<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>Anjos Blog</title><link>http://andijosua.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/AnjosBlog" /><description></description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (anjos)</managingEditor><lastBuildDate>Thu, 16 Feb 2012 19:19:45 PST</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">148</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info uri="anjosblog" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">Government &amp; Organizations/National</media:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:subtitle></itunes:subtitle><itunes:category text="Government &amp; Organizations"><itunes:category text="National" /></itunes:category><feedburner:emailServiceId>AnjosBlog</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item><title>12 Tahun untuk 1</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/3XrUfc9KnSY/12-tahun-untuk-1.html</link><category>pendidikan</category><category>opiniku</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 25 Dec 2011 07:38:32 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-2534585773443935672</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kondisi saat ini sudah tidak ada lagi  satu lowongan pekerjaan pun yang membutuhkan minimal syarat pelamarnya  serendah-rendahnya lulusan Sekolah Dasar (SD). Bahkan untuk menjadi  seorang prajurit tamtama pun yang pada syarat-syaratnya hanya  membutuhkan sebuah ijazah Sekolah Menengah Pertama(SMP) pun banyak  dilamar dengan mengunakan ijazah Sekolah Menengah Atas(SMA). Di tempat  kerja lain saat ini untuk mengapatkan pekerjaan hanya dengan bermodal  lulusan SMA bukanlah hal yang sangat mudah. Untuk menjadi seorang tukang  bersih-bersih kantor pun harus terlebih dahulu memiliki ijazah SMA.  Yang sangat ironisnya di birokrasi pemerintahan bahkan nyaris tidak  menerima lagi seorang dengan lulusan SMA untuk menjadi Pegawai Negeri  Sipil. Sehingga banyak para sarjana yang ditempatkan sebagai juru ketik  bahkan sebagai pengantar surat. Menjadikan ilmu yang didapatkan selama  dibangku kuliah menjadi sia-sia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari hal diatas dapat dilihat  telah terjadi pergeseran kegunaan bangku pendidikan yang semula untuk  memperkaya ilmu pengetahuan guna kepentingan orang banyak menjadi  sekedar mencari ijazah untuk melamar pekerjaan. Meskipun disiplin ilmu  yang dimiliki tidak dipahami namun bangga menggunakan gelar tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3786128380077614162&amp;amp;postID=2534585773443935672" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menilik persekolahan saat ini yang  tidak pernah lepas dari sebagai yang utama untuk mendapatkan ilmu  pengetahuan menjadi beban yang berat bagi penyelenggara persekolahaan  tersebut. Apalagi program pendidikan secara nasional tidak pernah bisa  secara bulat-bulat diterapkan di persekolahan di daerah. Meskipun untuk  mengakomodir itu di buatlah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang  memberikan otonomi bagi setiap satuan pendidikan di daerah untuk membuat  program pendidikannya tersendiri dengan tidak lari dari program  pendidikan secara nasional. Tetap tidak memberikan solusi dalam  peningkatan kualitas pendidikan didaerah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padahal pola pikir masyarakat  saat ini hasil dari sekolah sekurang-kurangnya memiliki selember izajah.  Kemudian ijazah itu akan di pergunakan untuk mencari pekerjaan.  Sementara itu lapangan pekerjaan saat ini menuntut pendidikan formal  setinggi-tinggi  dengan dibuktikan ijazah. itulah sebabnya perlu  diadakan pengurangan ijazah pada jalur pendidikan di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun sebelum melakukan hal  tersebut terlebih dahulu diperkecil tingkatan persekolahannya. Dengan  cara : seandainya di sebuah kabupaten kota ada 10 Sekolah Dasar dan (SD)  5 Sekolah Menengah pertama (SMP) dan 3 Sekolah menengah atas. Jika  setiap sekolah memiliki siswa kelas 6 sebanyak 10 orang maka ketika  lulusan itu akan melanjut dilakukan perengkingan secara menyeluruh.  Selanjutnya jumlah lulusan itu dibagi rata sebanyak jumlah SMP yang ada  dengan mengitukti urungan perengkingan demikian halnya juga dengan  melanjutnya ke SMA.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemberlakuan demikian sebenarnya  hanya menyelaraskan apa yang sudah berjalan selama ini yakni untuk  meneyebutkan kelas 1 SMP sudah menjadi kelas 7. Itu artinya persekolahan  itu berlanjut secara terus menerus. Dengan demikian memberlakukan  Ijazah 1 untuk 12 tahun tidaklah hal yang menyulitkan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keuntungan  dengan memberlakukan itu adalah anggaran untuk pencetakan ijazah bisa  dialihkan untuk keperluan lainnya. Disamping itu pungutan liar yang  sering terjadi saat penerimaan ijazah akan terminimalisir.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-2534585773443935672?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=3XrUfc9KnSY:WzlphzIn-Pg:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/3XrUfc9KnSY" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-25T22:38:32.080+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/12/12-tahun-untuk-1.html</feedburner:origLink></item><item><title>Stop Natural</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/Ok55bCqf0NM/stop-natural.html</link><category>opiniku</category><category>umum</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 25 Dec 2011 07:35:20 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-6701569769051642600</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semua orang sepertinya memberikan harapan yang besar kepada persepakbolaan Indonesia untuk mampu mengangkat martabat bangsa ini di tengah-tengah keterpurukan yang kian menjadi-jadi. Cara-cara instan pun ditempuh untuk menggapai harapan itu. Yakni dengan melakukan naturalisasi yang tidak tanggung-tanggung jumlahnya. Seteleh Gonzales, irfan dan kim kini ditambah dengan 5 orang lainnya, kelimanya rata-rata telah merumput di Indonesia selama 5 tahun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menaturalisasi pemain memang salah satu cara untuk mendongkrak prestasi sepakbola Indonesia. Meskipun belum ada jaminan jika semakin banyak pemain yang dinaturalisasi maka prestasi akan dicapai. Sangat aneh ketika terlalu sulit untuk menemukan 30 orang dari jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 230 juta jiwa untuk membela bangsa ini memaluli sepakbola sehingga harus melakukan naturalisasi. Secara tidak langsung orang-orang yang melakukan naturalisasi ini telah melecehkan dan menuduh secara tidak langsung bahwa generasi bangsa ini tidak memiliki kelayakan dan kemampuan untuk membela martabat bangsa ini dikancah internasional.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akibatnya yang terjadi bagi generasi sepakbola ditanah air ini sama seperti apa yang terjadi dengan pelaku usaha kecil di Indonesia. Yakni sama-sama tidak mau lagi melakukan  pengembangan. Karena telah berpikir instan bahwa “untuk apa capek mengembangkan kalau ada yang bisa langsung dinikmati(konsumsi)”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setiap kali Timnas bertanding di Indonesia stadion tempat pertandingan pasti selalu penuh dengan sporter, disamping itu diberbagai tempat di Indonesia juga akan menonton pertandingan melalui televisi. Hal itu menunjukkan bahwa semua penduduk Indonesia mengharapakan kemenangan bagi Timnas Indonesia. Karena kemenangan tersebut mampu membangkitkan semangat heroik dan rasa bangga akan bangsa ini sehingga timbul rasa memiliki akan Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun hal itu menjadi sebuah kekwatiran ditengah-tengah maraknya naturalisasi di tubuh Timnas Indonesia. Sebab pada kondisi tertentu semua pasti sadar bahwa kemenangan timnas bukanlah kemenangan sempurna bagi bangsa ini. Sebab orang yang berjuang untuk martabat bangsa ini orang yang hanya mencari nafkah bagi dirinya sendiri. Sementara rasa Nasionalisme yang dimilikinya masih dipertanyakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semua orang memang menuntut agar Timnas mampu memberikan kemenangan. Tapi bukan berarti melakukannya dengan cara-cara yang berhubungan dengan bisnis mencari nafkah seperti naturalisasi. Harusnya kemenangan itu diperoleh karena sifat heroik membela bangsa ini. Oleh karena itu sebaiknya Naturalisasi di tubuh Timnas harus dihentikan. Pergunakan saja putra-putra bangsa ini. Bukan tidak ada orang –orang terbaik dari 230 juta penduduk Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk apa meraih kemenangan atau mungkin ikut piala dunia namun yang bertanding bukanlah warga penduduk Indonesia yang sejak lahir telah di Indonesia. Apa yang dibanggakan ketika Gonzales atau siapa pun dari yang di naturalisasi memberikan kemenangan bagi Indonesia. Tetapi bangganya kita ketika bambang, yongki, boas atau mereka lainnya yang dilahirkan oleh perut ibu pertiwi ini. Karena kemenangan itu akan menjadi milik kita sebab kita juga lahir dari perut ibu pertiwi juga yang berarti kita dan mereka adalah saudara susah dan senang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jadi lebih bagus kalah beberapa kali hingga akhirnya berbenah agar menang dengan personil timnas tanpa pemain naturalisasi. Dari pada kemenangan terus menerus tetapi personil timnas di dominasi oleh pemain naturalisasi yang nantinya menghilangkan kesempatan putra terbaik bangsa ini untuk membela Timnas. 
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-6701569769051642600?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=Ok55bCqf0NM:lXB7wZmlL5o:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/Ok55bCqf0NM" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-25T22:35:20.374+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/10/stop-natural.html</feedburner:origLink></item><item><title>Indonesia Meledak Lagi!</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/AeqQa5q2bqA/indonesia-meledak-lagi.html</link><category>sospol</category><category>opiniku</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 25 Dec 2011 07:25:52 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-2633991507053291917</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Harus ada lagi yang di evaluasi. Itulah kata yang tepat setelah meledaknya bom  GBIS Solo. Ledakan bom bunuh diri itu kembali mengingatkan ledakan-ledakan yang pernah terjadi di Indonesia.  Prestasi Polri yang berhasil selama ini membekuk para pelaku terorisme seakan-akan kembali dipertanyakan. Artinya setelah penangkapan beberapa kali kelompok teroris Polri seakan-akan kembali tidur tanpa melakukan pencegahan tidak terorisme lagi dengan kecolongannya kembali kejadian bom bunuh diri ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak terlepas dari fungsi Badan Intelejen Negara(BIN) kecolongan ini pun merupakan tanda tanya besar akan apa yang dikerjakan oleh lembaga intelejen ini. Apalagi ledakan terjadi disela-sela pro kontra tentang undang-undang intelejen  yang akan memberikan  fungsi penangkapan kepada BIN. Menjadikan peristiwa ini semakin miris dimata masyatakat. Sementara pemimpin tertinggi dinegeri ini pun selalu melakukan apa yang menjadi hobinya yakni pidato dengan khas emak-emaknya. Padahal yang diinginkan bukan hanya sekedar menyampaikan jaringan teroris mana yang melakukan itu atau apa tindakan aparat hukum yang diambil. Sebab tanpa disampaikannya pun para analisis dan pengamat telah terlebih dahulu menyampaikan apa yang disampaikannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apalagi pimpinan ini pun dalam pidatonya menyinggung UU intelejen tersebut seolah-olah ledakan ini terjadi karena lambatnya pengesahan UU tersebut. Padahal tanpa UU itu peristiwa bom bunuh diri harusnya tidak boleh terjadi lagi. Belum lagi kalau dikaitkan baru-baru ini Indonesia menyampaikan pidato tentang penanganan terorisme di depan Negara-negara lain. Menjadikan pidato tersebut menjadi isapan jempol semata.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ditengah-tengah keresahan masyarakat akan kerukunan umat beragama yang selama ini merupakan sebuah kebanggaan. Pemerintah harus segera melakukan tindakan kongkrit dengan tanpa menunggu hitungan minggu para gerombolan pelaku bom ini harus segera dibekuk. Tanpa alas an yang menghubung-hubungkan pengesahan UU intelejen. Sebab warga Negara butuh ketentraman batin. Agar rasa takut akan acaman bom di menjadi hantu yang selalu menakut-nakuti.
