<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-7030717</atom:id><lastBuildDate>Mon, 13 May 2013 01:33:11 +0000</lastBuildDate><category>Salaf: Jundub bin Abdillah</category><category>Dzikir dan do'a</category><category>Eko-Syariah</category><category>Ramadhan</category><category>English</category><category>Salaf: Bilal</category><category>Al-Qur'an</category><category>Reflective Journal</category><category>Salaf: Abu Dzar al-Ghifari</category><category>Mutiara Hadits</category><category>Akhlak dan Adab</category><category>Salaf: Salman al-Farisi</category><category>Salaf: Hibban bin Abi Jablah</category><category>Al-Ilmu</category><category>Obrolan dan Diskusi</category><category>Wanita</category><category>Fatwa Ulama</category><category>Kisah</category><category>Salaf: Thawus bin Kaisan</category><category>Salaf: Ibnul Jauzy</category><category>Tazkiyah An-Nafs</category><category>Salaf: Al-Fudhail bin Iyadh</category><category>Salaf: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah</category><category>Salaf: Syuraih al-Qadhi</category><category>Salaf: Ibrahim At-Taimi</category><category>Salaf: Salamah bin Dinar</category><category>Ibadah</category><category>Kajian</category><category>Fiqih</category><category>Mutiara Salaf</category><category>Tahukah Anda?</category><category>Salaf: Syu'bah</category><category>Aqidah dan Manhaj</category><category>Salaf: Syaqiq</category><category>Salaf: Maimun bin Mihran</category><category>Islam dan Sains</category><category>Salaf: Mu'adz bin Jabal</category><category>Tips and Trick</category><category>Salaf: Abu Ubaidah</category><category>Salaf: Haatim al-Assam</category><category>Salaf: Anas bin Malik</category><category>Biografi</category><category>Salaf: Ali bin Abi Thalib</category><category>Salaf: Abu ad-Darda</category><category>Inspiratif</category><category>Salaf: Various</category><category>Salaf: Hasan al-Bashri</category><title>A Learning Page</title><description /><link>http://www.khayla.net/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Khayla)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>222</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/ALearningPage" /><feedburner:info uri="alearningpage" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-4661439529816339181</guid><pubDate>Wed, 06 Mar 2013 09:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-03-06T17:40:06.427+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah</category><title>Sedekah Membawa Kesembuhan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ZCpiklSj4cY/UTcOidLCbcI/AAAAAAAAAXM/6XDCE1vaC3Q/s1600/sedekah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-ZCpiklSj4cY/UTcOidLCbcI/AAAAAAAAAXM/6XDCE1vaC3Q/s1600/sedekah.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada tahun 1408H, surat kabar Al-Muslimun (nomor 181, tanggal 8 Dzulhijjah 1408H) menceritakan kisah ini. Ini adalah kisah nyata, di mana tokohnya adalah seorang dokter Syria yang mengidap penyakit kanker yang sembuh karena sedekah. Dr. ‘isa Marzuqi mengisahkan, bahwa dia terkena penyakit kanker, fakta berdasarkan hasil pemeriksaan seorang dokter ahli yang terkenal di Damascus; yang menakjubkan adalah ia disembuhkan oleh sedekah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah banyak koleganya yang kehilangan harapan akan kesembuhannya, dokter tersebut kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan tugas-tugasnya. Tunangan sang dokter menolak untuk memutuskan (rencana) pernikahan dan memutuskan untuk menunggu hingga saat kematiannya. Namun yang terjadi adalah kesembuhannya. Dia menunjukkan surat keterangan dari para dokter terkemuka, bahwa dia mengidap kanker di bagian ketiak sebelah kiri; mereka juga kemudian menerangkan bahwa tidak ada bekas dari penyakit kanker tersebut yang tersisa. Bahkan, dokter yang pertama kali mendiagnosanya mengatakan bahwa dia menyangka dokter (pasien) tersebut akan meninggal dalm hitungan setelah beberapa hari.

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dr. ‘Isa Marzuqi kemudian menjelaskan bahwa dia menerapkan perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="arabic"&gt;
دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ

 &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR Baihaqi). &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hadits tersebut memberikannya harapan, sehingga ketika dia mengetahui  tentang sebuah rumah yang ditinggal mati oleh kepala rumah tangganya beberapa tahun yang lalu, dia memutuskan untuk memberikan seluruh hartanyanya kepada mereka, meskipun harta yang dimilikinya tidak seberapa. Dia mengirim uang kepada keluarga miskin tersebut melalui seorang teman, dan memintanya mengatakan kepada mereka bahwa uang tersebut berasal dari seseorang yang mengidap penyakit yang mematikan, dan dia mencari kesembuhan melalui sedekah, dengan berharap pertolongan dari Allah. Kisah ini berakhir dengan kesembuhannya, yang membingungkan para dokter ahli di Syria. Dia kemudian berkata bahwa dia memilih metode pengobatan tersebut karena ingin mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Namun demikian, dia melanjutkan, dia tidak meninggalkan pengobatan medis; dia beriman pada takdir, akan tetapi keimanan itu tidak berarti seseorang harus berpaling dari dokter,  juga tidak berarti bahwa seseorang tidak boleh menempuh langkah nyata yang dibutuhkan untuk  mencapai tujuan yang diinginkan. 


&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
============================&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber: &lt;em&gt;Gems and Jewel; Wise Sayings, Interesting Events and Moral Lessons from the Islamic History, (Ch. Charity and Sickness, p. 155-156),  Darussalam Publication&lt;/em&gt;.
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/i09P1CVE55o" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/i09P1CVE55o/sedekah-membawa-kesembuhan.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-ZCpiklSj4cY/UTcOidLCbcI/AAAAAAAAAXM/6XDCE1vaC3Q/s72-c/sedekah.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2013/03/sedekah-membawa-kesembuhan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-4914868534060659185</guid><pubDate>Tue, 12 Feb 2013 14:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-02-12T22:19:33.137+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Wanita</category><title>Bila Jilbab Dimaknai 'Cantik Religious'</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://www.photographyblogger.net/wp-content/uploads/2010/05/flower7.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://www.photographyblogger.net/wp-content/uploads/2010/05/flower7.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
For some muslim women, life is never that simple. Ya, semua terasa (atau sengaja dibikin) complicated. Rumit! Saya ingat duluuuuu... jaman jahiliyah versi pribadi sebelum mengenakan jilbab, dibujuk oleh teman-teman dengan banyak alasan. Salah satunya dari sisi praktis, rambut tidak perlu didandani habis ketika hendak keluar rumah, ke pesta khususnya. Tidak seperti kebanyakan wanita yang tidak mengenakan jilbab, kalau ke pesta semprotan hair spray bisa sampai ke mana-mana, belum jepitan di sana-sini, bahkan terkadang harus duduk bersabar didandani penata rambut di salon selama beberapa jam. Dengan jilbab, kita tidak butuh semua itu. 
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Itu ke pesta. Untuk kebutuhan harian, termasuk bersekolah atau bekerja, rambut pun ditata dengan hati-hati. Kan katanya rambut adalah mahkota wanita.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Itu dulu... Sekarang...?
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bahkan memakai jilbab pun hampir sama rumitnya dengan menyanggul rambut. Butuh tutorial! Butuh sekian peniti dan jarum pentul beserta berbagai variasi aksesoris menarik! Kalau dulu sebagian besar wanita mendandani rambutnya dan mengenakan aksesoris untuk acara khusus, sekarang kepala wanita didandani dengan jilbal trendi berbagai model untuk berbagai kesempatan. Walhasil, sebelum dan sesudah berjilbab  tabarruj alias berhias jalan terus. Jilbab yang semestinya sangat praktis pun menjadi rumit dengan berbagai jepitan. Memang benar, bagi sebagian kaum perempuan, hidup tidak pernah sesederhana itu. 
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya teringat pernah berdiskusi dengan seorang kawan yang lama tidak pulang ke tanah air. Dia bilang, “Tetanggaku orang Pakistan bilang, ‘Indonesian is too advance muslim’.” Katanya, muslim Indonesia itu sangat (atau tepatnya terlalu) maju. Dari yang tidak ada diada-adakan. Sepanjang sesuatu itu diberi label ‘Islami’, maka sesuatu itu dianggap benar menurut ajaran Islam normatif. Ya... patut diakui sebagian muslim Indonesia memang sangat kreatif dan inovatif, hingga sesuatu yang sudah baku, dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang sama sekali baru, atau berbeda jauh dari aslinya. Seperti jilbab yang kini masuk ke dalam industri mode.  Hingga kata-kata dijalin, dililit, diputar, disematkan atau yang semisalnya, bisa anda dapatkan di antara tutotial hijab yang bertebaran di internet.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setan memang selalu punya cara. Ketika dia tidak mampu membendung semangat wanita muslimah untuk mengenakan jilbab, dihembuskannya ide ‘tampil cantik dengan berjilbab’. ‘Pakai jilbab juga harus tetap terlihat modis dan menarik...’, atau ‘ Apa salahnya? Toh Rambut tetap tertutup...’, dan sekian bisikan lainnya. Akibatnya jilbab/hijab kehilangan esensinya. Alih-alih dari perintah berhijab agar wanita tidak menampakkan perhiasannya, jilbab malah menjadi perhiasan bagi wanita zaman sekarang, untuk memberi kesan ‘cantik religious’. 
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak ada yang salah dengan semangat wanita muslimah mengenakan jilbab sekarang ini. Keasadaran akan kewajiban menutup aurat merupakan sesuatu yang harus disyukuri. Yang perlu diluruskan ada kekeliruan pehaman akan jilbab itu sendiri. Jilbab adalah pakaian takwa, tidak dapat dinilai dengan timbangan mode dan trend. Jilbab bukan sekedar kain yang ditutupkan di kepala dan membalut seluruh tubuh. Jilbab tidak dimaksudkan untuk menimbulkan kesan ‘cantik yang religius’. Maaf, bukan seperti itu.  Mengenakan jilbab syar’i tidak membutuhkan tutorial rumit dengan kata-kata dililit, dijalin, disematkan dan seterusnya. Yang kita butuhkan adalah pengetahuan mengenai syarat-syarat jilbab syar’i, yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. 
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syaikh al-Albani rahimahullah, salah seorang ahli hadits abad ini, berdasarkan hasil penelitiannya terhadap nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah menulis dalam bukunya – Jilbab Wanita Muslimah menurut al-Qur’an dan As-Sunnah – syarat-syarat jilbab syar’i itu sebagai berikut:
&lt;/div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menutupi seluruh tubuh, selain bagian yang dikecualikan,
&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bukan untuk berhias,
&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tebal, tidak tipis,
&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Longgar, tidak ketat,
&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak diberi wangi-wangian,
&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak menyerupai pakaian laki-laki,
&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak menyerupai wanita kafir,
&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;Bukan pakaian untuk kemasyhuran
&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setiap poin diatas dijelaskan berdasarkan dalil-dalil yang sah, dan tidak ada tempat bagi jilbab-jilbab berhias sebagaimana yang umum dipakai sebagian wanita muslimah saat ini.
Ketika membahas mengenai poin kedua di atas, Syaikh Albani rahimahullah menukilkan ayat berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="arabic" style="text-align: center;"&gt;
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
“Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka...” (QS an-Nur : 31)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
...dan beberapa dalil lainnya. Beliau menjelaskan bahwa secara umum ayat di atas mengandung larangan menghiasi pakaian yang dipakainya sehingga menarik perhatian laki-laki. Lebih lanjut beliau berkata bahwa perintah mengenakan jilbab adalah perintah untuk menutup perhiasan wanita. Dengan demikian tidaklah masuk akal bila jilbab yang berfungsi untuk menutup perhiasan wanita itu malah menjadi pakaian untuk berhias.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saudariku, mari berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri. Apa arti jilbab buat kita dan untuk apa kita mengenakannya? Cukuplah jawaban itu pada diri masing-masing. Sungguh, keputusan untuk merubah penampilan secara total bukan seusatu yang mudah. Terlebih lagi jika lingkungan di sekitar kita tidak mendukung hal itu. Akan tetapi Allah akan memberikan pertolongan bagi orang yang bersungguh-sungguh untuk melaksanakan ketaatan. Segala puji bagi Allah yang telah mendatangkan hidayah berupa kesadaran pada diri kita untuk mengenakan jilbab sebagai wujud ketaatan terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah menmbahkan hidayah-Nya bagi kita dan memudahkan kita menguatkan tekad untuk melaksanakan perintah berhijab, dengan hijab yang sempurna. Amin.


&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Referensi:
&lt;br /&gt;
Syaikh Nashiruddin al-Albani, 2002. Jilbab Wanita Muslimah (Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah fiy al-Kitab wa as-Sunnah). Penerbit Media Hidayah, Yogyakarta.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/51EQvYk9cs4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/51EQvYk9cs4/bila-jilbab-dimaknai-cantik-religious.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2013/02/bila-jilbab-dimaknai-cantik-religious.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-920830210843127032</guid><pubDate>Fri, 25 Jan 2013 22:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-01-26T06:31:50.077+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mutiara Salaf</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Salaf: Ali bin Abi Thalib</category><title>Tak Terjangkau Kata-Kata</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari&amp;nbsp;Ali bin Abi Thalib &amp;nbsp;radhiallahu anhu, dia berkata:
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://www.commentsyard.com/graphics/flowers/flowers32.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://www.commentsyard.com/graphics/flowers/flowers32.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="arabic" style="text-align: justify;"&gt;
اذكروا من عظمة الله ما شئتم ولا تذكرون منه شيئاً إلا وهو أعظم منه واذكروا من النار ما شِئْتُم ولا تذكرون منها شيئاً إلا وهي أشد منه واذكروا من الجنة ما شئتم ولا تذكرون منها شيئاً إلا وهي أفضل منه
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Sebutkanlah keagungan Allah yang engkau inginkan, dan tidak ada yang engkau sebutkan tentang-Nya melainkan Dia lebih agung dari itu. Sebutkanlah tentang neraka yang engkau inginkan, dan tidaklah yang engkau sebutkan darinya melainkan ia lebih dasyat dari itu. Sebutkanlah tentang surga sesukamu, dan tidaklah yang engkau sebutkan darinya melainkan surga lebih utama dari itu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
---------
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
It is reported that Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu said:

Mention what you will of the greatness of Allāh, but Allāh is greater than anything you say. And mention what you will of the Fire, but it is more severe than anything you say. And mention what you will of Paradise, but it is better than anything you say. 

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
---------

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sumber: Abu Bakar ad-Daynuri dalam 'Al-Majalisah wal Jawahir al-Ilmu No. 853 (Maktabah Syamilah; sayingofthesalaf.net)

&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/TsU0rRn2Nqg" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/TsU0rRn2Nqg/tak-terjangkau-kata-kata.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2013/01/tak-terjangkau-kata-kata.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-494656692777054541</guid><pubDate>Tue, 01 Jan 2013 14:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-01-01T22:35:03.414+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Wanita</category><title>Meneladani 'Asma binti Yazid Radhiallahu Anha</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-VGfH9ynj9Zk/TfizETxVsjI/AAAAAAAAAVI/MFpy9ycNVsk/s1600/bu4.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-VGfH9ynj9Zk/TfizETxVsjI/AAAAAAAAAVI/MFpy9ycNVsk/s1600/bu4.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Khasanah Islam yang ditinggalkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam beserta para sahabatnya tidak akan pernah kering dari pelajaran yang dapat bermanfaat bagi kita yang hidup jauh setelahnya. Banyak di antara manusia saat ini, bahkan dari kaum muslimin sendiri, yang meremehkan pandangan terhadap kedudukan wanita dalam Islam. Jika saja mereka mau menoleh ke belakang, mempelajari sirah nabawiyah dan sirah para sahabat, mereka akan tahu, bahwa apa yang telah dicapai oleh kaum wanita di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sungguh tidak dapat diraih oleh wanita di zaman moderen sekarang ini.

