasi dan demokrasi akan mengeliminasi Islam, tidak mungkin bisa bersatu &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( Zallum, Demokrasi Sistem Kufur, hlm. 29 – 38 )&lt;/span&gt;. Adalah hal yang wajar jika sistem demokrasi tidak pernah memberikan kesempatan kepada Islam untuk menang. Jika partai Islam yang benar – benar ingin menerapkan syariat Islam secara kaffah – menang maka hasil Pemilu dianggap tidak sah, bahkan harus dibatalkan sekalipun harus dengan kekuatan senjata. Inilah yang terjadi di Aljazair dan Turki. Kebebasan dan jaminan HAM dalam sistem demokrasi pada akhirnya tidak berlaku untuk Islam dan kaum Muslim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ketika memilih kepala negara, yakni Khalifah, Islam mensyaratkan bahwa yang memilih dan dipilih hanya kaum Muslim&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; ( Lihat QS [4] an Nisa : 59 dan 141 )&lt;/span&gt;. Lagi pula, tugas Khalifah adalah melaksanakan syariat Islam secara kaffah yang tidak mungkin akan sanggup diemban kecuali oleh seorang Muslim yang bertaqwa. Adapun syarat – syarat sah agar seorang layak dipilih untuk dibaiat menjadi seorang Khalifah adalah : Muslim, laki – laki, balig, berakal, adil, merdeka ( bukan budak ) dan mampu mengembanamanah Khalifah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( An – Nabhani, sistem Khilafah, hlm. 32 – 40 )&lt;/span&gt;. Hal – hal yang lain dianggap syarat seperti harus dar suku Qurays, harus mujtahid, harus pemberani, harus dari kalangan politikkus ulung, dan lainnya – hanyalah syarat keutamaan. Artinya, jika seorang calon Khalifah memiliki semua syarat sah dan syarat keutamaan maka dialah yang paling layak menjadi Khalifah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Khalifah bukan orang upahan rakyat sehingga dia tidak menerima gaji atas jabatannya, tetapi sekedar menerima tunjangan hidup sebatas kebutuhan diri dan keluarganya yang layak karena dia tidak dapat bekerja mencari penghidupan ketika mengemban tugas Kekhalifahan. Rakyat tidak berhak membatasi masa jabatan Khalifah. Berapa lama dia menjabat Khalifah bergantung pada konsistensinya dalam melaksanakan al – Quran dan as – Sunnah serta kemampuannya mengemban tugas – tugas Kekhalifahan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( An – Nabhani, op.cit.., hlm. 47 – 133 )&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sebaliknya, dalam sistem demokrasi, kepala negara adalah orang yang diupah oleh rakyat untuk melaksanakan hukum dan perundang – undangan buatan mereka melalui lembaga legislatif. Inilah yang disebut kontrak sosial. Wajar jika rakyat berwenang untuk mengubah hukum dan perundang – undangan sekaligus memecat kepala negara kapanpun mereka kehendaki. Dalam demokrasi, syarat – syarat kepala negara ditentukan dengan suara mayoritas dalam undang – undang. Seseorang yang sebetulnya tidak layak menjadi kepala negarasangat mungkin bisa menjadi kepala negara jika didukung oleh suara mayoritas rakyat.     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Daftar Pustaka :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;1.    Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, sistem Khilafah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;2.    Syaikh Abdul Qadim Zallum, Demokrasi Sistem Kufur.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;3.    Ibn Hisyam, sirah ibn Hisyam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;4.    Imam al - Mawardi, Al - Ahkam as - Ssulthaniyah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;5.    Imam as – Suyuthi, Tarikh al – Khulafa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;6.    Dr. Ali Muhammad ash – Shalabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item><item><title>20 PETUNJUK MEMILIH ISTRI</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/02/20-petunjuk-memilih-istri.html</link><category>Islami</category><pubDate>Wed, 18 Feb 2009 02:59:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-1518612185881613514</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjqD1HJVKJYyOnlq-TrYOJE-Ju_5lT6HvMPNzLg-ws5vUQK83UfGJr8C7hch4jXW6qU2mZ4cD-a0XgPd7heYtSbV117ff-cDjs_RJ6VdqOlvLb6Ssy-smFGZYmP1b7OVq_QoCNhwa9ino/s1600-h/cl0121.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 65px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjqD1HJVKJYyOnlq-TrYOJE-Ju_5lT6HvMPNzLg-ws5vUQK83UfGJr8C7hch4jXW6qU2mZ4cD-a0XgPd7heYtSbV117ff-cDjs_RJ6VdqOlvLb6Ssy-smFGZYmP1b7OVq_QoCNhwa9ino/s200/cl0121.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304092076236966370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Saya panjatkan puja, puji dan syukur kepada Alloh SWT yang telah mengutus Rasul-Nya untuk memberikan pedoman kepada kaum laki –laki dalam memilih pasangan. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada Nabi kita, Muhammad SAW., keluarganya, para sahabatnya dan seluruh pengikutnya yang setia.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Terbentuknya keluarga yang sakinah merupakan dambaan setiap pasangan suami istri. Untuk mewujudkan itu semua, yang perlu diperhatikan adalah dalam memilih pasangan. Bagi muslimin pemilihan istri yang baik merupakan hal yang sangat mutlak. Karena dia, kelak yang akan mendidik anak dan memelihara hartanya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, para muslimin harus memiliki tolok ukur yang benar. Apabila dia berpegang pada tolok ukur yang salah bukan ketentraman, kedamaian dan kebahagian yang dia dapatkan. Melainkan keributan dan pertengkaran dengan pasangannya. Maka dari itu kita semua harus lebih berhati – hati dalam memilih pasangan hidup. &lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Nah sekarang, apa saja sih 20 petunjuk dalam memilih istri :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;1.    Taat beragama,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;2.    Dari lingkungan keluarga yang baik,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;3.    Perawan,&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;4.    Penyabar,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;5.    Memikat hati,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;6.    Amanah,&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;7.    Tidak bersolek bila keluar rumah,&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;8.    Kufu’ dalam beragama,&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;9.    Tidak materialis,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;10.     Senang menyambung tali silaturahmi,&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;11.    Pandai menyimpan rahasia,&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;12.    subur,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;13.    Tabah dalam menderita,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;14.    Bukan pencemburu buta,&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;15.    Peringai dan kata – katanya menyenangkan,&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;16.    Mudah dilamar,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;17.    Besar cintanya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;18.    Patuh dan taat&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;19.    Hemat dan yang terakhir,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;20.    Besar kasih sayangnya kepada anak kecil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Disini saya hanya akan membahas sebagian saja, tapi nanti Insya Alloh akan ada kelanjutannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;1.    Taat Beragama&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Agama ialah keyakinan yang disertai peribadatan yang sesuai dengan ketentuan Syari’at Islam. Bila keyakinan dan peribadatan yang dilakukan seseorang menyimpang dari ketentuan Syari’at Islam, orang yang melakukannya berarti telah sesat. Untuk mengetahui ketaatan seseorang dalam beragama, kita harus berpedoman pada ketentuan Al – Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. &lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tanda utama seseorang dikatakan taat beragama yaitu bila ia dapat menjalankan ketentuan pokok yang menjadi “Rukun Iman dan Rukun Islam” dengan benar. Tanda lainnya bila ia menjalankan ibadah yang diperintahka oleh Islam dengan tekun dan benar, diantaranya yang paling pokok adalah shalat dan dalam pergaulan sehari – hari (apa ia dapat menjaga martabatnya / berkhalwat alias berduaan dengan laki – laki yang bukan mahramnya).&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tapi sebelum kita melakukan itu semua,  yaitu menilai orang lain kita harus bisa dulu menilai diri kita sendiri. Diantaranya apakah kita sendiri sudah taat kepada aturan Alloh SWT ...???&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;2.    Dari lingkungan keluarga yang baik&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Maksudnya adalah apakah ia berasal dari keluarga yang taat kepada ketentuan Alloh SWT ...??? Bukan berarti keluarga yang jelek atau tidak taat pada ketentuan Alloh tidak boleh dijadikan istri. Boleh saja, tapi itu butuh waktu yang lama dalam mendidiknya plus mesti ditopang oleh kesabaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;3.    Perawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Laki – laki muslim sebaiknya berhati – hati terhadap perempuan yang pernah berpacaran apalagi gemar berganti pacar. Perempuan yang pernah berpacaran, berarti pernah mengenal kemesraan dengan laki – laki sehingga hatinya tidak polos lagi. Ia sudah tentu memiliki kenangan masa lalu dengan pacarnya sehinggaketika ia bercengkrama dengan suami, hati dan angan – anganya tidak sepenuhnya tertuju kepada suaminya. Ia akan membandingkan sentuhan kemesraan antara pacarnya dulu dengan suaminya. Selain itu, keperawanannya juga harus dipertanyakan karena tidak bisa dipastikan sejauh mana ia berhubungan dengan pacarnya. &lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Untuk mengetahui keperawanan calon istri seorang laki – laki dapat melakukan cara – cara berikut ini :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    Menanyakan langsung kepada yang bersangkutan ketika melamar,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    Menanyakan kepada keluarga atau kerabat dekatnya yang dinilai jujur, adil dan objektif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;  Melakukan pemeriksaan medis bilamana ingin memperoleh keyakinanbahwa yang bersangkutan benar – benar perawan.akan tetapi, cara semacam ini harus mendapat persetujuan dulu dari perempuan yang bersangkutan, karena hal ini bisa dianggap merendahkan martabatnya.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Penyabar&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Alloh SWT berfirman dalam QS At – Tahrim (66) ayat 11 :&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;“ Alloh menjadikan istri Fir’aun perumpamaan bagi orang – orang yang beriman ketika ia berkata: ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga; dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya; dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” &lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Penjelasan :&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sabar dalam bahasa Arab artinya lapang dada menerima kepahitan, kesulitan dan rintangan tanpa keluh kesah dan jengkel. Bila seseorang menggerutu dalam menghadapi kesulitan, jengkel dan marah maka dia dikatan tidak sabar. Jadi intinya istri yang sabar ialah yang suka memberikan dorongan dan semangat kepada suaminya dalam menghadapi segala macam tantangan dan rintangan. Oleh karena itu, setiap laki – laki sangat perlu memperhatikan sifat calon istrinya.  &lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.    Memikat hati&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Alloh SWT berfirman dalam QS Ani – Nisaa (4) ayat 3:&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;“ Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak – hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), kawinilah wanita – wanita (lain) yang kamu senangi, ....”&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Penjelasan :&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ayat tersebut menyebutkan agar laki – laki memilih perempuan yang memikat atau menyenangkan hatinya sebagai istri. Daya tarik yang utamanya adalah daya tarik akhlaq dan ketaatan perempuan yang bersangkutan kepada Alloh dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjqD1HJVKJYyOnlq-TrYOJE-Ju_5lT6HvMPNzLg-ws5vUQK83UfGJr8C7hch4jXW6qU2mZ4cD-a0XgPd7heYtSbV117ff-cDjs_RJ6VdqOlvLb6Ssy-smFGZYmP1b7OVq_QoCNhwa9ino/s72-c/cl0121.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item><item><title>Saatnya untuk merubah gaya hidup anda …?</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/02/saatnya-untuk-merubah-gaya-hidup-anda.html</link><category>Bisnis</category><pubDate>Sun, 15 Feb 2009 02:48:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-9071635668591936733</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Uang, selalu dibicarakan setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik. Uang, selalu dicari. Tapi berapa banyak orang yang beruntung bisa mendapatkan uang dengan banyak, dan tentunya halal coy…?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Perhatikan orang-orang yang mencari uang dari pagi sampai sore bahka sampai malam hari. Terhimpit beban pekerjaan, penuh keringat, terjebak kemacetan, ditekan atasan dan sebagainya. &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Tapi hasilnya …? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Tidak seberapa .……………………………………...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sebagian dari anda mungkin sudah bosan alias boring untuk bekerja kepada boss yang tidak tahu diri, yang tidak tahu terima kasih dan suka memerintah seenaknya. Yang memeras keringat namun membayar seadanya. Sebagian dari anda pasti sudah bosan dan anda merasa tidak cocok dengan tempat anda bekerja yang memeras waktu, pikiran, dan tenaga ....………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;Seperti inikah gaya hidup yang Anda inginkan …?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Sebagian lagi mungkin sedang bingung mencari tambahan uang untuk membayar hutang, untuk biaya pengobatan, untuk biaya pendidikan, kredit barang, modal nikah, modal bisnis, modal pensiun, untuk bayar kos dan keperluan lainnya.…………………………..&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;Andakah salah satunya …?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Sekaranglah saatnya, untuk merubah gaya hidup anda. Tapi tetap tidak melanggar norma – norma agama. Karena Alloh SWT itu telah menebarkan rezikinya di muka bumi ini. Nah sekaranglah saatnya untuk merealisasikan ………………………………………………….&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;IMPIAN ANDA dan KELUARGA !!!!!!!!!!!!!!!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Inginkah Anda&lt;/span&gt; untuk terbebas dari semua masalah itu …? Inginkah Anda untuk bekerja dari rumah sendiri, menatap uang mengalir ke rekening sambil duduk di depan televisi bersama keluarga tercinta …? Inginkah Anda beribadah dengan tenang …? Inginkah Anda pergi Umroh / Haji …? Inginkah Anda untuk bekerja kapan pun Anda inginkan, &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;hanya saat Anda inginkan …?&lt;/span&gt; Inginkah Anda menjadi boss bagi diri sendiri …? Tidak perlu diatur-atur orang lagi …?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Inginkah Anda&lt;/span&gt; bisa bekerja dari mana pun Anda inginkan, sambil bersenang-senang bersama keluarga …? Dan uang tetap mengalir ke rekening anda. Dan yang terpenting, &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;inginkah Anda mendapat income yang lebih banyak dari income Anda yang sekarang …?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;Jika Anda ingin, maka jadilah pebisnis online.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan potensi yang luar biasa besar, berbisnis di internet dapat membuat Anda menjadi &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;sangat kaya,&lt;/span&gt; cukup dengan bekerja dari rumah atau sambil berkumpul bersama keluarga.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Jika Anda ingin, &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;sekarang Anda telah berada di tempat yang tepat,&lt;/span&gt; saya akan mengajarkan kepada Anda &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;cara-cara paling jitu&lt;/span&gt; untuk mendapatkan uang dengan melimpah melalui berbagai bisnis sederhana di internet !!!!!!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;Perhatikan baik-baik !!!!!!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Anda langsung buka situs ini : http://akses24online.com/tofi25, Kemudian baca, pelajari dengan seksama dan segeralah bergabung. Insya Alloh berhasil. Amien.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;OK COY !!!!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:85%;" &gt;sekedar Info :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Rahasia mendapat uang dengan melakukan klik di situs orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Rahasia mendapat uang dengan memasang iklan di situs / blog Anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Rahasia mendapat uang dengan menulis artikel di blog Anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Rahasia mendapat uang dengan mengupload file di internet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Rahasia mendapat uang setiap kali orang masuk ke situs / blog Anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Rahasia mendapat uang setiap kali orang keluar dari situs / blog Anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Rahasia menjadi nomor 1 di google search! (Apapun bisnis Anda, jadikan GOOGLE sebagai salesman Anda!)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Rahasia sukses memasarkan produk Anda melalui internet. (baju, buku, mobil, rumah, komputer, dst ... )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Rahasia mendapat uang dengan memberikan jasa layanan online, mulai dari layanan advertising, web hosting, sampai e-business consulting.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Rahasia mendapat uang dengan menjual produk orang lain (menjadi agen) via internet, tanpa repot membuat dan mengurus produk sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item><item><title>PEMILU DALAM ISLAM ; HAKIKAT DAN HUKUMNYA</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/02/pemilu-dalam-islam-hakikat-dan-hukumnya.html</link><category>Tentang Pemilu</category><pubDate>Sat, 14 Feb 2009 03:01:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-7277988559014752980</guid><description>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"&gt;Adakah Pemilu dalam Islam ...?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Mungkin pertanyaan kita yang mendasar, apakah Pemilu (pemilihan umum) itu ada dalam Islam...? Jika Islam mengakui keberadaanya, apa dasar argumentasinya...? Bagaimana kaitannya dengan cara pemilihan Khalifah pada masa Khulafaur Rasyidin...? Lalu, apakah Pemilu dalam Islam ini sama dengan Pemilu demokrasi...? Mari kita mengkaji satu persatu jawabannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Benar, Pemilu memang ada dan dibolehkan oleh Islam. Sebab, kekuasaan itu ada ditangan umat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(as-sulthan li al ummah)&lt;/span&gt;.  Ini merupakan satu prinsip dalam sistem pemerintahan Islam (Khalifah). Prinsip terlaksana melalui metode baiat dari pihak umat kepada seseorang untuk menjadi Khalifah (Zallum, 2002:31 ; Al – Khalidi, 1980:95). Prinsip ini berarti, seseorang tidak akan menjadi penguasa (Khalifah), kecuali atas dasar pilihan dan kerelaan umat. Pemilu (al-intikhab) dapat menjadi salah satu cara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(uslub)&lt;/span&gt; bagi umat untuk memilih siapa yang mereka kehendaki untuk menjadi Khalifah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Namun, perlu dipahami, bahwa Pemilu hanyalah cara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(uslub),&lt;/span&gt; bukan metode &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(thariqah).&lt;/span&gt; Cara mempunyai sifat tidak permanen dan bisa berubah-ubah, sedangkan metode bersifat tetap dan tidak berubah-ubah (An-Nabhani, 1973:92). Lebih detilnya, cara merupakan perbuatan cabang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(al-fi’l al-far’i)&lt;/span&gt; yang tidak mempunyai hukum khusus, yang digunakan untuk menerapkan hukum umum bagi perbuatan pokok &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(al-fi’l al-‘ashli).&lt;/span&gt; Cara Amil Zakat mengambil zakat dari muzakki apakah dengan jalan kaki atau naik kendaraan; apakah harta zakat dicatat dengan buku atau komputer; apakah harta itu dikumpulkan disatu tempat atau tidak. Semua itu merupakan perbuatan cabang yang tidak memiliki hukum khusus, karena tidak ada dalil khusus yang mengaturnya secara spesifik. Perbuatan cabang itu sudah tercakup oleh dalil umum untuk perbuatan pokok (yaitu mengambil zakat), misalnya dalil &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;QS At-Taubah 9:103&lt;/span&gt; (silahkan buka Al-Qur’annya). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Maka dari itu, semua aktivitas tersebut termasuk cara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(uslub)&lt;/span&gt; yang hukumnya adalah mubah dan bisa saja berubah-ubah. Yang tidak boleh berubah adalah aktivitas mengambil zakat, sebab ia adalah metode yang sifatnya wajib dan tidak boleh ditinggalkanatau diubah. Termasuk juga metode adalah perbuatan cabang – dari perbuatan pokok – yang memiliki dalil khusus. Misalnya, kepada siapa zakat dibagikan, barang apa saja yang dizakati, dan berapa kadar zakat yang dikeluarkan. Semuanya, berlaku secara permanen dan tidak boleh diubah, karena sudah dijelaskan secara rinci sesuai dengan dalil – dalil khusus yang ada (An-Nabhani, 1953:1116 ; Zallum, 2002:205 – 206 ; Al-Mahmud, 1995:106-107).