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-2633991507053291917?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=AeqQa5q2bqA:ClhyegNT06k:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/AeqQa5q2bqA" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-25T22:25:52.247+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/09/indonesia-meledak-lagi.html</feedburner:origLink></item><item><title>Media Online Media masa depan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/TRKr6jjvgFI/media-online-media-masa-depan.html</link><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 25 Sep 2011 08:04:41 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-6762958158160064171</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemajuan zaman yang serba cepat saat ini memicu segala perkembangan disegala aspek. Demikian halnya di bidang jurnalisme juga mengalami era digital yang mana setiap orang  mampu mengakses informasi terutama berita aktual dimana pun berada dengan dukungan perangkat telepon selular. Hal ini disebabkan kemampuan media online yang menyuguhkan informasi hanya beberapa menit setelah kejadian dilapangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kota batam yang juga merupakan salah satu kota dengan sentuhan kemajuan teknologi dan informasi menjadikan masyarakatnya semakin membutuhkan informasi berkembang khususnya informasi seputar Kota Batam dari sebuah media online yang terpercaya. Apalagi dengan rencana Kota Batam untuk menbuat konsep digital island mampu memacu perkembangan sumber daya manusia sebagaimana masyarakat lain di Negara-negara maju.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menjawab tantangan itu Batam Today sebagai media online pertama dan terdepan di Batam dan Provinsi Kepulauan Riau menyuguhkan berita dan informasi aktual dengan ulasan menarik. Seperti media online lainnya Batam Today tidak hanya terfokus menyajikan berita seputar Batam saja tetapi juga menyuguhkan para pembaca dengan berita-berita nasional bahkan berita mancanegara. Secara umum Batam Today tidak kalah dengan media-media online lainnya yang telah berumur lama. Oleh sebab itu membaca Batam Today tidak akan ketinggalan informasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meskipun demikian untuk memberikan kepuasan bagi pembaca Batam Today perlu menjaga kualitas berita dari sisi penulisan agar para pembaca merasa sedang berada disituasi yang sama dengan kejadian pada berita tersebut. Disamping itu seperti media online lainnya, kemajuan media online banyak dididukung oleh para jurnalis masyarakat atau yang lebih dikenal dengan citizen journalism maka Batam Today perlu menyediakan tempat dimana warga bisa menberitakan langsung dari lokasi ke Batam Today.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pesatnya perkembangan telepon selular(HP) juga tidak bisa lepas dari bidikan media online seperti Batam Today. Sebab saat ini fasilitas internet yang ada di HP mampu memberikan akses yang seluas-luasnya bagi pemilik HP untuk memperoleh informasi baik melalui Media Online atau cara yang lain. Oleh karena itu Batam Today perlu membuat tampilah Mobile yang lebih ringan agar lebih cepat dalam melakukan akses oleh pembaca. Karena akses yang lambat akan mempengaruhi pembaca untuk meneruskan bacaannya atau bahkan kunjungan berikutnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bila perlu Batam Today menyediakan kolom khusus bagi mahasiswa untuk menulis dan tulisan yang terbit pada Batam Today diberikan honor sebagai motivasi dalam membuat tulisannya lagi. Dalam pemberitaan soal Pemerintah khususnya Pemerintah Daerah, Batam Today harus menempatkan proporsi berita yang berimbang dengan tidak dipengaruhi oleh kepentingan politik dari pihak mana pun. Disamping itu Batam Today kiranya tidak menjadi media provokasi demi kepentingan pembuatan berita. Jika bisa seperti hal itu maka maka slogan Batam Today Media Online Pertama Dan Terdepan tidak hanya akan menjadi slogan semata.&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-6762958158160064171?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=TRKr6jjvgFI:9mIl7ACj2Pg:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/TRKr6jjvgFI" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-25T22:04:41.132+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/09/media-online-media-masa-depan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Pengertian Evaluasi</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/SAtigLlL7RE/pengertian-evaluasi.html</link><category>pengetahuan</category><category>kependidikan</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 26 Jun 2011 00:58:14 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-5537049911109237316</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Evaluasi berasal dari kata evaluation yang artinya suatu upaya untuk menentukan nilai atau jumlah. Kata-kata yang terkandung didalam defenisi tersebut pun menunjukkan bahwa kegiatan evaluasi harus dilakukan secara hati-hati, bertanggung jawab, menggunakan strategi, dan dapat dipertanggung jawabkan. Evaluasi dilaksanakan untuk menyediakan informasi tentang baik atau buruknya proses dan hasil kegiatan. Evaluasi lebih luas ruang lingkupnya dari pada penilaian, sedangkan penilaian lebih terfokus pada aspek tertentu saja yang merupakan bagian dari lingkup tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suchman dalam Arikunto dan Jabar (2010:1) memandang, “evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan”. Defenisi lain dikemukakan oleh Stutflebeam dalam Arikunto dan Jabar (2010:2) mengatakan bahwa, “evaluasi merupakan proses penggambaran, pencarian dan pemberian informasi yang sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan dalam menentukan alternatife keputusan”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengertian evaluasi lebih dipertegas lagi oleh Sudjana dalam Dimyati dan Mudjiono (2006:191), “dengan batasan sebagai proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu”. Lebih lanjut Arifin (2010:5-6) mengatakan, “evaluasi adalah suatu proses bukan suatu hasil(produk). Hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi adalah kualitas sesuatu, baik yang menyangkut tentang nilai atau arti, sedangkan kegiatan untuk sampai pada pemberian nilai dan arti itu adalah evaluasi”. Hal yang senada juga disampaikan oleh Purwanto (2010:3),&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegiatan evaluasi merupakan proses yang sistematis. Evaluasi merupakan kegiatan yang terencanadan dilakuakan secara berkesinambungan. Evaluasi bukan hanya merupakan kegiatan akhir atau penutup dari suatu program tertentu, melainkan merupakan kegiatan yang dilakukan pada permulaan, selama program berlangsung dan pada akhir program setelah program itu selesai.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Sumber :&lt;br /&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin:0in;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:10.0pt;
 font-family:"Times New Roman";
 mso-ansi-language:#0400;
 mso-fareast-language:#0400;
 mso-bidi-language:#0400;}
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Arikunto, Suharsimi dan Jabar, Safruddin Abdul, 2010,&lt;i&gt;Evaluasi Progaram Pendidikan Pedoman Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi pendidikan&lt;/i&gt;, Bumi Aksara, Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin:0in;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:10.0pt;
 font-family:"Times New Roman";
 mso-ansi-language:#0400;
 mso-fareast-language:#0400;
 mso-bidi-language:#0400;}
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 26.95pt; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: -26.95pt;"&gt;Arifin, Zainal, 2010, &lt;i&gt;Evaluasi Pembelajaran Prinsip,Teknik,Prosedur&lt;/i&gt;, Remaja Rosdakarya, Bandung.&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin:0in;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:10.0pt;
 font-family:"Times New Roman";
 mso-ansi-language:#0400;
 mso-fareast-language:#0400;
 mso-bidi-language:#0400;}
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; margin-left: 26.95pt; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: -26.95pt;"&gt;Dimyati dan Mudjiono, 2006, &lt;i&gt;Belajar dan Pembelajaran,&lt;/i&gt; Rineka Cipta, Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Purwanto, Ngalim, 2010, &lt;i&gt;Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran,&lt;/i&gt; Remaja Rosdakarya, Bandung&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-5537049911109237316?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=SAtigLlL7RE:xG3mZfZu8c8:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/SAtigLlL7RE" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-06-26T14:58:14.498+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/06/pengertian-evaluasi.html</feedburner:origLink></item><item><title>Manusia Rekaan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/14X9-m3MMRc/manusia-rekaan.html</link><category>pendidikan</category><category>opiniku</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 25 Dec 2011 07:25:10 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-7465335932701024485</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manusia rekaan bukanlah manusia hasil kloning atau manusia robot. Tetapi manusia yang memiliki jiwa raga tetapi dikekang oleh orang lain sehingga terbentuk menjadi manusia sesuai keinginan orang lain bukan sesuai keinginan pemilik tubuh. Akibatnya si manusia tadi tercipta menjadi manusia yang egosentris. Manusia yang berpikir karena dirinya,bukan karena orang lain. Dia tidak mengganggu orang lain bukan karena orang lain itu tapi demi dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perilaku demikian disebabkan oleh kondisi komponen pendidikan yang sudah tidak selaras lagi. Tiga komponen pendidikan itu adalah keluarga, lingkungan, dan sekolah. Keluarga dalam hal ini orangtua yang merupakan pendidik utama telah lupa akan perannya. Orang tua hanya sibuk dengan urusan pekerjaan sehingga didikan-didikan yang bersifat kearifan lokal tidak lagi didapatkan oleh sianak. Keterbatasan orang tua dalam mendidik harusnya dilengkapi oleh lingkungan justru menjadikan teori terbalik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lingkungan kerap tidak peduli dengan perilaku sianak apalagi ketika lingkungan tersebut merupakan lingkungan yang "tidak sehat". Lingkungan yang seharunya mengajarkan si anak bagaimana membangun komunitas sosial dan rasa solidaritas yang minim didapatkan dikeluarga berubah menjadi mengajarkan pembentukan komunitas ekstrem, yakni komunitas yang mengabaikan kondisi orang lain, komunitas yang merendahkan derajat orang lain. Sementara rasa solidaritas hanya menjadi bagian dari komunitas ekstrem tersebut dan cuek terhadap komunitas diluarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kondisi ini semakin diperparah oleh persekolahan kita, persekolahan yang harusnya memberikan pengajaran mendapatkan beban yang menumpuk akibat kondisi keluarga dan lingkungan tadi. Keterfokusan sekolah harusnya mengajarkan si anak dalam menumbuhkembangkan intelektualnya, berubah menjadi mendidik si anak agar lebih bermoral. Hal ini bisa dilihat dengan gencar-gencarnya Kementrian Pendidikan Nasional untuk melaksanakan pendidikan karakter di sekolah-sekolah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Parahnya persekolahan kita, sianak diajarkan bukan sebagai anak melainkan seperti orang dewasa. Tepatnya dewasa muda. Dimana si anak dituntut untuk bertindak-tanduk layaknya orang dewasa. Orang yang tidak perlu mendapatkan bimbingan dalam mengatasi dirinya. Kondisi demikian terjadi mulai dari tingkatan dasar hingga menengah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahkan ada sekolah yang sengaja membuat si anak ikut berpikir demikian dengan cara membuat peryataan bahwa perbedaan sekolah dasar dan sekolah lanjutan ialah dari cara bermainnya. Jika pada sekolah dasar sesama anak saling kejar-mengejar adalah hal yang wajar tetapi pada sekolah lanjutan itu adalah hal yang tabu. Padahal anak tetaplah anak yang butuk bermain. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Manusia rekaan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuntutan zaman yang serba cepat dan berteknologi tinggi menjadikan setiap orang berpacu lebih cepat dari waktu agar tidak pernah tertinggal meski sedetik. Menjadikan derajat sosial adalah hal yang lebih penting. Anak lahir dan dibesarkan orang tua dengan tuntutan si anak akan mengikuti kemauan orangtuanya, agar kelak sianak mampu menjaga bahkan meningkatkan derajat sosial keluarga mereka. Menjadikan apa yang dimiliki sianak sejak lahir tidak pernah bebas berkembang. Karena lingkungan pun mendorong terjadinya hal itu. Sementara sekolah yang merupakan pembantu orang tua dalam mengajar anak berubah menjadi pemeran utama yang mendapat tugas menjadikan anak seperti keinginan orangtua tadi. Padahal adanya sekolah disebabkan ketidakmampuan lingkungan dalam memberikan pengajaran pada sianak. Sianak sendiri harusnya diberikan kebebasan dalam menentukan pilihannya dengan bimbingan berdasarkan porsi ketiga komponen tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau hal ini terus dibiarkan berlangsung, jelaslah sudah bahwa anak-anak yang bertumbuh di Indonesia ini akan semakin kehilangan daya imajinatif, cipta dan kreativitasnya. Sehingga wajar saja ketika di Indonesia tingkat penganguran terdidik serta pencari kerja tetap tinggi. Sebab anak di Indonesia ini bertumbuh dan berkembang bukan karena kebebasan dalam menentukan pilihannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu langkah terbaik yang harus diambil adalah dengan mengembalikan peran ketiga komponen tersebut. Orangtua mesti mendidik anak tanpa tuntutan berlebihan, lingkungan harus peduli pada perilaku sianak,meskipun anak tersebut bukan anaknya. Jika tidak baik harus ditegur. Anak yang di didik di rumah dan lingkungan barulah layak mendapatkan pengajaran disekolah sehingga sekolah benar-benar menciptakan intelektual-intelektual baru yang siapa membuat perubahan kearah yang lebih baik.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-7465335932701024485?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=14X9-m3MMRc:9cjnRd3s_hg:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/14X9-m3MMRc" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-25T22:25:10.055+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/06/manusia-rekaan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Taruhan Bola</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/5-1vrsaBwWo/taruhan-bola.html</link><category>opiniku</category><category>umum</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 25 Dec 2011 07:35:20 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-7648921307769121731</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapa yang tidak tahu dengan sepakbola, olah raga ini merupakan olah raga yang banyak diminati berbagai kalangan.Bukan hanya kaum adam, kaum hawa pun punya sejuta ketertarikan pada olah raga ini. Tetapi kalau hanya sebagai penonton semata tentu kurang memberikan keberuntungan. Sebab melalui sepakbola keberuntungan pun bisa diuji melalui taruhan bola. Taruhan bola mampu memberikan kenikmatan tersendiri bagi para petaruhnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa tempat untuk melakukan taruhan bola yakni :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. SBOBET &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.bookie7.com/sbobet.html"&gt;SBOBET&lt;/a&gt; menawarkan permainan taruhan online 500 acara pertandingan olahraga setiap minggunya juga terbuka bagi bettors diseluruh dunia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. IBCBET &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.bookie7.com/ibcbet.html"&gt;IBCBET&lt;/a&gt; juga menyediakan taruhan online pada olahraga dan juga produk dari pasar eropa dan asia pasifik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Bola Tangkas Online &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.bookie7.com/bola-tangkas-online.html"&gt;Bola Tangkal online&lt;/a&gt; mampu memberikan permainan taruhan yang fair serta bonus-bons jackpot menguntungkan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agar dapat bermain pada taruhan bola tersebut dibutuhkan account. Oleh karena itu dibutuhkan agen taruhan bola khusus untuk menangani pembukaan account taruhan pada sejumlah tempat itu. Untuk mendapatkan pembukaan account itu dapat dilakukan melalui agen taruhan bola terbesar di indonesia. Agen taruhan itu bisa memberikan kenyamanan bagi penggunanya&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-7648921307769121731?