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adalah ‘Asma binti Yazid al-Anshariyyah – radhiallahu anha – juru bicara para wanita di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dahulu, bila kaum wanita memiliki pertanyaan dan malu untuk menanyakannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, mereka akan mengutus ‘Asma binti Yazid rahdiallahu anhu sebagai juru bicara mereka. Perhatikan apa yang dikatakannya:

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Aku adalah utusan para wanita Muslimah di belakangku. Mereka seluruhnya mengatakan sebagaimana kata-kataku dan berpendapat sebagaimana pendapatku."

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dia melanjutkan, "Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada pria dan wanita. Kami beriman kepada engkau dan mengikuti engkau. Kami terbatas dengan urusan rumah tangga, menjadi tempat pemuas nafsu kaum pria, mengandung anak-anak. Adapun kaum pria dilebihkan dengan shalat Jumat, mengantar jenazah, dan ikut berjihad. Jika mereka keluar untuk berjihad, maka kami menjaga harta mereka dan kami mendidik anak-anak mereka. Apakah kami mendapatkan pahala yang sama dengan pahala mereka, wahai Rasulullah?”&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menolehkan wajahnya kepada para sahabat dan bersabda, “Apakah kalian pernah mendengarkan kata-kata seorang wanita yang bertanya tentang perkara agama yang lebih baik daripada pertanyaan ini?” 

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak menyangka bahwa wanita mendapat petunjuk ke arah itu.”

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun mengalihkan wajahnya kepada wanita itu dan bersabda, “Kembalilah wahai Asma’, dan jelaskan kepada siapa pun di belakangmu bahwa jika seorang dari kalian dapat mengurus suami dengan sebaik mungkin, dan ia mencari keridhaan suaminya, menaatinya demi mendapat kesepakatannya, semua yang disebutkan itu sama pahalanya dengan kebaikan yang sama yang dikerjakan kaum pria.” 

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Asma’ pun kemudian pulang dengan menyerukan takbir dan tahlil sebagai tanda ‎kegembiraannya menyambut perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bandingkan apa yang menjadi keresahan Asma dan para wanita  sahabiyat radhiallahu anhum dengan kondisi wanita muslimah zaman sekarang ini. Yang mereka inignkan adalah keutamaan yang sama yang dimiliki oleh kaum laki-laki di mata Allah subhanahu wa ta’ala, yang mereka inginkan adalah kesamaan pahala sebagaimana yang diperoleh kaum pria. Lalu apa yang diinginkan wanita muslimah zaman sekarang?

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apa yang menjadi tuntutan sebagian besar kita saat ini? Apakah masalah agama? Berapa banyak di antara – kaum wanita masa kini dengan pendidikan tinggi dan karir yang gemilang - bertanya tentang urusan agama, perduli tentang halal dan haram, syar’i atau tidak syar’i? Sebagian besar tuntutan wanita – termasuk wanita muslimah zaman sekarang - adalah kedudukan yang setara dengan laki-laki, kesetaraan gender,  emansipasi dalam segala bidan. Yang menjadi tuntutan sebagian kita adalah kebebasan, kebebasan untuk mengenakan pakaian dengan model yang disukai meski itu berarti membuka aurat, kebebasan untuk memilih jalan hidup sesuai dengan yang diinginkannya, kebebasan menuangkan pendapat meski bertentangan dengan nilai-nilai syar’i.

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wanita di zaman kita dengan Wanita Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh generasi terdahulu yang sungguh sangat berbeda. Tatkala mereka menuntut kebaikan pahala akhirat, kita menuntut kesenangan dunia, ketika mereka berjuang untuk menegakkan agama Allah, kita berjuang untuk meraih puncak karier, ketenaran, kedudukan sosial. Lalu di mana kebaikan orang-orang yang memperjuangkan kebebasan wanita dibandingkan dengan kemuliaan para wanita teladan di zaman Rasulullah yang bahkan rela mengorbankan jiwanya demi tegaknya kalimat  Laa ilaaha illa Allah? 

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dapatkah kita setegar Sumayyah – radhiallahu anha – yang tetap teguh mengucapkan kalimat tauhid Laa ilaaha illa Allah sampai detik terakhir hidupnya sebelum tombak yang ditancapkan Abu Jahal menembus kemaluannya, merenggut nyawanya, menjadikannya syuhada yang pertama di dalam Islam?

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bisakah kita setangguh Ummu Imarah bint Ka’ab yang menjadikan dirinya tameng bagi Rasulullah di saat-saat kritis pada perang Uhud? Bahkan kaum feminis di luar sana yang sibuk mengajak pada kebebasan kaum wanita tidak akan bisa mencapai setengah dari keberanian beliau radhiallahu anha.

Dan ‘Asma – radhiallahu anha – tidaklah sekedar seorang ibu rumah tangga biasa. Pada perang Yarmuk beliau bahkan ikut ke medan perang melawan pasukan Romawi di garis belakang bersama para wanita!

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sayangnya, kita kaum muslimah generasi saat ini, lebih banyak bercermin dan mengambil teladan para wanita bintang yang muncul di layar kaca, atau tokoh-tokoh pejuang kebebasan wanita yang tidak jelas aqidahnya. Sebagian kita lebih mengenal (menghafal) tokoh pemain sinetron daripada para wanita mulia yang telah menorehkan tinta emas dalam sejarah Islam.  Menganggap bahwa orang-orang yang berpegang teguh terhadap ajaran Islam dan Sunnah berdasarkan pemahaman generasi awal terbaik dari umat ini sebagai orang-orang yang fanatik, kolot, terbelakang, dan terkadang malah dianggap menggelikan!