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Demikian pula dalam masalah pemilihan dan pengangkatan Khalifah dalam syariat Islam. Ada metode &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(thariqah)&lt;/span&gt; yang tetap dan hukumnya wajib; ada pula cara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(uslub)&lt;/span&gt; yang bisa berubah dan hukumnya mubah. Dalam hal ini, hanya ada satu metode untuk mengangkat seseorang jadi Khalifah, yaitu baiat yang hukumnya adalah wajib (Abdullah, 1996:130-131). Dalil wajibnya baiat adalah sabda Rasulullah SAW :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;“ Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat, maka dia mati seperti mati jahiliyah” &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Hadis shahih. Lihat:shahih Muslim, II/240; Majma’ Az-Zawa’id, V/223-224; Nayl Al-Awthar, VII/183; Fath Al-Bari, XVI/240).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Rasulullah SAW, mencela dengan keras orang yang tidak punya baiat, dengan sebutan “mati jahiliyah”. Artinya, ini merupakan indikasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(qarinah)&lt;/span&gt;. Bahwa baiat itu adalah wajib hukumnya (Abdullah, 1996:131). Adapun tatacara pelaksanaan baiat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Kayfiyah ada’ al-bai’ah).&lt;/span&gt; Sebelum dilakukannya akad baiat, merupakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;uslub&lt;/span&gt; yang bisa berubah-ubah (An-Nabhani, 1973:92). Dari sinilah, pemilu boleh dilakukan untuk memilih Khalifah. Sebab, pemilu adalah salah satu cara di antara sekian cara yang ada untuk melaksanakan baiat, yaitu memilih Khalifah yang akan dibaiat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Mengapa cara pemilihan khalifah boleh berbeda dan berubah, termasuk dibolehkan juga mengambil cara Pemilu...? Sebab, ada Ijma Sahabat mengenai tidak wajibnya berpegang dengan satu cara tertentu untuk mengangkat khalifah, sebagaimana yang terjadi pada masa Khulafaur Rasyidin. Cara yang ditempuh (sebelum baiat) berbeda – beda untuk masing – masing khalifah: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, ridhwanullah ‘alayhim. Namun, pada semua khalifah yang keempat itu selalu ada satu metode &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(thariqah) &lt;/span&gt; yang tetap, dan tidak berubah – ubah, yaitu baiat. Baiat inilah yang menjadi satu – satunya metode untuk mengangkat khalifah, tak ada metode lainnya. (Zallum, 2002:82)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pemilihan Khulafaur Rasyidin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Baiat menurut pengertian syariat adalah hak umat melangsungkan akad Khalifah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(haq al-ummah fi imdha ‘aqd al-khilafah)&lt;/span&gt; (Al-Khalidi, 1980, 114: 2002:26).&lt;br /&gt;Baiat ada dua macam :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;baiat in’iqad,&lt;/span&gt; yaitu baiat akad khalifah. Baiat ini merupakan penyerahan kekuasaan oleh orang yang membaiat kepada seseorang sehingga kemudian ia menjadi khalifah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Kedua, baiat ath-tha’at (bay’ah ‘ammah),&lt;/span&gt; yaitu baiat dari kaum Muslim yang lainnya kepada khalifah, yang cukup ditampakkan dengan perilaku umat menaati khalifah (Al-Khalidi, 2002:117-124).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Baiat tersebut merupakan metode yang tetap untuk mengangkat khalifah. Maka dari itu, pada Khulafaur Rasyidin, akan selalu kita jumpai adanya baiat dari umat kepada para khalifahnya masing – masing. Adapun cara – cara praktis pengangkatan khalifah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(ijra’at at-tanshib),&lt;/span&gt; atau cara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(uslub)&lt;/span&gt; yang ditempuh sebelum baiat telah dilangsungkan dengan cara yang berbeda – beda. Dari cara – cara yang pernah dilakukan pada masa Khulafaur Rasyidin sebagai berikut (Zallum, 2002:72-85).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt; cara seperti yang terjadi pada pengangkatan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, yaitu setelah wafatnya khalifah, dilakukan 5 langkah berikut : (1) Diselenggarakan pertemuan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(ijtima’)&lt;/span&gt; oleh mayoritas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ahlul Halli wal Aqdi&lt;/span&gt; ; (2) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ahlul Halli wal Aqdi&lt;/span&gt; melakukan pencalonan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(tarsyih) &lt;/span&gt;bagi satu atau beberapa orang tertentu yang layak untuk menjabat sebagai khalifah; (3) dilakukan pemilihan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(ikhtiyar)&lt;/span&gt; terhadap salah satu dari calon tersebut; (4) dilakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;baiat in’iqad&lt;/span&gt; bagi calon yang terpilih; (5) dilakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;baiat ath-tha’at&lt;/span&gt; oleh umumnya umat kepada khalifah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt;  cara seperti yang terjadi pada pengangkatan Khalifah Umar bin al-Khaththab, yaitu ketika seorang khalifah merasa wafatnya sudah dekat, dia melakukan 2 (dua) langkah berikut, baik atas inisiatifnya sendiri atau atas permintaan umat : (1) khalifah itu meminta pertimbangan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(istisyarah)&lt;/span&gt; kepada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ahlul Halli wal Aqdi&lt;/span&gt; mengenai siapa yang akan menjadi khalifah setelah dia meninggal; (2) khalifah itu melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;istikhlaf ‘ahd &lt;/span&gt;(penunjukkan pengganti) kepada seseorang yang akan menjadi khalifah setelah khalifah itu meninggal. Setelah itu dilakukan dua langkah lagi; (3) calon khalifah yang telah ditunjuk dibaiat dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;baiat in’iqad&lt;/span&gt; untuk menjadi khalifah; (4) dilakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;baiat ath-tha’at&lt;/span&gt; oleh umat kepada khalifah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt; cara seperti yang terjadi pada pengangkatan Khalifah Utsman bin Affan, yaitu ketika seorang khalifah dalam keadaan sakaratul maut, atas inisiatifnya sendiri atau atas permintaan umat, dia melakukan langkah berikut : (1) khalifah melakukan penunjukkan pengganti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(al-‘ahd, al- istikhlaf)&lt;/span&gt; bagi beberapa orang yang layak menjadi khalifah, dan memerintahkan mereka agar memilih salah seorang dari mereka untuk menjadi khalifah setelah dia meninggal, dalam jangka waktu tertentu, maksimal tiga hari. Setelah khalifah meninggal dilakukan langkah : (2) beberapa orang calon khalifah itu melakukan pemilihan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(ikhtiyar)&lt;/span&gt; terhadap salah seorang dari mereka untuk menjadi khalifah; (3) mengumumkan nama calon terpilih kepada umat; (4) umat melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;baiat in’iqad&lt;/span&gt; kepada calon terpilih itu untuk menjadi khalifah; (5) dilakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;baiat ath-tha’at&lt;/span&gt; oleh umat secara umum kepada khalifah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, cara seperti yang terjadi pada pengangkatan Khalifah ali bin Abi Thalib, yaitu setelah wafatnya khalifah, dilakukan langkah sebagai berikut : (1)  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ahlul Halli wal Aqdi&lt;/span&gt; mendatangi seseorang yang layak menjadi khalifah; (2) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ahlul Halli wal Aqdi&lt;/span&gt; meminta orang tersebut untuk menjadi khalifah, dan orang itu menyatakan kesediaannya setelah merasakan kerelaan mayoritas umat; (3) umat melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;baiat in’iqad&lt;/span&gt; kepada calon itu untuk menjadi khalifah; (4) dilakukan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; baiat ath-tha’at&lt;/span&gt; oleh umat secara umum kepada khalifah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Itulah empat cara pengangkatan khalifah yang diambil dari praktik pada masa Khulafaur Rasyidin. Berdasarkan cara pengangkatan Khulafaur Rasyidin di atas, khususnya pengangkatan Utsman bin Affan, Taqiyuddin An-Nabhani (1963:137-140) dan Abdul Qadim Zallum (2002:84-85) lalu mengusulkan satu cara dalam pengangkatan khalifah. Diasumsikan ada majelis umat yang merupakan majelis wakil umat dalam melakukan musyawarah dan muhasabah (pengawasan) kepada penguasa. Cara ini terdiri dari 4 (empat) langkah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;(1)    Para anggota majelis umat yang Muslim melakukan seleksi terhadap para calon khalifah, mengumumkan nama – nama mereka, dan meminta umat Islam untuk memilih salah satu dari mereka. Di sinilah Pemilu bisa dilaksanakan sebagai cara pelaksanaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;(2)    Majelis umat mengumumkan hasil pemilihan umum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(al-intikhab)&lt;/span&gt; dan umat Islam mengetahui siapa yang meraih suara terbanyak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;(3)    Umat Islam segera membaiat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(baiat in’iqad)&lt;/span&gt; orang yang meraih suara terbanyak sebagai khalifah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;(4)    Setelah selesai baiat, diumumkan kesegenap penjuru orang yang menjadi khalifah hingga berita pengangkatannya sampai ke seluruh umat, dengan menyebut namaa dan sifat – sifatnya yang membuatnya layak menjadi khalifah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pemilihan Anggota Majelis Umat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Di samping Pemilu untuk memilih khalifah, dalam sistem politik Islam juga ada Pemilu untuk memilih para anggota majelis umat. Jadi, proses untuk menjadi anggota lembaga tersebut adalah melalui pemilihan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(al-intikhab) &lt;/span&gt;oleh umat, bukan melalui pengangkatan / penentuan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(at-tayin) &lt;/span&gt;oleh khalifah. Mengapa melalui pemilihan ...? Sebab, di sini berlaku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;akad wakalah&lt;/span&gt; (perwakilan). Anggota majelis umat adalah wakil – wakil rakyat dalam penyampaian pendapat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(ar-ra’yu) &lt;/span&gt;dan pengawasan kepada penguasa (An-Nabhani, 1990:90-96). Sedangkan wakil itu tiada lain dipilih oleh yang mewakilinya. Karena itu, anggota majelis umat, bukan diangkat atau ditentukan oleh khalifah (Zallum, 2002:221).