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=5-1vrsaBwWo:HewFalzHh8U:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/5-1vrsaBwWo" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-25T22:35:20.374+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/05/taruhan-bola.html</feedburner:origLink></item><item><title>Baca Berita Melalui Agregator</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/3M-I1kR9PNA/baca-berita-melalui-agregator.html</link><category>opiniku</category><category>umum</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 25 Dec 2011 07:35:20 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-242117187858435664</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Informasi  yang begitu cepat berkembang memaksa umat manusia untuk berpacu lebih cepat dengan waktu. Kejadian yang terjadi beberapa detik yang lalu akan tersebar luas keseluruh penjuru dunia dengan seketika. Hal ini disebabkan dengan berkembang pesatnya pengguna internet sehingga penyebarluasan berita melalui  aggregator berita lebih efektif dan efesien.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu ditengah-tengah kesibukan pekerjaan agar tidak ketinggalan informasi, membaca berita melalui &lt;a href="http://www.berita6.com/"&gt;aggregator berita&lt;/a&gt; merupakan solusi terbaik. Tidak perlu kerepotan dengan lembaran-lembaran kertas atau kesulitan mencari halaman sambungan berita utama seperti membaca Koran. Aggregator berita menyajikan topic-topik berita terbaru sehingga sebagai pembaca tidak ketinggalan informasi. Disamping itu penyajian berita lebih spesifik dengan keinginan pembaca. Pembaca hanya disuguhi judul sehingga hanya perlu membaca judul yang menarik menurut pembaca.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu aggregator berita adalah Berita6, sebuah news feed aggregator Indonesia yang menghimpun dan menampilkan cuplikan berita terkini dari 6 media online terkemuka di Indonesia. Media tersebut adalah Detik,Vivanews, Kompas, Okezone, Kapanlagi, Goal. Jadi sebelum kecewa akan berita pada situs-sius itu, penyajian berita6 membantu untuk memberikan berita yang hendak dibaca. Dengan demikian waktu yang digunakan untuk membaca berita lebih efesien lagi dari pada mengunjungi satu persatu situs-situs berita online tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Membaca berita terkini melalui berita6 memberikan pengalaman menarik bagi pembaca,penyajian yang cukup praktis membuat para pembaca berita tidak kesulitan untuk menemukan berita yang akan dibaca. Berita6 merupakan solusi baru dalam membaca &lt;a href="http://www.berita6.com/"&gt;berita terkini.&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-242117187858435664?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=3M-I1kR9PNA:it8-yuh64SQ:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/3M-I1kR9PNA" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-25T22:35:20.375+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/05/baca-berita-melalui-agregator.html</feedburner:origLink></item><item><title>Souvenir pernikahan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/9VXg64w4A6k/souvenir-pernikahan.html</link><category>opiniku</category><category>umum</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 25 Dec 2011 07:35:20 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-1081562916563009930</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapa pun pasti ingin tampil menarik agar tidak terkesan kampungan. Karena penampilan merupakan gambaran siapa orang tersebut dimata orang yang memandangnya. Untuk memperindah tampilan, berbagai macam dilakukan mulai dari salon kecantikan hingga mode pakaian yang digunakan bahkan souvenir yang kerap dipakai pun merukan salah satu daya tarik bagi si pemakainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun untuk mendapatkan souvenir yang sesuai dengan keinginan kita bukanlah gampang,apalagi jika untuk &lt;a href="http://souveniranda.com/"&gt;souvenir pernikahan&lt;/a&gt;. Biasanaya souvenir untuk pernikahan begitu banyak dibutuhkan sehingga terkadang merepotkan jika tidak pintar-pintar dalam pemesanan. Tetapi tanpa perlu kwuatir semuanya ada di souvenir pernikahan grosir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Souvenir pernikahan grosir merupakan toko online(&lt;a href="http://souveniranda.com/"&gt;souvenir&lt;/a&gt;anda.com) yang menjual berbagai macam produk-produk souvenir seperti tempat tusuk gigi, cermin, dompet, gantungan kunci, kalender, kalkulator, lilin, manicure set, pembuka botol, pulpen, sisir, sumpit, tas, tempat lipstick dan masih banyak lainnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Souvenir pernikahan grosir ini juga Menawarkan Berbagai Jenis Souvenir Pernikahan Yang Unik Dan Menarik. Dan Sudah Tentu Sangat Murah Karena Semua Harganya Grosir Dengan Minimum Order 100 Unit. Bahkan ada potongan-potongan khusus pada pembelian jumlah unit besar seperti : &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk Order 400 s/d 1000 Unit Dapat Potongan 100/unitnya Dari Harga Yang Ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk Order 1100 s/d 1400 Unit Dapat Potongan 150/unitnya Dari Harga Yang Ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk Order &amp;gt;= 1500 Unit Dapat Potongan 200/unitnya Dari Harga Yang Ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kerusakan pada saat pengiriman juga akan diganti oleh pihak Souvenir pernikahan grosir ini dengan biaya gratis. Sehingga sebagai konsumen tidak perlu kwatir mengalalmi kerugian karena kerusakan barang. Itulah pelayanan yang sangat memuaskan yang kita dapatkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Toko online ini juga memberikan kita proses pemesanan yang begitu mudah. Sehingga tidak perlu banyak menguras waktu untuk memesan souvenir yang kita inginkan. Karena pada toko online ini jenis souvenir yang ada, telah tertera pada halaman muka. Sehingga seketika itu juga kita bisa mencari souvenir yang diinginkan karena toko online tersebut telah menyertakan foto-foto souvenir yang dijual. Disamping ini kita juga bisa melihat bagaimana souvenir-souvenir yang dipaket ketika akan dikirimkan melalui menu foto paket toko online tersebut. Bahkan untuk lebih memudahkan Souvenir pernikahan grosir ini telah menyediakan katalog foto dan harga souvenir pernikahan dalam format PDF.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah tunggu apalagi, segera kunjungi toko online &lt;a href="http://souveniranda.com/"&gt;Souvenir pernikahan grosir &lt;/a&gt;agar pemesanan anda lebih mudah dan lebih murah.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-1081562916563009930?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=9VXg64w4A6k:ffnAE8VEAEU:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/9VXg64w4A6k" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-25T22:35:20.376+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/04/souvenir-pernikahan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Refleksi Gempa Nias, Mengembalikan Kearifan dan Kebajikan*</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/JhQC_UMPL74/refleksi-gempa-nias-mengembalikan.html</link><category>sospol</category><category>opiniku</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 25 Dec 2011 07:25:52 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-9185979723313030569</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Masyarakat Nias selama enam tahun terakhir  manja oleh uang yang diberikan lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau  lembaga donor. Ajaran leluhur pun ditinggalkan, mereka selalu mengharap  imbalan di setiap pekerjaan saat menolong orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gempa besar 28 Maret 2005 telah mengundang simpati banyak negara.  Bantuan berdatangan dan banyak program perbaikan dilakukan selama ini.  Nias yang semula terisolasi menjadi perhatian baru dunia.&lt;br /&gt;
Sumbangsih LSM berdampak besar bagi pemulihan kondisi Nias yang  berantakan. Berbagai macam fasilitas hidup diberikan, warga memiliki  penghasilan sebab mereka&amp;nbsp; membutuhkan tenaga kerja warga lokal. Sehingga  perekonomian pun di Nias bergerak dengan laju yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang, kehadiran LSM pada sisi lain menambah kerusakan Nias.  &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Mula-mula gempa hanya merusak fisik, tetapi kucuran dana LSM telah  merusak mental warga. Masyarakat yang semula memiliki&amp;nbsp; sifat  gotong-royong yang kental, dan selalu ikhlas menolong, berubah menjadi  pribadi-pribadi yang uangis (lebih mementingkan uang ketimbang menolong-&lt;strong&gt;Red&lt;/strong&gt;).  Warga lebih mengharap uang pada setiap mengerjakan sesuatu kebajikan  untuk orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebabnya adalah kebijakan LSM yang selalu memberikan uang kepada  warga sehabis melakukan sesuatu pekerjaan. Awalnya hal itu bisa  dimengerti karena kegiatan tersebut telah menyita waktu dan tenaga  mereka. Uang dimaksudkan sebagai pengganti kesempatan menderes getah  karet yang hilang atau kewajiban berladang yang terpaksa ditinggalkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ironisnya, saat masyarakat telanjur&amp;nbsp; kecanduan akan hal itu, LSM satu  per satu meninggalkan Nias karena programnya telah habis. Masyarakat  luas tak menyadari hal itu, mereka hanya berpikir bahwa setiap orang  baru yang datang ke daerah mereka akan membawa bantuan. Paling tidak  memberikan pelatihan yang di akhir pelatihan memberikan uang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Ajaran Ono Niha&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Kini kondisi kerusakan mental itu jadi&amp;nbsp; semakin parah oleh  praktik-praktik perpolitikan lokal. “Tidak ada uang tidak dipilih”,  muncul sebagai semboyan populer baru yang dijumpai&amp;nbsp; para aktivis yang  tengah menggugah kesadaran masyarakat akan bahaya politik uang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Modus pemberian uang pun berganti. Bukan lagi&amp;nbsp; uang untuk pilih  calon, tetapi&amp;nbsp; uang untuk biaya transportasi ke TPS. Seolah-olah  menghilangkan praktik-praktik &lt;em&gt;money politic&lt;/em&gt; di mata masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya pemberian uang ongkos&amp;nbsp; transportasi ke TPS itu pun  dirasakan seperti pemberian uang oleh NGO atas kedatangan mereka pada  kegiatan. Sehingga sifat uangis pun seperti mendapat tempat di  masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup sudah selama 6 tahun ini masyarakat Nias meninggalkan  nilai-nilai falsafah kebudayaannya. Oleh karena itu, langkah terbaik  yang harus dilakukan ialah dengan menggunakan kembali cara-cara lama.  Cara yang digunakan oleh leluhur ono niha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat mesti memfungsikan kembali petuah-petuah leluhur dalam  menyelesaikan masalah. Mesti ada&amp;nbsp; seseorang yang ditokohkan di setiap  perkampungan agar tersedia&amp;nbsp; simbol suara dalam mencari jalan solusi.  Membangkitkan nilai-nilai kearifan dan terpenting semangat  kegotongroyongan yang telah lama ditinggalkan. Dengan begitu kehidupan  di Pulau Nias ini akan kembali ke Kehidupan masyarakat adat yang penuh  dengan kearifan dan kebijaksanaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;*sudah terbit di nias-bangkit.com 31 Maret 2011 &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-9185979723313030569?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=JhQC_UMPL74:St2D6igzWpI:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/JhQC_UMPL74" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-25T22:25:52.247+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/04/refleksi-gempa-nias-mengembalikan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Memulai langkah membangun Nias</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/vatOn6ZkJ5E/memulai-langkah-membangun-nias.html</link><category>sospol</category><category>opiniku</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 25 Dec 2011 07:25:52 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-6131461271649220209</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Usai pemilukada para calon terpilih pun segera bersiap-siap untuk memegang tongkat kepemimpinan dalam membangun daerah otonom di Kepulauan Nias. Hanya tinggal satu daerah lagi yakni Kabupaten Nias, maka era kepemimpinan di Kepulauan Nias ini akan dimulai. Masyarakat pun akan segera membuat daftar evaluasi terhadap para pemimpinnya akan janji yang telah dibuat pada saat kampanye yang lalu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kecenderungan masyarakat dalam menyimpulkan keberhasilan pemimpinnya dengan melihat langkah-langkah awal yang dibuat oleh si pemimpin merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh kepala daerah terpilih. Jika salah menafsirkan keinginan masyarakat, maka seorang pemimpin akan kehilangan kepercayaan masyarakat. Sementara untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat bukanlah hal yang mudah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam melaksanakan pembangunan, kepercayaan masyarakat adalah modal utama yang harus dimiliki kepala daerah. Sebab tanpa masyarakat keberhasilan rencana yang telah dibuat akan berada pada tingkat pencapaian yang sangat rendah. &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Disamping itu seseorang kepala daerah juga harus berhati-hati terhadap bawahan yang selalu memuji tanpa pernah mengkritik. Karena hal itu hanya akan menyebabkan peninaboboan terhadap realitas yang sebenarnya. Teriakan lantang para kepala daerah terpilih(Kabupaten Nias Selatan,Nias Utara,Nias Barat dan Kota Gunungsitoli) tentang program kerjanya pada saat kampanye merupakan bahasa politik utopis sehingga melahirkan jargon-jargon peningkatan kesejahteraan,pengentasan kemiskinan,pengangguran,pendidikan gratis dan banyak lagi. Dimana semuanya merupakan program makro yang tidak terukur,harus segera dibuat terukur. Sebab jika hanya demikian yang terjadi nantinya hanyalah klaim-klaim politik atas program yang dilaksanakan. Dari berbagai deraan yang ada di kepulauan Nias ini perlu ada pilah-memilah persoalan. Khususnya didaerah otonom baru seperti nias utara dan nias barat yang mana kantor-kantor pemerintahan masih minim sehingga memperlambat pelayanan terhadap masyarakat. Kekurangan kantor-kantor pemerintahan tersebut sebaiknya tidak dijadikan kambing hitam dalam melayani masyarakat. Apalagi jika mayoritas anggaran dialokasikan untuk pembangunan kantor,justru akan semakin merugikan masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal yang paling penting dikerjakan oleh kepala daerah terpilih adalah hal yang bahkan presiden sendiri tidak sanggup melakukannya yakni menjaga stabilitas harga. Kerap sekali di Kepulauan Nias ini yang mayoritas petani karet mengalami waktu-waktu tak bisa tersenyum dimana harga karet jatuh hingga lebih rendah dari harga beras. Sehingga untuk makan pun masyarakat menjadi susah. Langkah terbaik yang harus dilakukan untuk menyelesaikan itu adalah dengan membuat Badan Usaha Milik Daerah(BUMD) yang mengelola hasil-hasil bumi di Kepulauan Nias ini. Dengan demikian harga akan bisa dikendalikan. Untuk membuat itu dibutuhkan biaya yang besar. Sementara keuangan dari daerah otonom baru masih minim. Maka semua kepala daerah hanya perlu membuat kesepakatan dengan mendirikan BUMD milik bersama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Langkah berikutnya adalah menjadikan pendidikan dan kesehatan terjangkau. Terjangkau dalam arti ketika masyarakat akan mengeluarkan uang untuk sekolah atau berobat tidak sampai membuat mereka tidak makan. Selain itu para kepala daerah terpilih juga harus segera melakukan konsolidasi pasca pemilukada agar tidak sampai adanya kelompok yang akan kerap menghalang-halangi program pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu para kepala daerah terpilih harus bijaksana dan arif. Mereka harus mengingat bahwa masyarakat pemilih memiliki cita-cita yang harus diwujudkan oleh pemimpinnya. Sementara kepala daerah harus segera mengesampingkan deal-deal yang telah dibangun dengan pihak ketiga semasa kampanye. Tanpa ada rasa kwatir gangguan dari pihak ketiga tadi. Sebab si kepala daerah memiliki konstituen yang siap digaris depan untuk membela,dengan syarat sipemimpin melaksanakan amanah konstituennya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-6131461271649220209?