&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wanita adalah setengah bagian dari masyarakat, dan melahirkan, membesarkan dan mendidik setengah bagian masyarakat lainnya (baca: laki-laki). Bukankah itu tugas dan kedudukan yang sangat  mulia? Sesungguhnya karena kedudukannya yang mulia itulah Islam menjaga kaum wanita, tidak menyentuhnya laki-laki melainkan mahramnya dan memerintahkan mereka berhijab agar terjaga kehormatannya, dan memberikan mereka kelebihan dengan tugas dan tanggung jawab di rumahnya, yang setara dengan nilai amal ibadah yang dilakukan para pria, termasuk berjihad di jalan Allah.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wallahu a'lam.&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/J_kyeA167tk" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/J_kyeA167tk/khasanah-islam-yang-ditinggalkan-oleh.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-VGfH9ynj9Zk/TfizETxVsjI/AAAAAAAAAVI/MFpy9ycNVsk/s72-c/bu4.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2013/01/khasanah-islam-yang-ditinggalkan-oleh.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-9069449052758151389</guid><pubDate>Sun, 16 Dec 2012 01:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-12-16T11:34:28.058+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Wanita</category><title>Al Qawareer </title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-UR8_alBJqkA/UM0cO835PsI/AAAAAAAAAWM/jD9rsIkSFS8/s1600/medium_bouquet.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-UR8_alBJqkA/UM0cO835PsI/AAAAAAAAAWM/jD9rsIkSFS8/s200/medium_bouquet.jpg" width="190" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dikisahkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah dalam suatu perjalanan, sementara seorang hamba sahayanya bernama Anjasyah mengawal para wanita. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda kepada anjasyah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div arabic="arabic"&gt;رُوَيْدَكَ يَا أَنْجَشَةُ سَوْقَكَ بِالْقَوَارِيرِ&lt;/div&gt;"Pelan-pelanlah wahai Anjasyah, karena kamu tengah mengawal sesuatu yang mudah pecah." (HR Bukhari)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Qilabah mengatakan; maksudnya adalah (mengawal) para wanita."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah perhatian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan perintahnya untuk memperlakukan wanita dengan lemah lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hadits di atas, wanita diibaratkan sebagai al-Qawariir, sesuatu yang mudah pecah. Dari kata itulah program ini diambil, yang berisi nasihat bagi kaum wanita, dengan mengambil pelajaran dari kisah para wanita teladan di awal Islam. Pembahasan yang sangat menarik dengan cara dialog yang dibawakan oleh Dr. Muhammad Al-Arifi. (in arabic with english subtitle).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="344" src="http://www.youtube.com/embed/videoseries?list=PL113417EA4B337361&amp;amp;hl=id_ID" width="425"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/Z3hGsQjLQio" height="1" width="1"/&gt;</description><enclosure type="" url="http://www.youtube.com/playlist?list=PL113417EA4B337361" length="0" /><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/Z3hGsQjLQio/al-qawareer.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-UR8_alBJqkA/UM0cO835PsI/AAAAAAAAAWM/jD9rsIkSFS8/s72-c/medium_bouquet.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2012/12/al-qawareer.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-6790693878965813433</guid><pubDate>Mon, 07 May 2012 14:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-07T22:01:01.736+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mutiara Salaf</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Salaf: Hasan al-Bashri</category><title>Jangan Tertipu</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://www.desktopwallpaperhd.com/wallpapers/31/51919.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; cssfloat: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" mea="true" src="http://www.desktopwallpaperhd.com/wallpapers/31/51919.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border-bottom: medium none; border-left: medium none; border-right: medium none; border-top: medium none; text-align: justify;"&gt;
Hasan al-Bashri rahimahullah menasihati sebagian muridnya dan menperingatkan mereka untuk menghindari rasa puas (terhadap diri sendiri). Beliau berkata: &lt;/div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jangan pedaya dirimu dan menjadi sangat puas karena berada pada lingkungan yang baik (shalih), karena tidak ada tempat yang lebih baik dari Surga, dan bapak kita Adam alaihis salam mengalami apa yang kita semua mengetahuinya.&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jangan merasa puas hanya karena engkau sering beribadah, ingatlah apa yang tejadi pada iblis setelah menghabiskan banyak waktu untuk beribadah. &lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jangan merasa dirimu besar karena telah bertemu dengan orang-orang yang shalih, karena tidak ada orang yang lebih shalih dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, akan tetapi kaum musyrikin dan orang-orang munafik tidak mendapatkan manfaat hanya dengan mengenal beliau.&lt;/div&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
* * *&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terjemahan bebas dari Al-Lu’lu’ al-Mantsur -&lt;em&gt; Gems &amp;amp; Jewels; Wise Sayings, Interesting Events and Moral Lessons from Islamic History&lt;/em&gt;. Compiled by Abdul Malik Mujahid, Penerbit Darussalam, hal. 182. (sumber kitab asli tidak tercantum) &lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/RxbWa9sbNw4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/RxbWa9sbNw4/jangan-tertipu.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2012/05/jangan-tertipu.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-1958572494938754542</guid><pubDate>Sun, 29 Apr 2012 03:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-29T11:10:10.342+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Wanita</category><title>TIRANI KECANTIKAN;  Jebakan bagi Wanita Muslimah</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="border-bottom: medium none; border-left: medium none; border-right: medium none; border-top: medium none; text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://relifa.com/wp-content/uploads/2012/02/kosmetik.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; cssfloat: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="183" oda="true" src="http://relifa.com/wp-content/uploads/2012/02/kosmetik.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Membaca judul di atas mungkin membuat sebagian di antara anda bertanya, “Bagaimana bisa kecantikan menjadi tirani?” Menyaksiakan fenomena di zaman sekarang ini yakinlah bahwa kecantikan bisa menjadi tirani yang memenjarakan seorang wanita sehingga menjadi budaknya. Kecantikan saat ini layaknya berhala yang dipuja. Seorang wanita bisa mengisolasi diri berjam-jam dan merogoh kocek yang fantastis hanya untuk tampil menawan. Wanita lainnya rela melakukan ritual apa pun yang bisa membuatnya tampil cantik dan menarik. Mulai dari berlapar-lapar dengan diet super ketat, menjauhi makanan yang halal lagi baik demi mendapatkan bentuk tubuh yang proporsional, sedot sana sini, dempul sana sini, agar terlihat seperti bintang iklan yang mempromosikan sebuah produk kecantikan. Padahal bukan rahasia kalau foto atau gambar bintang yang ditampilkan dalam iklan tersebut telah mengalami ‘&lt;em&gt;retouched&lt;/em&gt;’ dengan perangkat teknologi canggih agar terlihat sempurna. Yang lebih parah lagi, sebagian bahkan rela merusak agamanya, mendatangi para dukun dan tukang tenung hanya untuk bisa tampil cantik dan menarik. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kecantikan memang sudah lama bukan lagi menjadi kesenangan pribadi yang rahasia bagi kaum wanita. Kecantikan telah menjadi ‘barang publik’ yang bisa dinikmati siapa saja yang melihatnya. Dan sebagaimana layaknya barang publik, ada tuntutan untuk memberi layanan prima, sehingga para wanita selalu berusaha untuk tampil cantik dalam segala kesempatan. Tidak terkecuali wanita muslimah dengan jilbab trendi mereka. “Tampil cantik dengan berjilbab”, itu adalah moto sebagian orang. Soal pakaiannya benar-benar syar’i atau tidak, itu urusan lain. Yang penting kepala dan seluruh tubuh atau aurat ‘terbalut’ dengan ‘indah. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya ingin mengutip tulisan Ismail Adam Patel dalam bukunya ‘Islam, the Choice of Thinking Women’ terkait masalah ini. Dia mengatakan: &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kecantikan telah menjadi nilai tukar, dan seperti uang, sangat dicari oleh para wanita. Namun demikian, ia lebih sukar untuk dijangkau daripada pound atau dolar, karena kaum laki-laki terus mendevaluasi ’nilai tukar’ tersebut. Tidak ada standar yang universal: ”Kecantikan” adalah sebuah berhala yang diciptakan oleh kaum laki-laki Barat, yang menaikkan dan merubah standar sekehendaknya, menjadikannya tidak mungkin untuk diraih oleh ibu, saudari atau anak perempuannya. Kecantikan wanita tidak ada hubungannya dengan wanita: kecantikan adalah segala hal mengenai intuisi dan kekuasaan laki-laki. Di Barat, hak laki-laki untuk memberikan penilaian terhadap penampilan wanita tanpa dirinya sendiri tunduk pada penilaian cermat (seperti yang dilakukannya kepada wanita-pent), dipandang sebagai pemberian Tuhan. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika para wanita kulit putih kelas menengah melemparkan celemek mereka dan berbaris keluar dari pintu rumahnya dalam mengejar kebebasan, mereka jatuh tepat ke dalam jebakan salon kecantikan kapitalis. Pasar kapitalis telah memanipulasi wanita untuk membelanjankan lebih dari $33 milyar setiap tahun untuk produk diet, $20 milyar untuk produk kosmetik, $300 milyar untuk bedah kecantikan dan lebih dari $7 milyar dalam pornografi.&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di bagian lagi sang penulis berkata: &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Industri mode menekan wanita untuk berperang dengan tubuh alami mereka sendiri melalui bedah kosmetik, mencekik diri mereka dengan pakaian dan rok ketat, membuat pincang kakinya dengan hak sepatu lancip dan berlapar-lapar hingga membahayakan kesehatan mereka atas nama diet.&lt;/div&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mode dan trend. Tampil modis dan trendi. Betapa banyak orang yang merasa gagal dan menjadi kehilangan kepercayaan diri bahkan frustrasi ketika tidak (mampu) mengikuti mode atau trend. Bukankah jilbab pun akhirnya diperlakukan sama, agar selalu mengikuti mode dan tren yang sedang ‘in’?. Bukankah jilbab kemudian kehilangan ensensinya sebagai penutup aurat dan lebih dimaksudkan untuk tampil menarik dalam paduan kaos pendek dan ketat dengan celana yang membentuk setiap lekukan tubuh, ditambah sepatu hak tinggi lancip yang menyebabkan setiap ayunan langkah membuat risih orang yang memandang? &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ya, itu semua demi untuk memenuhi selera pasar (atau pasaran) yang menghendaki wanita tampil cantik dan menarik. Menurut anda, siapa sebenarnya yang diuntungkan dengan penampilan cantik seorang wanita? Wanita itu sendiri kah? Atau para penikmat asing di luar sana? Sadar atau tidak, sebagian besar penikmat kecantikan itu adalah orang-orang di luar sana. Para lelaki yang tidak anda kenal yang terdiri dari berbagai macam karakter, dengan berbagai macam ide dan hayalan yang bisa timbul di benak mereka yang distimulasi oleh penampilan anda. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tahukah anda bahwa sebagaimana layaknya barang publik, maka dalam kasus penampilan cantik pun ada saja yang namanya ‘&lt;em&gt;free rider&lt;/em&gt;’, alias orang-orang yang menarik manfaat dari penampilan cantik tersebut, meskipun kecantikan itu tidak ditujukan untuk menarik perhatiannya. Jangan salahkan mata liar laki-laki berpemikiran mesum pada penampilan anda, karena kecantikan anda adalah barang publik, yang memang dipertontonkan untuk umum. Hanya sekedar melilitkan kerudung kecil di kepala dan balutan pakaian ketat di sekujur tubuh dan pengakuan bahwa itu adalah jilbab, tidak menjadikan diri anda terlindung dari pengamatan jahil laki-laki iseng. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagian wanita dengan enteng mengatakan, “Hak saya untuk berpenampilan seperti yang saya inginkan. Soal orang lain kemudian berpikiran ‘kotor’ itu salah mereka.” Loh? Bukankah anda sendiri yang menempatkan diri anda sebagai ‘obyek’ tontonan yang menggoda? Bukankah pelecehan seksual yang banyak terjadi atas kaum wanita diantaranya disebabkan oleh penampilan menggoda sang wanita itu sendiri? Bukankah kaum wanita itu sendiri yang telah menempatkan dirinya pada posisi rawan, rentan terhadap aksi pelecehan sementara dirinya sendiri lemah, tidak memiliki kemampuan untuk melawan? Tanggung jawab untuk melindungi kehormatan wanita adalah dimulai dari diri mereka sendiri. Mengapa justru memancing di air keruh? &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maaf, saya tidak hendak mengatakan bahwa keinginan untuk tampil cantik itu salah. Ingin tampil cantik dan menarik adalah tabiat wanita. Semua wanita saya kira sama pada kadar tertentu, ingin selalu terlihat cantik. Akan tetapi kecantikan bukanlah barang publik. Tidak ditentukan oleh trend di majalah mode. Kecantikan bukanlah kesepakatan orang (baca kaum laki-laki) atas diri anda bahwa penampilan anda super. Kecantikan itu tidak ditunjukkan dengan jilbab gaul yang trendi, yang membalut ketat seluruh tubuh disertai riasan-riasan sehingga tampil menggoda. Bukan! Bukan itu! Jangan seperti itu! Jilbab syar’i tidak seperti itu! &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Anda adalah pribadi yang bebas, yang mandiri! Anda adalah subyek, bukan obyek! Anda adalah wanita yang dimuliakan di dalam Islam, yang dilindungi dengan seperangkat aturan untuk menjaga kehormatannya. Islam memerintahkan untuk menutup diri dengan pakaian malu bukan untuk mengucilkan anda dari pergaulan, tetapi justru untuk melindungi kehornmatan anda. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Anda adalah seorang yang merdeka, bukan benda yang bisa dinilai, ditaksir dan diberi label harga yang pantas, sehingga untuk medapatkan label harga yang tinggi atas kecantikan itu, anda rela melakukan berbagai cara, meski menyakiti diri dan menabrak norma-norma syar’i. Anda bukan wanita lemah tanpa daya yang selalu terombang-ambing mengikuti arus pasar kapitalis dan para penyerunya. Tidak! Anda lebih berharga daripada wanita pembeo yang latah pada perkembangan mode. Anda jauh lebih berharga dari itu! Menutup&amp;nbsp;aurat dengan jilbab syar’i bukanlah kungkungan dan bukan pula keterbelakangan, akan tetapi kebebasan. Terbebas dari padangan mata iseng yang melihat wanita dan kecantikannya hanya sekedar obyek. Kebebasan untuk menunjukkan sikap dan menentukan pilihan; pilihan pada sesuatu yang Allah ridhai. Menjadikan diri anda subyek, pribadi yang dihargai kecerdasannya, agama dan akhlaknya, karakter dan kepribadiannya, dan bukan sekedar penghargaan pada fisiknya, atau isi rekeningnya. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan seperti kata Mr. Patel dalam judul bukunya, ‘Islam adalah pilihan bagi wanita yang berakal’, sebuah pertanyaan terlintas, “seberapa cerdas kita kaum muslimah, menjadikan Islam sebagai pilihan?” Bukan sesuatu yang mudah dijawab, apalagi diimplemetasikan. Setidaknya pada tataran penampilan kita bisa mulai berbenah diri agar tidak terjebak dalam tirani kecantikan dan belajar untuk memilih yang terbaik, keberanian untuk mengakui identitas sebagai seorang muslimah yang menampakkan rasa malu, dengan mengenakan jilbab syar’i. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wallahu a’lam. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