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Mengingat Pemilu untuk memilih anggota majelis umat adalah akad wakalah; maka implikasinya berbeda dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;akad Khilafah&lt;/span&gt;. Dalam akad wakalah, pihak muwakil (yang mewakilkan) berhak memberhentikan wakilnya&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (‘azl al-wakil), &lt;/span&gt;sebagaimana pihak wakil boleh pula memberhentikan dirinya sendiri. Sebab, akad wakalah adalah akad yag tidak megikat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(al-‘aqd al-ja’izah)&lt;/span&gt; (lihat : Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala al-Muzhahib al-Arba’ah, III / 148). Maka dari itu, umat memiliki hak untuk memberhentikan para wakilnya di majelis umah. Ini berbeda dengan akad Khilafah, sebab dalam akad Khilafah umat tidak berhak memberhentikan Khalifah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(‘azl al-khalifah)&lt;/span&gt;. Jadi, meskipun umat yang mengangkat dan membaiat khalifah, tetapi umat tidak berhak memberhentikan khalifah, selama akad baiat telah dilakukan sempurna sesuai dengan syariat Islam, yang berhak memberhentikannya adalah mahkamah mazhalim,  yaitu lembaga peradilan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(al-qadha’)&lt;/span&gt; yang bertugas menyelesaikan persengketaan antara umat dan penguasa / negara (Zallum, 2002:114-115).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Samakah dengan Demokrasi ...?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ketika Islam membolehkan Pemilu untuk memilih khalifah atau anggota majelis umat, bukan berarti Pemilu dalam Islam identik dengan Pemilu dalam sistem demokrasi sekarang. Dari segi cara / teknis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(uslub)&lt;/span&gt;, memang boleh dikatan sama antara Pemilu dalam sistem demokrasi dan Pemilu dalam sistem Islam (An-Nabhani, at-Tafkir, 1973:91-92; Urofsky, Demokrasi, 2003:2).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Namun demikian, dari segi falsafah dasar, prinsip, dan tujuan keduanya sangatlah berbeda; bagaikan bumi dan langit. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt; Pemilu dalam demokrasi didasarkan pada falsafah dasar demokrasi itu sendiri, yaitu pemisahan agama dari kehidupan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(fashl al-din ‘an al-hayyah, secularism)&lt;/span&gt; (Al-Khalidi, 1980:44-45), sedangkan Pemilu dalam Islam didasarkan pada akidah Islam, yang tidak pernah mengenal pemisahan agama dari kehidupan (Yahya Ismail, 1995:23).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; Pemilu dalam sistem demokrasi didasarkan pada prinsip kedaulatan di tangan rakyat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(as-siyadah li asy-sya’b),&lt;/span&gt; sehingga rakyat, di samping mempunyai hak memilih penguasa, juga berhak membuat hukum. Sebaliknya, Pemilu dalam sistem Islam didasarkan pada prinsip kedaulatan di tangan syariat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(as-siyadah li asy-syar’i), &lt;/span&gt;bukan di tangan rakyat. Jadi, meskipun rakyat berhak memilih pemimpinnya, kehendak rakyat wajib tunduk pada hukum al-Qur’an dan as-Sunnah. Rakyat tidak boleh membuat hukum sendiri sebagaimana yang berlaku dalam demokrasi (An-Nahwi, 1985:37-38; Ash-Shawi, 1996:69-70; Rais, 2001:311).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ketiga, tujuan Pemilu dalam sistem demokrasi adalah memilih penguasa yang akan menjalankan peraturan yang dikehendaki dan dibuat oleh rakyat. Sebaliknya, Pemilu dalam Islam bertujuan untuk memilih penguasa yang akan menjalankan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, bukan menjalankan hukum kufur buatan manusia seperti dalam demokrasi (Zallum, 1990:1; 1994:139-140; Belhaj, 1411:5).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Daftar Pustaka :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;1.    Abdullah, Muhammad Husain. 1996. Mafahim Islamiyah. Juz II. Cetakan 1 Beirut : Darul Bayariq.           &lt;br /&gt;       &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;2.    Al- Jaziri, Abdurrahman. 1999. Al-Fiqh ‘ala al-Muzhalib al-Arba’ah. Juz III. Cetakan 1 Beirut : Darul Fikr.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;3.    Al-Khalidi, Mahmud. 1980. Qawa’id Nizham al-hukm fi al-Islam. Kuwait; darul buhuts al-Imiyah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;4.    Al-Khalidi, Mahmud. 2002. Al-Bay’at fi al_fikr as-siyasi al-Islami. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;5.    Al-Mahmud, Ahmad. 1995. Ad-Da’wah ila al-Islam. Cetakan 1 Beirut: Darul Ummah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;6.    An-nabhani, Taqiyuddin. 1953. Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah.  Juz II. Cetakan II. Al-Quds: Min Mansyurat Hizb at-Tahrir.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item><item><title>PARPOL ISLAM, APA YANG KAU CARI ...?</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/02/parpol-islam-apa-yang-kau-cari.html</link><category>Tentang Pemilu</category><pubDate>Wed, 11 Feb 2009 00:17:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-8185790879661188569</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVWhpQFnHASBwZahGmLsQ3NTLVfKi_fgUJBmwRhyCUsmOEtkSS9oblkgDpapCYQrcx2DMRe7vIq6r1WkkULsdmLHDIlLOtpymTX9Jd4asPu9crBU-pLFR2VJtIs7HleMh5IVhrcbP1w0w/s1600-h/BSMLH_B.BMP"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 306px; height: 87px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVWhpQFnHASBwZahGmLsQ3NTLVfKi_fgUJBmwRhyCUsmOEtkSS9oblkgDpapCYQrcx2DMRe7vIq6r1WkkULsdmLHDIlLOtpymTX9Jd4asPu9crBU-pLFR2VJtIs7HleMh5IVhrcbP1w0w/s200/BSMLH_B.BMP" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301452198744391746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Meski pemilu masih beberapa bulan lagi, tapi atmosfir di dalam negeri ini sudah dipenuhi dengan asap kampanye. Berbagai parpol sudah ada yang mencuri – curi start, meskipun dikemas dalam bentuk yang tidak menyerupai kampanye; entah itu temu kader, konvensi partai, rapat koordinasi, iklan di media cetak dan elektronik sampai ke bakti sosial dan sumbangan – sumbangan ke daerah miskin atau pun daerah bencana alam. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Hajatan besar lima tahunan ini memakan biaya triliunan rupiah dari uang rakyat dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Sebenarnya, apa sih  yang menjadi tujuan Pemilu sehingga seluruh rakyat gegap gempita menyambutnya ...? Namanya juga pesta rakyat, walaupun yang menuai hasilnya adalah para politisi dan pejabat. Tapi, sayang seluruh rakyat ini matanya masih tertutup. Mereka masih tertipu oleh keuntungan yang sesaat, daripada memikirkan 4 tahun ke depan. Apakah kehidupannya bakal berubah atau tidak ...?  Dan faktanya adalah kehidupan seluruh rakyat malah semakin menderita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Menurut pakar politik, Pemilu itu adalah pesta demokrasi, pestanya rakyat; karena demokrasi merupakan cerminan dari aspirasi rakyat untuk memilih para wakilnya yang duduk di parlemen, sekaligus untuk memilih pemimpin yang diidam-idamkannya. Wakil-wakil rakyat itulah yang bakal menjadi penyambung lidah rakyat, katanya; dan pemimpin itu pula yang menjalankan kehendak dan keinginan rakyat menuju masyarakat dan negara yang demokratis. Lalu, apa benar bahwa para wakil rakyat itu menjadi lidah penyambung aspirasi rakyat ...? Apa benar juga sang pemimpin yang terpilih itu menjalankan kehendak rakyatnya ...? Sayang faktanya justru berbicara lain. Alih-alih membela kepentingan rakyat, para wakil rakyat dan pemimpin yang terpilih selama ini justru lebih banyak mengagendakan kepentingan pribadi, keluarga, kepentingan kolega bisnis atau paling banter partainya. Lalu bagaiman dengan rakyatnya sendiri, habis manis sepah dibuang.     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Akan tetapi, apa itu alasannya sehingga kita berlepas diri...? Tentu saja bukan. Kita yang mengaku Muslim yang menaati Alloh SWT dan Rasul-Nya, serta yang menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunah itu sebagai rujukan dalam seluruh aspek kehidupan harus memperhatikan beberapa kenyataan berikut ini; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pertama, demokrasi merupakan sistem kufur yang dibangun berdasarkan pemisahan agama dari kehidupan. Seluruh perkara di dalam demokrasi itu berasal dari - dan ditujukan pada manusia, bukan dari - dan Alloh SWT. Manusia dianggap sebagai sumber tasyři’ ( perundang-undangan ). Merekalah yang mengeluarkan peraturan terhadap seluruh urusan kehidupan mereka, dengan metode yang mereka pilih. Hal ini, merupakan bentuk kekufuran kepada Alloh SWT dan bertentangan dengan akidah Islam secara total. Alloh SWT, berfirman dalam &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;QS. Al-A’raf [7] : 54;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Silahkan buka Al – Qur’annya.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Demokrasi sama artinya dengan mengabaikan otoritas Alloh SWT dan Rasul-Nya sebagai Syảri’ ( Pembuat Hukum ), dan digantikan oleh manusia ( rakyat ) sebagai pihak yang berdaulat. Ini sesuai dengan prinsip sekularisme ( pemisahan agama dengan urusan kehidupan; pemisahan agama dengan arena politik; pemisahan agama dengan urusan – urusan dunia ) yang selama ini dipropagandakan dan dijalankan oleh peradaban Barat yang kafir. Wajar jika negara – negara Barat selalu men - support jargon – jargon demokrasi dan mendorong Pemilu yang demokratis ( menurut mereka ). Dengan demikian, pesta demokrasi hakikatnya adalah pesta kekufuran yang melibatkan rakyat seluruh negeri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kedua, sebagian parpol Islam yang terlibat dalam Pemilu mengatakan bahwa kaum Muslim mampu mencapai penerapan hukum Islam melalui jalan usulan untuk penerapan syariat di parlemen. Menurut saya, pandangan ini tidak bisa di terima, sebab hal ini berarti tidak menjadikan Islam sebagai asas karena Islam adalah dĭn yang wajib kita terapkan, tetapi karena diterima oleh mayoritas masyarakat. Itu jika pandangan orang – orang yang mempropragandakan penerapam Islam untuk menjadi mayoritas di parlemen bisa di toleransi. Namun, kenyataannya, sistem ( pemerintahan ) kufur  di Dunia Islam tidak mentoleransi hal itu. Sistem demokrasi memang mengkehendaki adanya orang – orang yang mengangkat syiar – syiar Islam di parlemen sebagai bentuk permainan peran oposisi, untuk menyempurnakan pentas demokrasi, dan menampakkan adanya pluralitas seluruh kelompok – kelompok politik dalam setiap keputusan yang mereka ambil. Seandainya parpol Islam berhasil seluruhnya di dalam pemilihan, mereka tetap tidak akan berhasil mencapai jumlah yang diminta untuk menerapkan hukum Islam di suatu negeri. Bagaimana mungkin hal  itu bisa terjadi, sementara mereka sendiri telah bersumpah sebelum masuk ( menjadi anggota ) parlemen untuk menjaga undang – undang dasar yang ada ...?! Kenyataan yang ada membuktikan bahwa keberhasilan partai – partai politik yang mengangkat syiar – syiar Islam, seperti yang ada di Turki, adalah setelah mereka memberikan jaminan ( garansi ) terhadap para penguasa untuk tetap menjaga sekularisme di negara itu. Jika hal itu tidak dilakukan, tentu saja mereka tidak diizinkan untuk mengikuti Pemilu. Bukti nyata atas hal ini adalah apa yang terjadi di Aljazair.        &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ketiga, banyak parpol Islam yang terlibat dalam Pemilu membenarkan perbuatan mereka, dengan dalih, kita tidak ingin membiarkan lapangan ini untuk orang – orang yang tidak bertaqwa; dan kami memilih orang yang lebih baik ( shalih ) untuk aktivitas tersebut. Apa jadinya, menurut mereka, apabila pemerintahan dan kekuasaan dikuasai oleh orang – orang kafir, orang – orang zalim, munafik dan fasik ...? kami mengatakan kepada mereka, yang mengatakan itu, bahwa memilih yang lebih baik bisa dilakukan terhadap perbuatan yang direstui oleh Islam. Namun, jika perbuatan itu diharamkan, bahkan keharamannya amat besar di sisi Alloh SWT, yaitu bersandar pada selain syariat Alloh SWT, maka tidak dibolehkan memilih yang baik ( shalih ) atau pun yang tidak baik untuk itu. Orang – orang yang shalih  lagi bertaqwa tidak akan mengajukan diri mereka menjadi wakil dari manusia dalam hal pembuatan hukum – hukum selain Alloh SWT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Jika demikian kenyataannya, apa yang sebenarnya dicari oleh oleh kaum Muslim...? Lalu, bagi parpol Islam, apa yang sebenarnya yang anda cari...? Maka dari itu, kaum Muslim harus lebih berhati – hati jika ingin ikut dalam Pemilu. Jangan sampai kita termasuk ke dalam golongan yang Alloh SWT ceritakan didalam &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Al – Qur’an Surat Al – Ma’idah ayat : 51, 55, dan 57.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Bahkan Alloh SWT bertanya kepada kita semua didalam &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Al – Qur’an Surat Al – Ma’idah ayat : 50 &lt;/span&gt;. Silahkan jawab sendiri ...?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;Tapi sebelumnya silahkan buka Al – Qur’annya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Semoga bermanfaat, amien.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sumber : Majalah Al – Wa’ie&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVWhpQFnHASBwZahGmLsQ3NTLVfKi_fgUJBmwRhyCUsmOEtkSS9oblkgDpapCYQrcx2DMRe7vIq6r1WkkULsdmLHDIlLOtpymTX9Jd4asPu9crBU-pLFR2VJtIs7HleMh5IVhrcbP1w0w/s72-c/BSMLH_B.BMP" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item><item><title>Profil Michael Heart "Sang Musisi Penuh Cinta Untuk Gaza"</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/02/profil-michael-heart-sang-musisi-penuh.html</link><category>Profil</category><pubDate>Mon, 9 Feb 2009 06:19:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-3378359910855438296</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrrNovFNd920bhK_emmWIHEVEPfop5BB_aJFJFftlc9p6hGfprodG_BA38wZts2TXWiK8COLYISgAQ-uEGapnr50LAUwhNbzu6zWDnII-D2Ui9o904MkmnmPX7dFsZTfv_2OcxDWJW0QM/s1600-h/n757609707_1195087_1909.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrrNovFNd920bhK_emmWIHEVEPfop5BB_aJFJFftlc9p6hGfprodG_BA38wZts2TXWiK8COLYISgAQ-uEGapnr50LAUwhNbzu6zWDnII-D2Ui9o904MkmnmPX7dFsZTfv_2OcxDWJW0QM/s200/n757609707_1195087_1909.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300803015903868178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgaD6vm1opcNVaLjLJYkje6I-WDGuxf_-o9wGWl0MEYt5P8n757Ybx_anFBDDCVkzT5IzrKjqYdAxuw-3GsQFYAbQrtpySh2NZiYq6yDXkavmEckcNVR4vLCKWSBwhyjjl9QQTkiFB2zRs/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 204px; height: 121px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgaD6vm1opcNVaLjLJYkje6I-WDGuxf_-o9wGWl0MEYt5P8n757Ybx_anFBDDCVkzT5IzrKjqYdAxuw-3GsQFYAbQrtpySh2NZiYq6yDXkavmEckcNVR4vLCKWSBwhyjjl9QQTkiFB2zRs/s200/images.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300803012092445218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Michael Heart, pria kelahiran Syria yang menetap di Los Angeles, Amerika Serikat, menerima sambutan banyak orang sejak lagunya, We Will Not Go Down, dikenal luas. Musisi Amerika ini mengaku merasa senang dan bahagia dengan album yang ditujukannya untuk anak anak Palestina itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pria yang dibesarkan di Eropa, khususnya di Swiss dan Austria itu, merasa marah dan terharu melihat korban di sekolah PBB yang memberikan inspirasi baginya untuk mengarang lagu yang ditujukan untuk korban Gaza.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Michael yang hidup dalam berbagai budaya ini menggratiskan lagunya untuk di-download. Hanya saja ia menyarankan untuk memberi sumbangan ke Unicef atau ke organisasi yang berdedikasi untuk mengurangi penderitaan rakyat Palestina.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Michael yang belajar piano dan gitar di usia 10 tahun, dan mulai menulis lagu dan sempat melakukan rekaman setelah menyelesaikan pendidikan dari Full Sail (sekolah rekaman), dan akhirnya hijrah ke Los Angeles di tahun 1990.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Selama 18 tahun, Michael bekerja di studio lokal. Selain bermain gitar, dia juga bekerja sebagai recording engineer untuk artis terkenal, seperti Brandy, Will Smith, Toto, Natalie Cole, The Temptations, Phil Collins, Patty LaBelle, dan The Pointer Sisters.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Michael yang juga dikenal dengan nama Annas Allaf membantu rekaman kelompok Earth Wind &amp;amp; Fire dan artis terkenal lainnya seperti Ricky Lee Jones, Lou Rawls, Jesse McCartney, Hillary Duff, Jessica Simpson, Jennifer Paige, Al Jarreau, KCi &amp;amp; Jojo, Deborah Cox, Monica, Taylor Dayne, Keiko Matsui, Steve Nieves, Luis Miguel dan Tarkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kefasihan Michael berbahasa Perancis menjadi bonus saat ia bekerja dengan artis Perancis, seperti Calogero (The Charts), Marc Lavoine dan Veronique Sanson.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Selain bekerja di studi rekaman, Michael pernah melakukan tur di awal tahun 90-an sebagai pemain gitar flamenco bersama Juan Manuel Canizares pada pembukaan konser Dire Straits.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Awal Januari 2009, Michael menulis dan sekaligus menyanyikan lagu yang menceritakan situasi masyarakat Palestina in Gaza. Lagu yang diberi judul We Will Not Go Down itu akan terus bergema di hati masyarakat dunia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Banyak cara untuk men-support perjuangan rakyat Palestina di Gaza, salah satunya dengan lagu. Seorang penyanyi di Los Angeles Amerika Serikat – Michael Heart, membuat sebuah lagu khusus yang dia tujukan untuk rakyat Gaza yang sampai saat ini masih jadi sasaran pembantaian oleh Zionis Israel.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;michael_heart1xSejak dia merilis lagu yang berjudul “We will not go down” (Song for Gaza) , lagu tersebut mendapat banyak respon, berupa komentar dukungan, sampai ia sendiri kewalahan menjawab dan membalas berbagai email yang masuk.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Walaupun lagu itu baru di rilis, namun telah ratusan ribu orang melihatnya di youtube dan mendownload MP3 nya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Lirik lagu “We will not go down” sendiri sangat menyentuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Salah satu bait lirik dari “We will not go down”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Women and children alike&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Murdered and massacred night after night&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;While the so-called leaders of countries afar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Debated on who’s wrong or right&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Michael Heart menggambarkan kondisi rakyat Gaza akan gempuran Zionis Israel dalam lagunya itu membuat kita merasa tersindir dan sedih akan nasib rakyat Gaza.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Awalnya dia berencana dengan menjual CD lagu MP3 nya itu dan hasil penjualannya akan dia donasikan untuk kepentingan amal kemanusiaan untuk penduduk Gaza, tapi karena dia merasa sulit kalau harus sendiri mendonasikan hasil penjualan CD MP3 nya , akhirnya dia memutuskan semua orang bisa mendownload gratis lagu tersebut. Dan dia berharap, setelah mendengarkan lagu itu, orang-orang akan tergerak hatinya untuk membantu rakyat Palestina di Gaza dengan mendonasikan uangnya ke lembaga-lembaga kemanusiaan yang ada atau organisasi yang didedikasikan untuk meringankan penderitaan rakyat Palestina.Sebagai musisi Michael Heart sangat berterima kasih atas dukungan yang diberikan kepada dia atas lagu tersebut. Dan dia berharap setiap orang yang masih mempunyai hati nurani, mendukung perjuangan rakyat Palestina dan membantu mereka walau hanya dengan berupa doa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;(Composed by Michael Heart)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Copyright 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;A blinding flash of white light&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Lit up the sky over Gaza tonight&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;People running for cover&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Not knowing whether they’re dead or alive&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;They came with their tanks and their planes&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;With ravaging fiery flames&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;And nothing remains&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Just a voice rising up in the smoky haze&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;We will not go down&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;In the night, without a fight&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;You can burn up our mosques and our homes and our schools&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;But our spirit will never die&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;We will not go down&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;In Gaza tonight&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Women and children alike&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Murdered and massacred night after night&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;While the so-called leaders of countries afar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Debated on who’s wrong or right&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;But their powerless words were in vain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;And the bombs fell down like acid rain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;But through the tears and the blood and the pain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;You can still hear that voice through the smoky haze&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;We will not go down&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;In the night, without a fight&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;You can burn up our mosques and our homes and our schools&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;But our spirit will never die&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;We will not go down&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;In Gaza tonight &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Link Download Lagu : http://www.michaelheart.com/Song_for_Gaza.html&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sumber : http://www.michaelheart.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;http://sman2prabumulih.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;http://www.kapanlagi.com&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrrNovFNd920bhK_emmWIHEVEPfop5BB_aJFJFftlc9p6hGfprodG_BA38wZts2TXWiK8COLYISgAQ-uEGapnr50LAUwhNbzu6zWDnII-D2Ui9o904MkmnmPX7dFsZTfv_2OcxDWJW0QM/s72-c/n757609707_1195087_1909.