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=vatOn6ZkJ5E:I_JvQ7O7V3s:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/vatOn6ZkJ5E" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-25T22:25:52.248+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/04/memulai-langkah-membangun-nias.html</feedburner:origLink></item><item><title>Prosedur Evaluasi Pembelajaran</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/gosM9OAJh1o/prosedur-evaluasi-pembelajaran.html</link><category>pengetahuan</category><category>kependidikan</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 26 Jun 2011 01:09:45 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-1067620591296038390</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Arikunto dalam Dimyati dan Mudjiono (2006:227-231) membagi prosedur evaluasi pembelajaran menjadi lima tahapan yakni ;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Penyusunan Rancangan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk memperjelas penyusunan rancangan evaluasi pembelajaran, akan diuraikan secara singkat tiap-tiap langkah kegiatannya :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1)  Menyusun latar belakang yang berisikan dasar pemikiran dan/atau rasional penyelenggaraan evaluasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2)  Problematika berisikan rumusan permasalahan/problematika yang akan dicari jawabannya baik secara umum maupun terinci.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3)  Tujuan evaluasi merupakan rumusan yang sesuai dengan problematika evaluasi pembelajaran, yakni perumusan tujuan umum dan tujuan khusus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4)  Populasi dan sample, yakni sejumlah komponen pembelajaran yang dikenai evaluasi pembelajaran dan/atau yang dimintai informasi dalam kegiatan evaluasi pembelajaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5)  Instrumen adalah semua jenis alat pengumpulan informasi yang diperlukan sesuai dengan teknik pengumpulan data yang diterapkan dalam evaluasi pembelajaran. Sumber data adalah dokumen, kegiatan, atau orang yang dapat memberikan informasi atau data yang diperlukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6) Teknik analisis data, yakni cara/teknik yang digunakan untuk menganalisis data yang disesuaikan dengan bentuk problematika dan jenis data.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Penyusunan Instrumen&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Langkah-langkah penyusunan instrumen adalah :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1)  Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan instrumen yang akan disusun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2)  Membuat kisi-kisi yang mencanangkan tentang perincian variabel dan jenis instrument yang akan digunakan untuk mengukur bagian variabel yang bersangkutan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3)  Membuat butir-butir instrument evaluasi pembelajaran yang dibuat berdasarkan kisi-kisi, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4) Menyunting instrumen evaluasi pembelajaran yang meliputi: mengurutkan butir menurut sistematika yang dikehendaki evaluator untuk mempermudah pengolahan data, menuliskan petunjuk pengisian dan indentitas serta yang lain, dan membuat pengantar pengisian instrument.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c.Pengumpulan Data&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam pengumpulan data dapat diterapkan berbagai teknik pengumpulan data diantaranya :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Kuesioner,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Wawancara,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Pengamatan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4) Studi Kasus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d. Analisis Data&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kegiatan evaluasi pemebelajaran, analisis data yang paling banyak dilaksanakan adalah analisis deskriptif kualitatif yang ditunjang oleh data-data kuantitatif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;e. Penyusunan Laporan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam laporan evaluasi pembelajaran harus berisikan pokok-pokok berikut: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Tujuan evaluasi,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Problematika,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Lingkup dan Metodologi evaluasi pembelajaran,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4) Pelaksanaan evaluasi pembelajaran,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5) Hasil evaluasi Pembelajaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara Arifin (2010:88-114) menjelaskan tahapan prosedur mengebangkan evaluasi sebagai berikut&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Perencanaan evaluasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Pelaksanaan evaluasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Monitoring pelaksanaan Evaluasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d. Pengolahan data&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;e. Pelaporan hasil evaluasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;f. Penggunaan hasil evaluasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin:0in;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:10.0pt;
 font-family:"Times New Roman";
 mso-ansi-language:#0400;
 mso-fareast-language:#0400;
 mso-bidi-language:#0400;}
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; margin-left: 26.95pt; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: -26.95pt;"&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin:0in;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:10.0pt;
 font-family:"Times New Roman";
 mso-ansi-language:#0400;
 mso-fareast-language:#0400;
 mso-bidi-language:#0400;}
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 26.95pt; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: -26.95pt;"&gt;Dimyati dan Mudjiono, 2006, &lt;i&gt;Belajar dan Pembelajaran,&lt;/i&gt; Rineka Cipta, Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 26.95pt; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: -26.95pt;"&gt;Arifin, Zainal, 2010, &lt;i&gt;Evaluasi Pembelajaran Prinsip,Teknik,Prosedur&lt;/i&gt;, Remaja Rosdakarya, Bandung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-1067620591296038390?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=gosM9OAJh1o:xGHusClmtq8:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/gosM9OAJh1o" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-06-26T15:09:45.046+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/03/prosedur-evaluasi-pembelajaran.html</feedburner:origLink></item><item><title>Model-Model Evaluasi</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/BVP0hDoJUKY/model-model-evaluasi.html</link><category>pengetahuan</category><category>kependidikan</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 26 Jun 2011 01:11:05 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-4389563305873164678</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa model-model evaluasi dikemukakan oleh Arifin (2010:74-83) sebagai berikut :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Model Tyler&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Model ini dibangung atas dua dasar pemikiran. Pertama, evaluasi ditujukan pada tingkah laku peserta didik. Kedua, evaluasi harus dilakukan pada tingkah laku awal peserta didik sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran dan sesudah melaksanakan kegiatan pembelajaran (hasil). Penggunaan model Tyler memerlukan informasi perubahan tingkah laku terutama pada saat sebelum dan sesudah terjadinya pembelajaran. Model Tyler disebut jugamodel black box karena model ini sangat menekankan adanya tes awal dan tes akhir. Ada tiga langkah pokok yang harus dilakukan, yaitu menentukan tujuan pembelajaran yang akan di evaluasi, menentukan situasi dimana peserta didik memperoleh kesempatan untuk menunjukkan tingkah laku yang berhubungan dengan tujuan, dan menentukan alat evaluasi yang akan dipergunakan untuk mengukur tingkah laku peserta didik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Model yang Berorientasi Pada Tujuan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Model evaluasi ini mengugunakan tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus sebagai kriteria untuk menentukan keberhasilan. Model ini dianggap lebih praktis karena menentukan hasil yang diinginkan dengan rumusan yang dapat diukur. Tujuan model ini adalah membantu guru merumuskan tujuan dan menjelaskan hubungan antar tujuan dengan kegiatan. Kelebihan model ini terletak pada hubungan antara tujuan dengan kegiatan dan menekankan pada peserta didik sebagai aspek penting dalam program pembelajaran. Kekurangannya adalah memungkinkan terjadinya proses evaluasi melebihi konsekuensi yang tidak diharapkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Model Pengukuran&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Model ini sangat menitikberatkan pada kegiatan pengukuran. Pengukuran digunakan untuk menentukan kuantitas suatu sifat (atribute) tertentu yang dimiliki oleh objek, orang maupun peristiwa, dalam bentuk unit ukuran tertentu. Objek evaluasi dalam model ini adalah tingkah laku peserta didik, mencakup hasil belajar (kognitif), pembawaan, sikap, minat, bakat, dan juga aspek-aspek kepribadian peserta didik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Model Kesesuaian&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut model ini, evaluasi adalah suatu kegiatan untuk melihat kesesuaian (congruence) antara tujuan dengan hasil belajar yang telah dicapai. Objek evaluasi adalah tingkah laku peserta didik, yaitu perubahan tingkah laku yang diinginkan pada akhir kegiatan pendidikan, baik yang menyangkut aspek kognif, afektif, maupun psikomotor. Model evaluasi ini memerlukan infomasi perubahan tingkah laku pada dua tahap, yaitu sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran. Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh dalam model evaluasi ini adalah merumuskan tujuan tingkah laku, menentukan situasi dimana peserta didik dapat memperlihatkan tingkah laku yang akan di evaluasi, menyusun alat evaluasi, dan menggunakan hasil evaluasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Educational System Evalu Ation Model&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut model ini, evaluasi berarti membandingkan performance dari berbagai dimensi dengan sejumlah criterion, baik yang bersifat mutlak/intern maupun relative/ekstern. Model ini menekankan sistem sebagai suatu keseluruhan ini dan merupakan penggabungan dari beberapa model, yaitu :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Model countenance.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b.  Model CIPP dan CDPP.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c.  Model Scriven.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d.  Model Provus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;e.  Model EPIC.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;f.  Model CEMREL.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;g. Model Atkinson.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Model Alkin&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut model ini evaluasi adalah suatu proses untuk menyakinkan keputusan, mengumpulkan informasi, memilih informasi yang tepat dan menganalisis informasi sehingga dapat disusun laporan bagi pembuat keputusan dalam meemilih alternative.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7. Model Brinkerhoff&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada model ini ada tiga jenis evaluasi disusun berdasarkan penggabungan elemen-elemen yang sama, yaitu; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Fixed vs Emergent Design&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Formative vs Summative Evaluation&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Desain eksperimental dan desain quasi eksperimental natural inquiry&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8. Illminative Model&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Model ini lebih menekankan pada evaluasi kualitatif-terbuka. Kegiatan evaluasi dihubungakan dengan learning milieu, dalam konteks sekolah sebagai lingkungan material dan psikososial, dimana guru dan peserta didik dapat berinteraksi. Hasil evaluasi lebih bersifat deskriptif dan interpretasi, bukan pengukuran dan prediksi. Model ini lebih banyak menggunakan judgement. Objek evaluasi model ini mencakup latar belakang dan perkembangan sistem pembelajaran, proses pelaksanaan sistem pembelajaran, hasil belajar peserta didik, kesukaran-kesukaran yang dialamidari rencana sampai dengan pelaksanaan, termasuk efek samping dari sistem pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan tujuan dan pendekatan evaluasi dalam model ini, maka ada tiga fase evaluasi yang harus ditempuh, yaitu observe, inquiry, dan seek to expalain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;9. Model Responsif&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Model ini menekankan pada pendekatan kualitatif-naturalistik. Tujuan evaluasi adalah untuk memahami semua komponen program pembelajaran melalui berbagai sudut pandang yang berbeda. Langkah-langkahh kegiatan evaluasi meliputi obsevasi, merekan hasil wawancara, mengumpulkan data, mengecek pengetahuan awal peserta didik, dan mengembangkan desain atau model.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber :&lt;br /&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin:0in;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:10.0pt;
 font-family:"Times New Roman";
 mso-ansi-language:#0400;
 mso-fareast-language:#0400;
 mso-bidi-language:#0400;}
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 26.95pt; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: -26.95pt;"&gt;Arifin, Zainal, 2010, &lt;i&gt;Evaluasi Pembelajaran Prinsip,Teknik,Prosedur&lt;/i&gt;, Remaja Rosdakarya, Bandung.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-4389563305873164678?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=BVP0hDoJUKY:UkI98s96Oew:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/BVP0hDoJUKY" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-06-26T15:11:05.607+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/03/model-model-evaluasi.html</feedburner:origLink></item><item><title>Prinsip dan Alat Evaluasi</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/p9FXt8hO5as/prinsip-dan-alat-evaluasi.html</link><category>pengetahuan</category><category>kependidikan</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 26 Jun 2011 01:03:48 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-6715778536497902064</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Prinsip Evaluasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat tiga komponen, yaitu antara lain:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Tujuan pembelajaran&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Kegiatan Pembelajaran atau KBM, dan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Evaluasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Arikunto (2006:24-25) menjelaskan hubungan ketiga komponen tersebut sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Hubungan antara tujuan dengan KBM&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegiatan belajar mengajar yang dirancang dalam bentuk rencana mengajar disusun oleh guru dengan mengacu pada tujuan yang hendak dicapai. KBM mengacu pada tujuan, tetapi juga mengarah dari tujuan ke KBM, menunjukkan langkah dari tujuan dilanjutkan pemikirannya ke KBM.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Hubungan antara tujuan dengan Evaluasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejau mana tujuan sudah tercapai. Di lain sisi, jika dilihat dari langkah, dalam menyusun alat evaluasi ia mengacu pada tujuan yang harus dirumuskan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c. Hubungan antara KBM dan Evaluasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain mengacu pada tujuan, evaluasi juga harus mengacu atau disesuaikan dengan KBM yang dilaksanakan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Alat Evaluasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alat adalah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang untuk melaksanakan tugas atau mencapai tujuan secara lebih efektif dan efesien. Alat evaluasi juga dikenal dengan instrument eveluasi. Ada dua teknik evaluasi, yaitu ;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a. Teknik Nontes&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang tergolong teknik nontes adalah :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Skala bertingkat,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Kuesioner,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Daftar cocok,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4) Wawancara,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5) Pegamatan,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6) Riwayat hidup.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Teknik tes&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ditinjau  dari segi kegunaan untuk mengukur siswa, maka dibedakan atas adanaya 3 macam tes, yaitu :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1) Tes diagnostic,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2) Tes formatif,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3) Tes Sumatif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="http://img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt;