---------------------&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Midnight to morning, April 2012&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/qZKh8KEeBII" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/qZKh8KEeBII/tirani-kecantikan-jebakan-bagi-wanita.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2012/04/tirani-kecantikan-jebakan-bagi-wanita.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-5205458286770205386</guid><pubDate>Sat, 18 Feb 2012 02:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-02-18T10:57:42.655+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mutiara Salaf</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Salaf: Hasan al-Bashri</category><title>Empat Tanda Kesengsaraan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-R1XxBG0R60E/Tz8RucYfIKI/AAAAAAAAAV8/woD5-U9x-SA/s1600/pink.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-R1XxBG0R60E/Tz8RucYfIKI/AAAAAAAAAV8/woD5-U9x-SA/s200/pink.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="arabic"&gt;عن الحسن ، قال : « أربع من أعلام الشقاء : قسوة القلب ، وجمود العين ، وطول الأمل ، والحرص على الدنيا » &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari al-Hasan – rahimahullah – dia berkata:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada empat di antara tanda –tanda kesengsaraan, yaitu:  kerasnya hati, mata yang tidak mengeluarkan air mata, panjang angan-angan, dan tamak terhadap dunia.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;It is reported that Al-Hasan Al-Basrî – may Allâh have mercy on him – said:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Four signs of wretchedness are: [having] a hard heart, dry eyes [that never cry], extended hopes [about this life], and greed and keenness to amass worldly things (the dunyâ).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibn Abî Al-Dunyâ, Kitâb Al-Zuhd  no. 36.&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/tLcfOhPAil4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/tLcfOhPAil4/empat-tanda-kesengsaraan.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-R1XxBG0R60E/Tz8RucYfIKI/AAAAAAAAAV8/woD5-U9x-SA/s72-c/pink.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2012/02/empat-tanda-kesengsaraan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-8409715422280516254</guid><pubDate>Sun, 13 Nov 2011 02:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-13T10:22:55.867+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Eko-Syariah</category><title>Prinsip Dasar Ekonomi Syari'ah</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRo1KOgDsyiI1sjI_2-7RpnZq12akP20djoG32YxyuiR9OLg_5ln0kWSrqF" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRo1KOgDsyiI1sjI_2-7RpnZq12akP20djoG32YxyuiR9OLg_5ln0kWSrqF" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul: Prinsip Dasar Ekonomi Syari'ah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemateri: Dr. Arifin Badri, MA.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber: kajian.net&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernahkah anda membayangkan jika anda hidup di zaman Umar bin Khathab radhiallahu anhu? Semua orang muslim mungkin mendambakan hal itu. Sebagian dari kaum muslimin bahkan gencar mengkampanyekan berdirinya khilafah Islamiyah. Tapi jika direnungkan lagi lebih mendalam, hanya dari satu sisi, perekonomian, perniagaan, apakah menurut anda kita layak hidup di zaman Umar bin Khathab radhiallahu anhu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kajian ini pemateri menyebutkan keadaan di zaman Khalifah Umar, di mana terdapat peraturan bahwa seseorang tidak boleh berjual beli di pasar kecuali jika dia telah berilmu, jika tidak dia pasti akan melanggar riba. Lalu bagaimana dengan keadaan kita pada saat ini? Sangat mungkin kita lah yang paling pertama kali digiring keluar dari pasar. Bukankah kita hanya bekerja berdasarkan asas manfaat? Bahkan dalam utang piutang pun seringkali didasarkan pada asas manfaat, untung rugi? Boleh jadi kita tidak akan pernah diizinkan untuk berdagang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-Imam Syafi’i berpesan: “Barangsiapa yang menginginkan sukses di dunia – hasilnya halal, rizkinya berkah – maka dia harus berilmu”. Ilmu yang dimaksud di sini tentu saja ilmu yang beliau pahami, yakni ilmu syari’ah, ilmu halal haram.  Dan beliau juga berkata: “Barangsiapa yang menginginkan kesuskesan akhirat maka dia harus berilmu”. Betapa banyak orang yang beramal di dunia dan akhirat ternyata salah alamat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kajian ini membahas prinsip-prinsip ekonomi Islam, yang membedakan pengusaha muslim dengan non muslim, intinya adalah dalam hal aqidah, bahwa hanya Allah sajalah yang menentukan rizki, untung rugi, kaya dan sengsaranya seseorang. Prinsip tawakkal yang benar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prinsip tawakkal tersebut ternyata memberikan dampak yang luas di berbagai bidang ekonomi. Bagaimana prinsip tawakkal tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mewujudkan perdagangan yang sehat, halal dan penuh berkah, jauh dari keserakahan dan korupsi, ekonomi yang menunjang kehidupan dunia, di satu sisi, dan meraih kehidupan akhirat di sisi lainnya. Temukan jawabannya dalam kajian berikut ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kajian ini lebih jauh menjelaskan 3 jenis transaksi dalam Islam, yakni transaksi komersil, transaksi sosial dan transaksi penjaminan. Bagaimana ketiga transaksi ini diatur dalam Islam perlu diketahui oleh umat Muslim agar dalam melakukan ketiga transaksi tersebut tidak terjatuh ke dalam riba. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Silahkan simak atau donwload:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. &lt;a href="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Arifin%20Badri/Prinsip%20Dasar%20Ekonomi%20Syariah%20%28Mataram%29/Prinsip%20Dasar%20Ekonomi%20Syariah%20%28Mataram%29%2001%20%28Materi%29.mp3?l=12" target="blank;"&gt;Materi&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. &lt;a href="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Arifin%20Badri/Prinsip%20Dasar%20Ekonomi%20Syariah%20%28Mataram%29/Prinsip%20Dasar%20Ekonomi%20Syariah%20%28Mataram%29%2002%20%28Tanya%20Jawab%29.mp3?l=12" target="_blank;"&gt;Tanya Jawab&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/R151PebiwCo" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/R151PebiwCo/prinsip-dasar-ekonomi-syariah.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><thr:total>0</thr:total><enclosure url="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Arifin%20Badri/Prinsip%20Dasar%20Ekonomi%20Syariah%20%28Mataram%29/Prinsip%20Dasar%20Ekonomi%20Syariah%20%28Mataram%29%2001%20%28Materi%29.mp3?l=12" length="16705827" type="application/force-download" /><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2011/11/prinsip-dasar-ekonomi-syariah.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-3460827025611616243</guid><pubDate>Sat, 12 Nov 2011 13:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-12T21:45:17.579+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Eko-Syariah</category><title>Hakekat Bank Syari'ah Masa Kini (sudah terbebaskan kita dari Riba?)</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRI4Q9EGLp-QHq694gAnPpu4Z-Kkh5g82vNZ3Y2dTGo4uj-GuECZF2RvF41" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="181" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRI4Q9EGLp-QHq694gAnPpu4Z-Kkh5g82vNZ3Y2dTGo4uj-GuECZF2RvF41" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Judul: Seminar Bank Syari'ah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemateri: 1. Dr. Arifin Badri, MA., 2. Muh. Abdussomad, SE., MM.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber: Kajian.net&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kajian berikut ini membuka kepada anda hakekat Bank Syari'ah yang semakin diminati belakangan ini. Beberapa tahun yang lalu saya membuka rekening di sebuah Bank Syariah dengan perasaan nyaman terhadap sistem 'mudharabah' atau kata petugas Bank 'sistem bagi hasil', sehingga saya tidak perlu khawatir mengenai riba. Mendengarkan kajian berikut ini membuat hati saya kembali ciut, karena ternyata sistem Bank Syari'ah yang saya percayai tersebut tidak jauh berbeda dengan Bank konvensional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa hal yang dibahas dalam kajian ini yang membuat kita memahami bahwa sesungguhnya antara bank yang diberi label syari'ah itu tidak benar-benar sesuai syari'ah. Penjelasan pemateri pertama yang mengenai praktek-praktek perbankan ditinjau dari sisi syari'ah dilengkapi dengan penjelasan berdasarkan pengalaman pemateri kedua,&amp;nbsp; sebagai seorang praktisi perbankan konvensional dan syariah, sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kajian ini, dan kajian lainnya yang sejenis sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh kita, agar kita lebih waspada terhadap praktek perbankan yang diberi label syari'ah namun pada hakekatnya riba dan dapat menjauhinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Silahkan simak atau donwload kajian berikut:&lt;br /&gt;
1. &lt;a href="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Arifin%20Badri/Seminar%20Bank%20Syariah%20%28Jakarta%29/Bank%20Syariah%201%20%28Pembicara%201%20Ustadz%20Arifin%20Badri%29.mp3?l=12" target="_blank;"&gt;Materi 1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
2. &lt;a href="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Arifin%20Badri/Seminar%20Bank%20Syariah%20%28Jakarta%29/Bank%20Syariah%202%20%28Pembicara%202%20Bpk%20Abdussomad%29.mp3?l=12"target="_blank;"&gt;Materi 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
3. &lt;a href="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Arifin%20Badri/Seminar%20Bank%20Syariah%20%28Jakarta%29/Bank%20Syariah%203%20%28Tanya%20Jawab%201%29.mp3?l=12"target="_blank;"&gt;Tanya Jawab 1&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
4. &lt;a href="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Arifin%20Badri/Seminar%20Bank%20Syariah%20%28Jakarta%29/Bank%20Syariah%204%20%28Tanya%20Jawab%202%29.mp3?l=12"target="_blank;"&gt;Tanya Jawab 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/lPN67DSRvqs" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/lPN67DSRvqs/hakekat-bank-syariat-masa-kini-sudah.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><thr:total>1</thr:total><enclosure url="http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Arifin%20Badri/Seminar%20Bank%20Syariah%20%28Jakarta%29/Bank%20Syariah%201%20%28Pembicara%201%20Ustadz%20Arifin%20Badri%29.mp3?l=12" length="13853064" type="application/force-download" /><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2011/11/hakekat-bank-syariat-masa-kini-sudah.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-4153943105767959829</guid><pubDate>Sat, 03 Sep 2011 03:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-09-03T11:16:45.811+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Wanita</category><title>Sungguh, Wanita Hitam itu Lebih Baik</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.showiphonewallpapers.com/iPhonewallpapers/20101/iphonewallpapers/Purple-Tulips-20100329.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://www.showiphonewallpapers.com/iPhonewallpapers/20101/iphonewallpapers/Purple-Tulips-20100329.jpg" width="133" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernahkah anda berpikir sejenak, apa yang telah anda raih di dunia? Keluarga, pendidikan, karier, status sosial, ketenaran.... Saya, dan barangkali juga anda saudariku Muslimah, mungkin terjebak dalam lingkaran itu. Yang bernilai di mata kita adalah harta, dan berbagai perhiasan dunia. Yang mempesona hati kita adalah karier yang terus menanjak, status sosial yang tinggi, yang membanggakan bagi kita adalah pendidikan tinggi, dan lebih bangga lagi jika itu pendidikan luar negeri, yang menggembirakan hati kita adalah anak-anak yang berhasil dalam pendidikan dan hidup mereka serba kecukupan. Bercerita tentang keberhasilan kita dalam kehidupan duniam, kita menjadi berapi-api.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebaliknya, mempertahankan rasa malu bagi kita bukan sesuatu yang membanggakan. Sangat sedikit di kalangan kaum Muslimah yang bangga dengan status yang disandangnya sebagai wanita Muslimah, yang ditunjukkan dengan identitasnya, lebih khusus lagi dengan pakaiannya. Sangat sedikit di antara kita yang rela menyelisihi sebagian besar wanita untuk berhias, dan menutup tubuhnya rapat-rapat dari pandangan orang lain. Dan di antara yang sedikit itu, lebih sedikit lagi yang bersungguh-sungguh dalam mengenakan hijabnya karena berharap ridha Rabb-nya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah berikut ini mungkin bisa menjadi pelajaran bagi kita, saya dan anda, bahwa seluruh nikmat yang telah kita raih, keberhasilan yang kita capai sangat tidak berarti apa-apa, dibandingkan dengan seorang wanita hitam yang datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div class="arabic"&gt;عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ قَالَ قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ&lt;br /&gt;
أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي قَالَ إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ فَقَالَتْ أَصْبِرُ فَقَالَتْ إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ فَدَعَا لَهَا&lt;/div&gt;Dari Atha bin Abi Rabbah: “Telah berkata kepadaku Abdullah bin Abbas: “Maukah engkau aku perlihatkan seorang wanita penghuni surga?” maka aku berkata : “tentu!”. Kemudian ‘Abdullah berkata: “Wanita hitam dia pernah mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam lalu ia berkata: “ aku kena penyakit ‘usro’u (ayan/epilepsy), jikalau penyakitku kambuh auratku tersingkap. Maka do’akanlah kepada Allah agar sembuh penyakitku”. Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berkata: “jikalau aku do’akan kepada Allah, pasti kamu akan sembuh. Akan tetapi jikalau kamu sabar maka bagimu surga”. Maka wanita hitam itu berkata: “Ashbiru (aku akan sabar), akan tetapi do’akan kepada Allah agar tiap kali kambuh penyakitku, auratku tidak tersingkap”. Maka Nabi pun mendo’akannya.” (HR Bukhari Muslim)&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang wanita hitam yang entah berasal dari mana, dengan penyakit kejang-kejangnya, di zaman sekarang akan menjadi orang yang dipandang sebelah mata. Bahkan mungkin tidak akan dilirik sama sekali. Tapi tidak dengan wanita ini. Sungguh wanita hitam ini lebih baik, bahkan jauh lebih baik dan lebih mulia dari wanita manapun yang mengaku paling bahagia di zaman sekarang ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam muhadharahnya mengenai &lt;a href="http://www.radiorodja.com/syaikh-abdur-rozzaq-bin-abdul-muhsin-al-badr-2/kisah-wanita-penghuni-surga" target="_blank;"&gt;Kisah Wanita Penghuni Surga,&lt;/a&gt; Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin al-Badr menjelaskan, bahwa wanita hitam ini memiliki iman dan ketulusan dalam imannya, agamanya kuat serta memiliki rasa malu yang sangat tinggi. Akan tetapi dia diuji oleh Allah dengan ditimpa penyakir usra’u yang menyebakannya pingsan dan kejang-kejang yang membuatnya sedih dan mengganggunya. Maka wanita ini pun datang kepada Nabi shallallahu alaihi waswallam agar berdoa kepada Allah, agar Allah subhanahu wa ta’ala menyembuhkan penyakitnya dan menghilangkan kegelisahan yang dialaminya selama ini. Akan tetapi Nabi shallallahu alaihi wasallam mengarahkan wanita ini akan sesuatu yang lebih baik dari kesembuhan, yaitu jika sang wanita tersebut sabar dengan ujian yang dihadapinya maka dia akan mendapatkan surga dari Allah subhanahu wa ta’ala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tatkala mendengar arahan dari Nabi maka wanita ini pun memilih untuk bersabar agar dia dapat meraih surga, agar dia dapat memperoleh kesudahan yang sangat indah, dan dia akan mendapatkan surga dengan jaminan Nabi shallallahu alaihi wasallam jika dia bersabar. Maka dia pun bersabar dengan penyakit yang dia rasakan. Akan tetapi dia mengeluhkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang perihal yang dialaminya tatkala dia sedang pingsan, yakni terbukanya sebagian auratnya. Padahal wanita ini tatkala sedang pingsan, dia mendapatkan uzur karena dia sedang sakit, dia tidak dapat melakukan apa-apa dan itu diluar kehendak dia. Akan tetapi karena kuatnya imannya dan rasa malunya yang sangat tinggi dan sucinya hatinya, maka kondisi yang seperti ini membuat dia gelisah. Oleh karenanya wanita ini pun meminta kepada Nabi dan mengabarkan kepada Nabi shallallahu alaihi waswallam tentang perihalnya dan berkata: “إِنِّي أَتَكَشَّفُ   Maknanya, setiap kali aku pingsan maka auratku pun tersingkap. Dan ini perakara yang dia tidak bisa bersabar karenanya. Wanita ini bisa bersabar menghadapi penyakit, akan tetapi dia tidak bisa bersabar terhadap sebagaian anggota tubuhnya yang tersingkap ketika penyakitnya kambuh. Karenanya dia meminta kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam agar Allah menutup auratnya tatkala dia sedang pingsan. Maka Nabi pun mendoakan wanita ini, sehingga Allah subhanahu wa ta'ala tetap menjaga auratnya ketika dia pingsan, karena doa Nabi shallallahu alaihi waswallam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah wanita ini kisah yang sangat agung dan sangat menakjubkan, menjelaskan akhlak yang mulia dan sifat-sifat yang indah yang dimiliki wanita ini, rasa malu dan bersihnya hatinya. Perhatikanlah wanita ini berkata: “Wahai Raulullah sesungguhnya aku (ketika penyakitku kambuh) terbuka sebagian auratku, berdoalah kepada Allah agar tertutup auratku.” Padahal terbukanya sebagian anggota tubuhnya ini diluar kehendaknya, karena dia sedang tidak sadar. Akan tetapi meskipun dia tidak sadar dan mendapat uzur dari Allah, hal ini membuat dia menjadi gundah gulana, membuatnya gelisah. Jika penyakit yang menimpanya, dia masih bersabar. Akan tetapi kondisi yang tebuka aurtanya, dia tidak bersabar, dan mengadukan kepada Nabi shallallahu alaihi waswallam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu bagaimana dengan keadaan sebagian wanita saat ini? Yang dengan sengaja menampakkan keelokan tubuhnya? Sengaja memperlihatkan bagian tubuhnya yang memfitnah para lelaki. Dengan sadar bahkan dengan sengaja dan tidak perduli, tidak ada rasa malu dan tidak ada rasa iman. Bukankah banyak wanita yang telah mendengarkan firman-firman Allah subhanahu wa ta’ala, dan telah mendengarkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang larangan untuk bertabarruj dan memamerkan aurat. Bukankah telah banyak ancaman dari Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi waswallam tentang wanita yang menampakkan aurat dengan sengaja. Akan tetapi para wanita tersbut tetap tidak perduli dengan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya dan tetap menampakkan keindahan tubuhnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh, wanita hitam ini lebih baik, bahkan jauh lebih baik dari siapapun di antara kita. Jika dia malu dan tidak ridha auratnya tersingkap manakala dia tidak sadar, sebagian wanita di zaman sekarang justru dengan sadar dan tanpa rasa malu menyingkap auratnya padahal dia tahu akan kewajiban menutup aurat. Ketika dia gelisah dan tak dapat bersabar atas auratnya yang tersingkap, sebagian kita justru lebih sabar menghadapi tatapn ‘penuh makna’ secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi dan siulan laki-laki di pinggir jalan karena pakaiannya yang mempertontonkan auratnya dan menampilkan keindahan tubuhnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya, dengan alasan dunia sebagian muslimah zaman sekarang menanggalkan rasa malu jauh di belakang. Menganggap hijab hanya akan menghalangi langkah dalam meniti karier, menghambatnya meraih pendidikan dengan gelar tertinggi, menghalanginya dari pergaulan, kemajuan dan gemerlapnya hidup. Jika wanita hitam ini memiliki penyakit jasmani, maka kita memiliki penyakit yang lebih berbahaya, lemahnya iman dan hilangnya rasa malu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagian kita tidak punya rasa malu! Keliru, mungkin punya rasa malu, tapi rasa malu itu diletakkan di tempat yang salah! Sebagian wanita malu mengenakan hijab syar’i karena anggapan ketinggalan zaman, kuno, fanatik, dan terlihat menyedihkan seperti perempuan dalam kurungan. Sebaliknya mereka tidak malu ketika menampakkan sebagian anggota tubuh, berlenggak-lenggok dengan pakaian ketat yang seolah hendak melontarkan bagian-bagian tubuh yang ada di baliknya, menjadikan dirinya obyek yang bisa dilihat oleh siapa saja yang menghendaki. Bahkan jilbab pun dimodifikasi agar dapat tetap mempertontonkan keindahan tubuh seorang wanita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh wanita hitam ini jauh lebih baik. Dia bukanlah wanita dengan sederet gelar di belakang namanya, bukan pula wanita dengan status sosial yang tinggi di masyarakat, bukan pula wanita karier yang sukses. Akan tetapi yang dimilikinya jauh lebih berharga, jauh lebih bernilai dari semua itu. Dia punya iman! Dia punya kesucian hati! Dia punya rasa malu! Dia lebih memilih bersabar dari penyaktinya dan hanya meminta didoakan agar auratnya tidak terlihat ketika penyaktinya kambuh. Sebuah pilihan yang membuahkan surga. Sedangkan kita...?? Sebagian kita, ketika dibacakan hadits tentang dua golongan penghuni neraka dan merka tidak akan mencium bau surga - yang salah satunya adalah wanita yang berpakaian tapi telanjang – hanya mendengarkan dengan roman tak perduli. Dengan sadar memilih bermaksiat terang-terangan dengan mengumbar aurat, yang telah jelas mendapat ancaman neraka. Lalu bagaiman kita bisa berharap sampai pada kedudukan wanita hitam ini? Bagaimana kita berharap mendapatkan ampunan dari Allah sedangkan Rasulullah telah bersabda:&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div class="arabic"&gt;كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ&lt;/div&gt;“Setiap ummatku dimaafkan kecuali mereka yang terang-terangan” (HR Bukhari)&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita bukanlah apa-apa. Kita hanya meraih sedikit dari limpahan nikmat yang Allah Ta’ala tebarkan di muka bumi. Celakanya, kita hampir tidak memiliki bagian apa-apa dari kenikmatan surga yang jauh lebih besar dan abadi. Kita tidak punya keimanan dan rasa malu seperti yang dimiliki wanita hitam  itu. Kita tidak mendapatkan jaminan surga seperti wanita hitam itu, dan usaha yang kita lakukan untuk meraih surga pun sangat kecil dan tidak berarti apa-apa, sangat tidak sebanding dengan usaha kita mendapatkan dunia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karenanya untuk diriku, dan untukmu saudariku Muslimah, mari bercermin dari wanita hitam ini, belajar dari keteguhan iman seorang wanita hitam yang sederhana ini, dari kesucian hati dan rasa malu yang dimilikinya, keinginannya untuk tetap menjaga auratnya, menjaga kehormatannya dalam keadaan apapun, demi mengharap ridha Rabbnya.  