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item><item><title>UKHUWAH ISLAMIYAH</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/02/ukhuwah-islamiyah.html</link><category>Islami</category><pubDate>Sun, 8 Feb 2009 06:23:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-314557319394934743</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDX7V3AGVioexvK9uFdGrCu-JehcJubtnEeOkjbUA6plw6S6f783LGgpNckShH2yMLQb1nvWwWGD4ex7cBqw_TDK_VsVlqnAlziHrJacufhISwqWLprY6KhPTqwwJu9WNywonY07ZblBk/s1600-h/BSMMDINA.GIF"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 34px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDX7V3AGVioexvK9uFdGrCu-JehcJubtnEeOkjbUA6plw6S6f783LGgpNckShH2yMLQb1nvWwWGD4ex7cBqw_TDK_VsVlqnAlziHrJacufhISwqWLprY6KhPTqwwJu9WNywonY07ZblBk/s200/BSMMDINA.GIF" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300453851646199730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.    Deskripsi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;1.    Kisah persaudaraan kaum Muhajirin dan Anshor &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ketika turun perintah hijrah ke Madinah, serta merta Rasulullah dan kaum muslimin bersiap untuk melaksanakannya. Mereka ( kaum Muhajirin ) bersegera mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya, meninggalkan segala harta benda bahkan keluarganya. Setibanya di Madinah mereka disambut baik oleh penduduk Madinah. Oleh Rasulullah satu orang Muhajirin dipersaudarakan dengan satu orang dari Anshor. Semisal Rasul mempersaudarakan abu Bakar Ash shiddiq dengan kharijah bin Zuhair. Salah satu yang terkenal adalah kisah persaudaraan Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’d bin Rabi’. Dimana pada saat itu Sa’d bin Rabi’menawarkan separuh hartanya untuk Abdurrahman bin ‘Auf. Bahkan ia juga menawarkan salah satu istrinya untuk Abdurrahman bin ‘Auf. Tapi ia menolaknya dengan halus dan minta ditunjukkan jalan ke pasar untuk berdagang. Dan ternyata dikemudian hari beliau berhasil menjadi pedagang yang kaya raya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;2.    Kisah air minum di medan perang &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dari tafsir Al Qurthubi bersumber dari Al – Adawiy dikisahkan : Ketika terjadi perang Yarmuk, aku pergi mencari keponakanku, dengan tujuan untuk memberi minum disaat ia akan mati. Kudapati ia dalam keadaan sakaratul maut, selanjutnya aku dekati dia dengan membawa sedikit air sambil kutanyakan kepadanya, “ Mau minum air ini ?” Ia menganggukkan kepalanya. Tiba – tiba terdengar suara rintihan salah seorang temannya memelas, maka ia mengisyaratkan agar aku menjumpainya, dan setelah kutemui ternyata ia adalah Husain bin Ash. Lantas aku berkata, “ Mau minum air ini ?” Ia menganggukkan kepalanya, akan tetapi ia kemudian menolak setelah mendengar ada orang lain yang merintih pula, lalu ia mengisyaratkan agar aku menjumpainya. Ketika kujumpai ternyata ia telah syahid. Kemudian aku kembali pada Husain, maka ia pun telah syahid dan aku bergegas keponakkanku ternyata ia sudah syahid pula. Akhirnya, ketiga orang itu tak satupun yang meminum air tersebut karena mereka lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;B.    Defiisi / Pengertian ukhuwah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ukhuwah Islamiyah pada hakikatnya adalah pemberian dan nikmat dari Allah SWT, seperti firman-Nya dalam Al – Qur’an Surat Ali Imran ayat 103 :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Silahkan buka Al – Qur’annya !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ukhuwah Islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang melahirkan perasaan yang dalam terhadap kasih sayang, mahabbah ( kecintaan ), kemuliaan dan rasa saling percaya terhadap sesama orang yang terkait dengan aqidah Islam, Iman dan Taqwa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Imam Hasan Al Bana pernah mengatakan bahwa landasan pokok seorang muslim adalah aqidah dan ukhuwah. Demikian pentingnnya ukhuwah ini, kita dapat melihat dalam siroh bagaimana Rasul terlebih dahulu melakukan / mengikat persaudaraan antara kaum Muhajirin dan anshor sebelum melaksanakan hal – hal lain ketika hijrah ke Madinah. Rasulullah menjadikan persaudaraan tersebut sebagai asa bagi prinsip – prinsip keadilan sosial yang telah terbuktikan sebagai sistem sosial paling baik di dunia. Prinsip – prinsip keadilan ini kemudian berkembang dan mengikat menjadi hukum dan undang – undang syariat yang tetap. Tapi kesemua hukum dan undang – undang syariat ini terbentuk berdasarkan pada basis pertama yaitu ukhuwah Islamiyah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;C.    Nikmat ukhuwah Islamiyah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Begitu besar nikmat yang Allah janjikan bagi mereka yang saling mencintai dan menyayangi karena Allah semata. Keutamaan / nikmat – nikmat tersebut antara lain :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;1.    Wajah mereka akan bersinar ( H.R. Abu Dawud )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;2.    Dosa mereka diampuni ( H.R. Tabrani )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;3.    Pada hari kiamat mereka dibawah naungan ‘arsy ( H. R. Muslim )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;4.    Berada dalam naungan Mahabbah Ilahiyah ( H. R. Muslim )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;5.    Berada dalam surga Allah dan keridhaan-Nya ( H. R. Tirmidzi )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;6.    Merasakan manisnya iman ( H. R. Bukhari – Muslim )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;D.    Membangun Ukhuwah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;1.    Aqidah sebagai dasar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Persaudaraan harus didahului oleh aqidah yang menjadi ideologi dan faktor pemersatu. Persaudaraan antara dua orang yang saling berbeda aqidah dan pemikiran adalah mimpi dan khurafat, apalagi jika aqidah atau pemikiran tersebut akan melahirkan perilaku tertentu dalam kehidupan nyata.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Karena itu, Rasulullah SAW menjadikan aqidah Islamiyah yang bersumber dari Allah SWT sebagai asas persaudaraan yang menghimpun hati para sahabatnya dan menempatkan semua manusia dalam satu barisan ‘ubudiyah hanya kepada-Nya tanpa perbedaan apapun kecuali ketaqwaan dan amal shalih. Karena tidak mungkin persaudaraan, saling tolong menolong dan saling mengutamakan dapat berkembang diantara orang – orang yang dipecah – pecah oleh aqidah dan pemikiran yang beraneka ragam, yang masing – masing senantiasa memperturutkan egoisme dan hawa nafsunya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Persaudaraan yang ditegakkan oleh Rasulullah SAW diantara para sahabatnya bukan sekedar syi’ar yang diucapkan, tetapi merupakan kenyataan yang terlihat dari realitaskehidupan dan menyangkut segala bentuk hubungan yang berlangsung antara Muhajirin dan Anshor.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Adanya hak waris berdasarkan ikatan ukhuwah sebelum turun Al – Qur’an surat Al – Anfal ayat 75, tanpa ikatan keluarga dan kerabat dimaksudkan untuk menampakkan ukhuwah Islamiyah sebagai hakekat yang dirasakan secara nyata. Juga supaya diketahui dan disadari bahwa ikatan persaudaraan dan kasih sayang sesama muslim bukan sekedar slogan yang diucapkan, tetapi lebih dari itu merupakan sesuatu yang memiliki berbagai konsekuensi sosial.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Menyangkut hikmah dihapuskannya hak waris berdasarkan ukhuwah ini, ternyata sistem pembagian warisan yang pada akhirnya ditetapkanpun tidak jauh berbeda. Sebab, sistem pembagian warisan yang secara final ditetapkan juga didasarkan pada hukum ukhuwah Islamiyah, yakni orang yang berlainan agama tidak boleh saling mewarisi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;2.    Tahapan dalam berukhuwah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        1.    Taaruf / perkenalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        2.    Tafahum / saling memahami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        3.    Tanasuh / saling menasehati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        4.    Taawun / saling menolong&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        5.    Takaful / saling melindungi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;        6.    Itsar&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDX7V3AGVioexvK9uFdGrCu-JehcJubtnEeOkjbUA6plw6S6f783LGgpNckShH2yMLQb1nvWwWGD4ex7cBqw_TDK_VsVlqnAlziHrJacufhISwqWLprY6KhPTqwwJu9WNywonY07ZblBk/s72-c/BSMMDINA.GIF" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item><item><title>PROBLEMATIKA UMAT</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/02/problematika-umat.html</link><category>Islami</category><pubDate>Fri, 6 Feb 2009 07:24:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-8445884152987809126</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyjZMEJxzojpmtGYAIZrxEFJsUMLDQ5_n3YiSBTKQOqOODJ6gM_VBE4He-LGrbP2U_peKkj4_mCbWZ1JUSQcDmPfz_4xgLMQNpuuu_8d2y8xLxgFAwqJ63ya7nNdAlcLlYtLNfnxuw-DM/s1600-h/BIMILL~1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 159px; height: 37px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyjZMEJxzojpmtGYAIZrxEFJsUMLDQ5_n3YiSBTKQOqOODJ6gM_VBE4He-LGrbP2U_peKkj4_mCbWZ1JUSQcDmPfz_4xgLMQNpuuu_8d2y8xLxgFAwqJ63ya7nNdAlcLlYtLNfnxuw-DM/s200/BIMILL~1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299706172450114018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dari generasi ke generasi permasalahan umat akan selalu muncul sepanjang sejarah peradaban umat itu sendiri. Hanya ruang dan waktu saja yang membedakan corak permasalahan, namun mempunyai substansi yang sama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pada dasarnya problematika umat terbagi dalamtiga bagian, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;A.    Qadhiyah Nafs ( Problematika Kejiwaan )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Masalah ini merupakan penyakit / gejala individual. Jadi dalam pencegahannya / pengobatannya dilakukan secara individual ( Fardiyyah ) yaitu dengan Tazkiyatun Nafs. Karena secara kodrati, manusia lahir ke dunia ini dibekali dengan 3 sifat utama, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;1.    Muyul / Kecenderungan -  Kecenderungan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sifat muyul ini lebih banyak dipengaruhi oleh alam sekitarnya. Jadi, diperlukan lingkungan yang islami agar sifat muyul itu sesuai dengan fitrahnya yaitu islam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;2.    Gharizah / Naluri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Manusia, selain dibekali dengan sifat muyul. Dibekali pula naluri untuk melakukan sesuatu, misalnya : naluri untuk makan ketika lapar, minum ketika haus, naluri meneruskan kelangsungan hidup dan lain sebagainya. Sifat ini merupakan pembawaan manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;3.    