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin:0in;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:10.0pt;
 font-family:"Times New Roman";
 mso-ansi-language:#0400;
 mso-fareast-language:#0400;
 mso-bidi-language:#0400;}
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 26.95pt; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: -26.95pt;"&gt;Arikunto, Suharsimi, 2006, &lt;i&gt;Dasar-Dasar EvaluasiPendidikan,&lt;/i&gt; Bumi Aksara, Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-6715778536497902064?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=p9FXt8hO5as:gv_NPNb44dY:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/p9FXt8hO5as" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-06-26T15:03:48.911+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/03/prinsip-dan-alat-evaluasi.html</feedburner:origLink></item><item><title>Syarat-syarat Umum Evaluasi</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/aF3COcDPktM/syarat-syarat-umum-evaluasi.html</link><category>pengetahuan</category><category>kependidikan</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 26 Jun 2011 00:54:34 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-2150089717849096400</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syarat-syarat umum yang harus dipenuhi dalam mengadakan kegiatan evaluasi dalam proses pendidikan menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:194-198) terurai sebagai berikut :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1.  Kesahihan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesahihan menggantikan kata validitas (validity) yang dapat diartikan sebagai ketepatan evaluasi mengevaluasi apa yang seharusnya di evaluasi. untuk memperoleh hasil evaluasi yang sahih, dibutuhkan insturmen yang memiliki/memenuhi syarat-syarat kesahihan suatu instrumental evaluasi. Kesahihan instrument evaluasi diperoleh melalui hasil pemikiran dan hasil pengalaman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2.  Keterandalan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keterandalan evaluasi berhubungan dengan masalah kepercayaan, yakni tingkat kepercayaan bahwa suatu instrument evaluasi mampu memberikan hasil yang tepat. Gronlund dalam Dimyati dan Mudjiono (2006:196) mengemukakan bahwa, “keterandalan menunjukkan kepada konsistensi (keajegan) pengukuran yakni bagaimana keajegan skor tes atau hasil evaluasi lain yang berasal dari pengukuran yang satu ke pengukuran yang lain”. Dengan kata lain, keterandalan dapat kita artikan sebagai tingakat kepercayaan keajegan hasil evaluasi yang diperoleh dari suatu instrument evaluasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3.  Kepraktisan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepraktisan evaluasi dapat diartikan sebagai kemudahan-kemudahan yang ada pada instrument evaluasi baik dalam mempersiapkan, menggunakan, menginterpretasi/ memperoleh hasil, maupun kemudahan dalam menyimpanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara menurut Arikunto dan Jabar (2010:8-9) evaluasi memiliki ciri-ciri dan persyaratan sebagai berikut :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Proses kegiatan penelitian tidak menyimpang dari kaidah-kaidah yang berlaku bagi penelitian pada umumnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Dalam melaksanakan evaluasi, peneliti harus berpikir secara sistematis yaitu memandang program yang diteliti sebagai sebuah kesatuan yang terdiri dari beberapa komponen atau unsur yang saling berkaitan satu sama lain dalam menunjang kinerja dari objek yang dievaluasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Agar dapat mengetahui secar rinci kondisi dari objek yang dievaluasi, perlu adanya identifikasi komponen yang berkedudukan sebagai faktor penentu bagi keberhasilan program.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Menggunakan standar, Kiteria, atau tolak ukur sebagai perbandingan dalam menentukan kondisi nyata dari data yang diperoleh dan untuk mengambil kesimpulan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Kesimpulan atau hasil penelitian digunakan sebagai masukan atau rekomendasi bagi sebuah kebijakan atau rencana program yang telah ditentukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Agar informasi yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi nyata secara rinci untuk mengetahui bagian mana dari program yang belum terlaksana, maka perlu ada identifikasi komponen yang dilanjutkan dengan identifikasi subkomponen, sampai pada indikator dari program evaluasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7. Standar, kriteria, atau tolak ukur diterapkan pada indicator, yaitu bagian yang paling kecil dari program agar dapat dengan cermat diketahui letak kelemahan dari proses kegiatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8. Dari hasil penelitian harus dapat disusun sebuah rekomendasi secara rinci dan akurat sehingga dapat ditentukan tindak lanjut secara tepat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:"Table Normal";
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-parent:"";
 mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
 mso-para-margin:0in;
 mso-para-margin-bottom:.0001pt;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:10.0pt;
 font-family:"Times New Roman";
 mso-ansi-language:#0400;
 mso-fareast-language:#0400;
 mso-bidi-language:#0400;}
&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 26.95pt; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: -26.95pt;"&gt;Arikunto, Suharsimi dan Jabar, Safruddin Abdul, 2010,&lt;i&gt;Evaluasi Progaram Pendidikan Pedoman Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi pendidikan&lt;/i&gt;, Bumi Aksara, Jakarta..&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; margin-left: 26.95pt; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: -26.95pt;"&gt;&amp;nbsp;Dimyati dan Mudjiono, 2006, &lt;i&gt;Belajar dan Pembelajaran,&lt;/i&gt; Rineka Cipta, Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-2150089717849096400?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=aF3COcDPktM:npKv8M1pY2I:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/aF3COcDPktM" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-06-26T14:54:34.734+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/03/syarat-syarat-umum-evaluasi.html</feedburner:origLink></item><item><title>Pasang Iklan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/BYLoDqn1mLk/pasang-iklan.html</link><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 26 Jun 2011 00:27:34 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-7765736685897520479</guid><description>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;b&gt;Silakan Pasang iklan anda di blog ini &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;&lt;b&gt;Banner 125 x 125 : Rp.25000/bulan &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungi saya di :&lt;br /&gt;
Email : andijosua@yahoo.co.id&lt;br /&gt;
Hp&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 081375924125&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-dT9EksIwxBI/Tar_dWpFfjI/AAAAAAAAAgU/lQTXJlQ4Gsw/s1600/ab.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-dT9EksIwxBI/Tar_dWpFfjI/AAAAAAAAAgU/lQTXJlQ4Gsw/s1600/ab.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-x10GQOoGiuY/Tar_j-NdntI/AAAAAAAAAgY/mV7sY9jZ8gQ/s1600/abc.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-x10GQOoGiuY/Tar_j-NdntI/AAAAAAAAAgY/mV7sY9jZ8gQ/s1600/abc.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-7765736685897520479?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=BYLoDqn1mLk:2rHtObYvbUQ:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/BYLoDqn1mLk" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-06-26T14:27:34.310+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/-dT9EksIwxBI/Tar_dWpFfjI/AAAAAAAAAgU/lQTXJlQ4Gsw/s72-c/ab.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/03/pasang-iklan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Kedudukan Evaluasi Dalam Proses Pendidikan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/aoyKoIT-Xlo/kedudukan-evaluasi-dalam-proses.html</link><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 26 Jun 2011 01:01:13 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-8042079048847373344</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada proses pendidikan evaluasi dilakukan untuk mengetahui keefektifan pembelajaran dan pembentukan kompetensi yang dilakukan, serta untuk mengetahui apakah kompetensi dasar dan tujuan-tujuan yang telah dirumuskan dapat dicapai oleh peserta didik melalui pembelajaran.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Proses pendidikan yang merupakan transformasi kebudayaan dan peradaban menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:193) memiliki unsur-unsur meliputi :&lt;br /&gt;
1. Pendidik dan personalnya,&lt;br /&gt;
2. Isi Pendidikan,&lt;br /&gt;
3. Teknik,&lt;br /&gt;
4. Sistem Evaluasi&lt;br /&gt;
5. Sarana Pendidikan, dan&lt;br /&gt;
6. Sistem administrasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap unsur yang ada pada proses transformasi pendidikan membutuhkan kegiatan evaluasi. Dengan demikian setiap ada proses pendidikan pasti ada evaluasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber :&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dimyati dan Mudjiono, 2006, &lt;i&gt;Belajar dan Pembelajaran,&lt;/i&gt; Rineka Cipta, Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-8042079048847373344?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=aoyKoIT-Xlo:hoTdrBRKppc:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/aoyKoIT-Xlo" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-06-26T15:01:13.123+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/03/kedudukan-evaluasi-dalam-proses.html</feedburner:origLink></item><item><title>Keramaian Dirumahku*</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/VHB0gB1AWdY/keramaian-dirumahku.html</link><category>opiniku</category><category>umum</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 25 Dec 2011 07:35:20 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-4055647612515551060</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba aku tersentak dari mimpi indah dan berlari ke depan rumah untuk melihat apa gerangan ribut dipagi liburan ini. Dimana seharusnya aku bebas bangun pukul berapa saja tanpa harus terlambat ke sekolah karena sedang libur. Di beranda rumah sepulahan anak muda yang tidak aku kenal baru saja tiba dari Teluk Dalam, Ibukota Kabupaten Nias Selatan. Aku tahu itu dari bapakku yang mulai renta. Beranda rumah yang kecil tempat biasa aku dan kawan-kawan bermain di penuhi oleh sepeda motor mereka. Orang-orang muda itu berkelakar mengenai perjalanan panjang mereka sesaat sebelum dipersilahkan masuk ke dalam rumah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu persatu mereka mengambil tempat duduk,lalu bercerita dengan bapakku. Dari cerita itu aku ketahui mereka adalah mahasiswa dari gunungsitoli yang akan melakukan survey mengenai persebsi masyarakat terhadap pilkada Nias Selatan dibeberapa desa kecamatan Gomo. Setelah menanyakan situasi dan letak-letak desa yang akan dikunjungi. Mereka pun menyudahi istirahatnya serta mempersiapkan peralatan surveynya dan langsung berangkat ke desa tujuan pertamanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Petang harinya kulihat mamakku memasak makanan dengan jumlah tidak seperti biasanya. Lalu kutanyakan dan ia menjawab untuk abang-abang yang tadi. Sejenak aku berpikir berarti malam ini rumahku akan ramai lagi. Begitu sang mentari sudah hilang dibalik bukit sebelah barat rombongan tamu kami itu pun sampai juga dirumah. Kulihat wajah-wajah letih,mereka pun tak banyak bicara hanya langsung terhenyak dikursi-kursi dan bahkan duduk begitu saja dilantai. Tampaknya usaha mereka disatu desa dari dua desa tujuan gagal disebabkan kepala desa tidak mengizinkan untuk melakukan survey. Karena mereka tidak membawa surat dari pemerintahan Kabupaten Nias Selatan dan belum diketahui oleh Camat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seseorang dari mereka menelpon untuk menanyakan penyelesaian masalah yang mereka hadapi.setelah pembicaraan ditelpon itu dia pun menyampaikan, surat dari kabupaten bisa didapatkan esok hari. Mendengarkan itu yang lainnya pun kembali semangat. Sesaat setelah itu mamakku muncul dari dapur dengan membawa hidangan makan malam. Lalu kami pun makan bersama sambil terus bercerita diselinggi kelakar. Kelakar mereka ditujukan pada lelaki yang baru aku ketahui tidak bisa berbahasa daerah. Sehingga sepanjang makan dia terkadang diajak bicara dengan bahasa daerah dan hanya bisa tersenyum atau manggut-manggut yang membuat lainnya tertawa riuh. Tapi bagiku semua mereka itu aneh, meskipun kami didesa.namun tidak pernah ada yang makan sebelum mandi bahkan ada yang langsung pergi untuk tidur usai makan. Malam itu hingga lewat tengah malam masih kudengar suara mereka entah membicarakan apa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi-pagi aku menjadi petugas mengantarkan mereka mandi kesungai sebab dirumah,bak penampung air hujan telah habis. Sungai yang begitu lebar dan jernih serta dangkal mengalir dengan derasnya merupakan lokasi yang selalu dimanfaatkan masyarakat didesaku. Sehabis mandi mereka pun makan lalu akan melanjutkan perjalanan berikutnya ke desa yang berbeda. Tetapi mereka tidak segerombolan lagi seperti hari kemarin. Namun membaginya menjadi dua kelompok. Sekitar pukul 4 sore satu kelompok telah kembali kerumah tapi ada orang lain dengan mereka. Rupanya orang itu adalah yang membawa surat dari Kabupaten. Setengah jam kemudian akhirnya satu kelompok lagi telah tiba dirumah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lelaki yang tidak bisa berbahasa daerah itu setelah tak lama kuketahui bernama andi mengatakan salah satu desa yang baru mereka kunjungi yakni Balöhili Gomo harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 1 km dan 2 kali menyeberangi sungai. Dia pun melanjutkan kalimatnya yang buat aku tercengan yaitu,"50 tahun lagi pun desa itu tidak akan tersentuh pembangunan". Aku tidak mengerti mengapa ia berkata demikian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Usai makan malam kesibukan dilantai atas rumah tempat mereka tidur sangat kelihatan sibuk. Beberapa kali aku melihat keatas hampir tidak ada cerita yang panjang keluar dari mulut mereka. Lembaran-lembaran kertaslah yang menjadi fokus masing-masing anak muda itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keesokan harinya beberapa sepeda motor kembali meninggalkan rumahku kudengar mereka kembali ke desa yang tidak diizinkan disurvey pada hari pertama. Sepanjang hari mereka yang tidak berangkat berada dilantai atas membereskan pekerjaan yang mungkin belum selesai. Mereka baru turun saat akan makan siang dan langsung kembali keatas usai makan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekitar pukul 3 sore rombongan yang berangkat tadi pagi kembali kerumahku. Lalu mereka langsung menuju lantai atas, aku pun turut serta mengikuti. Disitu kulihat tidak ada lagi kesibukan, lalu aku duduk hingga tiduran di jendelan  atas tersebut. Melihat itu andi pun berbicara padaku dengan berkata,"jangan tiduran disitu,nanti kamu jatuh". Aku menjawab dengan mengatakan,"tidak akan jatuh". Itulah awal perbincangan kami,selanjutnya ia mulai bertanya aku kelas berapa,bagaimana disekolah hingga pertanyan yang berhubungan dengan pelajaran. Yang buat aku semakin tertarik berbicara dengannya ketika berbicara tentang bagaimana datangnya hujan. Apalagi ketika ia mengatakan air laut menguap hinggan mengumpul menjadi awan. Padahal aku tidak pernah melihat laut. Sehingga saat itu aku langsung berkeinginan untuk melihat laut. Dia juga bercerita tentang cita-cita yang bahkan tidak aku mengerti. Namun cerita itu membuat aku semakin merasakan arti pentingnya sekolah. Sebab ia bilang sekolah mampu membuat kita jadi apa yang kita inginkan. Sedang asik bercerita tiba-tiba makku memangil untuk segera mengambil kain karena langit telah mendung dan itupun mengakhiri cerita kami. Apalagi mereka juga harus mengemasi barang-barangnya. Karena petang hari mereka akan kembali ke Teluk Dalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjelang matahari terbenam mereka semua dan bapakku telah berkumpul diruang depan. Mereka berbincang-bincang menyampaikan rasa terimakasih karena telah diperbolehkan menginap di rumahku. Usai perbincangan itu mereka pun berangkat dan tinggallah keramaian rumahku menanti sepi datang lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="color: blue;"&gt;*Tulisan ini dibuat mengenang Desa-Desa tertinggal di Kecamatan Gomo Kabupaten Nias Selatan. Pada saat melakukan survey &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-4055647612515551060?