Sungguh, wanita hitam ini lebih baik, bahkan jauh lebih mulia daripada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;___________________________&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Simak pembahasan penuh hikmah dari hadits Wanita Penhuni Surga ini yang dibawakan fadhilatus-Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdul Muhisn al-Badr di &lt;a href="http://www.radiorodja.com/syaikh-abdur-rozzaq-bin-abdul-muhsin-al-badr-2/kisah-wanita-penghuni-surga/" target="_blank;"&gt;Radio Rodja&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/YceQiBA5t9E" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/YceQiBA5t9E/sungguh-wanita-hitam-itu-lebih-baik.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2011/09/sungguh-wanita-hitam-itu-lebih-baik.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-2014914964736202590</guid><pubDate>Wed, 29 Jun 2011 11:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-20T21:29:36.882+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Akhlak dan Adab</category><title>Ketika Allah Menyayangi</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTLrpVjlw4GNou2wDw8ZURv099eVXKpFbu8Uc6FWZ0mQG8ymD82VFUjY4JS" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="241" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTLrpVjlw4GNou2wDw8ZURv099eVXKpFbu8Uc6FWZ0mQG8ymD82VFUjY4JS" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #4c1130;"&gt;‘BISMILLAH, Nabi&lt;/span&gt; (shallallahu alaihi wasallam bersabda): &lt;span style="color: #4c1130;"&gt;“Sungguh jika Allah mencintai satu keluarga, maka Allah masukkan pada mereka kelembutan” Shahih, lihat Shahihul Jami’ 1704 by adzdzikro ala mahanjissalaf’&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itu adalah sms yang saya terima beberapa hari lalu, yang kemudian saya forward kembali kepada beberapa teman, dan salah satu di antara mereka membalas sms tersebut:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kalau berantem mulu gak sayang ya?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya... bagaimana...? Akhirnya saya balas lagi smsnya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;' &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Wah gak tahu, Cuma forward hadits aja. Kalau gitu buat agar disayang.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya, mungkin kita berusaha menghadirkan kelembutan itu di dalam keluarga, sehingga lama kelamaan menjadikan kelembutan tersebut tertanam dan benar-benar masuk menjadi nilai inheren dalam keluarga, dan kita bisa bergembira menjadi bagian dari hadits di atas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukan maksud saya hendak menjelaskan hadits di atas, karena saya bukanlah seorang yang berilmu. Saya hanyalah seorang awam yang terkesan dengan sebuah hadits yang dikirim via sms, dan menuliskannya kembali sebagai nasihat dan peringatan bagi diri sendiri, dan mudah-mudahan juga bermanfaat bagi orang-orang semisal saya, di mana kelembutan hanya ada pada saat-saat tertentu atau ketika berhadapan dengan orang-orang tertentu, dan hilang pada saat-saat lain atau ketika berhadapan dengan orang-orang lainnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Abdullah bin Mughaffal bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَيْهِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Sesungguhnya Allah itu Maha lembut dan mencintai kelembutan. Dia memberi pada kelembutan yang tidak diberikan pada kekerasan." (HR Abu Dawud no. 1472, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَيْهِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Sesungguhnya Allah Maha lembut dan mencintai kelembutan, dan Dia memberi atas dasar kelembutan sebagaimana Dia tidak memberi atas dasar kekerasan." (HR Ibnu Majah No. 3678, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Al Miqdad bin Syuraih, dari ayahnya, ia berkata; aku bertanya kepada Aisyah, radliallahu 'anha mengenai kehidupan nomaden, lalu Aisyah berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah keluar menuju menuju dataran tinggi ini dan beliau menginginkan kehidupan nomaden kembali, lalu beliau mengirimkan seekor unta yang belum dinaiki dan belum digunakan dari unta zakat. Beliau berkata kepadaku:&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Wahai Aisyah, bersikaplah lembut, sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya dan tidaklah tercabut dari sesuatu melainkan akan memberikan aib padanya." (HR Abu Dawud no. 2119, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Urwah dari Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Sesungguhnya Allah Maha lembut dan mencintai kelembutan dalam segala perkara." (HR Ibnu Majah no. 3679, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Abdullah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau membaca do'a:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kelembutan dan kejayaan.” (HR Ibnu Majah no. 3822, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga Allah menghiasi pribadi kita dengan kelembutan dalam segala perkara. Amin.&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/Uk0bT5Egs54" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/Uk0bT5Egs54/ketika-allah-menyayangi.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2011/06/ketika-allah-menyayangi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-8622097461729259173</guid><pubDate>Thu, 23 Jun 2011 01:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-23T10:30:11.228+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Wanita</category><title>Saudariku, Jilbab Ketatmu Itu....</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSXsyWG3qY7EvSSfu72EAWki97m_7ruIscN8lBT2-frSB8_3_lIyp-PFaOD" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="198" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSXsyWG3qY7EvSSfu72EAWki97m_7ruIscN8lBT2-frSB8_3_lIyp-PFaOD" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketat, tansparan, dan membentuk tubuh, itulah ciri-ciri jilbab sebagian wanita masa kini. Tampil cantik dan trendi dengan jilbab menjadi moto sebagian muslimah zaman sekarang. Ya.. cantik.. dengan pakaian tipis dan ketat yang menggoda, pernak-pernik perhiasan yang menggelantung mulai dari kepala sampai pin besar di dada, sapuan make up di wajah, sepatu hak tinggi runcing dengan wangi parfum yang menggelitik sambil berlenggok laksana bandul jam.… lengkaplah sudah wanita menjadikan dirinya layaknya etalase.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saudariku, sadarkah engkau jilbab ketatmu itu adalah etalase auratmu? Seperti etalase toko yang memajang barang - yang biasanya produk unggulan - untuk menarik perhatian calon konsumen, seperti itulah jilbab ketat yang dipakai sebagaian kaum muslimah, etalase yang memamerkan bagian-bagian tertentu dari tubuhnya. Dan jika fungsi etalase untuk menarik perhatian calon pembeli… lalu menurutmu apa fungsi jilbab ketatmu itu? Perhatian siapa yang hendak kau pancing agar menoleh ke arahmu? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saudariku, cobalah menatap dirimu lebih lama.. sedikit lebih lama di depan cermin, dengan perspekif berbeda. Perhatikan pakaianmu ketatmu. Apa yang terlintas di benakmu? Aurat sebelah mana yang berhasil kau sembunyikan dari pandangan orang lain yang bukan mahrammu dengan pakaian transparan atau pakaian ketatmu itu? Tanyakanlah pada dirimu, apa gunanya jilbab bagimu? Untuk siapa engkau mengenakannya? Jika engkau mengenakannya untuk memenuhi kewajiban menutup aurat, lalu di mana letak pakaian ketatmu dalam firman Allah berikut?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(artinya) “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu…” (QS Al-A’raf : 26)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan Allah berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;(artinya): “Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita….” (QS An-Nuur : 31)&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan juga firman Allah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(artinya) “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". (QS Al-Ahzab [33] : 59).”&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernahkah terbetik di pikiranmu bahwa Sang Pembuat Syariat, memerintahkan wanita untuk menutup aurat agar kehormatannya terjaga? Bukankah lekuk liku tubuhmu yang engkau tampakkan dengan jilbab tipismu nan ketat itu justru memancing siulan dan pandangan maksiat dari lawan jenismu? Ataukah memang itu tujuannya?&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-QbjmmJHezQU/TgKZYe9AeaI/AAAAAAAAAVs/f7EevYj1sxI/s1600/not+hijab.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="140" src="http://4.bp.blogspot.com/-QbjmmJHezQU/TgKZYe9AeaI/AAAAAAAAAVs/f7EevYj1sxI/s320/not+hijab.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSZ-uaGffeTYf1cdMzoV46aWFAQwTbzKKvZrovEo24hb2WLOSWLuaQxig" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="127" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSZ-uaGffeTYf1cdMzoV46aWFAQwTbzKKvZrovEo24hb2WLOSWLuaQxig" width="95" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saudariku, jilbab diwajibkan bagi kita untuk menutup aurat, bukan sekedar menutupi kulit! Perintahnya adalah menutupnya dan bukan sekedar membalutnya sehingga tampak lekuk likunya. Menutupnya untuk menghalanginya dari pandangan orang lain, dan bukannya membiarkan orang lain dapat menerawang dan mengenali apa yang ada di baliknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak kaum wanita meneriakkan protes atas nama kebebasan dan kesetaraan, agar hukum lebih melindungi wanita dari tindak pelecehan seksual, baik berupa perbuatan, perkataan, atau bahkan sekedar isyarat. Tidakkah terpikir olehmu, pakaian ketatmu itu justru mengundang pelaku pelecehan untuk beraksi? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahkan telah memperingatkan kita dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya, yaitu suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor-ekor sapi betina yang mereka pakai untuk mencambuk manusia; wanita-wanita yang berpakaian (namun) telanjang, yang kalau berjalan berlenggak-lenggok menggoyang-goyangkan kepalanya lagi durhaka (tidak ta’at), kepalanya seperti punuk-punuk unta yang meliuk-liuk. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak dapat mencium bau wanginya, padahal bau wanginya itu sudah tercium dari jarak sekian dan sekian.” (Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 2128) dan Ahmad (no. 8673).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ah, saudariku, jangan rendahkan dirimu! Jangan hinakan dirimu dengan menjadikan jilbabmu sebagai etalase auratmu! Jangan jadikan dirimu obyek siulan laki-laki iseng di pinggir jalan. Engkau bukan &lt;i&gt;mannequin&lt;/i&gt;, bukan barang pajangan untuk dilirik, dinilai, ditaksir dan diberi label harga yang pantas oleh orang yang memandangmu. Tidak! Engkau jauh lebih berharga dari itu! Bahkan jauh lebih mulia dengan jilbab syar’i. Bangkitlah dan bangun kepercayaan dirimu! Sesungguhnya kecantikanmu bukan pada pakaian yang menampilkan keindahan tubuh, juga tidak pada riasan. Tetapi kecantikanmu akan terpancar dari ketakwaan, akhlak terpuji dan rasa malu, yang salah satunya akan tampak dari pakaian syar’i yang engkau kenakan. Ingatlah bahwa Allah telah berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(artinya): “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS Al-A’raaf : 26)&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Penulis: Ummu Abdillah al-Buthoniyyah (23-06-2011)&lt;br /&gt;
Baca juga &lt;a href="http://www.khayla.net/2009/10/jilbab-menutup-aurat-atau-membalut.html" target="_blank;"&gt;Jilbab, Menutup Aurat atau Membalut Aurat...?&lt;/a&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/jmEeoZGsm7k" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/jmEeoZGsm7k/sadariku-jilbab-ketatmu-itu.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-QbjmmJHezQU/TgKZYe9AeaI/AAAAAAAAAVs/f7EevYj1sxI/s72-c/not+hijab.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2011/06/sadariku-jilbab-ketatmu-itu.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-1190385376386934802</guid><pubDate>Sun, 19 Jun 2011 01:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-19T10:02:30.898+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Inspiratif</category><title>Perubahan itu dari Dalam DIri</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTgDmTSpNPODtOHTacPZ3vXORkzTOHZEyvSYTXO85WTdyy0MNKgQZGMFd_a" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTgDmTSpNPODtOHTacPZ3vXORkzTOHZEyvSYTXO85WTdyy0MNKgQZGMFd_a" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prolog&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat ini banyak orang tertarik untuk mengikuti training atau pelatihan kepribadian, untuk memotivasi diri dan membuat seseorang lebih baik, lebih dapat diterima dalam pergaulan, lebih berhasil dalam hidupnya. Dan pelatihan atau kursus seperti itu bukan sebuah hal yang murah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dulu... ketika masih menjadi seorang mahasiswa, bahkan ketika lulus dan mulai mencari pekerjaan,   saya senang membaca buku-buku semisal itu. Sebut saja buku karya Daniel Carnegie atau Steven R. Covey dengan buku 7 habitsnya yang terkenal (yang belakangan saya pernah lihat sudah meningkat menjadi 8). Tak dinyana ternyata kehidupan sang Carnegie justru berakhir tragis dengan bunuh diri! Jelas dia tidak mengambil manfaat dari apa yang ditulisnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lama setelahnya saya juga membaca buku “La Tahzan’, sebelum buku itu benar-benar booming di tanah air. Satu hal yang sempat terlintas saat membacanya adalah: “Mengapa tokoh yang dijadikan sebagai rujukan sebagiannya justru berasal dari luar Islam yang nota bene akan kekal di dalam neraka, seberapapun keberhasilan yang mereka torehkan di dunia? Betapapun kontroversi atas buku itu mencuat kemudian, saya tidak memungkiri ada penghiburan yang pernah saya rasakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu ketika browsing kemarin tidak sengaja saya menemukan buku “Enjoy Your Live” karya Dr. Muhammad bin ‘Abd al-Rahman al-‘Arifi. Sebuah buku yang membimbing kita untuk membangun interpersonal skill, seni dalam berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan sekitar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Merasa senang dengan metode penulisan dan kisah inspiratif yang sebagian besar menyertakan nukilan dari kisah Nabi shallallahu alaihi wasallam menjadikan saya ingin membaginya untuk anda, tidak seluruhnya, namun sebagian, dengan izin Allah, yang mudah bagi saya untuk membaginya dengan anda. Sebagaimana judul yang berikut ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;==========================&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Enjoy the skill&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keterampilan berikut ini memberikan kesenangan fisik, dan penulis tidak bermaksud mengatakan ini hanya (terbatas) pada kesenangan akhirat. Bahkan ini kesenangan yang dirasakan di dunia. Karena itu nikmatilah skill ini dan praktekkanlah terhadap orang tua, muda, kaya, miskin, dekat atau jauh. Gunakan keterampilan ini untuk menjaga diri anda dari keburukan mereka, mendapatkan cinta mereka dan untuk memperbaiki mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Dikisahkan Ali bin Al-Jahm adalah seorang penyair yang sangat fasih, namun dia adalah seorang Badui. Satu-satunya kehidupan yang dikenalnya adalah kehidupan padang pasir.  