Syahwat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Untuk melengkapi keberadaannya, maka manusia dibekali syahwat untuk melakukan aktifitas hidupnya. Dengan syahwat ini pula orang dapat terjerumus pada aktifitas – aktifitas yang negatif baik secara moral maupun agama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ketiga sifat inilah yang melandasi aktifitas manusia, oleh karena itu harus mendapat arahan sesuai dengan kehendak Sang Pencipta yaitu Alloh SWT. Dalam hal ini Al – Qur’an lah sebagai suatu ketetapan yang postulat dalam mengarahkan dan membimbing manusia. Dengan demikian, penyakit – penyakit kejiwaan yang muncul dari manusia itu disebabkan karena jauhnya manusia dari ketetapan – ketetapan hukum yang postulat yaitu Al – Qur’an. Adapun penyembuhannya adalah dengan tazkiyatun Nafs melalui shalat malam, dzikir, aktifitas  - aktifitas ibadah lainnya. Kecuali itu dengan melakukan proses pembinaan untuk mendalami Al – Qur’an. Dengan demikian perubahan kejiwaan pada tiap – tiap individu merupakan syarat mutlak menuju masyarakat yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;B.    Qadhiyah Mu’ashirah ( Problematika Kontemporer )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Problema ini bersifat bersama, dengan demikian pemecahannya pun tidak dapat dilakukan sendirian, tapi secara ter-organisasi dan rapi melalui proses pembinaan. Secara historis, problema umat dibagi dalam 2 pokok permasalahan, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;1.    Al – Inhirat ( Penyimpangan )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pada fase ditandai dengan adanya :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;-    Penguasa yang kejam;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sejarah mencatat, bahwa banyak sekali penguasa – penguasa diktator yang membantai kaum muslimin di beberapa negara. Padahal mereka beragama Islam, akan tetapi mereka phoby (takut) terhadap ideologi Islam. Bahkan pernah terjadi juga di Negara kita, Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;-    Penyimpangan ajaran Islam;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ajaran Islam telah diwarnai oleh berbagai pemikiran manusia, sehingga muncullah bermacam – macam bid’ah di kalangan masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;-    Munculnya penyeru – penyeru ke neraka;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pengaruh informasi, dalam hal ini besar sekali pengaruhnya terhadap peradaban umat Islam dan kaum muslimin yang kebanyakan berasal dari dunia ketiga. Berbagai informasi, alam filsafat dan ideologi kafir telah banyak disebarkan musuh – musuh Islam dewasa ini. Akibatnya tidak sedikit generasi muda Islam yang menerima mentah – mentah produk pemikiran dan ideologi mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pada akhirnya generasi ini membenci ideologinya sendiri yaitu Islam. Memang suatu dilematika bagi kaum Muslimin dewasa ini, di satu sisi kita tidak boleh ketinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan, disisi lain ilmu empiris yang kita terima telah dilandasi oleh teori dan ideologi tertentu yang bertujuan menghancurkan Islam.Bahkan itu terjadi juga pada para ustadz, kyai dan mereka yang ngaku para ulama ( QS 3: 69 s/d 72 ).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Mereka phoby terhadap ideologi Islam, bahkan sekarang ini mereka berani mengeluarkan fatwa haram tentang rokok dan pemilu. Bukankah setiap orang itu di atur oleh Alloh SWT apalagi jika mereka Islam, jadi dalam melakukan sesuatu itu harus minta izin dulu pada Alloh SWT / meminta petunjuk dari-Nya. Ahhhhhhhhhh pusing, mungkin saya yang gila, bego, tolol atau mereka sendiri yang gila.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Wallahu’alam bis showab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;-    Penghambatan pelaksanaan ajaran Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Sebagai konsekuensi dari kevakuman kekhalifahan umat Islam dewasa ini, maka umat Islam berada di bawah kekuasaan pemerintah yang menggunakan hukum selain Islam. Akibatnya dalam aktifitas kegiatannya, kaum muslimin selalu dibatasi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;2.    Amradu Al – Isti’mariyah ( Penyakit peninggalan Penjajah )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Setelah perang salibberakhir, maka dimulailah etape baru dalam sejarah peradaban umat Islam. Yaitu penjajahan negara – negara barat ( Kristen ) atas dunia Islam. Akibatnya tidak hanya kerugian di bidang ekonomi melainkan meliputi beberapa hal antara lain :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;-    Kekacauan Pemikiran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pukulan yang terberat yang telah ditimpakan oleh penjajah pada kita bukanlah di bidang politik atau ekonomi, melainkan di bidang pemikiran dan mental. Akibatnya generasi kita, kaum muslimin mengalami kekacauan dalam berpikir.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;-    Kekotoran Jiwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;-    Keterbelakangan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Mengentas keterbelakangan umat memerlukan proses pembinaan yang lama dan panjang. Dan hal ini harus dilakukan kaum muslimingenerasi sekarang dan yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;C.    Al – Quwwatul’ alamiyah ( Kekuatan Internasional ) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Kekuatan internasional ini terbagi dalam 3 kekuatan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;1.    Harakatul Yahudi ( Gerakan Yahudi )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;2.    Harakatul Nashara ( Gerakan misi Kristen )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;3.    Harakatul Musyrikin ( Gerakan Musyrikin )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Ketiga kekuatan ini dicorongkan untuk menghancurkan Islam, dengan pendekatan yang berbeda, namun mempunyai tendensi yang sama yaitu menghancurkan Islam sampai keakar - akarnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Merupakan tanggung jawab kitalah sebagai kaum muslimin untuk ikut berpartisipasi mengentas permasalahan umat dewasa ini. Memang disadari atau tidak, pembinaan merupakan prioritas utama dalam mengentas permasalahan umat. Tanpa itu hanya akan merupakan pekerjaan yang sia – sia dan tidak mengarah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Adapun yang merupakan problema yang mendesak adalah bagaimana menyusun sistem pembinaan yang Islami, sehingga mampu menjawab tantangan zaman di era globalisasi ini. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa sintesa antara ilmu – ilmu empiris yang diimbangi dengan konsep – konsep Al – Qur’an serta disiplin ilmunya itulah barangkali suatu sistem pembinaan periode mendatang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Akhirnya sejauh manakah keterlibatan kita dalam proses perubahan ini ...?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dan apa pula usaha – usaha yang telah kita kerjakan serta program – program yang kita rancang untuk masa mendatang.&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyjZMEJxzojpmtGYAIZrxEFJsUMLDQ5_n3YiSBTKQOqOODJ6gM_VBE4He-LGrbP2U_peKkj4_mCbWZ1JUSQcDmPfz_4xgLMQNpuuu_8d2y8xLxgFAwqJ63ya7nNdAlcLlYtLNfnxuw-DM/s72-c/BIMILL~1.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item><item><title>Mau Dapat Uang Dari Internet Dengan Modal Seadanya ....???</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/02/mau-dapat-uang-dari-internet-dengan_04.html</link><category>Bisnis</category><pubDate>Wed, 4 Feb 2009 09:44:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-5550252184790376784</guid><description>&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Pasti anda semua bertanya – tanya, bagaimana cara mendapatkan uang dari internet dengan modal seadanya ...??? Terutama bagi anda semua yang awam tentang dunia internet atau dunia maya.  Sebenarnya cara untuk mendapatkan uang dari internet itu bisa di bilang sangat mudah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tapi, ada syaratnya coy ....?????? Penasaran, apa saja sih syaratnya ...???&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Syaratnya ada 2 :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;1.Tentu saja uang buat modal awal. Tapi santai saja coy, uang yang dibutuhkan masih terjangkau dengan isi dompet kita. Pasti anda kembali bertanya – tanya, berapa sih uang yang harus saya jadikan modal ....???? Ok coy, uang yang dibutuhkan hanya sebesar Rp. 10.000,- . Tapi kalau uang sebesar itu masih terlalu “ MAHAL “, cukup dengan Rp. 5.000,-  atau batas minimal Rp. 3.000.-.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;2.Nah syarat yang terakhir dan yang paling mendukung, adalah bahasa Inggris. Jika anda semua bisa bahasa Inggris, insya Alloh semuanya pasti lancar. Amien.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Gimana, anda sudah memenuhi ke - 2 syarat diatas tadi. Nah bila anda sudah memenuhi ke – 2 syarat diatas, kita bisa langsung nyari uang dari internet. Tapi bagaimana bila anda belum memenuhi ke – 2 syarat diatas, contohnya anda hanya bisa memenuhi syarat yang ke – 1 atau   ke – 2 saja. Tentu itu percuma, karena syarat yang tadi, saling mendukung jadi anda mau tidak mau harus memenuhi ke – 2 syarat diatas. Tapi kalau anda hanya bisa memenuhi salah satu syarat saja, ga usah khawatir coy, anda bisa nyari teman buat jadi partner anda. Kemudian jelaskan pada teman anda itu. Nah jika anda sudah mendapatkan teman kita bisa langsung nyari uang dari internet.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;OK coy, kita langsung bahas saja, cara bagaimana mendapatkan uang dari internet dengan modal seadanya ...????? Saya sarankan anda gunakan fasilitas yang ada, seperti komputer pribadi ,HP alias hand phone atau pergi saja ke warnet. Nah setelah itu langsung saja buka situs :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;1.A.W. Survey.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;http://www.awsurveys.com/HomeMain.cfm?RefID=Mr.%20T&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;2.Clixsense.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;  http://www.clixsense.com/?2690003 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Setelah itu, anda daftar dulu dan mulailah nyari uang dari internet. Lumayankan buat uang tambahan, bisa mendapatkan $ 75 sampai  $ 100.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;OK, SELAMAT MENCOBA COY !!!!!!!!!!!!!!!!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Nb : Khusus bagi anda yang muslim, jangan lupa keluarkan infaknya 2,5 %&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    dari penghasilan anda. Biar uangnya berkah dan sebagai tanda syukur kepada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;    Alloh SWT.&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item><item><title>Jalan Menuju Ma’rifatulloh</title><link>http://tofi25.blogspot.com/2009/01/jalan-menuju-marifatulloh.html</link><category>Islami</category><pubDate>Thu, 29 Jan 2009 23:58:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4025612144509355756.post-3908339315531896096</guid><description>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;1. Muatabah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;          &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Dari segi bahasa muatabah berakar dari kata “ taba “ yang karena pengaruh perubahan bentuk bisa menjadi kata “ inabah / muatabah “. Kata ini secara hakiki mempunyai arti penyesalan dan secara lughowi muatabah adalah meninggalkan dosa2x seketika dan bertekad untuk tidak melakukannya lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Taubat # QS 66 : 8.