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=VHB0gB1AWdY:iZsXsPRPUgY:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/VHB0gB1AWdY" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-25T22:35:20.376+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/02/keramaian-dirumahku.html</feedburner:origLink></item><item><title>Dicari Pemimpin Ideal untuk "Ono Niha"</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/_ArCGUwX8oo/dicari-pemimpin-ideal-untuk-ono-niha.html</link><category>sospol</category><category>opiniku</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 25 Dec 2011 07:25:52 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-3836282594110843571</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu bentuk demokrasi di daerah  otonom adalah pemilihan kepala daerah secara langsung oleh masyarakat.  Demikian halnya dengan daerah di kepulauan Nias yang dalam waktu dekat  akan mengadakan pemilihan umum kepala daerah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepulauan Nias yang sejak  Oktober 2008 telah terbagi menjadi 5 daerah pemerintahan daerah tingkat  II yang sebelumnya telah mekar menjadi 2 kini terdiri dari 4 kabupaten  dan 1 kota, yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias  Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kota Gunungsitoli. Kelima wilayah  pemerintahan itu memiliki potensi sumber daya yang perlu di kembangkan  guna melaksanakan pembangunan berkelanjutan demi kesejahteraan  masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, hal tersebut hanya  mungkin dilakukan oleh pemimpin yang memiliki itikad baik dalam  membangun kepulauan Nias dari ketertinggalan. Ajang pilkada merupakan  suatu prosesi dalam menentukan pemimpin harus jauh dari kepentingan  ranah pribadi. Pilkada yang akan mulai dilaksanakan pada Februari 2011  mendatang akan menentukan maju-mundurnya kepulauan Nias. &lt;/div&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=3786128380077614162&amp;amp;postID=3836282594110843571" name="more"&gt;&lt;/a&gt;Oleh  karena itu, kepulauan Nias membutuhkan pemimpin yang kadar ambisinya  lebih kecil daripada cita-cita. Hal ini diperlukan agar kelak  keberlangsungan kepemimpinan bukan sebatas gila jabatan, tetapi  menjadikan kekuasaan yang dimilikinya untuk pengabdian kepada rakyat.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di samping itu, para calon  kepala daerah juga harus mempunyai komitmen dalam memberesi persoalan  utama di republik ini yakni birokrasi (Sukardi Rinakit, 2008). Birokrasi  yang seharusnya melayani masyarakat menjadi tuan atas masyarakat itu  sendiri. Sebab, para birokrat tidak memiliki perasaan bernegara sehingga  menjadi sumber kemiskinan dan perasaan tidak adil yang berkembang  nantinya di hati ono Niha.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melihat perkembangan yang sedang  berlangsung menjelang pilkada di Nias membuat ingatan pada pemilihan  legislatif dan pemilihan presiden RI yang lalu tebersit kembali.  Masyarakat akan diberikan berbagai macam janji-janji yang luar biasa  tinggi khayalannya. Sehingga terkadang mampu melambungkan hati dan  pemikiran masyarakat yang pada umumnya berpendidikan di bawah rata-rata.  Akibatnya, masyarakat akan lupa berdiri di tanah. Belum lagi ditambah  dengan money politic yang kerap terjadi pada setiap berlangsungnya pesta  demokrasi. Praktik seperti itu sudah pasti akan menjadikan masyarakat  ono niha semakin dikebiri hak-hak demokrasinya hingga 5 tahun ke depan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hemat saya, pemimpin Nias  haruslah meneladani kepemimpinan leluhur Nias yang mampu merangkul  elemen masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan. Cara yang paling  efektif adalah dengan menanamkan kebaikan dan melakukan tindakan  progresif serta tegas. Dengan demikian, pemimpin tersebut akan menjadi  figur alternatif dari calon lainnya yang dibutuhkan masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemimpin Nias juga harus tidak  gentar dalam mengambil keputusan. Dengan demikian, rakyat tidak linglung  dan bingung. Pemimpin tersebut mampu menyusup ke relung hati dan  menjadi semangat yang membara bagi rakyat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Bebas dari praktik KKN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal lain yang sangat penting dan  menjadi idaman semua masyarakat Nias untuk mendapatkan pemerintah yang  bersih dari praktik KKN. Calon pemimpin Nias ke depan harus belajar dari  apa yang dialami oleh Bupati Nias Binahati Baeha yang tersandung dugaan  korupsi dan kini ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan  Korupsi (KPK).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengingat kepemimpinan kepala  daerah yang akan berjalan selama 5 tahun ke depan, maka para calon  kepala daerah yang telah siap bertarung pada Pilkada 2011 mendatang  harus mulai sekarang mengubah motivasi utamanya menjadi kepala daerah.  Bila semula untuk kekuasaan pribadi, maka sekarang menjadi ketulusan  mengabdi kepada rakyat agar kelak bukan saja hanya kebutuhan hidup  minimum ono niha terpenuhi, melainkan juga masyarakat Nias menjadi  sejahtera. Masyarakat Nias terbebas dari pengangguran, bisa makan 3 kali  sehari, bisa sekolah setinggi-tingginya, bisa berobat ketika sakit, dan  bisa bersantai (berwisata) setelah lelah bekerja seminggu meskipun  wisatanya hanya ke kampung sebelah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;,Courier,monospace;"&gt;sudah terbit di media online &lt;a href="http://www.nias-bangkit.com/2010/12/dicari-pemimpin-ideal-untuk-ono-niha/"&gt;nias bangkit&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-3836282594110843571?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=_ArCGUwX8oo:S_NWKLTL__E:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/_ArCGUwX8oo" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-25T22:25:52.248+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/01/dicari-pemimpin-ideal-untuk-ono-niha.html</feedburner:origLink></item><item><title>FORMULASI  KELULUSAN</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/n_yamaZFc_I/formulasi-kelulusan.html</link><category>pendidikan</category><category>opiniku</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 25 Dec 2011 07:25:10 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-2192903577280686079</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ditengah-tengah hiruk pikuk keistemewaan yogyakarta dan penarikan subsidi BBM yang tak kunjung usai bahkan semakin diributkan ditambah lagi dengan gonjang-ganjing di tubuh mahkamah konstitusi membuat perhatian publik terarah ke hal itu. Sebab masalah-masalah demikian terlalu asik untuk dibicarakan. Dari kalangan bawah sampai atas bisa membicarakannya. Karena tidak terlalu membutuhkan kajian ilmu yang mendalam untuk menyikapinya. Apalagi jika semakin dibawa keranah politik maka akan semakin menjadi santapan yang nikmat buat sarapan pagi sambil minum kopi di warung kopi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meskipun begitu besar perhatian publik akan perihal tersebut. Ada sesuatu yang juga tidak kalah pentingnya dari semua masalah itu. Sesuatu yang setiap tahunnya menjadi dilema bangsa ini yang juga tidak pernah kunjung usai ditangani. Bahkan seakan-akan diendapkan jika bulan-bulannya telah terlewatkan sedikit dan kemudian memanas lagi ketika mendekati bulan pelaksanaannya. Hal itu adalah ujian nasional(UN).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semenjak beberapa tahun belakanganini,banyak kalangan khususnya dari pendidikan yang selalu menaruh perhatian besar pada UN. Sebab setiap tahunnya untuk menentukan kelulusan para siswa akan dihadapkan dengan UN. Meskipun Menteri Pendidikan Nasional(Mendiknas) selalu mengatakan UN hanya menjadi salah satu persyaratan kelulusan. Namun kenyataannya siswa banyak yang tidak lulus akibat UN.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu UN dinilai telah menghina intelegensi peserta didik. Sebab UN yang menjadi standar kelulusan mengabaikan prestasi yang dibina selama 3 tahun. Apalagi siswa yang tidak lulus UN akan menderita kerugian materil dan imateril. Secara materil berupa biaya pendidikan selama 3 tahun dan secara imateril berupa tekanan phisikologis serta hilangnya kesempatan untuk melanjut ke perguruan tinggi pada tahun tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melihat kondisi demikian berbagai upaya dilakukan untuk menolak pelaksanaan UN. Hingga membawa permasalahan UN kehadapan mahkamah agung pada 2009 yang lalu. Mahkamah agung pun mengeluarkan putusan nomor 2596/k/pdt/2008 tanggal 14 september 2009 yang menyatakan pemerintah lalai dalam memenuhi hak dasar warga negaranya,terutama pendidikan dan hak anak. Putusan tersebut yang semula dianggap mampu membawa angin perubaham bagi penentu kelulusan teryata hanya menjadi bagian pelengkap dari dilema UN. Sebab pelaksanaan UN tetap berlangsung sebagai mana biasanya pada 2010.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjelang tahun 2011 ini UN kembali menjadi perhatian meskipun kalah diperhatikan dari hal lainnya. Setelah permasalahan UN ini menjadi buah bibir anggota parlemen negara ini yakni dengan menyuruh Mendiknas agar mencari formula baru untuk pelaksanaan UN. Mendiknas pun merampungkan formulasi baru untuk menentukan kelulusan. Dimana UN tidak lagi penentu tunggal kelulusan. UN mencover 60% kelulusan dan sisanya sebesar 40% ditentukan nilai ujian akhir sekolah(UAS) dan hasil rapor siswa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dilihat dari persentasi yang dicover UN tetap menjadi penentu utama pada kelulusan. Apalagi nilai UN tidak akan digabung dengan nilai UAS dan hasil rapor lalu dibagi. Artinya bentuk formula yang akan diusulkan oleh mendiknas tidak akan merubah persepsi tentang UN. oleh karena itu UN harusnya disetarakan dengan beberapa kriteria pendukung kelulusan. Sementara kriteria pendukung kelulusan tidaklah sebatas hasil UN,UAS dan hasil rapor siswa. Sebab ketiga hasil itu hanya akan menyentuh ranah kognitif. Padahal Mendiknas sendiri ingin ranah afektif dan phisikomotor juga menjadi bagian yang diperhatikan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu untuk mencakup ketiga ranah tersebut perlu 5 pendukung kriteria kelulusan yakni hasil rapos siswa,UAS,UN,prestasi non akademik dan sikap(tingkah laku). Ketiga kriteria pertama sejalan dengan usulan Mendiknas sementara dua kriteria terakhir yaitu prestasi non akademik dan sikap merupakan hal yang juga tidak terlepas dari kehidupan siswa setiap saatnya. Banyak siswa yang berperilaku baik dan mampu menorehkan prestasi non akademik seperti kepemimpinan di osis,olahraga dan seni yang mampu mengharumkan nama sekolah justru tidak lulus. Padahal peran serta mereka cukup besar manfaatnya menjadikan sekolah tersebut menjadi sekolah terpandang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kelima kriteria itu mendapatkan kesetaraan sebagai penentu kelulusan yakni dengan masing-masing mencover 20%. Lalu setelah kelima kriteria itu disesuaikan dengan bobot 20% kelimanya dijumlahkan. Jumlah dari kelima kriteria tersebutlah yang dilihat apakah layak untuk lulus. Setelah sebelumnya telah ditentukan interval penilaian untuk kelulusan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan cakupan demikian setiap siswa tentu tidak akan dirugikan. Ketika nilai UN-nya pun anjlok masih ada 4 kriteria pendukung yang jika memiliki nilai besar mampu meluluskannya. UN pun akan dilaksanakan tanpa kecurangan dan hasilnya dapat digunakan mengevaluasi kualitas masing-masing sekolah untuk dilakukan pembenahan-pembenahan oleh pemerintah melalui Kementrian Pendidikan Nasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-2192903577280686079?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=n_yamaZFc_I:oiTDg9BqyOc:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/n_yamaZFc_I" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-25T22:25:10.055+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2011/01/formulasi-kelulusan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Melihat Akar</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/b7e8vuwbqF4/melihat-akar.html</link><category>sospol</category><category>opiniku</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 25 Dec 2011 07:27:10 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-1350763387129757838</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Negara sedang sibuk dengan penyelesaian masalah bencana,korupsi,TKI,tuntutan tunjangan profesi,sengketa wilayah,sengketa rumah ibadah,sengketa pilkada dan lain sebagainya. Rentetan persoalan yang seakan-akan tidak ada habis-habisnya memaksa pemerintah untuk mengeluarkan energi maksimal sehingga proses kerja hanya tercurahkan pada hal yang itu-itu saja. Akibatnya tidak ada satu prestasi yang mampu dibuat. Bahkan untuk sebuah ajang olahraga di tingkat asia pun Indonesia tidak mampu berkutik. Padahal jumlah penduduk Indonesia 235 juta jiwa(hasil statistik 2010) merupakan potensi besar dalam mencari bakat-bakat luar biasa yang dimiliki anak bangsa tanpa perlu melakukan naturalisasi seperti yang lagi tren di dunia sepakbola Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usaha untuk menyelesaikan persoalan pun tidak memberikan harapan yang membaik. Justru terombang-ambing karena sebuah kepentingan politik kelompok. Hal ini disebabkan karena memfokuskan penyelesaian masalah pada apa yang kelihatan saja. Sama seperti jika ingin membasmi rumput liar. Tidak cukup hanya memotong rumput tersebut lalu membakarnya. Namun perlu suatu usaha agar akar rumput tersebut juga ikut dimusnakan supaya rumput tidak bisa tumbuh lagi. Demikian halnya persoalan bangsa ini. Apa yang selama ini coba diselesaikan adalah hanya yang kelihatan dimata. KPK tangkapi koruptor, MK selesaikan sengketa pilkada, Satgas bongkar kasus mafia dan beberapa hal lainnya hanyalah pembasmian rumput liar dengan memotong. Tetapi akar dari rumput tersebut belum terjamah sampai sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Melihat akar.