Khalifah al-Mutawakkil sangat berkuasa.  Orang-orang biasa mengunjunginya dan kembali dengan apapun yang mereka inginkan. Suatu hari, Ali bin al-Jahm memasuki kota Baghdad dan dikatakan kepadanya, “Barangsiapa yang memuji khalifah akan diberikan penghormatan dan hadiah.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ali sangat senang dan pergi menuju istana Khalifah. Di sana dia melihat para penyair membacakan syair-syair mereka memuji sang Khalifah dan kembali dengan hadiah. Al-Mutawakkil dikenal dengan kekuasaan, pesona dan kekuatannya.  Ali mulai memuji Khalifah dengan syair di mana dia menyerupakan Khalifah dengan anjing, kambing dan ember, sedangkan para penyair lainnya menyerupakan sang Khalifah dengan matahari, bulan dan gunung!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Khalifah menjadi sangat marah dan para pengawalnya menghunuskan pedang mereka bersiap untuk menebas leher Ali. Namun kemudian Khalifah menyadari bahwa Ali bin al-Jahm berasal dari padang pasir dan kepribadian serta selera syairnya terbentuk dari kehidupan tersebut. Dia memutuskan untuk mengubah kepribadian Ali, karena itu dia memerintahkan orang-orangnya untuk menempatkan Ali di salah satu bagian istana, diperlakukan dengan baik dan diberikan semua kesenangan yang ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-Jahm merasakan sebagian dari anugerah ini dan duduk di atas sofa berdampingan dengan para penyair dan penulis lainnya selama tujuh bulan.  Suatu hari ketika Khalifah duduk di majelis malamnya, dia teringat akan Ali bin al-Jahm, maka dia pun mengutus orang untuk mendatangkan Ali. Ketika Ali bin al-Jahm datang kepadanya, dia berkata, “Bacakan beberapa syair untukku, wahai Ali bin al-jahm!” Ali bin al-Jahm mulai menggerakkan emosinya dengan suara yang lembut dan kata-kata yang baik, dan menyerupakan sang Khalifah dengan matahari, bintang dan pedang.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perhatikanlah bagaimana Khalifah dapat mengubah kepribadian Ibn al-Jahm. Seberapa sering kita dibuat kecewa dengan perlakuan anak-anak dan teman-teman kita? Apakah kita pernah berusaha mengubah keadaan mereka dengan sukses? Bahkan, anda harus bisa mengubah kepribadian anda sendiri dengan mengganti wajah cemberut dengan senyuman, menggantikan kemarahan dengan kesabaran, dan sifat bakhil dengan kemurahan hati. Tidak ada yang sulit, akan tetapi itu membutuhkan kesungguhan hati dan ketekunan, karenanya bersikaplah berani!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapapun yang membaca kisah kehidupan Nabi shallallahu alaihi wasallam akan mengetahui bahwa beliau berhubungan dengan orang-orang dengan keterampilan ini dan memenangkan hati mereka. Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak sekedar berpura-pura memiliki skill ini di hadapan manusia, dan mengganti kesabaran dengan kemarahan ketika beliau sendiri bersama keluarganya. Beliau tidak pernah gembira bersama sebagian orang dan bersikap buruk pada sebagian lainnya. Beliau bukanlah orang yang murah hati kepada semua orang akan tetapi tidak kepada anak-anak dan isteri-isterinya. Bahkan sikap beliau alami. Beliau beribadah kepada Allah dengan adab yang baik sebagaimana beliau beribadah kepada-Nya dengan shalat Dhuha atau shalat malam. Beliau menganggap senyumnya adalah kemuliaan, kelemahlembutannya, ibadahnya, dan sikap pemaaf dan toleransinya adalah amal kebaikan. Orang yang memandang akhlak terpuji adalah ibadah akan tetap mempertahankannya, dalam peperangan atau dalam situasi damai, ketika lapar atau kenyang,  ketika sehat atau sakit, dan bahkan ketika gembira ataupun sedih.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berapa banyak wanita yang mendengar tentang kebaikan adab suami mereka, seperti kesabarannya, kegembiraan  dan kemurahannya, namun tidak pernah menyaksikannya di rumah mereka? Para suami seperti itu, seringkali ketika berada di rumah, mereka bersikap buruk, tidak sabaran, cemberut dan terus-menerus mengutuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau berkata: “Yang paling baik di antara kalian adalah yag paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bacalah bagaimana beliau berhubungan dengan keluarganya: Al-Aswad bin Yazid berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah – radhiallahu anha – bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersikap di rumahnya?” Dia menjawab: “Beliau melayani keluarganya, dan ketika waktu shalat tiba, beliau berwudhu dan pergi shalat.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal yang sama dapat dikatakan kepada para orang tua. Betapa sering kita mendengar kebaikan yang ditunjukkan oleh sebagian orang, seperti kemurahan hati, kegembiraan, perlakuan yang baik terhadap orang lain, akan tetapi dengan orang-orang yang terdekat dengan mereka yang memiliki hak yang lebih besar, seperti isteri-isteri mereka, orang tua dan anak-anak mereka, mereka menjauh dan bersikap dingin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya, yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, kepada orang tuanya, kepada isterinya, kepada para pembantunya, bahkan kepada anak-anaknya. Suatu malam ketika Abu Laila – radhiallahu anhu – duduk di sisi Nabi shalllallahu alaihi wasallam, datang kepadanya al-Hasan atau al-Husain, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam mengangkatnya dan mendudukkannya di atas pertunya. Kemudian anak itu kencing di atas perut Nabi. Abu Laila berkata, “Saya melihat air kencing menetes dari perut Nabi, maka kami melompat ke arah Nabi shallallahu alaihi wasallam, akan tetapi beliau berkata: “Biarkan anakku, jangan takuti dia.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika al-Hasan (atau al-Husain) selesai, beliau menyuruh mengambilkan air dan memercikkanya di atas perut beliau.” (HR Ahmad dan Tabrani, dengan sanad yang terpercaya).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Betapa menakjubkannya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, menghiasi dirinya dengan akhlak yang demikian! Tidak heran bila beliau mampu memenangkan hati yang muda dan tua.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Opini:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Daripada mengutuk kegelapan, cobalah untuk memperbaiki lampu.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/6jh_0OcCzGo" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/6jh_0OcCzGo/perubahan-itu-dari-dalam-diri.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2011/06/perubahan-itu-dari-dalam-diri.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-4850610207087714318</guid><pubDate>Wed, 15 Jun 2011 13:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-15T21:44:37.277+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Al-Ilmu</category><title>Air Mata Ilmu</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://tawheedfirst.files.wordpress.com/2011/04/raindrops3.jpg?w=135&amp;amp;h=180" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://tawheedfirst.files.wordpress.com/2011/04/raindrops3.jpg?w=135&amp;amp;h=180" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;Segala sesuatu memiliki alamat dan tanda-tandanya masing-masing. Tanda ilmu yang bermanfaat adalah mendorong pada kebaikan karakter, adab dan akhlak yang terpuji. Mengenai hal ini dikatakan bahwa: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Barangsiapa yang ilmunya tidak menyebabkan dia menangis, berarti dia tidak mendapatkan ilmu yang bermanfaat.," karena Allah subhanahu wa ta'ala menggambarkan orang-orang yang berilmu dengan firman-Nya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://tawheedfirst.files.wordpress.com/2011/04/17_1071.png?w=450&amp;amp;h=82" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="58" src="http://tawheedfirst.files.wordpress.com/2011/04/17_1071.png?w=450&amp;amp;h=82" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://tawheedfirst.files.wordpress.com/2011/04/17_108.png?w=450&amp;amp;h=35" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="24" src="http://tawheedfirst.files.wordpress.com/2011/04/17_108.png?w=450&amp;amp;h=35" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://tawheedfirst.files.wordpress.com/2011/04/17_109.png?w=450&amp;amp;h=35" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="24" src="http://tawheedfirst.files.wordpress.com/2011/04/17_109.png?w=450&amp;amp;h=35" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'” (QS Al-Isra 107-109)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi ilmu membawa pemiliknya kepada rasa khusyu’, sujud dan menangis, dan menghisab diri serta pembenaran atas (janji) Allah subhanahu wa ta’ala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya menangis adalah tanda yang jelas dan bukti terbaik akan ilmu yang dimiliki seseorang dan kebenaran seseorang. Apa manfaat ilmu yang dipelajari seseorang, jika ilmu tersebut tidak membuatnya menangis, rendah hati, menyesal dan berbuat baik kepada manusia? Bukankah orang yang berilmu adalah orang yang paling mengenal Tuhannya (Allah) subhanahu wa ta’ala? Tidakkah dia membaca tentang kesempurnaan dan ketinggian Nama dan Sifat-Sifat Allah yang menyebabkan hatinya menjadi khusyu dan matanya meneteskan air mata? Tidakkah dia membaca dalam Kitabullah dan dalam perkataan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam nash mengenai neraka, adzab kubur, dan kengerian hari kiamat yang karenanya gunung tunduk (terpecah belah) karena takut kepada Allah?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka bandingkanlah keadaanmu dengan ini – semoga Allah merahmati kita semua – dan jangan lupakan perkataan yang berharga, “"Barangsiapa yang ilmunya tidak menyebabkan dia menangis, berarti dia tidak mendapatkan ilmu yang bermanfaat.,"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ringkasan dari "Adorning Knowledge with Action oleh&amp;nbsp; &lt;b&gt;Syaikh Husain al-Awaisyah&lt;/b&gt; &lt;a href="http://www.islaam.com/Article.aspx?id=493" target="_blank;"&gt;(en)&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/xyYNAJtkZ-U" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/xyYNAJtkZ-U/air-mata-ilmu.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2011/06/air-mata-ilmu.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-2552062032042981553</guid><pubDate>Sun, 24 Apr 2011 01:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-04-24T09:54:09.113+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mutiara Salaf</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Salaf: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah</category><title>Like a Drop of Water in The Sea - Laksana Setetes Air di Tengah Lautan</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-chkibovXriw/S2uUlE_HSyI/AAAAAAAAANE/qpuPia9UwxA/s1600/Embun_Pagi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="http://4.bp.blogspot.com/-chkibovXriw/S2uUlE_HSyI/AAAAAAAAANE/qpuPia9UwxA/s320/Embun_Pagi.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Qayyim – may Allah be pleased with him – said: “Love is followed by pleasure. It is either strong or weak according to the degree of love. Whenever the desire for the cherished one is stronger, there is perfect pleasure. Love and yearning follow knowing Allah and appreciating His Greatness. Whenever our knowledge of Allah is perfect, we will love him more perfectly. Therefore the perfection of blessing and pleasure in the hereafter can be trace back to knowledge and love.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;So whoever believe in Allah, His Names and Attributes and knows them well, would love Him a great deal, and his feeling of pleasure, his being close to Him, looking at His face and hearing His words would be complete when meeting Him in the Day of Judgment. Every pleasure, blessing, joy and delight will be like a drop of water compared to the ocean. So how it is when an intelligent person can prefer weak and shortlived pleasure that is mixed with pain, to great, complete and eternal pleasure? The perfection of man is based on these two abilities: Knowledge and Love. And the best knowledge is the knowledge about Allah, and the highest love is the love for His sake. Surely, it is Allah’s help that should be sought.”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;*   *   *&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kelezatan mengikuti rasa cinta. Ia akan menguat mengikuti menguatnya cinta dan melemah pula seiring dengan melemahnya cinta. Setiap kali keinginan terhadap al-mahbub (sosok yang dicintai) serta kerinduan kepadanya menguat maka semakin sempurna pula kelezatan yang akan dirasakan tatkala sampai kepada tujuannya tersebut. Sementara rasa cinta dan kerinduan itu sangat tergantung kepada ma’rifah/pengenalan dan ilmu tentang sosok yang dicintai. Setiap kali ilmu yang dimiliki tentangnya bertambah sempurna maka niscaya kecintaan kepadanya pun semakin sempurna. Apabila kenikmatan yang sempurna di akherat serta kelezatan yang sempurna berporos kepada ilmu dan kecintaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka barangsiapa yang lebih dalam pengenalannya dalam beriman kepada Allah, nama-nama, sifat-sifat-Nya serta -betul-betul meyakini- agama-Nya niscaya kelezatan yang akan dia rasakan tatkala berjumpa, bercengkerama, memandang wajah-Nya dan mendengar ucapan-ucapan-Nya juga semakin sempurna. Adapun segala kelezatan, kenikmatan, kegembiraan, dan kesenangan -duniawi yang dirasakan oleh manusia- apabila dibandingkan dengan itu semua laksana setetes air di tengah-tengah samudera. Oleh sebab itu, bagaimana mungkin orang yang berakal lebih mengutamakan kelezatan yang amat sedikit dan sebentar bahkan tercampur dengan berbagai rasa sakit di atas kelezatan yang maha agung, terus-menerus dan abadi. Kesempurnaan  seorang hamba sangat tergantung pada dua buah kekuatan ini; kekuatan ilmu dan rasa cinta. Ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang Allah, sedangkan kecintaan yang paling tinggi adalah kecintaan kepada-Nya. Sementara itu kelezatan yang paling sempurna akan bisa digapai berbanding lurus dengan dua hal ini [ilmu dan cinta], Allahul musta’aan.” &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;*   *   *&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic"&gt;اللذة تابعة للمحبة تقوى بقوتها وتضعف بضعفها فكلما كانت الرغبة فى المحبوب والشوق اليه أقوى كانت اللذة بالوصول اليه أتم والمحبة والشوق تابع لمعرفته والعلم به فكلما كان العلم به اتم كانت محبته أكمل فإذا رجع كمال النعيم فى الآخرة وكمال اللذة الى العلم والحب فمن كان يؤمن بالله واسمائه وصفاته ودينه أعرف كان له أحب وكانت لذته بالوصول اليه مجاورته والنظر الي جهه وسماع كلامه أتم وكل لذة ونعيم وسرور وبهجة بالاضافة الى ذلك كقطرة فى بحر فكيف يؤثر من له عقل لذة ضعيفة قصيرة مشوبة بالآلام علي لذة عظيمة دائمة ابد الآباد وكمال العبد بحسب هاتين القوتين العلم والحب وافضل العلم العلم بالله وأعلى الحب الحب له وأكمل اللذة بحسبهما والله المستعان&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Source: Al-Fawaid by Ibnu Qayyim al-Jauziyyah&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/1ZuQfwF1z-I" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/1ZuQfwF1z-I/like-drop-of-water-in-sea-laksana.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-chkibovXriw/S2uUlE_HSyI/AAAAAAAAANE/qpuPia9UwxA/s72-c/Embun_Pagi.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>5</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2011/04/like-drop-of-water-in-sea-laksana.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-7186115329677674675</guid><pubDate>Sat, 19 Mar 2011 13:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-19T21:36:49.405+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mutiara Salaf</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Salaf: Haatim al-Assam</category><title>Terburu-buru adalah dari Syaithan kecuali dalam Lima Perkara</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-wZxpNI6YXHQ/TYSwk6bby4I/AAAAAAAAATU/p1vONvM4DLc/s1600/tulip_ungu.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://lh3.googleusercontent.com/-wZxpNI6YXHQ/TYSwk6bby4I/AAAAAAAAATU/p1vONvM4DLc/s200/tulip_ungu.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Haatim al-Assam berkata:&lt;br /&gt;
Terburu-buru itu dari syaithan, melainkan lima hal:&lt;br /&gt;
1. Memberi makan tamu ketika dia datang&lt;br /&gt;
2. Mengurus jenazah ketika (seseorang) meninggal&lt;br /&gt;
3. Menikahkan anak gadis ketika telah mencukupi umurnya&lt;br /&gt;
4. Membayar utang ketika tiba waktunya&lt;br /&gt;
5. Bertaubat dari dosa ketika berbuat dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;=====================&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic"&gt;قال حاتم كان يقال العجلة من الشيطان إلا في خمس&lt;br /&gt;
إطعام الطعام إذا حضر الضيف&lt;br /&gt;
وتجهيز الميت إذا مات &lt;br /&gt;
وتزويج البكر إذا أدركت &lt;br /&gt;
وقضاء الدين إذا وجب &lt;br /&gt;
والتوبة من الذنب إذا أذنب &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haatim al-Assam stated:&lt;br /&gt;
Haste is from the Shaytaan except in five cases: &lt;br /&gt;
1. Feeding the guest when he arrives.&lt;br /&gt;
2. Preparing the deceased when he dies. &lt;br /&gt;
3. Marrying off the virgin when she reaches the appropriate age. &lt;br /&gt;
4. Paying off the debt when its due. &lt;br /&gt;