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;a) Taubat dibagi menjadi 3 :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Taubatul ‘am&lt;/span&gt;: &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Taubatan yg d lakukan scara umum, bila seseorang telah melakukan p’rbuatan yg menyimpang dari aturan2x yg telah d gariskan agama ( Taubatul ‘am )       &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;QS 24 : 31&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Inabah&lt;/span&gt; : &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;kembali dari yg baik menuju kepada yg lebih baik demi memohon keridhoanAllah. &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;QS 50 : 32 – 33&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Taubatul rasul&lt;/span&gt; :&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt; p’rtaubatan yg d lakukan oleh para Nabi &amp;amp; Rasul.&lt;/span&gt;   &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;QS 9 : 82&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;b) Kewajiban bertaubat :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Seorang muslim harus b’rtaubat. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;QS 2 : 222, 24 : 31,66 : 8&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Secara hakiki manusia adalah mahluk lemah yg tidak memiliki kekuatan, daya &amp;amp; upaya untuk t’rlepas dari salah &amp;amp; dosa.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Pendekatan diri kepada Allah yg d mulai dg upaya penghapusan dosa dlm p’rtaubatan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:100%;" &gt;c) 3 Prinsip dlm Menyikapi P‘rgaulan dg Sesama Manusia :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Mengalah&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Ikhlas dlm setiap amal dan gerak langkah&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Pemaaf&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;2. Muroqobah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;        &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Secara harfiyah bisa d artikan awas – mengawasi / berintai2xan. Sementara  muroqobahdalam pandangan tassawuf ada 2 definisi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Menurut &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Al – Qusyairi&lt;/span&gt;, muroqobah adalah bahwa hamba tahu sepenuhnya bahwa Allah selalu melihatnya.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Menurut &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Abdul Aziz Ad – Darainy&lt;/span&gt;, muroqobah adalah tahu bahwa sesungguhnya Allah mendengar, mengetahui dan melihat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Dari ke-2 definisi t’rsebut, kesimpulan yg dapat d tarik adalah bahwa muroqobah ialah suatu keadaan seseorang yg menyakini dg sepenuh hati bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;QS 2 : 186, 50 : 16&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;# Dasar2x Hukum Muroqobah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;QS 2 : 186&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;QS 50 : 16&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;QS 57 : 4&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;QS 67 : 13&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;QS 96 : 14&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;@Hadist : Dari Ubadah Bin Shamit r.a : Rasululloh SAW bersabda : “ Semulia – mulianya iman  seseorang adalah bahwa ia tahu sesungguhnya Allah beserta dia dimana saja berada. “&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;NB : Hadist d atas sebenarnya saya tidak tahu siapa rawinya, tapi karena di Al – Qur’an ada rujukannya maka saya berani menampilkan hadist ini. Jika di antara kalian ada yang tahu siapa rawinya tolong beri tahu saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;# 2 Sebab Mengapa Manusia Tidak Merasa Di Awasi Oleh Allah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Banyaknya kesibukan untuk mengurusi urusan2x dunia yang tidak sedikitpun urusan tersebut ada orientasinya kepada Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Banyaknya dosa yang telah terbiasa d lakukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;#&lt;/span&gt; Buah Dari Muroqobah, ada 3 :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;1) Haya’ ( Sifat Malu )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;“ Malu dan iman merupakan 2 hal yang tidak bisa d pisahkan. Jika yang satu tiada maka yang lainnya pun tiada pula. “&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;# Ada 3 macam malu :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Malu terhadap manusia&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Malu terhadap diri sendiri&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Malu terhadap Allah&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;“ Malu yg sebenarnya adalah kamu bisa menjaga kepala &amp;amp; pikiranmu, perut &amp;amp; isinya dan hendaklah kamu mengingat mati dan kebinasaan, Barangsiapa yg menginginkan kesenangan hidup d akherat, maka hendaklah meninggalkan hiasan kesenangan hidup d dunia dan lebih memilih akhirat daripada dunia. Barangsiapa yg melakukan itu, maka dia benar2x malu kepada Allah. “&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;2) Haibah ( Hormat )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Tumbuhnya perasaan haibah kepada Allah. Haibah d sini d mana seseorang mengagungkan Allah atas dasar haibah, dan tidak berani karena takut. Dalam rasa haibah ini sesungguhnya menumbuhkan perasaan takut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;3) Ta’dzim ( Memuliakan )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Artinya mengagungkan / membesarkan. Buah tindakan dari muroqobah setelah rasa malu dan hormat kepada Allah adalah tertanam rasa memuliakan – Nya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;3. Mujahadah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;          &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Adalah jika seseorang mempunyai keinginan kemudian d sertai kemauan untuk berbuat dan berusaha untuk mendapatkannya pastilah orang tersebut akan mendapatkannya. Arti lainnya adalah penekanan nafsu dari hal2x yang menggiurkan dan pelaksanaan melawan keinginan hawa nafsu tersebut pada setiap saat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;# Sumber Pengambilan Kata Mujahadah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;li&gt;QS 22 : 78&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;li&gt; QS 29 : 69&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;“ Kita kembali dari perjuangan yang kecil menuju pada perjuangan yang besar, yaitu perjuangan melawan Hawa Nafsu. “&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;4. Musyahadah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;         &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan Mujahadah, niscaya Allah akan memperbaiki Sirnya / Hatinya dengan Musyahadah. Musyahadah adalah nampaknya Allah pada hamba – Nya d mana seorang hamba tidak melihat sesuatu apapun dalam beribadah kecuali hanyalah menyaksikan dan menyakini dalam hatinya bahwa ia hanya berhadapan dan d lihat oleh Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;# Ada 4 Tingkatan Musyahadah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Mati Tabi’iàDzikir qolbi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Mati Ma’nawià Dzikir Lathifatur Ruh&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Mati SuriàDzikir Lathifatur Sirri&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Mati HisiàDzikir Lathifatur Hafi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;5. Mukasyafah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Mukasyafah mempunyai arti terbuka tirai. Tirai d sini adalah sebuah tabir gelap yang menghalang2xi syuhudnya seorang hamba kepada Tuhannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;# Mukasyafah terbagi 2 :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Mukasyafah Rubbubiyah artinya adalah terbuka tirai ke – Tuhanan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;li&gt;Mukasyafah Ghaibiyah artinya adalah terbuka tirai keghaiban.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;6. Mahabah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;        &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Secara harfiyah mahabah adalah CINTA. Tetapi apakah hakekat cinta itu …..???????? secara teori, cinta adalah sebuah perilaku emosional yang jauh sekali hubungannya dengan perilaku rasional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;# Buah Mahabah Kepada Allah :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;1) Al – Uns&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Mempunyai arti suka cinta jiwa / rasa suka dan kegembiraan yang tiada tara karena terjadinya mukasyafah kepada Allah dengan segala keindahanm dan keparipurnaan – Nya saat Taqorrub kepada Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;2) Wushul&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;        &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Adalah manakala seorang hamba d bukakan pesona Al – Haq dan ia tenggelam d dalamnya. Menurut kebanyakan Sufi, Wushul adalah buah dari musyahadah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;3) As – Syauq&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt; Biasa d artikan rindu. Rindu adalah merupakan perasaan yang bersatu padu dengan rasa cinta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;7. Ma’rifat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;        &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Bila d lihat segi bahasa mempunyai arti pengetahuan ( Pengetahuan yang tidak menerima keraguan lagi ). Jadi artinya adalah suatu pengetahuan yang d dasarkan atas keyajinan yang penuh terhadap sesuatu hingga hilanglah suatu keraguan. Jalan menuju ma’rifatullah adalah mengenali hakikat manusia dan mengenali eksistensi Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;NB : Jika anda membaca tulisan ini, tolong baca dengan hati – hati dan cermati setiap kata per katanya. Apalagi jika anda jarang mempelajari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt; “ TAUHID “ !!!!!!!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Maaf, tulisan d atas merupakan pendapat saya, jadi jika ada yg b’rbeda pendapat maaf saja. Karena p’rbedaan merupakan karunia dri Allah. Contohnya : jari jemari kita sendiri, mereka semua b’rbeda tapi mereka tak pernah mempersoalkan perbedaan itu malahan mereka salaing mendukung satu sama lainnya, dan itulah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 204, 0);"&gt; “ ISLAM “&lt;/span&gt;. &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>tomifirmansyah2rocketmail.com (Tomi25)</author></item></channel></rss>