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Oleh karena itu perlu sebuah kejelian dalam melihat dimana yang menjadi akar dari segala persoalan bangsa ini, pendidikan adalah akarnya. Pendidikan adalah gerbang kehidupan. Karena itu pendidikan menjadi pionir utama dalam pembangunan masa depan suatu bangsa. Justru menjadi sumber segala sumber masalah yang membuat karakter anak bangsa menjadi acak-acakan seperti sekarang ini. Masalah-masalah tersebut baiknya diurai sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada mafia yang lebih hebat dari gayus tambunan, bisa dilihat dari maraknya praktik pencaloan ketika akan masuk ke sekolah-sekolah favorit bahkan pada perguruan tinggi. Para orang tua rela untuk membayar berapa pun agar anaknya diterima di institusi tersebut. Hal lain juga dapat dilihat pada ujian nasional,para guru berubah menjadi mafia, yang menyelesaikan soal-soal dan memberikan jawaban bahkan mengisi sendiri lembar jawaban agar siswanya lulus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada korupsi yang lebih parah dari miranda gultom. Korupsi yang terjadi memang tidak sebesar nominal kasus miranda gultom jika hanya dibandingkan dengan satu sekolah. Tetapi jika dibandingkan dengan seluruh sekolah di Indonesia bisa jadi melebihi nominal tersebut. Lemahnya pengawasan aliran dana BOS memberikan peluang untuk melakukan korupsi. Penelitian Bank Dunia 71,16% orang tua siswa tidak mengetahui laporan dana BOS. Menjadikan oknum-oknum pengelola sekolah mendapatkan hidden income dari dana BOS. Disamping itu praktek korupsi juga sangat nyata terasa yakni melalui grativikasi. Hal ini biasanya terjadi dibagian tata usaha sekolah. Ketika akan melegalisir ijazah,biasanya diberikan uang kepada pegawai tata usaha sekolah tersebut. Namun uang itu tidak masuk ke kas sekolah tetapi ke saku si pegawai. Ditingkat perguruan tinggi praktik jual beli nilai juga marak terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada pembantaian(pembunuhan karakter) yang lebih sadis dari pembantaian TKI. Kesalahan para siswa biasanya akan berbuah pada hardikan. Bahkan si guru akan memperlihatkan wajah yang seram dengan emosi yang berapi-api. Meskipun tidak melakukan pukulan seperti guru era 80-an. Karena takut terjerat UU Perlindungan anak. Sudah pasti akan menciutkan nyali si anak sehingga secara phisikologi membentuk karakter si anak menjadi orang yang takut berkreativitas, disebabkan ketakutan akan hardikan jika salah. Bahkan akan terpatrnn di kepalanya untuk menyelesaikan persoalan kesalahan dengan marah-marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adanya kemalasan yang lebih lambat dari penanganan bencana. Jika di mentawai pemerintah lambat menangani bencana disebabkan birokrasi yang panjang dan faktor transportasi. Tetapi pada dunia pendidikan yang terjadi adalah kemalasan. Guru yang seharusnya setiap tahun ajaran baru wajib menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP) justru tidak melaksanakannya. Evaluasi yang seharusnya dilaksanakan dengan patokan acuan tertentu juga tidak dilaksanakan,bahkan semua dibuat dengan instan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adanya kolusi yang lebih menjengkelkan dari kolusi wakil-wakil rakyat. Dalam kamus besar bahasa Indonesia kolusi adalah kerjasama rahasia untuk maksud tidak terpuji. Tindakan ini selalu terjadi setiap tahunnya pada ajang ujian nasional. Bahkan para guru kadang kala melakukan tindakan-tindakan sekongkol untuk menentang kepala sekolah jika melakukan tindakan-tindakan untuk mendisiplinkan para guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adanya pencabulan yang lebih bejat dari prostitusi jalanan. Tidak jarang oknum guru melakukan pelecehan seksual kepada siswanya. Seperti baru-baru ini di pinangsori,kabupaten Tapanuli Tengah. Oknum seorang pendidik SMP Negeri 1 Pinangsori melakukan perbuatan amoral dengan mencabuli 19 anak didiknya. Padahal sekolah seharusnya jauh dari tindakan asusila. Disamping itu sekolah harusnya mampu membentuk moral siswa melalui mata pelajaran yang mengajarkan moral seperti agama atau PPKn. Namun kenyataannya para pelajar justru semakin tidak bermoral. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya anak-anak usia remaja yang notabenenya adalah pelajar melakukan hubungan seks diluar nikah. Berdasarkan data dari BKKBN tingkat aborsi di Indonesia pertahun mencapai 2,4 juta jiwa, sebanyak 800 ribu diantaranya terjadi di kalangan remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah beberapa uraian kondisi yang terjadi di lingkungan pendidikan. Jelaslah bahwa embrio kekacauan bangsa ini ada di dunia pendidikan. Oleh karena itu negara ini perlu segera melakukan peninjauan terhadap kondisi pendidikan saat ini. Untuk menemukan formula yang mampu mengobati penyakit bangsa ini agar tercapai Indonesia yang memiliki keberesan ekonomi dan keberesan politik(sosio-demokrasi).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-1350763387129757838?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=b7e8vuwbqF4:6REyoAyqwTQ:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/b7e8vuwbqF4" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-25T22:27:10.583+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2010/12/melihat-akar.html</feedburner:origLink></item><item><title>Tahu berjamur</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/xQKISK43zLM/tahu-berjamur.html</link><category>opiniku</category><category>umum</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 25 Dec 2011 07:35:20 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-3698038404323404189</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapa sangka pertemuan pada september 2010 yang lalu adalah pertemuan terakhir untuk selama-lamanya. Pertemuan yang tepat disaat lebaran itu merupakan bentuk silaturahmi. Saya memang tidak memiliki hubungan dengan beliau,teman-teman sayalah yang memiliki hubungan sebagai siswa bapak tersebut. Meskipun demikian saya sudah lama mengenal beliau dari teman. Beliau adalah alm.H.Achmadi,S.Pd.I.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebaran yang biasanya identik dengan kunjungan kerumah sanak ataupun kenalan merupakan hal yang sudah menjadi kebiasaan. Demikian dengan kami yang kebetulan beberapa hari lagi meninggalkan sibolga untuk kembali ke daerah tempat kuliah. Kunjungan kerumah almarhum tersebut tepat pada jam makan siang,sehingga beliau mengajak kami langsung untuk bersama-sama makan siang.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Disela-sela makan itu beliau hanya bercerita tentang dirinya semasa jadi pendidik(guru) dia mengatakan jika kita melakukan hal yang baik kepada seseorang pasti itu tidak akan melupakan kita. Dia kembali menjelaskan pada lebaran tersebut ada saja orang-orang yang dulu diajar mengantarkan buah bahkan beras. Sambil terus makan cerita pun terus berlangsung. Hingga butiran akhir pada piring. Masing-masing kami mulai membasuh tangan tetapi beliau menjilati jari-jemarinya sambil berujar. Hal yang dilakukan disamping karena nikmatnya sambal ikan tersebut juga untuk membantu proses pencernaan. Karena pada tangan kita itu terdapat zat pembusuk. Sewaktu memegang makanan zat itu akan melekat pada makanan tersebut sehingga lambung tidak begitu susah untuk memproses makanan tersebut. Kemudian dia katakan penyebab mudahnya sekarang seseorang terserang penyakit perut karena telah meninggalkan cara makan yang lama yakni dengan tangan dan menggantinya dengan sendok. Sehingga makanan yang masuk kelambung itu berat untuk diolah sehingga menyebabkan kerusakan pada lambung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lanjutnya untuk menyakinkan kami dia menyuruh agar mencoba mempraktekkannya dengan membuat nasi di dua tempat yang berbeda. Nasi pada salah satu tempat terlebih dahulu dipegang dengan tangan sedangkan pada tempat yang satu lagi jangan bersentuhan dengan tangan. Lalu biarkan satu hari nasi tersebut, maka nantinya nasi yang telah dipegan tersebut akan terlebih dahulu basi. Usai itu diskusi di meja makan tersebut pun berakhir. Lalu kami pergi ke teras rumah untuk melanjutkan bincang-bincang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disitu berbagai hal beliau sampaikan termasuk sikap dia dengan keputusan yayasan yang menyelesaikan jabatannya sebagai kepala sekolah sebelum masanya. Pembicaraan itu akhirnya mengarah kepada permasalahan pendidikan. Beliau sangat tidak setuju dengan tren pendidikan saat ini yakni sekolah unggulan. Sekolah unggulan tersebut baginya adalah bentuk kastanisasi pendidikan. Karena dengan adanya sekolah unggulan maka akan ada sekolah-sekolah yang tidak unggul. Sehingga secara phisikologi siswa-siswa pada sekolah yang bukan unggulan itu akan dianggap sebagai manusia-manusia kelas dua. Padahal prinsip pendidikan adalah bagaimana memanusiakan manusia bukan justru membiarkan siswa yang bandel semakin bandel. Melihat hal tersebut beliau memiliki cita-cita membuat satu kelas yang menampung siapa saja khususnya bagi siswa/i kurang mampu dan diinapkan di asrama untuk dididik dan dibina. Meskipun cita-cita itu tidak sempat ia wujudkan. Setelah sekian lama bercerita akhirnya kami pamit untuk pulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah 3 bulan cerita itu, pada bulan desember 2010 akhirnya teori tentang zat pembusuk yang dikatakan beliau terbukti dengan apa yang aku alami. Seperti anak kos pada umumnya, lauk pauk tidak pernah dimasak tetapi sering dibeli di warung-warung yang menyediakannya. Waktu itu saya membeli 1 potong ikan dan 3 potong tahu untuk makan malam. Tetapi sewaktu makan,tidak memakan tahunya. Sehingga sampai keesokan harinya tahu itu masih ada. Paginya saya periksa tahu tersebut masih belum basi. Lalu dengan tangan saya cuil sedikit tahunya dan memakannya setelah itu bergegas untuk mandi karena segera kekampus. Karena sebuah kesibukan baru sekitar pukul 9 malam kembali ke kos. Akibat kelelahan langsung saja tidur.Keesokan harinya kulihat kembali tahu tersebut teryata pada tahu yang telah kuambil secuil itu telah berjamur tepat didaerah cuilannya sedangkan pada tahu yang lain tidak tumbuh jamur. Kejadian itulah yang langsung mengingatkan aku pada teori zat pembusuknya alm.H.Achmadi. Karena sudah berjamur semua tahu tersebut pun aku buang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alm.H.Achmadi memang bukan seorang ahli kimia atau pun kedokteran. Tetapi apa yang diutarakannya benar adanya dan itulah ilmu yang dimilikinya. Ilmu yang didapatkan dari kebiasaan adat istiadat yang diamati secara mendalam. Kekunoan adat istiadat bukan sebagai penghalang untuk menggali ilmu-ilmu yang tersirat. Oleh karena itu jangan pernah mengabaikan adat istiadat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;*Tulisan ini didedikasikan sebagai ucapan terimakasih buat Alm.H.Achmadi,S.Pd.I yang memberikan ilmu yang berarti bagiku yang tak akan aku lupakan dan berusaha untuk mewujudkan cita-citanya.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-3698038404323404189?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=xQKISK43zLM:99lbGW_25Qs:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/xQKISK43zLM" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-25T22:35:20.377+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2010/12/tahu-berjamur.html</feedburner:origLink></item><item><title>KPK Perlu Periksa Penggunaan Dana BOS*</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/Poc0Qnj_JL8/kpk-perlu-periksa-penggunaan-dana-bos.html</link><category>pendidikan</category><category>opiniku</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 25 Dec 2011 07:25:10 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-7743683909637463824</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bantuan Operasional Sekolah (BOS) adalah cara pemerintah dalam menyelenggarakan wajib belajar 9 tahun. Program dana BOS ini diluncurkan sejak tahun 2005. Dana BOS merupakan sumber dana utama untuk segala macam kegiatan operasional di sekolah. Dengan tujuan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Seiring berjalannya waktu, jumlah anggaran dana BOS terus mengalami kenaikan secara signifikan. Tahun 2008 alokasi dana BOS mencapai Rp.10,5 trilyun. Untuk tahun 2009 terdapat kenaikan hampir 50% lebih besar dari tahun sebelumnya menjadi Rp.16 trilyun dan 2010  menjadi Rp.16,8 trilyun.Besarnya alokasi dana BOS tersebut terindikasi akan  menjadi praktek-praktek korupsi oleh oknum-oknum dilingkungan pendidikan. Karena transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana BOS sangat rendah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu disebabkan penggunaan dana BOS tersebut kurang melibatkan orang tua sejak perencanaan hingga pelaporan. Berdasarkan penelitian Bank Dunia 71,61% orang tua siswa tidak mengetahui laporan dana BOS dan 92,65% tidak melihat papan pengumuman sekolah tentang penggunaan BOS. 89,58% orang tua siswa tidak berpartisipasi dalam perencanaan BOS. Disamping itu orang tua siswa juga terbuai akibat tidak adanya pengutipan lagi di sekolah sehingga merasa acuh dengan permasalahan demikian.Jika pengelolaan dana BOS dilakukan dengan baik seharusnya jumlah siswa putus sekolah untuk tingkat SD dan SMP karena persoalan ekonomi tidak begitu tinggi. Namun berdasarkan catatan kementrian pendidikan nasional sekitar 768.960 orang siswa SD-SMP se-Indonesia putus sekolah diantaranya 527.850 orang siswa SD dan 241.110 orang siswa SMP. Para guru juga terkadang tidak mengetahui aliran dana BOS tersebut sehingga kewenangan mutlak ada ditangan kepala sekolah dalam menangani dana BOS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Hal demikianlah yang semakin memberikan peluang bagi praktek-praktek korupsi.Sejak digulirkannya dana BOS 5 tahun yang lalu, belum pernah dilakukan audit oleh petugas&lt;br /&gt;
berwenang akan institusi(sekolah) pengelola dana BOS. Sehingga diperkirakan negara telah dirugikan hingga milyaran rupiah. Jika hal ini terus dibiarkan maka penggerogotan uang negara yang seharusnya diberikan kepada rakyat akan terus berlangsung dan  dinikmati bahkan akan menjadi hidden income bagi beberapa orang disekitar lingkaran pengelola dana BOS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun ada pengawasan terhadap sekolah-sekolah pengelola dana BOS tetapi tidak mampu menekan praktik korupsi. Justru pihak sekolah dan pengawas melakukan koloborasi untuk mengkorupsikan dana BOS. Praktik-praktik itu justru dilakukan tanpa urat malu. Sudah menjadi rahasia publik jika pengawas datang ke sekolah maka kepala sekolah telah menyiapkan amplop yang berisi uang. Bahkan jika ada masyarakt yang menanyakan keadaan dana BOS, kepala sekolah tersebut juga tidak segan-segan memberikan uang. Agar yang bersangkutan tidak menanyakannya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal demikian tidak boleh dibiarkan terlalu lama,karena akan menjadi kebiasaan buruk. Sehingga akan mempengaruhi perilaku masyarakat dan masyarakat tidak dapat lagi membedakan mana yang menjadi haknya. Dengan adanya indikasi korupsi tersebut maka diperlukan penanganan melalui upaya penindakan,menangkap dan mengadili pelakunya. Karena jika tidak segera ditindak maka tidak akan terhentikan. Hal tersebut dikarenakan unsur-unsur dalam melaksanakan korupsi telah dimiliki oleh oknum-oknum tersebut yakni niat melakukan korupsi, kemampuan untuk berbuat korupsi, peluang atau kesempatan untuk melakukan korupsi dan target atau adanya sasaran yang bisa dikorupsi.(Bibit S. Rianto,2009).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu diperlukan lembaga yang memiliki integritas tinggi dalam penanganan membongkar kasus-kasus korupsi pada penggunaan dana BOS tersebut. Meskipun ada banyak aparat hukum yang berwenang melakukan itu. Namun hanya Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK)-lah yang memungkinkan melakukan hal tersebut. Sebab dipastikan penanganan yang dilakukan oleh KPK pasti akan menyeret ratusan oknum pengelola pendidikan ke sel sebagai tersangka kasus korupsi. Apalagi KPK tidak akan mau berkompromi dengan para pelaku korupsi meskipun yang dikorupsikan dalam jumlah yang kecil. Karena besar atau kecilnya uang, tidak menghapuskan sifat perbuatan korupsi. Peran serta Kepala Daerah terutama juga masyarakat sangat diperlukan dalam mendukung KPK melakukan penyelidikan terhadap penyimpangan penggunaan Dana BOS . Agar para koruptor dana BOS tersebut kelak tidak akan mencari celah untuk menyerang balik KPK yang bisa menyebabkan pelemahan seperti kejadian yang telah terjadi kurun waktu yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&lt;i&gt;Sudah Terbit di koran jarak pantau edisi no 34, Minggu II Desember 2010 &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_UlzqymsfpCc/TQJW-IOZ8PI/AAAAAAAAAfw/CWN-wxtP0eE/s1600/Image0004.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="307" src="http://2.bp.blogspot.com/_UlzqymsfpCc/TQJW-IOZ8PI/AAAAAAAAAfw/CWN-wxtP0eE/s400/Image0004.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-7743683909637463824?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=Poc0Qnj_JL8:Yt0GpJxVKnI:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/Poc0Qnj_JL8" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-25T22:25:10.056+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_UlzqymsfpCc/TQJW-IOZ8PI/AAAAAAAAAfw/CWN-wxtP0eE/s72-c/Image0004.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2010/12/kpk-perlu-periksa-penggunaan-dana-bos.html</feedburner:origLink></item><item><title>Business Directory</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/hNBTYrR1Y3w/business-directory.html</link><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Tue, 30 Nov 2010 08:28:25 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-4312524689999298585</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Currently business on the internet is not a new thing anymore. Almost everyone uses the Internet either in business tourism, electronic, clothing, books and so forth. But in doing business on the internet we need an effort to bring visitors to your web or blog where we do business. Because without visitors undoubtedly our business will not run smooth. Therefore we need to submit your blog or web directory for us to get visitors to notice the following:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Age of domain or website; this is useful because the longer the domain of age of a directory, then the better the reputation of the directory, and also many websites that are listed on the site directory.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Registration requirements; a good blog directory, usually does not include the requirement to exchange links (reciprocal link) with its customers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;3. Quantity blogs are registered; more and more links a website or blog listed, then the better the quality of the directory, because it is believed to bring traffic.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Quantity blogs are registered; more and more links a website or blog listed, then the better the quality of the directory, because it is believed to bring traffic.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Number of categories: sites that have many categories (fashion, internet, games, etc.) will allow us to register a blog based on the category of blogs that we have.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