5. Repenting from a sin when a sin is commited.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: Hilyah al-Aulia Abu Nu’aim al-Ashbahani (8/78) dalam Subulussalaam.com&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/0BIuJc88ayU" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/0BIuJc88ayU/terburu-buru-adalah-dari-syaithan.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://lh3.googleusercontent.com/-wZxpNI6YXHQ/TYSwk6bby4I/AAAAAAAAATU/p1vONvM4DLc/s72-c/tulip_ungu.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2011/03/terburu-buru-adalah-dari-syaithan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-2458427101515829205</guid><pubDate>Thu, 17 Mar 2011 22:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-18T10:29:59.349+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kisah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Salaf: Al-Fudhail bin Iyadh</category><title>Kisah Taubat Al-Fudhail bin Iyadh</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh4.googleusercontent.com/-d008lLXUjto/TYKOJC4NDUI/AAAAAAAAATQ/QRBWnK2ql5U/s1600/mu.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="199" src="https://lh4.googleusercontent.com/-d008lLXUjto/TYKOJC4NDUI/AAAAAAAAATQ/QRBWnK2ql5U/s320/mu.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Al-Fudhail bin Iyadh salah seorang dari ulama Salafus Shalih. Berikut ini adalah kisah taubat beliau rahimahulllah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Al-Fadhl bin Musa, dia berkata: “&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic"&gt;كان الفضيل بن عياض شاطرا يقطع الطريق بين أبيورد وسرخس، وكان سبب توبته أنه عشق جارية، فبينا هو يرتقي الجدران إليها، إذا سمع تاليا يتلو (ألم يأن للذين آمنوا أن تخشع قلوبهم..) [ الحديد: 16 ] فلما سمعها، قال: بلى يا رب، قد آن، فرجع، فآواه الليل إلى خربة، فإذا فيها سابلة، فقال بعضهم: نرحل، وقال بعضهم: حتى [ نصبح ] (1) فإن فضيلا على الطريق يقطع علينا.&lt;br /&gt;
قال: ففكرت، وقلت: أنا أسعى بالليل في المعاصي، وقوم من المسلمين هاهنا، يخافوني، وما أرى الله ساقني إليهم إلا لارتدع، اللهم إني قد تبت إليك، وجعلت توبتي مجاورة البيت الحرام.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Al-Fuhdail bin Iyadh dahulu adalah seorang perampok yang menghadang di jalan antara Abyurd dan Sarkhas. Adapun penyebab taubatnya adalah karena beliau mencintai seorang gadis. Suatu kali beliau memanjat dinding untuk menemuinya ketika beliau mendengar seseorang membaca ayat berikut:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka…” (QS Al-Hadid : 16)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika mendengarnya beliau berkata: “Benar ya Rabb, inilah saatnya,” dan dia pun kembali dan mencari tempat untuk menginap di reruntuhan bangunan, dan di sana dia mendapat sekelompok orang yang melewati jalan. Sebagiann dari mereka berkata, “Mari terus berjalan.” Sebagian lainnya berkata, “Tunggulah hingga pagi, karena Fudhail berada di sekitar sini dan dia akan merampok kita.” Al-Fudhail berkata, “Maka aku pun berpikir dan berkata: “Aku menghabiskan malam dengan berbuat maksiat dan ada sekolompok kaum musliminin di sini takut kepadaku, dan aku berpikir bahwa tidaklah Allah membawaku ke sini kecuali untuk mengambil pelajaran (agar menghentikan perbuatan tersebut). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu. Dan menjadikan taubatku dengan berdiam (tinggal) di Baitul Haram (Makkah).”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Sumber: Siyar A’lam an-Nubala Imam Adz-Dzahabi dalam Biografi Fudhail bin Iyadh 8/422. (Dikutip dari Maktabah asy-Syamilah v3.0&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/y7h4y6WrZTI" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/y7h4y6WrZTI/kisah-taubat-fudhail-bin-iyadh.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://lh4.googleusercontent.com/-d008lLXUjto/TYKOJC4NDUI/AAAAAAAAATQ/QRBWnK2ql5U/s72-c/mu.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2011/03/kisah-taubat-fudhail-bin-iyadh.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-5098397013250917375</guid><pubDate>Wed, 16 Mar 2011 22:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-17T06:13:37.330+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mutiara Salaf</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Salaf: Al-Fudhail bin Iyadh</category><title>Hai Miskin!</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-SlMXZq4Elac/TYE049YI_nI/AAAAAAAAATM/RSfb13eGAhU/s1600/images.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://lh5.googleusercontent.com/-SlMXZq4Elac/TYE049YI_nI/AAAAAAAAATM/RSfb13eGAhU/s1600/images.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-Fuhdail bin Iyadh berkata:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic"&gt;يا مسكين، أنت مسئ وترى أنك محسن، وأنت جاهل وترى أنك عالم، وتبخل وترى أنك كريم، وأحمق وترى أنك عاقل، أجلك قصير، وأملك طويل.&lt;br /&gt;
قلت: إي والله، صدق، وأنت ظالم وترى أنك مظلوم، وآكل للحرام وترى أنك متورع، وفاسق وتعتقد أنك عدل، وطالب العلم للدنيا وترى أنك تطلبه لله.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Wahai si Miskin! Engkau pelaku maksiat dan kamu memandang dirimu seorang yang baik, Engkau seorang yang jahil dan kamu memandang dirimu alim (berilmu), engkau seorang yang kikir dan kamu memandang dirimu dermawan, dan engkau seorang yang pandir dan kamu memandang dirimu berakal. Waktumu singkat, dan harapanmu panjang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya (Adz-Dzahabi) berkata: “Ya, Demi Allah beliau benar. Dan engkau seorang yang dzalim dan kamu memandang dirimu orang yang terdzalimi, dan kamu memakan yang haram dan memandang dirimu orang yang berhati-hati (menahan diri dari yang haram -red), dan engkau seorang fasik dan meyakini dirimu adil, dan kamu menuntut ilmu untuk dunia dan memandang bahwa dirimu menuntut ilmu karena Allah"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber: Siyar Alam an-Nubalaa Biografi Fudhail bin Iyadh (8/440) (matan: Maktabah Syamilah v 3)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al Fudayl ibn ‘Iyaad said,&lt;br /&gt;
“O Miskeen! You are an evil-doer and you think yourself to be one who does good. You are an ignoramus and you think yourself to be a scholar. You are a miser and you think yourself to be generous. O foolish one! You see that you are intelligent. Your time is short, but your hope is long.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Adh-Dhahabi]: I say: Yes, by Allah, he has spoken the truth. And you are an oppressor and you think yourself to be the one who is oppressed. And you eat what is unlawful and you think that you are cautious and fearful (in this regard). And you are a sinner and you think yourself to be just and upright. And you seek the knowledge (of the religion) for the world, and yet you think that you seek it for Allaah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Source of translation: tawheedfirst.wordpress.com&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/FEtf0OqqBec" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/FEtf0OqqBec/hai-miskin.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://lh5.googleusercontent.com/-SlMXZq4Elac/TYE049YI_nI/AAAAAAAAATM/RSfb13eGAhU/s72-c/images.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2011/03/hai-miskin.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-4286092624992554364</guid><pubDate>Sun, 28 Nov 2010 01:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-11-28T09:10:52.244+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mutiara Salaf</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Salaf: Hasan al-Bashri</category><title>Tempat Hati dan Lisan</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.google.co.id/imgres?q=lisan&amp;amp;um=1&amp;amp;hl=id&amp;amp;sa=N&amp;amp;biw=1280&amp;amp;bih=551&amp;amp;tbs=isch:1&amp;amp;tbnid=8qxNH2bYx8gfoM:&amp;amp;imgrefurl=http://yankoer.multiply.com/journal/item/296&amp;amp;imgurl=http://images.yankoer.multiply.com/image/HeC-x-eBqE9T0YhwRVwsUw/photos/1M/300x300/743/lisan.JPG%253Fet%253DnyaI9ef9z1rxv7sL0MEqsA%2526nmid%253D0&amp;amp;zoom=1&amp;amp;w=300&amp;amp;h=285&amp;amp;iact=rc&amp;amp;dur=137&amp;amp;ei=QqXxTIubNIOuvgPG1JWdCg&amp;amp;oei=QqXxTIubNIOuvgPG1JWdCg&amp;amp;esq=1&amp;amp;page=1&amp;amp;tbnh=133&amp;amp;tbnw=150&amp;amp;start=0&amp;amp;ndsp=24&amp;amp;ved=1t:429,r:0,s:0&amp;amp;tx=58&amp;amp;ty=78" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Al-Hasan berkata: &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://images.yankoer.multiply.com/image/HeC-x-eBqE9T0YhwRVwsUw/photos/1M/300x300/743/lisan.JPG?et=nyaI9ef9z1rxv7sL0MEqsA&amp;amp;nmid=0" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="190" src="http://images.yankoer.multiply.com/image/HeC-x-eBqE9T0YhwRVwsUw/photos/1M/300x300/743/lisan.JPG?et=nyaI9ef9z1rxv7sL0MEqsA&amp;amp;nmid=0" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Lisan orang yang pandai  berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia berpikir terlebih dulu. Jika perkataan itu baik untuknya, maka dia mengatakannya, dan apabila perkataan itu buruk baginya maka dia menahannya. Dan hati orang yang bodoh berada di belakang lisannya. Jika dia hendak mengatakan sesuatu maka dia mengatakannya, tidak perdulu apakah hal itu berakibat baik atau buruk baginya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;قَالَ الْحَسَنُ : لِسَانُ الْعَاقِلِ مِنْ وَرَاءِ قَلْبِهِ ، فَإِذَا أَرَادَ الْكَلامَ تَفَكَّرَ ، فَإِنْ كَانَ لَهُ قَالَ ، وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ أَمْسَكَ ، وَقَلْبُ الْجَاهِلِ مِنْ وَرَاءِ لِسَانِهِ ، فَإِنْ هَمَّ بِالْكَلامِ تَكَلَّمَ لَهُ وعليه&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber: Abu Bakar ad-Daynuri, Al Majalasah wa Jawahir al-Ilm, no. 3049, Maktabah Syamilah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;It is reported that Al-Hasan Al-Basrî – Allâh have mercy on him – said:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The intelligent person’s tongue is behind his heart: when he wants to speak, he first thinks. If [his words] will be in his favor, he says them, and if they will be against him, he does not speak. And the ignorant person’s heart is behind his tongue: when he merely thinks of saying something, he says it, whether it is for or against him. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Abû Bakr Al-Daynûrî, Al-Mujâlasah wa Jawâhir Al-’Ilm article 2049.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Source: http://sayingsofthesalaf.net&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/5kzUguiNqH4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/5kzUguiNqH4/tempat-hati-dan-lisan.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2010/11/tempat-hati-dan-lisan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-950372950494776360</guid><pubDate>Thu, 11 Nov 2010 02:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-11-11T10:29:48.937+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ibadah</category><title>Kesempatan Emas di Bulan Dzulhijjah</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://alqiyamah.files.wordpress.com/2010/08/masjidil-haram-mekah-saudi-arabia.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://alqiyamah.files.wordpress.com/2010/08/masjidil-haram-mekah-saudi-arabia.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Beberapa hadits tentang 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah sebagai sandaran hukum asal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.   Perbanyak Amal Shalih di sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِيش أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ .&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Artinya: “Tiada hari-hari yang beramal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini“. yakni 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah, mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, walaupun berjihad di jalan Allah?”, beliau bersabda: “Walaupun berjihad di jalan Allah kecuali seseorang yang berjuang dengan diri dan hartanya lalu ia tidak kembali dengan apapun“. Hadits riwayat Bukhari (2/382-382 dengan Fathul Bari), Abu Daud (no. 2438), Tirmidzi (1/145) dan yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.      Perbanyak membaca Tahlil (لا إله إلا الله), Takbir (الله أكبر), Tahmid (الحمد لله), Abduillah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;“مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ”.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Artinya: “: “Tiada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan yang lebih ia cintai untuk beramal di dalamnya daripada 10 hari ini (yaitu pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah), maka perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya“. Hadits riwayat Ahmad di Musnad (no. 5189), lihat: Shahihut Targhib wat Tarhib (no. 1248).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.      Berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah ataupun dari awal bulan, Abu Qatadah Al Anshari radhiyallahu ‘anhu berkata:&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». رواه مسلم&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Artinya: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Arafah: “Menghapuskan (dosa-dosa) setahun lalu dan setahun yang akan datang“. Hadits riwayat Muslim (no hadits:1977) dan Imam Ahmad (no. 23200).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.      Berkurban, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;ضَحَّى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Artinya: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dua domba jantan yang berwarna putih bercampur hitam dan mempunyai tanduk, beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri dengan mengucapkan basmalah dan bertakbir dan meletakkan kaki beliau di atas bagian antara leher dan pipi (domba tersebut)“. Hadits riwayat Bukhari (no.5553) dan Muslim (no. 5199).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.      Bagi yang berkurban tidak boleh memotong rambut dan kuku serta mengambil sesuatu dari kulitnya sedikitpun, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: “Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;“إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ”.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Artinya: “Jika kalian melihat hilal (awal bulan) bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban maka tahanlah dari (memotong) rambut dan kukunya“. Hadits riwayat Imam Muslim (no. 5234).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: “Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا »&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Artinya: “Jika telah masuk bulan Dzulhijjah dan diantara kalian ingin berkurban maka janganlah ia menyentuh rambut dan kukunya sedikitpun“. Hadits riwayat Imam Muslim (no. 5232).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;أريد أن أضحي و أعتمر و أحج, فهل لي أن أقصر أو أحلق؟&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Saya ingin menunaikan haji tahun ini tapi juga ingin berkurban?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fatwa, no: 12251&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan: “Jika seseorang ingin berkurban dan masuk ke dalam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah maka tidak boleh baginya untuk memotong kuku atau rambutnya sampai dia menyembelih kurbannya, lalu dia pergi menunaikan umrah di 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah, apakah boleh baginya untuk memendekkan atau menggundul rambutnya jika telah menyelesaikan hajinya pada hari ‘ideul Adha dan dia belum yakin bahwa kurbannya sudah disembelih atau belum, apakah dia boleh memakai pakaian (lepas dari ihram) atau dia tetap dalam keadaan ihram dan tidak  memendekkan atau menggundul rambutnya kecuali jika dia yakin akan tersembelihnya kurbannya, karena kurbannya di kota Najd? atau apakah kurban tidak berkaitan dengan haji atau umrah, maksudnya yaitu apakah yang tidak boleh memotong rambut atau kukunya hanya bagi yang tidak haji atau umrah saja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban: “Barangsiapa yang berhaji atau umrah dan juga berkeinginan untuk berkurban maka wajib atasnya untuk memedekkan atau menggundul rambutnya meskipun sebelum berkurban, karena mencukur atau menggundul rambutnya termasuk kewajiban haji, tidak ada kaitannya dengan kurban”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Badan Tetap untuk Riset Ilmiyah dan Fatwa KSA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketua: Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wakil: Syeikh Abdurrazzaq Afifi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anggota: Syeikh Abdullah Ghudayyan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan, no. 131&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan: “Barangsiapa yang ingin berhaji dan juga berkurban dan menyembelih hadyu di kota Mekkah, dan keluarganya berkurban untuknya, apakah boleh baginya untuk memotong rambutnya sebelum berihram?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban: “Barangsiasiapa yang ingin berhaji maka boleh baginya untuk mengambil dari rambut atau kukunya sebelum berihram meskipun dia juga ingin menyembelih hadyu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan siapa yang ingin berkurban saja maka jika masuk 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah tidak halal baginya untuk memotong rambut dan kukunya serta mengambil sesuatu dari kulitnya, berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div class="arabic"&gt;“إذا دخل العشر، وأراد أحدكم أن يضحي فلا يأخذن من شعره ولا من بشرته ولا من ظفره” أو قال: “أظفاره شيئًا حتى يضحي” .&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Jika telah masuk 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dan diantara kalian ingin berkurban maka janganlah sekali-kali dia mengambil dari rambut, kulit dan kukunya“, dalam riwayat lain: “Dan kukunya sedikitpun sampai dia berkurban“. HR. Muslim, no. 1977.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan jika seseorang ingin berkurban dan juga berhaji, jika masuk 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, tidak boleh baginya memotong kuku dan rambutnya sedikitpun, akan tetapi jika sampai di kota Mekkah dan selesai dari mengerjakan umrah, maka boleh baginya untuk memendekkan rambutnya, karena ini bagian dari tata cara ibadah (umrah). Dan dia tidak dikenakan baginya dalam keadaan seperti ini. Dan jika hari ‘Ieduladha telah ada kemungkinan terbesar baginya bahwa keluarganya telah menyembelih kurbannya, maka dalam keadaan seperti ini maka boleh baginya memotong kuku dan rambutnya atau mengambil dari kulitnya  sekehendaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Majmu’ Fatwa wa Rasail al ‘allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah (25/155).&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Selesai ditulis oleh: Abu Abdillah Ahmad Zainuddin&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sabtu, 29 Dzulhijjah 1431H, di kota Dammam KSA&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sumber: http://www.icmkendari.com&lt;/i&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/8BUGvS7Is00" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/8BUGvS7Is00/kesempatan-emas-di-bulan-dzulhijjah.