By paying attention to such matters &lt;a href="http://www.webdir.biz/"&gt;Business Directory&lt;/a&gt; is a very suitable place for sumbit your blog or web business.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-4312524689999298585?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=hNBTYrR1Y3w:BSlIl0535e4:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/hNBTYrR1Y3w" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-30T23:28:25.389+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2010/11/business-directory.html</feedburner:origLink></item><item><title>Pengenalan Ideologi GmnI (Marhaenisme)*</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/AnjosBlog/~3/zcmqXqMXJyw/pengenalan-ideologi-gmni-marhaenisme.html</link><category>GMNI</category><author>noreply@blogger.com (anjos)</author><pubDate>Sun, 26 Jun 2011 00:20:52 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3786128380077614162.post-1442019705166396041</guid><description>&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="country-region" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:Wingdings;
	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0;
	mso-font-charset:2;
	mso-generic-font-family:auto;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}
@font-face
	{font-family:"Comic Sans MS";
	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:script;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-parent:"";
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
	{size:595.45pt 841.7pt;
	margin:56.9pt 56.9pt 1.1in 56.9pt;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
 /* List Definitions */
 @list l0
	{mso-list-id:528103675;
	mso-list-type:hybrid;
	mso-list-template-ids:-42289586 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}
@list l0:level1
	{mso-level-tab-stop:.5in;
	mso-level-number-position:left;
	text-indent:-.25in;}
@list l0:level2
	{mso-level-number-format:alpha-lower;
	mso-level-tab-stop:1.0in;
	mso-level-number-position:left;
	text-indent:-.25in;}
@list l1
	{mso-list-id:1373185578;
	mso-list-type:hybrid;
	mso-list-template-ids:489220890 -624527052 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;}
@list l1:level1
	{mso-level-start-at:2;
	mso-level-number-format:bullet;
	mso-level-text:-;
	mso-level-tab-stop:.5in;
	mso-level-number-position:left;
	text-indent:-.25in;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@list l2
	{mso-list-id:2008240414;
	mso-list-type:hybrid;
	mso-list-template-ids:-808309120 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}
@list l2:level1
	{mso-level-tab-stop:.5in;
	mso-level-number-position:left;
	text-indent:-.25in;}
@list l3
	{mso-list-id:2088187315;
	mso-list-type:hybrid;
	mso-list-template-ids:-685341930 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}
@list l3:level1
	{mso-level-tab-stop:.5in;
	mso-level-number-position:left;
	text-indent:-.25in;}
ol
	{margin-bottom:0in;}
ul
	{margin-bottom:0in;}
--&gt;
&lt;/style&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;A. Pengantar Ideologi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ideologi GmnI adalah Marhenisme. Ideologi memiliki arti suatu rangkaian ide yang terangkum menjadi satu. Munculnya sebuah ideologi didasari oleh adanya kesadaran akan suatu permasalahan yang harus diselesaikan untuk mendukung kehidupan bernegara, dengan tahapan :&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mengamati&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Kehidupan sosial masyarakat yang menjadi objek pengamatan memberikan gambaran akan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataaan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;ol start="2" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bertanya&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Akibat adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan tersebut muncul berbagai pertanyaan-pertanyaan tentang penyebab kesenjangan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;ol start="3" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berpikir (Berdialektika)&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Setelah melalui proses mengamati dilanjutkan dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan maka selanjutnya adalah proses berpikir. Proses berpikir tersebut merupakan suatu usaha dalam upaya mencari kebenaran yang paling mendasar untuk menemukan jawaban dari pertanyaan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;ol start="4" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menjawab(berfilsafat)&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Hasil dari berdialektika yang paling tinggi tadi itulah yang disebut dengan jawaban (filsafat). Filsafat yang sudah mencapai kematangan akan di kristalisasikan menjadi sistem filsafat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;ol start="5" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ideologi&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;Sistem filsafat yang mengandung kebenaran dilaksanakan secara taat azas merupakan suatu tahapan pemikiran yang disebut Ideologi. System filsafat ini tidak semena-mena menjadi ideologi. Ketika system filsafat tersebut hanya jadi konsumsi sendiri maka kondisi itu tidak akan mencapai tahapan ideology, oleh karena itu pelaksanaan system filsafat perlu dilakukan pengajaran dan dimasyarakatkan agar menjadi sebuah Ideologi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;B. Lahirnya Marhenisme&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Marhenisme pertama kali di ungkapkan oleh Bung Karno ketika berumur 20 tahun (1921) melalui pengamatan, Bung Karnomelihat bahwa di Indonesia terdapat pekerja-pekerja yang bahkan lebih miskin dari pada tikus gereja dan dalam segi keuangan terlalu menyedihkan untuk bisa bangkit di bidang social, politik, dan ekonomi. Padahal masing-masing menjadi majikan sendiri. Mereka tidak terikat kepada siapapun. Mereka menjadi kusir gerobak kudanya, mereka juga pemilik dari kuda dan gerobak itu dan tidak mempekerjakan buruh lain. Kemudian nelayan-nelayan yang bekerja sendiri dengan alat-alat seperti tongkat kail,kailnya dan perahunya sendiri. Dan begitu pun para petani yang menjadi pemilik tunggal dari sawahnyadan pemakai tunggal dari hasilnya. Semuanya pemilik dari alat produksi. Itulah yang membedakan mereka dari proletar. Sehingga mereka tidak termasuk kedalam satu bentuk golongan. Dari hal itu Bung Karno memunculkan pertanyaan “ &lt;i&gt;apakah mereka yang tidak memiliki satu golongan tersebut?”&lt;/i&gt;. Pertanyaan itulah yang siang malam hingga berhari-hari, bermalam-malam bahkan berbulan-bulan menjadi perenungan bagi Bung Karno. Hingga pada suatu pagi dengan keinginan untuk tidak mengikuti kuliah, karena otaknya sudah terlalu penuh dengan soal-soal politik. Lalu ia mandayung sepeda tanpa tujuan, sambil berpikir dan sampai di bagian selatan &lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, suatu daerah pertanian yang padat dimana para petani mengerjakan sawahnya yang kecil, yang masing-masing luasnya kurang dari sepertiga hektar. Disitu dia melihat seorang petani sedang mencangkul sawahnya, lalu Bung Karno bertanya pada petani itu tentang &lt;i&gt;“Siapa yang mempunyai yang dikerjakan petani tersebut?, apakah petani tersebut memiliki tanah itu bersama-sama orang lain?, apakah tanah itu dibeli?, Siapa pemilik sekop?, cangkul?, bajak?, untuk siapa hasil yang dikerjakan?, dan siapa pemilik gubuk itu?”.&lt;/i&gt; Dari semua pertanyaan itu teryata semuanya adalah milik dan untuk petani tersebut. Lalu Bung Karno menanyakan nama petani tersebut dan dijawab dengan menyebut namahnya &lt;b&gt;“ &lt;i&gt;Marhaen”.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah mendengarkan nama itu Bung Karno mendapat ilham atas konsepsi yang sedang dipikirkannya. Nama itulah yang digunakannya untuk menamai semua orang&amp;nbsp; &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; yang bernasib &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;malang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; seperti petani tersebut. Mereka adalah korban dari system feodalisme, kapitalisme,kolonialisme dan imperialime. Selanjutnya Bung Karno mengolah pengertiannya dan mempersiapkan kata-katanya dengan hati-hati untuk mengajarkan konsepsi yang telah dia temukan tersebut. Konsepsi tersebut Bung Karno namakan &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Marhaenisme.”&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Marhaenisme adalah sosialisme&amp;nbsp; &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;,&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Marhaenisme yaitu sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Marhaenisme adalah azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan negeri yang didalam segala halnya menyelamatkan kaum marhaen.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Marhaenisme adalah juga cara perjuangan untuk mencapai susunan masyarakat dan susunan negeri yang sedemikian itu. Yang oleh karenanya harus suatu cara perjuangan yang revolusioner.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Jadi Marhaenisme adalah cara perjuangan dan azas yang menghendaki hilangnya tiap-tiap kapitalisme dan imperialisme.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Marhaen yaitu kaum proletar &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, kaum tani &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; yang melarat dan kaum melarat &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Marhaenis adalah tiap-tiap orang bangsa &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menjalankan Marhaenisme&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;C. Nilai-nilai dasar Marhaenisme&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Nilai-nilai dasar yang terkandung pada Marhaenisme adalah Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi adalah ciptaan Bunn Karno untuk menyebutkan kita punya Nasionalisme dan kita punya demokrasi. Sosio-Nasionalisme adalah Nasionalisme masyarakat dan Sosio Demokrasi adalah Demokrasi masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sosio-Nasionalisme adalah nasionalisme yang timbulnya      tidak karena &lt;i&gt;“Rasa”&lt;/i&gt; saja, tidak      karena &lt;i&gt;“gevoel”&lt;/i&gt; saja, tidak      karena &lt;i&gt;“lyriek”&lt;/i&gt; saja tetapi      karena keadaan-keadaan yang nyata didalam masyarakat, nasionalsime      masyarakat bukanlah nasionalisme &lt;i&gt;“ngelamun”&lt;/i&gt;      , bukanlah nasionalisme &lt;i&gt;“kemenyan”&lt;/i&gt;,      bukanlah nasionalsime&lt;i&gt;”melayang “.&lt;/i&gt;      Tetapi ialah nasionalisme yang dengan kedua-dua kakinya berdiri didalam      masyarakat. Maksudnya ialah memperbaiki keadaan-keadaan didalam masyarakat      itu, sehingga keadaan yang kini pincang itu menjadi keadaan yang sempurna,      tidak ada kaum yang celaka, tidak ada kaum yang papa sengsara.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;ol start="2" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sosio-Demokrasi timbul karena sosio-nasionalisme,      sosio-demokrasi adalah pula demokrasi yang berdiri dengan kedua-dua      kakinya didalam masyarakat. Sosio-demokrasi tidak ingin mengabdi kepada      kepentingan suatu gundukan kecil saja, tetapi kepentingan masyarakat.      Sosio-demokrasi adalah demokrasi sejati yang mencari keberesan politik dan      ekonomi, keberesan negeri dan keberesan rejeki. Sosio-demokrasi adalah      demokrasi politik dan demokrasi ekonomi.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;ol start="3" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketuhanan Yang Maha Esa adalah nilai-nilai yang      menjadi landasan kehidupan berbangsa dan bernegara seluruh rakyat &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;D. Korelasi Pancasila dan Marhaenisme&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Didepan sidang PPKI pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno berpidato tentang dasar Negara Indonesi Merdeka. Bung Karno mengusulkan pancasila sebagai dasar Negara. Pancasila tersebut merupakan hasil penggalian Bung Karno dari buminya &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Bung Karno membidani lahirnya Pancasila bukan sebagai pencipta Pancasila. Formulasi dari pancasila pidato Bung Karno adalah sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kebangsaan&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Internasionalsime dan perikemanusian&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mufakat atau demokrasi&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kesejahteraan social&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketuhanan Yang Maha Esa.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dari kelima sila tersebut bung karno menawarkan jika ada yang tidak senang dengan 5 sila maka diperas menjadi 3 sila(trisila) yaitu &lt;b&gt;&lt;i&gt;sosio-nasionalsime, sosio-demokrasi dan Ketuhanan Yang Maha Esa&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Lalu dia kembali menawarkan jika juga tidak senang dengan 3 sila maka kembali diperas menjadi satu(ekasila) yakni “&lt;b&gt;&lt;i&gt;Gotong Royong”.&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;Pada pemerasan 5 sila ke 3 sila yang menghasilkan nilai-nilai dasar Marhaenisme menunjukkan bahwa nilai-nilai yang terkandung pada Pancasila tersebut sama dengan nilai-nilai yang terkandung pada Marhaenisme. Oleh karena itu Pancasila itu adalah Marhaenisme itu sendiri dan Marhaenisme itu adalah Pancasila itu sendiri (&lt;i&gt;Pancasila is Marhaenisme, Marhaenisme is pancasila)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;
&lt;!--
 /* Font Definitions */
 @font-face
	{font-family:"Comic Sans MS";
	panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4;
	mso-font-charset:0;
	mso-generic-font-family:script;
	mso-font-pitch:variable;
	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}
 /* Style Definitions */
 p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
	{mso-style-parent:"";
	margin:0in;
	margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
	{size:8.5in 11.0in;
	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;
	mso-header-margin:.5in;
	mso-footer-margin:.5in;
	mso-paper-source:0;}
div.Section1
	{page:Section1;}
--&gt;
&lt;/style&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 10pt;"&gt;* Disajikan pada pekan penerimaan anggota bru(PPAB) GmnI Gunungsitoli-Nias, 20 November 2010&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sumber bacaan:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Soekarno, &lt;i&gt;Dibawah Bendera Revolusi&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Adams cindy,&lt;i&gt; Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Soekarno, &lt;i&gt;Pidato 01 Juni 1945 tentang dasar negara &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; pada sidang PPKI&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Diposting juga di : &lt;a href="http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/19/pengenalan-ideologi-gmni-marhaenisme/"&gt;kompasian/andijosua&lt;/a&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3786128380077614162-1442019705166396041?l=andijosua.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?a=zcmqXqMXJyw:dhbTgXMAuWY:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/AnjosBlog?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/AnjosBlog/~4/zcmqXqMXJyw" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-06-26T14:20:52.155+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://andijosua.blogspot.com/2010/11/pengenalan-ideologi-gmni-marhaenisme.html</feedburner:origLink></item><media:rating>adult</media:rating></channel></rss>