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2010/11/kesempatan-emas-di-bulan-dzulhijjah.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-6181449874124687772</guid><pubDate>Wed, 03 Nov 2010 10:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-11-03T18:47:23.740+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mutiara Salaf</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Salaf: Salman al-Farisi</category><title>Sakitnya orang Mu'min vs Sakitnya Orang Fajir</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/TNE9A8tzQPI/AAAAAAAAAS8/8vjUU1L2y5g/s1600/Purple_.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="170" src="http://2.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/TNE9A8tzQPI/AAAAAAAAAS8/8vjUU1L2y5g/s200/Purple_.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dari Said, dia berkata:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="arabic"&gt;كنت مع سلمان -وعاد مريضا في كندة- فلما دخل عليه قال أبشر فإن مرض المؤمن يجعله الله له كفارة ومستعتبا وإن مرض الفاجر كالبعير عقله أهله ثم أرسلوه فلا يدرى لم عقل ولم أرسل&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Saya bersama Salman -dan dia membesuk orang sakit di Kindah- tatkala dia masuk kepada orang yang sakit tersebut, dia berkata, 'Bergembiralah, karena sakitnya orang mukmin Allah jadikan sebagai pelebur dosa (kaffarah) dan sebagai istirahat baginya. Sedangkan sakitnya orang yang jahat seperti unta yang diikat pemiliknya, kemudian mereka melepaskannya, maka tidak diketahui mengapa pemiliknya mengikat dan mengapa pemiliknya melepaskannya.'"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Once I was with Salman - and he visited a sick person in Kindah. When he entered upon him he said:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Have glad tidings, for verily Allâh makes the illness of a believer an expiation [for his sins] and a cause of being pleased, whereas the illness of a sinner is like a camel that has been tied by its owners, then released by them: it knows not why it was tied up nor why it was released.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad, Bab Kaffarah (Pelebur Dosa) bagi Orang Sakit. Dishahihkan oleh Syaikh Albani.&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/ZpW37Ga4rto" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/ZpW37Ga4rto/sakitnya-orang-mumin-vs-sakitnya-orang.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/TNE9A8tzQPI/AAAAAAAAAS8/8vjUU1L2y5g/s72-c/Purple_.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2010/11/sakitnya-orang-mumin-vs-sakitnya-orang.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-384053546834370556</guid><pubDate>Wed, 03 Nov 2010 10:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-11-03T18:13:33.995+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dzikir dan do'a</category><title>Berdoa dengan Mengangkat Kedua Tangan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://anintadiary.files.wordpress.com/2009/07/berdoa-pic.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://anintadiary.files.wordpress.com/2009/07/berdoa-pic.jpg" width="191" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Soal:&lt;/b&gt; Apakah menengadahkan kedua tangan ketika berdo’a disyari’atkan, dan pada khususnya ketika kita dalam keadaan safar di atas pesawat, mobil, kereta api atau dengan kendaraan lainnya ?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Jawab:&lt;/b&gt; Mengangkat tangan ketika berdo’a adalah salah satu sebab terkabulnya do’a di manapun kita berada, Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="arabic"&gt;إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِ مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْراً&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sesungguhnya Tuhan kalian Tabaroka Wa Ta’ala adalah Maha Hidup dan Maha Mulia, Dia malu dari hamba-Nya apabila menengadahkan kedua tangannya kepada-Nya untuk dikembalikan dalam keadaan hampa.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi &amp;amp; Ibnu Majah).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beliaupun bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah Maha Baik, Dia tidak menerima kecuali yang baik, dan Allah Azza Wa Jalla telah memerintahkan orang-orang mukmin dengan perintah yang diberikan kepada para Rosul, Dia berfirman: “Wahai para Rosul, makanlah dari (makanan) yang baik-baik dan beramal shalehlah, Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Mukminun 51) dan Diapun berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari (makanan) yang baik-baik yang telah kami rizkikan kepada kalian.” (QS. Al-Baqorah 172), kemudian Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam menyebutkan seorang pria yang telah lama bepergian, rambutnya tak terurus, telapak kakinya berdebu, dan iapun menengadahkan tangannya ke arah langit (ia berkata) : Ya Robb, Ya Robb!, sedangkan makanannya haram ,minumannya haram, pakaiannya haram dan dia dibesarkan dari yang haram. Lalu bagaimana mungkin ia akan dikabulkan (do’anya).” (HR. Muslim).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam hadits tersebut di atas Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam telah menjadikan menengadahkan tangan sebagai salah satu sebab terkabulnya do’a, dan di antara sebab tidak terkabul do’a adalah; makan haram dan dibesarkan oleh sesuatu yang diharamkan. Maka di sana sangat jelas sekali bahwa menengadahkan tangan adalah salah satu sebab terkabulnya do’a, baik itu di atas pesawat, di atas kereta, di atas mobil atau bahkan di pesawat luar angkasa sekalipun. Maka apabila ada seseorang yang berdo’a dengan mengangkat tangan, itu artinya ia telah melakukan salah satu sebab terkabulnya do’a, kecuali di beberapa tempat di mana Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam tidak menengadahkan tangannya di sana, maka kitapun tidak menengadahkannya juga di sana, seperti ketika khutbah jum’at, di sana Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam tidak mengangkat tangannya kecuali jikalau beliau sedang meminta hujan, saat itu beliau mengangkat kedua tangannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian pula berdo’a ketika duduk di antara dua sujud dan sebelum salam di akhir Tasyahhud, beliau tidak pernah mengangkat tangan di sana. Maka dengan demikian kitapun tidak mengangkat tangan juga di waktu-waktu tersebut, karena perbuatan beliau sebagai dalil dan meninggalkannyapun berarti dalil.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan begitu pula halnya setelah salam dari shalat lima waktu; beliau melakukan dzikir dan wirid yang disyari’atkan dengan tidak mengangkat kedua tangannya. Maka saat itupun kita tidak mengangkatnya sebagai bentuk kesuritauladanan kita terhadap Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam. Adapun diwaktu di mana Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam mengangkat kedua tangannya, maka kitapun disunnahkan mengangkat kedua tangan kita sebagai bentuk kesuritauladanan kita juga kepada Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam dan karena itu dari sebab terkabulnya do’a. dan demikian pula jikalau seorang muslim hendak berdo’a kepada Allah Azza Wa Jalla sementara tidak didapatkan adanya dalil bahwa Rosulullah Shallallaahu ‘alai Wa Sallam mengangkat tangan atau tidak ditempat dan waktu itu, maka saat itupun ia mengangkat kedua tangan tangannya dengan argument hadits-hadits yang menunjukkan bahwa mengangkat kedua tangan adalah sebagai salah satu sebab terkabulnya do’a.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;(lihat: Fatawa Ulama’ Al-Biladul Harom (Fatwa para ulama Negri Harom), hal 1702-1703. Majmu’ Fatawa Wa Maqolat Mutanawwi’ah, Syeikh Ibn Baz 6/158-159)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Disalin kembali dari http://icmkendari.com &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/I8MyGyIlnxs" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/I8MyGyIlnxs/berdoa-dengan-mengangkat-kedua-tangan.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2010/11/berdoa-dengan-mengangkat-kedua-tangan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-1186264264437298613</guid><pubDate>Tue, 14 Sep 2010 14:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-10-08T22:50:35.639+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kajian</category><title>The Great Personality, Imam Ahmad bin Hanbal</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/TI-LruwYlfI/AAAAAAAAASs/s0UIijHvfBE/s1600/imam+ahmad.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="280" src="http://4.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/TI-LruwYlfI/AAAAAAAAASs/s0UIijHvfBE/s400/imam+ahmad.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span id="goog_334369260"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_334369261"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Profile of Courage, Imam Ahmad bin Hanbal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
(Series of lectures by Syaikh Shafi  Khan, Imam Masjid Daar as-Salaam, US)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut ini adalah kisah, satu bagian dari perjalanan hidup seorang Imam Ahlus Sunnah. Sepenggal kisah yang memberikan gambaran jelas, bagaimana Allah senantiasa menolong hamba-hamba-Nya yang menolong agama-Nya; Bagaimana kekuatan iman dan takwa seseorang bisa mengalahkan tirani; Bagaimana kesabaran dalam menghadapi cobaan demi cobaan berbuah manis, dan mencatatkan namanya dengan tinta emas dalam sejarah, yang kebaikannya senantiasa disebutkan oleh manusia sepanjang masa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pemikiran Mu’tazilah menyebar luas dan menguasai pemerintahan Islam ketika itu, beliau berdiri tegak dengan keimanan menjulang layaknya gunung yang tak tergoyahkan oleh apapun. Ketika para ulama lain memilih untuk menyingkir, atau berkompromi karena tidak tahan diterpa siksaan yang luar biasa kejam dari penguasa yang zalim, sang Imam tidak bergeser sedikit pun dalam mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah, bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialah Imam Ahlus Sunnah, yang kekuatan doanya mengetuk langit ke tujuh meminta Allah agar mengakhiri kezaliman Al-Makmun, sang penguasa saat itu, dan Allah mengirimkan malaikat pencabut nyawa mengakhiri kehidupan Al-Makmun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialah lautan ilmu, yang dengan kefasihannya mampu membungkan barisan ‘ulama’ Mu’tazilah yang berdebat dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialah sosok yang tawadhu dan taqwa, yang keteguhan, ketabahan serta kesabarannya seolah menghapus semua penderitannya, menjadikan setiap cobaan demi cobaan terasa ringan baginya.&lt;br /&gt;
Dalam rangkaian kajian ini, pemateri mengajak kita untuk belajar dari kisah Imam Ahmad, pada keteguhan beliau membela aqidah Ahlus Sunnah, tidak perduli beratnya siksaan yang harus dihadapi. Sungguh berbeda jauh dengan kondisi kita di zaman sekarang ini, Sebagian kita bahkan malu menampakkan keislaman kita. Para wanita muslimah yang lebih memilih mengikuti trend orang-orang kafir dalam berbusana, dan enggan menunjukkan keislamannya dengan menutup aurat, bukan karena tidak mengetahui kewajibannya, akan tetapi rasa malu yang menahannya. Banyak di antara kita yang kemudian surut melangkah, karena persoalan dunia menahan kita. Saya, dan barangkali juga anda, mungkin terjebak dalam situasi yang serupa. Sesungguhnya kajian-kajian seperti ini, kisah-kisah dari para pendahulu yang shalih, semoga bisa memulihkan semangat kita untuk teguh di atas Islam dan Sunnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengakan kisah ini, seolah membawa ke masa lalu, menyaksikan satu episode perjalanan hidup sang Imam, ketika harus berpindah dari satu daerah ke daerah lain, satu penjara ke penjara lain, dan berlanjut dari satu khalifah ke khalifah yang lain. Bagaimana tubuh lemah beliau bersimbah darah dan punggungnya hampir tidak menyisakan ruang sedikitpun, kecuali melepuh dan koyak karena cambukan. Mendengarkan kisah ini, kita akan menyaksikan, bagaiman kekuatan iman bisa mengalahkan segalanya.  Dialah Abu Abdillah, Imam Ahmad bin Hanbal, pahlawan pembela sunnah, tokoh idola yang sebenarnya. Bukan bintang pujaan yang berlaga dalam film-film dusta, juga bukan dongeng yang menghiasi novel-novel picisan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Silahkan simak (English only):&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.kalamullah.com/Safi%20Khan/Profiles%20of%20Courage%20-%20Story%20of%20Imam%20Ahmed%20-%20Part%201.wma"&gt;Bagian I&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.kalamullah.com/Safi%20Khan/Profiles%20of%20Courage%20-%20Story%20of%20Imam%20Ahmed%20-%20Part%202.wma"&gt;Bagian II&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.kalamullah.com/Safi%20Khan/Profiles%20of%20Courage%20-%20Story%20of%20Imam%20Ahmed%20-%20Part%203.wma"&gt;Bagian III&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.kalamullah.com/Safi%20Khan/Profiles%20of%20Courage%20-%20Story%20of%20Imam%20Ahmed%20-%20Part%204.wma"&gt;Bagian IV&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/iiDApnll6ew" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/iiDApnll6ew/great-personality-imam-ahmad-bin-hanbal.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/TI-LruwYlfI/AAAAAAAAASs/s0UIijHvfBE/s72-c/imam+ahmad.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><enclosure url="http://www.kalamullah.com/Safi%20Khan/Profiles%20of%20Courage%20-%20Story%20of%20Imam%20Ahmed%20-%20Part%201.wma" length="17870606" type="audio/x-ms-wma" /><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2010/09/great-personality-imam-ahmad-bin-hanbal.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7030717.post-8277008764070870158</guid><pubDate>Mon, 23 Aug 2010 22:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-23T20:48:50.557+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dzikir dan do'a</category><title>Doa-doa Seputar Makan dan  Berbuka Puasa</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/THJtSND3rcI/AAAAAAAAASU/dchySNyusJA/s1600/white-rose.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/THJtSND3rcI/AAAAAAAAASU/dchySNyusJA/s200/white-rose.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5508585453738503618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Doa-Doa Seputar Makan dan Berbuka Puasa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebelum makan membaca:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:traditional arabic;" &gt;بِسْمِ اللهِ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;“Dengan Nama Allah”&lt;br /&gt;(HR. Abu Dawud 3/347, At-Tirmidzi 4/288, dan lihat kitab Shahih At-Tirmidzi 2/167)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apabila seseorang lupa pada permulaan hendaknya membaca:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:traditional arabic;" &gt;بِسْمِ اللهِ فِيْ أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bismillahi fi awwalihi wa aakhirihi “Dengan nama Allah di awal dan di akhir.”&lt;br /&gt;(HR. At-Tirmidzi 5/506, dan lihat Shahih Tirmidzi 3/158)&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setelah makan membaca:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:traditional arabic;" &gt;الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَطْعَمَنِيْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala puji bagi Allah yang memberi makan ini kepadaku dan yang memberi rezeki kepadaku tanpa daya dan kekuatanku.”&lt;br /&gt;(HR. Penyusun kitab Sunan, kecuali An-Nasai, dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/159)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada saat berbuka puasa 1:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:traditional arabic;" &gt;ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap, insya Allah.”&lt;br /&gt;(HR. Abu Dawud 2/306, begitu juga imam hadits yang lain. Dan lihat Shahihul Jami’ 4/209)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pada saat berbuka puasa 2:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:traditional arabic;" &gt;اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِيْ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepadaMu dengan rahmatMu yang meliputi segala sesuatu, supaya memberi ampunan atasku.”&lt;br /&gt;(HR. Ibnu Majah 1/557. Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Takhrij Al-Adzkar, lihat Syarah Al-Adzkar 4/342).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Doa tamu kepada tuan rumah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:traditional arabic;" &gt;أللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ وَاغْفِرْلَهُم وَارْحَمْهُمْ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, berkahilah mereka pada apa-apa yang Engkau rizkikan kepada mereka, ampunilah mereka dan rahmatilah mereka.”&lt;br /&gt;(HR Muslim 3/1615)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Doa kepada orang yang mengundang berbuka puasa:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:traditional arabic;" &gt;أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga orang-orang yang berpuasa berbuka di sisimu dan orang-orang yang baik makan makananmu, serta malaikat mendoakannya, agar kamu mendapat rahmat.”&lt;br /&gt;(Sunan Abu Dawud 3/367, Ibnu Majah 1/556 dan An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 296-298. Al-Albani menyatakan, hadits tersebut shahih dalam Shahih Abi Dawud, 2/730)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ALearningPage/~4/piaeL2LB7gE" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/ALearningPage/~3/piaeL2LB7gE/doa-doa-seputar-makan-dan-berbuka-puasa.html</link><author>noreply@blogger.com (Khayla)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_Yqmw3TT8S5Q/THJtSND3rcI/AAAAAAAAASU/dchySNyusJA/s72-c/white-rose.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.khayla.net/2008/09/doa-doa-seputar-makan-dan-berbuka-puasa.html</feedburner:origLink></item><language>en-us</language></channel></rss>
